14 September 2026

Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu aparat yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu. Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno. "Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta. Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini". Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno. Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah. Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil. Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada. Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan. Selamat Jalan Bapak Bangsa๐Ÿ˜ญ You will always be missed๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ..๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu aparat yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu. Jejak Sejarah Npajrinm

 Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu aparat yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.

Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan Bung Karno.



"Kakak tidak mungkin kesana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri bung hatta.


Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini".


Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk Bung Karno.


Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.


Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata Bung Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana pula kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.


Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hubungan yang menyesakkan dada.


Tak lama setelah Hatta pulang, Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 Bung Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun Bung Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.


Selamat Jalan Bapak Bangsa๐Ÿ˜ญ


You will always be missed๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ..๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu aparat yang menangis mendengar teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.


Jejak Sejarah Npajrinm

Setiadi Reksoprodjo, menteri zaman Sukarno yang dipenjara Orde Baru pasca-G30S tanpa proses pengadilan karena setia pada Bung Karno, dapat rekor MURI sebagai menteri termuda di Indonesia Setiadi Reksoprodjo dinobatkan sebagai menteri termuda sepanjang sejarah Indonesia. Dia jadi menteri di zaman Bung Karno saat usianya masih 25 tahun. Tapi naas, seperti banyak pejabat di masa Orde Lama, Setiadi Reksoprodjo menjadi salah satu menteri di zaman Bung Karno yang kemudian dipenjara oleh Orde Baru ... tanpa proses pengadilan. Pada 1976. Pemerintah Orde Baru, sebagaimana dikutip dari KompasID, membebaskan sekitar 550 ribu tahanan politik (tapol) golongan C. Setahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977, menyusul 10 ribu tapol yang bebas. Tapol-tapol itu ditahan di sejumlah instalasi rehabilitasi (inrehab), termasuk tapol di Pulau Buru. Di antara mereka ada tiga mantan menteri era Kabinet Seratus Menteri yaitu A Astrawinata (Menteri Kehakiman), Soemardjo (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan), dan S Reksoprodjo (Menteri Pekerjaan Umum Tenaga Listrik). Setiadi Reksoprodjo, yang dikenal sebagai menteri termuda dalam sejarah Indonesia, adalah salah satu menteri era Bung Karno yang dipenjara oleh Orde Baru setelah huru-hara 30 September 1965. Pada 3 Juli 1947, Amir Sjarifoeddin ditunjuk sebagai Perdana Menteri Indonesia. Setiadi yang ketika itu masih 25 tahun 7 bulan diangkat menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I yang menjadikannya sebagai menteri termuda dalam kabinet itu – dan termuda sepanjang sejarah Indonesia. Meski bukan anggota partai, pada 1954, Setiadi mencalonkan diri sebagai anggota Konstituante lewat PKI. Dia dapat nomor urut 22 untuk mewakili Jawa Barat dan akhirnya terpilih. Setelah Dewan Konstituante dibubarkan oleh Bung Karno lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Setiadi diangkat oleh Bung Karno menjadi Delegasi Daerah Jakarta untuk Majelis Konsultatif Rakyat. Setiadi dilantik pada 15 September 1960 dan menjabat hingga pengangkatannya sebagai menteri. Pada 28 Mei 1965, Presiden Soekarno melakukan reorganisasi Kabinet Dwikora. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang sebelumnya berada di bawah Kompartemen Pembangunan, ditingkatkan menjadi Kompartemen. Dengan begitu, beberapa kementerian baru dibuat. Salah satunya adalah Kementerian Urusan Listrik dan Ketenagaan dan Setiadi Reksoprodjo ditunjuk sebagai menterinya. Pada Kabinet Dwikora II, Setiadi ditunjuk lagi untuk jabatan yang sama – meski mendapat protes dari para pegawai di kementerian tersebut. Mereka menuntut Setiadi mundur. Tuntutan tersebut muncul karena tim skrining militer menyebut Setiadi memberikan dukungan kepada Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOSBI) dan aktivitasnya Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) – dua organ yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada 18 Maret 1966, Setiadi bersama 14 menteri lainnya antara lain Subandrio (Wakil Perdana Menteri Pertama), Chaerul Saleh (Wakil Perdana Menteri Ketiga), A. Astrawinata (Menteri Kehakiman), Oei Tjoe Tat (Menteri Negara), Achadi (Menteri Transmigrasi/ Koperasi), dan Jusuf Muda Dalam (Gubernur Bank Indonesia) ditangkap oleh rezim Suharto karena kesetiaan mereka kepada Bung Karno. Setiadi kemudian dipenjara di Rumah Tahanan Nirbaya tanpa proses pengadilan. Dia dibebaskan hampir 12 tahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977. Setelah bebas, Lurah Menteng menolak memberinya KTP. Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, sampai turun tangan dan menginstruksikan Lurah untuk mengunjungi Setiadi dan memberinya KTP. Setiadi meninggal dunia pada 28 Juli 2010 di rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034412413/setiadi-reksoprodjo-menteri-termuda-indonesia-yang-dipenjara-orde-baru-tanpa-proses-pengadilan-pasca-g30s #setiadireksoprodjo #G30S #ordebaru

 Setiadi Reksoprodjo, menteri zaman Sukarno yang dipenjara Orde Baru pasca-G30S tanpa proses pengadilan karena setia pada Bung Karno, dapat rekor MURI sebagai menteri termuda di Indonesia



Setiadi Reksoprodjo dinobatkan sebagai menteri termuda sepanjang sejarah Indonesia. Dia jadi menteri di zaman Bung Karno saat usianya masih 25 tahun.


Tapi naas, seperti banyak pejabat di masa Orde Lama, Setiadi Reksoprodjo menjadi salah satu menteri di zaman Bung Karno yang kemudian dipenjara oleh Orde Baru ... tanpa proses pengadilan.


Pada 1976. Pemerintah Orde Baru, sebagaimana dikutip dari KompasID, membebaskan sekitar 550 ribu tahanan politik (tapol) golongan C. Setahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977, menyusul 10 ribu tapol yang bebas.


Tapol-tapol itu ditahan di sejumlah instalasi rehabilitasi (inrehab), termasuk tapol di Pulau Buru. 


Di antara mereka ada tiga mantan menteri era Kabinet Seratus Menteri yaitu A Astrawinata (Menteri Kehakiman), Soemardjo (Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan), dan S Reksoprodjo (Menteri Pekerjaan Umum Tenaga Listrik).


Setiadi Reksoprodjo, yang dikenal sebagai menteri termuda dalam sejarah Indonesia, adalah salah satu menteri era Bung Karno yang dipenjara oleh Orde Baru setelah huru-hara 30 September 1965.


Pada 3 Juli 1947, Amir Sjarifoeddin ditunjuk sebagai Perdana Menteri Indonesia. Setiadi yang ketika itu masih 25 tahun 7 bulan diangkat menjadi Menteri Penerangan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I yang menjadikannya sebagai menteri termuda dalam kabinet itu – dan termuda sepanjang sejarah Indonesia. 


Meski bukan anggota partai, pada 1954, Setiadi mencalonkan diri sebagai anggota Konstituante lewat PKI. Dia dapat nomor urut 22 untuk mewakili Jawa Barat dan akhirnya terpilih.


Setelah Dewan Konstituante dibubarkan oleh Bung Karno lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Setiadi diangkat oleh Bung Karno menjadi Delegasi Daerah Jakarta untuk Majelis Konsultatif Rakyat.


Setiadi dilantik pada 15 September 1960 dan menjabat hingga pengangkatannya sebagai menteri.


Pada 28 Mei 1965, Presiden Soekarno melakukan reorganisasi Kabinet Dwikora. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik yang sebelumnya berada di bawah Kompartemen Pembangunan, ditingkatkan menjadi Kompartemen.


Dengan begitu, beberapa kementerian baru dibuat. Salah satunya adalah Kementerian Urusan Listrik dan Ketenagaan dan Setiadi Reksoprodjo ditunjuk sebagai menterinya.


Pada Kabinet Dwikora II, Setiadi ditunjuk lagi untuk jabatan yang sama – meski mendapat protes dari para pegawai di kementerian tersebut. Mereka menuntut Setiadi mundur.


Tuntutan tersebut muncul karena tim skrining militer menyebut Setiadi memberikan dukungan kepada Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOSBI) dan aktivitasnya Himpunan Sarjana Indonesia (HIS) – dua organ yang dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).


Lalu pada 18 Maret 1966, Setiadi bersama 14 menteri lainnya antara lain Subandrio (Wakil Perdana Menteri Pertama), Chaerul Saleh (Wakil Perdana Menteri Ketiga), A. Astrawinata (Menteri Kehakiman), Oei Tjoe Tat (Menteri Negara), Achadi (Menteri Transmigrasi/ Koperasi), dan Jusuf Muda Dalam (Gubernur Bank Indonesia) ditangkap oleh rezim Suharto karena kesetiaan mereka kepada Bung Karno.


Setiadi kemudian dipenjara di Rumah Tahanan Nirbaya tanpa proses pengadilan. Dia dibebaskan hampir 12 tahun kemudian, atau tepatnya pada 20 Desember 1977. Setelah bebas, Lurah Menteng menolak memberinya KTP.


Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, sampai turun tangan dan menginstruksikan Lurah untuk mengunjungi Setiadi dan memberinya KTP.


Setiadi meninggal dunia pada 28 Juli 2010 di rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034412413/setiadi-reksoprodjo-menteri-termuda-indonesia-yang-dipenjara-orde-baru-tanpa-proses-pengadilan-pasca-g30s


#setiadireksoprodjo #G30S #ordebaru

Sumber : Intisari

13 September 2026

Banyak yang belum tahu isi dalam supersemar Satu surat bisa ubah segalanya #sejarah #supersemar #soeharto #soekarno #fbpro #viralpost #gambar #fakta #surat

 Banyak yang belum tahu isi dalam supersemar 

Satu surat bisa ubah segalanya 



#sejarah #supersemar  #soeharto  #soekarno #fbpro #viralpost #gambar #fakta #surat

Mulyanto, Jagal PKI dari Blora Saat itu tanggal 18 September 1948. Muso memproklamirkan berdirinya Republik Soviet Indonesia di Madiun. Seluruh pengikut komunis bersukacita. Mereka merasa bahwa waktunya telah tiba bagi komunis untuk memimpin negri ini. Seluruh sel-sel komunis bergerak, tak terkecuali di Blora Jawa Tengah. Mereka mulai melancarkan aksinya. Yaitu membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi gerak langkah PKI. Ketua FDR (Front Demokrasi Rakyat) Blora menunjukan aksi bengisnya di kota lumbung padi itu. Namanya Mulyanto, seorang petani dari Dusun Pohrendeng, Tamanrejo, Tunjungan, Blora. Meskipun berasal dari sebuah dusun kecil tapi Mulyanto sebagai ketua FDR memiliki jiwa keji. Ia menganggap dirinya sebagai kamerad yang siap berjuang hingga titik darah penghabisan demi membela Kamerad Muso Yang Agung. Mulyanto telah menyuruh anak buahnya untuk menggali beberapa lubang besar. Lubang yang akan dipergunakan sebagai kuburan massal lawan politiknya. Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menebar teror ketakutan. Disamping demonstarasi lubang yang letaknya di samping rel kereta api, mereka menebarkan isu bahwa sumur-sumur penduduk sudah diracuni. Suasana Blora mencekam. Penduduk takut keluar rumah. Tentara FDR-PKI seakan jagal yang siap mencabut nyawa siapapun yang berani melawan. Mulyanto menculik 5 orang tokoh masyarakat dari unsur Masyumi dan PNI. Mereka adalah Oetoro, camat di Margorojo. Kemudian Mr Iskandar, dr Susanto, Gunandar, dan Abu Umar. Kelima orang ini disembelih di lokasi sumur yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Jagal PKI dari dusun Pohrendeng menggelindingkan kepala lima orang ini tanpa ampun. Jasad yang sudah tak berkepala itu dimasukan ke dalam sumur. Abu Umar susah sekali disembelih. Akhirnya Abu Umar dikubur hidup-hidup. Ia dimasukan ke dalam sumur satunya dan dilempari batu. Suara jeritan Abu Umar membuat para algojo PKI tertawa gembira. Kekejaman Mulyanto masih terus berlanjut. Setelah menyembelih lima orang tokoh berpengaruh di Blora, ia melenyapkan pejabat-pejabat lain yang dianggap menentang PKI. Tak hanya pejabat, para ulama dan santri Blora juga tak lepas dari sembelihan para algojo PKI. Tidak ada yang tau pasti berapa jumlah ulama dan santri yang dibantai oleh Mulyanto. Mulyanto dan para algojonya sangat sadis. Mereka tak hanya menggelindingkan kepala, tetapi juga membakar, ataupun mencincang tubuh para korbannya. Entah setan mana yang merasuki mereka. Begitu tega membantai saudara sebangsanya sendiri. Pembantaian di luar batas kemanusiaan yang membuat bergidik ngeri siapapun yang melihatnya. Entah berapa masjid, pesantren, musholla yang telah Mulyanto bakar. Entah berapa rumah penduduk yang sudah ia rampok. Hanya Mulyanto dan algojonya yang tau rahasia itu. Puncak kepongahan Mulyanto terjadi pada 18 September 1948. Bersamaan dengan Kamerad Musso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia di Madiun, FDR Blora menyerang markas Kepolisian Blora. Ada 24 Polisi yang disekap dan siap dibantai. Tanggal 20 September 1948, FDR Blora mendapatkan instruksi dari Muso untuk menghabisi tawanan Polisi itu. Akhirnya 17 Polisi yang sudah tua disembelih. Kemudian 7 orang polisi yang masih muda disiksa terlebih dahulu sebelum disembelih. Para Polisi muda itu dicincang pelan-pelan. Erangan kesakitan para Polisi muda itu disambut tawa terbahak-bahak para tentara FDR PKI. Bagian tubuh Polisi muda itu dibuang begitu saja ke dalam jamban. Mereka menganggap Polisi muda itu hanyalah kotoran yang perlu dibuang ke jamban. Beberapa hari setelah pembantaian para Polisi, Pasukan Divisi Siliwangi datang. Mereka menumpas semua pasukan FDR PKI. Tapi Mulyanto berhasil meloloskan diri bersama keluarganya. Ia bersembunyi di hutan dan tak pernah tertangkap. Kejadian di Blora ini membuat bulu kudukku berdiri. Tak menyangka PKI melakukan aksi kejinya di Jawa Tengah. Semoga kejadian ini tak akan pernah terulang selamanya. Cukup sudah petualangan kaum merah di negri ini.

 Mulyanto, Jagal PKI dari Blora



Saat itu tanggal 18 September 1948. Muso memproklamirkan berdirinya Republik Soviet Indonesia di Madiun. Seluruh pengikut komunis bersukacita. Mereka merasa bahwa waktunya telah tiba bagi komunis untuk memimpin negri ini.


Seluruh sel-sel komunis bergerak, tak terkecuali di Blora Jawa Tengah. Mereka mulai melancarkan aksinya. Yaitu membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi gerak langkah PKI.  


Ketua FDR (Front Demokrasi Rakyat) Blora menunjukan aksi bengisnya di kota lumbung padi itu. Namanya Mulyanto, seorang petani dari Dusun Pohrendeng, Tamanrejo, Tunjungan, Blora. Meskipun berasal dari sebuah dusun kecil tapi Mulyanto sebagai ketua FDR memiliki jiwa keji. Ia menganggap dirinya sebagai kamerad yang siap berjuang hingga titik darah penghabisan demi membela Kamerad Muso Yang Agung.


Mulyanto telah menyuruh anak buahnya untuk menggali beberapa lubang besar. Lubang yang akan dipergunakan sebagai kuburan massal lawan politiknya. 


Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menebar teror ketakutan. Disamping demonstarasi lubang yang letaknya di samping rel kereta api, mereka menebarkan isu bahwa sumur-sumur penduduk sudah diracuni. Suasana Blora mencekam. Penduduk takut keluar rumah. Tentara FDR-PKI seakan jagal yang siap mencabut nyawa siapapun yang berani melawan.


Mulyanto menculik 5 orang tokoh  masyarakat dari unsur Masyumi dan PNI.  Mereka adalah Oetoro, camat di Margorojo. Kemudian Mr Iskandar, dr Susanto, Gunandar, dan Abu Umar. Kelima orang ini disembelih di lokasi sumur yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Jagal PKI dari dusun Pohrendeng menggelindingkan kepala lima orang ini tanpa ampun. Jasad yang sudah tak berkepala itu dimasukan ke dalam sumur. 


Abu Umar susah sekali disembelih. Akhirnya Abu Umar dikubur hidup-hidup. Ia dimasukan ke dalam sumur satunya dan dilempari batu. Suara jeritan Abu Umar membuat para algojo PKI tertawa gembira.


Kekejaman Mulyanto masih terus berlanjut. Setelah menyembelih lima orang tokoh berpengaruh di Blora, ia melenyapkan pejabat-pejabat lain yang dianggap menentang PKI. 


