26 April 2022

Sejarah Magelang - Toko Bunga Art Floral Poncol Magelang

 Toko Bunga "ART FLORAL" Poncol, Magelang 


Oleh ; Cahyono Edo Santosa


Salah satu hal terindah di Magelang tentu saja adalah toko bunga dan pembibitan Dolle Chevalier yang terkenal di Grootenweg Noord 21. Toko bunga ini didirikan pada tahun 1904 oleh Ny. Chevalier. 

Berawal dari usaha kecil, tetapi melalui pengelolaan yang baik dengan pengiriman bunga yang sangat baik, bisnis ini memikat dan menarik perhatian masyarakat. Kemajuan besar terjadi saat Ny. Dolle, diajak Ny. Chevalier untuk bersama-sama mengelola toko bunga ini pada  bulan Juni 1934. 

Peresmian renovasi bangunan ruko yang diarsiteki oleh H. Pluyter dihadiri oleh pihak terkait dan masyarakat umum. 

Art Floral juga memiliki pembibitan sendiri di Trasan. Pembibitan  tersebut cukup banyak memasok bisnis bunga di Mageiang. 

Bisnis toko bunga ini sepenuhnya dikelola oleh pemiliknya sendiri, yaitu Ny. Dolle & Chevalier. Art Floral dikenal dengan pengiriman karya yang indah dan luar biasa, tapi dengan harga yang kompetitif!


Sumber : iklan kecik De Locomotief, 28 September 1934





25 April 2022

Sejarah Magelang - Jejak Tinggalsn Ratu Beatrx di Kota Magelang

 DE GEBOORTE PRINSES BEATRIX : Jejak Tinggalan Putri Beatrix di Kota Magelang (Bagian II)


Oleh : Chandra Wisnu zwardhana


Pesta kelahiran Putri Beatrix yang sudah mulai digelar sejak malam tanggal 31 Januari 1938 oleh Panitia Oranye, ternyata bukan perayaan satu-satunya yang diselenggarakan oleh pemerintah kota. Perayaan kelahiran calon pewaris tahkta Kerajaan Belanda tersebut justru adalah acara pembuka rangkaian acara lainnya. Disebutkan bahwa, sehari setelah kelahiran Sang Putri yaitu 1 Februari 1938, sebuah perayaan besar digelar oleh pihak Militer Magelang dengan mengadakan pesta musik di kompleks garnisun dan gelar pasukan KNIL pada pukul 7 pagi di lapangan garnisun (militaire kampementen). Dalam acara ini, seluruh serdadu yang ada di dalam garnisun berbaris dalam formasi sempurna yang siap menjadi penjaga marwah Kerajaan Belanda di Tanah Hindia.


Upacara dan gelar pasukan yang diselenggarakan oleh pihak militer ini dihadiri oleh seluruh pejabat regional dan lokal serta seluruh Komite Oranye selaku panitia perayaan. Diantara tamu kehormatan yang hadir pada acara tersebut adalah Komandan Divisi II (Commandant van Tweede Divisie) Kolonel Pesman, Komandan pasukan (Troepencommandant) Kolonel van Resteren selaku inspektur upacara. Dalam kesempatan ini, komandan divisi II, Kol. Pesman memberikan pidato singkat dan ditutup dengan sorakan "Hoera" sebanyak tiga kali kepada Putri yang baru lahir dan Pasangan Pangeran dan Keluarga Kerajaan Belanda. Setelah upacara selesai, pasukan KNIL dari garnisun kemudian berbaris dan berparade keliling kota. 


Setelah upacara dan parade militer usai, acara perayaan kemudian dilanjutkan dengan kebaktian diberbagai gereja seperti de Protestanche Kerk di Aloon-Aloon dan Gereformeerde Kerk pada pukul 10 pagi. Disaat yang sama, masyarakat muslim Magelang juga menggelar doa bersama di Masjid Agung Magelang untuk keselamatan sang putri.


Setelah acara doa selesai, Walikota Nessel van Lissa, selaku ketua Panitia Oranye, melakukan upacara seremonial penanaman pohon beringin (gedenkboom/waringin) di Badaanplein pada pukul 11.15 sebagai wujud simbolisme kebahagiaan atas kelahiran Putri Beatrix. Walikota Nessel dalam pidatonya juga memberi nama pohon beringin itu nama depan putri yang baru lahir, "BEATRIX". Dalam pidatonya, Nessel berkata, 


"Semoga dia (pohon beringin) berhasil menjadi pohon yang besar dan kuat, yang akan terbukti layak mendapatkan (gelar) Prinses van Oranje Nassau. Semoga putri kecil ini atau orang tuanya suatu saat nanti datang di kota ini dan melihat pohon itu, dan kemudian mengenali di dalamnya sedikit tanda cinta dan kasih penduduk Magelang terhadap keluarga kerajaan kita." 


Setelah sorakan "hoera" tiga kali yang ditujukan kepada anak Pangeran, upacara ditutup dengan pemutaran lagu kebangsaan Wilhelmus oleh Korps Resimen Musik (regimentsmuziekkorps). Pesta perayaan kelahiran Putri Beatrix tidak hanya berhenti di situ. Rangkaian agenda pesta rakyat di Magelang justru baru saja akan dimulai. Bersambung...


-Chandra Gusta Wisnuwardana - 






*kemankah pohon beringin Beatrix ini sekarang? Sungguh disayangkan, tidak nampak adanya jejak pohon beringin yang pernah ditanam dan tumbuh di Taman Badaan sekarang ini. Harapan dan doa walikota Nessel yang pernah diucapkan pada 1 Februari 1938, memang benar terwujud di kemudian hari. Putri Beatrix pada tahun 1995 benar-benar menjejakkan kakinya di Magelang. Namun sayang, ia tidak mampir ke Badaanplein dimana sebuah pohon beringin pernah didedikasikan untuk dirinya, melainkan ia bersama keluarga banya bertamasya di Candi Borobudur saja.

21 April 2022

Stasiun Muntilan

 Oleh : Cahyomo Edo Santosa


Foto dengan latar belakang Stasiun Muntilan tempo doeloe


Koleksi : Eko Budi Sulistya




20 April 2022

Sejarah Magelang - Dung Penanda Maghrib yang Ditunggu

 DUNG, PENANDA MAGRIB YANG DITUNGGU

Oleh : Bagus Priyana

Di era tahun 1980-an, setiap bulan ramadhan tiba, inilah momen yang ditunggu-tunggu setiap jelang buka puasa.


'Dung' begitu orang menyebutnya, berupa luncuran mercon ke udara di Alun2 Kota Magelang sebagai penanda jika magrib telah tiba.


Kolektif memori masyarakat usia dewasa masih mengingatnya dengan baik. Suaranya terdengar sampai puluhan kilometer. Luncuran mercon di udara selalu jadi tebakan.


SAVE PAHINGAN

 Oleh : Danu Sang Bintang


"Ini perintah walikota!" Bentak petugas itu kepada saya. 

