Nyatanya: Sultan Hamengkubuwono (HB) VI bukanlah anak dari Sultan HB V. Sultan HB VI adalah adik kandung dari Sultan HB V. Tahta diwariskan ke HB VI karena Sultan HB V mangkat secara tiba-tiba tanpa memiliki putra mahkota yang dewasa.
WIDOYOKO
.... berani menjalani kehidupan, adalah sebuah konsekuensi untuk ikut membangun sebuah peradaban yang lebih bertanggung jawab ...
31 March 2026
30 March 2026
CakNun.com Password Iblis (Pokoknya Saya yang Benar) Emha Ainun Nadjib Kali ini saya benar-benar marah kepada Iblis. Marah besar. Tidak bisa saya tahan lagi. Tak ada stok kesabaran lagi. Apalagi kompromi. Saya harus segera menemukan si raja bangsat ini. Kemungkinan besar saya akan tantang dia berkelahi. Terus terang semakin udzur usia saya semakin kacau hidup saya, karena polah Iblis, bukan karena yang lain, misalnya Malaikat atau Tuhan. Banyak anak-anak saya di sana sini yang usianya masih muda tapi mengalami benturan besar dalam hidupnya, misalnya terpaksa bercerai dengan suami atau istrinya. Mereka bilang “Yaaah, sebenarnya saya maunya tetap berkeluarga baik-baik, tapi Tuhan yang di atas sana berkehendak lain…” Masih lumayan yang mengacau hidup mereka adalah Tuhan. Pasti ada hikmahnya kalau Tuhan yang berinisiatif. Tuhan memang Maha Menyesatkan (Al-Mudhill), tetapi pasti ada kebaikan yang ditabiri rahasia di balik penderitaan. Toh Tuhan juga Maha Memberi Petunjuk (Al-Hadi). Pun jelas Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Jadi semenderita apapun, tetap ada menit atau hari atau bulan atau tahun berikutnya yang memuat solusi dan kebahagiaan untuk manusia. Kalau durasi waktu permainan sepakbola adalah 90 menit, maka menit ke-90 hidup kita kan nanti di ujung keabadian. Kehidupan di dunia ini hanya detik-detik awal di menit pertama permainan sepakbola kehidupan. Sesudah mati kita lepas dari babak penyisihan, masuk ke perdelapan final. Kalah atau menangnya hidup kita masih harus kita tunggu kelak di “kholidina fiha abada”: di bagian akhir dari kekekalan dan keabadian. Kita ini penduduk asli Sorga. Disuruh “Malioboro” (dadio Wali kang ngumboro) sejenak. “Mampir ngombe”, kata orang Jawa. Menempuh perjalanan rindu, sampai ke love meeting point di Sorga kembali. “Katakan: kalau memang kalian mencintai Allah, maka ikutilah jalanku”. “Barangsiapa kangen untuk berjumpa dengan-Ku, maka berbuat baiklah selama di dunia”. Kehidupan yang berat di dunia dan kesengsaraan sedahsyat apapun tidak masalah selama di dunia, karena toh itu baru detik-detik awal Permainan Abadi. “Asalkan Engkau tidak marah kepadaku, wahai Maha Kekasih, aku tidak peduli nasib apapun yang harus kujalani di dunia”. Pokoknya kalau sekadar urusan di dunia: aku gak pathéken! Masalahnya, kesengsaraan yang saya alami ini bukan Tuhan inisiatornya, melainkan Iblis. Baik kesengsaraan sebagai individu, penderitaan sebagai seorang Muslim, maupun keterpurukan sebagai bangsa Indonesia. Iblis benar-benar menjalankan apa yang dulu dia tuduhkan kepada Adam dan anak turunnya: “Untuk apa Engkau ciptakan manusia, wahai Allah, toh sudah selalu jelas profesi mereka adalah merusak bumi dan berbunuh-bunuhan” di antara mereka, dengan berbagai cara dan dalam berbagai level, segmen, konteks dan nuansa. Iblis memang bandit, preman, korak, gali, munyuk, menyun, bangsat, taek lintung, dobol, demit, sèmpel, pekok, ahmaq… Nah, Ahmaq ini utamanya. Semua orang tahu apa itu Ahmaq. Sejak kecil saya berjuang, tirakat, lelaku, puasa nasi dan hanya makan gaplek atau bugik, latihan menaklukkan diri sendiri, mencintai Tuhan, alam dan manusia. Tapi di usia tua sekarang ini malah saya jadi Ahmaq. Iblis melakukan rekayasa, penelusupan, perongrongan, subversi, terorisme intelektual dan berbagai formula lagi, sehingga berhasil membuat saya menjadi Ahmaq. Saya frustrasi karena tiba-tiba menjumpai saya adalah Ahmaq: manusia yang tidak memenuhi syarat untuk disebut manusia. Manusia yang sudah tidak bisa diajak omong. Tidak bisa mendengarkan. Tidak mau bermusyawarah. Tidak bisa menerima apapun selain yang sudah ada pada dirinya. Manusia yang terkurung di dalam kotak kebenaran subjektifnya sendiri, sehingga kalau ia berekspresi, berinteraksi atau berdebat dengan manusia lain, yang ia bawa bukan kebenaran, melainkan pembenaran atas (yang ia sangka) kebenarannya sendiri. Pokoknya yang benar adalah saya. Siapa saja dan apa saja yang tidak sama dengan saya, pasti tidak benar. Pandangan yang bukan sebagaimana pandangan saya, berarti sesat. Pikiran yang tidak persis seperti pikiran saya, berarti kafir atau musyrik. Tindakan yang bertentangan dengan kemauan saya, berarti makar. Kata dan kalimat yang tidak cocok dengan kepentingan saya, berarti hoax. Kalau saya bilang a-b-c-d, maka alif-ba-ta adalah radikal. Kalau ketetapan saya adalah Sunday-Monday, maka Pahing-Kliwon adalah intoleransi. Kalau kebenaran saya adalah Abajadun-hawazun, maka Honocoroko adalah penghuni neraka. Kalau saya bilang Pemerintah benar, maka kebenarannya absolut sebagaimana Tuhan dan Nabi. Kalau saya nyatakan Pemerintah salah, maka kesalahannya mutlak seperti Iblis, Setan, Dajjal, Druhun. Dan anehnya, justru Iblis yang mendidik cara berpikir, mental dan budaya saya untuk ber-ahmaq ria seperti itu. Lebih tidak gampang dimengerti lagi aplikasi absurd itu kabarnya memang merupakan bagian dari klausul kontrak antara Iblis dengan Allah swt. Yang berlaku hingga Hari Kiamat. Yaumul Qiyamah. Hari Kebangkitan. Momentum Transformasi dari babak penyisihan di Bumi menuju babak berikutnya, dengan sistem nilai yang sama sekali berbeda. Entah dari jasmani mengefisien menjadi rohani. Jasad ke roh. Atau raga ke sukma. Atau Sukmo Nguntal Rogo. Entah bagaimana. Saya harus segera cari referensi tentang itu di Perpustakaan Universitas. Ada yang bilang bisa googling: Iblis.com. Password-nya: indonesiaraya. Akan saya lihat. Harus segera saya lakukan penelitian dan pendataan. Karena bukan hanya menyangkut kehancuran diri saya, tapi Iblis juga sangat menguasai seluruh perangkat perusakan dan penghancuran atas NKRI. Sedangkan menurut Nabi Isa As dan Sayidina Ali bin Abi Thalib, obatnya penyakit Ahmaq hanya satu: kematian. https://www.caknun.com/2017/password-iblis-com/
CakNun.com
Password Iblis
(Pokoknya Saya yang Benar)
Emha Ainun Nadjib
Kali ini saya benar-benar marah kepada Iblis. Marah besar. Tidak bisa saya tahan lagi. Tak ada stok kesabaran lagi. Apalagi kompromi. Saya harus segera menemukan si raja bangsat ini. Kemungkinan besar saya akan tantang dia berkelahi.
Terus terang semakin udzur usia saya semakin kacau hidup saya, karena polah Iblis, bukan karena yang lain, misalnya Malaikat atau Tuhan. Banyak anak-anak saya di sana sini yang usianya masih muda tapi mengalami benturan besar dalam hidupnya, misalnya terpaksa bercerai dengan suami atau istrinya. Mereka bilang “Yaaah, sebenarnya saya maunya tetap berkeluarga baik-baik, tapi Tuhan yang di atas sana berkehendak lain…”
Masih lumayan yang mengacau hidup mereka adalah Tuhan. Pasti ada hikmahnya kalau Tuhan yang berinisiatif. Tuhan memang Maha Menyesatkan (Al-Mudhill), tetapi pasti ada kebaikan yang ditabiri rahasia di balik penderitaan. Toh Tuhan juga Maha Memberi Petunjuk (Al-Hadi). Pun jelas Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Jadi semenderita apapun, tetap ada menit atau hari atau bulan atau tahun berikutnya yang memuat solusi dan kebahagiaan untuk manusia.
Kalau durasi waktu permainan sepakbola adalah 90 menit, maka menit ke-90 hidup kita kan nanti di ujung keabadian. Kehidupan di dunia ini hanya detik-detik awal di menit pertama permainan sepakbola kehidupan. Sesudah mati kita lepas dari babak penyisihan, masuk ke perdelapan final. Kalah atau menangnya hidup kita masih harus kita tunggu kelak di “kholidina fiha abada”: di bagian akhir dari kekekalan dan keabadian.
Kita ini penduduk asli Sorga. Disuruh “Malioboro” (dadio Wali kang ngumboro) sejenak. “Mampir ngombe”, kata orang Jawa. Menempuh perjalanan rindu, sampai ke love meeting point di Sorga kembali. “Katakan: kalau memang kalian mencintai Allah, maka ikutilah jalanku”. “Barangsiapa kangen untuk berjumpa dengan-Ku, maka berbuat baiklah selama di dunia”. Kehidupan yang berat di dunia dan kesengsaraan sedahsyat apapun tidak masalah selama di dunia, karena toh itu baru detik-detik awal Permainan Abadi. “Asalkan Engkau tidak marah kepadaku, wahai Maha Kekasih, aku tidak peduli nasib apapun yang harus kujalani di dunia”. Pokoknya kalau sekadar urusan di dunia: aku gak pathéken!
Masalahnya, kesengsaraan yang saya alami ini bukan Tuhan inisiatornya, melainkan Iblis. Baik kesengsaraan sebagai individu, penderitaan sebagai seorang Muslim, maupun keterpurukan sebagai bangsa Indonesia. Iblis benar-benar menjalankan apa yang dulu dia tuduhkan kepada Adam dan anak turunnya: “Untuk apa Engkau ciptakan manusia, wahai Allah, toh sudah selalu jelas profesi mereka adalah merusak bumi dan berbunuh-bunuhan” di antara mereka, dengan berbagai cara dan dalam berbagai level, segmen, konteks dan nuansa. Iblis memang bandit, preman, korak, gali, munyuk, menyun, bangsat, taek lintung, dobol, demit, sèmpel, pekok, ahmaq…
Nah, Ahmaq ini utamanya. Semua orang tahu apa itu Ahmaq. Sejak kecil saya berjuang, tirakat, lelaku, puasa nasi dan hanya makan gaplek atau bugik, latihan menaklukkan diri sendiri, mencintai Tuhan, alam dan manusia. Tapi di usia tua sekarang ini malah saya jadi Ahmaq. Iblis melakukan rekayasa, penelusupan, perongrongan, subversi, terorisme intelektual dan berbagai formula lagi, sehingga berhasil membuat saya menjadi Ahmaq.
Saya frustrasi karena tiba-tiba menjumpai saya adalah Ahmaq: manusia yang tidak memenuhi syarat untuk disebut manusia. Manusia yang sudah tidak bisa diajak omong. Tidak bisa mendengarkan. Tidak mau bermusyawarah. Tidak bisa menerima apapun selain yang sudah ada pada dirinya. Manusia yang terkurung di dalam kotak kebenaran subjektifnya sendiri, sehingga kalau ia berekspresi, berinteraksi atau berdebat dengan manusia lain, yang ia bawa bukan kebenaran, melainkan pembenaran atas (yang ia sangka) kebenarannya sendiri.
Pokoknya yang benar adalah saya. Siapa saja dan apa saja yang tidak sama dengan saya, pasti tidak benar. Pandangan yang bukan sebagaimana pandangan saya, berarti sesat. Pikiran yang tidak persis seperti pikiran saya, berarti kafir atau musyrik. Tindakan yang bertentangan dengan kemauan saya, berarti makar. Kata dan kalimat yang tidak cocok dengan kepentingan saya, berarti hoax. Kalau saya bilang a-b-c-d, maka alif-ba-ta adalah radikal. Kalau ketetapan saya adalah Sunday-Monday, maka Pahing-Kliwon adalah intoleransi. Kalau kebenaran saya adalah Abajadun-hawazun, maka Honocoroko adalah penghuni neraka.
