19 February 2020

Tentang Sejarah Magelang - KEDU, SITI BUMIJO YANG DIRENGGUT DARI KEKUASAAN PARA RAJA (Bagian I)

KEDU, SITI BUMIJO YANG DIRENGGUT DARI KEKUASAAN PARA RAJA
(Bagian I)
Dataran Kedu sejak zaman dahulu memang dikenal sebagai lokasi strategis yang subur dan indah, maka jangan heran jika tatar Kedu menjadi tempat lahirnya peradaban besar bangsa Jawa. Peninggalan kebudayaan agung nenek moyang seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, dan candi - candi lainnya yang berserak disana merupakan bukti - bukti kasat mata yang bisa dikhidmati hingga kini.
Kisah panjang Kedu sebagai tempat lahirnya peradaban besar bisa ditarik kebelakang hingga masa Mataram Kuno (Mdang). Pada masa puncak kejayaannya, peradaban Mataram kuno ini mampu berkembang dengan luar bisa sehingga mampu membangun monumen akbar seperti Candi Borbudur. Pasca terjadinya kejadian “Mahapralaya”, maka pusat peradaban pun harus berpindah ke Jawa Timur. Kemudian menurut penuturan Residen Kedu A.A.C. Linck pada surat kabar Het Niews van den dag voor Nederlandsch - Indie terbit pada 6 Oktober 1935 mengatakan, wilayah yang disebut Karesidenan Kedu dulunya pernah menjadi wilayah dari Kerajaan Pengging yang kemudian berhasil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit.
Pasca runtuhnya Majapahit, wilayah Kedu kemudian jatuh ketangan Kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak. Setalah itu, berada dibawah kekuasaan Kerajaan Pajang dan terakhir Mataram Islam.
Pada masa Mataram Islam era Sultan Agung Hanyakrakusuma, sebuah perubahan besar terjadi. Pada tahun 1636, Sultan Agung melakukan reformasi birokrasi terhadap wilayah kekuasaan Mataram dengan menempatkan 16 pejabat Bupati Nayaka Jawi - Lebet , membagi tanah pedesaan di wilayah Negaraagung (luar kutonegara) dan Wilayah Mancanegara.
Tatar Kedu yang masuk dalam wilayah Negaragung kemudian dibagi menjadi dua wilayah yaitu, Siti Bumi yang berada di bagian Barat dan Siti Bumijo yang ada di sebelah Timur. Penduduk yang tinggal di daerah Kedu kemudian mendapatkan tugas untuk membuat berbagai macam barang perlengkapan keraton yang sesuai dengan kondisi alamnya. Beberapa benda yang harus dibuat di Kedu antara lain, perkakas lumpang, lesung, daun - daunan, kayu, sapit - sujen, ancak, dan lain sebagainya. Mereka yang bertugas mendapat tugas tersebut dinamakan Abdi Dalem Galadhag.
Sampai dengan masa Mataram Islam era Pakubuwono II tahun 1745, wilayah Kedu (Magelang), masih menjadi wilayah penting penghasil sayur - sayuran dan buah - buahan bagi Mataram. Maka dari itu, Wilayah Kedu terutama Magelang kemudian mendapatkan sebutan sebagai Kebon Dalem. Topinimi wilayah sentra penghasil buah dan sayur di Magelang sampai sekarang masih bisa ditemukan seperti nama kampung Kebondalem, Kebonsari, Kebonpolo, Pucangsari, Jambon, Bayeman, Kemirikerep, Jambesari, Boton Kopen, Karet, dan masih banyak lagi.
