20 May 2019

Tentang Sejarah Magelang - KISAH BATU PERSHOLATAN PANGERAN DIPONEGORO DI KALI PROGO METESEH



Oleh : Bagus Priyana

MAGELANG TEMPO DOELOE:
KISAH BATU PERSHOLATAN PANGERAN DIPONEGORO DI KALI PROGO METESEH
Pada 21 Februari 1830 atau empat hari menjelang bulan puasa tiba, Pangeran Diponegoro tiba di Menoreh, pegunungan perbatasan Bagelen dan Kedu. Kedatangannya itu berdasarkan kesepakatan yang dibuatnya bersama Jan Baptist Cleerens, pada 16 Februari 1830, di daerah Remokamal tepi kali Cincinggoling. Cleerens adalah utusan De Kock untuk menemui Diponegoro.
Kabar kedatangan Dipanegara tercium masyarakat. Meski mendapat predikat musuh Belanda nomor wahid, masyarakat masih mengelu-elukannya. Dia datang diiringi 700 prajurit. Di sana dia tinggal di sebuah rumah besar, berdinding bambu, dan beratapkan daun kelapa. Rumah singgahnya itu terletak di sebuah kawasan tanjung, di tepi Kali Progo, yang oleh masyarakat disebut daerah Metesih. "Pesanggrahan itu letaknya tepat di sebelah barat laut Wisma Keresidenan Kedu," tulis Peter Carey dalam surelnya kepada Historia.
Di pesanggrahan ini, pengikut Diponegoro membengkak menjadi 800 orang. Sebagian besar dari mereka bersenjatakan tombak. Pasukannya sekarang tampil dalam balutan sorban dan jubah hitam, pemberian Cleerens dulu.
Setiap pagi selama bulan puasa, Diponegoro beserta 800 orang prajuritnya tetap giat berlatih olah kanuragan dan menjalankan ibadah.
“Dia mempunyai suatu batu yang lebar dan lurus dekat Kali (Kali Progo, red) untuk ngibadah (beribadah, red),” tulis Peter Carey.
Awal Maret 1830, Dipanegara berpesan kepada de Kock melalui Cleerens, bahwa selama bulan puasa dia takkan melakukan pembicaraan apapun soal perang. Jikapun ada pertemuan, itu pun hanya ramah-tamah biasa. De Kock menerima hal itu.
De Kock bahkan bermanis muka kepada Diponegoro dengan memberinya d seekor kuda yang bagus warna abu-abu dan uang f 10.000 yang dicicil dua kali untuk biaya para pengikutnya selama bulan puasa. Dia juga mengizinkan anggota keluarga Diponegoro, yang sedang ditawan di Yogya dan Semarang, untuk bergabung dengan sang pangeran di Magelang.
Bukan hanya de Kock yang menyambangi Diponegoro. Anggota staf senior de Kock, seperti ajudan sekaligus menantunya, Mayor F.V.H.A. de Stuers, dan Residen Kedu, Valck, sering berkunjung ke pesanggrahan Dipanegoro di Metesih sambil minta diberitahu apa saja keperluannya.
Masyarakat Kedu pun banyak yang berkunjung di pesanggrahan pangeran. Mereka banyak yang membawakannya gula jawa, meski sebenarnya Diponegoro tak suka makanan yang manis. Ia tetap menerimanya sebagai tanda penghormatan mereka kepadanya sebagai ‘pemimpin Jawa’ (lajering Jawa).
De Kock tampaknya telah bertemu dengan Diponegoro dalam tiga kesempatan yang berbeda pada masa tersebut: dua kali saat jalan subuh di taman keresidenan dan sekali ketika ia datang sendiri ke pesanggrahan pangeran.
Perlakuan de Kock yang manis, ternyata bermuatan politis. Ia membiarkan Diponegoro menikmati jaminan keamanan semu, sembari berharap sang pangeran menyerah tanpa syarat.
“Motif dan cara tidak terhormat seperti ini tentu tidak dikatakan secara terbuka, namun dalam pandangan de Kock, apa boleh buat, tujuan menghalalkan segala cara,” seperti ditulis Peter Carey dalam Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855).
Namun, sikap manis de Kock selama bulan puasa tak dapat meruntuhkan pendirian Diponegoro. Tumenggung Mangunkusumo, mata-mata yang ditanam residen Valck dalam di dalam kesatuan Diponegoro, melaporkan bahwa Diponegoro tetap kukuh dalam niatnya untuk mendapat sebagai sultan Jawa bagian selatan. Tapi perwira senior Belanda lain, menyatakan bahwa sikap Diponegoro sebagai ‘ratu paneteg panatagama wonten ing Tanah Jawa sedaya’ (ratu dan pengatur agama diseluruh Tanah Jawa).
Mendengar kabar tersebut de Kock mengambil langkah tegas. Pada 25 Maret 1830, dua hari sebelum bulan puasa berakhir, ia memberi perintah rahasia kepada dua komandannya, Louis du Perron dan A.V Michels, untuk mempersiapkan kelengkapan militer guna mengamankan penangkapan sang pangeran. Gencatan senjata yang berlansung selama bulan Ramadan berakhir tragis: Pangeran Diponegoro ditangkap pada hari kedua lebaran, 28 Maret 1830.
Tampak foto di bawah ini adalah batu persholatan Pangeran Diponegoro di Kali Progo Meteseh Kota Magelang. Posisi sekarang ada di tengah Kali Progo di bekas delta atau tanjung yang dulu pernah menjadi bumi perkemahan/pesanggrahan Pangeran Diponegoro beserta laskarnya.
Sumber: Historia.co.id
Foto: Bangun Supandi