"Suruh sini walikotanya!" Kata saya tak kalah sengit. Kami beradu muka sangat dekat sekali. Sementara seorang pedagang ketakutan di belakang saya. Saya balikkan badan, dan berkata, "Pak, sampeyan masuk halaman masjid saja." Saat petugas hendak mencegah, dan tetap bersikukuh membawa gerobak pedagang masuk truk, kembali saya beradu mulut. "Halaman masjid milik takmir dan warga Kauman. Pemkot tak berhak ikut campur!" Seru saya.  


Atas ijin kyai Miftah, ketua takmir, halaman masjid Jami' dan gang2 sempit kauman dijadikan tempat mereka berdagang hari itu. Hari itu adalah Minggu pahing, hari spesial umat muslim menyelenggarakan rutinan pengajian Pahingan. Mestinya, ribuan jemaah dari berbagai penjuru hadir di sini, dan puluhan pedagang menggelar dagangannya dengan riang gembira. Namun hari itu suasana sangat mencekam. Ratusan aparat yg terdiri dari TNI, polisi, satpol PP, linmas, bahkan hingga intel siap melaksanakan perintah walikota untuk merelokasi pasar Tiban Pahingan. Bbrp pedagang yg datang terlalu pagi sdh kadung diangkut truk dibawa ke CFD RINDAM. kami menyelamatkan sisanya. 


Pasar Pahingan dianggap melanggar aturan kawasan hijau alun2 dan perwal terkait aktivitas di kawasan itu tanpa ijin walikota. Padahal selama sekian rezim, pasar ini tak pernah diusik. Usianya yg lebih dari 60 tahun pun mestinya sdh layak disebut sebagai intangible heritage. Bagi kami, kehadirannya yg hanya 35 hari sekali itu tak sebanding dng kuliner tuin van java dan angkringan yg sama2 melanggar kawasan hijau setiap hari yg justru difasilitasi pemkot. Apalagi pedagang mainan di tengah lapangan yg saat itu pun kami tak yakin melakukan ijin sebelum berdagang. Karena saat pemkot diminta dokumen2 perijinan para pedagang kuliner, angkringan, dan mainan itu tidak bisa menunjukkannya. Ini bentuk ketidakadilan dan kami anggap ada maksud2 tersembunyi. 


Mungkin karena ndablegnya kami, akhirnya pemerintah menyerah dan meminta audiensi dng kami. Dicapailah kesepakatan tertentu terkait pasar Pahingan itu. Pasar boleh berdagang tetapi tidak di kawasan alun2, melainkan di jalan raya depan masjid, yg akan ditutup setengah hari. Tidak adil sebenarnya, tapi lebih baik drpd tidak sama sekali. Apalagi pedagang akan dijanjikan payung atau tenda untuk berteduh. Kami sepakat. Namun, urusan peneduh itu ternyata hingga hari ini hanya janji kosong belaka. 


Dan maksud tersembunyi itu ternyata semakin mewujud. Bangunan air mancur menari hadir di seberang masjid, tepat di mana para pedagang berjualan sebelumnya, merusak lansekap alun2. Kegilaan merubah fungsi alun2 dari lansekap sebagai taman di rejim itu memang sungguh terlalu. 


Saat itu, kami memang dihadapkan pada realita2 di mana mau tak mau kami harus penuh kecurigaan dng langkah2 pemkot. Termasuk ontran2 perebutan tampuk takmir yg disinyalir dilakukan kelompok radikal, aktivitas di masjid yg diam2 oleh mereka, dan lain sebagainya. Kami hanya ingin mempertahankan masjid ini sebagaimana adanya. Melestarikan bangunannya yg sdh ratusan tahun, aktivitas sosio kulturalnya, religinya, dan hal2 yg terkait padanya. Pengajian dan pasar Pahingan adalah ikonnya. Maka, dng segenap upaya pantas kami perjuangkan. 


12 orang kami berjuang melawan oligarki kekuasaan yg saat itu sedang jaya2nya. Tidak ada yg berani melawan selain kami. Bahkan DPRD pun secara lembaga yg mestinya menjadi penyambung lidah rakyat diam seribu bahasa. Pun banyak teman kami yg akhirnya memilih tiarap karena diancam ekonomi dan statusnya. Namun gelombang dukungan juga mengalir deras. Pers baik lokal maupun nasional hampir setiap saat menghubungi kami dan mewartakan. Jemaah gereja dan klenteng di sekeliling alun2 ikut mensupport dng bergabung dlm gerakan2 kami. Masyarakat ikut bergerak membagikan ulang postingan2 kami. Dan masih banyak lagi peran lainnya. 


Tidak ada perjuangan yg instan. Hampir setahun penuh kami berjuang. Banyak hal yg kami korbankan. Kami dijauhi teman, dikotakkan dari pekerjaan yg berhubungan dengan pemkot. Bahkan rumah om Bagus Priyana sempat juga kena molotov. Hingga saat berangkat di hari itu, saya ijin sama istri untuk didoakan yg terbaik. Jika ada apa2 mohon diikhlaskan karena kami akan menghadapi segala kemungkinan. Bisa bentrok fisik, diciduk, atau dikriminalkan. Atau mati. Entah. 


Kemarin petang, seperti kebiasaan kami 'mengeti' perjuangan itu, setiap akhir pekan hari Pahing di bulan ramadan, kami berkumpul. Berbuka puasa bersama, dan kangen2an. Kali ini tak bisa banyak yg hadir karena bebarengan dengan paskah. Banyak sedulur kristiani yg mengikuti ibadah sehingga tak bisa bergabung. Tak mengapa. Kami maklum dan justru meminta maaf karena mbareng2i. 


Pejuang pahingan ada 12 orang. Pakdhe MBilung Sarawita menyebutkan, kali ini ngepasi paskah. Murid Yesus juga ada 12 orang. Bedanya, di Pahingan tak ada yg mirip Yudas. Ya, kami memang benar2 liat dan percaya satu sama lain. Hubungan kami sudah seperti sekandung. Dan kami sungguh menghormati dan menyayangi orang2 yg berjuang bersama kami dulu sebagai saudara yg layak untuk saling melindungi. Spirit inilah yg layak dikabarkan kepada segenap warga hingga menjadi embrio toleransi. Toleransi inilah yg mestinya dibangun. Sebab saya lebih percaya bahwa Magelang sdh relijiyus sejak dulu meski tanpa gembar gembor, jauh sebelum pemerintah dng gagahnya menggelar program kota relijiyus. Tapi nggak papa juga, mungkin karena nggak punya ide lainnya yg lebih produktif. 





#kawandanu #savepahingan #magelang 


Muhammad Nafi Kang Adhang Legowo Paulus Agung Pramudyanto Iwan Maci Ady Saputra Katri Andriyanto Pangeran Arupadhatu Andritopo Senjoyo Pakdhe Wotok Jojok Sihab Yoko Sukoyok Glady Aleida Nurlaela Sukri Yoga Kurnianto Yoga Mboiz Reta Puspita Chandra Gusta Wisnuwardana Bambang Sarwo Wiedyas Cahyono Masyoga Cheng Cheng Phoo Bambang Eka Bep Sus Anggoro Christoporus Indrayanto Greg Wijaya Fransisca Nenny Genta Palugada

Tdar Sakti Magelang

Oleh : Tomo Lali Kadonyan

para legenda sepak bola ini tidar sakti Magelang




17 April 2022

Sejarah Magelang 1935

Oleh : chsndra Wisnu Wardhana 


Jejak serba - serbi serambi de Groote Moskee te Magelang yang bergaya Mughal (Moorsch - British India) hasil renovasi tahun 1935 karya arsitek H. Pluyter dan sentuhan akhir Hangelbroek atas inisiasi dan dukungan dari Raden Adipati Aryo Danoesoegondo selaku Bupati ke V Magelang, Pemerintah Kota Magelang (Stadsgemeente Magelang), Residen Kedoe dan masyarakat umum Magelang.