Selama perang suksesi jawa antara tahun 1746 hingga 1755, wilayah Kedu menjadi wilayah dengan kehancuran paling banyak. Kekacauan di Kedu mereda setelah ditandatanganinnya perjanjian Giyanti pada 1755 yang mengakibatkan pecahnya Kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Pasca Perjanjian Giyanti, wilayah Kedu (Siti Bumijo - Magelang) konon masuk kedalam wilayah Kasultanan Yogyakarta bersamaan dengan empat wilayah lain seperti Siti Agung Mlaya Kusuma (Demak), Siti Numbak Anyar (Bagelen - Purworejo), Siti Paneker (Pajang - Gunung Kidul), dan Siti Gading Mataram (Gunung Merapi - Pantai Selatan). Bahkan pasca Perjanjian Salatiga pada tahun 1757 yang membagi Mataram menjadi tiga bagian yaitu Surakarta, Yogyakarta dan Mangkunegaran, wilayah Kedu sebenarnya masih termasuk dalam wilayah negaragung Surakarta dan Yogyakarta yang diperintah secara bersama - sama. Ada juga dibeberapa tempat di Kedu (Siti Bumijo) yang dibagi secara lebih rumit karena ketidak jelasan batas wilayahnya antara Surakarta dan Yogyakarta.
Perubahan dramatis wilayah Kedu mulai terjadi pada era kepemimpian Hamangku Buwono II yang naik tahta pada 2 April 1792. Sultan yang menjadi saksi mata bangkrut dan runtuhnya VOC ini merasa sangat terganggu atas kehadiran pemerintah Hindia Belanda yang kala itu dipimpin oleh Daendels pada 1808. Sikap - sikap Daendels yang pongah dan sangat mendikte raja - raja Jawa menimbulkan reaksi keras dari Sultan HB II.
Daendels pun tak kalah berang dengan sikap Sultan baru tersebut. Pemberontakan Raden Rangga Prawiradirja, Bupati Madiun yang notabene adalah penasihat kepercayaan HB II terhadap pemerintah Belanda membuatnya naik pitam. Karena dianggap membantu pembangkangan sang Bupati Madiun, maka Daendels pun datang langsung memimpin 3200 pasukan mengancam Keraton Yogyakarta pada 31 Desember 1810. Mau tak mau, Sultan HB II pun harus turun tahta dan digantikan oleh anaknya sendiri sebagai Sultan Hamengku Buwono III. Kontrak politik baru pun dibuat oleh Daendels dan Kraton Yogyakarta dimana kemungkinan rencana dibaginya Jawa menjadi 9 daerah prefektorat / karesidenan (Gewest) dimana salah satu diantaranya bisa jadi berisi lepasnya Kedu dari wilayah kasultanan.
Sebelum kontrak yang baru tersebut berjalan dan berlaku sepenuhnya, kejadian yang mengubah sejarah Hindia - Belanda kembali terjadi. Raffles dengan armada - armada lautnya yang luar bisa dengan mudah mampu menaklukan pertahanan Belanda di Jawa. Sultan HB II yang melihat peluang tersebut naik tahta kembali dan menurunkan putranya dari kedudukan sultan.
Bersambung...
- Chandra Gusta Wisnuwardana -
Sumber :
Artikel Tirto “Sejarah Hidup Sultan Hamengku Buwono II, Sultan yang Berkuasa Tiga Kali”
Keratonjogja. id, “Sri Sultan Hamengku Buwono II”
Buku, Sejarah Daerah - Daerah Istimewa Yogyakarta
Surat Kabar, Het Niews van den dag voor Nederlandsch - Indie terbit pada 6 Oktober 1935
Artikel Facebook FP Sejarah Jogyakarta “Pembagian Negaragung Mataram Islam” dan “Magelang - Kebon Dalem”
Foto : Litografi Karya Junghuhn pada 1853 yang diambil dari belakang rumah Residen Kedu dengan objek gambar berupa pemandangan Gunung Sumbing, Perbukitan Giyanti, persawahan dan Sungai Progo.

