05 September 2026

Sejarah Reje Poteh Melawan Belanda di Tahun 1907. (Interprestasi dari laporan kolonial 1908) Oleh : Zulfikar Ahmad* lintasgayo.co Potensi sumber daya alam tanoh Gayo menarik minat VOC untuk melakukan investasi. Berbagai upaya untuk melancarkan bisnisnya dilakukan, mulai dari mendatangkan pasukan militer, pembangunan unit pengolahan terpentin hingga pembangunan sarana-prasarana. Salah satu sarana terpenting adalah pembangunan jalan untuk memudahkan pengangutan hasil bumi tanoh Gayo. Jalan Bireuen-Takengon mulai dibangun pada tahun 1903 untuk membangun jalan ini Belanda memaksa penduduk untuk memecahkan karang dan meratakan tanah dengan menggunakan alat-alat sederhana yang tersedia pada saat itu. Puluhan nyawa urang Gayo gugur dalam pembangunan jalan ini, sementara ratusan lainnya dipaksa bekerja ‘mengaruk’ sumber daya alam Gayo untuk kepentingan VOC. Kerja paksa tanpa upah yang memadai tentu saja sangat melukai perasaan urang Gayo, berbagai perlawanan dilakukan oleh para pemimpin, salah satu adalah Rödjöh Poetéh (reje poteh) bersama pasukannya melakukan perlawanan dengan menyerang markas-markas Belanda. Serta menghalang-halangi upaya ‘perampokan’ SDA oleh Belanda. Kerugian Belanda akibat perlawanan Reje Poteh membuat petinggi militer di Takengon geram. Operasi penaklukan reje Poteh pun dimulai. Rencana penangkapan disusun, pasukan bergerak dari bivak Takengon menuju Pegasing. Pengepungan tempat persembunyian reje Poteh di Pegasing dilakukan dengan cermat, Meliter Belanda menyusun strategi untuk mencegah lolosnya reje Poteh bersama pasukannya, dari kejauhan aktivitas reje Poteh bersama pasukannya sudah diketahui oleh pasukan Belanda. Saat pengerebekan dilakukan tiba-tiba Reje Poteh bersama pengikutnya lenyap dari pandangan mata, berkali – kali pengerebekan dilakukan namun selalu markas reje Poteh tiba-tiba tak berpenghuni, sampai akhirnya pada bulan Februari 190. Pertempuran tak dapat dielakan, salah seorang prajurit Reje Poteh gugur dengan gagah berani dengan perasaan pilu akibat gugurnya salah seorang prajurit, Reje Poteh bersama para panglima dan pengikutnya berpindah – pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya sambil sesekali menyerang pasukan Belanda. Peristiwa pada bulan Februari 1907 di Pegasing itu menjadi pelajaran penting bagi Reje Poteh, sejak kejadian tersebut Reje Poteh membagi pasukannya dalam beberapa kelompok yang dipimpin oleh para panglimanya seperti Pang Kadam, Pang La’ot dan Pang Ali. Pasukan-pasukan kecil ini berpencar dibeberapa pos untuk melakukan penyerangan-penyerangan kecil, sesekali pasukan-pasukan kecil ini mendatangi bivak Belanda yang dijadikan markas militer untuk membebaskan urang Gayo dari penjara Belanda. Belanda semakin geram oleh aksi pasukan-pasukan Reje Poteh. Upaya penangkapan selalu dilakukan sampai suatu ketika di bulan Mei 1907, terjadi pertempuran di kawasan Serempah, 7 orang pengikut Reje Poteh gugur. Melihat kondisi yang tidak menguntungkan ini, Reje Poteh memerintahkan anggota pasukannya agar pergi bergabung dengan para panglima yang lain, sementara Reje Poteh membiarkan dirinya di tangkap Belanda. Belanda yang sudah menderita kerugian cukup besar akibat perlawanan Reje Poteh, tidak dapat membiarkan sisa pasukan Reje Poteh lolos begitu saja. Pengejaran sisa anggota pasukan Reje Poteh dilakukan sampai ke Beruksah, 4 orang anggota pasukan Reje Poteh kembali gugur ditembus timah panas dari senapan Belanda. Dalam kamp tahanan di bivak Belanda, Reje Poteh dengan mudah dapat meloloskan diri apabila beliau menghendaki. Beberapa kali hal ini dilakukan oleh Reje Poteh, namun akibatnya masyarakat Reje Poteh yang menanggung akibatnya. Tentu saja Reje Poteh tidak ingin melukai rakyatnya yang sudah menderita yang hidup dalam kemiskinan dan ketakutan. Militer Belanda kewalahan untuk menjaga Reje Poteh dalam penjara. Ahirnya, Militer Belanda menyewa orang khusus yang didatangkan dari pantai Barat Aceh untuk menjaga Reje Poteh. Sejak Agustus 1907, Reje Poteh dijaga oleh orang khusus yang mampu melihat Reje Poteh sementara para serdadu Belanda lain tidak dapat melihatnya. Para panglima Reje Poteh yang membangun pos-pos perlawanan dibeberapa kawasan kembali merapat ke Pegasing untuk menyusun strategi mengempur bivak Belanda. Pada bulan November 1907. Belanda ‘dikejutkan’ oleh ulah Pang Kadam dan Pang Ali yang muncul beserta 3 orang pasukannya menghadang Belanda di sebelah Timur Pegasing. Dalam penghadangan ini Pang Kadam dan Pang Ali berhasil ‘merebut’ kembali 3 gerobak pengangkut hasil bumi dan bahan makanan dari kawasan Pegasing. Desember 1907, Pang La’ot gugur namun Reje Poteh tetap tidak mau menyatakan takluk pada Belanda.(*) Belanda menduga inilah Pang La'ot dan Pang Ali Sumber foto : http://www.geheugenvannederland.nl /? /nl/items/VKM01:A17-21/&p=1&i=6&t=7&st=pang&sc=%28pang%29/&wst=pang Pembangunan Jalan Takengon – Bireuen (1903 – 1913), Batu cadas keras dipahat se-inci demi se-inci untuk memuluskan jalan ; Lokasi Cot Panglima (sumber Rijks museum)

 Sejarah Reje Poteh Melawan Belanda di Tahun 1907.


(Interprestasi dari laporan kolonial 1908)


Oleh : Zulfikar Ahmad*


lintasgayo.co Potensi sumber daya alam tanoh Gayo menarik minat VOC untuk melakukan investasi. Berbagai upaya untuk melancarkan bisnisnya dilakukan, mulai dari mendatangkan pasukan militer, pembangunan unit pengolahan terpentin hingga pembangunan sarana-prasarana. 



Salah satu sarana terpenting adalah pembangunan jalan untuk memudahkan pengangutan hasil bumi tanoh Gayo.


Jalan Bireuen-Takengon mulai dibangun pada tahun 1903 untuk membangun jalan ini Belanda memaksa penduduk untuk memecahkan karang dan meratakan tanah dengan menggunakan alat-alat sederhana yang tersedia pada saat itu. 


Puluhan nyawa urang Gayo gugur dalam pembangunan jalan ini, sementara ratusan lainnya dipaksa bekerja ‘mengaruk’ sumber daya alam Gayo untuk kepentingan VOC.


Kerja paksa tanpa upah yang memadai tentu saja sangat melukai perasaan urang Gayo, berbagai perlawanan dilakukan oleh para pemimpin, salah satu adalah Rödjöh Poetéh (reje poteh) bersama pasukannya melakukan perlawanan dengan menyerang markas-markas Belanda.


Serta menghalang-halangi upaya ‘perampokan’ SDA oleh Belanda. Kerugian Belanda akibat perlawanan Reje Poteh membuat petinggi militer di Takengon geram. Operasi penaklukan reje Poteh pun dimulai.


Rencana penangkapan disusun, pasukan bergerak dari bivak Takengon menuju Pegasing.


Pengepungan tempat persembunyian reje Poteh di Pegasing dilakukan dengan cermat, Meliter Belanda menyusun strategi untuk mencegah lolosnya reje Poteh bersama pasukannya, dari kejauhan aktivitas reje Poteh bersama pasukannya sudah diketahui oleh pasukan Belanda. 


Saat pengerebekan dilakukan tiba-tiba Reje Poteh bersama pengikutnya lenyap dari pandangan mata, berkali – kali pengerebekan dilakukan namun selalu markas reje Poteh tiba-tiba tak berpenghuni, sampai akhirnya pada bulan Februari 190.


Pertempuran tak dapat dielakan, salah seorang prajurit Reje Poteh gugur dengan gagah berani dengan perasaan pilu akibat gugurnya salah seorang prajurit, Reje Poteh bersama para panglima dan pengikutnya berpindah – pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya sambil sesekali menyerang pasukan Belanda.


Peristiwa pada bulan Februari 1907 di Pegasing itu menjadi pelajaran penting bagi Reje Poteh, sejak kejadian tersebut Reje Poteh membagi pasukannya dalam beberapa kelompok yang dipimpin oleh para panglimanya seperti Pang Kadam, Pang La’ot dan Pang Ali. 


Pasukan-pasukan kecil ini berpencar dibeberapa pos untuk melakukan penyerangan-penyerangan kecil, sesekali pasukan-pasukan kecil ini mendatangi bivak Belanda yang dijadikan markas militer untuk membebaskan urang Gayo dari penjara Belanda.


Belanda semakin geram oleh aksi pasukan-pasukan Reje Poteh. Upaya penangkapan selalu dilakukan sampai suatu ketika di bulan Mei 1907, terjadi pertempuran di kawasan Serempah, 7 orang pengikut Reje Poteh gugur. 


Melihat kondisi yang tidak menguntungkan ini, Reje Poteh memerintahkan anggota pasukannya agar pergi bergabung dengan para panglima yang lain, sementara Reje Poteh membiarkan dirinya di tangkap Belanda.


Belanda yang sudah menderita kerugian cukup besar akibat perlawanan Reje Poteh, tidak dapat membiarkan sisa pasukan Reje Poteh lolos begitu saja. 


Pengejaran sisa anggota pasukan Reje Poteh dilakukan sampai ke Beruksah, 4 orang anggota pasukan Reje Poteh kembali gugur ditembus timah panas dari senapan Belanda.


Dalam kamp tahanan di bivak Belanda, Reje Poteh dengan mudah dapat meloloskan diri apabila beliau menghendaki. Beberapa kali hal ini dilakukan oleh Reje Poteh, namun akibatnya masyarakat Reje Poteh yang menanggung akibatnya. 


Tentu saja Reje Poteh tidak ingin melukai rakyatnya yang sudah menderita yang hidup dalam kemiskinan dan ketakutan. Militer Belanda kewalahan untuk menjaga Reje Poteh dalam penjara. 