Tak hanya pejabat, para ulama dan santri Blora juga tak lepas dari sembelihan para algojo PKI. Tidak ada yang tau pasti berapa jumlah ulama dan santri yang dibantai oleh Mulyanto. 


Mulyanto dan para algojonya sangat sadis. Mereka tak hanya menggelindingkan kepala, tetapi juga membakar, ataupun mencincang tubuh para korbannya. Entah setan mana yang merasuki mereka. Begitu tega membantai saudara sebangsanya sendiri. Pembantaian di luar batas kemanusiaan yang membuat bergidik ngeri siapapun yang melihatnya.


Entah berapa masjid, pesantren, musholla yang telah Mulyanto bakar. Entah berapa rumah penduduk yang sudah ia rampok. Hanya Mulyanto dan algojonya yang tau rahasia itu.


Puncak kepongahan Mulyanto terjadi pada 18 September 1948. Bersamaan dengan Kamerad Musso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia di Madiun, FDR Blora menyerang markas Kepolisian Blora. Ada 24 Polisi yang disekap dan siap dibantai.


Tanggal 20 September 1948, FDR Blora mendapatkan instruksi dari Muso untuk menghabisi tawanan Polisi itu. Akhirnya 17 Polisi yang sudah tua disembelih. Kemudian 7 orang polisi yang masih muda disiksa terlebih dahulu sebelum disembelih. Para Polisi muda itu dicincang pelan-pelan. Erangan kesakitan para Polisi muda itu disambut tawa terbahak-bahak para tentara FDR PKI.  Bagian tubuh Polisi muda itu dibuang begitu saja ke dalam jamban. Mereka menganggap Polisi muda itu hanyalah kotoran yang perlu dibuang ke jamban.


Beberapa hari setelah pembantaian para Polisi, Pasukan Divisi Siliwangi datang. Mereka menumpas semua pasukan FDR PKI. Tapi Mulyanto berhasil meloloskan diri bersama keluarganya. Ia bersembunyi di hutan dan tak pernah tertangkap.


Kejadian di Blora ini membuat bulu kudukku berdiri. Tak menyangka PKI melakukan aksi kejinya di Jawa Tengah. Semoga kejadian ini tak akan pernah terulang selamanya. Cukup sudah petualangan kaum merah di negri ini.

MAKAM RORO JONGGRANG TIDAK TERAWAT.! Diceritakan konon jaman dulu ada dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya, berputra Raden Bandung Bandawasa (ejaan alternatif: "Bondowoso"). Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raksasa pemakan manusia bernama Prabu Baka, dibantu oleh seorang patih bernama Gupala. Meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri cantik bernama Rara Jonggrang. Untuk memperluas kerajaan, Prabu Baka menyerukan perang kepada kerajaan Pengging. Demi mengakhiri perang, Prabu Damar Maya mengirimkan putranya untuk menghadapi Prabu Baka. Berkat kesaktiannya, Bandung Bandawasa berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Berita kematian Prabu Baka segera dilaporkan oleh Patih Gupala kepada Rara Jongrang. Setelah gugurnya Prabu Baka, Bandung Bandawasa menyerbu masuk ke dalam keraton Baka. Di sana, ia terpikat oleh kecantikan Rara Jongrang dan melamar sang putri, tetapi ditolak karena sang putri tidak mau menikahi pembunuh ayahnya. Karena terus dibujuk, akhirnya sang putri bersedia dipersunting dengan dua syarat: pertama adalah pembuatan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda; syarat kedua adalah pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Bandung Bandawasa menyanggupi kedua syarat tersebut. Bandung Bandawasa berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda berkat kesaktiannya. Rara Jonggrang memperdaya sang pangeran agar bersedia turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Kemudian sang putri memerintahkan Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu. Namun Bandung Bandawasa berhasil keluar berkat kesaktiannya. Bandawasa sempat marah, tapi segera tenang karena kecantikan dan bujuk rayu sang putri. Untuk mewujudkan syarat kedua, Bandung Bandawasa memanggil makhluk halus (jin, setan, dan dedemit). Dengan bantuan mereka, ia berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa candi ke-1000 hampir selesai, ia berusaha menggagalkan usaha Bandawasa. Ia membangunkan perempuan-perempuan di kerajaannya untuk menumbuk padi dengan antan, serta membakar gundukan jerami di timur. Suara antan mengesankan bahwa aktivitas subuh telah dimulai, sementara cahaya dari timur memberi kesan bahwa sebentar lagi matahari akan terbit, sehingga para makhluk halus bersembunyi kembali ke perut Bumi. Akibatnya, hanya 999 candi yang berhasil dibangun sehingga usaha Bandung Bandawasa gagal. Setelah mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Rara Jonggrang, Bandung Bandawasa murka dan mengutuk Rara Jonggrang. Sang putri berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir. Menurut kisah ini, situs Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak selesai kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Lara Jonggrang yang berarti "gadis yang ramping".walahualam bisawab

MAKAM RORO JONGGRANG TIDAK TERAWAT.! Diceritakan konon jaman dulu ada dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya, berputra Raden Bandung Bandawasa (ejaan alternatif: "Bondowoso"). Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raksasa pemakan manusia bernama Prabu Baka, dibantu oleh seorang patih bernama Gupala. Meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri cantik bernama Rara Jonggrang. Untuk memperluas kerajaan, Prabu Baka menyerukan perang kepada kerajaan Pengging. Demi mengakhiri perang, Prabu Damar Maya mengirimkan putranya untuk menghadapi Prabu Baka. Berkat kesaktiannya, Bandung Bandawasa berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Berita kematian Prabu Baka segera dilaporkan oleh Patih Gupala kepada Rara Jongrang.



Setelah gugurnya Prabu Baka, Bandung Bandawasa menyerbu masuk ke dalam keraton Baka. Di sana, ia terpikat oleh kecantikan Rara Jongrang dan melamar sang putri, tetapi ditolak karena sang putri tidak mau menikahi pembunuh ayahnya. Karena terus dibujuk, akhirnya sang putri bersedia dipersunting dengan dua syarat: pertama adalah pembuatan sumur yang dinamakan sumur Jalatunda; syarat kedua adalah pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Bandung Bandawasa menyanggupi kedua syarat tersebut.

Bandung Bandawasa berhasil menyelesaikan sumur Jalatunda berkat kesaktiannya. Rara Jonggrang memperdaya sang pangeran agar bersedia turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Kemudian sang putri memerintahkan Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu. Namun Bandung Bandawasa berhasil keluar berkat kesaktiannya. Bandawasa sempat marah, tapi segera tenang karena kecantikan dan bujuk rayu sang putri.

Untuk mewujudkan syarat kedua, Bandung Bandawasa memanggil makhluk halus (jin, setan, dan dedemit). Dengan bantuan mereka, ia berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Rara Jonggrang mendengar kabar bahwa candi ke-1000 hampir selesai, ia berusaha menggagalkan usaha Bandawasa. Ia membangunkan perempuan-perempuan di kerajaannya untuk menumbuk padi dengan antan, serta membakar gundukan jerami di timur. Suara antan mengesankan bahwa aktivitas subuh telah dimulai, sementara cahaya dari timur memberi kesan bahwa sebentar lagi matahari akan terbit, sehingga para makhluk halus bersembunyi kembali ke perut Bumi. Akibatnya, hanya 999 candi yang berhasil dibangun sehingga usaha Bandung Bandawasa gagal. Setelah mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Rara Jonggrang, Bandung Bandawasa murka dan mengutuk Rara Jonggrang. Sang putri berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir.

Menurut kisah ini, situs Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak selesai kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai Lara Jonggrang yang berarti "gadis yang ramping".walahualam bisawab

Termasuk orang dekat Bung Karno, Baby Huwae satu tahun ditahan di markas CPM pasca-G30S Setelah meletusnya G30S, Baby Huwae menerima permintaan Bung Karno untuk menemani Ratna Sari Dewi "ngungsi" ke Swiss. Tapi itu tak lama. Beberapa bulan kemudian, Baby Huwae kembali ke Indonesia. Mei 1966, Baby memutuskan kembali ke Indonesia lewat Hong Kong dan Bangkok. Di dua kota itu, sebenarnya dia sudah diwanti-wanti agar tak nekat kembali Jakarta. “Kalau kau nekat pulang, kau bakal diciduk di pelabuhan udara,” kata mereka yang menasihatinya. Di Hong Kong, Baby berjumpa dengan Jaksa Agung Sugiharto. Dia pun mengingatkan, agar sebaiknya Baby tak kembali ke Indonesia saat itu. Tapi dia bersikeras pulang. Bagaimanapun juga, dia punya suami dan anak-anak yang menunggu kedatangannya. Lagipula, dia merasa 100 persen orang Indonesia! Saat di pesawat, kebetulan Baby satu pesawat dengan Ibnu Sutowo yang lagi-lagi memperingatkannya soal kemungkinan dia ditangkap setibanya di bandara. Khawatir atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, Baby kemudian menitipkan semua uang miliknya kepada Ibnu Sutowo. “Kalau memang benar aku ditangkap, setelah bebas nanti, barulah uang itu saya ambil,” begitu katanya. Benar saja! Begitu kakinya menginjak bumi Indonesia, Baby langsung diciduk. Barang-barang bawaannya yang sebanyak 40 kopor itu hilang tak tentu rimbanya. Paspornya juga dicabut. Sementara dirinya langsung digiring ke Markas Besar CPM Gambir untuk diinterogasi sehari semalam. Segala macam pertanyaan dilontarkan kepada wanita berparas indo itu. Mulai dari soal politik hingga penyelundupan senjata yang tak dia ketahui sama sekali. Setelah itu Baby diperbolehkan pulang. Meski begitu, dia tetap dikenakan tahanan rumah selama setahun. Rupanya penderitaan Baby belum cukup. Dia kembali diciduk dan kali ini ditahan di Asrama CPM Brawijaya selama sekitar satu tahun. Baby benar-benar terpukul saat itu. Dia diisolasi total, tak boleh dikunjungi suami dan anak-anaknya. Kamarnya juga terpisah. Dia merasa benar-benar tersisa, apalagi ketika itu dia sedang hamil muda. Selama ditahan, Baby hanya mendapat makanan berupa nasi, sayur tawar dan sepotong tempe. Tak ada makanan ekstra atau vitamin meski dia sedang berbadan dua. Akhirnya dia dibebaskan menjelang kelahiran anaknya yang keempat. Keluar dari “penjara” CPM, Baby langsung masuk RS Cikini. Tak lama kemudian, Baby mendengar kabar meninggalnya Bung Karno. Dia pun langsung meminta izin dokter untuk melayat. “Tak bisa kugambarkan dengan kata-kata, betapa pedih hatiku melihat jenazah BK yang telah terbujur kaku. Setelah usai acara pemakaman di Blitar, aku sempat berjumpa Dewi. Dia sempat menanyakan kebenaran berita penahananku,” kata Baby. Baby sempat “sakit hati” ketika Dewi bertanya soal “Apa saja yang kau ceritakan selama ditahan?” Dia bilang kepada sahabatnya itu dengan sejujur-jujurnya bahw tak sepotong pun kalimat yang menjelekkan Dewi pernah dia ucapkan. Bahkan Baby membela mati-matian, juga menceritakan bagaimana menderitanya dia selama dalam tahanan. Mendengar itu, Dewi menangis sejadi-jadinya. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034411168/baby-huwae-satu-tahun-ditahan-tentara-setelah-peristiwa-g30s #babyhuwae #bungkarno #G30S #RatnaSariDewi

 Termasuk orang dekat Bung Karno, Baby Huwae satu tahun ditahan di markas CPM pasca-G30S



Setelah meletusnya G30S, Baby Huwae menerima permintaan Bung Karno untuk menemani Ratna Sari Dewi "ngungsi" ke Swiss. Tapi itu tak lama.


Beberapa bulan kemudian, Baby Huwae kembali ke Indonesia.


Mei 1966, Baby memutuskan kembali ke Indonesia lewat Hong Kong dan Bangkok. Di dua kota itu, sebenarnya dia sudah diwanti-wanti agar tak nekat kembali Jakarta.


“Kalau kau nekat pulang, kau bakal diciduk di pelabuhan udara,” kata mereka yang menasihatinya.


Di Hong Kong, Baby berjumpa dengan Jaksa Agung Sugiharto. Dia pun mengingatkan, agar sebaiknya Baby tak kembali ke Indonesia saat itu. Tapi dia bersikeras pulang. Bagaimanapun juga, dia punya suami dan anak-anak yang menunggu kedatangannya. Lagipula, dia merasa 100 persen orang Indonesia!


Saat di pesawat, kebetulan Baby satu pesawat dengan Ibnu Sutowo yang lagi-lagi memperingatkannya soal kemungkinan dia ditangkap setibanya di bandara. Khawatir atas kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, Baby kemudian menitipkan semua uang miliknya kepada Ibnu Sutowo.


“Kalau memang benar aku ditangkap, setelah bebas nanti, barulah uang itu saya ambil,” begitu katanya.


Benar saja! Begitu kakinya menginjak bumi Indonesia, Baby langsung diciduk. Barang-barang bawaannya yang sebanyak 40 kopor itu hilang tak tentu rimbanya.


Paspornya juga dicabut. Sementara dirinya langsung digiring ke Markas Besar CPM Gambir untuk diinterogasi sehari semalam.


Segala macam pertanyaan dilontarkan kepada wanita berparas indo itu. Mulai dari soal politik hingga penyelundupan senjata yang tak dia ketahui sama sekali.


Setelah itu Baby diperbolehkan pulang. Meski begitu, dia tetap dikenakan tahanan rumah selama setahun.


Rupanya penderitaan Baby belum cukup. Dia kembali diciduk dan kali ini ditahan di Asrama CPM Brawijaya selama sekitar satu tahun.


Baby benar-benar terpukul saat itu. Dia diisolasi total, tak boleh dikunjungi suami dan anak-anaknya. Kamarnya juga terpisah. Dia merasa benar-benar tersisa, apalagi ketika itu dia sedang hamil muda.


Selama ditahan, Baby hanya mendapat makanan berupa nasi, sayur tawar dan sepotong tempe. Tak ada makanan ekstra atau vitamin meski dia sedang berbadan dua.


Akhirnya dia dibebaskan menjelang kelahiran anaknya yang keempat. Keluar dari “penjara” CPM, Baby langsung masuk RS Cikini.


Tak lama kemudian, Baby mendengar kabar meninggalnya Bung Karno. Dia pun langsung meminta izin dokter untuk melayat.


“Tak bisa kugambarkan dengan kata-kata, betapa pedih hatiku melihat jenazah BK yang telah terbujur kaku. Setelah usai acara pemakaman di Blitar, aku sempat berjumpa Dewi. Dia sempat menanyakan kebenaran berita penahananku,” kata Baby.


Baby sempat “sakit hati” ketika Dewi bertanya soal “Apa saja yang kau ceritakan selama ditahan?”


Dia bilang kepada sahabatnya itu dengan sejujur-jujurnya bahw tak sepotong pun kalimat yang menjelekkan Dewi pernah dia ucapkan. Bahkan Baby membela mati-matian, juga menceritakan bagaimana menderitanya dia selama dalam tahanan.


Mendengar itu, Dewi menangis sejadi-jadinya.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034411168/baby-huwae-satu-tahun-ditahan-tentara-setelah-peristiwa-g30s


#babyhuwae #bungkarno #G30S #RatnaSariDewi

Kecurigaan Kolonel Sarwo Edhie: Saat RPKAD Hampir Dikirim ke Kalimantan dan G30S-PKI pun Bergerak Menjelang akhir September 1965, situasi politik Indonesia kian memanas. Di tengah operasi “Ganyang Malaysia” yang dicanangkan Presiden Soekarno, sebagian besar pasukan RPKAD telah dikirim ke Kalimantan dan berbagai perbatasan negara. Hanya Batalion I RPKAD yang tersisa di Cijantung sisa kekuatan elite yang masih siap siaga di Jawa. Namun, di bulan Agustus 1965, sebuah radiogram misterius datang dari Brigjen Soepardjo, Panglima Komando Tempur II di Kalimantan. Ia memerintahkan agar sisa Batalion RPKAD di Cijantung segera dikirim menyusul pasukan lainnya ke Kalimantan. Bagi Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, perintah ini terasa tidak lazim dan mencurigakan. Ada sesuatu yang ganjil di balik perintah tersebut. Untuk memastikan kebenarannya, Sarwo Edhie mengutus Mayor Chalimi Imam Santoso, Komandan Batalion I RPKAD, meninjau langsung kondisi di Kalimantan. Setelah melakukan pengamatan mendalam, Mayor Santoso melaporkan bahwa kekuatan pasukan RPKAD di Kalimantan sudah cukup memadai tidak ada kebutuhan mendesak untuk penambahan pasukan. Laporan itulah yang akhirnya membatalkan rencana pengiriman RPKAD ke Kalimantan. Keputusan ini kemudian terbukti menjadi titik balik sejarah. Tak lama berselang, Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) meletus. Brigjen Soepardjo orang yang sebelumnya mengirim radiogram ternyata terlibat aktif dalam gerakan tersebut. Kini semakin jelas, maksud dari pengiriman pasukan itu adalah untuk mengosongkan kekuatan elite di Jawa, sehingga rencana kudeta dapat berjalan tanpa perlawanan berarti. Namun, kecurigaan tajam Kolonel Sarwo Edhie menyelamatkan keadaan. Batalion I RPKAD yang tetap bertahan di Cijantung menjadi senjata pamungkas bangsa, kekuatan terakhir yang kemudian menggagalkan gerakan G30S-PKI dan menumpas dua batalion pendukung gerakan tersebut. Sebuah bab penting dalam sejarah bangsa di mana kewaspadaan seorang perwira menjadi penentu arah perjalanan republik.๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ #Sejarah #G30SPKI #SarwoEdhie #GanyangMalaysia #SejarahIndonesia

 Kecurigaan Kolonel Sarwo Edhie: Saat RPKAD Hampir Dikirim ke Kalimantan dan G30S-PKI pun Bergerak


Menjelang akhir September 1965, situasi politik Indonesia kian memanas. Di tengah operasi “Ganyang Malaysia” yang dicanangkan Presiden Soekarno, sebagian besar pasukan RPKAD telah dikirim ke Kalimantan dan berbagai perbatasan negara. Hanya Batalion I RPKAD yang tersisa di Cijantung sisa kekuatan elite yang masih siap siaga di Jawa.



