06 July 2026

Halte Jambu Halte Jambu secara geografis berlokasi di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Halte ini berada di lintasan rel yang menghubungkan Stasiun Ambarawa dan Stasiun Bedono, di ketinggian 479 MDPL. Bentuk fisik bangunan HaΔΊte Jambu sangat mirip dengan Halte Payaman di Magelang. Terdiri dari 3 ruangan, yaitu ruang tunggu calon penumpang, ruang administrasi/penjualan tiket, dan ruang PPKA. Namun saat ini, Halte Jambu hanya terdiri dari 2 ruang, sedangkan 1 ruang lagi di bagian selatan dibiarkan terbuka hanya separuh dinding tanpa atap. Sumber foto lama: indiegangers.nl

 Halte Jambu


Halte Jambu secara geografis berlokasi di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Halte ini berada di lintasan rel yang menghubungkan Stasiun Ambarawa dan Stasiun Bedono, di ketinggian 479 MDPL.


Bentuk fisik bangunan HaΔΊte Jambu sangat mirip dengan Halte Payaman di Magelang. Terdiri dari 3 ruangan, yaitu ruang tunggu calon penumpang, ruang administrasi/penjualan tiket, dan ruang PPKA.


Namun saat ini, Halte Jambu hanya terdiri dari 2 ruang, sedangkan 1 ruang lagi di bagian selatan dibiarkan terbuka hanya separuh dinding tanpa atap.



Sumber foto lama: indiegangers.nl

25 June 2026

_1945. Subuh itu, sebuah kerajaan justru bergerak lebih cepat daripada sebuah negara yang baru lahir. Di saat banyak raja masih menunggu arah, sebuah telegram sudah lebih dulu meninggalkan Istana Siak. Bukan untuk meminta kepastian, melainkan untuk memberikannya. Di meja istananya, keputusan itu diam-diam memotong masa depan keluarganya sendiri. Pengirimnya adalah Sultan Syarif Kasim II, raja terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura. Isi pesannya sangat singkat. Kesultanan Siak berdiri di belakang Republik Indonesia. Tidak ada syarat. Tidak ada tawar-menawar. Keputusan itu selesai bahkan sebelum masa depan republik benar-benar jelas. Beberapa hari kemudian, ia membuka kas kerajaan. 13 juta gulden diserahkan kepada republik yang bahkan belum memiliki keuangan negara yang mapan. Nilainya hari ini diperkirakan melampaui Rp1 triliun. Saat itu, Republik bahkan belum punya kas negara yang jelas. Belum selesai. Mahkota emas dilepas. Pedang bertatahkan berlian ikut diserahkan. Perhiasan kerajaan menyusul. Semua yang selama berabad-abad menjadi lambang kekuasaan, berubah menjadi bekal bagi sebuah negara yang baru belajar berdiri. Yang tersisa di istana semakin sedikit. Yang dibawa republik semakin banyak. Di titik ini, pilihannya sebenarnya masih terbuka. Ia bisa seperti Yogyakarta. Tetap berkuasa. Mendapat status istimewa. Ia tidak memilih itu. Kesultanan Siak dilebur sepenuhnya ke dalam NKRI. Tanpa syarat. Tanpa kursi. Tanpa jaminan masa depan politik. Bersama wilayahnya. Termasuk kawasan yang kemudian dikenal sebagai Blok Minas, salah satu ladang minyak terbesar di Indonesia. Negara tumbuh. Devisa mengalir. Hidupnya justru mengecil. Ia meninggalkan istana. Pindah-pindah antara Jakarta, Aceh, lalu kembali ke Siak. Tidak ada jabatan. Tidak ada protokol. Catatan tentang masa tuanya selalu sama: sederhana. 23 April 1968, ia wafat di RS Caltex Rumbai. Bukan di istana. Bukan sebagai raja. Tiga puluh tahun kemudian, negara baru memberinya gelar Pahlawan Nasional. Dan satu hal yang jarang disebut di awal cerita. Ia tidak kehilangan takhta karena direbut. Ia yang meletakkannya sendiri. _ AJR

 _1945.


Subuh itu, sebuah kerajaan justru bergerak lebih cepat daripada sebuah negara yang baru lahir.


Di saat banyak raja masih menunggu arah, sebuah telegram sudah lebih dulu meninggalkan Istana Siak. 



Bukan untuk meminta kepastian, melainkan untuk memberikannya.


Di meja istananya, keputusan itu diam-diam memotong masa depan keluarganya sendiri.


Pengirimnya adalah Sultan Syarif Kasim II, raja terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura.


Isi pesannya sangat singkat. Kesultanan Siak berdiri di belakang Republik Indonesia.


Tidak ada syarat.


Tidak ada tawar-menawar.


Keputusan itu selesai bahkan sebelum masa depan republik benar-benar jelas.


Beberapa hari kemudian, ia membuka kas kerajaan.


13 juta gulden diserahkan kepada republik yang bahkan belum memiliki keuangan negara yang mapan. Nilainya hari ini diperkirakan melampaui Rp1 triliun.


Saat itu, Republik bahkan belum punya kas negara yang jelas.


Belum selesai.


Mahkota emas dilepas.


Pedang bertatahkan berlian ikut diserahkan.


Perhiasan kerajaan menyusul.


Semua yang selama berabad-abad menjadi lambang kekuasaan, berubah menjadi bekal bagi sebuah negara yang baru belajar berdiri.


Yang tersisa di istana semakin sedikit.


Yang dibawa republik semakin banyak.


Di titik ini, pilihannya sebenarnya masih terbuka.


Ia bisa seperti Yogyakarta.


Tetap berkuasa.


Mendapat status istimewa.


Ia tidak memilih itu.


Kesultanan Siak dilebur sepenuhnya ke dalam NKRI.


Tanpa syarat.


Tanpa kursi.


Tanpa jaminan masa depan politik.


Bersama wilayahnya. Termasuk kawasan yang kemudian dikenal sebagai Blok Minas, salah satu ladang minyak terbesar di Indonesia.


Negara tumbuh.


Devisa mengalir.


Hidupnya justru mengecil.


Ia meninggalkan istana.


Pindah-pindah antara Jakarta, Aceh, lalu kembali ke Siak.


Tidak ada jabatan.


Tidak ada protokol.


Catatan tentang masa tuanya selalu sama: sederhana.


23 April 1968, ia wafat di RS Caltex Rumbai.


Bukan di istana.


Bukan sebagai raja.


Tiga puluh tahun kemudian, negara baru memberinya gelar Pahlawan Nasional.


Dan satu hal yang jarang disebut di awal cerita.


Ia tidak kehilangan takhta karena direbut.


Ia yang meletakkannya sendiri.


