17 March 2026

Para pejabat ketentaraan 1950. Kempen 1950

 Para pejabat ketentaraan 1950.

Kempen 1950



Rapat pimpinan Angkatan Darat seluruh indonesia bulan mei 1965 di Jakarta. Rapat pimpinan Angkatan Darat seluruh indonesia bulan mei 1965 diselenggarakan di markas Ganefo di kompleks GBK, Jakarta yang dihadiri Presiden/Panglima Tertinggi ABRI Sukarno, Men/Pangad LetJend.A.Yani, Menko Hankam/KSAB Jend.A.H.Nasution, Pangdam Siliwangi MayJend.Ibrahim Adjie, ajudan Presiden Kol. (KKo) Bambang Widjanarko, Pangkostrad MayJend. Suharto, Deputy 1 Men/Pangad MayJend. Moersid, Koanda wil. Kalimantan MayJend.M.Panggabean, Pangdam Cendrawasih MayJend. Rukman, dll.

 Rapat pimpinan Angkatan Darat seluruh indonesia bulan mei 1965 di Jakarta.



Rapat pimpinan Angkatan Darat seluruh indonesia bulan mei 1965 diselenggarakan di markas Ganefo di kompleks GBK, Jakarta yang dihadiri Presiden/Panglima Tertinggi ABRI Sukarno, Men/Pangad LetJend.A.Yani, Menko Hankam/KSAB Jend.A.H.Nasution, Pangdam Siliwangi MayJend.Ibrahim Adjie, ajudan Presiden Kol. (KKo) Bambang Widjanarko, Pangkostrad MayJend. Suharto, Deputy 1 Men/Pangad MayJend. Moersid, Koanda wil. Kalimantan MayJend.M.Panggabean, Pangdam Cendrawasih MayJend. Rukman, dll.

16 March 2026

MENGINGAT : 1. Adanya, Sabda, Dawuh, Petunjuk dari MAHA SUCI yang diberi kan kepada ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO Pada : -Tanggal : 14 November 1955 - Jam : 6.05 - Hari : Senin Pahing - Di : Surabya -Jawa Timur - INDONESIA. Yang bunyinya : - Angger PUTRANINGSUN, Jenengsira INGSUN paringi PURBAWASESAN INGSUN - PANJENENGANINGSUN Iki MAHA SUCI - Jeneng sira INGSUN AGEMI ; INGSUN PIJI; dadia PUTRANINGSUNG Kang SEJATI - Kanggo Anandukake KARDI ya KARSANINGSUN, ANGGELAR " JAGAD ANYAR" ana ing ALAM NDONYAKENE. Maksudnya adalah : MAHA SUCI memberikan amanat kepada ROMO SASTROHADIJOYO. Pada HAKEKATNYA yang menerima AMANAT tersebut adalah PUTRO. Dalam hal ini ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO sudah mewujudkan sebagai perwujudan PUTRO. Dengan adanya Sabda dari MAHA SUCI yang bunyinya ; " Kamu SAYA gunakan ; SAYA pakai ; Kamu satu satunya yang SAYA tunjuk dan SAYA pilih. Jadilah PUTRO KU yang SEJATI, untuk menggelar kan JAGAD ANYAR, di Dunia ini", Yang dimaksud PUTRO adalah : - PUT mempunyai arti sebagai LINIMPUTAN atau DILIPUTI atau DIPENUHI. - RO mempunyai arti sebagai ROSO. Jadi PUTRO berarti sebagai : LINIMPUTAN ROSO atau DILIPUTI ROSO atau DIPENUHI ROSO. Dengan demikan perwujudan dari tubuh MANUSIA tersebut sudah merupakan ROSO. ROSO ini merupakan perwujudan suatu pegelaran yang disebut ROSO SEJATI SEJATINE ROSO ; yang tergelar di seluruh tubuh. ROSO ini merupakan UNSUR URIP yang ke TIGA. Sabda ROMO SEMONO, perwujudan dari ROSO SEJATI SEJATINE ROSO tersebut sudah TUNGGAL dengan ROSO SEJATI SEJATINE ROSO yang tergelar di ALAM SEMSTA ini. Dan perwujudannya sebagi TIRTO SUCI KAMANDANU. oleh sebab itu ROMO SEMONO mempunyai ASMO sebagai HERUCOKRO. Dengan demikian ROMO HERUCOKRO SEMONO, juga merupakan perwujudan dari URIP SEJATI SEJATINE URIP, hal ini berarti bahwa ROMO HERUCOKRO SEMONO sudah TUNGGAL dengan perwujudan URIP SEJATI SEJATINE URIP yang ada di ALAM SEMESTA yang berarti juga bahwa ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO sudah TUNGGAL dengan ALAM SEMESTA, yang berarti juga sudah TUNGGAL dengan MAHA SUCI. Jadi arti dari " diagemi" atau digunakan adalah merupakan peristiwa : Manunggalnya MAHA SUCI dengan ROMO SEMONO.. Jadi pengertian dari PUTRO, adalah bukan berarti sebagai ANAK. Demikian juga yang melaksanakan " menggelar JAGAD ANYAR " adalah bukan ROMO SEMONO sendiri, melainkan dilaksanakan oleh MAHA SUCI sendiri, Adapun pengertian dari " JAGAD ANYAR " adalah : Sistim kerja dari Angen-Angen; Budi Pekerti; dan Panca Indera TIDAK LAGI DIAKTIFKAN OLEH NAFSU melainkan oleh URIP SEJATI. PENTINGNYA PELESTARIAN ; - KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL. - Dawuh ; Pangandika ; Wulang Wuruk atau Ajaran, yang telah diberikan oleh ROMO HERUCOKRO SEMONO. DIdalam hal ini, sebetulnya ROMO HERUCOKRO SEMONO, tidak pernah mengadakan secara khusus, bentuk suatu ajaran yang diberikan kepada para Putro. Yang saya maksud dengan ajaran, seperti apa yang telah saya sebutkan di atas, adalah merupakan suatu hasil wawancara atau Pangandikan atau pembicaraan atau nasehat atau penjabaran dari KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL dan PANGOLAH PANGERENGGO, yang diberikan secara langsung oleh ROMO HERUCOKRO SEMONO kepada kadhang dan saya sendiri. Sedangkan paringan atau yang diberikan dari ROMO HERUCOKRO SEMONO, yang berupa ; KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL, adalah bukan bentuk suatu Ajaran, bukan pula suatu amalah atau Doa atau rapal. Melainkan suatu "SARANA" untuk melaksanakan " LAKU MANUNGGAL Kinantenan sarwo MIJIL ". Yang dimaksud dengan PANGOLAH PANGRENGGO adalah : Suatu sistim atau cara, untuk memudahkan tercapainya di dalam usaha " LAKU MANUNGGAL Kinantenan sarwo MIJIL. " Dari : Parsaktian

 MENGINGAT :

1. Adanya, Sabda, Dawuh, Petunjuk dari MAHA SUCI yang diberi kan kepada ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO Pada : 

-Tanggal  : 14 November 1955

- Jam        : 6.05

- Hari         : Senin Pahing

- Di             : Surabya -Jawa Timur - INDONESIA.



Yang bunyinya : 

- Angger PUTRANINGSUN, Jenengsira INGSUN paringi PURBAWASESAN INGSUN

- PANJENENGANINGSUN Iki MAHA SUCI

- Jeneng sira INGSUN AGEMI ; INGSUN PIJI; dadia PUTRANINGSUNG Kang SEJATI 

- Kanggo Anandukake KARDI ya KARSANINGSUN, ANGGELAR " JAGAD ANYAR" ana ing ALAM NDONYAKENE.

Maksudnya adalah : 

MAHA SUCI memberikan amanat kepada ROMO SASTROHADIJOYO.

Pada HAKEKATNYA yang menerima AMANAT tersebut adalah PUTRO.

Dalam hal ini ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO sudah mewujudkan sebagai perwujudan PUTRO.

Dengan adanya Sabda dari MAHA SUCI yang bunyinya ; 

" Kamu SAYA gunakan ; SAYA pakai ; Kamu satu satunya yang SAYA tunjuk dan SAYA pilih. Jadilah PUTRO KU yang SEJATI, untuk menggelar kan JAGAD ANYAR, di Dunia ini",


Yang dimaksud PUTRO adalah :

-  PUT mempunyai arti sebagai LINIMPUTAN  atau DILIPUTI atau DIPENUHI.

-  RO   mempunyai arti sebagai ROSO.

Jadi PUTRO berarti sebagai  : LINIMPUTAN ROSO atau DILIPUTI ROSO atau DIPENUHI ROSO.

Dengan demikan perwujudan dari tubuh MANUSIA tersebut sudah merupakan ROSO.

ROSO ini merupakan perwujudan suatu pegelaran yang disebut ROSO SEJATI SEJATINE ROSO ; yang tergelar di seluruh tubuh.

ROSO ini merupakan UNSUR URIP yang ke TIGA.

Sabda ROMO SEMONO, perwujudan dari ROSO SEJATI SEJATINE ROSO tersebut sudah TUNGGAL dengan ROSO SEJATI SEJATINE ROSO yang tergelar di ALAM SEMSTA ini. Dan perwujudannya sebagi TIRTO SUCI KAMANDANU.

oleh sebab itu ROMO SEMONO mempunyai ASMO sebagai HERUCOKRO.

Dengan demikian ROMO HERUCOKRO SEMONO, juga merupakan perwujudan dari URIP SEJATI SEJATINE URIP, hal ini berarti bahwa ROMO HERUCOKRO SEMONO sudah TUNGGAL dengan perwujudan URIP SEJATI SEJATINE URIP yang ada di ALAM SEMESTA yang berarti juga bahwa ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO sudah TUNGGAL dengan ALAM SEMESTA, yang berarti juga sudah TUNGGAL dengan MAHA SUCI.

Jadi arti dari " diagemi" atau digunakan adalah merupakan peristiwa : Manunggalnya MAHA SUCI dengan ROMO SEMONO..

Jadi pengertian dari PUTRO, adalah bukan berarti sebagai ANAK.

Demikian juga yang melaksanakan " menggelar JAGAD ANYAR " adalah bukan ROMO SEMONO sendiri, melainkan dilaksanakan oleh MAHA SUCI sendiri,

Adapun pengertian dari " JAGAD ANYAR " adalah : 

 Sistim kerja dari Angen-Angen; Budi Pekerti; dan Panca Indera TIDAK LAGI DIAKTIFKAN OLEH NAFSU melainkan  oleh URIP SEJATI.


PENTINGNYA PELESTARIAN ; 

- KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL.

- Dawuh  ; Pangandika  ; Wulang Wuruk atau Ajaran, yang telah diberikan oleh ROMO HERUCOKRO SEMONO.

DIdalam hal ini, sebetulnya ROMO HERUCOKRO SEMONO, tidak pernah mengadakan secara khusus, bentuk suatu ajaran yang diberikan kepada para Putro.

Yang saya maksud dengan ajaran, seperti apa yang telah saya sebutkan di atas, adalah merupakan suatu hasil wawancara atau Pangandikan atau pembicaraan atau nasehat atau penjabaran dari KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL dan PANGOLAH PANGERENGGO, yang diberikan secara langsung oleh ROMO HERUCOKRO SEMONO kepada kadhang dan saya sendiri.


Sedangkan paringan atau yang diberikan dari ROMO HERUCOKRO SEMONO, yang berupa ; KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL, adalah bukan bentuk suatu Ajaran, bukan pula suatu amalah atau Doa atau rapal.

Melainkan suatu "SARANA" untuk melaksanakan  " LAKU MANUNGGAL Kinantenan sarwo MIJIL ".

