08 August 2026

𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙈𝙗𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙤𝙬𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙜𝙪𝙧𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙠𝙣𝙞, 𝙆𝙮𝙖𝙞 𝘼𝙧𝙬𝙖𝙣𝙞. 𝐷𝑖𝑘𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝐻. 𝑁𝑜𝑜𝑟 𝐻𝑎𝑑𝑖, 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑏𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑡𝑢𝑎 𝑃𝑊𝑁𝑈 𝐵𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 1980 Kyai asli Demak ini berkisah bahwa suatu ketika Mbah Mangli berangkat ke Kudus untuk sowan kepada gurunya yakni, Kyai Arwani. Sesampainya di Kudus, Mbah Mangli segera menuju Kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus yang berada tak jauh Masjid Al-Aqsha yang terkenal dengan Masjid Menara Kudus. Ketika sampai di depan Ndalem Kyai Arwani, Mbah Mangli tiba-tiba bersimpuh sambil berjalan perlahan-lahan atau “ngesot” dalam bahasa jawa. Singkat cerita Kyai Arwani pun menghampirinya. Selanjutnya, Mbah Mangli mulai mengutarakan maksud kedatangannya, yang selanjutnya 𝑑𝑖𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐫𝐨𝐦𝐨 𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑐𝑖𝑟𝑖 𝑘ℎ𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎𝑝𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎. (𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑜𝑔 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑒𝑟) “𝐒𝐢𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Siapa anda?)Tanya Kyai Arwani “𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐠𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠?” Jawab Mbah Mangli “𝐖𝐨𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐡𝐚𝐣𝐚𝐭 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐰𝐮𝐡 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢”? (Ada perlu apa kesini)” Tanya Kyai Arwani “𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐤𝐚𝐣𝐞𝐧𝐠𝐞 𝐧𝐲𝐮𝐰𝐮𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐝𝐚𝐝𝐨𝐬 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Saya ingin minta tolong diakui sebagai santri anda)” Jawab Arwani “𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐠𝐞𝐡, 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐝𝐚𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢?” (Maaf, anda pernah ngaji disini ya?) “Tanya Kyai Arwani “𝐍𝐠𝐠𝐞𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐦𝐢𝐲𝐞𝐧 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢. 𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧, 𝐍𝐢𝐤𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐧𝐢𝐩𝐮𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐰𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐭𝐞𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧" (Iya Kyai, saya pernah belajar disini. Mohon maaf, ini bukti jika saya pernah mengaji kepada anda). [sambil menunjukkan bekas sabetan Kyai Arwani yang masih membekas di punggungnya] ” Pungkas Mbah Mangli.. Maka ketika Mbah Arwani melihat bukti tersebut, maka teringatlah beliau pada sosok di depannya tersebut adalah benar-benar muridnya. Maka bersyukurlah beliau pada sosok santrinya yang kini telah menjadi ulama besar yang telah sukses mendirikan pesantren, mengasuh pengajian di berbagai tempat dan menjadi Mursyid Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyah ini. Maka Kyai Arwani pun mengakui bahwa Mbah Mangli adalah santrinya. Jawaban tersebut disambut oleh Mbah Mangli dengan penuh suka cita. Mendengar jawaban yang dinanti-nanti selama ini langsung dari guru mulianya tersebut, terbayang betapa bersyukurnya beliau telah resmi diakui sebagai santrinya Kyai Arwani yang juga dikenal penulis Kitab Faidh Barokat fi Sab’i al-Qiro’at yang telah dikenal sampai di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini.. #sepenggalkisah #catatankecil #waliAllah #mbahmangli #mbaharwanikudus #santri #pondokpesantren #ulamanusantara #ulama #kyai #tanahjawa #magelang #kudus #majelis #sejarah #kairo #mesir

 𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙈𝙗𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙤𝙬𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙜𝙪𝙧𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙠𝙣𝙞, 𝙆𝙮𝙖𝙞 𝘼𝙧𝙬𝙖𝙣𝙞.



𝐷𝑖𝑘𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝐻. 𝑁𝑜𝑜𝑟 𝐻𝑎𝑑𝑖, 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑏𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑡𝑢𝑎 𝑃𝑊𝑁𝑈 𝐵𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 1980

Kyai asli Demak ini berkisah bahwa suatu ketika Mbah Mangli berangkat ke Kudus untuk sowan kepada gurunya yakni, Kyai Arwani.


Sesampainya di Kudus, Mbah Mangli segera menuju Kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus yang berada tak jauh Masjid Al-Aqsha yang terkenal dengan Masjid Menara Kudus. Ketika sampai di depan Ndalem Kyai Arwani, Mbah Mangli tiba-tiba bersimpuh sambil berjalan perlahan-lahan atau “ngesot” dalam bahasa jawa.


Singkat cerita Kyai Arwani pun menghampirinya. Selanjutnya, Mbah Mangli mulai mengutarakan maksud kedatangannya, yang selanjutnya 𝑑𝑖𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐫𝐨𝐦𝐨 𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑐𝑖𝑟𝑖 𝑘ℎ𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎𝑝𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎. (𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑜𝑔 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑒𝑟)


“𝐒𝐢𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?”  (Siapa anda?)Tanya Kyai Arwani 


“𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐠𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠?” Jawab Mbah Mangli


“𝐖𝐨𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐡𝐚𝐣𝐚𝐭 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐰𝐮𝐡 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢”? (Ada perlu apa kesini)” Tanya Kyai Arwani


“𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐤𝐚𝐣𝐞𝐧𝐠𝐞 𝐧𝐲𝐮𝐰𝐮𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐝𝐚𝐝𝐨𝐬 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Saya ingin minta tolong diakui sebagai santri anda)” Jawab Arwani


“𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐠𝐞𝐡, 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐝𝐚𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢?” (Maaf, anda pernah ngaji disini ya?) “Tanya Kyai Arwani


“𝐍𝐠𝐠𝐞𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐦𝐢𝐲𝐞𝐧 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢. 𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧, 𝐍𝐢𝐤𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐧𝐢𝐩𝐮𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐰𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐭𝐞𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧" (Iya Kyai, saya pernah belajar disini. Mohon maaf, ini bukti jika saya pernah mengaji kepada anda).


 [sambil menunjukkan bekas sabetan Kyai Arwani yang masih membekas di punggungnya] ” Pungkas Mbah Mangli..


Maka ketika Mbah Arwani melihat bukti tersebut, maka teringatlah beliau pada sosok di depannya tersebut adalah benar-benar muridnya. Maka bersyukurlah beliau pada sosok santrinya yang kini telah menjadi ulama besar yang telah sukses mendirikan pesantren, mengasuh pengajian di berbagai tempat dan menjadi Mursyid Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyah ini. Maka Kyai Arwani pun mengakui bahwa Mbah Mangli adalah santrinya.


Jawaban tersebut disambut oleh Mbah Mangli dengan penuh suka cita. Mendengar jawaban yang dinanti-nanti selama ini langsung dari guru mulianya tersebut, terbayang betapa bersyukurnya beliau telah resmi diakui sebagai santrinya Kyai Arwani yang juga dikenal penulis Kitab Faidh Barokat fi Sab’i al-Qiro’at yang telah dikenal sampai di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini..


