09 October 2026

Tahun 1945, belum lagi putranya lengkap berumur 1 tahun, Bung Karno dan Ibu Fatmawati sedang santai duduk di tangga rumah Proklamasi . Mereka belum berniat untuk pindah ke Yogya, semua itu baru terjadi di awal tahun 1946 ? Tapi ruang depan rumah tampak bersih terawat penuh asri dengan korsi rotan yang tertata rapi dengan taplak meja dari kain putih berenda, tanaman hias sekitar beranda muka yang di pakai untuk acara Proklamasi. Sesungguhnya ini keluarga yang penuh kebahagiaan di rumah Presiden ?

 Tahun 1945, belum lagi putranya lengkap berumur 1 tahun, Bung Karno dan Ibu Fatmawati sedang santai duduk di tangga rumah Proklamasi . Mereka belum berniat untuk pindah ke Yogya, semua itu baru terjadi di awal tahun 1946 ? Tapi ruang depan rumah tampak bersih terawat penuh asri dengan korsi rotan yang tertata rapi dengan taplak meja dari kain putih berenda, tanaman hias sekitar beranda muka yang di pakai untuk acara Proklamasi. Sesungguhnya ini keluarga yang penuh kebahagiaan di rumah Presiden ?




Sumber : Hoesein Roeshdy

Tahun 1934, Belanda menyadari satu hal yang fatal: Memenjarakan fisik Soekarno tak akan mematikan idenya. Maka mereka menggunakan taktik yang jauh lebih kejam. Membunuh karakternya dengan kesepian yang absolut. Sang Singa Podium itu dibuang jauh ke Ende, Flores. Sebuah kota nelayan terpencil yang sangat sunyi, guna memutus total urat nadi pergerakannya. Di Ende, Soekarno tidak dikurung di balik bui. la bebas berjalan ke mana saja ia mau. Namun, itulah bentuk siksaan psikologis yang paling sadis. Sebagai pemimpin yang hidup dari energi ribuan massa, Soekarno tiba-tiba diisolasi dan tak punya panggung. Penduduk lokal dilarang keras berbicara dengannya. la sengaja dikucilkan di negerinya sendiri. Taktik psikologis Belanda nyaris berhasil sempurna. Fase ini adalah masa tergelap dalam hidup Soekarno. Sang Proklamator hancur lebur secara mental dan fisik. la terserang malaria parah yang menggerogoti tubuhnya. Dalam surat-suratnya, ia menuliskan rasa putus asa. la merasa pergerakannya telah mati dan sia-sia. Seolah sejarah telah membuang namanya untuk selamanya. Di tengah kesepian yang nyaris membunuh kewarasannya, hanya kehadiran istrinya, Inggit Garnasih, yang menjadi jangkar. Untuk mengalihkan depresi dan pikirannya yang kusut, Soekarno melarikan diri dari realita. la mulai melukis, menulis naskah tonil (sandiwara), dan menghabiskan waktu berjam-jam menatap lautan, berusaha menjaga agar kepalanya tidak benar-benar gila. Hingga pada suatu hari, sejarah membalikkan keadaan. Di tengah rasa frustrasi dan pengasingan batinnya, Soekarno sering duduk termenung di bawah pohon sukun. Menghadap ke arah Teluk Ende yang luas, pikirannya perlahan menembus batas-batas keputusasaan. la mulai menggali kembali nilai-nilai leluhur Nusantara, meracik sebuah formula mematikan untuk melawan penjajah. Dari titik nadir paling rendah seorang manusia, justru lahir sebuah gagasan yang paling megah. Di bawah pohon sukun itulah, Soekarno merumuskan 5 butir mutiara yang kelak menyatukan ribuan pulau. Ideologi raksasa yang kita kenal hari ini sebagai Pancasila. Sebuah pondasi kuat yang dirancang matang-matang bukan di istana mewah, melainkan di tanah buangan. Sejarah mencatat blunder terbesar pemerintah kolonial. Belanda membuang Soekarno ke Ende untuk mematahkan jiwanya, berharap sang tokoh pergerakan itu mati membusuk dan dilupakan. Namun ironisnya, pengasingan itu justru memberinya waktu untuk merenung dan menciptakan pondasi bagi negara Indonesia. Sang Singa memang sempat dibungkam di ujung dunia, tapi ia kembali membawa senjata yang menghancurkan penjajahnya. #history #FaktaSejarah

 Tahun 1934, Belanda menyadari satu hal yang fatal:

Memenjarakan fisik Soekarno tak akan mematikan idenya. Maka mereka menggunakan taktik yang jauh lebih kejam.

Membunuh karakternya dengan kesepian yang absolut.

Sang Singa Podium itu dibuang jauh ke Ende, Flores. Sebuah kota nelayan terpencil

yang sangat sunyi, guna memutus total

urat nadi pergerakannya.



Di Ende, Soekarno tidak dikurung di balik bui.

la bebas berjalan ke mana saja ia mau.

Namun, itulah bentuk siksaan psikologis yang paling sadis. Sebagai pemimpin yang hidup

dari energi ribuan massa, Soekarno tiba-tiba diisolasi dan tak punya panggung.

Penduduk lokal dilarang keras berbicara dengannya. la sengaja dikucilkan di negerinya sendiri.


Taktik psikologis Belanda nyaris berhasil sempurna. Fase ini adalah masa tergelap

dalam hidup Soekarno. Sang Proklamator hancur lebur secara mental dan fisik.

la terserang malaria parah yang menggerogoti tubuhnya. Dalam surat-suratnya, ia menuliskan rasa putus asa. la merasa pergerakannya telah mati dan sia-sia.

Seolah sejarah telah membuang namanya

untuk selamanya.


Di tengah kesepian yang nyaris membunuh kewarasannya, hanya kehadiran istrinya,

Inggit Garnasih, yang menjadi jangkar.

Untuk mengalihkan depresi dan pikirannya yang kusut, Soekarno melarikan diri dari realita. la mulai melukis, menulis naskah tonil (sandiwara), dan menghabiskan waktu

berjam-jam menatap lautan, berusaha menjaga agar kepalanya tidak benar-benar gila.


Hingga pada suatu hari, sejarah membalikkan keadaan. Di tengah rasa frustrasi dan pengasingan batinnya, Soekarno sering duduk termenung di bawah pohon sukun.

Menghadap ke arah Teluk Ende yang luas,

pikirannya perlahan menembus batas-batas

keputusasaan. la mulai menggali kembali

nilai-nilai leluhur Nusantara, meracik sebuah formula mematikan untuk melawan penjajah.


Dari titik nadir paling rendah seorang manusia, justru lahir sebuah gagasan

yang paling megah. Di bawah pohon sukun itulah, Soekarno merumuskan 5 butir mutiara

yang kelak menyatukan ribuan pulau.

Ideologi raksasa yang kita kenal hari ini

sebagai Pancasila. Sebuah pondasi kuat

yang dirancang matang-matang bukan di istana mewah, melainkan di tanah buangan.


Sejarah mencatat blunder terbesar pemerintah kolonial. Belanda membuang Soekarno ke Ende untuk mematahkan jiwanya, berharap sang tokoh pergerakan itu

mati membusuk dan dilupakan.

Namun ironisnya, pengasingan itu justru

memberinya waktu untuk merenung

dan menciptakan pondasi bagi negara Indonesia. Sang Singa memang sempat

dibungkam di ujung dunia,

tapi ia kembali membawa senjata

yang menghancurkan penjajahnya.


#history #FaktaSejarah


Sumber : Dwi Aji Wijaya

Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti Nama Letnan Komaruddin sangat dikenal dalam sejarah ketentaraan Indonesia. Bahkan dimasukkan sebagai salah satu karakter di film Janur Kuning. Saat Serangan Umum 1 Maret 1949, ia pernah membuat kesalahan fatal, tetapi justru berhasil mengecoh Belanda. Ia juga dikenal memiliki kesaktian, yang sulit diterima logika. Beberapa prajurit menyaksikan sendiri bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Komaruddin. Kebal terhadap senjatab apapun termasuk peluru. Saat ia dan prajurit lainnya dikepung Belanda lengkap dengan senjatanya, secara tiba-tiba mereka bisa menghilang seolah tak terlihat. Padahal bila dinalar, mereka tidak mungkin bisa kabur begitu saja. Letnan Komaruddin : Opsir Kebal Peluru Bagi generasi 90-an, tentu akrab dengan sejumlah film bertema perjuangan. Salah satunya yang cukup terkenal adalah film Janur Kuning yang konon film wajib ditonton di sejumlah sekolah pada era 1980-an. Penulis buku seri sejarah, Hendi Jo seperti dikutip darinya buku Orang-Orang di Garis Depan', terbitan Matapadi Presindo, Cetakan ke dua 2019 halaman 66 menulis, dalam film Janur Kuning ada tokoh "pejuang selon" yang diperankan oleh aktor Amak Baldjun. Digambarkan dalam film tersebut, saat adegan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta tanpa mengenal memburu serdadu-serdadu Belanda yang melakukan gerakan mundur seraya menembakkan senjata-senjata mereka ke arah gelirlyawan TNI berbaret hitam. Masih dari kutipan buku yang sama, dalam sejarah Perang Kemerdekaan di Yogyakarta, sejatinya tokoh ini memang benar-benar ada. Namanya Letnan Komaruddin. Jabatannya waktu itu komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto). Di kalangan anak buahnya, mantan prajurit PETA di Kalasan ini terkenal sebagai anti kogel/tahan peluru. Bahkan saking saktinya, kekebalan Komaruddis akan peluru konon bisa melindungi orang sekitarnya dalam radius 10 meter dari dirinya. Rupanya "kesaktian" Letnan TNI Komaruddin tidak muncull begitu saja. Sebagai pejuang pemberani, ia disebut- sebut masih memiliki hubungan darah dengan Kyai Abdur Rahman (sebagai cicit) yang dikenal sebagai Mbah Tanjung. Mba Tanjung, salah seorang ulama terkemuka yang hidup di Ploso Kuning Minomartani, Sleman pada era kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792). Ia pun diyakini merupakan keturunan langsung Bantengwareng, salah seorang panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro. Karena keturunan orang-orang sakti itulah, banyak dipercaya anggota pasukanya, ia kebal terhadap senjata apapun. Begitu populernya nama Komaruddin hingga di wilayah Sleman, ada sebuah masjid yang disemati namanya: Masjid Al Komaruddin. Sebelum bergabung dengan Soeharto, usai dari PETA, Komaruddin memang pernah bergabung dengan Lasykar Hizboellah setempat. Banyak kawan-kawannya mengenal Komaruddin sebagai sosok yang jenaka, selon, pemberani namun sedikit agak sentimentil jika disentuh sisi-sisi kemanusiannya. Salah satu contoh, saat Panglima Besar Soedirman (dalam suatu pemeriksaan pasukan usai turun gunung) menasehati, mengkritik sekaligus memuji serangan 'salah lihat kalender"nya pada 28 Februari 1949, ia langsung terisak-isak menangis sambil terbata-bata berujar: "Siap Panglima! Saya tak akan mengulanginya!" Peleton yang dipimpin Letnan Komaruddin memang dikenal sangat berani dan sering mengacak-acak pertahanan militer Belanda di dalam kota Yogyakarta. Begitu disegani namanya hingga pihak intelijen militer Belanda (NEFIS) pernah menjadikannya buronan. Menurut sejarawan militer Moehkardi, konon penyerangan militer Belanda ke dukuh Plataran pada 24 Februari 1949 ( yang menimbulkan korban tewas beberapa kadet Akademi Militer Yogyakarta) adalah salah satunya dalam rangka mencari dirinya, yang memang saat itu ia sedang berada di dekat dukuh tersebut. Lantas bagaimana nasib Komaruddin seusai Memang jarang sumber-sumber sejarah yang memberitakan keberadaannya pasca penyerahan kedaulatan. Kecuali satu sumber dalam buku 'Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi' Yogya oleh Daud Sinjal. Di situ dituliskan tentang, tuduhan sebagian kalangan militer kala itu yang menyebut dia terlibat dalam gerakan DI/TII. Menurut Priyanto (59), sangkaan itu muncul kala komp Komaruddin (saat itu berpangkat kapten) pada tahun 1950-an, dikirim ke Malangbong, Garut untuk menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI TII) pimpinan Sekar Maridjan Kartosoewirjo. Alih-alih berperang, di Garut Kompi Komaruddin malah kerap ngopi bareng" dengan pasukan DI/TII. Rupanya Komaruddin merasa jengah berperang dengan para gerilyawan yang sebagian merupakan rekannya saat aktif di Hizboellah. Malah di antaranya ada juga yang pernah satu perguruan dengannya saat belajar agama dan kanuragaan. "Akibatnya Mbah Komar dan pasukannya ditarik kembali ke Yogya dan sesampainya di markasnya langsung dipere TII secara massal" ujar lelaki yang masih termasuk cucu dani Komaruddin tersebut. Dalam bukunya, Daud Sinjal menuliskan ternyata setelah diselidiki tuduhan itu sama sekali tidak benar. Nama Komaruddin kemudian direhabilitasi dan ia aktif kembai di ketentaraan. Namun sepertinya upaya rehabilitas tak otomatis membuat karir ketentaraannya menanjak. Dikisahkan beberapa saat setelah ia mendapat rehabilitasi dan ia aktif kembali di ketentaraan secara resmi. Usai tidak aktif di ketentaraan, pada 1960-an, Komaruddin memilih dunia jalanan sebagai jalur hidupnya. Di Yogyakarta, namanya terkenal sekaligus disegani sebagai "preman berhati "Tempat tongkrongan favoritnya di samping pabrik susu SGM," ujar Amiruudin, putra kedua dari Komaruddin. Sekitar tahun 1969, Komaruddin secara misterius tiba-tiba menghilang dari Yogyakarta. Soetojo alias Boyo (buaya), seperjuangannya waktu melawan Belanda, lantas mencarinya hingga ke Jakarta setahun kemudian. Di ibukota Boyo menemukan Komaruddin di wilayah Cempaka Putih. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah-tengah rawa (tanah milik Kodam V Jaya?) Ia menghidupi kesehariannya dengan bekerja sebagai seorang preman yang ditakuti di wilayah Pasar Senen. Baik teman Amiruddin menduga keberadaan Komaruddin di Jakarta atas sepengetahuan Presiden Soeharto, yang merupakan mantan komandannya di Yogyakarta. "Buktinya, saat tinggal di rawa terletak di Cempaka Putih itu, tiap bulan secara rutin yang ia kerap mendapatkan jatah beras bagian untuk tentara..." ujar lelaki kelahiran Yogyakarta pada 1962 tersebut. Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti

 Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti

Nama Letnan Komaruddin sangat dikenal dalam sejarah ketentaraan Indonesia.



Bahkan dimasukkan sebagai salah satu karakter di film Janur Kuning.


Saat Serangan Umum 1 Maret 1949, ia pernah membuat kesalahan fatal, tetapi justru berhasil mengecoh Belanda.


Ia juga dikenal memiliki kesaktian, yang sulit diterima logika. Beberapa prajurit menyaksikan sendiri bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Komaruddin. Kebal terhadap senjatab apapun termasuk peluru.


Saat ia dan prajurit lainnya dikepung Belanda lengkap dengan senjatanya, secara tiba-tiba mereka bisa menghilang seolah tak terlihat.


Padahal bila dinalar, mereka tidak mungkin bisa kabur begitu saja.


Letnan Komaruddin : Opsir Kebal Peluru


Bagi generasi 90-an, tentu akrab dengan sejumlah film bertema perjuangan.


Salah satunya yang cukup terkenal adalah film Janur Kuning yang konon film wajib ditonton di sejumlah sekolah pada era 1980-an.


Penulis buku seri sejarah, Hendi Jo seperti dikutip darinya buku Orang-Orang di Garis Depan', terbitan Matapadi Presindo, Cetakan ke dua 2019 halaman 66 menulis, dalam film Janur Kuning ada tokoh "pejuang selon" yang diperankan oleh aktor Amak Baldjun.


