13 October 2026

10 Oktober 1965: Lahirnya Kopkamtib, Komando Keamanan yang Menjadi Instrumen Kekuasaan Orde Baru 10 Oktober 1965 menjadi salah satu tanggal penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Pada masa setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S), dibentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), sebuah lembaga yang kelak memiliki pengaruh besar dalam kehidupan politik dan keamanan Indonesia selama pemerintahan Orde Baru. Pembentukan Kopkamtib berawal dari keputusan Presiden Soekarno pada 3 Oktober 1965 yang menugaskan Mayor Jenderal Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban setelah G30S. Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad, kemudian memimpin operasi tersebut. Kopkamtib dibentuk pada 10 Oktober 1965 dan keberadaannya kemudian dikukuhkan melalui Surat Keputusan No. 162/KOTI/1965 pada 12 November 1965. Pada tahap awal, Kopkamtib bertugas memulihkan keamanan, menindak pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam G30S, serta mengendalikan situasi politik yang semakin tidak stabil. Namun, seiring dengan menguatnya kekuasaan Soeharto, peran lembaga ini berkembang jauh melampaui penanganan keadaan darurat pasca-G30S. Kopkamtib menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan. Kedudukannya yang memiliki akses langsung ke pucuk kekuasaan, ditambah kewenangan operasional yang luas, membuat lembaga ini sangat berpengaruh dalam menentukan siapa yang dianggap sebagai ancaman terhadap negara dan pemerintahan. Sejumlah perwira militer dan intelijen memainkan peran penting dalam lingkungan kekuasaan tersebut. Mayjen Umar Wirahadikusumah, yang memimpin Kodam Jaya pada periode awal pasca-G30S, berperan dalam pengamanan Jakarta. Sementara itu, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, sebagai komandan RPKAD, memimpin pasukannya dalam operasi militer yang berkaitan dengan penumpasan G30S dan perluasan operasi ke sejumlah daerah. Di bidang intelijen, nama Brigjen Sutopo Juwono, Ali Moertopo, dan Yoga Soegama juga menonjol dalam perkembangan jaringan intelijen pada masa itu. Namun, kedudukan mereka tidak semuanya berada dalam struktur Kopkamtib yang sama. Ali Moertopo dikenal luas melalui Operasi Khusus atau Opsus, sedangkan Sutopo Juwono dan Yoga Soegama memiliki perjalanan jabatan tersendiri dalam badan intelijen negara. Karena itu, mereka lebih tepat dipahami sebagai bagian dari jaringan kekuasaan militer dan intelijen yang berkembang di sekitar pemerintahan Soeharto, bukan seluruhnya sebagai pejabat dengan jabatan yang sama di Kopkamtib. Memasuki era Orde Baru, Kopkamtib semakin berperan dalam pengendalian kehidupan politik masyarakat. Sejumlah tokoh militer bergantian memimpin lembaga ini, antara lain Jenderal Maraden Panggabean, Jenderal Soemitro, Laksamana Sudomo, dan Jenderal L. B. Moerdani, yang dikenal sebagai Benny Moerdani. Di bawah kepemimpinan para panglimanya, Kopkamtib memiliki kewenangan luas untuk menjalankan operasi keamanan, mengawasi kegiatan politik, membatasi demonstrasi, serta melakukan tindakan terhadap orang-orang yang dianggap mengancam stabilitas pemerintahan. Dalam praktiknya, kewenangan tersebut juga digunakan untuk mengawasi dan menekan kelompok oposisi, membatasi kebebasan pers, serta mengendalikan aktivitas masyarakat yang dinilai bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Akibatnya, Kopkamtib tidak hanya dikenal sebagai lembaga pemulihan keamanan, tetapi juga sebagai salah satu simbol kuatnya kontrol militer terhadap kehidupan sipil pada masa Orde Baru. Luasnya kewenangan lembaga ini menimbulkan kritik karena tindakan penangkapan, penahanan, dan pembatasan kebebasan politik kerap menimbulkan persoalan hak asasi manusia dan kepastian hukum. Setelah beroperasi selama lebih dari dua dekade, Kopkamtib akhirnya dibubarkan pada 5 September 1988. Pemerintah kemudian membentuk Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional (Bakorstanas) untuk menggantikan fungsi koordinasi stabilitas nasional yang sebelumnya dijalankan Kopkamtib. Di tingkat daerah, dibentuk pula Bakorstanasda. Pembubaran tersebut menandai berakhirnya keberadaan salah satu lembaga keamanan paling berpengaruh dalam sejarah Orde Baru. Meski namanya tidak lagi digunakan, sejarah Kopkamtib tetap menjadi bagian penting dalam memahami hubungan antara militer, kekuasaan politik, kebebasan sipil, dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Kopkamtib pada mulanya dibentuk dengan alasan memulihkan keamanan setelah krisis politik 1965. Namun, dalam perkembangannya, lembaga tersebut menjadi instrumen penting dalam konsolidasi kekuasaan Orde Baru. Sejarahnya memperlihatkan bagaimana sebuah lembaga yang dibentuk untuk menghadapi keadaan darurat dapat berkembang menjadi pusat pengawasan politik dan keamanan dengan pengaruh yang sangat besar. #Kisah #Sejarah #Viral #PakHarto

 10 Oktober 1965: Lahirnya Kopkamtib, Komando Keamanan yang Menjadi Instrumen Kekuasaan Orde Baru



10 Oktober 1965 menjadi salah satu tanggal penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Pada masa setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S), dibentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), sebuah lembaga yang kelak memiliki pengaruh besar dalam kehidupan politik dan keamanan Indonesia selama pemerintahan Orde Baru.


Pembentukan Kopkamtib berawal dari keputusan Presiden Soekarno pada 3 Oktober 1965 yang menugaskan Mayor Jenderal Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban setelah G30S. Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad, kemudian memimpin operasi tersebut. Kopkamtib dibentuk pada 10 Oktober 1965 dan keberadaannya kemudian dikukuhkan melalui Surat Keputusan No. 162/KOTI/1965 pada 12 November 1965. 


Pada tahap awal, Kopkamtib bertugas memulihkan keamanan, menindak pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam G30S, serta mengendalikan situasi politik yang semakin tidak stabil. Namun, seiring dengan menguatnya kekuasaan Soeharto, peran lembaga ini berkembang jauh melampaui penanganan keadaan darurat pasca-G30S.


Kopkamtib menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan. Kedudukannya yang memiliki akses langsung ke pucuk kekuasaan, ditambah kewenangan operasional yang luas, membuat lembaga ini sangat berpengaruh dalam menentukan siapa yang dianggap sebagai ancaman terhadap negara dan pemerintahan.


Sejumlah perwira militer dan intelijen memainkan peran penting dalam lingkungan kekuasaan tersebut. Mayjen Umar Wirahadikusumah, yang memimpin Kodam Jaya pada periode awal pasca-G30S, berperan dalam pengamanan Jakarta. Sementara itu, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, sebagai komandan RPKAD, memimpin pasukannya dalam operasi militer yang berkaitan dengan penumpasan G30S dan perluasan operasi ke sejumlah daerah.


Di bidang intelijen, nama Brigjen Sutopo Juwono, Ali Moertopo, dan Yoga Soegama juga menonjol dalam perkembangan jaringan intelijen pada masa itu. Namun, kedudukan mereka tidak semuanya berada dalam struktur Kopkamtib yang sama. Ali Moertopo dikenal luas melalui Operasi Khusus atau Opsus, sedangkan Sutopo Juwono dan Yoga Soegama memiliki perjalanan jabatan tersendiri dalam badan intelijen negara. Karena itu, mereka lebih tepat dipahami sebagai bagian dari jaringan kekuasaan militer dan intelijen yang berkembang di sekitar pemerintahan Soeharto, bukan seluruhnya sebagai pejabat dengan jabatan yang sama di Kopkamtib. 


Memasuki era Orde Baru, Kopkamtib semakin berperan dalam pengendalian kehidupan politik masyarakat. Sejumlah tokoh militer bergantian memimpin lembaga ini, antara lain Jenderal Maraden Panggabean, Jenderal Soemitro, Laksamana Sudomo, dan Jenderal L. B. Moerdani, yang dikenal sebagai Benny Moerdani.


Di bawah kepemimpinan para panglimanya, Kopkamtib memiliki kewenangan luas untuk menjalankan operasi keamanan, mengawasi kegiatan politik, membatasi demonstrasi, serta melakukan tindakan terhadap orang-orang yang dianggap mengancam stabilitas pemerintahan. Dalam praktiknya, kewenangan tersebut juga digunakan untuk mengawasi dan menekan kelompok oposisi, membatasi kebebasan pers, serta mengendalikan aktivitas masyarakat yang dinilai bertentangan dengan kebijakan pemerintah.


Akibatnya, Kopkamtib tidak hanya dikenal sebagai lembaga pemulihan keamanan, tetapi juga sebagai salah satu simbol kuatnya kontrol militer terhadap kehidupan sipil pada masa Orde Baru. Luasnya kewenangan lembaga ini menimbulkan kritik karena tindakan penangkapan, penahanan, dan pembatasan kebebasan politik kerap menimbulkan persoalan hak asasi manusia dan kepastian hukum.


Setelah beroperasi selama lebih dari dua dekade, Kopkamtib akhirnya dibubarkan pada 5 September 1988. Pemerintah kemudian membentuk Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional (Bakorstanas) untuk menggantikan fungsi koordinasi stabilitas nasional yang sebelumnya dijalankan Kopkamtib. Di tingkat daerah, dibentuk pula Bakorstanasda.


Pembubaran tersebut menandai berakhirnya keberadaan salah satu lembaga keamanan paling berpengaruh dalam sejarah Orde Baru. Meski namanya tidak lagi digunakan, sejarah Kopkamtib tetap menjadi bagian penting dalam memahami hubungan antara militer, kekuasaan politik, kebebasan sipil, dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia.


Kopkamtib pada mulanya dibentuk dengan alasan memulihkan keamanan setelah krisis politik 1965. Namun, dalam perkembangannya, lembaga tersebut menjadi instrumen penting dalam konsolidasi kekuasaan Orde Baru. Sejarahnya memperlihatkan bagaimana sebuah lembaga yang dibentuk untuk menghadapi keadaan darurat dapat berkembang menjadi pusat pengawasan politik dan keamanan dengan pengaruh yang sangat besar.


#Kisah #Sejarah #Viral #PakHarto


Sumber : Bang Fit Ideas

Sebuah koleksi Rijksmuseum berjudul "Keraton Sultan Mataram diserang" dari buku "Oost-Indische Voyagie" oleh Wouter Schouten. Dibuat pada 1677. Meskipun dibuat dengan gaya eropa. Mgkn cerita tentang gonjang-ganjing di Kraton Plered secara lengkap diceritakan hingga Belanda. . Suasana penyerbuan Keraton Pleret pada akhir Juni 1677 adalah suasana ketakutan, perpecahan di lingkungan istana, lalu penjarahan dan kebakaran di ibu kota Mataram. Tanggal yang lazim digunakan ialah 28 Juni 1677, meskipun rincian urutan peristiwanya tidak seluruhnya pasti. H. J. de Graaf menggambarkan rasa takut yang mendalam: nama Trunajaya dan laskarnya saja sudah membuat rakyat gentar. Pasukan pemberontak mendekati jalan-jalan menuju ibu kota, sementara kepemimpinan pertahanan diliputi kebingungan. Sebagai rekonstruksi, kita dapat membayangkan lingkungan istana yang dipenuhi kecemasan: orang menunggu kabar pertahanan, tetapi semakin sulit memastikan siapa yang masih mampu memberi perlindungan. . Pasukan pemberontak kemudian memasuki dan menjarah kompleks istana; pertahanan Pangeran Puger akhirnya juga runtuh. Kepergian raja menjadi tanda bahwa pusat kekuasaan telah kehilangan kendali. . Gambaran paling konkret datang dari Umbul Astrayuda, yang laporannya dibahas de Graaf. Dalam rentang 28 Juni–3 Juli, ia menyaksikan hampir semua rumah pembesar terbakar. Namun, keraton utama dan masjid besar disebut tidak terbakar, bersama beberapa kediaman pangeran. Barang rampasan diangkut dengan kendaraan dan hewan; perempuan lingkungan istana turut dibawa, sedangkan meriam berat ditinggalkan. Sebagai rekonstruksi suasana, asap kebakaran, pengangkutan harta, dan perpindahan paksa penghuni menunjukkan kota yang kehilangan keamanan.

 Sebuah koleksi Rijksmuseum berjudul "Keraton Sultan Mataram diserang" dari buku "Oost-Indische Voyagie" oleh Wouter Schouten. Dibuat pada 1677. Meskipun dibuat dengan gaya eropa. Mgkn cerita tentang gonjang-ganjing di Kraton Plered secara lengkap diceritakan hingga Belanda.

.


Suasana penyerbuan Keraton Pleret pada akhir Juni 1677 adalah suasana ketakutan, perpecahan di lingkungan istana, lalu penjarahan dan kebakaran di ibu kota Mataram. Tanggal yang lazim digunakan ialah 28 Juni 1677, meskipun rincian urutan peristiwanya tidak seluruhnya pasti. 


H. J. de Graaf menggambarkan rasa takut yang mendalam: nama Trunajaya dan laskarnya saja sudah membuat rakyat gentar. Pasukan pemberontak mendekati jalan-jalan menuju ibu kota, sementara kepemimpinan pertahanan diliputi kebingungan. Sebagai rekonstruksi, kita dapat membayangkan lingkungan istana yang dipenuhi kecemasan: orang menunggu kabar pertahanan, tetapi semakin sulit memastikan siapa yang masih mampu memberi perlindungan.

.

Pasukan pemberontak kemudian memasuki dan menjarah kompleks istana; pertahanan Pangeran Puger akhirnya juga runtuh. Kepergian raja menjadi tanda bahwa pusat kekuasaan telah kehilangan kendali.

.

Gambaran paling konkret datang dari Umbul Astrayuda, yang laporannya dibahas de Graaf. Dalam rentang 28 Juni–3 Juli, ia menyaksikan hampir semua rumah pembesar terbakar. Namun, keraton utama dan masjid besar disebut tidak terbakar, bersama beberapa kediaman pangeran. Barang rampasan diangkut dengan kendaraan dan hewan; perempuan lingkungan istana turut dibawa, sedangkan meriam berat ditinggalkan. Sebagai rekonstruksi suasana, asap kebakaran, pengangkutan harta, dan perpindahan paksa penghuni menunjukkan kota yang kehilangan keamanan.


Sumber : Jejak Mataram

Setelah siaran radio Kaisar Hirohito mengumumkan akhir Perang Dunia II pada 15 Agustus 1945, kondisi emosi bagi para personel militer Kekaisaran Jepang yang kembali sangat kompleks. Meskipun banyak narasi arsip menyoroti kenyataan mengerikan kekalahan dan beban fisik perang, kisah utama dan foto-foto unik juga menangkap momen-momen lega dan kegembiraan di kalangan prajurit yang menyadari bahwa mereka telah bertahan dari konflik. Akhir perang memicu upaya besar-besaran repatriasi oleh pasukan Sekutu untuk melepaskan senjata dan mengembalikan lebih dari 6 juta personel militer Jepang dan warga sipil ke pulau-pulau asal mereka. Bagi prajurit garis depan yang telah menghadapi pertempuran sengit, kelaparan, dan kondisi yang menguras tenaga di seluruh teater Pasifik, pengumuman penyerahan berarti mereka akhirnya akan dapat kembali ke keluarga mereka. Meskipun suasana publik utama di kota-kota utama berat dengan kesedihan dan kehancuran, kelompok prajurit, terutama mereka yang kembali dari tempat terpencil atau kamp tawanan perang di luar negeri, sering didokumentasikan sambil tersenyum atau menunjukkan kenyamanan yang nyata hanya karena mereka akan hidup. Dalam beberapa minggu setelah siaran, jalan-jalan di kota-kota besar seperti Tokyo mengalami transformasi cepat. Rasa takut pertama antara penduduk lokal dan pasukan pendudukan AS dengan cepat berubah menjadi ketaatan damai dan pembangunan kembali. Prajurit yang kembali berjalan di jalan-jalan bersama warga sipil dan prajurit sekutu awal, berpindah keluar dari peran militer mereka sebagai demobilisasi yang berlaku penuh. #perezmanuelodlanor

 Setelah siaran radio Kaisar Hirohito mengumumkan akhir Perang Dunia II pada 15 Agustus 1945, kondisi emosi bagi para personel militer Kekaisaran Jepang yang kembali sangat kompleks. Meskipun banyak narasi arsip menyoroti kenyataan mengerikan kekalahan dan beban fisik perang, kisah utama dan foto-foto unik juga menangkap momen-momen lega dan kegembiraan di kalangan prajurit yang menyadari bahwa mereka telah bertahan dari konflik. 



    Akhir perang memicu upaya besar-besaran repatriasi oleh pasukan Sekutu untuk melepaskan senjata dan mengembalikan lebih dari 6 juta personel militer Jepang dan warga sipil ke pulau-pulau asal mereka. Bagi prajurit garis depan yang telah menghadapi pertempuran sengit, kelaparan, dan kondisi yang menguras tenaga di seluruh teater Pasifik, pengumuman penyerahan berarti mereka akhirnya akan dapat kembali ke keluarga mereka. Meskipun suasana publik utama di kota-kota utama berat dengan kesedihan dan kehancuran, kelompok prajurit, terutama mereka yang kembali dari tempat terpencil atau kamp tawanan perang di luar negeri, sering didokumentasikan sambil tersenyum atau menunjukkan kenyamanan yang nyata hanya karena mereka akan hidup.

    Dalam beberapa minggu setelah siaran, jalan-jalan di kota-kota besar seperti Tokyo mengalami transformasi cepat. Rasa takut pertama antara penduduk lokal dan pasukan pendudukan AS dengan cepat berubah menjadi ketaatan damai dan pembangunan kembali. Prajurit yang kembali berjalan di jalan-jalan bersama warga sipil dan prajurit sekutu awal, berpindah keluar dari peran militer mereka sebagai demobilisasi yang berlaku penuh. 

