29 February 2024

Lukisan Tertua di dunia Ada Lukisan Tangan dan Beberapa Binatang Mungkin sahabat sudah pernah mendengar tentang adanya lukisan gua yang berasal dari El Castillo, Spanyol. Lukisan tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 37 ribu tahun dan sempat dinobatkan sebagai lukisan tertua di dunia. Namun pada tahun 2014 silam, para ilmuwan dari Australia dan Indonesia berhasil mematahkan rekor tersebut ketika mereka menemukan sebuah lukisan tangan di daerah Leang Timpuseng, Karst Maros, Sulawesi. Berdasarkan hasil uji karbon yang telah dilakukan, diketahui bahwa lukisan tangan tersebut telah berusia sekitar 40.000 tahun. Penemuan ini menjadikan lukisan tertua berpindah tangan ke Indonesia.

 Lukisan Tertua di dunia


Ada Lukisan Tangan dan Beberapa Binatang


Mungkin sahabat  sudah pernah mendengar tentang adanya lukisan gua yang berasal dari El Castillo, Spanyol. Lukisan tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 37 ribu tahun dan sempat dinobatkan sebagai lukisan tertua di dunia. Namun pada tahun 2014 silam, para ilmuwan dari Australia dan Indonesia berhasil mematahkan rekor tersebut ketika mereka menemukan sebuah lukisan tangan di daerah Leang Timpuseng, Karst Maros, Sulawesi.




Berdasarkan hasil uji karbon yang telah dilakukan, diketahui bahwa lukisan tangan tersebut telah berusia sekitar 40.000 tahun. Penemuan ini menjadikan lukisan tertua berpindah tangan ke Indonesia.

Raden Ayu Retnaningsih Lahir : Jipang Kepadhan, Yogyakarta 1810 M Istri Pangeran Diponegoro ke - 6 : 1822 M. Orang Tua : ♂ Raden Tumenggung Sumoprawiro / Bupati Jipang Kepadhangan. Suami : ♂ Pangeran Diponegoro / Bendoro Raden Mas Mustahar. Anak : ♂Raden Mas Kindar / Pangeran Abdurrahman, ♂Raden Mas Sarkuma, ♂Raden Mas Mutawaridin / Pangeran Abdurrahim, ♀Raden Ayu Putri Munadima / Raden Ayu Setiokusumo, ♂Raden Mas Ramaji / Pangeran Abdulgafur, ♂Raden Mas Dulkabli / Pangeran Abdulgani, ♂Raden Mas Rajab / Abdulrajab (Pangeran Abdulrajak). Wafat : Kampung Melayu, Makassar, Sulawesi Selatan 1885 M Makam : Jl. Diponegoro, Melayu, Kec. Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Keterangan : Raden Ayu Retnoningsih merupakan putri dari Bupati Keniten atau Madiun. Saat itu Raden Ayu Retnoningsih baru berusia 17 tahun dan menjadi satu-satunya istri Diponegoro yang menemaninya di pengasingan. Saat dinikahi Pangeran Diponegoro, konon Raden Ayu Retnoningsih masih berada di usia 17 tahun. Sosoknya diakui Knoerle opsir yang mengawal sang pangeran di pengasingan, begitu cantik. Knoerle tahu sosok Retnoningsih sebab Retnoningsih-lah satu-satunya istri resmi yang menemani Pangeran Diponegoro di pengasingan dan memberinya dua anak. Pangeran Diponegoro konon kerap kali membanggakan keahliannya dalam hal menaklukkan hati perempuan. Bahkan saat berada di pengasingan Residen Manado Pietermaat pernah berbincang-bincang dengan sang pangeran dan percakapan yang paling digemari sang pangeran tentu perempuan - perempuan yang melihatnya sebagai seorang kekasih yang menawan.

 Raden Ayu Retnaningsih


Lahir : Jipang Kepadhan, Yogyakarta 1810 M

Istri Pangeran Diponegoro ke - 6 : 1822 M.

Orang Tua : ♂ Raden Tumenggung Sumoprawiro / Bupati Jipang Kepadhangan.

Suami : ♂ Pangeran Diponegoro / Bendoro Raden Mas Mustahar.

Anak : ♂Raden Mas Kindar / Pangeran Abdurrahman, ♂Raden Mas Sarkuma, ♂Raden Mas Mutawaridin / Pangeran Abdurrahim, ♀Raden Ayu Putri Munadima / Raden Ayu Setiokusumo, ♂Raden Mas Ramaji / Pangeran Abdulgafur, ♂Raden Mas Dulkabli / Pangeran Abdulgani, ♂Raden Mas Rajab / Abdulrajab (Pangeran Abdulrajak).

Wafat : Kampung Melayu, Makassar, Sulawesi Selatan 1885 M

Makam : Jl. Diponegoro, Melayu, Kec. Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.



Keterangan : 


Raden Ayu Retnoningsih  merupakan putri dari Bupati Keniten atau Madiun. Saat itu Raden Ayu Retnoningsih baru berusia 17 tahun dan menjadi satu-satunya istri Diponegoro yang menemaninya di pengasingan.


Saat dinikahi Pangeran Diponegoro, konon Raden Ayu Retnoningsih masih berada di usia 17 tahun. Sosoknya diakui Knoerle opsir yang mengawal sang pangeran di pengasingan, begitu cantik.


Knoerle tahu sosok Retnoningsih sebab Retnoningsih-lah satu-satunya istri resmi yang menemani Pangeran Diponegoro di pengasingan dan memberinya dua anak. 


Pangeran Diponegoro konon kerap kali membanggakan keahliannya dalam hal menaklukkan hati perempuan. Bahkan saat berada di pengasingan Residen Manado Pietermaat pernah berbincang-bincang dengan sang pangeran dan percakapan yang paling digemari sang pangeran tentu perempuan - perempuan yang melihatnya sebagai seorang kekasih yang menawan.

Sri Suhita Majapahit

 Prabu Sri Suhita (ejaan China Su King Ta[1]) adalah maharani Majapahit keenam yang memerintah tahun 1429–1447 M, bersama dengan suaminya yang bernama Aji Ratnapangkaja.

Suhita memerintah berdampingan dengan suaminya, Ratnapangkaja, yang bergelar Bhatara Parameswara Ratnapangkaja. Pada tahun 1433 Suhita membalas kematian Bhre Wirabhumi dengan cara menghukum mati Raden Gajah alias Bhra Narapati penguasa Djinggan. Dari berita ini terasa masuk akal kalau hubungan Bhre Wirabhumi dan Suhita adalah kakek dan cucu, meskipun tidak disebut secara tegas dalam Pararaton.



Nama Suhita juga muncul dalam kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong sebagai Su-king-ta, yaitu raja Majapahit yang mengangkat Gan Eng Cu sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa di Tuban dengan pangkat A-lu-ya. Tokoh Gan Eng Cu ini identik dengan Arya Teja, kakek Sunan Kalijaga.

Dalam versi lain Suhita dikenal dengan Ratu Kencana Wungu karena sering berkeliling kerajaan dengan Kereta kuda berwarna ungu, dia juga dikenal dengan kisah sayembara nya Damarwulan untuk membunuh Minak Jingga.

Sumber: Wikipedia

Pemain Persipura Yotam (kiri) dibayangi pemain Persib Kosasih Baheramsah (kanan) pada kejuaraan 12 besar PSSI 1979. Pertandingan ini dimenangkan oleh Persipura dengan skor tipis 2-1. Foto dan narasi: Sjahrisad (Olympic)

 Pemain Persipura Yotam (kiri) dibayangi pemain Persib Kosasih Baheramsah (kanan) pada kejuaraan 12 besar PSSI 1979. Pertandingan ini dimenangkan oleh Persipura dengan skor tipis 2-1.



Foto dan narasi: Sjahrisad (Olympic)

Kisah Helen yang Jadi Kambing Hitam Perang Troya dalam Mitologi Yunani ________________________________________________ Helen adalah tokoh perempuan yang terkenal dalam mitologi Yunani karena keterlibatannya dalam perang Troya. Helen menjadi kambing hitam dan dipersalahkan karena dianggap penyebab perang 10 tahun itu. Pertanyaan tentang keterlibatan Helen dalam Perang Troya jelas menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sulit—dan hal ini telah terjadi sejak zaman Homer. Seperti diketahui, legenda Troya adalah salah satu kisah tertua yang pernah diceritakan. Kisah ini kemudian menjangkau khalayak baru melalui epik Hollywood Troy tahun 2004 karya Wolfgang Petersen. Film tersebut, yang merupakan adaptasi longgar dari puisi Yunani kuno karya Homer, “The Iliad,” meliput peristiwa-peristiwa utama Perang Troya. Ini adalah kisah yang penuh dengan pejuang heroik, seperti Achilles, Hector dan Patroclus. Mereka mendapatkan imbalan atas kehebatannya yaitu kemuliaan abadi —istilah yang tepat digunakan oleh Homer adalah “kleos.” Namun tidak semua orang pantas mendapatkan ketenaran abadi seperti ini. Menjelang awal cerita, pangeran Troya, Paris jatuh cinta dengan ratu Spartan Helen, yang menikah dengan Raja Menelaus. Dari sinilah kisahnya berawal. Pasangan itu kabur ke Troya, di mana mereka disambut dengan hati-hati oleh penguasa Troy, Priam. Helen dan perang Troya Ketika alur ceritanya terungkap, kehadiran Helen tetap sulit dipahami di Troy, ketika berbagai kerajaan Yunani datang menuntut dia kembali ke Menelaus. Hasil dari perselingkuhannya dengan Paris hampir tidak perlu dipertanyakan, yaitu perang sepuluh tahun dan penghancuran kota Troya. Pertanyaan tentang keterlibatan Helen dalam konflik signifikan jelas menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sulit. Hal ini sudah terjadi sejak zaman Homer. Homer menawarkan kepada pendengarnya (syair itu akan dibawakan secara lisan) penjelasan yang tidak mudah mengapa orang Yunani bersedia berpartisipasi dalam konflik yang berkepanjangan. Meskipun Helen berulang kali mengakui perannya dalam memicu konflik, karakter lain, seperti Priam, menolak untuk menyalahkannya. Para dewa Yunani yang dituduh melancarkan konflik besar ini dan pangeran Troya, Paris, juga bertanggung jawab. Dalam sejarah Yunani selanjutnya, banyak penulis menanggapi pertanyaan tentang peran Helen dalam perang dengan cara yang berbeda. Di beberapa bagian Yunani, dia dipuja sebagai dewi. Memang benar, cerita-cerita awal sangat samar-samar tetapi penyair Stesichorus, yang hidup sekitar tahun 600 SM, konon memfitnah Helen dan menjadi buta setelah melakukan hal tersebut. Cerita berlanjut, dia mendapatkan kembali penglihatannya setelah dia menyangkal bahwa Helen pernah pergi ke Troy.Sebaliknya, dia dengan penuh warna menyatakan bahwa itu adalah “hantu” Helen yang kawin lari di sana. Sekitar 150 tahun kemudian, yang disebut sebagai “bapak sejarah”, Herodotus dari Halicarnassus, juga menyoroti peran aneh yang dimainkan Helen dalam Perang Troya. Dia mengutip seorang informan asal Persia untuk menggarisbawahi lemahnya klaim dalam mitologi Yunani, dan menunjukkan bahwa pada saat itu kerajaan besar tidak biasa memilih kehilangan seorang perempuan. Menurut sumber itu, masyarakat Asia tidak mempermasalahkan kehilangan seorang perempuan. Namun orang-orang Yunani demi (Helen), merekrut pasukan yang besar, kemudian datang ke Asia dan menghancurkan kekuatan Priam. Helen dari Troy selama berabad-abad Di luar zaman mitologi Yunani, banyak yang terus berjuang melawan Helen yang penuh teka-teki. Dia muncul kembali, misalnya, di panggung Elizabeth dalam Doctor Faustus (1604) karya Christopher Marlowe. Dan dalam Troilus dan Cressida karya Shakespeare (sekitar 1602), dia dibayangkan sebagai orang bodoh yang hambar, yang sepenuhnya bertanggung jawab atas hilangnya nyawa orang Yunani. Seperti yang diilustrasikan oleh kasus-kasus ini, status Helen yang tidak menyenangkan sebagai penghasut perang mewarnai banyak penerimaan terhadap cerita Homer di kemudian hari. Lukisan Dante Gabriel Rossetti tahun 1863 “Helen of Troy” adalah contoh mencolok lainnya dari hal ini.BDalam banyak hal, lukisan itu berfokus pada gambaran Helen sebagai makhluk fana yang luar biasa cantik. Rambutnya berwarna emas, dan dia mengenakan pakaian yang dihias dengan rumit. Namun, setelah diperiksa lebih dekat, orang lain akan melihat bahwa Helen memiliki pipi kiri berwarna ungu. Apakah ini mungkin merupakan indikasi hubungan yang penuh kekerasan dengan “suami” Troya barunya, Paris? Apakah Rossetti menyarankan agar Paris memukul pengantin barunya? Namun, Helen juga digambarkan di depan kota yang menyala-nyala, sambil menunjuk ke sebuah liontin yang menggambarkan obor yang menyala-nyala. Tampaknya dia mengatakan bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebakaran besar ini. Helen yang tidak bersalah? Perlu diingat bahwa Helen tidak selalu dipandang sebagai sosok yang bersalah dan merusak. Ambil contoh, Helen Karibia karya Derek Walcott dalam puisinya tahun 1990 “Omeros” pembacaan ulang yang radikal atas teks Homer, yang menawarkan perspektif baru mengenai sosok perempuan ikonik ini. Seperti yang ditampilkan dalam film Troy, narasi Perang Troya mitologi Yunani masih cenderung berpusat pada Helen dan kisah cintanya yang menggelora dengan Paris. Hal ini, tentu saja, sesuai dengan gambaran sejarah yang lebih luas di mana perempuan dan tubuh mereka telah digunakan sebagai figur untuk mengeksplorasi isu-isu seperti peperangan, kekerasan, dan godaan. Hal ini telah terjadi sepanjang masa, mulai dari para penyihir abad pertengahan yang disalahkan (dan dibakar) karena merusak masyarakat, hingga perdebatan baru-baru ini mengenai larangan burkini di Prancis. Memang, hal terakhir ini hanyalah contoh lain dari masyarakat yang terus mengatur tubuh perempuan dan melanggengkan stereotip kasar tentang perempuan yang tertindas.

 Kisah Helen yang Jadi Kambing Hitam Perang Troya dalam Mitologi Yunani

________________________________________________



Helen adalah tokoh perempuan yang terkenal dalam mitologi Yunani karena keterlibatannya dalam perang Troya. Helen menjadi kambing hitam dan dipersalahkan karena dianggap penyebab perang 10 tahun itu.


Pertanyaan tentang keterlibatan Helen dalam Perang Troya jelas menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sulit—dan hal ini telah terjadi sejak zaman Homer.


Seperti diketahui, legenda Troya adalah salah satu kisah tertua yang pernah diceritakan. Kisah ini kemudian menjangkau khalayak baru melalui epik Hollywood Troy tahun 2004 karya Wolfgang Petersen.


Film tersebut, yang merupakan adaptasi longgar dari puisi Yunani kuno karya Homer, “The Iliad,” meliput peristiwa-peristiwa utama Perang Troya.


Ini adalah kisah yang penuh dengan pejuang heroik, seperti Achilles, Hector dan Patroclus. Mereka mendapatkan imbalan atas kehebatannya yaitu kemuliaan abadi —istilah yang tepat digunakan oleh Homer adalah “kleos.”


Namun tidak semua orang pantas mendapatkan ketenaran abadi seperti ini. Menjelang awal cerita, pangeran Troya, Paris jatuh cinta dengan ratu Spartan Helen, yang menikah dengan Raja Menelaus. Dari sinilah kisahnya berawal.


Pasangan itu kabur ke Troya, di mana mereka disambut dengan hati-hati oleh penguasa Troy, Priam.


Helen dan perang Troya


Ketika alur ceritanya terungkap, kehadiran Helen tetap sulit dipahami di Troy, ketika berbagai kerajaan Yunani datang menuntut dia kembali ke Menelaus.


Hasil dari perselingkuhannya dengan Paris hampir tidak perlu dipertanyakan, yaitu perang sepuluh tahun dan penghancuran kota Troya.


Pertanyaan tentang keterlibatan Helen dalam konflik signifikan jelas menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sulit. Hal ini sudah terjadi sejak zaman Homer.


Homer menawarkan kepada pendengarnya (syair itu akan dibawakan secara lisan) penjelasan yang tidak mudah mengapa orang Yunani bersedia berpartisipasi dalam konflik yang berkepanjangan.


Meskipun Helen berulang kali mengakui perannya dalam memicu konflik, karakter lain, seperti Priam, menolak untuk menyalahkannya. Para dewa Yunani yang dituduh melancarkan konflik besar ini dan pangeran Troya, Paris, juga bertanggung jawab.


Dalam sejarah Yunani selanjutnya, banyak penulis menanggapi pertanyaan tentang peran Helen dalam perang dengan cara yang berbeda. Di beberapa bagian Yunani, dia dipuja sebagai dewi.


Memang benar, cerita-cerita awal sangat samar-samar tetapi penyair Stesichorus, yang hidup sekitar tahun 600 SM, konon memfitnah Helen dan menjadi buta setelah melakukan hal tersebut.


Cerita berlanjut, dia mendapatkan kembali penglihatannya setelah dia menyangkal bahwa Helen pernah pergi ke Troy.Sebaliknya, dia dengan penuh warna menyatakan bahwa itu adalah “hantu” Helen yang kawin lari di sana.


Sekitar 150 tahun kemudian, yang disebut sebagai “bapak sejarah”, Herodotus dari Halicarnassus, juga menyoroti peran aneh yang dimainkan Helen dalam Perang Troya.


Dia mengutip seorang informan asal Persia untuk menggarisbawahi lemahnya klaim dalam mitologi Yunani, dan menunjukkan bahwa pada saat itu kerajaan besar tidak biasa memilih kehilangan seorang perempuan.


Menurut sumber itu, masyarakat Asia tidak mempermasalahkan kehilangan seorang perempuan. Namun orang-orang Yunani demi (Helen), merekrut pasukan yang besar, kemudian datang ke Asia dan menghancurkan kekuatan Priam.


Helen dari Troy selama berabad-abad


Di luar zaman mitologi Yunani, banyak yang terus berjuang melawan Helen yang penuh teka-teki. Dia muncul kembali, misalnya, di panggung Elizabeth dalam Doctor Faustus (1604) karya Christopher Marlowe.


Dan dalam Troilus dan Cressida karya Shakespeare (sekitar 1602), dia dibayangkan sebagai orang bodoh yang hambar, yang sepenuhnya bertanggung jawab atas hilangnya nyawa orang Yunani.


Seperti yang diilustrasikan oleh kasus-kasus ini, status Helen yang tidak menyenangkan sebagai penghasut perang mewarnai banyak penerimaan terhadap cerita Homer di kemudian hari.


Lukisan Dante Gabriel Rossetti tahun 1863 “Helen of Troy” adalah contoh mencolok lainnya dari hal ini.BDalam banyak hal, lukisan itu berfokus pada gambaran Helen sebagai makhluk fana yang luar biasa cantik. Rambutnya berwarna emas, dan dia mengenakan pakaian yang dihias dengan rumit.


Namun, setelah diperiksa lebih dekat, orang lain akan melihat bahwa Helen memiliki pipi kiri berwarna ungu.


Apakah ini mungkin merupakan indikasi hubungan yang penuh kekerasan dengan “suami” Troya barunya, Paris? Apakah Rossetti menyarankan agar Paris memukul pengantin barunya?


Namun, Helen juga digambarkan di depan kota yang menyala-nyala, sambil menunjuk ke sebuah liontin yang menggambarkan obor yang menyala-nyala. Tampaknya dia mengatakan bahwa dialah yang bertanggung jawab atas kebakaran besar ini.