#sepenggalkisah #catatankecil #waliAllah #mbahmangli #mbaharwanikudus #santri #pondokpesantren #ulamanusantara #ulama #kyai #tanahjawa #magelang #kudus #majelis #sejarah #kairo #mesir

07 August 2026

RADEN TUMENGGUNG ARIO SOEMODILOGO. Beliau merupakan putera dari kiai Ngabei Soemowerdojo (Patih Semarang) dan puteri kiai Mertonegoro II Ngabei Gemulak. Istri beliau adalah GRAy Soemodilogo. Putera beliau adalah: 1. R Demang Martolojo. 2. RT Soerodilogo. 3. RTAA Holland Soemodilogo. 4. R Praptodilogo. 5. R Soemowardojo (Kolektur Prapak). 6. Dan 2 orang lagi tidak disebutkan namanya. Gelar Raden Tumenggung (RT) Ario Soemodilogo dan kamulyan (kemuliaan) sebagai bupati Menoreh, secara sadar beliau bayar dengan kerelaannya berperang melawan Pangeran Diponegoro. Soemodilogo bahkan belum pula sempat menjalankan tugas sebagai bupati, karena Perang Jawa itu keburu meletus. Tumenggung Soemodilogo pun jadi salah satu komandan batalyon sekutu, yang terdiri dari serdadu Belanda, legiun Mangkunegaran, prajurit Kasunanan Solo, dan sejumlah pasukan bupati - bupati pro kumpeni lainnya. Pasukan gabungan berupa batalyon persekutuan Soemodilogo ini sangat besar kekuatannya. Batalyon sekutu pro kumpeni yang dikomandoi Soemodilogo berkedudukan di Parakan. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Dalam suatu pertempuran yang sangat besar berkobar, batalyon gabungan yang dikomandoinya hancur lebur diterjang laskar Diponegoro. RT Soemodilogo tewas sangat mengenaskan (Sutherhand, 1974, Cornell University). Sejarah yang beredar di kalangan masyarakat Temanggung menuturkan, bahwa sebagai bukti keberhasilan operasinya, laskar Diponegoro mengambil mustaka (kepala) sang bupati dan memperlihatkannya ke hadapan sang Pangeran Herucokro di markas komandonya, Selarong, Yogyakarta. Maka, hingga kini anak cucu keturunan mendiang, yang tergabung dalam paguyuban trah Soemodilagan, biasa nyekar pepundennya itu di dua tempat yaitu di Parakan Jawa Tengah dan di Selarong Yogyakarta. Pembesar yang menjadi korban panasnya Perang Jawa bukan hanya Ario Soemodilogo. Tumenggung Danuningrat I, bupati Magelang, menurut Sutherhand, mengalami nasib serupa, tewas. Bahkan, serdadu - serdadu Belanda yang dipimpin veteran perang Napoleon yaitu Jenderal Van Green, pun tewas, hancur lebur, lumat diterjang laskar Diponegoro. Sebagaimana bupati lain yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Phillip Van der Capellen (1816 - 1826), Soemodilogo juga berasal dari keluarga penguasa yang dulunya menjadi bawahan Mataram. Beliau adalah putera Raden Soemowerdojo, Patih Semarang. Sedangkan kakeknya adalah Bupati Semarang Raden Tumenggung Soemohadimenggolo. Tradisi Van der Capellen itu berlanjut hingga 1850 - an, untuk bupati - bupati pesisir utara misalnya, umumnya diambil dari keluarga bupati Semarang, Demak, Jepara, atau Pati. Untuk wilayah Jawa Tengah bagian barat, yang dipromosikan kerabat bupati Banyumas yaitu keluarga Yudonegoro. Keluarga Kolopaking dan keluarga Arumbinang untuk memimpin wilayah Bagelen. Begitu pula yang terjadi di Jawa Timur. Namun, dalam daftar resmi bupati Temanggung, nama RT Ario Soemodilogo justru tidak tercantum. Yang tercatat sebagai bupati Temanggung pertama adalah RT Djojonegoro (1834 - 1848). Hal ini terjadi karena sebelumnya Kabupaten Temanggung itu disebut Kabupaten Menoreh yang pusat pemerintahannya di Parakan. Tapi, kabupaten Manoreh itu tak berumur panjang, karena hanya sementara, dan hancur diterjang laskar Diponegoro. Namanya kemudian diganti Kabupaten Temanggung, dan ibukotanya pun dipindah di Temanggung yang jauh lebih aman. Masjid Jami’ dan alun - alun adalah bukti kelahiran kabupaten Temanggung. Sayang, nDalem Kabupatennya sendiri yang asli telah terbakar habis sebagai akibat dari strategi taktik bumi hangus dalam perang revolusi kemerdekaan yang berkobar. Meski Tumenggung Ario Soemodilogo tidak sempat menjalankan misi pemerintahannya di Menoreh (pindah Temanggung), pemerintah kolonial tak melupakan pengorbanannya. Terbukti setelah RT Djojonegoro lengser 1848, diangkatlah putera Soemodilogo menjadi bupati Temanggung. Putera beliau bergelar menjadi Raden Tumenggung Soemodilogo II. Karena kesetiaannya, atas persetujuan Batavia, Soemodilogo II dianugerahi memakai gelar Holland sebagai nama depannya. Jadilah bergelar RT Holland Soemodilogo yang menjabat bupati selama 30 tahun. Sebelum pensiun, RT Holland Soemodilogo naik pangkat dengan gelar Kanjeng Raden Adipati. Keluarga Soemodilogo masih mendapat kepercayaan sekali lagi memimpin Temanggung melalui RT Holland Soemodirdjo, putera Soemodilogo II. Tidak jelas mengapa Soemodirdjo hanya menjabat selama 4 tahun (1878 - 1882). Soemodirdjo digantikan RT Tjokro Atmodjo (1882 - 1906) dan kemudian RM Adipati Tjokro Adikoesoemo (1906 - 1023), salah seorang bupati yang progresif untuk ukuran zamannya. Bapak dari mantan Gubernur DKI Jakarta (alm) Tjokro Pranolo itu termasuk segelintir bupati yang mendukung gerakan Boedi Oetomo. Dengan tiga nama yang pernah menjadi penguasa di Temanggung, tak heran bila nama - nama Soemodilogo melegenda di lembah Sindoro - Sumbing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Catatan: Pangeran Herucokro itu adalah nama lain dari Pangeran Diponegoro. Herucokro adalah putera dari Surojo (Sri Sultan Hamengku Buwono III, Raja Yogyakarta).

 RADEN TUMENGGUNG ARIO SOEMODILOGO.


Beliau merupakan putera dari kiai Ngabei Soemowerdojo (Patih Semarang) dan puteri kiai Mertonegoro II Ngabei Gemulak.



Istri beliau adalah GRAy Soemodilogo.


Putera beliau adalah:


1. R Demang Martolojo.


2. RT Soerodilogo.


3. RTAA Holland Soemodilogo.


4. R Praptodilogo.


5. R Soemowardojo (Kolektur Prapak).


6. Dan 2 orang lagi tidak disebutkan namanya.


Gelar Raden Tumenggung (RT) Ario Soemodilogo dan kamulyan (kemuliaan) sebagai bupati Menoreh, secara sadar beliau bayar dengan kerelaannya berperang melawan Pangeran Diponegoro.


Soemodilogo bahkan belum pula sempat menjalankan tugas sebagai bupati, karena Perang Jawa itu keburu meletus.


Tumenggung Soemodilogo pun jadi salah satu komandan batalyon sekutu, yang terdiri dari serdadu Belanda, legiun Mangkunegaran, prajurit Kasunanan Solo, dan sejumlah pasukan bupati - bupati pro kumpeni lainnya.


Pasukan gabungan berupa batalyon persekutuan Soemodilogo ini sangat besar kekuatannya.


Batalyon sekutu pro kumpeni yang dikomandoi Soemodilogo berkedudukan di Parakan.


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.


Dalam suatu pertempuran yang sangat besar berkobar, batalyon gabungan yang dikomandoinya hancur lebur diterjang laskar Diponegoro.