Digambarkan dalam film tersebut, saat adegan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta tanpa mengenal memburu serdadu-serdadu Belanda yang melakukan gerakan mundur seraya menembakkan senjata-senjata mereka ke arah gelirlyawan TNI berbaret hitam.


Masih dari kutipan buku yang sama, dalam sejarah Perang Kemerdekaan di Yogyakarta, sejatinya tokoh ini memang benar-benar ada.


Namanya Letnan Komaruddin. Jabatannya waktu itu komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto).


Di kalangan anak buahnya, mantan prajurit PETA di Kalasan ini terkenal sebagai anti kogel/tahan peluru.


Bahkan saking saktinya, kekebalan Komaruddis akan peluru konon bisa melindungi orang sekitarnya dalam radius 10 meter dari dirinya.


Rupanya "kesaktian" Letnan TNI Komaruddin tidak muncull begitu saja.


Sebagai pejuang pemberani, ia disebut- sebut masih memiliki hubungan darah dengan Kyai Abdur Rahman (sebagai cicit) yang dikenal sebagai Mbah Tanjung.


Mba Tanjung, salah seorang ulama terkemuka yang hidup di Ploso Kuning Minomartani, Sleman pada era kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792).


Ia pun diyakini merupakan keturunan langsung Bantengwareng, salah seorang panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro.


Karena keturunan orang-orang sakti itulah, banyak dipercaya anggota pasukanya, ia kebal terhadap senjata apapun.


Begitu populernya nama Komaruddin hingga di wilayah Sleman, ada sebuah masjid yang disemati namanya: Masjid Al Komaruddin.


Sebelum bergabung dengan Soeharto, usai dari PETA, Komaruddin memang pernah bergabung dengan Lasykar Hizboellah setempat.


Banyak kawan-kawannya mengenal Komaruddin sebagai sosok yang jenaka, selon, pemberani namun sedikit agak sentimentil jika disentuh sisi-sisi kemanusiannya.


Salah satu contoh, saat Panglima Besar Soedirman (dalam suatu pemeriksaan pasukan usai turun gunung) menasehati, mengkritik sekaligus memuji serangan 'salah lihat kalender"nya pada 28 Februari 1949, ia langsung terisak-isak menangis sambil terbata-bata berujar: "Siap Panglima! Saya tak akan mengulanginya!"


Peleton yang dipimpin Letnan Komaruddin memang dikenal sangat berani dan sering mengacak-acak pertahanan militer Belanda di dalam kota Yogyakarta.


Begitu disegani namanya hingga pihak intelijen militer Belanda (NEFIS) pernah menjadikannya buronan.


Menurut sejarawan militer Moehkardi, konon penyerangan militer Belanda ke dukuh Plataran pada 24 Februari 1949 ( yang menimbulkan korban tewas beberapa kadet Akademi Militer Yogyakarta) adalah salah satunya dalam rangka mencari dirinya, yang memang saat itu ia sedang berada di dekat dukuh tersebut.


Lantas bagaimana nasib Komaruddin seusai Memang jarang sumber-sumber sejarah yang memberitakan keberadaannya pasca penyerahan kedaulatan.


Kecuali  satu sumber dalam buku 'Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi' Yogya oleh Daud Sinjal.


Di situ dituliskan tentang, tuduhan sebagian kalangan militer kala itu yang menyebut dia terlibat dalam gerakan DI/TII.


Menurut Priyanto (59), sangkaan itu muncul kala komp Komaruddin (saat itu berpangkat kapten) pada tahun 1950-an, dikirim ke Malangbong, Garut untuk menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI TII) pimpinan Sekar Maridjan Kartosoewirjo.


Alih-alih berperang, di Garut Kompi Komaruddin malah kerap ngopi bareng" dengan pasukan DI/TII.


Rupanya Komaruddin merasa jengah berperang dengan para gerilyawan yang sebagian merupakan rekannya saat aktif di Hizboellah.


Malah di antaranya ada juga yang pernah satu perguruan dengannya saat belajar agama dan kanuragaan.


"Akibatnya Mbah Komar dan pasukannya ditarik kembali ke Yogya dan sesampainya di markasnya langsung dipere TII secara massal" ujar lelaki yang masih termasuk cucu dani Komaruddin tersebut.


Dalam bukunya, Daud Sinjal menuliskan ternyata setelah diselidiki tuduhan itu sama sekali tidak benar.


Nama Komaruddin kemudian direhabilitasi dan ia aktif kembai di ketentaraan. Namun sepertinya upaya rehabilitas  tak otomatis membuat karir ketentaraannya menanjak.


Dikisahkan beberapa saat setelah ia mendapat rehabilitasi dan ia aktif kembali di ketentaraan secara resmi.


Usai tidak aktif di ketentaraan, pada 1960-an, Komaruddin memilih dunia jalanan sebagai jalur hidupnya.


Di Yogyakarta, namanya terkenal sekaligus disegani sebagai "preman berhati "Tempat tongkrongan favoritnya di samping pabrik susu SGM," ujar Amiruudin, putra kedua dari Komaruddin.


Sekitar tahun 1969, Komaruddin secara misterius tiba-tiba menghilang dari Yogyakarta. Soetojo alias Boyo (buaya), seperjuangannya waktu melawan Belanda, lantas mencarinya hingga ke Jakarta setahun kemudian.


Di ibukota Boyo menemukan Komaruddin di wilayah Cempaka Putih.


Ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah-tengah rawa (tanah milik Kodam V Jaya?)


Ia menghidupi kesehariannya dengan bekerja sebagai seorang preman yang ditakuti di wilayah Pasar Senen.


Baik teman Amiruddin menduga keberadaan Komaruddin di Jakarta atas sepengetahuan Presiden Soeharto, yang merupakan mantan komandannya di Yogyakarta.


"Buktinya, saat tinggal di rawa terletak di Cempaka Putih itu, tiap bulan secara rutin yang ia kerap mendapatkan jatah beras bagian untuk tentara..." ujar lelaki kelahiran Yogyakarta pada 1962 tersebut.

Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti


Sumber : Derry Ali


Malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, enam jenderal TNI AD dan seorang perwira diculik dan dibunuh oleh sekelompok pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September, lalu jasad mereka dibuang ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan cepat dituding sebagai dalang di balik peristiwa ini, meski keterlibatan penuh partai secara resmi hingga kini masih diperdebatkan sejarawan. Yang terjadi setelahnya bergerak sangat cepat dan sistematis. Dalam hitungan hari, media massa yang dikuasai militer mulai menyebarkan narasi tentang kekejaman PKI, termasuk klaim penyiksaan terhadap para jenderal yang kemudian terbukti dibesar-besarkan. Propaganda ini menyulut kemarahan publik dan membuka jalan bagi operasi pembersihan berskala nasional. Operasi ini tidak dilakukan sendirian oleh militer. Angkatan Darat, di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto, menggandeng dan mempersenjatai kelompok-kelompok sipil dan organisasi pemuda keagamaan di berbagai daerah untuk membantu mengidentifikasi dan mengeksekusi siapa pun yang dicurigai berafiliasi dengan PKI. Di banyak daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan Bali, penangkapan dilakukan berdasarkan daftar nama yang disusun aparat desa atau laporan tetangga, sering kali tanpa verifikasi apa pun bahwa orang tersebut benar-benar anggota partai. Metode pembantaian bervariasi antar daerah, namun polanya serupa, korban ditangkap malam hari, dibawa ke lokasi terpencil, lalu dieksekusi secara massal. Banyak jasad dibuang ke sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo hingga membuat aliran sungai dipenuhi mayat selama berminggu-minggu, sementara lainnya dikuburkan di kuburan massal yang lokasinya baru mulai terungkap dan diteliti puluhan tahun kemudian oleh peneliti dan lembaga HAM. Operasi ini berlangsung dari Oktober 1965 hingga sekitar Maret 1966, bertepatan dengan periode ketika Soeharto secara bertahap mengambil alih kendali kekuasaan dari Presiden Sukarno lewat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang menjadi titik awal berdirinya rezim Orde Baru selama lebih dari tiga dekade berikutnya.

 Malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, enam jenderal TNI AD dan seorang perwira diculik dan dibunuh oleh sekelompok pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September, lalu jasad mereka dibuang ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan cepat dituding sebagai dalang di balik peristiwa ini, meski keterlibatan penuh partai secara resmi hingga kini masih diperdebatkan sejarawan.

Yang terjadi setelahnya bergerak sangat cepat dan sistematis.




Dalam hitungan hari, media massa yang dikuasai militer mulai menyebarkan narasi tentang kekejaman PKI, termasuk klaim penyiksaan terhadap para jenderal yang kemudian terbukti dibesar-besarkan. Propaganda ini menyulut kemarahan publik dan membuka jalan bagi operasi pembersihan berskala nasional.

Operasi ini tidak dilakukan sendirian oleh militer. Angkatan Darat, di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto, menggandeng dan mempersenjatai kelompok-kelompok sipil dan organisasi pemuda keagamaan di berbagai daerah untuk membantu mengidentifikasi dan mengeksekusi siapa pun yang dicurigai berafiliasi dengan PKI. Di banyak daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan Bali, penangkapan dilakukan berdasarkan daftar nama yang disusun aparat desa atau laporan tetangga, sering kali tanpa verifikasi apa pun bahwa orang tersebut benar-benar anggota partai.


Metode pembantaian bervariasi antar daerah, namun polanya serupa, korban ditangkap malam hari, dibawa ke lokasi terpencil, lalu dieksekusi secara massal. Banyak jasad dibuang ke sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo hingga membuat aliran sungai dipenuhi mayat selama berminggu-minggu, sementara lainnya dikuburkan di kuburan massal yang lokasinya baru mulai terungkap dan diteliti puluhan tahun kemudian oleh peneliti dan lembaga HAM.

Operasi ini berlangsung dari Oktober 1965 hingga sekitar Maret 1966, bertepatan dengan periode ketika Soeharto secara bertahap mengambil alih kendali kekuasaan dari Presiden Sukarno lewat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang menjadi titik awal berdirinya rezim Orde Baru selama lebih dari tiga dekade berikutnya.


Sumber : Widi Astuti

Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan! India ternyata tidak selalu menjadi negara Hindu! Banyak anak muda kita hari ini mengira bahwa India telah menjadi negara Hindu sejak zaman dahulu, tanpa menyadari bahwa negeri ini pernah berada di bawah naungan kekuasaan Islam selama hampir 800 tahun. Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan! Inggris mulai mencengkeramkan kukunya di India di bawah kedok korporasi bernama Perusahaan Hindia Timur Inggris (British East India Company). Seiring menguatnya pengaruh mereka, Inggris mulai memerangi Islam dan secara perlahan melucuti kekuasaan umat Islam. Pada tahun 1857, para ulama Muslim menggelar pertemuan penting di Masjid Jami, Delhi, lalu mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan penjajahan Inggris—sebuah fatwa yang ditandatangani oleh para ulama terkemuka di India. Pemberontakan besar-besaran pun pecah, melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Para pemberontak sepakat memilih Muhammad Bahadur sebagai pemimpin mereka, meskipun usianya sudah senja. Namun, Inggris—dengan memanfaatkan perpecahan dan dukungan dari kelompok Sikh serta pihak lainnya—menumpas pergerakan tersebut dengan sangat kejam: • Membu*nuh para ulama dan mengek*sekusi para pemberontak. • Menangkap Sultan Muhammad Bahadur. • Meme*nggal ke*pala putra-putranya tepat di hadapannya sebelum membuangnya ke pengasingan di Burma. Sultan wafat dalam pengasingan di usia 89 tahun pada tahun 1862. Peristiwa kelam ini sekaligus mengakhiri babak kekuasaan Islam di India, yang fondasinya telah diletakkan sejak penaklukan Mahmud al-Ghaznawi pada tahun 1001 M. Meski kekuasaan telah usai, umat Islam meninggalkan warisan peradaban agung yang jejak megahnya masih berdiri kokoh hingga hari ini. Sejarah kolonialisme Inggris sarat dengan tipu daya dan penderitaan bagi umat Islam—dari India hingga Plstina, dari Afrika hingga Timur Tengah. Dan sejarah itu perlahan akan tenggelam jika kita memilih untuk diam. Ya. Pernah ada kekuasaan politik Muslim yang sangat luas di anak benua India, tetapi itu tidak berarti seluruh penduduk India otomatis menjadi Muslim. Ada beberapa alasan historis yang penting: 1. “Islam pernah berkuasa” ≠ “mayoritas penduduk masuk Islam” Dinasti dan kerajaan Muslim seperti Kesultanan Delhi dan kemudian Kekaisaran Mughal menguasai wilayah yang luas pada periode berbeda. Namun, mereka memerintah masyarakat yang sejak awal sangat besar dan beragam, termasuk komunitas Hindu, Buddha, Jain, Sikh, dan lainnya. Kekuasaan politik dan perubahan agama adalah dua proses yang berbeda. 2. Penduduk Hindu sudah sangat besar Tradisi keagamaan yang kemudian dikategorikan sebagai Hindu telah berkembang di India selama berabad-abad sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Muslim. Jadi, ketika penguasa Muslim datang, mereka tidak memasuki wilayah yang kosong secara demografis, melainkan wilayah dengan populasi non-Muslim yang sangat besar. 3. Penyebaran Islam tidak hanya bergantung pada penguasa Islam di India juga berkembang melalui perdagangan, ulama, jaringan sufi, komunitas Muslim lokal, dan proses sosial selama berabad-abad. Konversi terjadi di berbagai daerah, tetapi tidak dalam skala yang mengubah seluruh anak benua menjadi Muslim. Karena itu, anggapan bahwa “kalau penguasanya Muslim, rakyat pasti dipaksa masuk Islam” terlalu menyederhanakan sejarah. Bukti demografis menunjukkan bahwa perpindahan agama secara keseluruhan merupakan proses yang kompleks. 4. Kekuasaan Muslim juga tidak berlangsung sebagai satu pemerintahan tunggal Istilah “Islam berkuasa di India” perlu hati-hati. Ada banyak kerajaan dan dinasti yang berbeda, dengan wilayah, kebijakan, dan masa pemerintahan yang berbeda. Bahkan pada masa Mughal, kekuasaan mereka tidak selalu mencakup seluruh wilayah yang sekarang disebut India. 5. Setelah berakhirnya pemerintahan Muslim, komposisi penduduk tetap berubah secara bertahap Pada sensus India 2011, sekitar 79,8% penduduk India beragama Hindu dan 14,2% Muslim. Pew Research Center juga menemukan bahwa perpindahan agama di India modern relatif kecil; sekitar 98% orang dewasa masih menganut agama tempat mereka dibesarkan. Menariknya, pada 1951–2011 proporsi Muslim memang meningkat dari 9,8% menjadi 14,2%, sementara proporsi Hindu turun dari 84,1% menjadi 79,8%. Jadi Islam tetap berkembang secara demografis meskipun India secara keseluruhan tetap mayoritas Hindu. Kesimpulannya India tetap mayoritas Hindu bukan karena Islam tidak pernah berkuasa, tetapi karena kekuasaan politik tidak otomatis menghasilkan perubahan agama secara massal. India memiliki populasi Hindu yang sangat besar sejak sebelum periode kerajaan Muslim, sementara Islam menyebar melalui berbagai jalur sosial dan menghasilkan komunitas Muslim yang sangat besar tanpa menjadi mayoritas di seluruh India. Bahkan pada 2011, sekitar 94% umat Hindu dunia tinggal di India, sementara India juga memiliki salah satu populasi Muslim terbesar di dunia.

 Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan!



India ternyata tidak selalu menjadi negara Hindu! Banyak anak muda kita hari ini mengira bahwa India telah menjadi negara Hindu sejak zaman dahulu, tanpa menyadari bahwa negeri ini pernah berada di bawah naungan kekuasaan Islam selama hampir 800 tahun.


Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan!


Inggris mulai mencengkeramkan kukunya di India di bawah kedok korporasi bernama Perusahaan Hindia Timur Inggris (British East India Company). Seiring menguatnya pengaruh mereka, Inggris mulai memerangi Islam dan secara perlahan melucuti kekuasaan umat Islam.


