31 May 2018

Denmaz Didotte - MAGELANG DARI MASA KE MASA - MASJID AGUNG KAUMAN (Bagian Pertama)



Ada cerita yang mengatakan bahwa awal mula masjid itu berupa sebuah langgar yang sudah ada di tahun 1750an. Saya tidak tahu apakah legenda itu benar atau tidak karena hingga saat ini saya belum menemukan data pendukungnya. Data tertulis yang bisa dikonfirmasi mengatakan bahwa masjid itu dibangun oleh Danoekromo (Bupati Kaboepaten Magelang yang pertama) mulai tahun 1811. Ketika pemerintah Inggris menetapkan Kedoe sebagai sebuah karesidenan dengan "Magelang" sebagai ibukotanya, maka duet John Crowfurd (Residen Kedoe Pertama, merangkap sebagai residen Jogya) dan Danoekromo (yang bergelar Danoeningrat) sebagai regen (bupati) Kaboepaten Magelang yang pertama mulai membangun simbol-simbol kekuasaan di wilayah Kedoe dan Kota Magelang. Karesidenan itu disebut karesidenan Kedoe, karena wilayah Kedoe sudah lebih dikenal daripada nama Magelang. Saat itu, Magelang bukanlah kota, tetapi desa kecil yang terletak dilokasi yang sekarang menjadi Aloon-Aloon Magelang itu. Wilayah rumah residen (karesidenan) juga berada di desa Magelang.
Simbol kekuasaan yang dibangun oleh Residen John Crowfurd adalah bangunan rumah residen (karesidenan) dan barak militer di depannya. Semua bangunan berbahan bambu dan kayu. Sementara Danoekromo, membangun Aloon-Aloon, Rumah Bupati dan Masjid (lebih tepat disebut mushola atau langgar). Serupa dengan bangunan rumah residen, bangunan yang dibuat oleh Danoekromo juga berbahan bambu dan kayu. Tugas lain yang sangat penting dan berat Danoekromo adalah memperpanjang saluran air dari bendungan (tumpukan batu) kali Elo di Goenoeng Saren (belakang secang) yang semula salurannya hanya sampai di wilayah utara Magelang. Saluran itu harus diperpanjang sampai ke sebalah barat gunung Tidar (Jagoan). Saluran ini masih utuh sampai sekarang dan disebut oleh Belanda sebagai Kotta Leiding. Orang Mageleng menyebut dengan Kali Plengkung, kali yang mengalir di atas plengkung.
Semenjak Kedoe ditetapkan sebagai Karesidenan dan Magelang ditetapkan sebagai ibukota Kaboepaten Magelang, maka penduduk di wilayah itu mempunyai kewajiban baru, yaitu "Gugur Gunung". Wilayah dimana saat ini kota Magelang berada, masih berupa bukit yang memanjang (geger buaya) dari daerah Pingit hingga ke wilayah Borobudur, yang diapit oleh dua sungai, yaitu Elo di sisi timur dan Progo di sisi barat. Jalan Pecinan (sekarang) saat itu hanya berupa jalan setapak yang sempit, yang hanya bisa dilewati kuda beban. Kereta kuda tidak bisa melewati kawasan pecinan itu. Kanan kiri sepanjang jalan dari Pingit hingga ke Borobudur masih berupa perengan yang tidak rata. Meski berupa bukit yang terjal, jalan setapak (yang sekarang menjadi jalan antar kota Semarang Jogya dan Magelang Purworejo) merupakan jalan lintas perdanganan yang ramai. Para pedagang dari wilayah Jogya yang akan menuju ke Semarang, selalu milintasi jalan setapak di Magelang itu. Demikian juga para pedagang dari wilayah Bagelen (Purworejo dan sekitarnya) yang akan berdagang ke Semarang (daerah pelabuhan) harus melewati jalan setapak di kawasan Pecinan itu. Jalan dari Joga ke Semarang dan Dari Begelen ke Semarang, bertemu di tempat yang sekarang menjadi shooping center itu. Dari arah Bagelen, mereka melewati jalan setapak di kaki gunung Tidar dan kampung Magersari. Pedagang baik dari Jogya maupun dari Bagelen, biasanya mengisitrahatkan kuda-kudanya, dikawasan yang paling luas, yaitu di kawasan yang sekarang menjadi Aloon-Aloon. Luas kawasan Aloon-Aloon yang rata dan tidak miring, dari sisi timur ke Barat, tidak sampai 60m. Sedangkan untuk kebutuhan makan, mereka membeli dari para pedagang cina yang berjualan makanan di pinggir jalan setapak di kawasan Pecinan itu.
Gugur gunung, yang sekarang sering diartikan sebagai gotong royong, saat itu masih dalam arti gugur gunung yang sebenarnya. Setiap hari, penduduk dari beberapa desa harus bergotong royong meratakan "Bukit atau geger buaya Magelang" itu agar bisa dilewati gerobak sapi dan kereta kuda, dua moda angkutan utama perdagangan saat itu. Magelang yang masih berupa perbukitan memanjang itu dipapras dan tanah paprasannya dipakai untuk menguruk kawasan disepanjang jalan jalan setapak itu. Sebagian tanah digerser ke timur jalan dan sebagian di barat jalan. Kawasan karesidenan merupakan kawasan yang paling memakan urugan tanah. Tebal timbunan itu, dari saluran kali Bening di depan karesidenan sampai halaman karesidenan itu.
Kondisi geografis Magelang yang seperti itu membuat jalan di sepanjang kawasan Pecinan tidak bisa dibuat lebar. Kanan dan kiri kawasan itu miring atau perengan dan disain kawasan pemerintahan di Aloon-Aloon menjadi berantakan. Kantor residen saling berjauhan dengan kantor bupati. Penjara tidak bisa dibangun di kawasan Aloon-Aloon. Kawasan Aloon-Aloon terlalu sempit untuk membangun kawasan pemerintah yang ideal (seperti di kota-kota lain).
Sementara itu, penduduk di wilayah utara distrik Magelang, secara bergiliran bekerja keras memperpanjang saluran air dari sungai Elo itu, menuju ke arah selatan, hingga ke sisi selatan Aloon-Aloon yang baru dibuat.


