31 March 2024

Potret Perkampungan Arab Ampel Surabaya memperingati Wilhelmina's day 31 Agustus tahun 1898. kiriman: Achmad Ismail

 Potret Perkampungan Arab Ampel Surabaya memperingati Wilhelmina's day 31 Agustus tahun 1898.



kiriman:

Achmad Ismail

Nabi Ayyub as ( Ayyub bin Amush ) Lahir : tanah Us, Eufrat,Yordania barat daya 1540 SM. Diangkat Menjadi nabi tahun 1500 SM. Mukjizat : 1. Selalu sabar meski sedang sakit keras, 2. Keluar mata air dari entakan kakinya, 3. Doa Nabi Ayub AS sering digunakan umat muslim untuk memohon kesembuhan, 5. Kembali diberkahi keluarga dan harta setelah sembuh. Orang Tua : ♂️Amush bin Tawakh bin Rum bin al-รish bin Ishaq a.s. bin Ibrahim a.s, ♀️Aish (Eswa) bin Ishaq bin Ibrahim . Istri : ♀️Rahmah Binti Afrayim. Anak : ♂️Nabi Zulkifli As, ♀️yemina, ♀️kezia, ♀️kerenhapukh. Wafat : Salalah , Oman 1420 SM. Makam : perbukitan Kota Salalah di wilayah Dhofar Oman. Keterangan : Nabi Ayyub alaihissalam hidup pada tahun 1420—1540 SM. Beliau berasal dari Romawi. Beliau diutus Allah untuk menyeru kaumnya, yaitu masyarakat di daerah Huran (sekitar Yordania dan Syiria), agar menyembah Allah. Kisah Nabi Ayub Sebelum ujian kesabaran menimpanya, Nabi Ayyub diberikan limpahan karunia nikmat oleh Allah. Beliau dikaruniai badan sehat dengan wajah yang rupawan. Beliau juga diberi anugerah berupa anak-anak keturunan yang baik dan seorang istri yang setia. Menurut pendapat ulama yang paling populer, nama istri Nabi Ayyub adalah Rahma binti Afraim bin Yusuf bin Ya’qub. Di sisi materi, Allah pun memberikan harta yang melimpah sehingga Nabi Ayyub menjadi seorang yang kaya raya. Tak hanya berupa uang, harta tersebut juga mewujud dalam bentuk tanah dan bangunan yang luas di daerah Batsniyyah, salah satu wilayah dari negeri Huran. Beliau juga memiliki bermacam binatang ternak dalam jumlah yang sangat banyak hingga tak ada orang yang bisa menandinginya. Binatang ternak tersebut berupa unta, sapi, kuda, keledai, dan kambing. Dengan banyaknya nikmat yang telah Allah diberikan, Nabi Ayyub pun rajin bersyukur. Beliau menjadi seorang hamba yang bertakwa dan menyayangi sesama. Nabi Ayyub rajin menyantuni anak yatim, janda, duafa, dan orang yang sedang dalam perjalanan tapi tak punya uang untuk melanjutkan (ibnu sabil), serta memberi makan orang miskin. “Sosok Penyabar dan Penuh Rasa Syukur Nabi Ayyub a.s. mempunyai keturunan dan rezeki yang melimpah. Ia selalu bersyukur dan tekun beribadah. Hal itu membuat Iblis iri. Ia meminta izin kepada Allah SWT untuk menggoda keimanan Nabi Ayyub a.s. Apa yang akan dilakukan Iblis kepada Nabi Ayyub a.s.? Apakah Iblis berhasil menggoda keimanannya?” Ujian Kesabaran Nabi Ayyub Nama Ayyub alaihissalam disebutkan Allah bersama para Nabi lainnya pada Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ ayat 163: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” Kemudian Allah menceritakan tentang ujian yang diberikan kepada Ayyub dan bagaimana beliau bersabar menghadapinya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Sad ayat 41—44: “Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.’ Allah berfirman, ‘Hentakkanlah kakimu; inilah air sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipat gandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat. Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” Allah memberi ujian kepada Nabi Ayyub dengan mengambil kembali seluruh nikmat berlimpah yang Dia berikan kepada beliau. Pertama, Allah timpakan kepada Ayyub alaihissalam penyakit kulit di sekujur tubuhnya. Bahkan Ibnu Katsir menafsirkan, tidak ada satu pori-pori pun dari tubuh Nabi Ayyub yang selamat dari penyakit judzam (kusta) itu. Dengan itu Allah mengangkat nikmat paras beliau yang rupawan. Badannya yang semula sehat, segar, dan bugar Allah angkat dengan menimpakan tubuh yang sangat lemah karena penyakit itu. Saking lemahnya, dikisahkan Nabi Ayyub sampai tidak sanggup berjalan sendiri untuk buang hajat ke kamar mandi, sehingga istri beliau harus menemani. Putra-putri beliau pun Allah ambil, semuanya meninggal dunia. Tak sampai di situ, harta Nabi Ayyub yang berlimpah dan tak ada yang menandingi jumlahnya juga Allah tarik kembali. Nabi Ayyub pun jatuh miskin. Ditambah dengan kondisi penyakitnya, semua orang menjauhi beliau. Nabi Ayyub pun mengasingkan diri ke suatu tempat. Hanya istri beliau yang setia menemani, juga dua orang sahabat beliau yang selalu mengunjungi. Para ulama pun berselisih pendapat mengenai berapa lamanya Nabi Ayyub menjalani ujian tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Nabi Ayyub sakit selama 18 tahun. Ada juga yang berpendapat hanya tiga tahun saja. Sebagian ulama ada pula yang menyebutkan bahwa Ayyub alaihissalam ditimpa musibah tersebut selama 7 tahun 7 bulan 7 hari. Namun Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik tentang berapa lama waktu Nabi Ayyub menjalani ujian ini: “Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub ‘alaihissalam berada dalam ujiannya selama delapan belas tahun. Baik keluarga dekat maupun keluarga jauh menolaknya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya. Kedua saudara itulah yang selalu memberinya makan dan menemuinya.” Istri Nabi Ayyub pun sangat kasihan melihat kondisi suaminya itu. Hingga pada suatu hari saat membawakan makanan untuk Nabi Ayyub, sang istri mengusulkan sesuatu kepada beliau. “Wahai Ayyub, seandainya engkau mau meminta kepada Allah, tentu Dia akan memberimu jalan keluar,” demikian saran istrinya yang tak tega melihat Ayyub alaihissalam sakit demikian lama. Namun, apa jawab Nabi Ayyub? Beliau menolak dengan alasan yang luar biasa. Jawaban inilah yang menandakan betapa tingginya derajat keimanan Nabi Ayyub. Kesabaran tingkat tinggi juga beliau perlihatkan melalui jawaban atas saran istrinya tersebut. “Aku telah diberi kesehatan selama 70 tahun. Sakit ini masih derita sedikit yang Allah timpakan sampai aku bisa bersabar sama seperti masa sehatku yaitu 70 tahun,” demikian jawaban Nabi Ayyub. Jawaban tersebut juga sekaligus menjadi penegas bahwa hati beliau sama sekali tidak terpengaruh dengan ujian dahsyat yang ditimpakan Allah. Kedua sahabat yang masih setia mengunjungi dan membawakan makanan pun khawatir akan ujian yang menimpa Nabi Ayyub. Terbersit dalam benak salah satu di antara keduanya bahwa ujian Nabi Ayyub mungkin disebabkan karena dosa besar yang pernah beliau perbuat. Kegundahan itu pun disampaikannya kepada sahabat yang lain. Kemudian sahabat ini menyampaikannya kepada Nabi Ayyub. Ketika mendengarnya beliau sempat sedih, tetapi beliau Nabi Ayyub kemudian menceritakan kondisinya secara terbuka dan menampik prasangka itu. Walaupun ditimpa berbagai musibah, dimulai dari kematian anak-anaknya, hilang seluruh harta benda, penyakit yang tak kunjung sembuh, Nabi Ayyub As. justru menghadapi itu semua dnegna penuh kesabaran. Cerita lengkap dari kisah Nabi Ayyub bisa kamu temukan pada buku Kisah Abadi Nabi Ayyub As. Nabi Ayyub Lulus Ujian dan Diberi Hadiah Melimpah dari Allah Karena kesabaran Nabi Ayyub yang luar biasa saat menjalani ujian tersebut, Allah pun menunjukkan jalan keluar. Allah menceritakan hal tersebut pada Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 83—84: “Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’ Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” Kisah tersebut sama dengan firman Allah pada Surah Sad ayat 41—44 di atas. Allah mewahyukan kepada Nabi Ayyub untuk menghentakkan kaki beliau ke tanah. Kemudian dari sana Allah pancarkan mata air yang sejuk. Nabi Ayyub pun bergegas mandi di mata air tersebut hingga sembuhlah penyakit kulit dari badan beliau. Allah juga memerintahkan kepada Nabi Ayyub untuk minum dari mata air tersebut. Kesejukan airnya kemudian mampu membasuh batin Nabi Ayyub, sehingga beliau kembali sehat bugar lahir dan batin. Kekuatannya pun kembali pulih, bahkan seperti tidak pernah sakit. Saat beliau hendak menemui istrinya, sang istri sempat tidak mengenali Nabi Ayyub. Walaupun Nabi Ayyub tampak sama seperti saat beliau sehat dulu. Sebetulnya sang istri mengingat postur dan wajah Nabi Ayyub sebelum sakit itu. Akan tetapi, dalam bayangan istri Nabi Ayyub, beliau masih lemah dan berpenyakit kulit, sehingga ia tidak menyangka bahwa sang suami akan sembuh lebih cepat. Keduanya pun bersuka cita mengucap syukur kepada Allah. Sesuai firman Allah pada Surah Al-Anbiya dan Surah Sad tersebut di atas, bahwa Dia juga mengembalikan anggota keluarga Nabi Ayyub dengan jumlah yang berlipat ganda. Harta Nabi Ayyub juga Allah kembalikan lagi sebagai hadiah atas keridhaan beliau menjalani ujian. Dalam beberapa riwayat dikisahkan untuk mengembalikan harta kekayaan Nabi Ayyub, Allah mengirimkan dua awan. Satu awan menaungi gundukan gandum, sedangkan awan lainnya menaungi gundukan jewawut. Awan yang menaungi gundukan gandum tersebut mengeluarkan “hujan” emas. Sementara awan yang menaungi juwawut mengeluarkan perak. Dengan demikian harta Nabi Ayyub pun kembali melimpah. Dalam versi yang lain, dikisahkan Nabi Ayyub memiliki dua peti. Satu peti tempat menyimpan gandum dan satu lagi tempat menyimpan jewawut. Allah mengirimkan kedua awan untuk menghujani peti gandum dengan emas hingga luber. Awan yang satu lagi mengguyurkan perak ke peti jewawut hingga meluap pula. Tak sampai di situ, Allah juga mengembalikan kekayaan Nabi Ayyub dengan cara yang lain. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Nasa’i dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Manakala Ayyub sedang mandi telanjang, sekelompok belalang dari emas jatuh kepadanya, maka Ayyub memunguti dan menyimpan belalang itu di bajunya. Tuhan memanggilnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah membuatmu kaya seperti yang kamu lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Benar ya Rabbi, akan tetapi aku selalu memerlukan keberkahan-Mu.” Kisah Nabi Ayyub As. kepada kaumnya dan ketabahannya atas penderitaan yang diberikan Allah juga diceritakan pada Seri Kisah Nabi: Rasul yang Kesabarannya Dipuji Allah. Sumpah Nabi Ayyub Dalam Surah Sad ayat 44, Allah berfirman: “Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” Sumpah yang Allah maksud pada ayat tersebut adalah nazar Nabi Ayyub ketika beliau sakit. Nabi Ayyub sempat mengucapkan nazar untuk memukul istrinya saat itu lantaran sang istri melakukan perbuatan yang tidak berkenan di hati beliau. Ada beberapa versi cerita tentang kesalahan istri Nabi Ayyub tersebut. Versi yang pertama, diceritakan bahwa setelah Nabi Ayyub jatuh miskin dan sakit-sakitan, sang istri harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. Sang istri pun bekerja di rumah orang lain. Suatu hari sang istri terlambat pulang ke rumah sehingga Nabi Ayyub marah. Akhirnya beliau mengucapkan sumpah tersebut. Versi cerita yang lain, Nabi Ayyub marah karena sang istri menjual tali pengekang kuda mereka. Hal tersebut terpaksa dilakukan istri beliau karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan. Akhirnya tali pengekang tersebut dijualnya untuk membeli roti. Setelah sembuh dan sehat kembali, Ayyub alaihissalam teringat kembali akan nazar beliau kepada Allah tersebut. Namun, beliau tak tega memukul istrinya yang telah sepenuh hati merawat Nabi Ayyub saat sakit. Akan tetapi, beliau juga harus menunaikan nazarnya. Akhirnya Allah memberikan solusi yang mudah. Allah mewahyukan kepada Nabi Ayyub untuk mengambil seikat batang gandum dan memukulkan ke istrinya satu kali. Dengan demikian telah tertunaikan nazar Nabi Ayyub. Kisah tersebut pun menjadi dasar untuk memberikan hukuman kepada mereka yang berbuat dosa. Menurut pendapat Imam Ahmad, memukul seorang pendosa yang terancam hukuman itu diperbolehkan. Misalnya, memukul seorang pezina dan orang yang menuduh tanpa bukti yang valid. Mereka boleh dipukul seperti cara Nabi Ayyub memukul istri beliau. Hal tersebut dilakukan agar si pendosa tidak celaka setelah dipukul. Pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam hukuman seperti itu juga pernah dipraktikkan. Beliau pernah memerintahkan kepada para sahabat untuk menghukum seorang laki-laki sakit yang berzina. Rasulullah menyuruh para sahabat untuk memukul si lelaki tadi dengan satu janjang kurma. Dalam satu janjang tersebut terdapat seratus cabang. Dengan demikian, satu pukulan saja sudah melaksanakan hukuman tersebut.

 Nabi Ayyub as

( Ayyub bin Amush )


Lahir : tanah Us, Eufrat,Yordania barat daya 1540 SM.

Diangkat Menjadi nabi tahun 1500 SM.

Mukjizat : 1. Selalu sabar meski sedang sakit keras, 

2. Keluar mata air dari entakan kakinya, 3. Doa Nabi Ayub AS sering digunakan umat muslim untuk memohon kesembuhan, 5. Kembali diberkahi keluarga dan harta setelah sembuh.

Orang Tua : ♂️Amush bin Tawakh bin Rum bin al-รish bin Ishaq a.s. bin Ibrahim a.s, ♀️Aish (Eswa) bin Ishaq bin Ibrahim .

Istri : ♀️Rahmah Binti Afrayim.

Anak : ♂️Nabi Zulkifli As, ♀️yemina, ♀️kezia, ♀️kerenhapukh.

Wafat : Salalah , Oman 1420 SM.

Makam : perbukitan Kota Salalah di wilayah Dhofar Oman.



Keterangan : 


Nabi Ayyub alaihissalam hidup pada tahun 1420—1540 SM. Beliau berasal dari Romawi. Beliau diutus Allah untuk menyeru kaumnya, yaitu masyarakat di daerah Huran (sekitar Yordania dan Syiria), agar menyembah Allah.


Kisah Nabi Ayub


Sebelum ujian kesabaran menimpanya, Nabi Ayyub diberikan limpahan karunia nikmat oleh Allah. Beliau dikaruniai badan sehat dengan wajah yang rupawan. Beliau juga diberi anugerah berupa anak-anak keturunan yang baik dan seorang istri yang setia. Menurut pendapat ulama yang paling populer, nama istri Nabi Ayyub adalah Rahma binti Afraim bin Yusuf bin Ya’qub.


Di sisi materi, Allah pun memberikan harta yang melimpah sehingga Nabi Ayyub menjadi seorang yang kaya raya. Tak hanya berupa uang, harta tersebut juga mewujud dalam bentuk tanah dan bangunan yang luas di daerah Batsniyyah, salah satu wilayah dari negeri Huran.


Beliau juga memiliki bermacam binatang ternak dalam jumlah yang sangat banyak hingga tak ada orang yang bisa menandinginya. Binatang ternak tersebut berupa unta, sapi, kuda, keledai, dan kambing.


Dengan banyaknya nikmat yang telah Allah diberikan, Nabi Ayyub pun rajin bersyukur. Beliau menjadi seorang hamba yang bertakwa dan menyayangi sesama. Nabi Ayyub rajin menyantuni anak yatim, janda, duafa, dan orang yang sedang dalam perjalanan tapi tak punya uang untuk melanjutkan (ibnu sabil), serta memberi makan orang miskin.


“Sosok Penyabar dan Penuh Rasa Syukur Nabi Ayyub a.s. mempunyai keturunan dan rezeki yang melimpah. Ia selalu bersyukur dan tekun beribadah. Hal itu membuat Iblis iri. Ia meminta izin kepada Allah SWT untuk menggoda keimanan Nabi Ayyub a.s. Apa yang akan dilakukan Iblis kepada Nabi Ayyub a.s.? Apakah Iblis berhasil menggoda keimanannya?”


Ujian Kesabaran Nabi Ayyub


Nama Ayyub alaihissalam disebutkan Allah bersama para Nabi lainnya pada Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ ayat 163:


“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”


Kemudian Allah menceritakan tentang ujian yang diberikan kepada Ayyub dan bagaimana beliau bersabar menghadapinya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Sad ayat 41—44:


“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.’ Allah berfirman, ‘Hentakkanlah kakimu; inilah air sejuk untuk mandi dan untuk minum.’


Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipat gandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat.


Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).”


Allah memberi ujian kepada Nabi Ayyub dengan mengambil kembali seluruh nikmat berlimpah yang Dia berikan kepada beliau. Pertama, Allah timpakan kepada Ayyub alaihissalam penyakit kulit di sekujur tubuhnya.


Bahkan Ibnu Katsir menafsirkan, tidak ada satu pori-pori pun dari tubuh Nabi Ayyub yang selamat dari penyakit judzam (kusta) itu. Dengan itu Allah mengangkat nikmat paras beliau yang rupawan.


Badannya yang semula sehat, segar, dan bugar Allah angkat dengan menimpakan tubuh yang sangat lemah karena penyakit itu. Saking lemahnya, dikisahkan Nabi Ayyub sampai tidak sanggup berjalan sendiri untuk buang hajat ke kamar mandi, sehingga istri beliau harus menemani.


Putra-putri beliau pun Allah ambil, semuanya meninggal dunia. Tak sampai di situ, harta Nabi Ayyub yang berlimpah dan tak ada yang menandingi jumlahnya juga Allah tarik kembali.


Nabi Ayyub pun jatuh miskin. Ditambah dengan kondisi penyakitnya, semua orang menjauhi beliau. Nabi Ayyub pun mengasingkan diri ke suatu tempat. Hanya istri beliau yang setia menemani, juga dua orang sahabat beliau yang selalu mengunjungi.


Para ulama pun berselisih pendapat mengenai berapa lamanya Nabi Ayyub menjalani ujian tersebut. Ada yang mengatakan bahwa Nabi Ayyub sakit selama 18 tahun. Ada juga yang berpendapat hanya tiga tahun saja. Sebagian ulama ada pula yang menyebutkan bahwa Ayyub alaihissalam ditimpa musibah tersebut selama 7 tahun 7 bulan 7 hari.


Namun Rasulullah shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik tentang berapa lama waktu Nabi Ayyub menjalani ujian ini:


“Sesungguhnya Nabiyullah Ayyub ‘alaihissalam berada dalam ujiannya selama delapan belas tahun. Baik keluarga dekat maupun keluarga jauh menolaknya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya. Kedua saudara itulah yang selalu memberinya makan dan menemuinya.”


Istri Nabi Ayyub pun sangat kasihan melihat kondisi suaminya itu. Hingga pada suatu hari saat membawakan makanan untuk Nabi Ayyub, sang istri mengusulkan sesuatu kepada beliau.


“Wahai Ayyub, seandainya engkau mau meminta kepada Allah, tentu Dia akan memberimu jalan keluar,” demikian saran istrinya yang tak tega melihat Ayyub alaihissalam sakit demikian lama.


Namun, apa jawab Nabi Ayyub? Beliau menolak dengan alasan yang luar biasa. Jawaban inilah yang menandakan betapa tingginya derajat keimanan Nabi Ayyub. Kesabaran tingkat tinggi juga beliau perlihatkan melalui jawaban atas saran istrinya tersebut.


 “Aku telah diberi kesehatan selama 70 tahun. Sakit ini masih derita sedikit yang Allah timpakan sampai aku bisa bersabar sama seperti masa sehatku yaitu 70 tahun,” demikian jawaban Nabi Ayyub. Jawaban tersebut juga sekaligus menjadi penegas bahwa hati beliau sama sekali tidak terpengaruh dengan ujian dahsyat yang ditimpakan Allah.


Kedua sahabat yang masih setia mengunjungi dan membawakan makanan pun khawatir akan ujian yang menimpa Nabi Ayyub. Terbersit dalam benak salah satu di antara keduanya bahwa ujian Nabi Ayyub mungkin disebabkan karena dosa besar yang pernah beliau perbuat.


Kegundahan itu pun disampaikannya kepada sahabat yang lain. Kemudian sahabat ini menyampaikannya kepada Nabi Ayyub. Ketika mendengarnya beliau sempat sedih, tetapi beliau Nabi Ayyub kemudian menceritakan kondisinya secara terbuka dan menampik prasangka itu.


Walaupun ditimpa berbagai musibah, dimulai dari kematian anak-anaknya, hilang seluruh harta benda, penyakit yang tak kunjung sembuh, Nabi Ayyub As. justru menghadapi itu semua dnegna penuh kesabaran. Cerita lengkap dari kisah Nabi Ayyub bisa kamu temukan pada buku Kisah Abadi Nabi Ayyub As.


Nabi Ayyub Lulus Ujian dan Diberi Hadiah Melimpah dari Allah


Karena kesabaran Nabi Ayyub yang luar biasa saat menjalani ujian tersebut, Allah pun menunjukkan jalan keluar. Allah menceritakan hal tersebut pada Al-Qur’an Surah Al-Anbiya ayat 83—84:


“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’


Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.”


Kisah tersebut sama dengan firman Allah pada Surah Sad ayat 41—44 di atas. Allah mewahyukan kepada Nabi Ayyub untuk menghentakkan kaki beliau ke tanah. Kemudian dari sana Allah pancarkan mata air yang sejuk. Nabi Ayyub pun bergegas mandi di mata air tersebut hingga sembuhlah penyakit kulit dari badan beliau.


Allah juga memerintahkan kepada Nabi Ayyub untuk minum dari mata air tersebut. Kesejukan airnya kemudian mampu membasuh batin Nabi Ayyub, sehingga beliau kembali sehat bugar lahir dan batin. Kekuatannya pun kembali pulih, bahkan seperti tidak pernah sakit.


Saat beliau hendak menemui istrinya, sang istri sempat tidak mengenali Nabi Ayyub. Walaupun Nabi Ayyub tampak sama seperti saat beliau sehat dulu. Sebetulnya sang istri mengingat postur dan wajah Nabi Ayyub sebelum sakit itu.


Akan tetapi, dalam bayangan istri Nabi Ayyub, beliau masih lemah dan berpenyakit kulit, sehingga ia tidak menyangka bahwa sang suami akan sembuh lebih cepat. Keduanya pun bersuka cita mengucap syukur kepada Allah.


Sesuai firman Allah pada Surah Al-Anbiya dan Surah Sad tersebut di atas, bahwa Dia juga mengembalikan anggota keluarga Nabi Ayyub dengan jumlah yang berlipat ganda. Harta Nabi Ayyub juga Allah kembalikan lagi sebagai hadiah atas keridhaan beliau menjalani ujian.


Dalam beberapa riwayat dikisahkan untuk mengembalikan harta kekayaan Nabi Ayyub, Allah mengirimkan dua awan. Satu awan menaungi gundukan gandum, sedangkan awan lainnya menaungi gundukan jewawut.


Awan yang menaungi gundukan gandum tersebut mengeluarkan “hujan” emas. Sementara awan yang menaungi juwawut mengeluarkan perak. Dengan demikian harta Nabi Ayyub pun kembali melimpah.


Dalam versi yang lain, dikisahkan Nabi Ayyub memiliki dua peti. Satu peti tempat menyimpan gandum dan satu lagi tempat menyimpan jewawut. Allah mengirimkan kedua awan untuk menghujani peti gandum dengan emas hingga luber. Awan yang satu lagi mengguyurkan perak ke peti jewawut hingga meluap pula.


