03 September 2026

Ki Ageng Suryomentaram (1892–1962) adalah seorang pangeran dari Kesultanan Yogyakarta yang meninggalkan kemewahan istana untuk mencari jati diri dan kebahagiaan sejati melalui filsafat "Kawruh Jiwa" atau Ilmu Bahagia. Beliau adalah putra Sultan Hamengkubuwono VII yang kemudian melepaskan gelar kebangsawanannya, hidup sederhana sebagai rakyat jelata, dan mendalami spiritualitas Jawa. Ajarannya yang dikenal dengan slogan "Aja Dumeh" menekankan kesetaraan manusia dan pentingnya melepaskan keinginan akan harta, tahta, dan kehormatan. Sumber : Ulama dan Sejarah

 Ki Ageng Suryomentaram (1892–1962) adalah seorang pangeran dari Kesultanan Yogyakarta yang meninggalkan kemewahan istana untuk mencari jati diri dan kebahagiaan sejati melalui filsafat "Kawruh Jiwa" atau Ilmu Bahagia. Beliau adalah putra Sultan Hamengkubuwono VII yang kemudian melepaskan gelar kebangsawanannya, hidup sederhana sebagai rakyat jelata, dan mendalami spiritualitas Jawa. Ajarannya yang dikenal dengan slogan "Aja Dumeh" menekankan kesetaraan manusia dan pentingnya melepaskan keinginan akan harta, tahta, dan kehormatan.

Sumber : Ulama dan Sejarah



TERIMA KASIH, BPS : INDONESIA TIDAK MISKIN LAGI "Ketika Kemiskinan Turun di Statistik, tetapi Belum Tentu Turun di Dapur" Terima kasih, BPS. Di tengah dunia yang terus menaikkan standar kesejahteraan, Indonesia mempunyai kabar yang menenangkan: kemiskinan nasional Maret 2026 tinggal 8,07 persen. Jumlahnya juga turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang sekitar 920 ribu orang dibanding Maret 2025. Indah sekali. Kemiskinan turun. Angka membaik. Grafik menurun. Laporan terlihat semakin sehat. Tetapi kemudian Bank Dunia datang membawa penggaris yang berbeda. Menurut standar garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021, yang merupakan garis tipikal negara-negara upper-middle income, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah standar tersebut jauh lebih besar. Bank Dunia bahkan menempatkan Indonesia dalam konteks baru setelah Indonesia masuk kelompok upper-middle income country (UMIC) pada 2023. Nah, di sinilah cerita menjadi menarik. Jadi sebenarnya kita ini miskin atau tidak? ---------------------------------------------- Dua Penggaris BPS menggunakan garis kemiskinan nasional. Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional BPS adalah Rp669.235 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, Rp499.886 merupakan garis kemiskinan makanan dan Rp169.349 untuk kebutuhan bukan makanan. Dengan garis tersebut, BPS mencatat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang. Sementara Bank Dunia mempunyai penggaris internasional. Untuk negara upper-middle income, garisnya adalah US$8,30 per orang per hari, atau sekitar Rp1,512 juta per orang per bulan berdasarkan PPP. Bank Dunia sendiri menjelaskan bahwa garis internasional ini memang berbeda dari garis kemiskinan nasional karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Artinya, kita sedang melihat dua foto dari rumah yang sama dengan kamera yang berbeda. BPS bertanya: "Apakah seseorang memenuhi kebutuhan dasar menurut kondisi Indonesia?" Bank Dunia bertanya: "Bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan standar negara-negara dalam kelas pendapatan yang sama?" Keduanya bukan salah. Tetapi pertanyaannya: Kalau Indonesia bangga sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas, mengapa ketika mengukur kesejahteraan rakyat kita tidak ikut menaikkan standar pembandingnya? ---------------------------------------- Bayangkan seorang anak mendapat nilai 70. Tahun lalu nilainya 50. Orang tuanya berkata: "Hebat! Naik 20 poin!" Tetapi ketika anak itu masuk kelas yang lebih tinggi, gurunya berkata: "Nilai minimal di kelas ini 80." Anak itu menjawab: "Tapi nilai saya sudah naik, Bu." Guru menjawab: "Betul. Tetapi kelasmu juga sudah naik." Begitulah kira-kira persoalan kemiskinan. Membandingkan angka kemiskinan hari ini dengan lima atau sepuluh tahun lalu memang penting untuk melihat kemajuan. Tetapi itu belum cukup untuk menjawab apakah rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera menurut standar kelas ekonominya sekarang. ---------------------------------------- BPS Tidak Salah, Tetapi Pertanyaannya Belum Selesai Ini yang sering hilang dalam perdebatan. Ketika BPS mengatakan kemiskinan 8,07 persen, bukan berarti BPS sedang mengatakan bahwa hanya 8 persen rakyat Indonesia yang hidup nyaman. BPS sedang mengatakan bahwa berdasarkan definisi dan garis kemiskinan nasionalnya, sebanyak 8,07 persen penduduk berada di bawah garis tersebut. Bahkan garis tersebut hanya sekitar Rp669 ribu per orang per bulan. Untuk keluarga dengan empat orang, secara sederhana garis tersebut setara sekitar Rp2,68 juta per bulan bila dikalikan empat. Sekarang bayangkan biaya makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, pakaian dan kebutuhan lain. Apakah seseorang yang sedikit saja berada di atas angka tersebut otomatis dapat disebut sejahtera? Tentu tidak. Di sinilah konsep kemiskinan dan kesejahteraan harus dibedakan. Orang bisa tidak miskin menurut garis statistik nasional, tetapi tetap hidup sangat rentan. Sedikit kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit satu anggota keluarga, atau kebutuhan sekolah yang mendadak bisa langsung membuat rumah tangga tersebut jatuh. ------------------------------------------ Maka Bank Dunia Menawarkan Pertanyaan yang Lebih Besar Bank Dunia tidak mengatakan bahwa angka BPS "salah". Justru Bank Dunia secara eksplisit menjelaskan bahwa garis nasional dan internasional memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Garis nasional dipakai pemerintah untuk kebijakan dan penargetan masyarakat miskin, sedangkan garis internasional berguna untuk perbandingan lintas negara. Nah! Justru kata "perbandingan" itulah yang menarik. Kalau Indonesia membandingkan pertumbuhan ekonominya dengan negara lain... Kalau Indonesia membandingkan PDB dengan negara lain... Kalau Indonesia membanggakan posisi Indonesia di antara ekonomi terbesar dunia... Maka sangat wajar apabila publik juga bertanya: Bagaimana standar hidup rakyat Indonesia dibandingkan dengan rakyat negara-negara yang sama-sama masuk kelas upper-middle income? Sebab jangan sampai ketika mengukur kebesaran ekonomi, kita menggunakan penggaris dunia. Tetapi ketika mengukur kemiskinan, kita kembali menggunakan penggaris yang paling nyaman di dalam negeri ------------------------------------------ Kemiskinan Bisa Turun, Tetapi Kerentanan Tetap Tinggi Inilah sebabnya angka 8,07 persen harus dibaca dengan hati-hati. BPS memang mencatat kemiskinan turun 0,40 poin persentase dibanding Maret 2025, dari jumlah 23,85 juta menjadi 22,93 juta orang. Itu merupakan perkembangan positif yang patut dicatat. Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti mayoritas rakyat Indonesia sudah sejahtera. Ada wilayah yang jauh lebih berat. Pada Maret 2026, misalnya, BPS mencatat kemiskinan nasional 8,07 persen, tetapi 20 provinsi berada di atas angka nasional. Papua Tengah bahkan tercatat 30,41 persen, sementara Bali berada di 3,44 persen. Jadi bahkan di dalam satu negara saja, Indonesia mempunyai wajah kemiskinan yang sangat berbeda. Lalu Kita Harus Percaya Siapa? Jawabannya: Percayalah pada keduanya, tetapi jangan mencampur fungsi keduanya. BPS penting untuk mengetahui siapa yang berada di bawah garis kemiskinan menurut kondisi Indonesia. Bank Dunia penting untuk mengetahui bagaimana posisi kesejahteraan Indonesia jika dibandingkan secara internasional. Masalahnya muncul ketika salah satu angka dipakai untuk membuat kesimpulan yang terlalu besar. Misalnya: "Kemiskinan hanya 8 persen, berarti masalah kemiskinan sudah kecil." Belum tentu. Begitu pula: "Bank Dunia memakai garis US$8,30, berarti 64 persen rakyat Indonesia miskin menurut definisi kemiskinan nasional." Juga tidak tepat. Angka 8,07 persen dan angka Bank Dunia tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama. Dan justru karena pertanyaannya berbeda, masyarakat berhak bertanya: Pertanyaan mana yang ingin kita jawab? -------------------------------------------- Terima kasih, BPS. Anda telah membuat angka kemiskinan nasional menjadi lebih mudah dibaca. Tetapi jangan sampai pemerintah hanya membaca angka yang membuatnya tersenyum. Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel BPS. Rakyat hidup di pasar. Di warung. Di sekolah. Di rumah sakit. Di rekening bank. Dan terutama di dapur. Kalau pendapatan naik lebih cepat daripada kebutuhan hidup, rakyat merasakan kemajuan. Kalau hanya angka kemiskinan yang turun karena seseorang melewati sebuah garis statistik, tetapi kehidupannya tetap rapuh, maka kita baru berhasil mengubah status statistik, belum tentu mengubah kualitas hidup. Maka pertanyaan paling sederhana sebenarnya bukan: "Berapa persen rakyat miskin hari ini?" Tetapi: "Miskin dibandingkan siapa?" Sebab kalau Indonesia mengatakan dirinya sudah naik kelas menjadi upper-middle income country, maka rakyat juga berhak bertanya: "Kalau kelas ekonominya sudah naik, mengapa standar hidup yang kita gunakan untuk mengukur kesejahteraan masih terasa begitu rendah?" Dan akhirnya, satu kalimat yang mungkin paling sulit dijawab oleh statistik: Kemiskinan memang bisa turun di atas kertas. Tetapi apakah ia juga turun di dapur rakyat?

 TERIMA KASIH, BPS : 

INDONESIA TIDAK MISKIN LAGI


"Ketika Kemiskinan Turun di Statistik, tetapi Belum Tentu Turun di Dapur"


Terima kasih, BPS.


Di tengah dunia yang terus menaikkan standar kesejahteraan, Indonesia mempunyai kabar yang menenangkan: kemiskinan nasional Maret 2026 tinggal 8,07 persen.


Jumlahnya juga turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang sekitar 920 ribu orang dibanding Maret 2025.


Indah sekali.


Kemiskinan turun.


Angka membaik.


Grafik menurun.


Laporan terlihat semakin sehat.


Tetapi kemudian Bank Dunia datang membawa penggaris yang berbeda.


Menurut standar garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021, yang merupakan garis tipikal negara-negara upper-middle income, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah standar tersebut jauh lebih besar. Bank Dunia bahkan menempatkan Indonesia dalam konteks baru setelah Indonesia masuk kelompok upper-middle income country (UMIC) pada 2023.


Nah, di sinilah cerita menjadi menarik.


Jadi sebenarnya kita ini miskin atau tidak?


----------------------------------------------


Dua Penggaris


BPS menggunakan garis kemiskinan nasional.


Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional BPS adalah Rp669.235 per kapita per bulan.


Dari jumlah tersebut, Rp499.886 merupakan garis kemiskinan makanan dan Rp169.349 untuk kebutuhan bukan makanan. Dengan garis tersebut, BPS mencatat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang.


Sementara Bank Dunia mempunyai penggaris internasional.


Untuk negara upper-middle income, garisnya adalah US$8,30 per orang per hari, atau sekitar Rp1,512 juta per orang per bulan berdasarkan PPP. Bank Dunia sendiri menjelaskan bahwa garis internasional ini memang berbeda dari garis kemiskinan nasional karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda.


Artinya, kita sedang melihat dua foto dari rumah yang sama dengan kamera yang berbeda.


BPS bertanya:


"Apakah seseorang memenuhi kebutuhan dasar menurut kondisi Indonesia?"


Bank Dunia bertanya:


"Bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan standar negara-negara dalam kelas pendapatan yang sama?"


Keduanya bukan salah.


Tetapi pertanyaannya:


Kalau Indonesia bangga sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas, mengapa ketika mengukur kesejahteraan rakyat kita tidak ikut menaikkan standar pembandingnya?


----------------------------------------


Bayangkan seorang anak mendapat nilai 70.


Tahun lalu nilainya 50.


Orang tuanya berkata:


"Hebat! Naik 20 poin!"


Tetapi ketika anak itu masuk kelas yang lebih tinggi, gurunya berkata:


"Nilai minimal di kelas ini 80."


Anak itu menjawab:


"Tapi nilai saya sudah naik, Bu."


Guru menjawab:


"Betul. Tetapi kelasmu juga sudah naik."


Begitulah kira-kira persoalan kemiskinan.


Membandingkan angka kemiskinan hari ini dengan lima atau sepuluh tahun lalu memang penting untuk melihat kemajuan. Tetapi itu belum cukup untuk menjawab apakah rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera menurut standar kelas ekonominya sekarang.


----------------------------------------


BPS Tidak Salah, Tetapi Pertanyaannya Belum Selesai


Ini yang sering hilang dalam perdebatan.


Ketika BPS mengatakan kemiskinan 8,07 persen, bukan berarti BPS sedang mengatakan bahwa hanya 8 persen rakyat Indonesia yang hidup nyaman.


BPS sedang mengatakan bahwa berdasarkan definisi dan garis kemiskinan nasionalnya, sebanyak 8,07 persen penduduk berada di bawah garis tersebut.


Bahkan garis tersebut hanya sekitar Rp669 ribu per orang per bulan.


Untuk keluarga dengan empat orang, secara sederhana garis tersebut setara sekitar Rp2,68 juta per bulan bila dikalikan empat.


Sekarang bayangkan biaya makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, pakaian dan kebutuhan lain.


Apakah seseorang yang sedikit saja berada di atas angka tersebut otomatis dapat disebut sejahtera?


Tentu tidak.


Di sinilah konsep kemiskinan dan kesejahteraan harus dibedakan.


Orang bisa tidak miskin menurut garis statistik nasional, tetapi tetap hidup sangat rentan.


Sedikit kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit satu anggota keluarga, atau kebutuhan sekolah yang mendadak bisa langsung membuat rumah tangga tersebut jatuh.


------------------------------------------


Maka Bank Dunia Menawarkan Pertanyaan yang Lebih Besar


Bank Dunia tidak mengatakan bahwa angka BPS "salah".


Justru Bank Dunia secara eksplisit menjelaskan bahwa garis nasional dan internasional memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Garis nasional dipakai pemerintah untuk kebijakan dan penargetan masyarakat miskin, sedangkan garis internasional berguna untuk perbandingan lintas negara.


Nah!


Justru kata "perbandingan" itulah yang menarik.


Kalau Indonesia membandingkan pertumbuhan ekonominya dengan negara lain...


Kalau Indonesia membandingkan PDB dengan negara lain...


Kalau Indonesia membanggakan posisi Indonesia di antara ekonomi terbesar dunia...


Maka sangat wajar apabila publik juga bertanya:


Bagaimana standar hidup rakyat Indonesia dibandingkan dengan rakyat negara-negara yang sama-sama masuk kelas upper-middle income?


Sebab jangan sampai ketika mengukur kebesaran ekonomi, kita menggunakan penggaris dunia.


Tetapi ketika mengukur kemiskinan, kita kembali menggunakan penggaris yang paling nyaman di dalam negeri


------------------------------------------


Kemiskinan Bisa Turun, Tetapi Kerentanan Tetap Tinggi


Inilah sebabnya angka 8,07 persen harus dibaca dengan hati-hati.


BPS memang mencatat kemiskinan turun 0,40 poin persentase dibanding Maret 2025, dari jumlah 23,85 juta menjadi 22,93 juta orang. Itu merupakan perkembangan positif yang patut dicatat.


Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti mayoritas rakyat Indonesia sudah sejahtera.


Ada wilayah yang jauh lebih berat.


Pada Maret 2026, misalnya, BPS mencatat kemiskinan nasional 8,07 persen, tetapi 20 provinsi berada di atas angka nasional. Papua Tengah bahkan tercatat 30,41 persen, sementara Bali berada di 3,44 persen.


Jadi bahkan di dalam satu negara saja, Indonesia mempunyai wajah kemiskinan yang sangat berbeda.


Lalu Kita Harus Percaya Siapa?


Jawabannya:


Percayalah pada keduanya, tetapi jangan mencampur fungsi keduanya.


BPS penting untuk mengetahui siapa yang berada di bawah garis kemiskinan menurut kondisi Indonesia.


Bank Dunia penting untuk mengetahui bagaimana posisi kesejahteraan Indonesia jika dibandingkan secara internasional.


Masalahnya muncul ketika salah satu angka dipakai untuk membuat kesimpulan yang terlalu besar.


Misalnya:


"Kemiskinan hanya 8 persen, berarti masalah kemiskinan sudah kecil."


