30 November 2023

Sejarah Magelang - Sejarah Pembangunan Jalur Ambarawa - Secang

 𝗥𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗝𝗮𝗹𝘂𝗿 𝗔𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝘄𝗮 - 𝗦𝗲𝗰𝗮𝗻𝗴 


Sesaat setelah pergantian abad, perusahaan KA NIS (Nederlands Indische Spoorweg) kembali disibukkan dengan urusan pembangunan jalur trem berukuran 1067 mm di Jawa Tengah. 2 lintasan berhasil dibuka tahun 1903, yaitu tersambungnya Semarang/Gundih dengan Surabaya seiring diresmikannya jalur Cepu - Bojonegoro dan ruas antara Magelang Kota (Kebonpolo) ke Secang. Setelahnya Ambarawa yang kala itu masih bernama Willem 1 direncanakan juga akan terhubung ke Yogyakarta via Secang - Magelang dan urusan legalitas pembangunannya sudah dirampungkan tahun 1901. 


St. Ambarawa / Willem 1 sejatinya sudah eksis sejak tahun 1873, dimana jalur ini merupakan jalur cabang yang sepaket dalam pembangunan jalur sepur pertama di Indonesia antara Semarang - Tanggung - Kedungjati - Vorstelanden / Surakarta - Yogyakarta. Dorongan terbesar dilakukan pemerintah kepada NIS untuk jalur cabang ke Ambarawa dengan tujuan mobilisasi militer dari benteng Willem 1. Nampaknya peristiwa perang Jawa masih sulit dilupakan pemerintah koloni, terlebih mereka cukup bermasalah dengan mobilisasi tentara. 


Kemudian terkait jalur ber-gauge 1067 mm Ambarawa ke Secang (27 km), ditentukan bahwa NIS akan membangun lintasan membelah perbukitan dengan gradien sekitar 1:15/ 1:16 atau 65‰ memakai sistem rel gigi "Riggenbach" sepanjang 8 km, antara Jambu - Bedono - Gemawang. 3 lokomotif khusus dipesan dari pabrikan Esslingen, Jerman tahun 1902 untuk tujuan tersebut. 


Tahap konstruksi sekiranya dimulai tahun 1903 - 1904, beberapa kebutuhan sarana pendukung kerja seperti lokomotif dan gerbong didatangkan dari Semarang dan Magelang dengan diangkut gerbong "Transportwagen" berkode "P1" yang sudah aktif sejak 1897. Sarana ini dibuat untuk mengakali perbedaan lebar jalur milik NIS (1435 mm & 1067 mm). Contohnya seperti pengambilan 6 lokomotif produksi Breda no. 201 - 206 eks pelintas Magelang - Jogja yang akan digunakan sebagai mesin penarik kereta kerja (lihat foto). 3 lokomotif jalur gigi pun telah tiba dan siap sedia membantu jalannya proyek tahun 1904.





Menariknya NIS lalu merobohkan bangunan stasiun Ambarawa tuk diganti bangunan yang lebih modern, namun untuk sementara sebuah stasiun pengganti sederhana dari bambu difungsikan. Dan keseluruhan bangunan bagi perhentian kelas kecil ke Secang dibuat sangat sederhana pula berdinding bambu seperti di Jambu dan Candi Umbul. 


Jalannya proyek terbukti berjalan mulus, karena sejak pertengahan Desember 1904 jalur baru ini telah diijinkan dilintasi khusus rangkaian kereta barang dan resmi dibuka umum pada Februari 1905 yang dirayakan stasiun Bedono. Namun stasiun Ambarawa yang megah dan modern baru berhasil didirikan tahun 1907, tetapi bangunan depo lokomotif, turntable dan gudang telah siap pada 1905. Beberapa bangunan halte permanen, baru menyusul di Jambu dan Candi Umbul selepas masa perang dunia 1, karena statusnya yang ditingkatkan dari Stopplaats.

Oleh : Nevy Eka Pattiruhu




Brama Kumbara dan Mantili

 Dulu cuman mendengar suara nya doang melalui sandiwara radio.

Lalu ada poster nya jadi tahu deh,ternyata inilah orangnya Brama Kumbara dan Mantili si Pedang Setan yang melegenda itu.



Sebuah pohon Ketapang yg di jadikan pos pengamatan pantai oleh sepasukan Belanda. Pos ini di gunakan untuk menjaga pantai2 Jembrana dari infiltrasi pasukan ALRI Dari Jawa ke Bali dg tujuan membantu perjuangan pasukan Letkol I Gusti Ngurah Rai. Kemungkinan pos ini berada di pantai cupel. Tahun 1946.

 Sebuah pohon Ketapang yg di jadikan pos pengamatan pantai oleh sepasukan Belanda. Pos ini di gunakan untuk menjaga pantai2 Jembrana dari infiltrasi pasukan ALRI Dari Jawa ke Bali dg tujuan membantu perjuangan pasukan Letkol I Gusti Ngurah Rai. 

Kemungkinan pos ini berada di pantai cupel. 

Tahun 1946.



Semarang Tempo Doeloe Simpanglima semarang tahun 1970

 Semarang Tempo Doeloe 


Simpanglima semarang tahun 1970



EMPU || Pecinta Tosan Aji [PECI] Empu adalah gelar yg diberikan kpd seniman dan budayawan yg karya2nya tergolong mahakarya atau Masterpiece, terutama pd bidang seni pembuatan keris. Gelar Empu, yg kadang2 ditulis Mpu, jg diberikan kpd seniman yg berkecimpung dlm seni sastra, spt Empu Tantular, Empu Sedah, Empu Panuluh dan lain2. Dpt pula diberikan pd seniman yg berkarya di bidang seni tari, karawitan, tata bangunan, ketatanegaraan dan lain sebagainya. Bahkan di zaman modern ini, masyarakat jg menganugerahkan gelar ‘Empu’ kpd Alm. Prof. Dr. Poerbatjaraka. Namun krn Empu pembuat keris jumlahnya lebih banyak dr pd Empu di bidang lain, gelar Empu umumnya hanya dikaitkan dgn para pembuat keris. Jika mendengar kata ‘Empu’ kini org akan langsung berpikir ttg para pembuat keris. Seorang Empu pembuat keris hrs seorang seniman yg menguasai seni tempa, seni ukir, seni bentuk dan seni perlambang. Sekaligus, ia haruslah seorang rohaniawan yg banyak berpuasa, berdoa ,bahkan bersemedi dan bertapa. Ia pun dikenal sbg org yg memiliki kekuatan atau kesaktian yg bermanfaat bagi banyak org. Di zaman silam, Empu yg hasil karyanya baik dan dianggap bertuah selalu dipanggil ke keraton dan diperintahkan mengabdi kpd keluarga keraton. Ia hrs membuat keris2 pesanan keraton dan sebagai imbalannya raja memberinya gelar kebangsawanan, tanah bebas pajak dan hadiah2 lainnya. Bbrpa Empu bahkan dinikahkan dgn wanita kerabat Keraton. Krn Empu2 yg hasil karyanya baik pd umumnya mengabdi pd Keraton, keris buatan keraton pd umumnya lebih baik dr pd keris buatan Empu dr masyarakat luar Keraton. Kendati demikian, itu bukan berarti bahwa diluar Keraton tdk ada Empu yg baik. Empu2 di daerah Tuban, misalnya adalah para Empu yg banyak menghasilkan keris bermutu, walaupun mrk bukan Empu Keraton. Spt jg para pekerja seni lainnya, kehidupan para Empu mengalami zaman keemasan bila keadaan negeri sdg makmur. Kesejahteraan masyarakat membuat daya beli meningkat sehingga org dpt memberi perhatian yg lebih besar pd benda seni, antara lain keris. Sdgkan pd zaman pendudukan Jepang, perekonomian Indonesia merosot, tdk ada org yg mempunyai perhatian terhadap keris, apalagi memesannya pd seorang Empu. Akibatnya, para Empu tdk lg membuat keris. Utk mempertahankan hidup, mrk beralih mjd pandai besi; pembuat arit, cangkul, mata bajak, mjd petani atau bekerja di bidang lain. Sumber : Ensiklopedi Keris Foto : Ilustrasi Kunjungi galeri kami di Tokopedia : https://tokopedia.link/barang2koleksi-1 Mari bergabung ke group WA Pecinta Tosan Aji [PECI] - Group Member Solid - Diskusi Tosan Aji - Info cepat seputar Tosan Aji - Fasilitas Rekber Aman, Biaya Rendah dan Amanah - Diikuti oleh Pecinta, Pengrajin, Pengamat, dan Pemahar Tosan Aji Klik link berikut : https://chat.whatsapp.com/GT13IDzK5tgHpiaEbBmYn7 Mari bergabung ke group Facebook Pecinta Tosan Aji [PECI] : https://m.facebook.com/groups/1116276078753381/?ref=share&mibextid=S66gvF Follow kami diYoutube 🙂: https://youtube.com/@PecintaTosanAji?si=h1IzQ7cGtllIrhxW Follow kami di Instagram 🙂 : https://instagram.com/pecinta_tosan_aji2705?igshid=OGQ5ZDc2ODk2ZA%3D%3D&utm_source=qr Mari bergabung ke group Telegram Pecinta Tosan Aji [PECI] https://t.me/PecintaTosanAji

 EMPU || Pecinta Tosan Aji [PECI]


Empu adalah gelar yg diberikan kpd seniman dan budayawan yg karya2nya tergolong mahakarya atau Masterpiece, terutama pd bidang seni pembuatan keris. Gelar Empu, yg kadang2 ditulis Mpu, jg diberikan kpd seniman yg berkecimpung dlm seni sastra, spt Empu Tantular, Empu Sedah, Empu Panuluh dan lain2. Dpt pula diberikan pd seniman yg berkarya di bidang seni tari, karawitan, tata bangunan, ketatanegaraan dan lain sebagainya. Bahkan di zaman modern ini, masyarakat jg menganugerahkan gelar ‘Empu’ kpd Alm. Prof. Dr. Poerbatjaraka.


Namun krn Empu pembuat keris jumlahnya lebih banyak dr pd Empu di bidang lain, gelar Empu umumnya hanya dikaitkan dgn para pembuat keris. Jika mendengar kata ‘Empu’ kini org akan langsung berpikir ttg para pembuat keris.


Seorang Empu pembuat keris hrs seorang seniman yg menguasai seni tempa, seni ukir, seni bentuk dan seni perlambang. Sekaligus, ia haruslah seorang rohaniawan yg banyak berpuasa, berdoa ,bahkan bersemedi dan bertapa. Ia pun dikenal sbg org yg memiliki kekuatan atau kesaktian yg bermanfaat bagi banyak org. 


Di zaman silam, Empu yg hasil karyanya baik dan dianggap bertuah selalu dipanggil ke keraton dan diperintahkan mengabdi kpd keluarga keraton. Ia hrs membuat keris2 pesanan keraton dan sebagai imbalannya raja memberinya gelar kebangsawanan, tanah bebas pajak dan hadiah2 lainnya. Bbrpa Empu bahkan dinikahkan dgn wanita kerabat Keraton.


Krn Empu2 yg hasil karyanya baik pd umumnya mengabdi pd Keraton, keris buatan keraton pd umumnya lebih baik dr pd keris buatan Empu dr masyarakat luar Keraton. Kendati demikian, itu bukan berarti bahwa diluar Keraton tdk ada Empu yg baik. Empu2 di daerah Tuban, misalnya adalah para Empu yg banyak menghasilkan keris bermutu, walaupun mrk bukan Empu Keraton.


Spt jg para pekerja seni lainnya, kehidupan para Empu mengalami zaman keemasan bila keadaan negeri sdg makmur. Kesejahteraan masyarakat membuat daya beli meningkat sehingga org dpt memberi perhatian yg lebih besar pd benda seni, antara lain keris.


