29 April 2026

Mungkin pada edisi TEMPO ini, Bapak saya mau ikut membaca ketika majalah ini, dengan sampul foto Zainuddin M.Z., saya letakkan di meja kerjanya. Memang, radio di rumah kami cukup sering menyiarkan kaset rekaman dai yang lucu dan cerdas ini. Ia bisa bergelora bagaikan Bung Karno, lembut seperti Buya Hamka, dan cekatan bermain kata bak Idham Chalid. Maka, Haji Zainuddin Mz. melejit sebagai seorang mahabintang. Dialah dai berjuta umat. SAYA USTAD, BUKAN ARTIS (TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990) Massa terus berdesak. Kerumunan bahkan melebar ke tepian jalan tol, memaksa jalan tol Dupak, dalam Kota Surabaya, ditutup sementara. Hujan pun turun. Hadirin kuyup. Namun, orang- orang itu tak beranjak dari tempat. Termasuk seorang ibu yang menggendong anak- nya. Mereka seolah larut oleh suara sang Ustad dari podium, yang mengajak massa bersama-sama membaca salawat, "memohon agar Allah menunda hujan." Segera bacaan salawat puluhan – bahkan mungkin mencapai ratusan – ribu orang membahana. Alhamdulillah, Allah mengabulkan permohonan itu. Hujan pun reda. Kemudian sang Ustad memberi aba-aba, agar salawat sampai di situ saja. Tanah lapang Dupak, tempat berkumpul itu, pun berubah se- nyap. Suasana betul-betul sunyi. Massa sedemikian terpaku, menunggu kata-kata "bertuah" yang bakal meluncur dari mulut Ustad. Di Surabaya, Februari lalu H. Zainuddin Mz., ustad itu, berhasil sepenuhnya "menyihir" massa. Selama dua jam, massa dibikinnya diam dan mengunyah setiap kata yang ia ucapkan. *** Di Jakarta, bulan puasa ini, Zainuddin juga membuai ribuan jamaah pada sejumlah masjid. Harian Pos Kota yang punya acara. Mereka tahu, banyak umat gandrung pada suara Zainuddin. Maka, untuk acara ulang tahun April ini, Pos Kota "mengontrak" Zainuddin. Ustad ini mereka kelilingkan ke berbagai wilayah Ibu Kota, buat berceramah. Lihatlah, misalnya, di Masjid Muyasyirin Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sejak magrib, masjid itu telah dipenuhi jamaah. Lebih daripada biasanya – bukan cuma dalam jumlah tapi juga dalam suasana. Biasanya anak-anak ramai bergurau sebelum dan sehabis tarawih. Tapi kali ini suasana sangat tenang. Ucapan "jangan ribut, nanti habis tarawih kita akan mendengarkan khotbah ustad kita yang terkenal Zainuddin Mz." cukup untuk mengunci celotehan anak-anak itu. Mereka sabar menunggu. Sedangkan ustadnya baru hadir setelah pukul sembilan malam. Satu-satunya hal yang membuat mereka kesal adalah rangkaian anggrek di seputar podium. Bagi mereka, anggrek itu tak menciptakan keindahan. Malah cuma menghalangi mereka memandang wajah sang Ustad. Maka, mereka berteriak "singkirkan!" Begitu Zainuddin beranjak ke mimbar, keplok pun bergemuruh. Dan segera saja tepuk tangan habis, berganti tawa, begitu Zainuddin mengatakan, "Saya ustad, bukan artis." *** Di Ujungpandang, Zainuddin juga disambut akbar. Stadion Mattoangin, awal April lalu, penuh sesak. Massa telah berkerumun di sana sejak jam tiga sore. Kata Andi Abdulatif, pengundangnya, ada di antara mereka sengaja datang dari Bone, ratusan kilometer di timur laut Ujungpandang. Mereka membawa bekal masing-masing dan berbuka puasa di sana. Padahal, ceramah baru dimulai setelah tarawih. Esok paginya, setelah subuh, Zainuddin berceramah lagi di stadion itu. Massa sudah menyemut lagi, entah jam berapa mereka berangkat dari rumah. *** Gelombang pasang naik dakwah memang nampak mencengangkan. Presiden Soeharto pun bahkan menengok ke sana. Antara lain dengan meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyiapkan 1.000 pendakwah yang akan digaji rutin dan dikirim berbagai pelosok. (Lihat Box bagian 2.) Namun, di tengah suasana dakwah yang sedemikian marak, ada satu nama yang melejit begitu pesat. Dialah, yang namanya bisa membuat anak-anak jadi anteng, yang membuat orang-orang tak merasa keberatan menunggunya berjam-jam: "Haji Zainuddin em-zet". Pemunculan nama Zai- nuddin memang bak seorang mahabintang, superstar. Setelah Rhoma Irama, Zainuddinlah sosok yang mampu menggoyang manusia. Bukan dengan musik. Bukan lautan dengan lagu. Melainkan dengan kata. Rangkaian ucapannya mampu mengobarkan atau mendinginkan massa, mengetuk hati atau menghibur, juga menjadikan mereka histeris atau diam. Di tengah umat yang lagi getol menyeru dakwah bil-hal – dakwah dengan tindakan, Zainuddin seperti hendak membuktikan bahwa dakwah bil-lisan tak mati. Ada yang bilang kini dakwah dengan kata-kata berada di titik puncak, dan Haji Zainuddin adalah bintangnya. Kenyataannya memang demikian. Seorang penjual es yang keliling di gang-gang daerah Rawabelong, Jakarta Barat, biasa memutar kaset ceramah Zainuddin keras-keras dengan pengeras suara yang digantungkan pada sepedanya. Toko buku Bulan Bintang di bilangan Kwitang, di arah selatan Pusat Perdagangan Senen, melakukan hal serupa. "Untuk menarik pengunjung." kata penjaganya. Sedang dalam sebuah pertemuan keluarga Minang di Taman Impian Ancol, seorang penjahit mengaku baru benar-benar memahami Islam setelah mengikuti cera mah Zainuddin. Di Malang dan Surabaya, ceramah Zainuddin malah dikarciskan. Sebagian hadirin rela membayar undangan masuk dua-tiga kali lipat harga yang dipasang panitia. Begitupun, masih ribuan orang tak kebagian. Ceramahnya, yang disiarkan puluhan radio, mulai menggeser ketenaran drama serial terkenal Saur Sepuh. Lebih dari itu, nama Zainuddin juga ampuh untuk menangkis tudingan "anti-Islam". Sewaktu terbetik desas-desus yang menyebut ia tak suka pada sikap santri, Kepala SMAN VI Surabaya yang melarang siswinya berjilbab berkata, "Saya ini penggemar ceramah Zainuddin Mz." Siapa sebenarnya ustad yang dirindukan itu? "Saya asli Betawi. Nama saya H. Zainuddin Hamidy Mz. Mz adalah singkatan dari Turmudzy, nama ayah saya," tuturnya. Zainuddin lahir pada 2 Maret 1952. Dalam usia dua tahun, ia menjadi seorang yatim. Kesulitan hidup menghadangnya. Sewaktu SD, ia menjadi penjual koran dan membantu pamannya menjual rokok. Saat remaja ia pernah menjadi buruh bangunan. Selepas SD tahun 1964, ia masuk Perguruan Darul Ma'arif Cipete, Jakarta Selatan. Di sanalah ia bertemu dengan sejumlah ulama terkemuka Indonesia dan Mesir. Hal yang, menurut dia, bukan saja "mengisi otak saya, melainkan juga mewarnai kepribadian." Di perguruan ini, setiap Sabtu ada pelajaran berpidato. Pada acara inilah, ia mulai belajar berbicara di depan umum. Kemudian Zainuddin kuliah di IAIN, Jurusan Perbandingan Agama. Namun, kuliahnya putus saat mempersiapkan skripsi. Yang berkembang justru bakat mubalignya. Tahun 1973-1974, ia mulai mengisi pengajian di berbagai musala dan masjid. Tapi masih terbatas. Menjelang Pemilu 1977, ia mendapat pelajaran penting. la turun gelanggang menjadi juru kampanye PPP. la muncul sepanggung bersama Rhoma Irama. Itulah saat ia mengenal lautan massa – orang-orang yang berkumpul ditarik magnet Rhoma. Peristi wa itu ternyata mendorong karier Zainuddin sebagai juru dakwah ketimbang politikus. "Dari situ saya mengetahui sifat massa. Massa mudah terkena teror mental, mudah terkena sugesti, mudah dialihkan perhatiannya." Dan Zainuddin mulai dapat menguasai semuanya. Tak heran kalau Ridwan Saidi, bekas koordinator kampanye PPP, memuji Zainuddin sebagai seorang muda yang "berani dan membakar". Tentu modal Zainuddin bukan cuma keberanian. Ia juga dapat memadukan kehebatan tiga tokoh podium yang ia kagumi. Ia mampu menjadi singa macam Bung Karno, menguasai kehalusan bahasa Buya Hamka, atau bermain logika seperti Idham Chalid. Kalimat-kalimatnya mengalir runtut bak pendongeng, berayun, dan disesuaikan dengan sifat massa setempat. Contoh yang dikemukakannya sangat sederhana – mudah dimengerti berbagai kalangan. Lihat bagaimana ia menguraikan soal kanaah, kesahajaan. Ia katakan, seorang muslim harus "merasa cukup" dengan setiap rezeki yang ia terima. Bila tidak, orang itu serupa monyet. Diberi pisang akan ditangkap dengan tangan kanan, diberi lagi ditangkapnya dengan tangan kiri, lalu dengan mulut, lalu kaki kanan, dan kaki kiri. Sudah begitu, "milik temannya pun hendak direbutnya." Hadirin tertawa. Di tengah riuh isu konglomerat, sebagian mereka paham sindiran tadi. Yang tak tahu-menahu masalah konglomerat pun terhibur karena "cerita monyet" itu. Konflik intern PPP menjadikan dunia Zainuddin lebih luas. Ia lalu menjaga jarak dengan partai, dan dengan politik. Akibatnya, massanya semakin melebar. Ia tidak cuma diterima oleh orang-orang PPP. Melainkan hampir oleh semua kalangan umat. Kaset ceramahnya mulai laku keras. Tablignya banyak dihadiri oleh pejabat. Dan mereka terus membutuhkan siraman rohani Zainuddin sekalipun mubalig itu berkali-kali menyindirnya. Undangan pun berdatangan. Kini setiap hari, tamu antre di rumahnya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Mereka menunggu giliran untuk dapat mengundang Zainuddin. Belum lagi yang melalui surat. Rata-rata, kata Zainuddin, sehari ia mendapat 50 surat. "Banyak tunggakan acara yang belum dapat saya penuhi," ucapnya. Padahal, setiap hari umumnya ia berceramah empat kali. Salah seorang familinya mengatakan bahwa saat ini Zainuddin lebih sering tidur di mobil dalam perjalanan ketimbang di tempat tidur. Zainuddin sendiri mengatakan, masalah utamanya adalah bagaimana membagi waktu buat dakwah, keluarga, Yayasan Nurul Falah yang dipimpinnya, serta – sebentar lagi – untuk sebuah pesantren yang kini sedang dibangun di Nagrek, Jawa Barat. Meledaknya minat umat untuk mendatangkan Zainuddin menimbulkan birokrasi. Muncul koordinator-koordinator daerah yang mengatur acara ustad ini. Semua itu muncul atas inisiatif mereka sendiri, bukan dari Zainuddin. Menurut Ali Badri, koordinator wilayah Surabaya dan sekitarnya, saat ini telah terbentuk 26 koordinator daerah di seluruh Indonesia. "Hanya Timor Timur yang belum ada," kata Ali Badri. Merekalah yang menentukan kegiatan, mengatur pengamanan, serta mengurus semua keperluan Zainuddin di setiap daerah. Ali Badri, misalnya. Mulanya, pengurus Hipmi Jawa Timur ini selalu mendatangi setiap ceramah Zainuddin di Jawa Timur. la lalu mengorganisasikan teman-temannya untuk mengamankan Zainuddin dari serbuan massa. "Lengan ini kerap robek kena kuku-kuku mereka yang mau salaman dengan Ustad," tuturnya, sambil menunjukkan bekas goresan. Lalu muncullah ide membentuk koordinator. Rumahnya ia jadikan sebagai sekretariat. Foto dirinya bersama Zainuddin berukuran 20-R (40 X 50 cm) terpampang di ruang tamu. Sekarang – ada atau tidak ada kegiatan Zainuddin di Jawa Timur – selama 24 jam, rumah itu tak pernah sepi. Untuk mengajukan permohonan ceramah Zainuddin, menurut Ali Badri, paling sedikit pengundang harus menghubungi koordinator daerah empat bulan sebelumnya. Begitupun belum tentu terlaksana. Syahlan Isnadi, guru SMA Sunan Giri Gresik, mengaku sudah 22 kali menghubungi koordinator agar Zainuddin dapat berceramah di daerahnya. Ia belum juga mendapat kepastian. Tapi ia tak juga mundur. "Habis, karisma beliau di podium tidak ada duanya, sih," ujarnya. "Beliau itu guru tunggal sekaligus pelawak tunggal." Kesulitan mendatangkan "guru tunggal" ini selalu dibayar mahal Zainuddin. Bukan saja dengan kata-katanya yang menyejukkan dan menjadikan pendengarnya lebih memahami ajaran Islam. Kehadirannya pun selalu berarti datangnya bertumpuk uang bagi panitia yang dimanfaatkan buat kepentingan umat. Misalnya untuk biaya membangun masjid atau madrasah. "Entahlah, mengapa setiap ada Bapak, orang-orang jadi gampang mengeluarkan derma," kata seorang kerabat. Untuk mengumpulkan dana bagi pemugaran Masjid Agung Malang di antaranya. Panitia pemugaran masjid peninggalan tahun 1700-an itu sengaja mendatangkan Zainuddin untuk ceramah. Untuk itu, panitia memungut "biaya undangan". Rp 5,000 untuk VIP, dan Rp 2.000 untuk kelas umum. Hadirin ternyata melimpah. Menurut panitia pemugaran, ada yang membayar Rp 15.000 untuk satu undangan. Dengan cara begitu saja, panitia bisa mengumpulkan dana Rp 10 juta. Mereka juga boleh memperbanyak kaset ceramah Zainuddin dan menjualnya. Dari sini terkumpul uang Rp 4 juta yang sepenuhnya buat masjid. Dengan cara serupa, Gerakan Pemuda Kodya Surabaya mengisi kas organisasinya. Mereka "mementaskan" Zainuddin di gedung Go Skate – semula tempat ice skating yang kini lebih sering menjadi arena pertunjukan musik dan tinju profesional. Dari "mengomersialkan Zainuddin" ini, kas mereka terisi Rp 2 juta bersih. Zainuddin punya cara lain buat mengumpulkan dana. Sehabis ceramah, ia acap membentangkan serbannya. Lalu ia meletakkan uangnya ke serban itu sebagai pemancing. Serban pun dikelilingkan pada hadirin. Massa berlomba adu banyak melemparkan uang. Sekejap jutaan rupiah pasti terkumpul. Dengan dana – yang oleh Zainuddin disebut sebagai SDBS ("Sumbangan Dana Buat Surga") – ini, ratusan masjid dan madrasah telah dibangun. Pengerahan dana untuk kepentingan umat ibadah atau sosial adalah salah satu perhatian utamanya. Berkali-kali ia mengatakan "juallah saya," asal untuk kepentingan umat. Pokok bahasan lain yang disukai dai berjuta umat ini adalah penanaman keimanan, seruan untuk tawadu (sikap rendah hati), juga hal-hal lain yang banyak termuat dalam kitab Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Menurut istilah Zainuddin, dakwahnya adalah untuk "membentuk kader berotak Amerika, berhati Mekkah." Sekalipun menabur humor di sana-sini, Zainuddin tetap tak kehilangan kendali buat mengerahkan massa. Ia mampu menjaga wibawa di mata khalayak. Rhoma Irama menyebut Zainuddin sebagai seo- rang yang memiliki "maunnah" – keistimewaan atas karunia Allah. Ali Badri mengatakan ustad itu punya kemampuan gaib. Sebagai bukti, ia menyebut bahwa hujan pun mereda setelah Zainuddin mengajak hadirin membaca salawat. Bisa jadi pernyataan ini lebih merupakan "reklame" Ali Badri untuk meninggikan Zainuddin. Tapi mungkin pula ia sungguh-sungguh meyakini demikian. Sebenarnya, sehari-hari Zai- nuddin bukan orang yang terlalu menjaga wibawa. Ia hampir tak beda dengan ciri orang Betawi lain: nampak santai. Sering ia membiarkan kemeja lengan panjangnya tanpa tergu- lung, tapi juga tak dikancingkan. Model kebanyakan celananya masih cutbrai, membesar di bagian bawah. Potongan rambutnya kelimis, sedikit panjang. Bila habis bepergian dan cukup punya waktu luang, ustad ini suka hanya berkaus oblong dan merebahkan punggungnya di kursinya di teras. Soal hobi, ia mengaku kerepotan menghitung. "Hobi saya banyak," ujarnya. Ustad ini adalah penggemar berat cerita silat karya Kho Ping Ho. la pun pencandu bola dan bioskop. Dalam sepak bola, ia mengagumi pemain Belanda yang bergabung di klub AC Milan-Italia, Marco van Basten. Sedang film yang paling berkesan baginya adalah Lion on the Desert yang mengisahkan perjuangan Omar Mokhtar di Sahara Libya melawan kolonial. Soal makanan, ia sama sekali tak berpantang. Ia malah menggemari jenis makanan yang oleh sejumlah orang dihindari. Misalnya petai, jengkol, dan durian. Asap rokok pun selalu mengepul dari mulutnya bagai cerobong asap. Paling sedikit dua pak rokok dihabiskannya sehari. Sewaktu sedang merokok dan diingatkan bahwa ada ulama menganggap "merokok haram", ia terhenyak sebentar. Lalu, "Aakhhhhh...," serunya sambil terus mengepulkan asap rokok. Sebuah sikap yang tentu saja sangat tidak disukai oleh kalangan puritan. Sewaktu kecil Zainuddin tak pernah berkeinginan menjadi mubalig. "Cita-cita saya kalau nggak jadi dokter, ya pilot." Tapi kakeknya – yang mengasuhnya setelah ayahnya meninggal – mengarahkan ke bidang agama. Menurut Zainuddin, agaknya sang kakek hendak menunaikan amanah. Sebab, dalam buku peninggalan ayahnya ada sedikit uang dan tulisan, "untuk anak saya melanjutkan ngaji." Ternyata, dengan menjadi mubalig ia dapat hidup cukup. Di kawasan tempat tinggalnya di Gandaria, ia terbilang berada. Sebuah Accord nongkrong di garasi rumahnya yang dibangun di tanah sekitar 1.000 m2. Ia juga membeli tanah di depan rumahnya yang bakal dipakai untuk membangun masjid. Namun, Zainuddin sangat bersahaja untuk ukuran dirinya. Kalau ia mau, tak seorang artis Indonesia pun dapat menyaingi penghasilannya. Kalaupun ia minta honor, agaknya Rp 10 juta setiap kali ceramah akan dipenuhi pengundangnya. Tapi ia tak pernah meminta. Begitupun orang masih memberinya honor ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Belum lagi penghasilannya dari kaset. Ia terikat kontrak dengan Naviri Record hingga pertengahan tahun 1991. Kabarnya, sudah 52 serial ceramahnya yang dikasetkan. Dan ia tak peduli, berapa banyak nilai bisnis yang berputar dari kasetnya. Tentang berapa buat dirinya, ia bilang "saya tak ambil pusing." Kenyataannya. "Alhamdulillah memadai. Rumah saya inilah hasilnya." Dalam posisi seperti itu, kehadiran Zainuddin bukan tak mengundang kritik. Terutama setelah ceramahnya dikarciskan. Ada sejumlah kalangan yang secara tak langsung menuding Zainuddin "menjual ayat" – suatu hal yang dilarang Quran. Tapi sebagian besar tokoh Islam menyatakan bahwa yang diperbuat ustad ini sah. Tak termasuk kategori "menjual ayat". Apalagi hasil karcis pun bukan buat dirinya. Melainkan untuk kepentingan amal di daerah mereka yang mengundangnya. Dikatakannya pula, kadang ada koordinator daerah yang "nakal menjual saya pada panitia." Namun, ia mengaku selalu meluruskan kembali mereka lewat pertemuan koordinator daerah se-Indonesia secara berkala. Zainuddin sadar betul tempatnya. Maka, ia tak memungkiri diri, bahwa dirinya perlu dana. Menurut dia, sekitar 30 persen surat yang dilayangkan kepadanya berisi permohonan bantuan materi. "Adalah sangat menyakitkan bila kita tahu ada orang minta tolong pada kita, sedangkan kita dalam keadaan tak mampu menolong." Maka, Zainuddin pun terus bergulat dengan dunianya: dakwah. Ia berniat untuk terus menggelitik, mengetuk, menggugah hati umat, untuk bergerak menuju kebenaran. Soal keterkenalannya yang bak superstar, ia berkomentar sederhana. "Menjadi terkenal bukan tujuan saya, melainkan hanya alat untuk menumbuhkan otoritas." Tapi untuk apa otoritas itu, Ustad? "Semakin tinggi otoritas kita di mata umat," jawab Zainuddin, "semakin mudah menanamkan keyakinan pada mereka. Umat tidak akan puas kalau kita sama dengan mereka. Biarlah kita nampak istimewa di mata mereka." Tak hanya itu. Alat bernama otoritas barulah ampuh bila dilandasi, menurut Zainuddin, "keyakinan bahwa diri kita sama dengan mereka. Kita hanya menjalankan sebuah bentuk ibadah yang bernama 'memberikan dakwah'." Tak mudah resep itu dijalani. Dan memang tak semua dai menjadi Zainuddin Mz. Zaim Uchrowi, Priyono B. Sumbogo (Jakarta), Wahyu Muryadi, Zed Abidien, M. Baharun (Surabaya) Sumber: TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990

 Mungkin pada edisi TEMPO ini, Bapak saya mau ikut membaca ketika majalah ini, dengan sampul foto Zainuddin M.Z., saya letakkan di meja kerjanya. Memang, radio di rumah kami cukup sering menyiarkan kaset rekaman dai yang lucu dan cerdas ini. 



Ia bisa bergelora bagaikan Bung Karno, lembut seperti Buya Hamka, dan cekatan bermain kata bak Idham Chalid. Maka, Haji Zainuddin Mz. melejit sebagai seorang mahabintang. Dialah dai berjuta umat.


SAYA USTAD, BUKAN ARTIS


(TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990)


Massa terus berdesak. Kerumunan bahkan melebar ke tepian jalan tol, memaksa jalan tol Dupak, dalam Kota Surabaya, ditutup sementara. Hujan pun turun. Hadirin kuyup. Namun, orang- orang itu tak beranjak dari tempat. Termasuk seorang ibu yang menggendong anak- nya. Mereka seolah larut oleh suara sang Ustad dari podium, yang mengajak massa bersama-sama membaca salawat, "memohon agar Allah menunda hujan." Segera bacaan salawat puluhan – bahkan mungkin mencapai ratusan – ribu orang membahana.


