23 July 2026

KEPALANYA DI BELANDA, TUBUHNYA DI BANJAR. MAKAMNYA TAK PERNAH UTUH. Inilah Demang Lehman. Nama aslinya Idies, lahir di Martapura 1832. Bukan bangsawan tinggi, ia hanya seorang panakawan atau ajudan setia dari Pangeran Hidayatullah II. Tapi karena kecerdasan dan kesetiaannya, ia diangkat menjadi Kiai Demang, kepala Distrik Riam Kanan dengan gelar Adipati Mangku Negara. Saat Belanda menghapus Kesultanan Banjar tahun 1859, ia tidak memilih tunduk. Ia memilih perang Sabil. Bersama Pangeran Antasari, ia menjadi panglima yang paling ditakuti Belanda. 30 Agustus 1859 ia guncang Martapura dengan 3000 pasukan dan hampir menewaskan Letnan Kolonel Boon Ostade. Benteng Tabanio ia rebut. Benteng Gunung Lawak dan Amawang ia pertahankan dengan darah. Belanda sampai memberi harga untuk kepalanya: f2000 gulden. Setelah Pangeran Hidayatullah ditipu dan diasingkan ke Cianjur, Demang Lehman tetap menolak menyerah. Ia bergerilya di hutan-hutan Gunung Pangkal, Batulicin, hanya makan dedaunan. Ia tidak kalah oleh peluru. Ia kalah oleh pengkhianatan. Seorang bernama Pembarani yang tergiur hadiah, menjebaknya tepat setelah ia selesai Shalat Subuh dalam keadaan tanpa senjata. 27 Februari 1864, bertepatan 19 Ramadhan, dalam keadaan berpuasa, ia dihukum gantung di Martapura. Saksi Belanda menulis: ia naik tiang gantung tanpa mata ditutup, wajahnya tidak berubah sedikitpun. Kekejaman belum selesai. Setelah wafat, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Negeri Belanda oleh konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Tubuhnya dimakamkan tanpa kepala di Martapura. Sampai hari ini, 162 tahun kemudian, jasad dan kepalanya masih terpisah. Al-Fatihah untuk Syuhada Banjar, Demang Lehman. Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing! 1. Sumber Primer Belanda: • Van Rees, W.A. (1865). De Bandjarmasinsche Krijg van 1859-1863 - Ini buku laporan militer Belanda yang paling detail mencatat gerakan Demang Lehman di Munggu Dayor, Tabanio, dan Gunung Lawak. • Verzameling der merkwaardigste vonnissen gewezen door de Krijgsraden te velde in de Zuid- en Ooster-afdeeling van Borneo 1859-1864 (1865) - Berisi salinan resmi vonis hukuman gantung Demang Lehman tanggal 27 Februari 1864. 2. Sumber Akademik Indonesia: • M. Gazali Usman (1994). Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam. Lambung Mangkurat Press. Buku rujukan utama sejarah Banjar. • Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (1992). Sejarah Nasional Indonesia: Nusantara pada abad ke-18 dan ke-19. PT Balai Pustaka. 3. Arsip Foto & Museum: • KITLV - Leiden University Library: Arsip foto dengan keterangan "Banjarese Deman Lehman (Soelehmah) gevangen te Bandjermasin" - foto Demang Lehman saat dalam tawanan Belanda yang kamu pakai ini berasal dari arsip ini. #DemangLehman #PahlawanBanjar #PerangBanjar #SejarahBanjar #KesultananBanjar #Martapura #KalimantanSelatan #HaramManyarahWajaSampaiKaputing #SejarahIndonesia #PahlawanNasional #MuseumLeiden #SejarahYangDihilangkan #HerdiMangkubumi #FaktaSejarah

 KEPALANYA DI BELANDA, TUBUHNYA DI BANJAR. MAKAMNYA TAK PERNAH UTUH.


Inilah Demang Lehman.



Nama aslinya Idies, lahir di Martapura 1832. Bukan bangsawan tinggi, ia hanya seorang panakawan atau ajudan setia dari Pangeran Hidayatullah II. Tapi karena kecerdasan dan kesetiaannya, ia diangkat menjadi Kiai Demang, kepala Distrik Riam Kanan dengan gelar Adipati Mangku Negara.


Saat Belanda menghapus Kesultanan Banjar tahun 1859, ia tidak memilih tunduk. Ia memilih perang Sabil.


Bersama Pangeran Antasari, ia menjadi panglima yang paling ditakuti Belanda. 30 Agustus 1859 ia guncang Martapura dengan 3000 pasukan dan hampir menewaskan Letnan Kolonel Boon Ostade. Benteng Tabanio ia rebut. Benteng Gunung Lawak dan Amawang ia pertahankan dengan darah.


Belanda sampai memberi harga untuk kepalanya: f2000 gulden.


Setelah Pangeran Hidayatullah ditipu dan diasingkan ke Cianjur, Demang Lehman tetap menolak menyerah. Ia bergerilya di hutan-hutan Gunung Pangkal, Batulicin, hanya makan dedaunan.


Ia tidak kalah oleh peluru. Ia kalah oleh pengkhianatan.


Seorang bernama Pembarani yang tergiur hadiah, menjebaknya tepat setelah ia selesai Shalat Subuh dalam keadaan tanpa senjata.


27 Februari 1864, bertepatan 19 Ramadhan, dalam keadaan berpuasa, ia dihukum gantung di Martapura. Saksi Belanda menulis: ia naik tiang gantung tanpa mata ditutup, wajahnya tidak berubah sedikitpun.


Kekejaman belum selesai. Setelah wafat, kepalanya dipenggal dan dibawa ke Negeri Belanda oleh konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Tubuhnya dimakamkan tanpa kepala di Martapura.


Sampai hari ini, 162 tahun kemudian, jasad dan kepalanya masih terpisah.


Al-Fatihah untuk Syuhada Banjar, Demang Lehman.

Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing!


1. Sumber Primer Belanda:

• Van Rees, W.A. (1865). De Bandjarmasinsche Krijg van 1859-1863 - Ini buku laporan militer Belanda yang paling detail mencatat gerakan Demang Lehman di Munggu Dayor, Tabanio, dan Gunung Lawak. • Verzameling der merkwaardigste vonnissen gewezen door de Krijgsraden te velde in de Zuid- en Ooster-afdeeling van Borneo 1859-1864 (1865) - Berisi salinan resmi vonis hukuman gantung Demang Lehman tanggal 27 Februari 1864. 

2. Sumber Akademik Indonesia:

• M. Gazali Usman (1994). Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam. Lambung Mangkurat Press. Buku rujukan utama sejarah Banjar. • Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto (1992). Sejarah Nasional Indonesia: Nusantara pada abad ke-18 dan ke-19. PT Balai Pustaka. 

3. Arsip Foto & Museum:

• KITLV - Leiden University Library: Arsip foto dengan keterangan "Banjarese Deman Lehman (Soelehmah) gevangen te Bandjermasin" - foto Demang Lehman saat dalam tawanan Belanda yang kamu pakai ini berasal dari arsip ini.


#DemangLehman #PahlawanBanjar #PerangBanjar #SejarahBanjar #KesultananBanjar #Martapura #KalimantanSelatan #HaramManyarahWajaSampaiKaputing #SejarahIndonesia #PahlawanNasional #MuseumLeiden #SejarahYangDihilangkan #HerdiMangkubumi #FaktaSejarah

"Presiden Darurat yang Menjaga Republik Tetap Berdiri" Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II dan berhasil menduduki Yogyakarta. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap. Saat itu, dunia mengira Republik Indonesia telah berakhir. Namun, anggapan itu tidak menjadi kenyataan. Di Bukittinggi, Sumatra Barat, Sjafruddin Prawiranegara mengambil langkah bersejarah dengan membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 22 Desember 1948. Pemerintahan darurat ini memastikan bahwa Republik Indonesia tetap memiliki pemerintahan yang sah, sehingga Belanda tidak dapat mengklaim Indonesia telah lenyap. Selama hampir tujuh bulan, PDRI menjalankan roda pemerintahan di tengah perang dan berpindah-pindah lokasi demi menghindari kejaran pasukan Belanda. Perjuangan ini menjadi salah satu faktor penting yang menjaga legitimasi Republik Indonesia di mata dunia hingga akhirnya pemerintahan dikembalikan kepada Presiden Soekarno pada Juli 1949. Meski namanya tidak sepopuler Soekarno, Hatta, atau Jenderal Soedirman, jasa Sjafruddin Prawiranegara sangat besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia. Karena itulah banyak sejarawan menyebutnya sebagai tokoh penyelamat keberlangsungan Republik pada masa paling genting. Perlu diingat, keberhasilan mempertahankan Indonesia merupakan hasil perjuangan bersama para pemimpin, TNI, diplomat, dan seluruh rakyat Indonesia. Menurut Anda, apakah peran Sjafruddin Prawiranegara sudah mendapat tempat yang layak dalam sejarah Indonesia? Sumber: Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan RI – Sjafruddin Prawiranegara. Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kemendikbud – Sekilas Sejarah PDRI. Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan RI – Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) – Sjafruddin Prawiranegara Penyelamat Republik. #SejarahIndonesia #SjafruddinPrawiranegara #PDRI #KemerdekaanIndonesia #PahlawanNasional #BelajarSejarah #FaktaSejarah #IndonesiaMerdeka

 "Presiden Darurat yang Menjaga Republik Tetap Berdiri"


Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer II dan berhasil menduduki Yogyakarta. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap. Saat itu, dunia mengira Republik Indonesia telah berakhir.