Sdgkan pd zaman pendudukan Jepang, perekonomian Indonesia merosot, tdk ada org yg mempunyai perhatian terhadap keris, apalagi memesannya pd seorang Empu. Akibatnya, para Empu tdk lg membuat keris. Utk mempertahankan hidup, mrk beralih mjd pandai besi; pembuat arit, cangkul, mata bajak, mjd petani atau bekerja di bidang lain.



Sumber : Ensiklopedi Keris

Foto : Ilustrasi


Kunjungi galeri kami di Tokopedia :

https://tokopedia.link/barang2koleksi-1


Mari bergabung ke group WA Pecinta Tosan Aji [PECI]

- Group Member Solid

- Diskusi Tosan Aji

- Info cepat seputar Tosan Aji

- Fasilitas Rekber Aman, Biaya Rendah dan Amanah

- Diikuti oleh Pecinta, Pengrajin, Pengamat, dan Pemahar Tosan Aji


Klik link berikut : 

https://chat.whatsapp.com/GT13IDzK5tgHpiaEbBmYn7


Mari bergabung ke group Facebook Pecinta Tosan Aji [PECI] : 

https://m.facebook.com/groups/1116276078753381/?ref=share&mibextid=S66gvF


Follow kami diYoutube 🙂: 

https://youtube.com/@PecintaTosanAji?si=h1IzQ7cGtllIrhxW


Follow kami di Instagram 🙂 :

https://instagram.com/pecinta_tosan_aji2705?igshid=OGQ5ZDc2ODk2ZA%3D%3D&utm_source=qr


Mari bergabung ke group Telegram Pecinta Tosan Aji [PECI]

https://t.me/PecintaTosanAji

Oleh : Rezanades FX

Konvoi tentara belanda ditangkuban perahu bandung 1948 M

 Konvoi tentara belanda ditangkuban perahu bandung 1948 M



Titiek sandhora 1960s

 Titiek sandhora

1960s



Pangeran Dipati Tuha ( Pangeran Adipati Muda ) Lahir : ? Raja Kotawaringin ke - 5 : 1750 - 1770 M Orang Tua : ♂ Pangeran Prabu Tuha, ♀ Putri Jumantan. Istri : ♀️Puteri Ratu Mangkurat bint Pangeran Purbaya. Anak : ♂ Pangeran Panghulu (Raja Kotawaringin VI), ♂ Pangeran Anom (anak Raja Kotawaringin V), ♂️Pangeran Keraton. Wafat : tahun 1770 M Makam : 8JCJ+WH6, Raja, Kec. Arut Sel., Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah 74112. Keterangan : Pangeran Adipati Tuha lah sebagai raja Kotaringin yang ke 5, bergelar Sultan Pangeran Adipati Tuha ( adalah putera Sultan pangeran Perabu dengan isterinya bernama Puteri Jematan ). Sultan Pangeran Adipati Tuha beristeri satu yaitu Puteri Ratu Mangkurat anak dari Pangeran Purbaya dan cucu dari raja banjarmasin Sultan Tamjidillah. Setelah Pangeran Adipati Tuha wafat dimakamkan di Kotaringin. Pangeran Adipati Muda bin Pangeran Prabu dinobatkan sebagai Raja Kutaringin yang kelima adalah putra mahkota dari Pangeran Prabu dengan istrinya Putri Jemantan binti Patih Mas Macan Tanjung Beringin dari Lamandau, yang kemudian meninggal dunia pada tahun 1770 dan dimakamkan di Pemakaman keluarga raja-raja Kutaringin yang disebut “Kuta Tanah” Kotawaringin Lama, dengan meninggalkan 1 orang istri yakni Putri Ratu Mangkurat dan 3 orang putra yakni Pangeran Penghulu (Putra Mahkota), Pangeran Anum dan Pangeran Keraton.

 Pangeran Dipati Tuha

( Pangeran Adipati Muda )


Lahir : ?

Raja Kotawaringin ke - 5 : 1750 - 1770 M

Orang Tua : ♂ Pangeran Prabu Tuha, ♀ Putri Jumantan.

Istri : ♀️Puteri Ratu Mangkurat bint Pangeran Purbaya.

Anak : ♂ Pangeran Panghulu (Raja Kotawaringin VI), ♂ Pangeran Anom (anak Raja Kotawaringin V), ♂️Pangeran Keraton.

Wafat : tahun 1770 M

Makam : 8JCJ+WH6, Raja, Kec. Arut Sel., Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah 74112.



Keterangan : 


Pangeran Adipati Tuha lah sebagai raja Kotaringin yang ke 5, bergelar Sultan Pangeran Adipati Tuha ( adalah putera Sultan pangeran Perabu dengan isterinya bernama Puteri Jematan ). Sultan Pangeran Adipati Tuha beristeri satu yaitu Puteri Ratu Mangkurat anak dari Pangeran Purbaya dan cucu dari raja banjarmasin Sultan Tamjidillah.

Setelah Pangeran Adipati Tuha  wafat dimakamkan di Kotaringin.


Pangeran Adipati Muda bin Pangeran Prabu dinobatkan sebagai Raja Kutaringin yang kelima adalah putra mahkota dari Pangeran Prabu dengan istrinya Putri Jemantan binti Patih Mas Macan Tanjung Beringin dari Lamandau, yang kemudian meninggal dunia pada tahun 1770 dan dimakamkan di Pemakaman keluarga raja-raja Kutaringin yang disebut “Kuta Tanah” Kotawaringin Lama, dengan meninggalkan 1 orang istri yakni Putri Ratu Mangkurat dan 3 orang putra yakni Pangeran Penghulu (Putra Mahkota), Pangeran Anum dan Pangeran Keraton.

Oleh : Naila Syafira

Potret gadis di era 70 an

 Potret gadis di era 70 an



Sejarah Magelang - Lomba Becak 1969

 Suasana lomba betjak dalam rangka HUT RI di tahun 1969, lokasi start di jalan A. Yani depan eks THR, sebelum jadi Magelang Theatre, yang sekarang juga sudah rata dengan bumi (2023). Terlihat juga atap bangunan yang kemudian akan menjadi depot es Semanggi, dan bangunan eks Hotel Loze (sekarang Matahari Dept. Store)

Oleh : Cahyono Edo Santosa




📷 : Arsip Kota (1969), Streetview (2023)

29 November 2023

Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo V ( Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo/ Ali Basah 'Abdulmahmud Gondokusumo/ Hadiwaryo ) Lahir : ? Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta ke - 5 : 1879 - 1899 M Istri : ♀️GKR Pembayun. Anak : ♀ Raden Ayu Mertonegoro, ♀ Raden Ajeng Parkis, ♀ Raden Ayu Dipokusumo, ♀ Raden Ayu Suryoprawiro, ♂ Raden Mas Karmeni, ♂ Raden Mas Suleman, ♂ Raden Mas Karmeni. Wafat : tanggal 21 Juli 1899 M Makam : Astana Pajimatan Himagiri, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keterangan : Hadiwaryo diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono V sebagai Patih danuredjo ke V. Hadiwaryo adalah cucu dari Danuredjo III dan merupakan keponakan dari Danuredjo IV. Tidak seperti pendahulunya pada masa kepemimpinan Hamengkubuwono V dan Danuredjo V adalah masa kesejahteraan rakyat. Kedekatan Hamengkubuwono V dengan Belanda membuat keadaan Kerajaan yang semula penuh konflik menjadi kondusif dan stabil. Hamengkubuwono V menjalin kerjasama yang menguntungkan dengan Belanda dengan harapan mampu menciptakan kesejahteraan rakyat. Hal ini pun didukung oleh patih Danuredjo V. namun tidak bagi abdi dalem dan pangeran dilingkungan keraton yang menjunjung tinggi nilai perjuangan leluhur terdahulu Sehingga menimbulkan banyak pertentangan. Kepemimpinan Hamengkubuwono V dan patih Danuredjo V sekitar tahun 1850 banyak melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak merugikan rakyat. Pemberontakan Mataram dan daerah kadipaten yang hendak memisahkan diri berhasil diredam. Walaupun kerajaan Banjar akhirnya bisa melepaskan diri. Namun kebijakan yang lain seperti pengurangan pajak tanah dan pembangunan sarana dan prasarana untuk digunakan secara bersama mampu membuat kesejahteraan rakyat meningkat. Di bidang keamanan Danuredjo V bertindak sangat keras dan disiplin. Abdi dalem yang jelas-jelas kedapatan mengkorupsi uang kerajaan atau melakukan perbuatan kurang terpuji terhadap rakyat langsung mendapatkan hukuman berat. Danuredjo V berhasil melakukan pembersihan dilingkungan Keraton dan juga keamanan masyarakat. Berbagai perkumpulan dan kriminalitas yang meresahkan masyarakat beliau babat habis. Hanya saja beliau tidak bisa melakukan apa-apa ketika kerabat keraton sendiri yang melakukan "Kudeta" Terhadap Hamengkubuwono V. Pada tahun 1854 Sri Sultan Hamengkubuwono V meninggal dunia dan digantikan oleh adiknya RM Ariojoyo (sebagai Hamengkubuwono VI). Danuredjo V sempat hendak mengundurkan diri namun atas permintaan Hamengkubuwono VI ia masih memangku jabatan sampai tahun 1875. Beliau pensiun dan banyak mendalami ilmu agama. Catatan : Menurut legenda Danuredjo V dikenal sebagai patih yang mempunyai kesaktian mumpuni. Banyak cerita mengenai kesaktian beliau. Seperti beliau bisa berada di beberapa tempat pada waktu yang sama namun pada lokasi yang berbeda, Mengetahui pelaku pembunuhan dengan hanya menyentuh barang yang digunakan sang pembunuh atau memindahkan bangunan pendopo keraton kelokasi yang berbeda dalam semalam tanpa diketahui siapapun. Pada tahun 1889, dilakukan pembangunan ulang Tugu Golong Gilig yang rusak akibat gempa bumi tahun 1867. Pekerjaan ini dipimpin oleh patih saat itu, Danurejo V. Ketika tugu dalam bentuk baru yang diberi nama de Wite Pal diresmikan, nama beliau tertulis pada prasasti di tugu tersebut. Prasasti itu masih bisa dibaca hingga kini. Di bawah pengawasan beliau pula, terbit beberapa karya sastra yang memuat sejarah Kasultanan Yogyakarta, di antaranya Serat Pustaka Jatya dan Serat Babad Mataram. Beliau menikah dengan putri Sri Sultan Hamengku Buwono VI, GKR Pembayun. Pada 21 Juli 1899, beliau wafat setelah 20 tahun mengabdi.

 Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo V

( Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo/ Ali Basah 'Abdulmahmud Gondokusumo/ Hadiwaryo )


Lahir : ?

Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta ke - 5 : 1879 - 1899 M

Istri : ♀️GKR Pembayun.

Anak : ♀ Raden Ayu Mertonegoro, ♀ Raden Ajeng Parkis, ♀ Raden Ayu Dipokusumo, ♀ Raden Ayu Suryoprawiro,  ♂ Raden Mas Karmeni, ♂ Raden Mas Suleman, ♂ Raden Mas Karmeni.

Wafat : tanggal 21 Juli 1899 M

Makam : Astana Pajimatan Himagiri, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.


Keterangan : 


Hadiwaryo diangkat oleh Sultan Hamengkubuwono V sebagai Patih danuredjo ke V. Hadiwaryo adalah cucu dari Danuredjo III dan merupakan keponakan dari Danuredjo IV. Tidak seperti pendahulunya pada masa kepemimpinan Hamengkubuwono V dan Danuredjo V adalah masa kesejahteraan rakyat. Kedekatan Hamengkubuwono V dengan Belanda membuat keadaan Kerajaan yang semula penuh konflik menjadi kondusif dan stabil. Hamengkubuwono V menjalin kerjasama yang menguntungkan dengan Belanda dengan harapan mampu menciptakan kesejahteraan rakyat. Hal ini pun didukung oleh patih Danuredjo V. namun tidak bagi abdi dalem dan pangeran dilingkungan keraton yang menjunjung tinggi nilai perjuangan leluhur terdahulu Sehingga menimbulkan banyak pertentangan.

