31 March 2013

KOTA TOEA MAGELANG - KISAH NYATA : KARENA PERANG, 40 TAHUN AKU BERPISAH DENGAN ADIKKU

Standard
Foto Bagus Priyana.
Perkenalkan namaku Yvone Sonja ten Hoor-Heintz, aku biasa di panggil dengan nama Yvone atau Oma Yvone (dibaca ‘Ivon’). Aku tinggal di kota Roterdam dan menjadi warga negara Belanda. Meski demikian, aku lahir di sebuah kampung kecil di Glagah, Banjarnegoro Mertoyudan Kab. Magelang pada 26 Oktober 1935, kini usiaku 82 tahun.
Papaku bernama Karel Otto Heintz yang berdarah campuran antara Jerman (kakekku) dan Swiss (nenekku). Yang ku tahu nama kakekku Carl Heintz dan nenekku bernama Kristin.
Mamaku bernama Murni, orang Jawa dan asli dari Glagah. Adikku 2 orang, semuanya wanita. Yang nomer 2 bernama Joyce Sylvia Heintz dan yang ke 3 bernama Yulia Christine Heintz. Joyce lahir pada tahun 1938, panggilan akrabnyavadalah “Ribut” karena tingkah lakunya yang selalu bikin ribut sekitarnya. Adikku yang bungsu bernama Yulia lahir pada tahun 1940 dan biasa dipanggil dengan “Jembrok” karena model rambutnya yang ‘njegrak’. Bisa dikatakan aku dan adik-adikku adalah warga Indo karena berdarah campuran antara Eropa dan Jawa.
Mamaku seorang pedagang hasil bumi. Sedangkan papaku seorang suplyer (pemasok) ketela pohon untuk pabrik tepung tapioka/pati di Borobudur.
Saat ini (Januari 2018) aku sedang berkunjung ke Magelang dengan di temani oleh Franky Heintz, adik tiriku (1 ayah, beda ibu).
Kunjunganku ke Magelang adalah untuk bersilaturahmi dengan adik-adikku. Kunjunganku kali ini adalah yang ke 8 kalinya. Kunjungan pertama pada tahun 1988, di susul dengan kunjungan berikutnya di tahun 1989, 1990, 1991, 1992, 1995 hingga yang terakhir kali pada tahun 1998.
Jangan di tanya, bagaimana perasaanku saat kembali di tanah kelahiranku. Dan jangan di tanya pula saat aku bertemu dengan adik-adikku tercinta.
Sungguh bahagia sekali hatiku saat kembali menginjakkan kakiku di Magelang ini. Kota yang telah mengukir jiwa ragaku. Kota yang menjadi belahan jiwaku ini. Jika di tanya soal masa kecilku, mataku bisa basah karena terharu. Karena di kota inilah perjalanan hidupku begitu berwarna.
MASA KECILKU
Aku tidak tahu sejak umur berapa aku di asuh oleh omaku (nenek) , yang aku dengar sejak usia 6 bulan hingga 7 tahun. Omaku tinggal di Botton 3 (Botton Nambangan), masuk wilayah Kel. Magelang Kota Magelang. Tujuan di asuhpun aku juga tidak tahu sama sekali. Yang masih ku ingat aku ini anak perempuan yang bandel saat kecil dulu.
Pernah aku berjalan kaki dari Botton ke Glagah karena aku di marahi opa atau oma. Dan saat itu umurku baru 5 tahun!
Coba bayangkan, seorang anak perempuan berumur 5 tahun berjalan seorang diri berjalan kaki sejauh 7 km.
Aku masih ingat, dalam perjalanan itu aku melewati jalan yang sepi. Di kanan kiri jalan masih banyak Pohon Kenari & Asem. Jika aku haus atau lapar, aku memunguti buah Asem yang berjatuhan dibawahnya. Terutama di ruas Bajemanweg (Jalan Bayeman, kini Jalan Tentara Pelajar). Jika ada Kenari yang kudapat, ku mencari batu untuk memecahkannya. Cukuplah untuk sekadar teman jalanku.
