12 June 2026

Dahulu kala, terdapat sebuah rawa besar bernama Rawa Wawar yang terhampar di antara perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo. Terbentuknya Rawa Wawar dipengaruhi oleh keberadaan bentangan bukit pasir di selatannya yang dikenal sebagai Urut Sewu. Hal ini menyebabkan sejumlah sungai di utaranya tidak dapat mengalirkan airnya langsung ke laut dan menggenang menjadi sebuah rawa. Saat sebuah jalan yang menghubungkan Kutoarjo dan Kebumen pada tahun 1830, Residen Bagelen pertama, Valck, menyebut jika jalan tersebut tampak seperti sebuah tanggul. __ Pada tahun 1834, sebuah muara baru digali di Truntung sehingga air dari Sungai Luk Ulo dapat langsung mengalir ke laut. Sebagian hamparan rawa mengering dan akhirnya menjadi dataran baru yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Namun hal tersebut menyisakan masalah lain karena saat musim hujan dataran tersebut akhirnya kerap tergenang banjir. Salah satu yang paling parah terjadi pada tahun 1861. Oleh karena itu, antara tahun 1861 dan 1870, sejumlah upaya dilakukan untuk membenahi sistem drainase di sana dengan merekayasa pembuangan air. Misalnya dengan membuat bendung di Sungai Kedungbener dan menggali saluran penghubung dari sungai itu ke Sungai Lok Ulo pada tahun 1861. Sumber : Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.

 Dahulu kala, terdapat sebuah rawa besar bernama Rawa Wawar yang terhampar di antara perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo. Terbentuknya Rawa Wawar dipengaruhi oleh keberadaan bentangan bukit pasir di selatannya yang dikenal sebagai Urut Sewu. Hal ini menyebabkan sejumlah sungai di utaranya tidak dapat mengalirkan airnya langsung ke laut dan menggenang menjadi sebuah rawa. Saat sebuah jalan yang menghubungkan Kutoarjo dan Kebumen pada tahun 1830,  Residen Bagelen pertama, Valck, menyebut jika jalan tersebut tampak seperti sebuah tanggul. 



__

Pada tahun 1834, sebuah muara baru digali di Truntung sehingga air dari Sungai Luk Ulo dapat langsung mengalir ke laut. Sebagian hamparan rawa mengering dan akhirnya menjadi dataran baru yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Namun hal tersebut menyisakan masalah lain karena saat musim hujan dataran tersebut akhirnya kerap tergenang banjir. Salah satu yang paling parah terjadi pada tahun 1861. Oleh karena itu, antara tahun 1861 dan 1870, sejumlah upaya dilakukan untuk membenahi sistem drainase di sana dengan merekayasa pembuangan air. Misalnya dengan membuat bendung di Sungai Kedungbener dan menggali saluran penghubung dari sungai itu ke Sungai Lok Ulo pada tahun 1861.


Sumber : Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.


Sumber : Lengkong Sanggar Ginaris

Jalur Trem Uap Magelang-Ambal Sejauh ini, belum banyak yang mengetahui bahwa pada masa kolonial, sudah ada wacana untuk membuat jalur trem uap yang menghubugnkan antara Magelang dengan wilayah pesisir selatang Purworejo dan Kebumen. Ide tersebut pertama kali dicetuskan oleh seorang Belanda bernama H.W. van Dalfsen. Pada masa tersebut, setiap individu dapat mengajukan konsesi Pembangunan jalur kereta api kepada pemerintah dengan mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Dalfsen sendiri mengajukan konsesi tersebut pada 4 Juli 1896 dengan rute sebagai berikut ; A. seksi pertama dari Salaman-Loano-Purworejo B. seksi kedua dari Salaman-Borobudur-Muntilan. C. Seksi ketiga dari Purworejo-Purwodadi-Jogoboyo-Ambal. D. Seksi keempat dari Purworejo-Kemiri-Pituruh E. Seksi kelima dari Kemiri-Kutoarjo-Ketawang F. Seksi keempat dari Ambal-Petanahan-Kebumen G. Seksi keenam dari Ambal-Puring. Jika melihat rencana yang diusulkan, terlihat bahwaw Dalfsen tampak begitu ambisius untuk dapat menghubungkan sejumlah tempat di Purworejo dan Kebumen dengan trem uap, terlebih saat itu trem uap sedang menjadi moda transportasi antar wilayah yang popular karena lebih efisien dibandingkan dengan kereta api regular. Pemerintah kolonial kemudian memberikan izin kepada Dalfsen dengan syarat bahwa jalur yang diajukan oleh Daflsen dapat terkoneksi dengan jalur kereta milik SS dan NISM. Selain itu, jalur kereta Purworejo-Magelang dan Salaman-Muntilan harus dapat dilalui oleh kereta api milik SS. Sayangnya, hingga Belanda sudah tidak lagi menjajah rencana yang dibuat oleh Dalfsen tidak jadi terwujud. Sumber : Bataviaasch nieuwsblad 16 Juni 1896 Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1901 Indische Spoorweg Politiek Deel VIII.

 Jalur Trem Uap Magelang-Ambal



Sejauh ini, belum banyak yang mengetahui bahwa pada masa kolonial, sudah ada wacana untuk membuat jalur trem uap yang menghubugnkan antara Magelang dengan wilayah pesisir selatang Purworejo dan Kebumen. Ide tersebut pertama kali dicetuskan oleh seorang Belanda bernama H.W. van Dalfsen. Pada masa tersebut, setiap individu dapat mengajukan konsesi Pembangunan jalur kereta api kepada pemerintah dengan mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Dalfsen sendiri mengajukan konsesi tersebut pada 4 Juli 1896 dengan rute sebagai berikut ; 


A. seksi pertama dari Salaman-Loano-Purworejo

B. seksi kedua dari Salaman-Borobudur-Muntilan.

C. Seksi ketiga dari Purworejo-Purwodadi-Jogoboyo-Ambal.

D. Seksi keempat dari Purworejo-Kemiri-Pituruh

E. Seksi kelima dari Kemiri-Kutoarjo-Ketawang

F. Seksi keempat dari Ambal-Petanahan-Kebumen

G. Seksi keenam dari Ambal-Puring.


Jika melihat rencana yang diusulkan, terlihat bahwaw Dalfsen tampak begitu ambisius untuk dapat menghubungkan sejumlah tempat di Purworejo dan Kebumen dengan trem uap, terlebih saat itu trem uap sedang menjadi moda transportasi antar wilayah yang popular karena lebih efisien dibandingkan dengan kereta api regular.


Pemerintah kolonial kemudian memberikan izin kepada Dalfsen dengan syarat bahwa jalur yang diajukan oleh Daflsen dapat terkoneksi dengan jalur kereta milik SS dan NISM. Selain itu, jalur kereta Purworejo-Magelang dan Salaman-Muntilan harus dapat dilalui oleh kereta api milik SS. Sayangnya, hingga Belanda sudah tidak lagi menjajah rencana yang dibuat oleh Dalfsen tidak jadi terwujud. 


Sumber :


Bataviaasch nieuwsblad 16 Juni 1896

Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1901

Indische Spoorweg Politiek Deel VIII.


Sumber : Lengkong Sanggar Ginaris

Lahir di Wonosobo, Jateng, 04 Agustus 1918 dengan nama lengkap Siswondo Parman tapi lebih dikenal dengan nama S.Parman, adalah salah satu dari tujuh Pahlawan Revolusi yang menjadi korban keganasan G30S PKI. Menariknya, beliau adalah adik kandung dari Sakirman, seorang tokoh penting PKI dan anggota Politbiro CC PKI.

