01 April 2013

Tentang Sejarah Magelang -

Oleh : Bagus Priyana

Papa Johan Van Der Steur

Standard
Makam Papa Johan Van Der Steur di Kerkof Magersari Kota Magelang
JOHAN VAN DER STEUR sebuah tulisan yang menempel pada gerbang makam Kerkof di Jl Ikhlas, Kota Magelang. Walaupun ribuan makam di kerkof telah dibongkar, dan dijadikan pasar penampungan Pasar Rejowinangun. Namun makam Papa Van Der Steur panggilan masih utuh bersama dengan puluhan makan yang sebagian adalah makan anak asuhnya. Warga Belanda yang lahir di di Haarlem, 10 Juli 1865 dan wafat di Magelang 16 September 1945 ini datang ke Magelang bersamaan dengan pendudukan Belanda. Pada saat itu Kota Magelang sebagai Kota Garnisun yaitu sebagai pusat pemerintahan dan pendidikan dan sebagai maskas tentara Belanda. “Bapa datang bersama saat kolonial Belanda datang ke Indonesia,” cerita salah satu anak asuhnya Tante Ald (85).
Perang Belanda melawan pribumi banyak memakan korban, bukan hanya tentara Belanda tapi juga pribumi. Ribuan anak-anak kehilangan bapaknya, tulang punggung ekonomi keluarga telah tewas di medan pertempuran. Melihat anak-anak yang menjadi korban perang, hati Papa Van Der Steur tergerak, diapun berinsisiatif untuk mendirikan yayasan sosial dan panti asuhan untuk menampung korban perang tersebut. Akhirnya pada 28 Desember 1896, berdirilah panti yang diberi nama ”Vereeniging tot bevordering van Christelijk leven en Onderling Hulpbetoon”.
“Letaknya di Kampung Meteseh, Sebelah utara Kantor Eks-Karesidenan Kedu, Kota Magelang,” kata Pemerhati Kota Tua, Bagus Priyana.
Seiring berjalannya waktu, panti tersebut berganti nama, tepatnya pada tahun, 1920, yayasan tersebut namanya diganti menjadi ”Vereeniging Christeljik opveodingsgestichten oranje nassau”. Setelah berganti nama, anak yang ditampung di panti tersebut semakin banyak. Mereka berasal dari Ambon, Manado, Ternate dan beberapa wilayah jajahan Belanda.
Bukan hanya ditampung, disana mereka pun diberi bekal pendidikan. Untuk menunjang itu, dia mendirikan sekolahan Mulo setingkat SMP. Selain itu, dia juga mendirikan technische school (sekarang SMP 13 Kota Magelang), dan sekolah Ambachtsschool di Sleman. Sebuah kepedulian sosial yang tinggi dari Papa, untuk memperjuangkan hak-hak anak atas pendidikan dan perlindungan. Ribuan anak tersebut semua disekolahkan tanpa ada dibeda-bedakan.
“Semua siswa mulai dari anak umur dibawah sepuluh tahun hingga di atas sepuluh tahun disekolahkan,” terang Bagus yang juga penggemar sepeda klasik ini.
Gerakan itu merupakan sebuah hasil pemikiran yang matang darinya. Disekolah tersebut mereka diajarkan beberapa ketrampilan disekolah kejuruan seperti mesin dan pertukangan. Ilmu tersebut diharapkan bisa menjadi sebuah bekal untuk mencari kehidupan masing-masing siswa setelah lepas dari sekolah itu. Selain itu disana juga didirikan beberapa unit usaha seperti pembuat pakaian dan sepatu (Kleermakerij), perbaikan sepatu (schoen makerij), memproduksi plat besi untuk membuat ranjang, rak, kursi dan tralis (werk plaats). Sebagian pekerjanya adalah anak asuhnya yang sudah dewasa atau lulus sekolah.
Walaupun sudah tidak utuh lagi, namun masih ada dua panti asuhan di kompleks tersebut. Antara lain Panti asuhan Pemuda Putra-Putri dan  Panti asuhan Mayu Darma Putra. Bangunan lainnya sudah beralih fungsi diantaranya menjadi Kantor Dinas Pendidikan Kota Magelang, Kantor Golkar, Perumahan Mantiasih, SD Magelang III, Kantor Badan Pertanahan Nasional, Dinas Penanaman Modal.  Bangunan yang masih agak utuh, Gereja Bethel,  Kantor Penanaman Modal dan Panti Asuhan Mayu Dharma Putra.Walaupun sudah meninggal namun jasanya selalu dikenang, warga Belanda dan ribuan anak asuhnya yang tersebar hampir di seluruh dunia selalu menyempatkan berziarah ke makam Papa di Jl Ikhlas Kota Magelang, terlebih pada bulan September bulan meninggalnya Papa.