Foto ini kemungkinan dibuat sekitar tahun 1865. Bangunan Masjid ini kemungkinan sudah bangunan yang kedua. Bangunan yang pertama, kemungkinan dari bambu atau atau kayu, sama dengan bangunan rumah bupati yang berbahan bambu dan kayu. Rumah di belakang masjid itu hanya terlihat bagian atapnya. Hal itu menunjukkan bahwa kawasan masjid itu berupa perengan yang belum diurug sempurna.
Lokasi masjid kauman itu dulunya perengan yang diurug. Coba kalau jalan dari arah masjid ke arah Kejuron..tampak sekali tingginya urugan.Lokasi masjid kauman itu dulunya perengan yang diurug. 


Foto sketsa Aloon-Aloon kemungkinan dibuat tahun 1866-1867 tetapi direproduksi (dipotret) dengan kamera tahun 1883. Di kiri kanan masjid, tampak ada tambahan sayap dan di depan masjid tampak pagar dari tembok atau batu. Sementara di sisi utara Aloon-Aloon, tampak gambar tiga paseban. Dua berada di depan rumah bupati (kabupaten) di Aloon-Aloon dan satu di depan pintu masuk kabupaten yang masih terbuat dari kayu. Paseban yang berada di depan kabupaten itu menunjukkan bahwa rumah bupati (kabupaten) semula berada di sisi utara Aloon-Aloon. Lokasi itu sekarang menjadi gereja GPIB dan rumah bupati pindah ke sisi barat.



