24 March 2020

Tentang Sejarah Magelang - Gunung Tidar - Gelanggang remaja



Danang Priyatno ke KOTA TOEA MAGELANG
Kliping Buku :
Geschiedenis van Nederland onder de regeering van Koningin Wilhelmina
Sejarah Belanda di bawah pemerintahan Ratu Wilhelmina

Penulis: Brugmans, H.
Tahun : 1938
#Dulu namanya Bukit Fidar
#Belum jadi Gelanggang Remaja

Tentang Sejarah Magelang - Toko Buku Santosa


Bagus Priyana

LEGENDA KOTA KITA
Apa cerita dan kenanganmu?

Tentang Sejarah Magelang - Peringatan kemerdekaan Belanda di Magelang. 1913


Danang Priyatno ke KOTA TOEA MAGELANG

Peringatan kemerdekaan Belanda di Magelang. 1913
#Semacam karnaval lah
#Di mana kira2 ini ?

Corona Covid 19

Widoyoko membagikan kiriman.

Pawartos Deso Krogowanan ke berita wong kab magelang

𝗕𝗮𝗸 𝗪𝘂𝗱𝗵𝘂 𝗱𝗶 𝗠𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗱𝘂𝘀𝘂𝗻 𝗞𝗿𝗮𝗴𝗮𝗻, 𝗞𝗿𝗼𝗴𝗼𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻, 𝗦𝗮𝘄𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻, 𝗠𝗮𝗴𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴
menyediakan 𝙎𝙖𝙗𝙪𝙣 𝘾𝙖𝙞𝙧 untuk cuci tangan para jamaah sebagai kesungguhan dalam menjaga kesehatan warganya dan antisipasi penyebaran covid-19.
Masjid Dusun Panjenengan pripun nggih...?
Yuuk... kita teladani!
#MagelangSehat
#MagelangLawanCovid19

Kafe Jalanan 1900 oleh Olivier Johannes

Widoyoko membagikan kiriman.
Olivier Johannes

Kafe jalanan ±1900
Meminum minuman ringan pada masa itu kelihatannya agak mewah, dengan menggunakan gelas piala bergaya Eropa. Seorang penjual minuman setrup dan cincau berdiri di belakang pikulannya di bawah sebuah atap sederhana, dikelilingi sejumlah pelanggan yang sedang menikmati minuman menyegarkan yang ia ciptakan. Kita dapat perkirakan bahwa sang fotografer bantu memeriahkan suasana dengan traktir satu ronde bagi para hadiran yang berjasa sebagai figuran untuk meramaikan foto.
Untuk membuat minuman setrup, sirup dengan rasa dan warna tertentu dicampur dengan air (atau air soda) secukupnya dan es batu, mungkin dengan tambahan potongan buah-buahan, cendol, dan susu kaleng (susu kental manis). Minuman cincau berisi potongan dada cincau, gula jawa, santan, air, dan es batu. Banyak variasi dapat dibuat asal jangan memadukan gula jawa atau santen dengan susu kaleng.
Foto dibuat di Jawa Barat, di daerah Bogor atau Cianjur, namun adegan seperti ini dapat kita temui di manapun di Pulau Jawa pada zamannya.

Tentang Sejarah Magelang - Makam Para Perintis Katolik di Bethlehem Van Java

Bagus Priyana

Simak rubrik 'tempo doeloe' di koran Suara Merdeka edisi Suara Kedu, hari ini Selasa 24 Maret 2020.
Yuhuuuuuuiiii.

