PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 DARI SUDUT NEDERLAND
Oleh: Ong Hok Ham
(MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978)
Pendahuluan.
Proklamasi 17 Aug 1945 merupakan saat yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Peristiwa ini, bukan tanggal, juga penting bagi Nederland. Sebab peristiwa ini meng- hadapkan Belanda dengan pem brontakan koloninya. Dalam tulisan ini kami akan memberikan beberapa cukilan dari reaksi2 Belanda mengenai proklamasi republik Indonesia. Cukilan2 tsb. akan diambil dari kumpulan dokumen2 mengenai hubungan2 Indonesia-Belanda (Officiele Bescheiden Betreffende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950, Jilid 1, 59 hal. 10 Aug. 10 Nov. 1945 s'-Gravenhage, Martinus Nijhoff 1871) (sampai sekarang telah terbit 6 jilid sampai 1946). dibawah pengawasan Professor S.L. van de Wal, guru besar dari Universitas Urecht.
Dalam bulan Augustus 1945 Nederland baru sejak empat bulan dibebaskan dari pendudukan Jerman dan melihat berachirnya perang Eropa. Nederland keluar dari perang dunia II dalam keadaan yang amat sukar. Angkatan daratnya harus dibangun kembali, angkatan laut dan yang lebih penting lagi angkatan transport dan dagang hampir musnah, dan angkatan udara tak ada. Bila Nederland sebelum perang dunia ke-II selalu mempunyai balans perdagangan yang menguntungkan maka sekarang Belanda terpaksa mengeluarkan lebih dari 500 juta gulden untuk membeli makanan saja. Dalam bulan Aug. 45 belum diadakan pemilihan umum di Nederland sejak perang dunia ke-II. Dua golongan yang dominan dalam politik y.i. golongan resistance, mereka yang melawan Jerman dibawah tanah dan golongan ex-tahanan Jerman, kedua golongan ini dilihat sebagal orang2 yang lebih progresif dan akan memperbaharui kehidupan politik Nederland. Namun kedua golongan ini berasal dari berbagai partai. Selain itu faktor yang lebih penting lagi untuk menilai hubungan2 Nederland dan koloni2nya adalah mitos: "Indie Verloren, Rampsoed Geboren" (Hindia hilang, dan malapetaka lahir). Dengan singkat mitos dinegeri Belanda adalah bahwa koloni Hindia ini yang harus mengembalikan kemakmuran dan kejayaan Nederland. Sebab tanpa koloni apa arti internasional Nederland?
Dalam keadaan diatas ini Nederland dan sekutu menghadapi penyerahan Jepang yang tiba2. Tiba2 karena menurut dugaan Jepang baru akan kalah enam bulan tanpa dijatuhkannya bom Atom. Saat tiba2 dari penyerahan jepang ini penting bagi Asia Tenggara dan Indonesia, seakan2 itu menentukan semuanya Sebab penyerahan tiba2 menimbulkan persoalan2 transport, bukan saja transport2 tentara tetapi juga transport pribadi2. Misalnya pegawai2 tinggi Hindia Belanda ataupun menteri2 Belanda sukar sekali mendapat tempat dalam pesawat2 ke-Asia, atau Australia. Hanya intervensi dari Menteri L.N. Belanda dan kedutaan2 dapat memberikan mereka tempat dalam pesawat. Kalau ini bagi perorangan apalagi bagi tentara2.
Kapitulasi Jepang.
Buku SL. van de Wal,dibuka dengan saling memberikan ucapan selamat dengan desas-desus yang agak pasti mengenai penyerahan Jepang. Komunikasi ini diadakan antara Menlu Belanda dan Lord Louis Mountbatten, panglima sekutu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada tanggal itu juga diadakan pembicaraan yang lebih serius di Den Haag, pusat pemerintahan Belanda, diantara perdana-menteri, menteri jajajahan dan panglima2. Dalam rapat itu dikatakan bahwa penyerahan Jepang ini agak tiba2 dan tidak tersangka. Alangkah baiknya sekarang kalau tentara Jepang yang menduduki Hindia tetap mengadakan perlawanan terhadap sekutu sehingga Hindia harus diperangi dan diduduki sekutu.
Sebab dengan demikian Belanda akan mempunyai kesempatan untuk membonceng dibelakang sekutu dalam hal ini Inggris. ("Tijd winnen... memperoleh waktu", kata dokumen tsb.). Ini memang kunci bagi poliik Belanda selama bulan2 pertama menghadapi Republik Indonesia.