11 April 2022

PO Bis di Magelang

Oleh : Bagas Kara


 Di Magelang ada beberapa PO Bis yang beroperasi melayani berbagai jurusan. Kebanyakan melayani trayek lokal Semarang-Magelang -Jogja atau arah menuju Jakarta, Sumatra atau Jawa Timur, Bali, Lombok, termasuk ada juga bus Pariwisata. Yang khusus pariwisata yaitu bus Easy Trans (grup New Armada). Remaja, dan  Sanjaya.

Perusahaan Otobus yang ada di Magelang

Santoso

Ramayana

Easy Trans 

Sumber Waras Putra 

Handoyo 

Maju Makmur

Mustika 

Indo Trans 

Maranatha  

Remaja

Sanjaya




09 April 2022

SEJARAH MAGELANG - SEJARAH HARI JADI KOTA MAGELANG

 Oleh ; Danu Sang Bintang





"Dadi ngene. Jajal mok itungen. Magelang kuwi katulis kawiwitan tahun 907. Saiki tahun 2022. Piye matematikane kok isa 2022 dikurangi 907 ketemune 1116? Kan kudune 1115? Sing goblok aku apa sing kliru Muhammad bin Musa Al Khawarizmi?" 


Dimas Indra Muhammad Nafi Hudi Danu Wuryanto 


#kawandanu #lawasansaklawase #anakmudamembangunkota #omahganten

SEJARAH MAGELANG - SEJARAH PEMBENTUKAN HARI JADI KOTA MAGELANG

 1115 atau 1116????

Oleh : Liam Ang Ewoo


Pada suatu ketika, ada sebuah kerajaan besar pada masa itu. Kerajaan itu adalah Medang, juga disebut Mataram Kuno atau Mataram Hindu, adalah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad 8. Pada waktu itu kerajaan sedang dipimpin oleh  Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, kerajaan mengalami perkembangan pesat di berbagai bidang, baik pertanian, peternakan, perdagangan, keamanan, sosial, politik maupun peribadatan. Hal ini tak terlepas dari kerja keras dan pengabdian rakyatnya, serta kehidupan beragama yang terjaga. Pada suatu saat, di istana  berlangsung pertemuan antara Sang Raja dengan para ASN  yang membawahi masing masing wilayah.


Pada waktu itu kerajaan akan mengadakan pesta pernikahan. Undangan mulai disebar pada para tamu, namun masalah muncul disebuah desa Kuning, dimana para bandit sedang merajalela. Diduga, disinyalir, diperkirakan para bandit itu dapat menghambat acara yang akan dilaksanakan. Berita pernikahan Sang Raja cepat menyebar hingga pelosok desa. Sesuai perintah dari para patih, para kepala desa  mengadakan pertemuan.  Kepala Desa Pu Sna, Pu Kola, Pu Kara, Pu Punjeng, Pu Sudraka, memegang peranan penting dalam yang diadakan di rumah Pu Sna ini. Mereka berlima terkenal sangat baik dalam memimpin wilayahnya.  


Maka berkumpullah mereka untuk mengatur strategi gerilya setelah membaca buku Fundamentals of Guerrilla Warfare. Dengan panduan Buku tersebut, mereka melakukan Razia dadakan tanpa adanya pemberitahuan yang membuat masyarakat kalang kabut karena pada lupa bawa stnk gerobag arco mereka. Dan yang ditunggupun tiba, muncullah para bandit dengan muka imut nan menggemaskan mereka segera menghadang Razia tersebut. Adu mulutpun terjadi antara para bandit dan para patih sehingga karena tidak menemukan titik temu dari musyawarah untuk mufakat, terjadilah tawuran tak terelakkan. Tongkat, kayu dan batu jadi senjata tawuran, namun setelah half time kedudukan masih sama kuat 0-0 . 


Babak keduapun dimulai , serangan awal dari bek depan para bandit dengan tiki-takanya membuat strategi 3-5-2 catenaccio para patih terlihat biasa saja. Semakin diserang maka pertahanan para patih malah semakin kuat, hingga pada suatu ketika disaat para bandit mulai kelelahan akibat serangan beruntun tranpan henti membuat sebuah celah di sisi pertahanan para bandit. Para patih memulai serangan balik dengan sangat sigap, strategi catenaccio dipadukan dengan man to man marking membuat pertahanan para bandit kewalahan dan setelah beberapa saat hancurlah pertahanan para bandit. Para patih mulai menghujani serangan demi serangan dan luluh lantaklah para bandit. 

Para banditpun K.O setelah beberapa jab dan hook dari para patih menghujam penuh berkah. Para banditpun akhirnya ditawan, sebelum dibawa ke pihak berwajib tak lupa masyarakat yang ingin salam olahragapun ikut andil untuk urun sun sitik pada para bandit. Berita kemenangan itupun segera  menyebar kesegala penjuru. Seluruh laporan, telah dipelajari oleh penasehat kerajaan. Raja segera memerintahkan semua  pejabat untuk mempersiapkan perlengkapan. Dia akan  berkunjung ke desa Kuning, desa terparah karena serangan para bandit.


Tak lama kemudian , di desa Kuning, para kepala desa sekitar  turut  bekerja untuk menyambut kedatangan raja, terutama  Pu Sna, Pu Kola, Pu Kara, Pu Punjeng dan Pu Sudraka. 

Saat yang dinanti tiba. Di tanah lapang Desa Kuning, diatas mimbar, Sang Raja berdiri. Seluruh rakyat yang hadir terlihat hormat dan khidmat sambal ngantuk seperti anggota DPR sekarang, mendengarkan titah Sang Raja. Sang rajapun berterimakasih pada para patih Pu Sna, Pu Kola, Pu Kara, Pu Sudraka, dan Pu Punjeng.” Dengan isyarat tangan, Sang Raja memerintahkan  mereka mendekat. Mereka berlima berdiri, dan berjalan mendekat, menghadap Sang Raja.

Berkat jasa mereka berlima,  negara kembali aman. Karena pengabdian para patih selama ini, baik pada saat perkawinan kerajaan,  pengiriman pada kerajaan berupa hasil bumi yang melimpah, patuh pada perintah kerajaan, menjaga kebersihan tempat peribadatan, upacara keagamaan di Makangkuseswara, Puteswara, Kutusan, Silabhedeswara, Tuleswara, serta telah memberikan rasa aman terhadap warga, maka Kerajaan  memberikan  sebidang tanah perdikan yang akan kalian pimpin secara bergantian, masing masing dalam jangka waktu 3 tahun. 