Tentang Sejarah Magelang - Tahu Pojok Magelang


Oleh : Alfa Octaviano Wono ke Hits From The 80's & 90's

Tahu Pojok Magelang bertempat di kios sekitar 30 meter sebelum alun-alun Magelang, deretan ruko sederhana dengan keramahan pelayannya memenuhi rasa penasaran Anda terhadap kuliner khas Jawa ini.
Saat melangkah masuk, perhatian Anda akan tersita ke dinding yang dipenuhi foto berpigura. Foto-foto itu menampilkan sosok artis, jenderal, pejabat, hingga presiden yang pernah makan di kedai tersebut.
Sebut saja mantan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono bersama istrinya, lalu Puan Maharani, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, artis Christine Hakim, hingga Indro Warkop DKI, dan masih banyak sosok terkenal lain.
Indri bersama kakaknya adalah generasi ketiga yang mewarisi resep Kupat Tahu Magelang ini. Kios ini ternyata sudah berdiri sejak 1942, selain resep tradisional yang diwariskan oleh buyutnya, para jenderal dan artis yang dahulu bersekolah di Magelang pun turut "mewariskan" kabar kenikmatan yang mereka rasakan. Tak heran kios ini salah satu yang paling ramai terlebih ketika jam makan siang dan malam.
Kupat Tahu Magelang berbumbu kacang bercampur tauge. Dari tampilan awal, sangat mirip dengan Tahu Gimbal khas Semarang, tetapi bedanya tidak menggunakan gimbal atau bakwan udang. Di Magelang sendiri Kupat Tahu memiliki dua jenis bumbu kacang, ada yang kacangnya halus, ada pula yang kacangnya digiling kasar. Kedai ini termasuk yang menggilingnya secara halus, sehingga mengalir ketika dilumat
Untuk menghilangkan dahaga, terdapat minuman tradisional seperti sekoteng, jahe, dan ronde, selain itu masih banyak pilihan minuman lainnya.