Yang dimaksud dengan PANGOLAH PANGRENGGO adalah : 

Suatu sistim atau cara, untuk memudahkan tercapainya di dalam usaha 

" LAKU MANUNGGAL Kinantenan sarwo MIJIL. "

 Dari : Parsaktian

15 March 2026

Jejak masa lampau, (Pendiri Paguyuban Penghayat Kapribaden)Romo M. Semono Sastrohadidjojo (Romo Herucokro Semono) 1900 - 1981. Sebelum tahun 1900, seorang isteri “padhemi” (isteri resmi), dibuang dalam arti diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa. Itu karena desakan seorang “selir” yang sangat dicintainya. Hal demikian, tidak jarang terjadi pada jaman itu. Isteri “priyagung” itu bernama Dewi Nawangwulan. Kepergiannya, disertai seorang dayang (emban), bernama Rantamsari. Dewi Nawangwulan, dibuang (“dikhendangake”) dan diberikan kepada Ki Kasandikromo, yang sering juga disebut Ki Kasan Kesambi, seorang tokoh spiritual pada jamannya, yang berdiam di desa Kalinongko. Gunung Damar, Kecamatan Loano. Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Saat dibuang, Dewi Nawangwulan dalam keadaan mengandung. Lahir bayi yang diberi nama Semono. Ibunya, Dewi Nawangwulan wafat. Tidak lama kemudian disusul Rantamsari, dayangnya, juga meninggal dunia. Keduanya dimakamkan di Puncak Gunung Damar, Purworejo. Ki Kasandikromo, tidak pernah mau menggangap, apalagi memperlakukan Dewi Nawangwulan sebagai isterinya. Tetap dianggap dan diperlakukan sebagai “ratu”-nya. Demikian pula isterinya, Nyi Kasandhikromo. Semono dipelihara dan dibesarkan Ki Kasandikromo. Di sekolahkan di Sekolah Ongko Loro (SD yang 5 tahun tamat untuk pribumi). Semono yang lahir tahun 1900 harinya Jumat Pahing. Tidak ada catatan resmi tanggal dan bulannya. Hal biasa pada jaman itu. Semono, semasa sekolah, setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat kliwon, membolos bukan karena malas atau nakal tetapi karena malu. Pada saat matahari tepat di atas, saat semua orang tidak ada bayangannya. Semono bayanganya 12. Karena selalu jadi tontonan teman-temannya, jadi malu. Maka lebih baik membolos. Tamat SD itu, langsung diangkat menjadi guru bantu. Suatu hari, pemuda Semono yang saat itu berusia 14 tahun (sudah dianggap dan diperlakukan sebagai seorang dewasa pada jaman itu), disuruh Nyi Kasan mengambilkan minyak, didalam satu bilik rumah mereka. Ternyata di dalam bilik itu, tertidur lelap seorang gadis kemenakan Nyi Kasan. Dalam kelelapan tidurnya, kain yang dipakai tersingkap, jadi tubuhnya kelihatan terbuka. Pemuda Semono, melihat itu “Mengkorok” (Berdiri bulu di tubuhnya). Semono lalu merenung. Mempertanyakan, apa sebenarnya yang menggerakan bulu-bulu tubuhnya itu? Renungan demi renungan, tidak menemukan jawaban. Akhirnya Semono memutuskan, minta ijin Ki Kasan untuk pergi bertapa. Semono yang berusia 14 tahun itu, bertapa di tepi Laut Selatan, di Cilacap. Bekasnya (petilasan) masih ada sampai tulisan ini ditulis. Berupa dua rumpun bambu, di dalam kompleks Pertamina. Pertamina, sekalipun sudah berusaha dengan berbagai cara, tidak bisa membongkar kedua rumpun bambu itu. Semono bertapa selama 3 tahun (1914-1917). Hasilnya mendapat “cangkok Wijoyo Kusumo”, berbentuk seperti bunga kering, berwarna coklat kehitaman. Kalau dimasukan ke air, akan mengembang sebesar tempatnya. Semono kecewa, karena bukan itu yang dicari. Beliau mendapatkan “wangsit” (ilham), untuk melanjutkan laku sampai tahun kembar 5, dan di Timur nantinya akan dia temukan apa yang dia cari. Baju yang dikenakan semono selama 3 tahun bertapa, hancur. Dengan hanya bercawat dedaunan, Semono pulang. Jalan malam, siang sembunyi, malam jalan. Takut dan malu kalau bertemu orang. Sampai di rumah, bukannya dirayakan, tetapi malah sudah disediakan lubang (“luweng”) lalu pemuda Semono oleh Ki Kasan, ditanam (“dipendem”) selama 40 hari 40 malam, hanya diberi batang gelagah untuk bernafas, dan setiap usai menanak nasi, Nyi Kasan mengepulkan asap nasi itu ke dalam lubang gelagah. Selanjutnya, Semono sambil menjadi Marsose (sekarang Marinir), berkelana, tetap menjalani laku. Kalau siang dinas, malamnya berendam di laut, menjala. Tidak pernah dapat ikan, itu dilakukan sampai tahun 1955. Tanggal 13 malem 14 November 1955, kebetulan jatuh malem Senen Pahing, pukul 16.05, banyak orang di Perak, Surabaya, terkejut, menyaksikan rumah Letnan KKO (sekarang Letnan Satu Marinir), terbakar. Tetapi setelah didekati ternyata bukan api, melainkan cahaya. Bahkan ada kereta keemasan (kreto kencono) di langit, yang turun masuk ke Rumah Letnan Semono). Di jalan Perak Barat No.93, Surabaya. Peristiwa itulah yang dikenal sebagai mijilnya Romo Herucokro Semono. Pernyataan beliau saat Mijil, menyatakan bahwa “ Ingsun Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar ", Ingsun (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia, micro cosmos), dan hendak menggelarkan dunia baru (micro cosmos baru). Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak hidup, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi abdinya sang hidup. Mulai saat itu. Romo Herucokro Semono memberikan siapapun yang menghendaki (tidak ada paksaan, tidak menakut-nakuti dengan cara dan jalan apapun) yang ingin hidup bahagia (tentrem), agar bisa mencapai “ kasampurnan jati ” (moksha) pada saatnya. Romo Herucokro Semono, selanjutnya memberikan Laku Kasampurnan ini, sesudah dinas. Berlangsung sampai tahun 1960, beliau menjalani masa pensiun sebagai Kapten Marinir. Beliau lalu pulang ke Purworejo dan berdiam di Kalinongko dan Sewijan, Loano, Purworejo (2 rumah kediaman). Setiap hari, beliau menerima kedatangan rata-rata 500 orang lebih. Semua orang, pada waktu makan, diberi makan dan menginap dengan bebas mencari tempat untuk tidur di rumah beliau. Tentunya berbagai keperluan orang yang datang, mulai dari meminta pengobatan penyakit yang dokter sudah tidak sanggup mengobati, dengan seketika sembuh, memohon restu untuk sesuatu, dan lain-lain. Tetapi tidak sedikit yang datang untuk mencoba memohon untuk bisa mengikuti laku kasampurnan (disebut mohon diperkenankan menjadi putro). Berdatangan orang dari berbagai penjuru dunia, melalui berbagai sebab (jalaran) yang akhirnya menjadi putro. Selama 25 tahun lebih (13 malem 14 November 1955 s/d 3 Maret 1981), Romo Semono melayani pagi, siang, sore, malam, dini hari, siapapun yang datang. Semua yang datang diperlakukan 100% sama. Beliau tidak pernah memandang orang dari perbedaan apapun. Derajat, pangkat, kekayaan, kedudukan sosial, suku, bangsa, semua diperlakukan 100% sama. Kalau beliau sedang memberikan petuah (“wulang-wuruk”), setiap orang mendengar menurut bahasanya sendiri sendiri. Yang orang Jerman mendengar belia berbicara bahasa Jerman, yang orang Inggris mendengat beliau berbahasa Inggris, sedangkan yg lain mendengar beliau berbahasa Jawa. Romo Semono, setiap harinya, makan dua kali, tetapi tiap kali makan, hanya satu sendok. Tidurnya, hampir tidak pernah. Hampir tidak pernah mandi, tetapi selain tidak berbau badan beliau, juga tidak ada daki (kotoran) di kulit beliau. Tubuh tetap sehat, gagah, tinggi besar. Hal-hal luar biasa, atau mujijat yang beliau tunjukkan, kalau ditulis semua akan menjadi satu buku sendiri. Beberapa contoh saja, misalnya sekitar tahun 1960, beliau naik sepeda motor militer, diatas laut Jawa, menyeberang ke Madura. Kalau dengan mengemudikan mobil, tangan dan kaki beliau dilepas, dan mobil di komando dengan ucapan. Beberapa kali orang menyaksikan beliau menghidupkan orang, yang telah dinyatakan mati oleh dokter, dan siap dikubur. Beliau sering berada di beberapa tempat pada saat yang sama, dan di tiap tempat beliau makan minum seperti biasa. Setiap kali, sekalipun dihadapkan beliau menghadap ratusan orang, beliau bercerita dan setelah selesai bercerita, ternyata semua pertanyaan dan persoalan yang ada di benak yang hadir sudah terjawab semua. Romo Herucokro Semono wafat tanggal 3 Maret 1981, dan dimakamkan di Kalinongko, Loano, Purworejo. Romo Semono tidak dikaruniai anak. Tetapi meninggalkan ratusan ribu, mungkin jutaan putro, yang tersebar dimana-mana. Dan peninggalan beliau yang paling berharga adalah sarana sarana Gaib bagi mereka yang ingin hidup bahagia (tentrem) agar bisa menjalani dan mencapai “kasampurnan jati” pada saatnya masing-masing. Tinggalan beliau yang terakhir yang sampai sekarang, dipelihara (“dhipepetri”) dan dilestarikan oleh putro-putronya. Dilestarikan, dalam arti tetap dihayati dan diamalkan dan diberikan kepada siapa saja yang menghendaki, tanpa memandang perbedaan apapun yang ada pada manusianya. Jadi sifatnya universal.

 Jejak masa lampau, (Pendiri Paguyuban Penghayat Kapribaden)Romo M. Semono Sastrohadidjojo  (Romo Herucokro Semono) 1900 - 1981.



 Sebelum tahun 1900, seorang isteri “padhemi” (isteri resmi), dibuang dalam arti diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa.

Itu karena desakan seorang “selir” yang sangat dicintainya.

Hal demikian, tidak jarang terjadi pada jaman itu.

Isteri “priyagung” itu bernama Dewi Nawangwulan. Kepergiannya, disertai seorang dayang (emban), bernama Rantamsari.

Dewi Nawangwulan, dibuang (“dikhendangake”) dan diberikan kepada Ki Kasandikromo, yang sering juga disebut Ki Kasan Kesambi, seorang tokoh spiritual pada jamannya, yang berdiam di desa Kalinongko. Gunung Damar, Kecamatan Loano. Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Saat dibuang, Dewi Nawangwulan dalam keadaan mengandung.

Lahir bayi yang diberi nama Semono. Ibunya, Dewi Nawangwulan wafat. Tidak lama kemudian disusul Rantamsari, dayangnya, juga meninggal dunia.

Keduanya dimakamkan di Puncak Gunung Damar, Purworejo.

Ki Kasandikromo, tidak pernah mau menggangap, apalagi memperlakukan Dewi Nawangwulan sebagai isterinya. Tetap dianggap dan diperlakukan sebagai “ratu”-nya. Demikian pula isterinya, Nyi Kasandhikromo.