Saat itu sekitar tahun 1940, kondisi jalan masih sepi, tidak banyak kendaraan bermotor yang lewat. Jika kebetulan, ku berpapasan dengan 1 atau 2 kendaraan saja yang lewat. Yang bikin merinding jika melewati Pemakaman Giriloyo. Kadang aku berlari kecil karena takut.
Tidak hanya sekali aku berjalan kaki, tapi berkali-kali. Sampai-sampai opa oma maupun mama papaku mencariku. Entahlah, di usiaku yang sudah senja inipun kadang tertawa dan tidak mengerti jika mengingat kenakalan di masa kecilku dulu.
MASA MENYEDIHKAN
Keadaan menjadi berubah kala Perang Dunia 2 meletus. Saat itu tahun 1942 menjelang 1943, umurku masih 7 tahun. Kondisi Kota Magelang begitu gawat. Jepang masuk Magelang dan menawan orang-orang Belanda dan keluarganya (di internir), termasuk papaku.
Sedikit beruntung pada diriku. Oleh para pemuda kampung, Aku dan mamaku yang saat itu ada di Botton Nambangan di bawa dan dikumpulkan di rumah pak Lurah di Kampung Tulung, utara kampungku.
Aku masih ingat saat itu kami berjalan tergesa-gesa menuruni tangga dan menyeberangi Kali Bening menuju rumah pak Lurah yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumahku.
Baru ku tahu, ternyata tidak hanya kami ada di rumah pak Lurah tetapi para pemuda kampung mengumpulkan kami karena kami warga Indo.
Yang menyedihkan adalah nasib papaku. Suatu hari tentara Jepang datang kepadanya dengan membawa sepucuk surat penangkapan atas nama Heintz. Papaku di bawa Jepang ke garnisun (Kompleks Rindam kini).
Papaku di tawan karena termasuk warga Indo dan berkulit putih.
Lain waktu, ku dengar papaku dan tawanan lain dipindahkan ke kompleks van der Steur di Meteseh. Aku tidak tahu, apakah ayahku mengalami siksaan dari Jepang atau tidak.
Masa-masa di era 1942-1945 merupakan masa yang teramat pahit dan sulit, khususnya untuk keluargaku. Kami harus berpisah dengan papa kami.
Kehidupan keluarga kami dimulai lagi dari awal. Bahkan untuk tempat tinggalpun, kami terpaksa harus berpindah-pindah rumah. Pernah kami tinggal di Kampung Juritan, dibelakang Pecinan. Pernah juga berpindah di Blabak, dekat dengan pemandian Mudal (dekat eks Pabrik Kertas Blabak). Aku masih ingat rumahku punya halaman yang luas. Bahkan dari beranda rumah bisa melihat Gunung Merbabu dan Merapi.
Pernah juga kami tinggal di sebuah rumah di Tidarweg (kini Jalan Tidar). Dari rumahku bisa melihat Bukit Tidar yang gundul, beda dengan kondisi sekarang yang hijau.
Pernah saat ke Magelang, aku berusaha mencari dan menengok rumahku dulu di Juritan dan Blabak. Aku sedih karena kondisinya sudah berubah.
Masa-masa sulit rupanya belum berlalu. Kondisi pasca 1945 setelah Proklamasi Republik Indonesia rupanya belum sepenuhnya aman dan membuat nyaman.
Belanda masih ingin menguasai negeri ini.
Di tahun 1948, Belanda berusaha mengamankan dan menyelamatkan warganya. Saat itu kami diberi 2 pilihan, apakah akan ikut Belanda atau Indonesia.
Pilihan ini benar-benar sulit bagi keluarga kami. Bagaimana tidak sulit, keluarga kami adalah perpaduan 2 budaya dan 2 bangsa. Papaku Eropa, sedangkan mamaku Jawa. Kami bertiga, anak-anaknya tidak bisa menentukan nasib kami sendiri. Terlebih saat itu kami masih kecil, umurku baru 13 tahun, adikku 10 dan 8 tahun.