Kalau saya bilang Pemerintah benar, maka kebenarannya absolut sebagaimana Tuhan dan Nabi. Kalau saya nyatakan Pemerintah salah, maka kesalahannya mutlak seperti Iblis, Setan, Dajjal, Druhun. Dan anehnya, justru Iblis yang mendidik cara berpikir, mental dan budaya saya untuk ber-ahmaq ria seperti itu. Lebih tidak gampang dimengerti lagi aplikasi absurd itu kabarnya memang merupakan bagian dari klausul kontrak antara Iblis dengan Allah swt. Yang berlaku hingga Hari Kiamat. Yaumul Qiyamah. Hari Kebangkitan. Momentum Transformasi dari babak penyisihan di Bumi menuju babak berikutnya, dengan sistem nilai yang sama sekali berbeda. Entah dari jasmani mengefisien menjadi rohani. Jasad ke roh. Atau raga ke sukma. Atau Sukmo Nguntal Rogo. Entah bagaimana. Saya harus segera cari referensi tentang itu di Perpustakaan Universitas. Ada yang bilang bisa googling: Iblis.com. Password-nya: indonesiaraya.
Akan saya lihat. Harus segera saya lakukan penelitian dan pendataan. Karena bukan hanya menyangkut kehancuran diri saya, tapi Iblis juga sangat menguasai seluruh perangkat perusakan dan penghancuran atas NKRI. Sedangkan menurut Nabi Isa As dan Sayidina Ali bin Abi Thalib, obatnya penyakit Ahmaq hanya satu: kematian.
Sumber : Cahyo Sibebar, Maiyah Nusantara
https://www.caknun.com/2017/password-iblis-com/
Potret eksekusi mati Kartosuwiryo Ket : Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo dieksekusi mati pada 5 September 1962 oleh aparat keamanan Indonesia atas perintah Pengadilan. Eksekusi dilaksanakan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta. Ia ditangkap sebelumnya pada 4 Juni 1962 di Gunung Geber/Rakutak, Jawa Barat, setelah perburuan panjang operasi Pagar Betis.
Potret eksekusi mati Kartosuwiryo
Ket :
Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo dieksekusi mati pada 5 September 1962 oleh aparat keamanan Indonesia atas perintah Pengadilan. Eksekusi dilaksanakan di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta. Ia ditangkap sebelumnya pada 4 Juni 1962 di Gunung Geber/Rakutak, Jawa Barat, setelah perburuan panjang operasi Pagar Betis.
29 March 2026
Makam Mbah Andri Orang Sakti Yang Meninggal Di Usia 300 Tahun Lebih Dan Guru Spiritual Bung Karno #makamkeramat #Makammbahandri #Makamviral #Guruspiritualbungkarno
Makam Mbah Andri
Orang Sakti Yang Meninggal
Di Usia 300 Tahun Lebih
Dan Guru Spiritual Bung Karno #makamkeramat #Makammbahandri #Makamviral #Guruspiritualbungkarno
26 March 2026
“THEY STOLE MUSSOLINI’S BODY FROM HIS GRAVE IN THE DEAD OF NIGHT… AND IT SPARKED A NATIONAL SCANDAL THAT SHOOK ITALY!” On April 22, 1946, a group of die-hard fascists led by Domenico Letizi pulled off one of the most audacious raids in postwar Italy. Under cover of darkness, they broke into the Musocco Cemetery in Milan, dug up the remains of Benito Mussolini, and vanished with the dictator’s corpse. The shocking theft sent the Italian government into full panic mode, triggering urgent searches and frantic media coverage. Mussolini, who had been executed and publicly displayed just a year earlier, was still capable of dividing the nation even in death. The full, chilling details of how they stole the body, what they planned to do with it, and the bizarre journey his corpse took afterward are far more shocking than most history books admit…
“THEY STOLE MUSSOLINI’S BODY FROM HIS GRAVE IN THE DEAD OF NIGHT… AND IT SPARKED A NATIONAL SCANDAL THAT SHOOK ITALY!”
On April 22, 1946, a group of die-hard fascists led by Domenico Letizi pulled off one of the most audacious raids in postwar Italy. Under cover of darkness, they broke into the Musocco Cemetery in Milan, dug up the remains of Benito Mussolini, and vanished with the dictator’s corpse. The shocking theft sent the Italian government into full panic mode, triggering urgent searches and frantic media coverage. Mussolini, who had been executed and publicly displayed just a year earlier, was still capable of dividing the nation even in death.
The full, chilling details of how they stole the body, what they planned to do with it, and the bizarre journey his corpse took afterward are far more shocking than most history books admit…
*DIKATAI KAFIR, DIHINA ULAMA, DAN SEKOLAHNYA DIBAKAR.* *TETAPI JUSTRU BELIAU MENYELAMATKAN INDONESIA DARI KEBODOHAN* (Sampai-sampai.asetnya dijual untuk menggaji pendidik yang membantunya). Apakah sekarang masih demikian, para pengurus yang ada...???????? Atau justru sebaliknya. . Ketika semua ulama menolak ilmu Barat, satu tokoh justru mempertemukan Islam dan sains di teras rumahnya sendiri. Ketika kaum kolonial ingin membiarkan rakyat bodoh, ia justru mendirikan sekolah modern tanpa bantuan siapapun. K.H. Ahmad Dahlan melihat anak-anak pribumi tumbuh tanpa akses pendidikan. Mereka dipaksa kerja, dipandang rendah, dan tidak punya masa depan. Rasa iba bukan hanya membuatnya menangis, tapi membuatnya bertindak. Ia meminjam ruang tamu rumahnya sendiri untuk dijadikan kelas. Dengan tiga meja, tiga kursi, dan satu papan tulis, ia mulai mengajar. Hanya sembilan murid, tapi impiannya sangat besar: membebaskan bangsa. Banyak ulama menentangnya. Menurut mereka, mengajarkan ilmu umum berarti tunduk pada Barat. Islam akan tercemar, katanya. Orangtuapun enggan menyekolahkan anaknya. Takut mereka menjadi kafir. Takut mereka lupa agama. Ahmad Dahlan dipandang sesat. Tapi ia tidak mundur. Ia percaya, Islam tidak pernah takut pada ilmu. Islam tidak pernah lemah pada modernitas. Islam memang datang untuk mencerahkan. Perlahan, muridnya bertambah. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung, dan juga belajar Al-Qur’an. Semua di satu ruangan, tanpa sekat. Dari ruang tamu itu, lahir Muhammadiyah. Dari Muhammadiyah, lahir ribuan sekolah. Dari ribuan sekolah, lahir puluhan ribu lulusan. Hingga hari ini, lebih dari 2.000 lembaga pendidikan Muhammadiyah ada di seluruh Indonesia. Mulai dari TK hingga universitas. K.H. Ahmad Dahlan membuktikan, pendidikan bukan soal bangunan megah atau kurikulum canggih. Pendidikan adalah niat untuk membebaskan. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga akhlak. Tidak hanya mencerdaskan, tapi juga memanusiakan. Itulah filsafat pendidikannya. Dan ia membuktikan, perubahan tidak datang dari mereka yang pintar bicara, tapi dari mereka yang berani bertindak meski sendirian. Kalau kamu ingin tahu lebih dalam bagaimana seorang ulama bisa mengubah masa depan bangsa dengan pendidikan, baca buku ini. Filsafat Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan karya Utami Pratiwi. Buku ini akan buat kamu terdiam, terharu, dan tergerak.
*DIKATAI KAFIR, DIHINA ULAMA, DAN SEKOLAHNYA DIBAKAR.*
*TETAPI JUSTRU BELIAU MENYELAMATKAN INDONESIA DARI KEBODOHAN*
(Sampai-sampai.asetnya dijual untuk menggaji pendidik yang membantunya).
Apakah sekarang masih demikian, para pengurus yang ada...????????
Atau justru sebaliknya.
.
Ketika semua ulama menolak ilmu Barat, satu tokoh justru mempertemukan Islam dan sains di teras rumahnya sendiri.
Ketika kaum kolonial ingin membiarkan rakyat bodoh, ia justru mendirikan sekolah modern tanpa bantuan siapapun.
K.H. Ahmad Dahlan melihat anak-anak pribumi tumbuh tanpa akses pendidikan. Mereka dipaksa kerja, dipandang rendah, dan tidak punya masa depan.
Rasa iba bukan hanya membuatnya menangis, tapi membuatnya bertindak. Ia meminjam ruang tamu rumahnya sendiri untuk dijadikan kelas.
Dengan tiga meja, tiga kursi, dan satu papan tulis, ia mulai mengajar. Hanya sembilan murid, tapi impiannya sangat besar: membebaskan bangsa.
Banyak ulama menentangnya. Menurut mereka, mengajarkan ilmu umum berarti tunduk pada Barat. Islam akan tercemar, katanya.
Orangtuapun enggan menyekolahkan anaknya. Takut mereka menjadi kafir. Takut mereka lupa agama. Ahmad Dahlan dipandang sesat.
Tapi ia tidak mundur. Ia percaya, Islam tidak pernah takut pada ilmu. Islam tidak pernah lemah pada modernitas. Islam memang datang untuk mencerahkan.
Perlahan, muridnya bertambah. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung, dan juga belajar Al-Qur’an. Semua di satu ruangan, tanpa sekat.
Dari ruang tamu itu, lahir Muhammadiyah. Dari Muhammadiyah, lahir ribuan sekolah. Dari ribuan sekolah, lahir puluhan ribu lulusan.
Hingga hari ini, lebih dari 2.000 lembaga pendidikan Muhammadiyah ada di seluruh Indonesia. Mulai dari TK hingga universitas.
K.H. Ahmad Dahlan membuktikan, pendidikan bukan soal bangunan megah atau kurikulum canggih. Pendidikan adalah niat untuk membebaskan.
Ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga akhlak. Tidak hanya mencerdaskan, tapi juga memanusiakan. Itulah filsafat pendidikannya.
Dan ia membuktikan, perubahan tidak datang dari mereka yang pintar bicara, tapi dari mereka yang berani bertindak meski sendirian.
Kalau kamu ingin tahu lebih dalam bagaimana seorang ulama bisa mengubah masa depan bangsa dengan pendidikan, baca buku ini.
Filsafat Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan karya Utami Pratiwi. Buku ini akan buat kamu terdiam, terharu, dan tergerak.
25 March 2026
Ketika Presiden Soekarno wafat, polemik muncul mengenai dimana seharusnya Presiden Soekarno dimakamkan. Keluarga ada yang menghendaki dimakamkan di Surabaya, ditempat kelahirannya, sementara keluarga yang lain menghendaki dimakamkan di Bogor sesuai wasiat Almarhum yang masih samar-samar. Polemik ini tidak kunjung tuntas, padahal Presiden Pertama RI itu harus segera dimakamkan. Jendral Soeharto akhirnya mengetahui jika Soekarno sangat sayang sekali dengan ibunya. Oleh karena itu, Soehartopun memakamkannya disamping makam ibunya. Presiden Soekarno dimakamkan di samping makam ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur. Pemakaman ini didasarkan pada Keppres No. 44 Tahun 1970, di mana Soekarno disemayamkan dekat dengan orang tuanya setelah wafat pada 21 Juni 1970. #DPU_STORY || #NCLSPTRA
Ketika Presiden Soekarno wafat, polemik muncul mengenai dimana seharusnya Presiden Soekarno dimakamkan. Keluarga ada yang menghendaki dimakamkan di Surabaya, ditempat kelahirannya, sementara keluarga yang lain menghendaki dimakamkan di Bogor sesuai wasiat Almarhum yang masih samar-samar.
Polemik ini tidak kunjung tuntas, padahal Presiden Pertama RI itu harus segera dimakamkan. Jendral Soeharto akhirnya mengetahui jika Soekarno sangat sayang sekali dengan ibunya. Oleh karena itu, Soehartopun memakamkannya disamping makam ibunya.
Presiden Soekarno dimakamkan di samping makam ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur. Pemakaman ini didasarkan pada Keppres No. 44 Tahun 1970, di mana Soekarno disemayamkan dekat dengan orang tuanya setelah wafat pada 21 Juni 1970.