Sumber :
Penulis dan Foto : Denmaz Didotte

Catatan :
1.     Nugroho Adi, mengatakan : “Barangkali pemakaian istilah 'gugur gunung' hanya dikenal masyarakat di wilayah Magelang saja.”
2.     Djoko Sulistiyo, menyatakan : ”Jamanku cilik bahasa gugur gunung lebih sering terucap sama ortu ketimbang kerja bakti.”
3.     Anom Sulistiyo, mengatakan : “Yang langgar tahun 1750 mungkin ada benarnya, hanya saja tidak terdokumentasikan dalam sebuah foto”
4.     Novo Indarto, menambah keterangan : “Yang geger boyo dari buku apa ya Denmaz Didotte. Untuk langgar 1750 memang gak ada data tertulis, tapi ada peninggalan insitu yang menjadi dasar. Bagaimanapun kebiasaan pencatatan memang menjadi salah satu kelebihan bangsa Belanda. Untuk ukuran saat itu sebenarnya sudah bisa dibilang masjid. Masih bisa dilihat bangunan utama bertembok itu adalah bangunan awal. Sangat besar utk ukuran 1800 awal. Jadi Danoekromo menurut saya memang membangun masjid. Yang gak jelas adalah bentuk dan ukuran sebelumnya saat masih berupa langgar. Di kemudian hari saat jumlah penduduk bertambah, masjid Danoekromo ditambah serambi dalam lalu serambi luar.”
5.     Denmaz Didotte, menambahkan : “Untuk membuktikan bahwa Magelang itu seperti geger buaya, coba ukur beda ketinggan jalan Semarang - Jogya dengan kali Elo di sisi timur dan kali Progo di sisi barat. Di banyak tempat selisih ketinggian itu lebih tinggi dibanding ketinggian gunung Tidar. Jarak antara kali Elo dan kali Progo tidak cukup jauh untuk ukuran sebuah kota, bahkan di utara Magelang malah saling berdekatan. Kondisi itu yang membuat kontur kampung di Magelang semua miring ke tiimur atau ke barat, membentuk seperti geger buaya.”

30 May 2018

Doa Khatam Qur'an

Allahummarhamna Bil Quran Waj'alhulanna Imaaman Wa Nuuran Wa Huda Wa Rohmah Allahumma Dzikkirna Minhu maa Nasiiha Wa'allimna Minhu maa Jahiilna Warzuqna Tilaawatahu Aana Al Laili Wa Aana An Nahaari Waj'alhulanna Hujjatan Yaa Rabbal ‘Alamin Ya Allah Kasih Sayangilah daku dengan sebab AlQuran ini Dan jadikanlah AlQuran ini sebagai pemimpin sebagai cahaya sebagai petunjuk dan sebagai rahmat bagiku Ya Allah ingatkanlah daku apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran yang telah Kau jelaskan dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui Dan karuniailah daku selalu sempat membaca AlQuran pada malam dan siang hari Dan jadikanlah AlQuran ini sebagai hujjah bagiku Ya Allah Tuhan semesta alam

Sumber :
https://www.musixmatch.com/lyrics/Opick/Doa-Khatam-Qur-an

26 May 2018

MBAH MANGLI MAGELANG






Kiai Haji Hasan Asy’ari alias Mbah Mangli adalah ulama dari Magelang, Jawa Tengah, yang dipercaya punya sejumlah karomah. Pengajian mursyid Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN) ini dihadiri ibuan orang, yang datang dari berbagai kota di Jawa Tengah. Yang unik, setiap mengisi pengajian, kapan pun dan di mana pun, Mbah Mangli, yang lahir di Kediri pada 17 Agustus 1945 ini tidak pernah memakai pelantang atau alat pengeras suara. Meskipun jamaahnya berjubel dan membentuk barisan sampai jauh, mereka masih bisa mendengar suara Mbah Mangli, yang juga dikenal amat kaya raya ini. Konon simpanan emasnya mencapai kiloan gram.