Namun, di bulan Agustus 1965, sebuah radiogram misterius datang dari Brigjen Soepardjo, Panglima Komando Tempur II di Kalimantan. Ia memerintahkan agar sisa Batalion RPKAD di Cijantung segera dikirim menyusul pasukan lainnya ke Kalimantan.

Bagi Kolonel Sarwo Edhie Wibowo, perintah ini terasa tidak lazim dan mencurigakan. Ada sesuatu yang ganjil di balik perintah tersebut.


Untuk memastikan kebenarannya, Sarwo Edhie mengutus Mayor Chalimi Imam Santoso, Komandan Batalion I RPKAD, meninjau langsung kondisi di Kalimantan.

Setelah melakukan pengamatan mendalam, Mayor Santoso melaporkan bahwa kekuatan pasukan RPKAD di Kalimantan sudah cukup memadai tidak ada kebutuhan mendesak untuk penambahan pasukan.


Laporan itulah yang akhirnya membatalkan rencana pengiriman RPKAD ke Kalimantan.

Keputusan ini kemudian terbukti menjadi titik balik sejarah.


Tak lama berselang, Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) meletus. Brigjen Soepardjo orang yang sebelumnya mengirim radiogram  ternyata terlibat aktif dalam gerakan tersebut. Kini semakin jelas, maksud dari pengiriman pasukan itu adalah untuk mengosongkan kekuatan elite di Jawa, sehingga rencana kudeta dapat berjalan tanpa perlawanan berarti.


Namun, kecurigaan tajam Kolonel Sarwo Edhie menyelamatkan keadaan.

Batalion I RPKAD yang tetap bertahan di Cijantung menjadi senjata pamungkas bangsa, kekuatan terakhir yang kemudian menggagalkan gerakan G30S-PKI dan menumpas dua batalion pendukung gerakan tersebut.


Sebuah bab penting dalam sejarah bangsa di mana kewaspadaan seorang perwira menjadi penentu arah perjalanan republik.๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


#Sejarah

#G30SPKI 

#SarwoEdhie 

#GanyangMalaysia 

#SejarahIndonesia


Sumber : Iin Art

12 September 2026

DIA MENINGGAL TEPAT 17 AGUSTUS, TUJUH TAHUN SEBELUM TANGGAL ITU MENJADI HARI PALING BERSEJARAH DALAM PERADABAN INDONESIA Ada ironi yang terlalu sempurna untuk direkayasa. 17 Agustus 1938. Di sebuah rumah di Surabaya, seorang pria berusia 35 tahun menghembuskan napas terakhirnya. Kondisi kesehatannya sudah memburuk berbulan-bulan, diperparah oleh penangkapan oleh Belanda sepuluh hari sebelumnya yang menguras sisa tenaganya yang sudah sangat tipis. Sebelum kepergiannya, ia sempat berbisik kepada kakak iparnya, Oerip Kasansengari: "Aku yakin Indonesia pasti akan merdeka." Ia tidak salah. Tapi ia tidak sempat melihatnya. Tujuh tahun kemudian, pada 17 Agustus 1945, tanggal yang sama dengan tanggal kepergiannya, lagu yang ia tulis dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan. Namanya: Wage Rudolf Supratman. Wage Rudolf Supratman lahir di Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Maret 1903. Nama "Wage" diambil dari hari kelahirannya dalam penanggalan Jawa — Jumat Wage. Nama "Rudolf" bukan nama aslinya sejak lahir. Ia menambahkan nama Belanda itu agar bisa masuk ke sekolah yang dikelola pemerintah kolonial — cara paling pragmatis yang bisa dilakukan seorang pribumi untuk mendapat akses pendidikan di zamannya. Ayahnya, Jumeno Senen Sastrosoehardjo, adalah seorang sersan di KNIL — Tentara Kerajaan Belanda. Seorang pribumi yang berseragam penjajah. Dari situasi keluarga yang penuh paradoks itulah Supratman tumbuh — dan dari paradoks itulah ia akhirnya menemukan misi hidupnya: menulis lagu yang paling keras menantang penjajahan. Setelah ibunya meninggal, Supratman ikut kakak perempuannya Rukiyem ke Makassar, lalu mengikuti suami Rukiyem ke Makassar dan menempuh pendidikan di sana. Ia belajar biola dari Willem van Eldik — kakak iparnya — dan dari situlah kecintaannya pada musik tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya. Di Makassar pula ia mulai bekerja sebagai guru, lalu jurnalis, lalu pemain band, lalu kembali ke Jawa dengan satu obsesi yang terus menghantuinya: menulis lagu untuk bangsanya. Lagu Indonesia Raya diciptakan Supratman pada tahun 1924. Versi awalnya ia mainkan dengan biola — bukan dinyanyikan, karena menyanyikannya secara terbuka berarti memancing penangkapan Belanda. Untuk pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan pada 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda II — di ruang makan rumah Sie Kong Liong di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Supratman memainkan melodi itu dengan biolanya. Seluruh ruangan hening. Tidak ada yang berani menyanyikannya keras-keras karena polisi kolonial hadir. Tapi semua yang hadir mendengar dan mengerti. Setelah lagu itu pertama kali diperdengarkan, hidup Supratman tidak pernah tenang lagi. Kata "Merdeka! Merdeka!" dalam liriknya dianggap Belanda sebagai ancaman. Ia masuk daftar pengawasan. Pada 1930, Belanda melarang lagu Indonesia Raya dinyanyikan di depan umum. Supratman berpindah-pindah. Jakarta ke Cimahi. Cimahi ke Pemalang. Pemalang ke Surabaya, dibawa kakaknya Rukiyem dalam kondisi sakit pada April 1937. Kondisinya membaik sebentar, lalu memburuk lagi. Pada 7 Agustus 1938, sepuluh hari sebelum kematiannya, Belanda kembali menangkapnya di studio Radio NIROM di Surabaya. Kali ini alasannya adalah lagu terbarunya, "Matahari Terbit," yang dianggap Belanda sebagai simpatisan Jepang. Tidak ada bukti yang menguatkan tuduhan itu. Supratman dilepaskan. Tapi kondisi fisiknya tidak bisa dipulihkan lagi. Pada Rabu Wage, 17 Agustus 1938, Wage Rudolf Supratman meninggal dunia. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Tidak pernah menikah, tidak punya anak. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Umum Kapas, Jalan Kenjeran, Surabaya. Di luar rumah itu, Indonesia masih dalam penjajahan. Belanda masih memerintah. Lagu yang ia tulis masih dilarang dinyanyikan di depan umum. Tujuh tahun kemudian, pada tanggal yang sama dengan tanggal kematiannya, lagu itu mengalun bebas di depan sekitar 500 orang di halaman Jalan Pegangsaan Timur 56. Indonesia merdeka. Dan siapa pun yang menyanyikan Indonesia Raya pada pagi 17 Agustus 1945 itu — baik yang sadar maupun tidak — sedang menyanyikan lagu seorang pria yang tujuh tahun sebelumnya sudah pergi dengan keyakinan bahwa momen itu akan datang. Pemerintah Indonesia menetapkan Supratman sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1971. Hari lahirnya, 9 Maret, ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Nama yang ia tambahkan untuk masuk sekolah Belanda. Biola yang ia pelajari dari kakak ipar Belanda. Lagu yang ia mainkan dalam keheningan agar tidak ditangkap Belanda. Dan tanggal kematiannya yang tujuh tahun kemudian menjadi tanggal paling bersejarah dalam peradaban Indonesia. Tidak ada yang direncanakan. Tapi tidak ada yang bisa merancang ironi seindah kenyataan itu. WR Supratman menulis lagu kebangsaan tapi tidak sempat melihat bangsanya merdeka — dan di hari kematiannya tujuh tahun kemudian, lagu itu dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan. Semangat berkarya untuk sesuatu yang belum tentu kita lihat hasilnya adalah keberanian yang paling murni. Menurut data UNESCO 2022, minat baca Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei — sebuah angka yang menjadi pertanyaan serius tentang seberapa dalam kita mengenal sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan para pahlawan seperti Supratman. Ia menulis untuk bangsa yang belum merdeka. Pertanyaan untuk kita hari ini: apakah kita cukup membaca dan cukup mengenal warisan yang ia tinggalkan? #WRSupratman #IndonesiaRaya #HariMusikNasional #SejarahIndonesia #AgustusKemerdekaan

 DIA MENINGGAL TEPAT 17 AGUSTUS, TUJUH TAHUN SEBELUM TANGGAL ITU MENJADI HARI PALING BERSEJARAH DALAM PERADABAN INDONESIA



Ada ironi yang terlalu sempurna untuk direkayasa.


17 Agustus 1938. Di sebuah rumah di Surabaya, seorang pria berusia 35 tahun menghembuskan napas terakhirnya. Kondisi kesehatannya sudah memburuk berbulan-bulan, diperparah oleh penangkapan oleh Belanda sepuluh hari sebelumnya yang menguras sisa tenaganya yang sudah sangat tipis.


Sebelum kepergiannya, ia sempat berbisik kepada kakak iparnya, Oerip Kasansengari: "Aku yakin Indonesia pasti akan merdeka."


Ia tidak salah. Tapi ia tidak sempat melihatnya.


Tujuh tahun kemudian, pada 17 Agustus 1945, tanggal yang sama dengan tanggal kepergiannya, lagu yang ia tulis dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.


Namanya: Wage Rudolf Supratman.


Wage Rudolf Supratman lahir di Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Maret 1903. Nama "Wage" diambil dari hari kelahirannya dalam penanggalan Jawa — Jumat Wage. Nama "Rudolf" bukan nama aslinya sejak lahir. Ia menambahkan nama Belanda itu agar bisa masuk ke sekolah yang dikelola pemerintah kolonial — cara paling pragmatis yang bisa dilakukan seorang pribumi untuk mendapat akses pendidikan di zamannya.


Ayahnya, Jumeno Senen Sastrosoehardjo, adalah seorang sersan di KNIL — Tentara Kerajaan Belanda. Seorang pribumi yang berseragam penjajah. Dari situasi keluarga yang penuh paradoks itulah Supratman tumbuh — dan dari paradoks itulah ia akhirnya menemukan misi hidupnya: menulis lagu yang paling keras menantang penjajahan.


Setelah ibunya meninggal, Supratman ikut kakak perempuannya Rukiyem ke Makassar, lalu mengikuti suami Rukiyem ke Makassar dan menempuh pendidikan di sana. Ia belajar biola dari Willem van Eldik — kakak iparnya — dan dari situlah kecintaannya pada musik tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya. Di Makassar pula ia mulai bekerja sebagai guru, lalu jurnalis, lalu pemain band, lalu kembali ke Jawa dengan satu obsesi yang terus menghantuinya: menulis lagu untuk bangsanya.


Lagu Indonesia Raya diciptakan Supratman pada tahun 1924. Versi awalnya ia mainkan dengan biola — bukan dinyanyikan, karena menyanyikannya secara terbuka berarti memancing penangkapan Belanda. Untuk pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan pada 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda II — di ruang makan rumah Sie Kong Liong di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Supratman memainkan melodi itu dengan biolanya. Seluruh ruangan hening. Tidak ada yang berani menyanyikannya keras-keras karena polisi kolonial hadir. Tapi semua yang hadir mendengar dan mengerti.


Setelah lagu itu pertama kali diperdengarkan, hidup Supratman tidak pernah tenang lagi. Kata "Merdeka! Merdeka!" dalam liriknya dianggap Belanda sebagai ancaman. Ia masuk daftar pengawasan. Pada 1930, Belanda melarang lagu Indonesia Raya dinyanyikan di depan umum.


Supratman berpindah-pindah. Jakarta ke Cimahi. Cimahi ke Pemalang. Pemalang ke Surabaya, dibawa kakaknya Rukiyem dalam kondisi sakit pada April 1937.


Kondisinya membaik sebentar, lalu memburuk lagi. Pada 7 Agustus 1938, sepuluh hari sebelum kematiannya, Belanda kembali menangkapnya di studio Radio NIROM di Surabaya. Kali ini alasannya adalah lagu terbarunya, "Matahari Terbit," yang dianggap Belanda sebagai simpatisan Jepang. Tidak ada bukti yang menguatkan tuduhan itu. Supratman dilepaskan.


Tapi kondisi fisiknya tidak bisa dipulihkan lagi.


Pada Rabu Wage, 17 Agustus 1938, Wage Rudolf Supratman meninggal dunia. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Tidak pernah menikah, tidak punya anak. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Umum Kapas, Jalan Kenjeran, Surabaya.


Di luar rumah itu, Indonesia masih dalam penjajahan. Belanda masih memerintah. Lagu yang ia tulis masih dilarang dinyanyikan di depan umum.


Tujuh tahun kemudian, pada tanggal yang sama dengan tanggal kematiannya, lagu itu mengalun bebas di depan sekitar 500 orang di halaman Jalan Pegangsaan Timur 56. Indonesia merdeka. Dan siapa pun yang menyanyikan Indonesia Raya pada pagi 17 Agustus 1945 itu — baik yang sadar maupun tidak — sedang menyanyikan lagu seorang pria yang tujuh tahun sebelumnya sudah pergi dengan keyakinan bahwa momen itu akan datang.


Pemerintah Indonesia menetapkan Supratman sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1971. Hari lahirnya, 9 Maret, ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional.


Nama yang ia tambahkan untuk masuk sekolah Belanda. Biola yang ia pelajari dari kakak ipar Belanda. Lagu yang ia mainkan dalam keheningan agar tidak ditangkap Belanda. Dan tanggal kematiannya yang tujuh tahun kemudian menjadi tanggal paling bersejarah dalam peradaban Indonesia.


Tidak ada yang direncanakan. Tapi tidak ada yang bisa merancang ironi seindah kenyataan itu.

 

WR Supratman menulis lagu kebangsaan tapi tidak sempat melihat bangsanya merdeka — dan di hari kematiannya tujuh tahun kemudian, lagu itu dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan. Semangat berkarya untuk sesuatu yang belum tentu kita lihat hasilnya adalah keberanian yang paling murni. Menurut data UNESCO 2022, minat baca Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei — sebuah angka yang menjadi pertanyaan serius tentang seberapa dalam kita mengenal sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan para pahlawan seperti Supratman. Ia menulis untuk bangsa yang belum merdeka. Pertanyaan untuk kita hari ini: apakah kita cukup membaca dan cukup mengenal warisan yang ia tinggalkan?


#WRSupratman #IndonesiaRaya #HariMusikNasional #SejarahIndonesia #AgustusKemerdekaan

Gugur seorang putra bangsa terbaik yang tidak hanya dikenal sebagai dokter perintis ilmu kedokteran penerbangan di Indonesia, tetapi juga sebagai "Bapak Radio" republik ini. Dialah Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, sosok visioner yang mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk kemerdekaan, ilmu pengetahuan, dan suara kedaulatan bangsa. Lahirnya RRI: Menyalakan Suara Republik di Tengah Kegelapan Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, tantangan terbesar bangsa yang baru lahir ini adalah bagaimana menyebarkan berita kemerdekaan tersebut ke seluruh penjuru Nusantara dan dunia internasional, di tengah upaya Sekutu dan Belanda yang ingin membungkam informasi. Di sinilah peran heroik Abdulrachman Saleh bersinar terang. Bersama rekan-rekan pemuda penyiaran, ia mengambil alih stasiun-stasiun radio milik Jepang (Hoso Kyoku). Dengan peralatan yang sangat terbatas, pengetahuan teknik radio yang dimilikinya secara otodidak, serta keberanian yang luar biasa, ia berhasil menyatukan berbagai stasiun radio daerah menjadi satu jaringan penyiaran nasional. Tepat pada 11 September 1945, dalam sebuah rapat bersejarah para tokoh penyiaran, lahirlah Radio Republik Indonesia (RRI) dengan moto yang hingga kini abadi: "Sekali di Udara, Tetap di Udara." Abdulrachman Saleh diangkat sebagai pemimpin umum yang pertama. Melalui gelombang radio inilah, pidato Bung Karno, berita perjuangan, dan semangat persatuan terus berkobar, menembus blokade musuh dan menguatkan mental rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan. hanya dilakukan di balik mikrofon atau ruang operasi rumah sakit. Ketika agresi militer terjadi, ia terjun langsung mendirikan Sekolah Penerbangan di Maguwo, Yogyakarta, guna mencetak penerbang-penerbang muda Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang handal untuk mempertahankan wilayah udara ibu pertiwi. Tidak hanya itu, ia juga merupakan tokoh penting di balik berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI). Kemanusiaan adalah panglima tertinggi dalam hidupnya. Ia percaya bahwa menolong sesama tanpa memandang kawan atau lawan adalah esensi dari kemerdekaan itu sendiri. Takdir memanggil sang pejuang pada tanggal 29 Juli 1947. Pesawat transportasi Dakota VT-CLA yang ditumpanginya bersama sejumlah tokoh perintis AURI (termasuk Adisutjipto dan Hendarwanto) ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Pesawat tersebut membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Abdulrachman Saleh gugur dalam usia 38 tahun, di tengah menjalankan misi kemanusiaan yang mulia. Ia pergi meninggalkan warisan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan semangat juang yang tidak ternilai harganya. Sebagai bentuk penghormatan yang tertinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa di bidang penerbangan, dunia militer, dan perjuangan kemerdekaan, nama Prof. Dr. Abdulrachman Saleh diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara TNI AU dan Bandar Udara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur. Setiap pesawat yang lepas landas dan mendarat di sana seolah membawa kembali gema semangat sang perintis: terbang tinggi menembus batas, demi kehormatan bangsa dan negara. #inspiratif #pahlawanindonesia #history #sejarah #faktasejarah

 Gugur seorang putra bangsa terbaik yang tidak hanya dikenal sebagai dokter perintis ilmu kedokteran penerbangan di Indonesia, tetapi juga sebagai "Bapak Radio" republik ini. Dialah Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, sosok visioner yang mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk kemerdekaan, ilmu pengetahuan, dan suara kedaulatan bangsa.



Lahirnya RRI: Menyalakan Suara Republik di Tengah Kegelapan


Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, tantangan terbesar bangsa yang baru lahir ini adalah bagaimana menyebarkan berita kemerdekaan tersebut ke seluruh penjuru Nusantara dan dunia internasional, di tengah upaya Sekutu dan Belanda yang ingin membungkam informasi.


Di sinilah peran heroik Abdulrachman Saleh bersinar terang. Bersama rekan-rekan pemuda penyiaran, ia mengambil alih stasiun-stasiun radio milik Jepang (Hoso Kyoku). Dengan peralatan yang sangat terbatas, pengetahuan teknik radio yang dimilikinya secara otodidak, serta keberanian yang luar biasa, ia berhasil menyatukan berbagai stasiun radio daerah menjadi satu jaringan penyiaran nasional.


Tepat pada 11 September 1945, dalam sebuah rapat bersejarah para tokoh penyiaran, lahirlah Radio Republik Indonesia (RRI) dengan moto yang hingga kini abadi: "Sekali di Udara, Tetap di Udara." Abdulrachman Saleh diangkat sebagai pemimpin umum yang pertama. Melalui gelombang radio inilah, pidato Bung Karno, berita perjuangan, dan semangat persatuan terus berkobar, menembus blokade musuh dan menguatkan mental rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.


hanya dilakukan di balik mikrofon atau ruang operasi rumah sakit. Ketika agresi militer terjadi, ia terjun langsung mendirikan Sekolah Penerbangan di Maguwo, Yogyakarta, guna mencetak penerbang-penerbang muda Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang handal untuk mempertahankan wilayah udara ibu pertiwi.


Tidak hanya itu, ia juga merupakan tokoh penting di balik berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI). Kemanusiaan adalah panglima tertinggi dalam hidupnya. Ia percaya bahwa menolong sesama tanpa memandang kawan atau lawan adalah esensi dari kemerdekaan itu sendiri.


Takdir memanggil sang pejuang pada tanggal 29 Juli 1947. Pesawat transportasi Dakota VT-CLA yang ditumpanginya bersama sejumlah tokoh perintis AURI (termasuk Adisutjipto dan Hendarwanto) ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Pesawat tersebut membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya.


Abdulrachman Saleh gugur dalam usia 38 tahun, di tengah menjalankan misi kemanusiaan yang mulia. Ia pergi meninggalkan warisan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan semangat juang yang tidak ternilai harganya.


Sebagai bentuk penghormatan yang tertinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa di bidang penerbangan, dunia militer, dan perjuangan kemerdekaan, nama Prof. Dr. Abdulrachman Saleh diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara TNI AU dan Bandar Udara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur. Setiap pesawat yang lepas landas dan mendarat di sana seolah membawa kembali gema semangat sang perintis: terbang tinggi menembus batas, demi kehormatan bangsa dan negara.


#inspiratif #pahlawanindonesia #history #sejarah #faktasejarah

RAJA YANG MENYERAHKAN TAHTA DAN HARTANYA DEMI REPUBLIK‼️๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Di tengah rapuhnya Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, ada satu keputusan politik yang dampaknya terasa lintas generasi. Keputusan itu datang dari seorang raja Melayu di Sumatra: Sultan Syarif Kasim II, penguasa terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura. Tak lama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan telegram resmi kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Isinya tegas dan tanpa syarat: Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia. Dukungan ini bukan simbolik. Ia segera menyerahkan uang tunai sebesar 13 juta gulden—salah satu kontribusi finansial terbesar dalam fase awal berdirinya negara. Jika dikonversi ke nilai saat ini, jumlah tersebut diperkirakan setara lebih dari Rp1 triliun. Selain uang tunai, Sultan juga menyerahkan mahkota emas, pedang bertatahkan berlian, serta berbagai perhiasan kerajaan. Semua itu diserahkan ketika Republik belum memiliki kas negara yang memadai dan masih berjuang mempertahankan eksistensinya secara politik maupun ekonomi. Keputusan yang diambil Sultan Syarif Kasim II semakin signifikan jika dilihat dari opsi yang sebenarnya tersedia. Ia tidak memilih jalur daerah istimewa seperti yang ditempuh Yogyakarta. Kesultanan Siak dilebur sepenuhnya ke dalam NKRI, tanpa tuntutan status khusus, tanpa negosiasi kekuasaan. Bersamaan dengan itu, wilayah strategis Siak—termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas dan ladang minyak sekitarnya—ikut menjadi bagian Republik. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi salah satu sumber devisa energi terbesar Indonesia selama puluhan tahun. Setelah melepas tahta dan harta, kehidupan Sultan berubah drastis. Ia meninggalkan kemegahan istana dan hidup sebagai warga negara biasa. Dalam beberapa periode, ia menetap di Jakarta dan Aceh, sebelum akhirnya kembali ke Siak. Tidak ada jabat4n negara, tidak ada keistimewaan protokoler. Laporan tentang kesederhanaan hidupnya di masa tua tercatat konsisten dalam berbagai sumber sejarah. Sultan Syarif Kasim II wafat pada 23 April 1968 di Rumah Sakit Caltex, Rumbai, Pekanbaru. Ia berpulang dalam kondisi yang jauh dari kemewahan masa lalunya sebagai raja. Tiga dekade kemudian, negara yang pernah ia dukung tanpa syarat baru menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998. Kisah Sultan Syarif Kasim II bukan sekadar cerita pengorbanan personal. Ini adalah contoh nasionalisme yang ekstrem dan konsisten: kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan masa depan politik demi keberlangsungan sebuah republik yang saat itu bahkan belum tentu bertahan. Dalam sejarah Indonesia, sedikit tokoh yang berani membayar harga setinggi itu untuk sebuah keyakinan politik.

 RAJA YANG MENYERAHKAN TAHTA DAN HARTANYA DEMI REPUBLIK‼️๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ



Di tengah rapuhnya Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, ada satu keputusan politik yang dampaknya terasa lintas generasi. Keputusan itu datang dari seorang raja Melayu di Sumatra: Sultan Syarif Kasim II, penguasa terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura.


Tak lama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan telegram resmi kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Isinya tegas dan tanpa syarat: Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia. Dukungan ini bukan simbolik. Ia segera menyerahkan uang tunai sebesar 13 juta gulden—salah satu kontribusi finansial terbesar dalam fase awal berdirinya negara. Jika dikonversi ke nilai saat ini, jumlah tersebut diperkirakan setara lebih dari Rp1 triliun.


Selain uang tunai, Sultan juga menyerahkan mahkota emas, pedang bertatahkan berlian, serta berbagai perhiasan kerajaan. Semua itu diserahkan ketika Republik belum memiliki kas negara yang memadai dan masih berjuang mempertahankan eksistensinya secara politik maupun ekonomi.


Keputusan yang diambil Sultan Syarif Kasim II semakin signifikan jika dilihat dari opsi yang sebenarnya tersedia. Ia tidak memilih jalur daerah istimewa seperti yang ditempuh Yogyakarta. Kesultanan Siak dilebur sepenuhnya ke dalam NKRI, tanpa tuntutan status khusus, tanpa negosiasi kekuasaan. Bersamaan dengan itu, wilayah strategis Siak—termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas dan ladang minyak sekitarnya—ikut menjadi bagian Republik. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi salah satu sumber devisa energi terbesar Indonesia selama puluhan tahun.


Setelah melepas tahta dan harta, kehidupan Sultan berubah drastis. Ia meninggalkan kemegahan istana dan hidup sebagai warga negara biasa. Dalam beberapa periode, ia menetap di Jakarta dan Aceh, sebelum akhirnya kembali ke Siak. Tidak ada jabat4n negara, tidak ada keistimewaan protokoler. Laporan tentang kesederhanaan hidupnya di masa tua tercatat konsisten dalam berbagai sumber sejarah.


Sultan Syarif Kasim II wafat pada 23 April 1968 di Rumah Sakit Caltex, Rumbai, Pekanbaru. Ia berpulang dalam kondisi yang jauh dari kemewahan masa lalunya sebagai raja. Tiga dekade kemudian, negara yang pernah ia dukung tanpa syarat baru menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998.


Kisah Sultan Syarif Kasim II bukan sekadar cerita pengorbanan personal. Ini adalah contoh nasionalisme yang ekstrem dan konsisten: kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan masa depan politik demi keberlangsungan sebuah republik yang saat itu bahkan belum tentu bertahan. Dalam sejarah Indonesia, sedikit tokoh yang berani membayar harga setinggi itu untuk sebuah keyakinan politik.

Kopral Hargijono si penembak Ade Irma Suryani Nasution Pada malam yang lengang di Teuku Umar, 30 September 1965, seorang prajurit muda bernama Kopral Dua Hargijono berdiri di antara hiruk-pikuk pasukan Tjakrabirawa yang bergerak cepat. Tak ada yang istimewa sejatinya pada prajurit ini, ia bukan perwira tinggi, bukan pula tokoh yang akrab dengan para jenderal. Ia hanyalah satu dari ratusan anggota pasukan pengawal presiden yang bertugas menurut perintah. Namun malam itu, sebuah keputusan sepersekian detik akan mengubah hidupnya untuk selamanya, bahkan ikut mengubah sejarah Indonesia. Beberapa tahun kemudian, dalam wawancara media, seorang bekas anggota Cakrabirawa menggambarkan suasana malam itu sebagai “malam penuh teka-teki”. Ia mengatakan bahwa banyak prajurit hanya diberitahu bahwa mereka akan “menjemput orang-orang yang mengkhianati Presiden”. Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada briefing politik. Hargijono berada dalam kelompok yang mendapat perintah menuju rumah Jenderal A.H. Nasution. Menurut rekonstruksi Historia dan laporan Liputan6, Hargijono saat itu memegang Sten gun, senjata otomatis yang ringan namun sensitif terhadap tremor tangan dan tekanan picu. Ia ditempatkan sebagai anggota depan dalam regu kecil yang memasuki halaman rumah. Ketika pasukan menabrak pintu rumah Nasution, pintu kamar terlihat sempat terbuka lalu tertutup kembali. Di titik inilah ketegangan dimulai, kata salah satu saksi yang diwawancarai Historia “Cepat! Buka pintunya!” Perintah itu terdengar ditekan, keras, dan tanpa ruang untuk ragu. Hargijono maju. Ia mendekatkan laras senjata ke gagang pintu. Dalam rekonstruksi, seorang saksi menggambarkan momentum itu seperti “segala hal terjadi dalam hitungan detik terdengar orang berteriak, lampu temaram, dan tekanan perintah yang membuat siapa pun bisa salah gerak.” Hargijono menarik pelatuk, ledakan kecil memecah ruangan, dan peluru yang awalnya diarahkan ke gagang pintu ternyata meleset. Peluru yang tidak pernah dimaksukkan ke dalam rencana siapa pun Menurut kesaksian seorang mantan prajurit yang berada di tempat yang sama wawancara yang dikumpulkan jurnalis Petrik Matanasi rombongan pasukan mendengar suara jeritan perempuan dari dalam kamar. Di tengah kekacauan itu, prajurit-prajurit baru menyadari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan: peluru yang meleset itu mengenai seorang anak kecil. Anak itu adalah Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal Nasution. Seorang saksi mata yang diwawancarai Liputan6 berkata “Tidak ada yang berniat menemb4k anak. Kami kaget. Semua diam beberapa detik, seperti dunia berhenti.” Hargijono sendiri, menurut rekaman persidangan yang dikutip Historia, tidak menyangkal bahwa tembakan itu berasal dari senjatanya. Tapi ia menjelaskan bahwa ia menembak gagang pintu karena itu perintah, bukan mengarahkan ke siapa pun dalam kamar. Beberapa hari setelah peristiwa G30S, operasi penangkapan besar-besaran dimulai. Para anggota Cakrabirawa yang ikut dalam operasi “penjemputan” digiring ke tahanan militer. Nama Hargijono masuk daftar sejak hari pertama. Dalam salah satu wawancara KBR (Kantor Berita Radio) terhadap bekas anggota pasukan pengawal presiden, muncul gambaran tentang bagaimana para prajurit tingkat rendah merasa bahwa mereka “tidak pernah diberi ruang menjelaskan”. Seorang saksi bahkan berkata “Kalau saya harus minta ampun ke Soeharto, saya lebih baik mati.” Ungkapan ini menggambarkan betapa kuat tekanan politik saat itu. Menjalankan perintah dianggap tidak cukup sebagai pembelaan. Di pengadilan militer, kesaksian tentang tembakan ke pintu dan peluru yang meleset kembali dihadirkan. Menurut dokumentasi yang pernah dirangkum Historia, Hargijono menerima vonis yang sangat berat sebagai konsekuensi perannya dalam operasi itu. Dalam liputan panjang Historia, saksi lain yang pernah menjadi prajurit Cakrabirawa menyatakan “Kami itu tentara kecil. Kalau komandan bilang kiri, kami kiri. Kalau bilang tembak gagang pintu, ya kami tembak. Tapi sejarah tidak peduli siapa apa waktu itu.” Kalimat itu menjadi ringkasan betapa banyak prajurit lapangan yang tersapu oleh badai politik yang jauh lebih besar daripada mereka. Seorang saksi lain yang dikutip Liputan6 mengingat Hargijono sebagai “pendiam, tidak banyak bicara, dan bukan tipe prajurit yang suka kekerasan.” Dalam narasi tersebut, ia digambarkan lebih sebagai pelaksana teknis ketimbang seorang aktor politik. Nama Hargijono tenggelam dalam deretan nama besar G30S. Namun ironi sejarah adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak ditargetkan, dan terjadi dalam kepanika justru menjadi salah satu peristiwa yang paling dikenang publik. Hingga kini, arsip publik tentang riwayat hidupnya sebelum 1965 nyaris kosong. Tak ada catatan lengkap tentang masa kecil, keluarganya, atau motivasinya bergabung dalam militer. Ia muncul dalam sejarah secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba pula. Yang tersisa hanyalah jejak malam itu, rekonstruksi para saksi, dan perdebatan panjang tentang siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dalam operasi 30 September. Sumber : Historia: laporan rekonstruksi penembakan Ade Irma oleh Kopral Hargijono. Liputan6: wawancara mantan anggota Cakrabirawa tentang kronologi malam kejadian. KBR: wawancara eks-Cakrabirawa mengenai tekanan politik dan pengadilan militer. Tirto (Petrik Matanasi): konteks operasi penjemputan dan kesaksian prajurit.

