WIDOYOKO
.... berani menjalani kehidupan, adalah sebuah konsekuensi untuk ikut membangun sebuah peradaban yang lebih bertanggung jawab ...
15 September 2026
Di awal tahun 1900-an, di Gang Peneleh, Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana milik H.O.S. Tjokroaminoto. Rumah itu bukan sekadar tempat kos. Di dalamnya tinggal anak-anak muda dari berbagai daerah, datang dengan satu keinginan yang sama, ingin belajar, ingin mengerti, dan diam-diam ingin ikut membebaskan tanah kelahiran mereka. Tiga di antara penghuni rumah itu kelak dikenang sepanjang sejarah bangsa ini. Namanya Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo. Mereka makan di meja yang sama, tidur di kamar yang berdekatan, dan mendengarkan pidato guru yang sama setiap malam. Tidak ada yang menyangka, dari kedekatan itu akan lahir tiga jalan yang saling berlawanan. Tjokroaminoto bukan orang sembarangan. Ia dipanggil Raja Jawa Tanpa Mahkota, sebuah julukan yang lahir dari rasa hormat, bukan dari gelar resmi. Ia disegani pribumi maupun orang-orang Belanda di Hindia. Ketika ia berpidato, ruangan yang penuh sesak bisa mendadak sunyi, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya punya bobot tersendiri. Tapi di rumah kosnya, ia bukan tokoh yang berjarak. Ia duduk bersama murid-muridnya, berbagi meja makan, menjawab pertanyaan sampai larut malam. Dari cara itulah anak-anak muda seperti Soekarno belajar bukan hanya ilmu, tapi juga bagaimana rasanya dipercaya oleh seseorang yang mereka kagumi sepenuh hati. Soekarno selalu menjadi bayang-bayang Tjokroaminoto. Ke mana pun sang guru pergi berpidato, ia ikut, duduk di sudut ruangan, memperhatikan setiap jeda suara, setiap gerak tangan, bahkan setiap kelemahan yang luput disadari orang lain. Ia mencatat bahwa gaya bicara gurunya cenderung datar dan minim humor, lalu diam-diam menyimpan catatan itu untuk dirinya sendiri. Ia tidak pernah berlatih di depan cermin seperti orator pada umumnya. Ia belajar langsung dari panggung sungguhan, dari suara Tjokroaminoto yang menggetarkan ruangan. Kelak kedekatan itu bertambah erat karena Soekarno menikahi putri gurunya sendiri. Dari rumah kos di Peneleh itulah, benih orator besar bangsa ini mulai tumbuh diam-diam. Musso tumbuh dengan cara berpikir yang berbeda. Ia melihat penjajahan bukan hanya sebagai soal bangsa yang terjajah, tapi sebagai soal rakyat kecil yang diperas oleh sistem. Baginya, kemerdekaan tidak cukup berhenti pada bendera dan lagu kebangsaan. Ia mencari jalan yang menurutnya lebih adil bagi mereka yang selama ini berada di lapisan paling bawah. Pilihan itu membawanya semakin jauh dari jalan yang ditempuh Soekarno. Ia memilih ideologi komunis, menempuh jalur perjuangan yang berbeda arah dari sahabat-sahabatnya sendiri. Dari satu rumah yang sama, ia berjalan ke arah yang membuatnya, bertahun-tahun kemudian, berdiri berseberangan dengan negara yang justru dibangun oleh teman sekamarnya dulu. Kartosoewirjo memilih jalan yang lain lagi. Ia meyakini bahwa perjuangan sejati harus berakar pada agama, bahwa negara yang dicita-citakan harus berdiri di atas hukum Islam. Keyakinan itu tumbuh perlahan, dipupuk oleh kekecewaan pada arah pergerakan yang menurutnya mulai menjauh dari nilai yang ia pegang sejak di rumah gurunya dulu. Dari keyakinan itu lahir perlawanan bersenjata, laskar yang ia bentuk sendiri, dan cita-cita mendirikan negara dengan wajah yang sama sekali berbeda dari yang dibayangkan Soekarno maupun Musso. Tiga murid, tiga peta jalan, dan satu guru yang mungkin tidak pernah menduga muridnya akan berjalan sejauh itu ke arah yang berlainan. Di rumah Peneleh dulu, mereka bertiga saling mendukung. Berbagi makanan, berbagi keresahan, berbagi mimpi tentang tanah air yang bebas dari penjajahan. Tidak ada yang menduga bahwa perbedaan cara pandang, yang dulu terasa seperti diskusi malam biasa, akan tumbuh menjadi jurang yang tidak bisa lagi dijembatani oleh persahabatan. Waktu membawa mereka semakin jauh dari meja makan yang sama. Soekarno menempuh jalan nasionalisme menuju kursi presiden. Musso menempuh jalan komunisme menuju pemberontakan. Kartosoewirjo menempuh jalan islam radikal menuju negara tandingan. Tiga jalan itu, pada akhirnya, dipastikan akan bertemu kembali, hanya saja bukan di meja makan seperti dulu. Bertahun-tahun kemudian, di Gedung Agung, Soekarno yang sudah menjadi presiden bertemu kembali dengan Musso. Ia menyapa dengan hangat, memeluk sahabat lamanya itu erat-erat, seolah waktu tiga dekade lenyap begitu saja. Sejenak, keduanya kembali menjadi dua anak kos di Surabaya yang berbagi suka dan duka di bawah satu atap. Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama. Tak lama setelah pertemuan itu, jalan mereka justru berbenturan lebih keras dari sebelumnya. Presiden yang dulu adalah anak kesayangan Tjokroaminoto, kini berhadapan dengan sahabatnya sendiri yang memberontak. Sejarah, pada akhirnya, memaksa dua orang yang pernah saling mendukung untuk saling menumpas. Musso tewas dalam pemberontakan yang ia pimpin sendiri. Bertahun-tahun setelahnya, Kartosoewirjo pun ditumpas, negara yang ia cita-citakan tidak pernah benar-benar berdiri. Dua murid yang dulu tumbuh di bawah asuhan guru yang sama, pada akhirnya jatuh oleh tangan negara yang dipimpin oleh murid ketiga dari rumah yang sama pula. Ada satu perenungan dalam novel ini, tentang betapa berat rasanya seandainya ketiga murid itu mau menyatukan kecerdasan dan keberanian mereka, alih-alih membiarkan perbedaan memisahkan mereka sejauh itu. Barangkali begitulah jalan sejarah menuliskan takdirnya. Satu perenungan itu menyimpan seluruh kepedihan dari kisah tiga murid dan satu guru ini. Tjokroaminoto mengajarkan cinta pada tanah air kepada tiga anak muda yang sama-sama tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa ketulusan itu akan tumbuh menjadi tiga arah yang begitu jauh berbeda, bahkan saling berhadapan. Novel ini menghidupkan kembali bagian sejarah bangsa yang jarang diceritakan dari sisi paling manusiawi, dari sisi persahabatan yang retak. Membaca kisah mereka bertiga membuat kita bertanya pada diri sendiri, seandainya berada di rumah Peneleh itu, jalan mana yang mungkin akan kita pilih. Ceritakan di kolom komentar, menurutmu, dari ketiga murid Tjokroaminoto ini, siapa yang paling berat perjuangannya, Soekarno, Musso, atau Kartosoewirjo.
BALAS BUDI BERUJUNG BEKU: NESTAPA LETNAN IGK MANILA DI PARIS DAN KEMURKAAN JENDERAL SOEMITRO Catatan sejarah Jani Sari II Kisah Letnan IGK Manila dan Utang Nyawa Jenderal Soemitro Tahun 2025 lalu, dunia militer Indonesia baru saja kehilangan salah satu perwiranya yang sarat pengalaman. Mayor Jenderal TNI (Purn) I Gusti Kompyang (IGK) Manila, tutup usia pada 18 Agustus 2025 dalam usia 83 tahun. Abituren Akademi Militer Nasional 1964 dari korps Polisi Militer (CPM) ini bukanlah perwira dengan rekam jejak biasa. Ia pernah merasakan tegangnya mengawal senjakala Bung Karno di Wisma Yaso, hingga menimba ilmu intelijen langsung di markas Mossad, Israel, bersama Sutopo Juwono. Namun, dari sekian banyak palagan hidupnya, ada satu fragmen unik yang bermula dari sebuah kebetulan di Pulau Dewata. Kisah ini terekam dalam biografinya, 80 Tahun IGK. Manila, sebuah episode yang bermula dari balas budi manis, namun nyaris berakhir sebagai tragedi di musim dingin Eropa. Syahdan, di awal tahun 1969. Letnan Satu IGK Manila tengah mendapat tugas mengamankan kunjungan Kepala Staf Pertahanan dan Keamanan, Letjen TNI Soemitro, ke Bali. Sang jenderal—yang kelak menjadi salah satu orang terkuat di ABRI—kala itu menginap di Hotel Bali Beach, Sanur. Di sela-sela ketegangan tugas pengamanan, Manila meluangkan waktu sejenak mengitari area hotel untuk menikmati suasana. Langkahnya mendadak terhenti di tepian kolam renang. Matanya yang awas menangkap pemandangan ganjil: seorang anak kecil tampak gelagapan, timbul-tenggelam melawan air. Naluri prajuritnya seketika menyala. Tanpa pikir panjang memedulikan seragam, pistol, dan perlengkapan yang masih melekat di badan, Manila melompat terjun. Byur! Anak itu berhasil diraihnya. Di tepian kolam, dengan basah kuyup, ia membolak-balik tubuh si bocah dan menekan dadanya hingga air memuncrat keluar dari paru-paru. Dalam hitungan detik yang krusial itu, sang bocah tersadar. Manila bernapas lega, meski ia sama sekali tak tahu siapa nyawa kecil yang baru saja ia renggut dari maut tersebut. Lantaran pakaiannya basah total, Manila terpaksa meminjam kaus dan celana pantai milik pihak hotel. Baru saja ia hendak pamit pulang, seorang ajudan Letjen Soemitro mencegatnya. Hati Manila berdegup kencang. Ia digiring menghadap sang jenderal. Dalam benaknya, bayangan hukuman sudah menanti. Apalagi ia harus berdiri di depan jenderal bintang tiga dengan pakaian pantai yang jauh dari kata pantas. Di ruangannya, Soemitro menatap sang letnan dengan tajam. Namun, alih-alih hardikan, yang keluar dari mulut sang jenderal justru ucapan terima kasih yang begitu dalam. Bocah yang diselamatkan Manila di kolam renang tadi tak lain adalah Agus, putra sang jenderal. Sebagai bentuk rasa syukur, Soemitro mengajak Manila berbincang. Ia sempat bertanya mengapa perwira asal Bali bisa berdinas di Bali, menyiratkan kecurigaan soal praktik 'sogok-menyogok'. Dengan lugas, Manila membantah, "Gaji bulanan saya saja habis dalam waktu tiga minggu, mana mungkin saya menyogok, Jenderal." Dalam kesempatan itu, Soemitro menawarkan sebuah 'hadiah' mutasi. Ia menawari Manila pindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah—sebuah daerah yang kala itu masih sunyi dan kerap dihindari prajurit. Namun, dengan sikap ksatrianya, Manila menjawab mantap: "Siap!" Anehnya, ketika surat perintah dari Direktur Pusat Polisi Militer Brigjen Suitdertus Soedarman turun beberapa waktu kemudian, tujuannya bukan lebatnya hutan Kalimantan, melainkan Paris, Prancis. Brigjen Soedarman sendiri sempat meradang, merasa heran bagaimana seorang letnan satu berani "meminta" mutasi kepada jenderal. Merasa tak enak hati, Manila berniat membatalkan mutasi tersebut. Namun Soemitro pasang badan. Ia menegaskan kepada Soedarman bahwa penugasan bergengsi ke Paris itu murni keputusannya pribadi; sebuah balasan atas utang nyawa sang putra. Maka, berangkatlah Manila pada September 1969. Ia membawa serta istrinya dan putri kecil mereka, Dewi, yang masih menyusu. Berbekal bahasa Inggris yang pas-pasan dan tanpa pemahaman bahasa Prancis sama sekali, Manila menjejakkan kaki di Eropa sebagai Asisten Atase Pertahanan (Athan). Namun, di Kota Cahaya inilah "balas budi" itu berubah getir. Kehadiran Manila rupanya tak disambut hangat oleh sang atasan, seorang Kolonel Athan di Kedubes RI di Paris yang kebetulan juga berasal dari korps CPM. Sang Kolonel merasa janggal dan tak suka dengan kehadiran perwira muda yang tak fasih berbahasa asing itu. Sentimen ini berbuntut panjang pada perlakuan yang jauh dari kata manusiawi. Di tengah kepungan musim dingin Eropa yang ekstrem, Manila sekeluarga hanya diberikan tempat tinggal di sebuah ruang kerja Athan tanpa alat penghangat. Setiap malam, letnan muda itu, beserta istri dan bayinya, harus menggigil hebat. Mereka terpaksa tidur dengan bertumpuk-tumpuk menjepitkan diri, menggunakan kasur sebagai selimut darurat agar tak mati kedinginan. Memasuki Januari yang membekukan, pertahanan Manila runtuh melihat penderitaan keluarganya. Ia mengambil langkah nekat dengan menulis surat kepada Sekretaris Pribadi Jenderal Soemitro, Pak Kirman, untuk diteruskan ke meja sang jenderal. Pesannya singkat namun mengiris hati: "Apakah yang saya terima di Paris ini sebuah penghargaan, atau penyiksaan buat saya, isteri, dan Dewi?" Surat pilu itu sampai ke tangan Soemitro. Membaca perlakuan yang diterima penyelamat putranya, sang jenderal murka besar. Tak butuh waktu lama, pada awal Januari 1970 itu juga, Manila sekeluarga segera diterbangkan kembali ke Jakarta. Sang Athan di Paris pun harus menelan pil pahit akibat keangkuhannya. Jenderal Soemitro mencopot jabatannya dan memakinya habis-habisan. Karir sang atasan tamat; hingga masa pensiunnya tiba, pangkatnya terkunci di level Kolonel. Dari kerasnya musim dingin Paris dan dinginnya sikap seorang atasan, Letnan Manila memetik satu doktrin kehidupan: kelak ketika ia menjadi komandan, ia pantang meremehkan anak buahnya. Baginya, kepemimpinan adalah soal keteladanan. Jika ada kesalahan, perwira sejati akan memberi arahan, bukan siksaan. Selamat jalan, Jenderal Manila. ~ Jani Sari Library
BALAS BUDI BERUJUNG BEKU: NESTAPA LETNAN IGK MANILA DI PARIS DAN KEMURKAAN JENDERAL SOEMITRO
Catatan sejarah Jani Sari II
Kisah Letnan IGK Manila dan Utang Nyawa Jenderal Soemitro
Tahun 2025 lalu, dunia militer Indonesia baru saja kehilangan salah satu perwiranya yang sarat pengalaman. Mayor Jenderal TNI (Purn) I Gusti Kompyang (IGK) Manila, tutup usia pada 18 Agustus 2025 dalam usia 83 tahun. Abituren Akademi Militer Nasional 1964 dari korps Polisi Militer (CPM) ini bukanlah perwira dengan rekam jejak biasa. Ia pernah merasakan tegangnya mengawal senjakala Bung Karno di Wisma Yaso, hingga menimba ilmu intelijen langsung di markas Mossad, Israel, bersama Sutopo Juwono.
Namun, dari sekian banyak palagan hidupnya, ada satu fragmen unik yang bermula dari sebuah kebetulan di Pulau Dewata. Kisah ini terekam dalam biografinya, 80 Tahun IGK. Manila, sebuah episode yang bermula dari balas budi manis, namun nyaris berakhir sebagai tragedi di musim dingin Eropa.
Syahdan, di awal tahun 1969. Letnan Satu IGK Manila tengah mendapat tugas mengamankan kunjungan Kepala Staf Pertahanan dan Keamanan, Letjen TNI Soemitro, ke Bali. Sang jenderal—yang kelak menjadi salah satu orang terkuat di ABRI—kala itu menginap di Hotel Bali Beach, Sanur. Di sela-sela ketegangan tugas pengamanan, Manila meluangkan waktu sejenak mengitari area hotel untuk menikmati suasana.
Langkahnya mendadak terhenti di tepian kolam renang. Matanya yang awas menangkap pemandangan ganjil: seorang anak kecil tampak gelagapan, timbul-tenggelam melawan air. Naluri prajuritnya seketika menyala. Tanpa pikir panjang memedulikan seragam, pistol, dan perlengkapan yang masih melekat di badan, Manila melompat terjun. Byur!
Anak itu berhasil diraihnya. Di tepian kolam, dengan basah kuyup, ia membolak-balik tubuh si bocah dan menekan dadanya hingga air memuncrat keluar dari paru-paru. Dalam hitungan detik yang krusial itu, sang bocah tersadar. Manila bernapas lega, meski ia sama sekali tak tahu siapa nyawa kecil yang baru saja ia renggut dari maut tersebut.
Lantaran pakaiannya basah total, Manila terpaksa meminjam kaus dan celana pantai milik pihak hotel. Baru saja ia hendak pamit pulang, seorang ajudan Letjen Soemitro mencegatnya. Hati Manila berdegup kencang. Ia digiring menghadap sang jenderal. Dalam benaknya, bayangan hukuman sudah menanti. Apalagi ia harus berdiri di depan jenderal bintang tiga dengan pakaian pantai yang jauh dari kata pantas.
Di ruangannya, Soemitro menatap sang letnan dengan tajam. Namun, alih-alih hardikan, yang keluar dari mulut sang jenderal justru ucapan terima kasih yang begitu dalam. Bocah yang diselamatkan Manila di kolam renang tadi tak lain adalah Agus, putra sang jenderal.
Sebagai bentuk rasa syukur, Soemitro mengajak Manila berbincang. Ia sempat bertanya mengapa perwira asal Bali bisa berdinas di Bali, menyiratkan kecurigaan soal praktik 'sogok-menyogok'. Dengan lugas, Manila membantah, "Gaji bulanan saya saja habis dalam waktu tiga minggu, mana mungkin saya menyogok, Jenderal."
Dalam kesempatan itu, Soemitro menawarkan sebuah 'hadiah' mutasi. Ia menawari Manila pindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah—sebuah daerah yang kala itu masih sunyi dan kerap dihindari prajurit. Namun, dengan sikap ksatrianya, Manila menjawab mantap: "Siap!"
Anehnya, ketika surat perintah dari Direktur Pusat Polisi Militer Brigjen Suitdertus Soedarman turun beberapa waktu kemudian, tujuannya bukan lebatnya hutan Kalimantan, melainkan Paris, Prancis. Brigjen Soedarman sendiri sempat meradang, merasa heran bagaimana seorang letnan satu berani "meminta" mutasi kepada jenderal. Merasa tak enak hati, Manila berniat membatalkan mutasi tersebut. Namun Soemitro pasang badan. Ia menegaskan kepada Soedarman bahwa penugasan bergengsi ke Paris itu murni keputusannya pribadi; sebuah balasan atas utang nyawa sang putra.
Maka, berangkatlah Manila pada September 1969. Ia membawa serta istrinya dan putri kecil mereka, Dewi, yang masih menyusu. Berbekal bahasa Inggris yang pas-pasan dan tanpa pemahaman bahasa Prancis sama sekali, Manila menjejakkan kaki di Eropa sebagai Asisten Atase Pertahanan (Athan).
Namun, di Kota Cahaya inilah "balas budi" itu berubah getir.
Kehadiran Manila rupanya tak disambut hangat oleh sang atasan, seorang Kolonel Athan di Kedubes RI di Paris yang kebetulan juga berasal dari korps CPM. Sang Kolonel merasa janggal dan tak suka dengan kehadiran perwira muda yang tak fasih berbahasa asing itu. Sentimen ini berbuntut panjang pada perlakuan yang jauh dari kata manusiawi.