_

Sumber : Ajoko Raharjo

AJR

πŸ“œ BIOGRAFI LENGKAP & RINCI: JENDERAL BASUKI RAHMAT Nama lengkap: Raden Basuki Rahmat (sering ditulis Basoeki Rachmat) Lahir: 4 November 1921, Desa Senori, Kecamatan Senori, Tuban, Jawa Timur Wafat: 9 Januari 1969, Jakarta, umur 47 tahun; penyebab: serangan jantung Gelar: Pahlawan Nasional RI, kenaikan pangkat anumerta jadi Jenderal TNI πŸ§’ Awal Kehidupan & Pendidikan - Ayah: Raden Soedarsono Soenodihardjo (asisten camat) - Yatim usia 4 tahun (ibu meninggal), piatu usia 11 tahun (ayah meninggal); dibesarkan keluarga kerabat - Pendidikan: - HIS (Sekolah Rakyat) Tuban - MULO (setingkat SMP) Surabaya - HIK Muhammadiyah Yogyakarta (lulus 1942) - Tak langsung melanjutkan sekolah, lalu masuk pendidikan militer masa pendudukan Jepang ⚔️ KARIER MILITER RINCI Masa Jepang (1943–1945) - Masuk PETA (Pembela Tanah Air) sekolah Bogor - Lulus jadi Syodanco (Komandan Kompi), ditempatkan di Pacitan Masa Kemerdekaan & Perjuangan - Agustus 1945: Mendirikan BKR di Maospati, Madiun - 5 Oktober 1945: Masuk TKR → Komandan Batalyon Ngawi, pangkat Mayor - Agresi Militer Belanda I & II: Memimpin pasukan melawan Belanda di Bojonegoro, Temanggung, Kediri, Madiun, Ngawi - Pasca Perjanjian Renville: Bertugas mengamankan perbatasan wilayah Jawa Timur - 1950: Masuk AKABRI, naik jadi Letnan Kolonel - 1956–1959: Atase Militer RI di Melbourne, Australia - 1960: Kembali ke Indonesia → Kepala Staf Kodam V/Brawijaya - 1962: Diangkat Panglima Kodam V/Brawijaya (pangkat Mayor Jenderal) - 1965: Pasca G30S/PKI → Memimpin penertiban dan pemulihan keamanan seluruh Jawa Timur πŸ“œ KARIER POLITIK & PERAN SEJARAH - 24 Februari 1966: Diangkat Menteri Urusan Veteran & Demobilisasi Kabinet Dwikora II - 11 Maret 1966: Peran krusial → Salah satu dari 3 saksi utama penandatanganan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) bersama Jenderal M. Jusuf dan Amir Machmud . Bertugas membawa dokumen dari Istana Bogor ke Markas Kostrad untuk diserahkan kepada Soeharto - 18 Maret 1966: Dilantik Menteri Dalam Negeri RI; juga menjabat Penjabat Gubernur DKI Jakarta hingga 28 April 1966 - Juni 1968: Tetap menduduki posisi Mendagri di Kabinet Pembangunan I Soeharto πŸ•Š️ WAFAT & PENGHARGAAN - 9 Januari 1969: Meninggal mendadak karena serangan jantung saat masih menjabat; dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta - SK Presiden No. 1/TK/1969: Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan pangkat Jenderal TNI (Anumerta) di hari yang sama - Namanya diabadikan: Jalan Basuki Rahmat di ratusan kota, nama gedung, hingga ruas jalan utama di Tuban dan Samarinda πŸ“Œ RINGKASAN JABATAN - Syodanco PETA → Komandan TKR Ngawi - Atase Militer Australia → Pangdam V/Brawijaya - Menteri Veteran → Saksi Supersemar - Mendagri RI → Pj Gubernur DKI Jakarta Sumber: Wikipedia Indonesia, LPP RRI, Kemensos RI, buku Basoeki Rachmat dan Supersemar..

 πŸ“œ BIOGRAFI LENGKAP & RINCI: JENDERAL BASUKI RAHMAT



Nama lengkap: Raden Basuki Rahmat (sering ditulis Basoeki Rachmat) 

Lahir: 4 November 1921, Desa Senori, Kecamatan Senori, Tuban, Jawa Timur 

Wafat: 9 Januari 1969, Jakarta, umur 47 tahun; penyebab: serangan jantung 

Gelar: Pahlawan Nasional RI, kenaikan pangkat anumerta jadi Jenderal TNI 


πŸ§’ Awal Kehidupan & Pendidikan

- Ayah: Raden Soedarsono Soenodihardjo (asisten camat)

- Yatim usia 4 tahun (ibu meninggal), piatu usia 11 tahun (ayah meninggal); dibesarkan keluarga kerabat 

- Pendidikan:

- HIS (Sekolah Rakyat) Tuban

- MULO (setingkat SMP) Surabaya

- HIK Muhammadiyah Yogyakarta (lulus 1942) 

- Tak langsung melanjutkan sekolah, lalu masuk pendidikan militer masa pendudukan Jepang


⚔️ KARIER MILITER RINCI

Masa Jepang (1943–1945)

- Masuk PETA (Pembela Tanah Air) sekolah Bogor 

- Lulus jadi Syodanco (Komandan Kompi), ditempatkan di Pacitan 

Masa Kemerdekaan & Perjuangan

- Agustus 1945: Mendirikan BKR di Maospati, Madiun 

- 5 Oktober 1945: Masuk TKR → Komandan Batalyon Ngawi, pangkat Mayor 

- Agresi Militer Belanda I & II: Memimpin pasukan melawan Belanda di Bojonegoro, Temanggung, Kediri, Madiun, Ngawi 

- Pasca Perjanjian Renville: Bertugas mengamankan perbatasan wilayah Jawa Timur 

- 1950: Masuk AKABRI, naik jadi Letnan Kolonel

- 1956–1959: Atase Militer RI di Melbourne, Australia 

- 1960: Kembali ke Indonesia → Kepala Staf Kodam V/Brawijaya 

- 1962: Diangkat Panglima Kodam V/Brawijaya (pangkat Mayor Jenderal) 

- 1965: Pasca G30S/PKI → Memimpin penertiban dan pemulihan keamanan seluruh Jawa Timur 


πŸ“œ KARIER POLITIK & PERAN SEJARAH

 

- 24 Februari 1966: Diangkat Menteri Urusan Veteran & Demobilisasi Kabinet Dwikora II 

- 11 Maret 1966: Peran krusial → Salah satu dari 3 saksi utama penandatanganan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) bersama Jenderal M. Jusuf dan Amir Machmud . Bertugas membawa dokumen dari Istana Bogor ke Markas Kostrad untuk diserahkan kepada Soeharto 

- 18 Maret 1966: Dilantik Menteri Dalam Negeri RI; juga menjabat Penjabat Gubernur DKI Jakarta hingga 28 April 1966 

- Juni 1968: Tetap menduduki posisi Mendagri di Kabinet Pembangunan I Soeharto 


πŸ•Š️ WAFAT & PENGHARGAAN

- 9 Januari 1969: Meninggal mendadak karena serangan jantung saat masih menjabat; dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta 

- SK Presiden No. 1/TK/1969: Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan pangkat Jenderal TNI (Anumerta) di hari yang sama 

- Namanya diabadikan: Jalan Basuki Rahmat di ratusan kota, nama gedung, hingga ruas jalan utama di Tuban dan Samarinda

 

πŸ“Œ RINGKASAN JABATAN

- Syodanco PETA → Komandan TKR Ngawi

- Atase Militer Australia → Pangdam V/Brawijaya

- Menteri Veteran → Saksi Supersemar

- Mendagri RI → Pj Gubernur DKI Jakarta 

Sumber: Wikipedia Indonesia, LPP RRI, Kemensos RI, buku Basoeki Rachmat dan Supersemar..



