03 February 2026

Ini adalah potret asli pemakaman Jendral Soedirman, terlihat didalam petinya berbalut bendera merah putih dan rangkaian bunga. Jenderal Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 pukul 18.30 di Magelang akibat penyakit TBC. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki, Yogyakarta pada 30 Januari 1950. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan orang yang mengiringi jenazah dari Magelang ke Yogyakarta dengan iringan mobil dan tank. Sumber : SJ

 Ini adalah potret asli pemakaman Jendral Soedirman, terlihat didalam petinya berbalut bendera merah putih dan rangkaian bunga. 



Jenderal Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 pukul 18.30 di Magelang akibat penyakit TBC. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki, Yogyakarta pada 30 Januari 1950. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan orang yang mengiringi jenazah dari Magelang ke Yogyakarta dengan iringan mobil dan tank.


Sumber : SJ

Banyak yang memuja para petinggi Wangsa Mataram di abad ke-18 sebagai sosok adi luhung yang tak tertandingi. Namun, tinta sejarah di tahun 1755 mencatat realita yang berbeda. Di bawah temaram lampu meja perundingan Belanda, dua kutub kekuasaan di jantung Jawa tersebut sebenarnya hanya sedang memperebutkan 'potongan kue' sisa-sisa kedaulatan yang disodorkan oleh kongsi dagang asing. * Bukan Perang Suci, Tapi Rebutan Kursi: Giyanti adalah puncak dari kegagalan elit Jawa untuk bersatu. VOC (bangsa asing) bertindak sebagai wasit sekaligus bandar. Hasilnya? Mataram pecah jadi dua: Surakarta dan Yogyakarta. Bangga dengan perpecahan? Itu adalah awal dari strategi Devide et Impera yang sukses total karena elit kita lebih haus jabatan daripada kedaulatan. * Raja yang 'Diangkat' Kompeni: Dalam naskah Giyanti, secara implisit dan eksplisit, kekuasaan raja-raja tersebut harus mendapatkan legitimasi atau 'restu' dari Gubernur Jenderal VOC. Artinya, secara de facto, penguasa Jawa saat itu adalah pegawai VOC yang diberi gelar Raja. * Takhayul vs Tanda Tangan: Di saat rakyat masih sibuk percaya ramalan dan jimat, Nicolaas Hartingh (wakil VOC) cukup membawa selembar kertas dan pena untuk membelah tanah Jawa menjadi dua. Ini bukti bahwa birokrasi dan nalar politik jauh lebih mematikan daripada keris sakti manapun. * Matinya Kedaulatan Ekonomi: Lewat perjanjian ini dan lanjutannya, VOC mendapatkan hak istimewa di pesisir utara Jawa. Raja-raja kita 'nyaman' di dalam istana yang megah di pedalaman, sementara urat nadi ekonomi (pelabuhan) diserahkan ke asing. Itulah definisi sebenarnya dari Kandang Kebodohan yang Mewah. Dekonstruksi Narasi: Perjanjian Giyanti bukan simbol kejayaan, tapi simbol ketidakberdayaan. Kita merayakan pecahnya kerajaan kita sendiri sebagai 'warisan budaya', padahal itu adalah monumen kekalahan nalar diplomasi kita di hadapan kapitalisme global. ​#NusantaraExcited ​#PerjanjianGiyanti #Giyanti1755 ​#SejarahMataram ​#Ngayogyakarta #Surakarta ​#SejarahJawa ​#DevideEtImpera #Kolonialisme

 Banyak yang memuja para petinggi Wangsa Mataram di abad ke-18 sebagai sosok adi luhung yang tak tertandingi. Namun, tinta sejarah di tahun 1755 mencatat realita yang berbeda. Di bawah temaram lampu meja perundingan Belanda, dua kutub kekuasaan di jantung Jawa tersebut sebenarnya hanya sedang memperebutkan 'potongan kue' sisa-sisa kedaulatan yang disodorkan oleh kongsi dagang asing.



 * Bukan Perang Suci, Tapi Rebutan Kursi: Giyanti adalah puncak dari kegagalan elit Jawa untuk bersatu. VOC (bangsa asing) bertindak sebagai wasit sekaligus bandar. Hasilnya? Mataram pecah jadi dua: Surakarta dan Yogyakarta. Bangga dengan perpecahan? Itu adalah awal dari strategi Devide et Impera yang sukses total karena elit kita lebih haus jabatan daripada kedaulatan.


 * Raja yang 'Diangkat' Kompeni: Dalam naskah Giyanti, secara implisit dan eksplisit, kekuasaan raja-raja tersebut harus mendapatkan legitimasi atau 'restu' dari Gubernur Jenderal VOC. Artinya, secara de facto, penguasa Jawa saat itu adalah pegawai VOC yang diberi gelar Raja.


 * Takhayul vs Tanda Tangan: Di saat rakyat masih sibuk percaya ramalan dan jimat, Nicolaas Hartingh (wakil VOC) cukup membawa selembar kertas dan pena untuk membelah tanah Jawa menjadi dua. Ini bukti bahwa birokrasi dan nalar politik jauh lebih mematikan daripada keris sakti manapun.


 * Matinya Kedaulatan Ekonomi: Lewat perjanjian ini dan lanjutannya, VOC mendapatkan hak istimewa di pesisir utara Jawa. Raja-raja kita 'nyaman' di dalam istana yang megah di pedalaman, sementara urat nadi ekonomi (pelabuhan) diserahkan ke asing. Itulah definisi sebenarnya dari Kandang Kebodohan yang Mewah.


Dekonstruksi Narasi: Perjanjian Giyanti bukan simbol kejayaan, tapi simbol ketidakberdayaan. Kita merayakan pecahnya kerajaan kita sendiri sebagai 'warisan budaya', padahal itu adalah monumen kekalahan nalar diplomasi kita di hadapan kapitalisme global.


​#NusantaraExcited ​#PerjanjianGiyanti #Giyanti1755 ​#SejarahMataram ​#Ngayogyakarta #Surakarta ​#SejarahJawa ​#DevideEtImpera #Kolonialisme

28 January 2026

TERNYATA JENDERAL SOEDIRMAN MENOLAK PERINTAH PRESIDEN‼️ " Saat Kesetiaan pada Bangsa Lebih Tinggi dari Keselamatan Diri " Yogyakarta runtuh. Pagi buta 19 Desember 1948, langit Ibu Kota Republik Indonesia diguncang dentuman bom Belanda. Agresi Militer Belanda II bukan sekadar serangan fisik, ia adalah upaya mematahkan nyawa Republik yang masih rapuh. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap. Pemerintahan sipil dilumpuhkan. Dunia seakan menyaksikan Republik Indonesia di ambang ajal. Namun sejarah belum selesai ditulis. Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang Panglima Besar bernama Jenderal Soedirman. Tiga bulan lamanya ia terbaring lemah, paru-parunya digerogoti penyakit. Tubuhnya ringkih, napasnya tersengal. Tetapi jiwanya tegak seperti Merapi yang menolak runtuh. PERTARUNGAN KEHENDAK DI ISTANA Pagi itu, Jenderal Soedirman mendatangi Istana Yogyakarta. Ia datang bukan sebagai orang sakit yang mencari perlindungan, melainkan sebagai panglima yang menolak menyerah. Didampingi Kapten T.B. Simatupang dan dokter pribadinya, Soewondo, ia memasuki sidang kabinet dalam suasana tegang dan genting. Presiden Soekarno, dengan kepedulian seorang pemimpin dan sahabat, memintanya mundur. “Mas Dirman, Saudara sedang sakit. Pulanglah, beristirahatlah,” ujar Bung Karno. Namun Jenderal Soedirman bergeming. Baginya, beristirahat sementara rakyat dibombardir adalah pengkhianatan nurani. Baginya, meninggalkan kota sebelum bom pertama jatuh sama artinya dengan lari dari tanggung jawab sejarah. Ia menolak bersembunyi di balik tembok istana ketika pasukannya dan rakyatnya berdiri telanjang menghadapi moncong senjata penjajah. Baru setelah bom Belanda menghujani Yogyakarta, dan demi alasan kemanusiaan, dokter Soewondo membujuknya untuk meninggalkan istana. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk berperang dengan caranya sendiri. PERINTAH KILAT DARI MANGKUBUMEN: Republik Masih Bernapas Siang harinya, ketika kabar pendudukan Yogyakarta menyebar, Jenderal Soedirman mengirimkan pesan kilat yang kelak menjadi suluh perlawanan TNI: “Perjuangan belum selesai. Tetap bertempur.” Kalimat singkat itu adalah denyut jantung Republik. Di kediamannya di Mangkubumen, seluruh dokumen penting dibakar, agar tidak jatuh ke tangan musuh. Dengan tubuh yang dibalut mantel hitam, ditandu oleh prajurit-prajurit setia, Panglima Besar meninggalkan kota. Langkah itu menandai dimulainya Perang Gerilya Semesta, sebuah strategi yang membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tidak dapat ditangkap, tidak dapat dipenjara, dan tidak dapat dibunuh. Perlawanan bersenjata pun menjadi pilihan terakhir dan paling jujur: menjaga kedaulatan dengan darah dan pengorbanan, ketika diplomasi tak lagi didengar. Sebagaimana dicatat oleh T.B. Simatupang, pada momen itu: “Kata telah diserahkan kepada kekerasan senjata yang dilambangkan oleh Pak Dirman.” Jenderal Soedirman mengajarkan satu hal yang tak lekang oleh waktu, bahwa cinta tanah air bukan slogan, melainkan kesediaan untuk menderita demi bangsa. Ia menolak perintah bukan karena pembangkangan, melainkan karena kesetiaan yang lebih tinggi kepada Republik, kepada rakyat, dan kepada sejarah Indonesia yang belum boleh tamat. Sumber : Rapakat #JenderalSoedirman #PanglimaBesar #AgresiMiliterBelandaII #PerangGerilya #SejarahIndonesia #Yogyakarta1948 #PahlawanBangsa

 

TERNYATA JENDERAL SOEDIRMAN MENOLAK PERINTAH PRESIDEN‼️

" Saat Kesetiaan pada Bangsa Lebih Tinggi dari Keselamatan Diri "



Yogyakarta runtuh.
Pagi buta 19 Desember 1948, langit Ibu Kota Republik Indonesia diguncang dentuman bom Belanda. Agresi Militer Belanda II bukan sekadar serangan fisik, ia adalah upaya mematahkan nyawa Republik yang masih rapuh. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap. Pemerintahan sipil dilumpuhkan. Dunia seakan menyaksikan Republik Indonesia di ambang ajal.

Namun sejarah belum selesai ditulis.
Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang Panglima Besar bernama Jenderal Soedirman. Tiga bulan lamanya ia terbaring lemah, paru-parunya digerogoti penyakit. Tubuhnya ringkih, napasnya tersengal. Tetapi jiwanya tegak seperti Merapi yang menolak runtuh.

PERTARUNGAN KEHENDAK DI ISTANA
Pagi itu, Jenderal Soedirman mendatangi Istana Yogyakarta. Ia datang bukan sebagai orang sakit yang mencari perlindungan, melainkan sebagai panglima yang menolak menyerah. Didampingi Kapten T.B. Simatupang dan dokter pribadinya, Soewondo, ia memasuki sidang kabinet dalam suasana tegang dan genting.

Presiden Soekarno, dengan kepedulian seorang pemimpin dan sahabat, memintanya mundur.
“Mas Dirman, Saudara sedang sakit. Pulanglah, beristirahatlah,” ujar Bung Karno.

Namun Jenderal Soedirman bergeming.
Baginya, beristirahat sementara rakyat dibombardir adalah pengkhianatan nurani. Baginya, meninggalkan kota sebelum bom pertama jatuh sama artinya dengan lari dari tanggung jawab sejarah. Ia menolak bersembunyi di balik tembok istana ketika pasukannya dan rakyatnya berdiri telanjang menghadapi moncong senjata penjajah.
Baru setelah bom Belanda menghujani Yogyakarta, dan demi alasan kemanusiaan, dokter Soewondo membujuknya untuk meninggalkan istana. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk berperang dengan caranya sendiri.

PERINTAH KILAT DARI MANGKUBUMEN: Republik Masih Bernapas
Siang harinya, ketika kabar pendudukan Yogyakarta menyebar, Jenderal Soedirman mengirimkan pesan kilat yang kelak menjadi suluh perlawanan TNI:

“Perjuangan belum selesai. Tetap bertempur.”

Kalimat singkat itu adalah denyut jantung Republik.

Di kediamannya di Mangkubumen, seluruh dokumen penting dibakar, agar tidak jatuh ke tangan musuh. Dengan tubuh yang dibalut mantel hitam, ditandu oleh prajurit-prajurit setia, Panglima Besar meninggalkan kota. Langkah itu menandai dimulainya Perang Gerilya Semesta, sebuah strategi yang membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tidak dapat ditangkap, tidak dapat dipenjara, dan tidak dapat dibunuh.
Perlawanan bersenjata pun menjadi pilihan terakhir dan paling jujur: menjaga kedaulatan dengan darah dan pengorbanan, ketika diplomasi tak lagi didengar.

Sebagaimana dicatat oleh T.B. Simatupang, pada momen itu:

“Kata telah diserahkan kepada kekerasan senjata yang dilambangkan oleh Pak Dirman.”

Jenderal Soedirman mengajarkan satu hal yang tak lekang oleh waktu, bahwa cinta tanah air bukan slogan, melainkan kesediaan untuk menderita demi bangsa.

Ia menolak perintah bukan karena pembangkangan, melainkan karena kesetiaan yang lebih tinggi kepada Republik, kepada rakyat, dan kepada sejarah Indonesia yang belum boleh tamat.

Sumber : Rapakat 

#JenderalSoedirman #PanglimaBesar #AgresiMiliterBelandaII
#PerangGerilya #SejarahIndonesia #Yogyakarta1948 #PahlawanBangsa

27 January 2026

Brosur Bergambar Propaganda dari Partai Masyumi Menjelang Pemilu Tahun 1955. Secara blak-blakan Masyumi menyebarkan pamflet bergambar agar dipemilu 1955 mencoblos bulan bintang. Gambar diatasnya terdapat gambar Rakyat sedang menghadapi Belanda tapi ditusuk dari belakang oleh PKI. Gambar ini juga mengisyaratkan seruan Masyumi pada rakyat agar jangan pilih PKI. Karena PKI pada 1948 (Pemberontakan Madiun) dianggap sebagai penghianat. Catatan : Pemberontakan PKI Madiun terjadi pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur, dipimpin oleh Muso dan Amir Sjarifuddin. Sebab utamanya adalah kekecewaan terhadap hasil Perjanjian Renville, jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin, serta keinginan mendirikan negara Soviet Indonesia dengan ideologi komunis menggantikan Pancasila.

 Brosur Bergambar Propaganda dari Partai Masyumi Menjelang Pemilu Tahun 1955. 



Secara blak-blakan Masyumi menyebarkan pamflet bergambar agar dipemilu 1955 mencoblos bulan bintang. Gambar diatasnya terdapat gambar Rakyat sedang menghadapi Belanda tapi ditusuk dari belakang oleh PKI. Gambar ini juga mengisyaratkan seruan Masyumi pada rakyat agar jangan pilih PKI. Karena PKI pada 1948 (Pemberontakan Madiun) dianggap sebagai penghianat. 


Catatan : 

Pemberontakan PKI Madiun terjadi pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur, dipimpin oleh Muso dan Amir Sjarifuddin. Sebab utamanya adalah kekecewaan terhadap hasil Perjanjian Renville, jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin, serta keinginan mendirikan negara Soviet Indonesia dengan ideologi komunis menggantikan Pancasila.


