02 April 2024

Pasemon raja raja jawa Konon, masyarakat Jawa tidak suka konfrontatif. Mereka memiliki berbagai cara untuk menilai orang lain agar yang dinilai tidak tersinggung. Apalagi jika yang dinilai adalah raja, yang memiliki kewenangan mutlak. Salah satu cara adalah menggunakan pasemon<\/I>, atau semacam kalimat sindiran. Siapa saja yang disindir? Apa pula kata mereka tentang Paku Buwono XII yang baru saja mangkat?Setidaknya ada 19 pasemon praja (sindiran terhadap raja maupun kerajaan) yang sering didengar oleh masyarakat Jawa. Ada raja yang dinilai suka memerintah dengan tangan besi, ada yang dinilai mata keranjang, ada dinilai cengeng, dan lain sebagainya. Berikut pasemon-pasemon praja<\/I> itu: 1. Catur rana semune segara asat<\/I> (empat medan peperangan layaknya samudera kering). Kalimat ini dipakai untuk menilai kerajaan Jenggala, Kediri, Singhasari dan Urawan. Keempat kerajaan ini dianggap suka berperang sehingga banyak menghabiskan kekayaan negara untuk memenuhi nafsu haus perang tersebut. 2. Ganda kentir semune liman pepeka<\/I> (bau yang terhanyut layaknya gajah yang terlena). Kalimat ini ditujukan kepada Sri Pamekas di Kerajaan Pajajaran. Raja besar yang sangat berkuasa ini justru dinilai kurang waspada sehingga mati dibunuh oleh anaknya sendiri, Ciung Wanara. Mayatnya kemudian dihanyutkan ke sungai. 3. Macan galak semune curiga kethul<\/I> (macan buas layaknya senjata yang tumpul). Ini untuk Prabu Brawijya V, raja terakhir di Kerajaan Majapahit. Sebagai yang besar pengaruhnya, dia dinilai tidak mampu membuat kesejahteraan bagi rakyatnya. 4. Lunga perang putung watange<\/I> (berangkat berperang tapi patah busurnya). Yang ini adalah penggambaran bagi Kasultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Dengan didukung kekuatan para wali, kerajaan ini giat menaklukkan para adipati yang masih menganut ajaran lama. Namun mereka harus membayar mahal yakni banyak wali atau ahli agama yang gugur di pertempuran. 5. Alelungan datan kongsi bebasahan kaselak kampuhe bedhah<\/I> (bepergian belum sempat memakai pakaian kebesaran namun terlanjur ikat pinggangnya jebol). Kalimat ini untuk Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, pendiri Kasultanan Pajang. Sebagai rakyat kebanyakan, perjuangannya sangat panjang dalam meniti karir. Saat mencapai puncak sebagai sultan dia sudah berusia tua dan tidak lama kemudian meninggal dunia. 6. Sura kalpa semune lintang sinipat<\/I> (pohon besar layaknya bintang kepagian). Pasemon<\/I> ini untuk Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram. Dengan keberaniannya yang besar dia bersemangat melakukan penaklukan daerah-daerah yang belum bersedia mengakui kekuasaannya. Namun belum sampai selesai seluruh cita-citanya, dia sudah lebih dulu meninggal. 7. Kembang sempol semune lebe kekethu<\/I> (bunga teratai layaknya seorang kaum berkopyah). Ini sindiran atau tepatnya pujian untuk Sultan Hanyokrowati dan anaknya Sultan Agung Hanyokrokusumo di Mataram. Keduanya dianggap raja besar yang taat dan sangat tekun menjalankan perintah agama. Seperti diketahui, perhitungan tahun Jawa berdasarkan peredaran bulan seperti tahun Hijriyah dilakukan pada tahun 1555 atas perintah Sultan Agung. Sebelumnya berdasarkan peredaran matahari. 8. Kalpika sru semune kenaka putung<\/I> (cincin yang kekecilan layaknya kuku yang patah). Ini sindiran bagi Amangkurat I. Selama pemerintahannya penuh dengan tragedi, peperangan dan intrik baik di dalam maupun di luar kraton. Banyak keluarga dekat maupun panglima perang handal di Mataram saat itu mati dibunuh oleh sang raja sendiri dengan tuduhan terlibat pemberontakan. 9. Layon keli semune satriya brangta<\/I> (mayat terhanyut layaknya satriya berduka). Kalimat ini ditujukan kepada Amangkurat II, putra Amangkurat I. Dia dinobatkan sebagai raja di saat berduka karena ayahnya masih buron, dikejar-kejar musuh hingga akhirnya meninggal di Tegal, jauh dari istananya. 10. Gunung Kendheng semune kenya musoni<\/I> (Gunung Kendeng layaknya gadis berhias). Kalimat ini untuk Pangeran Puger atau yang kemudian bergelar Paku Buwono I. Dia merebut kekuasaan dari keponakannya sendiri Amangkurat III, sehingga di saat menjadi raja dia sudah cukup tua yang digambarkan sebagai Gunung Kendheng. Namun demikian dia masih suka mengurusi hal-hal yang sepele. 11. Lung gadhung semune rara nglikasi<\/I> (bunga gadhung layaknya gadis memintal benang). Yang ini untuk Amangakurat IV atau Amangkurat Jawi, anak PB I. Dia dinilai sebagai raja yang trampil, tangkas, dan banyak menyelesaikan persoalan namun sayangnya dia dianggap mempunyai kegemaran terhadap perempuan. 12. Gajah meta semune tengu lelaken<\/I> (gajah ngamuk layaknya hewan tengu yang sedang kawin). Sindiran ini untuk PB II, anak Amangkurat Jawi. Dia dianggap sebagai raja yang kelihatan besar, ggah, perkasa, namun digambarkan bernyali kecil seperti hewan tengu. Jika mendapat cobaan atau serangan lawan dia langsung meminta bantuan kepada penguasa-penguasa di daerah lain. 13. Panji loro semune Pajang - Mataram<\/I> (dua pangeran layaknya Pajang dan Mataram). Kalimat ini mengisahkan hasil Perjanjian Giyanti tahun 1755 antara dua anak PB II yang kemudian sepakat memecah Kraton Surakarta menjadi dua bagian, yakni PB III di tetap di Surakarta, sedang Pangeran Mangkubumi berkuasa di Yogyakarta bergelar Hamengkubuwono (HB) I. Pembagian daerahnya hampir sama dengan daerah yang dulu dikuasai Kerajaan Pajang dan Mataram awal. 14. Rara ngangsu semune randha loro nuntuti pijer atetukar<\/I> (gadis mencari air layaknya dua janda yang memburu dan saling bertengkar). Kalimat Ini mengisahkan pemberontakan bangsawan Kraton Surakarta RM Said yang kemudian disusul Pangeran Mangkubumi untuk bergabung. Selanjutnya keduanya berhasil menjadi raja. Mangkubumi menjadi raja Yogyakarta dengan gelar HB I, sedang Said mendirikan dinasti Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegoro I sesai perjanjian Salatiga antara Said dengan pihak Kraton Surakarta. 15. Kala bendu semune Semarang - Tembayat<\/I> (jaman sengsara layaknya Semarang dan Tembayat). Ini adalah penggambaran perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda, yang kemudian terkenal sebagai Perang Diponegoro. Belanda yang kewalahan banyak mendatangkan bala bantuan dari Semarang, untuk menggempur markas pertahanan awal Diponegoro di Klaten sebelum dipindah ke Magelang. Perjalanan Belanda itu digambarkan seperti perjalanan Sunan Tembayat dari Semarang ke Tembayat di Klaten.

