24 November 2022

Sejarah Magelang - Buk Selen Juritan Kidul

 Buk Sêlèn, Juritan Kidul, dulu & kini

Oleh : Cahyono Edo Santosa

'Buk Sêlèn' demikian orang Magelang menyebutnya. 'Buk' dari kata 'boog' yang bermakna bangunan pelengkap yang dibangun di kedua sisi ujung jembatan yang berfungsi sebagai pengaman bagi kendaraan atau orang yang melewati jembatan. Sedangkan 'sêlèn' dalam bahasa Jawa berarti 'berbeda', karena memang ukuran 'buk' di lokasi ini berbeda ukurannya antara kanan kirinya. Nah, ngalor sithik, ada pasar Ngasem yang buat saya pribadi menyimpan berjuta kenangan. Termasuk buru-buru pulang waktu diajak Mak saya belanja, gara-gara takut dengan pengamen 'wadam'. 😆 


📷 : Arsip Kota (1982), Streetview (2022)



15 November 2022

Sejarah Magelang - Bangunan Tua di Sigaluh

 Jln2 lihat Bangunan TOEA yg masih utuh...lokasi Belakang eks gedung Bioskop Kresna...



Sejarah Magelang - Senam SKJ 1987

 Senam SKJ 1987


Mom lagi senam di kantor..

Oleh : Sigit Leksmono Widiarto



Sejarah Magelang - SMP A Yani Panca Arga Magelang 1982

 Oleh : Didik Supramono

Nganti lali rupa'ku ki koyo opo, 40 thn yang lampau...

SMP A.Yani Pancaarga Magelang di Kejurnas Drumband di Jakarta 1982

(Duduk dari kiri No 4)



Sejarah Magelang - Mujen Panca Arga Akabri

 Oleh : Sigit Leksmono Widiarto


Dirgahayu 65th Akmil, 20 tahun tinggal di Asmil Mujen / Panca arga.  

 Mujen home sweet home  ..... banyak cerita di sini... dari balita hingga dewasa bareng teman - teman sebaya hingga senior - senior mujen / panca arga.   Sampai sekarang aja ada yg masih ingat nama panggilan ku waktu kecil.    Suatu hari pas lagi  berdiri di jalan...  ada ex panca arga... memanggil.... ko prangko... lah lak tenan... sing manggil   teman kakak saya ( mas argo)  ... paraban prangko hanya teman2 panca arga yg tau, di panggil prangko sebab anaknya bu sur panca arga, ibu ku idolanya Lulu Lestary  waktu kecil.  Waktu lulu kecil suka ke tempat ibu kalau lagi bekerja...  seperti yang diceritakan kakaknya lulu, mas sangkan..  lulu bercita - cita ingin seperti bu sur.



14 November 2022

Potret seorang perempuan dan laki-laki di Batavia, masing-masing memainkan gambang kromong dan rebab sekitar tahun 1870

 Potret seorang perempuan dan laki-laki di Batavia, masing-masing memainkan gambang kromong dan rebab sekitar tahun 1870.


📸 Woodbury & Page, Leiden.




Sejarah Magelang - De Kock

 Pasti tak asing lagi dengan nama DE KOCK.


Apakah ada yang pernah melihat monumen ini?

Oleh : Eva Mentari Christoph

Mirip seperti monumen peringatan atas kematian istri Raffles yang terletak di dalam area Kebun Raya Bogor, monumen semacam itu juga didirikan di halaman rumah residen Kedu sebagai monumen peringatan atas kematian istri de Kock, yaitu Wilmine Louise Gertruide von Bilfinger yang meninggal di Magelang tanggal 28 Desember 1828.  Makamnya sendiri terletak di oude begraafplaats.  







Pejabat Belanda, mungkin Mr. Kornmann, dan seorang kepala desa di jalan antara Painan dan Padang. Tahun 1910

 Pejabat Belanda, mungkin Mr.  Kornmann, dan seorang kepala desa di jalan antara Painan dan Padang. 