Tahapan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal

USAID Iuwash Penyehatan Lingkungan untuk Semua

Video Panduan Program Air Minum & Sanitasi:
Mengenal Tahapan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal
Layanan lumpur tinja terjadwal merupakan mata rantai penting dalam sanitasi aman. Langkah apa saja yang diperlukan untuk membuat program layanan lumpur tinja terjadwal? Yuk #TemanAirSanitasi, temukan jawabannya di video ini atau kamu bisa akses di YouTube pada link berikut: https://youtu.be/d7XDYwKg7og

19 March 2020

Tentang Sejarah Magelang - PESANGGRAHAN PAGERGUNUNG : Membuka Jalan, Meretas Isolasi Hinterland Jawa (bagian I)

PESANGGRAHAN PAGERGUNUNG :
Membuka Jalan, Meretas Isolasi Hinterland Jawa (bagian I)
Terletak diatas ketinggian 1010 mdpl serta diapit celah lereng Gunung Andong dan Telomoyo, tersebutlah sebuah desa asri nang indah bernama Pagergunung. Dengan iklim yang sejuk dan tanah yang subur, hal tersebut tentu saja membuat Pagergunung sangat cocok bagi berbagai aktivitas perekonomian berbasis tanaman perkebunan hortikultura seperti kopi, tembakau, sayur - sayuran, dan buah - buahan.
Berdasarkan surat kabar de Locomotief, salah satu komoditas penting daerah Pagergunung pada tahun 1897 adalah perkebunan kopi. Pada bulan Desember tahun itu gudang kopi di Pagergunung dikelola oleh Mas Prawiro Sastro. Disebutkan ia mendapatkan upah sebesar 10 gulden perbulan atas jasanya menjaga gudang kopi disana.
Komoditas perkebunan lain yang paling menonjol dari Pagergunung pada tahun - tahun berikutnya adalah Jeruk Keprok atau dengan nama latin Citerus Raticulata yang kaya akan vitamin. Berbagai daerah diwilayah Kabupaten Magelang, Semarang dan Yogyakarta adalah tujuan utama pemasaran dari Jeruk Keprok dan komoditas perkebunan lainnya dari Pagergunung.
Namun, kendala yang dihadapi oleh wilayah Pagergunung adalah akses jalan yang menanjak dan sulit untuk dilintasi bahkan dengan kuda sekalipun. Sebelum tahun 1934, jalan antara Tlogoredjo ke Pagergunung belum bisa dilewati kendaraan. Dengan dibukanya jalan antara kedua wilayah tersebut pada tahun tersebut, maka keterisolasian masyarakat Pagergunung pun sedikit demi sedikit mulai sirna. Kuda dan para pejalan kaki yang hendak menjual hasil perkebunan merekapun bisa relatif lebih cepat sampai ke pasaran.
Pembukaan jalur lintas Pagergunung - Tlogredjo pada tahun 1934 kemudian mengalami perbaikan jalan pada 24 Oktober 1937 dibawah pengawasan Ditektur Pekerjaan Kabupaten, Tuan J.F. Eysma. Jalur lama yang sudah tidak layak dan berbahaya tersebut kemudian mengalami pelebaran, penggalian, peninggian, pemindahan tanah dan pembuatan talud serta tanggul dibeberapa bagian jalan. Perbaikan tersebut meliputi medan jalan dengan panjang 5km dan pelebaran jalan hingga lebih dari 6m.
Akibat dari renovasi jalan tersebut sejumlah pohon, termasuk jeruk keprok ada yang harus ditebang dan dipindahkan ke tempat lainnya dengan kompensasi dari pemerintah. Bahkan, penduduk Pagergunung dengan sukarela menyumbangkan tanahnya baik dikiri dan kanan jalan demi pelebaran jalan tersebut.
Sistem drainase jalan pun tak luput dari perhatian Tuan Eysma. Dibawah jalan utama ditanam bis beton 0,25 meter untuk mengatasi cucuran air hujan yang dulu kerap merusak badan jalan.
Total biaya perbikan jalan tersebut diperkirakan mencapai NLG 1450. Walaupun masih jauh dari kata sempurna, setidaknya perbaikan jalan Pagergunung tersebut juga bermanfaat bagi Kabupaten Semarang. Bupati Semarang dan jajarannya juga berencana untuk membuka akses jalan antara Blantjir - Salaran yang salah satu jalur utama penghubung daerah tersebut adalah jalan Pagergunung.
Berdasarkan surat kabar De Indische Courant, setelah hampir 7 bulan menyelesaikan renovasi jalan Pagergunung akhirnya pada Minggu, 22 Mei 1938 akses jalan penghubung penting tersebut rampung. Jalur lintas antara Magelang - Salatiga - Semarang tersebut berhasil menghidupkan salah satu sentra produksi buah dan sayuran penting di kawasan pedalaman hinterland Jawa. Bersambung...
- Chandra Gusta Wisnuwardana -

