Begini Nasib Pilu Pencipta “Genjer-genjer”: Rumahnya Dihancurkan Massa, Anaknya Dicoret dari Seleksi Tentara
Di balik lagu “Genjer-genjer” yang begitu populer sekaligus kontroversial dalam sejarah Indonesia, tersimpan kisah pilu penciptanya, Muhammad Arief, seorang seniman angklung asal Banyuwangi, Jawa Timur.
Lagu yang ditulis dalam bahasa Osing itu pada awalnya bukanlah lagu tentang PKI ataupun G30S. “Genjer-genjer” menggambarkan penderitaan masyarakat Banyuwangi pada masa pendudukan Jepang. Ketika bahan pangan sulit diperoleh dan banyak rakyat hidup dalam kekurangan, tanaman genjer yang sebelumnya lebih dikenal sebagai gulma atau pakan ternak kemudian dimanfaatkan sebagai makanan. Muhammad Arief mengangkat keadaan tersebut menjadi kritik sosial melalui lagu. Sejumlah sumber menyebut lagu ini digubah pada era pendudukan Jepang pada 1940-an, dengan melodi yang berkaitan dengan lagu dolanan Banyuwangi “Tong Alak Gentak”.
Setelah Indonesia merdeka, kehidupan Muhammad Arief tidak hanya berkutat pada musik. Ia pernah bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan kemudian pada era 1950-an bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Di Lekra, ia dikenal menduduki bidang kesenian dan mendirikan kelompok angklung Seni Rakyat Indonesia Muda (Srimuda). Pada 1955, ia juga tercatat menjadi anggota DPRD Banyuwangi sebagai wakil golongan seniman.
Pada masa itu, “Genjer-genjer” justru semakin populer. Lagu tersebut kemudian dinyanyikan oleh penyanyi terkenal seperti Bing Slamet dan Lilis Suryani melalui rekaman Irama Record. Popularitasnya semakin besar ketika lagu tersebut juga kerap dibawakan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kelompok politik kiri. Akibat keterkaitan politik itulah, citra “Genjer-genjer” perlahan berubah. Lagu rakyat yang awalnya menggambarkan penderitaan masyarakat pada masa penjajahan Jepang kemudian semakin identik dengan Lekra dan PKI.
Setelah pecahnya krisis politik 1965, keadaan berubah menjadi tragedi bagi Muhammad Arief dan keluarganya.
Menurut kesaksian putranya, Sinar Syamsi, massa datang menyerbu rumah mereka di kawasan Temenggungan, Banyuwangi. Syamsi yang saat itu masih duduk di sekolah dasar bersama ibunya melarikan diri. Rumah mereka kemudian dihancurkan.
Dalam kekacauan tersebut, Syamsi hanya sempat menyelamatkan tiga buku berisi tulisan dan notasi lagu karya ayahnya. Benda-benda sederhana itulah yang kemudian menjadi salah satu peninggalan penting dari sang pencipta “Genjer-genjer”.
Kehidupan Muhammad Arief sendiri berakhir dalam ketidakpastian. Pada Oktober 1965, ia ditangkap dan ditahan. Ia kemudian dipindahkan dari Banyuwangi ke Kalibaru dan selanjutnya ke Lowokwaru. Setelah akhir 1965, keberadaannya tidak lagi diketahui secara pasti. Sejumlah sumber menyebut ia diyakini menjadi korban kekerasan politik pasca-1965, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan.
Yang semakin menyakitkan, dampak stigma terhadap keluarga Muhammad Arief ternyata tidak berhenti setelah dirinya menghilang.
Putranya, Sinar Syamsi, mengaku pernah diterima menjadi tentara pada 1975. Namun, sebelum proses tersebut selesai, namanya dicoret dari daftar tanpa penjelasan yang jelas. Syamsi menduga kuat bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan status dan masa lalu ayahnya sebagai pencipta “Genjer-genjer” yang telah telanjur dicap dekat dengan kelompok kiri. Namun, bagian ini merupakan kesaksian dan dugaan Syamsi, bukan sesuatu yang dapat dipastikan sebagai alasan resmi pencoretannya.
Syamsi juga pernah menceritakan bahwa keluarganya harus hidup di tengah stigma sebagai keluarga yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI. Ia mengaku mengalami berbagai tekanan dalam kehidupan dan pekerjaan. Bahkan, ia pernah berpikir untuk meninggalkan Indonesia karena merasa terus dibayangi oleh masa lalu keluarganya.
Ironisnya, Muhammad Arief dikenal bukan hanya sebagai pencipta “Genjer-genjer”, tetapi juga sebagai seniman yang banyak menciptakan lagu mengenai kehidupan masyarakat sehari-hari dalam bahasa Indonesia dan bahasa Using. Ia berasal dari keluarga santri dan dikenal fasih berbahasa Arab. Putranya sendiri bersaksi bahwa ayahnya merupakan seorang Muslim yang taat.
Kisah Muhammad Arief menunjukkan bagaimana sebuah karya seni dapat berubah makna ketika masuk ke dalam pusaran politik. “Genjer-genjer” pada mulanya merupakan gambaran penderitaan rakyat Banyuwangi di masa pendudukan Jepang. Namun setelah lagu tersebut digunakan dan diasosiasikan dengan kelompok politik kiri, nasib lagu dan penciptanya ikut terseret dalam tragedi politik 1965.
Bagi keluarganya, persoalannya bukan sekadar tentang sebuah lagu.
Ada rumah yang dihancurkan, seorang ayah yang ditangkap lalu tidak pernah kembali, karya-karya yang hampir semuanya hilang, dan seorang anak yang merasa masa lalu keluarganya terus membayangi kehidupannya bertahun-tahun kemudian.
“Genjer-genjer” akhirnya tetap hidup sebagai lagu, tetapi kisah penciptanya menyimpan luka sejarah yang jauh lebih panjang daripada durasi lagunya.


