Tahun 1910. Author/creator : Mew Fong.



Potret tiga orang wanita Melayu di Batavia, kemungkinan bekerja sebagai pelayan sekitar tahun 1870

 Potret tiga orang wanita Melayu di Batavia, kemungkinan bekerja sebagai pelayan sekitar tahun 1870.


📸 Woodbury & Page, Leiden.




13 November 2022

Pedagang Asongan di Stasiun Kedoe, Jawa Tengah 1919

 Pedagang Asongan di Stasiun Kedoe, Jawa Tengah 1910 (Koleksi: kitlv.nl)




Potret suasana jalan Malioboro, Yogyakarta, pada tahun 1910

 Potret suasana jalan Malioboro, Yogyakarta, pada tahun 1910.

-----

Sumber Foto 📸 : KITLV Leiden 

Oleh : @potret.sejarahindonesia




Potret suasana jalan dengan pejalan kaki, di latar belakang Huize Dorothea, Bandung, Jawa Barat, sekitar tahun 1937.

 Potret suasana jalan dengan pejalan kaki, di latar belakang Huize Dorothea, Bandung, Jawa Barat, sekitar tahun 1937.

-----

Sumber Foto 📸 : Nederlands Fotomuseum

Oleh : Potret Sejarah Indonesia



Potret keluarga G.M.G. Douwes Dekker di depan sebuah rumah di Bataviascheweg, Buitenzorg, sekitar tahun 1937-1942

 Potret keluarga G.M.G. Douwes Dekker di depan sebuah rumah di Bataviascheweg, Buitenzorg, sekitar tahun 1937-1942

-----

Sumber Foto 📸 : O.Hisgen & Co

Oleh : Potret Sejarah Indonesia




Potret seorang wanita Eropa berkebaya bersama seekor anjingnya, kemungkinan di Jawa Barat, sekitar tahun 1919.

 Potret seorang wanita Eropa berkebaya bersama seekor anjingnya, kemungkinan di Jawa Barat, sekitar tahun 1919.

-----

Sumber Foto 📸 : KITLV Leiden

Oleh : Potret Sejarah Indonesia



12 November 2022

Sejarah Magelang - Dulu : Kerkhoff/Kuburan Kristen Magelang (1983) Kini : Jl. Ikhlas (2022)

 Dulu : Kerkhoff/Kuburan Kristen Magelang (1983)

Kini : Jl. Ikhlas (2022)

Oleh : Cahyono Edo Santosa

📷 : Arsip Kota (1983), Streetview (2022)




11 November 2022

Sejarah Magelang - kiri foto th 2022 kanan th 2015 jl. tentara pelajar kota magelang

 kiri foto th 2022 kanan th 2015 jl. tentara pelajar kota magelang

Oleh : Adhi Prasetya

Sumber: GoogleMaps strertviev





09 November 2022

Potret seorang jaksa di Bandung menunggang kuda sebelum tahun 1863. Gambar ini dapat ditemukan dalam buku berjudul "Journey to and over Java with the Overland-Maildienst der Messageries Imperiales" karys F. Lebret dan J.H. Lebret hlm. 280 dan 281

 Potret seorang jaksa di Bandung menunggang kuda sebelum tahun 1863. Gambar ini dapat ditemukan dalam buku berjudul "Journey to and over Java with the Overland-Maildienst der Messageries Imperiales" karys F. Lebret dan J.H. Lebret hlm. 280 dan 281.


📸 Woodbury & Page, Leiden.




