Sekelumit Kondisi Magelang Di Era Jepang 1942 - 1945
Oleh : Orchid Breeder
Malam ini saat di Magelang saya berusaha diskusi dengan mertua Bapak Soedarto, saya tentang kondisi Magelang di zaman Jepang sekitar tahun 1942 - 1945.
Pada saat awal Jepang masuk menurut cerita mertua saya yang kini berusia sekitar 87 tahun warga di tempat tinggal mertua saya di kampung Tulung sempat mengungsi ke daerah Kalegen Bandongan, tepatnya di dusun Dileman. Hanya saja pengungsiannya tidak begitu lama dan kemudian balik lagi ke daerahnya masing-masing.
Pada zaman Jepang ini kondisi kampung Tulung masih sepi dan sedikit jumlah rumahnya. Jalan kebanyakan masih berupa jalan tanah. Jalan aspal dan listrik hanya sampai di depannya rumahnya Bapak L Suhadi (Bapak Hadi Londo). Dan menurut kisah mertua saya tentara Jepang jarang sekali masuk sampai bagian dalam kampung Tulung.
Pada era kolonial Jepang hal yang umum dijumpai adalah banyak masyarakat yang pakaiannya menggunakan bahan dari karung goni. Bahan karung goni ini digunakan untuk pembuatan celana untuk pria dan tapian/jarik untuk wanita. Karung goni itu ada 2 macam yaitu :
1. karung goni untuk karung beras, yang seratnya lemas dan biasanya berwarna coklat.
2. karung goni untuk karung garam yang seratnya kasar dan biasanya berwarna putih mangkak.
Nah yang biasanya digunakan untuk membuat celana ataupun tapian adalah yang karung goni beras karena seratnya lemas.
Karena pakaian yang digunakan dari bahan karung goni maka menurut mertua saya, banyak kemudian orang yang terserang "Tumo Katok". Berbeda dengan tumo yang ada di rambut, tumo katok ini warnanya putih. Selain tumo katok orang di zaman Jepang juga rambutnya banyak terserang oleh tumo di rambutnya. Dan hampir semua orang saat itu terkena tumo di rambutnya. Sehingga banyak orang yang kepalanya mengalami " Boroken".
Dan saat itu keberadaan beras sangat jarang demikian juga keberadaan garam sangat jarang bisa didapatkan. Di zaman ini karena beras sangat sulit didapatkan karena beras beras banyak diangkut oleh Jepang dikirim ke garis depan pertempuran. Untuk itu masyarakat waktu itu oleh Jepang disuruh menanam jagung dan iles iles untuk kebutuhan pangan masyarakat. Orang banyak mengkonsumsi jagung baik yang jagungnya dibuat nasi jagung ataupun langsung direbus untuk dimakan. Sedangkan iles iles umbinya direbus lalu dimakan sebagai pengganti nasi. Selain jagung dan iles iles masyarakat juga menanam umbi jalar, umbi batang. Baik umbi jalar ataupun umbi batang selain diambil umbinya untuk dimakan sebagai pengganti nasi juga diambil daunnya untuk bahan sayuran.
Untuk bahan sayuran selain daun umbi jalar dan umbi batang juga masyarakat banyak yang menggunakan daun genjer, daun talas, daun bayung, daun krokot, daun jipang untuk bahan sayur. Dan diantara itu yang paling enak katanya daun umbi jalar yang direbus lalu dimakan dengan sambal lotis. Untuk pohon nangka kata mertua saya jarang ada buahnya yang tumbuh jadi buah nangka masak karena saat masih babal saja sudah pada diambil untuk diolah jadi sayur. Bonggol pisang juga diolah untuk bahan sayur demikian dengan jantung pisang yang direbus kemudian diiris iris kemudian dicampur dengan bumbu kluban untuk dimakan. Bahkan saat itu daun jambu kluthuk pun juga dimakan.
Selain disuruh menanam jagung dan iles iles masyarakat juga diminta untuk menanam pohon jarak pagar untuk diambil bijinya. Setiap rumah minimal menanam 1 batang pohon jarak pagar. Seperti kita ketahui biji jarak pagar itu mengandung minyak yang mana jika diolah akan menjadi minyak pelumnas yang bisa digunakan untuk minyak pelumnas pesawat terbang.
Kemudian masih di era Jepang ini, selain setiap rumah menanam pohon jarak pohon juga di bagian depan halaman rumah depannya dibuat lubang di tanah yang biasa disebut "Lograk" untuk perlindungan, jadi Lograk ini fungsinya seperti halnya bunker. Masih di zaman Jepang jika ada pesawat lewat lalu ada suara sirine dan orang orang disuruh untuk berlindung masuk ke dalam Lograk tersebut. Kadang untuk yang mampu bagian atas Lograk diberi anyaman kepang untuk penutup. Selama bersembunyi di dalam Lograk kuping biasanya ditutup dengan kapas / kapuk dan mulutnya menggigit karet.
