14 August 2026

Pesan Ratu Victoria Terkait Perang Aceh Surat resmi dari penguasa Britania Raya ini datang di tengah kecamuk Perang Aceh. Berniat melerai meski pesan itu tak pernah sampai. Oleh : M. Fazil Pamungkas. PERANG besar Aceh-Belanda memasuki babak baru. Setelah menuai malu pada perang pertama (awal 1873), Belanda datang dengan kekuatan lebih besar di tahun berikutnya. Sebanyak 60 buah kapal –terdiri dari kapal perang, kapal pengawal, dan kapal logistik– bersenjata lengkap diberangkatkan dari Batavia. Jenderal Van Swieten ditunjuk memimpin agresi kedua ini. Besarnya kekuatan Belanda nyatanya tidak menyurutkan perlawanan rakyat Aceh. Semangat juang mereka justru semakin merepotkan. Pertahanan rapat yang disiapkan di berbagai tempat juga menambah beban mereka untuk masuk ke Serambi Mekkah. Saling bertahan dan menyerang menghiasi rangkaian perang yang baru mereda pada 1910 itu. Di tengah persiapan perang yang semakin masif, sepucuk surat datang dari penguasa Britania Raya, Ratu Victoria (1819-1901). Dikisahkan Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, surat itu dibuat secara pribadi oleh ratu untuk Sultan Aceh. Seorang perwira dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris yakni Kolonel Woolcombe diutus untuk menyampaikan pesan sang ratu tersebut. “Dalam pada itu semakin menarik perhatian persoalan di sekitar kedatangan sesuatu perutusan kepada pihak Aceh di saat-saat Belanda hendak memulai penyerangannya itu,” tulis Said. Berdasar penelitian Said, surat tersebut berisi anjuran dari Ratu Victoria agar Sultan Aceh menghentikan segala perlawanan yang menyebabkan perang besar di sekitar Malaka. Ia diminta tidak melawan dengan kekerasan dan memenuhi segala kemauan Belanda di negerinya. Dengan kata lain Aceh disarankan untuk menyerah. Namun Woolcombe tidak bisa segera menyampaikan surat dari ratunya itu. Ia dan kapal perang Inggris “Thalia” tertahan di Kuala Aceh karena belum mendapat izin berlabuh dari Belanda yang telah mengepung perairan Aceh. Belanda tidak ingin perwakilan Inggris itu menghentikan sementara penyerbuan mereka ke Aceh. Mengingat Belanda harus menjamin keselamatan orang Inggris setelah kedua negara itu terikat perjanjian politik. Karena tidak kunjung diberi kabar, Woolcombe berencana memberikan suratnya kepada pemerintah Belanda agar disampaikan ke Sultan Aceh. Namun melihat situasi panas keduanya, ia tidak yakin surat itu akan tiba di tangan sultan. Di lain pihak, militer Belanda tidak bisa membiarkan seorang perwira Inggris berkeliaran di Aceh. Namun keselamatan Woolcombe juga tidak bisa dijamin jika ia menemui penguasa Aceh bersama-sama perwakilan pemerintah Belanda. Berhari-hari dilanda kebuntuan di atas kapal, para wakil ratu Inggris akhirnya pulang dengan tangan kosong. “Demikianlah, hasilnya surat Ratu Victoria tidak dapat disampaikan, dan Kolonel Woolcombe pulang percuma ke negerinya,” tulis Said. Saling bertukar surat antara penguasa Aceh dengan Inggris itu bukan kali pertama terjadi. Dua abad yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni 1602, seorang perwira AL kerajaan Inggris James Lancaster. Dikirim oleh Ratu Elizabeth I untuk memberikan sepucuk surat kepada penguasa Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah (berkuasa hingga 1604). Diketahui, surat tersebut menjadi penanda hubungan pertama Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris. Dalam buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Kebudayaan, diceritakan bahwa melalui surat tersebut Kerajaan Inggris yang diwakili Lancaster dan rombongannya bermaksud melakukan hubungan dagang di wilayah perairan Malaka, melalui penguasa Aceh. “Mereka diterima di kraton Aceh dalam sebuah resepsi yang diadakan oleh Sultan Aceh untuk menyambut dan menghormati mereka secara kebesaran.” Setelah menerima surat dan penjelasan dari Lancaster tentang maksud kedatangannya, perwakilan Sultan Aceh mempersilahkan rombongan Ratu Inggris menemui sang sultan. Mereka disambut baik. Sebelum pulang, Sultan Aceh menitipkan surat balasan untuk Ratu Inggris sebagai bukti telah diterima hubungan diplomatik kedua negeri. Terbukanya jalan ke Aceh membuat kegiatan niaga Inggris di Malaka menjadi lancar. Inggris diharapkan menjadi sekutu terbaik Aceh. “Para penguasa Aceh tidak pernah ragu-ragu bahwa mereka membutuhkan seorang sekutu yang memiliki angkatan laut yang kuat jika mereka ingin berhasil mengusir Belanda,” tulis Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19.(*) bg-gray.jpg camera_edited_30.png Van Heutsz sedang memantau pasukannya dalam pertempuran memperebutkan benteng Kuta Batee ileik, Samalanga di Aceh. (Wikimedia Commons

 Pesan Ratu Victoria Terkait Perang Aceh

Surat resmi dari penguasa Britania Raya ini datang di tengah kecamuk Perang Aceh. Berniat melerai meski pesan itu tak pernah sampai.


Oleh :

M. Fazil Pamungkas.


PERANG besar Aceh-Belanda memasuki babak baru. Setelah menuai malu pada perang pertama (awal 1873), Belanda datang dengan kekuatan lebih besar di tahun berikutnya. Sebanyak 60 buah kapal –terdiri dari kapal perang, kapal pengawal, dan kapal logistik– bersenjata lengkap diberangkatkan dari Batavia. Jenderal Van Swieten ditunjuk memimpin agresi kedua ini.



Besarnya kekuatan Belanda nyatanya tidak menyurutkan perlawanan rakyat Aceh. Semangat juang mereka justru semakin merepotkan. Pertahanan rapat yang disiapkan di berbagai tempat juga menambah beban mereka untuk masuk ke Serambi Mekkah. Saling bertahan dan menyerang menghiasi rangkaian perang yang baru mereda pada 1910 itu.


Di tengah persiapan perang yang semakin masif, sepucuk surat datang dari penguasa Britania Raya, Ratu Victoria (1819-1901). Dikisahkan Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, surat itu dibuat secara pribadi oleh ratu untuk Sultan Aceh. 


Seorang perwira dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris yakni Kolonel Woolcombe diutus untuk menyampaikan pesan sang ratu tersebut.


“Dalam pada itu semakin menarik perhatian persoalan di sekitar kedatangan sesuatu perutusan kepada pihak Aceh di saat-saat Belanda hendak memulai penyerangannya itu,” tulis Said.


Berdasar penelitian Said, surat tersebut berisi anjuran dari Ratu Victoria agar Sultan Aceh menghentikan segala perlawanan yang menyebabkan perang besar di sekitar Malaka. Ia diminta tidak melawan dengan kekerasan dan memenuhi segala kemauan Belanda di negerinya. Dengan kata lain Aceh disarankan untuk menyerah.


Namun Woolcombe tidak bisa segera menyampaikan surat dari ratunya itu. Ia dan kapal perang Inggris “Thalia” tertahan di Kuala Aceh karena belum mendapat izin berlabuh dari Belanda yang telah mengepung perairan Aceh. 


Belanda tidak ingin perwakilan Inggris itu menghentikan sementara penyerbuan mereka ke Aceh. Mengingat Belanda harus menjamin keselamatan orang Inggris setelah kedua negara itu terikat perjanjian politik.


Karena tidak kunjung diberi kabar, Woolcombe berencana memberikan suratnya kepada pemerintah Belanda agar disampaikan ke Sultan Aceh. Namun melihat situasi panas keduanya, ia tidak yakin surat itu akan tiba di tangan sultan. 


Di lain pihak, militer Belanda tidak bisa membiarkan seorang perwira Inggris berkeliaran di Aceh. Namun keselamatan Woolcombe juga tidak bisa dijamin jika ia menemui penguasa Aceh bersama-sama perwakilan pemerintah Belanda. Berhari-hari dilanda kebuntuan di atas kapal, para wakil ratu Inggris akhirnya pulang dengan tangan kosong.


“Demikianlah, hasilnya surat Ratu Victoria tidak dapat disampaikan, dan Kolonel Woolcombe pulang percuma ke negerinya,” tulis Said.


Saling bertukar surat antara penguasa Aceh dengan Inggris itu bukan kali pertama terjadi. Dua abad yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni 1602, seorang perwira AL kerajaan Inggris James Lancaster.


Dikirim oleh Ratu Elizabeth I untuk memberikan sepucuk surat kepada penguasa Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah (berkuasa hingga 1604). Diketahui, surat tersebut menjadi penanda hubungan pertama Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris.


Dalam buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Kebudayaan, diceritakan bahwa melalui surat tersebut Kerajaan Inggris yang diwakili Lancaster dan rombongannya bermaksud melakukan hubungan dagang di wilayah perairan Malaka, melalui penguasa Aceh.


“Mereka diterima di kraton Aceh dalam sebuah resepsi yang diadakan oleh Sultan Aceh untuk menyambut dan menghormati mereka secara kebesaran.”


Setelah menerima surat dan penjelasan dari Lancaster tentang maksud kedatangannya, perwakilan Sultan Aceh mempersilahkan rombongan Ratu Inggris menemui sang sultan. Mereka disambut baik. 


Sebelum pulang, Sultan Aceh menitipkan surat balasan untuk Ratu Inggris sebagai bukti telah diterima hubungan diplomatik kedua negeri. Terbukanya jalan ke Aceh membuat kegiatan niaga Inggris di Malaka menjadi lancar. Inggris diharapkan menjadi sekutu terbaik Aceh.