14 May 2019

Tentang Sejarah Magelang - KISAH TUGU BUNDERAN SALAMAN

Oleh : Bagus Priyana

MAGELANG TEMPO DOELOE:
KISAH TUGU BUNDERAN SALAMAN
Jika kita berada di Salaman, sebuah kecamatan kecil 17 km arah barat daya Kota Magelang, kita pasti akan menemukan sebuah tugu di pertigaan jalan antara Magelang-Purworejo dan Borobudur. Tugu ini lebih populer dengan nama Bunderan Salaman. Seakan-akan tugu ini menjadi ikon kecamatan di kaki Pegunungan Menoreh ini.
Bagaimana kisah sejarah dari tugu ini? 
Mengapa disebut dengan 'bunderan'?
Sampai pada tahun 1946 di pertigaan jalan ini terpancang sebuah tiang penunjuk jalan yang mengarah ke Borobudur 9 Km, Magelang 17 Km, dan Purworejo 28 Km.
Setelah kunjungan Presiden Sukarno pada tahun 1946, kemudian didirikanlah tugu peringatan pada pertigaan ini dengan kata-kata mutiara dan ada tanda tangan Presiden Sukarno. Pembuatan Tugu dilaksanakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum Kawedanan Salaman, dengan teknisi Slamet. 
Kata kata Mutiara yang tertulis di tugu peringatan itu yaitu :
a. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa jasa pahlawannya
b. Jasa pahlawan akan semerbaknya harumnya laksana bunga melati
Pada Hari Selasa Pon tanggal 21 Desember 1948/19 Sapar 1880 Be pada siang hari Belanda menduduki Salaman, dengan didahului manuver serangan udara terlebih dahulu yang memakan banyak korban. Tugu tersebut kemudian dirobohkan dan dibangun kembali oleh Tentara NICA yang bermarkas di Markas BKR (sekarang Polsek Salaman). 
Tugu tersebut dibangun kembali dengan bentuk segi empat, di mana pada keempat sisinya terpasang gambar anjing merah dengan lingkaran hitam sebagai lambang pasukan NICA.
Setelah pengakuan kemerdekaan, tugu itu dibangun kembali seperti bentuk semula dan dihiasi dengan Lambang Batalyon Infanteri 427/ Kuda Putih. Dengan bentuk bundar pada bagian dasar, sedangkan bagian tubuh berbentuk silinder. Masyarakat kemudian mengenal sebagai tugu kuda putih bunderan Salaman, dan menjadi simbol perjuangan kemerdekaan di Salaman sekaligus menjadi kebanggaan warga Salaman.
Pada tahun 1976 malam hari tugu tersebut roboh, beberapa saksi mata mengatakan bahwa kejadiannya dilakukan pada malam hari. Beberapa orang mengatakan, mereka yang merobohkan adalah orang orang anti Sukarno sebagai upaya desukarnoisasi. Tugu dibiarkan tetap roboh, tidak ada pengusutan dan pembangunan kembali, tapi bentuk dasar bunderan tetap bertahan.
Kemudian pada tahun 1980, ketika penerangan jalan mulai dipasang di Salaman, tempat di mana bekas tugu berdiri di pasang tiang lampu jalan mercury dengan tiga titik lampu.
Pada tahun 1986, di Salaman dilaksanakan pembenahan perkotaan, dengan peningkatan jalan aspal menjadi aspal hotmik sebagai bagian peningkatan ruas jalan Magelang Purworejo. Pembangunan trotoar, meneruskan pembangunan trotoar yang sudah ada di ruas sebelah timur, banyak rumah terkena pemangkasan untuk pembangunan trotoar. Pada bekas berdirinya tugu, kemudian dibangun sepanjang boulevard berbentuk segi tiga dengan sisi runcing mengarah ke jalur Purworejo. Masyarakat masih tetap menyebutnya dengan istilah 'Bunderan'.
Pada tahun 1994, menjelang peringatan 50 tahun Indonesia Merdeka, di taman bawah bekas pohon beringin di bangun Monumen Perjuangan Rakyat Salaman. Bentuknya adalah tentara menyandang senapan dengan naik Kuda Putih. Pembangunan itu, banyak ditentang oleh Angkatan 45 dan masyarakat Salaman pada umumnya, karena tidak mencerminkan makna filosofi, karakter dan pola perjuangan masa lalu. Namun pembangun monumen itu tetap dilaksanakan.
Pada tahun 2003, Ir. Kresno Pujonggo seorang arsitek asli dari Gadean Salaman dan Pengembang PT Bumi Loh Jinawi menjadi perancang dan insiator pembangunan kembali Tugu Bunderan Salaman, dengan mengambil filosofi dan bentuk dasar Tugu Salaman lama. Dengan menyertakan hiasan Kuda Putih di sisi utara, sedangkan dari sisi timur selatan bebentuk surya sengkala ‘'Kadya Suwarga Tentreming Panembah“ menunjuk angka tahun 2003, sedangkan sisi barat lambang Kabupaten Magelang.
Sumber:
- Jusup Adji Nugroho
- Narasumber dari Wawancara/ percakapan pada tahun 1996-1997:
Alm Bpk Heri Sukiman Tondodarsono, pensiunan Kakancam Depdikbud Kec Pakis Magelang, jabatan sebelumnya adalah Kasi Kebudayaan Kantor Depdikbud Kec Salaman
Alm. Bpk R. Soerowo, Kauman Salaman Magelang mantan PETA, BKR dan TKR , pejuang 45
Alm. Bpk. Sardjoeki Puspowardoyo Purnawirawan TNI, tinggal di Kauman Salaman .
Alm. Bpk E. Wilarso , pelajar pejuang di SD Salaman 1 (Pembantu pejuang Pasukan Ondergroundnazie) 1949 , Kauman Salaman Magelang
Web :
Ilham Erda : Mengenal Bunderan Salaman, dalam Purworejo Connect
Komentar
  • Ophan Airlangga Bangga pernah wara wiri disini karena bisa mendapatkan pengalaman mengenai toto kromo
    Maju terus salaman.....
    2
  • Angga Retno Dlu pernah KKN di Salaman th 2013, warganya ramah2, sangat berkesan, maju terus Salaman...
    3
  • Vat Purlandari Ijin shere ...kalau bisa gali lebih Byak lagi tentang salaman...
  • Lestari Ijin share nggih...kulo asli tiyang salaman...tp nembe semerap sejarahe bunderan salaman
    1
  • Rifkhi Sulaksmono Dalam perang kemerdekaan II, Magelang adalah wilayah dari Wehrkreise II yang berada dibawah komando Letkol Ahmad Yani (Komandan Brigade IX Kuda Putih). Dalam masa perjuangan kemerdekaan II medan gerilya Kecamatan Muntilan, Kecamatan Salam dan KecamataLihat Lainnya
  • Cahyarini Kurniawati Bunderan....