#perezmanuelodlanor


Sumber : Lilik Hartanto

[JAWABAN PEMIMPIN MONGOL SAAT DISURUH PAUS INOSENSIUS IV UNTUK MENYEMBAH TUHANNYA] Pasca invasi mematikan kavaleri Mongol yang meratakan Polandia dan Hungaria pada tahun 1241 M, ketakutan melanda seluruh benua Eropa. Paus Inosensius IV dari Vatikan mengutus seorang biarawan pemberani bernama Giovanni da Pian del Carpine untuk melakukan perjalanan ribuan kilometer menuju ibu kota Mongol di Karakorum. Biarawan tersebut membawa surat resmi Vatikan yang berisi seruan agar bangsa Mongol menghentikan pembantaian terhadap umat Kristen, bertobat, dan memeluk agama Kristen. Selama beberapa minggu Utusan resmi itu akhirnya tiba di karakorum, ia tiba tepat saat penobatan Guyuk Khan, cucu dari Genghis Khan, menjadi Khagan Agung ke-III Kekaisaran Mongol. Di dalam tenda emas kekaisaran yang megah, Guyuk Khan mendengarkan terjemahan surat dari Vatikan tersebut. Ia tidak marah, melainkan tersenyum sinis melihat keangkuhan para penguasa Eropa yang tidak memahami peta kekuatan dunia. Menyukapi isi dari surat tersebut, Guyuk Khan memerintahkan para juru tulisnya menyiapkan surat balasan resmi berstempel emas kekaisaran. Di hadapan utusan Vatikan yang gemetar, Guyuk Khan membacakan penggalan balasan suratnya dengan suara menggelegar: "Engkau mengatakan 'Aku harus memeluk agama Kristen'. Namun bagaimana engkau tahu siapa yang diridhoi oleh Tuhan? Dari matahari terbit hingga matahari terbenam, seluruh tanah telah ditundukkan kepada kami. Jika ini bukan karena kehendak Tuhan, bagaimana mungkin manusia biasa bisa melakukannya? Datanglah engkau bersama seluruh raja Eropa ke hadapanku untuk bersumpah setia, atau kami akan menganggap kalian sebagai musuh!" Mendengar isi surat balasan dari guyuk khan Giovanni da Pian berlutut menerima gulungan surat berstempel emas tersebut dengan tangan gemetar. Ia menyadari realitas pahit bahwa Eropa tidak selamat karena diplomasi atau doa Vatikan, melainkan semata-mata karena kematian Ogedei Khan yang memaksa pasukan Mongol menarik diri kembali ke timur.

 [JAWABAN PEMIMPIN MONGOL SAAT DISURUH PAUS INOSENSIUS IV UNTUK MENYEMBAH TUHANNYA]



Pasca invasi mematikan kavaleri Mongol yang meratakan Polandia dan Hungaria pada tahun 1241 M, ketakutan melanda seluruh benua Eropa. 


Paus Inosensius IV dari Vatikan mengutus seorang biarawan pemberani bernama Giovanni da Pian del Carpine untuk melakukan perjalanan ribuan kilometer menuju ibu kota Mongol di Karakorum.


Biarawan tersebut membawa surat resmi Vatikan yang berisi seruan agar bangsa Mongol menghentikan pembantaian terhadap umat Kristen, bertobat, dan memeluk agama Kristen. 


Selama beberapa minggu Utusan resmi itu akhirnya tiba di karakorum, ia tiba tepat saat penobatan Guyuk Khan, cucu dari Genghis Khan, menjadi Khagan Agung ke-III Kekaisaran Mongol.


Di dalam tenda emas kekaisaran yang megah, Guyuk Khan mendengarkan terjemahan surat dari Vatikan tersebut. 


Ia tidak marah, melainkan tersenyum sinis melihat keangkuhan para penguasa Eropa yang tidak memahami peta kekuatan dunia.


Menyukapi isi dari surat tersebut, Guyuk Khan memerintahkan para juru tulisnya menyiapkan surat balasan resmi berstempel emas kekaisaran. 


Di hadapan utusan Vatikan yang gemetar, Guyuk Khan membacakan penggalan balasan suratnya dengan suara menggelegar:


"Engkau mengatakan 'Aku harus memeluk agama Kristen'. Namun bagaimana engkau tahu siapa yang diridhoi oleh Tuhan? Dari matahari terbit hingga matahari terbenam, seluruh tanah telah ditundukkan kepada kami. Jika ini bukan karena kehendak Tuhan, bagaimana mungkin manusia biasa bisa melakukannya? Datanglah engkau bersama seluruh raja Eropa ke hadapanku untuk bersumpah setia, atau kami akan menganggap kalian sebagai musuh!"


Mendengar isi surat balasan dari guyuk khan Giovanni da Pian berlutut menerima gulungan surat berstempel emas tersebut dengan tangan gemetar. 


Ia menyadari realitas pahit bahwa Eropa tidak selamat karena diplomasi atau doa Vatikan, melainkan semata-mata karena kematian Ogedei Khan yang memaksa pasukan Mongol menarik diri kembali ke timur.

12 October 2026

Jika kita melewati Lapangan Banteng di Jakarta, kita akan melihat sebuah monumen raksasa yang sangat gagah Patung Pembebasan Irian Barat. Sosok pria berotot yang sedang meneriakkan kemerdekaan sambil memutus rantai di tangannya, itu bukanlah sekadar imajinasi seniman. Patung itu diukir berdasarkan perawakan dan kisah nyata seorang pahlawan besar dari tanah Papua. Namanya adalah Johannes Abraham Dimara. Lahir di Biak Utara, ia adalah sosok perwira militer yang perannya sangat krusial, namun namanya jarang terdengar di buku pelajaran sekolah. Ketika Belanda bersikeras menahan Papua agar tak lepas dari genggaman mereka pasca-kemerdekaan, Dimara adalah salah satu ujung tombak yang berani mempertaruhkan nyaw4 untuk masuk ke garis musuh. Tahun 1954, Dimara memimpin pasukan gerilya menyusup lewat Jalur laut ke Teluk Etna, Papua. Misinya berat, yaitu mengibarkan Merah Putih dan membakar semangat rakyat Papua untuk berintegrasi dengan Indonesia. Namun, pergerakan mereka tercium. Setelah pertempur4n sengit, Dimara ditangkap militer Belanda, disiks4, dan dibuang ke penjara isolasi Boven Digoel selama bertahun-tahun. Penderitaan penjara tidak mematahkan semangatnya. Usai dibebaskan, Presiden Soekarno langsung membawa Dimara terbang ke markas PBB di New York (1962) sebagai delegasi resmi Indonesia. Kehadiran fisik Dimara sebagai putra asli Papua di meja perundingan internasional menjadi pukulan telak bagi diplomasi Belanda, membuktikan kepada dunia bahwa rakyat Papua ingin merdeka bersama Indonesia. Dalam sebuah pawai akbar di Jakarta, Soekarno melihat Dimara memakai rantai yang terputus di lengannya sebagai simbol pembebasan. Merasa terkesima oleh momen emosional itu, Bung Karno langsung meminta Henk Ngantung untuk membuat sketsa patungnya, yang kemudian diwujudkan menjadi monumen raksasa oleh pematung legendaris Edhi sunarso Meski akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dandimakamkan secara militer, masa tua J.A. Dimara justru dihabiskan dalam kesederhanaan dan kesunyian. Beliau bahkan sempat kesulitan biaya berobat sebelum wafat pada tahun 2000.

 Jika kita melewati Lapangan Banteng di Jakarta, kita akan melihat sebuah monumen raksasa yang sangat gagah Patung Pembebasan Irian Barat. Sosok pria berotot yang sedang meneriakkan kemerdekaan sambil memutus rantai di tangannya, itu bukanlah sekadar imajinasi seniman.



Patung itu diukir berdasarkan perawakan dan kisah nyata seorang pahlawan besar dari tanah Papua.

Namanya adalah Johannes Abraham Dimara.


Lahir di Biak Utara, ia adalah sosok perwira militer yang perannya sangat krusial, namun namanya jarang terdengar di buku pelajaran sekolah.


Ketika Belanda bersikeras menahan Papua agar tak lepas dari genggaman mereka pasca-kemerdekaan, Dimara adalah salah satu ujung tombak

yang berani mempertaruhkan nyaw4 untuk masuk ke garis musuh.


Tahun 1954, Dimara memimpin pasukan gerilya menyusup lewat Jalur laut ke Teluk Etna, Papua. Misinya berat, yaitu mengibarkan Merah Putih dan membakar semangat rakyat Papua untuk berintegrasi dengan Indonesia. Namun, pergerakan mereka tercium. Setelah pertempur4n sengit, Dimara ditangkap militer Belanda, disiks4, dan dibuang ke penjara isolasi Boven Digoel selama bertahun-tahun.


Penderitaan penjara tidak mematahkan semangatnya. Usai dibebaskan, Presiden Soekarno langsung membawa Dimara terbang ke markas PBB di New York (1962) sebagai delegasi resmi Indonesia. Kehadiran fisik Dimara sebagai putra asli Papua di meja perundingan internasional menjadi pukulan telak bagi diplomasi Belanda, membuktikan kepada dunia bahwa rakyat Papua ingin merdeka bersama Indonesia.


Dalam sebuah pawai akbar di Jakarta, Soekarno melihat Dimara memakai rantai yang terputus di lengannya sebagai simbol pembebasan. Merasa terkesima oleh momen emosional itu, Bung Karno langsung meminta Henk Ngantung untuk membuat sketsa patungnya, yang kemudian diwujudkan menjadi monumen raksasa oleh pematung legendaris Edhi sunarso


Meski akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dandimakamkan secara militer, masa tua J.A. Dimara justru dihabiskan dalam kesederhanaan dan kesunyian. Beliau bahkan sempat kesulitan biaya berobat sebelum wafat pada tahun 2000.


Sumber : Dewi Astuti

Potret orang-orang berpose di bawah pohon randu /kapuk di tengah kota Tuban pada Tahun 1868

 Potret orang-orang berpose di bawah pohon randu /kapuk di tengah kota Tuban pada Tahun 1868



Sumber : Andre Owen

Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi untuk Selamanya Dini hari, 1 Oktober 1965, menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah suasana Jakarta yang masih diselimuti kegelapan, kediaman Brigadir Jenderal TNI Donald Isaac Panjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi sasaran pasukan yang datang untuk menculik para perwira tinggi Angkatan Darat. Sekitar pukul 04.00 WIB, sekelompok tentara mendatangi rumah sang jenderal dengan menggunakan kendaraan militer. Mereka mengaku membawa perintah dari Presiden Soekarno dan meminta agar D.I. Panjaitan segera keluar. Namun, cara mereka yang kasar, disertai keributan dan pemaksaan, membuat suasana rumah berubah menjadi mencekam. Mendengar suara gaduh dan mengetahui kediamannya telah didatangi sekelompok bersenjata, D.I. Panjaitan berusaha mencari cara untuk melaporkan kejadian tersebut. Akan tetapi, upaya meminta bantuan melalui telepon tidak membuahkan hasil. Sementara itu, pasukan di luar rumah semakin mendesak agar dirinya segera turun. Panjaitan tidak langsung memenuhi permintaan mereka. Ia memahami bahwa kedatangan pasukan tersebut bukanlah kunjungan biasa. Situasi semakin genting ketika keluarganya berada dalam ancaman. Berdasarkan berbagai penuturan mengenai peristiwa itu, pasukan penculik mengancam akan mencelakai anggota keluarga apabila sang jenderal tetap menolak keluar. Di sinilah sebuah keputusan berat harus diambil. Sebagai seorang perwira tinggi yang memahami risiko yang dihadapinya, D.I. Panjaitan tentu menyadari bahwa turun ke halaman rumah yang telah dikepung pasukan bersenjata dapat membahayakan nyawanya. Namun, di balik pintu rumah itu ada istri dan anak-anaknya yang keselamatannya ikut terancam. Demi menghindari jatuhnya korban di antara orang-orang yang dicintainya, D.I. Panjaitan akhirnya turun dari lantai atas. Ia mengenakan seragam militer lengkap, menunjukkan sikap seorang prajurit yang tetap menjaga kehormatan dan martabatnya di tengah situasi yang sangat berbahaya. Namun, langkah yang diambil demi melindungi keluarganya itu justru menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya. Ketika berada di ruang tengah rumah, D.I. Panjaitan tewas ditembak oleh anggota pasukan ketika sedang berdoa. Kematian sang jenderal meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya, yang harus menyaksikan peristiwa tragis tersebut di kediaman mereka sendiri. Panjaitan bukan sekadar seorang perwira tinggi Angkatan Darat. Saat itu, ia menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat yang membidangi logistik. Ia juga dikenal sebagai sosok yang memiliki latar belakang perjuangan panjang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Setelah tewas, jenazahnya dibawa oleh para penculik menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di sana, jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama jenazah sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi korban peristiwa 30 September 1965. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai bagian dari tragedi nasional yang mengguncang Indonesia. D.I. Panjaitan menjadi salah satu dari enam jenderal Angkatan Darat yang tewas dalam rangkaian penculikan tersebut, bersama seorang perwira pertama, Kapten Pierre Tendean. Kisah D.I. Panjaitan menyisakan satu gambaran yang begitu menyentuh: seorang ayah dan suami yang berada dalam situasi genting, menghadapi ancaman terhadap keluarganya, lalu melangkah keluar dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya. Pada dini hari itu, ia turun bukan untuk menyerah pada ketakutan, melainkan di tengah keadaan ketika keselamatan keluarganya ikut dipertaruhkan. Namun, langkah tersebut menjadi akhir perjalanan hidupnya. Ia turun dari lantai atas demi melindungi keluarganya, tetapi tak pernah kembali untuk memeluk mereka. Namanya kemudian tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pahlawan yang gugur dalam tragedi 1 Oktober 1965. #Kisah #Sejarah #Viral Sumber : Bang Fit Ideas

 


Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi untuk Selamanya

Dini hari, 1 Oktober 1965, menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah suasana Jakarta yang masih diselimuti kegelapan, kediaman Brigadir Jenderal TNI Donald Isaac Panjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi sasaran pasukan yang datang untuk menculik para perwira tinggi Angkatan Darat.

Sekitar pukul 04.00 WIB, sekelompok tentara mendatangi rumah sang jenderal dengan menggunakan kendaraan militer. Mereka mengaku membawa perintah dari Presiden Soekarno dan meminta agar D.I. Panjaitan segera keluar. Namun, cara mereka yang kasar, disertai keributan dan pemaksaan, membuat suasana rumah berubah menjadi mencekam.

Mendengar suara gaduh dan mengetahui kediamannya telah didatangi sekelompok bersenjata, D.I. Panjaitan berusaha mencari cara untuk melaporkan kejadian tersebut. Akan tetapi, upaya meminta bantuan melalui telepon tidak membuahkan hasil. Sementara itu, pasukan di luar rumah semakin mendesak agar dirinya segera turun.

Panjaitan tidak langsung memenuhi permintaan mereka. Ia memahami bahwa kedatangan pasukan tersebut bukanlah kunjungan biasa. Situasi semakin genting ketika keluarganya berada dalam ancaman. Berdasarkan berbagai penuturan mengenai peristiwa itu, pasukan penculik mengancam akan mencelakai anggota keluarga apabila sang jenderal tetap menolak keluar.

Di sinilah sebuah keputusan berat harus diambil. Sebagai seorang perwira tinggi yang memahami risiko yang dihadapinya, D.I. Panjaitan tentu menyadari bahwa turun ke halaman rumah yang telah dikepung pasukan bersenjata dapat membahayakan nyawanya. Namun, di balik pintu rumah itu ada istri dan anak-anaknya yang keselamatannya ikut terancam.

Demi menghindari jatuhnya korban di antara orang-orang yang dicintainya, D.I. Panjaitan akhirnya turun dari lantai atas. Ia mengenakan seragam militer lengkap, menunjukkan sikap seorang prajurit yang tetap menjaga kehormatan dan martabatnya di tengah situasi yang sangat berbahaya.

Namun, langkah yang diambil demi melindungi keluarganya itu justru menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya.

Ketika berada di ruang tengah rumah, D.I. Panjaitan tewas ditembak oleh anggota pasukan ketika sedang berdoa. Kematian sang jenderal meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya, yang harus menyaksikan peristiwa tragis tersebut di kediaman mereka sendiri.

Panjaitan bukan sekadar seorang perwira tinggi Angkatan Darat. Saat itu, ia menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat yang membidangi logistik. Ia juga dikenal sebagai sosok yang memiliki latar belakang perjuangan panjang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Setelah tewas, jenazahnya dibawa oleh para penculik menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di sana, jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama jenazah sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi korban peristiwa 30 September 1965.

Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai bagian dari tragedi nasional yang mengguncang Indonesia. D.I. Panjaitan menjadi salah satu dari enam jenderal Angkatan Darat yang tewas dalam rangkaian penculikan tersebut, bersama seorang perwira pertama, Kapten Pierre Tendean.

Kisah D.I. Panjaitan menyisakan satu gambaran yang begitu menyentuh: seorang ayah dan suami yang berada dalam situasi genting, menghadapi ancaman terhadap keluarganya, lalu melangkah keluar dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya.

Pada dini hari itu, ia turun bukan untuk menyerah pada ketakutan, melainkan di tengah keadaan ketika keselamatan keluarganya ikut dipertaruhkan. Namun, langkah tersebut menjadi akhir perjalanan hidupnya.

Ia turun dari lantai atas demi melindungi keluarganya, tetapi tak pernah kembali untuk memeluk mereka. Namanya kemudian tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pahlawan yang gugur dalam tragedi 1 Oktober 1965.

#Kisah #Sejarah #Viral

Sumber : Bang Fit Ideas

11 October 2026

"Sejarah bukan hanya soal angka dan peristiwa, tapi soal manusia di dalamnya. Dari 6 keluarga pahlawan revolusi ini, kisah keluarga siapa yang paling membuat hati Anda tersentuh? Tulis pendapatmu di kolom komentar, sob!" 1. Tampak Jenderal Ahmad Yani sedang berkumpul bersama istri dan anak-anaknya yang masih beranjak remaja. 2. Letjen Suwondo Parman (S.Parman) yang tampil gagah berdampingan dengan sang istri tercinta, meski dalam keterangan tertulis bahwa mereka tidak dikaruniai buah hati. Kehangatan keluarga juga memancar dari gambar tersebut. 3. Letjen Mas Tirto Haryono (M.T Haryono) bersama istri dan anak-anaknya 4. Senyum damai Mayjen D.I. Pandjaitan yang diabadikan bersama istri dan putra-putrinya. 5. Letjen R. Suprapto, lengkap berfoto bersama istri dan anak-anaknya. 6. Mayjen Sutoyo Sismomihardjo yang juga tampak berwibawa namun hangat bersama istri dan anak-anaknya. Mari sejenak menundukkan kepala, mengenang pengorbanan mereka, dan mengirimkan doa terbaik untuk para pahlawan serta keluarga yang telah mewakafkan orang-orang terkasihnya untuk Ibu Pertiwi. "Di balik seragam gagah dan pengabdiannya, mereka adalah ayah dan suami yang penuh cinta. Melihat gambar-gambar hangat ini, siapa menurut Anda pahlawan yang wajahnya paling mirip dengan putra-putrinya? Mari kita kirimkan doa dan Al-Fatihah untuk beliau semua." Alfatihah. Aamiin Yaa Robbal'alamin #pahlawanrevolusi #sejarahindonesia #sejarah #g30s Sumber : Ivan Adriansah

 

"Sejarah bukan hanya soal angka dan peristiwa, tapi soal manusia di dalamnya. Dari 6 keluarga pahlawan revolusi ini, kisah keluarga siapa yang paling membuat hati Anda tersentuh?
Tulis pendapatmu di kolom komentar, sob!"



1.  Tampak Jenderal Ahmad Yani sedang berkumpul bersama istri dan anak-anaknya yang masih beranjak remaja.

2. Letjen Suwondo Parman (S.Parman) yang tampil gagah berdampingan dengan sang istri tercinta, meski dalam keterangan tertulis bahwa mereka tidak dikaruniai buah hati. Kehangatan keluarga juga memancar dari gambar tersebut.