Tentang Sejarah Magelang - PESANGGRAHAN PAGERGUNUNG : Tempat Tetirah Para Tuan di Batas Arga (akhir)

PESANGGRAHAN PAGERGUNUNG : Tempat Tetirah Para Tuan di Batas Arga (akhir)
Lokasi Pagergunung yang menjulang diketinggian 1000 meter lebih diatas laut membuat pemandangan dari sana sangatlah memukau. Dengan kungkungan gunung - gunung yang melingkar disekitarnya membuat siapa saja yang berkunjung kesana akan terkesima. Jalan menanjak dan berkelok yang rusak parah sudah diperbaiki dan bisa dilintasi oleh kendaraan bermotor pada 1938. Tak kurang 50 mobil dari berbagai merek milik para pejabat tinggi kolonial dan bupati melintasi jalan baru tersebut. Persemian sebagai tanda selesai renovasi jalan Pagergunung dilaksanakan pada Minggu, 22 Mei 1938 dengan penuh antusias.
Para hadirin yang datang pada peresmian tersebut diantaranya adalah Gubernur Jawa bagian Tengah, Tuan dan Nyonya Bertsch, Residen Semarang, Tuan Pino, Residen Kedu, Tuan Sonnveldt, Walikota Magelang, R.C.A.F.J Nessel van Lissa, Para Bupati - Bupati dari Magelang, Purworedjo, Temanggung dan Wonosobo, Asisten - Residen Salatiga, Magelang, dan Kebumen, Komandan Garnisun Magelang van Jongert, Kepala Militair Hospitaal, Tuan dr. Wilkens, Direktur Kaderschool Tuan Beusekom, Mayar Bloog, Mayor Guldenaar dan banyak tamu undangan lainnya.
Para pejabat tersebut sebelumnya telah menginap terlebih dahulu di Ngablak, sekitar satu kilometer dari Kopeng dan pergi ke titik lokasi peresmian pada pukul 10 pagi. Para pejabat kolonial dan pangreh praja tersebut kemudian mengadakan pesta peresmian di sebuah tempat tetirah yang diberi nama Pesanggrahan Pagergunung. Upacara peresmian jalur Pagergunung ditandai dengan pemotongan pita oleh Nyonya Bertsch, istri Gubernur Jawa bagian Tengah yang kemudian dilanjutkan dengan makan sendwich dan minum minuman dingin. Sajian makanan berat seperti lontong dan gado - gado yang sayurnya dipetik langsung dari Pagergunung disajikan sebagai menu makan siang.
Memang tidak salah Bupati Magelang, Raden Adipati Aryo Danusugondo memilih Pagergunung sebagai lokasi pesanggrahan. Berada perisis dilipatan antara Gunung Andong dan Telomoyo, Pagergunung memiliki panorama alam yang molek. Gunung Sumbing dan Sindoro yang menjulang dibarat Magelang tampak gagah temaram di kala senja. Dataran Tinggi para Dewa, Dieng pun bisa tampak dari Pagergunung. Hawa sejuk khas pegunungan dengan banyak tanaman perkebunan yang segar menjadikan Pegergunung tempat tetirah yang pas bagi para tuan.
Dengan dilebarkannya akses jalan menuju Pagergunung, tentu saja banyak para tamu yang tidak enggan lagi untuk menghabiskan waktu berlibur mereka di Pesanggrahan Pagergunung. Sebuah prasasti tanda kunjungan dari utusan Perusahaan Wali Provinsi (Het Landvoogdelijk Gezelscahp) tertoreh di depan Pesanggrahan Pagergunung dengan angka tanggal 6 Mei 1938.
Fasilitas pesanggrahan yang bisa pengunjung dapatkan antara lain berupa kamar - kamar tidur dan perabotan yang layak. Dengan harga sewa yang wajar serta ditambah adanya atraksi wisata seperti Air Terjun Sekar Langit yang mencapai tinggi 35 meter, menjadikan nilai tambah Pesanggrahan ini.
Hingga sekarang, bekas sisa - sisa Pesanggrahan Pagergunung masih belum bisa ditemukan. Entah apa yang terjadi dengan bangunan lama pesanggrahan ini.
- Chandra Gusta Wisnuwardana -
Sumber :
- De Indische Courant 26 April , 9 Mei, dan 25 Mei 1938
- Het niews van den dag voor Nederlandsch Indie 21 Mei 1938
- Soerabaijasch handelsblad 25 Mei 1938
-Op de Hoogte - 1 Januari 1939 - Tuin van Java

