19 October 2026

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, merupakan tokoh besar Indonesia yang dikenal sebagai ulama, sastrawan, wartawan, sekaligus politikus. Dalam dunia jurnalistik, ia pernah mendirikan sejumlah media. Sementara itu, kiprahnya di bidang sastra melahirkan karya-karya terkenal, seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Namun, perjalanan Buya Hamka dalam dunia politik tidak selalu berjalan mulus. Keterlibatannya dalam Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) turut membuat hubungannya dengan Presiden Soekarno merenggang. Saat itu, Masyumi menjadi salah satu pihak yang mengkritik penerapan Demokrasi Terpimpin yang digagas oleh Soekarno. Soekarno Meminta Buya Hamka Menjadi Imam Salat Jenazahnya Ketegangan tersebut semakin memuncak ketika Buya Hamka dituduh terlibat dalam rencana menggulingkan pemerintahan dan merencanakan pembunuhan terhadap Soekarno. Pada 27 Januari 1964, ketika sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan, Buya Hamka ditangkap dari rumahnya dan dibawa ke tahanan di Sukabumi. Penangkapan itu terjadi setelah ia pulang dari memberikan pengajian rutin di Masjid Al-Azhar. Buya Hamka kemudian menjalani masa penahanan selama dua tahun empat bulan tanpa melalui proses pengadilan yang semestinya. Tidak hanya kehilangan kebebasannya, sejumlah buku karyanya juga dilarang diterbitkan dan diedarkan. Barulah pada Mei 1966, menjelang berakhirnya kekuasaan Soekarno, Buya Hamka dibebaskan dari tahanan. Meski Soekarno merupakan sosok yang memerintahkan penahanannya, Buya Hamka justru menjadi imam salat jenazah sang mantan presiden ketika Soekarno wafat. Kisah mengharukan ini diceritakan oleh putra Buya Hamka, Irfan Hamka, dalam buku memoarnya yang berjudul Ayah… Kisah Buya Hamka (2013). Sekitar empat tahun setelah kebebasannya, tepatnya pada 16 Juni 1970, Buya Hamka menerima kunjungan Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto. Kedatangannya ke rumah Buya Hamka membawa pesan dari keluarga Soekarno, yang ternyata merupakan permintaan terakhir sang mantan presiden sebelum meninggal dunia. Soekarno rupanya berpesan agar Buya Hamka bersedia memimpin salat jenazahnya apabila kelak ia meninggal dunia. Permintaan tersebut menjadi sesuatu yang mengharukan, mengingat hubungan keduanya pernah diwarnai konflik hingga Buya Hamka harus mendekam di penjara. Dalam bukunya, Irfan Hamka menuliskan pesan tersebut: “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku. Demikian kurang lebih pesan Soekarno kepada keluarganya,” tulis Irfan. Mendengar pesan itu, Buya Hamka ternyata belum mengetahui bahwa Soekarno telah wafat. Ia pun segera bertanya kepada Soeryo, “Jadi beliau sudah wafat?” Soeryo kemudian menjawab, “Iya, Buya. Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah dibawa ke Wisma Yaso.” Tanpa menunda waktu, Buya Hamka segera berangkat menuju Wisma Yaso, tempat jenazah Soekarno disemayamkan. Ketika tiba di sana, sejumlah pelayat telah berdatangan, termasuk Presiden Soeharto dan beberapa pejabat tinggi negara. Di hadapan jenazah Soekarno, Buya Hamka menunaikan permintaan terakhir mantan presiden tersebut dengan menjadi imam salat jenazahnya. Ia melakukannya dengan tulus, tanpa membiarkan masa lalu yang menyakitkan menghalangi dirinya untuk memenuhi permintaan itu. Bagi Buya Hamka, menyimpan dendam bukanlah jalan yang seharusnya ditempuh. Ia memilih memaafkan dan memandang pengalaman pahit dalam hidupnya sebagai bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah. Bahkan, Buya Hamka pernah mengungkapkan bahwa masa penahanannya justru memberinya kesempatan untuk menyelesaikan karya tafsir Al-Qur'an yang sangat berharga. “Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu,” kata Buya. Meski mampu mengambil hikmah dari masa penahanannya, kehidupan Buya Hamka dan keluarganya ketika itu tidaklah mudah. Selama berada di balik jeruji besi, ia tidak dapat memenuhi undangan berdakwah yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk menafkahi keluarga. Kesulitan tersebut semakin berat karena buku-buku karangannya juga dilarang beredar. Akibatnya, pemasukan dari kegiatan dakwah maupun penjualan buku terhenti, sehingga keluarganya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Irfan Hamka menceritakan bahwa ibunya terpaksa menjual sejumlah barang dan perhiasan demi mempertahankan kehidupan keluarga selama ayahnya menjalani penahanan. “Dengan ditahannya Ayah, otomatis ia tidak bisa lagi memenuhi undangan untuk berdakwah. Padahal selama ini, dari sanalah rezeki Allah mengalir untuk kehidupan keluarga,” tulis Irfan. Setelah dibebaskan dari tahanan pada 1966, Buya Hamka kembali menjalani aktivitas dakwah dan berbagai kegiatan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupannya. Pengalaman pahit yang pernah ia alami tidak membuatnya berhenti berkarya maupun mengabdikan diri kepada masyarakat. Kisah Buya Hamka dan Soekarno menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang dapat memilih memaafkan meskipun pernah mengalami perlakuan yang menyakitkan. Di tengah perbedaan pandangan politik dan pengalaman masa lalu, Buya Hamka tetap memenuhi permintaan terakhir Soekarno dengan ketulusan, menunjukkan bahwa baginya, kemanusiaan dan prinsip keagamaan jauh lebih penting daripada memelihara dendam. #Kisah #Sejarah #Viral

 Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, merupakan tokoh besar Indonesia yang dikenal sebagai ulama, sastrawan, wartawan, sekaligus politikus. 



Dalam dunia jurnalistik, ia pernah mendirikan sejumlah media. Sementara itu, kiprahnya di bidang sastra melahirkan karya-karya terkenal, seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck.


Namun, perjalanan Buya Hamka dalam dunia politik tidak selalu berjalan mulus. 


Keterlibatannya dalam Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) turut membuat hubungannya dengan Presiden Soekarno merenggang. 


Saat itu, Masyumi menjadi salah satu pihak yang mengkritik penerapan Demokrasi Terpimpin yang digagas oleh Soekarno.


Soekarno Meminta Buya Hamka Menjadi Imam Salat Jenazahnya


Ketegangan tersebut semakin memuncak ketika Buya Hamka dituduh terlibat dalam rencana menggulingkan pemerintahan dan merencanakan pembunuhan terhadap Soekarno. 


Pada 27 Januari 1964, ketika sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan, Buya Hamka ditangkap dari rumahnya dan dibawa ke tahanan di Sukabumi. 


Penangkapan itu terjadi setelah ia pulang dari memberikan pengajian rutin di Masjid Al-Azhar.


Buya Hamka kemudian menjalani masa penahanan selama dua tahun empat bulan tanpa melalui proses pengadilan yang semestinya. 


Tidak hanya kehilangan kebebasannya, sejumlah buku karyanya juga dilarang diterbitkan dan diedarkan. Barulah pada Mei 1966, menjelang berakhirnya kekuasaan Soekarno, Buya Hamka dibebaskan dari tahanan.


Meski Soekarno merupakan sosok yang memerintahkan penahanannya, Buya Hamka justru menjadi imam salat jenazah sang mantan presiden ketika Soekarno wafat. 


Kisah mengharukan ini diceritakan oleh putra Buya Hamka, Irfan Hamka, dalam buku memoarnya yang berjudul Ayah… Kisah Buya Hamka (2013).


Sekitar empat tahun setelah kebebasannya, tepatnya pada 16 Juni 1970, Buya Hamka menerima kunjungan Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto. 


Kedatangannya ke rumah Buya Hamka membawa pesan dari keluarga Soekarno, yang ternyata merupakan permintaan terakhir sang mantan presiden sebelum meninggal dunia.


Soekarno rupanya berpesan agar Buya Hamka bersedia memimpin salat jenazahnya apabila kelak ia meninggal dunia. 


Permintaan tersebut menjadi sesuatu yang mengharukan, mengingat hubungan keduanya pernah diwarnai konflik hingga Buya Hamka harus mendekam di penjara.


Dalam bukunya, Irfan Hamka menuliskan pesan tersebut:


“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku. Demikian kurang lebih pesan Soekarno kepada keluarganya,” tulis Irfan.


Mendengar pesan itu, Buya Hamka ternyata belum mengetahui bahwa Soekarno telah wafat. 


Ia pun segera bertanya kepada Soeryo, “Jadi beliau sudah wafat?”

Soeryo kemudian menjawab, “Iya, Buya. Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah dibawa ke Wisma Yaso.”


Tanpa menunda waktu, Buya Hamka segera berangkat menuju Wisma Yaso, tempat jenazah Soekarno disemayamkan. 


Ketika tiba di sana, sejumlah pelayat telah berdatangan, termasuk Presiden Soeharto dan beberapa pejabat tinggi negara.


Di hadapan jenazah Soekarno, Buya Hamka menunaikan permintaan terakhir mantan presiden tersebut dengan menjadi imam salat jenazahnya. 


Ia melakukannya dengan tulus, tanpa membiarkan masa lalu yang menyakitkan menghalangi dirinya untuk memenuhi permintaan itu.


Bagi Buya Hamka, menyimpan dendam bukanlah jalan yang seharusnya ditempuh. Ia memilih memaafkan dan memandang pengalaman pahit dalam hidupnya sebagai bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah.


Bahkan, Buya Hamka pernah mengungkapkan bahwa masa penahanannya justru memberinya kesempatan untuk menyelesaikan karya tafsir Al-Qur'an yang sangat berharga.


“Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu,” kata Buya.


Meski mampu mengambil hikmah dari masa penahanannya, kehidupan Buya Hamka dan keluarganya ketika itu tidaklah mudah. 


Selama berada di balik jeruji besi, ia tidak dapat memenuhi undangan berdakwah yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk menafkahi keluarga.


Kesulitan tersebut semakin berat karena buku-buku karangannya juga dilarang beredar. 


Akibatnya, pemasukan dari kegiatan dakwah maupun penjualan buku terhenti, sehingga keluarganya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Irfan Hamka menceritakan bahwa ibunya terpaksa menjual sejumlah barang dan perhiasan demi mempertahankan kehidupan keluarga selama ayahnya menjalani penahanan.


“Dengan ditahannya Ayah, otomatis ia tidak bisa lagi memenuhi undangan untuk berdakwah. Padahal selama ini, dari sanalah rezeki Allah mengalir untuk kehidupan keluarga,” tulis Irfan.


Setelah dibebaskan dari tahanan pada 1966, Buya Hamka kembali menjalani aktivitas dakwah dan berbagai kegiatan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupannya. 


Pengalaman pahit yang pernah ia alami tidak membuatnya berhenti berkarya maupun mengabdikan diri kepada masyarakat.


Kisah Buya Hamka dan Soekarno menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang dapat memilih memaafkan meskipun pernah mengalami perlakuan yang menyakitkan. 


Di tengah perbedaan pandangan politik dan pengalaman masa lalu, Buya Hamka tetap memenuhi permintaan terakhir Soekarno dengan ketulusan, menunjukkan bahwa baginya, kemanusiaan dan prinsip keagamaan jauh lebih penting daripada memelihara dendam.


#Kisah #Sejarah #Viral

😱 **TIGA PEMUDA MENYUSUP KE ROMBONGAN SUKARNO! YANG LEBIH GILA, MEREKA HAMPIR IKUT NAIK PESAWAT PRESIDEN!** Bayangkan, kamu bisa ikut rombongan Presiden Sukarno hanya dengan mengaku sebagai wartawan. Kedengarannya mustahil, tetapi kejadian ini benar-benar pernah terjadi pada 1956! ❓ **Bagaimana tiga pemuda bisa mengelabui rombongan presiden, bahkan sampai naik ke pesawat tanpa dicurigai?** πŸ“œ **CERITA YANG SULIT DIPERCAYA** Pada April 1956, Presiden Sukarno melakukan kunjungan ke Sumatra Selatan. Ia menyapa masyarakat di sejumlah daerah, termasuk Palembang, Lahat, Tebing Tinggi, dan Talang Betutu. Namun, di tengah perjalanan itu, terjadi peristiwa tak biasa. Tiga pemuda—dua guru Sekolah Rakyat dan seorang anggota kepanduan dari Lahat—berhasil menyusup ke rombongan presiden ketika kereta api istimewa berhenti di Lahat. Mereka mengaku sebagai wartawan yang ikut dalam perjalanan Sukarno. Hebatnya, penyamaran itu membuat mereka mendapat pelayanan layaknya anggota rombongan resmi, mulai dari penginapan hingga makanan. ⚠️ **KECURIGAAN MULAI MUNCUL!** Ketika rombongan melanjutkan perjalanan kembali menuju Palembang, petugas keamanan mulai mengawasi ketiga pemuda tersebut. Namun, mereka belum langsung ditangkap. Sesampainya di Talang Betutu, ketiganya masih menjalankan peran sebagai wartawan dan bahkan mendapatkan kendaraan menuju lokasi keberangkatan pesawat. Mereka kemudian membawa koper masing-masing, naik ke pesawat, dan mengambil tempat duduk seperti penumpang lainnya. Bayangkan betapa beraninya mereka! πŸ”₯ **KESALAHAN KECIL YANG MEMBONGKAR PENYAMARAN** Masalah baru terungkap ketika seluruh rombongan, termasuk Presiden Sukarno, sudah naik ke pesawat. Ternyata, ada anggota rombongan resmi yang tidak mendapatkan tempat duduk. Orang itu bukan orang sembarangan, melainkan ajudan presiden sendiri, Letnan Kolonel Sugandi! Kejadian tersebut langsung menimbulkan kecurigaan. Petugas segera memeriksa penumpang dan menemukan tiga orang yang sebenarnya tidak berhak berada di dalam rombongan. Penyamaran mereka akhirnya terbongkar! 😳 **TWIST: MOTIF MEREKA TIDAK LANGSUNG TERUNGKAP!** Ketiga pemuda itu kemudian dibawa ke Palembang untuk diperiksa oleh Corps Polisi Militer atau CPM. Namun, menurut laporan surat kabar *Kedaulatan Rakjat* pada 16 April 1956, pemeriksaan awal belum menghasilkan kesimpulan pasti mengenai alasan mereka menyusup ke rombongan presiden. Jadi, meskipun penyamaran mereka terbongkar, motif sebenarnya masih menjadi tanda tanya dalam laporan tersebut. ✈️ **TERNYATA, BUKAN HANYA SEKALI!** Tujuh tahun kemudian, kejadian penyusupan kembali terjadi. Pada 1963, setelah menghadiri Konferensi Maphilindo di Filipina, Sukarno bersiap kembali ke Jakarta. Namun, pihak bandara Manila memberi tahu pengawal presiden bahwa seorang pria tak dikenal telah memasuki pesawat kepresidenan. Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, segera memeriksa pesawat. Sayangnya, pria tersebut sudah pergi. Petugas bandara akhirnya berhasil menangkapnya. Menurut laporan yang dikutip dalam kisah tersebut, pria itu mengalami gangguan jiwa. 🎯 **PELAJARAN DARI KISAH INI** Dua kejadian tersebut menunjukkan betapa rumitnya menjaga keamanan seorang kepala negara pada masa itu. Bahkan di sekitar presiden sekalipun, penyusup masih bisa muncul dengan cara yang tidak terduga. Dan pada kasus tiga pemuda tahun 1956, penyamaran mereka justru terbongkar gara-gara satu hal sederhana: **kursi pesawat yang tidak cukup untuk semua orang!** πŸ’¬ **MENURUTMU, APA MOTIF TIGA PEMUDA ITU MENYUSUP KE ROMBONGAN SUKARNO?** Apakah hanya ingin ikut perjalanan, mencari pengalaman, atau memiliki tujuan lain? Tulis pendapatmu di kolom komentar! πŸ‘‡ ❤️ Jangan lupa **FOLLOW** untuk kisah sejarah Indonesia yang unik dan jarang dibahas, serta kirim 🎁 **GIFT** untuk mendukung konten ini agar semakin banyak orang mengenal sejarah bangsa kita! #SejarahIndonesia #Sukarno #BungKarno #SejarahPresiden #FaktaSejarah #SejarahUnik #Tjakrabirawa #SejarahNusantara #FBPro #FacebookReels

 πŸ˜± **TIGA PEMUDA MENYUSUP KE ROMBONGAN SUKARNO! YANG LEBIH GILA, MEREKA HAMPIR IKUT NAIK PESAWAT PRESIDEN!**



Bayangkan, kamu bisa ikut rombongan Presiden Sukarno hanya dengan mengaku sebagai wartawan. Kedengarannya mustahil, tetapi kejadian ini benar-benar pernah terjadi pada 1956!