Ahirnya, Militer Belanda menyewa orang khusus yang didatangkan dari pantai Barat Aceh untuk menjaga Reje Poteh. Sejak Agustus 1907, Reje Poteh dijaga oleh orang khusus  yang mampu melihat Reje Poteh sementara para serdadu Belanda lain tidak dapat melihatnya.


Para panglima Reje Poteh yang membangun pos-pos perlawanan dibeberapa kawasan kembali merapat ke Pegasing untuk menyusun strategi mengempur bivak Belanda. Pada bulan November 1907.


Belanda ‘dikejutkan’ oleh ulah Pang Kadam dan Pang Ali yang muncul beserta 3 orang pasukannya menghadang Belanda di sebelah Timur Pegasing. 


Dalam penghadangan ini Pang Kadam dan Pang Ali berhasil ‘merebut’ kembali 3 gerobak pengangkut hasil bumi dan bahan makanan dari kawasan Pegasing.


Desember 1907, Pang La’ot gugur namun Reje Poteh tetap tidak mau menyatakan takluk pada Belanda.(*)


Belanda menduga inilah Pang La'ot dan Pang Ali  Sumber foto : http://www.geheugenvannederland.nl /? /nl/items/VKM01:A17-21/&p=1&i=6&t=7&st=pang&sc=%28pang%29/&wst=pang


Pembangunan Jalan Takengon – Bireuen (1903 – 1913), Batu cadas keras dipahat se-inci demi se-inci untuk memuluskan jalan ; Lokasi Cot Panglima (sumber Rijks museum)

04 September 2026

Para pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia yang di tangkap militer Inggris di Surabaya sekitar November 1945. Tampak dari raut wajah pejuang tidak ada rasa takut. Alfatihah untuk para Pejuang Indonesia🤲🤲🇮🇩

 Para pemuda pejuang kemerdekaan Indonesia yang di tangkap militer Inggris di Surabaya sekitar November 1945. 


Tampak dari raut wajah pejuang tidak ada rasa takut. 

Alfatihah untuk para Pejuang Indonesia






Sumber : Iin Art

03 September 2026

Ki Ageng Suryomentaram (1892–1962) adalah seorang pangeran dari Kesultanan Yogyakarta yang meninggalkan kemewahan istana untuk mencari jati diri dan kebahagiaan sejati melalui filsafat "Kawruh Jiwa" atau Ilmu Bahagia. Beliau adalah putra Sultan Hamengkubuwono VII yang kemudian melepaskan gelar kebangsawanannya, hidup sederhana sebagai rakyat jelata, dan mendalami spiritualitas Jawa. Ajarannya yang dikenal dengan slogan "Aja Dumeh" menekankan kesetaraan manusia dan pentingnya melepaskan keinginan akan harta, tahta, dan kehormatan. Sumber : Ulama dan Sejarah

 Ki Ageng Suryomentaram (1892–1962) adalah seorang pangeran dari Kesultanan Yogyakarta yang meninggalkan kemewahan istana untuk mencari jati diri dan kebahagiaan sejati melalui filsafat "Kawruh Jiwa" atau Ilmu Bahagia. Beliau adalah putra Sultan Hamengkubuwono VII yang kemudian melepaskan gelar kebangsawanannya, hidup sederhana sebagai rakyat jelata, dan mendalami spiritualitas Jawa. Ajarannya yang dikenal dengan slogan "Aja Dumeh" menekankan kesetaraan manusia dan pentingnya melepaskan keinginan akan harta, tahta, dan kehormatan.

Sumber : Ulama dan Sejarah



TERIMA KASIH, BPS : INDONESIA TIDAK MISKIN LAGI "Ketika Kemiskinan Turun di Statistik, tetapi Belum Tentu Turun di Dapur" Terima kasih, BPS. Di tengah dunia yang terus menaikkan standar kesejahteraan, Indonesia mempunyai kabar yang menenangkan: kemiskinan nasional Maret 2026 tinggal 8,07 persen. Jumlahnya juga turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang sekitar 920 ribu orang dibanding Maret 2025. Indah sekali. Kemiskinan turun. Angka membaik. Grafik menurun. Laporan terlihat semakin sehat. Tetapi kemudian Bank Dunia datang membawa penggaris yang berbeda. Menurut standar garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021, yang merupakan garis tipikal negara-negara upper-middle income, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah standar tersebut jauh lebih besar. Bank Dunia bahkan menempatkan Indonesia dalam konteks baru setelah Indonesia masuk kelompok upper-middle income country (UMIC) pada 2023. Nah, di sinilah cerita menjadi menarik. Jadi sebenarnya kita ini miskin atau tidak? ---------------------------------------------- Dua Penggaris BPS menggunakan garis kemiskinan nasional. Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional BPS adalah Rp669.235 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, Rp499.886 merupakan garis kemiskinan makanan dan Rp169.349 untuk kebutuhan bukan makanan. Dengan garis tersebut, BPS mencatat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang. Sementara Bank Dunia mempunyai penggaris internasional. Untuk negara upper-middle income, garisnya adalah US$8,30 per orang per hari, atau sekitar Rp1,512 juta per orang per bulan berdasarkan PPP. Bank Dunia sendiri menjelaskan bahwa garis internasional ini memang berbeda dari garis kemiskinan nasional karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Artinya, kita sedang melihat dua foto dari rumah yang sama dengan kamera yang berbeda. BPS bertanya: "Apakah seseorang memenuhi kebutuhan dasar menurut kondisi Indonesia?" Bank Dunia bertanya: "Bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan standar negara-negara dalam kelas pendapatan yang sama?" Keduanya bukan salah. Tetapi pertanyaannya: Kalau Indonesia bangga sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas, mengapa ketika mengukur kesejahteraan rakyat kita tidak ikut menaikkan standar pembandingnya? ---------------------------------------- Bayangkan seorang anak mendapat nilai 70. Tahun lalu nilainya 50. Orang tuanya berkata: "Hebat! Naik 20 poin!" Tetapi ketika anak itu masuk kelas yang lebih tinggi, gurunya berkata: "Nilai minimal di kelas ini 80." Anak itu menjawab: "Tapi nilai saya sudah naik, Bu." Guru menjawab: "Betul. Tetapi kelasmu juga sudah naik." Begitulah kira-kira persoalan kemiskinan. Membandingkan angka kemiskinan hari ini dengan lima atau sepuluh tahun lalu memang penting untuk melihat kemajuan. Tetapi itu belum cukup untuk menjawab apakah rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera menurut standar kelas ekonominya sekarang. ---------------------------------------- BPS Tidak Salah, Tetapi Pertanyaannya Belum Selesai Ini yang sering hilang dalam perdebatan. Ketika BPS mengatakan kemiskinan 8,07 persen, bukan berarti BPS sedang mengatakan bahwa hanya 8 persen rakyat Indonesia yang hidup nyaman. BPS sedang mengatakan bahwa berdasarkan definisi dan garis kemiskinan nasionalnya, sebanyak 8,07 persen penduduk berada di bawah garis tersebut. Bahkan garis tersebut hanya sekitar Rp669 ribu per orang per bulan. Untuk keluarga dengan empat orang, secara sederhana garis tersebut setara sekitar Rp2,68 juta per bulan bila dikalikan empat. Sekarang bayangkan biaya makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, pakaian dan kebutuhan lain. Apakah seseorang yang sedikit saja berada di atas angka tersebut otomatis dapat disebut sejahtera? Tentu tidak. Di sinilah konsep kemiskinan dan kesejahteraan harus dibedakan. Orang bisa tidak miskin menurut garis statistik nasional, tetapi tetap hidup sangat rentan. Sedikit kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit satu anggota keluarga, atau kebutuhan sekolah yang mendadak bisa langsung membuat rumah tangga tersebut jatuh. ------------------------------------------ Maka Bank Dunia Menawarkan Pertanyaan yang Lebih Besar Bank Dunia tidak mengatakan bahwa angka BPS "salah". Justru Bank Dunia secara eksplisit menjelaskan bahwa garis nasional dan internasional memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Garis nasional dipakai pemerintah untuk kebijakan dan penargetan masyarakat miskin, sedangkan garis internasional berguna untuk perbandingan lintas negara. Nah! Justru kata "perbandingan" itulah yang menarik. Kalau Indonesia membandingkan pertumbuhan ekonominya dengan negara lain... Kalau Indonesia membandingkan PDB dengan negara lain... Kalau Indonesia membanggakan posisi Indonesia di antara ekonomi terbesar dunia... Maka sangat wajar apabila publik juga bertanya: Bagaimana standar hidup rakyat Indonesia dibandingkan dengan rakyat negara-negara yang sama-sama masuk kelas upper-middle income? Sebab jangan sampai ketika mengukur kebesaran ekonomi, kita menggunakan penggaris dunia. Tetapi ketika mengukur kemiskinan, kita kembali menggunakan penggaris yang paling nyaman di dalam negeri ------------------------------------------ Kemiskinan Bisa Turun, Tetapi Kerentanan Tetap Tinggi Inilah sebabnya angka 8,07 persen harus dibaca dengan hati-hati. BPS memang mencatat kemiskinan turun 0,40 poin persentase dibanding Maret 2025, dari jumlah 23,85 juta menjadi 22,93 juta orang. Itu merupakan perkembangan positif yang patut dicatat. Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti mayoritas rakyat Indonesia sudah sejahtera. Ada wilayah yang jauh lebih berat. Pada Maret 2026, misalnya, BPS mencatat kemiskinan nasional 8,07 persen, tetapi 20 provinsi berada di atas angka nasional. Papua Tengah bahkan tercatat 30,41 persen, sementara Bali berada di 3,44 persen. Jadi bahkan di dalam satu negara saja, Indonesia mempunyai wajah kemiskinan yang sangat berbeda. Lalu Kita Harus Percaya Siapa? Jawabannya: Percayalah pada keduanya, tetapi jangan mencampur fungsi keduanya. BPS penting untuk mengetahui siapa yang berada di bawah garis kemiskinan menurut kondisi Indonesia. Bank Dunia penting untuk mengetahui bagaimana posisi kesejahteraan Indonesia jika dibandingkan secara internasional. Masalahnya muncul ketika salah satu angka dipakai untuk membuat kesimpulan yang terlalu besar. Misalnya: "Kemiskinan hanya 8 persen, berarti masalah kemiskinan sudah kecil." Belum tentu. Begitu pula: "Bank Dunia memakai garis US$8,30, berarti 64 persen rakyat Indonesia miskin menurut definisi kemiskinan nasional." Juga tidak tepat. Angka 8,07 persen dan angka Bank Dunia tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama. Dan justru karena pertanyaannya berbeda, masyarakat berhak bertanya: Pertanyaan mana yang ingin kita jawab? -------------------------------------------- Terima kasih, BPS. Anda telah membuat angka kemiskinan nasional menjadi lebih mudah dibaca. Tetapi jangan sampai pemerintah hanya membaca angka yang membuatnya tersenyum. Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel BPS. Rakyat hidup di pasar. Di warung. Di sekolah. Di rumah sakit. Di rekening bank. Dan terutama di dapur. Kalau pendapatan naik lebih cepat daripada kebutuhan hidup, rakyat merasakan kemajuan. Kalau hanya angka kemiskinan yang turun karena seseorang melewati sebuah garis statistik, tetapi kehidupannya tetap rapuh, maka kita baru berhasil mengubah status statistik, belum tentu mengubah kualitas hidup. Maka pertanyaan paling sederhana sebenarnya bukan: "Berapa persen rakyat miskin hari ini?" Tetapi: "Miskin dibandingkan siapa?" Sebab kalau Indonesia mengatakan dirinya sudah naik kelas menjadi upper-middle income country, maka rakyat juga berhak bertanya: "Kalau kelas ekonominya sudah naik, mengapa standar hidup yang kita gunakan untuk mengukur kesejahteraan masih terasa begitu rendah?" Dan akhirnya, satu kalimat yang mungkin paling sulit dijawab oleh statistik: Kemiskinan memang bisa turun di atas kertas. Tetapi apakah ia juga turun di dapur rakyat?