“Para penguasa Aceh tidak pernah ragu-ragu bahwa mereka membutuhkan seorang sekutu yang memiliki angkatan laut yang kuat jika mereka ingin berhasil mengusir Belanda,” tulis Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19.(*)


bg-gray.jpg

camera_edited_30.png

Van Heutsz sedang memantau pasukannya dalam pertempuran memperebutkan benteng Kuta Batee ileik, Samalanga di Aceh. (Wikimedia Commons

Pada tanggal 5 November 1946 : Piet Hein Ditembak, Van Mook Mengaku Kalah di Aceh. Oleh Iskandar Norman. Pada 5 November 1946 Sebuah kapal perang Belanda bernama Piet Hein yang sedang berpatroli di perairan Lhoknga, Aceh Besar ditembaki meriam oleh pejuang, hingga rusak dan melarikan diri ke Sabang. Sehingga Sekutu/NICA tak berani masuk ke Aceh. Panglima Besar Angkatan Laut Belanda, Helfrich, mengaku gagal dalam beberapa kali serangan ke daratan Aceh. Dalam suratnya ia menulis: “Verder heb ik mij een beetje in de vingers gesneden met de batterijen in Atjeh. Ik had aan Gani beloof dak it dijn batterijen zou vernietigen wanneer ze schoten op passeerende schepen. Nu werd de Peit Hein beschoten toen het schip passerde en dus ben ik verplichtz ze te vernietigen. Ik herb er da nook een paar vuurvliegen met rockets jeen gezonden, maar noch de Piet Hein, noch de vuurvliegen kunnen de batterijen vinden. Terjemahan bebasnya ke bahasa Indonesia kurang lebih. “Saya sudah terpotong jari dengan meriam Aceh. Sudah kuberitahu kepada Gani (Dr AK Gani) bahwa meriamnya akan kuhancurkan bila kapal-kapal kita yang lewat ditembaki. Lalu ditembakilah Piet Hien ketika ia lewat. Maka wajib bagiku menghancurkan mereka, dengan pesawat udara maupun dengan roket. Tetapi baik Piet Hien maupuh hujan roket kita, tidak berhasil menemukan meriam Aceh itu.” Hal itu pula yang membuat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr Hubertus Johannes Van Mook dalam laporannya kepada Menteri Luar Negeri Belanda, Mr Jonkman juga mengakui tentang kekalahan Belanda di Aceh tersebut. Ia menjelaskan setelah Inggris (Sekutu) melucuti Jepang dan menyerahkan kekuasaan atas Indonesia kepada Belanda, maka perlawanan rakyat terjadi. Tapi Van Mook menegaskan, aksi militer Belanda untuk menguasai kembali Indonesia pada agresi kedua itu jika dimulai pada Februari 1947, maka pada akhir tahun 1947 seluruh wilayah Indonesia sudah bisa dikuasai kembali, kecuali Aceh. Van Mook menulis “Gerakan militer meminta waktu tak lebih beberapa minggu untuk Jawa, untuk Sumatera lebih cepat lagi, seluruh Indonesia bisa kita kuasai kembali kecuali Aceh.” Saat itu, dalam seminggu perang, dua pesawat tempur Belanda jatuh ditembak di Aceh. Beberapa kapal perang Sekutu/NICA yang hilir mudik di perairan Aceh melakukan provokasi juga ditembaki. Ini juga yang menjadi alasan Jendral Van Mook pun mengaku kalah. Sejarawan Aceh yang juga pelaku perjuangan kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasyah Talsya dalam buku Sekali Republiken Tetap Republiken mengungkapkan, pada 7 November 1946, angkatan perang Sekutu dan Belanda yang bermarkas di Pulau Weh, Sabang. Melakukan serangan laut dan udara ke pangkalan udara Lhok Nang dan sekitarnya. Pangkalan Lhok Nga merupakan pangkalan udara Jepang terkuat di wilayah barat Indonesia yang sudah dikuasai oleh Residen Aceh. Serangan dimulai sekitar pukul 07.00 pagi. Dari laut kapal perang Jan Van Gallen menembakkan meriam-meriamnya ke daratan Aceh. Sementara dari udara tiga pesawat tempur jenis Jager menjatuhkan bom dan menembak dengan senapan mesin ke daerah-daerah pertahanan pejuang Aceh. Dalam perang yang berlangsung selama dua jam lebih itu, pejuang Aceh membalas serangan Belanda dengan meriam penangkal serangan udara dan laut. Meriam-meriam yang diperoleh saat melucuti tentara Jepang itu ditempatkan di bukit-bukit sekitar pangkalan udara Lhok Nga. Satu pesawat tempur Belanda berhasil ditembak jatuh. Pada 9, 10, 12 dan 13 November 1946, kapal perang dan pesawat tempur Belanda kembali menggempur kawasan Lhok Nga. Tapi perang tak berlangsung lama, hanya sekitar 40 menit. Sehari kemudian, pada 14 November 1946, empat pesawat Belanda kembali membombandir kawasan Lhok Nga. Serangan dimulai pukul 09.27 pagi dengan dua pesawat pemburu, satu pesawat bomber, dan satu pesawat terbang air berukuran besar. Dalam perang itu satu lagi pesawat Belanda berhasil ditembak jatuh oleh pejuang Aceh. Pesawat tersebut jatuh di kebun kelapa di sebelah utara Kota Banda Aceh. Belanda dan Sekutu juga menyiagakan kapal perangnya di kawasan Krueng Raya, Ujong Batee, Pante Ceureumen dan Ulee Lheu. Kapal-kapal perang itu hanya mondar-mandir di perairan Aceh tidak berani merapat ke pantai. Setiap kali mereka mendekati garis panti, selalu ditembaki dengan meriam oleh pejuang Aceh. Dan sejarah kemudian membuktikan bahwa, Aceh satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak berhasil dimasuki Sekutu dan Belanda pada agresi kedua. Hal itu pula yang kemudian menjadi salah satu alasan Presiden Soekarno menggelar Aceh sebagai daerah modal Republik Indonesia.[] Governor-General Hubertus J. Van Mook Arsip KLTLV

 Pada tanggal 5 November 1946 : Piet Hein Ditembak, Van Mook Mengaku Kalah di Aceh.


Oleh Iskandar Norman.


Pada 5 November 1946 Sebuah kapal perang Belanda bernama Piet Hein yang sedang berpatroli di perairan Lhoknga, Aceh Besar ditembaki meriam oleh pejuang, hingga rusak dan melarikan diri ke Sabang. Sehingga Sekutu/NICA tak berani masuk ke Aceh.


Panglima Besar Angkatan Laut Belanda, Helfrich, mengaku gagal dalam beberapa kali serangan ke daratan Aceh. Dalam suratnya ia menulis:



“Verder heb ik mij een beetje in de vingers gesneden met de batterijen in Atjeh. Ik had aan Gani beloof dak it dijn batterijen zou vernietigen wanneer ze schoten op passeerende schepen. Nu werd de Peit Hein beschoten toen het schip passerde en dus ben ik verplichtz ze te vernietigen. Ik herb er da nook een paar vuurvliegen met rockets jeen gezonden, maar noch de Piet Hein, noch de vuurvliegen kunnen de batterijen vinden.


Terjemahan bebasnya ke bahasa Indonesia kurang lebih.


“Saya sudah terpotong jari dengan meriam Aceh. Sudah kuberitahu kepada Gani (Dr AK Gani) bahwa meriamnya akan kuhancurkan bila kapal-kapal kita yang lewat ditembaki. Lalu ditembakilah Piet Hien ketika ia lewat. Maka wajib bagiku menghancurkan mereka, dengan pesawat udara maupun dengan roket. Tetapi baik Piet Hien maupuh hujan roket kita, tidak berhasil menemukan meriam Aceh itu.”


Hal itu pula yang membuat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr Hubertus Johannes Van Mook dalam laporannya kepada Menteri Luar Negeri Belanda, Mr Jonkman juga mengakui tentang kekalahan Belanda di Aceh tersebut.


Ia menjelaskan setelah Inggris (Sekutu) melucuti Jepang dan menyerahkan kekuasaan atas Indonesia kepada Belanda, maka perlawanan rakyat terjadi.


Tapi Van Mook menegaskan, aksi militer Belanda untuk menguasai kembali Indonesia pada agresi kedua itu jika dimulai pada Februari 1947, maka pada akhir tahun 1947 seluruh wilayah Indonesia sudah bisa dikuasai kembali, kecuali Aceh. 


Van Mook  menulis “Gerakan militer meminta waktu tak lebih beberapa minggu untuk Jawa, untuk Sumatera lebih cepat lagi, seluruh Indonesia bisa kita kuasai kembali kecuali Aceh.”


Saat itu, dalam seminggu perang, dua pesawat tempur Belanda jatuh ditembak di Aceh. Beberapa kapal perang Sekutu/NICA yang hilir mudik di perairan Aceh melakukan provokasi juga ditembaki. Ini juga yang menjadi alasan Jendral Van Mook pun mengaku kalah.


Sejarawan Aceh yang juga pelaku perjuangan kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasyah Talsya dalam buku Sekali Republiken Tetap Republiken mengungkapkan, pada 7 November 1946, angkatan perang Sekutu dan Belanda yang bermarkas di Pulau Weh, Sabang.


Melakukan serangan laut dan udara ke pangkalan udara Lhok Nang dan sekitarnya. Pangkalan Lhok Nga merupakan pangkalan udara Jepang terkuat di wilayah barat Indonesia yang sudah dikuasai oleh Residen Aceh.


Serangan dimulai sekitar pukul 07.00 pagi. Dari laut kapal perang  Jan Van Gallen menembakkan meriam-meriamnya ke daratan Aceh. Sementara dari udara tiga pesawat tempur jenis Jager menjatuhkan bom dan menembak dengan senapan mesin ke daerah-daerah pertahanan pejuang Aceh.


Dalam perang yang berlangsung selama dua jam lebih itu, pejuang Aceh membalas serangan Belanda dengan meriam penangkal serangan udara dan laut. 


Meriam-meriam yang diperoleh saat melucuti tentara Jepang itu ditempatkan di bukit-bukit sekitar pangkalan udara Lhok Nga. Satu pesawat tempur Belanda berhasil ditembak jatuh.


Pada 9, 10, 12 dan 13 November 1946, kapal perang dan pesawat tempur Belanda kembali menggempur kawasan Lhok Nga. Tapi perang tak berlangsung lama, hanya sekitar 40 menit.


Sehari kemudian, pada 14 November 1946, empat pesawat Belanda kembali membombandir kawasan Lhok Nga. 


Serangan dimulai pukul 09.27 pagi dengan dua pesawat pemburu, satu pesawat bomber, dan satu pesawat terbang air berukuran besar. 


Dalam perang itu satu lagi pesawat Belanda berhasil ditembak jatuh oleh pejuang Aceh. Pesawat tersebut jatuh di kebun kelapa di sebelah utara Kota Banda Aceh.


Belanda dan Sekutu juga menyiagakan kapal perangnya di kawasan Krueng Raya, Ujong Batee, Pante Ceureumen dan Ulee Lheu. Kapal-kapal perang itu hanya mondar-mandir di perairan Aceh tidak berani merapat ke pantai. Setiap kali mereka mendekati garis panti, selalu ditembaki dengan meriam oleh pejuang Aceh.


Dan sejarah kemudian membuktikan bahwa, Aceh satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak berhasil dimasuki Sekutu dan Belanda pada agresi kedua. 


