01 April 2013

Tentang Sejarah Magelang -

Oleh : Bagus Priyana

Gereja St Ignatius

Standard
Gereja St Ignatius
Bangunan ini terlihat kokoh, lingkungannya terlihat sangat asri dengan udara sejuk yang berasal rerindangan pohon Mahoni. Bangunan ini berdiri di tanah 13.000 meter persegi dan berada tepat di jantung Kota Magelang. Orang mengenal bangunan ini dengan Gereja Santo Ignatius, gereja yang dijadikan tempat peribadatan umat Katholik.
Sosok pastor yang digambarkan sedang memegang kitab Gereja Katholik St Ignatius merupakan salah ciri khas dari gereja ini. Kitab yang dipegang sosok pastor yang dibuat dari batangan besi tersebut tertuliskan sebuah pesan yang mengagungkan tuhan. Pesan tersebut tertuliskan dalam bahasa belanda yaitu AMDG yang merupakan kependekan dari Ad Maiorem Dei Gloriam yang kurang lebih memiliki arti demi kemuliaan Tuhan yang semakin besar.
Jika berbicara mengenai bangunan tua yang ada di Kota Gethuk ini, bangunan ini merupakan salah satunya. Pada awal berdirinya, bangunan tersebut belum seperti sekarang yang terdiri dari 3 lokal gedung yaitu Gereja St Ignatius, Pasturan, dan Panti Mandala.
Gereja tersebut berdiri tak lepasa dari jasa Romo F.Voogel SJ. Seorang pastor Katholik yang membeli tanah ini pada tahun 1890. Pada masa itu hanya ada sebuah bangunan (sekarang pastoran) yang dijadikan tempat tinggal sekaligus tempat peribadatan. Baru pada 31 Juli 1899 romo membangun gereja sederhana di samping pasturan (sekarang gereja). Setahun kemudian tepatnya pada 22 Agustus 1890 diadakan misa kudus.
“Setiap hari diadakan misa, bahkan kalau sabtu minggu hingga dua kali,” ujar Kepala Gereja Paroki Santo Ignatius, Romo Krisno Handoyo.
Lamban laun agama Katholik ini terus berkembang, banyak penduduk Jawa yang memeluk agama ini. Berekembangnya agama ini dengan banyaknya masyarakat Jawa yang memeluk agama ini tak lepas dari perjuangan para Romo. Diantaranya Romo Van Litih SJ dan Romo JJ Howenaars ma SJ.
“Romo sangat berjasa dalam menyebarkan damai, sehingga banyak warga yang simpati dan kemudian memeluk agama ini,” terang Romo yang baru memimpin Gereja ini pada tahun 2008 lalu.
Seiring berkembangnya pemeluk agama ini, bangunan gereja pun diperluas. Tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1926 bangunan gereja lama ditambah dengan bangunan selebar 3,5 meter pada sisi kanan dan kirinya. Karena banyak penganutnya merupakan masyarakat Jawa mulai 1933, pada misa siang yang dilaksanakan pada hari minggu diisi pelajaran agama yang dibawakan dalam bahasa Jawa.
“Sebagian besar para Katekis yang mengisi khutbah tersebut itu adalah siswa-siswa Perguruan Muntilan, hasil didikan Romo Van Litih SJ,” ujar romo yang juga menjadi Kepala Gereja Kevikepan Kedu yang merupakan wilayah E Gereja Katolik di Kota, Kabupaten Magelang dan Temanggung.
Peribadatan dan kegiatan Gereja lainnya mengalami pergeseran pada zaman revolusi fisik yang ditandati dengan Perang Asia Timur Raya yang disulut oleh Jepang. Pada saat Jepang masuk ke Indonesia khususnya Magelang. Revolusi tersebut berakibat pada pelarangan hal-hal yang berbau Kolonial Belanda. Mulai dari penggunaan bahasa Belanda dilarang, pastur berkebangsaan Belanda banyak yang ditangkap dan dijebloskan penjara.
Demikian pula dengan aktivitas gereja di Magelang. Satu hari setelah pada 30 Oktober 1945, tentara Gurkha (Jepang) datang dan menduduki gedung Susteran Fransiskan, yang digunakan sebagai maskas tentara Jepang. Keesokkan harinya, 1 Nopember 1945, sebuah drama berdarah menimpa seluruh keluarga Pasturan Magelang.
Lima orang Romo, dua Frater, dua Bruder, dan seorang koster diculik oleh segerombolan orang. Mereka dibawa dan dibunuh di komplek kuburan Giriloyo, Magelang. Tiga tahun kemudian peristiwa memilukan tersebut kembali terjadi. Saat itu Romo Sandjaja , yang saat itu dipercaya menggembala umat di Magelang, bersama Romo H Bouwens juga diculik dan dibunuh di desa Patosan, Sedan, Muntilan.
Selepas peristiwa memilukan yang terjadi masa revolusi fisik tersebut, sedikit demi sedikit kehidupan peribadatan di gereja mulai pulih dan mulai berbenah. Pada tanggal 1 Agustus 1962, pembenahan dimuali dengan merenovasi gereja. Pada masa itu yang melakukan perencanaan dan sebagai pelaksanaan merupakan persatuan gereja Katholik dari Semarang. Demikian pula dengan Gereja St Ignatius ini bangunannya pun dirombak total.
“Namun ada beberapa ornamen yang masih dipertahankan seperti jendela-jendela mozaik, tangga melingkar untuk naik ke balkon, dan lonceng gereja,” ujar pemerhati Kota Toea Magelang, Bagus Priyana.
Setelah itu upaya untuk memperlebar pelayanan dan pemekaran wilayah gereja semakin luas. Pada masa Paroki Gereja St Ignatius dipegang Santa Maria Fatima dan Romo A. Martadihardja SJ wilayah pelayanan umat gereja ini semakin luas.  Pada tahun 1983 gereja ini mempunyai tujuh wilayah penggembalaan yaitu Magelang, Panjang, Rejowinangun, Tidar, Jurangombo, Kemirirejo, dan Cacaban.
Upaya pemekaran ini semakin menyeruak seiring pemekaran wilayah pemerintahan dengan munculnya kelurahan-kelurahan baru. Kini Paroki St. Ignatius Magelang terbagi menjadi 13 wilayah penggembalaan. Penggembalaan semakin diefektifkan dengan membagi 13 Wilayah dalam 36 Lingkungan hingga sampai lereng Gunung Sumbing yaitu daerah Kajoran, Kaliangkrik.(Bhekti Wira Utama)


Sumber :
https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/04/gereja-st-ignatius/#more-11

No comments:

Post a Comment