Di tengah kepungan musim dingin Eropa yang ekstrem, Manila sekeluarga hanya diberikan tempat tinggal di sebuah ruang kerja Athan tanpa alat penghangat. Setiap malam, letnan muda itu, beserta istri dan bayinya, harus menggigil hebat. Mereka terpaksa tidur dengan bertumpuk-tumpuk menjepitkan diri, menggunakan kasur sebagai selimut darurat agar tak mati kedinginan.
Memasuki Januari yang membekukan, pertahanan Manila runtuh melihat penderitaan keluarganya. Ia mengambil langkah nekat dengan menulis surat kepada Sekretaris Pribadi Jenderal Soemitro, Pak Kirman, untuk diteruskan ke meja sang jenderal. Pesannya singkat namun mengiris hati: "Apakah yang saya terima di Paris ini sebuah penghargaan, atau penyiksaan buat saya, isteri, dan Dewi?"
Surat pilu itu sampai ke tangan Soemitro.
Membaca perlakuan yang diterima penyelamat putranya, sang jenderal murka besar. Tak butuh waktu lama, pada awal Januari 1970 itu juga, Manila sekeluarga segera diterbangkan kembali ke Jakarta.
Sang Athan di Paris pun harus menelan pil pahit akibat keangkuhannya. Jenderal Soemitro mencopot jabatannya dan memakinya habis-habisan. Karir sang atasan tamat; hingga masa pensiunnya tiba, pangkatnya terkunci di level Kolonel.
Dari kerasnya musim dingin Paris dan dinginnya sikap seorang atasan, Letnan Manila memetik satu doktrin kehidupan: kelak ketika ia menjadi komandan, ia pantang meremehkan anak buahnya. Baginya, kepemimpinan adalah soal keteladanan. Jika ada kesalahan, perwira sejati akan memberi arahan, bukan siksaan.
Selamat jalan, Jenderal Manila.
~ Jani Sari Library
Tragedi Sumur Soco 1948 Kisah pembantaian di Pabrik Gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan tidak bisa dilepaskan dari kisah pembantaian Sumur Soco. Dua kejadian ini saling berkaitan. Keduanya sama-sama dilakukan oleh PKI di tahun 1948. Saat itu warga Magetan Jawa Timur dihantui teror. Perilaku orang-orang komunis semakin menjadi. Entah apa yang merasuki jiwa mereka. Karena mereka laksana setan berwujud manusia. Semuanya berawal dari sebuah undangan rapat. Saat itu para pemuka agama dan pemuka pemerintahan Magetan mendapat undangan rapat yang mengatasnamakan Bupati Magetan. Undangan itu bertempat di Kabupaten. Sebagai seorang warga negara yang baik, Kyai Soelaiman memenuhi undangan tersebut dengan patuh. Meskipun hatinya merasa gundah, merasa ada sesuatu yang aneh, tapi Kyai Soelaiman tetap hadir. Kyai Soelaiman merupakan pengasuh Ponpes Ath-Thohirin di desa Mojopurno Magetan. Ia mendatangi undangan tersebut bersama dua ratus tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya. Sesampainya di Kabupaten, ia mendapati ratusan orang lainnya sudah datang dan terlihat kebingungan. Para tamu undangan itu terlihat cemas. Ia pun bertanya-tanya, ada apa gerangan. Dan ia segera menemukan jawabnya ketika melihat para aktifis FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang merupakan tentara PKI sedang menodongkan senjatanya. Kyai Soelaiman langsung tersadar bahwa undangan ini hanyalah jebakan PKI. Ketika semua tamu undangan sudah hadir. Tentara FDR menggiring para tamu yang sudah menjadi tawanannya ke pabrik gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan. Mereka dikumpulkan di loji atau gedung pabrik gula itu. Ada dua rombongan besar di pabrik gula itu. Sebuah rombongan dimasukan dalam gudang. Kemudian gudang itu ditutup. Tentara FDR membuka sebuah jendela dan memberondong semua orang dalam gudang. Banjir darah di gudang itu menghantui rombongan satunya. Kyai Soelaiman termasuk dalam rombongan yang tidak dimasukan dalam gudang. Ia beserta ratusan orang lainnya disuruh naik gerbong kereta Kertapati. Ia bersama ratusan ulama dan santri dibawa ke sebuah sumur di daerah Soco. Ia yang sudah melihat pembantaian di Pabrik Gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan, sudah faham bahwa nyawanya di ujung tanduk. Bahwa semua yang ada dalam gerbong kereta ini pastilah akan dibantai. Entah pembantaian jenis apa yang akan mereka hadapi. Sesampainya di Desa Soco, para tawanan itu disuruh turun. Ternyata disana sudah menanti dua lubang besar. Dua lubang yang akan dijadikan kuburan massal. Rombongan itu disuruh turun dari kereta. Mereka dibagi dua kelompok. Didekatkan ke masing-masing lubang. Para algojo PKI menyuruh para tawanan untuk masuk ke dalam lubang. Jika melawan maka senjata tajam mereka bertindak. Para tawanan tak punya pilihan lain. Mereka memasuki lubang kematian itu dengan patuh, termasuk Kyai Soelaiman. Begitu para tawanan sudah menempatkan dirinya dalam kedua lubang besar itu, para algojo PKI memulai pestanya. Mereka membunuh tawanan itu dengan sadis. Sebuah perilaku yang tak terpikirkan oleh manusia waras yang berhati nurani. Para algojo itu mengubur hidup-hidup dua ratus tawanan. Mereka melemparkan batu ke dalam sumur hingga sumur itu tertutup. Sepanjang prosesi penguburan hidup-hidup, jeritan para ulama dan santri terdengar menyayat hati. Terdengar suara dzikir tiada henti dari sumur itu. Bahkan dzikir itu tetap terdengar dari dalam sumur hingga 7 hari lamanya. Entah siapa yang berdzikir dari dalam sumur Soco itu. Mungkinkah malaikat? Bisa jadi begitu... Hingga saat ini kedua sumur Soco ini masih ada. Bahkan kereta Kertapati yang mengangkut para tawanan juga masih ada. Sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa dulu di tahun 1948 telah syahid 200 ulama dan santri di sumur tua ini. Nama mereka diabadikan dalam sebuah monument di samping sumur. Kyai Soelaiman bersama para sahabat surganya menjadi korban kekejian PKI. Ia menghembuskan nafas terakhir dalam kegelapan sumur Soco. Semoga penyiksaan yang mereka alami menjadi sebab dinaikan derajat mereka menjadi seorang syuhada yang berjuang membela agamaNya. Gugur sebagai syuhada dalam membela agama adalah sebaik-baik kematian. Selamat jalan para syuhada. Kematianmu menjadi pengingat bagi kami bahwa PKI tidak layak hidup di negri ini.
Tragedi Sumur Soco 1948
Kisah pembantaian di Pabrik Gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan tidak bisa dilepaskan dari kisah pembantaian Sumur Soco. Dua kejadian ini saling berkaitan. Keduanya sama-sama dilakukan oleh PKI di tahun 1948.
Saat itu warga Magetan Jawa Timur dihantui teror. Perilaku orang-orang komunis semakin menjadi. Entah apa yang merasuki jiwa mereka. Karena mereka laksana setan berwujud manusia.
Semuanya berawal dari sebuah undangan rapat. Saat itu para pemuka agama dan pemuka pemerintahan Magetan mendapat undangan rapat yang mengatasnamakan Bupati Magetan. Undangan itu bertempat di Kabupaten.
Sebagai seorang warga negara yang baik, Kyai Soelaiman memenuhi undangan tersebut dengan patuh. Meskipun hatinya merasa gundah, merasa ada sesuatu yang aneh, tapi Kyai Soelaiman tetap hadir.
Kyai Soelaiman merupakan pengasuh Ponpes Ath-Thohirin di desa Mojopurno Magetan. Ia mendatangi undangan tersebut bersama dua ratus tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya.
Sesampainya di Kabupaten, ia mendapati ratusan orang lainnya sudah datang dan terlihat kebingungan. Para tamu undangan itu terlihat cemas. Ia pun bertanya-tanya, ada apa gerangan.
Dan ia segera menemukan jawabnya ketika melihat para aktifis FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang merupakan tentara PKI sedang menodongkan senjatanya. Kyai Soelaiman langsung tersadar bahwa undangan ini hanyalah jebakan PKI.
Ketika semua tamu undangan sudah hadir. Tentara FDR menggiring para tamu yang sudah menjadi tawanannya ke pabrik gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan. Mereka dikumpulkan di loji atau gedung pabrik gula itu.
Ada dua rombongan besar di pabrik gula itu. Sebuah rombongan dimasukan dalam gudang. Kemudian gudang itu ditutup. Tentara FDR membuka sebuah jendela dan memberondong semua orang dalam gudang. Banjir darah di gudang itu menghantui rombongan satunya.
Kyai Soelaiman termasuk dalam rombongan yang tidak dimasukan dalam gudang. Ia beserta ratusan orang lainnya disuruh naik gerbong kereta Kertapati. Ia bersama ratusan ulama dan santri dibawa ke sebuah sumur di daerah Soco.
Ia yang sudah melihat pembantaian di Pabrik Gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan, sudah faham bahwa nyawanya di ujung tanduk. Bahwa semua yang ada dalam gerbong kereta ini pastilah akan dibantai. Entah pembantaian jenis apa yang akan mereka hadapi.
Sesampainya di Desa Soco, para tawanan itu disuruh turun. Ternyata disana sudah menanti dua lubang besar. Dua lubang yang akan dijadikan kuburan massal.
Rombongan itu disuruh turun dari kereta. Mereka dibagi dua kelompok. Didekatkan ke masing-masing lubang.
Para algojo PKI menyuruh para tawanan untuk masuk ke dalam lubang. Jika melawan maka senjata tajam mereka bertindak. Para tawanan tak punya pilihan lain. Mereka memasuki lubang kematian itu dengan patuh, termasuk Kyai Soelaiman.
Begitu para tawanan sudah menempatkan dirinya dalam kedua lubang besar itu, para algojo PKI memulai pestanya. Mereka membunuh tawanan itu dengan sadis. Sebuah perilaku yang tak terpikirkan oleh manusia waras yang berhati nurani.
Para algojo itu mengubur hidup-hidup dua ratus tawanan. Mereka melemparkan batu ke dalam sumur hingga sumur itu tertutup. Sepanjang prosesi penguburan hidup-hidup, jeritan para ulama dan santri terdengar menyayat hati.
Terdengar suara dzikir tiada henti dari sumur itu. Bahkan dzikir itu tetap terdengar dari dalam sumur hingga 7 hari lamanya. Entah siapa yang berdzikir dari dalam sumur Soco itu. Mungkinkah malaikat? Bisa jadi begitu...
Hingga saat ini kedua sumur Soco ini masih ada. Bahkan kereta Kertapati yang mengangkut para tawanan juga masih ada. Sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa dulu di tahun 1948 telah syahid 200 ulama dan santri di sumur tua ini. Nama mereka diabadikan dalam sebuah monument di samping sumur.
Kyai Soelaiman bersama para sahabat surganya menjadi korban kekejian PKI. Ia menghembuskan nafas terakhir dalam kegelapan sumur Soco.
Semoga penyiksaan yang mereka alami menjadi sebab dinaikan derajat mereka menjadi seorang syuhada yang berjuang membela agamaNya. Gugur sebagai syuhada dalam membela agama adalah sebaik-baik kematian. Selamat jalan para syuhada. Kematianmu menjadi pengingat bagi kami bahwa PKI tidak layak hidup di negri ini.
🇮🇩 BOK KASMINAH — PEREMPUAN JAWA YANG MENINGGALKAN TANAH JAWA, MENYEBERANGI LAUTAN MENUJU SURINAME Bayangkan seorang perempuan Jawa berusia 33 tahun meninggalkan tanah kelahirannya… Bukan untuk berlibur. Bukan pula untuk mencari kehidupan yang mudah. Pada 14 April 1908, dari Semarang, seorang perempuan bernama Bok Kasminah berangkat menuju Suriname dengan menumpang kapal uap SS Sumatra & Prins Willem IV. Di belakangnya ada tanah Jawa. Di hadapannya terbentang lautan luas dan sebuah negeri yang sangat jauh dari kampung halamannya. Kasminah berasal dari Desa Klepek, Distrik Kapas, Afdeling Bodjonegoro, wilayah Rembang. Ia tercatat beragama Islam dan memiliki tinggi badan sekitar 151 cm. Bahkan arsip kolonial mencatat sebuah tanda lahir di tubuhnya: tanda lahir di bahu kiri. Mungkin bagi kita, keterangan itu hanyalah baris-baris kecil dalam sebuah kartu arsip. Namun di balik tulisan tersebut, ada seorang manusia. Ada seorang perempuan. Ada seseorang yang pernah memiliki rumah, keluarga, kampung halaman, dan mungkin juga orang-orang yang berat ditinggalkannya. MENINGGALKAN JAWA Setelah menempuh perjalanan laut, Kasminah tiba di Paramaribo, Suriname. Ia kemudian ditempatkan untuk bekerja di Perkebunan Killenstein, Beneden-Commewijne, di bawah pengelolaan I.H.C. Catz. Kasminah tercatat sebagai pekerja kontrak dengan kode KK177. Kontrak pertamanya berlangsung sejak 15 Juni 1908 hingga 15 Juni 1913. Lima tahun. Lima tahun hidupnya tercatat dalam sebuah kontrak kerja di negeri yang jaraknya ribuan kilometer dari Jawa. Dan mungkin, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Suriname, ia tidak pernah tahu seperti apa masa depan yang menunggunya. BAHKAN SAKIT PUN TERCATAT DALAM ARSIP Tidak lama setelah tiba di Suriname, Kasminah sempat dirawat di Rumah Sakit Militer. Ia tercatat keluar dari rumah sakit pada 29 Juni 1908. Bayangkan… Baru saja tiba di negeri yang asing, jauh dari tanah kelahiran, ia harus berhadapan dengan sakit dan perawatan. Tetapi kehidupan terus berjalan. Nama Kasminah kemudian kembali muncul dalam catatan-catatan administrasi kolonial. Tahun berganti. Dan dari catatan yang tersisa, kita mulai melihat bahwa perjalanan Kasminah bukan sekadar perjalanan seorang pekerja kontrak. Ia juga menjadi bagian dari lahirnya sebuah keluarga Jawa di tanah Suriname. ANAK-ANAK YANG LAHIR JAUH DARI TANAH JAWA Arsip mencatat sedikitnya dua anak perempuan yang berkaitan dengan Kasminah. Yang pertama adalah Sartina, lahir pada 20 Juni 1909. Kemudian tercatat Sartinah, lahir pada 26 Juni 1916. Mereka lahir bukan di tanah Jawa yang menjadi asal ibunya. Mereka lahir jauh di seberang lautan. Di sebuah negeri bernama Suriname. Kelak, pada 24 Oktober 1955, arsip mencatat perubahan nama keluarga mereka menjadi Amatsoerdi, dengan nama depan yang juga tercatat sebagai Sarinem dan Sarti. Sartina kemudian tercatat sebagai ibu dari Sarti, yang lahir pada 14 November 1923, serta Sijam, yang lahir pada 21 Oktober 1940 di Commewijne. Sementara Sartinah juga tercatat pernah membuat kontrak kerja dengan perkebunan Berlijn pada 1 Mei 1925 untuk masa tiga tahun. Begitulah waktu bekerja. Seorang perempuan datang dari Jawa. Kemudian lahirlah anak-anak. Anak-anak itu tumbuh. Dan generasi berikutnya meneruskan kehidupan mereka di tanah yang dahulu mungkin terasa begitu asing. SEBUAH NAMA YANG HAMPIR HILANG Yang membuat kisah seperti Kasminah terasa begitu menyentuh adalah kenyataan bahwa sebagian besar hidupnya kini hanya tersisa dalam potongan-potongan arsip. Nama. Usia. Tinggi badan. Tempat asal. Nama kapal. Nomor kontrak. Nama perkebunan. Catatan rumah sakit. Nama anak-anak. Hanya itu yang tersisa di hadapan kita. Padahal di balik setiap baris tersebut pernah ada kehidupan nyata. Ada seorang perempuan yang pernah berjalan di tanah Jawa. Ada seorang ibu yang mungkin pernah memeluk anaknya. Ada seseorang yang pernah merindukan kampung halaman. Dan mungkin pernah bertanya dalam hati… “Kapan aku bisa kembali?” Kita tidak tahu bagaimana akhir perjalanan hidup Bok Kasminah. Bahkan arsip yang tersedia memiliki bagian yang tidak sepenuhnya konsisten. Data utama mencatat Kasminah meninggal pada 11 Juli 1923, sementara terdapat pula catatan kontrak lanjutan dengan tanggal setelah tahun tersebut. Karena itu, bagian tersebut belum dapat dipastikan dan perlu dibandingkan dengan dokumen arsip yang lebih lengkap. Namun satu hal yang jelas: Nama Bok Kasminah pernah tercatat dalam sejarah. Ia adalah bagian dari perjalanan panjang orang-orang Jawa yang dibawa dan diberangkatkan ke Suriname pada masa kolonial. Mereka meninggalkan tanah Jawa. Menyeberangi lautan. Bekerja di perkebunan. Membangun keluarga. Dan akhirnya, tanpa mereka sadari, menjadi bagian dari terbentuknya komunitas keturunan Jawa di Suriname. Hari ini, lebih dari satu abad kemudian, kita hanya melihat sebuah foto dan selembar kartu arsip. Tetapi di balik foto itu… ada seorang perempuan Jawa yang pernah hidup, pernah berjuang, pernah menjadi ibu, dan pernah menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang sangat panjang. Semoga nama-nama seperti Bok Kasminah tidak kembali hilang ditelan zaman. Karena sejarah bukan hanya tentang raja, perang, dan tokoh besar. Sejarah juga tentang orang-orang biasa yang hidupnya mungkin sederhana, tetapi jejaknya ikut membentuk perjalanan sebuah bangsa. ❤️ 📜 Sumber: Nationaal Archief 📷 Foto asli hitam putih berasal dari arsip. 🎨 Foto telah diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. Catatan: Ejaan nama, singkatan, nomor register, dan keterangan lainnya mengikuti isi kartu arsip. Bagian yang tampak tidak konsisten, khususnya mengenai tanggal kematian dan kontrak lanjutan, belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan dokumen asli yang lebih lengkap. Foto asli hitam putih dan catatan arsip dapat dilihat di kolom komentar. Jika ada keluarga atau pembaca yang memiliki informasi tambahan tentang Bok Kasminah dari Klepek, silakan berbagi. Bisa jadi satu informasi kecil dari masyarakat membantu melengkapi kembali kisah seorang perempuan Jawa yang telah lama terpisah dari tanah kelahirannya. 🙏 Semoga jejak mereka tidak pernah benar-benar hilang. #SejarahIndonesia #SejarahJawa #SejarahSuriname #JawaSuriname #DiasporaJawa #PekerjaKontrak #KuliKontrak #HindiaBelanda #Suriname #SejarahNusantara #DuniaSejarah #KisahSejarah #NationaalArchief
🇮🇩 BOK KASMINAH — PEREMPUAN JAWA YANG MENINGGALKAN TANAH JAWA, MENYEBERANGI LAUTAN MENUJU SURINAME
Bayangkan seorang perempuan Jawa berusia 33 tahun meninggalkan tanah kelahirannya…
Bukan untuk berlibur.
Bukan pula untuk mencari kehidupan yang mudah.
Pada 14 April 1908, dari Semarang, seorang perempuan bernama Bok Kasminah berangkat menuju Suriname dengan menumpang kapal uap SS Sumatra & Prins Willem IV.