Pada tahun 1857, para ulama Muslim menggelar pertemuan penting di Masjid Jami, Delhi, lalu mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan penjajahan Inggris—sebuah fatwa yang ditandatangani oleh para ulama terkemuka di India.


Pemberontakan besar-besaran pun pecah, melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Para pemberontak sepakat memilih Muhammad Bahadur sebagai pemimpin mereka, meskipun usianya sudah senja.


Namun, Inggris—dengan memanfaatkan perpecahan dan dukungan dari kelompok Sikh serta pihak lainnya—menumpas pergerakan tersebut dengan sangat kejam:


• Membu*nuh para ulama dan mengek*sekusi para pemberontak.


• Menangkap Sultan Muhammad Bahadur.


• Meme*nggal ke*pala putra-putranya tepat di hadapannya sebelum membuangnya ke pengasingan di Burma.


Sultan wafat dalam pengasingan di usia 89 tahun pada tahun 1862.


Peristiwa kelam ini sekaligus mengakhiri babak kekuasaan Islam di India, yang fondasinya telah diletakkan sejak penaklukan Mahmud al-Ghaznawi pada tahun 1001 M. Meski kekuasaan telah usai, umat Islam meninggalkan warisan peradaban agung yang jejak megahnya masih berdiri kokoh hingga hari ini.


Sejarah kolonialisme Inggris sarat dengan tipu daya dan penderitaan bagi umat Islam—dari India hingga Plstina, dari Afrika hingga Timur Tengah. Dan sejarah itu perlahan akan tenggelam jika kita memilih untuk diam.


Ya. Pernah ada kekuasaan politik Muslim yang sangat luas di anak benua India, tetapi itu tidak berarti seluruh penduduk India otomatis menjadi Muslim. Ada beberapa alasan historis yang penting:

1. “Islam pernah berkuasa” ≠ “mayoritas penduduk masuk Islam”

Dinasti dan kerajaan Muslim seperti Kesultanan Delhi dan kemudian Kekaisaran Mughal menguasai wilayah yang luas pada periode berbeda. Namun, mereka memerintah masyarakat yang sejak awal sangat besar dan beragam, termasuk komunitas Hindu, Buddha, Jain, Sikh, dan lainnya.

Kekuasaan politik dan perubahan agama adalah dua proses yang berbeda.

2. Penduduk Hindu sudah sangat besar

Tradisi keagamaan yang kemudian dikategorikan sebagai Hindu telah berkembang di India selama berabad-abad sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Muslim. Jadi, ketika penguasa Muslim datang, mereka tidak memasuki wilayah yang kosong secara demografis, melainkan wilayah dengan populasi non-Muslim yang sangat besar.

3. Penyebaran Islam tidak hanya bergantung pada penguasa

Islam di India juga berkembang melalui perdagangan, ulama, jaringan sufi, komunitas Muslim lokal, dan proses sosial selama berabad-abad. Konversi terjadi di berbagai daerah, tetapi tidak dalam skala yang mengubah seluruh anak benua menjadi Muslim.

Karena itu, anggapan bahwa “kalau penguasanya Muslim, rakyat pasti dipaksa masuk Islam” terlalu menyederhanakan sejarah. Bukti demografis menunjukkan bahwa perpindahan agama secara keseluruhan merupakan proses yang kompleks.

4. Kekuasaan Muslim juga tidak berlangsung sebagai satu pemerintahan tunggal

Istilah “Islam berkuasa di India” perlu hati-hati. Ada banyak kerajaan dan dinasti yang berbeda, dengan wilayah, kebijakan, dan masa pemerintahan yang berbeda. Bahkan pada masa Mughal, kekuasaan mereka tidak selalu mencakup seluruh wilayah yang sekarang disebut India.

5. Setelah berakhirnya pemerintahan Muslim, komposisi penduduk tetap berubah secara bertahap

Pada sensus India 2011, sekitar 79,8% penduduk India beragama Hindu dan 14,2% Muslim. Pew Research Center juga menemukan bahwa perpindahan agama di India modern relatif kecil; sekitar 98% orang dewasa masih menganut agama tempat mereka dibesarkan. 


Menariknya, pada 1951–2011 proporsi Muslim memang meningkat dari 9,8% menjadi 14,2%, sementara proporsi Hindu turun dari 84,1% menjadi 79,8%. Jadi Islam tetap berkembang secara demografis meskipun India secara keseluruhan tetap mayoritas Hindu. 


Kesimpulannya

India tetap mayoritas Hindu bukan karena Islam tidak pernah berkuasa, tetapi karena kekuasaan politik tidak otomatis menghasilkan perubahan agama secara massal. India memiliki populasi Hindu yang sangat besar sejak sebelum periode kerajaan Muslim, sementara Islam menyebar melalui berbagai jalur sosial dan menghasilkan komunitas Muslim yang sangat besar tanpa menjadi mayoritas di seluruh India.

Bahkan pada 2011, sekitar 94% umat Hindu dunia tinggal di India, sementara India juga memiliki salah satu populasi Muslim terbesar di dunia.

Pada 5 Oktober 1965, peringatan ke-20 Hari Angkatan Bersenj4t4 Republik Indonesia berlangsung dalam suasana duka. Pada hari itu, tujuh korban yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, setelah jenazah mereka ditemukan dan dievakuasi dari Lubang Buaya pada 4 Oktober. Ketujuhnya adalah Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Tendean. A.H. Nasution hadir dalam upacara tersebut dalam keadaan masih terluka setelah berhasil lolos dari upaya pencvlikan pada 1 Oktober. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa hari yang biasanya menjadi peringatan penting bagi Angkatan Bersenj4t4 itu kali ini berlangsung dalam suasana yang berbeda. Nasution kemudian menyebut nama satu per satu rekan yang telah meningg4l dan mengatakan bahwa mereka yang masih hidup memiliki kewajiban untuk meneruskan tugas yang ditinggalkan. Pidato itu disampaikan sebagai penghormatan terakhir sebelum jen4z4h dimakamkan. Salah satu bagian pidatonya yang paling sering dikenang adalah ketika Nasution mengatakan, “Fitnah lebih jah4t dari pembvnvh4n.” Pernyataan tersebut muncul ketika ia membahas tuduh4n dan pencemaran nama terhadap para korban. Namun, di bagian lain, Nasution justru meminta agar para prajurit tidak menyimpan dendam. Ia menyerukan agar mereka tetap berpegang pada keadilan dan kebenaran. Dengan demikian, pidatonya bukan hanya berisi kesedihan atas kehilangan rekan-rekannya, tetapi juga pesan kepada mereka yang masih hidup untuk melanjutkan tugas tanpa meninggalkan prinsip yang diyakininya. Sehari setelah pemakaman tersebut, 6 Oktober 1965, putri Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, meningg4l dunia akibat luk4 t3mb4k yang diderit4nya ketika terjadi penyer4ngan di rumah keluarga Nasution pada 1 Oktober. Rangkaian peristiwa dalam beberapa hari itu membuat awal Oktober 1965 menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia, yang kemudian terus menjadi bahan kajian dan perdebatan sejarah mengenai peristiwa 30 September 1965. Referensi: • Kemendikdasmen ; Arsip dan kajian yang dikutip Kompas ; serta laporan sejarah mengenai pem4kaman 5 Oktober 1965. Sumber : Halimah Adam

 Pada 5 Oktober 1965, peringatan ke-20 Hari Angkatan Bersenj4t4 Republik Indonesia berlangsung dalam suasana duka. Pada hari itu, tujuh korban yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, setelah jenazah mereka ditemukan dan dievakuasi dari Lubang Buaya pada 4 Oktober. Ketujuhnya adalah Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Tendean. 



A.H. Nasution hadir dalam upacara tersebut dalam keadaan masih terluka setelah berhasil lolos dari upaya pencvlikan pada 1 Oktober. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa hari yang biasanya menjadi peringatan penting bagi Angkatan Bersenj4t4 itu kali ini berlangsung dalam suasana yang berbeda. Nasution kemudian menyebut nama satu per satu rekan yang telah meningg4l dan mengatakan bahwa mereka yang masih hidup memiliki kewajiban untuk meneruskan tugas yang ditinggalkan. Pidato itu disampaikan sebagai penghormatan terakhir sebelum jen4z4h dimakamkan. 


Salah satu bagian pidatonya yang paling sering dikenang adalah ketika Nasution mengatakan, “Fitnah lebih jah4t dari pembvnvh4n.” Pernyataan tersebut muncul ketika ia membahas tuduh4n dan pencemaran nama terhadap para korban. Namun, di bagian lain, Nasution justru meminta agar para prajurit tidak menyimpan dendam. Ia menyerukan agar mereka tetap berpegang pada keadilan dan kebenaran. Dengan demikian, pidatonya bukan hanya berisi kesedihan atas kehilangan rekan-rekannya, tetapi juga pesan kepada mereka yang masih hidup untuk melanjutkan tugas tanpa meninggalkan prinsip yang diyakininya. 


Sehari setelah pemakaman tersebut, 6 Oktober 1965, putri Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, meningg4l dunia akibat luk4 t3mb4k yang diderit4nya ketika terjadi penyer4ngan di rumah keluarga Nasution pada 1 Oktober. Rangkaian peristiwa dalam beberapa hari itu membuat awal Oktober 1965 menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia, yang kemudian terus menjadi bahan kajian dan perdebatan sejarah mengenai peristiwa 30 September 1965.


Referensi:


• Kemendikdasmen ; Arsip dan kajian yang dikutip Kompas ;  serta laporan sejarah mengenai pem4kaman 5 Oktober 1965.


Sumber : Halimah Adam

SERSAN GIYADI, PRAJURIT YANG MENEMBAK JENDERAL AHMAD YANI Dini hari 1 Oktober 1965 menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah situasi politik yang sedang memanas, sekelompok pasukan bergerak menuju kediaman sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Salah satu sasaran mereka adalah Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani, yang tinggal di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta. Di antara pasukan yang dikirim ke rumah Ahmad Yani terdapat anggota Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Salah satu prajurit yang kemudian namanya tercatat dalam sejarah adalah Sersan Giyadi. Menurut catatan Pusat Sejarah TNI, pasukan tersebut datang dengan membawa alasan bahwa Ahmad Yani diminta segera menghadap Presiden. Sersan Raswad menyampaikan pesan tersebut kepada sang jenderal. Yani kemudian meminta waktu untuk mandi dan bersiap, tetapi permintaannya ditolak. Ia kembali meminta kesempatan untuk berganti pakaian, namun kembali tidak diperbolehkan. Situasi kemudian memanas. Ahmad Yani marah dan menempeleng salah seorang prajurit yang berada di dekatnya. Setelah itu, ia masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu kaca. Pada saat itulah peristiwa berubah menjadi tragedi. Sersan Raswad memerintahkan Sersan Giyadi untuk menembak. Dari posisi di dekat pintu, Giyadi melepaskan tembakan ke arah Ahmad Yani. Peluru menembus pintu kaca dan mengenai sang jenderal hingga ia jatuh dan meninggal dunia. Peristiwa tersebut berlangsung sangat singkat. Setelah Ahmad Yani tewas, jenazahnya dibawa oleh pasukan tersebut dan kemudian dibawa menuju kawasan Lubang Buaya. Di tempat itu, jenazah Ahmad Yani bersama sejumlah korban lainnya akhirnya ditemukan dalam sebuah sumur tua pada 3 Oktober 1965. SIAPA SERSAN GIYADI? Giyadi merupakan prajurit yang tergabung dalam pasukan Tjakrabirawa. Dalam rangkaian operasi malam itu, ia bukan tokoh yang berada di tingkat pengambil keputusan tertinggi. Namun, tindakannya di rumah Ahmad Yani membuat namanya kemudian tercatat secara khusus karena dialah prajurit yang disebut melepaskan tembakan yang menewaskan sang jenderal. Dalam proses hukum setelah peristiwa tersebut, Giyadi kemudian ditangkap pada 4 Oktober 1965. Ia selanjutnya menjalani proses peradilan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Sumber yang memuat riwayat peradilannya menyebut bahwa pada 16 April 1968 ia dijatuhi hukuman mati. Nasib Giyadi menjadi salah satu bagian panjang dari proses hukum terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam Gerakan 30 September. Pelaksanaan hukuman terhadap dirinya, menurut sumber tersebut, baru dilakukan pada Oktober 1988, sekitar dua puluh tahun setelah vonis dijatuhkan. TRAGEDI YANG LEBIH BESAR Kematian Ahmad Yani bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menjadi sasaran operasi penculikan. Selain Ahmad Yani, korban lainnya adalah Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo. Kapten Pierre Tendean juga menjadi korban. Sementara itu, Jenderal A.H. Nasution yang juga menjadi sasaran berhasil menyelamatkan diri. Dalam serangan terhadap kediamannya, putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, terluka dan kemudian meninggal dunia. Jenazah para korban kemudian ditemukan di Lubang Buaya pada 3 Oktober. Dua hari kemudian, pada 5 Oktober 1965, Ahmad Yani bersama korban lainnya dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. AKHIR KISAH GIYADI Nama Sersan Giyadi kemudian hampir selalu muncul ketika membahas detik-detik terakhir Ahmad Yani. Ia bukan orang yang merancang keseluruhan peristiwa, tetapi menjadi prajurit yang melakukan tindakan fatal di rumah sang jenderal setelah menerima perintah dari atasannya. Karena itu, kisah Giyadi memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah operasi yang awalnya disebut sebagai upaya membawa sejumlah jenderal dapat berubah menjadi tragedi berdarah yang mengguncang Indonesia. Ahmad Yani kemudian dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi. Sementara Giyadi, sebagai prajurit yang menembaknya, menjalani proses hukum yang panjang hingga akhirnya menerima hukuman mati. Peristiwa itu menjadi salah satu fragmen paling penting dalam sejarah Indonesia 1965, sebuah malam ketika keputusan dalam hitungan detik di sebuah rumah di Jakarta kemudian menjadi bagian dari tragedi nasional yang dampaknya terasa selama puluhan tahun. #Kisah #Sejarah #AhmadYani #Viral

 SERSAN GIYADI, PRAJURIT YANG MENEMBAK JENDERAL AHMAD YANI



Dini hari 1 Oktober 1965 menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah situasi politik yang sedang memanas, sekelompok pasukan bergerak menuju kediaman sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Salah satu sasaran mereka adalah Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani, yang tinggal di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta.


Di antara pasukan yang dikirim ke rumah Ahmad Yani terdapat anggota Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Salah satu prajurit yang kemudian namanya tercatat dalam sejarah adalah Sersan Giyadi.


Menurut catatan Pusat Sejarah TNI, pasukan tersebut datang dengan membawa alasan bahwa Ahmad Yani diminta segera menghadap Presiden. Sersan Raswad menyampaikan pesan tersebut kepada sang jenderal. Yani kemudian meminta waktu untuk mandi dan bersiap, tetapi permintaannya ditolak. Ia kembali meminta kesempatan untuk berganti pakaian, namun kembali tidak diperbolehkan.


Situasi kemudian memanas. Ahmad Yani marah dan menempeleng salah seorang prajurit yang berada di dekatnya. Setelah itu, ia masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu kaca.


Pada saat itulah peristiwa berubah menjadi tragedi.


Sersan Raswad memerintahkan Sersan Giyadi untuk menembak. Dari posisi di dekat pintu, Giyadi melepaskan tembakan ke arah Ahmad Yani. Peluru menembus pintu kaca dan mengenai sang jenderal hingga ia jatuh dan meninggal dunia. Peristiwa tersebut berlangsung sangat singkat.


Setelah Ahmad Yani tewas, jenazahnya dibawa oleh pasukan tersebut dan kemudian dibawa menuju kawasan Lubang Buaya. Di tempat itu, jenazah Ahmad Yani bersama sejumlah korban lainnya akhirnya ditemukan dalam sebuah sumur tua pada 3 Oktober 1965.


SIAPA SERSAN GIYADI?


Giyadi merupakan prajurit yang tergabung dalam pasukan Tjakrabirawa. Dalam rangkaian operasi malam itu, ia bukan tokoh yang berada di tingkat pengambil keputusan tertinggi. Namun, tindakannya di rumah Ahmad Yani membuat namanya kemudian tercatat secara khusus karena dialah prajurit yang disebut melepaskan tembakan yang menewaskan sang jenderal.