Namun, anggapan itu tidak menjadi kenyataan.


Di Bukittinggi, Sumatra Barat, Sjafruddin Prawiranegara mengambil langkah bersejarah dengan membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 22 Desember 1948. Pemerintahan darurat ini memastikan bahwa Republik Indonesia tetap memiliki pemerintahan yang sah, sehingga Belanda tidak dapat mengklaim Indonesia telah lenyap.


Selama hampir tujuh bulan, PDRI menjalankan roda pemerintahan di tengah perang dan berpindah-pindah lokasi demi menghindari kejaran pasukan Belanda. Perjuangan ini menjadi salah satu faktor penting yang menjaga legitimasi Republik Indonesia di mata dunia hingga akhirnya pemerintahan dikembalikan kepada Presiden Soekarno pada Juli 1949. 


Meski namanya tidak sepopuler Soekarno, Hatta, atau Jenderal Soedirman, jasa Sjafruddin Prawiranegara sangat besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia. Karena itulah banyak sejarawan menyebutnya sebagai tokoh penyelamat keberlangsungan Republik pada masa paling genting. Perlu diingat, keberhasilan mempertahankan Indonesia merupakan hasil perjuangan bersama para pemimpin, TNI, diplomat, dan seluruh rakyat Indonesia. 


Menurut Anda, apakah peran Sjafruddin Prawiranegara sudah mendapat tempat yang layak dalam sejarah Indonesia?


Sumber:


Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan RI – Sjafruddin Prawiranegara. 


Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kemendikbud – Sekilas Sejarah PDRI. 


Ensiklopedia Kementerian Kebudayaan RI – Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). 


Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) – Sjafruddin Prawiranegara Penyelamat Republik. 


#SejarahIndonesia #SjafruddinPrawiranegara #PDRI #KemerdekaanIndonesia #PahlawanNasional #BelajarSejarah #FaktaSejarah #IndonesiaMerdeka

KOLONEL MALUDIN SIMBOLON: MENENTANG JAKARTA, TETAPI MENGAKU TETAP MENCINTAI INDONESIA Maludin Simbolon adalah salah satu perwira TNI paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Ia berani mengkritik dan menentang kebijakan pemerintah pusat yang dinilai terlalu memusatkan kekuasaan di Jakarta. Baginya, daerah memiliki hak untuk memperoleh pembangunan dan perhatian yang lebih adil. Perbedaan pandangan politik itu kemudian membawanya bergabung dengan PRRI pada 1958, sebuah gerakan yang akhirnya ditumpas pemerintah. Meski dicap sebagai pemberontak, Simbolon dan sejumlah tokoh PRRI menyatakan bahwa perjuangan mereka bukan untuk memisahkan diri dari Indonesia, melainkan menuntut perubahan kebijakan pemerintah pusat. Karena itu, hingga kini sosoknya masih menjadi bahan perdebatan dalam sejarah Indonesia. Sumber: Audrey R. Kahin & George McT. Kahin, Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia. M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mengenai PRRI dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia. #SejarahIndonesia #MaludinSimbolon #PRRI #TNI #SejarahBangsa #BelajarSejarah #FaktaSejarah #HerdiMangkubumi

 KOLONEL MALUDIN SIMBOLON: MENENTANG JAKARTA, TETAPI MENGAKU TETAP MENCINTAI INDONESIA



Maludin Simbolon adalah salah satu perwira TNI paling kontroversial dalam sejarah Indonesia. Ia berani mengkritik dan menentang kebijakan pemerintah pusat yang dinilai terlalu memusatkan kekuasaan di Jakarta.


Baginya, daerah memiliki hak untuk memperoleh pembangunan dan perhatian yang lebih adil. Perbedaan pandangan politik itu kemudian membawanya bergabung dengan PRRI pada 1958, sebuah gerakan yang akhirnya ditumpas pemerintah.


Meski dicap sebagai pemberontak, Simbolon dan sejumlah tokoh PRRI menyatakan bahwa perjuangan mereka bukan untuk memisahkan diri dari Indonesia, melainkan menuntut perubahan kebijakan pemerintah pusat. Karena itu, hingga kini sosoknya masih menjadi bahan perdebatan dalam sejarah Indonesia.


Sumber:


Audrey R. Kahin & George McT. Kahin, Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia.


M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200–2008.


Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia.


Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mengenai PRRI dan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia.


#SejarahIndonesia #MaludinSimbolon #PRRI #TNI #SejarahBangsa #BelajarSejarah #FaktaSejarah #HerdiMangkubumi

Dari penguasa jalanan Pasar Senen hingga menjadi menteri di Kabinet 100 Menteri, hidup Imam Syafei seperti cerita film yg nyaris tak tercatat di buku sejarah. Di tengah riuhnya revolusi kemerdekaan, ada satu sosok yg bikin tentara Sekutu dn Belanda (NICA) gemetar. Ia bkn tentara terlatih, bkn pula jenderal lulusan akademi militer elit. Ia adalah penguasa Pasar Senen, seorang jawara Betawi yg dijuluki “Raja Copet”. Namanya Imam Syafei —atau lebih akrab disapa Bang Pi’ie. ๐Ÿงข๐Ÿ”ฅ Lahir di Kampung Bangka, Kebayoran Baru, 27 Agustus 1918, Pi’ie kecil sdh kehilangan ayahnya, Mugeni, seorang jawara Senen yg tewas ditikam golok dlm perebutan wilayah. Dari tragedi itulah watak kerasnya terbentuk. Belajar ilmu agama dn bela diri dari Habib Qodir Al-Hadad, ia tumbuh menjadi jagoan yg menguasai seluruh Pasar Senen. Awalnya, Pi’ie mengorganisir para pencopet, preman, gelandangan, dan pengemis lewat “Kumpulan 4 Sen”—organisasi unik yg menarik iuran kecil dari pedagang utk memberi makan para begundal agar mereka tak meresahkan warga. Dari sanalah julukan “Robin Hood dari Senen” melekat: ia mengambil dari yg mampu, tapi justru menciptakan ketertiban sosial di kawasan yg paling rawan di Batavia. Lalu datang masa revolusi. Pi’ie mengubah gerombolannya menjadi laskar rakyat. Organisasi Oesaha Pemoeda Indonesia (OPI) yg ia pimpin menjelma menjadi pasukan tempur yg disegani. Dlm pertempuran sengit melawan NICA di sekitar bioskop Rex dan Rialto, pasukannya—yg hanya bermodalkan bambu runcing dn senjata rampasan—berhasil memenangkan pertempuran. VSaking beraninya, ia bahkan pernah ditunjuk sbg Komandan Pertempuran utk seluruh Jakarta pada November 1945! Setelah perang usai, ia bergabung dgn TNI di Divisi Siliwangi dgn pangkat Kapten. Ia juga mendirikan Corps Bambu Runcing (Cobra)—organisasi semi-militer yg menghimpun para veteran agar tak kembali ke dunia hitam. Strateginya brilian: anggota yg melanggar justru diberi modal usaha, bukn dipenjara. Kalau mengulangi lagi? Baru berhadapan dgn pukulan maut tangan kirinya. ๐ŸฅŠ Puncak dari seluruh kisah ini terjadi pada 24 Februari 1966. Di tengah tekanan demonstrasi besar-besaran, Presiden Soekarno merombak kabinet dn melantik Imam Syafei sebgi Menteri Urusan Keamanan Jakarta dlm Kabinet Dwikora II yg legendaris—sering dijuluki “Kabinet 100 Menteri”. Ia menjadi menteri pertama dn terakhir yg khusus menangani keamanan wilayah Jakarta. Jabatan yg blm pernah ada sebelumnya, dn tak pernah ada lagi setelahnya. Mahasiswa kala itu bahkan berdemo sambil meneriakinya sebagai “menteri copet”—sebuah ironi yg menusuk hati. Namun, jabatan itu hanya bertahan sekitar satu bln. Setelah Supersemar 1966, rezim berganti. Pi’ie ditangkap, dituding antek PKI, dn dipenjara tanpa pengadilan hingga thn 1975. Namanya perlahan lenyap dari ingatan kolektif bangsa. Ia wafat dlm sakit pada 9 September 1982 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata—bukti bahwa ia tetaplah pejuang sejati. Kisah Bang Pi’ie mengajarkan kita bahwa sejarah seringkali ditulis dengan tinta yg tidak adil. Hari ini, namanya diabadikan sebagai nama jln pengganti Jalan Senen Raya. #BangImamSyafei #BangPie #ImamSyafei #SejarahBangPie #TokohBetawi #LegendaSenen #SejarahJakarta #PremanSenen #TokohSejarahIndonesia #JejakSejarah ๐Ÿ“Œ GLOSARIUM (Daftar Istilah): ● Jawara: Pendekar atau jagoan tradisional dalam budaya Betawi ● NICA (Netherlands Indies Civil Administration): Pemerintahan sipil Belanda yang membonceng Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia pasca-1945 ● Laskar: Pasukan rakyat non-reguler yang dibentuk secara swadaya saat revolusi ● Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966): Surat yang memberi mandat kepada Soeharto untuk mengendalikan keamanan, menjadi titik balik peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru ● Tritura (Tri Tuntutan Rakyat): Tiga tuntutan mahasiswa pada 1966: bubarkan PKI, rombak kabinet, turunkan harga ● OPI (Oesaha Pemoeda Indonesia): Organisasi pemuda pejuang yang didirikan Imam Syafei di kawasan Senen ● Cobra (Corps Bambu Runcing): Organisasi semi-militer bentukan Bang Pi'ie untuk menampung eks pejuang dan menjaga keamanan Jakarta ● Romusha: Sistem kerja paksa pada masa pendudukan Jepang