Nama beken Mbah Mangli berasal dari nama tempat kediaman KH Hasan Asy’ari. Yakni Dusun Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Dia menetap di dusun ini pada tahun 1956. Setelah mengasuh majelis taklim selama tiga tahun, ia pun mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi. Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Ponpes Mangli dan sosok Hasan Asy’ari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Mbah Mangli-lah yang berhasil mengislamkan kawasan yang dulu menjadi markas para begal dan perampok tersebut. Pada masa itu daerah tersebut dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Complex (MMC).

Dusun Mangli terletak persis di lereng Gunung Andong, di atas ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. Dari teras masjid, orang bisa melihat hamparan rumah-rumah di Kota Magelang dan Temanggung dengan jelas. Hamparan rumah-rumah itu di malam hari berubah menjadi lautan lampu. Untuk mencapai Dusun Mangli, orang harus menempuh perjalanan sekitar 40 km dari ibu kota Kabupaten Magelang di Kota Mungkid. Bangunan pondok yang berada di tengah-tengah perkampungan berdiri di atas lereng-lereng bukit sehingga dari kejauhan terlihat seperti bangunan bertingkat. Meski terpencil, ribuan masyarakat setiap Minggu mengaji ke pondok tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Magelang namun juga berbagai daerah lain. Uniknya, santri yang mukim tidak lebih dari 41 orang.
Mbah Mangli punya kebiasaan menolak amplop yang lazim diberikan panitia usai mengisi pengajian. Ia selalu mengatakan: “Jika separoh dari jamaah yang hadir tadi mau dan berkenan menjalankan apa yang saya sampaikan tadi, itu jauh lebih bernilai dari apapun, jadi mohon jangan dinilai dakwah saya ini dengan uang, kalau tuan mau antar saya pulang saya terima, kalau kesulitan ya gak papa saya bisa pulang sendiri”

Selain tidak menggunakan pelantang, menurut sohibul hikayah, Mbah Mangli bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Ia bisa mengisi pengajian di Mangli, namun pada saat bersamaan juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta dan bahkan Sumatera. Hal ajaib yang tidak masuk logika ini bisa terjadi lntaran Mbah Mangli punya “Ilmu Melipat Bumi”. yakni bisa datang dan pergi ke berbagai tempat yang jauh dalam sekejap mata. Selain itu, ia juga memiliki kemampuan psikokinesis tinggi, seperti mengetahui tamu yang akan datang beserta maksud dan tujuannya. Konon, ada seorang tamu dari Klaten, Jawa Tengah, bermaksud minta jeruk ke Mbah Mangli untuk diambil barokahnya. Eh, belum lagi sang tamu mengutarakan maksud kedatangannya, Mbah Mangli langsung memetikkan jeruk dari pekarangannya.

Menurut KH Hamim Jazuli alias Gus Miek, walau Mbah Mangli memiliki banyak usaha dan termasuk orang yang kaya-raya, namun Mbah Mangli adalah wali Allah yang hatinya selalu menangis kepada Allah, menangis melihat umat dan menangis karena rindu kepada Allah. Tokoh yang ikut mendirikan Pesantren Asrama Pendidikan Islam (API) Magelang ini wafat pada akhir 2007 di Magelang.