Dalam proses hukum setelah peristiwa tersebut, Giyadi kemudian ditangkap pada 4 Oktober 1965. Ia selanjutnya menjalani proses peradilan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Sumber yang memuat riwayat peradilannya menyebut bahwa pada 16 April 1968 ia dijatuhi hukuman mati.


Nasib Giyadi menjadi salah satu bagian panjang dari proses hukum terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam Gerakan 30 September. Pelaksanaan hukuman terhadap dirinya, menurut sumber tersebut, baru dilakukan pada Oktober 1988, sekitar dua puluh tahun setelah vonis dijatuhkan.


TRAGEDI YANG LEBIH BESAR


Kematian Ahmad Yani bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menjadi sasaran operasi penculikan. Selain Ahmad Yani, korban lainnya adalah Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo. Kapten Pierre Tendean juga menjadi korban.


Sementara itu, Jenderal A.H. Nasution yang juga menjadi sasaran berhasil menyelamatkan diri. Dalam serangan terhadap kediamannya, putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, terluka dan kemudian meninggal dunia.


Jenazah para korban kemudian ditemukan di Lubang Buaya pada 3 Oktober. Dua hari kemudian, pada 5 Oktober 1965, Ahmad Yani bersama korban lainnya dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


AKHIR KISAH GIYADI


Nama Sersan Giyadi kemudian hampir selalu muncul ketika membahas detik-detik terakhir Ahmad Yani. Ia bukan orang yang merancang keseluruhan peristiwa, tetapi menjadi prajurit yang melakukan tindakan fatal di rumah sang jenderal setelah menerima perintah dari atasannya.


Karena itu, kisah Giyadi memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah operasi yang awalnya disebut sebagai upaya membawa sejumlah jenderal dapat berubah menjadi tragedi berdarah yang mengguncang Indonesia.


Ahmad Yani kemudian dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi. Sementara Giyadi, sebagai prajurit yang menembaknya, menjalani proses hukum yang panjang hingga akhirnya menerima hukuman mati.


Peristiwa itu menjadi salah satu fragmen paling penting dalam sejarah Indonesia 1965, sebuah malam ketika keputusan dalam hitungan detik di sebuah rumah di Jakarta kemudian menjadi bagian dari tragedi nasional yang dampaknya terasa selama puluhan tahun.


#Kisah #Sejarah #AhmadYani #Viral


Sumber : Bang Fit

08 October 2026

Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi Untuk Selamanya. 1 Oktober 1965 menjadi salah satu bagian paling kelam dalam sejarah Indonesia.Sekitar pukul 04.00 WIB, pasukan tentara yang terdiri dari satu peleton pasukan gabungan (dipimpin Serda Soekardjo dari Batalyon 454 Banteng Raiders dan unsur Pemuda Rakyat/Tjakrabirawa) tiba di rumah D.I. Panjaitan. Mereka datang menggunakan truk militer dan mengepung kediaman sang jenderal dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno. Mendengar keributan dan kaca jendela yang dipecahkan, D.I. Panjaitan yang saat itu menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Logistik sempat berniat menelepon untuk melapor, namun saluran telepon telah diputus atau tidak berfungsi. Panjaitan awalnya tidak mau langsung turun dari lantai dua rumahnya.Pasukan penculik yang mulai kehilangan kesabaran akibat keterlambatan jadwal, mengancam akan menembak dan membunuh seluruh anggota keluarga jika beliau menolak keluar. Demi keselamatan istri dan anak-anaknya, Brigjen Panjaitan mengenakan seragam kebesaran militer lengkap lalu menuruni tangga dari lantai dua menuju halaman rumah. Namun kekacauan terjadi di halaman depan.Beliau berusaha melakukan perlawanan sehingga dipukul dan ditembak mati di tempat di halaman rumahnya sendiri di hadapan keluarganya yang kemudian histeris. Jenazah beliau kemudian diangkut ke daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur,dan dimasukkan ke dalam sumur maut bersama para perwira tinggi lainnya.

 Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi Untuk Selamanya.

1 Oktober 1965 menjadi salah satu bagian paling kelam



dalam sejarah Indonesia.Sekitar pukul 04.00 WIB, pasukan tentara yang terdiri dari satu peleton pasukan gabungan (dipimpin Serda Soekardjo dari Batalyon 454 Banteng Raiders dan unsur Pemuda Rakyat/Tjakrabirawa) tiba di rumah D.I. Panjaitan. Mereka datang menggunakan truk militer dan mengepung kediaman sang jenderal dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno. Mendengar keributan dan kaca jendela yang dipecahkan, D.I. Panjaitan yang saat itu menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Logistik sempat berniat menelepon untuk melapor, namun saluran telepon telah diputus atau tidak berfungsi.


Panjaitan awalnya tidak mau langsung turun dari lantai dua rumahnya.Pasukan penculik yang mulai kehilangan kesabaran akibat keterlambatan jadwal, mengancam akan menembak dan membunuh seluruh anggota keluarga jika beliau menolak keluar.

Demi keselamatan istri dan anak-anaknya, Brigjen Panjaitan mengenakan seragam kebesaran militer lengkap lalu menuruni tangga dari lantai dua menuju halaman rumah.

Namun kekacauan terjadi di halaman depan.Beliau berusaha melakukan perlawanan sehingga dipukul dan ditembak mati di tempat di halaman rumahnya sendiri di hadapan keluarganya yang kemudian histeris.


Jenazah beliau kemudian diangkut ke daerah Lubang

Buaya, Jakarta Timur,dan dimasukkan ke dalam sumur maut bersama para perwira tinggi lainnya.


Momen pernikahan seorang sersan KNIL Belanda dengan seorang perempuan pribumi di Hindia Belanda, sekitar 1915–1925. Pasangan pengantin berdiri bersama beberapa anggota keluarga dan anak-anak di depan sebuah bangunan, dengan sang perempuan mengenakan busana pengantin putih dan kain batik, sementara sang sersan mengenakan seragam militer KNIL lengkap dengan tanda jasa. Pernikahan antara personel KNIL Eropa dan perempuan dari masyarakat Indis/pribumi merupakan bagian dari kehidupan sosial yang berkembang di lingkungan militer kolonial. Foto ini juga memperlihatkan perpaduan unsur Eropa dan lokal melalui seragam militer, pakaian pengantin, kain batik, serta suasana keluarga dalam satu potret. 📚 Koleksi: Tropenmuseum 🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. #KNIL #HindiaBelanda #SejarahIndonesia #IndonesiaTempoDulu #FotoSejarah #TempoDulu #DuniaSejarah #Duniasjr

 Momen pernikahan seorang sersan KNIL Belanda dengan seorang perempuan pribumi di Hindia Belanda, sekitar 1915–1925. 



Pasangan pengantin berdiri bersama beberapa anggota keluarga dan anak-anak di depan sebuah bangunan, dengan sang perempuan mengenakan busana pengantin putih dan kain batik, sementara sang sersan mengenakan seragam militer KNIL lengkap dengan tanda jasa.


Pernikahan antara personel KNIL Eropa dan perempuan dari masyarakat Indis/pribumi merupakan bagian dari kehidupan sosial yang berkembang di lingkungan militer kolonial. 


Foto ini juga memperlihatkan perpaduan unsur Eropa dan lokal melalui seragam militer, pakaian pengantin, kain batik, serta suasana keluarga dalam satu potret.


📚 Koleksi: Tropenmuseum

 

🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. 


#KNIL #HindiaBelanda #SejarahIndonesia #IndonesiaTempoDulu #FotoSejarah #TempoDulu #DuniaSejarah #Duniasjr

🇸🇬 YUSOF ISHAK — PUTRA KETURUNAN MINANG YANG MENJADI PRESIDEN PERTAMA SINGAPURA Tahukah Anda, sosok yang wajahnya pernah menghiasi mata uang Singapura ternyata memiliki akar keturunan dari Minangkabau, Sumatera Barat? Namanya Yusof bin Ishak, tokoh yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Presiden pertama Republik Singapura. Yusof Ishak lahir pada 12 Agustus 1910 di Padang Gajah, Trong, Perak. Ia merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Ishak bin Ahmad, memiliki darah keturunan Minangkabau dari Sumatera Barat, sedangkan ibunya, Aishah binti Tuan Haji Aminuddin, berasal dari Sumatera Utara. Masa kecil Yusof dilalui di Perak. Ketika ayahnya mendapatkan tugas sebagai pegawai pemerintahan pada masa pemerintahan kolonial Inggris, keluarganya kemudian berpindah dan menetap di Singapura. 🎓 PENDIDIKAN DAN MASA MUDA Sejak muda, Yusof dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat belajar sekaligus aktif dalam olahraga. Ia menempuh pendidikan di sejumlah sekolah, kemudian melanjutkan ke Raffles Institution di Singapura. Pada Cambridge School Certificate tahun 1927, ia memperoleh hasil yang sangat baik dan kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Queen's Scholarship. Di luar dunia akademik, Yusof juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan olahraga. Semangat, kedisiplinan, dan kepemimpinannya sejak usia muda menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. 🇸🇬 MENUJU SEJARAH SINGAPURA Perjalanan Yusof Ishak tidak berhenti di dunia pendidikan. Ia kemudian aktif dalam dunia jurnalistik dan kehidupan masyarakat Melayu. Namanya semakin dikenal ketika ia terlibat dalam perkembangan pers Melayu dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik Singapura. Pada 1959, Yusof Ishak dilantik sebagai Yang di-Pertuan Negara Singapura. Ketika Singapura resmi merdeka pada 9 Agustus 1965, posisi tersebut berubah menjadi Presiden Republik Singapura. Dengan demikian, Yusof Ishak tercatat sebagai Presiden pertama Singapura. 💵 WAJAH YANG MENJADI SIMBOL SEJARAH Pengaruhnya terhadap sejarah Singapura kemudian dikenang dengan cara yang sangat istimewa. Potret Yusof Ishak digunakan pada uang kertas Singapura, menjadikan wajahnya dikenal oleh jutaan orang sekaligus menjadi simbol penting dalam sejarah negara tersebut. Dari seorang anak yang memiliki akar keluarga Minangkabau di Sumatera, perjalanan hidupnya membawa Yusof Ishak menjadi tokoh nasional di Singapura. Satu garis keturunan, satu perjalanan panjang, dan sebuah nama yang akhirnya tercatat dalam sejarah sebuah negara. 🇮🇩 Ranah Minang — Perak — Singapura 🇸🇬 Menurut Anda, apakah kisah Yusof Ishak sebagai tokoh keturunan Minangkabau sudah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia? 👇 Tulis pendapat Anda di komentar. #YusofIshak #YusufIshak #SejarahSingapura #PresidenPertamaSingapura #Minangkabau #RanahMinang #SejarahIndonesia #SejarahDunia #TokohSejarah #TokohMinang #SejarahMinangkabau #SumateraBarat #Padang #Singapura #BiografiTokoh #SejarahNusantara #TokohNasional #KisahSejarah #FaktaSejarah #SejarahMelayu #RafflesInstitution #SingaporeHistory #IndonesianHistory #Minang #RanahMinangBercerita #Jasmerah #BelajarSejarah #Biografi #IZANJB #SejarahUntukGenerasi

 🇸🇬 YUSOF ISHAK — PUTRA KETURUNAN MINANG YANG MENJADI PRESIDEN PERTAMA SINGAPURA



Tahukah Anda, sosok yang wajahnya pernah menghiasi mata uang Singapura ternyata memiliki akar keturunan dari Minangkabau, Sumatera Barat?


Namanya Yusof bin Ishak, tokoh yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Presiden pertama Republik Singapura.


Yusof Ishak lahir pada 12 Agustus 1910 di Padang Gajah, Trong, Perak. Ia merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Ishak bin Ahmad, memiliki darah keturunan Minangkabau dari Sumatera Barat, sedangkan ibunya, Aishah binti Tuan Haji Aminuddin, berasal dari Sumatera Utara.


Masa kecil Yusof dilalui di Perak. Ketika ayahnya mendapatkan tugas sebagai pegawai pemerintahan pada masa pemerintahan kolonial Inggris, keluarganya kemudian berpindah dan menetap di Singapura.


🎓 PENDIDIKAN DAN MASA MUDA

Sejak muda, Yusof dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat belajar sekaligus aktif dalam olahraga.


Ia menempuh pendidikan di sejumlah sekolah, kemudian melanjutkan ke Raffles Institution di Singapura. Pada Cambridge School Certificate tahun 1927, ia memperoleh hasil yang sangat baik dan kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Queen's Scholarship.


Di luar dunia akademik, Yusof juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan olahraga. Semangat, kedisiplinan, dan kepemimpinannya sejak usia muda menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.


🇸🇬 MENUJU SEJARAH SINGAPURA

Perjalanan Yusof Ishak tidak berhenti di dunia pendidikan. Ia kemudian aktif dalam dunia jurnalistik dan kehidupan masyarakat Melayu.


Namanya semakin dikenal ketika ia terlibat dalam perkembangan pers Melayu dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik Singapura.

Pada 1959, Yusof Ishak dilantik sebagai Yang di-Pertuan Negara Singapura.


Ketika Singapura resmi merdeka pada 9 Agustus 1965, posisi tersebut berubah menjadi Presiden Republik Singapura.

Dengan demikian, Yusof Ishak tercatat sebagai Presiden pertama Singapura.


💵 WAJAH YANG MENJADI SIMBOL SEJARAH

Pengaruhnya terhadap sejarah Singapura kemudian dikenang dengan cara yang sangat istimewa.


Potret Yusof Ishak digunakan pada uang kertas Singapura, menjadikan wajahnya dikenal oleh jutaan orang sekaligus menjadi simbol penting dalam sejarah negara tersebut.


Dari seorang anak yang memiliki akar keluarga Minangkabau di Sumatera, perjalanan hidupnya membawa Yusof Ishak menjadi tokoh nasional di Singapura.


Satu garis keturunan, satu perjalanan panjang, dan sebuah nama yang akhirnya tercatat dalam sejarah sebuah negara.

🇮🇩 Ranah Minang — Perak — Singapura 🇸🇬


Menurut Anda, apakah kisah Yusof Ishak sebagai tokoh keturunan Minangkabau sudah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia?




#YusofIshak #YusufIshak #SejarahSingapura #PresidenPertamaSingapura #Minangkabau #RanahMinang #SejarahIndonesia #SejarahDunia #TokohSejarah #TokohMinang #SejarahMinangkabau #SumateraBarat #Padang #Singapura #BiografiTokoh #SejarahNusantara #TokohNasional #KisahSejarah #FaktaSejarah #SejarahMelayu #RafflesInstitution #SingaporeHistory #IndonesianHistory #Minang #RanahMinangBercerita #Jasmerah #BelajarSejarah #Biografi #IZANJB #SejarahUntukGenerasi

Potret sebuah keluarga Indo-Belanda penanam/petani tembakau di Blitar, Jawa Timur, sekitar 1901–1902. Foto ini memperlihatkan seorang pria Eropa bersama seorang perempuan pribumi dan dua anak yang mengenakan pakaian bergaya Eropa. Potret tersebut menggambarkan kehidupan keluarga dengan latar belakang Eropa dan pribumi dalam masyarakat Hindia Belanda pada awal abad ke-20. 📚 Koleksi: KITLV Leiden 📸 Fotografer: A.E.F. Muntz 🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. #Blitar #IndoBelanda #Tembakau #HindiaBelanda #TempoDulu #SejarahIndonesia #IndonesiaTempoDulu #duniasjr #DuniaSejarah

 Potret sebuah keluarga Indo-Belanda penanam/petani tembakau di Blitar, Jawa Timur, sekitar 1901–1902. Foto ini memperlihatkan seorang pria Eropa bersama seorang perempuan pribumi dan dua anak yang mengenakan pakaian bergaya Eropa.



Potret tersebut menggambarkan kehidupan keluarga dengan latar belakang Eropa dan pribumi dalam masyarakat Hindia Belanda pada awal abad ke-20.