12 June 2026

Dahulu kala, terdapat sebuah rawa besar bernama Rawa Wawar yang terhampar di antara perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo. Terbentuknya Rawa Wawar dipengaruhi oleh keberadaan bentangan bukit pasir di selatannya yang dikenal sebagai Urut Sewu. Hal ini menyebabkan sejumlah sungai di utaranya tidak dapat mengalirkan airnya langsung ke laut dan menggenang menjadi sebuah rawa. Saat sebuah jalan yang menghubungkan Kutoarjo dan Kebumen pada tahun 1830, Residen Bagelen pertama, Valck, menyebut jika jalan tersebut tampak seperti sebuah tanggul. __ Pada tahun 1834, sebuah muara baru digali di Truntung sehingga air dari Sungai Luk Ulo dapat langsung mengalir ke laut. Sebagian hamparan rawa mengering dan akhirnya menjadi dataran baru yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Namun hal tersebut menyisakan masalah lain karena saat musim hujan dataran tersebut akhirnya kerap tergenang banjir. Salah satu yang paling parah terjadi pada tahun 1861. Oleh karena itu, antara tahun 1861 dan 1870, sejumlah upaya dilakukan untuk membenahi sistem drainase di sana dengan merekayasa pembuangan air. Misalnya dengan membuat bendung di Sungai Kedungbener dan menggali saluran penghubung dari sungai itu ke Sungai Lok Ulo pada tahun 1861. Sumber : Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.

 Dahulu kala, terdapat sebuah rawa besar bernama Rawa Wawar yang terhampar di antara perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo. Terbentuknya Rawa Wawar dipengaruhi oleh keberadaan bentangan bukit pasir di selatannya yang dikenal sebagai Urut Sewu. Hal ini menyebabkan sejumlah sungai di utaranya tidak dapat mengalirkan airnya langsung ke laut dan menggenang menjadi sebuah rawa. Saat sebuah jalan yang menghubungkan Kutoarjo dan Kebumen pada tahun 1830,  Residen Bagelen pertama, Valck, menyebut jika jalan tersebut tampak seperti sebuah tanggul. 



__

Pada tahun 1834, sebuah muara baru digali di Truntung sehingga air dari Sungai Luk Ulo dapat langsung mengalir ke laut. Sebagian hamparan rawa mengering dan akhirnya menjadi dataran baru yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Namun hal tersebut menyisakan masalah lain karena saat musim hujan dataran tersebut akhirnya kerap tergenang banjir. Salah satu yang paling parah terjadi pada tahun 1861. Oleh karena itu, antara tahun 1861 dan 1870, sejumlah upaya dilakukan untuk membenahi sistem drainase di sana dengan merekayasa pembuangan air. Misalnya dengan membuat bendung di Sungai Kedungbener dan menggali saluran penghubung dari sungai itu ke Sungai Lok Ulo pada tahun 1861.


Sumber : Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.


Sumber : Lengkong Sanggar Ginaris

Jalur Trem Uap Magelang-Ambal Sejauh ini, belum banyak yang mengetahui bahwa pada masa kolonial, sudah ada wacana untuk membuat jalur trem uap yang menghubugnkan antara Magelang dengan wilayah pesisir selatang Purworejo dan Kebumen. Ide tersebut pertama kali dicetuskan oleh seorang Belanda bernama H.W. van Dalfsen. Pada masa tersebut, setiap individu dapat mengajukan konsesi Pembangunan jalur kereta api kepada pemerintah dengan mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Dalfsen sendiri mengajukan konsesi tersebut pada 4 Juli 1896 dengan rute sebagai berikut ; A. seksi pertama dari Salaman-Loano-Purworejo B. seksi kedua dari Salaman-Borobudur-Muntilan. C. Seksi ketiga dari Purworejo-Purwodadi-Jogoboyo-Ambal. D. Seksi keempat dari Purworejo-Kemiri-Pituruh E. Seksi kelima dari Kemiri-Kutoarjo-Ketawang F. Seksi keempat dari Ambal-Petanahan-Kebumen G. Seksi keenam dari Ambal-Puring. Jika melihat rencana yang diusulkan, terlihat bahwaw Dalfsen tampak begitu ambisius untuk dapat menghubungkan sejumlah tempat di Purworejo dan Kebumen dengan trem uap, terlebih saat itu trem uap sedang menjadi moda transportasi antar wilayah yang popular karena lebih efisien dibandingkan dengan kereta api regular. Pemerintah kolonial kemudian memberikan izin kepada Dalfsen dengan syarat bahwa jalur yang diajukan oleh Daflsen dapat terkoneksi dengan jalur kereta milik SS dan NISM. Selain itu, jalur kereta Purworejo-Magelang dan Salaman-Muntilan harus dapat dilalui oleh kereta api milik SS. Sayangnya, hingga Belanda sudah tidak lagi menjajah rencana yang dibuat oleh Dalfsen tidak jadi terwujud. Sumber : Bataviaasch nieuwsblad 16 Juni 1896 Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1901 Indische Spoorweg Politiek Deel VIII.

 Jalur Trem Uap Magelang-Ambal



Sejauh ini, belum banyak yang mengetahui bahwa pada masa kolonial, sudah ada wacana untuk membuat jalur trem uap yang menghubugnkan antara Magelang dengan wilayah pesisir selatang Purworejo dan Kebumen. Ide tersebut pertama kali dicetuskan oleh seorang Belanda bernama H.W. van Dalfsen. Pada masa tersebut, setiap individu dapat mengajukan konsesi Pembangunan jalur kereta api kepada pemerintah dengan mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Dalfsen sendiri mengajukan konsesi tersebut pada 4 Juli 1896 dengan rute sebagai berikut ; 


A. seksi pertama dari Salaman-Loano-Purworejo

B. seksi kedua dari Salaman-Borobudur-Muntilan.

C. Seksi ketiga dari Purworejo-Purwodadi-Jogoboyo-Ambal.

D. Seksi keempat dari Purworejo-Kemiri-Pituruh

E. Seksi kelima dari Kemiri-Kutoarjo-Ketawang

F. Seksi keempat dari Ambal-Petanahan-Kebumen

G. Seksi keenam dari Ambal-Puring.


Jika melihat rencana yang diusulkan, terlihat bahwaw Dalfsen tampak begitu ambisius untuk dapat menghubungkan sejumlah tempat di Purworejo dan Kebumen dengan trem uap, terlebih saat itu trem uap sedang menjadi moda transportasi antar wilayah yang popular karena lebih efisien dibandingkan dengan kereta api regular.


Pemerintah kolonial kemudian memberikan izin kepada Dalfsen dengan syarat bahwa jalur yang diajukan oleh Daflsen dapat terkoneksi dengan jalur kereta milik SS dan NISM. Selain itu, jalur kereta Purworejo-Magelang dan Salaman-Muntilan harus dapat dilalui oleh kereta api milik SS. Sayangnya, hingga Belanda sudah tidak lagi menjajah rencana yang dibuat oleh Dalfsen tidak jadi terwujud. 


Sumber :


Bataviaasch nieuwsblad 16 Juni 1896

Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1901

Indische Spoorweg Politiek Deel VIII.