Belum tentu.


Begitu pula:


"Bank Dunia memakai garis US$8,30, berarti 64 persen rakyat Indonesia miskin menurut definisi kemiskinan nasional."


Juga tidak tepat.


Angka 8,07 persen dan angka Bank Dunia tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama.


Dan justru karena pertanyaannya berbeda, masyarakat berhak bertanya:


Pertanyaan mana yang ingin kita jawab?


--------------------------------------------


Terima kasih, BPS.


Anda telah membuat angka kemiskinan nasional menjadi lebih mudah dibaca.


Tetapi jangan sampai pemerintah hanya membaca angka yang membuatnya tersenyum.


Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel BPS.


Rakyat hidup di pasar.


Di warung.


Di sekolah.


Di rumah sakit.


Di rekening bank.


Dan terutama di dapur.


Kalau pendapatan naik lebih cepat daripada kebutuhan hidup, rakyat merasakan kemajuan.


Kalau hanya angka kemiskinan yang turun karena seseorang melewati sebuah garis statistik, tetapi kehidupannya tetap rapuh, maka kita baru berhasil mengubah status statistik, belum tentu mengubah kualitas hidup.


Maka pertanyaan paling sederhana sebenarnya bukan:


"Berapa persen rakyat miskin hari ini?"


Tetapi:


"Miskin dibandingkan siapa?"


Sebab kalau Indonesia mengatakan dirinya sudah naik kelas menjadi upper-middle income country, maka rakyat juga berhak bertanya:


"Kalau kelas ekonominya sudah naik, mengapa standar hidup yang kita gunakan untuk mengukur kesejahteraan masih terasa begitu rendah?"


Dan akhirnya, satu kalimat yang mungkin paling sulit dijawab oleh statistik:


Kemiskinan memang bisa turun di atas kertas. Tetapi apakah ia juga turun di dapur rakyat?

TERIMA KASIH, BPS : INDONESIA TIDAK MISKIN LAGI "Ketika Kemiskinan Turun di Statistik, tetapi Belum Tentu Turun di Dapur" Terima kasih, BPS. Di tengah dunia yang terus menaikkan standar kesejahteraan, Indonesia mempunyai kabar yang menenangkan: kemiskinan nasional Maret 2026 tinggal 8,07 persen. Jumlahnya juga turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang sekitar 920 ribu orang dibanding Maret 2025. Indah sekali. Kemiskinan turun. Angka membaik. Grafik menurun. Laporan terlihat semakin sehat. Tetapi kemudian Bank Dunia datang membawa penggaris yang berbeda. Menurut standar garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021, yang merupakan garis tipikal negara-negara upper-middle income, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah standar tersebut jauh lebih besar. Bank Dunia bahkan menempatkan Indonesia dalam konteks baru setelah Indonesia masuk kelompok upper-middle income country (UMIC) pada 2023. Nah, di sinilah cerita menjadi menarik. Jadi sebenarnya kita ini miskin atau tidak? ---------------------------------------------- Dua Penggaris BPS menggunakan garis kemiskinan nasional. Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional BPS adalah Rp669.235 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, Rp499.886 merupakan garis kemiskinan makanan dan Rp169.349 untuk kebutuhan bukan makanan. Dengan garis tersebut, BPS mencatat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang. Sementara Bank Dunia mempunyai penggaris internasional. Untuk negara upper-middle income, garisnya adalah US$8,30 per orang per hari, atau sekitar Rp1,512 juta per orang per bulan berdasarkan PPP. Bank Dunia sendiri menjelaskan bahwa garis internasional ini memang berbeda dari garis kemiskinan nasional karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda. Artinya, kita sedang melihat dua foto dari rumah yang sama dengan kamera yang berbeda. BPS bertanya: "Apakah seseorang memenuhi kebutuhan dasar menurut kondisi Indonesia?" Bank Dunia bertanya: "Bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan standar negara-negara dalam kelas pendapatan yang sama?" Keduanya bukan salah. Tetapi pertanyaannya: Kalau Indonesia bangga sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas, mengapa ketika mengukur kesejahteraan rakyat kita tidak ikut menaikkan standar pembandingnya? ---------------------------------------- Bayangkan seorang anak mendapat nilai 70. Tahun lalu nilainya 50. Orang tuanya berkata: "Hebat! Naik 20 poin!" Tetapi ketika anak itu masuk kelas yang lebih tinggi, gurunya berkata: "Nilai minimal di kelas ini 80." Anak itu menjawab: "Tapi nilai saya sudah naik, Bu." Guru menjawab: "Betul. Tetapi kelasmu juga sudah naik." Begitulah kira-kira persoalan kemiskinan. Membandingkan angka kemiskinan hari ini dengan lima atau sepuluh tahun lalu memang penting untuk melihat kemajuan. Tetapi itu belum cukup untuk menjawab apakah rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera menurut standar kelas ekonominya sekarang. ---------------------------------------- BPS Tidak Salah, Tetapi Pertanyaannya Belum Selesai Ini yang sering hilang dalam perdebatan. Ketika BPS mengatakan kemiskinan 8,07 persen, bukan berarti BPS sedang mengatakan bahwa hanya 8 persen rakyat Indonesia yang hidup nyaman. BPS sedang mengatakan bahwa berdasarkan definisi dan garis kemiskinan nasionalnya, sebanyak 8,07 persen penduduk berada di bawah garis tersebut. Bahkan garis tersebut hanya sekitar Rp669 ribu per orang per bulan. Untuk keluarga dengan empat orang, secara sederhana garis tersebut setara sekitar Rp2,68 juta per bulan bila dikalikan empat. Sekarang bayangkan biaya makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, pakaian dan kebutuhan lain. Apakah seseorang yang sedikit saja berada di atas angka tersebut otomatis dapat disebut sejahtera? Tentu tidak. Di sinilah konsep kemiskinan dan kesejahteraan harus dibedakan. Orang bisa tidak miskin menurut garis statistik nasional, tetapi tetap hidup sangat rentan. Sedikit kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit satu anggota keluarga, atau kebutuhan sekolah yang mendadak bisa langsung membuat rumah tangga tersebut jatuh. ------------------------------------------ Maka Bank Dunia Menawarkan Pertanyaan yang Lebih Besar Bank Dunia tidak mengatakan bahwa angka BPS "salah". Justru Bank Dunia secara eksplisit menjelaskan bahwa garis nasional dan internasional memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Garis nasional dipakai pemerintah untuk kebijakan dan penargetan masyarakat miskin, sedangkan garis internasional berguna untuk perbandingan lintas negara. Nah! Justru kata "perbandingan" itulah yang menarik. Kalau Indonesia membandingkan pertumbuhan ekonominya dengan negara lain... Kalau Indonesia membandingkan PDB dengan negara lain... Kalau Indonesia membanggakan posisi Indonesia di antara ekonomi terbesar dunia... Maka sangat wajar apabila publik juga bertanya: Bagaimana standar hidup rakyat Indonesia dibandingkan dengan rakyat negara-negara yang sama-sama masuk kelas upper-middle income? Sebab jangan sampai ketika mengukur kebesaran ekonomi, kita menggunakan penggaris dunia. Tetapi ketika mengukur kemiskinan, kita kembali menggunakan penggaris yang paling nyaman di dalam negeri ------------------------------------------ Kemiskinan Bisa Turun, Tetapi Kerentanan Tetap Tinggi Inilah sebabnya angka 8,07 persen harus dibaca dengan hati-hati. BPS memang mencatat kemiskinan turun 0,40 poin persentase dibanding Maret 2025, dari jumlah 23,85 juta menjadi 22,93 juta orang. Itu merupakan perkembangan positif yang patut dicatat. Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti mayoritas rakyat Indonesia sudah sejahtera. Ada wilayah yang jauh lebih berat. Pada Maret 2026, misalnya, BPS mencatat kemiskinan nasional 8,07 persen, tetapi 20 provinsi berada di atas angka nasional. Papua Tengah bahkan tercatat 30,41 persen, sementara Bali berada di 3,44 persen. Jadi bahkan di dalam satu negara saja, Indonesia mempunyai wajah kemiskinan yang sangat berbeda. Lalu Kita Harus Percaya Siapa? Jawabannya: Percayalah pada keduanya, tetapi jangan mencampur fungsi keduanya. BPS penting untuk mengetahui siapa yang berada di bawah garis kemiskinan menurut kondisi Indonesia. Bank Dunia penting untuk mengetahui bagaimana posisi kesejahteraan Indonesia jika dibandingkan secara internasional. Masalahnya muncul ketika salah satu angka dipakai untuk membuat kesimpulan yang terlalu besar. Misalnya: "Kemiskinan hanya 8 persen, berarti masalah kemiskinan sudah kecil." Belum tentu. Begitu pula: "Bank Dunia memakai garis US$8,30, berarti 64 persen rakyat Indonesia miskin menurut definisi kemiskinan nasional." Juga tidak tepat. Angka 8,07 persen dan angka Bank Dunia tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama. Dan justru karena pertanyaannya berbeda, masyarakat berhak bertanya: Pertanyaan mana yang ingin kita jawab? -------------------------------------------- Terima kasih, BPS. Anda telah membuat angka kemiskinan nasional menjadi lebih mudah dibaca. Tetapi jangan sampai pemerintah hanya membaca angka yang membuatnya tersenyum. Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel BPS. Rakyat hidup di pasar. Di warung. Di sekolah. Di rumah sakit. Di rekening bank. Dan terutama di dapur. Kalau pendapatan naik lebih cepat daripada kebutuhan hidup, rakyat merasakan kemajuan. Kalau hanya angka kemiskinan yang turun karena seseorang melewati sebuah garis statistik, tetapi kehidupannya tetap rapuh, maka kita baru berhasil mengubah status statistik, belum tentu mengubah kualitas hidup. Maka pertanyaan paling sederhana sebenarnya bukan: "Berapa persen rakyat miskin hari ini?" Tetapi: "Miskin dibandingkan siapa?" Sebab kalau Indonesia mengatakan dirinya sudah naik kelas menjadi upper-middle income country, maka rakyat juga berhak bertanya: "Kalau kelas ekonominya sudah naik, mengapa standar hidup yang kita gunakan untuk mengukur kesejahteraan masih terasa begitu rendah?" Dan akhirnya, satu kalimat yang mungkin paling sulit dijawab oleh statistik: Kemiskinan memang bisa turun di atas kertas. Tetapi apakah ia juga turun di dapur rakyat?

 TERIMA KASIH, BPS : 

INDONESIA TIDAK MISKIN LAGI


"Ketika Kemiskinan Turun di Statistik, tetapi Belum Tentu Turun di Dapur"


Terima kasih, BPS.


Di tengah dunia yang terus menaikkan standar kesejahteraan, Indonesia mempunyai kabar yang menenangkan: kemiskinan nasional Maret 2026 tinggal 8,07 persen.


Jumlahnya juga turun menjadi 22,93 juta orang, berkurang sekitar 920 ribu orang dibanding Maret 2025.


Indah sekali.


Kemiskinan turun.


Angka membaik.


Grafik menurun.


Laporan terlihat semakin sehat.


Tetapi kemudian Bank Dunia datang membawa penggaris yang berbeda.


Menurut standar garis kemiskinan US$8,30 per orang per hari berdasarkan PPP 2021, yang merupakan garis tipikal negara-negara upper-middle income, proporsi penduduk Indonesia yang berada di bawah standar tersebut jauh lebih besar. Bank Dunia bahkan menempatkan Indonesia dalam konteks baru setelah Indonesia masuk kelompok upper-middle income country (UMIC) pada 2023.


Nah, di sinilah cerita menjadi menarik.


Jadi sebenarnya kita ini miskin atau tidak?


----------------------------------------------


Dua Penggaris


BPS menggunakan garis kemiskinan nasional.


Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional BPS adalah Rp669.235 per kapita per bulan.


Dari jumlah tersebut, Rp499.886 merupakan garis kemiskinan makanan dan Rp169.349 untuk kebutuhan bukan makanan. Dengan garis tersebut, BPS mencatat kemiskinan nasional sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta orang.


Sementara Bank Dunia mempunyai penggaris internasional.


Untuk negara upper-middle income, garisnya adalah US$8,30 per orang per hari, atau sekitar Rp1,512 juta per orang per bulan berdasarkan PPP. Bank Dunia sendiri menjelaskan bahwa garis internasional ini memang berbeda dari garis kemiskinan nasional karena keduanya mempunyai tujuan yang berbeda.


Artinya, kita sedang melihat dua foto dari rumah yang sama dengan kamera yang berbeda.


BPS bertanya:


"Apakah seseorang memenuhi kebutuhan dasar menurut kondisi Indonesia?"


Bank Dunia bertanya:


"Bagaimana standar hidup masyarakat Indonesia jika dibandingkan dengan standar negara-negara dalam kelas pendapatan yang sama?"


Keduanya bukan salah.


Tetapi pertanyaannya:


Kalau Indonesia bangga sudah naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah atas, mengapa ketika mengukur kesejahteraan rakyat kita tidak ikut menaikkan standar pembandingnya?


----------------------------------------


Bayangkan seorang anak mendapat nilai 70.


Tahun lalu nilainya 50.


Orang tuanya berkata:


"Hebat! Naik 20 poin!"


Tetapi ketika anak itu masuk kelas yang lebih tinggi, gurunya berkata:


"Nilai minimal di kelas ini 80."


Anak itu menjawab:


"Tapi nilai saya sudah naik, Bu."


Guru menjawab:


"Betul. Tetapi kelasmu juga sudah naik."


Begitulah kira-kira persoalan kemiskinan.


Membandingkan angka kemiskinan hari ini dengan lima atau sepuluh tahun lalu memang penting untuk melihat kemajuan. Tetapi itu belum cukup untuk menjawab apakah rakyat Indonesia sudah hidup sejahtera menurut standar kelas ekonominya sekarang.


----------------------------------------


BPS Tidak Salah, Tetapi Pertanyaannya Belum Selesai


Ini yang sering hilang dalam perdebatan.


Ketika BPS mengatakan kemiskinan 8,07 persen, bukan berarti BPS sedang mengatakan bahwa hanya 8 persen rakyat Indonesia yang hidup nyaman.


BPS sedang mengatakan bahwa berdasarkan definisi dan garis kemiskinan nasionalnya, sebanyak 8,07 persen penduduk berada di bawah garis tersebut.


Bahkan garis tersebut hanya sekitar Rp669 ribu per orang per bulan.


Untuk keluarga dengan empat orang, secara sederhana garis tersebut setara sekitar Rp2,68 juta per bulan bila dikalikan empat.


Sekarang bayangkan biaya makan, listrik, transportasi, pendidikan, kesehatan, pakaian dan kebutuhan lain.


Apakah seseorang yang sedikit saja berada di atas angka tersebut otomatis dapat disebut sejahtera?


Tentu tidak.


Di sinilah konsep kemiskinan dan kesejahteraan harus dibedakan.


Orang bisa tidak miskin menurut garis statistik nasional, tetapi tetap hidup sangat rentan.


Sedikit kenaikan harga pangan, kehilangan pekerjaan, sakit satu anggota keluarga, atau kebutuhan sekolah yang mendadak bisa langsung membuat rumah tangga tersebut jatuh.


------------------------------------------


Maka Bank Dunia Menawarkan Pertanyaan yang Lebih Besar


Bank Dunia tidak mengatakan bahwa angka BPS "salah".


Justru Bank Dunia secara eksplisit menjelaskan bahwa garis nasional dan internasional memang dibuat untuk tujuan yang berbeda. Garis nasional dipakai pemerintah untuk kebijakan dan penargetan masyarakat miskin, sedangkan garis internasional berguna untuk perbandingan lintas negara.


Nah!


Justru kata "perbandingan" itulah yang menarik.


Kalau Indonesia membandingkan pertumbuhan ekonominya dengan negara lain...


Kalau Indonesia membandingkan PDB dengan negara lain...


Kalau Indonesia membanggakan posisi Indonesia di antara ekonomi terbesar dunia...


Maka sangat wajar apabila publik juga bertanya:


Bagaimana standar hidup rakyat Indonesia dibandingkan dengan rakyat negara-negara yang sama-sama masuk kelas upper-middle income?


Sebab jangan sampai ketika mengukur kebesaran ekonomi, kita menggunakan penggaris dunia.


Tetapi ketika mengukur kemiskinan, kita kembali menggunakan penggaris yang paling nyaman di dalam negeri


------------------------------------------


Kemiskinan Bisa Turun, Tetapi Kerentanan Tetap Tinggi


Inilah sebabnya angka 8,07 persen harus dibaca dengan hati-hati.


BPS memang mencatat kemiskinan turun 0,40 poin persentase dibanding Maret 2025, dari jumlah 23,85 juta menjadi 22,93 juta orang. Itu merupakan perkembangan positif yang patut dicatat.


Tetapi angka tersebut tidak otomatis berarti mayoritas rakyat Indonesia sudah sejahtera.


Ada wilayah yang jauh lebih berat.