📚 Koleksi: KITLV Leiden

📸 Fotografer: A.E.F. Muntz

🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah.


#Blitar #IndoBelanda #Tembakau #HindiaBelanda #TempoDulu #SejarahIndonesia #IndonesiaTempoDulu #duniasjr #DuniaSejarah

D.N. AIDIT BERSEMBUNYI DI BALIK LEMARI, KISAH “MENKO” DAN “MENGKO” SAAT PENANGKAPANNYA Setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965, Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit menjadi salah satu tokoh yang paling dicari aparat. Sebagai Ketua CC PKI, keberadaannya diburu setelah situasi politik dan keamanan berubah drastis pasca-peristiwa 30 September–1 Oktober 1965. Pengejaran terhadap Aidit kemudian meluas hingga Jawa Tengah. Salah satu operasi tersebut dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigade Infanteri IV Kostrad. Pasukannya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan mengikuti jejak Aidit yang terus berpindah tempat. Menurut catatan yang dihimpun wartawan Julius Pour, setelah sekitar tiga minggu pengejaran, intelijen memperoleh laporan A-1 mengenai keberadaan Aidit. Pada 21 November 1965, persembunyiannya disebut berpindah dari kawasan Kleco ke Kampung Sambeng, Solo, sekitar 300 meter dari Stasiun Solo Balapan. Aidit kemudian disembunyikan di sebuah rumah yang disebut berkaitan dengan anggota Serikat Buruh Kereta Api. Informasi mengenai keberadaannya membuat pasukan mulai menyusun pengepungan. Malam harinya, sekitar pukul 21.00, pasukan yang dipimpin Letnan II Infanteri Ning Prajitno mengepung rumah tersebut. Mereka kemudian mendobrak masuk dan melakukan penyisiran. Namun, rumah itu tampak kosong. Aidit tidak terlihat di mana pun. Dalam penggeledahan, pasukan menemukan sebuah kacamata baca yang tergeletak di atas meja. Benda tersebut menimbulkan dugaan bahwa orang yang mereka cari sebenarnya masih berada di sekitar rumah. Penyisiran pun dilanjutkan. Seorang prajurit bernama Kosim kemudian menggeser sebuah lemari makan. Di balik lemari tersebut ternyata terdapat pintu menuju sebuah ruang tersembunyi. Di dalam ruang itu terdapat sebuah lemari pakaian. Ketika lemari tersebut diperiksa, prajurit yang membukanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Pakaian-pakaian yang tergantung di dalamnya tampak bergerak mengikuti gerakan seseorang. Ternyata ada seseorang yang bersembunyi di balik pakaian tersebut. Orang itu adalah D.N. Aidit. Menurut kisah yang dimuat dalam majalah Senakatha terbitan Pusat Sejarah ABRI pada Januari 1992, prajurit tersebut kemudian memerintahkan Aidit untuk keluar dan menyerah. Terjadilah percakapan singkat. Aidit mengakui identitasnya. Namun, ia kemudian mencoba menggunakan kedudukannya untuk mencegah penangkapan. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang “Menko”, istilah untuk Menteri Koordinator. Di sinilah muncul bagian unik dari kisah penangkapan tersebut. Prajurit yang berasal dari wilayah Kartasura itu disebut salah memahami kata “Menko”. Ia menangkapnya sebagai kata Jawa “mengko”, yang berarti “nanti”. Ketika Aidit mengatakan dirinya seorang “Menko”, prajurit itu justru menjawab dengan kata: “Mengko? Saiki!” Dalam bahasa Indonesia berarti: “Nanti? Sekarang!” Kisah percakapan tersebut memang tercatat dalam sumber sejarah, tetapi detail dialognya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kesaksian atau penuturan yang kemudian dibukukan, bukan sebagai percakapan yang memiliki rekaman langsung. Setelah ditemukan, Aidit akhirnya dibawa keluar dari tempat persembunyiannya. Menurut catatan Julius Pour, Letnan Ning Prajitno kemudian memerintahkan Sersan Idit Sukardi untuk mengikat tangan Aidit. Pelarian selama berminggu-minggu itu pun berakhir. Aidit kemudian dibawa ke markas Brigade Infanteri IV di Loji Gandrung. Di sana, menurut kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto yang dikutip sejumlah sumber, Aidit sempat meminta agar dirinya dibawa menghadap Presiden Soekarno. Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi. Pada 22 November 1965, Aidit kemudian dibawa menuju wilayah Boyolali. Menurut kesaksian Jasir Hadibroto, perjalanan tersebut tidak berakhir di Semarang sebagaimana rencana awal. Aidit dibawa ke sebuah lokasi yang kemudian disebut sebagai markas Batalyon Infanteri 444. Di tempat itulah Aidit kemudian dibunuh. Jasir Hadibroto dalam kesaksiannya menyebut bahwa Aidit sempat menyampaikan pidato sebelum kematiannya. Setelah itu, Aidit ditembak dan jasadnya kemudian dimasukkan ke sebuah sumur. Rincian mengenai kematian Aidit memiliki beberapa versi dalam sumber-sumber sejarah. Namun, versi yang mengacu pada kesaksian Jasir Hadibroto menyebut bahwa Aidit ditangkap di Sambeng pada 22 November 1965 dan kemudian dibawa ke Boyolali, tempat ia akhirnya tewas. Dengan demikian, kisah penangkapan D.N. Aidit bukan sekadar cerita tentang seorang buronan yang ditemukan di sebuah rumah. Di baliknya terdapat operasi pengejaran selama berminggu-minggu, jaringan intelijen, persembunyian berpindah-pindah, hingga sebuah ruang rahasia di balik lemari. Dan di tengah situasi politik Indonesia yang sangat tegang pada akhir 1965, muncul pula sebuah kisah kecil yang kemudian terus dikenang: ketika kata “Menko” dipahami sebagai “mengko”—dan jawaban “nanti” dibalas dengan “saiki”, atau “sekarang”. Pada akhirnya, persembunyian D.N. Aidit di Sambeng berakhir pada malam itu. Sehari kemudian, 22 November 1965, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh utama PKI yang tewas setelah pengejaran pasca-G30S. Sejarah sering kali dikenang melalui peristiwa-peristiwa besar. Tetapi dalam kisah penangkapan Aidit, detail kecil seperti sebuah kacamata di atas meja, pintu tersembunyi di balik lemari, dan perbedaan makna satu kata justru menjadi bagian yang membuat kisah tersebut begitu melekat dalam ingatan sejarah Indonesia. #kisah #sejarah #viral

 D.N. AIDIT BERSEMBUNYI DI BALIK LEMARI, KISAH “MENKO” DAN “MENGKO” SAAT PENANGKAPANNYA



Setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965, Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit menjadi salah satu tokoh yang paling dicari aparat. Sebagai Ketua CC PKI, keberadaannya diburu setelah situasi politik dan keamanan berubah drastis pasca-peristiwa 30 September–1 Oktober 1965.


Pengejaran terhadap Aidit kemudian meluas hingga Jawa Tengah. Salah satu operasi tersebut dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigade Infanteri IV Kostrad. Pasukannya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan mengikuti jejak Aidit yang terus berpindah tempat.


Menurut catatan yang dihimpun wartawan Julius Pour, setelah sekitar tiga minggu pengejaran, intelijen memperoleh laporan A-1 mengenai keberadaan Aidit. Pada 21 November 1965, persembunyiannya disebut berpindah dari kawasan Kleco ke Kampung Sambeng, Solo, sekitar 300 meter dari Stasiun Solo Balapan.


Aidit kemudian disembunyikan di sebuah rumah yang disebut berkaitan dengan anggota Serikat Buruh Kereta Api. Informasi mengenai keberadaannya membuat pasukan mulai menyusun pengepungan.


Malam harinya, sekitar pukul 21.00, pasukan yang dipimpin Letnan II Infanteri Ning Prajitno mengepung rumah tersebut. Mereka kemudian mendobrak masuk dan melakukan penyisiran.


Namun, rumah itu tampak kosong.


Aidit tidak terlihat di mana pun.


Dalam penggeledahan, pasukan menemukan sebuah kacamata baca yang tergeletak di atas meja. Benda tersebut menimbulkan dugaan bahwa orang yang mereka cari sebenarnya masih berada di sekitar rumah.


Penyisiran pun dilanjutkan.


Seorang prajurit bernama Kosim kemudian menggeser sebuah lemari makan. Di balik lemari tersebut ternyata terdapat pintu menuju sebuah ruang tersembunyi.


Di dalam ruang itu terdapat sebuah lemari pakaian.


Ketika lemari tersebut diperiksa, prajurit yang membukanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Pakaian-pakaian yang tergantung di dalamnya tampak bergerak mengikuti gerakan seseorang.


Ternyata ada seseorang yang bersembunyi di balik pakaian tersebut.


Orang itu adalah D.N. Aidit.


Menurut kisah yang dimuat dalam majalah Senakatha terbitan Pusat Sejarah ABRI pada Januari 1992, prajurit tersebut kemudian memerintahkan Aidit untuk keluar dan menyerah.


Terjadilah percakapan singkat.


Aidit mengakui identitasnya. Namun, ia kemudian mencoba menggunakan kedudukannya untuk mencegah penangkapan. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang “Menko”, istilah untuk Menteri Koordinator.


Di sinilah muncul bagian unik dari kisah penangkapan tersebut.


Prajurit yang berasal dari wilayah Kartasura itu disebut salah memahami kata “Menko”. Ia menangkapnya sebagai kata Jawa “mengko”, yang berarti “nanti”.


Ketika Aidit mengatakan dirinya seorang “Menko”, prajurit itu justru menjawab dengan kata:


“Mengko? Saiki!”


Dalam bahasa Indonesia berarti:


“Nanti? Sekarang!”


Kisah percakapan tersebut memang tercatat dalam sumber sejarah, tetapi detail dialognya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kesaksian atau penuturan yang kemudian dibukukan, bukan sebagai percakapan yang memiliki rekaman langsung.


Setelah ditemukan, Aidit akhirnya dibawa keluar dari tempat persembunyiannya. Menurut catatan Julius Pour, Letnan Ning Prajitno kemudian memerintahkan Sersan Idit Sukardi untuk mengikat tangan Aidit.


Pelarian selama berminggu-minggu itu pun berakhir.


Aidit kemudian dibawa ke markas Brigade Infanteri IV di Loji Gandrung. Di sana, menurut kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto yang dikutip sejumlah sumber, Aidit sempat meminta agar dirinya dibawa menghadap Presiden Soekarno.


Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi.


Pada 22 November 1965, Aidit kemudian dibawa menuju wilayah Boyolali. Menurut kesaksian Jasir Hadibroto, perjalanan tersebut tidak berakhir di Semarang sebagaimana rencana awal. Aidit dibawa ke sebuah lokasi yang kemudian disebut sebagai markas Batalyon Infanteri 444.


Di tempat itulah Aidit kemudian dibunuh.


Jasir Hadibroto dalam kesaksiannya menyebut bahwa Aidit sempat menyampaikan pidato sebelum kematiannya. Setelah itu, Aidit ditembak dan jasadnya kemudian dimasukkan ke sebuah sumur.


Rincian mengenai kematian Aidit memiliki beberapa versi dalam sumber-sumber sejarah. Namun, versi yang mengacu pada kesaksian Jasir Hadibroto menyebut bahwa Aidit ditangkap di Sambeng pada 22 November 1965 dan kemudian dibawa ke Boyolali, tempat ia akhirnya tewas.


Dengan demikian, kisah penangkapan D.N. Aidit bukan sekadar cerita tentang seorang buronan yang ditemukan di sebuah rumah. Di baliknya terdapat operasi pengejaran selama berminggu-minggu, jaringan intelijen, persembunyian berpindah-pindah, hingga sebuah ruang rahasia di balik lemari.


Dan di tengah situasi politik Indonesia yang sangat tegang pada akhir 1965, muncul pula sebuah kisah kecil yang kemudian terus dikenang: ketika kata “Menko” dipahami sebagai “mengko”—dan jawaban “nanti” dibalas dengan “saiki”, atau “sekarang”.


Pada akhirnya, persembunyian D.N. Aidit di Sambeng berakhir pada malam itu. Sehari kemudian, 22 November 1965, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh utama PKI yang tewas setelah pengejaran pasca-G30S.


Sumber : Bang Fit


Sejarah sering kali dikenang melalui peristiwa-peristiwa besar. Tetapi dalam kisah penangkapan Aidit, detail kecil seperti sebuah kacamata di atas meja, pintu tersembunyi di balik lemari, dan perbedaan makna satu kata justru menjadi bagian yang membuat kisah tersebut begitu melekat dalam ingatan sejarah Indonesia.


#kisah #sejarah #viral

Ketika pertempuran kedua di Semarang (The Second Battle of Semarang) meletus pada 18 November s/d 21 November 1945, Pasukan Inggris yang kekurangan resources dan logistik serta tentu saja belum memahami medan Semarang dengan baik, akhirnya mempergunakan sisa Tentara Jepang yang sudah menyerah kalah tapi masih berada di Semarang untuk turut membantu mereka pada peristiwa tersebut. Foto di bawah adalah gambar seorang pemuda Semarang yang tertangkap oleh para Tentara Jepang yang dipergunakan pihak Sekutu untuk mendukung kepentingan mereka pada peristiwa Pertempuran ke-Dua di Semarang tersebut. Pemuda yang tertangkap, ketahuan membawa sebuah peta yang berisi posisi-posisi strategis Tentara Sekutu. Sumber foto : Institut Kesejarahan Militer Belanda Fotografer : David Soltau

 Ketika pertempuran kedua di Semarang (The Second Battle of Semarang) meletus pada 18 November s/d 21 November 1945, Pasukan Inggris yang kekurangan resources dan logistik serta tentu saja belum memahami medan Semarang dengan baik, akhirnya mempergunakan sisa Tentara Jepang yang sudah menyerah kalah tapi masih berada di Semarang untuk turut membantu mereka pada peristiwa tersebut. 



Foto di bawah adalah gambar seorang pemuda Semarang yang tertangkap oleh para Tentara Jepang yang dipergunakan pihak Sekutu untuk mendukung kepentingan mereka pada peristiwa Pertempuran ke-Dua di Semarang tersebut. Pemuda yang tertangkap, ketahuan membawa sebuah peta yang berisi posisi-posisi strategis Tentara Sekutu. 