    Persatuan orang salaman jadi ngumpul ya
  • Winpuji Budi Harto Mohon di jaga kelestarian bunderan jangan sampai punah seperti kantor kawedanan yg raib untuk rayahan
  • Carina Gladys Irianto Jauh berbeda ya....
    1
  • Alfa Erna Salamanku..... 💕
  • Andre Riswanto Jadi ingat kalo mau ketempat Simbah di Purworejo...dari Muntilan naik bus Ramayana lewat Borobudur turun di salaman...makan Lotek dibawah pohon beringin besar....kenangan yg tak terlupakan... colek Bambang KA... Erni Bule...
  • Tri T. Pramono Soewignjo ijin copas & share
  • Restu Biyung Salaman tumpah darahku,,love u,,,ra adoh seko omahku,,brengkel 2 iku omahku,,,seng tak kangeni,,,tp ku hrg iso bali.by:anake pak giman
    2
  • Sae Ijin share ya boss
  • Muhamad Subhan Saeful Aku sering lewat kono.. Mudik ke muntilan.... Semoga tambah Maju dan modern Salaman Mantaap
  • Lintang Berkedip Salaman punya..
  • Abdulloh Alfaqir Wah senenge wong slaman hehehe
  • Mustafa Bandongan hadir...
  • ZePe SeVen Soco hadir.
    1
  • Muhammad Aji W Bali hadir
    1
  • Tri Utomo Mbiyen sering liwat. Mampir tuku wajik nek arep nang Sapuran. Omahe koncoku Purwadi Herubiyanto. Sapuran keringat. Kalibawang. Ho.....ho....ho.
  • Muh Asrori Hiduup salamam,.
  • Mas Oim Kota kecil penuh kenangan
  • Sage Andrian Salaman Hok yaaa..👍👍
  • YaNtii CuBby Sejarah ki😍
  • Maliq jadi kangen rumah.....,,,
    😩😩😩😩😩😩
  • Pak Dhe Wajik ny week
    3
  • Gifa Mustofa Wit ringine opo yo isih ?... mudik selalu liwat...
  • Heri Wardoyo Aku pernah 3 th nang salaman...wingking kantor polisi pas.....daleme pak gatot almarhum..banyak kenangan disitu...
  • Sigit Cahyadi Salaman...tanah lahirku...2km arah barat dsa sriwedari..
  • Noor Saidah jadi inget pas KKN di sidowangi...
  • Indri Lemoors sumber e tanggaq kabeh mbah rowo, mbah sularso, mbah joeki ..
  • Tata Hapsara Wuahaha wong salaman do ngumpol yo.. Sedikit mengenang masa kecil . Biyen gek sd kelas telu lagi belajar sepeda nang sekitar omah-e bah kaji. Seko buri lagi belajar sepeda weruh buguru tk ku biyen " bu Siti guru tk Among putro " th 1966. Pas weruh buLihat Lainnya
  • Hardin Kuncahyo Met malam semua... Mungkin ada yg tau sejarah gedung pegadaian yg daerah pertigaan tanjung... Mhn infonya
  • Rahmat Ormask Salamann...... X tengah.. Bnjar kajoran
  • Salsabila Manggon salaman 5 THN...
  • Yusnita Ah jadi pengen pulkam,( pulang kampung)😂😂😂
  • Arina Salaman tanah kelahiranku walaupun sekarang tinggal dibrebes tp salaman ttp dihati
  • Ahmad Syifaul Bani Pernah merantau 18th akhirnya plg juga ke kp halaman tercinta salaman MULYO MAKMUR.
  • Rofi'ul Khusna Pagergunung banjarharjo salaman, hadir
  • Samuel Mesach Tempuran hadir
  • Purwo Atmojo Bioskop kartika..nonton film murah meriah..hehee
  • Najeeb Diink sekolah ning salaman 3thn
  • Lip Wawe Asli wong salaman ket cilek tkn saiki ngomah salaman😂😂😂
  • Yazidz Ne patung kuda kae..patung sopo to sg numpk ???mnggo yg tahu
  • Fahmi Nurfuadi Hadiiir...salam dari warga kauman salaman...500m arah barat mBunderan
  • Christian Wahyudi Good infoo. Mantul pak bagus. Thx
  • Aries Totok Pratikno The legend of Lieyang
  • Revo Satria Oalah jebul wes sui sejarah e lagi ngerti...