Hal itu pula yang kemudian menjadi salah satu alasan Presiden Soekarno menggelar Aceh sebagai daerah modal Republik Indonesia.[]


Governor-General Hubertus J. Van Mook

Arsip KLTLV

Sebelum Sersan Pongoh ke Petamburan Serdadu kolonial penuh bintang, Pongoh berperan penting melumpuhkan Sisingamangaraja XII. Oleh : Petrik Matanasi. Sebagaimana wilayah-wilayah lain di ibukota, wilayah Petamburan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta juga dilanda panas terik hampir saban hari sejak beberapa bulan ke belakang. Banyak orang terlihat berteduh sembari minum atau makan di taman yang terletak di pojok yang mempertemukan Jalan KS Tubun dan Jalan S. Parman. Ibarat oasis, taman itu menjadi segelintir tempat berteduh yang ada di Petamburan. Satu ruang terbuka teduh lain di Petamburan adalah TPU Petamburan. Namun, dengan pos penjagaan yang mirip benteng, tak setiap orang bisa masuk dan berteduh di sana. Di TPU itulah Sersan Pongoh beristirahat abadi alias dimakamkan. Sersan Pongoh merupakan serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang mendapat banyak bintang jasa. Dia terlibat dalam banyak operasi militer. Sersan Jesajas Pongoh lahir di Air Madidi, selatan Manado, Sulawesi Utara pada 7 Mei 1878. Menurut catatan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 6 Oktober 1934, dia telah menjadi serdadu KNIL sejak 10 Februari 1897. Pongoh memulai kariernya dari pangkat bawah. Antara 1898-1904, ia ikut serta dalam operasi militer di Aceh sebagai anggota Korps Marsose Jalan Kaki, sebuah pasukan khusus anti-gerilya KNIL. Pada 1902, Marsose Pongoh terlibat pertempuran melawan Krueng Talo di Sumegang Meulaboh, Aceh. Karenanya dia memperoleh Ridder Militaire Willemsorde kelas 4 berdasar Koninklijk Besluit 30 September 1903 nomor 56. Dia terlibat pula dalam ekspedisi Gayo Alas yang penuh darah. Dalam operasi di tahun 1904 itu, dia berada di bawah komando Letnan Kolonel van Daalen. Saat merebut benteng Bukit Gemujaang tanggal 18 Maret 1904, ia terluka karena tembakan pada lengan kanan bagian atas. Setelah itu, Pongoh bertugas di Sulawesi Selatan (12 Juli 1905-1 Agustus 1906) di kala raja-raja Sulawesi Selatan bersatu melawan Belanda. Pangkatnya sudah Prajurit Infanteri kelas satu. Kiprahnya dalam operasi ini dianggap menonjol. Karenanya berdasar Koninklijk Besluit 28 Maret 1907 nomor 96, ia dianugerahi Ridder Militaire Willemsorde kelas 3. Meski sudah dapat bintang, Pongoh masih ikut bertempur dan bahkan juga mendapat luka. Saat merebut benteng batu Timongai (Tomorie, Sulawesi) pada 16 Agustus 1907, perutnya terluka. Di tengah operasi itu, pangkatnya naik menjadi kopral dan tak lama kemudian naik lagi. Menurut De Avondpost tanggal 26 Oktober 1934, pangkat Ponngoh naik dari kopral naik menjadi sersan kelas dua pada 1906. Waktu Sisingamaradja XII masih berperang dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, KNIL mengerahkan satu pasukan multietnis yang dipimpin Kapten Hans Christoffel untuk melumpuhkannya. Pongoh tergabung di dalamnya. “Dalam pasukan infanteri yang dikirim ke Aceh dan kemudian Tanah Batak untuk menghadapi Sisingamaradja banyak terdapat orang-orang pribumi, yang kebanyakan berasal dari Jawa, Manado, Ambon, dari Pulau Kei, Sangir dan lainnya,” catat Augustin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII. Sersan Pongoh menjadi yang paling terkenal di antara orang-orang di dalam pasukan itu. Sebab, dia telah dapat banyak bintang. Pongoh kembali berkontribusi penting dalam operasi tersebut lantaran dia termasuk yang berjasa dalam melumpuhkan Sisingamangaraja XII pada pertengahan 1907 di sekitar Dairi. Usai mengikuti operasi militer di tanah Batak, Sersan Pongoh bertugas di Betawi. Pada 1921 pangkatnya baru naik lagi, menjadi sersan kelas satu KNIL. Dia bertugas di KNIL hingga pensiun di tahun 1932. Ketika pensiun di Betawi, seperti disebut Deli Courant tanggal 15 Oktober 1934, dia pernah tinggal di Tanah Rendah, yang masih berada di daerah pinggiran kota. Di depan rumahnya terdapat foto para jenderal yang pernah menjadi atasannya selama di KNIL. Pada Rabu, 11 Oktober 1934, sekitar pukul 04.00 pagi, Sersan Pongoh tutup usia di rumahsakit militer Betawi—kini menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Keesokan harinya dia dimakamkan dengan kebesaran upacara militer KNIL. Makamnya berada di Petamburan, Jakarta.(*)

 Sebelum Sersan Pongoh ke Petamburan

Serdadu kolonial penuh bintang, Pongoh berperan penting melumpuhkan Sisingamangaraja XII.


Oleh : Petrik Matanasi.


Sebagaimana wilayah-wilayah lain di ibukota, wilayah Petamburan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta juga dilanda panas terik hampir saban hari sejak beberapa bulan ke belakang. Banyak orang terlihat berteduh sembari minum atau makan di taman yang terletak di pojok yang mempertemukan Jalan KS Tubun dan Jalan S. Parman. Ibarat oasis, taman itu menjadi segelintir tempat berteduh yang ada di Petamburan. 



Satu ruang terbuka teduh lain di Petamburan adalah TPU Petamburan. Namun, dengan pos penjagaan yang mirip benteng, tak setiap orang bisa masuk dan berteduh di sana. 


Di TPU itulah Sersan Pongoh beristirahat abadi alias dimakamkan. Sersan Pongoh merupakan serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang mendapat banyak bintang jasa. Dia terlibat dalam banyak operasi militer. 


Sersan Jesajas Pongoh lahir di Air Madidi, selatan Manado, Sulawesi Utara pada 7 Mei 1878.  Menurut catatan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 6 Oktober 1934, dia telah menjadi serdadu KNIL sejak 10 Februari 1897.


Pongoh memulai kariernya dari pangkat bawah. Antara 1898-1904, ia ikut serta dalam operasi militer di Aceh sebagai anggota Korps Marsose Jalan Kaki, sebuah pasukan khusus anti-gerilya KNIL.


Pada 1902, Marsose Pongoh terlibat pertempuran melawan Krueng Talo di Sumegang Meulaboh, Aceh. Karenanya dia memperoleh Ridder Militaire Willemsorde kelas 4 berdasar Koninklijk Besluit 30 September 1903 nomor 56.


Dia terlibat pula dalam ekspedisi Gayo Alas yang penuh darah. Dalam operasi di tahun 1904 itu, dia berada di bawah komando Letnan Kolonel van Daalen. Saat merebut benteng Bukit Gemujaang  tanggal 18 Maret 1904, ia terluka karena tembakan pada lengan kanan bagian atas.


Setelah itu, Pongoh bertugas di Sulawesi Selatan (12 Juli 1905-1 Agustus 1906) di kala raja-raja Sulawesi Selatan bersatu melawan Belanda. Pangkatnya sudah Prajurit Infanteri kelas satu. 


Kiprahnya dalam operasi ini dianggap menonjol. Karenanya berdasar Koninklijk Besluit 28 Maret 1907 nomor 96, ia dianugerahi Ridder Militaire Willemsorde kelas 3. Meski sudah dapat bintang, Pongoh masih ikut bertempur dan bahkan juga mendapat luka. 


Saat merebut benteng batu Timongai (Tomorie, Sulawesi) pada 16 Agustus 1907, perutnya terluka.


Di tengah operasi itu, pangkatnya naik menjadi kopral dan tak lama kemudian naik lagi. Menurut De Avondpost tanggal 26 Oktober 1934, pangkat Ponngoh naik dari kopral naik menjadi sersan kelas dua pada 1906.


Waktu Sisingamaradja XII masih berperang dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, KNIL mengerahkan satu pasukan multietnis yang dipimpin Kapten Hans Christoffel untuk melumpuhkannya. Pongoh tergabung di dalamnya. 


“Dalam pasukan infanteri yang dikirim ke Aceh dan kemudian Tanah Batak untuk menghadapi Sisingamaradja banyak terdapat orang-orang pribumi, yang kebanyakan berasal dari Jawa, Manado, Ambon, dari Pulau Kei, Sangir dan lainnya,” catat Augustin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII. 


Sersan Pongoh menjadi yang paling terkenal di antara orang-orang di dalam pasukan itu. Sebab, dia telah dapat banyak bintang. 


Pongoh kembali berkontribusi penting dalam operasi tersebut lantaran dia termasuk yang berjasa dalam melumpuhkan Sisingamangaraja XII pada pertengahan 1907 di sekitar Dairi.


Usai mengikuti operasi militer di tanah Batak, Sersan Pongoh bertugas di Betawi. Pada 1921 pangkatnya baru naik lagi, menjadi sersan kelas satu KNIL. Dia bertugas di KNIL hingga pensiun di tahun 1932. 


Ketika pensiun di Betawi, seperti disebut Deli Courant tanggal 15 Oktober 1934, dia pernah tinggal di Tanah Rendah, yang masih berada di daerah pinggiran kota. 


Di depan rumahnya terdapat foto para jenderal yang pernah menjadi atasannya selama di KNIL.


Pada Rabu, 11 Oktober 1934, sekitar pukul 04.00 pagi, Sersan Pongoh tutup usia di rumahsakit militer Betawi—kini menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto.