 TERIMA KASIH, BPS : 

INDONESIA TIDAK MISKIN LAGI


"Ketika Kemiskinan Turun di Statistik, tetapi Belum Tentu Turun di Dapur"


Terima kasih, BPS.


Di tengah dunia yang terus menaikkan standar kesejahteraan, Indonesia mempunyai kabar yang menenangkan: kemiskinan nasional Maret 2026 tinggal 8,07 persen.


Jumlahnya juga turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang sekitar 920 ribu orang dibanding Maret 2025.


Indah sekali.


Kemiskinan turun.


Angka membaik.


Grafik menurun.


Laporan terlihat semakin sehat.


Tetapi kemudian Bank Dunia datang membawa penggaris yang berbeda.


Menurut standar garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021, yang merupakan garis tipikal negara-negara upper-middle income, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah standar tersebut jauh lebih besar. Bank Dunia bahkan menempatkan Indonesia dalam konteks baru setelah Indonesia masuk kelompok upper-middle income country (UMIC) pada 2023.


Nah, di sinilah cerita menjadi menarik.


Jadi sebenarnya kita ini miskin atau tidak?


----------------------------------------------


Dua Penggaris


BPS menggunakan garis kemiskinan nasional.


Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional BPS adalah Rp669.235 per kapita per bulan.


Dari jumlah tersebut, Rp499.886 merupakan garis kemiskinan makanan dan Rp169.349 untuk kebutuhan bukan makanan. Dengan garis tersebut, BPS mencatat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang.


Sementara Bank Dunia mempunyai penggaris internasional.


Untuk negara upper-middle income, garisnya adalah US$8,30 per orang per hari, atau sekitar Rp1,512 juta per orang per bulan berdasarkan PPP. Bank Dunia sendiri menjelaskan bahwa garis internasional ini memang berbeda dari garis kemiskinan nasional karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda.


Artinya, kita sedang melihat dua foto dari rumah yang sama dengan kamera yang berbeda.


BPS bertanya:


"Apakah seseorang memenuhi kebutuhan dasar menurut kondisi Indonesia?"


Bank Dunia bertanya:


"Bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan standar negara-negara dalam kelas pendapatan yang sama?"


Keduanya bukan salah.


Tetapi pertanyaannya:


Kalau Indonesia bangga sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas, mengapa ketika mengukur kesejahteraan rakyat kita tidak ikut menaikkan standar pembandingnya?


----------------------------------------


Bayangkan seorang anak mendapat nilai 70.


Tahun lalu nilainya 50.


Orang tuanya berkata:


"Hebat! Naik 20 poin!"


Tetapi ketika anak itu masuk kelas yang lebih tinggi, gurunya berkata:


"Nilai minimal di kelas ini 80."


Anak itu menjawab:


"Tapi nilai saya sudah naik, Bu."


Guru menjawab:


"Betul. Tetapi kelasmu juga sudah naik."


Begitulah kira-kira persoalan kemiskinan.


Membandingkan angka kemiskinan hari ini dengan lima atau sepuluh tahun lalu memang penting untuk melihat kemajuan. Tetapi itu belum cukup untuk menjawab apakah rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera menurut standar kelas ekonominya sekarang.


----------------------------------------


BPS Tidak Salah, Tetapi Pertanyaannya Belum Selesai


Ini yang sering hilang dalam perdebatan.


Ketika BPS mengatakan kemiskinan 8,07 persen, bukan berarti BPS sedang mengatakan bahwa hanya 8 persen rakyat Indonesia yang hidup nyaman.


BPS sedang mengatakan bahwa berdasarkan definisi dan garis kemiskinan nasionalnya, sebanyak 8,07 persen penduduk berada di bawah garis tersebut.


Bahkan garis tersebut hanya sekitar Rp669 ribu per orang per bulan.


Untuk keluarga dengan empat orang, secara sederhana garis tersebut setara sekitar Rp2,68 juta per bulan bila dikalikan empat.


Sekarang bayangkan biaya makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, pakaian dan kebutuhan lain.


Apakah seseorang yang sedikit saja berada di atas angka tersebut otomatis dapat disebut sejahtera?


Tentu tidak.


Di sinilah konsep kemiskinan dan kesejahteraan harus dibedakan.


Orang bisa tidak miskin menurut garis statistik nasional, tetapi tetap hidup sangat rentan.


Sedikit kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit satu anggota keluarga, atau kebutuhan sekolah yang mendadak bisa langsung membuat rumah tangga tersebut jatuh.


------------------------------------------


Maka Bank Dunia Menawarkan Pertanyaan yang Lebih Besar


Bank Dunia tidak mengatakan bahwa angka BPS "salah".


Justru Bank Dunia secara eksplisit menjelaskan bahwa garis nasional dan internasional memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Garis nasional dipakai pemerintah untuk kebijakan dan penargetan masyarakat miskin, sedangkan garis internasional berguna untuk perbandingan lintas negara.


Nah!


Justru kata "perbandingan" itulah yang menarik.


Kalau Indonesia membandingkan pertumbuhan ekonominya dengan negara lain...


Kalau Indonesia membandingkan PDB dengan negara lain...


Kalau Indonesia membanggakan posisi Indonesia di antara ekonomi terbesar dunia...


Maka sangat wajar apabila publik juga bertanya:


Bagaimana standar hidup rakyat Indonesia dibandingkan dengan rakyat negara-negara yang sama-sama masuk kelas upper-middle income?


Sebab jangan sampai ketika mengukur kebesaran ekonomi, kita menggunakan penggaris dunia.


Tetapi ketika mengukur kemiskinan, kita kembali menggunakan penggaris yang paling nyaman di dalam negeri


------------------------------------------


Kemiskinan Bisa Turun, Tetapi Kerentanan Tetap Tinggi


Inilah sebabnya angka 8,07 persen harus dibaca dengan hati-hati.


BPS memang mencatat kemiskinan turun 0,40 poin persentase dibanding Maret 2025, dari jumlah 23,85 juta menjadi 22,93 juta orang. Itu merupakan perkembangan positif yang patut dicatat.


Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti mayoritas rakyat Indonesia sudah sejahtera.


Ada wilayah yang jauh lebih berat.


Pada Maret 2026, misalnya, BPS mencatat kemiskinan nasional 8,07 persen, tetapi 20 provinsi berada di atas angka nasional. Papua Tengah bahkan tercatat 30,41 persen, sementara Bali berada di 3,44 persen.


Jadi bahkan di dalam satu negara saja, Indonesia mempunyai wajah kemiskinan yang sangat berbeda.


Lalu Kita Harus Percaya Siapa?


Jawabannya:


Percayalah pada keduanya, tetapi jangan mencampur fungsi keduanya.


BPS penting untuk mengetahui siapa yang berada di bawah garis kemiskinan menurut kondisi Indonesia.


Bank Dunia penting untuk mengetahui bagaimana posisi kesejahteraan Indonesia jika dibandingkan secara internasional.


Masalahnya muncul ketika salah satu angka dipakai untuk membuat kesimpulan yang terlalu besar.


Misalnya:


"Kemiskinan hanya 8 persen, berarti masalah kemiskinan sudah kecil."


Belum tentu.


Begitu pula:


"Bank Dunia memakai garis US$8,30, berarti 64 persen rakyat Indonesia miskin menurut definisi kemiskinan nasional."


Juga tidak tepat.


Angka 8,07 persen dan angka Bank Dunia tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama.


Dan justru karena pertanyaannya berbeda, masyarakat berhak bertanya:


Pertanyaan mana yang ingin kita jawab?


--------------------------------------------


Terima kasih, BPS.


Anda telah membuat angka kemiskinan nasional menjadi lebih mudah dibaca.


Tetapi jangan sampai pemerintah hanya membaca angka yang membuatnya tersenyum.


Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel BPS.


Rakyat hidup di pasar.


Di warung.


Di sekolah.


Di rumah sakit.


Di rekening bank.


Dan terutama di dapur.


Kalau pendapatan naik lebih cepat daripada kebutuhan hidup, rakyat merasakan kemajuan.


Kalau hanya angka kemiskinan yang turun karena seseorang melewati sebuah garis statistik, tetapi kehidupannya tetap rapuh, maka kita baru berhasil mengubah status statistik, belum tentu mengubah kualitas hidup.


Maka pertanyaan paling sederhana sebenarnya bukan:


"Berapa persen rakyat miskin hari ini?"


Tetapi:


"Miskin dibandingkan siapa?"


Sebab kalau Indonesia mengatakan dirinya sudah naik kelas menjadi upper-middle income country, maka rakyat juga berhak bertanya:


"Kalau kelas ekonominya sudah naik, mengapa standar hidup yang kita gunakan untuk mengukur kesejahteraan masih terasa begitu rendah?"


Dan akhirnya, satu kalimat yang mungkin paling sulit dijawab oleh statistik:


Kemiskinan memang bisa turun di atas kertas. Tetapi apakah ia juga turun di dapur rakyat?

