22 April 2024

CATATAN PERJALANAN ARKEOLOGI ERA KOLONIAL HINDIA BELANDA DI GUNUNG PENANGGUNGAN JAWA TIMUR TH 1923 Pada Tahun 1923 sebuah tim Arkeologi pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan perjalanan ke wilayah Jawa Timur tepatnya di lereng Gunung Penanggungan untuk mengadakan penelitian mengenai situs-situs Kuno yang saat itu banyak bertebaran di lereng gunung. Perjalanan tersebut dicatat dalam sebuah buku jurnal berjudul "Oudheidkundige verslag Dienst in Nedherlansch-Indie 1923". Dan berikut beberapa kutipan catatan yang diterjemahkan dari Bahasa Belanda. "Drietal monumentjes ор de Westelijke helling van den Penanggoengan bezocht, die tot dusver onbekend waren gebleven. Daar het niet gemakkelijk is er een naam aan te geven, zullen we de complexjes resp. А, B en С noemen. А ligt het hoogst en is verreweg het belangrijkst, Het ligt iets Zuidelijker en aanmerkelijk hooger dan het zadel tusschen den Goenoeng Bekel en den Penanggoengan". Jika diterjemahkan "Mengunjungi tiga monumen di lereng barat Penanggoengan yang sampai sekarang masih belum diketahui. Karena tidak mudah memberi nama, kami akan merujuk ke kompleksnya masing-masing. Hubungi А, B dan С. А adalah yang tertinggi dan sejauh ini merupakan yang paling penting. Letaknya sedikit lebih jauh ke selatan dan jauh lebih tinggi daripada pelana antara Goenoeng Bekel dan Penanggoengan". KONDISI TERBARU SEKARANG Saat ini situs candi di lereng Gunung Bekel dan Penanggungan tersebut dinamakan Candi Pura, Candi Putri, Candi Sinta, Candi Naga, Candi Bayi dan Candi Kendalisada, beberapa candi ditemukan beberapa tahun setelah perjalanan tersebut. Sumber : Oudheidkundig verslag / Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indie. Volume 1923 (1923)

 CATATAN PERJALANAN ARKEOLOGI ERA KOLONIAL HINDIA BELANDA DI GUNUNG PENANGGUNGAN JAWA TIMUR TH 1923


Pada Tahun 1923 sebuah tim Arkeologi pemerintah kolonial Hindia Belanda melakukan perjalanan ke wilayah Jawa Timur tepatnya di lereng Gunung Penanggungan untuk mengadakan penelitian mengenai situs-situs Kuno yang saat itu banyak bertebaran di lereng gunung. Perjalanan tersebut dicatat dalam sebuah buku jurnal berjudul "Oudheidkundige verslag Dienst in Nedherlansch-Indie 1923". 


Dan berikut beberapa kutipan catatan yang diterjemahkan dari Bahasa Belanda.


"Drietal monumentjes ор de Westelijke helling van den Penanggoengan bezocht, die tot dusver onbekend waren gebleven. Daar het niet gemakkelijk is er een naam aan te geven, zullen we de complexjes resp. А, B en С noemen. А ligt het hoogst en is verreweg het belangrijkst, Het ligt iets Zuidelijker en aanmerkelijk hooger dan het zadel tusschen den Goenoeng Bekel en den Penanggoengan".


Jika diterjemahkan


"Mengunjungi tiga monumen di lereng barat Penanggoengan yang sampai sekarang masih belum diketahui. Karena tidak mudah memberi nama, kami akan merujuk ke kompleksnya masing-masing. Hubungi А, B dan С. 

А adalah yang tertinggi dan sejauh ini merupakan yang paling penting. Letaknya sedikit lebih jauh ke selatan dan jauh lebih tinggi daripada pelana antara Goenoeng Bekel dan Penanggoengan".


KONDISI TERBARU SEKARANG



Saat ini situs candi di lereng Gunung Bekel dan Penanggungan tersebut dinamakan Candi Pura, Candi Putri, Candi Sinta, Candi Naga, Candi Bayi dan Candi Kendalisada, beberapa candi ditemukan beberapa tahun setelah perjalanan tersebut. 


Sumber : Oudheidkundig verslag / Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch-Indie. Volume 1923 (1923)

No comments:

Post a Comment