14 April 2024

RADEN TUMENGGUNG WIRAREDJA Beliau adalah salah satu leluhur Susuhunan Pakubuwana IV Raja Kraton Surakarta, Leluhur KGPAA Mangkunegara II Puro Mangkunegaran, Leluhur Patih Cokronegoro dan Leluhur Bupati Banyumas. Melalui Raden Tumenggung Wirareja , ucapan Sunan Kalijaga terbukti : " Ageng Karang Lo juga berkenan untuk mengantar rombongan Ki Ageng Pemanahan hingga sampai hutan Mentaok. Dan secara kebetulan di tepian Kali Opak mereka bertemu dengan Sunan Kalijaga yang sangat terkesan dengan ketulusan dan kebaikan Ki Ageng Karang Lo. Kepada Ki Ageng Pemanahan , Sunan Kalijaga berpesan untuk selalu mengingat kebaikan Ki Ageng Karang Lo serta membalas kebaikannya . Sunan Kalijaga juga berkata bahwa kelak keturunan ketujuh Ki Ageng Karang Lo akan turut menikmati kemewahan keturunan Ki Ageng Pemanahan. Dan perkataan Sunan Kalijaga terbukti salah satu generasi keturunan Ki Ageng Karanglo mukti menjadi Permaisuri Sunan Pakubuwana III Raja Kraton Surakarta Hadiningrat." RT Wirareja masih keturunan dari Raden Patah Raja Kraton Demak Bintoro. dengan urutan sbb : Syech Ibrahim Asmara berputra Sunan Ampel, berputri Ratu Mas Panggung ( permaisuri R Patah ), berputra RM Alit, berputra Panembahan Djogorogo, berputra Ki Ageng Ampuhan, berputra Ki Ageng Karanglo, berputra Ki Ageng Tjutjuk Telon, berputra Ki Ageng Tjutjuk Depok, Berputra KiAgeng Tjutjuk Singowongso, berputra Kyai Kertimantjut, berputri Nyai Sutowijaya, berputra Kyai Tumenggung Wiroredjo. Tumenggung Wiraredja menurunkan: 1. Mas Adjeng Mojosongo 2. Raden Tg Pandji Cokronegoro 3. Kanjeng Ratu Kencana, Permaisuri Sunan PB III 4. Raden Tg Wiryodirdjo, Bupati Ponorogo 5. Raden Tg Pandji Surodilogo, Bupati Gedong Tengen Kraton Surakarta 6. Raden Ngabehi Surodipuro 7. Raden Ayu Surodiningrat, garwa ampil Bupati Ponorogo 8. Raden Tg Prawirodipuro 9. Raden Pandji Djoyolengkoro 10. Raden Ayu Wirodimedjo ing Probolinggo 11. Raden Bagus Bonno RT Wiraredja adalah orang tua dari Permaisuri Sinuhun PB III yaitu GKR Kencana atau lebih dikenal GKR Beruk. RT Wiraredja adalah keturunan Ki Ageng Karang Lo. Pada awalnya Beliau adalah seorang penjual arang kayu bakar di daerah Secoyudan barat Kraton Surakarta. Beliau punya kelebihan bisa menembangkan lagu lagu Mocopat. Kelebihan tersebut pada suatu saat menghantarkan Beliau masuk ke Karaton Surakarta untuk menggantikan kawannya yang kebetulan tidak bisa bertugas di Karaton sebagai Penembang. Hingga kemudia Beliau diangkat sebagai Penembang Kraton dengan nama Kyai Jagaswara. Ketika Beliau menjadi Mantri Keparak Kiwo, Beliau mendapat anugrah asma atau nama Mas Tumenggung Wirodjoyo Selama bertugas di Kraton Kyai Jagaswara mengajak Putri Beliau yang masih kecil yang bernama Rara Handawiyah ikut berlatih sebagai penari Bedaya. Hingga pada suatu malam ketika para penari bedaya sedang tidur, tiba tiba ada sebuah cahaya yang masuk kedalam tubuh salah satu penari tersebut yaitu Rara Handawiyah dan secara kebetulan hal tersebut diketahui Susuhunan PB III yang baru berjalan di area Karaton. Keesokan harinya Susuhunan PB III memanggil Kyai Jagaswara untuk menjaga putrinya tersebut dan jika kelak sudah cukup usia akan diperistri oleh Susuhunan PB III. Dan waktu yang ditunggu tiba, Rara Handawiyah berkenan diangkat sebagai Garwa Ampil oleh Susuhunan PB III dan tidak lama kemudian Rara Handawiyah diangkat sebagai Garwa Permaisuri dengan gelar GKR Kencana yang kelak menurunkan : 1.Susuhunan PB IV 2.GKR Alit yang menikah dengan KPH Prabu Mijaya ( Putra KGPAA MN I) dan menurunkan KGPAA MN II 3.GKR Supiyah yang menikah dgn KPH Purbanegara ( putra KGPAA MN I) 4. KGPH Mangkubumi 5. KGPH Buminoto 6. GKR Kudus, Garwa Bupati Kudus. 