Sejarah Magelang - Pastur Verbraak

 Oleh : Eva Mentari Christoph

Ketemu juga lokasi pemakaman Pastur Verbraak.  Dimakamkan di nieuwe Begraafplaats aan den grooten weg naar Djokjakarta, 1e Afdeeling Vak III.  Alias Kerkhof bukit Tidar Magelang bukan di Muntilan 







08 November 2022

Sejarah Magelang - Gereja Penebus di Jalan Sunan Kalijaga 1985

 Gereja Kristus Penebus, Magelang (1985)


Gereja Kristus Penebus dirintis pada tahun 1973, digembalai oleh bapak Pdt. Dr. Timothy Roy Kartiko, MA beserta sang istri ibu Pdt. Lea Sinta Tedjowati, MA. Gereja ini dapat dijumpai di Jln. Sunan Kalijaga 5-7, Kota Magelang. 


Menurut Pdt. Timothy Roy, bangunan gereja ini diarsiteki oleh Bpk. Ir. Andy Hidayat (pemilik foto) dengan desain menyerupai kapal Toraja yang mengejawantah filosofi bahtera nabi Nuh yang menyelamatkan jiwa-jiwa dari hukuman Tuhan di akhir jaman.


📷 : Ir. Andi Hidayat





05 November 2022

Sejarah Magelang - Pecinan 1969

Pecinan 1969

Oleh : Cahyono Edo Santosa

📷 : Alm. Yusuf Kusuma



Potret Raden Saleh di Batavia tahun 1872.

 Potret Raden Saleh di Batavia tahun 1872.



04 November 2022

ASAL USUL NAMA DAWET AYU

 ASAL USUL NAMA DAWET AYU


Bagi para pecinta kuliner, khususnya kuliner jalanan, pasti tidak asing dg nama Banjarnegara. Ya, Banjarnegara menjadi lebih dikenal di luar sana, salah satunya akibat kuliner minuman legendaris asal Banjarnegara, Dawet Ayu. Dimana Yg pada tahun 2020, berhasil memenangkan 2 Anugerah Pesona Indonesia kategori Minuman Tradisional Terpopuler dan Terfavorit. 


Dawet ayu sendiri merupakan minuman tradisional enak, menyegarkan, yg bulirannya terbuat dari tepung beras yg diberi pewarna hijau alami dari perasan pandan. Kemudian, dalam satu gelas itu umumnya bercampur dg santan, gula merah cair, serta tambahan es batu, agar lebih menyegarkan. 


Sekilas memang nampak seperti Cendol, yg berasal dari Jawa Barat. Namun, jika lebih diperhatikan, ada beberapa perbedaan diantara keduanya. 


Dawet ayu umumnya memiliki buliran yg terbuat dari tepung beras. Sedangkan cendol, umumnya terbuat dari tepung hungkwe atau tepung kacang hijau.


Lantas, Mengapa Ada embel-embel kata Ayu dibelakangnya? 


Ayu merupakan kata dalam Bahasa Jawa yg berarti cantik. Namun, ada beberapa cerita sejarah mengenai penamaan dawet ayu pada minuman khas Banjarnegara itu. 


Dikutip dari cagarbudayambanjar.id, awalnya tidak ada istilah dawet ayu, yg ada hanyalah dawet. Saat itu, umumnya kaum adamlah yg berprofesi sebagai penjual dawet. Hal ini karena cara menjual dawet saat itu, dg cara dipikul, yg tentunya akan sulit jika dilakukan oleh kaum hawa. 


Adalah Bapak Munarjo, penjual dawet Banjarnegara yg berhasil mengubah dunia perdawetan Banjarnegara. Saat itu, ia mengubah cara menjual dawet yg biasa dipikul menjadi mangkal. Pada awalnya, ia mangkal di depan losmen setia Jalan Veteran Banjarnegara, dg ditemani istrinya yg bernama Marfuah. 


Pelawak Peyang Penjol asal Banyumas yg kala itu mampir di warung dawet Bapak Munarjo, berujar: "Pantes Sing dodol ayu, ya dijenengi bae Dawet Ayu." 


Lantas, grup lawak itu membuat lagu berjudul Dawet Ayu tanpa sepengetahuan Bapak Munarjo dan istrinya. Lagu itu, sering dinyanyikan Peyang Penjol di sela-sela lawakannya. 