Alhamdulillah, Allah mengabulkan permohonan itu. Hujan pun reda. Kemudian sang Ustad memberi aba-aba, agar salawat sampai di situ saja. Tanah lapang Dupak, tempat berkumpul itu, pun berubah se- nyap. Suasana betul-betul sunyi. Massa sedemikian terpaku, menunggu kata-kata "bertuah" yang bakal meluncur dari mulut Ustad. Di Surabaya, Februari lalu H. Zainuddin Mz., ustad itu, berhasil sepenuhnya "menyihir" massa. Selama dua jam, massa dibikinnya diam dan mengunyah setiap kata yang ia ucapkan.


                                             ***


Di Jakarta, bulan puasa ini, Zainuddin juga membuai ribuan jamaah pada sejumlah masjid. Harian Pos Kota yang punya acara. Mereka tahu, banyak umat gandrung pada suara Zainuddin. Maka, untuk acara ulang tahun April ini, Pos Kota "mengontrak" Zainuddin. Ustad ini mereka kelilingkan ke berbagai wilayah Ibu Kota, buat berceramah.


Lihatlah, misalnya, di Masjid Muyasyirin Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sejak magrib, masjid itu telah dipenuhi jamaah. Lebih daripada biasanya – bukan cuma dalam jumlah tapi juga dalam suasana. Biasanya anak-anak ramai bergurau sebelum dan sehabis tarawih. Tapi kali ini suasana sangat tenang. Ucapan "jangan ribut, nanti habis tarawih kita akan mendengarkan khotbah ustad kita yang terkenal Zainuddin Mz." cukup untuk mengunci celotehan anak-anak itu.


Mereka sabar menunggu. Sedangkan ustadnya baru hadir setelah pukul sembilan malam. Satu-satunya hal yang membuat mereka kesal adalah rangkaian anggrek di seputar podium. Bagi mereka, anggrek itu tak menciptakan keindahan. Malah cuma menghalangi mereka memandang wajah sang Ustad. Maka, mereka berteriak "singkirkan!"


Begitu Zainuddin beranjak ke mimbar, keplok pun bergemuruh. Dan segera saja tepuk tangan habis, berganti tawa, begitu Zainuddin mengatakan, "Saya ustad, bukan artis."


                                                 ***


Di Ujungpandang, Zainuddin juga disambut akbar. Stadion Mattoangin, awal April lalu, penuh sesak. Massa telah berkerumun di sana sejak jam tiga sore. Kata Andi Abdulatif, pengundangnya, ada di antara mereka sengaja datang dari Bone, ratusan kilometer di timur laut Ujungpandang. Mereka membawa bekal masing-masing dan berbuka puasa di sana. Padahal, ceramah baru dimulai setelah tarawih. Esok paginya, setelah subuh, Zainuddin berceramah lagi di stadion itu. Massa sudah menyemut lagi, entah jam berapa mereka berangkat dari rumah.


                                             ***


Gelombang pasang naik dakwah memang nampak mencengangkan. Presiden Soeharto pun bahkan menengok ke sana. Antara lain dengan meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyiapkan 1.000 pendakwah yang akan digaji rutin dan dikirim berbagai pelosok. (Lihat Box bagian 2.) Namun, di tengah suasana dakwah yang sedemikian marak, ada satu nama yang melejit begitu pesat. Dialah, yang namanya bisa membuat anak-anak jadi anteng, yang membuat orang-orang tak merasa keberatan menunggunya berjam-jam: "Haji Zainuddin em-zet".


Pemunculan nama Zai- nuddin memang bak seorang mahabintang, superstar. Setelah Rhoma Irama, Zainuddinlah sosok yang mampu menggoyang manusia. Bukan dengan musik. Bukan lautan dengan lagu. Melainkan dengan kata. Rangkaian ucapannya mampu mengobarkan atau mendinginkan massa, mengetuk hati atau menghibur, juga menjadikan mereka histeris atau diam. Di tengah umat yang lagi getol menyeru dakwah bil-hal – dakwah  dengan tindakan, Zainuddin seperti hendak membuktikan bahwa dakwah bil-lisan tak mati. Ada yang bilang kini dakwah dengan kata-kata berada di titik puncak, dan Haji Zainuddin adalah bintangnya.


Kenyataannya memang demikian. Seorang penjual es yang keliling di gang-gang daerah Rawabelong, Jakarta Barat, biasa memutar kaset ceramah Zainuddin keras-keras dengan pengeras suara yang digantungkan pada sepedanya. Toko buku Bulan Bintang di bilangan Kwitang, di arah selatan Pusat Perdagangan Senen, melakukan hal serupa. "Untuk menarik pengunjung." kata penjaganya. Sedang dalam sebuah pertemuan keluarga Minang di Taman Impian Ancol, seorang penjahit mengaku baru benar-benar memahami Islam setelah mengikuti cera mah Zainuddin.


Di Malang dan Surabaya, ceramah Zainuddin malah dikarciskan. Sebagian hadirin rela membayar undangan masuk dua-tiga kali lipat harga yang dipasang panitia. Begitupun, masih ribuan orang tak kebagian. Ceramahnya, yang disiarkan puluhan radio, mulai menggeser ketenaran drama serial terkenal Saur Sepuh.


Lebih dari itu, nama Zainuddin juga ampuh untuk menangkis tudingan "anti-Islam". Sewaktu terbetik desas-desus yang menyebut ia tak suka pada sikap santri, Kepala SMAN VI Surabaya yang melarang siswinya berjilbab berkata, "Saya ini penggemar ceramah Zainuddin Mz."


Siapa sebenarnya ustad yang dirindukan itu? "Saya asli Betawi. Nama saya H. Zainuddin Hamidy Mz. Mz adalah singkatan dari Turmudzy, nama ayah saya," tuturnya.


Zainuddin lahir pada 2 Maret 1952. Dalam usia dua tahun, ia menjadi seorang yatim. Kesulitan hidup menghadangnya. Sewaktu SD, ia menjadi penjual koran dan membantu pamannya menjual rokok. Saat remaja ia pernah menjadi buruh bangunan.


Selepas SD tahun 1964, ia masuk Perguruan Darul Ma'arif Cipete, Jakarta Selatan. Di sanalah ia bertemu dengan sejumlah ulama terkemuka Indonesia dan Mesir. Hal yang, menurut dia, bukan saja "mengisi otak saya, melainkan juga mewarnai kepribadian." Di perguruan ini, setiap Sabtu ada pelajaran berpidato. Pada acara inilah, ia mulai belajar berbicara di depan umum.


Kemudian Zainuddin kuliah di IAIN, Jurusan Perbandingan Agama. Namun, kuliahnya putus saat mempersiapkan skripsi. Yang berkembang justru bakat mubalignya. Tahun 1973-1974, ia mulai mengisi pengajian di berbagai musala dan masjid. Tapi masih terbatas. Menjelang Pemilu 1977, ia mendapat pelajaran penting. la turun gelanggang menjadi juru kampanye PPP. la muncul sepanggung bersama Rhoma Irama. Itulah saat ia mengenal lautan massa – orang-orang yang berkumpul ditarik magnet Rhoma. Peristi wa itu ternyata mendorong karier Zainuddin sebagai juru dakwah ketimbang politikus.


"Dari situ saya mengetahui sifat massa. Massa mudah terkena teror mental, mudah terkena sugesti, mudah dialihkan perhatiannya." Dan Zainuddin mulai dapat menguasai semuanya. Tak heran kalau Ridwan Saidi, bekas koordinator kampanye PPP, memuji Zainuddin sebagai seorang muda yang "berani dan membakar".


Tentu modal Zainuddin bukan cuma keberanian. Ia juga dapat memadukan kehebatan tiga tokoh podium yang ia kagumi. Ia mampu menjadi singa macam Bung Karno, menguasai kehalusan bahasa Buya Hamka, atau bermain logika seperti Idham Chalid. Kalimat-kalimatnya mengalir runtut bak pendongeng, berayun, dan disesuaikan dengan sifat massa setempat. Contoh yang dikemukakannya sangat sederhana – mudah dimengerti berbagai kalangan.


Lihat bagaimana ia menguraikan soal kanaah, kesahajaan. Ia katakan, seorang muslim harus "merasa cukup" dengan setiap rezeki yang ia terima. Bila tidak, orang itu serupa monyet. Diberi pisang akan ditangkap dengan tangan kanan, diberi lagi ditangkapnya dengan tangan kiri, lalu dengan mulut, lalu kaki kanan, dan kaki kiri. Sudah begitu, "milik temannya pun hendak direbutnya." Hadirin tertawa. Di tengah riuh isu konglomerat, sebagian mereka paham sindiran tadi. Yang tak tahu-menahu masalah konglomerat pun terhibur karena "cerita monyet" itu.


Konflik intern PPP menjadikan dunia Zainuddin lebih luas. Ia lalu menjaga jarak dengan partai, dan dengan politik. Akibatnya, massanya semakin melebar. Ia tidak cuma diterima oleh orang-orang PPP. Melainkan hampir oleh semua kalangan umat. Kaset ceramahnya mulai laku keras. Tablignya banyak dihadiri oleh pejabat. Dan mereka terus membutuhkan siraman rohani Zainuddin sekalipun mubalig itu berkali-kali menyindirnya.


Undangan pun berdatangan. Kini setiap hari, tamu antre di rumahnya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Mereka menunggu giliran untuk dapat mengundang Zainuddin. Belum lagi yang melalui surat. Rata-rata, kata Zainuddin, sehari ia mendapat 50 surat. "Banyak tunggakan acara yang belum dapat saya penuhi," ucapnya. Padahal, setiap hari umumnya ia berceramah empat kali.


Salah seorang familinya mengatakan bahwa saat ini Zainuddin lebih sering tidur di mobil dalam perjalanan ketimbang di tempat tidur. Zainuddin sendiri mengatakan, masalah utamanya adalah bagaimana membagi waktu buat dakwah, keluarga, Yayasan Nurul Falah yang dipimpinnya, serta – sebentar lagi – untuk sebuah pesantren yang kini sedang dibangun di Nagrek, Jawa Barat.


Meledaknya minat umat untuk mendatangkan Zainuddin menimbulkan birokrasi. Muncul koordinator-koordinator daerah yang mengatur acara ustad ini. Semua itu muncul atas inisiatif mereka sendiri, bukan dari Zainuddin. Menurut Ali Badri, koordinator wilayah Surabaya dan sekitarnya, saat ini telah terbentuk 26 koordinator daerah di seluruh Indonesia. "Hanya Timor Timur yang belum ada," kata Ali Badri. Merekalah yang menentukan kegiatan, mengatur pengamanan, serta mengurus semua keperluan Zainuddin di setiap daerah.


Ali Badri, misalnya. Mulanya, pengurus Hipmi Jawa Timur ini selalu mendatangi setiap ceramah Zainuddin di Jawa Timur. la lalu mengorganisasikan teman-temannya untuk mengamankan Zainuddin dari serbuan massa. "Lengan ini kerap robek kena kuku-kuku mereka yang mau salaman dengan Ustad," tuturnya, sambil menunjukkan bekas goresan. Lalu muncullah ide membentuk koordinator. Rumahnya ia jadikan sebagai sekretariat. Foto dirinya bersama Zainuddin berukuran 20-R (40 X 50 cm) terpampang di ruang tamu. Sekarang – ada atau tidak ada kegiatan Zainuddin di Jawa Timur – selama 24 jam, rumah itu tak pernah sepi.


Untuk mengajukan permohonan ceramah Zainuddin, menurut Ali Badri, paling sedikit pengundang harus menghubungi koordinator daerah empat bulan sebelumnya. Begitupun belum tentu terlaksana. Syahlan Isnadi, guru SMA Sunan Giri Gresik, mengaku sudah 22 kali menghubungi koordinator agar Zainuddin dapat berceramah di daerahnya. Ia belum juga mendapat kepastian. Tapi ia tak juga mundur. "Habis, karisma beliau di podium tidak ada duanya, sih," ujarnya. "Beliau itu guru tunggal sekaligus pelawak tunggal."


Kesulitan mendatangkan "guru tunggal" ini selalu dibayar mahal Zainuddin. Bukan saja dengan kata-katanya yang menyejukkan dan menjadikan pendengarnya lebih memahami ajaran Islam. Kehadirannya pun selalu berarti datangnya bertumpuk uang bagi panitia yang dimanfaatkan buat kepentingan umat. Misalnya untuk biaya membangun masjid atau madrasah. "Entahlah, mengapa setiap ada Bapak, orang-orang jadi gampang mengeluarkan derma," kata seorang kerabat.


Untuk mengumpulkan dana bagi pemugaran Masjid Agung Malang di antaranya. Panitia pemugaran masjid peninggalan tahun 1700-an itu sengaja mendatangkan Zainuddin untuk ceramah. Untuk itu, panitia memungut "biaya undangan". Rp 5,000 untuk VIP, dan Rp 2.000 untuk kelas umum. Hadirin ternyata melimpah. Menurut panitia pemugaran, ada yang membayar Rp 15.000 untuk satu undangan. Dengan cara begitu saja, panitia bisa mengumpulkan dana Rp 10 juta. Mereka juga boleh memperbanyak kaset ceramah Zainuddin dan menjualnya. Dari sini terkumpul uang Rp 4 juta yang sepenuhnya buat masjid.


Dengan cara serupa, Gerakan Pemuda Kodya Surabaya mengisi kas organisasinya. Mereka "mementaskan" Zainuddin di gedung Go Skate – semula tempat ice skating yang kini lebih sering menjadi arena pertunjukan musik dan tinju profesional. Dari "mengomersialkan Zainuddin" ini, kas mereka terisi Rp 2 juta bersih. 


Zainuddin punya cara lain buat mengumpulkan dana. Sehabis ceramah, ia acap membentangkan serbannya. Lalu ia meletakkan uangnya ke serban itu sebagai pemancing. Serban pun dikelilingkan pada hadirin. Massa berlomba adu banyak melemparkan uang. Sekejap jutaan rupiah pasti terkumpul. Dengan dana – yang oleh Zainuddin disebut sebagai SDBS ("Sumbangan Dana Buat Surga") – ini, ratusan masjid dan madrasah telah dibangun. 


Pengerahan dana untuk kepentingan umat ibadah atau sosial adalah salah satu perhatian utamanya. Berkali-kali ia mengatakan "juallah saya," asal untuk kepentingan umat.


Pokok bahasan lain yang disukai dai berjuta umat ini adalah penanaman keimanan, seruan untuk tawadu (sikap rendah hati), juga hal-hal lain yang banyak termuat dalam kitab Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Menurut istilah Zainuddin, dakwahnya adalah untuk "membentuk kader berotak Amerika, berhati Mekkah."


Sekalipun menabur humor di sana-sini, Zainuddin tetap tak kehilangan kendali buat mengerahkan massa. Ia mampu menjaga wibawa di mata khalayak. Rhoma Irama menyebut Zainuddin sebagai seo- rang yang memiliki "maunnah" – keistimewaan atas karunia Allah. Ali Badri mengatakan ustad itu punya kemampuan gaib. Sebagai bukti, ia menyebut bahwa hujan pun mereda setelah Zainuddin mengajak hadirin membaca salawat. Bisa jadi pernyataan ini lebih merupakan "reklame" Ali Badri untuk meninggikan Zainuddin. Tapi mungkin pula ia sungguh-sungguh meyakini demikian.


Sebenarnya, sehari-hari Zai- nuddin bukan orang yang terlalu menjaga wibawa. Ia hampir tak beda dengan ciri orang Betawi lain: nampak santai. Sering ia membiarkan kemeja lengan panjangnya tanpa tergu- lung, tapi juga tak dikancingkan. Model kebanyakan celananya masih cutbrai, membesar di bagian bawah. Potongan rambutnya kelimis, sedikit panjang. Bila habis bepergian dan cukup punya waktu luang, ustad ini suka hanya berkaus oblong dan merebahkan punggungnya di kursinya di teras.


Soal hobi, ia mengaku kerepotan menghitung. "Hobi saya banyak," ujarnya. Ustad ini adalah penggemar berat cerita silat karya Kho Ping Ho. la pun pencandu bola dan bioskop. Dalam sepak bola, ia mengagumi pemain Belanda yang bergabung di klub AC Milan-Italia, Marco van Basten. Sedang film yang paling berkesan baginya adalah Lion on the Desert yang mengisahkan perjuangan Omar Mokhtar di Sahara Libya melawan kolonial.


Soal makanan, ia sama sekali tak berpantang. Ia malah menggemari jenis makanan yang oleh sejumlah orang dihindari. Misalnya petai, jengkol, dan durian. Asap rokok pun selalu mengepul dari mulutnya bagai cerobong asap. Paling sedikit dua pak rokok dihabiskannya sehari. Sewaktu sedang merokok dan diingatkan bahwa ada ulama menganggap "merokok haram", ia terhenyak sebentar. Lalu, "Aakhhhhh...," serunya sambil terus mengepulkan asap rokok. Sebuah sikap yang tentu saja sangat tidak disukai oleh kalangan puritan.


Sewaktu kecil Zainuddin tak pernah berkeinginan menjadi mubalig. "Cita-cita saya kalau nggak jadi dokter, ya pilot." Tapi kakeknya – yang mengasuhnya setelah ayahnya meninggal – mengarahkan ke bidang agama. Menurut Zainuddin, agaknya sang kakek hendak menunaikan amanah. Sebab, dalam buku peninggalan ayahnya ada sedikit uang dan tulisan, "untuk anak saya melanjutkan ngaji."


Ternyata, dengan menjadi mubalig ia dapat hidup cukup. Di kawasan tempat tinggalnya di Gandaria, ia terbilang berada. Sebuah Accord nongkrong di garasi rumahnya yang dibangun di tanah sekitar 1.000 m2. Ia juga membeli tanah di depan rumahnya yang bakal dipakai untuk membangun masjid. Namun, Zainuddin sangat bersahaja untuk ukuran dirinya. Kalau ia mau, tak seorang artis Indonesia pun dapat menyaingi penghasilannya. Kalaupun ia minta honor, agaknya Rp 10 juta setiap kali ceramah akan dipenuhi pengundangnya. Tapi ia tak pernah meminta. Begitupun orang masih memberinya honor ratusan ribu hingga jutaan rupiah.


Belum lagi penghasilannya dari kaset. Ia terikat kontrak dengan Naviri Record hingga pertengahan tahun 1991. Kabarnya, sudah 52 serial ceramahnya yang dikasetkan. Dan ia tak peduli, berapa banyak nilai bisnis yang berputar dari kasetnya. Tentang berapa buat dirinya, ia bilang "saya tak ambil pusing." Kenyataannya. "Alhamdulillah memadai. Rumah saya inilah hasilnya."


Dalam posisi seperti itu, kehadiran Zainuddin bukan tak mengundang kritik. Terutama setelah ceramahnya dikarciskan. Ada sejumlah kalangan yang secara tak langsung menuding Zainuddin "menjual ayat" – suatu hal yang dilarang Quran.


Tapi sebagian besar tokoh Islam menyatakan bahwa yang diperbuat ustad ini sah. Tak termasuk kategori "menjual ayat". Apalagi hasil karcis pun bukan buat dirinya. Melainkan untuk kepentingan amal di daerah mereka yang mengundangnya. Dikatakannya pula, kadang ada koordinator daerah yang "nakal menjual saya pada panitia." Namun, ia mengaku selalu meluruskan kembali mereka lewat pertemuan koordinator daerah se-Indonesia secara berkala.


Zainuddin sadar betul tempatnya. Maka, ia tak memungkiri diri, bahwa dirinya perlu dana. Menurut dia, sekitar 30 persen surat yang dilayangkan kepadanya berisi permohonan bantuan materi. "Adalah sangat menyakitkan bila kita tahu ada orang minta tolong pada kita, sedangkan kita dalam keadaan tak mampu menolong."


Maka, Zainuddin pun terus bergulat dengan dunianya: dakwah. Ia berniat untuk terus menggelitik, mengetuk, menggugah hati umat, untuk bergerak menuju kebenaran. Soal keterkenalannya yang bak superstar, ia berkomentar sederhana. "Menjadi terkenal bukan tujuan saya, melainkan hanya alat untuk menumbuhkan otoritas."


Tapi untuk apa otoritas itu, Ustad? "Semakin tinggi otoritas kita di mata umat," jawab Zainuddin, "semakin mudah menanamkan keyakinan pada mereka. Umat tidak akan puas kalau kita sama dengan mereka. Biarlah kita nampak istimewa di mata mereka."


Tak hanya itu. Alat bernama otoritas barulah ampuh bila dilandasi, menurut Zainuddin, "keyakinan bahwa diri kita sama dengan mereka. Kita hanya menjalankan sebuah bentuk ibadah yang bernama 'memberikan dakwah'."


Tak mudah resep itu dijalani. Dan memang tak semua dai menjadi Zainuddin Mz.


Zaim Uchrowi, Priyono B. Sumbogo (Jakarta), Wahyu Muryadi, Zed Abidien, M. Baharun (Surabaya)


Sumber: TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990

Pak Yani dan Pak Harto Kemungkinan atas pertimbangan keefektifan jalan nya operasi pembebasan Irian Barat /Trikora yang bermarkas komando di Makassar (pusat Indonesia Timur),pimpinan AD mempertimbangkan untuk mengadakan mutasi bagi pejabat terkait,yaitu jabatan Deputi Wilayah Indonesia Timur yang diserahterimakan dari May.Jend Ahmad Yani kepada May.Jend Soeharto yang juga berposisi sebagai Panglima Komando Mandala/Pembebasan Irian Barat. Upacara dilaksanakan dilapangan Karebosi,Makassar 11 Januari 1962 dan di pimpin oleh Wakasad Let.Jend Gatot Subroto.Setelah sertijab May.Jend Ahmad Yani fokus pada tugas sebagai juru bicara tunggal Presiden/Panglima Tertinggi terkait persoalan Pembebasan Irian Barat. Sumber : 📸 Album Trikora & Nayarcives

 Pak Yani dan Pak Harto


Kemungkinan atas pertimbangan keefektifan jalan nya operasi pembebasan Irian Barat /Trikora yang bermarkas komando di Makassar (pusat Indonesia Timur),pimpinan AD mempertimbangkan untuk mengadakan mutasi bagi pejabat terkait,yaitu jabatan Deputi Wilayah Indonesia Timur yang diserahterimakan dari  May.Jend Ahmad Yani kepada May.Jend Soeharto yang juga berposisi sebagai Panglima Komando Mandala/Pembebasan Irian Barat.



Upacara dilaksanakan dilapangan Karebosi,Makassar 11 Januari 1962 dan di pimpin oleh Wakasad Let.Jend Gatot Subroto.Setelah sertijab May.Jend Ahmad Yani fokus pada tugas sebagai juru bicara tunggal Presiden/Panglima Tertinggi terkait persoalan Pembebasan Irian Barat.