Tentang Sejarah Magelang - SPAANSCHE GRIEP : Amuk Flu Spanyol di Bumi Magelang pada 1918 - 1919 (bagian I)

SPAANSCHE GRIEP : Amuk Flu Spanyol di Bumi Magelang pada 1918 - 1919 (bagian I)
Belakangan ini dunia sedang dihebohkan dengan berita semakin meluasnya wabah penyakit Flu yang lazim disebut COVID-19 atau Coronavirus yang kian banyak menelan korban jiwa. Wabah yang sudah masuk ke Indonesia sejak pekan lalu ini membuat sebagian masyarakat beramai - ramai memborong masker dan hand sanitizer diberbagai apotek dan swalayan. Panic Buying pun melanda.
Jika kita mau menengok kebelakang, pandemi yang mirip dengan COVID-19 yang sekarang sedang ramai juga pernah menimpa negeri kita, tak terkecuali Magelang. Sepanjang abad ke-20, beberapa pageblug (wabah penyakit) pernah bertubi - tubi menyerang Magelang yang mengakibatkan menyusutnya jumlah penduduk dan kekacauan di wilayah ini. Sebut saja wabah - wabah penyakit seperti kolera, typus, sampar (pes) dan Spaanche Griep (Flu Spanyol) pernah menghantui Magelang.
Khusus untuk kasus Flu Spanyol sendiri setidaknya tiap 1 dari 20 orang penderita harus tewas meregang nyawa akibat virus tipe A H1N1 ini. Pada akhir pandemi diperkirakan 20 - 50 juta orang meninggal diseluruh dunia, tak terkecuali Jawa. Antara pertengahan tahun 1918 hingga 1919 tercatat jumlah pasien tertular dan meninggal dunia memcahkan rekor paling tinggi di Hindia Belanda. Menurut surat kabar Het Niews van den dag voor Nederlandsch Indie yang terbit 4 Juli 1919 terdapat 8.311 korban meninggal dunia akbiat Flu Spanyol di sepanjang tahun itu.
Interaksi sosial dengan masyarakat internasional dan pesatnya pertumbuhan perekonomian ekspor dan impor pada awal abad ke-20 menyebabkan arus manusia dan barang menjadi semakin tinggi dan kian sulit untuk diawasi. Diperkirakan wabah Flu Spanyol yang merebak di Hindia Belanda berasal dari pelabuhan - pelabuhan besar di Jawa yang dibawa oleh para penumpang dan awak kapal yang sebelumnya sudah tertular virus H1N1 dari negara sebelumnya.
Mengetahui bahwa jalur laut adalah pintu masuk merebaknya Flu Spanyol, pemerintah Hindia Belanda pun memperketat pelabuhan - pelabuhan besarnya serta mengawasi kapal - kapal yang tiba dari Hongkong dan Singapura. Namun tetap saja, seketat apapun pemerintah mengawasi pelabuhan - pelabuhan, korban pertama wabah Flu Spanyol mulai bermunculan pada Agustus dan September 1918. Korban pertama Flu Spanyol tercatat meninggal dunia pada 26 Oktober 1918 di Mojowarno. Flu Spanyol akhirnya masuk ke Jawa dari sebelah timur dan dengan cepat merayap ke barat memasuki Jawa Tengah.
Di Magelang sendiri wabah Spaansche Griep mulai merebak pada Oktober 1918 di Onderafdeeling Krasak dan terus masuk menjangkiti Afdeeling Magelang pada November 1918. Menurut kisah R. Slamet Iman Santoso, saksi mata pecahnya pageblug Flu Spanyol mengisahkan bahwa puncak pandemi berlangsung selama tiga minggu dengan ratusan orang sakit dan puluhan meninggal dunia. Total korban jiwa di Afdeeling Magelang selama tujuh minggu Flu Spanyol mengamuk adalah 9.47 dan terdapat 1.788 korban meninggal di Onderafdeeling Krasak.
Gambaran puncak kekalutan masyarakat Magelang selama puncak pandemi Flu Spanyol antara 1918 - 1919 berhasil ditangkap oleh R. Slamet Imam Santoso seperti berikut,
“Pada suatu saat pedagang kain kafan menutup toko, karena takut serbuan pembeli kain guna pembungkus mayat. Polisi terpaksa membuka dan mengawasi penjualannya. Untung sepanjang wabah tersebut, saya tidak pernah terserang; saban hari selama dua atau tiga minggu, saya tetap sekolah. Sekolah kosong, cuma ada beberapa puluh murid, kadang - kadang sama sekali tidak ada guru yang datang..”
Bersambung..
- Chandra Gusta Wisnuwardana -