Kepemimpinan Hamengkubuwono V dan patih Danuredjo V sekitar tahun 1850 banyak melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak merugikan rakyat. Pemberontakan Mataram dan daerah kadipaten yang hendak memisahkan diri berhasil diredam. Walaupun kerajaan Banjar akhirnya bisa melepaskan diri. Namun kebijakan yang lain seperti pengurangan pajak tanah dan pembangunan sarana dan prasarana untuk digunakan secara bersama mampu membuat kesejahteraan rakyat meningkat. Di bidang keamanan Danuredjo V bertindak sangat keras dan disiplin. Abdi dalem yang jelas-jelas kedapatan mengkorupsi uang kerajaan atau melakukan perbuatan kurang terpuji terhadap rakyat langsung mendapatkan hukuman berat. Danuredjo V berhasil melakukan pembersihan dilingkungan Keraton dan juga keamanan masyarakat. Berbagai perkumpulan dan kriminalitas yang meresahkan masyarakat beliau babat habis. Hanya saja beliau tidak bisa melakukan apa-apa ketika kerabat keraton sendiri yang melakukan "Kudeta" Terhadap Hamengkubuwono V. Pada tahun 1854 Sri Sultan Hamengkubuwono V meninggal dunia dan digantikan oleh adiknya RM Ariojoyo (sebagai Hamengkubuwono VI). Danuredjo V sempat hendak mengundurkan diri namun atas permintaan Hamengkubuwono VI ia masih memangku jabatan sampai tahun 1875. Beliau pensiun dan banyak mendalami ilmu agama.

Catatan : Menurut legenda Danuredjo V dikenal sebagai patih yang mempunyai kesaktian mumpuni. Banyak cerita mengenai kesaktian beliau. Seperti beliau bisa berada di beberapa tempat pada waktu yang sama namun pada lokasi yang berbeda, Mengetahui pelaku pembunuhan dengan hanya menyentuh barang yang digunakan sang pembunuh atau memindahkan bangunan pendopo keraton kelokasi yang berbeda dalam semalam tanpa diketahui siapapun.


Pada tahun 1889, dilakukan pembangunan ulang Tugu Golong Gilig yang rusak akibat gempa bumi tahun 1867. Pekerjaan ini dipimpin oleh patih saat itu, Danurejo V. Ketika tugu dalam bentuk baru yang diberi nama de Wite Pal diresmikan, nama beliau tertulis pada prasasti di tugu tersebut. Prasasti itu masih bisa dibaca hingga kini.

 

 

Di bawah pengawasan beliau pula, terbit beberapa karya sastra yang memuat sejarah Kasultanan Yogyakarta, di antaranya Serat Pustaka Jatya dan Serat Babad Mataram.

 

 

Beliau menikah dengan putri Sri Sultan Hamengku Buwono VI, GKR Pembayun. Pada 21 Juli 1899, beliau wafat setelah 20 tahun mengabdi.



Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo IV ( Mas Tumenggung Sumadipuro/ Kanjeng Pangeran Joko Hadiyosodiningrat/ Surodipo/ Raden Bagus Sukapja/ Pangeran Harya Juru ) Lahir : ? Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta ke - 4 : 11 Februari 1847 - 17 November 1879 M. Adipati Kediri. Bupati Japan (Mojokerto). Orang Tua : ♂ Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III / Pangeran Natadiningrat (Barep Hadiwanaryo / Raden Joyosentiko, Pangeran Joko Hadiyosodiningrat), ♀Gusti Kanjeng Ratu Sasi. Istri : ♀️BRAy Danurejo. Anak : ♀ Kanjeng Mas Hemawati. Wafat : tahun 1884 M Makam : Astana Mlangi, Sebelah Utara Demak Ijo, Sleman, Yogyakarta. Keterangan : Kanjeng Raden Adipati Danurejo IV pada masa kecil bernama Raden Bagus Sukapja, lantas pada masa dewasanya membawa gelar Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo. Beliau merupakan putra dari Kanjeng Raden Adipati Danurejo II. Selama Perang Jawa (1825-1830), ia menjadi salah satu panglima Diponegoro untuk wilayah Banyumas. Beliau menikah dengan BRAy Danurejo, putri dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV dan BRAy Retnodiningrum. Danurejo IV mengajukan pengunduran diri setelah hampir 33 tahun mengabdi. Kemudian beliau dikenal dengan nama Pangeran Harya Juru atau Pangeran Juru Ridder. Beliau meninggal dunia pada tahun 1884 dan dimakamkan di Astana Mlangi, sebelah utara Demakijo. Pada tanggal 2 Desember 1813 Sumadipura pun diangkat dan dilantik sebagai Pepatih Dalem Danureja IV dan kelak memangku jabatan terhormat itu selama 34 tahun, atau sampai tahun 1847. Seperti yang diperkirakan, sebagai orang luar yang sebelumnya tidak memiliki akses ke wilayah lingkaran dalam kalangan elit istana, pada awal memegang kendali pemerintahan Danureja IV mendapat banyak hambatan dan cibiran dari pejabat lain. Hanya karena jasa Pangeran Dipanegara yang selalu membelanya dan pasang badan sematalah Danurejo IV mampu melewati tahun-tahun pertama jabatannya yang sebenarnya penuh rongrongan dengan prestasi gemilang. Sayangnya ada satu hal yang luput dari pengetahuan Pangeran Diponegoro. Terlepas dari pengaruh dan perlindungan sang Pangeran, Danureja IV justru tidak merasa berhutang budi. Sebaliknya, ia seperti dihinggapi syndrome “kere munggah bale” ini menyembunyikan sebuah luka di dalam hati karena ia merasa hidup dalam bayang-bayang. Semua jasa dan budi baik Diponegoro datang justru serasa taburan garam yang semakin membusukkan luka di jantung. Dia dihinggapi perasaan rendah diri seolah-olah semua mata memandang dengan memandangnya rendah, seolah-olah semua bibir dimencongkan dengan mulut yang kasak-kusuk menggunjingkan dia di belakangnya dan mengatakan bahwa dia bukan siapa-siapa bila bukan karena Pangeran Diponegoro. Danurejo IV bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya tidak seperti apa yang dipikirkan orang. Dia yakin dia bisa, mampu, dan hebat meskipun tanpa campur tangan Sang Pangeran. Ketika pada tahun 1816 Hamengkubuwana III mangkat dan digantikan oleh Raden Mas Ibnu Jarot yang masih berusia kanak-kanak menjadi Hamengkubuwana IV, sang Patih yang mata gelap ini mulai menunjukkan kedurjanaannya. Keberadaan Pangeran Diponegoro yang lebih banyak meninggalkan istana dan tinggal di Tegalrejo menjadikannya lancang berani menggantikan pejabat-pejabat bawahannya dengan para penjilatnya dan mulai menyusun berbagai kebijakan yang merugikan rakyat. Karena merasa pelindung pelindung yang sebelumnya mulai menjauh, diapun mencari sosok pelindung lain yang celakanya ditemukannya pada pemerintah kolonial Belanda, pihak yang sebenarnya hanya berkepentingan memanfaatkan keraton sebagai alat untuk mencapai keuntungannya sendiri. Untuk memuaskan luka hatinya, Danurejo IV rela menggadaikan jiwa menjadi antek pihak asing. Naskah Jawa zaman itu mulai menggambarkannya sebagai seorang yang tidak baik dan rusak. Dia mendapat julukan “setan kulambi manungsa”, yaitu setan berbaju manusia, yang “angecu sarwi lenggah”, yang menggembar-gemborkan uang rakyat sambil duduk manis di singgasananya. Babad Kedung Kebo mencatat sebuah peristiwa yang menandai anti klimaks dengan sang Pangeran. Pada tahun 1822, Pangeran memanggil Danurejo IV dalam sebuah penghadapan, berkaitan dengan berbagai laporan miring atas kesewenang-wenangannya menindas rakyat. Selaku wali sultan yang masih bocah, Diponegoro menginterogasinya di paseban, di depan banyak pemangku pejabat dan seorang sentono (anggota keluarga sultan). Dulu Pangeran pernah membahas suatu kebijakan bersama ayahnya, sultan Hamengkubuwono III terkait dengan penunjukan petugas resmi polisi pedesaan atau gunung dan peran mereka atas masyarakat pedesaan. Tanpa berkonsultasi, Danurejo IV menunjuk 50 lebih petugas resmi yang digaji langsung dari uang pajak kerajaan dengan tugas khusus mengumpulkan pacumpleng -pajak rumah tangga yang sekaligus petugas penegak hukum. Pangeran menjadi murka ketika Danurejo IV terus saja mengelak dengan berbagai dalih, dan terjadilah sebuah peristiwa heboh ini. Pangeran yang amat disegani semua kalangan itu tiba-tiba berdiri, melepaskan selop alas kakinya dan dengan langkah murka medekati Danurejo IV dan memukulkan selop tersebut ke kepala dan wajah sang patih yang duduk menyembah. Penghinaan itu takkan pernah dilupakan oleh Danureja IV sepanjang hidupnya, meski sesungguhnya dia sangat pantas untuk ditinggali. Insiden besar kedua terjadi ketika dalam sebuah pesta bersama Belanda, disajikan anggur dan berbagai minuman keras. Lazim pada masa itu pesta-pesta ala barat diadakan di kalangan pemerintahan sehingga Pangeran Diponegoro sampai tidak tahan dan berasumsi bahwa Belanda telah menginjak-injak dan mencemari keraton. Danureja IV bermaksud membalas dendam yang pernah ia alami. Ia tahu bahwa sang Pangeran tidak akan sudi ikut minum, sehingga dengan sengaja menawarkannya sebuah gelas. “Santri udik itu malam ini akan dipermalukan di tengah pesta orang beradab”, batinnya. Tak disangka, Pangeran Dipanegara melakukan hal yang kian menyalakan balas dendam Danureja IV. Begitu gelas diterima, sang Patih kaget karena wajahnya basah disiram anggur yang dihempaskan oleh Sang Pangeran. Semenjak itu, dengan penuh kedengkian Danurejo IV benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk menghancurkan kedudukan Pangeran Diponegoro di Keraton Yogyakarta, orang yang telah berjasa besar mengangkatnya sebagai pejabat administratif tertinggi di Keraton, sebagai orang kedua dalam pemerintahan.

 Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo IV

( Mas Tumenggung Sumadipuro/ Kanjeng Pangeran Joko Hadiyosodiningrat/ Surodipo/ Raden Bagus Sukapja/ Pangeran Harya Juru )


Lahir : ?

Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta ke - 4 : 11 Februari 1847 - 17 November 1879 M.

Adipati Kediri.

Bupati Japan (Mojokerto).

Orang Tua : ♂ Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III / Pangeran Natadiningrat (Barep Hadiwanaryo / Raden Joyosentiko, Pangeran Joko Hadiyosodiningrat), ♀Gusti Kanjeng Ratu Sasi.

Istri : ♀️BRAy Danurejo.

Anak : ♀ Kanjeng Mas Hemawati.

Wafat : tahun 1884 M

Makam : Astana Mlangi, Sebelah Utara Demak Ijo, Sleman, Yogyakarta.


Keterangan : 


Kanjeng Raden Adipati Danurejo IV pada masa kecil bernama Raden Bagus Sukapja, lantas pada masa dewasanya membawa gelar Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo. Beliau merupakan putra dari Kanjeng Raden Adipati Danurejo II. Selama Perang Jawa (1825-1830), ia menjadi salah satu panglima Diponegoro untuk wilayah Banyumas.

