24 February 2021

Tentang Sejarah Magelang -

Sepertinya kedepan harus menambah ragam busana kalangan priyayi baru dan ragam busana resmi korps pegawai pangreh praja. Secara pribadi saya sendiri lebih suka ragam busana para priyayi generasi hasil Etische Politiek yang mencoba mengakomodir modernitas dan progres budaya Barat tetapi tetap mempertahankan budaya leluhur sebagai jati diri. Tren busana yang cukup menarik.

Tentang Sejarah Magelang - Hari ini Dalam Sejarah : Meninggalnya Sang Panglima

 

Hari ini Dalam Sejarah : Meninggalnya Sang Panglima
Lepas maghrib, 29 Januari 1950, berita duka meliputi seluruh bumi Indonesia. Siaran khusus dibuat oleh RRI memberitakan telah berpulangnya Sang Panglima Besar di Magelang, tepat hari ini, 71 tahun yang lalu.
Sejak memimpin perang gerilya, Jendral Sudirman memang sudah harus bertarung melawan kondisi kesehatannya sendiri. Penyakit paru - paru terus menggerogoti tubuhnya. Semenjak kepulangannya dari medan gerilya, Sang Jendral memang sudah rutin memeriksakan kesehatannya. Berdasarkan saran tim dokter Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta, beliau diminta untuk tinggal di Magelang sembari memulihkan kesehatannya pada bulan Desember. Sayangnya, tidak lama berselang, beliau harus menghadap Sang Ilahi dalam usia 34 tahun. Usia yang masih relatif sangat muda.
Mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk mendoakan dan mengenang jasa - jasa beliau kepada Bangsa Indonesia.

Tentang Sejarah Magelang - SATU PERSATU HILANG

 

SATU PERSATU HILANG
"Bangunan seperti halnya kota selalu tumbuh dan berkembang sepanjang waktu. Bangunan yang dibangun pada masa lampau, sekarang bisa berwujud monumen. Monumen - monumen yang bersifat mendorong (propelling), yang sudah dipakai dalam jangka waktu tertentu, menyimpan potensi untuk dikembangkan, sehingga bisa dimanfaatkan kembali pada masa yang akan datang."
Itulah kutipan tulisan pak Handinoto dalam bukunya "Aristektur dan Kota - Kota di Jawa pada Masa Kolonial". Namun agaknya, pendapat pak Handinoto tersebut tidak berlaku untuk salah satu bangunan tua yang ada di Kota Magelang ini.
Berdiri diatas tanah dengan luas kira - kira 2000 meter persegi, bangunan eks rumah tinggal ini diperkirakan dibangun pada tahun 1910-1920an. Jika dilihat secara arsitektural bangunan ini masih menerapkan pola pembagian ruang khas rumah indies era abad ke-19 dan gaya arsitektur baru sebelum tahun 1930an. Bangunan ini sendiri menerapkan bentuk simetris dengan pembagian ruang yang seimbang. Terdapat 4 buah kamar dibagian dalam dengan lorong panjang ditengah sebagai koridor yang berfungsi untuk menghubungkan seluruh kamar dalam rumah. Terdapat ruang tamu dan ruang makan di bagian depan dan belakang rumah utama. Bekas doorloop masih bisa ditemukan pada pintu belakang rumah yang berguna untuk menghubungkan bagian rumah utama dengan bagian servis seperti dapur, kamar mandi dan kamar bedinde. Pada fasade depan banguan terdapat angin - angin atau fentilasi dan tambahan ornamen abstrak geometris. Terdapat juga ornamen bidak catur dari kayu pada bagian puncak atap fasade depan banguanan. Jendela pada tiap kamar dibuat besar dan lebar dengan fentilasi jendela kaca pada bagian teras belakang yang diduga ruang makan. Kusen pintu terbuat dari kayu jati tua dengan tebal sekitar 8 cm - 10cm dengan tinggi kurang lebih 2 meter.
Jika dilihat dari peta dan dokumen lama era kolonial, rumah ini diperkirakan pernah dimiliki oleh Tuan Jansen. Setelah era kemerdekaan, saya sendiri tidak mengetahui siapa pemilik bangunan rumah tersebut. Bangunan ini tercatat pernah digunakan sebagai hotel dengan nama HOTEL JUJUR sejak 2 Februari 1982. Bekas Hotel Jujur ini sempat terbengkalai hingga tahun 2016 dan direnovasi menjadi rumah makan. Karena sepi pembeli, bangunan rumah ini sempat juga dijadikan kantor oleh beberapa CV sampai pada akhirnya dibongkar pada hari ini.
Setelah sekian lama berdiri dan sempat bergonta - ganti penyewa dan usaha, bangunan tua ini akhirnya harus menyerah pada palu godam yang segera akan meratakannya. Bangunan yang berada di Jalan Tidar no.44 ini tidak lama lagi hanya akan menjadi kenangan bagi warga Kota Magelang dan sekitarnya. Satu persatu banguan tua di Magelang akan berganti rupa.