Sumber foto : Institut Kesejarahan Militer Belanda 

Fotografer : David Soltau

07 October 2026

Begini Nasib Pilu Pencipta “Genjer-genjer”: Rumahnya Dihancurkan Massa, Anaknya Dicoret dari Seleksi Tentara Di balik lagu “Genjer-genjer” yang begitu populer sekaligus kontroversial dalam sejarah Indonesia, tersimpan kisah pilu penciptanya, Muhammad Arief, seorang seniman angklung asal Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu yang ditulis dalam bahasa Osing itu pada awalnya bukanlah lagu tentang PKI ataupun G30S. “Genjer-genjer” menggambarkan penderitaan masyarakat Banyuwangi pada masa pendudukan Jepang. Ketika bahan pangan sulit diperoleh dan banyak rakyat hidup dalam kekurangan, tanaman genjer yang sebelumnya lebih dikenal sebagai gulma atau pakan ternak kemudian dimanfaatkan sebagai makanan. Muhammad Arief mengangkat keadaan tersebut menjadi kritik sosial melalui lagu. Sejumlah sumber menyebut lagu ini digubah pada era pendudukan Jepang pada 1940-an, dengan melodi yang berkaitan dengan lagu dolanan Banyuwangi “Tong Alak Gentak”. Setelah Indonesia merdeka, kehidupan Muhammad Arief tidak hanya berkutat pada musik. Ia pernah bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan kemudian pada era 1950-an bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Di Lekra, ia dikenal menduduki bidang kesenian dan mendirikan kelompok angklung Seni Rakyat Indonesia Muda (Srimuda). Pada 1955, ia juga tercatat menjadi anggota DPRD Banyuwangi sebagai wakil golongan seniman. Pada masa itu, “Genjer-genjer” justru semakin populer. Lagu tersebut kemudian dinyanyikan oleh penyanyi terkenal seperti Bing Slamet dan Lilis Suryani melalui rekaman Irama Record. Popularitasnya semakin besar ketika lagu tersebut juga kerap dibawakan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kelompok politik kiri. Akibat keterkaitan politik itulah, citra “Genjer-genjer” perlahan berubah. Lagu rakyat yang awalnya menggambarkan penderitaan masyarakat pada masa penjajahan Jepang kemudian semakin identik dengan Lekra dan PKI. Setelah pecahnya krisis politik 1965, keadaan berubah menjadi tragedi bagi Muhammad Arief dan keluarganya. Menurut kesaksian putranya, Sinar Syamsi, massa datang menyerbu rumah mereka di kawasan Temenggungan, Banyuwangi. Syamsi yang saat itu masih duduk di sekolah dasar bersama ibunya melarikan diri. Rumah mereka kemudian dihancurkan. Dalam kekacauan tersebut, Syamsi hanya sempat menyelamatkan tiga buku berisi tulisan dan notasi lagu karya ayahnya. Benda-benda sederhana itulah yang kemudian menjadi salah satu peninggalan penting dari sang pencipta “Genjer-genjer”. Kehidupan Muhammad Arief sendiri berakhir dalam ketidakpastian. Pada Oktober 1965, ia ditangkap dan ditahan. Ia kemudian dipindahkan dari Banyuwangi ke Kalibaru dan selanjutnya ke Lowokwaru. Setelah akhir 1965, keberadaannya tidak lagi diketahui secara pasti. Sejumlah sumber menyebut ia diyakini menjadi korban kekerasan politik pasca-1965, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan. Yang semakin menyakitkan, dampak stigma terhadap keluarga Muhammad Arief ternyata tidak berhenti setelah dirinya menghilang. Putranya, Sinar Syamsi, mengaku pernah diterima menjadi tentara pada 1975. Namun, sebelum proses tersebut selesai, namanya dicoret dari daftar tanpa penjelasan yang jelas. Syamsi menduga kuat bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan status dan masa lalu ayahnya sebagai pencipta “Genjer-genjer” yang telah telanjur dicap dekat dengan kelompok kiri. Namun, bagian ini merupakan kesaksian dan dugaan Syamsi, bukan sesuatu yang dapat dipastikan sebagai alasan resmi pencoretannya. Syamsi juga pernah menceritakan bahwa keluarganya harus hidup di tengah stigma sebagai keluarga yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI. Ia mengaku mengalami berbagai tekanan dalam kehidupan dan pekerjaan. Bahkan, ia pernah berpikir untuk meninggalkan Indonesia karena merasa terus dibayangi oleh masa lalu keluarganya. Ironisnya, Muhammad Arief dikenal bukan hanya sebagai pencipta “Genjer-genjer”, tetapi juga sebagai seniman yang banyak menciptakan lagu mengenai kehidupan masyarakat sehari-hari dalam bahasa Indonesia dan bahasa Using. Ia berasal dari keluarga santri dan dikenal fasih berbahasa Arab. Putranya sendiri bersaksi bahwa ayahnya merupakan seorang Muslim yang taat. Kisah Muhammad Arief menunjukkan bagaimana sebuah karya seni dapat berubah makna ketika masuk ke dalam pusaran politik. “Genjer-genjer” pada mulanya merupakan gambaran penderitaan rakyat Banyuwangi di masa pendudukan Jepang. Namun setelah lagu tersebut digunakan dan diasosiasikan dengan kelompok politik kiri, nasib lagu dan penciptanya ikut terseret dalam tragedi politik 1965. Bagi keluarganya, persoalannya bukan sekadar tentang sebuah lagu. Ada rumah yang dihancurkan, seorang ayah yang ditangkap lalu tidak pernah kembali, karya-karya yang hampir semuanya hilang, dan seorang anak yang merasa masa lalu keluarganya terus membayangi kehidupannya bertahun-tahun kemudian. “Genjer-genjer” akhirnya tetap hidup sebagai lagu, tetapi kisah penciptanya menyimpan luka sejarah yang jauh lebih panjang daripada durasi lagunya.

 Begini Nasib Pilu Pencipta “Genjer-genjer”: Rumahnya Dihancurkan Massa, Anaknya Dicoret dari Seleksi Tentara



Di balik lagu “Genjer-genjer” yang begitu populer sekaligus kontroversial dalam sejarah Indonesia, tersimpan kisah pilu penciptanya, Muhammad Arief, seorang seniman angklung asal Banyuwangi, Jawa Timur.


Lagu yang ditulis dalam bahasa Osing itu pada awalnya bukanlah lagu tentang PKI ataupun G30S. “Genjer-genjer” menggambarkan penderitaan masyarakat Banyuwangi pada masa pendudukan Jepang. Ketika bahan pangan sulit diperoleh dan banyak rakyat hidup dalam kekurangan, tanaman genjer yang sebelumnya lebih dikenal sebagai gulma atau pakan ternak kemudian dimanfaatkan sebagai makanan. Muhammad Arief mengangkat keadaan tersebut menjadi kritik sosial melalui lagu. Sejumlah sumber menyebut lagu ini digubah pada era pendudukan Jepang pada 1940-an, dengan melodi yang berkaitan dengan lagu dolanan Banyuwangi “Tong Alak Gentak”.


Setelah Indonesia merdeka, kehidupan Muhammad Arief tidak hanya berkutat pada musik. Ia pernah bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan kemudian pada era 1950-an bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Di Lekra, ia dikenal menduduki bidang kesenian dan mendirikan kelompok angklung Seni Rakyat Indonesia Muda (Srimuda). Pada 1955, ia juga tercatat menjadi anggota DPRD Banyuwangi sebagai wakil golongan seniman.


Pada masa itu, “Genjer-genjer” justru semakin populer. Lagu tersebut kemudian dinyanyikan oleh penyanyi terkenal seperti Bing Slamet dan Lilis Suryani melalui rekaman Irama Record. Popularitasnya semakin besar ketika lagu tersebut juga kerap dibawakan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kelompok politik kiri. Akibat keterkaitan politik itulah, citra “Genjer-genjer” perlahan berubah. Lagu rakyat yang awalnya menggambarkan penderitaan masyarakat pada masa penjajahan Jepang kemudian semakin identik dengan Lekra dan PKI.


Setelah pecahnya krisis politik 1965, keadaan berubah menjadi tragedi bagi Muhammad Arief dan keluarganya.


Menurut kesaksian putranya, Sinar Syamsi, massa datang menyerbu rumah mereka di kawasan Temenggungan, Banyuwangi. Syamsi yang saat itu masih duduk di sekolah dasar bersama ibunya melarikan diri. Rumah mereka kemudian dihancurkan.


Dalam kekacauan tersebut, Syamsi hanya sempat menyelamatkan tiga buku berisi tulisan dan notasi lagu karya ayahnya. Benda-benda sederhana itulah yang kemudian menjadi salah satu peninggalan penting dari sang pencipta “Genjer-genjer”.


Kehidupan Muhammad Arief sendiri berakhir dalam ketidakpastian. Pada Oktober 1965, ia ditangkap dan ditahan. Ia kemudian dipindahkan dari Banyuwangi ke Kalibaru dan selanjutnya ke Lowokwaru. Setelah akhir 1965, keberadaannya tidak lagi diketahui secara pasti. Sejumlah sumber menyebut ia diyakini menjadi korban kekerasan politik pasca-1965, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan.


Yang semakin menyakitkan, dampak stigma terhadap keluarga Muhammad Arief ternyata tidak berhenti setelah dirinya menghilang.


Putranya, Sinar Syamsi, mengaku pernah diterima menjadi tentara pada 1975. Namun, sebelum proses tersebut selesai, namanya dicoret dari daftar tanpa penjelasan yang jelas. Syamsi menduga kuat bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan status dan masa lalu ayahnya sebagai pencipta “Genjer-genjer” yang telah telanjur dicap dekat dengan kelompok kiri. Namun, bagian ini merupakan kesaksian dan dugaan Syamsi, bukan sesuatu yang dapat dipastikan sebagai alasan resmi pencoretannya.


Syamsi juga pernah menceritakan bahwa keluarganya harus hidup di tengah stigma sebagai keluarga yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI. Ia mengaku mengalami berbagai tekanan dalam kehidupan dan pekerjaan. Bahkan, ia pernah berpikir untuk meninggalkan Indonesia karena merasa terus dibayangi oleh masa lalu keluarganya.


Ironisnya, Muhammad Arief dikenal bukan hanya sebagai pencipta “Genjer-genjer”, tetapi juga sebagai seniman yang banyak menciptakan lagu mengenai kehidupan masyarakat sehari-hari dalam bahasa Indonesia dan bahasa Using. Ia berasal dari keluarga santri dan dikenal fasih berbahasa Arab. Putranya sendiri bersaksi bahwa ayahnya merupakan seorang Muslim yang taat.


Kisah Muhammad Arief menunjukkan bagaimana sebuah karya seni dapat berubah makna ketika masuk ke dalam pusaran politik. “Genjer-genjer” pada mulanya merupakan gambaran penderitaan rakyat Banyuwangi di masa pendudukan Jepang. Namun setelah lagu tersebut digunakan dan diasosiasikan dengan kelompok politik kiri, nasib lagu dan penciptanya ikut terseret dalam tragedi politik 1965.


Bagi keluarganya, persoalannya bukan sekadar tentang sebuah lagu.


Ada rumah yang dihancurkan, seorang ayah yang ditangkap lalu tidak pernah kembali, karya-karya yang hampir semuanya hilang, dan seorang anak yang merasa masa lalu keluarganya terus membayangi kehidupannya bertahun-tahun kemudian.


“Genjer-genjer” akhirnya tetap hidup sebagai lagu, tetapi kisah penciptanya menyimpan luka sejarah yang jauh lebih panjang daripada durasi lagunya.

Suriname: Pekerja Kontrak dari Wonotengah Purwoasri kediri Jawa hindia belanda Periode: 1890 - 1930 DATA DIRI Nama: Bakri Nama Ayah: Bakri Data Keluarga Sebelum Kedatangan: Suami dari 646 AG Tanda Pengenal: Bercak pigmen di dada dan pipi kanan Tempat Lahir: Hindia Belanda Jenis Kelamin: Laki-laki Usia: 18 Tahun Tinggi Badan: 155 cm Agama: Islam DATA KEBERANGKATAN Tempat Keberangkatan: Batavia (Jakarta) Tanggal Keberangkatan: 22 Mei 1929 Kapal: Simaloer III Jenis Kapal: Kapal Uap (SS) Nomor Urut: 9 Tempat Kedatangan: Paramaribo (Suriname) DATA KONTRAK Bekerja Untuk: Brokmeier G.H. Untuk Pihak: Pemerintah Kolonial Kode Kontrak: AG627 Tanggal Mulai Kontrak: 7 Juli 1929 Tanggal Selesai Kontrak: 7 Juli 1934 Tanggal CVO (Sertifikat Bebas Kewajiban): 7 September 1936 Tanggal Penerimaan Premi: 12 Mei 1938 Perkebunan: Peperpot dan Dordrecht Kapal Kepulangan: Tidak diketahui Perpanjangan Kontrak: 14 Juli 1934 sampai 14 Juli 1935 DATA ASAL DI JAWA Karesidenan: Kediri Kabupaten: Kediri Distrik: Papar (Purwoasri) Desa: Wonotengah KETERANGAN NAMA Pada tanggal 12 Desember 1950 telah memilih nama keluarga Bakri dan nama depan Toerismia. DATA KELUARGA Telah di Distrik Saramacca, Suriname pada tanggal 23 Mei 1940 mengakui anak-anak Samiran dan Geger, lahir tanggal 2 Oktober 1936 dan 11 Juni 1936 dari 646 AG sebagai anak-anaknya. CATATAN Diperhitungkan sejak 28 April 1930 dipekerjakan sementara di perkebunan Dordrecht, agenda tanggal 2 Mei 1930 No. 844. Premi diterima dari dana imigrasi berdasarkan akta dari D.C. Comm. lihat G.R. tanggal 11 April 1938 No. 1085. Tercatat untuk 1 tahun C.V.O. No. 646. Pr. Lfs. D.C. Comm. 4 April 1938. (nasionalarsip) Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #pekerjasuriname #tokohkedirijadul #imigransuriname #jawasuriname #suriname #wongkediri #blitarjadul #kotakedirijadul #kedirijadul #kotalamakediri #kedirijawa #sejarahkedirijadul #kedirijamanpenjajahan #wisatakediri #wisatakotakediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamanbelanda #bangunandikediri #situskediri #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri #koleksikediri #kedirijamandulu #sejarahkediri #kediritempodulu #kediritempoedoeloe

 Suriname: Pekerja Kontrak dari  Wonotengah Purwoasri kediri Jawa hindia belanda

Periode: 1890 - 1930



DATA DIRI

Nama: Bakri

Nama Ayah: Bakri

Data Keluarga Sebelum Kedatangan: Suami dari 646 AG

Tanda Pengenal: Bercak pigmen di dada dan pipi kanan

Tempat Lahir: Hindia Belanda

Jenis Kelamin: Laki-laki

Usia: 18 Tahun

Tinggi Badan: 155 cm

Agama: Islam


DATA KEBERANGKATAN

Tempat Keberangkatan: Batavia (Jakarta)

Tanggal Keberangkatan: 22 Mei 1929

Kapal: Simaloer III

Jenis Kapal: Kapal Uap (SS)

Nomor Urut: 9

Tempat Kedatangan: Paramaribo (Suriname)


DATA KONTRAK

Bekerja Untuk: Brokmeier G.H.

Untuk Pihak: Pemerintah Kolonial

Kode Kontrak: AG627

Tanggal Mulai Kontrak: 7 Juli 1929

Tanggal Selesai Kontrak: 7 Juli 1934

Tanggal CVO (Sertifikat Bebas Kewajiban): 7 September 1936

Tanggal Penerimaan Premi: 12 Mei 1938

Perkebunan: Peperpot dan Dordrecht

Kapal Kepulangan: Tidak diketahui

Perpanjangan Kontrak: 14 Juli 1934 sampai 14 Juli 1935


DATA ASAL DI JAWA

Karesidenan: Kediri

Kabupaten: Kediri

Distrik: Papar (Purwoasri)

Desa: Wonotengah


KETERANGAN NAMA

Pada tanggal 12 Desember 1950 telah memilih nama keluarga Bakri dan nama depan Toerismia.


DATA KELUARGA

Telah di Distrik Saramacca, Suriname pada tanggal 23 Mei 1940 mengakui anak-anak Samiran dan Geger, lahir tanggal 2 Oktober 1936 dan 11 Juni 1936 dari 646 AG sebagai anak-anaknya.


CATATAN

Diperhitungkan sejak 28 April 1930 dipekerjakan sementara di perkebunan Dordrecht, agenda tanggal 2 Mei 1930 No. 844. Premi diterima dari dana imigrasi berdasarkan akta dari D.C. Comm. lihat G.R. tanggal 11 April 1938 No. 1085. Tercatat untuk 1 tahun C.V.O. No. 646. Pr. Lfs. D.C. Comm. 4 April 1938.