 

 

Beliau menikah dengan BRAy Danurejo, putri dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV dan BRAy Retnodiningrum. Danurejo IV mengajukan pengunduran diri setelah hampir 33 tahun mengabdi. Kemudian beliau dikenal dengan nama Pangeran Harya Juru atau Pangeran Juru Ridder. Beliau meninggal dunia pada tahun 1884 dan dimakamkan di Astana Mlangi, sebelah utara Demakijo.


Pada tanggal 2 Desember 1813 Sumadipura pun diangkat dan dilantik sebagai Pepatih Dalem Danureja IV dan kelak memangku jabatan terhormat itu selama 34 tahun, atau sampai tahun 1847.


Seperti yang diperkirakan, sebagai orang luar yang sebelumnya tidak memiliki akses ke wilayah lingkaran  dalam kalangan elit istana, pada awal memegang kendali pemerintahan Danureja IV mendapat banyak hambatan dan cibiran dari pejabat lain. Hanya karena jasa Pangeran Dipanegara yang selalu membelanya dan pasang badan sematalah Danurejo IV mampu melewati tahun-tahun pertama jabatannya yang sebenarnya penuh rongrongan dengan prestasi gemilang.


Sayangnya ada satu hal yang luput dari pengetahuan Pangeran Diponegoro. Terlepas dari pengaruh dan perlindungan sang Pangeran, Danureja IV justru tidak merasa berhutang budi. Sebaliknya, ia seperti dihinggapi syndrome “kere munggah bale” ini menyembunyikan sebuah luka di dalam hati karena ia merasa hidup dalam bayang-bayang. Semua jasa dan budi baik Diponegoro datang justru serasa taburan garam yang semakin membusukkan luka di jantung.


Dia dihinggapi perasaan rendah diri seolah-olah semua mata memandang dengan memandangnya rendah, seolah-olah semua bibir dimencongkan dengan mulut yang kasak-kusuk menggunjingkan dia di belakangnya dan mengatakan bahwa dia bukan siapa-siapa bila bukan karena Pangeran Diponegoro.


Danurejo IV bertekad untuk membuktikan bahwa dirinya tidak seperti apa yang dipikirkan orang. Dia yakin dia bisa, mampu, dan hebat meskipun tanpa campur tangan Sang Pangeran.


Ketika pada tahun 1816 Hamengkubuwana III mangkat dan digantikan oleh Raden Mas Ibnu Jarot yang masih berusia kanak-kanak menjadi Hamengkubuwana IV, sang Patih yang mata gelap ini mulai menunjukkan kedurjanaannya.


Keberadaan Pangeran Diponegoro yang lebih banyak meninggalkan istana dan tinggal di Tegalrejo menjadikannya lancang berani menggantikan pejabat-pejabat bawahannya dengan para penjilatnya dan mulai menyusun berbagai kebijakan yang merugikan rakyat. Karena merasa pelindung pelindung yang sebelumnya mulai menjauh, diapun mencari sosok pelindung lain yang celakanya ditemukannya pada pemerintah kolonial Belanda, pihak yang sebenarnya hanya berkepentingan memanfaatkan keraton sebagai alat untuk mencapai keuntungannya sendiri.


Untuk memuaskan luka hatinya, Danurejo IV rela menggadaikan jiwa menjadi antek pihak asing.


Naskah Jawa zaman itu mulai menggambarkannya sebagai seorang yang tidak baik dan rusak. Dia mendapat julukan “setan kulambi manungsa”, yaitu setan berbaju manusia, yang “angecu sarwi lenggah”, yang menggembar-gemborkan uang rakyat sambil duduk manis di singgasananya.


Babad Kedung Kebo mencatat sebuah peristiwa yang menandai anti klimaks dengan sang Pangeran. Pada tahun 1822, Pangeran memanggil Danurejo IV dalam sebuah penghadapan, berkaitan dengan berbagai laporan miring atas kesewenang-wenangannya menindas rakyat. Selaku wali sultan yang masih bocah, Diponegoro menginterogasinya di paseban, di depan banyak pemangku pejabat dan seorang sentono (anggota keluarga sultan). Dulu Pangeran pernah membahas suatu kebijakan bersama ayahnya, sultan Hamengkubuwono III terkait dengan penunjukan petugas resmi polisi pedesaan atau gunung dan peran mereka atas masyarakat pedesaan. Tanpa berkonsultasi, Danurejo IV menunjuk 50 lebih petugas resmi yang digaji langsung dari uang pajak kerajaan dengan tugas khusus mengumpulkan pacumpleng -pajak rumah tangga yang sekaligus petugas penegak hukum.


Pangeran menjadi murka ketika Danurejo IV terus saja mengelak dengan berbagai dalih, dan terjadilah sebuah peristiwa heboh ini. Pangeran yang amat disegani semua kalangan itu tiba-tiba berdiri, melepaskan selop alas kakinya dan dengan langkah murka medekati Danurejo IV dan memukulkan selop tersebut ke kepala dan wajah sang patih yang duduk menyembah.


Penghinaan itu takkan pernah dilupakan oleh Danureja IV sepanjang hidupnya, meski sesungguhnya dia sangat pantas untuk ditinggali.


Insiden besar kedua terjadi ketika dalam sebuah pesta bersama Belanda, disajikan anggur dan berbagai minuman keras. Lazim pada masa itu pesta-pesta ala barat diadakan di kalangan pemerintahan sehingga Pangeran Diponegoro sampai tidak tahan dan berasumsi bahwa Belanda telah menginjak-injak dan mencemari keraton. Danureja IV bermaksud membalas dendam yang pernah ia alami. Ia tahu bahwa sang Pangeran tidak akan sudi ikut minum, sehingga dengan sengaja menawarkannya sebuah gelas. “Santri udik itu malam ini akan dipermalukan di tengah pesta orang beradab”, batinnya. Tak disangka, Pangeran Dipanegara melakukan hal yang kian menyalakan balas dendam Danureja IV. Begitu gelas diterima, sang Patih kaget karena wajahnya basah disiram anggur yang dihempaskan oleh Sang Pangeran.


Semenjak itu, dengan penuh kedengkian Danurejo IV benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk menghancurkan kedudukan Pangeran Diponegoro di Keraton Yogyakarta, orang yang telah berjasa besar mengangkatnya sebagai pejabat administratif tertinggi di Keraton, sebagai orang kedua dalam pemerintahan.



Potret dalam penjara wanita di Semarang, foto sekitar tahun 1932. 📸tropenmuseum

 Potret dalam penjara wanita di Semarang, foto sekitar tahun 1932.

📸tropenmuseum



Bentoel

 Iklan jaman biyen tetep nganggo busana khas Jawa. Rokok merk iki isih ana apa ora? Bentoel



Kanjeng Raden Adipati Danurejo VI ( Kanjeng Pangeran Haryo Yudonegoro II/ Pangeran Haryo Cakraningrat) Lahir : ? Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta ke - 6 : 17 Maret 1900 - 21 Oktober 1911 M Orang Tua : ♂ Kanjeng Raden Tumenggung Yudonegoro I / Kanjeng Pangeran Haryo Yudonegoro I, ♀ Bendoro Raden Ayu Gusti Maduretno. Saudara : ♂ Kanjeng Raden Adipati Haryo Danurejo V. Istri : ♀ Gusti Kanjeng Ratu Hangger, ♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Yudonegoro II (Bendoro Raden Ayu Cokdrodiningrat). Anak : ♀ Raden Ayu Hadinegoro, ♀ Bendoro Raden Ayu Retnomandoyo, ♂ Kanjeng Raden Adipati Danurejo VIII / Subari Wiro Haryodirgo Danurejo VI. Wafat : ? Makam : kompleks makam Cendonosari, Jl. Garuda No.429, Wonocatur, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55198. Keterangan : Danuredjo VI naik tahta menggantikan Danuredjo V pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII sekitar tahun 1877. Danuredjo VI adalah adik dari Danuredjo V (Maaf saya tidak mendapatkan nama aslinya).Pada masa ini Keraton banyak melakukan perubahan di berbagai bidang menuju kearah modernisasi. Pihak keraton sudah mulai membuka diri terhadap pengaruh kebudayaan asing. Dibidang keamanan Danuredjo VI mempelopori modernisasi prajurit keraton dan membaginya menjadi 8 Kesatuan prajurit keraton. Belanda yang mengetahui perubahan struktur dan modernisasi Prajurit keraton tidak menyetujuinya. Hal ini sempat mendapatkan reaksi keras dan juga tentangan dari Danuredjo VI. Belanda akhirnya bisa mempengaruhi Hamengkubuwono VII dan Petinggi keraton lainnya untuk membatalkan rencana modernisasi prajurit keraton. Kebijakan pun dibatalkan oleh Hamengkubuwono VII yang lebih mengutamakan pendirian pabrik gula dan usaha swasta. Hal ini meregangkan hubungan Danuredjo VI dengan Hamengkubuwono VII dan juga petinggi keraton lainnya. Danuredjo VI pun mengundurkan diri (saya tidak tahu tahun berapa tepatnya) dan akhirnya digantikan oleh Sepupu beliau RM Bambang Ryanto. Sedangkan beliau mengasingkan diri dan lebih banyak memperdalam ajaran agama islam. Beliau lebih dikenal sebagai Kyai Karebet. Danurejo VI juga dikenal dengan nama Kanjeng Pangeran Harya Cakraningrat. Sebagaimana pendahulunya, beliau juga memiliki karya tulis. Antara lain Kempalan Kitab-Kitab Islam dan Serat Betaljemur Adammakna. Beliau memiliki seorang cucu yang sangat disayangi yang bernama Bendara Raden Mas Kudiarmaji. Ketika dewasa cucu beliau ini mendapat gelar Bendoro Pangeran Haryo Suryomentaram. Kelak sang cucu muncul menjadi tokoh tasawuf Jawa, menanggalkan gelar kepangeranan dan menjalani hidup sebagai Ki Ageng Suryomentaram.

 Kanjeng Raden Adipati Danurejo VI

( Kanjeng Pangeran Haryo Yudonegoro II/ Pangeran Haryo Cakraningrat)


Lahir : ?

Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta ke - 6 : 17 Maret 1900 - 21 Oktober 1911 M

Orang Tua : ♂ Kanjeng Raden Tumenggung Yudonegoro I / Kanjeng Pangeran Haryo Yudonegoro I, ♀ Bendoro Raden Ayu Gusti Maduretno.

Saudara : ♂ Kanjeng Raden Adipati Haryo Danurejo V.

Istri : ♀ Gusti Kanjeng Ratu Hangger, ♀ Gusti Bendoro Raden Ayu Yudonegoro II (Bendoro Raden Ayu Cokdrodiningrat).

Anak : ♀ Raden Ayu Hadinegoro, ♀ Bendoro Raden Ayu Retnomandoyo, ♂ Kanjeng Raden Adipati Danurejo VIII / Subari Wiro Haryodirgo Danurejo VI.

Wafat : ?

Makam : kompleks makam Cendonosari, Jl. Garuda No.429, Wonocatur, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55198.


Keterangan : 


Danuredjo VI naik tahta menggantikan Danuredjo V pada masa pemerintahan Hamengkubuwono VII sekitar tahun 1877. Danuredjo VI adalah adik dari Danuredjo V (Maaf saya tidak mendapatkan nama aslinya).Pada masa ini Keraton banyak melakukan perubahan di berbagai bidang menuju kearah modernisasi. Pihak keraton sudah mulai membuka diri terhadap pengaruh kebudayaan asing. Dibidang keamanan Danuredjo VI mempelopori modernisasi prajurit keraton dan membaginya menjadi 8 Kesatuan prajurit keraton.