Di belakangnya ada tanah Jawa.
Di hadapannya terbentang lautan luas dan sebuah negeri yang sangat jauh dari kampung halamannya.
Kasminah berasal dari Desa Klepek, Distrik Kapas, Afdeling Bodjonegoro, wilayah Rembang. Ia tercatat beragama Islam dan memiliki tinggi badan sekitar 151 cm.
Bahkan arsip kolonial mencatat sebuah tanda lahir di tubuhnya: tanda lahir di bahu kiri.
Mungkin bagi kita, keterangan itu hanyalah baris-baris kecil dalam sebuah kartu arsip.
Namun di balik tulisan tersebut, ada seorang manusia.
Ada seorang perempuan.
Ada seseorang yang pernah memiliki rumah, keluarga, kampung halaman, dan mungkin juga orang-orang yang berat ditinggalkannya.
MENINGGALKAN JAWA
Setelah menempuh perjalanan laut, Kasminah tiba di Paramaribo, Suriname.
Ia kemudian ditempatkan untuk bekerja di Perkebunan Killenstein, Beneden-Commewijne, di bawah pengelolaan I.H.C. Catz.
Kasminah tercatat sebagai pekerja kontrak dengan kode KK177.
Kontrak pertamanya berlangsung sejak 15 Juni 1908 hingga 15 Juni 1913.
Lima tahun.
Lima tahun hidupnya tercatat dalam sebuah kontrak kerja di negeri yang jaraknya ribuan kilometer dari Jawa.
Dan mungkin, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Suriname, ia tidak pernah tahu seperti apa masa depan yang menunggunya.
BAHKAN SAKIT PUN TERCATAT DALAM ARSIP
Tidak lama setelah tiba di Suriname, Kasminah sempat dirawat di Rumah Sakit Militer.
Ia tercatat keluar dari rumah sakit pada 29 Juni 1908.
Bayangkan…
Baru saja tiba di negeri yang asing, jauh dari tanah kelahiran, ia harus berhadapan dengan sakit dan perawatan.
Tetapi kehidupan terus berjalan.
Nama Kasminah kemudian kembali muncul dalam catatan-catatan administrasi kolonial.
Tahun berganti.
Dan dari catatan yang tersisa, kita mulai melihat bahwa perjalanan Kasminah bukan sekadar perjalanan seorang pekerja kontrak.
Ia juga menjadi bagian dari lahirnya sebuah keluarga Jawa di tanah Suriname.
ANAK-ANAK YANG LAHIR JAUH DARI TANAH JAWA
Arsip mencatat sedikitnya dua anak perempuan yang berkaitan dengan Kasminah.
Yang pertama adalah Sartina, lahir pada 20 Juni 1909.
Kemudian tercatat Sartinah, lahir pada 26 Juni 1916.
Mereka lahir bukan di tanah Jawa yang menjadi asal ibunya.
Mereka lahir jauh di seberang lautan.
Di sebuah negeri bernama Suriname.
Kelak, pada 24 Oktober 1955, arsip mencatat perubahan nama keluarga mereka menjadi Amatsoerdi, dengan nama depan yang juga tercatat sebagai Sarinem dan Sarti.
Sartina kemudian tercatat sebagai ibu dari Sarti, yang lahir pada 14 November 1923, serta Sijam, yang lahir pada 21 Oktober 1940 di Commewijne.
Sementara Sartinah juga tercatat pernah membuat kontrak kerja dengan perkebunan Berlijn pada 1 Mei 1925 untuk masa tiga tahun.
Begitulah waktu bekerja.
Seorang perempuan datang dari Jawa.
Kemudian lahirlah anak-anak.
Anak-anak itu tumbuh.
Dan generasi berikutnya meneruskan kehidupan mereka di tanah yang dahulu mungkin terasa begitu asing.
SEBUAH NAMA YANG HAMPIR HILANG
Yang membuat kisah seperti Kasminah terasa begitu menyentuh adalah kenyataan bahwa sebagian besar hidupnya kini hanya tersisa dalam potongan-potongan arsip.
Nama.
Usia.
Tinggi badan.
Tempat asal.
Nama kapal.
Nomor kontrak.
Nama perkebunan.
Catatan rumah sakit.
Nama anak-anak.
Hanya itu yang tersisa di hadapan kita.
Padahal di balik setiap baris tersebut pernah ada kehidupan nyata.
Ada seorang perempuan yang pernah berjalan di tanah Jawa.
Ada seorang ibu yang mungkin pernah memeluk anaknya.
Ada seseorang yang pernah merindukan kampung halaman.
Dan mungkin pernah bertanya dalam hati…
“Kapan aku bisa kembali?”
Kita tidak tahu bagaimana akhir perjalanan hidup Bok Kasminah.
Bahkan arsip yang tersedia memiliki bagian yang tidak sepenuhnya konsisten. Data utama mencatat Kasminah meninggal pada 11 Juli 1923, sementara terdapat pula catatan kontrak lanjutan dengan tanggal setelah tahun tersebut.
Karena itu, bagian tersebut belum dapat dipastikan dan perlu dibandingkan dengan dokumen arsip yang lebih lengkap.
Namun satu hal yang jelas:
Nama Bok Kasminah pernah tercatat dalam sejarah.
Ia adalah bagian dari perjalanan panjang orang-orang Jawa yang dibawa dan diberangkatkan ke Suriname pada masa kolonial.
Mereka meninggalkan tanah Jawa.
Menyeberangi lautan.
Bekerja di perkebunan.
Membangun keluarga.
Dan akhirnya, tanpa mereka sadari, menjadi bagian dari terbentuknya komunitas keturunan Jawa di Suriname.
Hari ini, lebih dari satu abad kemudian, kita hanya melihat sebuah foto dan selembar kartu arsip.
Tetapi di balik foto itu…
ada seorang perempuan Jawa yang pernah hidup, pernah berjuang, pernah menjadi ibu, dan pernah menjadi bagian dari perjalanan sejarah yang sangat panjang.
Semoga nama-nama seperti Bok Kasminah tidak kembali hilang ditelan zaman.
Karena sejarah bukan hanya tentang raja, perang, dan tokoh besar.
Sejarah juga tentang orang-orang biasa yang hidupnya mungkin sederhana, tetapi jejaknya ikut membentuk perjalanan sebuah bangsa. ❤️
📜 Sumber: Nationaal Archief
📷 Foto asli hitam putih berasal dari arsip.
🎨 Foto telah diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah.
Catatan:
Ejaan nama, singkatan, nomor register, dan keterangan lainnya mengikuti isi kartu arsip. Bagian yang tampak tidak konsisten, khususnya mengenai tanggal kematian dan kontrak lanjutan, belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan dokumen asli yang lebih lengkap.
Foto asli hitam putih dan catatan arsip dapat dilihat di kolom komentar.
Jika ada keluarga atau pembaca yang memiliki informasi tambahan tentang Bok Kasminah dari Klepek, silakan berbagi. Bisa jadi satu informasi kecil dari masyarakat membantu melengkapi kembali kisah seorang perempuan Jawa yang telah lama terpisah dari tanah kelahirannya.
🙏 Semoga jejak mereka tidak pernah benar-benar hilang.
#SejarahIndonesia #SejarahJawa #SejarahSuriname #JawaSuriname #DiasporaJawa #PekerjaKontrak #KuliKontrak #HindiaBelanda #Suriname #SejarahNusantara #DuniaSejarah #KisahSejarah #NationaalArchief
Tidak lagi saling menatap Pada postingan sebelumnya telah disampaikan foto Waperdam Soebandrio yang menyalami Mayjen Soeharto yang baru saja diangkat menjadi Men/Pangad. Antonie Dake menyebutkan dalam bukunya bahwa pada masa itu keduanya sudah tidak lagi saling bertegur sapa. Dari buku yang berbeda (juga karya Antonie Dake) kali ini terlihat foto Mayjen Soeharto yang berbincang dengan Waperdam Soebandrio, yang menurut Dake, tanpa saling menatap satu sama lain. Sumber: Buku In the Spirit of the Red Banteng karya Antonie C. A. Dake, hal. 251. Ps: Terkesan keduanya berbicara ala kadarnya, mungkin hanya basa-basi.
Tidak lagi saling menatap
Pada postingan sebelumnya telah disampaikan foto Waperdam Soebandrio yang menyalami Mayjen Soeharto yang baru saja diangkat menjadi Men/Pangad. Antonie Dake menyebutkan dalam bukunya bahwa pada masa itu keduanya sudah tidak lagi saling bertegur sapa.
Dari buku yang berbeda (juga karya Antonie Dake) kali ini terlihat foto Mayjen Soeharto yang berbincang dengan Waperdam Soebandrio, yang menurut Dake, tanpa saling menatap satu sama lain.
Sumber: Buku In the Spirit of the Red Banteng karya Antonie C. A. Dake, hal. 251.
Ps: Terkesan keduanya berbicara ala kadarnya, mungkin hanya basa-basi.
Sumber : Domatus Greorius
KARIJOPAWIRO — PEMUDA JAWA 17 TAHUN DARI YOGYAKARTA YANG MENINGGALKAN TANAH KELAHIRANNYA MENUJU SURINAME Bayangkan seorang pemuda berusia 17 tahun berdiri di hadapan kamera dengan wajah serius. Ia masih sangat muda. Namun, tak lama setelah foto itu dibuat, ia harus meninggalkan tanah kelahirannya dan menempuh perjalanan jauh melintasi lautan menuju sebuah negeri yang mungkin belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Namanya Karijopawiro. Foto dan kartu arsip kolonial mencatat bahwa pada 24 September 1928, pemuda asal Yogyakarta ini berangkat dari Batavia menuju Paramaribo, Suriname, dengan kapal uap SS Buitenzorg IV. Di balik selembar foto tua itu, ternyata tersimpan kisah panjang tentang seorang pemuda Jawa yang menjadi bagian dari sejarah diaspora orang Jawa di Suriname. MASIH 17 TAHUN KETIKA MENINGGALKAN JAWA Menurut kartu arsip, Karijopawiro berjenis kelamin laki-laki, berusia 17 tahun, memiliki tinggi badan sekitar 156 cm, dan beragama Islam. Ia tercatat lahir di Nederlands-Indië (Hindia Belanda) dan berasal dari wilayah Djokjakarta (Yogyakarta), tepatnya: Distrik Sleman — Desa Namboengan. Arsip juga mencatat sebuah tanda pengenal pada dirinya, yaitu bercak pigmentasi di pipi kiri. Catatan kecil seperti ini dibuat untuk membantu mengidentifikasi seseorang dalam administrasi kolonial. Nama ayahnya tercatat: Sarindi. Hari ini, mungkin hanya sedikit orang yang mengenal nama Karijopawiro. Namun, kartu arsip tersebut membuat jejak kehidupannya kembali muncul setelah puluhan tahun berlalu. 24 SEPTEMBER 1928 — BERANGKAT DARI BATAVIA Tanggal 24 September 1928 menjadi salah satu tanggal penting dalam perjalanan hidupnya. Karijopawiro meninggalkan Batavia dengan kapal uap SS Buitenzorg IV, menuju Paramaribo, Suriname. Perjalanan itu bukan perjalanan biasa. Ia berarti meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan kehidupan yang selama ini dikenalnya di Jawa untuk menuju negeri yang jaraknya ribuan kilometer. Bagi seorang pemuda yang baru berusia 17 tahun, perjalanan tersebut tentu menjadi sebuah babak baru yang sangat besar dalam hidupnya. Dan mungkin, saat kapal mulai menjauh dari tanah Jawa, ia tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang akan menantinya di Suriname. MENJADI PEKERJA KONTRAK DI SURINAME Setelah tiba di Suriname, Karijopawiro tercatat ditempatkan untuk bekerja di Marienburg & Zoelen. Dalam kartu arsip tercantum keterangan: Pl. Marienburg en Zoelen Untuk: Koloniaal Gouvernement Kode kontrak: AF2240 Arsip juga mencatat bahwa kontraknya dimulai pada 11 November 1928 dan berakhir pada 11 November 1933. Artinya, Karijopawiro menjalani masa kontrak selama sekitar lima tahun. Di usia yang masih sangat muda, kehidupannya kemudian terikat dengan dunia kerja perkebunan di Suriname. DARI SLEMAN KE TANAH YANG JAUH Yang membuat kisah Karijopawiro terasa begitu menyentuh adalah asal-usulnya. Ia bukan berasal dari kota besar. Arsip mencatatnya berasal dari wilayah Sleman, Yogyakarta. Dari sebuah desa di Jawa, ia kemudian menyeberangi lautan menuju Suriname. Perjalanan seperti inilah yang kemudian membentuk sejarah panjang diaspora Jawa di Suriname. Ribuan orang Jawa dari Hindia Belanda pernah melakukan perjalanan serupa. Mereka membawa nama, bahasa, adat, agama, dan kenangan tentang tanah Jawa ke negeri yang sangat jauh. Karijopawiro adalah salah satu nama yang jejaknya masih dapat ditemukan melalui arsip. SEBUAH CATATAN NAMA PADA 1953 Ada pula catatan menarik dalam kartu arsipnya. Pada bagian Naamsgegevens (Data Nama) tercatat bahwa pada 20 November 1953 terdapat pencatatan mengenai pemilihan atau penetapan nama keluarga dan nama depan. Nama keluarga yang tercatat adalah Karijopawiro, sedangkan nama depan yang disebut adalah Sarindi. Nama Sarindi juga merupakan nama ayah Karijopawiro yang tercatat dalam kartu. Catatan ini menunjukkan bahwa perjalanan hidupnya tidak berhenti ketika masa kontraknya berakhir pada 1933. Jejak administrasinya masih tercatat hingga puluhan tahun kemudian. Namun, untuk memahami secara pasti konteks perubahan atau penetapan nama tersebut, diperlukan pembacaan lebih lengkap terhadap register dan dokumen arsip terkait. FOTO NOMOR 173 Dalam foto, Karijopawiro terlihat menghadap kamera dengan pakaian sederhana dan ekspresi wajah yang serius. Di bagian depan tubuhnya tampak sebuah papan dengan angka: 173 Angka tersebut merupakan nomor yang terlihat pada foto, sementara kartu arsip mencantumkan nomor monster 215. Detail-detail kecil seperti nomor foto, nama ayah, tanda pengenal di wajah, asal desa, hingga tanggal keberangkatan menjadi bagian penting dalam membantu kita mengenali siapa sosok di balik foto tersebut. Sebab, tanpa catatan-catatan itu, mungkin wajah Karijopawiro hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak foto lama tanpa nama. SELEMBAR FOTO, SEBUAH PERJALANAN HIDUP Kini, hampir satu abad telah berlalu sejak Karijopawiro meninggalkan Jawa. Ia berangkat ketika usianya baru 17 tahun. Kita tidak tahu persis apa yang ia rasakan ketika meninggalkan tanah kelahirannya. Apakah ia menangis ketika berpisah dengan keluarga? Apakah ia sempat memandang kembali tanah Jawa dari atas kapal? Apakah ia pernah membayangkan akan kembali pulang? Arsip tidak selalu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tetapi satu hal yang bisa kita lihat hari ini adalah jejak perjalanannya. Dari Sleman, Yogyakarta, menuju Batavia, lalu menyeberangi lautan hingga Paramaribo, Suriname. Seorang pemuda Jawa berusia 17 tahun yang mungkin dahulu hanya dianggap sebagai angka dalam administrasi kolonial, kini kembali kita kenang sebagai bagian dari sejarah panjang perjalanan orang Jawa ke Suriname. Dan mungkin, foto tua ini bukan sekadar foto. Ia adalah potongan kecil dari sebuah kehidupan yang pernah benar-benar ada. Semoga kisah Karijopawiro dan orang-orang Jawa lainnya yang menjalani perjalanan serupa tidak hilang ditelan zaman. Al-Fatihah untuk mereka yang telah mendahului kita. Sumber: Nationaal Archief, berdasarkan kartu arsip kolonial dan foto yang ditampilkan. Catatan: Ejaan nama, tempat, dan istilah administratif mengikuti dokumen arsip. Beberapa istilah administrasi, termasuk CVO, memerlukan konteks dokumen tambahan untuk memastikan kepanjangannya. Foto diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. 📌 Catatan: arsip asli dan foto hitam putih dapat dilihat di kolom komentar. #SejarahIndonesia #SejarahJawa #Suriname #JawaSuriname #DiasporaJawa #PekerjaKontrak #HindiaBelanda #Paramaribo #Batavia #Djokjakarta #Yogyakarta #Sleman #DuniaSejarah #SejarahKolonial #KangAjatajat
KARIJOPAWIRO — PEMUDA JAWA 17 TAHUN DARI YOGYAKARTA YANG MENINGGALKAN TANAH KELAHIRANNYA MENUJU SURINAME
Bayangkan seorang pemuda berusia 17 tahun berdiri di hadapan kamera dengan wajah serius.
Ia masih sangat muda. Namun, tak lama setelah foto itu dibuat, ia harus meninggalkan tanah kelahirannya dan menempuh perjalanan jauh melintasi lautan menuju sebuah negeri yang mungkin belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Namanya Karijopawiro.
Foto dan kartu arsip kolonial mencatat bahwa pada 24 September 1928, pemuda asal Yogyakarta ini berangkat dari Batavia menuju Paramaribo, Suriname, dengan kapal uap SS Buitenzorg IV.
Di balik selembar foto tua itu, ternyata tersimpan kisah panjang tentang seorang pemuda Jawa yang menjadi bagian dari sejarah diaspora orang Jawa di Suriname.
MASIH 17 TAHUN KETIKA MENINGGALKAN JAWA
Menurut kartu arsip, Karijopawiro berjenis kelamin laki-laki, berusia 17 tahun, memiliki tinggi badan sekitar 156 cm, dan beragama Islam.
Ia tercatat lahir di Nederlands-Indië (Hindia Belanda) dan berasal dari wilayah Djokjakarta (Yogyakarta), tepatnya:
Distrik Sleman — Desa Namboengan.
Arsip juga mencatat sebuah tanda pengenal pada dirinya, yaitu bercak pigmentasi di pipi kiri. Catatan kecil seperti ini dibuat untuk membantu mengidentifikasi seseorang dalam administrasi kolonial.
Nama ayahnya tercatat:
Sarindi.
Hari ini, mungkin hanya sedikit orang yang mengenal nama Karijopawiro. Namun, kartu arsip tersebut membuat jejak kehidupannya kembali muncul setelah puluhan tahun berlalu.
24 SEPTEMBER 1928 — BERANGKAT DARI BATAVIA
Tanggal 24 September 1928 menjadi salah satu tanggal penting dalam perjalanan hidupnya.
Karijopawiro meninggalkan Batavia dengan kapal uap SS Buitenzorg IV, menuju Paramaribo, Suriname.
Perjalanan itu bukan perjalanan biasa.
Ia berarti meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan kehidupan yang selama ini dikenalnya di Jawa untuk menuju negeri yang jaraknya ribuan kilometer.
Bagi seorang pemuda yang baru berusia 17 tahun, perjalanan tersebut tentu menjadi sebuah babak baru yang sangat besar dalam hidupnya.
Dan mungkin, saat kapal mulai menjauh dari tanah Jawa, ia tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang akan menantinya di Suriname.
MENJADI PEKERJA KONTRAK DI SURINAME
Setelah tiba di Suriname, Karijopawiro tercatat ditempatkan untuk bekerja di Marienburg & Zoelen.
Dalam kartu arsip tercantum keterangan:
Pl. Marienburg en Zoelen
Untuk: Koloniaal Gouvernement
Kode kontrak: AF2240
Arsip juga mencatat bahwa kontraknya dimulai pada 11 November 1928 dan berakhir pada 11 November 1933.