Tentang Sejarah Magelang - SPAANSCHE GRIEP : Amuk Flu Spanyol di Bumi Magelang pada 1918 - 1919 (bagian II)

SPAANSCHE GRIEP : Amuk Flu Spanyol di Bumi Magelang pada 1918 - 1919 (bagian II)
“Oleh karena nenek saya dan ibu - ibu cilik pada sakit pula, mereka diboyong ke rumah Bapak, yang pada saat itu telah menjadi Wedono di Bandongan, sebelah Barat Kali Progo, di kaki gunung Sumbing.”
Catatan milik R. Slamet Iman Santoso tersebut memberikan kita gambaran bagaimana wabah Spaansche Griep ini membuat aktifitas masyarakat di Magelang menjadi terganggu. Hal yang dialami oleh R. Slamet tersebut bisa jadi adalah salah satu contoh evakuasi yang dilakukan keluarga Jawa dalam rangka menghindari wabah flu Spanyol yang ganas menyebar. Mengungsi ke pinggiran Magelang adalah salah satu cara keluarga R. Slamet untuk menjaga keslamatan keluarganya. Padahal berdasarkan surat kabar Bataviaasch Niewsblad yang terbit pada 2 Maret 1918, ayah R. Slamet Iman Santoso sendiri adalah seorang Wedono baru yang bertugas untuk menggantikan Raden Gondoprawiro yang harus pensiun dan berpindah tugas di Landraad Karanganjar. Tentu saja, ayah R. Slamet dituntut untuk tanggap menghadapi situasi pandemi sebagai seorang wedono baru.
Evakuasi dan perpindahan warga dari pusat pemerintahan ke pinggiran bukan satu - satunya dampak yang dirasakan oleh masyarakat dan pemerintah kolonial di Magelang. Dalam bidang pelayanan masyarakat pun ikut terkena imbasnya. Sebagai contoh jumlah pegawai pemerintahan baik dari korps Indlandsch Bestuur (pegawai pangreh praja) dan Binnenlandsch Bestuur (pegawai Eropa) yang cuti bekerja karena terpapar virus flu Spanyol pun kian bertambah antara tahun 1919 - 1920. Tak kurang 406 pegawai pemerintah cuti karena pageblug ini.
Dampak lain akibat mewabahnya Flu Spanyol juga terasa dalam bidang pendidikan di Magelang. R. Slamet Iman Santoso dalam bukunya “Warna - Warni Pengalaman Hidup R. Slamet Iman Santoso” menceritakan perjuangannya ketika ia harus bersekolah ditengah pandemi Flu Spanyol di Magelang,
“ Saban pagi, pukul enam, saya berangkat jalan kaki dari Bandongan ke Magelang, jalan tiga setengah kilometer. Pukul sembilan atau setengah sepuluh pulang lagi, oleh karena sekolah kosong. Oleh karena lamanya penyakit itu menghantui kota Magelang, maka saya dan adik saya pindah dari rumah nenek ke rumah Eyang Mantri Guru Jawa dari Jambon ke Bayeman. Saya tinggal disitu sampai tahun 1923..”
Kala itu R. Slamet sedang mengenyam pendidikan dasar hingga menengah di Magelang yaitu di Hollandsch Indlansch School (HIS) sekarang TK & SD Kanisius Pendowo dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) sekarang SMP N 1 Magelang. Kelak, beliau akan menyandang gelar besar sebagai Bapak Psikologi Indonesia.
Bersambung..
- Chandra Gusta Wisnuwardana -

