06 July 2020

Tentang Sejarah Magelang - MAGELANG TEMPO DOELOE: ROMANSA HOTEL TELOMOYO

MAGELANG TEMPO DOELOE:
ROMANSA HOTEL TELOMOYO
Barangkali nama hotel ini tak sepopuler dengan nama hotel lainnya di kota ini. Misalnya dengan hotel-hotel di era Belanda seperti Loze, Montagne, Thay Thong, Sindoro, Centrum, & Khoe A Bwan. Atau dengan hotel-hotel di era pasca kemerdekaan (1950-an) seperti Bandung, Tionghoa, Merapi, Surabaya, dan Jakarta. Ataupun di era yang lebih muda yakni di tahun 1960-an seperti Hotel Senopati, Pringgading, City dan Wijaya.
Namanyapun sulit untuk dilacak di buku telepon Magelang dari tahun 1939 hingga 1972. Entah mengapa, sarana penting untuk menginap ini tak pernah tercatat dalam deretan nomor-nomor pelanggan telepon.
Meski demikian, hotel ini perlu ditulis dalam catatan sejarah hotel-hotel yang pernah eksis di kota ini. Terletak di Bottonweg 64 yang merupakan basis pemukiman orang Eropa, menjadikan hotel ini 'menyendiri' dibandingkan dengan hotel lainnya. Hotel Telomoyo didirikan dan dimiliki oleh keluarga Djojodihardjo yang rumahnya persis di selatan hotel ini. Belum diketahui mulai kapan hotel ini didirikan.
Datang ke Magelang pada tahun 1918 dari Rembang, Djojodihardjo merintis usaha perdagangannya yakni garam dan ikan asin. Meski hanya berdagang garam dan ikan asin, Djojodihardjo menjadi pedagang sukses. Setelah mendapatkan ijin dari pihak pemerintah kota, Djojodihardjo membeli tanah luas di Botton. Setelah memiliki tanah tersebut, sebagian dibeli lagi oleh pemerintah untuk pendirian MULO School yang kini menjadi SMPN 1 Kota Magelang.
Lalu sebidang tanah antara sekolah dan rumah Djojodihardjo didirikanlah sebuah hotel yang diberi nama 'Telomoyo'. Belum diketahui alasan pemberian nama ini. Tetapi di kota ini, nama gunung biasa dipakai sebagai nama hotel, misalnya Sindoro (kini rumah dokter Setyati Pranantyo di Poncol) dan Merapi (kini eks Hotel Mulia di selatan Supermarket Gardena). Sedangkan Telomoyo adalah nama sebuah gunung di timur laut Grabag, sebuah kecamatan kecil di kaki Gunung Andong.
Hotel Telomoyo dikelola secara kekeluargaan oleh keluarga Djojodihardjo (kakek Edi Sumardi alias Edi Londo). Dari foto di bawah ini dapat dilihat bagaimana bentuk rupa hotel tersebut, mirip rumah biasa yang difungsikan sebagai hotel. Jendela krepyak tinggi besar ada di sidi kanan rumah dengan dominan jendela kaca pada ruang lobinya. Deretan kamar untuk penginap ada di bagian dalam. Pada dinding depan di atas jendela kaca terpampang sebuah tulisan "TELOMOJO". Dan pada halaman depan pojok kiri, terdapat sebuah plang kayu bertuliskan "HOTEL TELOMOJO".
Hotel Telomoyo difoto dari seberang hotel yakni dari SMPN 4 ketika ada kunjungan tamu di sekolah tersebut. Tampak di latar belakang sebelah kiri adalah SMPN 1.
Pada awal tahun 1980-an, hotel ini mengakhiri masa beroperasinya dan berpindahtangan. Lalu fisik bangunan hotel dibongkar dan di atasnya dibangun Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pahlawan di Jl. Pahlawan 64 Botton.

Tentang Sejarah Magelang - SD Potrobangsan 2

Dulu istilahnya Kegiatan lomba LT Pramuka Penggalang antar SD, selalu di pusatkan Karesidenan.
Ini SD ku Potrobangsan 2 mungkin ada temanku yg ada difoto bisa kontak dong..😀
Teman2 yg masih kuingat :Nuri
Wigati, Soraya Isnaeni, Nuraeni Utari dll.

Tentang Sejarah Magelang - Balok.