TERIMA KASIH, BPS : INDONESIA TIDAK MISKIN LAGI "Ketika Kemiskinan Turun di Statistik, tetapi Belum Tentu Turun di Dapur" Terima kasih, BPS. Di tengah dunia yang terus menaikkan standar kesejahteraan, Indonesia mempunyai kabar yang menenangkan: kemiskinan nasional Maret 2026 tinggal 8,07 persen. Jumlahnya juga turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang sekitar 920 ribu orang dibanding Maret 2025. Indah sekali. Kemiskinan turun. Angka membaik. Grafik menurun. Laporan terlihat semakin sehat. Tetapi kemudian Bank Dunia datang membawa penggaris yang berbeda. Menurut standar garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021, yang merupakan garis tipikal negara-negara upper-middle income, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah standar tersebut jauh lebih besar. Bank Dunia bahkan menempatkan Indonesia dalam konteks baru setelah Indonesia masuk kelompok upper-middle income country (UMIC) pada 2023. Nah, di sinilah cerita menjadi menarik. Jadi sebenarnya kita ini miskin atau tidak? ---------------------------------------------- Dua Penggaris BPS menggunakan garis kemiskinan nasional. Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional BPS adalah Rp669.235 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, Rp499.886 merupakan garis kemiskinan makanan dan Rp169.349 untuk kebutuhan bukan makanan. Dengan garis tersebut, BPS mencatat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang. Sementara Bank Dunia mempunyai penggaris internasional. Untuk negara upper-middle income, garisnya adalah US$8,30 per orang per hari, atau sekitar Rp1,512 juta per orang per bulan berdasarkan PPP. Bank Dunia sendiri menjelaskan bahwa garis internasional ini memang berbeda dari garis kemiskinan nasional karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Artinya, kita sedang melihat dua foto dari rumah yang sama dengan kamera yang berbeda. BPS bertanya: "Apakah seseorang memenuhi kebutuhan dasar menurut kondisi Indonesia?" Bank Dunia bertanya: "Bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan standar negara-negara dalam kelas pendapatan yang sama?" Keduanya bukan salah. Tetapi pertanyaannya: Kalau Indonesia bangga sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas, mengapa ketika mengukur kesejahteraan rakyat kita tidak ikut menaikkan standar pembandingnya? ---------------------------------------- Bayangkan seorang anak mendapat nilai 70. Tahun lalu nilainya 50. Orang tuanya berkata: "Hebat! Naik 20 poin!" Tetapi ketika anak itu masuk kelas yang lebih tinggi, gurunya berkata: "Nilai minimal di kelas ini 80." Anak itu menjawab: "Tapi nilai saya sudah naik, Bu." Guru menjawab: "Betul. Tetapi kelasmu juga sudah naik." Begitulah kira-kira persoalan kemiskinan. Membandingkan angka kemiskinan hari ini dengan lima atau sepuluh tahun lalu memang penting untuk melihat kemajuan. Tetapi itu belum cukup untuk menjawab apakah rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera menurut standar kelas ekonominya sekarang. ---------------------------------------- BPS Tidak Salah, Tetapi Pertanyaannya Belum Selesai Ini yang sering hilang dalam perdebatan. Ketika BPS mengatakan kemiskinan 8,07 persen, bukan berarti BPS sedang mengatakan bahwa hanya 8 persen rakyat Indonesia yang hidup nyaman. BPS sedang mengatakan bahwa berdasarkan definisi dan garis kemiskinan nasionalnya, sebanyak 8,07 persen penduduk berada di bawah garis tersebut. Bahkan garis tersebut hanya sekitar Rp669 ribu per orang per bulan. Untuk keluarga dengan empat orang, secara sederhana garis tersebut setara sekitar Rp2,68 juta per bulan bila dikalikan empat. Sekarang bayangkan biaya makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, pakaian dan kebutuhan lain. Apakah seseorang yang sedikit saja berada di atas angka tersebut otomatis dapat disebut sejahtera? Tentu tidak. Di sinilah konsep kemiskinan dan kesejahteraan harus dibedakan. Orang bisa tidak miskin menurut garis statistik nasional, tetapi tetap hidup sangat rentan. Sedikit kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit satu anggota keluarga, atau kebutuhan sekolah yang mendadak bisa langsung membuat rumah tangga tersebut jatuh. ------------------------------------------ Maka Bank Dunia Menawarkan Pertanyaan yang Lebih Besar Bank Dunia tidak mengatakan bahwa angka BPS "salah". Justru Bank Dunia secara eksplisit menjelaskan bahwa garis nasional dan internasional memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Garis nasional dipakai pemerintah untuk kebijakan dan penargetan masyarakat miskin, sedangkan garis internasional berguna untuk perbandingan lintas negara. Nah! Justru kata "perbandingan" itulah yang menarik. Kalau Indonesia membandingkan pertumbuhan ekonominya dengan negara lain... Kalau Indonesia membandingkan PDB dengan negara lain... Kalau Indonesia membanggakan posisi Indonesia di antara ekonomi terbesar dunia... Maka sangat wajar apabila publik juga bertanya: Bagaimana standar hidup rakyat Indonesia dibandingkan dengan rakyat negara-negara yang sama-sama masuk kelas upper-middle income? Sebab jangan sampai ketika mengukur kebesaran ekonomi, kita menggunakan penggaris dunia. Tetapi ketika mengukur kemiskinan, kita kembali menggunakan penggaris yang paling nyaman di dalam negeri ------------------------------------------ Kemiskinan Bisa Turun, Tetapi Kerentanan Tetap Tinggi Inilah sebabnya angka 8,07 persen harus dibaca dengan hati-hati. BPS memang mencatat kemiskinan turun 0,40 poin persentase dibanding Maret 2025, dari jumlah 23,85 juta menjadi 22,93 juta orang. Itu merupakan perkembangan positif yang patut dicatat. Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti mayoritas rakyat Indonesia sudah sejahtera. Ada wilayah yang jauh lebih berat. Pada Maret 2026, misalnya, BPS mencatat kemiskinan nasional 8,07 persen, tetapi 20 provinsi berada di atas angka nasional. Papua Tengah bahkan tercatat 30,41 persen, sementara Bali berada di 3,44 persen. Jadi bahkan di dalam satu negara saja, Indonesia mempunyai wajah kemiskinan yang sangat berbeda. Lalu Kita Harus Percaya Siapa? Jawabannya: Percayalah pada keduanya, tetapi jangan mencampur fungsi keduanya. BPS penting untuk mengetahui siapa yang berada di bawah garis kemiskinan menurut kondisi Indonesia. Bank Dunia penting untuk mengetahui bagaimana posisi kesejahteraan Indonesia jika dibandingkan secara internasional. Masalahnya muncul ketika salah satu angka dipakai untuk membuat kesimpulan yang terlalu besar. Misalnya: "Kemiskinan hanya 8 persen, berarti masalah kemiskinan sudah kecil." Belum tentu. Begitu pula: "Bank Dunia memakai garis US$8,30, berarti 64 persen rakyat Indonesia miskin menurut definisi kemiskinan nasional." Juga tidak tepat. Angka 8,07 persen dan angka Bank Dunia tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama. Dan justru karena pertanyaannya berbeda, masyarakat berhak bertanya: Pertanyaan mana yang ingin kita jawab? -------------------------------------------- Terima kasih, BPS. Anda telah membuat angka kemiskinan nasional menjadi lebih mudah dibaca. Tetapi jangan sampai pemerintah hanya membaca angka yang membuatnya tersenyum. Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel BPS. Rakyat hidup di pasar. Di warung. Di sekolah. Di rumah sakit. Di rekening bank. Dan terutama di dapur. Kalau pendapatan naik lebih cepat daripada kebutuhan hidup, rakyat merasakan kemajuan. Kalau hanya angka kemiskinan yang turun karena seseorang melewati sebuah garis statistik, tetapi kehidupannya tetap rapuh, maka kita baru berhasil mengubah status statistik, belum tentu mengubah kualitas hidup. Maka pertanyaan paling sederhana sebenarnya bukan: "Berapa persen rakyat miskin hari ini?" Tetapi: "Miskin dibandingkan siapa?" Sebab kalau Indonesia mengatakan dirinya sudah naik kelas menjadi upper-middle income country, maka rakyat juga berhak bertanya: "Kalau kelas ekonominya sudah naik, mengapa standar hidup yang kita gunakan untuk mengukur kesejahteraan masih terasa begitu rendah?" Dan akhirnya, satu kalimat yang mungkin paling sulit dijawab oleh statistik: Kemiskinan memang bisa turun di atas kertas. Tetapi apakah ia juga turun di dapur rakyat?

 TERIMA KASIH, BPS : 

INDONESIA TIDAK MISKIN LAGI


"Ketika Kemiskinan Turun di Statistik, tetapi Belum Tentu Turun di Dapur"


Terima kasih, BPS.


Di tengah dunia yang terus menaikkan standar kesejahteraan, Indonesia mempunyai kabar yang menenangkan: kemiskinan nasional Maret 2026 tinggal 8,07 persen.


Jumlahnya juga turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang sekitar 920 ribu orang dibanding Maret 2025.


Indah sekali.


Kemiskinan turun.


Angka membaik.


Grafik menurun.


Laporan terlihat semakin sehat.


Tetapi kemudian Bank Dunia datang membawa penggaris yang berbeda.


Menurut standar garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021, yang merupakan garis tipikal negara-negara upper-middle income, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah standar tersebut jauh lebih besar. Bank Dunia bahkan menempatkan Indonesia dalam konteks baru setelah Indonesia masuk kelompok upper-middle income country (UMIC) pada 2023.


Nah, di sinilah cerita menjadi menarik.


Jadi sebenarnya kita ini miskin atau tidak?


----------------------------------------------


Dua Penggaris


BPS menggunakan garis kemiskinan nasional.


Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional BPS adalah Rp669.235 per kapita per bulan.


Dari jumlah tersebut, Rp499.886 merupakan garis kemiskinan makanan dan Rp169.349 untuk kebutuhan bukan makanan. Dengan garis tersebut, BPS mencatat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang.


Sementara Bank Dunia mempunyai penggaris internasional.


Untuk negara upper-middle income, garisnya adalah US$8,30 per orang per hari, atau sekitar Rp1,512 juta per orang per bulan berdasarkan PPP. Bank Dunia sendiri menjelaskan bahwa garis internasional ini memang berbeda dari garis kemiskinan nasional karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda.


Artinya, kita sedang melihat dua foto dari rumah yang sama dengan kamera yang berbeda.


BPS bertanya:


"Apakah seseorang memenuhi kebutuhan dasar menurut kondisi Indonesia?"


Bank Dunia bertanya:


"Bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan standar negara-negara dalam kelas pendapatan yang sama?"


Keduanya bukan salah.


