07 April 2024

Sejarah Magelang - BUKU KECIL PEREKAM JEJAK LUSTRUM KEMERDEKAAN RI DI MAGELANG Sekira akhir bulan lalu buku kecil nan kumal ini mendarat di rumah. Dari tampilan kasat mata saja, buku ini sudah cukup rapuh termakan usia. Kelembapan agaknya menjadi faktor utama ringkihnya buku tipis ini. Kendati demikian, buku yang berjudul "Programma Perajaan Ulang Tahun ke 5 Proklamasi" ini menyimpan kisah luar biasa mengenai perjalanan Republik Indonesia secara umum, dan Magelang khususnya. Mari kita menyelam sejenak, mendedah bagaimana perjalanan republik yang masih belia kala itu, dan bagaimana Magelang menyambut dan merayakan kemerdekaan ke-5 tersebut. 17 Agustus 1950 merupakan peringatan istimewa bagi bangsa Indonesia. Di tanggal tersebut genap sudah 5 tahun bangsa Indonesia mencoba menjadi bangsa yang berdaulat. Tahun tersebut adalah peringatan lustrum kemerdekaan Republik Indonesia ditengah masa pemulihan segala aspek dan sendi kehidupan negara. Tidak mudah memang membina negara sebesar Indonesia. Pasca diprokamasikan di tahun 1945, cobaan dan rintangan terus saja mendera perjalanan bangsa ini. Mulai dari pergolakan militer dan pertempuran dengan sekutu pasca menyerahnya dai nippon, Agresi Militer I dan II, perundingan dan perjanjian yang berbabak - babak, hingga penyerahan kedaulatan republik di bulan Desember tahun sebelumnya. 17 Agustus 1950 juga merupakan penanda terintegrasikannya seluruh komponen - komponen negara - negara federal bentukan Belanda (Republik Indonesia Serikat / RIS) kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada lustrum ini pula, Mr. Assaat yang kurang dari satu tahun menjabat Acting Presiden Indonesia melepaskan jabatannya dan mengembalikan posisi tersebut (presiden Indonesia) kembali kepada Soekarno. Ditanggal ini juga, RIS secara resmi bubar dan menjadi NKRI dengan diberlakukannya Undang Undang Dasar Sementara (UUDS). Magelang yang sudah sejak awal sudah menjadi bagian dari Republik Indonesia (bukan menjadi bagian dari negara federal), sudah barang tentu menyambut dengan gempita perayaan lustrum kemerdekaan ini. Maka dari itu, muncullah buku yang ada ditangan saya sekarang ini. Secara umum, buku ini terdiri atas 4 kategori, yaitu nama susunan panitia, sambutan - sambutan, program acara perayaan dan iklan para pelaku industri di Magelang. Pada halaman awal buku ini, kita langsung disambut oleh salinan teks proklamasi kemerdekaan yang secara sengaja dicetak dimuka dengan tinta warna merah dan tipografi dan penekanan penting pada frasa "Kemerdekaan Indonesia". Dihalaman - halaman setelahnya, muncul prakata dari Bupati Magelang, Raden Joedodibroto yang juga merupakan ketua panitia, serta walikota Magelang, Moekahar Ronohadiwidjojo. Dalam prakata yang beliau berdua tulis, pesan yang ingin disampaikan keduanya adalah ucapan sukur atas kemerdekaan yang sudah diraih dengan berdarah - darah serta harapan akan kemeriahan acara listrum kemerdekaan di Magelang. Rangkaian acara peringatan lustrum kemerdekaan di Magelang dilaksanakan selama dua hari mulai dari Rabu, 16 Agustus pukul 07.00 pagi hingga petang hari 17 Agustus 1950. Acara yang dilaksanakan pada 16 Agustus diantaranya seperti berbagai macam acara lomba olahraga dan pawai karnaval keliling kota sedangkan acara pada tanggal 17 Agustus dimulai dari pukul 05.00 pagi lepas subuh dengan dibunyikannya sirine di dalam kota yang disambut dengan bedug, kentongan dan lonceng gereja. Berurutan tiap - tiap umat di masing - masing tempat ibadah di sekitar aloon - aloon kemudian melakukan misa, sembahyang dan sujud syukur di gereja, klenteng dan masjid agung. Mendekati detik - detik proklamasi pukul 10.00 pagi, upacara peringatan kemerdekaan ke-5 dilaksanakan di lapangan rindam yang dilanjutkan dengan parade militer dan perlombaan olahraga hingga petang. Itulah sedikit gambaran acara peringatan proklamasi kemerdekaan ke-5 di Magelang. Penemuan kembali buku ini menjadi penting untuk dinarasikan kembali agar memori ingatan peristiwa istimewa bangsa Indonesia di Magelang bisa terus diingat dimasa - masa mendatang. - Chandra Gusta Wisnuwardana -