Tak sampai di situ, Allah juga mengembalikan kekayaan Nabi Ayyub dengan cara yang lain. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Nasa’i dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:


“Manakala Ayyub sedang mandi telanjang, sekelompok belalang dari emas jatuh kepadanya, maka Ayyub memunguti dan menyimpan belalang itu di bajunya. Tuhan memanggilnya, ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah membuatmu kaya seperti yang kamu lihat?’ Ayyub menjawab, ‘Benar ya Rabbi, akan tetapi aku selalu memerlukan keberkahan-Mu.”


Kisah Nabi Ayyub As. kepada kaumnya dan ketabahannya atas penderitaan yang diberikan Allah juga diceritakan pada Seri Kisah Nabi: Rasul yang Kesabarannya Dipuji Allah.


Sumpah Nabi Ayyub


Dalam Surah Sad ayat 44, Allah berfirman:


“Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).”


Sumpah yang Allah maksud pada ayat tersebut adalah nazar Nabi Ayyub ketika beliau sakit. Nabi Ayyub sempat mengucapkan nazar untuk memukul istrinya saat itu lantaran sang istri melakukan perbuatan yang tidak berkenan di hati beliau.


Ada beberapa versi cerita tentang kesalahan istri Nabi Ayyub tersebut. Versi yang pertama, diceritakan bahwa setelah Nabi Ayyub jatuh miskin dan sakit-sakitan, sang istri harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua. Sang istri pun bekerja di rumah orang lain.


Suatu hari sang istri terlambat pulang ke rumah sehingga Nabi Ayyub marah. Akhirnya beliau mengucapkan sumpah tersebut.


Versi cerita yang lain, Nabi Ayyub marah karena sang istri menjual tali pengekang kuda mereka. Hal tersebut terpaksa dilakukan istri beliau karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan. Akhirnya tali pengekang tersebut dijualnya untuk membeli roti.


Setelah sembuh dan sehat kembali, Ayyub alaihissalam teringat kembali akan nazar beliau kepada Allah tersebut. Namun, beliau tak tega memukul istrinya yang telah sepenuh hati merawat Nabi Ayyub saat sakit. Akan tetapi, beliau juga harus menunaikan nazarnya.


Akhirnya Allah memberikan solusi yang mudah. Allah mewahyukan kepada Nabi Ayyub untuk mengambil seikat batang gandum dan memukulkan ke istrinya satu kali. Dengan demikian telah tertunaikan nazar Nabi Ayyub.


Kisah tersebut pun menjadi dasar untuk memberikan hukuman kepada mereka yang berbuat dosa. Menurut pendapat Imam Ahmad, memukul seorang pendosa yang terancam hukuman itu diperbolehkan.


Misalnya, memukul seorang pezina dan orang yang menuduh tanpa bukti yang valid. Mereka boleh dipukul seperti cara Nabi Ayyub memukul istri beliau. Hal tersebut dilakukan agar si pendosa tidak celaka setelah dipukul.


Pada masa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam hukuman seperti itu juga pernah dipraktikkan. Beliau pernah memerintahkan kepada para sahabat untuk menghukum seorang laki-laki sakit yang berzina.


Rasulullah menyuruh para sahabat untuk memukul si lelaki tadi dengan satu janjang kurma. Dalam satu janjang tersebut terdapat seratus cabang. Dengan demikian, satu pukulan saja sudah melaksanakan hukuman tersebut.

Penulis : Naila Syafira

Sejarah Magelang - Masjid Payaman, Magelang. Tahun 1935. Biro arsitek : D.J. Muis. sumber: delpher.nl

 Masjid Payaman, Magelang. Tahun 1935.



Biro arsitek : D.J. Muis.


sumber: delpher.nl

"Sebuah potret" Terkenal dengan Nama Tuan Ledeboer Rumahnya sangat besar terletak di Wadoeng Barat dekat Glenmore banyuwangi. Namanya Sudah melegenda sebagai Pemburu Harimau kala itu. Lokasi Rumah Tuan Ledeboer terletak di Dusun Wadung Dolah Desa Kaligondo kec.Genteng banyuwangi.Berada di Tengah tengah Perkebunan Kalitelepak Afd.Polehan Semua orang Menyebutnya pemburu sangat Hebat, Ia menembak lebih dari puluhan harimau, Sepenuhnya ditangkap sendirian, Tanpa pernah memanjat pohon untuk berlindung, Terdengar sangat fantastis. Kuli yang menemaninya ke tempat di mana dia berburu sangat Ketakutan,Tuan Ledeboer meninggalkan mereka Sendirian dan menghilang ke padang ilalang, cerita penuh hormat segala tindakannya.Cerita ini seperti di tulis dalam Koran belanda ~de indische Courant 16 Februari 1940. Kiriman Sasongko jati

 "Sebuah potret"

Terkenal dengan Nama Tuan Ledeboer Rumahnya sangat besar terletak di Wadoeng Barat dekat Glenmore banyuwangi. Namanya Sudah melegenda sebagai Pemburu Harimau kala itu. Lokasi Rumah Tuan Ledeboer terletak di Dusun Wadung Dolah Desa Kaligondo kec.Genteng banyuwangi.Berada di Tengah tengah Perkebunan Kalitelepak Afd.Polehan Semua orang Menyebutnya pemburu sangat Hebat, Ia menembak lebih dari puluhan harimau, Sepenuhnya ditangkap sendirian, Tanpa pernah memanjat pohon untuk berlindung, Terdengar sangat fantastis. Kuli yang menemaninya ke tempat di mana dia berburu sangat Ketakutan,Tuan Ledeboer meninggalkan mereka Sendirian dan menghilang ke padang ilalang, cerita penuh hormat segala tindakannya.Cerita ini seperti di tulis dalam Koran belanda ~de indische Courant 16 Februari 1940. 



Kiriman Sasongko jati

30 March 2024

Seorang pelatih memberikan pelatihan menembak kepada pelajar pelajar perempuan di Malang. 1946 Gahetna

 Seorang pelatih memberikan pelatihan menembak kepada pelajar pelajar perempuan di Malang. 1946 Gahetna



Sejarah Magelang - Gereja yang menjadi cikal bakal Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pajajaran, Magelang. Gedung diresmikan tahun 1932. ๐Ÿ“ธ koleksi pribadi

 Gereja yang menjadi cikal bakal Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pajajaran, Magelang.

Gedung diresmikan tahun 1932.



๐Ÿ“ธ koleksi pribadi

KIDUNG ALAS MENTAOK Tarung Pamungkas Sutawijaya dengan Arya Penangsang Tiada yang menyangka nasip seseorang semua “ kersaning Gusti Pangeran, tugas kita hanya ngelakoni takdir “ Sangkan Paraning Dumadi” dengan tetap ‘ Memayu Hayuning Bawana” itulah cumplikan wejangan , yang tertangkap syahdu dan menyesap ke kalbu , Danang Sutawijaya bocah yang sedang haus hausnya menyecap luasnya samudera Ngelmu. Dari seorang Pengembara yang telah renta dan sangat dihormati di pesisir tanah Jawi bagian Selatan , Sang Sunan Kalijaga yang “mampir” di paseban sederhana milik sang Jaka Tingkir . Ki Pemanahan, Ki Penjawi , Ki Juru Martani, dan Hadiwijaya sedang urung rembug , mengatur siasat untuk menghadapi persoalan dengan Harya Penangsang Raja Jipang Panolan. Beliau adalah lanang ing Jagad, seorang yang telah putus segala ilmu dan ngelmu, Jaya Kajiwan, Digdaya dan Mumpuni sondol langit murid kinasih Sunan Kudus. Yang terkenal tegas , karismatik seolah tanpa lawan tanding untuk urusan adu tulang kering … Ki Juru Martani tersenyum mendapat “wisik” untuk mengatasi persoalan siapa yang harus menghadapi sang Harya. Menghadapi Sang Penangsang jika hanya mengandalkan Otot dan ilmu Kadigjayaan hanyalah membuang waktu dan membunuh diri sendiri, gunakan Rasa , menuturkan pertarungan epic antara Bocah Danang Sutawijaya yang bersenjatakan Kyi Plered tombak pusaka yang ngendap endapi kelinuwihanya, melawan Harya Penangsang dengan Pusakanya Kyai Brongot Setan Kober yang tak kalah mumpuni dan dikramati. Dan Kuda sang Adipati Gagak Rimang Keseekor kuda yang konon “autopilot” atas perintah tuannya. Begawan Sore jadi saksi , bahwa kedigdayaan yang terhunus dengan kemarahan selalu dapat di kalahkan oleh Akal budhi pekerti yang penuh kesabaran dan pemahaman dalam memahami persoalan secara hakiki. Dalam Bahasa Latin disebut “ Ngunduhi Wong Pakerti” Dan Sang Lanang ing Jagad tersadar dan terlambat, bahwa semua yang ada di mayapada alam donya punya . Punya kronologi , history , yang diatur dalam irama takdir yang luwes dalam simpony kesemestawian. Seditik kemudian teringat lah , beliau yang terlihat seperti ronce Melati dipinggangnya adalah ususnya yang terburai akibat sentuhan tombak Bocah Sutawijaya , teryata ilmu Tameng Waja tak mampu membendung tajamnya ujung Tombak yang menjadi Sipat Kandel Keraton Demak Kyai Plered. Dan dengan keris yang digadang gadang mampu melindungi dirinya menghadapi setiap persoalan yang dihadapi Kyai Brongot setan Kober miliknya yang telah memutus ususnya sendiri. Gagak Rimang meringkik dan mengakat kakinya tinggi, seolah mengutarakan penyesalan kepada Junjungannya. Karena ngedan lupa diri menuruti Hasrat birahi , melihat kemolekan kuda binal milik musuh junjunganya hingga lupa diri kehilangan kewaspadaan. Yang berakibat junjunganya sibuk mengendalikan kuda yang sedang kegandrungan daripada mengatur strategi saat pertarungan yang sangat menentukan di tepian Begawan Sore. Dikejauhan Sang Pengembara renta yang tampak welas asih lagi bijaksana. Meninggalkan tepian Begawan Sore sambil menembang kidung LIR ILER... LAR ILEEER, TANDURE WONG SUMILER…. Kelak apa yang menjadi Pameling beliau Sang Penjaga Kali, bahwa liwat anak cucu Sang Danang Sutawijaya terlahir pejuang yang melawan musuh baru para wong sebrang yang bersenjata tongkat api dan berkulit bule dan berjuang mengusir dari bhumi pertiwi…. JatiMekar2024 Pekik Hening

 KIDUNG ALAS MENTAOK


Tarung Pamungkas Sutawijaya dengan Arya Penangsang

Oleh : Djuni Prasetya

Tiada yang menyangka nasip seseorang semua “ kersaning Gusti Pangeran, tugas kita hanya ngelakoni takdir “ Sangkan Paraning Dumadi” dengan tetap ‘ Memayu Hayuning Bawana” itulah cumplikan wejangan , yang tertangkap syahdu dan menyesap ke kalbu , Danang Sutawijaya bocah yang sedang haus hausnya menyecap luasnya samudera Ngelmu. Dari seorang Pengembara yang telah renta dan sangat dihormati di pesisir tanah Jawi bagian Selatan , Sang Sunan Kalijaga yang “mampir” di paseban sederhana milik sang Jaka Tingkir .



Ki Pemanahan, Ki Penjawi , Ki Juru Martani, dan Hadiwijaya sedang urung rembug , mengatur siasat untuk menghadapi persoalan dengan Harya Penangsang Raja Jipang Panolan. Beliau adalah lanang ing Jagad, seorang yang telah putus segala ilmu dan ngelmu, Jaya Kajiwan, Digdaya dan Mumpuni sondol langit murid kinasih Sunan Kudus. Yang terkenal tegas , karismatik seolah tanpa lawan tanding untuk urusan adu tulang kering …


Ki Juru Martani tersenyum mendapat “wisik” untuk mengatasi persoalan siapa yang harus menghadapi sang Harya. Menghadapi Sang Penangsang jika hanya mengandalkan Otot dan ilmu Kadigjayaan hanyalah membuang waktu dan membunuh diri sendiri, gunakan Rasa ,  menuturkan pertarungan epic antara Bocah Danang Sutawijaya yang bersenjatakan Kyi Plered tombak pusaka yang ngendap endapi kelinuwihanya, melawan Harya Penangsang dengan Pusakanya Kyai Brongot Setan Kober yang tak kalah mumpuni dan dikramati. Dan Kuda sang Adipati Gagak Rimang Keseekor kuda yang konon “autopilot” atas perintah tuannya.


Begawan Sore jadi saksi , bahwa kedigdayaan yang terhunus dengan kemarahan selalu dapat di kalahkan oleh Akal budhi pekerti yang penuh kesabaran dan pemahaman dalam memahami persoalan secara hakiki. Dalam Bahasa Latin disebut “ Ngunduhi Wong Pakerti”


Dan Sang Lanang ing Jagad tersadar dan terlambat, bahwa semua yang ada di mayapada alam donya punya . Punya kronologi  , history , yang diatur dalam irama takdir yang luwes dalam simpony kesemestawian. Seditik kemudian teringat lah , beliau yang terlihat seperti ronce Melati dipinggangnya adalah ususnya yang terburai akibat sentuhan tombak Bocah Sutawijaya , teryata ilmu Tameng Waja tak mampu membendung tajamnya ujung Tombak yang menjadi Sipat Kandel Keraton Demak Kyai Plered. Dan dengan keris yang  digadang gadang mampu melindungi dirinya menghadapi setiap persoalan yang dihadapi Kyai Brongot setan Kober miliknya yang telah memutus ususnya sendiri.


Gagak Rimang meringkik dan mengakat kakinya tinggi, seolah mengutarakan penyesalan kepada Junjungannya. Karena ngedan lupa diri menuruti Hasrat birahi , melihat kemolekan kuda binal milik musuh junjunganya hingga lupa diri kehilangan kewaspadaan. Yang berakibat junjunganya sibuk mengendalikan kuda yang sedang kegandrungan daripada mengatur strategi saat pertarungan yang sangat menentukan di tepian Begawan Sore.


Dikejauhan Sang Pengembara renta yang tampak welas asih lagi bijaksana. Meninggalkan tepian Begawan Sore sambil menembang kidung


LIR ILER... LAR ILEEER, TANDURE WONG SUMILER….


Kelak apa yang menjadi Pameling beliau Sang Penjaga Kali, bahwa liwat anak cucu Sang Danang Sutawijaya terlahir pejuang yang melawan musuh baru para wong sebrang yang bersenjata tongkat api dan berkulit bule dan berjuang mengusir dari bhumi pertiwi….


JatiMekar2024


Pekik Hening

29 March 2024

Pasukan Jepang berjejal di sebuah kapal (persiapan dipulangkan) yang akan berlayar menuju Jepang paling tidak selama 2 minggu, Pulau Rampang dekat Batam, 19 Oktober 1945. kiriman: Andre Owen

 Pasukan Jepang berjejal di sebuah kapal (persiapan dipulangkan) yang akan berlayar menuju Jepang paling tidak selama 2 minggu, Pulau Rampang dekat Batam, 19 Oktober 1945.



kiriman:

Andre Owen

Dua Tentara Belanda Naik Becak di Bogor 24 Juli 1947. kiriman: Andre Owen

 Dua Tentara Belanda Naik Becak di Bogor 24 Juli 1947. 



kiriman:

Andre Owen

SEJARAH HUTAN LALI DJIWO, GUNUNG ARJUNO Hutan Lali Djiwo terletak di lereng Gunung Arjuno, wilayahnya masuk di 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang. Nama Lali Djiwo menurut sejarah dicetuskan oleh Duncan de Clonie MacLennan, seorang berkebangsaan Skotlandia yang mendirikan sebuah Resor (tempat peristirahatan) yang lokasinya (sekarang) diperkirakan berada di sekitar Lembah Kidang di lereng Gunung Arjuno. Awalnya MacLennan akan memberi nama 'Vergeet uw Ziel' dalam bahasa Belanda, atau 'Forgotten Soul' dalam bahasa inggris. Namun akhirnya MacLennan berubah pikiran dan menggunakan bahasa lokal sehingga diterjemahkannya menjadi 'Lali Djiwa', atau jiwa yang terlupakan (bukan diartikan sebagai 'lupa diri'), karena lokasi pondokannya yang sangat terisolir dan seakan terlupakan. MacLennan mempromosikan Lali Djiwo sebagai tempat wisata berburu untuk warga kulit putih di Surabaya dan sekitarnya. Seperti tertulis dalam Koninklijke Paketvaart Maatschappij - sebuah perusahaan biro perjalanan Belanda - Tahun 1903, dituliskan. "Kami menunggang kuda ke Lali Djiwa, sekitar empat jam jalan kaki dari Tretes. Dari sana kami berjalan kaki mendaki ke kawah Gunung Arjuno. Perjalanan kembali tidak butuh waktu lama, sehingga kami bisa mencapai hotel di Prigen sebelum gelap. Jika banyak waktu, datanglah dan menginap di Lali Djiwa sebelum sore dan nikmati indahnya matahari terbenam. pada dini hari jam tiga pagi, naiklah ke puncak Gunung diterangi cahaya bulan dan obor untuk menikmati indahnya matahari terbit." Maclennan dan istrinya Anna Kovacic seorang penari asal Austria akhirnya menetap di pondok Lali Djiwo hingga akhir hayatnya di tahun 1929.. Sangat disayangkan resor yang dulu sangat populer pada masa Hindia Belanda ini sekarang menyisakan (malah) cerita mistis nya, yang menjadikan Lembah Kidang terkesan menjadi tempat yang angker dan sering menyesatkan pendaki. Menurut informasi yang beredar pondok Lali Djiwo ini masih sempat terlihat pada akhir 80an dan akhirnya dihancurkan warga setelah menjadi sarang Maling. Munculnya cerita dan mitos angker negatif yang berkembang di alas Lali Jiwo tentu sangat disayangkan, meskipun disisi lain isu itu memberi dampak positif yaitu terjaganya keasrian dari hutan lali jiwo terutama di sekitar lembah kidang yang sekarang ini menjadi tempat minum Rusa liar dan hewan² yang ada di sekitar alas Lali Jiwo. Semoga ke depan nya tempat ini masih tetap terjaga kelestariannya... ๐Ÿ‘‰๐Ÿฝ Bila mana ada kesalahan, mohon di koreksi dan jika berkenan silahkan di tambahkan informasi nya... Sumber : #RadikaBahariAhmadRafardhan #alaslaliedjiwo #gunungarjuno #pasuruan #malang #palingujung

 SEJARAH HUTAN LALI DJIWO, GUNUNG ARJUNO


Hutan Lali Djiwo terletak di lereng Gunung Arjuno, wilayahnya masuk di 2 Kabupaten yaitu Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang.

 Nama Lali Djiwo menurut sejarah dicetuskan oleh Duncan de Clonie MacLennan, seorang berkebangsaan Skotlandia yang mendirikan sebuah Resor (tempat peristirahatan) yang lokasinya (sekarang) diperkirakan berada di sekitar Lembah Kidang di lereng Gunung Arjuno. 

Awalnya MacLennan akan memberi nama  'Vergeet uw Ziel' dalam bahasa Belanda, atau 'Forgotten Soul' dalam bahasa inggris. 


Namun akhirnya MacLennan berubah pikiran dan menggunakan bahasa lokal sehingga diterjemahkannya menjadi 'Lali Djiwa', atau jiwa yang terlupakan (bukan diartikan sebagai 'lupa diri'), karena lokasi pondokannya yang sangat terisolir dan seakan terlupakan.



MacLennan mempromosikan Lali Djiwo sebagai tempat wisata berburu untuk warga kulit putih di Surabaya dan sekitarnya.

Seperti tertulis dalam Koninklijke Paketvaart Maatschappij - sebuah perusahaan biro perjalanan Belanda - Tahun 1903, dituliskan.


"Kami menunggang kuda ke Lali Djiwa, sekitar empat jam jalan kaki dari Tretes.

 Dari sana kami berjalan kaki mendaki ke kawah Gunung Arjuno.

 Perjalanan kembali tidak butuh waktu lama, sehingga kami bisa mencapai hotel di Prigen sebelum gelap. 

Jika banyak waktu, datanglah dan menginap di Lali Djiwa sebelum sore dan nikmati indahnya matahari terbenam.

 pada dini hari jam tiga pagi, naiklah ke puncak Gunung diterangi cahaya bulan dan obor untuk menikmati indahnya matahari terbit."


Maclennan dan istrinya Anna Kovacic seorang penari asal Austria akhirnya menetap di pondok Lali Djiwo hingga akhir hayatnya di tahun 1929..


Sangat disayangkan resor yang dulu sangat populer pada masa Hindia Belanda ini sekarang menyisakan (malah) cerita mistis nya, yang menjadikan Lembah Kidang terkesan menjadi tempat yang angker dan sering menyesatkan pendaki. 

Menurut informasi yang beredar pondok Lali Djiwo ini masih sempat terlihat pada akhir 80an dan akhirnya dihancurkan warga setelah menjadi sarang Maling.


Munculnya cerita dan mitos angker negatif yang berkembang di alas Lali Jiwo tentu sangat disayangkan, meskipun disisi lain isu itu memberi dampak positif yaitu terjaganya keasrian dari hutan lali jiwo terutama di sekitar lembah kidang yang sekarang ini menjadi tempat minum Rusa liar dan hewan² yang ada di sekitar alas Lali Jiwo. 

Semoga ke depan nya tempat ini masih tetap terjaga kelestariannya...


๐Ÿ‘‰๐Ÿฝ Bila mana ada kesalahan, mohon di koreksi dan jika berkenan silahkan di tambahkan informasi nya...


Sumber : #RadikaBahariAhmadRafardhan

                #alaslaliedjiwo

                 #gunungarjuno

                 #pasuruan

                  #malang

                   #palingujung

UNTUK SELINGAN "CEGATAN" ๐Ÿ˜‚ DI GROUP INFO CEGATAN JOGJA Di masa lalu, sampai sekitar tahun 1970, setiap sepeda yang kita miliki harus bayar pajak. Sebagai bukti sudah lunas, setiap sepeda ditempelkan semacam stiker yang dikenal dengan nama "plombir". Nah setiap periode tertentu, aparat pemerintah terkait, melakukan kegiatan "Cegatan Plombir". Pengendara sepeda yang tidak berplombir, dan kebetulan tidak membawa uang cukup atau sengaja tidak mau bayar pajak, biasanya menghindari cegatan plombir ini. Generasi yang lahir tahun 1940-60an, yang masih hidup tentunya, pasti tahu atau bahkan pernah mengalami razia cegatan ini. Alhamdulillah saat ini, sepeda tak lagi dipajaki, kendatipun ada sepeda yang harganya puluhan juta sekalipun.

 UNTUK SELINGAN "CEGATAN" ๐Ÿ˜‚

DI GROUP INFO CEGATAN JOGJA 


Di masa lalu, sampai sekitar tahun 1970, setiap sepeda yang kita miliki harus bayar pajak. Sebagai bukti sudah lunas, setiap sepeda ditempelkan semacam stiker yang dikenal dengan nama "plombir".



Nah setiap periode tertentu, aparat pemerintah terkait, melakukan kegiatan "Cegatan Plombir".


Pengendara sepeda yang tidak berplombir, dan kebetulan tidak membawa uang cukup atau sengaja tidak mau bayar pajak, biasanya menghindari cegatan plombir ini.


Generasi yang lahir tahun 1940-60an, yang masih hidup tentunya, pasti tahu atau bahkan pernah mengalami razia cegatan ini. 


Alhamdulillah saat ini, sepeda tak lagi dipajaki, kendatipun ada sepeda yang harganya puluhan juta sekalipun.