3. Letjen Mas Tirto Haryono (M.T Haryono)
bersama istri dan anak-anaknya

4. Senyum damai Mayjen D.I. Pandjaitan yang diabadikan bersama istri dan putra-putrinya. 

5. Letjen R. Suprapto, lengkap berfoto bersama istri dan anak-anaknya. 

6. Mayjen Sutoyo Sismomihardjo yang juga tampak berwibawa namun hangat bersama istri dan anak-anaknya. 

Mari sejenak menundukkan kepala, mengenang pengorbanan mereka, dan mengirimkan doa terbaik untuk para pahlawan serta keluarga yang telah mewakafkan orang-orang terkasihnya untuk Ibu Pertiwi.

"Di balik seragam gagah dan pengabdiannya, mereka adalah ayah dan suami yang penuh cinta. Melihat gambar-gambar hangat ini, siapa menurut Anda pahlawan yang wajahnya paling mirip dengan putra-putrinya? Mari kita kirimkan doa dan Al-Fatihah untuk beliau semua."

Alfatihah. Aamiin Yaa Robbal'alamin

#pahlawanrevolusi #sejarahindonesia #sejarah #g30s

Sumber : Ivan Adriansah

Emmy Saelan - Srikandi Medis yang Gugur Bersama Granat !! Salmah Soehartini Saelan (Emmy Saelan) adalah pahlawan nasional asal Sulawesi Selatan yang lahir pada 15 Oktober 1924. Di usianya yang baru 22 tahun, mantan perawat ini memilih memanggul senjata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Aksi Heroik & Perjuangan: • Spionase Medis: Saat menjadi perawat di RS Stella Maris Makassar, ia menjalankan misi rahasia menyelundupkan obat-obatan, dokumen, dan menyelamatkan pejuang yang terluka. • Memimpin Laskar: Keluar dari rumah sakit untuk bergerilya di hutan. Ia bergabung dengan LAPRIS dan memimpin Laskar Perempuan di bawah komando perjuangan bersama Robert Wolter Mongisidi. • Martir Kassi-Kassi: Pada 23 Januari 1947, pasukannya dikepung ratusan tentara KNIL Belanda di Kassi-Kassi, Makassar. Akhir Hayat yang Pemberani: Dalam kondisi terluka dan menolak menyerah, Emmy menunggu tentara Belanda mendekat. Ia lalu meledakkan diri dengan granat, menewaskan dirinya sekaligus delapan tentara musuh. Demi menghormati jasanya, jasadnya dimakamkan di TMP Panaikang dan namanya kini diabadikan sebagai nama jalan protokol di Makassar. Sumber gambar : Wikimedia Commons (Domain Publik) #EmmySaelan #SejarahIndonesia #PahlawanIndonesia #SejarahSulawesiSelatan #JejakDunia

 Emmy Saelan - Srikandi Medis yang Gugur Bersama Granat !!



Salmah Soehartini Saelan (Emmy Saelan) adalah pahlawan nasional asal Sulawesi Selatan yang lahir pada 15 Oktober 1924. Di usianya yang baru 22 tahun, mantan perawat ini memilih memanggul senjata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


Aksi Heroik & Perjuangan:

• Spionase Medis: Saat menjadi perawat di RS Stella Maris Makassar, ia menjalankan misi rahasia menyelundupkan obat-obatan, dokumen, dan menyelamatkan pejuang yang terluka.

• Memimpin Laskar: Keluar dari rumah sakit untuk bergerilya di hutan. Ia bergabung dengan LAPRIS dan memimpin Laskar Perempuan di bawah komando perjuangan bersama Robert Wolter Mongisidi.

• Martir Kassi-Kassi: Pada 23 Januari 1947, pasukannya dikepung ratusan tentara KNIL Belanda di Kassi-Kassi, Makassar.


Akhir Hayat yang Pemberani:

Dalam kondisi terluka dan menolak menyerah, Emmy menunggu tentara Belanda mendekat. Ia lalu meledakkan diri dengan granat, menewaskan dirinya sekaligus delapan tentara musuh. Demi menghormati jasanya, jasadnya dimakamkan di TMP Panaikang dan namanya kini diabadikan sebagai nama jalan protokol di Makassar.


Sumber gambar : Wikimedia Commons (Domain Publik)


#EmmySaelan #SejarahIndonesia #PahlawanIndonesia #SejarahSulawesiSelatan #JejakDunia


Sumber : Jejak Dunia

πŸ”₯ **KENAPA SOEKARNO MENOLAK UNDANGAN PERUNDINGAN DENGAN BELANDA?** Tahukah kamu? Pada Februari 1949, ketika masih berada dalam pengasingan di Bangka, Soekarno menerima undangan dari Belanda untuk menghadiri perundingan di Den Haag. Namun, Soekarno tidak langsung menerima undangan tersebut. Mengapa? Jawabannya bukan karena Soekarno menolak diplomasi. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: **bagaimana mungkin Republik Indonesia diajak berunding, sementara pemerintahannya sendiri belum dipulihkan?** Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, Belanda menduduki Yogyakarta dan menangkap Soekarno, Mohammad Hatta, serta sejumlah pemimpin Republik lainnya. Dalam keadaan itu, Soekarno berpandangan bahwa pemulihan pemerintahan Republik di Yogyakarta harus menjadi syarat utama sebelum perundingan dilanjutkan. Ia juga menginginkan agar pemerintah Republik dapat menjalankan kewenangannya secara bebas, bukan berada di bawah tekanan Belanda. Bagi Soekarno, persoalannya bukan sekadar duduk bersama di meja perundingan. Persoalannya adalah memastikan bahwa Republik Indonesia diakui sebagai pemerintahan yang sah dan memiliki hak menentukan masa depannya sendiri. Sikap ini bukan berarti Indonesia menutup pintu diplomasi. Sebaliknya, pemulihan pemerintahan Republik menjadi bagian penting dari tuntutan Indonesia dalam proses menuju penyelesaian konflik. Perundingan kemudian berkembang melalui berbagai tahapan, hingga Konferensi Meja Bundar berlangsung di Den Haag pada 23 Agustus sampai 2 November 1949. Delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta. Akhirnya, pada 27 Desember 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. **Jadi, alasan utama penolakan Soekarno saat itu bukan karena ia menentang perundingan, melainkan karena ia menuntut agar pemerintahan Republik dipulihkan terlebih dahulu.** Ada tiga alasan utama yang bisa dijelaskan : * Pemulihan pemerintahan Republik. Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, para pemimpin Republik ditangkap dan diasingkan. Soekarno menghendaki agar pemerintahan Republik dipulihkan terlebih dahulu. * Pengakuan terhadap kedudukan Republik. Soekarno tidak ingin perundingan berlangsung seolah-olah pemerintah Republik hanyalah pihak yang harus menerima keputusan Belanda, padahal Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan. * Jaminan bahwa perundingan berlangsung secara layak. Pihak Republik menuntut pemulihan pemerintahan dan kebebasan menjalankan kewenangannya sebagai syarat penting sebelum proses perundingan dilanjutkan. Sebab, bagi Indonesia, kemerdekaan bukan hanya tentang pengakuan di atas kertas, tetapi juga tentang hak untuk memerintah negeri sendiri. πŸ“š **Sumber sejarah:** Dokumen diplomatik Amerika Serikat tahun 1949, *Foreign Relations of the United States* (FRUS). #SejarahIndonesia #Soekarno #KonferensiMejaBundar #MohammadHatta #SejarahKemerdekaan Catatan akurasi: Penolakan yang dijelaskan di atas berkaitan dengan undangan perundingan pada Februari 1949. Jangan menyamakan peristiwa itu dengan keputusan untuk tidak menjadi delegasi dalam KMB yang berlangsung pada Agustus–November 1949.

 πŸ”₯ **KENAPA SOEKARNO MENOLAK UNDANGAN PERUNDINGAN DENGAN BELANDA?**


Tahukah kamu? Pada Februari 1949, ketika masih berada dalam pengasingan di Bangka, Soekarno menerima undangan dari Belanda untuk menghadiri perundingan di Den Haag.



Namun, Soekarno tidak langsung menerima undangan tersebut. Mengapa?


Jawabannya bukan karena Soekarno menolak diplomasi. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: **bagaimana mungkin Republik Indonesia diajak berunding, sementara pemerintahannya sendiri belum dipulihkan?**


Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, Belanda menduduki Yogyakarta dan menangkap Soekarno, Mohammad Hatta, serta sejumlah pemimpin Republik lainnya.


Dalam keadaan itu, Soekarno berpandangan bahwa pemulihan pemerintahan Republik di Yogyakarta harus menjadi syarat utama sebelum perundingan dilanjutkan.


Ia juga menginginkan agar pemerintah Republik dapat menjalankan kewenangannya secara bebas, bukan berada di bawah tekanan Belanda.


Bagi Soekarno, persoalannya bukan sekadar duduk bersama di meja perundingan. Persoalannya adalah memastikan bahwa Republik Indonesia diakui sebagai pemerintahan yang sah dan memiliki hak menentukan masa depannya sendiri.


Sikap ini bukan berarti Indonesia menutup pintu diplomasi. Sebaliknya, pemulihan pemerintahan Republik menjadi bagian penting dari tuntutan Indonesia dalam proses menuju penyelesaian konflik.


Perundingan kemudian berkembang melalui berbagai tahapan, hingga Konferensi Meja Bundar berlangsung di Den Haag pada 23 Agustus sampai 2 November 1949. Delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta.


Akhirnya, pada 27 Desember 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat.


**Jadi, alasan utama penolakan Soekarno saat itu bukan karena ia menentang perundingan, melainkan karena ia menuntut agar pemerintahan Republik dipulihkan terlebih dahulu.**


Ada tiga alasan utama yang bisa dijelaskan :


* Pemulihan pemerintahan Republik. Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, para pemimpin Republik ditangkap dan diasingkan. Soekarno menghendaki agar pemerintahan Republik dipulihkan terlebih dahulu.


* Pengakuan terhadap kedudukan Republik. Soekarno tidak ingin perundingan berlangsung seolah-olah pemerintah Republik hanyalah pihak yang harus menerima keputusan Belanda, padahal Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan.


* Jaminan bahwa perundingan berlangsung secara layak. Pihak Republik menuntut pemulihan pemerintahan dan kebebasan menjalankan kewenangannya sebagai syarat penting sebelum proses perundingan dilanjutkan.

Sebab, bagi Indonesia, kemerdekaan bukan hanya tentang pengakuan di atas kertas, tetapi juga tentang hak untuk memerintah negeri sendiri.


πŸ“š **Sumber sejarah:** Dokumen diplomatik Amerika Serikat tahun 1949, *Foreign Relations of the United States* (FRUS).


#SejarahIndonesia #Soekarno #KonferensiMejaBundar #MohammadHatta #SejarahKemerdekaan


Catatan akurasi: Penolakan yang dijelaskan di atas berkaitan dengan undangan perundingan pada Februari 1949. Jangan menyamakan peristiwa itu dengan keputusan untuk tidak menjadi delegasi dalam KMB yang berlangsung pada Agustus–November 1949.

KISAH TRAGIS ISTRI JENDERAL S. PARMAN: DUA KALI KEHILANGAN SUAMI DALAM PERISTIWA YANG BERKAITAN DENGAN PKI Di balik tragedi Gerakan 30 September 1965, tersimpan kisah pilu seorang perempuan bernama Sumirahayu. Ia adalah istri Jenderal S. Parman, salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa tersebut. Namun, menurut penuturan sejarawan Salim Said, tragedi tahun 1965 bukanlah kali pertama Sumirahayu kehilangan suami dalam konflik yang melibatkan kelompok komunis. Tujuh belas tahun sebelumnya, suami pertamanya juga disebut tewas dalam Peristiwa Madiun 1948. Kisah ini menjadikan kehidupan Sumirahayu sebagai salah satu cerita keluarga yang menyedihkan dalam sejarah pergolakan politik Indonesia. Kehidupan Awal Sumirahayu Sumirahayu lahir pada 16 Juni 1928 di Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah. Ayahnya, Harjosuwito, merupakan seorang pegawai Pegadaian. Ia tumbuh dalam keluarga dengan empat bersaudara. Ketika masih kecil, Sumirahayu kehilangan ayahnya yang meninggal dunia saat bertugas di Brebes. Setelah itu, ia bersama ibunya pindah ke Cilacap dan menetap di sana hingga sekitar tahun 1950, sebelum akhirnya berpindah ke Jakarta. Dalam buku Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto yang terbit pada 2015, sejarawan Salim Said menyebut bahwa S. Parman merupakan suami kedua Sumirahayu. Menurut penuturan tersebut, suami pertamanya meninggal dalam peristiwa yang berkaitan dengan Pemberontakan Madiun pada 1948. Tragedi Pertama: Peristiwa Madiun 1948 Pada September 1948, Indonesia menghadapi pergolakan politik dan militer di Madiun, Jawa Timur. Konflik tersebut melibatkan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat, termasuk Partai Komunis Indonesia, dengan pemerintah Republik Indonesia. Peristiwa itu menimbulkan banyak korban jiwa, baik dari kalangan militer maupun masyarakat sipil. Menurut kisah yang dikutip dari Salim Said, salah seorang korban adalah suami pertama Sumirahayu. Namun, identitas suami pertamanya, pekerjaannya, serta keadaan pasti yang menyebabkan kematiannya belum dapat dipastikan dari sumber-sumber yang tersedia. Apabila penuturan tersebut benar, Sumirahayu kehilangan pasangan hidupnya ketika usianya baru sekitar 20 tahun. Pada usia yang masih sangat muda, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan orang yang pernah menjadi pendamping hidupnya. Akan tetapi, kehidupan terus berjalan. Beberapa tahun kemudian, Sumirahayu membangun rumah tangga bersama seorang perwira Angkatan Darat bernama Siswondo Parman. Menikah dengan S. Parman pada 1951 Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Ia merupakan seorang perwira yang mengawali karier militernya pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, Parman mengabdi dalam kesatuan Polisi Tentara yang kemudian berkembang menjadi Corps Polisi Militer. Pada 4 Februari 1951, S. Parman dan Sumirahayu melangsungkan pernikahan di Jakarta. Saat itu, Parman berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan Corps Polisi Militer. Usia keduanya terpaut hampir sepuluh tahun. Dalam biografi resmi S. Parman, kehidupan rumah tangga mereka digambarkan berlangsung harmonis. Keduanya saling memahami kesibukan dan tanggung jawab masing-masing. Pernikahan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Sumirahayu mendampingi suaminya dalam berbagai penugasan militer. Pada 1951, S. Parman mendapat kesempatan mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Sumirahayu tidak dapat mendampinginya karena ketentuan pendidikan saat itu tidak memperbolehkan peserta membawa keluarga. Setelah kembali ke Indonesia, karier S. Parman terus berkembang. Ia kemudian menjalankan berbagai tugas penting, termasuk menjadi atase militer Indonesia di London, Inggris. Kehidupan Rumah Tangga yang Harmonis Selama menikah, S. Parman dan Sumirahayu tidak dikaruniai anak kandung. Dalam biografi S. Parman dijelaskan bahwa pada awal pernikahan, keduanya sepakat menunda memiliki anak selama lima tahun. Setelah masa tersebut berlalu, mereka mulai mengharapkan kehadiran seorang anak. Pada 1957, Sumirahayu sempat mengandung. Namun, kehamilannya berakhir dengan keguguran. Biografi tersebut menghubungkan peristiwa itu dengan keterkejutan Sumirahayu setelah mendengar kejadian pelemparan granat di Perguruan Cikini pada 30 November 1957, ketika S. Parman sedang bertugas di lokasi tersebut. Hingga S. Parman meninggal dunia, pasangan ini tidak memiliki anak kandung. Mereka kemudian memiliki anak angkat dari lingkungan keluarga, salah satunya Sugiono, yang merupakan keponakan Sumirahayu. Meskipun tidak dikaruniai keturunan biologis, kehidupan rumah tangga keduanya tetap digambarkan penuh perhatian. Salah satu kebiasaan S. Parman yang dikenang istrinya adalah meluangkan waktu bersama pada malam Minggu. Sesibuk apa pun pekerjaannya, sang jenderal berusaha menyediakan waktu untuk mendampingi Sumirahayu. Kebiasaan sederhana itulah yang kelak menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan setelah kematian S. Parman. Menjelang Tragedi 30 September 1965 Memasuki tahun 1965, situasi politik Indonesia semakin tegang. Pertentangan antara Angkatan Darat dan PKI menjadi salah satu persoalan besar dalam kehidupan politik nasional. Pada masa itu, S. Parman menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat yang menangani bidang intelijen. Jabatan tersebut menempatkannya dalam posisi penting di lingkungan pimpinan Angkatan Darat. Menjelang akhir September 1965, S. Parman masih menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa. Tidak ada kepastian bahwa Sumirahayu mengetahui tragedi besar yang akan menimpa keluarganya. Namun, pada dini hari 1 Oktober 1965, kehidupan rumah tangga yang telah mereka bangun selama lebih dari 14 tahun berubah untuk selamanya. Dini Hari 1 Oktober 1965: S. Parman Dijemput dari Rumahnya Sekitar pukul 04.10 dini hari, S. Parman dan Sumirahayu terbangun setelah mendengar suara orang-orang di sekitar rumah mereka. Rumah tersebut berada di Jalan Syamsurizal Nomor 32, Jakarta. Sejumlah tentara bersenjata datang dengan mengenakan seragam yang dikaitkan dengan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Mereka menyampaikan bahwa S. Parman harus segera menghadap Presiden karena ada urusan penting. Sumirahayu merasa curiga terhadap kedatangan para tentara tersebut. Ia mempertanyakan apakah mereka membawa surat perintah resmi. Salah seorang anggota rombongan menyatakan bahwa surat tersebut ada, tetapi situasi berlangsung begitu cepat. S. Parman kemudian bersiap mengenakan pakaian dinasnya. Sebelum berangkat, ia meminta agar istrinya menghubungi atasannya, Letnan Jenderal Ahmad Yani. Namun, sambungan telepon rumah ternyata telah diputus. Tidak lama kemudian, S. Parman dibawa pergi menggunakan kendaraan militer. Sumirahayu tidak mengetahui bahwa kepergian suaminya pada pagi itu akan menjadi perpisahan terakhir mereka. S. Parman Dibunuh di Lubang Buaya S. Parman dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, bersama sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi sasaran Gerakan 30 September. Di tempat itulah ia kemudian dibunuh. Jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama enam korban lainnya. Sementara itu, Sumirahayu harus menghadapi ketidakpastian mengenai keberadaan suaminya. Pada 4 Oktober 1965, jenazah para korban ditemukan dan diangkat dari sumur Lubang Buaya. Keesokan harinya, 5 Oktober 1965, S. Parman dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pangkatnya kemudian dinaikkan secara anumerta menjadi Letnan Jenderal. Ia juga dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi. Tangisan Sumirahayu yang Dikenang Salim Said Salah satu bagian paling menyentuh dari kisah ini berasal dari penuturan sejarawan Salim Said. Dalam bukunya Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto, Salim Said mengenang suasana pemakaman para perwira Angkatan Darat yang gugur pada 1965. Di antara keluarga korban yang hadir, tangisan Sumirahayu disebut sangat memilukan. Menurut Salim Said, kesedihan itu memiliki latar belakang yang tidak banyak diketahui orang. S. Parman disebut sebagai suami kedua Sumirahayu. Sebab, menurut penuturan tersebut, suami pertamanya juga telah meninggal dalam peristiwa yang melibatkan kaum komunis di Madiun pada 1948. Dengan demikian, Sumirahayu disebut mengalami dua kali kehilangan pasangan hidup dalam dua pergolakan politik yang terpisah selama 17 tahun. Tragedi pertama terjadi pada 1948. Tragedi kedua terjadi pada 1965. Kedua peristiwa itu berlangsung pada masa dan dalam keadaan politik yang berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Kenangan Setiap Malam Minggu Setelah kematian S. Parman, kehidupan Sumirahayu tidak pernah sama lagi. Rumah yang dahulu menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama kini menyimpan kenangan tentang suaminya. Dalam sejumlah kisah mengenai keluarga S. Parman, disebutkan bahwa malam Minggu menjadi waktu yang paling berat bagi Sumirahayu. Sebab, semasa hidup, S. Parman memiliki kebiasaan meluangkan malam tersebut untuk menemani istrinya. Setelah suaminya meninggal, kebiasaan itu berubah menjadi kenangan yang menyedihkan. Sumirahayu terkadang menangis ketika mengingat kebersamaan mereka. Ia juga dikisahkan beberapa kali memimpikan S. Parman, meskipun menyadari bahwa suaminya tidak mungkin kembali. Setelah kematian S. Parman, Sumirahayu tidak menikah lagi. Ia melanjutkan kehidupannya bersama keluarga dan anak angkatnya. Seorang Perempuan di Balik Dua Tragedi Sejarah Sejarah Indonesia mengenang S. Parman sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur pada 1 Oktober 1965. Namanya diabadikan sebagai penghormatan atas pengabdiannya kepada negara. Namun, di balik kisah seorang jenderal yang gugur, terdapat kehidupan seorang istri yang harus menghadapi kehilangan. Pertama, pada Peristiwa Madiun 1948. Kedua, ketika S. Parman menjadi korban Gerakan 30 September 1965. Kisah Sumirahayu mengingatkan bahwa tragedi sejarah tidak hanya merenggut nyawa para tokoh yang namanya tercatat dalam buku pelajaran. Di belakang mereka, ada keluarga yang harus melanjutkan kehidupan dengan kehilangan yang tidak mudah dilupakan. S. Parman dikenang bangsa Indonesia sebagai seorang pahlawan. Namun, bagi Sumirahayu, ia bukan sekadar seorang jenderal. Ia adalah suami, pendamping hidup, dan seseorang yang kehadirannya tak pernah tergantikan. #Kisah #Sejarah #Viral