Sungguh, benar-benar sulit.
Pada akhirnya keluarga kami harus mengambil sebuah keputusan, yang tentu teramat berat buat kami.
Keputusan itu adalah keluarga kami akan kembali ke Belanda. Sebuah keputusan yang sulit.
Tapi rupanya mamaku lebih memilih tetap tinggal di Glagah. Mama ingin tetap tinggal di Magelang, mengingat ayah ibunya (kakek nenekku) tinggal di Glagah. Terlebih mamaku juga tidak ingin meninggalkan tanah kelahirannya.
Papaku akhirnya membawaku ke Belanda, sedangkan kedua adikku di asuh oleh mamaku.
Sedih rasanya kami harus berpisah dengan orang-orang yang kami cintai. Semua ini terjadi karena kondisi saat itu yang tidak memungkinkan kami untuk tetap bersama.
Saat itu tahun 1948, sebuah peristiwa penting dalam sejarah hidupku, berpisah dengan mama dan 2 adikku. Saat itu umurku 13 tahun, dimana di umur itu aku masih membutuhkan kasih sayang dari mamaku. Terlebih aku juga punya 2 adik perempuan yang ku cintai.
Sedih sekali rasanya.
Aku dan omaku meninggalkan Magelang bersama rombongan keluarga yang lain berjalan kaki dari komplek van der Steur menuju Stasiun Magelang Kota (kini sub Terminal Kebonpolo). Papaku sendiri sudah dipulangkan lebih awal ke Belanda karena warga yang kena internir Jepang didahulukan.
Dari stasiun tersebut kami naik kereta api menuju Solo. Dari Solo kami naik pesawat terbang menuju Semarang. Dari Semarang naik kapal laut menuju Batavia. Di Batavia kaki di tampung sementara waktu di Cililitan sambil menunggu pemberangkatan. Sesudah waktu yang sudah ditetapkan, kami bergabung dengan rombongan lain untuk berangkat menuju Belanda.
Magelang ku tinggalkan, kota kelahiranku yang penuh dengan kenangan yang takkan pernah ku lupakan seumur hidupku.
Aku menangis sepanjang perjalanan. Selama 3 minggu perjalanan menuju ke Belanda. Setiap hari selama di kapal, tak henti-hentinya aku menangis. Setiap awal hari hingga senja datang, ku selalu menatap lautan lepas. Wajah mama dan adikku selalui membayangiku. Omaku cuma bisa memelukku dan meredakan tangisku.
MEMULAI KEHIDUPAN DI BELANDA
Sesudah 3 minggu perjalanan, tibalah kapal yang kami tumpangi di Belanda. Aku turun dari kapal dengan omaku. Ternyata papaku sudah menungguku di dermaga. Meledaklah tangisku di pelukannya.
Kehidupan di Roterdam Belanda tidak semudah yang ku bayangkan. Terlebih saat itu usiaku baru 13 tahun (tahun 1948), dimana di saat itu aku madih membutuhkan kasih sayang dari seorang mama. Sebuah tempat yang teramat asing bagiku. Budayanya juga teramat berbeda dengan di Magelang. Akupun harus menyesuaikan diri agar tetap bisa hidup.
Aku harus melanjutkan masa depanku. Papaku membesarkanku. Papaku menikah lagi dengan seorang wanita Belanda. Salah seorang adik tiriku bernama Franky yang kini menemaniku berkunjung di Magelang.
Saat mulai beranjak dewasa, aku juga berubah. Sebagai seorang wanita, akupun juga mempercantik diri. Sebagai wanita Indo, akupun juga bersolek. Banyak orang bilang aku mirip dengan artis populer di jaman itu, Faradiba.