Tentang Sejarah Magelang - SPAANSCHE GRIEP : Amuk Flu Spanyol di Bumi Magelang pada 1918 - 1919 (akhir)

SPAANSCHE GRIEP : Amuk Flu Spanyol di Bumi Magelang pada 1918 - 1919 (akhir)
“Pada suatu sore, sekitar pukul empat, tetangga kami meninggal dunia. Langsung disembahyangi dan disiapkan supaya esok hari bisa dikubur sekitar pukul 6 pagi. Kalau lebih lambat bisa keduluan penguburan orang lain, dan bisa tunggu sampai sore, bahkan ada yang sampai pukul 10 malam. Demikian banyak orang yang meninggal pada saat tersebut.. “
Catatan yang dituliskan R. Slamet Iman Santoso tersebut menggambarkan betapa banyaknya korban meninggal dunia akibat Flu Spanyol dan betapa sibuk serta paniknya masyarakat akbiat wabah yang menyerang itu. Menurut surat kabar De Preanger Bode yang terbit pada 2 Februari 1921, wabah flu di Magelang masih terus terjadi dan merenggut banyak korban jiwa. Hingga bulan Maret tahun itu, wabah Flu Spanyol masih terus merebak dibeberapa tempat.
Pemerintah kolonial pun tak tinggal diam melihat masifnya dampak yang diakibatkan oleh pandemi Spaanche Griep tersebut. Berbagai upaya untuk menemukan obat penawar dan cara mujarab untuk menghentikan amukan wabah influenza pun ditempuh.
Pada 1919, Laboratorium di Batavia berhasil menemukan obat yang mampu menyembuhkan pasien flu spanyol ini. Obat dalam bentuk tablet ini pertama kali diproduksi dengan jumlah 100 ribu butir tablet dan langsung dibagikan kepada masyarakat secara gratis. Pendistribusian obat flu ini berhasil menekan jumlah korban jiwa di Hindia Belanda.
Salah satu dokter militer yang bertugas di Magelang juga berjasa dalam menemukan cara - cara mengobati para pasien Flu Spanyol ini. Dokter tersebut bernama Jules Samuels, seorang warga suriname yang kebetulan sedang bertugas di Magelang. Hasil penelitian beliau selama beberapa saat serta metode penyembuhan beliau kemudian dipublikasikan secara masif diberbagai surat kabar baik di Hindia Belanda dan Suriname.
Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah kolonial selain memberikan layanan kesehatan dan pembagian obat gratis juga dengan cara penyebaran propaganda - propaganda kesehatan melalui media buku. Buku terbitan Balai Pustaka tahun 1920 dengan judul “Lelara Influenza” disebarkan dengan isi pesan - pesan kesehatan bagi masyarakat. Buku tersebut dibawakan dengan gaya narasi percakapan yang diperankan oleh tokoh Punokawan dimana tokoh pewayangan tersebut cukup populer di kalangan masyarakat Jawa.
Selain itu, Pada 20 Oktober 1920 peraturan perundang - undangan mengenai pemberantasan penyakit flu spanyol yang bisa diterapkan secara merata di Hindia Belanda diterbitkan dalam Staatsblad van Nederlandsch Indie no. 723 tahun 1920.
Meskipun demikian, masyarakat Jawa pada umumnya juga turut berperan dalam memerangi pageblug ini. Obat - obatan tradisional berupa jamu berbahan temulawak serta upaya menjaga kesehatan diri dan lingkungan pada akhirnya mampu meredam amukan Flu Spanyol pada medio 1920an.
- Chandra Gusta Wisnuwardana -
Muhammad Nafi, Umar Iswadi dan 129 lainnya