Tgl. 12 Aug. Lt. G.G. van Mook menyodorkan dua persoalan yang sementara ini dominan bagi Nederland, y.i. penciptaan kerja-sama yang sebaik-baiknya dengan tokoh2 Indonesia kecuali dengan para kolaborator dengan musuh, Jepang; dan persoalan yang lebih konkrit: pengungsian para tahanan Belanda dari kamp2 Jepang. Belanda ketika kalah terhadap Jepang tidak mencoba mengungsikan pegawai2 pemerintah dan penduduk sipil Belanda, kecuali beberapa tokoh seperti Van Mook, Van Der Plas, Abdulkadir Wijoyo Atmojo dll,. Ini berlainan dengan Inggris yang paling sedikit berusaha mengungsikan isteri2 dan anak2 Inggris ke-daerah2 lebih aman ketika Jepang mendekati koloni2 Inggris di Asia. Karena politik Belanda ini maka Nederland menghadapi suatu persoalan gawat yang lain y.i. bahwa mesin pemerintahannya yang demikian terkenal baik sebelum perang, didemoralisir atau sedikit banyak lumpuh karena mengalami empat tahun kam tahanan Jepang.
Keadaan ini mungkin juga mempengaruhi pandangan Logeman, menteri jajahan yang terkenal sebagai seorang "progresif" ("liberal") istilah ini lebih tepat untuk menggambarkan keadaan Belanda, yang mengatakan pada Tjarda, G.G. terachir Hindia Belanda, bahwa setelah perang lebih banyak orang Indonesia akan dipakai dalam administrasi pemerintah.
Sebenarnya pandangan Logeman ini tidak lain daripada akan meneruskan proses2 Indonesianisasi aparatus pemerintah yang telah terjadi dalam zaman Jepang. Namun sebab2 untuk politik "Indiani- sering" ("Indonesianisasi) yang diajukan menteri jajahan ini sangat menarik y.i. bahwa alasan akan dipakainya pegawai 2 Indonesia dalam administrasi pemerintahan adalah karena lebih murah daripada pegawai2 Belanda. Salah suatu keberatan terhadap aparatus Belanda Kolonial adalah bahwa dalam keadaan ekonomi menguntungkan atau merugikan selalu harus dikeluarkan beaya besar untuk pegawai2 Belanda di Indonesia, yang harus hidup dengan taraf tinggi, harus didatangkan dari Eropa dan mendapat vakansi ke-Belanda dll. Bila sekarang aparatus pemerintah kolonial di isi oleh orang2 Indonesia maka mereka tak perlu hidup setaraf dan memerlukan beaya2 lain. Namun Indonesianisasi aparatus pemerintah kolonial ini hanya dapat berjalan sekian jauh asal saja.... perusahaan-perusahaan besar tidak kehilangan kepercayaan mereka terhadap efisiensi, demikianlah menurut Logeman.
Apa Belanda tidak menduga sedikitpun bahwa kembalinya mereka kekoloni mereka akan ditentang penduduk? Rupanya sama sekali tidak, sebab tidak ada suatu perhitungan apapun mengenai perubahan2 yang mungkin terjadi selama empat tahun pendudukan Jepang. Semua rencana2 seakan-akan dibuat atas dasar keadaan2 empat atau lima tahun yang lalu. Van Mook menduga bahwa Sumatra akan dapat menimbulkan kesukaran2 tidak karena perlawanan rakyat akan tetapi karena disana ada demikian banyak suku bangsa yang dapat menimbulkan pertentangan2 intern. Jawa tidak dikuatirkan karena penduduknya homogin; hanya peristiwa2 perampokan dapat terjadi karena lowongan kekuasaan. Tjarda lalu memperingatkan bahwa penduduk Jawa Barat fanatik dalam agama Islamnya dan dapat membahayakan karena itu mengapa tak jelas pokoknya hanya Islam phobi saja.
Proklamasi.
Baru pada 20 Aug. 1945 Van Mook. memberitahukan pada kabinet di Nederland secara sepintas lalu mengenai proklamasi republik Indonesia tiga hari yang lalu: "Menurut siaran2 radio yang diterima dari Bandung, komando tentara Jepang akan memproklamirkan republik Indonesia hari ini dengan Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil-presiden. Sampai hari ini Jepang belum mengumumkan penyerahan mereka terhadap sekutu....."
Baru 10 hari kemudian proklamasi ini mendapat tanggapan serius kabinet Nederland yang menginstruksikan pada Menlu-nya untuk mengirimkan nota pada sekutu mengenai manipulasi2 politik Jepang yang mendirikan republik di Indonesia dengan organisasi 2 para-militer.
Dalam hubungan ini Logeman meng umumkan rencana2 Belanda bagi koloninya setelah perang selesai. Ditekankan olehnya bahwa Ratu Wilhelmina pada 6 Dec. 1942 mengucapkan pidato radio dengan menjanjikan akan diadakannya rijksconferentie (Konferensi kerajaan) yang akan terdiri dari Nederland, Hindia Belanda dan Suriname. Konferensi tsb. akan membicarakan bersama-sama pembaharuan politik dan susunan baru kerajaan Belanda.