Sumber : Sejarah Cirebon

DI EKSEKUSI M4TI KARENA MENOLAK MENUNJUKKAN PETA KEKAYAAN IBU PERTIWI‼️ Yogyakarta, 8 Mei 1949, bumi Indonesia berduka. Seorang putra terbaik bangsa, Mayor Arie Frederik Lasut, gugur ditembak secara biadab oleh Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) di Pakem, Yogyakarta. Ia syahid bukan di parit pertempuran, melainkan di garis sunyi perjuangan intelektual, karena menolak menjual rahasia kekayaan alam bangsanya kepada penjajah. Putra Minahasa yang tegap dan berjiwa baja ini menjabat sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Republik Indonesia. Dalam dirinya, ilmu pengetahuan berpadu dengan keberanian revolusioner. Pengorbanannya adalah deklarasi agung bahwa kedaulatan bangsa tidak hanya dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan integritas, ilmu, dan sumpah setia kepada tanah air hingga tetes darah terakhir. Pahlawan Pertambangan yang “Terlalu Mahal” untuk Dikhianati Di tengah kobaran Agresi Militer Belanda II, saat Yogyakarta sebagai ibu kota Republik berada dalam tekanan paling genting, Mayor Arie Lasut berdiri sebagai benteng terakhir kedaulatan ekonomi Indonesia. Ia adalah salah satu ahli geologi dan pertambangan pribumi pertama yang diakui keilmuannya—bahkan sejak masa pendudukan Jepang. Keahliannya membuat namanya diperhitungkan, sekaligus diburu. Pasca Proklamasi, di usia yang baru 28 tahun, negara mempercayakan kepadanya amanah maha berat: mengamankan seluruh data dan peta geologi strategis Nusantara, lokasi mineral, batubara, dan minyak bumi. Dokumen-dokumen itu adalah urat nadi masa depan Republik, kunci kemakmuran bangsa yang baru lahir. Belanda/NICA paham betul nilainya. Mereka merayu, mengancam, dan merencanakan pencurian. Namun Arie Lasut bukan tipe pejuang yang bisa dibeli. Baginya, ilmu adalah senjata, dan kehormatan bangsa adalah harga mati. DICULIK DAN DISIKSA, RAHASIA NEGARA DIBAWA KE LIANG LAHAT‼️ Pagi 7 Mei 1949, sekitar pukul 09.00 WIB, tiga serdadu khusus KNIL menyergap kediaman Arie Lasut di Pugeran, Yogyakarta. Ia diculik secara paksa. Dalam perjalanan menuju utara Yogyakarta, di dalam jip militer penjajah, siksaan kejam dan brutal menghujani tubuhnya. Pukulan demi pukulan dilancarkan. Tujuannya satu: memaksa sang “Bapak Pertambangan Indonesia” membuka lokasi penyimpanan dokumen rahasia negara, data cadangan mineral strategis yang menjadi rebutan imperialis. Namun Arie Lasut tetap tegak. Di bawah penderitaan yang tak terperi, ia memilih diam yang mulia. Rahasia negara ia kubur bersama tekadnya lebih dalam dari liang mana pun. EKSEKUSI DI KAKI MERAPI: Gugur dengan Kehormatan Karena gagal mematahkan pendiriannya, KNIL menunjukkan wajah paling biadab dari kolonialisme. Sekitar pukul 10.00 WIB, di Pakem, Sleman, sekitar 7 kilometer utara Yogyakarta tepatnya di kaki Gunung Merapi, Mayor Arie Frederik Lasut dieksekusi dengan tembakan. Ia gugur di usia 30 tahun bukan sebagai prajurit garis depan, melainkan sebagai intelektual pejuang yang menolak berkompromi dengan pengkhianatan. Ia memilih kematian yang terhormat daripada hidup dengan noda menjual bumi pertiwi. Jenazahnya dimakamkan di TPU Sasanalaya, Yogyakarta, dengan upacara yang dihadiri Mr. Assaat, Pejabat Presiden Republik Indonesia kala itu, sebuah penghormatan negara kepada pahlawan sejatinya. Arie Frederik Lasut bukan sekadar pahlawan bersenjata. Ia adalah penjaga kedaulatan energi dan mineral Indonesia. Berkat keberaniannya, data pertambangan strategis bangsa selamat dari cengkeraman kolonial, dan Republik memiliki fondasi untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sebagai penghormatan atas jasa dan pengorbanannya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969. Nama dan perjuangannya diabadikan dalam monumen dan prasasti, termasuk di Museum Geologi Bandung, sebagai pengingat abadi bahwa kemerdekaan Indonesia ditegakkan oleh darah, ilmu, dan idealisme yang tak ternilai harganya. Arie Frederik Lasut telah gugur. Namun sumpah setianya hidup abadi di perut bumi Indonesia yang ia jaga hingga akhir hayat. 🇮🇩🔥

 DI EKSEKUSI M4TI KARENA MENOLAK MENUNJUKKAN PETA KEKAYAAN IBU PERTIWI‼️



Yogyakarta, 8 Mei 1949, bumi Indonesia berduka. Seorang putra terbaik bangsa, Mayor Arie Frederik Lasut, gugur ditembak secara biadab oleh Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) di Pakem, Yogyakarta. Ia syahid bukan di parit pertempuran, melainkan di garis sunyi perjuangan intelektual, karena menolak menjual rahasia kekayaan alam bangsanya kepada penjajah.


Putra Minahasa yang tegap dan berjiwa baja ini menjabat sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Republik Indonesia. Dalam dirinya, ilmu pengetahuan berpadu dengan keberanian revolusioner. Pengorbanannya adalah deklarasi agung bahwa kedaulatan bangsa tidak hanya dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan integritas, ilmu, dan sumpah setia kepada tanah air hingga tetes darah terakhir.

Pahlawan Pertambangan yang “Terlalu Mahal” untuk Dikhianati


Di tengah kobaran Agresi Militer Belanda II, saat Yogyakarta sebagai ibu kota Republik berada dalam tekanan paling genting, Mayor Arie Lasut berdiri sebagai benteng terakhir kedaulatan ekonomi Indonesia. Ia adalah salah satu ahli geologi dan pertambangan pribumi pertama yang diakui keilmuannya—bahkan sejak masa pendudukan Jepang. Keahliannya membuat namanya diperhitungkan, sekaligus diburu.


Pasca Proklamasi, di usia yang baru 28 tahun, negara mempercayakan kepadanya amanah maha berat: mengamankan seluruh data dan peta geologi strategis Nusantara, lokasi mineral, batubara, dan minyak bumi. Dokumen-dokumen itu adalah urat nadi masa depan Republik, kunci kemakmuran bangsa yang baru lahir.


Belanda/NICA paham betul nilainya. Mereka merayu, mengancam, dan merencanakan pencurian. Namun Arie Lasut bukan tipe pejuang yang bisa dibeli. Baginya, ilmu adalah senjata, dan kehormatan bangsa adalah harga mati.


DICULIK DAN DISIKSA, RAHASIA NEGARA DIBAWA KE LIANG LAHAT‼️

Pagi 7 Mei 1949, sekitar pukul 09.00 WIB, tiga serdadu khusus KNIL menyergap kediaman Arie Lasut di Pugeran, Yogyakarta. Ia diculik secara paksa.


Dalam perjalanan menuju utara Yogyakarta, di dalam jip militer penjajah, siksaan kejam dan brutal menghujani tubuhnya. Pukulan demi pukulan dilancarkan. Tujuannya satu: memaksa sang “Bapak Pertambangan Indonesia” membuka lokasi penyimpanan dokumen rahasia negara, data cadangan mineral strategis yang menjadi rebutan imperialis.


Namun Arie Lasut tetap tegak. Di bawah penderitaan yang tak terperi, ia memilih diam yang mulia. Rahasia negara ia kubur bersama tekadnya lebih dalam dari liang mana pun.


EKSEKUSI DI KAKI MERAPI: Gugur dengan Kehormatan

Karena gagal mematahkan pendiriannya, KNIL menunjukkan wajah paling biadab dari kolonialisme. Sekitar pukul 10.00 WIB, di Pakem, Sleman, sekitar 7 kilometer utara Yogyakarta tepatnya di kaki Gunung Merapi, Mayor Arie Frederik Lasut dieksekusi dengan tembakan. Ia gugur di usia 30 tahun bukan sebagai prajurit garis depan, melainkan sebagai intelektual pejuang yang menolak berkompromi dengan pengkhianatan. Ia memilih kematian yang terhormat daripada hidup dengan noda menjual bumi pertiwi.


Jenazahnya dimakamkan di TPU Sasanalaya, Yogyakarta, dengan upacara yang dihadiri Mr. Assaat, Pejabat Presiden Republik Indonesia kala itu, sebuah penghormatan negara kepada pahlawan sejatinya.


Arie Frederik Lasut bukan sekadar pahlawan bersenjata.

Ia adalah penjaga kedaulatan energi dan mineral Indonesia. Berkat keberaniannya, data pertambangan strategis bangsa selamat dari cengkeraman kolonial, dan Republik memiliki fondasi untuk berdiri di atas kaki sendiri.


Sebagai penghormatan atas jasa dan pengorbanannya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969. Nama dan perjuangannya diabadikan dalam monumen dan prasasti, termasuk di Museum Geologi Bandung, sebagai pengingat abadi bahwa kemerdekaan Indonesia ditegakkan oleh darah, ilmu, dan idealisme yang tak ternilai harganya.


Arie Frederik Lasut telah gugur.

Namun sumpah setianya hidup abadi di perut bumi Indonesia yang ia jaga hingga akhir hayat. 🇮🇩🔥

26 January 2026

Raja Yogyakarta yang tercatat memiliki anak dan selir terbanyak adalah Sri Sultan Hamengkubuwono II (HB II), meskipun Sri Sultan Hamengkubuwono VII (HB VII) memiliki jumlah keturunan yang hampir sama. 1. Sri Sultan Hamengkubuwono II Beliau dikenal sebagai raja dengan jumlah anak terbanyak, yaitu 80 anak dari total 31 istri (4 permaisuri dan 27 selir). Beberapa nama selir (garwa ampeyan) beliau yang tercatat antara lain: BMAy. Sepuh BMAy. Pringgodiningrat BMAy. Prawirodiningrat II BMAy. Basari BMAy. Dewaningrum BMAy. Mindoko BMAy. Puspitoresmi BMAy. Sumarsih BMAy. Tejaningsih BMAy. Herowati (Total keseluruhan mencapai 27-28 selir). 2. Sri Sultan Hamengkubuwono VII Beliau memiliki 78 anak dan dikenal sebagai "Sultan Sugih" (Sultan Kaya) karena kemajuan industri gula di masanya. Beliau tercatat memiliki sekitar 18 istri (permaisuri dan selir). Beberapa nama selir dan istri beliau meliputi: GKR Kencana GKR Wandhan GKR Hemas KRAy. Retnaningrum KRAy. Ratnaningdyah KRAy. Ratnapurwita KRAy. Retnowinardi Sebagai informasi tambahan, meskipun memiliki banyak keturunan, daftar lengkap nama selir sering kali hanya tersimpan dalam naskah silsilah resmi di Keraton Yogyakarta atau catatan keluarga seperti Rodovid. Bagaimana pendapat para sedulur, sumangga sami absen Salam Rahayu🙏

 Raja Yogyakarta yang tercatat memiliki anak dan selir terbanyak


adalah Sri Sultan Hamengkubuwono II (HB II), meskipun Sri Sultan Hamengkubuwono VII (HB VII) memiliki jumlah keturunan yang hampir sama.


1. Sri Sultan Hamengkubuwono II 

Beliau dikenal sebagai raja dengan jumlah anak terbanyak, yaitu 80 anak dari total 31 istri (4 permaisuri dan 27 selir). 

Beberapa nama selir (garwa ampeyan) beliau yang tercatat antara lain: 

BMAy. Sepuh

BMAy. Pringgodiningrat

BMAy. Prawirodiningrat II

BMAy. Basari


BMAy. Dewaningrum

BMAy. Mindoko

BMAy. Puspitoresmi

BMAy. Sumarsih

BMAy. Tejaningsih

BMAy. Herowati

(Total keseluruhan mencapai 27-28 selir). 


2. Sri Sultan Hamengkubuwono VII 

Beliau memiliki 78 anak dan dikenal sebagai "Sultan Sugih" (Sultan Kaya) karena kemajuan industri gula di masanya. Beliau tercatat memiliki sekitar 18 istri (permaisuri dan selir). 

Beberapa nama selir dan istri beliau meliputi: 

GKR Kencana

GKR Wandhan

GKR Hemas

KRAy. Retnaningrum

KRAy. Ratnaningdyah

KRAy. Ratnapurwita

KRAy. Retnowinardi

Sebagai informasi tambahan, meskipun memiliki banyak keturunan, daftar lengkap nama selir sering kali hanya tersimpan dalam naskah silsilah resmi di Keraton Yogyakarta atau catatan keluarga seperti Rodovid.


Bagaimana pendapat para sedulur, sumangga sami absen

Salam Rahayu🙏

Dialah Ucu Kambing, jawara Betawi yang melengserkan takhta Hercules di Tanah Abang Ketika pindah ke Jakarta, Rosario de Marshall yang kini lebih dikenal sebagai Hercules memilih Tanah Abang sebagai ladang penghidupannya. Dia kemudian menjadi penguasa di kawasan itu. Menurut kabar-kabar yang beredar di media massa ketika itu, Hercules digambarkan sebagai sosok kepala preman yang berkuasa di Tanah Abang. Bahkan dia disebut ke mana-mana selalu membawa golok. Mengutip Kompascom, sebagai pendatang baru, Hercules awalnya tidak disegani dan sering dilawan oleh preman-preman lain. Karena itulah dia selalu membawa golok panjang. Daripada dibunuh, begitu alasan Hercules. "Bahkan waktu itu, setiap malam saya tidur dengan golok selalu siap di tangan. Kondisi waktu itu sangat rawan. Lengah sedikit, lawan akan menyerang," lanjutnya, sebagaimana dia sampaikan ketika menjadi bintang tamu di acara Kick Andy pada 2007 lalu. Tahun keemasan Hercules di Tanah Abang terjadi pada pada 1980an. Dia bahkan dikabarkan beberapa lolos dari maut. Tak hanya kawan, lawan pun segan terhadapnya. Hercules mengaku pernah dibacok sebanyak 16 kali. Meski begitu, ia tetap selamat. Separuh dari tangan kanan Hercules, yakni dari bagian siku ke bawah, menggunakan tangan palsu. Bukan hanya tangannya yang palsu, satu dari dua bola matanya juga buatan manusia. Hercules pernah ditembak di bagian mata dan pelurunya pun tembus ke belakang kepala. Karena rentetan kejadian tersebut Hercules dijuluki sebagai sosok preman yang tidak bisa mati. Kelompok Hercules berkuasa cukup lama di Tanah Abang, hingga mereka dikalahkan oleh kelompok Betawi yang dipimpin oleh Muhammad Yusuf Muhi alias Ucu Kambing pada medio 1990an, tepatnya pada 1996. Menurut catatan BBC, bentrokan yang terjadi antara kelompok Hercules dan kelompok Ucu Kambing untuk memperebutkan takhta "penguasa jalanan" sebagai bentrokan kekuasaan paling brutal dan paling keras. Kelompok Betawi yang akhirnya menang. Ucu Kambing adalah sosok asli Betawi, dia tumbuh dan besar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Nama Kambing yang mengikuti nama Ucu di belakangnya disematkan karena keluarganya adalah pedagang sop kambing. Menurut beberapa sumber, Ucu adalah sosok yang disegani kawan maupun lawan. Kalau kata sang anak, Chato Badra Mandrawata alias Bang Chatu, Ucu Kambing bukan petarung satu lawan satu, tapi satu lawan sekampung. Bentrokan antara kelompok Hercules dan kelompok Ucu Kambing berawal ketika kelompok Hercules masuk kawasan Tanah Abang tanpa koordinasi dengan membawa anggota dari luar wilayah Jakarta. Mereka juga disebut membuat onar. Bentrokan terjadi dan dua anak buah Hercules dilaporkan tewas dalam bentrokan itu. Singkat cerita, kelompok Ucu Kambing berhasil memukul mendur kelompok Hercules dari wilayah Tanah Abang. Dan dengan begitu, takhta Tanah Abang kini dimiliki oleh Ucu Kambing. Lalu bagaimana hubungan Hercules dan Ucu Kambing akhirnya? Kabarnya, meskipun dulu adalah musuh bebuyutan, pada akhirnya keduanya justru menjadi dekat. Keduanya juga saling menghargai satu dengan yang lain. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034247945/inilah-ucu-kambing-sosok-yang-melengserkan-takhta-hercules-di-tanah-abang #ucukambing #hercules #tanahabang

 Dialah Ucu Kambing, jawara Betawi yang melengserkan takhta Hercules di Tanah Abang



Ketika pindah ke Jakarta, Rosario de Marshall yang kini lebih dikenal sebagai Hercules memilih Tanah Abang sebagai ladang penghidupannya. Dia kemudian menjadi penguasa di kawasan itu.