Semono dipelihara dan dibesarkan Ki Kasandikromo. Di sekolahkan di Sekolah Ongko Loro (SD yang 5 tahun tamat untuk pribumi). Semono yang lahir tahun 1900 harinya Jumat Pahing. Tidak ada catatan resmi tanggal dan bulannya. Hal biasa pada jaman itu.

Semono, semasa sekolah, setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat kliwon, membolos bukan karena malas atau nakal tetapi karena malu.

Pada saat matahari tepat di atas, saat semua orang tidak ada bayangannya. Semono bayanganya 12. Karena selalu jadi tontonan teman-temannya, jadi malu. Maka lebih baik membolos.

Tamat SD itu, langsung diangkat menjadi guru bantu.

Suatu hari, pemuda Semono yang saat itu berusia 14 tahun (sudah dianggap dan diperlakukan sebagai seorang dewasa pada jaman itu), disuruh Nyi Kasan mengambilkan minyak, didalam satu bilik rumah mereka. Ternyata di dalam bilik itu, tertidur lelap seorang gadis kemenakan Nyi Kasan. Dalam kelelapan tidurnya, kain yang dipakai tersingkap, jadi tubuhnya kelihatan terbuka.

Pemuda Semono, melihat itu “Mengkorok” (Berdiri bulu di tubuhnya).

Semono lalu merenung. Mempertanyakan, apa sebenarnya yang menggerakan bulu-bulu tubuhnya itu?

Renungan demi renungan, tidak menemukan jawaban.

Akhirnya Semono memutuskan, minta ijin Ki Kasan untuk pergi bertapa.

Semono yang berusia 14 tahun itu, bertapa di tepi Laut Selatan, di Cilacap. Bekasnya (petilasan) masih ada sampai tulisan ini ditulis.

Berupa dua rumpun bambu, di dalam kompleks Pertamina. Pertamina, sekalipun sudah berusaha dengan berbagai cara, tidak bisa membongkar kedua rumpun bambu itu.

Semono bertapa selama 3 tahun (1914-1917). Hasilnya mendapat “cangkok Wijoyo Kusumo”, berbentuk seperti bunga kering, berwarna coklat kehitaman. Kalau dimasukan ke air, akan mengembang sebesar tempatnya.

Semono kecewa, karena bukan itu yang dicari. Beliau mendapatkan “wangsit” (ilham), untuk melanjutkan laku sampai tahun kembar 5, dan di Timur nantinya akan dia temukan apa yang dia cari.

Baju yang dikenakan semono selama 3 tahun bertapa, hancur. Dengan hanya bercawat dedaunan, Semono pulang. Jalan malam, siang sembunyi, malam jalan. Takut dan malu kalau bertemu orang.

Sampai di rumah, bukannya dirayakan, tetapi malah sudah disediakan lubang (“luweng”) lalu pemuda Semono oleh Ki Kasan, ditanam (“dipendem”) selama 40 hari 40 malam, hanya diberi batang gelagah untuk bernafas, dan setiap usai menanak nasi, Nyi Kasan mengepulkan asap nasi itu ke dalam lubang gelagah.

Selanjutnya, Semono sambil menjadi Marsose (sekarang Marinir), berkelana, tetap menjalani laku. Kalau siang dinas, malamnya berendam di laut, menjala. Tidak pernah dapat ikan, itu dilakukan sampai tahun 1955.

Tanggal 13 malem 14 November 1955, kebetulan jatuh malem Senen Pahing, pukul 16.05, banyak orang di Perak, Surabaya, terkejut, menyaksikan rumah Letnan KKO (sekarang Letnan Satu Marinir), terbakar. Tetapi setelah didekati ternyata bukan api, melainkan cahaya. Bahkan ada kereta keemasan (kreto kencono) di langit, yang turun masuk ke Rumah Letnan Semono). Di jalan Perak Barat No.93, Surabaya.

Peristiwa itulah yang dikenal sebagai mijilnya Romo Herucokro Semono.

Pernyataan beliau saat Mijil, menyatakan bahwa “ Ingsun Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar ", Ingsun (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia, micro cosmos), dan hendak menggelarkan dunia baru (micro cosmos baru).

Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak hidup, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi abdinya sang hidup.

Mulai saat itu. Romo Herucokro Semono memberikan siapapun yang menghendaki (tidak ada paksaan, tidak menakut-nakuti dengan cara dan jalan apapun) yang ingin hidup bahagia (tentrem), agar bisa mencapai “ kasampurnan jati ” (moksha) pada saatnya.

Romo Herucokro Semono, selanjutnya memberikan Laku Kasampurnan ini, sesudah dinas. Berlangsung sampai tahun 1960, beliau menjalani masa pensiun sebagai Kapten Marinir.

Beliau lalu pulang ke Purworejo dan berdiam di Kalinongko dan Sewijan, Loano, Purworejo (2 rumah kediaman).

Setiap hari, beliau menerima kedatangan rata-rata 500 orang lebih.

Semua orang, pada waktu makan, diberi makan dan menginap dengan bebas mencari tempat untuk tidur di rumah beliau.

Tentunya berbagai keperluan orang yang datang, mulai dari meminta pengobatan penyakit yang dokter sudah tidak sanggup mengobati, dengan seketika sembuh, memohon restu untuk sesuatu, dan lain-lain. Tetapi tidak sedikit yang datang untuk mencoba memohon untuk bisa mengikuti laku kasampurnan (disebut mohon diperkenankan menjadi putro).

Berdatangan orang dari berbagai penjuru dunia, melalui berbagai sebab (jalaran) yang akhirnya menjadi putro.


Selama 25 tahun lebih (13 malem 14 November 1955 s/d 3 Maret 1981), Romo Semono melayani pagi, siang, sore, malam, dini hari, siapapun yang datang.

Semua yang datang diperlakukan 100% sama. Beliau tidak pernah memandang orang dari perbedaan apapun. Derajat, pangkat, kekayaan, kedudukan sosial, suku, bangsa, semua diperlakukan 100% sama.

Kalau beliau sedang memberikan petuah (“wulang-wuruk”), setiap orang mendengar menurut bahasanya sendiri sendiri. Yang orang Jerman mendengar belia berbicara bahasa Jerman, yang orang Inggris mendengat beliau berbahasa Inggris, sedangkan yg lain mendengar beliau berbahasa Jawa.


Romo Semono, setiap harinya, makan dua kali, tetapi tiap kali makan, hanya satu sendok. Tidurnya, hampir tidak pernah. Hampir tidak pernah mandi, tetapi selain tidak berbau badan beliau, juga tidak ada daki (kotoran) di kulit beliau. Tubuh tetap sehat, gagah, tinggi besar.

Hal-hal luar biasa, atau mujijat yang beliau tunjukkan, kalau ditulis semua akan menjadi satu buku sendiri.

Beberapa contoh saja, misalnya sekitar tahun 1960, beliau naik sepeda motor militer, diatas laut Jawa, menyeberang ke Madura. Kalau dengan mengemudikan mobil, tangan dan kaki beliau dilepas, dan mobil di komando dengan ucapan. Beberapa kali orang menyaksikan beliau menghidupkan orang, yang telah dinyatakan mati oleh dokter, dan siap dikubur. Beliau sering berada di beberapa tempat pada saat yang sama, dan di tiap tempat beliau makan minum seperti biasa.

Setiap kali, sekalipun dihadapkan beliau menghadap ratusan orang, beliau bercerita dan setelah selesai bercerita, ternyata semua pertanyaan dan persoalan yang ada di benak yang hadir sudah terjawab semua.

Romo Herucokro Semono wafat tanggal 3 Maret 1981, dan dimakamkan di Kalinongko, Loano, Purworejo. Romo Semono tidak dikaruniai anak. Tetapi meninggalkan ratusan ribu, mungkin jutaan putro, yang tersebar dimana-mana. Dan peninggalan beliau yang paling berharga adalah sarana sarana Gaib bagi mereka yang ingin hidup bahagia (tentrem) agar bisa menjalani dan mencapai “kasampurnan jati” pada saatnya masing-masing.

Tinggalan beliau yang terakhir yang sampai sekarang, dipelihara (“dhipepetri”) dan dilestarikan oleh putro-putronya. Dilestarikan, dalam arti tetap dihayati dan diamalkan dan diberikan kepada siapa saja yang menghendaki, tanpa memandang perbedaan apapun yang ada pada manusianya. Jadi sifatnya universal.

Catatan Pribadi Truman Tahun 1947 Ungkap Pandangan Keras terhadap Yahudi: "Sangat, Sangat Egois" Sebuah catatan tulisan tangan milik Presiden Amerika Serikat ke-33, Harry S. Truman, yang baru terungkap ke publik menunjukkan pandangan keras sang presiden terhadap orang Yahudi. Dalam catatan bertanggal 21 Juli 1947 tersebut, Truman menulis bahwa orang Yahudi "sangat, sangat egois" dan ketika memiliki kekuasaan, kekejaman mereka "tidak kalah dengan Hitler atau Stalin". Catatan yang ditemukan di Perpustakaan Truman di Independence, Missouri, ini ditulis di bagian belakang sebuah buku berjudul The Real Estate Board of New York, Inc., Diary and Manual 1947. Dokumen tersebut luput dari perhatian selama hampir empat dekade sejak disumbangkan pada tahun 1965, hingga seorang pustakawan menemukannya secara tidak sengaja saat sedang merapikan rak buku. Menurut arsip yang dirilis oleh National Archives, catatan tersebut ditulis setelah Truman menerima telepon dari Henry Morgenthau Jr., mantan Menteri Keuangan yang menjabat di bawah pemerintahan Franklin D. Roosevelt. Morgenthau, yang merupakan seorang Yahudi, menelepon Truman dalam kapasitasnya sebagai ketua United Jewish Appeal untuk membahas nasib kapal pengungsi Yahudi di Palestina . Saat itu, dunia baru saja menyaksikan insiden kapal Exodus 1947 yang membawa 4.500 pengungsi Yahudi korban Holocaust. Kapal tersebut dicegat oleh tentara Inggris di perairan Palestina, dan para pengungsi termasuk seribu anak-anak dipaksa kembali ke Eropa, tempat di mana mereka baru saja mengalami pembantaian sistematis . Truman jelas merasa terganggu dengan intervensi tersebut. "Dia sama sekali tidak berhak menelepon saya. Orang Yahudi tidak memiliki rasa proporsional, juga tidak memiliki penilaian apa pun tentang urusan dunia" tulis Truman dalam diarinya. Dalam entri sepanjang tiga halaman tersebut, Truman menuliskan kalimat yang hingga kini masih mengejutkan para sejarawan: "Orang-orang Yahudi, menurut saya, sangat, sangat egois. Mereka tidak peduli berapa banyak orang Estonia, Latvia, Finlandia, Polandia, Yugoslavia, atau Yunani yang dibunuh atau dianiaya sebagai pengungsi, selama orang Yahudi mendapat perlakuan khusus. Namun ketika mereka memiliki kekuasaan, baik fisik, finansial, maupun politik, baik Hitler maupun Stalin tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka dalam hal kekejaman atau penganiayaan terhadap kaum yang tertindas" . Truman kemudian menambahkan refleksi yang lebih filosofis: "Tempatkan seorang yang tertindas di atas, dan tidak ada bedanya apakah namanya Rusia, Yahudi, Negro, Manajemen, Buruh, Mormon, Baptis ia akan menjadi kacau. Saya menemukan sangat, sangat sedikit yang mengingat kondisi masa lalu mereka ketika kemakmuran datang". Kontradiksi dengan Kebijakan Resmi Penemuan ini mengejutkan banyak pihak karena Truman selama ini dikenal sebagai presiden yang pada Mei 1948 kurang dari setahun setelah catatan itu ditulis menjadi pemimpin dunia pertama yang mengakui kedaulatan Negara Israel. Ia juga dikenal membantu pengungsi Yahudi pasca-Perang Dunia II . Sara Bloomfield, direktur Museum Peringatan Holocaust Amerika Serikat, mengaku terkejut dengan temuan ini. "Itu benar-benar mengejutkan saya karena apa yang saya ketahui tentang catatan Truman. Simpati Truman terhadap penderitaan orang Yahudi sangat jelas terlihat," ujarnya kepada Washington Post . Sejarawan mencatat bahwa meskipun Truman menggunakan bahasa yang keras, tindakannya justru menunjukkan dukungan nyata terhadap pembentukan rumah bagi orang Yahudi. Robert Morgenthau, putra Henry Morgenthau yang merupakan Jaksa Agung Manhattan, ketika ditanya tentang catatan kemarahan Truman tersebut, hanya mengatakan, "Saya senang ayah saya melakukan panggilan itu". Konteks Lebih Luas Dalam diari yang sama, Truman juga mencatat berbagai peristiwa penting tahun 1947, termasuk kematian ibunya, diagnosis penyakit jantung, serta upayanya membujuk Jenderal Dwight Eisenhower untuk maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat dengan Truman sebagai calon wakil presiden sebuah upaya untuk menghalangi Jenderal Douglas MacArthur yang saat itu dianggap akan mencalonkan diri dari Partai Republik . Para ahli menekankan bahwa catatan pribadi presiden tidak selalu mencerminkan kebijakan publik. Seperti halnya Thomas Jefferson dan Richard Nixon yang juga tercatat memiliki pandangan pribadi negatif terhadap Yahudi namun tetap menjalankan kebijakan yang melindungi hak-hak mereka, Truman dinilai mampu memisahkan opini pribadi dari tanggung jawab kenegaraan . Perpustakaan Truman kini menempatkan dokumen tersebut sebagai salah satu temuan terpenting dalam dua dekade terakhir, memberikan wawasan langka tentang pemikiran pribadi seorang presiden di tengah tekanan internasional pasca-Perang Dunia II . #yahudi #israel #amerika #truman #zionis ✍🏻 IndepthNTB