Dalam janji ratu, yang tentunya tidak didengar rakyat Indonesia karena Hindia sedang diduduki Jepang, dikatakan bahwa penelitian komisi pemerintah Hindia Belanda, yang disebut komisi Visman, mengenai keinginan2 politik masyarakat Hindia akan dijadikan landasan bagi konferensi tsb. Pekerjaan Komisi tsb. juga dijadikan bukti niat2 Belanda yang baik. Komisi Visman (salah seorang anggota adalah Prof. Wertheim) setahun sebelum perang Pasifik mengadakan berbagai interview dengan tokoh2 nasionalis Indonesia yang kebanyakan terdiri dari golongan ko-operators (kerja- sama dalam dewan2 Hindia Belanda), yang merupakan nasionalis yang sangat lunak. Dengan sendirinya tawaran Rijksconferentie ini jika pun diketahui oleh orang2 Indonesia tidak dapat merupakan alternatip yang menarik dibandingkan dengan proklamasi dan fakta bahwa kekuasaan memang telah jatuh ketangan Indonesia.
Untuk sementara reaksi Nederland terhadap proklamasi dan pimpinan republik Indonesia sangat keras sekali. Bukan saja karena Soekarno, Hatta dll. bukan merupakan tokoh2 nasionalis yang lunak akan tetapi bagi Nederland mereka itu adalah kolaborator2 dengan Jepang, jadi pengchianat2 yang sering disamakan dengan kolaborator2 Eropa dengan tentara penduduk Jerman. Tentu hal ini berlainan sekali sebab negara2 Eropa merupakan negara2 merdeka sedangkan Indonesia adalah koloni yang diduduki Jepang. Maka dari itu pandangan2 Belanda tsb. tidak dapat diterima oleh pihak sekutu. Dilain pihak Belanda berkepenting an untuk mengecap republik proklamasi sebagai suatu buatan Jepang dan bahwa Sukarno-Hatta adalah kolaborator2 dengan musuh sebab dengan demikian ada harapan bahwa sekutu akan memerangi republik. Chususnya kabinet di Nederland akan keras kepala menolak segala perundingan dengan pihak Sukarno-Hatta,
Pada pertengahan September Belanda baru mendapat laporan2 nyata mengenai Indonesia (Jakarta). Dibawah perlindungan tentara Jepang Van Mok, van der Plas dan Abdulkadir Wijojoatmodjo mendarat di Jakarta dan mengadakan hubungan2 pribadi dengan berbagai orang di Jakarta. Van Mook dan Van der Plas mencoba untuk menghubungi beberapa tokoh Indonesia yang mereka kenal sebelum perang tetapi tak ada sesuatu yang muncul kecuali seorang ahli hukum, Mr. Slamet yang mengkagetkan Jakarta dengan tulisannya yang pro-Belanda. Abdulkadir bertemu dengan Sukarno dan mendapat kesan bahwa dia tidak dapat mengatasi kekuatan2 revolusioner dan pergolakan disekitarnya. Tokoh2 Hindia Belanda dahulu yang masih dalam kamp tahanan Jepang, demi keselametan mereka sendiri, seperti Mr. Spit, wakil presiden Dewan Hindia (Raad van Ne. Belanda) penuh dengan nasehat2 dan laporan2 atas dasar pengamatan sendiri. Demikian umpamanya rapat Ikada dilaporkan oleh Spit. Seperti semua dikuatirkan bahwa republik dapat mengkonsolidasi diri karena sekutu belum dapat mendarat. Penundaan2 pendaratan Inggris di Batavia dan pelabuhan2 lain di Jawa sangat mengesalkan dan mengecewakan Belanda. Van Mook, Van der Plas dan Abdulkadir semua sependapat bahwa keadaan di Indonesia jauh lebih gawat dari mereka duga pada permulaan. Van Mook dan Van der Plas mulai memikirkan perundingan2 dengan Sukarno-Hatta juga karena tekanan Inggris. Akan tetapi kabinet Nederland masih keras kepala.
Dari pengamatan2 pribadi tokoh2 pemerintahan NICA (Neth. Indies Civil Ad- ministration) dilihat berkibarnya merah-putih dimana-mana. Penurunan bendera nasional ini tidak mungkin lagi tanpa pertumpahan darah. Jadi diusulkan bahwa disamping bendera Merah-Putih akan berkibar bendera Belanda atau bendera Merah-Putih sebaiknya ditambah disampingnya dengan warna "Oranje" (warna keluarga raja Belanda). Dengan demikian Belanda mengharapkan bahwa paling sedikit diakui juga oleh pihak Indonesia tuntutan2 Belanda yang bersejarah atas Indonesia. Memang pada saat kekuatan tidak ada maka simbolisme sejarah memainkan peranan juga.