Helen yang tidak bersalah?


Perlu diingat bahwa Helen tidak selalu dipandang sebagai sosok yang bersalah dan merusak. Ambil contoh, Helen Karibia karya Derek Walcott dalam puisinya tahun 1990 “Omeros” pembacaan ulang yang radikal atas teks Homer, yang menawarkan perspektif baru mengenai sosok perempuan ikonik ini.


Seperti yang ditampilkan dalam film Troy, narasi Perang Troya mitologi Yunani masih cenderung berpusat pada Helen dan kisah cintanya yang menggelora dengan Paris.


Hal ini, tentu saja, sesuai dengan gambaran sejarah yang lebih luas di mana perempuan dan tubuh mereka telah digunakan sebagai figur untuk mengeksplorasi isu-isu seperti peperangan, kekerasan, dan godaan.


Hal ini telah terjadi sepanjang masa, mulai dari para penyihir abad pertengahan yang disalahkan (dan dibakar) karena merusak masyarakat, hingga perdebatan baru-baru ini mengenai larangan burkini di Prancis.


Memang, hal terakhir ini hanyalah contoh lain dari masyarakat yang terus mengatur tubuh perempuan dan melanggengkan stereotip kasar tentang perempuan yang tertindas.

28 February 2024

25 Februari 1605 adalah momen ketika Portugis hengkang setelah terusir oleh pasukan VOC di Maluku dan terpaksa meninggalkan surga penghasil rempah-rempah tersebut. Padahal sebelumnya, ketika armada Portugis tiba di Maluku pada tahun 1512, kedatangan mereka menarik perhatian Sultan Ternate. Orang-orang Portugis pun kemudian mendirikan benteng di Ternate atas permintaan sang Sultan. Namun, akibat persoalan monopoli dan perbedaan kepentingan dagang, hal tersebut memicu ketegangan di pihak Ternate. Terlebih lagi, misi penginjilan Portugis yang berkembang pesat meresahkan pihak kesultanan. Pihak kesutanan kemudian membentuk persekutuan anti-Portugis dengan VOC dan penduduk lokal Maluku yang menyebabkan Portugis terusir. Sumber teks: https://historia.id/kuno/articles/hari-ini-portugis-menyerah-kepada-voc-6aeab/page/2 #historia #historiadotid #historyfacts #historylesson #infohistory #sejarahindonesia #sejarahhariini #infosejarah #ceritasejarah #fyi #tahukahkamu #didyouknow #todayissue #todayinhistory #historiaid

 25 Februari 1605 adalah momen ketika Portugis hengkang setelah terusir oleh pasukan VOC di Maluku 

 dan terpaksa meninggalkan surga penghasil rempah-rempah tersebut. 


Padahal sebelumnya, ketika armada Portugis tiba di Maluku pada tahun 1512, kedatangan mereka menarik perhatian Sultan Ternate. Orang-orang Portugis pun kemudian mendirikan benteng di Ternate atas permintaan sang Sultan. 


Namun, akibat persoalan monopoli dan perbedaan kepentingan dagang, hal tersebut memicu ketegangan di pihak Ternate. Terlebih lagi, misi penginjilan Portugis yang berkembang pesat meresahkan pihak kesultanan. Pihak kesutanan kemudian membentuk persekutuan anti-Portugis dengan VOC dan penduduk lokal Maluku yang menyebabkan Portugis terusir.



Sumber teks: https://historia.id/kuno/articles/hari-ini-portugis-menyerah-kepada-voc-6aeab/page/2


#historia #historiadotid #historyfacts #historylesson #infohistory #sejarahindonesia #sejarahhariini #infosejarah #ceritasejarah #fyi #tahukahkamu #didyouknow #todayissue #todayinhistory #historiaid

Het drogen van kruidnagels in Mamala Vervaardigingsjaar : 1980 Fotograaf : Henk van Rinsum Potret kegiatan menjemur cengkeh di daerah Mamala,Maluku...foto antara bulan Juni - Juli 1980 (NMvWereldculturen📷Henk van Rinsum)

 Het drogen van kruidnagels in Mamala

Vervaardigingsjaar : 1980

Fotograaf : Henk van Rinsum

   Potret kegiatan menjemur cengkeh di daerah Mamala,Maluku...foto antara bulan Juni - Juli 1980

(NMvWereldculturen📷Henk van Rinsum)



Assalamu'alaikum semua,apakah Champa merupakan rumpun Melayu ? Sebab salah 1 Sulthan kami juga ada yg berdarah Jawa+Champa.

 Assalamu'alaikum semua,apakah Champa merupakan rumpun Melayu ? Sebab salah 1 Sulthan kami juga ada yg berdarah Jawa+Champa.



Berikut ini sedikit kisah hidup Mbah Kalap, penolong orang-orang yang hanyut di Kali Brantas. Nama aslinya adalah S. Kahar Supardi, ia tinggal bersama isterinya Ni Sumarni di Bratang Tanggul dekat Tangkis “air minum” Jagir Wonokromo. Nama mbah Kalap diberikan masyarakat sekitar sebagai penghormatan (Kalap artinya menghilang misterius). Pekerjaan sehari-harinya ialah menjadi pembantu di Polsek Wonokromo. Ia beberapa kali menerima penghargaan atas jasanya membantu masyarakat yang keluarganya tenggelam atau anak-anak yang hampir tenggelam di Kali Brantas Wonokromo. Salah satunya penghargaan dari Dan Tabes Kepolisian Surabaya di tahun 1975. Untuk mengambil mayat yang tenggelam di Kali Brantas, Mbah Kalap perlu disediakan kemenyan, kembang, merang, serta tikar dan bantal yang biasa dipakai oleh korban yang tenggelam. Pada saat artikel berita ini dimuat dalam surat kabar Suara Karya pada edisi 13 Februari 1975, usianya telah menginjak 44 tahun. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI Sumber : Suara Karya, 13 Februari 1975 halaman 8 kolom 5-8 (Skjil Team) #mbahKalap #KaliBrantas #Surabaya

 Berikut ini sedikit kisah hidup Mbah Kalap, penolong orang-orang yang hanyut di Kali Brantas. Nama aslinya adalah S. Kahar Supardi, ia tinggal bersama isterinya Ni Sumarni di Bratang Tanggul dekat Tangkis “air minum” Jagir Wonokromo. Nama mbah Kalap diberikan masyarakat sekitar sebagai penghormatan (Kalap artinya menghilang misterius). Pekerjaan sehari-harinya ialah menjadi pembantu di Polsek Wonokromo. Ia beberapa kali menerima penghargaan atas jasanya membantu masyarakat yang keluarganya tenggelam atau anak-anak yang hampir tenggelam di Kali Brantas Wonokromo. Salah satunya penghargaan dari Dan Tabes Kepolisian Surabaya di tahun 1975. 



Untuk mengambil mayat yang tenggelam di Kali Brantas, Mbah Kalap perlu disediakan kemenyan, kembang, merang, serta tikar dan bantal yang biasa dipakai oleh korban yang tenggelam. Pada saat artikel berita ini dimuat dalam surat kabar Suara Karya pada edisi 13 Februari 1975, usianya telah menginjak 44 tahun. 

Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI

Sumber : Suara Karya, 13 Februari 1975 halaman 8 kolom 5-8 (Skjil Team)


#mbahKalap #KaliBrantas #Surabaya

Dua Tokoh Musik Rock Tanah Air Log Zhelebour Achmad Albar Salam sehat selalu

 Dua Tokoh Musik Rock Tanah Air

Log Zhelebour

Achmad Albar

 

Salam sehat selalu .



Sebuah iklan layanan masyarakat pada tahun 1997 mengenai GNOTA. Adapun GNOTA sendiri merupakan kepanjangan dari Gerakan Nasional Orang Tua Asuh. Yayasan ini merupakan organisasi sosial nirlaba yang didirikan pada tahun 1996. GNOTA menjadi gerakan inisiatif dari masyarakat untuk menjaga agar anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan dasar sebagai landasan menggapai masa depan yang lebik sukses. Sumber: Angkatan Bersenjata, 24 Juli 1997 halaman 12 Kolom 4. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team) #GNOTA

 Sebuah iklan layanan masyarakat pada tahun 1997 mengenai GNOTA.  Adapun  GNOTA sendiri merupakan kepanjangan dari Gerakan Nasional Orang Tua Asuh. Yayasan ini merupakan organisasi sosial nirlaba yang didirikan pada tahun 1996. GNOTA menjadi gerakan inisiatif dari masyarakat untuk menjaga agar anak-anak Indonesia mendapatkan pendidikan dasar sebagai landasan menggapai masa depan yang lebik sukses. 



Sumber: Angkatan Bersenjata, 24 Juli 1997 halaman 12 Kolom 4. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team)


#GNOTA

Bus zaman kolonial Belanda. Terlihat beberapa unit bus terparkir di depan Pagelaran Keraton Kasunanan....mungkin sekitar tahun 1925-1930 pada masa Sinuhun PBX

 Bus zaman kolonial Belanda.

   Terlihat beberapa unit bus terparkir di depan Pagelaran Keraton Kasunanan....mungkin sekitar tahun 1925-1930 pada masa Sinuhun PBX..



Sumber :

Rully Novianto.

Berikut ini adalah potret perahu tradisional khas Pelabuhanratu yang disebut "Congkreng" yang kiri dan kanannya di pasang sayap untuk menjaga keseimbangan. Perahu jenis ini cukup menyita tempat sandar di dermaga Pelabuhanratu, sehingga di tahun 1997 direncanakan perluasan untuk dermaga Pelabuhanratu. Sumber: Angkatan Bersenjata, 28 Juli 1997 halaman 3 Kolom 3. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team) #PerahuCongkreng

 Berikut ini adalah potret perahu tradisional khas Pelabuhanratu yang disebut "Congkreng" yang kiri dan kanannya di pasang sayap untuk menjaga keseimbangan. Perahu jenis ini cukup menyita tempat sandar di dermaga Pelabuhanratu, sehingga di tahun 1997 direncanakan perluasan untuk dermaga Pelabuhanratu. 



Sumber: Angkatan Bersenjata, 28 Juli 1997 halaman 3 Kolom 3. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team)


#PerahuCongkreng

Saran Plesiran a la Buku Saku Panduan Dolan - Dolan van Stockum ke Magelang pada 1930 Memasuki dekade 1930an, banyak kota - kota di Hindia yang mulai membuka dirinya dengan menambah fasilitas baik infrastruktur dan akomodasi bagi para pelancong yang hendak menghabiskan waktunya menikmati daya tarik wisatanya. Kejelian dalam melihat fenomena bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan baik domestik dan mancanegara membuat banyak orang untuk berusaha membagikan tips dan saran tentang bagaimana para pelancong bisa menikmati daerah yang ingin dikunjungi dengan asyik dan nyaman. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan menerbitkan "travellers' handbook" atau buku saku panduan pelancong yang dibuat oleh van Stockum yang terbit pada 1930. Dalam buku panduan setebal 700an halaman ini, Magelang menjadi salah satu daerah yang disarankan untuk dikunjungi dari puluhan kota - kota yang ada di Hindia Belanda. Lantas, apa yang dikatakan oleh buku tersebut mengenai kondisi Magelang pada tahun 1930? Mari kita simak bersama. Dalam halaman 228, Magelang disebutkan dihuni oleh 42.447 penduduk dengan 3362 diantaranya adalah masyarakat Eropa. Berada pada ketingguan 400mdpl, Magelang disebutkan memiliki iklim yang sejuk dan menyenangkan. Jarak pusat kota Magelang dengan Candi Borobudur tidaklah begitu jauh (16,5km), yaitu 30 menit dengan mobil dan 1,5 jam dengan kereta kuda (dokar). Para pelancong bisa menginap di hotel - hotel ternama seperti Hotel Kalibening yang berada di sebelah utara pusat kota Magelang. Hotel dengan pemandangan kolam renang alami ini dilengkapi total 20 kamar dengan harga mulai fl 7 - fl 10 untuk single bedroom dan fl 12.50 - fl 15 untuk double bedroom. Bagi pelancong yang lebih memilih untuk menikmati suasana kota Magelang, mereka bisa menginap di Hotel Loze yang berada di sebelah timur aloon - aloon dengan 20 kamar yang tersedia. Harga untuk single bedroom berada dikisaran fl 6 - fl 7 sedangkan double bedroom berada dikisaran fl 11 - fl 13.50. Selain Hotel Loze, terdapat juga Hotel Montagne yang dimiliki oleh Tuan Swanck yang lokasinya ada di Groote Weg Noord dengan 15 kamar. Harga yang ditawarkan untuk single bedroom adalah fl 8 - fl 9 sedangkan double bedroom diangka fl 14 - fl 17.50. Bagi para pelancong yang menyukai suasana alam pegunungan, buku panduan ini juga memberikan saran Hotel Merbaboe yang berada di Kopeng (1500mdpl) dengan 24 kamar dengan tarif single bedroom diharga fl 8 - fl 10 dan fl 14 - fl 17.50 untuk double bedroom. Hotel Merbaboe adalah clubhotel milik Java Motor Club (JMC), sebuah klub kendaraan bermotor prestisius di Jawa. Selain itu, terdapat juga Hotel Borobudur yang memiliki 10 kamar dengan tarif mulai fl 7.50 - fl 8.50 untuk single bedroom dan fl 12.50 - fl 15.50 double bedroom dengan diskon antara 15% - 20% jika menginap lebih lama. Sama halnya dengan Hotel Merbaboe, Hotel Borobudur juga merupakan Clubhotel dari JMC. Bagi para pelancong yang menghendaki tinggal di daerah pedesaan, mereka bisa memilih untuk menginap di Passanggrahan yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten seperti pesanggrahan Kaliangkrik di lereng Sumbing, Pagergunung di lereng Merbabu dan Borobudur. Selain fasilitas hotel, beberapa akomodasi lain yang bisa dinikmati pelancong diantaranya seperti, fasilitas perbankan Ned-Indie Escompto Maatschappij, sarana hiburan seperti bioskop Alhambra, Apotek van Gorkom & Co serta rumah sakit umum seperti Military Hospitaal, Magelang Kliniek dan Krankzinningengestucht Kramat (RSJ). Para pelancong yang menghendaki menyewa mobil, buku ini menyebutkan beberapa pihak yang menawarkan jasa rental mobil sebut saja, pengusaha Eropa kawakan van Eyck dan Hesselink, Go Oen Tong, The Hong Kie, The Tjang Hway, Tjong A Djom dari kalanagn Tionghoa, Hardjopranoto, Mitrohardjo dan Wongsodidjojo dari masyarakat bumiputra serta satu lagi usaha rental Kawatan. Setidaknya, inilah beberapa hal yang disebutkan dalam buku saku panduan melancong karya van Stockum tentang hal - hal apa saja yang bisa dijadikan pertimbangan bagi para wisatawan ketika berkunjung ke Magelang. - Chandra Gusta Wisnuwardana -

 Saran Plesiran a la Buku Saku Panduan Dolan - Dolan van Stockum ke Magelang pada 1930

Oleh : Chandra Gusta Wisnuwardhana




Memasuki dekade 1930an, banyak kota - kota di Hindia yang mulai membuka dirinya dengan menambah fasilitas baik infrastruktur dan akomodasi bagi para pelancong yang hendak menghabiskan waktunya menikmati daya tarik wisatanya. Kejelian dalam melihat fenomena bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan baik domestik dan mancanegara membuat banyak orang untuk berusaha membagikan tips dan saran tentang bagaimana para pelancong bisa menikmati daerah yang ingin dikunjungi dengan asyik dan nyaman. 


Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan menerbitkan "travellers' handbook" atau buku saku panduan pelancong yang dibuat oleh van Stockum yang terbit pada 1930. Dalam buku panduan setebal 700an halaman ini, Magelang menjadi salah satu daerah yang disarankan untuk dikunjungi dari puluhan kota - kota yang ada di Hindia Belanda. Lantas, apa yang dikatakan oleh buku tersebut mengenai kondisi Magelang pada tahun 1930? Mari kita simak bersama.


Dalam halaman 228, Magelang disebutkan dihuni oleh 42.447 penduduk dengan 3362 diantaranya adalah masyarakat Eropa. Berada pada ketingguan 400mdpl, Magelang disebutkan memiliki iklim yang sejuk dan menyenangkan. Jarak pusat kota Magelang dengan Candi Borobudur tidaklah begitu jauh (16,5km), yaitu 30 menit dengan mobil dan 1,5 jam dengan kereta kuda (dokar).


Para pelancong bisa menginap di hotel - hotel ternama seperti Hotel Kalibening yang berada di sebelah utara pusat kota Magelang. Hotel dengan pemandangan kolam renang alami ini dilengkapi total 20 kamar dengan harga mulai fl 7 - fl 10 untuk single bedroom dan fl 12.50 - fl 15 untuk double bedroom. Bagi pelancong yang lebih memilih untuk menikmati suasana kota Magelang, mereka bisa menginap di Hotel Loze yang berada di sebelah timur aloon - aloon dengan 20 kamar yang tersedia. Harga untuk single bedroom berada dikisaran fl 6 - fl 7 sedangkan double bedroom berada dikisaran fl 11 - fl 13.50. Selain Hotel Loze, terdapat juga Hotel Montagne yang dimiliki oleh Tuan Swanck yang lokasinya ada di Groote Weg Noord dengan 15 kamar. Harga yang ditawarkan untuk single bedroom adalah fl 8 - fl 9 sedangkan double bedroom diangka fl 14 - fl 17.50. 


Bagi para pelancong yang menyukai suasana alam pegunungan, buku panduan ini juga memberikan saran Hotel Merbaboe yang berada di Kopeng (1500mdpl) dengan 24 kamar dengan tarif single bedroom diharga fl 8 - fl 10 dan fl 14 - fl 17.50 untuk double bedroom. Hotel Merbaboe adalah clubhotel milik Java Motor Club (JMC), sebuah klub kendaraan bermotor prestisius di Jawa. Selain itu, terdapat juga Hotel Borobudur yang memiliki 10 kamar dengan tarif mulai fl 7.50 - fl 8.50 untuk single bedroom dan fl 12.50 - fl 15.50 double bedroom dengan diskon antara 15% - 20% jika menginap lebih lama. Sama halnya dengan Hotel Merbaboe, Hotel Borobudur juga merupakan Clubhotel dari JMC.


Bagi para pelancong yang menghendaki tinggal di daerah pedesaan, mereka bisa memilih untuk menginap di Passanggrahan yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten seperti pesanggrahan Kaliangkrik di lereng Sumbing, Pagergunung di lereng Merbabu dan Borobudur.


Selain fasilitas hotel, beberapa akomodasi lain yang bisa dinikmati pelancong diantaranya seperti, fasilitas perbankan Ned-Indie Escompto Maatschappij, sarana hiburan seperti bioskop Alhambra, Apotek van Gorkom & Co serta rumah sakit umum seperti Military Hospitaal, Magelang Kliniek dan Krankzinningengestucht Kramat (RSJ).


Para pelancong yang menghendaki menyewa mobil, buku ini menyebutkan beberapa pihak yang menawarkan jasa rental mobil sebut saja, pengusaha Eropa kawakan van Eyck dan Hesselink, Go Oen Tong, The Hong Kie, The Tjang Hway, Tjong A Djom dari kalanagn Tionghoa, Hardjopranoto, Mitrohardjo dan Wongsodidjojo dari masyarakat bumiputra serta satu lagi usaha rental Kawatan.


Setidaknya, inilah beberapa hal yang disebutkan dalam buku saku panduan melancong karya van Stockum tentang hal - hal apa saja yang bisa dijadikan pertimbangan bagi para wisatawan ketika berkunjung ke Magelang. 


