26 February 2026

Teuku Abdul Manaf dari Lueng Putu: Jejak Aceh dalam Lahirnya Proklamasi Indunesia Nama Achmad Soebardjo kerap disebut sebagai salah satu perumus teks Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa ia lahir dengan nama Teuku Abdul Manaf—sebuah nama yang menandakan garis darah bangsawan Aceh dari Lueng Putu, Pidie. Ia dilahirkan di Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat, pada 23 Maret 1896. Ayahnya, Teuku Muhammad Yusuf, merupakan keturunan bangsawan Aceh dan bekerja sebagai Mantri Polisi di wilayah Teluk Jambe. Dari garis ayah, kakeknya dikenal sebagai Ulee Balang sekaligus ulama di Lueng Putu. Sementara ibunya, Wardinah, berdarah Jawa-Bugis dan merupakan putri seorang camat di Telukagung, Cirebon. Dari dua garis budaya itulah—Aceh dan Jawa—tumbuh seorang intelektual yang kelak memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia. Semasa kecil ia diberi nama Teuku Abdul Manaf oleh ayahnya, dan Achmad Soebardjo oleh ibunya. Nama Djojoadisoerjo kemudian ia tambahkan sendiri saat dewasa, khususnya setelah mengalami penahanan di Penjara Ponorogo terkait “Peristiwa 3 Juli 1946”. Perjalanan hidupnya memang tak lepas dari pusaran politik republik yang baru lahir. Pendidikan Soebardjo ditempuh secara modern. Ia menyelesaikan studi di Hogere Burger School (HBS) di Batavia pada 1917, lalu melanjutkan ke Universitas Leiden, Belanda. Pada 1933, ia meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.), setara Sarjana Hukum. Pendidikan Eropa itu membentuknya sebagai diplomat ulung dan perumus strategi politik yang matang.Peran krusialnya muncul menjelang detik-detik Proklamasi. Pada 16 Agustus 1945, ketika golongan muda seperti Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana membawa Sukarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, situasi Jakarta memanas. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok—sebuah tekanan politik agar proklamasi segera dikumandangkan tanpa campur tangan Jepang. Di tengah ketegangan antara golongan muda dan tua, Achmad Soebardjo tampil sebagai jembatan. Ia bernegosiasi dengan para pemuda dan menjamin bahwa Proklamasi akan dilaksanakan di Jakarta.Bersama Yusuf Kunto, ia menjemput kembali Soekarno dan Hatta dari Rengasdengklok. Keberhasilannya meredakan desakan emosional para pemuda menjadi kunci agar proses kemerdekaan berlangsung terarah, bukan gegabah. Malam harinya, di rumah Laksamana Muda Maeda, konsep teks Proklamasi dirumuskan oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Dialah yang menyumbangkan rumusan kalimat diplomatis yang kemudian menjadi bagian inti naskah. Setelah disepakati, dini hari 17 Agustus 1945, teks tersebut diketik oleh Sayuti Melik. Perannya tak berhenti di sana. Pada 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Presidensial pertama Republik Indonesia. Ia kembali menjabat posisi yang sama pada 1951–1952, serta dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Swiss pada 1957–1961. Dari Lueng Putu di Pidie hingga meja perumusan Proklamasi di Jakarta, jejak Teuku Abdul Manaf—yang dikenal sebagai Achmad Soebardjo—menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia dirajut oleh beragam identitas daerah. Ia bukan sekadar diplomat atau menteri, melainkan salah satu arsitek sunyi yang memastikan kata “merdeka” lahir dalam kalimat yang tepat dan momentum yang terukur.adifa. FT bg Ahmad subarjo

 Teuku Abdul Manaf dari Lueng Putu: Jejak Aceh dalam Lahirnya Proklamasi Indunesia


Nama Achmad Soebardjo kerap disebut sebagai salah satu perumus teks Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa ia lahir dengan nama Teuku Abdul Manaf—sebuah nama yang menandakan garis darah bangsawan Aceh dari Lueng Putu, Pidie.



Ia dilahirkan di Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat, pada 23 Maret 1896. Ayahnya, Teuku Muhammad Yusuf, merupakan keturunan bangsawan Aceh dan bekerja sebagai Mantri Polisi di wilayah Teluk Jambe. 


Dari garis ayah, kakeknya dikenal sebagai Ulee Balang sekaligus ulama di Lueng Putu. Sementara ibunya, Wardinah, berdarah Jawa-Bugis dan merupakan putri seorang camat di Telukagung, Cirebon.


Dari dua garis budaya itulah—Aceh dan Jawa—tumbuh seorang intelektual yang kelak memainkan peran penting dalam sejarah Indonesia.


Semasa kecil ia diberi nama Teuku Abdul Manaf oleh ayahnya, dan Achmad Soebardjo oleh ibunya. Nama Djojoadisoerjo kemudian ia tambahkan sendiri saat dewasa, khususnya setelah mengalami penahanan di Penjara Ponorogo terkait “Peristiwa 3 Juli 1946”. 


Perjalanan hidupnya memang tak lepas dari pusaran politik republik yang baru lahir.

Pendidikan Soebardjo ditempuh secara modern. Ia menyelesaikan studi di Hogere Burger School (HBS) di Batavia pada 1917, lalu melanjutkan ke Universitas Leiden, Belanda. Pada 1933, ia meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.), setara Sarjana Hukum. 


Pendidikan Eropa itu membentuknya sebagai diplomat ulung dan perumus strategi politik yang matang.Peran krusialnya muncul menjelang detik-detik Proklamasi. 


Pada 16 Agustus 1945, ketika golongan muda seperti Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana membawa Sukarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok, situasi Jakarta memanas. 


Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok—sebuah tekanan politik agar proklamasi segera dikumandangkan tanpa campur tangan Jepang.


Di tengah ketegangan antara golongan muda dan tua, Achmad Soebardjo tampil sebagai jembatan. Ia bernegosiasi dengan para pemuda dan menjamin bahwa Proklamasi akan dilaksanakan di Jakarta.Bersama Yusuf Kunto, ia menjemput kembali Soekarno dan Hatta dari Rengasdengklok. 


Keberhasilannya meredakan desakan emosional para pemuda menjadi kunci agar proses kemerdekaan berlangsung terarah, bukan gegabah.


Malam harinya, di rumah Laksamana Muda Maeda, konsep teks Proklamasi dirumuskan oleh Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo. Dialah yang menyumbangkan rumusan kalimat diplomatis yang kemudian menjadi bagian inti naskah. 


Setelah disepakati, dini hari 17 Agustus 1945, teks tersebut diketik oleh Sayuti Melik.

Perannya tak berhenti di sana. Pada 18 Agustus 1945, Soebardjo dilantik sebagai Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Presidensial pertama Republik Indonesia. 


Ia kembali menjabat posisi yang sama pada 1951–1952, serta dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Swiss pada 1957–1961.


Dari Lueng Putu di Pidie hingga meja perumusan Proklamasi di Jakarta, jejak Teuku Abdul Manaf—yang dikenal sebagai Achmad Soebardjo—menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia dirajut oleh beragam identitas daerah. 


Ia bukan sekadar diplomat atau menteri, melainkan salah satu arsitek sunyi yang memastikan kata “merdeka” lahir dalam kalimat yang tepat dan momentum yang terukur.adifa. FT bg Ahmad subarjo


Sumber : Adi FA

RAJA SABI SANG PUTRA RAJAWALI DIHABISI SECARA BRUTAL OLEH PENGKHIANAT BANGSA DALAM SEBUAH REVOLUSI SOSIAL Sejarah Aceh tidak hanya dipenuhi kisah perlawanan terhadap kolonialisme asing, tetapi juga menyimpan lembaran kelam ketika anak bangsa berhadapan dengan bangsanya sendiri. Salah satu peristiwa yang paling memilukan adalah gugurnya Teuku Raja Sabi, putra dari pahlawan nasional Cut Nyak Meutia dan Teuku Chik Muhammad diTunong—dua tokoh besar dalam perjuangan Aceh melawan Belanda. Teuku Raja Sabi, yang dikenal pula sebagai “Putra Sang Rajawali,” menjadi korban dalam pergolakan yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Sosial di Aceh. Tragedi ini bukanlah perang melawan penjajah, melainkan gejolak internal yang menargetkan sejumlah tokoh bangsawan dan pejabat lokal pada masa awal kemerdekaan. Kesaksian memilukan datang dari Ismail Yakub dalam bukunya tentang Cut Meutia dan putranya. Ia menuturkan bahwa sekitar pukul 10 pagi, tersiar kabar bahwa T.P.R. (Tentara Perjuangan Rakyat)piminan Husen Mujahed telah memasuki Kota Lhoksukon dan melakukan penangkapan. Para tahanan dikumpulkan di stasiun Lhoksukon.Ketika ia tiba di lokasi, pemandangan yang tersaji begitu mengguncang batin. Di antara mereka yang ditangkap terlihat Teuku Raja Sabi, Teuku Cut Hasan, Teungku Haji Angkasah, dan sejumlah tokoh lainnya. Perjumpaan dengan Teuku Raja Sabi—yang sudah lama tak ditemuinya sejak masa pendudukan Jepang—menghadirkan keharuan mendalam. Tak sepatah kata pun terucap; hanya air mata yang mengalir menyaksikan seorang putra pejuang besar berdiri sebagai tahanan di tanah kelahirannya sendiri. Para tahanan kemudian dibawa ke Lhokseumawe. Penangkapan terus berlanjut. Di sana turut ditahan Teuku Chik Muhammad Basyah, yang saat itu menjabat sebagai Wedana Lhokseumawe dalam struktur Negara Republik Indonesia. Beberapa bulan setelah peristiwa itu, kabar duka pun merebak: mereka yang ditangkap telah dibunuh. Tragedi tersebut kemudian dikenang sebagai bagian dari Revolusi Sosial—sebuah episode kelam yang mengubah wajah masyarakat Aceh dan merenggut nyawa sejumlah tokoh terkemuka, termasuk Teuku Raja Sabi dan Teuku Chik Muhammad Basyah. Ungkapan duka yang terekam dalam bahasa Aceh menggambarkan betapa cepat dan kejamnya peristiwa itu terjadi: “Gadeoh lam siklèp-siklap, lagee manok jisama le kleng.” Hilang dalam sekejap mata, bagai ayam disambar elang. Tragedi itu juga merenggut banyak anggota keluarga. Cut Bho’ kehilangan suaminya, Teuku Aji, serta dua orang putranya, T. Umar dan T. Sulaiman. Yang tersisa hanyalah Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Nur. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa revolusi tidak selalu berjalan dalam garis hitam-putih antara penjajah dan pejuang. Dalam kekacauan sosial dan politik, batas antara kawan dan lawan bisa menjadi kabur. Gugurnya Teuku Raja Sabi—putra dari dua simbol perlawanan Aceh—menjadi ironi sejarah yang menyayat hati: seorang anak pejuang kemerdekaan yang akhirnya meregang nyawa di tangan bangsanya sendiri. Sejarah mencatatnya bukan sekadar sebagai korban pergolakan, tetapi sebagai bagian dari harga mahal yang dibayar Aceh dalam perjalanan menuju tatanan sosial dan politik yang baru.(Adifa.ft Teuku raja Sabi)

 RAJA SABI SANG PUTRA RAJAWALI  DIHABISI  SECARA BRUTAL OLEH PENGKHIANAT BANGSA DALAM SEBUAH REVOLUSI SOSIAL


Sejarah Aceh tidak hanya dipenuhi kisah perlawanan terhadap kolonialisme asing, tetapi juga menyimpan lembaran kelam ketika anak bangsa berhadapan dengan bangsanya sendiri. 



Salah satu peristiwa yang paling memilukan adalah gugurnya Teuku Raja Sabi, putra dari pahlawan nasional Cut Nyak Meutia dan Teuku Chik Muhammad diTunong—dua tokoh besar dalam perjuangan Aceh melawan Belanda.


Teuku Raja Sabi, yang dikenal pula sebagai “Putra Sang Rajawali,” menjadi korban dalam pergolakan yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Sosial di Aceh. Tragedi ini bukanlah perang melawan penjajah, melainkan gejolak internal yang menargetkan sejumlah tokoh bangsawan dan pejabat lokal pada masa awal kemerdekaan.


Kesaksian memilukan datang dari Ismail Yakub dalam bukunya tentang Cut Meutia dan putranya. Ia menuturkan bahwa sekitar pukul 10 pagi, tersiar kabar bahwa T.P.R. (Tentara Perjuangan Rakyat)piminan Husen Mujahed telah memasuki Kota Lhoksukon dan melakukan penangkapan. 


Para tahanan dikumpulkan di stasiun Lhoksukon.Ketika ia tiba di lokasi, pemandangan yang tersaji begitu mengguncang batin. Di antara mereka yang ditangkap terlihat Teuku Raja Sabi, Teuku Cut Hasan, Teungku Haji Angkasah, dan sejumlah tokoh lainnya. 


Perjumpaan dengan Teuku Raja Sabi—yang sudah lama tak ditemuinya sejak masa pendudukan Jepang—menghadirkan keharuan mendalam. Tak sepatah kata pun terucap; hanya air mata yang mengalir menyaksikan seorang putra pejuang besar berdiri sebagai tahanan di tanah kelahirannya sendiri.


Para tahanan kemudian dibawa ke Lhokseumawe. Penangkapan terus berlanjut. Di sana turut ditahan Teuku Chik Muhammad Basyah, yang saat itu menjabat sebagai Wedana Lhokseumawe dalam struktur Negara Republik Indonesia. 


Beberapa bulan setelah peristiwa itu, kabar duka pun merebak: mereka yang ditangkap telah dibunuh.

Tragedi tersebut kemudian dikenang sebagai bagian dari Revolusi Sosial—sebuah episode kelam yang mengubah wajah masyarakat Aceh dan merenggut nyawa sejumlah tokoh terkemuka, termasuk Teuku Raja Sabi dan Teuku Chik Muhammad Basyah.


Ungkapan duka yang terekam dalam bahasa Aceh menggambarkan betapa cepat dan kejamnya peristiwa itu terjadi:

“Gadeoh lam siklèp-siklap, lagee manok jisama le kleng.”

Hilang dalam sekejap mata, bagai ayam disambar elang.


Tragedi itu juga merenggut banyak anggota keluarga. Cut Bho’ kehilangan suaminya, Teuku Aji, serta dua orang putranya, T. Umar dan T. Sulaiman. Yang tersisa hanyalah Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Nur.


Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa revolusi tidak selalu berjalan dalam garis hitam-putih antara penjajah dan pejuang. Dalam kekacauan sosial dan politik, batas antara kawan dan lawan bisa menjadi kabur. 


Gugurnya Teuku Raja Sabi—putra dari dua simbol perlawanan Aceh—menjadi ironi sejarah yang menyayat hati: seorang anak pejuang kemerdekaan yang akhirnya meregang nyawa di tangan bangsanya sendiri.


Sejarah mencatatnya bukan sekadar sebagai korban pergolakan, tetapi sebagai bagian dari harga mahal yang dibayar Aceh dalam perjalanan menuju tatanan sosial dan politik yang baru.(Adifa.ft Teuku raja Sabi)


Sumber : Adi FA

 TRAGEDI KEUMANGAN DALAM REVOLUSI SOSIAL 1946 DIHABISI SAMPAI LAKI LAKI TERAKAHIR


Peristiwa Cumbok pada Januari 1946 menjadi salah satu bab paling kelam dalam sejarah sosial-politik Aceh. Konflik antara golongan uleebalang dan kelompok yang berafiliasi dengan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) berubah menjadi kekerasan terbuka setelah jatuhnya Beureunuen pada 11 Januari 1946. 



Dalam pusaran peristiwa itulah keluarga Uleebalang Keumangan mengalami kehancuran yang hampir total.


Setelah Beureunuen dikuasai pasukan pro-PUSA, dua putra Teuku Keumangan Umar—Teuku Raja Abdullah dan Teuku Keumangan Muhammad—ditangkap dan dibawa ke Meureudu. 