 Pasemon raja raja jawa


 Konon, masyarakat Jawa tidak suka konfrontatif. Mereka memiliki berbagai cara untuk menilai orang lain agar yang dinilai tidak tersinggung. Apalagi jika yang dinilai adalah raja, yang memiliki kewenangan mutlak. Salah satu cara adalah menggunakan pasemon<\/I>, atau semacam kalimat sindiran. Siapa saja yang disindir? Apa pula kata mereka tentang Paku Buwono XII yang baru saja mangkat?Setidaknya ada 19 pasemon praja (sindiran terhadap raja maupun kerajaan) yang sering didengar oleh masyarakat Jawa. Ada raja yang dinilai suka memerintah dengan tangan besi, ada yang dinilai mata keranjang, ada dinilai cengeng, dan lain sebagainya. Berikut pasemon-pasemon praja<\/I> itu:



1. Catur rana semune segara asat<\/I> (empat medan peperangan layaknya samudera kering). Kalimat ini dipakai untuk menilai kerajaan Jenggala, Kediri, Singhasari dan Urawan. Keempat kerajaan ini dianggap suka berperang sehingga banyak menghabiskan kekayaan negara untuk memenuhi nafsu haus perang tersebut.


2. Ganda kentir semune liman pepeka<\/I> (bau yang terhanyut layaknya gajah yang terlena). Kalimat ini ditujukan kepada Sri Pamekas di Kerajaan Pajajaran. Raja besar yang sangat berkuasa ini justru dinilai kurang waspada sehingga mati dibunuh oleh anaknya sendiri, Ciung Wanara. Mayatnya kemudian dihanyutkan ke sungai.


3. Macan galak semune curiga kethul<\/I> (macan buas layaknya senjata yang tumpul). Ini untuk Prabu Brawijya V, raja terakhir di Kerajaan Majapahit. Sebagai yang besar pengaruhnya, dia dinilai tidak mampu membuat kesejahteraan bagi rakyatnya.


4. Lunga perang putung watange<\/I> (berangkat berperang tapi patah busurnya). Yang ini adalah penggambaran bagi Kasultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa. Dengan didukung kekuatan para wali, kerajaan ini giat menaklukkan para adipati yang masih menganut ajaran lama. Namun mereka harus membayar mahal yakni banyak wali atau ahli agama yang gugur di pertempuran.


5. Alelungan datan kongsi bebasahan kaselak kampuhe bedhah<\/I> (bepergian belum sempat memakai pakaian kebesaran namun terlanjur ikat pinggangnya jebol). Kalimat ini untuk Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, pendiri Kasultanan Pajang. Sebagai rakyat kebanyakan, perjuangannya sangat panjang dalam meniti karir. Saat mencapai puncak sebagai sultan dia sudah berusia tua dan tidak lama kemudian meninggal dunia.