Sumber : Nicola Saputra
#DPU_STORY || #NCLSPTRA
24 March 2026
Ir. Sakirman ( Tokoh PKI )adalah sosok yang sangat unik dalam sejarah Indonesia karena ia merupakan kakak kandung dari Pahlawan Revolusi Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Siswondo Parman. Meskipun mereka bersaudara, keduanya berada di kutub politik yang benar-benar berlawanan. Berikut adalah profil singkat mengenai Ir. Sakirman: Profil dan Latar Belakang • Pendidikan Tinggi: Sesuai gelarnya (Ir.), beliau adalah seorang insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Ia merupakan angkatan yang sama dengan beberapa tokoh besar bangsa lainnya. • Aktivis Pergerakan: Sebelum terjun penuh ke dunia politik komunis, ia aktif dalam pergerakan nasional melawan penjajahan Belanda. Peran di PKI (Partai Komunis Indonesia) • Tokoh Elit: Ir. Sakirman bukan anggota biasa. Beliau adalah tokoh senior dan anggota Politbiro CC PKI (badan pengambil keputusan tertinggi di partai). • Jabatan Publik: Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dan merupakan salah satu arsitek politik partai di bidang ekonomi dan teknik. Hubungan Tragis dengan S. Parman Perbedaan ideologi antara Sakirman (Komunis) dan S. Parman (TNI AD) sering disebut sebagai "Kisah Brutus" versi Indonesia atau drama keluarga yang paling tragis dalam sejarah politik tanah air: 1. Ideologi: Sakirman sangat setia pada garis partai PKI, sementara adiknya, S. Parman, adalah salah satu perwira intelijen TNI AD yang paling gigih menentang pengaruh PKI di dalam pemerintahan. 2. Peristiwa G30S: Ironisnya, saat S. Parman diculik dan dibunuh oleh kelompok yang didukung oleh partainya sendiri (PKI) pada 1 Oktober 1965, Sakirman berada di jajaran elit pimpinan partai tersebut. Akhir Hayat Setelah peristiwa G30S gagal, Ir. Sakirman menjadi buronan pemerintah Orde Baru. Ia sempat melarikan diri ke Jawa Tengah namun akhirnya ditangkap. Nasib akhirnya tidak tercatat secara detail dalam sejarah publik sebagaimana tokoh besar PKI lainnya (seperti Aidit atau Nyoto), namun ia diketahui meninggal dunia dalam masa pengejaran atau penahanan tersebut.
Ir. Sakirman ( Tokoh PKI )adalah sosok yang sangat unik dalam sejarah Indonesia karena ia merupakan kakak kandung dari Pahlawan Revolusi Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Siswondo Parman.
Meskipun mereka bersaudara, keduanya berada di kutub politik yang benar-benar berlawanan. Berikut adalah profil singkat mengenai Ir. Sakirman:
Profil dan Latar Belakang
• Pendidikan Tinggi: Sesuai gelarnya (Ir.), beliau adalah seorang insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Ia merupakan angkatan yang sama dengan beberapa tokoh besar bangsa lainnya.
• Aktivis Pergerakan: Sebelum terjun penuh ke dunia politik komunis, ia aktif dalam pergerakan nasional melawan penjajahan Belanda.
Peran di PKI (Partai Komunis Indonesia)
• Tokoh Elit: Ir. Sakirman bukan anggota biasa. Beliau adalah tokoh senior dan anggota Politbiro CC PKI (badan pengambil keputusan tertinggi di partai).
• Jabatan Publik: Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dan merupakan salah satu arsitek politik partai di bidang ekonomi dan teknik.
Hubungan Tragis dengan S. Parman
Perbedaan ideologi antara Sakirman (Komunis) dan S. Parman (TNI AD) sering disebut sebagai "Kisah Brutus" versi Indonesia atau drama keluarga yang paling tragis dalam sejarah politik tanah air:
1. Ideologi: Sakirman sangat setia pada garis partai PKI, sementara adiknya, S. Parman, adalah salah satu perwira intelijen TNI AD yang paling gigih menentang pengaruh PKI di dalam pemerintahan.
2. Peristiwa G30S: Ironisnya, saat S. Parman diculik dan dibunuh oleh kelompok yang didukung oleh partainya sendiri (PKI) pada 1 Oktober 1965, Sakirman berada di jajaran elit pimpinan partai tersebut.
Akhir Hayat
Setelah peristiwa G30S gagal, Ir. Sakirman menjadi buronan pemerintah Orde Baru. Ia sempat melarikan diri ke Jawa Tengah namun akhirnya ditangkap. Nasib akhirnya tidak tercatat secara detail dalam sejarah publik sebagaimana tokoh besar PKI lainnya (seperti Aidit atau Nyoto), namun ia diketahui meninggal dunia dalam masa pengejaran atau penahanan tersebut.
Pertemuan antara Presiden Soekarno dan Che Guevara adalah salah satu momen ikonik dalam sejarah diplomasi dunia, yang mempertemukan dua tokoh revolusioner besar dari belahan bumi yang berbeda. Berikut adalah ringkasan kisah pertemuan bersejarah tersebut: 1. Waktu dan Tempat Pertemuan ini terjadi pada Juni 1959 di Jakarta. Che Guevara datang ke Indonesia sebagai bagian dari delegasi resmi Kuba, hanya beberapa bulan setelah kemenangan Revolusi Kuba (Januari 1959). Saat itu, Che menjabat sebagai menteri dan utusan khusus Fidel Castro untuk menjalin hubungan dengan negara-negara Asia dan Afrika. 2. Keakraban yang Tak Terduga Meski berasal dari latar belakang budaya yang sangat berbeda, keduanya langsung merasa cocok. Soekarno menyambut Che dengan sangat hangat. Ada beberapa detail menarik dari interaksi mereka: • Hobi yang Sama: Keduanya dikenal sebagai perokok berat. Dalam beberapa foto, terlihat mereka saling berbagi cerutu (Che dengan cerutu Kuba-nya) dan rokok kretek (favorit Soekarno). • Obrolan Santai: Mereka tidak hanya bicara soal politik formal, tapi juga bercanda. Kabarnya, Che sempat mengagumi koleksi seni Soekarno di Istana. 3. Kesamaan Ideologi Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Ada misi politik yang kuat di baliknya: • Anti-Imperialisme: Keduanya memiliki musuh bersama, yaitu kolonialisme dan imperialisme Barat (NEKOLIM, istilah Soekarno). • Semangat KAA: Che sangat terinspirasi oleh semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung. Ia ingin membawa semangat solidaritas bangsa-bangsa selatan tersebut ke Amerika Latin. • Revolusi Mental: Soekarno bercerita tentang konsep Marhaenisme dan revolusi Indonesia, sementara Che berbagi pengalaman gerilya di hutan Sierra Maestra. 4. Dampak Pertemuan • Hubungan Diplomatik: Pertemuan ini menjadi fondasi kuat hubungan diplomatik Indonesia-Kuba. Soekarno kemudian membalas kunjungan tersebut dengan pergi ke Havana pada tahun 1960, di mana ia menjadi kepala negara asing pertama yang mengunjungi Kuba setelah revolusi. • Simbol Perlawanan: Foto-foto mereka yang sedang tertawa bersama menjadi simbol persatuan negara berkembang melawan dominasi kekuatan besar dunia di era Perang Dingin. Fakta Menarik: Saat Soekarno berkunjung ke Kuba tahun 1960, ia menghadiahi Fidel Castro sebuah keris, sementara Castro memberikan seragam militer Kuba kepada Soekarno. Keakraban yang dimulai dari pertemuan dengan Che inilah yang membuat hubungan kedua negara sangat romantis di era 60-an.
Pertemuan antara Presiden Soekarno dan Che Guevara adalah salah satu momen ikonik dalam sejarah diplomasi dunia, yang mempertemukan dua tokoh revolusioner besar dari belahan bumi yang berbeda.
Berikut adalah ringkasan kisah pertemuan bersejarah tersebut:
1. Waktu dan Tempat
Pertemuan ini terjadi pada Juni 1959 di Jakarta. Che Guevara datang ke Indonesia sebagai bagian dari delegasi resmi Kuba, hanya beberapa bulan setelah kemenangan Revolusi Kuba (Januari 1959). Saat itu, Che menjabat sebagai menteri dan utusan khusus Fidel Castro untuk menjalin hubungan dengan negara-negara Asia dan Afrika.
2. Keakraban yang Tak Terduga
Meski berasal dari latar belakang budaya yang sangat berbeda, keduanya langsung merasa cocok. Soekarno menyambut Che dengan sangat hangat. Ada beberapa detail menarik dari interaksi mereka:
• Hobi yang Sama: Keduanya dikenal sebagai perokok berat. Dalam beberapa foto, terlihat mereka saling berbagi cerutu (Che dengan cerutu Kuba-nya) dan rokok kretek (favorit Soekarno).
• Obrolan Santai: Mereka tidak hanya bicara soal politik formal, tapi juga bercanda. Kabarnya, Che sempat mengagumi koleksi seni Soekarno di Istana.
3. Kesamaan Ideologi
Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Ada misi politik yang kuat di baliknya:
• Anti-Imperialisme: Keduanya memiliki musuh bersama, yaitu kolonialisme dan imperialisme Barat (NEKOLIM, istilah Soekarno).
• Semangat KAA: Che sangat terinspirasi oleh semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955 di Bandung. Ia ingin membawa semangat solidaritas bangsa-bangsa selatan tersebut ke Amerika Latin.
• Revolusi Mental: Soekarno bercerita tentang konsep Marhaenisme dan revolusi Indonesia, sementara Che berbagi pengalaman gerilya di hutan Sierra Maestra.
4. Dampak Pertemuan
• Hubungan Diplomatik: Pertemuan ini menjadi fondasi kuat hubungan diplomatik Indonesia-Kuba. Soekarno kemudian membalas kunjungan tersebut dengan pergi ke Havana pada tahun 1960, di mana ia menjadi kepala negara asing pertama yang mengunjungi Kuba setelah revolusi.
• Simbol Perlawanan: Foto-foto mereka yang sedang tertawa bersama menjadi simbol persatuan negara berkembang melawan dominasi kekuatan besar dunia di era Perang Dingin.
Fakta Menarik:
Saat Soekarno berkunjung ke Kuba tahun 1960, ia menghadiahi Fidel Castro sebuah keris, sementara Castro memberikan seragam militer Kuba kepada Soekarno. Keakraban yang dimulai dari pertemuan dengan Che inilah yang membuat hubungan kedua negara sangat romantis di era 60-an.
Apa yang akan terjadi jika Partai Komunis Indonesia (PKI) berkuasa.Kita bisa melihatnya dari beberapa sudut pandang: ideologi, politik luar negeri, dan struktur sosial. Berikut adalah beberapa kemungkinan dampaknya: 1. Perubahan Ideologi Negara Besar kemungkinan Pancasila akan digantikan atau ditafsirkan ulang secara radikal untuk menyelaraskan dengan marxisme-leninisme. • Ateisme Negara vs Kebebasan Beragama: Meskipun PKI melalui konsep "Nasakom" (Nasionalisme, Agama, Komunisme) berusaha merangkul kelompok agama, secara ideologis komunisme murni cenderung skeptis terhadap institusi agama. Ketegangan dengan kelompok relijius mungkin akan meningkat secara sistematis. • Pendidikan: Kurikulum sekolah akan difokuskan pada doktrin perjuangan kelas dan materialisme dialektis. 2. Politik Luar Negeri: Poros Jakarta-Peking Indonesia kemungkinan besar akan keluar sepenuhnya dari pengaruh Barat. • Aliansi Komunis: Indonesia akan menjadi sekutu sangat dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Uni Soviet. • Konfrontasi: Sikap anti-imperialisme akan semakin keras, yang mungkin memperpanjang konfrontasi dengan Malaysia dan ketegangan dengan negara-negara tetangga yang beraliran kapitalis/liberal. 3. Ekonomi: Nasionalisasi Total PKI memiliki agenda ekonomi yang sangat spesifik yang berfokus pada rakyat kecil, namun berisiko tinggi secara makro: • Land Reform (Reforma Agraria): PKI akan menjalankan "Aksi Sepihak" secara legal untuk mengambil alih tanah-tanah milik tuan tanah atau perkebunan besar dan membagikannya kepada petani. Ini bisa memicu konflik horizontal yang luas. • Nasionalisasi Perusahaan Asing: Semua aset perusahaan Barat di bidang minyak, tambang, dan perkebunan akan diambil alih sepenuhnya oleh negara. 4. Struktur Politik dan Sosial • Angkatan Kelima: PKI sangat mendorong pembentukan "Angkatan Kelima", yaitu buruh dan tani yang dipersenjatai. Jika mereka berkuasa, ini bisa menggantikan atau setidaknya menyaingi peran TNI (AD), yang berpotensi menyebabkan gesekan militer internal. • Sistem Satu Partai: Seperti negara komunis lainnya, ada kecenderungan kuat menuju sistem partai tunggal atau kepemimpinan otoriter terpusat di bawah Politbiro PKI, yang membatasi oposisi politik. Kesimpulan Secara keseluruhan, Indonesia mungkin akan menjadi negara sosialis-komunis terbesar di Asia Tenggara dengan pengaruh Tiongkok yang sangat kuat. Namun, hal ini juga diprediksi akan menimbulkan resistensi hebat dari kelompok militer dan organisasi keagamaan, yang bisa memicu perang saudara yang berkepanjangan sebelum kekuasaan benar-benar stabil.#sorotan
Apa yang akan terjadi jika Partai Komunis Indonesia (PKI) berkuasa.Kita bisa melihatnya dari beberapa sudut pandang: ideologi, politik luar negeri, dan struktur sosial.