Tetapi pertanyaannya:


Kalau Indonesia bangga sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas, mengapa ketika mengukur kesejahteraan rakyat kita tidak ikut menaikkan standar pembandingnya?


----------------------------------------


Bayangkan seorang anak mendapat nilai 70.


Tahun lalu nilainya 50.


Orang tuanya berkata:


"Hebat! Naik 20 poin!"


Tetapi ketika anak itu masuk kelas yang lebih tinggi, gurunya berkata:


"Nilai minimal di kelas ini 80."


Anak itu menjawab:


"Tapi nilai saya sudah naik, Bu."


Guru menjawab:


"Betul. Tetapi kelasmu juga sudah naik."


Begitulah kira-kira persoalan kemiskinan.


Membandingkan angka kemiskinan hari ini dengan lima atau sepuluh tahun lalu memang penting untuk melihat kemajuan. Tetapi itu belum cukup untuk menjawab apakah rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera menurut standar kelas ekonominya sekarang.


----------------------------------------


BPS Tidak Salah, Tetapi Pertanyaannya Belum Selesai


Ini yang sering hilang dalam perdebatan.


Ketika BPS mengatakan kemiskinan 8,07 persen, bukan berarti BPS sedang mengatakan bahwa hanya 8 persen rakyat Indonesia yang hidup nyaman.


BPS sedang mengatakan bahwa berdasarkan definisi dan garis kemiskinan nasionalnya, sebanyak 8,07 persen penduduk berada di bawah garis tersebut.


Bahkan garis tersebut hanya sekitar Rp669 ribu per orang per bulan.


Untuk keluarga dengan empat orang, secara sederhana garis tersebut setara sekitar Rp2,68 juta per bulan bila dikalikan empat.


Sekarang bayangkan biaya makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, pakaian dan kebutuhan lain.


Apakah seseorang yang sedikit saja berada di atas angka tersebut otomatis dapat disebut sejahtera?


Tentu tidak.


Di sinilah konsep kemiskinan dan kesejahteraan harus dibedakan.


Orang bisa tidak miskin menurut garis statistik nasional, tetapi tetap hidup sangat rentan.


Sedikit kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit satu anggota keluarga, atau kebutuhan sekolah yang mendadak bisa langsung membuat rumah tangga tersebut jatuh.


------------------------------------------


Maka Bank Dunia Menawarkan Pertanyaan yang Lebih Besar


Bank Dunia tidak mengatakan bahwa angka BPS "salah".


Justru Bank Dunia secara eksplisit menjelaskan bahwa garis nasional dan internasional memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Garis nasional dipakai pemerintah untuk kebijakan dan penargetan masyarakat miskin, sedangkan garis internasional berguna untuk perbandingan lintas negara.


Nah!


Justru kata "perbandingan" itulah yang menarik.


Kalau Indonesia membandingkan pertumbuhan ekonominya dengan negara lain...


Kalau Indonesia membandingkan PDB dengan negara lain...


Kalau Indonesia membanggakan posisi Indonesia di antara ekonomi terbesar dunia...


Maka sangat wajar apabila publik juga bertanya:


Bagaimana standar hidup rakyat Indonesia dibandingkan dengan rakyat negara-negara yang sama-sama masuk kelas upper-middle income?


Sebab jangan sampai ketika mengukur kebesaran ekonomi, kita menggunakan penggaris dunia.


Tetapi ketika mengukur kemiskinan, kita kembali menggunakan penggaris yang paling nyaman di dalam negeri


------------------------------------------


Kemiskinan Bisa Turun, Tetapi Kerentanan Tetap Tinggi


Inilah sebabnya angka 8,07 persen harus dibaca dengan hati-hati.


BPS memang mencatat kemiskinan turun 0,40 poin persentase dibanding Maret 2025, dari jumlah 23,85 juta menjadi 22,93 juta orang. Itu merupakan perkembangan positif yang patut dicatat.


Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti mayoritas rakyat Indonesia sudah sejahtera.


Ada wilayah yang jauh lebih berat.


Pada Maret 2026, misalnya, BPS mencatat kemiskinan nasional 8,07 persen, tetapi 20 provinsi berada di atas angka nasional. Papua Tengah bahkan tercatat 30,41 persen, sementara Bali berada di 3,44 persen.


Jadi bahkan di dalam satu negara saja, Indonesia mempunyai wajah kemiskinan yang sangat berbeda.


Lalu Kita Harus Percaya Siapa?


Jawabannya:


Percayalah pada keduanya, tetapi jangan mencampur fungsi keduanya.


BPS penting untuk mengetahui siapa yang berada di bawah garis kemiskinan menurut kondisi Indonesia.


Bank Dunia penting untuk mengetahui bagaimana posisi kesejahteraan Indonesia jika dibandingkan secara internasional.


Masalahnya muncul ketika salah satu angka dipakai untuk membuat kesimpulan yang terlalu besar.


Misalnya:


"Kemiskinan hanya 8 persen, berarti masalah kemiskinan sudah kecil."


Belum tentu.


Begitu pula:


"Bank Dunia memakai garis US$8,30, berarti 64 persen rakyat Indonesia miskin menurut definisi kemiskinan nasional."


Juga tidak tepat.


Angka 8,07 persen dan angka Bank Dunia tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama.


Dan justru karena pertanyaannya berbeda, masyarakat berhak bertanya:


Pertanyaan mana yang ingin kita jawab?


--------------------------------------------


Terima kasih, BPS.


Anda telah membuat angka kemiskinan nasional menjadi lebih mudah dibaca.


Tetapi jangan sampai pemerintah hanya membaca angka yang membuatnya tersenyum.


Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel BPS.


Rakyat hidup di pasar.


Di warung.


Di sekolah.


Di rumah sakit.


Di rekening bank.


Dan terutama di dapur.


Kalau pendapatan naik lebih cepat daripada kebutuhan hidup, rakyat merasakan kemajuan.


Kalau hanya angka kemiskinan yang turun karena seseorang melewati sebuah garis statistik, tetapi kehidupannya tetap rapuh, maka kita baru berhasil mengubah status statistik, belum tentu mengubah kualitas hidup.


Maka pertanyaan paling sederhana sebenarnya bukan:


"Berapa persen rakyat miskin hari ini?"


Tetapi:


"Miskin dibandingkan siapa?"


Sebab kalau Indonesia mengatakan dirinya sudah naik kelas menjadi upper-middle income country, maka rakyat juga berhak bertanya:


"Kalau kelas ekonominya sudah naik, mengapa standar hidup yang kita gunakan untuk mengukur kesejahteraan masih terasa begitu rendah?"


Dan akhirnya, satu kalimat yang mungkin paling sulit dijawab oleh statistik:


Kemiskinan memang bisa turun di atas kertas. Tetapi apakah ia juga turun di dapur rakyat?


Sumber : Rudi Sinaba

02 September 2026

BARA MERAH DI KAKI GUNUNG: AMUK RESIMEN SAMUDERA MENUMPAS PEMBELOT REPUBLIK Catatan sejarah Jani Sari II Palagan Kedu Utara: Saat Resimen Samudera dan Taruna Magelang Menyelamatkan Republik dari Pemberontakan PKI/FDR 1948 Tahun 1948. Usia Republik Indonesia ibarat bayi yang baru belajar merangkak, namun ancaman sudah mengepung dari segala penjuru. Di luar, Belanda masih mengintai dengan moncong senjata, memaksa wilayah RI semakin menyusut lewat Perjanjian Linggarjati dan Renville. Di dalam, suhu politik mendidih. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diketuk palu oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan M. Hatta pada awal tahun, membawa angin puyuh bagi laskar-laskar dan kesatuan bersenjata, tak terkecuali Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Bagi para prajurit Corps Mariniers (CM), itu adalah masa-masa penuh ketidakpastian. Komisi Reorganisasi ALRI (KRAL) sempat memutuskan untuk meniadakan Tentara Laut. Namun, darah patriot tak mudah luntur. Di Tegal, Komandan CM Pangkalan IV, R. Soehadi, mengambil langkah taktis. Ia menolak pasukannya kehilangan identitas. Bersama perwira intinya, CM meleburkan diri ke dalam Divisi III Diponegoro dan beralih rupa menjadi resimen tersendiri: Resimen Samudera. Di bawah komando Divisi III yang dipimpin Brigjen Inf. Soesalit, Resimen Samudera berdiri tegak bak benteng. Mereka membagi kekuatan tempur ke dalam empat batalyon utama: Batalyon 173 di Parakan (Letnan Hartono), Batalyon 174 di Wonosobo (Letnan M. Joenoes), Batalyon 175 di Parakan (Letnan Moekijat), Batalyon 176 di Temanggung (Letnan Soewadji), dan Batalyon 177 (Letnan Wiranto), yang kemudian disusul bergabungnya Batalyon 178 asal Juwana. Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pada September 1948, langit di timur memerah. Pemberontakan PKI/FDR pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muso meletus di Madiun. Pengaruh ideologi kiri ini merayap cepat, menyusup hingga ke barisan tentara di Jawa Tengah. Intelijen Resimen Samudera dengan cepat mengendus pergerakan gelap di wilayah pengawasan mereka: Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan. Kabar buruk itu datang bertubi-tubi. Pasukan eks-Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) di bawah Achmad Jadau yang bergabung dengan Divisi II Jateng, bermanuver. Batalyon Darsono di Temanggung dan Batalyon Machmud di Parakan membelot menjadi bagian dari pasukan pemberontak. Daerah Parakan, yang awalnya dijaga oleh Batalyon Machmud untuk mengantisipasi serbuan Belanda, kini jatuh ke tangan kiri. Ironisnya, mereka bahkan berani melucuti satu peleton dari Batalyon 175 yang tengah beristirahat selepas dinas. Pantang bagi Resimen Samudera membiarkan kawan ditikam dari belakang. Mesin perang segera dipanaskan. Letnan Wiranto memimpin Batalyon 177 bergerak cepat untuk menetralisir kekuatan Batalyon Darsono di Temanggung. Operasi ini berjalan rapi. Hanya segelintir sisa-sisa pemberontak yang lolos lari terbirit-birit ke Parakan, bergabung dengan Batalyon Machmud. Di sinilah palagan Kedu Utara menjadi saksi heroisme operasi gabungan. Resimen Samudera tidak bertempur sendirian. Bantuan datang dari arah selatan. Dari kesatriaan di lembah Tidar, pasukan TNI AD dari Magelang bergerak merangsek maju. Di antara barisan tersebut, turut angkat senjata para taruna muda dari Militer Akademi Jogja dan Sekolah Kader TNI Magelang. Para pemuda yang sehari-hari digodok di kompleks militer Magelang itu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tentara pelajar yang hanya tahu teori kelas. Bersama prajurit Resimen Samudera, mereka bahu-membahu menyapu bersih sisa-sisa pemberontak di wilayah sekitar Temanggung bagian selatan. Satu kompi di bawah pimpinan Letnan Djoeremi melakukan gebrakan maut ke Parakan. Tepat pukul 16:00, kota itu berhasil direbut kembali oleh pasukan gabungan. Sisa pemberontak kocar-kacir, meski di bawah gelap malam mereka masih mencoba melakukan represi dan sabotase ke dalam kota. Esok harinya, serangan penghabisan dilancarkan tanpa ampun. Tepat pukul 15:00, markas Batalyon Machmud jatuh sepenuhnya. Senjata dan perlengkapan dirampas, sementara para perwira stafnya tak punya pilihan lain selain mengangkat tangan menyerah. Dalam waktu tak kurang dari 10 hari, operasi sapu bersih di Parakan, Candiroto, dan Ngadirejo tuntas tanpa sisa. Operasi gilang-gemilang gabungan di Kedu Utara ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan sebuah pembuktian kesetiaan yang mendalam. Keberhasilan Resimen Samudera dan para prajurit serta taruna dari Magelang dalam meredam bara pemberontakan membuat Pemerintah Pusat di Yogyakarta terkesima. Sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa heroik tersebut, tepat pada 19 Oktober 1948, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/'48 yang menetapkan secara resmi eksistensi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL). Sebuah epik heroisme yang mematrikan nama Marinir ke dalam catatan emas sejarah Republik. referensi : "75 Tahun Korps Marinir" Koleksi Jani Sari Library