Sumber : 📸 Album Trikora & Nayarcives

Salam kenal saya dari sulawesi utara tepatnya di kpg jawa tondano kab.minahasa, tempat pengasingan para pahlawan jawa dalam perang diponegoro(laskar diponegoro dan kyai modjo), banyak garis keturunan dari RM.Sandeyo, HB I, HB II dan HB III🙏 #terasing #ygterlupakan #jawatondano #jaton

 Salam kenal saya dari sulawesi utara tepatnya di kpg jawa tondano kab.minahasa, tempat pengasingan para pahlawan jawa dalam perang diponegoro(laskar diponegoro dan kyai modjo), banyak garis keturunan dari RM.Sandeyo, HB I, HB II dan HB III🙏


#terasing

#ygterlupakan

#jawatondano

#jaton


foto ini di buat sekitar tahun 1962 satu regu Agen Polisi (Polisi Pamong Praja) mungkin cikal bakal Satuan Polisi Pamong Praja,komandannya yang duduk..,pangkatnya Mantri Polisi. dulu kantornya di jalan Bayan,kantor Asisten Wedana(Apotik Bayeman sekarang.sekatanh semua sudah Almarhum,bapak yang paling kurus. mungkin masih ada keluarganya atau masih ada yang kenal ??

 foto ini di buat sekitar tahun 1962  satu regu Agen Polisi (Polisi Pamong Praja) mungkin cikal bakal Satuan Polisi  Pamong Praja,komandannya yang duduk..,pangkatnya Mantri Polisi.

dulu kantornya di jalan Bayan,kantor Asisten Wedana(Apotik Bayeman sekarang.sekatanh semua sudah Almarhum,bapak yang paling kurus.

mungkin masih ada keluarganya atau masih ada yang kenal ??


Sumber : Bagus Satya

28 April 2026

Pahlawan yang mematahkan pedang Mongol dan menyelamatkan leher umat Islam, ternyata tak mampu melindungi lehernya sendiri dari pedang kawan seperjuangannya. Momentum itu bukan sekadar pembunuhan biasa; itu adalah sebuah gempa politik yang selamanya mengubah garis takdir dunia Islam. Hanya berselang beberapa minggu setelah kemenangan legendaris di Ain Jalut (1260 M), di tengah sorak-sorai Damaskus dan Kairo, sang Sultan Penyelamat, Saifuddin Qutuz, tersungkur bersimbah darah. Pelakunya? Sekutu terdekatnya, sang "Singa" yang berbagi panggung kemenangan bersamanya: Zahir Baibars. Inilah rincian benturan epik antara dua raksasa Mamluk dalam sejarah, di mana pragmatisme politik berbicara lebih keras daripada air mata kesetiaan. 1. Tragedi di Al-Qusayr: Khianat dalam Genggaman Setelah badai Mongol dipadamkan—untuk pertama kalinya dalam sejarah—ketakutan yang mencekam hati Muslimin sirna. Rakyat menanti kepulangan sang Sultan yang telah mengusir kiamat kecil dari tanah mereka. Namun, di dalam iring-iringan kemenangan itu, ada hati yang tidak tenang. Di sebuah tempat bernama Al-Qusayr, Qutuz keluar dari perkemahannya untuk berburu, mencari sejenak ketenangan di tengah hiruk-pukuk perang. Di sana, Baibars mendekat, berpura-pura ingin membicarakan suatu urusan. Dengan kepercayaan penuh, Qutuz mengulurkan tangannya. Saat itulah maut menjemput. Baibars mencengkeram tangan sang Sultan—sebuah isyarat bagi para konspirator lain untuk menghunus pedang. Qutuz jatuh, menatap tajam ke arah sahabatnya dengan tatapan tak percaya yang menyayat hati: "Beginikah caramu, wahai Rukn al-Din?" 2. Ambisi Aleppo: Percikan Api Pertama Baibars bukanlah tipe pria yang puas berdiri di bayang-bayang selamanya. Ia merasa keberaniannya di medan Ain Jalut setara dengan sang Sultan. Ia menginginkan Aleppo sebagai imbalan atas darah yang ia tumpahkan. Namun, Qutuz berpikir dengan otak seorang penguasa, bukan dengan hati seorang kawan. Ia khawatir jika Baibars menguasai kota sebesar Aleppo, maka akan lahir "negara di dalam negara". Penolakan itu, meski secara politik masuk akal, menjadi sumbu pendek yang meledakkan dendam dalam diri Baibars. 3. Bayang-Bayang Masa Lalu: Dendam Aktai yang Belum Usai Perselisihan soal Aleppo hanyalah permukaan. Jauh di lubuk hati mereka, ada luka lama yang tak pernah benar-benar mengering. Dulu, Baibars adalah pengikut setia Farisuddin Aktai, pemimpin Mamluk Bahri yang sangat disegani. Qutuz adalah salah satu orang yang membantu Sultan Muiz Aibek mengeksekusi Aktai. Sejak saat itu, mereka berpencar sebagai musuh. Mongol-lah yang memaksa mereka bersatu. Kebutuhan mendesak memaksa tubuh mereka berdekatan, namun hati mereka tetap saling menghunus pedang. Darah Aktai menuntut tebusan, dan ingatan itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk menagih janji. 4. Hukum Rimba Mamluk: Takhta Milik Sang Pemenang Era Mamluk adalah era tanpa garis keturunan suci. Singgasana tidak diwariskan lewat rahim, melainkan diraih lewat tajamnya pedang. Sejak kecil, seorang Mamluk dididik bahwa kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami dunia. Baibars tidak memandang tindakannya sebagai pengkhianatan dalam kacamata moral kita. Baginya, itu adalah kelanjutan alami dari hukum yang mereka semua imani: "Al-Mulku Liman Ghalaba" — Kekuasaan adalah milik dia yang menang. Ia sadar, jika Qutuz menginjakkan kaki di Kairo sebagai pahlawan besar, tak akan ada lagi celah untuk menggulingkannya. Pilihannya hanya dua: tetap menjadi pelayan selamanya, atau menjadi penguasa hari ini. Ia memilih jalan darah. 5. Ironi Sejarah: Sang Syahid dan Sang Pendiri Setibanya di Kairo dengan tangan yang masih merah, rakyat dan petinggi militer tak banyak bertanya. Di zaman itu, darah adalah tinta yang biasa dalam menulis politik. Panglima militer (Atabeg) bertanya padanya dengan dingin: "Apakah kau yang membunuhnya dengan tanganmu sendiri?" Baibars menjawab dengan ketegasan yang mencekam: "Ya." Maka jawabannya singkat: "Kalau begitu, duduklah di kursinya. Kekuasaan adalah milik pemenang." Dalam satu helaan napas, berakhirlah era sang penyelamat, dan dimulailah era sang pembangun. Kesimpulan: Sisi Terang dan Gelap Rembulan Qutuz dibunuh karena politik saat itu tidak mengenal kata "terima kasih", melainkan "keberlangsungan". Ia gugur setelah menuntaskan misi sejarahnya melindungi Islam dari Tartar. Namun, kematiannya memberi jalan bagi Baibars untuk membangun imperium yang lebih perkasa—penguasa yang menjalani 9 pertempuran melawan Mongol dan puluhan kampanye melawan Tentara Salib tanpa sekalipun kalah. Qutuz pergi sebagai "Syahid", Baibars bertahan sebagai "Sang Pendiri". Keduanya menulis sejarah kita dengan tinta cahaya... dan genangan darah. Sejarah memang tak pernah murni putih atau hitam; ia seperti rembulan, memiliki sisi yang terang benderang sekaligus sisi gelap yang misterius.

 Pahlawan yang mematahkan pedang Mongol dan menyelamatkan leher umat Islam, ternyata tak mampu melindungi lehernya sendiri dari pedang kawan seperjuangannya.



Momentum itu bukan sekadar pembunuhan biasa; itu adalah sebuah gempa politik yang selamanya mengubah garis takdir dunia Islam. Hanya berselang beberapa minggu setelah kemenangan legendaris di Ain Jalut (1260 M), di tengah sorak-sorai Damaskus dan Kairo, sang Sultan Penyelamat, Saifuddin Qutuz, tersungkur bersimbah darah. Pelakunya? Sekutu terdekatnya, sang "Singa" yang berbagi panggung kemenangan bersamanya: Zahir Baibars.


Inilah rincian benturan epik antara dua raksasa Mamluk dalam sejarah, di mana pragmatisme politik berbicara lebih keras daripada air mata kesetiaan.


1. Tragedi di Al-Qusayr: Khianat dalam Genggaman


Setelah badai Mongol dipadamkan—untuk pertama kalinya dalam sejarah—ketakutan yang mencekam hati Muslimin sirna. Rakyat menanti kepulangan sang Sultan yang telah mengusir kiamat kecil dari tanah mereka.


Namun, di dalam iring-iringan kemenangan itu, ada hati yang tidak tenang. Di sebuah tempat bernama Al-Qusayr, Qutuz keluar dari perkemahannya untuk berburu, mencari sejenak ketenangan di tengah hiruk-pukuk perang. Di sana, Baibars mendekat, berpura-pura ingin membicarakan suatu urusan.


Dengan kepercayaan penuh, Qutuz mengulurkan tangannya. Saat itulah maut menjemput. Baibars mencengkeram tangan sang Sultan—sebuah isyarat bagi para konspirator lain untuk menghunus pedang. Qutuz jatuh, menatap tajam ke arah sahabatnya dengan tatapan tak percaya yang menyayat hati:


"Beginikah caramu, wahai Rukn al-Din?"


2. Ambisi Aleppo: Percikan Api Pertama


Baibars bukanlah tipe pria yang puas berdiri di bayang-bayang selamanya. Ia merasa keberaniannya di medan Ain Jalut setara dengan sang Sultan. Ia menginginkan Aleppo sebagai imbalan atas darah yang ia tumpahkan.


Namun, Qutuz berpikir dengan otak seorang penguasa, bukan dengan hati seorang kawan. Ia khawatir jika Baibars menguasai kota sebesar Aleppo, maka akan lahir "negara di dalam negara". Penolakan itu, meski secara politik masuk akal, menjadi sumbu pendek yang meledakkan dendam dalam diri Baibars.


3. Bayang-Bayang Masa Lalu: Dendam Aktai yang Belum Usai


Perselisihan soal Aleppo hanyalah permukaan. Jauh di lubuk hati mereka, ada luka lama yang tak pernah benar-benar mengering.


Dulu, Baibars adalah pengikut setia Farisuddin Aktai, pemimpin Mamluk Bahri yang sangat disegani. Qutuz adalah salah satu orang yang membantu Sultan Muiz Aibek mengeksekusi Aktai. Sejak saat itu, mereka berpencar sebagai musuh. Mongol-lah yang memaksa mereka bersatu. Kebutuhan mendesak memaksa tubuh mereka berdekatan, namun hati mereka tetap saling menghunus pedang. Darah Aktai menuntut tebusan, dan ingatan itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk menagih janji.


4. Hukum Rimba Mamluk: Takhta Milik Sang Pemenang


Era Mamluk adalah era tanpa garis keturunan suci. Singgasana tidak diwariskan lewat rahim, melainkan diraih lewat tajamnya pedang. Sejak kecil, seorang Mamluk dididik bahwa kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami dunia.


Baibars tidak memandang tindakannya sebagai pengkhianatan dalam kacamata moral kita. Baginya, itu adalah kelanjutan alami dari hukum yang mereka semua imani:


"Al-Mulku Liman Ghalaba" — Kekuasaan adalah milik dia yang menang.

Ia sadar, jika Qutuz menginjakkan kaki di Kairo sebagai pahlawan besar, tak akan ada lagi celah untuk menggulingkannya. Pilihannya hanya dua: tetap menjadi pelayan selamanya, atau menjadi penguasa hari ini. Ia memilih jalan darah.


5. Ironi Sejarah: Sang Syahid dan Sang Pendiri


Setibanya di Kairo dengan tangan yang masih merah, rakyat dan petinggi militer tak banyak bertanya. Di zaman itu, darah adalah tinta yang biasa dalam menulis politik. Panglima militer (Atabeg) bertanya padanya dengan dingin:


"Apakah kau yang membunuhnya dengan tanganmu sendiri?"


Baibars menjawab dengan ketegasan yang mencekam: "Ya."


Maka jawabannya singkat: "Kalau begitu, duduklah di kursinya. Kekuasaan adalah milik pemenang."


Dalam satu helaan napas, berakhirlah era sang penyelamat, dan dimulailah era sang pembangun.


Kesimpulan: Sisi Terang dan Gelap Rembulan


Qutuz dibunuh karena politik saat itu tidak mengenal kata "terima kasih", melainkan "keberlangsungan". Ia gugur setelah menuntaskan misi sejarahnya melindungi Islam dari Tartar. Namun, kematiannya memberi jalan bagi Baibars untuk membangun imperium yang lebih perkasa—penguasa yang menjalani 9 pertempuran melawan Mongol dan puluhan kampanye melawan Tentara Salib tanpa sekalipun kalah.


Qutuz pergi sebagai "Syahid", Baibars bertahan sebagai "Sang Pendiri". Keduanya menulis sejarah kita dengan tinta cahaya... dan genangan darah. Sejarah memang tak pernah murni putih atau hitam; ia seperti rembulan, memiliki sisi yang terang benderang sekaligus sisi gelap yang misterius.

Jejak Sejarah KNIL, Pembela Tanah Air, Siliwangi, Baret Hijau Hingga Baret Merah Di Tuguran Dari zaman Hindia Belanda Magelang telah menjadi kota Garnizun. Salah satu bangunan yang memiliki sejarah panjang perjalanan militer di Kota Magelang adalah bangunan yang kini menjadi Sekolah Calon Bintara Kodam IV Diponegoro yang berlokasi di Jalan Pahlawan kota Magelang. Bangunan di Tuguran ini berdiri sekitar tahun 1940an tepatnya bulan Februari 1940, Tuguran ditetapkan sebagai bagian dari barak satuan militer khusus oleh pemerintah kolonial Belanda. Kepemimpinan angkatan darat Belanda (departement van oorlog) mengerahkan pembangunan barak-barak untuk bintara angkatan darat di area Tuguran. Tetapi tahun 1942 tentara Jepang masuk ke Indonesia. Di masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan oleh Jepang sebagai markas PETA, ini berdasarkan data bahwa Bapak Sarwo Edhie Wibowo Setelah menjalani latihan militer sebagai calon perwira PETA di Bogor, Sarwo Edhie menjadi salah satu lulusan Shodanco (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Saat pelantikan, dia Sarwo Edhie sebagai Shodancho mendapatkan tugas di daerah Tuguran, Magelang. Pada November 1948, ketika Divisi Siliwangi bermarkas di Tuguran Magelang, Batalyon I Brigade IV dimasukkan ke dalam Brigade Divisi Siliwangi dengan nama "Batalyon IV Brigade XIV Divisi Siliwangi". Divisi Siliwangi ini bermarkas di bangunan yang menjadi bangunan SECABA ini hingga sekitar Desember 1948 mereka melakukan Long March kembali ke Jawa Barat akibat adanya Agresi Militer Belanda ke 2. Pada saat Agresi Militer Belanda ke 2 bangunan ini sempat mengalami aksi bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Kemudian sekitar tahun 1955 bangunan ini menjadi markas dari Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I. Dari sinilah jejak baret hijau Banteng Raider "Komandone Wong Jowo" terukir dengan tinta emas di Kota Magelang. Selanjutnya setelah Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I direkrut menjadi bagian RPKAD di pertengahan tahun 1965 menjadi Batalyon 2 RPKAD maka bangunan yang sekarang kita kenal sebagai bangunan SECABA ini menjadi markas dari Batalyon 2 RPKAD dari tahun 1965 sampai 1978an. Dan di antara 1965 sampai 1978an jejak baret merah terukir di Kota Magelang...... Batalyon 2 RPKAD di Tuguran ini banyak berperan penting dalam menumpas sisa sisa anggota G 30 S PKI. Masuknya Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I ke dalam RPKAD menjadi tonggak leburnya antara "Komandone Wong Jowo" dan "Komandone Wong Londo" jadi satu. Banteng Raider masa itu dikenal sebagai Komandone Wong Jowo karena pimpinan pertama nya adalah Letkol Achmad Yani (pangkat terakhir Jenderal Anumerta). Kalau RPKAD dikenal sebagai Komandone Wong Londo karena pimpinan pertama Mayor Muhammad Idjon Djambi (RB Visser) yang dahulunya adalah anggota Speciale Troepen Kerajaan Belanda. Pada Januari 1978 markas Group 2 Kopassandha mulai dipindahkan dari Tuguran ke Kandang Menjangan Kartasura. Setelah Batalyon 2 RPKAD pindah ke Kandang Menjangan Kartasura kemudian bangunan bekas markas Batalyon 2 RPKAD ini digunakan sebagai tempat Sekolah Calon Bintara hingga sekarang ini. Jadi bangunan yang kita kenal sebagai Sekolah Calon Bintara ini ternyata memiliki sejarah panjang yang perlu kita kenang dan kita pelajari untuk bisa kita ceritakan ke anak cucu kita bahwasanya di Tuguran punya sejarah militer yang panjang dari dahulu hingga kini.

 Jejak Sejarah KNIL, Pembela Tanah Air, Siliwangi, Baret Hijau Hingga Baret Merah Di Tuguran 



Dari zaman Hindia Belanda Magelang telah menjadi kota Garnizun. Salah satu bangunan yang memiliki sejarah panjang perjalanan militer di Kota Magelang adalah bangunan yang kini menjadi Sekolah Calon Bintara Kodam IV Diponegoro yang berlokasi di Jalan Pahlawan kota Magelang.

Bangunan di Tuguran ini berdiri sekitar tahun 1940an tepatnya bulan Februari 1940, Tuguran ditetapkan sebagai bagian dari barak satuan militer khusus oleh pemerintah kolonial Belanda. Kepemimpinan angkatan darat Belanda (departement van oorlog) mengerahkan pembangunan barak-barak untuk bintara angkatan darat di area Tuguran.

Tetapi tahun 1942 tentara Jepang masuk ke Indonesia. 

Di masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan oleh Jepang sebagai markas PETA, ini berdasarkan data bahwa Bapak Sarwo Edhie Wibowo Setelah menjalani latihan militer sebagai calon perwira PETA di Bogor, Sarwo Edhie menjadi salah satu lulusan Shodanco (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Saat pelantikan, dia Sarwo Edhie sebagai Shodancho mendapatkan tugas di daerah Tuguran, Magelang.

Pada November 1948, ketika Divisi Siliwangi bermarkas di Tuguran Magelang, Batalyon I Brigade IV dimasukkan ke dalam Brigade Divisi Siliwangi dengan nama "Batalyon IV Brigade XIV Divisi Siliwangi". Divisi Siliwangi ini bermarkas di bangunan yang menjadi bangunan SECABA ini hingga sekitar Desember 1948 mereka melakukan Long March kembali ke Jawa Barat akibat adanya Agresi Militer Belanda ke 2.

Pada saat Agresi Militer Belanda ke 2 bangunan ini sempat mengalami aksi bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Kemudian sekitar tahun 1955 bangunan ini menjadi markas dari Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I. Dari sinilah jejak baret hijau Banteng Raider "Komandone Wong Jowo" terukir dengan tinta emas di Kota Magelang.

Selanjutnya setelah Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I direkrut menjadi bagian RPKAD di pertengahan tahun 1965 menjadi Batalyon 2 RPKAD maka bangunan yang sekarang kita kenal sebagai bangunan SECABA ini menjadi markas dari Batalyon 2 RPKAD dari tahun 1965 sampai 1978an. Dan di antara 1965 sampai 1978an jejak baret merah terukir di Kota Magelang...... Batalyon 2 RPKAD di Tuguran ini banyak berperan penting dalam menumpas sisa sisa anggota G 30 S PKI.

Masuknya Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I ke dalam RPKAD menjadi tonggak leburnya antara "Komandone Wong Jowo" dan "Komandone Wong Londo" jadi satu.

Banteng Raider masa itu dikenal sebagai Komandone Wong Jowo karena pimpinan pertama nya adalah Letkol Achmad Yani (pangkat terakhir Jenderal Anumerta).

Kalau RPKAD dikenal sebagai Komandone Wong Londo karena pimpinan pertama Mayor Muhammad Idjon Djambi (RB Visser) yang dahulunya adalah anggota Speciale Troepen Kerajaan Belanda.

Pada Januari 1978 markas Group 2 Kopassandha mulai dipindahkan dari Tuguran ke Kandang Menjangan Kartasura.

Setelah Batalyon 2 RPKAD pindah ke Kandang Menjangan Kartasura kemudian bangunan bekas markas Batalyon 2 RPKAD ini digunakan sebagai tempat Sekolah Calon Bintara hingga sekarang ini.

Jadi bangunan yang kita kenal sebagai Sekolah Calon Bintara ini ternyata memiliki sejarah panjang yang perlu kita kenang dan kita pelajari untuk bisa kita ceritakan ke anak cucu kita bahwasanya di Tuguran punya sejarah militer yang panjang dari dahulu hingga kini.