Tentang Sejarah Magelang - KEDU, SITI BUMIJO YANG DIRENGGUT DARI KEKUASAAN PARA RAJA (Bagian II)

KEDU, SITI BUMIJO YANG DIRENGGUT DARI KEKUASAAN PARA RAJA
(Bagian II)
Kedatangan armada Inggris dan takluknya Batavia pada Agustus 1811 membuat perubahan besar pada atmosfer politik di tanah Jawa. Situasi yang demikian dimanfaatkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II untuk kembali lagi memegang tampuk kekuasaan Keraton Yogyakarta.
Letnan Gubernur Raffles sebagai orang yang bertanggung jawab atas jalannya roda pemerintahan di Jawa menunjuk John Crawfurd sebagai Residen Jogja. Kebijakan Raffles yang ternyata tak ubahnya dengan era Daendels membuat Sultan HB II kembali bersikap keras terhadap pemerintahan Inggris. Raffles pun menjawabnya dengan invasi besar terhadap Keraton Yogyakarta.
Pengepungan terhadap keraton Yogyakarta pun dilakukan oleh Raffles selama dua hari yaitu dimulai pada 18 Juni hingga 20 Juni 1812 dibawah komando Admiral Rollo Gilespie. Saat itu Benteng Keraton Yogyakarta setidaknya dijaga kurang lebih oleh 17.000 prajurit Keraton. Meriam Inggris memuntahkan tembakkannya ke arah Benteng pertama kali pada dini hari selepas subuh kira - kira pukul 05.00 pagi. Keraton Yogyakarta pun pada akhirnya tak mampu menahan serangan besar - besaran koalisi pasukan Inggris, Sepoy India dan Legiun Mangkunegaran. Pasukan Inggris hanya membutuhkan 3 jam saja untuk menduduki tempat paling sakral bagi banyak orang Jawa. Pada pukul 08.00, Keratonpun sudah berada ditangan pasukan Inggris.
Pasca penaklukan oleh Inggris tersebut, HB II pun dimakzulkan sebagai Sultan Yogyakarta dan dipaksa untuk meyepakati berbagai perjanjian yang salah satu diantaranya adalah melepaskan sebagian wilayahnya kepada pemerintahan Inggris. Wilayah Siti Bumijo Kedu yang didalamnya termasuk Magelang semanjak saat itu harus direnggut oleh Raffles dari trah pewaris Mataram.
Atas kemenangannya terhadap Yogyakarta ini Raffles pun bisa dengan leluasa membagi Jawa menjadi 16 Karesidenan pada 1 Agustus 1912. Sejak saat itulah Siti Bumijo Kedu yang terdiri atas Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung secara resmi lepas dari negaragung kasultanan dan dimasukan kedalam Karesidenan Pekalongan di pesisir.
Seorang Bupati baru yang dipilih oleh Raffles yang juga merupakan cucu Patih Danurejo I bernama Mas Angabei Danoekromo kemudian mulai membangun alun - alun, rumah bupati dan masjid sebagai cikal bakal pusat pemerintahannya atas Magelang. Mas Angabei Danoekromo resmi diangkat menjadi Bupati Magelang berdasarkan Besluit Gubernemen tertanggal 30 November 1813. Pada 19 Agustus 1816, pemerintahan Inggris atas Jawa pun harus berakhir dan semua bekas wilayah jajahannya dikembalikan ke pemerintah Belanda. Kemungkinan ketika Belanda kembali lagi berkuasa, Mas Angabei Danoekromo dikukuhkan kembali menjadi Bupati Magelang dengan gelar Raden Toemenggoeng Danoeningrat I.
Berselang satu tahun kemudian, tepatnya pada 14 Maret 1817 wilayah Siti Bumijo Kedu dimekarkan secara mandiri dan berubah status menjadi sebuah karesidenan sendiri terpisah dari Karesidenan Pekalongan dengan nama Karesidenan Kedu. Karesidenan Kedu ini terdiri atas dua kabupaten yaitu Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung. Bersamaan dengan hal itu, pusat Kabupaten Magelang kemudian dipilih sebagai ibu kota Karesidenan Kedu. Berdasarkan data statistik tahun 1820, Karesidenan Kedu mencakup 2 regentscahp (kabupaten Magelang dan Temanggung), 6 afdeling, 10 distrik, 42 Subdistrik, 2499 dropen dan 1748 gehuchten.
Pada 1860 Karesidenan Kedu masih terbagi menjadi 2 bagian dan kabupaten yaitu Magelang dan Temanggung, dengan 4 bagian pengawasan yaitu Magelang, Probolinggo, Prapak, dan Djetis. Kabupaten Magelang sendiri terdiri dari 7 distrik yaitu Magelang, Ngasinan, Balak, Bandongan, Probolinggo, Menoreh, dan Remaneh.
Wilayah Karesidenan Kedu kemudian mengalami pemekaran lagi memasuki abad ke-20 yaitu tepatnya pada 1 Agustus 1901. Karesidenan Kedu kemudian terdiri dari lima kabupaten yang terdiri dari dua kabupaten yang sudah ada sebelumnya yaitu Kabupaten Magelang dan Kabupaten Temanggung yang mendapatkan tambahan tiga kabupaten baru yaitu Kabupaten Purworejo (eks Siti Numbak Anyar Bagelen), Kabupaten Wonosobo (eks Siti Mahosan Dalem) dan Kabupaten Kebumen (eks wilayah Mancanegara).
- Chandra Gusta Wisnuwardana -
Sumber :
Führer auf Java, ein Handbuch für Reisende (Panduan di Jawa, buku pegangan untuk pelancong), karya L. F. M Schulze, Leipzig 1890 transliterasi oleh mbak Eva Mentari Christoph
Buku Menelisik Sejarah de Groote Moskee
FP Sejarah Jogyakarta “Seri Wilayah Mataram : Bagelen Bagian 2”
Buku Toponim Kota Magelang
Surat Kabar, Het Niews van den dag voor Nederlandsch - Indie terbit pada 6 Oktober 1935
Keratonjogja. id
dan sumber - sumber lain yang relevan

