KEPALANYA DI BELANDA, TUBUHNYA DI BANJAR. MAKAMNYA TAK PERNAH UTUH.
Inilah Demang Lehman.
Nama aslinya Idies, lahir di Martapura 1832. Bukan bangsawan tinggi, ia hanya seorang panakawan atau ajudan setia dari Pangeran Hidayatullah II. Tapi karena kecerdasan dan kesetiaannya, ia diangkat menjadi Kiai Demang, kepala Distrik Riam Kanan dengan gelar Adipati Mangku Negara.
Saat Belanda menghapus Kesultanan Banjar tahun 1859, ia tidak memilih tunduk. Ia memilih perang Sabil.
Bersama Pangeran Antasari, ia menjadi panglima yang paling ditakuti Belanda. 30 Agustus 1859 ia guncang Martapura dengan 3000 pasukan dan hampir menewaskan Letnan Kolonel Boon Ostade. Benteng Tabanio ia rebut. Benteng Gunung Lawak dan Amawang ia pertahankan dengan darah.
Belanda sampai memberi harga untuk kepalanya: f2000 gulden.
Setelah Pangeran Hidayatullah ditipu dan diasingkan ke Cianjur, Demang Lehman tetap menolak menyerah. Ia bergerilya di hutan-hutan Gunung Pangkal, Batulicin, hanya makan dedaunan.
Ia tidak kalah oleh peluru. Ia kalah oleh pengkhianatan.
Seorang bernama Pembarani yang tergiur hadiah, menjebaknya tepat setelah ia selesai Shalat Subuh dalam keadaan tanpa senjata.
27 Februari 1864, bertepatan 19 Ramadhan, dalam keadaan berpuasa, ia dihukum gantung di Martapura. Saksi Belanda menulis: ia naik tiang gantung tanpa mata ditutup, wajahnya tidak berubah sedikitpun.
Kekejaman belum selesai. Setelah wafat, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Negeri Belanda oleh konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Tubuhnya dimakamkan tanpa kepala di Martapura.
Sampai hari ini, 162 tahun kemudian, jasad dan kepalanya masih terpisah.
Al-Fatihah untuk Syuhada Banjar, Demang Lehman.
Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing!
1. Sumber Primer Belanda:
• Van Rees, W.A. (1865). De Bandjarmasinsche Krijg van 1859-1863 - Ini buku laporan militer Belanda yang paling detail mencatat gerakan Demang Lehman di Munggu Dayor, Tabanio, dan Gunung Lawak. • Verzameling der merkwaardigste vonnissen gewezen door de Krijgsraden te velde in de Zuid- en Ooster-afdeeling van Borneo 1859-1864 (1865) - Berisi salinan resmi vonis hukuman gantung Demang Lehman tanggal 27 Februari 1864.
2. Sumber Akademik Indonesia:
• M. Gazali Usman (1994). Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam. Lambung Mangkurat Press. Buku rujukan utama sejarah Banjar. • Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (1992). Sejarah Nasional Indonesia: Nusantara pada abad ke-18 dan ke-19. PT Balai Pustaka.
3. Arsip Foto & Museum:
• KITLV - Leiden University Library: Arsip foto dengan keterangan "Banjarese Deman Lehman (Soelehmah) gevangen te Bandjermasin" - foto Demang Lehman saat dalam tawanan Belanda yang kamu pakai ini berasal dari arsip ini.
#DemangLehman #PahlawanBanjar #PerangBanjar #SejarahBanjar #KesultananBanjar #Martapura #KalimantanSelatan #HaramManyarahWajaSampaiKaputing #SejarahIndonesia #PahlawanNasional #MuseumLeiden #SejarahYangDihilangkan #HerdiMangkubumi #FaktaSejarah