Belanda yang mengetahui perubahan struktur dan modernisasi Prajurit keraton tidak menyetujuinya. Hal ini sempat mendapatkan reaksi keras dan juga tentangan dari Danuredjo VI. Belanda akhirnya bisa mempengaruhi Hamengkubuwono VII dan Petinggi keraton lainnya untuk membatalkan rencana modernisasi prajurit keraton. Kebijakan pun dibatalkan oleh Hamengkubuwono VII yang lebih mengutamakan pendirian pabrik gula dan usaha swasta. Hal ini meregangkan hubungan Danuredjo VI dengan Hamengkubuwono VII dan juga petinggi keraton lainnya. Danuredjo VI pun mengundurkan diri (saya tidak tahu tahun berapa tepatnya) dan akhirnya digantikan oleh Sepupu beliau RM Bambang Ryanto. Sedangkan beliau mengasingkan diri dan lebih banyak memperdalam ajaran agama islam. Beliau lebih dikenal sebagai Kyai Karebet.


Danurejo VI juga dikenal dengan nama Kanjeng Pangeran Harya Cakraningrat. Sebagaimana pendahulunya, beliau juga memiliki karya tulis. Antara lain Kempalan Kitab-Kitab Islam dan Serat Betaljemur Adammakna.

 

Beliau memiliki seorang cucu yang sangat disayangi yang bernama Bendara Raden Mas Kudiarmaji. Ketika dewasa cucu beliau ini mendapat gelar Bendoro Pangeran Haryo Suryomentaram. Kelak sang cucu muncul menjadi tokoh tasawuf Jawa, menanggalkan gelar kepangeranan dan menjalani hidup sebagai Ki Ageng Suryomentaram.

Oleh : Naila Syafira



Pangeran Penghulu

 Pangeran Penghulu



Lahir : ?

Raja Kotawaringin ke - 6 : 1770 - 1785 M

Orang Tua : ♂ Pangeran Dipati Tuha, 

Saudara : ♂ Pangeran Anom .

Istri : ♀ Puteri Ratu Mangkurat ?

Anak : ♀️Ratu Iranata, ♂️Mangkubumi Pangeran Pakunegara, ♂️Pangeran Cakra Negara I, ♂️Pangeran Ratu Begawan, ♂️Pangeran Prabu Anum, ♂️Pangeran Melaya, ♂️Pangeran Diaya.

Wafat : tahun 1778 M

Makam : 


Keterangan : 


Pangeran Penghulu bin Pangeran Adipati Muda dinobatkan sebagai Raja Kutaringin yang keenam adalah putra mahkota dari Pangeran Adipati Muda dengan istrinya Putri Ratu Mangkurat, yang kemudian meninggal dunia pada tahun 1778 dan dimakamkan di Pemakaman keluarga raja-raja Kutaringin yang disebut “Kuta Tanah” Kotawaringin Lama, dengan meninggalkan 1 orang istri dengan gelar Putri Ratu Penghulu dan 7 orang putra yakni :

1.       Pangeran Bengawan (Putra Mahkota)

2.       Pangeran Pakunegara

3.       Pangeran Iranata

4.       Pangeran Cakranegara

5.       Pangeran Prabu Anum

6.       Pangeran Melaya

7.       Pangeran Jaya


Oleh : Naila Syafira

Kereta Hantu Manggarai

 ◾️ Urban Legend Kereta Hantu Manggarai Jakarta, Aneh Ada Orang Baca Koran Tahun 1953


Kereta hantu Manggarai masih terngiang-ngiang untuk generasi Jakarta tahun 90-an. Bahkan sampai ada filmnya pula dengan judul yang sama, kereta hantu Manggarai.


Cerita dari mulut ke mulut kereta hantu Manggarai subur dan tak pernah putus. Sebab Indonesia sangat identik dan kental dengan cerita cerita mistis yang berkembang di masyarakat.


Kisah kereta hantu Manggarai tidak pernah terbukti secara ilmiah, jadi hanya urban legend saja.


Stasiun Manggarai adalah stasiun tertua yang telah berdiri sejak zaman Belanda. Stasiun kereta api di Manggarai dibangun pada tahun 1914 dan diresmikan pada 1 Mei 1918.


Kesaksian beberapa orang seperti penjaga perlintasan kereta bukit Duri - Jakarta Selatan, yang dikejutkan dengan suara sirine perlintasan kereta pada pukul 04.00 dini hari yang tentunya sangat tidak wajar, karena jam operasional kereta dimulai pukul 05.00 WIB.


Tak lama setelah sirene tersebut berbunyi melintaslah kereta empat gerbong yang beroperasi tanpa masinis, dan penumpang di dalamnya. Keanehan lainnya adalah kereta jalan dengan keadaan gelap gulita.


selain itu ada versi lain dari seorang lelaki bernama Selamet. Pada saat itu ada seorang anak muda yang tiba di stasiun Depok pukul 23.00 dan menghampirinya menanyakan jadwal kereta. Ketika Slamet berbincang dengan pemuda tersebut, ia mendapatkan penjelasan yang cukup aneh.


Pasalnya pemuda tersebut baru menumpangi kereta yang penumpannya nampak seperti mayat.


Selain itu juga penumpang di dalam kereta tersebut tidak berinteraksi satu sama lain.


Mendengar penjelasan tersebut Selamet semakin bingung karena ia hapal betul jam kereta terakhir pada pukul 22.00 WIB.



Anak muda yang menumpangi kereta tadi bersikukuh bahwa ia benar benar baru menaiki kereta yang beroperasi di atas jam tersebut, ia juga menambahkan sempat meminjam koran dari salah seorang penumpang kereta.


Ketika koran tersebut dibuka mereka sama sama terkejut karena koran tersebut merupakan cetakan tahun 1953.


Berdasarkan cerita-cerita di atas memang kurang masuk di akal ya, apalagi kereta yang dapat meluncur sendiri tanpa ada masinis dan listrik. Tetapi percaya atau tidak beberapa orang telah menyaksikan hingga mengalami sendiri, kejanggalan tersebut.


◾️ Kiki Oktaliani/suara com

Iwan Fals

 Iwan Fals Wawancara di salah satu stasiun Radio swasta 80's



Atas dulu, Huizen voor het personeel van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Jogjakarta, 1920 1930. .,. Bawah kini, Jl Kusbini, Yogyakarta, 2023

 Atas dulu, Huizen voor het personeel van de Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), Jogjakarta, 1920 1930. .,. 

Bawah kini, Jl Kusbini, Yogyakarta, 2023



28 November 2023

Mas Bro

 Oleh : Purwanto Heri


KRIS TATANG putra Gepeng Srimulat

adalah orang yang pertama kali mempopulerkan panggilan MAS BRO. Panggilan tersebut muncul pertama kali dalam sinetron Pesantren dan Rock N Roll (2011).


Sinetron tersebut dibintangi Ali Syakieb sebagai rocker ibukota bernama Wahyu yang dipaksa orang tuanya menjadi santri di Yogya. Di lingkungan pesantren, dia dimusuhi santri senior bernama Najib yang diperankan Ramzi. Nah, salah seorang pengikut Najib bernama Fuad, seorang santri lugu yang diperankan Kris Tatang.


Sebaliknya, Wahyu tidak ingin bermusuhan dengan Najib. Dia memanggil Najib dengan panggilan akrab BRO seperti umumnya anak ibukota. Najib suka dengan panggilan itu. Fuad pun ikut memanggil demikian. Namun, karena segan, dia lantas menambahkan Mas di depan Bro, menjadi MAS BRO.



☆☆☆

SD di Kalimantan Tengah

 Ini bukan Pos Hansip atau Poskamling, namun ini sebuah bangunan Sekolah Dasar (SD) di sebuah daerah terpencil di Kalimantan Tengah. Mungkin termasuk bangunan SD terkecil yang pernah ada di Indonesia, serta jumlah muridnya yang sedikit. Meskipun bangunan alakadarnya, anak-anak tetap antusias belajar.



Sumber: Merdeka,  9 -12-1981 hal 1. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba-Perpustakaan Nasional RI (SKALA-Team).


#bangunan #sekolah #pendidikan #Kalimantan-Tengah

27 November 2023

Pertunjukan Kuda Kepang di sebuah pasar di Surabaya, sekitar tahun 1905-1906. 📷 Kurkdjian/KITLV

 Pertunjukan Kuda Kepang di sebuah pasar di Surabaya, sekitar tahun 1905-1906. 📷 Kurkdjian/KITLV



Adam Malik

 Tentunya kita sudah mengenal para tokoh besar yang menduduki jabatan sebagai Presiden Indonesia. Untuk tokoh yang pernah menduduki jabatan wakil presiden, yang pertama ada Mohammad Hatta di era kepemimpinan Presiden Soekarno. Wakil Presidennya di Era pemerintahan Orde Baru di antaranya ada Sultan Hamengkubuwono IX, kemudian Adam Malik.


Sedikit cerita tentang Adam Malik.  Kampung halaman Ibunya  dan Keluarga Adam Malik sebenarnya berasal dari daerah Cemor, negara bagian Perak Semenanjung Tanah Melayu (sekarang masuk Malaysia). Ibu kandung Adam bernama  Salamah tinggal di Cemor. Lalu dipersunting oleh Haji Abdul Malik, ayah Adam yang semula berdagang kecil-kecilan sampai usaha menjahit di Pematang Siantar Sumatera Utara.  Adam dilahirkan pada 22 Juli 1917 di sebuah rumah tingkat dua terletak di Kedai Padang Panjang (Jalan Pasar No. 48) Pematang Siantar. Ia anak ketiga dari 10 bersaudara.

Sekolah resmi pertamanya adalah HIS (Hollandsch Inlandsche School) atau sekolah rendah Belanda Bumiputra,  Kemudian dilanjutkan di sekolah Thawalib Parabek di Sumatera Barat dan belajar pada Syeikh Abdullah Afidudin dan Syeikh  Abd. Rahim. Sesudah itu Adam tidak pernah masuk sekolah resmi pemerintah lagi. 


Sukses yang dicapai Adam, karena ia sorang autodidak atau disebut dengan self-made-man.  Tidak mudah untuk menjadi orang yang disebut self-made-man, karena harus mempunyai kemauan keras, kerajinan, ketekunan dan tekad yang kuat. Ketika usai 17 tahun, Adam sempat ditangkap dan dihukum Belanda karena kegiatan politiknya. Ia perah terkena “peraturan bui” yakini mesti memakai baju putih yang bergaris-garis hitam. Baju khas orang hukuman saat itu. Pemerintah Padang Sidempuan bekerja sama dengan pengurus penjara waktu itu memaksa orang-orang hukuman termasuk Adam Malik untuk menyapu jalan di muka umum di kota Padang Sidempuan.


Sejak muda aktif berorganisasi, tercatat pernah memimpin beberapa partai politik di Indonesia sebelum kemerdekaan. Sesudah Indonesia merdeka, beliau turut melahirkan partai Murba, kemudian  pindah ke Golkar. Beliau sering tak bertahan lama di satu partai politik, lebih konsisten di dunia jurnalistik atau kewartawanan, dan menjadi  salah satu pendiri Kantor Berita Antara. Pernah ikut menerbitkan surat kabar  “Pembela Proklamasi” pada tahun 1955


Di dunia internasional, beliau juga adalah pencetus lahirnya ASEAN (organisasi persatuan negara-negara di kawasan Asia Tenggara).  Pernah terpilih sebagai Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke 26 di New York Amerika Serikat pada tahun 1971. Menjadikan beliau tercatat sebagai orang Indonesia pertama dan satu-satunya yang pernah menjabat sebagai ketua Majelis Umum PBB. 


Satu pribadi yang menarik amat menonjol dari Adam Malik ini adalah orangnya ramah dan rendah hati, meskipun sudah menjadi orang penting sifat dan sikapnya tidak berubah ( dalam buku “Hidup dan Perjuangan Adam Malik”/oleh Bachtiar Djamil, 1980: hal 2).



Sumber: Pelita 14 Mei 1979 & Sinar Harapan 4 Desember 1980.  Koleksi Surat Kabar Langka Salemba-Perpustakaan Nasional RI (SKALA-Team).