Artinya, Karijopawiro menjalani masa kontrak selama sekitar lima tahun.
Di usia yang masih sangat muda, kehidupannya kemudian terikat dengan dunia kerja perkebunan di Suriname.
DARI SLEMAN KE TANAH YANG JAUH
Yang membuat kisah Karijopawiro terasa begitu menyentuh adalah asal-usulnya.
Ia bukan berasal dari kota besar. Arsip mencatatnya berasal dari wilayah Sleman, Yogyakarta.
Dari sebuah desa di Jawa, ia kemudian menyeberangi lautan menuju Suriname.
Perjalanan seperti inilah yang kemudian membentuk sejarah panjang diaspora Jawa di Suriname.
Ribuan orang Jawa dari Hindia Belanda pernah melakukan perjalanan serupa. Mereka membawa nama, bahasa, adat, agama, dan kenangan tentang tanah Jawa ke negeri yang sangat jauh.
Karijopawiro adalah salah satu nama yang jejaknya masih dapat ditemukan melalui arsip.
SEBUAH CATATAN NAMA PADA 1953
Ada pula catatan menarik dalam kartu arsipnya.
Pada bagian Naamsgegevens (Data Nama) tercatat bahwa pada 20 November 1953 terdapat pencatatan mengenai pemilihan atau penetapan nama keluarga dan nama depan.
Nama keluarga yang tercatat adalah Karijopawiro, sedangkan nama depan yang disebut adalah Sarindi.
Nama Sarindi juga merupakan nama ayah Karijopawiro yang tercatat dalam kartu.
Catatan ini menunjukkan bahwa perjalanan hidupnya tidak berhenti ketika masa kontraknya berakhir pada 1933. Jejak administrasinya masih tercatat hingga puluhan tahun kemudian.
Namun, untuk memahami secara pasti konteks perubahan atau penetapan nama tersebut, diperlukan pembacaan lebih lengkap terhadap register dan dokumen arsip terkait.
FOTO NOMOR 173
Dalam foto, Karijopawiro terlihat menghadap kamera dengan pakaian sederhana dan ekspresi wajah yang serius.
Di bagian depan tubuhnya tampak sebuah papan dengan angka:
173
Angka tersebut merupakan nomor yang terlihat pada foto, sementara kartu arsip mencantumkan nomor monster 215.
Detail-detail kecil seperti nomor foto, nama ayah, tanda pengenal di wajah, asal desa, hingga tanggal keberangkatan menjadi bagian penting dalam membantu kita mengenali siapa sosok di balik foto tersebut.
Sebab, tanpa catatan-catatan itu, mungkin wajah Karijopawiro hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak foto lama tanpa nama.
SELEMBAR FOTO, SEBUAH PERJALANAN HIDUP
Kini, hampir satu abad telah berlalu sejak Karijopawiro meninggalkan Jawa.
Ia berangkat ketika usianya baru 17 tahun.
Kita tidak tahu persis apa yang ia rasakan ketika meninggalkan tanah kelahirannya. Apakah ia menangis ketika berpisah dengan keluarga? Apakah ia sempat memandang kembali tanah Jawa dari atas kapal? Apakah ia pernah membayangkan akan kembali pulang?
Arsip tidak selalu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Tetapi satu hal yang bisa kita lihat hari ini adalah jejak perjalanannya.
Dari Sleman, Yogyakarta, menuju Batavia, lalu menyeberangi lautan hingga Paramaribo, Suriname.
Seorang pemuda Jawa berusia 17 tahun yang mungkin dahulu hanya dianggap sebagai angka dalam administrasi kolonial, kini kembali kita kenang sebagai bagian dari sejarah panjang perjalanan orang Jawa ke Suriname.
Dan mungkin, foto tua ini bukan sekadar foto.
Ia adalah potongan kecil dari sebuah kehidupan yang pernah benar-benar ada.
Semoga kisah Karijopawiro dan orang-orang Jawa lainnya yang menjalani perjalanan serupa tidak hilang ditelan zaman.
Al-Fatihah untuk mereka yang telah mendahului kita.
Sumber:
Nationaal Archief, berdasarkan kartu arsip kolonial dan foto yang ditampilkan.
Catatan: Ejaan nama, tempat, dan istilah administratif mengikuti dokumen arsip. Beberapa istilah administrasi, termasuk CVO, memerlukan konteks dokumen tambahan untuk memastikan kepanjangannya.
Foto diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah.
📌 Catatan:
arsip asli dan foto hitam putih dapat dilihat di kolom komentar.
#SejarahIndonesia #SejarahJawa #Suriname #JawaSuriname #DiasporaJawa #PekerjaKontrak #HindiaBelanda #Paramaribo #Batavia #Djokjakarta #Yogyakarta #Sleman #DuniaSejarah #SejarahKolonial #KangAjatajat
14 September 2026
Jend. Nasution & Mayjen Soegih Arto Menyaksikan Persidangan Terhadap dr. Soebandrio Di antara para pengunjung sidang yang mengadili dr. Soebandrio terlihat Jenderal TNI A.H. Nasution dan Asisten I Men/Pangad Mayjen TNI Soegih Arto (tengah). Soegih Arto ditunjuk oleh Pangad Letjen Soeharto sebagai pengganti Mayjen S. Parman (letjen anumerta) yang gugur dalam G30S/PKI 1965. Pada masa kepemimpinan Pangad Letjen A. Yani, sesungguhnya Mayjen Soegih Arto sudah pernah direncanakan untuk menjabat sebagai Gubernur Jakarta Raya menggantikan Mayjen TNI dr. Soemarno yang merangkap jabatan sebagai Mendagri. Menurut dugaan Soegih Arto, Pak Yani mungkin telah menduga bahwa jika kelak terjadi gerakan yang dilakukan.oleh PKI, maka Soegih Arto yang perwira infantri akan lebih siap dibandingkan dr. Soemarno yang disibukkan karena jabatannya yang rangkap itu. Rencana Pak Yani belum terwujud namun peristiwa itu lebih dulu terjadi dan merenggut nyawa beliau. Majelis Hakim yang diketuai oleh Letkol CKH Ali Said (terakhir letjen, pernah menjabat Ketua Mahkamah Agung) akhirnya menjatuhkan vonis mati terhadap Soebandrio pada tanggal 23 Oktober 1966. Bertindak sebagai Oditur Militer atau Jaksa Penuntut Umum adalah Letkol CKH Durmawel Ahmad. Sumber foto: Buku Sangkur Adil Pengupas Fitnah Chianat, karya Ali Said dan Durmawel Ahmad, 1967, hal 19.
Jend. Nasution & Mayjen Soegih Arto Menyaksikan Persidangan Terhadap dr. Soebandrio
Di antara para pengunjung sidang yang mengadili dr. Soebandrio terlihat Jenderal TNI A.H. Nasution dan Asisten I Men/Pangad Mayjen TNI Soegih Arto (tengah). Soegih Arto ditunjuk oleh Pangad Letjen Soeharto sebagai pengganti Mayjen S. Parman (letjen anumerta) yang gugur dalam G30S/PKI 1965.
Pada masa kepemimpinan Pangad Letjen A. Yani, sesungguhnya Mayjen Soegih Arto sudah pernah direncanakan untuk menjabat sebagai Gubernur Jakarta Raya menggantikan Mayjen TNI dr. Soemarno yang merangkap jabatan sebagai Mendagri. Menurut dugaan Soegih Arto, Pak Yani mungkin telah menduga bahwa jika kelak terjadi gerakan yang dilakukan.oleh PKI, maka Soegih Arto yang perwira infantri akan lebih siap dibandingkan dr. Soemarno yang disibukkan karena jabatannya yang rangkap itu. Rencana Pak Yani belum terwujud namun peristiwa itu lebih dulu terjadi dan merenggut nyawa beliau.
Majelis Hakim yang diketuai oleh Letkol CKH Ali Said (terak
hir letjen, pernah menjabat Ketua Mahkamah Agung) akhirnya menjatuhkan vonis mati terhadap Soebandrio pada tanggal 23 Oktober 1966. Bertindak sebagai Oditur Militer atau Jaksa Penuntut Umum adalah Letkol CKH Durmawel Ahmad.
Sumber foto:
Buku Sangkur Adil Pengupas Fitnah Chianat, karya Ali Said dan Durmawel Ahmad, 1967, hal 19.
“JENDERAL INI TIDAK GUGUR DI MEDAN PERANG… TAPI DISEBUT MENINGGAL KARENA ‘HARAKIRI JIWA’. SIAPA DIA?” Bagaimana jika seorang jenderal tidak mati di medan perang… tetapi justru patah oleh kekecewaan terhadap arah perjuangan bangsanya sendiri? 17 November 1948. Senja mulai turun di Yogyakarta. Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo sudah beberapa hari terbaring sakit. Penyakit jantung yang pernah dideritanya sejak masa interniran Jepang kembali kambuh. Sang istri, Rohmah, saat itu sedang mengambil segelas susu di dapur. Tiba-tiba… BRAK! Pintu di bagian kiri rumah terbanting keras. Rohmah bergegas menuju kamar. Di sana, Oerip masih terbaring di ranjang. Kedua tangannya terlipat di dada, matanya terpejam, dan ada senyum tipis di wajahnya. Rokok di asbak di samping tempat tidurnya masih terasa hangat. Sang jenderal telah pergi. Namun kisah kematiannya menyimpan cerita yang jauh lebih dalam. Beberapa bulan sebelumnya, Oerip telah diberhentikan dari posisi Kepala Staf Markas Besar Tentara. Ia kemudian ditempatkan di Dewan Pertimbangan Agung. Bagi Oerip, masalah utamanya bukan sekadar kehilangan jabatan. Ia kecewa terhadap Perjanjian Renville dan arah politik pemerintah Republik. Oerip meyakini bahwa perjuangan melawan Belanda tidak seharusnya terlalu bergantung pada meja perundingan. Ia lebih percaya pada kekuatan tentara dan perang gerilya. Pandangan itu sejalan dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ketika kemudian terjadi Peristiwa Madiun 1948, kekecewaan Oerip semakin dalam. Ia bahkan pernah berkata kepada istrinya: “Saya tahu siapa yang melakukan ini semua. Saya akan membalaskan kematian teman-teman kita…” Seiring waktu, semangatnya semakin meredup. Dunia militer yang dahulu menjadi hidupnya terasa semakin jauh. Menjelang akhir hayatnya, Oerip bahkan sempat mengajukan pengunduran diri dari dunia militer. Jenderal Soedirman sendiri melihat bahwa tekanan batin akibat perubahan arah politik telah sangat memengaruhi Oerip. Dalam istilah yang dikutip dari kesaksian mengenai Soedirman, kondisi itu disebut: “Geestelijke harakiri” — harakiri jiwa. Bukan berarti Oerip melakukan harakiri secara fisik. Melainkan sebuah gambaran tentang jiwa seorang pejuang yang seakan hancur perlahan karena kekecewaan. Oerip akhirnya meninggal pada usia 55 tahun. Ia memang tidak gugur dengan senjata di tangan. Namun namanya tetap menjadi salah satu peletak dasar Tentara Republik Indonesia. Kadang, seorang pejuang tidak kalah karena musuh. Ia bisa saja kalah karena kecewa melihat perjuangan yang ia cintai berjalan ke arah yang berbeda dari keyakinannya. 🇮🇩 Jenderal Oerip Soemohardjo: salah satu pendiri tentara Republik yang kisah akhirnya jauh lebih tragis daripada yang banyak orang tahu. 👉 Follow untuk kisah sejarah Indonesia yang jarang dibahas. ⭐ Kalau kamu menghargai perjuangan para pendiri TNI, kasih BINTANG/GIVE untuk mendukung konten ini. #SejarahIndonesia #OeripSoemohardjo #JenderalOerip #SejarahTNI #JenderalSoedirman #PerjanjianRenville #SejarahKemerdekaan #SejarahNusantara #Indonesia #PahlawanNasional #FBPro #ReelsIndonesia
“JENDERAL INI TIDAK GUGUR DI MEDAN PERANG… TAPI DISEBUT MENINGGAL KARENA ‘HARAKIRI JIWA’. SIAPA DIA?”
Bagaimana jika seorang jenderal tidak mati di medan perang… tetapi justru patah oleh kekecewaan terhadap arah perjuangan bangsanya sendiri?
17 November 1948.
Senja mulai turun di Yogyakarta.
Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo sudah beberapa hari terbaring sakit. Penyakit jantung yang pernah dideritanya sejak masa interniran Jepang kembali kambuh.
Sang istri, Rohmah, saat itu sedang mengambil segelas susu di dapur.
Tiba-tiba…
BRAK!
Pintu di bagian kiri rumah terbanting keras.
Rohmah bergegas menuju kamar.
Di sana, Oerip masih terbaring di ranjang. Kedua tangannya terlipat di dada, matanya terpejam, dan ada senyum tipis di wajahnya.
Rokok di asbak di samping tempat tidurnya masih terasa hangat.
Sang jenderal telah pergi.
Namun kisah kematiannya menyimpan cerita yang jauh lebih dalam.
Beberapa bulan sebelumnya, Oerip telah diberhentikan dari posisi Kepala Staf Markas Besar Tentara.
Ia kemudian ditempatkan di Dewan Pertimbangan Agung.
Bagi Oerip, masalah utamanya bukan sekadar kehilangan jabatan.
Ia kecewa terhadap Perjanjian Renville dan arah politik pemerintah Republik.
Oerip meyakini bahwa perjuangan melawan Belanda tidak seharusnya terlalu bergantung pada meja perundingan. Ia lebih percaya pada kekuatan tentara dan perang gerilya.
Pandangan itu sejalan dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Ketika kemudian terjadi Peristiwa Madiun 1948, kekecewaan Oerip semakin dalam.
Ia bahkan pernah berkata kepada istrinya:
“Saya tahu siapa yang melakukan ini semua. Saya akan membalaskan kematian teman-teman kita…”
Seiring waktu, semangatnya semakin meredup.
Dunia militer yang dahulu menjadi hidupnya terasa semakin jauh.
Menjelang akhir hayatnya, Oerip bahkan sempat mengajukan pengunduran diri dari dunia militer.
Jenderal Soedirman sendiri melihat bahwa tekanan batin akibat perubahan arah politik telah sangat memengaruhi Oerip.
Dalam istilah yang dikutip dari kesaksian mengenai Soedirman, kondisi itu disebut:
“Geestelijke harakiri” — harakiri jiwa.
Bukan berarti Oerip melakukan harakiri secara fisik.
Melainkan sebuah gambaran tentang jiwa seorang pejuang yang seakan hancur perlahan karena kekecewaan.
Oerip akhirnya meninggal pada usia 55 tahun.
Ia memang tidak gugur dengan senjata di tangan.
Namun namanya tetap menjadi salah satu peletak dasar Tentara Republik Indonesia.
Kadang, seorang pejuang tidak kalah karena musuh.
Ia bisa saja kalah karena kecewa melihat perjuangan yang ia cintai berjalan ke arah yang berbeda dari keyakinannya.
🇮🇩 Jenderal Oerip Soemohardjo: salah satu pendiri tentara Republik yang kisah akhirnya jauh lebih tragis daripada yang banyak orang tahu.
👉 Follow untuk kisah sejarah Indonesia yang jarang dibahas.
⭐ Kalau kamu menghargai perjuangan para pendiri TNI, kasih BINTANG/GIVE untuk mendukung konten ini.
#SejarahIndonesia #OeripSoemohardjo #JenderalOerip #SejarahTNI #JenderalSoedirman #PerjanjianRenville #SejarahKemerdekaan #SejarahNusantara #Indonesia #PahlawanNasional #FBPro #ReelsIndonesia
Sumber : Abdul Roziq
BUSET DAH! PRAJURIT JAGA KECEPLOSAN MANGGIL 'MITRO' KE JENDERAL PALING GALAK, BUKANNYA DIBUI MALAH DISAWER DUIT! Catatan humor Jani Sari II Baru saja Surjadi Soedirdja menghirup udara segar Sukabumi sebagai Komandan Batalyon Infanteri 310/Kidang Kancana, takdir rupanya keburu memanggil ke ibukota. Urusan Jakarta memang selalu bikin repot. Belum juga lama duduk di kursi komandan, ia sudah ditarik ke Korps Markas Hankam buat jaga-jaga objek vital dan para VVIP yang nyawanya sangat dijaga. Jadilah Surjadi bermukim di rumah dinas Komplek Hankam Slipi, di bawah komando Brigjen TNI Herman Sarens Sudiro. Anak istrinya? Terpaksa ditinggal di Komplek PPI Bandung, urusan sekolah anak tak bisa diajak kompromi. Sesekali saja sang istri menyusul ke Jakarta. Nah, di tengah rutinitas menjaga jantung negara ini, meletuslah satu lakon yang lucunya bukan main. Syahdan, pada suatu malam yang sepi, telepon di Markas Hankam berdering. Di ujung kabel, sebuah suara berat menyapa, "Halo, Sumitro di sini..." Buat orang yang waras dan tahu peta kekuatan, nama ini cukup bikin lutut gemetar. Jenderal Soemitro, sang Pangkopkamtib! Galak dan tegasnya tersohor dari Sabang sampai Merauke. Tapi apa lacur, prajurit jaga malam itu rupanya lagi khilaf atau memang kelewat polos. Dengan gaya luwes macam kawan lama yang lagi nongkrong di warung kopi, dia menyahut, "Oh... Mitro, ngapain lu malem-malem gini nelepon?" Bisa ditebak, kiamat kecil langsung turun malam itu juga. Jenderal Soemitro meledak amarahnya. Brigjen Herman Sarens pun kena damprat tanpa ampun. Setelah diusut pontang-panting, rupanya si prajurit yang cari penyakit itu tak lain tak bukan adalah anak buah Surjadi; seorang pemuda asal Banten yang urat takutnya mungkin sudah putus dari lahir. Esok harinya, udara pagi Jakarta mendadak terasa lebih dingin. Herman Sarens menitahkan sang prajurit, dengan dikawal langsung oleh Dan Yon-nya, Surjadi, untuk menghadap sang jenderal. Menghadap Soemitro gara-gara urusan begini ibarat setor nyawa. Surjadi putar otak, diwanti-wantinya si prajurit itu, "Pakai bajumu yang paling necis, dari ujung rambut sampai ujung sepatu kinclong semua! Nanti kalau menghadap, lapor dengan sikap sempurna, suara harus lantang membelah langit!" Tibalah detik-detik yang mendebarkan itu. Begitu masuk ruangan, bukannya makian atau asbak terbang yang menyambut, Soemitro malah melempar tanya, "Kamu orang mana?" Dengan sikap tegak lurus macam tiang bendera dan suara menggelegar, si prajurit menjawab, "Siap Jenderal, dari Banten Jenderal!" Siapa nyana, raut muka sang jenderal yang tadinya tegang mendadak kendur. "Sama dong dengan Dan Yon dan pimpinanmu!" cetusnya santai. Alih-alih mendaratkan hukuman fisik yang sudah jadi langganan buat bikin jera bawahan yang berbuat salah, Soemitro malah dengan sabar mencontohkan bagaimana cara mengangkat telepon yang sopan dan beradab. Dan sebagai penutup lakon yang absurd ini, sebelum Surjadi dan anak buahnya undur diri, sang jenderal malah merogoh kantong, memberikan sejumlah uang buat si prajurit. Bukannya babak belur, malah dapat rezeki nomplok. Memang, di negeri ini, nasib orang siapa yang tahu? illustrasi foto : Mayor Suryadi Sudirja paling kiri Jani Sari Library
BUSET DAH! PRAJURIT JAGA KECEPLOSAN MANGGIL 'MITRO' KE JENDERAL PALING GALAK, BUKANNYA DIBUI MALAH DISAWER DUIT!