 Dari penguasa jalanan Pasar Senen hingga menjadi menteri di Kabinet 100 Menteri, hidup Imam Syafei seperti cerita film yg nyaris tak tercatat di buku sejarah. 

   Di tengah riuhnya revolusi kemerdekaan, ada satu sosok yg bikin tentara Sekutu dn Belanda (NICA) gemetar. Ia bkn tentara terlatih, bkn pula jenderal lulusan akademi militer elit. Ia adalah penguasa Pasar Senen, seorang jawara Betawi yg dijuluki “Raja Copet”. Namanya Imam Syafei —atau lebih akrab disapa Bang Pi’ie. 

  ๐Ÿงข๐Ÿ”ฅ Lahir di Kampung Bangka, Kebayoran Baru, 27 Agustus 1918, Pi’ie kecil sdh kehilangan ayahnya, Mugeni, seorang jawara Senen yg tewas ditikam golok dlm perebutan wilayah. 



   Dari tragedi itulah watak kerasnya terbentuk. Belajar ilmu agama dn bela diri dari Habib Qodir Al-Hadad, ia tumbuh menjadi jagoan yg menguasai seluruh Pasar Senen. Awalnya, Pi’ie mengorganisir para pencopet, preman, gelandangan, dan pengemis lewat “Kumpulan 4 Sen”—organisasi unik yg menarik iuran kecil dari pedagang utk memberi makan para begundal agar mereka tak meresahkan warga. 


  Dari sanalah julukan “Robin Hood dari Senen” melekat: ia mengambil dari yg mampu, tapi justru menciptakan ketertiban sosial di kawasan yg paling rawan di Batavia. 


  Lalu datang masa revolusi. Pi’ie mengubah gerombolannya menjadi laskar rakyat. Organisasi Oesaha Pemoeda Indonesia (OPI) yg ia pimpin menjelma menjadi pasukan tempur yg disegani. Dlm pertempuran sengit melawan NICA di sekitar bioskop Rex dan Rialto, pasukannya—yg hanya bermodalkan bambu runcing dn senjata rampasan—berhasil memenangkan pertempuran. 


  VSaking beraninya, ia bahkan pernah ditunjuk sbg Komandan Pertempuran utk seluruh Jakarta pada November 1945! Setelah perang usai, ia bergabung dgn TNI di Divisi Siliwangi dgn pangkat Kapten. Ia juga mendirikan Corps Bambu Runcing (Cobra)—organisasi semi-militer yg menghimpun para veteran agar tak kembali ke dunia hitam. 


  Strateginya brilian: anggota yg melanggar justru diberi modal usaha, bukn dipenjara. Kalau mengulangi lagi? Baru berhadapan dgn pukulan maut tangan kirinya. ๐ŸฅŠ Puncak dari seluruh kisah ini terjadi pada 24 Februari 1966. 


  Di tengah tekanan demonstrasi besar-besaran, Presiden Soekarno merombak kabinet dn melantik Imam Syafei sebgi Menteri Urusan Keamanan Jakarta dlm Kabinet Dwikora II yg legendaris—sering dijuluki “Kabinet 100 Menteri”. Ia menjadi menteri pertama dn terakhir yg khusus menangani keamanan wilayah Jakarta. 


  Jabatan yg blm pernah ada sebelumnya, dn tak pernah ada lagi setelahnya. Mahasiswa kala itu bahkan berdemo sambil meneriakinya sebagai “menteri copet”—sebuah ironi yg menusuk hati. Namun, jabatan itu hanya bertahan sekitar satu bln. 


  Setelah Supersemar 1966, rezim berganti. Pi’ie ditangkap, dituding antek PKI, dn dipenjara tanpa pengadilan hingga thn 1975. Namanya perlahan lenyap dari ingatan kolektif bangsa. Ia wafat dlm sakit pada 9 September 1982 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata—bukti bahwa ia tetaplah pejuang sejati. Kisah Bang Pi’ie mengajarkan kita bahwa sejarah seringkali ditulis dengan tinta yg tidak adil. Hari ini, namanya diabadikan sebagai nama jln pengganti Jalan Senen Raya. 


#BangImamSyafei #BangPie #ImamSyafei #SejarahBangPie #TokohBetawi #LegendaSenen #SejarahJakarta #PremanSenen #TokohSejarahIndonesia #JejakSejarah


๐Ÿ“Œ GLOSARIUM (Daftar Istilah): 

● Jawara: Pendekar atau jagoan tradisional dalam budaya Betawi 

● NICA (Netherlands Indies Civil Administration): Pemerintahan sipil Belanda yang membonceng Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia pasca-1945 

● Laskar: Pasukan rakyat non-reguler yang dibentuk secara swadaya saat revolusi 

● Supersemar (Surat Perintah 11 Maret 1966): Surat yang memberi mandat kepada Soeharto untuk mengendalikan keamanan, menjadi titik balik peralihan kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru 

● Tritura (Tri Tuntutan Rakyat): Tiga tuntutan mahasiswa pada 1966: bubarkan PKI, rombak kabinet, turunkan harga 

● OPI (Oesaha Pemoeda Indonesia): Organisasi pemuda pejuang yang didirikan Imam Syafei di kawasan Senen 

● Cobra (Corps Bambu Runcing): Organisasi semi-militer bentukan Bang Pi'ie untuk menampung eks pejuang dan menjaga keamanan Jakarta 