Keduanya kemudian dibunuh. Peristiwa ini menandai awal dari berakhirnya garis laki-laki Uleebalang Keumangan.


Sekitar sebulan kemudian, keluarga besar uleebalang Keumangan yang masih berada di Beureunuen turut menjadi sasaran. 


Mereka terdiri dari Teuku Keumangan Pocut Umar (75 tahun), Teuku Abdul Rahman, Teuku Hasan (12 tahun), Teuku Meurah Amin (7 tahun), Teuku Abdul Latif (cucu), Teuku M. Tahir (5 tahun), Pocut Nuraimah (15 tahun), serta dua istri keluarga, Cupo Bahren dan Cupo Aman.


Pasukan pro-PUSA di bawah pimpinan Husin Sab dari Gigieng yang dikenal keras dalam operasi-operasinya—menangkap mereka dan membawa rombongan itu ke Gigieng. 


Para pria dewasa dan anak laki-laki—Teuku Abdul Rahman, Teuku Abdul Latif, Teuku Hasan, dan Teuku Meurah Amin—dibunuh di Paya Ie Luhop, Gigieng.


Adapun Teuku Keumangan Pocut Umar yang telah lanjut usia dikisahkan dibunuh secara terpisah. Berdasarkan kesaksian lisan, ia dieksekusi dengan cara yang sangat kejam. 


Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana revolusi sosial tidak lagi membedakan usia maupun kedudukan; dendam politik dan sosial menelan siapa saja yang dianggap bagian dari struktur lama.


Sementara itu, para tawanan perempuan dan anak kecil—Pocut Nuraimah, Cupo Bahren, Cupo Aman, dan Teuku M. Tahir—akhirnya dijemput oleh keluarga dari Samalanga, yakni Teuku Haji Husin dan Teuku Haji Zainal Abidin, lalu dikembalikan kepada Pocut Haji Asma di Samalanga. 


Mereka menjadi saksi hidup atas runtuhnya keluarga besar Keumangan.

Sosok sentral dalam tragedi ini adalah Teuku Muhammad Keumangan. Pada tahun 1938, ia menggantikan ayahnya, Teuku Umar Keumangan, sebagai Uleebalang Keumangan terakhir. 


Dalam kehidupan pribadinya, ia memiliki dua istri: Cut Asiah, putri Tgk Imeum di Usi, dan Pocut Keumala dari Lama Inong, Meulaboh. 


Dari Cut Asiah ia memperoleh tiga anak laki-laki, sementara dari Pocut Keumala ia memiliki seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.


Namun jabatan dan garis keturunannya berakhir tragis. Pada Januari 1946, setelah jatuhnya Beureunuen, Teuku Muhammad Keumangan bersama abangnya, Teuku Raja Abdullah, ditangkap dan dibunuh di Meureudu. 


Dengan kematian mereka, berakhirlah kepemimpinan laki-laki Uleebalang Keumangan dalam sejarah Aceh.


Dalam perkembangan berikutnya, Cut Asiah—istri Teuku Muhammad Keumangan—kemudian menikah dengan Daud Beureueh, seorang tokoh Pusa dan pemimpin penting Aceh pada masa revolusi dan sesudahnya. 


Tragedi Keumangan menjadi cermin betapa Revolusi Sosial 1946 bukan sekadar pergantian struktur kekuasaan, melainkan juga pergolakan yang merombak tatanan lama secara drastis. 


Ia menyisakan luka mendalam dalam memori kolektif masyarakat Aceh—tentang kekuasaan yang runtuh, keluarga yang tercerai-berai, dan sebuah zaman yang berubah dengan harga yang amat mahal.adifa(FT Rumah kediaman Ub Keumangan dan Teuku Muhammad Keumangan)


Sumber : Adi FA

Pencipta Lagu Darah Juang Meninggal Dunia PENCIPTA lagu Darah Juang, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing meninggal dunia. Kabar duka itu dibenarkan oleh aktivis Jogja Police Watch, Baharuddin Kamba yang berada di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (25/2) malam. "Telah meninggal dunia Rabu (25/02/2026) malam sekitar pukul 20.45 WIB di RSA UGM Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta," terang dia. Menurut Kamba, meninggalnya John Tobing merupakan kabar duka bagi para aktivis. Lagu Darah Juang merupakan 'lagu wajib' yang menemani kalangan aktivis saat memperjuangkan reformasi tahun 1998 lalu. (M-1) Naskah: MI/Ardi Teristi Hardi Editor Foto: MI/Nike Amelia Sari #JohnTobing #RestInPeace #DarahJuang #PenciptaLaguDarahJuang #RIPJohnTobing

 Pencipta Lagu Darah Juang Meninggal Dunia


PENCIPTA lagu Darah Juang, Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing meninggal dunia. Kabar duka itu dibenarkan oleh aktivis Jogja Police Watch, Baharuddin Kamba yang berada di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Rabu (25/2) malam.



"Telah meninggal dunia Rabu (25/02/2026) malam sekitar pukul 20.45 WIB di RSA UGM Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta," terang dia. 


Menurut Kamba, meninggalnya John Tobing merupakan kabar duka bagi para aktivis. Lagu Darah Juang merupakan 'lagu wajib' yang menemani kalangan aktivis saat memperjuangkan reformasi tahun 1998 lalu. (M-1)


Naskah: MI/Ardi Teristi Hardi

Editor Foto: MI/Nike Amelia Sari 

Sumber : Media Indonesia

#JohnTobing 

#RestInPeace 

#DarahJuang 

#PenciptaLaguDarahJuang

#RIPJohnTobing

Gugur Tepat di Hari Ulang Tahun: Mengenang Arif Rahman Hakim, Mahasiswa FKUI yang Menjadi Martir Perubahan 1966 Sejarah Indonesia mencatat sebuah nama yang tak akan pernah lekang oleh waktu setiap kali kita bicara soal gerakan mahasiswa: Arif Rahman Hakim. Pemuda asal Padang ini bukan sekadar aktivis, ia adalah simbol keberanian yang darahnya tercecer di aspal Jakarta demi menyuarakan penderitaan rakyat. Tragisnya, maut menjemput Arif tepat di saat ia seharusnya merayakan hari kelahirannya yang ke-23. Kematiannya bukan akhir, melainkan api yang membakar semangat seluruh mahasiswa Indonesia untuk menumbangkan ketidakadilan. Putra Padang di Koridor Salemba Lahir di Padang pada 24 Februari 1943, Arif Rahman Hakim tumbuh sebagai pemuda cerdas yang berhasil menembus ketatnya persaingan masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Di kampus perjuangan itulah, nuraninya terusik melihat kondisi bangsa yang carut-marut pasca-peristiwa G30S. Krisis ekonomi yang mencekik dan ketidakpastian politik membuat Arif tak bisa diam di dalam ruang kuliah. Ia memilih turun ke jalan, bergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), menjadi garda terdepan penuntut Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). 24 Februari 1966: Kado Kematian di Depan Istana Pagi itu, Jakarta membara. Ribuan mahasiswa mengepung Istana Negara. Suasananya mencekam. Mereka menuntut pembubaran PKI, perombakan kabinet, dan penurunan harga pangan yang meroket. Di tengah riuhnya massa, bentrokan pecah antara mahasiswa dengan pasukan pengawal presiden, Resimen Tjakrabirawa. Rentetan tembakan terdengar, dan dalam sekejap, tubuh Arif terjatuh bersimbah darah. Peluru tajam menembus tubuh pemuda yang sedang berulang tahun tersebut. Jaket kuning almamater UI yang dikenakannya berubah warna menjadi merah pekat karena darah. Jaket berdarah itulah yang kemudian diarak dan menjadi simbol kemartiran mahasiswa Indonesia. Kematian Arif menjadi titik didih kemarahan rakyat yang tak terbendung lagi. Warisan Nama yang Abadi Gugurnya Arif Rahman Hakim mempercepat transisi kekuasaan di Indonesia. Peristiwa ini memicu lahirnya Supersemar yang menjadi tonggak awal Orde Baru. Meski raganya telah tiada, namanya diabadikan di berbagai penjuru negeri sebagai penghormatan tertinggi: Masjid Arif Rahman Hakim: Berdiri megah di kampus UI Salemba, tempat ia menimba ilmu. Nama Jalan: Mengabadikan jejaknya di jalan-jalan protokol Jakarta, Depok, hingga Surabaya. Arif Rahman Hakim Convention Hall: Sebuah gedung pertemuan megah di Surabaya yang mengambil namanya sebagai simbol persatuan. Setiap tanggal 24 Februari, kita tidak hanya mengenang lahirnya seorang pejuang, tetapi juga pengingat bahwa perubahan besar di negeri ini seringkali ditebus dengan harga yang sangat mahal: nyawa pemuda. "Arif Rahman Hakim adalah pengingat bahwa suara mahasiswa adalah hati nurani bangsa yang tak bisa dibungkam oleh peluru sekalipun." Kisah Arif Rahman Hakim selalu membuat kita merinding ya? Sebuah pengorbanan luar biasa dari seorang calon dokter demi bangsa. Mari kita bagikan kisah ini untuk mengenang perjuangannya! 🕯️🇮🇩 #ArifRahmanHakim #Aktivis66 #FKUI #Tragedi1966 #Tritura #PahlawanMahasiswa #SejarahIndonesia #UrangAwak #UniversitasIndonesia

 Gugur Tepat di Hari Ulang Tahun: Mengenang Arif Rahman Hakim, Mahasiswa FKUI yang Menjadi Martir Perubahan 1966



Sejarah Indonesia mencatat sebuah nama yang tak akan pernah lekang oleh waktu setiap kali kita bicara soal gerakan mahasiswa: Arif Rahman Hakim. Pemuda asal Padang ini bukan sekadar aktivis, ia adalah simbol keberanian yang darahnya tercecer di aspal Jakarta demi menyuarakan penderitaan rakyat.


Tragisnya, maut menjemput Arif tepat di saat ia seharusnya merayakan hari kelahirannya yang ke-23. Kematiannya bukan akhir, melainkan api yang membakar semangat seluruh mahasiswa Indonesia untuk menumbangkan ketidakadilan.


Putra Padang di Koridor Salemba

Lahir di Padang pada 24 Februari 1943, Arif Rahman Hakim tumbuh sebagai pemuda cerdas yang berhasil menembus ketatnya persaingan masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Di kampus perjuangan itulah, nuraninya terusik melihat kondisi bangsa yang carut-marut pasca-peristiwa G30S.


Krisis ekonomi yang mencekik dan ketidakpastian politik membuat Arif tak bisa diam di dalam ruang kuliah. Ia memilih turun ke jalan, bergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), menjadi garda terdepan penuntut Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).


24 Februari 1966: Kado Kematian di Depan Istana

Pagi itu, Jakarta membara. Ribuan mahasiswa mengepung Istana Negara. Suasananya mencekam. Mereka menuntut pembubaran PKI, perombakan kabinet, dan penurunan harga pangan yang meroket.


Di tengah riuhnya massa, bentrokan pecah antara mahasiswa dengan pasukan pengawal presiden, Resimen Tjakrabirawa. Rentetan tembakan terdengar, dan dalam sekejap, tubuh Arif terjatuh bersimbah darah. Peluru tajam menembus tubuh pemuda yang sedang berulang tahun tersebut.


Jaket kuning almamater UI yang dikenakannya berubah warna menjadi merah pekat karena darah. Jaket berdarah itulah yang kemudian diarak dan menjadi simbol kemartiran mahasiswa Indonesia. Kematian Arif menjadi titik didih kemarahan rakyat yang tak terbendung lagi.


Warisan Nama yang Abadi

Gugurnya Arif Rahman Hakim mempercepat transisi kekuasaan di Indonesia. Peristiwa ini memicu lahirnya Supersemar yang menjadi tonggak awal Orde Baru. Meski raganya telah tiada, namanya diabadikan di berbagai penjuru negeri sebagai penghormatan tertinggi:


Masjid Arif Rahman Hakim: Berdiri megah di kampus UI Salemba, tempat ia menimba ilmu.


Nama Jalan: Mengabadikan jejaknya di jalan-jalan protokol Jakarta, Depok, hingga Surabaya.


Arif Rahman Hakim Convention Hall: Sebuah gedung pertemuan megah di Surabaya yang mengambil namanya sebagai simbol persatuan.


Setiap tanggal 24 Februari, kita tidak hanya mengenang lahirnya seorang pejuang, tetapi juga pengingat bahwa perubahan besar di negeri ini seringkali ditebus dengan harga yang sangat mahal: nyawa pemuda. 


"Arif Rahman Hakim adalah pengingat bahwa suara mahasiswa adalah hati nurani bangsa yang tak bisa dibungkam oleh peluru sekalipun."


Kisah Arif Rahman Hakim selalu membuat kita merinding ya? Sebuah pengorbanan luar biasa dari seorang calon dokter demi bangsa. Mari kita bagikan kisah ini untuk mengenang perjuangannya! 🕯️🇮🇩


#ArifRahmanHakim #Aktivis66 #FKUI #Tragedi1966 #Tritura #PahlawanMahasiswa #SejarahIndonesia #UrangAwak #UniversitasIndonesia