RT Soemodilogo tewas sangat mengenaskan (Sutherhand, 1974, Cornell University).


Sejarah yang beredar di kalangan masyarakat Temanggung menuturkan, bahwa sebagai bukti keberhasilan operasinya, laskar Diponegoro mengambil mustaka (kepala) sang bupati dan memperlihatkannya ke hadapan sang Pangeran Herucokro di markas komandonya, Selarong, Yogyakarta.


Maka, hingga kini anak cucu keturunan mendiang, yang tergabung dalam paguyuban trah Soemodilagan, biasa nyekar pepundennya itu di dua tempat yaitu di Parakan Jawa Tengah dan di Selarong Yogyakarta.


Pembesar yang menjadi korban panasnya Perang Jawa bukan hanya Ario Soemodilogo.


Tumenggung Danuningrat I, bupati Magelang, menurut Sutherhand, mengalami nasib serupa, tewas.


Bahkan, serdadu - serdadu Belanda yang dipimpin veteran perang Napoleon yaitu Jenderal Van Green, pun tewas, hancur lebur, lumat diterjang laskar Diponegoro.


Sebagaimana bupati lain yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Phillip Van der Capellen (1816 - 1826), Soemodilogo juga berasal dari keluarga penguasa yang dulunya menjadi bawahan Mataram.


Beliau adalah putera Raden Soemowerdojo, Patih Semarang.


Sedangkan kakeknya adalah Bupati Semarang Raden Tumenggung Soemohadimenggolo.


Tradisi Van der Capellen itu berlanjut hingga 1850 - an, untuk bupati - bupati pesisir utara misalnya, umumnya diambil dari keluarga bupati Semarang, Demak, Jepara, atau Pati.


Untuk wilayah Jawa Tengah bagian barat, yang dipromosikan kerabat bupati Banyumas yaitu keluarga Yudonegoro.


Keluarga Kolopaking dan keluarga Arumbinang untuk memimpin wilayah Bagelen.


Begitu pula yang terjadi di Jawa Timur.


Namun, dalam daftar resmi bupati Temanggung, nama RT Ario Soemodilogo justru tidak tercantum.


Yang tercatat sebagai bupati Temanggung pertama adalah RT Djojonegoro (1834 - 1848).


Hal ini terjadi karena sebelumnya Kabupaten Temanggung itu disebut Kabupaten Menoreh yang pusat pemerintahannya di Parakan.


Tapi, kabupaten Manoreh itu tak berumur panjang, karena hanya sementara, dan hancur diterjang laskar Diponegoro.


Namanya kemudian diganti Kabupaten Temanggung, dan ibukotanya pun dipindah di Temanggung yang jauh lebih aman.


Masjid Jami’ dan alun - alun adalah bukti kelahiran kabupaten Temanggung.


Sayang, nDalem Kabupatennya sendiri yang asli telah terbakar habis sebagai akibat dari strategi taktik bumi hangus dalam perang revolusi kemerdekaan yang berkobar.


Meski Tumenggung Ario Soemodilogo tidak sempat menjalankan misi pemerintahannya di Menoreh (pindah Temanggung), pemerintah kolonial tak melupakan pengorbanannya.


Terbukti setelah RT Djojonegoro lengser 1848, diangkatlah putera Soemodilogo menjadi bupati Temanggung.


Putera beliau bergelar menjadi Raden Tumenggung Soemodilogo II.


Karena kesetiaannya, atas persetujuan Batavia, Soemodilogo II dianugerahi memakai gelar Holland sebagai nama depannya.


Jadilah bergelar RT Holland Soemodilogo yang menjabat bupati selama 30 tahun.


Sebelum pensiun, RT Holland Soemodilogo naik pangkat dengan gelar Kanjeng Raden Adipati.


Keluarga Soemodilogo masih mendapat kepercayaan sekali lagi memimpin Temanggung melalui RT Holland Soemodirdjo, putera Soemodilogo II.


Tidak jelas mengapa Soemodirdjo hanya menjabat selama 4 tahun (1878 - 1882).


Soemodirdjo digantikan RT Tjokro Atmodjo (1882 - 1906) dan kemudian RM Adipati Tjokro Adikoesoemo (1906 - 1023), salah seorang bupati yang progresif untuk ukuran zamannya.


Bapak dari mantan Gubernur DKI Jakarta (alm) Tjokro Pranolo itu termasuk segelintir bupati yang mendukung gerakan Boedi Oetomo.


Dengan tiga nama yang pernah menjadi penguasa di Temanggung, tak heran bila nama - nama Soemodilogo melegenda di lembah Sindoro - Sumbing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Catatan:


Pangeran Herucokro itu adalah nama lain dari Pangeran Diponegoro.


Herucokro adalah putera dari Surojo (Sri Sultan Hamengku Buwono III, Raja Yogyakarta).

06 August 2026

Ini foto Faisal bin Musaid, pangeran Saudi bersama pacarnnya Christine Surma, artis AS. Pangeran Faisal lahir pada tahun 1944, dia adalah cucu Raja Saud. Masalah pertama yang didapatnya adalah perceraian kedua orangtuanya. Dari situ dia lebih akrab dengan keluarga ibunya dibanding keluarga ayahnya. Masalah keduanya, adalah pada tahun 1966, saudaranya Khaled, terbunuh saat ikut dalam aksi protes menentang pembolehan televisi. Saat itu, Raja Faisal yang mendorong modernisasi Saudi memperkenalkan televisi kepada rakyat Saudi. Ulama Wahabi Syekh Bin Baz yang saat itu menjadi rektor Universitas Madinah merespon dengan memfatwakan haramnya menonton televisi. Raja Faisal tidak bergeming, ia malah memecat Bin Baz dan menyebutnya ulama kolot yang menghambat kemajuan. Apalagi saat itu Bin Baz juga mengatakan bumi itu datar, sehingga Raja Faisal menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan kerajaan. Pemecatan Bin Baz memicu respon keras dari kelompok wahabi, termasuk di dalamnya Pangeran Khaled bin Musaid yang terpapar paham wahabi. Ia ikut dalam aksi protes dan turut menjadi korban kekerasan aparat. Sejak saat itu, Faisal dendam pada Raja Faisal sebab menyebut kebijakan Raja Faisallah yang menyebabkan kematian saudaranya. Ia pun memilih meninggalkan Saudi dan tinggal di AS. Ia sempat kuliah di San Francisco State College lalu pindah ke University of Colorado. Meski berhasil menyelesaikan sarjananya namun program pascasarjana dalam ilmu politik gagal dia selesaikan. Pada tahun 1970, ia ditangkap di Boulder, Colorado, karena terlibat dalam kasus penjualan obat terlarang dan ganja. Selama di AS dia berpacaran dengan Christine Surma, seorang artis yang tidak terlalu terkenal. Karena bermasalah di AS dia kembali ke Saudi. Begitu tiba di Saudi, kerajaan menyita paspornya dan menerapkan larangan untuk dia bepergian ke luar negeri. Meski dilakukan padanya pembatasan namun dia tetap masih menjalin komunikasi dengan pacarnya. Pada tanggal 25 Maret 1975, ia pergi ke istana raja di Riyadh yang saat itu menggelar perayaan maulid. Ia bergabung dengan delegasi Kuwait dan berbaris untuk bertemu raja. Raja Faisal yang sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya menyambut dengan senyum, ia merangkul dan menundukkan kepala untuk dicium oleh keponakannya. Sebagaimana tradisi kerajaan Faisal muda pun mencium kepala raja sebagai tanda hormat. Namun saat bersamaan ia mengeluarkan revolver gun dari jubahnya dan mengarahkan tembakan ke tubuh Raja Faisal. Terkena tembakan dari jarak dekat, sang raja jatuh ke lantai dan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit tetapi dokter gagal menyelamatkannya. Pangeran Faisal pun segera ditangkap pengawal kerajaan. Sebelum wafat, Raja Faisal sempat memesankan agar keponakannya jangan dieksekusi. Proses pengadilan pun segera dilakukan. Awalnya Faisal bin Musaid disebut mengalami gangguan jiwa saat melakukan penembakan. Namun terbukti dia dianggap waras saat melakukannya. Pengadilan menemukan ia bersalah atas tindakan pembunuhan. Iapun divonis bersalah dan pengadilan memutuskan dia dihukum penggal. Meski disebut dendam atas kematian saudaranya pada masa lalu dan keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang yang membuat kerajaan memberikan banyak pembatasan padanya sebagai pemicu dia tidak menyukai sang paman, namun pengadilan meyebutkan bahwa tindakan pembunuhan itu sebagai kejahatan yang disengaja dan direncanakan. Terutama dikaitkan dengan Christine Surma pacarnya yang disebut berulang kali mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Hal itu diceritakan Faisal kepada ibunya. Media Arab yang saat itu melakukan investigasi malah menyatakan bahwa pembunuhan itu atas perintah dan arahan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat. Christine Surma sang pacar merespon terbunuhnya Raja Faisal oleh kekasihnya dengan mengatakan, itu baik bagi perdamaian kerajaan Saudi dengan AS. Dan ketika ditanya apa tanggapannya terhadap vonis mati untuk pangeran Faisal, dia merespon singkat, "Dia pria yang sempurna dan sangat membanggakan."