Acara peresmian inipun dihadiri oleh banyak pihak yang ingin menonton ataupun dating demi sekedar amplopan. 

Selain itu terdapat pula wilayah atau daerah yang hadir sebagai saksi penetapan Sima (perdikan/otonom) yakni : 

wanua i miramiraḥ watak ayam tĕas 

wanua i paŋḍamuan sīma ayam tĕas 

wanua i waduŋ poḥ watak paṅkur poḥ ; 

wanua i kataṅguhan watĕk hamĕas. 

wanua i paṇḍamuan sīma wadihati

wanua i sumaṅka watak kaluŋ warak. 

wanua iŋ kabikuan iŋ wḍi taḍahaji paṅgul. 

wanua i sumaṅka watak taṅkil sugiḥ

Pejabat yang Hadir antara lain : 

• Juru di Ayam Tĕas ; Miraḥmiraḥ di Ayam Tĕas. wakilnya di Halaran desa di Paṇḍamuan sīma Ayam Tĕas 

• Juru di Makudur di Patalĕsan penduduk desa di Wadung Poh yang masuk wilayah Pangkur Poh, wakilnya di Wawaha penduduk desa di Katangguhan yang masuk wilayah Hamĕas, 

• (pejabat) Ayam Tĕas yang melakukan pembatasan (sīma) penduduk desa di Paṇḍamuan sīma milik Wadihati [sīma wadihati], 

• Makudur penduduk desa Sumangka yang masuk wilayah Kalungwarak, 

• Tiruan (pejabat) Patūngan penduduk desa di Kabikuan di Wḍi, 

• Taḍahaji di Panggul, 

• Juru dari Wadua Rarai di Patapān penduduk desa di Sumangka yang masuk wilayah Tangkil Sugih,

• Sang Juru di Patapan yaitu (pejabat) Matanda, (pejabat) Juru dari Lampuran (pejabat) Juru dari Kalula, (pejabat) Juru dari Mangrakat

• (pejabat) Patiḥ di (desa) Kayumwungan, di (desa) Sukun, (di desa), (pejabat) Wahuta Petir, (di desa) Paṇḍakyan 

• (pejabat) Wahuta Lampuran, (di desa) Paṇḍakyan 

• (pejabat) Parujar dari Patiḥ Kayumwungan, (di desa) Sukun, (di desa) Airbarangan, (pejabat) Kalima di Petir. (pejabat) Juru di Paṇḍakyan, (pejabat) Samwal

rāma i tpi siriŋ irikāŋ kāla (wilayah-wilayah yang menjadi batas sima (perdikan) dalam Prasasti Mantyasih : 

i muṇḍuan (Temanggung ada Prasastinya) ; i haji huma; i tulaṅair (Temanggung ada Prasastinya) ; i wariṅin ; i kayu hasam ;i pragaluh ; i wurut ; air hulu ; i sulaŋ kuniŋ ; i laṅka tañjuŋ ; i samalagi ; i wuṅkal tajam ; i hampran ;i kasugihan ; i puhunan ; i praktaha; i wa°atan; i turayun; i kalaṇḍiṅan; i kḍu; i pamaṇḍyan ; i tpusan (Temanggung ada Prasastinya).

Daerah-daerah ini sebagian besar ada di Kab. Temanggung.


Pada acara tersebut Pu Sna, Pu Kola, Pu Kara, Pu Sudraka, dan Pu Punjeng, tak dapat menyembunyikan perasaan mereka. Rasa haru, bangga, terhormat, dan rasa syukur tak dapat mereka tahan. Mereka serentak merendahkan diri, dan berdiri dengan lutut mereka. Rasa terimakasih tak terhingga mereka sampaikan pada Sang Raja. Para pejabat istana ikut merasa bangga dan haru. Sorak sorai kebahagiaan diiringi letupan long bumbung di Desa Kuning itu dilanjutkan dengan pesta rakyat selama 7 hari 7 malam. Semua bahagia, dari Sang Raja hingga seluruh warga di desa desa.


Begitulah kisah heroik para avenger jaman dahulu, 


Tamat


Rasah dianggep seriyess


Selamat hari Jadi Kota Magelang yang Ke 1116 opo 1115???

Mbuh lah sak bahagiane wae….

2022-907 = 1105



SEJARAH MAGELANG - EDI LONDO ORANG INDO MAGELANG

 Edi Londo dan Edi Londo, Orang Indo Magelang dalam bidikan TEMPO


Oleh : Bagus Priyana


Keduanya bernama sapaan yang sama, Edi Londo karena memiliki wajah yang mirip wong Londo (Belanda). Itu karena mereka memiliki darah Indo. Keduanya sama2 memiliki kesamaan hobi, mengendarai sepeda motor legendaris dari Amerika, Harley Davidson. 


Yang satu bernama Edi Sumardiman (90) yang lahir dari pasangan Sumardiman & Elizabeth Ani Vanhatten. Sumardiman jatuh cinta kala bertemu dengan Ani di sebuah tukang cukur di Jl. Pastoeran (kini Jl. Yos Sudarso) Kota Magelang.


Yang satunya bernama Jan Pieters Eddy Thomson alias Edi Susilo (70) yang lahir dari pasangan Lorensius Suhadi, seorang tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan Emiliana Francisca alias Siti Aminah. Emiliana Francisca merupakan wanita Indo yang lahir dari pasangan Gerardus Pardoen (seorang tentara KNIL) dan Kipoek dari Gombong.


Keduanya berdarah Indo, yang satu generasi ke 1 yang kedua generasi ke 2. Keduanya memiliki kisah hidup yang nyaris sama. Kesamaannya generasi di atasnya memilih tetap tinggal di Magelang, tidak eksodus ke Belanda kala masa bersiap antara tahun 1945-1949.


Keduanya bertempat tinggal berdekatan, masih 1 kelurahan yakni di kelurahan Magelang. Yang satu di Kampung Botton Nambangan dan yang satunya di Kampung Tulung. Dan saya tinggal di kampung di antara kedua kampung tersebut. 


Mereka 'sumringah' saat saya tunjukkan majalah Tempo yang memuat kisah hidup mereka. Mereka tak menyangka bahwa kisah hidupnya menjadi sebuah sajian artikel yang menarik untuk dibaca.


Kisah hidup mereka telah ditulis oleh majalah ternama Indonesia itu di edisi 6-13 feb 2022 lalu. Berikut link majalah tersebut.

https://majalah.tempo.co/read/selingan/165462/mengapa-banyak-warga-indo-dan-tentara-knil-memilih-indonesia






SEJARAH MAGELANG - SEJARAH LAHIRNYA HARI JADI KOTA MAGELANG

 ARSIP BUAT APA

Oleh : Muhamad Nafi

Sesorean ini, berempat kami berkunjung ke Kantor Depo Arsip di pojok Balaikota. Saya, sehabis kerja langsung meluncur ke sana begitu tahu teman-teman yang lain sudah berkumpul. Beberapa hal ingin kami ketahui dengan sungguh-sungguh sehingga hujan lebat pun kami terabas. Layanan dari ASN bidang arsip sungguh sangat kami apresiasi, mereka benar benar melayani masyarakat dan ramah dengan semua tamu yang berkunjung. Sayangnya, dari beberapa data dan arsip yang ingin kami ketahui tentang beberapa hal di Kota Magelang hanya satu yang bisa kami dapatkan. Mungkin karena mepetnya waktu atau mungkin karena katalog arsip yang belum sempat kami tanyakan.