● Romusha: Sistem kerja paksa pada masa pendudukan Jepang

19 July 2026

Jatuhnya Bung Karno dan pembunuhan John F. Kennedy (JFK) memang seperti menyusun kepingan teka-teki geopolitik yang rumit. Meskipun terjadi di belahan dunia yang berbeda, keduanya terhubung oleh benang merah yang sama: Perang Dingin dan benturan kepentingan ekonomi-politik. Di mata Washington era 1960-an, Sukarno bukan lagi sekadar bapak bangsa, melainkan ancaman nyata. Kebijakan "Non-Blok" miliknya dianggap condong ke Timur, terutama karena kedekatannya dengan PKI dan Uni Soviet. Intervensi CIA: Keterlibatan CIA dalam menjatuhkan Sukarno sudah menjadi rahasia umum (terutama setelah deklasifikasi dokumen tahun 2001). CIA mendukung kelompok militer sayap kanan di Indonesia dan menyebarkan propaganda hitam untuk mendiskreditkan Sukarno pasca-peristiwa G30S. Titik Balik: Sukarno menolak mentah-mentah bantuan ekonomi yang disertai syarat dari Barat ("Go to hell with your aid"). Hal ini memicu AS untuk mencari pengganti yang lebih "kooperatif." Kematian Kennedy pada 1963 sering kali dikaitkan dengan CIA karena ketegangan internal yang ekstrem. JFK sempat mengancam akan "menghancurkan CIA menjadi seribu keping" setelah kegagalan Invasi Teluk Babi di Kuba. Teori Keterlibatan: JFK dianggap terlalu lunak terhadap Komunisme karena menolak menginvasi Kuba secara penuh dan berencana menarik pasukan dari Vietnam. Bagi "Deep State" dan industri militer AS, perdamaian yang diupayakan JFK adalah kerugian finansial yang besar. Jika kita melihat dari perspektif realisme politik, ada tiga keuntungan besar bagi kepentingan AS (atau elit penguasanya) dengan berakhirnya kekuasaan Sukarno dan JFK: A. Akses Sumber Daya Alam (Kasus Indonesia) Ini adalah keuntungan paling nyata. Sukarno sangat protektif terhadap kekayaan alam Indonesia. Begitu Sukarno lengser dan digantikan Soeharto: Kontrak Freeport: Pada tahun 1967, UU Penanaman Modal Asing disahkan. Freeport mendapatkan akses ke tambang emas terbesar di dunia di Papua. Ini adalah kemenangan besar bagi korporasi Amerika. B. Menghentikan "Efek Domino" Komunisme Di bawah Sukarno, Indonesia memiliki partai komunis terbesar ketiga di dunia. Dengan tumbangnya Sukarno dan pembersihan PKI, AS berhasil mengamankan Asia Tenggara dari pengaruh merah tanpa harus mengirim pasukan besar-besaran seperti di Vietnam. C. Keberlangsungan Industri Militer (Kasus JFK) JFK ingin mengakhiri Perang Dingin lewat jalur diplomasi. Bagi kompleks industri militer (Military-Industrial Complex), perdamaian berarti penurunan pesanan senjata. Perang Vietnam: Segera setelah JFK wafat, penggantinya (Lyndon B. Johnson) justru meningkatkan eskalasi militer secara masif di Vietnam, yang menguntungkan perusahaan-perusahaan kontraktor pertahanan AS. Lengsernya Sukarno dan kematian JFK menandai pergeseran arah sejarah. Indonesia beralih dari negara revolusioner menjadi mitra ekonomi Barat, sementara kebijakan luar negeri AS menjadi jauh lebih agresif di panggung global. Meskipun secara resmi AS sering membantah keterlibatan langsung dalam pembunuhan JFK, dokumen-dokumen sejarah menunjukkan bahwa dalam kasus Sukarno, CIA memang aktif "mengatur panggung" untuk pergantian kekuasaan tersebut. ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡ Referensi Utama: Bradley, Mark Philip. (2000). Imagining Vietnam and America: The Making of Postcolonial Vietnam, 1919-1950. Pease, Lisa. (2003). JFK, Indonesia, and the Murder of Free Press. (Analisis mendalam tentang hubungan JFK-Sukarno dan Freeport). Scott, Peter Dale. (1985). The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967. Pacific Affairs. Weiner, Tim. (2007). Legacy of Ashes: The History of the CIA. (Memaparkan kegagalan dan operasi gelap CIA di Indonesia). Foreign Relations of the United States (FRUS), 1964–1968, Volume XXVI, Indonesia. (Dokumen resmi Departemen Luar Negeri AS yang telah dideklasifikasi). #Sukarno #BungKarno #JFK #JohnFKennedy #SejarahIndonesia #SejarahDunia #OrdeLama #OrdeBaru #TokohDunia #JasMerah

 Jatuhnya Bung Karno dan pembunuhan John F. Kennedy (JFK) memang seperti menyusun kepingan teka-teki geopolitik yang rumit. Meskipun terjadi di belahan dunia yang berbeda, keduanya terhubung oleh benang merah yang sama: Perang Dingin dan benturan kepentingan ekonomi-politik.



Di mata Washington era 1960-an, Sukarno bukan lagi sekadar bapak bangsa, melainkan ancaman nyata. Kebijakan "Non-Blok" miliknya dianggap condong ke Timur, terutama karena kedekatannya dengan PKI dan Uni Soviet.


Intervensi CIA: Keterlibatan CIA dalam menjatuhkan Sukarno sudah menjadi rahasia umum (terutama setelah deklasifikasi dokumen tahun 2001). CIA mendukung kelompok militer sayap kanan di Indonesia dan menyebarkan propaganda hitam untuk mendiskreditkan Sukarno pasca-peristiwa G30S.


Titik Balik: Sukarno menolak mentah-mentah bantuan ekonomi yang disertai syarat dari Barat ("Go to hell with your aid"). Hal ini memicu AS untuk mencari pengganti yang lebih "kooperatif."


Kematian Kennedy pada 1963 sering kali dikaitkan dengan CIA karena ketegangan internal yang ekstrem. JFK sempat mengancam akan "menghancurkan CIA menjadi seribu keping" setelah kegagalan Invasi Teluk Babi di Kuba.


Teori Keterlibatan: JFK dianggap terlalu lunak terhadap Komunisme karena menolak menginvasi Kuba secara penuh dan berencana menarik pasukan dari Vietnam. Bagi "Deep State" dan industri militer AS, perdamaian yang diupayakan JFK adalah kerugian finansial yang besar.


Jika kita melihat dari perspektif realisme politik, ada tiga keuntungan besar bagi kepentingan AS (atau elit penguasanya) dengan berakhirnya kekuasaan Sukarno dan JFK:


A. Akses Sumber Daya Alam (Kasus Indonesia)

Ini adalah keuntungan paling nyata. Sukarno sangat protektif terhadap kekayaan alam Indonesia. Begitu Sukarno lengser dan digantikan Soeharto:


Kontrak Freeport: Pada tahun 1967, UU Penanaman Modal Asing disahkan. Freeport mendapatkan akses ke tambang emas terbesar di dunia di Papua. Ini adalah kemenangan besar bagi korporasi Amerika.


B. Menghentikan "Efek Domino" Komunisme

Di bawah Sukarno, Indonesia memiliki partai komunis terbesar ketiga di dunia. Dengan tumbangnya Sukarno dan pembersihan PKI, AS berhasil mengamankan Asia Tenggara dari pengaruh merah tanpa harus mengirim pasukan besar-besaran seperti di Vietnam.


C. Keberlangsungan Industri Militer (Kasus JFK)

JFK ingin mengakhiri Perang Dingin lewat jalur diplomasi. Bagi kompleks industri militer (Military-Industrial Complex), perdamaian berarti penurunan pesanan senjata.


Perang Vietnam: Segera setelah JFK wafat, penggantinya (Lyndon B. Johnson) justru meningkatkan eskalasi militer secara masif di Vietnam, yang menguntungkan perusahaan-perusahaan kontraktor pertahanan AS.


Lengsernya Sukarno dan kematian JFK menandai pergeseran arah sejarah. Indonesia beralih dari negara revolusioner menjadi mitra ekonomi Barat, sementara kebijakan luar negeri AS menjadi jauh lebih agresif di panggung global.


Meskipun secara resmi AS sering membantah keterlibatan langsung dalam pembunuhan JFK, dokumen-dokumen sejarah menunjukkan bahwa dalam kasus Sukarno, CIA memang aktif "mengatur panggung" untuk pergantian kekuasaan tersebut.


๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡

Referensi Utama:

Bradley, Mark Philip. (2000). Imagining Vietnam and America: The Making of Postcolonial Vietnam, 1919-1950.


Pease, Lisa. (2003). JFK, Indonesia, and the Murder of Free Press. (Analisis mendalam tentang hubungan JFK-Sukarno dan Freeport).


Scott, Peter Dale. (1985). The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967. Pacific Affairs.


Weiner, Tim. (2007). Legacy of Ashes: The History of the CIA. (Memaparkan kegagalan dan operasi gelap CIA di Indonesia).


Foreign Relations of the United States (FRUS), 1964–1968, Volume XXVI, Indonesia. (Dokumen resmi Departemen Luar Negeri AS yang telah dideklasifikasi).


Sumber : Wukir Mahendra

#Sukarno #BungKarno #JFK #JohnFKennedy #SejarahIndonesia #SejarahDunia #OrdeLama #OrdeBaru #TokohDunia #JasMerah