28 March 2024

Mengutip kata-kata Almarhum Bapak BJ Habibie bahwa “... dibalik suksesnya seorang pria selalu ada wanita hebat”. Ketika pria tersebut telah menikah tentu saja yang mendukung kesuksesan adalah Istri. Dan ketika masih sendiri, wanita hebatnya adalah Ibunda tercinta. Mari kita mengenal sosok Ibunda dari Pak BJ Habibie. Beliau bernama Tuty Habibie Puspowardoyo asli Yogya. Sebelum menikah, Ibu Tuty pernah aktif dalam pergerakan politik di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau turut aktif dalam Partai Kedaualat Rakyat (di masa pergerakan kemerdekaan), bahkan pernah menduduki Wakil Ketua. Teman-teman seperjuangannya antara lain Lanto Daeng Pasewang (bekas Gubernur Sulawesi), Ny Saelan (Ibu mertua Menhankam Jendral M. Jusuf), Soekarjdo Wiryopranoto, Henk Rondonuwu dan Arnold Mononutu. Ibu Tuty pertama kali berkenalan dengan suaminya di Batavia tahun 1927. Ketika itu Ibu Tuty tinggal di rumah adik dari orang tuanya bernama dr. Poespo. Tahun 1928 mereka menikah dan pindah ke Makassar. Awalnya pernikahan mereka tidak disetejui orangtua Ibu Tuti dikarenakan pada saat itu Pak Habibie suaminya baru saja lulus dari sekolah pertanian di Bogor (Middlebare Landbouw School). Sesudah menikah, beliau ikut suami yang berdinas di Jawatan Pertanian Gorontalo. Suami tercinta meninggal ketika Ibu Tuty hamil anak ke-8. Suami meninggal dunia ketika sujud shalat sesudah mengucapkan “Allahu-Akbar”. Ke-8 putera putrinya adalah: Tuty Sri Sulaksmi, Satoto Habibie, Winny Habibie, Bj Habibie, JE Habibie, Sri Rejeki, Sri Rahayu dan Timmy Habibie. Demi pendidikan anak-anaknya, Ibu Tuty memboyong anak-anaknya dari Gorontalo untuk disekolahkan di Yogyakarta. Demi membiayai 8 anak dan 2 anak angkat, Ibu Tuty menjadi wiraswasta, dengan melakukan tender impor-ekspor kecil-kecilan. Setiap hari pulang pergi Bandung-Jakarta dengan mobil sendiri atau naik kereta api. Bisnisnya berkembang hingga mampu mendirikan perusahaan bernama CV Srikandi. Beliau juga membangun kos-kosan di jl Imam Bonjol 14 Bandung yang diberi nama Jutinto yaitu singkatan dari nama anak-anaknya Jaju, Timmy dan Tanto. Beliau tidak pernah membedakan perlakuan terhadap anak-anak kandungnya dengan anak-anak kos. Syarat kos di rumahnya adalah wajib berada di rumah jam 18-19.00 pada hari biasa dan jam 23.00 pada hari minggu. Selain untuk menjaga agar mereka belajar pada waktunya, juga agar bisa makan bersama-sama tidak masing-maisng. Bagi yang sudah punya pacar boleh pacaran dimalam minggu saja. Yang indekos dirumahnya adalah mahasiwa yang berasal dari berbagai daerah: Tapanuli, Ambon, Jawa, Gorontalo, Bugis dan lainnya. Mulai dari lingkungan kecil Ibu Tuti selalu mengajarkan anak-anaknya hidup rukun dan saling menghormati. Karena terkenal sebagai Ibu kos yang sangat disiplin, pernah suatu saat papan nama “Awas ada anjing galak” di depan rumah, pernah diganti oleh mahasiswa yang indekos dengan “Awas ada Eyang galak”. Berkat kegigihan dalam mendidik anak-anaknya, semua anak-anaknya menjadi orang sukses semua bahkan anak-anak kosnya, antara lain : Prof Dr. Ir Amiruddin (mantan Rektor Unhas), Ir Andi Junde, Albert Purwayla (mantan Walikota Ambon), Ir. Sahala Tobing. Filsafat hidup beliau: berbuat baik kepada siapa saja, tanpa memandang asal-usulnya. Memberi pertolongan kepada orang yang benar-benar membutuhkan dan menghadapi semua cobaan hidup dengan kerja keras, serta jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa. Sumber: Suara Karya, 21-4-1978. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba, Perpustakaan Nasional RI (SKALA-Team) #tokoh #wanita #Habibie #Gorontalo #Yogyakarta #Bandung

 Mengutip kata-kata Almarhum Bapak BJ Habibie bahwa “... dibalik suksesnya seorang pria selalu ada wanita hebat”. Ketika pria tersebut telah menikah tentu saja yang mendukung kesuksesan adalah Istri. Dan ketika masih sendiri, wanita hebatnya adalah Ibunda tercinta.


Mari kita mengenal sosok Ibunda dari Pak BJ Habibie. Beliau bernama Tuty Habibie Puspowardoyo asli Yogya. Sebelum menikah, Ibu Tuty pernah aktif dalam pergerakan politik di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.  Beliau turut aktif dalam Partai Kedaualat Rakyat (di masa pergerakan kemerdekaan), bahkan pernah menduduki Wakil Ketua. Teman-teman seperjuangannya antara lain Lanto Daeng Pasewang (bekas Gubernur Sulawesi), Ny Saelan (Ibu mertua Menhankam Jendral M. Jusuf), Soekarjdo Wiryopranoto, Henk Rondonuwu dan Arnold Mononutu.


Ibu Tuty pertama kali berkenalan dengan suaminya di Batavia tahun 1927. Ketika itu Ibu Tuty tinggal di rumah adik dari orang tuanya  bernama dr. Poespo. Tahun 1928 mereka menikah dan pindah ke Makassar. Awalnya pernikahan mereka tidak disetejui orangtua Ibu Tuti dikarenakan pada saat  itu Pak Habibie suaminya baru saja lulus dari sekolah pertanian di Bogor (Middlebare Landbouw School). 



Sesudah menikah, beliau ikut suami yang berdinas di Jawatan Pertanian Gorontalo. Suami tercinta meninggal ketika Ibu Tuty hamil anak ke-8. Suami meninggal dunia ketika sujud shalat sesudah mengucapkan “Allahu-Akbar”. Ke-8 putera putrinya adalah: Tuty Sri Sulaksmi, Satoto Habibie, Winny Habibie, Bj Habibie, JE Habibie, Sri Rejeki, Sri Rahayu dan Timmy Habibie.

Demi pendidikan anak-anaknya, Ibu Tuty memboyong anak-anaknya dari Gorontalo untuk disekolahkan di Yogyakarta. Demi membiayai 8 anak  dan 2 anak angkat, Ibu Tuty menjadi wiraswasta, dengan melakukan tender impor-ekspor kecil-kecilan. Setiap hari pulang pergi Bandung-Jakarta dengan mobil sendiri atau naik kereta api. Bisnisnya berkembang hingga mampu mendirikan perusahaan bernama CV Srikandi. Beliau juga membangun kos-kosan di jl Imam Bonjol 14 Bandung yang diberi nama Jutinto yaitu singkatan dari nama anak-anaknya Jaju, Timmy dan Tanto.

 

Beliau tidak pernah membedakan perlakuan terhadap anak-anak kandungnya dengan anak-anak kos. Syarat kos di rumahnya adalah wajib berada di rumah jam 18-19.00 pada hari biasa dan jam 23.00 pada hari minggu. Selain untuk menjaga agar mereka belajar pada waktunya, juga agar bisa makan bersama-sama tidak masing-maisng. Bagi yang sudah punya pacar boleh pacaran dimalam minggu saja.  Yang indekos dirumahnya adalah mahasiwa yang berasal dari berbagai daerah: Tapanuli, Ambon, Jawa, Gorontalo, Bugis dan lainnya. Mulai dari lingkungan kecil Ibu Tuti selalu mengajarkan anak-anaknya hidup rukun dan saling menghormati.  Karena terkenal sebagai Ibu kos yang sangat disiplin, pernah suatu saat papan nama “Awas ada anjing galak” di depan rumah, pernah diganti oleh mahasiswa yang indekos dengan “Awas ada Eyang galak”.


Berkat kegigihan dalam mendidik anak-anaknya, semua anak-anaknya menjadi orang sukses semua bahkan anak-anak kosnya, antara lain : Prof Dr. Ir Amiruddin (mantan Rektor Unhas), Ir Andi Junde, Albert Purwayla (mantan Walikota Ambon), Ir. Sahala Tobing.  


Filsafat hidup beliau: berbuat baik kepada siapa saja, tanpa memandang asal-usulnya. Memberi pertolongan kepada orang yang benar-benar membutuhkan dan menghadapi semua cobaan hidup dengan kerja keras, serta jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa. 


Sumber: Suara Karya, 21-4-1978. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba, Perpustakaan Nasional RI (SKALA-Team)


#tokoh #wanita #Habibie #Gorontalo #Yogyakarta #Bandung

Demam Ramadhan, meski cuaca panas, pembeli berbondong-bondong ke pasar seperti di pasar Tanah Abang ini untuk membeli sepasang sepatu baru atau baju baru yang merupakan bagian dari perayaan Idul Fitri. Sumber: The Jakarta Post, 27 Mei 1986 Halaman 1. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team) #Ramadhan #Idulfitri

 Demam Ramadhan, meski cuaca panas, pembeli berbondong-bondong ke pasar seperti di pasar Tanah Abang ini untuk membeli sepasang sepatu baru atau baju baru yang merupakan bagian dari perayaan Idul Fitri.



Sumber: The Jakarta Post, 27 Mei 1986 Halaman 1. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team)


#Ramadhan

#Idulfitri

27 March 2024

LUAS WILAYAH KEKUASAAN ACEH wilayah kekuasaan negara kesultanan aceh darussalam di abad-abad kejayaannya 15-17 M. hingga aceh masuk dalam predikat kerajaan islam terbesar kelima di dunia mewakili asia tenggara.

 LUAS WILAYAH KEKUASAAN ACEH


wilayah kekuasaan negara kesultanan aceh darussalam di abad-abad kejayaannya 15-17 M. hingga aceh masuk dalam predikat kerajaan islam terbesar kelima di dunia mewakili asia tenggara.



๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉAda laporan yang menyatakan bahwa Pakubuwono X, Sultan Jakarta di Indonesia, memiliki mobil Benz Victoria pertama di Asia Tenggara. Menurut beberapa sumber, Pakubuwono X membeli mobil ini pada tahun 1893, yang akan menjadikannya salah satu mobil paling awal di wilayah tersebut. Benz Victoria adalah model mobil populer yang diproduksi oleh produsen Jerman Benz & Cie di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Itu adalah mobil kecil, ringan yang ditenagai oleh mesin satu silinder dan bisa menampung dua penumpang. Sementara ada perdebatan mengenai siapa yang memiliki mobil pertama di Asia Tenggara, jelas bahwa pengenalan mobil ke wilayah tersebut merupakan peristiwa penting yang memiliki dampak mendalam terhadap transportasi, industri, dan masyarakat secara keseluruhan. ©️ seasia.co #ASEANurbanist

 ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉAda laporan yang menyatakan bahwa Pakubuwono X, Sultan Jakarta di Indonesia, memiliki mobil Benz Victoria pertama di Asia Tenggara. Menurut beberapa sumber, Pakubuwono X membeli mobil ini pada tahun 1893, yang akan menjadikannya salah satu mobil paling awal di wilayah tersebut.



Benz Victoria adalah model mobil populer yang diproduksi oleh produsen Jerman Benz & Cie di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Itu adalah mobil kecil, ringan yang ditenagai oleh mesin satu silinder dan bisa menampung dua penumpang.


Sementara ada perdebatan mengenai siapa yang memiliki mobil pertama di Asia Tenggara, jelas bahwa pengenalan mobil ke wilayah tersebut merupakan peristiwa penting yang memiliki dampak mendalam terhadap transportasi, industri, dan masyarakat secara keseluruhan.


©️ seasia.co

#ASEANurbanist 


 Hotel Splendid Malang. Ca. 1930 Tropenmuseum



Sebuah acara tradisi selama bulan puasa, setelah sholat Tarawih di masjid-masjid, mushola. Biasanya dilanjutkan dengan menikmati makanan kecil. Hidangan yang disuguhkan tersebut konon juga merupakan pemberian warga setempat secara bergiliran. Acara tersebut dinamakan "Jaburan", seperti nampak dalam potret berikut yang dilakukan di Masjid Al Taqwa, Kelurahan Bongsari Semarang Barat pada Tahun 1979. Sumber: Suara Merdeka, 4 Agustus 1979 Halaman 2 Kolom 4. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team) #Puasa #Ramadhan #Tarawih

 Sebuah acara tradisi selama bulan puasa, setelah sholat Tarawih di masjid-masjid, mushola. Biasanya dilanjutkan dengan menikmati makanan kecil. Hidangan yang disuguhkan tersebut konon juga merupakan pemberian warga setempat secara bergiliran. Acara tersebut dinamakan "Jaburan", seperti nampak dalam potret berikut  yang dilakukan di Masjid Al Taqwa, Kelurahan Bongsari Semarang Barat pada Tahun 1979.



Sumber: Suara Merdeka, 4 Agustus 1979 Halaman 2 Kolom 4. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team)


#Puasa

#Ramadhan

#Tarawih

Kotagede (Kutha Gede /Kitha Ageng) sebenarnya bukan berarti Kota besar (big city) karena kata "Kutha" (jawa); "Kota" (melayu) maupun "Cota" (tagalog, c dibaca k) mempunyai arti yg sama yaitu "beteng atau benteng" (fort - english). Barangkali Kotagede mendapatkan namanya karena pembangunan benteng besar baluwarti mengelilingi perdikan mentaok yg diberikan sultan Pajang, oleh Panembahan Senopati sebagai pertanda madheg mardhika, lepas dari Pajang (gambar 1) Menurut bausastra jawi : kutha I [ngoko] kitha [krama] : 1 pagรชr bata mubรชng, bรจtรจng; 2 nรชgara (gรชgrombolaning pakampungan, [kosok-baline] desa); kรชkutha ak: bรชbรจtรจng, gawe nรชgara; dikuthani ak: dibรจtรจngi, didรชgi kutha. II kw: makutha. Jadi kutha awalnya mengacu pada benteng atau fort. Istilah melayu hingga kini masih memakai kota untuk merujuk benteng pertahanan, sebagaimana tagalog juga demikian. Kota yang bermaksud "city" adalah makna lainnya, sesudah mengalami perkembangan. Benteng Baluwarti sebagai benteng besar sehingga berjuluk "kutha gedhe" ini bekas lokasinya dapat dilihat di peta pamfleat dari UGM. Tidak ada reruntuhan puing atau apapun, hanya berupa bekas tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Baluwarti sebelah timur menjadi toponim kampung baluwarti, kotagede. Benteng Cepuri sebenarnya mengitari lokasi kedaton ini, yg sekarang menjadi toponim kampung ndalem, kotagede. Termasuk disini adalah makam hastarengga dan situs watu gilang dan watu gatheng, kampung kedaton kotagede. Reruntuhan cepuri masih terlihat di beberapa tempat. Nb : Menurut catatan Van Mook dalam 1926, nama mentereng saat itu memang bukan Kotagede atau Kutha Gedhe, tetapi sebagaimana tertulis dalam catatan Belanda di awal 1900an, adalah “Pasar Gede” atau “Passar Gedeh” dan masyarakat Yogya biasa menyingkatnya sebagai “Sargede” hingga awal 80an, nama ini masih akrab disebut. Kutha Gedhe merupakan wilayah kejawan (bahasa Jawa krama : kejawen), yang berarti wilayah dimana tidak ada sewa-menyewa tanah kerajaan kepada pengusaha-pengusaha perkebunan bangsa Eropa (Plandan) Plandan berasal dari kata “Pe+Landa+an” atau adanya sewa-menyewa kepada orang Eropa (Walanda/Landa). Secara tradisi Kotagede tidak boleh disewakan atau dijual kepada Bangsa Eropa dan Timur Jauh/Cina. Tradisi ini masih dikekalkan hingga kini. Hingga tahun 1925 kendaraan dilarang lewat jembatan Tegalgendu - akses utama dari kraton - kecuali kendaraan raja berserta keluarganya. Maksudnya akses masuk dari barat (kota Yogya) hanya bisa melewati Tegalgendu tetapi jembatan Tegalgendu rupanya dulu hanya dikhusukan untuk sultan, jadi mungkin kalau memakai mobil harus berhenti di barat jembatan. Narasi Sejarah Jogyakarta

 Kotagede (Kutha Gede /Kitha Ageng) sebenarnya bukan berarti Kota besar (big city) karena kata  "Kutha" (jawa); "Kota" (melayu) maupun "Cota" (tagalog, c dibaca k)  mempunyai arti yg sama yaitu "beteng atau benteng" (fort - english).


Barangkali Kotagede mendapatkan namanya karena pembangunan benteng besar baluwarti mengelilingi perdikan mentaok yg diberikan sultan Pajang, oleh Panembahan Senopati sebagai pertanda madheg mardhika, lepas dari Pajang (gambar 1)



Menurut bausastra jawi  :


kutha I [ngoko] kitha [krama] :

1 pagรชr bata mubรชng, bรจtรจng; 

2 nรชgara (gรชgrombolaning pakampungan, [kosok-baline] desa); 


kรชkutha ak: bรชbรจtรจng, gawe nรชgara; 

dikuthani ak: dibรจtรจngi, didรชgi kutha. 

II kw: makutha.


Jadi kutha awalnya mengacu pada benteng atau fort. Istilah melayu hingga kini masih memakai kota untuk merujuk benteng pertahanan, sebagaimana tagalog juga demikian. Kota yang bermaksud "city" adalah makna lainnya, sesudah mengalami perkembangan.


Benteng Baluwarti sebagai benteng besar sehingga berjuluk "kutha gedhe" ini bekas lokasinya dapat dilihat di peta pamfleat dari UGM. Tidak ada reruntuhan puing atau apapun, hanya berupa bekas tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Baluwarti sebelah timur menjadi toponim kampung baluwarti, kotagede.


Benteng Cepuri sebenarnya mengitari lokasi kedaton ini, yg sekarang menjadi toponim kampung ndalem, kotagede. Termasuk disini adalah makam hastarengga dan situs watu gilang dan watu gatheng, kampung kedaton kotagede. Reruntuhan cepuri masih terlihat di beberapa tempat.


Nb :


Menurut catatan Van Mook dalam 1926, nama mentereng saat itu memang bukan Kotagede atau Kutha Gedhe, tetapi sebagaimana tertulis dalam catatan Belanda di awal 1900an, adalah “Pasar Gede” atau “Passar Gedeh” dan masyarakat Yogya biasa menyingkatnya sebagai “Sargede” hingga awal 80an, nama ini masih akrab disebut.


Kutha Gedhe merupakan wilayah kejawan (bahasa Jawa krama : kejawen), yang berarti wilayah dimana tidak ada sewa-menyewa tanah kerajaan kepada pengusaha-pengusaha perkebunan bangsa Eropa (Plandan)


Plandan berasal dari kata “Pe+Landa+an” atau adanya sewa-menyewa kepada orang Eropa (Walanda/Landa). Secara tradisi Kotagede tidak boleh disewakan atau dijual kepada Bangsa Eropa dan Timur Jauh/Cina. Tradisi ini masih dikekalkan hingga kini.


Hingga tahun 1925 kendaraan dilarang lewat jembatan Tegalgendu - akses utama dari kraton - kecuali kendaraan raja berserta keluarganya.


Maksudnya akses masuk dari barat (kota Yogya) hanya bisa melewati Tegalgendu tetapi jembatan Tegalgendu rupanya dulu hanya dikhusukan untuk sultan, jadi mungkin kalau memakai mobil harus berhenti di barat jembatan.


Narasi Sejarah Jogyakarta

Pada tahun 1950-an atau 1960-an belajar bahasa Indonesia, membaca buku Bahasa Indonesia dengan nada merdu seperti membaca syair atau pantun.

 Pada tahun 1950-an atau 1960-an belajar bahasa Indonesia, membaca buku Bahasa Indonesia dengan nada merdu seperti membaca syair atau pantun.



26 March 2024

Potret calon penumpang kereta api penuh sesak memadati stasiun Gambir, Jakarta di tahun 1990. Gerbong-gerbong kereta api yang terisi penuh seperti mengisyaratkan, bagaimana pun caranya mudik lebaran harus tetap terlaksana. Tampak dalam gambar, sebuah gerbong kereta api seperti terseok membawa beban di luar batas. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI Sumber : Wawasan, 24 April 1990 halaman 1 kolom 6-9 (Skala Team) #mudik #lebaran #keretaapi #stasiunGambir

 Potret calon penumpang kereta api penuh sesak memadati stasiun Gambir, Jakarta di tahun 1990.  Gerbong-gerbong kereta api yang terisi penuh seperti mengisyaratkan, bagaimana pun caranya mudik lebaran harus tetap terlaksana. Tampak dalam gambar, sebuah gerbong kereta api seperti terseok membawa beban di luar batas. 



Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI

Sumber : Wawasan, 24 April 1990 halaman 1 kolom 6-9 (Skala Team)


#mudik #lebaran #keretaapi #stasiunGambir

Bahau-Dajaks van de Mahakam in oorlogskleeding Vervaardigingsjaar : ca.1910 Potret sekelompok (prajurit) suku Dayak Bahau/Kayan Bahau/Kayan Mekam dari Mahakam,mengenakan baju perang dengan persenjataan dan perisai besar...foto sekitar tahun 1910 (KITLV2414)

 Bahau-Dajaks van de Mahakam in oorlogskleeding

Vervaardigingsjaar : ca.1910

   Potret sekelompok (prajurit) suku Dayak Bahau/Kayan Bahau/Kayan Mekam dari Mahakam,mengenakan baju perang dengan persenjataan dan perisai besar...foto sekitar tahun 1910

(KITLV2414)



Pada Masa Itu: Tentara Belanda sedang menyaksikan pertunjukkan Jaran Kepang di Salatiga Jawa Tengah Tahun 1947 #momentold

 Pada Masa Itu: Tentara Belanda sedang menyaksikan pertunjukkan Jaran Kepang di Salatiga Jawa Tengah Tahun 1947

#momentold



25 March 2024

MAS NGABEHI LORING PASAR Danang Sutowijaya pernah menjadi penduduk Surakarta. Dia tinggal di Loring Pasar Laweyan. Kampung Loring Pasar dan Pasar Laweyan sampai sekarang masih ada. Beliau tinggal di bekas rumah Ki Ageng Ngenis (kakeknya). Ketika tinggal di situ beliau mendapat gelar Mas Ngabehi Loring Pasar. Setelah Ki Ageng Pemanahan , ayahnya, mendapat hadiah Alas Mentaok dari Sultan Hadiwijaya Pajang, beliau pindah ke tempat baru itu. Singkatnya, beliau menggantikan ayahnya, dan memerintah kerajaan Mataram 1588-1601 dengan gelar Panembahan Senopati. (SB). .Foto: Lukisan imajiner Panembahan Senopati.

 MAS NGABEHI LORING PASAR


Danang Sutowijaya pernah menjadi penduduk Surakarta. Dia tinggal di Loring Pasar Laweyan. 



Kampung Loring Pasar dan Pasar Laweyan sampai sekarang masih ada. Beliau tinggal di bekas rumah Ki Ageng Ngenis (kakeknya). Ketika tinggal di situ beliau mendapat gelar Mas Ngabehi Loring Pasar.


Setelah Ki Ageng Pemanahan , ayahnya, mendapat hadiah Alas Mentaok dari Sultan Hadiwijaya Pajang, beliau pindah ke tempat baru itu. Singkatnya, beliau menggantikan ayahnya, dan memerintah kerajaan Mataram 1588-1601 dengan gelar Panembahan Senopati. (SB).


.Foto: Lukisan imajiner Panembahan Senopati.

Potret seorang petani yang akan pergi ke sawah, terpaksa belajar menulis terlebih dahulu karena kena razia cegatan PBH (Pemberantasan Buta Huruf) yang diadakan oleh pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kegiatan semacam ini dilakukan untuk memastikan bahwa warga-warga desa sudah mendapatkan pembelajaran dan bebas buta aksara. Selain melakukan kegiatan cegatan PBH, pemerintah Kabupaten juga membentuk Kelompok Kerja Wajib Belajar Dan Juga Kelompok Kejar Paket/A. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI Sumber : Berita Yudha, 29 Juni 1984 halaman 7 kolom 4-7 (Skala Team) #petani #cegatanPBH #butaaksara #Pati

 Potret seorang petani yang akan pergi ke sawah, terpaksa belajar menulis terlebih dahulu karena kena razia cegatan PBH (Pemberantasan Buta Huruf) yang diadakan oleh pemerintah Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Kegiatan semacam ini dilakukan untuk memastikan bahwa warga-warga desa sudah mendapatkan pembelajaran dan bebas buta aksara. Selain melakukan kegiatan cegatan PBH, pemerintah Kabupaten juga membentuk Kelompok Kerja Wajib Belajar Dan Juga Kelompok Kejar Paket/A. 



Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI

Sumber : Berita Yudha, 29 Juni 1984 halaman 7 kolom 4-7 (Skala Team)


#petani #cegatanPBH #butaaksara #Pati

UNTUNG SUROPATI Untung Surapati lahir di Gelgel, Bali, sekitar tahun 1660 – meninggal dunia di Bangil, Pasuruan, Mataram, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun) adalah seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. Kisahnya yang legendaris menceritakan perjuangan Untung Suropati dari seorang budak VOC hingga menjadi seorang raja di Kabupaten Pasuruan dengan gelar Tumenggung Wiranegara. Kisah perjuangannya melawan kolonialisme VOC di Pulau Jawa membuatnya dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975. Asal usul Untung Surapati, Nama aslinya Sura Wira Aji. Menurut Babad Tanah Jawi Untung Suropati sebetulnya berasal dari Bali, ditemukan oleh Kapten van Baber, seorang perwira VOC yang sedang ditugaskan di Kota Makasar. Kapten van Baber kemudian menjualnya kepada perwira VOC bernama van Moor di Bali untuk dibawa bersamanya ke Batavia. Saat menjadi budak, Untung berusia tujuh tahun. Semenjak memiliki budak baru, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Anak kecil itu dianggap pembawa keberuntungan sehingga diberi nama "Si Untung" tapi menurut penulis hal ini meragukan karena kata Untung dalam Bahasa Belanda adalah Gelukkig bukan Untung. Tapi mungkin ada sumber cerita lain yang lebih tepat, cuman penulis belum menemukannya. Selama mengikuti tuannya Van Moor, Untung mendapat tugas untuk menemani Suzanne putri semata wayang Van Moor, Kebersamaan Untung dan Suzanne ini menimbulkan benih2 cinta diantara mereka. Sampai kemudian saat sudah beranjak dewasa mereka dinikahkan diam2 oleh guru Untung Surapati yaitu Kyai Embun. Pernikahan mereka ini akhirnya terbongkar dan membuat Van Moor marah besar. Pernikahan ini dianggap memalukan Van Moor, karena tidak mungkin seorang budak menikahi anak tuannya. Untung kemudian dijebloskan ke penjara Stadhuis Batavia. Di dalam penjara inilah benih kebencian Untung kepada VOC semakin tertanam. Sementara Suzanne sendiri sebelumnya sempat melahirkan anak dari Untung Suropati dan diberi nama Robert. Suzanne dan Robert akhirnya pulang ke Belanda, dan Suzanne meninggal dalam perjalanan di kapal laut menuju Belanda, karena iba melihat nasib Robert, akhirnya salah seorang sahabat Suzanne mengambil Robert sebagai anak angkatnya di Belanda. Mendapat nama Surapati Di dalam penjara Untung berhasil menghimpun para tahanan dan berhasil kabur dari penjara setelah melumpuhkan seorang penjaga tahanan, di sepanjang jalan Untung dan para tahanan membuat kekacauan dan menjadi buronan VOC. Sementara itu Pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten dikalahkan VOC. Putranya yang bernama Pangeran Purbaya melarikan diri ke Gunung Gede. Ia memutuskan menyerah tetapi hanya mau dijemput perwira VOC pribumi. Kapten Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) berhasil menemukan kelompok Untung. Mereka ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat letnan, dan ditugasi menjemput Pangeran Purbaya. Untung menemui Pangeran Purbaya untuk dibawa ke Tanjungpura. Datang pula pasukan Vaandrig (Letnan Muda) Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar. Untung tidak terima dan menghancurkan pasukan Kuffeler di Sungai Cikalong, 28 Januari 1684. Pangeran Purbaya tetap menyerah ke Tanjungpura, tetapi istrinya yang bernama Gusik Kusuma meminta Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Untung kini kembali menjadi buronan VOC. Antara lain ia pernah menghancurkan pasukan Jacob Couper yang mengejarnya di desa Rajapalah. Ketika melewati Kesultanan Cirebon, Untung berkelahi dengan Raden Surapati, anak angkat sultan. Setelah diadili, terbukti yang bersalah adalah Surapati. Surapati pun dihukum mati. Sejak itu nama "Surapati" oleh Sultan Cirebon diserahkan kepada Untung. Mengingat keadaan Cirebon yang dirasakan kurang aman, Sultan Cirebon meminta Untung untuk pergi ke Kartasura Mataram untuk meminta perlindungan. Terbunuhnya Kapten Tack Untung alias Surapati akhirnya tiba di Kartasura dan mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada ayahnya, yaitu Patih Nerangkusuma. Patih Nerangkusuma adalah tokoh anti VOC yang gencar mendesak Amangkurat II agar membatalkan perjanjiannya dengan bangsa Belanda tersebut. Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma dengan Surapati. Kapten Franรงois Tack (perwira VOC senior yang ikut berperan dalam penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan Februari 1686 untuk menangkap Surapati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC. Pertempuran pun meletus di halaman keraton. Pasukan VOC hancur. Sebanyak 75 orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri tewas di tangan Untung. Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng mereka. Bergelar Tumenggung Wiranegara Amangkurat II takut pengkhianatannya terbongkar. Ia merestui Surapati dan Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Surapati mengalahkan bupatinya, yaitu Anggajaya, yang kemudian melarikan diri ke Surabaya. Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan karena ia sendiri sudah kenal dengan Surapati di Kartasura. Untung Surapati pun mengangkat diri menjadi bupati Pasuruan dan bergelar Tumenggung Wiranegara. Pada tahun 1690 Amangkurat II pura-pura mengirim pasukan untuk merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mengalami kegagalan karena pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai usaha mengelabui VOC. Kematian Untung Surapati Sepeninggal Amangkurat II tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704 Pangeran Puger mengangkat diri menjadi Pakubuwana I dengan dukungan VOC. Tahun 1705 Amangkurat III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan. Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Mataram, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Surapati alias Wiranegara tanggal 17 Oktober 1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya dirahasiakan. Makam Surapati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Surapati palsu. Pada tanggal 18 Juni 1707 Herman de Wilde memimpin ekspedisi mengejar Amangkurat III. Ia menemukan makam Surapati yang segera dibongkarnya. Jenazah Surapati pun dibakar dan abunya dibuang ke laut. Perjuangan putra-putra Surapati Putra-putra Untung Surapati, antara lain Raden Pengantin, Raden Surapati, dan Raden Suradilaga memimpin pengikut ayah mereka (campuran orang Jawa dan Bali). Sebagian dari mereka ada yang tertangkap bersama Amangkurat III tahun 1708 dan ikut dibuang ke Srilangka. Sebagian pengikut Untung Surapati bergabung dalam pemberontakan Arya Jayapuspita di Surabaya tahun 1717. Pemberontakan ini sebagai usaha balas dendam atas dihukum matinya Adipati Jangrana yang terbukti diam-diam memihak Surapati dalam perang tahun 1706. Setelah Jayapuspita kalah tahun 1718 dan mundur ke Mojokerto, pengikut Surapati masih setia mengikuti. Mereka semua kemudian bergabung dalam pemberontakan Pangeran Blitar menentang Amangkurat IV yang didukung VOC tahun 1719. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan tahun 1723. Putra-putra Untung Surapati dan para pengikutnya dibuang VOC ke Srilangka. Dalam karya sastra dan media lain Kisah perjalanan hidup Untung Surapati yang legendaris, selain sekarang menjadi nama jalan yang umum di Indonesia, juga cukup banyak ditulis dalam bentuk sastra. Salah satunya dalam Babad Tanah Jawi. Kisah Untung juga diceritakan dalam Babad Trunajaya-Surapati. Dalam babad ini, Untung diceritakan memiliki sifat yang ramah, pemberani dan berhati baik. Sumber Wikipedia, buku sejarah pasuruan (pemkab) Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati. Taman Burgemeester Bisschopplein di Batavia (sekarang Jakarta) pasca kemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi "Taman Suropati" untuk mengabadikan nama Untung Surapati.

 UNTUNG SUROPATI


Untung Surapati lahir di Gelgel, Bali, sekitar tahun 1660 – meninggal dunia di Bangil, Pasuruan, Mataram, 5 Desember 1706 pada umur 45/46 tahun) adalah seorang tokoh dalam sejarah Nusantara yang dicatat dalam Babad Tanah Jawi. Kisahnya yang legendaris menceritakan perjuangan Untung Suropati dari seorang budak VOC hingga menjadi seorang raja di Kabupaten Pasuruan dengan gelar Tumenggung Wiranegara.



Kisah perjuangannya melawan kolonialisme VOC di Pulau Jawa membuatnya dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975.


Asal usul

Untung Surapati, Nama aslinya Sura Wira Aji. Menurut Babad Tanah Jawi Untung Suropati sebetulnya berasal dari Bali, ditemukan oleh Kapten van Baber, seorang perwira VOC yang sedang ditugaskan di Kota Makasar. Kapten van Baber kemudian menjualnya kepada perwira VOC bernama van Moor di Bali untuk dibawa bersamanya ke Batavia. Saat menjadi budak, Untung berusia tujuh tahun. Semenjak memiliki budak baru, karier dan kekayaan Moor meningkat pesat. Anak kecil itu dianggap pembawa keberuntungan sehingga diberi nama "Si Untung" tapi menurut penulis hal ini meragukan karena kata Untung dalam Bahasa Belanda adalah Gelukkig bukan Untung. Tapi mungkin ada sumber cerita lain yang lebih tepat, cuman penulis belum menemukannya.


Selama mengikuti tuannya Van Moor, Untung mendapat tugas untuk menemani Suzanne putri semata wayang Van Moor, Kebersamaan Untung dan Suzanne ini menimbulkan benih2 cinta diantara mereka. Sampai kemudian saat sudah beranjak dewasa mereka dinikahkan diam2 oleh guru Untung Surapati yaitu Kyai Embun. Pernikahan mereka ini akhirnya terbongkar dan membuat Van Moor marah besar. Pernikahan ini dianggap memalukan Van Moor, karena tidak mungkin seorang budak menikahi anak tuannya. Untung kemudian dijebloskan ke penjara Stadhuis Batavia. Di dalam penjara inilah benih kebencian Untung kepada VOC semakin tertanam. Sementara Suzanne sendiri sebelumnya sempat melahirkan anak dari Untung Suropati dan diberi nama Robert. Suzanne dan Robert akhirnya pulang ke Belanda, dan Suzanne meninggal dalam perjalanan di kapal laut menuju Belanda, karena iba melihat nasib Robert, akhirnya salah seorang sahabat Suzanne mengambil Robert sebagai anak angkatnya di Belanda.  


Mendapat nama Surapati

Di dalam penjara Untung berhasil menghimpun para tahanan dan berhasil kabur dari penjara setelah melumpuhkan seorang penjaga tahanan, di sepanjang jalan Untung dan para tahanan membuat kekacauan dan menjadi buronan VOC.

 

Sementara itu Pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa raja Banten dikalahkan VOC. Putranya yang bernama Pangeran Purbaya melarikan diri ke Gunung Gede. Ia memutuskan menyerah tetapi hanya mau dijemput perwira VOC pribumi.


Kapten Ruys (pemimpin benteng Tanjungpura) berhasil menemukan kelompok Untung. Mereka ditawari pekerjaan sebagai tentara VOC daripada hidup sebagai buronan. Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat letnan, dan ditugasi menjemput Pangeran Purbaya.


Untung menemui Pangeran Purbaya untuk dibawa ke Tanjungpura. Datang pula pasukan Vaandrig (Letnan Muda) Kuffeler yang memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar. Untung tidak terima dan menghancurkan pasukan Kuffeler di Sungai Cikalong, 28 Januari 1684.


Pangeran Purbaya tetap menyerah ke Tanjungpura, tetapi istrinya yang bernama Gusik Kusuma meminta Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Untung kini kembali menjadi buronan VOC. Antara lain ia pernah menghancurkan pasukan Jacob Couper yang mengejarnya di desa Rajapalah.


Ketika melewati Kesultanan Cirebon, Untung berkelahi dengan Raden Surapati, anak angkat sultan. Setelah diadili, terbukti yang bersalah adalah Surapati. Surapati pun dihukum mati. Sejak itu nama "Surapati" oleh Sultan Cirebon diserahkan kepada Untung. Mengingat keadaan Cirebon yang dirasakan kurang aman, Sultan Cirebon meminta Untung untuk pergi ke Kartasura Mataram untuk meminta perlindungan.


Terbunuhnya Kapten Tack


Untung alias Surapati akhirnya tiba di Kartasura dan mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada ayahnya, yaitu Patih Nerangkusuma. Patih Nerangkusuma adalah tokoh anti VOC yang gencar mendesak Amangkurat II agar membatalkan perjanjiannya dengan bangsa Belanda tersebut. Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma dengan Surapati.


Kapten Franรงois Tack (perwira VOC senior yang ikut berperan dalam penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan Februari 1686 untuk menangkap Surapati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, pura-pura membantu VOC.


Pertempuran pun meletus di halaman keraton. Pasukan VOC hancur. Sebanyak 75 orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri tewas di tangan Untung. Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng mereka.


Bergelar Tumenggung Wiranegara


Amangkurat II takut pengkhianatannya terbongkar. Ia merestui Surapati dan Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Surapati mengalahkan bupatinya, yaitu Anggajaya, yang kemudian melarikan diri ke Surabaya. Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan karena ia sendiri sudah kenal dengan Surapati di Kartasura.


Untung Surapati pun mengangkat diri menjadi bupati Pasuruan dan bergelar Tumenggung Wiranegara.


Pada tahun 1690 Amangkurat II pura-pura mengirim pasukan untuk merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mengalami kegagalan karena pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai usaha mengelabui VOC.


Kematian Untung Surapati


Sepeninggal Amangkurat II tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704 Pangeran Puger mengangkat diri menjadi Pakubuwana I dengan dukungan VOC. Tahun 1705 Amangkurat III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan.


Pada bulan September 1706 gabungan pasukan VOC, Mataram, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Surapati alias Wiranegara tanggal 17 Oktober 1706. Namun ia berwasiat agar kematiannya dirahasiakan. Makam Surapati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan putra-putranya dengan membawa tandu berisi Surapati palsu.


Pada tanggal 18 Juni 1707 Herman de Wilde memimpin ekspedisi mengejar Amangkurat III. Ia menemukan makam Surapati yang segera dibongkarnya. Jenazah Surapati pun dibakar dan abunya dibuang ke laut.


Perjuangan putra-putra Surapati


Putra-putra Untung Surapati, antara lain Raden Pengantin, Raden Surapati, dan Raden Suradilaga memimpin pengikut ayah mereka (campuran orang Jawa dan Bali). Sebagian dari mereka ada yang tertangkap bersama Amangkurat III tahun 1708 dan ikut dibuang ke Srilangka.


Sebagian pengikut Untung Surapati bergabung dalam pemberontakan Arya Jayapuspita di Surabaya tahun 1717. Pemberontakan ini sebagai usaha balas dendam atas dihukum matinya Adipati Jangrana yang terbukti diam-diam memihak Surapati dalam perang tahun 1706.


Setelah Jayapuspita kalah tahun 1718 dan mundur ke Mojokerto, pengikut Surapati masih setia mengikuti. Mereka semua kemudian bergabung dalam pemberontakan Pangeran Blitar menentang Amangkurat IV yang didukung VOC tahun 1719. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan tahun 1723. Putra-putra Untung Surapati dan para pengikutnya dibuang VOC ke Srilangka.


Dalam karya sastra dan media lain

Kisah perjalanan hidup Untung Surapati yang legendaris, selain sekarang menjadi nama jalan yang umum di Indonesia, juga cukup banyak ditulis dalam bentuk sastra. Salah satunya dalam Babad Tanah Jawi. Kisah Untung juga diceritakan dalam Babad Trunajaya-Surapati. Dalam babad ini, Untung diceritakan memiliki sifat yang ramah, pemberani dan berhati baik.


Sumber Wikipedia, buku sejarah pasuruan (pemkab)


Penulis Hindia Belanda Melati van Java (nama samaran dari Nicolina Maria Sloot) juga pernah menulis roman berjudul Van Slaaf Tot Vorst, yang terbit pada tahun 1887. Karya ini kemudian diterjemahkan oleh FH Wiggers dan diterbitkan tahun 1898 dengan judul Dari Boedak Sampe Djadi Radja. Penulis pribumi yang juga menulis tentang kisah ini adalah sastrawan Abdul Muis dalam novelnya yang berjudul Surapati.


Taman Burgemeester Bisschopplein di Batavia (sekarang Jakarta) pasca kemerdekaan Indonesia diubah namanya menjadi "Taman Suropati" untuk mengabadikan nama Untung Surapati.

KERAJAAN MAJAPAHIT DALAM CATATAN PERJALANAN PENJELAJAH EROPA (ITALIA) Odorico da Pordenone (nama asli Odorico Mattiussi, atau Mattiuzzi) (Villanova, Pordenone, k.1286 - Udine, Friuli, 14 Januari 1331) adalah seorang pendeta Ordo Fransiskan dan penjelajah terkenal Abad Pertengahan yang berasal dari Italia. Ia menulis dalam bukunya "Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese", "Perjalanan Pendeta Odorico da Pordenone". Ia mengunjungi beberapa tempat di Nusantara: Sumatra, Jawa, dan Banjarmasin di Kalimantan Perjalanan Odorico ke Timur dimulai sekitar tahun 1316-1318 dari Venesia, kemudian melalui Konstantinopel, Jazirah Turki dan Iran menuju Hormuz di Teluk Persia. Dari Hormuz perjalanan dilanjutkan dengan berlayar, dan berturut-turut menyinggahi berbagai pelabuhan di Mumbai, Malabar, Srilangka, Madras, Sumatra, Jawa, Banjarmasin di pantai selatan Kalimantan, Champa, dan akhirnya Guangzhou. CATATAN TENTANG KERAJAAN MAJAPAHIT Gambaran Majapahit menurut Odorico Mattiussi, pendeta yang namanya lebih dikenal dengan Odorico da Pordenone, menyebutkan: "Raja (Jawa) memiliki bawahan tujuh raja bermahkota. [Dan] pulaunya berpenduduk banyak, merupakan pulau terbaik kedua yang pernah ada.... Raja pulau ini memiliki istana yang luar biasa mengagumkan. Karena sangat besar, tangga dan bagian dalam ruangannya berlapis emas dan perak, bahkan atapnya pun bersepuh emas. Khan Agung (Kubilai Khan) dari China beberapa kali berperang melawan raja ini; akan tetapi selalu gagal dan raja ini selalu berhasil mengalahkannya." Odorico menyebut bahwa Raja Jawa memerintah atas "tujuh raja yang bermahkota". Mungkin yang dimaksudnya merujuk pada Bhattara Saptaprabhu atau tujuh Bhattara atau Bhre (Adipati/Adipati Wanita), yang merupakan tujuh penatua berpengaruh dan juga memerintah tujuh nagara atau kerajaan daerah, sesuai dengan provinsi Majapahit di timur dan tengah Jawa; yaitu Kahuripan, Daha, Tumapel, Wengker, Lasem, Pajang, dan Mataram. Daerah-daerah tersebut merupakan kawasan inti dari negara Majapahit. Di buku itu Odorico hanya menyebut kunjungannya di Jawa, tanpa menjelaskan lebih rinci nama tempat yang ia kunjungi. Selain raja Jawa yang menguasai tujuh raja bawahan, diisebutkan juga di pulau ini terdapat banyak cengkih, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ia pun menyebutkan istana raja Jawa yang sangat mewah dan mengagumkan, penuh bersepuh emas dan perak. Ia menyebut pula bahwasannya raja Mongol beberapa kali berusaha menyerang Jawa, tetapi selalu gagal dan berhasil diusir kembali. Kurun waktu yang dilalui Odorico selama perjalannya di Nusantara antara tahun 1318-1330, bersamaan dengan era Majapahit di bawah kekuasaan Raja Jayanegara atau Tribhuana Tunggadewi. Di masa ini Majapahit masih belum menapaki klimaks kejayaannya. Kemudian Odorico melanjutkan perjalanannya menuju Brunei Darussalam. Catatan dari situs resmi Vikariat Apostolik Brunei Darussalam menyebutkan bahwa Odorico mengunjungi Brunei Darussalam di tahun 1325. Sekitar tahun 1324-1327, Odorico tinggal di Cina yang saat itu di bawah kekuasaan Dinasti Yuan, untuk menjalankan tugas misionarisnya. Ia kemudian melakukan perjalanan pulang melalui jalan darat, rutenya diperkirakan melewati Mongolia, Tibet, Persia utara, dan Tabriz di perbatasan Iran dan Armenia. Atas tugas-tugas misionarisnya, ia dijuluki "Rasul bagi Bangsa Cina". Dalam perjalanan ketika hendak melapor kepada Paus di Avignon, Odorico jatuh sakit di Pisa. Ia kemudian kembali ke Udine Italia dan meninggal di sana tahun 1331. Pada bulan Juli tahun 1755, Odorico dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XIV.

 KERAJAAN MAJAPAHIT DALAM CATATAN PERJALANAN PENJELAJAH EROPA (ITALIA) 


Odorico da Pordenone (nama asli Odorico Mattiussi, atau Mattiuzzi) (Villanova, Pordenone, k.1286 - Udine, Friuli, 14 Januari 1331) adalah seorang pendeta Ordo Fransiskan dan penjelajah terkenal Abad Pertengahan yang berasal dari Italia.



Ia menulis dalam bukunya "Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese", "Perjalanan Pendeta Odorico da Pordenone". Ia mengunjungi beberapa tempat di Nusantara: Sumatra, Jawa, dan Banjarmasin di Kalimantan


Perjalanan Odorico ke Timur dimulai sekitar tahun 1316-1318 dari Venesia, kemudian melalui Konstantinopel, Jazirah Turki dan Iran menuju Hormuz di Teluk Persia. Dari Hormuz perjalanan dilanjutkan dengan berlayar, dan berturut-turut menyinggahi berbagai pelabuhan di Mumbai, Malabar, Srilangka, Madras, Sumatra, Jawa, Banjarmasin di pantai selatan Kalimantan, Champa, dan akhirnya Guangzhou. 


CATATAN TENTANG KERAJAAN MAJAPAHIT


Gambaran Majapahit menurut Odorico Mattiussi, pendeta yang namanya lebih dikenal dengan Odorico da Pordenone, menyebutkan: "Raja (Jawa) memiliki bawahan tujuh raja bermahkota. [Dan] pulaunya berpenduduk banyak, merupakan pulau terbaik kedua yang pernah ada.... Raja pulau ini memiliki istana yang luar biasa mengagumkan. Karena sangat besar, tangga dan bagian dalam ruangannya berlapis emas dan perak, bahkan atapnya pun bersepuh emas. Khan Agung (Kubilai Khan) dari China beberapa kali berperang melawan raja ini; akan tetapi selalu gagal dan raja ini selalu berhasil mengalahkannya." Odorico menyebut bahwa Raja Jawa memerintah atas "tujuh raja yang bermahkota".


Mungkin yang dimaksudnya merujuk pada Bhattara Saptaprabhu atau tujuh Bhattara atau Bhre (Adipati/Adipati Wanita), yang merupakan tujuh penatua berpengaruh dan juga memerintah tujuh nagara atau kerajaan daerah, sesuai dengan provinsi Majapahit di timur dan tengah Jawa; yaitu Kahuripan, Daha, Tumapel, Wengker, Lasem, Pajang, dan Mataram. Daerah-daerah tersebut merupakan kawasan inti dari negara Majapahit.


Di buku itu Odorico hanya menyebut kunjungannya di Jawa, tanpa menjelaskan lebih rinci nama tempat yang ia kunjungi. Selain raja Jawa yang menguasai tujuh raja bawahan, diisebutkan juga di pulau ini terdapat banyak cengkih, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya.


Ia pun menyebutkan istana raja Jawa yang sangat mewah dan mengagumkan, penuh bersepuh emas dan perak. Ia menyebut pula bahwasannya raja Mongol beberapa kali berusaha menyerang Jawa, tetapi selalu gagal dan berhasil diusir kembali. Kurun waktu yang dilalui Odorico selama perjalannya di Nusantara antara tahun 1318-1330, bersamaan dengan era Majapahit di bawah kekuasaan Raja Jayanegara atau Tribhuana Tunggadewi. Di masa ini Majapahit masih belum menapaki klimaks kejayaannya.


Kemudian Odorico melanjutkan perjalanannya menuju Brunei Darussalam. Catatan dari situs resmi Vikariat Apostolik Brunei Darussalam menyebutkan bahwa Odorico mengunjungi Brunei Darussalam di tahun 1325.


Sekitar tahun 1324-1327, Odorico tinggal di Cina yang saat itu di bawah kekuasaan Dinasti Yuan, untuk menjalankan tugas misionarisnya. Ia kemudian melakukan perjalanan pulang melalui jalan darat, rutenya diperkirakan melewati Mongolia, Tibet, Persia utara, dan Tabriz di perbatasan Iran dan Armenia.


Atas tugas-tugas misionarisnya, ia dijuluki "Rasul bagi Bangsa Cina". Dalam perjalanan ketika hendak melapor kepada Paus di Avignon, Odorico jatuh sakit di Pisa. Ia kemudian kembali ke Udine Italia dan meninggal di sana tahun 1331. Pada bulan Juli tahun 1755, Odorico dibeatifikasi oleh Paus Benediktus XIV.