- Chandra Gusta Wisnuwardana -

Ajaran Samin

 Ajaran Samin (disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme) adalah salah satu kepercayaan yang ada di Indonesia. Masyarakat ini adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan.[1] Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya.[2]

Samin Surosentiko (Blora, 1859 - tidak diketahui) atau Samin atau Mbah Suro, bernama asli Raden Kohar, adalah pelopor ajaran Samin (Saminisme).[1][2] Selama masa pembuangannya di Sawahlunto, ia pernah menjadi kepala tambang di salah satu lubang tambang batu bara.[2]


Kehidupansunting


Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau Samin Sepuh, Bangsawan Ponorogo anak dari Raden Mas Adipati Brotodiningrat, Bupati Sumoroto (Sekarang menjadi wilayah Ponorogo) dengan gelar pangeran Kusumaniayu pada 1802-1826.[1]


Ia mengubah namanya dari Raden Kohar menjadi Samin Suro Sentiko sebab Samin adalah sebuah nama yang bernafaskan wong cilik dan Suro Sentiko merupakan gelar Warok setelah tinggal di Ponorogo. selain itu Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro.


Samin adalah pendiri dan pelopor Ajaran Samin yang disebut juga Saminisme. Ajaran saminisme ini mula-mula tidak dilarang oleh Pemerintah kolonial Belanda. Namun ketika pengikutnya bertambah banyak dan Samin diangkat oleh pengikutnya sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam pada tanggal 8 November 1907, maka pemerintah kolonial Belanda menjadi was-was sehingga Samin Surosentiko akhirnya ditangkap dan dipenjara di Nusakambangan sebelum akhirnya dibuang ke Sawahlunto bersama tujuh orang pengikutnya untuk menjadi pekerja paksa di tambang batu bara.

Sumber: Wikipedia

Disarikan oleh : Kang Oc



Lawang Kembar: Kori Paduraksa Masjid Kudus Masjid Menara Kudus memiliki Kori atau Gapura Paduraksa yang berkelindan dengan "bangunan baru" masjid. Terdapat dua kori, satu di serambi luar, dan satu yang ada di bagian dalam, mendekati mihrab. Postingan ini menampilkan foto-foto kori yang ada di dalam. Dua kori inilah yang membuatnya disebut sebagai Lawang Kembar. Ada pula kisah mitologi yang mengatakan bahwa Kori ini dibawa oleh Sunan Kudus dari Majapahit dalam sakunya! "digawa dilebokne sak kiwa tengen." Arsitektural Kori adalah perpaduan bata merah, batu putih, kayu istimewa dan (sepertinya) piring keramik (?). Prasasti yang ada di bagian atas Mihrab menuliskan angka tahun masjid ini 956 H atau 1549 Masehi. Masjid Menara Kudus ini juga diberi nama Masjid Al Aqsha, karena menggunakan batu pertama yang diambil dari Palestina. Masjid ini pernah beberapa kali mengalami perubahan, dikisahkan pada sekitar 1918, bangunan masjid diperluas. Arsitektural Masjid Menara Kudus ini juga mengadaptasi gaya arsitektur bangunan candi, seni bangunan peribadatan (Hindu-Buddha) yang saat itu masih tumbuh dengan baik. Beberapa ukiran geometris pada bata, ukiran sulur vegetasi pada batu putih, serta ukiran pada bagian atas pintu kayunya, mirip dengan apa yang sering kita lihat menghiasi tubuh-tubuh Candi. Saya jadi teringat beberapa masjid di Tuban juga memiliki bangunan lama dari bata & batu putih, di dalam masjid. #antrojalan2 #heritagetripandwrite #mosque #masjid #kudusheritage #masjidmenarakudus #ziarahvisual #demikejayaannusantara

 Lawang Kembar: Kori Paduraksa Masjid Kudus


Masjid Menara Kudus memiliki Kori atau Gapura Paduraksa yang berkelindan dengan "bangunan baru" masjid. Terdapat dua kori, satu di serambi luar, dan satu yang ada di bagian dalam, mendekati mihrab. Postingan ini menampilkan foto-foto kori yang ada di dalam. Dua kori inilah yang membuatnya disebut sebagai Lawang Kembar. Ada pula kisah mitologi yang mengatakan bahwa Kori ini dibawa oleh Sunan Kudus dari Majapahit dalam sakunya! "digawa dilebokne sak kiwa tengen."


Arsitektural Kori adalah perpaduan bata merah, batu putih, kayu istimewa dan (sepertinya) piring keramik (?). Prasasti yang ada di bagian atas Mihrab menuliskan angka tahun masjid ini 956 H atau 1549 Masehi. Masjid Menara Kudus ini juga diberi nama Masjid Al Aqsha, karena menggunakan batu pertama yang diambil dari Palestina. Masjid ini pernah beberapa kali mengalami perubahan, dikisahkan pada sekitar 1918, bangunan masjid diperluas.


Arsitektural Masjid Menara Kudus ini juga mengadaptasi gaya arsitektur bangunan candi, seni bangunan peribadatan (Hindu-Buddha) yang saat itu masih tumbuh dengan baik. Beberapa ukiran geometris pada bata, ukiran sulur vegetasi pada batu putih, serta ukiran pada bagian atas pintu kayunya, mirip dengan apa yang sering kita lihat menghiasi tubuh-tubuh Candi. Saya jadi teringat beberapa masjid di Tuban juga memiliki bangunan lama dari bata & batu putih, di dalam masjid.

Oleh : Transpiosa Riomandha



#antrojalan2 #heritagetripandwrite #mosque #masjid #kudusheritage #masjidmenarakudus #ziarahvisual #demikejayaannusantara

Sebagian kecil bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit yang banyak tersebar di Jawa timur. Bangunan memiliki bermacam fungsi seperti candi utk tempat ibadah, monumen raja, tempat pemandian, benteng/gerbang Istana dll. Sampai saat ini masih banyak bermunculan situs2 bangunan kuno Majapahit yg masih dalam tahap eskavasi, seperti kompleks Istana kumitir & situs tribuana tunggadewi

 Sebagian kecil bangunan peninggalan Kerajaan Majapahit yang banyak tersebar di Jawa timur.


Bangunan memiliki bermacam fungsi seperti candi utk tempat ibadah, monumen raja, tempat pemandian, benteng/gerbang Istana dll.


Sampai saat ini masih banyak bermunculan situs2 bangunan kuno Majapahit yg masih dalam tahap eskavasi, seperti kompleks Istana kumitir & situs tribuana tunggadewi

Oleh : Mirani El Shandha



Bakul Kerupuk

 Bakul Kerupuk



Sinyo sinyo dan nonik Belanda lagi beli minuman di depan Lodji kadipolo (museum solo)sambil nunggu kereta yg dari solo kota (sangkrah) mau ke purwosari 1949 .minumanya Limun DeHoop 😃

 Sinyo sinyo dan nonik Belanda lagi beli minuman di depan Lodji kadipolo (museum solo)sambil nunggu kereta yg dari solo kota (sangkrah) mau ke purwosari 1949 .minumanya Limun DeHoop 



Sejarah Magelang - Atas dulu, Groote Weg, Magelang, 1906 1915. .,. Bawah kini, Jl Ahmad Yani, Magelang, 2023

 Atas dulu, Groote Weg, Magelang, 1906 1915. .,. 

Bawah kini, Jl Ahmad Yani, Magelang, 2023

Oleh : Bintoro Hoepoedio



KERAJAAN MEDANG KAMULAN Mpu Sindok pada abad ke-10.. Ia pun juga dijadikan sebagai raja pertama Medang Kamulan dan memimpin kerajaan selama kurang lebih 20 tahun, yakni mulai 929 M – 949 M. Kala itu, Rakyat Medang Kamulan tersusun dalam sebuah hierarki atau susunan tertentu. Saat itu kebudayaan yang berjalan di sana berkembang dengan baik dan masyarakat juga dibebaskan dari pajak supaya bisa memelihara bangunan suci. Keberadaan dari Kerajaan ini sendiri dibuktikan dengan adanya sejumlah prasasti yang ditemukan di Jawa Timur. Dua di antaranya adalah prasasti Paradah dan Anjuk Ladang yang disebut sebagai peninggalan dari Medang Kamulan yang menunjukkan letak ibu kota kerajaan Medang Kamulan.

 KERAJAAN MEDANG KAMULAN



Mpu Sindok pada abad ke-10.. Ia pun juga dijadikan sebagai raja pertama Medang Kamulan dan memimpin kerajaan selama kurang lebih 20 tahun, yakni mulai 929 M – 949 M.


Kala itu, Rakyat Medang Kamulan tersusun dalam sebuah hierarki atau susunan tertentu. Saat itu kebudayaan yang berjalan di sana berkembang dengan baik dan masyarakat juga dibebaskan dari pajak supaya bisa memelihara bangunan suci. 


Keberadaan dari Kerajaan ini sendiri dibuktikan dengan adanya sejumlah prasasti yang ditemukan di Jawa Timur. Dua di antaranya adalah prasasti Paradah dan Anjuk Ladang yang disebut sebagai peninggalan dari Medang Kamulan yang menunjukkan letak ibu kota kerajaan Medang Kamulan.

27 February 2024

Prairie Style

 Rumah kolonial bertipe Prairi

Oleh : Olivier Johannes



Pada sekitar 1930 lahirlah sejenis tipe rumah kolonial mewah yang modern. Tipe rumah ini terinspirasi dari rumah-rumah bergaya arsitektur Prairie Style di Amerika Serikat bagian Barat Tengah. Gaya rumah itu dijuluki demikian setelah arsitek Frank Lloyd Wright (1867–1959) menerbitkan rencana pembangunan yang disebutnya ‘A House in a Prairie Town’ pada 1901. Berdasarkan desain Wright, dibangunlah sekitar lima puluh rumah bergaya itu pada kurun waktu 1893-1917. Di dunia arsitektur, rumah-rumah berjulukan prairie house itu kemudian akan berstatus legendaris dan memiliki pengaruh besar pada tren-tren arsitektur internasional dalam perjalanan abad kedua puluh.


Pada dekade ketiga abad ke-20, di kawasan pinggiran kota besar di Hindia Belanda banyak dibangun kawasan perumahan elite dengan konsep kota taman, yang mengusung rumah bertipe ini. Sebenarnya tipe prairie house bukanlah langgam arsitektur sendiri, tetapi sebuah tren yang mengabungkan fitur-fitur dari beberapa gaya desain yang beredar pada masanya. Selain inspirasi dari hamparan padang rumput prairi yang luas dan datar, ada pengaruhan kuat dari gaya Art Déco, gaya Modernisme, dan bahkan dari gaya Midcentury Modern yang segera akan datang. Tentu juga, ada adaptasi pada iklim tropis dengan ventilasi alami yang efisien.


Ciri khas tipe rumah tersebut adalah denah berbentuk huruf L, X, atau T, posisi rumah di tengah halaman rumput yang cukup luas, dan atap besar tanpa jendela loteng. Dalam desain rumah sering terlihat permainan dengan garis-garis horisontal yang merupakan salah satu elemen ciri khas gaya Art Déco. Mengikuti arsitektur Modernisme, tipe rumah ini suka menggukanan bahan bangunan yang maju pada zamannya: beton dan kaca, dan menolak ornamen non-fungsional. Sesuai gaya Midcentury Modern, alam terintegrasi dalam rumahnya, dengan dasar dinding bermotif batu hitam dan ‘ruangan luar’ berupa beranda. 


Ciri khas utama:

• Denah asimetris berbentuk huruf L, X, T, atau sejenis

• Posisi rumah di tengah halaman cukup luas

• Teras di salah satu sudut rumah


Ciri khas atap:

• Atap besar tanpa jendela loteng 

• Sudut atap sekitar 30° 

• Atap bagian utama berbentuk piramida atau limas 

• Atap suka bercabang-cabang

• Pinggiran atap dibuat cukup lebar


Ciri khas dinding: 

• Horizontalisme kuat dalam pembagian dinding

• Dinding bagian atas dilapisi plester putih

• Dinding bagian bawah memakai mosaik batu alam hitam

• Banyak jendela

• Pembagian jendela dengan kotak-kotak horizontal

• Deretan lubang panjang lebar untuk ventilasi di atas jendela 


OJR©2023 

Silahkan teman-teman FB membagi foto rumah sejenis dalam koment.  Terima kasih.

Potret laki-laki Atjeh, 1880-1908. koleksi: Tropenmuseum

 Potret laki-laki Atjeh, 1880-1908.



koleksi:

Tropenmuseum

Suasana Muktamar Keempat Nahdlatul Ulama di Semarang, 1929: Bagian Keempat Donasi pelaksanaan kegiatan Muktamar Semarang datang dari berbagai sumber. Tidak hanya dari warga sekitar, bahkan Kiai-kiai yang ada udzur dan tidak hadir ke arena muktamar juga ikut bersedekah demi kelancaran dan kesuksesan acara tahunan kaum sarungan. Kiai (Tuhfatur Rasyid) Hadi Kerto Jogjakarta yang tidak hadir pada muktamar mengirimkan 4 rupiah 45 sen pada panitia. KH. Nahrowi Pujon, Malang, mengirimkan sedekah sejumlah 5 rupiah. Di luar sumbangan atau sedekah yang berasal dari peserta muktamar yang tidak hadir, kesuksesan muktamar Semarang juga didukung oleh donasi yang dikirim oleh para pengusaha yang ada di sekitaran Kauman. Salah satu sumber menyebut nama Haji Hasan Noor dan Kiai Ajub Noor dari Kauman. Mereka mendukung pelaksanaan muktamar dengan memberikan donasi yang tidak sedikit. Nama Kiai Ajoeb dikenal oleh beberapa sesepuh Kauman sekarang. Kiai Ajoeb Noor tinggal di Kampung Butulan, Kauman, Semarang. Beliau memang orang berada. Kiai Ajoeb adalah pemilik losmen atau, seperti yang disebut dalam sebuah surat kabar lokal, Rumah Boro. Alamat Rumah Boro atau Losmen yang dimiliki atau dikelola oleh Kiai Ajoeb ada di Kampung Butulan A VI/140 dan 141. Nama Haji Ajoeb tercatat dalam sebuah koran pernah mengajukan perpanjangan izin untuk usaha Rumah Boronya tersebut kepada College van Burgemeester en Wethouders atau Dewan Pemerintah Daerah Kota. Dalam Lembar Djawa Tengah Edisi Sabtu 24 Desember 1932 diberitakan tentang permohonan izin dari Haji Ajoeb yang dalam berita tersebut ditulis Hadji Ajoeb bin Hadji Denoer. “College van Burgemeester en Wethouders dari Semarang bertaoeken, bahoea oleh toean toean jang namanja tertjatet di bawah ini telah di madjoeken soerat permintahan permisi boeat meneroesken atawa berdiriken peroeSahan peroesahan seperti di bawah: ….. Hadji Ajoeb ben Hadji Denoer, boeat meneroesken roemah boro, di Kaoeman - boetoelan no A VI/140 dan 141” Keterangan Foto: 1. Masjid Kauman (Dokumen KITLV). 2. Pintu masuk menuju Kampung Butulan, Kauman Semarang (tangkapan google map). TKH belum sempat mengambil foto ke Kauman. 3. Pengajuan surat izin perpanjangan dari Hadji Ajoeb bin Hadji Denoer seperti diberitakan Djawa Tengah. 4. Kiai Ayub Noor dicatat sebagai salah satu donatur Muktamar 1929 (Atjeh, 1957)

 Suasana Muktamar Keempat Nahdlatul Ulama di Semarang, 1929: Bagian Keempat


Donasi pelaksanaan kegiatan Muktamar Semarang datang dari berbagai sumber. Tidak hanya dari warga sekitar, bahkan Kiai-kiai yang ada udzur dan tidak hadir ke arena muktamar juga ikut bersedekah demi kelancaran dan kesuksesan acara tahunan kaum sarungan. 


Kiai (Tuhfatur Rasyid) Hadi Kerto Jogjakarta yang tidak hadir pada muktamar mengirimkan 4 rupiah 45 sen pada panitia. KH. Nahrowi Pujon, Malang, mengirimkan sedekah sejumlah 5 rupiah. 


Di luar sumbangan atau sedekah yang berasal dari peserta muktamar yang tidak hadir, kesuksesan muktamar Semarang juga didukung oleh donasi yang dikirim oleh para pengusaha yang ada di sekitaran Kauman. 


Salah satu sumber menyebut nama Haji Hasan Noor dan Kiai Ajub Noor dari Kauman. Mereka mendukung pelaksanaan muktamar dengan memberikan donasi yang tidak sedikit. 


Nama Kiai Ajoeb dikenal oleh beberapa sesepuh Kauman sekarang. Kiai Ajoeb Noor tinggal di Kampung Butulan, Kauman, Semarang. Beliau memang orang berada. Kiai Ajoeb adalah pemilik losmen atau, seperti yang disebut dalam sebuah surat kabar lokal, Rumah Boro. 


Alamat Rumah Boro atau Losmen yang dimiliki atau dikelola oleh Kiai Ajoeb ada di Kampung Butulan A VI/140 dan 141. Nama Haji Ajoeb tercatat dalam sebuah koran pernah mengajukan perpanjangan izin untuk usaha Rumah Boronya tersebut kepada College van Burgemeester en Wethouders atau Dewan Pemerintah Daerah Kota. 


Dalam Lembar Djawa Tengah Edisi Sabtu 24 Desember 1932 diberitakan tentang permohonan izin dari Haji Ajoeb yang dalam berita tersebut ditulis Hadji Ajoeb bin Hadji Denoer. 


“College van Burgemeester en Wethouders dari Semarang bertaoeken, bahoea oleh toean toean jang namanja tertjatet di bawah ini telah di madjoeken soerat permintahan permisi boeat meneroesken atawa berdiriken peroeSahan peroesahan seperti di bawah:


…..


Hadji Ajoeb ben Hadji Denoer, boeat meneroesken roemah boro, di Kaoeman - boetoelan no A VI/140 dan 141”


Keterangan Foto:



1. Masjid Kauman (Dokumen KITLV).

2. Pintu masuk menuju Kampung Butulan, Kauman Semarang (tangkapan google map). TKH belum sempat mengambil foto ke Kauman.

3. Pengajuan surat izin perpanjangan dari Hadji Ajoeb bin Hadji Denoer seperti diberitakan Djawa Tengah.

4. Kiai Ayub Noor dicatat sebagai salah satu donatur Muktamar 1929 (Atjeh, 1957)

Pejuang dari sisi Kepandaian Bertata bahasa dan berdiplomasi serta pengetahuan ketata negaraan. Keikhlasan para pejuang negri Republik Indonesia.. 18 August 1945 meeting of the Preparatory Committee for Indonesian Independence. Bahasa Indonesia: Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tangal 18 Augustus 1945

 Pejuang dari sisi Kepandaian Bertata bahasa dan berdiplomasi serta pengetahuan ketata negaraan. Keikhlasan para pejuang negri Republik Indonesia.. 