❓ **Bagaimana tiga pemuda bisa mengelabui rombongan presiden, bahkan sampai naik ke pesawat tanpa dicurigai?**


πŸ“œ **CERITA YANG SULIT DIPERCAYA**


Pada April 1956, Presiden Sukarno melakukan kunjungan ke Sumatra Selatan. Ia menyapa masyarakat di sejumlah daerah, termasuk Palembang, Lahat, Tebing Tinggi, dan Talang Betutu.


Namun, di tengah perjalanan itu, terjadi peristiwa tak biasa.


Tiga pemuda—dua guru Sekolah Rakyat dan seorang anggota kepanduan dari Lahat—berhasil menyusup ke rombongan presiden ketika kereta api istimewa berhenti di Lahat.


Mereka mengaku sebagai wartawan yang ikut dalam perjalanan Sukarno.


Hebatnya, penyamaran itu membuat mereka mendapat pelayanan layaknya anggota rombongan resmi, mulai dari penginapan hingga makanan.


⚠️ **KECURIGAAN MULAI MUNCUL!**


Ketika rombongan melanjutkan perjalanan kembali menuju Palembang, petugas keamanan mulai mengawasi ketiga pemuda tersebut.


Namun, mereka belum langsung ditangkap.


Sesampainya di Talang Betutu, ketiganya masih menjalankan peran sebagai wartawan dan bahkan mendapatkan kendaraan menuju lokasi keberangkatan pesawat.


Mereka kemudian membawa koper masing-masing, naik ke pesawat, dan mengambil tempat duduk seperti penumpang lainnya.


Bayangkan betapa beraninya mereka!


πŸ”₯ **KESALAHAN KECIL YANG MEMBONGKAR PENYAMARAN**


Masalah baru terungkap ketika seluruh rombongan, termasuk Presiden Sukarno, sudah naik ke pesawat.


Ternyata, ada anggota rombongan resmi yang tidak mendapatkan tempat duduk. Orang itu bukan orang sembarangan, melainkan ajudan presiden sendiri, Letnan Kolonel Sugandi!


Kejadian tersebut langsung menimbulkan kecurigaan.


Petugas segera memeriksa penumpang dan menemukan tiga orang yang sebenarnya tidak berhak berada di dalam rombongan.


Penyamaran mereka akhirnya terbongkar!


😳 **TWIST: MOTIF MEREKA TIDAK LANGSUNG TERUNGKAP!**


Ketiga pemuda itu kemudian dibawa ke Palembang untuk diperiksa oleh Corps Polisi Militer atau CPM.


Namun, menurut laporan surat kabar *Kedaulatan Rakjat* pada 16 April 1956, pemeriksaan awal belum menghasilkan kesimpulan pasti mengenai alasan mereka menyusup ke rombongan presiden.


Jadi, meskipun penyamaran mereka terbongkar, motif sebenarnya masih menjadi tanda tanya dalam laporan tersebut.


✈️ **TERNYATA, BUKAN HANYA SEKALI!**


Tujuh tahun kemudian, kejadian penyusupan kembali terjadi.


Pada 1963, setelah menghadiri Konferensi Maphilindo di Filipina, Sukarno bersiap kembali ke Jakarta. Namun, pihak bandara Manila memberi tahu pengawal presiden bahwa seorang pria tak dikenal telah memasuki pesawat kepresidenan.


Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, segera memeriksa pesawat. Sayangnya, pria tersebut sudah pergi.


Petugas bandara akhirnya berhasil menangkapnya. Menurut laporan yang dikutip dalam kisah tersebut, pria itu mengalami gangguan jiwa.


🎯 **PELAJARAN DARI KISAH INI**


Dua kejadian tersebut menunjukkan betapa rumitnya menjaga keamanan seorang kepala negara pada masa itu. Bahkan di sekitar presiden sekalipun, penyusup masih bisa muncul dengan cara yang tidak terduga.


Dan pada kasus tiga pemuda tahun 1956, penyamaran mereka justru terbongkar gara-gara satu hal sederhana: **kursi pesawat yang tidak cukup untuk semua orang!**


πŸ’¬ **M


#SejarahIndonesia #Sukarno #BungKarno #SejarahPresiden #FaktaSejarah #SejarahUnik #Tjakrabirawa #SejarahNusantara #FBPro #FacebookReels

Kisah Soeharto Memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949: Enam Jam yang Mengguncang Yogyakarta Pada awal 1949, Indonesia berada dalam situasi yang sangat genting. Belanda kembali melancarkan agresi militer pada Desember 1948 dan berhasil menduduki Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap, sementara Belanda berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah hancur dan Tentara Nasional Indonesia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Namun, jauh dari pernyataan Belanda tersebut, perlawanan rakyat dan para pejuang Indonesia masih terus berlangsung. Di tengah situasi inilah, sebuah operasi militer besar mulai direncanakan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup. Salah satu tokoh militer yang kemudian berada di garis depan operasi tersebut adalah Letnan Kolonel Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai komandan Brigade X di wilayah Yogyakarta. Rencana serangan yang menentukan Setelah Yogyakarta diduduki Belanda, pasukan TNI menerapkan taktik perang gerilya. Mereka bergerak di luar kota, menghindari pertempuran terbuka yang tidak menguntungkan, sekaligus mengganggu kedudukan pasukan Belanda. Gagasan untuk melancarkan serangan besar ke Yogyakarta muncul dari kebutuhan militer sekaligus politik. Indonesia harus membuktikan bahwa TNI masih mampu menyerang dan menguasai wilayah penting, meskipun pusat pemerintahan republik telah diduduki. Dalam perencanaan operasi ini, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memiliki peran penting dengan mendorong dilakukannya serangan terhadap kedudukan Belanda di Yogyakarta. Gagasan tersebut disampaikan melalui jalur komunikasi dengan pimpinan militer Republik. Sementara itu, Jenderal Sudirman tetap menjadi Panglima Besar TNI dan memimpin perjuangan gerilya dari luar kota. Pelaksanaan serangan di Yogyakarta melibatkan koordinasi antara pimpinan militer setempat dan pasukan yang berada di bawah komando Soeharto. Tujuannya jelas: menyerang secara serentak, merebut sejumlah titik strategis, dan mempertahankan penguasaan kota selama mungkin agar keberadaan Republik Indonesia kembali terlihat di mata dunia. 1 Maret 1949: Ketika Soeharto Memimpin Serangan ke Yogyakarta Malam sebelum serangan, para pejuang Indonesia mulai bergerak mendekati Yogyakarta. Mereka mempersiapkan operasi secara rahasia agar pasukan Belanda tidak mengetahui rencana yang akan dilancarkan keesokan harinya. Operasi tersebut dirancang untuk menyerang berbagai titik di kota secara serentak. Pasukan Indonesia dibagi ke dalam beberapa sektor, dengan tugas masing-masing untuk mengguncang pertahanan Belanda dan menunjukkan bahwa TNI masih memiliki kekuatan tempur. Di tengah persiapan itu, Letnan Kolonel Soeharto bertugas memimpin pasukan di sektor barat Yogyakarta hingga kawasan Malioboro. Ia bukan satu-satunya pemimpin operasi tersebut, tetapi menjadi salah satu komandan lapangan utama dalam serangan yang kelak dikenang sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949. Pukul 06.00: Serangan dimulai Selasa pagi, 1 Maret 1949, sekitar pukul 06.00 WIB, ketika sirene menandai berakhirnya jam malam, pasukan TNI melancarkan serangan dari berbagai arah. Serangan mendadak itu membuat pasukan Belanda menghadapi tekanan di sejumlah titik sekaligus. Para pejuang Indonesia bergerak menyerang kedudukan lawan, sementara pasukan gerilya di sekitar Yogyakarta turut mendukung jalannya operasi. Soeharto memimpin pasukannya di sektor barat. Di sektor lain, para komandan TNI menjalankan tugas masing-masing sesuai pembagian wilayah operasi. Serangan serentak tersebut membuat Belanda kesulitan mempertahankan kendali atas seluruh kota. Dalam perkembangan pertempuran, pasukan Indonesia berhasil memasuki dan menguasai sejumlah bagian penting Yogyakarta. Untuk sementara, keadaan berbalik: kota yang sebelumnya diduduki Belanda kini kembali berada di bawah kendali pasukan Republik di beberapa wilayah. Bagi rakyat Indonesia, peristiwa itu menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan belum berakhir. Enam jam yang mengubah pesan kepada dunia Keberhasilan serangan tersebut bukan berarti TNI berniat mempertahankan Yogyakarta untuk waktu yang lama. Operasi itu memiliki tujuan militer sekaligus politik: menunjukkan bahwa Republik Indonesia dan tentaranya masih ada. Pasukan Belanda kemudian mendatangkan bantuan, termasuk dari arah Magelang. Situasi pertempuran berubah dan pasukan Indonesia mulai menarik diri sesuai rencana operasi. Sekitar tengah hari, TNI meninggalkan kota, meskipun waktu penarikan di sejumlah catatan sejarah dapat berbeda. Karena pasukan Indonesia berhasil menguasai bagian-bagian kota selama sekitar enam jam, peristiwa ini dikenal sebagai Serangan Umum Enam Jam di Yogyakarta. Namun, arti pentingnya jauh melampaui lamanya pertempuran. Belanda sebelumnya berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah berakhir. Serangan ini justru memperlihatkan bahwa TNI masih mampu menyelenggarakan operasi militer terkoordinasi, bahkan di ibu kota yang diduduki musuh. Siapa sebenarnya penggagas serangan ini? Dalam membicarakan peran Soeharto, ada satu hal penting yang perlu diluruskan agar kisah ini tetap runtut. - Sri Sultan Hamengkubuwono IX berperan penting dalam menggagas serangan untuk menunjukkan keberadaan Republik Indonesia kepada dunia internasional. - Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI menyetujui gagasan tersebut dan meminta Sultan berkoordinasi dengan Soeharto. - Letnan Kolonel Soeharto berperan sebagai komandan militer yang memimpin pelaksanaan operasi di lapangan, khususnya di sektor barat Yogyakarta. - Para komandan dan pejuang TNI lainnya, bersama unsur masyarakat, turut berperan dalam serangan di berbagai sektor. Peran-peran tersebut penting dibedakan karena sejarah Serangan Umum 1 Maret pernah menjadi bahan perdebatan, terutama mengenai siapa penggagas utamanya. Mengakui peran Soeharto sebagai komandan lapangan tidak berarti mengabaikan peran Sultan Hamengkubuwono IX, Jenderal Sudirman, maupun para pejuang lainnya. Dampak Serangan Umum 1 Maret 1949 Keberhasilan operasi ini memberikan dorongan moral bagi rakyat dan pasukan Republik. Lebih penting lagi, kabar mengenai serangan tersebut disebarluaskan melalui jaringan radio sehingga informasi tentang perlawanan Indonesia dapat menjangkau dunia internasional. Peristiwa itu memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan diplomatik melawan Belanda. Republik yang diklaim telah hancur ternyata masih memiliki tentara yang mampu melancarkan serangan terkoordinasi terhadap pasukan pendudukan. Bagi Soeharto, operasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan karier militernya. Namun, keberhasilan Serangan Umum 1 Maret bukanlah hasil kerja satu orang semata. Operasi itu merupakan bagian dari perjuangan kolektif TNI, pimpinan Republik, Sultan Hamengkubuwono IX, dan rakyat yang tetap mendukung kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya, Serangan Umum 1 Maret 1949 mengirimkan pesan yang tegas kepada dunia: meskipun Yogyakarta diduduki dan para pemimpin Republik ditangkap, perjuangan Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan belum berakhir. Nama Soeharto tercatat sebagai salah satu komandan penting dalam peristiwa tersebut, tetapi kemenangan politik yang dihasilkan merupakan buah perjuangan banyak pihak.

 Kisah Soeharto Memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949: Enam Jam yang Mengguncang Yogyakarta



Pada awal 1949, Indonesia berada dalam situasi yang sangat genting. Belanda kembali melancarkan agresi militer pada Desember 1948 dan berhasil menduduki Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. 


Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap, sementara Belanda berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah hancur dan Tentara Nasional Indonesia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan.


Namun, jauh dari pernyataan Belanda tersebut, perlawanan rakyat dan para pejuang Indonesia masih terus berlangsung. 


Di tengah situasi inilah, sebuah operasi militer besar mulai direncanakan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup.


Salah satu tokoh militer yang kemudian berada di garis depan operasi tersebut adalah Letnan Kolonel Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai komandan Brigade X di wilayah Yogyakarta.


Rencana serangan yang menentukan


Setelah Yogyakarta diduduki Belanda, pasukan TNI menerapkan taktik perang gerilya. Mereka bergerak di luar kota, menghindari pertempuran terbuka yang tidak menguntungkan, sekaligus mengganggu kedudukan pasukan Belanda.