Keesokan harinya dia dimakamkan dengan kebesaran upacara militer KNIL. Makamnya berada di Petamburan, Jakarta.(*)

13 August 2026

Gembong PKI BERKAT SURAT IBU KANDUNG Dua gembong PKI bebas. Ada makna politisnya? (EDITOR, NO. 47 / THN. IV / 10 AGUSTUS 1991) Sejumlah barang dan seperangkat alat lukisan tampak terkemas rapi dalam tas kotak besar. Di Penjara Cipinang, persisnya di ruang Eki (ekstrem kiri), Rabu siang dua pekan silam, memang ada sedikit suasana haru. Hari itu, dua gembong Gestapu/PKI, Rewang, 63, alias Subandi; dan Marto Suwandhi, 69, bebas. "Benar, keduanya memang sudah bebas. Sebab, masa hukumannya memang sudah habis," ujar Nurdin Nursin, kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang pada EDITOR. Mengejutkan, memang. Sebab, keduanya disebut sudah setengah putus asa. Maklum, kata sebuah sumber, Rewang mestinya bebas 23 Januari 1988 silam. Sedang Marto Suwandhi mestinya bebas 8 September 1987, setahun sebelumnya. Rewang, asal Solo, tertangkap di Blitar Selatan pada 21 Juli 1968. Pria pendiam ini divonis seumur hidup. Namun, dengan berbagai remisi, hukumannya berubah menjadi 20 tahun. Bapak seorang anak ini, mengaku aktif di PKI Jateng sejak 1960, sampai kemudian menjabat sekretaris PKI Jawa Tengah. "Saat peristiwa 1965, saya menjadi anggota sekretariat CC PKI di bawah Sudisman," katanya. Sementara Marto Suwandhi juga divonis seumur hidup dan mengalami remisi yang sama seperti Rewang. Pria berperawakan kurus tinggi yang suka menyendiri dan melukis ini tertangkap di Jakarta pada 6 Maret 1968. Jabatannya saat itu: kepala Bagian Perlengkapan Biro Khusus PKI. Selama dalam penjara, kata sumber tadi, Rewang banyak menyibukkan diri dengan berternak ayam kampung. Bahkan, pagi hari sebelum dibebaskan, ia masih sempat memberi makan ayamnya. Sementara, Marto menekuni hobinya: melukis dengan alat ala kadarnya. Sekitar dua pekan sebelum pembebasan, Rewang didampingi Marto Suwandhi dipanggil petugas LP Cipinang. Petugas itu memberitahu, istri Rewang di Solo, Jateng, berkirim surat yang ditujukan ke kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Surat itu juga ada tembusannya ke pelbagai instansi terkait seperti Dirjen Pemasyarakatan, Menteri Kehakiman, Bakorstanas serta Kotas Pos 5000. Isinya? Ibu kandung Rewang memohon agar anaknya dibebaskan, karena masa hukuman Rewang telah lama berakhir. Kedua, Rewang sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan. Sehubungan dengan surat itulah, mereka berdua diminta agar menuturkan identitas keluarga masing-masing. Sebelumnya, Rewang dan Marto juga pernah dipanggil sehubungan dengan pengajuan surat serupa yang mereka bikin sendiri. Hasilnya nihil. Tapi, sehari sebelum pembebasan, mereka diberitahu, keluarganya akan datang berkunjung ke LP Cipinang. "Jadi, di benak Rewang dan Marto Suwandhi, tak terbersit pikiran sedikit pun kalau mereka akan bebas keesokan harinya," ujar sebuah sumber di LP Cipinang. Rewang, kini berada di rumah ibunya di Kampung Dawung Wetan, Solo, Jateng "Saya mendapatkan perlakuan yang baik selama perjalanan ke rumah. Dan, saya mengucapkan terima kasih pada pemerintah," kata Rewang pada EDITOR. Kini, setidaknya masih ada beberapa dedengkot PKI di penjara yang, mungkin, juga akan dibebaskan. Misalnya, Omar Dhani, Soebandrio, dan Kolonel A. Latief. Di samping itu, kata sumber tadi, masih ada beberapa orang eks PKI yang masih akan menjalani hukuman mati. Mereka itu Soekatno, 59, ketua Pemuda Rakyat, juga anggota DPRGR-MPR. Roeslan Widjayasastra, 72, anggota Dewan Perancang Nasional RI, juga ketua Sobsi (organisasi buruh menjadi onderbow PKI). Yang lain adalah Iskandar Soebekti, 67, anggota CC PKI bagian Departemen Luar Negeri; Asep Soeryaman, 62, (bagian Pendidikan Biro PKI); Nataneal Marsoedi, 53, anggota Brigif AURI (Cakrabhirawa); dan Sertu Boengkus, 61, anggota Brigif AURI (juga Cakrabhirawa). "Terus terang, kami sudah pasrah. Lebih-lebih papa sendiri tampaknya tak merepotkan keluarganya," ujar keluarga Iskandar Soebekti di Yogyakarta. Sedang keempat anggota Cakrabhirawa lainnya telah dieksekusi medio Februari 1990. Mereka, Yohannes Surono, 60, Simon Petrus Solaiman, 60, Norbertus Rohayan, 49, dan Satar Suryanto, 57. Keempat pasukan pengawal Presiden Soekarno itu, tak lain, adalah pelaku langsung pembunuhan para Jenderal Angkatan Da- rat di tahun 1965 itu. Sebelumnya, di bulan Oktober 1988, juga ada eksekusi terhadap dua anggota Cakrabhirawa: Sersan Giyadi, 60, (dituduh yang menembak Jenderal A. Yani) dan Sukardjo (membunuh Mayjen. Pandjaitan). Di tahun 1986, eksekusi mati juga dilakukan terhadap Munir, mantan Sekjen Sobsi. Lalu, mengapa Rewang dan Marto Suwandhi terlambat dibebaskan? Itulah pertanyaan yang diajukan H. Princen, ketua Lembaga Pembela Hak-Hak Asasi Manusia yang berkedudukan di Jakarta. "Wah, kalau soal itu tanyakan saja pada Bakorstanasda. Saya kan cuma pelaksana," ujar Nurdin Nursin, kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. MASDUKI BAIDLAWI LAPORAN BUDI RW (SOLO), SYAFRITA ARYANA HARFAH DAN DADIR SUMAATMADJA, ERMINA MIRANTI JAKARTA) Sumber: EDITOR, NO. 47 / THN. IV / 10 AGUSTUS 1991

 Gembong PKI

BERKAT SURAT IBU KANDUNG


Dua gembong PKI bebas. Ada makna politisnya?


(EDITOR, NO. 47 / THN. IV / 10 AGUSTUS 1991)


Sejumlah barang dan seperangkat alat lukisan tampak terkemas rapi dalam tas kotak besar. Di Penjara Cipinang, persisnya di ruang Eki (ekstrem kiri), Rabu siang dua pekan silam, memang ada sedikit suasana haru. Hari itu, dua gembong Gestapu/PKI, Rewang, 63, alias Subandi; dan Marto Suwandhi, 69, bebas. "Benar, keduanya memang sudah bebas. Sebab, masa hukumannya memang sudah habis," ujar Nurdin Nursin, kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang pada EDITOR.



Mengejutkan, memang. Sebab, keduanya disebut sudah setengah putus asa. Maklum, kata sebuah sumber, Rewang mestinya bebas 23 Januari 1988 silam. Sedang Marto Suwandhi mestinya bebas 8 September 1987, setahun sebelumnya.


Rewang, asal Solo, tertangkap di Blitar Selatan pada 21 Juli 1968. Pria pendiam ini divonis seumur hidup. Namun, dengan berbagai remisi, hukumannya berubah menjadi 20 tahun. Bapak seorang anak ini, mengaku aktif di PKI Jateng sejak 1960, sampai kemudian menjabat sekretaris PKI Jawa Tengah. "Saat peristiwa 1965, saya menjadi anggota sekretariat CC PKI di bawah Sudisman," katanya.


Sementara Marto Suwandhi juga divonis seumur hidup dan mengalami remisi yang sama seperti Rewang. Pria berperawakan kurus tinggi yang suka menyendiri dan melukis ini tertangkap di Jakarta pada 6 Maret 1968. Jabatannya saat itu: kepala Bagian Perlengkapan Biro Khusus PKI. Selama dalam penjara, kata sumber tadi, Rewang banyak menyibukkan diri dengan berternak ayam kampung. Bahkan, pagi hari sebelum dibebaskan, ia masih sempat memberi makan ayamnya. Sementara, Marto menekuni hobinya: melukis dengan alat ala kadarnya.


Sekitar dua pekan sebelum pembebasan, Rewang didampingi Marto Suwandhi dipanggil petugas LP Cipinang. Petugas itu memberitahu, istri Rewang di Solo, Jateng, berkirim surat yang ditujukan ke kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Surat itu juga ada tembusannya ke pelbagai instansi terkait seperti Dirjen Pemasyarakatan, Menteri Kehakiman, Bakorstanas serta Kotas Pos 5000.


Isinya? Ibu kandung Rewang memohon agar anaknya dibebaskan, karena masa hukuman Rewang telah lama berakhir. Kedua, Rewang sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan. Sehubungan dengan surat itulah, mereka berdua diminta agar menuturkan identitas keluarga masing-masing. Sebelumnya, Rewang dan Marto juga pernah dipanggil sehubungan dengan pengajuan surat serupa yang mereka bikin sendiri. Hasilnya nihil.


Tapi, sehari sebelum pembebasan, mereka diberitahu, keluarganya akan datang berkunjung ke LP Cipinang. "Jadi, di benak Rewang dan Marto Suwandhi, tak terbersit pikiran sedikit pun kalau mereka akan bebas keesokan harinya," ujar sebuah sumber di LP Cipinang.


Rewang, kini berada di rumah ibunya di Kampung Dawung Wetan, Solo, Jateng "Saya mendapatkan perlakuan yang baik selama perjalanan ke rumah. Dan, saya mengucapkan terima kasih pada pemerintah," kata Rewang pada EDITOR.


Kini, setidaknya masih ada beberapa dedengkot PKI di penjara yang, mungkin, juga akan dibebaskan. Misalnya, Omar Dhani, Soebandrio, dan Kolonel A. Latief. Di samping itu, kata sumber tadi, masih ada beberapa orang eks PKI yang masih akan menjalani hukuman mati. Mereka itu Soekatno, 59, ketua Pemuda Rakyat, juga anggota DPRGR-MPR. Roeslan Widjayasastra, 72, anggota Dewan Perancang Nasional RI, juga ketua Sobsi (organisasi buruh menjadi onderbow PKI).


Yang lain adalah Iskandar Soebekti, 67, anggota CC PKI bagian Departemen Luar Negeri; Asep Soeryaman, 62, (bagian Pendidikan Biro PKI); Nataneal Marsoedi, 53, anggota Brigif AURI (Cakrabhirawa); dan Sertu Boengkus, 61, anggota Brigif AURI (juga Cakrabhirawa). "Terus terang, kami sudah pasrah. Lebih-lebih papa sendiri tampaknya tak merepotkan keluarganya," ujar keluarga Iskandar Soebekti di Yogyakarta.


Sedang keempat anggota Cakrabhirawa lainnya telah dieksekusi medio Februari 1990. Mereka, Yohannes Surono, 60, Simon Petrus Solaiman, 60, Norbertus Rohayan, 49, dan Satar Suryanto, 57. Keempat pasukan pengawal Presiden Soekarno itu, tak lain, adalah pelaku langsung pembunuhan para Jenderal Angkatan Da- rat di tahun 1965 itu.


