29 March 2007

Tentang Sejarah Magelang - Es Murni

#Kenangan
Magelang Kota Kenangan(23) 
ES MURNI
Dulu ada es sunduk yang lezat Terbuat dari santan dicampur kacang ijo, ketan Ireng atau roti Dijajakan pakai gerobak dorong atau termos dng merk ES MURNI Keliling Kota.
Komentar

Tentang Sejarah Magelang - DAMPAK PERISTIWA "SERANGAN UMUM 1 MARET 1949". PIDATO SERI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX DI MUKA CORONG RADIO

Oleh :
Bagus Priyana
DAMPAK PERISTIWA "SERANGAN UMUM 1 MARET 1949".
PIDATO SERI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX DI MUKA CORONG RADIO.
sumber: Koran Pelita Juli 1949
Koleksi: pribadi







Sumber :
https://www.facebook.com/bagus.priyana?__tn__=%2CdC-R-R&eid=ARD6003zl_D6rIjVvrcdUxUVC5B22pHdXMWrFG000tBchk8m7u3SWH1GMrqR3IGZqu488f5TPWbq-YOd&hc_ref=ARQOZ1QqsMYNOEWSGfcKfJi3iGAfuIqUQXgzUUsSeIXgZtGtFseVNs57v4dJFzZ9FsE&fref=nf

Tentang Sejarah Magelang -

AGELANG TEMPO DOELOE:
DI MANAKAH MUSIK KERONCONG TAMPIL?

oleh : Bagus Priyana 
Sumber 
https://www.facebook.com/bagus.priyana?__tn__=%2CdC-R-R&eid=ARD6003zl_D6rIjVvrcdUxUVC5B22pHdXMWrFG000tBchk8m7u3SWH1GMrqR3IGZqu488f5TPWbq-YOd&hc_ref=ARQOZ1QqsMYNOEWSGfcKfJi3iGAfuIqUQXgzUUsSeIXgZtGtFseVNs57v4dJFzZ9FsE&fref=nf