Hingga akhirnya, Warung Dawet Bapak Munarjo dan istrinya itu dikenal dg sebutan Dawet Ayu, yg terkenal hingga se-antero Banyumas Raya. Di kemudian hari, hampir seluruh penjual dawet mengklaim sebagai Dawet Ayu Banjarnegara. 


Kini, Hasil kreasi Keluarga Bapak Munarjo itu telah merambah di berbagai wilayah di Nusantara, hingga mempopulerkan daerah nya, Banjarnegara. 


Referensi: Dari Berbagai Sumber.


📷: © iqbalkautsar



Pria Kerdil Liliput di Keraton Surakarta 1870

 Potret seorang pria kerdil di Keraton Surakarta sekitar tahun 1870. Sang pemotret menyebutnya Liliputan. Liliputan adalah manusia berukuran tubuh kerdil, konon manusia Liliputan memiliki sifat serakah, cemburu, manipulatif, licik, kejam, egois, dan tidak dapat dipercaya. Manusia Liliputan banyak ditemukan di Pulau Lilliput, yang terletak di Samudera Hindia.


📸 Woodbury & Page, Leiden.




03 November 2022

masih berfungsi dan digunakan .. hanya di malang. POMPA BENSIN JADUL...

 masih berfungsi dan digunakan .. hanya di malang. POMPA BENSIN JADUL...



Potret pernikahan Raden Mas Hendraningrat, asisten wedana di Teluknaga, Tangerang dengan Raden Ajoe Sitti Hairani, Ca.1908

 Potret pernikahan Raden Mas Hendraningrat, asisten wedana di Teluknaga, Tangerang dengan Raden Ajoe Sitti Hairani, Ca.1908

-----

Sumber Foto 📸 : Nederlands Fotomuseum

Oleh : Potret Sejarah Indonesia



Alun-alun Yogyakarta, 1900

 Alun-alun Yogyakarta, 1900


Foto: Kassian Cephas



Potret seorang pengantin wanita dari Priyangan, Jawa Barat, Ca.1906

 Potret seorang pengantin wanita dari Priyangan, Jawa Barat, Ca.1906

-----

Sumber Foto 📸 : KITLV Leiden 

Oleh : Potret Sejarah Indonesia




Alat penerangan tempo dulu

 Alat penerangan tempo dulu.



Potret seorang pedagang Tionghoa dan pria Jawa saat berdagang bersama di Pulau Jawa sekitar tahun 1870

 Potret seorang pedagang Tionghoa dan pria Jawa saat berdagang bersama di Pulau Jawa sekitar tahun 1870.

 

📸 Woodbury & Page, Leiden.

 



Potret seorang Tionghoa yang bekerja sebagai tukang kunci di Batavia sekitar tahun 1870

 Potret seorang Tionghoa yang bekerja sebagai tukang kunci di Batavia sekitar tahun 1870.


📸 Woodbury & Page, Leiden.




02 November 2022

Suasana di Tanah Abang, Jakarta 1875

 Suasana di Tanah Abang, Jakarta 1875


National Museum of World Cultures




Kali Ciliwung Jakarta 1900

 Kali Ciliwung Jakarta 1900


National Museum of World Cultures



Sadranan Kyai Tuk Songo Cacaban Kota Magelang

 Tradisi Nyadran di Kompleks Makam Kyai Tuk Songo yang berada tidak jauh dari aliran Kali Progo, Cacaban, Kota Magelang, secara rutin dilaksanakan pada hari Jum'at Pon pada Bulan Besar. Apabila dalam Bulan Besar tidak ada hari Jum'at Pon , maka Nyadran dilaksanakan pada hari Jum'at Kliwon Tradisi Nyadran (Merti Desa) diselenggarakan di kompleks makam Kyai Tuk Songo di wilayah Kelurahan Cacaban, tepatnya dipinggir sungai progo pada setiap hari Jumat Pon Bulan Dzulhijah dengan membersihkan makam, membaca tahlil, dan terakhir makan bersama dengan masakan khas "Gulai Kambing" yang dimasak masyarakat dan pantang untuk dicicipin. Upacara ini dipercayakan masyarakat sebagai "tameng " dari segala bencana.