Catatan humor Jani Sari II
Baru saja Surjadi Soedirdja menghirup udara segar Sukabumi sebagai Komandan Batalyon Infanteri 310/Kidang Kancana, takdir rupanya keburu memanggil ke ibukota. Urusan Jakarta memang selalu bikin repot. Belum juga lama duduk di kursi komandan, ia sudah ditarik ke Korps Markas Hankam buat jaga-jaga objek vital dan para VVIP yang nyawanya sangat dijaga.
Jadilah Surjadi bermukim di rumah dinas Komplek Hankam Slipi, di bawah komando Brigjen TNI Herman Sarens Sudiro. Anak istrinya? Terpaksa ditinggal di Komplek PPI Bandung, urusan sekolah anak tak bisa diajak kompromi. Sesekali saja sang istri menyusul ke Jakarta.
Nah, di tengah rutinitas menjaga jantung negara ini, meletuslah satu lakon yang lucunya bukan main.
Syahdan, pada suatu malam yang sepi, telepon di Markas Hankam berdering. Di ujung kabel, sebuah suara berat menyapa, "Halo, Sumitro di sini..." Buat orang yang waras dan tahu peta kekuatan, nama ini cukup bikin lutut gemetar. Jenderal Soemitro, sang Pangkopkamtib! Galak dan tegasnya tersohor dari Sabang sampai Merauke. Tapi apa lacur, prajurit jaga malam itu rupanya lagi khilaf atau memang kelewat polos.
Dengan gaya luwes macam kawan lama yang lagi nongkrong di warung kopi, dia menyahut,
"Oh... Mitro, ngapain lu malem-malem gini nelepon?"
Bisa ditebak, kiamat kecil langsung turun malam itu juga. Jenderal Soemitro meledak amarahnya. Brigjen Herman Sarens pun kena damprat tanpa ampun. Setelah diusut pontang-panting, rupanya si prajurit yang cari penyakit itu tak lain tak bukan adalah anak buah Surjadi; seorang pemuda asal Banten yang urat takutnya mungkin sudah putus dari lahir.
Esok harinya, udara pagi Jakarta mendadak terasa lebih dingin. Herman Sarens menitahkan sang prajurit, dengan dikawal langsung oleh Dan Yon-nya, Surjadi, untuk menghadap sang jenderal. Menghadap Soemitro gara-gara urusan begini ibarat setor nyawa.
Surjadi putar otak, diwanti-wantinya si prajurit itu, "Pakai bajumu yang paling necis, dari ujung rambut sampai ujung sepatu kinclong semua! Nanti kalau menghadap, lapor dengan sikap sempurna, suara harus lantang membelah langit!"
Tibalah detik-detik yang mendebarkan itu. Begitu masuk ruangan, bukannya makian atau asbak terbang yang menyambut, Soemitro malah melempar tanya, "Kamu orang mana?"
Dengan sikap tegak lurus macam tiang bendera dan suara menggelegar, si prajurit menjawab, "Siap Jenderal, dari Banten Jenderal!"
Siapa nyana, raut muka sang jenderal yang tadinya tegang mendadak kendur. "Sama dong dengan Dan Yon dan pimpinanmu!" cetusnya santai. Alih-alih mendaratkan hukuman fisik yang sudah jadi langganan buat bikin jera bawahan yang berbuat salah, Soemitro malah dengan sabar mencontohkan bagaimana cara mengangkat telepon yang sopan dan beradab.
Dan sebagai penutup lakon yang absurd ini, sebelum Surjadi dan anak buahnya undur diri, sang jenderal malah merogoh kantong, memberikan sejumlah uang buat si prajurit. Bukannya babak belur, malah dapat rezeki nomplok. Memang, di negeri ini, nasib orang siapa yang tahu?
illustrasi foto : Mayor Suryadi Sudirja paling kiri
Jani Sari Library
Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu aparat yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu. Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta. Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini". Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno. Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil. Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada. Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan. Selamat Jalan Bapak Bangsa😭 You will always be missed😭😭😭..🙏🙏🙏 Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu aparat yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu. Jejak Sejarah Npajrinm
Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu aparat yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.
Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno.
"Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta.
Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini".
Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.
Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.
Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.
Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.
Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.
Selamat Jalan Bapak Bangsa😭
You will always be missed😭😭😭..🙏🙏🙏
Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu aparat yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.
Jejak Sejarah Npajrinm
Setiadi Reksoprodjo, menteri zaman Sukarno yang dipenjara Orde Baru pasca-G30S tanpa proses pengadilan karena setia pada Bung Karno, dapat rekor MURI sebagai menteri termuda di Indonesia Setiadi Reksoprodjo dinobatkan sebagai menteri termuda sepanjang sejarah Indonesia. Dia jadi menteri di zaman Bung Karno saat usianya masih 25 tahun. Tapi naas, seperti banyak pejabat di masa Orde Lama, Setiadi Reksoprodjo menjadi salah satu menteri di zaman Bung Karno yang kemudian dipenjara oleh Orde Baru ... tanpa proses pengadilan. Pada 1976. Pemerintah Orde Baru, sebagaimana dikutip dari KompasID, membebaskan sekitar 550 ribu tahanan politik (tapol) golongan C. Setahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977, menyusul 10 ribu tapol yang bebas. Tapol-tapol itu ditahan di sejumlah instalasi rehabilitasi (inrehab), termasuk tapol di Pulau Buru. Di antara mereka ada tiga mantan menteri era Kabinet Seratus Menteri yaitu A Astrawinata (Menteri Kehakiman), Soemardjo (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan), dan S Reksoprodjo (Menteri Pekerjaan Umum Tenaga Listrik). Setiadi Reksoprodjo, yang dikenal sebagai menteri termuda dalam sejarah Indonesia, adalah salah satu menteri era Bung Karno yang dipenjara oleh Orde Baru setelah huru-hara 30 September 1965. Pada 3 Juli 1947, Amir Sjarifoeddin ditunjuk sebagai Perdana Menteri Indonesia. Setiadi yang ketika itu masih 25 tahun 7 bulan diangkat menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I yang menjadikannya sebagai menteri termuda dalam kabinet itu – dan termuda sepanjang sejarah Indonesia. Meski bukan anggota partai, pada 1954, Setiadi mencalonkan diri sebagai anggota Konstituante lewat PKI. Dia dapat nomor urut 22 untuk mewakili Jawa Barat dan akhirnya terpilih. Setelah Dewan Konstituante dibubarkan oleh Bung Karno lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Setiadi diangkat oleh Bung Karno menjadi Delegasi Daerah Jakarta untuk Majelis Konsultatif Rakyat. Setiadi dilantik pada 15 September 1960 dan menjabat hingga pengangkatannya sebagai menteri. Pada 28 Mei 1965, Presiden Soekarno melakukan reorganisasi Kabinet Dwikora. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang sebelumnya berada di bawah Kompartemen Pembangunan, ditingkatkan menjadi Kompartemen. Dengan begitu, beberapa kementerian baru dibuat. Salah satunya adalah Kementerian Urusan Listrik dan Ketenagaan dan Setiadi Reksoprodjo ditunjuk sebagai menterinya. Pada Kabinet Dwikora II, Setiadi ditunjuk lagi untuk jabatan yang sama – meski mendapat protes dari para pegawai di kementerian tersebut. Mereka menuntut Setiadi mundur. Tuntutan tersebut muncul karena tim skrining militer menyebut Setiadi memberikan dukungan kepada Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOSBI) dan aktivitasnya Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) – dua organ yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada 18 Maret 1966, Setiadi bersama 14 menteri lainnya antara lain Subandrio (Wakil Perdana Menteri Pertama), Chaerul Saleh (Wakil Perdana Menteri Ketiga), A. Astrawinata (Menteri Kehakiman), Oei Tjoe Tat (Menteri Negara), Achadi (Menteri Transmigrasi/ Koperasi), dan Jusuf Muda Dalam (Gubernur Bank Indonesia) ditangkap oleh rezim Suharto karena kesetiaan mereka kepada Bung Karno. Setiadi kemudian dipenjara di Rumah Tahanan Nirbaya tanpa proses pengadilan. Dia dibebaskan hampir 12 tahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977. Setelah bebas, Lurah Menteng menolak memberinya KTP. Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, sampai turun tangan dan menginstruksikan Lurah untuk mengunjungi Setiadi dan memberinya KTP. Setiadi meninggal dunia pada 28 Juli 2010 di rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034412413/setiadi-reksoprodjo-menteri-termuda-indonesia-yang-dipenjara-orde-baru-tanpa-proses-pengadilan-pasca-g30s #setiadireksoprodjo #G30S #ordebaru
Setiadi Reksoprodjo, menteri zaman Sukarno yang dipenjara Orde Baru pasca-G30S tanpa proses pengadilan karena setia pada Bung Karno, dapat rekor MURI sebagai menteri termuda di Indonesia
Setiadi Reksoprodjo dinobatkan sebagai menteri termuda sepanjang sejarah Indonesia. Dia jadi menteri di zaman Bung Karno saat usianya masih 25 tahun.
Tapi naas, seperti banyak pejabat di masa Orde Lama, Setiadi Reksoprodjo menjadi salah satu menteri di zaman Bung Karno yang kemudian dipenjara oleh Orde Baru ... tanpa proses pengadilan.
Pada 1976. Pemerintah Orde Baru, sebagaimana dikutip dari KompasID, membebaskan sekitar 550 ribu tahanan politik (tapol) golongan C. Setahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977, menyusul 10 ribu tapol yang bebas.
Tapol-tapol itu ditahan di sejumlah instalasi rehabilitasi (inrehab), termasuk tapol di Pulau Buru.
Di antara mereka ada tiga mantan menteri era Kabinet Seratus Menteri yaitu A Astrawinata (Menteri Kehakiman), Soemardjo (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan), dan S Reksoprodjo (Menteri Pekerjaan Umum Tenaga Listrik).
Setiadi Reksoprodjo, yang dikenal sebagai menteri termuda dalam sejarah Indonesia, adalah salah satu menteri era Bung Karno yang dipenjara oleh Orde Baru setelah huru-hara 30 September 1965.
Pada 3 Juli 1947, Amir Sjarifoeddin ditunjuk sebagai Perdana Menteri Indonesia. Setiadi yang ketika itu masih 25 tahun 7 bulan diangkat menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I yang menjadikannya sebagai menteri termuda dalam kabinet itu – dan termuda sepanjang sejarah Indonesia.
Meski bukan anggota partai, pada 1954, Setiadi mencalonkan diri sebagai anggota Konstituante lewat PKI. Dia dapat nomor urut 22 untuk mewakili Jawa Barat dan akhirnya terpilih.
Setelah Dewan Konstituante dibubarkan oleh Bung Karno lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Setiadi diangkat oleh Bung Karno menjadi Delegasi Daerah Jakarta untuk Majelis Konsultatif Rakyat.
Setiadi dilantik pada 15 September 1960 dan menjabat hingga pengangkatannya sebagai menteri.
Pada 28 Mei 1965, Presiden Soekarno melakukan reorganisasi Kabinet Dwikora. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang sebelumnya berada di bawah Kompartemen Pembangunan, ditingkatkan menjadi Kompartemen.
Dengan begitu, beberapa kementerian baru dibuat. Salah satunya adalah Kementerian Urusan Listrik dan Ketenagaan dan Setiadi Reksoprodjo ditunjuk sebagai menterinya.
Pada Kabinet Dwikora II, Setiadi ditunjuk lagi untuk jabatan yang sama – meski mendapat protes dari para pegawai di kementerian tersebut. Mereka menuntut Setiadi mundur.
Tuntutan tersebut muncul karena tim skrining militer menyebut Setiadi memberikan dukungan kepada Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOSBI) dan aktivitasnya Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) – dua organ yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Lalu pada 18 Maret 1966, Setiadi bersama 14 menteri lainnya antara lain Subandrio (Wakil Perdana Menteri Pertama), Chaerul Saleh (Wakil Perdana Menteri Ketiga), A. Astrawinata (Menteri Kehakiman), Oei Tjoe Tat (Menteri Negara), Achadi (Menteri Transmigrasi/ Koperasi), dan Jusuf Muda Dalam (Gubernur Bank Indonesia) ditangkap oleh rezim Suharto karena kesetiaan mereka kepada Bung Karno.
Setiadi kemudian dipenjara di Rumah Tahanan Nirbaya tanpa proses pengadilan. Dia dibebaskan hampir 12 tahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977. Setelah bebas, Lurah Menteng menolak memberinya KTP.
Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, sampai turun tangan dan menginstruksikan Lurah untuk mengunjungi Setiadi dan memberinya KTP.
Setiadi meninggal dunia pada 28 Juli 2010 di rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034412413/setiadi-reksoprodjo-menteri-termuda-indonesia-yang-dipenjara-orde-baru-tanpa-proses-pengadilan-pasca-g30s
#setiadireksoprodjo #G30S #ordebaru
Sumber : Intisari
13 September 2026
Banyak yang belum tahu isi dalam supersemar Satu surat bisa ubah segalanya #sejarah #supersemar #soeharto #soekarno #fbpro #viralpost #gambar #fakta #surat
Banyak yang belum tahu isi dalam supersemar
Satu surat bisa ubah segalanya
#sejarah #supersemar #soeharto #soekarno #fbpro #viralpost #gambar #fakta #surat
Mulyanto, Jagal PKI dari Blora Saat itu tanggal 18 September 1948. Muso memproklamirkan berdirinya Republik Soviet Indonesia di Madiun. Seluruh pengikut komunis bersukacita. Mereka merasa bahwa waktunya telah tiba bagi komunis untuk memimpin negri ini. Seluruh sel-sel komunis bergerak, tak terkecuali di Blora Jawa Tengah. Mereka mulai melancarkan aksinya. Yaitu membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi gerak langkah PKI. Ketua FDR (Front Demokrasi Rakyat) Blora menunjukan aksi bengisnya di kota lumbung padi itu. Namanya Mulyanto, seorang petani dari Dusun Pohrendeng, Tamanrejo, Tunjungan, Blora. Meskipun berasal dari sebuah dusun kecil tapi Mulyanto sebagai ketua FDR memiliki jiwa keji. Ia menganggap dirinya sebagai kamerad yang siap berjuang hingga titik darah penghabisan demi membela Kamerad Muso Yang Agung. Mulyanto telah menyuruh anak buahnya untuk menggali beberapa lubang besar. Lubang yang akan dipergunakan sebagai kuburan massal lawan politiknya. Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menebar teror ketakutan. Disamping demonstarasi lubang yang letaknya di samping rel kereta api, mereka menebarkan isu bahwa sumur-sumur penduduk sudah diracuni. Suasana Blora mencekam. Penduduk takut keluar rumah. Tentara FDR-PKI seakan jagal yang siap mencabut nyawa siapapun yang berani melawan. Mulyanto menculik 5 orang tokoh masyarakat dari unsur Masyumi dan PNI. Mereka adalah Oetoro, camat di Margorojo. Kemudian Mr Iskandar, dr Susanto, Gunandar, dan Abu Umar. Kelima orang ini disembelih di lokasi sumur yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Jagal PKI dari dusun Pohrendeng menggelindingkan kepala lima orang ini tanpa ampun. Jasad yang sudah tak berkepala itu dimasukan ke dalam sumur. Abu Umar susah sekali disembelih. Akhirnya Abu Umar dikubur hidup-hidup. Ia dimasukan ke dalam sumur satunya dan dilempari batu. Suara jeritan Abu Umar membuat para algojo PKI tertawa gembira. Kekejaman Mulyanto masih terus berlanjut. Setelah menyembelih lima orang tokoh berpengaruh di Blora, ia melenyapkan pejabat-pejabat lain yang dianggap menentang PKI. Tak hanya pejabat, para ulama dan santri Blora juga tak lepas dari sembelihan para algojo PKI. Tidak ada yang tau pasti berapa jumlah ulama dan santri yang dibantai oleh Mulyanto. Mulyanto dan para algojonya sangat sadis. Mereka tak hanya menggelindingkan kepala, tetapi juga membakar, ataupun mencincang tubuh para korbannya. Entah setan mana yang merasuki mereka. Begitu tega membantai saudara sebangsanya sendiri. Pembantaian di luar batas kemanusiaan yang membuat bergidik ngeri siapapun yang melihatnya. Entah berapa masjid, pesantren, musholla yang telah Mulyanto bakar. Entah berapa rumah penduduk yang sudah ia rampok. Hanya Mulyanto dan algojonya yang tau rahasia itu. Puncak kepongahan Mulyanto terjadi pada 18 September 1948. Bersamaan dengan Kamerad Musso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia di Madiun, FDR Blora menyerang markas Kepolisian Blora. Ada 24 Polisi yang disekap dan siap dibantai. Tanggal 20 September 1948, FDR Blora mendapatkan instruksi dari Muso untuk menghabisi tawanan Polisi itu. Akhirnya 17 Polisi yang sudah tua disembelih. Kemudian 7 orang polisi yang masih muda disiksa terlebih dahulu sebelum disembelih. Para Polisi muda itu dicincang pelan-pelan. Erangan kesakitan para Polisi muda itu disambut tawa terbahak-bahak para tentara FDR PKI. Bagian tubuh Polisi muda itu dibuang begitu saja ke dalam jamban. Mereka menganggap Polisi muda itu hanyalah kotoran yang perlu dibuang ke jamban. Beberapa hari setelah pembantaian para Polisi, Pasukan Divisi Siliwangi datang. Mereka menumpas semua pasukan FDR PKI. Tapi Mulyanto berhasil meloloskan diri bersama keluarganya. Ia bersembunyi di hutan dan tak pernah tertangkap. Kejadian di Blora ini membuat bulu kudukku berdiri. Tak menyangka PKI melakukan aksi kejinya di Jawa Tengah. Semoga kejadian ini tak akan pernah terulang selamanya. Cukup sudah petualangan kaum merah di negri ini.
Mulyanto, Jagal PKI dari Blora
Saat itu tanggal 18 September 1948. Muso memproklamirkan berdirinya Republik Soviet Indonesia di Madiun. Seluruh pengikut komunis bersukacita. Mereka merasa bahwa waktunya telah tiba bagi komunis untuk memimpin negri ini.
Seluruh sel-sel komunis bergerak, tak terkecuali di Blora Jawa Tengah. Mereka mulai melancarkan aksinya. Yaitu membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi gerak langkah PKI.
Ketua FDR (Front Demokrasi Rakyat) Blora menunjukan aksi bengisnya di kota lumbung padi itu. Namanya Mulyanto, seorang petani dari Dusun Pohrendeng, Tamanrejo, Tunjungan, Blora. Meskipun berasal dari sebuah dusun kecil tapi Mulyanto sebagai ketua FDR memiliki jiwa keji. Ia menganggap dirinya sebagai kamerad yang siap berjuang hingga titik darah penghabisan demi membela Kamerad Muso Yang Agung.
Mulyanto telah menyuruh anak buahnya untuk menggali beberapa lubang besar. Lubang yang akan dipergunakan sebagai kuburan massal lawan politiknya.
Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menebar teror ketakutan. Disamping demonstarasi lubang yang letaknya di samping rel kereta api, mereka menebarkan isu bahwa sumur-sumur penduduk sudah diracuni. Suasana Blora mencekam. Penduduk takut keluar rumah. Tentara FDR-PKI seakan jagal yang siap mencabut nyawa siapapun yang berani melawan.
Mulyanto menculik 5 orang tokoh masyarakat dari unsur Masyumi dan PNI. Mereka adalah Oetoro, camat di Margorojo. Kemudian Mr Iskandar, dr Susanto, Gunandar, dan Abu Umar. Kelima orang ini disembelih di lokasi sumur yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Jagal PKI dari dusun Pohrendeng menggelindingkan kepala lima orang ini tanpa ampun. Jasad yang sudah tak berkepala itu dimasukan ke dalam sumur.