Menurut kabar-kabar yang beredar di media massa ketika itu, Hercules digambarkan sebagai sosok kepala preman yang berkuasa di Tanah Abang. Bahkan dia disebut ke mana-mana selalu membawa golok.


Mengutip Kompascom, sebagai pendatang baru, Hercules awalnya tidak disegani dan sering dilawan oleh preman-preman lain. Karena itulah dia selalu membawa golok panjang. Daripada dibunuh, begitu alasan Hercules.


"Bahkan waktu itu, setiap malam saya tidur dengan golok selalu siap di tangan. Kondisi waktu itu sangat rawan. Lengah sedikit, lawan akan menyerang," lanjutnya, sebagaimana dia sampaikan ketika menjadi bintang tamu di acara Kick Andy pada 2007 lalu.


Tahun keemasan Hercules di Tanah Abang terjadi pada pada 1980an. Dia bahkan dikabarkan beberapa lolos dari maut. Tak hanya kawan, lawan pun segan terhadapnya.


Hercules mengaku pernah dibacok sebanyak 16 kali. Meski begitu, ia tetap selamat. Separuh dari tangan kanan Hercules, yakni dari bagian siku ke bawah, menggunakan tangan palsu. Bukan hanya tangannya yang palsu, satu dari dua bola matanya juga buatan manusia.


Hercules pernah ditembak di bagian mata dan pelurunya pun tembus ke belakang kepala. Karena rentetan kejadian tersebut Hercules dijuluki sebagai sosok preman yang tidak bisa mati.


Kelompok Hercules berkuasa cukup lama di Tanah Abang, hingga mereka dikalahkan oleh kelompok Betawi yang dipimpin oleh Muhammad Yusuf Muhi alias Ucu Kambing pada medio 1990an, tepatnya pada 1996.


Menurut catatan BBC, bentrokan yang terjadi antara kelompok Hercules dan kelompok Ucu Kambing untuk memperebutkan takhta "penguasa jalanan" sebagai bentrokan kekuasaan paling brutal dan paling keras. Kelompok Betawi yang akhirnya menang.


Ucu Kambing adalah sosok asli Betawi, dia tumbuh dan besar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Nama Kambing yang mengikuti nama Ucu di belakangnya disematkan karena keluarganya adalah pedagang sop kambing.


Menurut beberapa sumber, Ucu adalah sosok yang disegani kawan maupun lawan. Kalau kata sang anak, Chato Badra Mandrawata alias Bang Chatu, Ucu Kambing bukan petarung satu lawan satu, tapi satu lawan sekampung.


Bentrokan antara kelompok Hercules dan kelompok Ucu Kambing berawal ketika kelompok Hercules masuk kawasan Tanah Abang tanpa koordinasi dengan membawa anggota dari luar wilayah Jakarta. Mereka juga disebut membuat onar.


Bentrokan terjadi dan dua anak buah Hercules dilaporkan tewas dalam bentrokan itu.


Singkat cerita, kelompok Ucu Kambing berhasil memukul mendur kelompok Hercules dari wilayah Tanah Abang. Dan dengan begitu, takhta Tanah Abang kini dimiliki oleh Ucu Kambing.


Lalu bagaimana hubungan Hercules dan Ucu Kambing akhirnya? Kabarnya, meskipun dulu adalah musuh bebuyutan, pada akhirnya keduanya justru menjadi dekat. Keduanya juga saling menghargai satu dengan yang lain.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034247945/inilah-ucu-kambing-sosok-yang-melengserkan-takhta-hercules-di-tanah-abang


#ucukambing #hercules #tanahabang

Kuburan warga Cina, Magelang, 1906 1915 Chineesche Begraafplaats, Magelang, 1906 1915

 Kuburan warga Cina, Magelang, 1906 1915


Chineesche Begraafplaats, Magelang, 1906 1915



Sumber : Bintoro Hoepoedio

25 January 2026

Ini adalah potret KH Muhammad Sangidu, Murid KH Ahmad Dahlan yang Mengusulkan Nama Muhammadiyah. Tampak dibelakngya ada santriwatinya yang ikut terfoto. Tampak para santriwatinya heran, mungkin karena baru melihat pemotretan. Sumber : Sejarah Cirebon

 Ini adalah potret KH Muhammad Sangidu, Murid KH Ahmad Dahlan yang Mengusulkan Nama Muhammadiyah. Tampak dibelakngya ada santriwatinya yang ikut terfoto. Tampak para santriwatinya heran, mungkin karena baru melihat pemotretan.



Sumber : Sejarah Cirebon

Kerkhof Magelang.. Ehh, ternyata banyak diantara orang-orang sekarang ini yang belum tahu kalau di sepanjang Jl. Ikhlas Magelang kota dulu adalah Kerkhof, makam Belanda dan umat Kristiani Magelang sebelum tahun 1992. Di sini saya ceritakan sedikit bahwa keluarga besar saya banyak yang dimakamkan di sini, ada kurang lebih 12 makam sejak mbah buyut saya mungkin tahun 1930-an. Foto-foto di atas adalah saat kakek saya Dawud Soemodihardjo, wafat pada 8 November 1979 dan dimakamkan di Kerkhof ini. Walikotamadya Magelang waktu itu Bpk Bagus Panuntun ikut melepas dan memberikan sambutan saat pemberangkatan dari rumah di Sanggrahan Magelang, sedangkan Misa Requiem dan Pemakaman dipimpin Romo Stuffer, SJ, Pastor Paroki St. Maria Fatima waktu itu. Tahun 1992 seluruh makam keluarga kami dipindahkan ke TPU Giriloyo Magelang. Deretan makam keluarga besar kami berdekatan dengan dengan makam Suzanna, artis dan bintang film Indonesia yang terkenal itu. 😄🎥🕰⏳ Foto: Dokpri Kel. A.H. Soeprapto

 Kerkhof Magelang.. 

Ehh, ternyata banyak diantara orang-orang sekarang ini yang belum tahu kalau di sepanjang Jl. Ikhlas Magelang kota dulu adalah Kerkhof, makam Belanda dan umat Kristiani Magelang sebelum tahun 1992.



Di sini saya ceritakan sedikit bahwa keluarga besar saya banyak yang dimakamkan di sini, ada kurang lebih 12 makam sejak mbah buyut saya mungkin tahun 1930-an.


Foto-foto di atas adalah saat kakek saya Dawud Soemodihardjo, wafat pada 8 November 1979 dan dimakamkan di Kerkhof ini. 

Walikotamadya Magelang waktu itu Bpk Bagus Panuntun ikut melepas dan memberikan sambutan saat pemberangkatan dari rumah di Sanggrahan Magelang, sedangkan Misa Requiem dan Pemakaman dipimpin Romo Stuffer, SJ, Pastor Paroki St. Maria Fatima waktu itu. 


Tahun 1992 seluruh makam keluarga kami dipindahkan ke TPU Giriloyo Magelang. 

Deretan makam keluarga besar kami berdekatan dengan dengan makam Suzanna, artis dan bintang film Indonesia yang terkenal itu. 

😄🎥🕰⏳


Foto: Dokpri Kel. A.H. Soeprapto

GANES TH Sang Maestro Komik Indonesia 10 Juli 1935 - 10 Juli 2021. Sang Maestro dgn karya2 monumental nya : Si Buta dari Gua Hantu, Tuan Tanah Kedawung, Krakatau, Taufan dll.... Semoga beliau kini istirahat dalam damai di Rumah Bapa di Surga.... GANES TH (Ganes Thiar Sentosa) alias Thio Thiauw San Lahir di Desa Gandu, Banten, 10 Juli 1935 Wafat di Jakarta, 08 Desember 1995 Pasangan : Yosy Herawati Komikus dgn karya fenomenalnya SI BUTA DARI GUA HANTU, Tuan Tanah Kedawung, Krakatau dll. MASA AWAL & ROMAN REMAJA 01. Si Letoy (1965) 02. Mang Kiwil (1965) 03. Tiga Pahlawan (1965) 04. Api Di Hutan Rimba (1965) 05. Kali Jodo (1966) 06. Mutiara Dari Tanusa (1966) 07. Malam Pengantin (1966) 08. Masih Ada Hari Esok (1966) 09. Kasih Yang Hilang (1966) 10. Dosa (1966) 11. Mawar Dari Kahyangan 12. Hatinya Bermutiara 13. Menjelang Fajar 14. Prahara (1967) 15. Air Mata Kekasih (1967) 16. Di Bawah Naungan Flamboyan (Semula terbit dibawah majalah Varia, 1967) 17. Impian Yang Ke Dua (1968) 18. Impian Yang Hilang 19. Citra Bayangan Fajar (1968) 20. Kunjungan Tengah Malam (1968) SPIONASE 21. James Bond: Komplotan Pistol Emas (1967) 22. James Bond: Detik-Detik Maut (1967) 23. Operasi 008 (1967) 24. Agen Rahasia Sidharta: Tangisan Di Malam Berkabut (1967) 25. Agen Rahasia Sidharta: Terjebak Di Pulau Hantu (1967) SILAT LATAR BETAWI / BANTEN 26. Jampang Jago Betawi (1967 - 1970) 27. Runtuhnya Siluman Serigala Putih (1967) 28. Cisadane (1967) 29. Nilam & Kesumah (1970) 30. Krakatau (1970) 31. Tuan Tanah Kedawung 32. Bisikan Iblis (1971) SERI SI BUTA DARI GUA HANTU 33. SI BUTA DARI GUA HANTU (1967) 34. Misteri Di Borobudur (1967) 35. Banjir Darah Di Pantai Sanur (1968) 36. Manusia Serigala Dari Gunung Tambora (1969) 37. Prahara Di Bukit Tandus (1969) 38. Badai Teluk Bone (1972) 39. Sorga Yang Hilang (1974) 40. Prahara Di Donggala (1975) 41. Perjalanan Ke Neraka (1976) 42. Si Buta Kontra Si Buta (1978) 43. Kabut Tinombala (1978) 44. Tragedi Larantuka (1979) 45. Pengantin Kelana (1981) 46. Misteri Air Mata Duyung (1984) 47. Neraka Perut Bumi (1986) 47. Bangkitnya Si Mata Malaikat (1987) 48. Pamungkas Asmara (1987) 49. Iblis Pulau Rakata (1988) 50. Manusia Kelelawar Dari Karang Hantu (1988) 51. Mawar Berbisa (1989) SERI REO MANUSIA SERIGALA 52. Neraka Hijau (1972) 53. Komodo (1976) 54. Iblis Kawah Rinjani (1976) 55. Serigala Hantu (1979) 56. Zomba (1984) 57. Mayat Cemburu (...?) KISAH BAKTI 58. Tragedi Di Balik Tembok Besar (1985) 59. Yang Hsiang Yang Perkasa (1985) 60. Teratai Kumala (1985) 61. Pencuri Dari Kin Kiang (1985) FIKSI PERJUANGAN & KISAH LEPAS 62. Taufan (1974) 63. Petualang (1976) 64. Serigala Kota Intan (Majalah Hai, 1980) 65. Kemelut Melati Di Tapal Batas (1983) 66. Kembang Goyang (Majalah Srikandi, 1983) 67. Sepasang Merpati Kota Inten (1987-1988) 68. Pendekar Slebor (1980) 69. Api Di Langit Kulon (1982) 70. Komodo 71. Komodo Menteror Ibukota SERI LAIN SI BUTA DARI GUA HANTU 72. Asmara Darah (Cetakan pertama, Mei 2012 dibuat secara bersambung sebagai komik Strip majalah Ria Film sekitar tahun 1980-an) 73. Buronan (Cetakan pertama, Mei 2012. Naskah: Ganes Th & digambar oleh Apriyadi Kusbiantoro) SERIAL LEPAS 74. Cobra (Tahun...?) 75. Keris Pusaka Ratu Laut Kidul (Tahun...?) 76. Melati Di Tapal Batas (Majalah Hai , Tahun...?) 77. Pulau Setan (AMI Tahun...?) Terima kasih pada Pak Alex Winarto, Erwan Sofyan & Satrio T Utomo atas informasinya. Hasil kompilasi oleh : Adrian Fadhilah

 GANES TH Sang Maestro Komik Indonesia 

10 Juli 1935 - 10 Juli 2021.

Sang Maestro dgn karya2 monumental nya : Si Buta dari Gua Hantu, Tuan Tanah Kedawung, Krakatau, Taufan dll....

Semoga beliau kini istirahat dalam damai di Rumah Bapa di Surga....



GANES TH (Ganes Thiar Sentosa) alias 

Thio Thiauw San

Lahir di Desa Gandu, Banten, 10 Juli 1935

Wafat di Jakarta, 08 Desember 1995

Pasangan : Yosy Herawati


Komikus dgn karya fenomenalnya SI BUTA DARI GUA HANTU, Tuan Tanah Kedawung, Krakatau dll.


