12 September 2026

RAJA YANG MENYERAHKAN TAHTA DAN HARTANYA DEMI REPUBLIK‼️🇮🇩 Di tengah rapuhnya Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, ada satu keputusan politik yang dampaknya terasa lintas generasi. Keputusan itu datang dari seorang raja Melayu di Sumatra: Sultan Syarif Kasim II, penguasa terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura. Tak lama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan telegram resmi kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Isinya tegas dan tanpa syarat: Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia. Dukungan ini bukan simbolik. Ia segera menyerahkan uang tunai sebesar 13 juta gulden—salah satu kontribusi finansial terbesar dalam fase awal berdirinya negara. Jika dikonversi ke nilai saat ini, jumlah tersebut diperkirakan setara lebih dari Rp1 triliun. Selain uang tunai, Sultan juga menyerahkan mahkota emas, pedang bertatahkan berlian, serta berbagai perhiasan kerajaan. Semua itu diserahkan ketika Republik belum memiliki kas negara yang memadai dan masih berjuang mempertahankan eksistensinya secara politik maupun ekonomi. Keputusan yang diambil Sultan Syarif Kasim II semakin signifikan jika dilihat dari opsi yang sebenarnya tersedia. Ia tidak memilih jalur daerah istimewa seperti yang ditempuh Yogyakarta. Kesultanan Siak dilebur sepenuhnya ke dalam NKRI, tanpa tuntutan status khusus, tanpa negosiasi kekuasaan. Bersamaan dengan itu, wilayah strategis Siak—termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas dan ladang minyak sekitarnya—ikut menjadi bagian Republik. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi salah satu sumber devisa energi terbesar Indonesia selama puluhan tahun. Setelah melepas tahta dan harta, kehidupan Sultan berubah drastis. Ia meninggalkan kemegahan istana dan hidup sebagai warga negara biasa. Dalam beberapa periode, ia menetap di Jakarta dan Aceh, sebelum akhirnya kembali ke Siak. Tidak ada jabat4n negara, tidak ada keistimewaan protokoler. Laporan tentang kesederhanaan hidupnya di masa tua tercatat konsisten dalam berbagai sumber sejarah. Sultan Syarif Kasim II wafat pada 23 April 1968 di Rumah Sakit Caltex, Rumbai, Pekanbaru. Ia berpulang dalam kondisi yang jauh dari kemewahan masa lalunya sebagai raja. Tiga dekade kemudian, negara yang pernah ia dukung tanpa syarat baru menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998. Kisah Sultan Syarif Kasim II bukan sekadar cerita pengorbanan personal. Ini adalah contoh nasionalisme yang ekstrem dan konsisten: kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan masa depan politik demi keberlangsungan sebuah republik yang saat itu bahkan belum tentu bertahan. Dalam sejarah Indonesia, sedikit tokoh yang berani membayar harga setinggi itu untuk sebuah keyakinan politik.

 RAJA YANG MENYERAHKAN TAHTA DAN HARTANYA DEMI REPUBLIK‼️🇮🇩



Di tengah rapuhnya Republik Indonesia yang baru diproklamasikan, ada satu keputusan politik yang dampaknya terasa lintas generasi. Keputusan itu datang dari seorang raja Melayu di Sumatra: Sultan Syarif Kasim II, penguasa terakhir Kesultanan Siak Sri Indrapura.


Tak lama setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Sultan Syarif Kasim II mengirimkan telegram resmi kepada Presiden Republik Indonesia, Soekarno. Isinya tegas dan tanpa syarat: Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia. Dukungan ini bukan simbolik. Ia segera menyerahkan uang tunai sebesar 13 juta gulden—salah satu kontribusi finansial terbesar dalam fase awal berdirinya negara. Jika dikonversi ke nilai saat ini, jumlah tersebut diperkirakan setara lebih dari Rp1 triliun.


Selain uang tunai, Sultan juga menyerahkan mahkota emas, pedang bertatahkan berlian, serta berbagai perhiasan kerajaan. Semua itu diserahkan ketika Republik belum memiliki kas negara yang memadai dan masih berjuang mempertahankan eksistensinya secara politik maupun ekonomi.


Keputusan yang diambil Sultan Syarif Kasim II semakin signifikan jika dilihat dari opsi yang sebenarnya tersedia. Ia tidak memilih jalur daerah istimewa seperti yang ditempuh Yogyakarta. Kesultanan Siak dilebur sepenuhnya ke dalam NKRI, tanpa tuntutan status khusus, tanpa negosiasi kekuasaan. Bersamaan dengan itu, wilayah strategis Siak—termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas dan ladang minyak sekitarnya—ikut menjadi bagian Republik. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi salah satu sumber devisa energi terbesar Indonesia selama puluhan tahun.


Setelah melepas tahta dan harta, kehidupan Sultan berubah drastis. Ia meninggalkan kemegahan istana dan hidup sebagai warga negara biasa. Dalam beberapa periode, ia menetap di Jakarta dan Aceh, sebelum akhirnya kembali ke Siak. Tidak ada jabat4n negara, tidak ada keistimewaan protokoler. Laporan tentang kesederhanaan hidupnya di masa tua tercatat konsisten dalam berbagai sumber sejarah.


Sultan Syarif Kasim II wafat pada 23 April 1968 di Rumah Sakit Caltex, Rumbai, Pekanbaru. Ia berpulang dalam kondisi yang jauh dari kemewahan masa lalunya sebagai raja. Tiga dekade kemudian, negara yang pernah ia dukung tanpa syarat baru menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998.


Kisah Sultan Syarif Kasim II bukan sekadar cerita pengorbanan personal. Ini adalah contoh nasionalisme yang ekstrem dan konsisten: kehilangan kekuasaan, kekayaan, dan masa depan politik demi keberlangsungan sebuah republik yang saat itu bahkan belum tentu bertahan. Dalam sejarah Indonesia, sedikit tokoh yang berani membayar harga setinggi itu untuk sebuah keyakinan politik.

Kopral Hargijono si penembak Ade Irma Suryani Nasution Pada malam yang lengang di Teuku Umar, 30 September 1965, seorang prajurit muda bernama Kopral Dua Hargijono berdiri di antara hiruk-pikuk pasukan Tjakrabirawa yang bergerak cepat. Tak ada yang istimewa sejatinya pada prajurit ini, ia bukan perwira tinggi, bukan pula tokoh yang akrab dengan para jenderal. Ia hanyalah satu dari ratusan anggota pasukan pengawal presiden yang bertugas menurut perintah. Namun malam itu, sebuah keputusan sepersekian detik akan mengubah hidupnya untuk selamanya, bahkan ikut mengubah sejarah Indonesia. Beberapa tahun kemudian, dalam wawancara media, seorang bekas anggota Cakrabirawa menggambarkan suasana malam itu sebagai “malam penuh teka-teki”. Ia mengatakan bahwa banyak prajurit hanya diberitahu bahwa mereka akan “menjemput orang-orang yang mengkhianati Presiden”. Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada briefing politik. Hargijono berada dalam kelompok yang mendapat perintah menuju rumah Jenderal A.H. Nasution. Menurut rekonstruksi Historia dan laporan Liputan6, Hargijono saat itu memegang Sten gun, senjata otomatis yang ringan namun sensitif terhadap tremor tangan dan tekanan picu. Ia ditempatkan sebagai anggota depan dalam regu kecil yang memasuki halaman rumah. Ketika pasukan menabrak pintu rumah Nasution, pintu kamar terlihat sempat terbuka lalu tertutup kembali. Di titik inilah ketegangan dimulai, kata salah satu saksi yang diwawancarai Historia “Cepat! Buka pintunya!” Perintah itu terdengar ditekan, keras, dan tanpa ruang untuk ragu. Hargijono maju. Ia mendekatkan laras senjata ke gagang pintu. Dalam rekonstruksi, seorang saksi menggambarkan momentum itu seperti “segala hal terjadi dalam hitungan detik terdengar orang berteriak, lampu temaram, dan tekanan perintah yang membuat siapa pun bisa salah gerak.” Hargijono menarik pelatuk, ledakan kecil memecah ruangan, dan peluru yang awalnya diarahkan ke gagang pintu ternyata meleset. Peluru yang tidak pernah dimaksukkan ke dalam rencana siapa pun Menurut kesaksian seorang mantan prajurit yang berada di tempat yang sama wawancara yang dikumpulkan jurnalis Petrik Matanasi rombongan pasukan mendengar suara jeritan perempuan dari dalam kamar. Di tengah kekacauan itu, prajurit-prajurit baru menyadari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan: peluru yang meleset itu mengenai seorang anak kecil. Anak itu adalah Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal Nasution. Seorang saksi mata yang diwawancarai Liputan6 berkata “Tidak ada yang berniat menemb4k anak. Kami kaget. Semua diam beberapa detik, seperti dunia berhenti.” Hargijono sendiri, menurut rekaman persidangan yang dikutip Historia, tidak menyangkal bahwa tembakan itu berasal dari senjatanya. Tapi ia menjelaskan bahwa ia menembak gagang pintu karena itu perintah, bukan mengarahkan ke siapa pun dalam kamar. Beberapa hari setelah peristiwa G30S, operasi penangkapan besar-besaran dimulai. Para anggota Cakrabirawa yang ikut dalam operasi “penjemputan” digiring ke tahanan militer. Nama Hargijono masuk daftar sejak hari pertama. Dalam salah satu wawancara KBR (Kantor Berita Radio) terhadap bekas anggota pasukan pengawal presiden, muncul gambaran tentang bagaimana para prajurit tingkat rendah merasa bahwa mereka “tidak pernah diberi ruang menjelaskan”. Seorang saksi bahkan berkata “Kalau saya harus minta ampun ke Soeharto, saya lebih baik mati.” Ungkapan ini menggambarkan betapa kuat tekanan politik saat itu. Menjalankan perintah dianggap tidak cukup sebagai pembelaan. Di pengadilan militer, kesaksian tentang tembakan ke pintu dan peluru yang meleset kembali dihadirkan. Menurut dokumentasi yang pernah dirangkum Historia, Hargijono menerima vonis yang sangat berat sebagai konsekuensi perannya dalam operasi itu. Dalam liputan panjang Historia, saksi lain yang pernah menjadi prajurit Cakrabirawa menyatakan “Kami itu tentara kecil. Kalau komandan bilang kiri, kami kiri. Kalau bilang tembak gagang pintu, ya kami tembak. Tapi sejarah tidak peduli siapa apa waktu itu.” Kalimat itu menjadi ringkasan betapa banyak prajurit lapangan yang tersapu oleh badai politik yang jauh lebih besar daripada mereka. Seorang saksi lain yang dikutip Liputan6 mengingat Hargijono sebagai “pendiam, tidak banyak bicara, dan bukan tipe prajurit yang suka kekerasan.” Dalam narasi tersebut, ia digambarkan lebih sebagai pelaksana teknis ketimbang seorang aktor politik. Nama Hargijono tenggelam dalam deretan nama besar G30S. Namun ironi sejarah adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak ditargetkan, dan terjadi dalam kepanika justru menjadi salah satu peristiwa yang paling dikenang publik. Hingga kini, arsip publik tentang riwayat hidupnya sebelum 1965 nyaris kosong. Tak ada catatan lengkap tentang masa kecil, keluarganya, atau motivasinya bergabung dalam militer. Ia muncul dalam sejarah secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba pula. Yang tersisa hanyalah jejak malam itu, rekonstruksi para saksi, dan perdebatan panjang tentang siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dalam operasi 30 September. Sumber : Historia: laporan rekonstruksi penembakan Ade Irma oleh Kopral Hargijono. Liputan6: wawancara mantan anggota Cakrabirawa tentang kronologi malam kejadian. KBR: wawancara eks-Cakrabirawa mengenai tekanan politik dan pengadilan militer. Tirto (Petrik Matanasi): konteks operasi penjemputan dan kesaksian prajurit.

 Kopral Hargijono si penembak Ade Irma Suryani Nasution


Pada malam yang lengang di Teuku Umar, 30 September 1965, seorang prajurit muda bernama Kopral Dua Hargijono berdiri di antara hiruk-pikuk pasukan Tjakrabirawa yang bergerak cepat. Tak ada yang istimewa sejatinya pada prajurit ini, ia bukan perwira tinggi, bukan pula tokoh yang akrab dengan para jenderal. Ia hanyalah satu dari ratusan anggota pasukan pengawal presiden yang bertugas menurut perintah.


Namun malam itu, sebuah keputusan sepersekian detik akan mengubah hidupnya untuk selamanya, bahkan ikut mengubah sejarah Indonesia.


Beberapa tahun kemudian, dalam wawancara media, seorang bekas anggota Cakrabirawa menggambarkan suasana malam itu sebagai “malam penuh teka-teki”. Ia mengatakan bahwa banyak prajurit hanya diberitahu bahwa mereka akan “menjemput orang-orang yang mengkhianati Presiden”. Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada briefing politik. Hargijono berada dalam kelompok yang mendapat perintah menuju rumah Jenderal A.H. Nasution.


Menurut rekonstruksi Historia dan laporan Liputan6, Hargijono saat itu memegang Sten gun, senjata otomatis yang ringan namun sensitif terhadap tremor tangan dan tekanan picu. Ia ditempatkan sebagai anggota depan dalam regu kecil yang memasuki halaman rumah.