 BARA MERAH DI KAKI GUNUNG: AMUK RESIMEN SAMUDERA MENUMPAS PEMBELOT REPUBLIK


Catatan sejarah Jani Sari II


Palagan Kedu Utara: Saat Resimen Samudera dan Taruna Magelang Menyelamatkan Republik dari Pemberontakan PKI/FDR 1948



Tahun 1948. Usia Republik Indonesia ibarat bayi yang baru belajar merangkak, namun ancaman sudah mengepung dari segala penjuru. Di luar, Belanda masih mengintai dengan moncong senjata, memaksa wilayah RI semakin menyusut lewat Perjanjian Linggarjati dan Renville. Di dalam, suhu politik mendidih. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diketuk palu oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan M. Hatta pada awal tahun, membawa angin puyuh bagi laskar-laskar dan kesatuan bersenjata, tak terkecuali Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).


Bagi para prajurit Corps Mariniers (CM), itu adalah masa-masa penuh ketidakpastian. Komisi Reorganisasi ALRI (KRAL) sempat memutuskan untuk meniadakan Tentara Laut.


Namun, darah patriot tak mudah luntur. Di Tegal, Komandan CM Pangkalan IV, R. Soehadi, mengambil langkah taktis. Ia menolak pasukannya kehilangan identitas. Bersama perwira intinya, CM meleburkan diri ke dalam Divisi III Diponegoro dan beralih rupa menjadi resimen tersendiri: Resimen Samudera.


Di bawah komando Divisi III yang dipimpin Brigjen Inf. Soesalit, Resimen Samudera berdiri tegak bak benteng. Mereka membagi kekuatan tempur ke dalam empat batalyon utama: Batalyon 173 di Parakan (Letnan Hartono), Batalyon 174 di Wonosobo (Letnan M. Joenoes), Batalyon 175 di Parakan (Letnan Moekijat), Batalyon 176 di Temanggung (Letnan Soewadji), dan Batalyon 177 (Letnan Wiranto), yang kemudian disusul bergabungnya Batalyon 178 asal Juwana.


Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pada September 1948, langit di timur memerah. Pemberontakan PKI/FDR pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muso meletus di Madiun. Pengaruh ideologi kiri ini merayap cepat, menyusup hingga ke barisan tentara di Jawa Tengah. Intelijen Resimen Samudera dengan cepat mengendus pergerakan gelap di wilayah pengawasan mereka: Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan.


Kabar buruk itu datang bertubi-tubi. Pasukan eks-Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) di bawah Achmad Jadau yang bergabung dengan Divisi II Jateng, bermanuver. Batalyon Darsono di Temanggung dan Batalyon Machmud di Parakan membelot menjadi bagian dari pasukan pemberontak. Daerah Parakan, yang awalnya dijaga oleh Batalyon Machmud untuk mengantisipasi serbuan Belanda, kini jatuh ke tangan kiri. Ironisnya, mereka bahkan berani melucuti satu peleton dari Batalyon 175 yang tengah beristirahat selepas dinas.


Pantang bagi Resimen Samudera membiarkan kawan ditikam dari belakang. Mesin perang segera dipanaskan. Letnan Wiranto memimpin Batalyon 177 bergerak cepat untuk menetralisir kekuatan Batalyon Darsono di Temanggung. Operasi ini berjalan rapi. Hanya segelintir sisa-sisa pemberontak yang lolos lari terbirit-birit ke Parakan, bergabung dengan Batalyon Machmud.


Di sinilah palagan Kedu Utara menjadi saksi heroisme operasi gabungan. Resimen Samudera tidak bertempur sendirian. Bantuan datang dari arah selatan. Dari kesatriaan di lembah Tidar, pasukan TNI AD dari Magelang bergerak merangsek maju. Di antara barisan tersebut, turut angkat senjata para taruna muda dari Militer Akademi Jogja dan Sekolah Kader TNI Magelang. Para pemuda yang sehari-hari digodok di kompleks militer Magelang itu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tentara pelajar yang hanya tahu teori kelas. Bersama prajurit Resimen Samudera, mereka bahu-membahu menyapu bersih sisa-sisa pemberontak di wilayah sekitar Temanggung bagian selatan.


Satu kompi di bawah pimpinan Letnan Djoeremi melakukan gebrakan maut ke Parakan. Tepat pukul 16:00, kota itu berhasil direbut kembali oleh pasukan gabungan. Sisa pemberontak kocar-kacir, meski di bawah gelap malam mereka masih mencoba melakukan represi dan sabotase ke dalam kota.


Esok harinya, serangan penghabisan dilancarkan tanpa ampun. Tepat pukul 15:00, markas Batalyon Machmud jatuh sepenuhnya. Senjata dan perlengkapan dirampas, sementara para perwira stafnya tak punya pilihan lain selain mengangkat tangan menyerah.


Dalam waktu tak kurang dari 10 hari, operasi sapu bersih di Parakan, Candiroto, dan Ngadirejo tuntas tanpa sisa. Operasi gilang-gemilang gabungan di Kedu Utara ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan sebuah pembuktian kesetiaan yang mendalam. Keberhasilan Resimen Samudera dan para prajurit serta taruna dari Magelang dalam meredam bara pemberontakan membuat Pemerintah Pusat di Yogyakarta terkesima.


Sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa heroik tersebut, tepat pada 19 Oktober 1948, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/'48 yang menetapkan secara resmi eksistensi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL). Sebuah epik heroisme yang mematrikan nama Marinir ke dalam catatan emas sejarah Republik.


referensi : "75 Tahun Korps Marinir"