 Kopral Hargijono si penembak Ade Irma Suryani Nasution


Pada malam yang lengang di Teuku Umar, 30 September 1965, seorang prajurit muda bernama Kopral Dua Hargijono berdiri di antara hiruk-pikuk pasukan Tjakrabirawa yang bergerak cepat. Tak ada yang istimewa sejatinya pada prajurit ini, ia bukan perwira tinggi, bukan pula tokoh yang akrab dengan para jenderal. Ia hanyalah satu dari ratusan anggota pasukan pengawal presiden yang bertugas menurut perintah.


Namun malam itu, sebuah keputusan sepersekian detik akan mengubah hidupnya untuk selamanya, bahkan ikut mengubah sejarah Indonesia.


Beberapa tahun kemudian, dalam wawancara media, seorang bekas anggota Cakrabirawa menggambarkan suasana malam itu sebagai “malam penuh teka-teki”. Ia mengatakan bahwa banyak prajurit hanya diberitahu bahwa mereka akan “menjemput orang-orang yang mengkhianati Presiden”. Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada briefing politik. Hargijono berada dalam kelompok yang mendapat perintah menuju rumah Jenderal A.H. Nasution.


Menurut rekonstruksi Historia dan laporan Liputan6, Hargijono saat itu memegang Sten gun, senjata otomatis yang ringan namun sensitif terhadap tremor tangan dan tekanan picu. Ia ditempatkan sebagai anggota depan dalam regu kecil yang memasuki halaman rumah.



Ketika pasukan menabrak pintu rumah Nasution, pintu kamar terlihat sempat terbuka lalu tertutup kembali. Di titik inilah ketegangan dimulai, kata salah satu saksi yang diwawancarai Historia “Cepat! Buka pintunya!”

Perintah itu terdengar ditekan, keras, dan tanpa ruang untuk ragu.


Hargijono maju. Ia mendekatkan laras senjata ke gagang pintu. Dalam rekonstruksi, seorang saksi menggambarkan momentum itu seperti “segala hal terjadi dalam hitungan detik terdengar orang berteriak, lampu temaram, dan tekanan perintah yang membuat siapa pun bisa salah gerak.”


Hargijono menarik pelatuk, ledakan kecil memecah ruangan, dan peluru yang awalnya diarahkan ke gagang pintu ternyata meleset. Peluru yang tidak pernah dimaksukkan ke dalam rencana siapa pun


Menurut kesaksian seorang mantan prajurit yang berada di tempat yang sama wawancara yang dikumpulkan jurnalis Petrik Matanasi rombongan pasukan mendengar suara jeritan perempuan dari dalam kamar. Di tengah kekacauan itu, prajurit-prajurit baru menyadari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan:


peluru yang meleset itu mengenai seorang anak kecil. Anak itu adalah Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal Nasution.


Seorang saksi mata yang diwawancarai Liputan6 berkata “Tidak ada yang berniat menemb4k anak. Kami kaget. Semua diam beberapa detik, seperti dunia berhenti.”


Hargijono sendiri, menurut rekaman persidangan yang dikutip Historia, tidak menyangkal bahwa tembakan itu berasal dari senjatanya. Tapi ia menjelaskan bahwa ia menembak gagang pintu karena itu perintah, bukan mengarahkan ke siapa pun dalam kamar.


Beberapa hari setelah peristiwa G30S, operasi penangkapan besar-besaran dimulai. Para anggota Cakrabirawa yang ikut dalam operasi “penjemputan” digiring ke tahanan militer. Nama Hargijono masuk daftar sejak hari pertama.


Dalam salah satu wawancara KBR (Kantor Berita Radio) terhadap bekas anggota pasukan pengawal presiden, muncul gambaran tentang bagaimana para prajurit tingkat rendah merasa bahwa mereka “tidak pernah diberi ruang menjelaskan”. Seorang saksi bahkan berkata “Kalau saya harus minta ampun ke Soeharto, saya lebih baik mati.”


Ungkapan ini menggambarkan betapa kuat tekanan politik saat itu. Menjalankan perintah dianggap tidak cukup sebagai pembelaan.


Di pengadilan militer, kesaksian tentang tembakan ke pintu dan peluru yang meleset kembali dihadirkan. Menurut dokumentasi yang pernah dirangkum Historia, Hargijono menerima vonis yang sangat berat sebagai konsekuensi perannya dalam operasi itu.


Dalam liputan panjang Historia, saksi lain yang pernah menjadi prajurit Cakrabirawa menyatakan “Kami itu tentara kecil. Kalau komandan bilang kiri, kami kiri. Kalau bilang tembak gagang pintu, ya kami tembak. Tapi sejarah tidak peduli siapa apa waktu itu.”


Kalimat itu menjadi ringkasan betapa banyak prajurit lapangan yang tersapu oleh badai politik yang jauh lebih besar daripada mereka.


Seorang saksi lain yang dikutip Liputan6 mengingat Hargijono sebagai “pendiam, tidak banyak bicara, dan bukan tipe prajurit yang suka kekerasan.” Dalam narasi tersebut, ia digambarkan lebih sebagai pelaksana teknis ketimbang seorang aktor politik.


Nama Hargijono tenggelam dalam deretan nama besar G30S. Namun ironi sejarah adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak ditargetkan, dan terjadi dalam kepanika justru menjadi salah satu peristiwa yang paling dikenang publik.


Hingga kini, arsip publik tentang riwayat hidupnya sebelum 1965 nyaris kosong. Tak ada catatan lengkap tentang masa kecil, keluarganya, atau motivasinya bergabung dalam militer. Ia muncul dalam sejarah secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba pula.


Yang tersisa hanyalah jejak malam itu, rekonstruksi para saksi, dan perdebatan panjang tentang siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dalam operasi 30 September. 


Sumber :


Historia: laporan rekonstruksi penembakan Ade Irma oleh Kopral Hargijono.


Liputan6: wawancara mantan anggota Cakrabirawa tentang kronologi malam kejadian.


KBR: wawancara eks-Cakrabirawa mengenai tekanan politik dan pengadilan militer.


Tirto (Petrik Matanasi): konteks operasi penjemputan dan kesaksian prajurit.

Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. [1] Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai Wikana: Pelopor Peristiwa Rengasdengklok: Wikana merupakan salah satu tokoh dari golongan muda yang mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan setelah mendengar kabar kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Bersama pemuda lainnya, ia ikut mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang. Negosiator Tempat Perumusan Teks: Berkat jaringan dan kedekatannya dengan kalangan Angkatan Laut Jepang (Kaigun), Wikana berhasil melobi agar rumah Laksamana Tadashi Maeda di Menteng dijadikan tempat perumusan teks proklamasi yang aman. Menteri Pemuda Pertama: Setelah Indonesia merdeka, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Pemuda yang pertama dalam Kabinet Sjahrir. Akhir Hayat yang Tragis: Wikana yang sempat aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI) dikabarkan ditangkap dan menghilang tanpa jejak pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Hingga saat ini, keberadaan makam atau kepastian akhir hayatnya masih menjadi misteri sejarah Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. #EventSejarahSeptember #RestorasiG30S

 Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. [1]

Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai Wikana:



Pelopor Peristiwa Rengasdengklok: Wikana merupakan salah satu tokoh dari golongan muda yang mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan setelah mendengar kabar kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Bersama pemuda lainnya, ia ikut mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang.


Negosiator Tempat Perumusan Teks: Berkat jaringan dan kedekatannya dengan kalangan Angkatan Laut Jepang (Kaigun), Wikana berhasil melobi agar rumah Laksamana Tadashi Maeda di Menteng dijadikan tempat perumusan teks proklamasi yang aman.


Menteri Pemuda Pertama: Setelah Indonesia merdeka, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Pemuda yang pertama dalam Kabinet Sjahrir.


Akhir Hayat yang Tragis: Wikana yang sempat aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI) dikabarkan ditangkap dan menghilang tanpa jejak pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Hingga saat ini, keberadaan makam atau kepastian akhir hayatnya masih menjadi misteri sejarah


Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.


#EventSejarahSeptember

#RestorasiG30S


11 September 2026

 SIAPA RATMINI GANDASUBRATA?



Mungkin belum banyak orang Banyumas yang mengenal Ratmini Gandasubrata.


Mungkin lebih banyak mengenal nama suaminya, Soedjatmoko. Seorang diplomat besar Indonesia. Pernah menjadi Duta Besar untuk Amerika Serikat.


Namanya diabadikan menjadi "Balai Soedjatmoko" di Solo.


Siapa Ratmini Gandasubrata?


Jawaban mudahnya adalah istri Soedjatmoko.


Saya mengenal Ratmini Gandasubrata karena membaca bukunya. "Sebuah Pendopo di Lembah Serayu". Buku kenangan tentang Banyumas.


Ratmini Gandasubrata adalah anak Sudirman Gandasubrata, cucu Pangeran Gandasubrata, cicit Adipati Mertadiredja III.


Pangeran Gandasubrata dan Adipati Mertadiredja III adalah Bupati Banyumas.


Ratmini Gandasubrata pernah tinggal di Dalem Pangeranan. Karena setelah kakeknya meninggal, ayahnya yang menempatinya.


Ayahnya, Sudirman Gandasubrata adalah seorang hakim pengadilan negeri Batavia. Karenanya, Ratmini Gandasubrata lahir di Jakarta, taun 1925.


Ibunya, Raden Ayu Satinah, adalah anak Patih Purbalingga, Ronggo Brotodimedjo.


Patih Ronggo Brotodimedjo adalah anak dari Adipati Mertadiredja III.


Jadi, antara ayah dan ibunya masih satu keluarga. Ayahnya cucu Adipati Mertadiredja.


Pada tahun 1921, Patih Ronggo Brotodimejo menyalin naskah Babad Banyumas. 


Naskah yang kemudian disimpan oleh anaknya, Raden Ayu Satinah, yang tak lain ibu dari Ratmini Gandasubrata.


Tahun 2021, saya menerjemahkan naskah Babad Banyumas itu. Saya beri judul "Babad Banyumas Bratadimedjan".


Saya terjemahkan dari naskah kopian. Karena naskah aslinya disimpan oleh Ratmini Gandasubrata di Jakarta.


Pada Mei 2022, saya terbang ke Jakarta, untuk bertemu Ratmini Gandasubrata. Sekalian melihat langsung naskah peninggalkan kakeknya itu.


Waktu itu, Ratmini Gandasubarata sudah sangat sepuh. Berusia 97 tahun.


Tidak banyak yang saya dapatkan terkait Dalem Pangeranan dan Babad Banyumas, karena ingatan yang sudah melemah.


Namun saya merasa sangat beruntung masih bisa bertemu. Karena tak lama setelah itu, Oktober 2022, Ratmini Gandasubrata meninggal dunia.

Sumber : Nassirun Purwokartun

#babadbanyumas #bratadimedjan #ratminigandasubrata

Di Eksekusi M4ti Karena Menolak Menujukan Peta Kekayaan Ibu Pertiwi ‼️๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Hari ini 77 tahun yang lalu, salah satu putera terbaik bangsa Arie Frederik Lasut ditemb4k m4ti oleh tentara pendudukan Belanda di daerah Pakem Yogyakarta karena tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda untuk membocorkan rahasia negara tentang daerah pertambangan dan sumber daya mineral yang terkandung dalam bumi Indonesia. Arie yang saat itu menjabat sebagai kepala jawatan geologi mengetahui dengan jelas mengenai lokasi pertambangan dan energi yang sangat vital dan dapat dijadikan bahan baku persenjataan dan logistik selama masa pendudukan Belanda. Berbagai upaya mulai dari bujukan posisi yang tinggi serta iming iming gaji fantastis tidak membuat Arie rela menjual harga diri dan kecintaan nya terhadap Indonesia. Putra Minahasa kelahiran 6 juli 1918 ini sadar betul akan resiko yang akan dihadapi nya bila menolak keinginan penjajah Belanda tapi kecintaan yang besar terhadap Republik Indonesia membuat ia membulatkan tekad untuk tetap berjuang bersama kaum Republik. Pada subuh dinihari 7 mei 1949 Arie dijemput sepasukan tentara Belanda dari rumahnya untuk dibawa kedaerah Pakem di utara Yogyakarta untuk 'dihabisi'. Suami dari Nieke Maramis ini akhirnya meregang nyawa dihadapan satu regu tembak yang bengis dari pasukan Belanda. Atas jasa jasanya Arie dianugerahi pemerintah Indonesia dengan gelar pahlawan pembela kemerdekaan pada tahun 1969.

 Di Eksekusi M4ti Karena Menolak Menujukan Peta Kekayaan Ibu Pertiwi ‼️๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


Hari ini 77 tahun yang lalu, salah satu putera terbaik bangsa Arie Frederik Lasut ditemb4k m4ti oleh tentara pendudukan Belanda di  daerah Pakem Yogyakarta karena tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda untuk membocorkan rahasia negara tentang daerah pertambangan dan sumber daya mineral yang terkandung dalam bumi Indonesia. 



Arie yang saat itu menjabat sebagai kepala jawatan geologi mengetahui dengan jelas mengenai lokasi pertambangan dan energi yang sangat vital dan dapat dijadikan bahan baku persenjataan dan logistik selama masa pendudukan Belanda.


 Berbagai upaya mulai dari bujukan posisi yang tinggi serta iming iming gaji fantastis tidak membuat Arie rela menjual harga diri dan kecintaan nya terhadap Indonesia. 

Putra Minahasa kelahiran 6 juli 1918 ini sadar betul akan resiko yang akan dihadapi nya bila menolak keinginan penjajah Belanda tapi kecintaan yang besar terhadap Republik Indonesia membuat ia membulatkan tekad untuk tetap berjuang bersama kaum Republik. 


Pada subuh dinihari 7 mei 1949 Arie dijemput sepasukan tentara Belanda dari rumahnya untuk dibawa kedaerah Pakem di utara Yogyakarta untuk 'dihabisi'. Suami dari Nieke Maramis ini akhirnya meregang nyawa dihadapan satu regu tembak yang bengis dari pasukan Belanda. Atas jasa jasanya Arie dianugerahi pemerintah Indonesia dengan gelar pahlawan pembela kemerdekaan pada tahun 1969.

10 September 2026

Kasinem: Perjalanan Seorang Perempuan Jawa ke Suriname Kartu arsip ini mencatat perjalanan Kasinem, seorang perempuan asal Jawa yang berangkat ke Suriname sebagai pekerja kontrak. Ia tercatat lahir di Hindia Belanda, berusia 24 tahun, memiliki tinggi 147 cm, beragama Islam, dan mempunyai ciri pengenal berupa cuping telinga yang robek. Nama ayahnya tercantum dalam kartu, tetapi tidak ada nama yang terbaca pada data arsip yang tersedia. Kasinem berasal dari Desa Djolangan, Distrik Toeloongagoong, Departemen Toeloongagoong, wilayah Kediri. Pada 14 April 1908, Kasinem berangkat dari Semarang menuju Suriname dengan kapal uap (SS) Sumatra & Pangeran William IV. Nomor yang tercatat pada arsip adalah 198. Ia tiba di Paramaribo dan kemudian ditempatkan untuk bekerja di bawah Fernandes, JD, administrator, untuk kepentingan pemerintah kolonial. Dalam kartu tercatat kode kontrak KK100. Masa kontraknya dimulai pada 15 Juni 1908 dan berakhir pada 15 Juni 1913. Arsip juga mencatat bahwa ketika tiba di Suriname, Kasinem sempat dirawat di Rumah Sakit Militer dan keluar pada 4 Juli 1908. Ia kemudian dipindahkan ke M. dan Z. berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 18 Maret 1911 nomor 11. Tempat kerja Kasinem tercatat sebagai perkebunan Leliendaal (Ben. Comm.). Arsip tidak mengetahui dengan pasti kapal yang digunakan untuk kepulangannya ke Jawa, sehingga kemungkinan catatan kepulangannya memang tidak tersedia dalam dokumen ini. Beberapa tahun kemudian, kartu mencatat tanggal CVO 13 Januari 1915 dan premi diterima pada 19 Februari 1917. Pada bagian situasi lahan, tercatat bahwa berdasarkan akta tanggal 29 Juni 1929 nomor 1975, sebidang tanah di 14 Arubaweg disewakan. --- Keluarga Kasinem di Suriname Catatan keluarga menunjukkan bahwa Kasinem kemudian membangun kehidupan keluarga di Suriname. Ia menikah dengan Satimin 76/JJ pada 4 April 1917. Dari catatan tersebut, anak-anak yang diakui antara lain: • Satina, perempuan, lahir 4 Oktober 1909. • Kasira, perempuan, lahir 17 April 1911, dengan keterangan MH pada catatan kelahirannya. • Kasio, laki-laki, lahir 26 Mei 1913 di Leliendaal. Ia kemudian tercatat meninggal pada 18 September 1913 di Leliendaal. • Nicolaas, laki-laki, lahir 13 September 1914 di Leliendaal. • Samin, laki-laki, lahir 9 Desember 1918 di Lelydorperweg. • Pahing, laki-laki, lahir 11 April 1921 di Lelydorp. • Terdapat pula satu catatan anak yang lahir 19 Juli 1926 di Hindoeweg, tetapi bagian nama dan keterangannya tidak sepenuhnya jelas dalam salinan arsip. Kartu ini kemudian berkembang menjadi catatan keluarga yang sangat panjang. Di dalamnya tercatat berbagai pernikahan, kelahiran, kematian, pengakuan anak, serta perubahan atau pemilihan nama keluarga pada generasi berikutnya. Salah satu catatan penting adalah mengenai Samin, putra Kasinem dan Satimin. Pada 31 Januari 1941, ia memilih nama keluarga Satimin dan nama depan Samin. Tidak lama kemudian, pada 23 Januari 1941, Samin menikah dengan Moekinem, putri Bok Kromodirjo 2082/VV, di Distrik Suriname. Putri Kasinem, Kasira, juga memiliki catatan keluarga yang cukup panjang. Ia menikah pada 22 September 1938 di Distrik Suriname dengan Eduard Francois Itjoejares. Dari hubungan keluarga tersebut kemudian tercatat anak-anak dan keturunan seperti Phil Ronald yang lahir pada 27 Maret 1944 di Lelydorp dan Anastacia Paulina yang lahir pada 27 Juli 1951 di Lelydorp. Arsip juga mencatat sejumlah perubahan nama keluarga pada keturunan mereka. Sementara itu, putri Kasinem lainnya, Satina, tercatat menikah dan memiliki anak-anak yang kemudian menggunakan atau memilih nama keluarga seperti Paimin. Kartu juga mencatat perubahan nama beberapa keturunan pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa satu kartu arsip tidak hanya mencatat perjalanan Kasinem sebagai pekerja kontrak, tetapi juga menjadi jejak administratif kehidupan anak-anak dan cucu-cucunya di Suriname. --- Dari Jawa ke Suriname Kisah Kasinem memperlihatkan bahwa perjalanan seorang pekerja kontrak tidak berhenti pada saat kapal tiba di Paramaribo. Setelah meninggalkan Jawa pada usia 24 tahun pada tahun 1908, kehidupannya di Suriname berkembang menjadi sebuah sejarah keluarga yang berlangsung selama beberapa generasi. Kartu arsip tersebut memperlihatkan perjalanan dari Djolangan di Jawa → Semarang → perjalanan laut → Paramaribo → perkebunan Leliendaal, kemudian berlanjut pada kehidupan keluarga di Suriname. Nama Kasinem, Satimin, Satina, Kasira, Samin, dan keturunan mereka kemudian muncul kembali dalam berbagai catatan administrasi hingga puluhan tahun setelah kedatangannya. --- - Sumber: Nationaal Archief, “Javaanse contractarbeiders in Suriname 1890–1930”. - Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah - Foto Asli Hitam Putih di Komentar ! Catatan: ejaan nama, singkatan, nomor register, dan beberapa bagian catatan keluarga mengikuti data pada kartu arsip. Beberapa bagian dalam salinan arsip tidak terbaca dengan jelas sehingga tidak ditafsirkan sebagai fakta baru. #SejarahIndonesia #Jawa #Suriname

