02 July 2025

Penaklukan Mataram terhadap Surabaya: Strategi Sultan Agung dalam Perang Brang Wetan Penaklukan Surabaya oleh Kasultanan Mataram merupakan puncak dari Perang Brang Wetan, ambisi besar Sultan Agung untuk menyatukan seluruh wilayah Jawa di bawah kendali Mataram. Perang yang berlangsung selama lima tahun ini menelan korban jiwa ribuan orang. Kadipaten Surabaya saat itu merupakan kekuatan paling tangguh di Jawa Timur, sekaligus pusat ekonomi dan perdagangan yang berkembang pesat. Pertahanan Surabaya yang kokoh membuat Mataram harus melancarkan lima gelombang serangan sebelum akhirnya berhasil menaklukkan wilayah tersebut pada 1625. 1. Serangan Gelombang Pertama (1620) Serangan pertama dilancarkan oleh Mataram pada tahun 1620. Sultan Agung mengerahkan kekuatan besar, baik dari armada darat maupun laut, dengan total 70.000 prajurit. Namun, serangan besar-besaran ini berhasil dipatahkan oleh pasukan Kadipaten Surabaya berkat kekuatan pertahanan mereka yang solid. 2. Serangan Gelombang Kedua (1622) Pada Juli–Agustus 1622, Mataram kembali mencoba menaklukkan Surabaya dengan mengerahkan 80.000 prajurit. Serangan dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso, salah satu panglima andalan Sultan Agung. Strategi kali ini adalah memutus pasokan makanan dan jalur dagang dari Madura. Walaupun gagal menaklukkan Surabaya, serangan ini cukup melemahkan posisi Kadipaten. 3. Serangan Gelombang Ketiga (1623–1624) Pada gelombang ketiga, 30 kapal perang disiapkan. Penyerangan dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap, dan baru dimulai pada 1624. Mataram menyerang Gresik terlebih dahulu, membakar dan menjarah wilayah itu. Meski mengakibatkan kerusakan besar, penyerangan ke Surabaya kembali gagal. 4. Serangan Gelombang Keempat (1624) Fokus utama serangan keempat adalah Madura, karena wilayah itu menjadi penopang utama logistik dan pasukan Surabaya. Pasukan Mataram harus menghadapi gabungan prajurit dari Madura, Surabaya, dan wilayah-wilayah lain di Jawa Timur. Setelah perlawanan sengit, pasukan Mataram akhirnya berhasil mengalahkan prajurit Madura. 5. Serangan Gelombang Kelima (1625) Serangan terakhir sekaligus penentu dilakukan pada 1625. Dipimpin oleh Mangun Oneng, dan diperkuat oleh Tumenggung Yudha Prana dan Tumenggung Ketawang. Pasukan Mataram membangun bendungan dan mengisinya dengan mayat prajurit dan buah aren untuk mencemari air yang mengalir ke Surabaya. Strategi ini terbukti efektif. Penaklukan ini menandai berakhirnya dominasi Surabaya dan kemenangan telak bagi Mataram.

 Penaklukan Mataram terhadap Surabaya: Strategi Sultan Agung dalam Perang Brang Wetan

Penaklukan Surabaya oleh Kasultanan Mataram merupakan puncak dari Perang Brang Wetan, ambisi besar Sultan Agung untuk menyatukan seluruh wilayah Jawa di bawah kendali Mataram.

Perang yang berlangsung selama lima tahun ini menelan korban jiwa ribuan  orang.



Kadipaten Surabaya saat itu merupakan kekuatan paling tangguh di Jawa Timur, sekaligus pusat ekonomi dan perdagangan yang berkembang pesat.

Pertahanan Surabaya yang kokoh membuat Mataram harus melancarkan lima gelombang serangan sebelum akhirnya berhasil menaklukkan wilayah tersebut pada 1625.


1. Serangan Gelombang Pertama (1620)

Serangan pertama dilancarkan oleh Mataram pada tahun 1620. Sultan Agung mengerahkan kekuatan besar, baik dari armada darat maupun laut, dengan total 70.000 prajurit.

Namun, serangan besar-besaran ini berhasil dipatahkan oleh pasukan Kadipaten Surabaya berkat kekuatan pertahanan mereka yang solid.


2. Serangan Gelombang Kedua (1622)

Pada Juli–Agustus 1622, Mataram kembali mencoba menaklukkan Surabaya dengan mengerahkan 80.000 prajurit.

Serangan dipimpin oleh Tumenggung Bahurekso, salah satu panglima andalan Sultan Agung.

Strategi kali ini adalah memutus pasokan makanan dan jalur dagang dari Madura. Walaupun gagal menaklukkan Surabaya, serangan ini cukup melemahkan posisi Kadipaten.


3. Serangan Gelombang Ketiga (1623–1624)

Pada gelombang ketiga, 30 kapal perang disiapkan. Penyerangan dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap, dan baru dimulai pada 1624.

Mataram menyerang Gresik terlebih dahulu, membakar dan menjarah wilayah itu. Meski mengakibatkan kerusakan besar, penyerangan ke Surabaya kembali gagal.


4. Serangan Gelombang Keempat (1624)

Fokus utama serangan keempat adalah Madura, karena wilayah itu menjadi penopang utama logistik dan pasukan Surabaya.

Pasukan Mataram harus menghadapi gabungan prajurit dari Madura, Surabaya, dan wilayah-wilayah lain di Jawa Timur.

Setelah perlawanan sengit, pasukan Mataram akhirnya berhasil mengalahkan prajurit Madura.


5. Serangan Gelombang Kelima (1625)

Serangan terakhir sekaligus penentu dilakukan pada 1625. Dipimpin oleh Mangun Oneng, dan diperkuat oleh Tumenggung Yudha Prana dan Tumenggung Ketawang.

Pasukan Mataram membangun bendungan dan mengisinya dengan mayat prajurit dan buah aren untuk mencemari air yang mengalir ke Surabaya. Strategi ini terbukti efektif.

Penaklukan ini menandai berakhirnya dominasi Surabaya dan kemenangan telak bagi Mataram.


Sumber : Abror Subhi

No comments:

Post a Comment