Sumber : Lengkong Sanggar Ginaris

Lahir di Wonosobo, Jateng, 04 Agustus 1918 dengan nama lengkap Siswondo Parman tapi lebih dikenal dengan nama S.Parman, adalah salah satu dari tujuh Pahlawan Revolusi yang menjadi korban keganasan G30S PKI. Menariknya, beliau adalah adik kandung dari Sakirman, seorang tokoh penting PKI dan anggota Politbiro CC PKI.

 Lahir di Wonosobo, Jateng, 04 Agustus 1918 dengan nama lengkap Siswondo Parman tapi lebih dikenal dengan nama S.Parman, adalah salah satu dari tujuh Pahlawan Revolusi yang menjadi korban keganasan G30S PKI.

Menariknya, beliau adalah adik kandung dari Sakirman, seorang tokoh penting PKI dan anggota Politbiro CC PKI.



Sumber : Abdi Negara

05 June 2026

DINAMIKA KONFLIK INTERNAL TNI DI SURAKARTA 1948 Benturan Faksi, Rapuhnya Komando, dan Diplomasi di Ujung Senjata post by Jani Sari II - 2 Juni 2026 ​Ketika kita menelaah lembaran sejarah militer pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, salah satu fenomena yang paling mencolok sekaligus krusial untuk dibedah adalah rapuhnya garis komando formal serta tingginya ketegangan antar-faksi bersenjata. Catatan sejarah mengenai insiden di Surakarta—sebuah gesekan hebat yang melibatkan pasukan Hijrah (Siliwangi) dan kesatuan lokal di bawah pimpinan Mayor Slamet Rijadi—memberikan kita sebuah potret yang sangat gamblang mengenai sejauh mana ego kelompok dan dinamika lapangan mampu mendikte jalannya sejarah militer kita yang baru lahir. ​Peristiwa ini meletus sekitar pukul 12.00 siang, terik matahari di bulan September 1948 ditandai dengan rentetan tembakan gencar di sebelah utara kota. Ini bukanlah sebuah kontak senjata biasa dengan musuh asing, melainkan sebuah serangan mendadak yang dirancang secara taktis terhadap sesama saudara seperjuangan. Kekuatan besar hingga tiga batalyon di bawah pimpinan Mayor Slamet Rijadi, selaku Komandan Medan Surakarta, dikerahkan untuk mengepung asrama kompi pengawal. ​Menarik untuk dicermati bagaimana unsur muslihat psikologis digunakan dalam palagan ini. Pasukan penyerang awalnya berpura-pura melakukan latihan baris-berbaris di depan asrama Kompi Oking, membuai kewaspadaan lawan sebelum sang Mayor secara tiba-tiba meneriakkan komando: "Sergaaaap!". Namun, di sinilah kematangan bertempur kompi pengawal teruji. Alih-alih didera panik, mereka merespons dengan pertahanan taktis yang cerdik. Memanfaatkan senapan mesin watermantel yang ditembakkan melalui tembok-tembok kamar yang sengaja dilubangi, mereka berhasil mematahkan gelombang serbuan. Pasukan penyerang bergelimpangan dan kocar-kacir mencari perlindungan tanpa mampu menimbulkan satu pun korban di pihak yang bertahan. ​Dalam perspektif sejarah militer, krisis akut di lapangan seperti ini kerap menelanjangi kelambatan dan kebimbangan di tingkat komando atas. Ketika muncul urgensi untuk mengerahkan batalyon guna membebaskan Kompi Oking yang terkepung, Komandan Brigade justru menunjukkan sikap ragu-ragu dan enggan bertindak tegas. Di titik krusial inilah inisiatif perwira lapangan mengambil alih kendali. Mayor Umar Wirahadikusumah (Komandan Batalion dari Colomadu) muncul dan langsung mendesak wakil komandan (second in command) untuk segera menandatangani Surat Perintah Ofensif. Desakan ini langsung mendapat dukungan aklamasi dari seluruh staf Brigade. Realitas sosiologis TNI kala itu memperlihatkan bahwa keputusan taktis yang fatal sering kali lahir bukan dari ketetapan hierarki formal yang kaku, melainkan dari keberanian perwira lapangan yang melompati sekat birokrasi demi menyelamatkan pasukannya. ​Tragedi di lapangan semakin diperkeruh oleh hilangnya kendali emosi dan disiplin tempur. Saat tim utusan berbendera putih dikirim untuk merintis gencatan senjata, sebuah insiden berdarah terjadi: seorang Komandan Peleton tewas seketika akibat peluru yang bersarang di kepalanya di dekat markas Kapten Oking. Kemarahan Oking atas apa yang ia anggap sebagai pengkhianatan hampir saja membakar seluruh situasi, sebelum akhirnya rasionalitas militer kembali tegak setelah ia diyakinkan untuk mematuhi perintah Komandan Brigade, dengan syarat seluruh pasukan penyerang ditarik mundur ke barak masing-masing. ​Namun, anarki tidak berhenti begitu saja. Keesokan harinya, elemen garis depan (voorspits) dari Batalyon pasukan Hijrah merembes masuk ke dalam kota. Tanpa formasi militer yang teratur, kelompok-kelompok kecil beranggotakan 3 hingga 4 orang ini bertindak sendiri-sendiri—yang di dalam teks digambarkan "secara gangster"—dengan melucuti pos-pos penjagaan, merampas kendaraan militer lokal, dan membersihkan barikade. Suasana chaos ini segera memicu alarm bahaya di tingkat kekuasaan yang lebih tinggi akan ancaman pecahnya perang saudara secara terbuka. ​Puncak dari seluruh drama faksionalisme ini mewujud dalam ruang negosiasi di markas KMK. Penggambaran sosok Mayor Slamet Rijadi saat memasuki ruang perundingan adalah sebuah manifestasi visual yang sangat ikonik dari tipe panglima lapangan era revolusi. Ia hadir dengan pakaian lapangan cokelat tua, beret, sepatu laras tinggi, pistol di pinggang, sambil mengapit senapan tommy gun dengan kantong celana penuh peluru yang bergemerincing. Ini adalah sebuah bentuk psychological warfare atau intimidasi visual yang sengaja dipertontonkan untuk menegaskan posisi tawar dan dominasi di meja perundingan. ​Meskipun Slamet Rijadi bersikap keras kepala menuntut pengembalian Mayor Sugeng serta penarikan pasukan Siliwangi, realitas politik memaksa pihak staf Brigade melakukan sebuah "kebohongan diplomatik" yang tak terhindarkan demi mencegah pertumpahan darah yang lebih luas. Pihak staf Brigade tahu persis bahwa Mayor Sugeng sebenarnya telah gugur ("sudah menjadi mayat"), namun mereka memilih untuk merahasiakannya dan berjanji akan mengembalikannya dalam kondisi "segar bugar" setelah kesepakatan tertulis ditandatangani. ​Perjanjian tertulis akhirnya dicapai setelah melalui negosiasi yang alot dengan melibatkan Letkol Sujoto yang sempat sulit dicari. Kedua belah pihak menyepakati penghentian permusuhan dan penarikan mundur pasukan ke pangkalan masing-masing. ​Catatan dari lembaran-lembaran buku ini bukan sekadar kronik mengenai taktik pertempuran kota. Bagi seorang sejarawan militer, ini adalah cermin retak yang memantulkan proses pencarian bentuk dari sebuah tentara nasional yang sedang tumbuh. Di dalamnya berkelindan antara ego komandan lapangan, fanatisme kelompok (kedaerahan), kebingungan hierarki komando, sekaligus pragmatisme politik di tengah palagan revolusi Indonesia yang berdarah. bahan bacaan antara lain : Biografi Umar Wirahadikusumah Jani Sari Library