 Kasinem: Perjalanan Seorang Perempuan Jawa ke Suriname





Kartu arsip ini mencatat perjalanan Kasinem, seorang perempuan asal Jawa yang berangkat ke Suriname sebagai pekerja kontrak. Ia tercatat lahir di Hindia Belanda, berusia 24 tahun, memiliki tinggi 147 cm, beragama Islam, dan mempunyai ciri pengenal berupa cuping telinga yang robek. Nama ayahnya tercantum dalam kartu, tetapi tidak ada nama yang terbaca pada data arsip yang tersedia. Kasinem berasal dari Desa Djolangan, Distrik Toeloongagoong, Departemen Toeloongagoong, wilayah Kediri.


Pada 14 April 1908, Kasinem berangkat dari Semarang menuju Suriname dengan kapal uap (SS) Sumatra & Pangeran William IV. Nomor yang tercatat pada arsip adalah 198. Ia tiba di Paramaribo dan kemudian ditempatkan untuk bekerja di bawah Fernandes, JD, administrator, untuk kepentingan pemerintah kolonial.


Dalam kartu tercatat kode kontrak KK100. Masa kontraknya dimulai pada 15 Juni 1908 dan berakhir pada 15 Juni 1913. Arsip juga mencatat bahwa ketika tiba di Suriname, Kasinem sempat dirawat di Rumah Sakit Militer dan keluar pada 4 Juli 1908. Ia kemudian dipindahkan ke M. dan Z. berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 18 Maret 1911 nomor 11.


Tempat kerja Kasinem tercatat sebagai perkebunan Leliendaal (Ben. Comm.). Arsip tidak mengetahui dengan pasti kapal yang digunakan untuk kepulangannya ke Jawa, sehingga kemungkinan catatan kepulangannya memang tidak tersedia dalam dokumen ini. Beberapa tahun kemudian, kartu mencatat tanggal CVO 13 Januari 1915 dan premi diterima pada 19 Februari 1917. Pada bagian situasi lahan, tercatat bahwa berdasarkan akta tanggal 29 Juni 1929 nomor 1975, sebidang tanah di 14 Arubaweg disewakan.


---


Keluarga Kasinem di Suriname


Catatan keluarga menunjukkan bahwa Kasinem kemudian membangun kehidupan keluarga di Suriname. Ia menikah dengan Satimin 76/JJ pada 4 April 1917. Dari catatan tersebut, anak-anak yang diakui antara lain:


• Satina, perempuan, lahir 4 Oktober 1909.

• Kasira, perempuan, lahir 17 April 1911, dengan keterangan MH pada catatan kelahirannya.

• Kasio, laki-laki, lahir 26 Mei 1913 di Leliendaal. Ia kemudian tercatat meninggal pada 18 September 1913 di Leliendaal.

• Nicolaas, laki-laki, lahir 13 September 1914 di Leliendaal.

• Samin, laki-laki, lahir 9 Desember 1918 di Lelydorperweg.

• Pahing, laki-laki, lahir 11 April 1921 di Lelydorp.

• Terdapat pula satu catatan anak yang lahir 19 Juli 1926 di Hindoeweg, tetapi bagian nama dan keterangannya tidak sepenuhnya jelas dalam salinan arsip.


Kartu ini kemudian berkembang menjadi catatan keluarga yang sangat panjang. Di dalamnya tercatat berbagai pernikahan, kelahiran, kematian, pengakuan anak, serta perubahan atau pemilihan nama keluarga pada generasi berikutnya.


Salah satu catatan penting adalah mengenai Samin, putra Kasinem dan Satimin. Pada 31 Januari 1941, ia memilih nama keluarga Satimin dan nama depan Samin. Tidak lama kemudian, pada 23 Januari 1941, Samin menikah dengan Moekinem, putri Bok Kromodirjo 2082/VV, di Distrik Suriname.


Putri Kasinem, Kasira, juga memiliki catatan keluarga yang cukup panjang. Ia menikah pada 22 September 1938 di Distrik Suriname dengan Eduard Francois Itjoejares. Dari hubungan keluarga tersebut kemudian tercatat anak-anak dan keturunan seperti Phil Ronald yang lahir pada 27 Maret 1944 di Lelydorp dan Anastacia Paulina yang lahir pada 27 Juli 1951 di Lelydorp. Arsip juga mencatat sejumlah perubahan nama keluarga pada keturunan mereka.


Sementara itu, putri Kasinem lainnya, Satina, tercatat menikah dan memiliki anak-anak yang kemudian menggunakan atau memilih nama keluarga seperti Paimin. Kartu juga mencatat perubahan nama beberapa keturunan pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa satu kartu arsip tidak hanya mencatat perjalanan Kasinem sebagai pekerja kontrak, tetapi juga menjadi jejak administratif kehidupan anak-anak dan cucu-cucunya di Suriname.


---


Dari Jawa ke Suriname


Kisah Kasinem memperlihatkan bahwa perjalanan seorang pekerja kontrak tidak berhenti pada saat kapal tiba di Paramaribo. Setelah meninggalkan Jawa pada usia 24 tahun pada tahun 1908, kehidupannya di Suriname berkembang menjadi sebuah sejarah keluarga yang berlangsung selama beberapa generasi.


Kartu arsip tersebut memperlihatkan perjalanan dari Djolangan di Jawa → Semarang → perjalanan laut → Paramaribo → perkebunan Leliendaal, kemudian berlanjut pada kehidupan keluarga di Suriname. Nama Kasinem, Satimin, Satina, Kasira, Samin, dan keturunan mereka kemudian muncul kembali dalam berbagai catatan administrasi hingga puluhan tahun setelah kedatangannya.


---


- Sumber: Nationaal Archief, “Javaanse contractarbeiders in Suriname 1890–1930”.

- Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah

- Foto Asli Hitam Putih di Komentar !


Catatan: ejaan nama, singkatan, nomor register, dan beberapa bagian catatan keluarga mengikuti data pada kartu arsip. Beberapa bagian dalam salinan arsip tidak terbaca dengan jelas sehingga tidak ditafsirkan sebagai fakta baru.


#SejarahIndonesia #Jawa #Suriname

66 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Maret 1960, sebuah bidikan kamera secara tidak sengaja mengabadikan wajah Ernesto "Che" Guevara dalam sebuah upacara pemakaman di Kuba. Saat itu, pemimpin revolusioner Fidel Castro tengah menyampaikan pidato berapi-api untuk menghormati para pekerja yang tewas dalam ledakan kapal pengangkut senjata di pelabuhan Havana, peristiwa yang dituduhkan pemerintah Kuba kepada Amerika Serikat. Di tengah kerumunan, fotografer surat kabar La Revoluciรณn, Alberto Dรญaz Gutiรฉrrez atau yang lebih dikenal sebagai Alberto Korda, menangkap ekspresi Che yang teguh dengan baret bintangnya selama kurang lebih tiga puluh detik sebelum pria itu kembali menghilang di balik kerumunan. Foto yang kemudian diberi judul Guerrillero Heroico (Pejuang Gerilya Heroik) itu awalnya hanya menjadi koleksi pribadi Korda karena editor surat kabarnya menolak untuk mempublikasikannya. Namun, beberapa tahun setelah Che dieksekusi mati di Bolivia pada 1967, citra tersebut meledak secara global dan bertransformasi dari sekadar dokumentasi jurnalistik menjadi logo abstrak perlawanan. Bagaimana sebuah potret yang sempat terabaikan bisa menjadi simbol pemberontakan paling produktif di dunia? Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan hidup Che hingga ia dipuja sebagai martir sekaligus dikecam sebagai tiran yang kejam? Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134358914/66-tahun-foto-ikonik-che-guevara-mengapa-jadi-simbol-perlawanan-dunia



  66 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Maret 1960, sebuah bidikan kamera secara tidak sengaja mengabadikan wajah Ernesto "Che" Guevara dalam sebuah upacara pemakaman di Kuba.





Saat itu, pemimpin revolusioner Fidel Castro tengah menyampaikan pidato berapi-api untuk menghormati para pekerja yang tewas dalam ledakan kapal pengangkut senjata di pelabuhan Havana, peristiwa yang dituduhkan pemerintah Kuba kepada Amerika Serikat.


Di tengah kerumunan, fotografer surat kabar La Revoluciรณn, Alberto Dรญaz Gutiรฉrrez atau yang lebih dikenal sebagai Alberto Korda, menangkap ekspresi Che yang teguh dengan baret bintangnya selama kurang lebih tiga puluh detik sebelum pria itu kembali menghilang di balik kerumunan.


Foto yang kemudian diberi judul Guerrillero Heroico (Pejuang Gerilya Heroik) itu awalnya hanya menjadi koleksi pribadi Korda karena editor surat kabarnya menolak untuk mempublikasikannya.


Namun, beberapa tahun setelah Che dieksekusi mati di Bolivia pada 1967, citra tersebut meledak secara global dan bertransformasi dari sekadar dokumentasi jurnalistik menjadi logo abstrak perlawanan.


Bagaimana sebuah potret yang sempat terabaikan bisa menjadi simbol pemberontakan paling produktif di dunia? Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan hidup Che hingga ia dipuja sebagai martir sekaligus dikecam sebagai tiran yang kejam?


Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134358914/66-tahun-foto-ikonik-che-guevara-mengapa-jadi-simbol-perlawanan-dunia



66 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Maret 1960, sebuah bidikan kamera secara tidak sengaja mengabadikan wajah Ernesto "Che" Guevara dalam sebuah upacara pemakaman di Kuba. Saat itu, pemimpin revolusioner Fidel Castro tengah menyampaikan pidato berapi-api untuk menghormati para pekerja yang tewas dalam ledakan kapal pengangkut senjata di pelabuhan Havana, peristiwa yang dituduhkan pemerintah Kuba kepada Amerika Serikat. Di tengah kerumunan, fotografer surat kabar La Revoluciรณn, Alberto Dรญaz Gutiรฉrrez atau yang lebih dikenal sebagai Alberto Korda, menangkap ekspresi Che yang teguh dengan baret bintangnya selama kurang lebih tiga puluh detik sebelum pria itu kembali menghilang di balik kerumunan. Foto yang kemudian diberi judul Guerrillero Heroico (Pejuang Gerilya Heroik) itu awalnya hanya menjadi koleksi pribadi Korda karena editor surat kabarnya menolak untuk mempublikasikannya. Namun, beberapa tahun setelah Che dieksekusi mati di Bolivia pada 1967, citra tersebut meledak secara global dan bertransformasi dari sekadar dokumentasi jurnalistik menjadi logo abstrak perlawanan. Bagaimana sebuah potret yang sempat terabaikan bisa menjadi simbol pemberontakan paling produktif di dunia? Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan hidup Che hingga ia dipuja sebagai martir sekaligus dikecam sebagai tiran yang kejam? Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134358914/66-tahun-foto-ikonik-che-guevara-mengapa-jadi-simbol-perlawanan-dunia

 66 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Maret 1960, sebuah bidikan kamera secara tidak sengaja mengabadikan wajah Ernesto "Che" Guevara dalam sebuah upacara pemakaman di Kuba.






Saat itu, pemimpin revolusioner Fidel Castro tengah menyampaikan pidato berapi-api untuk menghormati para pekerja yang tewas dalam ledakan kapal pengangkut senjata di pelabuhan Havana, peristiwa yang dituduhkan pemerintah Kuba kepada Amerika Serikat.


Di tengah kerumunan, fotografer surat kabar La Revoluciรณn, Alberto Dรญaz Gutiรฉrrez atau yang lebih dikenal sebagai Alberto Korda, menangkap ekspresi Che yang teguh dengan baret bintangnya selama kurang lebih tiga puluh detik sebelum pria itu kembali menghilang di balik kerumunan.


Foto yang kemudian diberi judul Guerrillero Heroico (Pejuang Gerilya Heroik) itu awalnya hanya menjadi koleksi pribadi Korda karena editor surat kabarnya menolak untuk mempublikasikannya.


Namun, beberapa tahun setelah Che dieksekusi mati di Bolivia pada 1967, citra tersebut meledak secara global dan bertransformasi dari sekadar dokumentasi jurnalistik menjadi logo abstrak perlawanan.


Bagaimana sebuah potret yang sempat terabaikan bisa menjadi simbol pemberontakan paling produktif di dunia? Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan hidup Che hingga ia dipuja sebagai martir sekaligus dikecam sebagai tiran yang kejam?


Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134358914/66-tahun-foto-ikonik-che-guevara-mengapa-jadi-simbol-perlawanan-dunia

09 September 2026

 MENGAPA BERZIARAH KE MAKAM PATIH DANUREJA V?


Patih Danureja V adalah Patih Kesultanan Jogjakarta setelah Perang Jawa.


Patih Danureja V adalah anak Patih Danureja II, cucu Patih Danureja I.


Patih Danureja I sebelumnya adalah Bupati Banyumas dengan gelar Tumenggung Yudanegara III.


Bupati Banyumas diangkat oleh Raja Jogjakarta, Sultan Hamengku Buwana I, namun wilayah Banyumas masuk Kasunanan Surakarta.


Saya berziarah ke makam Patih Danureja V karena 2 alasan.


Pertama, saya merasa wajib berziarah setelah menerjemahkan "Babad Banyumas Danuredjan".



"Babad Banyumas Danurejan" adalah Babad Banyumas yang disusun oleh Patih Danureja V, beberapa tahun sebelum meninggal. 


Kedua, saya merasa wajib berziarah setelah menerjemahkan "Babad Diponegoro".


"Babad Diponegoro" mengisahkan tentang sosok Basah Gondokusumo.


Basah Gondokusumo adalah panglima Pangeran Diponegoro untuk wilayah Kabupaten Roma. (Tentang Kabupaten Roma, sudah saya tulis kemarin).


Basah Gondokusumo menjadi tokoh penting, karena menjadi pendamping Pangeran Diponegoro di saat-saat akhir Perang Jawa.


Basah Gondokusumo yang mendampingi Pangeran Diponegoro ketika pertama bertemu Belanda di Roma. Dan, terus mendampingi sang pangeran sampai di Magelang.