Sumber : Orchid Breeder

27 April 2026

TJILIK RIWUT: PAHLAWAN YANG DIABAIKAN Mari jujur. Sejarah Indonesia sering kali tidak ditulis berdasarkan siapa yang paling berjuang, tapi siapa yang paling sering disebut. Dan di situlah masalahnya dimulai. Nama Tjilik Riwut? Tidak asing, tapi juga tidak benar-benar hadir. Ia seperti tokoh penting yang sengaja diletakkan di catatan kaki—dibaca sekilas, lalu dilupakan. Padahal, kalau mau sedikit saja jujur dan membuka mata, apa yang ia lakukan di Kalimantan bukan sekadar kontribusi. Itu adalah fondasi. Ketika sebagian besar narasi besar revolusi sibuk berputar di Jawa—rapat, diplomasi, pidato, dan pertempuran besar—ada satu wilayah yang bekerja dalam diam: pedalaman Kalimantan. Dan di sana, Tjilik Riwut bukan sekadar pejuang. Ia adalah sistem. Ia adalah jaringan. Ia adalah strategi hidup. Ia tidak datang dengan peta militer. Ia adalah peta itu sendiri. Sejak muda, ia sudah menembus sungai-sungai liar, berjalan kaki berbulan-bulan melintasi hutan yang bahkan tidak berani disentuh oleh orang luar. Ia tahu jalur yang tidak terlihat. Ia tahu kampung yang tidak tercatat. Ia tahu cara bergerak tanpa terlihat. Dan di perang gerilya, pengetahuan seperti itu bukan keunggulan—itu adalah segalanya. Belanda boleh punya senjata modern, kapal, dan kontrol atas kota-kota pesisir. Tapi mereka tidak pernah benar-benar menguasai Kalimantan. Kenapa? Karena mereka hanya menguasai permukaan. Sementara Tjilik Riwut menguasai isi. Dan di situlah ironi besar sejarah Indonesia: kita lebih sering mengagungkan pertempuran besar yang terlihat, dibandingkan perlawanan cerdas yang tidak bisa difoto. Tahun 1946, saat ia membawa para pemimpin adat Dayak ke Yogyakarta, itu bukan sekadar perjalanan simbolis. Itu adalah pukulan politik yang sangat dalam. Saat Belanda sedang menyusun strategi licik untuk memecah Indonesia lewat sistem federal di Kalimantan, Tjilik Riwut datang membawa satu hal yang tidak bisa mereka beli: kesetiaan rakyat pedalaman. Bukan kesetiaan karena tekanan. Bukan karena propaganda. Tapi karena kepercayaan. Dan di titik itu, rencana Belanda mulai retak. Dari dalam. Lalu datang operasi militer MN 1001 tahun 1947. Secara militer? Tidak sempurna. Banyak yang gugur. Banyak yang tertangkap. Kalau dilihat dengan kacamata dangkal, ini bisa disebut kegagalan. Tapi justru di situlah kecerdasan Tjilik Riwut terlihat. Karena perang tidak selalu dimenangkan oleh operasi besar. Kadang justru dimenangkan oleh apa yang terjadi setelahnya. Ketika situasi memburuk, jaringan yang ia bangun mulai bekerja. Diam-diam. Tanpa sorotan. Tanpa tepuk tangan. Informasi bergerak cepat lewat masyarakat adat. Jalur logistik muncul dari sungai-sungai yang tidak terdeteksi. Serangan kecil terjadi terus-menerus, membuat Belanda kelelahan, bingung, dan kehilangan arah. Ini bukan perang heroik ala film. Ini perang yang membuat musuh frustrasi. Dan hasilnya jelas: Belanda tidak pernah benar-benar bisa menguasai pedalaman Kalimantan. Bayangkan ini. Sebuah kekuatan kolonial dengan sumber daya besar, teknologi lebih maju, dan pengalaman perang global… dibuat tidak berdaya oleh jaringan rakyat yang dipimpin seseorang yang memahami tanahnya sendiri. Kalau itu bukan kecerdasan strategis, lalu apa? Tapi lagi-lagi, karena tidak dramatis, karena tidak “Instagramable”, karena tidak masuk narasi besar yang sering diulang—kisah ini perlahan menghilang. Setelah 1949, banyak pejuang berhenti. Banyak yang puas. Banyak yang beralih ke kehidupan biasa. Tjilik Riwut? Tidak. Ia pindah medan. Dari hutan ke politik. Dari senjata ke kebijakan. Ketika Indonesia sempat menjadi Republik Indonesia Serikat—sebuah bentuk negara yang jelas-jelas hasil rekayasa kolonial—ia kembali bergerak. Kali ini bukan dengan senapan, tapi dengan pengaruh. Ia memastikan Kalimantan tidak menjadi “pecahan” yang mudah dikendalikan. Ia mendorong integrasi penuh ke dalam NKRI. Dan ya, ini juga sering diremehkan. Padahal kalau Kalimantan saat itu benar-benar terlepas atau terfragmentasi, wajah Indonesia hari ini bisa sangat berbeda. Sangat mungkin lebih rapuh. Lebih mudah diintervensi. Tapi sejarah tidak suka membahas “yang hampir terjadi”. Sejarah lebih suka membahas “yang terlihat”. Masuk ke fase berikutnya: pemerintahan. Ia bukan sekadar pejabat. Ia adalah pembangun dari nol. Bukan nol metaforis. Nol yang benar-benar nol. Palangka Raya bukan kota yang diperluas. Itu kota yang diciptakan. Bayangkan memimpin wilayah yang belum punya infrastruktur dasar. Tidak ada jalan memadai. Tidak ada sistem kota. Tidak ada fondasi modern. Tapi harus dibangun menjadi pusat pemerintahan. Dan ia melakukannya. Bukan dengan slogan. Bukan dengan janji. Tapi dengan kerja nyata. Lebih menarik lagi, visinya bahkan melampaui zamannya. Bersama Soekarno, Palangka Raya sempat dipertimbangkan sebagai ibu kota Indonesia. Kenapa? Karena letaknya strategis. Karena lebih aman. Karena lebih representatif secara geografis. Dan lucunya, puluhan tahun kemudian, Indonesia baru kembali membicarakan ide itu dengan serius. Artinya? Ia tidak hanya berpikir untuk hari itu. Ia berpikir untuk masa depan yang bahkan belum siap memahami pikirannya. Sekarang pertanyaannya sederhana: kenapa nama sebesar ini tidak sebesar narasinya? Jawabannya tidak nyaman. Karena Indonesia sering kali lebih suka cerita yang mudah dicerna daripada fakta yang kompleks. Karena kita lebih cepat menghafal nama daripada memahami peran. Karena kita lebih tertarik pada pusat daripada pinggiran. Dan yang paling menyakitkan: karena kita sering tidak adil dalam menghargai kontribusi. Tjilik Riwut membuktikan satu hal penting—bahwa Indonesia tidak dibangun hanya dari satu pulau, satu kota, atau satu jenis perjuangan. Indonesia dibangun dari keberanian orang-orang yang tidak menunggu spotlight. Dari mereka yang bekerja dalam diam. Dari mereka yang tidak viral, tapi vital. Dan kalau hari ini kita masih memandang sejarah dengan kacamata sempit—mengulang nama yang sama, mengabaikan yang lain—maka kita tidak sedang belajar sejarah. Kita sedang mengulang bias. Narasi ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Tapi untuk meluruskan. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang punya banyak pahlawan. Tapi bangsa yang tahu cara mengingat mereka dengan adil. Sekarang tinggal pilihan kita. Mau terus membaca sejarah sebagai cerita yang nyaman? Atau mulai melihatnya sebagai kenyataan yang kadang menyakitkan, tapi jauh lebih jujur? #TjilikRiwut #SejarahIndonesia #PahlawanTerlupakan #Kalimantan #Dayak #RevolusiIndonesia #NKRI #SejarahYangTerlupakan #IndonesiaTimur #NarasiSejarah #KritikSejarah #BelajarSejarah #Indonesia TJILIK RIWUT: PAHLAWAN YANG DIABAIKAN, NEGARA YANG TERLALU SIBUK MENGINGAT YANG “POPULER”

 TJILIK RIWUT: PAHLAWAN YANG DIABAIKAN

Mari jujur. Sejarah Indonesia sering kali tidak ditulis berdasarkan siapa yang paling berjuang, tapi siapa yang paling sering disebut. Dan di situlah masalahnya dimulai.



Nama Tjilik Riwut? Tidak asing, tapi juga tidak benar-benar hadir. Ia seperti tokoh penting yang sengaja diletakkan di catatan kaki—dibaca sekilas, lalu dilupakan. Padahal, kalau mau sedikit saja jujur dan membuka mata, apa yang ia lakukan di Kalimantan bukan sekadar kontribusi. Itu adalah fondasi.


Ketika sebagian besar narasi besar revolusi sibuk berputar di Jawa—rapat, diplomasi, pidato, dan pertempuran besar—ada satu wilayah yang bekerja dalam diam: pedalaman Kalimantan. Dan di sana, Tjilik Riwut bukan sekadar pejuang. Ia adalah sistem. Ia adalah jaringan. Ia adalah strategi hidup.


Ia tidak datang dengan peta militer. Ia adalah peta itu sendiri.


Sejak muda, ia sudah menembus sungai-sungai liar, berjalan kaki berbulan-bulan melintasi hutan yang bahkan tidak berani disentuh oleh orang luar. Ia tahu jalur yang tidak terlihat. Ia tahu kampung yang tidak tercatat. Ia tahu cara bergerak tanpa terlihat. Dan di perang gerilya, pengetahuan seperti itu bukan keunggulan—itu adalah segalanya.


Belanda boleh punya senjata modern, kapal, dan kontrol atas kota-kota pesisir. Tapi mereka tidak pernah benar-benar menguasai Kalimantan. Kenapa? Karena mereka hanya menguasai permukaan. Sementara Tjilik Riwut menguasai isi.


Dan di situlah ironi besar sejarah Indonesia: kita lebih sering mengagungkan pertempuran besar yang terlihat, dibandingkan perlawanan cerdas yang tidak bisa difoto.


Tahun 1946, saat ia membawa para pemimpin adat Dayak ke Yogyakarta, itu bukan sekadar perjalanan simbolis. Itu adalah pukulan politik yang sangat dalam. Saat Belanda sedang menyusun strategi licik untuk memecah Indonesia lewat sistem federal di Kalimantan, Tjilik Riwut datang membawa satu hal yang tidak bisa mereka beli: kesetiaan rakyat pedalaman.


Bukan kesetiaan karena tekanan. Bukan karena propaganda. Tapi karena kepercayaan.


Dan di titik itu, rencana Belanda mulai retak. Dari dalam.


Lalu datang operasi militer MN 1001 tahun 1947. Secara militer? Tidak sempurna. Banyak yang gugur. Banyak yang tertangkap. Kalau dilihat dengan kacamata dangkal, ini bisa disebut kegagalan.


Tapi justru di situlah kecerdasan Tjilik Riwut terlihat.


Karena perang tidak selalu dimenangkan oleh operasi besar. Kadang justru dimenangkan oleh apa yang terjadi setelahnya.


Ketika situasi memburuk, jaringan yang ia bangun mulai bekerja. Diam-diam. Tanpa sorotan. Tanpa tepuk tangan.


Informasi bergerak cepat lewat masyarakat adat. Jalur logistik muncul dari sungai-sungai yang tidak terdeteksi. Serangan kecil terjadi terus-menerus, membuat Belanda kelelahan, bingung, dan kehilangan arah.


Ini bukan perang heroik ala film. Ini perang yang membuat musuh frustrasi.


Dan hasilnya jelas: Belanda tidak pernah benar-benar bisa menguasai pedalaman Kalimantan.


Bayangkan ini. Sebuah kekuatan kolonial dengan sumber daya besar, teknologi lebih maju, dan pengalaman perang global… dibuat tidak berdaya oleh jaringan rakyat yang dipimpin seseorang yang memahami tanahnya sendiri.


Kalau itu bukan kecerdasan strategis, lalu apa?


Tapi lagi-lagi, karena tidak dramatis, karena tidak “Instagramable”, karena tidak masuk narasi besar yang sering diulang—kisah ini perlahan menghilang.


Setelah 1949, banyak pejuang berhenti. Banyak yang puas. Banyak yang beralih ke kehidupan biasa.


Tjilik Riwut? Tidak.


Ia pindah medan. Dari hutan ke politik. Dari senjata ke kebijakan.


Ketika Indonesia sempat menjadi Republik Indonesia Serikat—sebuah bentuk negara yang jelas-jelas hasil rekayasa kolonial—ia kembali bergerak. Kali ini bukan dengan senapan, tapi dengan pengaruh.


Ia memastikan Kalimantan tidak menjadi “pecahan” yang mudah dikendalikan. Ia mendorong integrasi penuh ke dalam NKRI.


Dan ya, ini juga sering diremehkan.


Padahal kalau Kalimantan saat itu benar-benar terlepas atau terfragmentasi, wajah Indonesia hari ini bisa sangat berbeda. Sangat mungkin lebih rapuh. Lebih mudah diintervensi.


Tapi sejarah tidak suka membahas “yang hampir terjadi”. Sejarah lebih suka membahas “yang terlihat”.


Masuk ke fase berikutnya: pemerintahan.


Ia bukan sekadar pejabat. Ia adalah pembangun dari nol. Bukan nol metaforis. Nol yang benar-benar nol.


Palangka Raya bukan kota yang diperluas. Itu kota yang diciptakan.


Bayangkan memimpin wilayah yang belum punya infrastruktur dasar. Tidak ada jalan memadai. Tidak ada sistem kota. Tidak ada fondasi modern. Tapi harus dibangun menjadi pusat pemerintahan.


Dan ia melakukannya.


Bukan dengan slogan. Bukan dengan janji. Tapi dengan kerja nyata.


Lebih menarik lagi, visinya bahkan melampaui zamannya. Bersama Soekarno, Palangka Raya sempat dipertimbangkan sebagai ibu kota Indonesia.


Kenapa? Karena letaknya strategis. Karena lebih aman. Karena lebih representatif secara geografis.


Dan lucunya, puluhan tahun kemudian, Indonesia baru kembali membicarakan ide itu dengan serius.


Artinya? Ia tidak hanya berpikir untuk hari itu. Ia berpikir untuk masa depan yang bahkan belum siap memahami pikirannya.


Sekarang pertanyaannya sederhana: kenapa nama sebesar ini tidak sebesar narasinya?


Jawabannya tidak nyaman.


Karena Indonesia sering kali lebih suka cerita yang mudah dicerna daripada fakta yang kompleks.


Karena kita lebih cepat menghafal nama daripada memahami peran.


Karena kita lebih tertarik pada pusat daripada pinggiran.


Dan yang paling menyakitkan: karena kita sering tidak adil dalam menghargai kontribusi.


Tjilik Riwut membuktikan satu hal penting—bahwa Indonesia tidak dibangun hanya dari satu pulau, satu kota, atau satu jenis perjuangan.


Indonesia dibangun dari keberanian orang-orang yang tidak menunggu spotlight.


Dari mereka yang bekerja dalam diam.


Dari mereka yang tidak viral, tapi vital.


Dan kalau hari ini kita masih memandang sejarah dengan kacamata sempit—mengulang nama yang sama, mengabaikan yang lain—maka kita tidak sedang belajar sejarah.


Kita sedang mengulang bias.


Narasi ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Tapi untuk meluruskan.


Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang punya banyak pahlawan.


Tapi bangsa yang tahu cara mengingat mereka dengan adil.


Sekarang tinggal pilihan kita.


Mau terus membaca sejarah sebagai cerita yang nyaman?


Atau mulai melihatnya sebagai kenyataan yang kadang menyakitkan, tapi jauh lebih jujur?


#TjilikRiwut #SejarahIndonesia #PahlawanTerlupakan #Kalimantan #Dayak #RevolusiIndonesia #NKRI #SejarahYangTerlupakan #IndonesiaTimur #NarasiSejarah #KritikSejarah #BelajarSejarah #Indonesia


TJILIK RIWUT: PAHLAWAN YANG DIABAIKAN, NEGARA YANG TERLALU SIBUK MENGINGAT YANG “POPULER”

Orang di dalam foto ini adalah Imam Khomeini, di perbatasan Irak-Kuwait pada tahun 1979. Ketika beliau meninggalkan Irak menuju Kuwait, yang juga menolak menerimanya dan tidak ada negara Arab yang mau menerimanya pada waktu itu. Jadi Imam terdampar di perbatasan Irak-Kuwait, tidak menemukan siapa pun yang mau menerimanya dan tidak dapat kembali ke Irak. Beliau tinggal di sana selama tiga hari dengan beberapa muridnya yang tidak lebih dari lima orang serta keluarganya di gurun yang terik... Pada bulan ketujuh di wilayah perbatasan Safwan. Di sana, salah satu muridnya bertanya kepadanya, "Apa yang akan Anda lakukan?" Beliau menjawab, "Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Marilah kita menunggu kehendak Allah..." Sehari kemudian, Prancis mengirimkan memorandum yang menyerukan penerimaan Imam Khomeini sebagai pengungsi politik. *sumber tulisan dari akun X @mshhdy15890

 Orang di dalam foto ini adalah Imam Khomeini, di perbatasan Irak-Kuwait pada tahun 1979.



Ketika beliau meninggalkan Irak menuju Kuwait, yang juga menolak menerimanya dan tidak ada negara Arab yang mau menerimanya pada waktu itu. Jadi Imam terdampar di perbatasan Irak-Kuwait, tidak menemukan siapa pun yang mau menerimanya dan tidak dapat kembali ke Irak. 


Beliau tinggal di sana selama tiga hari dengan beberapa muridnya yang tidak lebih dari lima orang serta keluarganya di gurun yang terik...


Pada bulan ketujuh di wilayah perbatasan Safwan. Di sana, salah satu muridnya bertanya kepadanya, "Apa yang akan Anda lakukan?" Beliau menjawab, "Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Marilah kita menunggu kehendak Allah..." 


Sehari kemudian, Prancis mengirimkan memorandum yang menyerukan penerimaan Imam Khomeini sebagai pengungsi politik.


*sumber tulisan dari akun X @mshhdy15890

🔥 7 Keris Sakti dari Pulau Jawa, Nomor 5 Dikaitkan dengan Bung Karno Tanah Jawa sejak dulu dikenal penuh dengan kisah pusaka yang sarat makna dan misteri. Salah satu yang paling legendaris adalah keris—bukan sekadar benda, tapi simbol budaya, filosofi, dan perjalanan sejarah panjang Nusantara. Di balik bentuknya yang khas, banyak keris dipercaya memiliki aura kuat yang diwariskan turun-temurun. Cerita tentang kesaktian ini terus hidup hingga sekarang, menjadi bagian dari budaya yang tak lekang oleh waktu. ⚔️ 1. Keris Nogososro Dikenal sebagai pusaka dengan simbol naga dan 13 luk. Keris ini sering dikaitkan dengan kekuatan perlindungan dan kewibawaan besar. ⚔️ 2. Keris Ageng Kopek Dipercaya membawa kharisma dan wibawa tinggi. Dalam kisah Jawa, keris ini sering dikaitkan dengan kalangan bangsawan dan pemimpin. ⚔️ 3. Keris Kyai Sengkelat Pusaka yang memiliki nilai spiritual mendalam. Bahkan disebut sebagai salah satu jenis keris yang juga pernah dimiliki tokoh besar Indonesia. ⚔️ 4. Keris Setan Kober Memiliki cerita yang kuat dan dikenal sebagai keris dengan energi besar. Nama dan kisahnya membuat pusaka ini sangat terkenal dalam legenda Jawa. ⚔️ 5. Keris yang Dikaitkan dengan Bung Karno Dalam beberapa kisah, Presiden Soekarno diketahui memiliki beberapa pusaka keris sebagai bagian dari warisan budaya, meski lebih dianggap sebagai simbol sejarah dan spiritual, bukan untuk hal mistis semata. ⚔️ 6. Keris Sabuk Inten Sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kelancaran rezeki. Pamornya yang indah membuat keris ini juga bernilai seni tinggi. ⚔️ 7. Keris Mpu Gandring Legenda keris ini sangat terkenal dalam sejarah Jawa, terutama kisah kutukan yang menyertainya. Ceritanya menjadi salah satu yang paling melegenda hingga sekarang. ✨ Penutup Keris adalah bagian dari identitas budaya Nusantara yang kaya akan filosofi dan nilai sejarah. Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang, pusaka ini tetap menjadi simbol warisan leluhur yang patut dijaga dan dilestarikan. #keris #kerissakti #pusakanusantara #budayajawa #sejarahjawa #mistisnusantara #warisanleluhur #jagadpusakacom #kerisjawa #pusakatradisional #auraenergi #kisahmistis #viralindonesia

 🔥 7 Keris Sakti dari Pulau Jawa, Nomor 5 Dikaitkan dengan Bung Karno


Tanah Jawa sejak dulu dikenal penuh dengan kisah pusaka yang sarat makna dan misteri. Salah satu yang paling legendaris adalah keris—bukan sekadar benda, tapi simbol budaya, filosofi, dan perjalanan sejarah panjang Nusantara.



Di balik bentuknya yang khas, banyak keris dipercaya memiliki aura kuat yang diwariskan turun-temurun. Cerita tentang kesaktian ini terus hidup hingga sekarang, menjadi bagian dari budaya yang tak lekang oleh waktu.


⚔️ 1. Keris Nogososro


 Dikenal sebagai pusaka dengan simbol naga dan 13 luk. Keris ini sering dikaitkan dengan kekuatan perlindungan dan kewibawaan besar.


⚔️ 2. Keris Ageng Kopek


 Dipercaya membawa kharisma dan wibawa tinggi. Dalam kisah Jawa, keris ini sering dikaitkan dengan kalangan bangsawan dan pemimpin.


⚔️ 3. Keris Kyai Sengkelat


 Pusaka yang memiliki nilai spiritual mendalam. Bahkan disebut sebagai salah satu jenis keris yang juga pernah dimiliki tokoh besar Indonesia. 


⚔️ 4. Keris Setan Kober


 Memiliki cerita yang kuat dan dikenal sebagai keris dengan energi besar. Nama dan kisahnya membuat pusaka ini sangat terkenal dalam legenda Jawa.


⚔️ 5. Keris yang Dikaitkan dengan Bung Karno


 Dalam beberapa kisah, Presiden Soekarno diketahui memiliki beberapa pusaka keris sebagai bagian dari warisan budaya, meski lebih dianggap sebagai simbol sejarah dan spiritual, bukan untuk hal mistis semata. 


⚔️ 6. Keris Sabuk Inten


 Sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kelancaran rezeki. Pamornya yang indah membuat keris ini juga bernilai seni tinggi.


⚔️ 7. Keris Mpu Gandring


 Legenda keris ini sangat terkenal dalam sejarah Jawa, terutama kisah kutukan yang menyertainya. Ceritanya menjadi salah satu yang paling melegenda hingga sekarang. 


✨ Penutup


Keris adalah bagian dari identitas budaya Nusantara yang kaya akan filosofi dan nilai sejarah. Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang, pusaka ini tetap menjadi simbol warisan leluhur yang patut dijaga dan dilestarikan.