Sebelumnya, di bulan Oktober 1988, juga ada eksekusi terhadap dua anggota Cakrabhirawa: Sersan Giyadi, 60, (dituduh yang menembak Jenderal A. Yani) dan Sukardjo (membunuh Mayjen. Pandjaitan). Di tahun 1986, eksekusi mati juga dilakukan terhadap Munir, mantan Sekjen Sobsi.


Lalu, mengapa Rewang dan Marto Suwandhi terlambat dibebaskan? Itulah pertanyaan yang diajukan H. Princen, ketua Lembaga Pembela Hak-Hak Asasi Manusia yang berkedudukan di Jakarta. "Wah, kalau soal itu tanyakan saja pada Bakorstanasda. Saya kan cuma pelaksana," ujar Nurdin Nursin, kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.


MASDUKI BAIDLAWI 

LAPORAN BUDI RW (SOLO), SYAFRITA ARYANA HARFAH DAN DADIR SUMAATMADJA, ERMINA MIRANTI JAKARTA)


Sumber: EDITOR, NO. 47 / THN. IV / 10 AGUSTUS 1991

11 August 2026

 𝗣𝗘𝗥𝗧𝗘𝗠𝗨𝗔𝗡 𝟮 𝗪𝗔𝗟𝗜 𝗔𝗟𝗟𝗔𝗛: 𝗜𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗖𝗵𝘂𝗱𝗹𝗼𝗿𝗶 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗻𝗴𝗹𝗶 𝗦𝗼𝘄𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗱𝗮𝗯



Di antara para kekasih Allah, pertemuan mereka bukan kebetulan. Ada adab yang dijaga, ada doa yang dimintakan, dan ada isyarat yang Allah tampakkan. 


Suatu ketika KH. Hasan Asyk'ari "Mbah Mangli" sowan ke kediaman gurunya KH. Chudlori Tegalrejo dengan berjalan jongkok dan melepas sandal sebagai bentuk ta'dzim kepada guru. Di sanalah beliau mendapat satu isyarat dari Mbah Chudlori tentang ujian yang akan beliau alami dalam perjalanan dakwahnya. Isyarat itu kemudian terbukti benar ketika Mbah Mangli mengalami peristiwa penting di daerah Cirebon, yang menjadi bukti kemuliaan adab beliau kepada guru dan kewalian yang dimiliki sang guru.


𝐁𝐞𝐫𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐤𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐧𝐲𝐚..


Dikisahkan ketika beliau sowan ke kediaman Mbah Chudlori di Tegalrejo, Magelang. Sebagaimana kebiasaannya, sejak memasuki gang menuju ndalem, beliau sudah melepas sandalnya. Dari situ beliau berjalan _ndodok_, berjalan jongkok, hingga tiba di depan pintu rumah.


Sesampainya di depan pintu, beliau tidak langsung masuk. Beliau duduk bersila, terkadang _tawaruk_, sambil menunggu tuan rumah mempersilakan. Konon, jika belum dipersilakan, beliau rela menunggu berjam-jam dalam posisi itu tanpa sedikit pun rasa tidak sabar.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan pecinta ulama, bahwa Mbah Mangli — KH. Hasan Asyk'ari — dikenal sebagai sosok yang sangat tawadhu kepada para ulama sepuh. Rasa hormat beliau tidak hanya di lisan, tetapi benar-benar dipraktikkan.


Tak lama kemudian seorang khodim Mbah Chudlori datang tergopoh-gopoh dan mempersilakan beliau masuk. Setelah masuk, Mbah Mangli kembali duduk dengan kepala tertunduk, menunggu kedatangan Mbah Chudlori.


Saat keduanya bertemu, mereka bersalaman dan berpelukan. Setelah itu Mbah Mangli kembali duduk dengan penuh kekhusyukan. Dan selama tuan rumah belum bertanya, beliau memilih diam.


𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐚𝐤𝐬𝐮𝐝 𝐤𝐞𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.


𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐡𝐨𝐫𝐦𝐚𝐭 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐥𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛,  

“𝐊𝐢𝐚𝐢, 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐞𝐧𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐤𝐞 𝐉𝐚𝐤𝐚𝐫𝐭𝐚. 𝐊𝐢𝐫𝐚-𝐤𝐢𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤?”


𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐢𝐚𝐦 𝐬𝐞𝐣𝐞𝐧𝐚𝐤, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐧,  

“𝐌𝐛𝐨𝐭𝐞𝐧 𝐝𝐮𝐠𝐢... 𝐦𝐛𝐨𝐭𝐞𝐧 𝐝𝐮𝐠𝐢.”  

“𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢... 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢.”


Di kalangan para wali, percakapan seperti ini bukan hal asing. Bisa jadi untuk memantapkan kasyaf, menguji kasyaf, atau bersama-sama bermunajat agar ketentuan Allah menjadi lebih baik. _Wallahu a'lam._


Mendengar itu, Mbah Mangli tetap berangkat dengan penuh tawakal.  

“𝐖𝐚𝐥𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢, 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭. 𝐌𝐨𝐡𝐨𝐧 𝐝𝐨𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐫𝐞𝐬𝐭𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐚𝐧.”


Beberapa hari kemudian, benarlah apa yang dikatakan Mbah Chudlori. Di daerah Cirebon, mesin mobil beliau — konon jenis Jeep atau Hartop — pecah dan rusak berat. Setelah dicek di bengkel, biaya perbaikannya Rp15.000. 


Angka yang sangat besar pada masa itu. Yang mengherankan, uang bekal yang dibawa Mbah Mangli juga hanya Rp15.000, pas.


Akhirnya beliau memutuskan tidak melanjutkan perjalanan. Mobil ditinggal, beliau pulang dengan bus. Sesampainya di kampung, beliau tidak langsung pulang ke rumah. Beliau justru kembali sowan ke Tegalrejo untuk menceritakan semuanya kepada Mbah Chudlori, sekaligus bersyukur karena diberi keselamatan.


𝐊𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐚 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐚𝐥𝐧𝐲𝐚.  

“𝐊𝐢𝐚𝐢, 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐢𝐬𝐚 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐚𝐥 𝐬𝐚𝐲𝐚. 𝐒𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐭𝐮𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧.”


𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐥𝐚𝐤 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬, “𝐒𝐮𝐝𝐚𝐡, 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐮𝐬𝐚𝐡. 𝐁𝐚𝐰𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐦𝐨𝐛𝐢𝐥𝐦𝐮.”  

𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐥𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐤𝐞𝐫𝐚𝐬, “𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐊𝐢𝐚𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐧𝐚𝐧, 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢.”


𝐌𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐤𝐞𝐭𝐮𝐥𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚.


𝐖𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡𝐮 𝐚'𝐥𝐚𝐦 𝐛𝐢𝐬𝐡𝐚𝐰𝐚𝐛.


Semoga Allah mengumpulkan kita bersama beliau-beliau di surganya. Aamiin 🤲 

 Al-Fatihah...


#sepenggalkisah #catatankecil #mbahmangli #khchudlori #adab #ilmu #ulama #ulamanusantara #kyai #tanahjawa #ulamakarismatik #karomah #kasyaf #kisahparawali #santri #pondokpesantren #guru #dawuhguru #magelang #APItegalrejo #jawatengah

08 August 2026

𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙈𝙗𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙤𝙬𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙜𝙪𝙧𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙠𝙣𝙞, 𝙆𝙮𝙖𝙞 𝘼𝙧𝙬𝙖𝙣𝙞. 𝐷𝑖𝑘𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝐻. 𝑁𝑜𝑜𝑟 𝐻𝑎𝑑𝑖, 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑏𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑡𝑢𝑎 𝑃𝑊𝑁𝑈 𝐵𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 1980 Kyai asli Demak ini berkisah bahwa suatu ketika Mbah Mangli berangkat ke Kudus untuk sowan kepada gurunya yakni, Kyai Arwani. Sesampainya di Kudus, Mbah Mangli segera menuju Kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus yang berada tak jauh Masjid Al-Aqsha yang terkenal dengan Masjid Menara Kudus. Ketika sampai di depan Ndalem Kyai Arwani, Mbah Mangli tiba-tiba bersimpuh sambil berjalan perlahan-lahan atau “ngesot” dalam bahasa jawa. Singkat cerita Kyai Arwani pun menghampirinya. Selanjutnya, Mbah Mangli mulai mengutarakan maksud kedatangannya, yang selanjutnya 𝑑𝑖𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐫𝐨𝐦𝐨 𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑐𝑖𝑟𝑖 𝑘ℎ𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎𝑝𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎. (𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑜𝑔 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑒𝑟) “𝐒𝐢𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Siapa anda?)Tanya Kyai Arwani “𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐠𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠?” Jawab Mbah Mangli “𝐖𝐨𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐡𝐚𝐣𝐚𝐭 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐰𝐮𝐡 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢”? (Ada perlu apa kesini)” Tanya Kyai Arwani “𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐤𝐚𝐣𝐞𝐧𝐠𝐞 𝐧𝐲𝐮𝐰𝐮𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐝𝐚𝐝𝐨𝐬 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Saya ingin minta tolong diakui sebagai santri anda)” Jawab Arwani “𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐠𝐞𝐡, 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐝𝐚𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢?” (Maaf, anda pernah ngaji disini ya?) “Tanya Kyai Arwani “𝐍𝐠𝐠𝐞𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐦𝐢𝐲𝐞𝐧 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢. 𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧, 𝐍𝐢𝐤𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐧𝐢𝐩𝐮𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐰𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐭𝐞𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧" (Iya Kyai, saya pernah belajar disini. Mohon maaf, ini bukti jika saya pernah mengaji kepada anda). [sambil menunjukkan bekas sabetan Kyai Arwani yang masih membekas di punggungnya] ” Pungkas Mbah Mangli.. Maka ketika Mbah Arwani melihat bukti tersebut, maka teringatlah beliau pada sosok di depannya tersebut adalah benar-benar muridnya. Maka bersyukurlah beliau pada sosok santrinya yang kini telah menjadi ulama besar yang telah sukses mendirikan pesantren, mengasuh pengajian di berbagai tempat dan menjadi Mursyid Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyah ini. Maka Kyai Arwani pun mengakui bahwa Mbah Mangli adalah santrinya. Jawaban tersebut disambut oleh Mbah Mangli dengan penuh suka cita. Mendengar jawaban yang dinanti-nanti selama ini langsung dari guru mulianya tersebut, terbayang betapa bersyukurnya beliau telah resmi diakui sebagai santrinya Kyai Arwani yang juga dikenal penulis Kitab Faidh Barokat fi Sab’i al-Qiro’at yang telah dikenal sampai di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini.. #sepenggalkisah #catatankecil #waliAllah #mbahmangli #mbaharwanikudus #santri #pondokpesantren #ulamanusantara #ulama #kyai #tanahjawa #magelang #kudus #majelis #sejarah #kairo #mesir

 𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙈𝙗𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙤𝙬𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙜𝙪𝙧𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙠𝙣𝙞, 𝙆𝙮𝙖𝙞 𝘼𝙧𝙬𝙖𝙣𝙞.