Sosok Papa dikenal bersahaja, setidaknya itu yang terlihat dari koleksi peninggalan bajunya yang disimpan rapi salah satu anak asuhnya. Dia hanya memiliki empat jas putih, empat celana panjang dan enam kaos oblong. Papa selalu mengajarkan kepada semua anak asuhnya untuk hidup sederhan. Semua anak asuhnya mempunyai seragam yang sama, mulai dari sepatu, kaos, kemeja bahkan hingga celana dalam. Setiap anak diberikan empat stel pakaian dan enam celana dalam. Tidak ada yang dibeda-bedakan baik itu keturunan pribumi maupun Eropa.
”Sepanjang hidupnya Papa mengabdikan diri untuk memberikan kasih sayang pada anak asuhnya,” cerita Tante Ald.
Papa yang oleh anak asuhnya akrab dipanggil Moe ini tidak mempunyai anak. Dari hasil perkawinannya dengan gadis kelahiran Belanda, Anna Maria Zuwager, namun pasangan tersebut memperlakukan anak asuhnya seperti anak mereka sendiri. Kedua pasangan tersebut meninggal di Magelang. Papa selalu berpesan kepada anak asuhnya, selama hidup di dunia haruslah berbuat untuk sesama.
”Itu yang dipesankan papa sebelum meninggal,” kenang Tante Ald.
Mengasuh anak asuhnya dijalani Papa dengan senang hati dan tanpa beban, tiada hari dilaluinya tanpa nasehat untuk anak-anaknya. Fasilitas di panti yang didirikan papa ini tergolong lengkap mulai dari gymnastiekzaal untuk tempat bermain ibadah, gereja (gestichts kerk), yang kini menjadi Gereja Bhetel Indonesia, sedangkan untuk sarana hiburan papa juga sering mempertontonkan musik lokal. Selain itu papa juga orang yang disiplin, dan itu diajarkan kepada setiap anaknya. Disiplin itu bisa terlihat dari tersedianya kamar isolasi (isoleer kamer). Ruangan tersebut memang khusus untuk menghukum anak asuhnya yang nakal, namun tidak seperti layaknya penjara, ruangan tersebut hanya untuk mengajarkan anak asuhnya berdisiplin.
”Bapa orangnya disiplin mendidik anaknya juga seperti itu bahkan seperti pendidikan militer, seperti apel, jam makan, jam belajar, semuanya harus dilakukan tepat waktu,” jelasnya.
Untuk membiayai anak-anaknya, Papa mengandalkan dari hasil usaha yang didirikannya. Baru 1912 datang beberapa truk bantuan dari pemerintah Hindia Belanda, yang berisi bahan makanan dan uang subsidi sebesar 32.00 golden pertahun. Itu untuk menghidupi 400 anak saat itu. Jumlah tersebut bertambah dengan masuknya 60 anak dari Ambon.  Anak tersebut adalah hadiah ulang tahun Papa ke 60 dari tokoh yang juga pengasuh anak-anak kecil HC A Otto.
”Dia (HC A Otto) meninggal 13 Mei 1936, dan sekarang makamnya di sebelah Papa,” terangnya lagi
Pada saat Jepang masuk ke Magelang 8 Maret 1942-1945, Pa Van Der Steur dimasukan penjara Cimahi, disana dia diurus oleh Lutters, salah seorang anak asuh yang kebetulan dipenjara juga. Merasa makanan dipenjara tidak layak, Lutters memohon kepada kepala penjara, disana Lutter menukar makanan penjara dengan warga untuk diberikan kepada Papa. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, semua tawanan di kembali ke daerah masing-masing. Namun karena Papa sakit, akhirnya dia dirawat di rumah sakit CBZ (sekarang rumah sakit Karyadi Semarang).
Mendengar informasi itu, anak asuhnya berencana membawa pulang, namun karena tidak diizinkan mereka dengan paksa membawa pulang Papa dini hari melalui pintu belakang. Dengan menggunakan mobil terbuka, Papa dibawa pulang dan dirawat dua minggu di panti. Selama papa sakit, pengasuh panti diambil alih oleh anak asuh paling senior JDJ Salmon. Seakan ingin membalas budi papa, semua anak asuhnya bergantian merawatnya. Namun Minggu 16 September 1945 jam 9 sebelum kebaktian papa tidur dan tidak bangun lagi. Ribuan orang mengantarkan kepergian papa hingga kepemakaman. Lalu lintas sepanjang Jl Diponegoro, Jl Veteran, Jl A Yani, Jl Pemuda, masuk Jl Ikhlas, dan menuju ke pemakaman (berg plats)  kerkhof dipadati lautan manusia yang ingin memberikan penghormatan terakhir padanya. Sebuah tulisan dengan bahasa belanda yang berbunyi niet mijn naam, maar mijn werk zij gedacht (jangan kenang nama saya tetapi kenanglah pikiran dan kerja saya) terukir di batu nisannya.(Bhekti Wira Utama)


Sumber :
https://kotatoeamagelang.wordpress.com/2011/03/04/papa-johan-van-der-steur/#more-16

No comments:

Post a Comment