Abu Umar susah sekali disembelih. Akhirnya Abu Umar dikubur hidup-hidup. Ia dimasukan ke dalam sumur satunya dan dilempari batu. Suara jeritan Abu Umar membuat para algojo PKI tertawa gembira.
Kekejaman Mulyanto masih terus berlanjut. Setelah menyembelih lima orang tokoh berpengaruh di Blora, ia melenyapkan pejabat-pejabat lain yang dianggap menentang PKI.
Tak hanya pejabat, para ulama dan santri Blora juga tak lepas dari sembelihan para algojo PKI. Tidak ada yang tau pasti berapa jumlah ulama dan santri yang dibantai oleh Mulyanto.
Mulyanto dan para algojonya sangat sadis. Mereka tak hanya menggelindingkan kepala, tetapi juga membakar, ataupun mencincang tubuh para korbannya. Entah setan mana yang merasuki mereka. Begitu tega membantai saudara sebangsanya sendiri. Pembantaian di luar batas kemanusiaan yang membuat bergidik ngeri siapapun yang melihatnya.
Entah berapa masjid, pesantren, musholla yang telah Mulyanto bakar. Entah berapa rumah penduduk yang sudah ia rampok. Hanya Mulyanto dan algojonya yang tau rahasia itu.
Puncak kepongahan Mulyanto terjadi pada 18 September 1948. Bersamaan dengan Kamerad Musso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia di Madiun, FDR Blora menyerang markas Kepolisian Blora. Ada 24 Polisi yang disekap dan siap dibantai.
Tanggal 20 September 1948, FDR Blora mendapatkan instruksi dari Muso untuk menghabisi tawanan Polisi itu. Akhirnya 17 Polisi yang sudah tua disembelih. Kemudian 7 orang polisi yang masih muda disiksa terlebih dahulu sebelum disembelih. Para Polisi muda itu dicincang pelan-pelan. Erangan kesakitan para Polisi muda itu disambut tawa terbahak-bahak para tentara FDR PKI. Bagian tubuh Polisi muda itu dibuang begitu saja ke dalam jamban. Mereka menganggap Polisi muda itu hanyalah kotoran yang perlu dibuang ke jamban.
Beberapa hari setelah pembantaian para Polisi, Pasukan Divisi Siliwangi datang. Mereka menumpas semua pasukan FDR PKI. Tapi Mulyanto berhasil meloloskan diri bersama keluarganya. Ia bersembunyi di hutan dan tak pernah tertangkap.
Kejadian di Blora ini membuat bulu kudukku berdiri. Tak menyangka PKI melakukan aksi kejinya di Jawa Tengah. Semoga kejadian ini tak akan pernah terulang selamanya. Cukup sudah petualangan kaum merah di negri ini.
MAKAM RORO JONGGRANG TIDAK TERAWAT.! Diceritakan konon jaman dulu ada dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya, berputra Raden Bandung Bandawasa (ejaan alternatif: "Bondowoso"). Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raksasa pemakan manusia bernama Prabu Baka, dibantu oleh seorang patih bernama Gupala. Meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri cantik bernama Rara Jonggrang. Untuk memperluas kerajaan, Prabu Baka menyerukan perang kepada kerajaan Pengging. Demi mengakhiri perang, Prabu Damar Maya mengirimkan putranya untuk menghadapi Prabu Baka. Berkat kesaktiannya, Bandung Bandawasa berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Berita kematian Prabu Baka segera dilaporkan oleh Patih Gupala kepada Rara Jongrang. Setelah gugurnya Prabu Baka, Bandung Bandawasa menyerbu masuk ke dalam keraton Baka. Di sana, ia terpikat oleh kecantikan Rara Jongrang dan melamar sang putri, tetapi ditolak karena sang putri tidak mau menikahi pembunuh ayahnya. Karena terus dibujuk, akhirnya sang putri bersedia dipersunting dengan dua syarat: pertama adalah pembuatan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda; syarat kedua adalah pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Bandung Bandawasa menyanggupi kedua syarat tersebut. Bandung Bandawasa berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda berkat kesaktiannya. Rara Jonggrang memperdaya sang pangeran agar bersedia turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Kemudian sang putri memerintahkan Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu. Namun Bandung Bandawasa berhasil keluar berkat kesaktiannya. Bandawasa sempat marah, tapi segera tenang karena kecantikan dan bujuk rayu sang putri. Untuk mewujudkan syarat kedua, Bandung Bandawasa memanggil makhluk halus (jin, setan, dan dedemit). Dengan bantuan mereka, ia berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa candi ke-1000 hampir selesai, ia berusaha menggagalkan usaha Bandawasa. Ia membangunkan perempuan-perempuan di kerajaannya untuk menumbuk padi dengan antan, serta membakar gundukan jerami di timur. Suara antan mengesankan bahwa aktivitas subuh telah dimulai, sementara cahaya dari timur memberi kesan bahwa sebentar lagi matahari akan terbit, sehingga para makhluk halus bersembunyi kembali ke perut Bumi. Akibatnya, hanya 999 candi yang berhasil dibangun sehingga usaha Bandung Bandawasa gagal. Setelah mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Rara Jonggrang, Bandung Bandawasa murka dan mengutuk Rara Jonggrang. Sang putri berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir. Menurut kisah ini, situs Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak selesai kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Lara Jonggrang yang berarti "gadis yang ramping".walahualam bisawab
MAKAM RORO JONGGRANG TIDAK TERAWAT.! Diceritakan konon jaman dulu ada dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya, berputra Raden Bandung Bandawasa (ejaan alternatif: "Bondowoso"). Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raksasa pemakan manusia bernama Prabu Baka, dibantu oleh seorang patih bernama Gupala. Meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri cantik bernama Rara Jonggrang. Untuk memperluas kerajaan, Prabu Baka menyerukan perang kepada kerajaan Pengging. Demi mengakhiri perang, Prabu Damar Maya mengirimkan putranya untuk menghadapi Prabu Baka. Berkat kesaktiannya, Bandung Bandawasa berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Berita kematian Prabu Baka segera dilaporkan oleh Patih Gupala kepada Rara Jongrang.
Setelah gugurnya Prabu Baka, Bandung Bandawasa menyerbu masuk ke dalam keraton Baka. Di sana, ia terpikat oleh kecantikan Rara Jongrang dan melamar sang putri, tetapi ditolak karena sang putri tidak mau menikahi pembunuh ayahnya. Karena terus dibujuk, akhirnya sang putri bersedia dipersunting dengan dua syarat: pertama adalah pembuatan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda; syarat kedua adalah pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Bandung Bandawasa menyanggupi kedua syarat tersebut.
Bandung Bandawasa berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda berkat kesaktiannya. Rara Jonggrang memperdaya sang pangeran agar bersedia turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Kemudian sang putri memerintahkan Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu. Namun Bandung Bandawasa berhasil keluar berkat kesaktiannya. Bandawasa sempat marah, tapi segera tenang karena kecantikan dan bujuk rayu sang putri.
Untuk mewujudkan syarat kedua, Bandung Bandawasa memanggil makhluk halus (jin, setan, dan dedemit). Dengan bantuan mereka, ia berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa candi ke-1000 hampir selesai, ia berusaha menggagalkan usaha Bandawasa. Ia membangunkan perempuan-perempuan di kerajaannya untuk menumbuk padi dengan antan, serta membakar gundukan jerami di timur. Suara antan mengesankan bahwa aktivitas subuh telah dimulai, sementara cahaya dari timur memberi kesan bahwa sebentar lagi matahari akan terbit, sehingga para makhluk halus bersembunyi kembali ke perut Bumi. Akibatnya, hanya 999 candi yang berhasil dibangun sehingga usaha Bandung Bandawasa gagal. Setelah mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Rara Jonggrang, Bandung Bandawasa murka dan mengutuk Rara Jonggrang. Sang putri berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir.
Menurut kisah ini, situs Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak selesai kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Lara Jonggrang yang berarti "gadis yang ramping".walahualam bisawab
Termasuk orang dekat Bung Karno, Baby Huwae satu tahun ditahan di markas CPM pasca-G30S Setelah meletusnya G30S, Baby Huwae menerima permintaan Bung Karno untuk menemani Ratna Sari Dewi "ngungsi" ke Swiss. Tapi itu tak lama. Beberapa bulan kemudian, Baby Huwae kembali ke Indonesia. Mei 1966, Baby memutuskan kembali ke Indonesia lewat Hong Kong dan Bangkok. Di dua kota itu, sebenarnya dia sudah diwanti-wanti agar tak nekat kembali Jakarta. “Kalau kau nekat pulang, kau bakal diciduk di pelabuhan udara,” kata mereka yang menasihatinya. Di Hong Kong, Baby berjumpa dengan Jaksa Agung Sugiharto. Dia pun mengingatkan, agar sebaiknya Baby tak kembali ke Indonesia saat itu. Tapi dia bersikeras pulang. Bagaimanapun juga, dia punya suami dan anak-anak yang menunggu kedatangannya. Lagipula, dia merasa 100 persen orang Indonesia! Saat di pesawat, kebetulan Baby satu pesawat dengan Ibnu Sutowo yang lagi-lagi memperingatkannya soal kemungkinan dia ditangkap setibanya di bandara. Khawatir atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, Baby kemudian menitipkan semua uang miliknya kepada Ibnu Sutowo. “Kalau memang benar aku ditangkap, setelah bebas nanti, barulah uang itu saya ambil,” begitu katanya. Benar saja! Begitu kakinya menginjak bumi Indonesia, Baby langsung diciduk. Barang-barang bawaannya yang sebanyak 40 kopor itu hilang tak tentu rimbanya. Paspornya juga dicabut. Sementara dirinya langsung digiring ke Markas Besar CPM Gambir untuk diinterogasi sehari semalam. Segala macam pertanyaan dilontarkan kepada wanita berparas indo itu. Mulai dari soal politik hingga penyelundupan senjata yang tak dia ketahui sama sekali. Setelah itu Baby diperbolehkan pulang. Meski begitu, dia tetap dikenakan tahanan rumah selama setahun. Rupanya penderitaan Baby belum cukup. Dia kembali diciduk dan kali ini ditahan di Asrama CPM Brawijaya selama sekitar satu tahun. Baby benar-benar terpukul saat itu. Dia diisolasi total, tak boleh dikunjungi suami dan anak-anaknya. Kamarnya juga terpisah. Dia merasa benar-benar tersisa, apalagi ketika itu dia sedang hamil muda. Selama ditahan, Baby hanya mendapat makanan berupa nasi, sayur tawar dan sepotong tempe. Tak ada makanan ekstra atau vitamin meski dia sedang berbadan dua. Akhirnya dia dibebaskan menjelang kelahiran anaknya yang keempat. Keluar dari “penjara” CPM, Baby langsung masuk RS Cikini. Tak lama kemudian, Baby mendengar kabar meninggalnya Bung Karno. Dia pun langsung meminta izin dokter untuk melayat. “Tak bisa kugambarkan dengan kata-kata, betapa pedih hatiku melihat jenazah BK yang telah terbujur kaku. Setelah usai acara pemakaman di Blitar, aku sempat berjumpa Dewi. Dia sempat menanyakan kebenaran berita penahananku,” kata Baby. Baby sempat “sakit hati” ketika Dewi bertanya soal “Apa saja yang kau ceritakan selama ditahan?” Dia bilang kepada sahabatnya itu dengan sejujur-jujurnya bahw tak sepotong pun kalimat yang menjelekkan Dewi pernah dia ucapkan. Bahkan Baby membela mati-matian, juga menceritakan bagaimana menderitanya dia selama dalam tahanan. Mendengar itu, Dewi menangis sejadi-jadinya. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034411168/baby-huwae-satu-tahun-ditahan-tentara-setelah-peristiwa-g30s #babyhuwae #bungkarno #G30S #RatnaSariDewi
Termasuk orang dekat Bung Karno, Baby Huwae satu tahun ditahan di markas CPM pasca-G30S
Setelah meletusnya G30S, Baby Huwae menerima permintaan Bung Karno untuk menemani Ratna Sari Dewi "ngungsi" ke Swiss. Tapi itu tak lama.
Beberapa bulan kemudian, Baby Huwae kembali ke Indonesia.
Mei 1966, Baby memutuskan kembali ke Indonesia lewat Hong Kong dan Bangkok. Di dua kota itu, sebenarnya dia sudah diwanti-wanti agar tak nekat kembali Jakarta.
“Kalau kau nekat pulang, kau bakal diciduk di pelabuhan udara,” kata mereka yang menasihatinya.
Di Hong Kong, Baby berjumpa dengan Jaksa Agung Sugiharto. Dia pun mengingatkan, agar sebaiknya Baby tak kembali ke Indonesia saat itu. Tapi dia bersikeras pulang. Bagaimanapun juga, dia punya suami dan anak-anak yang menunggu kedatangannya. Lagipula, dia merasa 100 persen orang Indonesia!
Saat di pesawat, kebetulan Baby satu pesawat dengan Ibnu Sutowo yang lagi-lagi memperingatkannya soal kemungkinan dia ditangkap setibanya di bandara. Khawatir atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, Baby kemudian menitipkan semua uang miliknya kepada Ibnu Sutowo.
“Kalau memang benar aku ditangkap, setelah bebas nanti, barulah uang itu saya ambil,” begitu katanya.
Benar saja! Begitu kakinya menginjak bumi Indonesia, Baby langsung diciduk. Barang-barang bawaannya yang sebanyak 40 kopor itu hilang tak tentu rimbanya.
Paspornya juga dicabut. Sementara dirinya langsung digiring ke Markas Besar CPM Gambir untuk diinterogasi sehari semalam.
Segala macam pertanyaan dilontarkan kepada wanita berparas indo itu. Mulai dari soal politik hingga penyelundupan senjata yang tak dia ketahui sama sekali.
Setelah itu Baby diperbolehkan pulang. Meski begitu, dia tetap dikenakan tahanan rumah selama setahun.
Rupanya penderitaan Baby belum cukup. Dia kembali diciduk dan kali ini ditahan di Asrama CPM Brawijaya selama sekitar satu tahun.
Baby benar-benar terpukul saat itu. Dia diisolasi total, tak boleh dikunjungi suami dan anak-anaknya. Kamarnya juga terpisah. Dia merasa benar-benar tersisa, apalagi ketika itu dia sedang hamil muda.
Selama ditahan, Baby hanya mendapat makanan berupa nasi, sayur tawar dan sepotong tempe. Tak ada makanan ekstra atau vitamin meski dia sedang berbadan dua.
Akhirnya dia dibebaskan menjelang kelahiran anaknya yang keempat. Keluar dari “penjara” CPM, Baby langsung masuk RS Cikini.
Tak lama kemudian, Baby mendengar kabar meninggalnya Bung Karno. Dia pun langsung meminta izin dokter untuk melayat.
“Tak bisa kugambarkan dengan kata-kata, betapa pedih hatiku melihat jenazah BK yang telah terbujur kaku. Setelah usai acara pemakaman di Blitar, aku sempat berjumpa Dewi. Dia sempat menanyakan kebenaran berita penahananku,” kata Baby.
Baby sempat “sakit hati” ketika Dewi bertanya soal “Apa saja yang kau ceritakan selama ditahan?”
Dia bilang kepada sahabatnya itu dengan sejujur-jujurnya bahw tak sepotong pun kalimat yang menjelekkan Dewi pernah dia ucapkan. Bahkan Baby membela mati-matian, juga menceritakan bagaimana menderitanya dia selama dalam tahanan.
Mendengar itu, Dewi menangis sejadi-jadinya.
Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034411168/baby-huwae-satu-tahun-ditahan-tentara-setelah-peristiwa-g30s
#babyhuwae #bungkarno #G30S #RatnaSariDewi
Kecurigaan Kolonel Sarwo Edhie: Saat RPKAD Hampir Dikirim ke Kalimantan dan G30S-PKI pun Bergerak Menjelang akhir September 1965, situasi politik Indonesia kian memanas. Di tengah operasi “Ganyang Malaysia” yang dicanangkan Presiden Soekarno, sebagian besar pasukan RPKAD telah dikirim ke Kalimantan dan berbagai perbatasan negara. Hanya Batalion I RPKAD yang tersisa di Cijantung sisa kekuatan elite yang masih siap siaga di Jawa. Namun, di bulan Agustus 1965, sebuah radiogram misterius datang dari Brigjen Soepardjo, Panglima Komando Tempur II di Kalimantan. Ia memerintahkan agar sisa Batalion RPKAD di Cijantung segera dikirim menyusul pasukan lainnya ke Kalimantan. Bagi Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, perintah ini terasa tidak lazim dan mencurigakan. Ada sesuatu yang ganjil di balik perintah tersebut. Untuk memastikan kebenarannya, Sarwo Edhie mengutus Mayor Chalimi Imam Santoso, Komandan Batalion I RPKAD, meninjau langsung kondisi di Kalimantan. Setelah melakukan pengamatan mendalam, Mayor Santoso melaporkan bahwa kekuatan pasukan RPKAD di Kalimantan sudah cukup memadai tidak ada kebutuhan mendesak untuk penambahan pasukan. Laporan itulah yang akhirnya membatalkan rencana pengiriman RPKAD ke Kalimantan. Keputusan ini kemudian terbukti menjadi titik balik sejarah. Tak lama berselang, Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) meletus. Brigjen Soepardjo orang yang sebelumnya mengirim radiogram ternyata terlibat aktif dalam gerakan tersebut. Kini semakin jelas, maksud dari pengiriman pasukan itu adalah untuk mengosongkan kekuatan elite di Jawa, sehingga rencana kudeta dapat berjalan tanpa perlawanan berarti. Namun, kecurigaan tajam Kolonel Sarwo Edhie menyelamatkan keadaan. Batalion I RPKAD yang tetap bertahan di Cijantung menjadi senjata pamungkas bangsa, kekuatan terakhir yang kemudian menggagalkan gerakan G30S-PKI dan menumpas dua batalion pendukung gerakan tersebut. Sebuah bab penting dalam sejarah bangsa di mana kewaspadaan seorang perwira menjadi penentu arah perjalanan republik.🇮🇩 #Sejarah #G30SPKI #SarwoEdhie #GanyangMalaysia #SejarahIndonesia
Kecurigaan Kolonel Sarwo Edhie: Saat RPKAD Hampir Dikirim ke Kalimantan dan G30S-PKI pun Bergerak
Menjelang akhir September 1965, situasi politik Indonesia kian memanas. Di tengah operasi “Ganyang Malaysia” yang dicanangkan Presiden Soekarno, sebagian besar pasukan RPKAD telah dikirim ke Kalimantan dan berbagai perbatasan negara. Hanya Batalion I RPKAD yang tersisa di Cijantung sisa kekuatan elite yang masih siap siaga di Jawa.
Namun, di bulan Agustus 1965, sebuah radiogram misterius datang dari Brigjen Soepardjo, Panglima Komando Tempur II di Kalimantan. Ia memerintahkan agar sisa Batalion RPKAD di Cijantung segera dikirim menyusul pasukan lainnya ke Kalimantan.
Bagi Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, perintah ini terasa tidak lazim dan mencurigakan. Ada sesuatu yang ganjil di balik perintah tersebut.
Untuk memastikan kebenarannya, Sarwo Edhie mengutus Mayor Chalimi Imam Santoso, Komandan Batalion I RPKAD, meninjau langsung kondisi di Kalimantan.
Setelah melakukan pengamatan mendalam, Mayor Santoso melaporkan bahwa kekuatan pasukan RPKAD di Kalimantan sudah cukup memadai tidak ada kebutuhan mendesak untuk penambahan pasukan.
