23 April 2026

*Siapa Sosok Polwan Ni Luh Putu Sugiantri? Pernah Tolak Jadi Ajudan Tien Soeharto.* Di balik lembaran sejarah bangsa, terselip kisah sunyi tentang kesetiaan yang nyaris terlupakan. Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tidak sepopuler tokoh besar negeri ini, namun jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam detik-detik terakhir kehidupan Soekarno sang Proklamator. Ia bukan sekadar Polisi Wanita (Polwan). Ia adalah saksi hidup runtuhnya kekuasaan, kesunyian seorang pemimpin, dan pahitnya perubahan zaman. Dari Gadis Bali Menuju Lingkaran Istana Perjalanan hidup Sugiantri dimulai dari Bali pada tahun 1964. Saat itu, usianya baru 16 tahun terlalu muda untuk menjadi anggota Polwan. Namun, dengan tekad kuat, ia “menambah” usianya menjadi 18 tahun demi bisa lolos seleksi. Keputusan berani itu mengantarkannya ke pendidikan kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Di sanalah ia ditempa, bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai pribadi yang kelak dipercaya berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara. Tak hanya menjalankan tugas formal, Sugiantri juga kerap tampil menari dalam acara-acara kenegaraan menunjukkan sisi humanis seorang abdi negara di lingkungan Istana. Menjadi Pengawal Setia di Masa Paling Kelam Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. Pasukan pengawal presiden Cakrabirawa dibubarkan, dan peran pengamanan beralih ke kepolisian. Di tengah gejolak itulah, Sugiantri terpilih menjadi ajudan, bahkan menjadi Polwan terakhir yang mengawal langsung Soekarno hingga akhir hayatnya pada 1970. Namun, yang ia saksikan bukan lagi kemegahan seorang presiden. Ia melihat sisi lain: seorang pemimpin besar yang hidup dalam keterbatasan, terisolasi, dan perlahan dilupakan. Di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala), Bung Karno menjalani masa tahanan rumah. Ia dibatasi tidak boleh berbicara politik, tidak bebas menerima tamu, bahkan tak leluasa ke mana-mana. Yang paling menyayat, menurut kesaksian Sugiantri, sang Proklamator bahkan tidak memiliki uang untuk sekadar membeli makanan. Karena tak tega, Sugiantri kerap menyisihkan gajinya yang kecil untuk membelikan buah dan makanan bagi Bung Karno. Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna kemanusiaan. Saksi Bisu Peralihan Kekuasaan Sugiantri juga menjadi saksi masa-masa transisi kekuasaan menuju Soeharto, yang mengambil alih kendali negara melalui mandat Supersemar. Dalam salah satu kenangannya, ia sempat menanyakan kepada Bung Karno tentang penyerahan kekuasaan tersebut. Jawaban yang ia terima sederhana namun sarat makna: “Semua itu dilakukan demi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.” Kalimat ini menggambarkan dilema seorang pemimpin yang harus memilih antara kekuasaan atau stabilitas bangsa. Menolak Kekuasaan, Memilih Jalan Sendiri Setelah era berganti, Sugiantri sempat diminta menjadi ajudan Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto. Namun, ia menolak. Bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengetahui banyak hal yang membuatnya enggan berada di lingkaran kekuasaan baru. Dalam kisah lain, ia juga pernah merasa tersakiti karena dituduh memiliki hubungan pribadi dengan Bung Karno. Sebagai bentuk penolakan, ia memilih langkah drastis: menikah dan menjauh dari tawaran tersebut. Keputusan itu membuat kariernya stagnan ia tidak pernah naik pangkat. Namun, ia juga tidak diberhentikan. Sebuah posisi “diam” yang justru mempertegas integritas dan prinsip hidupnya. Kesetiaan yang Tak Pernah Mencari Sorotan Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tenggelam dalam arus besar sejarah. Namun kisahnya adalah potret langka tentang: Loyalitas tanpa pamrih Keberanian mengambil sikap Kemanusiaan di tengah pusaran politik _*Ia bukan tokoh besar dalam buku sejarah. Justru dari sudut sunyi itulah, kita melihat sisi paling manusiawi dari perjalanan bangsa ini.*_ Sumber: Tribunnews.com #NiLuhPutuSugiantri #Soekarno #SejarahIndonesia #PolwanIndonesia #OrdeLama #OrdeBaru #KisahInspiratif

 *Siapa Sosok Polwan Ni Luh Putu Sugiantri? Pernah Tolak Jadi Ajudan Tien Soeharto.*


Di balik lembaran sejarah bangsa, terselip kisah sunyi tentang kesetiaan yang nyaris terlupakan. Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tidak sepopuler tokoh besar negeri ini, namun jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam detik-detik terakhir kehidupan Soekarno sang Proklamator.



Ia bukan sekadar Polisi Wanita (Polwan). Ia adalah saksi hidup runtuhnya kekuasaan, kesunyian seorang pemimpin, dan pahitnya perubahan zaman.


Dari Gadis Bali Menuju Lingkaran Istana


Perjalanan hidup Sugiantri dimulai dari Bali pada tahun 1964. Saat itu, usianya baru 16 tahun terlalu muda untuk menjadi anggota Polwan. Namun, dengan tekad kuat, ia “menambah” usianya menjadi 18 tahun demi bisa lolos seleksi.


Keputusan berani itu mengantarkannya ke pendidikan kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Di sanalah ia ditempa, bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai pribadi yang kelak dipercaya berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara.


Tak hanya menjalankan tugas formal, Sugiantri juga kerap tampil menari dalam acara-acara kenegaraan menunjukkan sisi humanis seorang abdi negara di lingkungan Istana.


Menjadi Pengawal Setia di Masa Paling Kelam


Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. Pasukan pengawal presiden Cakrabirawa dibubarkan, dan peran pengamanan beralih ke kepolisian.


Di tengah gejolak itulah, Sugiantri terpilih menjadi ajudan, bahkan menjadi Polwan terakhir yang mengawal langsung Soekarno hingga akhir hayatnya pada 1970.


Namun, yang ia saksikan bukan lagi kemegahan seorang presiden. Ia melihat sisi lain: seorang pemimpin besar yang hidup dalam keterbatasan, terisolasi, dan perlahan dilupakan.


Di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala), Bung Karno menjalani masa tahanan rumah. Ia dibatasi tidak boleh berbicara politik, tidak bebas menerima tamu, bahkan tak leluasa ke mana-mana.


Yang paling menyayat, menurut kesaksian Sugiantri, sang Proklamator bahkan tidak memiliki uang untuk sekadar membeli makanan.


Karena tak tega, Sugiantri kerap menyisihkan gajinya yang kecil untuk membelikan buah dan makanan bagi Bung Karno. Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna kemanusiaan.


Saksi Bisu Peralihan Kekuasaan


Sugiantri juga menjadi saksi masa-masa transisi kekuasaan menuju Soeharto, yang mengambil alih kendali negara melalui mandat Supersemar.


Dalam salah satu kenangannya, ia sempat menanyakan kepada Bung Karno tentang penyerahan kekuasaan tersebut. Jawaban yang ia terima sederhana namun sarat makna:


“Semua itu dilakukan demi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.”


Kalimat ini menggambarkan dilema seorang pemimpin yang harus memilih antara kekuasaan atau stabilitas bangsa.


Menolak Kekuasaan, Memilih Jalan Sendiri


Setelah era berganti, Sugiantri sempat diminta menjadi ajudan Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto.


Namun, ia menolak.


Bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengetahui banyak hal yang membuatnya enggan berada di lingkaran kekuasaan baru. Dalam kisah lain, ia juga pernah merasa tersakiti karena dituduh memiliki hubungan pribadi dengan Bung Karno.


Sebagai bentuk penolakan, ia memilih langkah drastis: menikah dan menjauh dari tawaran tersebut.


Keputusan itu membuat kariernya stagnan ia tidak pernah naik pangkat. Namun, ia juga tidak diberhentikan. Sebuah posisi “diam” yang justru mempertegas integritas dan prinsip hidupnya.


Kesetiaan yang Tak Pernah Mencari Sorotan


Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tenggelam dalam arus besar sejarah. Namun kisahnya adalah potret langka tentang:


Loyalitas tanpa pamrih


Keberanian mengambil sikap


Kemanusiaan di tengah pusaran politik


_*Ia bukan tokoh besar dalam buku sejarah. Justru dari sudut sunyi itulah, kita melihat sisi paling manusiawi dari perjalanan bangsa ini.*_

Sumber: Tribunnews.com

#NiLuhPutuSugiantri #Soekarno #SejarahIndonesia #PolwanIndonesia #OrdeLama #OrdeBaru #KisahInspiratif

Berlagak bak raja dan ratu, tukang becak dan pelacur ini berhasil menipu Presiden😱 Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno juga pernah di prank atau ditipu oleh Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kejadiannya sekitar tahun 1950-an, sepasang suami-istri ini membuat kehebohan nasional, mereka diterima Presiden Sukarno di Istana Negara. Ppasangan bernama Idrus dan Markonah, keduanya mengaklaim sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di Wilayah Lampung. Keduanya sukses masuk ke istana atas saran seorang pejabat agar Bung Karno berkenan menemuinya. Saran ini sangat muluk, yakni karena raja dan ratu ini punya kekuatan tertentu yang bisa membantu pembebasan Irian Barat. Kondisi saat itu juga Soekarno tengah berupaya mengusir Belanda di Irian Barat, maka kabar raja dan ratu ini bisa membantu membuat Soekarni menyambutnya dengan gembira. Kehadiran Raja Idrus dan Ratu Markonah juga menjadi topik utama media kala itu. Sebut saja Koran Masa Marhaen dan Koran Duta Masyarakat, memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan. Saran dari seorang pejabat terbukti. Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan: Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat. Apalagi, foto itu menarik karena keduanya mengenakan kacamata hitam. Kisahnya, malansir dari kompasiana.com bermodal dari surat rekomendasi pemerintah Sumatra Selatan, beberapa bulan kemudian, pada 10 Maret 1958, Idrus, Markonah dan pengikutnya berangkat ke Jakarta. Di Sumatra belahan utara kala itu sedang bergolak gerakan separatis yang menamakan diri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri. Idrus dan Markonah diterima oleh Presiden Sukarno di Istana Negara. Mereka berencana berkeliling ke beberapa kota di pulau Jawa. Sukarno pun bersedia memfasilitasinya. Harapannya agar Idrus bisa melihat dan belajar perkembangan kota-kota. Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu. Raja Idrus digambarkan sebagai sosok pria berusia sekitar 42 tahun dengan kostum ala militer. Sedangkan penampilan Ratu Markonah juga tak kalah menarik perhatian. Markonah yang menjabat sebagai permaisuri Raja Idrus selalu memakai kaca mata hitam saat tampil di hadapan publik. Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, "Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat". Harian Belanda Leeuwarder Courant pada 7 April 1959 menulis, "Dalam perjalanan itu Idrus mengaku memiliki 18 orang istri. Selain itu, dia mengklaim mempunyai istana besar di salah satu gua raksasa. Di dalamnya terdapat mumi dari 40 orang Jepang dan Belanda". Dalam perjalanan ke beberapa kota, mereka berdua dikawal voorijder layaknya pejabat. Namun pada akhirnya, identitas asli Raja Idrus dan Ratu Markonah pun terungkap. Kedok mereka terbongkar saat pasangan suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta. Saat itu ada seorang tukang becak yang mengenali Idrus. Karena ternyata, Idrus itu adalah rekan se-profesinya yang sudah lama dikenalnya. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok kedua penipu itu. Idrus diketahui berprofesi sebagai tukang becak, sedangkan Markonah adalah pekerja seks komersial (PSK) asal Tegal, Jawa Tengah. Di Madiun pasangan kerajaan gadungan ini kena ciduk aparat. Idrus dan Markonah pun digelandang ke markas CPM, bukan ke balai kota tempat mereka disambut sebelumnya. Mereka kemudian diperiksa. Menurut berita Nieuwsblad van het Noorden pada 10 Februari 1959: " Idrus dihukum sembilan bulan penjara dan pasangannya mendapat hukuman enam bulan". Mereka bebas pada pertengahan tahun 1959. Seakan tak jera, Idrus kembali menyebarkan informasi hoaks kepada masyarakat. Idrus mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya dan anak buah petinggi TNI yakni Mayor Simbolon. Idrus pun sempat memeras sejumlah pengusaha di Lampung sebelum akhirnya ditangkap polisi di Kotabumi, Lampung. Markonah mengaku telah bercerai dengan sang suami, 'Raja' Idrus sejak dirinya keluar dari penjara di Madiun atas kasus serupa. Bahkan, Markonah mengaku kembali menceburkan diri sebagai PSK sejak bercerai dengan sang "Raja". Kisah pasangan pembual amatir Idrus dan Markonah, yang menipu banyak orang Indonesia, jadi cerita lucu di Belanda.

 Berlagak bak raja dan ratu, tukang becak dan pelacur ini berhasil menipu Presiden😱


Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno juga pernah di prank atau ditipu oleh Raja Idrus dan Ratu Markonah.



Kejadiannya sekitar tahun 1950-an, sepasang suami-istri ini membuat kehebohan nasional, mereka diterima Presiden Sukarno di Istana Negara.


Ppasangan bernama Idrus dan Markonah, keduanya mengaklaim sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di Wilayah Lampung.


Keduanya sukses masuk ke istana atas saran seorang pejabat agar Bung Karno berkenan menemuinya. 


Saran ini sangat muluk, yakni karena raja dan ratu ini punya kekuatan tertentu yang bisa membantu pembebasan Irian Barat.


Kondisi saat itu juga Soekarno tengah berupaya mengusir Belanda di Irian Barat, maka kabar raja dan ratu ini bisa membantu membuat Soekarni menyambutnya dengan gembira. 


Kehadiran Raja Idrus dan Ratu Markonah juga menjadi topik utama media kala itu. 


Sebut saja Koran Masa Marhaen dan Koran Duta Masyarakat, memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan. 


Saran dari seorang pejabat terbukti. Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan: Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat. Apalagi, foto itu menarik karena keduanya mengenakan kacamata hitam.


Kisahnya, malansir dari kompasiana.com bermodal dari surat rekomendasi pemerintah Sumatra Selatan, beberapa bulan kemudian, pada 10 Maret 1958, Idrus, Markonah dan pengikutnya berangkat ke Jakarta.


Di Sumatra belahan utara kala itu sedang bergolak gerakan separatis yang menamakan diri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). 


Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri.


Idrus dan Markonah diterima oleh Presiden Sukarno di Istana Negara. Mereka berencana berkeliling ke beberapa kota di pulau Jawa. Sukarno pun bersedia memfasilitasinya.


Harapannya agar Idrus bisa melihat dan belajar perkembangan kota-kota. Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. 


Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. 


Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu.


Raja Idrus digambarkan sebagai sosok pria berusia sekitar 42 tahun dengan kostum ala militer. Sedangkan penampilan Ratu Markonah juga tak kalah menarik perhatian. Markonah yang menjabat sebagai permaisuri Raja Idrus selalu memakai kaca mata hitam saat tampil di hadapan publik.


Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. 


Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, "Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat".


Harian Belanda Leeuwarder Courant pada 7 April 1959 menulis, "Dalam perjalanan itu Idrus mengaku memiliki 18 orang istri. Selain itu, dia mengklaim mempunyai istana besar di salah satu gua raksasa. 


Di dalamnya terdapat mumi dari 40 orang Jepang dan Belanda".  Dalam perjalanan ke beberapa kota, mereka berdua dikawal voorijder layaknya pejabat.