Pada Maret 2026, misalnya, BPS mencatat kemiskinan nasional 8,07 persen, tetapi 20 provinsi berada di atas angka nasional. Papua Tengah bahkan tercatat 30,41 persen, sementara Bali berada di 3,44 persen.


Jadi bahkan di dalam satu negara saja, Indonesia mempunyai wajah kemiskinan yang sangat berbeda.


Lalu Kita Harus Percaya Siapa?


Jawabannya:


Percayalah pada keduanya, tetapi jangan mencampur fungsi keduanya.


BPS penting untuk mengetahui siapa yang berada di bawah garis kemiskinan menurut kondisi Indonesia.


Bank Dunia penting untuk mengetahui bagaimana posisi kesejahteraan Indonesia jika dibandingkan secara internasional.


Masalahnya muncul ketika salah satu angka dipakai untuk membuat kesimpulan yang terlalu besar.


Misalnya:


"Kemiskinan hanya 8 persen, berarti masalah kemiskinan sudah kecil."


Belum tentu.


Begitu pula:


"Bank Dunia memakai garis US$8,30, berarti 64 persen rakyat Indonesia miskin menurut definisi kemiskinan nasional."


Juga tidak tepat.


Angka 8,07 persen dan angka Bank Dunia tidak sedang menjawab pertanyaan yang sama.


Dan justru karena pertanyaannya berbeda, masyarakat berhak bertanya:


Pertanyaan mana yang ingin kita jawab?


--------------------------------------------


Terima kasih, BPS.


Anda telah membuat angka kemiskinan nasional menjadi lebih mudah dibaca.


Tetapi jangan sampai pemerintah hanya membaca angka yang membuatnya tersenyum.


Sebab rakyat tidak hidup di dalam tabel BPS.


Rakyat hidup di pasar.


Di warung.


Di sekolah.


Di rumah sakit.


Di rekening bank.


Dan terutama di dapur.


Kalau pendapatan naik lebih cepat daripada kebutuhan hidup, rakyat merasakan kemajuan.


Kalau hanya angka kemiskinan yang turun karena seseorang melewati sebuah garis statistik, tetapi kehidupannya tetap rapuh, maka kita baru berhasil mengubah status statistik, belum tentu mengubah kualitas hidup.


Maka pertanyaan paling sederhana sebenarnya bukan:


"Berapa persen rakyat miskin hari ini?"


Tetapi:


"Miskin dibandingkan siapa?"


Sebab kalau Indonesia mengatakan dirinya sudah naik kelas menjadi upper-middle income country, maka rakyat juga berhak bertanya:


"Kalau kelas ekonominya sudah naik, mengapa standar hidup yang kita gunakan untuk mengukur kesejahteraan masih terasa begitu rendah?"


Dan akhirnya, satu kalimat yang mungkin paling sulit dijawab oleh statistik:


Kemiskinan memang bisa turun di atas kertas. Tetapi apakah ia juga turun di dapur rakyat?


Sumber : Rudi Sinaba

02 September 2026

BARA MERAH DI KAKI GUNUNG: AMUK RESIMEN SAMUDERA MENUMPAS PEMBELOT REPUBLIK Catatan sejarah Jani Sari II Palagan Kedu Utara: Saat Resimen Samudera dan Taruna Magelang Menyelamatkan Republik dari Pemberontakan PKI/FDR 1948 Tahun 1948. Usia Republik Indonesia ibarat bayi yang baru belajar merangkak, namun ancaman sudah mengepung dari segala penjuru. Di luar, Belanda masih mengintai dengan moncong senjata, memaksa wilayah RI semakin menyusut lewat Perjanjian Linggarjati dan Renville. Di dalam, suhu politik mendidih. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diketuk palu oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan M. Hatta pada awal tahun, membawa angin puyuh bagi laskar-laskar dan kesatuan bersenjata, tak terkecuali Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Bagi para prajurit Corps Mariniers (CM), itu adalah masa-masa penuh ketidakpastian. Komisi Reorganisasi ALRI (KRAL) sempat memutuskan untuk meniadakan Tentara Laut. Namun, darah patriot tak mudah luntur. Di Tegal, Komandan CM Pangkalan IV, R. Soehadi, mengambil langkah taktis. Ia menolak pasukannya kehilangan identitas. Bersama perwira intinya, CM meleburkan diri ke dalam Divisi III Diponegoro dan beralih rupa menjadi resimen tersendiri: Resimen Samudera. Di bawah komando Divisi III yang dipimpin Brigjen Inf. Soesalit, Resimen Samudera berdiri tegak bak benteng. Mereka membagi kekuatan tempur ke dalam empat batalyon utama: Batalyon 173 di Parakan (Letnan Hartono), Batalyon 174 di Wonosobo (Letnan M. Joenoes), Batalyon 175 di Parakan (Letnan Moekijat), Batalyon 176 di Temanggung (Letnan Soewadji), dan Batalyon 177 (Letnan Wiranto), yang kemudian disusul bergabungnya Batalyon 178 asal Juwana. Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pada September 1948, langit di timur memerah. Pemberontakan PKI/FDR pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muso meletus di Madiun. Pengaruh ideologi kiri ini merayap cepat, menyusup hingga ke barisan tentara di Jawa Tengah. Intelijen Resimen Samudera dengan cepat mengendus pergerakan gelap di wilayah pengawasan mereka: Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan. Kabar buruk itu datang bertubi-tubi. Pasukan eks-Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) di bawah Achmad Jadau yang bergabung dengan Divisi II Jateng, bermanuver. Batalyon Darsono di Temanggung dan Batalyon Machmud di Parakan membelot menjadi bagian dari pasukan pemberontak. Daerah Parakan, yang awalnya dijaga oleh Batalyon Machmud untuk mengantisipasi serbuan Belanda, kini jatuh ke tangan kiri. Ironisnya, mereka bahkan berani melucuti satu peleton dari Batalyon 175 yang tengah beristirahat selepas dinas. Pantang bagi Resimen Samudera membiarkan kawan ditikam dari belakang. Mesin perang segera dipanaskan. Letnan Wiranto memimpin Batalyon 177 bergerak cepat untuk menetralisir kekuatan Batalyon Darsono di Temanggung. Operasi ini berjalan rapi. Hanya segelintir sisa-sisa pemberontak yang lolos lari terbirit-birit ke Parakan, bergabung dengan Batalyon Machmud. Di sinilah palagan Kedu Utara menjadi saksi heroisme operasi gabungan. Resimen Samudera tidak bertempur sendirian. Bantuan datang dari arah selatan. Dari kesatriaan di lembah Tidar, pasukan TNI AD dari Magelang bergerak merangsek maju. Di antara barisan tersebut, turut angkat senjata para taruna muda dari Militer Akademi Jogja dan Sekolah Kader TNI Magelang. Para pemuda yang sehari-hari digodok di kompleks militer Magelang itu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tentara pelajar yang hanya tahu teori kelas. Bersama prajurit Resimen Samudera, mereka bahu-membahu menyapu bersih sisa-sisa pemberontak di wilayah sekitar Temanggung bagian selatan. Satu kompi di bawah pimpinan Letnan Djoeremi melakukan gebrakan maut ke Parakan. Tepat pukul 16:00, kota itu berhasil direbut kembali oleh pasukan gabungan. Sisa pemberontak kocar-kacir, meski di bawah gelap malam mereka masih mencoba melakukan represi dan sabotase ke dalam kota. Esok harinya, serangan penghabisan dilancarkan tanpa ampun. Tepat pukul 15:00, markas Batalyon Machmud jatuh sepenuhnya. Senjata dan perlengkapan dirampas, sementara para perwira stafnya tak punya pilihan lain selain mengangkat tangan menyerah. Dalam waktu tak kurang dari 10 hari, operasi sapu bersih di Parakan, Candiroto, dan Ngadirejo tuntas tanpa sisa. Operasi gilang-gemilang gabungan di Kedu Utara ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan sebuah pembuktian kesetiaan yang mendalam. Keberhasilan Resimen Samudera dan para prajurit serta taruna dari Magelang dalam meredam bara pemberontakan membuat Pemerintah Pusat di Yogyakarta terkesima. Sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa heroik tersebut, tepat pada 19 Oktober 1948, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/'48 yang menetapkan secara resmi eksistensi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL). Sebuah epik heroisme yang mematrikan nama Marinir ke dalam catatan emas sejarah Republik. referensi : "75 Tahun Korps Marinir" Koleksi Jani Sari Library

 BARA MERAH DI KAKI GUNUNG: AMUK RESIMEN SAMUDERA MENUMPAS PEMBELOT REPUBLIK


Catatan sejarah Jani Sari II


Palagan Kedu Utara: Saat Resimen Samudera dan Taruna Magelang Menyelamatkan Republik dari Pemberontakan PKI/FDR 1948



Tahun 1948. Usia Republik Indonesia ibarat bayi yang baru belajar merangkak, namun ancaman sudah mengepung dari segala penjuru. Di luar, Belanda masih mengintai dengan moncong senjata, memaksa wilayah RI semakin menyusut lewat Perjanjian Linggarjati dan Renville. Di dalam, suhu politik mendidih. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diketuk palu oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan M. Hatta pada awal tahun, membawa angin puyuh bagi laskar-laskar dan kesatuan bersenjata, tak terkecuali Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).


Bagi para prajurit Corps Mariniers (CM), itu adalah masa-masa penuh ketidakpastian. Komisi Reorganisasi ALRI (KRAL) sempat memutuskan untuk meniadakan Tentara Laut.


Namun, darah patriot tak mudah luntur. Di Tegal, Komandan CM Pangkalan IV, R. Soehadi, mengambil langkah taktis. Ia menolak pasukannya kehilangan identitas. Bersama perwira intinya, CM meleburkan diri ke dalam Divisi III Diponegoro dan beralih rupa menjadi resimen tersendiri: Resimen Samudera.


Di bawah komando Divisi III yang dipimpin Brigjen Inf. Soesalit, Resimen Samudera berdiri tegak bak benteng. Mereka membagi kekuatan tempur ke dalam empat batalyon utama: Batalyon 173 di Parakan (Letnan Hartono), Batalyon 174 di Wonosobo (Letnan M. Joenoes), Batalyon 175 di Parakan (Letnan Moekijat), Batalyon 176 di Temanggung (Letnan Soewadji), dan Batalyon 177 (Letnan Wiranto), yang kemudian disusul bergabungnya Batalyon 178 asal Juwana.


Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pada September 1948, langit di timur memerah. Pemberontakan PKI/FDR pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muso meletus di Madiun. Pengaruh ideologi kiri ini merayap cepat, menyusup hingga ke barisan tentara di Jawa Tengah. Intelijen Resimen Samudera dengan cepat mengendus pergerakan gelap di wilayah pengawasan mereka: Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan.


Kabar buruk itu datang bertubi-tubi. Pasukan eks-Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) di bawah Achmad Jadau yang bergabung dengan Divisi II Jateng, bermanuver. Batalyon Darsono di Temanggung dan Batalyon Machmud di Parakan membelot menjadi bagian dari pasukan pemberontak. Daerah Parakan, yang awalnya dijaga oleh Batalyon Machmud untuk mengantisipasi serbuan Belanda, kini jatuh ke tangan kiri. Ironisnya, mereka bahkan berani melucuti satu peleton dari Batalyon 175 yang tengah beristirahat selepas dinas.


Pantang bagi Resimen Samudera membiarkan kawan ditikam dari belakang. Mesin perang segera dipanaskan. Letnan Wiranto memimpin Batalyon 177 bergerak cepat untuk menetralisir kekuatan Batalyon Darsono di Temanggung. Operasi ini berjalan rapi. Hanya segelintir sisa-sisa pemberontak yang lolos lari terbirit-birit ke Parakan, bergabung dengan Batalyon Machmud.


Di sinilah palagan Kedu Utara menjadi saksi heroisme operasi gabungan. Resimen Samudera tidak bertempur sendirian. Bantuan datang dari arah selatan. Dari kesatriaan di lembah Tidar, pasukan TNI AD dari Magelang bergerak merangsek maju. Di antara barisan tersebut, turut angkat senjata para taruna muda dari Militer Akademi Jogja dan Sekolah Kader TNI Magelang. Para pemuda yang sehari-hari digodok di kompleks militer Magelang itu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tentara pelajar yang hanya tahu teori kelas. Bersama prajurit Resimen Samudera, mereka bahu-membahu menyapu bersih sisa-sisa pemberontak di wilayah sekitar Temanggung bagian selatan.


Satu kompi di bawah pimpinan Letnan Djoeremi melakukan gebrakan maut ke Parakan. Tepat pukul 16:00, kota itu berhasil direbut kembali oleh pasukan gabungan. Sisa pemberontak kocar-kacir, meski di bawah gelap malam mereka masih mencoba melakukan represi dan sabotase ke dalam kota.


Esok harinya, serangan penghabisan dilancarkan tanpa ampun. Tepat pukul 15:00, markas Batalyon Machmud jatuh sepenuhnya. Senjata dan perlengkapan dirampas, sementara para perwira stafnya tak punya pilihan lain selain mengangkat tangan menyerah.


Dalam waktu tak kurang dari 10 hari, operasi sapu bersih di Parakan, Candiroto, dan Ngadirejo tuntas tanpa sisa. Operasi gilang-gemilang gabungan di Kedu Utara ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan sebuah pembuktian kesetiaan yang mendalam. Keberhasilan Resimen Samudera dan para prajurit serta taruna dari Magelang dalam meredam bara pemberontakan membuat Pemerintah Pusat di Yogyakarta terkesima.


Sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa heroik tersebut, tepat pada 19 Oktober 1948, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/'48 yang menetapkan secara resmi eksistensi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL). Sebuah epik heroisme yang mematrikan nama Marinir ke dalam catatan emas sejarah Republik.


referensi : "75 Tahun Korps Marinir"