Gagasan untuk melancarkan serangan besar ke Yogyakarta muncul dari kebutuhan militer sekaligus politik. 


Indonesia harus membuktikan bahwa TNI masih mampu menyerang dan menguasai wilayah penting, meskipun pusat pemerintahan republik telah diduduki.


Dalam perencanaan operasi ini, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memiliki peran penting dengan mendorong dilakukannya serangan terhadap kedudukan Belanda di Yogyakarta. 


Gagasan tersebut disampaikan melalui jalur komunikasi dengan pimpinan militer Republik.

Sementara itu, Jenderal Sudirman tetap menjadi Panglima Besar TNI dan memimpin perjuangan gerilya dari luar kota. 


Pelaksanaan serangan di Yogyakarta melibatkan koordinasi antara pimpinan militer setempat dan pasukan yang berada di bawah komando Soeharto.


Tujuannya jelas: menyerang secara serentak, merebut sejumlah titik strategis, dan mempertahankan penguasaan kota selama mungkin agar keberadaan Republik Indonesia kembali terlihat di mata dunia.


1 Maret 1949: Ketika Soeharto Memimpin Serangan ke Yogyakarta


Malam sebelum serangan, para pejuang Indonesia mulai bergerak mendekati Yogyakarta. Mereka mempersiapkan operasi secara rahasia agar pasukan Belanda tidak mengetahui rencana yang akan dilancarkan keesokan harinya.


Operasi tersebut dirancang untuk menyerang berbagai titik di kota secara serentak. Pasukan Indonesia dibagi ke dalam beberapa sektor, dengan tugas masing-masing untuk mengguncang pertahanan Belanda dan menunjukkan bahwa TNI masih memiliki kekuatan tempur.


Di tengah persiapan itu, Letnan Kolonel Soeharto bertugas memimpin pasukan di sektor barat Yogyakarta hingga kawasan Malioboro. 


Ia bukan satu-satunya pemimpin operasi tersebut, tetapi menjadi salah satu komandan lapangan utama dalam serangan yang kelak dikenang sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949. 


Pukul 06.00: Serangan dimulai


Selasa pagi, 1 Maret 1949, sekitar pukul 06.00 WIB, ketika sirene menandai berakhirnya jam malam, pasukan TNI melancarkan serangan dari berbagai arah.


Serangan mendadak itu membuat pasukan Belanda menghadapi tekanan di sejumlah titik sekaligus. 


Para pejuang Indonesia bergerak menyerang kedudukan lawan, sementara pasukan gerilya di sekitar Yogyakarta turut mendukung jalannya operasi.


Soeharto memimpin pasukannya di sektor barat. Di sektor lain, para komandan TNI menjalankan tugas masing-masing sesuai pembagian wilayah operasi. 


Serangan serentak tersebut membuat Belanda kesulitan mempertahankan kendali atas seluruh kota.


Dalam perkembangan pertempuran, pasukan Indonesia berhasil memasuki dan menguasai sejumlah bagian penting Yogyakarta. 


Untuk sementara, keadaan berbalik: kota yang sebelumnya diduduki Belanda kini kembali berada di bawah kendali pasukan Republik di beberapa wilayah.


Bagi rakyat Indonesia, peristiwa itu menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan belum berakhir. 


Enam jam yang mengubah pesan kepada dunia


Keberhasilan serangan tersebut bukan berarti TNI berniat mempertahankan Yogyakarta untuk waktu yang lama. 


Operasi itu memiliki tujuan militer sekaligus politik: menunjukkan bahwa Republik Indonesia dan tentaranya masih ada.


Pasukan Belanda kemudian mendatangkan bantuan, termasuk dari arah Magelang. Situasi pertempuran berubah dan pasukan Indonesia mulai menarik diri sesuai rencana operasi. 


Sekitar tengah hari, TNI meninggalkan kota, meskipun waktu penarikan di sejumlah catatan sejarah dapat berbeda.


Karena pasukan Indonesia berhasil menguasai bagian-bagian kota selama sekitar enam jam, peristiwa ini dikenal sebagai Serangan Umum Enam Jam di Yogyakarta.


Namun, arti pentingnya jauh melampaui lamanya pertempuran. Belanda sebelumnya berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah berakhir. 


Serangan ini justru memperlihatkan bahwa TNI masih mampu menyelenggarakan operasi militer terkoordinasi, bahkan di ibu kota yang diduduki musuh. 


Siapa sebenarnya penggagas serangan ini?


Dalam membicarakan peran Soeharto, ada satu hal penting yang perlu diluruskan agar kisah ini tetap runtut.


- Sri Sultan Hamengkubuwono IX berperan penting dalam menggagas serangan untuk menunjukkan keberadaan Republik Indonesia kepada dunia internasional.


- Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI menyetujui gagasan tersebut dan meminta Sultan berkoordinasi dengan Soeharto.


- Letnan Kolonel Soeharto berperan sebagai komandan militer yang memimpin pelaksanaan operasi di lapangan, khususnya di sektor barat Yogyakarta.


- Para komandan dan pejuang TNI lainnya, bersama unsur masyarakat, turut berperan dalam serangan di berbagai sektor.


Peran-peran tersebut penting dibedakan karena sejarah Serangan Umum 1 Maret pernah menjadi bahan perdebatan, terutama mengenai siapa penggagas utamanya. 


Mengakui peran Soeharto sebagai komandan lapangan tidak berarti mengabaikan peran Sultan Hamengkubuwono IX, Jenderal Sudirman, maupun para pejuang lainnya.


Dampak Serangan Umum 1 Maret 1949


Keberhasilan operasi ini memberikan dorongan moral bagi rakyat dan pasukan Republik. 


Lebih penting lagi, kabar mengenai serangan tersebut disebarluaskan melalui jaringan radio sehingga informasi tentang perlawanan Indonesia dapat menjangkau dunia internasional.


Peristiwa itu memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan diplomatik melawan Belanda. Republik yang diklaim telah hancur ternyata masih memiliki tentara yang mampu melancarkan serangan terkoordinasi terhadap pasukan pendudukan.


Bagi Soeharto, operasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan karier militernya. 


Namun, keberhasilan Serangan Umum 1 Maret bukanlah hasil kerja satu orang semata. Operasi itu merupakan bagian dari perjuangan kolektif TNI, pimpinan Republik, Sultan Hamengkubuwono IX, dan rakyat yang tetap mendukung kemerdekaan Indonesia. 


Pada akhirnya, Serangan Umum 1 Maret 1949 mengirimkan pesan yang tegas kepada dunia: meskipun Yogyakarta diduduki dan para pemimpin Republik ditangkap, perjuangan Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan belum berakhir. Nama Soeharto tercatat sebagai salah satu komandan penting dalam peristiwa tersebut, tetapi kemenangan politik yang dihasilkan merupakan buah perjuangan banyak pihak.



Sumber : Bang Fit Ideas

17 October 2026

Nasib seseorang tidak ada yang tahu, begitu pula dengan sosok artis tenar satu ini. Sempat menjadi sosok yang dikagumi oleh presiden pertama Indonesia yakni Soekarno, nyatanya tidak menjamin nasib artis wanita ini menjalani kehidupan yang beruntung. Dialah Titin Sumarni, artis lawas era 50-an yang disebut-sebut membuat seorang presiden Soekarno mengagumi dirinya. Titin Sumarni bahkan digadang-gadang sebagai salah satu artis tercantik pada masanya. Namun sayang, nasib Titin berbah drastis ketika ia mulai menikah. Seolah hilang ditelan bumi, di akhir hayatnya ia harus meregang nyawa dalam keadaan tragis. Bagaimana kisah Titin Sumarni? benarkan ia meninggal karena penyakit 'kotor'? Industri perfilman Indonesia memang sudah mulai tumbuh sejak lama. Sejak era Soekarno, perfilman Indonesia mulai hadir untuk menyaingi filn India dan film malaysia. Tentu film erat kaitannya dengan artis yang berperan dalam sebuah film, salah satu yang kini dikenal karena kisahnya adalah artis wanita Titin Sumarni. Perempuan kelahiran Surabaya 28 Desember 1930 ini, tahun 50-an pernah menjadi menjadi publik, bahkan seorang presden Soekarno.Titin Sumarni membintangi film berjudul Putri Solo untuk yang pertama kalinya di tahun 1953. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai artis tercantik di tanah air pada masanya.Ia juga membintangi beberapa film layar lebar.

 Nasib seseorang tidak ada yang tahu, begitu pula dengan sosok artis tenar satu ini.

Sempat menjadi sosok yang dikagumi oleh presiden pertama Indonesia yakni Soekarno, nyatanya tidak menjamin nasib artis wanita ini menjalani kehidupan yang beruntung.

Dialah Titin Sumarni, artis lawas era 50-an yang disebut-sebut membuat seorang presiden Soekarno mengagumi dirinya.



Titin Sumarni bahkan digadang-gadang sebagai salah satu artis tercantik pada masanya.

Namun sayang, nasib Titin berbah drastis ketika ia mulai menikah.

Seolah hilang ditelan bumi, di akhir hayatnya ia harus meregang nyawa dalam keadaan tragis.

Bagaimana kisah Titin Sumarni? benarkan ia meninggal karena penyakit 'kotor'?


Industri perfilman Indonesia memang sudah mulai tumbuh sejak lama.

Sejak era Soekarno, perfilman Indonesia mulai hadir untuk menyaingi filn India dan film malaysia.

Tentu film erat kaitannya dengan artis yang berperan dalam sebuah film, salah satu yang kini dikenal karena kisahnya adalah artis wanita Titin Sumarni.


Perempuan kelahiran Surabaya 28 Desember 1930 ini, tahun 50-an pernah menjadi menjadi publik, bahkan seorang presden Soekarno.Titin Sumarni membintangi film berjudul Putri Solo untuk yang pertama kalinya di tahun 1953.


Bahkan, ia disebut-sebut sebagai artis tercantik di tanah air pada masanya.Ia juga membintangi beberapa film layar lebar.

16 October 2026

Jika membahas bagian Klenik Jawa maka akan ada pembahasan mengenai Adanya Jenis Santet yang bisa memberesken tanpa menyentuh. Sebutanya bermacam macam dengan Nama nama yang terdengar Menyeramkan. Namun sebagian ada yang percaya dan sebagian lagi tidak percaya bahwa hal itu ada. Bahkan jika dilogika apabila hal itu ada kenapa Belanda bisa mencengkram Pulau Jawa. Bukankah jika ilmu ini ada minimal pembesar pembesarnya, gubernur Jendralnya bisa diamanken tanpa menyentuh. Sudut pandang seperti ini bahawa ilmu ini ada dan tidak masih kurang mendalam, karna jika tidak ada kenapa menjadi rahasia umum bahwa itu ada, sementara jika ada kenapa Kesultanan/Kasunanan orang Jawa kalah oleh Belanda. Bahkan di Jaman Majapahit orang orangnya banyak membuat teknologi teknologi menempa Senjata untuk mengalahkan lawanya seperti diciptakanya jenis2 Pedang Keris yang mengandung bahan2 efektif melumpuhkan lawan dan membuat meriam Cetbang berarti mengamanken dan memberesken lawan tanpa menyentuh bukan sebuah solusi. Belanda kurang bagaimana menindas Para Inlander dan menbuat sakit hati, karna dari sakit hati tadilah orang akan nekat membalas. Nyatanya para Gubernur Jendral Belanda tidak tersentuh apa apa. Bagi para penganut asas tidak yakin keberadaan adanya Santet bukti bukti ini sangat kuat dan meyakinkan bahwa memang tidak ada. Namun kata kunci Sakit Hati dan Nekat terabaikan bahwa inilah kuncinya, sebab ketika akan memberesken tanpa meyentuh maka Ikrarnya pada Pihak yang dimintai Bantuan tidak main main, perlu Tumbal dan sejenisnya hal yang tentunya hanya orang yang sudah gelap mata yang sanggup melakukanya meskipun tetap saja bagi sebagian besar orang alasan ini masih kurang masuk logika. Kembali kepembahasan mengapa Belanda tidak terkena ilmu ini dan bisa mencengkram Pulau Jawa ada salah satu Argumen bahwa mereka juga punya Pendekar Pendekar Lokal inlander yang bekerja untuk menjaga Tuan Belandanya. Belanda menguasai Uang, bisnis perdagangan dari Hindia Belanda ke Eropa. Hal yang tidak dikuasai para Pendekar Pendekar Lokal. Maka Transaksi dimana Tuan Tuan Belanda perlu Penjagaan Lahir Batin ini ditukar denga uang, wanita dan jabatan yang diterima para Pendekar Lokal. Inilah alasan Orang Belanda Tidak Tersentuh.

 Jika membahas bagian Klenik Jawa maka akan ada pembahasan mengenai Adanya Jenis Santet yang bisa memberesken tanpa menyentuh. Sebutanya bermacam macam dengan Nama nama yang terdengar Menyeramkan.



Namun sebagian ada yang percaya dan sebagian lagi tidak percaya bahwa hal itu ada. Bahkan jika dilogika apabila hal itu ada kenapa Belanda bisa mencengkram Pulau Jawa. Bukankah jika ilmu ini ada minimal pembesar pembesarnya, gubernur Jendralnya  bisa diamanken tanpa menyentuh.

Sudut pandang seperti ini bahawa ilmu ini ada dan tidak masih kurang mendalam, karna jika tidak ada kenapa menjadi rahasia umum bahwa itu ada, sementara jika ada kenapa Kesultanan/Kasunanan orang Jawa kalah oleh Belanda.


Bahkan di Jaman Majapahit orang orangnya banyak membuat teknologi teknologi menempa Senjata untuk mengalahkan lawanya seperti diciptakanya jenis2  Pedang Keris yang mengandung bahan2 efektif melumpuhkan lawan dan membuat meriam Cetbang berarti mengamanken dan memberesken lawan tanpa menyentuh bukan sebuah solusi.


Belanda kurang bagaimana menindas Para Inlander dan menbuat sakit hati, karna dari sakit hati tadilah orang akan nekat membalas. Nyatanya para Gubernur Jendral Belanda tidak tersentuh apa apa. Bagi para penganut asas tidak yakin keberadaan adanya Santet bukti bukti ini sangat kuat dan meyakinkan bahwa memang tidak ada.


Namun kata kunci Sakit Hati dan Nekat terabaikan bahwa inilah kuncinya, sebab ketika akan memberesken tanpa meyentuh maka Ikrarnya pada Pihak yang dimintai Bantuan tidak main main, perlu Tumbal dan sejenisnya hal yang tentunya hanya orang yang sudah gelap mata yang sanggup melakukanya meskipun tetap saja bagi sebagian besar orang alasan ini masih kurang masuk logika.