Ketika pasukan menabrak pintu rumah Nasution, pintu kamar terlihat sempat terbuka lalu tertutup kembali. Di titik inilah ketegangan dimulai, kata salah satu saksi yang diwawancarai Historia “Cepat! Buka pintunya!”

Perintah itu terdengar ditekan, keras, dan tanpa ruang untuk ragu.


Hargijono maju. Ia mendekatkan laras senjata ke gagang pintu. Dalam rekonstruksi, seorang saksi menggambarkan momentum itu seperti “segala hal terjadi dalam hitungan detik terdengar orang berteriak, lampu temaram, dan tekanan perintah yang membuat siapa pun bisa salah gerak.”


Hargijono menarik pelatuk, ledakan kecil memecah ruangan, dan peluru yang awalnya diarahkan ke gagang pintu ternyata meleset. Peluru yang tidak pernah dimaksukkan ke dalam rencana siapa pun


Menurut kesaksian seorang mantan prajurit yang berada di tempat yang sama wawancara yang dikumpulkan jurnalis Petrik Matanasi rombongan pasukan mendengar suara jeritan perempuan dari dalam kamar. Di tengah kekacauan itu, prajurit-prajurit baru menyadari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan:


peluru yang meleset itu mengenai seorang anak kecil. Anak itu adalah Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal Nasution.


Seorang saksi mata yang diwawancarai Liputan6 berkata “Tidak ada yang berniat menemb4k anak. Kami kaget. Semua diam beberapa detik, seperti dunia berhenti.”


Hargijono sendiri, menurut rekaman persidangan yang dikutip Historia, tidak menyangkal bahwa tembakan itu berasal dari senjatanya. Tapi ia menjelaskan bahwa ia menembak gagang pintu karena itu perintah, bukan mengarahkan ke siapa pun dalam kamar.


Beberapa hari setelah peristiwa G30S, operasi penangkapan besar-besaran dimulai. Para anggota Cakrabirawa yang ikut dalam operasi “penjemputan” digiring ke tahanan militer. Nama Hargijono masuk daftar sejak hari pertama.


Dalam salah satu wawancara KBR (Kantor Berita Radio) terhadap bekas anggota pasukan pengawal presiden, muncul gambaran tentang bagaimana para prajurit tingkat rendah merasa bahwa mereka “tidak pernah diberi ruang menjelaskan”. Seorang saksi bahkan berkata “Kalau saya harus minta ampun ke Soeharto, saya lebih baik mati.”


Ungkapan ini menggambarkan betapa kuat tekanan politik saat itu. Menjalankan perintah dianggap tidak cukup sebagai pembelaan.


Di pengadilan militer, kesaksian tentang tembakan ke pintu dan peluru yang meleset kembali dihadirkan. Menurut dokumentasi yang pernah dirangkum Historia, Hargijono menerima vonis yang sangat berat sebagai konsekuensi perannya dalam operasi itu.


Dalam liputan panjang Historia, saksi lain yang pernah menjadi prajurit Cakrabirawa menyatakan “Kami itu tentara kecil. Kalau komandan bilang kiri, kami kiri. Kalau bilang tembak gagang pintu, ya kami tembak. Tapi sejarah tidak peduli siapa apa waktu itu.”


Kalimat itu menjadi ringkasan betapa banyak prajurit lapangan yang tersapu oleh badai politik yang jauh lebih besar daripada mereka.


Seorang saksi lain yang dikutip Liputan6 mengingat Hargijono sebagai “pendiam, tidak banyak bicara, dan bukan tipe prajurit yang suka kekerasan.” Dalam narasi tersebut, ia digambarkan lebih sebagai pelaksana teknis ketimbang seorang aktor politik.


Nama Hargijono tenggelam dalam deretan nama besar G30S. Namun ironi sejarah adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak ditargetkan, dan terjadi dalam kepanika justru menjadi salah satu peristiwa yang paling dikenang publik.


Hingga kini, arsip publik tentang riwayat hidupnya sebelum 1965 nyaris kosong. Tak ada catatan lengkap tentang masa kecil, keluarganya, atau motivasinya bergabung dalam militer. Ia muncul dalam sejarah secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba pula.


Yang tersisa hanyalah jejak malam itu, rekonstruksi para saksi, dan perdebatan panjang tentang siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dalam operasi 30 September. 


Sumber :


Historia: laporan rekonstruksi penembakan Ade Irma oleh Kopral Hargijono.


Liputan6: wawancara mantan anggota Cakrabirawa tentang kronologi malam kejadian.


KBR: wawancara eks-Cakrabirawa mengenai tekanan politik dan pengadilan militer.


Tirto (Petrik Matanasi): konteks operasi penjemputan dan kesaksian prajurit.

Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. [1] Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai Wikana: Pelopor Peristiwa Rengasdengklok: Wikana merupakan salah satu tokoh dari golongan muda yang mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan setelah mendengar kabar kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Bersama pemuda lainnya, ia ikut mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang. Negosiator Tempat Perumusan Teks: Berkat jaringan dan kedekatannya dengan kalangan Angkatan Laut Jepang (Kaigun), Wikana berhasil melobi agar rumah Laksamana Tadashi Maeda di Menteng dijadikan tempat perumusan teks proklamasi yang aman. Menteri Pemuda Pertama: Setelah Indonesia merdeka, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Pemuda yang pertama dalam Kabinet Sjahrir. Akhir Hayat yang Tragis: Wikana yang sempat aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI) dikabarkan ditangkap dan menghilang tanpa jejak pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Hingga saat ini, keberadaan makam atau kepastian akhir hayatnya masih menjadi misteri sejarah Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. #EventSejarahSeptember #RestorasiG30S

 Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. [1]

Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai Wikana:



Pelopor Peristiwa Rengasdengklok: Wikana merupakan salah satu tokoh dari golongan muda yang mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan setelah mendengar kabar kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Bersama pemuda lainnya, ia ikut mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar tidak terpengaruh oleh Jepang.


Negosiator Tempat Perumusan Teks: Berkat jaringan dan kedekatannya dengan kalangan Angkatan Laut Jepang (Kaigun), Wikana berhasil melobi agar rumah Laksamana Tadashi Maeda di Menteng dijadikan tempat perumusan teks proklamasi yang aman.


Menteri Pemuda Pertama: Setelah Indonesia merdeka, ia dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Pemuda yang pertama dalam Kabinet Sjahrir.


Akhir Hayat yang Tragis: Wikana yang sempat aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI) dikabarkan ditangkap dan menghilang tanpa jejak pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Hingga saat ini, keberadaan makam atau kepastian akhir hayatnya masih menjadi misteri sejarah


Tokoh yang ada di dalam foto tersebut adalah Wikana, salah satu tokoh pemuda radikal dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang memiliki peran sangat krusial menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.


#EventSejarahSeptember

#RestorasiG30S


11 September 2026

 SIAPA RATMINI GANDASUBRATA?



Mungkin belum banyak orang Banyumas yang mengenal Ratmini Gandasubrata.


Mungkin lebih banyak mengenal nama suaminya, Soedjatmoko. Seorang diplomat besar Indonesia. Pernah menjadi Duta Besar untuk Amerika Serikat.


Namanya diabadikan menjadi "Balai Soedjatmoko" di Solo.


Siapa Ratmini Gandasubrata?


Jawaban mudahnya adalah istri Soedjatmoko.


Saya mengenal Ratmini Gandasubrata karena membaca bukunya. "Sebuah Pendopo di Lembah Serayu". Buku kenangan tentang Banyumas.


Ratmini Gandasubrata adalah anak Sudirman Gandasubrata, cucu Pangeran Gandasubrata, cicit Adipati Mertadiredja III.


Pangeran Gandasubrata dan Adipati Mertadiredja III adalah Bupati Banyumas.


Ratmini Gandasubrata pernah tinggal di Dalem Pangeranan. Karena setelah kakeknya meninggal, ayahnya yang menempatinya.


Ayahnya, Sudirman Gandasubrata adalah seorang hakim pengadilan negeri Batavia. Karenanya, Ratmini Gandasubrata lahir di Jakarta, taun 1925.


Ibunya, Raden Ayu Satinah, adalah anak Patih Purbalingga, Ronggo Brotodimedjo.


Patih Ronggo Brotodimedjo adalah anak dari Adipati Mertadiredja III.


Jadi, antara ayah dan ibunya masih satu keluarga. Ayahnya cucu Adipati Mertadiredja.


Pada tahun 1921, Patih Ronggo Brotodimejo menyalin naskah Babad Banyumas. 


Naskah yang kemudian disimpan oleh anaknya, Raden Ayu Satinah, yang tak lain ibu dari Ratmini Gandasubrata.


Tahun 2021, saya menerjemahkan naskah Babad Banyumas itu. Saya beri judul "Babad Banyumas Bratadimedjan".


Saya terjemahkan dari naskah kopian. Karena naskah aslinya disimpan oleh Ratmini Gandasubrata di Jakarta.


Pada Mei 2022, saya terbang ke Jakarta, untuk bertemu Ratmini Gandasubrata. Sekalian melihat langsung naskah peninggalkan kakeknya itu.


Waktu itu, Ratmini Gandasubarata sudah sangat sepuh. Berusia 97 tahun.


Tidak banyak yang saya dapatkan terkait Dalem Pangeranan dan Babad Banyumas, karena ingatan yang sudah melemah.


Namun saya merasa sangat beruntung masih bisa bertemu. Karena tak lama setelah itu, Oktober 2022, Ratmini Gandasubrata meninggal dunia.

Sumber : Nassirun Purwokartun

#babadbanyumas #bratadimedjan #ratminigandasubrata

Di Eksekusi M4ti Karena Menolak Menujukan Peta Kekayaan Ibu Pertiwi ‼️🇮🇩 Hari ini 77 tahun yang lalu, salah satu putera terbaik bangsa Arie Frederik Lasut ditemb4k m4ti oleh tentara pendudukan Belanda di daerah Pakem Yogyakarta karena tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda untuk membocorkan rahasia negara tentang daerah pertambangan dan sumber daya mineral yang terkandung dalam bumi Indonesia. Arie yang saat itu menjabat sebagai kepala jawatan geologi mengetahui dengan jelas mengenai lokasi pertambangan dan energi yang sangat vital dan dapat dijadikan bahan baku persenjataan dan logistik selama masa pendudukan Belanda. Berbagai upaya mulai dari bujukan posisi yang tinggi serta iming iming gaji fantastis tidak membuat Arie rela menjual harga diri dan kecintaan nya terhadap Indonesia. Putra Minahasa kelahiran 6 juli 1918 ini sadar betul akan resiko yang akan dihadapi nya bila menolak keinginan penjajah Belanda tapi kecintaan yang besar terhadap Republik Indonesia membuat ia membulatkan tekad untuk tetap berjuang bersama kaum Republik. Pada subuh dinihari 7 mei 1949 Arie dijemput sepasukan tentara Belanda dari rumahnya untuk dibawa kedaerah Pakem di utara Yogyakarta untuk 'dihabisi'. Suami dari Nieke Maramis ini akhirnya meregang nyawa dihadapan satu regu tembak yang bengis dari pasukan Belanda. Atas jasa jasanya Arie dianugerahi pemerintah Indonesia dengan gelar pahlawan pembela kemerdekaan pada tahun 1969.

 Di Eksekusi M4ti Karena Menolak Menujukan Peta Kekayaan Ibu Pertiwi ‼️🇮🇩


Hari ini 77 tahun yang lalu, salah satu putera terbaik bangsa Arie Frederik Lasut ditemb4k m4ti oleh tentara pendudukan Belanda di  daerah Pakem Yogyakarta karena tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Belanda untuk membocorkan rahasia negara tentang daerah pertambangan dan sumber daya mineral yang terkandung dalam bumi Indonesia. 



Arie yang saat itu menjabat sebagai kepala jawatan geologi mengetahui dengan jelas mengenai lokasi pertambangan dan energi yang sangat vital dan dapat dijadikan bahan baku persenjataan dan logistik selama masa pendudukan Belanda.


 Berbagai upaya mulai dari bujukan posisi yang tinggi serta iming iming gaji fantastis tidak membuat Arie rela menjual harga diri dan kecintaan nya terhadap Indonesia. 

Putra Minahasa kelahiran 6 juli 1918 ini sadar betul akan resiko yang akan dihadapi nya bila menolak keinginan penjajah Belanda tapi kecintaan yang besar terhadap Republik Indonesia membuat ia membulatkan tekad untuk tetap berjuang bersama kaum Republik. 


Pada subuh dinihari 7 mei 1949 Arie dijemput sepasukan tentara Belanda dari rumahnya untuk dibawa kedaerah Pakem di utara Yogyakarta untuk 'dihabisi'. Suami dari Nieke Maramis ini akhirnya meregang nyawa dihadapan satu regu tembak yang bengis dari pasukan Belanda. Atas jasa jasanya Arie dianugerahi pemerintah Indonesia dengan gelar pahlawan pembela kemerdekaan pada tahun 1969.