Sumber : Nasrul Koto PSU

Saya menyesal berdebat dengan John Tobing saat dia membeberkan rencana menggelar konser musik karyanya. “Bantu aku, coy. Cuma kau yang bisa,” kata dia lewat pesan WhatsApp, awal November tahun lalu. Saya mendebatnya dan bertanya bagaimana konsep konsernya, dan terjadilah ketegangan seperti biasa. Dari dulu saya selalu mencoba mendetilkan apa yang ingin dilakukan John. Saya bertanya, bahkan dengan cara yang Socratic, karena kami pernah berkuliah di Filsafat UGM, dan mengejar dengan pertanyaan “apa” dan “bagaimana”. John lebih tua enam tahun dari saya, namun tercatat sebagai mahasiswa UGM pada 1986, dan saya datang empat tahun kemudian. Dia adalah kakak angkatan yang beda empat tingkat. Gaya komunikasi kami dari dulu memang menyala, mungkin karena anak Batak ketemu anak Aceh, kami biasa bercakap dengan suara yang terdengar galak. Sebetulnya, tak ada kemarahan di sana. Kami biasa bertutur cara Sumatera dengan semua serba terang dan tanpa pura-pura. Hal terpenting: kami berkawan layaknya dua bersaudara. “Sudahlah, pokoknya kau bantu aku. Ke siapa lagi aku minta bantuan, coy,” kata John lagi. Dialog itu akhirnya berujung landai. Saya akan membantunya tentu saja. “Makin tua makin paten kau kutengok, John”, saya menjawab setengah mengejeknya sambil memberi emoticon tanda tertawa. Sebetulnya John, bagi saya, tak pernah tua. Dia selamanya seorang aktivis senior berdarah muda yang saya kenal saat pertama berkuliah di Yogyakarta. Pada masa awal 1990an, seorang mahasiswa aktivis dengan gitar diselempangkan di punggungnya (saya membayangkannya seperti seorang pendekar bergitar) berdiri di siang terik di bulevar kampus. Dia memegang megafon dan berteriak lantang menentang kebijakan rezim orde baru. Rambutnya ikal dan panjang berkibar di tiup angin. Tas pinggangnya besar, berisi peralatan mandi dan juga serba serbi yang diakuinya tidak penting. Tak ada yang berani melakukan aksi protes pada masa itu, kecuali segelintir mahasiswa, yang kelak semuanya menjadi legenda di gerakan mahasiswa Yogya semisal Moh Thoriq, Afnan Malay, Dadang Juliantara, dan Untoro Hariadi. Jarak John dengan angkatan saya memang agak jauh. Dia datang dari Angkatan 86, sebuah angkatan yang bimbang setelah senior mereka dipukul kebijakan NKK/BKK, serta Dewan Mahasiswa tamat riwayatnya akibat depolitisasi kampus pada masa itu. Dari mereka segala cerita gerakan mahasiswa dari zaman ke zaman ditularkan ke generasi berikutnya, terutama bagi angkatan saya, generasi 90an. John memang dikenal sebagai sesepuh oleh angkatan yang lebih muda. Dia salah satu legenda aktivis mahasiswa pada masanya, dan pernah menjadi Sekretaris Jenderal FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogya), malang melintang aksi bersama petani di Jawa Tengah, terutama Kedung Ombo. Dia adalah tempat bertanya apa yang terjadi pada era sebelumya dan juga sumber moralitas gerakan mahasiswa. Misalnya John melarang mereka yang suka mabuk bergabung dalam barisan. “Kalau ingin dicintai rakyat, jangan lakukan hal-hal yang dibenci rakyat,” demikian katanya, dan ini menjadi semacam “doktrin John” dalam melakukan pengorganisiran di tengah komunitas petani. John pada dasarnya adalah aktivis yang romantik. Dia sesungguhnya adalah seniman. Ironisnya dia menghujat kecenderungan aktivis yang sok jadi seniman, yang dianggapnya genit dan kurang disiplin. Dia juga mencibir para mahasiswa yang suka baca buku tapi tak mampu mengubah realitas politik yang tak adil, dan membiarkan rakyat menderita. “Kau anti buku, John. Nanti kau jadi dongok,” kata saya melawan sikapnya itu dulu. “Dongok” adalah bahasa anak Medan untuk dungu. Saya memang tak setuju soal sikapnya terhadap buku, dan saya tahu dia tidak sedang bersungguh-sungguh, hanya sebuah percobaan agitasi agar saya tak cuma membaca buku, tapi berhimpun dan berorganisasi untuk menyebarkan kesadaran kritis. “Kau baca buku apa, ceritakan padaku, hehehe”, ujarnya kemudian. Saya menudingnya sebagai “kader kuping”, istilah untuk mereka yang hanya menguping hasil bacaan dan malas untuk menggalinya sendiri dari buku. John tertawa. Dia mengambil gitar, lalu mengalun lagu-lagu ciptaannya. Saat itu saya terdiam dan duduk menyimak alunan lagu-lagu itu di beranda rumah tempat kami kos bersama di Karangjati, Yogyakarta. Saya menyimak lagu “Darah Juang”, sebuah balada tentang keprihatinan atas penindasan dan ajakan untuk berjuang. Kelak lagu ini adalah warisan terbesar dia bagi gerakan mahasiswa. John menciptakan lagu itu sekitar 1991, di saat gerakan mahasiswa belum ramai dan kelak menjadi sejarah penting berakhirnya kediktatoran orde baru di tahun 1998. Pada masa 1990-an, lagu itu menjalar dengan cepat bak mantra pemanggil keberanian. Kita masih bisa menemukan lagu itu dengan beragam versinya hari ini di Youtube. Dari irama slow rock sampai himne yang syahdu. Sejak FKMY bubar di sekitar 1991-92, John tidak lagi aktif di gerakan mahasiswa. Juga ketika gerakan itu meluas di tahun-tahun berikutnya, John menarik diri. Dia berada di belakang para juniornya dengan memberi dukungan moral dan menyelesaikan studi sarjananya yang bertema ilmu perdamaian atau polemologi. Saya mengejeknya lagi karena akhirnya, untuk skripsi itu, dia harus tergopoh-gopoh membaca buku. Setelah reformasi 1998, John menikah dan sempat tinggal di Pekanbaru lalu bergabung dengan PDI Perjuangan di sana. Dia kalah di pemilu lokal, dan kemudian merasa politik yang harus “begana-begini” bukan tempat yang tepat dan tak sejalan dengan moralitas personalnya. Dia lalu memutuskan pindah ke Yogyakarta dan kembali menulis lagu dan sesekali “ngamen” di sejumlah acara komunitas atau lembaga. Lagu-lagunya yang lama terus dinyanyikan oleh generasi demi generasi para aktivis mahasiswa. Beberapa tahun lalu dia bertandang ke rumah saya di Yogya, dan bicaranya agak lambat dan sedikit pelo. “Coy, apakah laguku bisa ditagih royaltinya?”, dia bertanya dengan keluguan yang dalam. Saya menjawab bahwa hal itu agak sulit karena lagu Darah Juang menjadi semacam “folk song” dan sebaiknya diikhlaskan saja menjadi milik sejarah, kecuali ada yang memakainya untuk hal yang komersial. John tersenyum dengan bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak terucapkan. Atas permintaannya yang sulit ditolak, saya menyuguhinya secangkir kopi, dengan takaran ringan alias encer. Dia tak boleh minum kopi kental. Dokter melarangnya setelah dua kali terkena stroke. Itu yang menyebabkan dia bicara sedikit pelo dan lamban. Tapi John hanya mengingat dokter kalau dia lagi tergeletak di rumah sakit. Di luar itu, nasehat dokter bisa dilupakannya, apalagi kalau bertemu kawan-kawan lama. Saya ceritakan kepada John tentang betapa dahsyat lagunya itu memberi semangat aktivis mahasiswa dari zaman ke zaman. John hanya terdiam. Dia meminta diambilkan gitar, dan lalu memetik senarnya dengan penuh perasaan. Intro “Darah Juang” mengalun. Dia hanya terdengar bergumam, merengeng-rengeng, berusaha menyanyikan lagu itu. Saya menyaksikan seorang kawan yang bersemangat tinggi, dan bersetia kawan itu, sedang berjuang agar tetap didengar di tengah arus zaman yang berderap begitu cepat, tatkala media sosial jauh lebih ampuh memberikan pengaruh, ketimbang sebuah podium di tengah bulevar seperti yang dilakukan John pada masa mudanya. Akhir November lalu John terserang stroke lagi. Saat dia belum diputuskan dokter masuk ke ruang ICU di RS Panti Rini Yogya, saya sempat menelepon istrinya, Dona, yang lalu menyerahkan telepon seluler itu kepada John yang terbaring di ranjang. Kesadarannya masih ada meskipun bicaranya sudah sulit. “John cepat sembuh kau lah, kita segera buat konser,” kata saya. “Hehehe coy ya konser, ya-ya hehehe”, suaranya terdengar melemah dan tak jelas. Itu rupanya terakhir sekali saya mendengar suara John. Setelah dirawat hampir beberapa pekan di Panti Rini, John terus kehilangan kesadarannya. Lalu dia sempat dua bulan berpindah rumah sakit ke RSA UGM, sampai kemudian agak membaik dan dipulangkan ke rumah meskipun belum sepenuhnya bisa berbicara. Saya membesuknya dua kali untuk dua rumah sakit itu dan hanya menemukan John yang lelap tertidur dengan selang ventilator menancap di hidungnya. Melihat John terbaring adalah menatap kembali sejarah seorang kawan yang pernah gagah: berdiri tegak di bulevar dengan gitar di punggungnya, bersuara keras dan galak mengeritik penguasa. Sore tadi seorang kawan menyampaikan pesan John kembali dilarikan ke rumah sakit, kesadarannya mendadak menurun. Lima belas menit sebelum pukul sembilan malam tadi, dokter menyatakan John yang gagah itu meninggal. Saya kembali tertegun dan tanpa sadar menyanyikan “Darah Juang” dengan suara berbisik. Saya berharap arwah John belum pergi terlalu jauh, dan mungkin dia masih bisa mendengarkannya. Saya berdoa kepada Tuhan semoga ada konser yang lebih megah bagi John di alam sana.

 Saya menyesal berdebat dengan John Tobing saat dia membeberkan rencana menggelar konser musik karyanya. “Bantu aku, coy. Cuma kau yang bisa,” kata dia lewat pesan WhatsApp, awal November tahun lalu. Saya mendebatnya dan bertanya bagaimana konsep konsernya, dan terjadilah ketegangan seperti biasa. 



Dari dulu saya selalu mencoba mendetilkan apa yang ingin dilakukan John. Saya bertanya, bahkan dengan cara yang Socratic, karena kami pernah berkuliah di Filsafat UGM, dan mengejar dengan pertanyaan “apa” dan “bagaimana”. John lebih tua enam tahun dari saya, namun tercatat sebagai mahasiswa UGM pada 1986, dan saya datang empat tahun kemudian. Dia adalah kakak angkatan yang beda empat tingkat. Gaya komunikasi kami dari dulu memang menyala, mungkin karena anak Batak ketemu anak Aceh, kami biasa bercakap dengan suara yang terdengar galak. Sebetulnya, tak ada kemarahan di sana. Kami biasa bertutur cara Sumatera dengan semua serba terang dan tanpa pura-pura. Hal terpenting: kami berkawan layaknya dua bersaudara. 


“Sudahlah, pokoknya kau bantu aku. Ke siapa lagi aku minta bantuan, coy,” kata John lagi. Dialog itu akhirnya berujung landai. Saya akan membantunya tentu saja. “Makin tua makin paten kau kutengok, John”, saya menjawab setengah mengejeknya sambil memberi emoticon tanda tertawa. 


Sebetulnya John, bagi saya, tak pernah tua. Dia selamanya seorang aktivis senior berdarah muda yang saya kenal saat pertama berkuliah di Yogyakarta. Pada masa awal 1990an, seorang mahasiswa aktivis dengan gitar diselempangkan di punggungnya (saya membayangkannya seperti seorang pendekar bergitar) berdiri di siang terik di bulevar kampus. Dia memegang megafon dan berteriak lantang menentang kebijakan rezim orde baru. Rambutnya ikal dan panjang berkibar di tiup angin. Tas pinggangnya besar, berisi peralatan mandi dan juga serba serbi yang diakuinya tidak penting. Tak ada yang berani melakukan aksi protes pada masa itu, kecuali segelintir mahasiswa, yang kelak semuanya menjadi legenda di gerakan mahasiswa Yogya semisal Moh Thoriq, Afnan Malay, Dadang Juliantara, dan Untoro Hariadi.


Jarak John dengan angkatan saya memang agak jauh. Dia datang dari Angkatan 86, sebuah angkatan yang bimbang setelah senior mereka dipukul kebijakan NKK/BKK, serta Dewan Mahasiswa tamat riwayatnya akibat depolitisasi kampus pada masa itu. Dari mereka segala cerita gerakan mahasiswa dari zaman ke zaman ditularkan ke generasi berikutnya, terutama bagi angkatan saya, generasi 90an.


John memang dikenal sebagai sesepuh oleh angkatan yang lebih muda. Dia salah satu legenda aktivis mahasiswa pada masanya, dan pernah menjadi Sekretaris Jenderal FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogya), malang melintang aksi bersama petani di Jawa Tengah, terutama Kedung Ombo. Dia adalah tempat bertanya apa yang terjadi pada era sebelumya dan juga sumber moralitas gerakan mahasiswa. Misalnya John melarang mereka yang suka mabuk bergabung dalam barisan. “Kalau ingin dicintai rakyat, jangan lakukan hal-hal yang dibenci rakyat,” demikian katanya, dan ini menjadi semacam “doktrin John” dalam melakukan pengorganisiran di tengah komunitas petani. 


John pada dasarnya adalah aktivis yang romantik. Dia sesungguhnya adalah seniman. Ironisnya dia menghujat kecenderungan aktivis yang sok jadi seniman, yang dianggapnya genit dan kurang disiplin. Dia juga mencibir para mahasiswa yang suka baca buku tapi tak mampu mengubah realitas politik yang tak adil, dan membiarkan rakyat menderita. “Kau anti buku, John. Nanti kau jadi dongok,” kata saya melawan sikapnya itu dulu. “Dongok” adalah bahasa anak Medan untuk dungu.


Saya memang tak setuju soal sikapnya terhadap buku, dan saya tahu dia tidak sedang bersungguh-sungguh, hanya sebuah percobaan agitasi agar saya tak cuma membaca buku, tapi berhimpun dan berorganisasi untuk menyebarkan kesadaran kritis. “Kau baca buku apa, ceritakan padaku, hehehe”, ujarnya kemudian. Saya menudingnya sebagai “kader kuping”, istilah untuk mereka yang hanya menguping hasil bacaan dan malas untuk menggalinya sendiri dari buku. 


John tertawa. Dia mengambil gitar, lalu mengalun lagu-lagu ciptaannya. Saat itu saya terdiam dan duduk menyimak alunan lagu-lagu itu di beranda rumah tempat kami kos bersama di Karangjati, Yogyakarta. Saya menyimak lagu “Darah Juang”, sebuah balada tentang keprihatinan atas penindasan dan ajakan untuk berjuang. Kelak lagu ini adalah warisan terbesar dia bagi gerakan mahasiswa. John menciptakan lagu itu sekitar 1991, di saat gerakan mahasiswa belum ramai dan kelak menjadi sejarah penting berakhirnya kediktatoran orde baru di tahun 1998. Pada masa 1990-an, lagu itu menjalar dengan cepat bak mantra pemanggil keberanian. Kita masih bisa menemukan lagu itu dengan beragam versinya hari ini di Youtube. Dari irama slow rock sampai himne yang syahdu. 


Sejak FKMY bubar di sekitar 1991-92, John tidak lagi aktif di gerakan mahasiswa. Juga ketika gerakan itu meluas di tahun-tahun berikutnya, John menarik diri. Dia berada di belakang para juniornya dengan memberi dukungan moral dan menyelesaikan studi sarjananya yang bertema ilmu perdamaian atau polemologi. Saya mengejeknya lagi karena akhirnya, untuk skripsi itu, dia harus tergopoh-gopoh membaca buku. 


Setelah reformasi 1998, John menikah dan sempat tinggal di Pekanbaru lalu bergabung dengan PDI Perjuangan di sana. Dia kalah di pemilu lokal, dan kemudian merasa politik yang harus “begana-begini” bukan tempat yang tepat dan tak sejalan dengan moralitas personalnya. Dia lalu memutuskan pindah ke Yogyakarta dan kembali menulis lagu dan sesekali “ngamen” di sejumlah acara komunitas atau lembaga. Lagu-lagunya yang lama terus dinyanyikan oleh generasi demi generasi para aktivis mahasiswa. 


Beberapa tahun lalu dia bertandang ke rumah saya di Yogya, dan bicaranya agak lambat dan sedikit pelo. “Coy, apakah laguku bisa ditagih royaltinya?”, dia bertanya dengan keluguan yang dalam. Saya menjawab bahwa hal itu agak sulit karena lagu Darah Juang menjadi semacam “folk song” dan sebaiknya diikhlaskan saja menjadi milik sejarah, kecuali ada yang memakainya untuk hal yang komersial. John tersenyum dengan bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak terucapkan. 


Atas permintaannya yang sulit ditolak, saya menyuguhinya secangkir kopi, dengan takaran ringan alias encer. Dia tak boleh minum kopi kental. Dokter melarangnya setelah dua kali terkena stroke. Itu yang menyebabkan dia bicara sedikit pelo dan lamban. Tapi John hanya mengingat dokter kalau dia lagi tergeletak di rumah sakit. Di luar itu, nasehat dokter bisa dilupakannya, apalagi kalau bertemu kawan-kawan lama.


Saya ceritakan kepada John tentang betapa dahsyat lagunya itu memberi semangat aktivis mahasiswa dari zaman ke zaman. John hanya terdiam. Dia meminta diambilkan gitar, dan lalu memetik senarnya dengan penuh perasaan. Intro “Darah Juang” mengalun. Dia hanya terdengar bergumam, merengeng-rengeng, berusaha menyanyikan lagu itu. Saya menyaksikan seorang kawan yang bersemangat tinggi, dan bersetia kawan itu, sedang berjuang agar tetap didengar di tengah arus zaman yang berderap begitu cepat, tatkala media sosial jauh lebih ampuh memberikan pengaruh, ketimbang sebuah podium di tengah bulevar seperti yang dilakukan John pada masa mudanya.