Keroncong adalah wujud akulturasi kebudayaan orang Portugis dan anak negeri pada abad ke-17. Keroncong semula hanya berkembang di wilayah Tugu, Batavia. Melalui jasa seniman sandiwara keliling, keroncong menyebar ke pelbagai penjuru Hindia Belanda dan Malaya pada akhir abad ke-19.
Keroncong kian menancap di sanubari rakyat dengan semaraknya 'konkoers' atau konkurs (kontes) keroncong. Konkurs hadir di taman-taman kota Batavia pada 1910-an.
“Di park-park seperti Deca Park, Lunapark, dan sebagainya senantiasa ada pertandingan keroncong,” tulis W. Lumban Tobing, penulis musik produktif pada 1950-an, dalam “Musik Krontjong,” Aneka, 20 Oktober 1954.
Kerontjong Konkoers atau konkurs keroncong semula bertujuan memanjakan telinga penyuka alunan alat musik petik. Siapa sangka konkurs justru menumbuhkan minat masyarakat pada keroncong?
“Konkurs ini mempopulerkan keroncong dan mengarahkannya ke dunia bisnis,” tulis Peter Keppy dalam “Keroncong, Concours, and Crooners” termuat di Linking Destinies: Trade, Towns, and Kin in Asian History editan Peter Boomgaard, Dick Kooiman, dan Henk Schulte Nordholt.
Masyarakat dari beragam kelas sosial tumplek blek menyaksidengarkan konkurs keroncong. “Pertandingan-pertandingan tadi tetap dikunjungi beribu-ribu penonton Indonesia asli,” tulis Lumban Tobing. Masyarakat meninggalkan kepercayaan bahwa keroncong musik kelas melarat dan menjauhkan diri dari pikiran bahwa keroncong cuma pantas terdengar dari gang-gang sempit.
A. Th. Manusama, penulis buku Krontjong Als Muziek instrument, Als Melodie en als Gezang (Keroncong Sebagai Instrumen musik, Melodi, dan Lagu, terbit pada 1919), menyebut konkurs keroncong sebagai pijakan kebangkitan keroncong. Dari jumlah penonton, konkurs keroncong berhasil mengungguli konkurs musik Hawaiian pada periode bersamaan. Demam Jazz pada 1920-an pun tak menyurutkan perhatian masyarakat pada konkurs keroncong.
Konkurs keroncong memiliki sejumlah keunikan ketimbang konkurs Hawaiian dan Jazz. “Lagu dihadirkan dalam bentuk pantun tradisi Melayu, penuh makna tersirat, dan seringkali menyerempet hal-hal seksual,” tulis Peter Keppy.
Laki-laki dan perempuan boleh ikut konkurs keroncong. Mereka kadangkala bertanding antar sesama jenis, kala lain malah bercampur. Tak ada pemisahan pasti. Mereka bisa memenangkan konkurs jika berhasil menciptakan pantun kreatif. Para pemenang bakal menyandang gelar jago atau kampioen. Selanjutnya ketenaran, uang, dan tawaran bergabung ke orkes keroncong akan menghampiri para pemenang.
Jika di Magelang, di manakah musik keroncong tampil?
Dari iklan sebuah koran tahun 1946, pada 18-19 Mei 1946 pukul 19.30 wib diadakanlah sebuah pentas keroncong di gedung Panti Perri Magelang dengan menampilkan para penyanyi juara keroncong. Tak main-main, juara keroncong Indonesia saat itu Soekamto menjadi bintangnya. Tak cukup hanya itu, para penyanyi keroncong lain seperti Asmara, Kamsirah dan Soeginah serta Kamsidi yang merupakan bintang radio di Surakarta dan Jogja ikut tampil.
Di manakah Panti Perri?
Panti Perri artinya PEmuda Republik Indonesia, yang gedungnya merupakan eks bioskop Alhambra di Jordaanlaan. Kini gedung ini sudah hilang dan berganti dengan bangunan baru, letak persisnya di utara Bank BNI, masuk wilayah Kampung Botton Balong Kel. Magelang. Sehingga ruas jalan ini populer dengan sebutan Panti Perri.
Untuk makin menambah daya tarik penonton, tarian dan nyanyian dari luar Jawa, Dagelan Mataram dan demonstrasi main pedang oleh Batalyon V.
Karena menggunakan bekas bioskop di mana posisi tempat duduk berjenjang maka dikenakan tiket bervariasi, yakni harga tiket untuk menonton:
- kelas 1 : f 15
- kelas 2 : f 10
- kelas 3 : f 5
Yang makin membuat istimewa acara ini adalah seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan ke PMI (Palang Merah Indonesia).
SAKSIKANLAH, BERAMAL!!
HEBAT - GEMPAR!!
=====
Sumber:
- majalah Historia
- koran PELITA Mei 1946




Sumber :
https://www.facebook.com/bagus.priyana?__tn__=%2CdC-R-R&eid=ARD6003zl_D6rIjVvrcdUxUVC5B22pHdXMWrFG000tBchk8m7u3SWH1GMrqR3IGZqu488f5TPWbq-YOd&hc_ref=ARQOZ1QqsMYNOEWSGfcKfJi3iGAfuIqUQXgzUUsSeIXgZtGtFseVNs57v4dJFzZ9FsE&fref=nf


22 March 2007

Tentang Sejarah Magelang - Menara Air Minum ( Water Toreen ) Tahun 1985

Oleh :
Bagus Priyana
LEGENDA KOTA KITA
Menuju 100 tahun pada 2020 mendatang (1920-2020).
Apa kabarmu?


Sumber :
https://www.facebook.com/bagus.priyana?__tn__=%2CdC-R-R&eid=ARD6003zl_D6rIjVvrcdUxUVC5B22pHdXMWrFG000tBchk8m7u3SWH1GMrqR3IGZqu488f5TPWbq-YOd&hc_ref=ARQOZ1QqsMYNOEWSGfcKfJi3iGAfuIqUQXgzUUsSeIXgZtGtFseVNs57v4dJFzZ9FsE&fref=nf