10 September 2026

Kasinem: Perjalanan Seorang Perempuan Jawa ke Suriname Kartu arsip ini mencatat perjalanan Kasinem, seorang perempuan asal Jawa yang berangkat ke Suriname sebagai pekerja kontrak. Ia tercatat lahir di Hindia Belanda, berusia 24 tahun, memiliki tinggi 147 cm, beragama Islam, dan mempunyai ciri pengenal berupa cuping telinga yang robek. Nama ayahnya tercantum dalam kartu, tetapi tidak ada nama yang terbaca pada data arsip yang tersedia. Kasinem berasal dari Desa Djolangan, Distrik Toeloongagoong, Departemen Toeloongagoong, wilayah Kediri. Pada 14 April 1908, Kasinem berangkat dari Semarang menuju Suriname dengan kapal uap (SS) Sumatra & Pangeran William IV. Nomor yang tercatat pada arsip adalah 198. Ia tiba di Paramaribo dan kemudian ditempatkan untuk bekerja di bawah Fernandes, JD, administrator, untuk kepentingan pemerintah kolonial. Dalam kartu tercatat kode kontrak KK100. Masa kontraknya dimulai pada 15 Juni 1908 dan berakhir pada 15 Juni 1913. Arsip juga mencatat bahwa ketika tiba di Suriname, Kasinem sempat dirawat di Rumah Sakit Militer dan keluar pada 4 Juli 1908. Ia kemudian dipindahkan ke M. dan Z. berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 18 Maret 1911 nomor 11. Tempat kerja Kasinem tercatat sebagai perkebunan Leliendaal (Ben. Comm.). Arsip tidak mengetahui dengan pasti kapal yang digunakan untuk kepulangannya ke Jawa, sehingga kemungkinan catatan kepulangannya memang tidak tersedia dalam dokumen ini. Beberapa tahun kemudian, kartu mencatat tanggal CVO 13 Januari 1915 dan premi diterima pada 19 Februari 1917. Pada bagian situasi lahan, tercatat bahwa berdasarkan akta tanggal 29 Juni 1929 nomor 1975, sebidang tanah di 14 Arubaweg disewakan. --- Keluarga Kasinem di Suriname Catatan keluarga menunjukkan bahwa Kasinem kemudian membangun kehidupan keluarga di Suriname. Ia menikah dengan Satimin 76/JJ pada 4 April 1917. Dari catatan tersebut, anak-anak yang diakui antara lain: • Satina, perempuan, lahir 4 Oktober 1909. • Kasira, perempuan, lahir 17 April 1911, dengan keterangan MH pada catatan kelahirannya. • Kasio, laki-laki, lahir 26 Mei 1913 di Leliendaal. Ia kemudian tercatat meninggal pada 18 September 1913 di Leliendaal. • Nicolaas, laki-laki, lahir 13 September 1914 di Leliendaal. • Samin, laki-laki, lahir 9 Desember 1918 di Lelydorperweg. • Pahing, laki-laki, lahir 11 April 1921 di Lelydorp. • Terdapat pula satu catatan anak yang lahir 19 Juli 1926 di Hindoeweg, tetapi bagian nama dan keterangannya tidak sepenuhnya jelas dalam salinan arsip. Kartu ini kemudian berkembang menjadi catatan keluarga yang sangat panjang. Di dalamnya tercatat berbagai pernikahan, kelahiran, kematian, pengakuan anak, serta perubahan atau pemilihan nama keluarga pada generasi berikutnya. Salah satu catatan penting adalah mengenai Samin, putra Kasinem dan Satimin. Pada 31 Januari 1941, ia memilih nama keluarga Satimin dan nama depan Samin. Tidak lama kemudian, pada 23 Januari 1941, Samin menikah dengan Moekinem, putri Bok Kromodirjo 2082/VV, di Distrik Suriname. Putri Kasinem, Kasira, juga memiliki catatan keluarga yang cukup panjang. Ia menikah pada 22 September 1938 di Distrik Suriname dengan Eduard Francois Itjoejares. Dari hubungan keluarga tersebut kemudian tercatat anak-anak dan keturunan seperti Phil Ronald yang lahir pada 27 Maret 1944 di Lelydorp dan Anastacia Paulina yang lahir pada 27 Juli 1951 di Lelydorp. Arsip juga mencatat sejumlah perubahan nama keluarga pada keturunan mereka. Sementara itu, putri Kasinem lainnya, Satina, tercatat menikah dan memiliki anak-anak yang kemudian menggunakan atau memilih nama keluarga seperti Paimin. Kartu juga mencatat perubahan nama beberapa keturunan pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa satu kartu arsip tidak hanya mencatat perjalanan Kasinem sebagai pekerja kontrak, tetapi juga menjadi jejak administratif kehidupan anak-anak dan cucu-cucunya di Suriname. --- Dari Jawa ke Suriname Kisah Kasinem memperlihatkan bahwa perjalanan seorang pekerja kontrak tidak berhenti pada saat kapal tiba di Paramaribo. Setelah meninggalkan Jawa pada usia 24 tahun pada tahun 1908, kehidupannya di Suriname berkembang menjadi sebuah sejarah keluarga yang berlangsung selama beberapa generasi. Kartu arsip tersebut memperlihatkan perjalanan dari Djolangan di Jawa → Semarang → perjalanan laut → Paramaribo → perkebunan Leliendaal, kemudian berlanjut pada kehidupan keluarga di Suriname. Nama Kasinem, Satimin, Satina, Kasira, Samin, dan keturunan mereka kemudian muncul kembali dalam berbagai catatan administrasi hingga puluhan tahun setelah kedatangannya. --- - Sumber: Nationaal Archief, “Javaanse contractarbeiders in Suriname 1890–1930”. - Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah - Foto Asli Hitam Putih di Komentar ! Catatan: ejaan nama, singkatan, nomor register, dan beberapa bagian catatan keluarga mengikuti data pada kartu arsip. Beberapa bagian dalam salinan arsip tidak terbaca dengan jelas sehingga tidak ditafsirkan sebagai fakta baru. #SejarahIndonesia #Jawa #Suriname

 Kasinem: Perjalanan Seorang Perempuan Jawa ke Suriname





Kartu arsip ini mencatat perjalanan Kasinem, seorang perempuan asal Jawa yang berangkat ke Suriname sebagai pekerja kontrak. Ia tercatat lahir di Hindia Belanda, berusia 24 tahun, memiliki tinggi 147 cm, beragama Islam, dan mempunyai ciri pengenal berupa cuping telinga yang robek. Nama ayahnya tercantum dalam kartu, tetapi tidak ada nama yang terbaca pada data arsip yang tersedia. Kasinem berasal dari Desa Djolangan, Distrik Toeloongagoong, Departemen Toeloongagoong, wilayah Kediri.


Pada 14 April 1908, Kasinem berangkat dari Semarang menuju Suriname dengan kapal uap (SS) Sumatra & Pangeran William IV. Nomor yang tercatat pada arsip adalah 198. Ia tiba di Paramaribo dan kemudian ditempatkan untuk bekerja di bawah Fernandes, JD, administrator, untuk kepentingan pemerintah kolonial.


Dalam kartu tercatat kode kontrak KK100. Masa kontraknya dimulai pada 15 Juni 1908 dan berakhir pada 15 Juni 1913. Arsip juga mencatat bahwa ketika tiba di Suriname, Kasinem sempat dirawat di Rumah Sakit Militer dan keluar pada 4 Juli 1908. Ia kemudian dipindahkan ke M. dan Z. berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 18 Maret 1911 nomor 11.


Tempat kerja Kasinem tercatat sebagai perkebunan Leliendaal (Ben. Comm.). Arsip tidak mengetahui dengan pasti kapal yang digunakan untuk kepulangannya ke Jawa, sehingga kemungkinan catatan kepulangannya memang tidak tersedia dalam dokumen ini. Beberapa tahun kemudian, kartu mencatat tanggal CVO 13 Januari 1915 dan premi diterima pada 19 Februari 1917. Pada bagian situasi lahan, tercatat bahwa berdasarkan akta tanggal 29 Juni 1929 nomor 1975, sebidang tanah di 14 Arubaweg disewakan.


---


Keluarga Kasinem di Suriname


Catatan keluarga menunjukkan bahwa Kasinem kemudian membangun kehidupan keluarga di Suriname. Ia menikah dengan Satimin 76/JJ pada 4 April 1917. Dari catatan tersebut, anak-anak yang diakui antara lain:


• Satina, perempuan, lahir 4 Oktober 1909.

• Kasira, perempuan, lahir 17 April 1911, dengan keterangan MH pada catatan kelahirannya.

• Kasio, laki-laki, lahir 26 Mei 1913 di Leliendaal. Ia kemudian tercatat meninggal pada 18 September 1913 di Leliendaal.

• Nicolaas, laki-laki, lahir 13 September 1914 di Leliendaal.

• Samin, laki-laki, lahir 9 Desember 1918 di Lelydorperweg.

• Pahing, laki-laki, lahir 11 April 1921 di Lelydorp.

• Terdapat pula satu catatan anak yang lahir 19 Juli 1926 di Hindoeweg, tetapi bagian nama dan keterangannya tidak sepenuhnya jelas dalam salinan arsip.


Kartu ini kemudian berkembang menjadi catatan keluarga yang sangat panjang. Di dalamnya tercatat berbagai pernikahan, kelahiran, kematian, pengakuan anak, serta perubahan atau pemilihan nama keluarga pada generasi berikutnya.


Salah satu catatan penting adalah mengenai Samin, putra Kasinem dan Satimin. Pada 31 Januari 1941, ia memilih nama keluarga Satimin dan nama depan Samin. Tidak lama kemudian, pada 23 Januari 1941, Samin menikah dengan Moekinem, putri Bok Kromodirjo 2082/VV, di Distrik Suriname.


Putri Kasinem, Kasira, juga memiliki catatan keluarga yang cukup panjang. Ia menikah pada 22 September 1938 di Distrik Suriname dengan Eduard Francois Itjoejares. Dari hubungan keluarga tersebut kemudian tercatat anak-anak dan keturunan seperti Phil Ronald yang lahir pada 27 Maret 1944 di Lelydorp dan Anastacia Paulina yang lahir pada 27 Juli 1951 di Lelydorp. Arsip juga mencatat sejumlah perubahan nama keluarga pada keturunan mereka.


Sementara itu, putri Kasinem lainnya, Satina, tercatat menikah dan memiliki anak-anak yang kemudian menggunakan atau memilih nama keluarga seperti Paimin. Kartu juga mencatat perubahan nama beberapa keturunan pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa satu kartu arsip tidak hanya mencatat perjalanan Kasinem sebagai pekerja kontrak, tetapi juga menjadi jejak administratif kehidupan anak-anak dan cucu-cucunya di Suriname.


---


Dari Jawa ke Suriname


Kisah Kasinem memperlihatkan bahwa perjalanan seorang pekerja kontrak tidak berhenti pada saat kapal tiba di Paramaribo. Setelah meninggalkan Jawa pada usia 24 tahun pada tahun 1908, kehidupannya di Suriname berkembang menjadi sebuah sejarah keluarga yang berlangsung selama beberapa generasi.


Kartu arsip tersebut memperlihatkan perjalanan dari Djolangan di Jawa → Semarang → perjalanan laut → Paramaribo → perkebunan Leliendaal, kemudian berlanjut pada kehidupan keluarga di Suriname. Nama Kasinem, Satimin, Satina, Kasira, Samin, dan keturunan mereka kemudian muncul kembali dalam berbagai catatan administrasi hingga puluhan tahun setelah kedatangannya.


---


- Sumber: Nationaal Archief, “Javaanse contractarbeiders in Suriname 1890–1930”.

- Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah

- Foto Asli Hitam Putih di Komentar !


Catatan: ejaan nama, singkatan, nomor register, dan beberapa bagian catatan keluarga mengikuti data pada kartu arsip. Beberapa bagian dalam salinan arsip tidak terbaca dengan jelas sehingga tidak ditafsirkan sebagai fakta baru.


#SejarahIndonesia #Jawa #Suriname

66 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Maret 1960, sebuah bidikan kamera secara tidak sengaja mengabadikan wajah Ernesto "Che" Guevara dalam sebuah upacara pemakaman di Kuba. Saat itu, pemimpin revolusioner Fidel Castro tengah menyampaikan pidato berapi-api untuk menghormati para pekerja yang tewas dalam ledakan kapal pengangkut senjata di pelabuhan Havana, peristiwa yang dituduhkan pemerintah Kuba kepada Amerika Serikat. Di tengah kerumunan, fotografer surat kabar La Revolución, Alberto Díaz Gutiérrez atau yang lebih dikenal sebagai Alberto Korda, menangkap ekspresi Che yang teguh dengan baret bintangnya selama kurang lebih tiga puluh detik sebelum pria itu kembali menghilang di balik kerumunan. Foto yang kemudian diberi judul Guerrillero Heroico (Pejuang Gerilya Heroik) itu awalnya hanya menjadi koleksi pribadi Korda karena editor surat kabarnya menolak untuk mempublikasikannya. Namun, beberapa tahun setelah Che dieksekusi mati di Bolivia pada 1967, citra tersebut meledak secara global dan bertransformasi dari sekadar dokumentasi jurnalistik menjadi logo abstrak perlawanan. Bagaimana sebuah potret yang sempat terabaikan bisa menjadi simbol pemberontakan paling produktif di dunia? Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan hidup Che hingga ia dipuja sebagai martir sekaligus dikecam sebagai tiran yang kejam? Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134358914/66-tahun-foto-ikonik-che-guevara-mengapa-jadi-simbol-perlawanan-dunia



  66 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Maret 1960, sebuah bidikan kamera secara tidak sengaja mengabadikan wajah Ernesto "Che" Guevara dalam sebuah upacara pemakaman di Kuba.