Satu hal tersebut adalah tentang penentuan Hari Jadi Magelang. Semua tahu itu berangkat dari Prasasti Mantyasih I yang bertarikh 11 April 907 Masehi. Mantyasih sima/perdikan/wilayah yang yang dipercaya sekarang jadi Kampung Meteseh, kampung di ujung barat Kota Magelang. Di awal tahun 1989 di masa kepemimpinan Walikota Magelang Bapak Bagus Panuntun, salah satu walikota legendaris bagi Magelang, diinisiasi penentuan hari jadi melalui serangkaian kajian dan seminar oleh para pakar, akademisi, tokoh masyarakat dan ASN terkait waktu itu, beberapa saya kenal baik sampai sekarang. Ujungnya ditetapkanlah oleh DPRD Kota Magelang dalam sebuah Peraturan Daerah yang bertanggal 6 April 1989 tentang penentuan hari jadi. Yang didahului sebulan sebelumnya, tertanggal 6 Maret 1989, Pemerintah Kota Magelang melalui Surat Keputusan Walikota membentuk Panitia Peringatan Hari Jadi Magelang ke 1082 di Tahun 1989 dengan dasar yang sama yaitu Prasasti Mantyasih I hasil diskusi tim yang sama pula.


Anehnya, surat undangan dan mungkin juga publikasi tentang Peringatan Hari Jadi Magelang tersebut adalah sebagai peringatan yang ke 1083. Melihat keanehan ini menimbulkan banyak pertanyaan, antara lain; apakah itu merupakan ketidaksengajaan atau kelalaian dari panitia tersebut? atau apakah panitia mempunyai perhitungan lain yang bertentangan dengan keputusan  Walikota waktu itu?


Sebagaimana kita tahu, bisa dimengerti bahwa gesehnya penghitungan angka tahun hari jadi Magelang yang sekarang dikatakan peringatan ke 1113 bukannya 1112 secara ilmu hitung dari tahun 907, adalah dimulai karena peristiwa kegesehan ini.


Dalam arsip yang kami baca, setahu kami masih ada panitia yang masih hidup sampai sekarang, yaitu Bapak Alit Maryono yang bertempat tinggal di Kampung Ringinanom. Semoga kami bisa bertemu beliau untuk menanyakan tentang kesaksian beliau saat jadi panitia waktu itu. Beliau adalah salah satu guru kami dalam berkesenian dan berkebudayaan di Magelang ini. Salam takdzim dan doa sehat selalu untuk beliau.


Sebetulnya masih ada yang ingin saya tuliskan tetapi jari saya sudah pegel pegel, maklum saya termasuk anggota Komunitas Nunal Nunul Dalam Memakai HandPhone, disingkat KONNDAMAI HAP.


Selamat merayakan hari jadi Magelang dan salam hangat dari pinggir kali nggih...


MN

11/04/2019



















SEJARAH MAGELANG

 Oleh : Firsty Luvy

Waktu main ke rumah ibu saya, ada album foto keluarga jadul dan saya menemukan foto-foto ini. Dulu eyang buyut saya adalah kepala sekolah pendidikan guru agama di magelang, saat menjadi kepala sekolah, rumahnya persis di sebelah sekolah tersebut. 


Sekitar tahun 2018 saya sempat ke magelang dan mengunjungi tempat tersebut yg mana sekolahnya sudah menjadi cafe dan rumahnya menjadi tempat pencucian mobil tp saya lupa untuk mengambil foto, 
























Tembung Sungkem Idul Fiitri

 PINTEN-PINTEN TULADHA TEMBUNG SUNGKEM NALIKA IDUL FITRI UTAWI LENTUNIPUN


1. Ngaturaken sedoyo kalepatan kawulo utawi dalem nyuwun pangapunten nggih.


2. Kula ngaturaken sedoyo kalepatan kawulo ingkang dipun sengaja utawi mboten, ing dinten riyoyo punika kawulo nyuwun pangapunten ingkang seageng-agengipun.


3. Kulo ngaturaken sugeng riyadi lan nyuwun pangapunten dumatheng sedoyo kelepatanipun lan klenta-klentunipun kulo.


4. Ngaturaken sembah pangabekti kawula. Sepinten kalepatan kula ingkang mboten angsal idining sarak, dalem nyuwun pangapunten. Mugi lineburo ing dinten riyaya punika.


5. Kulo ngaturaken sembah ngabekti dhateng panjenengan, ugi nyuwun pangapunten ing sadeleme manah dumateng sedaya agengipun kelepatanipun tindak tanduk ingkang katingal menapa mboten katingal. Mugi mugi Allah nglebur dosa kulo lan panjenengan ing dinten riyaya meniko.


6. Pak, bu, sedoyo lepat kulo nyuwun pangapunten nggih?


7. Kulo tiyang enem, nyuwun pangapunten sedoyo kalepatan kawulo dumateng Bapak/Ibu/Mbah.


8. Ngaturaken sembah pangabekti kawula. Sepinten kalepatan kulo, lampah kulo setindak, paben kulo sakecap ingkang mboten angsal idining sarak, kulo nyuwun pangapunten mugi lineburo ing dinten riyoyo puniko.


9. Kulo sowan wonten ing ngarsanipun Bapak/Ibu. Sepisan, nyaos sembah pangabekti mugi katur ing ngersanipun Bapak/Ibu. Ongko kalih, mbok bilih wonten klenta-klentunipun atur kulo saklimah, tuwin lampah kulo satindak ingkah kulo jarang lan mboten ndadosaken sarjuning panggalih, mugi Bapak/Ibu kerso maringi agunging samudro pangaksami. Kulo suwun kaleburna ing dinten riyadi puniko lan ingkang putra nyuwun berkah soho pangestu.


10. Kepareng matur dhumateng (bapak/ibu) sowan kula wonten mriki, ingkang sepisan silaturrahim, kaping kalihipun ngaturaken sugeng riyadi, ngaturaken sedaya lepat nyuwun pangapunten, kaping tiga nyuwun donga pangestunipun supados kula saged dados putra ingkang sholeh, migunani dhateng agami, nusa, bangsa, lan nagari, lancar anggenipun pados ilmu ingkang manfaat, gampil anggenipun pados rejeki ingkang halal lan thayyib, saha sukses nglampahi gesang ing donya lan akhirat.


11. Kepareng matur simbah sepisan kula sowan mriki mboten sanes badhe silaturahmi, kaping pindhonipun ngaturaken sugeng riyadi, sedaya lepat kula nyuwun agunging pangapura, ingkang kula sengaja menapa mboten dipunsengaja mugi-mugi saged dipunlebur ing dinten riyadi menika.