Koleksi Jani Sari Library


Sumber : Jani Sari

27 August 2026

Sekelumit Kondisi Magelang Di Era Jepang 1942 - 1945 Malam ini saat di Magelang saya berusaha diskusi dengan mertua Bapak Soedarto, saya tentang kondisi Magelang di zaman Jepang sekitar tahun 1942 - 1945. Pada saat awal Jepang masuk menurut cerita mertua saya yang kini berusia sekitar 87 tahun warga di tempat tinggal mertua saya di kampung Tulung sempat mengungsi ke daerah Kalegen Bandongan, tepatnya di dusun Dileman. Hanya saja pengungsiannya tidak begitu lama dan kemudian balik lagi ke daerahnya masing-masing. Pada zaman Jepang ini kondisi kampung Tulung masih sepi dan sedikit jumlah rumahnya. Jalan kebanyakan masih berupa jalan tanah. Jalan aspal dan listrik hanya sampai di depannya rumahnya Bapak L Suhadi (Bapak Hadi Londo). Dan menurut kisah mertua saya tentara Jepang jarang sekali masuk sampai bagian dalam kampung Tulung. Pada era kolonial Jepang hal yang umum dijumpai adalah banyak masyarakat yang pakaiannya menggunakan bahan dari karung goni. Bahan karung goni ini digunakan untuk pembuatan celana untuk pria dan tapian/jarik untuk wanita. Karung goni itu ada 2 macam yaitu : 1. karung goni untuk karung beras, yang seratnya lemas dan biasanya berwarna coklat. 2. karung goni untuk karung garam yang seratnya kasar dan biasanya berwarna putih mangkak. Nah yang biasanya digunakan untuk membuat celana ataupun tapian adalah yang karung goni beras karena seratnya lemas. Karena pakaian yang digunakan dari bahan karung goni maka menurut mertua saya, banyak kemudian orang yang terserang "Tumo Katok". Berbeda dengan tumo yang ada di rambut, tumo katok ini warnanya putih. Selain tumo katok orang di zaman Jepang juga rambutnya banyak terserang oleh tumo di rambutnya. Dan hampir semua orang saat itu terkena tumo di rambutnya. Sehingga banyak orang yang kepalanya mengalami " Boroken". Dan saat itu keberadaan beras sangat jarang demikian juga keberadaan garam sangat jarang bisa didapatkan. Di zaman ini karena beras sangat sulit didapatkan karena beras beras banyak diangkut oleh Jepang dikirim ke garis depan pertempuran. Untuk itu masyarakat waktu itu oleh Jepang disuruh menanam jagung dan iles iles untuk kebutuhan pangan masyarakat. Orang banyak mengkonsumsi jagung baik yang jagungnya dibuat nasi jagung ataupun langsung direbus untuk dimakan. Sedangkan iles iles umbinya direbus lalu dimakan sebagai pengganti nasi. Selain jagung dan iles iles masyarakat juga menanam umbi jalar, umbi batang. Baik umbi jalar ataupun umbi batang selain diambil umbinya untuk dimakan sebagai pengganti nasi juga diambil daunnya untuk bahan sayuran. Untuk bahan sayuran selain daun umbi jalar dan umbi batang juga masyarakat banyak yang menggunakan daun genjer, daun talas, daun bayung, daun krokot, daun jipang untuk bahan sayur. Dan diantara itu yang paling enak katanya daun umbi jalar yang direbus lalu dimakan dengan sambal lotis. Untuk pohon nangka kata mertua saya jarang ada buahnya yang tumbuh jadi buah nangka masak karena saat masih babal saja sudah pada diambil untuk diolah jadi sayur. Bonggol pisang juga diolah untuk bahan sayur demikian dengan jantung pisang yang direbus kemudian diiris iris kemudian dicampur dengan bumbu kluban untuk dimakan. Bahkan saat itu daun jambu kluthuk pun juga dimakan. Selain disuruh menanam jagung dan iles iles masyarakat juga diminta untuk menanam pohon jarak pagar untuk diambil bijinya. Setiap rumah minimal menanam 1 batang pohon jarak pagar. Seperti kita ketahui biji jarak pagar itu mengandung minyak yang mana jika diolah akan menjadi minyak pelumnas yang bisa digunakan untuk minyak pelumnas pesawat terbang. Kemudian masih di era Jepang ini, selain setiap rumah menanam pohon jarak pohon juga di bagian depan halaman rumah depannya dibuat lubang di tanah yang biasa disebut "Lograk" untuk perlindungan, jadi Lograk ini fungsinya seperti halnya bunker. Masih di zaman Jepang jika ada pesawat lewat lalu ada suara sirine dan orang orang disuruh untuk berlindung masuk ke dalam Lograk tersebut. Kadang untuk yang mampu bagian atas Lograk diberi anyaman kepang untuk penutup. Selama bersembunyi di dalam Lograk kuping biasanya ditutup dengan kapas / kapuk dan mulutnya menggigit karet. Kebetulan orang tua mertua saya adalah pegawai Balai Kota Magelang sejak zaman Hindia-Belanda yang bernama Bapak Saman, dan ketika era Jepang beliau tetap bekerja di Balai Kota Magelang hingga Jepang keluar dari Indonesia lanjut era Kemerdekaan. Untuk Bu Saman tetap berjualan bubur di depan halaman rumah. Demikian juga dengan sekolah juga berjalan normal seperti biasanya. Kedua kakak dari mertua saya yaitu yang bernama Larso dan Kamto di zaman Jepang ini bersekolah di Sekolah Rakyat yang ada di Balai Pelajar dan di daerah Plengkung. Sekolah Rakyat yang di Plengkung itu untuk yang kelas 1, 2 dan 3 sementara Sekolah Rakyat yang di Balai Pelajar itu untuk yang kelas 4, 5 dan 6. Tiap pagi diadakan upacara bendera pengibaran bendera Jepang yang diiringi dengan lagu kebangsaan Jepang yaitu "Kimigayo" dan juga disuruh hormat dengan cara membungkuk. Selain itu juga sebelum masuk kelas siswa sekolah disuruh senam "Taiso". Kemudian setelah jam pelajaran, sekitar jam 15 atau 16 an sore di lapangan Dukuh diadakan latihan bela diri Kendo dan Gulat/ Yudo. Untuk warga kampung Tulung yang ikut jadi PETA (Pembela Tanah Air) yang mertua saya masih ingat adalah yang bernama Pak Ratmin. Kemudian di tahun 1945 sekitar 28 Oktober 1945 dengan adanya peristiwa penyerbuan tentara Kido Butai ke kampung Tulung. Pasukan Jepang masuk kampung Tulung lewat utara melewati daerah makam Nglarangan dan setelah masuk kampung Tulung melakukan sweeping rumah rumah sekitar Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum oleh BKR/TKR. Rumah Bapak Saman berada di timur utaranya Kantor Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum, keluarga Pak Saman posisinya terjebak dalam peristiwa tersebut dan bersembunyi di dalam kamar rumah. Ibu Saman dan anak anaknya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur sementara Pak Saman berjaga di depan pintu di dalam kamar, untungnya ada gedek pyan yang jatuh menutupi bagian pintu kamar rumah. Saat tentara Jepang mendobrak pintu depan dan masuk tentara Jepang tidak melihat pintu kamar yang tertutup oleh gedeg dari pyan yang jatuh meskipun tentara Jepang sempat menusukkan bayonet yang ada di ujung laras senapan ke gedek tetapi akhirnya mereka mengira rumah kosong sehingga keluar rumah lagi. Menurut mertua saya beliau sempat mendengar suara orang menjerit dan minta ampun. Kebanyakan yang menjerit adalah para wanita, akan tetapi kemudian semuanya berhenti dan jadi sunyi kembali. Adapun suara tembakan terdengar riuh sekali. Setelah kondisi aman keluarga Pak Saman keluar rumah dan mulai mengungsi berjalan melewati belakang Dapur umum yang barusan diserang oleh tentara Kido Butai Jepang, kata mertua saya banyak korban bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan. Keluarga Pak Saman berjalan ke arah daerah Tulung Wot lalu menuju daerah Sangu Banyu Bandongan untuk mengungsi. Selama zaman pendudukan Jepang ini, jenis-jenis hewan yang menyerang orang adalah: 1. Tumo katok 2. Tumo rambut yang menyebabkan borok di kepala 3. Kutu busuk di amben, kasur, kursi 4. Bekicot Sedangkan penyakit-pemyakit yang menyerang manusia adalah: 1. Beri-beri karena kekurangan vitamin B 2. Gudik dan koreng 3. Disentri Betapa sangat susah dan sengsaranya rakyat Indonesia waktu zaman pendudukan Jepang tahun 1942 - 1945. Untuk warga kampung Tulung yang usianya kurang lebih 90 tahun dan tentunya mengalami masa Jepang dan kini masih ada selain mertua saya, yaitu: 1. Ibu Sukamtini (Jl Kusumabangsa I ujung timur sendiri). 2. Mbok Brintik (Jl Kusumabangsa I, belakangnya rumah Pak Kartono). Mungkin beliau beliau ini bisa jadi narasumber primer.

 Sekelumit Kondisi Magelang Di Era Jepang 1942 - 1945

Oleh : Orchid Breeder


Malam ini saat di Magelang saya berusaha diskusi dengan mertua Bapak Soedarto, saya tentang kondisi Magelang di zaman Jepang sekitar tahun 1942 - 1945.

     Pada saat awal Jepang masuk menurut cerita mertua saya yang kini berusia sekitar 87 tahun warga di tempat tinggal mertua saya di kampung Tulung sempat mengungsi ke daerah Kalegen Bandongan, tepatnya di dusun Dileman. Hanya saja pengungsiannya tidak begitu lama dan kemudian balik lagi ke daerahnya masing-masing. 

     Pada zaman Jepang ini kondisi kampung Tulung masih sepi dan sedikit jumlah rumahnya. Jalan kebanyakan masih berupa jalan tanah. Jalan aspal dan listrik hanya sampai di depannya rumahnya Bapak L Suhadi (Bapak Hadi Londo). Dan menurut kisah mertua saya tentara Jepang jarang sekali masuk sampai bagian dalam kampung Tulung. 

     Pada era kolonial Jepang hal yang umum dijumpai adalah banyak masyarakat yang pakaiannya menggunakan bahan dari karung goni. Bahan karung goni ini digunakan untuk pembuatan celana untuk pria dan tapian/jarik untuk wanita. Karung goni itu ada 2 macam yaitu :

1. karung goni untuk karung beras, yang seratnya lemas dan biasanya berwarna coklat. 

2. karung goni untuk karung garam yang seratnya kasar dan biasanya berwarna putih mangkak. 

Nah yang biasanya digunakan untuk membuat celana ataupun tapian adalah yang karung goni beras karena seratnya lemas. 

     Karena pakaian yang digunakan dari bahan karung goni maka menurut mertua saya, banyak kemudian orang yang terserang "Tumo Katok". Berbeda dengan tumo yang ada di rambut, tumo katok ini warnanya putih. Selain tumo katok orang di zaman Jepang juga rambutnya banyak terserang oleh tumo di rambutnya. Dan hampir semua orang saat itu terkena tumo di rambutnya. Sehingga banyak orang yang kepalanya mengalami " Boroken".

     Dan saat itu keberadaan beras sangat jarang demikian juga keberadaan garam sangat jarang bisa didapatkan. Di zaman ini karena beras sangat sulit didapatkan karena beras beras banyak diangkut oleh Jepang dikirim ke garis depan pertempuran. Untuk itu masyarakat waktu itu oleh Jepang disuruh menanam jagung dan iles iles untuk kebutuhan pangan masyarakat. Orang banyak mengkonsumsi jagung baik yang jagungnya dibuat nasi jagung ataupun langsung direbus untuk dimakan. Sedangkan iles iles umbinya direbus lalu dimakan sebagai pengganti nasi. Selain jagung dan iles iles masyarakat juga menanam umbi jalar, umbi batang. Baik umbi jalar ataupun umbi batang selain diambil umbinya untuk dimakan sebagai pengganti nasi juga diambil daunnya untuk bahan sayuran. 

Untuk bahan sayuran selain daun umbi jalar dan umbi batang juga masyarakat banyak yang menggunakan daun genjer, daun talas, daun bayung, daun krokot, daun jipang untuk bahan sayur. Dan diantara itu yang paling enak katanya daun umbi jalar yang direbus lalu dimakan dengan sambal lotis. Untuk pohon nangka kata mertua saya jarang ada buahnya yang tumbuh jadi buah nangka masak karena saat masih babal  saja sudah pada diambil untuk diolah jadi sayur. Bonggol pisang juga diolah untuk bahan sayur demikian dengan jantung pisang yang direbus kemudian diiris iris kemudian dicampur dengan bumbu kluban untuk dimakan. Bahkan saat itu daun jambu kluthuk pun juga dimakan. 

     Selain disuruh menanam jagung dan iles iles masyarakat juga diminta untuk menanam pohon jarak pagar untuk diambil bijinya. Setiap rumah minimal menanam 1 batang pohon jarak pagar. Seperti kita ketahui biji jarak pagar itu mengandung minyak yang mana jika diolah akan menjadi minyak pelumnas yang bisa digunakan untuk minyak pelumnas pesawat terbang. 

     Kemudian masih di era Jepang ini, selain setiap rumah menanam pohon jarak pohon juga di bagian depan halaman rumah depannya dibuat lubang di tanah yang biasa disebut "Lograk" untuk perlindungan, jadi Lograk ini fungsinya seperti halnya bunker. Masih di zaman Jepang jika ada pesawat lewat lalu ada suara sirine dan orang orang disuruh untuk berlindung masuk ke dalam Lograk tersebut. Kadang untuk yang mampu bagian atas Lograk diberi anyaman kepang untuk penutup. Selama bersembunyi di dalam Lograk kuping biasanya ditutup dengan kapas / kapuk dan mulutnya menggigit karet. 

     Kebetulan orang tua mertua saya adalah pegawai Balai Kota Magelang sejak zaman Hindia-Belanda yang bernama Bapak Saman, dan ketika era Jepang beliau tetap bekerja di Balai Kota Magelang hingga Jepang keluar dari Indonesia lanjut era Kemerdekaan. Untuk Bu Saman tetap berjualan bubur di depan halaman rumah. 

     Demikian juga dengan sekolah juga berjalan normal seperti biasanya. Kedua kakak dari mertua saya yaitu yang bernama Larso dan Kamto di zaman Jepang ini bersekolah di Sekolah Rakyat yang ada di Balai Pelajar dan di daerah Plengkung. Sekolah Rakyat yang di Plengkung itu untuk yang kelas 1, 2 dan 3 sementara Sekolah Rakyat yang di Balai Pelajar itu untuk yang kelas 4, 5 dan 6.

     Tiap pagi diadakan upacara bendera pengibaran bendera Jepang yang diiringi dengan lagu kebangsaan Jepang yaitu "Kimigayo" dan juga disuruh hormat dengan cara membungkuk. Selain itu juga sebelum masuk kelas siswa sekolah disuruh senam "Taiso". Kemudian setelah jam pelajaran, sekitar jam 15 atau 16 an sore di lapangan Dukuh diadakan latihan bela diri Kendo dan Gulat/ Yudo. 

     Untuk warga kampung Tulung yang ikut jadi PETA (Pembela Tanah Air) yang mertua saya masih ingat adalah yang bernama Pak Ratmin. 

     Kemudian di tahun 1945 sekitar 28 Oktober 1945 dengan adanya peristiwa penyerbuan tentara Kido Butai ke kampung Tulung. Pasukan Jepang masuk kampung Tulung lewat utara melewati daerah makam Nglarangan dan setelah masuk kampung Tulung melakukan sweeping rumah rumah sekitar Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum oleh BKR/TKR. Rumah Bapak Saman berada di timur utaranya Kantor Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum, keluarga Pak Saman posisinya terjebak dalam peristiwa tersebut dan bersembunyi di dalam kamar rumah. Ibu Saman dan anak anaknya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur sementara Pak Saman berjaga di depan pintu di dalam kamar, untungnya ada gedek pyan yang jatuh menutupi bagian pintu kamar rumah. Saat tentara Jepang mendobrak pintu depan dan masuk tentara Jepang tidak melihat pintu kamar yang tertutup oleh gedeg dari pyan yang jatuh meskipun tentara Jepang sempat menusukkan bayonet yang ada di ujung laras senapan ke gedek tetapi akhirnya mereka mengira rumah kosong sehingga keluar rumah lagi. Menurut mertua saya beliau sempat mendengar suara orang menjerit dan minta ampun. Kebanyakan yang menjerit adalah para wanita, akan tetapi kemudian semuanya berhenti dan jadi sunyi kembali. Adapun suara tembakan terdengar riuh sekali. Setelah kondisi aman keluarga Pak Saman keluar rumah dan mulai mengungsi berjalan melewati belakang Dapur umum yang barusan diserang oleh tentara Kido Butai Jepang, kata mertua saya banyak korban bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan. Keluarga Pak Saman berjalan ke arah daerah Tulung Wot lalu menuju daerah Sangu Banyu Bandongan untuk mengungsi. 

     Selama zaman pendudukan Jepang ini, jenis-jenis hewan yang menyerang orang adalah:

1. Tumo katok 

2. Tumo rambut yang menyebabkan borok di kepala

3. Kutu busuk di amben, kasur, kursi

4. Bekicot

Sedangkan penyakit-pemyakit yang menyerang manusia adalah:

1. Beri-beri karena kekurangan vitamin B

2. Gudik dan koreng

3. Disentri 

     Betapa sangat susah dan sengsaranya rakyat Indonesia waktu zaman pendudukan Jepang tahun 1942 - 1945.

     Untuk warga kampung Tulung yang usianya kurang lebih 90 tahun dan tentunya mengalami masa Jepang dan kini masih ada selain mertua saya, yaitu:

1. Ibu Sukamtini (Jl Kusumabangsa I ujung timur sendiri). 

2. Mbok Brintik (Jl Kusumabangsa I, belakangnya rumah Pak Kartono). 

Mungkin beliau beliau ini bisa jadi narasumber primer.


24 August 2026

Dimanakah raja keempat kraton Kartasura lahir? Raja keempat di Kartasura yaitu Sunan Amangku Rat IV kelak akan melahirkan raja2 di Surakarta dan Yogyakarta.* Berdasarkan chronicle Mataram, inilah serangkaian peristiwa yg telah ia alami. Jadi, ketika terjadi serangan Trunajaya pada 1671, ayahnya yaitu Pangeran Puger, putera kedua raja (Amangku Rat I) tetap bertahan di Plered. Raja telah eksodus ke brang kulon (Banyumas), disusul putera sulung yaitu Raden Mas Rahmat yang kelak akan mewarisi tahta dan memindahkan kraton baru di Kartasura. Jadi putra mahkota ini tidak kembali ke Plered. Di reruntuhan Plered, Pangeran Puger mengangkat diri sebagai Susuhunan ing Ngalaga Tentu saja ini dianggap menyaingi kekuasaan raja baru di Kartasura. Amangku Rat II kemudian membujuk adik tirinya tadi Sunan Ngalaga supaya bergabung dengannya tetapi panggilan tersebut ditolak. Penolakan tersebut menimbulkan perang saudara. Dalam kondisi memanas itulah, lahir Raden Mas Suryaputra, putra Pangeran Puger. Kelak bergelar Amangku Rat IV. Setahun setelah kelahirannya, pada tanggal 28 November 1681 Jacob Couper, perwira VOC membantu Amangkurat II menyerang Plered. Sunan Ngalaga kalah dan ikut pindah ke Kartasura beserta keluarganya. Sunan Ngalaga pun kembali bergelar sebagai Pangeran Puger dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II. Artinya P. Puger baru pindah ke Kartasura setelah 1681, sedangkan Amangkurat IV (anaknya) lahir 1680. Jadi antara 1680 - 1681 ia masih di Plered. Jadi meski lahir di Plered, Raden Mas Suryaputra bertumbuh besar di Kartasura, bersama ayahandanya Pangeran Puger. Tempat tinggalnya Pugeran, kini tersisa Punthuk Pugeran di Kartasura. Beberapa fragmen perang kelak akan ia alami, yaitu perang antara ayahnya dengan raja bertahta - ponakan Pangeran Puger yaitu Amangku Rat III dan disusul.naik tahtanya ayahandanya sebagai raja Mataram (Pakubuwana I) sehingga kelak ia mewarisi tahta sebagai Susuhunan Amangku Rat IV. Banyak yang bertanya, mengapa dia tidak meneruskan gelar ayahnya yaitu Susuhunan Pakubuwana, tetapi justru memyempal kembali ke Amangku Rat (IV)? Jawabnya ? Catatan kaki * raja keempat di Kartasura setelah Amangku Rat I, II dan Pakubuwana I Rujukan : De Graaf

 Dimanakah raja keempat kraton Kartasura lahir?