Saat itu, pemimpin revolusioner Fidel Castro tengah menyampaikan pidato berapi-api untuk menghormati para pekerja yang tewas dalam ledakan kapal pengangkut senjata di pelabuhan Havana, peristiwa yang dituduhkan pemerintah Kuba kepada Amerika Serikat.


Di tengah kerumunan, fotografer surat kabar La Revolución, Alberto Díaz Gutiérrez atau yang lebih dikenal sebagai Alberto Korda, menangkap ekspresi Che yang teguh dengan baret bintangnya selama kurang lebih tiga puluh detik sebelum pria itu kembali menghilang di balik kerumunan.


Foto yang kemudian diberi judul Guerrillero Heroico (Pejuang Gerilya Heroik) itu awalnya hanya menjadi koleksi pribadi Korda karena editor surat kabarnya menolak untuk mempublikasikannya.


Namun, beberapa tahun setelah Che dieksekusi mati di Bolivia pada 1967, citra tersebut meledak secara global dan bertransformasi dari sekadar dokumentasi jurnalistik menjadi logo abstrak perlawanan.


Bagaimana sebuah potret yang sempat terabaikan bisa menjadi simbol pemberontakan paling produktif di dunia? Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan hidup Che hingga ia dipuja sebagai martir sekaligus dikecam sebagai tiran yang kejam?


Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134358914/66-tahun-foto-ikonik-che-guevara-mengapa-jadi-simbol-perlawanan-dunia



66 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Maret 1960, sebuah bidikan kamera secara tidak sengaja mengabadikan wajah Ernesto "Che" Guevara dalam sebuah upacara pemakaman di Kuba. Saat itu, pemimpin revolusioner Fidel Castro tengah menyampaikan pidato berapi-api untuk menghormati para pekerja yang tewas dalam ledakan kapal pengangkut senjata di pelabuhan Havana, peristiwa yang dituduhkan pemerintah Kuba kepada Amerika Serikat. Di tengah kerumunan, fotografer surat kabar La Revolución, Alberto Díaz Gutiérrez atau yang lebih dikenal sebagai Alberto Korda, menangkap ekspresi Che yang teguh dengan baret bintangnya selama kurang lebih tiga puluh detik sebelum pria itu kembali menghilang di balik kerumunan. Foto yang kemudian diberi judul Guerrillero Heroico (Pejuang Gerilya Heroik) itu awalnya hanya menjadi koleksi pribadi Korda karena editor surat kabarnya menolak untuk mempublikasikannya. Namun, beberapa tahun setelah Che dieksekusi mati di Bolivia pada 1967, citra tersebut meledak secara global dan bertransformasi dari sekadar dokumentasi jurnalistik menjadi logo abstrak perlawanan. Bagaimana sebuah potret yang sempat terabaikan bisa menjadi simbol pemberontakan paling produktif di dunia? Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan hidup Che hingga ia dipuja sebagai martir sekaligus dikecam sebagai tiran yang kejam? Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134358914/66-tahun-foto-ikonik-che-guevara-mengapa-jadi-simbol-perlawanan-dunia

 66 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Maret 1960, sebuah bidikan kamera secara tidak sengaja mengabadikan wajah Ernesto "Che" Guevara dalam sebuah upacara pemakaman di Kuba.






Saat itu, pemimpin revolusioner Fidel Castro tengah menyampaikan pidato berapi-api untuk menghormati para pekerja yang tewas dalam ledakan kapal pengangkut senjata di pelabuhan Havana, peristiwa yang dituduhkan pemerintah Kuba kepada Amerika Serikat.


Di tengah kerumunan, fotografer surat kabar La Revolución, Alberto Díaz Gutiérrez atau yang lebih dikenal sebagai Alberto Korda, menangkap ekspresi Che yang teguh dengan baret bintangnya selama kurang lebih tiga puluh detik sebelum pria itu kembali menghilang di balik kerumunan.


Foto yang kemudian diberi judul Guerrillero Heroico (Pejuang Gerilya Heroik) itu awalnya hanya menjadi koleksi pribadi Korda karena editor surat kabarnya menolak untuk mempublikasikannya.


Namun, beberapa tahun setelah Che dieksekusi mati di Bolivia pada 1967, citra tersebut meledak secara global dan bertransformasi dari sekadar dokumentasi jurnalistik menjadi logo abstrak perlawanan.


Bagaimana sebuah potret yang sempat terabaikan bisa menjadi simbol pemberontakan paling produktif di dunia? Apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan hidup Che hingga ia dipuja sebagai martir sekaligus dikecam sebagai tiran yang kejam?


Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134358914/66-tahun-foto-ikonik-che-guevara-mengapa-jadi-simbol-perlawanan-dunia

09 September 2026

 MENGAPA BERZIARAH KE MAKAM PATIH DANUREJA V?


Patih Danureja V adalah Patih Kesultanan Jogjakarta setelah Perang Jawa.


Patih Danureja V adalah anak Patih Danureja II, cucu Patih Danureja I.


Patih Danureja I sebelumnya adalah Bupati Banyumas dengan gelar Tumenggung Yudanegara III.


Bupati Banyumas diangkat oleh Raja Jogjakarta, Sultan Hamengku Buwana I, namun wilayah Banyumas masuk Kasunanan Surakarta.


Saya berziarah ke makam Patih Danureja V karena 2 alasan.


Pertama, saya merasa wajib berziarah setelah menerjemahkan "Babad Banyumas Danuredjan".



"Babad Banyumas Danurejan" adalah Babad Banyumas yang disusun oleh Patih Danureja V, beberapa tahun sebelum meninggal. 


Kedua, saya merasa wajib berziarah setelah menerjemahkan "Babad Diponegoro".


"Babad Diponegoro" mengisahkan tentang sosok Basah Gondokusumo.


Basah Gondokusumo adalah panglima Pangeran Diponegoro untuk wilayah Kabupaten Roma. (Tentang Kabupaten Roma, sudah saya tulis kemarin).


Basah Gondokusumo menjadi tokoh penting, karena menjadi pendamping Pangeran Diponegoro di saat-saat akhir Perang Jawa.


Basah Gondokusumo yang mendampingi Pangeran Diponegoro ketika pertama bertemu Belanda di Roma. Dan, terus mendampingi sang pangeran sampai di Magelang.


Basah Gondokusumo menjadi saksi mata penangkapan Pangeran Diponegoro.


Kelak, pengalaman selama mendampingi Pangeran Diponegoro ditulis dalam "Babad Diponegoro Gondokusumo".


"Babad Diponegoro Gondokusumo" adalah Babad Diponegoro paling detil dalam mencatat seluruh peristiwa.


Ada yang pernah baca?


Setelah Perang Jawa selesai, Basah Gondokusumo diangkat menjadi Patih Jogjakarta, dengan gelar Adipati Danureja V.


Makam Patih Danureja V berada di Astana Mlangi, Jogjakarta.

Sumber : Nassirun Purwokarton

#babadbanyumas #danuredjan #babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

Pada awal abad ke-19, wilayah Kedu (sekitar Desa Bumi Segoro) mendadak heboh. Sebuah tumpukan abu vulkanik dan semak belukar raksasa yang dikira warga cuma bukit biasa untuk mencuci arit, ternyata menyimpan mahakarya arsitektur batu paling megah di muka bumi: Candi Borobudur. Berikut adalah deklasifikasi risalah penemuan kembali takhta batu tersebut yang dilengkapi sadapan dialog imajiner berdosis kearifan lokal tinggi. Semua bermula ketika Gubernur Jenderal Britania Raya, Thomas Stamford Raffles, sedang melamun di ruang kerjanya sambil memikirkan nama latin untuk tanaman baru. Tiba-tiba, Bupati Yogyakarta, Tan Jin Sing, masuk membawa dokumen rahasia. [TRANSKRIP SADAPAN DIALOG: RUANG KERJA RAFFLES] Tan Jin Sing: "Mister Raffles... Sampeyan kan seneng banget kumpul-kumpul batu tua sama nulis buku nih. Tak kasih tau info A1 mau?" Raffles: "Wah, info opo itu, Kang Tan? Ada spesies bunga bangkai baru lagi?" Tan Jin Sing: "Dudu! Ini di daerah Kedu, dekat Desa Bumi Segoro, ada bukit aneh. Banyak batu ukir bergambar ketutupan grumbul (semak belukar) sama abu vulkanik. Warga sekitar mikirnya itu cuma reruntuhan bekas kerajaan ghaib." Raffles: "Oalah, Ladalah! Batu bergambar sebesar bukit?! Ini sih bukan ghaib, ini potensi jadi proyek museum besar! Kita harus kirim tim ekspedisi sekarang juga!" Mendengar kabar burung bernilai sejarah tinggi tersebut, Raffles langsung mengutus seorang ahli teknik asal Belanda bernama H.C. Cornelius untuk meluncur ke lokasi. Cornelius memboyong sekitar 200 warga lokal untuk menggelar aksi "Kerja Bakti Agung". Peralatan tempur mereka sederhana: cangkul, arit, dan sapu lidi raksasa demi membongkar timbunan tanah dan abu Merapi purba. [TRANSKRIP SADAPAN DIALOG: LAPANGAN KEDU] Cornelius: "Ayo, bapak-bapak! Bacok itu semak belukar! Cangkul tanahnya pelan-pelan, jangan sampai relief batu bergambarnya retak!" Warga Local 1: "Aduh, Meneer Cornelius... Ini batu ukirnya banyak amat! Ada gambar orang naik perahu, ada gambar gajah, ada gambar pohon asem... Ini batu candi apa komik bergambar?!" Warga Local 2: "Mana tanah abunya tebal banget lagi, Meneer. Dulu nenek moyang kita kalau ngumpetim candi kok rapi amat ya, dipendem pakaikan abu vulkanik segala!" Cornelius: "Sudah, jangan banyak protes! Nanti selesai kerja bakti, tak kasih es cendol sama tiwul hangat!" Penuntasan Pembersihan: Era Residen Hartman (1835) 1. Pengambilalihan Sektor oleh Residen Hartman Fase Operasi Lanjutan Setelah Cornelius membuka gerbang awal, pada tahun 1835 Residen Kedu bernama Hartman melanjutkan proyek penggalian secara total dan masif. 2. Mengupas Lapisan Penutup Terakhir Fase Pengangkatan Abu Hartman mengerahkan tenaga ekstra untuk mengerok sisa-sisa bukit abu vulkanik yang masih mengunci bagian lorong-lorong utama. 3. Kemunculan Monumen Utama Fase Penampakan Wujud Maha struktur Borobudur mulai dari stupa puncak, lorong stupa berlubang, hingga ribuan panel relief yang megah akhirnya berdiri gagah dan terlihat jelas oleh mata dunia. Penemuan kembali Candi Borobudur membuktikan satu hukum arkeologi: bahwa mahakarya sejati mungkin bisa tertimbun oleh abu dan terlupakan oleh waktu, namun pada akhirnya akan tetap bersinar saat ada orang yang mau repot-repot membawa cangkul dan menggalinya. Pesan untuk Sobat Kosmik: Jikalau Anda melihat gundukan tanah atau kebun belakang rumah yang penuh semak belukar, jangan terburu-buru dijadikan tempat pembuangan sampah. Siapa tahu di bawahnya ada stupa batu atau prasasti peninggalan leluhur! Dan ingat, kalau sedang ikut kerja bakti RT, kerjakan dengan ikhlas sampai bersih siapa tahu yang Anda cangkul adalah sejarah masa depan! #BeritaTerkini #SejarahBorobudur #PenemuanCandi #DialogKearifanLokal #InfoNASA

 Pada awal abad ke-19, wilayah Kedu (sekitar Desa Bumi Segoro) mendadak heboh. Sebuah tumpukan abu vulkanik dan semak belukar raksasa yang dikira warga cuma bukit biasa untuk mencuci arit, ternyata menyimpan mahakarya arsitektur batu paling megah di muka bumi: Candi Borobudur.



Berikut adalah deklasifikasi risalah penemuan kembali takhta batu tersebut yang dilengkapi sadapan dialog imajiner berdosis kearifan lokal tinggi.


Semua bermula ketika Gubernur Jenderal Britania Raya, Thomas Stamford Raffles, sedang melamun di ruang kerjanya sambil memikirkan nama latin untuk tanaman baru. Tiba-tiba, Bupati Yogyakarta, Tan Jin Sing, masuk membawa dokumen rahasia.


[TRANSKRIP SADAPAN DIALOG: RUANG KERJA RAFFLES]


Tan Jin Sing: "Mister Raffles... Sampeyan kan seneng banget kumpul-kumpul batu tua sama nulis buku nih. Tak kasih tau info A1 mau?"


Raffles: "Wah, info opo itu, Kang Tan? Ada spesies bunga bangkai baru lagi?"