Sumber:
1.   Samsul Munir Amin, Karomah Para Kiai
3.   https://www.facebook.com/photo.php?fbid=250907972143617&set=g.107958196540144&type=1&theater&ifg=1
Catatan :
1.  Hidayat Budi Taufik Hidayat, warga Pakis, Magelang, menuturkan kesaksiannya ketika bertemu Mbah Mangli sebagai berikut : “kenapa beliaunya disebut Mbah Mangli karena beliau tinggal di Dusun Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Rumah beliau dilereng Gunung Andong. Sepeninggal beliau pondok pesantrenya yang meneruskan putra pertamanya. Dulu waktu saya bertugas di Ngablak selaku anggota Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Ngablak sering sowan beliau Mbah Mangli.  Beliau Mbah Mangli baik sekali”.
2.  Aziz Achmad, menuturkan kesaksian selama mengaji kepada Mbah Mangli, sebagai berikut : “Sebelum ikut ngaji, jamaah wajib mandi”.
3.  TotoZadoel, seorang onthelis warga Jakarta dan sekarang jadi pengusaha kopi di Ngablak, menuturkan sebagai berikut : “Pada zaman dulu saya sudah sering mendengar dari masyarakat desa kaki Merbabu mengenai kharomah simbah mangli yang nyaris seperti sebuah legenda. Sayang saya pribadi belum sempat melihat beliau sampai wafat nya ,dan juga tempat pesantrannya.”
4.  Hamid Anwar, warga Pabelan, Magelang dan menjadi Pegawai Negeri Sipil di Pemerintah Kabupaten Semarang, mengemukakan hal sebagai berikut :  “Sebagaimana yang ada dihati saya. Sering mendengar kisah beliau Mbah Mangli tapi sampai wafatnya saya juga belum pernah melihat maupun berkunjung. Rasanya agak menyesal”
5.  Wha-Whah dE'Oneto, menuturkan sebagai berikut : “terkenang waktu masih tinggal di Magelang saat mengaji sama Mbah Mangli”.
6.  Rachmad Ganevo, warga Tempuran, Magelang, menutur sebagai berikut :  “Mbah Mangli memang ulama besar merakyat banyak yang mengaji dan banyak yang mencari barokah. Banyak yang ngaji ke pesantran Mbah Mangli, dibela-belain jalan kaki dari Parakan Temanggung dengan jalan kaki. Tapi masya Alloh, orang yang ngaji merasa tidak capek dan lelah dan perjalanan sampai tempat pengajian Mbah Mangli terasa cepat. Orang-oarang tua dulu (orang sepuh).Termasuk Emak saya yang mengalaminya.
7.  Eka Pradhaning, warga Mejing, Candimulyo, Magelang, menuturkan hal-hal sebagai berikut : “Mbah Mangli setiap Kamis Wage selalu mengisi pengajuan di Mejing, saya selalu ngaji dan ketika penutupan selalu bersholawat sambil didoakan oleh Beliau Mbah Mangli dan saya pernah berdiri tepat dibawahnya sambil tengadahkan tangan mengucap aamiin setiap doanya. Saya selalu membayangkan di tengah-tengah Padang Mashar”.
8.  Fajar Agus Muhammad Raihan, menuturkan sebagai berikut :” Yang unik dari beliau Mbah Mangli dan Penerusnya sampai hari ini tidak mau didokumentasikan atau direkam dan difoto”.
9.  Abdul Mutholib, warga Magelang, menuturkan sebagai berikut : “Mbah Mangli mungkin lahir sebelum tahun 1945. Waktu saya kecil Beliau sudah sepuh (tua)”.
10.        Ibozz Halte Subhanallah, mengatakan bahwa : “ Mbah Mangli  adalah Ulama Kesayangan ALLAHUMMA YARHAM.. Abuya Prof Dr. SAYYID MUHAMMAD AL MALIKI dan Ada Kabar kalau Mbah Mangli ini adalah Djurriyah Rasul, Wallahualam.”
11.        Arief Romly, mengatakan bahwa : Mbah Mangli itu asli desa jambu Monggo Jepara.
12.        Bundha Anie, menyatakan bahwa : Ada yang istimewa  saat pengajian Mbah Mangli datang udara begitu sejuk juga bau harum.. dulu selalu mengisi pengajian selapanan di hari Kamis Wage”.
13.        Dwi SuwarjonoDwi mengutarakan hal sebagi berikut : Disuatu ketika pada saat beliau sedang mengisi acara disebuah pengajian tiba-tiba hujan besar datang mengguyur lokasi,dan beliau berkata:"hujan balik!" menyuruh hujan itu utk kmbali (jangan hujan dulu) maka seketika itupun hujan brhenti.
14.        Aan E Abidin, mengutarakan sebagai berikut : “Ahli ikhlas, tabarukan illaa hadhrotal kirom, asyekh al'arif billah al'alim al'alaamah... KH. Hasan asy'ari (Mbah Mangli) Magelang.”
15.        Widodo SamsulWidodo bersaksi sebagai berikut : Subhanalloh didalam masjid beliau selalu harum banyak ucapan beliau selalu terjadi
16.        Rudd menyatakan :“kalau ingat Mbah Mangli ingat ijazah wirid dari guru saya Abuya Muh.Hayatul Ikhsan dari Abuya Ihya' Ulumuddin Malang dari Mbah Mangli Hasan Asy'ari...
yang terangkum dalam Dzikir Jama'i.