Raja keempat di Kartasura  yaitu Sunan Amangku Rat IV kelak akan melahirkan raja2 di Surakarta dan Yogyakarta.*


Berdasarkan chronicle Mataram, inilah serangkaian peristiwa yg telah ia alami.


Jadi, ketika terjadi serangan Trunajaya pada 1671, ayahnya yaitu Pangeran Puger, putera kedua raja (Amangku Rat I) tetap bertahan di Plered.


Raja telah eksodus ke brang kulon (Banyumas), disusul putera sulung yaitu Raden Mas Rahmat yang kelak akan mewarisi tahta dan memindahkan kraton baru di Kartasura. Jadi putra mahkota ini tidak kembali ke Plered.


Di reruntuhan Plered, Pangeran Puger mengangkat diri sebagai Susuhunan ing Ngalaga 


Tentu saja ini dianggap menyaingi kekuasaan raja baru di Kartasura. 

Amangku Rat II kemudian membujuk adik tirinya tadi Sunan Ngalaga supaya bergabung dengannya tetapi panggilan tersebut ditolak. Penolakan tersebut menimbulkan perang saudara. 


Dalam kondisi memanas itulah, lahir Raden Mas Suryaputra, putra Pangeran Puger. Kelak bergelar Amangku Rat IV.


Setahun setelah kelahirannya,  pada tanggal 28 November 1681 Jacob Couper, perwira VOC  membantu Amangkurat II menyerang Plered. Sunan Ngalaga kalah dan ikut pindah ke Kartasura beserta keluarganya.


Sunan Ngalaga pun kembali bergelar sebagai Pangeran Puger dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.


Artinya P. Puger baru pindah ke Kartasura setelah 1681, sedangkan Amangkurat IV (anaknya) lahir 1680.  Jadi antara 1680 - 1681 ia masih di Plered.


Jadi meski lahir di Plered, Raden Mas Suryaputra bertumbuh besar di Kartasura, bersama ayahandanya Pangeran Puger. Tempat tinggalnya Pugeran, kini tersisa Punthuk Pugeran di Kartasura.


Beberapa fragmen perang kelak akan ia alami, yaitu perang antara ayahnya dengan raja bertahta - ponakan Pangeran Puger yaitu Amangku Rat III dan disusul.naik tahtanya ayahandanya sebagai raja Mataram (Pakubuwana I) sehingga kelak ia mewarisi tahta sebagai Susuhunan Amangku Rat IV.


Banyak yang bertanya, mengapa dia tidak meneruskan gelar ayahnya yaitu Susuhunan Pakubuwana, tetapi justru memyempal kembali ke Amangku Rat (IV)?


Jawabnya ?


Catatan kaki

* raja keempat di Kartasura setelah Amangku Rat I, II dan Pakubuwana I


Rujukan :

De Graaf

23 August 2026

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas 1912 Puncak borobudur sehancur ini Pembangunan Borobudur menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 masehi. Bangunan suci ini disebutkan tahun 1365 masehi, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit,Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur". 2.672 panel relief yang ada di Borobudur dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni panel naratif fan dekoratif. Sebanyak 1.460 panel naratif tersusun dalam sebelas baris yang mengelilingi monumen dengan total panjang lebih dari 3.000 meter. Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini tersimpan di Museum Nasional Bangkok Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 seiring dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh Pu Sindok.Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.

 Noesantara Tempo Doeloe 

Potret lawas 1912 Puncak borobudur sehancur ini



Pembangunan Borobudur  menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 masehi.


Bangunan suci ini disebutkan  tahun 1365 masehi, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit,Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur".


2.672 panel relief yang ada di Borobudur dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni panel naratif fan dekoratif. Sebanyak 1.460 panel naratif tersusun dalam sebelas baris yang mengelilingi monumen dengan total panjang lebih dari 3.000 meter.


Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini tersimpan di Museum Nasional Bangkok


Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 seiring dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh Pu Sindok.Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.

20 August 2026

PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 DARI SUDUT NEDERLAND Oleh: Ong Hok Ham (MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978) Pendahuluan. Proklamasi 17 Aug 1945 merupakan saat yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Peristiwa ini, bukan tanggal, juga penting bagi Nederland. Sebab peristiwa ini meng- hadapkan Belanda dengan pem brontakan koloninya. Dalam tulisan ini kami akan memberikan beberapa cukilan dari reaksi2 Belanda mengenai proklamasi republik Indonesia. Cukilan2 tsb. akan diambil dari kumpulan dokumen2 mengenai hubungan2 Indonesia-Belanda (Officiele Bescheiden Betreffende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950, Jilid 1, 59 hal. 10 Aug. 10 Nov. 1945 s'-Gravenhage, Martinus Nijhoff 1871) (sampai sekarang telah terbit 6 jilid sampai 1946). dibawah pengawasan Professor S.L. van de Wal, guru besar dari Universitas Urecht. Dalam bulan Augustus 1945 Nederland baru sejak empat bulan dibebaskan dari pendudukan Jerman dan melihat berachirnya perang Eropa. Nederland keluar dari perang dunia II dalam keadaan yang amat sukar. Angkatan daratnya harus dibangun kembali, angkatan laut dan yang lebih penting lagi angkatan transport dan dagang hampir musnah, dan angkatan udara tak ada. Bila paksa mengeluarkan lebih eli makanan saja. Dalam bulan Aug. 45 belum diadakan pemilihan umum di Nederland sejak perang dunia ke-II. Dua menteri2 Belanda sukar a, atau Belanda dan kedutaan2 dapat memberikan mereka tempat dalam pesawat. Kalau ini bagi perorangan apalagi bagi tentara2. Kapitulasi Jepang. Buku SL. van de Wal,dibuka dengan saling memberikan ucapan selamat dengan desas-desus yang agak pasti mengenai penyerahan Jepang. Komunikasi ini diadakan antara Menlu Belanda dan Lord Louis Mountbatten, panglima sekutu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada tanggal itu juga diadakan pembicaraan yang lebih serius di Den Haag, pusat pemerintahan Belanda, diantara perdana-menteri, menteri jajajahan dan panglima2. Dalam rapat itu dikatakan bahwa penyerahan Jepang ini agak tiba2 dan tidak tersangka. Alangkah baiknya sekarang kalau tentara Jepang yang menduduki Hindia tetap mengadakan perlawanan terhadap sekutu sehingga Hindia harus diperangi dan diduduki sekutu. Sebab dengan demikian Belanda akan mempunyai kesempatan untuk membonceng dibelakang sekutu dalam hal ini Inggris. ("Tijd winnen... memperoleh waktu", kata dokumen tsb.). Ini memang kunci bagi poliik Belanda selama bulan2 pertama menghadapi Republik Indonesia. Tgl. 12 Aug. Lt. G.G. van Mook menyodorkan dua persoalan yang sementara ini dominan bagi Nederland, y.i. penciptaan kerja-sama yang sebaik-baiknya dengan tokoh2 Indonesia kecuali dengan para kolaborator dengan musuh, Jepang; dan persoalan yang lebih konkrit: pengungsian para tahanan Belanda dari kamp2 Jepang. Belanda ketika kalah terhadap Jepang tidak mencoba mengungsikan pegawai2 pemerintah dan penduduk sipil Belanda, kecuali beberapa tokoh seperti Van Mook, Van Der Plas, Abdulkadir Wijoyo Atmojo dll,. Ini berlainan dengan Inggris yang paling sedikit berusaha mengungsikan isteri2 dan anak2 Inggris ke-daerah2 lebih aman ketika Jepang mendekati koloni2 Inggris di Asia. Karena politik Belanda ini maka Nederland menghadapi suatu persoalan gawat yang lain y.i. bahwa mesin pemerintahannya yang demikian terkenal baik sebelum perang, didemoralisir atau sedikit banyak lumpuh karena mengalami empat tahun kam tahanan Jepang. Keadaan ini mungkin juga mempengaruhi pandangan Logeman, menteri jajahan yang terkenal sebagai seorang "progresif" ("liberal") istilah ini lebih tepat untuk menggambarkan keadaan Belanda, yang mengatakan pada Tjarda, G.G. terachir Hindia Belanda, bahwa setelah perang lebih banyak orang Indonesia akan dipakai dalam administrasi pemerintah. Sebenarnya pandangan Logeman ini tidak lain daripada akan meneruskan proses2 Indonesianisasi aparatus pemerintah yang telah terjadi dalam zaman Jepang. Namun sebab2 untuk politik "Indiani- sering" ("Indonesianisasi) yang diajukan menteri jajahan ini sangat menarik y.i. bahwa alasan akan dipakainya pegawai 2 Indonesia dalam administrasi pemerintahan adalah karena lebih murah daripada pegawai2 Belanda. Salah suatu keberatan terhadap aparatus Belanda Kolonial adalah bahwa dalam keadaan ekonomi menguntungkan atau merugikan selalu harus dikeluarkan beaya besar untuk pegawai2 Belanda di Indonesia, yang harus hidup dengan taraf tinggi, harus didatangkan dari Eropa dan mendapat vakansi ke-Belanda dll. Bila sekarang aparatus pemerintah kolonial di isi oleh orang2 Indonesia maka mereka tak perlu hidup setaraf dan memerlukan beaya2 lain. Namun Indonesianisasi aparatus pemerintah kolonial ini hanya dapat berjalan sekian jauh asal saja.... perusahaan-perusahaan besar tidak kehilangan kepercayaan mereka terhadap efisiensi, demikianlah menurut Logeman. Apa Belanda tidak menduga sedikitpun bahwa kembalinya mereka kekoloni mereka akan ditentang penduduk? Rupanya sama sekali tidak, sebab tidak ada suatu perhitungan apapun mengenai perubahan2 yang mungkin terjadi selama empat tahun pendudukan Jepang. Semua rencana2 seakan-akan dibuat atas dasar keadaan2 empat atau lima tahun yang lalu. Van Mook menduga bahwa Sumatra akan dapat menimbulkan kesukaran2 tidak karena perlawanan rakyat akan tetapi karena disana ada demikian banyak suku bangsa yang dapat menimbulkan pertentangan2 intern. Jawa tidak dikuatirkan karena penduduknya homogin; hanya peristiwa2 perampokan dapat terjadi karena lowongan kekuasaan. Tjarda lalu memperingatkan bahwa penduduk Jawa Barat fanatik dalam agama Islamnya dan dapat membahayakan karena itu mengapa tak jelas pokoknya hanya Islam phobi saja. Proklamasi. Baru pada 20 Aug. 1945 Van Mook. memberitahukan pada kabinet di Nederland secara sepintas lalu mengenai proklamasi republik Indonesia tiga hari yang lalu: "Menurut siaran2 radio yang diterima dari Bandung, komando tentara Jepang akan memproklamirkan republik Indonesia hari ini dengan Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil-presiden. Sampai hari ini Jepang belum mengumumkan penyerahan mereka terhadap sekutu....." Baru 10 hari kemudian proklamasi ini mendapat tanggapan serius kabinet Nederland yang menginstruksikan pada Menlu-nya untuk mengirimkan nota pada sekutu mengenai manipulasi2 politik Jepang yang mendirikan republik di Indonesia dengan organisasi 2 para-militer. Dalam hubungan ini Logeman meng umumkan rencana2 Belanda bagi koloninya setelah perang selesai. Ditekankan olehnya bahwa Ratu Wilhelmina pada 6 Dec. 1942 mengucapkan pidato radio dengan menjanjikan akan diadakannya rijksconferentie (Konferensi kerajaan) yang akan terdiri dari Nederland, Hindia Belanda dan Suriname. Konferensi tsb. akan membicarakan bersama-sama pembaharuan politik dan susunan baru kerajaan Belanda. Dalam janji ratu, yang tentunya tidak didengar rakyat Indonesia karena Hindia sedang diduduki Jepang, dikatakan bahwa penelitian komisi pemerintah Hindia Belanda, yang disebut komisi Visman, mengenai keinginan2 politik masyarakat Hindia akan dijadikan landasan bagi konferensi tsb. Pekerjaan Komisi tsb. juga dijadikan bukti niat2 Belanda yang baik. Komisi Visman (salah seorang anggota adalah Prof. Wertheim) setahun sebelum perang Pasifik mengadakan berbagai interview dengan tokoh2 nasionalis Indonesia yang kebanyakan terdiri dari golongan ko-operators (kerja- sama dalam dewan2 Hindia Belanda), yang merupakan nasionalis yang sangat lunak. Dengan sendirinya tawaran Rijksconferentie ini jika pun diketahui oleh orang2 Indonesia tidak dapat merupakan alternatip yang menarik dibandingkan dengan proklamasi dan fakta bahwa kekuasaan memang telah jatuh ketangan Indonesia. Untuk sementara reaksi Nederland terhadap proklamasi dan pimpinan republik Indonesia sangat keras sekali. Bukan saja karena Soekarno, Hatta dll. bukan merupakan tokoh2 nasionalis yang lunak akan tetapi bagi Nederland mereka itu adalah kolaborator2 dengan Jepang, jadi pengchianat2 yang sering disamakan dengan kolaborator2 Eropa dengan tentara penduduk Jerman. Tentu hal ini berlainan sekali sebab negara2 Eropa merupakan negara2 merdeka sedangkan Indonesia adalah koloni yang diduduki Jepang. Maka dari itu pandangan2 Belanda tsb. tidak dapat diterima oleh pihak sekutu. Dilain pihak Belanda berkepenting an untuk mengecap republik proklamasi sebagai suatu buatan Jepang dan bahwa Sukarno-Hatta adalah kolaborator2 dengan musuh sebab dengan demikian ada harapan bahwa sekutu akan memerangi republik. Chususnya kabinet di Nederland akan keras kepala menolak segala perundingan dengan pihak Sukarno-Hatta, Pada pertengahan September Belanda baru mendapat laporan2 nyata mengenai Indonesia (Jakarta). Dibawah perlindungan tentara Jepang Van Mok, van der Plas dan Abdulkadir Wijojoatmodjo mendarat di Jakarta dan mengadakan hubungan2 pribadi dengan berbagai orang di Jakarta. Van Mook dan Van der Plas mencoba untuk menghubungi beberapa tokoh Indonesia yang mereka kenal sebelum perang tetapi tak ada sesuatu yang muncul kecuali seorang ahli hukum, Mr. Slamet yang mengkagetkan Jakarta dengan tulisannya yang pro-Belanda. Abdulkadir bertemu dengan Sukarno dan mendapat kesan bahwa dia tidak dapat mengatasi kekuatan2 revolusioner dan pergolakan disekitarnya. Tokoh2 Hindia Belanda dahulu yang masih dalam kamp tahanan Jepang, demi keselametan mereka sendiri, seperti Mr. Spit, wakil presiden Dewan Hindia (Raad van Ne. Belanda) penuh dengan nasehat2 dan laporan2 atas dasar pengamatan sendiri. Demikian umpamanya rapat Ikada dilaporkan oleh Spit. Seperti semua dikuatirkan bahwa republik dapat mengkonsolidasi diri karena sekutu belum dapat mendarat. Penundaan2 pendaratan Inggris di Batavia dan pelabuhan2 lain di Jawa sangat mengesalkan dan mengecewakan Belanda. Van Mook, Van der Plas dan Abdulkadir semua sependapat bahwa keadaan di Indonesia jauh lebih gawat dari mereka duga pada permulaan. Van Mook dan Van der Plas mulai memikirkan perundingan2 dengan Sukarno-Hatta juga karena tekanan Inggris. Akan tetapi kabinet Nederland masih keras kepala. Dari pengamatan2 pribadi tokoh2 pemerintahan NICA (Neth. Indies Civil Ad- ministration) dilihat berkibarnya merah-putih dimana-mana. Penurunan bendera nasional ini tidak mungkin lagi tanpa pertumpahan darah. Jadi diusulkan bahwa disamping bendera Merah-Putih akan berkibar bendera Belanda atau bendera Merah-Putih sebaiknya ditambah disampingnya dengan warna "Oranje" (warna keluarga raja Belanda). Dengan demikian Belanda mengharapkan bahwa paling sedikit diakui juga oleh pihak Indonesia tuntutan2 Belanda yang bersejarah atas Indonesia. Memang pada saat kekuatan tidak ada maka simbolisme sejarah memainkan peranan juga. Pengakuan de facto. Pada achir September 45 Inggris mendarat di Jakarta dan panglima Inggris, Jendral Christison seakan2 mengakui republik secara de facto, namun Inggris merasa enggan (malas tidak berkepentingan) untuk berperang dengan republik. Justru charisma dan dominasi tokoh Sukarno-Hatta serta dukungan terhadap republik mau dipakai Inggris untuk mendarat secara damai di Jakarta dan menunaikan tugas2 mereka dalam perang dunia ke-II sebaik mungkin dengan beaya dan korban sesedikit mungkin Tugas mereka yang utama adalah pembebasan tawanan2 kamp2 Jepang dan perucutan senjata Jepang serta pengembalian tentara Jepang dari Indonesia. Tugas2 ini ditekankan oleh Inggris dan tidak pengembalian status quo di Indonesia seperti diingini oleh Belanda. Biarpun Belanda pada permukaan sangat kaget dan protes terhadap jendral Christison namun sebenarnya setelah minggu pertama pendaratan tentara Inggris di Jakarta y.i. pada tgl 9 Okt. Logeman sudah mulai mengakui bahwa "kewibawaan Belanda di Hindia telah mengalami tamparan selama perang dunia....". Tjarda, Gubernur Jendral terachir dari Hindia Belanda yang baru dibebaskan dari tawanan Jepang tidak dikirim kembali ke Jakarta. Wakilnya Van Mook diserahi kepercayaan selama beberapa tahun memegang pucuk pimpinan soal2 Indonsia, Van Mook terkenal sebagai lebih "progressif" daripada Tjarda. Campur tangan Inggris dalam persoalan2 Indonesia bukan saja disebabkan karena persetujuan2 diantara ke-empat negara besar sekutu (Belanda tidak termasuk ini) akan tetapi juga karena Inggris mempunyai kepentingan2 di Eropa. Arti dari yang terachir ini adalah bahwa Inggris berkepentingan akan hubungan2 baik dengan Nederland, maka dari itu Inggris biarpun perang Pasifik secara resmi telah selesal bersedia untuk menunaikan tugas2nya. Hal yang terachir ini dijadikan modal Belanda untuk mengadakan pembicaraan dengan Inggris atau untuk menuntut dari Inggris untuk mengembalikan status-quo di Indonesia. Pada 15 Okt. Inggris, y.i. perdana menteri Atlee yang terkenal sebagai orang yang tidak mau berpanjang-lebar, menjawab Belanda dengan tegas dan singkat bahwa Inggris tidak bersedia untuk memerangi republik dan sebaiknya Belanda berunding dengan pimpinannya yang sekarang. Atlee bersedia menjadi perantara. Sejak itu tidak ada jalan lain bagi Belanda kecuali perundingan. Sebenarnya jawaban Inggris ini sudah harus diduga mengingat politik Inggris sendiri di Burma terhadap Aung San, dil, tokoh2 nasionalis "ciptaan Jepang". Aneh bahwa dalam dokumen2 Belanda politik Inggris di Burma sama sekali tidak disebut,. Apa ini karena ke-tidak-tahuan, ketidak insyafan akan itu atau karena hal2 lain? Dokumen terachir dari jilid I kumpulan dokumen2 tsb. adalah persetujuan kabinet Nederland bahwa Jendral Christison menjamu makan malam bersama dengan tamu-tamunya: Van Mook dan Sukarno. Jalan pertama pengakuan kedaulatan republik Indonesia. Bagi sejarawan atau bukan, bagi orang Indonesia atau Belanda sekarang ini berdiri satu fakta bahwa sebelum pengakuan resmi pada achir 1949, telah berlangsung 5 tahun penderitaan dan pengorbanan didua belah pihak. Apakah pengorbanan2 dan penderitaan ini hanya karena kekurangan pengetahuan (ingorance), sentimen, takut kehilangan muka atau hal2 yang memang betul prinsipill ataupun menyangkut kepentingan2 hidup-mati bangsa. Sebagai catatan terachir mungkin dapat dikemukakan bahwa kemakmuran ekonomi dan penikmatannya secara merata di Nederland sebenarnya baru datang setelah 1950. Apakah salah suatu sebab bukan dengan kehilangan koloni2 maka modal Belanda terpaksa ditanamkan didalam negeri, dalam Nederland sendiri, yang tentunya mengakibatkan industrialisasi dalam negeri, pemberian lapangan pekerjaan dalam negeri dan meningkatkan kemakmuran dalam negeri. Sumber: MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978

 PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 DARI SUDUT NEDERLAND


Oleh: Ong Hok Ham

(MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978)



Pendahuluan.


Proklamasi 17 Aug 1945 merupakan saat yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Peristiwa ini, bukan tanggal, juga penting bagi Nederland. Sebab peristiwa ini meng- hadapkan Belanda dengan pem brontakan koloninya. Dalam tulisan ini kami akan memberikan beberapa cukilan dari reaksi2 Belanda mengenai proklamasi republik Indonesia. Cukilan2 tsb. akan diambil dari kumpulan dokumen2 mengenai hubungan2 Indonesia-Belanda (Officiele Bescheiden Betreffende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950, Jilid 1, 59 hal. 10 Aug. 10 Nov. 1945 s'-Gravenhage, Martinus Nijhoff 1871) (sampai sekarang telah terbit 6 jilid sampai 1946). dibawah pengawasan Professor S.L. van de Wal, guru besar dari Universitas Urecht.


Dalam bulan Augustus 1945 Nederland baru sejak empat bulan dibebaskan dari pendudukan Jerman dan melihat berachirnya perang Eropa. Nederland keluar dari perang dunia II dalam keadaan yang amat sukar. Angkatan daratnya harus dibangun kembali, angkatan laut dan yang lebih penting lagi angkatan transport dan dagang hampir musnah, dan angkatan udara tak ada. Bila Nederland sebelum perang dunia ke-II selalu mempunyai balans perdagangan yang menguntungkan maka sekarang Belanda terpaksa mengeluarkan lebih dari 500 juta gulden untuk membeli makanan saja. Dalam bulan Aug. 45 belum diadakan pemilihan umum di Nederland sejak perang dunia ke-II. Dua golongan yang dominan dalam politik y.i. golongan resistance, mereka yang melawan Jerman dibawah tanah dan golongan ex-tahanan Jerman, kedua golongan ini dilihat sebagal orang2 yang lebih progresif dan akan memperbaharui kehidupan politik Nederland. Namun kedua golongan ini berasal dari berbagai partai. Selain itu faktor yang lebih penting lagi untuk menilai hubungan2 Nederland dan koloni2nya adalah mitos: "Indie Verloren, Rampsoed Geboren" (Hindia hilang, dan malapetaka lahir). Dengan singkat mitos dinegeri Belanda adalah bahwa koloni Hindia ini yang harus mengembalikan kemakmuran dan kejayaan Nederland. Sebab tanpa koloni apa arti internasional Nederland?


Dalam keadaan diatas ini Nederland dan sekutu menghadapi penyerahan Jepang yang tiba2. Tiba2 karena menurut dugaan Jepang baru akan kalah enam bulan tanpa dijatuhkannya bom Atom. Saat tiba2 dari penyerahan jepang ini penting bagi Asia Tenggara dan Indonesia, seakan2 itu menentukan semuanya Sebab penyerahan tiba2 menimbulkan persoalan2 transport, bukan saja transport2 tentara tetapi juga transport pribadi2. Misalnya pegawai2 tinggi Hindia Belanda ataupun menteri2 Belanda sukar sekali mendapat tempat dalam pesawat2 ke-Asia, atau Australia. Hanya intervensi dari Menteri L.N. Belanda dan kedutaan2 dapat memberikan mereka tempat dalam pesawat. Kalau ini bagi perorangan apalagi bagi tentara2.


Kapitulasi Jepang.


Buku SL. van de Wal,dibuka dengan saling memberikan ucapan selamat dengan desas-desus yang agak pasti mengenai penyerahan Jepang. Komunikasi ini diadakan antara Menlu Belanda dan Lord Louis Mountbatten, panglima sekutu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada tanggal itu juga diadakan pembicaraan yang lebih serius di Den Haag, pusat pemerintahan Belanda, diantara perdana-menteri, menteri jajajahan dan panglima2. Dalam rapat itu dikatakan bahwa penyerahan Jepang ini agak tiba2 dan tidak tersangka. Alangkah baiknya sekarang kalau tentara Jepang yang menduduki Hindia tetap mengadakan perlawanan terhadap sekutu sehingga Hindia harus diperangi dan diduduki sekutu.


Sebab dengan demikian Belanda akan mempunyai kesempatan untuk membonceng dibelakang sekutu dalam hal ini Inggris. ("Tijd winnen... memperoleh waktu", kata dokumen tsb.). Ini memang kunci bagi poliik Belanda selama bulan2 pertama menghadapi Republik Indonesia.


Tgl. 12 Aug. Lt. G.G. van Mook menyodorkan dua persoalan yang sementara ini dominan bagi Nederland, y.i. penciptaan kerja-sama yang sebaik-baiknya dengan tokoh2 Indonesia kecuali dengan para kolaborator dengan musuh, Jepang; dan persoalan yang lebih konkrit: pengungsian para tahanan Belanda dari kamp2 Jepang. Belanda ketika kalah terhadap Jepang tidak mencoba mengungsikan pegawai2 pemerintah dan penduduk sipil Belanda, kecuali beberapa tokoh seperti Van Mook, Van Der Plas, Abdulkadir Wijoyo Atmojo dll,. Ini berlainan dengan Inggris yang paling sedikit berusaha mengungsikan isteri2 dan anak2 Inggris ke-daerah2 lebih aman ketika Jepang mendekati koloni2 Inggris di Asia. Karena politik Belanda ini maka Nederland menghadapi suatu persoalan gawat yang lain y.i. bahwa mesin pemerintahannya yang demikian terkenal baik sebelum perang, didemoralisir atau sedikit banyak lumpuh karena mengalami empat tahun kam tahanan Jepang.


Keadaan ini mungkin juga mempengaruhi pandangan Logeman, menteri jajahan yang terkenal sebagai seorang "progresif" ("liberal") istilah ini lebih tepat untuk menggambarkan keadaan Belanda, yang mengatakan pada Tjarda, G.G. terachir Hindia Belanda, bahwa setelah perang lebih banyak orang Indonesia akan dipakai dalam administrasi pemerintah.


Sebenarnya pandangan Logeman ini tidak lain daripada akan meneruskan proses2 Indonesianisasi aparatus pemerintah yang telah terjadi dalam zaman Jepang. Namun sebab2 untuk politik "Indiani- sering" ("Indonesianisasi) yang diajukan menteri jajahan ini sangat menarik y.i. bahwa alasan akan dipakainya pegawai 2 Indonesia dalam administrasi pemerintahan adalah karena lebih murah daripada pegawai2 Belanda. Salah suatu keberatan terhadap aparatus Belanda Kolonial adalah bahwa dalam keadaan ekonomi menguntungkan atau merugikan selalu harus dikeluarkan beaya besar untuk pegawai2 Belanda di Indonesia, yang harus hidup dengan taraf tinggi, harus didatangkan dari Eropa dan mendapat vakansi ke-Belanda dll. Bila sekarang aparatus pemerintah kolonial di isi oleh orang2 Indonesia maka mereka tak perlu hidup setaraf dan memerlukan beaya2 lain. Namun Indonesianisasi aparatus pemerintah kolonial ini hanya dapat berjalan sekian jauh asal saja.... perusahaan-perusahaan besar tidak kehilangan kepercayaan mereka terhadap efisiensi, demikianlah menurut Logeman.


Apa Belanda tidak menduga sedikitpun bahwa kembalinya mereka kekoloni mereka akan ditentang penduduk? Rupanya sama sekali tidak, sebab tidak ada suatu perhitungan apapun mengenai perubahan2 yang mungkin terjadi selama empat tahun pendudukan Jepang. Semua rencana2 seakan-akan dibuat atas dasar keadaan2 empat atau lima tahun yang lalu. Van Mook menduga bahwa Sumatra akan dapat menimbulkan kesukaran2 tidak karena perlawanan rakyat akan tetapi karena disana ada demikian banyak suku bangsa yang dapat menimbulkan pertentangan2 intern. Jawa tidak dikuatirkan karena penduduknya homogin; hanya peristiwa2 perampokan dapat terjadi karena lowongan kekuasaan. Tjarda lalu memperingatkan bahwa penduduk Jawa Barat fanatik dalam agama Islamnya dan dapat membahayakan karena itu mengapa tak jelas pokoknya hanya Islam phobi saja.


Proklamasi.


Baru pada 20 Aug. 1945 Van Mook. memberitahukan pada kabinet di Nederland secara sepintas lalu mengenai proklamasi republik Indonesia tiga hari yang lalu: "Menurut siaran2 radio yang diterima dari Bandung, komando tentara Jepang akan memproklamirkan republik Indonesia hari ini dengan Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil-presiden. Sampai hari ini Jepang belum mengumumkan penyerahan mereka terhadap sekutu....."


Baru 10 hari kemudian proklamasi ini mendapat tanggapan serius kabinet Nederland yang menginstruksikan pada Menlu-nya untuk mengirimkan nota pada sekutu mengenai manipulasi2 politik Jepang yang mendirikan republik di Indonesia dengan organisasi 2 para-militer.


Dalam hubungan ini Logeman meng umumkan rencana2 Belanda bagi koloninya setelah perang selesai. Ditekankan olehnya bahwa Ratu Wilhelmina pada 6 Dec. 1942 mengucapkan pidato radio dengan menjanjikan akan diadakannya rijksconferentie (Konferensi kerajaan) yang akan terdiri dari Nederland, Hindia Belanda dan Suriname. Konferensi tsb. akan membicarakan bersama-sama pembaharuan politik dan susunan baru kerajaan Belanda.


Dalam janji ratu, yang tentunya tidak didengar rakyat Indonesia karena Hindia sedang diduduki Jepang, dikatakan bahwa penelitian komisi pemerintah Hindia Belanda, yang disebut komisi Visman, mengenai keinginan2 politik masyarakat Hindia akan dijadikan landasan bagi konferensi tsb. Pekerjaan Komisi tsb. juga dijadikan bukti niat2 Belanda yang baik. Komisi Visman (salah seorang anggota adalah Prof. Wertheim) setahun sebelum perang Pasifik mengadakan berbagai interview dengan tokoh2 nasionalis Indonesia yang kebanyakan terdiri dari golongan ko-operators (kerja- sama dalam dewan2 Hindia Belanda), yang merupakan nasionalis yang sangat lunak. Dengan sendirinya tawaran Rijksconferentie ini jika pun diketahui oleh orang2 Indonesia tidak dapat merupakan alternatip yang menarik dibandingkan dengan proklamasi dan fakta bahwa kekuasaan memang telah jatuh ketangan Indonesia.


Untuk sementara reaksi Nederland terhadap proklamasi dan pimpinan republik Indonesia sangat keras sekali. Bukan saja karena Soekarno, Hatta dll. bukan merupakan tokoh2 nasionalis yang lunak akan tetapi bagi Nederland mereka itu adalah kolaborator2 dengan Jepang, jadi pengchianat2 yang sering disamakan dengan kolaborator2 Eropa dengan tentara penduduk Jerman. Tentu hal ini berlainan sekali sebab negara2 Eropa merupakan negara2 merdeka sedangkan Indonesia adalah koloni yang diduduki Jepang. Maka dari itu pandangan2 Belanda tsb. tidak dapat diterima oleh pihak sekutu. Dilain pihak Belanda berkepenting an untuk mengecap republik proklamasi sebagai suatu buatan Jepang dan bahwa Sukarno-Hatta adalah kolaborator2 dengan musuh sebab dengan demikian ada harapan bahwa sekutu akan memerangi republik. Chususnya kabinet di Nederland akan keras kepala menolak segala perundingan dengan pihak Sukarno-Hatta,


Pada pertengahan September Belanda baru mendapat laporan2 nyata mengenai Indonesia (Jakarta). Dibawah perlindungan tentara Jepang Van Mok, van der Plas dan Abdulkadir Wijojoatmodjo mendarat di Jakarta dan mengadakan hubungan2 pribadi dengan berbagai orang di Jakarta. Van Mook dan Van der Plas mencoba untuk menghubungi beberapa tokoh Indonesia yang mereka kenal sebelum perang tetapi tak ada sesuatu yang muncul kecuali seorang ahli hukum, Mr. Slamet yang mengkagetkan Jakarta dengan tulisannya yang pro-Belanda. Abdulkadir bertemu dengan Sukarno dan mendapat kesan bahwa dia tidak dapat mengatasi kekuatan2 revolusioner dan pergolakan disekitarnya. Tokoh2 Hindia Belanda dahulu yang masih dalam kamp tahanan Jepang, demi keselametan mereka sendiri, seperti Mr. Spit, wakil presiden Dewan Hindia (Raad van Ne. Belanda) penuh dengan nasehat2 dan laporan2 atas dasar pengamatan sendiri. Demikian umpamanya rapat Ikada dilaporkan oleh Spit. Seperti semua dikuatirkan bahwa republik dapat mengkonsolidasi diri karena sekutu belum dapat mendarat. Penundaan2 pendaratan Inggris di Batavia dan pelabuhan2 lain di Jawa sangat mengesalkan dan mengecewakan Belanda. Van Mook, Van der Plas dan Abdulkadir semua sependapat bahwa keadaan di Indonesia jauh lebih gawat dari mereka duga pada permulaan. Van Mook dan Van der Plas mulai memikirkan perundingan2 dengan Sukarno-Hatta juga karena tekanan Inggris. Akan tetapi kabinet Nederland masih keras kepala.