 DINAMIKA KONFLIK INTERNAL TNI DI SURAKARTA 1948

Benturan Faksi, Rapuhnya Komando, dan Diplomasi di Ujung Senjata


post by Jani Sari II - 2 Juni 2026



​Ketika kita menelaah lembaran sejarah militer pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, salah satu fenomena yang paling mencolok sekaligus krusial untuk dibedah adalah rapuhnya garis komando formal serta tingginya ketegangan antar-faksi bersenjata. Catatan sejarah mengenai insiden di Surakarta—sebuah gesekan hebat yang melibatkan pasukan Hijrah (Siliwangi) dan kesatuan lokal di bawah pimpinan Mayor Slamet Rijadi—memberikan kita sebuah potret yang sangat gamblang mengenai sejauh mana ego kelompok dan dinamika lapangan mampu mendikte jalannya sejarah militer kita yang baru lahir.


​Peristiwa ini meletus sekitar pukul 12.00 siang, terik matahari di bulan September 1948 ditandai dengan rentetan tembakan gencar di sebelah utara kota. Ini bukanlah sebuah kontak senjata biasa dengan musuh asing, melainkan sebuah serangan mendadak yang dirancang secara taktis terhadap sesama saudara seperjuangan. Kekuatan besar hingga tiga batalyon di bawah pimpinan Mayor Slamet Rijadi, selaku Komandan Medan Surakarta, dikerahkan untuk mengepung asrama kompi pengawal.


​Menarik untuk dicermati bagaimana unsur muslihat psikologis digunakan dalam palagan ini. Pasukan penyerang awalnya berpura-pura melakukan latihan baris-berbaris di depan asrama Kompi Oking, membuai kewaspadaan lawan sebelum sang Mayor secara tiba-tiba meneriakkan komando: "Sergaaaap!". Namun, di sinilah kematangan bertempur kompi pengawal teruji. Alih-alih didera panik, mereka merespons dengan pertahanan taktis yang cerdik. Memanfaatkan senapan mesin watermantel yang ditembakkan melalui tembok-tembok kamar yang sengaja dilubangi, mereka berhasil mematahkan gelombang serbuan. Pasukan penyerang bergelimpangan dan kocar-kacir mencari perlindungan tanpa mampu menimbulkan satu pun korban di pihak yang bertahan.

​Dalam perspektif sejarah militer, krisis akut di lapangan seperti ini kerap menelanjangi kelambatan dan kebimbangan di tingkat komando atas. Ketika muncul urgensi untuk mengerahkan batalyon guna membebaskan Kompi Oking yang terkepung, Komandan Brigade justru menunjukkan sikap ragu-ragu dan enggan bertindak tegas. 


Di titik krusial inilah inisiatif perwira lapangan mengambil alih kendali. Mayor Umar Wirahadikusumah (Komandan Batalion dari Colomadu) muncul dan langsung mendesak wakil komandan (second in command) untuk segera menandatangani Surat Perintah Ofensif. Desakan ini langsung mendapat dukungan aklamasi dari seluruh staf Brigade. Realitas sosiologis TNI kala itu memperlihatkan bahwa keputusan taktis yang fatal sering kali lahir bukan dari ketetapan hierarki formal yang kaku, melainkan dari keberanian perwira lapangan yang melompati sekat birokrasi demi menyelamatkan pasukannya.


​Tragedi di lapangan semakin diperkeruh oleh hilangnya kendali emosi dan disiplin tempur. Saat tim utusan berbendera putih dikirim untuk merintis gencatan senjata, sebuah insiden berdarah terjadi: seorang Komandan Peleton tewas seketika akibat peluru yang bersarang di kepalanya di dekat markas Kapten Oking. Kemarahan Oking atas apa yang ia anggap sebagai pengkhianatan hampir saja membakar seluruh situasi, sebelum akhirnya rasionalitas militer kembali tegak setelah ia diyakinkan untuk mematuhi perintah Komandan Brigade, dengan syarat seluruh pasukan penyerang ditarik mundur ke barak masing-masing.


​Namun, anarki tidak berhenti begitu saja. Keesokan harinya, elemen garis depan (voorspits) dari Batalyon pasukan Hijrah merembes masuk ke dalam kota. Tanpa formasi militer yang teratur, kelompok-kelompok kecil beranggotakan 3 hingga 4 orang ini bertindak sendiri-sendiri—yang di dalam teks digambarkan "secara gangster"—dengan melucuti pos-pos penjagaan, merampas kendaraan militer lokal, dan membersihkan barikade. Suasana chaos ini segera memicu alarm bahaya di tingkat kekuasaan yang lebih tinggi akan ancaman pecahnya perang saudara secara terbuka.

​Puncak dari seluruh drama faksionalisme ini mewujud dalam ruang negosiasi di markas KMK. Penggambaran sosok Mayor Slamet Rijadi saat memasuki ruang perundingan adalah sebuah manifestasi visual yang sangat ikonik dari tipe panglima lapangan era revolusi. Ia hadir dengan pakaian lapangan cokelat tua, beret, sepatu laras tinggi, pistol di pinggang, sambil mengapit senapan tommy gun dengan kantong celana penuh peluru yang bergemerincing. Ini adalah sebuah bentuk psychological warfare atau intimidasi visual yang sengaja dipertontonkan untuk menegaskan posisi tawar dan dominasi di meja perundingan.


​Meskipun Slamet Rijadi bersikap keras kepala menuntut pengembalian Mayor Sugeng serta penarikan pasukan Siliwangi, realitas politik memaksa pihak staf Brigade melakukan sebuah "kebohongan diplomatik" yang tak terhindarkan demi mencegah pertumpahan darah yang lebih luas. Pihak staf Brigade tahu persis bahwa Mayor Sugeng sebenarnya telah gugur ("sudah menjadi mayat"), namun mereka memilih untuk merahasiakannya dan berjanji akan mengembalikannya dalam kondisi "segar bugar" setelah kesepakatan tertulis ditandatangani.


​Perjanjian tertulis akhirnya dicapai setelah melalui negosiasi yang alot dengan melibatkan Letkol Sujoto yang sempat sulit dicari. Kedua belah pihak menyepakati penghentian permusuhan dan penarikan mundur pasukan ke pangkalan masing-masing.


​Catatan dari lembaran-lembaran buku ini bukan sekadar kronik mengenai taktik pertempuran kota. Bagi seorang sejarawan militer, ini adalah cermin retak yang memantulkan proses pencarian bentuk dari sebuah tentara nasional yang sedang tumbuh. Di dalamnya berkelindan antara ego komandan lapangan, fanatisme kelompok (kedaerahan), kebingungan hierarki komando, sekaligus pragmatisme politik di tengah palagan revolusi Indonesia yang berdarah.


bahan bacaan antara lain : Biografi Umar Wirahadikusumah 


Jani Sari Library

Sekarmadji Maridjan Kartos0ewirjo, pendiri Negara 1slam Indonesia (N11), di3ksekusi m4ti pada 5 September 1962. Ek3kusi tersebut dilaksanakan oleh regu t3mbak TNI dibawah komandan Kapten Sudjono di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta, tak lama setelah ia tertangkap pada 4 Juni 1962. Kabarnya Bung Karno berlinang air mata saat menandatangani penolakan grasi yang di ajukan Kart0suwiryo. Karena semua tahu bahwa Kart0 adalah karibnya saat berguru pada HOS Cokroaminoto sebelum era kemerdekaan. Kapten Sudjono sendiri kemudian terlibat G30S dan juga diek3kusi m4ti pada tahun 1967. Ternyata K4rma itu berlaku.

 Sekarmadji Maridjan Kartos0ewirjo, pendiri Negara 1slam Indonesia (N11), di3ksekusi m4ti pada 5 September 1962. Ek3kusi tersebut dilaksanakan oleh regu t3mbak TNI dibawah komandan Kapten Sudjono di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta, tak lama setelah ia tertangkap pada 4 Juni 1962.

Kabarnya Bung Karno berlinang air mata saat menandatangani penolakan grasi yang di ajukan Kart0suwiryo. Karena semua tahu bahwa Kart0 adalah karibnya saat berguru pada HOS Cokroaminoto sebelum era kemerdekaan.

Kapten Sudjono sendiri kemudian terlibat G30S dan juga diek3kusi m4ti pada tahun 1967. Ternyata K4rma itu berlaku.




Sumber : Andi Syahrul Ramadhan

Penandatanganan Kontrak Freeport di Indonesia, 1967 #sejarah #tempodulu #mazdarwan Perusahaan Freeport Sulphur of Delaware, AS pada Jumat 7 April 1967 menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan tembaga di Papua Barat. Freeport diperkirakan menginvestasikan 75 hingga 100 juta dolar AS. Penandatanganan bertempat di Departemen Pertambangan, dengan Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Pertambangan Ir. Slamet Bratanata dan Freeport oleh Robert C. Hills, Presiden Freeport Shulpur dan Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia, anak perusahan yang dibuat untuk kepentingan ini. Disaksikan pula oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green. Freeport mendapat hak konsensi lahan penambangan seluas 10.908 hektar untuk kontrak selama 30 tahun terhitung sejak kegiatan komersial pertama dilakukan. Pada Desember 1972 pengapalan 10.000 ton tembaga pertama kali dilakukan dengan tujuan Jepang. Dari penandatanganan kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan Undang-Undang Pertambangan No. 11 Tahun 1967 yang disahkan pada Desember 1967. Foto: The Netherlands National News Agency (ANP) Sumber : https://nobodycorpfound.wordpress.com/

 Penandatanganan Kontrak Freeport di Indonesia, 1967

#sejarah #tempodulu #mazdarwan



Perusahaan Freeport Sulphur of Delaware, AS pada Jumat 7 April 1967 menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan tembaga di Papua Barat. Freeport diperkirakan menginvestasikan 75 hingga 100 juta dolar AS. Penandatanganan bertempat di Departemen Pertambangan, dengan Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Pertambangan Ir. Slamet Bratanata dan Freeport oleh Robert C. Hills, Presiden Freeport Shulpur dan Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia, anak perusahan yang dibuat untuk kepentingan ini. Disaksikan pula oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green.


Freeport mendapat hak konsensi lahan penambangan seluas 10.908 hektar untuk kontrak selama 30 tahun terhitung sejak kegiatan komersial pertama dilakukan. Pada Desember 1972 pengapalan 10.000 ton tembaga pertama kali dilakukan dengan tujuan Jepang.


Dari penandatanganan kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan Undang-Undang Pertambangan No. 11 Tahun 1967 yang disahkan pada Desember 1967.


Foto: The Netherlands National News Agency (ANP)

Sumber : https://nobodycorpfound.wordpress.com/


Sumber : Sudarwanto Wongsodihardjo

03 June 2026

✅KISAH AKHIR HAYAT PRESIDEN BUNG KARNO Akhir hayat Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, diwarnai kepiluan dan keterasingan politik. Setelah dilengserkan dari kekuasaan, ia berstatus sebagai tahanan politik. Bung Karno wafat pada Minggu pagi, 21 Juni 1970, di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, akibat komplikasi penyakit ginjal. Kisah detail hari-hari terakhir sang Proklamator meliputi momen-momen berikut: Masa Pengasingan: Selepas lengser pada Maret 1967, Bung Karno menjadi tahanan rumah dan diasingkan dari rakyat. Ia sempat diisolasi di Istana Bogor, lalu dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) di Jakarta. Kondisi Fisik dan Mental: Dalam kesendiriannya sebagai tahanan, kondisi kesehatan Bung Karno terus memburuk akibat gangguan ginjal dan tekanan darah tinggi. Ruang gerak hingga akses perawatan medisnya dibatasi. Pertemuan Terakhir dengan Hatta: Sebelum meninggal, Bung Karno sempat mengalami koma. Sahabat sekaligus mantan Wakil Presiden, Mohammad Hatta, datang menjenguknya di rumah sakit. Momen haru ini menjadi pertemuan terakhir kedua tokoh proklamator tersebut sebelum Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya di usia 69 tahun. Lokasi Pemakaman: Jenazah Bung Karno disemayamkan di Wisma Yaso sebelum akhirnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, berdampingan dengan makam ibundanya. #fyp #fakta #sejarah #viral #info

 ✅KISAH AKHIR HAYAT PRESIDEN BUNG KARNO


Akhir hayat Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, diwarnai kepiluan dan keterasingan politik. Setelah dilengserkan dari kekuasaan, ia berstatus sebagai tahanan politik. Bung Karno wafat pada Minggu pagi, 21 Juni 1970, di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, akibat komplikasi penyakit ginjal.



Kisah detail hari-hari terakhir sang Proklamator meliputi momen-momen berikut:


Masa Pengasingan: Selepas lengser pada Maret 1967, Bung Karno menjadi tahanan rumah dan diasingkan dari rakyat. Ia sempat diisolasi di Istana Bogor, lalu dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) di Jakarta.


Kondisi Fisik dan Mental: Dalam kesendiriannya sebagai tahanan, kondisi kesehatan Bung Karno terus memburuk akibat gangguan ginjal dan tekanan darah tinggi. Ruang gerak hingga akses perawatan medisnya dibatasi.


Pertemuan Terakhir dengan Hatta: Sebelum meninggal, Bung Karno sempat mengalami koma. Sahabat sekaligus mantan Wakil Presiden, Mohammad Hatta, datang menjenguknya di rumah sakit. Momen haru ini menjadi pertemuan terakhir kedua tokoh proklamator tersebut sebelum Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya di usia 69 tahun.


Lokasi Pemakaman: Jenazah Bung Karno disemayamkan di Wisma Yaso sebelum akhirnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, berdampingan dengan makam ibundanya.


