"Mengenang S.H. MINTARDJA dengan Nagasasra & Sabukinten nya".
Kraton Demak diliputi mendung. Perebutan pengaruh di kalangan para elit kerajaan semakin tajam, yakni antara keturunan Sultan Trenggana yg berkuasa pd waktu itu, dgn keturunan Pangeran Sekar Sedo Lepen, yaitu Arya Penangsang, yg juga merasa berhak atas tahta Demak. Bersamaan dgn itu, 2 pusaka kraton berupa 2 keris sakti, yakni "Kyai Nagasasra" & "Kyai Sabukinten" lenyap dari istana. Dlm suasana itu, karena perbedaan pandangan, seorang mantan perwira "Nara Manggala" (pengawal raja) mengundurkan diri, serta mendarmabaktikan diri dgn cara lain, yaitu mencoba menemukan kembali kedua pusaka tsb. Ia bernama "Mahesa Jenar". Dlm petualangan nya itulah ia hrs bertempur melawan "golongan hitam" yg didukung oleh tokoh² sakti. Selain itu ia juga sempat menemukan intisari ilmu yg dahsyat, bernama "Sasra Birawa" shg kesaktiannya meningkat. Dan tentu saja sbg bumbu penyedap cerita, ia bertemu dgn gadis manis, cucu salah seorang teman mendiang gurunya, Rara Wilis.
Kisah 'wira carita'/epos berlatar belakang sejarah ini pertama kali terbit sbg cerita bersambung di surat kabar "Kedaulatan Rakyat", Yogyakarta, tahun 1964 dan dibukukan 1966. Kemudian 1982 diterbitkan kembali dlm format lain, tetapi dgn judul dan isi yg sama, yaitu "Nagasasra dan Sabukinten" (N&S). Jadi ia sdh lbh dari 6 dasa warsa sejak diciptakan, namun tetap layak dikenang sbg sebuah karya 'masterpiece' Bpk. Singgih Suhadi Mintardja atau lbh dikenal dgn SH Mintardja yg tak pernah lekang ditelan zaman.
Di sekitar Jawa Tengah, kisah petualangan Mahesa Jenar (MJ) diatas sdh hampir menyerupai legenda. Bhkn klub sepak bola PSIS Semarang kerap menyebut diri sbg "Laskar Mahesa Jenar". Seorang gubernur yg mungkin kagum thdp karakter tsb, juga menamai satu gelanggang remaja dgn nama MJ, meski sempat ditanggapi oleh seorang pembaca di salah satu surat kabar di Jateng. Tapi apa boleh buat, nama MJ memang sdh 'kadung' populer. Ada suatu masa, masyarakat Jateng dgn tekun mendengarkan kisah itu lewat sandiwara radio, menikmati keseruan pertempuran antar tokoh²nya yg sakti mandraguna, kisah romannya yg lembut, seraya merenungkan nasehat² yg terkandung di dalamnya. Ada pula satu ketika dimana anak² muda mengidolakan MJ, 'nongkrong' sambil mendiskusikan perkembangan cerita atau menyablon kaos mereka dgn gbr MJ dgn sikapnya yg terkenal, yakni mengangkat tangan kanannya tinggi² sambil menyilangkan tangan kiri di depan dada, saat ia 'melafalkan' ajian Sasra Birawa.
Bukan itu saja. Seorang mahasiswa IKIP pernah datang kpd SH Mintardja dlm rangka membuat skripsi dgn N&S sbg obyek penelitian. Dan setelah sekian lama ditampilkan dlm panggung ketoprak di gedung² pertunjukan seni & budaya di Jawa Tengah, akhirnya konon TVRI Yogyakarta sempat turut mementaskannya sbg ketoprak televisi sebanyak beberapa episode. MJ dgn kepopulerannya juga pernah menjadi bahan bacaan mengasyikkan tidak saja di Jateng, tetapi sampai pula ke luar Jawa. Alkisah seorang pemuda asal Makassar ketika bertandang ke Yogyakarta, menyempatkan diri mampir ke kantor "Kedaulatan Rakyat" utk memborong 16 jilid N&S versi kedua, yg sdh tidak lengkap lagi 'stock' di gudangnya, shg terpaksa rela menerima satu seri buku yg sebagian diantaranya merupakan fotocopyan.
N&S spt pengakuan sang pengarang semasa hidupnya, hanya meminjam latar belakang sejarah (Jawa) yg ada dlm "Babad Tanah Jawi" sbg 'setting' peristiwa, yg sebagian besar fiktif, termasuk karakter MJ sendiri. Sbg sebuah wira carita, ia mengandung kelemahan², namun diatas itu semua, buku ini memberi warna lain pada kisah² silat lokal/'pribumi' yg biasa kita temui, karena ia diangkat dari salah satu babakan sejarah yg banyak dikenal di kalangan masyarakat Jawa. Setidaknya, sbg sebuah judul buku yg telah menjadi karya klasik, dan telah berhasil melewati dasa warsa ke-6 setelah kelahirannya serta masih banyak disimpan para "kolektor langitan" di dalam rak koleksi mereka, ia telah membuktikan diri sbg suatu karya 'kolosal' yg memiliki daya tarik yg besar pada dirinya.
Selain N&S, SH Mintardja juga menulis lebih dari 20 judul cerita silat, diantaranya "Api di Bukit Menoreh" yg pemuatannya di koran KR mencapai ribuan nomor (bahkan tak pernah rampung hingga beliau wafat), "Pelangi di Langit Singasari", ditambah sejumlah cerita pendek dan naskah sandiwara.
Itulah sekilas kita mengenang kembali tentang Bpk. SH Mintardja dgn karya monumentalnya "Nagasasra & Sabukinten". Beliau lahir di Yogyakarta, 26 Januari 1933 dan telah wafat lebih dari seperempat abad yang lalu (18 Januari 1999), namun karya²nya tetap abadi hingga kini. Untuk tetap mengabadikan karya² tsb hingga ke anak cucu, pihak keluarga besar beliau telah membangun sebuah perpustakaan di bekas tempat tinggal beliau yg terletak di Gedongkiwo MJ I/801, Mantrijeron, Yogyakarta.
(Diintisarikan dari tulisan Ninok Leksono & Djoko Pournomo di Kompas Minggu, 26 April 1987 dan sumber² lain)