Berikut adalah beberapa kemungkinan dampaknya:
1. Perubahan Ideologi Negara
Besar kemungkinan Pancasila akan digantikan atau ditafsirkan ulang secara radikal untuk menyelaraskan dengan marxisme-leninisme.
• Ateisme Negara vs Kebebasan Beragama: Meskipun PKI melalui konsep "Nasakom" (Nasionalisme, Agama, Komunisme) berusaha merangkul kelompok agama, secara ideologis komunisme murni cenderung skeptis terhadap institusi agama. Ketegangan dengan kelompok relijius mungkin akan meningkat secara sistematis.
• Pendidikan: Kurikulum sekolah akan difokuskan pada doktrin perjuangan kelas dan materialisme dialektis.
2. Politik Luar Negeri: Poros Jakarta-Peking
Indonesia kemungkinan besar akan keluar sepenuhnya dari pengaruh Barat.
• Aliansi Komunis: Indonesia akan menjadi sekutu sangat dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Uni Soviet.
• Konfrontasi: Sikap anti-imperialisme akan semakin keras, yang mungkin memperpanjang konfrontasi dengan Malaysia dan ketegangan dengan negara-negara tetangga yang beraliran kapitalis/liberal.
3. Ekonomi: Nasionalisasi Total
PKI memiliki agenda ekonomi yang sangat spesifik yang berfokus pada rakyat kecil, namun berisiko tinggi secara makro:
• Land Reform (Reforma Agraria): PKI akan menjalankan "Aksi Sepihak" secara legal untuk mengambil alih tanah-tanah milik tuan tanah atau perkebunan besar dan membagikannya kepada petani. Ini bisa memicu konflik horizontal yang luas.
• Nasionalisasi Perusahaan Asing: Semua aset perusahaan Barat di bidang minyak, tambang, dan perkebunan akan diambil alih sepenuhnya oleh negara.
4. Struktur Politik dan Sosial
• Angkatan Kelima: PKI sangat mendorong pembentukan "Angkatan Kelima", yaitu buruh dan tani yang dipersenjatai. Jika mereka berkuasa, ini bisa menggantikan atau setidaknya menyaingi peran TNI (AD), yang berpotensi menyebabkan gesekan militer internal.
• Sistem Satu Partai: Seperti negara komunis lainnya, ada kecenderungan kuat menuju sistem partai tunggal atau kepemimpinan otoriter terpusat di bawah Politbiro PKI, yang membatasi oposisi politik.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Indonesia mungkin akan menjadi negara sosialis-komunis terbesar di Asia Tenggara dengan pengaruh Tiongkok yang sangat kuat. Namun, hal ini juga diprediksi akan menimbulkan resistensi hebat dari kelompok militer dan organisasi keagamaan, yang bisa memicu perang saudara yang berkepanjangan sebelum kekuasaan benar-benar stabil.#sorotan
Sumber : Kadek Merta Yasa
"Secara zoogeografi kawasan Indonesia dibagi tiga pula: kawasan Asia hingga Paparan Sunda dengan fauna Asia, kawasan Indonesia Tengah dengan fauna campuran Asia-Australia, dan kawasan Australia hingga Irian dengan fauna Australia. Batas timur kawasan fauna Asia disebut Garis Wallace (GW), sedangkan batas kawasan fauna Australia dinamakan Garis Lydekker (GL). Garis fauna ini ditarik berdasarkan anggapan bahwa fauna Asia tidak dapat melakukan migrasi ke daratan Australia, dan sebaliknya. Tetapi, dalam makalahnya Sartono menunjukkan, fosil-fosil vertebrata serta artefak Plestosen – bekas permukiman manusia 1,6 juta tahun sampai 10 ribu tahun silam – ditemukan tidak hanya di Paparan Sunda, melainkan juga di kawasan Wallace. Malah, kata doktor geologi kuarter kelahiran Madiun itu, "migrasi akhirnya mencapai daratan Australia, Tasmania, dan Irian." Bahkan, dengan ditemukannya fosil gajah purba di Pulau Timor, 1969, Sartono menganggap garis batas fauna zoogeografi, seperti GW tadi, "telah gugur"." PETA BARU BADAK DAN GAJAH Konsep "berenang" dan "terbawa arus" dalam teori migrasi fauna ternyata lemah. Sebuah sumbangan ahli geologi pada penelitian arkeologi. (TEMPO, No. 4, Thn. XIV, 24 Maret 1984,”Ilmu dan Teknologi”) Fosil kuda nil ternyata tidak pernah ditemukan di sekitar Sungai Nil, di Negeri Mesir sana. Melainkan di Bumiayu, Jawa Tengah, pada sekitar 1930-an. Masih tampak utuh, fosil dengan panjang tubuh hampir 2 m dan tinggi 1,5 m itu tegak kalem di Museum Geologi Bandung. Sang kuda nil sendiri diperkirakan hidup sekitar 1,8 juta tahun silam. Kehadiran fosil ini – di antara sekitar 50.000 fosil koleksi museum geologi satu-satunya di Asia Tenggara yang pada 16 Mei nanti genap berusia 55 tahun – mendadak hangat dibicarakan dalam Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (REHPA) II di Cisarua, Bogor, dua pekan lalu. Rapat yang membahas semuat hasil penelitian arkeologi selama Pelita II dan III ini diramaikan oleh 52 makalah dan 64 ahli. Mereka berdatangan dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta dan Bali, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Museum Nasional, serta ITB, UI, UGM, dan Unud (Bali). Makalah yang termasuk paling menarik datang dari Prof. Dr. S. Sartono, guru besar Jurusan Geologi ITB. Makalah ini membawa perubahan besar dalam teori migrasi fauna yang dikenal selama ini. Dulu, kata Sartono, "para arkeolog dan zoolog menduga, penyeberangan dari daratan Asia hingga ke Australia dilakukan dengan perahu." Pada- hal, "dugaan ini lemah.” Perahu zaman baheula itu sangat sederhana, dibuat dari ranting pohon yang diikat seperti rakit, sehingga tidak mungkin digunakan mengarungi samudra dalam jarak jauh. Apalagi, "perahunya sendiri tak pernah ditemukan," ujar Sartono, 56. Ia juga menolak teori "berenang" dan "terbawa arus", karena "mana mungkin hewan berenang puluhan kilometer.” Selama ini, kawasan Indonesia secara umum dibagi tiga dari barat ke timur: Paparan Sunda, Bagian Tengah, dan Paparan Sahul (Arafura). Paparan Sunda mencakup Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Semenanjung Melayu, dengan kedalaman laut antara 60 m dan 100 m. Bagian Tengah meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, dengan kedalaman laut ratusan hingga ribuan meter. Paparan Sahul mencakup Irian Jaya, Aru, hingga Australia, dengan kedalaman laut rata-rata sama dengan Paparan Sunda. Secara zoogeografi kawasan Indonesia dibagi tiga pula: kawasan Asia hingga Paparan Sunda dengan fauna Asia, kawasan Indonesia Tengah dengan fauna campuran Asia-Australia, dan kawasan Australia hingga Irian dengan fauna Australia. Batas timur kawasan fauna Asia disebut Garis Wallace (GW), sedangkan batas kawasan fauna Australia dinamakan Garis Lydekker (GL). Garis fauna ini ditarik berdasarkan anggapan bahwa fauna Asia tidak dapat melakukan migrasi ke daratan Australia, dan sebaliknya. Tetapi, dalam makalahnya Sartono menunjukkan, fosil-fosil vertebrata serta artefak Plestosen – bekas permukiman manusia 1,6 juta tahun sampai 10 ribu tahun silam – ditemukan tidak hanya di Paparan Sunda, melainkan juga di kawasan Wallace. Malah, kata doktor geologi kuarter kelahiran Madiun itu, "migrasi akhirnya mencapai daratan Australia, Tasmania, dan Irian." Bahkan, dengan ditemukannya fosil gajah purba di Pulau Timor, 1969, Sartono menganggap garis batas fauna zoogeografi, seperti GW tadi, "telah gugur". Menurut Sartono, proses migrasi tak mungkin dipahami tanpa memperhatikan faktor turun naiknya permukaan tanah. Karena itulah, sejak 1978, para geolog diikutsertakan membantu tim arkeologi. Sartono lalu mengambil Pulau Timor sebagai contoh. Dari penelitian geologi, pulau ini mengalami pengangkatan sampai 1.283 m. Sedangkan dasar lautan di selatannya turun sekitar 1.000 m. Jenis sedimen batuan di da- sar laut itu sama dengan jenis sedimen batuan yang ada di Pulau Timor. Artinya, Pulau Timor dan laut di sekitarnya dulu merupakan kesatuan daratan. Hal seperti ini pulalah yang bisa menjawab ditemukannya fosil gajah purba berusia sekitar 1,6 juta tahun di Sulawesi dan Pulau Sumba. Padahal, menurut GW, gajah adalah fauna Asia yang hanya hidup di Paparan Sunda. Dari data geologi dan arkeologi yang terkumpul, Sartono menyajikan "peta migrasi baru" fauna vertebrata dari daratan Asia ke Australia pada kala Plestosen. Dari kawasan Siwalik (Pakistan), migrasi menuju Burma. Dari sini migrasi bercabang: satu menuju timur ke Cina, lainnya menuju Semenanjung Melayu. Dari Cina, jalur migrasi menuju Jepang – Taiwan – Filipina – Sulawesi, terus ke Paparan Sunda. Dari Semenanjung Melayu jalur migrasi mengarah ke Bangka, kemudian ke Paparan Sunda. Melalui Busur Banda, jalur ini merentang ke timur hingga Flores. Di sini jalur itu bercabang: satu ke selatan menuju Sumba, lainnya tiba di Timor melalui Lombian dan Alor. Jalur Sumba akhirnya tiba di Sabu, jalur Timor mencapai Rote. Dari Sabu dan Rote, jalur migrasi menjulur ke tenggara hingga Scott Plateu di utara Australia, di Paparan Sahul. Terus ke kawasan Australia barat laut, dan tiba di Queensland dan New South Wales 35.000-25.000 tahun silam. Melalui Selat Bass, jalur migrasi dari Australia tenggara ini tiba di Tasmania. Ketika Sartono ditanya mengapa jalur migrasi fauna ini baru ditemukan sekarang, lulusan angkatan pertama Jurusan Geologi ITB ini menjawab, "persoalannya juga baru dipikirkan belakangan." Para geolog baru diikutsertakan meneliti masalah arkeologi sejak 1978. Sumber: TEMPO, No. 4, Thn. XIV, 24 Maret 1984
"Secara zoogeografi kawasan Indonesia dibagi tiga pula: kawasan Asia hingga Paparan Sunda dengan fauna Asia, kawasan Indonesia Tengah dengan fauna campuran Asia-Australia, dan kawasan Australia hingga Irian dengan fauna Australia. Batas timur kawasan fauna Asia disebut Garis Wallace (GW), sedangkan batas kawasan fauna Australia dinamakan Garis Lydekker (GL). Garis fauna ini ditarik berdasarkan anggapan bahwa fauna Asia tidak dapat melakukan migrasi ke daratan Australia, dan sebaliknya.
Tetapi, dalam makalahnya Sartono menunjukkan, fosil-fosil vertebrata serta artefak Plestosen – bekas permukiman manusia 1,6 juta tahun sampai 10 ribu tahun silam – ditemukan tidak hanya di Paparan Sunda, melainkan juga di kawasan Wallace. Malah, kata doktor geologi kuarter kelahiran Madiun itu, "migrasi akhirnya mencapai daratan Australia, Tasmania, dan Irian."