MASA AWAL & ROMAN REMAJA

01. Si Letoy (1965)

02. Mang Kiwil (1965)

03. Tiga Pahlawan (1965)

04. Api Di Hutan Rimba (1965)

05. Kali Jodo (1966)

06. Mutiara Dari Tanusa (1966)

07. Malam Pengantin (1966)

08. Masih Ada Hari Esok (1966)

09. Kasih Yang Hilang (1966)

10. Dosa (1966)

11. Mawar Dari Kahyangan

12. Hatinya Bermutiara

13. Menjelang Fajar

14. Prahara (1967)

15. Air Mata Kekasih (1967)

16. Di Bawah Naungan Flamboyan (Semula terbit dibawah majalah Varia, 1967)

17. Impian Yang Ke Dua (1968)

18. Impian Yang Hilang

19. Citra Bayangan Fajar (1968)

20. Kunjungan Tengah Malam (1968)


SPIONASE

21. James Bond: Komplotan Pistol Emas (1967)

22. James Bond: Detik-Detik Maut (1967)

23. Operasi 008 (1967)

24. Agen Rahasia Sidharta: Tangisan Di Malam Berkabut (1967)

25. Agen Rahasia Sidharta: Terjebak Di Pulau Hantu (1967)


SILAT LATAR BETAWI / BANTEN

26. Jampang Jago Betawi (1967 - 1970)

27. Runtuhnya Siluman Serigala Putih (1967)

28. Cisadane (1967)

29. Nilam & Kesumah (1970)

30. Krakatau (1970)

31. Tuan Tanah Kedawung

32. Bisikan Iblis (1971)


SERI SI BUTA DARI GUA HANTU

33. SI BUTA DARI GUA HANTU (1967)

34. Misteri Di Borobudur (1967)

35. Banjir Darah Di Pantai Sanur (1968)

36. Manusia Serigala Dari Gunung Tambora (1969)

37. Prahara Di Bukit Tandus (1969)

38. Badai Teluk Bone (1972)

39. Sorga Yang Hilang (1974)

40. Prahara Di Donggala (1975)

41. Perjalanan Ke Neraka (1976)

42. Si Buta Kontra Si Buta (1978)

43. Kabut Tinombala (1978)

44. Tragedi Larantuka (1979)

45. Pengantin Kelana (1981)

46. Misteri Air Mata Duyung (1984)

47. Neraka Perut Bumi (1986)

47. Bangkitnya Si Mata Malaikat (1987)

48. Pamungkas Asmara (1987)

49. Iblis Pulau Rakata (1988)

50. Manusia Kelelawar Dari Karang Hantu (1988)

51. Mawar Berbisa (1989)


SERI REO MANUSIA SERIGALA

52. Neraka Hijau (1972)

53. Komodo (1976)

54. Iblis Kawah Rinjani (1976)

55. Serigala Hantu (1979)

56. Zomba (1984)

57. Mayat Cemburu (...?)


KISAH BAKTI

58. Tragedi Di Balik Tembok Besar (1985)

59. Yang Hsiang Yang Perkasa (1985)

60. Teratai Kumala (1985)

61. Pencuri Dari Kin Kiang (1985)


FIKSI PERJUANGAN & KISAH LEPAS

62. Taufan (1974)

63. Petualang (1976)

64. Serigala Kota Intan (Majalah Hai, 1980)

65. Kemelut Melati Di Tapal Batas (1983)

66. Kembang Goyang (Majalah Srikandi, 1983)

67. Sepasang Merpati Kota Inten (1987-1988)

68. Pendekar Slebor (1980)

69. Api Di Langit Kulon (1982)

70. Komodo

71. Komodo Menteror Ibukota

 

SERI LAIN SI BUTA DARI GUA HANTU

72. Asmara Darah (Cetakan pertama, Mei 2012 dibuat secara bersambung sebagai komik Strip majalah Ria Film sekitar tahun 1980-an)

73. Buronan (Cetakan pertama, Mei 2012. Naskah: Ganes Th & digambar oleh Apriyadi Kusbiantoro)


SERIAL LEPAS

74. Cobra (Tahun...?)

75. Keris Pusaka Ratu Laut Kidul (Tahun...?)

76. Melati Di Tapal Batas (Majalah Hai , Tahun...?)

77. Pulau Setan (AMI Tahun...?)


Terima kasih pada Pak Alex Winarto, Erwan Sofyan & Satrio T Utomo atas informasinya.


Hasil kompilasi oleh : Adrian Fadhilah


24 January 2026

Bapak Presiden Soekarno Beliau adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo (15 Juni 1873 – 18 Mei 1945) adalah seorang guru di Surabaya dan ayah dari presiden pertama Indonesia Soekarno. Pada saat ke Jakarta merupakan perjalanan yang terakhir dari Soekemi, pada saat itu ia diminta datang ke Jakarta oleh putranya Soekarno untuk melihat kelahiran Cucunya yang pertama Guntur, saat berjalan-jalan menghirup hangatnya udara Jakarta, Soekemi terjatuh dan sakit keras sampai meninggal pada tanggal 18 Mei 1945.

 Bapak Presiden Soekarno 


Beliau adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo (15 Juni 1873 – 18 Mei 1945) adalah seorang guru di Surabaya dan ayah dari presiden pertama Indonesia Soekarno.


Pada saat ke Jakarta merupakan perjalanan yang terakhir dari Soekemi, pada saat itu ia diminta datang ke Jakarta oleh putranya Soekarno untuk melihat kelahiran Cucunya yang pertama Guntur, saat berjalan-jalan menghirup hangatnya udara Jakarta, Soekemi terjatuh dan sakit keras sampai meninggal pada tanggal 18 Mei 1945.



Terjemah Babad Pakubuwana VI [ 1823 - 1830) Kita bisa melihat situasi kerajaan, para garwa padmi, pangeran, bupati dll Nagari Surakarta dipimpin seorang raja bergelar Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati Ngalaga Mataram Ngabdur Rahman Sayidin Adi Panatagama ingkang jumeneng kaping VI Raja yang menjalankan syari’at Rasul dan berwatak adil serta murah hati, masih muda dan cakap. PARA PANGERAN Kangjeng Gusti Pangeran Ngabei, Kangjeng Gusti Pangeran Kusumayuda, Kangjeng Gusti Pangeran Arya Purubaya, Kangjeng Gusti Pangeran Arya Buminata dan Kangjeng Gusti Pangeran Arya Mangkubumi. Satu lagi yang menjadi andalan negeri adalah Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara III, saudara ipar Sang Raja yang mumpuni dalam gelar perang dan menjadi lurah dari para punggawa. Ada lagi punggawa andalan bernama Raden Mas Arya Cakrakusuma. MANTRI BUPATI Patih Adipati Sasraningrat III. MANTRI KEPARAK LEBET Arya Jayadiningrat Purwadiningrat, Kartadiningrat dan Suradiningrat. KEPARAK NJABA Tumenggung Wiraguna, Prawiraguna, Mangkuyuda dan Hanggawangsa. Para bupati, yakni Wreksanagara, Yasadipura, Yasanagara, Bujanagara, Jayanagara, Mangunnagara dan Martangara. Selain yang telah disebut juga ada bupati Panumping, Bupati Gunung, Majegan, Galadhag dan jaksa. Yang menjabat adalah Jaksanagara, Dipadirja, Sumanagara, Mangkudirja, Wangsanagara, Rajamanggal;a, Cakranagara, Sutanagara, Nitipraja, Mangkupraja, Rajaniti, Tirtanagara, Amongpraja. Para bupati dari mancanagara adalah : Adipati Natadirja dari Pati, Yudanagara dari Pasuruan, Mlayakusuma dari Pace. Yang dari barat hanya tinggal dua bupati, Prawiranagara dari Banyumas dan Candranagara dari Kedu-Pagelen. Bupati pesisir selatan hanya punya satu wadana, yakni Adipati Suryanagara di Pacitan. Adapun di pesisir utara adalah Adipati Suryadiningrat di Demak. GARWA PRAMESWARI 1. Yang pertama masih saudara sepupu dari Ngabean, dan diberi nama Kangjeng Ratu Kencana. 2. Putri Mangkubumen, terhitung masih bibi sepupu dengan Sang Raja, diberi nama Kangjeng Ratu Emas. 3. Putri dari Adinagaran dan diberi nama Kangjeng Ratu Maduretna. 4. Putri Raden Arya Adi Pamenang, canggah dari Sinuhun Pakubuwana II, dan diberi nama Kangjeng Ratu Anom. Anak ratu anom : Raden Ayu Gusti Sapariyah Sang Raja berkehendak mewisuda para adik menjadi pangeran. Pada suatu hari pisowanan Sang Raja berkenan memberi nama baru dan kedudukan pangeran kepada para adik. Bertahta di singgasana gading yang dihias permata Kyai Maesanempuh, Sang Raja bertitah kepada Kyai Patih. 1. Raden Mas Abu Yahmin diberi nama Kangjeng Pangeran Arya Suryabrata. 2. Raden Mas Sangadi diberi nama Kangjeng Pangeran Natabrata. 3. Raden Mas Manada diberi nama Pangeran Natadiningrat. 4. Raden Mas Suparman diberi nama Kangjeng Pangeran Santasuma. 5. Raden Mas Suharja diberi nama Kangjeng Pangeran Sumabrata. 6. Raden Mas Yahuda diberi nama Kangjeng Pangeran Arya Pringgakusuma. 7. Raden Mas Semakud diberi nama Kangjeng Pangeran Suryaningrat. 8. Raden Mas Samadiman yang sewaktu muda berada di Banyumas dan setelah diserahkan oleh Belanda ke Surakarta diberi nama Pangeran Tumenggung Sindusena. 9. Raden Mas Sukirman diberi nama Kangjeng Pangeran Suryapura. 10. Raden Mas Salamet diberi nama Kangjeng Pangeran Suryasama. Kepada para pangeran yang baru saja diwisuda mereka diberi tanah garapan 150 karya dan uang gaji 250 rupiah. Adapan saudara perempuan Sang Raja yang terhitung lebih muda adalah: 1. Raden Ajeng Sangibah, 2. Raden Ajeng Samaniyah, 3. Raden Ajeng Sangidah, 4. Raden Ajeng Samsiyah, 5. Raden Ajeng Murtasiyah, 6. Raden Ajeng Kadisah dan 7. Raden Ajeng Sasmaniyah. Saudara perempuan yang lebih tua lahir dari istri permaisuri mendiang Sang Raja Kangjeng Ratu Emas adalah Raden Ajeng Kadibah, telah menikah dengan Pangeran Mangkunagara III dan mendapat gelar Kangjeng Ratu Kedaton. Sumber Babad Pakubuwana IV

 Terjemah

Babad Pakubuwana VI [ 1823 - 1830)

Kita bisa melihat situasi kerajaan, para garwa padmi, pangeran, bupati dll


Nagari Surakarta dipimpin seorang raja bergelar Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati Ngalaga Mataram Ngabdur Rahman Sayidin Adi Panatagama ingkang jumeneng kaping VI


Raja yang menjalankan syari’at Rasul dan berwatak adil serta murah hati, masih muda dan cakap.


PARA PANGERAN


Kangjeng Gusti Pangeran Ngabei, 

Kangjeng Gusti Pangeran Kusumayuda, 

Kangjeng Gusti Pangeran Arya Purubaya, 

Kangjeng Gusti Pangeran Arya Buminata dan 

Kangjeng Gusti Pangeran Arya Mangkubumi. 


Satu lagi yang menjadi andalan negeri adalah Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara III, saudara ipar Sang Raja yang mumpuni dalam gelar perang dan menjadi lurah dari para punggawa. 


Ada lagi punggawa andalan bernama Raden Mas Arya Cakrakusuma.


MANTRI BUPATI

Patih Adipati Sasraningrat III. 


MANTRI KEPARAK LEBET

Arya Jayadiningrat

Purwadiningrat,

Kartadiningrat dan

Suradiningrat. 


KEPARAK NJABA

Tumenggung Wiraguna, Prawiraguna, Mangkuyuda dan Hanggawangsa. 


Para bupati, yakni Wreksanagara, Yasadipura, Yasanagara, Bujanagara, Jayanagara, Mangunnagara dan Martangara. 


Selain yang telah disebut juga ada bupati Panumping, Bupati Gunung, Majegan, Galadhag dan jaksa. Yang menjabat adalah Jaksanagara, Dipadirja, Sumanagara, Mangkudirja, Wangsanagara, Rajamanggal;a, Cakranagara, Sutanagara, Nitipraja, Mangkupraja, Rajaniti, Tirtanagara, Amongpraja. 


Para bupati dari mancanagara adalah :

Adipati Natadirja dari Pati,

Yudanagara dari Pasuruan,

Mlayakusuma dari Pace. 


Yang dari barat hanya tinggal dua bupati, Prawiranagara dari Banyumas dan Candranagara dari Kedu-Pagelen. 


Bupati pesisir selatan hanya punya satu wadana, yakni Adipati Suryanagara di Pacitan. Adapun di pesisir utara adalah Adipati Suryadiningrat di Demak.


GARWA PRAMESWARI

1. Yang pertama masih saudara sepupu dari Ngabean, dan diberi nama Kangjeng Ratu Kencana.

2. Putri Mangkubumen, terhitung masih bibi sepupu dengan Sang Raja, diberi nama Kangjeng Ratu Emas.

3. Putri dari Adinagaran dan diberi nama Kangjeng Ratu Maduretna. 

4. Putri Raden Arya Adi Pamenang, canggah dari Sinuhun Pakubuwana II, dan diberi nama Kangjeng Ratu Anom.


Anak ratu anom : 

Raden Ayu Gusti Sapariyah


Sang Raja berkehendak mewisuda para adik menjadi pangeran. 


Pada suatu hari pisowanan Sang Raja berkenan memberi nama baru dan kedudukan pangeran kepada para adik.


Bertahta di singgasana gading yang dihias permata Kyai Maesanempuh, Sang Raja bertitah kepada Kyai Patih. 


1. Raden Mas Abu Yahmin diberi nama Kangjeng Pangeran Arya Suryabrata. 

2. Raden Mas Sangadi diberi nama Kangjeng Pangeran Natabrata.

3. Raden Mas Manada diberi nama Pangeran Natadiningrat. 

4. Raden Mas Suparman diberi nama Kangjeng Pangeran Santasuma.

5. Raden Mas Suharja diberi nama Kangjeng Pangeran Sumabrata. 

6. Raden Mas Yahuda diberi nama Kangjeng Pangeran Arya Pringgakusuma. 

7. Raden Mas Semakud diberi nama Kangjeng Pangeran Suryaningrat.

8. Raden Mas Samadiman yang sewaktu muda berada di Banyumas dan setelah diserahkan oleh Belanda ke Surakarta diberi nama Pangeran Tumenggung Sindusena. 

9. Raden Mas Sukirman diberi nama Kangjeng Pangeran Suryapura.

10.  Raden Mas Salamet diberi nama Kangjeng Pangeran Suryasama.


Kepada para pangeran yang baru saja diwisuda mereka diberi tanah garapan 150 karya dan uang gaji 250 rupiah. 


Adapan saudara perempuan Sang Raja yang terhitung lebih muda adalah: 


1. Raden Ajeng Sangibah,

2. Raden Ajeng Samaniyah,

3. Raden Ajeng Sangidah,

4. Raden Ajeng Samsiyah,

5. Raden Ajeng Murtasiyah, 

6. Raden Ajeng Kadisah dan 

7. Raden Ajeng Sasmaniyah. 


Saudara perempuan yang lebih tua lahir dari istri permaisuri mendiang Sang Raja Kangjeng Ratu Emas adalah Raden Ajeng Kadibah, telah menikah dengan Pangeran Mangkunagara III dan mendapat gelar Kangjeng Ratu Kedaton.


Sumber

Babad Pakubuwana IV

Asal-Usul Pangeran Diponegoro: Putra Raja yang Dibesarkan di Tengah Rakyat Lahir pada 11 November 1785 tepat menjelang fajar, bayi laki-laki itu diberi nama Bendara Raden Mas Mustahar. Ia adalah putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III. Meski ayahnya seorang Raja, ibunya—R.A. Mangkarawati—adalah seorang selir (garwa ampeyan) yang berasal dari Pacitan. Fakta inilah yang membuat kehidupan masa kecil Pangeran Diponegoro berbeda dari pangeran lainnya. Ia tidak tumbuh dalam kemewahan tembok istana Keraton Yogyakarta, melainkan dibawa menyingkir ke Tegalrejo. Di sana, ia diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng (permaisuri Sultan HB I), sosok wanita yang sangat religius dan tangguh. Di Tegalrejo, Diponegoro yang kemudian bergelar Raden Mas Ontowiryo tumbuh membaur dengan rakyat jelata. Ia menanam padi, bergaul dengan para kiai, dan mendalami ilmu agama layaknya seorang santri. Hidupnya jauh dari intrik politik keraton yang saat itu mulai keruh oleh campur tangan Belanda. Kesadaran akan posisinya begitu kuat. Ketika sang ayah hendak mengangkatnya menjadi Raja, Diponegoro menolak dengan halus. Ia sadar bahwa ibunya bukanlah permaisuri, dan ia merasa hatinya lebih terpanggil untuk urusan keagamaan dan membela rakyat kecil ketimbang duduk di singgasana. Latar belakang inilah—darah biru yang ditempa di tengah rakyat dan pesantren—yang kelak melahirkan sosok pemimpin besar dalam Perang Jawa (1825–1830). Sumber Referensi: * Carey, Peter. (2012). Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Kepustakaan Populer Gramedia. * Babad Diponegoro (Warisan Ingatan Dunia UNESCO). * Sagimun M.D. (1965). Pangeran Dipanegara: Pahlawan Nasional. ☆ NE #SejarahAsalUsul #PangeranDiponegoro #SejarahIndonesia #SejarahJawa #Yogyakarta #PahlawanNasional #KisahSejarah #MataramIslam #Diponegoro

 

Asal-Usul Pangeran Diponegoro: Putra Raja yang Dibesarkan di Tengah Rakyat



Lahir pada 11 November 1785 tepat menjelang fajar, bayi laki-laki itu diberi nama Bendara Raden Mas Mustahar. Ia adalah putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III. Meski ayahnya seorang Raja, ibunya—R.A. Mangkarawati—adalah seorang selir (garwa ampeyan) yang berasal dari Pacitan.