7. GKR Maduretno Setelah Putrinya diangkat sebagai Permaisuri, Kyai Jagaswara mendapat anugrah asma gelar R Tg Wiraredja. Ketika R Tg Wiraredja wafat dimakamkan di Astana Makam Adji yang dipersiapkan khusus untuk makam Orang Tua Permaisuri Susuhunan PB III. Astana Makam Adji terletak di Pajang Sukoharjo. Kompleks Astana Makam Adji sekarang menjadi komplek makam keluarga keturunan Kraton Kasunanan Surakarta juga Para Ulama Kraton Surakarta. KGPAA MANGKUNAGARA II Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II adalah penguasa kedua Puro Mangkunegaran Surakarta. Terlahir dengan nama Raden Mas Sulama. Beliau adalah putra Sulung dari Kangjeng Pangeran Arya Prabumijaya I, putra dari KGPAA Mangkunegara I dari Garwa BRAy Kusuma Patahati, sedangkan ibunya ialah Kanjeng Ratu Alit, putri Sunan Paku Buwana III dan GKR Beruk Semasa hidupnya KGPAA Mangkunagara II memiliki seorang Garwa Permaisuri dan 25 garwa ampil , Putra KGPAA Mangkunagara II total 69 putra, tetapi yang berusia hingga dewasa 34 adalah sbb : 1. BRAy Natakusuma (Garwa cucu Sunan PBIII) 2. BRAy Hadiwijaya I (Garwa cucu Sunan PB III) 3. KPH Suryanagara 4. KPH Suryadiningrat 5. KPH Suryamijaya I 6. KPH Surya Mataram 7. BRMH Suryadirja II 8. KPH Surya Nataningrat 9. BRAy Wiranagara 10. BRAy Prabumijaya III 11. KPH Surya Mijaya II 12. BRAy Balater , menantu PB IV 13. BRMH Suryadirja III 14. BRMH Surya Hadiwinata 15. BRAy Suwangsa Suryadipura II 16. BRMH Surya Hadipura 17. BRMH Surya Hadikusuma 18. BRAy Suryadipura anem 19. BRAy Kusumadilaga ( garwa bupati Tmg ) 20. BRAy Singa Atmaja 21. BRM Surya Manguningrat 22. BRMH Surya Natamijaya 23. BRMH Surya Mangkuwinata I 24. BRAy Djayakusuna ( garwa putra PB IV ) 25. BRMH Surya Nataatmaja 26. BRMH Mangkudilaga 27. BRMH Mlayakusuma 28. BRMH Surya Wiryadiningrat 29. BRMH Surya Pakuningrat 30. BRMH Surya Danuwinata 31. BRMH Brajanata 32. RAy Tg Mangkureja 33. BRAy Priyembada ( garwa putra PB IV ) 34. BRMH Suryadilaga. BRAy Natakusuma menurunkan KGPAA Mangkunagara III BRAy Hadiwijaya I menurunkan KGPAA Mangkunagara IV Al Fatihah kagem Eyang Leluhur KGPAA Mangkunagara II Putra RT Wiraredja yang ke lima yaitu Raden Tumenggung Pandji Surodilogo menurunkan putra yaitu Raden Adipati Cokronegoro yang menjadi Pepatih Kraton Surakarta pada masa Sunan Pakubuwana IV, beliau menjabat selama delapan tahun. Raden Adipati Cokronegoro menurunkan putra yaitu Raden Ngabehi Cakrawedana yang menjadi Ngabehi di Pasir. Raden Ngabehi Cakrawedana kemudian diangkat menjadi Bupati Cilacap dengan gelar Raden Adipati Cakrawedana, beberapa tahun kemudian R.Adp Cakrawedana dipindahkan tugas menjadi Bupati Banyumas. R.Adp Cakrawedana menurunkan putra yaitu Raden Cokrodisosro kelak menjadi Bupati Banyumas dengan gelar Raden Adipati Cokronegoro I ( Bupati Banyumas th 1832 s/d 1864 ) Raden Adipati Cokronegoro I menikah dengan putri KPH Mangkubumi II ( cucu Sunan PBIII ) menurunkan sbb: 1. R.M.Tg Cokronegoro II, Bupati Banyumas 2. R.M Cokrodirdjo 3. R.Ay Cokrodisuryo 4. R.M Mangkoewinoto 5. R.Ay Sosrodiningrat menikah dg Pangeran Sosrodiningrat Paku Alaman. 6. R Cokro Atmojo 7. R Ngabehi Cokroseputro 8. R Ngabehi Cokrowiredjo 9. R Cokrodiwiryo 10. R.Ay Cokrosaprodjo RM Mangkoewinoto menurunkan : 1.dr R.M Marwoto Mangkoewinoto 2. R.M Cokromarsadi Mangkoewinoto 3.dr R.M Marsaid Mangkoewinoto 4. R.M Markusen Mangkoewinoto 5. R.M Mawardi Mangkoewinoto Al Fatihah kagem Eyang RT Wiraredja dan para leluhur lainnya. Oleh KRT Sajid Jayaningrat ( JSM )