 Ini foto Faisal bin Musaid, pangeran Saudi bersama pacarnnya Christine Surma, artis AS. Pangeran Faisal lahir pada tahun 1944, dia adalah cucu Raja Saud. Masalah pertama yang didapatnya adalah perceraian kedua orangtuanya. Dari situ dia lebih akrab dengan keluarga ibunya dibanding keluarga ayahnya. Masalah keduanya, adalah pada tahun 1966, saudaranya Khaled, terbunuh saat ikut dalam aksi protes menentang pembolehan televisi. Saat itu, Raja Faisal yang mendorong modernisasi Saudi memperkenalkan televisi kepada rakyat Saudi. Ulama Wahabi Syekh Bin Baz yang saat itu menjadi rektor Universitas Madinah merespon dengan memfatwakan haramnya menonton televisi. Raja Faisal tidak bergeming, ia malah memecat Bin Baz dan menyebutnya ulama kolot yang menghambat kemajuan. Apalagi saat itu Bin Baz juga mengatakan bumi itu datar, sehingga Raja Faisal menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan kerajaan. Pemecatan Bin Baz memicu respon keras dari kelompok wahabi, termasuk di dalamnya Pangeran Khaled bin Musaid yang terpapar paham wahabi. Ia ikut dalam aksi protes dan turut menjadi korban kekerasan aparat. Sejak saat itu, Faisal dendam pada Raja Faisal sebab menyebut kebijakan Raja Faisallah yang menyebabkan kematian saudaranya. Ia pun memilih meninggalkan Saudi dan tinggal di AS. Ia sempat kuliah di San Francisco State College lalu pindah ke University of Colorado. Meski berhasil menyelesaikan sarjananya namun program pascasarjana dalam ilmu politik gagal dia selesaikan.  Pada tahun 1970, ia ditangkap di Boulder, Colorado, karena terlibat dalam kasus penjualan obat terlarang dan ganja. Selama di AS dia berpacaran dengan Christine Surma, seorang artis yang tidak terlalu terkenal. 



Karena bermasalah di AS dia kembali ke Saudi. Begitu tiba di Saudi, kerajaan menyita paspornya dan menerapkan larangan untuk dia bepergian ke luar negeri. Meski dilakukan padanya pembatasan namun dia tetap masih menjalin komunikasi dengan pacarnya. 


Pada tanggal 25 Maret 1975, ia pergi ke istana raja di Riyadh yang saat itu menggelar perayaan maulid. Ia bergabung dengan delegasi Kuwait dan berbaris untuk bertemu raja. Raja Faisal yang sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya menyambut dengan senyum, ia merangkul dan menundukkan kepala untuk dicium oleh keponakannya. Sebagaimana tradisi kerajaan Faisal muda pun mencium kepala raja sebagai tanda hormat. Namun saat bersamaan ia mengeluarkan revolver gun dari jubahnya dan mengarahkan tembakan ke tubuh Raja Faisal. Terkena tembakan dari jarak dekat, sang raja jatuh ke lantai dan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit tetapi dokter gagal menyelamatkannya. Pangeran Faisal pun segera ditangkap pengawal kerajaan. Sebelum wafat, Raja Faisal sempat memesankan agar keponakannya jangan dieksekusi. 


Proses pengadilan pun segera dilakukan. Awalnya Faisal bin Musaid disebut mengalami gangguan jiwa saat melakukan penembakan. Namun terbukti dia dianggap waras saat melakukannya. Pengadilan menemukan ia bersalah atas tindakan pembunuhan. Iapun divonis bersalah dan pengadilan memutuskan dia dihukum penggal. 


Meski disebut dendam atas kematian saudaranya pada masa lalu dan keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang yang membuat kerajaan memberikan banyak pembatasan padanya sebagai pemicu dia tidak menyukai sang paman, namun pengadilan meyebutkan bahwa tindakan pembunuhan itu sebagai kejahatan yang disengaja dan direncanakan. Terutama dikaitkan dengan Christine Surma pacarnya yang disebut berulang kali mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Hal itu diceritakan  Faisal kepada ibunya. Media Arab yang saat itu melakukan investigasi malah menyatakan bahwa pembunuhan itu atas perintah dan arahan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat.


Christine Surma sang pacar merespon terbunuhnya Raja Faisal oleh kekasihnya dengan mengatakan, itu baik bagi perdamaian kerajaan Saudi dengan AS. Dan ketika ditanya apa tanggapannya terhadap vonis mati untuk pangeran Faisal, dia merespon singkat, "Dia pria yang sempurna dan sangat membanggakan."