#fyp #fakta #sejarah #viral #info

01 June 2026

TIGA JENDERAL DARI SATU RAHIM: KIPRAH KELUARGA WIRJODIPRODJO DALAM LINTASAN SEJARAH TNI post by Jani Sari Library ➡️​Dalam catatan panjang sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI), tidak banyak kita temukan fenomena di mana tiga orang kakak beradik sama-sama merintis karier militer hingga mencapai perwira tinggi berbintang dua, dan masing-masing memegang tampuk pimpinan di kecabangan teknis Angkatan Darat yang berbeda. Kisah keluarga Wirjodiprodjo adalah salah satu kepingan sejarah yang patut dicermati, bukan saja karena dedikasi mereka pada masa pembentukan republik, tetapi juga bagaimana garis keturunan mereka kelak menyebar ke berbagai lanskap sosial masyarakat kita hari ini. ✅️​Kiprah pertama ditorehkan oleh Mayor Jenderal Wing Wirjawan. Dalam struktur Angkatan Darat, beliau pernah dipercaya untuk menjabat sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri, sebuah posisi strategis yang menuntut kecakapan taktis dalam peperangan modern bergaya mobilitas tinggi. Menarik untuk dicatat sebagai sebuah trivia sejarah sosial, ketangguhan sang Jenderal Kavaleri ini kelak mengalir pada cucunya yang memilih jalan di dunia seni hiburan, yakni artis dan musisi Winky Wiryawan. ✅️​Jejak kedua diukir oleh Mayor Jenderal Hartawan Wirjodiprodjo. Karier militernya sangat lekat dengan pembangunan fisik dan teknis, di mana beliau menjabat sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat pada kurun waktu 1961 hingga 1963. Pada masa Demokrasi Terpimpin, ketika militer mulai masuk ke dalam ranah sipil dan pemerintahan, Hartawan diangkat menjadi Menteri Bina Marga pada Kabinet Dwikora. Sama seperti saudaranya, jejak keluarganya hari ini dikenal publik melalui cucunya, aktor Richard Kevin. ​Sosok yang juga memiliki singgungan langsung dengan pusaran sejarah politik tingkat tinggi adalah sosok ketiga, ✅️Mayor Jenderal Hartono Wiryodiprodjo. Beliau adalah perwira yang pernah menjabat sebagai Direktur Peralatan Angkatan Darat. Posisi Hartono menjadi sangat historis manakala kita melihat kapasitasnya sebagai Ketua Musyawarah Nasional Teknik (Munastek). Dalam catatan sejarah menjelang malam jahanam 30 September 1965, Hartono—bersama Haryasudirja—adalah tokoh yang menjemput Presiden Soekarno dari Istana Merdeka menuju Istora Senayan untuk membuka malam Munastek tersebut. Itu adalah jam-jam krusial sebelum Republik ini diguncang oleh peristiwa berdarah yang kelak mengubah haluan politik Indonesia secara drastis. ✅️​Sebagai catatan tambahan untuk melengkapi kronik keluarga ini, sesungguhnya ada saudara keempat yang turut mengangkat senjata pada masa Revolusi Kemerdekaan, yakni R. Wibowo Wirjodiprodjo. Pada masa gerilya, beliau bertugas sebagai Perwira Staf V di Brigade XVII (Tentara Pelajar). Namun, berbeda dengan ketiga saudaranya yang bertahan di struktur kemiliteran hingga mencapai kursi jenderal, takdir membawa Wibowo menempuh jalan sipil. Setelah perang usai, beliau memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Jerman. Dari garis keturunan Wibowo inilah lahir dua figur yang kelak sangat akrab di mata publik pertelevisian dan sinema Indonesia, yakni Ari Wibowo dan Ira Wibowo. ​Membaca riwayat keluarga Wirjodiprodjo adalah membaca bagaimana revolusi dan pembangunan militer kita dibentuk oleh sosok-sosok pemuda terdidik pada zamannya, yang warisannya—secara tak terduga—terus hidup dalam berbagai corak kehidupan bangsa hingga hari ini. ​ Jani Sari Library

 TIGA JENDERAL DARI SATU RAHIM: KIPRAH KELUARGA WIRJODIPRODJO DALAM LINTASAN SEJARAH TNI


post by Jani Sari Library 



➡️​Dalam catatan panjang sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI), tidak banyak kita temukan fenomena di mana tiga orang kakak beradik sama-sama merintis karier militer hingga mencapai perwira tinggi berbintang dua, dan masing-masing memegang tampuk pimpinan di kecabangan teknis Angkatan Darat yang berbeda. Kisah keluarga Wirjodiprodjo adalah salah satu kepingan sejarah yang patut dicermati, bukan saja karena dedikasi mereka pada masa pembentukan republik, tetapi juga bagaimana garis keturunan mereka kelak menyebar ke berbagai lanskap sosial masyarakat kita hari ini.


✅️​Kiprah pertama ditorehkan oleh Mayor Jenderal Wing Wirjawan. Dalam struktur Angkatan Darat, beliau pernah dipercaya untuk menjabat sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri, sebuah posisi strategis yang menuntut kecakapan taktis dalam peperangan modern bergaya mobilitas tinggi. Menarik untuk dicatat sebagai sebuah trivia sejarah sosial, ketangguhan sang Jenderal Kavaleri ini kelak mengalir pada cucunya yang memilih jalan di dunia seni hiburan, yakni artis dan musisi Winky Wiryawan.


✅️​Jejak kedua diukir oleh Mayor Jenderal Hartawan Wirjodiprodjo. Karier militernya sangat lekat dengan pembangunan fisik dan teknis, di mana beliau menjabat sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat pada kurun waktu 1961 hingga 1963. Pada masa Demokrasi Terpimpin, ketika militer mulai masuk ke dalam ranah sipil dan pemerintahan, Hartawan diangkat menjadi Menteri Bina Marga pada Kabinet Dwikora. Sama seperti saudaranya, jejak keluarganya hari ini dikenal publik melalui cucunya, aktor Richard Kevin. 


​Sosok yang juga memiliki singgungan langsung dengan pusaran sejarah politik tingkat tinggi adalah sosok ketiga, 


✅️Mayor Jenderal Hartono Wiryodiprodjo. Beliau adalah perwira yang pernah menjabat sebagai Direktur Peralatan Angkatan Darat. Posisi Hartono menjadi sangat historis manakala kita melihat kapasitasnya sebagai Ketua Musyawarah Nasional Teknik (Munastek). Dalam catatan sejarah menjelang malam jahanam 30 September 1965, Hartono—bersama Haryasudirja—adalah tokoh yang menjemput Presiden Soekarno dari Istana Merdeka menuju Istora Senayan untuk membuka malam Munastek tersebut. Itu adalah jam-jam krusial sebelum Republik ini diguncang oleh peristiwa berdarah yang kelak mengubah haluan politik Indonesia secara drastis.