 RADEN TUMENGGUNG WIRAREDJA


Beliau adalah salah satu leluhur Susuhunan Pakubuwana IV Raja Kraton Surakarta, Leluhur KGPAA Mangkunegara II Puro Mangkunegaran,  Leluhur Patih Cokronegoro dan Leluhur Bupati Banyumas.



Melalui Raden Tumenggung Wirareja , ucapan Sunan Kalijaga terbukti :


" Ageng Karang Lo juga berkenan untuk mengantar rombongan Ki Ageng Pemanahan hingga sampai hutan Mentaok. Dan secara kebetulan di tepian Kali Opak mereka bertemu dengan Sunan Kalijaga yang sangat terkesan dengan ketulusan dan kebaikan Ki Ageng Karang Lo. Kepada Ki Ageng Pemanahan , Sunan Kalijaga berpesan untuk selalu mengingat kebaikan Ki Ageng Karang Lo serta membalas kebaikannya . Sunan Kalijaga juga berkata bahwa kelak keturunan ketujuh Ki Ageng Karang Lo akan turut  menikmati kemewahan keturunan Ki Ageng Pemanahan.

Dan perkataan Sunan Kalijaga terbukti salah satu generasi keturunan Ki Ageng Karanglo mukti menjadi Permaisuri Sunan Pakubuwana III Raja Kraton Surakarta Hadiningrat."


RT Wirareja masih keturunan dari Raden Patah Raja Kraton Demak Bintoro. dengan urutan sbb : Syech Ibrahim Asmara berputra Sunan Ampel, berputri Ratu Mas Panggung ( permaisuri R Patah ), berputra RM Alit, berputra Panembahan Djogorogo, berputra Ki Ageng Ampuhan, berputra Ki Ageng Karanglo, berputra Ki Ageng Tjutjuk Telon, berputra Ki Ageng Tjutjuk Depok, Berputra KiAgeng Tjutjuk Singowongso, berputra Kyai Kertimantjut, berputri Nyai Sutowijaya, berputra Kyai Tumenggung Wiroredjo.