Pengakuan de facto.
Pada achir September 45 Inggris mendarat di Jakarta dan panglima Inggris, Jendral Christison seakan2 mengakui republik secara de facto, namun Inggris merasa enggan (malas tidak berkepentingan) untuk berperang dengan republik. Justru charisma dan dominasi tokoh Sukarno-Hatta serta dukungan terhadap republik mau dipakai Inggris untuk mendarat secara damai di Jakarta dan menunaikan tugas2 mereka dalam perang dunia ke-II sebaik mungkin dengan beaya dan korban sesedikit mungkin Tugas mereka yang utama adalah pembebasan tawanan2 kamp2 Jepang dan perucutan senjata Jepang serta pengembalian tentara Jepang dari Indonesia. Tugas2 ini ditekankan oleh Inggris dan tidak pengembalian status quo di Indonesia seperti diingini oleh Belanda.
Biarpun Belanda pada permukaan sangat kaget dan protes terhadap jendral Christison namun sebenarnya setelah minggu pertama pendaratan tentara Inggris di Jakarta y.i. pada tgl 9 Okt. Logeman sudah mulai mengakui bahwa "kewibawaan Belanda di Hindia telah mengalami tamparan selama perang dunia....". Tjarda, Gubernur Jendral terachir dari Hindia Belanda yang baru dibebaskan dari tawanan Jepang tidak dikirim kembali ke Jakarta. Wakilnya Van Mook diserahi kepercayaan selama beberapa tahun memegang pucuk pimpinan soal2 Indonsia, Van Mook terkenal sebagai lebih "progressif" daripada Tjarda.
Campur tangan Inggris dalam persoalan2 Indonesia bukan saja disebabkan karena persetujuan2 diantara ke-empat negara besar sekutu (Belanda tidak termasuk ini) akan tetapi juga karena Inggris mempunyai kepentingan2 di Eropa. Arti dari yang terachir ini adalah bahwa Inggris berkepentingan akan hubungan2 baik dengan Nederland, maka dari itu Inggris biarpun perang Pasifik secara resmi telah selesal bersedia untuk menunaikan tugas2nya. Hal yang terachir ini dijadikan modal Belanda untuk mengadakan pembicaraan dengan Inggris atau untuk menuntut dari Inggris untuk mengembalikan status-quo di Indonesia. Pada 15 Okt. Inggris, y.i. perdana menteri Atlee yang terkenal sebagai orang yang tidak mau berpanjang-lebar, menjawab Belanda dengan tegas dan singkat bahwa Inggris tidak bersedia untuk memerangi republik dan sebaiknya Belanda berunding dengan pimpinannya yang sekarang. Atlee bersedia menjadi perantara. Sejak itu tidak ada jalan lain bagi Belanda kecuali perundingan. Sebenarnya jawaban Inggris ini sudah harus diduga mengingat politik Inggris sendiri di Burma terhadap Aung San, dil, tokoh2 nasionalis "ciptaan Jepang". Aneh bahwa dalam dokumen2 Belanda politik Inggris di Burma sama sekali tidak disebut,. Apa ini karena ke-tidak-tahuan, ketidak insyafan akan itu atau karena hal2 lain? Dokumen terachir dari jilid I kumpulan dokumen2 tsb. adalah persetujuan kabinet Nederland bahwa Jendral Christison menjamu makan malam bersama dengan tamu-tamunya: Van Mook dan Sukarno. Jalan pertama pengakuan kedaulatan republik Indonesia.
Bagi sejarawan atau bukan, bagi orang Indonesia atau Belanda sekarang ini berdiri satu fakta bahwa sebelum pengakuan resmi pada achir 1949, telah berlangsung 5 tahun penderitaan dan pengorbanan didua belah pihak. Apakah pengorbanan2 dan penderitaan ini hanya karena kekurangan pengetahuan (ingorance), sentimen, takut kehilangan muka atau hal2 yang memang betul prinsipill ataupun menyangkut kepentingan2 hidup-mati bangsa. Sebagai catatan terachir mungkin dapat dikemukakan bahwa kemakmuran ekonomi dan penikmatannya secara merata di Nederland sebenarnya baru datang setelah 1950. Apakah salah suatu sebab bukan dengan kehilangan koloni2 maka modal Belanda terpaksa ditanamkan didalam negeri, dalam Nederland sendiri, yang tentunya mengakibatkan industrialisasi dalam negeri, pemberian lapangan pekerjaan dalam negeri dan meningkatkan kemakmuran dalam negeri.
Sumber: MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978