18 July 2026

MENGAPA DIA BERNAMA 23761? Karena dia pengagum band legendaris dari Inggris, The Beatles. Namanya diambil dari nada intro lagu The Beatles "And I Love Her", re-mi-si-la-do, 2-3-7-6-1. Remy Sylado (Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1943-Jakarta, 12 Desember 2022) adalah salah satu nama samaran Jubal Anak Perang Imannuel Panda Abdiel Tambayong. Untuk buku-buku non-fiksi, ia menggunakan nama pena Alif Danya Munsyi yang berarti munsyi pertama dan terakhir. Kadang ja memakai nama Juliana C Panda dan Dova Silva. Sebagai novelis ia telah menerbitkan Gali Lobang Gila Lobang (1977), Kita Hidup Hanya Sekali (1977), Orexas (1978), Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa (1999), Kembang Jepun (2002), Kerudung Merah Kirmizi (2002), Parijs van Java (2003), Menunggu Matahari Melbourne (2004), Sam Po Kong (2004), Mimi Lan Mintuna (2007), Pangeran Diponegoro (2007), Namaku Mata Hari (2010), Hotel Prodeo (2010), Perempuan Bernama Arjuna (2014), dan Malaikat Lereng Tidar (2014). Adapun kumpulan puisinya adalah Kerygma (1999), Puisi Mbeling (2004), dan Kerygma & Martyria (2004) yang mendapat penghargaan dari MURI sebagai buku kumpulan sajak tertebal. Ada pula drama musik Siau Ling (2001), Jalan Tamblong: Kumpulan Drama Musik (2010), dan Drama Sejarah 1832 (2012). la juga menulis karya-karya non-fiksi, antara lain, Dasar-Dasar Dramaturgi (1981), Menuju Apresiasi Musik (1983), Mengenal Teater Anak (1984), 9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing (2003), Bahasa Menunjukkan Bangsa (2005), Kamus Bahasa dan Budaya Manado (2007), dan Jadi Penulis? Siapa Takut! (2012). Atas sumbangsihnya di bidang kesusasteraan, ia pernah meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2002), Penghargaan Sastra oleh Badan Bahasa (2006), Sastra Bermutu dari Komunitas Nobel Indonesia (2011), Bakrie Award untuk bidang kebudayaan dan sastra (2013), The S.E.A. Write Award (2015), dan Akademi Jakarta (2021). la juga pernah mendapatkan Man of Achievement dalam Who's Who in Asia and Pacific (1991), Satya Lencana Kebudayaan dari Negara/Presiden (2005), Piagam PAPPRI untuk Bidang Kritik Musik (2008), One Man One Tree dari Kementerian Kehutanan (2008), Braga Award untuk Kepeloporan Musik Sastra dari Gubernur Jawa Barat (2009), pemegang Kartu Pers Nomer Satu (2010), Piagam Kebudayaan untuk Kepeloporan Teater dari Gubernur Jawa Barat (2012), Piagam Brawijaya dari Panglima Kodam Brawijaya (2013), dan Piagam Penghargaan Kerukunan Keluarga Kawuna (2013).

 MENGAPA DIA BERNAMA 23761?


Karena dia pengagum band legendaris dari Inggris, The Beatles. Namanya diambil dari nada intro lagu The Beatles "And I Love Her", re-mi-si-la-do, 2-3-7-6-1.



Remy Sylado (Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1943-Jakarta, 12 Desember 2022) adalah salah satu nama samaran Jubal Anak Perang Imannuel Panda Abdiel Tambayong. Untuk buku-buku non-fiksi, ia menggunakan nama pena Alif Danya Munsyi yang berarti munsyi pertama dan terakhir. Kadang ja memakai nama Juliana C Panda dan Dova Silva.


Sebagai novelis ia telah menerbitkan Gali Lobang Gila Lobang (1977), Kita Hidup Hanya Sekali (1977), Orexas (1978), Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa (1999), Kembang Jepun (2002), Kerudung Merah Kirmizi (2002), Parijs van Java (2003), Menunggu Matahari Melbourne (2004), Sam Po Kong (2004), Mimi Lan Mintuna (2007), Pangeran Diponegoro (2007), Namaku Mata Hari (2010), Hotel Prodeo (2010), Perempuan Bernama Arjuna (2014), dan Malaikat Lereng Tidar (2014).


Adapun kumpulan puisinya adalah Kerygma (1999), Puisi Mbeling (2004), dan Kerygma & Martyria (2004) yang mendapat penghargaan dari MURI sebagai buku kumpulan sajak tertebal. Ada pula drama musik Siau Ling (2001), Jalan Tamblong: Kumpulan Drama Musik (2010), dan Drama Sejarah 1832 (2012).


la juga menulis karya-karya non-fiksi, antara lain, Dasar-Dasar Dramaturgi (1981), Menuju Apresiasi Musik (1983), Mengenal Teater Anak (1984), 9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing (2003), Bahasa Menunjukkan Bangsa (2005), Kamus Bahasa dan Budaya Manado (2007), dan Jadi Penulis? Siapa Takut! (2012).


Atas sumbangsihnya di bidang kesusasteraan, ia pernah meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2002), Penghargaan Sastra oleh Badan Bahasa (2006), Sastra Bermutu dari Komunitas Nobel Indonesia (2011), Bakrie Award untuk bidang kebudayaan dan sastra (2013), The S.E.A. Write Award (2015), dan Akademi Jakarta (2021).


la juga pernah mendapatkan Man of Achievement dalam Who's Who in Asia and Pacific (1991), Satya Lencana Kebudayaan dari Negara/Presiden (2005), Piagam PAPPRI untuk Bidang Kritik Musik (2008), One Man One Tree dari Kementerian Kehutanan (2008), Braga Award untuk Kepeloporan Musik Sastra dari Gubernur Jawa Barat (2009), pemegang Kartu Pers Nomer Satu (2010), Piagam Kebudayaan untuk Kepeloporan Teater dari Gubernur Jawa Barat (2012), Piagam Brawijaya dari Panglima Kodam Brawijaya (2013), dan Piagam Penghargaan Kerukunan Keluarga Kawuna (2013).

17 July 2026

Mengenang Rudi Gagola, Sang Arsitek Musik Indonesia yang Bekerja di Balik Layar. Ada nama-nama yang terus dikenang karena selalu berada di bawah sorotan lampu panggung. Namun, ada pula sosok yang justru memilih berkarya dalam diam, membiarkan musiknya berbicara melampaui zaman. Salah satunya adalah Rudi Gagola. Tak semua orang mengenalnya. Padahal, sentuhan tangannya pernah menghidupkan banyak karya penting dalam sejarah musik Indonesia. Ia adalah adik kandung Donny Fattah Gagola, pernah memperkuat God Bless, menjadi motor kreatif Drakhma, membentuk proyek D&R, menata musik untuk banyak penyanyi besar, hingga melahirkan lagu-lagu yang masih akrab di telinga pecinta musik, termasuk "Mawar Merah" yang dipopulerkan Vina Panduwinata. Rudi bukan sekadar pemain bass. Ia adalah pencipta lagu, arranger, music supervisor, sekaligus musisi yang percaya bahwa karya jauh lebih penting daripada popularitas. Ironisnya, setelah pertengahan 1980-an, namanya perlahan menghilang dari perbincangan publik. Generasi baru lebih mengenal lagu-lagunya daripada sosok yang menciptakannya. Rudi Gagola berpulang pada 7 Oktober 2014 setelah berjuang melawan kanker. Namun, seperti semua musisi sejati, kepergiannya tidak membawa pergi karya-karyanya. Nada, melodi, dan kenangan yang ia tinggalkan masih terus hidup, mengalun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin banyak yang lupa pada namanya. Tetapi sejarah musik Indonesia tidak pernah melupakannya. Karena sesungguhnya, musisi besar bukan hanya mereka yang berdiri paling depan di atas panggung, melainkan mereka yang diam-diam membangun fondasi agar musik Indonesia bisa berdiri setinggi hari ini. #JacksonRecord #RudiGagola #VinaPanduwinata #MawarMerah #MusikIndonesia

 Mengenang Rudi Gagola, Sang Arsitek Musik Indonesia yang Bekerja di Balik Layar. 



Ada nama-nama yang terus dikenang karena selalu berada di bawah sorotan lampu panggung. Namun, ada pula sosok yang justru memilih berkarya dalam diam, membiarkan musiknya berbicara melampaui zaman. Salah satunya adalah Rudi Gagola.


Tak semua orang mengenalnya. Padahal, sentuhan tangannya pernah menghidupkan banyak karya penting dalam sejarah musik Indonesia. Ia adalah adik kandung Donny Fattah Gagola, pernah memperkuat God Bless, menjadi motor kreatif Drakhma, membentuk proyek D&R, menata musik untuk banyak penyanyi besar, hingga melahirkan lagu-lagu yang masih akrab di telinga pecinta musik, termasuk "Mawar Merah" yang dipopulerkan Vina Panduwinata.


Rudi bukan sekadar pemain bass. Ia adalah pencipta lagu, arranger, music supervisor, sekaligus musisi yang percaya bahwa karya jauh lebih penting daripada popularitas.


Ironisnya, setelah pertengahan 1980-an, namanya perlahan menghilang dari perbincangan publik. Generasi baru lebih mengenal lagu-lagunya daripada sosok yang menciptakannya.


Rudi Gagola berpulang pada 7 Oktober 2014 setelah berjuang melawan kanker. Namun, seperti semua musisi sejati, kepergiannya tidak membawa pergi karya-karyanya. Nada, melodi, dan kenangan yang ia tinggalkan masih terus hidup, mengalun dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Mungkin banyak yang lupa pada namanya. Tetapi sejarah musik Indonesia tidak pernah melupakannya.


Karena sesungguhnya, musisi besar bukan hanya mereka yang berdiri paling depan di atas panggung, melainkan mereka yang diam-diam membangun fondasi agar musik Indonesia bisa berdiri setinggi hari ini.