18 August 1945 meeting of the Preparatory Committee for Indonesian Independence. Bahasa Indonesia: Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tangal 18 Augustus 1945



Perjudian Jadi Permainan Favorit Masyarakat Sejarah Yunani Kuno ________________________________________________ Perjudian salah satu kebiasaan buruk paling umum di dunia. Judi juga memiliki sejarah panjang dalam sejarah Yunani kuno. Sudah ada sejak zaman dulu, catatan orang Yunani kuno bermain dadu dan permainan berbasis keberuntungan lainnya ditemukan di seluruh literatur kuno. Bahkan termasuk dalam karya Homer, penyair Yunani kuno paling terkenal dalam sejarah. Bentuk perjudian yang paling umum dan populer di Yunani melibatkan berbagai permainan dadu. Seperti di banyak kebudayaan kuno, seperti Iran, Mesir, dan India, dadu Yunani paling awal sebenarnya terbuat dari tulang binatang, yang disebut tulang buku jari, atau “astragaloi” dalam bahasa Yunani. Berjudi adalah hiburan favorit di Yunani dan Romawi kuno. Orang Yunani kuno memainkan nilai numerik pada keempat sisi bidak, seperti dadu modern. Orang Yunani dan Romawi kuno juga mulai membentuk dadu kubik dari tanah liat pada zaman kuno. Ini sangat mirip dengan dadu kontemporer. Meskipun aturan dari banyak permainan kuno ini telah hilang seiring berjalannya waktu, para sarjana mampu menebak dan memperkirakan beberapa aturan berdasarkan sumber-sumber kuno. Elemen terkenal dari permainan dadu yang dimainkan pertama kali di Yunani kuno dan kemudian di Roma disebut “lemparan Aphrodite”, yang melibatkan pelemparan empat tulang buku jari sekaligus. Jika keempatnya mendarat pada nomor yang berbeda, maka hasil tersebut dianggap sebagai hasil terbaik dan disebut “lemparan Aphrodite”. Dalam permainan dadu yang paling sederhana, kelompok akan melempar dadu dan bertaruh pada hasilnya, dengan harapan mendapatkan lemparan terbaik. Menurut penulis Romawi kuno Suetonius, Kaisar Augustus sangat menikmati perjudian dengan tulang buku jari. Selain untuk perjudian, tulang buku jari mungkin juga digunakan untuk ramalan di Yunani kuno. Berjudi dan melempar dadu juga merupakan hobi favorit para dewa Olympian, sebagaimana disebutkan dalam sejumlah mitos. Menurut berbagai versi kisah tersebut, saudara laki-laki Zeus, Hades, dan Poseidon memainkan permainan dadu untuk memutuskan siapa yang akan memerintah alam semesta mana. Praktek Perjudian Ditemukan di Seluruh Dunia Dorongan umat manusia untuk berjudi telah tercatat di seluruh dunia sepanjang sejarah. Sisa-sisa potongan seperti dadu telah ditemukan di hampir setiap peradaban kuno, dan aturan yang diberlakukan untuk mengatur praktik ini telah tercatat selama ribuan tahun. Bentuk perjudian modern dapat ditelusuri kembali ke banyak budaya kuno, mulai dari Tiongkok hingga Mesir dan seterusnya. Namun, kenyataannya Yunani kuno memainkan peran lebih besar dalam perkembangan bentuk perjudian modern dibandingkan kebanyakan tempat lain. Dalam sejarah Yunani Kuno, permainan judi memiliki cara mereka sendiri untuk memasang taruhan. Permainan judi berdasarkan pelemparan dadu dan pelemparan koin telah disebutkan dalam beberapa buku dan cerita Yunani kuno. Beberapa sumber menyatakan bahwa permainan poker mungkin juga dimulai di sini, meskipun sumber lain berpendapat bahwa permainan ini pertama kali dimainkan di Tiongkok atau Persia. Yang tidak dapat dimungkiri adalah bahwa perjudian sangat populer dalam budaya ini, dengan adanya tempat-tempat khusus para penjudi dapat pergi untuk memasang taruhan. Kita juga bisa melihatnya di patung dan lukisan, tempat orang-orang bertaruh pada pertarungan dan balapan. Namun, beberapa filsuf Yunani menentang perjudian dan berpendapat bahwa perjudian akan merusak peradaban jika dibiarkan. Beberapa Permainan Yunani Paling Populer Salah satu permainan yang sering disebut-sebut populer pada zaman dahulu di Yunani adalah Heads and Tails. Ini pertama kali dimainkan dengan cangkang, sebelum diperkenalkannya koin membuatnya lebih mudah untuk bertaruh pada sisi mana yang akan menghadap ke atas. Permainan yang paling sederhana adalah permainan yang disebut Par Impar Ludere. Satu pemain akan memegang sekumpulan benda kecil di satu tangan dan pemain lainnya harus menebak apakah jumlah benda tersebut ganjil atau genap. Perjudian Modern di Yunani Jika mempercepat waktu hingga saat ini, sebagian perjudian di Yunani legal. Kota-kota besar cenderung memiliki sedikit kasino di dalamnya, sementara pulau-pulau yang populer di kalangan wisatawan juga menawarkan kasino kepada pengunjung. Di antara kasino paling terkenal di negara ini adalah Kasino Mont Parnes Regency di Athena. Ini berasal dari tahun 1960-an dan terletak di Hutan Nasional Parnitha. Sebuah tengara mewah di ibu kota, ini adalah kasino penuh gaya dengan banyak cara perjudian yang berbeda. Kasino tertua di Yunani dibangun di Loutraki pada awal abad ke-20. Sebagian besar kasino modern di sini adalah tempat yang mewah dan eksklusif tempat pemain dapat bertaruh dengan nyaman. Komisi Perjudian Yunani mengontrol taruhan di negara tersebut, sementara pemain di Yunani dapat dengan mudah dan aman mengakses sejumlah besar kasino daring dan situs taruhan olahraga dari operator asing. Artinya saat ini orang dapat bertaruh pada taruhan sepak bola, tenis, dan bola basket secara daring. Namun hal ini masih berada di area abu-abu, karena regulator Yunani dengan negara lainnya mempunyai pendapat berbeda mengenai legalitas perjudian daring.

 Perjudian Jadi Permainan Favorit Masyarakat Sejarah Yunani Kuno

________________________________________________



Perjudian salah satu kebiasaan buruk paling umum di dunia. Judi juga memiliki sejarah panjang dalam sejarah Yunani kuno. 


Sudah ada sejak zaman dulu, catatan orang Yunani kuno bermain dadu dan permainan berbasis keberuntungan lainnya ditemukan di seluruh literatur kuno. Bahkan termasuk dalam karya Homer, penyair Yunani kuno paling terkenal dalam sejarah.


Bentuk perjudian yang paling umum dan populer di Yunani melibatkan berbagai permainan dadu.


Seperti di banyak kebudayaan kuno, seperti Iran, Mesir, dan India, dadu Yunani paling awal sebenarnya terbuat dari tulang binatang, yang disebut tulang buku jari, atau “astragaloi” dalam bahasa Yunani.


Berjudi adalah hiburan favorit di Yunani dan Romawi kuno. Orang Yunani kuno memainkan nilai numerik pada keempat sisi bidak, seperti dadu modern.


Orang Yunani dan Romawi kuno juga mulai membentuk dadu kubik dari tanah liat pada zaman kuno. Ini sangat mirip dengan dadu kontemporer.


Meskipun aturan dari banyak permainan kuno ini telah hilang seiring berjalannya waktu, para sarjana mampu menebak dan memperkirakan beberapa aturan berdasarkan sumber-sumber kuno.


Elemen terkenal dari permainan dadu yang dimainkan pertama kali di Yunani kuno dan kemudian di Roma disebut “lemparan Aphrodite”, yang melibatkan pelemparan empat tulang buku jari sekaligus.


Jika keempatnya mendarat pada nomor yang berbeda, maka hasil tersebut dianggap sebagai hasil terbaik dan disebut “lemparan Aphrodite”.


Dalam permainan dadu yang paling sederhana, kelompok akan melempar dadu dan bertaruh pada hasilnya, dengan harapan mendapatkan lemparan terbaik.


Menurut penulis Romawi kuno Suetonius, Kaisar Augustus sangat menikmati perjudian dengan tulang buku jari.


Selain untuk perjudian, tulang buku jari mungkin juga digunakan untuk ramalan di Yunani kuno.


Berjudi dan melempar dadu juga merupakan hobi favorit para dewa Olympian, sebagaimana disebutkan dalam sejumlah mitos.


Menurut berbagai versi kisah tersebut, saudara laki-laki Zeus, Hades, dan Poseidon memainkan permainan dadu untuk memutuskan siapa yang akan memerintah alam semesta mana.


Praktek Perjudian Ditemukan di Seluruh Dunia


Dorongan umat manusia untuk berjudi telah tercatat di seluruh dunia sepanjang sejarah.

Sisa-sisa potongan seperti dadu telah ditemukan di hampir setiap peradaban kuno, dan aturan yang diberlakukan untuk mengatur praktik ini telah tercatat selama ribuan tahun. 


Bentuk perjudian modern dapat ditelusuri kembali ke banyak budaya kuno, mulai dari Tiongkok hingga Mesir dan seterusnya.


Namun, kenyataannya Yunani kuno memainkan peran lebih besar dalam perkembangan bentuk perjudian modern dibandingkan kebanyakan tempat lain. Dalam sejarah Yunani Kuno, permainan judi memiliki cara mereka sendiri untuk memasang taruhan. Permainan judi berdasarkan pelemparan dadu dan pelemparan koin telah disebutkan dalam beberapa buku dan cerita Yunani kuno.


Beberapa sumber menyatakan bahwa permainan poker mungkin juga dimulai di sini, meskipun sumber lain berpendapat bahwa permainan ini pertama kali dimainkan di Tiongkok atau Persia. 


Yang tidak dapat dimungkiri adalah bahwa perjudian sangat populer dalam budaya ini, dengan adanya tempat-tempat khusus para penjudi dapat pergi untuk memasang taruhan. Kita juga bisa melihatnya di patung dan lukisan, tempat orang-orang bertaruh pada pertarungan dan balapan.


Namun, beberapa filsuf Yunani menentang perjudian dan berpendapat bahwa perjudian akan merusak peradaban jika dibiarkan. Beberapa Permainan Yunani Paling Populer 


Salah satu permainan yang sering disebut-sebut populer pada zaman dahulu di Yunani adalah Heads and Tails. Ini pertama kali dimainkan dengan cangkang, sebelum diperkenalkannya koin membuatnya lebih mudah untuk bertaruh pada sisi mana yang akan menghadap ke atas.


Permainan yang paling sederhana adalah permainan yang disebut Par Impar Ludere. Satu pemain akan memegang sekumpulan benda kecil di satu tangan dan pemain lainnya harus menebak apakah jumlah benda tersebut ganjil atau genap.


Perjudian Modern di Yunani


Jika mempercepat waktu hingga saat ini, sebagian perjudian di Yunani legal. Kota-kota besar cenderung memiliki sedikit kasino di dalamnya, sementara pulau-pulau yang populer di kalangan wisatawan juga menawarkan kasino kepada pengunjung.


Di antara kasino paling terkenal di negara ini adalah Kasino Mont Parnes Regency di Athena. Ini berasal dari tahun 1960-an dan terletak di Hutan Nasional Parnitha. Sebuah tengara mewah di ibu kota, ini adalah kasino penuh gaya dengan banyak cara perjudian yang berbeda.


Kasino tertua di Yunani dibangun di Loutraki pada awal abad ke-20. Sebagian besar kasino modern di sini adalah tempat yang mewah dan eksklusif tempat pemain dapat bertaruh dengan nyaman.  


Komisi Perjudian Yunani mengontrol taruhan di negara tersebut, sementara pemain di Yunani dapat dengan mudah dan aman mengakses sejumlah besar kasino daring dan situs taruhan olahraga dari operator asing. Artinya saat ini orang dapat bertaruh pada taruhan sepak bola, tenis, dan bola basket secara daring.


Namun hal ini masih berada di area abu-abu, karena regulator Yunani dengan negara lainnya mempunyai pendapat berbeda mengenai legalitas perjudian daring.

Sejarah pemetaan di Indonesia. -------------------------------------------------- dimulai sejak 8 Abad yang lalu yaitu saat pemerintahan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1292 M. Ditemukan bukti adanya peta administratif pada masa pemerintahan Raden Wijaya. Dalam artikel tulisan C.J Zandvliet pada Holland Horizon Volume 6 Nomor 1 Tahun 1944, yang isinya “Pada catatan sejarah Cina yang disusun pada tahun 1369 M dan 1370 M ditulis bahwa pada penyerbuan tentara Yuan ke Jawa tahun 1292-1293 M, Raden Wijaya menyerahkan peta administratif Kerajaan Kediri kepada penyerbu sebagai tanda menyerah”. Setelah pembuatan peta navigasi pertama oleh Laksamana Cheng Ho, pada abad 15 bersamaan saat Portugis melakukan ekspedisi mencari rempah-rempah ke Pulau Jawa dan Kepulauan Maluku, seorang kartografer yang ikut ekspedisi yaitu Francisco Rodrigues membuat peta perairan dan kepulauan yang dikunjungi. Pada tahun 1540 tercatat dua bangsa Jerman yaitu Sebastian Münster (1488-1550) seorang kosmografer dan pembuat karya geografi ilustrasi paling popular abad 16 bersama pelukis dan pembuat cetakan yaitu Hans Holbein the Younger (1497-1543) mempublikasikan pertama kali Peta Sumatera (Taprobana) termasuk didalamnya Java Minor sebagai Borneo yang terletak di utara Jawa ( Java Mayor). Selanjutnya, pada tahun 1548, bangsa Italia yaitu Cornelio Castaldi dan Girolamo Ramusio juga mempublikasikan peta Borneo yang posisinya lebih mendekati kebenaran dibandingkan peta Java Minor yang dibuat oleh Münster. Pada tahun 1561 terbit peta Pulau Jawa yang dikenal Java Insula buah karya Johannes Honter asal Hongaria dan Kronstad asal Norwegia. sumber http://saig.upi.edu/sejarah-perpetaan-di-indonesia/ https://www.facebook.com/100065726970145/posts/574286581438903/?app=fbl

 Sejarah pemetaan di Indonesia.

-------------------------------------------------- 

dimulai sejak 8 Abad yang lalu yaitu saat pemerintahan Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1292 M. Ditemukan bukti adanya peta administratif pada masa pemerintahan Raden Wijaya. Dalam artikel tulisan C.J Zandvliet pada Holland Horizon Volume 6 Nomor 1 Tahun 1944, yang isinya “Pada catatan sejarah Cina yang disusun pada tahun 1369 M dan 1370 M ditulis bahwa pada penyerbuan tentara Yuan ke Jawa tahun 1292-1293 M, Raden  Wijaya menyerahkan peta administratif Kerajaan Kediri kepada penyerbu sebagai tanda menyerah”.



Setelah pembuatan peta navigasi pertama oleh Laksamana Cheng Ho, pada abad 15 bersamaan saat Portugis melakukan ekspedisi mencari rempah-rempah ke Pulau Jawa dan Kepulauan Maluku, seorang kartografer yang ikut ekspedisi yaitu Francisco Rodrigues membuat peta perairan dan kepulauan yang dikunjungi.


Pada tahun 1540 tercatat dua bangsa Jerman yaitu Sebastian Münster (1488-1550) seorang kosmografer dan pembuat karya geografi ilustrasi paling popular abad 16 bersama pelukis dan pembuat cetakan yaitu Hans Holbein the Younger (1497-1543) mempublikasikan pertama kali Peta Sumatera (Taprobana) termasuk didalamnya Java Minor sebagai Borneo yang terletak di utara Jawa ( Java Mayor).


Selanjutnya, pada tahun 1548, bangsa Italia yaitu Cornelio Castaldi dan Girolamo Ramusio juga mempublikasikan peta Borneo yang posisinya lebih mendekati kebenaran dibandingkan peta Java Minor yang dibuat oleh Münster.  Pada tahun 1561 terbit peta Pulau Jawa yang dikenal Java Insula buah karya Johannes Honter asal Hongaria dan Kronstad asal Norwegia.


sumber http://saig.upi.edu/sejarah-perpetaan-di-indonesia/

https://www.facebook.com/100065726970145/posts/574286581438903/?app=fbl

* PRASASTI KEPING TEMBAGA LAGUNA FILIPINA, BUKTI HEGEMONI KADATWAN MDANG RI BHUMI MATARAM DI FILIPINA * (Angka tahun pada prasasti Keping Tembaga Laguna Filipina terbaca tanggal 21 April 900 Masehi). 1. ALIH AKSARA PRASASTI. ``... swasti shaka warsa Tita masa di [ng] jyotisa, caturthi krisna paksa soma wara sana tatkala dayang angkatan lawan dengannya sanak barngaran si bukah anak da dang hwan namwaran dibari waradana wi shuddhapatra ulih sang pamegat senapati di tundung barja[di] dang hwan nayaka tuhan pailah jayadewa. dikrama dang hwan namwaran dengan dang kayastha shuddhanu diparlappas hutang da walenda kati 1 suwarna 8 di hadapan dang hwan nayaka tuhan puliran kasumuran dang hwan nayaka tuhan pailah barjadi ganashakti dang hwan nayaka tuhan binwangan barjadi bishruta tathapi sadana sanak kapawaris ulih sang pamegat dewata [ba]rjadi sang pamegat medang dari bhaktinda diparhulun sang pamegat ya makanya seadanya anak cucu dang hwan namwaran suddha ya kapawaris di hutang da dang hwan namwaran di sang pamegat dewata. ini grang syat syapanta ha pashkat ding ari kamudyan ada grang urang barujara welung lappas hutang da dang.... `` 2. TERJEMAHAN PRASASTI. ^^.... Selamat. Tahun Saka 822 Bulan (Maret-April) menurut penanggalan hari keempat setelah bulan mati, Senin (21 April 900 M). Pada saat ini 𝘿𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣 (seorang wanita?) dan saudaranya bernama 𝙎𝙞 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙝; Anak-anak dari Sang Tuan 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 diberikan sebuah piagam pengampunan (𝙨𝙝𝙪𝙙𝙙𝙝𝙖𝙥𝙖𝙩𝙧𝙖) penuh dari sang pemegang pimpinan di 𝙏𝙪𝙣𝙙𝙪𝙣, digantikan oleh Sang Tuan 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 dari 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝; 𝙅𝙖𝙮𝙖𝙙𝙚𝙬𝙖. Atas perintahnya; secara tertulis Sang Tuan 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 telah dimaafkan sepenuhnya dan dibebaskan dari 𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣𝙜-𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖, sebanyak satu 𝙠𝙖𝙩𝙞 dan delapan 𝙎𝙪𝙬𝙖𝙧𝙣𝙖 ( = 865 grm) di hadapan Sang Tuan 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙨𝙪𝙢𝙪𝙧𝙖𝙣 di bawah petunjuk dari Sang Tuan 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 di 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝. Oleh karena kesetiannya dalam berbakti; Sang Tuan yang termahsyur dari 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣, mengakui semua kerabat 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 yang masih hidup yang telah diakui oleh Sang Penguasa (𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩) 𝘿𝙚𝙬𝙖𝙩𝙖 yang digantikan oleh Sang Penguasa (𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩) 𝙈𝙀𝘿𝘼𝙉𝙂 (Mataram Kuna). Oleh sebab itu seluruh anak cucu Sang Tuan 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 sudah dimaafkan dari segala hutang Sang Tuan 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 kepada Sang Penguasa (𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩) 𝘿𝙚𝙬𝙖𝙩𝙖. (Pernyataan ini), dengan demikian menjelaskan kepada siapapun setelahnya, bahwa jika di masa depan benar orang yang mengatakan belum bebas sama sekali hutangnya Sang Tuan..........^^ 3. IKHTISAR. Dari uraian isi Prasasti Keping Tembaga Laguna (21 April 900 Masehi) tersebut di atas maka dapat diketahui adanya beberapa hal yaitu : Terdapat penyebutan nama - nama tempat seperti : • 𝙏𝙪𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜 • 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝 • 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣 • 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 • 𝙈𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 (Mataram Kuna). Nama tempat 𝙏𝙤𝙣𝙙𝙤 dan 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖 ( berada di Barang Bay, San Lorenzo, Norzaga Raya, Filipina), 𝘽𝙪𝙣𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 ( terdapat di Obando, Filipina), 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙡𝙖𝙣 (?), 𝙈𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 / Mataram Kuna (Kadatwan Mdang ri Bhumi Mataram di Jawa). Dari penyebutan beberapa nama tempat seperti : 𝙏𝙪𝙣𝙙𝙪𝙣 ( = 𝙏𝙤𝙣𝙙𝙤), 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝 ( = 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖), 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣 ( = 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙡𝙖𝙣), 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 ( = 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣), dimana tempat - tempat yang disebutkan di atas hingga saat ini beberapa masih diketemukan di Filipina. Sedangkan kata 𝙈𝙀𝘿𝘼𝙉𝙂 (Mdang ri Bhumi Mataram) yang mengikuti nama sebuah jabatan pejabat Kerajaan Medang (Mataram Kuna), yang tentunya terdapat di Jawa. Nama tokoh 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 (mendiang ? ) yang memiliki hutang emas kira - kira seberat 865 gram kemudian dibebaskan dari hutangnya ( 𝙙𝙞𝙥𝙖𝙧𝙡𝙖𝙥𝙥𝙖𝙨 𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣𝙜) dengan diberi piagam penetapan pengampunan penuh (𝙨𝙝𝙪𝙙𝙙𝙝𝙖𝙥𝙖𝙩𝙧𝙖) oleh seorang pejabat daerah (𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖𝙩𝙞) di 𝙏𝙪𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜. Penggantinya bernama 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 di 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝, bernama 𝙅𝙖𝙮𝙖𝙙𝙚𝙬𝙖 dengan mengajak anak - anak 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙢, yaitu 𝘿𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣 (perempuan ?) dan 𝙨𝙞 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙝 mengajukan banding untuk memperkuat penetapan pembebasan (𝙙𝙞𝙥𝙖𝙧𝙡𝙖𝙥𝙥𝙖𝙨 𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣𝙜 ) sebelumnya di hadapan 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 di 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣; yaitu 𝙆𝙖𝙨𝙪𝙢𝙪𝙧𝙖𝙣, dan selanjutnya diperkuat oleh 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 di 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣. Sebagai klimaksnya banding penetapan bagi pembebasan hutang emas bagi seluruh anak cucu (𝙨𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙘𝙪𝙘𝙪) dan seluruh keturunan (𝙨𝙪𝙙𝙙𝙝𝙖 𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙥𝙖𝙬𝙖𝙧𝙞𝙨) 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣. Selanjutnya keputusan banding tersebut diperkuat (𝙗𝙖𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞) oleh 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩 𝘿𝙚𝙬𝙖𝙩𝙖 dan lalu terakhir ditingkat yg lebih tinggi lagi oleh 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩 𝙈𝙀𝘿𝘼𝙉𝙂. Adanya penyebutan nama Pejabat Kerajaan seperti 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 dan 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩 ( = pejabat pemutus perkara semacam hakim pengadilan), yang umumnya kerap kali di dapati di dalam prasasti - prasasti Raja - Raja Mataram Kuna di Jawa Abad IX - X M dst. Demikian pula dalam penggunaan manggala prasasti yg menguraikan tarikh Saka ^^.... 𝙨𝙬𝙖𝙨𝙩𝙞. 822 𝙨𝙖𝙠𝙖 𝙬𝙖𝙧𝙨𝙖𝙩𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙞 [𝙣𝙜]𝙟𝙮𝙤𝙨𝙩𝙞𝙨𝙖, 𝙘𝙖𝙩𝙪𝙧𝙩𝙝𝙞 𝙠𝙧𝙞𝙨𝙣𝙖 𝙥𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙨𝙤𝙢𝙖𝙬𝙖𝙧𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙖... ^^ yang dikonversi menjadi tahun 21 April 900 Masehi. Dalam penggunaan Aksara penulisan prasasti menggunakan 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 𝙅𝙖𝙬𝙖 𝙆𝙪𝙣𝙖, sangat erat kaitannya dengan besarnya pengaruh Jawa Kuna pada awal Abad ke - X Masehi di era kejayaan Kerajaan Mataram Kuna. Adanya penyebutan nama warga di kalangan rakyat jelata yaitu 𝙨𝙞 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙝 juga sudah umum kita dapati di dalam isi prasasti - prasasti di Jawa Abad ke IX-X M dst (di era kejayaan Kerajaan Mataram Kuna).