Akhir November lalu John terserang stroke lagi. Saat dia belum diputuskan dokter masuk ke ruang ICU di RS Panti Rini Yogya, saya sempat menelepon istrinya, Dona, yang lalu menyerahkan  telepon seluler itu kepada John yang terbaring di ranjang. Kesadarannya masih ada meskipun bicaranya sudah sulit. “John cepat sembuh kau lah, kita segera buat konser,” kata saya. “Hehehe coy ya konser, ya-ya hehehe”, suaranya terdengar melemah dan tak jelas. Itu rupanya terakhir sekali saya mendengar suara John. 


Setelah dirawat hampir beberapa pekan di Panti Rini, John terus kehilangan kesadarannya. Lalu dia sempat dua bulan berpindah rumah sakit ke RSA UGM, sampai kemudian agak membaik dan dipulangkan ke rumah meskipun belum sepenuhnya bisa berbicara. Saya membesuknya dua kali untuk dua rumah sakit itu dan hanya menemukan John yang lelap tertidur dengan selang ventilator menancap di hidungnya. Melihat John terbaring adalah menatap kembali sejarah seorang kawan yang pernah gagah: berdiri tegak di bulevar dengan gitar di punggungnya, bersuara keras dan galak mengeritik penguasa. 


Sore tadi seorang kawan menyampaikan pesan John kembali dilarikan ke rumah sakit, kesadarannya mendadak menurun. Lima belas menit sebelum pukul sembilan malam tadi, dokter menyatakan John yang gagah itu meninggal. Saya kembali tertegun dan tanpa sadar menyanyikan “Darah Juang” dengan suara berbisik. Saya berharap arwah John belum pergi terlalu jauh, dan mungkin dia masih bisa mendengarkannya. Saya berdoa kepada Tuhan semoga ada konser yang lebih megah bagi John di alam sana.


Sumber : Nezar Patria

25 February 2026

Bukan Jenderal Sembarangan! Inilah Letjen Hasnan Habib, Putra Asli Bukittinggi yang Kecerdasannya Diakui Amerika Hingga Jadi Direktur IMF. Urang Awak yang Mendunia! Jika kita bicara soal tokoh militer yang punya otak encer dan karier internasional yang mentereng, nama Letnan Jenderal TNI (Purn.) Adnil Hasnan Habib wajib berada di daftar teratas. Lahir di jantung kota wisata Bukittinggi pada 3 Desember 1927, Hasnan Habib adalah bukti nyata bahwa pemuda dari kaki Gunung Singgalang mampu menaklukkan panggung diplomasi paling bergengsi di dunia. Ia bukan sekadar jenderal yang jago strategi tempur, tapi juga intelektual yang disegani oleh para pakar ekonomi di Washington D.C. hingga markas besar militer Amerika Serikat. Darah Literasi dan Intelektual dari Ranah Minang Hasnan Habib adalah produk asli dari kultur Minangkabau yang sangat menghargai pendidikan. Ayahnya, Habib Sutan Maharaja, adalah seorang penulis dan pengarang zaman Balai Pustaka. Bakat "kutu buku" ini menurun deras kepada Hasnan. Meski memilih jalur militer, ia tidak pernah berhenti belajar. Hasnan adalah alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan. Tak heran jika di kemudian hari, ia dikenal sebagai "Jenderal Pemikir"—sebuah julukan langka yang menandakan kedalaman ilmu pengetahuannya yang melampaui bidang militer. Menaklukkan Amerika Serikat: Dari Militer ke Diplomasi Prestasi Hasnan Habib di luar negeri benar-benar membuat kita berdecak kagum. Bayangkan, seorang jenderal TNI bisa menduduki posisi-posisi yang biasanya hanya diisi oleh teknokrat atau diplomat karier: Duta Besar RI untuk Amerika Serikat: Di era 1980-an, ia menjadi wajah Indonesia di negara adidaya tersebut. Ia dikenal cerdas bernegosiasi dan sangat dihormati oleh pejabat di Gedung Putih. Direktur Eksekutif IMF: Inilah yang paling mengguncang. Hasnan Habib pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Dana Moneter Internasional (IMF). Sangat jarang ada sosok berlatar belakang militer yang dipercaya mengurusi kebijakan ekonomi global di lembaga sekelas IMF. Dubes Keliling Gerakan Non-Blok: Ia dipercaya membawa misi perdamaian dan kerjasama antarnegara di wilayah Amerika Utara hingga Karibia. [Image Illustration: Sosok Letjen Hasnan Habib yang terlihat karismatik mengenakan seragam kebesaran, bersanding dengan foto saat beliau berada di forum internasional] Karakter "Urang Awak" yang Teguh Di balik semua gemerlap prestasinya, Hasnan Habib tetaplah sosok yang bersahaja dan memiliki integritas baja. Ia adalah tipe pemimpin yang mengandalkan data dan logika. Karakter Urang Awak yang kritis dan ulet sangat kental dalam dirinya. Kisah Letjen Hasnan Habib adalah pengingat bagi kita semua: Jangan pernah takut bermimpi besar. Dari kota kecil di Bukittinggi, seorang Hasnan Habib berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah diplomasi dunia. Masya Allah, bangga sekali kita punya tokoh seperti beliau. Mari kita bagikan kisah inspiratif ini agar semakin banyak anak muda Indonesia yang bersemangat mengejar prestasi hingga ke tingkat internasiona Sumber: Wikipedia #HasnanHabib #Bukittinggi #UrangAwak #MinangPride #TokohInspiratif #TNIAD #DubesAmerika #IMF #SejarahIndonesia #KebanggaanNasional Hidupnya pun tak lepas dari ujian. Hasnan adalah seorang ayah yang tegar; ia harus merelakan salah satu putranya yang gugur saat menjalankan tugas sebagai pilot tempur TNI AU. Ketabahan Hasnan menghadapi musibah tersebut semakin mengukuhkan sosoknya sebagai kesatria sejati, baik di medan perang maupun di kehidupan nyata. Akhir Perjalanan Sang Legenda Letjen Hasnan Habib wafat pada 16 Februari 2006 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Warisannya bukan hanya soal pangkat bintang tiga, tapi inspirasi bagi generasi muda bahwa anak daerah bisa menjadi pemain global asalkan punya kemauan belajar yang tinggi.

 Bukan Jenderal Sembarangan! Inilah Letjen Hasnan Habib, Putra Asli Bukittinggi yang Kecerdasannya Diakui Amerika Hingga Jadi Direktur IMF. Urang Awak yang Mendunia!



Jika kita bicara soal tokoh militer yang punya otak encer dan karier internasional yang mentereng, nama Letnan Jenderal TNI (Purn.) Adnil Hasnan Habib wajib berada di daftar teratas. Lahir di jantung kota wisata Bukittinggi pada 3 Desember 1927, Hasnan Habib adalah bukti nyata bahwa pemuda dari kaki Gunung Singgalang mampu menaklukkan panggung diplomasi paling bergengsi di dunia.


Ia bukan sekadar jenderal yang jago strategi tempur, tapi juga intelektual yang disegani oleh para pakar ekonomi di Washington D.C. hingga markas besar militer Amerika Serikat.


Darah Literasi dan Intelektual dari Ranah Minang

Hasnan Habib adalah produk asli dari kultur Minangkabau yang sangat menghargai pendidikan. Ayahnya, Habib Sutan Maharaja, adalah seorang penulis dan pengarang zaman Balai Pustaka. Bakat "kutu buku" ini menurun deras kepada Hasnan.


Meski memilih jalur militer, ia tidak pernah berhenti belajar. Hasnan adalah alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan. Tak heran jika di kemudian hari, ia dikenal sebagai "Jenderal Pemikir"—sebuah julukan langka yang menandakan kedalaman ilmu pengetahuannya yang melampaui bidang militer.


Menaklukkan Amerika Serikat: Dari Militer ke Diplomasi

Prestasi Hasnan Habib di luar negeri benar-benar membuat kita berdecak kagum. Bayangkan, seorang jenderal TNI bisa menduduki posisi-posisi yang biasanya hanya diisi oleh teknokrat atau diplomat karier:


Duta Besar RI untuk Amerika Serikat: Di era 1980-an, ia menjadi wajah Indonesia di negara adidaya tersebut. Ia dikenal cerdas bernegosiasi dan sangat dihormati oleh pejabat di Gedung Putih.


Direktur Eksekutif IMF: Inilah yang paling mengguncang. Hasnan Habib pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif di Dana Moneter Internasional (IMF). Sangat jarang ada sosok berlatar belakang militer yang dipercaya mengurusi kebijakan ekonomi global di lembaga sekelas IMF.


Dubes Keliling Gerakan Non-Blok: Ia dipercaya membawa misi perdamaian dan kerjasama antarnegara di wilayah Amerika Utara hingga Karibia.


[Image Illustration: Sosok Letjen Hasnan Habib yang terlihat karismatik mengenakan seragam kebesaran, bersanding dengan foto saat beliau berada di forum internasional]


Karakter "Urang Awak" yang Teguh

Di balik semua gemerlap prestasinya, Hasnan Habib tetaplah sosok yang bersahaja dan memiliki integritas baja. Ia adalah tipe pemimpin yang mengandalkan data dan logika. Karakter Urang Awak yang kritis dan ulet sangat kental dalam dirinya.


 Kisah Letjen Hasnan Habib adalah pengingat bagi kita semua: Jangan pernah takut bermimpi besar. Dari kota kecil di Bukittinggi, seorang Hasnan Habib berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah diplomasi dunia.


Masya Allah, bangga sekali kita punya tokoh seperti beliau. Mari kita bagikan kisah inspiratif ini agar semakin banyak anak muda Indonesia yang bersemangat mengejar prestasi hingga ke tingkat internasiona


Sumber: Wikipedia


#HasnanHabib #Bukittinggi #UrangAwak #MinangPride #TokohInspiratif #TNIAD #DubesAmerika #IMF #SejarahIndonesia #KebanggaanNasional


Hidupnya pun tak lepas dari ujian. Hasnan adalah seorang ayah yang tegar; ia harus merelakan salah satu putranya yang gugur saat menjalankan tugas sebagai pilot tempur TNI AU. Ketabahan Hasnan menghadapi musibah tersebut semakin mengukuhkan sosoknya sebagai kesatria sejati, baik di medan perang maupun di kehidupan nyata.


Akhir Perjalanan Sang Legenda

Letjen Hasnan Habib wafat pada 16 Februari 2006 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Warisannya bukan hanya soal pangkat bintang tiga, tapi inspirasi bagi generasi muda bahwa anak daerah bisa menjadi pemain global asalkan punya kemauan belajar yang tinggi.

Tukang service sepeda di bawah pohon tahun 1947. Fotografer: Cas Oorthuys Sumber : Netherlands fotomuseum Posted : #TEMPODOELOE

 Tukang service sepeda di bawah pohon tahun 1947.



Fotografer: Cas Oorthuys

Sumber : Netherlands fotomuseum

Posted : #TEMPODOELOE

* Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) di Eksekusi. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah pendiri Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, yang dihukum mati pada 12 September 1962. Nama Kartosoewirjo tak bisa dipisahkan dari pemberontakan di awal kemerdekaan itu, yang pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Setidaknya bagi kelompok-kelompok yang memimpikan negara Islam di Indonesia. Kartosoewirjo sebenarnya sahabat seperjuangan dengan Presiden Soekarno, keduanya sama-sama pernah berguru kepada HOS Cokroaminoto. Namun, pemberontakan yang dilakukannya memaksa Bung Karno menetapkan hukuman mati atas sahabatnya itu, setelah vonis mati dijatuhkan pada 16 Agustus 1962 oleh Pengadilan Mahkamah Militer, dan Soekarno menolak memberikan grasi. "Menandatangani hukuman mati, misalnya, bukanlah satu pekerjaan yang memberi kesenangan kepadaku. Sungguhpun demikian, seorang pemimpin harus bertindak tanpa memikirkan betapapun pahit kenyataan yang dihadapi," kata Soekarno, dalam buku 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' karya Cindy Adams. Kartosoewirjo pun menerima hukuman mati di Pulau Ubi, kawasan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Dalam serangkaian foto ekslusif berwarna hitam putih itu, tergambarkan kondisi jelang kematian sang imam. Kartosoewirjo tampak didatangi oleh isteri dan anak-anaknya. Dalam pertemuan terakhir itu, seluruh keluarga berkumpul sambil menyantap nasi dan rendang. Namun Kartosoewirjo tampak tidak makan. Sementara sang isteri, Dewi Siti Kalsum, kepedesan karena tak bisa makan rendang Setelah selesai bercengkerama dan bersenda gurau, dengan menggunakan kapal LCM (Landing Craft Mechanized), sang pemimpin DI/TII ini dibawa ke Pulau Ubi bersama para regu tembak, dokter dan imam tentara. Dalam foto tersebut, Kartosoewirjo juga berkesempatan memberikan pesan-pesan terakhir untuk anak-anaknya yang beranjak dewasa, yaitu Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Muhammad Darda, Kartika, Komalasari dan Danti. Menggunakan baju dan celana putih serta peci hitam, dia digiring ke sebuah papan dan kemudian tangannya diikat ke belakang. Setelah melewati upacara dan laporan kepada komandan, para regu tembak pun menjalankan tugasnya. Dan terakhir, komandan regu memberikan tembakan penghabisan di tubuh Kartosoewirjo. Tubuhnya pun terkulai. Setelah disolatkan, kemudian dikuburkan di sana. Tak ada keluarga dan kerabat yang hadir memberikan penghormatan terakhir. (Sumber : Kompas TV) Salam Hormat ! #kartosoewiryo #negaraislamindonesia #pejuangkemerdekaan

 * Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) di Eksekusi. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo adalah pendiri Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, yang dihukum mati pada 12 September 1962.


Nama Kartosoewirjo tak bisa dipisahkan dari pemberontakan di awal kemerdekaan itu, yang pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Setidaknya bagi kelompok-kelompok yang memimpikan negara Islam di Indonesia.



Kartosoewirjo sebenarnya sahabat seperjuangan dengan Presiden Soekarno, keduanya sama-sama pernah berguru kepada HOS Cokroaminoto.


Namun, pemberontakan yang dilakukannya memaksa Bung Karno menetapkan hukuman mati atas sahabatnya itu, setelah vonis mati dijatuhkan pada 16 Agustus 1962 oleh Pengadilan Mahkamah Militer, dan Soekarno menolak memberikan grasi.


"Menandatangani hukuman mati, misalnya, bukanlah satu pekerjaan yang memberi kesenangan kepadaku. Sungguhpun demikian, seorang pemimpin harus bertindak tanpa memikirkan betapapun pahit kenyataan yang dihadapi," kata Soekarno, dalam buku 'Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia' karya Cindy Adams.


Kartosoewirjo pun menerima hukuman mati di Pulau Ubi, kawasan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Dalam serangkaian foto ekslusif berwarna hitam putih itu, tergambarkan kondisi jelang kematian sang imam. Kartosoewirjo tampak didatangi oleh isteri dan anak-anaknya. Dalam pertemuan terakhir itu, seluruh keluarga berkumpul sambil menyantap nasi dan rendang. Namun Kartosoewirjo tampak tidak makan.


Sementara sang isteri, Dewi Siti Kalsum, kepedesan karena tak bisa makan rendang

Setelah selesai bercengkerama dan bersenda gurau, dengan menggunakan kapal LCM (Landing Craft Mechanized), sang pemimpin DI/TII ini dibawa ke Pulau Ubi bersama para regu tembak, dokter dan imam tentara.


Dalam foto tersebut, Kartosoewirjo juga berkesempatan memberikan pesan-pesan terakhir untuk anak-anaknya yang beranjak dewasa, yaitu Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Muhammad Darda, Kartika, Komalasari dan Danti.


Menggunakan baju dan celana putih serta peci hitam, dia digiring ke sebuah papan dan kemudian tangannya diikat ke belakang.


Setelah melewati upacara dan laporan kepada komandan, para regu tembak pun menjalankan tugasnya. Dan terakhir, komandan regu memberikan tembakan penghabisan di tubuh Kartosoewirjo.


Tubuhnya pun terkulai. Setelah disolatkan, kemudian dikuburkan di sana. Tak ada keluarga dan kerabat yang hadir memberikan penghormatan terakhir. (Sumber : Kompas TV)


Salam Hormat !

Sumber : Abdul Basaro Masari

#kartosoewiryo

#negaraislamindonesia

#pejuangkemerdekaan

24 February 2026

 Sersan Dua (Serda) Giyadi Wignyosuharyo adalah salah satu anggota Pasukan Cakrabirawa yang terlibat langsung sebagai eksekutor dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965. Ia diketahui sebagai prajurit yang menembak Letnan Jenderal Ahmad Yani di rumahnya di Jalan Latuharhari, Jakarta, pada malam penculikan tersebut. 



Sersan Dua Giyadi Wignyosuharyo merupakan anggota pasukan pengawal presiden Tjakrabirawa.


Peran dalam G30S/PKI bersama dengan anggota lain seperti Sersan Mayor Bungkus dan Prajurit 1 Atanasius Buang, Giyadi bertugas dalam penculikan dan penembakan Jenderal Ahmad Yani.


Eksekusi Mati Setelah persidangan oleh Mahkamah Militer Luar Biasa, Giyadi Wignyosuharyo divonis hukuman mati. Ia dieksekusi pada 16 Oktober 1988, jauh setelah peristiwa, bersama dengan Sukarjo.


Ia adalah salah satu figur kunci di lapangan yang mengeksekusi perintah dalam operasi tersebut. 


Sumber : Ade Tia Nugraha

#sejarah #g30ski


19 February 2026

Sunyi Sang Proklamator: Jadi Tahanan Rumah hingga Pemakamannya pun “Diasingkan” DALAM buku Total Bung Karno karya Roso Daras, terungkap ironi getir: bukan hanya sakit yang melemahkan Bung Karno, tetapi juga perlakuan negara yang mempercepat akhir hidupnya. Awal 1969 ia diisolasi dari tamu dan keluarga, diperiksa dan diinterogasi, sementara makanan hanya bisa dititipkan lewat penjaga seperti kepada pesakitan. Bagi pemimpin yang hidup dari keramaian dan dialog, pengasingan itu menjadi hukuman batin yang mencekik. Roso mencatat, bahkan pada masa pembuangan oleh Belanda, tahanan politik masih bisa bergaul, tetapi di tanah merdeka Bung Karno justru dipisahkan dari dunia yang ia dirikan. Saat napas terakhirnya lepas, duka terasa melampaui sebuah keluarga dan menjalar ke sejarah. Di sela bacaan Yasin, terdengar ratap kakak kandung Bung Karno, Soekarmini memanggil, “Karno, kowe kok sengsoro men,” merangkum nestapa seorang proklamator yang wafat dalam kesunyian. Pemerintahan Soeharto menetapkan jenazah disemayamkan di Wisma Yaso, keputusan yang melukai hati Fatmawati. Ia ingin rumah di Jalan Sriwijaya menjadi tempat perpisahan terakhir, tetapi kehendak seorang istri kandas di hadapan kuasa negara. Cintanya tetap utuh di tengah luka, tergurat dalam karangan bunga bertulis tangan, “Tjintamu menjiwai rakyat. Tjinta Fat.” Kalimat singkat itu menjadi salam terakhir yang tak sempat terucap. Menjelang pemakaman, perundingan berlangsung antara Hoegeng sebagai wakil keluarga dan Alamsyah Prawiranegara serta Tjokropranolo dari lingkar kekuasaan. Keinginan Bung Karno dimakamkan dekat Istana Bogor atau di Kalibata gugur, karena keputusan akhir menempatkannya di Blitar dengan alasan kedekatan pada makam ibunda. Siang itu, pesawat Hercules membawa jenazah dari Halim ke Jawa Timur, lalu iring-iringan darat menembus lautan manusia hingga ke liang lahat. Pemakaman di Blitar dibaca banyak kalangan sebagai langkah menjauhkan simbol kekuasaan dari Jakarta dan meredam kemungkinan gelombang massa, membuat bahkan peristirahatan terakhirnya terasa seperti pengasingan lanjutan. (NF)

 Sunyi Sang Proklamator: Jadi Tahanan Rumah hingga Pemakamannya pun “Diasingkan”



DALAM buku Total Bung Karno karya Roso Daras, terungkap ironi getir: bukan hanya sakit yang melemahkan Bung Karno, tetapi juga perlakuan negara yang mempercepat akhir hidupnya. Awal 1969 ia diisolasi dari tamu dan keluarga, diperiksa dan diinterogasi, sementara makanan hanya bisa dititipkan lewat penjaga seperti kepada pesakitan.


Bagi pemimpin yang hidup dari keramaian dan dialog, pengasingan itu menjadi hukuman batin yang mencekik. Roso mencatat, bahkan pada masa pembuangan oleh Belanda, tahanan politik masih bisa bergaul, tetapi di tanah merdeka Bung Karno justru dipisahkan dari dunia yang ia dirikan.


Saat napas terakhirnya lepas, duka terasa melampaui sebuah keluarga dan menjalar ke sejarah. Di sela bacaan Yasin, terdengar ratap kakak kandung Bung Karno, Soekarmini memanggil, “Karno, kowe kok sengsoro men,” merangkum nestapa seorang proklamator yang wafat dalam kesunyian.


Pemerintahan Soeharto menetapkan jenazah disemayamkan di Wisma Yaso, keputusan yang melukai hati Fatmawati. Ia ingin rumah di Jalan Sriwijaya menjadi tempat perpisahan terakhir, tetapi kehendak seorang istri kandas di hadapan kuasa negara.


Cintanya tetap utuh di tengah luka, tergurat dalam karangan bunga bertulis tangan, “Tjintamu menjiwai rakyat. Tjinta Fat.” Kalimat singkat itu menjadi salam terakhir yang tak sempat terucap.


Menjelang pemakaman, perundingan berlangsung antara Hoegeng sebagai wakil keluarga dan Alamsyah Prawiranegara serta Tjokropranolo dari lingkar kekuasaan. Keinginan Bung Karno dimakamkan dekat Istana Bogor atau di Kalibata gugur, karena keputusan akhir menempatkannya di Blitar dengan alasan kedekatan pada makam ibunda.


Siang itu, pesawat Hercules membawa jenazah dari Halim ke Jawa Timur, lalu iring-iringan darat menembus lautan manusia hingga ke liang lahat. Pemakaman di Blitar dibaca banyak kalangan sebagai langkah menjauhkan simbol kekuasaan dari Jakarta dan meredam kemungkinan gelombang massa, membuat bahkan peristirahatan terakhirnya terasa seperti pengasingan lanjutan. (NF)

18 February 2026

Simbol Keberanian Aktivis Reformasi: Kisah Yeni Rosa Damayanti, Dari Jeruji Penjara Hingga Pengasingan di Belanda. Di era 90-an, ketika suara kritis sering kali dibungkam dengan kekerasan, muncul seorang mahasiswi yang dengan lantang menantang kekuasaan. Yeni Rosa Damayanti adalah sosok aktivis perempuan yang keberaniannya melegenda; ia tidak hanya berdemo di jalanan, tetapi berani menuntut pertanggungjawaban penguasa tertinggi negara di saat risiko yang dihadapinya adalah nyawa atau kebebasan. Titik awal kariernya sebagai pejuang demokrasi dimulai dari bangku kuliah dan keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa. Lahir pada tahun 1968, Yeni menempuh pendidikan di Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas), Jakarta. Ia mengawali pengabdiannya di dunia pergerakan melalui LSM PIJAR. Namanya mengguncang publik pada tahun 1993 ketika ia dengan berani menuntut MPR untuk menyeret Soeharto ke Sidang Istimewa. Akibat keberanian yang dianggap "terlalu maju" pada zamannya itu, Yeni harus mendekam di penjara selama satu tahun. Titik balik yang menguji keteguhan imannya terhadap demokrasi terjadi saat ia dipaksa hidup dalam pengasingan di luar negeri. Setelah bebas dari penjara, ia melanjutkan studi ke Belanda untuk mendalami Women & Development Studies. Namun, aktivitasnya yang tak henti menyuarakan reformasi membuat pemerintah Orde Baru gerah; paspornya tidak diperpanjang oleh KBRI, membuatnya terdampar sebagai pelarian politik yang tidak bisa pulang ke tanah air. Baru setelah rezim Soeharto tumbang pada Mei 1998, ia mendapatkan haknya kembali dan pulang ke Indonesia disambut sebagai pahlawan oleh rekan-rekan seperjuangannya. Kisah Yeni Rosa Damayanti adalah pengingat bahwa demokrasi yang kita nikmati hari ini dibayar dengan pengorbanan masa muda para aktivis. Dari seorang mahasiswi yang dipenjara karena prinsipnya, ia bertransformasi menjadi ikon perlawanan yang membuktikan bahwa kebenaran tidak bisa selamanya diasingkan. Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia - "Yeni Rosa Damayanti" #YeniRosaDamayanti #Aktivis98 #Reformasi #SejarahIndonesia #LSMPIJAR #PejuangDemokrasi #TokohPerempuan #InspirasiAktivis #OrdeBaru #PergerakanMahasiswa

 Simbol Keberanian Aktivis Reformasi: Kisah Yeni Rosa Damayanti, Dari Jeruji Penjara Hingga Pengasingan di Belanda.



Di era 90-an, ketika suara kritis sering kali dibungkam dengan kekerasan, muncul seorang mahasiswi yang dengan lantang menantang kekuasaan. Yeni Rosa Damayanti adalah sosok aktivis perempuan yang keberaniannya melegenda; ia tidak hanya berdemo di jalanan, tetapi berani menuntut pertanggungjawaban penguasa tertinggi negara di saat risiko yang dihadapinya adalah nyawa atau kebebasan.


Titik awal kariernya sebagai pejuang demokrasi dimulai dari bangku kuliah dan keterlibatannya dalam gerakan mahasiswa. Lahir pada tahun 1968, Yeni menempuh pendidikan di Fakultas Biologi Universitas Nasional (Unas), Jakarta. Ia mengawali pengabdiannya di dunia pergerakan melalui LSM PIJAR. Namanya mengguncang publik pada tahun 1993 ketika ia dengan berani menuntut MPR untuk menyeret Soeharto ke Sidang Istimewa. Akibat keberanian yang dianggap "terlalu maju" pada zamannya itu, Yeni harus mendekam di penjara selama satu tahun.


Titik balik yang menguji keteguhan imannya terhadap demokrasi terjadi saat ia dipaksa hidup dalam pengasingan di luar negeri. Setelah bebas dari penjara, ia melanjutkan studi ke Belanda untuk mendalami Women & Development Studies. Namun, aktivitasnya yang tak henti menyuarakan reformasi membuat pemerintah Orde Baru gerah; paspornya tidak diperpanjang oleh KBRI, membuatnya terdampar sebagai pelarian politik yang tidak bisa pulang ke tanah air. Baru setelah rezim Soeharto tumbang pada Mei 1998, ia mendapatkan haknya kembali dan pulang ke Indonesia disambut sebagai pahlawan oleh rekan-rekan seperjuangannya.


Kisah Yeni Rosa Damayanti adalah pengingat bahwa demokrasi yang kita nikmati hari ini dibayar dengan pengorbanan masa muda para aktivis. Dari seorang mahasiswi yang dipenjara karena prinsipnya, ia bertransformasi menjadi ikon perlawanan yang membuktikan bahwa kebenaran tidak bisa selamanya diasingkan.


Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia - "Yeni Rosa Damayanti"


#YeniRosaDamayanti #Aktivis98 #Reformasi #SejarahIndonesia #LSMPIJAR #PejuangDemokrasi #TokohPerempuan #InspirasiAktivis #OrdeBaru #PergerakanMahasiswa

Krama Desa bermaksud mengkramakan nama tempat agar "dirasakan" setingkat dengan langgam bahasa. Kebiasaan ini ternyata pernah pada suatu waktu menjadi "norm" terutama dalam persuratan antara raja dengan pemerintah kolonial, kadang dalam tulisan sastra penggantian nama juga dipakai agar nyambung dengan guru lagu (rima) di akhir tembang macapat. Contohnya Mataram - Mentaram - Mentawis Yogya - Ngayuja - Ngayukya Di Yogya, orang mengkramakan nama tempat seperti : Wonosari - Wonosantun Gunung Kidul - Redi Kidul, Dhaksinarga Kulon Progo - Kilen Pragi Nama Bregada Ketanggung - Ketanggel Patangpuluh - Kawandasa Lombok Abrit Pada pandangan sebagian ahli bahasa tindakan ini tidak perlu, tetapi tradisi lama ini setidaknya telah tertulis dalam surat2 raja, babad dan karya sastra. Pendapat anda bagaimana ? Berikut nama2 wilayah dalam arsip British Library, beserta nama asal tempat yg disebutkan sesuai nama yg ditulis dalam surat dan beberapa memakai krama desa. ======== Cuci gudang buku sejarah https://s.shopee.co.id/4LDu7XhVLU?share_channel_code=1

 Krama Desa bermaksud mengkramakan nama tempat agar "dirasakan" setingkat dengan langgam bahasa. 



Kebiasaan ini ternyata pernah pada suatu waktu menjadi "norm" terutama dalam persuratan antara raja dengan pemerintah kolonial, kadang dalam tulisan sastra penggantian nama juga dipakai agar nyambung dengan guru lagu (rima) di akhir tembang macapat.


Contohnya


Mataram - Mentaram - Mentawis

Yogya - Ngayuja - Ngayukya 


Di Yogya, orang mengkramakan nama tempat seperti :

Wonosari - Wonosantun

Gunung Kidul - Redi Kidul, Dhaksinarga

Kulon Progo - Kilen Pragi


Nama Bregada 

Ketanggung - Ketanggel

Patangpuluh - Kawandasa

Lombok Abrit


Pada pandangan sebagian ahli bahasa tindakan ini tidak perlu, tetapi tradisi lama ini setidaknya telah tertulis dalam surat2 raja, babad dan karya sastra. 


Pendapat anda bagaimana ?


Berikut nama2 wilayah dalam arsip British Library, beserta nama asal tempat yg disebutkan sesuai nama yg ditulis dalam surat dan beberapa memakai krama desa.