 KISAH TRAGIS ISTRI JENDERAL S. PARMAN: DUA KALI KEHILANGAN SUAMI DALAM PERISTIWA YANG BERKAITAN DENGAN PKI



Di balik tragedi Gerakan 30 September 1965, tersimpan kisah pilu seorang perempuan bernama Sumirahayu. Ia adalah istri Jenderal S. Parman, salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa tersebut.


Namun, menurut penuturan sejarawan Salim Said, tragedi tahun 1965 bukanlah kali pertama Sumirahayu kehilangan suami dalam konflik yang melibatkan kelompok komunis.


Tujuh belas tahun sebelumnya, suami pertamanya juga disebut tewas dalam Peristiwa Madiun 1948.


Kisah ini menjadikan kehidupan Sumirahayu sebagai salah satu cerita keluarga yang menyedihkan dalam sejarah pergolakan politik Indonesia.


Kehidupan Awal Sumirahayu


Sumirahayu lahir pada 16 Juni 1928 di Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah.


Ayahnya, Harjosuwito, merupakan seorang pegawai Pegadaian. Ia tumbuh dalam keluarga dengan empat bersaudara.


Ketika masih kecil, Sumirahayu kehilangan ayahnya yang meninggal dunia saat bertugas di Brebes. Setelah itu, ia bersama ibunya pindah ke Cilacap dan menetap di sana hingga sekitar tahun 1950, sebelum akhirnya berpindah ke Jakarta.


Dalam buku Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto yang terbit pada 2015, sejarawan Salim Said menyebut bahwa S. Parman merupakan suami kedua Sumirahayu.


Menurut penuturan tersebut, suami pertamanya meninggal dalam peristiwa yang berkaitan dengan Pemberontakan Madiun pada 1948.


Tragedi Pertama: Peristiwa Madiun 1948


Pada September 1948, Indonesia menghadapi pergolakan politik dan militer di Madiun, Jawa Timur.


Konflik tersebut melibatkan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat, termasuk Partai Komunis Indonesia, dengan pemerintah Republik Indonesia.


Peristiwa itu menimbulkan banyak korban jiwa, baik dari kalangan militer maupun masyarakat sipil.


Menurut kisah yang dikutip dari Salim Said, salah seorang korban adalah suami pertama Sumirahayu.


Namun, identitas suami pertamanya, pekerjaannya, serta keadaan pasti yang menyebabkan kematiannya belum dapat dipastikan dari sumber-sumber yang tersedia.


Apabila penuturan tersebut benar, Sumirahayu kehilangan pasangan hidupnya ketika usianya baru sekitar 20 tahun.


Pada usia yang masih sangat muda, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan orang yang pernah menjadi pendamping hidupnya.


Akan tetapi, kehidupan terus berjalan.


Beberapa tahun kemudian, Sumirahayu membangun rumah tangga bersama seorang perwira Angkatan Darat bernama Siswondo Parman.


Menikah dengan S. Parman pada 1951


Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918.


Ia merupakan seorang perwira yang mengawali karier militernya pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.


Setelah Indonesia merdeka, Parman mengabdi dalam kesatuan Polisi Tentara yang kemudian berkembang menjadi Corps Polisi Militer.


Pada 4 Februari 1951, S. Parman dan Sumirahayu melangsungkan pernikahan di Jakarta.


Saat itu, Parman berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan Corps Polisi Militer.


Usia keduanya terpaut hampir sepuluh tahun.


Dalam biografi resmi S. Parman, kehidupan rumah tangga mereka digambarkan berlangsung harmonis. Keduanya saling memahami kesibukan dan tanggung jawab masing-masing.


Pernikahan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Sumirahayu mendampingi suaminya dalam berbagai penugasan militer.


Pada 1951, S. Parman mendapat kesempatan mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Sumirahayu tidak dapat mendampinginya karena ketentuan pendidikan saat itu tidak memperbolehkan peserta membawa keluarga.


Setelah kembali ke Indonesia, karier S. Parman terus berkembang.


Ia kemudian menjalankan berbagai tugas penting, termasuk menjadi atase militer Indonesia di London, Inggris.


Kehidupan Rumah Tangga yang Harmonis


Selama menikah, S. Parman dan Sumirahayu tidak dikaruniai anak kandung.


Dalam biografi S. Parman dijelaskan bahwa pada awal pernikahan, keduanya sepakat menunda memiliki anak selama lima tahun.


Setelah masa tersebut berlalu, mereka mulai mengharapkan kehadiran seorang anak.


Pada 1957, Sumirahayu sempat mengandung. Namun, kehamilannya berakhir dengan keguguran.


Biografi tersebut menghubungkan peristiwa itu dengan keterkejutan Sumirahayu setelah mendengar kejadian pelemparan granat di Perguruan Cikini pada 30 November 1957, ketika S. Parman sedang bertugas di lokasi tersebut.


Hingga S. Parman meninggal dunia, pasangan ini tidak memiliki anak kandung.


Mereka kemudian memiliki anak angkat dari lingkungan keluarga, salah satunya Sugiono, yang merupakan keponakan Sumirahayu.


Meskipun tidak dikaruniai keturunan biologis, kehidupan rumah tangga keduanya tetap digambarkan penuh perhatian.


Salah satu kebiasaan S. Parman yang dikenang istrinya adalah meluangkan waktu bersama pada malam Minggu.


Sesibuk apa pun pekerjaannya, sang jenderal berusaha menyediakan waktu untuk mendampingi Sumirahayu.


Kebiasaan sederhana itulah yang kelak menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan setelah kematian S. Parman.


Menjelang Tragedi 30 September 1965


Memasuki tahun 1965, situasi politik Indonesia semakin tegang.


Pertentangan antara Angkatan Darat dan PKI menjadi salah satu persoalan besar dalam kehidupan politik nasional.


Pada masa itu, S. Parman menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat yang menangani bidang intelijen.


Jabatan tersebut menempatkannya dalam posisi penting di lingkungan pimpinan Angkatan Darat.


Menjelang akhir September 1965, S. Parman masih menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa.


Tidak ada kepastian bahwa Sumirahayu mengetahui tragedi besar yang akan menimpa keluarganya.


Namun, pada dini hari 1 Oktober 1965, kehidupan rumah tangga yang telah mereka bangun selama lebih dari 14 tahun berubah untuk selamanya.


Dini Hari 1 Oktober 1965: S. Parman Dijemput dari Rumahnya


Sekitar pukul 04.10 dini hari, S. Parman dan Sumirahayu terbangun setelah mendengar suara orang-orang di sekitar rumah mereka.


Rumah tersebut berada di Jalan Syamsurizal Nomor 32, Jakarta.


Sejumlah tentara bersenjata datang dengan mengenakan seragam yang dikaitkan dengan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno.


Mereka menyampaikan bahwa S. Parman harus segera menghadap Presiden karena ada urusan penting.


Sumirahayu merasa curiga terhadap kedatangan para tentara tersebut.


Ia mempertanyakan apakah mereka membawa surat perintah resmi.


Salah seorang anggota rombongan menyatakan bahwa surat tersebut ada, tetapi situasi berlangsung begitu cepat.


S. Parman kemudian bersiap mengenakan pakaian dinasnya.


Sebelum berangkat, ia meminta agar istrinya menghubungi atasannya, Letnan Jenderal Ahmad Yani.


Namun, sambungan telepon rumah ternyata telah diputus.


Tidak lama kemudian, S. Parman dibawa pergi menggunakan kendaraan militer.


Sumirahayu tidak mengetahui bahwa kepergian suaminya pada pagi itu akan menjadi perpisahan terakhir mereka.


S. Parman Dibunuh di Lubang Buaya


S. Parman dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, bersama sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi sasaran Gerakan 30 September.


Di tempat itulah ia kemudian dibunuh.


Jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama enam korban lainnya.


Sementara itu, Sumirahayu harus menghadapi ketidakpastian mengenai keberadaan suaminya.


Pada 4 Oktober 1965, jenazah para korban ditemukan dan diangkat dari sumur Lubang Buaya.


Keesokan harinya, 5 Oktober 1965, S. Parman dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


Pangkatnya kemudian dinaikkan secara anumerta menjadi Letnan Jenderal.


Ia juga dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.


Tangisan Sumirahayu yang Dikenang Salim Said


Salah satu bagian paling menyentuh dari kisah ini berasal dari penuturan sejarawan Salim Said.


Dalam bukunya Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto, Salim Said mengenang suasana pemakaman para perwira Angkatan Darat yang gugur pada 1965.


Di antara keluarga korban yang hadir, tangisan Sumirahayu disebut sangat memilukan.


Menurut Salim Said, kesedihan itu memiliki latar belakang yang tidak banyak diketahui orang.


S. Parman disebut sebagai suami kedua Sumirahayu.


Sebab, menurut penuturan tersebut, suami pertamanya juga telah meninggal dalam peristiwa yang melibatkan kaum komunis di Madiun pada 1948.


Dengan demikian, Sumirahayu disebut mengalami dua kali kehilangan pasangan hidup dalam dua pergolakan politik yang terpisah selama 17 tahun.


Tragedi pertama terjadi pada 1948.


Tragedi kedua terjadi pada 1965.


Kedua peristiwa itu berlangsung pada masa dan dalam keadaan politik yang berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.


Kenangan Setiap Malam Minggu


Setelah kematian S. Parman, kehidupan Sumirahayu tidak pernah sama lagi.


Rumah yang dahulu menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama kini menyimpan kenangan tentang suaminya.


Dalam sejumlah kisah mengenai keluarga S. Parman, disebutkan bahwa malam Minggu menjadi waktu yang paling berat bagi Sumirahayu.


Sebab, semasa hidup, S. Parman memiliki kebiasaan meluangkan malam tersebut untuk menemani istrinya.


Setelah suaminya meninggal, kebiasaan itu berubah menjadi kenangan yang menyedihkan.


Sumirahayu terkadang menangis ketika mengingat kebersamaan mereka.


Ia juga dikisahkan beberapa kali memimpikan S. Parman, meskipun menyadari bahwa suaminya tidak mungkin kembali.


Setelah kematian S. Parman, Sumirahayu tidak menikah lagi.


Ia melanjutkan kehidupannya bersama keluarga dan anak angkatnya.


Seorang Perempuan di Balik Dua Tragedi Sejarah


Sejarah Indonesia mengenang S. Parman sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur pada 1 Oktober 1965.


Namanya diabadikan sebagai penghormatan atas pengabdiannya kepada negara.


Namun, di balik kisah seorang jenderal yang gugur, terdapat kehidupan seorang istri yang harus menghadapi kehilangan.


Pertama, pada Peristiwa Madiun 1948.


Kedua, ketika S. Parman menjadi korban Gerakan 30 September 1965.


Kisah Sumirahayu mengingatkan bahwa tragedi sejarah tidak hanya merenggut nyawa para tokoh yang namanya tercatat dalam buku pelajaran.


Di belakang mereka, ada keluarga yang harus melanjutkan kehidupan dengan kehilangan yang tidak mudah dilupakan.


S. Parman dikenang bangsa Indonesia sebagai seorang pahlawan. Namun, bagi Sumirahayu, ia bukan sekadar seorang jenderal. Ia adalah suami, pendamping hidup, dan seseorang yang kehadirannya tak pernah tergantikan.


#Kisah #Sejarah #Viral

Secarik kertas perintah perang TNI yang jatuh ke tangan Belanda, 25 Agustus 1947 (semasa Agresi Militer 1) Tempat: ? (Jawa) Secarik dokumen yang ditandatangani komandan sektor "M.G./A." bernama Boediono yang antara lain berisi perintah pembuatan kekacauan, perusakan tank Belanda, penempatan kesatuan beserta jumlah personelnya. Menarik bahwa dokumen menyebutkan adanya 6 serdadu asal India yang berada di pihak pejuang kemerdekaan Catatan: Sayang tidak diketahui detail lebih lanjut, misalnya di mana dokumen ini dibuat. Kata "Sector M.G./A." dan "Tandjoengredjo" mungkin bisa membantu? Sumber : Het Nationaal Archief

 Secarik kertas perintah perang TNI yang jatuh ke tangan Belanda, 25 Agustus 1947 (semasa Agresi Militer 1)

Tempat: ? (Jawa)



Secarik dokumen yang ditandatangani komandan sektor "M.G./A." bernama Boediono yang antara lain berisi perintah pembuatan kekacauan, perusakan tank Belanda, penempatan kesatuan beserta jumlah personelnya. Menarik bahwa dokumen menyebutkan adanya 6 serdadu asal India yang berada di pihak pejuang kemerdekaan


Catatan: Sayang tidak diketahui detail lebih lanjut, misalnya di mana dokumen ini dibuat. Kata "Sector M.G./A." dan "Tandjoengredjo" mungkin bisa membantu?


Sumber : Het Nationaal Archief


Sumber : Andre Owen

10 October 2026

CIUMAN TERAKHIR SANG JENDERAL: ADE IRMA SURYANI, PUTRI KECIL YANG GUGUR MELINDUNGI AYAHNYA Di balik ketegaran seorang jenderal besar, tersimpan luka seorang ayah yang tak pernah mudah dilupakan. Jenderal Abdul Haris Nasution, sosok militer yang berhasil lolos dari maut dalam tragedi 1 Oktober 1965, harus menghadapi kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya: kehilangan putri kecil yang begitu dicintainya, Ade Irma Suryani Nasution. Pagi itu, 6 Oktober 1965, menjadi salah satu hari paling memilukan bagi keluarga Nasution. Di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Ade Irma masih terbaring dalam perawatan setelah terkena tembakan di rumah keluarganya lima hari sebelumnya. Usianya baru lima tahun. Di usia ketika seorang anak seharusnya menikmati pelukan orang tua, bermain tanpa beban, dan tertawa bersama keluarga, Ade justru harus berjuang menghadapi luka akibat tragedi politik yang mengguncang Indonesia. Semua bermula pada dini hari 1 Oktober 1965. Ketika sebagian besar orang masih terlelap, sekelompok pasukan mendatangi kediaman Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Mereka datang dengan tujuan menangkap sang jenderal, yang menjadi salah satu sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September. Suasana rumah yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Tembakan terdengar, kepanikan melanda keluarga, dan dalam kekacauan itu, Nasution berusaha menyelamatkan diri. Namun, di tengah upaya untuk lolos dari kepungan, tragedi menimpa putri kecilnya. Ade Irma terkena tembakan ketika keluarganya berusaha menyelamatkan diri. Anak yang sama sekali tidak memahami pertarungan politik dan kekuasaan itu harus menanggung akibat dari sebuah peristiwa yang jauh melampaui dunianya sebagai seorang anak perempuan. Setelah kejadian tersebut, Ade segera dibawa ke RSPAD Gatot Subroto untuk mendapatkan pertolongan medis. Harapan masih menyala. Selama lima hari, keluarganya harus menghadapi kecemasan, menunggu kabar, dan berharap keajaiban akan membawa Ade kembali pulih. Bagi seorang ayah, menunggu keselamatan anak tentu menjadi ujian yang tidak mudah. Nasution mungkin dikenal sebagai prajurit yang tegas, berpengalaman menghadapi berbagai ancaman, dan terbiasa mengambil keputusan dalam situasi genting. Namun, di hadapan penderitaan putrinya sendiri, pangkat dan pengalaman militer tidak dapat menghapus rasa takut seorang ayah akan kehilangan buah hatinya. Pada akhirnya, tanggal 6 Oktober 1965 menjadi hari ketika harapan itu terhenti. Ade Irma Suryani meninggal dunia pada usia lima tahun. Perjuangan kecilnya berakhir, meninggalkan duka mendalam bagi kedua orang tuanya dan seluruh keluarga. Tidak ada kemenangan militer yang dapat menggantikan kehadiran seorang anak. Tidak ada pangkat yang mampu mengurangi kepedihan ketika seorang ayah harus menerima kenyataan bahwa putrinya telah pergi untuk selamanya. Bayangkan beratnya perasaan yang harus ditanggung Nasution. Ia selamat dari peristiwa yang mengancam nyawanya, tetapi keselamatan itu datang bersama kehilangan yang tidak pernah diinginkannya. Ia masih dapat melanjutkan hidup, menjalankan tugas, dan berdiri di hadapan bangsa, tetapi kenangan tentang putri kecilnya akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Ade Irma bukan seorang prajurit. Ia bukan pula tokoh yang terlibat dalam pertarungan politik saat itu. Ia hanyalah seorang anak kecil yang seharusnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dewasa, mengenal dunia, dan menjalani kehidupan bersama keluarganya. Namun, sejarah berkata lain. Kepergian Ade menjadi pengingat bahwa di balik peristiwa besar yang melibatkan tokoh-tokoh penting, selalu ada manusia biasa yang menanggung penderitaan. Di balik catatan sejarah tentang penculikan, kekerasan, dan perebutan kekuasaan, terdapat keluarga yang kehilangan orang tercinta dan seorang ayah yang harus merelakan putrinya pergi terlalu cepat. Ade kemudian dimakamkan pada 7 Oktober 1965. Namanya terus dikenang sebagai salah satu korban termuda dalam tragedi G30S. Dalam ingatan keluarga Nasution, ia bukan sekadar bagian dari sejarah nasional, melainkan seorang anak yang pernah mengisi rumah dengan kehadiran, kasih sayang, dan keceriaan. Kisah tentang ciuman terakhir Nasution kepada Ade Irma kerap digambarkan sebagai lambang kasih sayang seorang ayah. Namun, untuk menjaga ketepatan sejarah, detail mengenai momen ciuman tersebut perlu dibedakan dari fakta yang terdokumentasi tentang luka, perawatan, dan wafatnya Ade Irma. Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang seorang jenderal dan putrinya. Ini adalah kisah tentang cinta seorang ayah, kehilangan yang tak tergantikan, dan seorang anak yang kehidupannya terenggut di tengah tragedi bangsa. Ade Irma Suryani mungkin hanya hidup selama lima tahun, tetapi namanya tetap tinggal dalam ingatan sejarah Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap tragedi, ada kehidupan yang berharga, keluarga yang berduka, dan masa depan yang tidak sempat terwujud. Sebab, bagi seorang ayah, dunia boleh mengenangnya sebagai seorang jenderal besar. Namun, di dalam hatinya, Ade Irma akan selalu menjadi putri kecil yang pernah ia peluk, ia sayangi, dan yang kepergiannya meninggalkan ruang kosong sepanjang hidupnya. #AdeIrmaSuryani #AHNasution #SejarahIndonesia #G30S1965 #SejarahNasional #KisahSejarah Sumber : Bang Fit Ideas

 

CIUMAN TERAKHIR SANG JENDERAL: ADE IRMA SURYANI, PUTRI KECIL YANG GUGUR MELINDUNGI AYAHNYA



Di balik ketegaran seorang jenderal besar, tersimpan luka seorang ayah yang tak pernah mudah dilupakan. Jenderal Abdul Haris Nasution, sosok militer yang berhasil lolos dari maut dalam tragedi 1 Oktober 1965, harus menghadapi kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya: kehilangan putri kecil yang begitu dicintainya, Ade Irma Suryani Nasution.