Salah satu tradisi lebaran di masyarakat Indonesia adalah berkirim atau dikirimi ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”. Sebelum eranya sosial media, tradisi berkirim ucapan, antara lain melalui “Kartu Pos”. Kala itu kedatangan selembar Kartu Pos dinanti dan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk penerimanya. Si Penerima Kartu Pos serasa menjadi seseorang yang istimewa. Di eranya sosial media seperti “Whatsapp” ucapan selamat Idul Fitri cukup dengan pesan dengan desain dan rangkaian kalimat yang dengan mudah dicari di dunia maya. Ucapan di Whatsapp atau platform sosial media semakin canggih dibuat semakin membuat istimewa Si Pengirimnya karena perlu usaha khusus untuk membuat pesan ucapan yang istimewa, meski risiko mendapatkan tanggapan atau respons yang biasa saja. Sumber: Nusantara, 10 Mei 1954. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba, Perpustakaan Nasional RI (SKALA-Team) #tradisi #lebaran #kartuPos

 Salah satu tradisi lebaran di masyarakat Indonesia adalah  berkirim atau dikirimi ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri”. Sebelum eranya sosial media, tradisi berkirim ucapan, antara lain melalui “Kartu Pos”. Kala itu kedatangan selembar Kartu Pos dinanti dan menjadi kebahagiaan tersendiri untuk penerimanya. Si Penerima Kartu Pos serasa menjadi seseorang yang istimewa. 


Di eranya sosial media seperti “Whatsapp” ucapan  selamat Idul Fitri cukup dengan pesan dengan desain dan rangkaian kalimat yang dengan mudah dicari di dunia maya. Ucapan di Whatsapp atau platform sosial media semakin canggih dibuat semakin membuat istimewa Si Pengirimnya  karena perlu usaha khusus  untuk membuat pesan ucapan yang istimewa, meski risiko mendapatkan tanggapan atau respons yang biasa saja. 



Sumber: Nusantara, 10 Mei 1954.  Koleksi Surat Kabar Langka Salemba, Perpustakaan Nasional RI (SKALA-Team)

#tradisi #lebaran #kartuPos

Jika kemarin telah diunggah potret mereka yang sesudah sahur menanti subuh dengan berjalan-jalan santai, maka potret berikut memperlihatkan kegiatan lain lagi dari kaum remaja dan anak-anak pada tengah malam sejak awal puasa. Dengan alat-alat musik seadanya, lengkap dengan pengeras suara (dalam kotak salon) yang ditempatkan di gerobag pengangkut air. Mereka membawakan lagu-lagu dan diselingi kata-kata sahur... sahuur... sahur. Maksudnya untuk membangunkan dan mengingatkan masyarakat untuk sahur. Sumber: Suara Merdeka, 1 Agustus 1979 Halaman 2 Kolom 5. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team) #Sahur #Puasa #Ramadhan

 Jika kemarin telah diunggah potret mereka yang sesudah sahur menanti subuh dengan berjalan-jalan santai, maka potret berikut memperlihatkan kegiatan lain lagi dari kaum remaja dan anak-anak pada tengah malam sejak awal puasa. Dengan alat-alat musik seadanya, lengkap dengan pengeras suara (dalam kotak salon) yang ditempatkan di gerobag pengangkut air. Mereka membawakan lagu-lagu dan diselingi kata-kata sahur... sahuur... sahur. Maksudnya untuk membangunkan dan mengingatkan masyarakat untuk sahur. 



Sumber: Suara Merdeka, 1 Agustus 1979 Halaman 2 Kolom 5. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team)


#Sahur

#Puasa

#Ramadhan

24 March 2024

KAPAL YANG DIBUAT DARI KAYU RAKSASA DARI PULAU YANG DIRAHASIAKAN "Cerita Arus Balik jadi sempurna setelah Pak Pram dapat kabar soal kayu nani," kata Tumiso. Itu sebuah kayu berat dan keras yang bahkan tak mempan ditusuk oleh paku. "Dijadikan papan enggak bisa, dijadikan tonggak pun enggak bisa," tutur Tumiso. Kayu itu "dijadikan" Pram sebagai lunas atau dasar kapal armada Majapahit saat berkeliling tujuh samudra dalam buku Arus Balik. Kapal itu berangkat dari Majapahit ke Malagasi, Tumasik atau Singapura, sampai ke Bangbang Wetan. "Nah ini, perahu Majapahit itu dari kayu ini," Tumiso menirukan Pram setelah ia mendengar cerita dari seorang tapol tentang kayu super yang ditemukannya di lautan. Kayu itu hingga kini masih banyak ditemui di Pulau Buru Selatan. *foto hanya ilustrasi

 KAPAL YANG DIBUAT DARI KAYU RAKSASA DARI PULAU YANG DIRAHASIAKAN


"Cerita Arus Balik jadi sempurna setelah Pak Pram dapat kabar soal kayu nani," kata Tumiso. Itu sebuah kayu berat dan keras yang bahkan tak mempan ditusuk oleh paku. "Dijadikan papan enggak bisa, dijadikan tonggak pun enggak bisa," tutur Tumiso.


Kayu itu "dijadikan" Pram sebagai lunas atau dasar kapal armada Majapahit saat berkeliling tujuh samudra dalam buku Arus Balik. Kapal itu berangkat dari Majapahit ke Malagasi, Tumasik atau Singapura, sampai ke Bangbang Wetan.


"Nah ini, perahu Majapahit itu dari kayu ini," Tumiso menirukan Pram setelah ia mendengar cerita dari seorang tapol tentang kayu super yang ditemukannya di lautan. Kayu itu hingga kini masih banyak ditemui di Pulau Buru Selatan.


*foto hanya ilustrasi

Oleh : Waluyo Sugito



Suku Tolaki Suku Tolaki adalah etnis terbesar yang berada di provinsi Sulawesi Tenggara. Suku Tolaki merupakan etnis yang berdiam di jazirah tenggara pulau Sulawesi. Suku Tolaki merupakan suku asli daerah Kota Kendari dan Kabupaten Kolaka. Suku Tolaki tersebar di 7 kabupaten/kota di provinsi Sulawesi Tenggara yang meliputi Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Utara dan Kolaka Timur. Masyarakat Tolaki sejak zaman prasejarah telah memiliki jejak peradaban, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan arkeologi di beberapa gua atau kumapo di Konawe bagian utara maupun beberapa gua yang ada di daerah ini. Lokasi situs gua-gua di daerah ini umumnya terletak di Konawe bagian Utara seperti Asera, Lasolo, Wiwirano, Langgikima, Lamonae, diantaranya gua Tanggalasi, gua Tengkorak I, gua Tengkorak II, gua Anawai Ngguluri, gua Wawosabano, gua Tenggere dan gua Kelelawar serta masih banyak situs gua prasejarah yang belum teridentifikasi. Dari hasil penelitian tim Balai Arkeologi Makassar dari tinggalan materi uji artefak di Wiwirano berupa sampel dengan menggunakan metode uji karbon 14 di laboratorium Arkeologi Miami University Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa daripada artefak di Wiwirano Konawe Utara berumur sekitar 7000 tahun yang lalu atau dengan evidensi ini maka peradaban Tolaki di Konawe telah berlangsung sejak 5000 tahun Sebelum Masehi. Di dalam gua-gua tersebut menyimpan banyak artefak baik tengkorak manusia, alat kerja seperti alat-alat berburu, benda pemujaan, guci, tempayan, gerabah, porselin baik itu buatan China, Thailand, VOC, Hindia Belanda, batu pemujaan, terdapat beberapa gambar atau adegan misalnya binatang, tapak tangan, gambar berburu, gambar sampan atau perahu, gambar manusia, gambar perahu atau sampan, patung, terakota, dan sebagainya. Secara linguistik bahasa Tolaki merupakan atau masuk kedalam rumpun bahasa Austronesia, secara Antropologi manusia Tolaki merupakan Ras Mongoloid, yang datang ditempat ini melalui jalur migrasi dari Asia Timur, masuk daerah Sulawesi, hingga masuk daratan Sulawesi Tenggara. Sebelum kerajaan Konawe muncul, telah ada beberapa kerajaan kecil yaitu: Padangguni berkedudukan di Abuki pada saat itu yang menjadi rajanya adalah mokole Bunduwula. Kerajaan Besulutu di Besulutu dengan rajanya bernama Mombeeti, dan kerajaan Wawolesea di Toreo dengan rajanya Wasangga. Berdasarkan oral tradition atau tradisi lisan masyarakat Tolaki jauh sebelum kerajaan Konawe terbentuk. Sumber:Manan, Fajria Novart (1986). Sistem Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Sulawesi Tenggara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 5.

 Suku Tolaki


Suku Tolaki adalah etnis terbesar yang berada di provinsi Sulawesi Tenggara. Suku Tolaki merupakan etnis yang berdiam di jazirah tenggara pulau Sulawesi. Suku Tolaki merupakan suku asli daerah Kota Kendari dan Kabupaten Kolaka.



Suku Tolaki tersebar di 7 kabupaten/kota di provinsi Sulawesi Tenggara yang meliputi Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Kolaka, Kolaka Utara dan Kolaka Timur.


Masyarakat Tolaki sejak zaman prasejarah telah memiliki jejak peradaban, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan arkeologi di beberapa gua atau kumapo di Konawe bagian utara maupun beberapa gua yang ada di daerah ini. Lokasi situs gua-gua di daerah ini umumnya terletak di Konawe bagian Utara seperti Asera, Lasolo, Wiwirano, Langgikima, Lamonae, diantaranya gua Tanggalasi, gua Tengkorak I, gua Tengkorak II, gua Anawai Ngguluri, gua Wawosabano, gua Tenggere dan gua Kelelawar serta masih banyak situs gua prasejarah yang belum teridentifikasi.


Dari hasil penelitian tim Balai Arkeologi Makassar dari tinggalan materi uji artefak di Wiwirano berupa sampel dengan menggunakan metode uji karbon 14 di laboratorium Arkeologi Miami University Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa daripada artefak di Wiwirano Konawe Utara berumur sekitar 7000 tahun yang lalu atau dengan evidensi ini maka peradaban Tolaki di Konawe telah berlangsung sejak 5000 tahun Sebelum Masehi. Di dalam gua-gua tersebut menyimpan banyak artefak baik tengkorak manusia, alat kerja seperti alat-alat berburu, benda pemujaan, guci, tempayan, gerabah, porselin baik itu buatan China, Thailand, VOC, Hindia Belanda, batu pemujaan, terdapat beberapa gambar atau adegan misalnya binatang, tapak tangan, gambar berburu, gambar sampan atau perahu, gambar manusia, gambar perahu atau sampan, patung, terakota, dan sebagainya. Secara linguistik bahasa Tolaki merupakan atau masuk kedalam rumpun bahasa Austronesia, secara Antropologi manusia Tolaki merupakan Ras Mongoloid, yang datang ditempat ini melalui jalur migrasi dari Asia Timur, masuk daerah Sulawesi, hingga masuk daratan Sulawesi Tenggara.


Sebelum kerajaan Konawe muncul, telah ada beberapa kerajaan kecil yaitu: Padangguni berkedudukan di Abuki pada saat itu yang menjadi rajanya adalah mokole Bunduwula. Kerajaan Besulutu di Besulutu dengan rajanya bernama Mombeeti, dan kerajaan Wawolesea di Toreo dengan rajanya Wasangga. Berdasarkan oral tradition atau tradisi lisan masyarakat Tolaki jauh sebelum kerajaan Konawe terbentuk.


Sumber:Manan, Fajria Novart (1986). Sistem Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Sulawesi Tenggara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 5.

TEUKU TANDI BUNGร”NG TALOร‰ pada tahun 1902 dalam sebuah pertempuran dasyat antara pejuang aceh dibawah pimpinan teuku tandi bungรดng taloรฉ dengan pasukan marsose, para pejuang aceh berhasil membunuh pimpinan marsose yaitu de bruijn. akibat kematian de bruijn ini pihak belanda melipat gandakan serangan ke daerah barat aceh, khususnya ke bungรดng taloรฉ, tripa seunagan dan beutรดng. pasukan belanda yang dipimpin oleh letnam gosenson yang menjabat sebagai kepala bivak jeuram berhasil menangkap teuku tandi bungรดng taloรฉ. maka berakhir pula lah perjuangan beliau dalam melawan penjajah belanda pada tahun 1907 bersama beliau juga ditangkap teuku pang ulรฉ side, setelah sebelumnya belanda juga berhasil mematahkan perjuangan teuku keumangan.

 TEUKU TANDI BUNGร”NG TALOร‰


pada tahun 1902 dalam sebuah pertempuran dasyat antara pejuang aceh dibawah pimpinan teuku tandi bungรดng taloรฉ dengan pasukan marsose, para pejuang aceh berhasil membunuh pimpinan marsose yaitu de bruijn.



akibat kematian de bruijn ini pihak belanda melipat gandakan serangan ke daerah barat aceh, khususnya ke bungรดng taloรฉ, tripa seunagan dan beutรดng.


pasukan belanda yang dipimpin oleh letnam gosenson yang menjabat sebagai kepala bivak jeuram berhasil menangkap teuku tandi bungรดng taloรฉ.


maka berakhir pula lah perjuangan beliau dalam melawan penjajah belanda pada tahun 1907 bersama beliau juga ditangkap teuku pang ulรฉ side, setelah sebelumnya belanda juga berhasil mematahkan perjuangan teuku keumangan.

Toko penjual perlengkapan rumah tangga di Malang. Circa 1895 KITLV

 Toko penjual perlengkapan rumah tangga di Malang. Circa 1895 KITLV



23 March 2024

Rara Oyi (Roro Oyi atau Rara Hoyi) adalah seorang putri dari Demang Mangunjaya (nama Tionghoa: Ma Oen) asal Surabaya.Di gambarkan Rara Oyi memiliki wajah blasteran Cina Jawa, yang tentunya biasanya sangat cantik. Sunan Amangkurat I yang sedang berduka atas meninggalnya istrinya, Kanjeng Ratu Malang memberikan perintah kepada hulubalang kerajaan, Nayatruna dan Yudhakarti untuk mencari penggantinya. Keduanya kemudian pergi dan menemukan Rara Oyi yang masih berusia belia di Kali Mas, Surabaya. Rara Oyi kemudian diboyong ke Keraton Plered dan dititipkan oleh Amangkurat I kepada Ngabei Wirareja sampai Rara Oyi tumbuh dewasa untuk dirawat dan disiapkan untuk menjadi selir Amangkurat I. Suatu saat Pangeran Tejaningrat (Raden Mas Rahmat), putra Amangkurat I yang diangkat menjadi Adipati Anom (Putra Mahkota) diminta ayahnya (Amangkurat I) untuk menikah dengan putri Adipati Cirebon, tetapi Adipati Anom tidak ada hasrat kepadanya, suatu hari Adipati Anom berjalan2 ke kediaman Ngabei Wirareja dan bertemu Rara Oyi yang sudah beranjak dewasa, melihat kecantikan Rara Oyi Adipati Anom jatuh cinta dan meminta Ngabei Wirareja menyerahkannya, Ngabei Wirareja menolak untuk menyerahkan Rara Oyi karena Rara Oyi adalah calon selir yang akan dipinang oleh ayahnya. Cintanya tak terbalas Adipati Anom akhirnya sakit-sakitan karena tidak diijinkan mendapatkan Rara Oyi. Tidak tega melihat keponakannya sakit-sakitan Pangeran Pekik (sumber lainnya menyebut Pangeran Purbaya karena Pangeran Pekik sudah wafat pada tahun 1659) membantu Adipati Anom untuk mengambil Rara Oyi dan meminta Wirarejo untuk menyerahkan Rara Oyi kepada Adipati Anom dan akan bertanggung jawab sepenuhnya. Akhirnya Adipati Anom pun membawa lari Rara Oyi dan menikahinya diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya. Saat akan mengambil Rara Oyi Amangkurat I yang mengetahui bahwa Rara Oyi sudah diambil Adipati Anom kemudian menjadi murka, dan menghukum siapa saja yang terlibat dalam kejadian tersebut. Wirareja dan keluarganya diasingkan di Ponorogo (namun dihabisi di tengah jalan). Adipati Anom harus memilih untuk hidup dengan Rara Oyi namun pada akhirnya tak bisa menjadi penguasa, atau membunuh Rara Oyi dan dapat menjadi penguasa. Pada akhirnya, Adipati Anom memilih untuk menghabisi Rara Oyi dengan cara menusukkan keris ke perut Rara Oyi, akhirnya Rara Oyi meninggal secara tragis dan dikubur ke tanah Lipura. Sementara menurut sumber lainnya, Rara Oyi dikebumikan di pemakaman Banyusumurup dengan nama Kanjeng Ratu Mangkurat. Kejadian tersebut terjadi pada 1668-1670 M. Noted : cerita diambil dari sumber-sumber yang ada (wikipedia dll, untuk kebenaran cerita diserahkan kepada masing2, karena tidak ada bukti sejarah yang kuat untuk membenarkan cerita tersebut.

 Rara Oyi (Roro Oyi atau Rara Hoyi) adalah seorang putri dari Demang Mangunjaya (nama Tionghoa: Ma Oen) asal Surabaya.Di gambarkan Rara Oyi memiliki wajah blasteran Cina Jawa, yang tentunya biasanya sangat cantik. Sunan Amangkurat I yang sedang berduka atas meninggalnya istrinya, Kanjeng Ratu Malang memberikan perintah kepada hulubalang kerajaan, Nayatruna dan Yudhakarti untuk mencari penggantinya. Keduanya kemudian pergi dan menemukan Rara Oyi yang masih berusia belia di Kali Mas, Surabaya. Rara Oyi kemudian diboyong ke Keraton Plered dan dititipkan oleh Amangkurat I kepada Ngabei Wirareja sampai Rara Oyi tumbuh dewasa untuk dirawat dan disiapkan untuk menjadi selir Amangkurat I.



Suatu saat Pangeran Tejaningrat (Raden Mas Rahmat), putra Amangkurat I yang diangkat menjadi Adipati Anom (Putra Mahkota) diminta ayahnya (Amangkurat I) untuk menikah dengan putri Adipati Cirebon, tetapi Adipati Anom tidak ada hasrat kepadanya, suatu hari Adipati Anom berjalan2 ke kediaman Ngabei Wirareja dan bertemu Rara Oyi yang sudah beranjak dewasa, melihat kecantikan Rara Oyi Adipati Anom jatuh cinta dan meminta Ngabei Wirareja menyerahkannya, Ngabei Wirareja menolak untuk menyerahkan Rara Oyi karena Rara Oyi adalah calon selir yang akan dipinang oleh ayahnya. Cintanya tak terbalas Adipati Anom akhirnya sakit-sakitan karena tidak diijinkan mendapatkan Rara Oyi. Tidak tega melihat keponakannya sakit-sakitan Pangeran Pekik (sumber lainnya menyebut Pangeran Purbaya karena Pangeran Pekik sudah wafat pada tahun 1659) membantu Adipati Anom untuk mengambil Rara Oyi dan meminta Wirarejo untuk menyerahkan Rara Oyi kepada Adipati Anom dan akan bertanggung jawab sepenuhnya. Akhirnya Adipati Anom pun membawa lari Rara Oyi dan menikahinya diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya.


Saat akan mengambil Rara Oyi Amangkurat I yang mengetahui bahwa Rara Oyi sudah diambil Adipati Anom kemudian menjadi murka, dan menghukum siapa saja yang terlibat dalam kejadian tersebut. Wirareja dan keluarganya diasingkan di Ponorogo (namun dihabisi di tengah jalan). Adipati Anom harus memilih untuk hidup dengan Rara Oyi namun pada akhirnya tak bisa menjadi penguasa, atau membunuh Rara Oyi dan dapat menjadi penguasa. Pada akhirnya, Adipati Anom memilih untuk menghabisi Rara Oyi dengan cara menusukkan keris ke perut Rara Oyi, akhirnya Rara Oyi meninggal secara tragis dan dikubur ke tanah Lipura. Sementara menurut sumber lainnya, Rara Oyi dikebumikan di pemakaman Banyusumurup dengan nama Kanjeng Ratu Mangkurat. Kejadian tersebut terjadi pada 1668-1670 M.