Tentang Sejarah magelang - ALGEMEENE REKENKAMER : Badan Pemeriksa Keuangan Negara Zaman Hindia Belanda

ALGEMEENE REKENKAMER : Badan Pemeriksa Keuangan Negara Zaman Hindia Belanda
Pasca gulung tikarnya perusahaan multinasional VOC pada 31 Desember 1799 akibat masifnya korupsi, banyaknya hutang, kegagalan pembayaran gaji pegawai, menurunya permintaan rempah dan salah urus keuangan dalam kongsi dagang tersebut pada akhirnya membuat pemerintah Hindia Belanda menjadi lebih berhati - hati dalam mengawasi dan mengelola keuangannya di Hindia. Sebuah badan kemudian dibentuk untuk mengawasi keuangan negara serta perilaku para pejabat yang berurusan dengan duit negara. Badan itu bernama Algeemene Rekenkamer (Badan Pemeriksa Keuangan - BPK).
Beruntung sekali BPK membuka museumnya di Magelang dengan nama Museum BPK RI Magelang atau Museum Pengawal Harta Negara. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari sejarah Badan Pemeriksa Keuangan Negara yang pernah berkantor di kompleks gedung Karesidenan Kedu pada 1946. Alasan kepindahannya dari Jakarta ke Magelang tak lain karena pada tahun tersebut Jakarta berhasil diduduki oleh Belanda dalam Agresi Militer Belanda I.
Nah, salah satu koleksi museum yang sangat luar biasa adalah seperti yang saya foto ini. Kitab Tua ini adalah Laporan notulen hasil rapat Algeemene Rekenkamer pertama pasca Kapitulasi Tuntang yang menandai berakhirnya kekuasaan Raffles atas Hindia Belanda. Pada lembar pertama kitab ini tertulis keterangan pembuatan laporan notulensi yaitu hari Rabu, 21 Agustus 1816, atau tiga hari pasca penyerahan kembali Hindia ke tangan Kerajaan Belanda. Kitab laporan Badan Pemeriksa Keuangan ini berisi notulensi hasil rapat dari bulan Agustus hingga Desember 1816.
Berdasarkan kitab ini kita bisa mengetahui bahwa Presiden Algeemene Rekenkamer pertama pasca Kapitulasi Tuntang adalah Tuan I.G Bauer dan wakilnya adalah Tuan J.C Goldman. Sang sekretaris yang menuliskan notulensi rapat dengan katakter huruf tegak bersambung yang cantik ini adalah Tuan W. Berkhof.
Berdasarkan kitab notulensi ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa pasca kembalinya Hindia dari Inggris ke tangan mereka, Pemerintah Kolonial langsung menginventarisir dan mendata kembali keuangan dan harta mereka. Kitab notulensi rapat Algeemene Rekenkamer koleksi Museum BPK RI ini adalah buku tertua yang pernah saya foto secara close up!
- Chandra Gusta Wisnuwardana -
* kesempatan langka ini berhasil saya dapatkan dari acara Bedah Staatsblad siang tadi di Museum BPK RI