Kembali kepembahasan mengapa Belanda tidak terkena ilmu ini dan bisa mencengkram Pulau Jawa  ada salah satu Argumen bahwa mereka juga punya  Pendekar Pendekar Lokal inlander yang bekerja untuk menjaga Tuan Belandanya. Belanda menguasai Uang, bisnis perdagangan dari Hindia Belanda ke Eropa. Hal yang tidak dikuasai para Pendekar Pendekar Lokal. Maka Transaksi dimana Tuan Tuan Belanda perlu Penjagaan Lahir Batin ini ditukar denga uang, wanita dan jabatan  yang diterima para Pendekar Lokal. Inilah alasan Orang Belanda Tidak Tersentuh.

15 October 2026

πŸ“ŒSejarah Lagu "Buku Ini Aku Pinjam" (1988) Lagu "Buku Ini Aku Pinjam" baru dirilis tujuh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1988. • Album: Masuk ke dalam album bertajuk 1910. Judul album ini diambil dari angka tanggal tragedi kecelakaan kereta api maut di Bintaro (19 Oktober 1987). • Kisah di Baliknya: Lagu ini diciptakan Iwan Fals secara tidak sengaja sewaktu ia berkuliah. Inspirasinya datang saat melihat seorang anak SMA yang sedang menunggu temannya di depan kampus untuk meminjamkan buku pelajaran. • Sisi Lain Iwan Fals: Di saat Iwan Fals lebih dikenal dengan lagu-lagu protes politik yang garang dan kritis, lagu ini membuktikan kejeniusannya dalam menulis lagu bertema cinta remaja yang sederhana, puitis, dan menyentuh hati. Secara garis besar, album Sarjana Muda (1981) adalah gerbang utama yang mengenalkan Iwan Fals ke publik luas, sementara lagu "Buku Ini Aku Pinjam" (1988) menjadi penegas bahwa ia juga seorang maestro lagu romantis yang luar biasa. #bukuiniakupinjam

 πŸ“ŒSejarah Lagu "Buku Ini Aku Pinjam" (1988)


Lagu "Buku Ini Aku Pinjam" baru dirilis tujuh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1988.



• Album: Masuk ke dalam album bertajuk 1910. Judul album ini diambil dari angka tanggal tragedi kecelakaan kereta api maut di Bintaro (19 Oktober 1987).


• Kisah di Baliknya: Lagu ini diciptakan Iwan Fals secara tidak sengaja sewaktu ia berkuliah. Inspirasinya datang saat melihat seorang anak SMA yang sedang menunggu temannya di depan kampus untuk meminjamkan buku pelajaran.


• Sisi Lain Iwan Fals: Di saat Iwan Fals lebih dikenal dengan lagu-lagu protes politik yang garang dan kritis, lagu ini membuktikan kejeniusannya dalam menulis lagu bertema cinta remaja yang sederhana, puitis, dan menyentuh hati.


Secara garis besar, album Sarjana Muda (1981) adalah gerbang utama yang mengenalkan Iwan Fals ke publik luas, sementara lagu "Buku Ini Aku Pinjam" (1988) menjadi penegas bahwa ia juga seorang maestro lagu romantis yang luar biasa.


#bukuiniakupinjam

Setelah Kolonel Soetarto tewas pada 2 Juli 1948 oleh seorang penembak misterius, situasi berkembang genting di kota Solo. Terjadi beberapa kali peristiwa penculikan. Pagi hari, 1 September, dua warga Kampung Sudiroprajan diculik. Slamet Widjaja dan Pardijo, aktivis FDR Solo, semula hendak bertemu pegawai PAM (Pengawas Aliran Masyarakat) Alip Hartojo. Sesuai perjanjian mereka akan bertemu di Restoran Mien Satoe. Namun ketika mereka bertemu di perempatan Warung Pelem, Slamet dan Pardijo dinaikkan ke sebuah truk tentara yang telah menunggu di sebelah utara perempatan. Mereka kemudian dibawa ke Pabrik Gula Tasikmadu. Ternyata Alip Hartojo adalah seorang intel. Kemudian Letkol. Soejoto, Komandan Brigade VIII Senopati, berusaha mencari keberadaan mereka. Pada 7 September, diutus 5 perwira, salah satunya adalah Komandan Batalyon Esmara Sugeng. Mereka menuju Srambatan, di Markas Brigade Siliwangi, karena kabarnya ditahan di markas itu. Namun mereka juga hilang, tak ada kabarnya. Sehari kemudian Soeadi mengirim Letkol. Suharman untuk mencari tahu. Tapi Suharman juga tidak pernah kembali. Tentu saja Soeadi menjadi sangat marah, perwiranya hilang seorang demi seorang. Kemudian tanggal 10 September Soeadi mengeluarkan ultimatum kepada Siliwangi, selambatnya pada 13 September, pukul 14.00, orang-orang yang hilang itu harus dibebaskan. Jika tidak, serangan akan dilakukan (Harry A. Poeze, 2011:115-116). Konflik terbuka antara Senopati dan Siliwangi, tak terhindarkan lagi. Sekitar pukul 12.30, Mayor Soetarno, Komandan Batalyon dalam Brigade TLRI dari Senopati, dengan sebuah truk menuju Srambatan, bermaksud hendak melihat situasi. “Ketika turun dari truk, ia disambut dengan tembakan. Ia dan beberapa beberapa orang pengawalnya tewas di tempat.” Kesabaran Soeadi sudah habis. Pagi hari, 17 September, ia mulai melakukan penyerangan. Garis pertahanan pertama pasukan Barisan Banteng berhasil direbut. Petang hari, pertempuran berhenti. Keesokan harinya, pertempuran berlanjut di dalam kota. Tapi medan pertempuran bergeser ke arah selatan. Selama beberapa hari berlangsung konflik terbuka antara Senopati/TLRI dan Siliwangi suasana kota Solo sepi. Seorang wartawan “Pacific” menulis: Solo sepi. Sejauh mata memandang, di lorong-lorong yang biasanya ramai, banyak mobil lalu-lalang, becak berbaris dan andong beriring-iring, sepeda laki dan perempuan bergandeng-gandeng, sore ini kelihatan sepi… Sedangkan reporter “Sin Po” melaporkan situasi kota Solo tanggal 19 September, … suasana jalan-jalan sangat sepi, hanya ada satu-dua andong dan becak saja. Penduduk tetap berada di dalam rumah, toko-toko dan pasar-pasar umumnya masih tutup (Harry A. Poeze, 2011:115-136).

 Setelah Kolonel Soetarto tewas pada 2 Juli 1948 oleh seorang penembak misterius, situasi berkembang genting di kota Solo. Terjadi beberapa kali peristiwa penculikan. 



Pagi hari, 1 September, dua warga Kampung Sudiroprajan diculik. Slamet Widjaja dan Pardijo, aktivis FDR Solo, semula hendak bertemu pegawai PAM (Pengawas Aliran Masyarakat) Alip Hartojo. Sesuai perjanjian mereka akan bertemu di Restoran Mien Satoe. Namun ketika mereka bertemu di perempatan Warung Pelem, Slamet dan Pardijo dinaikkan ke sebuah truk tentara yang telah menunggu di sebelah utara perempatan. Mereka kemudian dibawa ke Pabrik Gula Tasikmadu. Ternyata Alip Hartojo adalah seorang intel.


Kemudian Letkol. Soejoto, Komandan Brigade VIII Senopati, berusaha mencari keberadaan mereka. Pada 7 September, diutus 5 perwira, salah satunya adalah Komandan Batalyon Esmara Sugeng. Mereka menuju Srambatan, di Markas Brigade Siliwangi, karena kabarnya ditahan di markas itu. Namun mereka juga hilang, tak ada kabarnya. Sehari kemudian Soeadi mengirim Letkol. Suharman untuk mencari tahu. Tapi Suharman juga tidak pernah kembali.


Tentu saja Soeadi menjadi sangat marah, perwiranya hilang seorang demi seorang. Kemudian tanggal 10 September Soeadi mengeluarkan ultimatum kepada Siliwangi, selambatnya pada 13 September, pukul 14.00, orang-orang yang hilang itu harus dibebaskan. Jika tidak, serangan akan dilakukan (Harry A. Poeze, 2011:115-116). 


Konflik terbuka antara Senopati dan Siliwangi, tak terhindarkan lagi. Sekitar pukul 12.30, Mayor Soetarno, Komandan Batalyon dalam Brigade TLRI dari Senopati, dengan sebuah truk menuju Srambatan, bermaksud hendak melihat situasi. “Ketika turun dari truk, ia disambut dengan tembakan. Ia dan beberapa beberapa orang pengawalnya tewas di tempat.”


Kesabaran Soeadi sudah habis. Pagi hari, 17 September, ia mulai melakukan penyerangan. Garis pertahanan pertama pasukan Barisan Banteng berhasil direbut. Petang hari, pertempuran berhenti. Keesokan harinya, pertempuran berlanjut di dalam kota. Tapi medan pertempuran bergeser ke arah selatan.

Selama beberapa hari berlangsung konflik terbuka antara Senopati/TLRI dan Siliwangi suasana kota Solo sepi. 


Seorang wartawan “Pacific” menulis: Solo sepi. Sejauh mata memandang, di lorong-lorong yang biasanya ramai, banyak mobil lalu-lalang, becak berbaris dan andong beriring-iring, sepeda laki dan perempuan bergandeng-gandeng, sore ini kelihatan sepi…


Sedangkan reporter “Sin Po” melaporkan situasi kota Solo tanggal 19 September, … suasana jalan-jalan sangat sepi, hanya ada satu-dua andong dan becak saja. Penduduk tetap berada di dalam rumah, toko-toko dan pasar-pasar umumnya masih tutup (Harry A. Poeze, 2011:115-136).


Sumber ; Melek Sejarah

Rebutan ingin jadi raja sudah terjadi sejak zaman meninggalnya Amangkurat I, ketika itu Pangeran Puger dan Raden Mas Rahmat sama-sama ikrar jadi raja Perpecahan di tubuh Mataram Islam bisa dilacak sejak mangkatkanya Amangkurat I di masa pemberontakan Trunojoyo. Ketika itu, Pangeran Puger yang berusaha mempertahankan Keraton Plered dari pemberontakan mengangkat diri sebagai Sunan Ngalaga sementara di sisi lain Raden Mas Rahmat ditunjuk sebagai pengganti sang ayah dengan gelar Amangkurat II. Baik Pangeran Puger maupun Raden Mas Rahmat sama-sama putra Amangkurat I tapi dari ibu yang berbeda. Pangeran Puger adalah putra Amangkurat I dengan Ratu Wetan, permaisuri keduanya, yang berasal dari Kajoran dan masih keturunan Kesultanan Pajang. Dia lahir dengan nama Raden Mas Drajat lalu diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Puger. Sementara Raden Mas Rahmat adalah putra Amangkurat I dari Ratu Kulon. Setelah ibunya meninggal dunia dia dibesarkan di Surabaya oleh kakeknya dari pihak ibu, Pangeran Pekik. Tapi jalan Pangeran Puger menjadi raja tak mulus karena keluarga ibunya dituding menjadi pendukung pemberontakan Trunojoyo. Amangkurat I pun mencabut gelar putra mahkota darinya dan memberikannya kepada Raden Mas Rahmat. Pemberontakan Trunojoyo semakin dahsyat. Amangkurat I pun melarikan diri ke arah barat ditemani oleh putra mahkota. Dalam kondisi inilah Pangeran Puger ingin membuktikan bahwa tidak semua anggota keluarga Kajoran memihak pangeran dari Madura itu. Dia berjuang mati-matian untuk mempertahankan Keraton Plered. Tapi sayang, Trunojoyo terlalu kuat untuk Puger. Dia pun menyingkir ke Desa Jenar. Di sana Pangeran Puger membangun Keraton Purwakanda dan mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Susuhunan ing Ngalaga atau Sunan Ngalaga. Setelah memporak-porandakan Plered, Trunojoyo dan pasukannya kembali ke Jawa Timur. Saat itulah Sunan Ngalaga kembali ke keraton dan memproklamasikan dirinya sebagai raja baru Mataram. Tapi di saat bersamaan, Amangkurat I yang kemudian mangkat dalam pelarian telah mengangkat Raden Mas Rahmat sebagai penggantinya. Dia bergelar Amangkurat II. Karena Plered diduduki oleh Puger, selain itu juga kondisinya sudah porak-poranda, Amangkurat II memutuskan mencari tempat baru untuk mendirikan keraton baru. Berdirilah Keraton Kartasura, tepatnya pada 1680. Amangkurat II sejatinya sempat meminda adiknya, Pangeran Puger alias Sunan Ngalaga, untuk mendukung sang kakak. Tapi dia menolak dan terjadilah perang saudara. Hasilnya, Sunan Ngalaga harus menyerah dan pada akhirnya mengakui kedaulatan Amangkurat II sebagai raja Mataram Islam. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034319335/saat-pangeran-puger-dan-raden-mas-rahmat-sama-sama-menobatkan-diri-jadi-raja-mataram-usai-meninggalnya-amangkurat-i #mataramislam #amangkurat

 Rebutan ingin jadi raja sudah terjadi sejak zaman meninggalnya Amangkurat I, ketika itu Pangeran Puger dan Raden Mas Rahmat sama-sama ikrar jadi raja


Perpecahan di tubuh Mataram Islam bisa dilacak sejak mangkatkanya Amangkurat I di masa pemberontakan Trunojoyo. Ketika itu, Pangeran Puger yang berusaha mempertahankan Keraton Plered dari pemberontakan mengangkat diri sebagai Sunan Ngalaga sementara di sisi lain Raden Mas Rahmat ditunjuk sebagai pengganti sang ayah dengan gelar Amangkurat II.


Baik Pangeran Puger maupun Raden Mas Rahmat sama-sama putra Amangkurat I tapi dari ibu yang berbeda.



Pangeran Puger adalah putra Amangkurat I dengan Ratu Wetan, permaisuri keduanya, yang berasal dari Kajoran dan masih keturunan Kesultanan Pajang. Dia lahir dengan nama Raden Mas Drajat lalu diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Puger. Sementara Raden Mas Rahmat adalah putra Amangkurat I dari Ratu Kulon. Setelah ibunya meninggal dunia dia dibesarkan di Surabaya oleh kakeknya dari pihak ibu, Pangeran Pekik.


Tapi jalan Pangeran Puger menjadi raja tak mulus karena keluarga ibunya dituding menjadi pendukung pemberontakan Trunojoyo. Amangkurat I pun mencabut gelar putra mahkota darinya dan memberikannya kepada Raden Mas Rahmat.


Pemberontakan Trunojoyo semakin dahsyat. Amangkurat I pun melarikan diri ke arah barat ditemani oleh putra mahkota. Dalam kondisi inilah Pangeran Puger ingin membuktikan bahwa tidak semua anggota keluarga Kajoran memihak pangeran dari Madura itu. Dia berjuang mati-matian untuk mempertahankan Keraton Plered.


Tapi sayang, Trunojoyo terlalu kuat untuk Puger. Dia pun menyingkir ke Desa Jenar. Di sana Pangeran Puger membangun Keraton Purwakanda dan mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Susuhunan ing Ngalaga atau Sunan Ngalaga.