Namun pada akhirnya, identitas asli Raja Idrus dan Ratu Markonah pun terungkap. Kedok mereka terbongkar saat pasangan suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta. 


Saat itu ada seorang tukang becak yang mengenali Idrus. Karena ternyata, Idrus itu adalah rekan se-profesinya yang sudah lama dikenalnya. 


Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok kedua penipu itu. Idrus diketahui berprofesi sebagai tukang becak, sedangkan Markonah adalah pekerja seks komersial (PSK) asal Tegal, Jawa Tengah.


Di Madiun pasangan kerajaan gadungan ini kena ciduk aparat. Idrus dan Markonah pun digelandang ke markas CPM, bukan ke balai kota tempat mereka disambut sebelumnya. Mereka kemudian diperiksa. 


Menurut berita Nieuwsblad van het Noorden pada 10 Februari 1959: " Idrus dihukum sembilan bulan penjara dan pasangannya mendapat hukuman enam bulan". Mereka bebas pada pertengahan tahun 1959.


Seakan tak jera, Idrus kembali menyebarkan informasi hoaks kepada masyarakat. Idrus mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya dan anak buah petinggi TNI yakni Mayor Simbolon. 


Idrus pun sempat memeras sejumlah pengusaha di Lampung sebelum akhirnya ditangkap polisi di Kotabumi, Lampung.


Markonah mengaku telah bercerai dengan sang suami, 'Raja' Idrus sejak dirinya keluar dari penjara di Madiun atas kasus serupa. Bahkan, Markonah mengaku kembali menceburkan diri sebagai PSK sejak bercerai dengan sang "Raja".


Kisah pasangan pembual amatir Idrus dan Markonah, yang menipu banyak orang Indonesia, jadi cerita lucu di Belanda.

Sumber : Faruq Muhammad

22 April 2026

KH Ahmad Abdul Haq Dalhar Watucongol Magelang Ulama Lintas Golongan KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau yang sering dipanggil dengan julukan Mbah Mad adalah salah seorang kiai yang cukup disegani banyak kalangan lintas golongan, para ulama, dan pejabat. Sejak kecil, ia dikenal memiliki ilmu yang tidak dimiliki para kiai pada umumnya. Salah seorang putra (alm) Mbah Mad KH Agus Aly Qayshar menceritakan, salah satu kelebihan Mbah Mad yang dimiliki sejak kecil adalah mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Yang pada awalnya, makam seseorang itu dianggap biasa oleh masyarakat, justru Mbah Mad memberi tahu kalau itu makam seorang wali. Kelebihan ini merupakan warisan dari abahnya, Mbah Dalhar. Selamat menjalankan ibadah Haji Mbah Mad adalah seorang ulama yang cukup berpengaruh, terutama di wilayah Magelang. Di mata para kiai dan umatnya, kharisma Mbah Mad sangat tinggi, di samping karena salah seorang kiai sepuh di kalangan warga NU saat itu. Sebelum wafat, ia menjadi pengasuh keempat Pesantren Darussalam Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan oleh kakek buyutnya yakni Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa pada tahun 1820. Pesantren ini juga pernah ditempati Muktamar ke-14 NU pada tahun 1939. Bulan kelahiran Mbah Mad belum diketahui secara pasti. Hanya yang jelas ia lahir pada hari Ahad Kliwon, sekitar tahun 1928. Ayahnya adalah Kiai Dalhar (Mbah Dalhar) yang merupakan kiai kharismatik sekaligus waliyullah. Kiai Abdurrauf adalah salah seorang senapati perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqa sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Karena itu, sebagai keturunan raja Kiai Hasan Tuqa juga memiliki nama sebutan lain, yaitu Raden Bagus Kemuning. Mbah Mad dikenal sebagai tokoh spiritual yang cukup disegani hampir semua kalangan, dari masyarakat bawah hingga ulama dan tokoh nasional lainnya karena kharisma dan kewalian yang dipercayai masyarakat. Bahkan, ia sering disowani seseorang yang akan maju menjadi pejabat. Mereka biasanya sowan dulu ke Mbah Mad untuk minta doa restu. Bukan hanya itu, tokoh-tokoh nasional dan pejabat negara juga sering berkunjung untuk meminta nasihat kepadanya. Tercatat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Jusuf Kalla, Wiranto, Akbar Tanjung, dan tokoh-tokoh lainnya tercatat pernah bersilaturahim ke Mbah Mad. Susilo Bambang Yudhoyono semasa masih aktif dinas di kemiliteran dengan pangkat kapten juga pernah datang kepada Mbah Mad. Mbah Mad merupakan sosok kiai yang memiliki sikap yang luwes. Pergaulannya cukup luas, tanpa memandang perbedaan agama, aliran, dan perbedaan lainnya. Wajar jika ia pernah dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Magelang yang anggotanya adalah dari kalangan pemuka lintas agama. Abah Dalhar abahnya Mbah Mad, dikenal sebagai mursyid Thariqah Syadziliyyah. Sebelum wafat, Mbah Dalhar menurunkan ijazah kemursyidannya kepada Mbah Mad, di samping kepada Kiai Iskandar Salatiga, dan KH Dimyati Banten. Mbah Mad memiliki sedikitnya tiga ribu jamaah yang tersebar di berbagai daerah khususnya di wilayah eks-Karesidenan Kedu (Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen). Berjuang Tak Mengenal Waktu Mbah Mad tidak sekadar menyampaikan ajaran agama dan ibadah, tetapi juga olah jiwa terutama kepada putra-putri serta para santrinya. Meninggalkan tidur malam adalah juga bagian dari riyadah Mbah Mad. Dituturkan Gus Ali – Panggilan KH Agus Aly Qayshar, salah satu riyadah yang dijalankan Mbah Mad adalah melek malam. Di samping itu, ia sangat tekun melakukan ziarah ke beberapa makan auliya dan ulama. Riyadah melekan ini ia jalani sejak kecil hingga menjelang wafat. Ia juga dikenal memiliki kelebihan dari sisi ilmu dibanding kiai pada umumnya. Misalnya, ia bisa mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui orang sekitar. Bahkan kelebihan ini terlihat sejak dia kecil. Mbah Mad juga diyakini memiliki ilmu laduni. Pasalnya, ia tidak pernah mondok. Meski pernah mondok di Pesantren Al-Wahdah Lasem yang saat itu diasuh KH Baidlawi, namun ia hanya bertahan tidak lebih dari seminggu. "Abah lebih banyak berguru langsung ke pada abahnya sendiri," terang Gus Ali. Sepanjang perjalanan hidupnya dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada umat. Dalam mengemban tugas mulia mengajarkan ajaran-ajaran syar'i. Mbah Mad seolah tidak mengenal tempat, waktu, situasi, dan kondisi. Bahkan di tempat yang sukar dilalui kendaraan, ia tetap bersedia dengan berjalan kaki. Menurut Gus Ali. Mbah Mad sering berpesan kepada putra-putrinya agar selalu menghormati tamu, tidak meremehkan pejabat, serta menyapa kepada semua siapa pun tanpa melihat status sosial maupun agamanya. Mbah Mad memiliki tiga istri yakni Hajah Jamilah (almarhum), Hajah Istianah (almarhum), dan Hajah Khafshah. Dari pernikahannya, dia dikaruniai 9 anak. yang dua di antaranya sudah meninggal dunia. Cucunya ada 32 orang dan 10 cicit. Mbah Mad menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang, pagi sekitar pukul 05.50 WIB Kamis, 8 Juli 2010. Jenazah almarhum dikebumikan di makam Aulia, Gunung Pring, Muntilan, Jawa Tengah. --------------- Aji Setiawan, mantan wartawan Majalah alKisah Jakarta Editor: M Ngisom Al-Barony Senin, 2 Agustus 2021 | 11:00 WIB (Dimuat di NU Online) ___________ Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 070 KH. Ahmad Abdul Haqq Watucongol Magelang Satu demi satu, potret ini sedang diproses menjadi Digital Art Portrait. Bukan sekadar gambar, tapi upaya mengabadikan wajah dan jejak ulama dalam karya visual. Perjalanan menuju 1000 ulama Nusantara. Masih panjang, dan akan terus bertambah. 📌 Sudah sampai episode berapa? Lihat di profil, dan nantikan seri berikutnya. #UlamaNusantara #PotretUlama #JejakUlama #DakwahVisual #PecintaUlamaNusantara

 KH Ahmad Abdul Haq Dalhar Watucongol Magelang Ulama Lintas Golongan



KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau yang sering dipanggil dengan julukan Mbah Mad adalah salah seorang kiai yang cukup disegani banyak kalangan lintas golongan, para ulama, dan pejabat. Sejak kecil, ia dikenal memiliki ilmu yang tidak dimiliki para kiai pada umumnya.


Salah seorang putra (alm) Mbah Mad KH Agus Aly Qayshar menceritakan, salah satu kelebihan Mbah Mad yang dimiliki sejak kecil adalah mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Yang pada awalnya, makam seseorang itu dianggap biasa oleh masyarakat, justru Mbah Mad memberi tahu kalau itu makam seorang wali. Kelebihan ini merupakan warisan dari abahnya, Mbah Dalhar.


Selamat menjalankan ibadah Haji

 

Mbah Mad adalah seorang ulama yang cukup berpengaruh, terutama di wilayah Magelang. Di mata para kiai dan umatnya, kharisma Mbah Mad sangat tinggi, di samping karena salah seorang kiai sepuh di kalangan warga NU saat itu.


Sebelum wafat, ia menjadi pengasuh keempat Pesantren Darussalam Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan oleh kakek buyutnya yakni Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa pada tahun 1820. Pesantren ini juga pernah ditempati Muktamar ke-14 NU pada tahun 1939.


Bulan kelahiran Mbah Mad belum diketahui secara pasti. Hanya yang jelas ia lahir pada hari Ahad Kliwon, sekitar tahun 1928. Ayahnya adalah Kiai Dalhar (Mbah Dalhar) yang merupakan kiai kharismatik sekaligus waliyullah.


Kiai Abdurrauf adalah salah seorang senapati perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqa sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Karena itu, sebagai keturunan raja Kiai Hasan Tuqa juga memiliki nama sebutan lain, yaitu Raden Bagus Kemuning.


Mbah Mad dikenal sebagai tokoh spiritual yang cukup disegani hampir semua kalangan, dari masyarakat bawah hingga ulama dan tokoh nasional lainnya karena kharisma dan kewalian yang dipercayai masyarakat.


Bahkan, ia sering disowani seseorang yang akan maju menjadi pejabat. Mereka biasanya sowan dulu ke Mbah Mad untuk minta doa restu. Bukan hanya itu, tokoh-tokoh nasional dan pejabat negara juga sering berkunjung untuk meminta nasihat kepadanya. Tercatat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Jusuf Kalla, Wiranto, Akbar Tanjung, dan tokoh-tokoh lainnya tercatat pernah bersilaturahim ke Mbah Mad. Susilo Bambang Yudhoyono semasa masih aktif dinas di kemiliteran dengan pangkat kapten juga pernah datang kepada Mbah Mad.


Mbah Mad merupakan sosok kiai yang memiliki sikap yang luwes. Pergaulannya cukup luas, tanpa memandang perbedaan agama, aliran, dan perbedaan lainnya. Wajar jika ia pernah dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Magelang yang anggotanya adalah dari kalangan pemuka lintas agama.


Abah Dalhar abahnya Mbah Mad, dikenal sebagai mursyid Thariqah Syadziliyyah. Sebelum wafat, Mbah Dalhar menurunkan ijazah kemursyidannya kepada Mbah Mad, di samping kepada Kiai Iskandar Salatiga, dan KH Dimyati Banten.


Mbah Mad memiliki sedikitnya tiga ribu jamaah yang tersebar di berbagai daerah khususnya di wilayah eks-Karesidenan Kedu (Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen).


Berjuang Tak Mengenal Waktu


Mbah Mad tidak sekadar menyampaikan ajaran agama dan ibadah, tetapi juga olah jiwa terutama kepada putra-putri serta para santrinya. Meninggalkan tidur malam adalah juga bagian dari riyadah Mbah Mad. Dituturkan Gus Ali – Panggilan KH Agus Aly Qayshar, salah satu riyadah yang dijalankan Mbah Mad adalah melek malam. Di samping itu, ia sangat tekun melakukan ziarah ke beberapa makan auliya dan ulama. Riyadah melekan ini ia jalani sejak kecil hingga menjelang wafat.


Ia juga dikenal memiliki kelebihan dari sisi ilmu dibanding kiai pada umumnya. Misalnya, ia bisa mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui orang sekitar. Bahkan kelebihan ini terlihat sejak dia kecil.


Mbah Mad juga diyakini memiliki ilmu laduni. Pasalnya, ia tidak pernah mondok. Meski pernah mondok di Pesantren Al-Wahdah Lasem yang saat itu diasuh KH Baidlawi, namun ia hanya bertahan tidak lebih dari seminggu. "Abah lebih banyak berguru langsung ke pada abahnya sendiri," terang Gus Ali.


Sepanjang perjalanan hidupnya dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada umat. Dalam mengemban tugas mulia mengajarkan ajaran-ajaran syar'i. Mbah Mad seolah tidak mengenal tempat, waktu, situasi, dan kondisi. Bahkan di tempat yang sukar dilalui kendaraan, ia tetap bersedia dengan berjalan kaki.


Menurut Gus Ali. Mbah Mad sering berpesan kepada putra-putrinya agar selalu menghormati tamu, tidak meremehkan pejabat, serta menyapa kepada semua siapa pun tanpa melihat status sosial maupun agamanya.


Mbah Mad memiliki tiga istri yakni Hajah Jamilah (almarhum), Hajah Istianah (almarhum), dan Hajah Khafshah. Dari pernikahannya, dia dikaruniai 9 anak. yang dua di antaranya sudah meninggal dunia. Cucunya ada 32 orang dan 10 cicit.


Mbah Mad menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang, pagi sekitar pukul 05.50 WIB Kamis, 8 Juli 2010. Jenazah almarhum dikebumikan di makam Aulia, Gunung Pring, Muntilan, Jawa Tengah.

---------------


Aji Setiawan, mantan wartawan Majalah alKisah Jakarta 


Editor: M Ngisom Al-Barony


Senin, 2 Agustus 2021 | 11:00 WIB


(Dimuat di NU Online)


___________


Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 070

KH. Ahmad Abdul Haqq Watucongol Magelang 


Satu demi satu, potret ini sedang diproses menjadi Digital Art Portrait.


Bukan sekadar gambar, tapi upaya mengabadikan wajah dan jejak ulama dalam karya visual.


Perjalanan menuju 1000 ulama Nusantara.

Masih panjang, dan akan terus bertambah.


📌 Sudah sampai episode berapa?

Lihat di profil, dan nantikan seri berikutnya.