Tentang Sejarah Magelang - DARI HOTEL KEDU KE HOTEL CENTRUM : Melacak Jejak Bisnis Perhotelan di Bumi Magelang (Bagian I)

DARI HOTEL KEDU KE HOTEL CENTRUM : Melacak Jejak Bisnis Perhotelan di Bumi Magelang (Bagian I)
Setelah sekian lama berfokus pada pemulihan kesetabilan keamanan pasca Perang Jawa dan peningkatan pundi - pundi perekonomian dari hasil perkebunan, sektor pariwisata Hindia Belanda baru dikembangkan oleh pemerintah kolonial pasca diterapkannya politik etis. Para pelancong yang dulunya hanya didominasi para peneliti, pekabar injil dan kalangan militer mulai bergeser ke pelancong masyarakat awam yang penasaran pada keindahan dan kemisteriusan tanah Hindia.
Perkembangan pola perjalanan dan segemen pelancong membuat industri perhotelan pun menjadi sektor yang dirasa menjanjikan. Magelang sebagai salah satu lokasi yang memiliki daya tarik petualangan dan pariwisata khas alam Jawa menjadi salah satu tempat yang menjanjikan bagi para investor perhotelan. Salah satu hotel tua yang pernah ada di Magelang bernama Hotel Kedu.
Berdasarkan pencarian yang berhasil saya temukan, nama Hotel Kedu pertama kali muncul dalam kolom iklan surat kabar De Locomotief : Semarangsch Handels-Advertentie-Blad yang terbit pada 28 Maret 1885. Dalam iklan tersebut disebutkan bahwa lokasi Hotel Kedu berada di kawasan Groote Weg Noord, Pontjol. Keunggulan lokasi yang persis di tepi jalan raya serta dekat dengan kamp militer menjadi daya jual tersendiri bagi Hotel Kedu. Dalam iklan tersebut juga disebutkan bahwa hotel tersebut memiliki tarif yang wajar serta dilengkapi dengan kamar yang luas dan kelengkapan fasilitas hotel yang benar-benar baru. Direktur hotel pada saat itu adalah tuan Weg. Geelhoed.
Catatan lain mengenai nama Hotel Kedu juga pernah muncul dalam surat kabar Bataviaasch nieuwsblad
yang terbit pada 13 Mei 1914, sebuah hotel bernama Hotel Kedu pernah beroperasi di kawasan Sablongan, Pecinan Magelang yang mana bekas bangunannya digunakan sebagai Hoofdenschool (Sekolah Raja) pada 1879. Berdasarkan keterangan dalam artikel tersebut dapat diasumsikan bahwa kehadiran Hotel dengan nama Kedu sudah ada sejak sebelum tahun 1879 dan harus tutup atau berpindah ke lokasi yang baru. Entah apakah kedua hotel tersebut dimiliki orang yang sama atau tidak, saya belum menemukan data lainnya.
Namun yang jelas berdasarkan surat kabar de Locomotief terbitan 17 Juni 1892, Hotel Kedu yang berlokasi di kawasan Jalan Raya Poncol pernah berpindah kepemilikan ke tangan Tuan Johan Albricht Unglaub dibawah naungan Perusahaan Kedoe. Tuan J.A Unglaub juga memiliki jaringan hotel lain di Ambarawa yang bernama Hotel Unglaub Ambarawa. Selain itu, Tuan Unglaub juga memiliki bisnis rental mobil yang siap mengantar tamu bolak - balik antara Pingit, Secang, Temanggung, Magelang dan sekitarnya.
Sebelum sukses mengakuisisi dan menjalankan bisnis hotel di Magelang, pada tahun 1890 tuan Unglaub hanya berfokus pada bidang jasa antar paket pos dikawasan Ambarawa, Magelang dan Temanggung dan juga pengelola losmen (logement) di Magelang. Berdasarkan surat kabar Bataviaasch Niewsblad tertanggal 17 Maret 1890, ia pernah dinyatakan pailit atau bangkrut. Namun pada bulan Juni tahun yang sama, status pailitnya dicabut oleh Raad van Justitie dengan ditawarkan pada kerditurnya 100%.