اللهم يا ربنا جوكوفنا لوبيرانا براس اكيه دوىء اكيه كا اغكو عاجي لوغو حاجي براكهي تبي والي
Amiin...
17.        Ziya Ulhaq menyatakan sebagai berikut : Ada sumber mengatakan kalau beliau itu lahir di desa sowan kidul kecamatan kedung kabupaten jepara. Wallohu A'lam


25 May 2018

KOPERASI PUSPA MAKMUR LESTARI


KOPERASI PUSPA MAKMUR LESTARI
1.    Dibentuk pada awal 2018 dengan 24 anggota.  Koperasi produsen ini sebagai wadah bagi para pelaku tanaman hias untuk mengembangkan usahanya sesuai dengan keunggulan masing-masing sehingga dapat saling melengkapi satu sama lain.
2.    Koperasi Puspa diawali dari mereka yang pernah mengikuti pelatihan tanaman hias oleh Dinas Pertanian Kota Magelang, selanjutnya mendapat bimbingan dari Dinas perindustrian dan Perdagangan untuk dapat mengembangkan usaha.

VISI & MISI KOPERASI PUSPA
Visi :
Terwujudnya lembaga ekonomi dan sosial tangguh yang mampu mengembangkan usaha para anggotanya dan ikut membangun Kota Magelang menjadi kota yang bersih, indah dan asri
Misi :
1.    Meningkatkan peran serta anggota Koperasi dalam pengembangan Koperasi kearah yang lebih maju dan produktif
2.    Meningkatkan pembinaan anggota dalam pengembangan usaha
3.    Berkreasi dan inovasi seluas luasnya untuk menghasilkan karya unggulan
4.    Mendukung dan turut berperan aktif dalam pembangunan lingkungan kota Magelang dan sekitarnya

SUSUNAN PENGURUS
Pengurus
Ketua                    : WB Wardhani
Sekretaris 1           : Sumaryanti
Sekretaris 2           : Chairul Bariah
Bendahara 1         : Suhartiningsih
Bendahara 2         : Tuti Mahanani
Penasihat
Ketua          : Marlina
Anggota      : Siti Atun
Anggota      : Ahmad Suwaedi

KOPERASI PUSPA MAKMUR LESTARI
Sekretariat :
Jalan Barito II No 28 RT 3/RW 9 Kedungsari, Magelang Utara, Kota Magelang
Kios : Kebon Bibit Senopati, Ganten
CP : 085870513328 (W.B. Wardhani)






KAMPUNG BUNGA

LATAR BELAKANG
1.    Mendukung program pembangunan Magelang Kota Sejuta Bunga
2.    Mewujudkan sinergi yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan kota
3.    Mengembangkan embrio kelompok masyarakat pecinta tanaman hias yang sudah terbentuk di kelurahan terpilih