Pagi itu, 6 Oktober 1965, menjadi salah satu hari paling memilukan bagi keluarga Nasution. Di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Ade Irma masih terbaring dalam perawatan setelah terkena tembakan di rumah keluarganya lima hari sebelumnya. Usianya baru lima tahun. Di usia ketika seorang anak seharusnya menikmati pelukan orang tua, bermain tanpa beban, dan tertawa bersama keluarga, Ade justru harus berjuang menghadapi luka akibat tragedi politik yang mengguncang Indonesia.

Semua bermula pada dini hari 1 Oktober 1965. Ketika sebagian besar orang masih terlelap, sekelompok pasukan mendatangi kediaman Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Mereka datang dengan tujuan menangkap sang jenderal, yang menjadi salah satu sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September.

Suasana rumah yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Tembakan terdengar, kepanikan melanda keluarga, dan dalam kekacauan itu, Nasution berusaha menyelamatkan diri. Namun, di tengah upaya untuk lolos dari kepungan, tragedi menimpa putri kecilnya.

Ade Irma terkena tembakan ketika keluarganya berusaha menyelamatkan diri. Anak yang sama sekali tidak memahami pertarungan politik dan kekuasaan itu harus menanggung akibat dari sebuah peristiwa yang jauh melampaui dunianya sebagai seorang anak perempuan.

Setelah kejadian tersebut, Ade segera dibawa ke RSPAD Gatot Subroto untuk mendapatkan pertolongan medis. Harapan masih menyala. Selama lima hari, keluarganya harus menghadapi kecemasan, menunggu kabar, dan berharap keajaiban akan membawa Ade kembali pulih.

Bagi seorang ayah, menunggu keselamatan anak tentu menjadi ujian yang tidak mudah. Nasution mungkin dikenal sebagai prajurit yang tegas, berpengalaman menghadapi berbagai ancaman, dan terbiasa mengambil keputusan dalam situasi genting. Namun, di hadapan penderitaan putrinya sendiri, pangkat dan pengalaman militer tidak dapat menghapus rasa takut seorang ayah akan kehilangan buah hatinya.

Pada akhirnya, tanggal 6 Oktober 1965 menjadi hari ketika harapan itu terhenti.

Ade Irma Suryani meninggal dunia pada usia lima tahun. Perjuangan kecilnya berakhir, meninggalkan duka mendalam bagi kedua orang tuanya dan seluruh keluarga. Tidak ada kemenangan militer yang dapat menggantikan kehadiran seorang anak. Tidak ada pangkat yang mampu mengurangi kepedihan ketika seorang ayah harus menerima kenyataan bahwa putrinya telah pergi untuk selamanya.

Bayangkan beratnya perasaan yang harus ditanggung Nasution. Ia selamat dari peristiwa yang mengancam nyawanya, tetapi keselamatan itu datang bersama kehilangan yang tidak pernah diinginkannya. Ia masih dapat melanjutkan hidup, menjalankan tugas, dan berdiri di hadapan bangsa, tetapi kenangan tentang putri kecilnya akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Ade Irma bukan seorang prajurit. Ia bukan pula tokoh yang terlibat dalam pertarungan politik saat itu. Ia hanyalah seorang anak kecil yang seharusnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dewasa, mengenal dunia, dan menjalani kehidupan bersama keluarganya.

Namun, sejarah berkata lain.

Kepergian Ade menjadi pengingat bahwa di balik peristiwa besar yang melibatkan tokoh-tokoh penting, selalu ada manusia biasa yang menanggung penderitaan. Di balik catatan sejarah tentang penculikan, kekerasan, dan perebutan kekuasaan, terdapat keluarga yang kehilangan orang tercinta dan seorang ayah yang harus merelakan putrinya pergi terlalu cepat.

Ade kemudian dimakamkan pada 7 Oktober 1965. Namanya terus dikenang sebagai salah satu korban termuda dalam tragedi G30S. Dalam ingatan keluarga Nasution, ia bukan sekadar bagian dari sejarah nasional, melainkan seorang anak yang pernah mengisi rumah dengan kehadiran, kasih sayang, dan keceriaan.

Kisah tentang ciuman terakhir Nasution kepada Ade Irma kerap digambarkan sebagai lambang kasih sayang seorang ayah. Namun, untuk menjaga ketepatan sejarah, detail mengenai momen ciuman tersebut perlu dibedakan dari fakta yang terdokumentasi tentang luka, perawatan, dan wafatnya Ade Irma.

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang seorang jenderal dan putrinya. Ini adalah kisah tentang cinta seorang ayah, kehilangan yang tak tergantikan, dan seorang anak yang kehidupannya terenggut di tengah tragedi bangsa.

Ade Irma Suryani mungkin hanya hidup selama lima tahun, tetapi namanya tetap tinggal dalam ingatan sejarah Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap tragedi, ada kehidupan yang berharga, keluarga yang berduka, dan masa depan yang tidak sempat terwujud.

Sebab, bagi seorang ayah, dunia boleh mengenangnya sebagai seorang jenderal besar. Namun, di dalam hatinya, Ade Irma akan selalu menjadi putri kecil yang pernah ia peluk, ia sayangi, dan yang kepergiannya meninggalkan ruang kosong sepanjang hidupnya.

#AdeIrmaSuryani
#AHNasution
#SejarahIndonesia
#G30S1965
#SejarahNasional
#KisahSejarah

Sumber : Bang Fit Ideas

Pada 3 September 1958, Presiden Soekarno terlihat menari dan bercanda bersama para tamu asing dalam sebuah pesta kebun di kediaman musim panas presiden di Bogor, Jawa Barat. Dalam foto ini, Soekarno mengenakan setelan berwarna terang dan peci hitam, sementara Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones tampak ikut menari bersama istri Duta Besar Yugoslavia. Suasana santai ini memperlihatkan sisi informal kegiatan diplomatik Indonesia pada masa itu. Momen tersebut berlangsung di tengah dinamika hubungan luar negeri Indonesia pada awal Perang Dingin. Hubungan Jakarta dengan Washington diwarnai kerja sama sekaligus perbedaan pandangan, termasuk mengenai persoalan Irian Barat dan perkembangan politik regional. Pertemuan sosial seperti ini menjadi salah satu kesempatan bagi para diplomat dan pemimpin negara untuk berinteraksi di luar forum resmi. πŸ“· Koleksi: Fotocollectie Elsevier Buitenland πŸ“Έ Fotografer: Unce / ANP 🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. #Soekarno #Bogor #SejarahIndonesia #DiplomasiIndonesia #PerangDingin #IstanaBogor #IndonesiaTempoDulu #FotoSejarah #DuniaSejarah #duniasjr

 Pada 3 September 1958, Presiden Soekarno terlihat menari dan bercanda bersama para tamu asing dalam sebuah pesta kebun di kediaman musim panas presiden di Bogor, Jawa Barat. 



Dalam foto ini, Soekarno mengenakan setelan berwarna terang dan peci hitam, sementara Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones tampak ikut menari bersama istri Duta Besar Yugoslavia. Suasana santai ini memperlihatkan sisi informal kegiatan diplomatik Indonesia pada masa itu.


Momen tersebut berlangsung di tengah dinamika hubungan luar negeri Indonesia pada awal Perang Dingin. Hubungan Jakarta dengan Washington diwarnai kerja sama sekaligus perbedaan pandangan, termasuk mengenai persoalan Irian Barat dan perkembangan politik regional. 


Pertemuan sosial seperti ini menjadi salah satu kesempatan bagi para diplomat dan pemimpin negara untuk berinteraksi di luar forum resmi.


πŸ“· Koleksi: Fotocollectie Elsevier Buitenland 

πŸ“Έ Fotografer: Unce / ANP 

🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. 


#Soekarno #Bogor #SejarahIndonesia #DiplomasiIndonesia #PerangDingin #IstanaBogor #IndonesiaTempoDulu #FotoSejarah #DuniaSejarah #duniasjr

Fakta Utama tentang Teuku Markam: • Sumbangan Emas Monas Teuku Markam dikenal dalam narasi sejarah populer sebagai penyumbang sekitar 28 kilogram emas (dari total puluhan kilogram yang melapisi bagian lidah api puncak Monumen Nasional/Monas). • Kedekatan dengan Soekarno Ia adalah pengusaha sukses melalui perusahaannya (PT Karkam) yang memiliki kedekatan dengan Bung Karno dan pernah membantu berbagai proyek negara serta dana untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika. • Akhir Nasib yang Tragis Setelah pergantian kekuasaan ke era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto pada 1966, ia ditahan selama kurang lebih 9 tahun tanpa proses pengadilan yang jelas, dituduh terlibat dalam gerakan kiri/PKI serta korupsi, sementara seluruh aset dan perusahaannya diambil alih oleh negara. Ia kemudian dibebaskan pada 1974 dan wafat pada 1985.

 Fakta Utama tentang Teuku Markam:

• Sumbangan Emas Monas



Teuku Markam dikenal dalam narasi sejarah populer sebagai penyumbang sekitar 28 kilogram emas (dari total puluhan kilogram yang melapisi bagian lidah api puncak Monumen Nasional/Monas).


• Kedekatan dengan Soekarno


Ia adalah pengusaha sukses melalui perusahaannya (PT Karkam) yang memiliki kedekatan dengan Bung Karno dan pernah membantu berbagai proyek negara serta dana untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika.


• Akhir Nasib yang Tragis


Setelah pergantian kekuasaan ke era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto pada 1966, ia ditahan selama kurang lebih 9 tahun tanpa proses pengadilan yang jelas, dituduh terlibat dalam gerakan kiri/PKI serta korupsi, sementara seluruh aset dan perusahaannya diambil alih oleh negara. Ia kemudian dibebaskan pada 1974 dan wafat pada 1985.



Sumber : Dewi Astuti

Penggalian tanah di dekat desa Ngagrong, Semarang, menuju arah Ambarawa. Nampak Ir. Kuntze sedang memberikan instruksi kepada mandor/pengawas lapangan (Pikeur) bernama Hertel. Foto ini diambil dari album Proyek Pembangunan jalur kereta api Semarang - Kedungjati hingga ke Solo pada tahun 1865-1867. Rijkmuseum

 Penggalian tanah di dekat desa Ngagrong, Semarang, menuju arah Ambarawa. Nampak Ir. Kuntze sedang memberikan instruksi kepada mandor/pengawas lapangan (Pikeur) bernama Hertel.



Foto ini diambil dari album Proyek Pembangunan jalur kereta api Semarang - Kedungjati hingga ke Solo pada tahun 1865-1867. Rijkmuseum

59 Tahun Kematian Che Guevara: Dieksekusi Tentara, Diabadikan Seniman 59 tahun telah berlalu sejak peristiwa berdarah di pegunungan Bolivia yang mengakhiri hidup Ernesto "Che" Guevara pada 9 Oktober 1967. Meski jasadnya telah lama tiada, bayangan wajah ber Baret hitam dengan bintang perak di atasnya tetap hadir di berbagai penjuru dunia, mulai dari dinding-dinding demonstrasi hingga kaus anak muda. Lantas, bagaimana seorang dokter muda asal Argentina berubah menjadi pemimpin gerilya yang ditakuti, dieksekusi secara rahasia, dan akhirnya bertransformasi menjadi ikon budaya pop global? Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134419705/59-tahun-kematian-che-guevara-dieksekusi-tentara-diabadikan-seniman

 59 Tahun Kematian Che Guevara: Dieksekusi Tentara, Diabadikan Seniman



59 tahun telah berlalu sejak peristiwa berdarah di pegunungan Bolivia yang mengakhiri hidup Ernesto "Che" Guevara pada 9 Oktober 1967.


Meski jasadnya telah lama tiada, bayangan wajah ber Baret hitam dengan bintang perak di atasnya tetap hadir di berbagai penjuru dunia, mulai dari dinding-dinding demonstrasi hingga kaus anak muda.


Lantas, bagaimana seorang dokter muda asal Argentina berubah menjadi pemimpin gerilya yang ditakuti, dieksekusi secara rahasia, dan akhirnya bertransformasi menjadi ikon budaya pop global?


Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134419705/59-tahun-kematian-che-guevara-dieksekusi-tentara-diabadikan-seniman

Joanna Sunarti menggendong tubuh mungil Ade Irma Suryani Nasution yang sudah dingin Ade Irma Suryani lahir di Jakarta 19 Februari 1960, merupakan puteri bungsu dari pasangan Kepala staf angkatan bersenjata RI Jendral AH Nasution dan Ibu Johanna Nasution. Gadis 5 tahun itu merupakan salah satu korban G30S. Ade tert3mbak saat para pencul1k hendak mengh4bisi sang ayah jendral AH Nasution. Pada tanggal 6 Oktober1965, Ade Irma Suryani menghembuskan napas terakhirnya di usia 5 tahun setelah berjuang selama lima hari. Jenaz4hnya dimakamkan pada tanggal 7 Oktober 1965 di TPU Blok P, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Meskipun kemudian dialih fungsikan menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan tapi makam Ade Irma tidak dipindahkan. Alfatihah Ade Irma Suryani binti A.H Nasution Salam rahayu #adeirmanasution #jendralnasution #g30s #pahlawanrevolusi #sejarahindonesia Sumber : Ivan Adriansyah

 


Joanna Sunarti menggendong tubuh mungil Ade Irma Suryani Nasution yang sudah dingin

Ade Irma Suryani lahir di Jakarta 19 Februari 1960, merupakan puteri bungsu dari pasangan Kepala staf angkatan bersenjata RI Jendral AH Nasution dan Ibu Johanna Nasution. Gadis 5 tahun itu merupakan salah satu korban G30S. Ade tert3mbak saat para pencul1k hendak mengh4bisi sang ayah jendral AH Nasution.

Pada tanggal 6 Oktober1965, Ade Irma Suryani menghembuskan napas terakhirnya di usia 5 tahun setelah berjuang selama lima hari. Jenaz4hnya dimakamkan pada tanggal 7 Oktober 1965 di TPU Blok P, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Meskipun kemudian dialih fungsikan menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan tapi makam Ade Irma tidak dipindahkan.

Alfatihah Ade Irma Suryani binti A.H Nasution

Salam rahayu

#adeirmanasution #jendralnasution #g30s #pahlawanrevolusi #sejarahindonesia

Sumber : Ivan Adriansyah

LETKOL SUGIYONO: PAMIT SEBENTAR, PERGI UNTUK SELAMANYA Bayangkan seorang istri yang sedang mengandung, melepas kepergian suaminya dengan harapan ia akan segera kembali. Namun, takdir berkata lain. Kepergian itu justru menjadi perpisahan yang menyisakan duka mendalam. Letkol Sugiyono Mangunwiyoto, Kepala Staf Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta, menjadi salah satu korban tragedi 1965. Ketika mendengar kabar mengenai hilangnya atasannya, Kolonel Katamso, Sugiyono berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ia justru ikut menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Jenazahnya kemudian ditemukan di kawasan Kentungan, Yogyakarta. Sugiyono gugur, meninggalkan seorang istri dan anak-anaknya. Sang istri bahkan harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran suaminya, sementara keluarga mereka masih menanti masa depan yang tak lagi sama. Ia mungkin pergi dengan harapan akan kembali. Namun, sejarah mencatat kepergiannya sebagai sebuah pengorbanan yang tak terlupakan. Kisah Letkol Sugiyono menjadi pengingat bahwa di balik tragedi sejarah, ada keluarga yang kehilangan orang tercinta dan harus melanjutkan hidup dengan luka yang mendalam. πŸ“š Sumber: - Ensiklopedia Pahlawan Nasional, Kementerian Pendidikan. - Tirto.id — Biografi Singkat Kolonel Sugiyono. - Detik Jogja — Profil Kolonel Sugiyono, Pahlawan Revolusi. #LetkolSugiyono #SejarahIndonesia #PahlawanRevolusi #Tragedi1965 #SejarahYangTerlupakan Sumber : Herdi Mangkubumi

 LETKOL SUGIYONO: PAMIT SEBENTAR, PERGI UNTUK SELAMANYA



Bayangkan seorang istri yang sedang mengandung, melepas kepergian suaminya dengan harapan ia akan segera kembali. Namun, takdir berkata lain. Kepergian itu justru menjadi perpisahan yang menyisakan duka mendalam.