Fakta inilah yang membuat kehidupan masa kecil Pangeran Diponegoro berbeda dari pangeran lainnya. Ia tidak tumbuh dalam kemewahan tembok istana Keraton Yogyakarta, melainkan dibawa menyingkir ke Tegalrejo. Di sana, ia diasuh oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng (permaisuri Sultan HB I), sosok wanita yang sangat religius dan tangguh.

Di Tegalrejo, Diponegoro yang kemudian bergelar Raden Mas Ontowiryo tumbuh membaur dengan rakyat jelata. Ia menanam padi, bergaul dengan para kiai, dan mendalami ilmu agama layaknya seorang santri. Hidupnya jauh dari intrik politik keraton yang saat itu mulai keruh oleh campur tangan Belanda.

Kesadaran akan posisinya begitu kuat. Ketika sang ayah hendak mengangkatnya menjadi Raja, Diponegoro menolak dengan halus. Ia sadar bahwa ibunya bukanlah permaisuri, dan ia merasa hatinya lebih terpanggil untuk urusan keagamaan dan membela rakyat kecil ketimbang duduk di singgasana.

Latar belakang inilah—darah biru yang ditempa di tengah rakyat dan pesantren—yang kelak melahirkan sosok pemimpin besar dalam Perang Jawa (1825–1830).

Sumber Referensi:
* Carey, Peter. (2012). Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Kepustakaan Populer Gramedia.
* Babad Diponegoro (Warisan Ingatan Dunia UNESCO).
* Sagimun M.D. (1965). Pangeran Dipanegara: Pahlawan Nasional.
☆ NE

#SejarahAsalUsul #PangeranDiponegoro #SejarahIndonesia #SejarahJawa #Yogyakarta #PahlawanNasional #KisahSejarah #MataramIslam #Diponegoro

PANTANGAN BANGSA JAWA & TEWASNYA TRUNOJOYO Oleh Raja-Raja Jawa kala itu, tokoh ini tidak ubahnya seperti Ranggalawe dan Aria wiraraja, sama-sama Tokoh Asal Madura yang membahayakan kelangsungan dan kedudukan Raja-Raja Jawa kala itu. Bagi orang Jawa betatapun mempunyai sifat dewanya seseorang, jika dia bukan berdarah Jawa kemudian menduduki tahta dan memerintah Jawa hal tersebut merupakan aib bangsa Jawa. Oleh karena itu, bagamanapun caranya demi harga diri bangsa Jawa, Trunojoyo harus dimatikan. Sama seperti pendahlunya Ranggalawe dan Aria Wiraraja, Trunojoyo adalah sosok orang Madura yang melakukan pemberontakan, bahkan Pemberontakannya cukup merepotkan sebab berhasil menduduki Keraton dan memaksa Raja Mataram kala itu (Amangkurat I) melarikan diri dan akhirnya wafat dalam pelarian (Wafat di Tegal). Sebagai Putra Mahkota, Amangkurat II, kemudian berusaha membangkitkan harkat martabat orang Jawa yang kala itu sedang dicengkeram oleh kekuatan asing yang ingin menghancurkan, yaitu gabungan para pemberontak yang dikomandoi dan didanai oleh orang-orang Madura, Makkasar dan Sunda (Cirebon & Banten). Cara Amangkurat II dalam menghadapi aliansi bangsa asing yang ingin menduduki tahta Jawa itu adalah dengan cara bersekutu dengan VOC. Persekutuan ini hasilnya memuaskan, sebab walaupun Mataram pada akhirnya menyerahkan imbalan beberapa daerah kepada VOC namun pada akhirnya yang menjadi Raja atas tanah Jawa adalah orang Jawa itu sendiri, bukan orang Madura, Makkasar ataupun Sunda. Menurut ahli, bahwa andai saja Trunojoyo memenangkan pertempuran hingga akhir, maka ia kemungkinan besar akan menjadi Raja di Jawa. Namun karena ia berhasil dikalahkan dan kemudian ditangkap, maka rencana tersebut gagal. Dalam catatan kolonial, setelah ditangkap oleh VOC, sebetulnya Trunojoyo akan diamnfaatkan oleh VOC, karenanya selepas ditangkap ia diperlakukan tidak ubahnya seperti Raja oleh VOC, meskipun begitu, hal ini rupanya dapat dibaca oleh Amangkurat II, sehingga ia kemudian buru-buru membunuh Trunojoyo dengan tangannya sendiri. Trunojoyo wafat saat melakukan kunjungan seremonial ke kediaman bangsawan di sebuah desa bernama Payak, Jawa Timur, pada 2 Januari 1680. Ia ditusuk oleh Amangkurat II dengan tangan dan kerisnya sendiri. #pagi HISTORY, BUDAYA ,NUSANTARA

 PANTANGAN BANGSA JAWA & TEWASNYA TRUNOJOYO



Oleh Raja-Raja Jawa kala itu, tokoh ini tidak ubahnya seperti Ranggalawe dan Aria wiraraja, sama-sama Tokoh Asal Madura yang membahayakan kelangsungan dan kedudukan Raja-Raja Jawa kala itu. Bagi orang Jawa betatapun mempunyai sifat dewanya seseorang, jika dia bukan berdarah Jawa kemudian menduduki tahta dan memerintah Jawa hal tersebut merupakan aib bangsa Jawa. Oleh karena itu, bagamanapun caranya demi harga diri bangsa Jawa, Trunojoyo harus dimatikan.


Sama seperti pendahlunya Ranggalawe dan Aria Wiraraja, Trunojoyo adalah sosok orang Madura yang melakukan pemberontakan, bahkan Pemberontakannya cukup merepotkan sebab berhasil menduduki Keraton dan memaksa Raja Mataram kala itu (Amangkurat I) melarikan diri dan akhirnya wafat dalam pelarian (Wafat di Tegal). 


Sebagai Putra Mahkota, Amangkurat II, kemudian berusaha membangkitkan harkat martabat orang Jawa yang kala itu sedang dicengkeram oleh kekuatan asing yang ingin menghancurkan, yaitu gabungan para pemberontak yang dikomandoi dan didanai oleh orang-orang Madura, Makkasar dan Sunda (Cirebon & Banten). 


Cara Amangkurat II dalam menghadapi aliansi bangsa asing yang ingin menduduki tahta Jawa itu adalah dengan cara bersekutu dengan VOC. Persekutuan ini hasilnya memuaskan, sebab walaupun Mataram pada akhirnya menyerahkan imbalan beberapa daerah kepada VOC namun pada akhirnya yang menjadi Raja atas tanah Jawa adalah orang Jawa itu sendiri, bukan orang Madura, Makkasar ataupun Sunda. 


Menurut ahli, bahwa andai saja Trunojoyo memenangkan pertempuran hingga akhir, maka ia kemungkinan besar akan menjadi Raja di Jawa. Namun karena ia berhasil dikalahkan dan kemudian ditangkap, maka rencana tersebut gagal. 


Dalam catatan kolonial, setelah ditangkap oleh VOC, sebetulnya Trunojoyo akan diamnfaatkan oleh VOC, karenanya selepas ditangkap ia diperlakukan tidak ubahnya seperti Raja oleh VOC, meskipun begitu, hal ini rupanya dapat dibaca oleh Amangkurat II, sehingga ia kemudian buru-buru membunuh Trunojoyo dengan tangannya sendiri. Trunojoyo wafat saat melakukan kunjungan seremonial ke kediaman bangsawan di sebuah desa bernama Payak, Jawa Timur, pada 2 Januari 1680. Ia ditusuk oleh Amangkurat II dengan tangan dan kerisnya sendiri.


#pagi

HISTORY, BUDAYA ,NUSANTARA

Magelang utamanya Kota Magelang tidak akan lepas dari perusahaan otobus "Santoso". Bagaimana dengan sejarah perjalanan lahirnya perusahaan otobus "Santoso" ini. PO Santoso didirikan oleh dokter Anwar Sunny (Phung San Lim) setelah beliau mewarisi usaha bus dari orang tuanya yang bernama Wha Yu. Sebelum mewarisi usaha bus dari orang tuanya Bapak dokter Anwar Sunny bekerja di apotek Bayeman. Bapak Anwar Sunny menggantikan pegawai lama yang bernama Sie Khing Hie yang aslinya tinggal di Semarang. Dan di apotek Bayeman ini Bapak Anwar Sunny memiliki rekan kerja yang bernama Peng Lok. Bapak Peng Lok ini nantinya beliau memiliki Kebun Anggrek Bayeman yang tetap masih ada hingga sekarang ini di daerah Bayeman. Saya mendapatkan kisah perjalanan Bapak Anwar Sunny yang pernah bekerja di apotek Bayeman ini dari penuturan mertua saya Bapak Soedarto yang dahulu juga pernah bekerja di apotek Bayeman bersama Bapak Anwar Sunny dan Pen Lok. Pada dekade tahun 1960 - 1970 orang tua Anwar Sunny Memiliki sebuah perusahaan otobus yang bernama PO Tresno yang bergarasi di Kutoarjo Purworejo Jawa Tengah. Memasuki tahun 1970 orang tua Anwar Sunny mewariskan usaha bus tersebut kepada ke 3 anaknya. Setelah ke 3 anaknya mendapatkan bagian bus masing-masing lantas mereka membuat perusahaan otobus baru yaitu: 1. PO Hidup Baru bergarasi di Kutoarjo. 2. PO Kencana Jaya bergarasi di Kutoarjo. 3. PO Santoso bergarasi di Kota Magelang. Sayangnya PO Hidup Baru dan PO Kencana Jaya tidak bertahan lama karena keduanya dibeli oleh PO Sumber Alam yang masih terhitung saudara dari pemilik kedua PO tersebut. PO Sumber Alam ini sampai sekarang masih ada dengan jurusan Yogyakarta - Jakarta/Bogor dan tahun 2025 yang lalu sudah berusia 50 tahun. Akan tetapi ada beberapa unit bus PO Kencana Jaya yang dijual ke PO Santoso beberapa tahun sebelum PO Kencana Jaya tutup total. Sehingga dahulu di jalur Purwokerto - Semarang ada sebutan Kencana Jaya coklat (milik PO Santoso) dan Kencana Jaya biru (milik PO Kencana Jaya). Saat awal berdirinya PO Santoso memulai trayek bus ekonomi non AC jurusan Yogyakarta - Magelang - Semarang dan jurusan Gombong - Purworejo - Magelang - Semarang. Kemudian melebarkan sayap dengan membuka trayek Semarang-Magelang-Cilacap. Livery awal PO Santoso didominasi oleh warna putih dengan tambahan garis horizontal berwarna merah dan hitam pada bagian bawah. Livery ini bisa dibilang awet dan jarang mengalami perubahan. Saat membuka trayek ekonomi non AC PO Santoso mengandalkan armada dengan chassis Mitsubishi Fuso T653 dan Mercedes Benz LP 911. Untuk pool bus nya ada di daerah Poncol Jl Ahmad Yani Kota Magelang (dekatnya SMP Pierre Tendean). Catatan setelah mengelola PO Santoso Bapak Anwar Sunny lantas tidak lagi membuka praktek dokter dan konsentrasi pada bisnis PO busnya. Sementara sang istri masih praktik dan mengutamakan pelayanan kesehatan pada keluarga karyawannya. Pada tahun 1980an pool busnya pindah ke daerah Kupatan (di timurnya SMA Pendowo) untuk menggantikan pool sebelumnya yang berada di Jl Ahmad Yani magelang, pembangunan garasi baru ini digunakan untuk menampung jumlah armada yang semakin bertambah, pada periode ini armada andalan Po santoso adalah Mercy OF 1113 dan Hino AK. Pada akhir tahun 80an PO santoso ini mulai membuka jalur bus malam jurusan Jakarta. Jalur yang diambil adalah Jurusan Wonosari/Klaten – Magelang – Jakarta – Merak . PO Santoso cukup cermat melihat peluang pasar penumpang, mengingat banyak orang daerah Wonosari/Klaten yang merantau ke Jakarta/luar Jawa, tentunya ini jadi pangsa pasar yang sangat menarik. Divisi bus malam ini terus bertahan hingga sekarang, bahkan terus berkembang. Urusan Chasis Bus, Santoso memiliki selera tersendiri, Untuk divisi bus malam Bus santoso banyak mengandalkan chasis Mercedes Benz OH dan Hino AK, rata rata adalah MB OH 1518 King, sedangkan untuk divisi bumel yang jalan siang Po Santoso banyak menggunakan Hino AK dan bus eks divisi Malam. Pada era ini sebagian besar bus PO Santoso menggunakan Karoseri Tri Sakti model Marcopolo, sangat khas lampu depan mercy tiger, sedangkan lampu rem belakang model tumpuk, kesannya sederhana dan tidak neko neko, salah satu body terbaru PO Santoso adalah model Joybus Trisakti bermesin Oh 1521 Intercooler. Bahkan hingga sekarang PO Santoso tetap ada yang menggunakan body bus dari karoseri Tri Sakti Magelang yaitu body Infinity. Kini pool bus PO Santoso berada di Jl Soekarno Hatta di selatannya pool bus PO Handoyo. Dan PO Santoso kini memiliki semboyan "Terpercaya dan Melegenda". Sekarang PO Santoso dikelola oleh Mas Randy Sunny. Itulah sekelumit perjalanan sejarah perusahaan otobus Santoso dari Kota Magelang.

 Magelang utamanya Kota Magelang tidak akan lepas dari perusahaan otobus "Santoso". Bagaimana dengan sejarah perjalanan lahirnya perusahaan otobus "Santoso" ini.



PO Santoso didirikan oleh dokter Anwar Sunny (Phung San Lim) setelah beliau mewarisi usaha bus dari orang tuanya yang bernama Wha Yu.

Sebelum mewarisi usaha bus dari orang tuanya Bapak dokter Anwar Sunny bekerja di apotek Bayeman. Bapak Anwar Sunny menggantikan pegawai lama yang bernama Sie Khing Hie yang aslinya tinggal di Semarang. Dan di apotek Bayeman ini Bapak Anwar Sunny memiliki rekan kerja yang bernama Peng Lok. Bapak Peng Lok ini nantinya beliau memiliki Kebun Anggrek Bayeman yang tetap masih ada hingga sekarang ini di daerah Bayeman. Saya mendapatkan kisah perjalanan Bapak Anwar Sunny yang pernah bekerja di apotek Bayeman ini dari penuturan mertua saya Bapak Soedarto yang dahulu juga pernah bekerja di apotek Bayeman bersama Bapak Anwar Sunny dan Pen Lok. 

Pada dekade tahun 1960 - 1970 orang tua Anwar Sunny Memiliki sebuah perusahaan otobus yang bernama PO Tresno yang bergarasi di Kutoarjo Purworejo Jawa Tengah.