 Catatan Pribadi Truman Tahun 1947 Ungkap Pandangan Keras terhadap Yahudi: "Sangat, Sangat Egois"



Sebuah catatan tulisan tangan milik Presiden Amerika Serikat ke-33, Harry S. Truman, yang baru terungkap ke publik menunjukkan pandangan keras sang presiden terhadap orang Yahudi. Dalam catatan bertanggal 21 Juli 1947 tersebut, Truman menulis bahwa orang Yahudi "sangat, sangat egois" dan ketika memiliki kekuasaan, kekejaman mereka "tidak kalah dengan Hitler atau Stalin".


Catatan yang ditemukan di Perpustakaan Truman di Independence, Missouri, ini ditulis di bagian belakang sebuah buku berjudul The Real Estate Board of New York, Inc., Diary and Manual 1947. Dokumen tersebut luput dari perhatian selama hampir empat dekade sejak disumbangkan pada tahun 1965, hingga seorang pustakawan menemukannya secara tidak sengaja saat sedang merapikan rak buku.


Menurut arsip yang dirilis oleh National Archives, catatan tersebut ditulis setelah Truman menerima telepon dari Henry Morgenthau Jr., mantan Menteri Keuangan yang menjabat di bawah pemerintahan Franklin D. Roosevelt. Morgenthau, yang merupakan seorang Yahudi, menelepon Truman dalam kapasitasnya sebagai ketua United Jewish Appeal untuk membahas nasib kapal pengungsi Yahudi di Palestina .


Saat itu, dunia baru saja menyaksikan insiden kapal Exodus 1947 yang membawa 4.500 pengungsi Yahudi korban Holocaust. Kapal tersebut dicegat oleh tentara Inggris di perairan Palestina, dan para pengungsi termasuk seribu anak-anak dipaksa kembali ke Eropa, tempat di mana mereka baru saja mengalami pembantaian sistematis .


Truman jelas merasa terganggu dengan intervensi tersebut. "Dia sama sekali tidak berhak menelepon saya. Orang Yahudi tidak memiliki rasa proporsional, juga tidak memiliki penilaian apa pun tentang urusan dunia" tulis Truman dalam diarinya.


Dalam entri sepanjang tiga halaman tersebut, Truman menuliskan kalimat yang hingga kini masih mengejutkan para sejarawan:


"Orang-orang Yahudi, menurut saya, sangat, sangat egois. Mereka tidak peduli berapa banyak orang Estonia, Latvia, Finlandia, Polandia, Yugoslavia, atau Yunani yang dibunuh atau dianiaya sebagai pengungsi, selama orang Yahudi mendapat perlakuan khusus. Namun ketika mereka memiliki kekuasaan, baik fisik, finansial, maupun politik, baik Hitler maupun Stalin tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka dalam hal kekejaman atau penganiayaan terhadap kaum yang tertindas" .


Truman kemudian menambahkan refleksi yang lebih filosofis: "Tempatkan seorang yang tertindas di atas, dan tidak ada bedanya apakah namanya Rusia, Yahudi, Negro, Manajemen, Buruh, Mormon, Baptis ia akan menjadi kacau. Saya menemukan sangat, sangat sedikit yang mengingat kondisi masa lalu mereka ketika kemakmuran datang".


Kontradiksi dengan Kebijakan Resmi


Penemuan ini mengejutkan banyak pihak karena Truman selama ini dikenal sebagai presiden yang pada Mei 1948 kurang dari setahun setelah catatan itu ditulis menjadi pemimpin dunia pertama yang mengakui kedaulatan Negara Israel. Ia juga dikenal membantu pengungsi Yahudi pasca-Perang Dunia II .


Sara Bloomfield, direktur Museum Peringatan Holocaust Amerika Serikat, mengaku terkejut dengan temuan ini. "Itu benar-benar mengejutkan saya karena apa yang saya ketahui tentang catatan Truman. Simpati Truman terhadap penderitaan orang Yahudi sangat jelas terlihat," ujarnya kepada Washington Post .


Sejarawan mencatat bahwa meskipun Truman menggunakan bahasa yang keras, tindakannya justru menunjukkan dukungan nyata terhadap pembentukan rumah bagi orang Yahudi. Robert Morgenthau, putra Henry Morgenthau yang merupakan Jaksa Agung Manhattan, ketika ditanya tentang catatan kemarahan Truman tersebut, hanya mengatakan, "Saya senang ayah saya melakukan panggilan itu".


Konteks Lebih Luas


Dalam diari yang sama, Truman juga mencatat berbagai peristiwa penting tahun 1947, termasuk kematian ibunya, diagnosis penyakit jantung, serta upayanya membujuk Jenderal Dwight Eisenhower untuk maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat dengan Truman sebagai calon wakil presiden sebuah upaya untuk menghalangi Jenderal Douglas MacArthur yang saat itu dianggap akan mencalonkan diri dari Partai Republik .


Para ahli menekankan bahwa catatan pribadi presiden tidak selalu mencerminkan kebijakan publik. Seperti halnya Thomas Jefferson dan Richard Nixon yang juga tercatat memiliki pandangan pribadi negatif terhadap Yahudi namun tetap menjalankan kebijakan yang melindungi hak-hak mereka, Truman dinilai mampu memisahkan opini pribadi dari tanggung jawab kenegaraan .


Perpustakaan Truman kini menempatkan dokumen tersebut sebagai salah satu temuan terpenting dalam dua dekade terakhir, memberikan wawasan langka tentang pemikiran pribadi seorang presiden di tengah tekanan internasional pasca-Perang Dunia II .


#yahudi #israel #amerika #truman #zionis

Sumber : Ulum Samudra

✍🏻 IndepthNTB

Pada 14 Maret 1957, kabinet Ali Sastroamidjojo II jatuh. Kabinet ini mendapatkan mandat pada 20 Maret 1956 yang merupakan koalisi antara PNI, Masyumi dan NU. Kejatuhannya tidak terlepas dari berbagai pergolakan di daerah yang dipimpin oleh beberapa Jenderal Angkatan Darat. Pergolakan tersebut kemudian berkembang menjadi pemberontakan yang selain didukung oleh Imperialis AS juga didukung oleh Masyumi dan PSI. Kabinet Ali Sastroamidjojo II mengambil sikap tegas terhadap pemberontakan tersebut. Masyumi kemudian mengajukan mosi tidak percaya terhadap Kabinet. Pada 21 Januari 1957, Masyumi menarik seluruh menterinya dari Kabinet dan Kabinet juga kehilangan 57 suara di DPR. Sukarno sendiri sudah menyampaikan dalam pidato mengenai “Konsepsi Presiden” bahwa Demokrasi Parlementer tidak cocok untuk Indonesia. Melipat Ganda, Membakar Tirani! #momentumsejarah #arahjuang http://linktr.ee/arahjuang

 Pada 14 Maret 1957, kabinet Ali Sastroamidjojo II jatuh. Kabinet ini mendapatkan mandat pada 20 Maret 1956 yang merupakan koalisi antara PNI, Masyumi dan NU. Kejatuhannya tidak terlepas dari berbagai pergolakan di daerah yang dipimpin oleh beberapa Jenderal Angkatan Darat. Pergolakan tersebut kemudian berkembang menjadi pemberontakan yang selain didukung oleh Imperialis AS juga didukung oleh Masyumi dan PSI.


Kabinet Ali Sastroamidjojo II mengambil sikap tegas terhadap pemberontakan tersebut. Masyumi kemudian mengajukan mosi tidak percaya terhadap Kabinet. Pada 21 Januari 1957, Masyumi menarik seluruh menterinya dari Kabinet dan Kabinet juga kehilangan 57 suara di DPR. Sukarno sendiri sudah menyampaikan dalam pidato mengenai “Konsepsi Presiden” bahwa Demokrasi Parlementer tidak cocok untuk Indonesia. 


Melipat Ganda, Membakar Tirani! 

#momentumsejarah

#arahjuang



http://linktr.ee/arahjuang

09 March 2026

Bung Karno bersama Cindy Adam Siapa Cindy Adam ? Cindy Adams adalah seorang jurnalis dan penulis Amerika Serikat (lahir 1930) yang dikenal luas sebagai penulis biografi resmi Presiden Soekarno. Ia adalah penulis buku monumental "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (aslinya: Soekarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams) yang diterbitkan pada 1965.

 Bung Karno bersama Cindy Adam



Siapa Cindy Adam ?


Cindy Adams adalah seorang jurnalis dan penulis Amerika Serikat (lahir 1930) yang dikenal luas sebagai penulis biografi resmi Presiden Soekarno. Ia adalah penulis buku monumental "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (aslinya: Soekarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams) yang diterbitkan pada 1965.