Basah Gondokusumo menjadi saksi mata penangkapan Pangeran Diponegoro.


Kelak, pengalaman selama mendampingi Pangeran Diponegoro ditulis dalam "Babad Diponegoro Gondokusumo".


"Babad Diponegoro Gondokusumo" adalah Babad Diponegoro paling detil dalam mencatat seluruh peristiwa.


Ada yang pernah baca?


Setelah Perang Jawa selesai, Basah Gondokusumo diangkat menjadi Patih Jogjakarta, dengan gelar Adipati Danureja V.


Makam Patih Danureja V berada di Astana Mlangi, Jogjakarta.

Sumber : Nassirun Purwokarton

#babadbanyumas #danuredjan #babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

Pada awal abad ke-19, wilayah Kedu (sekitar Desa Bumi Segoro) mendadak heboh. Sebuah tumpukan abu vulkanik dan semak belukar raksasa yang dikira warga cuma bukit biasa untuk mencuci arit, ternyata menyimpan mahakarya arsitektur batu paling megah di muka bumi: Candi Borobudur. Berikut adalah deklasifikasi risalah penemuan kembali takhta batu tersebut yang dilengkapi sadapan dialog imajiner berdosis kearifan lokal tinggi. Semua bermula ketika Gubernur Jenderal Britania Raya, Thomas Stamford Raffles, sedang melamun di ruang kerjanya sambil memikirkan nama latin untuk tanaman baru. Tiba-tiba, Bupati Yogyakarta, Tan Jin Sing, masuk membawa dokumen rahasia. [TRANSKRIP SADAPAN DIALOG: RUANG KERJA RAFFLES] Tan Jin Sing: "Mister Raffles... Sampeyan kan seneng banget kumpul-kumpul batu tua sama nulis buku nih. Tak kasih tau info A1 mau?" Raffles: "Wah, info opo itu, Kang Tan? Ada spesies bunga bangkai baru lagi?" Tan Jin Sing: "Dudu! Ini di daerah Kedu, dekat Desa Bumi Segoro, ada bukit aneh. Banyak batu ukir bergambar ketutupan grumbul (semak belukar) sama abu vulkanik. Warga sekitar mikirnya itu cuma reruntuhan bekas kerajaan ghaib." Raffles: "Oalah, Ladalah! Batu bergambar sebesar bukit?! Ini sih bukan ghaib, ini potensi jadi proyek museum besar! Kita harus kirim tim ekspedisi sekarang juga!" Mendengar kabar burung bernilai sejarah tinggi tersebut, Raffles langsung mengutus seorang ahli teknik asal Belanda bernama H.C. Cornelius untuk meluncur ke lokasi. Cornelius memboyong sekitar 200 warga lokal untuk menggelar aksi "Kerja Bakti Agung". Peralatan tempur mereka sederhana: cangkul, arit, dan sapu lidi raksasa demi membongkar timbunan tanah dan abu Merapi purba. [TRANSKRIP SADAPAN DIALOG: LAPANGAN KEDU] Cornelius: "Ayo, bapak-bapak! Bacok itu semak belukar! Cangkul tanahnya pelan-pelan, jangan sampai relief batu bergambarnya retak!" Warga Local 1: "Aduh, Meneer Cornelius... Ini batu ukirnya banyak amat! Ada gambar orang naik perahu, ada gambar gajah, ada gambar pohon asem... Ini batu candi apa komik bergambar?!" Warga Local 2: "Mana tanah abunya tebal banget lagi, Meneer. Dulu nenek moyang kita kalau ngumpetim candi kok rapi amat ya, dipendem pakaikan abu vulkanik segala!" Cornelius: "Sudah, jangan banyak protes! Nanti selesai kerja bakti, tak kasih es cendol sama tiwul hangat!" Penuntasan Pembersihan: Era Residen Hartman (1835) 1. Pengambilalihan Sektor oleh Residen Hartman Fase Operasi Lanjutan Setelah Cornelius membuka gerbang awal, pada tahun 1835 Residen Kedu bernama Hartman melanjutkan proyek penggalian secara total dan masif. 2. Mengupas Lapisan Penutup Terakhir Fase Pengangkatan Abu Hartman mengerahkan tenaga ekstra untuk mengerok sisa-sisa bukit abu vulkanik yang masih mengunci bagian lorong-lorong utama. 3. Kemunculan Monumen Utama Fase Penampakan Wujud Maha struktur Borobudur mulai dari stupa puncak, lorong stupa berlubang, hingga ribuan panel relief yang megah akhirnya berdiri gagah dan terlihat jelas oleh mata dunia. Penemuan kembali Candi Borobudur membuktikan satu hukum arkeologi: bahwa mahakarya sejati mungkin bisa tertimbun oleh abu dan terlupakan oleh waktu, namun pada akhirnya akan tetap bersinar saat ada orang yang mau repot-repot membawa cangkul dan menggalinya. Pesan untuk Sobat Kosmik: Jikalau Anda melihat gundukan tanah atau kebun belakang rumah yang penuh semak belukar, jangan terburu-buru dijadikan tempat pembuangan sampah. Siapa tahu di bawahnya ada stupa batu atau prasasti peninggalan leluhur! Dan ingat, kalau sedang ikut kerja bakti RT, kerjakan dengan ikhlas sampai bersih siapa tahu yang Anda cangkul adalah sejarah masa depan! #BeritaTerkini #SejarahBorobudur #PenemuanCandi #DialogKearifanLokal #InfoNASA

 Pada awal abad ke-19, wilayah Kedu (sekitar Desa Bumi Segoro) mendadak heboh. Sebuah tumpukan abu vulkanik dan semak belukar raksasa yang dikira warga cuma bukit biasa untuk mencuci arit, ternyata menyimpan mahakarya arsitektur batu paling megah di muka bumi: Candi Borobudur.



Berikut adalah deklasifikasi risalah penemuan kembali takhta batu tersebut yang dilengkapi sadapan dialog imajiner berdosis kearifan lokal tinggi.


Semua bermula ketika Gubernur Jenderal Britania Raya, Thomas Stamford Raffles, sedang melamun di ruang kerjanya sambil memikirkan nama latin untuk tanaman baru. Tiba-tiba, Bupati Yogyakarta, Tan Jin Sing, masuk membawa dokumen rahasia.


[TRANSKRIP SADAPAN DIALOG: RUANG KERJA RAFFLES]


Tan Jin Sing: "Mister Raffles... Sampeyan kan seneng banget kumpul-kumpul batu tua sama nulis buku nih. Tak kasih tau info A1 mau?"


Raffles: "Wah, info opo itu, Kang Tan? Ada spesies bunga bangkai baru lagi?"


Tan Jin Sing: "Dudu! Ini di daerah Kedu, dekat Desa Bumi Segoro, ada bukit aneh. Banyak batu ukir bergambar ketutupan grumbul (semak belukar) sama abu vulkanik. Warga sekitar mikirnya itu cuma reruntuhan bekas kerajaan ghaib."


Raffles: "Oalah, Ladalah! Batu bergambar sebesar bukit?! Ini sih bukan ghaib, ini potensi jadi proyek museum besar! Kita harus kirim tim ekspedisi sekarang juga!"


Mendengar kabar burung bernilai sejarah tinggi tersebut, Raffles langsung mengutus seorang ahli teknik asal Belanda bernama H.C. Cornelius untuk meluncur ke lokasi.


Cornelius memboyong sekitar 200 warga lokal untuk menggelar aksi "Kerja Bakti Agung". Peralatan tempur mereka sederhana: cangkul, arit, dan sapu lidi raksasa demi membongkar timbunan tanah dan abu Merapi purba.


[TRANSKRIP SADAPAN DIALOG: LAPANGAN KEDU]


Cornelius: "Ayo, bapak-bapak! Bacok itu semak belukar! Cangkul tanahnya pelan-pelan, jangan sampai relief batu bergambarnya retak!"


Warga Local 1: "Aduh, Meneer Cornelius... Ini batu ukirnya banyak amat! Ada gambar orang naik perahu, ada gambar gajah, ada gambar pohon asem... Ini batu candi apa komik bergambar?!"


Warga Local 2: "Mana tanah abunya tebal banget lagi, Meneer. Dulu nenek moyang kita kalau ngumpetim candi kok rapi amat ya, dipendem pakaikan abu vulkanik segala!"


Cornelius: "Sudah, jangan banyak protes! Nanti selesai kerja bakti, tak kasih es cendol sama tiwul hangat!"


Penuntasan Pembersihan: Era Residen Hartman (1835)

1. Pengambilalihan Sektor oleh Residen Hartman

Fase Operasi Lanjutan

Setelah Cornelius membuka gerbang awal, pada tahun 1835 Residen Kedu bernama Hartman melanjutkan proyek penggalian secara total dan masif.


2. Mengupas Lapisan Penutup Terakhir

Fase Pengangkatan Abu

Hartman mengerahkan tenaga ekstra untuk mengerok sisa-sisa bukit abu vulkanik yang masih mengunci bagian lorong-lorong utama.


3. Kemunculan Monumen Utama

Fase Penampakan Wujud

Maha struktur Borobudur mulai dari stupa puncak, lorong stupa berlubang, hingga ribuan panel relief yang megah akhirnya berdiri gagah dan terlihat jelas oleh mata dunia.


Penemuan kembali Candi Borobudur membuktikan satu hukum arkeologi: bahwa mahakarya sejati mungkin bisa tertimbun oleh abu dan terlupakan oleh waktu, namun pada akhirnya akan tetap bersinar saat ada orang yang mau repot-repot membawa cangkul dan menggalinya.


Pesan untuk Sobat Kosmik: Jikalau Anda melihat gundukan tanah atau kebun belakang rumah yang penuh semak belukar, jangan terburu-buru dijadikan tempat pembuangan sampah. Siapa tahu di bawahnya ada stupa batu atau prasasti peninggalan leluhur! Dan ingat, kalau sedang ikut kerja bakti RT, kerjakan dengan ikhlas sampai bersih siapa tahu yang Anda cangkul adalah sejarah masa depan!

Sumber : Wukir Mahendra

#BeritaTerkini #SejarahBorobudur #PenemuanCandi #DialogKearifanLokal #InfoNASA

Kapal Kargo Dibajak, Presiden Amerika Serikat Murka dan Tenggelamkan Kuala Batu Aceh, Ratusan Warga Tewas. Penulis : Dede Nana - Editor : Lazuardi Firdaus Gambar yang melukiskan keberanian perempuan Aceh dalam pertempuran antara pasukan Amerika dengan kerajaan Kuala Batu, 1831 (Ist) MALANGTIMES - 300 warga Kuala Batee (Quallah Battoo) atau Kuala Batu, Aceh, tidak bisa menghadang serangan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. Bombardir pasukan di bawah Komodor John Downes membuat ratusan warga tewas dalam pertempuran tidak seimbang serta meluluhlantakkan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Cut Ampon Tuan yang memerintah pada tahun 1785. Pertempuran yang dipicu oleh tindakan pembajakan warga Kuala Batu, 1831, serta mengakibatkan kematian anak buah kapal kargo milik perusahaan asal Amerika. Memantik kegemparan dan kemarahan Presiden Amerika Serikat, Andrew Jackson. Sang Presiden Amerika Serikat pun memerintahkan pasukan angkatan lautnya untuk menyerang kerajaan kecil yang pernah berkuasa dan berjaya sekitar tahun 1785 – 1832 Masehi. Kapal perang USS Potomac di bawah Komodor John Downes dengan pasukan dan persenjataan lengkap pun diberangkatkan. Pertempuran sengit tidak berimbang antara pasukan Amerika Serikat dengan pasukan kerajaan Kuala Batu yang kini lokasinya masuk dalam wilayah Kecamatan Kuala Batee sekarang dan berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya. Terekam dalam sebuah lukisan yang sempat dikirimkan oleh Dr Farish A Noor seorang ilmuwan politik dan sejarawan dan Associate Professor di Rajaratnam School of International Studies serta Sekolah Sejarah Departemen Humaniora dan Ilmu Sosial di Nanyang Technological University, Singapura. Gambar tersebut mengisahkan ketika pasukan Amerika Serikat melakukan invasi tahun 1832. Dalam gambar tersebut terlihat sengitnya pertempuran yang tidak seimbang serta memperlihatkan kegigihan dan keberanian warga Kuala Batu dalam menghadapi pasukan Amerika Serikat. Laki-laki dan perempuan Kuala Batu bersatu melawan kemarahan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. Di gambar yang tersimpan di museum Sejarah Amerika Serikat Ellis pada tahun 1898, yakni 7 dekade usai invasi Amerika Serikat Kuala Batee (Quallah Battoo). Terlukis perempuan Aceh menghalangi tentara Amerika yang menusukkan pedang ke arah seorang lelaki. Keberanian para perempuan Aceh di masa itu, semakin menguatkan keberanian kaum hawa pada berbagai perang melawan penjajah Belanda. Darah pejuang tak kenal menyerah dan berani mati, ternyata telah mengalir sejak lama di bumi rencong Aceh. Pertempuran yang diibaratkan David and Goliath tersebut, tentunya dimenangkan pasukan Amerika bersenjata lengkap. Downes memerintahkan 1 detasemen dari 282 marinir dan nakhoda ke perahu kapal, yang beberapa dari perahu itu sudah dilengkapi dengan meriam ringan. Senapan-senapan Potomac digunakan untuk membalas tembakan dari benteng Kuala Batee. Sedangkan pasukan Kuala Batu hanya memiliki senapan kunci korek yang sudah ketinggalan zaman. Benteng Kuala Batu pun hancur setelah dengan sengit dipertahankan. 150 jiwa tewas dalam pertempuran tersebut. Namun penduduk berperang dengan sengit dan pertempuran bergeser ke pertarungan tangan dimana salah satu raja yang menguasai benteng terbunuh bersama 150 jawara lainnya. Tidak puas menaklukkan benteng pesisir, pasukan Amerika menyerang kota. Meluluh lantakkan seluruh isi Kota Kuala Batu. Warga tewas mencapai 300 orang dan yang selamat menyerah. Dipihak Amerika Serikat, hanya 2 yang tewas selama serangan dan 11 nakhoda dan marinir lainnya luka-luka. Kisah pertempuran sengit tersebut juga diabadikan dalam buku Quallah Battoo karya Dr Ronald Stephen Knapp dan diluncurkan pada 29 Agustus 2017.(*) *** Gambar yang melukiskan keberanian perempuan Aceh dalam pertempuran antara pasukan Amerika dengan kerajaan Kuala Batu, 1831 (Ist)

 Kapal Kargo Dibajak, Presiden Amerika Serikat Murka dan Tenggelamkan Kuala Batu Aceh, Ratusan Warga Tewas.


Penulis : Dede Nana - Editor : Lazuardi Firdaus


Gambar yang melukiskan keberanian perempuan Aceh dalam pertempuran antara pasukan Amerika dengan kerajaan Kuala Batu, 1831 (Ist)


MALANGTIMES - 300 warga Kuala Batee (Quallah Battoo) atau Kuala Batu, Aceh, tidak bisa menghadang serangan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. 


Bombardir pasukan di bawah Komodor John Downes membuat ratusan warga tewas dalam pertempuran tidak seimbang serta meluluhlantakkan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Cut Ampon Tuan yang memerintah pada tahun 1785.


Pertempuran yang dipicu oleh tindakan pembajakan warga Kuala Batu, 1831, serta mengakibatkan kematian anak buah kapal kargo milik perusahaan asal Amerika.


Memantik kegemparan dan kemarahan Presiden Amerika Serikat, Andrew Jackson. 


Sang Presiden Amerika Serikat pun memerintahkan pasukan angkatan lautnya untuk menyerang kerajaan kecil yang pernah berkuasa dan berjaya sekitar tahun 1785 – 1832 Masehi. 


Kapal perang USS Potomac di bawah Komodor John Downes dengan pasukan dan persenjataan lengkap pun diberangkatkan.


Pertempuran sengit tidak berimbang antara pasukan Amerika Serikat dengan pasukan kerajaan Kuala Batu yang kini lokasinya masuk dalam wilayah Kecamatan Kuala Batee sekarang dan berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya.


Terekam dalam sebuah lukisan yang sempat dikirimkan oleh Dr Farish A Noor seorang ilmuwan politik dan sejarawan dan Associate Professor di Rajaratnam School of International Studies serta Sekolah Sejarah Departemen Humaniora dan Ilmu Sosial di Nanyang Technological University, Singapura.


Gambar tersebut mengisahkan ketika pasukan Amerika Serikat melakukan invasi tahun 1832.


Dalam gambar tersebut terlihat sengitnya pertempuran yang tidak seimbang serta memperlihatkan kegigihan dan keberanian warga Kuala Batu dalam menghadapi pasukan Amerika Serikat.


Laki-laki dan perempuan Kuala Batu bersatu melawan kemarahan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. 


Di gambar yang tersimpan di museum Sejarah Amerika Serikat Ellis pada tahun 1898, yakni 7 dekade usai invasi Amerika Serikat Kuala Batee (Quallah Battoo). 