𝐷𝑖𝑘𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝐻. 𝑁𝑜𝑜𝑟 𝐻𝑎𝑑𝑖, 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑏𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑡𝑢𝑎 𝑃𝑊𝑁𝑈 𝐵𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 1980

Kyai asli Demak ini berkisah bahwa suatu ketika Mbah Mangli berangkat ke Kudus untuk sowan kepada gurunya yakni, Kyai Arwani.


Sesampainya di Kudus, Mbah Mangli segera menuju Kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus yang berada tak jauh Masjid Al-Aqsha yang terkenal dengan Masjid Menara Kudus. Ketika sampai di depan Ndalem Kyai Arwani, Mbah Mangli tiba-tiba bersimpuh sambil berjalan perlahan-lahan atau “ngesot” dalam bahasa jawa.


Singkat cerita Kyai Arwani pun menghampirinya. Selanjutnya, Mbah Mangli mulai mengutarakan maksud kedatangannya, yang selanjutnya 𝑑𝑖𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐫𝐨𝐦𝐨 𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑐𝑖𝑟𝑖 𝑘ℎ𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎𝑝𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎. (𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑜𝑔 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑒𝑟)


“𝐒𝐢𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?”  (Siapa anda?)Tanya Kyai Arwani 


“𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐠𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠?” Jawab Mbah Mangli


“𝐖𝐨𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐡𝐚𝐣𝐚𝐭 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐰𝐮𝐡 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢”? (Ada perlu apa kesini)” Tanya Kyai Arwani


“𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐤𝐚𝐣𝐞𝐧𝐠𝐞 𝐧𝐲𝐮𝐰𝐮𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐝𝐚𝐝𝐨𝐬 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Saya ingin minta tolong diakui sebagai santri anda)” Jawab Arwani


“𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐠𝐞𝐡, 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐝𝐚𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢?” (Maaf, anda pernah ngaji disini ya?) “Tanya Kyai Arwani


“𝐍𝐠𝐠𝐞𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐦𝐢𝐲𝐞𝐧 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢. 𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧, 𝐍𝐢𝐤𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐧𝐢𝐩𝐮𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐰𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐭𝐞𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧" (Iya Kyai, saya pernah belajar disini. Mohon maaf, ini bukti jika saya pernah mengaji kepada anda).


 [sambil menunjukkan bekas sabetan Kyai Arwani yang masih membekas di punggungnya] ” Pungkas Mbah Mangli..


Maka ketika Mbah Arwani melihat bukti tersebut, maka teringatlah beliau pada sosok di depannya tersebut adalah benar-benar muridnya. Maka bersyukurlah beliau pada sosok santrinya yang kini telah menjadi ulama besar yang telah sukses mendirikan pesantren, mengasuh pengajian di berbagai tempat dan menjadi Mursyid Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyah ini. Maka Kyai Arwani pun mengakui bahwa Mbah Mangli adalah santrinya.


Jawaban tersebut disambut oleh Mbah Mangli dengan penuh suka cita. Mendengar jawaban yang dinanti-nanti selama ini langsung dari guru mulianya tersebut, terbayang betapa bersyukurnya beliau telah resmi diakui sebagai santrinya Kyai Arwani yang juga dikenal penulis Kitab Faidh Barokat fi Sab’i al-Qiro’at yang telah dikenal sampai di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini..


#sepenggalkisah #catatankecil #waliAllah #mbahmangli #mbaharwanikudus #santri #pondokpesantren #ulamanusantara #ulama #kyai #tanahjawa #magelang #kudus #majelis #sejarah #kairo #mesir

07 August 2026

RADEN TUMENGGUNG ARIO SOEMODILOGO. Beliau merupakan putera dari kiai Ngabei Soemowerdojo (Patih Semarang) dan puteri kiai Mertonegoro II Ngabei Gemulak. Istri beliau adalah GRAy Soemodilogo. Putera beliau adalah: 1. R Demang Martolojo. 2. RT Soerodilogo. 3. RTAA Holland Soemodilogo. 4. R Praptodilogo. 5. R Soemowardojo (Kolektur Prapak). 6. Dan 2 orang lagi tidak disebutkan namanya. Gelar Raden Tumenggung (RT) Ario Soemodilogo dan kamulyan (kemuliaan) sebagai bupati Menoreh, secara sadar beliau bayar dengan kerelaannya berperang melawan Pangeran Diponegoro. Soemodilogo bahkan belum pula sempat menjalankan tugas sebagai bupati, karena Perang Jawa itu keburu meletus. Tumenggung Soemodilogo pun jadi salah satu komandan batalyon sekutu, yang terdiri dari serdadu Belanda, legiun Mangkunegaran, prajurit Kasunanan Solo, dan sejumlah pasukan bupati - bupati pro kumpeni lainnya. Pasukan gabungan berupa batalyon persekutuan Soemodilogo ini sangat besar kekuatannya. Batalyon sekutu pro kumpeni yang dikomandoi Soemodilogo berkedudukan di Parakan. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Dalam suatu pertempuran yang sangat besar berkobar, batalyon gabungan yang dikomandoinya hancur lebur diterjang laskar Diponegoro. RT Soemodilogo tewas sangat mengenaskan (Sutherhand, 1974, Cornell University). Sejarah yang beredar di kalangan masyarakat Temanggung menuturkan, bahwa sebagai bukti keberhasilan operasinya, laskar Diponegoro mengambil mustaka (kepala) sang bupati dan memperlihatkannya ke hadapan sang Pangeran Herucokro di markas komandonya, Selarong, Yogyakarta. Maka, hingga kini anak cucu keturunan mendiang, yang tergabung dalam paguyuban trah Soemodilagan, biasa nyekar pepundennya itu di dua tempat yaitu di Parakan Jawa Tengah dan di Selarong Yogyakarta. Pembesar yang menjadi korban panasnya Perang Jawa bukan hanya Ario Soemodilogo. Tumenggung Danuningrat I, bupati Magelang, menurut Sutherhand, mengalami nasib serupa, tewas. Bahkan, serdadu - serdadu Belanda yang dipimpin veteran perang Napoleon yaitu Jenderal Van Green, pun tewas, hancur lebur, lumat diterjang laskar Diponegoro. Sebagaimana bupati lain yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Phillip Van der Capellen (1816 - 1826), Soemodilogo juga berasal dari keluarga penguasa yang dulunya menjadi bawahan Mataram. Beliau adalah putera Raden Soemowerdojo, Patih Semarang. Sedangkan kakeknya adalah Bupati Semarang Raden Tumenggung Soemohadimenggolo. Tradisi Van der Capellen itu berlanjut hingga 1850 - an, untuk bupati - bupati pesisir utara misalnya, umumnya diambil dari keluarga bupati Semarang, Demak, Jepara, atau Pati. Untuk wilayah Jawa Tengah bagian barat, yang dipromosikan kerabat bupati Banyumas yaitu keluarga Yudonegoro. Keluarga Kolopaking dan keluarga Arumbinang untuk memimpin wilayah Bagelen. Begitu pula yang terjadi di Jawa Timur. Namun, dalam daftar resmi bupati Temanggung, nama RT Ario Soemodilogo justru tidak tercantum. Yang tercatat sebagai bupati Temanggung pertama adalah RT Djojonegoro (1834 - 1848). Hal ini terjadi karena sebelumnya Kabupaten Temanggung itu disebut Kabupaten Menoreh yang pusat pemerintahannya di Parakan. Tapi, kabupaten Manoreh itu tak berumur panjang, karena hanya sementara, dan hancur diterjang laskar Diponegoro. Namanya kemudian diganti Kabupaten Temanggung, dan ibukotanya pun dipindah di Temanggung yang jauh lebih aman. Masjid Jami’ dan alun - alun adalah bukti kelahiran kabupaten Temanggung. Sayang, nDalem Kabupatennya sendiri yang asli telah terbakar habis sebagai akibat dari strategi taktik bumi hangus dalam perang revolusi kemerdekaan yang berkobar. Meski Tumenggung Ario Soemodilogo tidak sempat menjalankan misi pemerintahannya di Menoreh (pindah Temanggung), pemerintah kolonial tak melupakan pengorbanannya. Terbukti setelah RT Djojonegoro lengser 1848, diangkatlah putera Soemodilogo menjadi bupati Temanggung. Putera beliau bergelar menjadi Raden Tumenggung Soemodilogo II. Karena kesetiaannya, atas persetujuan Batavia, Soemodilogo II dianugerahi memakai gelar Holland sebagai nama depannya. Jadilah bergelar RT Holland Soemodilogo yang menjabat bupati selama 30 tahun. Sebelum pensiun, RT Holland Soemodilogo naik pangkat dengan gelar Kanjeng Raden Adipati. Keluarga Soemodilogo masih mendapat kepercayaan sekali lagi memimpin Temanggung melalui RT Holland Soemodirdjo, putera Soemodilogo II. Tidak jelas mengapa Soemodirdjo hanya menjabat selama 4 tahun (1878 - 1882). Soemodirdjo digantikan RT Tjokro Atmodjo (1882 - 1906) dan kemudian RM Adipati Tjokro Adikoesoemo (1906 - 1023), salah seorang bupati yang progresif untuk ukuran zamannya. Bapak dari mantan Gubernur DKI Jakarta (alm) Tjokro Pranolo itu termasuk segelintir bupati yang mendukung gerakan Boedi Oetomo. Dengan tiga nama yang pernah menjadi penguasa di Temanggung, tak heran bila nama - nama Soemodilogo melegenda di lembah Sindoro - Sumbing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Catatan: Pangeran Herucokro itu adalah nama lain dari Pangeran Diponegoro. Herucokro adalah putera dari Surojo (Sri Sultan Hamengku Buwono III, Raja Yogyakarta).

 RADEN TUMENGGUNG ARIO SOEMODILOGO.


Beliau merupakan putera dari kiai Ngabei Soemowerdojo (Patih Semarang) dan puteri kiai Mertonegoro II Ngabei Gemulak.



Istri beliau adalah GRAy Soemodilogo.


Putera beliau adalah:


1. R Demang Martolojo.


2. RT Soerodilogo.


3. RTAA Holland Soemodilogo.


4. R Praptodilogo.


5. R Soemowardojo (Kolektur Prapak).


6. Dan 2 orang lagi tidak disebutkan namanya.


Gelar Raden Tumenggung (RT) Ario Soemodilogo dan kamulyan (kemuliaan) sebagai bupati Menoreh, secara sadar beliau bayar dengan kerelaannya berperang melawan Pangeran Diponegoro.