 * PRASASTI KEPING TEMBAGA LAGUNA FILIPINA, BUKTI HEGEMONI KADATWAN MDANG RI BHUMI MATARAM DI FILIPINA *



(Angka tahun pada prasasti Keping Tembaga Laguna Filipina terbaca tanggal 21 April 900 Masehi).


1. ALIH AKSARA PRASASTI.


``... swasti shaka warsa Tita masa di [ng] jyotisa, caturthi krisna paksa soma wara sana


tatkala dayang angkatan lawan dengannya sanak barngaran si bukah anak da

dang hwan namwaran dibari waradana wi shuddhapatra ulih sang pamegat senapati di tundung barja[di] dang hwan nayaka tuhan pailah jayadewa. 


dikrama dang hwan namwaran dengan dang kayastha shuddhanu diparlappas hutang da walenda kati 1 suwarna 8 di hadapan dang hwan nayaka tuhan puliran kasumuran dang hwan nayaka tuhan pailah barjadi ganashakti dang hwan nayaka tuhan binwangan barjadi bishruta tathapi sadana sanak kapawaris ulih sang pamegat dewata [ba]rjadi sang pamegat medang

dari bhaktinda diparhulun sang pamegat


ya makanya seadanya anak cucu dang hwan namwaran suddha ya kapawaris di hutang da dang hwan namwaran di sang pamegat dewata. 


ini grang syat syapanta ha pashkat ding ari kamudyan ada grang urang barujara welung

lappas hutang da dang.... ``


2. TERJEMAHAN PRASASTI.


^^.... Selamat. Tahun Saka 822 Bulan  (Maret-April) menurut penanggalan hari keempat setelah bulan mati, Senin (21 April 900 M). 


Pada saat ini 𝘿𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣 (seorang wanita?)  dan saudaranya bernama 𝙎𝙞 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙝; Anak-anak dari Sang Tuan 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 diberikan sebuah piagam pengampunan

(𝙨𝙝𝙪𝙙𝙙𝙝𝙖𝙥𝙖𝙩𝙧𝙖) penuh dari sang pemegang pimpinan di 𝙏𝙪𝙣𝙙𝙪𝙣, digantikan oleh Sang Tuan 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 dari 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝; 𝙅𝙖𝙮𝙖𝙙𝙚𝙬𝙖. 


Atas perintahnya; secara tertulis Sang Tuan 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 telah dimaafkan sepenuhnya dan dibebaskan dari 𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣𝙜-𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖, sebanyak satu 𝙠𝙖𝙩𝙞 dan delapan 𝙎𝙪𝙬𝙖𝙧𝙣𝙖 ( = 865 grm) di hadapan Sang Tuan 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙨𝙪𝙢𝙪𝙧𝙖𝙣 di bawah petunjuk dari Sang Tuan 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 di 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝. 


Oleh karena kesetiannya dalam berbakti; Sang Tuan yang termahsyur dari 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣, mengakui semua kerabat 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 yang masih hidup yang telah diakui oleh Sang Penguasa (𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩) 𝘿𝙚𝙬𝙖𝙩𝙖 yang digantikan oleh Sang Penguasa (𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩) 𝙈𝙀𝘿𝘼𝙉𝙂 (Mataram Kuna). 


Oleh sebab itu seluruh anak cucu Sang Tuan 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣

sudah dimaafkan dari segala hutang Sang Tuan 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 kepada Sang Penguasa (𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩) 𝘿𝙚𝙬𝙖𝙩𝙖. 


(Pernyataan ini), dengan demikian menjelaskan kepada siapapun setelahnya, bahwa jika di masa depan benar orang yang mengatakan belum bebas sama sekali hutangnya Sang Tuan..........^^


3. IKHTISAR.


       Dari uraian isi Prasasti Keping Tembaga Laguna (21 April 900 Masehi) tersebut di atas maka dapat diketahui adanya beberapa hal yaitu :


Terdapat penyebutan nama - nama tempat seperti : 


• 𝙏𝙪𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜

• 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝

• 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣

• 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣

• 𝙈𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 (Mataram Kuna). 


       Nama tempat 𝙏𝙤𝙣𝙙𝙤  dan 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖 ( berada di Barang Bay, San Lorenzo, Norzaga Raya, Filipina), 𝘽𝙪𝙣𝙪𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 ( terdapat di Obando, Filipina), 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙡𝙖𝙣 (?),  𝙈𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 / Mataram Kuna

(Kadatwan Mdang ri Bhumi Mataram di Jawa).


       Dari penyebutan beberapa nama tempat seperti : 𝙏𝙪𝙣𝙙𝙪𝙣 ( = 𝙏𝙤𝙣𝙙𝙤), 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝 ( = 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖), 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣 ( = 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙡𝙖𝙣), 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 ( = 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣), 

dimana tempat - tempat yang disebutkan di atas hingga saat ini beberapa masih diketemukan di Filipina.


Sedangkan kata 𝙈𝙀𝘿𝘼𝙉𝙂 (Mdang ri Bhumi Mataram) yang mengikuti nama sebuah jabatan pejabat Kerajaan Medang (Mataram Kuna), yang tentunya terdapat di Jawa.


       

       Nama tokoh 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣 (mendiang  ? ) yang memiliki hutang emas kira - kira seberat 865 gram kemudian dibebaskan dari hutangnya ( 𝙙𝙞𝙥𝙖𝙧𝙡𝙖𝙥𝙥𝙖𝙨 𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣𝙜) dengan diberi piagam penetapan pengampunan penuh (𝙨𝙝𝙪𝙙𝙙𝙝𝙖𝙥𝙖𝙩𝙧𝙖) oleh seorang pejabat daerah (𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖𝙩𝙞) di

𝙏𝙪𝙣𝙙𝙪𝙣𝙜. 


       Penggantinya bernama 

𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 di 𝙋𝙖𝙞𝙡𝙖𝙝, bernama 𝙅𝙖𝙮𝙖𝙙𝙚𝙬𝙖 dengan mengajak anak - anak 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙢, yaitu 𝘿𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜 𝘼𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣 (perempuan  ?) dan 𝙨𝙞 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙝

mengajukan banding untuk memperkuat penetapan pembebasan (𝙙𝙞𝙥𝙖𝙧𝙡𝙖𝙥𝙥𝙖𝙨 𝙝𝙪𝙩𝙖𝙣𝙜 ) sebelumnya di hadapan 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 di 𝙋𝙪𝙡𝙞𝙧𝙖𝙣; yaitu 𝙆𝙖𝙨𝙪𝙢𝙪𝙧𝙖𝙣, dan selanjutnya 

diperkuat oleh 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 di 𝘽𝙞𝙣𝙬𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣. 

       Sebagai klimaksnya banding penetapan bagi pembebasan hutang emas bagi seluruh anak cucu (𝙨𝙖𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙘𝙪𝙘𝙪) dan seluruh keturunan (𝙨𝙪𝙙𝙙𝙝𝙖 𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙥𝙖𝙬𝙖𝙧𝙞𝙨) 𝘿𝙖𝙣𝙜 𝙃𝙬𝙖𝙣 𝙉𝙖𝙢𝙬𝙖𝙧𝙖𝙣. 

       Selanjutnya keputusan banding tersebut diperkuat (𝙗𝙖𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞) oleh 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩 𝘿𝙚𝙬𝙖𝙩𝙖 dan lalu terakhir ditingkat yg lebih tinggi lagi oleh 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩 𝙈𝙀𝘿𝘼𝙉𝙂.

       

       Adanya penyebutan nama Pejabat Kerajaan  seperti 𝙉𝙖𝙮𝙖𝙠𝙖 dan 𝙎𝙖𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙢𝙚𝙜𝙖𝙩 ( = pejabat pemutus perkara semacam hakim pengadilan), yang umumnya kerap kali di dapati di dalam prasasti - prasasti Raja - Raja Mataram Kuna di Jawa Abad IX - X M dst. 


       Demikian pula dalam penggunaan manggala prasasti yg menguraikan tarikh Saka ^^.... 𝙨𝙬𝙖𝙨𝙩𝙞. 822 𝙨𝙖𝙠𝙖 𝙬𝙖𝙧𝙨𝙖𝙩𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖 𝙙𝙞 [𝙣𝙜]𝙟𝙮𝙤𝙨𝙩𝙞𝙨𝙖, 𝙘𝙖𝙩𝙪𝙧𝙩𝙝𝙞 𝙠𝙧𝙞𝙨𝙣𝙖 𝙥𝙖𝙠𝙨𝙖 𝙨𝙤𝙢𝙖𝙬𝙖𝙧𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙖... ^^

yang dikonversi menjadi tahun 21 April 900 Masehi. 

       Dalam penggunaan Aksara penulisan prasasti menggunakan 𝘼𝙠𝙨𝙖𝙧𝙖 𝙅𝙖𝙬𝙖 𝙆𝙪𝙣𝙖, sangat erat kaitannya dengan besarnya pengaruh Jawa Kuna pada awal Abad ke - X Masehi di era kejayaan Kerajaan Mataram Kuna.

      Adanya penyebutan nama warga di kalangan rakyat jelata yaitu 𝙨𝙞 𝘽𝙪𝙠𝙖𝙝 juga sudah umum kita dapati di dalam isi prasasti - prasasti di Jawa Abad ke IX-X M dst (di era kejayaan Kerajaan Mataram Kuna).

Istana Bogor

 Istana gubernur jendral Belanda di Buitenzorg (istana Bogor) ca 1930.



KITLV

Raden Wijaya

 Pararaton mengisahkan Sora ikut mengawal Raden Wijaya sewaktu menghindari kejaran pasukan Jayakatwang pada tahun 1292. Kidung Panji Wijayakrama menyebutkan, Sora dengan setia menyediakan perutnya sebagai tempat duduk Raden Wijaya dan istrinya saat keduanya beristirahat. Ia juga menggendong istri Wijaya saat menyeberangi sungai dan rawa-rawa.



Pada tahun 1293 Raden Wijaya dibantu pasukan Mongol menyerang Jayakatwang di Kadiri. Dalam pertempuran tersebut, Sora bertugas menggempur benteng selatan dan berhasil membunuh patih Kadiri yang bernama Kebo Mundarang.

Kota Kuningan

 Inilah kota Kuningan Jawa Barat masa lalu sekitar tahun 70an



Raden Wijaya - Majapahit

 Menurut Nagarakretagama Raden Wijaya adalah anak dari Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa Campaka atau Narasinghamurti. Kakeknya ini, adalah anak dari Mahisa Wonga Teleng, putra dari Ken Angrok dan Ken Dedes. Ken Angrok atau Sri Ranggah Rajasa adalah pendiri Dinasti Rajasa yang kemudian menurunkan raja-raja Singhasari dan Majapahit. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan Ayah dari Raden Wijaya.



Dari genealoginya, Wijaya juga merupakan keponakan Kertanagara, Adapun Kertanagara adalah keturunan dari Anusapati, putra Ken Dedes dan Tunggul Ametung.[2]


Menurut Prasasti Kudadu (1294),tertulis bahwasanya Lembu Tal (ayah raden wijaya) adalah anak Narasinghamurti.


Menurut Prasasti Balawi (1305), Prasasti Sukamerta (1296), dan Kakawin Nagarakretagama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanagara, raja terakhir Kerajaan Singhasari, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri.


Dengan Tribhuwaneswari, Wijaya mempunyai seorang putra bernama, Jayanagara. Dengan Gayatri, Wijaya memperoleh dua putri. Putri sulung bernama Tribhuwana Wijayatunggadewi. Putri bungsu bernama Rajadewi Maharajasa.

Ranggalawe

 Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Ranggalawe menyebut Ranggalawe sebagai putra Arya Wiraraja bupati Songeneb (nama lama Sumenep). Ia sendiri bertempat tinggal di Tanjung, yang terletak di Pulau Madura sebelah barat.


Pada tahun 1292 Ranggalawe dikirim ayahnya untuk membantu Raden Wijaya membuka Hutan Tarik (di sebelah barat Tarik, Sidoarjo sekarang) menjadi sebuah desa pemukiman bernama Majapahit. Konon, nama Rangga Lawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya karena berkaitan dengan penyediaan 70 ekor kuda dari Bima sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam perang melawan Jayakatwang raja Kadiri atau juga mempunyai arti rangga berarti ksatria / pegawai kerajaan dan Lawe merupakan sinonim dari wenang, yang berarti "benang",[1] atau dapat juga bermakna "kekuasaan" atau kemenangan. dan Ranggalawe kemudian diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memimpin pembukaan hutan tersebut.



Penyerangan terhadap ibu kota Kediri oleh gabungan pasukan Majapahit dan Mongol terjadi pada tahun 1293. Ranggalawe berada dalam pasukan yang menggempur benteng timur kota Kadiri. ia berhasil menewaskan pemimpin benteng tersebut yang bernama Sagara Winotan.

Sumber: Wikipedia

Pangeran Hasan ( Raden Mas Roub/ Raib/Raab ) Lahir : Solo ( Surakarta), Jawa Tengah 1816 M Putra kedua Pangeran Diponegoro yang terjun dalam perang Diponegoro. Perjuangan : 1825 - 1830 M. Orang Tua : ♂ Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro /Bendoro Raden Mas Ontowirya, ♀ Bendoro Raden Ayu Ontowiryo / Raden Ayu Maduretno. Saudara : ♂Raden Mas Djonet Dipomenggolo. Wafat : Wanagopa , Tegal, Jawa Tengah 1894 M Makam : Jl. Diponegoro, Melayu, Kec. Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Keterangan : Adalah adik kandung Raden Mas Joned. Usianya sekitar sembilan tahun ketika mengikuti ayahnya dalam medan perang. Bersama kakaknya dia ikut merasakan bagaimana kehidupan dalam pengungsian. Raden Mas Roub selalu mengikuti perjalanan ayahnya dalam medan perang. Selain karena putera dari isteri permaisuri kedua, Pangeran Diponegoro menyiapkan Raden Mas Roub agar kelak sebagai seorang pemimpin agama . Sampai di sini dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) putera Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Ambon. Pada buku The Power of Prophecy tulisan Peter F Carey halaman 746 dijelaskan bahwa pada akhir tahun 1848 Pangeran Diponegoro menanyakan kepada gubernur jenderal di Makassar perihal tiga anaknya yaitu Pangeran Dipokusumo, Raden Mas Raib serta Pangeran Diponingrat yang diberitakan mengalami sakit tekanan jiwa. Pangeran Diponegoro juga menanyakan anaknya yang tertua yang mengalami pembuangan di Sumenep pada tahun 1834 setelah memberontak di Kedu, dan belum pernah berkirim kabar. Raden mas Raab/Raib/Raub atau setelah ayahnya menjadi Sulthan Abdulhamid herucokro sayidin panotogomo kalifaturasulillah ing tanah djawi beliau mendapat Gelar P.Hasan/Hasanmoebin beliau tidak pernah ditangkap belanda dalam tulisan belanda oorlog op java 1825-1830 dicetak tahun 1856 dikatakan bahwa yg dibuang di ambon tidak termasuk Radenmas Raab dikatakan beliau menjalani hidup fanatik (sufi). bersama kaji Ngisho dari penjebakan pangeran Diponegoro di Magelang itu selanjutnya dibawa keGrobogan lalu setelah menikah beliau ke Demak memang beliau menjelajahi wilayah pantura menemui bekas - bekas laskar Ayahnya yg kebanyakan mereka berdakwah keberbagai daerah dengan sandi - sandi kemuning dan sawo jajar dan banyak beliau membangun masjid dan padepokan2 diwilayah pantura yg lalu diserahkan pengelolaannya kepada bekas Laskar - laskar itu.

 Pangeran Hasan

( Raden Mas Roub/ Raib/Raab )



Lahir : Solo ( Surakarta), Jawa Tengah 1816 M

Putra kedua Pangeran Diponegoro yang terjun dalam perang Diponegoro.

Perjuangan : 1825 - 1830 M.

Orang Tua : ♂ Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro /Bendoro Raden Mas Ontowirya, ♀ Bendoro Raden Ayu Ontowiryo / Raden Ayu Maduretno.

Saudara : ♂Raden Mas Djonet Dipomenggolo.

Wafat : Wanagopa , Tegal, Jawa Tengah 1894 M

Makam : Jl. Diponegoro, Melayu, Kec. Wajo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.