 Lahir di Wonosobo, Jateng, 04 Agustus 1918 dengan nama lengkap Siswondo Parman tapi lebih dikenal dengan nama S.Parman, adalah salah satu dari tujuh Pahlawan Revolusi yang menjadi korban keganasan G30S PKI.

Menariknya, beliau adalah adik kandung dari Sakirman, seorang tokoh penting PKI dan anggota Politbiro CC PKI.



Sumber : Abdi Negara

05 June 2026

DINAMIKA KONFLIK INTERNAL TNI DI SURAKARTA 1948 Benturan Faksi, Rapuhnya Komando, dan Diplomasi di Ujung Senjata post by Jani Sari II - 2 Juni 2026 ​Ketika kita menelaah lembaran sejarah militer pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, salah satu fenomena yang paling mencolok sekaligus krusial untuk dibedah adalah rapuhnya garis komando formal serta tingginya ketegangan antar-faksi bersenjata. Catatan sejarah mengenai insiden di Surakarta—sebuah gesekan hebat yang melibatkan pasukan Hijrah (Siliwangi) dan kesatuan lokal di bawah pimpinan Mayor Slamet Rijadi—memberikan kita sebuah potret yang sangat gamblang mengenai sejauh mana ego kelompok dan dinamika lapangan mampu mendikte jalannya sejarah militer kita yang baru lahir. ​Peristiwa ini meletus sekitar pukul 12.00 siang, terik matahari di bulan September 1948 ditandai dengan rentetan tembakan gencar di sebelah utara kota. Ini bukanlah sebuah kontak senjata biasa dengan musuh asing, melainkan sebuah serangan mendadak yang dirancang secara taktis terhadap sesama saudara seperjuangan. Kekuatan besar hingga tiga batalyon di bawah pimpinan Mayor Slamet Rijadi, selaku Komandan Medan Surakarta, dikerahkan untuk mengepung asrama kompi pengawal. ​Menarik untuk dicermati bagaimana unsur muslihat psikologis digunakan dalam palagan ini. Pasukan penyerang awalnya berpura-pura melakukan latihan baris-berbaris di depan asrama Kompi Oking, membuai kewaspadaan lawan sebelum sang Mayor secara tiba-tiba meneriakkan komando: "Sergaaaap!". Namun, di sinilah kematangan bertempur kompi pengawal teruji. Alih-alih didera panik, mereka merespons dengan pertahanan taktis yang cerdik. Memanfaatkan senapan mesin watermantel yang ditembakkan melalui tembok-tembok kamar yang sengaja dilubangi, mereka berhasil mematahkan gelombang serbuan. Pasukan penyerang bergelimpangan dan kocar-kacir mencari perlindungan tanpa mampu menimbulkan satu pun korban di pihak yang bertahan. ​Dalam perspektif sejarah militer, krisis akut di lapangan seperti ini kerap menelanjangi kelambatan dan kebimbangan di tingkat komando atas. Ketika muncul urgensi untuk mengerahkan batalyon guna membebaskan Kompi Oking yang terkepung, Komandan Brigade justru menunjukkan sikap ragu-ragu dan enggan bertindak tegas. Di titik krusial inilah inisiatif perwira lapangan mengambil alih kendali. Mayor Umar Wirahadikusumah (Komandan Batalion dari Colomadu) muncul dan langsung mendesak wakil komandan (second in command) untuk segera menandatangani Surat Perintah Ofensif. Desakan ini langsung mendapat dukungan aklamasi dari seluruh staf Brigade. Realitas sosiologis TNI kala itu memperlihatkan bahwa keputusan taktis yang fatal sering kali lahir bukan dari ketetapan hierarki formal yang kaku, melainkan dari keberanian perwira lapangan yang melompati sekat birokrasi demi menyelamatkan pasukannya. ​Tragedi di lapangan semakin diperkeruh oleh hilangnya kendali emosi dan disiplin tempur. Saat tim utusan berbendera putih dikirim untuk merintis gencatan senjata, sebuah insiden berdarah terjadi: seorang Komandan Peleton tewas seketika akibat peluru yang bersarang di kepalanya di dekat markas Kapten Oking. Kemarahan Oking atas apa yang ia anggap sebagai pengkhianatan hampir saja membakar seluruh situasi, sebelum akhirnya rasionalitas militer kembali tegak setelah ia diyakinkan untuk mematuhi perintah Komandan Brigade, dengan syarat seluruh pasukan penyerang ditarik mundur ke barak masing-masing. ​Namun, anarki tidak berhenti begitu saja. Keesokan harinya, elemen garis depan (voorspits) dari Batalyon pasukan Hijrah merembes masuk ke dalam kota. Tanpa formasi militer yang teratur, kelompok-kelompok kecil beranggotakan 3 hingga 4 orang ini bertindak sendiri-sendiri—yang di dalam teks digambarkan "secara gangster"—dengan melucuti pos-pos penjagaan, merampas kendaraan militer lokal, dan membersihkan barikade. Suasana chaos ini segera memicu alarm bahaya di tingkat kekuasaan yang lebih tinggi akan ancaman pecahnya perang saudara secara terbuka. ​Puncak dari seluruh drama faksionalisme ini mewujud dalam ruang negosiasi di markas KMK. Penggambaran sosok Mayor Slamet Rijadi saat memasuki ruang perundingan adalah sebuah manifestasi visual yang sangat ikonik dari tipe panglima lapangan era revolusi. Ia hadir dengan pakaian lapangan cokelat tua, beret, sepatu laras tinggi, pistol di pinggang, sambil mengapit senapan tommy gun dengan kantong celana penuh peluru yang bergemerincing. Ini adalah sebuah bentuk psychological warfare atau intimidasi visual yang sengaja dipertontonkan untuk menegaskan posisi tawar dan dominasi di meja perundingan. ​Meskipun Slamet Rijadi bersikap keras kepala menuntut pengembalian Mayor Sugeng serta penarikan pasukan Siliwangi, realitas politik memaksa pihak staf Brigade melakukan sebuah "kebohongan diplomatik" yang tak terhindarkan demi mencegah pertumpahan darah yang lebih luas. Pihak staf Brigade tahu persis bahwa Mayor Sugeng sebenarnya telah gugur ("sudah menjadi mayat"), namun mereka memilih untuk merahasiakannya dan berjanji akan mengembalikannya dalam kondisi "segar bugar" setelah kesepakatan tertulis ditandatangani. ​Perjanjian tertulis akhirnya dicapai setelah melalui negosiasi yang alot dengan melibatkan Letkol Sujoto yang sempat sulit dicari. Kedua belah pihak menyepakati penghentian permusuhan dan penarikan mundur pasukan ke pangkalan masing-masing. ​Catatan dari lembaran-lembaran buku ini bukan sekadar kronik mengenai taktik pertempuran kota. Bagi seorang sejarawan militer, ini adalah cermin retak yang memantulkan proses pencarian bentuk dari sebuah tentara nasional yang sedang tumbuh. Di dalamnya berkelindan antara ego komandan lapangan, fanatisme kelompok (kedaerahan), kebingungan hierarki komando, sekaligus pragmatisme politik di tengah palagan revolusi Indonesia yang berdarah. bahan bacaan antara lain : Biografi Umar Wirahadikusumah Jani Sari Library

 DINAMIKA KONFLIK INTERNAL TNI DI SURAKARTA 1948

Benturan Faksi, Rapuhnya Komando, dan Diplomasi di Ujung Senjata


post by Jani Sari II - 2 Juni 2026



​Ketika kita menelaah lembaran sejarah militer pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, salah satu fenomena yang paling mencolok sekaligus krusial untuk dibedah adalah rapuhnya garis komando formal serta tingginya ketegangan antar-faksi bersenjata. Catatan sejarah mengenai insiden di Surakarta—sebuah gesekan hebat yang melibatkan pasukan Hijrah (Siliwangi) dan kesatuan lokal di bawah pimpinan Mayor Slamet Rijadi—memberikan kita sebuah potret yang sangat gamblang mengenai sejauh mana ego kelompok dan dinamika lapangan mampu mendikte jalannya sejarah militer kita yang baru lahir.