Soemodilogo bahkan belum pula sempat menjalankan tugas sebagai bupati, karena Perang Jawa itu keburu meletus.


Tumenggung Soemodilogo pun jadi salah satu komandan batalyon sekutu, yang terdiri dari serdadu Belanda, legiun Mangkunegaran, prajurit Kasunanan Solo, dan sejumlah pasukan bupati - bupati pro kumpeni lainnya.


Pasukan gabungan berupa batalyon persekutuan Soemodilogo ini sangat besar kekuatannya.


Batalyon sekutu pro kumpeni yang dikomandoi Soemodilogo berkedudukan di Parakan.


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.


Dalam suatu pertempuran yang sangat besar berkobar, batalyon gabungan yang dikomandoinya hancur lebur diterjang laskar Diponegoro.


RT Soemodilogo tewas sangat mengenaskan (Sutherhand, 1974, Cornell University).


Sejarah yang beredar di kalangan masyarakat Temanggung menuturkan, bahwa sebagai bukti keberhasilan operasinya, laskar Diponegoro mengambil mustaka (kepala) sang bupati dan memperlihatkannya ke hadapan sang Pangeran Herucokro di markas komandonya, Selarong, Yogyakarta.


Maka, hingga kini anak cucu keturunan mendiang, yang tergabung dalam paguyuban trah Soemodilagan, biasa nyekar pepundennya itu di dua tempat yaitu di Parakan Jawa Tengah dan di Selarong Yogyakarta.


Pembesar yang menjadi korban panasnya Perang Jawa bukan hanya Ario Soemodilogo.


Tumenggung Danuningrat I, bupati Magelang, menurut Sutherhand, mengalami nasib serupa, tewas.


Bahkan, serdadu - serdadu Belanda yang dipimpin veteran perang Napoleon yaitu Jenderal Van Green, pun tewas, hancur lebur, lumat diterjang laskar Diponegoro.


Sebagaimana bupati lain yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Phillip Van der Capellen (1816 - 1826), Soemodilogo juga berasal dari keluarga penguasa yang dulunya menjadi bawahan Mataram.


Beliau adalah putera Raden Soemowerdojo, Patih Semarang.


Sedangkan kakeknya adalah Bupati Semarang Raden Tumenggung Soemohadimenggolo.


Tradisi Van der Capellen itu berlanjut hingga 1850 - an, untuk bupati - bupati pesisir utara misalnya, umumnya diambil dari keluarga bupati Semarang, Demak, Jepara, atau Pati.


Untuk wilayah Jawa Tengah bagian barat, yang dipromosikan kerabat bupati Banyumas yaitu keluarga Yudonegoro.


Keluarga Kolopaking dan keluarga Arumbinang untuk memimpin wilayah Bagelen.


Begitu pula yang terjadi di Jawa Timur.


Namun, dalam daftar resmi bupati Temanggung, nama RT Ario Soemodilogo justru tidak tercantum.


Yang tercatat sebagai bupati Temanggung pertama adalah RT Djojonegoro (1834 - 1848).


Hal ini terjadi karena sebelumnya Kabupaten Temanggung itu disebut Kabupaten Menoreh yang pusat pemerintahannya di Parakan.


Tapi, kabupaten Manoreh itu tak berumur panjang, karena hanya sementara, dan hancur diterjang laskar Diponegoro.


Namanya kemudian diganti Kabupaten Temanggung, dan ibukotanya pun dipindah di Temanggung yang jauh lebih aman.


Masjid Jami’ dan alun - alun adalah bukti kelahiran kabupaten Temanggung.


Sayang, nDalem Kabupatennya sendiri yang asli telah terbakar habis sebagai akibat dari strategi taktik bumi hangus dalam perang revolusi kemerdekaan yang berkobar.


Meski Tumenggung Ario Soemodilogo tidak sempat menjalankan misi pemerintahannya di Menoreh (pindah Temanggung), pemerintah kolonial tak melupakan pengorbanannya.


Terbukti setelah RT Djojonegoro lengser 1848, diangkatlah putera Soemodilogo menjadi bupati Temanggung.


Putera beliau bergelar menjadi Raden Tumenggung Soemodilogo II.


Karena kesetiaannya, atas persetujuan Batavia, Soemodilogo II dianugerahi memakai gelar Holland sebagai nama depannya.


Jadilah bergelar RT Holland Soemodilogo yang menjabat bupati selama 30 tahun.


Sebelum pensiun, RT Holland Soemodilogo naik pangkat dengan gelar Kanjeng Raden Adipati.


Keluarga Soemodilogo masih mendapat kepercayaan sekali lagi memimpin Temanggung melalui RT Holland Soemodirdjo, putera Soemodilogo II.


Tidak jelas mengapa Soemodirdjo hanya menjabat selama 4 tahun (1878 - 1882).


Soemodirdjo digantikan RT Tjokro Atmodjo (1882 - 1906) dan kemudian RM Adipati Tjokro Adikoesoemo (1906 - 1023), salah seorang bupati yang progresif untuk ukuran zamannya.


Bapak dari mantan Gubernur DKI Jakarta (alm) Tjokro Pranolo itu termasuk segelintir bupati yang mendukung gerakan Boedi Oetomo.


Dengan tiga nama yang pernah menjadi penguasa di Temanggung, tak heran bila nama - nama Soemodilogo melegenda di lembah Sindoro - Sumbing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Catatan:


Pangeran Herucokro itu adalah nama lain dari Pangeran Diponegoro.


Herucokro adalah putera dari Surojo (Sri Sultan Hamengku Buwono III, Raja Yogyakarta).

06 August 2026

Ini foto Faisal bin Musaid, pangeran Saudi bersama pacarnnya Christine Surma, artis AS. Pangeran Faisal lahir pada tahun 1944, dia adalah cucu Raja Saud. Masalah pertama yang didapatnya adalah perceraian kedua orangtuanya. Dari situ dia lebih akrab dengan keluarga ibunya dibanding keluarga ayahnya. Masalah keduanya, adalah pada tahun 1966, saudaranya Khaled, terbunuh saat ikut dalam aksi protes menentang pembolehan televisi. Saat itu, Raja Faisal yang mendorong modernisasi Saudi memperkenalkan televisi kepada rakyat Saudi. Ulama Wahabi Syekh Bin Baz yang saat itu menjadi rektor Universitas Madinah merespon dengan memfatwakan haramnya menonton televisi. Raja Faisal tidak bergeming, ia malah memecat Bin Baz dan menyebutnya ulama kolot yang menghambat kemajuan. Apalagi saat itu Bin Baz juga mengatakan bumi itu datar, sehingga Raja Faisal menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan kerajaan. Pemecatan Bin Baz memicu respon keras dari kelompok wahabi, termasuk di dalamnya Pangeran Khaled bin Musaid yang terpapar paham wahabi. Ia ikut dalam aksi protes dan turut menjadi korban kekerasan aparat. Sejak saat itu, Faisal dendam pada Raja Faisal sebab menyebut kebijakan Raja Faisallah yang menyebabkan kematian saudaranya. Ia pun memilih meninggalkan Saudi dan tinggal di AS. Ia sempat kuliah di San Francisco State College lalu pindah ke University of Colorado. Meski berhasil menyelesaikan sarjananya namun program pascasarjana dalam ilmu politik gagal dia selesaikan. Pada tahun 1970, ia ditangkap di Boulder, Colorado, karena terlibat dalam kasus penjualan obat terlarang dan ganja. Selama di AS dia berpacaran dengan Christine Surma, seorang artis yang tidak terlalu terkenal. Karena bermasalah di AS dia kembali ke Saudi. Begitu tiba di Saudi, kerajaan menyita paspornya dan menerapkan larangan untuk dia bepergian ke luar negeri. Meski dilakukan padanya pembatasan namun dia tetap masih menjalin komunikasi dengan pacarnya. Pada tanggal 25 Maret 1975, ia pergi ke istana raja di Riyadh yang saat itu menggelar perayaan maulid. Ia bergabung dengan delegasi Kuwait dan berbaris untuk bertemu raja. Raja Faisal yang sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya menyambut dengan senyum, ia merangkul dan menundukkan kepala untuk dicium oleh keponakannya. Sebagaimana tradisi kerajaan Faisal muda pun mencium kepala raja sebagai tanda hormat. Namun saat bersamaan ia mengeluarkan revolver gun dari jubahnya dan mengarahkan tembakan ke tubuh Raja Faisal. Terkena tembakan dari jarak dekat, sang raja jatuh ke lantai dan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit tetapi dokter gagal menyelamatkannya. Pangeran Faisal pun segera ditangkap pengawal kerajaan. Sebelum wafat, Raja Faisal sempat memesankan agar keponakannya jangan dieksekusi. Proses pengadilan pun segera dilakukan. Awalnya Faisal bin Musaid disebut mengalami gangguan jiwa saat melakukan penembakan. Namun terbukti dia dianggap waras saat melakukannya. Pengadilan menemukan ia bersalah atas tindakan pembunuhan. Iapun divonis bersalah dan pengadilan memutuskan dia dihukum penggal. Meski disebut dendam atas kematian saudaranya pada masa lalu dan keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang yang membuat kerajaan memberikan banyak pembatasan padanya sebagai pemicu dia tidak menyukai sang paman, namun pengadilan meyebutkan bahwa tindakan pembunuhan itu sebagai kejahatan yang disengaja dan direncanakan. Terutama dikaitkan dengan Christine Surma pacarnya yang disebut berulang kali mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Hal itu diceritakan Faisal kepada ibunya. Media Arab yang saat itu melakukan investigasi malah menyatakan bahwa pembunuhan itu atas perintah dan arahan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat. Christine Surma sang pacar merespon terbunuhnya Raja Faisal oleh kekasihnya dengan mengatakan, itu baik bagi perdamaian kerajaan Saudi dengan AS. Dan ketika ditanya apa tanggapannya terhadap vonis mati untuk pangeran Faisal, dia merespon singkat, "Dia pria yang sempurna dan sangat membanggakan."