Potret sejumlah pria bermain kartu Cina di Jawa Tengah sekitar tahun 1910

 Potret sejumlah pria bermain kartu Cina di Jawa Tengah sekitar tahun 1910.


📷 digitalcollections.universiteitleiden




Potret tiga orang wanita Tionghoa yang berprofesi sebagai penari di Jawa Timur sekitar tahun 1910

 Potret tiga orang wanita Tionghoa yang berprofesi sebagai penari di Jawa Timur sekitar tahun 1910.


📷 digitalcollections.universiteitleiden




Potret dua isteri Raja Buleleng: Jero Trena dan I Jampiring tahun 1865

 Potret dua isteri Raja Buleleng: Jero Trena dan I Jampiring tahun 1865.


📷 digitalcollections.universiteitleiden




Seorang tahanan dan petugas keamanan di Surabaya, 1880

 Seorang tahanan dan petugas keamanan di Surabaya, 1880


Foto: JB Jasper



01 November 2022

Seorang lelaki sedang mengupas kelapa di Sungai Rampah, Serdang Bedagai 1925

 Seorang lelaki sedang mengupas kelapa di Sungai Rampah, Serdang Bedagai 1925



Potret studio dua orang wanita Sunda berkebaya, di Jawa Barat [Nederlands-Indië], Ca.1880

 Potret studio dua orang wanita Sunda berkebaya, di Jawa Barat [Nederlands-Indië], Ca.1880

-----

Sumber Foto 📸 : KITLV Leiden 

Oleh : Potret Sejarah Indonesia



Tempe Kemul

 TEMPE KEMUL


Tempe Kemul merupakan kuliner khas daerah Wonosobo dan sekitarnya. Nama Kemul berasal dari Bahasa Jawa, yg berarti Selimut. Sehingga, Tempe Kemul diartikan sebagai Tempe yg diselimuti.


Maksud Selimut dalam hal ini adalah adonan tepung yg dicampur dg daun bawang, dan tambahan lainnya, yg kemudian dibalutkan pada tempe.


Secara bahan, memang hampir sama dg tempe mendoan di daerah Banyumas Raya. Diantara Perbedaan yg mencolok antara keduanya adalah tempe kemul digoreng dg benar-benar matang. Sedangkan tempe mendoan digoreng setengah matang.


Referensi: Dari Berbagai Sumber.


