TRAGEDI 25 JANUARI DAN GUGURNYA MAYOR DAAN MOGOT
Sebuah pengorbanan tak ternilai. Pemimpin muda TKR dan 36 taruna Akademi Militer gugur di medan pelucutan senjata. Mereka jatuh demi mempertahankan kehormatan dan kedaulatan Ibu Pertiwi dari sisa-sisa penjajah.
LENGKONG, SERPONG – Duka mendalam menyelimuti Resimen IV Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Tangerang. Pada Jumat sore 25 Januari 1946, sebuah misi mulia yang seharusnya berjalan damai untuk mengamankan persenjataan musuh berakhir dengan tragedi yang menyayat hati. Mayor Elias Daniel Mogot, pemuda hebat yang menjabat Komandan Resimen sekaligus Direktur Akademi Militer Tangerang (MAT) di usia yang sangat belia telah gugur sebagai pahlawan, ditemani 3 perwira dan 33 taruna muda yang usianya rata-rata baru menginjak 16 hingga 18 tahun.
Kronik Misi Berani Mati Melucuti Senjata Jepang.
Peristiwa heroik dan tragis ini berakar dari situasi genting pasca-Proklamasi, di mana TKR giat merebut persenjataan dari tentara Jepang (Dai Nippon) yang telah kalah perang, sebelum senjata tersebut jatuh ke tangan Sekutu yang memboncengi Netherlands Indies Civil Administration (NICA/Belanda). Berita intelijen menyebutkan pasukan Belanda/NICA telah bergerak mendekat dari arah Bogor menuju Parung, yang mengancam Tangerang.
Pada pagi hari 25 Januari 1946, Mayor Daan Mogot memimpin sekitar 70 taruna yang baru dilatih. Mereka didampingi oleh beberapa perwira andal, termasuk Mayor Wibowo, Letnan I Soebianto Djojohadikusumo, dan Letnan I Soetopo. Misi mereka adalah mendatangi markas Jepang di Desa Lengkong, Serpong, yang dipimpin oleh Kapten Abe, untuk melucuti senjata secara damai.
Dalam upaya diplomasi yang cerdik namun penuh risiko, Mayor Daan Mogot dan pasukannya bahkan menyertakan delapan serdadu mantan Sekutu (Gurkha) untuk mengelabui Jepang, agar mereka mau menyerahkan senjata, sebab secara resmi Jepang hanya mau tunduk pada Sekutu.
Pengkhianatan di Tengah Perundingan
Proses perundingan di dalam markas antara Mayor Daan Mogot dan Kapten Abe pada awalnya berjalan lancar. Sejumlah senjata bahkan sudah dikumpulkan. Namun, takdir berkata lain. Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa di tengah suasana yang tegang, sebuah letusan senjata tak disengaja dari pihak Indonesia, entah dari seorang taruna atau serdadu Gurkha, tiba-tiba memecah keheningan.
Letusan tunggal itu langsung diartikan sebagai sinyal serangan oleh pasukan Jepang yang bersiaga penuh. Seketika, tempat itu berubah menjadi palagan pembantaian. Serdadu Jepang, yang unggul dalam jumlah (sekitar 300 orang) dan memiliki persenjataan lengkap, termasuk mitraliur, melepaskan tembakan rentetan. Mereka merebut kembali senjata yang telah diserahkan dan menyerang taruna-taruna TKR yang belum siap.
Gugurnya Bintang Muda Republik
Mendengar suara rentetan tembakan, Mayor Daan Mogot segera berlari keluar dari ruang perundingan. Ia berusaha keras menghentikan pertempuran, namun sudah terlambat. Dalam baku tembak yang tidak seimbang itu, pahlawan muda TKR ini harus gugur ditembus peluru musuh. Usianya belum genap 19 tahun, namun semangatnya telah mengukir abadi di bumi Lengkong.
Dua perwira lainnya, Letnan I Soebianto dan Letnan I Soetopo, juga gugur. Pertempuran brutal ini baru mereda menjelang senja. Total kerugian di pihak TKR sangat besar: 3 perwira dan 34 taruna gugur di medan laga. Di antara mereka yang jatuh adalah Soebianto dan Sujono Djojohadikusumo, dua paman dari seorang tokoh militer Republik di masa depan. Mereka adalah tunas-tunas bangsa yang memilih mati demi panji Sang Saka Merah Putih.
Hari Bakti Taruna: Janji yang Terukir di TMP
Tragedi ini diakhiri dengan negosiasi pahit. Pihak TKR akhirnya berhasil membebaskan tawanan dan memperoleh kembali jenazah para pahlawan muda. Mereka dimakamkan kembali dengan upacara militer di kompleks markas Resimen IV Tangerang (yang kini dikenal sebagai Taman Makam Pahlawan Taruna di Jalan Daan Mogot).
Peristiwa Lengkong ini adalah bukti nyata betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan. Meskipun gugur melawan tentara Jepang, pengorbanan mereka adalah benteng pertahanan terakhir melawan segala bentuk ancaman kedaulatan, termasuk ambisi kolonialisme Belanda/NICA. Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat telah menetapkan tanggal 25 Januari sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer, sebuah hari untuk mengenang keberanian dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
SUMBER-SUMBER PEMBERITAAN:
Laporan Resimen IV TKR Tangerang
Rapakat
Kesaksian Taruna yang Selamat (Disampaikan kepada Markas Besar TKR)
Arsip Ikhtisar Sejarah ABRI 1945-Sekarang (Saleh As'ad Djamhari)
Catatan Sejarah Lokal Tangerang dan Banten
Keputusan KSAD No. ST/12/2005 (Penetapan Hari Bakti Taruna)