06 February 2026

Raja - raja Kerajaan Majapahit Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) dipimpin oleh serangkaian raja yang membawa kerajaan ini dari berdirinya hingga mencapai puncak kejayaan dan akhirnya runtuh. Raja-raja Majapahit dikenal dengan gelar Brawijaya. Berikut adalah urutan raja-raja Majapahit, terutama pada masa kejayaannya: 1. Raden Wijaya (Sri Kertarajasa Jayawardhana) (1293–1309) Pendiri Majapahit, menantu Kertanegara (Raja Singasari terakhir). 2. Jayanegara (Sri Maharaja Wiralanda Gopala Sri Sundara Pandia Dewa Adiswara) (1309–1328) Putra Raden Wijaya. Masa pemerintahannya diwarnai banyak pemberontakan. 3. Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328–1350) Putri Raden Wijaya, memerintah sebagai ratu. Di bawahnya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Amangkubhumi dan mengucapkan Sumpah Palapa. 4. Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) (1350–1389) Putra Tribhuwana. Majapahit mencapai puncak kejayaan (nusantara bersatu) pada masanya. 5. Wikramawardhana (1389–1429) Menantu Hayam Wuruk. Mengalami perang saudara (Perang Paregreg). 6. Suhita (1429–1447) Putri Wikramawardhana. 7. Kertawijaya (Brawijaya I) (1447–1451). 8. Rajasawardhana (Brawijaya II) (1451–1453). (Jeda pemerintahan/interregnum 1453–1456). 9. Girisawardhana (Brawijaya III/Purwawisesa) (1456–1466). 10. Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466–1468/1474). 11. Bhre Kertabumi (Brawijaya V) (1468–1478). Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (1474–1498) Berhasil mengalahkan Bhre Kertabumi dan menyatukan kembali kerajaan, namun wilayahnya sudah menyusut. 12. Patih Udara (1498–1527) Raja terakhir sebelum Majapahit runtuh oleh serangan Demak. Informasi Tambahan: Raja Terbesar: Hayam Wuruk, yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada. Pendiri: Raden Wijaya (Sri Kertarajasa Jayawardhana). Akhir Kerajaan: Mengalami konflik internal (Perang Paregreg) dan tekanan dari Kerajaan Demak.

 Raja - raja Kerajaan Majapahit 



Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) dipimpin oleh serangkaian raja yang membawa kerajaan ini dari berdirinya hingga mencapai puncak kejayaan dan akhirnya runtuh. Raja-raja Majapahit dikenal dengan gelar Brawijaya. 


Berikut adalah urutan raja-raja Majapahit, terutama pada masa kejayaannya:


1. Raden Wijaya (Sri Kertarajasa Jayawardhana) (1293–1309)

Pendiri Majapahit, menantu Kertanegara (Raja Singasari terakhir).


2. Jayanegara (Sri Maharaja Wiralanda Gopala Sri Sundara Pandia Dewa Adiswara) (1309–1328)

Putra Raden Wijaya. Masa pemerintahannya diwarnai banyak pemberontakan.


3. Tribhuwana Wijayatunggadewi (1328–1350)

Putri Raden Wijaya, memerintah sebagai ratu. Di bawahnya, Gajah Mada diangkat menjadi Patih Amangkubhumi dan mengucapkan Sumpah Palapa.


4. Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) (1350–1389)

Putra Tribhuwana. Majapahit mencapai puncak kejayaan (nusantara bersatu) pada masanya.


5. Wikramawardhana (1389–1429)

Menantu Hayam Wuruk. Mengalami perang saudara (Perang Paregreg).


6. Suhita (1429–1447)

Putri Wikramawardhana.


7. Kertawijaya (Brawijaya I) (1447–1451).


8. Rajasawardhana (Brawijaya II) (1451–1453).

(Jeda pemerintahan/interregnum 1453–1456).


9. Girisawardhana (Brawijaya III/Purwawisesa) (1456–1466).


10. Singhawikramawardhana (Suraprabhawa) (1466–1468/1474).


11. Bhre Kertabumi (Brawijaya V) (1468–1478).

Girindrawardhana Dyah Ranawijaya (1474–1498)

Berhasil mengalahkan Bhre Kertabumi dan menyatukan kembali kerajaan, namun wilayahnya sudah menyusut.


12. Patih Udara (1498–1527)

Raja terakhir sebelum Majapahit runtuh oleh serangan Demak. 


Informasi Tambahan:

Raja Terbesar: Hayam Wuruk, yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada.


Pendiri: Raden Wijaya (Sri Kertarajasa Jayawardhana).


Akhir Kerajaan: Mengalami konflik internal (Perang Paregreg) dan tekanan dari Kerajaan Demak.

Siapa Ki Ageng Mangir ? Ki Ageng Mangir (khususnya Ki Ageng Mangir Wanabaya atau Mangir IV) adalah penguasa tanah perdikan Mangir yang legendaris karena keberaniannya menentang kekuasaan Mataram Islam di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Berikut biodata singkat beliau : Nama Asli: Bagus Wanabaya (sering disebut Raden Jaka Humbul Wonoboyo). Gelar: Ki Ageng Mangir IV. Asal-usul: Keturunan raja Majapahit - Ki Ageng Mangir III). Wilayah Kekuasaan: Desa Mangir, Pajangan, Bantul (wilayah perdikan yang bebas pajak sejak era Majapahit). Senjata Pusaka: Tombak Kyai Baru Klinting yang konon sangat sakti. Istri: Pembayun (Putri Panembahan Senopati). Kisah Singkat: Siasat Cinta di Balik Perseteruan Ki Ageng Mangir menolak tunduk pada Mataram karena merasa wilayahnya adalah tanah merdeka. Karena kesaktiannya, Panembahan Senopati tidak berani menyerang secara langsung dan menggunakan strategi "telik sandi" (intelijen). Senopati mengutus putrinya, Pembayun, untuk menyamar menjadi ledhek (penari keliling) guna memikat hati Ki Ageng Mangir. Rencana ini berhasil; Mangir jatuh cinta dan menikahi Pembayun tanpa tahu identitas aslinya. Setelah Pembayun hamil, ia baru mengaku sebagai putri Senopati. Demi rasa hormat pada istri dan calon anaknya, Mangir bersedia melakukan sungkem (penghormatan) ke Mataram. Namun, saat sedang bersujud di hadapan mertuanya, kepalanya konon dibenturkan ke singgasana batu oleh Panembahan Senopati hingga tewas. Sebagai bentuk penghormatan sekaligus hukuman, jasadnya dimakamkan di Makam Raja-Raja Kotagede dengan posisi yang unik: separuh badannya di dalam pagar makam (sebagai menantu) dan separuhnya di luar pagar (sebagai musuh). Salam Rahayu 🙏 Jika ada koreksi atau informasi tambahan, sumangga dipun serat wonten kolom komentar

 Siapa Ki Ageng Mangir ?



Ki Ageng Mangir (khususnya Ki Ageng Mangir Wanabaya atau Mangir IV) adalah penguasa tanah perdikan Mangir yang legendaris karena keberaniannya menentang kekuasaan Mataram Islam di bawah pimpinan Panembahan Senopati. 


Berikut biodata singkat beliau :

Nama Asli: Bagus Wanabaya (sering disebut Raden Jaka Humbul Wonoboyo).

Gelar: Ki Ageng Mangir IV.

Asal-usul: Keturunan raja Majapahit - Ki Ageng Mangir III).

Wilayah Kekuasaan: Desa Mangir, Pajangan, Bantul (wilayah perdikan yang bebas pajak sejak era Majapahit).


Senjata Pusaka: Tombak Kyai Baru Klinting yang konon sangat sakti.


Istri: Pembayun (Putri Panembahan Senopati). 


Kisah Singkat: 

Siasat Cinta di Balik Perseteruan

Ki Ageng Mangir menolak tunduk pada Mataram karena merasa wilayahnya adalah tanah merdeka. Karena kesaktiannya, Panembahan Senopati tidak berani menyerang secara langsung dan menggunakan strategi "telik sandi" (intelijen). 


Senopati mengutus putrinya, Pembayun, untuk menyamar menjadi ledhek (penari keliling) guna memikat hati Ki Ageng Mangir. Rencana ini berhasil; Mangir jatuh cinta dan menikahi Pembayun tanpa tahu identitas aslinya. 


Setelah Pembayun hamil, ia baru mengaku sebagai putri Senopati. Demi rasa hormat pada istri dan calon anaknya, Mangir bersedia melakukan sungkem (penghormatan) ke Mataram. Namun, saat sedang bersujud di hadapan mertuanya, kepalanya konon dibenturkan ke singgasana batu oleh Panembahan Senopati hingga tewas. 


Sebagai bentuk penghormatan sekaligus hukuman, jasadnya dimakamkan di Makam Raja-Raja Kotagede dengan posisi yang unik: separuh badannya di dalam pagar makam (sebagai menantu) dan separuhnya di luar pagar (sebagai musuh). 