(nasionalarsip)

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #pekerjasuriname #tokohkedirijadul #imigransuriname #jawasuriname #suriname #wongkediri #blitarjadul

#kotakedirijadul #kedirijadul #kotalamakediri #kedirijawa #sejarahkedirijadul  #kedirijamanpenjajahan #wisatakediri #wisatakotakediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamanbelanda #bangunandikediri #situskediri #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri #koleksikediri #kedirijamandulu #sejarahkediri #kediritempodulu #kediritempoedoeloe



Sumber : Kadiri Jadoel

Semasa hidup ia aktif di Lekra, organisasi mantel PKI. Namun ia berwasiat agar jenazah diurus secara Islam. NAMANYA Utuy Tatang Sontani. Ia pernah aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi mantel PKI yang bergerak dalam bidang kebudayaan. Saat berada dalam pelarian di China, Utuy menulis sebuah karya berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang.” Utuy dan karyanya ini menjadi perbincangan. Apakah ia seorang Komunis tulen, atau hanya seorang seniman yang terjebak propaganda tokoh-tokoh PKI yang menjadi sahabat dekatnya? Atau ada faktor lain? Sebagai seorang yang cenderung memiliki sifat individualis, kata Ajip Rosidi dalam pengantar buku ini, sangat mengherankan jika Utuy Tatang Sontani aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). “Bagaimana mungkin pengarang yang dalam karya-karyanya begitu individualistis, menjadi aktifis organisasi kebudayaan yang berdasarkan paham Marxisme-Leninisme yang menentang individualisme?” tulis Ajip. Ajip menceritakan, pada tahun 1957 saat Lekra mengadakan Kongres di Solo, Utuy mendapat telegram dari lembaga tersebut yang berisi permohonan kesediaannya menjadi pengurus Lekra. Utuy yang melihat banyak sahabatnya aktif di Lekra, seperti Hendra Gunawan dan Boejoeng Saleh Sastradipoera (belakang taubat dari Komunis), kemudian agak tertarik untuk bergabung. Apalagi, ia juga mempunyai kedekatan secara pribadi dengan tokoh PKI, D.N Aidit, sehingga menurutnya akan mudah bekerjasama dalam organisasi. Tetapi, karena agak ragu, maka ia mendatangi Ajip Rosidi untuk meminta saran terkait telegram tersebut. Ajip lalu mengatakan, “soalnya bukan bisa kerjasama atau tidak dengan orang-orang yang ada di sana, melainkan sikap kita terhadap falsafah dasar organisasi itu. Bagaimana sikap kita terhadap Komunisme? Bagaimana sikap kita terhadap realisme sosialis yang menjadi pegangang Lekra?” Utuy pun, saat itu, kata Ajip, menolak tawaran Lekra. Tetapi dua tahun kemudian, Ajip melihat dalam surat kabar, nama Utuy tercantum sebagai pengurus Lekra. Ia cukup kaget. Ajip yang lama tak bersua dengan Utuy karena terpisah jarak, kemudian bertandang ke rumah sahabatnya itu di Jatinegara. Utuy bercerita, bangunan rumahnya ada yang roboh, kemudian diperbaiki oleh Hendra Gunawan dan dijadikan tempat persembunyiannya karena bertengkar dengan Njoto, tokoh PKI juga. Perjalanan selanjutnya, Utuy makin aktif di Lekra, mengajar, memberikan ceramah umum, dan membuat karya-karya sastera dan pentas drama. Menjelang G30 S/PKI, Utuy berangkat ke China untuk berobat karena penyakit lever. Keberangkatan Utuy ke China karena rekomendasi dari tokoh PKI D.N Aidit Setelah terjadinya Gestapu, maka Utuy tak bisa kembali ke Tanah Air. Perjalanan hidup selanjutnya, ia menjadi eksil, berpindah-pindah negara. Ia pernah hidup di Belanda, kemudian akhirnya tinggal di Moskwa, Uni Soviet, sampai akhirnya terbaring sakit dan meninggal dunia. Karya Utuy yang berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang” ini merupakan buah tangannya yang menceritakan tentang orang-orang Indonesia yang berada di China atas undangan pemerintah setempat, namun tak bisa pulang ke Tanah Air karena meletusnya Gestapu PKI. Buku ini menceritakan pengalamannya bersama orang-orang Indonesia tersebut, dan menceritakan tentang bagaimana sikapnya selama di China terkait dengan Partai Komunis yang ada di sana. Dalam tulisan di buku itu, sikap Utuy justru banyak bertentangan dengan pimpinan Partai Komunis di China. Misalnya, ia tak mau diperintah untuk menghafal ucapan-ucapan tokoh Komunis China, Mao Zhe Dhong. Utuy juga bercerita, saat berangkat ke China, ia baru enam bulan menjadi anggota PKI, bahkan dalam keterangan lain ia mengatakan baru jadi calon anggota. Sikap inilah, yang menurut Ajip Rosidi sebagai sikap indivualis; “Utuy memang seorang individualis yang pernah terlibat dalam kegiatan Lekra hanya karena dia terjerat oleh kepandaian orang-orang PKI menarik para seniman dan pengarang yang tidak tahu politik, masuk ke dalam strateginya…” Saat Utuy terbaring sakit di Moskwa, menurut keterangan pelukis Kuslan Budiman yang membantunya sehari-hari, sebagaimana diceritakan oleh Ajip Rosidi dalam buku ini, Utuy berkali-kali berpesan agar jika ia meninggal, jenazahnya diurus dengan cara Islam. “Biar bagaimana, saya ini orang Islam dan kakek saya haji…” ujarnya. Atas permohonan Kuslan Budiman yang menyampaikan wasiat Utuy kepada pejabat terkait setempat agar jenazah Utuy diurus secara Islam, maka jenazah sastrawan tersebut akhirnya diizinkan untuk diurus secara Islam. Disadur dari Suara Hidayatullah *** Menyimak kisah Utuy, kita harusnya menyadari kemungkinan bahwa ada orang-orang yang menjadi anggota PKI tetap beragama dan tetap dipandang sebagaimana layaknya manusia. Bukan dengan stigma hitam putih yang menyesatkan: semua PKI bersalah dan semua PKI menista agama.

 Semasa hidup ia aktif di Lekra, organisasi mantel PKI. Namun ia berwasiat agar jenazah diurus secara Islam.



NAMANYA Utuy Tatang Sontani. Ia pernah aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi mantel PKI yang bergerak dalam bidang kebudayaan. 


Saat berada dalam pelarian di China, Utuy menulis sebuah karya berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang.”  Utuy dan karyanya ini menjadi perbincangan.


Apakah ia seorang Komunis tulen, atau hanya seorang seniman yang terjebak propaganda tokoh-tokoh PKI yang menjadi sahabat dekatnya? Atau ada faktor lain?


Sebagai seorang yang cenderung memiliki sifat individualis, kata Ajip Rosidi dalam pengantar buku ini, sangat mengherankan jika Utuy Tatang Sontani aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). “Bagaimana mungkin pengarang yang dalam karya-karyanya begitu individualistis, menjadi aktifis organisasi kebudayaan yang berdasarkan paham Marxisme-Leninisme yang menentang individualisme?” tulis Ajip.


Ajip menceritakan, pada tahun 1957 saat Lekra mengadakan Kongres di Solo, Utuy mendapat telegram dari lembaga tersebut yang berisi permohonan kesediaannya menjadi pengurus Lekra. 


Utuy yang melihat banyak sahabatnya aktif di Lekra, seperti Hendra Gunawan dan Boejoeng Saleh Sastradipoera (belakang taubat dari Komunis), kemudian agak tertarik untuk bergabung. Apalagi, ia juga mempunyai kedekatan secara pribadi dengan tokoh PKI, D.N Aidit, sehingga menurutnya akan mudah bekerjasama dalam organisasi.


Tetapi, karena agak ragu, maka ia mendatangi Ajip Rosidi untuk meminta saran terkait telegram tersebut. Ajip lalu mengatakan, “soalnya bukan bisa kerjasama atau tidak dengan orang-orang yang ada di sana, melainkan sikap kita terhadap falsafah dasar organisasi itu. Bagaimana sikap kita terhadap Komunisme? Bagaimana sikap kita terhadap realisme sosialis yang menjadi pegangang Lekra?” Utuy pun, saat itu, kata Ajip, menolak tawaran Lekra.


Tetapi dua tahun kemudian, Ajip melihat dalam surat kabar, nama Utuy tercantum sebagai pengurus Lekra. Ia cukup kaget.


Ajip yang lama tak bersua dengan Utuy karena terpisah jarak, kemudian bertandang ke rumah sahabatnya itu di Jatinegara. Utuy bercerita, bangunan rumahnya ada yang roboh, kemudian diperbaiki oleh Hendra Gunawan dan dijadikan tempat persembunyiannya karena bertengkar dengan Njoto, tokoh PKI juga.


Perjalanan selanjutnya, Utuy makin aktif di Lekra, mengajar, memberikan ceramah umum, dan membuat karya-karya sastera dan pentas drama. Menjelang  G30 S/PKI, Utuy berangkat ke China untuk berobat karena penyakit lever. Keberangkatan Utuy ke China karena rekomendasi dari tokoh PKI D.N Aidit 


Setelah terjadinya Gestapu, maka Utuy tak bisa kembali ke Tanah Air. Perjalanan hidup selanjutnya, ia menjadi eksil, berpindah-pindah negara.


Ia pernah hidup di Belanda, kemudian akhirnya tinggal di Moskwa, Uni Soviet, sampai akhirnya terbaring sakit dan meninggal dunia.


Karya Utuy yang berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang” ini merupakan buah tangannya yang menceritakan tentang orang-orang Indonesia yang berada di China atas undangan pemerintah setempat, namun tak bisa pulang ke Tanah Air karena meletusnya Gestapu PKI.


Buku ini menceritakan pengalamannya bersama orang-orang Indonesia tersebut, dan menceritakan tentang bagaimana sikapnya selama di China terkait dengan Partai Komunis yang ada di sana.


Dalam tulisan di buku itu, sikap Utuy  justru banyak bertentangan dengan pimpinan Partai Komunis di China. Misalnya, ia tak mau diperintah untuk menghafal ucapan-ucapan tokoh Komunis China, Mao Zhe Dhong. 


Utuy juga bercerita, saat berangkat ke China, ia baru enam bulan menjadi anggota PKI, bahkan dalam keterangan lain ia mengatakan baru jadi calon anggota. Sikap inilah, yang menurut Ajip Rosidi sebagai sikap indivualis;


“Utuy memang seorang individualis yang pernah terlibat dalam kegiatan Lekra hanya karena dia terjerat oleh kepandaian orang-orang PKI menarik para seniman dan pengarang yang tidak tahu politik, masuk ke dalam strateginya…”

Saat Utuy terbaring sakit di Moskwa, menurut keterangan pelukis Kuslan Budiman yang membantunya sehari-hari, sebagaimana diceritakan oleh Ajip Rosidi dalam buku ini, Utuy berkali-kali berpesan agar jika ia meninggal, jenazahnya diurus dengan cara Islam. “Biar bagaimana, saya ini orang Islam dan kakek saya haji…” ujarnya. 


Atas permohonan Kuslan Budiman yang menyampaikan wasiat Utuy kepada pejabat terkait setempat agar jenazah Utuy diurus secara Islam, maka jenazah sastrawan tersebut akhirnya diizinkan untuk diurus secara Islam.


Disadur dari Suara Hidayatullah


***


Menyimak kisah Utuy, kita harusnya menyadari kemungkinan bahwa ada orang-orang yang menjadi anggota PKI tetap beragama dan tetap dipandang sebagaimana layaknya manusia. Bukan dengan stigma hitam putih yang menyesatkan: semua PKI bersalah dan semua PKI menista agama.

Tentara belanda serbu markas TNI saat agresi militer ll di Blitar, Jawa Timur, pada 20 Desember 1948. . Satu hari sebelumnya, pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Yogyakarta jatuh, namun perlawanan tidak berhenti. TNI telah mengubah sistem pertahanannya dengan sistem pertahanan Wehrkreise yaitu setiap lingkungan/daerah harus dapat berswadaya untuk mempertahankan daerahnya masing-masing dengan taktik gerilya totalitas. Untuk Jawa Timur, Belanda mengerahkan Divisi "A" di bawah pimpinan Mayor Jenderal Baay. Dari basisnya di Malang, pasukan Brigade KNIL bergerak menuju ke selatan lewat Kepanjen, Blitar, masuk Kediri Selatan terus ke Madiun. Foto ini diambil tepat pada jalur tersebut. Keterangannya menyebut: "Setelah Kepanjen dan Wlingi, pasukan Belanda maju ke Blitar. Di sini, markas TNI sedang diselidiki." Pada foto lain dalam seri yang sama dicatat, sebelum bergerak menuju Wlingi dan Blitar, di Toempakredjo (Tumpangrejo) konvoi Belanda mengalami keterlambatan akibat pohon-pohon yang sengaja dirubuhkan sebagai penghalang, yang kemudian dibersihkan dengan buldoser zeni. Itu bukti adanya upaya penghadangan dari pejuang kita. Menurut Pusat Sejarah TNI, Blitar adalah titik tolak gerakan Wingate Action, yaitu pengembalian pasukan-pasukan ke daerah asalnya masing-masing setelah hijrah sebelum Perjanjian Renville. Karena posisinya yang strategis, Blitar diperhitungkan baik oleh Belanda maupun Indonesia. Perang ini Mengingatkan kita bahwa kemerdekaan tidak diberikan, tetapi direbut dengan gerilya, pengorbanan darah dan nyawa rakyat. . (MBBK-Nederlands Fotomuseum) Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #agresimiliterkediri #agresimiliterll #agresimiliter #knilkedirijadul #knilkediri #blitarjadul #tnikedirijadul #tentarabelandadikediri #kedirijamanbelanda #knilkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri

 Tentara belanda serbu markas TNI saat agresi militer ll di Blitar, Jawa Timur, pada 20 Desember 1948.

.


Satu hari sebelumnya, pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya.  


Yogyakarta jatuh, namun perlawanan tidak berhenti. TNI telah mengubah sistem pertahanannya dengan sistem pertahanan Wehrkreise yaitu setiap lingkungan/daerah harus dapat berswadaya untuk mempertahankan daerahnya masing-masing dengan taktik gerilya totalitas.  


Untuk Jawa Timur, Belanda mengerahkan Divisi "A" di bawah pimpinan Mayor Jenderal Baay. Dari basisnya di Malang, pasukan Brigade KNIL bergerak menuju ke selatan lewat Kepanjen, Blitar, masuk Kediri Selatan terus ke Madiun.  


Foto ini diambil tepat pada jalur tersebut. Keterangannya menyebut: "Setelah Kepanjen dan Wlingi, pasukan Belanda maju ke Blitar. Di sini, markas TNI sedang diselidiki." Pada foto lain dalam seri yang sama dicatat, sebelum bergerak menuju Wlingi dan Blitar, di Toempakredjo (Tumpangrejo) konvoi Belanda mengalami keterlambatan akibat pohon-pohon yang sengaja dirubuhkan sebagai penghalang, yang kemudian dibersihkan dengan buldoser zeni. Itu bukti adanya upaya penghadangan dari pejuang kita.  


Menurut Pusat Sejarah TNI, Blitar adalah titik tolak gerakan Wingate Action, yaitu pengembalian pasukan-pasukan ke daerah asalnya masing-masing setelah hijrah sebelum Perjanjian Renville. Karena posisinya yang strategis, Blitar diperhitungkan baik oleh Belanda maupun Indonesia.  


Perang ini Mengingatkan kita bahwa kemerdekaan tidak diberikan, tetapi direbut dengan gerilya, pengorbanan darah dan nyawa rakyat.


.

(MBBK-Nederlands Fotomuseum)

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #agresimiliterkediri #agresimiliterll #agresimiliter

#knilkedirijadul #knilkediri #blitarjadul #tnikedirijadul #tentarabelandadikediri #kedirijamanbelanda #knilkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri

Tentara belanda sedang istirahat makan siang saat Agresi militer ll di Blitar, Jawa Timur, pada 20 Desember 1948. . Tepat sehari setelah Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak dimulai. Agresi tersebut diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Setelah Yogyakarta lumpuh, Belanda melanjutkan operasi ke Jawa Timur. Dari basisnya di Malang, Belanda dengan pasukan Brigade KNIL bergerak menuju ke selatan lewat Kepanjen, Blitar masuk Kediri Selatan terus ke Madiun. Perjalanan itu tidak mudah. Di Tumpangrejo, konvoi mereka sempat terhambat karena pohon-pohon yang sengaja dirubuhkan sebagai penghalang jalan. Para tentara dalam foto ini memanfaatkan jeda tersebut untuk makan dengan tenang, sebelum melanjutkan pendudukan ke Kota Blitar. Pada saat yang sama, TNI sudah mengubah pertahanan menjadi sistem Wehrkreise, yaitu setiap daerah harus berswadaya mempertahankan daerahnya masing-masing dengan taktik gerilya totalitas. . (MBBK-Nederlands Fotomuseum) Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #agresimiliterkediri #agresimiliterll #agresimiliter #knilkedirijadul #knilkediri #blitarjadul #tnikedirijadul #tentarabelandadikediri #kedirijamanbelanda #knilkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri

 Tentara belanda sedang istirahat makan siang saat Agresi militer ll di Blitar, Jawa Timur, pada 20 Desember 1948.