Tentang Sejarah Magelang - Pesanggrahan Borobudur

PESANGGRAHAN BOROBUDUR : Tempat Singgah Para Petualang dan Menginap Para Pelancong (akhir)
“Pesanggrahan ini dijaga oleh seorang Belanda penyendiri yang terlihat lesu dan berbicara pelan, baginya hari selalu sore.. Hidup berjalan dalam ketenangan, keheningan tiada akhir dan rutinitas yang sama di Borobudur.”
Kutipan diatas adalah hasil tulisan tangan dari Elisa Ruhamah Scidmore dalam bukunya The Garden of the East. Eliza sendiri adalah seorang pengelana perempuan berkebangsaan Amerika yang pernah mengunjungi Jawa pada 1897, atau satu tahun setelah Raja Rama V Chulalongkorn dari Siam mampir ke Pesanggrahan Borobudur.
Berdasarkan catatan perjalanannya, Pesanggrahan Borobudur sudah memiliki berbagai macam akomodasi yang cukup untuk bisa beristirahat dan menenangkan diri di area Borobudur. Tarif bagi para pelancong yang mampir kesana adalah 6 florin per hari. Walaupun tergolong terjangkau, kebanyakan tamu yang singgah di pesanggrahan tidak banyak yang menginap dan hanya mampir untuk menyantap rijsttafel yang ada disana. Berdasarkan penuturan Dr. Breitenstein dalam catatan perjalanannya yang berjudul Einundzwanzig Jahre in Indien II Teil yang terbit tahun 1900, makanan rijsttafel yang lazim disajikan di Pesanggrahan Borobudur adalah nasi, buah-buahan, ayam dengan berbagai macam jenis olahan masakan.
Nampaknya, pada awal abad ke-20, Pesanggrahan Borobudur mengalami renovasi yang cukup signifikan. Berdasarkan foto Dr. I Groeneman yang berwisata ke Candi Borobudur pada tahun 1901, atap pesanggrahan yang dulu masih berupa ijuk atau alang - alang sudah berganti menjadi genting tanah liat. Voorgalerij yang dulunya masih semi terbuka sudah tertutup dikesemua sisinya dan hanya menyisakan pintu depan saja. Arca yang mengapit pintu masuk pesanggrahan pun sudah berganti dengan sepasang arca Budha yang nampaknya ikut dicat putih. Bangunan tambahan pun ikut nampak dibagian kiri pesanggrahan utama.
Pujian atas pengelolaan baru dari hasil renovasi Pesanggrahan Borobudur juga sempat dimuat dalam surat kabar De Locomotief : Semarangasch Handels-en advertentie-blad yang terbit pada 23 Juni 1902. Disebutkan dalam surat kabar tersebut bahwa pasca perubahan menejemen peningkatan kebersihan dan akomodasi dirasa cukup memuaskan, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menginap dan menikmati mistisisme senja dan fajar dari puncak Borobudur. Bahkan, dalam catatan perjalanan yang berjudul Monumental Java yang terbit pada 1912, sang penulis, Scheltema, menyebutkan bahwa ada sebuah ruangan di Pesanggrahan Borobudur yang digunakan untuk ruang penyimpanan patung-patung Borobudur yang terlepas.
Berkat organisasi pariwisata Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) yang gencar mempromosikan Borobudur, maka jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur tiap tahun kian meningkat. Pada tahun 1909 menurut surat kabar De Preanger Bode, perusahan kereta api swasta N.I.S pernah berencana berkerjasama dengan VTV untuk membuat tiket kombinasi Jogja - Muntilan yang diteruskan dengan makan siang di Pesanggrahan Borobudur. Selain itu, VTV juga akan menyiapkan kamar mandi yang layak bagi pengunjung di Pesanggrahan Borobudur dan mendesak segera terhubungnya jaringan telepon kesana.