Setelah memporak-porandakan Plered, Trunojoyo dan pasukannya kembali ke Jawa Timur. Saat itulah Sunan Ngalaga kembali ke keraton dan memproklamasikan dirinya sebagai raja baru Mataram.


Tapi di saat bersamaan, Amangkurat I yang kemudian mangkat dalam pelarian telah mengangkat Raden Mas Rahmat sebagai penggantinya. Dia bergelar Amangkurat II.


Karena Plered diduduki oleh Puger, selain itu juga kondisinya sudah porak-poranda, Amangkurat II memutuskan mencari tempat baru untuk mendirikan keraton baru. Berdirilah Keraton Kartasura, tepatnya pada 1680.


Amangkurat II sejatinya sempat meminda adiknya, Pangeran Puger alias Sunan Ngalaga, untuk mendukung sang kakak. Tapi dia menolak dan terjadilah perang saudara.


Hasilnya, Sunan Ngalaga harus menyerah dan pada akhirnya mengakui kedaulatan Amangkurat II sebagai raja Mataram Islam.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034319335/saat-pangeran-puger-dan-raden-mas-rahmat-sama-sama-menobatkan-diri-jadi-raja-mataram-usai-meninggalnya-amangkurat-i


#mataramislam #amangkurat


Sumber : Intisari

14 October 2026

The Emperor's Dwarf/Abdi Dalem Palawija Walter Bentley Woodbury (1834 - 1885) tiba di Pulau Jawa sekitar tahun 1857. Bersama dengan sesama fotografer asal Inggris lainnya, James Page (1833 - 1865), ia mendirikan studio foto di Batavia. The Emperor's Dwarf atau Abdi Dalem Palawija, adalah salah satu hasil jepretan mereka, sebelum Woodbury kembali ke Inggris tahun 1863 karena sakit. Abdi Dalem Palawija sendiri merupakan abdi ndalem yang terdiri atas orang yang bertubuh cebol (dwarf), albino, pincang atau bungkuk. Fungsi mereka adalah sebagai pemberi petuah, mengiringi raja dan menjadi perangkat upacara tradisional Jawa. Selain itu yang paling utama adalah menjadi perlambang jiwa sosial seorang raja serta dipercaya dapat meningkatkan kekuatan magis beliau. πŸ“– - National Heritage Board of Singapore roots.gov.sg - Palawija, Pengiring Kesayangan Raja Jawa historia.id 🎞 Java, a foto album by Woodbury and Page

 The Emperor's Dwarf/Abdi Dalem Palawija



Walter Bentley Woodbury (1834 - 1885) tiba di Pulau Jawa sekitar tahun 1857. Bersama dengan sesama fotografer asal Inggris lainnya, James Page (1833 - 1865), ia mendirikan studio foto di Batavia. The Emperor's Dwarf atau Abdi Dalem Palawija, adalah salah satu hasil jepretan mereka, sebelum Woodbury kembali ke Inggris tahun 1863 karena sakit. 


Abdi Dalem Palawija sendiri merupakan abdi ndalem yang terdiri atas orang yang bertubuh cebol (dwarf), albino, pincang atau bungkuk. Fungsi mereka adalah sebagai pemberi petuah, mengiringi raja dan menjadi perangkat upacara tradisional Jawa. Selain itu yang paling utama adalah menjadi perlambang jiwa sosial seorang raja serta dipercaya dapat meningkatkan kekuatan magis beliau.


πŸ“–

- National Heritage Board of Singapore

   roots.gov.sg

- Palawija, Pengiring Kesayangan Raja Jawa

   historia.id


🎞 

Java, a foto album by Woodbury and Page


Sumber : Andre Owen

Anggota 1st Battalion Regiment Stoottroepen sedang berpose di dekat papan penunjuk arah, dalam perjalanannya dari Jakarta ke Cilacap, pada Agresi Militer Belanda Pertama, 23 Agustus 1947. πŸ“· G. Th. Vermeulen/NIMH

 Anggota 1st Battalion Regiment Stoottroepen sedang berpose di dekat papan penunjuk arah, dalam perjalanannya dari Jakarta ke Cilacap, pada Agresi Militer Belanda Pertama, 23 Agustus 1947. πŸ“· G. Th. Vermeulen/NIMH



Sumber : Andre Owen

Seorang perempuan kerdil melahirkan dengan bantuan operasi di klinik Kadipolo, Surakarta, 1915. Paling kanan adalah Dr. Radjiman Wedyodipuro. πŸ“· KITLV

 Seorang perempuan kerdil melahirkan dengan bantuan operasi di klinik Kadipolo, Surakarta, 1915. Paling kanan adalah Dr. Radjiman Wedyodipuro. πŸ“· KITLV



Sumber : Andre Owen

Mayjen (Purn.) Mohamed Ahmed Alwan—Guru Besar para perwira pengintai di balik garis musuh—adalah salah satu pahlawan dari Batalion Pengintai ke-9 yang mengukir lembaran luar biasa dalam sejarah Perang Oktober 1973 yang gemilang. Pada hari-hari pertama perang, ia ditugaskan melakukan misi pengintaian di balik garis musuh. Tugas yang awalnya dijadwalkan hanya berlangsung selama 6 hari tersebut, ternyata berlanjut hingga 23 April 1974—sekitar 7 bulan kemudian! Bayangkan situasinya: perang telah usai, rekan-rekan seperjuangan telah kembali ke rumah masing-masing, para perwira bergantian mengambil cuti, sementara ia seorang diri masih bertahan di kedalaman Semenanjung Sinai, tepatnya di area Celah Mitla (Mitla Pass), menjalankan misinya di tengah kondisi yang luar biasa ekstrem dan jauh dari sorotan publik. Selama berbulan-bulan, sang ayah tidak mengetahui pasti nasib putranya. Ia rutin mendatangi bagian administrasi perwira di Angkatan Bersenjata untuk mencari kabar, dan selalu mendapat jawaban bahwa putranya masih hidup, namun belum menyelesaikan tugasnya. Suatu ketika, para perwira merasa iba kepada sang ayah yang telah lama menanti. Mereka memintanya mengajukan satu pertanyaan yang hanya diketahui jawabannya oleh sang putra, agar mereka bisa menyampaikannya untuk menenangkan hati sang ayah. Hingga akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Sang ayah mendengar suara putranya sendiri menjawab pertanyaan tersebut langsung dari medan operasi, setelah penantian panjang yang diliputi kecemasan dan harapan. Begitulah kisah nyata para prajurit pengintai: tentara dan perwira yang bekerja dalam kesunyian, menghadapi berbagai bahaya besar yang jarang diketahui orang banyak, sementara keputusan-keputusan krusial di medan perte*mpuran justru bergantung pada informasi akurat yang mereka berikan. Semoga Allah merahmati Mayjen Mohamed Ahmed Alwan, yang berpulang ke rahmatullah pada 20 Maret 2020. Kisahnya tetap abadi sebagai pengingat akan pengorbanan besar para prajurit Angkatan Bersenjata Mesir yang menuntaskan misi suci mereka jauh dari sorotan lampu kemerdekaan. Hormat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pahlawan pengintai, serta setiap insan yang turut mengukir kemenangan Perang Oktober 1973.

 Mayjen (Purn.) Mohamed Ahmed Alwan—Guru Besar para perwira pengintai di balik garis musuh—adalah salah satu pahlawan dari Batalion Pengintai ke-9 yang mengukir lembaran luar biasa dalam sejarah Perang Oktober 1973 yang gemilang.



Pada hari-hari pertama perang, ia ditugaskan melakukan misi pengintaian di balik garis musuh. Tugas yang awalnya dijadwalkan hanya berlangsung selama 6 hari tersebut, ternyata berlanjut hingga 23 April 1974—sekitar 7 bulan kemudian!


Bayangkan situasinya: perang telah usai, rekan-rekan seperjuangan telah kembali ke rumah masing-masing, para perwira bergantian mengambil cuti, sementara ia seorang diri masih bertahan di kedalaman Semenanjung Sinai, tepatnya di area Celah Mitla (Mitla Pass), menjalankan misinya di tengah kondisi yang luar biasa ekstrem dan jauh dari sorotan publik.


Selama berbulan-bulan, sang ayah tidak mengetahui pasti nasib putranya. Ia rutin mendatangi bagian administrasi perwira di Angkatan Bersenjata untuk mencari kabar, dan selalu mendapat jawaban bahwa putranya masih hidup, namun belum menyelesaikan tugasnya.


Suatu ketika, para perwira merasa iba kepada sang ayah yang telah lama menanti. Mereka memintanya mengajukan satu pertanyaan yang hanya diketahui jawabannya oleh sang putra, agar mereka bisa menyampaikannya untuk menenangkan hati sang ayah.


Hingga akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Sang ayah mendengar suara putranya sendiri menjawab pertanyaan tersebut langsung dari medan operasi, setelah penantian panjang yang diliputi kecemasan dan harapan.


Begitulah kisah nyata para prajurit pengintai: tentara dan perwira yang bekerja dalam kesunyian, menghadapi berbagai bahaya besar yang jarang diketahui orang banyak, sementara keputusan-keputusan krusial di medan perte*mpuran justru bergantung pada informasi akurat yang mereka berikan.


Semoga Allah merahmati Mayjen Mohamed Ahmed Alwan, yang berpulang ke rahmatullah pada 20 Maret 2020. Kisahnya tetap abadi sebagai pengingat akan pengorbanan besar para prajurit Angkatan Bersenjata Mesir yang menuntaskan misi suci mereka jauh dari sorotan lampu kemerdekaan.


Hormat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pahlawan pengintai, serta setiap insan yang turut mengukir kemenangan Perang Oktober 1973.

Ia pernah menjadi salah satu orang paling berkuasa di Angkatan Bersenjata Indonesia. Namun, peristiwa berdarah 30 September 1965 mengubah hidupnya untuk selamanya. Namanya Laksamana Udara Omar Dhani, seorang perwira yang dipercaya Presiden Soekarno untuk memimpin Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Omar Dhani dikenal sebagai sosok yang sangat loyal kepada Presiden Soekarno. Pada masa itu, Indonesia sedang berada dalam ketegangan politik antara Angkatan Darat, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan berbagai kekuatan politik lainnya. Hubungan Omar Dhani dengan PKI menjadi sorotan karena sikap politiknya yang mendukung kebijakan Presiden Soekarno, termasuk gagasan pembentukan Angkatan Kelima, yakni rencana mempersenjatai buruh dan tani. Gagasan tersebut didorong oleh PKI dan mendapat dukungan dari sejumlah tokoh, termasuk Omar Dhani. Namun, pimpinan Angkatan Darat menentangnya karena khawatir pembentukan kekuatan bersenjata baru akan mengancam keseimbangan kekuasaan militer. Ketegangan semakin memuncak menjelang akhir September 1965. Malam 30 September 1965 menjadi titik balik yang menghancurkan karier Omar Dhani. Sekelompok pasukan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September menculik sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Enam jenderal dan seorang perwira menjadi korban pembunuhan dalam rangkaian peristiwa tersebut. Salah satu tempat yang kemudian menjadi pusat perhatian adalah Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, yang berada di bawah lingkungan Angkatan Udara. Di kawasan sekitar pangkalan inilah sejumlah tokoh Gerakan 30 September berkumpul. Presiden Soekarno juga berada di Halim pada 1 Oktober 1965. Keberadaan para pemimpin gerakan di kawasan Halim menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana Omar Dhani mengetahui dan terlibat dalam peristiwa tersebut. Pada 1 Oktober 1965, Omar Dhani mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan dukungan terhadap Gerakan 30 September, yang ketika itu mengklaim bertindak untuk menyelamatkan Presiden Soekarno dari ancaman Dewan Jenderal. Pernyataan inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar penting tuduhan keterlibatannya. Ketika Mayor Jenderal Soeharto mulai mengambil alih kendali keamanan dan menumpas Gerakan 30 September, posisi Omar Dhani semakin terdesak. Angkatan Udara mendapat sorotan tajam, terutama karena keterkaitan lokasi gerakan dengan kawasan Halim. Namun, penting dicatat bahwa keterlibatan sejumlah personel AURI tidak berarti seluruh Angkatan Udara terlibat dalam gerakan tersebut. Setelah kekuasaan politik Presiden Soekarno melemah, Omar Dhani kehilangan jabatannya sebagai Panglima Angkatan Udara pada 1965. Ia kemudian ditangkap dan diadili oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub). Pada 1966, Omar Dhani dijatuhi hukuman mati atas tuduhan keterlibatannya dalam Gerakan 30 September. Namun, hukuman tersebut tidak pernah dilaksanakan. Hukumannya kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup, sebelum akhirnya ia memperoleh pembebasan pada 1995 setelah menjalani sekitar 29 tahun penahanan. Omar Dhani meninggal dunia pada 24 Juli 2009 dalam usia 85 tahun. Lantas, apakah Omar Dhani benar-benar anggota PKI atau salah satu perancang G30S? Di sinilah sejarah menjadi lebih rumit. Omar Dhani memang memiliki kedekatan politik dengan Soekarno, mendukung gagasan Angkatan Kelima, dan mengeluarkan pernyataan yang mendukung Gerakan 30 September. Namun, kedekatan politik dengan PKI tidak otomatis membuktikan bahwa dirinya merupakan anggota PKI. Begitu pula, pernyataannya pada 1 Oktober 1965 tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ia ikut merencanakan penculikan dan pembunuhan para jenderal. Pengadilan militer pada masa Orde Baru menyatakan Omar Dhani bersalah. Akan tetapi, proses pengadilan dan kesimpulan mengenai keterlibatan berbagai tokoh dalam G30S tetap menjadi bahan kajian serta perdebatan para sejarawan. Pada akhirnya, Omar Dhani menjadi salah satu tokoh militer yang mengalami kejatuhan paling dramatis setelah peristiwa 1965. Dari seorang panglima yang dipercaya Presiden Soekarno, ia berubah menjadi tahanan politik yang menghabiskan hampir tiga dekade hidupnya di balik jeruji besi. Kisah Omar Dhani menjadi pengingat bahwa dalam pergolakan politik, keputusan dan keberpihakan seorang pemimpin dapat menentukan nasibnya selama puluhan tahun. #Kisah #Sejarah #Viral

 Ia pernah menjadi salah satu orang paling berkuasa di Angkatan Bersenjata Indonesia. Namun, peristiwa berdarah 30 September 1965 mengubah hidupnya untuk selamanya.



Namanya Laksamana Udara Omar Dhani, seorang perwira yang dipercaya Presiden Soekarno untuk memimpin Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).


Omar Dhani dikenal sebagai sosok yang sangat loyal kepada Presiden Soekarno. Pada masa itu, Indonesia sedang berada dalam ketegangan politik antara Angkatan Darat, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan berbagai kekuatan politik lainnya.