04 August 2026

Soeria Kartalegawa bupati Ke 6 Garut yang pro Belanda. Pria kelahiran 26 Oktober 1907 ini merupakan keluarga menak alias ningrat. Beberapa anggota keluarganya menjadi bupati di beberapa daerah. Semasa kecil ia dipanggil Uca. Ia menempuh pendidikan di ELS, HBS, dan Bestuur School. Setelah lulus dari sekolah, ia menempuh berbagai pekerjaan seperti menjadi ajudan, asisten residen, asisten wedana, wedana, hingga akhirnya menjadi bupati Garut. Kertalegawa menyambut proklamasi kemerdekaan dengan berat hati. Uca takut akan kehilangan hak istimewanya selama menjabat menjadi Bupati Garut. Ia juga tidak senang akan diangkatnya Sutardjo Kertohadikusumo dan Datuk Djamin sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia bahkan memberontak terhadap kebijakan Soekarno yang dianggap menomorduakan orang Sunda. Menurutnya, perkembangan politik di Jawa Barat tidak melibatkan orang Sunda. Dilihat dari gubernur pertama hingga ketiga di Jawa Barat, mereka bukan orang Sunda seperti, Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa), Datuk Jamin (Minang), dan Dr. Murdjani. Baru saat gubernur keempat, Sewaka, yang merupakan orant Sunda diangkat menjadi gubernur Jawa Barat. Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia Timur daripada Negara Pasundan di Jawa Barat. Kedekatannya dengan pasukan Belanda menjadikannya dijuluki SoeriNICAlegawa. Penyematan nama itu dianggap pas oleh masyarakat karena kiprah politik Uca yang condong nurut kepada kebijakan Belanda. Uca malah lebih sering berlawanan dengan pemerintah Indonesia. Uca mendirikan PRP untuk membuka jalan politik dan memisahkan diri dari pemerintahan Soekarno. Uca tak malu mengaku sebagai opsir KNIL dan melakukan perlawanan secara terbuka kepada pihak yang mendukung Indoensia. PRP pernah mengadakan teror dengan menculik sejumlah pejabat Republik Indonesia di Bogor. Setelah membentuk PRP, UCa mendirikan Negara Pasundan. Ia didukung oleh eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso, penasehat politik van Mook yang juga Gubernur Jenderal Hindia Belanda, hingga kelompok Intel Belanda NEFIS. Ia juga didukung oleh Residen Belanda di Bandung, M. Klasseen yang memandang PRP sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen menyambut gembira karena di Tatar Pasundan timbul gerakan anti republik. Pembentukan Negara Pasundan oleh Uca dianggap terlalu terburu-buru. Akibatnya, Negara Pasundan tidak berjalan dengan maksimal. Usai berdirinya negara tersebut, Uca langsung menjadi sasaran dari kalangan yang menolak termasuk dari kalangan keluarganya sendiri. Ayah Uca yang mengetahui hal tersebut menyuruh anaknya bersumpah di corong radio agar tidak menikah sebelum ia meninggal. Ibunya juga turut melampiaskan kekesalannya. Ia mengatakan bahwa ia dan anggota keluarga lainnya tidak menyetujui pendirian negara tersebut. Ibunya mempertanyakan mengapa Uca memisahkan diri dari keluarganya dan malah mendirikan Negara Pasundan. Mang Abas, keluarganya yang juga Bupati Cianjur saat itu juga menolak pendirian Negara Pasundan. sumber artikel : https://infogarut.id

 Soeria Kartalegawa bupati Ke 6 Garut yang pro Belanda.


Pria kelahiran 26 Oktober 1907 ini merupakan keluarga menak alias ningrat. Beberapa anggota keluarganya menjadi bupati di beberapa daerah. Semasa kecil ia dipanggil Uca. Ia menempuh pendidikan di ELS, HBS, dan Bestuur School. Setelah lulus dari sekolah, ia menempuh berbagai pekerjaan seperti menjadi ajudan, asisten residen, asisten wedana, wedana, hingga akhirnya menjadi bupati Garut.



Kertalegawa menyambut proklamasi kemerdekaan dengan berat hati. Uca takut akan kehilangan hak istimewanya selama menjabat menjadi Bupati Garut. Ia juga tidak senang akan diangkatnya Sutardjo Kertohadikusumo dan Datuk Djamin sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia bahkan memberontak terhadap kebijakan Soekarno yang dianggap menomorduakan orang Sunda. 


Menurutnya, perkembangan politik di Jawa Barat tidak melibatkan orang Sunda. Dilihat dari gubernur pertama hingga ketiga di Jawa Barat, mereka bukan orang Sunda seperti, Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa), Datuk Jamin (Minang), dan Dr. Murdjani. Baru saat gubernur keempat, Sewaka, yang merupakan orant Sunda diangkat menjadi gubernur Jawa Barat. Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia Timur daripada Negara Pasundan di Jawa Barat.


Kedekatannya dengan pasukan Belanda menjadikannya dijuluki SoeriNICAlegawa. Penyematan nama itu dianggap pas oleh masyarakat karena kiprah politik Uca yang condong nurut kepada kebijakan Belanda. Uca malah lebih sering berlawanan dengan pemerintah Indonesia. 


Uca mendirikan PRP untuk membuka jalan politik dan memisahkan diri dari pemerintahan Soekarno. Uca tak malu mengaku sebagai opsir KNIL dan melakukan perlawanan secara terbuka kepada pihak yang mendukung Indoensia. PRP pernah mengadakan teror dengan menculik sejumlah pejabat Republik Indonesia di Bogor.


Setelah membentuk PRP, UCa mendirikan Negara Pasundan. Ia didukung oleh eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso, penasehat politik van Mook yang juga Gubernur Jenderal Hindia Belanda, hingga kelompok Intel Belanda NEFIS. Ia juga didukung oleh Residen Belanda di Bandung, M. Klasseen yang memandang PRP sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen menyambut gembira karena di Tatar Pasundan timbul gerakan anti republik.


Pembentukan Negara Pasundan oleh Uca dianggap terlalu terburu-buru. Akibatnya, Negara Pasundan tidak berjalan dengan maksimal. Usai berdirinya negara tersebut, Uca langsung menjadi sasaran dari kalangan yang menolak termasuk dari kalangan keluarganya sendiri. 


Ayah Uca yang mengetahui hal tersebut menyuruh anaknya bersumpah di corong radio agar tidak menikah sebelum ia meninggal. Ibunya juga turut melampiaskan kekesalannya. Ia mengatakan bahwa ia dan anggota keluarga lainnya tidak menyetujui pendirian negara tersebut. Ibunya mempertanyakan mengapa Uca memisahkan diri dari keluarganya dan malah mendirikan Negara Pasundan. Mang Abas, keluarganya yang juga Bupati Cianjur saat itu juga menolak pendirian Negara Pasundan.


sumber artikel : https://infogarut.id

03 August 2026

Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai bersama istri dan pengiringnya disinggasana Istana Sultan Kutai, sekitar tahun 1925 📸: Leiden University Libraries

 Sultan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai bersama istri dan pengiringnya disinggasana Istana Sultan Kutai, sekitar tahun 1925