Letkol Sugiyono Mangunwiyoto, Kepala Staf Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta, menjadi salah satu korban tragedi 1965. Ketika mendengar kabar mengenai hilangnya atasannya, Kolonel Katamso, Sugiyono berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Namun, ia justru ikut menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Jenazahnya kemudian ditemukan di kawasan Kentungan, Yogyakarta.


Sugiyono gugur, meninggalkan seorang istri dan anak-anaknya. Sang istri bahkan harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran suaminya, sementara keluarga mereka masih menanti masa depan yang tak lagi sama.


Ia mungkin pergi dengan harapan akan kembali. Namun, sejarah mencatat kepergiannya sebagai sebuah pengorbanan yang tak terlupakan.


Kisah Letkol Sugiyono menjadi pengingat bahwa di balik tragedi sejarah, ada keluarga yang kehilangan orang tercinta dan harus melanjutkan hidup dengan luka yang mendalam.


πŸ“š Sumber:


- Ensiklopedia Pahlawan Nasional, Kementerian Pendidikan.

- Tirto.id — Biografi Singkat Kolonel Sugiyono.

- Detik Jogja — Profil Kolonel Sugiyono, Pahlawan Revolusi.


#LetkolSugiyono #SejarahIndonesia #PahlawanRevolusi #Tragedi1965 #SejarahYangTerlupakan


Sumber : Herdi Mangkubumi

RENCANA G30S GAGAL, LETKOL UNTUNG KABUR KE JAWA TENGAH HINGGA DIAMUK MASSA KARENA DIKIRA PENCOPET Nama Letnan Kolonel Untung Syamsuri menjadi salah satu nama yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Perwira yang saat itu menjabat sebagai Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno, tersebut menjadi salah satu tokoh utama dalam gerakan yang berujung pada penculikan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Namun, setelah gerakan itu gagal mencapai tujuannya dan situasi Jakarta berbalik, Untung justru harus melarikan diri. Pelariannya berakhir dengan penangkapan di wilayah Jawa Tengah, dalam sebuah kisah yang disebut-sebut bermula ketika ia melompat dari bus dan menjadi sasaran amukan warga yang mengiranya sebagai pencopet. Jauh sebelum peristiwa tersebut, Untung telah meniti perjalanan panjang di dunia militer. Ia pernah mengikuti pendidikan militer pada masa pendudukan Jepang dan kemudian bergabung dengan perjuangan bersenjata setelah Indonesia merdeka. Kariernya berkembang melalui berbagai penugasan militer, termasuk operasi pembebasan Irian Barat atau Trikora pada awal 1960-an. Dalam operasi tersebut, Untung bertugas di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto yang memimpin Komando Mandala. Pengalaman militernya kemudian mengantarkannya ke pangkat letnan kolonel dan jabatan di lingkungan Cakrabirawa. Sebagai perwira yang bertugas dalam pasukan pengawal presiden, Untung berada di lingkungan yang dekat dengan pusat kekuasaan. Ia memiliki pengalaman operasi militer dan pernah menerima penghargaan atas pengabdiannya. Akan tetapi, perjalanan karier yang sebelumnya tampak menjanjikan itu berubah drastis ketika ia terlibat dalam peristiwa G30S pada akhir September 1965. Pada malam 30 September 1965, Untung disebut masih menjalankan tugas pengamanan Presiden Soekarno dalam sebuah kegiatan di Jakarta. Setelah itu, ia bergerak menuju kawasan Lubang Buaya, tempat sejumlah personel yang terlibat dalam gerakan tersebut berkumpul. Menjelang dini hari, 1 Oktober 1965, kelompok G30S melaksanakan operasi untuk menangkap sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat yang mereka tuduh sebagai bagian dari kelompok yang disebut Dewan Jenderal. Operasi itu tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sejumlah perwira menjadi sasaran penculikan, tetapi tidak semua target berhasil ditemukan dan ditangkap. Para perwira yang diculik kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya. Enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat, Pierre Tendean, akhirnya tewas dalam rangkaian peristiwa tersebut. Sementara itu, Jenderal A.H. Nasution berhasil meloloskan diri dari upaya penculikan, meskipun putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, mengalami luka tembak dan kemudian meninggal dunia. Pada pagi 1 Oktober, Untung tampil melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) untuk mengumumkan gerakan yang mereka lakukan. Dalam pengumuman itu, ia menyatakan bahwa Gerakan 30 September ditujukan untuk menghadapi Dewan Jenderal yang dituduh merencanakan tindakan terhadap Presiden Soekarno. Ia juga mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Namun, gerakan tersebut tidak berhasil menguasai keadaan politik dan militer secara menyeluruh. Pasukan yang berada di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto kemudian mengambil alih sejumlah titik penting di Jakarta, termasuk RRI. Ketika kekuatan militer pendukung gerakan mulai kehilangan kendali, posisi Untung semakin terdesak. Situasi yang semula direncanakan sebagai sebuah gerakan untuk mengubah keadaan politik justru berbalik menjadi awal kehancuran bagi para tokoh yang terlibat. Untung tidak lagi memiliki kendali atas situasi di ibu kota dan harus menghadapi kemungkinan ditangkap oleh aparat militer. Setelah peristiwa 1 Oktober, Untung meninggalkan Jakarta dan berusaha menghindari pengejaran. Ia kemudian bergerak ke wilayah Jawa Tengah. Selama pelariannya, identitas dan keberadaannya tidak segera diketahui secara luas. Ia berusaha melewati wilayah-wilayah yang dianggap dapat membantunya menjauh dari pusat operasi pengejaran. Salah satu kisah yang banyak diceritakan mengenai penangkapannya menyebutkan bahwa pada 11 Oktober 1965, Untung sedang menumpang sebuah bus menuju wilayah Tegal. Ketika sejumlah anggota militer naik ke bus tersebut, ia diduga merasa terancam dan khawatir akan dikenali. Dalam keadaan panik, ia disebut melompat keluar dari kendaraan. Ia kemudian menghantam tiang listrik dan terjatuh. Kejadian itu menarik perhatian warga di sekitar lokasi. Karena tidak mengetahui identitas sebenarnya, sejumlah orang diduga mengira Untung sebagai seorang pencopet yang berusaha melarikan diri. Ia pun menjadi sasaran amukan massa sebelum akhirnya diamankan oleh anggota militer. Kisah tentang dirinya yang dikira pencopet menjadi bagian paling dramatis dari pelarian tersebut. Pada awal penangkapan, Untung tidak langsung mengungkapkan identitasnya secara terbuka. Aparat yang mengamankannya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan siapa sebenarnya orang yang mereka tangkap. Identitasnya kemudian diketahui setelah pemeriksaan di lingkungan aparat militer di Tegal. Penangkapan itu mengakhiri pelariannya yang berlangsung sekitar sepuluh hari sejak gerakan G30S dilancarkan. Setelah ditangkap, Untung dibawa ke proses pemeriksaan militer. Perannya dalam G30S menjadi salah satu pokok perkara yang diperiksa oleh pengadilan militer khusus. Pada 1966, ia dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), lembaga yang dibentuk untuk mengadili perkara-perkara yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Persidangannya berlangsung dalam situasi politik yang sangat tegang, ketika kekuasaan Presiden Soekarno semakin melemah dan pengaruh Soeharto semakin kuat. Dalam persidangan, Untung harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam gerakan yang menyebabkan penculikan dan kematian sejumlah perwira Angkatan Darat. Peristiwa itu tidak hanya menghancurkan karier militernya, tetapi juga mengubah arah sejarah Indonesia. G30S kemudian diikuti oleh penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang dituduh terlibat atau berhubungan dengan gerakan tersebut, disertai perubahan politik yang membawa Soeharto ke pusat kekuasaan. Pada 6 Maret 1966, Mahmilub menjatuhkan hukuman mati kepada Untung. Vonis itu menutup perjalanan seorang perwira yang pernah meniti karier militer hingga dipercaya memegang jabatan di pasukan pengawal presiden. Dalam waktu singkat, ia berubah dari seorang perwira yang memiliki kedudukan penting menjadi terdakwa dalam salah satu perkara paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern. Kisah pelarian Untung dari Jakarta hingga penangkapannya di Tegal memperlihatkan betapa cepat keadaan dapat berubah setelah gagalnya G30S. Ia yang sebelumnya berada di lingkaran pengamanan Presiden Soekarno akhirnya menjadi buronan, bersembunyi, dan ditangkap ketika berusaha menyelamatkan diri. Sementara itu, proses hukum terhadapnya berlangsung di tengah pergolakan politik yang mengubah nasib militer, pemerintahan, dan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun sesudahnya. #Kisah #Sejarah #Viral

 RENCANA G30S GAGAL, LETKOL UNTUNG KABUR KE JAWA TENGAH HINGGA DIAMUK MASSA KARENA DIKIRA PENCOPET


Nama Letnan Kolonel Untung Syamsuri menjadi salah satu nama yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Perwira yang saat itu menjabat sebagai Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno, tersebut menjadi salah satu tokoh utama dalam gerakan yang berujung pada penculikan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. 



Namun, setelah gerakan itu gagal mencapai tujuannya dan situasi Jakarta berbalik, Untung justru harus melarikan diri. 


Pelariannya berakhir dengan penangkapan di wilayah Jawa Tengah, dalam sebuah kisah yang disebut-sebut bermula ketika ia melompat dari bus dan menjadi sasaran amukan warga yang mengiranya sebagai pencopet.


Jauh sebelum peristiwa tersebut, Untung telah meniti perjalanan panjang di dunia militer. Ia pernah mengikuti pendidikan militer pada masa pendudukan Jepang dan kemudian bergabung dengan perjuangan bersenjata setelah Indonesia merdeka. 


Kariernya berkembang melalui berbagai penugasan militer, termasuk operasi pembebasan Irian Barat atau Trikora pada awal 1960-an. 


Dalam operasi tersebut, Untung bertugas di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto yang memimpin Komando Mandala. Pengalaman militernya kemudian mengantarkannya ke pangkat letnan kolonel dan jabatan di lingkungan Cakrabirawa.


Sebagai perwira yang bertugas dalam pasukan pengawal presiden, Untung berada di lingkungan yang dekat dengan pusat kekuasaan. 


Ia memiliki pengalaman operasi militer dan pernah menerima penghargaan atas pengabdiannya. 


Akan tetapi, perjalanan karier yang sebelumnya tampak menjanjikan itu berubah drastis ketika ia terlibat dalam peristiwa G30S pada akhir September 1965.


Pada malam 30 September 1965, Untung disebut masih menjalankan tugas pengamanan Presiden Soekarno dalam sebuah kegiatan di Jakarta. 


Setelah itu, ia bergerak menuju kawasan Lubang Buaya, tempat sejumlah personel yang terlibat dalam gerakan tersebut berkumpul. Menjelang dini hari, 1 Oktober 1965, kelompok G30S melaksanakan operasi untuk menangkap sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat yang mereka tuduh sebagai bagian dari kelompok yang disebut Dewan Jenderal.


Operasi itu tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sejumlah perwira menjadi sasaran penculikan, tetapi tidak semua target berhasil ditemukan dan ditangkap. 


Para perwira yang diculik kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya. Enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat, Pierre Tendean, akhirnya tewas dalam rangkaian peristiwa tersebut. 


Sementara itu, Jenderal A.H. Nasution berhasil meloloskan diri dari upaya penculikan, meskipun putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, mengalami luka tembak dan kemudian meninggal dunia.


Pada pagi 1 Oktober, Untung tampil melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) untuk mengumumkan gerakan yang mereka lakukan. Dalam pengumuman itu, ia menyatakan bahwa Gerakan 30 September ditujukan untuk menghadapi Dewan Jenderal yang dituduh merencanakan tindakan terhadap Presiden Soekarno. 


Ia juga mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Namun, gerakan tersebut tidak berhasil menguasai keadaan politik dan militer secara menyeluruh. Pasukan yang berada di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto kemudian mengambil alih sejumlah titik penting di Jakarta, termasuk RRI.


Ketika kekuatan militer pendukung gerakan mulai kehilangan kendali, posisi Untung semakin terdesak. 


Situasi yang semula direncanakan sebagai sebuah gerakan untuk mengubah keadaan politik justru berbalik menjadi awal kehancuran bagi para tokoh yang terlibat. Untung tidak lagi memiliki kendali atas situasi di ibu kota dan harus menghadapi kemungkinan ditangkap oleh aparat militer.


Setelah peristiwa 1 Oktober, Untung meninggalkan Jakarta dan berusaha menghindari pengejaran. 


Ia kemudian bergerak ke wilayah Jawa Tengah. Selama pelariannya, identitas dan keberadaannya tidak segera diketahui secara luas. Ia berusaha melewati wilayah-wilayah yang dianggap dapat membantunya menjauh dari pusat operasi pengejaran.


Salah satu kisah yang banyak diceritakan mengenai penangkapannya menyebutkan bahwa pada 11 Oktober 1965, Untung sedang menumpang sebuah bus menuju wilayah Tegal. 


Ketika sejumlah anggota militer naik ke bus tersebut, ia diduga merasa terancam dan khawatir akan dikenali. Dalam keadaan panik, ia disebut melompat keluar dari kendaraan. Ia kemudian menghantam tiang listrik dan terjatuh.


Kejadian itu menarik perhatian warga di sekitar lokasi. Karena tidak mengetahui identitas sebenarnya, sejumlah orang diduga mengira Untung sebagai seorang pencopet yang berusaha melarikan diri. 


Ia pun menjadi sasaran amukan massa sebelum akhirnya diamankan oleh anggota militer. Kisah tentang dirinya yang dikira pencopet menjadi bagian paling dramatis dari pelarian tersebut. 


Pada awal penangkapan, Untung tidak langsung mengungkapkan identitasnya secara terbuka. 


Aparat yang mengamankannya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan siapa sebenarnya orang yang mereka tangkap. 


Identitasnya kemudian diketahui setelah pemeriksaan di lingkungan aparat militer di Tegal. Penangkapan itu mengakhiri pelariannya yang berlangsung sekitar sepuluh hari sejak gerakan G30S dilancarkan.


Setelah ditangkap, Untung dibawa ke proses pemeriksaan militer. Perannya dalam G30S menjadi salah satu pokok perkara yang diperiksa oleh pengadilan militer khusus. 


Pada 1966, ia dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), lembaga yang dibentuk untuk mengadili perkara-perkara yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. 


Persidangannya berlangsung dalam situasi politik yang sangat tegang, ketika kekuasaan Presiden Soekarno semakin melemah dan pengaruh Soeharto semakin kuat.


Dalam persidangan, Untung harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam gerakan yang menyebabkan penculikan dan kematian sejumlah perwira Angkatan Darat. 


Peristiwa itu tidak hanya menghancurkan karier militernya, tetapi juga mengubah arah sejarah Indonesia. 


G30S kemudian diikuti oleh penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang dituduh terlibat atau berhubungan dengan gerakan tersebut, disertai perubahan politik yang membawa Soeharto ke pusat kekuasaan.


Pada 6 Maret 1966, Mahmilub menjatuhkan hukuman mati kepada Untung. Vonis itu menutup perjalanan seorang perwira yang pernah meniti karier militer hingga dipercaya memegang jabatan di pasukan pengawal presiden. 


Dalam waktu singkat, ia berubah dari seorang perwira yang memiliki kedudukan penting menjadi terdakwa dalam salah satu perkara paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern.


Kisah pelarian Untung dari Jakarta hingga penangkapannya di Tegal memperlihatkan betapa cepat keadaan dapat berubah setelah gagalnya G30S. 


Ia yang sebelumnya berada di lingkaran pengamanan Presiden Soekarno akhirnya menjadi buronan, bersembunyi, dan ditangkap ketika berusaha menyelamatkan diri. 


Sementara itu, proses hukum terhadapnya berlangsung di tengah pergolakan politik yang mengubah nasib militer, pemerintahan, dan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun sesudahnya.


#Kisah #Sejarah #Viral


Sumber : Bang Fit

09 October 2026

Tahun 1945, belum lagi putranya lengkap berumur 1 tahun, Bung Karno dan Ibu Fatmawati sedang santai duduk di tangga rumah Proklamasi . Mereka belum berniat untuk pindah ke Yogya, semua itu baru terjadi di awal tahun 1946 ? Tapi ruang depan rumah tampak bersih terawat penuh asri dengan korsi rotan yang tertata rapi dengan taplak meja dari kain putih berenda, tanaman hias sekitar beranda muka yang di pakai untuk acara Proklamasi. Sesungguhnya ini keluarga yang penuh kebahagiaan di rumah Presiden ?

 Tahun 1945, belum lagi putranya lengkap berumur 1 tahun, Bung Karno dan Ibu Fatmawati sedang santai duduk di tangga rumah Proklamasi . Mereka belum berniat untuk pindah ke Yogya, semua itu baru terjadi di awal tahun 1946 ? Tapi ruang depan rumah tampak bersih terawat penuh asri dengan korsi rotan yang tertata rapi dengan taplak meja dari kain putih berenda, tanaman hias sekitar beranda muka yang di pakai untuk acara Proklamasi. Sesungguhnya ini keluarga yang penuh kebahagiaan di rumah Presiden ?




Sumber : Hoesein Roeshdy

Tahun 1934, Belanda menyadari satu hal yang fatal: Memenjarakan fisik Soekarno tak akan mematikan idenya. Maka mereka menggunakan taktik yang jauh lebih kejam. Membunuh karakternya dengan kesepian yang absolut. Sang Singa Podium itu dibuang jauh ke Ende, Flores. Sebuah kota nelayan terpencil yang sangat sunyi, guna memutus total urat nadi pergerakannya. Di Ende, Soekarno tidak dikurung di balik bui. la bebas berjalan ke mana saja ia mau. Namun, itulah bentuk siksaan psikologis yang paling sadis. Sebagai pemimpin yang hidup dari energi ribuan massa, Soekarno tiba-tiba diisolasi dan tak punya panggung. Penduduk lokal dilarang keras berbicara dengannya. la sengaja dikucilkan di negerinya sendiri. Taktik psikologis Belanda nyaris berhasil sempurna. Fase ini adalah masa tergelap dalam hidup Soekarno. Sang Proklamator hancur lebur secara mental dan fisik. la terserang malaria parah yang menggerogoti tubuhnya. Dalam surat-suratnya, ia menuliskan rasa putus asa. la merasa pergerakannya telah mati dan sia-sia. Seolah sejarah telah membuang namanya untuk selamanya. Di tengah kesepian yang nyaris membunuh kewarasannya, hanya kehadiran istrinya, Inggit Garnasih, yang menjadi jangkar. Untuk mengalihkan depresi dan pikirannya yang kusut, Soekarno melarikan diri dari realita. la mulai melukis, menulis naskah tonil (sandiwara), dan menghabiskan waktu berjam-jam menatap lautan, berusaha menjaga agar kepalanya tidak benar-benar gila. Hingga pada suatu hari, sejarah membalikkan keadaan. Di tengah rasa frustrasi dan pengasingan batinnya, Soekarno sering duduk termenung di bawah pohon sukun. Menghadap ke arah Teluk Ende yang luas, pikirannya perlahan menembus batas-batas keputusasaan. la mulai menggali kembali nilai-nilai leluhur Nusantara, meracik sebuah formula mematikan untuk melawan penjajah. Dari titik nadir paling rendah seorang manusia, justru lahir sebuah gagasan yang paling megah. Di bawah pohon sukun itulah, Soekarno merumuskan 5 butir mutiara yang kelak menyatukan ribuan pulau. Ideologi raksasa yang kita kenal hari ini sebagai Pancasila. Sebuah pondasi kuat yang dirancang matang-matang bukan di istana mewah, melainkan di tanah buangan. Sejarah mencatat blunder terbesar pemerintah kolonial. Belanda membuang Soekarno ke Ende untuk mematahkan jiwanya, berharap sang tokoh pergerakan itu mati membusuk dan dilupakan. Namun ironisnya, pengasingan itu justru memberinya waktu untuk merenung dan menciptakan pondasi bagi negara Indonesia. Sang Singa memang sempat dibungkam di ujung dunia, tapi ia kembali membawa senjata yang menghancurkan penjajahnya. #history #FaktaSejarah

 Tahun 1934, Belanda menyadari satu hal yang fatal:

Memenjarakan fisik Soekarno tak akan mematikan idenya. Maka mereka menggunakan taktik yang jauh lebih kejam.