Kebetulan orang tua mertua saya adalah pegawai Balai Kota Magelang sejak zaman Hindia-Belanda yang bernama Bapak Saman, dan ketika era Jepang beliau tetap bekerja di Balai Kota Magelang hingga Jepang keluar dari Indonesia lanjut era Kemerdekaan. Untuk Bu Saman tetap berjualan bubur di depan halaman rumah.
Demikian juga dengan sekolah juga berjalan normal seperti biasanya. Kedua kakak dari mertua saya yaitu yang bernama Larso dan Kamto di zaman Jepang ini bersekolah di Sekolah Rakyat yang ada di Balai Pelajar dan di daerah Plengkung. Sekolah Rakyat yang di Plengkung itu untuk yang kelas 1, 2 dan 3 sementara Sekolah Rakyat yang di Balai Pelajar itu untuk yang kelas 4, 5 dan 6.
Tiap pagi diadakan upacara bendera pengibaran bendera Jepang yang diiringi dengan lagu kebangsaan Jepang yaitu "Kimigayo" dan juga disuruh hormat dengan cara membungkuk. Selain itu juga sebelum masuk kelas siswa sekolah disuruh senam "Taiso". Kemudian setelah jam pelajaran, sekitar jam 15 atau 16 an sore di lapangan Dukuh diadakan latihan bela diri Kendo dan Gulat/ Yudo.
Untuk warga kampung Tulung yang ikut jadi PETA (Pembela Tanah Air) yang mertua saya masih ingat adalah yang bernama Pak Ratmin.
Kemudian di tahun 1945 sekitar 28 Oktober 1945 dengan adanya peristiwa penyerbuan tentara Kido Butai ke kampung Tulung. Pasukan Jepang masuk kampung Tulung lewat utara melewati daerah makam Nglarangan dan setelah masuk kampung Tulung melakukan sweeping rumah rumah sekitar Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum oleh BKR/TKR. Rumah Bapak Saman berada di timur utaranya Kantor Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum, keluarga Pak Saman posisinya terjebak dalam peristiwa tersebut dan bersembunyi di dalam kamar rumah. Ibu Saman dan anak anaknya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur sementara Pak Saman berjaga di depan pintu di dalam kamar, untungnya ada gedek pyan yang jatuh menutupi bagian pintu kamar rumah. Saat tentara Jepang mendobrak pintu depan dan masuk tentara Jepang tidak melihat pintu kamar yang tertutup oleh gedeg dari pyan yang jatuh meskipun tentara Jepang sempat menusukkan bayonet yang ada di ujung laras senapan ke gedek tetapi akhirnya mereka mengira rumah kosong sehingga keluar rumah lagi. Menurut mertua saya beliau sempat mendengar suara orang menjerit dan minta ampun. Kebanyakan yang menjerit adalah para wanita, akan tetapi kemudian semuanya berhenti dan jadi sunyi kembali. Adapun suara tembakan terdengar riuh sekali. Setelah kondisi aman keluarga Pak Saman keluar rumah dan mulai mengungsi berjalan melewati belakang Dapur umum yang barusan diserang oleh tentara Kido Butai Jepang, kata mertua saya banyak korban bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan. Keluarga Pak Saman berjalan ke arah daerah Tulung Wot lalu menuju daerah Sangu Banyu Bandongan untuk mengungsi.
Selama zaman pendudukan Jepang ini, jenis-jenis hewan yang menyerang orang adalah:
1. Tumo katok
2. Tumo rambut yang menyebabkan borok di kepala
3. Kutu busuk di amben, kasur, kursi
4. Bekicot
Sedangkan penyakit-pemyakit yang menyerang manusia adalah:
1. Beri-beri karena kekurangan vitamin B
2. Gudik dan koreng
3. Disentri
Betapa sangat susah dan sengsaranya rakyat Indonesia waktu zaman pendudukan Jepang tahun 1942 - 1945.
Untuk warga kampung Tulung yang usianya kurang lebih 90 tahun dan tentunya mengalami masa Jepang dan kini masih ada selain mertua saya, yaitu:
1. Ibu Sukamtini (Jl Kusumabangsa I ujung timur sendiri).
2. Mbok Brintik (Jl Kusumabangsa I, belakangnya rumah Pak Kartono).
Mungkin beliau beliau ini bisa jadi narasumber primer.