Tumenggung Wiraredja menurunkan:

1. Mas Adjeng Mojosongo

2. Raden Tg Pandji Cokronegoro 

3. Kanjeng Ratu Kencana, Permaisuri Sunan PB III

4. Raden Tg Wiryodirdjo, Bupati Ponorogo

5. Raden Tg Pandji Surodilogo, Bupati Gedong Tengen Kraton Surakarta

6. Raden Ngabehi Surodipuro

7. Raden Ayu Surodiningrat, garwa ampil Bupati Ponorogo

8. Raden Tg Prawirodipuro

9. Raden Pandji Djoyolengkoro

10. Raden Ayu Wirodimedjo ing Probolinggo

11. Raden Bagus Bonno


RT Wiraredja adalah orang tua dari Permaisuri Sinuhun PB III yaitu GKR Kencana atau lebih dikenal GKR Beruk. 


RT Wiraredja adalah keturunan Ki Ageng Karang Lo. Pada awalnya Beliau adalah seorang penjual arang kayu bakar di daerah Secoyudan barat Kraton Surakarta. Beliau punya kelebihan bisa menembangkan lagu lagu Mocopat. Kelebihan tersebut pada suatu saat menghantarkan Beliau masuk ke Karaton Surakarta untuk menggantikan kawannya yang kebetulan tidak bisa bertugas di Karaton sebagai Penembang. Hingga kemudia Beliau diangkat sebagai Penembang Kraton dengan nama Kyai Jagaswara. Ketika Beliau menjadi Mantri Keparak Kiwo, Beliau mendapat anugrah asma atau nama Mas Tumenggung Wirodjoyo


Selama bertugas di Kraton Kyai Jagaswara mengajak Putri Beliau yang masih kecil yang bernama Rara Handawiyah ikut berlatih sebagai penari Bedaya. 


Hingga pada suatu malam ketika para penari bedaya sedang tidur, tiba tiba ada sebuah cahaya yang masuk kedalam tubuh salah satu penari tersebut yaitu Rara Handawiyah dan secara kebetulan hal tersebut diketahui Susuhunan PB III yang baru berjalan di area Karaton. Keesokan harinya Susuhunan PB III memanggil Kyai Jagaswara untuk menjaga putrinya tersebut dan jika kelak sudah cukup usia akan diperistri oleh Susuhunan PB III. 

Dan waktu yang ditunggu tiba, Rara Handawiyah berkenan diangkat sebagai Garwa Ampil oleh Susuhunan PB III dan tidak lama kemudian Rara Handawiyah diangkat sebagai Garwa Permaisuri dengan gelar GKR Kencana yang kelak menurunkan :

1.Susuhunan PB IV 

2.GKR Alit yang menikah dengan KPH Prabu Mijaya ( Putra KGPAA MN I) dan menurunkan KGPAA MN II

3.GKR Supiyah yang menikah dgn KPH Purbanegara ( putra KGPAA MN I) 

4. KGPH Mangkubumi

5. KGPH Buminoto

6. GKR Kudus, Garwa Bupati Kudus. 

7. GKR Maduretno


Setelah Putrinya diangkat sebagai Permaisuri, Kyai Jagaswara mendapat anugrah asma gelar R Tg Wiraredja. 

Ketika R Tg Wiraredja wafat dimakamkan di Astana Makam Adji yang dipersiapkan khusus untuk makam Orang Tua Permaisuri Susuhunan PB III.

Astana Makam Adji terletak di Pajang Sukoharjo.

Kompleks Astana Makam Adji sekarang menjadi komplek makam keluarga keturunan Kraton Kasunanan Surakarta juga Para Ulama Kraton Surakarta. 


KGPAA MANGKUNAGARA II


Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara II adalah penguasa kedua Puro  Mangkunegaran Surakarta.