VISI & MISI KAMPUNG BUNGA
Visi :
Kota Magelang memiliki sebuah wahana berupa taman tematik sebagai asset yang dibangun berdasarkan pemberdayaan  masyarakat dan menjadi salah satu tujuan wisata yang dapat mengangkat perekonomian Kota Magelang
Misi :
1.  Membangun sebuah tujuan wisata yang mengintegrasikan sektor pertanian, pariwisata, kerajinan dan kuliner.
2.  Membangun minimal 5 (lima) green house sebagai supporting agent di kelurahan kedungsari
3.  Menggerakkan roda perekonomian berbasis pertanian tanaman hias

LOKASI
Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang



KENAPA KEDUNGSARI ?
1.    Kedungsari merupakan pintu gerbang utara Kota Magelang dan terdapat wilayah terbuka dan berkontur serta dekat dengan sumber air : Kali Manggis.
2.    Di Kelurahan Kedungsari sudah terdapat embrio  pelaku usaha tanaman hias binaan Dinas Pertanian sejak tahun 2015.

KEGIATAN KAMPUNG BUNGA
1.    Wahana wisata alam yang tematik
2.    Display dan penjualan aneka jenis tanaman hias dan tabulampot serta perlengkapannya (pot, pupuk, media tanam, dan peralatan)
3.    Menyediakan aneka kerajinan dan asessoris tanaman hias
4.    Taman edukasi

EVENT PROGRAM
1.  Menyelenggarakan Bazar tanaman secara berkala (bisa dikaitkan dengan kegiatan “Car Free Day”)
2.  Menyelenggarakan event2  kecil sebagai sarana untuk mensosialisasi gerakan cinta bunga
3.  Menyelenggarakan event besar tahunan, seperti Pesta Bunga

MEDIA PROMOSI
1.    Media cetak lokal dan regional
2.    Media elektronik lokal dan regional
3.    Media sosial

STAKE HOLDER
1.    Pemerintah Kota Magelang
2.    Masyarakat Kelurahan Kedungsari
3.    Koperasi Puspa Makmur Lestari

KOPERASI PUSPA MAKMUR LESTARI
1.    Dibentuk pada awal 2018 dengan 24 anggota.  Koperasi produsen ini sebagai wadah bagi para pelaku tanaman hias untuk mengembangkan usahanya sesuai dengan keunggulan masing-masing sehingga dapat saling melengkapi satu sama lain.
2.    Koperasi Puspa diawali dari mereka yang pernah mengikuti pelatihan tanaman hias oleh Dinas Pertanian Kota Magelang, selanjutnya mendapat bimbingan dari Dinas perindustrian dan Perdagangan untuk dapat mengembangkan usaha.

VISI & MISI KOPERASI PUSPA
Visi :
Terwujudnya lembaga ekonomi dan sosial tangguh yang mampu mengembangkan usaha para anggotanya dan ikut membangun Kota Magelang menjadi kota yang bersih, indah dan asri
Misi :
1.    Meningkatkan peran serta anggota Koperasi dalam pengembangan Koperasi kearah yang lebih maju dan produktif
2.    Meningkatkan pembinaan anggota dalam pengembangan usaha
3.    Berkreasi dan inovasi seluas luasnya untuk menghasilkan karya unggulan
4.    Mendukung dan turut berperan aktif dalam pembangunan lingkungan kota Magelang dan sekitarnya

SUSUNAN PENGURUS
Pengurus
Ketua                    : WB Wardhani
Sekretaris 1           : Sumaryanti
Sekretaris 2           : Chairul Bariah
Bendahara 1         : Suhartiningsih
Bendahara 2         : Tuti Mahanani
Penasihat
Ketua          : Marlina
Anggota      : Siti Atun
Anggota      : Ahmad Suwaedi

KOPERASI PUSPA MAKMUR LESTARI
Sekretariat :
Jalan Barito II No 28 RT 3/RW 9 Kedungsari, Magelang Utara, Kota Magelang
Kios : Kebon Bibit Senopati, Ganten
CP : 085870513328 (W.B. Wardhani)