Berdasarkan buku catatan perjalan Dr. Breitenstein yang berjudul “21 Jahren in Indie”, ketika beliau dipindah tugaskan dari Ngawi ke Magelang, sosok pemilik Hotel Kedu ini pernah diceritakannya. Dalam catatanya Dr. Breitenstein pernah berjumpa dengan pemilik Hotel Kedu yang dideskrepsikannya sebagi seorang Jerman yang baik dan ramah. Dalam buku itu Dr. Breitensten juga menyebutkan bahwa sang pemilik hotel (Kemungkinan Tuan Johan Albricht Unglaub) adalah seorang kelahiran Jerman yang sudah tidak lancar lagi bercakap bahasa Jerman karena sudah sekian lamanya ia tinggal di Hindia. Menurut Dr. Breitenstein, ketika Tuan Unglaub berbicara terkadang struktur dan kosa kata bahasa yang keluar dari mulut tuan Unglaub adalah bahasa campuran antara Melayu, Belanda dan Inggris.
Kendati demikian, Tuan J.A. Unglaub selaku direktur Hotel Kedu terus berusaha keras untuk mempromosikan hotelnya diberbagai surat kabar. Dalam banyak iklan yang tersebar di surat kabar - surat kabar yang terbit di Hindia - Belanda antara tahun 1892 hingga 1896, Hotel Kedu secara konsisten menawarakan berbagai macam fasilitas para tamu. Pesaing bisnis perhotelan di Magelang bagi Hotel Kedu adalah Hotel Loze milik keluarga Loze yang berlokasi persis di timur alun - alun Magelang. Dibandingkan hotel saingannya itu, Hotel Kedu berada di lokasi yang tak kalah strategisnya yaitu berada di dekat dengan tangsi militer.
Ada beberapa fasilitas hotel yang tamu bisa nikmati ketika menginap di Hotel Kedu. Contohnya seperti kamar tidur yang lapang dan luas, pelayanan yang cepat, dan kondisi hotel yang tertata rapi. Selain itu, bisnis tuan Unglaub yang notabene juga seorang pemilik usaha jasa rental mobil juga mengintegrasikan bisnisnya itu yang dia jadikan sebagai nilai tambah hotel. Fasilitas tambahan seperti penyewaan mobil dan jasa antar paket pos disemua jejaring bisnis hotelnya yang tersebar di Magelang, Ambarawa dan Temanggung adalah kelebihan Hotel Kedu ini dibanding pesaing - pesaingnya.
Fasilitas hiburan juga menjadi perhatian dari manajemen hotel. Untuk memanjakan para tamu, Hotel Kedu bekerjasama dengan Korps Musik tangsi militer untuk secara reguler mengisi acara tiap Jumat Malam. Hal serupa juga ada di Hotel Ambarawa dimana pertunjukan musik reguler hadir tiap Senin Malam.
Berdasarkan surat kabar De Locomotief yang terbit pada 25 Maret 1895, permintaan penangguhan pembebasan pajak negara Tuan Unglaub ditolak. Kesulitan keuangan nampaknya mulai menimpa bisnis perusahaan miliknya. Tuan J.A. Unglaub pun pada bulan september tahun 1896 digantikan oleh Tuan Malga sebagai ditektur Hotel Kedu. Hal tersebut bisa dilihat dalam iklan Hotel Kedu dalam kolom iklan surat kabar De Locomotief yang terbit pada 2 September 1896. Walaupun sudah berupaya untuk terus menyelamatkan Hotel Kedu dari pailit dengan menambah rute jasa antar dan rental mobil hingga Wonosobo, Yogyakarta dan Purworejo, namun tetap saja riwayat Hotel Kedu tinggal menunggu waktu.
Bersambung...
- Chandra Gusta Wisnuwardana -