08 March 2026

TOKOH PEMBAWA KOMUNIS KE ACEH Masuknya gagasan komunisme ke Aceh tidak dapat dilepaskan dari dinamika pergerakan politik di Sumatra pada awal abad ke-20. Pada masa itu, berbagai ideologi modern—nasionalisme, pan-Islamisme, sosialisme, hingga komunisme—berkembang bersamaan di kalangan aktivis pergerakan. Aceh yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan tradisi keagamaan yang kuat ternyata juga tidak sepenuhnya terlepas dari arus pemikiran tersebut. Salah satu tokoh penting yang sering disebut sebagai pembawa gagasan komunisme ke Aceh adalah Nathar Zainuddin (1880–1950), seorang kader pergerakan dari Padang. Pada tahun 1919 ia datang ke Lhokseumawe dan terlibat dalam aktivitas organisasi Sarekat Islam, organisasi massa terbesar di Hindia Belanda pada masa itu. Sarekat Islam menjadi wadah yang mempertemukan berbagai arus pemikiran politik, termasuk unsur-unsur yang kemudian berkembang menjadi gerakan komunis. Sekembalinya dari Jawa pada tahun 1922, Nathar Zainuddin semakin aktif dalam gerakan buruh. Ia bergabung dengan organisasi pekerja kereta api Vereeniging van Staats Spoor en Tram Personeel (VSTP), sebuah serikat buruh yang dikenal radikal dan memiliki kedekatan dengan jaringan komunis di Hindia Belanda. Melalui organisasi inilah ia mulai mengorganisir kaum buruh. Puncaknya terjadi pada tahun 1923 ketika ia menggerakkan pemogokan buruh kereta api, sebuah aksi yang menunjukkan meningkatnya militansi gerakan buruh pada masa kolonial. Dalam perkembangan ideologinya, Nathar Zainuddin tidak bergerak sendirian. Ia memiliki hubungan erat dengan Haji Datuk Batuah, seorang ulama Minangkabau yang dikenal sebagai salah satu tokoh yang mencoba menggabungkan gagasan Islam dan komunisme. Bersama Datuk Batuah, Nathar Zainuddin menerbitkan sejumlah majalah di Padangpanjang, antara lain Jago-Jago—yang dalam bahasa Minangkabau berarti “Bangun! Bangun!”—serta majalah Pemandangan Islam. Penerbitan ini menjadi sarana propaganda yang mencoba menjelaskan bahwa nilai-nilai keadilan sosial dalam komunisme dapat dipertautkan dengan ajaran Islam. Aktivitas tersebut tidak luput dari perhatian pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1924 Nathar Zainuddin dan Datuk Batuah ditangkap dan diasingkan ke Kupang, Timor. Penindasan terhadap aktivis komunis semakin keras setelah pemberontakan komunis 1926–1927. Pada tahun 1928 Nathar Zainuddin kembali dipindahkan ke kamp pembuangan politik di Boven Digul, Papua—tempat yang dikenal sebagai lokasi pengasingan bagi para aktivis radikal Hindia Belanda. Setelah lebih dari satu dekade menjalani pembuangan, Nathar Zainuddin akhirnya dibebaskan pada tahun 1939. Ia kemudian kembali ke Sumatra dan menetap di Medan. Di kota ini ia bekerja sama dengan seorang aktivis bernama A. Xarim MS, yang berasal dari Idi, Aceh. Keduanya membagi wilayah kerja: Xarim tetap di Medan, sementara Nathar Zainuddin menyusup ke wilayah Aceh. Dengan menyamar sebagai pedagang keliling—disebut “menggalas”—Nathar Zainuddin bergerak hingga ke Aceh Barat. Cara ini memungkinkannya berhubungan langsung dengan masyarakat tanpa menarik perhatian aparat kolonial. Dalam perjalanan tersebut ia berhasil membangun jaringan di kalangan pemuda Aceh dan sering berpindah dari wilayah timur ke barat Aceh untuk memperluas pengaruhnya. Jaringan gerakan yang ia bangun tidak hanya terbatas di Aceh. Di Sumatra Timur ia memiliki hubungan dengan Zainal Baharuddin, sementara di Aceh sendiri ia bekerja bersama sejumlah tokoh seperti Suwarno Sutarjo dan Amir Husin Al-Mujahid. Dalam berbagai kegiatan politik bawah tanah itu, Nathar Zainuddin sering dianggap sebagai salah satu penggerak utama di balik berbagai aksi politik radikal. Perjalanan politik Nathar Zainuddin terus berlanjut hingga masa Revolusi Indonesia. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948, ia kembali ke Minangkabau dan bergabung dengan pemerintahan darurat Republik Indonesia, Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Dalam masa itu ia turut terlibat dalam perjuangan gerilya melawan Belanda. Nathar Zainuddin akhirnya wafat di Padang pada 24 Mei 1950. Sementara itu di Aceh sendiri, struktur organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI) mulai terbentuk pada masa revolusi. Kepemimpinan awalnya berada di tangan tiga tokoh yang dikenal sebagai “trio” aktivis buruh, yaitu R. Soleh, Abdul Manaf, dan Kasan Siregar, yang semuanya bekerja pada perusahaan kereta api Aceh Tram. Menariknya, meskipun terlibat dalam gerakan komunis, mereka tetap dikenal sebagai orang yang taat menjalankan ibadah, termasuk salat. Abdul Manaf bahkan sempat menerbitkan sebuah brosur berjudul Islam dan Komunisme pada bulan-bulan pertama revolusi. Brosur ini mencerminkan upaya sebagian aktivis untuk menjembatani dua gagasan yang sering dianggap bertentangan: ajaran agama dan ideologi komunisme. Dalam perkembangan berikutnya, kepemimpinan PKI di Aceh sempat dipegang oleh Tgk. Djakfar Walad, sebelum akhirnya kembali dipimpin oleh Kasan Siregar. Setelah itu, posisi ketua PKI Aceh dipercayakan kepada Mohd. Samikidin, dengan dukungan sejumlah tokoh lain seperti Thaib Adamy, Cut Husin, dan K. Ampio. Penunjukan Samikidin cukup menarik karena ia bukan putra asli Aceh, namun memiliki latar belakang pendidikan agama di Sekolah Islam Tanjung Pura. Kisah ini menunjukkan bahwa sejarah politik Aceh tidak sepenuhnya monolitik. Di balik citra Aceh sebagai wilayah yang sangat religius, terdapat pula pergulatan ideologi yang kompleks pada masa kolonial dan revolusi. Tokoh-tokoh seperti Nathar Zainuddin dan jaringan aktivis di sekitarnya menjadi bagian dari dinamika tersebut—sebuah bab sejarah yang memperlihatkan bagaimana berbagai gagasan besar dunia pernah berusaha mencari tempat di tanah Aceh.adifa ft nathar zainuddin x dkk

 TOKOH PEMBAWA KOMUNIS KE ACEH


Masuknya gagasan komunisme ke Aceh tidak dapat dilepaskan dari dinamika pergerakan politik di Sumatra pada awal abad ke-20. 



Pada masa itu, berbagai ideologi modern—nasionalisme, pan-Islamisme, sosialisme, hingga komunisme—berkembang bersamaan di kalangan aktivis pergerakan. 


Aceh yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan tradisi keagamaan yang kuat ternyata juga tidak sepenuhnya terlepas dari arus pemikiran tersebut.

Salah satu tokoh penting yang sering disebut sebagai pembawa gagasan komunisme ke Aceh adalah Nathar Zainuddin (1880–1950), seorang kader pergerakan dari Padang. 


Pada tahun 1919 ia datang ke Lhokseumawe dan terlibat dalam aktivitas organisasi Sarekat Islam, organisasi massa terbesar di Hindia Belanda pada masa itu. 


Sarekat Islam menjadi wadah yang mempertemukan berbagai arus pemikiran politik, termasuk unsur-unsur yang kemudian berkembang menjadi gerakan komunis.


Sekembalinya dari Jawa pada tahun 1922, Nathar Zainuddin semakin aktif dalam gerakan buruh. Ia bergabung dengan organisasi pekerja kereta api Vereeniging van Staats Spoor en Tram Personeel (VSTP), sebuah serikat buruh yang dikenal radikal dan memiliki kedekatan dengan jaringan komunis di Hindia Belanda. 


Melalui organisasi inilah ia mulai mengorganisir kaum buruh. Puncaknya terjadi pada tahun 1923 ketika ia menggerakkan pemogokan buruh kereta api, sebuah aksi yang menunjukkan meningkatnya militansi gerakan buruh pada masa kolonial.


Dalam perkembangan ideologinya, Nathar Zainuddin tidak bergerak sendirian. Ia memiliki hubungan erat dengan Haji Datuk Batuah, seorang ulama Minangkabau yang dikenal sebagai salah satu tokoh yang mencoba menggabungkan gagasan Islam dan komunisme. 


Bersama Datuk Batuah, Nathar Zainuddin menerbitkan sejumlah majalah di Padangpanjang, antara lain Jago-Jago—yang dalam bahasa Minangkabau berarti “Bangun! Bangun!”—serta majalah Pemandangan Islam. Penerbitan ini menjadi sarana propaganda yang mencoba menjelaskan bahwa nilai-nilai keadilan sosial dalam komunisme dapat dipertautkan dengan ajaran Islam.


Aktivitas tersebut tidak luput dari perhatian pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1924 Nathar Zainuddin dan Datuk Batuah ditangkap dan diasingkan ke Kupang, Timor. 


Penindasan terhadap aktivis komunis semakin keras setelah pemberontakan komunis 1926–1927. Pada tahun 1928 Nathar Zainuddin kembali dipindahkan ke kamp pembuangan politik di Boven Digul, Papua—tempat yang dikenal sebagai lokasi pengasingan bagi para aktivis radikal Hindia Belanda.


Setelah lebih dari satu dekade menjalani pembuangan, Nathar Zainuddin akhirnya dibebaskan pada tahun 1939. Ia kemudian kembali ke Sumatra dan menetap di Medan. 


Di kota ini ia bekerja sama dengan seorang aktivis bernama A. Xarim MS, yang berasal dari Idi, Aceh. Keduanya membagi wilayah kerja: Xarim tetap di Medan, sementara Nathar Zainuddin menyusup ke wilayah Aceh.


Dengan menyamar sebagai pedagang keliling—disebut “menggalas”—Nathar Zainuddin bergerak hingga ke Aceh Barat. Cara ini memungkinkannya berhubungan langsung dengan masyarakat tanpa menarik perhatian aparat kolonial. 


Dalam perjalanan tersebut ia berhasil membangun jaringan di kalangan pemuda Aceh dan sering berpindah dari wilayah timur ke barat Aceh untuk memperluas pengaruhnya.


Jaringan gerakan yang ia bangun tidak hanya terbatas di Aceh. Di Sumatra Timur ia memiliki hubungan dengan Zainal Baharuddin, sementara di Aceh sendiri ia bekerja bersama sejumlah tokoh seperti Suwarno Sutarjo dan Amir Husin Al-Mujahid. 


Dalam berbagai kegiatan politik bawah tanah itu, Nathar Zainuddin sering dianggap sebagai salah satu penggerak utama di balik berbagai aksi politik radikal.


Perjalanan politik Nathar Zainuddin terus berlanjut hingga masa Revolusi Indonesia. Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II pada tahun 1948, ia kembali ke Minangkabau dan bergabung dengan pemerintahan darurat Republik Indonesia, Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). 


Dalam masa itu ia turut terlibat dalam perjuangan gerilya melawan Belanda. Nathar Zainuddin akhirnya wafat di Padang pada 24 Mei 1950.

Sementara itu di Aceh sendiri, struktur organisasi Partai Komunis Indonesia (PKI) mulai terbentuk pada masa revolusi. 


Kepemimpinan awalnya berada di tangan tiga tokoh yang dikenal sebagai “trio” aktivis buruh, yaitu R. Soleh, Abdul Manaf, dan Kasan Siregar, yang semuanya bekerja pada perusahaan kereta api Aceh Tram. 


Menariknya, meskipun terlibat dalam gerakan komunis, mereka tetap dikenal sebagai orang yang taat menjalankan ibadah, termasuk salat.

Abdul Manaf bahkan sempat menerbitkan sebuah brosur berjudul Islam dan Komunisme pada bulan-bulan pertama revolusi. 