12. Kulo mriki sowan dateng ngarsanipun bapak/ibu/mbah, kulo nyuwun pandonganipun bapak/ibu/mbah, kulo nyuwun pangapunten seagengipun samodra pangaksami dhateng sedaya klenta klentunipun lampah kulo tumindak lan anggene kulo matur ingkang kulo jarag nopo dene mboten dipun jareg. Semanten niko kulo nyuwun mugi mugi saged ndadosaken penggalihipun panjenengan lan manahnipun kulo tentrem. Lan ingkang ugo kito suwun suwun, mugi ibadah kulo lan panjengengan saged ketampi ing ngarsane gusti Allah SWT lan mugi Allah kersa maringi pangapunten dumateng sedaya kelepatan kito sedoyo.


13. Kulo tiyang enem mbok bilih katah klenta klentu anggene kulo matur lan tindak ingkang ndadosaken penggalihipun panjengenan ingkang langkung sepuh mboten sekeco, kulo aturi ngapunten seagengipun dhateng sedaya kelepatan menika wau.


14. Dinten meniko dinten bakdo riyadi, kula menawi gadah kalepatan ingkang disengojo lan mboten disengojo dumateng panjenengan sak keluargo kula nyuwun agunging samudro pangaksami.


15. Ngaturaken wilujeng idul fitri nyuwun gunging pangapunten, mugi kito kanugrahan jatining fitrah saking gusti Ingkang Moho Pemurah. (prsoloraya.pikiran-rakyat.com)


Mugi-mugi contoh kalimat meniko saget manfaat kangge masyarakat Jawi khususipun..Aamiin



#budaya #jawa #sungkem #idulfitri #ramadhan #kamisnjawani #JendelaJatengDIY


Instagram: @jendelajatengdiy


www.jendelajatengdiy.blogspot.com


•BOLEH DIBAGIKAN

SEJARAH KUNO MAGELANG

 SEJARAH KUNO MAGELANG,


Oleh : Sukrisnanto Suryo Putro

kembali pada pribadi masing-masing, mana yang lebih diterima dan masuk akal.


Berikut legenda2 Magelang :


1. Kasus Pajang vs Mataram.

Pajang di abad 15 jd kelanjutan kerajaan Islam Demak memberikan Alas Mentaok pd Senopati dan jd kerajaan Mataram.


Pajang memperluas wilayah kekuasaannya hingga Jatim.


Mataram melawan invasi Pajang, lalu dataran Kedu jd tempat latihan militer.


Dlm babad alas Kedu, pangeran Purboyo bersama Raden Kuning, Raden Krincing, Tumenggung Mertoyudan dan tumenggung Singoranu, serta pasukan Mataram bertempur melawan jin Kyai Sepanjang.

Formasi perang : gelang, jd Magelang.


2. Dewa menancapkan paku untuk mengikat pulau2 di Nusantara yg tercerai berai : Tidar.


3. Magelang dikuasai 2 siluman, maka saat syiar Islam dari Persia yg dilakukan oleh Syeikh Subakir beserta 10 orang terjadi pertempuran.


2 siluman kalah, lalu melarikan diri ke Selatan dan gabung sm Nyi Roro kidul.


Keturunan 10 pengikut Syeikh Subakir konon jd cikal bakal Trunan.


Bahan renungan ;

1.

Prasasti Mantyasih ( Meteseh ) : tahun 907.


2. Pajang, Mataram, dan Syiar Islam ke Magelang : abad ke 15 ( tahun 1500 an ).

Sbg pertimbangan : Sunan Geseng di Grabag : abad 15.


3. Ma : koin mata uang emas.

Gelang dlm jawa kuno : Klat ( kelat ).


4. Nama yg berawalan Su adalah nama Jawa.

Nabi Sulaiman pun dlm perdebatan sbg Nabi dr tanah Jawa.


Mbuh, sepindah malih wangsul tumrap panjenengan piyambak salebeting mitadosi.


Demoskratos, sanes demon atos




Korek Gas

 Korek Gas

Oleh : Hamid Anwar

Jaman bien aku kerep dikongkon bapakku ngisekke korek gas nang Muntilan. Panggonane yaiku neng lorong Pasar mburi pertokoan sing menghubungke ngisor tingkat karo Lestari Adhi. Saiki panggonane wes bedu banget. 


Korek gas iki tak tuku jaman awal ngekos taken 2011 kepungkur. Ngasi saiki jeh with mergo ora tau ngorek ngorek. Berarti umure wes 11 tahun. 


Ki mau tak goleki jeh mural normal. Gas e yo isih separo. Maklum dinggo ming setahun pisan ge nyumet kembang api / long pletek pletek. Arep golek long ipret kok wes jarang weruh.





08 April 2022

Letusan Merapi 1930

 UITBARSTING MERAPI 1930 : Letusan Merapi 1930

Oleh : Chandra Wisnu Wardhana


Pada 18 Desember 1930, terjadilah suatu bencana besar di Jawa Tengah bagian Selatan. Gunung Merapi yang terletak diperbatasan Vorstenlanden dan Midden Java erupsi dahsyat. Tidak kurang dari 1.500 orang tewas dan 2.500 hewan terbah tewas terpanggang terjangan awan prioklastik yang lazim disebut dengan "Wedus Gembel". Berhektar-hektar sawah serta ladang pertanian hancur, dan ratusan rumah terbakar atau rusak parah. Wedus Gembel meluncur cepat sejauh 20 kilometer ke arah barat, mengubur 13 desa, merusak 23 desa di lereng wilayah Regentschap Magelang.


Letusan destruktif Merapi pada 1930 ini kian melengkapi penderitaan dan keprihatianan rakyat yang sedang sekarat diterpa krisis ekonomi global malasie. Kehidupan penduduk yang telah terpuruk secara ekonomi pun kian bertambah nelangsa ketika sumber penghidupan satu-satunya mereka luluh lantak.


Berikut ini adalah secuil dokumentasi dahsyatnya erupsi Merapi yang terjadi pada tahun 1930. Sembilan buah potret ini adalah hasil jepretan kamera amatir yang berhasil terabadikan dengan objek berupa lokasi bencana di desa - desa terdampak erupsi. Beberapa ternak terlihat mati terpanggang dan sebagian lainnya yang masih hidup tampak kurus kering tak terurus. Dalam lembaran lainnya, tampak rumah - rumah yang hancur dan sawah-ladang yang musnah tertimbun material vulkanis. 


- Chandra Gusta Wisnuwardana -


*foto koleksi pribadi

































Mantyasih = Meteseh ??

 Mantyasih = Meteseh??


Oleh : Liem Ang Ewoo



Belakangan ini marak terjadi sebuah pemblawuran sejarah yang sangat masif. Dalam mempelajari sejarah kita harus mau menganggalkan isme-isme dalam diri, terutama Ego Primordialisme. Selain itu, dalam mempelajari sejarah jangan hanya mengandalkan jarene, nine,yak’e, katanya,konon,dsb tanpa sumber yang jelas. Mempelajari sejarah haruslah obyektif dan legowo, jangan hanya karena factor x kita mempertahankan argument yang ternyata belum tentu ada kebenarannya dan malah semakin membuat kita terperosok dalam jurang pemblawuran.  