Salam Rahayu 🙏 

Jika ada koreksi atau informasi tambahan, sumangga dipun serat wonten kolom komentar


Sumber : Abi R Djajadiredja

Silsilah Ki Ageng Mangir dan keturunan Ki Ageng Mangir Ki Ageng Mangir Wanabaya (Ki Ageng Mangir IV) memiliki garis keturunan yang menghubungkan tradisi Majapahit dengan sejarah awal Kesultanan Mataram Islam. Silsilah Leluhur Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah keturunan dari penguasa perdikan Mangir secara turun-temurun: - Lembu Peteng (Lembu Amisani): Putra dari Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit). - Ki Ageng Mangir I (Raden Megatsari): Anak Lembu Peteng yang membuka wilayah Mangir. - Ki Ageng Mangir II. - Ki Ageng Mangir III. - Bagus Wanabaya (Ki Ageng Mangir IV): Tokoh yang berkonflik dengan Panembahan Senopati. Anak dan Keturunan beliau : Ki Ageng Mangir IV menikah dengan Raden Ayu Roro Pembayun, putri sulung dari Panembahan Senopati. Keturunan mereka yang tercatat dalam sejarah dan legenda antara lain: 1. Raden Bagus Wanabaya: Anak laki-laki dari pernikahan Ki Ageng Mangir dengan Roro Pembayun. 2. Nyimas Utari (Utari Sandijayan): Cucu dari Ki Ageng Mangir (putri dari Raden Bagus Wanabaya). Dalam kisah populer, ia dikenal sebagai agen intelijen Mataram yang berhasil menyusup ke Batavia dan dikaitkan dengan kematian Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen.

 Silsilah Ki Ageng Mangir dan keturunan Ki Ageng Mangir



Ki Ageng Mangir Wanabaya (Ki Ageng Mangir IV) memiliki garis keturunan yang menghubungkan tradisi Majapahit dengan sejarah awal Kesultanan Mataram Islam. 


Silsilah Leluhur

Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah keturunan dari penguasa perdikan Mangir secara turun-temurun:

 

- Lembu Peteng (Lembu Amisani): Putra dari Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit).

- Ki Ageng Mangir I (Raden Megatsari): Anak Lembu Peteng yang membuka wilayah Mangir.

- Ki Ageng Mangir II.

- Ki Ageng Mangir III.

- Bagus Wanabaya (Ki Ageng Mangir IV): Tokoh yang berkonflik dengan Panembahan Senopati. 


Anak dan Keturunan beliau :


Ki Ageng Mangir IV menikah dengan Raden Ayu Roro Pembayun, putri sulung dari Panembahan Senopati.


Keturunan mereka yang tercatat dalam sejarah dan legenda antara lain: 


1. Raden Bagus Wanabaya: Anak laki-laki dari pernikahan Ki Ageng Mangir dengan Roro Pembayun.


2. Nyimas Utari (Utari Sandijayan): Cucu dari Ki Ageng Mangir (putri dari Raden Bagus Wanabaya). Dalam kisah populer, ia dikenal sebagai agen intelijen Mataram yang berhasil menyusup ke Batavia dan dikaitkan dengan kematian Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen.


Sumber : Abi R Djajadiredja

04 February 2026

BERDIRI SENDIRIAN SAAT KEKUASAAN RUNTUH KISAH MENTERI TERAKHIR YANG SETIA MENDAMPINGI SOEHARTO Jakarta, Mei 1998. Di tengah tekanan politik yang memuncak, demonstrasi mahasiswa di berbagai kota, dan retaknya dukungan elite, Presiden Soeharto masih mencoba satu langkah terakhir: membentuk kabinet reformasi. Upaya itu dimaksudkan untuk meredam krisis legitimasi yang semakin dalam. Namun sejarah bergerak lebih cepat dari rencana. Satu per satu menteri menyatakan mundur. Dukungan politik yang selama puluhan tahun menopang kekuasaan Orde Baru runtuh dalam hitungan hari. Pada malam 20 Mei 1998, setelah pertemuan dengan Wakil Presiden BJ Habibie, Soeharto akhirnya menyadari bahwa tak ada lagi fondasi politik yang bisa dipertahankan. Pagi 21 Mei 1998, di Istana Merdeka, Jakarta, Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia. Kekuasaan resmi diserahkan kepada BJ Habibie, menandai berakhirnya satu era panjang dalam sejarah politik Indonesia. Ada satu detail yang kerap luput dari ingatan publik. Pada momen yang seharusnya dihadiri jajaran kabinet, Soeharto justru berdiri hampir sendirian. Mayoritas menterinya telah memilih pergi. Dari seluruh anggota kabinet, hanya satu yang tetap berada di sisi presiden hingga detik terakhir. Ia adalah Saadillah Mursjid, Menteri Sekretaris Negara saat itu. Di tengah situasi politik yang tidak populer dan berisiko, Saadillah tidak meninggalkan jabatannya. Ia mendampingi Soeharto saat pengumuman pengunduran diri dibacakan, menjadi simbol loyalitas administratif di saat kekuasaan kehilangan pijakan. Kesetiaan Saadillah Mursjid bukan tanpa catatan. Sejumlah tokoh reformasi, termasuk Amien Rais, pernah menyampaikan penghargaan atas sikapnya yang memilih tetap menjalankan tanggung jawab negara hingga akhir, meski arus politik bergerak ke arah sebaliknya. Dalam konteks transisi kekuasaan yang penuh ketegangan, sikap itu dinilai sebagai bentuk konsistensi terhadap amanah jabatan, bukan pembelaan terhadap kekuasaan. Peristiwa 21 Mei 1998 bukan hanya tentang lengsernya seorang presiden, tetapi juga tentang pilihan-pilihan personal di saat krisis: siapa yang pergi, siapa yang bertahan, dan apa makna loyalitas ketika sejarah sedang berbelok arah. Dua puluh lima tahun lebih berlalu, kisah ini tetap relevan untuk direnungkan—terutama ketika publik kembali bertanya, masih adakah figur yang memilih berdiri di samping tanggung jawabnya saat situasi menjadi paling sulit? #Reformasi1998 #SejarahIndonesia #Soeharto #KabinetIndonesia #PolitikNasional

 BERDIRI SENDIRIAN SAAT KEKUASAAN RUNTUH KISAH MENTERI TERAKHIR YANG SETIA MENDAMPINGI SOEHARTO


Jakarta, Mei 1998. Di tengah tekanan politik yang memuncak, demonstrasi mahasiswa di berbagai kota, dan retaknya dukungan elite, Presiden Soeharto masih mencoba satu langkah terakhir: membentuk kabinet reformasi. Upaya itu dimaksudkan untuk meredam krisis legitimasi yang semakin dalam. Namun sejarah bergerak lebih cepat dari rencana.



Satu per satu menteri menyatakan mundur. Dukungan politik yang selama puluhan tahun menopang kekuasaan Orde Baru runtuh dalam hitungan hari. Pada malam 20 Mei 1998, setelah pertemuan dengan Wakil Presiden BJ Habibie, Soeharto akhirnya menyadari bahwa tak ada lagi fondasi politik yang bisa dipertahankan.


Pagi 21 Mei 1998, di Istana Merdeka, Jakarta, Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia. Kekuasaan resmi diserahkan kepada BJ Habibie, menandai berakhirnya satu era panjang dalam sejarah politik Indonesia.


Ada satu detail yang kerap luput dari ingatan publik. Pada momen yang seharusnya dihadiri jajaran kabinet, Soeharto justru berdiri hampir sendirian. Mayoritas menterinya telah memilih pergi. Dari seluruh anggota kabinet, hanya satu yang tetap berada di sisi presiden hingga detik terakhir.


Ia adalah Saadillah Mursjid, Menteri Sekretaris Negara saat itu. Di tengah situasi politik yang tidak populer dan berisiko, Saadillah tidak meninggalkan jabatannya. Ia mendampingi Soeharto saat pengumuman pengunduran diri dibacakan, menjadi simbol loyalitas administratif di saat kekuasaan kehilangan pijakan.


Kesetiaan Saadillah Mursjid bukan tanpa catatan. Sejumlah tokoh reformasi, termasuk Amien Rais, pernah menyampaikan penghargaan atas sikapnya yang memilih tetap menjalankan tanggung jawab negara hingga akhir, meski arus politik bergerak ke arah sebaliknya. Dalam konteks transisi kekuasaan yang penuh ketegangan, sikap itu dinilai sebagai bentuk konsistensi terhadap amanah jabatan, bukan pembelaan terhadap kekuasaan.