Hubungan Omar Dhani dengan PKI menjadi sorotan karena sikap politiknya yang mendukung kebijakan Presiden Soekarno, termasuk gagasan pembentukan Angkatan Kelima, yakni rencana mempersenjatai buruh dan tani.


Gagasan tersebut didorong oleh PKI dan mendapat dukungan dari sejumlah tokoh, termasuk Omar Dhani. 


Namun, pimpinan Angkatan Darat menentangnya karena khawatir pembentukan kekuatan bersenjata baru akan mengancam keseimbangan kekuasaan militer.

Ketegangan semakin memuncak menjelang akhir September 1965.


Malam 30 September 1965 menjadi titik balik yang menghancurkan karier Omar Dhani.

Sekelompok pasukan yang menamakan dirinya Gerakan 30 September menculik sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. 


Enam jenderal dan seorang perwira menjadi korban pembunuhan dalam rangkaian peristiwa tersebut.


Salah satu tempat yang kemudian menjadi pusat perhatian adalah Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, yang berada di bawah lingkungan Angkatan Udara.


Di kawasan sekitar pangkalan inilah sejumlah tokoh Gerakan 30 September berkumpul. Presiden Soekarno juga berada di Halim pada 1 Oktober 1965.


Keberadaan para pemimpin gerakan di kawasan Halim menimbulkan pertanyaan besar mengenai sejauh mana Omar Dhani mengetahui dan terlibat dalam peristiwa tersebut.


Pada 1 Oktober 1965, Omar Dhani mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan dukungan terhadap Gerakan 30 September, yang ketika itu mengklaim bertindak untuk menyelamatkan Presiden Soekarno dari ancaman Dewan Jenderal.


Pernyataan inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar penting tuduhan keterlibatannya.


Ketika Mayor Jenderal Soeharto mulai mengambil alih kendali keamanan dan menumpas Gerakan 30 September, posisi Omar Dhani semakin terdesak.


Angkatan Udara mendapat sorotan tajam, terutama karena keterkaitan lokasi gerakan dengan kawasan Halim.


Namun, penting dicatat bahwa keterlibatan sejumlah personel AURI tidak berarti seluruh Angkatan Udara terlibat dalam gerakan tersebut.


Setelah kekuasaan politik Presiden Soekarno melemah, Omar Dhani kehilangan jabatannya sebagai Panglima Angkatan Udara pada 1965.

Ia kemudian ditangkap dan diadili oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub).


Pada 1966, Omar Dhani dijatuhi hukuman mati atas tuduhan keterlibatannya dalam Gerakan 30 September.


Namun, hukuman tersebut tidak pernah dilaksanakan.


Hukumannya kemudian diubah menjadi penjara seumur hidup, sebelum akhirnya ia memperoleh pembebasan pada 1995 setelah menjalani sekitar 29 tahun penahanan.


Omar Dhani meninggal dunia pada 24 Juli 2009 dalam usia 85 tahun.


Lantas, apakah Omar Dhani benar-benar anggota PKI atau salah satu perancang G30S?

Di sinilah sejarah menjadi lebih rumit.


Omar Dhani memang memiliki kedekatan politik dengan Soekarno, mendukung gagasan Angkatan Kelima, dan mengeluarkan pernyataan yang mendukung Gerakan 30 September.


Namun, kedekatan politik dengan PKI tidak otomatis membuktikan bahwa dirinya merupakan anggota PKI.


Begitu pula, pernyataannya pada 1 Oktober 1965 tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ia ikut merencanakan penculikan dan pembunuhan para jenderal.


Pengadilan militer pada masa Orde Baru menyatakan Omar Dhani bersalah. Akan tetapi, proses pengadilan dan kesimpulan mengenai keterlibatan berbagai tokoh dalam G30S tetap menjadi bahan kajian serta perdebatan para sejarawan.


Pada akhirnya, Omar Dhani menjadi salah satu tokoh militer yang mengalami kejatuhan paling dramatis setelah peristiwa 1965.


Dari seorang panglima yang dipercaya Presiden Soekarno, ia berubah menjadi tahanan politik yang menghabiskan hampir tiga dekade hidupnya di balik jeruji besi.


Kisah Omar Dhani menjadi pengingat bahwa dalam pergolakan politik, keputusan dan keberpihakan seorang pemimpin dapat menentukan nasibnya selama puluhan tahun.


#Kisah #Sejarah #Viral


Sumber : Bang Fit Ideas

Ir. Sakirman, elite PKI yang ditembak mati di Solo pada 1966 setelah G30S, faktanya dia adalah kakak kandung Jenderal S. Parman korban Gerakan 30 September 1965 Letnan Jenderal Siswondo Parman menjadi salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban kekejaman Gerakan 30 September 1965. Yang banyak orang tidak tahu, kakak kandung Jenderal Parman, Sakirman, adalah Politbiro Central Committe Partai Komunis Indonesia (PKI). Sakirman atau Insinyur Sakirman adalah salah seorang petinggi PKI senior ketika G30S meletus. Dia juga dikenal sebagai anggota PKI dari kalangan intelektual. Sakirman berasal dari keluarga berada. Ayahnya, Kromodihardjo, adalah seprang pengusaha sukses di Wonosobo yang disebut berasal dari keluarga Mangkunegaran. Tak heran jika Sakirman -- juga Parman -- bisa sekolah di sekolah terbaik pada masanya. Dia sempat mengenyam pendidikan di AMS B (sekarang SMA Negeri 3 Yogyakarta sebelum kemudian melanjutkan di Technische Hoge School (THS) yang sekarang menjadi Institut Teknolo Bandung (ITB). Begitulah Ir. Sakirman memperoleh intelektualitasnya. Pada 1950-awal, Aidit, Lukman, dan Sudisman menghidupkan lagi PKI yang babak belur pada 1948. Sakirman bergabung di dalamnya dan pada Pemilu 1955 dia lolos ke parlemen -- di sisi lain, sang adik, Siswondo Parman, kariernya semakin moncer di Angkatan Darat, bahkan pada 1960an, dia sudah menjadi jenderal intel kepercaya Ahmad Yani. Gerakan 30 September 1965 pun meletus dan Siswondo Parman menjadi salah satu korbannya. Di sisi lain, sang kakak, Sakirman, yang adalah orang penting di PKI, masuk daftar orang yang harus ditangkap. Setelah lari ke sana kemari, Sakirman akhirnya ditangkap di Solo pada Oktober 1966. Karena mencoba melarikan diri, Sakirman pun langsung ditembak mati. #sakirman #G30S #siswondoparman #sparman

 Ir. Sakirman, elite PKI yang ditembak mati di Solo pada 1966 setelah G30S, faktanya dia adalah kakak kandung Jenderal S. Parman korban Gerakan 30 September 1965



Letnan Jenderal Siswondo Parman menjadi salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban kekejaman Gerakan 30 September 1965. Yang banyak orang tidak tahu, kakak kandung Jenderal Parman, Sakirman, adalah Politbiro Central Committe Partai Komunis Indonesia (PKI).


Sakirman atau Insinyur Sakirman adalah salah seorang petinggi PKI senior ketika G30S meletus. Dia juga dikenal sebagai anggota PKI dari kalangan intelektual.


Sakirman berasal dari keluarga berada. Ayahnya, Kromodihardjo, adalah seprang pengusaha sukses di Wonosobo yang disebut berasal dari keluarga Mangkunegaran. Tak heran jika Sakirman -- juga Parman -- bisa sekolah di sekolah terbaik pada masanya.

Dia sempat mengenyam pendidikan di AMS B (sekarang SMA Negeri 3 Yogyakarta sebelum kemudian melanjutkan di Technische Hoge School (THS) yang sekarang menjadi Institut Teknolo Bandung (ITB). Begitulah Ir. Sakirman memperoleh intelektualitasnya.


Pada 1950-awal, Aidit, Lukman, dan Sudisman menghidupkan lagi PKI yang babak belur pada 1948. Sakirman bergabung di dalamnya dan pada Pemilu 1955 dia lolos ke parlemen -- di sisi lain, sang adik, Siswondo Parman, kariernya semakin moncer di Angkatan Darat, bahkan pada 1960an, dia sudah menjadi jenderal intel kepercaya Ahmad Yani.


Gerakan 30 September 1965 pun meletus dan Siswondo Parman menjadi salah satu korbannya. Di sisi lain, sang kakak, Sakirman, yang adalah orang penting di PKI, masuk daftar orang yang harus ditangkap.


Setelah lari ke sana kemari, Sakirman akhirnya ditangkap di Solo pada Oktober 1966. Karena mencoba melarikan diri, Sakirman pun langsung ditembak mati.


#sakirman #G30S #siswondoparman #sparman


Sumber : Abdul Roziq

13 October 2026

10 Oktober 1965: Lahirnya Kopkamtib, Komando Keamanan yang Menjadi Instrumen Kekuasaan Orde Baru 10 Oktober 1965 menjadi salah satu tanggal penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Pada masa setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S), dibentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), sebuah lembaga yang kelak memiliki pengaruh besar dalam kehidupan politik dan keamanan Indonesia selama pemerintahan Orde Baru. Pembentukan Kopkamtib berawal dari keputusan Presiden Soekarno pada 3 Oktober 1965 yang menugaskan Mayor Jenderal Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban setelah G30S. Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad, kemudian memimpin operasi tersebut. Kopkamtib dibentuk pada 10 Oktober 1965 dan keberadaannya kemudian dikukuhkan melalui Surat Keputusan No. 162/KOTI/1965 pada 12 November 1965. Pada tahap awal, Kopkamtib bertugas memulihkan keamanan, menindak pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam G30S, serta mengendalikan situasi politik yang semakin tidak stabil. Namun, seiring dengan menguatnya kekuasaan Soeharto, peran lembaga ini berkembang jauh melampaui penanganan keadaan darurat pasca-G30S. Kopkamtib menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan. Kedudukannya yang memiliki akses langsung ke pucuk kekuasaan, ditambah kewenangan operasional yang luas, membuat lembaga ini sangat berpengaruh dalam menentukan siapa yang dianggap sebagai ancaman terhadap negara dan pemerintahan. Sejumlah perwira militer dan intelijen memainkan peran penting dalam lingkungan kekuasaan tersebut. Mayjen Umar Wirahadikusumah, yang memimpin Kodam Jaya pada periode awal pasca-G30S, berperan dalam pengamanan Jakarta. Sementara itu, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, sebagai komandan RPKAD, memimpin pasukannya dalam operasi militer yang berkaitan dengan penumpasan G30S dan perluasan operasi ke sejumlah daerah. Di bidang intelijen, nama Brigjen Sutopo Juwono, Ali Moertopo, dan Yoga Soegama juga menonjol dalam perkembangan jaringan intelijen pada masa itu. Namun, kedudukan mereka tidak semuanya berada dalam struktur Kopkamtib yang sama. Ali Moertopo dikenal luas melalui Operasi Khusus atau Opsus, sedangkan Sutopo Juwono dan Yoga Soegama memiliki perjalanan jabatan tersendiri dalam badan intelijen negara. Karena itu, mereka lebih tepat dipahami sebagai bagian dari jaringan kekuasaan militer dan intelijen yang berkembang di sekitar pemerintahan Soeharto, bukan seluruhnya sebagai pejabat dengan jabatan yang sama di Kopkamtib. Memasuki era Orde Baru, Kopkamtib semakin berperan dalam pengendalian kehidupan politik masyarakat. Sejumlah tokoh militer bergantian memimpin lembaga ini, antara lain Jenderal Maraden Panggabean, Jenderal Soemitro, Laksamana Sudomo, dan Jenderal L. B. Moerdani, yang dikenal sebagai Benny Moerdani. Di bawah kepemimpinan para panglimanya, Kopkamtib memiliki kewenangan luas untuk menjalankan operasi keamanan, mengawasi kegiatan politik, membatasi demonstrasi, serta melakukan tindakan terhadap orang-orang yang dianggap mengancam stabilitas pemerintahan. Dalam praktiknya, kewenangan tersebut juga digunakan untuk mengawasi dan menekan kelompok oposisi, membatasi kebebasan pers, serta mengendalikan aktivitas masyarakat yang dinilai bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Akibatnya, Kopkamtib tidak hanya dikenal sebagai lembaga pemulihan keamanan, tetapi juga sebagai salah satu simbol kuatnya kontrol militer terhadap kehidupan sipil pada masa Orde Baru. Luasnya kewenangan lembaga ini menimbulkan kritik karena tindakan penangkapan, penahanan, dan pembatasan kebebasan politik kerap menimbulkan persoalan hak asasi manusia dan kepastian hukum. Setelah beroperasi selama lebih dari dua dekade, Kopkamtib akhirnya dibubarkan pada 5 September 1988. Pemerintah kemudian membentuk Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional (Bakorstanas) untuk menggantikan fungsi koordinasi stabilitas nasional yang sebelumnya dijalankan Kopkamtib. Di tingkat daerah, dibentuk pula Bakorstanasda. Pembubaran tersebut menandai berakhirnya keberadaan salah satu lembaga keamanan paling berpengaruh dalam sejarah Orde Baru. Meski namanya tidak lagi digunakan, sejarah Kopkamtib tetap menjadi bagian penting dalam memahami hubungan antara militer, kekuasaan politik, kebebasan sipil, dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Kopkamtib pada mulanya dibentuk dengan alasan memulihkan keamanan setelah krisis politik 1965. Namun, dalam perkembangannya, lembaga tersebut menjadi instrumen penting dalam konsolidasi kekuasaan Orde Baru. Sejarahnya memperlihatkan bagaimana sebuah lembaga yang dibentuk untuk menghadapi keadaan darurat dapat berkembang menjadi pusat pengawasan politik dan keamanan dengan pengaruh yang sangat besar. #Kisah #Sejarah #Viral #PakHarto

 10 Oktober 1965: Lahirnya Kopkamtib, Komando Keamanan yang Menjadi Instrumen Kekuasaan Orde Baru



10 Oktober 1965 menjadi salah satu tanggal penting dalam sejarah militer dan politik Indonesia. Pada masa setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S), dibentuk Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), sebuah lembaga yang kelak memiliki pengaruh besar dalam kehidupan politik dan keamanan Indonesia selama pemerintahan Orde Baru.


Pembentukan Kopkamtib berawal dari keputusan Presiden Soekarno pada 3 Oktober 1965 yang menugaskan Mayor Jenderal Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban setelah G30S. Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad, kemudian memimpin operasi tersebut. Kopkamtib dibentuk pada 10 Oktober 1965 dan keberadaannya kemudian dikukuhkan melalui Surat Keputusan No. 162/KOTI/1965 pada 12 November 1965. 


Pada tahap awal, Kopkamtib bertugas memulihkan keamanan, menindak pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam G30S, serta mengendalikan situasi politik yang semakin tidak stabil. Namun, seiring dengan menguatnya kekuasaan Soeharto, peran lembaga ini berkembang jauh melampaui penanganan keadaan darurat pasca-G30S.