Tentang Sejarah Magelang - UITBREIDINGSPLAN “OOST” van MAGELANG: Rencana Pemekaran “Timur” Magelang (bagian akhir)

 

UITBREIDINGSPLAN “OOST” van MAGELANG: Rencana Pemekaran “Timur” Magelang (bagian akhir)
UITBREIDINGSPLAN “OOST” atau Rencana Perluasan “Timur” Magelang yang sudah bergulir sejak tahun 1931 terpaksa harus mankrak ditengah jalan tatkala proposal pinjaman dana sebesar NLG 400.000 ditolak oleh pemerintah pada 1932. Demi mengatasi kekurangan perumahan yang kian mendesak tersebut, pemerintah kota melalui B en W bersama – sama dengan dewan kota Magelang berusaha mencari solusi untuk segera menyelesaikan permasalahan tersebut. B en W pun mengebut pembangunan rumah – rumah mungil dengan harga sewa murah pada plot – plot tanah lain selain area yang sebelumnya direncanakan masuk ke dalam Uitbreidingsplan “Oost”. Meskipun demikian, usaha – usaha untuk merealisasikan rencana perluasan kota ke arah Timur ini terus dilakukan hingga awal tahun 1933. Salah satu rencana terakhir yang dilakukan oleh pemerintah kota Magelang tersebut adalah pembelian plot tanah milik mendiang J.M.J van Eijck.
Ketika Johann Julius Maria van Eijck atau J.M.J van Eijck meninggal dunia pada 2 Januari 1931, seluruh aset baik tanah dan bangunannya secara otomatis jatuh ke tangan istrinya, C.A.F van Eijck Ehrencron. Bangunan rumah tinggal dan bekas toko serta beberapa unit rumah yang berada di dalam van Eijcks Park pun turut dilego. Iklan mengenai penjulan bidang – bidang tanah milik van Eijck ini bisa ditemukan di dalam surat kabar seperti de Locomotief dan Het Nieuws van den dag voor Nederlandsche – Indie yang terbit pada Desember 1932. Dalam salah satu iklannya disebutkan bahwa dua bidang tanah yang berada di Dessa Pandjang dengan nomor registrasi 1324 dan 1325, dan luas 8500 meter persegi serta rumah dan toko van Eijck beserta 11 rumah yang terletak didalam van Eijcks Park ditawarkan secara bebas kepada siapapun. Plot – plot tanah yang sudah dimiliki van Eijck sejak tahun 1921 ini jika dilihat dari sudut pandang ekonomi sangatlah strategis dan mendukung untuk dijadikan area perluasan kota Magelang.
Sejak bulan Januari hingga Desember 1932, dalam beberapa kali rapat dewan kota (raadsvergadering) usulan dan proposal Uitbreidingsplan “Oost” Magelang ini direvisi dan dibahas berkali – kali. Terakhir kali proposal perluasan kota ini benar – benar ditolak ketika B en W berencana untuk membeli bidang – bidang tanah milik van Eijck tersebut. Dalam sebuah artikel surat kabar De locomotief yang terbit pada 9 Maret 1933, perdebatan antara pemerintah kota dan dewan kota banyak terjadi mengenai apakah pembelian plot tanah di bekas milik van Eijck ini benar – benar menguntungkan dan bermanfaat bagi Stadsgemeente Magelang atau tidak. Walikota Lakeman dalam kesempatan tersebut sempat berkonsultasi kepada dewan kota tentang manfaat yang bisa diperoleh jika bidang tanah tersebut berhasil didapatkan seperti diantaranya pembuatan akses jalan dari dan menuju ke Kawasan van Eijcks Park ini dapat mengurai lalu lintas yang padat disepanjang Groote Weg Zuid (Patjinan). Dengan pembuatan jalan di Djoeritan dan Gelangan maka rencana Perluasan Timur akan lebih mudah di masa – masa mendatang. Selain itu, kompleks plot tanah di Kawasan Timur ini menurut beberapa anggota dewan kota juga dirasa menguntungkan sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi keuangan kota.
Meskipun demikian, tidak semua anggota dewan setuju mengenai rencana tersebut. Ada yang berpendapat bahwa keuntungan yang akan didapatkan tidak akan sesuai dengan dana yang akan dikeluarkan untuk pembelian bidang tanah tersebut. Disisi lain, anggota dewa dr. Fernandes berpendapat bahwa daya tarik rumah-rumah di van Eyckspark relative rendah, mengingat rumah – rumah yang dibangun disana menggunakan atap yang terbuat dari seng. Ia juga berpendapat bahwa dengan dibelinya plot van Eyckspark akan menimbulkan persaingan antara pemerintah dan para kontraktor swasta.