Laporan itulah yang akhirnya membatalkan rencana pengiriman RPKAD ke Kalimantan.
Keputusan ini kemudian terbukti menjadi titik balik sejarah.
Tak lama berselang, Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) meletus. Brigjen Soepardjo orang yang sebelumnya mengirim radiogram ternyata terlibat aktif dalam gerakan tersebut. Kini semakin jelas, maksud dari pengiriman pasukan itu adalah untuk mengosongkan kekuatan elite di Jawa, sehingga rencana kudeta dapat berjalan tanpa perlawanan berarti.
Namun, kecurigaan tajam Kolonel Sarwo Edhie menyelamatkan keadaan.
Batalion I RPKAD yang tetap bertahan di Cijantung menjadi senjata pamungkas bangsa, kekuatan terakhir yang kemudian menggagalkan gerakan G30S-PKI dan menumpas dua batalion pendukung gerakan tersebut.
Sebuah bab penting dalam sejarah bangsa di mana kewaspadaan seorang perwira menjadi penentu arah perjalanan republik.🇮🇩
#Sejarah
#G30SPKI
#SarwoEdhie
#GanyangMalaysia
#SejarahIndonesia
Sumber : Iin Art
12 September 2026
DIA MENINGGAL TEPAT 17 AGUSTUS, TUJUH TAHUN SEBELUM TANGGAL ITU MENJADI HARI PALING BERSEJARAH DALAM PERADABAN INDONESIA Ada ironi yang terlalu sempurna untuk direkayasa. 17 Agustus 1938. Di sebuah rumah di Surabaya, seorang pria berusia 35 tahun menghembuskan napas terakhirnya. Kondisi kesehatannya sudah memburuk berbulan-bulan, diperparah oleh penangkapan oleh Belanda sepuluh hari sebelumnya yang menguras sisa tenaganya yang sudah sangat tipis. Sebelum kepergiannya, ia sempat berbisik kepada kakak iparnya, Oerip Kasansengari: "Aku yakin Indonesia pasti akan merdeka." Ia tidak salah. Tapi ia tidak sempat melihatnya. Tujuh tahun kemudian, pada 17 Agustus 1945, tanggal yang sama dengan tanggal kepergiannya, lagu yang ia tulis dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan. Namanya: Wage Rudolf Supratman. Wage Rudolf Supratman lahir di Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Maret 1903. Nama "Wage" diambil dari hari kelahirannya dalam penanggalan Jawa — Jumat Wage. Nama "Rudolf" bukan nama aslinya sejak lahir. Ia menambahkan nama Belanda itu agar bisa masuk ke sekolah yang dikelola pemerintah kolonial — cara paling pragmatis yang bisa dilakukan seorang pribumi untuk mendapat akses pendidikan di zamannya. Ayahnya, Jumeno Senen Sastrosoehardjo, adalah seorang sersan di KNIL — Tentara Kerajaan Belanda. Seorang pribumi yang berseragam penjajah. Dari situasi keluarga yang penuh paradoks itulah Supratman tumbuh — dan dari paradoks itulah ia akhirnya menemukan misi hidupnya: menulis lagu yang paling keras menantang penjajahan. Setelah ibunya meninggal, Supratman ikut kakak perempuannya Rukiyem ke Makassar, lalu mengikuti suami Rukiyem ke Makassar dan menempuh pendidikan di sana. Ia belajar biola dari Willem van Eldik — kakak iparnya — dan dari situlah kecintaannya pada musik tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya. Di Makassar pula ia mulai bekerja sebagai guru, lalu jurnalis, lalu pemain band, lalu kembali ke Jawa dengan satu obsesi yang terus menghantuinya: menulis lagu untuk bangsanya. Lagu Indonesia Raya diciptakan Supratman pada tahun 1924. Versi awalnya ia mainkan dengan biola — bukan dinyanyikan, karena menyanyikannya secara terbuka berarti memancing penangkapan Belanda. Untuk pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan pada 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda II — di ruang makan rumah Sie Kong Liong di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Supratman memainkan melodi itu dengan biolanya. Seluruh ruangan hening. Tidak ada yang berani menyanyikannya keras-keras karena polisi kolonial hadir. Tapi semua yang hadir mendengar dan mengerti. Setelah lagu itu pertama kali diperdengarkan, hidup Supratman tidak pernah tenang lagi. Kata "Merdeka! Merdeka!" dalam liriknya dianggap Belanda sebagai ancaman. Ia masuk daftar pengawasan. Pada 1930, Belanda melarang lagu Indonesia Raya dinyanyikan di depan umum. Supratman berpindah-pindah. Jakarta ke Cimahi. Cimahi ke Pemalang. Pemalang ke Surabaya, dibawa kakaknya Rukiyem dalam kondisi sakit pada April 1937. Kondisinya membaik sebentar, lalu memburuk lagi. Pada 7 Agustus 1938, sepuluh hari sebelum kematiannya, Belanda kembali menangkapnya di studio Radio NIROM di Surabaya. Kali ini alasannya adalah lagu terbarunya, "Matahari Terbit," yang dianggap Belanda sebagai simpatisan Jepang. Tidak ada bukti yang menguatkan tuduhan itu. Supratman dilepaskan. Tapi kondisi fisiknya tidak bisa dipulihkan lagi. Pada Rabu Wage, 17 Agustus 1938, Wage Rudolf Supratman meninggal dunia. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Tidak pernah menikah, tidak punya anak. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Umum Kapas, Jalan Kenjeran, Surabaya. Di luar rumah itu, Indonesia masih dalam penjajahan. Belanda masih memerintah. Lagu yang ia tulis masih dilarang dinyanyikan di depan umum. Tujuh tahun kemudian, pada tanggal yang sama dengan tanggal kematiannya, lagu itu mengalun bebas di depan sekitar 500 orang di halaman Jalan Pegangsaan Timur 56. Indonesia merdeka. Dan siapa pun yang menyanyikan Indonesia Raya pada pagi 17 Agustus 1945 itu — baik yang sadar maupun tidak — sedang menyanyikan lagu seorang pria yang tujuh tahun sebelumnya sudah pergi dengan keyakinan bahwa momen itu akan datang. Pemerintah Indonesia menetapkan Supratman sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1971. Hari lahirnya, 9 Maret, ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Nama yang ia tambahkan untuk masuk sekolah Belanda. Biola yang ia pelajari dari kakak ipar Belanda. Lagu yang ia mainkan dalam keheningan agar tidak ditangkap Belanda. Dan tanggal kematiannya yang tujuh tahun kemudian menjadi tanggal paling bersejarah dalam peradaban Indonesia. Tidak ada yang direncanakan. Tapi tidak ada yang bisa merancang ironi seindah kenyataan itu. WR Supratman menulis lagu kebangsaan tapi tidak sempat melihat bangsanya merdeka — dan di hari kematiannya tujuh tahun kemudian, lagu itu dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan. Semangat berkarya untuk sesuatu yang belum tentu kita lihat hasilnya adalah keberanian yang paling murni. Menurut data UNESCO 2022, minat baca Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei — sebuah angka yang menjadi pertanyaan serius tentang seberapa dalam kita mengenal sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan para pahlawan seperti Supratman. Ia menulis untuk bangsa yang belum merdeka. Pertanyaan untuk kita hari ini: apakah kita cukup membaca dan cukup mengenal warisan yang ia tinggalkan? #WRSupratman #IndonesiaRaya #HariMusikNasional #SejarahIndonesia #AgustusKemerdekaan
DIA MENINGGAL TEPAT 17 AGUSTUS, TUJUH TAHUN SEBELUM TANGGAL ITU MENJADI HARI PALING BERSEJARAH DALAM PERADABAN INDONESIA
Ada ironi yang terlalu sempurna untuk direkayasa.
17 Agustus 1938. Di sebuah rumah di Surabaya, seorang pria berusia 35 tahun menghembuskan napas terakhirnya. Kondisi kesehatannya sudah memburuk berbulan-bulan, diperparah oleh penangkapan oleh Belanda sepuluh hari sebelumnya yang menguras sisa tenaganya yang sudah sangat tipis.
Sebelum kepergiannya, ia sempat berbisik kepada kakak iparnya, Oerip Kasansengari: "Aku yakin Indonesia pasti akan merdeka."
Ia tidak salah. Tapi ia tidak sempat melihatnya.
Tujuh tahun kemudian, pada 17 Agustus 1945, tanggal yang sama dengan tanggal kepergiannya, lagu yang ia tulis dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.
Namanya: Wage Rudolf Supratman.
Wage Rudolf Supratman lahir di Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Maret 1903. Nama "Wage" diambil dari hari kelahirannya dalam penanggalan Jawa — Jumat Wage. Nama "Rudolf" bukan nama aslinya sejak lahir. Ia menambahkan nama Belanda itu agar bisa masuk ke sekolah yang dikelola pemerintah kolonial — cara paling pragmatis yang bisa dilakukan seorang pribumi untuk mendapat akses pendidikan di zamannya.
Ayahnya, Jumeno Senen Sastrosoehardjo, adalah seorang sersan di KNIL — Tentara Kerajaan Belanda. Seorang pribumi yang berseragam penjajah. Dari situasi keluarga yang penuh paradoks itulah Supratman tumbuh — dan dari paradoks itulah ia akhirnya menemukan misi hidupnya: menulis lagu yang paling keras menantang penjajahan.
Setelah ibunya meninggal, Supratman ikut kakak perempuannya Rukiyem ke Makassar, lalu mengikuti suami Rukiyem ke Makassar dan menempuh pendidikan di sana. Ia belajar biola dari Willem van Eldik — kakak iparnya — dan dari situlah kecintaannya pada musik tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya. Di Makassar pula ia mulai bekerja sebagai guru, lalu jurnalis, lalu pemain band, lalu kembali ke Jawa dengan satu obsesi yang terus menghantuinya: menulis lagu untuk bangsanya.
Lagu Indonesia Raya diciptakan Supratman pada tahun 1924. Versi awalnya ia mainkan dengan biola — bukan dinyanyikan, karena menyanyikannya secara terbuka berarti memancing penangkapan Belanda. Untuk pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan pada 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda II — di ruang makan rumah Sie Kong Liong di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Supratman memainkan melodi itu dengan biolanya. Seluruh ruangan hening. Tidak ada yang berani menyanyikannya keras-keras karena polisi kolonial hadir. Tapi semua yang hadir mendengar dan mengerti.
Setelah lagu itu pertama kali diperdengarkan, hidup Supratman tidak pernah tenang lagi. Kata "Merdeka! Merdeka!" dalam liriknya dianggap Belanda sebagai ancaman. Ia masuk daftar pengawasan. Pada 1930, Belanda melarang lagu Indonesia Raya dinyanyikan di depan umum.
Supratman berpindah-pindah. Jakarta ke Cimahi. Cimahi ke Pemalang. Pemalang ke Surabaya, dibawa kakaknya Rukiyem dalam kondisi sakit pada April 1937.
Kondisinya membaik sebentar, lalu memburuk lagi. Pada 7 Agustus 1938, sepuluh hari sebelum kematiannya, Belanda kembali menangkapnya di studio Radio NIROM di Surabaya. Kali ini alasannya adalah lagu terbarunya, "Matahari Terbit," yang dianggap Belanda sebagai simpatisan Jepang. Tidak ada bukti yang menguatkan tuduhan itu. Supratman dilepaskan.
Tapi kondisi fisiknya tidak bisa dipulihkan lagi.
Pada Rabu Wage, 17 Agustus 1938, Wage Rudolf Supratman meninggal dunia. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Tidak pernah menikah, tidak punya anak. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Umum Kapas, Jalan Kenjeran, Surabaya.
Di luar rumah itu, Indonesia masih dalam penjajahan. Belanda masih memerintah. Lagu yang ia tulis masih dilarang dinyanyikan di depan umum.
Tujuh tahun kemudian, pada tanggal yang sama dengan tanggal kematiannya, lagu itu mengalun bebas di depan sekitar 500 orang di halaman Jalan Pegangsaan Timur 56. Indonesia merdeka. Dan siapa pun yang menyanyikan Indonesia Raya pada pagi 17 Agustus 1945 itu — baik yang sadar maupun tidak — sedang menyanyikan lagu seorang pria yang tujuh tahun sebelumnya sudah pergi dengan keyakinan bahwa momen itu akan datang.
Pemerintah Indonesia menetapkan Supratman sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1971. Hari lahirnya, 9 Maret, ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional.
Nama yang ia tambahkan untuk masuk sekolah Belanda. Biola yang ia pelajari dari kakak ipar Belanda. Lagu yang ia mainkan dalam keheningan agar tidak ditangkap Belanda. Dan tanggal kematiannya yang tujuh tahun kemudian menjadi tanggal paling bersejarah dalam peradaban Indonesia.
Tidak ada yang direncanakan. Tapi tidak ada yang bisa merancang ironi seindah kenyataan itu.
WR Supratman menulis lagu kebangsaan tapi tidak sempat melihat bangsanya merdeka — dan di hari kematiannya tujuh tahun kemudian, lagu itu dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan. Semangat berkarya untuk sesuatu yang belum tentu kita lihat hasilnya adalah keberanian yang paling murni. Menurut data UNESCO 2022, minat baca Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei — sebuah angka yang menjadi pertanyaan serius tentang seberapa dalam kita mengenal sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan para pahlawan seperti Supratman. Ia menulis untuk bangsa yang belum merdeka. Pertanyaan untuk kita hari ini: apakah kita cukup membaca dan cukup mengenal warisan yang ia tinggalkan?
#WRSupratman #IndonesiaRaya #HariMusikNasional #SejarahIndonesia #AgustusKemerdekaan
Gugur seorang putra bangsa terbaik yang tidak hanya dikenal sebagai dokter perintis ilmu kedokteran penerbangan di Indonesia, tetapi juga sebagai "Bapak Radio" republik ini. Dialah Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, sosok visioner yang mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk kemerdekaan, ilmu pengetahuan, dan suara kedaulatan bangsa. Lahirnya RRI: Menyalakan Suara Republik di Tengah Kegelapan Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, tantangan terbesar bangsa yang baru lahir ini adalah bagaimana menyebarkan berita kemerdekaan tersebut ke seluruh penjuru Nusantara dan dunia internasional, di tengah upaya Sekutu dan Belanda yang ingin membungkam informasi. Di sinilah peran heroik Abdulrachman Saleh bersinar terang. Bersama rekan-rekan pemuda penyiaran, ia mengambil alih stasiun-stasiun radio milik Jepang (Hoso Kyoku). Dengan peralatan yang sangat terbatas, pengetahuan teknik radio yang dimilikinya secara otodidak, serta keberanian yang luar biasa, ia berhasil menyatukan berbagai stasiun radio daerah menjadi satu jaringan penyiaran nasional. Tepat pada 11 September 1945, dalam sebuah rapat bersejarah para tokoh penyiaran, lahirlah Radio Republik Indonesia (RRI) dengan moto yang hingga kini abadi: "Sekali di Udara, Tetap di Udara." Abdulrachman Saleh diangkat sebagai pemimpin umum yang pertama. Melalui gelombang radio inilah, pidato Bung Karno, berita perjuangan, dan semangat persatuan terus berkobar, menembus blokade musuh dan menguatkan mental rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. hanya dilakukan di balik mikrofon atau ruang operasi rumah sakit. Ketika agresi militer terjadi, ia terjun langsung mendirikan Sekolah Penerbangan di Maguwo, Yogyakarta, guna mencetak penerbang-penerbang muda Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang handal untuk mempertahankan wilayah udara ibu pertiwi. Tidak hanya itu, ia juga merupakan tokoh penting di balik berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI). Kemanusiaan adalah panglima tertinggi dalam hidupnya. Ia percaya bahwa menolong sesama tanpa memandang kawan atau lawan adalah esensi dari kemerdekaan itu sendiri. Takdir memanggil sang pejuang pada tanggal 29 Juli 1947. Pesawat transportasi Dakota VT-CLA yang ditumpanginya bersama sejumlah tokoh perintis AURI (termasuk Adisutjipto dan Hendarwanto) ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Pesawat tersebut membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Abdulrachman Saleh gugur dalam usia 38 tahun, di tengah menjalankan misi kemanusiaan yang mulia. Ia pergi meninggalkan warisan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan semangat juang yang tidak ternilai harganya. Sebagai bentuk penghormatan yang tertinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa di bidang penerbangan, dunia militer, dan perjuangan kemerdekaan, nama Prof. Dr. Abdulrachman Saleh diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara TNI AU dan Bandar Udara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur. Setiap pesawat yang lepas landas dan mendarat di sana seolah membawa kembali gema semangat sang perintis: terbang tinggi menembus batas, demi kehormatan bangsa dan negara. #inspiratif #pahlawanindonesia #history #sejarah #faktasejarah
Gugur seorang putra bangsa terbaik yang tidak hanya dikenal sebagai dokter perintis ilmu kedokteran penerbangan di Indonesia, tetapi juga sebagai "Bapak Radio" republik ini. Dialah Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, sosok visioner yang mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk kemerdekaan, ilmu pengetahuan, dan suara kedaulatan bangsa.
Lahirnya RRI: Menyalakan Suara Republik di Tengah Kegelapan
Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, tantangan terbesar bangsa yang baru lahir ini adalah bagaimana menyebarkan berita kemerdekaan tersebut ke seluruh penjuru Nusantara dan dunia internasional, di tengah upaya Sekutu dan Belanda yang ingin membungkam informasi.
Di sinilah peran heroik Abdulrachman Saleh bersinar terang. Bersama rekan-rekan pemuda penyiaran, ia mengambil alih stasiun-stasiun radio milik Jepang (Hoso Kyoku). Dengan peralatan yang sangat terbatas, pengetahuan teknik radio yang dimilikinya secara otodidak, serta keberanian yang luar biasa, ia berhasil menyatukan berbagai stasiun radio daerah menjadi satu jaringan penyiaran nasional.
Tepat pada 11 September 1945, dalam sebuah rapat bersejarah para tokoh penyiaran, lahirlah Radio Republik Indonesia (RRI) dengan moto yang hingga kini abadi: "Sekali di Udara, Tetap di Udara." Abdulrachman Saleh diangkat sebagai pemimpin umum yang pertama. Melalui gelombang radio inilah, pidato Bung Karno, berita perjuangan, dan semangat persatuan terus berkobar, menembus blokade musuh dan menguatkan mental rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.
hanya dilakukan di balik mikrofon atau ruang operasi rumah sakit. Ketika agresi militer terjadi, ia terjun langsung mendirikan Sekolah Penerbangan di Maguwo, Yogyakarta, guna mencetak penerbang-penerbang muda Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang handal untuk mempertahankan wilayah udara ibu pertiwi.
Tidak hanya itu, ia juga merupakan tokoh penting di balik berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI). Kemanusiaan adalah panglima tertinggi dalam hidupnya. Ia percaya bahwa menolong sesama tanpa memandang kawan atau lawan adalah esensi dari kemerdekaan itu sendiri.
Takdir memanggil sang pejuang pada tanggal 29 Juli 1947. Pesawat transportasi Dakota VT-CLA yang ditumpanginya bersama sejumlah tokoh perintis AURI (termasuk Adisutjipto dan Hendarwanto) ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Pesawat tersebut membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya.
Abdulrachman Saleh gugur dalam usia 38 tahun, di tengah menjalankan misi kemanusiaan yang mulia. Ia pergi meninggalkan warisan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan semangat juang yang tidak ternilai harganya.
Sebagai bentuk penghormatan yang tertinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa di bidang penerbangan, dunia militer, dan perjuangan kemerdekaan, nama Prof. Dr. Abdulrachman Saleh diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara TNI AU dan Bandar Udara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur. Setiap pesawat yang lepas landas dan mendarat di sana seolah membawa kembali gema semangat sang perintis: terbang tinggi menembus batas, demi kehormatan bangsa dan negara.