Tan Jin Sing: "Dudu! Ini di daerah Kedu, dekat Desa Bumi Segoro, ada bukit aneh. Banyak batu ukir bergambar ketutupan grumbul (semak belukar) sama abu vulkanik. Warga sekitar mikirnya itu cuma reruntuhan bekas kerajaan ghaib."


Raffles: "Oalah, Ladalah! Batu bergambar sebesar bukit?! Ini sih bukan ghaib, ini potensi jadi proyek museum besar! Kita harus kirim tim ekspedisi sekarang juga!"


Mendengar kabar burung bernilai sejarah tinggi tersebut, Raffles langsung mengutus seorang ahli teknik asal Belanda bernama H.C. Cornelius untuk meluncur ke lokasi.


Cornelius memboyong sekitar 200 warga lokal untuk menggelar aksi "Kerja Bakti Agung". Peralatan tempur mereka sederhana: cangkul, arit, dan sapu lidi raksasa demi membongkar timbunan tanah dan abu Merapi purba.


[TRANSKRIP SADAPAN DIALOG: LAPANGAN KEDU]


Cornelius: "Ayo, bapak-bapak! Bacok itu semak belukar! Cangkul tanahnya pelan-pelan, jangan sampai relief batu bergambarnya retak!"


Warga Local 1: "Aduh, Meneer Cornelius... Ini batu ukirnya banyak amat! Ada gambar orang naik perahu, ada gambar gajah, ada gambar pohon asem... Ini batu candi apa komik bergambar?!"


Warga Local 2: "Mana tanah abunya tebal banget lagi, Meneer. Dulu nenek moyang kita kalau ngumpetim candi kok rapi amat ya, dipendem pakaikan abu vulkanik segala!"


Cornelius: "Sudah, jangan banyak protes! Nanti selesai kerja bakti, tak kasih es cendol sama tiwul hangat!"


Penuntasan Pembersihan: Era Residen Hartman (1835)

1. Pengambilalihan Sektor oleh Residen Hartman

Fase Operasi Lanjutan

Setelah Cornelius membuka gerbang awal, pada tahun 1835 Residen Kedu bernama Hartman melanjutkan proyek penggalian secara total dan masif.


2. Mengupas Lapisan Penutup Terakhir

Fase Pengangkatan Abu

Hartman mengerahkan tenaga ekstra untuk mengerok sisa-sisa bukit abu vulkanik yang masih mengunci bagian lorong-lorong utama.


3. Kemunculan Monumen Utama

Fase Penampakan Wujud

Maha struktur Borobudur mulai dari stupa puncak, lorong stupa berlubang, hingga ribuan panel relief yang megah akhirnya berdiri gagah dan terlihat jelas oleh mata dunia.


Penemuan kembali Candi Borobudur membuktikan satu hukum arkeologi: bahwa mahakarya sejati mungkin bisa tertimbun oleh abu dan terlupakan oleh waktu, namun pada akhirnya akan tetap bersinar saat ada orang yang mau repot-repot membawa cangkul dan menggalinya.


Pesan untuk Sobat Kosmik: Jikalau Anda melihat gundukan tanah atau kebun belakang rumah yang penuh semak belukar, jangan terburu-buru dijadikan tempat pembuangan sampah. Siapa tahu di bawahnya ada stupa batu atau prasasti peninggalan leluhur! Dan ingat, kalau sedang ikut kerja bakti RT, kerjakan dengan ikhlas sampai bersih siapa tahu yang Anda cangkul adalah sejarah masa depan!

Sumber : Wukir Mahendra

#BeritaTerkini #SejarahBorobudur #PenemuanCandi #DialogKearifanLokal #InfoNASA

Kapal Kargo Dibajak, Presiden Amerika Serikat Murka dan Tenggelamkan Kuala Batu Aceh, Ratusan Warga Tewas. Penulis : Dede Nana - Editor : Lazuardi Firdaus Gambar yang melukiskan keberanian perempuan Aceh dalam pertempuran antara pasukan Amerika dengan kerajaan Kuala Batu, 1831 (Ist) MALANGTIMES - 300 warga Kuala Batee (Quallah Battoo) atau Kuala Batu, Aceh, tidak bisa menghadang serangan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. Bombardir pasukan di bawah Komodor John Downes membuat ratusan warga tewas dalam pertempuran tidak seimbang serta meluluhlantakkan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Cut Ampon Tuan yang memerintah pada tahun 1785. Pertempuran yang dipicu oleh tindakan pembajakan warga Kuala Batu, 1831, serta mengakibatkan kematian anak buah kapal kargo milik perusahaan asal Amerika. Memantik kegemparan dan kemarahan Presiden Amerika Serikat, Andrew Jackson. Sang Presiden Amerika Serikat pun memerintahkan pasukan angkatan lautnya untuk menyerang kerajaan kecil yang pernah berkuasa dan berjaya sekitar tahun 1785 – 1832 Masehi. Kapal perang USS Potomac di bawah Komodor John Downes dengan pasukan dan persenjataan lengkap pun diberangkatkan. Pertempuran sengit tidak berimbang antara pasukan Amerika Serikat dengan pasukan kerajaan Kuala Batu yang kini lokasinya masuk dalam wilayah Kecamatan Kuala Batee sekarang dan berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya. Terekam dalam sebuah lukisan yang sempat dikirimkan oleh Dr Farish A Noor seorang ilmuwan politik dan sejarawan dan Associate Professor di Rajaratnam School of International Studies serta Sekolah Sejarah Departemen Humaniora dan Ilmu Sosial di Nanyang Technological University, Singapura. Gambar tersebut mengisahkan ketika pasukan Amerika Serikat melakukan invasi tahun 1832. Dalam gambar tersebut terlihat sengitnya pertempuran yang tidak seimbang serta memperlihatkan kegigihan dan keberanian warga Kuala Batu dalam menghadapi pasukan Amerika Serikat. Laki-laki dan perempuan Kuala Batu bersatu melawan kemarahan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. Di gambar yang tersimpan di museum Sejarah Amerika Serikat Ellis pada tahun 1898, yakni 7 dekade usai invasi Amerika Serikat Kuala Batee (Quallah Battoo). Terlukis perempuan Aceh menghalangi tentara Amerika yang menusukkan pedang ke arah seorang lelaki. Keberanian para perempuan Aceh di masa itu, semakin menguatkan keberanian kaum hawa pada berbagai perang melawan penjajah Belanda. Darah pejuang tak kenal menyerah dan berani mati, ternyata telah mengalir sejak lama di bumi rencong Aceh. Pertempuran yang diibaratkan David and Goliath tersebut, tentunya dimenangkan pasukan Amerika bersenjata lengkap. Downes memerintahkan 1 detasemen dari 282 marinir dan nakhoda ke perahu kapal, yang beberapa dari perahu itu sudah dilengkapi dengan meriam ringan. Senapan-senapan Potomac digunakan untuk membalas tembakan dari benteng Kuala Batee. Sedangkan pasukan Kuala Batu hanya memiliki senapan kunci korek yang sudah ketinggalan zaman. Benteng Kuala Batu pun hancur setelah dengan sengit dipertahankan. 150 jiwa tewas dalam pertempuran tersebut. Namun penduduk berperang dengan sengit dan pertempuran bergeser ke pertarungan tangan dimana salah satu raja yang menguasai benteng terbunuh bersama 150 jawara lainnya. Tidak puas menaklukkan benteng pesisir, pasukan Amerika menyerang kota. Meluluh lantakkan seluruh isi Kota Kuala Batu. Warga tewas mencapai 300 orang dan yang selamat menyerah. Dipihak Amerika Serikat, hanya 2 yang tewas selama serangan dan 11 nakhoda dan marinir lainnya luka-luka. Kisah pertempuran sengit tersebut juga diabadikan dalam buku Quallah Battoo karya Dr Ronald Stephen Knapp dan diluncurkan pada 29 Agustus 2017.(*) *** Gambar yang melukiskan keberanian perempuan Aceh dalam pertempuran antara pasukan Amerika dengan kerajaan Kuala Batu, 1831 (Ist)

 Kapal Kargo Dibajak, Presiden Amerika Serikat Murka dan Tenggelamkan Kuala Batu Aceh, Ratusan Warga Tewas.


Penulis : Dede Nana - Editor : Lazuardi Firdaus


Gambar yang melukiskan keberanian perempuan Aceh dalam pertempuran antara pasukan Amerika dengan kerajaan Kuala Batu, 1831 (Ist)


MALANGTIMES - 300 warga Kuala Batee (Quallah Battoo) atau Kuala Batu, Aceh, tidak bisa menghadang serangan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. 


Bombardir pasukan di bawah Komodor John Downes membuat ratusan warga tewas dalam pertempuran tidak seimbang serta meluluhlantakkan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Cut Ampon Tuan yang memerintah pada tahun 1785.


Pertempuran yang dipicu oleh tindakan pembajakan warga Kuala Batu, 1831, serta mengakibatkan kematian anak buah kapal kargo milik perusahaan asal Amerika.


Memantik kegemparan dan kemarahan Presiden Amerika Serikat, Andrew Jackson. 


Sang Presiden Amerika Serikat pun memerintahkan pasukan angkatan lautnya untuk menyerang kerajaan kecil yang pernah berkuasa dan berjaya sekitar tahun 1785 – 1832 Masehi. 


Kapal perang USS Potomac di bawah Komodor John Downes dengan pasukan dan persenjataan lengkap pun diberangkatkan.


Pertempuran sengit tidak berimbang antara pasukan Amerika Serikat dengan pasukan kerajaan Kuala Batu yang kini lokasinya masuk dalam wilayah Kecamatan Kuala Batee sekarang dan berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya.


Terekam dalam sebuah lukisan yang sempat dikirimkan oleh Dr Farish A Noor seorang ilmuwan politik dan sejarawan dan Associate Professor di Rajaratnam School of International Studies serta Sekolah Sejarah Departemen Humaniora dan Ilmu Sosial di Nanyang Technological University, Singapura.


Gambar tersebut mengisahkan ketika pasukan Amerika Serikat melakukan invasi tahun 1832.


Dalam gambar tersebut terlihat sengitnya pertempuran yang tidak seimbang serta memperlihatkan kegigihan dan keberanian warga Kuala Batu dalam menghadapi pasukan Amerika Serikat.


Laki-laki dan perempuan Kuala Batu bersatu melawan kemarahan pasukan Amerika Serikat bersenjata lengkap. 


Di gambar yang tersimpan di museum Sejarah Amerika Serikat Ellis pada tahun 1898, yakni 7 dekade usai invasi Amerika Serikat Kuala Batee (Quallah Battoo). 


Terlukis perempuan Aceh menghalangi tentara Amerika yang menusukkan pedang ke arah seorang lelaki.


Keberanian para perempuan Aceh di masa itu, semakin menguatkan keberanian kaum hawa pada berbagai perang melawan penjajah Belanda. 


Darah pejuang tak kenal menyerah dan berani mati, ternyata telah mengalir sejak lama di bumi rencong Aceh.


Pertempuran yang diibaratkan David and Goliath tersebut, tentunya dimenangkan pasukan Amerika bersenjata lengkap.


Downes memerintahkan 1 detasemen dari 282 marinir dan nakhoda ke perahu kapal, yang beberapa dari perahu itu sudah dilengkapi dengan meriam ringan. 


Senapan-senapan Potomac digunakan untuk membalas tembakan dari benteng Kuala Batee.


Sedangkan pasukan Kuala Batu hanya memiliki senapan kunci korek yang sudah ketinggalan zaman. 


Benteng Kuala Batu pun hancur setelah dengan sengit dipertahankan. 150 jiwa tewas dalam pertempuran tersebut. 


Namun penduduk berperang dengan sengit dan pertempuran bergeser ke pertarungan tangan dimana salah satu raja yang menguasai benteng terbunuh bersama 150 jawara lainnya.


Tidak puas menaklukkan benteng pesisir, pasukan Amerika menyerang kota. 


Meluluh lantakkan seluruh isi Kota Kuala Batu. Warga tewas mencapai 300 orang dan yang selamat menyerah.


Dipihak Amerika Serikat, hanya 2 yang tewas selama serangan dan 11 nakhoda dan marinir lainnya luka-luka.


Kisah pertempuran sengit tersebut juga diabadikan dalam buku Quallah Battoo karya Dr Ronald Stephen Knapp dan diluncurkan pada 29 Agustus 2017.(*)


***



Gambar yang melukiskan keberanian perempuan Aceh dalam pertempuran antara pasukan Amerika dengan kerajaan Kuala Batu, 1831 (Ist)

58 tahun silam (tepatnya pada 1 Februari 1968), sebuah peluru dari pistol milik Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan menembus pelipis seorang tawanan bernama Nguyen Van Lem. Di lokasi tersebut, hanya beberapa kaki dari moncong senjata, fotografer Associated Press (AP) Eddie Adams menekan tombol kamera. Hasilnya adalah "Saigon Execution", sebuah foto hitam-putih yang menangkap sepersekian detik menjelang kematian sang anggota Viet Cong dan mengubah selamanya wajah Perang Vietnam di mata dunia. Karya Adams tersebut memang berhasil memenangkan Hadiah Pulitzer 1969. Namun, di luar itu, foto tersebut menjadi sebuah karya visual yang meruntuhkan narasi optimisme yang digaungkan pemerintah Amerika Serikat saat itu tentang Perang Vietnam. Namun, di balik kebrutalan yang tertangkap lensa, tersimpan kisah yang jauh lebih kelam tentang moralitas dalam perang, dendam pribadi, hingga penyesalan sang fotografer yang terus terjadi hingga akhir hayatnya. Lalu, bagaimana sebuah foto bisa memiliki kekuatan untuk menghentikan dukungan publik terhadap sebuah negara adidaya? Selain itu, apa yang sebenarnya terjadi sebelum dan setelah pelatuk itu ditarik? Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134347949/58-tahun-lalu-foto-ikonik-eksekusi-petugas-viet-cong-diambil-seberapa-kuat-dampaknya Catatan: Dikarenakan foto asli mengandung unsur kekerasan, maka unggahan ini menggunakan ilustrasi karya Vik Muniz. Foto asli ditampilkan di dalam artikel.