Peristiwa 21 Mei 1998 bukan hanya tentang lengsernya seorang presiden, tetapi juga tentang pilihan-pilihan personal di saat krisis: siapa yang pergi, siapa yang bertahan, dan apa makna loyalitas ketika sejarah sedang berbelok arah. Dua puluh lima tahun lebih berlalu, kisah ini tetap relevan untuk direnungkan—terutama ketika publik kembali bertanya, masih adakah figur yang memilih berdiri di samping tanggung jawabnya saat situasi menjadi paling sulit?


#Reformasi1998

#SejarahIndonesia

#Soeharto

#KabinetIndonesia

#PolitikNasional

Kecerdasan Soeharto dalam memakamkan Soekarno Ketika Presiden Soekarno wafat, polemik muncul mengenai dimana seharusnya Presiden Soekarno dimakamkan. Keluarga ada yang menghendaki dimakamkan di Surabaya, ditempat kelahirannya, sementara keluarga yang lain menghendaki dimakamkan di Bogor sesuai wasiat Almarhum yang masih samar-samar. Polemik ini tidak kunjung tuntas, padahal Presiden Pertama RI itu harus segera dimakamkan. Jendral Soeharto akhirnya mengetahui jika Soekarno sangat sayang sekali dengan ibunya. Oleh karena itu, Soehartopun memakamkannya disamping makam ibunya. Ket : Presiden Soekarno dimakamkan di samping makam ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur. Pemakaman ini didasarkan pada Keppres No. 44 Tahun 1970, di mana Soekarno disemayamkan dekat dengan orang tuanya setelah wafat pada 21 Juni 1970.

 Kecerdasan Soeharto dalam memakamkan Soekarno 


Ketika Presiden Soekarno wafat, polemik muncul mengenai dimana seharusnya Presiden Soekarno dimakamkan. Keluarga ada yang menghendaki dimakamkan di Surabaya, ditempat kelahirannya, sementara keluarga yang lain menghendaki dimakamkan di Bogor sesuai wasiat Almarhum yang masih samar-samar. 



Polemik ini tidak kunjung tuntas, padahal Presiden Pertama RI itu harus segera dimakamkan. Jendral Soeharto akhirnya mengetahui jika Soekarno sangat sayang sekali dengan ibunya. Oleh karena itu, Soehartopun memakamkannya disamping makam ibunya. 


Ket :

Presiden Soekarno dimakamkan di samping makam ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur. Pemakaman ini didasarkan pada Keppres No. 44 Tahun 1970, di mana Soekarno disemayamkan dekat dengan orang tuanya setelah wafat pada 21 Juni 1970.

03 February 2026

Ini adalah potret asli pemakaman Jendral Soedirman, terlihat didalam petinya berbalut bendera merah putih dan rangkaian bunga. Jenderal Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 pukul 18.30 di Magelang akibat penyakit TBC. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki, Yogyakarta pada 30 Januari 1950. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan orang yang mengiringi jenazah dari Magelang ke Yogyakarta dengan iringan mobil dan tank. Sumber : SJ

 Ini adalah potret asli pemakaman Jendral Soedirman, terlihat didalam petinya berbalut bendera merah putih dan rangkaian bunga. 



Jenderal Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 pukul 18.30 di Magelang akibat penyakit TBC. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki, Yogyakarta pada 30 Januari 1950. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan orang yang mengiringi jenazah dari Magelang ke Yogyakarta dengan iringan mobil dan tank.


Sumber : SJ

Banyak yang memuja para petinggi Wangsa Mataram di abad ke-18 sebagai sosok adi luhung yang tak tertandingi. Namun, tinta sejarah di tahun 1755 mencatat realita yang berbeda. Di bawah temaram lampu meja perundingan Belanda, dua kutub kekuasaan di jantung Jawa tersebut sebenarnya hanya sedang memperebutkan 'potongan kue' sisa-sisa kedaulatan yang disodorkan oleh kongsi dagang asing. * Bukan Perang Suci, Tapi Rebutan Kursi: Giyanti adalah puncak dari kegagalan elit Jawa untuk bersatu. VOC (bangsa asing) bertindak sebagai wasit sekaligus bandar. Hasilnya? Mataram pecah jadi dua: Surakarta dan Yogyakarta. Bangga dengan perpecahan? Itu adalah awal dari strategi Devide et Impera yang sukses total karena elit kita lebih haus jabatan daripada kedaulatan. * Raja yang 'Diangkat' Kompeni: Dalam naskah Giyanti, secara implisit dan eksplisit, kekuasaan raja-raja tersebut harus mendapatkan legitimasi atau 'restu' dari Gubernur Jenderal VOC. Artinya, secara de facto, penguasa Jawa saat itu adalah pegawai VOC yang diberi gelar Raja. * Takhayul vs Tanda Tangan: Di saat rakyat masih sibuk percaya ramalan dan jimat, Nicolaas Hartingh (wakil VOC) cukup membawa selembar kertas dan pena untuk membelah tanah Jawa menjadi dua. Ini bukti bahwa birokrasi dan nalar politik jauh lebih mematikan daripada keris sakti manapun. * Matinya Kedaulatan Ekonomi: Lewat perjanjian ini dan lanjutannya, VOC mendapatkan hak istimewa di pesisir utara Jawa. Raja-raja kita 'nyaman' di dalam istana yang megah di pedalaman, sementara urat nadi ekonomi (pelabuhan) diserahkan ke asing. Itulah definisi sebenarnya dari Kandang Kebodohan yang Mewah. Dekonstruksi Narasi: Perjanjian Giyanti bukan simbol kejayaan, tapi simbol ketidakberdayaan. Kita merayakan pecahnya kerajaan kita sendiri sebagai 'warisan budaya', padahal itu adalah monumen kekalahan nalar diplomasi kita di hadapan kapitalisme global. ​#NusantaraExcited ​#PerjanjianGiyanti #Giyanti1755 ​#SejarahMataram ​#Ngayogyakarta #Surakarta ​#SejarahJawa ​#DevideEtImpera #Kolonialisme

 Banyak yang memuja para petinggi Wangsa Mataram di abad ke-18 sebagai sosok adi luhung yang tak tertandingi. Namun, tinta sejarah di tahun 1755 mencatat realita yang berbeda. Di bawah temaram lampu meja perundingan Belanda, dua kutub kekuasaan di jantung Jawa tersebut sebenarnya hanya sedang memperebutkan 'potongan kue' sisa-sisa kedaulatan yang disodorkan oleh kongsi dagang asing.



 * Bukan Perang Suci, Tapi Rebutan Kursi: Giyanti adalah puncak dari kegagalan elit Jawa untuk bersatu. VOC (bangsa asing) bertindak sebagai wasit sekaligus bandar. Hasilnya? Mataram pecah jadi dua: Surakarta dan Yogyakarta. Bangga dengan perpecahan? Itu adalah awal dari strategi Devide et Impera yang sukses total karena elit kita lebih haus jabatan daripada kedaulatan.


 * Raja yang 'Diangkat' Kompeni: Dalam naskah Giyanti, secara implisit dan eksplisit, kekuasaan raja-raja tersebut harus mendapatkan legitimasi atau 'restu' dari Gubernur Jenderal VOC. Artinya, secara de facto, penguasa Jawa saat itu adalah pegawai VOC yang diberi gelar Raja.


 * Takhayul vs Tanda Tangan: Di saat rakyat masih sibuk percaya ramalan dan jimat, Nicolaas Hartingh (wakil VOC) cukup membawa selembar kertas dan pena untuk membelah tanah Jawa menjadi dua. Ini bukti bahwa birokrasi dan nalar politik jauh lebih mematikan daripada keris sakti manapun.


 * Matinya Kedaulatan Ekonomi: Lewat perjanjian ini dan lanjutannya, VOC mendapatkan hak istimewa di pesisir utara Jawa. Raja-raja kita 'nyaman' di dalam istana yang megah di pedalaman, sementara urat nadi ekonomi (pelabuhan) diserahkan ke asing. Itulah definisi sebenarnya dari Kandang Kebodohan yang Mewah.


Dekonstruksi Narasi: Perjanjian Giyanti bukan simbol kejayaan, tapi simbol ketidakberdayaan. Kita merayakan pecahnya kerajaan kita sendiri sebagai 'warisan budaya', padahal itu adalah monumen kekalahan nalar diplomasi kita di hadapan kapitalisme global.