#UlamaNusantara

#PotretUlama

#JejakUlama

#DakwahVisual

#PecintaUlamaNusantara

"Mungkin, inilah sidang pengadilan di Slawi, kota sebelah selatan Tegal, Jawa Tengah, yang teramai. Sekitar 4.000 pengunjung memenuhi halaman gedung pengadilan. Beberapa rumah penduduk di jalan itu sempat membuka titipan sepeda atau sepeda motor dengan tarif Rp 50 dan Rp 100." Bagaimanakah guru-guru dan siswa-siswa SPG saat itu--setelah reformasi--akan mengenang peristiwa ini? Apakah kesaksian mereka yang memberatkan terhadap tindakan seorang guru yang memaparkan fakta, tetap dikenang dengan bangga sebagai kewajiban warga negara "yang baik dan benar"? Jika para sahabat ingin tahu kronologi peristiwa tersebut, silakan melihat unggahan kliping saya tanggal 10 Maret: https://www.facebook.com/herry.anggoro.9/posts/pfbid02MPqsxuAX8p8RXY6RUhGUJqWZdfFMhJDsqWipegYTac9UNNArPahKM9PeJMzRD7U7l?__cft__[0]=AZag1vs-c_Z45SjvudRLAoQgN5i1HUrfqglWD98ZyNSxCMmpNmz5ei1GW-iUDm8LVX4nGwBUCu742bwEjobyxRJ7bR6c-S14Oo4tmMMJXqahZpqzeFcvOpKditNGkT2m8wQahg5OyJUgn3AHB3B0G39FLeA_tSZLagY9WEjIu3WBj-AgTAJCeurIETw1DzIyGGI&__tn__=%2CO%2CP-R Vonis Guru Slawi GAMBAR KHOMEINI DAN 12 SAKSI Pak Guru SPG itu akhirnya divonis 9 bulan, dituduh menghina presiden. Dan dituduh menganjurkan siswa tak menaati tata tertib sekolah. (TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984) Setelah mendengarkan 12 saksi. Setelah melihat barang bukti berupa gambar Ayatullah Khomeini dan sejumlah brosur berbahasa Arab. Dan setelah membaca surat pernyataan yang ditandatangani 18 siswa SPG Negeri Slawi, maka Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tegal di Slawi menjatuhkan hukuman 9 bulan penjara. Terdakwa, Agus Salim, guru Ilmu Pendidikan di SPG Negeri, Slawi, kepada TEMPO mengatakan, "Saya sedang pikir-pikir," –sebelum menyatakan menerima atau naik banding. Mungkin, inilah sidang pengadilan di Slawi, kota sebelah selatan Tegal, Jawa Tengah, yang teramai. Sekitar 4.000 pengunjung memenuhi halaman gedung pengadilan. Beberapa rumah penduduk di jalan itu sempat membuka titipan sepeda atau sepeda motor dengan tarif Rp 50 dan Rp 100. Agus, lulusan Jurusan Administrasi Pendidikan IKIP Negeri Jakarta, 1980, dituduh melanggar pasal 134 KUHP, yakni dengan sengaja menghina presiden RI, Soeharto. "Fakta-fakta terungkapkan di pengadilan," kata Martin Dumansapak, anggota Majelis Hakim. Menurut Martin, Agus sempat menyampaikan bantahannya terhadap beberapa kesaksian. Misalnya, ketika ia mengucapkan kata-kata yang dianggap "menghina presiden" itu, ia merasa tak menunjuk gambar Presiden yang terpampang di depan kelas. Jaksa Sutardjo menuntut terdakwa dengan 10 bulan penjara. Karena Agus, 29, belum pernah dihukum, masih muda, dan berlaku sopan selama persidangan, Majelis Hakim memvonis 9 bulan potong masa tahanan. Adapun yang memberatkan terdakwa, sebagai guru dan sarjana pendidikan, "la memberikan contoh yang kurang baik, yang bertentangan dengan etika, kepada murid- muridnya," tutur Murdiono, ketua Majelis Hakim. Agus ditahan Laksusda Jawa Tengah sejak 13 Mei 1983. Tapi penahanan di Laksusda di Semarang sampai dengan 9 November itu tidak diperhitungkan. Sehingga, potongan hukuman untuk vonisnya itu hanya dihitung selama penahanan tatkala perkaranya diproses di Polres, Kejaksaan, dan Pengadilan Tegal, sejak 9 November. Hingga, kalau Agus menerima putusan Majelis Hakim, ia masih harus menjalani hukuman sekitar lima bulan lagi. Kepada TEMPO, Agus, yang dulu jadi anggota Senat Mahasiswa IKIP Jakarta, mengatakan sebenarnya ia hanya menceritakan peristiwa demonstrasi mahasiswa (bukan hanya mahasiswa IKIP) pada 1978. Waktu itu, slogan-slogan mahasiswa memang keras, mengkritik pemerintah, MPR, dan DPR RI. "Saya hanya menceritakan fakta, tapi tak saya komentari apa-apa," katanya. Tapi, menurut beberapa guru, justru di situlah salahnya. Seharusnya, kepada siswa dia tunjukkan mana yang baik, dan mana yang tak pantas ditiru (TEMPO, 10 Maret, Pendidikan). Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

 "Mungkin, inilah sidang pengadilan di Slawi, kota sebelah selatan Tegal, Jawa Tengah, yang teramai. Sekitar 4.000 pengunjung memenuhi halaman gedung pengadilan. Beberapa rumah penduduk di jalan itu sempat membuka titipan sepeda atau sepeda motor dengan tarif Rp 50 dan Rp 100."



Bagaimanakah guru-guru dan siswa-siswa SPG saat itu--setelah reformasi--akan mengenang peristiwa ini? Apakah kesaksian mereka yang memberatkan terhadap tindakan seorang guru yang memaparkan fakta, tetap dikenang dengan bangga sebagai kewajiban warga negara "yang baik dan benar"? 


Jika para sahabat ingin tahu kronologi peristiwa tersebut, silakan melihat unggahan kliping saya tanggal 10 Maret: 

https://www.facebook.com/herry.anggoro.9/posts/pfbid02MPqsxuAX8p8RXY6RUhGUJqWZdfFMhJDsqWipegYTac9UNNArPahKM9PeJMzRD7U7l?__cft__[0]=AZag1vs-c_Z45SjvudRLAoQgN5i1HUrfqglWD98ZyNSxCMmpNmz5ei1GW-iUDm8LVX4nGwBUCu742bwEjobyxRJ7bR6c-S14Oo4tmMMJXqahZpqzeFcvOpKditNGkT2m8wQahg5OyJUgn3AHB3B0G39FLeA_tSZLagY9WEjIu3WBj-AgTAJCeurIETw1DzIyGGI&__tn__=%2CO%2CP-R


Vonis Guru Slawi

GAMBAR KHOMEINI DAN 12 SAKSI


Pak Guru SPG itu akhirnya divonis 9 bulan, dituduh menghina presiden. Dan dituduh menganjurkan siswa tak menaati tata tertib sekolah. 


(TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984)


Setelah mendengarkan 12 saksi. Setelah melihat barang bukti berupa gambar Ayatullah Khomeini dan sejumlah brosur berbahasa Arab. Dan setelah membaca surat pernyataan yang ditandatangani 18 siswa SPG Negeri Slawi, maka Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tegal di Slawi menjatuhkan hukuman 9 bulan penjara. Terdakwa, Agus Salim, guru Ilmu Pendidikan di SPG Negeri, Slawi, kepada TEMPO mengatakan, "Saya sedang pikir-pikir," –sebelum menyatakan menerima atau naik banding.


Mungkin, inilah sidang pengadilan di Slawi, kota sebelah selatan Tegal, Jawa Tengah, yang teramai. Sekitar 4.000 pengunjung memenuhi halaman gedung pengadilan. Beberapa rumah penduduk di jalan itu sempat membuka titipan sepeda atau sepeda motor dengan tarif Rp 50 dan Rp 100.


Agus, lulusan Jurusan Administrasi Pendidikan IKIP Negeri Jakarta, 1980, dituduh melanggar pasal 134 KUHP, yakni dengan sengaja menghina presiden RI, Soeharto. "Fakta-fakta terungkapkan di pengadilan," kata Martin Dumansapak, anggota Majelis Hakim. Menurut Martin, Agus sempat menyampaikan bantahannya terhadap beberapa kesaksian. Misalnya, ketika ia mengucapkan kata-kata yang dianggap "menghina presiden" itu, ia merasa tak menunjuk gambar Presiden yang terpampang di depan kelas.


Jaksa Sutardjo menuntut terdakwa dengan 10 bulan penjara. Karena Agus, 29, belum pernah dihukum, masih muda, dan berlaku sopan selama persidangan, Majelis Hakim memvonis 9 bulan potong masa tahanan. Adapun yang memberatkan terdakwa, sebagai guru dan sarjana pendidikan, "la memberikan contoh yang kurang baik, yang bertentangan dengan etika, kepada murid- muridnya," tutur Murdiono, ketua Majelis Hakim.


Agus ditahan Laksusda Jawa Tengah sejak 13 Mei 1983. Tapi penahanan di Laksusda di Semarang sampai dengan 9 November itu tidak diperhitungkan. Sehingga, potongan hukuman untuk vonisnya itu hanya dihitung selama penahanan tatkala perkaranya diproses di Polres, Kejaksaan, dan Pengadilan Tegal, sejak 9 November. Hingga, kalau Agus menerima putusan Majelis Hakim, ia masih harus menjalani hukuman sekitar lima bulan lagi.


Kepada TEMPO, Agus, yang dulu jadi anggota Senat Mahasiswa IKIP Jakarta, mengatakan sebenarnya ia hanya menceritakan peristiwa demonstrasi mahasiswa (bukan hanya mahasiswa IKIP) pada 1978. Waktu itu, slogan-slogan mahasiswa memang keras, mengkritik pemerintah, MPR, dan DPR RI. "Saya hanya menceritakan fakta, tapi tak saya komentari apa-apa," katanya. Tapi, menurut beberapa guru, justru di situlah salahnya. Seharusnya, kepada siswa dia tunjukkan mana yang baik, dan mana yang tak pantas ditiru (TEMPO, 10 Maret, Pendidikan).


Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

Sumber : Herry Anggoro Jatmiko

Pada 17 April 1969 Menteri Keuangan, Drs. Frans Seda menjadi penceramah di Universitas Katholik Nijmegen, Belanda. Begitu Frans Seda naik ke panggung untuk mulai berceramah, Y.van Herte seorang mahasiswa menyela dan bertanya perihal peristiwa pembunuhan massal anggota PKI selama bulan Oktober 1965. Frans menyanggupi menjawab pertanyaan itu setelah ia diberi kesempatan untuk memberikan ceramah terlebih dahulu. Namun ditolak dan Frans dimintai pertanggungjawaban atas pembunuhan massal itu. Suasana menjadi kacau dan Frans Seda diteriaki sebagai Moordenaar (Pembunuh) dan Lafaard (Pengecut). Ceramah akhirnya dibatalkan dan Frans Seda keluar meninggalkan Aula Universitas lewat pintu belakang. Peristiwa tersebut berhubungan dengan terbongkarnya Peristiwa Pembantaian Massal di Purwodadi. Ini terjadi ketika muncul pernyataan pers pada 26 Februari 1969 dari Haji Johannes Cornelis Princen atau lebih dikenal dengan Poncke Princen yang menyatakan ada pembunuhan terhadap 860 orang yang ditahan di Grobogan. Orang-orang yang ditangkap di kamp tahanan Grobogan adalah orang-orang yang terdampak dari pembersihan komunis oleh Rezim Militer Orde Baru. Paska ditahan para tahanan dibunuh dengan sangat keji dengan cara dipukuli saat malam hari. Berita itu menyulut reaksi dan gelombang protes dari masyarakat internasional, khususnya di Belanda terhadap Rezim Orde Baru. Surat kabar Belanda Trouw edisi 19 April 1969 menyiarkan “surat terbuka” dari Komite Indonesia yang keberatan dengan niat jalinan Kerjasama Belanda – Indonesia karena dengan demikian melegalkan pembunuhan massal. Oleh karenannya, Soeharto yang merasa terganggu oleh peristiwa itu, akhirnya membatalkan kunjungannya ke sejumlah negara Eropa yang seharusnya dia lakukan pada April 1969 dan memutuskan baru akan dilakukan pada tahun 1970. Melipat Ganda, Membakar Tirani! #momentumsejarah #arahjuang http://linktr.ee/arahjuang

 Pada 17 April 1969 Menteri Keuangan, Drs. Frans Seda menjadi penceramah di Universitas Katholik Nijmegen, Belanda. Begitu Frans Seda naik ke panggung untuk mulai berceramah, Y.van Herte seorang mahasiswa menyela dan bertanya perihal peristiwa pembunuhan massal anggota PKI selama bulan Oktober 1965. Frans menyanggupi menjawab pertanyaan itu setelah ia diberi kesempatan untuk memberikan ceramah terlebih dahulu. Namun ditolak dan Frans dimintai pertanggungjawaban atas pembunuhan massal itu. Suasana menjadi kacau dan Frans Seda diteriaki sebagai Moordenaar (Pembunuh) dan Lafaard (Pengecut). Ceramah akhirnya dibatalkan dan Frans Seda keluar meninggalkan Aula Universitas lewat pintu belakang.



Peristiwa tersebut berhubungan dengan terbongkarnya Peristiwa Pembantaian Massal di Purwodadi. Ini terjadi ketika muncul pernyataan pers pada 26 Februari 1969 dari Haji Johannes Cornelis Princen atau lebih dikenal dengan Poncke Princen yang menyatakan ada pembunuhan terhadap 860 orang yang ditahan di Grobogan. Orang-orang yang ditangkap di kamp tahanan Grobogan adalah orang-orang yang terdampak dari pembersihan komunis oleh Rezim Militer Orde Baru. Paska ditahan para tahanan dibunuh dengan sangat keji dengan cara dipukuli saat malam hari. 


Berita itu menyulut reaksi dan gelombang protes dari masyarakat internasional, khususnya di Belanda terhadap Rezim Orde Baru. Surat kabar Belanda Trouw edisi 19 April 1969 menyiarkan “surat terbuka” dari Komite Indonesia yang keberatan dengan niat jalinan Kerjasama Belanda – Indonesia karena dengan demikian melegalkan pembunuhan massal. Oleh karenannya, Soeharto yang merasa terganggu oleh peristiwa itu, akhirnya membatalkan kunjungannya ke sejumlah negara Eropa yang seharusnya dia lakukan pada April 1969 dan memutuskan baru akan dilakukan pada tahun 1970.


Melipat Ganda, Membakar Tirani! 