#keris #kerissakti #pusakanusantara #budayajawa #sejarahjawa #mistisnusantara #warisanleluhur #jagadpusakacom #kerisjawa #pusakatradisional #auraenergi #kisahmistis #viralindonesia

Kita bisa setuju atau menolak argumentasi Salim Said dalam bukunya, bahwa tentara Indonesia adalah istimewa; tentara yang menciptakan dirinya sendiri; maka ia pun "berhak" memiliki hak dan kedudukan yang istimewa pula. Yang jelas buku ini sesuai dan selaras dengan narasi sejarah Orde Baru: Dwifungsi ABRI. MULA TENTARA MAIN POLITIK Benih pertentangan antara militer dan politisi tampak sejak awal revolusi. Lewat Sudirman, ABRI tampil sebagai kekuatan militer dan politik yang berpengaruh. (TEMPO, NO. 8, Tahun XXII, 25 April 1992, “Buku”) Judul buku: THE GENESIS OF POWER GENERAL SUDIRMAN AND THE INDONESIAN MILITARY IN POLITICS 1945-1949 Penulis: Salim Said Penerbit: Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 1991, 186 halaman Angkatan Bersenjata Indonesia sering disebut lahir sendiri, self created army. Seperti ditulis Salim Said dalam buku ini, ABRI tak dibentuk oleh pemerintah atau partai politik. Dalam sejarahnya, kelahiran ABRI lebih diwarnai pandangan luas kala itu bahwa kemerdekaan tak mungkin diraih tanpa kekuatan militer. Sebelum kemerdekaan memang ada mobilisasi oleh Jepang, yang melahirkan Pembela Tanah Air (Peta) dan Lasykar. Namun, tak berarti bahwa tentara Indonesia dibentuk Jepang. Sebab pada 19 Agustus 1945 mereka menuntut agar Peta dibubarkan. Pada 22 Agustus 1945, BKR (Badan Keamanan Rakyat) dikukuhkan. Pada 5 Oktober, selang lima minggu kemudian, Presiden Soekarno meresmikan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) sebagai bukti kepada Sekutu bahwa Indonesia bukan kolaborator Jepang. Kemudian Bung Karno juga mengangkat pimpinan Peta, Supriyadi, menjadi Menteri Pertahanan. Sayang, Supriyadi tak pernah menduduki kursi menterinya setelah menghilang sebelum Jepang menyerah. Para pemuda yang menjadi tentara, sekitar 150 ribu orang, semula berharap agar Syahrir lebih revolusioner dalam menghadapi Belanda dengan kekuatan militer. Namun, mereka kecewa karena Syahrir memilih jalan diplomasi. Bahkan Bung Karno, sebelum mengungsikan ibu kota ke Yogya awal 1946, menunjuk Syahrir untuk berunding dengan Belanda di Jakarta. Pemerintah sejak itu berkonflik dengan militer. Pertentangan antara militer dan sipil mulai meningkat setelah Bung Karno minta Amir Syarifuddin melobi eks para perwira KNIL (tentara didikan Belanda) menyiapkan konsep pembentukan Angkatan Bersenjata. Tanggal 15 Oktober 1945, Urip Sumoharjo, salah seorang eks perwira KNIL, diangkat menjadi kepala staf Angkatan Perang, dan Muhamad Sulyadikusumo sebagai Menteri Keamanan Rakyat (ad interim) menggantikan Supriyadi yang tak muncul. Para perwira, terutama eks Peta, tambah kecewa. Pada pertemuan para perwira di Yogya, 11 Maret 1945, yang semula dirancang untuk konsolidasi berubah menjadi ajang pertentangan. Perwira-perwira eks Peta ramai-ramai memilih Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar dan Sultan Ha- mengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan. Dua hari setelah pemilihan Sudirman dan Sultan di Yogya, Syahrir di Jakarta mengumumkan penunjukan Amir Syarifuddin menjadi Menteri Hankam dan Urip Sumoharjo sebagai kepala staf Angkatan Perang. Artinya, selama sebulan ada dua Menteri Pertahanan dan dua panglima untuk militer. Instruksi dan keputusannya pun berbeda. Amir ikut jalan Syahrir, menghadapi Belanda lewat diplomasi. Sedangkan tentara tunduk pada Sudirman, yang memilih untuk bergerilya. Pertentangan militer—pemerintah ini sedikit reda setelah pemerintah mengakui dan melantik Sudirman menjadi Panglima Besar dengan pangkat jenderal penuh (21 Mei 1946). TRI diubah menjadi TNI untuk menyatukan berbagai kekuatan bersenjata yang ada. Konflik pemerintah dan militer sebenarnya tak terlepas dari sikap politik Sudirman. Pemimpin karismatik tentara itu, menurut Salim Said, dikenal sebagai go between. Ia pernah sekubu dengan oposisi di bawah Tan Malaka untuk menentang Syahrir. Dalam hal "Affair 3 Juli", misalnya, Sudirman setuju dengan isi petisi yang menuntut pembubaran kabinet Syahrir-Amir. Konflik politisi dan militer memuncak lagi ketika Presiden mengeluarkan dekrit 2 Januari 1948 tentang rasionalisasi. Posisi Sudirman diturunkan dari orang Nomor 1 dalam Angkatan Perang RI menjadi di bawah Menteri Pertahanan. Sudirman, Urip, dan sejumlah perwira menentang dekrit itu. Ketika kemudian Persetujuan Renville (awal 1948) menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Republik Indonesia Serikat, pihak militer menilainya sebagai kegagalan diplomasi. Sudirman pun minta Soekarno- Hatta agar mengungsi ke luar ibu kota karena Yogya akan diduduki Belanda. Anjuran ini ternyata tak ditanggapi "dwitunggal" itu, dan Sudirman lalu memutuskan untuk memimpin gerilya dari luar kota. Ketegangan berikutnya antara pemerintah dan militer adalah ketika Bung Karno mengumumkan gencatan senjata, yang diikuti Konperensi Meja Bundar (KMB) 23 Agustus-2 November 1949 dan menghasilkan Republik Indonesia Serikat (RIS). Militer tak setuju dengan gencatan senjata sebelum berunding. Sudirman sendiri tak terlalu lama menyaksikan hasil KMB itu. Ia meninggal 29 Januari 1950. Di bawah kepemimpinan Sudirman, militer mempunyai strategi untuk ikut serta dalam masalah sosial politik walau belum terumus seperti konsep middle way KSAD Jenderal A.H. Nasution sepuluh tahun kemudian bahwa tempat tentara dalam masyarakat adalah "bukan alat sipil bukan rezim militer. Tapi seperti kekuatan masyarakat lainnya, yang berjuang bersama mereka". Konsep ini kemudian ditafsirkan sebagai dasar dwifungsi ABRI. Buku yang didasarkan pada disertasi Salim Said untuk Ph.D. di Ohio State University, Amerika Serikat, itu menarik karena dilengkapi dengan wawancara dengan sejumlah tokoh pelakunya. Ada detail dan deskripsi yang memikat. Namun informasi yang benar-benar aktual kurang muncul. A. Margana Sumber: TEMPO, No 8, Tahun XXII, 25 April 1992

 Kita bisa setuju atau menolak argumentasi Salim Said dalam bukunya, bahwa tentara Indonesia adalah istimewa; tentara yang menciptakan dirinya sendiri; maka ia pun "berhak" memiliki hak dan kedudukan yang istimewa pula. Yang jelas buku ini sesuai dan selaras dengan narasi sejarah Orde Baru: Dwifungsi ABRI. 



MULA TENTARA MAIN POLITIK


Benih pertentangan antara militer dan politisi tampak sejak awal revolusi. Lewat Sudirman, ABRI tampil sebagai kekuatan militer dan politik yang berpengaruh.


(TEMPO, NO. 8, Tahun XXII, 25 April 1992, “Buku”)


Judul buku: THE GENESIS OF POWER GENERAL SUDIRMAN AND THE INDONESIAN MILITARY IN POLITICS 1945-1949

Penulis: Salim Said

Penerbit: Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 1991, 186 halaman


Angkatan Bersenjata Indonesia sering disebut lahir sendiri, self created army. Seperti ditulis Salim Said dalam buku ini, ABRI tak dibentuk oleh pemerintah atau partai politik. Dalam sejarahnya, kelahiran ABRI lebih diwarnai pandangan luas kala itu bahwa kemerdekaan tak mungkin diraih tanpa kekuatan militer.


Sebelum kemerdekaan memang ada mobilisasi oleh Jepang, yang melahirkan Pembela Tanah Air (Peta) dan Lasykar. Namun, tak berarti bahwa tentara Indonesia dibentuk Jepang. Sebab pada 19 Agustus 1945 mereka menuntut agar Peta dibubarkan.


Pada 22 Agustus 1945, BKR (Badan Keamanan Rakyat) dikukuhkan. Pada 5 Oktober, selang lima minggu kemudian, Presiden Soekarno meresmikan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) sebagai bukti kepada Sekutu bahwa Indonesia bukan kolaborator Jepang. Kemudian Bung Karno juga mengangkat pimpinan Peta, Supriyadi, menjadi Menteri Pertahanan. Sayang, Supriyadi tak pernah menduduki kursi menterinya setelah menghilang sebelum Jepang menyerah.


Para pemuda yang menjadi tentara, sekitar 150 ribu orang, semula berharap agar Syahrir lebih revolusioner dalam menghadapi Belanda dengan kekuatan militer. Namun, mereka kecewa karena Syahrir memilih jalan diplomasi. Bahkan Bung Karno, sebelum mengungsikan ibu kota ke Yogya awal 1946, menunjuk Syahrir untuk berunding dengan Belanda di Jakarta. Pemerintah sejak itu berkonflik dengan militer. 


Pertentangan antara militer dan sipil mulai meningkat setelah Bung Karno minta Amir Syarifuddin melobi eks para perwira KNIL (tentara didikan Belanda) menyiapkan konsep pembentukan Angkatan Bersenjata. Tanggal 15 Oktober 1945, Urip Sumoharjo, salah seorang eks perwira KNIL, diangkat menjadi kepala staf Angkatan Perang, dan Muhamad Sulyadikusumo sebagai Menteri Keamanan Rakyat (ad interim) menggantikan Supriyadi yang tak muncul. Para perwira, terutama eks Peta, tambah kecewa.


Pada pertemuan para perwira di Yogya, 11 Maret 1945, yang semula dirancang untuk konsolidasi berubah menjadi ajang pertentangan. Perwira-perwira eks Peta ramai-ramai memilih Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar dan Sultan Ha- mengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan.


Dua hari setelah pemilihan Sudirman dan Sultan di Yogya, Syahrir di Jakarta mengumumkan penunjukan Amir Syarifuddin menjadi Menteri Hankam dan Urip Sumoharjo sebagai kepala staf Angkatan Perang. Artinya, selama sebulan ada dua Menteri Pertahanan dan dua panglima untuk militer. Instruksi dan keputusannya pun berbeda. Amir ikut jalan Syahrir, menghadapi Belanda lewat diplomasi. Sedangkan tentara tunduk pada Sudirman, yang memilih untuk bergerilya.


Pertentangan militer—pemerintah ini sedikit reda setelah pemerintah mengakui dan melantik Sudirman menjadi Panglima Besar dengan pangkat jenderal penuh (21 Mei 1946). TRI diubah menjadi TNI untuk menyatukan berbagai kekuatan bersenjata yang ada.


Konflik pemerintah dan militer sebenarnya tak terlepas dari sikap politik Sudirman. Pemimpin karismatik tentara itu, menurut Salim Said, dikenal sebagai go between. Ia pernah sekubu dengan oposisi di bawah Tan Malaka untuk menentang Syahrir. Dalam hal "Affair 3 Juli", misalnya, Sudirman setuju dengan isi petisi yang menuntut pembubaran kabinet Syahrir-Amir.


Konflik politisi dan militer memuncak lagi ketika Presiden mengeluarkan dekrit 2 Januari 1948 tentang rasionalisasi. Posisi Sudirman diturunkan dari orang Nomor 1 dalam Angkatan Perang RI menjadi di bawah Menteri Pertahanan. Sudirman, Urip, dan sejumlah perwira menentang dekrit itu.


Ketika kemudian Persetujuan Renville (awal 1948) menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Republik Indonesia Serikat, pihak militer menilainya sebagai kegagalan diplomasi. Sudirman pun minta Soekarno- Hatta agar mengungsi ke luar ibu kota karena Yogya akan diduduki Belanda. Anjuran ini ternyata tak ditanggapi "dwitunggal" itu, dan Sudirman lalu memutuskan untuk memimpin gerilya dari luar kota. 


Ketegangan berikutnya antara pemerintah dan militer adalah ketika Bung Karno mengumumkan gencatan senjata, yang diikuti Konperensi Meja Bundar (KMB) 23 Agustus-2 November 1949 dan menghasilkan Republik Indonesia Serikat (RIS). Militer tak setuju dengan gencatan senjata sebelum berunding. Sudirman sendiri tak terlalu lama menyaksikan hasil KMB itu. Ia meninggal 29 Januari 1950.


Di bawah kepemimpinan Sudirman, militer mempunyai strategi untuk ikut serta dalam masalah sosial politik walau belum terumus seperti konsep middle way KSAD Jenderal A.H. Nasution sepuluh tahun kemudian bahwa tempat tentara dalam masyarakat adalah "bukan alat sipil bukan rezim militer. Tapi seperti kekuatan masyarakat lainnya, yang berjuang bersama mereka". Konsep ini kemudian ditafsirkan sebagai dasar dwifungsi ABRI.


Buku yang didasarkan pada disertasi Salim Said untuk Ph.D. di Ohio State University, Amerika Serikat, itu menarik karena dilengkapi dengan wawancara dengan sejumlah tokoh pelakunya. Ada detail dan deskripsi yang memikat. Namun informasi yang benar-benar aktual kurang muncul.


A. Margana


Sumber: TEMPO, No 8, Tahun XXII, 25 April 1992

KASUS "SUM KUNING" Dia bernama SUMARIJEM alias SUM KUNING, yang mana kasusnya merupakan salah satu potret paling kelam di dalam sejarah hukum di Indonesia pada masa Orde Baru. Kasus ini bukan sekadar tragedi pemerkosaan biasa, melainkan simbol dari ketidakadilan, dimana hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Berikut adalah kronologi lengkapnya ; (1) PERISTIWA PENCULIKAN DAN PEMERKOSAAN (SEPTEMBER 1970) Tragedi ini menimpa Sumarijem, seorang gadis penjual telur yang berusia 18 tahun asal Godean, Yogyakarta. Pada tanggal 21 September 1970 petang, saat ia sedang menunggu bus untuk pulang, tiba² sebuah mobil sedan mewah berhenti di dekatnya. Lalu beberapa pemuda berambut gondrong langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil yang melaju cepat, di sanalah Sumarijem kehilangan kehormatannya setelah dibius lalu diperkosa secara bergiliran oleh para pemuda tersebut. Dan Setelah melampiaskan aksi bejatnya, lalu para pelaku membuang Sumarijem di pinggir jalan dalam kondisi yang sangat lemah. Karena dia berkulit putih (kuning langsat), maka media kemudian menjulukinya sebagai "Sum Kuning". (2) KORBAN MENJADI TERSANGKA Bukannya mendapat perlindungan hukum, Sum Kuning justru mengalami intimidasi luar biasa dari oknum² kepolisian. Alih-alih mengejar pelaku, para polisi justru menuduh Sumarijem telah membuat laporan palsu dan dituduh sebagai anggota GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), yaitu organisasi yang saat itu dilarang karena berafiliasi dengan PKI, tujuannya untuk menyudutkannya secara politik. Ketika itu Sum Kuning dipaksa mengakui bahwa ceritanya hanyalah rekayasa. Bahkan, ia sempat ditahan dan diancam agar tidak menyebutkan keterlibatan "anak-anak pejabat". (3) KETERLIBATAN "ANAK² PEJABAT" DAN PERHATIAN NASIONAL Ketika itu masyarakat Yogyakarta dan media massa (terutama harian KAMI dan INDONESIA RAYA) mulai mencium adanya aroma konspirasi. Sehingga muncul dugaan kuat bahwa para pelakunya adalah anak-anak dari para pejabat tinggi militer di Yogyakarta, dan salah satunya merupakan anak dari seorang Pahlawan Nasional. Ibaratnya tidak ada asap kalau tidak ada apinya, sehingga tekanan publik begitu besar yang memaksa Kapolri saat itu, Jenderal HOEGENG IMAM SANTOSO untuk turun tangan secara langsung. Jenderal Hoegeng yang dikenal sangat jujur lalu membentuk tim khusus bernama "TIM PEMERIKSA SUM KUNING" untuk mengusut tuntas kasus ini tanpa pandang bulu. (4) INTERVENSI KEKUASAAN DAN PENCOPOTAN JENDERAL HOEGENG Langkah berani pak Hoegeng itu ternyata membentur tembok kekuasaan yang lebih tinggi. Ketika itu Presiden Soeharto memerintahkan agar kasus ini diambil alih agar ditangani langsung oleh Team Pemeriksa Pusat (KOPKAMTIB) yang merupakan Lembaga Keamanan Nasional pada saat itu. Tak lama setelah Jenderal Hoegeng mulai serius mengusut keterlibatan anak-anak pejabat dalam kasus Sum Kuning, lalu beliau dipensiunkan dini dari jabatannya sebagai Kapolri pada bulan Oktober 1971. Dalam kasus ini, banyak pihak yang meyakini bahwa pencopotan Hoegeng adalah cara rezim untuk menghentikan penyelidikan terhadap para pelaku yang sesungguhnya. (5) "KAMBING HITAM" DI PENGADILAN SETELAH HOEGENG DISINGKIRKAN Ketika itu skenario hukum mulai berubah, karena aparat kepolisian kemudian menangkap beberapa orang pemuda dari kalangan rakyat biasa (orang-orang kecil) lalu memaksanya untuk mengaku bahwa merekalah yang melakukan pemerkosaan terhadap Sum Kuning. Di pengadilan, para "pelaku abal²" ini membuat pernyataan yang sangat mengejutkan para hadirin di persidangan, karena mengatakan bahwa ketika di sel tahanan mereka telah disiksa agar mau mengakui perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Jaksa menuntut hukuman berat bagi mereka, namun hakim yang menangani kasus ini, yaitu Hakim Ketua BUDHI RAKHMADI melihat banyaknya kejanggalan. Maka dalam putusannya yang sangat berani, Hakim tersebut membebaskan para terdakwa karena tidak terbukti bersalah, dan menyatakan bahwa Sumarijem adalah korban yang jujur. (6) AKHIR CERITA Meskipun Hakim membebaskan para "kambing hitam" tersebut, namun para pelaku aslinya yang merupakan anak-anak pejabat itu tidak pernah tersentuh hukum hingga saat ini. Sum Kuning sendiri kemudian berusaha menata hidupnya kembali, dan dia sempat bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta berkat bantuan Nyonya Roeslan Abdulgani. Lalu dia menikah dengan seorang pria bernama MANTHOUS dan memilih menjauh dari sorot media demi ketenangan hidupnya. (7) KESIMPULAN Kasus Sum Kuning tetap diingat sebagai monumen kegagalan hukum di Indonesia pada masa lalu, dimana keadilan dikalahkan oleh kekuasaan dan nepotisme. Kasus ini jugalah yang semakin mengukuhkan nama Jenderal Hoegeng sebagai polisi paling jujur di Indonesia karena keberaniannya membela rakyat kecil meski harus kehilangan jabatannya. Foto inzet ; Foto aslinya mbak Sum ini sedang berada di rumah sakit setelah kejadian tersebut, terlihat wajahnya yang innocent, dengan tatapan matanya yang polos, bahkan dia masih bisa tersenyum walaupun badai yang menerpanya sangat dahsyat.

 KASUS  "SUM KUNING"

Dia bernama SUMARIJEM alias SUM KUNING, yang mana kasusnya merupakan salah satu potret paling kelam di dalam sejarah hukum di Indonesia pada masa Orde Baru.



Kasus ini bukan sekadar tragedi pemerkosaan biasa, melainkan simbol dari ketidakadilan, dimana hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas.


Berikut adalah kronologi lengkapnya ;


(1) PERISTIWA PENCULIKAN DAN PEMERKOSAAN (SEPTEMBER 1970)


Tragedi ini menimpa Sumarijem, seorang gadis penjual telur yang berusia 18 tahun asal Godean, Yogyakarta.


Pada tanggal 21 September 1970 petang, saat ia sedang menunggu bus untuk pulang, tiba² sebuah mobil sedan mewah berhenti di dekatnya.


Lalu beberapa pemuda berambut gondrong langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil yang melaju cepat, di sanalah Sumarijem kehilangan kehormatannya setelah dibius lalu diperkosa secara bergiliran oleh para pemuda tersebut.


Dan Setelah melampiaskan aksi bejatnya, lalu para pelaku membuang Sumarijem di pinggir jalan dalam kondisi yang sangat lemah.


Karena dia berkulit putih (kuning langsat), maka media kemudian menjulukinya sebagai "Sum Kuning".


(2) KORBAN MENJADI TERSANGKA


Bukannya mendapat perlindungan hukum, Sum Kuning justru mengalami intimidasi luar biasa dari oknum² kepolisian.


Alih-alih mengejar pelaku, para polisi justru menuduh Sumarijem telah membuat laporan palsu dan dituduh sebagai anggota GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), yaitu organisasi yang saat itu dilarang karena berafiliasi dengan PKI, tujuannya untuk menyudutkannya secara politik.


Ketika itu Sum Kuning dipaksa mengakui bahwa ceritanya hanyalah rekayasa. Bahkan, ia sempat ditahan dan diancam agar tidak menyebutkan keterlibatan "anak-anak pejabat".


(3) KETERLIBATAN "ANAK² PEJABAT" DAN PERHATIAN NASIONAL


Ketika itu masyarakat Yogyakarta dan media massa (terutama harian KAMI dan INDONESIA RAYA) mulai mencium adanya aroma konspirasi.


Sehingga muncul dugaan kuat bahwa para pelakunya adalah anak-anak dari para pejabat tinggi militer di Yogyakarta, dan salah satunya merupakan anak dari seorang Pahlawan Nasional.


Ibaratnya tidak ada asap kalau tidak ada apinya, sehingga tekanan publik begitu besar yang memaksa Kapolri saat itu, Jenderal HOEGENG IMAM SANTOSO untuk turun tangan secara langsung.


Jenderal Hoegeng yang dikenal sangat jujur lalu membentuk tim khusus bernama "TIM PEMERIKSA SUM KUNING" untuk mengusut tuntas kasus ini tanpa pandang bulu.


(4) INTERVENSI KEKUASAAN DAN PENCOPOTAN JENDERAL HOEGENG


Langkah berani pak Hoegeng itu ternyata membentur tembok kekuasaan yang lebih tinggi.


Ketika itu Presiden Soeharto memerintahkan agar kasus ini diambil alih agar ditangani langsung oleh Team Pemeriksa Pusat (KOPKAMTIB) yang merupakan Lembaga Keamanan Nasional pada saat itu.


Tak lama setelah Jenderal Hoegeng mulai serius mengusut keterlibatan anak-anak pejabat dalam kasus Sum Kuning, lalu beliau dipensiunkan dini dari jabatannya sebagai Kapolri pada bulan Oktober 1971.


Dalam kasus ini, banyak pihak yang meyakini bahwa pencopotan Hoegeng adalah cara rezim untuk menghentikan penyelidikan terhadap para pelaku yang sesungguhnya.


(5) "KAMBING HITAM" DI PENGADILAN SETELAH HOEGENG DISINGKIRKAN


Ketika itu skenario hukum mulai berubah, karena aparat kepolisian kemudian menangkap beberapa orang pemuda dari kalangan rakyat biasa (orang-orang kecil) lalu memaksanya untuk mengaku bahwa merekalah yang melakukan pemerkosaan terhadap Sum Kuning.


Di pengadilan, para "pelaku abal²" ini membuat pernyataan yang sangat mengejutkan para hadirin di persidangan, karena mengatakan bahwa ketika di sel tahanan mereka telah disiksa agar mau mengakui perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan.


Jaksa menuntut hukuman berat bagi mereka, namun hakim yang menangani kasus ini, yaitu Hakim Ketua BUDHI RAKHMADI melihat banyaknya kejanggalan.


Maka dalam putusannya yang sangat berani, Hakim tersebut membebaskan para terdakwa karena tidak terbukti bersalah, dan menyatakan bahwa Sumarijem adalah korban yang jujur.


(6) AKHIR CERITA


Meskipun Hakim membebaskan para "kambing hitam" tersebut, namun para pelaku aslinya yang merupakan anak-anak pejabat itu tidak pernah tersentuh hukum hingga saat ini.


Sum Kuning sendiri kemudian berusaha menata hidupnya kembali, dan dia sempat bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta berkat bantuan Nyonya Roeslan Abdulgani.


Lalu dia menikah dengan seorang pria bernama MANTHOUS dan memilih menjauh dari sorot media demi ketenangan hidupnya.


(7) KESIMPULAN


Kasus Sum Kuning tetap diingat sebagai monumen kegagalan hukum di Indonesia pada masa lalu, dimana keadilan dikalahkan oleh kekuasaan dan nepotisme.


Kasus ini jugalah yang semakin mengukuhkan nama Jenderal Hoegeng sebagai polisi paling jujur di Indonesia karena keberaniannya membela rakyat kecil meski harus kehilangan jabatannya.


Foto inzet ;


Foto aslinya mbak Sum ini sedang berada di rumah sakit setelah kejadian tersebut, terlihat wajahnya yang innocent, dengan tatapan matanya yang polos, bahkan dia masih bisa tersenyum walaupun badai yang menerpanya sangat dahsyat.