​#NusantaraExcited ​#PerjanjianGiyanti #Giyanti1755 ​#SejarahMataram ​#Ngayogyakarta #Surakarta ​#SejarahJawa ​#DevideEtImpera #Kolonialisme

28 January 2026

TERNYATA JENDERAL SOEDIRMAN MENOLAK PERINTAH PRESIDEN‼️ " Saat Kesetiaan pada Bangsa Lebih Tinggi dari Keselamatan Diri " Yogyakarta runtuh. Pagi buta 19 Desember 1948, langit Ibu Kota Republik Indonesia diguncang dentuman bom Belanda. Agresi Militer Belanda II bukan sekadar serangan fisik, ia adalah upaya mematahkan nyawa Republik yang masih rapuh. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap. Pemerintahan sipil dilumpuhkan. Dunia seakan menyaksikan Republik Indonesia di ambang ajal. Namun sejarah belum selesai ditulis. Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang Panglima Besar bernama Jenderal Soedirman. Tiga bulan lamanya ia terbaring lemah, paru-parunya digerogoti penyakit. Tubuhnya ringkih, napasnya tersengal. Tetapi jiwanya tegak seperti Merapi yang menolak runtuh. PERTARUNGAN KEHENDAK DI ISTANA Pagi itu, Jenderal Soedirman mendatangi Istana Yogyakarta. Ia datang bukan sebagai orang sakit yang mencari perlindungan, melainkan sebagai panglima yang menolak menyerah. Didampingi Kapten T.B. Simatupang dan dokter pribadinya, Soewondo, ia memasuki sidang kabinet dalam suasana tegang dan genting. Presiden Soekarno, dengan kepedulian seorang pemimpin dan sahabat, memintanya mundur. “Mas Dirman, Saudara sedang sakit. Pulanglah, beristirahatlah,” ujar Bung Karno. Namun Jenderal Soedirman bergeming. Baginya, beristirahat sementara rakyat dibombardir adalah pengkhianatan nurani. Baginya, meninggalkan kota sebelum bom pertama jatuh sama artinya dengan lari dari tanggung jawab sejarah. Ia menolak bersembunyi di balik tembok istana ketika pasukannya dan rakyatnya berdiri telanjang menghadapi moncong senjata penjajah. Baru setelah bom Belanda menghujani Yogyakarta, dan demi alasan kemanusiaan, dokter Soewondo membujuknya untuk meninggalkan istana. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk berperang dengan caranya sendiri. PERINTAH KILAT DARI MANGKUBUMEN: Republik Masih Bernapas Siang harinya, ketika kabar pendudukan Yogyakarta menyebar, Jenderal Soedirman mengirimkan pesan kilat yang kelak menjadi suluh perlawanan TNI: “Perjuangan belum selesai. Tetap bertempur.” Kalimat singkat itu adalah denyut jantung Republik. Di kediamannya di Mangkubumen, seluruh dokumen penting dibakar, agar tidak jatuh ke tangan musuh. Dengan tubuh yang dibalut mantel hitam, ditandu oleh prajurit-prajurit setia, Panglima Besar meninggalkan kota. Langkah itu menandai dimulainya Perang Gerilya Semesta, sebuah strategi yang membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tidak dapat ditangkap, tidak dapat dipenjara, dan tidak dapat dibunuh. Perlawanan bersenjata pun menjadi pilihan terakhir dan paling jujur: menjaga kedaulatan dengan darah dan pengorbanan, ketika diplomasi tak lagi didengar. Sebagaimana dicatat oleh T.B. Simatupang, pada momen itu: “Kata telah diserahkan kepada kekerasan senjata yang dilambangkan oleh Pak Dirman.” Jenderal Soedirman mengajarkan satu hal yang tak lekang oleh waktu, bahwa cinta tanah air bukan slogan, melainkan kesediaan untuk menderita demi bangsa. Ia menolak perintah bukan karena pembangkangan, melainkan karena kesetiaan yang lebih tinggi kepada Republik, kepada rakyat, dan kepada sejarah Indonesia yang belum boleh tamat. Sumber : Rapakat #JenderalSoedirman #PanglimaBesar #AgresiMiliterBelandaII #PerangGerilya #SejarahIndonesia #Yogyakarta1948 #PahlawanBangsa

 

TERNYATA JENDERAL SOEDIRMAN MENOLAK PERINTAH PRESIDEN‼️

" Saat Kesetiaan pada Bangsa Lebih Tinggi dari Keselamatan Diri "



Yogyakarta runtuh.
Pagi buta 19 Desember 1948, langit Ibu Kota Republik Indonesia diguncang dentuman bom Belanda. Agresi Militer Belanda II bukan sekadar serangan fisik, ia adalah upaya mematahkan nyawa Republik yang masih rapuh. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap. Pemerintahan sipil dilumpuhkan. Dunia seakan menyaksikan Republik Indonesia di ambang ajal.

Namun sejarah belum selesai ditulis.
Di tengah kekacauan itu, berdiri seorang Panglima Besar bernama Jenderal Soedirman. Tiga bulan lamanya ia terbaring lemah, paru-parunya digerogoti penyakit. Tubuhnya ringkih, napasnya tersengal. Tetapi jiwanya tegak seperti Merapi yang menolak runtuh.

PERTARUNGAN KEHENDAK DI ISTANA
Pagi itu, Jenderal Soedirman mendatangi Istana Yogyakarta. Ia datang bukan sebagai orang sakit yang mencari perlindungan, melainkan sebagai panglima yang menolak menyerah. Didampingi Kapten T.B. Simatupang dan dokter pribadinya, Soewondo, ia memasuki sidang kabinet dalam suasana tegang dan genting.

Presiden Soekarno, dengan kepedulian seorang pemimpin dan sahabat, memintanya mundur.
“Mas Dirman, Saudara sedang sakit. Pulanglah, beristirahatlah,” ujar Bung Karno.

Namun Jenderal Soedirman bergeming.
Baginya, beristirahat sementara rakyat dibombardir adalah pengkhianatan nurani. Baginya, meninggalkan kota sebelum bom pertama jatuh sama artinya dengan lari dari tanggung jawab sejarah. Ia menolak bersembunyi di balik tembok istana ketika pasukannya dan rakyatnya berdiri telanjang menghadapi moncong senjata penjajah.
Baru setelah bom Belanda menghujani Yogyakarta, dan demi alasan kemanusiaan, dokter Soewondo membujuknya untuk meninggalkan istana. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk berperang dengan caranya sendiri.

PERINTAH KILAT DARI MANGKUBUMEN: Republik Masih Bernapas
Siang harinya, ketika kabar pendudukan Yogyakarta menyebar, Jenderal Soedirman mengirimkan pesan kilat yang kelak menjadi suluh perlawanan TNI:

“Perjuangan belum selesai. Tetap bertempur.”

Kalimat singkat itu adalah denyut jantung Republik.

Di kediamannya di Mangkubumen, seluruh dokumen penting dibakar, agar tidak jatuh ke tangan musuh. Dengan tubuh yang dibalut mantel hitam, ditandu oleh prajurit-prajurit setia, Panglima Besar meninggalkan kota. Langkah itu menandai dimulainya Perang Gerilya Semesta, sebuah strategi yang membuktikan kepada dunia bahwa Republik Indonesia tidak dapat ditangkap, tidak dapat dipenjara, dan tidak dapat dibunuh.
Perlawanan bersenjata pun menjadi pilihan terakhir dan paling jujur: menjaga kedaulatan dengan darah dan pengorbanan, ketika diplomasi tak lagi didengar.

Sebagaimana dicatat oleh T.B. Simatupang, pada momen itu:

“Kata telah diserahkan kepada kekerasan senjata yang dilambangkan oleh Pak Dirman.”

Jenderal Soedirman mengajarkan satu hal yang tak lekang oleh waktu, bahwa cinta tanah air bukan slogan, melainkan kesediaan untuk menderita demi bangsa.

Ia menolak perintah bukan karena pembangkangan, melainkan karena kesetiaan yang lebih tinggi kepada Republik, kepada rakyat, dan kepada sejarah Indonesia yang belum boleh tamat.

Sumber : Rapakat 

#JenderalSoedirman #PanglimaBesar #AgresiMiliterBelandaII
#PerangGerilya #SejarahIndonesia #Yogyakarta1948 #PahlawanBangsa

27 January 2026

Brosur Bergambar Propaganda dari Partai Masyumi Menjelang Pemilu Tahun 1955. Secara blak-blakan Masyumi menyebarkan pamflet bergambar agar dipemilu 1955 mencoblos bulan bintang. Gambar diatasnya terdapat gambar Rakyat sedang menghadapi Belanda tapi ditusuk dari belakang oleh PKI. Gambar ini juga mengisyaratkan seruan Masyumi pada rakyat agar jangan pilih PKI. Karena PKI pada 1948 (Pemberontakan Madiun) dianggap sebagai penghianat. Catatan : Pemberontakan PKI Madiun terjadi pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur, dipimpin oleh Muso dan Amir Sjarifuddin. Sebab utamanya adalah kekecewaan terhadap hasil Perjanjian Renville, jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin, serta keinginan mendirikan negara Soviet Indonesia dengan ideologi komunis menggantikan Pancasila.

 Brosur Bergambar Propaganda dari Partai Masyumi Menjelang Pemilu Tahun 1955. 



Secara blak-blakan Masyumi menyebarkan pamflet bergambar agar dipemilu 1955 mencoblos bulan bintang. Gambar diatasnya terdapat gambar Rakyat sedang menghadapi Belanda tapi ditusuk dari belakang oleh PKI. Gambar ini juga mengisyaratkan seruan Masyumi pada rakyat agar jangan pilih PKI. Karena PKI pada 1948 (Pemberontakan Madiun) dianggap sebagai penghianat. 