Balok.
Dulu singkong goreng ini di Magelang namanya BALOK ,apakah sekarang namanya masih tetep BALOK.Nggak tahu kok disebut BALOK mungkin bentuknya seperti balok.Rasanya gurih gurih gitu .
Cuman waktu tinggal di Padang dulu saya dikakatain pantesan orang Jawa kuat kuat lha wong makannya BALOK .
Sekedar intermezo,he he he.

Tentang Sejarah Magelang - SMKK Pius X tahun 1984

Oleh P: Damar Tetuko


SMKK Pius X tahun 1984

Tentang Sejarah Magelang - Timbul Suhardi (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 28 Desember 1942 – meninggal di Jakarta, 26 Maret 2009 pada umur 66 tahun adalah pelawak senior yang tergabung dengan grup lawak Srimulat.

Timbul Suhardi (lahir di Magelang, Jawa Tengah, 28 Desember 1942 – meninggal di Jakarta, 26 Maret 2009 pada umur 66 tahun adalah pelawak senior yang tergabung dengan grup lawak Srimulat. Selain melawak di Srimulat, ia juga melawak di kesenian tradisional ketoprak dan ia juga berperan dalam beberapa judul sinetron. Pelawak yang akrab disapa Timbul ini juga pernah berperan dalam film layar lebar nasional.
Timbul terlahir dari keluarga seniman tradisional. Orangtuanya (Djumadi dan Suhardi), dulu, pimpinan ketoprak wayang orang “Margo Utomo”, ketoprak keliling daerah. Setelah dewasa, Timbul meneruskan jejak kedua orang tuannya. Ia bergabung ke beberapa grup ketoprak untuk menimba ilmu. Tilmbul pun menguasai ketrampilan bermain wayang orang dan penyutradaraan ketoprak. Timbul bergabung dengan Srimulat pada tahun 1979 dan menjadi sutradara Srimulat pada tahun 1983. Namun dia memutuskan untuk keluar pada tahun 1986 karena honor yang tidak mencukupi. Pada pertengahan 1998, bersama mantan anggota grup pelawak Srimulat, Timbul mendirikan Yayasan Paguyuban Kesenian Samiaji, beranggotakan 80 orang, yang salah satu produknya Ketoprak Humor.
Timbul menikah dengan Sukarti dan dikaruniai enam orang anak, Kadar Sumarsono, Teguh Sunardi, Bingah, Ovi, Widi Haryati, dan Oki Nugroho Mulat.
Pada 26 Maret 2009, Timbul menghembuskan napas terakhir akibat komplikasi penyakit stroke, vertigo dan diabetes yang dideritanya. Timbul menutup usia pada usia 66 tahun. Jenasahnya dimakamkan di TPU Penggilingan, Rawamangun, Jakarta Timur pada Jumat, 27 Maret 2009.
Filmografi :
- Makin Lama Makin Asyik (1987)
- Bendi Keramat (1988)
Bukan Hil Yang Mustahal 😂😂
Ada yang tahu Magelang daerah mana??
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Timbul_Suhardi

Tentang Sejarah Magelang - KENANGAN MANIS BERSAMA "TELIK"

Oleh : Djulianta

KENANGAN MANIS BERSAMA "TELIK"
Untuk wilayah Magelang anyaman bambu perangkap ikan belut ini bernama "telik".
Pada th 60 an ketika saya masih SD pas libur kwartalan maka beramai ramailah bersama teman sepermainan untuk membuat telik. Beruntunglah ayah saya mempunyai kebun bambu sehingga mudah mendapatkan bahan. Setelah selesai dibuat telik tsb diberi umpan dan bagian belakangnya disumbat. Kemudian pada sore hari kami pergi ke sawah untuk memasangnya dg cara dibenamkan setengahnya. Karena jumlahnya banyak maka harus diberi tanda supaya tidak lupa. Pada pagi sebelum matahari terbit kami sudah ke sawah lagi untuk memanen hasil tangkapannya yg berupa ikan belut.
Tetapi kadang ada juga nasib sial, ketika kami memasang telik tsb ternyata sudah ada anak anak desa tetangga yg mengintainya, telik tsb dicurinya, sehingga pada pagi harinya kami pulang dg tangan hampa, belut gak dapat telikpun hilang.

