𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙈𝙗𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙤𝙬𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙜𝙪𝙧𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙠𝙣𝙞, 𝙆𝙮𝙖𝙞 𝘼𝙧𝙬𝙖𝙣𝙞.
𝐷𝑖𝑘𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝐻. 𝑁𝑜𝑜𝑟 𝐻𝑎𝑑𝑖, 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑏𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑡𝑢𝑎 𝑃𝑊𝑁𝑈 𝐵𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 1980
Kyai asli Demak ini berkisah bahwa suatu ketika Mbah Mangli berangkat ke Kudus untuk sowan kepada gurunya yakni, Kyai Arwani.
Sesampainya di Kudus, Mbah Mangli segera menuju Kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus yang berada tak jauh Masjid Al-Aqsha yang terkenal dengan Masjid Menara Kudus. Ketika sampai di depan Ndalem Kyai Arwani, Mbah Mangli tiba-tiba bersimpuh sambil berjalan perlahan-lahan atau “ngesot” dalam bahasa jawa.
Singkat cerita Kyai Arwani pun menghampirinya. Selanjutnya, Mbah Mangli mulai mengutarakan maksud kedatangannya, yang selanjutnya 𝑑𝑖𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐫𝐨𝐦𝐨 𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑐𝑖𝑟𝑖 𝑘ℎ𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎𝑝𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎. (𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑜𝑔 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑒𝑟)
“𝐒𝐢𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Siapa anda?)Tanya Kyai Arwani
“𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐠𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠?” Jawab Mbah Mangli
“𝐖𝐨𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐡𝐚𝐣𝐚𝐭 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐰𝐮𝐡 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢”? (Ada perlu apa kesini)” Tanya Kyai Arwani
“𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐤𝐚𝐣𝐞𝐧𝐠𝐞 𝐧𝐲𝐮𝐰𝐮𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐝𝐚𝐝𝐨𝐬 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Saya ingin minta tolong diakui sebagai santri anda)” Jawab Arwani
“𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐠𝐞𝐡, 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐝𝐚𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢?” (Maaf, anda pernah ngaji disini ya?) “Tanya Kyai Arwani
“𝐍𝐠𝐠𝐞𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐦𝐢𝐲𝐞𝐧 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢. 𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧, 𝐍𝐢𝐤𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐧𝐢𝐩𝐮𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐰𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐭𝐞𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧" (Iya Kyai, saya pernah belajar disini. Mohon maaf, ini bukti jika saya pernah mengaji kepada anda).
[sambil menunjukkan bekas sabetan Kyai Arwani yang masih membekas di punggungnya] ” Pungkas Mbah Mangli..
Maka ketika Mbah Arwani melihat bukti tersebut, maka teringatlah beliau pada sosok di depannya tersebut adalah benar-benar muridnya. Maka bersyukurlah beliau pada sosok santrinya yang kini telah menjadi ulama besar yang telah sukses mendirikan pesantren, mengasuh pengajian di berbagai tempat dan menjadi Mursyid Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyah ini. Maka Kyai Arwani pun mengakui bahwa Mbah Mangli adalah santrinya.
Jawaban tersebut disambut oleh Mbah Mangli dengan penuh suka cita. Mendengar jawaban yang dinanti-nanti selama ini langsung dari guru mulianya tersebut, terbayang betapa bersyukurnya beliau telah resmi diakui sebagai santrinya Kyai Arwani yang juga dikenal penulis Kitab Faidh Barokat fi Sab’i al-Qiro’at yang telah dikenal sampai di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini..
#sepenggalkisah #catatankecil #waliAllah #mbahmangli #mbaharwanikudus #santri #pondokpesantren #ulamanusantara #ulama #kyai #tanahjawa #magelang #kudus #majelis #sejarah #kairo #mesir