Catatan : 

Pemberontakan PKI Madiun terjadi pada 18 September 1948 di Madiun, Jawa Timur, dipimpin oleh Muso dan Amir Sjarifuddin. Sebab utamanya adalah kekecewaan terhadap hasil Perjanjian Renville, jatuhnya Kabinet Amir Sjarifuddin, serta keinginan mendirikan negara Soviet Indonesia dengan ideologi komunis menggantikan Pancasila.


Sumber : Sejarah Cirebon

DI EKSEKUSI M4TI KARENA MENOLAK MENUNJUKKAN PETA KEKAYAAN IBU PERTIWI‼️ Yogyakarta, 8 Mei 1949, bumi Indonesia berduka. Seorang putra terbaik bangsa, Mayor Arie Frederik Lasut, gugur ditembak secara biadab oleh Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) di Pakem, Yogyakarta. Ia syahid bukan di parit pertempuran, melainkan di garis sunyi perjuangan intelektual, karena menolak menjual rahasia kekayaan alam bangsanya kepada penjajah. Putra Minahasa yang tegap dan berjiwa baja ini menjabat sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Republik Indonesia. Dalam dirinya, ilmu pengetahuan berpadu dengan keberanian revolusioner. Pengorbanannya adalah deklarasi agung bahwa kedaulatan bangsa tidak hanya dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan integritas, ilmu, dan sumpah setia kepada tanah air hingga tetes darah terakhir. Pahlawan Pertambangan yang “Terlalu Mahal” untuk Dikhianati Di tengah kobaran Agresi Militer Belanda II, saat Yogyakarta sebagai ibu kota Republik berada dalam tekanan paling genting, Mayor Arie Lasut berdiri sebagai benteng terakhir kedaulatan ekonomi Indonesia. Ia adalah salah satu ahli geologi dan pertambangan pribumi pertama yang diakui keilmuannya—bahkan sejak masa pendudukan Jepang. Keahliannya membuat namanya diperhitungkan, sekaligus diburu. Pasca Proklamasi, di usia yang baru 28 tahun, negara mempercayakan kepadanya amanah maha berat: mengamankan seluruh data dan peta geologi strategis Nusantara, lokasi mineral, batubara, dan minyak bumi. Dokumen-dokumen itu adalah urat nadi masa depan Republik, kunci kemakmuran bangsa yang baru lahir. Belanda/NICA paham betul nilainya. Mereka merayu, mengancam, dan merencanakan pencurian. Namun Arie Lasut bukan tipe pejuang yang bisa dibeli. Baginya, ilmu adalah senjata, dan kehormatan bangsa adalah harga mati. DICULIK DAN DISIKSA, RAHASIA NEGARA DIBAWA KE LIANG LAHAT‼️ Pagi 7 Mei 1949, sekitar pukul 09.00 WIB, tiga serdadu khusus KNIL menyergap kediaman Arie Lasut di Pugeran, Yogyakarta. Ia diculik secara paksa. Dalam perjalanan menuju utara Yogyakarta, di dalam jip militer penjajah, siksaan kejam dan brutal menghujani tubuhnya. Pukulan demi pukulan dilancarkan. Tujuannya satu: memaksa sang “Bapak Pertambangan Indonesia” membuka lokasi penyimpanan dokumen rahasia negara, data cadangan mineral strategis yang menjadi rebutan imperialis. Namun Arie Lasut tetap tegak. Di bawah penderitaan yang tak terperi, ia memilih diam yang mulia. Rahasia negara ia kubur bersama tekadnya lebih dalam dari liang mana pun. EKSEKUSI DI KAKI MERAPI: Gugur dengan Kehormatan Karena gagal mematahkan pendiriannya, KNIL menunjukkan wajah paling biadab dari kolonialisme. Sekitar pukul 10.00 WIB, di Pakem, Sleman, sekitar 7 kilometer utara Yogyakarta tepatnya di kaki Gunung Merapi, Mayor Arie Frederik Lasut dieksekusi dengan tembakan. Ia gugur di usia 30 tahun bukan sebagai prajurit garis depan, melainkan sebagai intelektual pejuang yang menolak berkompromi dengan pengkhianatan. Ia memilih kematian yang terhormat daripada hidup dengan noda menjual bumi pertiwi. Jenazahnya dimakamkan di TPU Sasanalaya, Yogyakarta, dengan upacara yang dihadiri Mr. Assaat, Pejabat Presiden Republik Indonesia kala itu, sebuah penghormatan negara kepada pahlawan sejatinya. Arie Frederik Lasut bukan sekadar pahlawan bersenjata. Ia adalah penjaga kedaulatan energi dan mineral Indonesia. Berkat keberaniannya, data pertambangan strategis bangsa selamat dari cengkeraman kolonial, dan Republik memiliki fondasi untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sebagai penghormatan atas jasa dan pengorbanannya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969. Nama dan perjuangannya diabadikan dalam monumen dan prasasti, termasuk di Museum Geologi Bandung, sebagai pengingat abadi bahwa kemerdekaan Indonesia ditegakkan oleh darah, ilmu, dan idealisme yang tak ternilai harganya. Arie Frederik Lasut telah gugur. Namun sumpah setianya hidup abadi di perut bumi Indonesia yang ia jaga hingga akhir hayat. 🇮🇩🔥

 DI EKSEKUSI M4TI KARENA MENOLAK MENUNJUKKAN PETA KEKAYAAN IBU PERTIWI‼️



Yogyakarta, 8 Mei 1949, bumi Indonesia berduka. Seorang putra terbaik bangsa, Mayor Arie Frederik Lasut, gugur ditembak secara biadab oleh Tentara Kerajaan Belanda (KNIL) di Pakem, Yogyakarta. Ia syahid bukan di parit pertempuran, melainkan di garis sunyi perjuangan intelektual, karena menolak menjual rahasia kekayaan alam bangsanya kepada penjajah.


Putra Minahasa yang tegap dan berjiwa baja ini menjabat sebagai Kepala Jawatan Tambang dan Geologi Republik Indonesia. Dalam dirinya, ilmu pengetahuan berpadu dengan keberanian revolusioner. Pengorbanannya adalah deklarasi agung bahwa kedaulatan bangsa tidak hanya dipertahankan dengan senjata, tetapi juga dengan integritas, ilmu, dan sumpah setia kepada tanah air hingga tetes darah terakhir.

Pahlawan Pertambangan yang “Terlalu Mahal” untuk Dikhianati


Di tengah kobaran Agresi Militer Belanda II, saat Yogyakarta sebagai ibu kota Republik berada dalam tekanan paling genting, Mayor Arie Lasut berdiri sebagai benteng terakhir kedaulatan ekonomi Indonesia. Ia adalah salah satu ahli geologi dan pertambangan pribumi pertama yang diakui keilmuannya—bahkan sejak masa pendudukan Jepang. Keahliannya membuat namanya diperhitungkan, sekaligus diburu.


Pasca Proklamasi, di usia yang baru 28 tahun, negara mempercayakan kepadanya amanah maha berat: mengamankan seluruh data dan peta geologi strategis Nusantara, lokasi mineral, batubara, dan minyak bumi. Dokumen-dokumen itu adalah urat nadi masa depan Republik, kunci kemakmuran bangsa yang baru lahir.


Belanda/NICA paham betul nilainya. Mereka merayu, mengancam, dan merencanakan pencurian. Namun Arie Lasut bukan tipe pejuang yang bisa dibeli. Baginya, ilmu adalah senjata, dan kehormatan bangsa adalah harga mati.


DICULIK DAN DISIKSA, RAHASIA NEGARA DIBAWA KE LIANG LAHAT‼️

Pagi 7 Mei 1949, sekitar pukul 09.00 WIB, tiga serdadu khusus KNIL menyergap kediaman Arie Lasut di Pugeran, Yogyakarta. Ia diculik secara paksa.


Dalam perjalanan menuju utara Yogyakarta, di dalam jip militer penjajah, siksaan kejam dan brutal menghujani tubuhnya. Pukulan demi pukulan dilancarkan. Tujuannya satu: memaksa sang “Bapak Pertambangan Indonesia” membuka lokasi penyimpanan dokumen rahasia negara, data cadangan mineral strategis yang menjadi rebutan imperialis.


Namun Arie Lasut tetap tegak. Di bawah penderitaan yang tak terperi, ia memilih diam yang mulia. Rahasia negara ia kubur bersama tekadnya lebih dalam dari liang mana pun.