 58 tahun silam (tepatnya pada 1 Februari 1968), sebuah peluru dari pistol milik Brigadir Jenderal Nguyen Ngoc Loan menembus pelipis seorang tawanan bernama Nguyen Van Lem. 


Di lokasi tersebut, hanya beberapa kaki dari moncong senjata, fotografer Associated Press (AP) Eddie Adams menekan tombol kamera. Hasilnya adalah "Saigon Execution", sebuah foto hitam-putih yang menangkap sepersekian detik menjelang kematian sang anggota Viet Cong dan mengubah selamanya wajah Perang Vietnam di mata dunia.


Karya Adams tersebut memang berhasil memenangkan Hadiah Pulitzer 1969. Namun, di luar itu, foto tersebut menjadi sebuah karya visual yang meruntuhkan narasi optimisme yang digaungkan pemerintah Amerika Serikat saat itu tentang Perang Vietnam.


Namun, di balik kebrutalan yang tertangkap lensa, tersimpan kisah yang jauh lebih kelam tentang moralitas dalam perang, dendam pribadi, hingga penyesalan sang fotografer yang terus terjadi hingga akhir hayatnya.


Lalu, bagaimana sebuah foto bisa memiliki kekuatan untuk menghentikan dukungan publik terhadap sebuah negara adidaya? Selain itu, apa yang sebenarnya terjadi sebelum dan setelah pelatuk itu ditarik?



Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134347949/58-tahun-lalu-foto-ikonik-eksekusi-petugas-viet-cong-diambil-seberapa-kuat-dampaknya


Catatan: Dikarenakan foto asli mengandung unsur kekerasan, maka unggahan ini menggunakan ilustrasi karya Vik Muniz. Foto asli ditampilkan di dalam artikel.


07 September 2026

Noesantara Tempo Doeloe Letkol Untung Syamsuri, perwira TNI AD yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, menjalani eksekusi setelah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa. Ia dieksekusi pada tahun 1968 di Jawa Barat. Foto ini menjadi pengingat masa penuh gejolak dalam sejarah Indonesia pasca-1965, ketika perubahan kekuasaan diikuti proses peradilan militer terhadap tokoh-tokoh yang dianggap terlibat. Namun banyak yang tidak terbukti bahkan tanpa di adili langsung di Exsekusi. Inilah potret kelam penuh misteri berdarah bangsa kita.

 Noesantara Tempo Doeloe 

Letkol Untung Syamsuri, perwira TNI AD yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965, menjalani eksekusi setelah divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa. Ia dieksekusi pada tahun 1968 di Jawa Barat. 



Foto ini menjadi pengingat masa penuh gejolak dalam sejarah Indonesia pasca-1965, ketika perubahan kekuasaan diikuti proses peradilan militer terhadap tokoh-tokoh yang dianggap terlibat. Namun banyak yang tidak terbukti bahkan tanpa di adili langsung di Exsekusi. Inilah potret kelam penuh misteri berdarah bangsa kita.

SATGAS PARIKESIT: AMBISI SANG JENDERAL DAN BERAKHIRNYA PELARIAN PRESIDEN FRETILIN LOBATO Catatan sejarah Jani Sari II Untuk memahami dinamika operasi militer di Timor Timur pada paruh akhir dekade 1970-an, kita harus melihat secara jeli kalkulasi psikologis dan taktis seorang Jenderal TNI M. Jusuf. Ketika dilantik sebagai Menhankam/Panglima ABRI pada April 1978, langkah pertamanya adalah menginjakkan kaki di provinsi ke-27 tersebut. Apa yang ia temukan di lapangan rupanya sangat mengejutkan sang jenderal: sebuah stagnasi operasi keamanan yang berlarut sejak akhir 1975, di mana mutu tempur prajurit merosot, motivasi berada di titik nadir, dan alutsista yang digunakan sudah tertinggal zaman. Dalam rapat evaluasi pada Juni 1978 bersama komandan Resimen Tim Pertempuran (RTP), Jenderal Jusuf secara blak-blakan menuntut penjelasan atas kebuntuan di palagan tersebut. Dari sinilah lahir sebuah manuver yang tidak hanya bersifat taktis, tetapi juga sarat akan urgensi pembuktian kepemimpinan. Jusuf menggagas unit khusus gabungan lintas matra—terdiri dari Kopassandha, Marinir, dan Kopasgat—yang didukung oleh helikopter SA-330 Puma milik TNI-AU untuk mempraktikkan doktrin air mobile operation. Satuan yang mulai digembleng di Batujajar pada 20 November 1978 ini kemudian diberi nama Satgas Parikesit, di bawah komando mantan komandan Satgas Nanggala-12, Mayor Inf. A. Sitorus. Ada satu catatan penting yang menunjukkan sisi psikologis kepemimpinan ABRI saat itu. Jusuf memberikan tenggat waktu yang sangat kaku: Presiden Fretilin, Nicolau Lobato, harus didapatkan sebelum tahun 1978 berakhir. Kita harus mafhum, Jusuf sudah 13 tahun absen mengenakan seragam militer karena mengemban tugas-tugas sipil di pemerintahan. Target operasional ini pada dasarnya adalah instrumen politis Jusuf untuk menghapus keraguan di internal militer; ia ingin membuktikan secara definitif bahwa dirinya sama sekali belum lupa cara memimpin tentara di medan laga. Secara operasional, perburuan Lobato—yang menurut intelijen terdeteksi di kawasan berhutan lebat Gunung Matebian hingga bergeser ke Pegunungan Maubisse—menggunakan strategi klasik yang dieksekusi secara disiplin. Lima batalyon TNI-AD diposisikan sebagai "pagar betis" untuk mengunci perimeter luar, sementara Tim Parikesit melakukan penyisiran bersyaf tanpa henti untuk menekan target dari dalam. Tekanan ini membuahkan hasil ketika Tim Kancil dari Satgas Nanggala pimpinan Lettu Inf. Prabowo Subianto menemukan jejak krusial logistik Fretilin pada 28 Desember. Puncak dari operasi ini merefleksikan hierarki dan kecepatan komando di tubuh ABRI masa itu. Pada pagi hari tanggal 31 Desember 1978, Lobato yang terus didesak akhirnya tersudut di sebuah sungai dan tewas dalam penyergapan oleh Satgas Nanggala. Laporan berantai segera bergulir kilat: dari Brigjen Dading Kalbuadi di lapangan, langsung ke telinga Menhankam/Pangab, dan diteruskan seketika itu juga kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Setelah melapor ke panglima tertinggi, Jenderal Jusuf langsung terbang ke Dili untuk melihat pasukannya—sebuah epilog yang secara efektif mengukuhkan kembali otoritas dan wibawa militernya di hadapan para prajurit. Catatan : saya akan menuliskan versi lain dari terbunuhnya Lobato ini di lain waktu ... referensi untuk kisah ini adalah buku "Pengabdian Alumni Akabri 1970" Jani Sari Library

 SATGAS PARIKESIT: AMBISI SANG JENDERAL DAN BERAKHIRNYA PELARIAN PRESIDEN FRETILIN LOBATO


Catatan sejarah Jani Sari II 


Untuk memahami dinamika operasi militer di Timor Timur pada paruh akhir dekade 1970-an, kita harus melihat secara jeli kalkulasi psikologis dan taktis seorang Jenderal TNI M. Jusuf. 



Ketika dilantik sebagai Menhankam/Panglima ABRI pada April 1978, langkah pertamanya adalah menginjakkan kaki di provinsi ke-27 tersebut. Apa yang ia temukan di lapangan rupanya sangat mengejutkan sang jenderal: sebuah stagnasi operasi keamanan yang berlarut sejak akhir 1975, di mana mutu tempur prajurit merosot, motivasi berada di titik nadir, dan alutsista yang digunakan sudah tertinggal zaman.


Dalam rapat evaluasi pada Juni 1978 bersama komandan Resimen Tim Pertempuran (RTP), Jenderal Jusuf secara blak-blakan menuntut penjelasan atas kebuntuan di palagan tersebut. Dari sinilah lahir sebuah manuver yang tidak hanya bersifat taktis, tetapi juga sarat akan urgensi pembuktian kepemimpinan. 


Jusuf menggagas unit khusus gabungan lintas matra—terdiri dari Kopassandha, Marinir, dan Kopasgat—yang didukung oleh helikopter SA-330 Puma milik TNI-AU untuk mempraktikkan doktrin air mobile operation. Satuan yang mulai digembleng di Batujajar pada 20 November 1978 ini kemudian diberi nama Satgas Parikesit, di bawah komando mantan komandan Satgas Nanggala-12, Mayor Inf. A. Sitorus.


Ada satu catatan penting yang menunjukkan sisi psikologis kepemimpinan ABRI saat itu. Jusuf memberikan tenggat waktu yang sangat kaku: Presiden Fretilin, Nicolau Lobato, harus didapatkan sebelum tahun 1978 berakhir. Kita harus mafhum, Jusuf sudah 13 tahun absen mengenakan seragam militer karena mengemban tugas-tugas sipil di pemerintahan. Target operasional ini pada dasarnya adalah instrumen politis Jusuf untuk menghapus keraguan di internal militer; ia ingin membuktikan secara definitif bahwa dirinya sama sekali belum lupa cara memimpin tentara di medan laga.


Secara operasional, perburuan Lobato—yang menurut intelijen terdeteksi di kawasan berhutan lebat Gunung Matebian hingga bergeser ke Pegunungan Maubisse—menggunakan strategi klasik yang dieksekusi secara disiplin. Lima batalyon TNI-AD diposisikan sebagai "pagar betis" untuk mengunci perimeter luar, sementara Tim Parikesit melakukan penyisiran bersyaf tanpa henti untuk menekan target dari dalam.


Tekanan ini membuahkan hasil ketika Tim Kancil dari Satgas Nanggala pimpinan Lettu Inf. Prabowo Subianto menemukan jejak krusial logistik Fretilin pada 28 Desember.

Puncak dari operasi ini merefleksikan hierarki dan kecepatan komando di tubuh ABRI masa itu. Pada pagi hari tanggal 31 Desember 1978, Lobato yang terus didesak akhirnya tersudut di sebuah sungai dan tewas dalam penyergapan oleh Satgas Nanggala. 


Laporan berantai segera bergulir kilat: dari Brigjen Dading Kalbuadi di lapangan, langsung ke telinga Menhankam/Pangab, dan diteruskan seketika itu juga kepada Presiden Soeharto di Jalan Cendana. Setelah melapor ke panglima tertinggi, Jenderal Jusuf langsung terbang ke Dili untuk melihat pasukannya—sebuah epilog yang secara efektif mengukuhkan kembali otoritas dan wibawa militernya di hadapan para prajurit.


Catatan : saya akan menuliskan versi lain dari terbunuhnya Lobato ini di lain waktu ...


referensi untuk kisah ini adalah buku "Pengabdian Alumni Akabri 1970"


Jani Sari Library

Beliau adalah Karnadi, Salah satu warga Mojokerto yang bekerja di suriname pada masa kolonial belanda. Karnadi tercatat berasal dari Dusun Tlasih Desa Tawar Kabupaten Mojokerto. Karnadiu tercatat berangkat ke Suriname saat sudah berusia 33 tahun. Beliau berangkat tanggal 04 Juni 1907 dengan menaiki kapal bernama SS Floris & Prins Frederik Hendrik dari pelabuhan Semarang Jawa Tengah. Dengan nomer kontrak JJ665 Karnadi memulia kontrak kerja pada tanggal 12 Agustus 1907 sampai dengan 12 Agustus 1912. Karnadi tercatat dipekerjakan di perkebunan tebu bernama waterland. Dalam catatan pemerintah belanda, Karnadi tercatat bekerja di Suriname sampai tahun 1931. Selain waterland, karnadi tercatat pernah bekerja di perkebunan Marienburg en Zoelend dan perkebunan La Resource. Sayangnya Karnadi meninggal dunia pada tahun 1940 karena suatu penyakit. #mojokerto #mojokertohits #sejarah #sejarahindonesia #historia #historic #historical #history #heritage #oldpics #oldphoto #oldphotos #oldphotograph #oldphotography #vintage #vintagephoto #vintagephotography #picoftheday #pictureoftheday #maps #map #oldmaps #townplanning

 Beliau adalah Karnadi, Salah satu warga Mojokerto yang bekerja di suriname pada masa kolonial belanda. Karnadi tercatat berasal dari Dusun Tlasih Desa Tawar Kabupaten Mojokerto. Karnadiu tercatat berangkat ke Suriname saat sudah berusia 33 tahun. Beliau berangkat tanggal 04 Juni 1907 dengan menaiki kapal bernama SS Floris & Prins Frederik Hendrik dari pelabuhan Semarang Jawa Tengah. Dengan nomer kontrak JJ665 Karnadi memulia kontrak kerja pada tanggal 12 Agustus 1907 sampai dengan 12 Agustus 1912. Karnadi tercatat dipekerjakan di perkebunan tebu bernama waterland. Dalam catatan pemerintah belanda, Karnadi tercatat bekerja di Suriname sampai tahun 1931. Selain waterland, karnadi tercatat pernah bekerja di perkebunan Marienburg en Zoelend dan perkebunan La Resource. Sayangnya Karnadi meninggal dunia pada tahun 1940 karena suatu penyakit. 