 Ini foto Faisal bin Musaid, pangeran Saudi bersama pacarnnya Christine Surma, artis AS. Pangeran Faisal lahir pada tahun 1944, dia adalah cucu Raja Saud. Masalah pertama yang didapatnya adalah perceraian kedua orangtuanya. Dari situ dia lebih akrab dengan keluarga ibunya dibanding keluarga ayahnya. Masalah keduanya, adalah pada tahun 1966, saudaranya Khaled, terbunuh saat ikut dalam aksi protes menentang pembolehan televisi. Saat itu, Raja Faisal yang mendorong modernisasi Saudi memperkenalkan televisi kepada rakyat Saudi. Ulama Wahabi Syekh Bin Baz yang saat itu menjadi rektor Universitas Madinah merespon dengan memfatwakan haramnya menonton televisi. Raja Faisal tidak bergeming, ia malah memecat Bin Baz dan menyebutnya ulama kolot yang menghambat kemajuan. Apalagi saat itu Bin Baz juga mengatakan bumi itu datar, sehingga Raja Faisal menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan kerajaan. Pemecatan Bin Baz memicu respon keras dari kelompok wahabi, termasuk di dalamnya Pangeran Khaled bin Musaid yang terpapar paham wahabi. Ia ikut dalam aksi protes dan turut menjadi korban kekerasan aparat. Sejak saat itu, Faisal dendam pada Raja Faisal sebab menyebut kebijakan Raja Faisallah yang menyebabkan kematian saudaranya. Ia pun memilih meninggalkan Saudi dan tinggal di AS. Ia sempat kuliah di San Francisco State College lalu pindah ke University of Colorado. Meski berhasil menyelesaikan sarjananya namun program pascasarjana dalam ilmu politik gagal dia selesaikan.  Pada tahun 1970, ia ditangkap di Boulder, Colorado, karena terlibat dalam kasus penjualan obat terlarang dan ganja. Selama di AS dia berpacaran dengan Christine Surma, seorang artis yang tidak terlalu terkenal. 



Karena bermasalah di AS dia kembali ke Saudi. Begitu tiba di Saudi, kerajaan menyita paspornya dan menerapkan larangan untuk dia bepergian ke luar negeri. Meski dilakukan padanya pembatasan namun dia tetap masih menjalin komunikasi dengan pacarnya. 


Pada tanggal 25 Maret 1975, ia pergi ke istana raja di Riyadh yang saat itu menggelar perayaan maulid. Ia bergabung dengan delegasi Kuwait dan berbaris untuk bertemu raja. Raja Faisal yang sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya menyambut dengan senyum, ia merangkul dan menundukkan kepala untuk dicium oleh keponakannya. Sebagaimana tradisi kerajaan Faisal muda pun mencium kepala raja sebagai tanda hormat. Namun saat bersamaan ia mengeluarkan revolver gun dari jubahnya dan mengarahkan tembakan ke tubuh Raja Faisal. Terkena tembakan dari jarak dekat, sang raja jatuh ke lantai dan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit tetapi dokter gagal menyelamatkannya. Pangeran Faisal pun segera ditangkap pengawal kerajaan. Sebelum wafat, Raja Faisal sempat memesankan agar keponakannya jangan dieksekusi. 


Proses pengadilan pun segera dilakukan. Awalnya Faisal bin Musaid disebut mengalami gangguan jiwa saat melakukan penembakan. Namun terbukti dia dianggap waras saat melakukannya. Pengadilan menemukan ia bersalah atas tindakan pembunuhan. Iapun divonis bersalah dan pengadilan memutuskan dia dihukum penggal. 


Meski disebut dendam atas kematian saudaranya pada masa lalu dan keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang yang membuat kerajaan memberikan banyak pembatasan padanya sebagai pemicu dia tidak menyukai sang paman, namun pengadilan meyebutkan bahwa tindakan pembunuhan itu sebagai kejahatan yang disengaja dan direncanakan. Terutama dikaitkan dengan Christine Surma pacarnya yang disebut berulang kali mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Hal itu diceritakan  Faisal kepada ibunya. Media Arab yang saat itu melakukan investigasi malah menyatakan bahwa pembunuhan itu atas perintah dan arahan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat.


Christine Surma sang pacar merespon terbunuhnya Raja Faisal oleh kekasihnya dengan mengatakan, itu baik bagi perdamaian kerajaan Saudi dengan AS. Dan ketika ditanya apa tanggapannya terhadap vonis mati untuk pangeran Faisal, dia merespon singkat, "Dia pria yang sempurna dan sangat membanggakan."

04 August 2026

Soeria Kartalegawa bupati Ke 6 Garut yang pro Belanda. Pria kelahiran 26 Oktober 1907 ini merupakan keluarga menak alias ningrat. Beberapa anggota keluarganya menjadi bupati di beberapa daerah. Semasa kecil ia dipanggil Uca. Ia menempuh pendidikan di ELS, HBS, dan Bestuur School. Setelah lulus dari sekolah, ia menempuh berbagai pekerjaan seperti menjadi ajudan, asisten residen, asisten wedana, wedana, hingga akhirnya menjadi bupati Garut. Kertalegawa menyambut proklamasi kemerdekaan dengan berat hati. Uca takut akan kehilangan hak istimewanya selama menjabat menjadi Bupati Garut. Ia juga tidak senang akan diangkatnya Sutardjo Kertohadikusumo dan Datuk Djamin sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia bahkan memberontak terhadap kebijakan Soekarno yang dianggap menomorduakan orang Sunda. Menurutnya, perkembangan politik di Jawa Barat tidak melibatkan orang Sunda. Dilihat dari gubernur pertama hingga ketiga di Jawa Barat, mereka bukan orang Sunda seperti, Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa), Datuk Jamin (Minang), dan Dr. Murdjani. Baru saat gubernur keempat, Sewaka, yang merupakan orant Sunda diangkat menjadi gubernur Jawa Barat. Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia Timur daripada Negara Pasundan di Jawa Barat. Kedekatannya dengan pasukan Belanda menjadikannya dijuluki SoeriNICAlegawa. Penyematan nama itu dianggap pas oleh masyarakat karena kiprah politik Uca yang condong nurut kepada kebijakan Belanda. Uca malah lebih sering berlawanan dengan pemerintah Indonesia. Uca mendirikan PRP untuk membuka jalan politik dan memisahkan diri dari pemerintahan Soekarno. Uca tak malu mengaku sebagai opsir KNIL dan melakukan perlawanan secara terbuka kepada pihak yang mendukung Indoensia. PRP pernah mengadakan teror dengan menculik sejumlah pejabat Republik Indonesia di Bogor. Setelah membentuk PRP, UCa mendirikan Negara Pasundan. Ia didukung oleh eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso, penasehat politik van Mook yang juga Gubernur Jenderal Hindia Belanda, hingga kelompok Intel Belanda NEFIS. Ia juga didukung oleh Residen Belanda di Bandung, M. Klasseen yang memandang PRP sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen menyambut gembira karena di Tatar Pasundan timbul gerakan anti republik. Pembentukan Negara Pasundan oleh Uca dianggap terlalu terburu-buru. Akibatnya, Negara Pasundan tidak berjalan dengan maksimal. Usai berdirinya negara tersebut, Uca langsung menjadi sasaran dari kalangan yang menolak termasuk dari kalangan keluarganya sendiri. Ayah Uca yang mengetahui hal tersebut menyuruh anaknya bersumpah di corong radio agar tidak menikah sebelum ia meninggal. Ibunya juga turut melampiaskan kekesalannya. Ia mengatakan bahwa ia dan anggota keluarga lainnya tidak menyetujui pendirian negara tersebut. Ibunya mempertanyakan mengapa Uca memisahkan diri dari keluarganya dan malah mendirikan Negara Pasundan. Mang Abas, keluarganya yang juga Bupati Cianjur saat itu juga menolak pendirian Negara Pasundan. sumber artikel : https://infogarut.id

 Soeria Kartalegawa bupati Ke 6 Garut yang pro Belanda.


Pria kelahiran 26 Oktober 1907 ini merupakan keluarga menak alias ningrat. Beberapa anggota keluarganya menjadi bupati di beberapa daerah. Semasa kecil ia dipanggil Uca. Ia menempuh pendidikan di ELS, HBS, dan Bestuur School. Setelah lulus dari sekolah, ia menempuh berbagai pekerjaan seperti menjadi ajudan, asisten residen, asisten wedana, wedana, hingga akhirnya menjadi bupati Garut.



Kertalegawa menyambut proklamasi kemerdekaan dengan berat hati. Uca takut akan kehilangan hak istimewanya selama menjabat menjadi Bupati Garut. Ia juga tidak senang akan diangkatnya Sutardjo Kertohadikusumo dan Datuk Djamin sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia bahkan memberontak terhadap kebijakan Soekarno yang dianggap menomorduakan orang Sunda. 


Menurutnya, perkembangan politik di Jawa Barat tidak melibatkan orang Sunda. Dilihat dari gubernur pertama hingga ketiga di Jawa Barat, mereka bukan orang Sunda seperti, Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa), Datuk Jamin (Minang), dan Dr. Murdjani. Baru saat gubernur keempat, Sewaka, yang merupakan orant Sunda diangkat menjadi gubernur Jawa Barat. Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia Timur daripada Negara Pasundan di Jawa Barat.


Kedekatannya dengan pasukan Belanda menjadikannya dijuluki SoeriNICAlegawa. Penyematan nama itu dianggap pas oleh masyarakat karena kiprah politik Uca yang condong nurut kepada kebijakan Belanda. Uca malah lebih sering berlawanan dengan pemerintah Indonesia. 


Uca mendirikan PRP untuk membuka jalan politik dan memisahkan diri dari pemerintahan Soekarno. Uca tak malu mengaku sebagai opsir KNIL dan melakukan perlawanan secara terbuka kepada pihak yang mendukung Indoensia. PRP pernah mengadakan teror dengan menculik sejumlah pejabat Republik Indonesia di Bogor.


Setelah membentuk PRP, UCa mendirikan Negara Pasundan. Ia didukung oleh eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso, penasehat politik van Mook yang juga Gubernur Jenderal Hindia Belanda, hingga kelompok Intel Belanda NEFIS. Ia juga didukung oleh Residen Belanda di Bandung, M. Klasseen yang memandang PRP sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen menyambut gembira karena di Tatar Pasundan timbul gerakan anti republik.


Pembentukan Negara Pasundan oleh Uca dianggap terlalu terburu-buru. Akibatnya, Negara Pasundan tidak berjalan dengan maksimal. Usai berdirinya negara tersebut, Uca langsung menjadi sasaran dari kalangan yang menolak termasuk dari kalangan keluarganya sendiri. 


Ayah Uca yang mengetahui hal tersebut menyuruh anaknya bersumpah di corong radio agar tidak menikah sebelum ia meninggal. Ibunya juga turut melampiaskan kekesalannya. Ia mengatakan bahwa ia dan anggota keluarga lainnya tidak menyetujui pendirian negara tersebut. Ibunya mempertanyakan mengapa Uca memisahkan diri dari keluarganya dan malah mendirikan Negara Pasundan. Mang Abas, keluarganya yang juga Bupati Cianjur saat itu juga menolak pendirian Negara Pasundan.


sumber artikel : https://infogarut.id