#inspiratif #pahlawanindonesia #history #sejarah #faktasejarah
RAJA YANG MENYERAHKAN TAHTA DAN HARTANYA DEMI REPUBLIK‼️🇮🇩 Di tengah rapuhnya Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, ada satu keputusan politik yang dampaknya terasa lintas generasi. Keputusan itu datang dari seorang raja Melayu di Sumatra: Sultan Syarif Kasim II, penguasa terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura. Tak lama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan telegram resmi kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Isinya tegas dan tanpa syarat: Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia. Dukungan ini bukan simbolik. Ia segera menyerahkan uang tunai sebesar 13 juta gulden—salah satu kontribusi finansial terbesar dalam fase awal berdirinya negara. Jika dikonversi ke nilai saat ini, jumlah tersebut diperkirakan setara lebih dari Rp1 triliun. Selain uang tunai, Sultan juga menyerahkan mahkota emas, pedang bertatahkan berlian, serta berbagai perhiasan kerajaan. Semua itu diserahkan ketika Republik belum memiliki kas negara yang memadai dan masih berjuang mempertahankan eksistensinya secara politik maupun ekonomi. Keputusan yang diambil Sultan Syarif Kasim II semakin signifikan jika dilihat dari opsi yang sebenarnya tersedia. Ia tidak memilih jalur daerah istimewa seperti yang ditempuh Yogyakarta. Kesultanan Siak dilebur sepenuhnya ke dalam NKRI, tanpa tuntutan status khusus, tanpa negosiasi kekuasaan. Bersamaan dengan itu, wilayah strategis Siak—termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas dan ladang minyak sekitarnya—ikut menjadi bagian Republik. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi salah satu sumber devisa energi terbesar Indonesia selama puluhan tahun. Setelah melepas tahta dan harta, kehidupan Sultan berubah drastis. Ia meninggalkan kemegahan istana dan hidup sebagai warga negara biasa. Dalam beberapa periode, ia menetap di Jakarta dan Aceh, sebelum akhirnya kembali ke Siak. Tidak ada jabat4n negara, tidak ada keistimewaan protokoler. Laporan tentang kesederhanaan hidupnya di masa tua tercatat konsisten dalam berbagai sumber sejarah. Sultan Syarif Kasim II wafat pada 23 April 1968 di Rumah Sakit Caltex, Rumbai, Pekanbaru. Ia berpulang dalam kondisi yang jauh dari kemewahan masa lalunya sebagai raja. Tiga dekade kemudian, negara yang pernah ia dukung tanpa syarat baru menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998. Kisah Sultan Syarif Kasim II bukan sekadar cerita pengorbanan personal. Ini adalah contoh nasionalisme yang ekstrem dan konsisten: kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan masa depan politik demi keberlangsungan sebuah republik yang saat itu bahkan belum tentu bertahan. Dalam sejarah Indonesia, sedikit tokoh yang berani membayar harga setinggi itu untuk sebuah keyakinan politik.
RAJA YANG MENYERAHKAN TAHTA DAN HARTANYA DEMI REPUBLIK‼️🇮🇩
Di tengah rapuhnya Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, ada satu keputusan politik yang dampaknya terasa lintas generasi. Keputusan itu datang dari seorang raja Melayu di Sumatra: Sultan Syarif Kasim II, penguasa terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Tak lama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan telegram resmi kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Isinya tegas dan tanpa syarat: Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia. Dukungan ini bukan simbolik. Ia segera menyerahkan uang tunai sebesar 13 juta gulden—salah satu kontribusi finansial terbesar dalam fase awal berdirinya negara. Jika dikonversi ke nilai saat ini, jumlah tersebut diperkirakan setara lebih dari Rp1 triliun.
Selain uang tunai, Sultan juga menyerahkan mahkota emas, pedang bertatahkan berlian, serta berbagai perhiasan kerajaan. Semua itu diserahkan ketika Republik belum memiliki kas negara yang memadai dan masih berjuang mempertahankan eksistensinya secara politik maupun ekonomi.
Keputusan yang diambil Sultan Syarif Kasim II semakin signifikan jika dilihat dari opsi yang sebenarnya tersedia. Ia tidak memilih jalur daerah istimewa seperti yang ditempuh Yogyakarta. Kesultanan Siak dilebur sepenuhnya ke dalam NKRI, tanpa tuntutan status khusus, tanpa negosiasi kekuasaan. Bersamaan dengan itu, wilayah strategis Siak—termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas dan ladang minyak sekitarnya—ikut menjadi bagian Republik. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi salah satu sumber devisa energi terbesar Indonesia selama puluhan tahun.
Setelah melepas tahta dan harta, kehidupan Sultan berubah drastis. Ia meninggalkan kemegahan istana dan hidup sebagai warga negara biasa. Dalam beberapa periode, ia menetap di Jakarta dan Aceh, sebelum akhirnya kembali ke Siak. Tidak ada jabat4n negara, tidak ada keistimewaan protokoler. Laporan tentang kesederhanaan hidupnya di masa tua tercatat konsisten dalam berbagai sumber sejarah.
Sultan Syarif Kasim II wafat pada 23 April 1968 di Rumah Sakit Caltex, Rumbai, Pekanbaru. Ia berpulang dalam kondisi yang jauh dari kemewahan masa lalunya sebagai raja. Tiga dekade kemudian, negara yang pernah ia dukung tanpa syarat baru menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998.
Kisah Sultan Syarif Kasim II bukan sekadar cerita pengorbanan personal. Ini adalah contoh nasionalisme yang ekstrem dan konsisten: kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan masa depan politik demi keberlangsungan sebuah republik yang saat itu bahkan belum tentu bertahan. Dalam sejarah Indonesia, sedikit tokoh yang berani membayar harga setinggi itu untuk sebuah keyakinan politik.
Kopral Hargijono si penembak Ade Irma Suryani Nasution Pada malam yang lengang di Teuku Umar, 30 September 1965, seorang prajurit muda bernama Kopral Dua Hargijono berdiri di antara hiruk-pikuk pasukan Tjakrabirawa yang bergerak cepat. Tak ada yang istimewa sejatinya pada prajurit ini, ia bukan perwira tinggi, bukan pula tokoh yang akrab dengan para jenderal. Ia hanyalah satu dari ratusan anggota pasukan pengawal presiden yang bertugas menurut perintah. Namun malam itu, sebuah keputusan sepersekian detik akan mengubah hidupnya untuk selamanya, bahkan ikut mengubah sejarah Indonesia. Beberapa tahun kemudian, dalam wawancara media, seorang bekas anggota Cakrabirawa menggambarkan suasana malam itu sebagai “malam penuh teka-teki”. Ia mengatakan bahwa banyak prajurit hanya diberitahu bahwa mereka akan “menjemput orang-orang yang mengkhianati Presiden”. Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada briefing politik. Hargijono berada dalam kelompok yang mendapat perintah menuju rumah Jenderal A.H. Nasution. Menurut rekonstruksi Historia dan laporan Liputan6, Hargijono saat itu memegang Sten gun, senjata otomatis yang ringan namun sensitif terhadap tremor tangan dan tekanan picu. Ia ditempatkan sebagai anggota depan dalam regu kecil yang memasuki halaman rumah. Ketika pasukan menabrak pintu rumah Nasution, pintu kamar terlihat sempat terbuka lalu tertutup kembali. Di titik inilah ketegangan dimulai, kata salah satu saksi yang diwawancarai Historia “Cepat! Buka pintunya!” Perintah itu terdengar ditekan, keras, dan tanpa ruang untuk ragu. Hargijono maju. Ia mendekatkan laras senjata ke gagang pintu. Dalam rekonstruksi, seorang saksi menggambarkan momentum itu seperti “segala hal terjadi dalam hitungan detik terdengar orang berteriak, lampu temaram, dan tekanan perintah yang membuat siapa pun bisa salah gerak.” Hargijono menarik pelatuk, ledakan kecil memecah ruangan, dan peluru yang awalnya diarahkan ke gagang pintu ternyata meleset. Peluru yang tidak pernah dimaksukkan ke dalam rencana siapa pun Menurut kesaksian seorang mantan prajurit yang berada di tempat yang sama wawancara yang dikumpulkan jurnalis Petrik Matanasi rombongan pasukan mendengar suara jeritan perempuan dari dalam kamar. Di tengah kekacauan itu, prajurit-prajurit baru menyadari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan: peluru yang meleset itu mengenai seorang anak kecil. Anak itu adalah Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal Nasution. Seorang saksi mata yang diwawancarai Liputan6 berkata “Tidak ada yang berniat menemb4k anak. Kami kaget. Semua diam beberapa detik, seperti dunia berhenti.” Hargijono sendiri, menurut rekaman persidangan yang dikutip Historia, tidak menyangkal bahwa tembakan itu berasal dari senjatanya. Tapi ia menjelaskan bahwa ia menembak gagang pintu karena itu perintah, bukan mengarahkan ke siapa pun dalam kamar. Beberapa hari setelah peristiwa G30S, operasi penangkapan besar-besaran dimulai. Para anggota Cakrabirawa yang ikut dalam operasi “penjemputan” digiring ke tahanan militer. Nama Hargijono masuk daftar sejak hari pertama. Dalam salah satu wawancara KBR (Kantor Berita Radio) terhadap bekas anggota pasukan pengawal presiden, muncul gambaran tentang bagaimana para prajurit tingkat rendah merasa bahwa mereka “tidak pernah diberi ruang menjelaskan”. Seorang saksi bahkan berkata “Kalau saya harus minta ampun ke Soeharto, saya lebih baik mati.” Ungkapan ini menggambarkan betapa kuat tekanan politik saat itu. Menjalankan perintah dianggap tidak cukup sebagai pembelaan. Di pengadilan militer, kesaksian tentang tembakan ke pintu dan peluru yang meleset kembali dihadirkan. Menurut dokumentasi yang pernah dirangkum Historia, Hargijono menerima vonis yang sangat berat sebagai konsekuensi perannya dalam operasi itu. Dalam liputan panjang Historia, saksi lain yang pernah menjadi prajurit Cakrabirawa menyatakan “Kami itu tentara kecil. Kalau komandan bilang kiri, kami kiri. Kalau bilang tembak gagang pintu, ya kami tembak. Tapi sejarah tidak peduli siapa apa waktu itu.” Kalimat itu menjadi ringkasan betapa banyak prajurit lapangan yang tersapu oleh badai politik yang jauh lebih besar daripada mereka. Seorang saksi lain yang dikutip Liputan6 mengingat Hargijono sebagai “pendiam, tidak banyak bicara, dan bukan tipe prajurit yang suka kekerasan.” Dalam narasi tersebut, ia digambarkan lebih sebagai pelaksana teknis ketimbang seorang aktor politik. Nama Hargijono tenggelam dalam deretan nama besar G30S. Namun ironi sejarah adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak ditargetkan, dan terjadi dalam kepanika justru menjadi salah satu peristiwa yang paling dikenang publik. Hingga kini, arsip publik tentang riwayat hidupnya sebelum 1965 nyaris kosong. Tak ada catatan lengkap tentang masa kecil, keluarganya, atau motivasinya bergabung dalam militer. Ia muncul dalam sejarah secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba pula. Yang tersisa hanyalah jejak malam itu, rekonstruksi para saksi, dan perdebatan panjang tentang siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dalam operasi 30 September. Sumber : Historia: laporan rekonstruksi penembakan Ade Irma oleh Kopral Hargijono. Liputan6: wawancara mantan anggota Cakrabirawa tentang kronologi malam kejadian. KBR: wawancara eks-Cakrabirawa mengenai tekanan politik dan pengadilan militer. Tirto (Petrik Matanasi): konteks operasi penjemputan dan kesaksian prajurit.
Kopral Hargijono si penembak Ade Irma Suryani Nasution
Pada malam yang lengang di Teuku Umar, 30 September 1965, seorang prajurit muda bernama Kopral Dua Hargijono berdiri di antara hiruk-pikuk pasukan Tjakrabirawa yang bergerak cepat. Tak ada yang istimewa sejatinya pada prajurit ini, ia bukan perwira tinggi, bukan pula tokoh yang akrab dengan para jenderal. Ia hanyalah satu dari ratusan anggota pasukan pengawal presiden yang bertugas menurut perintah.
Namun malam itu, sebuah keputusan sepersekian detik akan mengubah hidupnya untuk selamanya, bahkan ikut mengubah sejarah Indonesia.
Beberapa tahun kemudian, dalam wawancara media, seorang bekas anggota Cakrabirawa menggambarkan suasana malam itu sebagai “malam penuh teka-teki”. Ia mengatakan bahwa banyak prajurit hanya diberitahu bahwa mereka akan “menjemput orang-orang yang mengkhianati Presiden”. Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada briefing politik. Hargijono berada dalam kelompok yang mendapat perintah menuju rumah Jenderal A.H. Nasution.
Menurut rekonstruksi Historia dan laporan Liputan6, Hargijono saat itu memegang Sten gun, senjata otomatis yang ringan namun sensitif terhadap tremor tangan dan tekanan picu. Ia ditempatkan sebagai anggota depan dalam regu kecil yang memasuki halaman rumah.
Ketika pasukan menabrak pintu rumah Nasution, pintu kamar terlihat sempat terbuka lalu tertutup kembali. Di titik inilah ketegangan dimulai, kata salah satu saksi yang diwawancarai Historia “Cepat! Buka pintunya!”
Perintah itu terdengar ditekan, keras, dan tanpa ruang untuk ragu.
Hargijono maju. Ia mendekatkan laras senjata ke gagang pintu. Dalam rekonstruksi, seorang saksi menggambarkan momentum itu seperti “segala hal terjadi dalam hitungan detik terdengar orang berteriak, lampu temaram, dan tekanan perintah yang membuat siapa pun bisa salah gerak.”
Hargijono menarik pelatuk, ledakan kecil memecah ruangan, dan peluru yang awalnya diarahkan ke gagang pintu ternyata meleset. Peluru yang tidak pernah dimaksukkan ke dalam rencana siapa pun
Menurut kesaksian seorang mantan prajurit yang berada di tempat yang sama wawancara yang dikumpulkan jurnalis Petrik Matanasi rombongan pasukan mendengar suara jeritan perempuan dari dalam kamar. Di tengah kekacauan itu, prajurit-prajurit baru menyadari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan:
peluru yang meleset itu mengenai seorang anak kecil. Anak itu adalah Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal Nasution.
Seorang saksi mata yang diwawancarai Liputan6 berkata “Tidak ada yang berniat menemb4k anak. Kami kaget. Semua diam beberapa detik, seperti dunia berhenti.”
Hargijono sendiri, menurut rekaman persidangan yang dikutip Historia, tidak menyangkal bahwa tembakan itu berasal dari senjatanya. Tapi ia menjelaskan bahwa ia menembak gagang pintu karena itu perintah, bukan mengarahkan ke siapa pun dalam kamar.
Beberapa hari setelah peristiwa G30S, operasi penangkapan besar-besaran dimulai. Para anggota Cakrabirawa yang ikut dalam operasi “penjemputan” digiring ke tahanan militer. Nama Hargijono masuk daftar sejak hari pertama.
Dalam salah satu wawancara KBR (Kantor Berita Radio) terhadap bekas anggota pasukan pengawal presiden, muncul gambaran tentang bagaimana para prajurit tingkat rendah merasa bahwa mereka “tidak pernah diberi ruang menjelaskan”. Seorang saksi bahkan berkata “Kalau saya harus minta ampun ke Soeharto, saya lebih baik mati.”
Ungkapan ini menggambarkan betapa kuat tekanan politik saat itu. Menjalankan perintah dianggap tidak cukup sebagai pembelaan.
Di pengadilan militer, kesaksian tentang tembakan ke pintu dan peluru yang meleset kembali dihadirkan. Menurut dokumentasi yang pernah dirangkum Historia, Hargijono menerima vonis yang sangat berat sebagai konsekuensi perannya dalam operasi itu.
Dalam liputan panjang Historia, saksi lain yang pernah menjadi prajurit Cakrabirawa menyatakan “Kami itu tentara kecil. Kalau komandan bilang kiri, kami kiri. Kalau bilang tembak gagang pintu, ya kami tembak. Tapi sejarah tidak peduli siapa apa waktu itu.”
Kalimat itu menjadi ringkasan betapa banyak prajurit lapangan yang tersapu oleh badai politik yang jauh lebih besar daripada mereka.
Seorang saksi lain yang dikutip Liputan6 mengingat Hargijono sebagai “pendiam, tidak banyak bicara, dan bukan tipe prajurit yang suka kekerasan.” Dalam narasi tersebut, ia digambarkan lebih sebagai pelaksana teknis ketimbang seorang aktor politik.
Nama Hargijono tenggelam dalam deretan nama besar G30S. Namun ironi sejarah adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak ditargetkan, dan terjadi dalam kepanika justru menjadi salah satu peristiwa yang paling dikenang publik.
Hingga kini, arsip publik tentang riwayat hidupnya sebelum 1965 nyaris kosong. Tak ada catatan lengkap tentang masa kecil, keluarganya, atau motivasinya bergabung dalam militer. Ia muncul dalam sejarah secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba pula.
Yang tersisa hanyalah jejak malam itu, rekonstruksi para saksi, dan perdebatan panjang tentang siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dalam operasi 30 September.
Sumber :
Historia: laporan rekonstruksi penembakan Ade Irma oleh Kopral Hargijono.
Liputan6: wawancara mantan anggota Cakrabirawa tentang kronologi malam kejadian.
KBR: wawancara eks-Cakrabirawa mengenai tekanan politik dan pengadilan militer.
Tirto (Petrik Matanasi): konteks operasi penjemputan dan kesaksian prajurit.
Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. [1] Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai Wikana: Pelopor Peristiwa Rengasdengklok: Wikana merupakan salah satu tokoh dari golongan muda yang mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan setelah mendengar kabar kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Bersama pemuda lainnya, ia ikut mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang. Negosiator Tempat Perumusan Teks: Berkat jaringan dan kedekatannya dengan kalangan Angkatan Laut Jepang (Kaigun), Wikana berhasil melobi agar rumah Laksamana Tadashi Maeda di Menteng dijadikan tempat perumusan teks proklamasi yang aman. Menteri Pemuda Pertama: Setelah Indonesia merdeka, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Pemuda yang pertama dalam Kabinet Sjahrir. Akhir Hayat yang Tragis: Wikana yang sempat aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI) dikabarkan ditangkap dan menghilang tanpa jejak pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Hingga saat ini, keberadaan makam atau kepastian akhir hayatnya masih menjadi misteri sejarah Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. #EventSejarahSeptember #RestorasiG30S
Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. [1]
Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai Wikana:
Pelopor Peristiwa Rengasdengklok: Wikana merupakan salah satu tokoh dari golongan muda yang mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan setelah mendengar kabar kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Bersama pemuda lainnya, ia ikut mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang.
Negosiator Tempat Perumusan Teks: Berkat jaringan dan kedekatannya dengan kalangan Angkatan Laut Jepang (Kaigun), Wikana berhasil melobi agar rumah Laksamana Tadashi Maeda di Menteng dijadikan tempat perumusan teks proklamasi yang aman.
Menteri Pemuda Pertama: Setelah Indonesia merdeka, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Pemuda yang pertama dalam Kabinet Sjahrir.
Akhir Hayat yang Tragis: Wikana yang sempat aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI) dikabarkan ditangkap dan menghilang tanpa jejak pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Hingga saat ini, keberadaan makam atau kepastian akhir hayatnya masih menjadi misteri sejarah
Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
#EventSejarahSeptember
#RestorasiG30S





