#tokoh #wakilPresiden #PadangSidempuan #wartawan #diplomat

Gadis Solo pulang dari pasar di tahun 1935 (y) ... judul aslinya adalah : (Solo; meisje terugkomende van pasar. Midden Java)

 Gadis Solo pulang dari pasar di tahun 1935 (y)  ... judul aslinya adalah : (Solo; meisje terugkomende van pasar. Midden Java)



Yok Koeswoyo - Koes Plus

 YOK KOESWOYO - "MENGGUSUR DEDDY STANZAH".


Bassist Koes Plus Yok Koeswoyo tak habis pikir mengapa pembaca majalah memilih dirinya sebagai Bassist Terbaik Indonesia tahun 1974. Pada posisi ke 3 setelah Arthur Kaunang dari AKA Group & Donny Gagola dari GODBLESS menggeser Deddy Stanzah dari The Rollies dan Adhi Sibolangit.

"Apa yang dinilai dari aku yang main bass nya gitu2 aja, dari gaya panggung, aku jelas ketinggalan jauh dari Stanzah dan Adhi, buat aku ini jadi beban, karena kalau saat show harus kasih lihat aku memang pantas untuk jadi bassist  terbaik, kalau main ala kadarnya saja pasti aku dicaci maki, koq bassist terbaik mainnya kayak gitu", gerutu Yok Koeswoyo.



Iwan Fals

Iwan Fals Bersama para artis Musica



Mengganti ban kempes di Bojolali 1914.

 Mengganti ban kempes di Bojolali 1914.



Sejarah Magelang - Jalan Ikhlas - Johannes Van Der Steur

 Dengan latar di foto lawas (sumber: boodykamtis) diketahui bahwa area jalan ikhlas dulu hanya terdapat satu lajur jalan raya dengan area pemakaman luas di pinggirnya sebelum akhirnya dipindah ke Giri Dharmoloyo dan pemakanan di jalan Ikhlas dibuat perumahan dan ruko-ruko. Gerbang pemakaman masih kokoh berdiri, gerbang memento mori, di bagian atas sungai tepat di seberang komplek makam Johannes Van Der Steur. Sekarang makam yang tersisa hanya milik Pa Van Der Steur dan beberapa anak asuhnya.




Btw project film 2024 bakal berat ke ceritanya Pa Van Der Steur nih. Siapa tertarik untuk gabung @pandora_films tahun depan?


#temandika

#magelangbaru

#kotamagelang

26 November 2023

Sejarah Mataram - Ki Ageng Selo

 KI AGENG SELO

LELUHUR TRAH MATARAM 


Bagus Sogum atau Kyai Abdurahman II yg lebih di kenal dengan nama Ki Ageng Sesela atau Ki Ageng Sela adalah Putra dari Ki Ageng Getas Pandawa. Jadi Beliau adalah cucu buyut Raja Brawijaya V dari Ki Ageng Getas Pandawa putra R. Bondhan Kajawan.

Ki Ageng Sela tersohor sebagai seorang yang mumpuni dari berbagai hal dan bidang. Beliau adalah seorang Ulama,  guru,  dalang,  seniman. Juga seorang yang kaya dari pengolahan tanah pertaniannya. Dan hasil pertaniannya sebagian dibagikan secara gratis untuk penduduk sekitarnya.

Beliau adalah sosok yang sholeh yang kesehariaannya mengajarkan pandangan hidup yang dituangkan dalam Sastra Serat Pepali Ki Ageng Sela


Ki Ageng Sela konon dapat menangkap petir . Saat disambar petir Beliau tidak cedera tapi petir dapat ditangkap dan diserahkan kepada para wali. 


Ki Ageng Selo juga memiliki sebuah pusaka istimewa yang dinamakan Kyai Bicak. Karena pusaka tersebut dahulu adalah milik Ki Bicak seorang dalang. Pusaka Kyai Bicak berbentuk sebuah bende atau gong kecil. 

Pusaka Bende Kiai Bicak konon dikenal keramat dan memiliki daya magis. Apabila ditabuh tidak  berbunyi berarti ada firasat buruk . Bila ditabuh / dipukul  berbunyi nyaring pertanda firasat baik / akan memperoleh kemenangan. Kelak Bende Kyai Bicak menjadi pusaka Kerajaan Mataram.


Ki Ageng Sela alias Bagus Sogum dulu pernah melamar sebagai prajurit tamtama di Demak tetapi ditolak. Hati Ki Ageng Sela bercampur aduk antara marah dan kecewa apalagi Beliau merasa masih ada darah keturunan Raja Brawijaya V sama dengan bangsawan Demak yang juga masih keturunan Raja Majapahit tsb. 

Dalam hati Beliau ingin menjadi Raja, akhirnya kemudian bertapa dengan tekun dn khusuk.

Dalam semedinya Beliau mendapat bisikan bahwa Beliau tidak pernah bisa menjadi Raja karena " Wahyu Kraton " akan berpindah dari Demak ke Pajang.


( Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir.


Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja-raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata : Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu )


Meski tidak mungkin jadi raja, tetapi Ki Ageng Sela tetap berdoa supaya kelak keturunannya dapat mewujudkan cita citanya sebagai raja.

Harapan itu mulai terang ketika Mas Karebet dari Tingkir datang berguru ke Padepokan Sela. Hingga suatu malam Beliau melihat  tanda bahwa Mas Karebet akan mendapatkan Wahyu Kraton, maka kemudian Ki Ageng Sela berinisiatif menitipkan turunannya kepada Mas Karebet. Harapan Ki Ageng Sela semakin cerah ketika Mas Karebet diangkat sebagai Lurah Tamtama Kraton Demak dan diambil menantu oleh Sultan Trenggono.

Secara kebetulan tiga serangkai tokoh Sela ( Pemanahan,  Juru Martani dan Penjawi ) berguru kepada Sunan Kalijaga yang juga guru Mas Karebet. Selang beberapa tahun ketika telah menjadi Bupati, tokoh Sela dianggap sebagai adik kemudian Pemanahan dan Panjawi diangkat sebagai Lurah Prajurit, Juru Martani diangkat sebagai Penasehat pribadi. .Ki Ageng  Henis ayahanda Ki Ageng Pemanahan diangkat sebagai Adipati di Pajang bertugas mengajarkan agama Islam di lingkungan Kraton Pajang, sekaligus sebagai Penasehat Spiritual Islam Sultan Hadiwijaya,  dan Sultan berkenan memberi tanah perdikan di Laweyan Surakarta. Bahkan Danang Sutawijaya Putra Ki Ageng Pemanahan diangkat sebagai putra oleh Sultan Hadiwijaya. Hingga beberapa waktu kemudian karena jasanya kepada kerajaan Pajang, Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah untuk Ki Ageng Pemanahan yaitu tanah luas yg masih berujud Hutan nama hutan tersebut adalah Hutan Mentaok. Kelak hutan Mentaok berubah menjadi sebuah daerah yang rejo yang dinamakan Kotagede. Dan Ki Ageng Pemanahan dikenal dengan Sebutan Ki Ageng Mataram.Dan kelak takdir mengantar Danang Sutawijaya mendirikan Kerajaan Mataram Islam dan bergelar Panembahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama Tanah Jawa.


TRAH KI AGENG SELO

Bagus Sogom atau Kyai Ageng Ngabdurahman atau Ki Ageng Selo adalah Putra Ki Ageng Getas Pandawa dengan putri Sunan  Mojogung  Gunungjati.  Beliau mempunyai tiga  istri. Garwa sepuh beliau adalah Putri Ki Ageng Sobo, Garwa Tengah adalah Putri Ki Ageng Ngerang, Garwa Enem adalah dari Warung Tengah. Menurunkan :


Dari Garwa Putri Ki Ageng Sobo menurunkan:

1. Nyai Ageng Sihap

2. Nyai Ageng Songep menikah dgn P.Songep menurunkan Nyai Ageng Pemanahan

3. Nyai Ageng Bangsri

4. Nyai Ageng Jati

5. Nyai  Ageng Patanen


Dari Garwa Putri Ki  Ageng Ngerang menurunkan :

6. Nyai Ageng Jokoriyo

7. Nyai Ageng Pakis Kidul

8. Nyai Ageng Getas  Aji

9. Bagus Henis / Ki Ageng Henis  menikah dgn putri P.Made Pandan I menurunkan Ki  Ageng  Pemanahan .


Dari Garwa asal Warung Tengah :

10. Bagus Bayi / Kyai Rogodalem ing Pajang





Makam Ki Ageng Selo terletak Selo, Tawanghardjo Grobogan Purwodadi.

Bangunan Cungkup Makam Ki Ageng Selo dibangun, diperindah oleh Sunan Pakubuwana X selesai pada hari Sabtu 16 Siyam Tahun Dal 1839 dan dinamakan " Pasarean Selo "


Al Fatihah kagem Alusipun Para leluhur Trah Mataram : Ki Ageng Sela, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Henis, Panembahan Senopati.


Sumber : dipetik dari "Serat Soejarah Mataram "

Loudness

 Loudness

Band Jepang terkenal dari Jepang Tahun 1980 an



25 November 2023

SLANK

 #albumreview


Slank F13 - Generasi Biru 


"WOYYY MATIIN MAU REKAMAN" teriak Pay ketika anak² Potlot kala itu lagi enak²nya ngeplay lagunya Aerosmith yg berjudul Fever lalu dilanjut dengan riff gitar catchy dari Pay itulah track pembuka dari Generasi Biru yg bertajuk "Generasi Biru"


Album ini masih formasi 13 lu pada tau sendiri kan yaa... Kaka, Bimbim, Bongky, Indra, Pay


Lagu²nya


1. "Generasi Biru" Bimbim, Kaka 4:53

2. "Serba Salah" Bimbim 2:39

3. "Kamu Harus Pulang" Slank  5:00

4. "Blues Males" Bimbim, Bongky, Kaka  3:57

5. "Nggak Perawan Lagi" Bimbim, Kaka 1:54

6. "Hey Bung!" Bimbim 5:17

7. "....." Slank 2:01

8. "Reaksi" Bongky, Njet, Kaka 6:06

9. "Feodalisme (Warisan Kompeni)" Bimbim 2:48

10. "Birokrasi Complex" Bimbim, Bongky, Kaka 3:49

11. "Pisah Saja Dulu" Bimbim, Kaka 4:25

12. "Terbunuh Sepi" Slank 3:59

                      Durasi total: 46:53


Proses Produksi: sc wiki


Generasi Biru adalah album tonggak reformasi Slank. Setelah manajemen Slank lepas dari Boedi Soesatio pada tahun 1994, Slank mendirikan biro manajemen, studio rekaman, rumah produksi, dan perusahaan rekaman yang berdiri sendiri.[1] Manajemen dikelola oleh Pulau Biru Production. Produksi album dilakukan oleh Piss Record, perusahaan rekaman milik Slank sendiri.[2]


Proses rekaman dilakukan melalui eksperimen tiga tempat berbeda, yaitu di Potlot 14, Pondok Nurul (Puncak, Jawa Barat), dan Cibubur, Jawa Barat. Sampul album didesain oleh seorang sutradara ternama, yakni Dimas Djayadiningrat. Berbeda dengan album sebelumnya, logo Slank pada album ini dibuat oleh Bongky. Hal menarik lainnya adalah, proses pengambilan vokal untuk lagu Terbunuh Sepi dilakukan oleh Kaka di tengah lapangan dan saat tengah malam.


Album ini dipasarkan dalam bentuk kaset dan Compact Disc (CD) dengan pendistribusian dibantu oleh Program/Virgo Rec. Mixing dan mastering dikerjakan oleh Indra Q di IQ Kamar Musik. (Wikipedia)


Album ini secara konsep musik lebih kerasa liar, freedom dan urakan di karenakan udah jadi indie, walau ada track manis bertajuk Kamu Harus Pulang dan ...... 


Disini "menurutku" ini albumnya Pay secara dia mainnya bener² asik banget, Pay bilang juga dia puas recording gitarnya di album ini, ada 1 lagu berbahasa batak "kalau nggak salah" yg berjudul ......