Kopkamtib menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan. Kedudukannya yang memiliki akses langsung ke pucuk kekuasaan, ditambah kewenangan operasional yang luas, membuat lembaga ini sangat berpengaruh dalam menentukan siapa yang dianggap sebagai ancaman terhadap negara dan pemerintahan.


Sejumlah perwira militer dan intelijen memainkan peran penting dalam lingkungan kekuasaan tersebut. Mayjen Umar Wirahadikusumah, yang memimpin Kodam Jaya pada periode awal pasca-G30S, berperan dalam pengamanan Jakarta. Sementara itu, Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, sebagai komandan RPKAD, memimpin pasukannya dalam operasi militer yang berkaitan dengan penumpasan G30S dan perluasan operasi ke sejumlah daerah.


Di bidang intelijen, nama Brigjen Sutopo Juwono, Ali Moertopo, dan Yoga Soegama juga menonjol dalam perkembangan jaringan intelijen pada masa itu. Namun, kedudukan mereka tidak semuanya berada dalam struktur Kopkamtib yang sama. Ali Moertopo dikenal luas melalui Operasi Khusus atau Opsus, sedangkan Sutopo Juwono dan Yoga Soegama memiliki perjalanan jabatan tersendiri dalam badan intelijen negara. Karena itu, mereka lebih tepat dipahami sebagai bagian dari jaringan kekuasaan militer dan intelijen yang berkembang di sekitar pemerintahan Soeharto, bukan seluruhnya sebagai pejabat dengan jabatan yang sama di Kopkamtib. 


Memasuki era Orde Baru, Kopkamtib semakin berperan dalam pengendalian kehidupan politik masyarakat. Sejumlah tokoh militer bergantian memimpin lembaga ini, antara lain Jenderal Maraden Panggabean, Jenderal Soemitro, Laksamana Sudomo, dan Jenderal L. B. Moerdani, yang dikenal sebagai Benny Moerdani.


Di bawah kepemimpinan para panglimanya, Kopkamtib memiliki kewenangan luas untuk menjalankan operasi keamanan, mengawasi kegiatan politik, membatasi demonstrasi, serta melakukan tindakan terhadap orang-orang yang dianggap mengancam stabilitas pemerintahan. Dalam praktiknya, kewenangan tersebut juga digunakan untuk mengawasi dan menekan kelompok oposisi, membatasi kebebasan pers, serta mengendalikan aktivitas masyarakat yang dinilai bertentangan dengan kebijakan pemerintah.


Akibatnya, Kopkamtib tidak hanya dikenal sebagai lembaga pemulihan keamanan, tetapi juga sebagai salah satu simbol kuatnya kontrol militer terhadap kehidupan sipil pada masa Orde Baru. Luasnya kewenangan lembaga ini menimbulkan kritik karena tindakan penangkapan, penahanan, dan pembatasan kebebasan politik kerap menimbulkan persoalan hak asasi manusia dan kepastian hukum.


Setelah beroperasi selama lebih dari dua dekade, Kopkamtib akhirnya dibubarkan pada 5 September 1988. Pemerintah kemudian membentuk Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan Stabilitas Nasional (Bakorstanas) untuk menggantikan fungsi koordinasi stabilitas nasional yang sebelumnya dijalankan Kopkamtib. Di tingkat daerah, dibentuk pula Bakorstanasda.


Pembubaran tersebut menandai berakhirnya keberadaan salah satu lembaga keamanan paling berpengaruh dalam sejarah Orde Baru. Meski namanya tidak lagi digunakan, sejarah Kopkamtib tetap menjadi bagian penting dalam memahami hubungan antara militer, kekuasaan politik, kebebasan sipil, dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia.


Kopkamtib pada mulanya dibentuk dengan alasan memulihkan keamanan setelah krisis politik 1965. Namun, dalam perkembangannya, lembaga tersebut menjadi instrumen penting dalam konsolidasi kekuasaan Orde Baru. Sejarahnya memperlihatkan bagaimana sebuah lembaga yang dibentuk untuk menghadapi keadaan darurat dapat berkembang menjadi pusat pengawasan politik dan keamanan dengan pengaruh yang sangat besar.


#Kisah #Sejarah #Viral #PakHarto


Sumber : Bang Fit Ideas

Sebuah koleksi Rijksmuseum berjudul "Keraton Sultan Mataram diserang" dari buku "Oost-Indische Voyagie" oleh Wouter Schouten. Dibuat pada 1677. Meskipun dibuat dengan gaya eropa. Mgkn cerita tentang gonjang-ganjing di Kraton Plered secara lengkap diceritakan hingga Belanda. . Suasana penyerbuan Keraton Pleret pada akhir Juni 1677 adalah suasana ketakutan, perpecahan di lingkungan istana, lalu penjarahan dan kebakaran di ibu kota Mataram. Tanggal yang lazim digunakan ialah 28 Juni 1677, meskipun rincian urutan peristiwanya tidak seluruhnya pasti. H. J. de Graaf menggambarkan rasa takut yang mendalam: nama Trunajaya dan laskarnya saja sudah membuat rakyat gentar. Pasukan pemberontak mendekati jalan-jalan menuju ibu kota, sementara kepemimpinan pertahanan diliputi kebingungan. Sebagai rekonstruksi, kita dapat membayangkan lingkungan istana yang dipenuhi kecemasan: orang menunggu kabar pertahanan, tetapi semakin sulit memastikan siapa yang masih mampu memberi perlindungan. . Pasukan pemberontak kemudian memasuki dan menjarah kompleks istana; pertahanan Pangeran Puger akhirnya juga runtuh. Kepergian raja menjadi tanda bahwa pusat kekuasaan telah kehilangan kendali. . Gambaran paling konkret datang dari Umbul Astrayuda, yang laporannya dibahas de Graaf. Dalam rentang 28 Juni–3 Juli, ia menyaksikan hampir semua rumah pembesar terbakar. Namun, keraton utama dan masjid besar disebut tidak terbakar, bersama beberapa kediaman pangeran. Barang rampasan diangkut dengan kendaraan dan hewan; perempuan lingkungan istana turut dibawa, sedangkan meriam berat ditinggalkan. Sebagai rekonstruksi suasana, asap kebakaran, pengangkutan harta, dan perpindahan paksa penghuni menunjukkan kota yang kehilangan keamanan.

 Sebuah koleksi Rijksmuseum berjudul "Keraton Sultan Mataram diserang" dari buku "Oost-Indische Voyagie" oleh Wouter Schouten. Dibuat pada 1677. Meskipun dibuat dengan gaya eropa. Mgkn cerita tentang gonjang-ganjing di Kraton Plered secara lengkap diceritakan hingga Belanda.

.


Suasana penyerbuan Keraton Pleret pada akhir Juni 1677 adalah suasana ketakutan, perpecahan di lingkungan istana, lalu penjarahan dan kebakaran di ibu kota Mataram. Tanggal yang lazim digunakan ialah 28 Juni 1677, meskipun rincian urutan peristiwanya tidak seluruhnya pasti. 


H. J. de Graaf menggambarkan rasa takut yang mendalam: nama Trunajaya dan laskarnya saja sudah membuat rakyat gentar. Pasukan pemberontak mendekati jalan-jalan menuju ibu kota, sementara kepemimpinan pertahanan diliputi kebingungan. Sebagai rekonstruksi, kita dapat membayangkan lingkungan istana yang dipenuhi kecemasan: orang menunggu kabar pertahanan, tetapi semakin sulit memastikan siapa yang masih mampu memberi perlindungan.

.

Pasukan pemberontak kemudian memasuki dan menjarah kompleks istana; pertahanan Pangeran Puger akhirnya juga runtuh. Kepergian raja menjadi tanda bahwa pusat kekuasaan telah kehilangan kendali.

.

Gambaran paling konkret datang dari Umbul Astrayuda, yang laporannya dibahas de Graaf. Dalam rentang 28 Juni–3 Juli, ia menyaksikan hampir semua rumah pembesar terbakar. Namun, keraton utama dan masjid besar disebut tidak terbakar, bersama beberapa kediaman pangeran. Barang rampasan diangkut dengan kendaraan dan hewan; perempuan lingkungan istana turut dibawa, sedangkan meriam berat ditinggalkan. Sebagai rekonstruksi suasana, asap kebakaran, pengangkutan harta, dan perpindahan paksa penghuni menunjukkan kota yang kehilangan keamanan.


Sumber : Jejak Mataram

Setelah siaran radio Kaisar Hirohito mengumumkan akhir Perang Dunia II pada 15 Agustus 1945, kondisi emosi bagi para personel militer Kekaisaran Jepang yang kembali sangat kompleks. Meskipun banyak narasi arsip menyoroti kenyataan mengerikan kekalahan dan beban fisik perang, kisah utama dan foto-foto unik juga menangkap momen-momen lega dan kegembiraan di kalangan prajurit yang menyadari bahwa mereka telah bertahan dari konflik. Akhir perang memicu upaya besar-besaran repatriasi oleh pasukan Sekutu untuk melepaskan senjata dan mengembalikan lebih dari 6 juta personel militer Jepang dan warga sipil ke pulau-pulau asal mereka. Bagi prajurit garis depan yang telah menghadapi pertempuran sengit, kelaparan, dan kondisi yang menguras tenaga di seluruh teater Pasifik, pengumuman penyerahan berarti mereka akhirnya akan dapat kembali ke keluarga mereka. Meskipun suasana publik utama di kota-kota utama berat dengan kesedihan dan kehancuran, kelompok prajurit, terutama mereka yang kembali dari tempat terpencil atau kamp tawanan perang di luar negeri, sering didokumentasikan sambil tersenyum atau menunjukkan kenyamanan yang nyata hanya karena mereka akan hidup. Dalam beberapa minggu setelah siaran, jalan-jalan di kota-kota besar seperti Tokyo mengalami transformasi cepat. Rasa takut pertama antara penduduk lokal dan pasukan pendudukan AS dengan cepat berubah menjadi ketaatan damai dan pembangunan kembali. Prajurit yang kembali berjalan di jalan-jalan bersama warga sipil dan prajurit sekutu awal, berpindah keluar dari peran militer mereka sebagai demobilisasi yang berlaku penuh. #perezmanuelodlanor

 Setelah siaran radio Kaisar Hirohito mengumumkan akhir Perang Dunia II pada 15 Agustus 1945, kondisi emosi bagi para personel militer Kekaisaran Jepang yang kembali sangat kompleks. Meskipun banyak narasi arsip menyoroti kenyataan mengerikan kekalahan dan beban fisik perang, kisah utama dan foto-foto unik juga menangkap momen-momen lega dan kegembiraan di kalangan prajurit yang menyadari bahwa mereka telah bertahan dari konflik. 



    Akhir perang memicu upaya besar-besaran repatriasi oleh pasukan Sekutu untuk melepaskan senjata dan mengembalikan lebih dari 6 juta personel militer Jepang dan warga sipil ke pulau-pulau asal mereka. Bagi prajurit garis depan yang telah menghadapi pertempuran sengit, kelaparan, dan kondisi yang menguras tenaga di seluruh teater Pasifik, pengumuman penyerahan berarti mereka akhirnya akan dapat kembali ke keluarga mereka. Meskipun suasana publik utama di kota-kota utama berat dengan kesedihan dan kehancuran, kelompok prajurit, terutama mereka yang kembali dari tempat terpencil atau kamp tawanan perang di luar negeri, sering didokumentasikan sambil tersenyum atau menunjukkan kenyamanan yang nyata hanya karena mereka akan hidup.

    Dalam beberapa minggu setelah siaran, jalan-jalan di kota-kota besar seperti Tokyo mengalami transformasi cepat. Rasa takut pertama antara penduduk lokal dan pasukan pendudukan AS dengan cepat berubah menjadi ketaatan damai dan pembangunan kembali. Prajurit yang kembali berjalan di jalan-jalan bersama warga sipil dan prajurit sekutu awal, berpindah keluar dari peran militer mereka sebagai demobilisasi yang berlaku penuh. 

#perezmanuelodlanor


Sumber : Lilik Hartanto

[JAWABAN PEMIMPIN MONGOL SAAT DISURUH PAUS INOSENSIUS IV UNTUK MENYEMBAH TUHANNYA] Pasca invasi mematikan kavaleri Mongol yang meratakan Polandia dan Hungaria pada tahun 1241 M, ketakutan melanda seluruh benua Eropa. Paus Inosensius IV dari Vatikan mengutus seorang biarawan pemberani bernama Giovanni da Pian del Carpine untuk melakukan perjalanan ribuan kilometer menuju ibu kota Mongol di Karakorum. Biarawan tersebut membawa surat resmi Vatikan yang berisi seruan agar bangsa Mongol menghentikan pembantaian terhadap umat Kristen, bertobat, dan memeluk agama Kristen. Selama beberapa minggu Utusan resmi itu akhirnya tiba di karakorum, ia tiba tepat saat penobatan Guyuk Khan, cucu dari Genghis Khan, menjadi Khagan Agung ke-III Kekaisaran Mongol. Di dalam tenda emas kekaisaran yang megah, Guyuk Khan mendengarkan terjemahan surat dari Vatikan tersebut. Ia tidak marah, melainkan tersenyum sinis melihat keangkuhan para penguasa Eropa yang tidak memahami peta kekuatan dunia. Menyukapi isi dari surat tersebut, Guyuk Khan memerintahkan para juru tulisnya menyiapkan surat balasan resmi berstempel emas kekaisaran. Di hadapan utusan Vatikan yang gemetar, Guyuk Khan membacakan penggalan balasan suratnya dengan suara menggelegar: "Engkau mengatakan 'Aku harus memeluk agama Kristen'. Namun bagaimana engkau tahu siapa yang diridhoi oleh Tuhan? Dari matahari terbit hingga matahari terbenam, seluruh tanah telah ditundukkan kepada kami. Jika ini bukan karena kehendak Tuhan, bagaimana mungkin manusia biasa bisa melakukannya? Datanglah engkau bersama seluruh raja Eropa ke hadapanku untuk bersumpah setia, atau kami akan menganggap kalian sebagai musuh!" Mendengar isi surat balasan dari guyuk khan Giovanni da Pian berlutut menerima gulungan surat berstempel emas tersebut dengan tangan gemetar. Ia menyadari realitas pahit bahwa Eropa tidak selamat karena diplomasi atau doa Vatikan, melainkan semata-mata karena kematian Ogedei Khan yang memaksa pasukan Mongol menarik diri kembali ke timur.

 [JAWABAN PEMIMPIN MONGOL SAAT DISURUH PAUS INOSENSIUS IV UNTUK MENYEMBAH TUHANNYA]



Pasca invasi mematikan kavaleri Mongol yang meratakan Polandia dan Hungaria pada tahun 1241 M, ketakutan melanda seluruh benua Eropa. 


Paus Inosensius IV dari Vatikan mengutus seorang biarawan pemberani bernama Giovanni da Pian del Carpine untuk melakukan perjalanan ribuan kilometer menuju ibu kota Mongol di Karakorum.