Terlahir dengan nama Raden Mas Sulama. Beliau adalah putra Sulung dari Kangjeng Pangeran Arya Prabumijaya I, putra dari KGPAA Mangkunegara I dari Garwa BRAy  Kusuma Patahati,  sedangkan ibunya ialah Kanjeng Ratu Alit, putri Sunan Paku Buwana III dan GKR Beruk


Semasa hidupnya KGPAA Mangkunagara II memiliki seorang Garwa Permaisuri dan 25 garwa ampil , Putra KGPAA Mangkunagara II total 69 putra, tetapi yang berusia hingga dewasa 34 adalah  sbb :


1. BRAy Natakusuma (Garwa cucu Sunan PBIII)

2. BRAy Hadiwijaya I (Garwa cucu Sunan PB III)

3. KPH Suryanagara

4. KPH Suryadiningrat

5. KPH Suryamijaya I

6. KPH Surya Mataram

7. BRMH Suryadirja II

8. KPH Surya Nataningrat

9. BRAy Wiranagara

10. BRAy Prabumijaya III

11. KPH Surya Mijaya II

12. BRAy Balater , menantu PB IV

13. BRMH Suryadirja III

14. BRMH Surya Hadiwinata

15. BRAy Suwangsa Suryadipura II

16. BRMH Surya Hadipura

17. BRMH Surya Hadikusuma

18. BRAy Suryadipura anem

19. BRAy Kusumadilaga ( garwa bupati Tmg )

20. BRAy Singa Atmaja

21. BRM Surya Manguningrat

22. BRMH Surya Natamijaya

23. BRMH Surya Mangkuwinata I

24. BRAy Djayakusuna ( garwa putra PB IV )

25. BRMH Surya Nataatmaja

26. BRMH Mangkudilaga

27. BRMH Mlayakusuma

28. BRMH Surya Wiryadiningrat

29. BRMH Surya Pakuningrat

30. BRMH Surya Danuwinata

31. BRMH Brajanata

32. RAy Tg Mangkureja

33. BRAy Priyembada ( garwa putra  PB IV )

34. BRMH Suryadilaga.


BRAy Natakusuma menurunkan KGPAA Mangkunagara III


BRAy Hadiwijaya I menurunkan KGPAA Mangkunagara IV


Al Fatihah kagem Eyang Leluhur KGPAA Mangkunagara II


Putra RT Wiraredja yang ke lima yaitu Raden Tumenggung Pandji Surodilogo menurunkan putra yaitu Raden Adipati Cokronegoro yang menjadi Pepatih Kraton Surakarta pada masa Sunan Pakubuwana IV, beliau menjabat selama delapan tahun. 

Raden Adipati Cokronegoro menurunkan putra yaitu Raden Ngabehi Cakrawedana yang menjadi Ngabehi di Pasir. Raden Ngabehi Cakrawedana kemudian diangkat menjadi Bupati Cilacap dengan gelar Raden Adipati Cakrawedana, beberapa tahun kemudian R.Adp Cakrawedana dipindahkan tugas menjadi Bupati Banyumas.

R.Adp Cakrawedana menurunkan putra yaitu Raden Cokrodisosro kelak menjadi Bupati Banyumas dengan gelar  Raden Adipati Cokronegoro I ( Bupati Banyumas th 1832 s/d 1864 )


Raden Adipati Cokronegoro I menikah dengan putri KPH Mangkubumi II ( cucu Sunan PBIII ) menurunkan sbb:

1. R.M.Tg Cokronegoro II, Bupati Banyumas

2. R.M Cokrodirdjo

3. R.Ay Cokrodisuryo

4. R.M Mangkoewinoto

5. R.Ay Sosrodiningrat menikah dg Pangeran Sosrodiningrat Paku Alaman.

6. R Cokro Atmojo

7. R Ngabehi Cokroseputro

8. R Ngabehi Cokrowiredjo

9. R Cokrodiwiryo

10. R.Ay Cokrosaprodjo


RM Mangkoewinoto  menurunkan :

1.dr R.M Marwoto Mangkoewinoto

2. R.M Cokromarsadi Mangkoewinoto

3.dr R.M Marsaid Mangkoewinoto

4. R.M Markusen Mangkoewinoto

5. R.M Mawardi Mangkoewinoto


Al Fatihah kagem Eyang RT Wiraredja dan para leluhur lainnya.

Oleh KRT Sajid Jayaningrat ( JSM )


No comments:

Post a Comment