#JacksonRecord #RudiGagola #VinaPanduwinata #MawarMerah #MusikIndonesia

Semar kuning (karma Abimanyu tidak memiliki usia panjang) Prabu Kresna menikahkan Raden Abimanyu dengan Siti sendari tanpa menunggu Raden Arjuna (selaku orang tua Abimanyu) yang sedang murca dari kasatriyan. Datanglah Ki lurah Semar mengingatkan raja Dwarawati yang adigang adigung Adiguna di hadapan para tamu dalam jamuan pernikahan tersebut, dengan menggunakan tembang dandang gulo yang isinya menyindir (nyemoni) kelakuan Prabu Kresna. Merasa tersinggung oleh sindiran Ki lurah Semar, prabu Kresna duka Yayah sinipi (murka). Kemudian Prabu Kresna menyuruh Raden Abimanyu membalas Ki lurah Semar dengan meludahi kuncung nya. Perbuatan yang menyayat hati kita semua, meskipun Ki lurah Semar adalah golongan sudra sempali tapi bagaimanapun juga ia adalah orang sepuh sekaligus sang hyang Ismaya ngeja wantah. Perbuatan Abimanyu ini justru malah di benarkan oleh prabu Kresna dengan alasan menjaga wibawanya, Sangat di sayangkan. Karena perbuatannya tersebut sang hyang Wenang menyabda usia Abimanyu tidak akan panjang dan perkawinannya dengan Siti sendari tidak akan memiliki keturunan. Pertanyaan nya berapa kira kira usia Abimanyu saat meninggal ranjap di Tegal Kuru setra?

 Semar kuning (karma Abimanyu tidak memiliki usia panjang)

Prabu Kresna menikahkan Raden Abimanyu dengan Siti sendari tanpa menunggu Raden Arjuna (selaku orang tua Abimanyu) yang sedang murca dari kasatriyan. Datanglah Ki lurah Semar mengingatkan raja Dwarawati yang adigang adigung Adiguna di hadapan para tamu dalam jamuan pernikahan tersebut, dengan menggunakan tembang dandang gulo yang isinya menyindir (nyemoni) kelakuan Prabu Kresna. 

Merasa tersinggung oleh sindiran Ki lurah Semar, prabu Kresna duka Yayah sinipi (murka). Kemudian Prabu Kresna menyuruh Raden Abimanyu membalas Ki lurah Semar dengan meludahi kuncung nya. Perbuatan yang menyayat hati kita semua, meskipun Ki lurah Semar adalah golongan sudra sempali tapi bagaimanapun juga ia adalah orang sepuh sekaligus sang hyang Ismaya ngeja wantah. Perbuatan Abimanyu ini justru malah di benarkan oleh prabu Kresna dengan alasan menjaga wibawanya, Sangat di sayangkan.

Karena perbuatannya tersebut sang hyang Wenang menyabda usia Abimanyu tidak akan panjang dan perkawinannya dengan Siti sendari tidak akan memiliki keturunan. 

Pertanyaan nya berapa kira kira  usia Abimanyu saat meninggal ranjap di Tegal Kuru setra?



15 July 2026

Olga dari Kyiv diakui sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti dalam sejarah awal Kievan Rus. Kisah kelamnya bermula ketika sang suami, Pangeran Igor—putra dari Rurik sang pendiri dinasti—tewas mengenaskan. Igor ditangkap dan dibvnuh secara kejam oleh suku Drevlians pada tahun 945 M akibat perselisihan upeti. Tubuh Igor diik4t pada dua pohon yang dibengkokkan, dan saat tali dilepas, tvbuh sang pangeran terbel4h menjadi dua bagian. Situasi semakin memanas ketika suku Drevlians justru mengirim 20 utusan untuk melamarnya agar pemimpin mereka, Pangeran Mal, bisa merebut takhta Kievan Rus. Sambil memegang kendali takhta sebagai wali bagi putranya yang masih kecil, Sviatoslav I, Olga merancang serangkaian aksi balas dend4m ekstrem yang tercatat dalam kronik abad pertengahan (Kisah tahun-tahun lampau). Bukannya tunduk pada pemaksaan nikah tersebut, Olga melancarkan empat tahap pemb4ntaian psikologis yang sangat kej4m: 1. Dikvbur Hidup-hidup: Olga berpura-pura menyambut 20 utusan pertama dengan meminta mereka tetap berada di dalam perahu sebagai tanda kehormatan. Perahu tersebut kemudian diangkat dan langsung dilemp4rkan ke dalam lubang dalam yang sudah disiapkan, lalu mereka dikvbur hidup-hidup. 2. Dijebak di Rumah Pemandian: Olga meminta suku Drevlians mengirimkan orang-orang paling mulia dan bangsawan mereka ke Kiev. Setibanya di sana, mereka diminta membersihkan diri di rumah pemandian (banya : Rusia). Saat mereka di dalam, pintu dikunci rapat dan rumah pemandian itu dib4kar habis. 3. Pemb4ntaian Massal Saat Pesta:Olga pergi ke tanah Drevlians dengan alasan ingin menggelar pesta pemakaman tradisi Slavia (trizna) di atas makam suaminya. Ketika ribuan orang Drevlians mabuk berat akibat jamuan, pasukan Olga langsung memb4ntai mereka tanpa ampun. 4. Teror Burung Berapi:Puncaknya terjadi pada tahun 946 M saat mengepung kota Iskorosten. Olga meminta upeti damai yang tampak ringan: tiga ekor merpati dan tiga ekor burung pipit dari setiap rumah. Setelah burung diserahkan, pasukan Olga mengikatkan kain berbahan belerang yang menyala pada kaki burung-burung tersebut. Saat burung-burung itu terbang kembali ke sarangnya di atap jerami, seluruh kota langsung membvmihangus dalam sekejap. Meski beberapa taktik mengerikan ini diduga mendapat bumbu legenda seiring berjalannya waktu, dokumen sejarah dari Kekaisaran Bizantium membenarkan fakta kelam ini: Pangeran Igor memang dibunvh secara sadis, dan Ratu Olga benar-benar memimpin penump4san pemberontakan tersebut dengan tangan besi yang tak kenal ampun Kisah nyata Ratu Olga yang sangat ekstrem ini diakui menjadi salah satu inspirasi utama bagi George R.R. Martin dalam menulis saga Game of Thrones. Taktik Olga menjebak musuh di pesta pemakaman sangat mirip dengan tragedi berd4rah The Red Wedding. Selain itu, aksi ekstremnya memb4kar musuh di rumah pemandian dan membumihanguskan kota dengan burung berapi mencerminkan bagaimana Cersei Lannister dan Daenerys Targaryen menghancvrkan musuh-musuh mereka dengan api. Di balik sejarahnya yang penuh d4rah, tindakan keras ini merupakan langkah politik demi mengamankan takhta anaknya dari perebutan kekuasaan. Setelah menstabilkan kerajaan, Olga menjadi bangsawan pertama di Rus yang memeluk agama Kristen. Atas perannya menyebarkan iman Kristen, Ratu Olga dikanonisasi oleh Gereja Ortodoks sebagai orang suci (Santa Olga) dengan gelar tertinggi. #sejarah #ratuolga #santaolga #kievanrus #balasdend4m #gameofthrones #historyfacts

 Olga dari Kyiv diakui sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti dalam sejarah awal Kievan Rus. Kisah kelamnya bermula ketika sang suami, Pangeran Igor—putra dari Rurik sang pendiri dinasti—tewas mengenaskan. Igor ditangkap dan dibvnuh secara kejam oleh suku Drevlians pada tahun 945 M akibat perselisihan upeti.

 Tubuh Igor diik4t pada dua pohon yang dibengkokkan, dan saat tali dilepas, tvbuh sang pangeran terbel4h menjadi dua bagian.



Situasi semakin memanas ketika suku Drevlians justru mengirim 20 utusan untuk melamarnya agar pemimpin mereka, Pangeran Mal, bisa merebut takhta Kievan Rus. 

Sambil memegang kendali takhta sebagai wali bagi putranya yang masih kecil, Sviatoslav I, Olga merancang serangkaian aksi balas dend4m ekstrem yang tercatat dalam kronik abad pertengahan (Kisah tahun-tahun lampau).


Bukannya tunduk pada pemaksaan nikah tersebut, Olga melancarkan empat tahap pemb4ntaian psikologis yang sangat kej4m:


 1. Dikvbur Hidup-hidup: Olga berpura-pura menyambut 20 utusan pertama dengan meminta mereka tetap berada di dalam perahu sebagai tanda kehormatan. Perahu tersebut kemudian diangkat dan langsung dilemp4rkan ke dalam lubang dalam yang sudah disiapkan, lalu mereka dikvbur hidup-hidup.


 2. Dijebak di Rumah Pemandian: Olga meminta suku Drevlians mengirimkan orang-orang paling mulia dan bangsawan mereka ke Kiev. Setibanya di sana, mereka diminta membersihkan diri di rumah pemandian (banya : Rusia). Saat mereka di dalam, pintu dikunci rapat dan rumah pemandian itu dib4kar habis.