Keterangan : 


Adalah adik kandung Raden Mas Joned. Usianya sekitar sembilan tahun ketika mengikuti ayahnya dalam medan perang. Bersama kakaknya dia ikut merasakan bagaimana kehidupan dalam pengungsian.

             Raden Mas Roub selalu mengikuti perjalanan ayahnya dalam medan perang. Selain karena putera dari isteri permaisuri kedua, Pangeran Diponegoro menyiapkan Raden Mas Roub agar kelak sebagai seorang pemimpin agama .

             Sampai di sini dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) putera Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Ambon. Pada buku The Power of Prophecy tulisan Peter F Carey halaman 746 dijelaskan bahwa pada akhir tahun 1848 Pangeran Diponegoro menanyakan kepada gubernur jenderal di Makassar perihal tiga anaknya yaitu Pangeran Dipokusumo, Raden Mas Raib serta Pangeran Diponingrat yang diberitakan mengalami sakit tekanan jiwa. Pangeran Diponegoro juga menanyakan anaknya yang tertua yang mengalami pembuangan di Sumenep pada tahun 1834 setelah memberontak di Kedu, dan belum pernah berkirim kabar.


Raden mas Raab/Raib/Raub atau setelah ayahnya menjadi Sulthan Abdulhamid herucokro sayidin panotogomo kalifaturasulillah ing tanah djawi beliau mendapat Gelar P.Hasan/Hasanmoebin beliau tidak pernah ditangkap belanda dalam tulisan belanda oorlog op java 1825-1830 dicetak tahun 1856 dikatakan bahwa yg dibuang di ambon tidak termasuk Radenmas Raab dikatakan beliau menjalani hidup fanatik (sufi). bersama kaji Ngisho dari penjebakan pangeran Diponegoro di Magelang itu selanjutnya dibawa keGrobogan lalu setelah menikah beliau ke Demak memang beliau menjelajahi wilayah pantura menemui bekas - bekas laskar Ayahnya yg kebanyakan mereka berdakwah keberbagai daerah dengan sandi - sandi kemuning dan sawo jajar dan banyak beliau membangun masjid dan padepokan2 diwilayah pantura yg lalu diserahkan pengelolaannya kepada bekas Laskar - laskar itu.

Sejarah Magelang - Muntilan

 Ingang van de passar te Moentilan ten zuiden van Magelang

Vervaardigingsjaar : ca.1935

   Pintu masuk pasar di Muntilan,diselatan Magelang Jawa Tengah...foto sekitar tahun 1935




(KITLV)


TRAGEDI DI BENTENG JURANGSAPI Ditulis oleh : Warisan Adiluhung Blambangan Setelah Bagus Singayudha sampai di Sentong, utusan Mas Anom Sutajiwa itu menyampaikan semuanya kepada Pangeran Danuningrat dan Mas Anom Sutajiwa bahwa di Banger Bagus Singayudha bertemu dengan Mas Bagus Tepasana dan membantunya dari Banger, ke Pasuruhan bertemu FC.Hogewitz, lalu ke Madura dan kemudian ke Surabaya bertemu Gezhagebber Hendrik Breton. Perintah dari Gezaghebber yaitu untuk menemuinya di Besuki yang akan disertai oleh Adipati Bangkalan Panembahan Cakraningrat V guna membahas rencana selanjutnya sambil menunggu balasan dari Gubernur Jenderal pantai utara Jawa di Semarang. Sementara itu di Kadipaten Lamajang, utusan Pangeran Agung Wilis menghadap Adipati Mas Bagus Lumajang Raden Kertanegara dan menceritakan kejadian kesalahpahaman yang terjadi di kedhaton Manik Lingga dan mencari keberadaan Pangeran Danuningrat untuk memintanya kembali ke Blambangan serta menjelaskan kesalahpahaman tempo hari. Mas Bagus Lumajang menyesali kejadian tersebut yang diakibatkan oleh putera kandungnya sendiri Mas Bagus Tepasana. Segala ajaran kebaikan telah diberikan oleh Mas Bagus Lumajang beserta istrinya Mas Ayu Tawi( bibi prabu Danuningrat dan Agung Wilis ), namun sayangnya Mas Bagus Tepasana lebih nyaman tinggal bersama pamannya Tumenggung Jayalelana II bupati Banger yang sangat dekat dengan VOC-Belanda dan bupati bawahan lainnya. Akhirnya Mas Bagus Lumajang berjanji jika menemui keponakannya itu Pangeran Danuningrat, akan segera membawanya ke kutharaja Blambangan. Di Sentong, utusan Agung Wilis lainnya yaitu Bekel Ruwa dan Ki Jagabencing segera menghadap Adipati Sentong untuk mencari Pangeran Danuningrat, mereka menjelaskan bahwa kerusuhan yang terjadi di kutharaja tempo hari adalah kesalah pahaman semata dan tidak ada niatan sedikit pun Pangeran Mas Agung Wilis untuk makar kepada Pangeran Danuningrat, kedatangannya ke kutharaja hanyalah menanyakan orang bayaran yang membunuh Ki Ajar Gunung Srawet dan menangkap Mas Bagus Tepasana serta Mas Anom Sutajiwa yang menjadi otak dari pembunuhan Ranggasutata. Ki Bekel Ruwa meminta Pangeran Danuningrat beserta seluruh keluarga keraton untuk kembali ke Blambangan, permaisuri Sayu Ratna Nawangsasi beserta para puteri-puteri Blambangan yaitu Sayu Bali, Sayu Tunjungningrat, dan Sayu Talaga menyetujui permintaan Agung Wilis yang tulus itu, daripada hidup terlunta-lunta tidak jelas. Tapi Mas Anom Sutajiwa menolak karena takut akan hukuman yang akan diterimanya, hingga akhirnya Pangeran Danuningrat menolak permintaan Agung Wilis tersebut dengan mengatakan bahwa tahta Blambangan sudah dia pasrahkan kepada adiknya tersebut, dan ikhlas jika adiknya menjadi raja menggantikannya tapi beliau meminta maaf jika puteranya diminta untuk dihukum, Pangeran Danuningrat menolaknya dengan tegas. Setelah pernyataan tersebut, Ki Bekel Ruwa dan Ki Jagabencing mengundurkan diri. Keesokan harinya, utusan Banger Mas Bagus Tepasana bersama dengan utusan kompeni bernama Benjamin menemui rombongan Pangeran Danuningrat di Sentong untuk mengajaknya ke benteng Jurangsapi yang berada di ujung paling barat kerajaan Blambangan, dan melanjutkan perjalanan ke Besuki guna bertemu dengan Panembahan Cakraningrat V dan Tumenggung Jayalelana II untuk membahas rencana pembalasan bersama Madura dan Kompeni ke Blambangan. Setelah menginap semalaman di benteng Jurangsapi dan akan melanjutkan ke Besuki, pasukan dari Mengwi pimpinan Ki Wayahan Kotang segera mengepung benteng Jurangsapi dan meminta Mas Bagus Tepasana beserta Mas Anom Sutajiwa segera menyerahkan diri. Di luar Benteng Jurangsapi telah banyak pasukan mengepung, disebelah selatan ada Ki Demang Ulung dan Ki Perangalas, di barat berjaga Ki Maniklungit dan Ki Gancangawas, dan di sisi utara ada Ki Kudapamutung yang siap menangkap musuh. Pangeran Danuningrat segera meminta Benjamin untuk menyelamatkan seluruh keluarganya ke desa Tambak, lalu kemudian Pangeran Danuningrat bertemu dengan pasukan Ki Wayahan Kotang dan meminta untuk segera menyerahkan putera mahkota Mas Anom Sutajiwa dan Mas Bagus Tepasana. Mas Anom Sutajiwa dan Mas Bagus Tepasana yang ketakutan di dalam benteng mencoba melarikan diri melalui pintu utara yang telah dilumpuhkan oleh Benjamin bersama dengan Senopati Amongesti, tapi sayang sekali sebuah peluru telah bersarang di kaki Mas Bagus Tepasana yang jatuh ke dalam jurang, Mas Anom Sutajiwa yang hendak menolong juga terkena tembakan senapan dan terjatuh kedalam jurangsapi. Blambangan, 17 Anggara Wage wuku Dungulan 1945 çaka Sumber sejarah: Babad Wilis Winarsih; Babad Blambangan Serat Mas Wilis Aji ramawidi; dari Blambangan menjadi Banyuwangi Dr.prof. Sri Margana; Perebutan Hegemoni

 TRAGEDI DI BENTENG JURANGSAPI



Ditulis oleh : Warisan Adiluhung Blambangan 


             Setelah Bagus Singayudha sampai di Sentong, utusan Mas Anom Sutajiwa itu menyampaikan semuanya kepada Pangeran Danuningrat dan Mas Anom Sutajiwa bahwa di Banger Bagus Singayudha bertemu dengan Mas Bagus Tepasana dan membantunya dari Banger, ke Pasuruhan bertemu FC.Hogewitz, lalu ke Madura dan kemudian ke Surabaya bertemu Gezhagebber Hendrik Breton. Perintah dari Gezaghebber yaitu untuk menemuinya di Besuki yang akan disertai oleh Adipati Bangkalan Panembahan Cakraningrat V guna membahas rencana selanjutnya sambil menunggu balasan dari Gubernur Jenderal pantai utara Jawa di Semarang.


Sementara itu di Kadipaten Lamajang, utusan Pangeran Agung Wilis menghadap Adipati Mas Bagus Lumajang Raden Kertanegara dan menceritakan kejadian kesalahpahaman yang terjadi di kedhaton Manik Lingga dan mencari keberadaan Pangeran Danuningrat untuk memintanya kembali ke Blambangan serta menjelaskan kesalahpahaman tempo hari. Mas Bagus Lumajang menyesali kejadian tersebut yang diakibatkan oleh putera kandungnya sendiri Mas Bagus Tepasana.

Segala ajaran kebaikan telah diberikan oleh Mas Bagus Lumajang beserta istrinya Mas Ayu Tawi( bibi prabu Danuningrat dan Agung Wilis ), namun sayangnya Mas Bagus Tepasana lebih nyaman tinggal bersama pamannya Tumenggung Jayalelana II bupati Banger yang sangat dekat dengan VOC-Belanda dan bupati bawahan lainnya.

Akhirnya Mas Bagus Lumajang berjanji jika menemui keponakannya itu Pangeran Danuningrat, akan segera membawanya ke kutharaja Blambangan.


Di Sentong, utusan Agung Wilis lainnya yaitu Bekel Ruwa dan Ki Jagabencing segera menghadap Adipati Sentong untuk mencari Pangeran Danuningrat, mereka menjelaskan bahwa kerusuhan yang terjadi di kutharaja tempo hari adalah kesalah pahaman semata dan tidak ada niatan sedikit pun Pangeran Mas Agung Wilis untuk makar kepada Pangeran Danuningrat, kedatangannya ke kutharaja hanyalah menanyakan orang bayaran yang membunuh Ki Ajar Gunung Srawet dan menangkap Mas Bagus Tepasana serta Mas Anom Sutajiwa yang menjadi otak dari pembunuhan Ranggasutata. Ki Bekel Ruwa meminta Pangeran Danuningrat beserta seluruh keluarga keraton untuk kembali ke Blambangan, permaisuri Sayu Ratna Nawangsasi beserta para puteri-puteri Blambangan yaitu Sayu Bali,  Sayu Tunjungningrat, dan Sayu Talaga menyetujui permintaan Agung Wilis yang tulus itu, daripada hidup terlunta-lunta tidak jelas. Tapi  Mas Anom Sutajiwa menolak karena takut akan hukuman yang akan diterimanya, hingga akhirnya Pangeran Danuningrat menolak permintaan Agung Wilis tersebut dengan mengatakan bahwa tahta Blambangan sudah dia pasrahkan kepada adiknya tersebut, dan ikhlas jika adiknya menjadi raja menggantikannya tapi beliau meminta maaf jika puteranya diminta untuk dihukum, Pangeran Danuningrat menolaknya dengan tegas. Setelah pernyataan tersebut, Ki Bekel Ruwa dan Ki Jagabencing mengundurkan diri.


             Keesokan harinya, utusan Banger Mas Bagus Tepasana bersama dengan utusan kompeni bernama Benjamin menemui rombongan Pangeran Danuningrat di Sentong untuk mengajaknya ke benteng Jurangsapi yang berada di ujung paling barat kerajaan Blambangan, dan melanjutkan perjalanan ke Besuki guna bertemu dengan Panembahan Cakraningrat V dan Tumenggung Jayalelana II untuk membahas rencana pembalasan bersama Madura dan Kompeni ke Blambangan.

Setelah menginap semalaman di benteng Jurangsapi dan akan melanjutkan ke Besuki, pasukan dari Mengwi pimpinan Ki Wayahan Kotang segera mengepung benteng Jurangsapi dan meminta Mas Bagus Tepasana beserta Mas Anom Sutajiwa segera menyerahkan diri. Di luar Benteng Jurangsapi telah banyak pasukan mengepung, disebelah selatan ada Ki Demang Ulung dan Ki Perangalas, di barat berjaga Ki Maniklungit dan Ki Gancangawas, dan di sisi utara ada Ki Kudapamutung yang siap menangkap musuh.


Pangeran Danuningrat segera meminta Benjamin untuk menyelamatkan seluruh keluarganya ke desa Tambak, lalu kemudian Pangeran Danuningrat bertemu dengan pasukan Ki Wayahan Kotang dan meminta untuk segera menyerahkan putera mahkota Mas Anom Sutajiwa dan Mas Bagus Tepasana.

Mas Anom Sutajiwa dan Mas Bagus Tepasana yang ketakutan di dalam benteng mencoba melarikan diri melalui pintu utara yang telah dilumpuhkan oleh Benjamin bersama dengan Senopati Amongesti, tapi sayang sekali sebuah peluru telah bersarang di kaki Mas Bagus Tepasana yang jatuh ke dalam jurang, Mas Anom Sutajiwa yang hendak menolong juga terkena tembakan senapan dan terjatuh kedalam jurangsapi.


Blambangan, 17 Anggara Wage wuku Dungulan 1945 çaka


Sumber sejarah:


Babad Wilis

Winarsih; Babad Blambangan

Serat Mas Wilis

Aji ramawidi; dari Blambangan menjadi Banyuwangi

Dr.prof. Sri Margana; Perebutan Hegemoni

ISTANA KEPRESIDENAN

 Paleis Rijswijk, Batavia pada tahun 1885. 



Foto: nederlands fotomuseum

.

Paleis Rijswijk, sekarang di sebut Istana Kepresidenan terdiri dari 2 bangunan utama. Istana Negara dan Istana Merdeka.

Istana Negara, Jalan Veteran menghadap Kali Ciliwung dan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, menghadap ke Monumen Nasional.


Gedung Istana Negara berumur lebih tua daripada Istana Merdeka. Istana Negara mulai dibangun pada 1796 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten. Rampung pada tahun 1804 di masa Gubernur Jenderal Johannes Siberg. Gedung ini awalnya adalah rumah pengusaha dan mantan pejabat VOC bernama Jacob Andries van Braam. Berkat kedekatannya dengan Gubernur Jenderal Herman William Daendels, Jacob Andries Van Braam pernah bertugas selama 3 tahun sebagai residen di Surakarta

Penjual sate kambing dan ayam Malang 1947. Foto: Cas Oorthuys. "

 Penjual sate kambing dan ayam Malang 1947. Foto: Cas Oorthuys. Colorization: Sardjono Anargaya



Sejarah Magelang - Jalan Raya di Magelang, 1906 1915 Groote Weg, Magelang, 1906 1915

 Jalan Raya di Magelang, 1906 1915


Groote Weg, Magelang, 1906 1915



26 February 2024

Suasana Muktamar Keempat Nahdlatul Ulama di Semarang, 1929: Bagian Ketiga Tiba saatnya giliran Hadlrotussyeikh Hasyim Asy’ari membacakan khutbah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama (NU) di pembukaan Muktamar Semarang 1929. Beliau naik ke panggung setelah Kiai Raden Asnawi dan Muhammad bin H. Abdullah (Qari). Kiai Raden Asnawi Kudus mengajak peserta membaca surat al-Fatihah, sementara Muhammad bin H Abdullah dari Semarang membacakan ayat suci al-Qur’an (ayat al-ladziina yadzkuruunallaaha qiyaaman/Ali Imron: 191). Suaranya menyayat dan membuat muktamirin jatuh dalam suasan khusyu’ yang syahdu. Kiai Muhammad (sumber lain menyebutnya Kiai Ahmad bin Abdullah), sang pelantun ayat-ayat suci adalah salah satu putra Kiai Abdullah bin Salim hasil pernikahannya dengan Hj. Channah. Kiai Abdullah sendiri turut memberikan sambutan atas nama NU Semarang yang menjadi tuan rumah kegiatan. Usai Kiai Hasyim Asy’ari membaca Qanun Asasi, Kiai Wahab Chasbullah gantian mengambil tempat. Mbah Wahab menerjemahkan kedalam Bahasa Jawa, Qanun Asasi yang baru saja dihaturkan oleh Kiai Hasyim. Kala memberi sambutan atas nama panitia lokal, Kiai Abdullah belum menyampaikan berapa banyak sedekah atau sumbangan yang masuk. Hal ini dikarenakan sumbangan yang datang baik dari peserta muktamar maupun para donatur lainnya masih tetap mengalir. Dana yang terkumpul dan terpakai akan dilaporkan kepada publik pada majlis ke enam (al-majelis as-sadis). Setelah Kiai Abdullah memberikan sambutan, Kiai Hasyim kembali berdiri. Di kesempatan keduanya itu Kiai Hasyim menyampaikan permohonan maaf kepada muktamirin. Beliau khawatir tidak bisa menjalankan perannya secara maksimal di kongres itu karena sedang sakit. Tidak hanya itu, suara beliau juga tidak bisa keluar dengan optimal. Beliau merasakan sakit sudah sejak sebelum sampai di Semarang dan nyaris absen di Muktamar Semarang. Kala masih di Jombang, badannya sudah terasa kurang sehat begitu juga dengan matanya. Namun, karena Kiai Hasyim mengingat akan pentingnya muktamar ini serta dihadapkan pada keperluan agama serta masalah umum lainnya, yang jika tidak dibahas atau diluruskan akan berpotensi menciptakan kekhawatiran bagi khalayak. Atas alasan itu, meski dalam keadaan sakit, Kiai Hasyim tetap berangkat menuju Semarang. Beliau mengorbankan tenaga serta kondisi tubuh yang semestinya beristirahat, meninggalkan pondok serta santrinya, lalu menempuh jarak yang tidaklah dekat. Apa yang dilakukan oleh Kiai Hasyim di Muktamar 1929 adalah teladan yang amat luhur. Keterangan Foto 1. Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman serta alun-alun yang digunakan untuk penutupan Muktamar Keempat. (Dokumen KITLV) 2. Aloon-aloon Semarang di depan Masjid Kauman (Dokumen TKH)

 Suasana Muktamar Keempat Nahdlatul Ulama di Semarang, 1929: Bagian Ketiga


Tiba saatnya giliran Hadlrotussyeikh Hasyim Asy’ari membacakan khutbah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama (NU) di pembukaan Muktamar Semarang 1929. Beliau naik ke panggung setelah Kiai Raden Asnawi dan Muhammad bin H. Abdullah (Qari). 


Kiai Raden Asnawi Kudus mengajak peserta membaca surat al-Fatihah, sementara Muhammad bin H Abdullah dari Semarang membacakan ayat suci al-Qur’an (ayat al-ladziina yadzkuruunallaaha qiyaaman/Ali Imron: 191). Suaranya menyayat dan membuat muktamirin jatuh dalam suasan khusyu’ yang syahdu.