Dari pengamatan2 pribadi tokoh2 pemerintahan NICA (Neth. Indies Civil Ad- ministration) dilihat berkibarnya merah-putih dimana-mana. Penurunan bendera nasional ini tidak mungkin lagi tanpa pertumpahan darah. Jadi diusulkan bahwa disamping bendera Merah-Putih akan berkibar bendera Belanda atau bendera Merah-Putih sebaiknya ditambah disampingnya dengan warna "Oranje" (warna keluarga raja Belanda). Dengan demikian Belanda mengharapkan bahwa paling sedikit diakui juga oleh pihak Indonesia tuntutan2 Belanda yang bersejarah atas Indonesia. Memang pada saat kekuatan tidak ada maka simbolisme sejarah memainkan peranan juga.


Pengakuan de facto.


Pada achir September 45 Inggris mendarat di Jakarta dan panglima Inggris, Jendral Christison seakan2 mengakui republik secara de facto, namun Inggris merasa enggan (malas tidak berkepentingan) untuk berperang dengan republik. Justru charisma dan dominasi tokoh Sukarno-Hatta serta dukungan terhadap republik mau dipakai Inggris untuk mendarat secara damai di Jakarta dan menunaikan tugas2 mereka dalam perang dunia ke-II sebaik mungkin dengan beaya dan korban sesedikit mungkin Tugas mereka yang utama adalah pembebasan tawanan2 kamp2 Jepang dan perucutan senjata Jepang serta pengembalian tentara Jepang dari Indonesia. Tugas2 ini ditekankan oleh Inggris dan tidak pengembalian status quo di Indonesia seperti diingini oleh Belanda.


Biarpun Belanda pada permukaan sangat kaget dan protes terhadap jendral Christison namun sebenarnya setelah minggu pertama pendaratan tentara Inggris di Jakarta y.i. pada tgl 9 Okt. Logeman sudah mulai mengakui bahwa "kewibawaan Belanda di Hindia telah mengalami tamparan selama perang dunia....". Tjarda, Gubernur Jendral terachir dari Hindia Belanda yang baru dibebaskan dari tawanan Jepang tidak dikirim kembali ke Jakarta. Wakilnya Van Mook diserahi kepercayaan selama beberapa tahun memegang pucuk pimpinan soal2 Indonsia, Van Mook terkenal sebagai lebih "progressif" daripada Tjarda.


Campur tangan Inggris dalam persoalan2 Indonesia bukan saja disebabkan karena persetujuan2 diantara ke-empat negara besar sekutu (Belanda tidak termasuk ini) akan tetapi juga karena Inggris mempunyai kepentingan2 di Eropa. Arti dari yang terachir ini adalah bahwa Inggris berkepentingan akan hubungan2 baik dengan Nederland, maka dari itu Inggris biarpun perang Pasifik secara resmi telah selesal bersedia untuk menunaikan tugas2nya. Hal yang terachir ini dijadikan modal Belanda untuk mengadakan pembicaraan dengan Inggris atau untuk menuntut dari Inggris untuk mengembalikan status-quo di Indonesia. Pada 15 Okt. Inggris, y.i. perdana menteri Atlee yang terkenal sebagai orang yang tidak mau berpanjang-lebar, menjawab Belanda dengan tegas dan singkat bahwa Inggris tidak bersedia untuk memerangi republik dan sebaiknya Belanda berunding dengan pimpinannya yang sekarang. Atlee bersedia menjadi perantara. Sejak itu tidak ada jalan lain bagi Belanda kecuali perundingan. Sebenarnya jawaban Inggris ini sudah harus diduga mengingat politik Inggris sendiri di Burma terhadap Aung San, dil, tokoh2 nasionalis "ciptaan Jepang". Aneh bahwa dalam dokumen2 Belanda politik Inggris di Burma sama sekali tidak disebut,. Apa ini karena ke-tidak-tahuan, ketidak insyafan akan itu atau karena hal2 lain? Dokumen terachir dari jilid I kumpulan dokumen2 tsb. adalah persetujuan kabinet Nederland bahwa Jendral Christison menjamu makan malam bersama dengan tamu-tamunya: Van Mook dan Sukarno. Jalan pertama pengakuan kedaulatan republik Indonesia.


Bagi sejarawan atau bukan, bagi orang Indonesia atau Belanda sekarang ini berdiri satu fakta bahwa sebelum pengakuan resmi pada achir 1949, telah berlangsung 5 tahun penderitaan dan pengorbanan didua belah pihak. Apakah pengorbanan2 dan penderitaan ini hanya karena kekurangan pengetahuan (ingorance), sentimen, takut kehilangan muka atau hal2 yang memang betul prinsipill ataupun menyangkut kepentingan2 hidup-mati bangsa. Sebagai catatan terachir mungkin dapat dikemukakan bahwa kemakmuran ekonomi dan penikmatannya secara merata di Nederland sebenarnya baru datang setelah 1950. Apakah salah suatu sebab bukan dengan kehilangan koloni2 maka modal Belanda terpaksa ditanamkan didalam negeri, dalam Nederland sendiri, yang tentunya mengakibatkan industrialisasi dalam negeri, pemberian lapangan pekerjaan dalam negeri dan meningkatkan kemakmuran dalam negeri.


Sumber: MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978

19 August 2026

"Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa." Bung Hatta sering menonton drama-drama Rendra. Meskipun dari 10.000 buku koleksinya hanya terdapat satu novel Gone With The Wind, menurut Meutia, sang putri, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." BUNG HATTA 77 TAHUN (TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979, “Pokok & Tokoh”) Suatu pagi di sebuah apartemen di Hawaii tahun 1968. Dua orang mahasiswa Indonesia datang bertamu menemui tuan rumah yang terdiri dari ayah dan seorang anak perempuan. Si Ayah lalu membuat kopi untuk dirinya dan untuk para tamu yang menjadi kikuk dan salah tingkah, "Meutia, kenapa ayah sendiri yang disuruh membuat kopi?" bisik salah seorang pada si anak perempuan. Dr. Mohammad Hatta si pembuat kopi, 12 Agustus kemarin selamat menggenapkan usianya 77 tahun. Dikenal sebagai orang yang selalu mengerjakan segala sesuatunya sendirian saja. Bahkan ketika hendak berangkat ke RS Cipto Mangunkusumo ‒ untuk opname seminggu lebih ‒ pertengahan Juli lalu, ia mengatur koponya sendiri. "Saya hanya menunggui sambil membiarkannya menikmati pekerjaannya," ujar Meutia Farida Hatta, 32 tahun, puteri pertama yang sejak 1973 menjadi Ny. Dr Sri-Edi Swasono (39). Asbak Keluar dari rumah sakit, Bung Hatta masih dijaga orang suster di bawah pengawasan satu tim dokter. Menurut puteri ke-3 alias si bungsu, Halida Nuriah Hatta (23), ayahnya diharuskan banyak istirahat di samping diet yang keras dengan makanan yang musti diukur. "Sayalah yang mengatur menu," katanya Halida menyebut sayur-mayur merupakan lauk kegemaran tokoh kelahiran Bukittinggi ini, sehingga giginya sampai sekarang masih utuh. "Tak satupun berlubang," tambahnya. Lalu Gemala Rabi'ah Hatta (27), puteri ke-2 yang cantik dan sejak 1976 menjadi isteri drs. Mohd. Chlil Jaridjambek (39), menyebut sayur pare yang pahit sebagai kegemaran ayahnya, "sejak ayah terserang malaria, dulu." Ketiga puterinya punya penilaian yang sama terhadap sang ayah yang menikah pada usia 43 tahun itu (dengan gadis Jawa Aceh yang dibesar kan di Bandung, Rahmi Rachim, ketika itu berusia 19 tahun, dan pernikahan itu dicomblangi Bung Karno). Meutia mengatakan "Ayah memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain." Contoh kecil: meski tak merokok, Bung Hatta menaruh asbak di meja kerjanya, untuk para tamu perokok. "Bung Hatta selalu melihat sesuatu dalam proporsi yang besar," kata Sri-Edi Swasono, menantunya, ex Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan Ul, asal Delanggu, Ja/Teng. "Bung Hatta merupakan pribadi yang unik," kata menantu kedua, Chalil Baridjambek, Direktur Pacto Ltd. dan Daha Motor, "Kukuh dalam mempertahankan pendapat, tapi mentolerir pendapat yang berbeda tanpa mengomentari aspek negatifnya. Mertuanya itu juga "seorang yang relijius dan strict: selalu berusaha shalat pada waktunya, puasa, memberi zakat, dan qurban." Dalam kondisi sehat, Bung Hatta bangun jam 4.20 pagi. Lalu sembahyang subuh. Sesudah mandi dan mencukur janggut, melakukan orhiba (olah raga hidup baru). Makan pagi jam 6, mendengarkan warta berita RRI ‒ tanpa pernah ketinggalan ‒ dan membaca koran. Jam 8.00 kedua sekretarisnya, Wangsa Widjaja, orang Sumedang Ja-Bar dan Hutabarat, Batak Protestan, datang. Kesibukan dimulai di kamar kerja dengan membaca surat-surat dan langsung membalasnya dalam bahasa dari mana surat itu datang. Bahasa yang dikuasai Bung Hatta: Belanda, Perancis, Inggeris dan Jerman. Ketika tinggal di Yogya dulu, ia ingin belajar bahasa Jawa. "Tetapi karena Bung Karno melarang orang bicara dalam bahasa Jawa, sampai sekarang Ayah belum bisa berbahasa Jawa," demikian tuturnya kepada Meutia. Selesai membalas surat-surat, ia menulis. Buku yang sedang diselesaikannya, Memorium jilid II. Dulu ia mengetik sendiri seluruh naskahnya, tapi sekarang tidak. la menulis dengan tulisan tangan untuk kemudian ditik oleh Pak Wangsa (68, sekretaris sejak 1946). Jika sudah mulai menulis, tak ada lagi batas waktu. "Kalau lagi senang, berhari-hari pun ia betah di ruang kerja," tutur Halida. Jam 13.00 tetap ditepati sebagai waktu makan siang bersama. Ketika Meutia dan Gemala bersuami, yang tinggal menemani hanya Halida, yang sebentar lagi pun akan bersuami dengan orang Sunda. "Karena saya tahu ayah menunggu, saya jarang sekali makan di luar," tutur Halida. Gemala melukiskan, meja makan merupakan "forum demokrasi" tempat semua anggota keluarga menceritakan segala sesuatu yang dialami, juga uneg-uneg. Bung Hatta tak punya pilihan khusus terhadap rasa manis, asam atau pedas. Ia makan semata untuk kesehatan. Larangan-larangan dokter dipatuhi dengan disiplin yang tinggi ‒ padahal sebenarnya ia sangat suka rendang hati atau daging. Juga termasuk orang yang tak begitu memperhatikan pakaian. Tidak ada pula warna kesayangan. Biasanya pilihan disesuaikan dengan waktu pemakaian: warna terang untuk siang, warna gelap untuk malam. Dan pakaian bekasnya? "Diberikan kepada pelayan atau tukang kebun," ujar Meutia. Ia memelihara barang-barangnya dengan baik. "Ada sepasang sepatu yang meskipun usianya lebih tua dari adik saya, Halida, tetap dipakainya dan terawat baik," tutur Meutia. Ketika akan pergi ke RSCM di pertengahan Juli itu, Meutia dan Halida yang membantu memakaikan sepatu tadi, berucap, "Ayah, bila ada yang meminta barang barang Ayah untuk disimpan di museum, pasti kita akan memilih sepatu ini lebih dahulu! Sang Ayah tertawa geli, lalu berkata, "O, itu pasti . . . !” Dikenal juga sebagai orang yang tak pernah marah, tidak pernah memukul anak-anak dan tidak pernah menegur dengan suara keras. Bung Hatta disebut Gemala sebagai "orang tanpa ekspresi". Selalu diam. Selalu sangat tenang. Sehingga ketika suatu kali ia kelihatan sangat panik dan gugup, Gemala mencatat hal itu sebagai hal yang tak bisa dilupakan. Keluarga Hatta memiliki rumah ‒selain yang di Jalan Diponegoro ‒ di Megamendung, Puncak. "Dibeli dengan uang tabungan ayah ketika 11 tahun belajar di Belanda dulu," kata Gemala. Suatu hari, bocah Gemala dipanggul ayahnya di pundak, berjalan jalan di sekitar rumah di Megamendung itu. Tiba-tiba Bung Hatta tersandung batu dan jatuh, sehingga si kecil Gemala terlempar beberapa meter. Bung Hatta pun sibuk memeriksa keadaan anaknya yang, untunglah, terlempar ke tumpukan alang-alang. Pinjaman Gemala menilai lagi: "Ayah adalah orang yang tak pernah menggugat. Ayah selalu menerima apa yang ada dan apa yang diberikan kepadanya." Digambarkannya masa masa sulit waktu lalu, di mana keluarga itu harus berdiri di atas uang pensiun se orang bekas wakil presiden yang ternyata tak seberapa. Tapi tak sepatah pun tergetar keluhan dari bibirnya." Untunglah belakangan ada keringanan dalam hal pembayaran listrik dan ledeng. Jatah beras yang terus diterima juga ikut meringankan beban. Selebihnya adalah kehidupan yang amat bersahaja. Dan sedikit hiburan jika ada undangan dari pemerintah asing atau sebuah organisasi kepada Bung Hatta sebagai penceramah, tamu atau sebagai sahabat ‒ yang berarti adanya sekedar uang imbalan dan kesempatan ke luar negeri. "Tanpa undangan, pergi ke Singapura saja pun tak mungkin bisa," kata Gemala. "Sebab ayah dahulu berhenti dari jabatannya sebagai wakil presiden tanpa membawa uang sepeser pun dan tanpa memiliki saham di berbagai perusahaan." Dan mobil Mercy serta Fiat itu? "Yang bernomor 17845, dari pemerintah. Yang lain itu dipinjami." Sambil mengenang masa lalunya, puteri kedua yang sejak 1970 kuliah di Fakultas Kedokteran Ul dan 1½ tahun lalu memperoleh bea siswa belajar di Australia sampai memperoleh gelar MRA itu, mengatakan bahwa ayahnya tak pernah menunjuk tokoh tertentu untuk dijadikan model bagi anak-anaknya. "Kita dibiarkan tumbuh dan diberi kebebasan memilih sendiri." Kalaupun ada yang ditekankan juga bukan dipaksa ialah agar anak-anaknya belajar mengaji dan rajin sembahyang. "Ayah sendiri yang mengajari kami membaca alif bata. Sesudah khatam barulah dipanggil guru mengaji." Dan ketika masih sehat, Bung Hatta bersembahyang Jum'at di Mesjid Matraman yang tak jauh dari rumah. Pernahkah Hatta yang "serius" itu nonton film? "Bila ada film yang baik ‒ menurut rekomendasi Ibu atau Halida," ujar Meutia, yang sehari-harinya dosen di Fakultas Sastra Ul. "Ayah senang film sejarah." Ia pun menggemari musik Bach, Mozart dan Strauss. "Kalau mBak Soerti Soewandi menyanyi diiringi piano oleh Pak BJ. Supardi pada ulang tahun ayah, ayah minta mBak Soerti menyanyikan Nyiur Melambai," ujar Meutia lagi. Lagu-lagu perjuangan yang disukainya ialah Halo-halo Bandung dan Dari Barat Sampai ke Timur. "Ayah juga suka menonton dan menyukai drama-drama Rendra. Dan Rendra selalu memberi undangan pada ayah," kata Gemala. Tapi, benarkah Bung Hatta tak pernah membaca novel sehingga Sutan Sjahrir konon pernah menyebutnya sebagai orang yang "kering"? Di perpustakaan pribadinya yang menyimpan sekitar 10.000 buku, memang tak terselip novel, apalagi buku saku. "Saya hanya pernah melihat satu saja ‒ yaitu Gone With The Wind," kata Gemala. Tapi menurut Meutia, sewaktu masih di Belanda dulu, "ayah rajin membaca novel." Waktu kembali ke Indonesia, sebagian besar novelnya dibagi-bagikan kepada teman-temannya yang masih tinggal di sana. "Sebab buku-buku ilmiah yang musti dibawanya pulang sudah enambelas peti." Tapi ketika dibuang ke Digul dan Bandaneira, ia juga membaca novel. Sesudah itu tidak lagi, "karena kesibukan dalam tugas ilmunya." Menurut Meutia lagi, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa. Bung Hatta tak pernah membaca majalah hiburan. Yang dibacanya Prisma, Time dan Foreign Affairs yang lengkap dikoleksinya sejak terbitan 1932. Juga punya hampir semua nomor The Economist sejak terbitan 1852. Kedua majalah yang disebut terakhir itu masih dilangganinya sampai sekarang. Olah raga yang disukainya, selagi muda, sepak bola dan berenang. Sekitar awal 1957 mulai bermain golf. Kemudian, sejak 1972 ber-orhiba. "Kata ayah, agar punya cadangan tenaga jika sakit." Disiplin dan ketepatannya mengenai waktu sudah bukan rahasia. Tak heran jika banyak orang menghadiahkan arloji kepadanya. Cindy Adams, penulis biografi Sukarno, pernah ditolaknya karena terlambat datang. Dan "sebuah jam Omega pernah diberikan kepada suami saya karena jam itu terlambat satu menit," kata Meutia. Ketika ditanya mengenai rencana pemerintah untuk membuat patung Bung Hatta, Meutia bilang tak tahu-menahu. Namun menurut Gemala, "ayah tidak menolak, meski tidak menginginkannya." Lalu apakah peranan Pak Wangsa yang hadir di tengah keluarga itu berpuluh-puluh tahun? Kata Gemala: "Pak Wangsa bagi kami sudah merupakan ayah kedua." Meutia sendiri merasa sulit melukiskan betapa dekat hubungan ayah dari 4 anak dan kakek dari 14 cucu itu, dengan keluarganya. Bahkan, "Pak Wangsa juga ikut memberi penilaian terhadap calon-calon menantu. Dan dalam hal-hal tertentu saya mengeluh kepadanya, sebelum kepada ayah.” Ucapan Nyonya Wangsa barangkali lebih menggambarkan hubungan itu: "Kami terpaksa membatalkan niat untuk menikmati pensiun di kampung. Tak tega meninggalkan Bung Hatta, sebab Bung Hattalah yang membesarkan suami saya," ujarnya. Emil Salim dan Prof. Widjojo mungkin punya kenangan lain semasa dulu "kuliah" di rumah Bung Hatta di Jalan Merdeka Selatan nomor 13 dengan bersepeda. "Kami semua sayang kepada ayah, karena ayah satu-satunya lelaki di rumah," ujar Halida. Apakah peranan ibu? "Jika ayah adalah pembuat aturan, maka ibu dan Pak Wangsa adalah polisinya," kata Gemala. Tapi mengapa Bung Hatta sampai bisa kenal dan bahkan pernah berpotret bersama dengan Sawito? "Itu lantaran Orhiba," Meutia menjelaskan."Sawito selalu datang pada saat-saat tak terduga. Misalnya, dia tiba-tiba saja muncul di pintu. Atau sewaktu kami sedang makan, dia datang. Kami tak mungkin menolaknya." Sumber: TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979