#mojokerto #mojokertohits #sejarah #sejarahindonesia #historia #historic #historical #history #heritage #oldpics #oldphoto #oldphotos #oldphotograph #oldphotography #vintage #vintagephoto #vintagephotography #picoftheday #pictureoftheday #maps #map  #oldmaps #townplanning

06 September 2026

HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (3) Saya penasaran, siapakah Habib Ibrahim Ba'abud yang dituduh sebagai pengkhianat Pangeran Diponegoro? Karena dalam Babad Diponegoro, nama itu tidak ada. Nama yang tertulis hanya 8 orang. Pangeran Suryaatmadja, Kerto Pengalasan, Sentot Prawirodirjo, Mas Penghulu Pekih Ibrahim, Haji Ngisa, Haji Badarudin, Kyai Mlangi, dan Syekh Samparwadi. Saya telusuri satu per satu nama-nama itu lewat buku "Kuasa Ramalan" karya Peter Carey. Pertama, Pangeran Suryaatmadja, anak Pangeran Diponegoro. Bukan Ba'abud. Kedua, Kerto Pengalasan, panglima Pangeran Diponegoro. Bukan Ba'abud. Ketiga, Sentot Prawirodirjo, anak Ronggo Prawirodirjo III. Bukan Ba'abud. Keempat, Mas Penghulu Pekih Ibrahim, ulama muda Bagelen. Bukan Ba'abud. Kelima, Haji Ngisa, pengikut Kyai Mojo. Bukan Ba'abud. Keenam, Haji Badarudin, ulama Ngawen. Bukan Ba'abud. Ketujuh, Kyai Mlangi, ulama Mlangi. Bukan Ba'abud. Kedelapan, Syekh Samparwadi. Karena pakai gelar Syekh, saya curiga, jangan-jangan bliolah yang dituduh Ba'abud. Saya kemudian inget buku "Serat Raja Putra Ngayogyakarta", silsilah anak-anak Sultan Jogjakarta. Dalam silsilah Sultan HB II, anak nomor 55, tertulis nama Bendoro Raden Ayu Samparwadi. Dengan keterangan, dinikahkan dengan Kanjeng Raden Tumenggung Samparwadi (Kasan Munadi). Berarti, Syekh Samparwadi adalah menantu Sultan HB II. Hubungan dengan Pangeran Diponegoro gimana? Ayah Pangeran Diponegoro, Sultan HB III, adalah kakak dari istri Syekh Samparwadi. Berarti Syekh Samparwadi adalah paman Pangeran Diponegoro. Layak kalau menjadi penasehatnya. Selanjutnya, menurut naskah "Menelusuri Jejak Kehidupan Keturunan Arab Jawa di Luar Tembok Keraton Yogyakarta" tulisan Siti Hidayati Amal, saya mendapatkan silsilah Syekh Samparwadi. Syeh Samparwadi adalah keturunan Ba'abud. Anak Syekh Alwi Ba'abud. Yang ditarik ke atas, leluhurnya adalah Ali Ba'alwi. Sepertinya, orang menuduh Habib Ibrahim Ba'abud sebagai pengkhianat Pangeran Diponegoro adalah menunjuk Syekh Samparwadi. Karena Syekh Samparwadi memang keturunan Ba'abud. Dan menjadi salah satu orang yang membujuk Pangeran Diponegoro. Namun, kalau niatnya mau menuduh, yang membujuk ada 8 orang, mengapa yang dituduh sebagai pengkhianat hanya 1 orang. Apa karena yang 1 orang itu Ba'abud? Kenapa yang 7 orang Jawa, yang lebih banyak jumlahnya, ga disebut pengkhianat? Kenapa anak Pangeran Diponegoro, yang pertama membujuk ayahnya, tidak dituduh pengkhianat? Sungguh tuduhan yang layak diberi senyuman. Saya masih penasaran, kenapa mereka sampai ketemu nama Habib Ibrahim Ba'abud? Ternyata, dalam naskah yang ditulis oleh keturunan Syekh Samparwadi itu, Syekh Samparwadi punya anak yang bernama Ibrahim Ba'abud. Jadi, mereka yang anti Ba'alawi menuduh ayahnya (Syekh Samparwadi) tapi dengan memakai nama anaknya (Ibrahim Ba'abud). Sungguh kengawuran dan layak dikasih senyuman. Dan, kebanyakan orang langsung percaya begitu saja. Tidak ada yang mencoba menelusuri kebenarannya. Atau ini pertanda malas membaca adalah budaya? Dan gampang percaya adalah ciri kepribadian mulia? (Foto: Saya berziarah ke makam Syekh Samparwadi di Tanggung, Purworejo.) #babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

 HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (3)


Saya penasaran, siapakah Habib Ibrahim Ba'abud yang dituduh sebagai pengkhianat Pangeran Diponegoro?


Karena dalam Babad Diponegoro, nama itu tidak ada.


Nama yang tertulis hanya 8 orang. 


Pangeran Suryaatmadja, Kerto Pengalasan, Sentot Prawirodirjo, Mas Penghulu Pekih Ibrahim, Haji Ngisa, Haji Badarudin, Kyai Mlangi, dan Syekh Samparwadi.


Saya telusuri satu per satu nama-nama itu lewat buku "Kuasa Ramalan" karya Peter Carey.


Pertama, Pangeran Suryaatmadja, anak Pangeran Diponegoro. Bukan Ba'abud.


Kedua, Kerto Pengalasan, panglima Pangeran Diponegoro. Bukan Ba'abud.


Ketiga, Sentot Prawirodirjo, anak Ronggo Prawirodirjo III. Bukan Ba'abud.


Keempat, Mas Penghulu Pekih Ibrahim, ulama muda Bagelen. Bukan Ba'abud.


Kelima, Haji Ngisa, pengikut Kyai Mojo. Bukan Ba'abud.


Keenam, Haji Badarudin, ulama Ngawen. Bukan Ba'abud.


Ketujuh, Kyai Mlangi, ulama Mlangi. Bukan Ba'abud.


Kedelapan, Syekh Samparwadi.


Karena pakai gelar Syekh, saya curiga, jangan-jangan bliolah yang dituduh Ba'abud.


Saya kemudian inget buku "Serat Raja Putra Ngayogyakarta", silsilah anak-anak Sultan Jogjakarta.


Dalam silsilah Sultan HB II, anak nomor 55, tertulis nama Bendoro Raden Ayu Samparwadi. 


Dengan keterangan, dinikahkan dengan Kanjeng Raden Tumenggung Samparwadi (Kasan Munadi).


Berarti, Syekh Samparwadi adalah menantu Sultan HB II.


Hubungan dengan Pangeran Diponegoro gimana?


Ayah Pangeran Diponegoro, Sultan HB III, adalah kakak dari istri Syekh Samparwadi. 


Berarti Syekh Samparwadi adalah paman Pangeran Diponegoro. Layak kalau menjadi penasehatnya.


Selanjutnya, menurut naskah "Menelusuri Jejak Kehidupan Keturunan Arab Jawa di Luar Tembok Keraton Yogyakarta" tulisan Siti Hidayati Amal, saya mendapatkan silsilah Syekh Samparwadi.


Syeh Samparwadi adalah keturunan Ba'abud. Anak Syekh Alwi Ba'abud. Yang ditarik ke atas, leluhurnya adalah Ali Ba'alwi.


Sepertinya, orang menuduh Habib Ibrahim Ba'abud sebagai pengkhianat Pangeran Diponegoro adalah menunjuk Syekh Samparwadi.


Karena Syekh Samparwadi memang keturunan Ba'abud. Dan menjadi salah satu orang yang membujuk Pangeran Diponegoro.


Namun, kalau niatnya mau menuduh, yang membujuk ada 8 orang, mengapa yang dituduh sebagai pengkhianat hanya 1 orang.


Apa karena yang 1 orang itu Ba'abud?


Kenapa yang 7 orang Jawa, yang lebih banyak jumlahnya, ga disebut pengkhianat? 


Kenapa anak Pangeran Diponegoro, yang pertama membujuk ayahnya, tidak dituduh pengkhianat? 


Sungguh tuduhan yang layak diberi senyuman.


Saya masih penasaran, kenapa mereka sampai ketemu nama Habib Ibrahim Ba'abud?


Ternyata, dalam naskah yang ditulis oleh keturunan Syekh Samparwadi itu, Syekh Samparwadi punya anak yang bernama Ibrahim Ba'abud.


Jadi, mereka yang anti Ba'alawi menuduh ayahnya (Syekh Samparwadi) tapi dengan memakai nama anaknya (Ibrahim Ba'abud).


Sungguh kengawuran dan layak dikasih senyuman.


Dan, kebanyakan orang langsung percaya begitu saja. Tidak ada yang mencoba menelusuri kebenarannya.


Atau ini pertanda malas membaca adalah budaya? Dan gampang percaya adalah ciri kepribadian mulia?



(Foto: Saya berziarah ke makam Syekh Samparwadi di Tanggung, Purworejo.)

Sumber : Nassirun Purwokarton

#babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

05 September 2026

HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (2) Banyak postingan yang menuduh ditangkapnya Pangeran Diponegoro karena pengkhianatan Habib Ba'abud. Nama yang mereka tuduh adalah Habib Ibrahim Ba'abud. Apakah benar begitu? Sebagai pihak yang dibujuk, Pangeran Diponegoro pasti tahu siapa saja yang telah membujuknya. Siapa saja orang yang berhasil meyakinkan sang pangeran untuk mau bertemu dengan Belanda. Tentu orang-orang dekat. Pasti orang-orang yang dipercaya. Semua nama pasti diingatnya. Maka ditulislah nama-nama itu dalam memoarnya. Siapa saja? Nama-nama itu tertulis jelas dalam Babad Diponegoro.. "... pan pun Paman Pangulu nusul punika Kaji Badarodin Kaji Mam Rajiku Ki Mlangi punika mapan sampun prapta sami rembagipun samya ngengingken bedhama." Jadi, yang pertama kali membujuk adalah anaknya sendiri. Pangeran Suryaatmaja. Kemudian para panglimanya, para Basah. Di antaranya adalah Sentot Prawirodirjo. Namun, yang makin memantapkan hati untuk bertemu Belanda adalah para penasehatnya. Seperti tertulis dalam tembang itu. Ada 4 orang ulama. Mereka adalah Mas Penghulu Pekih Ibrahim, Haji Badarudin, Haji Imam Raji, dan Kyai Mlangi. Dalam Babad Diponegoro sama sekali tak tertulis nama Habib Ibrahim Ba'abud. Lalu sumber dari mana mereka menuduh nama itu? Saya pun penasaran. Akhirnya menelusuri jejaknya, siapakah Habib Ibrahim Ba'abud yang dituduh itu. Ternyata mereka menganggap Mas Penghulu Pekih Ibrahim, penghulu Pangeran Diponegoro, sama dengan Habib Ibrahim Ba'abud. Padahal dua nama itu beda orang. Juga beda keturunan. Kalo ada yang penasaran siapa Habib Ibrahim Ba'abud, nanti saya tuliskan. #books #babaddiponegoro #pangerandiponegoro

 HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (2)


Banyak postingan yang menuduh ditangkapnya Pangeran Diponegoro karena pengkhianatan Habib Ba'abud.



Nama yang mereka tuduh adalah Habib Ibrahim Ba'abud.


Apakah benar begitu?


Sebagai pihak yang dibujuk, Pangeran Diponegoro pasti tahu siapa saja yang telah membujuknya.


Siapa saja orang yang berhasil meyakinkan sang pangeran untuk mau bertemu dengan Belanda.


Tentu orang-orang dekat. Pasti orang-orang yang dipercaya.


Semua nama pasti diingatnya. 


Maka ditulislah nama-nama itu dalam memoarnya.


Siapa saja?


Nama-nama itu tertulis jelas dalam Babad Diponegoro..


"...

pan pun Paman Pangulu nusul punika

Kaji Badarodin Kaji Mam Rajiku

Ki Mlangi punika

mapan sampun prapta sami

rembagipun samya ngengingken bedhama."


Jadi, yang pertama kali membujuk adalah anaknya sendiri. Pangeran Suryaatmaja.


Kemudian para panglimanya, para Basah. Di antaranya adalah Sentot Prawirodirjo.