Menganggapi hal tersebut, ketua dewan kota menjawab kekhawatiran anggota dewan dr. Fernandes bahwa penggunaan atap seng pada 11 rumah di dalam van Eyckspark tersebut terlalu hiperbolis. Anggota dewan kota, Tuan Blok juga sependapat dengan pernyataan ketua dewan. Ia yang cukup berpengalaman dalam membangun banyak rumah dengan atap seng di Sumatera mengatakan bahwa dengan pemasangan atap seng maka pemerintah kota dapat menghemat pengeluaran. Kekurangan atap seng seperti hawa panas yang berlebih didalam rumah bisa disiasati dengan memperbanyak kisi – kisi dan ventilasi untuk mengurangi panas berlebih. Anggota dewan seperti Tuan Reuneker juga berpendapat bahwasanya rumah-rumah di van Eyckspark sebaiknya hanya disewakan ketika permintaan rumah melebihi ketersediaan rumah yang ada. Semua itu bisa terwujud jika akses jalan ke van Eyckspark sudah terbangun.
Pembahasan dan perdebatan mengenai jadi tidaknya pembelian plot tanah yang melingkupi bekas rumah dan toko milik van Eijck, rumah yang ditempati dr. Idzinga dan van Eyckspark sampai pada sumber dana dan pembiayaan. Beberapa anggota dewan ada yang bersikokoh tidak mau membeli plot tanah tersebut karena akan merugikan keuangan kota. Ada juga anggota dewan yang menyarankan untuk membeli bekas rumah dan toko milik van Eijck saja tapi tidak dengan van Eyckspark. Ketua dewan tetap meyakini bahwa keuangan kota tetap bisa berjalan dengan sehat dengan bantuan dari Escompto Bank. Kebuntuan mengenai jadi tidaknya dan bagaimana masa depan dari Uitbreidingspaln “Oost” pun harus diputuskan dengan voting atau pemungutan suara dengan hasil Tuan Van Eekhout, Tuan Blok, R. Martosendjojo dan Djie Ting Tjioe menyetujui pembelian seluruh plot bidang bekas milik van Eijk dan Tuan Ungerer, Tuan Verplak, Tuan Frank, Tuan Reuneker dan Dr. Fernandes menentang rencana tersebut. Ketua dewan pun pada akhirnya memberikan catatan dengan nada penyesalan bahwa proposal Uitbreidingsplan “Oost” telah ditolak dan mengungkapkan harapan bahwa para anggota yang menolak tidak akan menyesalinya dikemudian hari. Bangunan-bangunan yang dibahas dalam raadsvergadering ini kemudian dijual kepada beberapa pihak. Pihak – pihak tersebut adalah Dana Pensiun Militer (militaire pensioenfondsen) yang mendapatkan plot Eycksspark dengan 11 rumah didalamnya seharga ƒ 26.500, Tan Tjien Koen yang mendapatkan bekas rumah Dokter Idsenga seharga ƒ 13.500 dan Liem Kian Bik yang mendapatkan plot bangunan bekas rumah dan toko van Eyck seharga ƒ 20.200. Total dana yang berhasil dikumpulkan dari penjualan ketiga bidang tanah tersebut sebesar f 60.200, jumlah yang jauh lebih rendah dari estimasi yang ditakutkan para anggota dewan antara f 75.000 – f 80.000.
Rencana perluasan Timur kota Magelang atau Uitbreidingsplan “Oost” ini pada akhirnya harus berhenti. Program perluasan kota dan penyediaan rumah – rumah murah bagi kalangan Indo – Eropa pun harus tertunda setidaknya hingga tahun 1934 ketika pemerintah kota mulai menggandeng arsitek dan ahli tata kota terkenal, Ir, Herman Thomas Karsten. Pengembangan kota pun bergeser orientasi dari Oost ke West atau dari Timur ke Barat pada tahun – tahun berikutnya. Demikianlah seri terakhir tulisan mengenai Uitbreidingsplan “Oost” van Magelang : Rencana Pemekaran “Timur” Magelang. Masih banyak sekali kekurangan dalam tulisan amatir ini dan oleh karenanya penulis mohon maaf yang sebesar – besarnya. Semoga bermanfaat.