Noted : cerita diambil dari sumber-sumber yang ada (wikipedia dll, untuk kebenaran cerita diserahkan kepada masing2, karena tidak ada bukti sejarah yang kuat untuk membenarkan cerita tersebut.

~~~ S. A. W. U. N. G. G. A. L. I. N. G ~~~ (Dinamika Politik Surabaya vs Kertasura) Pasca mangkatnya Adipati Terung Raden Kusen di era Majapahit akhir, Adipati Surabaya di era Demak dipegang oleh Adipati Tranggana atau Pangeran Rekyana putra Raden Qasim Sunan Drajat dg Dewi Sufiyah putri Sunan Gunung Jati. Putranya, Raden Panji Wiryakrama meneruskan sbg Adipati Surabaya yang berkonflik dg Pajang. Untuk mendamaikan konflik Pajang-Surabaya, Sunan Prapen dari Giri Kedhaton menikahkan putri Sultan Hadiwijaya dg Panji Wiryakrama. Di era awal Mataram Islam Adipati Surabaya diteruskan oleh putra Panji Wiryakrama yaitu Panji Jayalengkara (1546-1625) murid Sunan Prapen. Di masanya Surabaya menjadi kota pelabuhan yang sangat ramai. Panembahan Senopati pun tergiur untuk menaklukan Surabaya. Sunan Prapen (1548-1605) kembali menjadi penengah Adipati Jayalengkara dan para adipati jawa tengah dan jawa timur yang menolak kekuasaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati (1586-1601). Putra Senopati, Panembahan Hanyakrawati (1601-1613) dari Mataram berusaha manaklukan Surabaya yang lebih makmur tetapi selalu gagal. Surabaya akhirnya takluk pada Mataram pada 1625 di era Sultan Agung. Putranya, Raden Pekik Jenggolo diangkat sebagai Adipati Surabaya (1625-1670) dan dinikahkan dg adik Sultan Agung Ratu Pandan Sari. Beliau ditugasi untuk menggulingkan Panembahan Ageng Giri (1616-1636/cucu sunan Prapen) di Giri Kedhaton pada 1636. Pasca wafatnya Pangeran Pekik Jenggolo pada 1670, Adipati Surabaya dilimpahkan kepada Hangga Wangsa yang bergelar Djangrana I (1670-1678). Beliau adalah putra Sunan Boto Putih atau Pangeran Lanang Dangiran putra Prabu Tawang Alun, raja Blambangan di Kedhawung Jember. Adiknya, Mas Sanepo meneruskan tahta ayahnya bergelar Prabu Tawangalun II (1655-1690) di Macan Putih. Pangeran Lanang Dangiran gemar bertapa di laut sampai hanyut di pantai Sedayu Lamongan diasuh oleh Kyai Kendil Wesi dan dinikahkan dengan putri Ki Bimotjili (seorang ulama dari Cirebon). Pada tahun 1595 Pangeran Lanang Dangiran bersama istri dan anak-anaknya pergi ke Surabaya, menetap di timur kali Pegirian dukuh Botoputih untuk berguru kepada Sunan Prapen kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Botoputih sambil membantu Raden Pekik. Sunan Botoputih wafat pada 1638 di usia 70 tahun meninggalkan 7 anak, 2 putra laki-laki yang bernama Hanggawangsa dan Hanggadjaya telah dipersiapkan menjadi pemimpin. Hanggawangsa menggantikan Raden Pekik sebagai bupati Surabaya bergelar Djangrana I (1670-1678) sedangkan adiknya Hanggadjaya diangkat sebagai bupati di Pasuruan (1678-1686) ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Tercatat dalam sejarah Tumenggung Djangrana I dikenal sebagai bupati Surabaya yang berjasa besar membantu Amangkurat Amral melawan pemberontakan Trunajaya. Kedua-duanya dibesarkan di Surabaya. Amangkurat Amral sejak kecil oleh Pangeran Pekik di Surabaya sebelum akhirnya berpindah ke kraton Plered sebagai putra mahkota. Pada 1677 Djangrana berhasil merebut meriam pusaka Nyai Setomi dari tangan pemberontak di Gresik. Beliau juga yang berhasil membebebaskan Pangeran Cakraningrat II bupati Madura yang dibuang Trunajaya di hutan Lodaya (dekat Blitar). Djangrana gugur di gapura benteng Kediri pada Desember 1678. Dimine Francois Valentina yang ikut dalam peperangan di Kediri mencatat: " Satu-satunya pemberani dalam peperangan itu adalah Kiyahi Yangrono, pangeran Surabaya, yang dengan naik kuda serta menggenggam pistol terjun dalam sungai tanpa menghiraukan berondongan senapan dari musuh, menyusup dalam barisan musuh. Lima hari sesudah peristiwa itu pasukan kita dapat merebut benteng Kediri kira2 pada awal atau pertengahan Desember 1678, dan dalam penyerbuan Kediri itu, Sang Pahlawan Pangeran Surabaya tadi kedapatan mati dalam gapuro benteng kota. Adipati Jangrana lalu di makamkan di Boto Putih Surabaya. Adipati Jangrana I menurunkan 5 anak, yaitu: 1. Djangrana Il yang bernama kecil Surodirono 2. Djajapuspita, Adipati Panatagama 3. Wiradirja 4. Surengrana, Natapura 5. Kartayuda. Adipati Djangrana II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Surabaya. Ia diangkat oleh Amangkurat II sebagai Adipati Kliwon dari pesisir Wetan bersamaan dengan di angkatnya Cakraningrat II menjadi Panembahan Madura dan Adipati Wedono seluruh pesisir wetan Jawa. Pasca pemberontakan Trunajaya, Jangrana ll ditugasi memadamkan perlawanan Tawangalun ll dari Blambangan yang dituduh membantu dana bagi pemberontakan Trunajaya. Namun ia berperang setengah-setengah karena dalam hati ia memihak Tawangalun II yang masih terhitung kakeknya sendiri. Jangrana ll ini dikenal berdedikasi dan bereputasi tinggi dibuktikan dengan keberhasilannya memadamkan pemberontakan trah Giring-Kajoran yang dilakukan oleh Ki Ageng Wanakusuma dan dua putranya Jaya Lalana dan Jaya Purusa dari Gunungkidul yg dibantu oleh Kertanadi dan Kertinegoro dari trah Kajoran terhadap Amangkurat ll di Kertasura pada 1683, ia pulang dengan meminta residen Surabaya menyambut kedatangannya menggunakan tembakan salvo. Pada saat pemberontakan Untung Surapati di Kertasura, diam-diam ia dilindungi oleh Amangkurat II di dalam keraton yang berakhir dengan terbunuhnya Kapten Tack 8 Februari 1686 dengan 20 tusukan oleh tangan Untung Suropati, ia pun menjadi buron Belanda. Pada 1686 Untung Surapati mendapat restu Amangkurat II untuk pergi ke timur merebut Pasuruan yang saat itu dipimpin Hanggadjaya. Setelah berhasil, ia pun diangkat menjadi bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara. Adipati Hanggajaya melarikan diri ke Surabaya meminta bantuan pada keponakannya, Jangrana lI namun tidak ditanggapinya karena Jangrana II juga tidak suka terhadap VOC. Tetapi takdir tidak bisa ditolak, pada 1690 Jangrana ll dan Cakraningrat II (bupati Madura) akhirnya mendapat tugas Amangkurat II merebut kembali Pasuruan dari tangan Untung Surapati atas perintah VOC. Keduanya pun menyanggupinya dan terjadilah perang antara kedua belah pihak. Namun perang ini hanya perang sandiwara untuk menyenangkan VOC seakan Amangkurat II tetap setia pada perintah Belanda dg menyuruh dua adipatinya. Amangkurat II wafat pada 1703 dan terjadilah perebutan tahta di Kartasura antara Amangkurat lll (Sunan Mas) dengan Pangeran Puger, pamannya. Dalam hal ini Jangrana ll memihak pada Pangeran Puger (Pakubuwana I). Pada tahun 1705 Pakubuwana I dengan bantuan VOC di Semarang berhasil merebut istana Kartasura dan mengusir Amangkurat III ke Madiun. Pada 1706 Untung Suropati bupati Pasuruan mengirim bantuan untuk melindungi Sunan Amangkurat III. Pada tahun 1706 gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya bergerak menyerang Pasuruan karena Amangkurat III dilindungi Untung Surapati. Dalam perang tersebut Jangrana ll melakukan gerakan sabotase yang merugikan Belanda, karena ia sendiri adalah sahabat Untung Surapati. Pada akhirnya.perlawansn Untung Surapati berakhir. Ia tertangkap dan wafat di Pasuruan pada 1706. Adapun Amangkurat lll menyerah di Surabaya pada 1708 dan dibuang ke Sri Langka. Pasca peristiwa itu pihak VOC ganti melaporkan pengkhianatan Jangrana ll kepada Pakubuwana I pada 1709. Jangrana ll terbukti telah merugikan VOC dalam peperangan tersebut. Djangrana II ditunjuk sebagai pemandu perjalanan pasukan gabungan Kertasura dan VOC dalam penyerbuan ke Pasuruan. Ia dengan sengaja memilih jalur yang sulit dengan melewati rawa-rawa, sehingga banyak tentara Belanda yang jatuh sakit dan mati dalam perjalanan. Jangrana ll sendiri juga dinilai bertempur setengah hati, terbukti ada satupun prajurit Surabaya yang gugur melawan pasukan Untung Surapati di Pasuruan, ini aneh bin ajaib. Pakubuwono I dalam keadaan dilematis, ia dihadapkan pada perjanjian baru dengan VOC menggantikan perjanjian lama yg telah dilakukan oleh Amangkurat III. Pada perjanjian lama Kertasura harus menebus utang perang Trunojoyo sebanyak 2,5 juta gulden. Sementara pada perjanjian baru Kertasura diharuskan untuk mengirim beras sebanyak 13.000 ton beras setiap tahunnya kepada Belanda selama 25 tahun. Rangkaian perjanjian tersebut membuat Pakubuwana I tersandera dan dengan terpaksa menjalankan perintah Belanda memberikan hukuman mati Adipati Djangrana II tim suskesnya yang telah membelanya matia-matian hanya demi menjaga harga diri raja di hadapan VOC. Djangrsna II wafat pada hari kamis 20 Februari 1709 jam 9 pagi di gapuro Kemandungan Kraton Kartasura setelah di hujani 25 tusukan keris oleh algojo Kartasura dan di makamkan di Astana Laweyan di Surakarta. Peristiwa tersebut kontan membuat marah rakyat Surabaya. Sang adik Tumenggung Jayapuspita yang memimpin Kadipaten Kasepuhan bersama saudaranya Kyai Tumenggung Wiradirja yang memimpin Kadipaten Kanoman segera mengangkat senjata melawan Kertasura pada 1718. Babad Tanah Jawi memberitakan kisah pemberontakan Arya Jayapuspita panjang lebar. Jayapuspita disebut sebagai pewaris sifat-sifat Jangrana, kakaknya, yaitu gagah berani, mencintai rakyat, dan taat beragama. Selain pemimpin militer juga pemimpin agama dengan gelar Tumenggung Jaya Puspita Panatagama. Pada tahun 1714 Jayapuspita menolak menghadap ke Kartasura. Ia menyusun pemberontakan sebagai pembalasan atas kematian kakaknya Jangrana II. Daerah-daerah pesisir seperti Gresik, Tuban, dan Lamongan jatuh ke tangannya. Pada 1717 gabungan pasukan VOC dan Kartasura berangkat menyerbu Surabaya. Mereka bermarkas di desa Sepanjang. Perang besar terjadi. Jayapuspita mendapat bantuan dari Bali dibawah pimpinan Dewa Kaloran yang membawahi tiga bupati yaitu Dewa Saka, Dewa Sade dan Dewa Bagus Bala. Pada 1718 adik Jayapuspita yang memimpin Kadipaten Kanoman Tumenggung Wiradirja gugur di medan laga. Pasca runtuhnya benteng pertahanan di Wonokromo, Jayapuspita bersama warga Surabaya melakukan bedhol negoro dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Japan (dekat Mojokerto) dengan didampingi kedua adiknya yang masih hidup, yaitu Surengrana dan Kartayuda. Pada Februari 1719, Pakubuwana I dari Mataram meninggal. Penggantinya adalah Mas Suryanata (Amangkurat IV, 1719-1726). Pangeran Arya Dipanegara kakak Amangkurat IV yang sedang diberi tugas oleh ayahnya PB I untuk menangkap Jayapuspita berbalik arah bergabung dengan kelompok Jayapuspita di Japan. Tetapi Pangeran Blitar yang bermarkas di Kraton Kerta Sekar Pleret berhasil membujuk Jayapuspita untuk bergabung dengannya dan memsnfaatkan kekuatannya di Japan untuk menggempur kubu Arya Dipanegara di Madiun. Arya Dipanegara kalah dan menyingkir ke Baturatna sebelum akhirnya bergabung dengan kelompok Karta Sekar di Pleret bersama kakaknya, Pangeran Purbaya. Pada bulan November 1720 gabungan pasukan Kartasura dan VOC dibawah pimpinan Patih Cakrajaya dan Admiral Bergman memutuskan untuk menyerang Mataram di Kerta. Kota Karta Sekar dihancurkan, kelompok Pangeran Blitar menyingkir ke timur dan ia meninggal pada 1721 akibat wabah penyakit di daerah Malang. Perjuangan dilanjutkan Pangeran Purbaya yang berhasil merebut Lamongan. Namun kekuatan musuh jauh lebih besar. Perlawanan Jayapuspita yang mengangkat dirinya dengan gelar Adipati Panatagama berakhir ketika ia sakit keras dan meninggal di Japan tahun 1720. Perjuangannya diteruskan oleh Tumenggung Surengrana (Natapura) di Lamongan yang kemudian bergabung dengan pasukan Pangeran Purbaya. Namun kekuatan Tumenggung Surengrana di Japan tidak setangguh sebelumnya karena pasuksn Bali yang menyokong Jayapuspita memilih mrmbubarkan diri dan kembali ke daerah asalnya. Temenggung Surengrana tidak mampu mempertahankan Japan dan menyerah pada tahun 1722. Japan kembali ke Kertasura, adapun Surabaya menjadi milik VOC. Pangeran Purbaya dibuang ke Batavia pada 1723. Ditengah hiruk pikuknya perang Surabaya-Kertasura muncul kisah legenda yang selalu dikenang oleh warga Surabaya yaitu SAWUNGGALING. Siapa beliau gerangan dan bagaimana kisah kepahlawanannya? Menurut tedhak Dermayudan (CB 145-1-E No 2) Sawunggaling memerintah Surabaya pasca wafatnya Jayapuspita. Adapun menurut Silsilah Pangeran Lanang Dangiran, Baba asal usul Keluarga Kasepuhan Kanoman Surabaya, halaman 49-50 oleh Raden Panji Ario Makmur, Surabaya 01 Agustus 1966, Sawunggaling tercatat sebagai putra Tumenggung Surengrana putra ke 4 Hanggawangsa putra Lanang Dangiran. Ada juga yang menganggap Sawunggaling putra Djangrana II yang meninggal di Lawean, kakak Jayapuspita. Menurut pendapat ini Sawunggaling terhitung keponakan Jayapuspita yang sama-sama melakukan perlawanan terhadap Belanda. Sawunggaling bagaimanapun adalah tokoh legendaris semi-historis yang sulit untuk diidentifikasi sosoknya dalam historiografi Surabaya tetapi hadir dalam pikiran masyarakat terutama lewat tradisi tutur. Sejarah yang tercecer mewakili semangat perlawanan rakyat Surabaya yang luput dari sejarah resmi. Alkisah, pada pertengahan tahun 1686. Rombongan Adipati Surabaya Jayengrana ll putra Hanggawangsa sedang berkuda berkeliling daerah Kadipaten dan singgah di Desa Lidah Wetan. Waktu itu kawasan ini masih berupa hutan dan daerah rawa-rawa yang tidak begitu jauh dengan aliran sungai Kali Brantas. Saat tiba di desa Lidah Wetan itu, sang Adipati berhenti di depan rumah Kepala Desa Lidah Wetan, Wangsadrana. Adipati Jayengrana yang didampingi penasehat kadipaten Surabaya ARYA SURADIREJA masuk dan beristirahat di rumah kepala desa itu. Sedangkan pengawalnya tetap berada di luar. Saat jamuan makan siang, Adipati Jayengrana dan Arya Suradireja dilayani anak semata wayang kepala desa bernama Rara Blengoh yang berusia 19 tahun. Melihat kecantikan Rara Blengoh hati sang Adipati telah ditinggal mati isterinya selama 4 tahun yang lalu kembali bergelora. Kegelisahan hati sang adipati ditangkap oleh Wangsadrana dan Arya Suradireja. Singkat cerita, sang Adipati melamar sang gadis. Rara Blengoh merasa terkejut dan bingung untuk menjawabnya. Namun setelah diberi pengertian akan status Adipati yang sudah empat tahun menduda, Rara Blengoh menerima pinangan itu. Setelah ditentukan waktunya, upacara pernikahan pun diselenggarakan di desa Lidah Wetan dan sengaja tidak dilaksanakan di Kadipaten Surabaya, untuk menjaga hati dan perasaan lima putera Jayengrana yaitu Raden Mas Sawungkarna (9 tahun), Raden Mas Sawungsari (7 tahun), Raden Mas Jaya Puspita (6 tahun) dan dua anak bungsu lahir kembar, Raden Mas Suradirana dan Raden Mas Umbulsangga (4 tahun). Setelah pernikahan dan resmi menjadi isteri Raden Mas Jayengrana, Rara Blengoh mendapat gelar kehormatan Raden Ayu Dewi Sangkrah. Namun, sang adipati tetap tidak membawa isterinya ke kadipaten. Justru sang Adipati lah yang sering menginap di rumah kepala desa Lidah Wetan itu. Dan dari cinta keduanya terlahirlah seorang anak yang bernama Jaka Berek yang kemudian dikenal dengan Sawunggaling pada 1687. Zaman itu, keadaan situasi membuat kesibukan Jayengrana ll sebagai Adipati Surabaya luar biasa. Inilah yang membuat sang adipati tidak sempat lagi mendatangi isterinya di desa Lidah Wetan, karena situasi yang cukup gawat dampak dari pemberontakan Untung Surapati terhadap Belanda. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, usia putra Jayengrana ll, Jaka Berek pun meningkat remaja. Pertengahan tahun 1704, saat Jaka Berek memasuki usia 17 tahun, ia meminta izin kepada ibunya, untuk menemui sang ayah di kadipaten Surabaya. Melihat kesungguhan hati si anak, maka kakeknya Wangsadrana berusaha meningkatkan ilmu dan kemampuan beladirinya serta sopan-santun kerajaan. Setelah dianggap matang, Jaka Berek diizinkan berangkat ke kadipaten dengan berjalan kaki menyusuri pinggir anak sungai Kali Brantas, yakni Kali Surabaya, sampai ke Kalimas. Di tengah perjalanan ketika melewati jalan desa sekitar Gunungsari. Seekor kuda lewat dengan membawa seorang laki-laki berkulit putih dalam keadaan pingsan di punggungnya. Kuda itu berhenti tatkala melihat Jaka Berek. Seolah-olah minta tolong, kuda itu menghampiri Jaka Berek. Tidak menunggu lama, Jaka Berek mengangkat tubuh laki-laki berhidung mancung itu ke bawah pohon. Kemudian Jaka Berek memberi minum dan membaca mantera yang pernah diajarkan kakeknya. Tak lama kemudian bule itu siuman. Dia berterimakasih kepada jaka Berek yang sudah membantunya. Kedua anak muda yang berbeda ini berkenalan. "Nama saya Van Jannsen", kata anak muda itu dengan Bahasa Jawa. Jaka Berek terkejut, ternyata Belanda ini sudah belajar Bahasa Jawa di Semarang. Van Jannsen, ternyata perwira muda yang sedang mengikuti tugas militer dari negaranya. Menurut Van Jannsen, dia bersama tiga temannya diutus ke Surabaya untuk menemui Adipati Jayengrana. Tetapi, saat berada di sekitar Lamongan, mereka diserang warga setempat. Mereka dikeroyok, namun Van Jannsen berhasil menyelamatkan diri dengan keadaan yang sangat payah. Setelah saling bersalaman, Van Jannsen pamit untuk meneruskan perjalannya menuju Kadipaten Surabaya dengan menunggang kuda. Tidak lama kemudian, Jaka Berek juga berjalan menyusuri sungai Kali Surabaya. Ia berjalan terus sesuai petunjuk, berjalan menyusuri sungai Kalimas. Jaka Berek akhirnya sampai juga di Alun-alun Contong, tidak jauh dari kadipaten. Di sana ia duduk-duduk dengan melepaskan lelah sembari memberi makan ayam jago yang dibawanya dari rumah. Ayam jago itu diberi nama si Galing atau Cinde Puspita. Sesaat setelahnya Jaka Berek diketahui dan diinterogasi oleh petugas keamanan Kadipaten. Ketika diinterogasi itu, Jaka Berek menyatakan dia berasal dari Lidah Wetan. Kakeknya Wangsadrana mantan kepala desa di sana dan ibunya bernama Rara Blengoh dan juga dikenal dengan nama Raden Ayu Dewi Sangkrah. Maksud kedatangannya ke Surabaya untuk mencari ayahnya yang bekerja di kadipaten. Akhirnya petugas keamanan melapor kepada staf ahli kadipaten Arya Suradireja. Melihat pancaran sinar dari wajah Jaka Berek, Arya Suradireja terhenyak. Ia teringat kepada peristiwa di Lidah Wetan 19 tahun yang silam. Ia melihat bayangan wajah kepala desa Wangsadrana dan gadis bernama Rara Blengoh. Tanpa berpikir panjang, Arya Suradireja melapor kepada Adipati Djangrana yang sedang memimpin rapat di pendapa kadipaten. Sang Adipati terkejut dan juga terharu saat melihat seorang anak muda tampan di depannya. Jaka Berek dibawa ke dalam kamar kerja Adipati diiringi oleh Arya Suradireja. Dari dialog singkat di kamar pribadi sang adipati itu, diyakini bahwa Jaka Berek adalah anak kandung Raden Mas Jayengrana. Tanpa basa-basi, Jaka Berek diajak ke pendapa kadipaten yang sedang ramai dengan pejabat kadipaten. Jayengrana menyatakan kegembiraannya pada hari itu, karena dipertemukan dengan anak bungsunya, bernama Jaka Berek. Semua yang hadir terkejut. Anak-anak Djangrana, serta-merta protes. Sawungkarna memperlihatkan kemarahan kepada ayahnya. Secara kasar Sawungkarna menantang Sawunggaling untuk menguji kesaktiannya di alun-alun Kadipaten. Sawunggaling hanya diam. Dengan merunduk dia berfikir untuk tidak melayani. Namun batinnya berkata dan seolah-olah menerima bisikan dari kakeknya Wangsadrana. Perkelahian satu lawan satu antara Sawungkarna dengan Jaka Berek berlangsung seru. Akibat kemarahan Sawungkarna yang memuncak, ia lepas kendali. Dan dalam sekejap, saat Sawungkarna lengah, Jaka Berek berhasil menangkap tubuh Sawungkarna dan mengunci gerakannya. Melihat kesaktian Jaka Berek dan khawatir anak-anaknya cedera, Adipati memberi isyarat agar perkelahian itu dihentikan. Semua yang melihat pun kagum atas kesaktian Jaka Berek. Mereka semua kemudian diajak ke pendapa kadipaten. Hanya Sawungkarna yang tidak mau, saudara tirinya yang lain menyalami Berek sebagai tanda pernyataan bersaudara. Sore harinya, di pendapa Kadipaten Surabaya diselenggarakan acara pengangkatan secara resmi Jaka Berek menjadi putera ke 6 Adipati Jayengrana. Empat saudara tirinya ikut menyaksikan, kecuali Sawungkarna. Pada upacara di sore hari itu, secara resmi Jaka Berek mendapat kehormatan menggunakan nama Sawunggaling. Setelah selesai menangani masalah Untung Suropati dan Amangkurat lll di Pasuruan, pada pertengahan 1715, Adipati Jayengrana yang merasa sudah tua, di usia 70 tahun mengirim surat kepada Susuhunan Pakubuwana I di Surakarta. meminta pertimbangan siapa calon penggantinya sebagai Adipati Surabaya. Setelah membaca surat dari Adipati Surabaya itu, Susuhunan Pakubuwana I berunding dengan patihnya Raden Mas Nerangkusuma. Akhirnya diputuskan untuk menyelenggarakan sayembara berupa lomba memanah dengan panah pusaka kerajaan bernama Gendhewa Sakti. Siapa yang berhasil memenangkan lomba ini, akan diangkat menggantikan Adipati Jayengrana selaku penguasa di Surabaya. Tidak hanya itu, sang pemenang juga berhak menjadi menantu Susuhunan Pakubuwana I, mempersunting Bendara Raden Ayu (BRA) Pembayun, putri sulung penguasa keraton Kartasura. Pada tanggal 17 Agustus 1715, lomba memanah dengan menggunakan pusaka kerajaan Mataram yang bernama, Gendhewa Sakti siap dilaksanakan. Dalam suatu upacara yang diikuti 30 peserta yang berasal dari 17 kadipaten di tanah Jawa. Mereka adalah putera para adipati yang masih bujangan, termasuk putra Adipati Jayengrana. Setelah 25 peserta maju dan berupaya melaksanakan lomba, semuanya gagal. Tibalah giliran putera-putera Adipati Jayengrana, dimulai dari yang bungsu, Raden Mas Umbulsangga, Raden Mas Suradirana, Raden Mas Jaya Puspita, Raden Mas Sawungsari, dan yang terakhir Raden Mas Sawungkarna. Semuanya pun gagal. Sawunggaling yang datang kemudian mendaftar pada giliran kedua. Dengan tenang pemuda yang menyamar dengan sebuah topeng dan mengaku bernama Pangeran Menak Ludra itu maju ketengah dengan memberi hormat kemudian mengangkat busur dan memegang anak panah lalu menarik tali busur, anak panah dilepas dan tepat mengenai tali pengikat cindhe puspita. Kain selendang warna merah-putih itu melayang ditiup angin dan jatuh persis di pangkuan Menak Ludra. Tepuk tangan dan sorak-sorai membahana memuji keterampilan anak muda yang mengaku dari Ujung Blambangan, Banyuwangi itu. Pemuda yang mengaku Pangeran Menak Ludra itu berdiri dan dengan langkah tegap ia mendekati panggung kehormatan. Sesampainya di depan para tamu istimewa yang duduk di panggung kehormatan, anak muda yang mengaku bernama Menak Ludra itu membuka topengnya. Adipati Jayengrana yang duduk di samping Susuhunan Pakubuwana I benar-benar terkejut. Begitu juga rombongan dari Surabaya lainnya. “Mohon ampun gusti Patih, hamba sesungguhnya adalah Sawunggaling, putera ramanda Adipati Jayengrana”, katanya terbata-bata menghadap kepada pemimpin upacara Patih Nerang Kusuma. Antara terkejut bercampur gembira, Adipati Jayengrana menyatakan rasa syukur, karena yang bakal menjadi penggantinya, bukan dari luar Surabaya, tetapi adalah putera dan darah dagingnya sendiri. Setelah Sawunggaling berada di mimbar utama, Patih Nerang Kusuma mengumumkan, bahwa pengganti Adipati Jayengrana sebagai Adipati Surabaya, adalah Raden Mas Sawunggaling yang kemudian dijodohkan dengan BRA Pembayun. Pesta pernikahan itu tanggal 17 Agustus 1715 dilangsungkan di keraton Kartasura. Upacara dipimpin Patih Nerang Kusuma dan dihadiri para adipati dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan perwakilan petinggi Kompeni Belanda. Pada tanggal 20 Agustus 1715, Adipati Surabaya yang baru Raden Mas Sawunggaling dilepas Susuhunan Pakubuwana I dari Kartasura berangkat menuju ke Surabaya. Saat melewati hutan di kawasan Sragen, rombongan Sawunggaling diserang oleh gerombolan perampok Gagak Mataram yang dipimpin Gagak Lodra. Walaupun kewalahan menghadapi gerombolan yang tidak seimbang dengan rombongan kecil Sawunggaling ini, akhirnya berkat kesaktian Sawunggaling, mereka menang. Perjalanan diteruskan ke Surabaya melewati Magetan, Madiun, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan akhirnya sampai di keraton Surabaya pada tanggal 23 Agustus 1715. Sejak hari itu, resmilah Raden Mas Sawunggaling melaksanakan tugasnya sebagai adipati di Kadipaten Surabaya. Pada tanggal 4 Januari 1719, BRA Pembayun melahirkan anak laki-laki. Bayi mungil yang sehat ini atas anugerah dari kakeknya Susuhunan Pakubuwana I, diberi nama Raden Mas Arya Bagus Narendra. Sebagai seorang adipati, Sawunggaling tetap membina hubungan dengan mertuanya yang menjadi penguasa keraton Kartasura. Saat itu, sikap Susuhunan Pakubuwana I terhadap Belanda sudah berubah. Sejak ayah Sawunggaling dihukum mati karena permintaan Belanda, Pakubuwono I mulai menjaga jarak dengan pihak kompeni Belanda. Pakubuwono I merasa menyesal telah membiarkan Tumenggung Djangrana, Adipati Surabaya mati dieksekusi Belanda. Saat itu Djangrana yang diundang ke keraton Kartasura ketika melewati bangunan Srimenganti dikeroyok oleh gerombolan berpakaian penjaga keraton atas perintah G.Knol pimpinan pasukan Belanda di Semarang. Kendati mendapat 25 tikaman, namun Jayengrana masih bertahan hidup, kemudian dibawa ke Desa Lawean. Di sanalah Jayengrana menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ada yang menyatakan, jenazah almarhum dimakamkan di Lawean, ada pula yang menyebut dibawa ke Surabaya. Peristiwa yang mirip juga dialami Adipati Sawunggaling. Seminggu setelah kelahiran anaknya Raden Mas Arya Bagus Narendra, Adipati Sawunggaling diundang ke keraton Kartasura untuk menghadiri upacara pemberian penghargaan atas keberhasilan Sawunggaling menghentikan pemberontakan Cakraningrat III di Madura. Walaupun ada rasa curiga dan kejanggalan, setelah berunding dengan staf ahli Kadipaten Surabaya Arya Suradireja, Sawunggaling tetap berangkat ke Kartasura. Di keraton Kartasura Sawunggaling langsung menghadap sang mertua Susuhunan Pakubuwana I dan melaporkan tentang kelahiran anak yang dikandung BRA Pembayun. Benar saja, pesta yang seolah-olah memberi penghargaan kepada Adipati Sawunggaling, tidak lain adalah jebakan dari Sawungkarna dan Van Hoogendorf Sebagai tuan rumah hendak meracun Adipati Sawunggaling dengan segelas anggur beracun tetapi gagal karena naluri yang tajam dari Adipati Sawunggaling. Merasa malu akan kelicikannya, Van Hoogendorf segera berlari masuk ke sebuah ruangan. Di sana ia mengambil pistol dan diarahkan kepada Adipati Sawunggaling. Begitu jari telunjuk Hoogendorf memegang pelatuk, seorang perwira muda Belanda bernama Van Jannsen melompat ke tengah dan peluru pistol Van Hoogendorf menembus dada letnan Van Jannsen. Saat melihat Jannsen terkapar, Van Hoogendorf, kembali mengokang pistolnya. Bersamaan dengan itu dengan gerak reflek Sawunggaling mencabut keris dan menghunuskan ke dada Van Hoogendorf. Setelah menembus jantung Hoogendorf, keris itu langsung dicabut. Hal yang tidak diduga itu membuat Van Hoogendorf limbung dan terjerembab dekat tubuh Van Jannsen. Para petinggi kompeni Belanda yang hadir berlarian meninggalkan ruangan untuk menyelamatkan diri. Tidak larut dengan menyaksikan dua jasad tak bernyawa di ruangan itu, Sawunggaling berdiri dan bersama rombongan menuju ke tempat parkir kuda. Tanpa pamit kepada sang mertua, Susuhunan Pakubuwana I, Sawunggaling yang didampingi Arya Suradireja segera meninggalkan Kartasura. Sesampainya di Surabaya, Adipati Sawunggaling benar-benar menaruh dendam kepada kompeni Belanda. Menyadari, perbuatannya “membunuh” Van Hoogendorf akan berbuntut pada penyerangan Belanda ke Surabaya, Sawunggaling langsung mengatur strategi. Adipati mengumpulkan para pejabat pemerintahan kadipaten Surabaya untuk menghadapi segala kemungkinan. Benar saja, kematian dua perwira Belanda di Kartasura itu membuat Gubernur Jenderal Belanda di Batavia Hendrik Zwaardeckroom marah besar. Ia langsung mengangkat Pieter Speelman sebagai pengganti Van Hoogendorf. Saat itu juga ia mengeluarkan Surat Perintah untuk menangkap Sawunggaling. Walaupun berduka, atas mangkatnya Ingkang Sinuwun Susuhunan Pakubuwana I, tanggal 13 Maret 1719, Sawunggaling maupun BRA Pembayun terpaksa tidak bisa menghadiri upacara pemakaman sang mertua. Pieter Speelman yang ditunjuk menggantikan Van Hoogendorf, mendapat laporan tentang kehebatan Laskar Sawunggaling menumpas anak buahnya di perbatasan Lamongan dan Mojokerto. Salah satu peperangan yang seru terjadi tanggal 10 Februari 1723. Pasukan Belanda yang dikomandani Letnan Bernard van Aken benar-benar terpukul. Kalah telak. Pasukan yang dipimpinnya berhasil terpaksa mundur sampai Bojonegoro dan Tuban. Apalagi waktu itu, Adipati Sawunggaling berhasil menjalin kerjasama dengan pasukan laut Portugis pimpinan Kapten Laut Francisco Santos Rodriguez yang berada di Laut Jawa. Dalam pertempuran di sekitar pelabuhan Sedayu Gresik, pasukan gabungan Laskar Sawunggaling dengan pasukan Portugis, berhasil mengalahkan armada laut Belanda. Seluruh pasukan Belanda di kapal dinyatakan tewas, kecuali ABK. Tidak tahan mendengar laporan kekalahan demi kekalahan yang diderita pasukannya dari pembantaian Laskar Sawunggaling, Speelman langsung mengambialih pasukan. Ia memimpin sendiri divisi tempur yang didatangkan dari Eropa, Batavia dan Semarang menyerbu pertahanan Laskar Sawunggaling di Lamongan dan Mojokerto. Dalam pertempuran sengit itu di pinggir Bengawan Solo, di wilayah Lamongan, Raden Mas Umbulsangga bersama 20 orang pasukannya gugur sebagai pahlawan. Komandan Laskar Sawunggaling diserahkan kepada Raden Mas Suradirana, saudara kembar Raden Mas Umbulsangga. Namun, dalam pertempuran akhir Maret 1723, Raden Mas Suradirana juga gugur sebagai pahlawan. Ia menghembuskan nafas terakhir saat terkepung musuh dan tubuhnya dihujani puluhan ujung bayonet pasukan Belanda yang haus darah. Dari hari ke hari pasukan Kompeni Belanda terus bertambah. Pertempuran atara pasukan Kompeni dengan Laskar Sawunggaling semakin gencar. Adipati Sawunggaling yang kehilangan dua saudaranya di medan tempur makin terdesak. Ia berunding dengan staf ahli kadipaten Surabaya Arya Suradireja. Mereka sepakat meninggalkan kadipaten untuk menyelamatkan keluarganya. Tempat berlindung yang dianggap cukup aman waktu itu adalah Benteng Providentia (benteng miring) di daerah Ujung Surabaya, dekat muara Sungai Kalimas. Adipati Sawunggaling membawa ibundanya Raden Ayu Dewi Sangkrah bersama isterinya Bendara Raden Ayu Pembayun, serta puteranya Raden Mas Arya Bagus Narendra ke Benteng Providentia. Dalam serangan besar-besar yang dilakukan pasukan Pieter Speelman ke Benteng Providentia, Adipati Sawunggaling yang memimpin sendiri Laskar Sawunggaling terkepung. Di sinilah, akhirnya sang adipati mendapat hadiah “timah panas” dari senapan pasukan Speelman. Anehnya, tubuh Sawunggaling yang sempoyongan “lenyap” saat tersandar di dinding benteng. Konon beberapa prajurit setia Laskar Sawunggaling sempat menyembunyikan jenazah Sawunggaling, kemudian melarikan jasadnya menuju desa Lidah Wetan. Agar tidak diketahui Belanda, Sang Adipati dimakamkan malam hari di tanah kelahirannya, berdampingan dengan kakeknya Wangsadrana alias Raden Mas Karyosentono. Paman Arya Suradireja menyelamatkan Raden Ayu Dewi Sangkrah ibunda Sawunggaling beserta BRA Pembayun dan Raden Mas Arya Bagus Narendra yang saat itu berusia empat tahun. Tatkala BRA Pembayun keluar dari gerbang benteng Providentia sembari mengendong Arya Bagus Narendra menuju kereta kuda, para petinggi Kompeni Belanda yang berbaris di depan benteng sertamerta memberi hormat dengan membuka topinya. Di antara petinggi kompeni Belanda itu adalah Pieter Speelman yang mengetahui BRA Pembayun adalah puteri almarhum Susuhunan Pakubuwana l. Konon, ketika diberitahu kalau jasad Sawunggaling sudah dibawa ke Lidah Wetan, Raden Ayu Sangkrah minta diantarkan ke rumahnya di Lidah Wetan. Sedangkan BRA Pembayun bersama Raden Mas Arya Bagus Narendra dibawa ke Kartasura. Dengan gugurnya Adipati Sawunggaling sebagai pahlawan bangsa di benteng Providentia itu, maka pimpinan pemerintahan Kadipaten Surabaya kosong. Kekuasaan sementara diambilalih oleh pihak Belanda. Tidak berapa lama, Kadipaten Surabaya dipimpin oleh Ki Tumenggung Panatagama. Perjuangan Sawunggaling sampai titik darah penghabisan itu tidak dilupakan oleh Arek Suroboyo. Ia mewakili ketangguhan budaya Arek menghadapi hegemoni budaya Mataram. Apakah bonek mania sekarang merupakan reinkarnasi Laskar Sawunggaling di masa lalu...?*** ~~~~~~~~~~~~~~~ Sumber: Yousri Nur Raja Agam MH, Tumenggung Raden Mas Ngabehi Sawunggaling, Tokoh Legendaris Surabaya Tempo Dulu. https://rajaagam.wordpress.com/2008/11/29/temenggung-mas-ngabehi-sawunggaling/ https://nasional.okezone.com/read/2021/07/26/337/2445909/sawunggaling-sulit-dibunuh-kompeni-murka-dan-rakyat-surabaya-digilas https://padangulan.wordpress.com/2014/06/25/kyai-lanang-dangiran-putra-blambangan/ https://osingkertarajasa.wordpress.com/kesaktian-orang-blambangan-tak-lekang-oleh-zaman/ https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Blambangan https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/2393 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jangrana_II https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=915953618934962&id=100015609970974 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=433055301411313&id=100041205407058