Brosur ini mencerminkan upaya sebagian aktivis untuk menjembatani dua gagasan yang sering dianggap bertentangan: ajaran agama dan ideologi komunisme.


Dalam perkembangan berikutnya, kepemimpinan PKI di Aceh sempat dipegang oleh Tgk. Djakfar Walad, sebelum akhirnya kembali dipimpin oleh Kasan Siregar. 


Setelah itu, posisi ketua PKI Aceh dipercayakan kepada Mohd. Samikidin, dengan dukungan sejumlah tokoh lain seperti Thaib Adamy, Cut Husin, dan K. Ampio. Penunjukan Samikidin cukup menarik karena ia bukan putra asli Aceh, namun memiliki latar belakang pendidikan agama di Sekolah Islam Tanjung Pura.


Kisah ini menunjukkan bahwa sejarah politik Aceh tidak sepenuhnya monolitik. Di balik citra Aceh sebagai wilayah yang sangat religius, terdapat pula pergulatan ideologi yang kompleks pada masa kolonial dan revolusi. 


Tokoh-tokoh seperti Nathar Zainuddin dan jaringan aktivis di sekitarnya menjadi bagian dari dinamika tersebut—sebuah bab sejarah yang memperlihatkan bagaimana berbagai gagasan besar dunia pernah berusaha mencari tempat di tanah Aceh.adifa ft nathar zainuddin x dkk

PENGKHIANATAN DEWAN REVOLUSI NEGARA ISLAM ACEH DAN PERGOLAKAN PRRI/PERMESTA Dalam sejarah pergolakan politik Indonesia pada akhir 1950-an, gerakan Negara Islam Aceh yang dipimpin oleh Daud Beureueh merupakan salah satu kekuatan penting dalam dinamika pemberontakan daerah yang berkaitan dengan gerakan PRRI/Permesta. Faksi Aceh ini dikenal sebagai kelompok yang memiliki posisi politik yang kuat serta sikap yang relatif tegas dalam mempertahankan prinsip perjuangannya. Kelompok tersebut tidak mudah menerima kompromi politik yang dianggap dapat melemahkan cita-cita perjuangan mereka. Karena itu, mereka tetap berpegang pada prinsip bahwa setiap penyelesaian konflik harus ditempuh melalui perundingan resmi antara Negara Islam Aceh (NIA) dan Republik Indonesia. Namun dinamika internal gerakan tidak selalu berjalan mulus. Pada Maret 1959, muncul perpecahan di tubuh kepemimpinan Negara Islam Aceh. Dengan tuduhan bahwa Daud Beureueh menjalankan kepemimpinan secara sepihak, dan semena mena.Sekelompok tokoh yang dipimpin oleh Hasan Saleh melakukan langkah politik untuk menggulingkan kepemimpinan Daud beureueh Pada 15 Maret 1959, sekitar seribu orang berkumpul dalam sebuah pertemuan di Pidie. Dalam forum tersebut kelompok sempalan itu membentuk pemerintahan tandingan yang mereka namakan Gerakan Revolusioner Islam Indonesia – Negara Bagian Aceh. Organisasi baru ini dipimpin oleh Abdul Gani Usman sebagai ketua, dengan Hasan Saleh sebagai wakil ketua. Posisi sekretaris umum dipegang oleh AG Mutiara yang juga bertanggung jawab atas bidang penerangan. Beberapa tokoh yang sebelumnya berada dalam lingkaran kepemimpinan Daud Beureueh ikut bergabung dengan kelompok baru ini. Di antaranya adalah Amir Husen Mujahid, TA Hasan, Ibrahim Saleh, TM Amin, dan Husen Yusuf.(Limong dro pengkhianat saban lage bak teken MOU helsingki) Langkah pertama yang diambil oleh Abdul Gani Usman sebagai ketua Dewan Revolusi adalah mengumumkan bahwa jabatan kepala negara untuk sementara dijalankan oleh Dewan Revolusi, yang dipimpin oleh Amir Husen Mujahid. Pada saat yang sama, ia juga memerintahkan para pengikutnya untuk menghentikan penarikan pajak di desa-desa. Dalam bidang militer, Hasan Saleh mengambil langkah reorganisasi terhadap pasukan Divisi Tgk. Chik di Tiro, yang selama ini menjadi kekuatan militer gerakan. Ia membatasi gerak para prajurit dengan menempatkan mereka kembali ke dalam asrama serta menarik pasukan yang sebelumnya ditempatkan di desa-desa. Sementara itu Dewan Revolusi juga berupaya membuka jalur diplomasi dengan pemerintah pusat. Sebuah delegasi dikirim ke Jakarta untuk membicarakan kemungkinan mengakhiri konflik dengan pemerintah Republik Indonesia. Pada bulan berikutnya dukungan terhadap Dewan Revolusi semakin meluas. Pasukan dari Aceh Barat di bawah pimpinan TR Idris serta Komandan Resimen VII Sumatra Timur Haji Hasanuddin turut bergabung. Menurut pernyataan AG Mutiara pada Agustus tahun yang sama, Dewan Revolusi mengklaim memperoleh dukungan sekitar 25.000 anggota Darul Islam. Menanggapi perkembangan ini, pemerintah pusat mengirim sebuah misi perundingan ke Aceh. Delegasi tersebut dipimpin oleh Hardi selaku Wakil Perdana Menteri Pertama, didampingi oleh Gatot Subroto dan Kolonel Suprajogi. Upaya diplomasi akhirnya menghasilkan kemajuan penting. Pada 26 Mei 1959, melalui perantaraan Ali Hasjmy dan Kolonel T. Hamzah Bendahara, tercapai sebuah persetujuan sementara antara pemerintah pusat dan pimpinan Dewan Revolusi. Dalam kesepakatan tersebut, pihak Dewan Revolusi secara tertulis menyatakan kesediaan untuk kembali ke dalam Republik Indonesia serta mengucapkan sumpah setia kepada Undang-Undang Dasar. Sebelumnya, pada tahun 1957, sejumlah pemimpin penting gerakan Darul Islam di Aceh sebenarnya telah lebih dahulu melakukan dialog dengan pihak Republik dalam sebuah pertemuan di Lamteh. Kesepakatan tersebut kemudian dikenal sebagai Ikrar Lamteh, yang memuat komitmen bersama antara kedua pihak untuk memajukan Islam, mendorong pembangunan Aceh, serta menciptakan keamanan dan kemakmuran bagi masyarakat. Di pihak Republik, dokumen tersebut ditandatangani oleh Syamaun Gaharu bersama sejumlah pejabat daerah, antara lain T. Hamzah, Ali Hasjmy, dan Kepala Kepolisian Aceh M. Insya. Dalam konteks yang lebih luas, situasi Aceh pada masa itu juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan keadaan perang di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan keputusan Penguasa Perang Pusat pada 31 Oktober 1959, Indonesia berada dalam status darurat perang sejak Maret 1957 hingga 1962. Selama periode tersebut, struktur pemerintahan di daerah diatur melalui sistem Penguasa Perang Pusat dan Penguasa Perang Daerah. Di Aceh, jabatan Penguasa Perang Daerah dipegang oleh Panglima Militer Syamaun Gaharu dengan Ali Hasjmy sebagai wakilnya. Sementara itu, di pihak Darul Islam, kepemimpinan gerakan dipegang oleh tokoh-tokoh seperti Hasan Saleh, Hasan Aly, dan Ishak Amin yang pada masa itu menjabat sebagai Bupati Aceh Besar. Pergolakan politik ini akhirnya menjadi bagian dari rangkaian panjang proses rekonsiliasi antara gerakan Darul Islam di Aceh dengan pemerintah Republik Indonesia—sebuah proses yang kelak berpuncak pada peristiwa turunnya Daud Beureueh dari pegunungan dan kembalinya beliau ke pangkuan Republik.adifa FT Daud beureueh di temput dari kamp nya

 PENGKHIANATAN DEWAN REVOLUSI NEGARA ISLAM ACEH DAN PERGOLAKAN PRRI/PERMESTA 


Dalam sejarah pergolakan politik Indonesia pada akhir 1950-an, gerakan Negara Islam Aceh yang dipimpin oleh Daud Beureueh merupakan salah satu kekuatan penting dalam dinamika pemberontakan daerah yang berkaitan dengan gerakan PRRI/Permesta. 



Faksi Aceh ini dikenal sebagai kelompok yang memiliki posisi politik yang kuat serta sikap yang relatif tegas dalam mempertahankan prinsip perjuangannya.


Kelompok tersebut tidak mudah menerima kompromi politik yang dianggap dapat melemahkan cita-cita perjuangan mereka. Karena itu, mereka tetap berpegang pada prinsip bahwa setiap penyelesaian konflik harus ditempuh melalui perundingan resmi antara Negara Islam Aceh (NIA) dan Republik Indonesia.


Namun dinamika internal gerakan tidak selalu berjalan mulus. Pada Maret 1959, muncul perpecahan di tubuh kepemimpinan Negara Islam Aceh. Dengan tuduhan bahwa Daud Beureueh menjalankan kepemimpinan secara sepihak, dan semena mena.Sekelompok tokoh yang dipimpin oleh Hasan Saleh melakukan langkah politik untuk menggulingkan kepemimpinan Daud beureueh


Pada 15 Maret 1959, sekitar seribu orang berkumpul dalam sebuah pertemuan di Pidie. Dalam forum tersebut kelompok sempalan itu membentuk pemerintahan tandingan yang mereka namakan Gerakan Revolusioner Islam Indonesia – Negara Bagian Aceh. 


Organisasi baru ini dipimpin oleh Abdul Gani Usman sebagai ketua, dengan Hasan Saleh sebagai wakil ketua. Posisi sekretaris umum dipegang oleh AG Mutiara yang juga bertanggung jawab atas bidang penerangan.


Beberapa tokoh yang sebelumnya berada dalam lingkaran kepemimpinan Daud Beureueh ikut bergabung dengan kelompok baru ini. Di antaranya adalah Amir Husen Mujahid, TA Hasan, Ibrahim Saleh, TM Amin, dan Husen Yusuf.(Limong dro pengkhianat saban lage bak teken MOU helsingki)


Langkah pertama yang diambil oleh Abdul Gani Usman sebagai ketua Dewan Revolusi adalah mengumumkan bahwa jabatan kepala negara untuk sementara dijalankan oleh Dewan Revolusi, yang dipimpin oleh Amir Husen Mujahid. 


Pada saat yang sama, ia juga memerintahkan para pengikutnya untuk menghentikan penarikan pajak di desa-desa.

Dalam bidang militer, Hasan Saleh mengambil langkah reorganisasi terhadap pasukan Divisi Tgk. Chik di Tiro, yang selama ini menjadi kekuatan militer gerakan. 


Ia membatasi gerak para prajurit dengan menempatkan mereka kembali ke dalam asrama serta menarik pasukan yang sebelumnya ditempatkan di desa-desa.

Sementara itu Dewan Revolusi juga berupaya membuka jalur diplomasi dengan pemerintah pusat. 


Sebuah delegasi dikirim ke Jakarta untuk membicarakan kemungkinan mengakhiri konflik dengan pemerintah Republik Indonesia. Pada bulan berikutnya dukungan terhadap Dewan Revolusi semakin meluas. Pasukan dari Aceh Barat di bawah pimpinan TR Idris serta Komandan Resimen VII Sumatra Timur Haji Hasanuddin turut bergabung.


Menurut pernyataan AG Mutiara pada Agustus tahun yang sama, Dewan Revolusi mengklaim memperoleh dukungan sekitar 25.000 anggota Darul Islam.