Namun, yang makin memantapkan hati untuk bertemu Belanda adalah para penasehatnya.


Seperti tertulis dalam tembang itu. Ada 4 orang ulama.


Mereka adalah Mas Penghulu Pekih Ibrahim, Haji Badarudin, Haji Imam Raji, dan Kyai Mlangi.


Dalam Babad Diponegoro sama sekali tak tertulis nama Habib Ibrahim Ba'abud.


Lalu sumber dari mana mereka menuduh nama itu?


Saya pun penasaran. Akhirnya menelusuri jejaknya, siapakah Habib Ibrahim Ba'abud yang dituduh itu.


Ternyata mereka menganggap Mas Penghulu Pekih Ibrahim, penghulu Pangeran Diponegoro, sama dengan Habib Ibrahim Ba'abud.


Padahal dua nama itu beda orang. Juga beda keturunan.


Kalo ada yang penasaran siapa Habib Ibrahim Ba'abud, nanti saya tuliskan.


#books #babaddiponegoro #pangerandiponegoro


Sumber : Nassirun Purwokartun

Sejarah Reje Poteh Melawan Belanda di Tahun 1907. (Interprestasi dari laporan kolonial 1908) Oleh : Zulfikar Ahmad* lintasgayo.co Potensi sumber daya alam tanoh Gayo menarik minat VOC untuk melakukan investasi. Berbagai upaya untuk melancarkan bisnisnya dilakukan, mulai dari mendatangkan pasukan militer, pembangunan unit pengolahan terpentin hingga pembangunan sarana-prasarana. Salah satu sarana terpenting adalah pembangunan jalan untuk memudahkan pengangutan hasil bumi tanoh Gayo. Jalan Bireuen-Takengon mulai dibangun pada tahun 1903 untuk membangun jalan ini Belanda memaksa penduduk untuk memecahkan karang dan meratakan tanah dengan menggunakan alat-alat sederhana yang tersedia pada saat itu. Puluhan nyawa urang Gayo gugur dalam pembangunan jalan ini, sementara ratusan lainnya dipaksa bekerja ‘mengaruk’ sumber daya alam Gayo untuk kepentingan VOC. Kerja paksa tanpa upah yang memadai tentu saja sangat melukai perasaan urang Gayo, berbagai perlawanan dilakukan oleh para pemimpin, salah satu adalah Rödjöh Poetéh (reje poteh) bersama pasukannya melakukan perlawanan dengan menyerang markas-markas Belanda. Serta menghalang-halangi upaya ‘perampokan’ SDA oleh Belanda. Kerugian Belanda akibat perlawanan Reje Poteh membuat petinggi militer di Takengon geram. Operasi penaklukan reje Poteh pun dimulai. Rencana penangkapan disusun, pasukan bergerak dari bivak Takengon menuju Pegasing. Pengepungan tempat persembunyian reje Poteh di Pegasing dilakukan dengan cermat, Meliter Belanda menyusun strategi untuk mencegah lolosnya reje Poteh bersama pasukannya, dari kejauhan aktivitas reje Poteh bersama pasukannya sudah diketahui oleh pasukan Belanda. Saat pengerebekan dilakukan tiba-tiba Reje Poteh bersama pengikutnya lenyap dari pandangan mata, berkali – kali pengerebekan dilakukan namun selalu markas reje Poteh tiba-tiba tak berpenghuni, sampai akhirnya pada bulan Februari 190. Pertempuran tak dapat dielakan, salah seorang prajurit Reje Poteh gugur dengan gagah berani dengan perasaan pilu akibat gugurnya salah seorang prajurit, Reje Poteh bersama para panglima dan pengikutnya berpindah – pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya sambil sesekali menyerang pasukan Belanda. Peristiwa pada bulan Februari 1907 di Pegasing itu menjadi pelajaran penting bagi Reje Poteh, sejak kejadian tersebut Reje Poteh membagi pasukannya dalam beberapa kelompok yang dipimpin oleh para panglimanya seperti Pang Kadam, Pang La’ot dan Pang Ali. Pasukan-pasukan kecil ini berpencar dibeberapa pos untuk melakukan penyerangan-penyerangan kecil, sesekali pasukan-pasukan kecil ini mendatangi bivak Belanda yang dijadikan markas militer untuk membebaskan urang Gayo dari penjara Belanda. Belanda semakin geram oleh aksi pasukan-pasukan Reje Poteh. Upaya penangkapan selalu dilakukan sampai suatu ketika di bulan Mei 1907, terjadi pertempuran di kawasan Serempah, 7 orang pengikut Reje Poteh gugur. Melihat kondisi yang tidak menguntungkan ini, Reje Poteh memerintahkan anggota pasukannya agar pergi bergabung dengan para panglima yang lain, sementara Reje Poteh membiarkan dirinya di tangkap Belanda. Belanda yang sudah menderita kerugian cukup besar akibat perlawanan Reje Poteh, tidak dapat membiarkan sisa pasukan Reje Poteh lolos begitu saja. Pengejaran sisa anggota pasukan Reje Poteh dilakukan sampai ke Beruksah, 4 orang anggota pasukan Reje Poteh kembali gugur ditembus timah panas dari senapan Belanda. Dalam kamp tahanan di bivak Belanda, Reje Poteh dengan mudah dapat meloloskan diri apabila beliau menghendaki. Beberapa kali hal ini dilakukan oleh Reje Poteh, namun akibatnya masyarakat Reje Poteh yang menanggung akibatnya. Tentu saja Reje Poteh tidak ingin melukai rakyatnya yang sudah menderita yang hidup dalam kemiskinan dan ketakutan. Militer Belanda kewalahan untuk menjaga Reje Poteh dalam penjara. Ahirnya, Militer Belanda menyewa orang khusus yang didatangkan dari pantai Barat Aceh untuk menjaga Reje Poteh. Sejak Agustus 1907, Reje Poteh dijaga oleh orang khusus yang mampu melihat Reje Poteh sementara para serdadu Belanda lain tidak dapat melihatnya. Para panglima Reje Poteh yang membangun pos-pos perlawanan dibeberapa kawasan kembali merapat ke Pegasing untuk menyusun strategi mengempur bivak Belanda. Pada bulan November 1907. Belanda ‘dikejutkan’ oleh ulah Pang Kadam dan Pang Ali yang muncul beserta 3 orang pasukannya menghadang Belanda di sebelah Timur Pegasing. Dalam penghadangan ini Pang Kadam dan Pang Ali berhasil ‘merebut’ kembali 3 gerobak pengangkut hasil bumi dan bahan makanan dari kawasan Pegasing. Desember 1907, Pang La’ot gugur namun Reje Poteh tetap tidak mau menyatakan takluk pada Belanda.(*) Belanda menduga inilah Pang La'ot dan Pang Ali Sumber foto : http://www.geheugenvannederland.nl /? /nl/items/VKM01:A17-21/&p=1&i=6&t=7&st=pang&sc=%28pang%29/&wst=pang Pembangunan Jalan Takengon – Bireuen (1903 – 1913), Batu cadas keras dipahat se-inci demi se-inci untuk memuluskan jalan ; Lokasi Cot Panglima (sumber Rijks museum)

 Sejarah Reje Poteh Melawan Belanda di Tahun 1907.


(Interprestasi dari laporan kolonial 1908)


Oleh : Zulfikar Ahmad*


lintasgayo.co Potensi sumber daya alam tanoh Gayo menarik minat VOC untuk melakukan investasi. Berbagai upaya untuk melancarkan bisnisnya dilakukan, mulai dari mendatangkan pasukan militer, pembangunan unit pengolahan terpentin hingga pembangunan sarana-prasarana. 



Salah satu sarana terpenting adalah pembangunan jalan untuk memudahkan pengangutan hasil bumi tanoh Gayo.


Jalan Bireuen-Takengon mulai dibangun pada tahun 1903 untuk membangun jalan ini Belanda memaksa penduduk untuk memecahkan karang dan meratakan tanah dengan menggunakan alat-alat sederhana yang tersedia pada saat itu. 


Puluhan nyawa urang Gayo gugur dalam pembangunan jalan ini, sementara ratusan lainnya dipaksa bekerja ‘mengaruk’ sumber daya alam Gayo untuk kepentingan VOC.


Kerja paksa tanpa upah yang memadai tentu saja sangat melukai perasaan urang Gayo, berbagai perlawanan dilakukan oleh para pemimpin, salah satu adalah Rödjöh Poetéh (reje poteh) bersama pasukannya melakukan perlawanan dengan menyerang markas-markas Belanda.


Serta menghalang-halangi upaya ‘perampokan’ SDA oleh Belanda. Kerugian Belanda akibat perlawanan Reje Poteh membuat petinggi militer di Takengon geram. Operasi penaklukan reje Poteh pun dimulai.


Rencana penangkapan disusun, pasukan bergerak dari bivak Takengon menuju Pegasing.


Pengepungan tempat persembunyian reje Poteh di Pegasing dilakukan dengan cermat, Meliter Belanda menyusun strategi untuk mencegah lolosnya reje Poteh bersama pasukannya, dari kejauhan aktivitas reje Poteh bersama pasukannya sudah diketahui oleh pasukan Belanda. 


Saat pengerebekan dilakukan tiba-tiba Reje Poteh bersama pengikutnya lenyap dari pandangan mata, berkali – kali pengerebekan dilakukan namun selalu markas reje Poteh tiba-tiba tak berpenghuni, sampai akhirnya pada bulan Februari 190.


Pertempuran tak dapat dielakan, salah seorang prajurit Reje Poteh gugur dengan gagah berani dengan perasaan pilu akibat gugurnya salah seorang prajurit, Reje Poteh bersama para panglima dan pengikutnya berpindah – pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya sambil sesekali menyerang pasukan Belanda.


Peristiwa pada bulan Februari 1907 di Pegasing itu menjadi pelajaran penting bagi Reje Poteh, sejak kejadian tersebut Reje Poteh membagi pasukannya dalam beberapa kelompok yang dipimpin oleh para panglimanya seperti Pang Kadam, Pang La’ot dan Pang Ali. 


Pasukan-pasukan kecil ini berpencar dibeberapa pos untuk melakukan penyerangan-penyerangan kecil, sesekali pasukan-pasukan kecil ini mendatangi bivak Belanda yang dijadikan markas militer untuk membebaskan urang Gayo dari penjara Belanda.


Belanda semakin geram oleh aksi pasukan-pasukan Reje Poteh. Upaya penangkapan selalu dilakukan sampai suatu ketika di bulan Mei 1907, terjadi pertempuran di kawasan Serempah, 7 orang pengikut Reje Poteh gugur. 


Melihat kondisi yang tidak menguntungkan ini, Reje Poteh memerintahkan anggota pasukannya agar pergi bergabung dengan para panglima yang lain, sementara Reje Poteh membiarkan dirinya di tangkap Belanda.


Belanda yang sudah menderita kerugian cukup besar akibat perlawanan Reje Poteh, tidak dapat membiarkan sisa pasukan Reje Poteh lolos begitu saja. 


Pengejaran sisa anggota pasukan Reje Poteh dilakukan sampai ke Beruksah, 4 orang anggota pasukan Reje Poteh kembali gugur ditembus timah panas dari senapan Belanda.


Dalam kamp tahanan di bivak Belanda, Reje Poteh dengan mudah dapat meloloskan diri apabila beliau menghendaki. Beberapa kali hal ini dilakukan oleh Reje Poteh, namun akibatnya masyarakat Reje Poteh yang menanggung akibatnya. 


Tentu saja Reje Poteh tidak ingin melukai rakyatnya yang sudah menderita yang hidup dalam kemiskinan dan ketakutan. Militer Belanda kewalahan untuk menjaga Reje Poteh dalam penjara. 


Ahirnya, Militer Belanda menyewa orang khusus yang didatangkan dari pantai Barat Aceh untuk menjaga Reje Poteh. Sejak Agustus 1907, Reje Poteh dijaga oleh orang khusus  yang mampu melihat Reje Poteh sementara para serdadu Belanda lain tidak dapat melihatnya.


Para panglima Reje Poteh yang membangun pos-pos perlawanan dibeberapa kawasan kembali merapat ke Pegasing untuk menyusun strategi mengempur bivak Belanda. Pada bulan November 1907.


Belanda ‘dikejutkan’ oleh ulah Pang Kadam dan Pang Ali yang muncul beserta 3 orang pasukannya menghadang Belanda di sebelah Timur Pegasing. 


Dalam penghadangan ini Pang Kadam dan Pang Ali berhasil ‘merebut’ kembali 3 gerobak pengangkut hasil bumi dan bahan makanan dari kawasan Pegasing.


Desember 1907, Pang La’ot gugur namun Reje Poteh tetap tidak mau menyatakan takluk pada Belanda.(*)


Belanda menduga inilah Pang La'ot dan Pang Ali  Sumber foto : http://www.geheugenvannederland.nl /? /nl/items/VKM01:A17-21/&p=1&i=6&t=7&st=pang&sc=%28pang%29/&wst=pang


Pembangunan Jalan Takengon – Bireuen (1903 – 1913), Batu cadas keras dipahat se-inci demi se-inci untuk memuluskan jalan ; Lokasi Cot Panglima (sumber Rijks museum)