📸: Leiden University Libraries

JM PATTIASINA SANG PENDIRI PERTAMINA YANG HAMPIR TERLUPAKAN DARI SEJARAH PERMINYAKAN INDONESIA. (Cukilan dari buku “Kita Dan Perminyakan Indonesia”) By Gerard Wakanno JOHANNES MARCUS PATTIASINA adalah seorang Ahli Perminyakan ulung yang kemudian menjadi perwira militer. Awalnya hanya ada 3 orang bumiputra Indonesia yang di sekolahkn oleh Belanda untuk mempelajari Teknik perminyakan, namun 2 orang tidak pernah muncul di perminyakan, hanya JM Pattiasina yang berkiprah di industri perminyakan. Sehingga dapat diakatan bahwa beliaulah satu2nya orang pribumi yang pertama mengusai ilmu permiyakan di Nusantara. Ia memulai kariernya di perusahaan minyak Belanda, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan merupakan salah satu dari sedikit pribumi yang menduduki posisi teknisi tinggi pada zamannya. Keahlian teknisnya inilah yang kemudian menjadi modal besar dalam perjuangan kemerdekaan. Pada masa Agresi Militer Belanda II, ketika pasukan Republik Indonesia terpaksa melakukan perjuangan gerilya, Pattiasina memimpin pasukan minyak yang selalu membawa serta sebuah mesin bubut. Mesin ini bukan sekadar alat, melainkan pusat produksi dan pabrik perjuangan. Berbekal keahlian teknisnya, dengan mesin bubut ini, Pattiasina dan pasukannya mampu melakukan berbagai hal krusial. Memproduksi Senjata Rakitan. Ini adalah fungsi yang paling heroik. Di tengah keterbatasan persenjataan, mesin bubut ini digunakan untuk membuat senjata rakitan dengan kapasitas satu buah per hari. Ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan rekayasa tinggi di masa darurat. Membuat Koin Emas. Di daerah Lebong Tandai, mesin yang sama digunakan untuk mencetak koin emas dari hasil tambang. Koin ini menjadi alat pembiayaan perjuangan dan simbol kedaulatan ekonomi di tengah situasi perang. Memperbaiki dan Membangun Kilang Kecil. Fungsi utamanya sebagai alat teknik perminyakan tetap dijalankan. Mesin bubut digunakan untuk memperbaiki komponen-komponen kilang minyak yang rusak, serta membuat kilang-kilang kecil untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar para pejuang. Mesin Bubut Pattiasina memberikan beberapa pelajaran yang sangat dalam dan relevan hingga hari ini. Kemandirian Teknologi adalah kunci. Kisah ini menunjukkan bahwa kemandirian sebuah bangsa di bidang energi tidak hanya soal memiliki cadangan minyak, tetapi juga soal penguasaan teknologi dan kemampuan rekayasa. Pattiasina tidak menunggu teknologi canggih datang. Ia memanfaatkan apa yang ada sebuah mesin bubut untuk menciptakan solusi bagi berbagai kebutuhan perjuangan, dari persenjataan hingga logistik energi. Sumber Daya Manusia adalah Aset Utama. Pattiasina adalah contoh SDM unggul yang menggabungkan keahlian teknis dengan jiwa kepemimpinan dan nasionalisme. Keahliannya sebagai teknisi BPM-lah yang membuatnya mampu mentransformasi sebuah mesin bubut menjadi alat produksi multifungsi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa investasi terbaik adalah pada pendidikan dan pengembangan SDM yang kompeten. Semangat Bisa dan Merdeka. Mesin Bubut Pattiasina adalah manifestasi dari semangat kemandirian. Dengan sumber daya yang minim, Pattiasina dan anak buahnya membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Semangat inilah yang kemudian terbukti ketika Indonesia berhasil melakukan ekspor minyak perdana pada tahun 1958 di bawah kepemimpinan Pattiasina dan Ibnu Sutowo. Mesin Bubut Pattiasina dalam buku Kita dan Perminyakan Indonesia lebih dari sekadar cerita sejarah. Ini adalah metafora sempurna tentang bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah pengingat bahwa kemajuan industri perminyakan Indonesia tidak lepas dari peran para insinyur dan pejuang yang memiliki pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk memanfaatkan teknologi demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Warisan Pattiasina mengajarkan kita bahwa kedaulatan energi sejati dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan dan jiwa yang merdeka.

 JM PATTIASINA SANG PENDIRI PERTAMINA YANG HAMPIR TERLUPAKAN DARI SEJARAH PERMINYAKAN INDONESIA.

(Cukilan dari buku “Kita Dan Perminyakan Indonesia”)

By Gerard Wakanno 


JOHANNES MARCUS PATTIASINA adalah seorang Ahli Perminyakan ulung yang kemudian menjadi perwira militer. Awalnya hanya ada 3 orang bumiputra Indonesia yang di sekolahkn oleh Belanda untuk mempelajari Teknik perminyakan, namun 2 orang tidak pernah muncul di perminyakan, hanya JM Pattiasina yang berkiprah di industri perminyakan. Sehingga dapat diakatan bahwa beliaulah satu2nya orang pribumi yang pertama mengusai ilmu permiyakan di Nusantara. 



Ia memulai kariernya di perusahaan minyak Belanda, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan merupakan salah satu dari sedikit pribumi yang menduduki posisi teknisi tinggi pada zamannya. Keahlian teknisnya inilah yang kemudian menjadi modal besar dalam perjuangan kemerdekaan.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, ketika pasukan Republik Indonesia terpaksa melakukan perjuangan gerilya, Pattiasina memimpin pasukan minyak yang selalu membawa serta sebuah mesin bubut. Mesin ini bukan sekadar alat, melainkan pusat produksi dan pabrik perjuangan. Berbekal keahlian teknisnya, dengan mesin bubut ini, Pattiasina dan pasukannya mampu melakukan berbagai hal krusial.

Memproduksi Senjata Rakitan. Ini adalah fungsi yang paling heroik. Di tengah keterbatasan persenjataan, mesin bubut ini digunakan untuk membuat senjata rakitan dengan kapasitas satu buah per hari. Ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan rekayasa tinggi di masa darurat.

Membuat Koin Emas. Di daerah Lebong Tandai, mesin yang sama digunakan untuk mencetak koin emas dari hasil tambang. Koin ini menjadi alat pembiayaan perjuangan dan simbol kedaulatan ekonomi di tengah situasi perang.

Memperbaiki dan Membangun Kilang Kecil. Fungsi utamanya sebagai alat teknik perminyakan tetap dijalankan. Mesin bubut digunakan untuk memperbaiki komponen-komponen kilang minyak yang rusak, serta membuat kilang-kilang kecil untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar para pejuang.


Mesin Bubut Pattiasina memberikan beberapa pelajaran yang sangat dalam dan relevan hingga hari ini.


Kemandirian Teknologi adalah kunci. Kisah ini menunjukkan bahwa kemandirian sebuah bangsa di bidang energi tidak hanya soal memiliki cadangan minyak, tetapi juga soal penguasaan teknologi dan kemampuan rekayasa. Pattiasina tidak menunggu teknologi canggih datang. Ia memanfaatkan apa yang ada sebuah mesin bubut untuk menciptakan solusi bagi berbagai kebutuhan perjuangan, dari persenjataan hingga logistik energi.

Sumber Daya Manusia adalah Aset Utama. Pattiasina adalah contoh SDM unggul yang menggabungkan keahlian teknis dengan jiwa kepemimpinan dan nasionalisme. Keahliannya sebagai teknisi BPM-lah yang membuatnya mampu mentransformasi sebuah mesin bubut menjadi alat produksi multifungsi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa investasi terbaik adalah pada pendidikan dan pengembangan SDM yang kompeten.

Semangat Bisa dan Merdeka. Mesin Bubut Pattiasina adalah manifestasi dari semangat kemandirian. Dengan sumber daya yang minim, Pattiasina dan anak buahnya membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Semangat inilah yang kemudian terbukti ketika Indonesia berhasil melakukan ekspor minyak perdana pada tahun 1958 di bawah kepemimpinan Pattiasina dan Ibnu Sutowo.

Mesin Bubut Pattiasina dalam buku Kita dan Perminyakan Indonesia lebih dari sekadar cerita sejarah. Ini adalah metafora sempurna tentang bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah pengingat bahwa kemajuan industri perminyakan Indonesia tidak lepas dari peran para insinyur dan pejuang yang memiliki pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk memanfaatkan teknologi demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Warisan Pattiasina mengajarkan kita bahwa kedaulatan energi sejati dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan dan jiwa yang merdeka.