Pada tahun 2018, sebuah pemandangan bersejarah terekam abadi: Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, membubuhkan tanda tangannya pada lambung sebuah pesawat megah bernama "Hürkuş". Nama itu bukanlah sekadar label teknis yang lewat begitu saja. Ia adalah sebuah monumen hidup, sebuah penebusan dosa sejarah bagi salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki Turki. Di balik raungan mesin jet generasi kelima yang kini sedang digarap oleh TUSAŞ, ada satu nama yang menjadi fondasi keberanian mereka: Vecihi Hürkuş. Luka Sejarah yang Belum Mengering Selçuk Bayraktar, sang arsitek di balik revolusi drone Turki, pernah berujar dengan nada getir yang mendalam: "Andai saja langkah Vecihi Hürkuş dan Nuri Demirağ tidak dijegal pada tahun 1930-an, hari ini Turki akan berdiri di garda terdepan industri penerbangan dunia. Kita tidak akan hanya sekadar menjadi pembeli; kita akan membicarakan merek pesawat kita sendiri sejajar dengan raksasa dunia." Di hadapan ribuan pemuda di festival Teknofest, Bayraktar mengingatkan bahwa Hürkuş pernah dijebloskan ke penjara dan dilarang terbang hanya karena ia bermimpi melihat negaranya mandiri. Namun, ia menegaskan bahwa generasi hari inilah yang akan membalas dendam sejarah itu dengan menyelesaikan apa yang telah dimulai sang pionir. Suara yang sama juga pernah menggema dari orator ulung, Necmettin Erbakan. Baginya, kehancuran proyek Hürkuş bukanlah kecelakaan teknis, melainkan sebuah konspirasi global yang dieksekusi oleh tangan-tangan pengkhianat di dalam negeri. "Vecihi Hürkuş membangun pesawatnya dengan keringat dan keterbatasan. Bukannya membukakan pintu, negara justru mencabut izinnya dan merantai sayapnya. Mengapa? Agar Turki tetap menjadi pasar rongsokan bagi pesawat Barat, dan agar tidak ada lagi insinyur Turki yang berani bermimpi!" Kelahiran Sang Elang: Dari Abu Peperangan Siapakah sebenarnya Vecihi Hürkuş? Ia lahir di senja kala Kekaisaran Utsmaniyah. Yatim sejak usia tiga tahun, ia dibesarkan dalam asuhan pamannya di lingkungan sekolah Utsmaniyah. Sejak kecil, jemarinya lebih akrab dengan sketsa dan desain—sebuah bakat yang kelak akan mengubah baja menjadi sayap. Titik balik hidupnya terjadi sebelum Perang Dunia I pecah. Saat itu, Kementerian Perang Utsmaniyah mencoba melakukan penerbangan jarak jauh dari Istanbul ke Kairo. Namun, mimpi itu berakhir dengan tragedi: pesawat jatuh di Yaffa dan Danau Tiberias. Hürkuş, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berdiri di pinggir jalan Istanbul dengan hati yang hancur saat menyaksikan peti mati para pilot tersebut diarak. Di tengah isak tangis itu, ia membuat sumpah suci: "Aku akan terbang untuk membayar duka ini." Sang "Bahaya Hitam" yang Tak Terhentikan Saat Perang Dunia I berkecamuk di Front Kaukasus tahun 1917, Hürkuş menjelma menjadi hantu bagi musuh. Dengan keberanian yang gila, ia menjatuhkan pesawat Rusia, menjadikannya pilot pertama dalam sejarah Utsmaniyah yang merobek langit dari pesawat lawan. Rusia menjulukinya dengan ngeri: "The Black Danger" (Bahaya Hitam). Namun, maut hampir menjemputnya. Pesawatnya tertembak, kepalanya bersimbah darah. Sebelum ditawan, ia membakar pesawatnya sendiri agar teknologi negaranya tak jatuh ke tangan musuh. Ia dibuang ke Pulau Nargin yang terisolasi di Azerbaijan. Dengan kecerdasan tekniknya yang luar biasa, ia melarikan diri dengan cara yang mustahil: berenang menyeberangi laut, lalu berjalan kaki ribuan kilometer menembus tanah Iran hingga kembali ke Istanbul—sebuah pelarian yang bahkan lebih dramatis dari film bioskop manapun. Tak ada kata istirahat baginya. Saat Perang Kemerdekaan pecah, ia bergabung dengan Mustafa Kemal Atatürk. Ia adalah manusia langka: seorang pilot sekaligus insinyur. Ia yang menerbangkan pesawat, ia yang memperbaikinya, dan ia pula yang menempa suku cadangnya dengan tangannya sendiri. Atas dedikasi ini, Parlemen Turki menganugerahinya "Medali Kemerdekaan"—penghormatan tertinggi bagi para pendiri republik. Hadiah Bagi Sang Jenius: Penjara dan Pengkhianatan Pada tahun 1924, Hürkuş menciptakan keajaiban: pesawat pertama buatan asli Turki. Namun, saat ia meminta izin terbang, sebuah komite teknis menjawab dengan alasan yang menghina akal sehat: "Kami tidak memiliki cukup ilmu untuk memeriksa pesawatmu." Karena tak sabar ingin membuktikan karyanya, Hürkuş terbang tanpa izin. Hasilnya? Pesawat itu terbang dengan sempurna, tapi Hürkuş justru dijatuhi hukuman penjara dan pesawatnya disita. Itulah awal dari pengasingan jiwanya dari institusi negara yang ia cintai. Tak menyerah, pada 1930 ia membangun "Vecihi XIV" di sebuah bengkel kecil. Lagi-lagi, tembok birokrasi menghalanginya. Dengan sisa-sisa semangat, ia mempreteli pesawatnya, mengirimnya dengan kereta api ke Cekoslowakia. Di sana, para ahli Eropa terperangah melihat kejeniusannya. Mereka merayakan kehadirannya dan memberinya sertifikat internasional. Sebagai tamparan bagi birokrat di negaranya, ia terbang kembali dari Praha menuju Istanbul, membelah awan melintasi perbatasan untuk menunjukkan bahwa mimpi Turki tak bisa dirantai. Akhir yang Memilukan dari Sebuah Legenda Hürkuş sempat dikirim ke Jerman dan menyelesaikan studi teknik penerbangan hanya dalam waktu 1,5 tahun—sebuah rekor yang mustahil bagi orang biasa. Namun, sekembalinya ke tanah air dengan ijazah dan segudang ilmu, ia justru diberikan posisi administratif rendah, sebuah penghinaan yang disengaja untuk memadamkan apinya. Saat Turki mulai dibanjiri bantuan "Proyek Marshall" dari Amerika, Hürkuş berteriak lantang: "Jangan beli barang rongsokan! Kita bisa membangunnya sendiri!" Suaranya menjadi gema yang terasing. Tahun-tahun terakhirnya dihabiskan dalam perjuangan yang sepi. Ia mendirikan maskapai swasta pertama, namun disabotase oleh birokrasi hingga bangkrut dan terjerat utang. Tragedi mencapai puncaknya pada 16 Juli 1969. Saat mata seluruh dunia terpaku pada layar televisi menyaksikan manusia pertama mendarat di Bulan, di sebuah sudut sunyi di Turki, sang "Bahaya Hitam" mengembuskan napas terakhirnya dalam kemiskinan dan kesunyian. Ia pergi tanpa upacara kebesaran, tanpa penghormatan militer, terkubur di bawah tumpukan utang dan pengabaian. Epilog: Elang Itu Telah Pulang Kisah Hürkuş sempat terkubur di arsip yang berdebu selama puluhan tahun, hingga akhirnya Turki terbangun dari tidur panjangnya. Para insinyur muda masa kini kini memajang fotonya di setiap meja kerja sebagai sumber api inspirasi. Nama "Hürkuş" kini bukan lagi tentang seorang pria yang malang, melainkan tentang sebuah bangsa yang menolak untuk jatuh lagi. Hari ini, saat pesawat-pesawat Turki membelah cakrawala, dunia akhirnya tahu: elang itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menguasai langit yang pernah ia impikan.

 Pada tahun 2018, sebuah pemandangan bersejarah terekam abadi: Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, membubuhkan tanda tangannya pada lambung sebuah pesawat megah bernama "Hürkuş". Nama itu bukanlah sekadar label teknis yang lewat begitu saja. Ia adalah sebuah monumen hidup, sebuah penebusan dosa sejarah bagi salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki Turki.



Di balik raungan mesin jet generasi kelima yang kini sedang digarap oleh TUSAŞ, ada satu nama yang menjadi fondasi keberanian mereka: Vecihi Hürkuş.


Luka Sejarah yang Belum Mengering


Selçuk Bayraktar, sang arsitek di balik revolusi drone Turki, pernah berujar dengan nada getir yang mendalam:


"Andai saja langkah Vecihi Hürkuş dan Nuri Demirağ tidak dijegal pada tahun 1930-an, hari ini Turki akan berdiri di garda terdepan industri penerbangan dunia. Kita tidak akan hanya sekadar menjadi pembeli; kita akan membicarakan merek pesawat kita sendiri sejajar dengan raksasa dunia."


Di hadapan ribuan pemuda di festival Teknofest, Bayraktar mengingatkan bahwa Hürkuş pernah dijebloskan ke penjara dan dilarang terbang hanya karena ia bermimpi melihat negaranya mandiri. Namun, ia menegaskan bahwa generasi hari inilah yang akan membalas dendam sejarah itu dengan menyelesaikan apa yang telah dimulai sang pionir.


Suara yang sama juga pernah menggema dari orator ulung, Necmettin Erbakan. Baginya, kehancuran proyek Hürkuş bukanlah kecelakaan teknis, melainkan sebuah konspirasi global yang dieksekusi oleh tangan-tangan pengkhianat di dalam negeri.

"Vecihi Hürkuş membangun pesawatnya dengan keringat dan keterbatasan. Bukannya membukakan pintu, negara justru mencabut izinnya dan merantai sayapnya. Mengapa? Agar Turki tetap menjadi pasar rongsokan bagi pesawat Barat, dan agar tidak ada lagi insinyur Turki yang berani bermimpi!"


Kelahiran Sang Elang: Dari Abu Peperangan


Siapakah sebenarnya Vecihi Hürkuş? Ia lahir di senja kala Kekaisaran Utsmaniyah. Yatim sejak usia tiga tahun, ia dibesarkan dalam asuhan pamannya di lingkungan sekolah Utsmaniyah. Sejak kecil, jemarinya lebih akrab dengan sketsa dan desain—sebuah bakat yang kelak akan mengubah baja menjadi sayap.


Titik balik hidupnya terjadi sebelum Perang Dunia I pecah. Saat itu, Kementerian Perang Utsmaniyah mencoba melakukan penerbangan jarak jauh dari Istanbul ke Kairo. Namun, mimpi itu berakhir dengan tragedi: pesawat jatuh di Yaffa dan Danau Tiberias.


Hürkuş, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berdiri di pinggir jalan Istanbul dengan hati yang hancur saat menyaksikan peti mati para pilot tersebut diarak. Di tengah isak tangis itu, ia membuat sumpah suci: "Aku akan terbang untuk membayar duka ini."


Sang "Bahaya Hitam" yang Tak Terhentikan


Saat Perang Dunia I berkecamuk di Front Kaukasus tahun 1917, Hürkuş menjelma menjadi hantu bagi musuh. Dengan keberanian yang gila, ia menjatuhkan pesawat Rusia, menjadikannya pilot pertama dalam sejarah Utsmaniyah yang merobek langit dari pesawat lawan. Rusia menjulukinya dengan ngeri: "The Black Danger" (Bahaya Hitam).


Namun, maut hampir menjemputnya. Pesawatnya tertembak, kepalanya bersimbah darah. Sebelum ditawan, ia membakar pesawatnya sendiri agar teknologi negaranya tak jatuh ke tangan musuh. Ia dibuang ke Pulau Nargin yang terisolasi di Azerbaijan. Dengan kecerdasan tekniknya yang luar biasa, ia melarikan diri dengan cara yang mustahil: berenang menyeberangi laut, lalu berjalan kaki ribuan kilometer menembus tanah Iran hingga kembali ke Istanbul—sebuah pelarian yang bahkan lebih dramatis dari film bioskop manapun.


Tak ada kata istirahat baginya. Saat Perang Kemerdekaan pecah, ia bergabung dengan Mustafa Kemal Atatürk. Ia adalah manusia langka: seorang pilot sekaligus insinyur. Ia yang menerbangkan pesawat, ia yang memperbaikinya, dan ia pula yang menempa suku cadangnya dengan tangannya sendiri. Atas dedikasi ini, Parlemen Turki menganugerahinya "Medali Kemerdekaan"—penghormatan tertinggi bagi para pendiri republik.


Hadiah Bagi Sang Jenius: Penjara dan Pengkhianatan

Pada tahun 1924, Hürkuş menciptakan keajaiban: pesawat pertama buatan asli Turki. Namun, saat ia meminta izin terbang, sebuah komite teknis menjawab dengan alasan yang menghina akal sehat: "Kami tidak memiliki cukup ilmu untuk memeriksa pesawatmu."

Karena tak sabar ingin membuktikan karyanya, Hürkuş terbang tanpa izin. Hasilnya? Pesawat itu terbang dengan sempurna, tapi Hürkuş justru dijatuhi hukuman penjara dan pesawatnya disita. Itulah awal dari pengasingan jiwanya dari institusi negara yang ia cintai.

Tak menyerah, pada 1930 ia membangun "Vecihi XIV" di sebuah bengkel kecil. Lagi-lagi, tembok birokrasi menghalanginya. Dengan sisa-sisa semangat, ia mempreteli pesawatnya, mengirimnya dengan kereta api ke Cekoslowakia. Di sana, para ahli Eropa terperangah melihat kejeniusannya. Mereka merayakan kehadirannya dan memberinya sertifikat internasional. Sebagai tamparan bagi birokrat di negaranya, ia terbang kembali dari Praha menuju Istanbul, membelah awan melintasi perbatasan untuk menunjukkan bahwa mimpi Turki tak bisa dirantai.


Akhir yang Memilukan dari Sebuah Legenda

Hürkuş sempat dikirim ke Jerman dan menyelesaikan studi teknik penerbangan hanya dalam waktu 1,5 tahun—sebuah rekor yang mustahil bagi orang biasa. Namun, sekembalinya ke tanah air dengan ijazah dan segudang ilmu, ia justru diberikan posisi administratif rendah, sebuah penghinaan yang disengaja untuk memadamkan apinya.

Saat Turki mulai dibanjiri bantuan "Proyek Marshall" dari Amerika, Hürkuş berteriak lantang: "Jangan beli barang rongsokan! Kita bisa membangunnya sendiri!" Suaranya menjadi gema yang terasing.

Tahun-tahun terakhirnya dihabiskan dalam perjuangan yang sepi. Ia mendirikan maskapai swasta pertama, namun disabotase oleh birokrasi hingga bangkrut dan terjerat utang.

Tragedi mencapai puncaknya pada 16 Juli 1969. Saat mata seluruh dunia terpaku pada layar televisi menyaksikan manusia pertama mendarat di Bulan, di sebuah sudut sunyi di Turki, sang "Bahaya Hitam" mengembuskan napas terakhirnya dalam kemiskinan dan kesunyian. Ia pergi tanpa upacara kebesaran, tanpa penghormatan militer, terkubur di bawah tumpukan utang dan pengabaian.


Epilog: Elang Itu Telah Pulang


Kisah Hürkuş sempat terkubur di arsip yang berdebu selama puluhan tahun, hingga akhirnya Turki terbangun dari tidur panjangnya. Para insinyur muda masa kini kini memajang fotonya di setiap meja kerja sebagai sumber api inspirasi.


Nama "Hürkuş" kini bukan lagi tentang seorang pria yang malang, melainkan tentang sebuah bangsa yang menolak untuk jatuh lagi. Hari ini, saat pesawat-pesawat Turki membelah cakrawala, dunia akhirnya tahu: elang itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menguasai langit yang pernah ia impikan.

Rumah Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta tahun 1946

 Rumah Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta tahun 1946



SUDARMONO, “SEMUANYA BERKAT DOA DAN IMAN” (Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000) Ketika membangun empat cottages di samping Taman Kyai Langgeng, taman rekreasi di jantung Kota Magelang tahun 1988 silam, Sudarmono saat itu tak pernah terpikir usahanya akan menjadi besar seperti sekarang. Sudarmono yang saat itu bekerja sebagai kontraktor menerima tantangan Wali Kota Magelang (waktu itu) Bagus Panuntun membangun hotel melati. Kini Sudarmono sudah bisa tersenyum. Hotel melati dengan empat cottages (15 kamar) dengan luas 5.000 meter persegi itu sudah berkembang menjadi hotel bintang empat dengan 172 kamar dan menempati lahan seluas 10 hektar. Hotel Puri Asri milik Sudarmono pa- da setiap akhir pekan dan hari-hari libur selalu penuh. Hotel atau lebih pas disebut resort ini menjual pemandangan Gunung Sumbing dengan sawah dan gemericik air Sungai Progo. Bagi orang yang biasa hidup di kota, beristirahat di resort yang bernuansa alam ini memang membuat segar kembali. Inilah yang jeli dilihat Sudarmono. Dia membiarkan suasana alam mendominasi resort-nya sehingga mereka yang datang ke sana tinggal menyatu dengan alam. Awalnya, tanah itu memiliki kecuraman 40 derajat dengan ketinggian 55 meter dari permukaan air Sungai Progo. Oleh Sudarmono, lahan itu disulap menjadi resort yang indah dan nyaman. Pengalamannya sebagai kontraktor membuatnya lebih mudah membangun dengan memanfaatkan lahan yang ada. "Bangunannya hanya 10 persen, sedang 90 persen sisanya untuk penghijauan dan taman. Bangunan yang ada harus mengikuti kontur tanah," kata Sudarmono dalam percakapan dengan Kompas, akhir pekan lalu. Jumlah karyawannya saat ini 400-an orang, 85 persen di anta- ranya merupakan warga yang tinggal di sekitar hotel itu. Konsep Sudarmono mempekerjakan warga setempat sebagai karyawan hotel membuat usahanya langgeng dan berkembang. Ia selalu berpesan pada para karyawannya, "bekerjalah tanpa harus ditunggu pimpinan. Sebab, yang membayar gaji kalian adalah tamu. Jadi layanilah tamu sebaik-baiknya." Satu dari dua anaknya, Fransiska Sudarmono (22) yang baru saja lulus sekolah perhotelan di Swiss, kini membawahi bagian sumber daya manusia dan mendidik karyawan hotel itu. *** Masa kecil Sudarmono penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, lelaki kelahiran Semarang, 21 Juli 1954 ini mengenyam pendidikan sampai lulus SMA Negeri I Magelang tahun 1972. Orangtuanya lahir di Magelang. "Setelah itu, keluarga kami membuka toko mas di Jalan Mataram, Magelang. Papa tak mampu menyekolahkan anak-anaknya masuk perguruan tinggi. Angan-angan kuliah lagi sudah tertutup," cerita Sudarmono yang membantu orangtua mencari uang agar adik-adiknya bisa menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Untuk membuka Toko Mas "Merak", keluarganya tidak meminjam uang ke bank, tapi memperoleh modal melalui arisan atau istilah yang dikenal di Magelang, hwe a. Toko mas itu dikelolanya sampai tahun 1978. Setelah itu, ia beralih menjadi kontraktor dan banyak mengerjakan proyek-proyek pemerintah daerah setempat. "Itu pun tidak dengan modal uang. Cukup modal kepercayaan," katanya. Salah sa-tu "karyanya" adalah Taman Kyai Langgeng yang lokasinya persis bersebelahan dengan hotel miliknya. "Saya belajar banyak dari Pak Bagus Panuntun (mantan Wali Kota Magelang). Cita-cita Pak Bagus, membuat Magelang menjadi kota pendidikan, kota bisnis, kota transit. Semua itu sudah dirintis Pak Bagus dari tahun 1981 sampai 1986. Lalu dia juga ingin Magelang punya taman di dalam kota. Tapi, kok tak ada kontraktor yang serius menangani pembangunan taman. Akhirnya Pak Bagus bilang pada saya, sudahlah Anda kan orang Magelang. Kalau tak ada yang menggerakkan perekonomian di sini, Magelang akan mati," kenang Sudarmono. Tantangan pertama yang diterimanya adalah membangun taman kota. "Tapi waktu itu Pak Bagus bilang, pemda tak punya uang. Lalu ada tawaran membangun ruko di Jalan Mataram. Saya membangun 12 ruko dan waktu itu laku semuanya senilai Rp 500 juta. Hasil penjualan ruko untuk pembangunan Taman Kyai Langgeng. Saya kerjakan selama sembilan bulan, Januari sampai September 1987. Taman kota ini diresmikan Gubernur (waktu itu) Ismail. Saya sempat mengelola manajemen Taman Kyai Langgeng selama tiga bulan, setelah itu saya serahkan ke pemda. Jadi, pemda membangun Taman Kyai Langgeng tanpa mengeluarkan uang satu rupiah pun," ujarnya. Taman kota seluas 18 hektar ini kini menjadi kebanggaan Kota Magelang. Kecintaan Sudarmono pada taman membuat lelaki itu juga memberi kontribusi yang besar pada keindahan kota Magelang. Karyawan hotelnya yang bertugas mengurusi taman, dimintanya juga membersihkan taman-taman di kota itu. Ia ingin Magelang juga menjadi daerah tujuan wisata. Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia, menjadi daya tarik wisatawan datang ke Magelang. "Tapi mengapa mereka harus menginap di Yogyakarta? Toh Magelang juga punya tempat menginap yang bagus dan nyaman? Tamu harus beli oleh-oleh, makan, dan tidur di Magelang," kata Sudarmono yang kini membangun perumahan mewah Gladiool di kota itu. "Buat saya, ini semua bisa saya jalankan berkat doa dan iman. Kalau iman saya lemah, tak mungkin saya bisa berkarya seperti ini. Saya yakin, ini semua titipan Tuhan. Selama masih diberi kesehatan oleh Tuhan, kita harus selalu berkarya, memikirkan orang lain," ungkap Sudarmono yang aktif dalam Forum Profesional Pengusaha Katolik Magelang, Yayasan Kesetiakawanan Warga Magelang, Paguyuban Umat Beriman Magelang. (ROBERT ADHI KSP) Sumber: Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000 Sumber: Herry Anggoro Djatmiko

 SUDARMONO, “SEMUANYA BERKAT DOA DAN IMAN”


(Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000)



Ketika membangun empat cottages di samping Taman Kyai Langgeng, taman rekreasi di jantung Kota Magelang tahun 1988 silam, Sudarmono saat itu tak pernah terpikir usahanya akan menjadi besar seperti sekarang. Sudarmono yang saat itu bekerja sebagai kontraktor menerima tantangan Wali Kota Magelang (waktu itu) Bagus Panuntun membangun hotel melati.


Kini Sudarmono sudah bisa tersenyum. Hotel melati dengan empat cottages (15 kamar) dengan luas 5.000 meter persegi itu sudah berkembang menjadi hotel bintang empat dengan 172 kamar dan menempati lahan seluas 10 hektar.