​Peristiwa ini meletus sekitar pukul 12.00 siang, terik matahari di bulan September 1948 ditandai dengan rentetan tembakan gencar di sebelah utara kota. Ini bukanlah sebuah kontak senjata biasa dengan musuh asing, melainkan sebuah serangan mendadak yang dirancang secara taktis terhadap sesama saudara seperjuangan. Kekuatan besar hingga tiga batalyon di bawah pimpinan Mayor Slamet Rijadi, selaku Komandan Medan Surakarta, dikerahkan untuk mengepung asrama kompi pengawal.


​Menarik untuk dicermati bagaimana unsur muslihat psikologis digunakan dalam palagan ini. Pasukan penyerang awalnya berpura-pura melakukan latihan baris-berbaris di depan asrama Kompi Oking, membuai kewaspadaan lawan sebelum sang Mayor secara tiba-tiba meneriakkan komando: "Sergaaaap!". Namun, di sinilah kematangan bertempur kompi pengawal teruji. Alih-alih didera panik, mereka merespons dengan pertahanan taktis yang cerdik. Memanfaatkan senapan mesin watermantel yang ditembakkan melalui tembok-tembok kamar yang sengaja dilubangi, mereka berhasil mematahkan gelombang serbuan. Pasukan penyerang bergelimpangan dan kocar-kacir mencari perlindungan tanpa mampu menimbulkan satu pun korban di pihak yang bertahan.

​Dalam perspektif sejarah militer, krisis akut di lapangan seperti ini kerap menelanjangi kelambatan dan kebimbangan di tingkat komando atas. Ketika muncul urgensi untuk mengerahkan batalyon guna membebaskan Kompi Oking yang terkepung, Komandan Brigade justru menunjukkan sikap ragu-ragu dan enggan bertindak tegas. 


Di titik krusial inilah inisiatif perwira lapangan mengambil alih kendali. Mayor Umar Wirahadikusumah (Komandan Batalion dari Colomadu) muncul dan langsung mendesak wakil komandan (second in command) untuk segera menandatangani Surat Perintah Ofensif. Desakan ini langsung mendapat dukungan aklamasi dari seluruh staf Brigade. Realitas sosiologis TNI kala itu memperlihatkan bahwa keputusan taktis yang fatal sering kali lahir bukan dari ketetapan hierarki formal yang kaku, melainkan dari keberanian perwira lapangan yang melompati sekat birokrasi demi menyelamatkan pasukannya.


​Tragedi di lapangan semakin diperkeruh oleh hilangnya kendali emosi dan disiplin tempur. Saat tim utusan berbendera putih dikirim untuk merintis gencatan senjata, sebuah insiden berdarah terjadi: seorang Komandan Peleton tewas seketika akibat peluru yang bersarang di kepalanya di dekat markas Kapten Oking. Kemarahan Oking atas apa yang ia anggap sebagai pengkhianatan hampir saja membakar seluruh situasi, sebelum akhirnya rasionalitas militer kembali tegak setelah ia diyakinkan untuk mematuhi perintah Komandan Brigade, dengan syarat seluruh pasukan penyerang ditarik mundur ke barak masing-masing.


​Namun, anarki tidak berhenti begitu saja. Keesokan harinya, elemen garis depan (voorspits) dari Batalyon pasukan Hijrah merembes masuk ke dalam kota. Tanpa formasi militer yang teratur, kelompok-kelompok kecil beranggotakan 3 hingga 4 orang ini bertindak sendiri-sendiri—yang di dalam teks digambarkan "secara gangster"—dengan melucuti pos-pos penjagaan, merampas kendaraan militer lokal, dan membersihkan barikade. Suasana chaos ini segera memicu alarm bahaya di tingkat kekuasaan yang lebih tinggi akan ancaman pecahnya perang saudara secara terbuka.

​Puncak dari seluruh drama faksionalisme ini mewujud dalam ruang negosiasi di markas KMK. Penggambaran sosok Mayor Slamet Rijadi saat memasuki ruang perundingan adalah sebuah manifestasi visual yang sangat ikonik dari tipe panglima lapangan era revolusi. Ia hadir dengan pakaian lapangan cokelat tua, beret, sepatu laras tinggi, pistol di pinggang, sambil mengapit senapan tommy gun dengan kantong celana penuh peluru yang bergemerincing. Ini adalah sebuah bentuk psychological warfare atau intimidasi visual yang sengaja dipertontonkan untuk menegaskan posisi tawar dan dominasi di meja perundingan.


​Meskipun Slamet Rijadi bersikap keras kepala menuntut pengembalian Mayor Sugeng serta penarikan pasukan Siliwangi, realitas politik memaksa pihak staf Brigade melakukan sebuah "kebohongan diplomatik" yang tak terhindarkan demi mencegah pertumpahan darah yang lebih luas. Pihak staf Brigade tahu persis bahwa Mayor Sugeng sebenarnya telah gugur ("sudah menjadi mayat"), namun mereka memilih untuk merahasiakannya dan berjanji akan mengembalikannya dalam kondisi "segar bugar" setelah kesepakatan tertulis ditandatangani.


​Perjanjian tertulis akhirnya dicapai setelah melalui negosiasi yang alot dengan melibatkan Letkol Sujoto yang sempat sulit dicari. Kedua belah pihak menyepakati penghentian permusuhan dan penarikan mundur pasukan ke pangkalan masing-masing.


​Catatan dari lembaran-lembaran buku ini bukan sekadar kronik mengenai taktik pertempuran kota. Bagi seorang sejarawan militer, ini adalah cermin retak yang memantulkan proses pencarian bentuk dari sebuah tentara nasional yang sedang tumbuh. Di dalamnya berkelindan antara ego komandan lapangan, fanatisme kelompok (kedaerahan), kebingungan hierarki komando, sekaligus pragmatisme politik di tengah palagan revolusi Indonesia yang berdarah.


bahan bacaan antara lain : Biografi Umar Wirahadikusumah 


Jani Sari Library

Sekarmadji Maridjan Kartos0ewirjo, pendiri Negara 1slam Indonesia (N11), di3ksekusi m4ti pada 5 September 1962. Ek3kusi tersebut dilaksanakan oleh regu t3mbak TNI dibawah komandan Kapten Sudjono di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta, tak lama setelah ia tertangkap pada 4 Juni 1962. Kabarnya Bung Karno berlinang air mata saat menandatangani penolakan grasi yang di ajukan Kart0suwiryo. Karena semua tahu bahwa Kart0 adalah karibnya saat berguru pada HOS Cokroaminoto sebelum era kemerdekaan. Kapten Sudjono sendiri kemudian terlibat G30S dan juga diek3kusi m4ti pada tahun 1967. Ternyata K4rma itu berlaku.

 Sekarmadji Maridjan Kartos0ewirjo, pendiri Negara 1slam Indonesia (N11), di3ksekusi m4ti pada 5 September 1962. Ek3kusi tersebut dilaksanakan oleh regu t3mbak TNI dibawah komandan Kapten Sudjono di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta, tak lama setelah ia tertangkap pada 4 Juni 1962.

Kabarnya Bung Karno berlinang air mata saat menandatangani penolakan grasi yang di ajukan Kart0suwiryo. Karena semua tahu bahwa Kart0 adalah karibnya saat berguru pada HOS Cokroaminoto sebelum era kemerdekaan.