📷: © De Sas




Angkutan umum di Saparua, 1980

 Angkutan umum di Saparua, 1980


Foto: Henk van Rinsum



Grebeg Gule Kyai Tuk Songo Cacaban Kota Magelang

 Grebeg Gule Tuk Songo dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tradisi Nyadran di Kompleks Makam Kyai Tuk Songo yang lokasinya berada tidak jauh dari aliran Kali Progo, Cacaban, Kota Magelang. Grebeg Gule dan Nyadran dilaksanakan secara rutin pada hari Jum’at Pon pada Bulan Besar. Apabila dalam Bulan Besar tidak ada hari Jum’at Pon , maka Nyadran dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon  Kirab Grebeg Gule  Tuk Songo dimulai dari Lapangan Kwarasan, Cacaban, Kota Magelang menuju ke komplek makam Kyai Tuk Songo. Dalam kirab ini, beberapa orang tampil di depan dengan berpakaian bregada yang memikul sebuah tempayan berisi masakan gule  kambing. Di belakang ada beberapa orang yang salah satu tangannya memegang sebuah layah yang berisi daging masakan gule, kemudian disusul dengan kelompok yang memikul gunungan hasil bumi, dan bagian belakang tampil kesenian tradisional.  Sebelum kirab atau arak-arakan ini berangkat menuju ke komplek makam Kyai Tuk Songo, juga digelar sebuah fragmen yang menceriterakan asal-muasal hadirnya gerebeg gule  ini, dan secara simbolis prosesi gerebeg gule diawali dengan penuangan daging kambing ke dalam tungku atau tempayan oleh Pejabat Pemerintah Kota Magelang. Dengan penuh kebersamaan dan suka ria, masyarakat pun memasaknya, untuk kemudian masakan tersebut dikirab menuju ke komplek makam Kyai Tuk Songo.  Untuk sampai di komplek makam, yang tidak jauh dari aliran Kali Progo ini, terlebih dahulu harus jalan kaki menyusuri pematang sawah yang berkelok-kelok. Bersamaan dengan itu masyarakat Kelurahan Cacaban Kecamatan Magelang Tengah sudah banyak yang menunggu sambil duduk lesehan di atas alas atau tikar yang dibawa dari rumah masing-masing. Selain membawa tikar atau alas untuk duduk lainnya, warga pun datang juga membawa tas yang berisi makanan, ada yang berbentuk nasi kuning lengkap dengan lauk-pauknya, nasi putih dengan beberapa lauk sayur-sayuran maupun jajanan buatan sendiri.  Beberapa acara juga digelar di komplek makam ini, diantaranya ceramah agama yang dilanjutkan dengan pembacaan Surat Al-Ikhlas, tahlil maupun lainnya. Begitu pembacaan Surat Al-Ikhlas dan tahlil, yang dipimpin seorang kyai atau Ustad selesai dilakukan, beberapa warga langsung saling tukar makanan yang dibawanya. Beberapa saat kemudian, warga pun mulai berebut gunungan hasil bumi, yang di bagian atasnya terdapat sebuah jantung pisang sebagai 'mahkota'-nya. Beberapa orang kemudian juga berebut gulai kambing, yang diletakkan di lokasi lain.  Dalam acara Grebeg Gulai Tuk Songo ini juga dibacakan sejarah riwayat Nyadran ini yang dibacakan seorang warga. Dalam sejarah riwayat Nyadran Tuk Songo disebutkan kalau beberapa tahun silam di wilayah Cacaban terjadi pageblug dan banyak warga yang sakit kemudian meninggal dunia. Hal ini memperoleh perhatian santri dan tokoh agama saat itu, Kiai Kodri, meminta untuk dilaksanakan mujahadahan di tepi aliran Kali Progo ini untuk mohon keselamatan. Kyai Tuk Songo sendiri merupakan nama samaran dari Kiai Ahmad Abdussalam, yang merupakan salah satu murid Pangeran Diponegoro yang berasal dari Keraton Surakarta. Konon Kyai Tuk Songo ini merupakan teman Kyai Langgeng, dan sama-sama berjuang melawan penjajah Belanda.      Tradisi Nyadran di Kompleks Makam Kyai Tuk Songo yang berada tidak jauh dari aliran Kali Progo, Cacaban, Kota Magelang, secara rutin dilaksanakan pada hari Jum'at Pon pada Bulan Besar. Apabila dalam Bulan Besar tidak ada hari Jum'at Pon , maka Nyadran dilaksanakan pada hari Jum'at Kliwon    Tradisi Nyadran (Merti Desa) diselenggarakan di kompleks makam Kyai Tuk Songo di wilayah Kelurahan Cacaban, tepatnya dipinggir sungai progo pada setiap hari Jumat Pon Bulan Dzulhijah dengan membersihkan makam, membaca tahlil, dan terakhir makan bersama dengan masakan khas "Gulai Kambing" yang dimasak masyarakat dan pantang untuk dicicipin. Upacara ini dipercayakan masyarakat sebagai "tameng " dari segala bencana.



Keluarga Belanda sedang makan di sebuah restoran, lokasi dan tahun tidak diketahui

 Keluarga Belanda sedang makan di sebuah restoran, lokasi dan tahun tidak diketahui 


Rijksmuseum