Biarawan tersebut membawa surat resmi Vatikan yang berisi seruan agar bangsa Mongol menghentikan pembantaian terhadap umat Kristen, bertobat, dan memeluk agama Kristen. 


Selama beberapa minggu Utusan resmi itu akhirnya tiba di karakorum, ia tiba tepat saat penobatan Guyuk Khan, cucu dari Genghis Khan, menjadi Khagan Agung ke-III Kekaisaran Mongol.


Di dalam tenda emas kekaisaran yang megah, Guyuk Khan mendengarkan terjemahan surat dari Vatikan tersebut. 


Ia tidak marah, melainkan tersenyum sinis melihat keangkuhan para penguasa Eropa yang tidak memahami peta kekuatan dunia.


Menyukapi isi dari surat tersebut, Guyuk Khan memerintahkan para juru tulisnya menyiapkan surat balasan resmi berstempel emas kekaisaran. 


Di hadapan utusan Vatikan yang gemetar, Guyuk Khan membacakan penggalan balasan suratnya dengan suara menggelegar:


"Engkau mengatakan 'Aku harus memeluk agama Kristen'. Namun bagaimana engkau tahu siapa yang diridhoi oleh Tuhan? Dari matahari terbit hingga matahari terbenam, seluruh tanah telah ditundukkan kepada kami. Jika ini bukan karena kehendak Tuhan, bagaimana mungkin manusia biasa bisa melakukannya? Datanglah engkau bersama seluruh raja Eropa ke hadapanku untuk bersumpah setia, atau kami akan menganggap kalian sebagai musuh!"


Mendengar isi surat balasan dari guyuk khan Giovanni da Pian berlutut menerima gulungan surat berstempel emas tersebut dengan tangan gemetar. 


Ia menyadari realitas pahit bahwa Eropa tidak selamat karena diplomasi atau doa Vatikan, melainkan semata-mata karena kematian Ogedei Khan yang memaksa pasukan Mongol menarik diri kembali ke timur.

12 October 2026

Jika kita melewati Lapangan Banteng di Jakarta, kita akan melihat sebuah monumen raksasa yang sangat gagah Patung Pembebasan Irian Barat. Sosok pria berotot yang sedang meneriakkan kemerdekaan sambil memutus rantai di tangannya, itu bukanlah sekadar imajinasi seniman. Patung itu diukir berdasarkan perawakan dan kisah nyata seorang pahlawan besar dari tanah Papua. Namanya adalah Johannes Abraham Dimara. Lahir di Biak Utara, ia adalah sosok perwira militer yang perannya sangat krusial, namun namanya jarang terdengar di buku pelajaran sekolah. Ketika Belanda bersikeras menahan Papua agar tak lepas dari genggaman mereka pasca-kemerdekaan, Dimara adalah salah satu ujung tombak yang berani mempertaruhkan nyaw4 untuk masuk ke garis musuh. Tahun 1954, Dimara memimpin pasukan gerilya menyusup lewat Jalur laut ke Teluk Etna, Papua. Misinya berat, yaitu mengibarkan Merah Putih dan membakar semangat rakyat Papua untuk berintegrasi dengan Indonesia. Namun, pergerakan mereka tercium. Setelah pertempur4n sengit, Dimara ditangkap militer Belanda, disiks4, dan dibuang ke penjara isolasi Boven Digoel selama bertahun-tahun. Penderitaan penjara tidak mematahkan semangatnya. Usai dibebaskan, Presiden Soekarno langsung membawa Dimara terbang ke markas PBB di New York (1962) sebagai delegasi resmi Indonesia. Kehadiran fisik Dimara sebagai putra asli Papua di meja perundingan internasional menjadi pukulan telak bagi diplomasi Belanda, membuktikan kepada dunia bahwa rakyat Papua ingin merdeka bersama Indonesia. Dalam sebuah pawai akbar di Jakarta, Soekarno melihat Dimara memakai rantai yang terputus di lengannya sebagai simbol pembebasan. Merasa terkesima oleh momen emosional itu, Bung Karno langsung meminta Henk Ngantung untuk membuat sketsa patungnya, yang kemudian diwujudkan menjadi monumen raksasa oleh pematung legendaris Edhi sunarso Meski akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dandimakamkan secara militer, masa tua J.A. Dimara justru dihabiskan dalam kesederhanaan dan kesunyian. Beliau bahkan sempat kesulitan biaya berobat sebelum wafat pada tahun 2000.

 Jika kita melewati Lapangan Banteng di Jakarta, kita akan melihat sebuah monumen raksasa yang sangat gagah Patung Pembebasan Irian Barat. Sosok pria berotot yang sedang meneriakkan kemerdekaan sambil memutus rantai di tangannya, itu bukanlah sekadar imajinasi seniman.



Patung itu diukir berdasarkan perawakan dan kisah nyata seorang pahlawan besar dari tanah Papua.

Namanya adalah Johannes Abraham Dimara.


Lahir di Biak Utara, ia adalah sosok perwira militer yang perannya sangat krusial, namun namanya jarang terdengar di buku pelajaran sekolah.


Ketika Belanda bersikeras menahan Papua agar tak lepas dari genggaman mereka pasca-kemerdekaan, Dimara adalah salah satu ujung tombak

yang berani mempertaruhkan nyaw4 untuk masuk ke garis musuh.


Tahun 1954, Dimara memimpin pasukan gerilya menyusup lewat Jalur laut ke Teluk Etna, Papua. Misinya berat, yaitu mengibarkan Merah Putih dan membakar semangat rakyat Papua untuk berintegrasi dengan Indonesia. Namun, pergerakan mereka tercium. Setelah pertempur4n sengit, Dimara ditangkap militer Belanda, disiks4, dan dibuang ke penjara isolasi Boven Digoel selama bertahun-tahun.


Penderitaan penjara tidak mematahkan semangatnya. Usai dibebaskan, Presiden Soekarno langsung membawa Dimara terbang ke markas PBB di New York (1962) sebagai delegasi resmi Indonesia. Kehadiran fisik Dimara sebagai putra asli Papua di meja perundingan internasional menjadi pukulan telak bagi diplomasi Belanda, membuktikan kepada dunia bahwa rakyat Papua ingin merdeka bersama Indonesia.


Dalam sebuah pawai akbar di Jakarta, Soekarno melihat Dimara memakai rantai yang terputus di lengannya sebagai simbol pembebasan. Merasa terkesima oleh momen emosional itu, Bung Karno langsung meminta Henk Ngantung untuk membuat sketsa patungnya, yang kemudian diwujudkan menjadi monumen raksasa oleh pematung legendaris Edhi sunarso


Meski akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dandimakamkan secara militer, masa tua J.A. Dimara justru dihabiskan dalam kesederhanaan dan kesunyian. Beliau bahkan sempat kesulitan biaya berobat sebelum wafat pada tahun 2000.


Sumber : Dewi Astuti

Potret orang-orang berpose di bawah pohon randu /kapuk di tengah kota Tuban pada Tahun 1868

 Potret orang-orang berpose di bawah pohon randu /kapuk di tengah kota Tuban pada Tahun 1868



Sumber : Andre Owen

Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi untuk Selamanya Dini hari, 1 Oktober 1965, menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah suasana Jakarta yang masih diselimuti kegelapan, kediaman Brigadir Jenderal TNI Donald Isaac Panjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi sasaran pasukan yang datang untuk menculik para perwira tinggi Angkatan Darat. Sekitar pukul 04.00 WIB, sekelompok tentara mendatangi rumah sang jenderal dengan menggunakan kendaraan militer. Mereka mengaku membawa perintah dari Presiden Soekarno dan meminta agar D.I. Panjaitan segera keluar. Namun, cara mereka yang kasar, disertai keributan dan pemaksaan, membuat suasana rumah berubah menjadi mencekam. Mendengar suara gaduh dan mengetahui kediamannya telah didatangi sekelompok bersenjata, D.I. Panjaitan berusaha mencari cara untuk melaporkan kejadian tersebut. Akan tetapi, upaya meminta bantuan melalui telepon tidak membuahkan hasil. Sementara itu, pasukan di luar rumah semakin mendesak agar dirinya segera turun. Panjaitan tidak langsung memenuhi permintaan mereka. Ia memahami bahwa kedatangan pasukan tersebut bukanlah kunjungan biasa. Situasi semakin genting ketika keluarganya berada dalam ancaman. Berdasarkan berbagai penuturan mengenai peristiwa itu, pasukan penculik mengancam akan mencelakai anggota keluarga apabila sang jenderal tetap menolak keluar. Di sinilah sebuah keputusan berat harus diambil. Sebagai seorang perwira tinggi yang memahami risiko yang dihadapinya, D.I. Panjaitan tentu menyadari bahwa turun ke halaman rumah yang telah dikepung pasukan bersenjata dapat membahayakan nyawanya. Namun, di balik pintu rumah itu ada istri dan anak-anaknya yang keselamatannya ikut terancam. Demi menghindari jatuhnya korban di antara orang-orang yang dicintainya, D.I. Panjaitan akhirnya turun dari lantai atas. Ia mengenakan seragam militer lengkap, menunjukkan sikap seorang prajurit yang tetap menjaga kehormatan dan martabatnya di tengah situasi yang sangat berbahaya. Namun, langkah yang diambil demi melindungi keluarganya itu justru menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya. Ketika berada di ruang tengah rumah, D.I. Panjaitan tewas ditembak oleh anggota pasukan ketika sedang berdoa. Kematian sang jenderal meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya, yang harus menyaksikan peristiwa tragis tersebut di kediaman mereka sendiri. Panjaitan bukan sekadar seorang perwira tinggi Angkatan Darat. Saat itu, ia menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat yang membidangi logistik. Ia juga dikenal sebagai sosok yang memiliki latar belakang perjuangan panjang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Setelah tewas, jenazahnya dibawa oleh para penculik menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di sana, jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama jenazah sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi korban peristiwa 30 September 1965. Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai bagian dari tragedi nasional yang mengguncang Indonesia. D.I. Panjaitan menjadi salah satu dari enam jenderal Angkatan Darat yang tewas dalam rangkaian penculikan tersebut, bersama seorang perwira pertama, Kapten Pierre Tendean. Kisah D.I. Panjaitan menyisakan satu gambaran yang begitu menyentuh: seorang ayah dan suami yang berada dalam situasi genting, menghadapi ancaman terhadap keluarganya, lalu melangkah keluar dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya. Pada dini hari itu, ia turun bukan untuk menyerah pada ketakutan, melainkan di tengah keadaan ketika keselamatan keluarganya ikut dipertaruhkan. Namun, langkah tersebut menjadi akhir perjalanan hidupnya. Ia turun dari lantai atas demi melindungi keluarganya, tetapi tak pernah kembali untuk memeluk mereka. Namanya kemudian tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pahlawan yang gugur dalam tragedi 1 Oktober 1965. #Kisah #Sejarah #Viral Sumber : Bang Fit Ideas

 


Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi untuk Selamanya

Dini hari, 1 Oktober 1965, menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah suasana Jakarta yang masih diselimuti kegelapan, kediaman Brigadir Jenderal TNI Donald Isaac Panjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi sasaran pasukan yang datang untuk menculik para perwira tinggi Angkatan Darat.

Sekitar pukul 04.00 WIB, sekelompok tentara mendatangi rumah sang jenderal dengan menggunakan kendaraan militer. Mereka mengaku membawa perintah dari Presiden Soekarno dan meminta agar D.I. Panjaitan segera keluar. Namun, cara mereka yang kasar, disertai keributan dan pemaksaan, membuat suasana rumah berubah menjadi mencekam.

Mendengar suara gaduh dan mengetahui kediamannya telah didatangi sekelompok bersenjata, D.I. Panjaitan berusaha mencari cara untuk melaporkan kejadian tersebut. Akan tetapi, upaya meminta bantuan melalui telepon tidak membuahkan hasil. Sementara itu, pasukan di luar rumah semakin mendesak agar dirinya segera turun.

Panjaitan tidak langsung memenuhi permintaan mereka. Ia memahami bahwa kedatangan pasukan tersebut bukanlah kunjungan biasa. Situasi semakin genting ketika keluarganya berada dalam ancaman. Berdasarkan berbagai penuturan mengenai peristiwa itu, pasukan penculik mengancam akan mencelakai anggota keluarga apabila sang jenderal tetap menolak keluar.

Di sinilah sebuah keputusan berat harus diambil. Sebagai seorang perwira tinggi yang memahami risiko yang dihadapinya, D.I. Panjaitan tentu menyadari bahwa turun ke halaman rumah yang telah dikepung pasukan bersenjata dapat membahayakan nyawanya. Namun, di balik pintu rumah itu ada istri dan anak-anaknya yang keselamatannya ikut terancam.

Demi menghindari jatuhnya korban di antara orang-orang yang dicintainya, D.I. Panjaitan akhirnya turun dari lantai atas. Ia mengenakan seragam militer lengkap, menunjukkan sikap seorang prajurit yang tetap menjaga kehormatan dan martabatnya di tengah situasi yang sangat berbahaya.

Namun, langkah yang diambil demi melindungi keluarganya itu justru menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya.

Ketika berada di ruang tengah rumah, D.I. Panjaitan tewas ditembak oleh anggota pasukan ketika sedang berdoa. Kematian sang jenderal meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya, yang harus menyaksikan peristiwa tragis tersebut di kediaman mereka sendiri.

Panjaitan bukan sekadar seorang perwira tinggi Angkatan Darat. Saat itu, ia menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat yang membidangi logistik. Ia juga dikenal sebagai sosok yang memiliki latar belakang perjuangan panjang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Setelah tewas, jenazahnya dibawa oleh para penculik menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Di sana, jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama jenazah sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi korban peristiwa 30 September 1965.

Peristiwa itu kemudian dikenang sebagai bagian dari tragedi nasional yang mengguncang Indonesia. D.I. Panjaitan menjadi salah satu dari enam jenderal Angkatan Darat yang tewas dalam rangkaian penculikan tersebut, bersama seorang perwira pertama, Kapten Pierre Tendean.

Kisah D.I. Panjaitan menyisakan satu gambaran yang begitu menyentuh: seorang ayah dan suami yang berada dalam situasi genting, menghadapi ancaman terhadap keluarganya, lalu melangkah keluar dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman baginya.

Pada dini hari itu, ia turun bukan untuk menyerah pada ketakutan, melainkan di tengah keadaan ketika keselamatan keluarganya ikut dipertaruhkan. Namun, langkah tersebut menjadi akhir perjalanan hidupnya.

Ia turun dari lantai atas demi melindungi keluarganya, tetapi tak pernah kembali untuk memeluk mereka. Namanya kemudian tercatat dalam sejarah sebagai salah satu pahlawan yang gugur dalam tragedi 1 Oktober 1965.

#Kisah #Sejarah #Viral

Sumber : Bang Fit Ideas