EKSEKUSI DI KAKI MERAPI: Gugur dengan Kehormatan

Karena gagal mematahkan pendiriannya, KNIL menunjukkan wajah paling biadab dari kolonialisme. Sekitar pukul 10.00 WIB, di Pakem, Sleman, sekitar 7 kilometer utara Yogyakarta tepatnya di kaki Gunung Merapi, Mayor Arie Frederik Lasut dieksekusi dengan tembakan. Ia gugur di usia 30 tahun bukan sebagai prajurit garis depan, melainkan sebagai intelektual pejuang yang menolak berkompromi dengan pengkhianatan. Ia memilih kematian yang terhormat daripada hidup dengan noda menjual bumi pertiwi.


Jenazahnya dimakamkan di TPU Sasanalaya, Yogyakarta, dengan upacara yang dihadiri Mr. Assaat, Pejabat Presiden Republik Indonesia kala itu, sebuah penghormatan negara kepada pahlawan sejatinya.


Arie Frederik Lasut bukan sekadar pahlawan bersenjata.

Ia adalah penjaga kedaulatan energi dan mineral Indonesia. Berkat keberaniannya, data pertambangan strategis bangsa selamat dari cengkeraman kolonial, dan Republik memiliki fondasi untuk berdiri di atas kaki sendiri.


Sebagai penghormatan atas jasa dan pengorbanannya, negara menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969. Nama dan perjuangannya diabadikan dalam monumen dan prasasti, termasuk di Museum Geologi Bandung, sebagai pengingat abadi bahwa kemerdekaan Indonesia ditegakkan oleh darah, ilmu, dan idealisme yang tak ternilai harganya.


Arie Frederik Lasut telah gugur.

Namun sumpah setianya hidup abadi di perut bumi Indonesia yang ia jaga hingga akhir hayat. 🇮🇩🔥

26 January 2026

Raja Yogyakarta yang tercatat memiliki anak dan selir terbanyak adalah Sri Sultan Hamengkubuwono II (HB II), meskipun Sri Sultan Hamengkubuwono VII (HB VII) memiliki jumlah keturunan yang hampir sama. 1. Sri Sultan Hamengkubuwono II Beliau dikenal sebagai raja dengan jumlah anak terbanyak, yaitu 80 anak dari total 31 istri (4 permaisuri dan 27 selir). Beberapa nama selir (garwa ampeyan) beliau yang tercatat antara lain: BMAy. Sepuh BMAy. Pringgodiningrat BMAy. Prawirodiningrat II BMAy. Basari BMAy. Dewaningrum BMAy. Mindoko BMAy. Puspitoresmi BMAy. Sumarsih BMAy. Tejaningsih BMAy. Herowati (Total keseluruhan mencapai 27-28 selir). 2. Sri Sultan Hamengkubuwono VII Beliau memiliki 78 anak dan dikenal sebagai "Sultan Sugih" (Sultan Kaya) karena kemajuan industri gula di masanya. Beliau tercatat memiliki sekitar 18 istri (permaisuri dan selir). Beberapa nama selir dan istri beliau meliputi: GKR Kencana GKR Wandhan GKR Hemas KRAy. Retnaningrum KRAy. Ratnaningdyah KRAy. Ratnapurwita KRAy. Retnowinardi Sebagai informasi tambahan, meskipun memiliki banyak keturunan, daftar lengkap nama selir sering kali hanya tersimpan dalam naskah silsilah resmi di Keraton Yogyakarta atau catatan keluarga seperti Rodovid. Bagaimana pendapat para sedulur, sumangga sami absen Salam Rahayu🙏

 Raja Yogyakarta yang tercatat memiliki anak dan selir terbanyak


adalah Sri Sultan Hamengkubuwono II (HB II), meskipun Sri Sultan Hamengkubuwono VII (HB VII) memiliki jumlah keturunan yang hampir sama.


1. Sri Sultan Hamengkubuwono II 

Beliau dikenal sebagai raja dengan jumlah anak terbanyak, yaitu 80 anak dari total 31 istri (4 permaisuri dan 27 selir). 

Beberapa nama selir (garwa ampeyan) beliau yang tercatat antara lain: 

BMAy. Sepuh

BMAy. Pringgodiningrat

BMAy. Prawirodiningrat II

BMAy. Basari


BMAy. Dewaningrum

BMAy. Mindoko

BMAy. Puspitoresmi

BMAy. Sumarsih

BMAy. Tejaningsih

BMAy. Herowati

(Total keseluruhan mencapai 27-28 selir). 


2. Sri Sultan Hamengkubuwono VII 

Beliau memiliki 78 anak dan dikenal sebagai "Sultan Sugih" (Sultan Kaya) karena kemajuan industri gula di masanya. Beliau tercatat memiliki sekitar 18 istri (permaisuri dan selir). 

Beberapa nama selir dan istri beliau meliputi: 

GKR Kencana

GKR Wandhan

GKR Hemas

KRAy. Retnaningrum

KRAy. Ratnaningdyah

KRAy. Ratnapurwita

KRAy. Retnowinardi

Sebagai informasi tambahan, meskipun memiliki banyak keturunan, daftar lengkap nama selir sering kali hanya tersimpan dalam naskah silsilah resmi di Keraton Yogyakarta atau catatan keluarga seperti Rodovid.


Bagaimana pendapat para sedulur, sumangga sami absen

Salam Rahayu🙏

Dialah Ucu Kambing, jawara Betawi yang melengserkan takhta Hercules di Tanah Abang Ketika pindah ke Jakarta, Rosario de Marshall yang kini lebih dikenal sebagai Hercules memilih Tanah Abang sebagai ladang penghidupannya. Dia kemudian menjadi penguasa di kawasan itu. Menurut kabar-kabar yang beredar di media massa ketika itu, Hercules digambarkan sebagai sosok kepala preman yang berkuasa di Tanah Abang. Bahkan dia disebut ke mana-mana selalu membawa golok. Mengutip Kompascom, sebagai pendatang baru, Hercules awalnya tidak disegani dan sering dilawan oleh preman-preman lain. Karena itulah dia selalu membawa golok panjang. Daripada dibunuh, begitu alasan Hercules. "Bahkan waktu itu, setiap malam saya tidur dengan golok selalu siap di tangan. Kondisi waktu itu sangat rawan. Lengah sedikit, lawan akan menyerang," lanjutnya, sebagaimana dia sampaikan ketika menjadi bintang tamu di acara Kick Andy pada 2007 lalu. Tahun keemasan Hercules di Tanah Abang terjadi pada pada 1980an. Dia bahkan dikabarkan beberapa lolos dari maut. Tak hanya kawan, lawan pun segan terhadapnya. Hercules mengaku pernah dibacok sebanyak 16 kali. Meski begitu, ia tetap selamat. Separuh dari tangan kanan Hercules, yakni dari bagian siku ke bawah, menggunakan tangan palsu. Bukan hanya tangannya yang palsu, satu dari dua bola matanya juga buatan manusia. Hercules pernah ditembak di bagian mata dan pelurunya pun tembus ke belakang kepala. Karena rentetan kejadian tersebut Hercules dijuluki sebagai sosok preman yang tidak bisa mati. Kelompok Hercules berkuasa cukup lama di Tanah Abang, hingga mereka dikalahkan oleh kelompok Betawi yang dipimpin oleh Muhammad Yusuf Muhi alias Ucu Kambing pada medio 1990an, tepatnya pada 1996. Menurut catatan BBC, bentrokan yang terjadi antara kelompok Hercules dan kelompok Ucu Kambing untuk memperebutkan takhta "penguasa jalanan" sebagai bentrokan kekuasaan paling brutal dan paling keras. Kelompok Betawi yang akhirnya menang. Ucu Kambing adalah sosok asli Betawi, dia tumbuh dan besar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Nama Kambing yang mengikuti nama Ucu di belakangnya disematkan karena keluarganya adalah pedagang sop kambing. Menurut beberapa sumber, Ucu adalah sosok yang disegani kawan maupun lawan. Kalau kata sang anak, Chato Badra Mandrawata alias Bang Chatu, Ucu Kambing bukan petarung satu lawan satu, tapi satu lawan sekampung. Bentrokan antara kelompok Hercules dan kelompok Ucu Kambing berawal ketika kelompok Hercules masuk kawasan Tanah Abang tanpa koordinasi dengan membawa anggota dari luar wilayah Jakarta. Mereka juga disebut membuat onar. Bentrokan terjadi dan dua anak buah Hercules dilaporkan tewas dalam bentrokan itu. Singkat cerita, kelompok Ucu Kambing berhasil memukul mendur kelompok Hercules dari wilayah Tanah Abang. Dan dengan begitu, takhta Tanah Abang kini dimiliki oleh Ucu Kambing. Lalu bagaimana hubungan Hercules dan Ucu Kambing akhirnya? Kabarnya, meskipun dulu adalah musuh bebuyutan, pada akhirnya keduanya justru menjadi dekat. Keduanya juga saling menghargai satu dengan yang lain. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034247945/inilah-ucu-kambing-sosok-yang-melengserkan-takhta-hercules-di-tanah-abang #ucukambing #hercules #tanahabang

 Dialah Ucu Kambing, jawara Betawi yang melengserkan takhta Hercules di Tanah Abang



Ketika pindah ke Jakarta, Rosario de Marshall yang kini lebih dikenal sebagai Hercules memilih Tanah Abang sebagai ladang penghidupannya. Dia kemudian menjadi penguasa di kawasan itu.