Okelah kalo begitu, pembahasan prasasti kali ini kita akan membahas tentang Prasasti Mantyasih yang kemudian dijadikan Rujukan hari jadi Kota Magelang yang kini mendapatkan bonus tambahan 1 tahun . 


Prasasti Mantyasih sendiri ada 3 buah, Yakni : 

1. Mantyasih I ; 2 lempeng tembaga, tersimpan di museum Radya Pustaka –Solo-

2. Mantyasih II ; Batu dengan pahatan huruf di dua sisinya, tersimpan di Museum Nasional. D.40 Temuan di daerah Sragen (?) 

3. Mantyasih III; 1 lempeng tembaga yang bertulisan di dua sisinya, tersimpan di Museum Nasional. E.19


Oke mari kita Skip saja lainnya, mari kita terfokus pada Prasasti Mantyasih 2.

Prasasti Mantyasih 2 merupakan prasasti Tamra (berbahan logam) prasasti tembaga ini berukuran 49.3 x 22.2 cm. Lempeng pertama ditulisi satu sisinya dengan 25 baris tulisan, sedang lempeng kedua juga ditulisi satu sisinya dengan 23 baris tulisan.


 Prasasti ini banyak memakai kata ko, kong, ku, kita kamung, ta, te, ya, seperti yang dijumpai pada baris 12, 14 dan 18 sisi belakang. Selain itu ungkapan sapatha yang agak berlainan dari prasasti lain seperti, Sisi belakang baris 5-6 sumpah lemih palar i panghilir, i tinghal ta, nihanku sumawak kita, nihanku sumangguh kita, nihanku lumamun kita aku tat sinangguh, aku tak linamun, tan kamua linganta sinawakku kita kabaih, siangguhku kita kabaih, linamunku kita kabaih. ungkapan yang demikian mirip dengan sumpah di prasasti Kota Kapur baris 6-7. ni wunuh ya sumpah tubi mulang yang manuruh marjjahati yang marjjahati yang watu nu pratista ini tuwi ni wunuh ya sumpah talu, muah ya mulang. Untuk tau lebih tentang alih aksara dan alih bahasa dari prasasti Mantyasih bisa cek di foto dibawah saja karena ora amot nang postingan dibawah. 


Prasasti Mantyasih, juga disebut juga Prasasti Tembaga Kedu, berangka tahun 829 Ç yang berasal dari Kerajaan Mḍaŋ. Dalam prasasti disebutkan bahwa desa Mantyasih serta hutannya yang ada di Muṇḍuan, di Kayu pañjaŋ, serta perumahan di Kuniŋ yang masuk wilayah desa kagunturan, daerah persawahannya di daerah Wunut diberi benih sebanyak 1 tū 18 hamat. Termasuk juga sawah milik para nayaka serta hutan di susuṇḍara dan si gunung sumwiŋ yang semuanya berada di wilayah Patapan, dijadikan sīmā bagi para patiḥ. Untuk kemudian digunakan secara bergantian oleh para patiḥ di Mantyasiḥ dan sanak keluarga selama masing masing 3 tahun. Banyaknya Patih yang berkaitan (dengan sīma itu) yaitu Pu Sna bapak dari Ananta, Pu Kolā bapak dari Ḍiṇī, Pu Puñjĕng bapak dari Udal, Pu Karā bapak dari Labdha, Pu Sudraka bapak dari Kayut, yang semua berjumlah 5 orang.


Alasannya (mereka) diberi anugerah adalah karena mereka sungguh sungguh telah banyak melakukan hal yang baik untuk raja, sebagai (tanda) kecintaan kepada Śrī Mahārāja ketika pesta pernikahan raja. Selain itu juga melakukan pemujaan kepada bhaṭāra  di Malaŋkuśéśwara, di Pūteśwara, di Kutusan, di Śilābhédéśwara, di Tuléśwara, setiap tahun dan ketika penduduk desa di Kuniŋ merasa ketakutan, Patiḥ itu dipercayai untuk menjaga (keamanan) jalan.


 Selain itu terdapat pula wilayah atau daerah yang hadir sebagai saksi penetapan Sima (perdikan/otonom) yakni : 

wanua i miramiraḥ watak ayam tĕas 

wanua i paŋḍamuan sīma ayam tĕas 

wanua i waduŋ poḥ watak paṅkur poḥ ; 

wanua i kataṅguhan watĕk hamĕas. 

wanua i paṇḍamuan sīma wadihati

wanua i sumaṅka watak kaluŋ warak. 

wanua iŋ kabikuan iŋ wḍi taḍahaji paṅgul. 

wanua i sumaṅka watak taṅkil sugiḥ


Pejabat yang Hadir antara lain : 

• Juru di Ayam Tĕas ; Miraḥmiraḥ di Ayam Tĕas. wakilnya di Halaran desa di Paṇḍamuan sīma Ayam Tĕas 

• Juru di Makudur  di Patalĕsan penduduk desa di Wadung Poh yang masuk wilayah Pangkur Poh, wakilnya di Wawaha penduduk desa di Katangguhan yang masuk wilayah Hamĕas, 

• (pejabat) Ayam Tĕas  yang melakukan pembatasan (sīma) penduduk desa di Paṇḍamuan sīma milik Wadihati [sīma  wadihati], 

• Makudur penduduk desa Sumangka yang masuk wilayah Kalungwarak, 

• Tiruan (pejabat) Patūngan penduduk desa di Kabikuan di Wḍi, 

• Taḍahaji di Panggul, 

• Juru dari Wadua Rarai di Patapān penduduk desa di Sumangka yang masuk wilayah Tangkil Sugih,

• Sang Juru di Patapan yaitu (pejabat) Matanda, (pejabat) Juru dari Lampuran (pejabat) Juru dari Kalula, (pejabat) Juru dari Mangrakat

• (pejabat) Patiḥ di (desa) Kayumwungan, di (desa) Sukun, (di desa), (pejabat) Wahuta Petir, (di desa) Paṇḍakyan 

• (pejabat) Wahuta Lampuran, (di desa)  Paṇḍakyan 

• (pejabat) Parujar dari Patiḥ Kayumwungan, (di desa) Sukun, (di desa) Airbarangan, (pejabat) Kalima di Petir. (pejabat) Juru di Paṇḍakyan, (pejabat) Samwal


rāma i tpi siriŋ irikāŋ kāla (wilayah-wilayah yang menjadi batas sima (perdikan) dalam Prasasti Mantyasih : 

i muṇḍuan (Temanggung ada Prasastinya) ; i haji huma; i tulaṅair (Temanggung ada Prasastinya) ; i wariṅin ; i kayu hasam ;i pragaluh ; i wurut ; air hulu ; i sulaŋ kuniŋ ; i laṅka tañjuŋ ; i samalagi ; i wuṅkal tajam ; i hampran ;i kasugihan ; i puhunan ; i praktaha; i wa°atan; i turayun; i kalaṇḍiṅan; i kḍu; i pamaṇḍyan ; i tpusan (Temanggung ada Prasastinya).

Daerah-daerah ini sebagian besar ada di Kab. Temanggung dan terdapat juga bukti temuan Prasasti dan Cagar Budaya yang masih eksis hingga saat ini. 