Menanggapi perkembangan ini, pemerintah pusat mengirim sebuah misi perundingan ke Aceh. Delegasi tersebut dipimpin oleh Hardi selaku Wakil Perdana Menteri Pertama, didampingi oleh Gatot Subroto dan Kolonel Suprajogi.


Upaya diplomasi akhirnya menghasilkan kemajuan penting. Pada 26 Mei 1959, melalui perantaraan Ali Hasjmy dan Kolonel T. Hamzah Bendahara, tercapai sebuah persetujuan sementara antara pemerintah pusat dan pimpinan Dewan Revolusi. 


Dalam kesepakatan tersebut, pihak Dewan Revolusi secara tertulis menyatakan kesediaan untuk kembali ke dalam Republik Indonesia serta mengucapkan sumpah setia kepada Undang-Undang Dasar.


Sebelumnya, pada tahun 1957, sejumlah pemimpin penting gerakan Darul Islam di Aceh sebenarnya telah lebih dahulu melakukan dialog dengan pihak Republik dalam sebuah pertemuan di Lamteh. 


Kesepakatan tersebut kemudian dikenal sebagai Ikrar Lamteh, yang memuat komitmen bersama antara kedua pihak untuk memajukan Islam, mendorong pembangunan Aceh, serta menciptakan keamanan dan kemakmuran bagi masyarakat.


Di pihak Republik, dokumen tersebut ditandatangani oleh Syamaun Gaharu bersama sejumlah pejabat daerah, antara lain T. Hamzah, Ali Hasjmy, dan Kepala Kepolisian Aceh M. Insya.


Dalam konteks yang lebih luas, situasi Aceh pada masa itu juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan keadaan perang di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan keputusan Penguasa Perang Pusat pada 31 Oktober 1959, Indonesia berada dalam status darurat perang sejak Maret 1957 hingga 1962.


Selama periode tersebut, struktur pemerintahan di daerah diatur melalui sistem Penguasa Perang Pusat dan Penguasa Perang Daerah. Di Aceh, jabatan Penguasa Perang Daerah dipegang oleh Panglima Militer Syamaun Gaharu dengan Ali Hasjmy sebagai wakilnya.


Sementara itu, di pihak Darul Islam, kepemimpinan gerakan dipegang oleh tokoh-tokoh seperti Hasan Saleh, Hasan Aly, dan Ishak Amin yang pada masa itu menjabat sebagai Bupati Aceh Besar.


Pergolakan politik ini akhirnya menjadi bagian dari rangkaian panjang proses rekonsiliasi antara gerakan Darul Islam di Aceh dengan pemerintah Republik Indonesia—sebuah proses yang kelak berpuncak pada peristiwa turunnya Daud Beureueh dari pegunungan dan kembalinya beliau ke pangkuan Republik.adifa FT Daud beureueh di temput dari kamp nya

Ogah disetir Belanda, Mangkunegara VI pun mengundurkan diri dan pindah ke Surabaya Dia memang tak sepopuler penguasa-penguasa sebelumnya seperti Mangkunegara I dan Mangkunegara IV, tapi Mangkunegara VI punya peran sentral dalam mereformasi kondisi ekonomi Kadipaten Mangkunegaran. Dia juga sosok berwatak keras, terbukti dengan keputusannya mundur sebagai adipati Pura Mangkunegaran karena ogah disetir oleh Belanda. Mangkunegara VI lahir dengan nama RM Suyitno atau KPA Dayaningrat. Dia adalah adik KGPAA Mangkunegara V dan naik takhta menggantikan kakaknya pada 1896-1916 dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI. Saat naik takhta, usianya 40 tahun. Jika sang kakak sangat giat membangun kesenian, Mangkunegara VI adalah sosok yang sangat fokus pada keuangan dan kondisi ekonomi kerajaan. Kas kerajaan yang sebelumnya hampir kosong, gemuk lagi setelah Mangkunegara VI berkuasa. Yang dia lakukan adalah efisiensi, menyingkirkan segala macam kebutuhan yang tidak terlalu utama tapi sangat mengisap keuangan. Pada masa Mangkunegara VI ini, utang kerajaan yang ditinggalkan pendahulunya dapat dilunasi. Mangkunegara VI juga mereformasi banyak hal, termasuk fesyen. Di antaranya, dia mempelopori model rambut pendek dengan memotong rambutnya sendiri serta mewajibkan semua pejabat serta kawula untuk tidak memanjangkan rambut, terutama bagi laki-laki. Secara garis besar, kebijakan-kebijakannya sangat anti-Blanda. Tapi sayang, pemerintahannya berakhir dengan tragis. Sejatinya, dia berkehendak menjadikan putranya, KPA Seojono Handajaningrat sebagai penerusnya, tapi diveto oleh kelompok kerabat Pangeran dan pihak Belanda. Karena itulah dia mengundurkan diri dan memutuskan pindah ke Surabaya. Mangkunegara VI adalah putra Mangkunegara IV yang dikenal sebagai raja terkaya di Pulau Jawa pada zamannya. Meski begitu, kata sejarawan UI Bondan Kanumoyoso, dia memiliki sikap hidup yang efisien, sederhana, dan tidak suka foya-foya. Mangkunegara VI wafat pada 25 Juni 1928 saat berusia 71 tahun. Dia tak dimakamkan di Astana Mangadeg atau Astana Girilayu sebagaimana raja-raja Mangkunegaran yang lain, tapi di Astana Oetara Nayu. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034360214/mangkunegara-vi-raja-reformis-yang-mengundurkan-diri-karena-ogah-disetir-belanda #MangkunegaraVI #mangkunegaran

 Ogah disetir Belanda, Mangkunegara VI pun mengundurkan diri dan pindah ke Surabaya



Dia memang tak sepopuler penguasa-penguasa sebelumnya seperti Mangkunegara I dan Mangkunegara IV, tapi Mangkunegara VI punya peran sentral dalam mereformasi kondisi ekonomi Kadipaten Mangkunegaran. Dia juga sosok berwatak keras, terbukti dengan keputusannya mundur sebagai adipati Pura Mangkunegaran karena ogah disetir oleh Belanda.


Mangkunegara VI lahir dengan nama RM Suyitno atau KPA Dayaningrat. Dia adalah adik KGPAA Mangkunegara V dan naik takhta menggantikan kakaknya pada 1896-1916 dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VI.


Saat naik takhta, usianya 40 tahun. Jika sang kakak sangat giat membangun kesenian, Mangkunegara VI adalah sosok yang sangat fokus pada keuangan dan kondisi ekonomi kerajaan. Kas kerajaan yang sebelumnya hampir kosong, gemuk lagi setelah Mangkunegara VI berkuasa.


Yang dia lakukan adalah efisiensi, menyingkirkan segala macam kebutuhan yang tidak terlalu utama tapi sangat mengisap keuangan. Pada masa Mangkunegara VI ini, utang kerajaan yang ditinggalkan pendahulunya dapat dilunasi.


Mangkunegara VI juga mereformasi banyak hal, termasuk fesyen. Di antaranya, dia mempelopori model rambut pendek dengan memotong rambutnya sendiri serta mewajibkan semua pejabat serta kawula untuk tidak memanjangkan rambut, terutama bagi laki-laki.


Secara garis besar, kebijakan-kebijakannya sangat anti-Blanda. Tapi sayang, pemerintahannya berakhir dengan tragis.


Sejatinya, dia berkehendak menjadikan putranya, KPA Seojono Handajaningrat sebagai penerusnya, tapi diveto oleh kelompok kerabat Pangeran dan pihak Belanda. Karena itulah dia mengundurkan diri dan memutuskan pindah ke Surabaya.


Mangkunegara VI adalah putra Mangkunegara IV yang dikenal sebagai raja terkaya di Pulau Jawa pada zamannya. Meski begitu, kata sejarawan UI Bondan Kanumoyoso, dia memiliki sikap hidup yang efisien, sederhana, dan tidak suka foya-foya.


Mangkunegara VI wafat pada 25 Juni 1928 saat berusia 71 tahun. Dia tak dimakamkan di Astana Mangadeg atau Astana Girilayu sebagaimana raja-raja Mangkunegaran yang lain, tapi di Astana Oetara Nayu.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034360214/mangkunegara-vi-raja-reformis-yang-mengundurkan-diri-karena-ogah-disetir-belanda


#MangkunegaraVI #mangkunegaran

Seorang pemuda gagah berani bernama Supeno atau Soepeno, pernah meregang nyawa di lereng Gunung Wilis pada 24 Februari 1949. Keluarga baru mengetahui titik eksekusi dilakukan di bawah sebuah goa yang sering digunakan untuk bertapa saat Menteri Supeno hendak mandi di pancuran. Hal itu diketahui setelah sejumlah keluarga mendiang Menteri Supeno melakukan napak tilas di lereng Gunung Wilis untuk mengenang kembali kepahlawanannya. Salah satu yang ikut bersama rombongan napak tilas adalah cucu dari Menteri Supeno, yakni Shyntia Roosana Untari. Dalam kesaksiannya, Shyntia mengisahkan saat itu ia bersama suaminya dan rombongan melewati jalan setapak yang berliku dan menanjak-curam. Penduduk sempat mengingatkan rombongan untuk berhati hati karena di titik tesebut, lokasi yang diyakini tempat Mentari Supeno dieksekui, banyak hal ghaib. Selama perjalanan napak tilas untuk sampai ke lokasi, Shyntia mengakui bahwa hal-hal yang berbau metafisika kerap ditemui. Baca selengkapnya di kolom komentar ..... #menterisupeno #gunungwilis #supeno #sawahan

 Seorang pemuda gagah berani bernama Supeno atau Soepeno, pernah meregang nyawa di lereng Gunung Wilis pada 24 Februari 1949. 



Keluarga baru mengetahui titik eksekusi dilakukan di bawah sebuah goa yang sering digunakan untuk bertapa saat Menteri Supeno hendak mandi di pancuran. 


Hal itu diketahui setelah sejumlah keluarga mendiang Menteri Supeno melakukan napak tilas di lereng Gunung Wilis untuk mengenang kembali kepahlawanannya. 


Salah satu yang ikut bersama rombongan napak tilas adalah cucu dari Menteri Supeno, yakni Shyntia Roosana Untari. 


Dalam kesaksiannya, Shyntia mengisahkan saat itu ia bersama suaminya dan rombongan melewati jalan setapak yang berliku dan menanjak-curam. 


Penduduk sempat mengingatkan rombongan untuk berhati hati karena di titik tesebut, lokasi yang diyakini tempat Mentari Supeno dieksekui, banyak hal ghaib. 


Selama perjalanan napak tilas untuk sampai ke lokasi, Shyntia mengakui bahwa hal-hal yang berbau metafisika kerap ditemui. 


Baca selengkapnya di kolom komentar ..... 


#menterisupeno #gunungwilis #supeno #sawahan

07 March 2026

Foto 1886, pengantin pria di Soerakarta masih berambut panjang. Artinya saat sehari2 memakai iket tentu akan timbul mondholan. . Jika demikian, kemungkinan memang destar saat itu semua masih ada mondholannya. Narasi yang menyatakan pria surakarta tidak lagi berambut panjang mungkin perlu dicari buktinya. Barangkali hanya setelah 1920 rambut potong pendek mulai dilakukan, dimana mondolan gepeng tetap dipertahankan seperti dalam blangkon gaya surakarta sekarang. Dilihat dari kerisnya ini ladrang surakarta dimana ulu/jejer keris yg lebih melengkung ke kiri, dengan angkup dan godhongan dgn bentuk lekuk lebih tajam. KITLV Een bruidspaar op de rug gezien te Soerakarta 1868 National Arvhief/KITLV - 1880

 Foto 1886, pengantin pria di Soerakarta masih berambut panjang. Artinya saat sehari2 memakai iket tentu akan timbul mondholan. 