========


Cuci gudang buku sejarah 


https://s.shopee.co.id/4LDu7XhVLU?share_channel_code=1

16 February 2026

KIAI MAS SEMARANG Singa Banten yang Gugur di Laut Jawa Oleh : Temmy Wirawan Suryo Diwongso Dalam narasi besar Perang Jawa (1825–1830), nama Pangeran Diponegoro mendominasi ingatan kolektif kita. Namun, di balik layar perjuangan sang Pangeran, terdapat tokoh-tokoh lokal yang menjadi "api" di daerah penyangga. Salah satunya adalah Kiai Mas Semarang. Namanya hampir tak terdengar di buku sejarah sekolah, namun bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1828, ia adalah momok yang harus dibuang sejauh mungkin dari tanah Jawa. ​Sang Penghubung: Dari Semarang ke Jantung Banten ​Meskipun menyandang nama "Semarang", panggung perjuangan utamanya justru berada di ujung barat pulau Jawa, yakni Banten. Kiai Mas Semarang bukanlah ulama biasa; ia adalah seorang intelektual sekaligus aktivis lapangan. Ia memahami bahwa untuk mengalahkan Belanda, perlawanan tidak boleh terpusat di satu titik. Pada tahun 1827, saat Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengepung Diponegoro di Jawa Tengah, Kiai Mas Semarang mengorganisir kerusuhan di Banten. Tujuannya strategis: memaksa Belanda memecah konsentrasi pasukan. Ia membakar semangat para petani dan santri dengan narasi perang suci, menjadikannya musuh nomor satu Residen Banten saat itu. Aliansi Ulama dan Bangsawan Sejalan dengan meletusnya Perang Diponegoro, Banten menjadi wilayah yang sangat tidak stabil. Belanda mengirim pasukan di bawah komando perwira-perwira berpengalaman seperti Mayor Michiels untuk memadamkan kerusuhan di pedalaman. ​Pasukan Belanda melakukan pembersihan di wilayah-wilayah yang menjadi basis pendukung Mas Jakaria dan Kiai Mas Semarang, sehingga para pejuang terpaksa mundur ke hutan-hutan di Banten Selatan dan wilayah pegunungan yang sulit dijangkau, namun jalur logistik mereka mulai terputus. Kiai Mas Semarang tidak berjuang sendirian. Ia adalah bagian dari jejaring rahasia yang melibatkan tokoh-tokoh besar lainnya: - Mas Jakaria (Raden Bagus Jakaria): Jika Kiai Mas Semarang adalah motor ideologis dan penggerak massa di pesantren, Mas Jakaria adalah komandan gerilya di lapangan. Keduanya berbagi visi: mengalihkan perhatian pasukan Belanda agar terpecah dari Jawa Tengah. - ​Kiai Haji Wakhia: Bersama Kiai Mas Semarang, ia menggalang dukungan dari Banten Selatan. Mereka membangun barisan rakyat yang menolak membayar pajak, sebuah bentuk pembangkangan sipil yang melumpuhkan administrasi kolonial. - Pangeran Muhammad (Putra Sultan Banten terakhir) ​Meskipun secara formal kekuasaan Kesultanan Banten sudah dihapus, para pangeran dari garis keturunan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin masih memiliki pengaruh besar, beliau bertindak sebagai simbol perlawanan pasif atau pemberi restu kepada para kiai (seperti Kiai Mas Semarang) untuk melakukan gerakan bawah tanah. Keberadaan mereka membuat Belanda selalu curiga bahwa istana tua masih menggalang kekuatan. - Raden Tumenggung Aria Wiradidadja ​Seorang pejabat lokal yang pada awalnya bekerja dalam sistem kolonial, namun diam-diam bersimpati pada perjuangan rakyat, beliau sering memberikan informasi tentang pergerakan pasukan Belanda kepada para pejuang di hutan. Tokoh-tokoh seperti ini sangat ditakuti Belanda karena bertindak sebagai "duri dalam daging" di dalam birokrasi pemerintahan. Penangkapan Tokoh Sentral (Akhir 1827) ​Melalui jaringan mata-mata dan tekanan terhadap pejabat lokal, Belanda berhasil mengidentifikasi lokasi persembunyian para pemimpin utama. ​Penangkapan Kiai Mas Semarang: Beliau ditangkap karena dianggap sebagai otak ideologis yang menggerakkan sentimen agama di Banten. Belanda memutuskan untuk tidak memenjarakannya di Jawa guna menghindari kerusuhan massa. ​Perburuan Mas Jakaria: Pemimpin gerilya ini terus dikejar hingga ke batas wilayah Bogor. Dengan tertangkapnya para pemimpin ini, koordinasi antarwilayah perlawanan menjadi lumpuh. Akhir Perlawanan: Tragedi di Atas Kapal Minerva Setelah ditangkap dalam sebuah operasi pembersihan, Belanda memutuskan hukuman yang paling ditakuti pejuang saat itu: Internering (pengasingan) ke Pulau Banda. Pada Februari 1828, ia dinaikkan ke kapal swasta bernama Minerva. Namun, bagi Kiai Mas Semarang, menyerah pada nasib di tanah buangan bukanlah pilihan. Pada 10 Februari 1828, di tengah pelayaran antara Batavia menuju Semarang, ia memimpin pemberontakan nekat di atas dek kapal. Tanpa senjata api, hanya bermodalkan keberanian, ia menyerang awak kapal. Dalam kekacauan yang pecah di bawah sinar bulan Laut Jawa itu, sang Kiai gugur. Beberapa pengikutnya memilih terjun ke laut, memilih pelukan samudera daripada rantaian kolonial. Dokumen Sejarah: Arsip Berita Belanda tentang Insiden Kapal Minerva ​Berita ini dimuat dalam surat kabar Nederlandsche Staatscourant dan beberapa harian lokal di Belanda pada Juli 1828, yang menyadur laporan dari Bataviaasche Courant. Teks aslinya : Op het particuliere schip Minerva, kapitein Hannes, is op 10 Februarij tijdens de overtocht van Batavia naar Samarang een oproer uitgebroken onder de Javaanse ballingen die naar Banda vervoerd moesten worden. Een hunner, een priester genaamd Maas Samarang, die een aanstoker was van de onlusten in Bantam, is omgekomen; anderen sprongen in zee en zijn verdronken. De bemanning en passagiers hebben het oproer met moeite onderdrukt. Terjemahannya : Di atas kapal swasta Minerva yang dikomandoi Kapten Hannes, terjadi kerusuhan pada 10 Februari saat pelayaran dari Batavia menuju Semarang. Kerusuhan dipicu oleh beberapa tahanan/pengungsi Jawa yang akan dibuang ke Banda. Salah satu dari mereka, seorang pemuka agama bernama Maas Samarang—yang merupakan tokoh penghasut kerusuhan di Bantam (Banten) sebelumnya—tewas dalam kejadian tersebut. Beberapa lainnya melompat ke laut dan tenggelam. Awak kapal dan penumpang berhasil meredam pemberontakan tersebut dengan susah payah. ​Penutup: Warisan yang Tertinggal ​Kiai Mas Semarang mengajarkan kita bahwa kemerdekaan seringkali dibayar dengan kesunyian. Ia tidak gugur di medan laga yang megah dengan panji-panji yang berkibar, melainkan di atas dek kapal kayu yang asing, terkepung oleh ombak dan senapan. Meski namanya jarang disebut, keberaniannya di atas kapal Minerva adalah bukti bahwa semangat perlawanan rakyat Indonesia tidak pernah bisa benar-benar dirantai, bahkan saat tubuh mereka berada di tengah samudera. Semoga dengan mengangkat kembali kisah ini, kita dapat memberi penghormatan yang layak bagi sang "Singa Banten" asal Semarang ini. Salam Jaga Budaya Daftar Pustaka : -​Arsip Surat Kabar: Nederlandsche Staatscourant, edisi 12 Juli & 16 Juli 1828. -​Laporan Kolonial: Bataviaasche Courant, Maret 1828. -​Buku Referensi: Louw, P.J.F., De Java-Oorlog van 1825-30, Bagian 3, Batavia & 's-Hage, 1894 (Membahas konteks kerusuhan di Banten dan wilayah pendukung Diponegoro).

 KIAI MAS SEMARANG

Singa Banten yang Gugur di Laut Jawa


Oleh : Temmy Wirawan Suryo Diwongso


Dalam narasi besar Perang Jawa (1825–1830), nama Pangeran Diponegoro mendominasi ingatan kolektif kita. Namun, di balik layar perjuangan sang Pangeran, terdapat tokoh-tokoh lokal yang menjadi "api" di daerah penyangga. Salah satunya adalah Kiai Mas Semarang. Namanya hampir tak terdengar di buku sejarah sekolah, namun bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1828, ia adalah momok yang harus dibuang sejauh mungkin dari tanah Jawa.



​Sang Penghubung: Dari Semarang ke Jantung Banten


​Meskipun menyandang nama "Semarang", panggung perjuangan utamanya justru berada di ujung barat pulau Jawa, yakni Banten. Kiai Mas Semarang bukanlah ulama biasa; ia adalah seorang intelektual sekaligus aktivis lapangan. Ia memahami bahwa untuk mengalahkan Belanda, perlawanan tidak boleh terpusat di satu titik.


Pada tahun 1827, saat Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengepung Diponegoro di Jawa Tengah, Kiai Mas Semarang mengorganisir kerusuhan di Banten. Tujuannya strategis: memaksa Belanda memecah konsentrasi pasukan. Ia membakar semangat para petani dan santri dengan narasi perang suci, menjadikannya musuh nomor satu Residen Banten saat itu.


Aliansi Ulama dan Bangsawan


Sejalan dengan meletusnya Perang Diponegoro, Banten menjadi wilayah yang sangat tidak stabil. Belanda mengirim pasukan di bawah komando perwira-perwira berpengalaman seperti Mayor Michiels untuk memadamkan kerusuhan di pedalaman.


​Pasukan Belanda melakukan pembersihan di wilayah-wilayah yang menjadi basis pendukung Mas Jakaria dan Kiai Mas Semarang, sehingga para pejuang terpaksa mundur ke hutan-hutan di Banten Selatan dan wilayah pegunungan yang sulit dijangkau, namun jalur logistik mereka mulai terputus.


Kiai Mas Semarang tidak berjuang sendirian. Ia adalah bagian dari jejaring rahasia yang melibatkan tokoh-tokoh besar lainnya:


- Mas Jakaria (Raden Bagus Jakaria): Jika Kiai Mas Semarang adalah motor ideologis dan penggerak massa di pesantren, Mas Jakaria adalah komandan gerilya di lapangan. Keduanya berbagi visi: mengalihkan perhatian pasukan Belanda agar terpecah dari Jawa Tengah.


- ​Kiai Haji Wakhia: Bersama Kiai Mas Semarang, ia menggalang dukungan dari Banten Selatan. Mereka membangun barisan rakyat yang menolak membayar pajak, sebuah bentuk pembangkangan sipil yang melumpuhkan administrasi kolonial.


- Pangeran Muhammad (Putra Sultan Banten terakhir)

​Meskipun secara formal kekuasaan Kesultanan Banten sudah dihapus, para pangeran dari garis keturunan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin masih memiliki pengaruh besar, beliau bertindak sebagai simbol perlawanan pasif atau pemberi restu kepada para kiai (seperti Kiai Mas Semarang) untuk melakukan gerakan bawah tanah. Keberadaan mereka membuat Belanda selalu curiga bahwa istana tua masih menggalang kekuatan.


- Raden Tumenggung Aria Wiradidadja

​Seorang pejabat lokal yang pada awalnya bekerja dalam sistem kolonial, namun diam-diam bersimpati pada perjuangan rakyat, beliau sering memberikan informasi tentang pergerakan pasukan Belanda kepada para pejuang di hutan. Tokoh-tokoh seperti ini sangat ditakuti Belanda karena bertindak sebagai "duri dalam daging" di dalam birokrasi pemerintahan.


Penangkapan Tokoh Sentral (Akhir 1827)


​Melalui jaringan mata-mata dan tekanan terhadap pejabat lokal, Belanda berhasil mengidentifikasi lokasi persembunyian para pemimpin utama.


​Penangkapan Kiai Mas Semarang: Beliau ditangkap karena dianggap sebagai otak ideologis yang menggerakkan sentimen agama di Banten. Belanda memutuskan untuk tidak memenjarakannya di Jawa guna menghindari kerusuhan massa.


​Perburuan Mas Jakaria: Pemimpin gerilya ini terus dikejar hingga ke batas wilayah Bogor. Dengan tertangkapnya para pemimpin ini, koordinasi antarwilayah perlawanan menjadi lumpuh.


Akhir Perlawanan: Tragedi di Atas Kapal Minerva


Setelah ditangkap dalam sebuah operasi pembersihan, Belanda memutuskan hukuman yang paling ditakuti pejuang saat itu: Internering (pengasingan) ke Pulau Banda. Pada Februari 1828, ia dinaikkan ke kapal swasta bernama Minerva.


Namun, bagi Kiai Mas Semarang, menyerah pada nasib di tanah buangan bukanlah pilihan. Pada 10 Februari 1828, di tengah pelayaran antara Batavia menuju Semarang, ia memimpin pemberontakan nekat di atas dek kapal. Tanpa senjata api, hanya bermodalkan keberanian, ia menyerang awak kapal. Dalam kekacauan yang pecah di bawah sinar bulan Laut Jawa itu, sang Kiai gugur. Beberapa pengikutnya memilih terjun ke laut, memilih pelukan samudera daripada rantaian kolonial.


Dokumen Sejarah: Arsip Berita Belanda tentang Insiden Kapal Minerva


​Berita ini dimuat dalam surat kabar Nederlandsche Staatscourant dan beberapa harian lokal di Belanda pada Juli 1828, yang menyadur laporan dari Bataviaasche Courant.


Teks aslinya : 

Op het particuliere schip Minerva, kapitein Hannes, is op 10 Februarij tijdens de overtocht van Batavia naar Samarang een oproer uitgebroken onder de Javaanse ballingen die naar Banda vervoerd moesten worden. Een hunner, een priester genaamd Maas Samarang, die een aanstoker was van de onlusten in Bantam, is omgekomen; anderen sprongen in zee en zijn verdronken. De bemanning en passagiers hebben het oproer met moeite onderdrukt.


Terjemahannya : 

Di atas kapal swasta Minerva yang dikomandoi Kapten Hannes, terjadi kerusuhan pada 10 Februari saat pelayaran dari Batavia menuju Semarang. Kerusuhan dipicu oleh beberapa tahanan/pengungsi Jawa yang akan dibuang ke Banda. Salah satu dari mereka, seorang pemuka agama bernama Maas Samarang—yang merupakan tokoh penghasut kerusuhan di Bantam (Banten) sebelumnya—tewas dalam kejadian tersebut. Beberapa lainnya melompat ke laut dan tenggelam. Awak kapal dan penumpang berhasil meredam pemberontakan tersebut dengan susah payah.


​Penutup: Warisan yang Tertinggal


​Kiai Mas Semarang mengajarkan kita bahwa kemerdekaan seringkali dibayar dengan kesunyian. Ia tidak gugur di medan laga yang megah dengan panji-panji yang berkibar, melainkan di atas dek kapal kayu yang asing, terkepung oleh ombak dan senapan. Meski namanya jarang disebut, keberaniannya di atas kapal Minerva adalah bukti bahwa semangat perlawanan rakyat Indonesia tidak pernah bisa benar-benar dirantai, bahkan saat tubuh mereka berada di tengah samudera.


Semoga dengan mengangkat kembali kisah ini, kita dapat memberi penghormatan yang layak bagi sang "Singa Banten" asal Semarang ini.


Salam Jaga Budaya


Daftar Pustaka :


-​Arsip Surat Kabar: Nederlandsche Staatscourant, edisi 12 Juli & 16 Juli 1828.

-​Laporan Kolonial: Bataviaasche Courant, Maret 1828.

-​Buku Referensi: Louw, P.J.F., De Java-Oorlog van 1825-30, Bagian 3, Batavia & 's-Hage, 1894 (Membahas konteks kerusuhan di Banten dan wilayah pendukung Diponegoro).