Tentang Sejarah Magelang - MASA HINDIA BELANDA (Nederlands-Indië) Chandi Barabudhur Awal konstruksi : sekitar th 770 M

 



















Jerry II ke MASA HINDIA BELANDA (Nederlands-Indië)

Chandi Barabudhur
Awal konstruksi : sekitar th 770 M
Selesai : sekitar th 825 M
Nama Borobudur adalah paduan dari kata "Bara" serta "Budur".
Bara dari bahasa sansekerta bermakna komplek candi atau biara.
Sedang Budur asal dari kata Beduhur yg bermakna diatas. Borobudur = Biara Diatas (bukit).
Dunia baru menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan pada 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang saat itu menjabat Letnan Gubernur Inggris atas tanah Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami upaya penyelamatan dan pemugaran (rekonstruksi) .

Source : Tropenmuseum Nederlands Indie

Tentang Sejarah Magelang - CANDI BOROBUDUR KISARAN TAHUN 1900

Oleh : Siluman Tidar

CANDI BOROBUDUR KISARAN TAHUN 1900

Tentang Sejarah Magelang - Rapids of the River Progo

Rapids of the River Progo, Aliran yang deras dari Sungai Progo
Buku : Java and Sumatra tours, halaman 2
Penulis bersama : Royal Rotterdam Lloyd (Rotterdam)
Tahun : 1927
.

Tentang Sejarah Magelang - Johannes van der Steur ke 155

Sekadar Info (bukan acara resmi)
Jumat 10 Juli 2020 mendatang merupakan hari ulang tahun tokoh kemanusiaan Johannes van der Steur ke 155. Beliau lahir pada 1865 di Harleem Belanda. Kiprahnya tak usah diragukan lagi dan tercatat dengan tinta emas dalam sejarah kemanusiaan. Berkat tangan dinginnya, 7000 anak terlantar di asuhnya di sebuah panti asuhan di Meteseh Magelang.
( https://kotatoeamagelang.wordpress.com/…/papa-johan-van-de…/ ).
... Lihat Selengkapnya

Tentang Sejarah Magelang - Tukangan Wetan

Oleh : Morphy Wanto

Jaman dulu kalo agustusan dikampungku mesti ada pentas seni pemuda nya sangat kompak,,,ak hanya bisa nonton wong masih kecil hahaha,,,

entang Sejarah magelang - DE HOLLANDSCH INDUSTRIE MAATSCHAPPIJ (HIMA) : Sepeda Buatan dalam Negeri Hindia

DE HOLLANDSCH INDUSTRIE MAATSCHAPPIJ (HIMA) : Sepeda Buatan dalam Negeri Hindia
HIMA Rijweilfabriek adalah salah satu pabrikan sepeda onthel yang pernah berjaya dan meramaikan khasanah persaingan industri sepeda pada pertengahan abad ke-20. Kerasnya kompetisi industri sepeda pada 1930an ditambah melesunya kegiatan ekonomi sebagai dampak dari krisis global menyebabkan pabrikan sepeda HIMA harus bersiap menghadapi kebangkrutan. Tingginya permintaan sepeda yang tidak sebanding dengan biaya operasional seperti mahalnya bahan baku sepeda dan gaji para buruhnya di Amsterdam yang cukup tinggi membuat manajemen HIMA Rijweilfabriek memutuskan untuk memindahkan pabriknya ke Hindia Belanda.
Tuan von Meyenfeldt, selaku ditektur perusahaan SL. Manson & Co sebagai induk perusahaan sepeda HIMA di Bandung mengatakan bahwa dengan berpindahnya pusat produksi sepeda HIMA ke Bandung maka perusahaan setidaknya bisa tetap bertahan di masa krisi dan bahkan ia berharap kedepannya bisa mengembangkan industrinya tersebut. Murahnya tenaga kerja di Hindia, terutama Bandung, serta ditambah dengan banyaknya lulusan siswa sekolah teknik disana membuat pihak manajemen memilih kota tersebut.
Pemerintah Kolonial Hindia - Belanda pun tidak segan - segan menyambut baik kehadiran pabrik sepeda HIMA ini di tanah jajahan. Para siswa sekolah serta tenaga profesional Hindia didorong untuk bisa magang dan bekerja di pabrik tersebut. Beberapa tahun berselang demi memperluas cakupan usahanya, manajemen HIMA Rijweilfabreik memutuskan untuk memindahkan pabriknya ke Surabaya dimana bahan baku industri sepeda bisa dengan mudah dan cepat didapat. Bahkan, konon SL. Manson & Co. juga sempat membuat pabriknya di Malang. Sayangnya, industri sepeda HIMA ini harus gulung tikar pada tahun 1975 dimana kendaraan bermotor mulai menggeser pamor sepeda onthel.
- Chandra Gusta Wisnuwardana -
Dinarasikan ulang dari Oldbike in History

Tentang Sejarah Magelang - NOSTALGIA PADA SEPEDA TUA

NOSTALGIA PADA SEPEDA TUA
Jatuh cinta pada sepeda onthel sebenarnya sudah lama saya rasakan sejak kira - kira saya masih duduk di bangku SMP, sekitar tahun 2005 atau 2006. Tapi lantaran medan di Magelang yang naik dan turun serta tidak ada restu untuk punya sepeda onthel dari orang tua, niatan itu saya pendam lama.
Sepeda onthel pertama baru termiliki sekitar tahun 2011 atau 2012 ketika saya sudah mulai nyari duit sendiri dengan ngelsin anak - anak sekolah waktu saya masih kuliah. Impian memiliki sepeda onthel pun terwujud dengan meminang sebuah sepeda tua tanpa merk ini. Kondisi sepeda waktu pertama kali saya miliki masih sangat buruk, tidak terawat dan berkarat. Dengan semangat yang menggebu, saya restorasi sepeda itu, saya cat ulang, saya krom semua karat diaksesorisnya, pokoknya saya openi betul - betul. Tidak perduli merek apa sepedanya, yang penting saya sudah punya sepeda onthel! Begitu ungkap saya dalam hati.
Pada sekitar tahun 2012 saya mulai bersentuhan dengan komunitas sepeda onthel ketika datang ke acara Jogja Kembali Bersepeda II di Jogja Nasional Museum. Sambil melihat dunia komunitas peronthelan, saya juga membeli aksesoris sepeda onthel dari pasar klithikan yang digelar disana. Mengingat uang yang minim, kala itu saya hanya membeli hiasan burung garuda untuk slebor depan onthel. Hahahaahaha.. Sebenarnya, dalam event itu ada kirab sepeda onthel juga, tapi lantaran saya ndak punya kenalan sesama penghobi sepeda, saya tidak berani ikut - ikutan, dan hanya nonton liputannya via SCTV kala itu. hahahahahaha..
Perkenalanan saya dengan komunitas onthel pertama kali bisa dikatakan secara tidak sengaja. Jogja ditahun 2010 - 2013an kalau tidak salah ingat sedang getol - getolnya menggalakkan gerakan SEGOSEGAWE (Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe). Namun, ketika ada pergantian walikota, gerakan itu seakan - akan hilang gaungnya. Gerakan menghidupkan “segosegawe” pun digalakkan oleh acara semacam “JLFR - Jogja Last Friday Ride” yang tiap jumat terakhir melakukan kegiatan sepeda malam keliling kota. Nah, dari sana saya berkenalan dengan sosok Pak Pono, yang punya ciri khas sepeda onthel nyentrik dengan spion yang banyak, lampu kerlap - kerlip, dan soundsystem full musik. Saya kira, banyak yang tau dan kenal beliau. Dari perkenalan itulah saya kemudian mulai bergabung dengan komunitas PODJOK (Paguyuban Onthel Djokjakarta). Jika tidak salah, event pertama saya dengan PODJOK adalah peringatan Hari Kartini tanggal 22 April 2013 dengan titik kumpul di Tugu Jogja. Nah, dari sana mulai lah saya ikut berkomunitas dengan PODJOK dan mengikuti beberapa event bersama.
Ngomong - ngomong soal sepeda pertama saya ini, ada kisah menarik. Pada hari wisuda saya bulan Juni 2013, jika saya tidak salah, mungkin sayalah satu - satunya wisudawan UNY yang pergi ke GOR untuk di wisuda dengan naik sepeda onthel ke TKP ketika yang lain naik mobil atau kendaraan pribadi lainnya bersama keluarga. Hahahahaa..
Sekitar akhir tahun 2013, ketika saya sedang enak - enaknya terlelap tidur di kosan, sepeda kesayangan yang saya parkirkan didalam area parkir kosan, raib digondol maling.
Umar I