Kapten Sudjono sendiri kemudian terlibat G30S dan juga diek3kusi m4ti pada tahun 1967. Ternyata K4rma itu berlaku.




Sumber : Andi Syahrul Ramadhan

Penandatanganan Kontrak Freeport di Indonesia, 1967 #sejarah #tempodulu #mazdarwan Perusahaan Freeport Sulphur of Delaware, AS pada Jumat 7 April 1967 menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan tembaga di Papua Barat. Freeport diperkirakan menginvestasikan 75 hingga 100 juta dolar AS. Penandatanganan bertempat di Departemen Pertambangan, dengan Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Pertambangan Ir. Slamet Bratanata dan Freeport oleh Robert C. Hills, Presiden Freeport Shulpur dan Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia, anak perusahan yang dibuat untuk kepentingan ini. Disaksikan pula oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green. Freeport mendapat hak konsensi lahan penambangan seluas 10.908 hektar untuk kontrak selama 30 tahun terhitung sejak kegiatan komersial pertama dilakukan. Pada Desember 1972 pengapalan 10.000 ton tembaga pertama kali dilakukan dengan tujuan Jepang. Dari penandatanganan kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan Undang-Undang Pertambangan No. 11 Tahun 1967 yang disahkan pada Desember 1967. Foto: The Netherlands National News Agency (ANP) Sumber : https://nobodycorpfound.wordpress.com/

 Penandatanganan Kontrak Freeport di Indonesia, 1967

#sejarah #tempodulu #mazdarwan



Perusahaan Freeport Sulphur of Delaware, AS pada Jumat 7 April 1967 menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan tembaga di Papua Barat. Freeport diperkirakan menginvestasikan 75 hingga 100 juta dolar AS. Penandatanganan bertempat di Departemen Pertambangan, dengan Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Pertambangan Ir. Slamet Bratanata dan Freeport oleh Robert C. Hills, Presiden Freeport Shulpur dan Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia, anak perusahan yang dibuat untuk kepentingan ini. Disaksikan pula oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Marshall Green.


Freeport mendapat hak konsensi lahan penambangan seluas 10.908 hektar untuk kontrak selama 30 tahun terhitung sejak kegiatan komersial pertama dilakukan. Pada Desember 1972 pengapalan 10.000 ton tembaga pertama kali dilakukan dengan tujuan Jepang.


Dari penandatanganan kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar penyusunan Undang-Undang Pertambangan No. 11 Tahun 1967 yang disahkan pada Desember 1967.


Foto: The Netherlands National News Agency (ANP)

Sumber : https://nobodycorpfound.wordpress.com/


Sumber : Sudarwanto Wongsodihardjo

03 June 2026

✅KISAH AKHIR HAYAT PRESIDEN BUNG KARNO Akhir hayat Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, diwarnai kepiluan dan keterasingan politik. Setelah dilengserkan dari kekuasaan, ia berstatus sebagai tahanan politik. Bung Karno wafat pada Minggu pagi, 21 Juni 1970, di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, akibat komplikasi penyakit ginjal. Kisah detail hari-hari terakhir sang Proklamator meliputi momen-momen berikut: Masa Pengasingan: Selepas lengser pada Maret 1967, Bung Karno menjadi tahanan rumah dan diasingkan dari rakyat. Ia sempat diisolasi di Istana Bogor, lalu dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) di Jakarta. Kondisi Fisik dan Mental: Dalam kesendiriannya sebagai tahanan, kondisi kesehatan Bung Karno terus memburuk akibat gangguan ginjal dan tekanan darah tinggi. Ruang gerak hingga akses perawatan medisnya dibatasi. Pertemuan Terakhir dengan Hatta: Sebelum meninggal, Bung Karno sempat mengalami koma. Sahabat sekaligus mantan Wakil Presiden, Mohammad Hatta, datang menjenguknya di rumah sakit. Momen haru ini menjadi pertemuan terakhir kedua tokoh proklamator tersebut sebelum Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya di usia 69 tahun. Lokasi Pemakaman: Jenazah Bung Karno disemayamkan di Wisma Yaso sebelum akhirnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, berdampingan dengan makam ibundanya. #fyp #fakta #sejarah #viral #info

 ✅KISAH AKHIR HAYAT PRESIDEN BUNG KARNO


Akhir hayat Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, diwarnai kepiluan dan keterasingan politik. Setelah dilengserkan dari kekuasaan, ia berstatus sebagai tahanan politik. Bung Karno wafat pada Minggu pagi, 21 Juni 1970, di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, akibat komplikasi penyakit ginjal.



Kisah detail hari-hari terakhir sang Proklamator meliputi momen-momen berikut:


Masa Pengasingan: Selepas lengser pada Maret 1967, Bung Karno menjadi tahanan rumah dan diasingkan dari rakyat. Ia sempat diisolasi di Istana Bogor, lalu dipindahkan ke Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) di Jakarta.


Kondisi Fisik dan Mental: Dalam kesendiriannya sebagai tahanan, kondisi kesehatan Bung Karno terus memburuk akibat gangguan ginjal dan tekanan darah tinggi. Ruang gerak hingga akses perawatan medisnya dibatasi.


Pertemuan Terakhir dengan Hatta: Sebelum meninggal, Bung Karno sempat mengalami koma. Sahabat sekaligus mantan Wakil Presiden, Mohammad Hatta, datang menjenguknya di rumah sakit. Momen haru ini menjadi pertemuan terakhir kedua tokoh proklamator tersebut sebelum Bung Karno menghembuskan napas terakhirnya di usia 69 tahun.


Lokasi Pemakaman: Jenazah Bung Karno disemayamkan di Wisma Yaso sebelum akhirnya dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, berdampingan dengan makam ibundanya.


#fyp #fakta #sejarah #viral #info

01 June 2026

TIGA JENDERAL DARI SATU RAHIM: KIPRAH KELUARGA WIRJODIPRODJO DALAM LINTASAN SEJARAH TNI post by Jani Sari Library ➡️​Dalam catatan panjang sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI), tidak banyak kita temukan fenomena di mana tiga orang kakak beradik sama-sama merintis karier militer hingga mencapai perwira tinggi berbintang dua, dan masing-masing memegang tampuk pimpinan di kecabangan teknis Angkatan Darat yang berbeda. Kisah keluarga Wirjodiprodjo adalah salah satu kepingan sejarah yang patut dicermati, bukan saja karena dedikasi mereka pada masa pembentukan republik, tetapi juga bagaimana garis keturunan mereka kelak menyebar ke berbagai lanskap sosial masyarakat kita hari ini. ✅️​Kiprah pertama ditorehkan oleh Mayor Jenderal Wing Wirjawan. Dalam struktur Angkatan Darat, beliau pernah dipercaya untuk menjabat sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri, sebuah posisi strategis yang menuntut kecakapan taktis dalam peperangan modern bergaya mobilitas tinggi. Menarik untuk dicatat sebagai sebuah trivia sejarah sosial, ketangguhan sang Jenderal Kavaleri ini kelak mengalir pada cucunya yang memilih jalan di dunia seni hiburan, yakni artis dan musisi Winky Wiryawan. ✅️​Jejak kedua diukir oleh Mayor Jenderal Hartawan Wirjodiprodjo. Karier militernya sangat lekat dengan pembangunan fisik dan teknis, di mana beliau menjabat sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat pada kurun waktu 1961 hingga 1963. Pada masa Demokrasi Terpimpin, ketika militer mulai masuk ke dalam ranah sipil dan pemerintahan, Hartawan diangkat menjadi Menteri Bina Marga pada Kabinet Dwikora. Sama seperti saudaranya, jejak keluarganya hari ini dikenal publik melalui cucunya, aktor Richard Kevin. ​Sosok yang juga memiliki singgungan langsung dengan pusaran sejarah politik tingkat tinggi adalah sosok ketiga, ✅️Mayor Jenderal Hartono Wiryodiprodjo. Beliau adalah perwira yang pernah menjabat sebagai Direktur Peralatan Angkatan Darat. Posisi Hartono menjadi sangat historis manakala kita melihat kapasitasnya sebagai Ketua Musyawarah Nasional Teknik (Munastek). Dalam catatan sejarah menjelang malam jahanam 30 September 1965, Hartono—bersama Haryasudirja—adalah tokoh yang menjemput Presiden Soekarno dari Istana Merdeka menuju Istora Senayan untuk membuka malam Munastek tersebut. Itu adalah jam-jam krusial sebelum Republik ini diguncang oleh peristiwa berdarah yang kelak mengubah haluan politik Indonesia secara drastis. ✅️​Sebagai catatan tambahan untuk melengkapi kronik keluarga ini, sesungguhnya ada saudara keempat yang turut mengangkat senjata pada masa Revolusi Kemerdekaan, yakni R. Wibowo Wirjodiprodjo. Pada masa gerilya, beliau bertugas sebagai Perwira Staf V di Brigade XVII (Tentara Pelajar). Namun, berbeda dengan ketiga saudaranya yang bertahan di struktur kemiliteran hingga mencapai kursi jenderal, takdir membawa Wibowo menempuh jalan sipil. Setelah perang usai, beliau memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Jerman. Dari garis keturunan Wibowo inilah lahir dua figur yang kelak sangat akrab di mata publik pertelevisian dan sinema Indonesia, yakni Ari Wibowo dan Ira Wibowo. ​Membaca riwayat keluarga Wirjodiprodjo adalah membaca bagaimana revolusi dan pembangunan militer kita dibentuk oleh sosok-sosok pemuda terdidik pada zamannya, yang warisannya—secara tak terduga—terus hidup dalam berbagai corak kehidupan bangsa hingga hari ini. ​ Jani Sari Library

 TIGA JENDERAL DARI SATU RAHIM: KIPRAH KELUARGA WIRJODIPRODJO DALAM LINTASAN SEJARAH TNI


post by Jani Sari Library 



➡️​Dalam catatan panjang sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI), tidak banyak kita temukan fenomena di mana tiga orang kakak beradik sama-sama merintis karier militer hingga mencapai perwira tinggi berbintang dua, dan masing-masing memegang tampuk pimpinan di kecabangan teknis Angkatan Darat yang berbeda. Kisah keluarga Wirjodiprodjo adalah salah satu kepingan sejarah yang patut dicermati, bukan saja karena dedikasi mereka pada masa pembentukan republik, tetapi juga bagaimana garis keturunan mereka kelak menyebar ke berbagai lanskap sosial masyarakat kita hari ini.


✅️​Kiprah pertama ditorehkan oleh Mayor Jenderal Wing Wirjawan. Dalam struktur Angkatan Darat, beliau pernah dipercaya untuk menjabat sebagai Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri, sebuah posisi strategis yang menuntut kecakapan taktis dalam peperangan modern bergaya mobilitas tinggi. Menarik untuk dicatat sebagai sebuah trivia sejarah sosial, ketangguhan sang Jenderal Kavaleri ini kelak mengalir pada cucunya yang memilih jalan di dunia seni hiburan, yakni artis dan musisi Winky Wiryawan.


✅️​Jejak kedua diukir oleh Mayor Jenderal Hartawan Wirjodiprodjo. Karier militernya sangat lekat dengan pembangunan fisik dan teknis, di mana beliau menjabat sebagai Direktur Zeni Angkatan Darat pada kurun waktu 1961 hingga 1963. Pada masa Demokrasi Terpimpin, ketika militer mulai masuk ke dalam ranah sipil dan pemerintahan, Hartawan diangkat menjadi Menteri Bina Marga pada Kabinet Dwikora. Sama seperti saudaranya, jejak keluarganya hari ini dikenal publik melalui cucunya, aktor Richard Kevin. 


​Sosok yang juga memiliki singgungan langsung dengan pusaran sejarah politik tingkat tinggi adalah sosok ketiga, 


✅️Mayor Jenderal Hartono Wiryodiprodjo. Beliau adalah perwira yang pernah menjabat sebagai Direktur Peralatan Angkatan Darat. Posisi Hartono menjadi sangat historis manakala kita melihat kapasitasnya sebagai Ketua Musyawarah Nasional Teknik (Munastek). Dalam catatan sejarah menjelang malam jahanam 30 September 1965, Hartono—bersama Haryasudirja—adalah tokoh yang menjemput Presiden Soekarno dari Istana Merdeka menuju Istora Senayan untuk membuka malam Munastek tersebut. Itu adalah jam-jam krusial sebelum Republik ini diguncang oleh peristiwa berdarah yang kelak mengubah haluan politik Indonesia secara drastis.


✅️​Sebagai catatan tambahan untuk melengkapi kronik keluarga ini, sesungguhnya ada saudara keempat yang turut mengangkat senjata pada masa Revolusi Kemerdekaan, yakni R. Wibowo Wirjodiprodjo. Pada masa gerilya, beliau bertugas sebagai Perwira Staf V di Brigade XVII (Tentara Pelajar). Namun, berbeda dengan ketiga saudaranya yang bertahan di struktur kemiliteran hingga mencapai kursi jenderal, takdir membawa Wibowo menempuh jalan sipil. Setelah perang usai, beliau memilih untuk melanjutkan pendidikan ke Jerman. Dari garis keturunan Wibowo inilah lahir dua figur yang kelak sangat akrab di mata publik pertelevisian dan sinema Indonesia, yakni Ari Wibowo dan Ira Wibowo.


​Membaca riwayat keluarga Wirjodiprodjo adalah membaca bagaimana revolusi dan pembangunan militer kita dibentuk oleh sosok-sosok pemuda terdidik pada zamannya, yang warisannya—secara tak terduga—terus hidup dalam berbagai corak kehidupan bangsa hingga hari ini.

​sumber :

Jani Sari Library

25 May 2026

Che Guevara di Borobudur tahun 1959. Hanya beberapa bulan setelah Fidel Castro dan Che Guevara menggulingkan rezim Fulgencio Batista pada Januari 1959, Che diutus memimpin delegasi perdagangan dan diplomatik ke berbagai negara Asia dan Afrika. Salah satunya ke Indonesia.

 Che Guevara di Borobudur tahun 1959.



Hanya beberapa bulan setelah Fidel Castro dan Che Guevara menggulingkan rezim Fulgencio Batista pada Januari 1959, Che diutus memimpin delegasi perdagangan dan diplomatik ke berbagai negara Asia dan Afrika. Salah satunya ke Indonesia.