 3. Pemb4ntaian Massal Saat Pesta:Olga pergi ke tanah Drevlians dengan alasan ingin menggelar pesta pemakaman tradisi Slavia (trizna) di atas makam suaminya. Ketika ribuan orang Drevlians mabuk berat akibat jamuan, pasukan Olga langsung memb4ntai mereka tanpa ampun.


 4. Teror Burung Berapi:Puncaknya terjadi pada tahun 946 M saat mengepung kota Iskorosten. Olga meminta upeti damai yang tampak ringan: tiga ekor merpati dan tiga ekor burung pipit dari setiap rumah. Setelah burung diserahkan, pasukan Olga mengikatkan kain berbahan belerang yang menyala pada kaki burung-burung tersebut. Saat burung-burung itu terbang kembali ke sarangnya di atap jerami, seluruh kota langsung membvmihangus dalam sekejap.


Meski beberapa taktik mengerikan ini diduga mendapat bumbu legenda seiring berjalannya waktu, dokumen sejarah dari Kekaisaran Bizantium membenarkan fakta kelam ini: Pangeran Igor memang dibunvh secara sadis, dan Ratu Olga benar-benar memimpin penump4san pemberontakan tersebut dengan tangan besi yang tak kenal ampun


Kisah nyata Ratu Olga yang sangat ekstrem ini diakui menjadi salah satu inspirasi utama bagi George R.R. Martin dalam menulis saga Game of Thrones. Taktik Olga menjebak musuh di pesta pemakaman sangat mirip dengan tragedi berd4rah The Red Wedding. 

Selain itu, aksi ekstremnya memb4kar musuh di rumah pemandian dan membumihanguskan kota dengan burung berapi mencerminkan bagaimana Cersei Lannister dan Daenerys Targaryen menghancvrkan musuh-musuh mereka dengan api.


Di balik sejarahnya yang penuh d4rah, tindakan keras ini merupakan langkah politik demi mengamankan takhta anaknya dari perebutan kekuasaan. Setelah menstabilkan kerajaan, Olga menjadi bangsawan pertama di Rus yang memeluk agama Kristen. Atas perannya menyebarkan iman Kristen, Ratu Olga dikanonisasi oleh Gereja Ortodoks sebagai orang suci (Santa Olga) dengan gelar tertinggi. 


#sejarah #ratuolga #santaolga #kievanrus #balasdend4m #gameofthrones  #historyfacts

14 July 2026

PETA NEGARA TJIANDJOER: GAMBARAN AWAL TATA KOTA CIANJUR PADA MASA HINDIA BELANDA Gambar ini merupakan peta kuno "Plan der Negorij Tjiandjoer", yang berarti "Rencana atau Denah Negeri Cianjur". Peta ini dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari dokumentasi administrasi wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di dalamnya terlihat tata letak pusat pemerintahan, jalan-jalan utama, sungai, permukiman, serta bangunan-bangunan penting yang menjadi pusat aktivitas masyarakat dan pemerintahan pada masa itu. Peta seperti ini digunakan oleh pemerintah kolonial untuk keperluan administrasi, perpajakan, pembangunan infrastruktur, hingga pengawasan wilayah. Beberapa keterangan pada legenda peta masih menggunakan bahasa Belanda, antara lain: Plan der Negorij Tjiandjoer = Denah atau Rencana Negeri Cianjur. Residentiehuis = Rumah Residen (kediaman pejabat Residen Belanda). Regentswoning = Rumah Bupati. Woning van den Regent = Kediaman Bupati. Tjimanoek/Tji… = Nama sungai atau aliran air di sekitar wilayah tersebut. Moskee = Masjid. Pendopo = Balai atau pendopo pemerintahan Bupati. Alun-alun = Lapangan utama pusat kota. Keterangan tulisan tangan di bagian bawah menjelaskan bahwa peta tersebut disusun berdasarkan pengukuran lapangan dan menunjukkan posisi bangunan pemerintahan serta batas-batas wilayah Cianjur pada saat itu. Karena menggunakan ejaan lama Belanda dan tulisan tangan abad ke-19, sebagian kalimat sulit dibaca secara utuh. Namun secara keseluruhan, dokumen ini merupakan arsip penting yang memperlihatkan bagaimana pusat Kota Cianjur dirancang dan dikelola pada masa kolonial. Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Koleksi Peta Hindia Belanda, Plan der Negorij Tjiandjoer. ( FB Sejarah Cirebon)

 PETA NEGARA TJIANDJOER: GAMBARAN AWAL TATA KOTA CIANJUR PADA MASA HINDIA BELANDA



Gambar ini merupakan peta kuno "Plan der Negorij Tjiandjoer", yang berarti "Rencana atau Denah Negeri Cianjur". Peta ini dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari dokumentasi administrasi wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di dalamnya terlihat tata letak pusat pemerintahan, jalan-jalan utama, sungai, permukiman, serta bangunan-bangunan penting yang menjadi pusat aktivitas masyarakat dan pemerintahan pada masa itu. Peta seperti ini digunakan oleh pemerintah kolonial untuk keperluan administrasi, perpajakan, pembangunan infrastruktur, hingga pengawasan wilayah.


Beberapa keterangan pada legenda peta masih menggunakan bahasa Belanda, antara lain:


Plan der Negorij Tjiandjoer = Denah atau Rencana Negeri Cianjur.


Residentiehuis = Rumah Residen (kediaman pejabat Residen Belanda).


Regentswoning = Rumah Bupati.


Woning van den Regent = Kediaman Bupati.


Tjimanoek/Tji… = Nama sungai atau aliran air di sekitar wilayah tersebut.


Moskee = Masjid.


Pendopo = Balai atau pendopo pemerintahan Bupati.


Alun-alun = Lapangan utama pusat kota.


Keterangan tulisan tangan di bagian bawah menjelaskan bahwa peta tersebut disusun berdasarkan pengukuran lapangan dan menunjukkan posisi bangunan pemerintahan serta batas-batas wilayah Cianjur pada saat itu. Karena menggunakan ejaan lama Belanda dan tulisan tangan abad ke-19, sebagian kalimat sulit dibaca secara utuh. Namun secara keseluruhan, dokumen ini merupakan arsip penting yang memperlihatkan bagaimana pusat Kota Cianjur dirancang dan dikelola pada masa kolonial.


Sumber: 

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Koleksi Peta Hindia Belanda, Plan der Negorij Tjiandjoer.

( FB Sejarah Cirebon)

INDONESIA - 11 Maret 1966: Presiden Sukarno (kanan) berjalan bersama Mayor Jenderal Soeharto (kiri) pada 11 Maret 1966 di Indonesia. Sukarno didesak (diperintahkan) oleh Angkatan Darat Indonesia untuk memberikan wewenang tertinggi kepada Mayor Jenderal Soeharto guna memulihkan ketertiban setelah peristiwa pembunuhan enam jenderal, ajudan, dan putri seorang petinggi Angkatan Darat pada 30 September 1965—peristiwa yang menurut tuduhan Angkatan Darat didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Jenderal Soeharto, yang pangkatnya tidak cukup tinggi untuk masuk dalam daftar target pembunuhan tersebut, kemudian mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat. Antara bulan Oktober 1965 dan Maret 1966, di bawah komando Soeharto, ribuan orang yang diduga maupun yang terbukti sebagai komunis dibunuh dan dipenjarakan di seluruh Indonesia. Pada bulan Maret 1966, parlemen Indonesia (Majelis Permusyawaratan Rakyat) mencabut seluruh kekuasaan Presiden Sukarno dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Sukarno kemudian dikenai tahanan rumah hingga wafat pada bulan Juni 1970. #sejarah #tempodulu #suharto #soekarno #sukarno #orla #orba #restorasipoto #mazdarwan

 INDONESIA - 11 Maret 1966: Presiden Sukarno (kanan) berjalan bersama Mayor Jenderal Soeharto (kiri) pada 11 Maret 1966 di Indonesia. Sukarno didesak (diperintahkan) oleh Angkatan Darat Indonesia untuk memberikan wewenang tertinggi kepada Mayor Jenderal Soeharto guna memulihkan ketertiban setelah peristiwa pembunuhan enam jenderal, ajudan, dan putri seorang petinggi Angkatan Darat pada 30 September 1965—peristiwa yang menurut tuduhan Angkatan Darat didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). 



Jenderal Soeharto, yang pangkatnya tidak cukup tinggi untuk masuk dalam daftar target pembunuhan tersebut, kemudian mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat. Antara bulan Oktober 1965 dan Maret 1966, di bawah komando Soeharto, ribuan orang yang diduga maupun yang terbukti sebagai komunis dibunuh dan dipenjarakan di seluruh Indonesia. Pada bulan Maret 1966, parlemen Indonesia (Majelis Permusyawaratan Rakyat) mencabut seluruh kekuasaan Presiden Sukarno dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Sukarno kemudian dikenai tahanan rumah hingga wafat pada bulan Juni 1970.