Tentang Sejarah Magelang - DARI HOTEL KEDU KE HOTEL CENTRUM : Melacak Jejak Bisnis Perhotelan di Bumi Magelang (Bagian II)

DARI HOTEL KEDU KE HOTEL CENTRUM : Melacak Jejak Bisnis Perhotelan di Bumi Magelang (Bagian II)
Nama Hotel Kedu kemudian seperti hilang begitu saja dari iklan surat kabar antara tahun 1896 hingga 1898. Bisa jadi pasca ditinggalkanya Tuan Unglaub kesulitan mulai menerpa manajemen hotel dan jabatan beliau pun diganti oleh Tuan Malga sebagai Direktur hotel. Namun yang pasti berdasarkan surat kabar De Locomotief yang terbit pada 30 Juli 1898, nama sebuah hotel baru muncul : Hotel Centrum.
Hotel Centrum yang baru berdiri tersebut ternyata berada di lokasi dimana Hotel Kedu dulu pernah berada. Entah apa yang terjadi, dengan manajemen hotel yang lama namun yang pasti dalam iklan tersebut dinyatakan bahwa “Hotel Centrum, (voorheen Kedoe), Magelang” yang bisa diartikan Hotel Centrum, (sebelumnya Kedu), Magelang. Dalam potongan iklan tersebut juga dapat diketahui bahwa direktur hotel sudah tidak berada ditanga Tuan Malga lagi, namun ada pada Nyonya Haase.
Dalam kolom iklan tersebut Hotel Centrum menawarkan berbagai fasilitas bagi para tamu diantaranya seperti kamar - kamar yang luas, makanan yang lezat, pelayanan yang cepat dan harga yang wajar. Selain itu, pihak manajemen hotel juga masih menawarkan jasa rental mobil seperti yang dulu ditawarkan Hotel Kedu semasa manajemen Tuan Unglaub.
Memasuki abad ke-20, manajemen Hotel Centrum (eks Hotel Kedu) melakukan perubahan kembali. Hal tersebut bisa dilihat dari potongan iklan dalam surat kabar De Locomotief yang terbit pada 25 Januari 1899. Dalam iklan tersebut dinyatakan bahwa Direktur hotel sudah bukan Nyonya Haase lagi namun diganti dengan Tuan F. van den Ende.
Beberapa perubahan nampaknya dilakukan dibawah manajemen tuan van den Ende. Selain fasilitas standard hotel, beliau juga menambahkan layanan antar jemput dari dan ke Stasiun Magelang Kota. Perlu diketahui bahwa jalur kereta api milik NISM (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij) dari Vorstenlanden ke Magelang sudah beroperasi pada 1 Juli 1898.
Tuan van den Ende nampaknya masih menjabat sebagai direktur Hotel Centrum hingga awal abad 20. Iklan yang mencantumkan nama Tuan van den Ende sebagai direktur Hotel Centrum terakhir muncul pada iklan surat kabar de Locomotief terbitan 6 Januari 1900.
Memasuki abad baru Hotel Centrum banyak melakukan inovasi terkait program promosi hotel. Salah satu diantaranya adalah pameran lukisan yang berlangsung pada bulan Februari 1900. Seperti yang dilaporkan surat kabar de Locomotief terbit pada 26 Februari 1900 bahwa pada hari Minggu tanggal 18 Februari sebuah pameran lukisan karya D. Huppe berlangsung di bagian voorgalerij hotel. Tak kurang dari 50 karya lukisan dari cat minyak dan cat air dipamerkan dalam acara tersebut. Berbagai kalangan datang untuk menikmati karyanya seperti para murid pelukis D. Huppe, mantan siswanya dari Solo, dan kalangan umum di Magelang.
Hal paling menakjubkan bagi sejarah dan kiprah Hotel Centrum, Magelang terjadi pada tahun 1901 ketika Raja Siam (Thailand), Chulalongkorn atau Rama V singgah di Magelang dan menginap disana. Pada tahun tersebut manajer hotel sudah berganti ke tangan Carl Rudolph Friedrich Bechler, pria kelahiran Surabaya pada 1878 yang masih berusia 23 tahun.
Berdasarkan surat kabar De Locomotief terbitan 15 Juli 1901 dikisahkan bahwa Raja Rama V tiba di Magelang pada 7 Juli di hari Minggu. Barang - barang Raja Rama V dan para pelayan sudah tiba terlebih dahulu satu jam sebelum kedatangannya. Sang Raja tiba pukul 4.30 pagi dengan disambut oleh Asisten Residen Kedu, Kapiten Cina dan pejabat - pejabat lainnya.
Atas kunjungan tamu spesial itu Hotel Centrum bersolek dengan begitu meriah. Raja Rama V diperkirakan menginap selama 3 hari 2 malam di Magelang. Berbagai kegiatan dilakukan oleh rombongan Raja Siam tersebut seperti tur ke Militair Hospitaal Magelang, dan berkuda disekitar Magelang oleh Sang Raja dan perkebunan di Boro oleh para pangeran. Rombongan Raja Rama V meninggalkan Magelang pada hari Selasa untuk selanjutnya menuju Bandung.
Atas usaha kerasnya dalam menyambut dan melayani keluarga Kerajaan Siam, Tuan Bechler mendapatkan penghargaan berupa pin kain emas dan juga ucapan terima kasih. Prestasinya yang luar biasa dalam mengelola Hotel Centrum dan menjadikannya sebagai hotel yang layak bagi tempat istirahat setaraf raja membuat namanya melambung. Berdasarkan surat kabar De locomotief terbitan 3 Oktober 1901, Carl Bechler memutuskan untuk pindah dari Hotel Centrum Magelang dan menerima tawaran untuk menjadi manajer Hotel Des Indes Surabaya.
Pasca kepergiannya, nasib Hotel Centrum nampaknya menjadi tidak menentu. Berdasarkan surat kabar Bataviaasch Niewsblad yang terbit pada 15 Juli 1902, Hotel Kedu dan perusahaan rental mobil “Kedoe” dinyatakan pailit. Walaupun demikian, Hotel Centrum masih tetap ada dan beroperasi hingga tahun 1920an berdasarkan berita dari beberapa surat kabar. Data terkait kelangsungan Hotel pada masa Jepang dan kemerdekaan masih belum begitu jelas. Namun yang pasti, sisa - sisa kejayaan Hotel Kedu yang kemudian menjadi Hotel Centrum sudah tidak ada lagi. Lokasi bekas hotel sekarang sudah berubah total dan berganti menjadi toko oleh - oleh Prana dan Gudeg Poncol.
- Chandra Gusta Wisnuwardana -