#momentumsejarah

#arahjuang


http://linktr.ee/arahjuang

"Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya." Inggit Ganarsih, perempuan yang berjasa besar dalam hidup Bung Karno merasa dirinya bukan pahlawan. Di sisi lain, pemerintah yang merasa paling berkuasa malahan berniat melanggar wasiat almarhumah. PERPISAHAN DENGAN WANITA PENDAMPING Wanita tua yang tangguh itu telah tiada, setelah satu setengah tahun terbaring sakit. Pribadinya mengilhami perjuangan Bung Karno – yang diantarkannya sebagai pemimpin besar. (TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984, “Obituari”) Letusan salvo dari sepuluh moncong bedil menggelegar serempak. Dan tatkala jasad wanita tua itu diangkat dari keranda, diturunkan ke liang lahad dengan hati-hati, cuaca pun perlahan-lahan redup. Awan di langit tampak berserak keabu-abuan, hening, ketika korps musik memainkan lagu Gugur Bunga. Alam di sekitar Permakaman Muslimin Babakan Ciparay, Bandung Selatan, Sabtu siang itu seakan-akan ikut menangisi kepergian Inggit Garnasih, 96, janda presiden pertama RI, Soekarno. Almarhumah meninggal Jumat pekan lalu tepat pukul 19.10 disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, 70, dan Bi Ikah, 50, serta seorang kemenakannya, Jumhana, 55, di rumahnya Jalan Ciateul, Bandung. Pada detik- detik terakhir sebelum menghembuskan napasnya, Inggit memegang erat-erat tangan Mak Irah. "Mungkin itu satu-satunya tanda perpisahan dari Ibu," tutur pembantu yang merawat Inggit sejak 40 tahun lalu itu dengan mata sembab. Hari Jumat itu sesungguhnya tak tampak tanda-tanda Inggit akan berpulang. Sekitar pukul 12.00 ia memang sedikit demam. Satu jam kemudian Eko Antono, dokter pribadinya, datang. "Tidak apa-apa, hanya badannya agak gemetar," katanya. Keadaan seperti itu memang biasa terjadi sejak satu setengah tahun lalu, ketika Inggit mulai sakit keras dan dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Penyakitnya ketika itu ialah organic brain syndrome (gangguan mental akibat tidak berfungsinya organ-organ tubuh). Ketika itu tidak ada kelainan yang berarti pada hasil pemeriksaan gelombang otak. Pukul 16.00, Inggit masih bisa disuapi bubur beras. Tapi sore itu, entah mengapa, obat yang tertulis pada resep Dokter Antono tidak tersedia di semua apotek. Dan sore itu, kebetulan pula, Ratna Djoeami Asmarahadi – salah seorang anak angkat yang disayanginya – merasa perlu pulang ke rumahnya di Jalan Cilentah untuk mandi dan berganti pakaian. Tak diduga, "Ibu sudah berpulang sebelum saya sempat kembali mendampinginya," ujar Ratna, 60, menyesali dirinya. Meninggalkan dua orang anak angkat (seorang lagi Kartika) dengan 14 anak dan 28 buyut, perintis kemerdekaan itu tidak bersedia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sejak mula, wanita itu berpesan agar dimakamkan di Cibintinu, desa kecil di Bandung Selatan. Di sanalah dulu Bung Karno, suaminya, bertemu dengan si Marhaen seorang buruh tani. Tapi menurut Tito Asmarahadi, 36, salah seorang cucu Inggit, Cibintinu termasuk kawasan perluasan Kota Bandung. "Untunglah, pada bulan Januari lalu pihak keluarga, dengan bantuan pemerintah daerah, berhasil mengusahakan tanah untuk makam seluas 120 m2 di Babakan Ciparay," katanya. Dan Inggit setuju dengan rencana itu. Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya. Hanya itu satu-satunya wasiat Inggit. "Sebab, sejak sakit satu setengah tahun lalu itu Ibu sudah tidak bisa kontak lagi dengan orang lain," ujar Tito. "Selama sakit, hanya suara mengaduh saja yang terdengar. Bahkan sejak dua minggu sebelum berpulang, Ibu sudah tak mampu berkata sepatah pun," tambah Ratna Djoeami Hanya tiga di antara putra-putri Bung Karno yang sempat melayat. Rachmawati – bersama suaminya, Dicky Suprapto – sudah hadir di rumah duka sejak pagi hari. Ia tak banyak bicara. "Mas Tok tidak bisa datang karena sakit," katanya. Mas Tok adalah Guntur, kakaknya. Sukmawati juga tidak tampak, sedangkan Guruh dan Megawati baru muncul di makam pukul 14.20 ketika jasad Almarhumah hendak diturunkan ke liang lahad. Di antara para janda Bung Karno yang masih hidup, hanya Hartini saja yang datang takziah. Mengenakan kebaya dan kain warna gelap, Hartini datang sekitar pukul 10.30 dengan sedan Mercy B 623 AB warna abu-abu. Hartini segera bersimpuh di sisi jenazah bekas madunya, dan berdoa. "Hari ini Ibu Inggit telah dipanggil menghadap oleh Tuhan. Saya kira beliau sangat bahagia. Selama ini beliau sudah terlalu lama menderita," katanya tersendat-sendat. "Ibu Inggit adalah salah seorang istri Bapak yang paling setia dalam suka dan duka. Beliaulah yang menunjang Bapak dalam perjuangan," katanya lagi. Pada masa tuanya, Inggit, yang pada saat-saat kembangnya geulis, seperti tak takluk dimangsa usia. Lahir pada abad silam di Desa Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika ia mencapai usia 90 tahun kesehatannya tak menggembirakan. Namun, badannya tetap terawat bersih dan giginya putih berseri. Hal itu lantaran Inggit, gadis desa yang hanya berpendidikan madrasah itu gemar minum jamu dan rajin merawat kulit. Sejak Bung Karno dikurung oleh Belanda di penjara Banceuy, kemudian Sukamiskin, Bandung, Inggit mencari nafkah dengan membuat bedak. Salah satu bedaknya dinamainya Ningrum: belakangan ada pula yang disebut bedak Pancasila, karena bersegi lima. Ketika Bung Karno dipenjarakan selama lima tahun di Ende, Flores, sejak 1933, Inggit menyertainya dengan setia. Begitu pula ketika pemimpin pergerakan nasional yang juga populer sebagai "singa podium" itu dibuang ke Bengkulu, Inggit mendampinginya. Soekarno adalah suaminya yang ketiga setelah Sukarta dan Haji Sanusi. Bung Karno sendiri jatuh cinta pada wanita itu ketika ia mondok di rumah Haji Sanusi. Ketika itu Bung Karno yang berusia 20 tahun (sementara Inggit 32 tahun) sudah mengawini Utari, putri H.O.S. Tjokroaminoto. Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

 "Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya."



Inggit Ganarsih, perempuan yang berjasa besar dalam hidup Bung Karno merasa dirinya bukan pahlawan. Di sisi lain, pemerintah yang merasa paling berkuasa malahan berniat melanggar wasiat almarhumah.  


PERPISAHAN DENGAN WANITA PENDAMPING


Wanita tua yang tangguh itu telah tiada, setelah satu setengah tahun terbaring sakit. Pribadinya mengilhami perjuangan Bung Karno – yang diantarkannya sebagai pemimpin besar.


(TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984, “Obituari”)


Letusan salvo dari sepuluh moncong bedil menggelegar serempak. Dan tatkala jasad wanita tua itu diangkat dari keranda, diturunkan ke liang lahad dengan hati-hati, cuaca pun perlahan-lahan redup. Awan di langit tampak berserak keabu-abuan, hening, ketika korps musik memainkan lagu Gugur Bunga. Alam di sekitar Permakaman Muslimin Babakan Ciparay, Bandung Selatan, Sabtu siang itu seakan-akan ikut menangisi kepergian Inggit Garnasih, 96, janda presiden pertama RI, Soekarno. 


Almarhumah meninggal Jumat pekan lalu tepat pukul 19.10 disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, 70, dan Bi Ikah, 50, serta seorang kemenakannya, Jumhana, 55, di rumahnya Jalan Ciateul, Bandung. Pada detik- detik terakhir sebelum menghembuskan napasnya, Inggit memegang erat-erat tangan Mak Irah. "Mungkin itu satu-satunya tanda perpisahan dari Ibu," tutur pembantu yang merawat Inggit sejak 40 tahun lalu itu dengan mata sembab.


Hari Jumat itu sesungguhnya tak tampak tanda-tanda Inggit akan berpulang. Sekitar pukul 12.00 ia memang sedikit demam. Satu jam kemudian Eko Antono, dokter pribadinya, datang. "Tidak apa-apa, hanya badannya agak gemetar," katanya. Keadaan seperti itu memang biasa terjadi sejak satu setengah tahun lalu, ketika Inggit mulai sakit keras dan dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung.


Penyakitnya ketika itu ialah organic brain syndrome (gangguan mental akibat tidak berfungsinya organ-organ tubuh). Ketika itu tidak ada kelainan yang berarti pada hasil pemeriksaan gelombang otak.


Pukul 16.00, Inggit masih bisa disuapi bubur beras. Tapi sore itu, entah mengapa, obat yang tertulis pada resep Dokter Antono tidak tersedia di semua apotek. Dan sore itu, kebetulan pula, Ratna Djoeami Asmarahadi – salah seorang anak angkat yang disayanginya – merasa perlu pulang ke rumahnya di Jalan Cilentah untuk mandi dan berganti pakaian. Tak diduga, "Ibu sudah berpulang sebelum saya sempat kembali mendampinginya," ujar Ratna, 60, menyesali dirinya.


Meninggalkan dua orang anak angkat (seorang lagi Kartika) dengan 14 anak dan 28 buyut, perintis kemerdekaan itu tidak bersedia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sejak mula, wanita itu berpesan agar dimakamkan di Cibintinu, desa kecil di Bandung Selatan. Di sanalah dulu Bung Karno, suaminya, bertemu dengan si Marhaen seorang buruh tani.


Tapi menurut Tito Asmarahadi, 36, salah seorang cucu Inggit, Cibintinu termasuk kawasan perluasan Kota Bandung. "Untunglah, pada bulan Januari lalu pihak keluarga, dengan bantuan pemerintah daerah, berhasil mengusahakan tanah untuk makam seluas 120 m2 di Babakan Ciparay," katanya. Dan Inggit setuju dengan rencana itu.


Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya.


Hanya itu satu-satunya wasiat Inggit. "Sebab, sejak sakit satu setengah tahun lalu itu Ibu sudah tidak bisa kontak lagi dengan orang lain," ujar Tito. "Selama sakit, hanya suara mengaduh saja yang terdengar. Bahkan sejak dua minggu sebelum berpulang, Ibu sudah tak mampu berkata sepatah pun," tambah Ratna Djoeami


Hanya tiga di antara putra-putri Bung Karno yang sempat melayat. Rachmawati – bersama suaminya, Dicky Suprapto – sudah hadir di rumah duka sejak pagi hari. Ia tak banyak bicara. "Mas Tok tidak bisa datang karena sakit," katanya. Mas Tok adalah Guntur, kakaknya. Sukmawati juga tidak tampak, sedangkan Guruh dan Megawati baru muncul di makam pukul 14.20 ketika jasad Almarhumah hendak diturunkan ke liang lahad.


Di antara para janda Bung Karno yang masih hidup, hanya Hartini saja yang datang takziah. Mengenakan kebaya dan kain warna gelap, Hartini datang sekitar pukul 10.30 dengan sedan Mercy B 623 AB warna abu-abu.


Hartini segera bersimpuh di sisi jenazah bekas madunya, dan berdoa. "Hari ini Ibu Inggit telah dipanggil menghadap oleh Tuhan. Saya kira beliau sangat bahagia. Selama ini beliau sudah terlalu lama menderita," katanya tersendat-sendat. "Ibu Inggit adalah salah seorang istri Bapak yang paling setia dalam suka dan duka. Beliaulah yang menunjang Bapak dalam perjuangan," katanya lagi.


Pada masa tuanya, Inggit, yang pada saat-saat kembangnya geulis, seperti tak takluk dimangsa usia. Lahir pada abad silam di Desa Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika ia mencapai usia 90 tahun kesehatannya tak menggembirakan. Namun, badannya tetap terawat bersih dan giginya putih berseri.


Hal itu lantaran Inggit, gadis desa yang hanya berpendidikan madrasah itu gemar minum jamu dan rajin merawat kulit. Sejak Bung Karno dikurung oleh Belanda di penjara Banceuy, kemudian Sukamiskin, Bandung, Inggit mencari nafkah dengan membuat bedak. Salah satu bedaknya dinamainya Ningrum: belakangan ada pula yang disebut bedak Pancasila, karena bersegi lima.


Ketika Bung Karno dipenjarakan selama lima tahun di Ende, Flores, sejak 1933, Inggit menyertainya dengan setia. Begitu pula ketika pemimpin pergerakan nasional yang juga populer sebagai "singa podium" itu dibuang ke Bengkulu, Inggit mendampinginya. Soekarno adalah suaminya yang ketiga setelah Sukarta dan Haji Sanusi.  


Bung Karno sendiri jatuh cinta pada wanita itu ketika ia mondok di rumah Haji Sanusi. Ketika itu Bung Karno yang berusia 20 tahun (sementara Inggit 32 tahun) sudah mengawini Utari, putri H.O.S. Tjokroaminoto.


Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

18 April 1929 Oey Hay Djoen lahir di Malang, Jawa Timur. Sejak muda, ia adalah pembaca yang rakus dan dari sana ia berkenalan dengan dunia politik—sebuah dunia yang kemudian digelutinya sampai akhir hayat. Pada usia 17 tahun ia mulai terlibat dalam politik dan memulai kerja-kerjanya dalam bidang terjemahan. Karya pertama yang diterjemahkan adalah "Negara dan Revolusi" karya V. Lenin. Ia kemudian pindah dari Yogyakarta ke Malang. Disana ia berkenalan dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan, dsb,. dan langsung terlibat dalam perlawanan melawan Belanda. Ia kemudian ditahan oleh Belanda tapi kemudian berhasil melarikan diri dari penjara. Oey kemudian menetap di Surabaya. Disini ia berkenalan Njoto dan pada tahun 1959 pindah lagi ke Jakarta dan bergabung bersama Lekra. Dalam Kongres Pertama Lekra, Oey dipilih menjadi anggota sekertariat pimpinan pusat, kepala rumah tangga yang mengurusi sekertariat dan badan penerbit Lekra. Ketika peristiwa 1965 meletus, Oey kemudian ditangkap pada bulan Oktober dan dipenjara selama 14 tahun di Pulau Buru. Ia ditahan dengan nomor tapol 001. Oey termasuk rombongan terakhir yang dilepas dari Pulau Buru bersama Pramoedya, Rivai Apin, dsb. Pasca keluar dari penjara, Oey aktif dalam penulisan dan penerbitan. Ia aktif membantu Hasta Mitra, sebuah penerbit yang didirikan oleh Pramoedya, Josoef Isak, dan Hasjim Rachman. Oey menerjamahkan banyak karya marxis klasik tulisan Marx, Engels, Plekanov, dsb., dengan nama Ira Iramanto. Ia menutup usianya di usia 79 tahun. https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2018/09/16/jejak-langkah-oey-hay-djoen-tapol-001-dari-gerilyawan-kota-parlemen-buru-hingga-buku-1929-2008/ Melipat Ganda, Membakar Tirani! #momentumsejarah #arahjuang https://linktr.ee/arahjuang

 18 April 1929 Oey Hay Djoen lahir di Malang, Jawa Timur. Sejak muda, ia adalah pembaca yang rakus dan dari sana ia berkenalan dengan dunia politik—sebuah dunia yang kemudian digelutinya sampai akhir hayat.


Pada usia 17 tahun ia mulai terlibat dalam politik dan memulai kerja-kerjanya dalam bidang terjemahan. Karya pertama yang diterjemahkan adalah "Negara dan Revolusi" karya V. Lenin. 



Ia kemudian pindah dari Yogyakarta ke Malang. Disana ia berkenalan dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan, dsb,. dan langsung terlibat dalam perlawanan melawan Belanda. Ia kemudian ditahan oleh Belanda tapi kemudian berhasil melarikan diri dari penjara. 


Oey kemudian menetap di Surabaya. Disini ia berkenalan Njoto dan pada tahun 1959 pindah lagi ke Jakarta dan bergabung bersama Lekra. Dalam Kongres Pertama Lekra, Oey dipilih menjadi anggota sekertariat pimpinan pusat, kepala rumah tangga yang mengurusi sekertariat dan badan penerbit Lekra. 


Ketika peristiwa 1965 meletus, Oey kemudian ditangkap pada bulan Oktober dan dipenjara selama 14 tahun di Pulau Buru. Ia ditahan dengan nomor tapol 001. Oey termasuk rombongan terakhir yang dilepas dari Pulau Buru bersama Pramoedya, Rivai Apin, dsb.