#sejarah #tempodulu #suharto #soekarno #sukarno #orla #orba #restorasipoto #mazdarwan

Sumber : Sudarwanto

TELADAN KEPEMIMPINAN Kisah Syafruddin Prawiranegara: Menteri yang Hidup Sederhana, Istrinya Berjualan Sukun Goreng Demi Keluarga Di balik perjuangan mempertahankan Republik Indonesia, ada sosok yang jasanya begitu besar, tetapi kisah hidupnya jarang diceritakan. Dialah Mr. Syafruddin Prawiranegara. Beliau pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menteri, hingga memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 207 hari. Amanah itu diberikan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ketika Belanda menyerbu Yogyakarta pada tahun 1948. Berkat PDRI, eksistensi Republik Indonesia tetap terjaga di mata dunia. Namun, di balik jabatan-jabatan besar tersebut, kehidupan pribadi Syafruddin jauh dari kemewahan. Ada sebuah kisah yang begitu menyentuh. Suatu hari, istrinya, Tengku Halimah atau yang akrab disapa Lily, berkata kepada putri sulung mereka, "Ayahmu mengurus uang negara, tetapi tidak memiliki uang untuk membeli sepotong kain gurita bagi adikmu yang baru lahir." Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Itulah kenyataan yang mereka jalani. Meski mengelola keuangan negara, Syafruddin tidak pernah tergoda menggunakan uang negara, bahkan untuk memenuhi kebutuhan bayinya sendiri. Baginya, amanah adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimanfaatkan demi kepentingan pribadi. Pengorbanan keluarga itu tidak berhenti sampai di sana. Ketika Syafruddin bertugas di Sumatra memimpin PDRI demi menyelamatkan republik, sang istri harus berjuang seorang diri membesarkan empat anak mereka. Demi mencukupi kebutuhan keluarga dan membeli susu untuk anak-anaknya, Lily memilih berjualan sukun goreng. Suatu hari, anak sulungnya bertanya, "Mengapa kita tidak meminta bantuan kepada Bung Karno atau Bung Hatta?" Lily menjawab dengan tenang, "Ayahmu selalu berpesan agar kita tidak bergantung kepada orang lain. Jangan berutang jika tidak benar-benar terpaksa." Anaknya kembali bertanya, "Apa Ibu tidak malu berjualan? Bukankah Ayah seorang pejabat besar?" Lily pun memberikan jawaban yang menjadi pelajaran hidup bagi anak-anaknya. "Yang membuat kita malu bukanlah bekerja keras. Yang harus membuat kita malu adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita, apalagi uang negara. Mungkin manusia tidak tahu, tetapi Allah Maha Mengetahui." Bertahun-tahun kemudian, Farid Prawiranegara, putra bungsunya, mengenang perjuangan sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia membenarkan bahwa ibunya benar-benar berjualan sukun goreng tanpa pernah mengeluh, sementara ayahnya mengabdikan diri untuk mempertahankan negara. Kisah keluarga Syafruddin Prawiranegara mengajarkan bahwa menjadi pejabat bukanlah jalan menuju kemewahan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Beliau membuktikan bahwa kehormatan seorang pemimpin bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kejujuran, integritas, dan kesediaannya berkorban demi bangsa. Mereka mungkin tidak mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya. Namun, mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: nama baik, kejujuran, keteladanan, dan cinta yang tulus kepada Indonesia. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang cerdas, tetapi juga oleh pemimpin yang jujur dan berintegritas. Bagaimana menurutmu? Masih adakah pemimpin dengan keteladanan seperti Syafruddin Prawiranegara di Indonesia saat ini...?

 TELADAN KEPEMIMPINAN


Kisah Syafruddin Prawiranegara: Menteri yang Hidup Sederhana, Istrinya Berjualan Sukun Goreng Demi Keluarga



Di balik perjuangan mempertahankan Republik Indonesia, ada sosok yang jasanya begitu besar, tetapi kisah hidupnya jarang diceritakan. Dialah Mr. Syafruddin Prawiranegara.


Beliau pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menteri, hingga memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 207 hari. Amanah itu diberikan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ketika Belanda menyerbu Yogyakarta pada tahun 1948. Berkat PDRI, eksistensi Republik Indonesia tetap terjaga di mata dunia.


Namun, di balik jabatan-jabatan besar tersebut, kehidupan pribadi Syafruddin jauh dari kemewahan.


Ada sebuah kisah yang begitu menyentuh. Suatu hari, istrinya, Tengku Halimah atau yang akrab disapa Lily, berkata kepada putri sulung mereka,


"Ayahmu mengurus uang negara, tetapi tidak memiliki uang untuk membeli sepotong kain gurita bagi adikmu yang baru lahir."


Kalimat itu bukan sekadar ungkapan.


Itulah kenyataan yang mereka jalani.


Meski mengelola keuangan negara, Syafruddin tidak pernah tergoda menggunakan uang negara, bahkan untuk memenuhi kebutuhan bayinya sendiri. Baginya, amanah adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimanfaatkan demi kepentingan pribadi.


Pengorbanan keluarga itu tidak berhenti sampai di sana.


Ketika Syafruddin bertugas di Sumatra memimpin PDRI demi menyelamatkan republik, sang istri harus berjuang seorang diri membesarkan empat anak mereka. Demi mencukupi kebutuhan keluarga dan membeli susu untuk anak-anaknya, Lily memilih berjualan sukun goreng.


Suatu hari, anak sulungnya bertanya,


"Mengapa kita tidak meminta bantuan kepada Bung Karno atau Bung Hatta?"


Lily menjawab dengan tenang,


"Ayahmu selalu berpesan agar kita tidak bergantung kepada orang lain. Jangan berutang jika tidak benar-benar terpaksa."


Anaknya kembali bertanya,


"Apa Ibu tidak malu berjualan? Bukankah Ayah seorang pejabat besar?"


Lily pun memberikan jawaban yang menjadi pelajaran hidup bagi anak-anaknya.


"Yang membuat kita malu bukanlah bekerja keras. Yang harus membuat kita malu adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita, apalagi uang negara. Mungkin manusia tidak tahu, tetapi Allah Maha Mengetahui."


Bertahun-tahun kemudian, Farid Prawiranegara, putra bungsunya, mengenang perjuangan sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia membenarkan bahwa ibunya benar-benar berjualan sukun goreng tanpa pernah mengeluh, sementara ayahnya mengabdikan diri untuk mempertahankan negara.


Kisah keluarga Syafruddin Prawiranegara mengajarkan bahwa menjadi pejabat bukanlah jalan menuju kemewahan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Beliau membuktikan bahwa kehormatan seorang pemimpin bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kejujuran, integritas, dan kesediaannya berkorban demi bangsa.


Mereka mungkin tidak mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya.


Namun, mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: nama baik, kejujuran, keteladanan, dan cinta yang tulus kepada Indonesia.


Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang cerdas, tetapi juga oleh pemimpin yang jujur dan berintegritas.


Bagaimana menurutmu? Masih adakah pemimpin dengan keteladanan seperti Syafruddin Prawiranegara di Indonesia saat ini...?


Sumber : Dony Mgl

10 July 2026

Magelang tak habis habisnya untuk di ceritakan, Begraafplaats, Magelang, 1910 Gerbang Kerkhof, Jl Jend Sudirman x jalan ikhlas kota magelang. Gerbang Kerkhof Magelang dibangun pada tahun 1906 sebagai pintu masuk pemakaman Eropa Belanda (De Europese Begraafplaats te Magelang) di era kolonial. Gerbang ini memiliki arsitektur gaya Roman dengan pilar Tuscan dan tulisan Latin "Memento Mori" di bagian atapnya (sekarang sudah hilang). Seiring waktu, area pemakaman yang luas itu dialihfungsikan menjadi pertokoan dan jalan raya , sehingga hanya gerbang ini dan beberapa makam seperti kompleks makam Pa van der Steur yang tersisa. #kotamagelang #magelang #literasi #infomenarik #sejarah

 Magelang tak habis habisnya untuk di ceritakan, Begraafplaats, Magelang, 1910 Gerbang Kerkhof, Jl Jend Sudirman x jalan ikhlas kota magelang. 



Gerbang Kerkhof Magelang dibangun pada tahun 1906 sebagai pintu masuk pemakaman Eropa Belanda (De Europese Begraafplaats te Magelang) di era kolonial. Gerbang ini memiliki arsitektur gaya Roman dengan pilar Tuscan dan tulisan Latin "Memento Mori" di bagian atapnya (sekarang sudah hilang). Seiring waktu, area pemakaman yang luas itu dialihfungsikan menjadi pertokoan dan jalan raya , sehingga hanya gerbang ini dan beberapa makam seperti kompleks makam Pa van der Steur yang tersisa. 

Sumber : Wukir Mahendra

#kotamagelang #magelang #literasi #infomenarik #sejarah