Review perlagunya


Dari Generasi Biru menurutku ini riff paling catchy di album ini dengan nuansa blues rock dan sedikit ada bait yg di isi oleh backing vocal cewe² dan solo gitar yg ngegigit (track ini paling suka sama solo gitar dan isian riff gitarnya)


Serba Salah yg berisi kemuakan Bimbim terhadap situasi yg sedang terjadi kala itu gatau spesifiknya apa


Kamu Harus Pulang menjadi highlight di album ini dengan ciri khas permainan keyboard Indra Q dan lirik yg catchy "kamuu haruus cepat pulaang" Ini salah satu lagu yg Pay gk mainin whammy bar dan ngebending 1 setengah nada dan tiba akan outronya ada call and response dari Kaka dan Sara Wijayanto yg umur masih belasan ketika ngisi vocal di track ini


Blues Males ini kayaknya dari jam liar yg bertema tentang enak²an, ini lagunya asik sama seperti judulnya Blues Males track ini berirama Slow Blues versi enjoy suka²


Nggak Perawan Lagi adalah lagu yg berformat akustik akapela di Generasi Biru yg bertema tentang kepedulian alam yg banyak di ambil alih jadi tempat kebutuhan manusia yg secara nggak langsung ngerusak alam


Hey Bung! Ini lagu visioner tentang demo era lawas, di balik ke visioneran liriknya lagu ini dominan gitar dan keyboard dengan riff catchy dan ada bagian solo key etnik, menurutku selama Pay di Slank ini salah satu lagu ini dengan aransemen gitar yg cakep bener dari riff dan solonya


..... Lagu yg bertema tentang kedamaian di kemas lewat gitar solo akustik Pay dengan rasa etniknya (kayak alat musik khas kalimantan gitu yaa.. tapi ini di isi sama gitar akustik) dan ada lirik berbahasa batak lalu ada chanting "Aku ingin damai, Aku ingin Tenang" 


Reaksi Kimia ini lagu tentang ************** lagu ini di tulis salah satunya oleh Njet Barmansyah, kalau nggak salah dia juga nyumbang vocal di lagu ini, oh iya intro lagu ini mirip banget sama lagunya RHCP yg Blood Sugar Sex Magik


Feodalisme lagu ini seperti di buat secara spontanitas/jam liar, lirik lagu ini menceritakan tentang ironi di balik kasta dan apatis ketika orang di kasta atas membuat kesalahan, di lagu ini ketika Pay ngeback voc dia salah kata/keseleo tapi tetep di masukin master lagunya "Slank F13 rules!"


Birokrasi Complex salah satu lagu Funky dari formasi 13 yg menceritakan keruwetan birokrasi mau ini mau itu di ribetkan alhasil tak segelintir orang make jalan setan "Mau punya jabatan, pake topeng ini topeng itu, sikut sini sikut situ, bual ini bual itu, jilat sini jilat, Birokrasi Complex!!" Bagian yg aku suka dari lagu ini pas mereka chanting bareng² "sistim memang sistim tapi jangan ngerepotin"..


Pisah Saja Dulu lagu ini bertempo slow jazz dan progresi Jazz samar² dari Indra Q yg enak di denger, ada yg bilang lagu ini tentang kisah cinta Kaka ada yg bilang lagu ini tentang salah satu BIP atau BIP itu sendiri..


Terbunuh Sepi track yg melankoli dengan progresi yg agak jazzy, dulu aku ngira kalau mereka record lagu ini pake drum machine soalnya gk nyangka kalau Bimbim bisa begini juga 😂 funfact lagu ini proses lagu ini kaka lagi menggigil ketika record vocal ini soalnya pas record ini dia pas dini hari di luar pondok vila daerah puncak dan beberapa suara klakson, bis ikut kerekam..


Penghargaan


Album ini memperoleh penghargaan Platinum Ganda (Double Platinum) dalam BASF Awards untuk kategori album terlaris tahun 1994–1995.


Video klip lagu Kamu Harus Pulang yang disutradarai oleh Gusti Hermansyah dari Djerit Sinema berhasil meraih penghargaan Video Klip Favorit dari Video Musik Indonesia tahun 1994/1995 dan Video Klip Terbaik Sepanjang Tahun 1995/1996.



Nah itu sedikit review dariku..

Cek juga aku cover solo Generasi Biru https://www.instagram.com/reel/CtjSm2GAa9p/?igshid=ODhhZWM5NmIwOQ==

Maya Angela

 MAYA ANGELA..


Namanya RR. Maya Suryaningsih, sejak kecil sudah berani malu tampil didepan para teman2 sekelasnya dan menjadi bulan2an gurunya sebagai bintang penyanyi depan kelas, Maya kecil sll mendapat jatah bernyanyi didepan kelas dimasa itu.


Dimasa tahun.1980an, secara profesional Maya sudah ikut Lomba-lomba bernyanyi, bahkan pernah menjuarai Lomba Pop Keroncong yang diadakan oleh Persatuan Keroncong Indonesia dan Lomba yang diadakan Geronimo/pimp Anton issoedibjo. Tahun.1983, Maya sudah aktif di Bina Vocalia RRI yang diasuh oleh Yan Berlin Panjaitan dari situlah Maya mencoba keberuntungannya mengikuti test di TVRI dan mensyukuri karena menurutnya dari 94 peserta yang diterima hanya 24 orang termasuk dirinya Dewi Suseno, Etrie Jayanthie adalah diantaranya.


Berkat pemunculannya di berbagai acara Telivisi lambat laun sosoknya sudah mulai di intip, sehingga seorang tetangganya yang juga seorang penyanyi ternama 'Kicky AB' merekomondasikan ke seorang produser Cipto Record (pak Cipto) dan mengAmini setelah mendengar contoh demo suara Maya membawakan lagu dari Christine Panjaitan/Burung- Burung Putih & Iis Sugianto/Bunga Sedap Malam. Tidak terlalu lama RR.Maya Suryaningsih masuk dalam lingkungan musik yang diimpikannya saat sang komposer A Riyanto memberikan lagu berjudul 'Emansipasi Wanita' sebagai debut awalnya menyapa pencintanya dan lewat A Riyanto pula nama Maya ditasbihkan menggunakan 'Angela' dibelakang namanya karena menurut sang komposer selain bertubuh 'imut' si 'Maya Angela' ibarat Malaikat yang datang di dua kubu yang baik untuk 'hoky' dan terbaik dari keberuntungan sang Produser maupun sang pencipta lagunya.


Benar saja pemunculan perdanya disambut dengan gegap gempita menambah 'satu' lagi penyanyi melankolik, selang satu tahun Maya kembali hadir lewat persembahan ke 2-nya 'Pilih Aku Atau Dia/cipt.Harry Van Hope' adalah prestasi yang mengukir dipeta musik untuk dicatatat sbg album yang bernilai saat dimasa karirnya dan meraih bonus Rumah. Berturut2 Maya hampir satu tahun menyelesaikan 2 album sekaligus dan semuanya selalu ditunggu kehadirannya yang sudah kadung dicinta 'Tetes-Tetes Air Mata/cipt.Muchlas Adi Putra, Apa Mungkin Hujan Turun Sendiri/cipt Rinto Harahap, Jatuh Hati/cipt.Pance, Takdir/Benny Ashar, Bangku Tua/cipt.Benny Ashar, Kecewa/ cipt.Jeffry Bule, dll.


Album Maya Angela luar biasa masih ditunggu pencintanya dan sepertinya Maya merasa tidak bermasalah dengan siapapun yang memberi lagu maka dia cepat pulak menangkap dan tidak pernah protes bahwa siapapun penciptanya dia akan menyanyikan dengan memakai 'hati' bukan menggunakan 'emosi', lihatlah dengan siapapun Maya bernyanyi lagu inipun meledak sperti 'Kau Tercipta Dari Tulang Rusukku/cipt.Benny Ashar & Memory Yang Biru/cipt.Yonas Parera (feat.Muchlas Adi putra), Aku Pilih Dirmu/cipt.Harry Van Hove & Kau Dan Aku Satu Rindu/cipt.Dadang S (feat Harry Van Hove), Kerinduan/cipt.Yasir Syam (feat.Endang S taurina).


Imbas dari pemboikotan lagu-lagu cengeng di masa Orde Baru menteri Penerangan ‘Harmoko’, Album Maya Angela berjudul 'Aku Tiada Berdaya/cipt.Benny Ashar' merasakan benar-benar ‘Tiada Berdaya’ tanpa publikasi di Televisi maupun di Radio membuat albumnya sambil lewat saja.  Maya Angela menimpali ‘apabila pelarangan tersebut masyarakat menganggap sebuah kebaikan, saya merasa tidak menjadikan masalah karena saya hanya seorang penyanyi menurut saja yang terbaik buat Musik Indonesia’.


Kini Maya Angela masih terlihat wara-wiri masih muncul di event Off Air di luar kota dan sesekali memenuhi undangan tamu privasi dari pejabat maupun muncul di acara2 Tembang Kenangan, Zona Memori dll.  Maya adalah salah satu penyanyi yang aktif dikegiatan organisasi PAPPRI dan KOPSI yang baru saja membuat pagelaran spektakuler di Bandung dalam mengapresiasikan sang Legenda Musik Rinto Harahap yang rencananya di gelar di 5 kota. Maya Angela, dalam dekat ini akan melempar album Rekaman Religi Islam dan terlibat di album kompilasi ACILA (Ajang Lomba Cipta Lagu Anak) 2014,


Maya memohon do'a dan support dari pencintanya di seluruh Nusantara semoga apa yang diinginkan semuanya dilancarkan dan mendapat izin dari Allah SWT, sang maha kuasa dari segala isi alam ini...Amin



Naik bemo....kendaraan beroda tiga.

 Naik bemo....kendaraan beroda tiga.



Desa Tertua di Bali

 DESA TERTUA DI BALI 


Mengenal sejarah dan peradaban Bali, maka anda juga perlu tahu akan keberadaan desa Sembiran, desa ini merupakan salah satu desa kuno yang sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi, desa tertua di Bali ini terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, desa tersebut sudah ada sejak jaman batu tua atau zaman Poletithicium atau peradaban manusia pada jaman Batu Tua dan juga Megalitikum yang mana bangunan-bangunan manusia terbuat dari batu. Desa Sembiran di kenal sebagai kuno tentunya masih bisa ditemukannya bukti-bukti sejarah peradaban masa lampau, itulah sebabnya desa Sembiran cukup menarik bagi mereka para arkeolog termasuk juga wisatawan yang liburan ke Bali.


Kabupaten Buleleng sendiri selain memang memiliki banyak objek wisata populer yang dimilikinya seperti atraksi dolphin (lumba-lumba) di lepas pantai Lovina dan sejumlah objek wisata air terjun, Buleleng juga memiliki sejumlah desa tua yang masih mempertahankan budaya dan tradisi unik masa lalu dan mengklaim dirinya penduduk asli Bali beberapa daerah tersebut diantaranya Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Pedawa dan juga Sembiran, keberadaan desa-desa tersebut tentunya menjadi daya tarik lebih kawasan wisata Bali Utara ini untuk dikunjungi saat mengagendakan tour di Bali.


Di desa Sembiran di Buleleng ini, setidaknya ditemukan 40 perabotan kuno yang berasal dari peradaban masa lalu yaitu berasal dari jaman batu tua dan jaman besi, bentuk benda-benda tersebut seperti alat berbentuk side chopper yaitu alat pemotong yang terbuat dari batu, bentuk hammeratones yaitu palu batu, bentuk protohan-axses berupa kapak tangan, bentuk flakes yaitu alat batu-batu kecil untuk mengiris dan benda pipih berbentuk setrika yang terbuat dari besi. Di desa Sembiran juga masih bisa ditemukan bangunan kuno seperti balai desa yang masih dilestarikan dan digunakan oleh warga desa.