Pasca keluar dari penjara, Oey aktif dalam penulisan dan penerbitan. Ia aktif membantu Hasta Mitra, sebuah penerbit yang didirikan oleh Pramoedya, Josoef Isak, dan Hasjim Rachman. Oey menerjamahkan banyak karya marxis klasik tulisan Marx, Engels, Plekanov, dsb., dengan nama Ira Iramanto. Ia menutup usianya di usia 79 tahun.


https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2018/09/16/jejak-langkah-oey-hay-djoen-tapol-001-dari-gerilyawan-kota-parlemen-buru-hingga-buku-1929-2008/


Melipat Ganda, Membakar Tirani!

#momentumsejarah

#arahjuang


https://linktr.ee/arahjuang

Kisah Bapakku dan Emakku Bapakku Tjari bin Saljan (31 tahun) dan emakku Hindun binti Rumban (20 tahun) menikah pada hari Djumah 9 Besar 87 H (1387 H) atau bertepatan dengan Jumat 8 maret 1968 jam 09.00 wib. Mereka menikah di KUA Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Yang menikahkan bapaknya emakku Rumban bin Tjato (48 tahun). Mas kawinnya berupa uang sebesar Rp100 rupiah dibayar tunai. Bapakku berstatus duda, istri pertama sudah bercerai. Istri pertamanya bernama Sarini binti Rakiban dan dikaruniai anak 2 yakni Muslichah (lahir 24/12/1959) dan Tarsinah (lahir 13/08/1965). Saat itu bapakku tinggal di Bedji (Beji, Pemalang). Sarini tinggal Dusun Pedurungan RT 8 RW 2, Desa Taman, Pemalang. Bapakku punya adik yg tinggal di Baros Pekalongan. Emakku berstatus janda, belum memiliki anak dan tinggal di Desa Jatirejo Kec. Ampelgading Kabupaten Pemalang. Saya kurang tahu siapa suami pertamanya. Jika merunut pada buku nikah, pekerjaan mereka adalah petani. Mungkin saja mereka bertemu saat menjadi petani. ☺ Yang menarik dari arsip-arsip yang saya buka, pada 1 Juli 1966 bapakku diangkat menjadi PNS Sementara di Rindam VII/Diponegoro di Magelang. Sebelumnya hanya Pekerja Harian Tetap (PHT) di tempat itu. Belum diketahui mulai kapan bekerja sebagai PHT. Ini berarti bahwa saat bapakku menikah dengan emakku, bapakku sebenarnya sudah bekerja di Rindam VII Diponegoro di Magelang, bukan sebagai petani (jika merujuk pada buku nikah). Ah betapa rendah hatinya bapakku. ☺ Mengapa bapakku bisa bekerja di Magelang? Bapakku dan emakku pernah bercerita, pasca peristiwa 1965 bapakku meninggalkan Pemalang ikut dompleng truk tentara dari Magelang yang saat itu melakukan pengamanan di Pemalang. Bapakku takut 'kena' jika tetap tinggal di Pemalang. Kita tahu di kawasan itu (termasuk Tegal, Brebes dsk) menjadi 'area merah'. Berkat dompleng tentara itulah bapakku bisa bekerja di Rindam VII/Diponegoro Magelang meskipun cuma sebagai Pekerja Harian Tetap (entah mulai kapan, mungkin antara Oktober 1965 - 1 Juli 1966). Sebagai PNS Sementara, tugasnya menjadi Pelayan Makan (bagian dapur) pada 1 Januari 1968 dengan golongan 1a bergaji Rp440 pada 1 Oktober 1973 naik golongan menjadi 1b bergaji Rp712. Bapakku pensiun pada 1 Juni 1993 dengan golongan 2a dengan gaji akhir sekitar Rp114.000,- dan meninggal pada 11 Januari 1999 dalam usia 62 tahun. Sedangkan emakku meninggal pada 14 April 2026 dalam usia 80 tahun. Bapakku dan emakku memiliki 5 anak laki-laki (Pendowo) yang semuanya lahir di Magelang. Aku sendiri nomer 3. Kami bangga pada mereka.

 Kisah Bapakku dan Emakku


Bapakku Tjari bin Saljan (31 tahun) dan emakku Hindun binti Rumban (20 tahun) menikah pada hari Djumah 9 Besar 87 H (1387 H) atau bertepatan dengan Jumat 8 maret 1968 jam 09.00 wib. 




Mereka menikah di KUA Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Yang menikahkan bapaknya emakku Rumban bin Tjato (48 tahun). Mas kawinnya berupa uang sebesar Rp100 rupiah dibayar tunai. 


Bapakku berstatus duda, istri pertama sudah bercerai. Istri pertamanya bernama Sarini binti Rakiban dan dikaruniai anak 2 yakni Muslichah (lahir 24/12/1959) dan Tarsinah (lahir 13/08/1965). Saat itu bapakku tinggal di Bedji (Beji, Pemalang). Sarini tinggal Dusun Pedurungan RT 8 RW 2, Desa Taman, Pemalang. Bapakku punya adik yg tinggal di Baros Pekalongan. 


Emakku berstatus janda, belum memiliki anak dan tinggal di Desa Jatirejo Kec. Ampelgading Kabupaten Pemalang. Saya kurang tahu siapa suami pertamanya. 


Jika merunut pada buku nikah, pekerjaan mereka adalah petani. Mungkin saja mereka bertemu saat menjadi petani. ☺


Yang menarik dari arsip-arsip yang saya buka, pada 1 Juli 1966 bapakku diangkat menjadi PNS Sementara di Rindam VII/Diponegoro di Magelang. Sebelumnya hanya Pekerja Harian Tetap (PHT) di tempat itu. Belum diketahui mulai kapan bekerja sebagai PHT. 


Ini berarti bahwa saat bapakku menikah dengan emakku, bapakku sebenarnya sudah bekerja di Rindam VII Diponegoro di Magelang, bukan sebagai petani (jika merujuk pada buku nikah). Ah betapa rendah hatinya bapakku. ☺


Mengapa bapakku bisa bekerja di Magelang? 


Bapakku dan emakku pernah bercerita, pasca peristiwa 1965 bapakku meninggalkan Pemalang ikut dompleng truk tentara dari Magelang yang saat itu melakukan pengamanan di Pemalang. Bapakku takut 'kena' jika tetap tinggal di Pemalang. Kita tahu di kawasan itu (termasuk Tegal, Brebes dsk) menjadi 'area merah'. 


Berkat dompleng tentara itulah bapakku bisa bekerja di Rindam VII/Diponegoro Magelang meskipun cuma sebagai Pekerja Harian Tetap (entah mulai kapan, mungkin antara Oktober 1965 - 1 Juli 1966). Sebagai PNS Sementara, tugasnya menjadi Pelayan Makan (bagian dapur) pada 1 Januari 1968 dengan golongan 1a bergaji Rp440  pada 1 Oktober 1973 naik golongan menjadi 1b bergaji Rp712. 


Bapakku pensiun pada 1 Juni 1993 dengan golongan 2a dengan gaji akhir sekitar Rp114.000,- dan meninggal pada 11 Januari 1999 dalam usia 62 tahun. Sedangkan emakku meninggal pada 14 April 2026 dalam usia 80 tahun. 


Bapakku dan emakku memiliki 5 anak laki-laki (Pendowo) yang semuanya lahir di Magelang. Aku sendiri nomer 3. Kami bangga pada mereka.


Sumber : Bagus Priyana ( Agung Dragon ) 

21 April 2026

Kartini, Sang Santri: Jejak Revolusi Pemikiran di Balik Kitab Pegon NUOKe – Nama Raden Adjeng Kartini selama ini identik dengan kebaya, sanggul, dan perjuangan emansipasi perempuan melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, di balik narasi besar sebagai bangsawan progresif, terselip satu identitas yang kerap luput dari catatan sejarah populer: Kartini adalah seorang santri. Jauh sebelum ia dikenal dunia karena buku Habis Gelap Terbitlah Terang, pola pikir Kartini ditempa oleh kegelisahan spiritual yang mendalam. Ia lahir di tengah tradisi paternalistik Jawa yang kental, di mana perempuan dianggap sekadar pelengkap. Namun, anomali terbesar yang ia rasakan justru muncul saat ia berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, Al-Qur'an. Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 1899, Kartini sempat menuangkan rasa frustrasinya. Ia merasa aneh ketika masyarakat diwajibkan membaca Al-Qur'an tanpa diperbolehkan memahami maknanya. "Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca," tulis Kartini. Bagi Kartini kala itu, Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa. Ketidakpahaman ini sempat membuatnya merasa jauh dari agamanya sendiri, hingga sebuah pertemuan tak sengaja di rumah pamannya, Bupati Demak, mengubah segalanya. Di sana, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang—ulama besar yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Saat sang kiai membedah tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa, Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat-ayat yang selama ini ia hafal tanpa makna, tiba-tiba "berbicara" langsung ke sanubarinya. Nyai Hj. Fadhilah Sholeh, cucu dari Mbah Sholeh Darat, menceritakan bagaimana Kartini kecil mendesak pamannya untuk bertemu sang kiai. Kartini melontarkan pertanyaan tajam: "Kiai, bagaimana hukumnya bila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?" Kartini menggugat para ulama saat itu yang enggan menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lokal. Padahal, ia haus akan bimbingan hidup yang nyata, bukan sekadar pelafalan hampa. Kritik Kartini menjadi pemantik bagi Mbah Sholeh Darat. Namun, tantangannya tidak mudah. Pemerintah kolonial Belanda melarang keras penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa daerah karena takut pemahaman agama akan memicu semangat perlawanan dan jiwa merdeka. Untuk menyiasatinya, Mbah Sholeh Darat menggunakan aksara Arab Pegon (bahasa Jawa bertuliskan huruf Arab). Dengan cara ini, penjajah tidak curiga karena menganggapnya sebagai teks doa biasa. Lahirlah kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa. Kitab inilah yang kemudian menjadi kado pernikahan Kartini saat dipinang oleh Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Kartini menyebut hadiah itu sebagai cahaya yang menerangi kegelapannya selama ini. Inspirasi utama kalimat ikonik "Habis Gelap Terbitlah Terang" disinyalir kuat berasal dari ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hati Kartini: Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur—"Dari kegelapan menuju cahaya" (QS. Al-Baqarah: 257). Dalam surat-suratnya ke Nyai Abendanon, Kartini sering mengulang frasa Door Duisternis Toot Licht. Judul yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai judul buku kumpulan suratnya tersebut bukan sekadar metafora sosial, melainkan kristalisasi pengalaman spiritualnya setelah belajar agama. Meski Mbah Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikan seluruh terjemahan Al-Qur'an (hanya sampai Surah Ibrahim), pengaruhnya telah tertanam kuat. Kartini bukan lagi sekadar putri bangsawan yang mengeluh tentang tradisi pingitan, melainkan seorang intelektual Muslimah yang sadar bahwa kemerdekaan berpikir dimulai dari pemahaman terhadap ilmu. Selamat Hari Kartini. Seorang santri, seorang pemikir, dan ibu bagi kemajuan bangsa. Sumber: NU Online Content Curator NUOKe #Kartini #HariKartini #RAKartini #IbuKartini #SholehDarat #MbahSholehDarat #TokohBangsa #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #SejarahIslamNusantara #BiografiTokoh #JejakLangkahKartini #HabisGelapTerbitlahTerang

 Kartini, Sang Santri: Jejak Revolusi Pemikiran di Balik Kitab Pegon


NUOKe  – Nama Raden Adjeng Kartini selama ini identik dengan kebaya, sanggul, dan perjuangan emansipasi perempuan melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, di balik narasi besar sebagai bangsawan progresif, terselip satu identitas yang kerap luput dari catatan sejarah populer: Kartini adalah seorang santri.



Jauh sebelum ia dikenal dunia karena buku Habis Gelap Terbitlah Terang, pola pikir Kartini ditempa oleh kegelisahan spiritual yang mendalam. Ia lahir di tengah tradisi paternalistik Jawa yang kental, di mana perempuan dianggap sekadar pelengkap. Namun, anomali terbesar yang ia rasakan justru muncul saat ia berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, Al-Qur'an.


Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 1899, Kartini sempat menuangkan rasa frustrasinya. Ia merasa aneh ketika masyarakat diwajibkan membaca Al-Qur'an tanpa diperbolehkan memahami maknanya.


"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca," tulis Kartini.


Bagi Kartini kala itu, Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa. Ketidakpahaman ini sempat membuatnya merasa jauh dari agamanya sendiri, hingga sebuah pertemuan tak sengaja di rumah pamannya, Bupati Demak, mengubah segalanya.


Di sana, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang—ulama besar yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Saat sang kiai membedah tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa, Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat-ayat yang selama ini ia hafal tanpa makna, tiba-tiba "berbicara" langsung ke sanubarinya.


Nyai Hj. Fadhilah Sholeh, cucu dari Mbah Sholeh Darat, menceritakan bagaimana Kartini kecil mendesak pamannya untuk bertemu sang kiai. Kartini melontarkan pertanyaan tajam: "Kiai, bagaimana hukumnya bila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?"


Kartini menggugat para ulama saat itu yang enggan menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lokal. Padahal, ia haus akan bimbingan hidup yang nyata, bukan sekadar pelafalan hampa.


Kritik Kartini menjadi pemantik bagi Mbah Sholeh Darat. Namun, tantangannya tidak mudah. Pemerintah kolonial Belanda melarang keras penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa daerah karena takut pemahaman agama akan memicu semangat perlawanan dan jiwa merdeka.


Untuk menyiasatinya, Mbah Sholeh Darat menggunakan aksara Arab Pegon (bahasa Jawa bertuliskan huruf Arab). Dengan cara ini, penjajah tidak curiga karena menganggapnya sebagai teks doa biasa. Lahirlah kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa.


Kitab inilah yang kemudian menjadi kado pernikahan Kartini saat dipinang oleh Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Kartini menyebut hadiah itu sebagai cahaya yang menerangi kegelapannya selama ini.


Inspirasi utama kalimat ikonik "Habis Gelap Terbitlah Terang" disinyalir kuat berasal dari ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hati Kartini: Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur—"Dari kegelapan menuju cahaya" (QS. Al-Baqarah: 257).


Dalam surat-suratnya ke Nyai Abendanon, Kartini sering mengulang frasa Door Duisternis Toot Licht. Judul yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai judul buku kumpulan suratnya tersebut bukan sekadar metafora sosial, melainkan kristalisasi pengalaman spiritualnya setelah belajar agama.


Meski Mbah Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikan seluruh terjemahan Al-Qur'an (hanya sampai Surah Ibrahim), pengaruhnya telah tertanam kuat. Kartini bukan lagi sekadar putri bangsawan yang mengeluh tentang tradisi pingitan, melainkan seorang intelektual Muslimah yang sadar bahwa kemerdekaan berpikir dimulai dari pemahaman terhadap ilmu.


Selamat Hari Kartini. Seorang santri, seorang pemikir, dan ibu bagi kemajuan bangsa.