 ~~~ S. A. W. U. N. G. G. A. L. I. N. G ~~~

(Dinamika Politik Surabaya vs Kertasura) 



Pasca mangkatnya Adipati Terung Raden Kusen di era Majapahit akhir, Adipati Surabaya di era Demak dipegang oleh Adipati Tranggana atau Pangeran Rekyana putra Raden Qasim Sunan Drajat dg Dewi Sufiyah putri Sunan Gunung Jati. Putranya, Raden Panji Wiryakrama meneruskan sbg Adipati Surabaya yang berkonflik dg Pajang. Untuk mendamaikan konflik Pajang-Surabaya, Sunan Prapen dari Giri Kedhaton menikahkan putri Sultan Hadiwijaya dg Panji Wiryakrama. 


Di era awal Mataram Islam Adipati Surabaya diteruskan oleh putra Panji Wiryakrama yaitu Panji Jayalengkara (1546-1625) murid Sunan Prapen. Di masanya Surabaya menjadi kota pelabuhan yang sangat ramai. Panembahan Senopati pun tergiur untuk menaklukan Surabaya. Sunan Prapen (1548-1605) kembali menjadi penengah Adipati Jayalengkara dan para adipati jawa tengah dan jawa timur yang menolak kekuasaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati (1586-1601). 


Putra Senopati, Panembahan Hanyakrawati (1601-1613) dari Mataram berusaha manaklukan Surabaya yang lebih makmur tetapi selalu gagal. Surabaya akhirnya takluk pada Mataram pada 1625 di era Sultan Agung. Putranya, Raden Pekik Jenggolo diangkat sebagai Adipati Surabaya (1625-1670) dan dinikahkan dg adik Sultan Agung Ratu Pandan Sari. Beliau ditugasi untuk menggulingkan Panembahan Ageng Giri (1616-1636/cucu sunan Prapen) di Giri Kedhaton pada 1636. 


Pasca wafatnya Pangeran Pekik Jenggolo pada 1670, Adipati Surabaya dilimpahkan kepada Hangga Wangsa yang bergelar Djangrana I (1670-1678). Beliau adalah putra Sunan Boto Putih atau Pangeran Lanang Dangiran putra Prabu Tawang Alun, raja Blambangan di Kedhawung Jember. Adiknya, Mas Sanepo meneruskan tahta ayahnya bergelar Prabu Tawangalun II (1655-1690) di Macan Putih. 


Pangeran Lanang Dangiran gemar bertapa  di laut sampai hanyut di pantai Sedayu Lamongan diasuh oleh Kyai Kendil Wesi dan dinikahkan dengan putri Ki Bimotjili (seorang ulama dari Cirebon). Pada tahun 1595 Pangeran Lanang Dangiran bersama istri dan anak-anaknya pergi ke Surabaya, menetap di timur kali Pegirian dukuh Botoputih untuk berguru kepada Sunan Prapen kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Botoputih sambil membantu Raden Pekik. 