Perjuangan Tumenggung Setjonegoro Dalam Perang Diponegoro di Wonosobo Pada masa perang Diponegoro (1825-1830) Wonosobo merupakan basis pertahanan pasukan Diponegoro dan juga salah satu medan pertempuran yang penting, serta dukungan masyarakat yang sangat besar terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro. Sebagai contoh adalah medan-medan pertempuran seperti Gowong, Ledok, Sapuran, Plunjaran, dan Kertek. Beberapa tokoh penting di Wonosobo yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Misbach atau kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kertosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Tumenggung Setjonegoro. Tumenggung Setjonegoro lahir dengan nama Muhammad Ngarpah, beliau dikenal sebagai seorang ulama dan pejuang yang berani. Semangatnya dalam melawan penjajahan Belanda mengantarkannya pada pertempuran demi pertempuran. Perjuangan Kyai Muhamad Ngarpah tidak terbatas didaerah Wonosobo saja melainkan di daerah Purworejo, Magelang, Yogyakarta, dan Klaten. Suatu hari Kayi Muhamad Ngarpah bersama-sama Mulyosentiko memimpin pasukan pendukung Pangeran Diponegoro menghadang pasukan belanda di Logorok dekat Pisangan Yogyakarta. Pada pencegatan di Logorok ini Belanda mengalami kekalahan, sehingga hanya beberapa orang serdadu yang dapat melarikan diri. Menurut catatan sejarah, kemenangan Kyai Muhamad Ngarpah serta para pendukungnya itu adalah merupakan "Kemenangan Pertama" pasukan pendukung Pangeran Diponegoro. Maka berdasarkan "keberhasilan" itu Pangeran Diponegoro memberi nama "Setjonegoro" kepada Kyai Muhamad Ngarpah dan nama "Kertonegoro" kepada Mulyosentiko. Dalam pertempuran di Ledok dan sekitarnya, Ki Muhammad Ngarpah mengerahkan 100 orang prajurit yang dipimpin oleh Mas Tumenggung Joponawang untuk menghadapi serbuan Belanda. Selanjutnya Kyai Muhamad Ngarpah diangkat sebagai penguasa wilayah Ledok (Wonosobo) dengan gelar Tumenggung Setjonegoro. Setelah menjadi Bupati pertama Wonosobo, Tumenggung Setjonegoro yang mengawali kekuasaannya di Ledok, Selomerto, lalu memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Kota Wonosobo sekarang. Pemindahan pusat pemerintahan tersebut terjadi pada tanggal 24 Juli 1825. Pada masa-masa berikutnya Tumenggung Setjonegoro terus aktif mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, bersama-sama dengan tokoh-tokoh pendukung Pangeran Diponegoro lainnya seperti Ki Muhamad Bahrawi atau Muhamad Ngusman Libasah, Muhamad Salim, Ngabdul Latip dan Kyai Ngabdul Radap. Tumenggung Setjonegoro juga pernah mendapat tugas dari Pangeran Diponegoro untuk mengepung benteng Belanda di Bagelen (Purworejo). Dalam pertempuran dengan Belanda didaerah Kedu mengakibatkan terbunuhnya pemimpin pasukan Belanda Letnan de Bruijn. Selain itu Tumenggung Setjonegoro dan Kertonegoro juga terlibat dalam pertempuran di daerah Delanggu (Klaten), mereka memimpin pasukan di daerah Landur untuk menghadang pasukan Belanda yang datang dari Klaten. Eksistensi kekuasaan Tumenggung Setjonegoro didaerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah perang Diponegoro selesai. Disebutkan pula bahwa Tumenggung Setjonegoro adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan Kota Wonosobo sekarang ini. Dari hasil seminar hari jadi Kabupaten Wonosobo tanggal 28 April 1994 yang dihadiri oleh Tim Peneliti Hari Jadi Kabupaten Wonosobo dan Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, Muspida, Sesepuh dan Pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang dan Yogyakarta, Pimpinan DPRD dan Pimpinan Komisi serta Instansi di Tingkat II Wonosobo. Maka hari Jadi Kabupaten Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825, dan ini bahkan telah ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (PERDA) dalam sidang pleno DPRD II Wonosobo tanggal 11 Juli 1994. Dipilihnya tanggal tersebut adalah erat hubungannya dengan peristiwa "Kemenangan Pertama" pasukan pendukung Pangeran Diponegoro yang dipimpin oleh Kyai Muhamad Ngarpah atau Tumenggung Setjonegoro di Logorok. Walaupun serangan yang berhasil itu tidak terjadi di wilayah Wonosobo, akan tetapi peristiwa itulah yang mengangkat karier Kyai Muhamad Ngarpah sehingga diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar Tumenggung Setjonegoro. Kyai Muhammad Ngarpah atau Tumenggung Setjonegoro meninggal dan dimakamkan di Dusun Kauman, Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Ada beberapa versi mengenai tahun meninggalnya Tumenggung Setjonegoro, ada yang mengatakan tahun 1881, ada juga yang mengatakan 1886. * Abror Subhi Dari Berbagai Sumber

 Perjuangan Tumenggung Setjonegoro Dalam Perang Diponegoro di Wonosobo 

Pada masa perang Diponegoro (1825-1830) Wonosobo merupakan basis pertahanan pasukan Diponegoro dan juga salah satu medan pertempuran yang penting, serta dukungan masyarakat yang sangat besar terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro.

Sebagai contoh adalah medan-medan pertempuran seperti Gowong, Ledok, Sapuran, Plunjaran, dan Kertek.



Beberapa tokoh penting di Wonosobo yang mendukung perjuangan Diponegoro adalah Imam Misbach atau kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kertosinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegaran, Gajah Permodo dan Tumenggung Setjonegoro.


Tumenggung Setjonegoro lahir dengan nama Muhammad Ngarpah, beliau dikenal sebagai seorang ulama dan pejuang yang berani. Semangatnya dalam melawan penjajahan Belanda mengantarkannya pada pertempuran demi pertempuran.


Perjuangan Kyai Muhamad Ngarpah tidak terbatas didaerah Wonosobo saja melainkan di daerah Purworejo, Magelang, Yogyakarta, dan Klaten.


Suatu hari Kayi Muhamad Ngarpah bersama-sama Mulyosentiko memimpin pasukan pendukung Pangeran Diponegoro menghadang pasukan belanda di Logorok dekat Pisangan Yogyakarta.

Pada pencegatan di Logorok ini Belanda mengalami kekalahan, sehingga hanya beberapa orang serdadu yang dapat melarikan diri.


Menurut catatan sejarah, kemenangan Kyai Muhamad Ngarpah serta para pendukungnya itu adalah merupakan "Kemenangan Pertama" pasukan pendukung Pangeran Diponegoro.

Maka berdasarkan "keberhasilan" itu Pangeran Diponegoro memberi nama "Setjonegoro" kepada Kyai Muhamad Ngarpah dan nama "Kertonegoro" kepada Mulyosentiko.


Dalam pertempuran di Ledok dan sekitarnya, Ki Muhammad Ngarpah mengerahkan 100 orang prajurit yang dipimpin oleh Mas Tumenggung Joponawang untuk menghadapi serbuan Belanda.

Selanjutnya Kyai Muhamad Ngarpah diangkat sebagai penguasa wilayah Ledok (Wonosobo) dengan gelar Tumenggung Setjonegoro.


Setelah menjadi Bupati pertama Wonosobo, Tumenggung Setjonegoro yang mengawali kekuasaannya di Ledok, Selomerto, lalu memindahkan pusat pemerintahan ke kawasan Kota Wonosobo sekarang. Pemindahan pusat pemerintahan tersebut terjadi pada tanggal 24 Juli 1825.


Pada masa-masa berikutnya Tumenggung Setjonegoro terus aktif mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, bersama-sama dengan tokoh-tokoh pendukung Pangeran Diponegoro lainnya seperti Ki Muhamad Bahrawi atau Muhamad Ngusman Libasah, Muhamad Salim, Ngabdul Latip dan Kyai Ngabdul Radap.


Tumenggung Setjonegoro juga pernah mendapat tugas dari Pangeran Diponegoro untuk mengepung benteng Belanda di Bagelen (Purworejo).

Dalam pertempuran dengan Belanda didaerah Kedu mengakibatkan terbunuhnya pemimpin pasukan Belanda Letnan de Bruijn.


Selain itu Tumenggung Setjonegoro dan Kertonegoro juga terlibat dalam pertempuran di daerah Delanggu (Klaten), mereka memimpin pasukan di daerah Landur untuk menghadang pasukan Belanda yang datang dari Klaten.


Eksistensi kekuasaan Tumenggung Setjonegoro didaerah Ledok ini dapat dilihat lebih jauh dari berbagai sumber termasuk laporan Belanda yang dibuat setelah perang Diponegoro selesai.

Disebutkan pula bahwa Tumenggung Setjonegoro adalah Bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke kawasan Kota Wonosobo sekarang ini.


Dari hasil seminar hari jadi Kabupaten Wonosobo tanggal 28 April 1994 yang dihadiri oleh Tim Peneliti Hari Jadi Kabupaten Wonosobo dan Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada, Muspida, Sesepuh dan Pinisepuh Wonosobo termasuk yang ada di Jakarta, Semarang dan Yogyakarta, Pimpinan DPRD dan Pimpinan Komisi serta Instansi di Tingkat II Wonosobo.


Maka hari Jadi Kabupaten Wonosobo jatuh pada tanggal 24 Juli 1825, dan ini bahkan telah ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (PERDA) dalam sidang pleno DPRD II Wonosobo tanggal 11 Juli 1994.


Dipilihnya tanggal tersebut adalah erat hubungannya dengan peristiwa "Kemenangan Pertama" pasukan pendukung Pangeran Diponegoro yang dipimpin oleh Kyai Muhamad Ngarpah atau Tumenggung Setjonegoro di Logorok.


Walaupun serangan yang berhasil itu tidak terjadi di wilayah Wonosobo, akan tetapi peristiwa itulah yang mengangkat karier Kyai Muhamad Ngarpah sehingga diangkat sebagai penguasa Ledok dengan gelar Tumenggung Setjonegoro.


Kyai Muhammad Ngarpah atau Tumenggung Setjonegoro meninggal dan dimakamkan di Dusun Kauman, Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Ada beberapa versi mengenai tahun meninggalnya Tumenggung Setjonegoro, ada yang mengatakan tahun 1881, ada juga yang mengatakan 1886.


* Abror Subhi

 Dari Berbagai Sumber

14 February 2026

PERISTIWA BUBAT 1357: Tinjauan Kritis Berdasarkan Sumber Primer Oleh M. Basyir Zubair Peristiwa yang dikenal sebagai 'Perang Bubat' atau 'Pasunda Bubat' merupakan salah satu narasi yang paling kontroversial dalam historiografi Nusantara. Tulisan ini bertujuan menelusuri peristiwa tersebut berdasarkan sumber-sumber primer yang tersedia, dengan pendekatan objektif. Penting dicatat sejak awal: kita tidak memiliki prasasti atau inskripsi sezaman yang mencatat peristiwa ini. Semua sumber yang tersedia adalah naskah sastra atau kronik yang ditulis puluhan hingga ratusan tahun setelah peristiwa diduga terjadi. 1. SUMBER-SUMBER YANG TERSEDIA 1.1. Pararaton Status: Kronik Jawa, abad ke-15 Publikasi: J.L.A. Brandes (1896), kemudian edisi lengkap (1920) Pararaton adalah kronik sejarah Majapahit yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-15, sekitar 100-130 tahun setelah peristiwa yang diduga terjadi tahun 1357. Naskah ini pertama kali dipublikasikan oleh J.L.A. Brandes tahun 1896, dengan edisi lengkap terbit tahun 1920 berjudul 'Pararaton: Ken Arok Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit.' Pararaton menyebut peristiwa 'Pasunda Bubat' dan mencatat nama-nama yang gugur. Teks ini juga menyebutkan bahwa setelah peristiwa tersebut, Gajah Mada diberhentikan sementara selama 11 bulan. Pararaton merupakan sumber yang relatif kredibel karena beberapa peristiwa yang dicatatnya telah terkonfirmasi oleh sumber-sumber lain. 1.2. Carita Parahyangan Status: Naskah Sunda kuno, akhir abad ke-16 Lokasi: Kropak 406, Perpustakaan Nasional Jakarta Peneliti utama: K.F. Holle (1882), C.M. Pleyte (1914), Poerbatjaraka (1919-21), J. Noorduyn (1962, 1966) Carita Parahyangan adalah naskah Sunda kuno yang ditulis sekitar akhir abad ke-16, terdaftar sebagai Kropak 406 di Perpustakaan Nasional Jakarta. Naskah ini terdiri dari 47 lembar daun lontar berukuran 21 x 3 cm, dengan 4 baris tulisan per lembar menggunakan aksara Sunda. J. Noorduyn dari KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) mempublikasikan penelitian penting tentang naskah ini pada tahun 1962 dalam jurnal 'Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde,' dengan judul 'Het begingedeelte van de Carita Parahyangan.' Noorduyn berhasil mengembalikan urutan folio naskah yang sebelumnya kacau. Yang penting: Carita Parahyangan hanya memberikan informasi sangat singkat tentang peristiwa ini. Naskah menyebutkan seorang putri raja bernama 'Tohaan' dan kalimat singkat 'pan prangrang di Majapahit' yang berarti 'orang berperang di Majapahit.' Singkatnya penyebutan ini sangat kontras dengan narasi dramatis yang muncul dalam sumber-sumber kemudian. 1.3. Kidung Sunda Status: Naskah Bali dalam bahasa Jawa Pertengahan, abad ke-16 Publikasi: C.C. Berg (1927) Kidung Sunda adalah naskah yang ditemukan di Bali, ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan (bukan bahasa Sunda). C.C. Berg menerbitkan teks dan terjemahannya pada tahun 1927. Naskah ini diperkirakan ditulis setelah tahun 1540 di Bali. Kidung Sunda memberikan narasi yang jauh lebih dramatis dan detail dibandingkan Pararaton atau Carita Parahyangan. Teks ini menggambarkan Gajah Mada menuntut putri Sunda diserahkan sebagai upeti, bunuh diri Putri Dyah Pitaloka, dan kematian Raja Hayam Wuruk. Masalah: Detail tentang kematian Hayam Wuruk bertentangan dengan fakta sejarah, Hayam Wuruk tercatat hidup hingga tahun 1389, lebih dari 30 tahun setelah peristiwa Bubat. Ini menunjukkan Kidung Sunda lebih merupakan karya sastra dengan unsur fiksi, bukan catatan historis murni. 1.4. Nagarakretagama Status: Kakawin (puisi epik), tahun 1365 Penulis: Mpu Prapanca Nagarakretagama adalah karya Mpu Prapanca yang ditulis pada tahun 1365, hanya 8 tahun setelah peristiwa Bubat diduga terjadi. Sebagai pujasastra yang ditulis oleh pujangga istana Majapahit, ini adalah sumber sezaman yang paling kredibel tentang masa pemerintahan Hayam Wuruk. Fakta krusial: Nagarakretagama sama sekali tidak menyebut peristiwa Bubat secara eksplisit. Kitab ini hanya menyebutkan bahwa di lapangan Bubat pernah terjadi 'perang tanding, perang pukul, dan adu keris', deskripsi yang sangat umum dan bisa merujuk pada berbagai jenis pertarungan atau kompetisi, bukan peristiwa spesifik tahun 1357. 2. KETIADAAN BUKTI ARKEOLOGIS Tidak ada satu pun prasasti, baik dari Sunda maupun Majapahit, yang menyebut peristiwa Bubat. Dalam tradisi kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara, peristiwa-peristiwa penting, terutama yang melibatkan keluarga kerajaan atau konflik militer, biasanya diabadikan dalam prasasti. Ketiadaan prasasti ini menimbulkan pertanyaan tentang skala dan signifikansi historis peristiwa tersebut. Ini bukan berarti peristiwa tersebut tidak terjadi, tetapi mengindikasikan bahwa jika memang terjadi, mungkin tidak dengan skala dramatis sebagaimana digambarkan dalam narasi sastra. 3. ANALISIS KRITIS 3.1. Evolusi Narasi Pola yang jelas terlihat adalah evolusi dari sumber sederhana menuju narasi yang semakin dramatis: • Nagarakretagama (1365, 8 tahun setelah): Tidak menyebut peristiwa spesifik, hanya menyebut lapangan Bubat sebagai tempat pertandingan umum. • Pararaton (akhir abad ke-15, ~100 tahun setelah): Menyebut 'Pasunda Bubat' dengan detail terbatas, mencatat nama-nama yang gugur. • Carita Parahyangan (akhir abad ke-16, ~200 tahun setelah): Hanya menyebut sangat singkat 'orang berperang di Majapahit.' • Kidung Sunda (abad ke-16, ~180 tahun setelah): Narasi dramatis lengkap dengan dialog, motif, bunuh diri, dan detail yang bertentangan dengan fakta sejarah. Pola ini konsisten dengan transformasi peristiwa historis menjadi legenda atau epos sastra, di mana setiap penceritaan ulang menambahkan lapisan baru detail dramatik. 3.2. Kredibilitas Sumber Berdasarkan prinsip kritik sumber sejarah: Nagarakretagama memiliki kredibilitas tertinggi karena ditulis sezaman oleh pujangga istana yang memiliki akses langsung ke informasi kerajaan. Ketiadaan catatan eksplisit tentang peristiwa Bubat dalam naskah ini sangat signifikan. Pararaton memiliki kredibilitas menengah sebagai kronik yang ditulis sekitar 100 tahun setelah peristiwa, dengan beberapa informasi yang dapat dikonfirmasi oleh sumber lain. Carita Parahyangan, meskipun dari perspektif Sunda, justru sangat singkat dalam menyebut peristiwa ini, bertentangan dengan ekspektasi jika ini benar-benar peristiwa traumatis besar. Kidung Sunda memiliki kredibilitas historis terendah karena berisi detail yang bertentangan dengan fakta sejarah dan lebih cocok dikategorikan sebagai karya sastra fiksi. 4. KESIMPULAN BERDASARKAN BUKTI Berdasarkan analisis sumber-sumber yang tersedia, dapat disimpulkan: 1. Kemungkinan memang terjadi suatu insiden di Bubat yang melibatkan rombongan dari Sunda dan pihak Majapahit, sebagaimana tercatat dalam Pararaton dan Carita Parahyangan. Namun, skala dan detail peristiwa tersebut tidak dapat dipastikan. 2. Ketiadaan catatan dalam Nagarakretagama (sumber sezaman paling kredibel) dan ketiadaan prasasti mengindikasikan bahwa jika insiden tersebut terjadi, kemungkinan skalanya tidak sebesar yang digambarkan dalam narasi sastra kemudian. 3. Narasi dramatis tentang ratusan korban, armada besar, dan bunuh diri massal yang muncul dalam Kidung Sunda kemungkinan merupakan elaborasi sastrawi yang berkembang satu atau dua abad setelah peristiwa. 4. Peristiwa ini tidak dapat dikategorikan sebagai 'genosida.' Bahkan dalam narasi paling dramatis sekalipun, ini adalah konflik terbatas yang melibatkan rombongan kerajaan, bukan upaya sistematis untuk memusnahkan suatu kelompok etnis. 5. Penelitian akademik modern, seperti yang diterbitkan dalam Jurnal Patanjala (2018) oleh Yeni Mulyani Supriatin, menyimpulkan bahwa 'peristiwa Bubat diresepsi setelah dua abad berlalu, yaitu pada abad ke-16 dan peristiwa tersebut diresepsi ulang pada abad ke-20-an.' Ini mengindikasikan bahwa narasi Perang Bubat sebagaimana kita kenal sekarang lebih merupakan konstruksi sastra dan budaya daripada catatan sejarah murni. Sebagai penutup, penting untuk membedakan antara apa yang dapat kita ketahui dengan pasti dari sumber-sumber yang ada, dan apa yang merupakan spekulasi atau elaborasi kemudian. Pendekatan kritis terhadap sumber sejarah mengharuskan kita untuk mengakui keterbatasan pengetahuan kita, sambil tetap menghargai nilai budaya dan sastra dari narasi-narasi yang telah berkembang. DAFTAR PUSTAKA Sumber Primer: Brandes, J.L.A. (1896). Pararaton (eerste uitgave). Batavia. Brandes, J.L.A. (1920). Pararaton: Ken Arok Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Vol. LXII. Berg, C.C. (1927). Kidung Sunda: Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Noorduyn, J. (1962). 'Het begingedeelte van de Carita Parahyangan.' Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 118, No. 4, hlm. 405-432. Noorduyn, J. (1966). 'Aanvullende gegevens betreffende de Carita Parahyangan.' Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Atja dan Saleh Danasasmita. (1981). Carita Parahyangan: Transkripsi, Terjemahan dan Catatan. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat. Prapanca, Mpu. (1365). Nagarakretagama. Publikasi Akademik Modern: Supriatin, Yeni Mulyani. (2018). 'Perang Bubat, Representasi Sejarah Abad ke-14 dan Resepsi Sastranya.' Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 10, No. 1, Maret 2018, hlm. 59-76. Hernawan, Wawan. (2011). 'Perang Bubat dalam Literatur Majapahit.' Wawasan, Vol. 34, No. 1, 2011. Hidayat, Sarip. (2015). 'Pandangan Dunia Orang Sunda dalam Tiga Novel Indonesia tentang Perang Bubat.' Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra, hlm. 105-120. Sondarika. (2024). 'Dampak Perang Bubat Terhadap Identitas Dan Kebudayaan Masyarakat Sunda.' Jurnal Artefak, Vol. 11, No. 2, September 2024. Catatan: Daftar pustaka ini hanya mencantumkan sumber-sumber yang dapat diverifikasi keberadaannya melalui publikasi akademik atau arsip perpustakaan. Gambar hanya pemanis