18 February 2020

bappeda Kota Magelang - Magelang Moncer Serius

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pemerintah Kota Magelang kembali mengusung program Ayo ke Magelang.

Program Ayo ke Magelang tahun 2020 dengan tagline Magelang Moncer Serius (Magelang Modern, Cerdas, Sejahtera, dan Religius).


Usung Tagline Magelang Moncer Serius, Ayo Ke Magelang Tahun 2020 Siap Dijalankan

Usung Tagline Magelang Moncer Serius, Ayo Ke Magelang Tahun 2020 Siap Dijalankan
Ist
Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito 
Usung Tagline Magelang Moncer Serius, Ayo Ke Magelang Tahun 2020 Siap Dijalankan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Pemerintah Kota Magelang kembali mengusung program Ayo ke Magelang.

Program Ayo ke Magelang tahun 2020 dengan tagline Magelang Moncer Serius (Magelang Modern, Cerdas, Sejahtera, dan Religius).

“Kami ingin menghadirkan kembali program Ayo ke Magelang. Program ini kami harapkan dapat mendatangkan wisatawan dari luar Kota datang ke Magelang, seperti tahun 2015 lalu,” kata Wali Kota Magelang, Sigit Widyonindito, Selasa (19/2).
Ayo Ke Magelang sendiri pernah dicanangkan pada tahun 2015 lalu.
Pemkot Magelang berencana kegiatan-kegiatan yang lebih menarik pada program Ayo ke Magelang 2020, dengan tujuan untuk mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan.
Tagline Magelang Moncer Serius ini sendiri tidak lepas dari visi dan misi Kota Magelang sebagai kota jasa yang modern dan cerdas dilandasi masyarakat sejahtera dan religius.
"Kita memang minim sumber daya alam, sehingga harus benar-benar memanfaatkan sektor lain seperti jasa. Dalam program ini kami ingin menggenjot sektor jasa dengan acara-acara yang lebih menarik, yang nantinya akan mengundang banyak pengunjung,”


Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Usung Tagline Magelang Moncer Serius, Ayo Ke Magelang Tahun 2020 Siap Dijalankan, https://jogja.tribunnews.com/2019/02/19/usung-tagline-magelang-moncer-serius-ayo-ke-magelang-tahun-2020-siap-dijalankan.
Penulis: Rendika Ferri K
Editor: Yoseph Hary W