Sumber: NU Online Content Curator NUOKe


#Kartini #HariKartini #RAKartini #IbuKartini #SholehDarat #MbahSholehDarat #TokohBangsa #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #SejarahIslamNusantara #BiografiTokoh #JejakLangkahKartini #HabisGelapTerbitlahTerang

Dari Penjual Rokok Jadi Menteri Keuangan: Kisah Hidup Radius Prawiro yang Menginspirasi! Di balik deretan kebijakan ekonomi yang menopang stabilitas Indonesia selama puluhan tahun, terdapat sosok teknokrat yang memiliki perjalanan hidup luar biasa. Radius Prawiro (1928–2005), seorang tokoh yang namanya mungkin terdengar formal di buku sejarah, ternyata memiliki masa muda yang sangat jauh dari gemerlap kursi kekuasaan. Memulai dari Bawah: Masa Kecil yang Penuh Perjuangan Banyak yang mengenal Radius Prawiro sebagai ekonom handal yang pernah memimpin Bank Indonesia dan menjabat sebagai menteri. Namun, siapa sangka, untuk mencapai titik tersebut, ia harus menapaki jalan yang terjal. Lahir dari pasangan Suradi Prawiro dan Suketri, Radius tumbuh di Yogyakarta. Kehidupan masa kecilnya bukanlah kehidupan yang serba berkecukupan. Buktinya, saat masih duduk di bangku SMP pada tahun 1942—di tengah gejolak masa pendudukan—Radius muda sempat bekerja sebagai penjual rokok untuk membantu ekonomi keluarga. Pengalaman ini menanamkan etos kerja yang kuat, sebuah karakter yang kelak menjadi modal utamanya saat menghadapi krisis ekonomi nasional di kemudian hari. Menembus Batas: Pendidikan dan Pengabdian Semangat untuk maju membawa Radius jauh melampaui keterbatasannya. Setelah menempuh pendidikan di Yogyakarta, ia melanjutkan studi ke Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam, Belanda, sebelum akhirnya memperdalam ilmu di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Karier pengabdiannya dimulai dari akar rumput. Sebelum menjadi orang nomor satu di Bank Indonesia (1966–1973), Radius adalah seorang pejuang yang terlibat dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Yogyakarta. Pengalamannya sebagai perwira di masa perjuangan memberinya perspektif bahwa stabilitas ekonomi adalah kunci bagi kemerdekaan sebuah bangsa. Sang Arsitek Ekonomi Nasional Radius Prawiro dikenal sebagai menteri yang tak kenal lelah dalam membenahi sistem keuangan negara. Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan (1983–1988) dan kemudian Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1988–1993), ia menjadi tokoh kunci di balik: Reformasi Perpajakan: Menyederhanakan sistem pajak agar lebih efektif. Stabilisasi Moneter: Memulihkan kepercayaan pasar setelah krisis ekonomi. Pemberdayaan Desa: Melalui Kredit Usaha Pedesaan, ia memastikan bahwa kebijakan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh kalangan elit di kota, tetapi juga oleh masyarakat di pelosok pedesaan. Sisi Humanis: Hobi Motor dan Berkebun Meskipun dikenal sebagai sosok teknokrat yang serius, Radius adalah manusia biasa dengan sisi humanis yang kental. Ia adalah penggemar berat fotografi dan sepeda motor—sebuah hobi yang ia tekuni sejak masih belajar di Belanda. Ia bahkan harus merelakan kegemarannya mengendarai sepeda motor saat menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia demi alasan keamanan. Di masa tuanya, ia sering menghabiskan waktu dengan merawat tanaman bersama sang istri, Leonie Supit. Baginya, ketenangan di kebun adalah penyeimbang dari hiruk-pikuk dunia keuangan yang selalu menuntut fokus tinggi. Warisan yang Terus Hidup Radius Prawiro wafat pada 26 Mei 2005. Warisannya bukan hanya sekadar angka dalam laporan keuangan atau kebijakan moneter, melainkan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa latar belakang ekonomi keluarga bukanlah penghalang untuk mencapai posisi puncak. Dari seorang penjual rokok di Yogyakarta, ia membuktikan bahwa dengan pendidikan, kerja keras, dan integritas, seseorang bisa menjadi arsitek masa depan bangsanya sendiri. Sumber: Wikipedia #RadiusPrawiro #TokohBangsa #InspirasiEkonomi #SejarahIndonesia #KisahInspiratif #TeknokratIndonesia

 Dari Penjual Rokok Jadi Menteri Keuangan: Kisah Hidup Radius Prawiro yang Menginspirasi!



Di balik deretan kebijakan ekonomi yang menopang stabilitas Indonesia selama puluhan tahun, terdapat sosok teknokrat yang memiliki perjalanan hidup luar biasa. Radius Prawiro (1928–2005), seorang tokoh yang namanya mungkin terdengar formal di buku sejarah, ternyata memiliki masa muda yang sangat jauh dari gemerlap kursi kekuasaan.


Memulai dari Bawah: Masa Kecil yang Penuh Perjuangan

Banyak yang mengenal Radius Prawiro sebagai ekonom handal yang pernah memimpin Bank Indonesia dan menjabat sebagai menteri. Namun, siapa sangka, untuk mencapai titik tersebut, ia harus menapaki jalan yang terjal.


Lahir dari pasangan Suradi Prawiro dan Suketri, Radius tumbuh di Yogyakarta. Kehidupan masa kecilnya bukanlah kehidupan yang serba berkecukupan. Buktinya, saat masih duduk di bangku SMP pada tahun 1942—di tengah gejolak masa pendudukan—Radius muda sempat bekerja sebagai penjual rokok untuk membantu ekonomi keluarga.


Pengalaman ini menanamkan etos kerja yang kuat, sebuah karakter yang kelak menjadi modal utamanya saat menghadapi krisis ekonomi nasional di kemudian hari.


Menembus Batas: Pendidikan dan Pengabdian

Semangat untuk maju membawa Radius jauh melampaui keterbatasannya. Setelah menempuh pendidikan di Yogyakarta, ia melanjutkan studi ke Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam, Belanda, sebelum akhirnya memperdalam ilmu di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.


Karier pengabdiannya dimulai dari akar rumput. Sebelum menjadi orang nomor satu di Bank Indonesia (1966–1973), Radius adalah seorang pejuang yang terlibat dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Yogyakarta. Pengalamannya sebagai perwira di masa perjuangan memberinya perspektif bahwa stabilitas ekonomi adalah kunci bagi kemerdekaan sebuah bangsa.


Sang Arsitek Ekonomi Nasional

Radius Prawiro dikenal sebagai menteri yang tak kenal lelah dalam membenahi sistem keuangan negara. Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan (1983–1988) dan kemudian Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1988–1993), ia menjadi tokoh kunci di balik:


Reformasi Perpajakan: Menyederhanakan sistem pajak agar lebih efektif.


Stabilisasi Moneter: Memulihkan kepercayaan pasar setelah krisis ekonomi.


Pemberdayaan Desa: Melalui Kredit Usaha Pedesaan, ia memastikan bahwa kebijakan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh kalangan elit di kota, tetapi juga oleh masyarakat di pelosok pedesaan.


Sisi Humanis: Hobi Motor dan Berkebun

Meskipun dikenal sebagai sosok teknokrat yang serius, Radius adalah manusia biasa dengan sisi humanis yang kental. Ia adalah penggemar berat fotografi dan sepeda motor—sebuah hobi yang ia tekuni sejak masih belajar di Belanda. Ia bahkan harus merelakan kegemarannya mengendarai sepeda motor saat menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia demi alasan keamanan.


Di masa tuanya, ia sering menghabiskan waktu dengan merawat tanaman bersama sang istri, Leonie Supit. Baginya, ketenangan di kebun adalah penyeimbang dari hiruk-pikuk dunia keuangan yang selalu menuntut fokus tinggi.


Warisan yang Terus Hidup

Radius Prawiro wafat pada 26 Mei 2005. Warisannya bukan hanya sekadar angka dalam laporan keuangan atau kebijakan moneter, melainkan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa latar belakang ekonomi keluarga bukanlah penghalang untuk mencapai posisi puncak.


Dari seorang penjual rokok di Yogyakarta, ia membuktikan bahwa dengan pendidikan, kerja keras, dan integritas, seseorang bisa menjadi arsitek masa depan bangsanya sendiri.


Sumber: Wikipedia


#RadiusPrawiro #TokohBangsa #InspirasiEkonomi #SejarahIndonesia #KisahInspiratif #TeknokratIndonesia

Bung Karno dan istri ke duanya Inggit Garnasih. Meskipun perbeda usia cukup jauh bung Karno masih 22 tahun dan Inggit 36 tapi tidak menghalangi Mereka untuk menikah. Pernikahan dilangsungkan pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem. Ibu Inggit berjasa membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliahnya hingga aktivitas politiknya. Bahkan saat Bung Karno dipenjara karena aktivitas politik menentang Belanda, Beliaulah yg membawakan makanan dan buku sebagai penghibur Bung Karno.. Tapi kemudian mereka bercerai pada tahun 1942.

 Bung Karno dan istri ke duanya Inggit Garnasih. Meskipun perbeda usia cukup jauh bung Karno masih 22 tahun dan Inggit 36 tapi tidak menghalangi Mereka untuk menikah. Pernikahan dilangsungkan  pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem. Ibu Inggit berjasa  membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliahnya hingga aktivitas politiknya. Bahkan saat Bung Karno dipenjara karena aktivitas politik menentang Belanda, Beliaulah yg membawakan makanan dan buku sebagai penghibur Bung Karno..

Tapi kemudian mereka bercerai pada tahun 1942.



19 April 2026

Dari beberapa cerita mertua saya tentang daerah Kader School (Kawasan Rindam IV Diponegoro saat ini) dan sekitarnya mulai dari Jalan Piere Tendean sekarang hingga masuk kawasan gerbang masuk Kader School hingga mengelilingi lapangan Kader School lalu jalan Ksatrian baik Ksatrian utara ataupun Ksatrian selatan dahulu banyak tumbuh tanaman kenari atau dalam bahasa ilmiahnya Canarium ambonensis dan Canarium indicum sebagai pohon perindang. Hal ini bisa kita lihat dari dokumentasi foto foto sekitar Jalan Pierre Tendean hingga komplek Kader School (Kawasan Rindam IV Diponegoro sekarang ini). Kata mertua saya dahulu sering mencari buah kenari di daerah tersebut karena buah kenari enak dimakan. Bisa dibayangkan dahulu betapa rindang dan asri kawasan Kader School dengan pohon perindang berupa pohon kenari yang tumbuh tinggi menjulang dengan tajuk yang lebar. Pohon pohon kenari ini dahulu dipakai untuk sarang burung kuntul yang tiap pagi sekitar jam 6.30 terbang ke arah barat dan kemudian sore hari dari arah barat pulang lagi ke kawasan Kader School. Selain burung kuntul juga ada burung gelatik dan burung emprit. Dan dikemudian hari pohon pohon kenari ini ditebang dan mulai digantikan dengan pohon Asam sekitar tahun 1957 atau 1958 (sekitar dekade 1950an). Sehingga kalau sekarang sudah jarang adanya pohon kenari apalagi burung kuntul, burung gelatik dan burung emprit dijumpai di sekitar kompleks Rindam IV Diponegoro. Bahkan burung gelatik sekarang jadi burung yang dilindungi karena sudah terancam kepunahan.

 Dari beberapa cerita mertua saya tentang daerah Kader School (Kawasan Rindam IV Diponegoro saat ini) dan sekitarnya mulai dari Jalan Piere Tendean sekarang hingga masuk kawasan gerbang masuk Kader School hingga mengelilingi lapangan Kader School lalu jalan Ksatrian baik Ksatrian utara ataupun Ksatrian selatan dahulu banyak tumbuh tanaman kenari atau dalam bahasa ilmiahnya Canarium ambonensis dan Canarium indicum sebagai pohon perindang.




 




Hal ini bisa kita lihat dari dokumentasi foto foto sekitar Jalan Pierre Tendean hingga komplek Kader School (Kawasan Rindam IV Diponegoro sekarang ini).

Kata mertua saya dahulu sering mencari buah kenari di daerah tersebut karena buah kenari enak dimakan.

Bisa dibayangkan dahulu betapa rindang dan asri kawasan Kader School dengan pohon perindang berupa pohon kenari yang tumbuh tinggi menjulang dengan tajuk yang lebar. Pohon pohon kenari ini dahulu dipakai untuk sarang burung kuntul yang tiap pagi sekitar jam 6.30 terbang ke arah barat dan kemudian sore hari dari arah barat pulang lagi ke kawasan Kader School. Selain burung kuntul juga ada burung gelatik dan burung emprit.

Dan dikemudian hari pohon pohon kenari ini ditebang dan mulai digantikan dengan pohon Asam sekitar tahun 1957 atau 1958 (sekitar dekade 1950an).

Sehingga kalau sekarang sudah jarang adanya pohon kenari apalagi burung kuntul, burung gelatik dan burung emprit dijumpai di sekitar kompleks Rindam IV Diponegoro. Bahkan burung gelatik sekarang jadi burung yang dilindungi karena sudah terancam kepunahan.

Sumber : Orchid Breeder

Mbah buyut Jetbus 5 Chevrolet Apache biasa dijamannya disebut seri Lele Rute Muntilan - Borobudur - Magelang P.P Foto diambil antara tahun 60-70 an