Aku juga menikah dengan orang Belanda yang bernama Lucky. Lucky ini juga seorang Indo, dia lahir di Semarang. Meninggalkan Semarang saat berusia 21 tahun. Tambah bahagia lagi dengan kehadiran anak-anak kami. Suamiku ini bekerja membuka bengkel mobil.
Akupun juga bekerja, salah satunya menjadi sopir bis. ðŸ˜Š
Selama kami tinggal di Belanda, kami (aku dan papaku) terputus hubungan dengan mama dan adikku di Magelang.
Sungguh, aku kangen dengan mereka. Akupun tidak tahu, apakah masih bisa bertemu dengan mereka?
Apakah mereka masih hidup?
Apakah aku masih dikaruniai umur panjang hingga aku bisa kembali ke Magelang?
Jarak yang jauh dan terputusnya hubungan membuat kami pesimis.
Foto Anton Widodo.
Papaku dan mamaku yang menggendong adikku [belakang], aku jongkok di depan bersama suamiku Lucky
PERTEMUAN TAK SENGAJA
Tahun berganti tahun. Aku semakin betah hidup bersama keluargaku di Roterdam. Di Belanda memang masih banyak keluarga Indo yang hidup di sini. Sehingga jika aku kangen dengan tanah kelahiranku, aku menemui kawan-kawanku.
Hingga tak ku sangka-sangka di Roterdam ini aku berkenalan dengan seorang laki-laki Belanda keturunan Ambon yang ternyata beristri orang Magelang!
Dan perempuan istrinya ini berasal dari Kampung Paten Jurang!
Oh my God, mimpi apa aku ini. Sebuah harapan untuk mencari keluargaku ku dapatkan!
Aku pun menceritakan kisah hidupku padanya, dari masa kecilku hingga aku hidup di Roterdam ini. Aku juga bertanya padanya tentang kota kelahiranku, Magelang.
Kami meminta bantuan perempuan istri orang keturunan Ambon tersebut untuk mencari tahu tentang keluargaku di Glagah, Banjarnegoro.
Perempuan tersebut menghubungi keluarganya di Magelang untuk membantuku.
Proses pencarian adik-adikku memang tidak mudah. Terlebih mamaku (Murni) sudah meninggal sejak tahun 1961, informasi ini ku dapat saat proses pencarian ini. Di Glagah ku dapatkan informasi jika kedua adikku Joyce dan Yulia ternyata masih hidup.
Dari informasi keluarga di Glagah, adikku Yulia tinggal di Kampung Losmenan. Sedangkan Joyce tinggal di Blondo.
Gembira rasanya hatiku, bahagia tiada terkira.
Ingin rasanya aku terbang segera ke Magelang. Tapi tentu saja butuh persiapan dan beaya yang besar. Kejadian ini sekitar tahun 1988.
Ah mimpi apa aku ini?
BERTEMU DENGAN ADIKKU
Sekitar tahun 1988-1989 (saya lupa pastinya), aku dan suamiku (Lucky) berkunjung ke Magelang. Tentu saja ditemani oleh kenalanku orang Magelang yang tinggal Roterdam tsb. Perjalanan panjang dengan pesawat terbang dari Belanda ke Jakarta begitu terasa lama. Meski lelah tetapi perasaan bahagia mampu menutupi kelelahanku. Bagaimana tidak, aku akan bertemu dengan adik-adikku yang sudah berpisah selama 40 tahun (1948-1988).
Di aturlah pertemuan kami. Bukan di rumah Joyce di Glagah atau di rumah Yulia di Losmenan, tetapi di rumah kerabat kami yang kebetulan tinggal di Paten Jurang. Rumahnya persis di depan rumah perempuan kenalan kami di Roterdam.
Ketika proses pertemuan itu, aku tidak langsung bertemu dengan kedua adikku. Rupanya mereka berdua ada di dalam kamar dan “mengintai” diriku dari dalam. Mereka ingin memastikan jika aku ini benar-benar kakak kandungnya.