 "Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa."


Bung Hatta sering menonton drama-drama Rendra. Meskipun dari 10.000 buku koleksinya hanya terdapat satu novel Gone With The Wind, menurut Meutia, sang putri, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." 



BUNG HATTA 77 TAHUN


(TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979, “Pokok & Tokoh”)


Suatu pagi di sebuah apartemen di Hawaii tahun 1968. Dua orang mahasiswa Indonesia datang bertamu menemui tuan rumah yang terdiri dari ayah dan seorang anak perempuan. Si Ayah lalu membuat kopi untuk dirinya dan untuk para tamu yang menjadi kikuk dan salah tingkah, "Meutia, kenapa ayah sendiri yang disuruh membuat kopi?" bisik salah seorang pada si anak perempuan.


Dr. Mohammad Hatta si pembuat kopi, 12 Agustus kemarin selamat menggenapkan usianya 77 tahun. Dikenal sebagai orang yang selalu mengerjakan segala sesuatunya sendirian saja. Bahkan ketika hendak berangkat ke RS Cipto Mangunkusumo ‒ untuk opname seminggu lebih ‒ pertengahan Juli lalu, ia mengatur koponya sendiri. "Saya hanya menunggui sambil membiarkannya menikmati pekerjaannya," ujar Meutia Farida Hatta, 32 tahun, puteri pertama yang sejak 1973 menjadi Ny. Dr Sri-Edi Swasono (39).


Asbak


Keluar dari rumah sakit, Bung Hatta masih dijaga orang suster di bawah pengawasan satu tim dokter. Menurut puteri ke-3 alias si bungsu, Halida Nuriah Hatta (23), ayahnya diharuskan banyak istirahat di samping diet yang keras dengan makanan yang musti diukur. "Sayalah yang mengatur menu," katanya Halida menyebut sayur-mayur merupakan lauk kegemaran tokoh kelahiran Bukittinggi ini, sehingga giginya sampai sekarang masih utuh. "Tak satupun berlubang," tambahnya. Lalu Gemala Rabi'ah Hatta (27), puteri ke-2 yang cantik dan sejak 1976 menjadi isteri drs. Mohd. Chlil Jaridjambek (39), menyebut sayur pare yang pahit sebagai kegemaran ayahnya, "sejak ayah terserang malaria, dulu."


Ketiga puterinya punya penilaian yang sama terhadap sang ayah yang menikah pada usia 43 tahun itu (dengan gadis Jawa Aceh yang dibesar kan di Bandung, Rahmi Rachim, ketika itu berusia 19 tahun, dan pernikahan itu dicomblangi Bung Karno). Meutia mengatakan "Ayah memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain." Contoh kecil: meski tak merokok, Bung Hatta menaruh asbak di meja kerjanya, untuk para tamu perokok.


"Bung Hatta selalu melihat sesuatu dalam proporsi yang besar," kata Sri-Edi Swasono, menantunya, ex Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan Ul, asal Delanggu, Ja/Teng. "Bung Hatta merupakan pribadi yang unik," kata menantu kedua, Chalil Baridjambek, Direktur Pacto Ltd. dan Daha Motor, "Kukuh dalam mempertahankan pendapat, tapi mentolerir pendapat yang berbeda tanpa mengomentari aspek negatifnya. Mertuanya itu juga "seorang yang relijius dan strict: selalu berusaha shalat pada waktunya, puasa, memberi zakat, dan qurban."


Dalam kondisi sehat, Bung Hatta bangun jam 4.20 pagi. Lalu sembahyang subuh. Sesudah mandi dan mencukur janggut, melakukan orhiba (olah raga hidup baru). Makan pagi jam 6, mendengarkan warta berita RRI ‒ tanpa pernah ketinggalan ‒ dan membaca koran. Jam 8.00 kedua sekretarisnya, Wangsa Widjaja, orang Sumedang Ja-Bar dan Hutabarat, Batak Protestan, datang.


Kesibukan dimulai di kamar kerja dengan membaca surat-surat dan langsung membalasnya dalam bahasa dari mana surat itu datang. Bahasa yang dikuasai Bung Hatta: Belanda, Perancis, Inggeris dan Jerman. Ketika tinggal di Yogya dulu, ia ingin belajar bahasa Jawa. "Tetapi karena Bung Karno melarang orang bicara dalam bahasa Jawa, sampai sekarang Ayah belum bisa berbahasa Jawa," demikian tuturnya kepada Meutia.


Selesai membalas surat-surat, ia menulis. Buku yang sedang diselesaikannya, Memorium jilid II. Dulu ia mengetik sendiri seluruh naskahnya, tapi sekarang tidak. la menulis dengan tulisan tangan untuk kemudian ditik oleh Pak Wangsa (68, sekretaris sejak 1946). Jika sudah mulai menulis, tak ada lagi batas waktu. "Kalau lagi senang, berhari-hari pun ia betah di ruang kerja," tutur Halida.


Jam 13.00 tetap ditepati sebagai waktu makan siang bersama. Ketika Meutia dan Gemala bersuami, yang tinggal menemani hanya Halida, yang sebentar lagi pun akan bersuami dengan orang Sunda. "Karena saya tahu ayah menunggu, saya jarang sekali makan di luar," tutur Halida. Gemala melukiskan, meja makan merupakan "forum demokrasi" tempat semua anggota keluarga menceritakan segala sesuatu yang dialami, juga uneg-uneg. 


Bung Hatta tak punya pilihan khusus terhadap rasa manis, asam atau pedas. Ia makan semata untuk kesehatan. Larangan-larangan dokter dipatuhi dengan disiplin yang tinggi ‒ padahal sebenarnya ia sangat suka rendang hati atau daging. 


Juga termasuk orang yang tak begitu memperhatikan pakaian. Tidak ada pula warna kesayangan. Biasanya pilihan disesuaikan dengan waktu pemakaian: warna terang untuk siang, warna gelap untuk malam. Dan pakaian bekasnya? "Diberikan kepada pelayan atau tukang kebun," ujar Meutia.


Ia memelihara barang-barangnya dengan baik. "Ada sepasang sepatu yang meskipun usianya lebih tua dari adik saya, Halida, tetap dipakainya dan terawat baik," tutur Meutia. Ketika akan pergi ke RSCM di pertengahan Juli itu, Meutia dan Halida yang membantu memakaikan sepatu tadi, berucap, "Ayah, bila ada yang meminta barang barang Ayah untuk disimpan di museum, pasti kita akan memilih sepatu ini lebih dahulu! Sang Ayah tertawa geli, lalu berkata, "O, itu pasti . . . !”


Dikenal juga sebagai orang yang tak pernah marah, tidak pernah memukul anak-anak dan tidak pernah menegur dengan suara keras. Bung Hatta disebut Gemala sebagai "orang tanpa ekspresi". Selalu diam. Selalu sangat tenang. Sehingga ketika suatu kali ia kelihatan sangat panik dan gugup, Gemala mencatat hal itu sebagai hal yang tak bisa dilupakan. 


Keluarga Hatta memiliki rumah ‒selain yang di Jalan Diponegoro ‒ di Megamendung, Puncak. "Dibeli dengan uang tabungan ayah ketika 11 tahun belajar di Belanda dulu," kata Gemala. Suatu hari, bocah Gemala dipanggul ayahnya di pundak, berjalan jalan di sekitar rumah di Megamendung itu. Tiba-tiba Bung Hatta tersandung batu dan jatuh, sehingga si kecil Gemala terlempar beberapa meter. Bung Hatta pun sibuk memeriksa keadaan anaknya yang, untunglah, terlempar ke tumpukan alang-alang.


Pinjaman


Gemala menilai lagi: "Ayah adalah orang yang tak pernah menggugat. Ayah selalu menerima apa yang ada dan apa yang diberikan kepadanya." Digambarkannya masa masa sulit waktu lalu, di mana keluarga itu harus berdiri di atas uang pensiun se orang bekas wakil presiden yang ternyata tak seberapa. Tapi tak sepatah pun tergetar keluhan dari bibirnya." 


Untunglah belakangan ada keringanan dalam hal pembayaran listrik dan ledeng. Jatah beras yang terus diterima juga ikut meringankan beban. Selebihnya adalah kehidupan yang amat bersahaja. Dan sedikit hiburan jika ada undangan dari pemerintah asing atau sebuah organisasi kepada Bung Hatta sebagai penceramah, tamu atau sebagai sahabat ‒ yang berarti adanya sekedar uang imbalan dan kesempatan ke luar negeri.


"Tanpa undangan, pergi ke Singapura saja pun tak mungkin bisa," kata Gemala. "Sebab ayah dahulu berhenti dari jabatannya sebagai wakil presiden tanpa membawa uang sepeser pun dan tanpa memiliki saham di berbagai perusahaan." Dan mobil Mercy serta Fiat itu? "Yang bernomor 17845, dari pemerintah. Yang lain itu dipinjami." 


Sambil mengenang masa lalunya, puteri kedua yang sejak 1970 kuliah di Fakultas Kedokteran Ul dan 1½ tahun lalu memperoleh bea siswa belajar di Australia sampai memperoleh gelar MRA itu, mengatakan bahwa ayahnya tak pernah menunjuk tokoh tertentu untuk dijadikan model bagi anak-anaknya. "Kita dibiarkan tumbuh dan diberi kebebasan memilih sendiri."


Kalaupun ada yang ditekankan juga bukan dipaksa ialah agar anak-anaknya belajar mengaji dan rajin sembahyang. "Ayah sendiri yang mengajari kami membaca alif bata. Sesudah khatam barulah dipanggil guru mengaji." Dan ketika masih sehat, Bung Hatta bersembahyang Jum'at di Mesjid Matraman yang tak jauh dari rumah.


Pernahkah Hatta yang "serius" itu nonton film? "Bila ada film yang baik ‒ menurut rekomendasi Ibu atau Halida," ujar Meutia, yang sehari-harinya dosen di Fakultas Sastra Ul. "Ayah senang film sejarah." Ia pun menggemari musik Bach, Mozart dan Strauss. "Kalau mBak Soerti Soewandi menyanyi diiringi piano oleh Pak BJ. Supardi pada ulang tahun ayah, ayah minta mBak Soerti menyanyikan Nyiur Melambai," ujar Meutia lagi. Lagu-lagu perjuangan yang disukainya ialah Halo-halo Bandung dan Dari Barat Sampai ke Timur.


"Ayah juga suka menonton dan menyukai drama-drama Rendra. Dan Rendra selalu memberi undangan pada ayah," kata Gemala. Tapi, benarkah Bung Hatta tak pernah membaca novel sehingga Sutan Sjahrir konon pernah menyebutnya sebagai orang yang "kering"? Di perpustakaan pribadinya yang menyimpan sekitar 10.000 buku, memang tak terselip novel, apalagi buku saku. "Saya hanya pernah melihat satu saja ‒ yaitu Gone With The Wind," kata Gemala.


Tapi menurut Meutia, sewaktu masih di Belanda dulu, "ayah rajin membaca novel." Waktu kembali ke Indonesia, sebagian besar novelnya dibagi-bagikan kepada teman-temannya yang masih tinggal di sana. "Sebab buku-buku ilmiah yang musti dibawanya pulang sudah enambelas peti." Tapi ketika dibuang ke Digul dan Bandaneira, ia juga membaca novel. Sesudah itu tidak lagi, "karena kesibukan dalam tugas ilmunya." Menurut Meutia lagi, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi."


Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa.


Bung Hatta tak pernah membaca majalah hiburan. Yang dibacanya Prisma, Time dan Foreign Affairs yang lengkap dikoleksinya sejak terbitan 1932. Juga punya hampir semua nomor The Economist sejak terbitan 1852. Kedua majalah yang disebut terakhir itu masih dilangganinya sampai sekarang.


Olah raga yang disukainya, selagi muda, sepak bola dan berenang. Sekitar awal 1957 mulai bermain golf. Kemudian, sejak 1972 ber-orhiba. "Kata ayah, agar punya cadangan tenaga jika sakit."


Disiplin dan ketepatannya mengenai waktu sudah bukan rahasia. Tak heran jika banyak orang menghadiahkan arloji kepadanya. Cindy Adams, penulis biografi Sukarno, pernah ditolaknya karena terlambat datang. Dan "sebuah jam Omega pernah diberikan kepada suami saya karena jam itu terlambat satu menit," kata Meutia.


Ketika ditanya mengenai rencana pemerintah untuk membuat patung Bung Hatta, Meutia bilang tak tahu-menahu. Namun menurut Gemala, "ayah tidak menolak, meski tidak menginginkannya."


Lalu apakah peranan Pak Wangsa yang hadir di tengah keluarga itu berpuluh-puluh tahun? Kata Gemala: "Pak Wangsa bagi kami sudah merupakan ayah kedua." Meutia sendiri merasa sulit melukiskan betapa dekat hubungan ayah dari 4 anak dan kakek dari 14 cucu itu, dengan keluarganya. Bahkan, "Pak Wangsa juga ikut memberi penilaian terhadap calon-calon menantu. Dan dalam hal-hal tertentu saya mengeluh kepadanya, sebelum kepada ayah.”


Ucapan Nyonya Wangsa barangkali lebih menggambarkan hubungan itu: "Kami terpaksa membatalkan niat untuk menikmati pensiun di kampung. Tak tega meninggalkan Bung Hatta, sebab Bung Hattalah yang membesarkan suami saya," ujarnya. Emil Salim dan Prof. Widjojo mungkin punya kenangan lain semasa dulu "kuliah" di rumah Bung Hatta di Jalan Merdeka Selatan nomor 13 dengan bersepeda. "Kami semua sayang kepada ayah, karena ayah satu-satunya lelaki di rumah," ujar Halida. Apakah peranan ibu? "Jika ayah adalah pembuat aturan, maka ibu dan Pak Wangsa adalah polisinya," kata Gemala.


Tapi mengapa Bung Hatta sampai bisa kenal dan bahkan pernah berpotret bersama dengan Sawito? "Itu lantaran  Orhiba," Meutia menjelaskan."Sawito selalu datang pada saat-saat tak terduga. Misalnya, dia tiba-tiba saja muncul di pintu. Atau sewaktu kami sedang makan, dia datang. Kami tak mungkin menolaknya."


Sumber: TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979