Memasuki tahun 1970 orang tua Anwar Sunny mewariskan usaha bus tersebut kepada ke 3 anaknya. Setelah ke 3 anaknya mendapatkan bagian bus masing-masing lantas mereka membuat perusahaan otobus baru yaitu:

1. PO Hidup Baru bergarasi di Kutoarjo.

2. PO Kencana Jaya bergarasi di Kutoarjo.

3. PO Santoso bergarasi di Kota Magelang.

Sayangnya PO Hidup Baru dan PO Kencana Jaya tidak bertahan lama karena keduanya dibeli oleh PO Sumber Alam yang masih terhitung saudara dari pemilik kedua PO tersebut. PO Sumber Alam ini sampai sekarang masih ada dengan jurusan Yogyakarta - Jakarta/Bogor dan tahun 2025 yang lalu sudah berusia 50 tahun.

Akan tetapi ada beberapa unit bus PO Kencana Jaya yang dijual ke PO Santoso beberapa tahun sebelum PO Kencana Jaya tutup total. Sehingga dahulu di jalur Purwokerto - Semarang ada sebutan Kencana Jaya coklat (milik PO Santoso) dan Kencana Jaya biru (milik PO Kencana Jaya).

Saat awal berdirinya PO Santoso memulai trayek bus ekonomi non AC jurusan Yogyakarta - Magelang - Semarang  dan jurusan Gombong - Purworejo - Magelang - Semarang.

Kemudian melebarkan sayap dengan membuka trayek Semarang-Magelang-Cilacap.

Livery awal PO Santoso didominasi oleh warna putih dengan tambahan garis horizontal berwarna merah dan hitam pada bagian bawah. Livery ini bisa dibilang awet dan jarang mengalami perubahan.

Saat membuka trayek ekonomi non AC PO Santoso mengandalkan armada dengan chassis Mitsubishi Fuso T653 dan Mercedes Benz LP 911. Untuk pool bus nya ada di daerah Poncol Jl Ahmad Yani Kota Magelang (dekatnya SMP Pierre Tendean). Catatan setelah mengelola PO Santoso Bapak Anwar Sunny lantas tidak lagi membuka praktek dokter dan konsentrasi pada bisnis PO busnya. Sementara sang istri masih praktik dan mengutamakan pelayanan kesehatan pada keluarga karyawannya.

Pada tahun 1980an pool busnya pindah ke daerah Kupatan (di timurnya SMA Pendowo) untuk menggantikan pool sebelumnya yang berada di Jl Ahmad Yani magelang, pembangunan garasi baru ini digunakan untuk menampung jumlah armada yang semakin bertambah, pada periode ini armada andalan Po santoso adalah Mercy OF 1113 dan Hino AK.

Pada akhir tahun 80an PO santoso ini mulai membuka  jalur bus malam jurusan Jakarta. Jalur yang diambil adalah Jurusan Wonosari/Klaten – Magelang – Jakarta – Merak . PO Santoso cukup cermat melihat peluang pasar penumpang, mengingat banyak orang daerah Wonosari/Klaten  yang merantau ke Jakarta/luar Jawa, tentunya ini jadi pangsa pasar yang sangat menarik. Divisi bus malam ini terus bertahan hingga sekarang, bahkan terus berkembang.

Urusan Chasis Bus, Santoso memiliki selera tersendiri, Untuk divisi bus malam Bus santoso banyak mengandalkan chasis Mercedes Benz OH dan Hino AK, rata rata adalah MB OH 1518 King, sedangkan untuk divisi bumel yang jalan siang Po Santoso banyak menggunakan Hino AK dan bus eks divisi Malam.

Pada era ini sebagian besar bus PO Santoso menggunakan Karoseri Tri Sakti model Marcopolo, sangat khas lampu depan mercy tiger, sedangkan lampu rem belakang model tumpuk, kesannya sederhana dan tidak neko neko, salah satu body terbaru PO Santoso adalah model Joybus Trisakti bermesin Oh 1521 Intercooler. Bahkan hingga sekarang PO Santoso tetap ada yang menggunakan body bus dari karoseri Tri Sakti Magelang yaitu body Infinity.

Kini pool bus PO Santoso berada di Jl Soekarno Hatta di selatannya pool bus PO Handoyo. Dan PO Santoso kini memiliki semboyan "Terpercaya dan Melegenda". Sekarang PO Santoso dikelola oleh Mas Randy Sunny.

Itulah sekelumit perjalanan sejarah perusahaan otobus Santoso dari Kota Magelang.


Sumber : Orchid Breeder

Bincang bincang dengan mertua tentang penginapan yang ada di kota Magelang di era setelah tahun 1950an. 1. Hotel Safari di daerah Kramat 2. Hotel Wijaya di daerah Poncol 3. Hotel Yu Yan di daerah Pecinan di utara nya Hotel Tai Tong. 4. Hotel Tai Tong di daerah Pecinan (sekarang lokasinya jadi Hotel Sumber Waras) 5. Hotel Aman di Jl Tidar 6. Hotel Sriti di Jl Daha 7. Hotel Bayeman di Jl Tentara Pelajar/Bayeman (timurnya Monumen Tentara Pelajar. Dan dahulu di daerah Poncol selain ada pool bus PO Santoso juga ada pool bus PO Pemuda Express di utaranya Bengkel Inti Motor sekarang ini. Selain penginapan di daerah Pecinan timurnya Klentheng ke selatan dikit dahulu ada toko roti "Victoria". Dan di daerah Pecinan ada toko "De Zoon" yang kemudian hari menjadi toko"Matahari". Demikian sedikit bincang bincang dengan mertua tentang Kota Magelang.

 Bincang bincang dengan mertua tentang penginapan yang ada di kota Magelang di era setelah tahun 1950an.

1. Hotel Safari di daerah Kramat 

2. Hotel Wijaya di daerah Poncol 

3. Hotel Yu Yan di daerah Pecinan di utara nya Hotel Tai 

    Tong.

4. Hotel Tai Tong di daerah Pecinan (sekarang lokasinya jadi      

     Hotel Sumber Waras)

5. Hotel Aman di Jl Tidar 

6. Hotel Sriti di Jl Daha 

7. Hotel Bayeman di Jl Tentara Pelajar/Bayeman (timurnya 

     Monumen Tentara Pelajar.

Dan dahulu di daerah Poncol selain ada pool bus PO Santoso juga ada pool bus PO Pemuda Express di utaranya Bengkel Inti Motor sekarang ini.

Selain penginapan di daerah Pecinan timurnya Klentheng ke selatan dikit dahulu ada toko roti "Victoria". Dan di daerah Pecinan ada toko "De Zoon" yang kemudian hari menjadi toko"Matahari".

Demikian sedikit bincang bincang dengan mertua tentang Kota Magelang.


Sumber : Orchid Breeder

Mohammad Roem yang tak percaya jimat, pernah dibekali jimat oleh Bung Karno dan Jenderal Soedirman untuk "pegangan" selama diplomasi, bingung bagaimana menyingkirkannya... Pada Majalah Intisari edisi Februari 1971, Mohammad Roem menceritakan pengalamannya mendapat jimat dari seorang dukun atas perintah Presiden Sukarno yang disaksikan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Ketika itu, Pak Roem bertugas sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda sebagai pelaksanaan Persetujuan Renville. Perundingan itu berjalan seret. Karena itu kedua pemimpin bangsa itu merasa perlu untuk memperkuat jiwa Mohammad Roem. Yang menarik, Mohammad Roem sempat kebingungan untuk melepaskan diri dari jimat itu. Soalnya, dia dipesan bahwa jimat itu tak boleh berpisah dari dirinya. Tanpa sengaja, Nyonya Roem memberi “jalan keluar”. "Tidak pernah saya duga bahwa untuk kedua kalinya dalam hidup saya harus memakai jimat. Untunglah ayah memberi pelajaran bagaimana harus menghadapinya, meskipun ayah mengajarkan tidak perlu percaya jimat. Pada waktu itu saya teringat pelajaran ayah, tentang menghormati kepercayaan nenek. Presiden dan Panglima Besar teranglah harus saya hormati, mungkin lebih dari saya menghormati nenek. Panglima Besar menambahkan, "Jimat ini tidak boleh terpisah dari Saudara. Di situ letak kekuatannya, kalau hilang, kekuatan mungkin berbalik. Jagalah sebaik-baiknya." Karena sang dukun berdiri waktu menyampaikan jimat itu, maka saya pun berdiri menerimanya, dan terus saya masukkan ke saku celana. Bagi pakaian sehari-hari di Yogya waktu itu, saku celana tempat yang paling baik. "Simpan di saku kemeja saja," kata Panglima Besar. "Saku di celana kurang hormat." Dengan tidak berpikir panjang lagi saya menyahut, "Celana saya tidak kurang hormatnya dari kemeja. Barang-barang yang penting dan berharga, saya simpan di celana. Saku kemeja kurang aman, mudah jatuh.” SAYA senang melihat bahwa saya dapat meyakinkan Panglima Besar bahwa celana tempat menyimpan yang paling aman. Kalau saya buang jimat itu, tidak ada orang yang akan tahu. Presiden dan Panglima Besar tidak akan menanyakan. Tapi bagi saya sendiri terasa tidak cukup menghormati kedua pejabat tinggi dari negara kita. Maka selama beberapa hari jimat itu tidak terpisah dari saya, tersimpan di saku celana dengan aman dan sebagai rahasia besar...." Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034342834/saat-mohammad-roem-dibekali-jimat-oleh-bung-karno-dan-jenderal-soedirman-untuk-sangu-diplomasi #mohammadroem #jimat #bungkarno #jenderalsoedirman

 Mohammad Roem yang tak percaya jimat, pernah dibekali jimat oleh Bung Karno dan Jenderal Soedirman untuk "pegangan" selama diplomasi, bingung bagaimana menyingkirkannya...



Pada Majalah Intisari edisi Februari 1971, Mohammad Roem menceritakan pengalamannya mendapat jimat dari seorang dukun atas perintah Presiden Sukarno yang disaksikan Panglima Besar Jenderal Sudirman.


Ketika itu, Pak Roem bertugas sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Belanda sebagai pelaksanaan Persetujuan Renville. Perundingan itu berjalan seret. Karena itu kedua pemimpin bangsa itu merasa perlu untuk memperkuat jiwa Mohammad Roem.


Yang menarik, Mohammad Roem sempat kebingungan untuk melepaskan diri dari jimat itu. Soalnya, dia dipesan bahwa jimat itu tak boleh berpisah dari dirinya. Tanpa sengaja, Nyonya Roem memberi “jalan keluar”.


"Tidak pernah saya duga bahwa untuk kedua kalinya dalam hidup saya harus memakai jimat. Untunglah ayah memberi pelajaran bagaimana harus menghadapinya, meskipun ayah mengajarkan tidak perlu percaya jimat. Pada waktu itu saya teringat pelajaran ayah, tentang menghormati kepercayaan nenek. Presiden dan Panglima Besar teranglah harus saya hormati, mungkin lebih dari saya menghormati nenek.


Panglima Besar menambahkan, "Jimat ini tidak boleh terpisah dari Saudara. Di situ letak kekuatannya, kalau hilang, kekuatan mungkin berbalik. Jagalah sebaik-baiknya."


Karena sang dukun berdiri waktu menyampaikan jimat itu, maka saya pun berdiri menerimanya, dan terus saya masukkan ke saku celana. Bagi pakaian sehari-hari di Yogya waktu itu, saku celana tempat yang paling baik.


"Simpan di saku kemeja saja," kata Panglima Besar. "Saku di celana kurang hormat."


Dengan tidak berpikir panjang lagi saya menyahut, "Celana saya tidak kurang hormatnya dari kemeja. Barang-barang yang penting dan berharga, saya simpan di celana. Saku kemeja kurang aman, mudah jatuh.”


SAYA senang melihat bahwa saya dapat meyakinkan Panglima Besar bahwa celana tempat menyimpan yang paling aman.


Kalau saya buang jimat itu, tidak ada orang yang akan tahu. Presiden dan Panglima Besar tidak akan menanyakan. Tapi bagi saya sendiri terasa tidak cukup menghormati kedua pejabat tinggi dari negara kita. Maka selama beberapa hari jimat itu tidak terpisah dari saya, tersimpan di saku celana dengan aman dan sebagai rahasia besar...."


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034342834/saat-mohammad-roem-dibekali-jimat-oleh-bung-karno-dan-jenderal-soedirman-untuk-sangu-diplomasi


#mohammadroem #jimat #bungkarno #jenderalsoedirman

Cepuri Parangkusumo adalah situs bersejarah dan spiritual di kompleks Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, yang menyimpan banyak cerita masyarakat terkait dengan Nyi Roro Kidul, sang Ratu Laut Selatan. Asal Usul dan Hubungan dengan Panembahan Senopati Menurut Babad Tanah Jawa dan Serat Kandha, Cepuri awalnya adalah pulau kecil yang menjadi tempat semadi Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, ketika ia mencari petunjuk untuk membangun kerajaan. Konon, di sinilah ia bertemu dengan Nyi Roro Kidul dan membuat kesepakatan untuk mendapatkan dukungan spiritual demi kelangsungan kerajaan. Tempat semadinya kini berwujud dua gundukan batu bernama Sela Ageng dan Sela Sengker, yang dianggap sebagai penanda kesepakatan tersebut. Pertemuan Rahasia Raja dengan Nyi Roro Kidul Cerita masyarakat menyebutkan bahwa setiap raja Mataram (termasuk Sultan Yogyakarta) memiliki ikatan spiritual dengan Nyi Roro Kidul, bahkan dipercaya pernah menjadikannya istri secara gaib. Cepuri menjadi lokasi rahasia untuk pertemuan mereka, terutama pada malam Selasa Kliwon dan tanggal 1 Suro (awal tahun Jawa). Pada saat itu, banyak warga berkumpul untuk tirakat atau semedi, berharap mendapatkan berkah seperti kesehatan, rejeki, atau petunjuk hidup. Larangan Memakai Pakaian Hijau Salah satu larangan terkenal yang terkait dengan Cepuri dan sekitarnya adalah tidak boleh mengenakan pakaian berwarna hijau di sepanjang pantai. Konon, larangan ini berasal dari kesepakatan dengan Nyi Roro Kidul, dan juga dianggap sebagai simbol untuk memutuskan hubungan masyarakat Jawa dengan warna yang identik dengan kekuasaan Belanda pada masa lalu. Beberapa cerita juga menyebutkan bahwa mereka yang melanggar larangan bisa terseret ombak atau mengalami hal tak diinginkan. #spiritual21 #sejarah #mataram #cepuri #parangkusumo #nyirorokidul #kejawen

 Cepuri Parangkusumo adalah situs bersejarah dan spiritual di kompleks Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, yang menyimpan banyak cerita masyarakat terkait dengan Nyi Roro Kidul, sang Ratu Laut Selatan. 

 


Asal Usul dan Hubungan dengan Panembahan Senopati

 

Menurut Babad Tanah Jawa dan Serat Kandha, Cepuri awalnya adalah pulau kecil yang menjadi tempat semadi Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam, ketika ia mencari petunjuk untuk membangun kerajaan. Konon, di sinilah ia bertemu dengan Nyi Roro Kidul dan membuat kesepakatan untuk mendapatkan dukungan spiritual demi kelangsungan kerajaan. Tempat semadinya kini berwujud dua gundukan batu bernama Sela Ageng dan Sela Sengker, yang dianggap sebagai penanda kesepakatan tersebut.

 

Pertemuan Rahasia Raja dengan Nyi Roro Kidul

 

Cerita masyarakat menyebutkan bahwa setiap raja Mataram (termasuk Sultan Yogyakarta) memiliki ikatan spiritual dengan Nyi Roro Kidul, bahkan dipercaya pernah menjadikannya istri secara gaib. Cepuri menjadi lokasi rahasia untuk pertemuan mereka, terutama pada malam Selasa Kliwon dan tanggal 1 Suro (awal tahun Jawa). Pada saat itu, banyak warga berkumpul untuk tirakat atau semedi, berharap mendapatkan berkah seperti kesehatan, rejeki, atau petunjuk hidup.

