Amir Fatah Widjajakusuma (lahir dengan nama Suhario sekitar tahun 1923) Dia adalah komandan DI/TII Jawa Tengah dari tahun 1949 hingga 1950.
Kehidupan Awal
Suhario lahir sekitar tahun 1923 di Kroya, Cilacap. Ia belajar di empat sekolah berasrama Islam yang berbeda, yaitu Tebuireng , Termas, Benda, dan Jampes. Pada era Belanda, ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond dan Gerakan Pemuda Ansor. Di bawah pendudukan Jepang, ia bergabung dengan gerakan perlawanan bawah tanah di Jakarta.
Revolusi Nasional Indonesia
Suhario menjadi Komandan Hisbullah di wilayah Sidoarjo Mojokerto dan pemimpin lapangan pasukan Hisbullah selama Pertempuran Surabaya. Pada tahun 1946, Sudirman mengirim Suhario ke Jawa Barat untuk memastikan kesetiaan wilayah Jawa Barat kepada Indonesia. Suhario memiliki hubungan dekat dengan Kartosoewirjo. Pada Februari 1947, pasukannya mengawal Kartosoewirjo ke Malang untuk menghadiri sidang pleno Komite Nasional Indonesia Pusat. Di Malang, ia menjadi Kepala Staf Divisi 17 Agustus. Ia juga berpartisipasi dalam politik dengan bergabung dengan Masyumi dan menjadi anggota komite partai. Pada pertengahan Agustus 1948, Suhario, dengan tiga kompi Hisbullah-nya, pindah ke daerah Brebes-Tegal untuk melancarkan perang gerilya melawan Belanda. Ia mengubah namanya menjadi Amir Fatah Widajakusuma. Pada September 1948, Fatah mencoba bertemu Kartosoewirjo di Jawa Barat untuk meyakinkannya agar tidak memproklamirkan negara Islam dan tetap setia kepada Indonesia. Di tengah perjalanan, Fatah bertemu dengan utusan Kartosoewirjo, Kamran Cakrabuana. Dari pertemuan dengan Kamran, Fatah mengubah pikirannya dari menentang konsep negara Islam Kartosoewirjo menjadi mendukungnya. Ia kemudian memutuskan untuk tidak bertemu Kartosoewirjo karena medan yang sulit dan kembali ke Tegal-Brebes. Saat tiba di daerah Brebes-Tegal, Fatah mendirikan Majels Islam dan membentuk batalion yang setia kepada Darul Islam, Bernama Batalion Syarif Hidayat Wijayakusuma, di mana ia diangkat sebagai komandannya. Meskipun demikian, Fatah tetap setia kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer II, (Operasi Kraai) dan unit-unit TNI, yang dipaksa pindah ke wilayah kendali Republik karena Perjanjian Renville, yang mundur ke tempat asal mereka masing-masing untuk melakukan perlawanan gerilya terhadap Belanda dan membentuk pemerintahan militer. Di Brebes-Tegal, unit-unit TNI yang kembali membentuk pemerintahan militer bernama Sub Wehkreise Slamet III (SWKS III). Fatah diangkat sebagai koordinator keamanan utama SWKS III.
Pemberontakan Darul Islam
Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Fatah dengan SWKS III memburuk. Ia merasa terancam oleh kehadiran pemerintah militer TNI di wilayah Brebes-Tegal karena memiliki hubungan dekat dengan kelompok sayap kiri. Terlebih lagi, pemerintah tidak menghargai upaya Fatah untuk melawan Belanda dan mencoba melucuti senjata pasukan Fatah. Oleh karena itu, pada tanggal 28 April 1949, Amir Fatah memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Pengarasan, Brebes. Fatah melancarkan serangan pertama terhadap TNI pada tanggal 5 Mei 1949 di Bentarsari, Brebes, dan menduduki desa tersebut selama dua hari. Di bawah kepemimpinannya, DI/TII melancarkan banyak serangan terhadap pos polisi dan TNI di Kabupaten Brebes dan Tegal dan berhasil menduduki Brebes pada awal Januari 1950 untuk waktu yang singkat. Demikian pula, ia dituduh sebagai dalang teror di beberapa desa di wilayah Brebes-Tegal. Pada bulan November 1950, DI/TII mengalami reorganisasi dengan membubarkan Batalyon Syarif Hidayat Wijayakusuma dan membentuk divisi baru Bernama Divisi III/Syarif Hidayat. Pada bulan November 1950, Mohammad Natsir menawarkan Fatah untuk menyerah. Ia menerimanya karena kecewa dengan keputusan reorganisasi DI/TII yang hanya memberinya posisi Komandan Brigade di Divisi III/Syarif Hidayat, bukan kepala staf divisi seperti yang diinginkannya. Namun, ia harus pergi ke Jawa Barat untuk bertemu Kartosoewirjo mengenai tawaran penyerahan tersebut. Pada tanggal 30 November 1950, Fatah melakukan perjalanan ke Jawa Barat dengan 150 tentaranya. Dalam perjalanannya ke Jawa Barat, ia menghadapi banyak pertempuran dengan TNI. Akhirnya, Amir Fatah dan pasukannya menyerah kepada TNI di Calingcing, Tasikmalaya, pada tanggal 20 Desember 1950. Dua hari kemudian, ia ditangkap oleh TNI di Cisayong, Tasikmalaya.
Setelah pemberontakan Darul Islam
Fatah dipenjara di Nusa Kambangan dan kemudian dipindahkan ke penjara yang tidak diketahui di Jawa Barat. Setelah Fatah dibebaskan dari penjara, ia pergi ke luar negeri ke beberapa negara di Amerika dan Eropa. Pada tahun 1968, ia memutuskan untuk menetap di Korea Selatan. Pada tahun 1976, ia menjadi anggota komite masjid di Seoul dan bekerja sebagai staf lokal di Kedutaan Besar Indonesia di Seoul. Ia juga berdakwah Islam di Seoul.
Kehidupan pribadi
Fatah menikah dengan seorang wanita Korea Selatan. Pasangan itu memiliki dua orang putra. Sumber wikipedia. Foto Amir Fatah (kanan) dan para pendukungnya,
Sumber : Hoesein Roesdy

