Hotel Puri Asri milik Sudarmono pa- da setiap akhir pekan dan hari-hari libur selalu penuh. Hotel atau lebih pas disebut resort ini menjual pemandangan Gunung Sumbing dengan sawah dan gemericik air Sungai Progo. Bagi orang yang biasa hidup di kota, beristirahat di resort yang bernuansa alam ini memang membuat segar kembali. Inilah yang jeli dilihat Sudarmono. Dia membiarkan suasana alam mendominasi resort-nya sehingga mereka yang datang ke sana tinggal menyatu dengan alam.


Awalnya, tanah itu memiliki kecuraman 40 derajat dengan ketinggian 55 meter dari permukaan air Sungai Progo. Oleh Sudarmono, lahan itu disulap menjadi resort yang indah dan nyaman. Pengalamannya sebagai kontraktor membuatnya lebih mudah membangun dengan memanfaatkan lahan yang ada. "Bangunannya hanya 10 persen, sedang 90 persen sisanya untuk penghijauan dan taman. Bangunan yang ada harus mengikuti kontur tanah," kata Sudarmono dalam percakapan dengan Kompas, akhir pekan lalu.


Jumlah karyawannya saat ini 400-an orang, 85 persen di anta- ranya merupakan warga yang tinggal di sekitar hotel itu. Konsep Sudarmono mempekerjakan warga setempat sebagai karyawan hotel membuat usahanya langgeng dan berkembang. Ia selalu berpesan pada para karyawannya, "bekerjalah tanpa harus ditunggu pimpinan. Sebab, yang membayar gaji kalian adalah tamu. Jadi layanilah tamu sebaik-baiknya." Satu dari dua anaknya, Fransiska Sudarmono (22) yang baru saja lulus sekolah perhotelan di Swiss, kini membawahi bagian sumber daya manusia dan mendidik karyawan hotel itu.


                                              ***


Masa kecil Sudarmono penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, lelaki kelahiran Semarang, 21 Juli 1954 ini mengenyam pendidikan sampai lulus SMA Negeri I Magelang tahun 1972. Orangtuanya lahir di Magelang. "Setelah itu, keluarga kami membuka toko mas di Jalan Mataram, Magelang. Papa tak mampu menyekolahkan anak-anaknya masuk perguruan tinggi. Angan-angan kuliah lagi sudah tertutup," cerita Sudarmono yang membantu orangtua mencari uang agar adik-adiknya bisa menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke pendidikan tinggi.


Untuk membuka Toko Mas "Merak", keluarganya tidak meminjam uang ke bank, tapi memperoleh modal melalui arisan atau istilah yang dikenal di Magelang, hwe a. Toko mas itu dikelolanya sampai tahun 1978. Setelah itu, ia beralih menjadi kontraktor dan banyak mengerjakan proyek-proyek pemerintah daerah setempat. "Itu pun tidak dengan modal uang. Cukup modal kepercayaan," katanya.


Salah sa-tu "karyanya" adalah Taman Kyai Langgeng yang lokasinya persis bersebelahan dengan hotel miliknya. "Saya belajar banyak dari Pak Bagus Panuntun (mantan Wali Kota Magelang). Cita-cita Pak Bagus, membuat Magelang menjadi kota pendidikan, kota bisnis, kota transit. Semua itu sudah dirintis Pak Bagus dari tahun 1981 sampai 1986. Lalu dia juga ingin Magelang punya taman di dalam kota. Tapi, kok tak ada kontraktor yang serius menangani pembangunan taman. Akhirnya Pak Bagus bilang pada saya, sudahlah Anda kan orang Magelang. Kalau tak ada yang menggerakkan perekonomian di sini, Magelang akan mati," kenang Sudarmono.


Tantangan pertama yang diterimanya adalah membangun taman kota.


"Tapi waktu itu Pak Bagus bilang, pemda tak punya uang. Lalu ada tawaran membangun ruko di Jalan Mataram. Saya membangun 12 ruko dan waktu itu laku semuanya senilai Rp 500 juta. Hasil penjualan ruko untuk pembangunan Taman Kyai Langgeng. Saya kerjakan selama sembilan bulan, Januari sampai September 1987. Taman kota ini diresmikan Gubernur (waktu itu) Ismail. Saya sempat mengelola manajemen Taman Kyai Langgeng selama tiga bulan, setelah itu saya serahkan ke pemda. Jadi, pemda membangun Taman Kyai Langgeng tanpa mengeluarkan uang satu rupiah pun," ujarnya. Taman kota seluas 18 hektar ini kini menjadi kebanggaan Kota Magelang.


Kecintaan Sudarmono pada taman membuat lelaki itu juga memberi kontribusi yang besar pada keindahan kota Magelang. Karyawan hotelnya yang bertugas mengurusi taman, dimintanya juga membersihkan taman-taman di kota itu. Ia ingin Magelang juga menjadi daerah tujuan wisata. Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia, menjadi daya tarik wisatawan datang ke Magelang.


"Tapi mengapa mereka harus menginap di Yogyakarta? Toh Magelang juga punya tempat menginap yang bagus dan nyaman? Tamu harus beli oleh-oleh, makan, dan tidur di Magelang," kata Sudarmono yang kini membangun perumahan mewah Gladiool di kota itu.


"Buat saya, ini semua bisa saya jalankan berkat doa dan iman. Kalau iman saya lemah, tak mungkin saya bisa berkarya seperti ini. Saya yakin, ini semua titipan Tuhan. Selama masih diberi kesehatan oleh Tuhan, kita harus selalu berkarya, memikirkan orang lain," ungkap Sudarmono yang aktif dalam Forum Profesional Pengusaha Katolik Magelang, Yayasan Kesetiakawanan Warga Magelang, Paguyuban Umat Beriman Magelang. (ROBERT ADHI KSP)


Sumber: Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000

Sumber: Herry Anggoro Djatmiko

26 April 2026

Jenderal A.H. Nasution Menyebut Bahwa Jenderal Soedirman Pernah Menulis Surat Pengunduran Diri Jenderal A.H. Nasution menulis dalam bukunya "Tentara Nasional Indonesia I" tentang kisah Panglima Besar Jenderal Soedirman membuat surat pengunduran diri. Pada buku yang ditulis pak Nas pada pertengahan 1950-an itu diuraikan pula oleh beliau latar belakang dibuatnya surat itu oleh pak Dirman. Tulis pak Nas dalam bukunya, salah satu surat terakhir yang disusun sendiri oleh Jenderal Soedirman almarhum adalah suratnya tertanggal 1 Agustus 1949 yang berisi keberatannya tentang terjadinya persetujuan penghentian tembak-menembak yang terakhir sehingga beliau merasa tak dapat lagi meneruskan jabatannya dan bersama Panglima Tentara Territorium Djawa (PTTD) Kolonel A.H. Nasution pada hari itu mengajukan permohonan berhenti. Surat permohonan berhenti yang disusun sendiri tersebut telah pula beliau tandatangani. Surat itu ditujukan kepada Presiden Soekarno. Isinya antara lain secara singkat beliau tulis sejarah TNI dan tentang kesulitan lahirnya tentara kebangsaan. Pak Nas menguraikan lebih lanjut bahwa yang bertanggungjawab dalam bidang kebijakan politik nasional dan pertahanan adalah pemegang kekuasaan politik. Kebijakan politik menentukan cara dan wujud perjuangan termasuk persoalan pelik mengenai ketentaraan. Dalam sejarah ketentaraan, hal ini menimbulkan pertentangan antara politik dengan strategi pertahanan yang tidak habis-habisnya. Kebijakan pllitik harus mementingkan diplomasi karena itu diadakan penghentian tembak-menembak. Akibatnya dikorbankan kedudukan dan pertahanan yang strategis dan kuat. Namun tiap kali pula diplomasi itu gagal, dan pihak militer diminta bertempur kembali. Tentu saja dalam keadaan yang sulit karena strategi pertahanan yang sudah baik telah dikorbankan. Contohnya, kata pak Nasution, waktu Brigade Mallaby di Surabaya sudah terkepung dan diancam untuk menyerah, lalu datang Presiden Soekarno dengan pesawat RAF untuk memerintahkan penghentian pertempuran. Pertempuran terhenti, perundingan dimulai.Tapi satu divisi lengkap pasukan sekutu tiba di Surabaya lalu pihak Inggeris memberi ultimatum yang menghinakan untuk mengusir pasukan TNI keluar dari Surabaya. Di Semarang Presiden juga memerintahkan penghentian tembak-menembak, padahal waktu itu Inggeris dan Belanda sangat kekurangan pasukan. Sejumlah contoh lain disebutkan pak Nasution mengenai perintah penghentian pertempuran yang merugikan strategi pertahanan. Maka datanglah perintah cease-fire yang kesekian kalinya untuk membuka jalan bagi politik. Saat itu perjuangan justru berada pada taraf yang mulai meningkat. Jadi sulit dimengerti oleh pimpinan operasional yang tertinggi dalam TNI. Lalu pada tanggal 1 Agustus 1949 Jenderal Sudirman menulis sendiri surat permohonan berhenti itu. Pak Nas juga mencatat peringatan yang sangat ikhlas dari Wakil Presiden, Bung Hatta, kepada pak Nas selaku PTTD. "Saya khawatir Kolonel terjerumus ke dalam kesalahan yang selalu ditempuh kaum militer seperti Jerman pada PD I dan II yang melihat perjuangan negara semata-mata dari sisi militer sehingga membawa kehancuran yang disusul diktat perdamaian yang berat." Bung Hatta juga menyampaikan bahwa politik yang dijalankan oleh pemerintah RI sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 didasarkan pada rangkaian yang seimbang antara diplomasi dan kekuatan militer. Setelah pertemuan di istana dan memperhitungkan konsekuensi perpecahan yang mungkin timbul di kalangan pimpinan nasional pak Nasution selaku PTTD mengusulkan kepada Jenderal Soedirman agar tidak meneruskan surat tersebut. Pak Dirman akhirnya memutuskan membatalkan permohonan pengunduran dirinya. Sumber : Tentara Nasional Indonesia I Penulis: Kolonel A.H. Nasution. Jenderal A.H. Nasution Menyebut Bahwa Jenderal Soedirman Pernah Menulis Surat Pengunduran Diri

 Jenderal A.H. Nasution Menyebut Bahwa Jenderal Soedirman Pernah Menulis Surat Pengunduran Diri

Jenderal A.H. Nasution menulis dalam bukunya "Tentara Nasional Indonesia I" tentang kisah Panglima Besar Jenderal Soedirman membuat surat pengunduran diri. Pada buku yang ditulis pak Nas pada pertengahan 1950-an itu diuraikan pula oleh beliau latar belakang dibuatnya surat itu oleh pak Dirman.



Tulis pak Nas dalam bukunya, salah satu surat terakhir yang disusun sendiri oleh Jenderal Soedirman almarhum adalah suratnya tertanggal 1 Agustus 1949 yang berisi keberatannya tentang terjadinya persetujuan  penghentian tembak-menembak yang terakhir sehingga beliau merasa tak dapat lagi meneruskan jabatannya dan bersama Panglima Tentara Territorium Djawa (PTTD) Kolonel A.H. Nasution pada hari itu mengajukan permohonan berhenti. Surat permohonan berhenti yang  disusun sendiri  tersebut telah pula beliau tandatangani. 


Surat itu ditujukan kepada Presiden Soekarno. Isinya antara lain secara singkat beliau tulis sejarah TNI dan tentang kesulitan lahirnya tentara kebangsaan. Pak Nas menguraikan lebih lanjut bahwa yang bertanggungjawab dalam bidang kebijakan politik nasional dan pertahanan adalah pemegang kekuasaan politik. Kebijakan politik menentukan cara dan wujud perjuangan termasuk persoalan pelik mengenai ketentaraan. Dalam sejarah ketentaraan, hal ini menimbulkan  pertentangan antara politik dengan strategi pertahanan yang tidak habis-habisnya. Kebijakan pllitik   harus mementingkan diplomasi karena itu diadakan penghentian tembak-menembak. Akibatnya dikorbankan kedudukan dan pertahanan yang strategis dan kuat. 


Namun tiap kali pula diplomasi itu gagal, dan pihak militer diminta bertempur kembali. Tentu saja dalam keadaan yang sulit karena strategi pertahanan yang sudah baik telah dikorbankan. Contohnya, kata pak Nasution, waktu Brigade Mallaby di Surabaya sudah terkepung dan diancam untuk menyerah, lalu datang Presiden Soekarno dengan pesawat RAF untuk memerintahkan penghentian pertempuran. Pertempuran terhenti, perundingan dimulai.Tapi satu divisi lengkap pasukan sekutu tiba di Surabaya lalu pihak Inggeris memberi ultimatum yang menghinakan untuk mengusir pasukan TNI keluar dari Surabaya. 


Di Semarang Presiden juga memerintahkan penghentian tembak-menembak, padahal waktu itu Inggeris dan Belanda sangat kekurangan pasukan. Sejumlah contoh lain disebutkan pak Nasution mengenai perintah penghentian pertempuran yang merugikan strategi pertahanan. Maka datanglah perintah cease-fire yang kesekian kalinya untuk membuka jalan bagi politik. Saat itu perjuangan justru berada  pada taraf yang mulai meningkat. Jadi sulit dimengerti oleh pimpinan operasional yang tertinggi  dalam TNI. Lalu pada tanggal 1 Agustus 1949 Jenderal Sudirman menulis sendiri surat permohonan berhenti itu.


Pak Nas juga mencatat peringatan yang sangat ikhlas dari Wakil Presiden, Bung Hatta, kepada pak Nas selaku PTTD.

"Saya khawatir Kolonel terjerumus ke dalam kesalahan yang selalu ditempuh kaum militer seperti Jerman pada PD I dan II yang melihat perjuangan negara semata-mata dari sisi militer sehingga membawa kehancuran yang disusul diktat perdamaian yang berat." 

Bung Hatta juga menyampaikan bahwa politik yang dijalankan oleh pemerintah RI  sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 didasarkan pada rangkaian yang seimbang antara diplomasi dan kekuatan militer.


Setelah pertemuan di istana dan memperhitungkan konsekuensi perpecahan yang mungkin timbul di kalangan pimpinan nasional  pak Nasution selaku PTTD mengusulkan kepada Jenderal Soedirman agar tidak meneruskan surat tersebut. Pak Dirman akhirnya memutuskan membatalkan permohonan pengunduran dirinya.


Sumber : 

Tentara Nasional Indonesia I

                  Penulis: Kolonel A.H. Nasution.

Jenderal A.H. Nasution Menyebut Bahwa Jenderal Soedirman Pernah Menulis Surat Pengunduran Diri


25 April 2026

Di tanah asing yang jauh dari kemilau takhta emasnya, Bahadur Shah Zafar—sang penguasa terakhir dari Dinasti Mughal yang agung—menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian pengasingan di Rangoon, Burma. Namun, sebelum maut menjemput dalam sunyi, ia adalah sumbu dari sebuah ledakan besar yang mengguncang dunia. Bara Perlawanan Sang Raja Tua Tahun 1857, saat fajar pembero.ntakan menyulut daratan India, sang Sultan yang telah berusia 81 tahun itu tidak memilih untuk tunduk. Di bawah panjinya, sebuah persatuan suci terbentuk: pejuang Hindu dan Muslim berdiri tegak, bahu-membahu menghunus pe..dang melawan tirani Inggris dalam Pe..rang Kemerdekaan Pertama yang banjir da..rah. Namun, takdir berkata lain. Perlawanan itu dipatahkan, dan Delhi pun jatuh ke tangan penjajah. Kota Para Penyair yang Menjadi Padang Mayat Penulis William Dalrymple melukiskan tragedi itu dengan tinta kepedihan: "Di antara tumpukan ma.yat, terbaring para penyair dan seniman paling berbakat yang pernah dimiliki Delhi. Mereka adalah marwah dan kebanggaan kota ini," tulis Zahir Dehlavi. "Tiada tandingan bagi mereka di zamannya, dan dunia takkan pernah lagi melihat sosok-sosok seperti mereka." Sang Sultan, dalam keputusasaan terakhirnya, mencari perlindungan di balik dinding megah Makam Humayun. Namun, di sanalah ia ditangkap. Delhi—metropolis Mughal yang pernah menjadi pusat peradaban Hindustan—seketika berubah menjadi kota hantu yang gersang, sebuah monumen bisu bagi mereka yang telah tiada. Tragedi di Gerbang Berdarah Setelah pengadilan yang memilukan, Bahadur Shah Zafar dibuang layaknya pesakitan ke Rangoon, tempat ia akhirnya wafat dan dikuburkan dalam kehampaan pada tahun 1862. Namun, kekejaman Inggris belum usai. Hanya selang sehari setelah penangkapan sang Sultan, tepat pada 21 September, William Hodson melakukan tindakan biadab di luar batas kemanusiaan. Tanpa perintah resmi, dengan tangan dingin yang haus darah, ia menembak mati putra-putra Sultan—Mirza Mughal dan Mirza Khizr—serta cucunya, Mirza Abu Bakr. Pembantaian itu terjadi di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai "Khooni Darwaza" atau Gerbang Berdarah. Di sanalah, hanya tiga kilometer dari Benteng Merah yang perkasa, garis keturunan agung Dinasti Mughal diputus paksa oleh timah panas, meninggalkan luka yang takkan pernah mengering dalam sejarah India. Sumber Utama: • The Last Mughal: The Fall of a Dynasty: Delhi, 1857 oleh William Dalrymple

 Di tanah asing yang jauh dari kemilau takhta emasnya, Bahadur Shah Zafar—sang penguasa terakhir dari Dinasti Mughal yang agung—menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian pengasingan di Rangoon, Burma. Namun, sebelum maut menjemput dalam sunyi, ia adalah sumbu dari sebuah ledakan besar yang mengguncang dunia.



Bara Perlawanan Sang Raja Tua


Tahun 1857, saat fajar pembero.ntakan menyulut daratan India, sang Sultan yang telah berusia 81 tahun itu tidak memilih untuk tunduk. Di bawah panjinya, sebuah persatuan suci terbentuk: pejuang Hindu dan Muslim berdiri tegak, bahu-membahu menghunus pe..dang melawan tirani Inggris dalam Pe..rang Kemerdekaan Pertama yang banjir da..rah.


Namun, takdir berkata lain. Perlawanan itu dipatahkan, dan Delhi pun jatuh ke tangan penjajah.


Kota Para Penyair yang Menjadi Padang Mayat


Penulis William Dalrymple melukiskan tragedi itu dengan tinta kepedihan:

"Di antara tumpukan ma.yat, terbaring para penyair dan seniman paling berbakat yang pernah dimiliki Delhi. Mereka adalah marwah dan kebanggaan kota ini," tulis Zahir Dehlavi. "Tiada tandingan bagi mereka di zamannya, dan dunia takkan pernah lagi melihat sosok-sosok seperti mereka."


Sang Sultan, dalam keputusasaan terakhirnya, mencari perlindungan di balik dinding megah Makam Humayun. Namun, di sanalah ia ditangkap. Delhi—metropolis Mughal yang pernah menjadi pusat peradaban Hindustan—seketika berubah menjadi kota hantu yang gersang, sebuah monumen bisu bagi mereka yang telah tiada.


Tragedi di Gerbang Berdarah


Setelah pengadilan yang memilukan, Bahadur Shah Zafar dibuang layaknya pesakitan ke Rangoon, tempat ia akhirnya wafat dan dikuburkan dalam kehampaan pada tahun 1862.


Namun, kekejaman Inggris belum usai. Hanya selang sehari setelah penangkapan sang Sultan, tepat pada 21 September, William Hodson melakukan tindakan biadab di luar batas kemanusiaan. 

Tanpa perintah resmi, dengan tangan dingin yang haus darah, ia menembak mati putra-putra Sultan—Mirza Mughal dan Mirza Khizr—serta cucunya, Mirza Abu Bakr.


Pembantaian itu terjadi di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai "Khooni Darwaza" atau Gerbang Berdarah. Di sanalah, hanya tiga kilometer dari Benteng Merah yang perkasa, garis keturunan agung Dinasti Mughal diputus paksa oleh timah panas, meninggalkan luka yang takkan pernah mengering dalam sejarah India.


Sumber Utama:

• The Last Mughal: The Fall of a Dynasty: Delhi, 1857 oleh William Dalrymple

Pondok Pesantren Al-Fatah dulu berlokasi di Cidahu Tasikmalaya Jawa Barat. Didirikan oleh KH Abdul Fatah pada tahun 1932. KH. Abdul Fatah menyebarkan ajaran Tareqat Idrisiyyah yang dibawanya dari Jabal Gubesh Saudy Arabia. di Tahun 80-an, KH Mohmmad Dahlan salah satu putra dari KH Abdul Fatah mewarisi pondok pesantren ini dan kemudian memindahkan lokasi pesantren in ke Pagendingan di atas tanah wakaf seluaskurang lebih, 2.5 hektar. Tareqat Idrisiyyah berkembang hingga sekarang, ada panti asuhan dan koperasinya yang berjalan dengan baik. Dulu, kekhasan pesantren ini benar-benar mewakili warna kota Tasikmalaya yang kuat. Sebagaimana diketahui bersama, Tasikmalaya selain dikenal sebagai daerah penghasil aneka industri kerajinan rakyat, diantaranya bordiran. Pesantren ini pun cara berpakaiannya pun berbeda dengan pesantren pada umumnya. Para santri pria berpakaian serba putih (gamis Arab), lengkap pakai sorban, tidak ubahnya seperti jemaah haji. Berpakaian seperti ini di era itu belum sepopuler sekarang di Indonesia. Sedangkan para santri wanitanya mengenakan pakaian tertutup sekujur tubuh dari kepala hingga kaki, begitu juga dengan mukanya yang ditutupi cadar penuh dengan bordiran indah khas Tasikmalaya. Penutup ini dinamakan “barego". Mereka memakai pakaian seperti ini memang ada tujuannya, selain menjalankan ajaran agama dan Sunnah Rasulullah, juga melindungi para santri wanita pada waktu itu dari para oknum yang bertopeng pejabat pemerintahan atau pemuka agama. Cukup hanya melihat keindahan bordiran Tasikmalaya saja. Pesantren in juga memiliki ciri khas lain yakni para santri tidak diperbolehkan merokok dan makan yang berbau-bauan seperti jengkol dan petai. Dulu saha ketika masuk ke dalam kampus pesantren ini sudah ada tulisan “dilarang merokok”. Hal yang tidak biasa di lingkungan pesantren waktu itu. Sumber: Pikiran Rakyat, 18-4-1986. Koleksi Surat Kabar Langka-Perpustakaan Nasional Salemba (SKALA-Team)

 Pondok Pesantren Al-Fatah dulu berlokasi di Cidahu Tasikmalaya Jawa Barat. Didirikan oleh KH Abdul Fatah pada tahun 1932. KH. Abdul Fatah menyebarkan ajaran Tareqat Idrisiyyah yang dibawanya dari Jabal Gubesh Saudy Arabia.



di Tahun 80-an, KH Mohmmad Dahlan salah satu putra dari KH Abdul Fatah mewarisi pondok pesantren ini dan kemudian memindahkan lokasi pesantren in ke Pagendingan di atas tanah wakaf seluaskurang lebih, 2.5 hektar. 