Terlukis perempuan Aceh menghalangi tentara Amerika yang menusukkan pedang ke arah seorang lelaki.


Keberanian para perempuan Aceh di masa itu, semakin menguatkan keberanian kaum hawa pada berbagai perang melawan penjajah Belanda. 


Darah pejuang tak kenal menyerah dan berani mati, ternyata telah mengalir sejak lama di bumi rencong Aceh.


Pertempuran yang diibaratkan David and Goliath tersebut, tentunya dimenangkan pasukan Amerika bersenjata lengkap.


Downes memerintahkan 1 detasemen dari 282 marinir dan nakhoda ke perahu kapal, yang beberapa dari perahu itu sudah dilengkapi dengan meriam ringan. 


Senapan-senapan Potomac digunakan untuk membalas tembakan dari benteng Kuala Batee.


Sedangkan pasukan Kuala Batu hanya memiliki senapan kunci korek yang sudah ketinggalan zaman. 


Benteng Kuala Batu pun hancur setelah dengan sengit dipertahankan. 150 jiwa tewas dalam pertempuran tersebut. 


Namun penduduk berperang dengan sengit dan pertempuran bergeser ke pertarungan tangan dimana salah satu raja yang menguasai benteng terbunuh bersama 150 jawara lainnya.


Tidak puas menaklukkan benteng pesisir, pasukan Amerika menyerang kota. 


Meluluh lantakkan seluruh isi Kota Kuala Batu. Warga tewas mencapai 300 orang dan yang selamat menyerah.


Dipihak Amerika Serikat, hanya 2 yang tewas selama serangan dan 11 nakhoda dan marinir lainnya luka-luka.


Kisah pertempuran sengit tersebut juga diabadikan dalam buku Quallah Battoo karya Dr Ronald Stephen Knapp dan diluncurkan pada 29 Agustus 2017.(*)


***



Gambar yang melukiskan keberanian perempuan Aceh dalam pertempuran antara pasukan Amerika dengan kerajaan Kuala Batu, 1831 (Ist)

58 tahun silam (tepatnya pada 1 Februari 1968), sebuah peluru dari pistol milik Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan menembus pelipis seorang tawanan bernama Nguyen Van Lem. Di lokasi tersebut, hanya beberapa kaki dari moncong senjata, fotografer Associated Press (AP) Eddie Adams menekan tombol kamera. Hasilnya adalah "Saigon Execution", sebuah foto hitam-putih yang menangkap sepersekian detik menjelang kematian sang anggota Viet Cong dan mengubah selamanya wajah Perang Vietnam di mata dunia. Karya Adams tersebut memang berhasil memenangkan Hadiah Pulitzer 1969. Namun, di luar itu, foto tersebut menjadi sebuah karya visual yang meruntuhkan narasi optimisme yang digaungkan pemerintah Amerika Serikat saat itu tentang Perang Vietnam. Namun, di balik kebrutalan yang tertangkap lensa, tersimpan kisah yang jauh lebih kelam tentang moralitas dalam perang, dendam pribadi, hingga penyesalan sang fotografer yang terus terjadi hingga akhir hayatnya. Lalu, bagaimana sebuah foto bisa memiliki kekuatan untuk menghentikan dukungan publik terhadap sebuah negara adidaya? Selain itu, apa yang sebenarnya terjadi sebelum dan setelah pelatuk itu ditarik? Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134347949/58-tahun-lalu-foto-ikonik-eksekusi-petugas-viet-cong-diambil-seberapa-kuat-dampaknya Catatan: Dikarenakan foto asli mengandung unsur kekerasan, maka unggahan ini menggunakan ilustrasi karya Vik Muniz. Foto asli ditampilkan di dalam artikel.

 58 tahun silam (tepatnya pada 1 Februari 1968), sebuah peluru dari pistol milik Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan menembus pelipis seorang tawanan bernama Nguyen Van Lem. 


Di lokasi tersebut, hanya beberapa kaki dari moncong senjata, fotografer Associated Press (AP) Eddie Adams menekan tombol kamera. Hasilnya adalah "Saigon Execution", sebuah foto hitam-putih yang menangkap sepersekian detik menjelang kematian sang anggota Viet Cong dan mengubah selamanya wajah Perang Vietnam di mata dunia.


Karya Adams tersebut memang berhasil memenangkan Hadiah Pulitzer 1969. Namun, di luar itu, foto tersebut menjadi sebuah karya visual yang meruntuhkan narasi optimisme yang digaungkan pemerintah Amerika Serikat saat itu tentang Perang Vietnam.


Namun, di balik kebrutalan yang tertangkap lensa, tersimpan kisah yang jauh lebih kelam tentang moralitas dalam perang, dendam pribadi, hingga penyesalan sang fotografer yang terus terjadi hingga akhir hayatnya.


Lalu, bagaimana sebuah foto bisa memiliki kekuatan untuk menghentikan dukungan publik terhadap sebuah negara adidaya? Selain itu, apa yang sebenarnya terjadi sebelum dan setelah pelatuk itu ditarik?



Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134347949/58-tahun-lalu-foto-ikonik-eksekusi-petugas-viet-cong-diambil-seberapa-kuat-dampaknya


Catatan: Dikarenakan foto asli mengandung unsur kekerasan, maka unggahan ini menggunakan ilustrasi karya Vik Muniz. Foto asli ditampilkan di dalam artikel.


07 September 2026

Noesantara Tempo Doeloe Letkol Untung Syamsuri, perwira TNI AD yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, menjalani eksekusi setelah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa. Ia dieksekusi pada tahun 1968 di Jawa Barat. Foto ini menjadi pengingat masa penuh gejolak dalam sejarah Indonesia pasca-1965, ketika perubahan kekuasaan diikuti proses peradilan militer terhadap tokoh-tokoh yang dianggap terlibat. Namun banyak yang tidak terbukti bahkan tanpa di adili langsung di Exsekusi. Inilah potret kelam penuh misteri berdarah bangsa kita.

 Noesantara Tempo Doeloe 

Letkol Untung Syamsuri, perwira TNI AD yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, menjalani eksekusi setelah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa. Ia dieksekusi pada tahun 1968 di Jawa Barat. 



Foto ini menjadi pengingat masa penuh gejolak dalam sejarah Indonesia pasca-1965, ketika perubahan kekuasaan diikuti proses peradilan militer terhadap tokoh-tokoh yang dianggap terlibat. Namun banyak yang tidak terbukti bahkan tanpa di adili langsung di Exsekusi. Inilah potret kelam penuh misteri berdarah bangsa kita.

SATGAS PARIKESIT: AMBISI SANG JENDERAL DAN BERAKHIRNYA PELARIAN PRESIDEN FRETILIN LOBATO Catatan sejarah Jani Sari II Untuk memahami dinamika operasi militer di Timor Timur pada paruh akhir dekade 1970-an, kita harus melihat secara jeli kalkulasi psikologis dan taktis seorang Jenderal TNI M. Jusuf. Ketika dilantik sebagai Menhankam/Panglima ABRI pada April 1978, langkah pertamanya adalah menginjakkan kaki di provinsi ke-27 tersebut. Apa yang ia temukan di lapangan rupanya sangat mengejutkan sang jenderal: sebuah stagnasi operasi keamanan yang berlarut sejak akhir 1975, di mana mutu tempur prajurit merosot, motivasi berada di titik nadir, dan alutsista yang digunakan sudah tertinggal zaman. Dalam rapat evaluasi pada Juni 1978 bersama komandan Resimen Tim Pertempuran (RTP), Jenderal Jusuf secara blak-blakan menuntut penjelasan atas kebuntuan di palagan tersebut. Dari sinilah lahir sebuah manuver yang tidak hanya bersifat taktis, tetapi juga sarat akan urgensi pembuktian kepemimpinan. Jusuf menggagas unit khusus gabungan lintas matra—terdiri dari Kopassandha, Marinir, dan Kopasgat—yang didukung oleh helikopter SA-330 Puma milik TNI-AU untuk mempraktikkan doktrin air mobile operation. Satuan yang mulai digembleng di Batujajar pada 20 November 1978 ini kemudian diberi nama Satgas Parikesit, di bawah komando mantan komandan Satgas Nanggala-12, Mayor Inf. A. Sitorus. Ada satu catatan penting yang menunjukkan sisi psikologis kepemimpinan ABRI saat itu. Jusuf memberikan tenggat waktu yang sangat kaku: Presiden Fretilin, Nicolau Lobato, harus didapatkan sebelum tahun 1978 berakhir. Kita harus mafhum, Jusuf sudah 13 tahun absen mengenakan seragam militer karena mengemban tugas-tugas sipil di pemerintahan. Target operasional ini pada dasarnya adalah instrumen politis Jusuf untuk menghapus keraguan di internal militer; ia ingin membuktikan secara definitif bahwa dirinya sama sekali belum lupa cara memimpin tentara di medan laga. Secara operasional, perburuan Lobato—yang menurut intelijen terdeteksi di kawasan berhutan lebat Gunung Matebian hingga bergeser ke Pegunungan Maubisse—menggunakan strategi klasik yang dieksekusi secara disiplin. Lima batalyon TNI-AD diposisikan sebagai "pagar betis" untuk mengunci perimeter luar, sementara Tim Parikesit melakukan penyisiran bersyaf tanpa henti untuk menekan target dari dalam. Tekanan ini membuahkan hasil ketika Tim Kancil dari Satgas Nanggala pimpinan Lettu Inf. Prabowo Subianto menemukan jejak krusial logistik Fretilin pada 28 Desember. Puncak dari operasi ini merefleksikan hierarki dan kecepatan komando di tubuh ABRI masa itu. Pada pagi hari tanggal 31 Desember 1978, Lobato yang terus didesak akhirnya tersudut di sebuah sungai dan tewas dalam penyergapan oleh Satgas Nanggala. Laporan berantai segera bergulir kilat: dari Brigjen Dading Kalbuadi di lapangan, langsung ke telinga Menhankam/Pangab, dan diteruskan seketika itu juga kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Setelah melapor ke panglima tertinggi, Jenderal Jusuf langsung terbang ke Dili untuk melihat pasukannya—sebuah epilog yang secara efektif mengukuhkan kembali otoritas dan wibawa militernya di hadapan para prajurit. Catatan : saya akan menuliskan versi lain dari terbunuhnya Lobato ini di lain waktu ... referensi untuk kisah ini adalah buku "Pengabdian Alumni Akabri 1970" Jani Sari Library

 SATGAS PARIKESIT: AMBISI SANG JENDERAL DAN BERAKHIRNYA PELARIAN PRESIDEN FRETILIN LOBATO


Catatan sejarah Jani Sari II 


Untuk memahami dinamika operasi militer di Timor Timur pada paruh akhir dekade 1970-an, kita harus melihat secara jeli kalkulasi psikologis dan taktis seorang Jenderal TNI M. Jusuf. 



Ketika dilantik sebagai Menhankam/Panglima ABRI pada April 1978, langkah pertamanya adalah menginjakkan kaki di provinsi ke-27 tersebut. Apa yang ia temukan di lapangan rupanya sangat mengejutkan sang jenderal: sebuah stagnasi operasi keamanan yang berlarut sejak akhir 1975, di mana mutu tempur prajurit merosot, motivasi berada di titik nadir, dan alutsista yang digunakan sudah tertinggal zaman.


Dalam rapat evaluasi pada Juni 1978 bersama komandan Resimen Tim Pertempuran (RTP), Jenderal Jusuf secara blak-blakan menuntut penjelasan atas kebuntuan di palagan tersebut. Dari sinilah lahir sebuah manuver yang tidak hanya bersifat taktis, tetapi juga sarat akan urgensi pembuktian kepemimpinan. 


Jusuf menggagas unit khusus gabungan lintas matra—terdiri dari Kopassandha, Marinir, dan Kopasgat—yang didukung oleh helikopter SA-330 Puma milik TNI-AU untuk mempraktikkan doktrin air mobile operation. Satuan yang mulai digembleng di Batujajar pada 20 November 1978 ini kemudian diberi nama Satgas Parikesit, di bawah komando mantan komandan Satgas Nanggala-12, Mayor Inf. A. Sitorus.


Ada satu catatan penting yang menunjukkan sisi psikologis kepemimpinan ABRI saat itu. Jusuf memberikan tenggat waktu yang sangat kaku: Presiden Fretilin, Nicolau Lobato, harus didapatkan sebelum tahun 1978 berakhir. Kita harus mafhum, Jusuf sudah 13 tahun absen mengenakan seragam militer karena mengemban tugas-tugas sipil di pemerintahan. Target operasional ini pada dasarnya adalah instrumen politis Jusuf untuk menghapus keraguan di internal militer; ia ingin membuktikan secara definitif bahwa dirinya sama sekali belum lupa cara memimpin tentara di medan laga.


Secara operasional, perburuan Lobato—yang menurut intelijen terdeteksi di kawasan berhutan lebat Gunung Matebian hingga bergeser ke Pegunungan Maubisse—menggunakan strategi klasik yang dieksekusi secara disiplin. Lima batalyon TNI-AD diposisikan sebagai "pagar betis" untuk mengunci perimeter luar, sementara Tim Parikesit melakukan penyisiran bersyaf tanpa henti untuk menekan target dari dalam.


Tekanan ini membuahkan hasil ketika Tim Kancil dari Satgas Nanggala pimpinan Lettu Inf. Prabowo Subianto menemukan jejak krusial logistik Fretilin pada 28 Desember.

Puncak dari operasi ini merefleksikan hierarki dan kecepatan komando di tubuh ABRI masa itu. Pada pagi hari tanggal 31 Desember 1978, Lobato yang terus didesak akhirnya tersudut di sebuah sungai dan tewas dalam penyergapan oleh Satgas Nanggala. 


Laporan berantai segera bergulir kilat: dari Brigjen Dading Kalbuadi di lapangan, langsung ke telinga Menhankam/Pangab, dan diteruskan seketika itu juga kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Setelah melapor ke panglima tertinggi, Jenderal Jusuf langsung terbang ke Dili untuk melihat pasukannya—sebuah epilog yang secara efektif mengukuhkan kembali otoritas dan wibawa militernya di hadapan para prajurit.


Catatan : saya akan menuliskan versi lain dari terbunuhnya Lobato ini di lain waktu ...


referensi untuk kisah ini adalah buku "Pengabdian Alumni Akabri 1970"


Jani Sari Library

Beliau adalah Karnadi, Salah satu warga Mojokerto yang bekerja di suriname pada masa kolonial belanda. Karnadi tercatat berasal dari Dusun Tlasih Desa Tawar Kabupaten Mojokerto. Karnadiu tercatat berangkat ke Suriname saat sudah berusia 33 tahun. Beliau berangkat tanggal 04 Juni 1907 dengan menaiki kapal bernama SS Floris & Prins Frederik Hendrik dari pelabuhan Semarang Jawa Tengah. Dengan nomer kontrak JJ665 Karnadi memulia kontrak kerja pada tanggal 12 Agustus 1907 sampai dengan 12 Agustus 1912. Karnadi tercatat dipekerjakan di perkebunan tebu bernama waterland. Dalam catatan pemerintah belanda, Karnadi tercatat bekerja di Suriname sampai tahun 1931. Selain waterland, karnadi tercatat pernah bekerja di perkebunan Marienburg en Zoelend dan perkebunan La Resource. Sayangnya Karnadi meninggal dunia pada tahun 1940 karena suatu penyakit. #mojokerto #mojokertohits #sejarah #sejarahindonesia #historia #historic #historical #history #heritage #oldpics #oldphoto #oldphotos #oldphotograph #oldphotography #vintage #vintagephoto #vintagephotography #picoftheday #pictureoftheday #maps #map #oldmaps #townplanning

 Beliau adalah Karnadi, Salah satu warga Mojokerto yang bekerja di suriname pada masa kolonial belanda. Karnadi tercatat berasal dari Dusun Tlasih Desa Tawar Kabupaten Mojokerto. Karnadiu tercatat berangkat ke Suriname saat sudah berusia 33 tahun. Beliau berangkat tanggal 04 Juni 1907 dengan menaiki kapal bernama SS Floris & Prins Frederik Hendrik dari pelabuhan Semarang Jawa Tengah. Dengan nomer kontrak JJ665 Karnadi memulia kontrak kerja pada tanggal 12 Agustus 1907 sampai dengan 12 Agustus 1912. Karnadi tercatat dipekerjakan di perkebunan tebu bernama waterland. Dalam catatan pemerintah belanda, Karnadi tercatat bekerja di Suriname sampai tahun 1931. Selain waterland, karnadi tercatat pernah bekerja di perkebunan Marienburg en Zoelend dan perkebunan La Resource. Sayangnya Karnadi meninggal dunia pada tahun 1940 karena suatu penyakit. 



#mojokerto #mojokertohits #sejarah #sejarahindonesia #historia #historic #historical #history #heritage #oldpics #oldphoto #oldphotos #oldphotograph #oldphotography #vintage #vintagephoto #vintagephotography #picoftheday #pictureoftheday #maps #map  #oldmaps #townplanning