Menurut kabar-kabar yang beredar di media massa ketika itu, Hercules digambarkan sebagai sosok kepala preman yang berkuasa di Tanah Abang. Bahkan dia disebut ke mana-mana selalu membawa golok.


Mengutip Kompascom, sebagai pendatang baru, Hercules awalnya tidak disegani dan sering dilawan oleh preman-preman lain. Karena itulah dia selalu membawa golok panjang. Daripada dibunuh, begitu alasan Hercules.


"Bahkan waktu itu, setiap malam saya tidur dengan golok selalu siap di tangan. Kondisi waktu itu sangat rawan. Lengah sedikit, lawan akan menyerang," lanjutnya, sebagaimana dia sampaikan ketika menjadi bintang tamu di acara Kick Andy pada 2007 lalu.


Tahun keemasan Hercules di Tanah Abang terjadi pada pada 1980an. Dia bahkan dikabarkan beberapa lolos dari maut. Tak hanya kawan, lawan pun segan terhadapnya.


Hercules mengaku pernah dibacok sebanyak 16 kali. Meski begitu, ia tetap selamat. Separuh dari tangan kanan Hercules, yakni dari bagian siku ke bawah, menggunakan tangan palsu. Bukan hanya tangannya yang palsu, satu dari dua bola matanya juga buatan manusia.


Hercules pernah ditembak di bagian mata dan pelurunya pun tembus ke belakang kepala. Karena rentetan kejadian tersebut Hercules dijuluki sebagai sosok preman yang tidak bisa mati.


Kelompok Hercules berkuasa cukup lama di Tanah Abang, hingga mereka dikalahkan oleh kelompok Betawi yang dipimpin oleh Muhammad Yusuf Muhi alias Ucu Kambing pada medio 1990an, tepatnya pada 1996.


Menurut catatan BBC, bentrokan yang terjadi antara kelompok Hercules dan kelompok Ucu Kambing untuk memperebutkan takhta "penguasa jalanan" sebagai bentrokan kekuasaan paling brutal dan paling keras. Kelompok Betawi yang akhirnya menang.


Ucu Kambing adalah sosok asli Betawi, dia tumbuh dan besar di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Nama Kambing yang mengikuti nama Ucu di belakangnya disematkan karena keluarganya adalah pedagang sop kambing.


Menurut beberapa sumber, Ucu adalah sosok yang disegani kawan maupun lawan. Kalau kata sang anak, Chato Badra Mandrawata alias Bang Chatu, Ucu Kambing bukan petarung satu lawan satu, tapi satu lawan sekampung.


Bentrokan antara kelompok Hercules dan kelompok Ucu Kambing berawal ketika kelompok Hercules masuk kawasan Tanah Abang tanpa koordinasi dengan membawa anggota dari luar wilayah Jakarta. Mereka juga disebut membuat onar.


Bentrokan terjadi dan dua anak buah Hercules dilaporkan tewas dalam bentrokan itu.


Singkat cerita, kelompok Ucu Kambing berhasil memukul mendur kelompok Hercules dari wilayah Tanah Abang. Dan dengan begitu, takhta Tanah Abang kini dimiliki oleh Ucu Kambing.


Lalu bagaimana hubungan Hercules dan Ucu Kambing akhirnya? Kabarnya, meskipun dulu adalah musuh bebuyutan, pada akhirnya keduanya justru menjadi dekat. Keduanya juga saling menghargai satu dengan yang lain.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034247945/inilah-ucu-kambing-sosok-yang-melengserkan-takhta-hercules-di-tanah-abang


#ucukambing #hercules #tanahabang

Kuburan warga Cina, Magelang, 1906 1915 Chineesche Begraafplaats, Magelang, 1906 1915

 Kuburan warga Cina, Magelang, 1906 1915


Chineesche Begraafplaats, Magelang, 1906 1915



Sumber : Bintoro Hoepoedio

25 January 2026

Ini adalah potret KH Muhammad Sangidu, Murid KH Ahmad Dahlan yang Mengusulkan Nama Muhammadiyah. Tampak dibelakngya ada santriwatinya yang ikut terfoto. Tampak para santriwatinya heran, mungkin karena baru melihat pemotretan. Sumber : Sejarah Cirebon

 Ini adalah potret KH Muhammad Sangidu, Murid KH Ahmad Dahlan yang Mengusulkan Nama Muhammadiyah. Tampak dibelakngya ada santriwatinya yang ikut terfoto. Tampak para santriwatinya heran, mungkin karena baru melihat pemotretan.



Sumber : Sejarah Cirebon

Kerkhof Magelang.. Ehh, ternyata banyak diantara orang-orang sekarang ini yang belum tahu kalau di sepanjang Jl. Ikhlas Magelang kota dulu adalah Kerkhof, makam Belanda dan umat Kristiani Magelang sebelum tahun 1992. Di sini saya ceritakan sedikit bahwa keluarga besar saya banyak yang dimakamkan di sini, ada kurang lebih 12 makam sejak mbah buyut saya mungkin tahun 1930-an. Foto-foto di atas adalah saat kakek saya Dawud Soemodihardjo, wafat pada 8 November 1979 dan dimakamkan di Kerkhof ini. Walikotamadya Magelang waktu itu Bpk Bagus Panuntun ikut melepas dan memberikan sambutan saat pemberangkatan dari rumah di Sanggrahan Magelang, sedangkan Misa Requiem dan Pemakaman dipimpin Romo Stuffer, SJ, Pastor Paroki St. Maria Fatima waktu itu. Tahun 1992 seluruh makam keluarga kami dipindahkan ke TPU Giriloyo Magelang. Deretan makam keluarga besar kami berdekatan dengan dengan makam Suzanna, artis dan bintang film Indonesia yang terkenal itu. 😄🎥🕰⏳ Foto: Dokpri Kel. A.H. Soeprapto

 Kerkhof Magelang.. 

Ehh, ternyata banyak diantara orang-orang sekarang ini yang belum tahu kalau di sepanjang Jl. Ikhlas Magelang kota dulu adalah Kerkhof, makam Belanda dan umat Kristiani Magelang sebelum tahun 1992.



Di sini saya ceritakan sedikit bahwa keluarga besar saya banyak yang dimakamkan di sini, ada kurang lebih 12 makam sejak mbah buyut saya mungkin tahun 1930-an.


Foto-foto di atas adalah saat kakek saya Dawud Soemodihardjo, wafat pada 8 November 1979 dan dimakamkan di Kerkhof ini. 

Walikotamadya Magelang waktu itu Bpk Bagus Panuntun ikut melepas dan memberikan sambutan saat pemberangkatan dari rumah di Sanggrahan Magelang, sedangkan Misa Requiem dan Pemakaman dipimpin Romo Stuffer, SJ, Pastor Paroki St. Maria Fatima waktu itu. 


Tahun 1992 seluruh makam keluarga kami dipindahkan ke TPU Giriloyo Magelang. 

Deretan makam keluarga besar kami berdekatan dengan dengan makam Suzanna, artis dan bintang film Indonesia yang terkenal itu. 