6. Sura kalpa semune lintang sinipat<\/I> (pohon besar layaknya bintang kepagian). Pasemon<\/I> ini untuk Panembahan Senopati, pendiri dinasti Mataram. Dengan keberaniannya yang besar dia bersemangat melakukan penaklukan daerah-daerah yang belum bersedia mengakui kekuasaannya. Namun belum sampai selesai seluruh cita-citanya, dia sudah lebih dulu meninggal.


7. Kembang sempol semune lebe kekethu<\/I> (bunga teratai layaknya seorang kaum berkopyah). Ini sindiran atau tepatnya pujian untuk Sultan Hanyokrowati dan anaknya Sultan Agung Hanyokrokusumo di Mataram. Keduanya dianggap raja besar yang taat dan sangat tekun menjalankan perintah agama. Seperti diketahui, perhitungan tahun Jawa berdasarkan peredaran bulan seperti tahun Hijriyah dilakukan pada tahun 1555 atas perintah Sultan Agung. Sebelumnya berdasarkan peredaran matahari.


8. Kalpika sru semune kenaka putung<\/I> (cincin yang kekecilan layaknya kuku yang patah). Ini sindiran bagi Amangkurat I. Selama pemerintahannya penuh dengan tragedi, peperangan dan intrik baik di dalam maupun di luar kraton. Banyak keluarga dekat maupun panglima perang handal di Mataram saat itu mati dibunuh oleh sang raja sendiri dengan tuduhan terlibat pemberontakan.


9. Layon keli semune satriya brangta<\/I> (mayat terhanyut layaknya satriya berduka). Kalimat ini ditujukan kepada Amangkurat II, putra Amangkurat I. Dia dinobatkan sebagai raja di saat berduka karena ayahnya masih buron, dikejar-kejar musuh hingga akhirnya meninggal di Tegal, jauh dari istananya.


10. Gunung Kendheng semune kenya musoni<\/I> (Gunung Kendeng layaknya gadis berhias). Kalimat ini untuk Pangeran Puger atau yang kemudian bergelar Paku Buwono I. Dia merebut kekuasaan dari keponakannya sendiri Amangkurat III, sehingga di saat menjadi raja dia sudah cukup tua yang digambarkan sebagai Gunung Kendheng. Namun demikian dia masih suka mengurusi hal-hal yang sepele.


11. Lung gadhung semune rara nglikasi<\/I> (bunga gadhung layaknya gadis memintal benang). Yang ini untuk Amangakurat IV atau Amangkurat Jawi, anak PB I. Dia dinilai sebagai raja yang trampil, tangkas, dan banyak menyelesaikan persoalan namun sayangnya dia dianggap mempunyai kegemaran terhadap perempuan.


12. Gajah meta semune tengu lelaken<\/I> (gajah ngamuk layaknya hewan tengu yang sedang kawin). Sindiran ini untuk PB II, anak Amangkurat Jawi. Dia dianggap sebagai raja yang kelihatan besar, ggah, perkasa, namun digambarkan bernyali kecil seperti hewan tengu. Jika mendapat cobaan atau serangan lawan dia langsung meminta bantuan kepada penguasa-penguasa di daerah lain.


13. Panji loro semune Pajang - Mataram<\/I> (dua pangeran layaknya Pajang dan Mataram). Kalimat ini mengisahkan hasil Perjanjian Giyanti tahun 1755 antara dua anak PB II yang kemudian sepakat memecah Kraton Surakarta menjadi dua bagian, yakni PB III di tetap di Surakarta, sedang Pangeran Mangkubumi berkuasa di Yogyakarta bergelar Hamengkubuwono (HB) I. Pembagian daerahnya hampir sama dengan daerah yang dulu dikuasai Kerajaan Pajang dan Mataram awal.


14. Rara ngangsu semune randha loro nuntuti pijer atetukar<\/I> (gadis mencari air layaknya dua janda yang memburu dan saling bertengkar). Kalimat Ini mengisahkan pemberontakan bangsawan Kraton Surakarta RM Said yang kemudian disusul Pangeran Mangkubumi untuk bergabung. Selanjutnya keduanya berhasil menjadi raja. Mangkubumi menjadi raja Yogyakarta dengan gelar HB I, sedang Said mendirikan dinasti Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegoro I sesai perjanjian Salatiga antara Said dengan pihak Kraton Surakarta.


15. Kala bendu semune Semarang - Tembayat<\/I> (jaman sengsara layaknya Semarang dan Tembayat). Ini adalah penggambaran perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda, yang kemudian terkenal sebagai Perang Diponegoro. Belanda yang kewalahan banyak mendatangkan bala bantuan dari Semarang, untuk menggempur markas pertahanan awal Diponegoro di Klaten sebelum dipindah ke Magelang. Perjalanan Belanda itu digambarkan seperti perjalanan Sunan Tembayat dari Semarang ke Tembayat di Klaten.

No comments:

Post a Comment