Sunan Botoputih wafat pada 1638 di usia 70 tahun meninggalkan 7 anak, 2 putra laki-laki yang bernama Hanggawangsa dan Hanggadjaya telah dipersiapkan menjadi pemimpin. Hanggawangsa menggantikan Raden Pekik sebagai bupati Surabaya bergelar Djangrana I (1670-1678) sedangkan adiknya Hanggadjaya diangkat sebagai bupati di Pasuruan (1678-1686) 


~~~~~~~~~~~~~~~~~~ 


Tercatat dalam sejarah Tumenggung Djangrana I dikenal sebagai bupati Surabaya yang berjasa besar membantu Amangkurat Amral melawan pemberontakan Trunajaya. Kedua-duanya dibesarkan di Surabaya. Amangkurat Amral sejak kecil oleh Pangeran Pekik di Surabaya sebelum akhirnya berpindah ke kraton Plered sebagai putra mahkota. 


Pada 1677 Djangrana berhasil merebut meriam pusaka Nyai Setomi dari tangan pemberontak di Gresik. Beliau juga yang berhasil membebebaskan Pangeran Cakraningrat II bupati Madura yang dibuang Trunajaya di hutan Lodaya (dekat Blitar). Djangrana gugur di gapura benteng Kediri pada Desember 1678. 


Dimine Francois Valentina yang ikut dalam peperangan di Kediri mencatat: 


" Satu-satunya pemberani dalam peperangan itu adalah Kiyahi Yangrono, pangeran Surabaya, yang dengan naik kuda serta menggenggam pistol terjun dalam sungai tanpa menghiraukan berondongan senapan dari musuh, menyusup dalam barisan musuh. Lima hari sesudah peristiwa itu pasukan kita dapat merebut benteng Kediri kira2 pada awal atau pertengahan Desember 1678, dan dalam penyerbuan Kediri itu, Sang Pahlawan Pangeran Surabaya tadi kedapatan mati dalam gapuro benteng kota. Adipati Jangrana lalu di makamkan di Boto Putih Surabaya. 


Adipati Jangrana I menurunkan 5 anak, yaitu:

1. Djangrana Il yang bernama kecil Surodirono

2. Djajapuspita, Adipati Panatagama 

3. Wiradirja

4. Surengrana, Natapura

5. Kartayuda. 


Adipati Djangrana II menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Adipati Surabaya. Ia diangkat oleh Amangkurat II sebagai Adipati Kliwon dari pesisir Wetan bersamaan dengan di angkatnya Cakraningrat II menjadi Panembahan Madura dan Adipati Wedono seluruh pesisir wetan Jawa. 


Pasca pemberontakan Trunajaya,

Jangrana ll ditugasi memadamkan perlawanan Tawangalun ll dari Blambangan yang dituduh membantu dana bagi pemberontakan Trunajaya. Namun ia berperang setengah-setengah karena dalam hati ia memihak Tawangalun II yang masih terhitung kakeknya sendiri. 


Jangrana ll ini dikenal berdedikasi dan bereputasi tinggi dibuktikan dengan keberhasilannya memadamkan pemberontakan trah Giring-Kajoran yang dilakukan oleh Ki Ageng Wanakusuma dan dua putranya Jaya Lalana dan Jaya Purusa dari Gunungkidul yg dibantu oleh Kertanadi dan Kertinegoro dari trah Kajoran  terhadap Amangkurat ll di Kertasura pada 1683, ia pulang dengan meminta residen Surabaya menyambut kedatangannya menggunakan tembakan salvo. 


Pada saat pemberontakan Untung Surapati di Kertasura, diam-diam ia dilindungi oleh Amangkurat II di dalam keraton yang berakhir dengan terbunuhnya Kapten Tack 8 Februari 1686 dengan 20 tusukan oleh tangan Untung Suropati, ia pun menjadi buron Belanda. 


Pada 1686 Untung Surapati mendapat restu Amangkurat II untuk pergi ke timur merebut Pasuruan yang saat itu dipimpin Hanggadjaya. Setelah berhasil, ia pun diangkat menjadi bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara. Adipati Hanggajaya melarikan diri ke Surabaya meminta bantuan pada keponakannya, Jangrana lI namun tidak ditanggapinya karena Jangrana II juga tidak suka terhadap VOC. 


Tetapi takdir tidak bisa ditolak, pada 1690 Jangrana ll dan  Cakraningrat II (bupati Madura) akhirnya mendapat tugas Amangkurat II merebut kembali Pasuruan dari tangan Untung Surapati atas perintah VOC. Keduanya pun menyanggupinya dan terjadilah perang antara kedua belah pihak. Namun perang ini hanya perang sandiwara untuk menyenangkan VOC seakan Amangkurat II tetap setia pada perintah Belanda dg menyuruh dua adipatinya. 


Amangkurat II wafat pada 1703 dan terjadilah perebutan tahta di Kartasura antara Amangkurat lll (Sunan Mas) dengan Pangeran Puger, pamannya. Dalam hal ini Jangrana ll memihak pada Pangeran Puger (Pakubuwana I). Pada tahun 1705 Pakubuwana I dengan bantuan VOC di Semarang berhasil merebut istana Kartasura dan mengusir Amangkurat III ke Madiun. Pada 1706 Untung Suropati bupati Pasuruan mengirim bantuan untuk melindungi Sunan Amangkurat III. 


Pada tahun 1706 gabungan pasukan  VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya  bergerak menyerang Pasuruan  karena Amangkurat III dilindungi Untung Surapati. Dalam perang tersebut Jangrana ll melakukan gerakan sabotase yang merugikan Belanda, karena ia sendiri adalah sahabat Untung Surapati. 


Pada akhirnya.perlawansn Untung Surapati berakhir. Ia tertangkap dan wafat di Pasuruan pada 1706. Adapun Amangkurat lll menyerah di Surabaya pada 1708 dan dibuang ke Sri Langka. Pasca peristiwa itu pihak VOC ganti melaporkan pengkhianatan Jangrana ll kepada Pakubuwana I pada 1709. Jangrana ll terbukti telah merugikan VOC dalam peperangan tersebut. 


Djangrana II ditunjuk sebagai pemandu perjalanan pasukan gabungan Kertasura dan VOC dalam penyerbuan ke Pasuruan. Ia dengan sengaja memilih jalur yang sulit dengan melewati rawa-rawa, sehingga banyak tentara Belanda yang jatuh sakit dan mati dalam perjalanan. Jangrana ll sendiri juga dinilai bertempur setengah hati, terbukti ada satupun prajurit Surabaya yang gugur melawan pasukan Untung Surapati di Pasuruan, ini aneh bin ajaib. 


Pakubuwono I dalam keadaan dilematis, ia dihadapkan pada perjanjian baru dengan VOC menggantikan perjanjian lama yg telah dilakukan oleh Amangkurat III. Pada perjanjian lama Kertasura harus menebus utang perang Trunojoyo sebanyak 2,5 juta gulden. Sementara pada perjanjian baru Kertasura diharuskan untuk mengirim beras sebanyak 13.000 ton beras setiap tahunnya kepada Belanda selama 25 tahun. 


Rangkaian perjanjian tersebut membuat Pakubuwana I tersandera dan dengan terpaksa menjalankan perintah Belanda memberikan hukuman mati Adipati Djangrana II tim suskesnya yang telah membelanya matia-matian hanya demi menjaga harga diri raja di hadapan VOC. 


Djangrsna II wafat pada hari kamis 20 Februari 1709 jam 9 pagi di gapuro Kemandungan Kraton Kartasura setelah di hujani 25 tusukan keris oleh algojo Kartasura dan di makamkan di Astana Laweyan di Surakarta. 


Peristiwa tersebut kontan membuat marah rakyat Surabaya. Sang adik Tumenggung Jayapuspita yang memimpin Kadipaten Kasepuhan bersama saudaranya Kyai Tumenggung Wiradirja yang memimpin Kadipaten Kanoman segera mengangkat senjata melawan Kertasura pada 1718. 


Babad Tanah Jawi memberitakan kisah pemberontakan Arya Jayapuspita  panjang lebar. Jayapuspita disebut sebagai pewaris sifat-sifat Jangrana, kakaknya, yaitu gagah berani, mencintai rakyat, dan taat beragama. Selain pemimpin militer juga pemimpin agama dengan gelar Tumenggung Jaya Puspita Panatagama. 


Pada tahun 1714 Jayapuspita menolak menghadap ke Kartasura. Ia menyusun pemberontakan sebagai pembalasan atas kematian kakaknya Jangrana II. Daerah-daerah pesisir seperti Gresik, Tuban, dan  Lamongan jatuh ke tangannya. 


Pada 1717 gabungan pasukan  VOC dan Kartasura berangkat menyerbu Surabaya. Mereka bermarkas di desa Sepanjang. Perang besar terjadi. Jayapuspita mendapat bantuan dari Bali dibawah pimpinan Dewa Kaloran yang membawahi tiga bupati yaitu Dewa Saka, Dewa Sade dan Dewa Bagus Bala. 


Pada 1718 adik Jayapuspita yang memimpin Kadipaten Kanoman Tumenggung Wiradirja gugur di medan laga. Pasca runtuhnya benteng pertahanan di Wonokromo, Jayapuspita bersama warga Surabaya melakukan bedhol negoro dan memindahkan pusat pemerintahannya ke Japan (dekat Mojokerto) dengan didampingi kedua adiknya yang masih hidup, yaitu Surengrana dan Kartayuda. 


Pada Februari 1719, Pakubuwana I dari  Mataram meninggal. Penggantinya adalah Mas Suryanata (Amangkurat IV, 1719-1726). Pangeran Arya Dipanegara kakak Amangkurat IV yang sedang diberi tugas oleh ayahnya PB I untuk menangkap Jayapuspita berbalik arah bergabung dengan kelompok Jayapuspita di Japan. 


Tetapi Pangeran Blitar yang bermarkas di Kraton Kerta Sekar Pleret berhasil membujuk Jayapuspita untuk bergabung dengannya dan memsnfaatkan kekuatannya di Japan untuk menggempur kubu Arya Dipanegara di Madiun. Arya Dipanegara kalah dan menyingkir ke Baturatna sebelum akhirnya bergabung dengan kelompok Karta Sekar di Pleret bersama kakaknya, Pangeran Purbaya. 


Pada bulan November 1720 gabungan pasukan Kartasura dan VOC dibawah pimpinan Patih Cakrajaya dan Admiral Bergman memutuskan untuk menyerang Mataram di Kerta. Kota Karta Sekar dihancurkan, kelompok Pangeran Blitar menyingkir ke timur dan ia meninggal pada 1721 akibat wabah penyakit di daerah Malang. Perjuangan dilanjutkan Pangeran Purbaya yang berhasil merebut Lamongan. Namun kekuatan musuh jauh lebih besar. 


Perlawanan Jayapuspita yang mengangkat dirinya dengan gelar Adipati Panatagama berakhir ketika ia sakit keras dan meninggal di Japan tahun 1720. Perjuangannya diteruskan oleh Tumenggung Surengrana (Natapura) di Lamongan yang kemudian bergabung dengan pasukan Pangeran Purbaya. 


Namun kekuatan Tumenggung Surengrana di Japan tidak setangguh sebelumnya karena pasuksn Bali yang menyokong Jayapuspita memilih mrmbubarkan diri dan kembali ke daerah asalnya. Temenggung Surengrana tidak mampu mempertahankan Japan dan menyerah pada tahun 1722. Japan kembali ke Kertasura, adapun Surabaya menjadi milik VOC. Pangeran Purbaya dibuang ke Batavia pada 1723. 


Ditengah hiruk pikuknya perang Surabaya-Kertasura muncul kisah legenda yang selalu dikenang oleh warga Surabaya yaitu SAWUNGGALING. Siapa beliau gerangan dan bagaimana kisah kepahlawanannya? 


Menurut tedhak Dermayudan (CB 145-1-E No 2) Sawunggaling memerintah Surabaya pasca wafatnya Jayapuspita. Adapun menurut Silsilah Pangeran Lanang Dangiran, Baba asal usul Keluarga Kasepuhan Kanoman Surabaya, halaman 49-50 oleh Raden Panji Ario Makmur, Surabaya 01 Agustus 1966, Sawunggaling tercatat sebagai putra Tumenggung Surengrana putra ke 4 Hanggawangsa putra Lanang Dangiran. Ada juga yang menganggap Sawunggaling putra Djangrana II yang meninggal di Lawean, kakak Jayapuspita. Menurut pendapat ini Sawunggaling terhitung keponakan Jayapuspita yang sama-sama melakukan perlawanan terhadap Belanda. 


Sawunggaling bagaimanapun adalah tokoh legendaris semi-historis yang sulit untuk diidentifikasi sosoknya dalam historiografi Surabaya tetapi hadir dalam pikiran masyarakat terutama lewat tradisi tutur. Sejarah yang tercecer mewakili semangat perlawanan rakyat Surabaya yang luput dari sejarah resmi. 


Alkisah, pada pertengahan tahun 1686. Rombongan Adipati Surabaya Jayengrana ll putra Hanggawangsa sedang berkuda berkeliling daerah Kadipaten dan singgah di Desa Lidah Wetan. Waktu itu kawasan ini masih berupa hutan dan daerah rawa-rawa yang tidak begitu jauh dengan aliran sungai Kali Brantas. 


Saat tiba di desa Lidah Wetan itu, sang Adipati berhenti di depan rumah Kepala Desa Lidah Wetan, Wangsadrana. Adipati Jayengrana yang didampingi penasehat kadipaten Surabaya ARYA SURADIREJA masuk dan beristirahat di rumah kepala desa itu. Sedangkan pengawalnya tetap berada di luar. 


Saat jamuan makan siang, Adipati Jayengrana dan Arya Suradireja dilayani anak semata wayang kepala desa bernama Rara Blengoh yang berusia 19 tahun. Melihat kecantikan Rara Blengoh hati sang Adipati telah ditinggal mati isterinya selama 4 tahun yang lalu kembali bergelora.  


Kegelisahan hati sang adipati ditangkap oleh Wangsadrana dan Arya Suradireja. Singkat cerita, sang Adipati melamar sang gadis. Rara Blengoh merasa terkejut dan bingung untuk menjawabnya. Namun setelah diberi pengertian akan status Adipati yang sudah empat tahun menduda, Rara Blengoh  menerima pinangan itu. 


Setelah ditentukan waktunya, upacara pernikahan pun diselenggarakan di desa Lidah Wetan dan sengaja tidak dilaksanakan di Kadipaten Surabaya, untuk menjaga hati dan perasaan lima putera Jayengrana yaitu Raden Mas Sawungkarna (9 tahun), Raden Mas Sawungsari (7 tahun), Raden Mas Jaya Puspita (6 tahun) dan dua anak bungsu lahir kembar, Raden Mas Suradirana dan Raden Mas Umbulsangga (4 tahun). 


Setelah pernikahan dan resmi menjadi isteri Raden Mas Jayengrana, Rara Blengoh mendapat gelar kehormatan Raden Ayu Dewi Sangkrah. Namun, sang adipati tetap tidak membawa isterinya ke kadipaten. Justru sang Adipati lah yang sering menginap di rumah kepala desa Lidah Wetan itu. Dan dari cinta keduanya terlahirlah seorang anak yang bernama Jaka Berek yang kemudian dikenal dengan Sawunggaling pada 1687. 


Zaman itu, keadaan situasi membuat kesibukan Jayengrana ll sebagai Adipati Surabaya luar biasa. Inilah yang membuat sang adipati tidak sempat lagi mendatangi isterinya di desa Lidah Wetan, karena situasi yang cukup gawat dampak dari pemberontakan Untung Surapati terhadap Belanda. 


Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, usia putra Jayengrana ll, Jaka Berek pun meningkat remaja. Pertengahan tahun 1704, saat Jaka Berek memasuki usia 17 tahun, ia meminta izin kepada ibunya, untuk menemui sang ayah di kadipaten Surabaya. Melihat kesungguhan hati si anak, maka kakeknya Wangsadrana berusaha meningkatkan ilmu dan kemampuan beladirinya serta sopan-santun kerajaan. 


Setelah dianggap matang, Jaka Berek diizinkan berangkat ke kadipaten dengan berjalan kaki menyusuri pinggir anak sungai Kali Brantas, yakni Kali Surabaya, sampai ke Kalimas. Di tengah perjalanan ketika melewati jalan desa sekitar Gunungsari. Seekor kuda lewat dengan membawa seorang laki-laki berkulit putih dalam keadaan pingsan di punggungnya. 


Kuda itu berhenti tatkala melihat Jaka Berek. Seolah-olah minta tolong, kuda itu menghampiri Jaka Berek. Tidak menunggu lama, Jaka Berek mengangkat tubuh laki-laki berhidung mancung itu ke bawah pohon. Kemudian Jaka Berek memberi minum dan membaca mantera yang pernah diajarkan kakeknya. Tak lama kemudian bule itu siuman. 


Dia berterimakasih kepada jaka Berek yang sudah membantunya. Kedua anak muda yang berbeda ini berkenalan. "Nama saya Van Jannsen", kata anak muda itu dengan Bahasa Jawa. Jaka Berek terkejut, ternyata Belanda ini sudah belajar Bahasa Jawa di Semarang. 


Van Jannsen, ternyata perwira muda yang sedang mengikuti tugas militer dari negaranya. Menurut Van Jannsen, dia bersama tiga temannya diutus ke Surabaya untuk menemui Adipati Jayengrana. Tetapi, saat berada di sekitar Lamongan, mereka diserang warga setempat. Mereka dikeroyok, namun Van Jannsen berhasil menyelamatkan diri dengan keadaan yang sangat payah. 


Setelah saling bersalaman, Van Jannsen pamit untuk meneruskan perjalannya menuju Kadipaten Surabaya dengan menunggang kuda. Tidak lama kemudian, Jaka Berek juga berjalan menyusuri sungai Kali Surabaya. Ia berjalan terus sesuai petunjuk, berjalan menyusuri sungai Kalimas. 


Jaka Berek akhirnya  sampai juga di Alun-alun Contong, tidak jauh dari kadipaten. Di sana ia duduk-duduk dengan melepaskan lelah sembari memberi makan ayam jago yang dibawanya dari rumah. Ayam jago itu diberi nama si Galing atau Cinde Puspita. 


Sesaat setelahnya Jaka Berek diketahui dan diinterogasi oleh petugas keamanan Kadipaten. Ketika diinterogasi itu, Jaka Berek menyatakan dia berasal dari Lidah Wetan. Kakeknya Wangsadrana mantan kepala desa di sana dan ibunya bernama Rara Blengoh dan juga dikenal dengan nama Raden Ayu Dewi Sangkrah. Maksud kedatangannya ke Surabaya untuk mencari ayahnya yang bekerja di kadipaten. 


Akhirnya petugas keamanan melapor kepada staf ahli kadipaten Arya Suradireja. Melihat pancaran sinar dari wajah Jaka Berek, Arya Suradireja terhenyak. Ia teringat kepada peristiwa di Lidah Wetan 19 tahun yang silam. Ia melihat bayangan wajah kepala desa Wangsadrana dan gadis bernama Rara Blengoh. 


Tanpa berpikir panjang, Arya Suradireja melapor kepada Adipati Djangrana yang sedang memimpin rapat di pendapa kadipaten. Sang Adipati terkejut dan juga terharu saat melihat seorang anak muda tampan di depannya. Jaka Berek dibawa ke dalam kamar kerja Adipati diiringi oleh Arya Suradireja. Dari dialog singkat di kamar pribadi sang adipati itu, diyakini bahwa Jaka Berek adalah anak kandung Raden Mas Jayengrana. 


Tanpa basa-basi, Jaka Berek diajak ke pendapa kadipaten yang sedang ramai dengan pejabat kadipaten. Jayengrana menyatakan kegembiraannya pada hari itu, karena dipertemukan dengan anak bungsunya, bernama Jaka Berek. Semua yang hadir terkejut. Anak-anak Djangrana, serta-merta protes. Sawungkarna memperlihatkan kemarahan kepada ayahnya. 


Secara kasar Sawungkarna menantang Sawunggaling untuk menguji kesaktiannya di alun-alun Kadipaten. Sawunggaling hanya diam. Dengan merunduk dia berfikir untuk tidak melayani. Namun batinnya berkata dan seolah-olah menerima bisikan dari kakeknya Wangsadrana. 


Perkelahian satu lawan satu antara Sawungkarna dengan Jaka Berek berlangsung seru. Akibat kemarahan Sawungkarna yang memuncak, ia lepas kendali. Dan dalam sekejap, saat Sawungkarna lengah, Jaka Berek berhasil menangkap tubuh Sawungkarna dan mengunci gerakannya. 


Melihat kesaktian Jaka Berek dan khawatir anak-anaknya cedera, Adipati memberi isyarat agar perkelahian itu dihentikan. Semua yang melihat pun kagum atas kesaktian Jaka Berek. Mereka semua kemudian diajak ke pendapa kadipaten. Hanya Sawungkarna yang tidak mau, saudara tirinya yang lain menyalami Berek sebagai tanda  pernyataan bersaudara. 


Sore harinya, di pendapa Kadipaten Surabaya  diselenggarakan acara pengangkatan secara resmi Jaka Berek menjadi putera ke 6 Adipati Jayengrana. Empat saudara tirinya ikut menyaksikan, kecuali Sawungkarna. Pada upacara di sore hari itu, secara resmi Jaka Berek mendapat kehormatan menggunakan nama Sawunggaling. 


Setelah selesai menangani masalah Untung Suropati dan Amangkurat lll di Pasuruan, pada pertengahan 1715, Adipati Jayengrana yang merasa sudah tua, di usia 70 tahun mengirim surat kepada Susuhunan Pakubuwana I di Surakarta. meminta pertimbangan siapa calon penggantinya sebagai Adipati Surabaya. 


Setelah membaca surat dari Adipati Surabaya itu, Susuhunan Pakubuwana I berunding dengan patihnya Raden Mas Nerangkusuma. Akhirnya diputuskan untuk menyelenggarakan sayembara berupa lomba memanah dengan panah pusaka kerajaan bernama Gendhewa Sakti. 


Siapa yang berhasil memenangkan lomba ini, akan diangkat menggantikan Adipati Jayengrana selaku penguasa di Surabaya. Tidak hanya itu, sang pemenang juga berhak menjadi menantu Susuhunan Pakubuwana I, mempersunting Bendara Raden Ayu (BRA) Pembayun, putri sulung penguasa keraton Kartasura. 


Pada tanggal 17 Agustus 1715, lomba memanah  dengan menggunakan pusaka kerajaan Mataram yang bernama, Gendhewa Sakti siap dilaksanakan. Dalam suatu upacara yang diikuti 30 peserta yang berasal dari 17 kadipaten di tanah Jawa. Mereka adalah putera para adipati yang masih bujangan, termasuk putra Adipati Jayengrana. 


Setelah 25 peserta maju dan berupaya melaksanakan lomba, semuanya gagal. Tibalah giliran putera-putera Adipati Jayengrana, dimulai dari yang bungsu, Raden Mas Umbulsangga, Raden Mas Suradirana,  Raden Mas Jaya Puspita, Raden Mas Sawungsari, dan yang terakhir Raden Mas Sawungkarna. Semuanya pun gagal. 


Sawunggaling yang datang kemudian mendaftar pada giliran kedua. Dengan tenang pemuda yang menyamar dengan sebuah topeng dan mengaku bernama Pangeran Menak Ludra itu maju ketengah dengan memberi hormat kemudian mengangkat busur dan memegang anak panah lalu menarik tali busur, anak panah dilepas dan tepat mengenai tali pengikat cindhe puspita. 


Kain selendang warna merah-putih itu melayang ditiup angin dan jatuh persis di pangkuan Menak Ludra. Tepuk tangan dan sorak-sorai membahana memuji keterampilan anak muda yang mengaku dari Ujung Blambangan, Banyuwangi itu. 


Pemuda yang mengaku Pangeran Menak Ludra itu berdiri dan dengan langkah tegap ia mendekati panggung kehormatan. Sesampainya di depan  para tamu istimewa yang duduk di panggung kehormatan, anak muda yang mengaku bernama Menak Ludra itu membuka topengnya. 


Adipati Jayengrana yang duduk di samping Susuhunan Pakubuwana I benar-benar terkejut. Begitu juga rombongan dari Surabaya lainnya. “Mohon ampun gusti Patih, hamba sesungguhnya adalah Sawunggaling, putera ramanda Adipati Jayengrana”, katanya terbata-bata menghadap kepada pemimpin upacara Patih Nerang Kusuma. 


Antara terkejut bercampur gembira, Adipati Jayengrana menyatakan rasa syukur, karena yang bakal menjadi penggantinya, bukan dari luar Surabaya, tetapi  adalah putera dan darah dagingnya sendiri. 


Setelah Sawunggaling berada di mimbar utama, Patih Nerang Kusuma mengumumkan, bahwa pengganti Adipati Jayengrana sebagai Adipati Surabaya, adalah Raden Mas Sawunggaling yang kemudian dijodohkan dengan BRA Pembayun. 


Pesta pernikahan itu tanggal 17 Agustus 1715 dilangsungkan di keraton Kartasura. Upacara dipimpin Patih Nerang Kusuma dan dihadiri para adipati dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan perwakilan petinggi Kompeni Belanda. 


Pada tanggal 20 Agustus 1715, Adipati Surabaya yang baru Raden Mas Sawunggaling dilepas Susuhunan Pakubuwana I dari Kartasura berangkat menuju ke Surabaya. Saat melewati hutan di kawasan Sragen, rombongan Sawunggaling diserang oleh gerombolan perampok Gagak Mataram yang dipimpin Gagak Lodra. 


Walaupun kewalahan menghadapi gerombolan yang tidak seimbang dengan rombongan kecil Sawunggaling ini, akhirnya berkat kesaktian Sawunggaling, mereka menang. Perjalanan diteruskan ke Surabaya melewati Magetan, Madiun, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan akhirnya sampai di keraton Surabaya pada tanggal 23 Agustus 1715. 


Sejak hari itu, resmilah Raden Mas Sawunggaling melaksanakan tugasnya sebagai adipati di Kadipaten Surabaya. Pada tanggal 4 Januari 1719, BRA Pembayun melahirkan anak laki-laki. Bayi mungil yang sehat ini atas anugerah dari kakeknya Susuhunan Pakubuwana I, diberi nama Raden Mas Arya Bagus Narendra. 


Sebagai seorang adipati, Sawunggaling tetap membina hubungan dengan mertuanya yang menjadi penguasa keraton Kartasura. Saat itu, sikap Susuhunan Pakubuwana I terhadap Belanda sudah berubah. Sejak ayah Sawunggaling dihukum mati karena permintaan Belanda, Pakubuwono I mulai menjaga jarak dengan pihak kompeni Belanda. 


Pakubuwono I merasa menyesal telah membiarkan Tumenggung Djangrana, Adipati Surabaya mati dieksekusi Belanda. Saat itu Djangrana yang diundang ke keraton Kartasura ketika  melewati bangunan Srimenganti dikeroyok oleh gerombolan berpakaian penjaga keraton atas perintah G.Knol pimpinan pasukan Belanda di Semarang. 


Kendati mendapat 25 tikaman, namun Jayengrana masih bertahan hidup, kemudian dibawa ke Desa Lawean. Di sanalah Jayengrana menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ada yang menyatakan, jenazah almarhum dimakamkan di Lawean, ada pula yang menyebut dibawa ke Surabaya. 


Peristiwa yang mirip juga dialami Adipati Sawunggaling. Seminggu setelah kelahiran anaknya Raden Mas Arya Bagus Narendra, Adipati Sawunggaling diundang ke keraton Kartasura untuk menghadiri upacara pemberian penghargaan atas keberhasilan Sawunggaling menghentikan pemberontakan Cakraningrat III di Madura. 


Walaupun ada rasa curiga dan kejanggalan, setelah berunding dengan staf ahli Kadipaten Surabaya Arya Suradireja, Sawunggaling tetap berangkat ke Kartasura. Di keraton Kartasura Sawunggaling langsung menghadap sang mertua Susuhunan Pakubuwana I dan melaporkan tentang kelahiran anak yang dikandung BRA Pembayun. 


Benar saja, pesta yang seolah-olah memberi penghargaan kepada Adipati Sawunggaling, tidak lain adalah jebakan dari Sawungkarna dan Van Hoogendorf Sebagai tuan rumah hendak meracun Adipati Sawunggaling dengan segelas anggur beracun tetapi gagal karena naluri yang tajam dari Adipati Sawunggaling. 


Merasa malu akan kelicikannya, Van Hoogendorf segera berlari masuk ke sebuah ruangan. Di sana ia mengambil pistol dan diarahkan kepada Adipati Sawunggaling. Begitu jari telunjuk Hoogendorf memegang pelatuk, seorang perwira muda Belanda bernama Van Jannsen melompat ke tengah dan peluru pistol Van Hoogendorf menembus dada letnan Van Jannsen. Saat melihat Jannsen terkapar, Van Hoogendorf, kembali mengokang pistolnya. 


Bersamaan dengan itu dengan gerak reflek Sawunggaling mencabut keris dan menghunuskan ke dada Van Hoogendorf. Setelah menembus jantung Hoogendorf, keris itu langsung dicabut. Hal yang tidak diduga itu membuat Van Hoogendorf limbung dan terjerembab dekat tubuh Van Jannsen. Para petinggi kompeni Belanda yang hadir berlarian meninggalkan ruangan untuk menyelamatkan diri. 


Tidak larut dengan menyaksikan dua jasad tak bernyawa di ruangan itu, Sawunggaling berdiri dan  bersama rombongan menuju ke tempat parkir kuda. Tanpa pamit kepada sang mertua, Susuhunan Pakubuwana I, Sawunggaling yang didampingi Arya Suradireja segera meninggalkan Kartasura. 


Sesampainya di Surabaya, Adipati Sawunggaling benar-benar menaruh dendam kepada kompeni Belanda. Menyadari, perbuatannya “membunuh” Van Hoogendorf akan berbuntut pada penyerangan Belanda ke Surabaya, Sawunggaling langsung mengatur strategi. Adipati mengumpulkan para pejabat pemerintahan kadipaten Surabaya untuk menghadapi segala kemungkinan. 


Benar saja, kematian dua perwira Belanda di Kartasura itu membuat Gubernur Jenderal Belanda di Batavia Hendrik Zwaardeckroom marah besar. Ia langsung mengangkat Pieter Speelman sebagai pengganti Van Hoogendorf. Saat itu juga ia mengeluarkan Surat Perintah untuk menangkap Sawunggaling. 


Walaupun berduka, atas mangkatnya Ingkang Sinuwun Susuhunan Pakubuwana I, tanggal 13 Maret 1719, Sawunggaling maupun BRA Pembayun terpaksa tidak bisa menghadiri upacara pemakaman sang mertua. 


Pieter Speelman yang ditunjuk menggantikan Van Hoogendorf, mendapat laporan tentang kehebatan Laskar Sawunggaling menumpas anak buahnya di perbatasan Lamongan dan Mojokerto. Salah satu peperangan yang seru terjadi tanggal 10 Februari  1723. Pasukan Belanda yang dikomandani  Letnan Bernard van Aken benar-benar terpukul. Kalah telak. Pasukan yang dipimpinnya berhasil terpaksa mundur sampai Bojonegoro dan Tuban. 


Apalagi waktu itu, Adipati Sawunggaling berhasil menjalin kerjasama dengan pasukan laut Portugis pimpinan Kapten Laut Francisco Santos Rodriguez yang berada di Laut Jawa. Dalam pertempuran di sekitar pelabuhan Sedayu Gresik, pasukan gabungan Laskar Sawunggaling dengan pasukan Portugis, berhasil mengalahkan armada laut Belanda. Seluruh pasukan Belanda di kapal dinyatakan tewas, kecuali ABK. 


Tidak tahan mendengar laporan kekalahan demi kekalahan yang diderita pasukannya dari pembantaian  Laskar Sawunggaling, Speelman langsung mengambialih pasukan. Ia memimpin sendiri divisi tempur yang didatangkan dari Eropa, Batavia dan Semarang menyerbu pertahanan Laskar Sawunggaling di Lamongan dan Mojokerto. 


Dalam pertempuran sengit itu di pinggir Bengawan Solo, di wilayah Lamongan, Raden Mas Umbulsangga bersama 20 orang pasukannya gugur sebagai pahlawan. Komandan Laskar Sawunggaling diserahkan kepada Raden Mas Suradirana, saudara kembar Raden Mas Umbulsangga. 


Namun, dalam pertempuran akhir Maret 1723, Raden Mas Suradirana juga gugur sebagai pahlawan. Ia menghembuskan nafas terakhir saat terkepung musuh dan tubuhnya dihujani puluhan ujung bayonet pasukan Belanda yang haus darah. 


Dari hari ke hari pasukan Kompeni Belanda terus bertambah. Pertempuran atara pasukan Kompeni dengan Laskar Sawunggaling semakin gencar. Adipati Sawunggaling yang kehilangan dua saudaranya di medan tempur makin terdesak. Ia berunding dengan staf ahli kadipaten Surabaya Arya Suradireja. Mereka sepakat meninggalkan kadipaten untuk menyelamatkan keluarganya. 


Tempat berlindung yang dianggap cukup aman waktu itu adalah Benteng Providentia (benteng miring) di daerah Ujung Surabaya, dekat muara Sungai Kalimas. Adipati Sawunggaling membawa ibundanya Raden Ayu Dewi Sangkrah bersama isterinya Bendara Raden Ayu Pembayun, serta puteranya Raden Mas Arya Bagus Narendra ke Benteng Providentia. 


Dalam serangan besar-besar yang dilakukan pasukan Pieter Speelman ke Benteng Providentia, Adipati Sawunggaling yang memimpin sendiri Laskar Sawunggaling terkepung. Di sinilah, akhirnya sang adipati mendapat hadiah “timah panas” dari senapan pasukan Speelman. Anehnya, tubuh Sawunggaling yang sempoyongan “lenyap” saat tersandar di dinding benteng. 


Konon beberapa prajurit setia Laskar Sawunggaling sempat menyembunyikan jenazah Sawunggaling, kemudian melarikan jasadnya menuju desa Lidah Wetan. Agar tidak diketahui Belanda, Sang Adipati dimakamkan malam hari di tanah kelahirannya, berdampingan dengan kakeknya Wangsadrana alias Raden Mas Karyosentono. 


Paman Arya Suradireja menyelamatkan Raden Ayu Dewi Sangkrah ibunda Sawunggaling beserta BRA Pembayun dan Raden Mas Arya Bagus Narendra yang saat itu berusia empat tahun.          


Tatkala BRA Pembayun keluar dari gerbang  benteng Providentia sembari mengendong Arya Bagus Narendra menuju kereta kuda, para petinggi Kompeni Belanda yang berbaris di depan benteng sertamerta memberi hormat dengan membuka topinya. 


Di antara petinggi kompeni Belanda itu adalah Pieter Speelman yang mengetahui BRA Pembayun adalah puteri almarhum Susuhunan Pakubuwana l. 


Konon, ketika diberitahu kalau jasad Sawunggaling sudah dibawa ke Lidah Wetan, Raden Ayu Sangkrah minta diantarkan ke rumahnya di Lidah Wetan. Sedangkan BRA Pembayun bersama Raden Mas Arya Bagus Narendra dibawa ke Kartasura. 


Dengan gugurnya Adipati Sawunggaling sebagai pahlawan bangsa di benteng Providentia itu, maka pimpinan pemerintahan Kadipaten Surabaya kosong. Kekuasaan sementara diambilalih oleh pihak Belanda. Tidak berapa lama, Kadipaten  Surabaya dipimpin oleh Ki Tumenggung Panatagama. 


Perjuangan Sawunggaling sampai titik darah penghabisan itu tidak dilupakan oleh Arek Suroboyo. Ia mewakili ketangguhan budaya Arek menghadapi hegemoni budaya Mataram. Apakah bonek mania sekarang merupakan reinkarnasi Laskar Sawunggaling di masa lalu...?*** 


~~~~~~~~~~~~~~~ 


Sumber: 


Yousri Nur Raja Agam  MH, Tumenggung Raden Mas Ngabehi Sawunggaling, Tokoh Legendaris Surabaya Tempo Dulu.

https://rajaagam.wordpress.com/2008/11/29/temenggung-mas-ngabehi-sawunggaling/ 


https://nasional.okezone.com/read/2021/07/26/337/2445909/sawunggaling-sulit-dibunuh-kompeni-murka-dan-rakyat-surabaya-digilas 


https://padangulan.wordpress.com/2014/06/25/kyai-lanang-dangiran-putra-blambangan/ 


https://osingkertarajasa.wordpress.com/kesaktian-orang-blambangan-tak-lekang-oleh-zaman/ 


https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Blambangan 


https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/2393 


https://id.m.wikipedia.org/wiki/Jangrana_II 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=915953618934962&id=100015609970974 


https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=433055301411313&id=100041205407058