 Mbah buyut Jetbus 5


Chevrolet Apache biasa dijamannya disebut seri Lele 


Rute Muntilan - Borobudur - Magelang P.P


Foto diambil antara tahun 60-70 an



18 April 2026

ARIEF BUDIMAN: KEMATIAN BRIGJEN TAMPUBOLON HARUS JADI AJANG PERENUNGAN (DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18) Bagaimana Anda melihat terbunuhnya Tampubolon berkaitan dengan gejala kehidupan kota besar? Ketika membaca berita itu, dan kebetulan di Kompas saya juga membaca berita perusakkan yang dilakukan pelajar terhadap halte bus, bagi saya Jakarta saat ini mengerikan. Mengerikan, karena gejala-gejala kekerasan tidak terkontrol lagi. Gejala ini bukan hanya di Indonesia, tetapi juga kota-kota besar lain di mana terdapat kantong-kantong kemiskinan. Di New York misalnya. Kalau Anda berjalan di atas Universitas Columbia, maka Anda akan melihat daerah orang-orang kulit hitam, di mana orang-orang kulit putih tidak berani melewati daerah itu ketika hari sudah mulai gelap. Mengapa? Seringkali terjadi perampokan, pemukulan. Jadi adanya kantong-kantong kemiskinan inilah yang menyebabkan orang jadi meledak-ledak.Namun di AS hukumnya relatif berjalan, meskipun sulit dikontrol. Sedangkan di di Indonesia hukumnya boleh dikatakan kurang berjalan. Di Indonesia, latar belakang apa yang menyebabkan orang gampang menggunakan kekerasan? Ada dua hal. Pertama hukumnya kurang jalan. Misalnya kalau ada suatu perkelahian, seringkali anak-anak pejabat bebas dari hukuman. Meskipun pimpinan ABRI menyatakan, anak pejabat akan ditindak. Prakteknya kan sulit dilaksanakan. Kedua, itu bisa terjadi karena adanya budaya kekerasan pada skala nasional. Sekarang ini kalau kita kita tanya pada anak-anak muda siapa yang mereka anggap hero (pahlawan). Jawabnya, hero di mata mereka adalah orang-orang yang berseragam. Artinya, citra militer menjadi citra hero. Lalu bergeser menjadi simbol kekuatan fisik. Dengan kata lain, pada akhirnya mereka punya pikiran, yang bisa menyelesaikan masalah adalah kekuatan fisik. Bukan kemampuan otak. Ini yang menyebabkan kekuatan fisik begitu dipuja-puja. Lalu yang ketiga, seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar. Kekerasan pun tak pandang bulu. Seorang perwira tinggi seperti Tampubolon menjadi korban? Saya kira tewasnya Brigjen Tampubolon ini merupakan tragedi. Tragedi, karena ini mengenaskan sekali. Bahwa seorang yang berkarier begitu baik di intelijen harus mati dengan cara begitu. Bagaimanapun, tewasnya Tampubolon pasti memukul keluarga besar ABRI. Maka saya harap kematian Tampubolon menjadi semacam ajang perenungan. Maksud saya, dengan kematian Tampubolon diharapkan akan ada suatu keseriusan yang lebih baik dalam melihat dan menangani gejala yang tumbuh di masyarakat. Jangan dianggap sepele. Tidak cukup hanya dengan menangkap berandal-berandal itu. Ini sebuah masalah yang sangat besar. Dan merupakan perjuangan dari banyak orang. Tragedi yang menimpa Tampubolon dan kasus-kasus sejenis, benarkah ini isyarat menguatnya pengadilan jalanan atau dark justice? Itu benar. Memang sedang menguat dan membahayakan kota-kota besar seperti Jakarta. Dan Brigjen Tampubolon merupakan korban dari proses kota semacam ini. Ini memang mengerikan. Suatu hari, di Jakarta saya pernah naik bus kota yang menuju Cempaka Putih, dan tak lama kemudian beberapa pelajar SMA masuk ke bis kota. Di situ seorang pelajar dengan bangga bercerita bagaimana dia distop polisi di depan Hotel Indonesia. Lalu dia menelepon oomnya yang kebetulan militer. Lalu oomnya datang ke tempat kejadian tanpa berseragam milter, dan kemudian sang polisi dipukuli. Dengan bangganya si pelajar itu bilang, “si polisi itu nggak tahu gue ini siapa dan oom gue itu siapa." Ini kan fenomena yang sangat berbahaya. Cara yang ditempuh Pangdam Jaya Hendropriyono dengan mengirim anak- anak nakal itu ke sekolah khusus, menurut saya kurang tepat. Karena prosesnya bukan terletak aada si anak. Bagaimana faktor ekonomi dan politik mempengaruhi tumbuhnya budaya kekerasan? Seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar itu erat kaitannya dengan masalah perekonomian. Alhasil, adanya kantong kantong kemiskinan ini menimbulkan gap. Apalagi menjadi orang kaya di In donesia itu prosesnya seringkali tidak wajar. Artinya, semakin kaya semakin tidak wajar. Jika tidak ditangani, kira-kira pola gerakan massa macam apa yang muncul di masa mendatang? Gerakan massa akan menjadi dua. Pertama, gerakan massa yang menuju pada kriminalitas. Yaitu seperti gerakan pelajar, gerakan keroyokan terhadap sopir metromini, dan sebagainya. Sedangkan yang kedua, adalah gerakan politik yang dilakukan mahasiswa dengan tujuan memperkuat demokratisasi. Jadi gerakan massa yang muncul saat ini harus dilihat dari dua hal itu. Gerakan massa dengan model yang pertama mungkin negatif, sedangkan model yang kedua positif. Tetapi kedua-duanya merupakan produk dari ketidakpuasan atau keadaan masyarakat yang sedang sakit. Apakah kejahatan kekerasan yang terjadi di kota-kota besar itu punya kecenderungan untuk memilih-milih korban? Kalau di basis kriminal saya kira kesadaran kelas itu tidak ada. Jadi mereka ini tidak pandang bulu. Mereka adalah korban dari suatu proses politik di mana kekerasan merupakan suatu cara penyelesaian. Jadi kalau mereka ini kekurangan uang, ya mereka langsung saja menggasak uang pada siapa saja yang paling lemah. Seperti halnya juga pada para pelajar yang merusak halte bus, gerobak tukang martabak digulingkan. Lalu tukang rokok dirampas. Gejala kekerasan semacam itu tidak memponyai sensitivitas bahwa para penjual itu merupakan orang-orang kecil. Jadi gerakan massa yang berbasis kriminal ini jauh lebih mengerikan karena sasarannya bukan untuk perbaikan masyarakat tapi hanya manifestasi dari penyakit di dalam masyarakat. Lain halnya dengan gerakan politik yang boleh dikatakan sangat terarah dan menuju pada suatu konsep yang lebih baik Seberapa serius kelompok urban mempengaruhi gejolak sosial di perkotaan? Saya kira sangat serius. Artinya, gejala ini sudah melewati ambang batas. Di desa telah terjadi proses pemiskinan. Seperti adanya pengambilan tanah, lahan sawah yang dibongkar dan seterusnya. Akibatnya orang-orang desa pergi ke kota. Di kota mereka terbentur pada keterbatasan lapangan kerja. Mereka lalu bergerombol, dan biasanya mereka tersalur pada sektor informal. Tapi di sektor informal pun mereka dikejar-kejar dengan mengatasnamakan keindahan kota demi usaha merebut Adipura. Alhasil, kelompok ini kemudian masuk ke dalam subkultur kekerasan kriminal. Dan kecenderungan ini bukannya berkurang tapi malah bertambah, karena masuknya orang-orang baru yang langsung dikooptasi oleh subkultur kekerasan semacam itu. Lantas gejala apa pula yang membuat orang dengan gampang membunuh dengan gara-gara yang sepele? Ini berarti memang ada semacam tingkat penggunaan kekerasan yang lebih tinggi di kalangan orang-orang kecil. Dan ini kalau nantinya ada yang bisa mengorganisir mereka untuk sasaran-sasaran politis, maka itu bisa menimbulkan sebuah revolusi. Tentunya ini tidak kita inginkan, dan harus kita cegah. Artinya, kita ingin suatu perubahan tanpa harus menimbulkan pertumpahan darah. Tetapi kalau perubahan itu tidak terjadi dan terus-menerus begini, sehingga ada potensi ke arah revolusi yang keras, maka dengan mudah itu bisa meledak karena kondisi kekerasan orang-orang dari lapisan bawah ini nampaknya sudah ada dan sudah dipraktikkan secara kecil-kecilan Saat in kekerasan itu bergerak sporadis dan tanpa sasaran politis. Sejauh mana relevansi gagasan anti kekerasan? Saya pada dasarnya tidak percaya dengan gerakan anti-kekerasan. Bagi saya tergantung pada kasus-kasusnya. Ini bukan karena saya senang dengan adanya kekerasan, tetapi kalau dianalisa secara sosiologis, gerakan anti-kekerasan itu berkembang karena adanya gerakan-gerakan yang menggunakan kekerasan. Sehingga pemerintah kemudian memberikan jalan tengah. Jadi efektivitas dari gerakan anti kekerasan itu biasanya karena adanya ancaman kekerasan. Apakah kekerasan kriminal ini hanya terbatas dilakukan oleh para penganggur perkotaan atau bahkan meluas ke kalangan buruh dan pedagang kecil? Saya kira semua orang yang termasuk ke dalam lapisan orang-orang miskin. Di samping itu, para pelaku kejahatan kekerasan itu adalah para pemuda kota, termasuk anak orang kaya. Yang terakhir ini bukan masuk ke dalam kelompok mahasiswa melainkan masuk ke dalam kelompok ugal-ugalan yang terlibat narkotika dan seks.■ Sumber: DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18

 ARIEF BUDIMAN: KEMATIAN BRIGJEN TAMPUBOLON HARUS JADI AJANG PERENUNGAN


(DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18)


Bagaimana Anda melihat terbunuhnya Tampubolon berkaitan dengan gejala kehidupan kota besar? 


Ketika membaca berita itu, dan kebetulan di Kompas saya juga


membaca berita perusakkan yang dilakukan pelajar terhadap halte bus, bagi saya Jakarta saat ini mengerikan. Mengerikan, karena gejala-gejala kekerasan tidak terkontrol lagi. Gejala ini bukan hanya di Indonesia, tetapi juga kota-kota besar lain di mana terdapat kantong-kantong kemiskinan. 


Di New York misalnya. Kalau Anda berjalan di atas Universitas Columbia, maka Anda akan melihat daerah orang-orang kulit hitam, di mana orang-orang kulit putih tidak berani melewati daerah itu ketika hari sudah mulai gelap. Mengapa? Seringkali terjadi perampokan, pemukulan. Jadi adanya kantong-kantong kemiskinan inilah yang menyebabkan orang jadi meledak-ledak.Namun di AS hukumnya relatif berjalan, meskipun sulit dikontrol. Sedangkan di di Indonesia hukumnya boleh dikatakan kurang berjalan. 


Di Indonesia, latar belakang apa yang menyebabkan orang gampang menggunakan kekerasan?


Ada dua hal. Pertama hukumnya kurang jalan. Misalnya kalau ada suatu perkelahian, seringkali anak-anak pejabat bebas dari hukuman. Meskipun pimpinan ABRI menyatakan, anak pejabat akan ditindak. Prakteknya kan sulit dilaksanakan. Kedua, itu bisa terjadi karena adanya budaya kekerasan pada skala nasional. 


Sekarang ini kalau kita kita tanya pada anak-anak muda siapa yang mereka anggap hero (pahlawan). Jawabnya, hero di mata mereka adalah orang-orang yang berseragam. Artinya, citra militer menjadi citra hero. Lalu bergeser menjadi simbol kekuatan fisik. Dengan kata lain, pada akhirnya mereka punya pikiran, yang bisa menyelesaikan masalah adalah kekuatan fisik. Bukan kemampuan otak. Ini yang menyebabkan kekuatan fisik begitu dipuja-puja. Lalu yang ketiga, seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar.


Kekerasan pun tak pandang bulu. Seorang perwira tinggi seperti Tampubolon menjadi korban?


Saya kira tewasnya Brigjen Tampubolon ini merupakan tragedi. Tragedi, karena ini mengenaskan sekali. Bahwa seorang yang berkarier begitu baik di intelijen harus mati dengan cara begitu. Bagaimanapun, tewasnya Tampubolon pasti memukul keluarga besar ABRI. Maka saya harap kematian Tampubolon menjadi semacam ajang perenungan.


Maksud saya, dengan kematian Tampubolon diharapkan akan ada suatu keseriusan yang lebih baik dalam melihat dan menangani gejala yang tumbuh di masyarakat. Jangan dianggap sepele. Tidak cukup hanya dengan menangkap berandal-berandal itu. Ini sebuah masalah yang sangat besar. Dan merupakan perjuangan dari banyak orang.


Tragedi yang menimpa Tampubolon dan kasus-kasus sejenis, benarkah ini isyarat menguatnya pengadilan jalanan atau dark justice?


Itu benar. Memang sedang menguat dan membahayakan kota-kota besar seperti Jakarta. Dan Brigjen Tampubolon merupakan korban dari proses kota semacam ini. Ini memang mengerikan. Suatu hari, di Jakarta saya pernah naik bus kota yang menuju Cempaka Putih, dan tak lama kemudian beberapa pelajar SMA masuk ke bis kota. Di situ seorang pelajar dengan bangga bercerita bagaimana dia distop polisi di depan Hotel Indonesia.


Lalu dia menelepon oomnya yang kebetulan militer. Lalu oomnya datang ke tempat kejadian tanpa berseragam milter, dan kemudian sang polisi dipukuli. Dengan bangganya si pelajar itu bilang, “si polisi itu nggak tahu gue ini siapa dan oom gue itu siapa." Ini kan fenomena yang sangat berbahaya. Cara yang ditempuh Pangdam Jaya Hendropriyono dengan mengirim anak- anak nakal itu ke sekolah khusus, menurut saya kurang tepat. Karena prosesnya bukan terletak aada si anak.


Bagaimana faktor ekonomi dan politik mempengaruhi tumbuhnya budaya kekerasan?


Seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar itu erat kaitannya dengan masalah perekonomian. Alhasil, adanya kantong kantong kemiskinan ini menimbulkan gap. Apalagi menjadi orang kaya di In donesia itu prosesnya seringkali tidak wajar. Artinya, semakin kaya semakin tidak wajar.


Jika tidak ditangani, kira-kira pola gerakan massa macam apa yang muncul di masa mendatang?


Gerakan massa akan menjadi dua. Pertama, gerakan massa yang menuju pada kriminalitas. Yaitu seperti gerakan pelajar, gerakan keroyokan terhadap sopir metromini, dan sebagainya. Sedangkan yang kedua, adalah gerakan politik yang dilakukan mahasiswa dengan tujuan memperkuat demokratisasi. Jadi gerakan massa yang muncul saat ini harus dilihat dari dua hal itu. Gerakan massa dengan model yang pertama mungkin negatif, sedangkan model yang kedua positif. Tetapi kedua-duanya merupakan produk dari ketidakpuasan atau keadaan masyarakat yang sedang sakit. 


Apakah kejahatan kekerasan yang terjadi di kota-kota besar itu punya kecenderungan untuk memilih-milih korban?


Kalau di basis kriminal saya kira kesadaran kelas itu tidak ada. Jadi mereka ini tidak pandang bulu. Mereka adalah korban dari suatu proses politik di mana kekerasan merupakan suatu cara penyelesaian. Jadi kalau mereka ini kekurangan uang, ya mereka langsung saja menggasak uang pada siapa saja yang paling lemah. Seperti halnya juga pada para pelajar yang merusak halte bus, gerobak tukang martabak digulingkan. Lalu tukang rokok dirampas.


Gejala kekerasan semacam itu tidak memponyai sensitivitas bahwa para penjual itu merupakan orang-orang kecil. Jadi gerakan massa yang berbasis kriminal ini jauh lebih mengerikan karena sasarannya bukan untuk perbaikan masyarakat tapi hanya manifestasi dari penyakit di dalam masyarakat. Lain halnya dengan gerakan politik yang boleh dikatakan sangat terarah dan menuju pada suatu konsep yang lebih baik 


Seberapa serius kelompok urban mempengaruhi gejolak sosial di perkotaan?


Saya kira sangat serius. Artinya, gejala ini sudah melewati ambang batas. Di desa telah terjadi proses pemiskinan. Seperti adanya pengambilan tanah, lahan sawah yang dibongkar dan seterusnya. Akibatnya orang-orang desa pergi ke kota. Di kota mereka terbentur pada keterbatasan lapangan kerja. Mereka lalu bergerombol, dan biasanya mereka tersalur pada sektor informal. Tapi di sektor informal pun mereka dikejar-kejar dengan mengatasnamakan keindahan kota demi usaha merebut Adipura. Alhasil, kelompok ini kemudian masuk ke dalam subkultur kekerasan kriminal. Dan kecenderungan ini bukannya berkurang tapi malah bertambah, karena masuknya orang-orang baru yang langsung dikooptasi oleh subkultur kekerasan semacam itu.


Lantas gejala apa pula yang membuat orang dengan gampang membunuh dengan gara-gara yang sepele?


Ini berarti memang ada semacam tingkat penggunaan kekerasan yang lebih tinggi di kalangan orang-orang kecil. Dan ini kalau nantinya ada yang bisa mengorganisir mereka untuk sasaran-sasaran politis, maka itu bisa menimbulkan sebuah revolusi. Tentunya ini tidak kita inginkan, dan harus kita cegah.


Artinya, kita ingin suatu perubahan tanpa harus menimbulkan pertumpahan darah. Tetapi kalau perubahan itu tidak terjadi dan terus-menerus begini, sehingga ada potensi ke arah revolusi yang keras, maka dengan mudah itu bisa meledak karena kondisi kekerasan orang-orang dari lapisan bawah ini nampaknya sudah ada dan sudah dipraktikkan secara kecil-kecilan Saat in kekerasan itu bergerak sporadis dan tanpa sasaran politis.


Sejauh mana relevansi gagasan anti kekerasan?


Saya pada dasarnya tidak percaya dengan gerakan anti-kekerasan. Bagi saya tergantung pada kasus-kasusnya. Ini bukan karena saya senang dengan adanya kekerasan, tetapi kalau dianalisa secara sosiologis, gerakan anti-kekerasan itu berkembang karena adanya gerakan-gerakan yang menggunakan kekerasan. Sehingga pemerintah kemudian memberikan jalan tengah. Jadi efektivitas dari gerakan anti kekerasan itu biasanya karena adanya ancaman kekerasan.