Kiai Muhammad (sumber lain menyebutnya Kiai Ahmad bin Abdullah), sang pelantun ayat-ayat suci adalah salah satu putra Kiai Abdullah bin Salim hasil pernikahannya dengan Hj. Channah. Kiai Abdullah sendiri turut memberikan sambutan atas nama NU Semarang yang menjadi tuan rumah kegiatan. 


Usai Kiai Hasyim Asy’ari membaca Qanun Asasi, Kiai Wahab Chasbullah gantian mengambil tempat. Mbah Wahab menerjemahkan kedalam Bahasa Jawa, Qanun Asasi yang baru saja dihaturkan oleh Kiai Hasyim. 


Kala memberi sambutan atas nama panitia lokal, Kiai Abdullah belum menyampaikan berapa banyak sedekah atau sumbangan yang masuk. Hal ini dikarenakan sumbangan yang datang baik dari peserta muktamar maupun para donatur lainnya masih tetap mengalir. Dana yang terkumpul dan terpakai akan dilaporkan kepada publik pada majlis ke enam (al-majelis as-sadis).


Setelah Kiai Abdullah memberikan sambutan, Kiai Hasyim kembali berdiri. Di kesempatan keduanya itu Kiai Hasyim menyampaikan permohonan maaf kepada muktamirin. Beliau khawatir tidak bisa menjalankan perannya secara maksimal di kongres itu karena sedang sakit. Tidak hanya itu, suara beliau juga tidak bisa keluar dengan optimal. 


Beliau merasakan sakit sudah sejak sebelum sampai di Semarang dan nyaris absen di Muktamar Semarang. Kala masih di Jombang, badannya sudah terasa kurang sehat begitu juga dengan matanya. Namun, karena Kiai Hasyim mengingat akan pentingnya muktamar ini serta dihadapkan pada keperluan agama serta masalah umum lainnya, yang jika tidak dibahas atau diluruskan akan berpotensi menciptakan kekhawatiran bagi khalayak. 


Atas alasan itu, meski dalam keadaan sakit, Kiai Hasyim tetap berangkat menuju Semarang. Beliau mengorbankan tenaga serta kondisi tubuh yang semestinya beristirahat, meninggalkan pondok serta santrinya, lalu menempuh jarak yang tidaklah dekat. 


Apa yang dilakukan oleh Kiai Hasyim di Muktamar 1929 adalah teladan yang amat luhur. 



Keterangan Foto


1. Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman serta alun-alun yang digunakan untuk penutupan Muktamar Keempat. (Dokumen KITLV)


2. Aloon-aloon Semarang di depan Masjid Kauman (Dokumen TKH)

Anak anak pribumi saat makan diteras depan rumah orang Eropa, di Daerah Kalangbret, Tulungagung ( 1910 )

 Anak anak pribumi saat makan diteras depan rumah orang Eropa, di Daerah Kalangbret, Tulungagung ( 1910 )



*SIAPAKAH ADIPATI UKUR* ========≈============== A. TINJAUAN KESEJARAHAN Dipati Ukur (Wangsanata atau Wangsataruna) adalah seorang bangsawan penguasa Tatar Ukur pada abad ke-17. Tatar dalam bahasa Sunda berarti tanah atau wilayah. Sedangkan dipati (adipati) adalah gelar bupati sebelum zaman kemerdekaan. Dipati Ukur adalah Bupati Wedana Priangan yang pernah menyerang VOC di Batavia atas perintah Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada tahun 1628. Serangan itu gagal, dan jabatan Dipati Ukur dicopot oleh Mataram. Untuk menghindari kejaran pasukan Mataram yang akan menangkapnya, Dipati Ukur dan pengikutnya hidup berpindah-pindah dan bersembunyi hingga akhirnya ditangkap dan dihukum mati di Mataram. Sejarah yang mengisahkan tentang Dipati Ukur bersifat kontroversial. Sedikitnya terdapat delapan versi sejarah tentang Dipati Ukur (Cerita Dipati Ukur), yaitu versi Galuh, Sukapura, Sumedang, Bandung, Talaga, Batavia, Banten dan Mataram. Di antara delapan versi naskah Cerita Dipati Ukur yang ada, hanya tiga versi bernada positif, dalam arti perjuangan Dipati Ukur mendapat dukungan moril dari kerabat pemimpin negeri lainnya dalam rangka menegakkan kedaulatan negeri Sunda yang terancam intervensi penjajahan Mataram maupun Belanda. Dari delapan versi itu juga terdapat kesamaan, yaitu setelah Dipati Ukur diangkat sebagai bupati wedana, ia menyerang Batavia. Karena kalah, ia memberontak terhadap Mataram. Namun karena tidak ada kesepakatan antara Dipati Ukur dengan keempat umbul (kepala daerah) bawahannya, keempat umbul tersebut melaporkan Dipati Ukur kepada Sultan Agung. Di tempat persembunyiannya, Dipati Ukur tertangkap oleh pasukan Mataram. B.ASAL USUL SILSILAH Salah satu versi tentang asal usul Dipati Ukur adalah Ceritera Dipati Ukur versi Bandung yang ditemukan dalam naskah Sunda Mangle Arum, ditulis oleh Haji Harun Al Rasyid pada masa pendudukan militer Jepang. Dalam naskah tersebut dikisahkan bahwa dahulu kala, di wilayah Karesidenan Banyumas terdapat Kerajaan Jambu Karang yang terletak di Purbalingga, dengan rajanya yang bernama Sunan Jambu Karang. Suatu ketika, di Jambu Karang datang seorang bangsawan Arab bernama Syarif Abdurahman al-Qadri untuk menyebarkan agama Islam di wilayah itu. Banyak rakyat yang memeluk agama Islam, tetapi Sunan Jambu Karang tidak merasa senang. Mereka sempat berduel sebelum akhirnya Syarif Abdurahman menjadi pemenang dan Sunan Jambu Karang memeluk Islam beserta rakyatnya. Sebagai tanda terima kasih, Sunan Jambu Karang menikahkan putrinya dengan Syarif Abdurahman, yang kemudian berganti nama menjadi Pangeran Atas Angin. Nama tersebut diambil dari tanah asalnya (Arab) yang berada di atas khatulistiwa (Sugeng Priyadi, Perdikan Cahyana). Setelah Sunan Jambu Karang wafat, Pangeran Atas Angin menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Raja di Kerajaan Jambu Karang. Pernikahan antara Pangeran Atas Angin dengan putri Sunan Jambu Karang melahirkan putra bernama Pangeran Cahya Luhur yang nantinya menggantikan ayahnya bertahta di Jambu Karang. Putra Cahya Luhur bernama Pangeran Adipati Cahyana, tetapi Cahyana tidak sempat menjadi raja karena pada saat itu Jambu Karang ditundukkan oleh Mataram di bawah kepemimpinan Sutawijaya (Panembahan Senopati). Wangsanata, putra Pangeran Adipati Cahyana yang masih kecil, oleh Mataram disingkirkan dan dititipkan kepada penguasa Tatar Ukur (wilayah Ukur) yang bernama Adipati Ukur Agung. Menurut naskah Sadjarah Bandung, Tatar Ukur adalah wilayah Kerajaan Timbanganten dengan ibu kota Tegalluar (terletak di lereng Gunung Malabar, dahulu perbatasan antara Banjaran dan Cipeujeuh). Kerajaan ini berada di bawah dominasi Kerajaan Pajajaran. Di kemudian hari, Wangsanata akan menjadi penguasa Timbanganten yang disebut Dipati (Adipati) Ukur. C.MENJADI PENGUASA TATAR UKUR Setelah Kerajaan Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan pasukan Banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Sumedang Larang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedang Larang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun (1580-1608), dengan ibu kota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak di sebelah barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi bekas wilayah kerajaan Pajajaran, yaitu seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Banten, Jayakarta dan Cirebon.[ Setelah dewasa, Wangsanata dinikahkan dengan putri Adipati Ukur Agung bernama Nyi Gedeng Ukur. Sepeninggal mertuanya, Wangsanata menggantikan kedudukan Adipati Ukur Agung sebagai penguasa Tatar Ukur (Timbanganten). Sejak itulah, Wangsanata dikenal dengan nama Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, luas wilayah Ukur mencakup sebagian besar wilayah di Jawa Barat, yang terdiri dari sembilan daerah yang disebut Ukur Sasanga , antara lain: _Ukur Bandung (wilayah Banjaran dan Cipeujeuh) _Ukur Pasirpanjang (wilayah Majalaya dan Tanjungsari) _Ukur Biru (wilayah Ujungberung Wetan) _Ukur Kuripan (wilayah Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala) _Ukur Curugagung (wilayah Cihea) _Ukur Aranon (wilayah Wanayasa) _Ukur Sagaraherang (wilayah Pamanukan dan Ciasem) _Ukur Nagara Agung (wilayah Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan) _Ukur Batulayang (wilayah Kopo, Rongga, dan Cisondari) Saat ini wilayah Ukur Sasanga meliputi Kota dan Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Subang selatan, Kabupaten Sumedang barat dan Kabupaten Karawang selatan. D.MENJADI BUPATI WEDANA PRIANGAN Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Aria Suriadiwangsa atau Prabu Kusumadinata III, anak tiri Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya, Sumedang Larang menyatakan bergabung menjadi daerah Kesultanan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu status Sumedang Larang turun dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram di bawah Sultan Agung (1613-1645) lalu menjadikan Parahyangan sebagai daerah pertahanannya di bagian barat terhadap kemungkinan serangan pasukan Banten atau VOC yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung bermusuhan dengan VOC dan berkonflik dengan Kesultanan Banten. Untuk mengawasi daerah Parahyangan, Sultan Agung mengangkat Aria Suriadiwangsa menjadi bupati wedana (bupati kepala, setingkat Gubernur) di Parahyangan (1620-1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, lebih terkenal dengan sebutan Rangga Gempol I. Tahun 1624 Sultan Agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan daerah Sampang (Madura). Oleh karena itu, jabatan Bupati Wedana Priangan diwakilkan kepada adik Rangga Gempol I, yaitu Pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat sebagai bupati wedana, Rangga Gempol I dieksekusi oleh Sultan Agung dikarenakan mengucapkan candaan yang dianggap meremehkan Mataram.[ Rangga Gede lalu menjadi bupati wedana tetap, dimana pada tahun 1627 Sumedang lalu diserang oleh pasukan Banten di bawah Sultan Abu al-Mafakhir dan anak sulung Rangga Gempol I yang bernama Kartajiwa. Oleh karena sebagian pasukan Sumedang yang berangkat ke Sampang tetap menetap di Mataram, Pangeran Dipati Rangga Gede tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari Sultan Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan bupati wedana Parahyangan lalu diserahkan kepada Dipati Ukur, dimana ia berhasil mengusir pasukan Banten yang menyerang daerah Parahyangan. Setelah menggantikan Pangeran Rangga Gede (1627), Dipati Ukur lalu menikah dengan Nyi Ageng Alia atau Nyi Gedeng Ukur sebagai ahli waris Ukur. Wilayah yang ada dalam kekuasaan Dipati Ukur meliputi Sumedang Larang, Ukur, Karawang, Pamanukan, Ciasem (Subang), Indramayu, Sukapura (Tasikmalaya), Limbangan dan Timbanganten (Garut). E.MENYERBU VOC di BATAVIA Ekspansi wilayah yang dilakukan oleh Sultan Agung adalah menyerang Banten. Akan tetapi untuk menyerang Banten telah terhalang oleh keberadaan VOC di Batavia yang sedang membuat benteng pertahanan. Untuk itu Sultan Mataram menghendaki Dipati Ukur yang telah diangkat oleh Sultan Mataram sebagai bupati wedana di Priangan sanggup membantu Sultan Mataram untuk mengusir VOC di Batavia. Guna menyerang VOC, Sultan Agung melakukan berbagai persiapan, disebabkan jalan dan hutan yang harus dilalui belum memadai. Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur dan Tumenggung Bahurekso (Bupati Kendal), agar memimpin pasukan untuk menggempur VOC di Batavia. Setelah kedua pejabat itu berunding, mereka berangkat menuju Batavia. Dipati Ukur memakai jalan darat dan Bahurekso melalui laut, masing-masing membawa 10.000 prajurit. Mereka berjanji untuk bertemu di Karawang. Pasukan Dipati Ukur terdiri atas 9 umbul, yaitu umbul-umbul: Batulayang, Saunggatang, Taraju, Kahuripan, Medangsasigar, Malangbong, Mananggel, Sagaraherang dan Ukur, masing-masing selaku kepala pasukan di bawah komando Dipati Ukur. Pasukan itu berangkat dari Tatar Ukur, melewati Cikao (terletak di Purwakarta sekarang), dan berbelok ke arah utara sampai Karawang. F.PENYERANGAN BATAVIA OLEH MATARAM Setelah tujuh malam menantikan Bahurekso di Karawang, tetapi tak kunjung datang, Dipati Ukur memutuskan untuk segera menyerang Batavia. VOC sempat terkejut atas serangan tersebut. Semula pasukan Dipati Ukur dapat menandingi perlawanan VOC, tetapi karena persenjataan yang tidak seimbang dan kekuatan benteng pertahanan VOC yang kokoh, pasukan Dipati Ukur menjadi kacau balau dan dapat dipukul mundur oleh VOC. Pada tanggal 21 Oktober 1628, pasukan VOC dibawah komando Letnan Kolonel Jacques de Febvre melakukan serangan besar-besaran dari berbagai arah ke markas Dipati Ukur di Batavia. Pasukan VOC yang dilengkapi persenjataan modern jauh lebih unggul sehingga pasukan Dipati Ukur terdesak mundur dari Batavia. Dipati Ukur bersama sebagian pasukannya memutuskan untuk bersembunyi di Gunung Pongporang yang terletak di Bandung Utara, dekat Gunung Bukit Tunggul. Sementara itu Bahurekso tiba di Karawang. Ia sangat marah karena Dipati Ukur tidak ada di sana. Ia segera menyusul ke Batavia dan melangsungkan serangan terhadap VOC. Namun Bahurekso mengalami kekalahan dan mundur sampai Karawang. Di Karawang, Bahurekso mencari tahu keberadaan Dipati Ukur. Setelah mendapatkan informasi, ia kembali ke Mataram. G.PEMBERONTAKAN DIPATI UKUR Selama bersembunyi di Gunung Pongporang, Dipati Ukur membangun benteng dan bermusyawarah dengan para pengikutnya. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai konsekuensi dari kegagalan penyerangan VOC di Batavia, ia akan mendapat hukuman berat dari raja Mataram, seperti hukuman yang diterima oleh Pangeran Dipati Rangga Gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh karena itu Dipati Ukur berniat membangkang terhadap Mataram. Dipati Ukur menghendaki mereka tetap bertahan di Gunung Pongporang sambil menyusun rencana penyerangan ke Mataram yang sedang berkonsentrasi menyerang Batavia. Namun rencana itu tidak disetujui oleh empat orang umbul pengikut Dipati Ukur, yaitu umbul-umbul Sukakerta, Sindangkasih, Cihaurbeti, dan Indihiang Galunggung. Keempat umbul itu tidak ingin berlama-lama di Gunung Pongporang. Karena tidak ada kesepakatan, keempat umbul itu akhirnya meninggalkan Gunung Pongporang dan melanjutkan perjalanannya ke Mataram. Di Mataram, Bahurekso melaporkan kekalahannya kepada Sultan Agung, termasuk tindakan Dipati Ukur menyerang ke Batavia tanpa menunggu kedatangan pasukan Bahurekso. Bahurekso menilai, bahwa kekalahan Mataram disebabkan oleh terpecahnya kekuatan pasukan. Sultan Agung merasa kecewa mendengar laporan tersebut. Kekecewaan itu bertambah ketika keempat umbul pengikut Dipati Ukur telah sampai di Mataram. Mereka melaporkan tentang kekalahan pasukan Dipati Ukur terhadap VOC dan memberitahukan lokasi persembunyian Dipati Ukur di Gunung Pongporang. Kekalahan Dipati Ukur dan tidak kembalinya Dipati Ukur ke Mataram dianggap oleh Sultan Agung sebagai pemberontakan terhadap penguasa kerajaan Mataram. H.PENANGKAPAN DIPATI UKUR Mendengar bahwa Dipati Ukur gagal mengalahkan VOC di Batavia dan bersembunyi bersama pengikutnya, Sultan Agung mengutus Bahurekso untuk menangkap Dipati Ukur. Keempat umbul yang menentang Dipati Ukur dijadikan sebagai penunjuk jalan. Kabar tentang datangnya serbuan bala tentara Mataram yang dipimpin Bahurekso telah sampai kepada Dipati Ukur. Berita itu tidak mengagetkannya karena Dipati Ukur sudah menduga bahwa akan diperangi pasukan Mataram. Dipati Ukur memanggil para umbul pengikutnya agar mengatur pasukan masing-masing untuk menghadapi peperangan. Bahurekso mengirimkan utusan kepada Dipati Ukur untuk menanyakan, apakah ia akan menyerah atau tidak. Dipati Ukur menjawab bahwa ia telah bertekad untuk melawan. Terjadilah perang antara pasukan Dipati Ukur melawan pasukan Bahurekso. Karena jumlah pasukan Bahurekso lebih banyak, pasukan Dipati Ukur terdesak. Dipati Ukur dan pengikutnya berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di Gunung Lumbung (terletak di kawasan Batulayang, Cililin, Bandung Barat). Di sana, mereka membangun perkampungan dan tinggal di sana bersama sekitar 1000 orang pengikut beserta keluarganya. Di sana mereka bercocok tanam, membuka sawah dan tegalan. Setahun kemudian Dipati Ukur mendapat serangan lagi dari pasukan Mataram, dipimpin oleh Tumenggung Narapaksa dari Mataram. Pasukan Dipati Ukur melawan dan berhasil meloloskan diri. Berdasarkan catatan Belanda, Sekitar 100.000 pasukan dikerahkan untuk meratakan tanah Ukur dan Sumedang. Banyak dari penduduk Ukur ini yang mengungsi ke Banten dan Batavia. Pasukan Dipati Ukur yang bertahan di Gunung Lumbung berhasil menahan serangan pertama dari pasukan Mataram. Pada serangan kedua, Tumenggung Narapaksa bertemu dengan seseorang yang menguasai wilayah Gunung Lumbung. Selain itu ia dibantu oleh pasukan yang berasal dari tanah Pasundan. Di dalam Naskah Leiden Oriental yang ditulis oleh R.A. Sukamandara disebutkan bahwa Dipati Ukur ditangkap oleh pasukan yang dipimpin Bagus Sutapura, Adipati Kawasen (sekarang terletak di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis). Serangan ini berhasil mematahkan pertahanan Dipati Ukur. Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (wilayah Batulayang, sekitar 3 km sebelah barat alun-alun Cililin, Kabupaten Bandung Barat) pada tahun 1632 dan dihukum mati di Mataram. I.VERSI LAIN PENANGKAPAN DIPATI UKUR Terdapat beberapa versi kisah penangkapan Dipati Ukur, antara lain pendapat Karel Frederik Holle yang menyebutkan bahwa Dipati Ukur tertangkap di suatu tempat sekitar 7 km di sebelah barat Jakarta (sekarang bernama Cengkareng). Penangkapnya adalah tiga umbul dari Priangan Timur, yaitu Umbul Sukakerta (Ki Wirawangsa), Umbul Cihaurbeuti (Ki Astamanggala) dan Umbul Sindangkasih (Ki Somahita). Dipati Ukur kemudian dibawa ke Mataram dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati pada tahun 1632. J.PENINGGALAN DIPATI UKUR Peninggalan Dipati Ukur sebagian besar ditemukan di tempat-tempat persembunyiannya selama bergerilya melawan Mataram (di Gunung Lumbung) dan di Kampung Pabuntelan, yang dahulu menjadi ibu kota Tatar Ukur. Tempat-tempat itu sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Bandung. Barang-barang peninggalan yang ditemukan berupa bekas perkampungan, makam, senjata, piagam, patung, batu dan lingga. Beberapa peninggalan Dipati Ukur ditemukan di Kampung Pabuntelan, bekas ibu kota Tatar Ukur yang sekarang berada di Desa Mekarjaya (dulu bernama Desa Tenjonagara), yaitu di perbatasan antara Desa Cipeujeuh dan Kecamatan Banjaran (20 km arah tenggara Kota Bandung). Di sana ditemukan sebuah makam kecil, pohon beringin, sebidang tanah berbentuk persegi yang berpagar bambu, sebuah lingga batu, sebuah batu bundar, dan beberapa buah pohon paku haji. Konon di kampung Pabuntelan ini Dipati Ukur melepaskan pakaiannya, kemudian di-buntel karena dikejar-kejar oleh pasukan Mataram. Dari Pabuntelan, Dipati Ukur melarikan diri sampai ke Cisanti (Gunung Wayang) dan Gunung Puntang. Sumber : Wikipedia Gambar : Ilustrasi Dipati Ukur versi Cirebon.