 

Larangan Memakai Pakaian Hijau

 

Salah satu larangan terkenal yang terkait dengan Cepuri dan sekitarnya adalah tidak boleh mengenakan pakaian berwarna hijau di sepanjang pantai. Konon, larangan ini berasal dari kesepakatan dengan Nyi Roro Kidul, dan juga dianggap sebagai simbol untuk memutuskan hubungan masyarakat Jawa dengan warna yang identik dengan kekuasaan Belanda pada masa lalu. Beberapa cerita juga menyebutkan bahwa mereka yang melanggar larangan bisa terseret ombak atau mengalami hal tak diinginkan.

 

#spiritual21 #sejarah #mataram #cepuri #parangkusumo #nyirorokidul #kejawen

23 January 2026

Sri Sultan Hamengkubuwono VIII Memerintah Kesultanan Yogyakarta dari tahun 1921 hingga 1939, dikenal sebagai raja yang visioner dan modern yang membawa banyak kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, seni, dan arsitektur keraton. Kehidupan Awal dan Pemerintahan Kelahiran dan Nama Kecil: Lahir pada tanggal 3 Maret 1880 dengan nama Gusti Raden Mas Sujadi, putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Pendidikan: Menempuh pendidikan di Belanda, yang memengaruhinya dalam membawa ide-ide modern ke keraton. Naik Takhta: Dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 8 Februari 1921, setelah ayahandanya menyatakan niat untuk lengser keprabon (turun takhta). Kontribusi dan Warisan Masa pemerintahan Hamengkubuwono VIII dikenal sebagai periode kemajuan pesat dan masa keemasan budaya Jawa. Administrasi dan Politik: Mengajukan perubahan lambang kebesaran kesultanan dari yang mengadopsi lambang Belanda menjadi lambang keraton sendiri, menumbuhkan identitas lokal. Mereorganisasi birokrasi keraton dengan membentuk jawatan-jawatan (semacam departemen) dan menghapus fungsi Patih Dalem yang sering digunakan Belanda sebagai alat politik, sehingga Sultan dapat memerintah daerahnya secara langsung. Budaya dan Seni: Melakukan perombakan signifikan pada arsitektur fisik keraton, yang bentuknya banyak terlihat hingga saat ini. Menciptakan banyak tarian klasik Gaya Yogyakarta, seperti Beksan Srimpi Layu-layu, dan memulai pembakuan pakem tari klasik. Masa ini juga menjadi masa keemasan pementasan wayang wong (wayang orang) besar-besaran yang sering diadakan di keraton. Sosial: Membawa kemajuan di bidang pendidikan dan kesehatan di lingkungan keraton dan masyarakat terbatas pada saat itu. Hamengkubuwono VIII mangkat pada tanggal 22 Oktober 1939. Ia meninggalkan warisan kepemimpinan visioner yang menjadi jembatan antara pemerintahan tradisional Jawa dengan birokrasi modern, serta pelestarian dan pengembangan budaya yang kaya.

 Sri Sultan Hamengkubuwono VIII



Memerintah Kesultanan Yogyakarta dari tahun 1921 hingga 1939, dikenal sebagai raja yang visioner dan modern yang membawa banyak kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, seni, dan arsitektur keraton. 


Kehidupan Awal dan Pemerintahan

Kelahiran dan Nama Kecil: Lahir pada tanggal 3 Maret 1880 dengan nama Gusti Raden Mas Sujadi, putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VII.


Pendidikan: Menempuh pendidikan di Belanda, yang memengaruhinya dalam membawa ide-ide modern ke keraton.


Naik Takhta: Dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 8 Februari 1921, setelah ayahandanya menyatakan niat untuk lengser keprabon (turun takhta). 


Kontribusi dan Warisan

Masa pemerintahan Hamengkubuwono VIII dikenal sebagai periode kemajuan pesat dan masa keemasan budaya Jawa. 


Administrasi dan Politik:

Mengajukan perubahan lambang kebesaran kesultanan dari yang mengadopsi lambang Belanda menjadi lambang keraton sendiri, menumbuhkan identitas lokal.


Mereorganisasi birokrasi keraton dengan membentuk jawatan-jawatan (semacam departemen) dan menghapus fungsi Patih Dalem yang sering digunakan Belanda sebagai alat politik, sehingga Sultan dapat memerintah daerahnya secara langsung.


Budaya dan Seni:

Melakukan perombakan signifikan pada arsitektur fisik keraton, yang bentuknya banyak terlihat hingga saat ini.

Menciptakan banyak tarian klasik Gaya Yogyakarta, seperti Beksan Srimpi Layu-layu, dan memulai pembakuan pakem tari klasik.

Masa ini juga menjadi masa keemasan pementasan wayang wong (wayang orang) besar-besaran yang sering diadakan di keraton.


Sosial:

Membawa kemajuan di bidang pendidikan dan kesehatan di lingkungan keraton dan masyarakat terbatas pada saat itu. 


Hamengkubuwono VIII mangkat pada tanggal 22 Oktober 1939. Ia meninggalkan warisan kepemimpinan visioner yang menjadi jembatan antara pemerintahan tradisional Jawa dengan birokrasi modern, serta pelestarian dan pengembangan budaya yang kaya.


Sumber : Abi R Djajadireja

Penutupan jalur kereta api Yogyakarta - Magelang - Secang pada tahun 1975 karena terkena bekas material letusan Merapi (1972), menjadi latar belakang dibukanya Kereta Wisata Ambarawa. Di samping itu, tahun 1970-an juga banyak lokomotif uap yang terkena efek usia dan lambat laun pun mulai berguguran. Sehingga, Gubernur Jawa Tengah, Soepardjo Roestam, menginisiasi dibukanya sebuah museum kereta api pada tahun 1976. Dan Stasiun Willem I dipilih sebagai lokasinya. Dan pada tanggal 21 April 1978, museum pun dibuka sekaligus mulai menyelenggarakan angkutan kereta api wisata uap. Dan wisata kereta api itulah yang hingga kini bertahan di kawasan Kabupaten Semarang bagian tengah selatan. 📸: @hap.ofc. ©️Jendelajatengdiy. #wisata #keeetaapiindonesia #ambarawa #Semarang #JendelaJatengDIY

 Penutupan jalur kereta api Yogyakarta - Magelang - Secang pada tahun 1975 karena terkena bekas material letusan Merapi (1972), menjadi latar belakang dibukanya Kereta Wisata Ambarawa.



Di samping itu, tahun 1970-an juga banyak lokomotif uap yang terkena efek usia dan lambat laun pun mulai berguguran. 


Sehingga, Gubernur Jawa Tengah, Soepardjo Roestam, menginisiasi dibukanya sebuah museum kereta api pada tahun 1976. Dan Stasiun Willem I dipilih sebagai lokasinya.


Dan pada tanggal 21 April 1978, museum pun dibuka sekaligus mulai menyelenggarakan angkutan kereta api wisata uap. Dan wisata kereta api itulah yang hingga kini bertahan di kawasan Kabupaten Semarang bagian tengah selatan.


📸: @hap.ofc.


©️Jendelajatengdiy.


#wisata #keeetaapiindonesia #ambarawa #Semarang #JendelaJatengDIY

Mengenang PB XII “The Last Mataram Emperor” Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Sinuhun Bobby punya “wit and pun” yang lucu diterjemahkan Bhs. Indonesia. Ketemu Kanjeng Romo selaku ‘Holland Sprekken’ (bahasa Belanda). Ceritera Ada abdi dalem merasa dekat dengan Kraton minta diangkat sebagai proyayi. Kata Sinuhun” Deze persoon blijft maar aandringen, alsof hij zich tegen de natuur (de staat/het paleis) wil verzetten. Ja, ik heb de naam RT Suronegoro gegeven - dapper tegen de staat. Eh, er verschijnt weer een elektriciteitsaannemer, ik heb Broer Daryonegoro opdracht gegeven om de naam RT Suryodipuro te geven - tintir (olielampen voor de verlichting van huizen). Laat Go Tik Swan, de marktmeester van RT Harjonegoro (de naam van de grote markt van Solo), vrienden hebben." (Orang ini mendesak terus sepertinya mau menentang kodrat (negara / kraton. Ya sudah kukasih nama RT Suronegoro - berani terhadap negara. Eeeh, muncul lagi pemborong listrik, kuperintahkan Daryonegoro memberi nama RT Suryodipuro - tintir (lampu minyak penerang rumah). Biar Go Tik Swan bupati pasar RT Harjonegoro (nama pasar besar Solo) punya teman 😝) Keluargaku menyimpan kisah-kesan khusus terhadap Sinuhun Bobby, The Last Emperor of Mataram Kingdom - begitu Kanjeng Ibu-Romo menyebut Susuhunan Pakubuwono XII. Selain kita masih Trah PB VI, GRM Soerjo Guritno adalah ‘klasgenoot’ - konco sekolah gymnasium , meskipun lebih senior. “Pak Letnan, ayo mlebu Kraton mengko tak angkat Riyo Hinggil (Kangjeng Raden Mas Haryo) KRMH nunggak semi ramamu, demikian Sinuhun Bobby tiap kali ‘ameng ameng’ di Kamandungan lihat Kanjeng Romo pulang kantor naik Vespa / mobil Gaz dinas TNI. Bapak turun hormat (PB XII adalah Kolonel tituler) dan mereka lantas ‘ngganyik’ (asyik bicara)” Sering pula kudengar perdebatan antara Bapak vs Ibu bahkan Kanjeng Eyang soal ‘dawuh dalem’ - perintah Sinuhun. Bapak lantas menegaskan, “dadi Kanjeng iku abot sanggane; ora ming pasowanan, ananging kudu ngugemi jejering bendoro. Bahwa menyandang gelar bangsawan atau jenjang kepangkatan ningrat konsekuensinya besar. Tak sebatas ikut adat acara upacara kerajaan. Dictum ‘Trahing Kusuma rembesing madu, wijining tapa tedhak ing andanawarih, Sinatrya datan kenging wirang’ - seorang bendoro (noble) bangsawan keturunan ningrat, harus menunjukkan kewibawaan manusia beradab berwawasan agama, dan pantang berbuat tercela misalnya melanggar kode etik) (paugeran dan protokol), suba-sita, tata-krama, unggah-ungguh. Termasuk pelanggaran hukum positif kenegaraan NKRI. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Sinuhun Bobby C.q. Kraton Kasunanan pada era PB XII minim resources. Sinuhun dengan beban moral dan jabatan sebagai Nata Ing Mataram Islam bhumi Surakarta harus ‘bekerja’ di departemen Hankam dengan status awal sebagai Letnan Kolonel tituler. Bergaji terbatas hanya dapat mobil Peugeot 504 Ingatku warna merah, tinggal di kompleks Hankam Kebayoran Lama. Beberapa putra putri ikut merantau sekolah / mencari pekerjaan. Mulai dari Mas Bei GRM Suryo Partono (PB XIII), Mbahjo GRM Suryo Tejo KGPA Tejowulan, disusul Toki Gray Kus Sapartiah yang jadi pramugari Garuda - mengilhami putri narpa antara lain Yu Kenil Dewi Salendrastuti. Jamanku merantau ke Jakarta seiring Kamas BRM Suryo Pujendro mas Jeni, KRMT Purbodiningrat Sigit Nurrochmat, dll, Ingatku menyusul kuliah / bekerja di Jakarta Saban GRAy Koes Sabandiyah dan Dano GRM Suryo Darsono. Pertemuanku terakhir dengan PB XII terjadi awal 2000 waktu diundang Pengacara (kondang) Warsito Sanyoto anak abdi dalem KRT Tondonrgoro (administrator Museum Radyapustaka) yang kaparingan anon anon (gelar tituler). Sinuhun Bobby dijemput Indriyah (vide: ada ceritera lucu di keputren kiita menggoda dia waktu kecil sampainya mewek gulung) sebab gerah masuk angin rawuh terlambat. Saya baru berbincang dengan Siwo Kamto GPH Haryomataram, mas Djon KRMH Brotodiningrat, GPH Hadi Prabowo. Sinuhun masuk, lantas ngendika (bicara), “Lik kapan giliranmu?” (Vide: Lik adalah panggilan untuk anak lelaki). Wo Kamto senyum-senyum dan Mas Djon berbisik, “Oom Hat wis raono saiki giliranmu dioyak Sampean nDalem” (Kanjeng Romo sudah almarhum, kini giliran saya dikejar-kejar Sinuhun Bobby). Kesempatan saya ‘matur’ berkilah, “Matur sembah nuwun. Menika dalem aturaken yoga kawula kaparingan tetenger Haryo Prabowo Kalyan Bapak. Nyuwun avenging pangaksami munyuk Ngersa Dalem kangge gantosipun” (mengucapkan terima kasih pada PBXII dan berkilah bahwa Bapak menamakan anakku Haryo). “Aaach je bent net als je moeder Andriany - slim in het ontwijken”, celetuk Sampean Dalem (wah, kau ini persis ibumu Andriany pinter ngeles / mengelak). Wo Kamto satu-satunya pinisepuh yang masih ‘bekwaam’ coro Londo (vloeiend spreek Nederlands) ketawa terbahak-bahak. Tahun 2004 sebelum kita pindah Canada Sinuhun Bobby surud. Itulah kenangan terakhir bisa bertatap muka dan ‘wawan rembag’ dengan Sampean nDalem. In sum, noble blue blood, ningrat kebangsawanan dalam keluarga kita diinterpretasikan sebagai ujud manusia beradab yang tahu etika dan patuh hukum - law abiding citizen; meskipun tak dapat dipungkiri bahwa eyang eyang kita berasal dari Trah Mataram. Jika nasab dirunut bisa sampai Majapahit bahkan ke Era Rakryan Sanjaya Mataram Kuno (Hindu Buddha). Anak wanita kita diberi nama Pramudawardhani - kakak Balaputera Dewa, maharaja Sriwijaya, pendiri Universitas Nalanda dan pembangun mahakarya candi Borobudur. JamanNow menurut alm Kanjeng Romo titel kita sama dengan semua warga masyarakat NKRI: citoyen, bung / saudara saudari Husnul Khatimah Sinuhun Bobby. Semoga Sampean Dalem faham bahwa penolakan Kanjeng Romo yang kuwarisi adalah sikap sebagai WNI

 Mengenang PB XII “The Last Mataram Emperor” Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat 



Sinuhun Bobby punya “wit and pun” yang lucu  diterjemahkan Bhs. Indonesia. Ketemu Kanjeng Romo selaku ‘Holland Sprekken’ (bahasa Belanda). Ceritera Ada abdi dalem  merasa dekat dengan Kraton minta diangkat sebagai proyayi. Kata Sinuhun” Deze persoon blijft maar aandringen, alsof hij zich tegen de natuur (de staat/het paleis) wil verzetten. Ja, ik heb de naam RT Suronegoro gegeven - dapper tegen de staat. Eh, er verschijnt weer een elektriciteitsaannemer, ik heb  Broer Daryonegoro opdracht gegeven om de naam RT Suryodipuro te geven - tintir (olielampen voor de verlichting van huizen). Laat Go Tik Swan, de marktmeester van RT Harjonegoro (de naam van de grote markt van Solo), vrienden hebben." (Orang ini mendesak terus sepertinya mau menentang kodrat (negara / kraton. Ya sudah kukasih nama RT Suronegoro - berani terhadap negara. Eeeh, muncul lagi pemborong listrik, kuperintahkan Daryonegoro memberi nama RT Suryodipuro - tintir (lampu minyak penerang rumah). Biar Go Tik Swan bupati pasar RT Harjonegoro (nama pasar besar Solo) punya teman 😝)


Keluargaku menyimpan kisah-kesan khusus terhadap Sinuhun Bobby, The Last Emperor of Mataram Kingdom - begitu Kanjeng Ibu-Romo menyebut Susuhunan Pakubuwono XII. Selain kita masih  Trah PB VI, GRM Soerjo Guritno adalah ‘klasgenoot’ - konco sekolah  gymnasium , meskipun lebih senior. 