Tareqat Idrisiyyah berkembang hingga sekarang,  ada panti asuhan dan koperasinya yang berjalan dengan baik.


Dulu, kekhasan pesantren ini benar-benar mewakili warna kota Tasikmalaya yang kuat. Sebagaimana diketahui bersama, Tasikmalaya selain dikenal sebagai daerah penghasil aneka industri kerajinan rakyat, diantaranya bordiran. 


Pesantren ini pun  cara berpakaiannya pun berbeda dengan pesantren pada umumnya. Para santri pria berpakaian serba putih (gamis Arab), lengkap pakai sorban, tidak ubahnya seperti jemaah haji. Berpakaian seperti ini di era itu belum sepopuler sekarang di Indonesia.  


Sedangkan para santri wanitanya mengenakan pakaian tertutup sekujur tubuh dari kepala hingga kaki, begitu juga dengan mukanya yang ditutupi cadar penuh dengan bordiran indah  khas Tasikmalaya.  Penutup ini dinamakan “barego". Mereka memakai pakaian seperti ini memang ada tujuannya, selain menjalankan ajaran agama dan Sunnah Rasulullah, juga melindungi para santri wanita pada waktu itu dari para oknum yang bertopeng pejabat pemerintahan atau pemuka agama.  Cukup hanya melihat keindahan bordiran Tasikmalaya saja.

 

Pesantren in juga memiliki ciri khas lain yakni para santri tidak diperbolehkan merokok dan makan yang berbau-bauan seperti jengkol dan petai. Dulu saha ketika masuk ke dalam kampus pesantren ini sudah ada tulisan “dilarang  merokok”.  Hal yang tidak biasa di lingkungan pesantren waktu itu.


Sumber: Pikiran Rakyat, 18-4-1986. Koleksi Surat Kabar Langka-Perpustakaan Nasional Salemba (SKALA-Team)

- Atas dulu, Groote Weg Zuid, ingang Chinees kamp te Magelang, ca 1927. .,. Bawah kini, Jl A Yani - Jl Pemuda, Magelang, 2023

 -


Atas dulu, Groote Weg Zuid, ingang Chinees kamp te Magelang, ca 1927. .,. 

Bawah kini, Jl A Yani - Jl Pemuda, Magelang, 2023


Sumber : Bintoro Hoepoedio

TIGA PENDOSA YANG TIDAK TERAMPUNI Ini catatan dalam "Babad Diponegoro". Pangeran Diponegoro sendiri yang menulis, mengapa Ratu Ageng keluar dari istana. Alasan pertama, karena sering berselisih dengan anaknya sendiri, Raja Jogja kedua, Sultan HB II. "... Ratu Ageng bagaimana dia berselisih dengan anaknya sendiri. Oleh karena itu ia keluar istana dengan rasa marah dan membuka pemukiman baru .... Tempat itu disebut Tegalrejo." Ratu Ageng kecewa dengan anaknya, Sultan HB II, karena tidak patuh dengan kewajiban Islam. Jarang berkunjung ke Masjid Agung, tempat ibadah resmi para raja. Alasan kedua, karena anaknya, Sultan HB II, dikelilingi pejabat tinggi yang juga mengabaikan ajaran Islam. Pejabat tinggi itu adalah Patih Danureja II, Tumenggung Sumodiningrat, dan Ronggo Prawirodirjo III. Mereka adalah para menantu Sultan HB II. Ratu Ageng menyebut mereka bertiga sebagai "para pendosa yang tidak terampuni." "Ketiga pejabat itu semuanya muda-muda nafsu Sang Sultan lebih besar daripada nafsu bapaknya begitu juga dengan ketiga pejabat ini yang semuanya berdosa melawan agama ...." Bagi yang tidak percaya, bisa baca sendiri babadnya. Sejarah kemudian mencatat kematian yang mengenaskan dari 3 pejabat itu. Patih Danureja II meninggal dibunuh rajanya. Ronggo Prawirodirjo III terbunuh atas perintah Daendeles. Dan, Tumenggung Sumodiningrat terbunuh dalam Geger Sepehi. #books #babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

 TIGA PENDOSA YANG TIDAK TERAMPUNI


Ini catatan dalam "Babad Diponegoro".


Pangeran Diponegoro sendiri yang menulis, mengapa Ratu Ageng keluar dari istana.



Alasan pertama, karena sering berselisih dengan anaknya sendiri, Raja Jogja kedua, Sultan HB II.


"... Ratu Ageng

bagaimana dia berselisih 

dengan anaknya sendiri.

Oleh karena itu ia keluar istana dengan rasa marah

dan membuka pemukiman baru

....

Tempat itu disebut Tegalrejo."


Ratu Ageng kecewa dengan anaknya, Sultan HB II, karena tidak patuh dengan kewajiban Islam. Jarang berkunjung ke Masjid Agung, tempat ibadah resmi para raja.


Alasan kedua, karena anaknya, Sultan HB II, dikelilingi pejabat tinggi yang juga mengabaikan ajaran Islam.


Pejabat tinggi itu adalah Patih Danureja II, Tumenggung Sumodiningrat, dan Ronggo Prawirodirjo III. Mereka adalah para menantu Sultan HB II.


Ratu Ageng menyebut mereka bertiga sebagai "para pendosa yang tidak terampuni."


"Ketiga pejabat itu semuanya muda-muda

nafsu Sang Sultan 

lebih besar daripada nafsu bapaknya

begitu juga dengan ketiga pejabat ini

yang semuanya berdosa

melawan agama

...."


Bagi yang tidak percaya, bisa baca sendiri babadnya.


Sejarah kemudian mencatat kematian yang mengenaskan dari 3 pejabat itu.


Patih Danureja II meninggal dibunuh rajanya. Ronggo Prawirodirjo III terbunuh atas perintah Daendeles. Dan, Tumenggung Sumodiningrat terbunuh dalam Geger Sepehi.


Sumber : Nassirun Purwokartun

#books #babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

23 April 2026

*Siapa Sosok Polwan Ni Luh Putu Sugiantri? Pernah Tolak Jadi Ajudan Tien Soeharto.* Di balik lembaran sejarah bangsa, terselip kisah sunyi tentang kesetiaan yang nyaris terlupakan. Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tidak sepopuler tokoh besar negeri ini, namun jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam detik-detik terakhir kehidupan Soekarno sang Proklamator. Ia bukan sekadar Polisi Wanita (Polwan). Ia adalah saksi hidup runtuhnya kekuasaan, kesunyian seorang pemimpin, dan pahitnya perubahan zaman. Dari Gadis Bali Menuju Lingkaran Istana Perjalanan hidup Sugiantri dimulai dari Bali pada tahun 1964. Saat itu, usianya baru 16 tahun terlalu muda untuk menjadi anggota Polwan. Namun, dengan tekad kuat, ia “menambah” usianya menjadi 18 tahun demi bisa lolos seleksi. Keputusan berani itu mengantarkannya ke pendidikan kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Di sanalah ia ditempa, bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai pribadi yang kelak dipercaya berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara. Tak hanya menjalankan tugas formal, Sugiantri juga kerap tampil menari dalam acara-acara kenegaraan menunjukkan sisi humanis seorang abdi negara di lingkungan Istana. Menjadi Pengawal Setia di Masa Paling Kelam Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. Pasukan pengawal presiden Cakrabirawa dibubarkan, dan peran pengamanan beralih ke kepolisian. Di tengah gejolak itulah, Sugiantri terpilih menjadi ajudan, bahkan menjadi Polwan terakhir yang mengawal langsung Soekarno hingga akhir hayatnya pada 1970. Namun, yang ia saksikan bukan lagi kemegahan seorang presiden. Ia melihat sisi lain: seorang pemimpin besar yang hidup dalam keterbatasan, terisolasi, dan perlahan dilupakan. Di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala), Bung Karno menjalani masa tahanan rumah. Ia dibatasi tidak boleh berbicara politik, tidak bebas menerima tamu, bahkan tak leluasa ke mana-mana. Yang paling menyayat, menurut kesaksian Sugiantri, sang Proklamator bahkan tidak memiliki uang untuk sekadar membeli makanan. Karena tak tega, Sugiantri kerap menyisihkan gajinya yang kecil untuk membelikan buah dan makanan bagi Bung Karno. Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna kemanusiaan. Saksi Bisu Peralihan Kekuasaan Sugiantri juga menjadi saksi masa-masa transisi kekuasaan menuju Soeharto, yang mengambil alih kendali negara melalui mandat Supersemar. Dalam salah satu kenangannya, ia sempat menanyakan kepada Bung Karno tentang penyerahan kekuasaan tersebut. Jawaban yang ia terima sederhana namun sarat makna: “Semua itu dilakukan demi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.” Kalimat ini menggambarkan dilema seorang pemimpin yang harus memilih antara kekuasaan atau stabilitas bangsa. Menolak Kekuasaan, Memilih Jalan Sendiri Setelah era berganti, Sugiantri sempat diminta menjadi ajudan Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto. Namun, ia menolak. Bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengetahui banyak hal yang membuatnya enggan berada di lingkaran kekuasaan baru. Dalam kisah lain, ia juga pernah merasa tersakiti karena dituduh memiliki hubungan pribadi dengan Bung Karno. Sebagai bentuk penolakan, ia memilih langkah drastis: menikah dan menjauh dari tawaran tersebut. Keputusan itu membuat kariernya stagnan ia tidak pernah naik pangkat. Namun, ia juga tidak diberhentikan. Sebuah posisi “diam” yang justru mempertegas integritas dan prinsip hidupnya. Kesetiaan yang Tak Pernah Mencari Sorotan Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tenggelam dalam arus besar sejarah. Namun kisahnya adalah potret langka tentang: Loyalitas tanpa pamrih Keberanian mengambil sikap Kemanusiaan di tengah pusaran politik _*Ia bukan tokoh besar dalam buku sejarah. Justru dari sudut sunyi itulah, kita melihat sisi paling manusiawi dari perjalanan bangsa ini.*_ Sumber: Tribunnews.com #NiLuhPutuSugiantri #Soekarno #SejarahIndonesia #PolwanIndonesia #OrdeLama #OrdeBaru #KisahInspiratif

 *Siapa Sosok Polwan Ni Luh Putu Sugiantri? Pernah Tolak Jadi Ajudan Tien Soeharto.*


Di balik lembaran sejarah bangsa, terselip kisah sunyi tentang kesetiaan yang nyaris terlupakan. Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tidak sepopuler tokoh besar negeri ini, namun jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam detik-detik terakhir kehidupan Soekarno sang Proklamator.



Ia bukan sekadar Polisi Wanita (Polwan). Ia adalah saksi hidup runtuhnya kekuasaan, kesunyian seorang pemimpin, dan pahitnya perubahan zaman.


Dari Gadis Bali Menuju Lingkaran Istana


Perjalanan hidup Sugiantri dimulai dari Bali pada tahun 1964. Saat itu, usianya baru 16 tahun terlalu muda untuk menjadi anggota Polwan. Namun, dengan tekad kuat, ia “menambah” usianya menjadi 18 tahun demi bisa lolos seleksi.


Keputusan berani itu mengantarkannya ke pendidikan kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Di sanalah ia ditempa, bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai pribadi yang kelak dipercaya berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara.


Tak hanya menjalankan tugas formal, Sugiantri juga kerap tampil menari dalam acara-acara kenegaraan menunjukkan sisi humanis seorang abdi negara di lingkungan Istana.


Menjadi Pengawal Setia di Masa Paling Kelam


Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. Pasukan pengawal presiden Cakrabirawa dibubarkan, dan peran pengamanan beralih ke kepolisian.


Di tengah gejolak itulah, Sugiantri terpilih menjadi ajudan, bahkan menjadi Polwan terakhir yang mengawal langsung Soekarno hingga akhir hayatnya pada 1970.


Namun, yang ia saksikan bukan lagi kemegahan seorang presiden. Ia melihat sisi lain: seorang pemimpin besar yang hidup dalam keterbatasan, terisolasi, dan perlahan dilupakan.


Di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala), Bung Karno menjalani masa tahanan rumah. Ia dibatasi tidak boleh berbicara politik, tidak bebas menerima tamu, bahkan tak leluasa ke mana-mana.


Yang paling menyayat, menurut kesaksian Sugiantri, sang Proklamator bahkan tidak memiliki uang untuk sekadar membeli makanan.


Karena tak tega, Sugiantri kerap menyisihkan gajinya yang kecil untuk membelikan buah dan makanan bagi Bung Karno. Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna kemanusiaan.


Saksi Bisu Peralihan Kekuasaan


Sugiantri juga menjadi saksi masa-masa transisi kekuasaan menuju Soeharto, yang mengambil alih kendali negara melalui mandat Supersemar.


Dalam salah satu kenangannya, ia sempat menanyakan kepada Bung Karno tentang penyerahan kekuasaan tersebut. Jawaban yang ia terima sederhana namun sarat makna:


“Semua itu dilakukan demi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.”


Kalimat ini menggambarkan dilema seorang pemimpin yang harus memilih antara kekuasaan atau stabilitas bangsa.


Menolak Kekuasaan, Memilih Jalan Sendiri


Setelah era berganti, Sugiantri sempat diminta menjadi ajudan Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto.


Namun, ia menolak.


Bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengetahui banyak hal yang membuatnya enggan berada di lingkaran kekuasaan baru. Dalam kisah lain, ia juga pernah merasa tersakiti karena dituduh memiliki hubungan pribadi dengan Bung Karno.


Sebagai bentuk penolakan, ia memilih langkah drastis: menikah dan menjauh dari tawaran tersebut.


Keputusan itu membuat kariernya stagnan ia tidak pernah naik pangkat. Namun, ia juga tidak diberhentikan. Sebuah posisi “diam” yang justru mempertegas integritas dan prinsip hidupnya.


Kesetiaan yang Tak Pernah Mencari Sorotan


Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tenggelam dalam arus besar sejarah. Namun kisahnya adalah potret langka tentang:


Loyalitas tanpa pamrih


Keberanian mengambil sikap


Kemanusiaan di tengah pusaran politik


_*Ia bukan tokoh besar dalam buku sejarah. Justru dari sudut sunyi itulah, kita melihat sisi paling manusiawi dari perjalanan bangsa ini.*_

Sumber: Tribunnews.com

#NiLuhPutuSugiantri #Soekarno #SejarahIndonesia #PolwanIndonesia #OrdeLama #OrdeBaru #KisahInspiratif

Berlagak bak raja dan ratu, tukang becak dan pelacur ini berhasil menipu Presiden😱 Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno juga pernah di prank atau ditipu oleh Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kejadiannya sekitar tahun 1950-an, sepasang suami-istri ini membuat kehebohan nasional, mereka diterima Presiden Sukarno di Istana Negara. Ppasangan bernama Idrus dan Markonah, keduanya mengaklaim sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di Wilayah Lampung. Keduanya sukses masuk ke istana atas saran seorang pejabat agar Bung Karno berkenan menemuinya. Saran ini sangat muluk, yakni karena raja dan ratu ini punya kekuatan tertentu yang bisa membantu pembebasan Irian Barat. Kondisi saat itu juga Soekarno tengah berupaya mengusir Belanda di Irian Barat, maka kabar raja dan ratu ini bisa membantu membuat Soekarni menyambutnya dengan gembira. Kehadiran Raja Idrus dan Ratu Markonah juga menjadi topik utama media kala itu. Sebut saja Koran Masa Marhaen dan Koran Duta Masyarakat, memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan. Saran dari seorang pejabat terbukti. Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan: Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat. Apalagi, foto itu menarik karena keduanya mengenakan kacamata hitam. Kisahnya, malansir dari kompasiana.com bermodal dari surat rekomendasi pemerintah Sumatra Selatan, beberapa bulan kemudian, pada 10 Maret 1958, Idrus, Markonah dan pengikutnya berangkat ke Jakarta. Di Sumatra belahan utara kala itu sedang bergolak gerakan separatis yang menamakan diri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri. Idrus dan Markonah diterima oleh Presiden Sukarno di Istana Negara. Mereka berencana berkeliling ke beberapa kota di pulau Jawa. Sukarno pun bersedia memfasilitasinya. Harapannya agar Idrus bisa melihat dan belajar perkembangan kota-kota. Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu. Raja Idrus digambarkan sebagai sosok pria berusia sekitar 42 tahun dengan kostum ala militer. Sedangkan penampilan Ratu Markonah juga tak kalah menarik perhatian. Markonah yang menjabat sebagai permaisuri Raja Idrus selalu memakai kaca mata hitam saat tampil di hadapan publik. Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, "Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat". Harian Belanda Leeuwarder Courant pada 7 April 1959 menulis, "Dalam perjalanan itu Idrus mengaku memiliki 18 orang istri. Selain itu, dia mengklaim mempunyai istana besar di salah satu gua raksasa. Di dalamnya terdapat mumi dari 40 orang Jepang dan Belanda". Dalam perjalanan ke beberapa kota, mereka berdua dikawal voorijder layaknya pejabat. Namun pada akhirnya, identitas asli Raja Idrus dan Ratu Markonah pun terungkap. Kedok mereka terbongkar saat pasangan suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta. Saat itu ada seorang tukang becak yang mengenali Idrus. Karena ternyata, Idrus itu adalah rekan se-profesinya yang sudah lama dikenalnya. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok kedua penipu itu. Idrus diketahui berprofesi sebagai tukang becak, sedangkan Markonah adalah pekerja seks komersial (PSK) asal Tegal, Jawa Tengah. Di Madiun pasangan kerajaan gadungan ini kena ciduk aparat. Idrus dan Markonah pun digelandang ke markas CPM, bukan ke balai kota tempat mereka disambut sebelumnya. Mereka kemudian diperiksa. Menurut berita Nieuwsblad van het Noorden pada 10 Februari 1959: " Idrus dihukum sembilan bulan penjara dan pasangannya mendapat hukuman enam bulan". Mereka bebas pada pertengahan tahun 1959. Seakan tak jera, Idrus kembali menyebarkan informasi hoaks kepada masyarakat. Idrus mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya dan anak buah petinggi TNI yakni Mayor Simbolon. Idrus pun sempat memeras sejumlah pengusaha di Lampung sebelum akhirnya ditangkap polisi di Kotabumi, Lampung. Markonah mengaku telah bercerai dengan sang suami, 'Raja' Idrus sejak dirinya keluar dari penjara di Madiun atas kasus serupa. Bahkan, Markonah mengaku kembali menceburkan diri sebagai PSK sejak bercerai dengan sang "Raja". Kisah pasangan pembual amatir Idrus dan Markonah, yang menipu banyak orang Indonesia, jadi cerita lucu di Belanda.

 Berlagak bak raja dan ratu, tukang becak dan pelacur ini berhasil menipu Presiden😱


Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno juga pernah di prank atau ditipu oleh Raja Idrus dan Ratu Markonah.



Kejadiannya sekitar tahun 1950-an, sepasang suami-istri ini membuat kehebohan nasional, mereka diterima Presiden Sukarno di Istana Negara.


Ppasangan bernama Idrus dan Markonah, keduanya mengaklaim sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di Wilayah Lampung.


Keduanya sukses masuk ke istana atas saran seorang pejabat agar Bung Karno berkenan menemuinya. 


Saran ini sangat muluk, yakni karena raja dan ratu ini punya kekuatan tertentu yang bisa membantu pembebasan Irian Barat.


Kondisi saat itu juga Soekarno tengah berupaya mengusir Belanda di Irian Barat, maka kabar raja dan ratu ini bisa membantu membuat Soekarni menyambutnya dengan gembira. 


Kehadiran Raja Idrus dan Ratu Markonah juga menjadi topik utama media kala itu. 


Sebut saja Koran Masa Marhaen dan Koran Duta Masyarakat, memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan. 


Saran dari seorang pejabat terbukti. Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan: Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat. Apalagi, foto itu menarik karena keduanya mengenakan kacamata hitam.


Kisahnya, malansir dari kompasiana.com bermodal dari surat rekomendasi pemerintah Sumatra Selatan, beberapa bulan kemudian, pada 10 Maret 1958, Idrus, Markonah dan pengikutnya berangkat ke Jakarta.


Di Sumatra belahan utara kala itu sedang bergolak gerakan separatis yang menamakan diri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). 


Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri.


Idrus dan Markonah diterima oleh Presiden Sukarno di Istana Negara. Mereka berencana berkeliling ke beberapa kota di pulau Jawa. Sukarno pun bersedia memfasilitasinya.


Harapannya agar Idrus bisa melihat dan belajar perkembangan kota-kota. Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. 


Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. 


Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu.


Raja Idrus digambarkan sebagai sosok pria berusia sekitar 42 tahun dengan kostum ala militer. Sedangkan penampilan Ratu Markonah juga tak kalah menarik perhatian. Markonah yang menjabat sebagai permaisuri Raja Idrus selalu memakai kaca mata hitam saat tampil di hadapan publik.


Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. 


Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, "Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat".


Harian Belanda Leeuwarder Courant pada 7 April 1959 menulis, "Dalam perjalanan itu Idrus mengaku memiliki 18 orang istri. Selain itu, dia mengklaim mempunyai istana besar di salah satu gua raksasa. 


Di dalamnya terdapat mumi dari 40 orang Jepang dan Belanda".  Dalam perjalanan ke beberapa kota, mereka berdua dikawal voorijder layaknya pejabat.


Namun pada akhirnya, identitas asli Raja Idrus dan Ratu Markonah pun terungkap. Kedok mereka terbongkar saat pasangan suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta. 


Saat itu ada seorang tukang becak yang mengenali Idrus. Karena ternyata, Idrus itu adalah rekan se-profesinya yang sudah lama dikenalnya. 


Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok kedua penipu itu. Idrus diketahui berprofesi sebagai tukang becak, sedangkan Markonah adalah pekerja seks komersial (PSK) asal Tegal, Jawa Tengah.


Di Madiun pasangan kerajaan gadungan ini kena ciduk aparat. Idrus dan Markonah pun digelandang ke markas CPM, bukan ke balai kota tempat mereka disambut sebelumnya. Mereka kemudian diperiksa. 


Menurut berita Nieuwsblad van het Noorden pada 10 Februari 1959: " Idrus dihukum sembilan bulan penjara dan pasangannya mendapat hukuman enam bulan". Mereka bebas pada pertengahan tahun 1959.


Seakan tak jera, Idrus kembali menyebarkan informasi hoaks kepada masyarakat. Idrus mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya dan anak buah petinggi TNI yakni Mayor Simbolon. 


Idrus pun sempat memeras sejumlah pengusaha di Lampung sebelum akhirnya ditangkap polisi di Kotabumi, Lampung.


Markonah mengaku telah bercerai dengan sang suami, 'Raja' Idrus sejak dirinya keluar dari penjara di Madiun atas kasus serupa. Bahkan, Markonah mengaku kembali menceburkan diri sebagai PSK sejak bercerai dengan sang "Raja".


Kisah pasangan pembual amatir Idrus dan Markonah, yang menipu banyak orang Indonesia, jadi cerita lucu di Belanda.

Sumber : Faruq Muhammad