 BUKU KECIL PEREKAM JEJAK LUSTRUM KEMERDEKAAN RI DI MAGELANG


Sekira akhir bulan lalu buku kecil nan kumal ini mendarat di rumah. Dari tampilan kasat mata saja, buku ini sudah cukup rapuh termakan usia. Kelembapan agaknya menjadi faktor utama ringkihnya buku tipis ini. Kendati demikian, buku yang berjudul "Programma Perajaan Ulang Tahun ke 5 Proklamasi" ini menyimpan kisah luar biasa mengenai perjalanan Republik Indonesia secara umum, dan Magelang khususnya. Mari kita menyelam sejenak, mendedah bagaimana perjalanan republik yang masih belia kala itu, dan bagaimana Magelang menyambut dan merayakan kemerdekaan ke-5 tersebut.


17 Agustus 1950 merupakan peringatan istimewa bagi bangsa Indonesia. Di tanggal tersebut genap sudah 5 tahun bangsa Indonesia mencoba menjadi bangsa yang berdaulat. Tahun tersebut adalah peringatan lustrum kemerdekaan Republik Indonesia ditengah masa pemulihan segala aspek dan sendi kehidupan negara. Tidak mudah memang membina negara sebesar Indonesia. Pasca diprokamasikan di tahun 1945, cobaan dan rintangan terus saja mendera perjalanan bangsa ini. Mulai dari pergolakan militer dan pertempuran dengan sekutu pasca menyerahnya dai nippon, Agresi Militer I dan II, perundingan dan perjanjian yang berbabak - babak, hingga penyerahan kedaulatan republik di bulan Desember tahun sebelumnya. 


17 Agustus 1950 juga merupakan penanda terintegrasikannya seluruh komponen - komponen negara - negara federal bentukan Belanda (Republik Indonesia Serikat / RIS) kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada lustrum ini pula, Mr. Assaat yang kurang dari satu tahun menjabat Acting Presiden Indonesia melepaskan jabatannya dan mengembalikan posisi tersebut (presiden Indonesia) kembali kepada Soekarno. Ditanggal ini juga, RIS secara resmi bubar dan menjadi NKRI dengan diberlakukannya Undang Undang Dasar Sementara (UUDS). 


Magelang yang sudah sejak awal sudah menjadi bagian dari Republik Indonesia (bukan menjadi bagian dari negara federal), sudah barang tentu menyambut dengan gempita perayaan lustrum kemerdekaan ini. Maka dari itu, muncullah buku yang ada ditangan saya sekarang ini. Secara umum, buku ini terdiri atas 4 kategori, yaitu nama susunan panitia, sambutan - sambutan, program acara perayaan dan iklan para pelaku industri di Magelang.


Pada halaman awal buku ini, kita langsung disambut oleh salinan teks proklamasi kemerdekaan yang secara sengaja dicetak dimuka dengan tinta warna merah dan tipografi dan penekanan penting pada frasa "Kemerdekaan Indonesia". Dihalaman - halaman setelahnya, muncul prakata dari Bupati Magelang, Raden Joedodibroto yang juga merupakan ketua panitia, serta walikota Magelang, Moekahar Ronohadiwidjojo. Dalam prakata yang beliau berdua tulis, pesan yang ingin disampaikan keduanya adalah ucapan sukur atas kemerdekaan yang sudah diraih dengan berdarah - darah serta harapan akan kemeriahan acara listrum kemerdekaan di Magelang.


Rangkaian acara peringatan lustrum kemerdekaan di Magelang dilaksanakan selama dua hari mulai dari Rabu, 16 Agustus pukul 07.00 pagi hingga petang hari 17 Agustus 1950. Acara yang dilaksanakan pada 16 Agustus diantaranya seperti berbagai macam acara lomba olahraga dan pawai karnaval keliling kota sedangkan acara pada tanggal 17 Agustus dimulai dari pukul 05.00 pagi lepas subuh dengan dibunyikannya sirine di dalam kota yang disambut dengan bedug, kentongan dan lonceng gereja. Berurutan tiap - tiap umat di masing - masing tempat ibadah di sekitar aloon - aloon kemudian melakukan misa, sembahyang dan sujud syukur di gereja, klenteng dan masjid agung. Mendekati detik - detik proklamasi pukul 10.00 pagi, upacara peringatan kemerdekaan ke-5 dilaksanakan di lapangan rindam yang dilanjutkan dengan parade militer dan perlombaan olahraga hingga petang.


Itulah sedikit gambaran acara peringatan proklamasi kemerdekaan ke-5 di Magelang. Penemuan kembali buku ini menjadi penting untuk dinarasikan kembali agar memori ingatan peristiwa istimewa bangsa Indonesia di Magelang bisa terus diingat dimasa - masa mendatang.


- Chandra Gusta Wisnuwardana -










No comments:

Post a Comment