“Pak Letnan, ayo mlebu Kraton mengko tak angkat Riyo Hinggil (Kangjeng Raden Mas Haryo) KRMH nunggak semi ramamu, demikian Sinuhun Bobby tiap kali ‘ameng ameng’ di Kamandungan lihat Kanjeng Romo pulang kantor naik Vespa / mobil Gaz dinas TNI. Bapak turun hormat (PB XII adalah Kolonel tituler) dan mereka lantas ‘ngganyik’ (asyik bicara)”


Sering pula kudengar perdebatan antara Bapak vs Ibu bahkan Kanjeng Eyang soal ‘dawuh dalem’ - perintah Sinuhun. Bapak lantas menegaskan, “dadi Kanjeng iku abot sanggane; ora ming pasowanan, ananging kudu ngugemi jejering bendoro. Bahwa menyandang gelar bangsawan atau jenjang kepangkatan ningrat konsekuensinya besar. Tak sebatas ikut adat acara upacara kerajaan. 


Dictum ‘Trahing Kusuma rembesing madu, wijining tapa tedhak ing andanawarih, Sinatrya datan kenging wirang’ -  seorang bendoro (noble) bangsawan keturunan ningrat, harus menunjukkan kewibawaan manusia beradab berwawasan agama, dan pantang berbuat tercela misalnya melanggar kode etik) (paugeran dan protokol), suba-sita, tata-krama, unggah-ungguh. Termasuk pelanggaran hukum positif kenegaraan NKRI. 


Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Sinuhun Bobby C.q. Kraton Kasunanan pada era PB XII minim resources. Sinuhun dengan beban moral dan jabatan sebagai Nata Ing Mataram Islam bhumi Surakarta harus ‘bekerja’ di departemen Hankam dengan status awal sebagai Letnan Kolonel tituler. Bergaji terbatas hanya dapat mobil Peugeot 504 Ingatku warna merah, tinggal di kompleks Hankam Kebayoran Lama. Beberapa putra putri ikut merantau sekolah / mencari pekerjaan. Mulai dari Mas Bei GRM Suryo Partono (PB XIII), Mbahjo GRM Suryo Tejo KGPA Tejowulan, disusul Toki Gray Kus Sapartiah yang jadi pramugari Garuda - mengilhami putri narpa antara lain Yu Kenil Dewi Salendrastuti. Jamanku merantau ke Jakarta seiring Kamas BRM Suryo Pujendro mas Jeni, KRMT Purbodiningrat Sigit Nurrochmat, dll, Ingatku menyusul kuliah / bekerja di Jakarta Saban GRAy Koes Sabandiyah dan Dano GRM Suryo Darsono. 


Pertemuanku terakhir dengan PB XII terjadi awal 2000 waktu diundang Pengacara (kondang) Warsito Sanyoto anak abdi dalem KRT Tondonrgoro (administrator Museum Radyapustaka) yang kaparingan anon anon (gelar tituler). Sinuhun Bobby dijemput Indriyah (vide: ada ceritera lucu di keputren kiita menggoda dia waktu kecil sampainya mewek gulung) sebab gerah masuk angin rawuh terlambat. 


Saya baru berbincang dengan Siwo Kamto GPH Haryomataram, mas Djon KRMH Brotodiningrat, GPH Hadi Prabowo. Sinuhun masuk, lantas ngendika (bicara), “Lik kapan giliranmu?” (Vide: Lik adalah panggilan untuk anak lelaki). Wo Kamto senyum-senyum dan Mas Djon berbisik, “Oom Hat wis raono saiki giliranmu dioyak Sampean nDalem” (Kanjeng Romo sudah almarhum, kini giliran saya dikejar-kejar Sinuhun Bobby). 


Kesempatan saya ‘matur’ berkilah, “Matur sembah nuwun. Menika dalem aturaken yoga kawula kaparingan tetenger Haryo Prabowo Kalyan Bapak. Nyuwun avenging pangaksami munyuk Ngersa Dalem kangge gantosipun” (mengucapkan terima kasih pada PBXII dan berkilah bahwa Bapak menamakan anakku Haryo). 


“Aaach je bent net als je moeder Andriany - slim in het ontwijken”, celetuk Sampean Dalem (wah, kau ini persis ibumu Andriany pinter ngeles / mengelak). 


Wo Kamto satu-satunya pinisepuh yang masih ‘bekwaam’ coro Londo (vloeiend spreek Nederlands) ketawa terbahak-bahak. Tahun 2004 sebelum kita pindah Canada Sinuhun Bobby surud. Itulah kenangan terakhir bisa bertatap muka dan ‘wawan rembag’ dengan Sampean nDalem. 


In sum, noble blue blood, ningrat kebangsawanan dalam keluarga kita diinterpretasikan sebagai ujud manusia beradab yang tahu etika dan patuh hukum - law abiding citizen; meskipun tak dapat dipungkiri bahwa eyang eyang kita berasal dari Trah Mataram.  Jika nasab dirunut bisa sampai Majapahit bahkan ke Era Rakryan Sanjaya Mataram Kuno (Hindu Buddha). Anak wanita kita diberi nama Pramudawardhani - kakak Balaputera Dewa, maharaja Sriwijaya, pendiri Universitas Nalanda dan pembangun mahakarya candi Borobudur. JamanNow menurut alm Kanjeng Romo titel kita sama dengan semua warga masyarakat NKRI: citoyen, bung / saudara saudari 


Husnul Khatimah Sinuhun Bobby. Semoga Sampean Dalem faham bahwa penolakan Kanjeng Romo yang kuwarisi adalah sikap sebagai WNI

Bupati penggagas tradisi Dugderan Dugderan di Semarang, memiliki pertalian tradisi dengan dandangan di Kudus. Selain kedua tradisi tersebut menjadi momen pengumuman datangnya bulan Ramadhan, tradisi dugderan juga dicetuskan oleh tokoh yang memiliki ikatan batin kuat dengan tradisi dandangan. Dialah Raden Mas Tumenggung Ario Poorbaningrat, yang semasa mudanya bernama Trenggono. Beliau adalah salah satu putra Tjondronegoro IV, Bupati Kudus dan Demak yang memiliki cara pandang dan berpikir sangat modern. Ario Poorbaningrat menjabat sebagai Bupati Demak tahun 1864 (menggantikan Tjondronegoro IV setelah wafat), dan mulai Maret 1881, beliau ditugaskan sebagai Bupati Semarang. Dalam penugasannya di Semarang, Beliau berhasil menyelesaikan pembangunan masjid agung Kauman yang bertahun-tahun terbengkelai. Dan untuk menyeragamkan diawalinya bulan Ramadhan, Beliau menggagas sebuah tradisi. Membawa dandangan sebagai kenangan masa kecilnya di Kudus ke tempat penugasannya, datangnya bulan Ramadhan di Semarang ditandai dengan ditabuhnya bedug dan dibunyikannya meriam. Tradisi ini dikenal dengan nama Dugderan. Setelah wafat, Ario Poorbaningrat dimakamkan di Kudus, tepatnya di Makam Sedomukti, kompleks pemakaman untuk trah Tjondronegaran di Desa Kaliputu. Nisannya berada satu cungkup dengan istri dan anak-anaknya, dengan bentuk makam yang unik, karena mirip dengan makam Belanda. Di kompleks pemakaman yang sama, dimakamkan pula kakeknya (Tjondronegoro III), ayahnya (Tjondronegoro IV), dan saudara-saudaranya: Sosroningrat (Bupati Jepara sekaligus ayah dari RA. Kartini) dan Hadiningrat (Bupati Demak).

 Bupati penggagas tradisi Dugderan



Dugderan di Semarang, memiliki pertalian tradisi dengan dandangan di Kudus. Selain kedua tradisi tersebut menjadi momen pengumuman datangnya bulan Ramadhan, tradisi dugderan juga dicetuskan oleh tokoh yang memiliki ikatan batin kuat dengan tradisi dandangan. Dialah Raden Mas Tumenggung Ario Poorbaningrat, yang semasa mudanya bernama Trenggono. Beliau adalah salah satu putra Tjondronegoro IV, Bupati Kudus dan Demak yang memiliki cara pandang dan berpikir sangat modern.

Ario Poorbaningrat menjabat sebagai Bupati Demak tahun 1864 (menggantikan Tjondronegoro IV setelah wafat), dan mulai Maret 1881, beliau ditugaskan sebagai Bupati Semarang. Dalam penugasannya di Semarang, Beliau berhasil menyelesaikan pembangunan masjid agung Kauman yang bertahun-tahun terbengkelai. Dan untuk menyeragamkan diawalinya bulan Ramadhan, Beliau menggagas sebuah tradisi. Membawa dandangan sebagai kenangan masa kecilnya di Kudus ke tempat penugasannya, datangnya bulan Ramadhan di Semarang ditandai dengan ditabuhnya bedug dan dibunyikannya meriam. Tradisi ini dikenal dengan nama Dugderan. 

Setelah wafat, Ario Poorbaningrat dimakamkan di Kudus, tepatnya di Makam Sedomukti, kompleks pemakaman untuk trah Tjondronegaran di Desa Kaliputu. Nisannya berada satu cungkup dengan istri dan anak-anaknya, dengan bentuk makam yang unik, karena mirip dengan makam Belanda. Di kompleks pemakaman yang sama, dimakamkan pula kakeknya (Tjondronegoro III), ayahnya (Tjondronegoro IV), dan saudara-saudaranya: Sosroningrat (Bupati Jepara sekaligus ayah dari RA. Kartini) dan Hadiningrat (Bupati Demak).

Potret para pejuang kemerdekaan indonesia yang tertangkap pasukan Belanda di Kopeng, Salatiga sekitar tahun 1947 Tidak ada yang tahu nasip mereka selanjutnya, dan semoga saja para pejuang kemerdekaan Indonesia,wafat dalam keadaan Husnul Khotimah. Aamiin 🤲 Sumber foto : Het Nationaal Archief

 Potret para pejuang kemerdekaan indonesia yang tertangkap pasukan Belanda di Kopeng, Salatiga sekitar tahun 1947

Tidak ada yang tahu nasip mereka selanjutnya, dan semoga saja para pejuang kemerdekaan Indonesia,wafat dalam keadaan Husnul Khotimah. Aamiin 🤲



Sumber foto : Het Nationaal Archief

Sri Sultan Hamengkubuwono IX Nama lahir beliau adalah Gusti Raden Mas Dorojatun, adalah Sultan Yogyakarta yang memerintah dari tahun 1940 hingga 1988 dan menjabat sebagai Wakil Presiden kedua Indonesia dari tahun 1973 hingga 1978. Beliau dikenal luas sebagai pahlawan nasional dan Bapak Pramuka Indonesia. Biografi Singkat Lahir pada tanggal 12 April 1912, Hamengkubuwono IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Beliau menghabiskan masa kecil dan pendidikan awalnya di luar istana, disekolahkan di sekolah Belanda (ELS dan HBS), dan melanjutkan studi hukum tata negara di Universitas Leiden, Belanda. Setelah dipanggil pulang akibat wafatnya ayahandanya, beliau dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940. Peran dan Kontribusi Utama Integrasi ke Republik Indonesia: Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, beliau segera mengirimkan telegram ucapan selamat kepada Soekarno dan Hatta, diikuti dengan Amanat 5 September 1945 yang menyatakan bahwa Kesultanan Yogyakarta adalah daerah istimewa dari Republik Indonesia. Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan: Beliau menawarkan Yogyakarta sebagai ibu kota negara ketika Jakarta tidak kondusif pada tahun 1946, menanggung segala biaya pemerintahan dari kas keraton. Beliau juga merupakan salah satu inisiator kunci dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, yang berhasil menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih eksis dan berjuang. Jabatan di Pemerintahan Pusat: Selain menjadi Gubernur DIY yang pertama, beliau memegang berbagai jabatan menteri di beberapa kabinet, termasuk Menteri Pertahanan, sebelum akhirnya menjabat sebagai Wakil Presiden di bawah Presiden Soeharto. Bapak Pramuka Indonesia: Aktif dalam gerakan kepanduan sejak muda, beliau menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan diberi gelar "Bapak Pramuka Indonesia" pada tahun 1988. Atas jasanya, beliau menerima penghargaan tertinggi kepramukaan dunia, Bronze Wolf Award, dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973. Warisan Hamengkubuwono IX dikenang sebagai pemimpin yang rendah hati, berjiwa nasionalis, berani, dan berintegritas tinggi. Beliau dikenal dengan filosofi "memberi tanpa meminta kembali" dan jauh dari perilaku korupsi. Warisan kepemimpinannya dinilai relevan bagi generasi muda Indonesia, dan tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Bapak Pramuka Indonesia. Beliau wafat pada 2 Oktober 1988 di Washington DC, AS, dan dimakamkan di pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta.

 Sri Sultan Hamengkubuwono IX



Nama lahir beliau adalah Gusti Raden Mas Dorojatun, adalah Sultan Yogyakarta yang memerintah dari tahun 1940 hingga 1988 dan menjabat sebagai Wakil Presiden kedua Indonesia dari tahun 1973 hingga 1978. Beliau dikenal luas sebagai pahlawan nasional dan Bapak Pramuka Indonesia. 


Biografi Singkat

Lahir pada tanggal 12 April 1912, Hamengkubuwono IX adalah putra dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Beliau menghabiskan masa kecil dan pendidikan awalnya di luar istana, disekolahkan di sekolah Belanda (ELS dan HBS), dan melanjutkan studi hukum tata negara di Universitas Leiden, Belanda. Setelah dipanggil pulang akibat wafatnya ayahandanya, beliau dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta pada tanggal 18 Maret 1940. 


Peran dan Kontribusi Utama

Integrasi ke Republik Indonesia: Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, beliau segera mengirimkan telegram ucapan selamat kepada Soekarno dan Hatta, diikuti dengan Amanat 5 September 1945 yang menyatakan bahwa Kesultanan Yogyakarta adalah daerah istimewa dari Republik Indonesia.


Peran dalam Perjuangan Kemerdekaan: Beliau menawarkan Yogyakarta sebagai ibu kota negara ketika Jakarta tidak kondusif pada tahun 1946, menanggung segala biaya pemerintahan dari kas keraton. Beliau juga merupakan salah satu inisiator kunci dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, yang berhasil menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih eksis dan berjuang.


Jabatan di Pemerintahan Pusat: Selain menjadi Gubernur DIY yang pertama, beliau memegang berbagai jabatan menteri di beberapa kabinet, termasuk Menteri Pertahanan, sebelum akhirnya menjabat sebagai Wakil Presiden di bawah Presiden Soeharto.


Bapak Pramuka Indonesia: Aktif dalam gerakan kepanduan sejak muda, beliau menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan diberi gelar "Bapak Pramuka Indonesia" pada tahun 1988. Atas jasanya, beliau menerima penghargaan tertinggi kepramukaan dunia, Bronze Wolf Award, dari World Organization of the Scout Movement (WOSM) pada tahun 1973. 


Warisan

Hamengkubuwono IX dikenang sebagai pemimpin yang rendah hati, berjiwa nasionalis, berani, dan berintegritas tinggi. Beliau dikenal dengan filosofi "memberi tanpa meminta kembali" dan jauh dari perilaku korupsi. Warisan kepemimpinannya dinilai relevan bagi generasi muda Indonesia, dan tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Bapak Pramuka Indonesia. Beliau wafat pada 2 Oktober 1988 di Washington DC, AS, dan dimakamkan di pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta.


Sumber : Abi R Djajadireja