✅️​Sebagai catatan tambahan untuk melengkapi kronik keluarga ini, sesungguhnya ada saudara keempat yang turut mengangkat senjata pada masa Revolusi Kemerdekaan, yakni R. Wibowo Wirjodiprodjo. Pada masa gerilya, beliau bertugas sebagai Perwira Staf V di Brigade XVII (Tentara Pelajar). Namun, berbeda dengan ketiga saudaranya yang bertahan di struktur kemiliteran hingga mencapai kursi jenderal, takdir membawa Wibowo menempuh jalan sipil. Setelah perang usai, beliau memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Jerman. Dari garis keturunan Wibowo inilah lahir dua figur yang kelak sangat akrab di mata publik pertelevisian dan sinema Indonesia, yakni Ari Wibowo dan Ira Wibowo.


​Membaca riwayat keluarga Wirjodiprodjo adalah membaca bagaimana revolusi dan pembangunan militer kita dibentuk oleh sosok-sosok pemuda terdidik pada zamannya, yang warisannya—secara tak terduga—terus hidup dalam berbagai corak kehidupan bangsa hingga hari ini.

​sumber :

Jani Sari Library

25 May 2026

Che Guevara di Borobudur tahun 1959. Hanya beberapa bulan setelah Fidel Castro dan Che Guevara menggulingkan rezim Fulgencio Batista pada Januari 1959, Che diutus memimpin delegasi perdagangan dan diplomatik ke berbagai negara Asia dan Afrika. Salah satunya ke Indonesia.

 Che Guevara di Borobudur tahun 1959.



Hanya beberapa bulan setelah Fidel Castro dan Che Guevara menggulingkan rezim Fulgencio Batista pada Januari 1959, Che diutus memimpin delegasi perdagangan dan diplomatik ke berbagai negara Asia dan Afrika. Salah satunya ke Indonesia.

SIAPA BILANG PAKAIAN DIPONEGORO ITU SURJAN DAN BLANGKON? (Saya posting ulang lagi, karena masih ada yang nanya.) Ada sebagian orang yang meyakini pakaian Pangeran Diponegoro adalah surjan dan blangkon. Dengan bukti lukisan yang konon disimpan di Keraton Jogja. Lukisan sang pangeran waktu muda. (Padahal sebenarnya lukisan itu tidak disimpan di Keraton Jogja. Melainkan di keluarga Keraton Jogja.) Dengan dasar itu, mereka kemudian menuduh bahwa lukisan Pangeran Diponegoro dengan baju jubah dan surban adalah kebohongan sejarah. Sebuah penipuan, sejarah yang disembunyikan, dan harus diluruskan. Seolah cerdas dan mencerahkan. Hingga banyak orang yang termakan narasi itu. Nah, sebenarnya, lukisan Pangeran Diponegoro dengan surjan dan blangkon itu gimana? Ternyata memang benar. Lukisan itu adalah lukisan Pangeran Diponegoro. Tepatnya, lukisan sang pangeran waktu muda. Ketika masih menjadi bangsawan keraton Jogja. Karena blio anak Raja Jogja, kemudian jadi Wali Raja, maka sangat wajar memakai baju surjan dan blangkon. Lukisan itu dibuat ketika Pangeran Diponegoro mau menikah kedua kalinya, pada tanggal 25 Pebruari 1807. Waktu itu sang pangeran berusia 22 tahun. Tentu terlihat berbeda wajahnya dengan lukisan yang banyak dikenal. Lukisan yang pake jubah dan sorban itu ketika Pangeran Diponegoro berumur 45 tahun. Dalam lukisan jaman muda itu, Pangeran Diponegoro memakai blangkon dan surjan yang berkerah tinggi. Kerah dikencangkan di bagian leher dengan enam kancing emas, dikalungkan di leher, disatukan di bagian dada, menempal di bajunya. Wajahnya masih terlihat muda. Dengan bibir terkatup rapat. Dengan hidup agak pesek dan mata yang menatap ke bawah. Jadi, mestinya tidak terjadi perdebatan soal pakaian lagi. Karena keduanya memang benar-benar dipakai sang pangeran. Dan, yang lebih penting lagi, tidak perlu mempertentangkannya. Karena surjan dan blangkon dipake sebagai pakaian bangsawan keraton (dalam bahasa jawa: ageman kapangeranan) dengan gelar Pangeran Diponegoro. Sedangkan jubah dan surban dipakai sebagai raja bagi pengikutnya dengan gelar Sultan Abdul Hamid. Dan, jubah surban itulah pakaian perang Pangeran Diponegoro. Seperti yang selama ini dikenal. Banyak baca jadi banyak tau. Tak suka baca jadi sok tau. #books #pangerandiponegoro

 SIAPA BILANG PAKAIAN DIPONEGORO ITU SURJAN DAN BLANGKON?


Oleh : Nassirun Purwokartun




Ada sebagian orang yang meyakini pakaian Pangeran Diponegoro adalah surjan dan blangkon.


Dengan bukti lukisan yang konon disimpan di Keraton Jogja. Lukisan sang pangeran waktu muda.


(Padahal sebenarnya lukisan itu tidak disimpan di Keraton Jogja. Melainkan di keluarga Keraton Jogja.)


Dengan dasar itu, mereka kemudian menuduh bahwa lukisan Pangeran Diponegoro dengan baju jubah dan surban adalah kebohongan sejarah. 


Sebuah penipuan, sejarah yang disembunyikan, dan harus diluruskan.


Seolah cerdas dan mencerahkan. Hingga banyak orang yang termakan narasi itu.


Nah, sebenarnya, lukisan Pangeran Diponegoro dengan surjan dan blangkon itu gimana?


Ternyata memang benar. Lukisan itu adalah lukisan Pangeran Diponegoro.


Tepatnya, lukisan sang pangeran waktu muda. Ketika masih menjadi bangsawan keraton Jogja. 


Karena blio anak Raja Jogja, kemudian jadi Wali Raja, maka sangat wajar memakai baju surjan dan blangkon.


Lukisan itu dibuat ketika Pangeran Diponegoro mau menikah kedua kalinya, pada tanggal 25 Pebruari 1807. Waktu itu sang pangeran berusia 22 tahun.


Tentu terlihat berbeda wajahnya dengan lukisan yang banyak dikenal. Lukisan yang pake jubah dan sorban itu ketika Pangeran Diponegoro berumur 45 tahun.


Dalam lukisan jaman muda itu, Pangeran Diponegoro memakai blangkon dan surjan yang berkerah tinggi. 


Kerah dikencangkan di bagian leher dengan enam kancing emas, dikalungkan di leher, disatukan di bagian dada, menempal di bajunya.


Wajahnya masih terlihat muda. Dengan bibir terkatup rapat. Dengan hidup agak pesek dan mata yang menatap ke bawah.


Jadi, mestinya tidak terjadi perdebatan soal pakaian lagi. Karena keduanya memang benar-benar dipakai sang pangeran.


Dan, yang lebih penting lagi, tidak perlu mempertentangkannya.


Karena surjan dan blangkon dipake sebagai pakaian bangsawan keraton (dalam bahasa jawa: ageman kapangeranan) dengan gelar Pangeran Diponegoro. 


Sedangkan jubah dan surban dipakai sebagai raja bagi pengikutnya dengan gelar Sultan Abdul Hamid.


Dan, jubah surban itulah pakaian perang Pangeran Diponegoro. Seperti yang selama ini dikenal.


Banyak baca jadi banyak tau. Tak suka baca jadi sok tau. 


#books #pangerandiponegoro


Sumber : Nassirun Purwokartun