😄🎥🕰⏳


Foto: Dokpri Kel. A.H. Soeprapto

GANES TH Sang Maestro Komik Indonesia 10 Juli 1935 - 10 Juli 2021. Sang Maestro dgn karya2 monumental nya : Si Buta dari Gua Hantu, Tuan Tanah Kedawung, Krakatau, Taufan dll.... Semoga beliau kini istirahat dalam damai di Rumah Bapa di Surga.... GANES TH (Ganes Thiar Sentosa) alias Thio Thiauw San Lahir di Desa Gandu, Banten, 10 Juli 1935 Wafat di Jakarta, 08 Desember 1995 Pasangan : Yosy Herawati Komikus dgn karya fenomenalnya SI BUTA DARI GUA HANTU, Tuan Tanah Kedawung, Krakatau dll. MASA AWAL & ROMAN REMAJA 01. Si Letoy (1965) 02. Mang Kiwil (1965) 03. Tiga Pahlawan (1965) 04. Api Di Hutan Rimba (1965) 05. Kali Jodo (1966) 06. Mutiara Dari Tanusa (1966) 07. Malam Pengantin (1966) 08. Masih Ada Hari Esok (1966) 09. Kasih Yang Hilang (1966) 10. Dosa (1966) 11. Mawar Dari Kahyangan 12. Hatinya Bermutiara 13. Menjelang Fajar 14. Prahara (1967) 15. Air Mata Kekasih (1967) 16. Di Bawah Naungan Flamboyan (Semula terbit dibawah majalah Varia, 1967) 17. Impian Yang Ke Dua (1968) 18. Impian Yang Hilang 19. Citra Bayangan Fajar (1968) 20. Kunjungan Tengah Malam (1968) SPIONASE 21. James Bond: Komplotan Pistol Emas (1967) 22. James Bond: Detik-Detik Maut (1967) 23. Operasi 008 (1967) 24. Agen Rahasia Sidharta: Tangisan Di Malam Berkabut (1967) 25. Agen Rahasia Sidharta: Terjebak Di Pulau Hantu (1967) SILAT LATAR BETAWI / BANTEN 26. Jampang Jago Betawi (1967 - 1970) 27. Runtuhnya Siluman Serigala Putih (1967) 28. Cisadane (1967) 29. Nilam & Kesumah (1970) 30. Krakatau (1970) 31. Tuan Tanah Kedawung 32. Bisikan Iblis (1971) SERI SI BUTA DARI GUA HANTU 33. SI BUTA DARI GUA HANTU (1967) 34. Misteri Di Borobudur (1967) 35. Banjir Darah Di Pantai Sanur (1968) 36. Manusia Serigala Dari Gunung Tambora (1969) 37. Prahara Di Bukit Tandus (1969) 38. Badai Teluk Bone (1972) 39. Sorga Yang Hilang (1974) 40. Prahara Di Donggala (1975) 41. Perjalanan Ke Neraka (1976) 42. Si Buta Kontra Si Buta (1978) 43. Kabut Tinombala (1978) 44. Tragedi Larantuka (1979) 45. Pengantin Kelana (1981) 46. Misteri Air Mata Duyung (1984) 47. Neraka Perut Bumi (1986) 47. Bangkitnya Si Mata Malaikat (1987) 48. Pamungkas Asmara (1987) 49. Iblis Pulau Rakata (1988) 50. Manusia Kelelawar Dari Karang Hantu (1988) 51. Mawar Berbisa (1989) SERI REO MANUSIA SERIGALA 52. Neraka Hijau (1972) 53. Komodo (1976) 54. Iblis Kawah Rinjani (1976) 55. Serigala Hantu (1979) 56. Zomba (1984) 57. Mayat Cemburu (...?) KISAH BAKTI 58. Tragedi Di Balik Tembok Besar (1985) 59. Yang Hsiang Yang Perkasa (1985) 60. Teratai Kumala (1985) 61. Pencuri Dari Kin Kiang (1985) FIKSI PERJUANGAN & KISAH LEPAS 62. Taufan (1974) 63. Petualang (1976) 64. Serigala Kota Intan (Majalah Hai, 1980) 65. Kemelut Melati Di Tapal Batas (1983) 66. Kembang Goyang (Majalah Srikandi, 1983) 67. Sepasang Merpati Kota Inten (1987-1988) 68. Pendekar Slebor (1980) 69. Api Di Langit Kulon (1982) 70. Komodo 71. Komodo Menteror Ibukota SERI LAIN SI BUTA DARI GUA HANTU 72. Asmara Darah (Cetakan pertama, Mei 2012 dibuat secara bersambung sebagai komik Strip majalah Ria Film sekitar tahun 1980-an) 73. Buronan (Cetakan pertama, Mei 2012. Naskah: Ganes Th & digambar oleh Apriyadi Kusbiantoro) SERIAL LEPAS 74. Cobra (Tahun...?) 75. Keris Pusaka Ratu Laut Kidul (Tahun...?) 76. Melati Di Tapal Batas (Majalah Hai , Tahun...?) 77. Pulau Setan (AMI Tahun...?) Terima kasih pada Pak Alex Winarto, Erwan Sofyan & Satrio T Utomo atas informasinya. Hasil kompilasi oleh : Adrian Fadhilah

 GANES TH Sang Maestro Komik Indonesia 

10 Juli 1935 - 10 Juli 2021.

Sang Maestro dgn karya2 monumental nya : Si Buta dari Gua Hantu, Tuan Tanah Kedawung, Krakatau, Taufan dll....

Semoga beliau kini istirahat dalam damai di Rumah Bapa di Surga....



GANES TH (Ganes Thiar Sentosa) alias 

Thio Thiauw San

Lahir di Desa Gandu, Banten, 10 Juli 1935

Wafat di Jakarta, 08 Desember 1995

Pasangan : Yosy Herawati


Komikus dgn karya fenomenalnya SI BUTA DARI GUA HANTU, Tuan Tanah Kedawung, Krakatau dll.


MASA AWAL & ROMAN REMAJA

01. Si Letoy (1965)

02. Mang Kiwil (1965)

03. Tiga Pahlawan (1965)

04. Api Di Hutan Rimba (1965)

05. Kali Jodo (1966)

06. Mutiara Dari Tanusa (1966)

07. Malam Pengantin (1966)

08. Masih Ada Hari Esok (1966)

09. Kasih Yang Hilang (1966)

10. Dosa (1966)

11. Mawar Dari Kahyangan

12. Hatinya Bermutiara

13. Menjelang Fajar

14. Prahara (1967)

15. Air Mata Kekasih (1967)

16. Di Bawah Naungan Flamboyan (Semula terbit dibawah majalah Varia, 1967)

17. Impian Yang Ke Dua (1968)

18. Impian Yang Hilang

19. Citra Bayangan Fajar (1968)

20. Kunjungan Tengah Malam (1968)


SPIONASE

21. James Bond: Komplotan Pistol Emas (1967)

22. James Bond: Detik-Detik Maut (1967)

23. Operasi 008 (1967)

24. Agen Rahasia Sidharta: Tangisan Di Malam Berkabut (1967)

25. Agen Rahasia Sidharta: Terjebak Di Pulau Hantu (1967)


SILAT LATAR BETAWI / BANTEN

26. Jampang Jago Betawi (1967 - 1970)

27. Runtuhnya Siluman Serigala Putih (1967)

28. Cisadane (1967)

29. Nilam & Kesumah (1970)

30. Krakatau (1970)

31. Tuan Tanah Kedawung

32. Bisikan Iblis (1971)


SERI SI BUTA DARI GUA HANTU

33. SI BUTA DARI GUA HANTU (1967)

34. Misteri Di Borobudur (1967)

35. Banjir Darah Di Pantai Sanur (1968)

36. Manusia Serigala Dari Gunung Tambora (1969)

37. Prahara Di Bukit Tandus (1969)

38. Badai Teluk Bone (1972)

39. Sorga Yang Hilang (1974)

40. Prahara Di Donggala (1975)

41. Perjalanan Ke Neraka (1976)

42. Si Buta Kontra Si Buta (1978)

43. Kabut Tinombala (1978)

44. Tragedi Larantuka (1979)

45. Pengantin Kelana (1981)

46. Misteri Air Mata Duyung (1984)

47. Neraka Perut Bumi (1986)

47. Bangkitnya Si Mata Malaikat (1987)

48. Pamungkas Asmara (1987)

49. Iblis Pulau Rakata (1988)

50. Manusia Kelelawar Dari Karang Hantu (1988)

51. Mawar Berbisa (1989)


SERI REO MANUSIA SERIGALA

52. Neraka Hijau (1972)

53. Komodo (1976)

54. Iblis Kawah Rinjani (1976)

55. Serigala Hantu (1979)

56. Zomba (1984)

57. Mayat Cemburu (...?)


KISAH BAKTI

58. Tragedi Di Balik Tembok Besar (1985)

59. Yang Hsiang Yang Perkasa (1985)

60. Teratai Kumala (1985)

61. Pencuri Dari Kin Kiang (1985)


FIKSI PERJUANGAN & KISAH LEPAS

62. Taufan (1974)

63. Petualang (1976)

64. Serigala Kota Intan (Majalah Hai, 1980)

65. Kemelut Melati Di Tapal Batas (1983)

66. Kembang Goyang (Majalah Srikandi, 1983)

67. Sepasang Merpati Kota Inten (1987-1988)

68. Pendekar Slebor (1980)

69. Api Di Langit Kulon (1982)

70. Komodo

71. Komodo Menteror Ibukota

 

SERI LAIN SI BUTA DARI GUA HANTU

72. Asmara Darah (Cetakan pertama, Mei 2012 dibuat secara bersambung sebagai komik Strip majalah Ria Film sekitar tahun 1980-an)

73. Buronan (Cetakan pertama, Mei 2012. Naskah: Ganes Th & digambar oleh Apriyadi Kusbiantoro)


SERIAL LEPAS

74. Cobra (Tahun...?)

75. Keris Pusaka Ratu Laut Kidul (Tahun...?)

76. Melati Di Tapal Batas (Majalah Hai , Tahun...?)

77. Pulau Setan (AMI Tahun...?)


Terima kasih pada Pak Alex Winarto, Erwan Sofyan & Satrio T Utomo atas informasinya.


Hasil kompilasi oleh : Adrian Fadhilah