Merespon hal tersebut, berdasarkan surat kabar Het Niews van den dag voor Nederlandsch - Indie yang terbit pada 23 November 1914, nampaknya pesanggrahan tersebut sudah mulai semakin berbenah dan berubah menjadi sebuah hotel dengan nama “Hotel Baraboedoer”. Dalam iklan tersebut, Hotel Baraboedoer memiliki nomer telepon 28 dan alamat telegram : Barabudur Hotel. Hotel ini dipimpin oleh Tuan D.B. Kool yang menawarkan kesejukan udara khas pedesaan, makanan yang lezat, kamar tidur dengan sirukalisi udara yang baik dan meja - meja yang bersih.
Sebagai fasilitas akomodasi tambahan, pihak manajemen Hotel Barabudur juga menyediakan mobil yang siap kapan saja digunakan dari dan ke hotel dari stasiun Muntilan. Dalam iklan tersebut juga disebutkan bahwa para pengunjung tidak perlu khawatir akan kehabisan bahan bakar karena bensin, oli, dan karbit selalu tersedia.
Dalam iklan Hotel Barabudur yang terus terbit di surat kabar Het Niews van den dag voor Nederlandsch Indie antara tahun 1915 - 1917, perubahan layanan mulai diterapkan seperti mulai dicantumkannya jadwal keberangkatan kereta api dari Bandung - Jogja - Muntilan - Hotel. Mobil - mobil hotel juga selalu stand by di Stasiun Jogja dan Kutoardjo. Tuan Kool masih bekerja di hotel tersebut namun jabatanya tertulis “ex. Chief-Kok.” disana.
Beberapa pelancong yang sempat menginap di Hotel Barabudur menuliskan pengalaman meraka dalam buku catatan yang terbit antara tahun 1914 - 1915. Arthur S. Walcott, dalam bukunya Java and her neighbours menyebutkan bahwa penginapan ini cukup lumayan nyaman. Terlebih lagi juga menyediakan makanan yang lumayan enak. Hanya saja banyak nyamuk yang berkeliaran dan menjadi kekurangan hotel ini. Donald Maclaine Campbell dalam catatan perjalanannya yang berjudul Java:Past & Present terbit pada 1915 juga menyebutkan penginapan ini bagi pengunjung atau turis lumayan nyaman dan bersih.
Memasuki tahun 1920an, jumlah turis atau wisatawan yang berkunjung ke Borobudur pun kian meningkat pesat. Daya tampung hotel yang terbatas sempat menimbulkan kritikan pedas bagi pengelola. Kritikan tersebut dimuat dalam surat kabar Bataviaasch Niewsblad pada 24 Juni 1921 yang menyebutkan bahwa pada hari - hari libur seperti hari Minggu, jumlah pengunjung candi bisa sangat banyak yang kebanyakan datang dari Solo, Jogja dan Magelang. Fasilitas toilet dan air yang terbatas membuat para pengunjung menjadi kurang nyaman berwisata dan menghabiskan waktunya di Hotel. Pada tahun tersebut, manajer Hotel Barabudur hanya menerima tunjangan sebesar 40 gulden yang mana biaya pengelolaan air mencapai 50 gulden, melebihi gajinya.
Foto - foto yang ada pada tahun 1920 - 1930an menunjukkan bangunan Hotel Baraboedoer semakin bertambah. Beberapa bangunan dibangun disebelah kanan dan kiri serta depan bangunan hotel yang lama.
Penulis belum menemukan data yang pasti kapan bangunan hotel lama ini hilang. Kemungkinan lokasi Hotel Baraboedoer ini sekarang berada di Kantor Balai Arkeologi Borobudur Magelang.
- Chandra Gusta Wisnuwardana -