02 August 2026

Anna Mathovani: Suara yang Melangit, Jejak yang Sengaja Diredupkan Ada masa ketika nama Anna Mathovani berkumandang di antara deretan penyanyi terbaik negeri ini—sejajar dengan Tetty Kadi, Erni Djohan, Vivi Sumanti, dan sederet nama besar seangkatannya. Lahir di Bandung pada 7 November 1955, Anna bukan sekadar penyanyi biasa. Ia adalah putri dari R. Mathovani, komposer sekaligus sahabat karib legenda Sam Saimun. Darah seni telah mengalir dalam dirinya sejak ia belum genap mengenal panggung. Suaranya menjadi napas bagi lagu-lagu yang kini dikenang sebagai karya abadi, seperti Pertemuan, Angsa Putih, Gita Malam, hingga Di Keheningan Malam—balada ciptaan Wiyarsih yang populer pada 1967 dan merekam suasana batin bangsa di tengah gejolak Konfrontasi Indonesia–Malaysia. Kiprahnya tidak berhenti di dunia musik. Anna juga menjajal layar lebar dengan beradu akting bersama Bing Slamet dalam film Ambisi (1973), kemudian tampil dalam Pengorbanan (1974), sekaligus mengisi lagu tema untuk film Cinta Pertama yang dibintangi Christine Hakim dan Slamet Rahardjo. Namun, seperti banyak bintang di masanya, sorot panggung itu perlahan meredup—bukan karena karier yang layu, melainkan karena pilihan hidup yang berbelok arah. Anna menikah dengan Bambang Suryo Sunendar, keturunan bangsawan Jawa Tengah sekaligus cucu Paku Buwono X. Perkawinan tersebut membawanya memasuki dunia yang jauh lebih tenang daripada hiruk pikuk industri hiburan: dunia keluarga bangsawan, bisnis, dan filantropi. Pada 2013, majalah The Jakarta Globe bahkan mencatat namanya sebagai salah satu dari 150 orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan yang berasal dari warisan mendiang suaminya. Meski jarang lagi tampil di layar kaca, Anna tak pernah benar-benar menghilang dari dunia seni yang telah membesarkan namanya. Ia mengaku tumbuh dan dibesarkan dalam tradisi seni yang diwariskan sang ayah, dan hasrat itu tak pernah benar-benar padam. Kini, setelah bisnis dan berbagai urusan keluarga dipercayakan kepada ketiga anaknya, Anna memilih menghabiskan waktunya untuk terus menyumbangkan tenaga dan bakat di ranah seni serta budaya—caranya sendiri merawat warisan yang telah mengantarkan namanya dikenal luas. Kisah hidupnya belakangan juga diwarnai duka. Pada September 2024, ia harus merelakan kepergian sang putri, Petra Amanda. Dalam acara mengenang 40 hari wafatnya sang putri yang digelar sederhana bersama keluarga dan sahabat dekat, Anna tampak masih mencari kata untuk menggambarkan kehilangan itu—sebuah pengingat bahwa di balik kemewahan dan ketenaran masa lalu, ia tetaplah seorang ibu yang merasakan pahit getir kehidupan seperti perempuan lainnya. Anna Mathovani mungkin tak lagi menjadi buah bibir di industri musik seperti dahulu. Namun, jejaknya tak pernah benar-benar pudar. Ia hanya memilih jalan yang lebih tenang—menjaga suara emasnya tetap hidup sebagai kenangan, sembari menjalani babak baru kehidupannya dengan caranya sendiri. #AnnaMathovani #LegendaMusikIndonesia #PenyanyiTempoDulu #SejarahMusikNusantara

 Anna Mathovani: Suara yang Melangit, Jejak yang Sengaja Diredupkan


Ada masa ketika nama Anna Mathovani berkumandang di antara deretan penyanyi terbaik negeri ini—sejajar dengan Tetty Kadi, Erni Djohan, Vivi Sumanti, dan sederet nama besar seangkatannya. Lahir di Bandung pada 7 November 1955, Anna bukan sekadar penyanyi biasa. Ia adalah putri dari R. Mathovani, komposer sekaligus sahabat karib legenda Sam Saimun. Darah seni telah mengalir dalam dirinya sejak ia belum genap mengenal panggung.



Suaranya menjadi napas bagi lagu-lagu yang kini dikenang sebagai karya abadi, seperti Pertemuan, Angsa Putih, Gita Malam, hingga Di Keheningan Malam—balada ciptaan Wiyarsih yang populer pada 1967 dan merekam suasana batin bangsa di tengah gejolak Konfrontasi Indonesia–Malaysia. Kiprahnya tidak berhenti di dunia musik. Anna juga menjajal layar lebar dengan beradu akting bersama Bing Slamet dalam film Ambisi (1973), kemudian tampil dalam Pengorbanan (1974), sekaligus mengisi lagu tema untuk film Cinta Pertama yang dibintangi Christine Hakim dan Slamet Rahardjo.


Namun, seperti banyak bintang di masanya, sorot panggung itu perlahan meredup—bukan karena karier yang layu, melainkan karena pilihan hidup yang berbelok arah. Anna menikah dengan Bambang Suryo Sunendar, keturunan bangsawan Jawa Tengah sekaligus cucu Paku Buwono X. Perkawinan tersebut membawanya memasuki dunia yang jauh lebih tenang daripada hiruk pikuk industri hiburan: dunia keluarga bangsawan, bisnis, dan filantropi. Pada 2013, majalah The Jakarta Globe bahkan mencatat namanya sebagai salah satu dari 150 orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan yang berasal dari warisan mendiang suaminya.


Meski jarang lagi tampil di layar kaca, Anna tak pernah benar-benar menghilang dari dunia seni yang telah membesarkan namanya. Ia mengaku tumbuh dan dibesarkan dalam tradisi seni yang diwariskan sang ayah, dan hasrat itu tak pernah benar-benar padam. Kini, setelah bisnis dan berbagai urusan keluarga dipercayakan kepada ketiga anaknya, Anna memilih menghabiskan waktunya untuk terus menyumbangkan tenaga dan bakat di ranah seni serta budaya—caranya sendiri merawat warisan yang telah mengantarkan namanya dikenal luas.


Kisah hidupnya belakangan juga diwarnai duka. Pada September 2024, ia harus merelakan kepergian sang putri, Petra Amanda. Dalam acara mengenang 40 hari wafatnya sang putri yang digelar sederhana bersama keluarga dan sahabat dekat, Anna tampak masih mencari kata untuk menggambarkan kehilangan itu—sebuah pengingat bahwa di balik kemewahan dan ketenaran masa lalu, ia tetaplah seorang ibu yang merasakan pahit getir kehidupan seperti perempuan lainnya.


Anna Mathovani mungkin tak lagi menjadi buah bibir di industri musik seperti dahulu. Namun, jejaknya tak pernah benar-benar pudar. Ia hanya memilih jalan yang lebih tenang—menjaga suara emasnya tetap hidup sebagai kenangan, sembari menjalani babak baru kehidupannya dengan caranya sendiri.