 *SIAPAKAH ADIPATI UKUR*

========≈==============



A. TINJAUAN KESEJARAHAN


Dipati Ukur (Wangsanata atau Wangsataruna) adalah seorang bangsawan penguasa Tatar Ukur pada abad ke-17. Tatar dalam bahasa Sunda berarti tanah atau wilayah. Sedangkan dipati (adipati) adalah gelar bupati sebelum zaman kemerdekaan. Dipati Ukur adalah Bupati Wedana Priangan yang pernah menyerang VOC di Batavia atas perintah Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada tahun 1628. Serangan itu gagal, dan jabatan Dipati Ukur dicopot oleh Mataram. Untuk menghindari kejaran pasukan Mataram yang akan menangkapnya, Dipati Ukur dan pengikutnya hidup berpindah-pindah dan bersembunyi hingga akhirnya ditangkap dan dihukum mati di Mataram.


Sejarah yang mengisahkan tentang Dipati Ukur bersifat kontroversial. Sedikitnya terdapat delapan versi sejarah tentang Dipati Ukur (Cerita Dipati Ukur), yaitu versi Galuh, Sukapura, Sumedang, Bandung, Talaga, Batavia, Banten dan Mataram. Di antara delapan versi naskah Cerita Dipati Ukur yang ada, hanya tiga versi bernada positif, dalam arti perjuangan Dipati Ukur mendapat dukungan moril dari kerabat pemimpin negeri lainnya dalam rangka menegakkan kedaulatan negeri Sunda yang terancam intervensi penjajahan Mataram maupun Belanda.


Dari delapan versi itu juga terdapat kesamaan, yaitu setelah Dipati Ukur diangkat sebagai bupati wedana, ia menyerang Batavia. Karena kalah, ia memberontak terhadap Mataram. Namun karena tidak ada kesepakatan antara Dipati Ukur dengan keempat umbul (kepala daerah) bawahannya, keempat umbul tersebut melaporkan Dipati Ukur kepada Sultan Agung. Di tempat persembunyiannya, Dipati Ukur tertangkap oleh pasukan Mataram.


B.ASAL USUL SILSILAH


Salah satu versi tentang asal usul Dipati Ukur adalah Ceritera Dipati Ukur versi Bandung yang ditemukan dalam naskah Sunda Mangle Arum, ditulis oleh Haji Harun Al Rasyid pada masa pendudukan militer Jepang.

Dalam naskah tersebut dikisahkan bahwa dahulu kala, di wilayah Karesidenan Banyumas terdapat Kerajaan Jambu Karang yang terletak di Purbalingga, dengan rajanya yang bernama Sunan Jambu Karang. Suatu ketika, di Jambu Karang datang seorang bangsawan Arab bernama Syarif Abdurahman al-Qadri untuk menyebarkan agama Islam di wilayah itu. Banyak rakyat yang memeluk agama Islam, tetapi Sunan Jambu Karang tidak merasa senang. Mereka sempat berduel sebelum akhirnya Syarif Abdurahman menjadi pemenang dan Sunan Jambu Karang memeluk Islam beserta rakyatnya.

Sebagai tanda terima kasih, Sunan Jambu Karang menikahkan putrinya dengan Syarif Abdurahman, yang kemudian berganti nama menjadi Pangeran Atas Angin. Nama tersebut diambil dari tanah asalnya (Arab) yang berada di atas khatulistiwa (Sugeng Priyadi, Perdikan Cahyana). Setelah Sunan Jambu Karang wafat, Pangeran Atas Angin menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Raja di Kerajaan Jambu Karang.

Pernikahan antara Pangeran Atas Angin dengan putri Sunan Jambu Karang melahirkan putra bernama Pangeran Cahya Luhur yang nantinya menggantikan ayahnya bertahta di Jambu Karang. Putra Cahya Luhur bernama Pangeran Adipati Cahyana, tetapi Cahyana tidak sempat menjadi raja karena pada saat itu Jambu Karang ditundukkan oleh Mataram di bawah kepemimpinan Sutawijaya (Panembahan Senopati).


Wangsanata, putra Pangeran Adipati Cahyana yang masih kecil, oleh Mataram disingkirkan dan dititipkan kepada penguasa Tatar Ukur (wilayah Ukur) yang bernama Adipati Ukur Agung. Menurut naskah Sadjarah Bandung, Tatar Ukur adalah wilayah Kerajaan Timbanganten dengan ibu kota Tegalluar (terletak di lereng Gunung Malabar, dahulu perbatasan antara Banjaran dan Cipeujeuh). Kerajaan ini berada di bawah dominasi Kerajaan Pajajaran. Di kemudian hari, Wangsanata akan menjadi penguasa Timbanganten yang disebut Dipati (Adipati) Ukur.


C.MENJADI PENGUASA TATAR UKUR


Setelah Kerajaan Pajajaran runtuh (1579/1580) akibat gerakan pasukan Banten dalam usaha menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan Sumedang Larang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedang Larang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun (1580-1608), dengan ibu kota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak di sebelah barat kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan kerajaan itu meliputi bekas wilayah kerajaan Pajajaran, yaitu seluruh wilayah Jawa Barat kecuali Banten, Jayakarta dan Cirebon.[


Setelah dewasa, Wangsanata dinikahkan dengan putri Adipati Ukur Agung bernama Nyi Gedeng Ukur. Sepeninggal mertuanya, Wangsanata menggantikan kedudukan Adipati Ukur Agung sebagai penguasa Tatar Ukur (Timbanganten). Sejak itulah, Wangsanata dikenal dengan nama Dipati Ukur.


Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, luas wilayah Ukur mencakup sebagian besar wilayah di Jawa Barat, yang terdiri dari sembilan daerah yang disebut Ukur Sasanga ,  antara lain:


_Ukur Bandung (wilayah Banjaran dan Cipeujeuh)

_Ukur Pasirpanjang (wilayah Majalaya dan Tanjungsari)

_Ukur Biru (wilayah Ujungberung Wetan)

_Ukur Kuripan (wilayah Ujungberung Kulon, Cimahi, dan Rajamandala)

_Ukur Curugagung (wilayah Cihea)

_Ukur Aranon (wilayah Wanayasa)

_Ukur Sagaraherang (wilayah Pamanukan dan Ciasem)

_Ukur Nagara Agung (wilayah Gandasoli, Adiarsa, Sumedangan)

_Ukur Batulayang (wilayah Kopo, Rongga, dan Cisondari)

Saat ini wilayah Ukur Sasanga meliputi Kota dan Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Subang selatan, Kabupaten Sumedang barat dan Kabupaten Karawang selatan.


D.MENJADI BUPATI WEDANA PRIANGAN


Ketika Kerajaan Sumedang Larang diperintah oleh Raden Aria Suriadiwangsa atau Prabu Kusumadinata III, anak tiri Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya, Sumedang Larang menyatakan bergabung menjadi daerah Kesultanan Mataram sejak tahun 1620. Sejak itu status Sumedang Larang turun dari kerajaan menjadi kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram di bawah Sultan Agung (1613-1645) lalu menjadikan Parahyangan sebagai daerah pertahanannya di bagian barat terhadap kemungkinan serangan pasukan Banten atau VOC yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung bermusuhan dengan VOC dan berkonflik dengan Kesultanan Banten.


Untuk mengawasi daerah Parahyangan, Sultan Agung mengangkat Aria Suriadiwangsa menjadi bupati wedana (bupati kepala, setingkat Gubernur) di Parahyangan (1620-1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, lebih terkenal dengan sebutan Rangga Gempol I.


Tahun 1624 Sultan Agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan daerah Sampang (Madura). Oleh karena itu, jabatan Bupati Wedana Priangan diwakilkan kepada adik Rangga Gempol I, yaitu Pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat sebagai bupati wedana, Rangga Gempol I dieksekusi oleh Sultan Agung dikarenakan mengucapkan candaan yang dianggap meremehkan Mataram.[


Rangga Gede lalu menjadi bupati wedana tetap, dimana pada tahun 1627 Sumedang lalu diserang oleh pasukan Banten di bawah Sultan Abu al-Mafakhir dan anak sulung Rangga Gempol I yang bernama Kartajiwa. Oleh karena sebagian pasukan Sumedang yang berangkat ke Sampang tetap menetap di Mataram, Pangeran Dipati Rangga Gede tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari Sultan Agung. Pangeran Dipati Rangga Gede ditahan di Mataram. Jabatan bupati wedana Parahyangan lalu diserahkan kepada Dipati Ukur, dimana ia berhasil mengusir pasukan Banten yang menyerang daerah Parahyangan.


Setelah menggantikan Pangeran Rangga Gede (1627), Dipati Ukur lalu menikah dengan Nyi Ageng Alia atau Nyi Gedeng Ukur sebagai ahli waris Ukur. Wilayah yang ada dalam kekuasaan Dipati Ukur meliputi Sumedang Larang, Ukur, Karawang, Pamanukan, Ciasem (Subang), Indramayu, Sukapura (Tasikmalaya), Limbangan dan Timbanganten (Garut).


E.MENYERBU VOC di BATAVIA


Ekspansi wilayah yang dilakukan oleh Sultan Agung adalah menyerang Banten. Akan tetapi untuk menyerang Banten telah terhalang oleh keberadaan VOC di Batavia yang sedang membuat benteng pertahanan. Untuk itu Sultan Mataram menghendaki Dipati Ukur yang telah diangkat oleh Sultan Mataram sebagai bupati wedana di Priangan sanggup membantu Sultan Mataram untuk mengusir VOC di Batavia. Guna menyerang VOC, Sultan Agung melakukan berbagai persiapan, disebabkan jalan dan hutan yang harus dilalui belum memadai.


Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur dan Tumenggung Bahurekso (Bupati Kendal), agar memimpin pasukan untuk menggempur VOC di Batavia. Setelah kedua pejabat itu berunding, mereka berangkat menuju Batavia. Dipati Ukur memakai jalan darat dan Bahurekso melalui laut, masing-masing membawa 10.000 prajurit. Mereka berjanji untuk bertemu di Karawang. Pasukan Dipati Ukur terdiri atas 9 umbul, yaitu umbul-umbul: Batulayang, Saunggatang, Taraju, Kahuripan, Medangsasigar, Malangbong, Mananggel, Sagaraherang dan Ukur, masing-masing selaku kepala pasukan di bawah komando Dipati Ukur. Pasukan itu berangkat dari Tatar Ukur, melewati Cikao (terletak di Purwakarta sekarang), dan berbelok ke arah utara sampai Karawang.


F.PENYERANGAN BATAVIA OLEH MATARAM


Setelah tujuh malam menantikan Bahurekso di Karawang, tetapi tak kunjung datang, Dipati Ukur memutuskan untuk segera menyerang Batavia. VOC sempat terkejut atas serangan tersebut. Semula pasukan Dipati Ukur dapat menandingi perlawanan VOC, tetapi karena persenjataan yang tidak seimbang dan kekuatan benteng pertahanan VOC yang kokoh, pasukan Dipati Ukur menjadi kacau balau dan dapat dipukul mundur oleh VOC.


Pada tanggal 21 Oktober 1628, pasukan VOC dibawah komando Letnan Kolonel Jacques de Febvre melakukan serangan besar-besaran dari berbagai arah ke markas Dipati Ukur di Batavia. Pasukan VOC yang dilengkapi persenjataan modern jauh lebih unggul sehingga pasukan Dipati Ukur terdesak mundur dari Batavia. Dipati Ukur bersama sebagian pasukannya memutuskan untuk bersembunyi di Gunung Pongporang yang terletak di Bandung Utara, dekat Gunung Bukit Tunggul.


Sementara itu Bahurekso tiba di Karawang. Ia sangat marah karena Dipati Ukur tidak ada di sana. Ia segera menyusul ke Batavia dan melangsungkan serangan terhadap VOC. Namun Bahurekso mengalami kekalahan dan mundur sampai Karawang. Di Karawang, Bahurekso mencari tahu keberadaan Dipati Ukur. Setelah mendapatkan informasi, ia kembali ke Mataram.


G.PEMBERONTAKAN DIPATI UKUR


Selama bersembunyi di Gunung Pongporang, Dipati Ukur membangun benteng dan bermusyawarah dengan para pengikutnya. Dipati Ukur menyadari bahwa sebagai konsekuensi dari kegagalan penyerangan VOC di Batavia, ia akan mendapat hukuman berat dari raja Mataram, seperti hukuman yang diterima oleh Pangeran Dipati Rangga Gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh karena itu Dipati Ukur berniat membangkang terhadap Mataram. Dipati Ukur menghendaki mereka tetap bertahan di Gunung Pongporang sambil menyusun rencana penyerangan ke Mataram yang sedang berkonsentrasi menyerang Batavia. Namun rencana itu tidak disetujui oleh empat orang umbul pengikut Dipati Ukur, yaitu umbul-umbul Sukakerta, Sindangkasih, Cihaurbeti, dan Indihiang Galunggung. Keempat umbul itu tidak ingin berlama-lama di Gunung Pongporang. Karena tidak ada kesepakatan, keempat umbul itu akhirnya meninggalkan Gunung Pongporang dan melanjutkan perjalanannya ke Mataram.


Di Mataram, Bahurekso melaporkan kekalahannya kepada Sultan Agung, termasuk tindakan Dipati Ukur menyerang ke Batavia tanpa menunggu kedatangan pasukan Bahurekso. Bahurekso menilai, bahwa kekalahan Mataram disebabkan oleh terpecahnya kekuatan pasukan. Sultan Agung merasa kecewa mendengar laporan tersebut. Kekecewaan itu bertambah ketika keempat umbul pengikut Dipati Ukur telah sampai di Mataram. Mereka melaporkan tentang kekalahan pasukan Dipati Ukur terhadap VOC dan memberitahukan lokasi persembunyian Dipati Ukur di Gunung Pongporang. Kekalahan Dipati Ukur dan tidak kembalinya Dipati Ukur ke Mataram dianggap oleh Sultan Agung sebagai pemberontakan terhadap penguasa kerajaan Mataram.


H.PENANGKAPAN DIPATI UKUR


Mendengar bahwa Dipati Ukur gagal mengalahkan VOC di Batavia dan bersembunyi bersama pengikutnya, Sultan Agung mengutus Bahurekso untuk menangkap Dipati Ukur. Keempat umbul yang menentang Dipati Ukur dijadikan sebagai penunjuk jalan. Kabar tentang datangnya serbuan bala tentara Mataram yang dipimpin Bahurekso telah sampai kepada Dipati Ukur. Berita itu tidak mengagetkannya karena Dipati Ukur sudah menduga bahwa akan diperangi pasukan Mataram. Dipati Ukur memanggil para umbul pengikutnya agar mengatur pasukan masing-masing untuk menghadapi peperangan.


Bahurekso mengirimkan utusan kepada Dipati Ukur untuk menanyakan, apakah ia akan menyerah atau tidak. Dipati Ukur menjawab bahwa ia telah bertekad untuk melawan. Terjadilah perang antara pasukan Dipati Ukur melawan pasukan Bahurekso. Karena jumlah pasukan Bahurekso lebih banyak, pasukan Dipati Ukur terdesak. Dipati Ukur dan pengikutnya berhasil meloloskan diri dan bersembunyi di Gunung Lumbung (terletak di kawasan Batulayang, Cililin, Bandung Barat). Di sana, mereka membangun perkampungan dan tinggal di sana bersama sekitar 1000 orang pengikut beserta keluarganya. Di sana mereka bercocok tanam, membuka sawah dan tegalan.


Setahun kemudian Dipati Ukur mendapat serangan lagi dari pasukan Mataram, dipimpin oleh Tumenggung Narapaksa dari Mataram. Pasukan Dipati Ukur melawan dan berhasil meloloskan diri. Berdasarkan catatan Belanda, Sekitar 100.000 pasukan dikerahkan untuk meratakan tanah Ukur dan Sumedang. Banyak dari penduduk Ukur ini yang mengungsi ke Banten dan Batavia. Pasukan Dipati Ukur yang bertahan di Gunung Lumbung berhasil menahan serangan pertama dari pasukan Mataram.


Pada serangan kedua, Tumenggung Narapaksa bertemu dengan seseorang yang menguasai wilayah Gunung Lumbung. Selain itu ia dibantu oleh pasukan yang berasal dari tanah Pasundan. Di dalam Naskah Leiden Oriental yang ditulis oleh R.A. Sukamandara disebutkan bahwa Dipati Ukur ditangkap oleh pasukan yang dipimpin Bagus Sutapura, Adipati Kawasen (sekarang terletak di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis). Serangan ini berhasil mematahkan pertahanan Dipati Ukur. Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (wilayah Batulayang, sekitar 3 km sebelah barat alun-alun Cililin, Kabupaten Bandung Barat) pada tahun 1632 dan dihukum mati di Mataram.


I.VERSI LAIN PENANGKAPAN DIPATI UKUR


Terdapat beberapa versi kisah penangkapan Dipati Ukur, antara lain pendapat Karel Frederik Holle yang menyebutkan bahwa Dipati Ukur tertangkap di suatu tempat sekitar 7 km di sebelah barat Jakarta (sekarang bernama Cengkareng). Penangkapnya adalah tiga umbul dari Priangan Timur, yaitu Umbul Sukakerta (Ki Wirawangsa), Umbul Cihaurbeuti (Ki Astamanggala) dan Umbul Sindangkasih (Ki Somahita). Dipati Ukur kemudian dibawa ke Mataram dan oleh Sultan Agung dijatuhi hukuman mati pada tahun 1632.


J.PENINGGALAN DIPATI UKUR


Peninggalan Dipati Ukur sebagian besar ditemukan di tempat-tempat persembunyiannya selama bergerilya melawan Mataram (di Gunung Lumbung) dan di Kampung Pabuntelan, yang dahulu menjadi ibu kota Tatar Ukur. Tempat-tempat itu sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Bandung. Barang-barang peninggalan yang ditemukan berupa bekas perkampungan, makam, senjata, piagam, patung, batu dan lingga.


Beberapa peninggalan Dipati Ukur ditemukan di Kampung Pabuntelan, bekas ibu kota Tatar Ukur yang sekarang berada di Desa Mekarjaya (dulu bernama Desa Tenjonagara), yaitu di perbatasan antara Desa Cipeujeuh dan Kecamatan Banjaran (20 km arah tenggara Kota Bandung). Di sana ditemukan sebuah makam kecil, pohon beringin, sebidang tanah berbentuk persegi yang berpagar bambu, sebuah lingga batu, sebuah batu bundar, dan beberapa buah pohon paku haji. Konon di kampung Pabuntelan ini Dipati Ukur melepaskan pakaiannya, kemudian di-buntel karena dikejar-kejar oleh pasukan Mataram. Dari Pabuntelan, Dipati Ukur melarikan diri sampai ke Cisanti (Gunung Wayang) dan Gunung Puntang.

 


Sumber : Wikipedia

Gambar : Ilustrasi Dipati Ukur versi Cirebon.