Apakah kekerasan kriminal ini hanya terbatas dilakukan oleh para penganggur perkotaan atau bahkan meluas ke kalangan buruh dan pedagang kecil? 


Saya kira semua orang yang termasuk ke dalam lapisan orang-orang miskin. Di samping itu, para pelaku kejahatan kekerasan itu adalah para pemuda kota, termasuk anak orang kaya. Yang terakhir ini bukan masuk ke dalam kelompok mahasiswa melainkan masuk ke dalam kelompok ugal-ugalan yang terlibat narkotika dan seks.■ 


Sumber: DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18

Sumber : Herry Anggoro Atmodjo

16 April 2026

Parade Pasukan KNIL di saat Agresi Militer Belanda ke 2 dan pihak KNIL berhasil memasuki Magelang sekitar tanggal 22 Desember 1948. Parade ini dilakukan di daerah Poncol (daerah Jalan Ahmad Yani Ponco sekarang ini) dokumentasi ini bisa dilihat di link www indiegangers nl Jika diperhatikan di bagian latar belakang nampak gedung yang bekas terbakar akibat kegiatan bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang pihak Republik Indonesia. Menurut mertua saya yang mengalami keadaan zaman sebelum dan sesudah peristiwa Agresi Militer Belanda ke 2 mengatakan bahwa saat sebelum Agresi Militer Belanda ke 2 pihak Republik Indonesia meminta para pegawai menyiapkan kayu kayu yang disusun di dalam bangunan pemerintah dengan tujuan jika Belanda menyerang kayu kayu tersebut langsung dibakar untuk melakukan aksi bumi hangus bangunan bangunan pemerintah agar bangunan tersebut tidak bisa dimanfaatkan oleh pihak Belanda. Dan hampir separo bangunan pemerintahan yang ada di Magelang hangus terbakar karena aksi bumi hangus ini. Dalam foto pimpinan parade militer melakukan penghormatan dengan senjata Dutch KNIL M-1898/1911 Klewang atau bisa juga klewang M 42 Milsco khas senjata KNIL. Untuk kendaraan roda 2 yang digunakan adalah kemungkinan Harley Davidson WLA. Sedangkan kendaraan lapis baja yang nampak digunakan untuk parade adalah jenis panser Humber Scout dan juga panser Humber Mk IV. Foto terakhir memperlihatkan kendaraan Humber Scout eks KNIL yang kini tersimpan di Museum Satria Mandala Jakarta.

 Parade Pasukan KNIL di saat Agresi Militer Belanda ke 2 dan pihak KNIL berhasil memasuki Magelang sekitar tanggal 22 Desember 1948. Parade ini dilakukan di daerah Poncol (daerah Jalan Ahmad Yani Ponco sekarang ini) dokumentasi ini bisa dilihat di link www indiegangers nl

Jika diperhatikan di bagian latar belakang nampak gedung yang bekas terbakar akibat kegiatan bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang pihak Republik Indonesia.

Menurut mertua saya yang mengalami keadaan zaman sebelum dan sesudah peristiwa Agresi Militer Belanda ke 2 mengatakan bahwa saat sebelum Agresi Militer Belanda ke 2 pihak Republik Indonesia meminta para pegawai menyiapkan kayu kayu yang disusun di dalam bangunan pemerintah dengan tujuan jika Belanda menyerang kayu kayu tersebut langsung dibakar untuk melakukan aksi bumi hangus bangunan bangunan pemerintah agar bangunan tersebut tidak bisa dimanfaatkan oleh pihak Belanda. Dan hampir separo bangunan pemerintahan yang ada di Magelang hangus terbakar karena aksi bumi hangus ini.

Dalam foto pimpinan parade militer melakukan penghormatan dengan senjata Dutch KNIL M-1898/1911 Klewang atau bisa juga klewang M 42 Milsco khas senjata KNIL. Untuk kendaraan roda 2 yang digunakan adalah kemungkinan Harley Davidson WLA. Sedangkan kendaraan lapis baja yang nampak digunakan untuk parade adalah jenis panser Humber Scout dan juga panser Humber Mk IV.

Foto terakhir memperlihatkan kendaraan Humber Scout eks KNIL yang kini tersimpan di Museum Satria Mandala Jakarta.



Sumber : Orchid Breeder

KEDIRI, Di balik keriuhan Jalan Dhaha, Kediri, terdapat sebuah jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu. Jauh sebelum Balai Pustaka mendominasi literasi nasional, seorang pria Tionghoa bernama Tan Khoen Swie (1883/1894–1953) telah membangun imperium ilmu pengetahuan yang menjadi jembatan antara budaya Jawa dan kemoderenan. SANG PIONIR DARI KOTA TAHU Tan Khoen Swie mendirikan rumah penerbitannya, Boekhandel Tan Khoen Swie, pada tahun 1915. Berawal dari kecintaannya pada sastra dan kebatinan Jawa yang dipelajari dari gurunya di Wonogiri, Mas Ngabei Mangoenwidjojo, Tan mengubah rumah sekaligus tokonya (Toko Soerabaia) menjadi pusat kebudayaan. Hingga tahun 1963, penerbitannya menjadi "Agen Kebudayaan Jawa" yang sangat produktif. Tan menerbitkan ratusan judul buku, mulai dari sastra klasik, filsafat, primbon, hingga buku teknis seperti tata cara bersenggama dan resep masakan. Keberaniannya menerbitkan karya dalam bahasa Jawa (baik aksara Jawa maupun Latin) dan bahasa Melayu membuatnya menjadi pelopor literasi masyarakat bawah yang saat itu sulit mengakses pendidikan formal. SIASAT JITU DAN JARINGAN INTELEKTUAL Tan bukan sekadar pengusaha; ia adalah seorang visioner. Ia memiliki strategi pemasaran yang modern pada zamannya, termasuk mencantumkan daftar buku-buku lain di setiap halaman akhir terbitannya untuk menarik minat pembaca. Ia juga menjalin hubungan erat dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Boedi Oetomo, dan menerjemahkan teks-teks penting agar lebih mudah dipahami oleh khalayak luas. WARISAN YANG MENDUNIA Meskipun tokonya secara resmi berhenti beroperasi sebagai penerbit besar puluhan tahun silam, warisannya masih hidup. Hingga kini, buku-buku terbitannya menjadi koleksi langka yang diburu kolektor. Bahkan, jejak karyanya tersimpan rapi di perpustakaan mancanegara, termasuk di Universitas Groningen, Belanda. Di era digital 2025 ini, nama Tan Khoen Swie tetap menjadi inspirasi bagi para penggerak literasi di Kediri dan Indonesia, mengingatkan kita bahwa keberagaman dan pengetahuan adalah kunci kemajuan bangsa. Sumber Referensi: Wikipedia: Tan Khoen Swie Kompasiana: Mengenal Tan Khoen Swie, Penerbit Legendaris Tempo.co: Jejak Boekhandel Tan Khoen Swie Kompas.id: Penggerak (Buku) Jawa Elex Media Komputindo: Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri: Agen Kebudayaan Jawa

 KEDIRI, Di balik keriuhan Jalan Dhaha, Kediri, terdapat sebuah jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu. Jauh sebelum Balai Pustaka mendominasi literasi nasional, seorang pria Tionghoa bernama Tan Khoen Swie (1883/1894–1953) telah membangun imperium ilmu pengetahuan yang menjadi jembatan antara budaya Jawa dan kemoderenan.


SANG PIONIR DARI KOTA TAHU


Tan Khoen Swie mendirikan rumah penerbitannya, Boekhandel Tan Khoen Swie, pada tahun 1915. Berawal dari kecintaannya pada sastra dan kebatinan Jawa yang dipelajari dari gurunya di Wonogiri, Mas Ngabei Mangoenwidjojo, Tan mengubah rumah sekaligus tokonya (Toko Soerabaia) menjadi pusat kebudayaan.


Hingga tahun 1963, penerbitannya menjadi "Agen Kebudayaan Jawa" yang sangat produktif. Tan menerbitkan ratusan judul buku, mulai dari sastra klasik, filsafat, primbon, hingga buku teknis seperti tata cara bersenggama dan resep masakan. Keberaniannya menerbitkan karya dalam bahasa Jawa (baik aksara Jawa maupun Latin) dan bahasa Melayu membuatnya menjadi pelopor literasi masyarakat bawah yang saat itu sulit mengakses pendidikan formal.


SIASAT JITU DAN JARINGAN INTELEKTUAL

Tan bukan sekadar pengusaha; ia adalah seorang visioner. Ia memiliki strategi pemasaran yang modern pada zamannya, termasuk mencantumkan daftar buku-buku lain di setiap halaman akhir terbitannya untuk menarik minat pembaca. Ia juga menjalin hubungan erat dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Boedi Oetomo, dan menerjemahkan teks-teks penting agar lebih mudah dipahami oleh khalayak luas.


WARISAN YANG MENDUNIA

Meskipun tokonya secara resmi berhenti beroperasi sebagai penerbit besar puluhan tahun silam, warisannya masih hidup. Hingga kini, buku-buku terbitannya menjadi koleksi langka yang diburu kolektor. Bahkan, jejak karyanya tersimpan rapi di perpustakaan mancanegara, termasuk di Universitas Groningen, Belanda.


Di era digital 2025 ini, nama Tan Khoen Swie tetap menjadi inspirasi bagi para penggerak literasi di Kediri dan Indonesia, mengingatkan kita bahwa keberagaman dan pengetahuan adalah kunci kemajuan bangsa.


Sumber Referensi:

Wikipedia: Tan Khoen Swie


Kompasiana: Mengenal Tan Khoen Swie, Penerbit Legendaris


Tempo.co: Jejak Boekhandel Tan Khoen Swie


Kompas.id: Penggerak (Buku) Jawa


Elex Media Komputindo: Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri: Agen Kebudayaan Jawa

13 April 2026

Malam ini berdiskusi dengan mertua saya Bapak Soedarto yang merupakan warga Kampung Tulung. Beliau bercerita tentang kondisi daerah sekitar Pecinan sekitar Kenteng dan Bioskop Kresna disekitar tahun 1950 - 1960an. Dari gambar di bawah ini keterangan nya:. 1. Kantor Pos Kota Magelang 2. Tugu Aniem 3. Klenteng 4. Pen Mas. Ini merupakan percetakan yang dimiliki oleh Lien Tyai An. Percetakan ini dahulu langganan dari Apotek Bayeman kalau mencetak stiker untuk label botol/ tempat obat. Selain percetakan Pen Mas juga merupakan toko buku tetapi tidak sebesar toko Santoso. 5. Toko Roti dan Kue Sawo. Disebut toko roti dan kue Sawo karena di depannya ada pohon sawo milik drg. Liem Piek Gan Nio. Bangunan toko roti dan kue Sawo ini ukurannya kecil dan berdempetan dengan rumahnya drg. Liem Piek Gan Nio. 6. Tempatnya drg. Liem Piek Gan Nio. 7. Bioskop Kresna. Bioskop Kresna dibangun sekitar tahun 1950an. 8. Rumah Ting Lok pemiliknya bioskop Kresna. Beliau Tuan Ting Lok ini adalah anggota partai PDI dan sering menjadi sponsor partai PDI ini. 9. Toko Santoso. Ini merupakan toko buku yang lumayan. besar yang menjual buku dari SD sampai dengan SMA. 10. Toko LUNA kemudian ditambah huruf S sehingga jadi toko LUNAS. Dan orang banyak mengenalnya toko LUNAS. Toko ini merupakan toko yang jual peralatan olahraga dan juga melayani perbaikan alat olahraga seperti mengencangkan senar raket. 11. Rumah makan Koe A Bwan. Sekarang dikenal sebagai Hotel Mutiara. Putri nomor satunya namanya Koe Sae Fang. Koe Sae Fang bekerja di Apotek Bayeman seangkatan dengan dr. Anwar Sanni sebagai apoteker di apotek Bayeman (pendiri PO Santoso) dan Peng Lok bagian tata usaha apotek Bayeman (pemilik kebun anggrek Peng Lok). 12. Gedung CHTH (Choeng Hoa Tsung Hui), gedung ini merupakan tempat nongkrong nya kaum Tionghoa. Dan juga sekretariat BAPERKI. Setelah peristiwa G30S PKI gedung CHTH ini pernah di demo massa karena sebagai sekretariat BAPERKI yang dianggap underbonnya PKI. 13. Toko Victoria, ini merupakan toko roti. Mungkin jika ada yang menambahkan dan koreksi tulisan ini saya persilahkan.

 Malam ini berdiskusi dengan mertua saya Bapak Soedarto yang merupakan warga Kampung Tulung. Beliau bercerita tentang kondisi daerah sekitar Pecinan sekitar Kenteng dan Bioskop Kresna disekitar tahun 1950 - 1960an.

Dari gambar di bawah ini keterangan nya:.

1.   Kantor Pos Kota Magelang 

2.   Tugu Aniem 

3.   Klenteng 

4.   Pen Mas. Ini merupakan percetakan yang dimiliki oleh 

       Lien Tyai An. Percetakan ini dahulu langganan dari 

       Apotek Bayeman kalau mencetak stiker untuk label 

        botol/ tempat obat. Selain percetakan Pen Mas juga 

        merupakan toko buku tetapi tidak sebesar toko 

        Santoso.

5.     Toko Roti dan Kue Sawo. Disebut toko roti dan kue 

         Sawo karena di depannya ada pohon sawo milik drg. 

         Liem Piek Gan Nio. Bangunan toko roti dan kue Sawo 

         ini ukurannya kecil dan berdempetan dengan rumahnya 

        drg. Liem Piek Gan Nio.

6.     Tempatnya drg. Liem Piek Gan Nio.

7.     Bioskop Kresna. Bioskop Kresna dibangun sekitar 

         tahun 1950an.

8.     Rumah Ting Lok pemiliknya bioskop Kresna. Beliau 

         Tuan Ting Lok ini adalah anggota partai PDI dan sering 

          menjadi sponsor partai PDI ini.

9.     Toko Santoso. Ini merupakan toko buku yang lumayan. 

         besar yang menjual buku dari SD sampai dengan SMA.

10.   Toko LUNA kemudian ditambah huruf S sehingga jadi 

         toko LUNAS. Dan orang banyak mengenalnya toko 

         LUNAS. Toko ini merupakan toko yang jual peralatan 

         olahraga dan juga melayani perbaikan alat olahraga 

         seperti mengencangkan senar raket.

11.    Rumah makan Koe A Bwan. Sekarang dikenal sebagai 

          Hotel Mutiara. Putri nomor satunya namanya Koe Sae 

          Fang. Koe Sae Fang bekerja di Apotek Bayeman 

          seangkatan dengan dr. Anwar Sanni sebagai apoteker 

          di apotek Bayeman (pendiri PO Santoso) dan Peng Lok 

          bagian tata usaha apotek Bayeman (pemilik kebun    

          anggrek Peng Lok).

12.    Gedung CHTH (Choeng Hoa Tsung Hui), gedung ini 

          merupakan tempat nongkrong nya kaum Tionghoa.

          Dan juga sekretariat BAPERKI. Setelah peristiwa G30S 

          PKI gedung CHTH ini pernah di demo massa karena 

          sebagai sekretariat BAPERKI yang dianggap 

          underbonnya PKI.

13.    Toko Victoria, ini merupakan toko roti.

Mungkin jika ada yang menambahkan dan koreksi tulisan ini saya persilahkan.






Sumber : Orchid Breeder