Bahkan, dengan ditemukannya fosil gajah purba di Pulau Timor, 1969, Sartono menganggap garis batas fauna zoogeografi, seperti GW tadi, "telah gugur"."
PETA BARU BADAK DAN GAJAH
Konsep "berenang" dan "terbawa arus" dalam teori migrasi fauna ternyata lemah. Sebuah sumbangan ahli geologi pada penelitian arkeologi.
(TEMPO, No. 4, Thn. XIV, 24 Maret 1984,”Ilmu dan Teknologi”)
Fosil kuda nil ternyata tidak pernah ditemukan di sekitar Sungai Nil, di Negeri Mesir sana. Melainkan di Bumiayu, Jawa Tengah, pada sekitar 1930-an. Masih tampak utuh, fosil dengan panjang tubuh hampir 2 m dan tinggi 1,5 m itu tegak kalem di Museum Geologi Bandung. Sang kuda nil sendiri diperkirakan hidup sekitar 1,8 juta tahun silam.
Kehadiran fosil ini – di antara sekitar 50.000 fosil koleksi museum geologi satu-satunya di Asia Tenggara yang pada 16 Mei nanti genap berusia 55 tahun – mendadak hangat dibicarakan dalam Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (REHPA) II di Cisarua, Bogor, dua pekan lalu. Rapat yang membahas semuat hasil penelitian arkeologi selama Pelita II dan III ini diramaikan oleh 52 makalah dan 64 ahli. Mereka berdatangan dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta dan Bali, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Museum Nasional, serta ITB, UI, UGM, dan Unud (Bali).
Makalah yang termasuk paling menarik datang dari Prof. Dr. S. Sartono, guru besar Jurusan Geologi ITB. Makalah ini membawa perubahan besar dalam teori migrasi fauna yang dikenal selama ini. Dulu, kata Sartono, "para arkeolog dan zoolog menduga, penyeberangan dari daratan Asia hingga ke Australia dilakukan dengan perahu." Pada- hal, "dugaan ini lemah.”
Perahu zaman baheula itu sangat sederhana, dibuat dari ranting pohon yang diikat seperti rakit, sehingga tidak mungkin digunakan mengarungi samudra dalam jarak jauh. Apalagi, "perahunya sendiri tak pernah ditemukan," ujar Sartono, 56. Ia juga menolak teori "berenang" dan "terbawa arus", karena "mana mungkin hewan berenang puluhan kilometer.”
Selama ini, kawasan Indonesia secara umum dibagi tiga dari barat ke timur: Paparan Sunda, Bagian Tengah, dan Paparan Sahul (Arafura). Paparan Sunda mencakup Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Semenanjung Melayu, dengan kedalaman laut antara 60 m dan 100 m. Bagian Tengah meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, dengan kedalaman laut ratusan hingga ribuan meter. Paparan Sahul mencakup Irian Jaya, Aru, hingga Australia, dengan kedalaman laut rata-rata sama dengan Paparan Sunda.
Secara zoogeografi kawasan Indonesia dibagi tiga pula: kawasan Asia hingga Paparan Sunda dengan fauna Asia, kawasan Indonesia Tengah dengan fauna campuran Asia-Australia, dan kawasan Australia hingga Irian dengan fauna Australia. Batas timur kawasan fauna Asia disebut Garis Wallace (GW), sedangkan batas kawasan fauna Australia dinamakan Garis Lydekker (GL). Garis fauna ini ditarik berdasarkan anggapan bahwa fauna Asia tidak dapat melakukan migrasi ke daratan Australia, dan sebaliknya.
Tetapi, dalam makalahnya Sartono menunjukkan, fosil-fosil vertebrata serta artefak Plestosen – bekas permukiman manusia 1,6 juta tahun sampai 10 ribu tahun silam – ditemukan tidak hanya di Paparan Sunda, melainkan juga di kawasan Wallace. Malah, kata doktor geologi kuarter kelahiran Madiun itu, "migrasi akhirnya mencapai daratan Australia, Tasmania, dan Irian."
Bahkan, dengan ditemukannya fosil gajah purba di Pulau Timor, 1969, Sartono menganggap garis batas fauna zoogeografi, seperti GW tadi, "telah gugur". Menurut Sartono, proses migrasi tak mungkin dipahami tanpa memperhatikan faktor turun naiknya permukaan tanah. Karena itulah, sejak 1978, para geolog diikutsertakan membantu tim arkeologi.
Sartono lalu mengambil Pulau Timor sebagai contoh. Dari penelitian geologi, pulau ini mengalami pengangkatan sampai 1.283 m. Sedangkan dasar lautan di selatannya turun sekitar 1.000 m. Jenis sedimen batuan di da- sar laut itu sama dengan jenis sedimen batuan yang ada di Pulau Timor. Artinya, Pulau Timor dan laut di sekitarnya dulu merupakan kesatuan daratan. Hal seperti ini pulalah yang bisa menjawab ditemukannya fosil gajah purba berusia sekitar 1,6 juta tahun di Sulawesi dan Pulau Sumba. Padahal, menurut GW, gajah adalah fauna Asia yang hanya hidup di Paparan Sunda.
Dari data geologi dan arkeologi yang terkumpul, Sartono menyajikan "peta migrasi baru" fauna vertebrata dari daratan Asia ke Australia pada kala Plestosen. Dari kawasan Siwalik (Pakistan), migrasi menuju Burma. Dari sini migrasi bercabang: satu menuju timur ke Cina, lainnya menuju Semenanjung Melayu.
Dari Cina, jalur migrasi menuju Jepang – Taiwan – Filipina – Sulawesi, terus ke Paparan Sunda. Dari Semenanjung Melayu jalur migrasi mengarah ke Bangka, kemudian ke Paparan Sunda. Melalui Busur Banda, jalur ini merentang ke timur hingga Flores. Di sini jalur itu bercabang: satu ke selatan menuju Sumba, lainnya tiba di Timor melalui Lombian dan Alor. Jalur Sumba akhirnya tiba di Sabu, jalur Timor mencapai Rote.
Dari Sabu dan Rote, jalur migrasi menjulur ke tenggara hingga Scott Plateu di utara Australia, di Paparan Sahul. Terus ke kawasan Australia barat laut, dan tiba di Queensland dan New South Wales 35.000-25.000 tahun silam. Melalui Selat Bass, jalur migrasi dari Australia tenggara ini tiba di Tasmania.
Ketika Sartono ditanya mengapa jalur migrasi fauna ini baru ditemukan sekarang, lulusan angkatan pertama Jurusan Geologi ITB ini menjawab, "persoalannya juga baru dipikirkan belakangan." Para geolog baru diikutsertakan meneliti masalah arkeologi sejak 1978.
Sumber: TEMPO, No. 4, Thn. XIV, 24 Maret 1984
Sumber : Harry Anggoro Djatmiko
"Satu hal yang tetap mereka pertahan-kan ialah pesan mBok Berek: agar anak- cucunya, yang sekarang mengusahakan rumah makan secara sendiri-sendiri itu, memulai usaha 'dari bawah'..." BERKAT RESEP BUMBU SI MBOK (TEMPO, No. 51, Thn. XII, 19 Februari 1983) Kentucky Fried Chicken? Ah, cobalah ayam kampung. Dibumbui secara tradisional, diairi dari sumur, dimasak dengan kayu bakar. Barangkali salah satu wakil dunia wiraswasta Jawa, dengan tokoh wanita. Di hari-hari biasa, tak kurang dari 1.000 orang makan di sana. Di hari-hari libur jumlah tamu meningkat. Memang, hampir setiap orang yang kenal Yogya mengenal Rumah Makan Ayam Goreng Nyonya Suharti. Setidak-tidaknya namanya yang lebih populer: mBok Berek. Terletak di pinggir jalan raya, sekitar 7 km dari pusat kota, rumah makan itu tampak menyolok tak jauh dari Bandar Udara Adisucipto. Di tanah seluas 8.000 meter persegi itu juga terdapat rumah tinggal pemilik, ruang pertemuan, masjid, dan asrama untuk 70 karyawan. Dan di bagian belakang sebuah kandang ayam cukup besar. Tapi jangan salah paham: mBok Berek itu bukan Ny. Suharti.Ny. Suharti, 36 tahun, tak lain salah seorang cucu. Akan mBok Berek sendiri, beliau itu dulu janda petani dari Desa Candisari, Kecamatan Kalasan, Yogya, yang begitu kondang alias beken dengan ayam gorengnya – puluhan tahun lalu, entah sejak kapan. Nama sebenarnya dari si embok adalah mBok Rame. Mungkin karena ayamnya banyak, jadi rame. Atau karena anaknya yang enam itu suka rame-rame. Tapi yang menentukan adalah ini: anak sulungnya, yang kelak bernama Ronopawiro, ketika masih kecil dan suka menangis suaranya serak. Hingga bunyinya kedengaran "breeek, breeek". Anak ini lantas dipanggil Si Berek. Dan sejak itu mBok Rame juga dijuluki mBok Berek, artinya ibunya Si Berek. Padahal, yah, kalau orang Jawa mendengar ayam berkeok-keok, misalnya, waktu ditangkap buat disembelih, mereka bilang: "Weee, ayamnya berek-berek". Jadi riwayat nama mBok Berek boleh jadi masih kontroversial. Perlu riset. Yang jelas nama itu sudah merupakan tanda dagang bagi trah (anak-turun) si embok. Malah beberapa bulan lalu merk tersebut sudah dimintakan hak paten. Hanya anggota keluarga ini (keturunan langsung) yang berhak pakai. Maklum, dewasa ini ayam goreng si embok sudah menyebar di beberapa kota besar di Jawa: Surabaya, Mojokerto, Sala, Semarang, Madiun, Prambanan, Kalasan, Bandung, Bogor, Jakarta. Siapa menyusul? Di Yogya sendiri ada lima restoran mBok Berek. Tapi rupanya usaha Suharti yang paling berhasil. Karirnya dimulai ketika sebagai gadis remaja, ia menjadi juru masak di warung ayam goreng milik kakak perempuannya, mBok Mangundimedjo di Desa Candisari. Empat tahun kemudian, 1960, Suharti menggoreng ayam sendiri. Usahanya maju setelah ia menikah dengan Syahlan P.H, yang ketika itu menjadi karyawan Pemda DIY. Setiap subuh ia mengayuh sepeda membonceng sekerenjang ayam goreng berisi 15 sampai 20 ekor, disetor ke be berapa toko dan pasar Yogya. Suaminya, pulang dari kantor, membeli ayam dari pasar. Beberapa waktu kemudian langganannya bertambah sampai ke Klaten dan Sala. Dan beberapa tahun kemudian, mereka mengganti sepeda dengan Vespa bekas. Selama 10 tahun me reka menjajakan ayam goreng dari pasar ke pasar. Bereeek! Bereeek Setiap hari, mereka beristirahat di sebuah tempat yang teduh – dekat lapangan terbang Adisucipto. Nah, di sinilah terjadi saat yang begitu romantis lagi pula bersejarah. "Alangkah baiknya, kalau kita bisa membeli tempat ini untuk membuka warung," kata Syahlan ketika itu – sambil menyeka keringat tentunya. Nah. Beberapa waktu kemudian Syahlan mendengar lapangan terbang tersebut akan dijadikan bandar udara antar-bangsa. Tak ayal lagi, tanah milik seorang anggota AURI itu pun pada 1970 mereka beli. Mula-mula Suharti masih merasa perlu membonceng nama neneknya yang Berek itu. Malah nama rumah makannya komplit dengan embel-embel jadi "mBok Berek Asli". Tapi kurang dari setahun, setelah para langganan cukup mengenal, embel-embel dicabut. Dan kini rumah makan itu berkembang pesat. Bangunan diperindah dengan tiang-tiang kayu jati berukir dan lampu-lampu hias. Suasananya teduh dan redup. Bukti lain sukses Suharti: Selain menggoreng ayam, sejak 1976 Suharti juga membuka usaha pemondokan untuk mahasiswi atau pelajar wanita. Sekarang sudah berdiri sebuah asrama pelajar dan mahasiswa putri dengan 40 kamar di tanah seluas 1.500 meter persegi. Sebuah asrama lagi, dengan 30 kamar di tanah 1,000 meter persegi, tengah dibangun pula. Suharti memang membuka usaha pondokan sejak 1975. Dan, terakhir, ia juga punya rencana mendirikan sebuah hotel di tanah 10.000 meter persegi, tak jauh dari kompleks restoran. Suharti yang sekarang tentu saja bukan Suharti yang bermandi keringat dulu. Ibu empat anak ini tak jarang ke luar negeri. Ia hanya tamat SD, setiap hari macak tapi sebagai anggota Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha) Yogyakarta, tahun lalu, misalnya, ia ke Amsterdam. "Sempat bertemu dengan Ratu Yuliana," tuturnya. Suaminya, Syahlan, pernah pula berkeliling Asia mempelajari cara pengelolaan beberapa, restoran. Dan akhir bulan depan ia akan ke Bangkok mengikuti lomba perkutut. Syahlan memang memiliki hobi perkutut. Ia punya 15 ekor, konon harganya jutaan per ekor. Sudah beberapa kali burung Syahlan menjadi juara pertama. Dari bisnis ayam goreng, Suharti memiliki enam mobil, tiga di antaranya sedan. Itu semua berkat nama eyangnya, mBok Berek. Padahal dahulu kala dagangan si embok sendiri sebenarnya kecil saja, meskipun ia cukup terkenal. Maklum zaman itu. Pada suatu siang, kala itu, ia ketamuan seorang kakek-kakek berpakaian serba hitam. Konon lelaki tua itu memberikan resep dan bumbu ayam goreng. Nah, resep membumbui ayam goreng yang dianggap "wangsit" itulah kuncinya. Sampai kini resep itu tetap dirahasiakan. Yang tidak dirahasiakan ialah cara memasaknya. Ayamnya bukan ayam negeri. Tapi ayam kampung, biasanya berumur kurang dari setahun. Setelah disembelih dan dikuliti sendiri, dan dibumbui, dengan resep rahasia itu, ayam utuh itu direbus dengan api dari kayu bakar tidak boleh dengan api kompor. Air untuk merebus pun konon harus dari sumur yang terpilih. Bukan apa-apa, "Air di sekitar sini rasanya tentu lain dengan air di Jakarta, misalnya," ujar Syahlan, yang sudah lama tidak lagi pegawai pemerintah daerah.. Air juga harus dapat diresap semuanya oleh si daging. Baru setelah itu ayam digoreng. Tapi cara menggoreng juga tidak sembarangan, meskipun boleh dilakukan oleh karyawan. Seorang karyawan memerlukan latihan menggoreng selama 2-3 bulan sebelum dapat menggoreng dengan baik. Menurut Nyonya Umi, 39 tahun – ini keturunan mBok Berek yang lain, yaitu cicitnya – terlebih dulu minyak gorengnya harus cukup panas. "Kalau tidak, ayamnya jadi keras," katanya lagi. "Pernah saya membanting ayam yang digoreng dengan minyak yang belum terlalu panas. Tetap utuh," tambahnya, sambil tertawa. Umi adalah pemilik "pusat Berek" yang lain. Ia membuka rumah makan ayamnya di Jalan Prof. Soepomo, Jakarta. Setelah mengontrak sebuah rumah selama lima tahun, kini Umi membangun restoran dan rumah miliknya sendiri, tak jauh dari tempat kontrakan semula. Bangunan bertingkat dua bernilai Rp 200 juta yang sedang dibangunnya itu cukup mewah. Restorannya dilengkapi 25 meja berwarna hijau, serasi dengan warna temboknya. Salah satu sisi dinding ruang makan dihias pahatan relief, sementara pilar-pilarnya berukir. Ada air terjun buatan serta lampu chandelier kristal ukuran besar. Kursi-kursi berwarna oranye. Menurut rencana, rumah makan itu akan dilengkapi dengan bar. "Setiap hari Selasa Sri Sultan memesan ayam goreng dari sini," kata Umi dengan bangga. Ia juga bangga sempat berkenalan dengan, misalnya, Ibu Tien Soeharto. Selain ayam goreng, Umi juga menyajikan sayur asem, soto, gudek, sayur lodeh, rujak, tahu-tempe bacem. Agaknya sambal ramuan Umi juga terkenal. Banyak orang yang hanya membeli sambal ada yang sampai 1 atau 2 kg, misalnya, untuk dikirim ke keluarganya di luar negeri. Seminggu Umi menghabiskan 5-7 karung beras Cianjur kepala. "Saya ingin menggantinya dengan beras rojolele yang lebih enak," katanya lagi. Kini Umi juga membuka satu cabang mBok Berek di Jalan Panglima Polim Raya, Kebayoran Baru. Rumah makan itu diurus seorang saudaranya, tapi ayam goreng yang dijual di sana tetap dibumbui dan dimasak sendiri oleh Umi. Untuk melayani dua restoran itu ia mempekerjakan 41 karyawan. Malah ia sudah punya rencana membuka sebuah cabang lagi di Jakarta Pusat atau Ciputat. "Di Jakarta, membuka sepuluh cabang juga masih laku," katanya. Boleh dikata rumah makan ini dikelola Umi sendiri, suaminya sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Ibu empat anak yang memiliki ijazah SKKA ini memulai karirnya dengan membuka salon kecantikan pada 1963 di Jalan Talangbetutu. Empat tahun kemudian ia menikah dengan Nursalim, lulusan FH-UGM, dan pindah ke Rawamangun. Setelah melahirkan seorang anak, 1971, ia membuka warung ayam goreng kecil-kecilan di Pegangsaan Timur. Dari sini pindah mengontrak tempat usaha di Jalan Tanjungkarang lantas, ke Pasar Cikini. Karena usahanya kurang maju, tahun 1973 ia istirahat. Empat tahun mengurus anak-anaknya, tahun 1977 ia bangkit lagi berjualan ayam goreng di depan rumah. Dijualnya beberapa perhiasannya untuk modal, ditambah Rp 3 juta lagi yang dipinjamnya dari bibinya, Nyonya Suharti yang tadi. Dengan modal 20 ekor ayam kampung, Umi memulai usahanya – dan maju. Ia berhasil membeli sebuah rumah. Di sanalah anak-anaknya sempat belajar dengan tenang, tidak terganggu oleh kesibukan tamu-tamu di restorannya. Satu hal yang tetap mereka pertahan-kan ialah pesan mBok Berek: agar anak- cucunya, yang sekarang mengusahakan rumah makan secara sendiri-sendiri itu, memulai usaha 'dari bawah'. Pernah Umi mendapat tawaran sebuah perusahaan yang menyediakan fasilitas sebuah rumah makan lengkap untuk menjual ayam goreng yang dimasaknya. Tawaran itu ditolaknya. "Saya selalu mengingat pesan mBah Buyut itu," katanya mantap. Dan tentang anak-anaknya sendiri, tekadnya: "Kalau anak-anak itu memang pintar, sebaiknya sekolah terus. Kelak sebagai orang pandai, misalnya, sebagai insinyur atau dokter, tidak ada salahnya berjualan ayam goreng." □ Sumber: TEMPO, No. 51, Thn. XII, 19 Februari 1983
"Satu hal yang tetap mereka pertahan-kan ialah pesan mBok Berek: agar anak- cucunya, yang sekarang mengusahakan rumah makan secara sendiri-sendiri itu, memulai usaha 'dari bawah'..."
BERKAT RESEP BUMBU SI MBOK
(TEMPO, No. 51, Thn. XII, 19 Februari 1983)
Kentucky Fried Chicken? Ah, cobalah ayam kampung. Dibumbui secara tradisional, diairi dari sumur, dimasak dengan kayu bakar. Barangkali salah satu wakil dunia wiraswasta Jawa, dengan tokoh wanita.
Di hari-hari biasa, tak kurang dari 1.000 orang makan di sana. Di hari-hari libur jumlah tamu meningkat. Memang, hampir setiap orang yang kenal Yogya mengenal Rumah Makan Ayam Goreng Nyonya Suharti. Setidak-tidaknya namanya yang lebih populer: mBok Berek.
Terletak di pinggir jalan raya, sekitar 7 km dari pusat kota, rumah makan itu tampak menyolok tak jauh dari Bandar Udara Adisucipto. Di tanah seluas 8.000 meter persegi itu juga terdapat rumah tinggal pemilik, ruang pertemuan, masjid, dan asrama untuk 70 karyawan. Dan di bagian belakang sebuah kandang ayam cukup besar.
Tapi jangan salah paham: mBok Berek itu bukan Ny. Suharti.Ny. Suharti, 36 tahun, tak lain salah seorang cucu. Akan mBok Berek sendiri, beliau itu dulu janda petani dari Desa Candisari, Kecamatan Kalasan, Yogya, yang begitu kondang alias beken dengan ayam gorengnya – puluhan tahun lalu, entah sejak kapan.
Nama sebenarnya dari si embok adalah mBok Rame. Mungkin karena ayamnya banyak, jadi rame. Atau karena anaknya yang enam itu suka rame-rame. Tapi yang menentukan adalah ini: anak sulungnya, yang kelak bernama Ronopawiro, ketika masih kecil dan suka menangis suaranya serak. Hingga bunyinya kedengaran "breeek, breeek". Anak ini lantas dipanggil Si Berek. Dan sejak itu mBok Rame juga dijuluki mBok Berek, artinya ibunya Si Berek.
Padahal, yah, kalau orang Jawa mendengar ayam berkeok-keok, misalnya, waktu ditangkap buat disembelih, mereka bilang: "Weee, ayamnya berek-berek". Jadi riwayat nama mBok Berek boleh jadi masih kontroversial. Perlu riset.
Yang jelas nama itu sudah merupakan tanda dagang bagi trah (anak-turun) si embok. Malah beberapa bulan lalu merk tersebut sudah dimintakan hak paten. Hanya anggota keluarga ini (keturunan langsung) yang berhak pakai. Maklum, dewasa ini ayam goreng si embok sudah menyebar di beberapa kota besar di Jawa: Surabaya, Mojokerto, Sala, Semarang, Madiun, Prambanan, Kalasan, Bandung, Bogor, Jakarta. Siapa menyusul? Di Yogya sendiri ada lima restoran mBok Berek.
Tapi rupanya usaha Suharti yang paling berhasil. Karirnya dimulai ketika sebagai gadis remaja, ia menjadi juru masak di warung ayam goreng milik kakak perempuannya, mBok Mangundimedjo di Desa Candisari. Empat tahun kemudian, 1960, Suharti menggoreng ayam sendiri. Usahanya maju setelah ia menikah dengan Syahlan P.H, yang ketika itu menjadi karyawan Pemda DIY.
Setiap subuh ia mengayuh sepeda membonceng sekerenjang ayam goreng berisi 15 sampai 20 ekor, disetor ke be berapa toko dan pasar Yogya. Suaminya, pulang dari kantor, membeli ayam dari pasar. Beberapa waktu kemudian langganannya bertambah sampai ke Klaten dan Sala. Dan beberapa tahun kemudian, mereka mengganti sepeda dengan Vespa bekas. Selama 10 tahun me reka menjajakan ayam goreng dari pasar ke pasar. Bereeek! Bereeek
Setiap hari, mereka beristirahat di sebuah tempat yang teduh – dekat lapangan terbang Adisucipto. Nah, di sinilah terjadi saat yang begitu romantis lagi pula bersejarah. "Alangkah baiknya, kalau kita bisa membeli tempat ini untuk membuka warung," kata Syahlan ketika itu – sambil menyeka keringat tentunya. Nah. Beberapa waktu kemudian Syahlan mendengar lapangan terbang tersebut akan dijadikan bandar udara antar-bangsa. Tak ayal lagi, tanah milik seorang anggota AURI itu pun pada 1970 mereka beli.
Mula-mula Suharti masih merasa perlu membonceng nama neneknya yang Berek itu. Malah nama rumah makannya komplit dengan embel-embel jadi "mBok Berek Asli". Tapi kurang dari setahun, setelah para langganan cukup mengenal, embel-embel dicabut. Dan kini rumah makan itu berkembang pesat. Bangunan diperindah dengan tiang-tiang kayu jati berukir dan lampu-lampu hias. Suasananya teduh dan redup.
Bukti lain sukses Suharti: Selain menggoreng ayam, sejak 1976 Suharti juga membuka usaha pemondokan untuk mahasiswi atau pelajar wanita. Sekarang sudah berdiri sebuah asrama pelajar dan mahasiswa putri dengan 40 kamar di tanah seluas 1.500 meter persegi. Sebuah asrama lagi, dengan 30 kamar di tanah 1,000 meter persegi, tengah dibangun pula. Suharti memang membuka usaha pondokan sejak 1975. Dan, terakhir, ia juga punya rencana mendirikan sebuah hotel di tanah 10.000 meter persegi, tak jauh dari kompleks restoran.
Suharti yang sekarang tentu saja bukan Suharti yang bermandi keringat dulu. Ibu empat anak ini tak jarang ke luar negeri. Ia hanya tamat SD, setiap hari macak tapi sebagai anggota Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha) Yogyakarta, tahun lalu, misalnya, ia ke Amsterdam. "Sempat bertemu dengan Ratu Yuliana," tuturnya.
Suaminya, Syahlan, pernah pula berkeliling Asia mempelajari cara pengelolaan beberapa, restoran. Dan akhir bulan depan ia akan ke Bangkok mengikuti lomba perkutut. Syahlan memang memiliki hobi perkutut. Ia punya 15 ekor, konon harganya jutaan per ekor. Sudah beberapa kali burung Syahlan menjadi juara pertama.
Dari bisnis ayam goreng, Suharti memiliki enam mobil, tiga di antaranya sedan. Itu semua berkat nama eyangnya, mBok Berek. Padahal dahulu kala dagangan si embok sendiri sebenarnya kecil saja, meskipun ia cukup terkenal. Maklum zaman itu. Pada suatu siang, kala itu, ia ketamuan seorang kakek-kakek berpakaian serba hitam. Konon lelaki tua itu memberikan resep dan bumbu ayam goreng. Nah, resep membumbui ayam goreng yang dianggap "wangsit" itulah kuncinya. Sampai kini resep itu tetap dirahasiakan.
Yang tidak dirahasiakan ialah cara memasaknya. Ayamnya bukan ayam negeri. Tapi ayam kampung, biasanya berumur kurang dari setahun. Setelah disembelih dan dikuliti sendiri, dan dibumbui, dengan resep rahasia itu, ayam utuh itu direbus dengan api dari kayu bakar tidak boleh dengan api kompor. Air untuk merebus pun konon harus dari sumur yang terpilih. Bukan apa-apa, "Air di sekitar sini rasanya tentu lain dengan air di Jakarta, misalnya," ujar Syahlan, yang sudah lama tidak lagi pegawai pemerintah daerah..
Air juga harus dapat diresap semuanya oleh si daging. Baru setelah itu ayam digoreng. Tapi cara menggoreng juga tidak sembarangan, meskipun boleh dilakukan oleh karyawan. Seorang karyawan memerlukan latihan menggoreng selama 2-3 bulan sebelum dapat menggoreng dengan baik.
Menurut Nyonya Umi, 39 tahun – ini keturunan mBok Berek yang lain, yaitu cicitnya – terlebih dulu minyak gorengnya harus cukup panas. "Kalau tidak, ayamnya jadi keras," katanya lagi. "Pernah saya membanting ayam yang digoreng dengan minyak yang belum terlalu panas. Tetap utuh," tambahnya, sambil tertawa.
Umi adalah pemilik "pusat Berek" yang lain. Ia membuka rumah makan ayamnya di Jalan Prof. Soepomo, Jakarta. Setelah mengontrak sebuah rumah selama lima tahun, kini Umi membangun restoran dan rumah miliknya sendiri, tak jauh dari tempat kontrakan semula. Bangunan bertingkat dua bernilai Rp 200 juta yang sedang dibangunnya itu cukup mewah. Restorannya dilengkapi 25 meja berwarna hijau, serasi dengan warna temboknya. Salah satu sisi dinding ruang makan dihias pahatan relief, sementara pilar-pilarnya berukir. Ada air terjun buatan serta lampu chandelier kristal ukuran besar. Kursi-kursi berwarna oranye. Menurut rencana, rumah makan itu akan dilengkapi dengan bar.
"Setiap hari Selasa Sri Sultan memesan ayam goreng dari sini," kata Umi dengan bangga. Ia juga bangga sempat berkenalan dengan, misalnya, Ibu Tien Soeharto. Selain ayam goreng, Umi juga menyajikan sayur asem, soto, gudek, sayur lodeh, rujak, tahu-tempe bacem. Agaknya sambal ramuan Umi juga terkenal. Banyak orang yang hanya membeli sambal ada yang sampai 1 atau 2 kg, misalnya, untuk dikirim ke keluarganya di luar negeri. Seminggu Umi menghabiskan 5-7 karung beras Cianjur kepala. "Saya ingin menggantinya dengan beras rojolele yang lebih enak," katanya lagi.
Kini Umi juga membuka satu cabang mBok Berek di Jalan Panglima Polim Raya, Kebayoran Baru. Rumah makan itu diurus seorang saudaranya, tapi ayam goreng yang dijual di sana tetap dibumbui dan dimasak sendiri oleh Umi. Untuk melayani dua restoran itu ia mempekerjakan 41 karyawan. Malah ia sudah punya rencana membuka sebuah cabang lagi di Jakarta Pusat atau Ciputat. "Di Jakarta, membuka sepuluh cabang juga masih laku," katanya. Boleh dikata rumah makan ini dikelola Umi sendiri, suaminya sehari-hari bekerja di sebuah perusahaan asuransi.
Ibu empat anak yang memiliki ijazah SKKA ini memulai karirnya dengan membuka salon kecantikan pada 1963 di Jalan Talangbetutu. Empat tahun kemudian ia menikah dengan Nursalim, lulusan FH-UGM, dan pindah ke Rawamangun. Setelah melahirkan seorang anak, 1971, ia membuka warung ayam goreng kecil-kecilan di Pegangsaan Timur. Dari sini pindah mengontrak tempat usaha di Jalan Tanjungkarang lantas, ke Pasar Cikini. Karena usahanya kurang maju, tahun 1973 ia istirahat.
Empat tahun mengurus anak-anaknya, tahun 1977 ia bangkit lagi berjualan ayam goreng di depan rumah. Dijualnya beberapa perhiasannya untuk modal, ditambah Rp 3 juta lagi yang dipinjamnya dari bibinya, Nyonya Suharti yang tadi. Dengan modal 20 ekor ayam kampung, Umi memulai usahanya – dan maju. Ia berhasil membeli sebuah rumah. Di sanalah anak-anaknya sempat belajar dengan tenang, tidak terganggu oleh kesibukan tamu-tamu di restorannya.
Satu hal yang tetap mereka pertahan-kan ialah pesan mBok Berek: agar anak- cucunya, yang sekarang mengusahakan rumah makan secara sendiri-sendiri itu, memulai usaha 'dari bawah'. Pernah Umi mendapat tawaran sebuah perusahaan yang menyediakan fasilitas sebuah rumah makan lengkap untuk menjual ayam goreng yang dimasaknya. Tawaran itu ditolaknya. "Saya selalu mengingat pesan mBah Buyut itu," katanya mantap.
Dan tentang anak-anaknya sendiri, tekadnya: "Kalau anak-anak itu memang pintar, sebaiknya sekolah terus. Kelak sebagai orang pandai, misalnya, sebagai insinyur atau dokter, tidak ada salahnya berjualan ayam goreng." □
Sumber: TEMPO, No. 51, Thn. XII, 19 Februari 1983
Sumber : Anggoro Djatmiko Anggoro
Bayang-Bayang Sejarah: Misteri Kematian Letjen Hartono yang Tak Pernah Terungkap Kisah tentang Hartono bukan sekadar catatan sejarah militer, melainkan potret kelam dari pergolakan politik Indonesia pasca Gerakan 30 September. Di tengah kekacauan nasional, loyalitas dan keberanian bisa menjadi berkah atau justru kutukan. Pada masa ketika Bung Karno semakin terjepit, Hartono tampil sebagai salah satu perwira yang tetap berdiri teguh di belakang sang Presiden. Sebagai Komandan KKO (cikal bakal Korps Marinir), ia dikenal lantang dan tanpa ragu menyatakan kesetiaan: apa pun kata Bung Karno, itulah sikap KKO. Namun sejarah berjalan ke arah berbeda. Ketika kekuatan politik beralih ke tangan Soeharto pasca keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, posisi para loyalis Sukarno mulai terpinggirkan. Hartono, meski sempat menyandang pangkat Letnan Jenderal, perlahan disingkirkan dari pusat kekuasaan. Ia kemudian ditempatkan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Korea Utara sebuah penugasan yang bagi sebagian pihak dianggap sebagai bentuk “pengasingan halus”. Dari Pengabdian Menuju Kesunyian Di Korea Utara, Hartono hidup bersama keluarganya dalam keterbatasan. Akses terbatas, kehidupan serba diawasi, dan jarak dari tanah air menjadi bagian dari keseharian. Namun cobaan terbesar belum datang. Tahun 1970, setelah wafatnya Sukarno, Hartono mendapat panggilan kembali ke Indonesia. Sang istri, Grace Walandaow Hartono, merasakan firasat buruk. Ia khawatir suaminya akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Kekhawatiran itu ternyata bukan tanpa alasan. Kematian yang Menyisakan Tanda Tanya Subuh 6 Januari 1971, kabar mengejutkan datang: Hartono ditemukan tewas di rumahnya. Versi resmi menyebutkan ia bunuh diri akibat tekanan dan kekecewaan, terutama setelah KKO mengalami penyusutan kekuatan. Namun, narasi ini tidak diterima begitu saja. Sejumlah saksi, termasuk mantan pengawal presiden Maulwi Saelan, meyakini bahwa Hartono bukan mengakhiri hidupnya sendiri. Ia disebut menerima tamu misterius sebelum kematiannya sebuah detail yang memicu dugaan pembunuhan terencana. Kecurigaan semakin menguat karena minimnya bukti resmi. Tidak ada surat kematian yang jelas, bahkan hasil medis hanya disampaikan secara lisan. Keluarga pun tidak berada di Indonesia saat pemakaman berlangsung, menambah kesan tergesa-gesa dan penuh kejanggalan. Kesetiaan, Kehilangan, dan Keteguhan Di balik tragedi ini, berdiri sosok perempuan tangguh: Grace. Ia tidak hanya kehilangan suami, tetapi juga harus menghadapi kerasnya kehidupan sebagai ibu tunggal bagi empat anak. Tanpa kemewahan, ia bekerja keras demi menyambung hidup dari pekerjaan administrasi hingga berbagai usaha lain. Namun yang paling menggetarkan adalah keteguhannya: ia memilih tidak menikah lagi, setia pada kenangan dan cinta kepada Hartono. Baginya, mencintai seorang prajurit bukan tentang kemudahan, melainkan tentang keberanian menghadapi kehilangan. Warisan yang Perlahan Dipulihkan Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, nama Hartono perlahan dipulihkan. Korps Marinir kembali menghormatinya dengan mengabadikan namanya sebagai bagian dari kesatriaan mereka. Sebuah pengakuan terlambat, namun penuh makna. Meski demikian, satu hal tetap menggantung: apa yang sebenarnya terjadi pada pagi kelam 6 Januari 1971? Sejarah mungkin mencatatnya sebagai bunuh diri. Namun bagi keluarga dan sebagian rekan, kisah ini adalah misteri yang belum selesai sebuah bayang-bayang yang terus hidup dalam ingatan bangsa. Sumber : Indonesiadefence.com #SejarahIndonesia #LetjenHartono #MisteriSejarah #G30S #OrdeBaru #KisahPrajurit #DramaSejarah #KKO #Marinir
Bayang-Bayang Sejarah: Misteri Kematian Letjen Hartono yang Tak Pernah Terungkap
Kisah tentang Hartono bukan sekadar cata
tan sejarah militer, melainkan potret kelam dari pergolakan politik Indonesia pasca Gerakan 30 September. Di tengah kekacauan nasional, loyalitas dan keberanian bisa menjadi berkah atau justru kutukan.
Pada masa ketika Bung Karno semakin terjepit, Hartono tampil sebagai salah satu perwira yang tetap berdiri teguh di belakang sang Presiden. Sebagai Komandan KKO (cikal bakal Korps Marinir), ia dikenal lantang dan tanpa ragu menyatakan kesetiaan: apa pun kata Bung Karno, itulah sikap KKO.
Namun sejarah berjalan ke arah berbeda. Ketika kekuatan politik beralih ke tangan Soeharto pasca keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, posisi para loyalis Sukarno mulai terpinggirkan. Hartono, meski sempat menyandang pangkat Letnan Jenderal, perlahan disingkirkan dari pusat kekuasaan. Ia kemudian ditempatkan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Korea Utara sebuah penugasan yang bagi sebagian pihak dianggap sebagai bentuk “pengasingan halus”.
Dari Pengabdian Menuju Kesunyian
Di Korea Utara, Hartono hidup bersama keluarganya dalam keterbatasan. Akses terbatas, kehidupan serba diawasi, dan jarak dari tanah air menjadi bagian dari keseharian. Namun cobaan terbesar belum datang.
Tahun 1970, setelah wafatnya Sukarno, Hartono mendapat panggilan kembali ke Indonesia. Sang istri, Grace Walandaow Hartono, merasakan firasat buruk. Ia khawatir suaminya akan mengalami sesuatu yang tidak diinginkan. Kekhawatiran itu ternyata bukan tanpa alasan.
Kematian yang Menyisakan Tanda Tanya
Subuh 6 Januari 1971, kabar mengejutkan datang: Hartono ditemukan tewas di rumahnya. Versi resmi menyebutkan ia bunuh diri akibat tekanan dan kekecewaan, terutama setelah KKO mengalami penyusutan kekuatan.
Namun, narasi ini tidak diterima begitu saja.
Sejumlah saksi, termasuk mantan pengawal presiden Maulwi Saelan, meyakini bahwa Hartono bukan mengakhiri hidupnya sendiri. Ia disebut menerima tamu misterius sebelum kematiannya sebuah detail yang memicu dugaan pembunuhan terencana.
Kecurigaan semakin menguat karena minimnya bukti resmi. Tidak ada surat kematian yang jelas, bahkan hasil medis hanya disampaikan secara lisan. Keluarga pun tidak berada di Indonesia saat pemakaman berlangsung, menambah kesan tergesa-gesa dan penuh kejanggalan.
Kesetiaan, Kehilangan, dan Keteguhan
Di balik tragedi ini, berdiri sosok perempuan tangguh: Grace. Ia tidak hanya kehilangan suami, tetapi juga harus menghadapi kerasnya kehidupan sebagai ibu tunggal bagi empat anak.
Tanpa kemewahan, ia bekerja keras demi menyambung hidup dari pekerjaan administrasi hingga berbagai usaha lain. Namun yang paling menggetarkan adalah keteguhannya: ia memilih tidak menikah lagi, setia pada kenangan dan cinta kepada Hartono.
Baginya, mencintai seorang prajurit bukan tentang kemudahan, melainkan tentang keberanian menghadapi kehilangan.
Warisan yang Perlahan Dipulihkan
Bertahun-tahun setelah peristiwa itu, nama Hartono perlahan dipulihkan. Korps Marinir kembali menghormatinya dengan mengabadikan namanya sebagai bagian dari kesatriaan mereka. Sebuah pengakuan terlambat, namun penuh makna.
Meski demikian, satu hal tetap menggantung: apa yang sebenarnya terjadi pada pagi kelam 6 Januari 1971?
Sejarah mungkin mencatatnya sebagai bunuh diri. Namun bagi keluarga dan sebagian rekan, kisah ini adalah misteri yang belum selesai sebuah bayang-bayang yang terus hidup dalam ingatan bangsa.
Sumber : Indonesiadefence.com
#SejarahIndonesia
#LetjenHartono
#MisteriSejarah
#G30S
#OrdeBaru
#KisahPrajurit
#DramaSejarah
#KKO #Marinir
23 March 2026
Foto2 koleksi KITLV Leiden Belanda yg memperlihatkan upacara dimulainya pembangunan sebuah tugu peringatan pembangunan jalan antara Kabupaten Klaten & Gunung Kidul di jalur Kalinongko pada 1936 dgn peletakan fondasi batu pertama oleh a l. : 1.K.R.M.T Iskak Martonagoro (kakek buyut saya, Bupati Klaten ke-13 dgn masa jabatan 1931 - 1939). 2.K.R.T.Joyodiningrat (Bupati Gunung Kidul ke-10 dgn masa jabatan 1935 - 1944). 3.Christiaan Wouter Antonius Abbenhuis (seorang pejabat Belanda). (De Regent van Klaten Martonagoro legt een steen, vermoedelijk als fundament voor een toegoe, vanwege de openstelling van een ten zuidoosten van Klaten gelegen wegdeel. 1936. KITLV 53970) Christiaan Wouter Antonius Abbenhuis lahir pada 5 September 1893 di Arnhem, Belanda, dlm sebuah keluarga yg menghargai pendidikan & disiplin. Sejak muda, ia terpesona oleh hukum & pemerintahan, & pilihannya untuk belajar hukum kolonial di Leiden menyiapkannya untuk perjalanan panjang ke Hindia Belanda, suatu dunia yg sangat berbeda dari tanah kelahirannya. Ia meninggalkan Belanda yg sejuk & teratur untuk menghadapi kepulan debu, panas tropis, & kerumitan administrasi di pulau2 Hindia Belanda nan jauh. Setibanya di Batavia pada 1918, karier Abbenhuis dimulai sebagai pegawai administrasi biasa. Hari2-nya dihabiskan meneliti dokumen, menandatangani izin & memahami adat istiadat lokal. Tetapi ketekunan, kecerdikan & rasa hormatnya terhadap budaya lokal membedakannya dari rekan2-nya. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Assistén‑Resident di Yogyakarta, posisi yg menuntutnya untuk menyeimbangkan aturan kolonial dgn kebijakan Sultan Hamengkubuwono VIII. Dlm upacara resmi, Abbenhuis sering mengenakan seragam Belanda yg rapi, duduk di samping pembesar pribumi sembari menandatangani dokumen2 penting yg mengatur hubungan antara pemerintahan kolonial & kekuasaan lokal. Foto2 masa itu menangkap sosoknya serius namun penuh kehati2-an, seorang birokrat yg selalu sadar akan garis tipis antara kekuasaan & diplomasi. Pada 1930, Abbenhuis diangkat menjadi Direktur sekolah pemerintahan di Batavia, tempat calon pegawai administrasi dilatih. Di kelas, ia bukan sekadar mengajarkan hukum dan regulasi; ia menanamkan pemahaman ttg budaya & realitas kehidupan masyarakat di Hindia Belanda. Ia percaya bahwa seorang birokrat yg sukses harus memahami hati rakyat, bukan hanya menegakkan aturan. Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Abbenhuis mengalami masa2 gelap. Ia ditawan bersama banyak pegawai Belanda lainnya, hidup dlm ketidakpastian & ketakutan. Namun, ketahanan & kecermatannya tidak surut. Setelah Jepang menyerah pada 1945, Abbenhuis kembali berperan dlm administrasi. Ia diangkat sebagai Chief Commanding Officer di Allied Military Administration Civil Affairs Branch (AMACAB) mengawasi Jawa Barat, Jawa Tengah, Surakarta & Yogyakarta & kemudian seluruh Jawa & Madura. Tugasnya bukanlah bagaikan Gubernur resmi, tetapi tanggungjawabnya sangat besar. AMACAB merujuk pada posisi tertinggi yg memimpin & mengawasi seluruh operasi administrasi sipil di wilayah yg diduduki atau dibebaskan oleh Sekutu selama Perang Dunia II. Dlm kehidupan pribadinya, Abbenhuis menikah dgn Louise Josephine Verschueren kelahiran Malang & membesarkan anak2-nya, termasuk Christiaan Willem Emanuel & Marie Everdine, di tengah keseimbangan antara karier yg menuntut & keluarga yg dicintai. Penghargaan Belanda menghiasi hidupnya; ia dianugerahi Officer of the Order of Orange‑Nassau pada 1940 & Knight of the Order of the Netherlands Lion pada 1947, tanda resmi atas dedikasi & jasanya. Setelah menyelesaikan tugasnya, Abbenhuis kembali ke Belanda & menghabiskan sisa hidupnya di Tilburg, meninggal pada 19 September 1975. Kisah hidupnya adalah kisah seorang birokrat kolonial yg tangguh, seorang pria yg menyaksikan & terlibat dlm perubahan besar di Hindia Belanda, yg harus menyeimbangkan kekuasaan, diplomasi & kemanusiaan. Ia bukan gubernur, bukan pemimpin politik tertinggi, tetapi dlm perjalanan kariernya, ia menjadi saksi & pelaku penting dlm hal sejarah yg menentukan bagi Jawa & Hindia Belanda.
Foto2 koleksi KITLV Leiden Belanda yg memperlihatkan upacara dimulainya pembangunan sebuah tugu peringatan pembangunan jalan antara Kabupaten Klaten & Gunung Kidul di jalur Kalinongko pada 1936 dgn peletakan fondasi batu pertama oleh a l. :
1.K.R.M.T Iskak Martonagoro (kakek buyut saya, Bupati Klaten ke-13 dgn masa jabatan 1931 - 1939).
2.K.R.T.Joyodiningrat (Bupati Gunung Kidul ke-10 dgn masa jabatan 1935 - 1944).
3.Christiaan Wouter Antonius Abbenhuis (seorang pejabat Belanda).
(De Regent van Klaten Martonagoro legt een steen, vermoedelijk als fundament voor een toegoe, vanwege de openstelling van een ten zuidoosten van Klaten gelegen wegdeel.
1936. KITLV 53970)
Christiaan Wouter Antonius Abbenhuis lahir pada 5 September 1893 di Arnhem, Belanda, dlm sebuah keluarga yg menghargai pendidikan & disiplin. Sejak muda, ia terpesona oleh hukum & pemerintahan, & pilihannya untuk belajar hukum kolonial di Leiden menyiapkannya untuk perjalanan panjang ke Hindia Belanda, suatu dunia yg sangat berbeda dari tanah kelahirannya. Ia meninggalkan Belanda yg sejuk & teratur untuk menghadapi kepulan debu, panas tropis, & kerumitan administrasi di pulau2 Hindia Belanda nan jauh.
Setibanya di Batavia pada 1918, karier Abbenhuis dimulai sebagai pegawai administrasi biasa. Hari2-nya dihabiskan meneliti dokumen, menandatangani izin & memahami adat istiadat lokal. Tetapi ketekunan, kecerdikan & rasa hormatnya terhadap budaya lokal membedakannya dari rekan2-nya. Tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Assistén‑Resident di Yogyakarta, posisi yg menuntutnya untuk menyeimbangkan aturan kolonial dgn kebijakan Sultan Hamengkubuwono VIII. Dlm upacara resmi, Abbenhuis sering mengenakan seragam Belanda yg rapi, duduk di samping pembesar pribumi sembari menandatangani dokumen2 penting yg mengatur hubungan antara pemerintahan kolonial & kekuasaan lokal. Foto2 masa itu menangkap sosoknya serius namun penuh kehati2-an, seorang birokrat yg selalu sadar akan garis tipis antara kekuasaan & diplomasi.
Pada 1930, Abbenhuis diangkat menjadi Direktur sekolah pemerintahan di Batavia, tempat calon pegawai administrasi dilatih. Di kelas, ia bukan sekadar mengajarkan hukum dan regulasi; ia menanamkan pemahaman ttg budaya & realitas kehidupan masyarakat di Hindia Belanda. Ia percaya bahwa seorang birokrat yg sukses harus memahami hati rakyat, bukan hanya menegakkan aturan.
Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Abbenhuis mengalami masa2 gelap. Ia ditawan bersama banyak pegawai Belanda lainnya, hidup dlm ketidakpastian & ketakutan. Namun, ketahanan & kecermatannya tidak surut. Setelah Jepang menyerah pada 1945, Abbenhuis kembali berperan dlm administrasi. Ia diangkat sebagai Chief Commanding Officer di Allied Military Administration Civil Affairs Branch (AMACAB) mengawasi Jawa Barat, Jawa Tengah, Surakarta & Yogyakarta & kemudian seluruh Jawa & Madura. Tugasnya bukanlah bagaikan Gubernur resmi, tetapi tanggungjawabnya sangat besar. AMACAB merujuk pada posisi tertinggi yg memimpin & mengawasi seluruh operasi administrasi sipil di wilayah yg diduduki atau dibebaskan oleh Sekutu selama Perang Dunia II.
Dlm kehidupan pribadinya, Abbenhuis menikah dgn Louise Josephine Verschueren kelahiran Malang & membesarkan anak2-nya, termasuk Christiaan Willem Emanuel & Marie Everdine, di tengah keseimbangan antara karier yg menuntut & keluarga yg dicintai. Penghargaan Belanda menghiasi hidupnya; ia dianugerahi Officer of the Order of Orange‑Nassau pada 1940 & Knight of the Order of the Netherlands Lion pada 1947, tanda resmi atas dedikasi & jasanya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Abbenhuis kembali ke Belanda & menghabiskan sisa hidupnya di Tilburg, meninggal pada 19 September 1975.
Kisah hidupnya adalah kisah seorang birokrat kolonial yg tangguh, seorang pria yg menyaksikan & terlibat dlm perubahan besar di Hindia Belanda, yg harus menyeimbangkan kekuasaan, diplomasi & kemanusiaan. Ia bukan gubernur, bukan pemimpin politik tertinggi, tetapi dlm perjalanan kariernya, ia menjadi saksi & pelaku penting dlm hal sejarah yg menentukan bagi Jawa & Hindia Belanda.