Setelah mereka memastikan jika aku ini adalah kakak kandungnya, keluarlah mereka dari dalam kamar. Kemudian antara aku dan kedua adikku (Joyce dan Yulia) saling menatap seakan-akan tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Aku berusaha menatap wajah mereka dengan baik. Benarkah mereka adik-adikku?
Ku tatap mata mereka. Ku pandangi wajah mereka. Hati dan perasaan kamilah yang menjawabnya. Tidak ada kata yang terucap.
Foto Anton Widodo.
aku dengan adikku Julia dan Franky
Kami bertiga saling berangkulan dan menangis haru. Air mata kami tiada terbendung, membasahi pipi kami. Suasana saat itu begitu sangat mengharukan.
Bagaimana tidak, kami berpisah selama 40 tahun di saat kami anak-anak (13, 10 & 8 tahun). Sedangkan saat pertemuan itu usia kami 53, 50 & 48 tahun. Perpisahan kami pun juga terasa pahit karena situasi yang memaksa kami harus berpisah.
Sesudah suasana mereda, kamipun menceritakan perjalanan hidup masing-masing. Aku menceritakan tentang papa dan keluargaku di Roterdam. Sedangkan adikku menceritakan tentang mama murni dan keluarga masing-masing di Magelang.
Adikku menceritakan jika sesudah papa pergi ke Belanda, Mama Murni menikah lagi. Mama Murni sudah meninggal di tahun 1961. Salah satu putra Mama Murni dengan pernikahan keduanya bernama Pak Diyuk tinggal di Glagah, usianya kini 70 tahun.
Jika mengingat masa-masa dulu aku jadi ingat masa kecilku dengan adik-adikku. Termasuk kenakalanku.
Pertemuan bersejarah ini tidak mampu kulupakan seumur hidupku. Bagaimanapun juga Tuhan yang mengatur semuanya. Meski aku tidak pernah bermimpi untuk bisa bertemu lagi dengan adik-adikku.
Foto Bagus Priyana.
Dengan adikku Yulia yang tinggal di Kampung Losmenan Kota Magelang
MAGELANG KOTAKU
Kini di tahun 2018 aku berkunjung lagi ke Magelang, menemui adik-adikku dan keponakanku. Sungguh bahagia lagi bisa bertemu dengan mereka untuk yang ke 7 kali. Tapi aku juga sedih karena adikku yang ke 2 (Joyce) sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Di foto bawah ini aku berdiri di apit oleh adikku Yulia (deretan depan nomer 1 dari kanan), adik tiriku di Belanda Franky (deretan depan nomer 1 dari kiri). Di belakang berbaju merah adalah keponakanku Robert Prayogo (anaknya Yulia). Di deretan belakang tengah berbaju hitam adalah menantu (almh) Joyce dan sebelah pojok kanan belakang bertopi adalah Bagus Priyana.
Ku sadari bahwa semuanya sudah menjadi suratan takdir dari-Nya.
Tapi aku masih bisa bersyukur di usiaku yang ke 83 ini masih diberi kesehatan sehingga aku masih bisa kembali ke Magelang. Sebelum aku pulang ke Belanda akhir Januari ini, aku ingin menelusuri jejak rumahku dulu di Botton Nambangan.
Aku sadari bahwa Magelang tidak akan mungkin ku lupakan meski aku kini telah menjadi warga negara Belanda.
Memang aku warga negara Belanda, akan tetapi jiwaku dan cintaku tetaplah untuk Magelang.
Terima kasih untuk semua pembaca cerita hidupku ini. Terima kasih untuk Bagus Priyana yang sudah menulis kisah hidupku.
Terima kasih untuk KOTA TOEA MAGELANG.
Terima buat Candra Yoga dari Magelang Ekspress, Ika dari kompas.com.
Semoga kita bisa bertemu kembali di lain hari.
God Bless You.
I love you Magelang
(Tamat)

Sumber :
https://kotatoeamagelang.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment