24 March 2010

Sejarh Kota Magelang

Hari Jadi Kota Magelang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 6 Tahun 1989, bahwa tanggal 11 April 907 Masehi merupakan hari jadi. Penetapan ini merupakan tindak lanjut dari seminar dan diskusi yang dilaksanakan oleh Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Magelang bekerjasama dengan Universitas Tidar Magelang dengan dibantu pakar sejarah dan arkeologi Universitas Gajah Mada, Drs.MM. Soekarto Kartoatmodjo, dengan dilengkapi berbagai penelitian di Museum Nasional maupun Museum Radya Pustaka-Surakarta. Kota Magelang mengawali sejarahnya sebagai desa perdikan Mantyasih, yang saat ini dikenal dengan Kampung Meteseh di Kelurahan Magelang. Di kampung Meteseh saat ini terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan Sima atau Perdikan.
Untuk menelusuri kembali sejarah Kota Magelang, sumber prasasti yang digunakan adalah prasasti Poh, prasasti Gilikan dan prasasti Mantyasih. Ketiganya merupakan prasasti yang ditulis di atas lempengan tembaga.
Parsasti POH dan Mantyasih ditulis zaman Mataram Hindu saat pemerintahan Raja Rake Watukura Dyah Balitung (898-910 M), dalam prasasti ini disebut-sebut adanya Desa Mantyasih dan nama Desa Glangglang. Mantyasih inilah yang kemudian berubah menjadi Meteseh, sedangkan Glangglang berubah menjadi Magelang.
Dalam Prasasti Mantyasih berisi antara lain, penyebutan nama Raja Rake Watukura Dyah Balitung, serta penyebutan angka 829 Çaka bulan Çaitra tanggal 11 Paro-Gelap Paringkelan Tungle, Pasaran Umanis hari Senais Sçara atau Sabtu, dengan kata lain Hari Sabtu Legi tanggal 11 April 907. Dalam Prasasti ini disebut pula Desa Mantyasih yang ditetapkan oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung sebagai Desa Perdikan atau daerah bebas pajak yang dipimpin oleh pejabat patih. Juga disebut-sebut Gunung Susundara dan Wukir Sumbing yang kini dikenal dengan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Begitulah Magelang, yang kemudian berkembang menjadi kota selanjutnya menjadi ibukota Karesidenan Kedu dan juga pernah menjadi ibukota Kabupaten Magelang. Setelah masa kemerdekaan kota ini menjadi kotapraja dan kemudian kotamadya dan di era Reformasi, sejalan dengan pemberian otonomi seluas-luasnya kepada daerah, sebutan kotamadyaditiadakan dan diganti menjadi kota.
Ketika Inggris menguasai Magelang pada abad ke 18, dijadikanlah kota ini sebagai pusat pemerintahan setingkat Kabupaten dan diangkatlah Mas Ngabehi Danukromo sebagai Bupati pertama. Bupati ini pulalah yang kemudian merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun Alun - alun, bangunan tempat tinggal Bupati serta sebuah masjid. Dalam perkembangan selanjutnya dipilihlah Magelang sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada tahun 1818.
Setelah pemerintah Inggris ditaklukkan oleh Belanda, kedudukan Magelang semakin kuat. Oleh pemerintah Belanda, kota ini dijadikan pusat lalu lintas perekonomian. Selain itu karena letaknya yang strategis, udaranya yang nyaman serta pemandangannya yang indah Magelang kemudian dijadikan Kota Militer: Pemerintah Belanda terus melengkapi sarana dan prasarana perkotaan. Menara air minum dibangun di tengah-tengah kota pada tahun 1918, perusahaan listrik mulai beroperasi tahun 1927, dan jalan-jalan arteri diperkeras dan diaspal.

Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Magelang#Sejarah

23 March 2010

Tentang Sejarah Magelang - ANTARA LISTRIK, POLISI DAN AIR

Oleh : Bagus Priyana
MAGELANG TEMPO DOELOE:
ANTARA LISTRIK, POLISI DAN AIR
Apakah hubungan antara listrik, polisi dan air?
Tentu saja polisi tidak mengurusi listrik dan air. Listrik dan air menjadi urusan perusahaan air minum dan perusahaan listrik.
Tapi hubungan ketiganya sebenarnya ada di selembar foto langka ini. Foto tahun 1935 ini menceritakan ketiganya dalam 1 bingkai foto. Foto ini berlokasi di Aloon-aloon Kota Magelang dilihat dari sisi tenggara (depan Klenteng Liong Hok Bio). Terlihat deretan pohon beringin menaungi di pinggir lapangan. Tampak di kejauhan sebelah kiri merupakan Masjid Agung Kauman.
Pada foto terlihat sebuah tugu menjulang setinggi 7-8 meter di latar depan, tugu ini dibangun pada Maret 1924 sesuai dengan prasasti yang terpasang di dinding timur tugu ini yang tertulis "MAART 1924 ELECTRIFICATIE MAGELANG". Tugu yang berdiri tegak ini diberi nama Tugu Listrik ANIEM. Kenapa disebut dengan demikian?
Sebagaimana diketahui bahwa perlistrikan di Magelang di masa itu dikelola oleh ANIEM (Algemeene Nederlands Indiesche Electrociteit Maatschappij). Sumber listrik diambil dari PLTA Jelok di Tuntang, timur Ambarawa.
Bentuk tugu sangat unik, mirip dengan 'teplok' atau alat penerangan tradisional berbahan bakar minyak yang dulu banyak digunakan masyarakat sebelum listrik dipakai. Pada puncaknya terdapat 4 lampu penerangan dan di tengah dinding sisi timur terpasang jam bulat dengan 2 muka sebagai petunjuk waktu. Awalnya tugu ini tidak ada jamnya, tapi kemudian dipasang jam mengingat saat itu banyak masyarakat yang membutuhkan informasi waktu. Terlihat, 2 anak kecil duduk-duduk di bawah bagian tugu ini.
Persis dibelakangnya terdapat "politie posthuis" atau pos polisi. Pos polisi ini merupakan satu dari 3 pos polisi lainnya. Dua lainnya ada di perempatan jalan antara Pasar Rejowinangun, Stasiun Magelang Pasar dan Stanplaats dan yang ketiga di Menowo.
Pos polisi ini berfungsi untuk menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat. Tampak di belakang kanan pos polisi berjajar dengan rapi deretan beberapa sepeda onthel.
Tapi sayangnya, pos polisi di Aloon-aloon ini sudah dibongkar pada tahun 1990-an karena terkena pelebaran jalan dan pembuatan pagar keliling Aloon-aloon.
Jauh di belakang, terdapat Menara Air Minum atau Watertoren. Bangunan ikon kota Magelang ini beroperasi pada 2 Mei 1920. Tinggi bangunan sekitar 23 meter dengan bagian penampung air di bagian atas dengan kapasitas daya tampung 1,75 juta liter air.
Bagian tengah merupakan 32 pilar penyangga menara dengan bagian tengah sebagai tangga menuju ke atas dan terdapat konstruksi pipa-pipa penyalur air bersih.
Bagian bawah berupa ruangan sebanyak 16 ruang. Ruangan itu dibagi menjadi pintu masuk, ruang pelayanan pelanggan, administrasi, gudang dan lainnya.
Sumber air berasal dari mata air Kalegen dan Wulung di Bandongan sejauh hampir 9 km. Dengan sistem gravitasi, air dinaikkan ke penampungan air di bagian atas menara ini.
Setelah itu dialirkan ke pelanggan air minum melalui pipa primer dan sekunder, khususnya untuk pelanggan di sepanjang ruas jalan utama seperti sekitar Aloon-aloon, Bayeman, Pecinan, Botton, Poncol dan tangsi militer.
Untuk mengontrol air yang didistribusikan ke pelanggan, dipergunakan 3 mesin pemompa buatan dari 'Schafter', 'Budenberg' dan 'Ruhaak & Co'.
Komentar
  • Herning Palmono dulu alun alun sejajar jalan ya
  • Dwie Arso Di dpn pos polisi ada tiang bendera jika bedera kotak2hitam putih satu tiang penuh erarti ada kecelakaan tanpa koban jiwa..tetapi kl bendera setengahtiang adakecelakaan dgn korban jiwa...dulu pintu pos polisinya model pintu cowboy
    1
  • Tommy Aditya Sayang, politie posthuis ini hilang di awal 90an
  • Sayfudin Endo Masih ada ta pak?
  • Eddy Sutrisno Aku pernah masuk pos polisi..itu..di tilang pak {alm} pak Jalal Poltas...
  • Freddy Sudiono Uwek omah kethek 🤣😂🤣😂🤣😂🤣😃
  • Pakdhe Wotok Alhamdulillah aku wes nate ngrasake asline bangunan
  • Edot Vanlotus Tetep iseh ngalami ..nek ono pos polisi kui...👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻 mantap
  • Edi Dayun Purnomo Kok tanahnya alun2 jadi lebih tinggi yg sekarang?
  • Srikandi Aku menangi pos polisi ne
  • Samsul Ma'arif Almarhum bapak saya pernah bertugas disitu,...
    Tulis balasan...

  • Danang Priyatno PLTA Jelok di bawah sana 😁
    Gambar mungkin berisi: rumput dan luar ruangan
  • Dedy Soeprijadi Kalau melihat sumber air, watertoren dan segala sesuatunya maka terlihat Belanda cukup serius melengkapi kebutuhan rakyat Magelang.
    Mungkin mereka nggak menyangka akan terlempar keluar pada tahun 40-an.
    • Phil Santosa Belanda memang hebat dalam merencanakan pembangunan kota. New York City, pada mulanya dibangun oleh VOC, mulai pada tahun 1626. Tapi kemudian dirampas oleh pihak kerajaan Inggris.
    Tulis balasan...

  • Denmaz Didotte Pertanyaan menarik.. Jadi saat itu, kantor polisi yang besar di Magelang adanya dimana ya...
    • Paulus Santosa Denmaz Didotte kantor polisi besar diseberang jalan Alon alon Selatan dan dibelakang nya ada tangsi atau perumahan polisi. Perumahan polisi yg lainnya disalah satu gedung bekas hotel Lodge. Gedung nya bertingkat tidak ikut kena bumi hangus disamping utara Kantor Pos.
    • Denmaz Didotte Paulus Santosa itu setelah penyerahan kedaulatan tahun 50 mas. Maksud saya sebelum kemerdekaan
    • Bagus Priyana Denmaz Didotte kalo dari peta tahun 1946 di Kedjuron (asrama polisi skrg ini) tertulis "Landgerecht EN Algemeen Politie"
    • Tommy Aditya Denmaz Didotte kalo gak salah, veldpolitie di polres jagoan mas
    • Denmaz Didotte Tommy Aditya Veldpolitie itu polisi Brimob, lebih sebagai pengendili kerusuhan atau kejahatan dng intensitas tinggi