Koleksi Jani Sari Library


Sumber : Jani Sari

27 August 2026

Sekelumit Kondisi Magelang Di Era Jepang 1942 - 1945 Malam ini saat di Magelang saya berusaha diskusi dengan mertua Bapak Soedarto, saya tentang kondisi Magelang di zaman Jepang sekitar tahun 1942 - 1945. Pada saat awal Jepang masuk menurut cerita mertua saya yang kini berusia sekitar 87 tahun warga di tempat tinggal mertua saya di kampung Tulung sempat mengungsi ke daerah Kalegen Bandongan, tepatnya di dusun Dileman. Hanya saja pengungsiannya tidak begitu lama dan kemudian balik lagi ke daerahnya masing-masing. Pada zaman Jepang ini kondisi kampung Tulung masih sepi dan sedikit jumlah rumahnya. Jalan kebanyakan masih berupa jalan tanah. Jalan aspal dan listrik hanya sampai di depannya rumahnya Bapak L Suhadi (Bapak Hadi Londo). Dan menurut kisah mertua saya tentara Jepang jarang sekali masuk sampai bagian dalam kampung Tulung. Pada era kolonial Jepang hal yang umum dijumpai adalah banyak masyarakat yang pakaiannya menggunakan bahan dari karung goni. Bahan karung goni ini digunakan untuk pembuatan celana untuk pria dan tapian/jarik untuk wanita. Karung goni itu ada 2 macam yaitu : 1. karung goni untuk karung beras, yang seratnya lemas dan biasanya berwarna coklat. 2. karung goni untuk karung garam yang seratnya kasar dan biasanya berwarna putih mangkak. Nah yang biasanya digunakan untuk membuat celana ataupun tapian adalah yang karung goni beras karena seratnya lemas. Karena pakaian yang digunakan dari bahan karung goni maka menurut mertua saya, banyak kemudian orang yang terserang "Tumo Katok". Berbeda dengan tumo yang ada di rambut, tumo katok ini warnanya putih. Selain tumo katok orang di zaman Jepang juga rambutnya banyak terserang oleh tumo di rambutnya. Dan hampir semua orang saat itu terkena tumo di rambutnya. Sehingga banyak orang yang kepalanya mengalami " Boroken". Dan saat itu keberadaan beras sangat jarang demikian juga keberadaan garam sangat jarang bisa didapatkan. Di zaman ini karena beras sangat sulit didapatkan karena beras beras banyak diangkut oleh Jepang dikirim ke garis depan pertempuran. Untuk itu masyarakat waktu itu oleh Jepang disuruh menanam jagung dan iles iles untuk kebutuhan pangan masyarakat. Orang banyak mengkonsumsi jagung baik yang jagungnya dibuat nasi jagung ataupun langsung direbus untuk dimakan. Sedangkan iles iles umbinya direbus lalu dimakan sebagai pengganti nasi. Selain jagung dan iles iles masyarakat juga menanam umbi jalar, umbi batang. Baik umbi jalar ataupun umbi batang selain diambil umbinya untuk dimakan sebagai pengganti nasi juga diambil daunnya untuk bahan sayuran. Untuk bahan sayuran selain daun umbi jalar dan umbi batang juga masyarakat banyak yang menggunakan daun genjer, daun talas, daun bayung, daun krokot, daun jipang untuk bahan sayur. Dan diantara itu yang paling enak katanya daun umbi jalar yang direbus lalu dimakan dengan sambal lotis. Untuk pohon nangka kata mertua saya jarang ada buahnya yang tumbuh jadi buah nangka masak karena saat masih babal saja sudah pada diambil untuk diolah jadi sayur. Bonggol pisang juga diolah untuk bahan sayur demikian dengan jantung pisang yang direbus kemudian diiris iris kemudian dicampur dengan bumbu kluban untuk dimakan. Bahkan saat itu daun jambu kluthuk pun juga dimakan. Selain disuruh menanam jagung dan iles iles masyarakat juga diminta untuk menanam pohon jarak pagar untuk diambil bijinya. Setiap rumah minimal menanam 1 batang pohon jarak pagar. Seperti kita ketahui biji jarak pagar itu mengandung minyak yang mana jika diolah akan menjadi minyak pelumnas yang bisa digunakan untuk minyak pelumnas pesawat terbang. Kemudian masih di era Jepang ini, selain setiap rumah menanam pohon jarak pohon juga di bagian depan halaman rumah depannya dibuat lubang di tanah yang biasa disebut "Lograk" untuk perlindungan, jadi Lograk ini fungsinya seperti halnya bunker. Masih di zaman Jepang jika ada pesawat lewat lalu ada suara sirine dan orang orang disuruh untuk berlindung masuk ke dalam Lograk tersebut. Kadang untuk yang mampu bagian atas Lograk diberi anyaman kepang untuk penutup. Selama bersembunyi di dalam Lograk kuping biasanya ditutup dengan kapas / kapuk dan mulutnya menggigit karet. Kebetulan orang tua mertua saya adalah pegawai Balai Kota Magelang sejak zaman Hindia-Belanda yang bernama Bapak Saman, dan ketika era Jepang beliau tetap bekerja di Balai Kota Magelang hingga Jepang keluar dari Indonesia lanjut era Kemerdekaan. Untuk Bu Saman tetap berjualan bubur di depan halaman rumah. Demikian juga dengan sekolah juga berjalan normal seperti biasanya. Kedua kakak dari mertua saya yaitu yang bernama Larso dan Kamto di zaman Jepang ini bersekolah di Sekolah Rakyat yang ada di Balai Pelajar dan di daerah Plengkung. Sekolah Rakyat yang di Plengkung itu untuk yang kelas 1, 2 dan 3 sementara Sekolah Rakyat yang di Balai Pelajar itu untuk yang kelas 4, 5 dan 6. Tiap pagi diadakan upacara bendera pengibaran bendera Jepang yang diiringi dengan lagu kebangsaan Jepang yaitu "Kimigayo" dan juga disuruh hormat dengan cara membungkuk. Selain itu juga sebelum masuk kelas siswa sekolah disuruh senam "Taiso". Kemudian setelah jam pelajaran, sekitar jam 15 atau 16 an sore di lapangan Dukuh diadakan latihan bela diri Kendo dan Gulat/ Yudo. Untuk warga kampung Tulung yang ikut jadi PETA (Pembela Tanah Air) yang mertua saya masih ingat adalah yang bernama Pak Ratmin. Kemudian di tahun 1945 sekitar 28 Oktober 1945 dengan adanya peristiwa penyerbuan tentara Kido Butai ke kampung Tulung. Pasukan Jepang masuk kampung Tulung lewat utara melewati daerah makam Nglarangan dan setelah masuk kampung Tulung melakukan sweeping rumah rumah sekitar Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum oleh BKR/TKR. Rumah Bapak Saman berada di timur utaranya Kantor Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum, keluarga Pak Saman posisinya terjebak dalam peristiwa tersebut dan bersembunyi di dalam kamar rumah. Ibu Saman dan anak anaknya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur sementara Pak Saman berjaga di depan pintu di dalam kamar, untungnya ada gedek pyan yang jatuh menutupi bagian pintu kamar rumah. Saat tentara Jepang mendobrak pintu depan dan masuk tentara Jepang tidak melihat pintu kamar yang tertutup oleh gedeg dari pyan yang jatuh meskipun tentara Jepang sempat menusukkan bayonet yang ada di ujung laras senapan ke gedek tetapi akhirnya mereka mengira rumah kosong sehingga keluar rumah lagi. Menurut mertua saya beliau sempat mendengar suara orang menjerit dan minta ampun. Kebanyakan yang menjerit adalah para wanita, akan tetapi kemudian semuanya berhenti dan jadi sunyi kembali. Adapun suara tembakan terdengar riuh sekali. Setelah kondisi aman keluarga Pak Saman keluar rumah dan mulai mengungsi berjalan melewati belakang Dapur umum yang barusan diserang oleh tentara Kido Butai Jepang, kata mertua saya banyak korban bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan. Keluarga Pak Saman berjalan ke arah daerah Tulung Wot lalu menuju daerah Sangu Banyu Bandongan untuk mengungsi. Selama zaman pendudukan Jepang ini, jenis-jenis hewan yang menyerang orang adalah: 1. Tumo katok 2. Tumo rambut yang menyebabkan borok di kepala 3. Kutu busuk di amben, kasur, kursi 4. Bekicot Sedangkan penyakit-pemyakit yang menyerang manusia adalah: 1. Beri-beri karena kekurangan vitamin B 2. Gudik dan koreng 3. Disentri Betapa sangat susah dan sengsaranya rakyat Indonesia waktu zaman pendudukan Jepang tahun 1942 - 1945. Untuk warga kampung Tulung yang usianya kurang lebih 90 tahun dan tentunya mengalami masa Jepang dan kini masih ada selain mertua saya, yaitu: 1. Ibu Sukamtini (Jl Kusumabangsa I ujung timur sendiri). 2. Mbok Brintik (Jl Kusumabangsa I, belakangnya rumah Pak Kartono). Mungkin beliau beliau ini bisa jadi narasumber primer.

 Sekelumit Kondisi Magelang Di Era Jepang 1942 - 1945

Oleh : Orchid Breeder


Malam ini saat di Magelang saya berusaha diskusi dengan mertua Bapak Soedarto, saya tentang kondisi Magelang di zaman Jepang sekitar tahun 1942 - 1945.

     Pada saat awal Jepang masuk menurut cerita mertua saya yang kini berusia sekitar 87 tahun warga di tempat tinggal mertua saya di kampung Tulung sempat mengungsi ke daerah Kalegen Bandongan, tepatnya di dusun Dileman. Hanya saja pengungsiannya tidak begitu lama dan kemudian balik lagi ke daerahnya masing-masing. 

     Pada zaman Jepang ini kondisi kampung Tulung masih sepi dan sedikit jumlah rumahnya. Jalan kebanyakan masih berupa jalan tanah. Jalan aspal dan listrik hanya sampai di depannya rumahnya Bapak L Suhadi (Bapak Hadi Londo). Dan menurut kisah mertua saya tentara Jepang jarang sekali masuk sampai bagian dalam kampung Tulung. 

     Pada era kolonial Jepang hal yang umum dijumpai adalah banyak masyarakat yang pakaiannya menggunakan bahan dari karung goni. Bahan karung goni ini digunakan untuk pembuatan celana untuk pria dan tapian/jarik untuk wanita. Karung goni itu ada 2 macam yaitu :

1. karung goni untuk karung beras, yang seratnya lemas dan biasanya berwarna coklat. 

2. karung goni untuk karung garam yang seratnya kasar dan biasanya berwarna putih mangkak. 

Nah yang biasanya digunakan untuk membuat celana ataupun tapian adalah yang karung goni beras karena seratnya lemas. 

     Karena pakaian yang digunakan dari bahan karung goni maka menurut mertua saya, banyak kemudian orang yang terserang "Tumo Katok". Berbeda dengan tumo yang ada di rambut, tumo katok ini warnanya putih. Selain tumo katok orang di zaman Jepang juga rambutnya banyak terserang oleh tumo di rambutnya. Dan hampir semua orang saat itu terkena tumo di rambutnya. Sehingga banyak orang yang kepalanya mengalami " Boroken".

     Dan saat itu keberadaan beras sangat jarang demikian juga keberadaan garam sangat jarang bisa didapatkan. Di zaman ini karena beras sangat sulit didapatkan karena beras beras banyak diangkut oleh Jepang dikirim ke garis depan pertempuran. Untuk itu masyarakat waktu itu oleh Jepang disuruh menanam jagung dan iles iles untuk kebutuhan pangan masyarakat. Orang banyak mengkonsumsi jagung baik yang jagungnya dibuat nasi jagung ataupun langsung direbus untuk dimakan. Sedangkan iles iles umbinya direbus lalu dimakan sebagai pengganti nasi. Selain jagung dan iles iles masyarakat juga menanam umbi jalar, umbi batang. Baik umbi jalar ataupun umbi batang selain diambil umbinya untuk dimakan sebagai pengganti nasi juga diambil daunnya untuk bahan sayuran. 

Untuk bahan sayuran selain daun umbi jalar dan umbi batang juga masyarakat banyak yang menggunakan daun genjer, daun talas, daun bayung, daun krokot, daun jipang untuk bahan sayur. Dan diantara itu yang paling enak katanya daun umbi jalar yang direbus lalu dimakan dengan sambal lotis. Untuk pohon nangka kata mertua saya jarang ada buahnya yang tumbuh jadi buah nangka masak karena saat masih babal  saja sudah pada diambil untuk diolah jadi sayur. Bonggol pisang juga diolah untuk bahan sayur demikian dengan jantung pisang yang direbus kemudian diiris iris kemudian dicampur dengan bumbu kluban untuk dimakan. Bahkan saat itu daun jambu kluthuk pun juga dimakan. 

     Selain disuruh menanam jagung dan iles iles masyarakat juga diminta untuk menanam pohon jarak pagar untuk diambil bijinya. Setiap rumah minimal menanam 1 batang pohon jarak pagar. Seperti kita ketahui biji jarak pagar itu mengandung minyak yang mana jika diolah akan menjadi minyak pelumnas yang bisa digunakan untuk minyak pelumnas pesawat terbang. 

     Kemudian masih di era Jepang ini, selain setiap rumah menanam pohon jarak pohon juga di bagian depan halaman rumah depannya dibuat lubang di tanah yang biasa disebut "Lograk" untuk perlindungan, jadi Lograk ini fungsinya seperti halnya bunker. Masih di zaman Jepang jika ada pesawat lewat lalu ada suara sirine dan orang orang disuruh untuk berlindung masuk ke dalam Lograk tersebut. Kadang untuk yang mampu bagian atas Lograk diberi anyaman kepang untuk penutup. Selama bersembunyi di dalam Lograk kuping biasanya ditutup dengan kapas / kapuk dan mulutnya menggigit karet. 

     Kebetulan orang tua mertua saya adalah pegawai Balai Kota Magelang sejak zaman Hindia-Belanda yang bernama Bapak Saman, dan ketika era Jepang beliau tetap bekerja di Balai Kota Magelang hingga Jepang keluar dari Indonesia lanjut era Kemerdekaan. Untuk Bu Saman tetap berjualan bubur di depan halaman rumah. 