SIAPA BILANG PAKAIAN DIPONEGORO ITU SURJAN DAN BLANGKON? (Saya posting ulang lagi, karena masih ada yang nanya.) Ada sebagian orang yang meyakini pakaian Pangeran Diponegoro adalah surjan dan blangkon. Dengan bukti lukisan yang konon disimpan di Keraton Jogja. Lukisan sang pangeran waktu muda. (Padahal sebenarnya lukisan itu tidak disimpan di Keraton Jogja. Melainkan di keluarga Keraton Jogja.) Dengan dasar itu, mereka kemudian menuduh bahwa lukisan Pangeran Diponegoro dengan baju jubah dan surban adalah kebohongan sejarah. Sebuah penipuan, sejarah yang disembunyikan, dan harus diluruskan. Seolah cerdas dan mencerahkan. Hingga banyak orang yang termakan narasi itu. Nah, sebenarnya, lukisan Pangeran Diponegoro dengan surjan dan blangkon itu gimana? Ternyata memang benar. Lukisan itu adalah lukisan Pangeran Diponegoro. Tepatnya, lukisan sang pangeran waktu muda. Ketika masih menjadi bangsawan keraton Jogja. Karena blio anak Raja Jogja, kemudian jadi Wali Raja, maka sangat wajar memakai baju surjan dan blangkon. Lukisan itu dibuat ketika Pangeran Diponegoro mau menikah kedua kalinya, pada tanggal 25 Pebruari 1807. Waktu itu sang pangeran berusia 22 tahun. Tentu terlihat berbeda wajahnya dengan lukisan yang banyak dikenal. Lukisan yang pake jubah dan sorban itu ketika Pangeran Diponegoro berumur 45 tahun. Dalam lukisan jaman muda itu, Pangeran Diponegoro memakai blangkon dan surjan yang berkerah tinggi. Kerah dikencangkan di bagian leher dengan enam kancing emas, dikalungkan di leher, disatukan di bagian dada, menempal di bajunya. Wajahnya masih terlihat muda. Dengan bibir terkatup rapat. Dengan hidup agak pesek dan mata yang menatap ke bawah. Jadi, mestinya tidak terjadi perdebatan soal pakaian lagi. Karena keduanya memang benar-benar dipakai sang pangeran. Dan, yang lebih penting lagi, tidak perlu mempertentangkannya. Karena surjan dan blangkon dipake sebagai pakaian bangsawan keraton (dalam bahasa jawa: ageman kapangeranan) dengan gelar Pangeran Diponegoro. Sedangkan jubah dan surban dipakai sebagai raja bagi pengikutnya dengan gelar Sultan Abdul Hamid. Dan, jubah surban itulah pakaian perang Pangeran Diponegoro. Seperti yang selama ini dikenal. Banyak baca jadi banyak tau. Tak suka baca jadi sok tau. #books #pangerandiponegoro

 SIAPA BILANG PAKAIAN DIPONEGORO ITU SURJAN DAN BLANGKON?


Oleh : Nassirun Purwokartun




Ada sebagian orang yang meyakini pakaian Pangeran Diponegoro adalah surjan dan blangkon.


Dengan bukti lukisan yang konon disimpan di Keraton Jogja. Lukisan sang pangeran waktu muda.


(Padahal sebenarnya lukisan itu tidak disimpan di Keraton Jogja. Melainkan di keluarga Keraton Jogja.)


Dengan dasar itu, mereka kemudian menuduh bahwa lukisan Pangeran Diponegoro dengan baju jubah dan surban adalah kebohongan sejarah. 


Sebuah penipuan, sejarah yang disembunyikan, dan harus diluruskan.


Seolah cerdas dan mencerahkan. Hingga banyak orang yang termakan narasi itu.


Nah, sebenarnya, lukisan Pangeran Diponegoro dengan surjan dan blangkon itu gimana?


Ternyata memang benar. Lukisan itu adalah lukisan Pangeran Diponegoro.


Tepatnya, lukisan sang pangeran waktu muda. Ketika masih menjadi bangsawan keraton Jogja. 


Karena blio anak Raja Jogja, kemudian jadi Wali Raja, maka sangat wajar memakai baju surjan dan blangkon.


Lukisan itu dibuat ketika Pangeran Diponegoro mau menikah kedua kalinya, pada tanggal 25 Pebruari 1807. Waktu itu sang pangeran berusia 22 tahun.


Tentu terlihat berbeda wajahnya dengan lukisan yang banyak dikenal. Lukisan yang pake jubah dan sorban itu ketika Pangeran Diponegoro berumur 45 tahun.


Dalam lukisan jaman muda itu, Pangeran Diponegoro memakai blangkon dan surjan yang berkerah tinggi. 


Kerah dikencangkan di bagian leher dengan enam kancing emas, dikalungkan di leher, disatukan di bagian dada, menempal di bajunya.


Wajahnya masih terlihat muda. Dengan bibir terkatup rapat. Dengan hidup agak pesek dan mata yang menatap ke bawah.


Jadi, mestinya tidak terjadi perdebatan soal pakaian lagi. Karena keduanya memang benar-benar dipakai sang pangeran.


Dan, yang lebih penting lagi, tidak perlu mempertentangkannya.


Karena surjan dan blangkon dipake sebagai pakaian bangsawan keraton (dalam bahasa jawa: ageman kapangeranan) dengan gelar Pangeran Diponegoro. 


Sedangkan jubah dan surban dipakai sebagai raja bagi pengikutnya dengan gelar Sultan Abdul Hamid.


Dan, jubah surban itulah pakaian perang Pangeran Diponegoro. Seperti yang selama ini dikenal.


Banyak baca jadi banyak tau. Tak suka baca jadi sok tau. 


#books #pangerandiponegoro


Sumber : Nassirun Purwokartun

24 May 2026

Foto pertama adalah foto yang diposting oleh Mas Danang Priyatno tanggal 25 September 2020 dari foto milik Mas Suko Wicaksono. Foto pertama merupakan foto bersama setelah acara resepsi pernikahan (alm) dr. Haryono di kampung Tulung kota Magelang pada tahun 1965. Sedangkan foto kedua adalah foto Saya saat jalan jalan di kampung Tulung dari rumah keluarga (alm) dr. Haryono yang ada di latar belakang foto pertama, kondisinya saat ini. Nah setelah saya menanyakan tentang siapakah (alm) dr. Haryono kepada mertua saya yang merupakan warga kampung Tulung yang sudah tinggal di kampung Tulung sejak era Hindia Belanda akhirnya dapat kisah tentang (alm) dr. Haryono. Dr. Haryono merupakan putra pertama dari pasangan Bapak Adenan dan Ibu Adenan. Napak Adenan bekerja sebagai Kadaster atau kantor pertanahan. Sedangkan Ibu Adenan aslinya dari desa Karanglo (daerah Kalegen ke barat sampai ketemu pertigaan lalu belok kiri). Pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini memiliki 5 anak yaitu: 1. Dr. Haryono. 2. Affandi. 3. Asnah. 4. Sartono. 5. Gunawan. Dari kelima putra dan putrinya pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini yang menjadi dokter ada 2 yaitu: Dr. Haryono kuliahnya dahulu di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dan adiknya Asnah yang juga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dr. Haryono setelah selesai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kemudian buka praktek dengan sewa tempat di selatannya SMP Negeri 4 Magelang tapi yang bagian belakang. Tetapi beberapa bulan kemudian pindah di bagian depan di tepi jalan Pahlawan. Beliau berangkat praktek dari jam 16.00 sore dan pulang jam 20.00 malam. Berangkat pulang dengan jalan kaki sambil menenteng tas. Setelah beberapa tahun praktek di selatannya SMP Negeri 4 Magelang, kemudian dr. Haryono melanjutkan study kedokterannya ke Jepang dengan ambil jurusan internis atau penyakit dalam. Setelah selesai belajar di Jepang, dr. Haryono buka praktek di daerah SECABA ke timur yaitu ke jalan Raden Saleh di tepi Kali Kuto. Karena pasiennya banyak kemudian beliau beli rumah di tepi Jalan A Yani di seberang jalan Armada Estate dan praktek di rumah baru beliau tersebut hingga beliau wafat sekitar tahun 1990an. Selain buka praktek di rumah dr. Haryono juga bekerja di RST dr. Soedjono. Dahulu Ibu dari mertua saya yaitu Ibu Saman sakit oleh mertua saya Bapak Soedarto diperiksakan ke tempat praktek dr Haryono. Sampai Ibu Saman tidak bisa dibawa ke tempat praktek dr Haryono, maka mertua saya Bapak Soedarto datang ke dr Haryono untuk konsultasi. Akhirnya Ibu Saman dibawa ke RST dr. Soedjono untuk rawat inap. Selama rawat inap dirawat oleh dr. Haryono. Hampir setiap 2 jam sekali diperiksa. Setelah 3 hari rawat inap dan tidak ada kemajuan setelah berkonsultasi dengan perawat dan atas izin dr. Haryono akhirnya Ibu Saman dibawa pulang ke rumah untuk dirawat di rumah. Setelah 2 hari dirawat di rumah akhirnya Ibu Saman meninggal di rumah Bapak Soedarto. Untuk Asnah beliaunya dahulu adalah teman satu kelas dari mertua saya Bapak Soedarto di SMP Taman Dewasa (lokasinya sekarang adalah SMP Negeri 4 Magelang. Saat Asnah sekolah di SMP Taman Dewasa ini ada juga keponakan Bu Adenan yang bernama Yulika yang juga sekolah di SMP Taman Dewasa. Setelah lulus dari SMP Taman Dewasa, Asnah melanjutkan ke SMA Negeri 1 Kota Magelang dan setelah selesai lanjut ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, lalu Asnah menjadi dokter ke Subang. Untuk yang Sartono lalu ke Jakarta kerja di Toko besi dan Yang Gunawan kerja di kesehatan di kota Magelang dan tinggal di Botton di sekitar Langgar Mangoenredjo. Keluarga dr. Haryono ini dahulu juga mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan masjid Al Muttaqin Kampung Tulung. Selain itu juga dr. Haryono juga membangun Langgar Mangoenredjo di Botton Koppen.