Membunuh karakternya dengan kesepian yang absolut.

Sang Singa Podium itu dibuang jauh ke Ende, Flores. Sebuah kota nelayan terpencil

yang sangat sunyi, guna memutus total

urat nadi pergerakannya.



Di Ende, Soekarno tidak dikurung di balik bui.

la bebas berjalan ke mana saja ia mau.

Namun, itulah bentuk siksaan psikologis yang paling sadis. Sebagai pemimpin yang hidup

dari energi ribuan massa, Soekarno tiba-tiba diisolasi dan tak punya panggung.

Penduduk lokal dilarang keras berbicara dengannya. la sengaja dikucilkan di negerinya sendiri.


Taktik psikologis Belanda nyaris berhasil sempurna. Fase ini adalah masa tergelap

dalam hidup Soekarno. Sang Proklamator hancur lebur secara mental dan fisik.

la terserang malaria parah yang menggerogoti tubuhnya. Dalam surat-suratnya, ia menuliskan rasa putus asa. la merasa pergerakannya telah mati dan sia-sia.

Seolah sejarah telah membuang namanya

untuk selamanya.


Di tengah kesepian yang nyaris membunuh kewarasannya, hanya kehadiran istrinya,

Inggit Garnasih, yang menjadi jangkar.

Untuk mengalihkan depresi dan pikirannya yang kusut, Soekarno melarikan diri dari realita. la mulai melukis, menulis naskah tonil (sandiwara), dan menghabiskan waktu

berjam-jam menatap lautan, berusaha menjaga agar kepalanya tidak benar-benar gila.


Hingga pada suatu hari, sejarah membalikkan keadaan. Di tengah rasa frustrasi dan pengasingan batinnya, Soekarno sering duduk termenung di bawah pohon sukun.

Menghadap ke arah Teluk Ende yang luas,

pikirannya perlahan menembus batas-batas

keputusasaan. la mulai menggali kembali

nilai-nilai leluhur Nusantara, meracik sebuah formula mematikan untuk melawan penjajah.


Dari titik nadir paling rendah seorang manusia, justru lahir sebuah gagasan

yang paling megah. Di bawah pohon sukun itulah, Soekarno merumuskan 5 butir mutiara

yang kelak menyatukan ribuan pulau.

Ideologi raksasa yang kita kenal hari ini

sebagai Pancasila. Sebuah pondasi kuat

yang dirancang matang-matang bukan di istana mewah, melainkan di tanah buangan.


Sejarah mencatat blunder terbesar pemerintah kolonial. Belanda membuang Soekarno ke Ende untuk mematahkan jiwanya, berharap sang tokoh pergerakan itu

mati membusuk dan dilupakan.

Namun ironisnya, pengasingan itu justru

memberinya waktu untuk merenung

dan menciptakan pondasi bagi negara Indonesia. Sang Singa memang sempat

dibungkam di ujung dunia,

tapi ia kembali membawa senjata

yang menghancurkan penjajahnya.


#history #FaktaSejarah


Sumber : Dwi Aji Wijaya

Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti Nama Letnan Komaruddin sangat dikenal dalam sejarah ketentaraan Indonesia. Bahkan dimasukkan sebagai salah satu karakter di film Janur Kuning. Saat Serangan Umum 1 Maret 1949, ia pernah membuat kesalahan fatal, tetapi justru berhasil mengecoh Belanda. Ia juga dikenal memiliki kesaktian, yang sulit diterima logika. Beberapa prajurit menyaksikan sendiri bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Komaruddin. Kebal terhadap senjatab apapun termasuk peluru. Saat ia dan prajurit lainnya dikepung Belanda lengkap dengan senjatanya, secara tiba-tiba mereka bisa menghilang seolah tak terlihat. Padahal bila dinalar, mereka tidak mungkin bisa kabur begitu saja. Letnan Komaruddin : Opsir Kebal Peluru Bagi generasi 90-an, tentu akrab dengan sejumlah film bertema perjuangan. Salah satunya yang cukup terkenal adalah film Janur Kuning yang konon film wajib ditonton di sejumlah sekolah pada era 1980-an. Penulis buku seri sejarah, Hendi Jo seperti dikutip darinya buku Orang-Orang di Garis Depan', terbitan Matapadi Presindo, Cetakan ke dua 2019 halaman 66 menulis, dalam film Janur Kuning ada tokoh "pejuang selon" yang diperankan oleh aktor Amak Baldjun. Digambarkan dalam film tersebut, saat adegan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta tanpa mengenal memburu serdadu-serdadu Belanda yang melakukan gerakan mundur seraya menembakkan senjata-senjata mereka ke arah gelirlyawan TNI berbaret hitam. Masih dari kutipan buku yang sama, dalam sejarah Perang Kemerdekaan di Yogyakarta, sejatinya tokoh ini memang benar-benar ada. Namanya Letnan Komaruddin. Jabatannya waktu itu komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto). Di kalangan anak buahnya, mantan prajurit PETA di Kalasan ini terkenal sebagai anti kogel/tahan peluru. Bahkan saking saktinya, kekebalan Komaruddis akan peluru konon bisa melindungi orang sekitarnya dalam radius 10 meter dari dirinya. Rupanya "kesaktian" Letnan TNI Komaruddin tidak muncull begitu saja. Sebagai pejuang pemberani, ia disebut- sebut masih memiliki hubungan darah dengan Kyai Abdur Rahman (sebagai cicit) yang dikenal sebagai Mbah Tanjung. Mba Tanjung, salah seorang ulama terkemuka yang hidup di Ploso Kuning Minomartani, Sleman pada era kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792). Ia pun diyakini merupakan keturunan langsung Bantengwareng, salah seorang panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro. Karena keturunan orang-orang sakti itulah, banyak dipercaya anggota pasukanya, ia kebal terhadap senjata apapun. Begitu populernya nama Komaruddin hingga di wilayah Sleman, ada sebuah masjid yang disemati namanya: Masjid Al Komaruddin. Sebelum bergabung dengan Soeharto, usai dari PETA, Komaruddin memang pernah bergabung dengan Lasykar Hizboellah setempat. Banyak kawan-kawannya mengenal Komaruddin sebagai sosok yang jenaka, selon, pemberani namun sedikit agak sentimentil jika disentuh sisi-sisi kemanusiannya. Salah satu contoh, saat Panglima Besar Soedirman (dalam suatu pemeriksaan pasukan usai turun gunung) menasehati, mengkritik sekaligus memuji serangan 'salah lihat kalender"nya pada 28 Februari 1949, ia langsung terisak-isak menangis sambil terbata-bata berujar: "Siap Panglima! Saya tak akan mengulanginya!" Peleton yang dipimpin Letnan Komaruddin memang dikenal sangat berani dan sering mengacak-acak pertahanan militer Belanda di dalam kota Yogyakarta. Begitu disegani namanya hingga pihak intelijen militer Belanda (NEFIS) pernah menjadikannya buronan. Menurut sejarawan militer Moehkardi, konon penyerangan militer Belanda ke dukuh Plataran pada 24 Februari 1949 ( yang menimbulkan korban tewas beberapa kadet Akademi Militer Yogyakarta) adalah salah satunya dalam rangka mencari dirinya, yang memang saat itu ia sedang berada di dekat dukuh tersebut. Lantas bagaimana nasib Komaruddin seusai Memang jarang sumber-sumber sejarah yang memberitakan keberadaannya pasca penyerahan kedaulatan. Kecuali satu sumber dalam buku 'Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi' Yogya oleh Daud Sinjal. Di situ dituliskan tentang, tuduhan sebagian kalangan militer kala itu yang menyebut dia terlibat dalam gerakan DI/TII. Menurut Priyanto (59), sangkaan itu muncul kala komp Komaruddin (saat itu berpangkat kapten) pada tahun 1950-an, dikirim ke Malangbong, Garut untuk menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI TII) pimpinan Sekar Maridjan Kartosoewirjo. Alih-alih berperang, di Garut Kompi Komaruddin malah kerap ngopi bareng" dengan pasukan DI/TII. Rupanya Komaruddin merasa jengah berperang dengan para gerilyawan yang sebagian merupakan rekannya saat aktif di Hizboellah. Malah di antaranya ada juga yang pernah satu perguruan dengannya saat belajar agama dan kanuragaan. "Akibatnya Mbah Komar dan pasukannya ditarik kembali ke Yogya dan sesampainya di markasnya langsung dipere TII secara massal" ujar lelaki yang masih termasuk cucu dani Komaruddin tersebut. Dalam bukunya, Daud Sinjal menuliskan ternyata setelah diselidiki tuduhan itu sama sekali tidak benar. Nama Komaruddin kemudian direhabilitasi dan ia aktif kembai di ketentaraan. Namun sepertinya upaya rehabilitas tak otomatis membuat karir ketentaraannya menanjak. Dikisahkan beberapa saat setelah ia mendapat rehabilitasi dan ia aktif kembali di ketentaraan secara resmi. Usai tidak aktif di ketentaraan, pada 1960-an, Komaruddin memilih dunia jalanan sebagai jalur hidupnya. Di Yogyakarta, namanya terkenal sekaligus disegani sebagai "preman berhati "Tempat tongkrongan favoritnya di samping pabrik susu SGM," ujar Amiruudin, putra kedua dari Komaruddin. Sekitar tahun 1969, Komaruddin secara misterius tiba-tiba menghilang dari Yogyakarta. Soetojo alias Boyo (buaya), seperjuangannya waktu melawan Belanda, lantas mencarinya hingga ke Jakarta setahun kemudian. Di ibukota Boyo menemukan Komaruddin di wilayah Cempaka Putih. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah-tengah rawa (tanah milik Kodam V Jaya?) Ia menghidupi kesehariannya dengan bekerja sebagai seorang preman yang ditakuti di wilayah Pasar Senen. Baik teman Amiruddin menduga keberadaan Komaruddin di Jakarta atas sepengetahuan Presiden Soeharto, yang merupakan mantan komandannya di Yogyakarta. "Buktinya, saat tinggal di rawa terletak di Cempaka Putih itu, tiap bulan secara rutin yang ia kerap mendapatkan jatah beras bagian untuk tentara..." ujar lelaki kelahiran Yogyakarta pada 1962 tersebut. Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti

 Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti

Nama Letnan Komaruddin sangat dikenal dalam sejarah ketentaraan Indonesia.



Bahkan dimasukkan sebagai salah satu karakter di film Janur Kuning.


Saat Serangan Umum 1 Maret 1949, ia pernah membuat kesalahan fatal, tetapi justru berhasil mengecoh Belanda.


Ia juga dikenal memiliki kesaktian, yang sulit diterima logika. Beberapa prajurit menyaksikan sendiri bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Komaruddin. Kebal terhadap senjatab apapun termasuk peluru.


Saat ia dan prajurit lainnya dikepung Belanda lengkap dengan senjatanya, secara tiba-tiba mereka bisa menghilang seolah tak terlihat.


Padahal bila dinalar, mereka tidak mungkin bisa kabur begitu saja.


Letnan Komaruddin : Opsir Kebal Peluru


Bagi generasi 90-an, tentu akrab dengan sejumlah film bertema perjuangan.


Salah satunya yang cukup terkenal adalah film Janur Kuning yang konon film wajib ditonton di sejumlah sekolah pada era 1980-an.


Penulis buku seri sejarah, Hendi Jo seperti dikutip darinya buku Orang-Orang di Garis Depan', terbitan Matapadi Presindo, Cetakan ke dua 2019 halaman 66 menulis, dalam film Janur Kuning ada tokoh "pejuang selon" yang diperankan oleh aktor Amak Baldjun.


Digambarkan dalam film tersebut, saat adegan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta tanpa mengenal memburu serdadu-serdadu Belanda yang melakukan gerakan mundur seraya menembakkan senjata-senjata mereka ke arah gelirlyawan TNI berbaret hitam.


Masih dari kutipan buku yang sama, dalam sejarah Perang Kemerdekaan di Yogyakarta, sejatinya tokoh ini memang benar-benar ada.


Namanya Letnan Komaruddin. Jabatannya waktu itu komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto).


Di kalangan anak buahnya, mantan prajurit PETA di Kalasan ini terkenal sebagai anti kogel/tahan peluru.


Bahkan saking saktinya, kekebalan Komaruddis akan peluru konon bisa melindungi orang sekitarnya dalam radius 10 meter dari dirinya.


Rupanya "kesaktian" Letnan TNI Komaruddin tidak muncull begitu saja.


Sebagai pejuang pemberani, ia disebut- sebut masih memiliki hubungan darah dengan Kyai Abdur Rahman (sebagai cicit) yang dikenal sebagai Mbah Tanjung.


Mba Tanjung, salah seorang ulama terkemuka yang hidup di Ploso Kuning Minomartani, Sleman pada era kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792).


Ia pun diyakini merupakan keturunan langsung Bantengwareng, salah seorang panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro.


Karena keturunan orang-orang sakti itulah, banyak dipercaya anggota pasukanya, ia kebal terhadap senjata apapun.


Begitu populernya nama Komaruddin hingga di wilayah Sleman, ada sebuah masjid yang disemati namanya: Masjid Al Komaruddin.


Sebelum bergabung dengan Soeharto, usai dari PETA, Komaruddin memang pernah bergabung dengan Lasykar Hizboellah setempat.


Banyak kawan-kawannya mengenal Komaruddin sebagai sosok yang jenaka, selon, pemberani namun sedikit agak sentimentil jika disentuh sisi-sisi kemanusiannya.


Salah satu contoh, saat Panglima Besar Soedirman (dalam suatu pemeriksaan pasukan usai turun gunung) menasehati, mengkritik sekaligus memuji serangan 'salah lihat kalender"nya pada 28 Februari 1949, ia langsung terisak-isak menangis sambil terbata-bata berujar: "Siap Panglima! Saya tak akan mengulanginya!"


Peleton yang dipimpin Letnan Komaruddin memang dikenal sangat berani dan sering mengacak-acak pertahanan militer Belanda di dalam kota Yogyakarta.


Begitu disegani namanya hingga pihak intelijen militer Belanda (NEFIS) pernah menjadikannya buronan.


Menurut sejarawan militer Moehkardi, konon penyerangan militer Belanda ke dukuh Plataran pada 24 Februari 1949 ( yang menimbulkan korban tewas beberapa kadet Akademi Militer Yogyakarta) adalah salah satunya dalam rangka mencari dirinya, yang memang saat itu ia sedang berada di dekat dukuh tersebut.


Lantas bagaimana nasib Komaruddin seusai Memang jarang sumber-sumber sejarah yang memberitakan keberadaannya pasca penyerahan kedaulatan.


Kecuali  satu sumber dalam buku 'Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi' Yogya oleh Daud Sinjal.


Di situ dituliskan tentang, tuduhan sebagian kalangan militer kala itu yang menyebut dia terlibat dalam gerakan DI/TII.


Menurut Priyanto (59), sangkaan itu muncul kala komp Komaruddin (saat itu berpangkat kapten) pada tahun 1950-an, dikirim ke Malangbong, Garut untuk menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI TII) pimpinan Sekar Maridjan Kartosoewirjo.


Alih-alih berperang, di Garut Kompi Komaruddin malah kerap ngopi bareng" dengan pasukan DI/TII.


Rupanya Komaruddin merasa jengah berperang dengan para gerilyawan yang sebagian merupakan rekannya saat aktif di Hizboellah.


Malah di antaranya ada juga yang pernah satu perguruan dengannya saat belajar agama dan kanuragaan.


"Akibatnya Mbah Komar dan pasukannya ditarik kembali ke Yogya dan sesampainya di markasnya langsung dipere TII secara massal" ujar lelaki yang masih termasuk cucu dani Komaruddin tersebut.


Dalam bukunya, Daud Sinjal menuliskan ternyata setelah diselidiki tuduhan itu sama sekali tidak benar.


Nama Komaruddin kemudian direhabilitasi dan ia aktif kembai di ketentaraan. Namun sepertinya upaya rehabilitas  tak otomatis membuat karir ketentaraannya menanjak.


Dikisahkan beberapa saat setelah ia mendapat rehabilitasi dan ia aktif kembali di ketentaraan secara resmi.


Usai tidak aktif di ketentaraan, pada 1960-an, Komaruddin memilih dunia jalanan sebagai jalur hidupnya.


Di Yogyakarta, namanya terkenal sekaligus disegani sebagai "preman berhati "Tempat tongkrongan favoritnya di samping pabrik susu SGM," ujar Amiruudin, putra kedua dari Komaruddin.


Sekitar tahun 1969, Komaruddin secara misterius tiba-tiba menghilang dari Yogyakarta. Soetojo alias Boyo (buaya), seperjuangannya waktu melawan Belanda, lantas mencarinya hingga ke Jakarta setahun kemudian.


Di ibukota Boyo menemukan Komaruddin di wilayah Cempaka Putih.


Ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah-tengah rawa (tanah milik Kodam V Jaya?)


Ia menghidupi kesehariannya dengan bekerja sebagai seorang preman yang ditakuti di wilayah Pasar Senen.


Baik teman Amiruddin menduga keberadaan Komaruddin di Jakarta atas sepengetahuan Presiden Soeharto, yang merupakan mantan komandannya di Yogyakarta.


"Buktinya, saat tinggal di rawa terletak di Cempaka Putih itu, tiap bulan secara rutin yang ia kerap mendapatkan jatah beras bagian untuk tentara..." ujar lelaki kelahiran Yogyakarta pada 1962 tersebut.

Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti


Sumber : Derry Ali


Malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, enam jenderal TNI AD dan seorang perwira diculik dan dibunuh oleh sekelompok pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September, lalu jasad mereka dibuang ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan cepat dituding sebagai dalang di balik peristiwa ini, meski keterlibatan penuh partai secara resmi hingga kini masih diperdebatkan sejarawan. Yang terjadi setelahnya bergerak sangat cepat dan sistematis. Dalam hitungan hari, media massa yang dikuasai militer mulai menyebarkan narasi tentang kekejaman PKI, termasuk klaim penyiksaan terhadap para jenderal yang kemudian terbukti dibesar-besarkan. Propaganda ini menyulut kemarahan publik dan membuka jalan bagi operasi pembersihan berskala nasional. Operasi ini tidak dilakukan sendirian oleh militer. Angkatan Darat, di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto, menggandeng dan mempersenjatai kelompok-kelompok sipil dan organisasi pemuda keagamaan di berbagai daerah untuk membantu mengidentifikasi dan mengeksekusi siapa pun yang dicurigai berafiliasi dengan PKI. Di banyak daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan Bali, penangkapan dilakukan berdasarkan daftar nama yang disusun aparat desa atau laporan tetangga, sering kali tanpa verifikasi apa pun bahwa orang tersebut benar-benar anggota partai. Metode pembantaian bervariasi antar daerah, namun polanya serupa, korban ditangkap malam hari, dibawa ke lokasi terpencil, lalu dieksekusi secara massal. Banyak jasad dibuang ke sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo hingga membuat aliran sungai dipenuhi mayat selama berminggu-minggu, sementara lainnya dikuburkan di kuburan massal yang lokasinya baru mulai terungkap dan diteliti puluhan tahun kemudian oleh peneliti dan lembaga HAM. Operasi ini berlangsung dari Oktober 1965 hingga sekitar Maret 1966, bertepatan dengan periode ketika Soeharto secara bertahap mengambil alih kendali kekuasaan dari Presiden Sukarno lewat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang menjadi titik awal berdirinya rezim Orde Baru selama lebih dari tiga dekade berikutnya.

 Malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, enam jenderal TNI AD dan seorang perwira diculik dan dibunuh oleh sekelompok pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September, lalu jasad mereka dibuang ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan cepat dituding sebagai dalang di balik peristiwa ini, meski keterlibatan penuh partai secara resmi hingga kini masih diperdebatkan sejarawan.

Yang terjadi setelahnya bergerak sangat cepat dan sistematis.




Dalam hitungan hari, media massa yang dikuasai militer mulai menyebarkan narasi tentang kekejaman PKI, termasuk klaim penyiksaan terhadap para jenderal yang kemudian terbukti dibesar-besarkan. Propaganda ini menyulut kemarahan publik dan membuka jalan bagi operasi pembersihan berskala nasional.

Operasi ini tidak dilakukan sendirian oleh militer. Angkatan Darat, di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto, menggandeng dan mempersenjatai kelompok-kelompok sipil dan organisasi pemuda keagamaan di berbagai daerah untuk membantu mengidentifikasi dan mengeksekusi siapa pun yang dicurigai berafiliasi dengan PKI. Di banyak daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan Bali, penangkapan dilakukan berdasarkan daftar nama yang disusun aparat desa atau laporan tetangga, sering kali tanpa verifikasi apa pun bahwa orang tersebut benar-benar anggota partai.


Metode pembantaian bervariasi antar daerah, namun polanya serupa, korban ditangkap malam hari, dibawa ke lokasi terpencil, lalu dieksekusi secara massal. Banyak jasad dibuang ke sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo hingga membuat aliran sungai dipenuhi mayat selama berminggu-minggu, sementara lainnya dikuburkan di kuburan massal yang lokasinya baru mulai terungkap dan diteliti puluhan tahun kemudian oleh peneliti dan lembaga HAM.

Operasi ini berlangsung dari Oktober 1965 hingga sekitar Maret 1966, bertepatan dengan periode ketika Soeharto secara bertahap mengambil alih kendali kekuasaan dari Presiden Sukarno lewat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang menjadi titik awal berdirinya rezim Orde Baru selama lebih dari tiga dekade berikutnya.


Sumber : Widi Astuti

Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan! India ternyata tidak selalu menjadi negara Hindu! Banyak anak muda kita hari ini mengira bahwa India telah menjadi negara Hindu sejak zaman dahulu, tanpa menyadari bahwa negeri ini pernah berada di bawah naungan kekuasaan Islam selama hampir 800 tahun. Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan! Inggris mulai mencengkeramkan kukunya di India di bawah kedok korporasi bernama Perusahaan Hindia Timur Inggris (British East India Company). Seiring menguatnya pengaruh mereka, Inggris mulai memerangi Islam dan secara perlahan melucuti kekuasaan umat Islam. Pada tahun 1857, para ulama Muslim menggelar pertemuan penting di Masjid Jami, Delhi, lalu mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan penjajahan Inggris—sebuah fatwa yang ditandatangani oleh para ulama terkemuka di India. Pemberontakan besar-besaran pun pecah, melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Para pemberontak sepakat memilih Muhammad Bahadur sebagai pemimpin mereka, meskipun usianya sudah senja. Namun, Inggris—dengan memanfaatkan perpecahan dan dukungan dari kelompok Sikh serta pihak lainnya—menumpas pergerakan tersebut dengan sangat kejam: • Membu*nuh para ulama dan mengek*sekusi para pemberontak. • Menangkap Sultan Muhammad Bahadur. • Meme*nggal ke*pala putra-putranya tepat di hadapannya sebelum membuangnya ke pengasingan di Burma. Sultan wafat dalam pengasingan di usia 89 tahun pada tahun 1862. Peristiwa kelam ini sekaligus mengakhiri babak kekuasaan Islam di India, yang fondasinya telah diletakkan sejak penaklukan Mahmud al-Ghaznawi pada tahun 1001 M. Meski kekuasaan telah usai, umat Islam meninggalkan warisan peradaban agung yang jejak megahnya masih berdiri kokoh hingga hari ini. Sejarah kolonialisme Inggris sarat dengan tipu daya dan penderitaan bagi umat Islam—dari India hingga Plstina, dari Afrika hingga Timur Tengah. Dan sejarah itu perlahan akan tenggelam jika kita memilih untuk diam. Ya. Pernah ada kekuasaan politik Muslim yang sangat luas di anak benua India, tetapi itu tidak berarti seluruh penduduk India otomatis menjadi Muslim. Ada beberapa alasan historis yang penting: 1. “Islam pernah berkuasa” ≠ “mayoritas penduduk masuk Islam” Dinasti dan kerajaan Muslim seperti Kesultanan Delhi dan kemudian Kekaisaran Mughal menguasai wilayah yang luas pada periode berbeda. Namun, mereka memerintah masyarakat yang sejak awal sangat besar dan beragam, termasuk komunitas Hindu, Buddha, Jain, Sikh, dan lainnya. Kekuasaan politik dan perubahan agama adalah dua proses yang berbeda. 2. Penduduk Hindu sudah sangat besar Tradisi keagamaan yang kemudian dikategorikan sebagai Hindu telah berkembang di India selama berabad-abad sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Muslim. Jadi, ketika penguasa Muslim datang, mereka tidak memasuki wilayah yang kosong secara demografis, melainkan wilayah dengan populasi non-Muslim yang sangat besar. 3. Penyebaran Islam tidak hanya bergantung pada penguasa Islam di India juga berkembang melalui perdagangan, ulama, jaringan sufi, komunitas Muslim lokal, dan proses sosial selama berabad-abad. Konversi terjadi di berbagai daerah, tetapi tidak dalam skala yang mengubah seluruh anak benua menjadi Muslim. Karena itu, anggapan bahwa “kalau penguasanya Muslim, rakyat pasti dipaksa masuk Islam” terlalu menyederhanakan sejarah. Bukti demografis menunjukkan bahwa perpindahan agama secara keseluruhan merupakan proses yang kompleks. 4. Kekuasaan Muslim juga tidak berlangsung sebagai satu pemerintahan tunggal Istilah “Islam berkuasa di India” perlu hati-hati. Ada banyak kerajaan dan dinasti yang berbeda, dengan wilayah, kebijakan, dan masa pemerintahan yang berbeda. Bahkan pada masa Mughal, kekuasaan mereka tidak selalu mencakup seluruh wilayah yang sekarang disebut India. 5. Setelah berakhirnya pemerintahan Muslim, komposisi penduduk tetap berubah secara bertahap Pada sensus India 2011, sekitar 79,8% penduduk India beragama Hindu dan 14,2% Muslim. Pew Research Center juga menemukan bahwa perpindahan agama di India modern relatif kecil; sekitar 98% orang dewasa masih menganut agama tempat mereka dibesarkan. Menariknya, pada 1951–2011 proporsi Muslim memang meningkat dari 9,8% menjadi 14,2%, sementara proporsi Hindu turun dari 84,1% menjadi 79,8%. Jadi Islam tetap berkembang secara demografis meskipun India secara keseluruhan tetap mayoritas Hindu. Kesimpulannya India tetap mayoritas Hindu bukan karena Islam tidak pernah berkuasa, tetapi karena kekuasaan politik tidak otomatis menghasilkan perubahan agama secara massal. India memiliki populasi Hindu yang sangat besar sejak sebelum periode kerajaan Muslim, sementara Islam menyebar melalui berbagai jalur sosial dan menghasilkan komunitas Muslim yang sangat besar tanpa menjadi mayoritas di seluruh India. Bahkan pada 2011, sekitar 94% umat Hindu dunia tinggal di India, sementara India juga memiliki salah satu populasi Muslim terbesar di dunia.

 Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan!



India ternyata tidak selalu menjadi negara Hindu! Banyak anak muda kita hari ini mengira bahwa India telah menjadi negara Hindu sejak zaman dahulu, tanpa menyadari bahwa negeri ini pernah berada di bawah naungan kekuasaan Islam selama hampir 800 tahun.


Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan!


Inggris mulai mencengkeramkan kukunya di India di bawah kedok korporasi bernama Perusahaan Hindia Timur Inggris (British East India Company). Seiring menguatnya pengaruh mereka, Inggris mulai memerangi Islam dan secara perlahan melucuti kekuasaan umat Islam.


Pada tahun 1857, para ulama Muslim menggelar pertemuan penting di Masjid Jami, Delhi, lalu mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan penjajahan Inggris—sebuah fatwa yang ditandatangani oleh para ulama terkemuka di India.


Pemberontakan besar-besaran pun pecah, melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Para pemberontak sepakat memilih Muhammad Bahadur sebagai pemimpin mereka, meskipun usianya sudah senja.


Namun, Inggris—dengan memanfaatkan perpecahan dan dukungan dari kelompok Sikh serta pihak lainnya—menumpas pergerakan tersebut dengan sangat kejam:


• Membu*nuh para ulama dan mengek*sekusi para pemberontak.


• Menangkap Sultan Muhammad Bahadur.


• Meme*nggal ke*pala putra-putranya tepat di hadapannya sebelum membuangnya ke pengasingan di Burma.


Sultan wafat dalam pengasingan di usia 89 tahun pada tahun 1862.


Peristiwa kelam ini sekaligus mengakhiri babak kekuasaan Islam di India, yang fondasinya telah diletakkan sejak penaklukan Mahmud al-Ghaznawi pada tahun 1001 M. Meski kekuasaan telah usai, umat Islam meninggalkan warisan peradaban agung yang jejak megahnya masih berdiri kokoh hingga hari ini.


Sejarah kolonialisme Inggris sarat dengan tipu daya dan penderitaan bagi umat Islam—dari India hingga Plstina, dari Afrika hingga Timur Tengah. Dan sejarah itu perlahan akan tenggelam jika kita memilih untuk diam.


Ya. Pernah ada kekuasaan politik Muslim yang sangat luas di anak benua India, tetapi itu tidak berarti seluruh penduduk India otomatis menjadi Muslim. Ada beberapa alasan historis yang penting:

1. “Islam pernah berkuasa” ≠ “mayoritas penduduk masuk Islam”

Dinasti dan kerajaan Muslim seperti Kesultanan Delhi dan kemudian Kekaisaran Mughal menguasai wilayah yang luas pada periode berbeda. Namun, mereka memerintah masyarakat yang sejak awal sangat besar dan beragam, termasuk komunitas Hindu, Buddha, Jain, Sikh, dan lainnya.

Kekuasaan politik dan perubahan agama adalah dua proses yang berbeda.

2. Penduduk Hindu sudah sangat besar

Tradisi keagamaan yang kemudian dikategorikan sebagai Hindu telah berkembang di India selama berabad-abad sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Muslim. Jadi, ketika penguasa Muslim datang, mereka tidak memasuki wilayah yang kosong secara demografis, melainkan wilayah dengan populasi non-Muslim yang sangat besar.

3. Penyebaran Islam tidak hanya bergantung pada penguasa

Islam di India juga berkembang melalui perdagangan, ulama, jaringan sufi, komunitas Muslim lokal, dan proses sosial selama berabad-abad. Konversi terjadi di berbagai daerah, tetapi tidak dalam skala yang mengubah seluruh anak benua menjadi Muslim.

Karena itu, anggapan bahwa “kalau penguasanya Muslim, rakyat pasti dipaksa masuk Islam” terlalu menyederhanakan sejarah. Bukti demografis menunjukkan bahwa perpindahan agama secara keseluruhan merupakan proses yang kompleks.

4. Kekuasaan Muslim juga tidak berlangsung sebagai satu pemerintahan tunggal

Istilah “Islam berkuasa di India” perlu hati-hati. Ada banyak kerajaan dan dinasti yang berbeda, dengan wilayah, kebijakan, dan masa pemerintahan yang berbeda. Bahkan pada masa Mughal, kekuasaan mereka tidak selalu mencakup seluruh wilayah yang sekarang disebut India.

5. Setelah berakhirnya pemerintahan Muslim, komposisi penduduk tetap berubah secara bertahap

Pada sensus India 2011, sekitar 79,8% penduduk India beragama Hindu dan 14,2% Muslim. Pew Research Center juga menemukan bahwa perpindahan agama di India modern relatif kecil; sekitar 98% orang dewasa masih menganut agama tempat mereka dibesarkan. 


Menariknya, pada 1951–2011 proporsi Muslim memang meningkat dari 9,8% menjadi 14,2%, sementara proporsi Hindu turun dari 84,1% menjadi 79,8%. Jadi Islam tetap berkembang secara demografis meskipun India secara keseluruhan tetap mayoritas Hindu. 


Kesimpulannya

India tetap mayoritas Hindu bukan karena Islam tidak pernah berkuasa, tetapi karena kekuasaan politik tidak otomatis menghasilkan perubahan agama secara massal. India memiliki populasi Hindu yang sangat besar sejak sebelum periode kerajaan Muslim, sementara Islam menyebar melalui berbagai jalur sosial dan menghasilkan komunitas Muslim yang sangat besar tanpa menjadi mayoritas di seluruh India.

Bahkan pada 2011, sekitar 94% umat Hindu dunia tinggal di India, sementara India juga memiliki salah satu populasi Muslim terbesar di dunia.

Pada 5 Oktober 1965, peringatan ke-20 Hari Angkatan Bersenj4t4 Republik Indonesia berlangsung dalam suasana duka. Pada hari itu, tujuh korban yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, setelah jenazah mereka ditemukan dan dievakuasi dari Lubang Buaya pada 4 Oktober. Ketujuhnya adalah Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Tendean. A.H. Nasution hadir dalam upacara tersebut dalam keadaan masih terluka setelah berhasil lolos dari upaya pencvlikan pada 1 Oktober. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa hari yang biasanya menjadi peringatan penting bagi Angkatan Bersenj4t4 itu kali ini berlangsung dalam suasana yang berbeda. Nasution kemudian menyebut nama satu per satu rekan yang telah meningg4l dan mengatakan bahwa mereka yang masih hidup memiliki kewajiban untuk meneruskan tugas yang ditinggalkan. Pidato itu disampaikan sebagai penghormatan terakhir sebelum jen4z4h dimakamkan. Salah satu bagian pidatonya yang paling sering dikenang adalah ketika Nasution mengatakan, “Fitnah lebih jah4t dari pembvnvh4n.” Pernyataan tersebut muncul ketika ia membahas tuduh4n dan pencemaran nama terhadap para korban. Namun, di bagian lain, Nasution justru meminta agar para prajurit tidak menyimpan dendam. Ia menyerukan agar mereka tetap berpegang pada keadilan dan kebenaran. Dengan demikian, pidatonya bukan hanya berisi kesedihan atas kehilangan rekan-rekannya, tetapi juga pesan kepada mereka yang masih hidup untuk melanjutkan tugas tanpa meninggalkan prinsip yang diyakininya. Sehari setelah pemakaman tersebut, 6 Oktober 1965, putri Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, meningg4l dunia akibat luk4 t3mb4k yang diderit4nya ketika terjadi penyer4ngan di rumah keluarga Nasution pada 1 Oktober. Rangkaian peristiwa dalam beberapa hari itu membuat awal Oktober 1965 menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia, yang kemudian terus menjadi bahan kajian dan perdebatan sejarah mengenai peristiwa 30 September 1965. Referensi: • Kemendikdasmen ; Arsip dan kajian yang dikutip Kompas ; serta laporan sejarah mengenai pem4kaman 5 Oktober 1965. Sumber : Halimah Adam

 Pada 5 Oktober 1965, peringatan ke-20 Hari Angkatan Bersenj4t4 Republik Indonesia berlangsung dalam suasana duka. Pada hari itu, tujuh korban yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, setelah jenazah mereka ditemukan dan dievakuasi dari Lubang Buaya pada 4 Oktober. Ketujuhnya adalah Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Tendean. 



A.H. Nasution hadir dalam upacara tersebut dalam keadaan masih terluka setelah berhasil lolos dari upaya pencvlikan pada 1 Oktober. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa hari yang biasanya menjadi peringatan penting bagi Angkatan Bersenj4t4 itu kali ini berlangsung dalam suasana yang berbeda. Nasution kemudian menyebut nama satu per satu rekan yang telah meningg4l dan mengatakan bahwa mereka yang masih hidup memiliki kewajiban untuk meneruskan tugas yang ditinggalkan. Pidato itu disampaikan sebagai penghormatan terakhir sebelum jen4z4h dimakamkan. 


Salah satu bagian pidatonya yang paling sering dikenang adalah ketika Nasution mengatakan, “Fitnah lebih jah4t dari pembvnvh4n.” Pernyataan tersebut muncul ketika ia membahas tuduh4n dan pencemaran nama terhadap para korban. Namun, di bagian lain, Nasution justru meminta agar para prajurit tidak menyimpan dendam. Ia menyerukan agar mereka tetap berpegang pada keadilan dan kebenaran. Dengan demikian, pidatonya bukan hanya berisi kesedihan atas kehilangan rekan-rekannya, tetapi juga pesan kepada mereka yang masih hidup untuk melanjutkan tugas tanpa meninggalkan prinsip yang diyakininya. 


Sehari setelah pemakaman tersebut, 6 Oktober 1965, putri Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, meningg4l dunia akibat luk4 t3mb4k yang diderit4nya ketika terjadi penyer4ngan di rumah keluarga Nasution pada 1 Oktober. Rangkaian peristiwa dalam beberapa hari itu membuat awal Oktober 1965 menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia, yang kemudian terus menjadi bahan kajian dan perdebatan sejarah mengenai peristiwa 30 September 1965.


Referensi:


• Kemendikdasmen ; Arsip dan kajian yang dikutip Kompas ;  serta laporan sejarah mengenai pem4kaman 5 Oktober 1965.


Sumber : Halimah Adam