     Demikian juga dengan sekolah juga berjalan normal seperti biasanya. Kedua kakak dari mertua saya yaitu yang bernama Larso dan Kamto di zaman Jepang ini bersekolah di Sekolah Rakyat yang ada di Balai Pelajar dan di daerah Plengkung. Sekolah Rakyat yang di Plengkung itu untuk yang kelas 1, 2 dan 3 sementara Sekolah Rakyat yang di Balai Pelajar itu untuk yang kelas 4, 5 dan 6.

     Tiap pagi diadakan upacara bendera pengibaran bendera Jepang yang diiringi dengan lagu kebangsaan Jepang yaitu "Kimigayo" dan juga disuruh hormat dengan cara membungkuk. Selain itu juga sebelum masuk kelas siswa sekolah disuruh senam "Taiso". Kemudian setelah jam pelajaran, sekitar jam 15 atau 16 an sore di lapangan Dukuh diadakan latihan bela diri Kendo dan Gulat/ Yudo. 

     Untuk warga kampung Tulung yang ikut jadi PETA (Pembela Tanah Air) yang mertua saya masih ingat adalah yang bernama Pak Ratmin. 

     Kemudian di tahun 1945 sekitar 28 Oktober 1945 dengan adanya peristiwa penyerbuan tentara Kido Butai ke kampung Tulung. Pasukan Jepang masuk kampung Tulung lewat utara melewati daerah makam Nglarangan dan setelah masuk kampung Tulung melakukan sweeping rumah rumah sekitar Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum oleh BKR/TKR. Rumah Bapak Saman berada di timur utaranya Kantor Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum, keluarga Pak Saman posisinya terjebak dalam peristiwa tersebut dan bersembunyi di dalam kamar rumah. Ibu Saman dan anak anaknya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur sementara Pak Saman berjaga di depan pintu di dalam kamar, untungnya ada gedek pyan yang jatuh menutupi bagian pintu kamar rumah. Saat tentara Jepang mendobrak pintu depan dan masuk tentara Jepang tidak melihat pintu kamar yang tertutup oleh gedeg dari pyan yang jatuh meskipun tentara Jepang sempat menusukkan bayonet yang ada di ujung laras senapan ke gedek tetapi akhirnya mereka mengira rumah kosong sehingga keluar rumah lagi. Menurut mertua saya beliau sempat mendengar suara orang menjerit dan minta ampun. Kebanyakan yang menjerit adalah para wanita, akan tetapi kemudian semuanya berhenti dan jadi sunyi kembali. Adapun suara tembakan terdengar riuh sekali. Setelah kondisi aman keluarga Pak Saman keluar rumah dan mulai mengungsi berjalan melewati belakang Dapur umum yang barusan diserang oleh tentara Kido Butai Jepang, kata mertua saya banyak korban bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan. Keluarga Pak Saman berjalan ke arah daerah Tulung Wot lalu menuju daerah Sangu Banyu Bandongan untuk mengungsi. 

     Selama zaman pendudukan Jepang ini, jenis-jenis hewan yang menyerang orang adalah:

1. Tumo katok 

2. Tumo rambut yang menyebabkan borok di kepala

3. Kutu busuk di amben, kasur, kursi

4. Bekicot

Sedangkan penyakit-pemyakit yang menyerang manusia adalah:

1. Beri-beri karena kekurangan vitamin B

2. Gudik dan koreng

3. Disentri 

     Betapa sangat susah dan sengsaranya rakyat Indonesia waktu zaman pendudukan Jepang tahun 1942 - 1945.

     Untuk warga kampung Tulung yang usianya kurang lebih 90 tahun dan tentunya mengalami masa Jepang dan kini masih ada selain mertua saya, yaitu:

1. Ibu Sukamtini (Jl Kusumabangsa I ujung timur sendiri). 

2. Mbok Brintik (Jl Kusumabangsa I, belakangnya rumah Pak Kartono). 

Mungkin beliau beliau ini bisa jadi narasumber primer.


24 August 2026

Dimanakah raja keempat kraton Kartasura lahir? Raja keempat di Kartasura yaitu Sunan Amangku Rat IV kelak akan melahirkan raja2 di Surakarta dan Yogyakarta.* Berdasarkan chronicle Mataram, inilah serangkaian peristiwa yg telah ia alami. Jadi, ketika terjadi serangan Trunajaya pada 1671, ayahnya yaitu Pangeran Puger, putera kedua raja (Amangku Rat I) tetap bertahan di Plered. Raja telah eksodus ke brang kulon (Banyumas), disusul putera sulung yaitu Raden Mas Rahmat yang kelak akan mewarisi tahta dan memindahkan kraton baru di Kartasura. Jadi putra mahkota ini tidak kembali ke Plered. Di reruntuhan Plered, Pangeran Puger mengangkat diri sebagai Susuhunan ing Ngalaga Tentu saja ini dianggap menyaingi kekuasaan raja baru di Kartasura. Amangku Rat II kemudian membujuk adik tirinya tadi Sunan Ngalaga supaya bergabung dengannya tetapi panggilan tersebut ditolak. Penolakan tersebut menimbulkan perang saudara. Dalam kondisi memanas itulah, lahir Raden Mas Suryaputra, putra Pangeran Puger. Kelak bergelar Amangku Rat IV. Setahun setelah kelahirannya, pada tanggal 28 November 1681 Jacob Couper, perwira VOC membantu Amangkurat II menyerang Plered. Sunan Ngalaga kalah dan ikut pindah ke Kartasura beserta keluarganya. Sunan Ngalaga pun kembali bergelar sebagai Pangeran Puger dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II. Artinya P. Puger baru pindah ke Kartasura setelah 1681, sedangkan Amangkurat IV (anaknya) lahir 1680. Jadi antara 1680 - 1681 ia masih di Plered. Jadi meski lahir di Plered, Raden Mas Suryaputra bertumbuh besar di Kartasura, bersama ayahandanya Pangeran Puger. Tempat tinggalnya Pugeran, kini tersisa Punthuk Pugeran di Kartasura. Beberapa fragmen perang kelak akan ia alami, yaitu perang antara ayahnya dengan raja bertahta - ponakan Pangeran Puger yaitu Amangku Rat III dan disusul.naik tahtanya ayahandanya sebagai raja Mataram (Pakubuwana I) sehingga kelak ia mewarisi tahta sebagai Susuhunan Amangku Rat IV. Banyak yang bertanya, mengapa dia tidak meneruskan gelar ayahnya yaitu Susuhunan Pakubuwana, tetapi justru memyempal kembali ke Amangku Rat (IV)? Jawabnya ? Catatan kaki * raja keempat di Kartasura setelah Amangku Rat I, II dan Pakubuwana I Rujukan : De Graaf

 Dimanakah raja keempat kraton Kartasura lahir?



Raja keempat di Kartasura  yaitu Sunan Amangku Rat IV kelak akan melahirkan raja2 di Surakarta dan Yogyakarta.*


Berdasarkan chronicle Mataram, inilah serangkaian peristiwa yg telah ia alami.


Jadi, ketika terjadi serangan Trunajaya pada 1671, ayahnya yaitu Pangeran Puger, putera kedua raja (Amangku Rat I) tetap bertahan di Plered.


Raja telah eksodus ke brang kulon (Banyumas), disusul putera sulung yaitu Raden Mas Rahmat yang kelak akan mewarisi tahta dan memindahkan kraton baru di Kartasura. Jadi putra mahkota ini tidak kembali ke Plered.


Di reruntuhan Plered, Pangeran Puger mengangkat diri sebagai Susuhunan ing Ngalaga 


Tentu saja ini dianggap menyaingi kekuasaan raja baru di Kartasura. 

Amangku Rat II kemudian membujuk adik tirinya tadi Sunan Ngalaga supaya bergabung dengannya tetapi panggilan tersebut ditolak. Penolakan tersebut menimbulkan perang saudara. 


Dalam kondisi memanas itulah, lahir Raden Mas Suryaputra, putra Pangeran Puger. Kelak bergelar Amangku Rat IV.


Setahun setelah kelahirannya,  pada tanggal 28 November 1681 Jacob Couper, perwira VOC  membantu Amangkurat II menyerang Plered. Sunan Ngalaga kalah dan ikut pindah ke Kartasura beserta keluarganya.


Sunan Ngalaga pun kembali bergelar sebagai Pangeran Puger dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.


Artinya P. Puger baru pindah ke Kartasura setelah 1681, sedangkan Amangkurat IV (anaknya) lahir 1680.  Jadi antara 1680 - 1681 ia masih di Plered.


Jadi meski lahir di Plered, Raden Mas Suryaputra bertumbuh besar di Kartasura, bersama ayahandanya Pangeran Puger. Tempat tinggalnya Pugeran, kini tersisa Punthuk Pugeran di Kartasura.


Beberapa fragmen perang kelak akan ia alami, yaitu perang antara ayahnya dengan raja bertahta - ponakan Pangeran Puger yaitu Amangku Rat III dan disusul.naik tahtanya ayahandanya sebagai raja Mataram (Pakubuwana I) sehingga kelak ia mewarisi tahta sebagai Susuhunan Amangku Rat IV.


Banyak yang bertanya, mengapa dia tidak meneruskan gelar ayahnya yaitu Susuhunan Pakubuwana, tetapi justru memyempal kembali ke Amangku Rat (IV)?


Jawabnya ?


Catatan kaki

* raja keempat di Kartasura setelah Amangku Rat I, II dan Pakubuwana I


Rujukan :

De Graaf

23 August 2026

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas 1912 Puncak borobudur sehancur ini Pembangunan Borobudur menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 masehi. Bangunan suci ini disebutkan tahun 1365 masehi, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit,Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur". 2.672 panel relief yang ada di Borobudur dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni panel naratif fan dekoratif. Sebanyak 1.460 panel naratif tersusun dalam sebelas baris yang mengelilingi monumen dengan total panjang lebih dari 3.000 meter. Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini tersimpan di Museum Nasional Bangkok Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 seiring dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh Pu Sindok.Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.

 Noesantara Tempo Doeloe 

Potret lawas 1912 Puncak borobudur sehancur ini



Pembangunan Borobudur  menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 masehi.


Bangunan suci ini disebutkan  tahun 1365 masehi, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit,Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur".


2.672 panel relief yang ada di Borobudur dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni panel naratif fan dekoratif. Sebanyak 1.460 panel naratif tersusun dalam sebelas baris yang mengelilingi monumen dengan total panjang lebih dari 3.000 meter.


Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini tersimpan di Museum Nasional Bangkok


Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 seiring dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh Pu Sindok.Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.