 Foto pertama adalah foto yang diposting oleh Mas Danang Priyatno tanggal 25 September 2020 dari foto milik Mas Suko Wicaksono. Foto pertama merupakan foto bersama setelah acara resepsi pernikahan (alm) dr. Haryono di kampung Tulung kota Magelang pada tahun 1965. 




Sedangkan foto kedua adalah foto Saya saat jalan jalan di kampung Tulung dari rumah keluarga (alm) dr. Haryono yang ada di latar belakang foto pertama, kondisinya saat ini.

Nah setelah saya menanyakan tentang siapakah (alm) dr. Haryono kepada mertua saya yang merupakan warga kampung Tulung yang sudah tinggal di kampung Tulung sejak era Hindia Belanda akhirnya dapat kisah tentang (alm) dr. Haryono.

Dr. Haryono merupakan putra pertama dari pasangan Bapak Adenan dan Ibu Adenan. Napak Adenan bekerja sebagai Kadaster atau kantor pertanahan. Sedangkan Ibu Adenan aslinya dari desa Karanglo (daerah Kalegen ke barat sampai ketemu pertigaan lalu belok kiri). Pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini memiliki 5 anak yaitu:

1. Dr. Haryono.

2. Affandi.

3. Asnah.

4. Sartono.

5. Gunawan.

Dari kelima putra dan putrinya pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini yang menjadi dokter ada 2 yaitu:

Dr. Haryono kuliahnya dahulu di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Dan adiknya Asnah yang juga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Dr. Haryono setelah selesai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kemudian buka praktek dengan sewa tempat di selatannya SMP Negeri 4 Magelang tapi yang bagian belakang. Tetapi beberapa bulan kemudian pindah di bagian depan di tepi jalan Pahlawan. Beliau berangkat praktek dari jam 16.00 sore dan pulang jam 20.00 malam. Berangkat pulang dengan jalan kaki sambil menenteng tas. Setelah beberapa tahun praktek di selatannya SMP Negeri 4 Magelang, kemudian dr. Haryono melanjutkan study kedokterannya ke Jepang dengan ambil jurusan internis atau penyakit dalam. Setelah selesai belajar di Jepang, dr. Haryono buka praktek di daerah SECABA ke timur yaitu ke jalan Raden Saleh di tepi Kali Kuto. Karena pasiennya banyak kemudian beliau beli rumah di tepi Jalan A Yani di seberang jalan Armada Estate dan praktek di rumah baru beliau tersebut hingga beliau wafat sekitar tahun 1990an. Selain buka praktek di rumah dr. Haryono juga bekerja di RST dr. Soedjono.

Dahulu Ibu dari mertua saya yaitu Ibu Saman sakit oleh mertua saya Bapak Soedarto diperiksakan ke tempat praktek dr Haryono. Sampai Ibu Saman tidak bisa dibawa ke tempat praktek dr Haryono, maka mertua saya Bapak Soedarto datang ke dr Haryono untuk konsultasi. Akhirnya Ibu Saman dibawa ke RST dr. Soedjono untuk rawat inap. Selama rawat inap dirawat oleh dr. Haryono. Hampir setiap 2 jam sekali diperiksa. Setelah 3 hari rawat inap dan tidak ada kemajuan setelah berkonsultasi dengan perawat dan atas izin dr. Haryono akhirnya Ibu Saman dibawa pulang ke rumah untuk dirawat di rumah. Setelah 2 hari dirawat di rumah akhirnya Ibu Saman meninggal di rumah Bapak Soedarto.

Untuk Asnah beliaunya dahulu adalah teman satu kelas dari mertua saya Bapak Soedarto di SMP Taman Dewasa (lokasinya sekarang adalah SMP Negeri 4 Magelang. Saat Asnah sekolah di SMP Taman Dewasa ini ada juga keponakan Bu Adenan yang bernama Yulika yang juga sekolah di SMP Taman Dewasa. Setelah lulus dari SMP Taman Dewasa, Asnah melanjutkan ke SMA Negeri 1 Kota Magelang dan setelah selesai lanjut ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, lalu Asnah menjadi dokter ke Subang. 

Untuk yang Sartono lalu ke Jakarta kerja di Toko besi dan Yang Gunawan kerja di kesehatan di kota Magelang dan tinggal di Botton di sekitar Langgar Mangoenredjo.

Keluarga dr. Haryono ini dahulu juga mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan masjid Al Muttaqin Kampung Tulung. Selain itu juga dr. Haryono juga membangun Langgar Mangoenredjo di Botton Koppen.

SIAPAKAH DIA ? Menteri ini terkenal dengan kata-katanya, "Sesuai petunjuk Bapak (Presiden)". Seorang politikus dan jurnalis Indonesia yang aktif pada masa Orde Baru hingga pernah menjabat sebagai Ketua PWI, Ketua Golkar lalu Ketua MPR-DPR dan Menteri Penerangan RI. Orang dengan kelahiran Nganjuk, Jawa Timur pada 7 Februari 1939 ini ramah, murah senyum, dan pantang menyerah. Orang ini pernah membuat kejutan besar pada konferensi pers dengan meminta presiden untuk mundur dalam waktu lima hari.

 SIAPAKAH DIA ?


Menteri ini terkenal dengan kata-katanya, "Sesuai petunjuk Bapak (Presiden)". Seorang politikus dan jurnalis Indonesia yang aktif pada masa Orde Baru hingga pernah menjabat sebagai Ketua PWI, Ketua Golkar lalu Ketua MPR-DPR dan Menteri Penerangan RI.



Orang dengan kelahiran Nganjuk, Jawa Timur pada 7 Februari 1939 ini ramah, murah senyum, dan pantang menyerah. Orang ini pernah membuat kejutan besar pada konferensi pers dengan meminta presiden untuk mundur dalam waktu lima hari.