Kata Mantyasih juga disebut dalam beberapa Prasasti, antara lain : 

• Prasasti Karangtengah (OJO IV) D-34 baris 14-15 (Batu Lereng Sindoro) sang mantyasih sang kirta punta ni naga anak wanwa ri cri haji winaih takurang yu 1 parwuwus, 

• Pras Tulang Air 775 Saka (OJO VI), 

• Sri Kahulununan 806 Saka (Batu-rumah residen Magelang OJO XVII) (Batu –Lereng Sindoro) 

• KayuAraHiwang (Batu-Bara Purworejo OJO XXII), 

• Mantyasih II 830 (Batu –Sebuah tempat di Jawa Timur OJO XXVII), namun menyebut wukir susundara … kumonnakan nikanang wanua i mantyasik wini(k) ni sawa(k)nya satü, muang alasnya i mu ud(u) an, i kayu panda, muang pomakan ikuni wanua katung(</u)an pasawakbanya ri wunut


Sumber prasasti menyebut beberapa nama desa [daerah] yang masih dikenal hingga sekarang. Tetapi harus diketahui bahwa luas wilayah [daerah] tersebut tidak harus tetap sama. 

• Prasasti Poh menyebut nama desa Mantyasih, Galang dan Glangglang. 

• Mantyasih I menyebut nama desa perdikan Mantyasih dan 

• Prasasti Gilikan I menyebut Bhatara di Glam. 

• Kalau disimpulkan maka ketiga buah prasasti tersebut menyebut nama desa :

a. Mantyasih,

b. Galang [rupa-rupanya sama dengan Glam],

c. Glangglang


Dalam makalah berjudul ‘Sekitar Masalah Hari Jadi Magelang’ tgl. 18 Juni 1988, MM Sukarto K. Atmodjo mengemukakan pendapat bahwa penentuan hari jadi suatu daerah [kota] harus memperhatikan beberapa kriteria pokok, antara lain :

1. Di cari yang setua mungkin.

2. Mampu menimbulkan rasa bangga [pride] bagi penduduk dan masyarakat umumnya.

3. Mempunyai ‘ciri khas’ atau identitas yang cukup jelas dalam sejarah.

4. Bersifat Indonesia-sentris dan bukannya Neerlando-sentris.


Sumber prasasti menyebut beberapa nama desa [daerah] yang masih dikenal hingga sekarang. Tetapi harus diketahui bahwa luas wilayah [daerah] tersebut tidak harus tetap sama. 

• Apabila dilihat peta topografi ternyata di kota Magelang terdapat nama-nama desa seperti Pelikan [Plikon], Dumpoh. 

• Meskipun peta topografi tidak menyebut nama Meteseh, tetapi di bagian barat kota Magelang [sebelah timur Kali Progo] sampai sekarang masih terletak kampung Meteseh [Kal./Kec./Kota Magelang].

• Selain itu juga disebut dalam prasasti bahwa desa Mantyasih yang dipimpin oleh 5 orang pejabat patih secara bergantian [setiap 3 tahun ganti pimpinan], juga mampu dan berhasil menghilangkan rasa takut dan mengamankan jalan raya desa Kuning Kagunturan. 

• Menarik perhatian bahwa disebelah barat laut kota Magelang [Meteseh] sampai sekarang masih terletak desa Kembang Kuning dan Guntur [Kal. Rejosari, Kec. Bandongan].

• Dari segi etimologi perkataan Mantyasih berasal dari kata Manti [panti, sangat, penuh] dan sih [cinta, kasih]. 

• Dengan demikian nama Mantyasih [Mateseh] berarti ‘cinta kasih yang sempurna, penuh. Cf. serviam in caritato : pengabdian dalam cinta kasih, atau In omnibus Caritas : Dalam segalanya cinta kasih.

• Selanjutnya nama Galang [Glam] dan Glangglang mungkin berubah menjadi Gelang atau Magelang sekarang [ awalan ma-].

• Dalam bahasa Jawa Kuno nama glang, galang berarti lingkaran [cf. mandala dengan lingga di tengahnya, atau gunung Tidar yang menjadi paku titik tengah Pulau Jawa], cemerlang [cf. bahasa bali : galang bulan : terang bulan].

• Perkataan tidar berarti : sinar, pendadaran. 

Masalah jatidiri daerah Magelang masih dapat diteliti lebih lanjut. Tetapi berdasarkan data prasasti Mantyasih I setidak-tidaknya dapat diketahui bahwa penduduk Magelang [Mantyasih] sejak awal abad X Masehi [sekitar tahun 900 Masehi] sudah mempunyai identitas [jatidiri] yang cukup menarik dan patut di banggakan, yaitu :

1. Sifat setia dan bakti kepada pimpinan [Sri maharaja]

2. Berbakti kepada Tuhan [Bhtara di beberapa buah bangunan suci, candi]

3. Mampu mengamankan jalan raya [hawan] dan menghilangkan rasa takut penduduk Kuning Kagunturan

4. Gunung Tidar di Magelang apabila di kaitkan dengan legenda atau kepercayaan penduduk melambangkan titik tengah atau pusat suatu daerah. Bahkan juga di anggap sebagai paku pulau Jawa.

5. Penduduk Mantyasih [Magelang] sejak jaman dahulu selalu berhubungan atau kontak dengan penduduk lain. Hal ini disebabkan letak Mantyasih [Magelang] di tengah-tengah jalan raya yang menghubungkan dataran tinggi Dieng [pusat ziarah, siddhayatra atau tirthayatra] dengan daerah di Jawa timur [Pranaraga]. 

6. Berkaitan dengan nama Mantyasih [Meteseh], Galang [Glam] dan Glangglang [Gelang. Magelang], maka prasasti tembaga Poh dan Mantyasih dapat di jadikan pegangan. 

7. Prasasti Poh berangka tahun 17 Juli 905 M  dan menyebut nama Mantyasih dan Glangglang, tetapi desa Mantyasih baru ditetapkan menjadi daerah sima kapatihana dalam prasasti mantyasih I yang berangka tahun 11 April 907 M


Dari bacaan ini terdapat pertanyaan besar, yakni : 

Benarkah Mantyasih adalah Meteseh???


Sumber bacaan

• AS Wibowo dan Boechari, 1985/1986, Prasasti Koleksi Museum Nasional jilid I, Proyek pengembangan museum Nasional, Jakarta

• Himansu Bhusan Sarkar, 1972, Corpus of the Inscriptions of Java vol II, Firma K.L. Mukhopadhyay, Calcutta

• Kayato Hardani, Pemakaian Istilah Bahasa Sanskerta Pada Nama Diri Di Dalam Prasasti Poh (827 Çaka); tinjauan perspektif identitas dalam Berkala Arkeologi Vol.38 Edisi No.2 November 2018, hal 116-134

• MM Sukarto K Atmodjo, 1988, Sekitar Masalah Hari Jadi Magelang, tidak diterbitkan 

• W. F, Stutterheim, 1940, “Oorkonde van Balitung Uit 905 A.D (Randoesari I)”, dalam INI 1, hal. 4 – 7.