#AnnaMathovani #LegendaMusikIndonesia #PenyanyiTempoDulu #SejarahMusikNusantara

01 August 2026

JM PATTIASINA SANG PENDIRI PERTAMINA YANG HAMPIR TERLUPAKAN DARI SEJARAH PERMINYAKAN INDONESIA. (Cukilan dari buku “Kita Dan Perminyakan Indonesia”) By Gerard Wakanno JOHANNES MARCUS PATTIASINA adalah seorang Ahli Perminyakan ulung yang kemudian menjadi perwira militer. Awalnya hanya ada 3 orang bumiputra Indonesia yang di sekolahkn oleh Belanda untuk mempelajari Teknik perminyakan, namun 2 orang tidak pernah muncul di perminyakan, hanya JM Pattiasina yang berkiprah di industri perminyakan. Sehingga dapat diakatan bahwa beliaulah satu2nya orang pribumi yang pertama mengusai ilmu permiyakan di Nusantara. Ia memulai kariernya di perusahaan minyak Belanda, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan merupakan salah satu dari sedikit pribumi yang menduduki posisi teknisi tinggi pada zamannya. Keahlian teknisnya inilah yang kemudian menjadi modal besar dalam perjuangan kemerdekaan. Pada masa Agresi Militer Belanda II, ketika pasukan Republik Indonesia terpaksa melakukan perjuangan gerilya, Pattiasina memimpin pasukan minyak yang selalu membawa serta sebuah mesin bubut. Mesin ini bukan sekadar alat, melainkan pusat produksi dan pabrik perjuangan. Berbekal keahlian teknisnya, dengan mesin bubut ini, Pattiasina dan pasukannya mampu melakukan berbagai hal krusial. Memproduksi Senjata Rakitan. Ini adalah fungsi yang paling heroik. Di tengah keterbatasan persenjataan, mesin bubut ini digunakan untuk membuat senjata rakitan dengan kapasitas satu buah per hari. Ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan rekayasa tinggi di masa darurat. Membuat Koin Emas. Di daerah Lebong Tandai, mesin yang sama digunakan untuk mencetak koin emas dari hasil tambang. Koin ini menjadi alat pembiayaan perjuangan dan simbol kedaulatan ekonomi di tengah situasi perang. Memperbaiki dan Membangun Kilang Kecil. Fungsi utamanya sebagai alat teknik perminyakan tetap dijalankan. Mesin bubut digunakan untuk memperbaiki komponen-komponen kilang minyak yang rusak, serta membuat kilang-kilang kecil untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar para pejuang. Mesin Bubut Pattiasina memberikan beberapa pelajaran yang sangat dalam dan relevan hingga hari ini. Kemandirian Teknologi adalah kunci. Kisah ini menunjukkan bahwa kemandirian sebuah bangsa di bidang energi tidak hanya soal memiliki cadangan minyak, tetapi juga soal penguasaan teknologi dan kemampuan rekayasa. Pattiasina tidak menunggu teknologi canggih datang. Ia memanfaatkan apa yang ada sebuah mesin bubut untuk menciptakan solusi bagi berbagai kebutuhan perjuangan, dari persenjataan hingga logistik energi. Sumber Daya Manusia adalah Aset Utama. Pattiasina adalah contoh SDM unggul yang menggabungkan keahlian teknis dengan jiwa kepemimpinan dan nasionalisme. Keahliannya sebagai teknisi BPM-lah yang membuatnya mampu mentransformasi sebuah mesin bubut menjadi alat produksi multifungsi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa investasi terbaik adalah pada pendidikan dan pengembangan SDM yang kompeten. Semangat Bisa dan Merdeka. Mesin Bubut Pattiasina adalah manifestasi dari semangat kemandirian. Dengan sumber daya yang minim, Pattiasina dan anak buahnya membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Semangat inilah yang kemudian terbukti ketika Indonesia berhasil melakukan ekspor minyak perdana pada tahun 1958 di bawah kepemimpinan Pattiasina dan Ibnu Sutowo. Mesin Bubut Pattiasina dalam buku Kita dan Perminyakan Indonesia lebih dari sekadar cerita sejarah. Ini adalah metafora sempurna tentang bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah pengingat bahwa kemajuan industri perminyakan Indonesia tidak lepas dari peran para insinyur dan pejuang yang memiliki pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk memanfaatkan teknologi demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Warisan Pattiasina mengajarkan kita bahwa kedaulatan energi sejati dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan dan jiwa yang merdeka.

 JM PATTIASINA SANG PENDIRI PERTAMINA YANG HAMPIR TERLUPAKAN DARI SEJARAH PERMINYAKAN INDONESIA.

(Cukilan dari buku “Kita Dan Perminyakan Indonesia”)

By Gerard Wakanno 


JOHANNES MARCUS PATTIASINA adalah seorang Ahli Perminyakan ulung yang kemudian menjadi perwira militer. Awalnya hanya ada 3 orang bumiputra Indonesia yang di sekolahkn oleh Belanda untuk mempelajari Teknik perminyakan, namun 2 orang tidak pernah muncul di perminyakan, hanya JM Pattiasina yang berkiprah di industri perminyakan. Sehingga dapat diakatan bahwa beliaulah satu2nya orang pribumi yang pertama mengusai ilmu permiyakan di Nusantara. 



Ia memulai kariernya di perusahaan minyak Belanda, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan merupakan salah satu dari sedikit pribumi yang menduduki posisi teknisi tinggi pada zamannya. Keahlian teknisnya inilah yang kemudian menjadi modal besar dalam perjuangan kemerdekaan.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, ketika pasukan Republik Indonesia terpaksa melakukan perjuangan gerilya, Pattiasina memimpin pasukan minyak yang selalu membawa serta sebuah mesin bubut. Mesin ini bukan sekadar alat, melainkan pusat produksi dan pabrik perjuangan. Berbekal keahlian teknisnya, dengan mesin bubut ini, Pattiasina dan pasukannya mampu melakukan berbagai hal krusial.

Memproduksi Senjata Rakitan. Ini adalah fungsi yang paling heroik. Di tengah keterbatasan persenjataan, mesin bubut ini digunakan untuk membuat senjata rakitan dengan kapasitas satu buah per hari. Ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan rekayasa tinggi di masa darurat.

Membuat Koin Emas. Di daerah Lebong Tandai, mesin yang sama digunakan untuk mencetak koin emas dari hasil tambang. Koin ini menjadi alat pembiayaan perjuangan dan simbol kedaulatan ekonomi di tengah situasi perang.

Memperbaiki dan Membangun Kilang Kecil. Fungsi utamanya sebagai alat teknik perminyakan tetap dijalankan. Mesin bubut digunakan untuk memperbaiki komponen-komponen kilang minyak yang rusak, serta membuat kilang-kilang kecil untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar para pejuang.


Mesin Bubut Pattiasina memberikan beberapa pelajaran yang sangat dalam dan relevan hingga hari ini.


Kemandirian Teknologi adalah kunci. Kisah ini menunjukkan bahwa kemandirian sebuah bangsa di bidang energi tidak hanya soal memiliki cadangan minyak, tetapi juga soal penguasaan teknologi dan kemampuan rekayasa. Pattiasina tidak menunggu teknologi canggih datang. Ia memanfaatkan apa yang ada sebuah mesin bubut untuk menciptakan solusi bagi berbagai kebutuhan perjuangan, dari persenjataan hingga logistik energi.

Sumber Daya Manusia adalah Aset Utama. Pattiasina adalah contoh SDM unggul yang menggabungkan keahlian teknis dengan jiwa kepemimpinan dan nasionalisme. Keahliannya sebagai teknisi BPM-lah yang membuatnya mampu mentransformasi sebuah mesin bubut menjadi alat produksi multifungsi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa investasi terbaik adalah pada pendidikan dan pengembangan SDM yang kompeten.

Semangat Bisa dan Merdeka. Mesin Bubut Pattiasina adalah manifestasi dari semangat kemandirian. Dengan sumber daya yang minim, Pattiasina dan anak buahnya membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Semangat inilah yang kemudian terbukti ketika Indonesia berhasil melakukan ekspor minyak perdana pada tahun 1958 di bawah kepemimpinan Pattiasina dan Ibnu Sutowo.

Mesin Bubut Pattiasina dalam buku Kita dan Perminyakan Indonesia lebih dari sekadar cerita sejarah. Ini adalah metafora sempurna tentang bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah pengingat bahwa kemajuan industri perminyakan Indonesia tidak lepas dari peran para insinyur dan pejuang yang memiliki pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk memanfaatkan teknologi demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Warisan Pattiasina mengajarkan kita bahwa kedaulatan energi sejati dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan dan jiwa yang merdeka.