LELUHUR KI PENDJAWI Ki Pendjawi adalah salah satu tokoh dari Seselo Purwodadi. Ki Pendjawi adalah cucu Ki Ageng Ngerang I. Semasa hidupnya R Pendjawi ikut dengan kakak dari ayahnya yang menikah dengan Ki Ageng Selo yang juga Eyang Gedenya. R Penjawi bersama Ki Ageng Pemanahan di kirim ke Padepokan Sunan Kalijaga untuk menuntut ilmu agama dan kanuragan.R Penjawi sudah dianggap sebagai cucunya sendiri oleh Ki Ageng Selo. R Penjawi termasuk tiga serangkai Priyayi dari Selo bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani Namanya mulai dikenal ketika ikut membantu Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan R Danang Sutawijaya dalam menundukkan Harya Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Sultan Hadiwijaya sendiri atas perintah dari saudara iparnya , Ratu Kalinyamat yang menuntut balas atas meninggalnya sang suami Pangeran Hadiri ( Pangeran Hadlirin ) Atas kemenangannya Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah " Hutan Mentaok " dan Ki Pendjawi memperoleh " Tanah Perdikan Pati " dan Ki Pendjawi sendiri bergelar Ki Ageng Pati. Berikut Silsilah Ki Pendjawi : Raja Majapahit VII yaitu Prabhu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandansari menurunkan Raden Bondhan Kadjawan. Raden Bondhan Kadjawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub menurunkan : 1. Raden Dukuh ( Ki Ageng Wonosobo ) 2. Raden Depok ( Ki Ageng Getas Pandowo ) 3. Roro Kasihan ( Nyai Ageng Ngerang I ) Roro Kasihan menikah dengan Ki Ageng Ngerang I menurunkan: 1. Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II 2. Nyai Ageng Kemiri 3. Nyai Ageng Selo Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II menurunkan : 1. Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III 2. Ki Ageng Ngerang IV 3. Ki Buyut ing Ngerang 4. Pangeran Lependjenar Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah, putri Sunan Kalijaga menurunkan : 1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati 2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan: 1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 2. Adipati Pragola Pati I Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Agung Hanyokrowati ( Raja Mataram II ) Adipati Pragola Pati menurunkan : 1. Adipati Pragola Pati II 2. Raden Londoh ( Pangeran Ronggopati ) Adipati Pragola Pati II menikah dengan garwa sepuh menurunkan putra bernama Bagus Kriyo. Kemudian Adipati Pragola Pati II dinikahkan oleh Sultan Agung dengan adik kandungnya yaitu Ratu Mas Sekar, tetapi tidak berputra. Raden Londoh setelah kakaknya wafat menggantikan kedudukan memerintah Pati, berikut oleh Sultan Agung dinikahkan dengan adiknya yaitu Ratu Mas Sekar janda dari Adipati Pragola Pati II. Raden Londoh mendapat anugrah nama gelar baru " Pangeran Ronggo Pati. Bagus Kriyo putra Ki Ageng Pragola Pati II dari garwa sepuh, ketika ayahnya wafat, Bagus Kriyo kecil diselamatkan oleh Ki Mangunjaya Pati dibawa ke Blambangan. Ketika Bagus Kriyo beranjak dewasa, di ajak oleh Ki Mangunjaya Pati ke Kerajaan Mataram tepatnya di Tanah Djejeran. Dan disana menjadi murid Ki Djejer. Tidak lama kemudian Bagus Kriyo dinikahkan oleh Ki Djejer dengan keponakan beliau putri dari Adipati Singoranu ( Patih Sultan Agung ) . Dan mendapat anugrah nama baru Ki Wonokriyo atau Kyai Krian. Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.

 LELUHUR KI PENDJAWI

Ki Pendjawi adalah salah satu tokoh dari Seselo Purwodadi.

Ki Pendjawi adalah cucu Ki Ageng Ngerang I. Semasa hidupnya R Pendjawi ikut dengan kakak dari ayahnya yang menikah dengan  Ki Ageng Selo yang juga Eyang Gedenya. R Penjawi bersama Ki Ageng Pemanahan di kirim ke Padepokan Sunan Kalijaga untuk menuntut ilmu agama dan kanuragan.R Penjawi sudah dianggap sebagai cucunya sendiri oleh Ki Ageng Selo.

R Penjawi termasuk tiga serangkai Priyayi dari Selo bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani



Namanya mulai dikenal ketika ikut membantu Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan R Danang Sutawijaya dalam menundukkan Harya Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Sultan Hadiwijaya sendiri atas perintah dari saudara iparnya , Ratu Kalinyamat yang menuntut balas atas meninggalnya sang suami Pangeran Hadiri ( Pangeran Hadlirin )

Atas kemenangannya Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah " Hutan Mentaok " dan Ki Pendjawi memperoleh " Tanah Perdikan Pati " dan Ki Pendjawi sendiri bergelar Ki Ageng Pati.


Berikut Silsilah Ki Pendjawi :


Raja Majapahit VII yaitu Prabhu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandansari menurunkan  Raden Bondhan Kadjawan. Raden Bondhan Kadjawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub menurunkan :

1. Raden Dukuh ( Ki Ageng Wonosobo )

2. Raden Depok ( Ki Ageng Getas Pandowo )

3. Roro Kasihan ( Nyai Ageng Ngerang I )


Roro Kasihan menikah dengan Ki Ageng Ngerang I menurunkan:

1. Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II

2. Nyai Ageng Kemiri

3. Nyai Ageng Selo


Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II menurunkan :

1. Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III 

2. Ki Ageng Ngerang IV

3. Ki Buyut ing Ngerang

4. Pangeran Lependjenar


Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah, putri Sunan Kalijaga menurunkan :

1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati

2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati


Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan:

1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 

2. Adipati Pragola Pati I


Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Agung Hanyokrowati ( Raja Mataram II )


Adipati Pragola Pati menurunkan :

1. Adipati Pragola Pati II

2. Raden Londoh ( Pangeran Ronggopati )


Adipati Pragola Pati II menikah dengan garwa sepuh menurunkan putra bernama Bagus Kriyo. Kemudian Adipati Pragola Pati II dinikahkan oleh Sultan Agung dengan adik kandungnya yaitu Ratu Mas Sekar, tetapi tidak berputra.


Raden Londoh setelah kakaknya wafat menggantikan kedudukan memerintah Pati, berikut oleh Sultan Agung dinikahkan dengan adiknya yaitu Ratu Mas Sekar  janda dari Adipati Pragola Pati II.  Raden Londoh mendapat anugrah nama gelar baru "  Pangeran Ronggo Pati.


Bagus Kriyo putra Ki Ageng Pragola Pati II dari garwa sepuh, ketika ayahnya wafat, Bagus Kriyo kecil diselamatkan oleh Ki Mangunjaya Pati dibawa ke Blambangan. Ketika Bagus Kriyo beranjak dewasa, di ajak oleh Ki Mangunjaya Pati ke Kerajaan Mataram tepatnya di Tanah Djejeran. Dan disana menjadi murid Ki Djejer. Tidak lama kemudian Bagus Kriyo dinikahkan oleh Ki Djejer dengan keponakan beliau putri dari Adipati Singoranu ( Patih Sultan Agung ) . Dan mendapat anugrah nama baru Ki Wonokriyo atau Kyai Krian.


Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.



Sumber : Sejarah Mataram

20 May 2026

Bagian belakang Kompleks Tentara, Magelang, sekitar tahun 1910 Achterkampement. Magelang, ca 1910

 Bagian belakang Kompleks Tentara, Magelang, sekitar tahun 1910


Achterkampement. Magelang, ca 1910




Sumber : Bintoro Hoepoedio