 PERISTIWA BUBAT 1357:

Tinjauan Kritis Berdasarkan Sumber Primer


Oleh M. Basyir Zubair



Peristiwa yang dikenal sebagai 'Perang Bubat' atau 'Pasunda Bubat' merupakan salah satu narasi yang paling kontroversial dalam historiografi Nusantara. Tulisan ini bertujuan menelusuri peristiwa tersebut berdasarkan sumber-sumber primer yang tersedia, dengan pendekatan objektif.


Penting dicatat sejak awal: kita tidak memiliki prasasti atau inskripsi sezaman yang mencatat peristiwa ini. Semua sumber yang tersedia adalah naskah sastra atau kronik yang ditulis puluhan hingga ratusan tahun setelah peristiwa diduga terjadi.


1. SUMBER-SUMBER YANG TERSEDIA


1.1. Pararaton


Status: Kronik Jawa, abad ke-15

Publikasi: J.L.A. Brandes (1896), kemudian edisi lengkap (1920)

Pararaton adalah kronik sejarah Majapahit yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-15, sekitar 100-130 tahun setelah peristiwa yang diduga terjadi tahun 1357. Naskah ini pertama kali dipublikasikan oleh J.L.A. Brandes tahun 1896, dengan edisi lengkap terbit tahun 1920 berjudul 'Pararaton: Ken Arok Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit.'


Pararaton menyebut peristiwa 'Pasunda Bubat' dan mencatat nama-nama yang gugur. Teks ini juga menyebutkan bahwa setelah peristiwa tersebut, Gajah Mada diberhentikan sementara selama 11 bulan. Pararaton merupakan sumber yang relatif kredibel karena beberapa peristiwa yang dicatatnya telah terkonfirmasi oleh sumber-sumber lain.


1.2. Carita Parahyangan


Status: Naskah Sunda kuno, akhir abad ke-16

Lokasi: Kropak 406, Perpustakaan Nasional Jakarta

Peneliti utama: K.F. Holle (1882), C.M. Pleyte (1914), Poerbatjaraka (1919-21), J. Noorduyn (1962, 1966)

Carita Parahyangan adalah naskah Sunda kuno yang ditulis sekitar akhir abad ke-16, terdaftar sebagai Kropak 406 di Perpustakaan Nasional Jakarta. Naskah ini terdiri dari 47 lembar daun lontar berukuran 21 x 3 cm, dengan 4 baris tulisan per lembar menggunakan aksara Sunda.


J. Noorduyn dari KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) mempublikasikan penelitian penting tentang naskah ini pada tahun 1962 dalam jurnal 'Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde,' dengan judul 'Het begingedeelte van de Carita Parahyangan.' Noorduyn berhasil mengembalikan urutan folio naskah yang sebelumnya kacau.


Yang penting: Carita Parahyangan hanya memberikan informasi sangat singkat tentang peristiwa ini. Naskah menyebutkan seorang putri raja bernama 'Tohaan' dan kalimat singkat 'pan prangrang di Majapahit' yang berarti 'orang berperang di Majapahit.'

Singkatnya penyebutan ini sangat kontras dengan narasi dramatis yang muncul dalam sumber-sumber kemudian.


1.3. Kidung Sunda


Status: Naskah Bali dalam bahasa Jawa Pertengahan, abad ke-16

Publikasi: C.C. Berg (1927)

Kidung Sunda adalah naskah yang ditemukan di Bali, ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan (bukan bahasa Sunda). C.C. Berg menerbitkan teks dan terjemahannya pada tahun 1927. Naskah ini diperkirakan ditulis setelah tahun 1540 di Bali.


Kidung Sunda memberikan narasi yang jauh lebih dramatis dan detail dibandingkan Pararaton atau Carita Parahyangan. Teks ini menggambarkan Gajah Mada menuntut putri Sunda diserahkan sebagai upeti, bunuh diri Putri Dyah Pitaloka, dan kematian Raja Hayam Wuruk.


Masalah: Detail tentang kematian Hayam Wuruk bertentangan dengan fakta sejarah, Hayam Wuruk tercatat hidup hingga tahun 1389, lebih dari 30 tahun setelah peristiwa Bubat. Ini menunjukkan Kidung Sunda lebih merupakan karya sastra dengan unsur fiksi, bukan catatan historis murni.


1.4. Nagarakretagama


Status: Kakawin (puisi epik), tahun 1365

Penulis: Mpu Prapanca

Nagarakretagama adalah karya Mpu Prapanca yang ditulis pada tahun 1365, hanya 8 tahun setelah peristiwa Bubat diduga terjadi. Sebagai pujasastra yang ditulis oleh pujangga istana Majapahit, ini adalah sumber sezaman yang paling kredibel tentang masa pemerintahan Hayam Wuruk.


Fakta krusial: Nagarakretagama sama sekali tidak menyebut peristiwa Bubat secara eksplisit. Kitab ini hanya menyebutkan bahwa di lapangan Bubat pernah terjadi 'perang tanding, perang pukul, dan adu keris', deskripsi yang sangat umum dan bisa merujuk pada berbagai jenis pertarungan atau kompetisi, bukan peristiwa spesifik tahun 1357.


2. KETIADAAN BUKTI ARKEOLOGIS


Tidak ada satu pun prasasti, baik dari Sunda maupun Majapahit, yang menyebut peristiwa Bubat. Dalam tradisi kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara, peristiwa-peristiwa penting, terutama yang melibatkan keluarga kerajaan atau konflik militer, biasanya diabadikan dalam prasasti.


Ketiadaan prasasti ini menimbulkan pertanyaan tentang skala dan signifikansi historis peristiwa tersebut. Ini bukan berarti peristiwa tersebut tidak terjadi, tetapi mengindikasikan bahwa jika memang terjadi, mungkin tidak dengan skala dramatis sebagaimana digambarkan dalam narasi sastra.


3. ANALISIS KRITIS


3.1. Evolusi Narasi


Pola yang jelas terlihat adalah evolusi dari sumber sederhana menuju narasi yang semakin dramatis:


• Nagarakretagama (1365, 8 tahun setelah): Tidak menyebut peristiwa spesifik, hanya menyebut lapangan Bubat sebagai tempat pertandingan umum.

• Pararaton (akhir abad ke-15, ~100 tahun setelah): Menyebut 'Pasunda Bubat' dengan detail terbatas, mencatat nama-nama yang gugur.

• Carita Parahyangan (akhir abad ke-16, ~200 tahun setelah): Hanya menyebut sangat singkat 'orang berperang di Majapahit.'

• Kidung Sunda (abad ke-16, ~180 tahun setelah): Narasi dramatis lengkap dengan dialog, motif, bunuh diri, dan detail yang bertentangan dengan fakta sejarah.

Pola ini konsisten dengan transformasi peristiwa historis menjadi legenda atau epos sastra, di mana setiap penceritaan ulang menambahkan lapisan baru detail dramatik.


3.2. Kredibilitas Sumber


Berdasarkan prinsip kritik sumber sejarah:

Nagarakretagama memiliki kredibilitas tertinggi karena ditulis sezaman oleh pujangga istana yang memiliki akses langsung ke informasi kerajaan. Ketiadaan catatan eksplisit tentang peristiwa Bubat dalam naskah ini sangat signifikan.


Pararaton memiliki kredibilitas menengah sebagai kronik yang ditulis sekitar 100 tahun setelah peristiwa, dengan beberapa informasi yang dapat dikonfirmasi oleh sumber lain.

Carita Parahyangan, meskipun dari perspektif Sunda, justru sangat singkat dalam menyebut peristiwa ini, bertentangan dengan ekspektasi jika ini benar-benar peristiwa traumatis besar.

Kidung Sunda memiliki kredibilitas historis terendah karena berisi detail yang bertentangan dengan fakta sejarah dan lebih cocok dikategorikan sebagai karya sastra fiksi.


4. KESIMPULAN BERDASARKAN BUKTI


Berdasarkan analisis sumber-sumber yang tersedia, dapat disimpulkan:


1. Kemungkinan memang terjadi suatu insiden di Bubat yang melibatkan rombongan dari Sunda dan pihak Majapahit, sebagaimana tercatat dalam Pararaton dan Carita Parahyangan. Namun, skala dan detail peristiwa tersebut tidak dapat dipastikan.


2. Ketiadaan catatan dalam Nagarakretagama (sumber sezaman paling kredibel) dan ketiadaan prasasti mengindikasikan bahwa jika insiden tersebut terjadi, kemungkinan skalanya tidak sebesar yang digambarkan dalam narasi sastra kemudian.


3. Narasi dramatis tentang ratusan korban, armada besar, dan bunuh diri massal yang muncul dalam Kidung Sunda kemungkinan merupakan elaborasi sastrawi yang berkembang satu atau dua abad setelah peristiwa.


4. Peristiwa ini tidak dapat dikategorikan sebagai 'genosida.' Bahkan dalam narasi paling dramatis sekalipun, ini adalah konflik terbatas yang melibatkan rombongan kerajaan, bukan upaya sistematis untuk memusnahkan suatu kelompok etnis.


5. Penelitian akademik modern, seperti yang diterbitkan dalam Jurnal Patanjala (2018) oleh Yeni Mulyani Supriatin, menyimpulkan bahwa 'peristiwa Bubat diresepsi setelah dua abad berlalu, yaitu pada abad ke-16 dan peristiwa tersebut diresepsi ulang pada abad ke-20-an.' Ini mengindikasikan bahwa narasi Perang Bubat sebagaimana kita kenal sekarang lebih merupakan konstruksi sastra dan budaya daripada catatan sejarah murni.


Sebagai penutup, penting untuk membedakan antara apa yang dapat kita ketahui dengan pasti dari sumber-sumber yang ada, dan apa yang merupakan spekulasi atau elaborasi kemudian. Pendekatan kritis terhadap sumber sejarah mengharuskan kita untuk mengakui keterbatasan pengetahuan kita, sambil tetap menghargai nilai budaya dan sastra dari narasi-narasi yang telah berkembang.


DAFTAR PUSTAKA

Sumber Primer:


Brandes, J.L.A. (1896). Pararaton (eerste uitgave). Batavia.


Brandes, J.L.A. (1920). Pararaton: Ken Arok Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit. 


Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Vol. LXII.


Berg, C.C. (1927). Kidung Sunda: Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.


Noorduyn, J. (1962). 'Het begingedeelte van de Carita Parahyangan.' Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 118, No. 4, hlm. 405-432.


Noorduyn, J. (1966). 'Aanvullende gegevens betreffende de Carita Parahyangan.' Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.


Atja dan Saleh Danasasmita. (1981). Carita Parahyangan: Transkripsi, Terjemahan dan Catatan. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.


Prapanca, Mpu. (1365). Nagarakretagama.

Publikasi Akademik Modern:

Supriatin, Yeni Mulyani. (2018). 'Perang Bubat, Representasi Sejarah Abad ke-14 dan Resepsi Sastranya.' Patanjala: 


Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 10, No. 1, Maret 2018, hlm. 59-76.

Hernawan, Wawan. (2011). 'Perang Bubat dalam Literatur Majapahit.' Wawasan, Vol. 34, No. 1, 2011.


Hidayat, Sarip. (2015). 'Pandangan Dunia Orang Sunda dalam Tiga Novel Indonesia tentang Perang Bubat.'


Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra, hlm. 105-120.


Sondarika. (2024). 'Dampak Perang Bubat Terhadap Identitas Dan Kebudayaan Masyarakat Sunda.' Jurnal Artefak, Vol. 11, No. 2, September 2024.


Catatan: Daftar pustaka ini hanya mencantumkan sumber-sumber yang dapat diverifikasi keberadaannya melalui publikasi akademik atau arsip perpustakaan. 


Gambar hanya pemanis