Selain ditemukanya perabot-perabot yang berasal dari jaman Poletithicium juga ditemukan 20 buah prasasti perunggu yang memuat sejarah tentang keberadaan desa Sembiran tersebut. Semua peninggalan tersebut sekarang tersimpan rapi di rumah tua yang berada di desa ini, rumah yang merupakan peninggalan sejarah masa lampau tersebut pun dibangun kembali oleh pemerintah kabupaten Buleleng, dengan tidak menghilangkan bentuk dan ciri khas aslinya.



Sumber : https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/rumah_tua_desa_sembiran#:~:text=Mengenal%20sejarah%20dan%20peradaban%20Bali,jaman%20batu%20tua%20atau%20zaman

24 November 2023

Loudness

 Loudness adalah nama group band Heavy Metal Jepang yg dibentuk oleh Akira Takasaki pd thn 1981. Album pertama mereka berjudul Birthday Eve, album cukup sukses di Jepang sehingga mempulerkan nama Loudness dikalangan penggemar Heavy Metal manca negara  ....  🤟🤟🤟



si kuntjung th 1957 harga 50 rb

 si kuntjung

th 1957

harga 50 rb



Oshin

Oshin, serial asal jepang yg cukup digemari pada masanya



23 November 2023

5 petinju juara kelas berat terbaik di era 70an. Mereka berperawakan tinggi besar bak raksasa yang mempunyai teknik tinggi dan pukulan terkuat sepanjang sejarah. Persaingan tinju kelas berat sangat ketat saat itu, mereka bergantian menjadi juara dengan saling mengalahkan satu sama lainnya. Bertarung mati matian diatas ring, namun bersahabat di kehidupan normal. Mereka adalah Ken Norton, George Foreman, Larry Holmes, Joe Frazier dan Muhammad Ali. #tinju#heavyweightchampion #KenNorton #georgeforeman #larryholmes #joefrazier #muhammadali #kulitbundar

 5 petinju juara kelas berat terbaik di era 70an. Mereka berperawakan tinggi besar bak raksasa yang mempunyai teknik tinggi dan pukulan terkuat sepanjang sejarah. Persaingan tinju kelas berat sangat ketat saat itu, mereka bergantian menjadi juara dengan saling mengalahkan satu sama lainnya. Bertarung mati matian diatas ring, namun bersahabat di kehidupan normal.

Mereka adalah Ken Norton, George Foreman, Larry Holmes, Joe Frazier dan Muhammad Ali.



#tinju#heavyweightchampion #KenNorton #georgeforeman #larryholmes #joefrazier #muhammadali  #kulitbundar

Raja dan Ratu Dangdut... Rhoma Irama, Erni Djohan dan Elvy Sukaesih di Lapangan Banteng

Raja dan Ratu Dangdut... Rhoma Irama, Erni Djohan dan Elvy Sukaesih di Lapangan Banteng



Bemo

 Potret para pengemudi bemo memanfaatkan kolong jembatan layang di Klender, Jakarta Timur sebagai tempat mangkal untuk menunggu penumpang. Ketersediaan pangkalan angkutan umum yang terbatas di DKI Jakarta menjadi salah satu penyebabnya. Dengan memanfaatkan kolong jembatan layang ini, setidaknya calon penumpang mendapat tempat berteduh. 




Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Perpustakaan Nasional RI 

Sumber : Suara Karya, 14 September 1991 halaman 12 kolom 5-8 (SKALA Team)


#bemo #kolongjembatan #DKIJakarta

Sejarah Mataram - Sri Sultan Hamengkubuwana I

 SRI SULTAN HAMENGKUBUWANA I

Sri Sultan Hamengkubuwana I lahir di Kraton Kartasura pada tanggal 5 Agustus 1717 terlahir dengan nama Raden Mas Sujana, Beliau adalah putra Susuhunan Amangkurat IV, Raja Mataram Kartasura dari Garwa selirnya yang bernama Mas Ayu Tejawati.

Silsilah Mas Ayu Tejawati:

Raja Brawijaya IV berputra Pangeran Panggung Wasisworo, P Panggung Wasisworo menikah dengan cucu Raja Brawijaya V dari Raden Joko Dolog yang bernama Nyai Ajeng Pangeran. 

Dari pernikahan tersebut menurunkan:

Kanjeng Pangeran Alas berputra :

Tg Parampelan Mantri Pajang berputra :

Ki Ageng Perampelan II ing Pajang berputra :

Kyai Ciblakak ing Kepundung berputra :

Kyai Resoyudo ing Kepundung berputra :

Ngabehi Hondokoro Mantri Pamekar ing Siti Penumping menurunkan :

Mas Ayu Tejawati

Setelah RM Sujono menjadi Raja, Mas Ayu Tejawati berganti sebutan menjadi Kanjeng Ratu Ageng.


Sejak kecil BRM Sujana mahir dalam berkuda juga ahli dalam menggunakan senjata, termasuk memanah adalah kegemaran beliau sejak muda. Beliau taat beribadah,sholat lima waktunya terjaga , terbiasa puasa senin kamis juga rajin membaca Al Qur-an . Beliau juga terkenal sangat peduli dan membantu kaum yang lemah. Lebih dari itu semua BRM Sujana tetap menjunjung tinggi adat istiadat nilai nilai luhur budaya Jawa.Ketika pamannya yang bernama Mangkubumi wafat pada tahun 1730, BRM Sujana diangkat menjadi Pangeran Lurah menggantikan pamannya tersebut dan bergelar Pangeran Mangkubumi pada tanggal 29 November 1730.

P Mangkubumi sangat mendukung pemerintahan kakaknya yaitu Susuhunan Pakubuwana II, ketika ada kemelut yang melanda Kraton Surakarta ,Beliau tampil memadamkannya. P Mangkubumi juga mempunyai cita rasa yang tinggi dalam seni bangunan, terbukti Beliau sebagai salah satu arsitek bangunan inti Kraton Surakarta Hadiningrat.

Meskipun demikian karena perselisihan beliau dengan kompeni Belanda yang ikut campur dalam urusan intern Kraton Surakarta dan mengejek beliau, akhirnya P.Mangkubumi memutuskan keluar dari Kraton Surakarta. Dan memulai perjuangannya diluar Kraton.


Setelah ditandatangani Perjanjian Giyanti pada tanggal 17 Pebruari 1755 lembaran baru Kasultanan Ngayogyakarta dibuka . Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai Raja pertama Kerajaan Yogyakarta Hadiningrat pada Kamis Pon 13 Maret 1755 ( 29 Jumadil awal 1680 Tj )

 dengan gelar


 "Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Satunggal ing Ngayogyakarta Hadiningrat"


Selama masa pemerintahannya pada tahun 1755 – 1792 , Sri Sultan Hamengkubuwana meletakkan dasar dasar yang kuat untuk Kasultanan. Mulai dari letak Kraton, bangunan serta tumbuhan yang ditanam dipilih dengan makna makna filosofis dan spiritual. Juga Sri Sultan Hamengkubuwana sangat peduli dengan perkembangan ajaran Islam. Beliau membangun berbagai Mesjid di beberapa tempat.Juga memberikan tanah kepada Kyai Nur Iman Mlangi untuk digunakan sebagai tempat ibadah dan pondok pesantren. Para putranya dititipkan ke pondok pesantren asuhan Kyai Nur Iman Mlangi. Beliau juga membangun istana air Taman Sari. 

Sri Sultan Hamengkubuwana I wafat pada tanggal 24 Maret 1792 dalam usia 75 tahun dan dimakamkan Astana Kasuwargan di Astana Pajimatan Imogiri Yogyakarta


Nama nama Garwa Permaisuri & Garwa Selir :

1. Gusti Kanjeng Ratu Kenchana 

2. Gusti Kanjeng Ratu Kadipaten/Gusti Kanjeng Ratu Agung Tegalreja

3. Bandara Radin Tilarsa. 

4. Bandara Mas Ayu Sawerdi.

5. Bandara Radin Ayu Srenggarawati, 

6. Bandara Mas Ayu Mindaka. 

7. Bandara Mas Ayu Asmarawati. 

8. Bandara Radin Ayu Jumanten.  

9. Bandara Mas Ayu Wilapa. 

10. Bandara Mas Ayu Ratnawati.  

11. Bandara Mas Ayu Chindaka. 

12. Bandara Mas Ayu Tandhawati,  

13. Bandara Mas Ayu Tisnawati. .

14. Bandara Mas Ayu Turunsih. 

15. Bandara Mas Ayu/Radin Ayu Ratna Puryawati.

16. Bandara Radin Mas Ayu Daya Asmara. 

17. Bandara Mas Ayu Gandasari. 

18. Bandara Mas Ayu Karnakawati. 

19. Bandara Mas Ayu Setiawati. 

20. Bandara Mas Ayu Padmasari.  

21. Bandara Mas Ayu Sari. 

22. Bandara Mas Ayu Pakuwati.  

23. Bandara Mas Ayu Chitra Kusuma. 


Para Putra :

1. Gusti Radin Mas Intu ( Putra GKR Kencana )

2. Gusti Pangeran Ngabehi. b. 1737 (Putra  Tilarso )

3. Gusti Radin Mas Sundara/Radin Mas Timur ( Putra GKR Tegalreja )   menjadi Sultan Hamengkubuwana II

4. Bandara Pangeran Arya Demang Tanpanangkil.  ( Putra Sawerdi). 

5. Bandara Pangeran Arya Dipasanta. (Putra Asmaravati)

6. Bandara Pangeran Arya Nata Kusuma ( putra Srenggoro ) menjadi KGPAA Paku Alam I

7. Bandara Pangeran Arya Kusuma Yudha/Bandara Pangeran Arya Adi Kusuma I ( Putra Wilapa). 

8. Bandara Pangeran Arya Silarang ( putra Cindoko)

9. Radin Arya Sinduraja II.  

10. Bandara Pangeran Arya Panular  (Putra Tandhavati).

11. Bandara Pangeran Arya Adi Kusuma II ( Putra  Daya Asmara )

12. Bandara Pangeran Arya Dipasana.  (Putra Bandara Mas Ayu  Gandasari).

13. Bandara Pangeran Arya Dhanupaya (Putra Karnakavati).

14. Bandara Pangeran Arya Blitar. (Putra Daya Asmara). 

15. Bandara Radin Mas Sudarma/Bandara Pangeran Arya Santa Kusuma.  (Putra Setiavati). 

16. Bandara Radin Mas Sabiril/Bandara Pangeran Arya Dipa Vijaya II.  (Putra Padmosari )

17. Bandara Radin Mas Suwardi (s/o Sari). 

18. Gusti Radin Ajeng Inten/Gusti Kanjeng Ratu Bandara ( Putri Ratu Kinchana).

19. Bandara Radin Ayu Jaya ning Rat (Putri Bandara Radin Tilarsa).

20. Bandara Radin Ayu Purbayasa/Bandara Radin Ayu Dhanu Kusuma. (Putri  Srenggara). 

21. Bandara Radin Ayu Sasra di-ning Rat (Putri Mindaka). 

22. Bandara Radin Ayu Rangga Praviradirja. (Putri Srenggara). 

23. Bandara Radin Ayu Nata Yudha I. (Putri Jumanten). 

24. Bandara Radin Ayu Yudha Kusuma I (Putri Srenggara). 

25. Bandara Radin Ayu Sasra Kusuma I ( Putri Ratnawati )

26. Bandara Radin Ayu Yudha Kusuma II (Putri Tisnavati)

27. Bandara Radin Ajeng Sutiya/Bandara Radin Ayu Jaya di-Vira ( Putri  Puyavati).

28. Bandara Radin Ayu Pringgalaya (Putri Doyo Asmara). .

29. Bandara Radin Ayu Dhanu Negara (Putri  Turunsih

30. Bandara Radin Ayu Mangkundirja ( Putra Pakuvati).

31. Bandara Radin Ayu Rana di-ning Rat ( Putra Chitra Kusuma).