.


Jika demikian, kemungkinan memang destar saat itu semua masih ada mondholannya. Narasi yang menyatakan pria surakarta tidak lagi berambut panjang mungkin perlu dicari buktinya. 


Barangkali hanya setelah 1920 rambut potong pendek mulai dilakukan, dimana mondolan gepeng tetap dipertahankan seperti dalam blangkon gaya surakarta sekarang. 


Dilihat dari kerisnya ini ladrang surakarta dimana ulu/jejer keris yg lebih melengkung ke kiri, dengan angkup dan godhongan dgn bentuk lekuk lebih tajam.


KITLV

Een bruidspaar op de rug gezien te Soerakarta 1868


National Arvhief/KITLV - 1880

04 March 2026

Sebagaimana yang diberitakan pada majalah Tempo dalam sebuah tulisan yang berjudul Meminang Lewat Sepucuk Surat (2007: 64) disebutkan bahwa “Ahmad Aidit yang anak seorang mantri kehutanan dari Belitung adalah seorang pemuda serius, tak pandai berkelakar, ia menyukai musik klasik. Hari-harinya dihabiskan untuk membaca buku sementara hal yang dipikirkannya hanyalah bagaimana memajukan partai”. Karakter Aidit yang semacam itu tentu bukan tipe laki-laki penggoda, tapi bukan berarti hasratnya untuk becinta tidak ada. Hasrat cinta Aidit tumbuh manakala ia kedatangan Mahasiswi kedokteran dari Yogyakata bernama Soetanti. Mahasiswi calon dokter itu dijuluki oleh kawan-kawannya dengan sebutan “Bolletje” bahasa Belanda yang maksudnya “bulat” atau si bohay dalam bahasa kekinian. Perjumpaan Soetanti dan Aidit sebetulnya perjumpaan yang tak direncanakan, Aidit kala itu bekerja di kantor majalah Dua Bulanan Bintang Merah yang berlokasi di Jalan Purnosari Kota Solo. Mulanya Soetanti datang ke di kantor majalah Dua Bulanan Bintang Merah bersama satu kawan dekatnya, tujuannya untuk melakukan survei apakah pimpinan majalah tersebut bersedia atau tidak jika dimintai bantuan untuk mengisi kuliah umum di kampusnya. Kala itu Soetanti merupakan aktivis dari Sarekat Mahasiswa Indonesia. Atas nama Sarekat Mahasiswa Indonesia, Soetanti mengundang Aidit sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda Partai Komunis Indonesia Solo untuk memberikan ”kuliah” soal politik dan keorganisasian. Karena urusan organisasi itulah Soetanti kerap bolak-balik Yogyakarta-Solo. Kunjungan berikutnya tak lagi ke kantor Bintang Merah, tapi ke kantor PKI di Jalan Boemi 29. Dari pertemuan-pertemuan itu hubungan Aidit dan Soetanti kian akrab. Berbeda dengan watak Aidit yang serius, Soetanti dikenal sebagai gadis yang periang, gampang akrab, dan suka bicara ceplas-ceplos. Latar belakang keluaganyapun tidak kalah terhormat dengan Aidit, sebab Soetanti merupakan putri seorang ningrat Mangkunegaran, kakeknya seorang Bupati Tuban, ditambah lagi predikatnya mahasiswi kedokteran membuatnya kian dihormati dalam organisasi dan dalam kehidupan sehari-hari. Karakter Soetanti yang semacam itu gerak tubuhnya mudah ditebak, gadis semacam itu bila suka pada sesuatu akan tampak rasa sukanya, sebaliknya bila benci pada sesuatu akan tanpak kebenciannya. Berkenaan dengan sikapnya pada Aidit, Soetanti rupanya diam-diam mengagumi Aidit, ia kagum pada argumen dan penjelasan-penjelasan yang disampaikan Aidit pada kuliah umum yang ia gelar, Soetanti juga terpikat pada Aidit saat fasih mengutip filsafat Marxisme, mengurai revolusi Prancis dan Rusia. Setiap kali Aidit berpidato, Soetanti senantiasa menyimak di bangku paling depan sambil senyum-senyum tak jelas. Selaku aktivis dari Sarekat Mahasiswa Indonesia, Soetanti menjadi kecanduan kuliah umum yang disampaikan Aidit, iapun beberapa kali melibatkan Aidit dalam seminar dan acara-acara lainnya di Kampus. Pada tahap inilah hubungan Aidit dan Soetanti kian akrab. Aidit yang berkarakter serius dan tidak pandai berkelakar mampu menebak gejala-gejala dan sikap aneh Soetanti pada dirinya, ia merasa Soetanti mencintainya. Hal tersebut dibuktikan dari tingkah laku Soetanti yang merasa cemburu bila ada kawan-kawan perempuannya yang berlama-lama sekedar ngobrol dengannya. Meskipun begitu Aidit tidak sedikitpun menampakan rasa sukanya terhadap Soetanti. Sampai pada suatu ketika, selepas berpidato dalam sebuah kuliah umum, Aidit menghampiri Soetanti lalu menyerahkan sepucuk surat yang ditujukan kepada Bapak Moedigdo, ayah Soetanti, seorang kepala polisi Semarang yang aktif di Partai Sosialis Indonesia. Sebetulnya Soetanti tidak mengetahui isi surat itu, lagipula surat itu ditujukan untuk ayahnya, akan tetapi setelah ayah Soetanti membuka surat tepat didepan Soetanti, rupanya surat itu adalah surat lamaran. Aidit menyampaikan niat meminang Soetanti. Melihat, mengamati dan mendengar isi surat itu, Soetanti dibuat tak bedaya, ia seperti melayang, senyum-senyum sendiri. Sementara di sisi lain memahami gejala yang tidak beres dari anaknya, maka Moedigdo menyetujui lamaran tersebut. Pada awal Tahun 1948, Aidit yang berusia 25 tahun, dan Soetanti yang berusia 24 tahun menikah secara Islam tanpa pesta di rumah K.H Raden Dasuki, sesepuh PKI Solo yang bertindak sebagai penghulu.

 Sebagaimana yang diberitakan pada majalah Tempo dalam sebuah tulisan yang berjudul Meminang Lewat Sepucuk Surat (2007:  64) disebutkan bahwa “Ahmad Aidit yang anak seorang mantri kehutanan dari Belitung adalah seorang pemuda serius, tak pandai berkelakar, ia menyukai musik klasik. Hari-harinya dihabiskan untuk membaca buku sementara hal yang dipikirkannya hanyalah bagaimana memajukan partai”.



Karakter Aidit yang semacam itu tentu bukan tipe laki-laki penggoda, tapi bukan berarti hasratnya untuk becinta tidak ada. Hasrat cinta Aidit tumbuh manakala ia kedatangan Mahasiswi kedokteran dari Yogyakata bernama Soetanti. Mahasiswi calon dokter itu dijuluki oleh kawan-kawannya dengan sebutan “Bolletje” bahasa Belanda yang maksudnya “bulat” atau si bohay dalam bahasa kekinian.


Perjumpaan Soetanti dan Aidit sebetulnya perjumpaan yang tak direncanakan, Aidit kala itu bekerja di kantor majalah Dua Bulanan Bintang Merah yang berlokasi di Jalan Purnosari Kota Solo.


Mulanya Soetanti datang ke di kantor majalah Dua Bulanan Bintang Merah bersama satu kawan dekatnya, tujuannya untuk melakukan survei apakah pimpinan majalah tersebut bersedia atau tidak jika dimintai bantuan untuk mengisi kuliah umum di kampusnya. Kala itu Soetanti merupakan aktivis dari Sarekat Mahasiswa Indonesia.


Atas nama Sarekat Mahasiswa Indonesia, Soetanti mengundang Aidit sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda Partai Komunis Indonesia Solo untuk memberikan ”kuliah” soal politik dan keorganisasian. Karena urusan organisasi itulah Soetanti kerap bolak-balik Yogyakarta-Solo. Kunjungan berikutnya tak lagi ke kantor Bintang Merah, tapi ke kantor PKI di Jalan Boemi 29. Dari pertemuan-pertemuan itu hubungan Aidit dan Soetanti kian akrab.


Berbeda dengan watak Aidit yang serius, Soetanti dikenal sebagai gadis yang periang, gampang akrab, dan suka bicara ceplas-ceplos. Latar belakang keluaganyapun tidak kalah terhormat dengan Aidit, sebab Soetanti merupakan putri seorang ningrat Mangkunegaran, kakeknya seorang Bupati Tuban, ditambah lagi predikatnya mahasiswi kedokteran membuatnya kian dihormati dalam organisasi dan dalam kehidupan sehari-hari.


Karakter Soetanti yang semacam itu gerak tubuhnya mudah ditebak, gadis semacam itu bila suka pada sesuatu akan tampak rasa sukanya, sebaliknya bila benci pada sesuatu akan tanpak kebenciannya.


Berkenaan dengan sikapnya pada Aidit, Soetanti rupanya diam-diam mengagumi Aidit, ia kagum pada argumen dan penjelasan-penjelasan yang disampaikan Aidit pada kuliah umum yang ia gelar, Soetanti juga terpikat pada Aidit saat fasih mengutip filsafat Marxisme, mengurai revolusi Prancis dan Rusia. Setiap kali Aidit berpidato, Soetanti senantiasa menyimak di bangku paling depan sambil senyum-senyum tak jelas.


Selaku aktivis dari Sarekat Mahasiswa Indonesia, Soetanti menjadi kecanduan kuliah umum yang disampaikan Aidit, iapun beberapa kali melibatkan Aidit dalam seminar dan acara-acara lainnya di Kampus. Pada tahap inilah hubungan Aidit dan Soetanti kian akrab.


Aidit yang berkarakter serius dan tidak pandai berkelakar mampu menebak gejala-gejala dan sikap aneh Soetanti pada dirinya, ia merasa Soetanti mencintainya. Hal tersebut dibuktikan dari tingkah laku Soetanti yang merasa cemburu bila ada kawan-kawan perempuannya yang berlama-lama sekedar ngobrol dengannya. Meskipun begitu Aidit tidak sedikitpun menampakan rasa sukanya terhadap Soetanti.


Sampai pada suatu ketika, selepas berpidato dalam sebuah kuliah umum, Aidit menghampiri Soetanti lalu menyerahkan sepucuk surat yang ditujukan kepada Bapak Moedigdo, ayah Soetanti, seorang kepala polisi Semarang yang aktif di Partai Sosialis Indonesia.


Sebetulnya Soetanti tidak mengetahui isi surat itu, lagipula surat itu ditujukan untuk ayahnya, akan tetapi setelah ayah Soetanti membuka surat tepat didepan Soetanti,  rupanya surat itu adalah surat lamaran. Aidit menyampaikan niat meminang Soetanti. Melihat, mengamati dan mendengar isi surat itu, Soetanti dibuat tak bedaya, ia seperti melayang, senyum-senyum sendiri. Sementara di sisi lain memahami gejala yang tidak beres dari anaknya, maka Moedigdo menyetujui lamaran tersebut.


Pada awal Tahun 1948, Aidit yang berusia 25 tahun, dan Soetanti yang berusia 24 tahun menikah secara Islam tanpa pesta di rumah K.H Raden Dasuki, sesepuh PKI Solo yang bertindak sebagai penghulu.


Sumber : Sejarah Cirebon