.


Tepat sehari setelah Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak dimulai. Agresi tersebut diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya.  


Setelah Yogyakarta lumpuh, Belanda melanjutkan operasi ke Jawa Timur. Dari basisnya di Malang, Belanda dengan pasukan Brigade KNIL bergerak menuju ke selatan lewat Kepanjen, Blitar masuk Kediri Selatan terus ke Madiun.


Perjalanan itu tidak mudah. Di Tumpangrejo, konvoi mereka sempat terhambat karena pohon-pohon yang sengaja dirubuhkan sebagai penghalang jalan. Para tentara dalam foto ini memanfaatkan jeda tersebut untuk makan dengan tenang, sebelum melanjutkan pendudukan ke Kota Blitar.


Pada saat yang sama, TNI sudah mengubah pertahanan menjadi sistem Wehrkreise, yaitu setiap daerah harus berswadaya mempertahankan daerahnya masing-masing dengan taktik gerilya totalitas.

.

(MBBK-Nederlands Fotomuseum)

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #agresimiliterkediri #agresimiliterll #agresimiliter

#knilkedirijadul #knilkediri #blitarjadul #tnikedirijadul #tentarabelandadikediri #kedirijamanbelanda #knilkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri

Ini mungkin adalah bukti dokumentasi visual terakhir yg melihatkan adanya Kapal "Jung" Jawa yg terkenal tersebut. Dokumentasi dibuat oleh VoC/Belanda ketika Kasultanan Mataram menyerbu VoC di Batavia/Sunda kelapa pada tahun 1628. Armada kapal "Jung" Mataram masuk melalui teluk Batavia. Dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dengan 14.000 prajurit serta membawa logistik masing-masing kapal 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras. Terlihat ukuran Kapal Mataram yg akan memasuki pelabuhan jauh lebih besar daripada kapal VoC Belanda yg telah bersandar. Source : Belegering van Batavia door de koning van Java, 1628, Balthasar Florisz. van Berckenrode

 Ini mungkin adalah bukti dokumentasi visual terakhir yg melihatkan adanya Kapal "Jung" Jawa yg terkenal tersebut.



Dokumentasi dibuat oleh VoC/Belanda ketika Kasultanan Mataram menyerbu VoC di Batavia/Sunda kelapa pada tahun 1628. 


Armada kapal "Jung" Mataram masuk melalui teluk Batavia. Dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dengan 14.000 prajurit serta membawa logistik masing-masing kapal 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras.


Terlihat ukuran Kapal Mataram yg akan memasuki pelabuhan jauh lebih besar daripada kapal VoC Belanda yg telah bersandar.


Source :


Belegering van Batavia door de koning van Java, 1628, Balthasar Florisz. van Berckenrode



Sumber  ; Andre Owen

LELUHUR KI PENDJAWI Ki Pendjawi adalah salah satu tokoh dari Seselo Purwodadi. Ki Pendjawi adalah cucu Ki Ageng Ngerang I. Semasa hidupnya R Pendjawi ikut dengan kakak dari ayahnya yang menikah dengan Ki Ageng Selo yang juga Eyang Gedenya. R Penjawi bersama Ki Ageng Pemanahan di kirim ke Padepokan Sunan Kalijaga untuk menuntut ilmu agama dan kanuragan.R Penjawi sudah dianggap sebagai cucunya sendiri oleh Ki Ageng Selo. R Penjawi termasuk tiga serangkai Priyayi dari Selo bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani Namanya mulai dikenal ketika ikut membantu Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan R Danang Sutawijaya dalam menundukkan Harya Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Sultan Hadiwijaya sendiri atas perintah dari saudara iparnya , Ratu Kalinyamat yang menuntut balas atas meninggalnya sang suami Pangeran Hadiri ( Pangeran Hadlirin ) Atas kemenangannya Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah " Hutan Mentaok " dan Ki Pendjawi memperoleh " Tanah Perdikan Pati " dan Ki Pendjawi sendiri bergelar Ki Ageng Pati. Berikut Silsilah Ki Pendjawi : Raja Majapahit VII yaitu Prabhu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandansari menurunkan Raden Bondhan Kadjawan. Raden Bondhan Kadjawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub menurunkan : 1. Raden Dukuh ( Ki Ageng Wonosobo ) 2. Raden Depok ( Ki Ageng Getas Pandowo ) 3. Roro Kasihan ( Nyai Ageng Ngerang I ) Roro Kasihan menikah dengan Ki Ageng Ngerang I menurunkan: 1. Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II 2. Nyai Ageng Kemiri 3. Nyai Ageng Selo Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II menurunkan : 1. Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III 2. Ki Ageng Ngerang IV 3. Ki Buyut ing Ngerang 4. Pangeran Lependjenar Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah, putri Sunan Kalijaga menurunkan : 1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati 2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan: 1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 2. Adipati Pragola Pati I Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Agung Hanyokrowati ( Raja Mataram II ) Adipati Pragola Pati menurunkan : 1. Adipati Pragola Pati II 2. Raden Londoh ( Pangeran Ronggopati ) Adipati Pragola Pati II menikah dengan garwa sepuh menurunkan putra bernama Bagus Kriyo. Kemudian Adipati Pragola Pati II dinikahkan oleh Sultan Agung dengan adik kandungnya yaitu Ratu Mas Sekar, tetapi tidak berputra. Raden Londoh setelah kakaknya wafat menggantikan kedudukan memerintah Pati, berikut oleh Sultan Agung dinikahkan dengan adiknya yaitu Ratu Mas Sekar janda dari Adipati Pragola Pati II. Raden Londoh mendapat anugrah nama gelar baru " Pangeran Ronggo Pati. Bagus Kriyo putra Ki Ageng Pragola Pati II dari garwa sepuh, ketika ayahnya wafat, Bagus Kriyo kecil diselamatkan oleh Ki Mangunjaya Pati dibawa ke Blambangan. Ketika Bagus Kriyo beranjak dewasa, di ajak oleh Ki Mangunjaya Pati ke Kerajaan Mataram tepatnya di Tanah Djejeran. Dan disana menjadi murid Ki Djejer. Tidak lama kemudian Bagus Kriyo dinikahkan oleh Ki Djejer dengan keponakan beliau putri dari Adipati Singoranu ( Patih Sultan Agung ) . Dan mendapat anugrah nama baru Ki Wonokriyo atau Kyai Krian. Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.

 LELUHUR KI PENDJAWI

Ki Pendjawi adalah salah satu tokoh dari Seselo Purwodadi.

Ki Pendjawi adalah cucu Ki Ageng Ngerang I. Semasa hidupnya R Pendjawi ikut dengan kakak dari ayahnya yang menikah dengan  Ki Ageng Selo yang juga Eyang Gedenya. R Penjawi bersama Ki Ageng Pemanahan di kirim ke Padepokan Sunan Kalijaga untuk menuntut ilmu agama dan kanuragan.R Penjawi sudah dianggap sebagai cucunya sendiri oleh Ki Ageng Selo.

R Penjawi termasuk tiga serangkai Priyayi dari Selo bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani



Namanya mulai dikenal ketika ikut membantu Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan R Danang Sutawijaya dalam menundukkan Harya Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Sultan Hadiwijaya sendiri atas perintah dari saudara iparnya , Ratu Kalinyamat yang menuntut balas atas meninggalnya sang suami Pangeran Hadiri ( Pangeran Hadlirin )

Atas kemenangannya Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah " Hutan Mentaok " dan Ki Pendjawi memperoleh " Tanah Perdikan Pati " dan Ki Pendjawi sendiri bergelar Ki Ageng Pati.


Berikut Silsilah Ki Pendjawi :


Raja Majapahit VII yaitu Prabhu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandansari menurunkan  Raden Bondhan Kadjawan. Raden Bondhan Kadjawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub menurunkan :

1. Raden Dukuh ( Ki Ageng Wonosobo )

2. Raden Depok ( Ki Ageng Getas Pandowo )

3. Roro Kasihan ( Nyai Ageng Ngerang I )


Roro Kasihan menikah dengan Ki Ageng Ngerang I menurunkan:

1. Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II

2. Nyai Ageng Kemiri

3. Nyai Ageng Selo


Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II menurunkan :

1. Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III 

2. Ki Ageng Ngerang IV

3. Ki Buyut ing Ngerang

4. Pangeran Lependjenar


Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah, putri Sunan Kalijaga menurunkan :

1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati

2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati


Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan:

1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 

2. Adipati Pragola Pati I


Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Agung Hanyokrowati ( Raja Mataram II )


Adipati Pragola Pati menurunkan :

1. Adipati Pragola Pati II

2. Raden Londoh ( Pangeran Ronggopati )


Adipati Pragola Pati II menikah dengan garwa sepuh menurunkan putra bernama Bagus Kriyo. Kemudian Adipati Pragola Pati II dinikahkan oleh Sultan Agung dengan adik kandungnya yaitu Ratu Mas Sekar, tetapi tidak berputra.


Raden Londoh setelah kakaknya wafat menggantikan kedudukan memerintah Pati, berikut oleh Sultan Agung dinikahkan dengan adiknya yaitu Ratu Mas Sekar  janda dari Adipati Pragola Pati II.  Raden Londoh mendapat anugrah nama gelar baru "  Pangeran Ronggo Pati.


Bagus Kriyo putra Ki Ageng Pragola Pati II dari garwa sepuh, ketika ayahnya wafat, Bagus Kriyo kecil diselamatkan oleh Ki Mangunjaya Pati dibawa ke Blambangan. Ketika Bagus Kriyo beranjak dewasa, di ajak oleh Ki Mangunjaya Pati ke Kerajaan Mataram tepatnya di Tanah Djejeran. Dan disana menjadi murid Ki Djejer. Tidak lama kemudian Bagus Kriyo dinikahkan oleh Ki Djejer dengan keponakan beliau putri dari Adipati Singoranu ( Patih Sultan Agung ) . Dan mendapat anugrah nama baru Ki Wonokriyo atau Kyai Krian.


Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.

Foto Soepardjo Roestam sebagai Gubernur Jawa Tengah sedang memberikan arahan dan penyuluhan kepada para siswa SLTP di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang. Beliau adalah Gubernur Jawa Tengah dari tahun 1974 hingga 1982. Pada masa revolusi fisik, Soepardjo Roestam adalah ajudan pribadi kepercayaan Panglima Besar Soedirman bersama Tjokropranolo. Dalam penulisan biografi Jenderal Besar Soedirman, Tjokropranolo menyoroti gagasan jenius Soepardjo Roestam untuk mengecoh tentara Belanda yang terus menerus mengejar dan melacak posisi gerilya Soedirman, dengan cara membuat samaran dari Jenderal Soedirman (Body Double) dan mengawalnya dengan serius dengan mengambil rute yang berbeda. Taktik ini terbukti membuat pihak Belanda sering tertipu dan merasa frustasi. Lahir pada 12 Agustus 1926 di Soekaraja, Banyumas, Jawa Tengah, Soepardjo Roestam adalah alumni PETA dengan pangkat Daidhanco (setara dengan Letnan Kolonel) dan meninggal pada 11 April 1993 serta kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Sumber foto : Buku "Soepardjo dan Pembangunan Jawa Tengah", Pengurus Korpri Propinsi Jawa Tengah, 1984.

 Foto Soepardjo Roestam sebagai Gubernur Jawa Tengah sedang memberikan arahan dan penyuluhan kepada para siswa SLTP di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang. Beliau adalah Gubernur Jawa Tengah dari tahun 1974 hingga 1982. 


Pada masa revolusi fisik, Soepardjo Roestam adalah ajudan pribadi kepercayaan Panglima Besar Soedirman bersama Tjokropranolo. Dalam penulisan biografi Jenderal Besar Soedirman, Tjokropranolo menyoroti gagasan jenius Soepardjo Roestam untuk mengecoh tentara Belanda yang terus menerus mengejar dan melacak posisi gerilya Soedirman, dengan cara membuat samaran dari Jenderal Soedirman (Body Double) dan mengawalnya dengan serius dengan mengambil rute yang berbeda. Taktik ini terbukti membuat pihak Belanda sering tertipu dan merasa frustasi. 


Lahir pada 12 Agustus 1926 di Soekaraja, Banyumas, Jawa Tengah, Soepardjo Roestam adalah alumni PETA dengan pangkat Daidhanco (setara dengan Letnan Kolonel) dan meninggal pada 11 April 1993 serta kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 



Sumber foto : Buku "Soepardjo dan Pembangunan Jawa Tengah", Pengurus Korpri Propinsi Jawa Tengah, 1984.

06 October 2026

H. Hetami lahir di Surakarta pada 1920, putra K.H. M. Idris, seorang saudagar batik. Ia menempuh pendidikan tinggi di Batavia, tetapi studinya terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia dan membubarkan seluruh instistusi pendidikan yang ada. Dari sinilah ia kemudian memasuki dunia jurnalistik dan bergabung dengan Sinar Baroe di Semarang. Surat kabar ini dibentuk pemerintah pendudukan Jepang melalui peleburan beberapa surat kabar sebelumnya dan berada di bawah pengawasan ketat rezim militer Jepang. Hetami mula-mula bekerja sebagai korektor, kemudian menjadi redaktur pelaksana. Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung mengenai kerja pers sekaligus mempertemukannya dengan perubahan politik yang berlangsung cepat menjelang akhir Perang Dunia II. Momentum penting datang pada 17 Agustus 1945. Ketika berita Proklamasi diterima di kantor Sinar Baroe, terpaut cuma satu jam setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta. Hetami berusaha agar kabar kemerdekaan itu dapat segera diketahui masyarakat Semarang, meskipun masih berada di bawah ancaman sensor Jepang. Karena pemberitaan Proklamasi dilarang, redaksi menghadapi dilema antara menjalankan sensor atau menyampaikan berita kemerdekaan. Sinar Baroe akhirnya nekat menyiarkan secara resmi berita Proklamasi Kemerdekaan pada edisi 19 Agustus 1945. Setelah Jepang menyerah, perubahan politik membuka kesempatan bagi para pekerja pers untuk mengambil alih infrastruktur media yang sebelumnya dikendalikan pemerintah pendudukan. Hetami bersama sejumlah awak Sinar Baroe kemudian mengubah fungsi pers tersebut menjadi sarana pemberitaan Republik. Dan pada akhir September 1945 Hetami menginisiasi koran Warta Indonesia, surat kabar ini mulai terbit pada 29 September 1945 berkantor di Jalan Purwodinatan Tengah No. 22–24–26, Semarang, dan sejak awal secara tegas menempatkan dirinya di pihak Republik. Tujuannya adalah membantu usaha KNI (Komite Nasional Indonesia) dan seluruh usaha bangsa Indonesia yang bersifat membangun serta bermanfaat bagi kepentingan revolusi Republik. Warta Indonesia kemudian menjadi salah satu media penting yang menyuarakan kepentingan pemerintah Republik di tengah situasi revolusioner Semarang. Ketika Pertempuran Lima Hari berlangsung pada Oktober 1945, penerbitannya sempat terganggu, tetapi koran ini kembali memberitakan perkembangan perjuangan dan menunjukkan bagaimana pers menjadi bagian dari perebutan ruang informasi pada masa awal kemerdekaan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Hetami sebagai wartawan dan pengelola pers. Setelah Warta Indonesia berhenti terbit dalam situasi politik dan militer yang semakin tidak memungkinkan di Semarang, Hetami melanjutkan aktivitas jurnalistiknya melalui sejumlah surat kabar pada masa revolusi. Pengalaman mengelola pers di tengah pergolakan politik, keterbatasan percetakan, tekanan militer, dan kebutuhan masyarakat akan informasi kemudian membentuk gagasannya untuk memiliki surat kabar sendiri. Pada 11 Februari 1950, Hetami akhirnya mendirikan Suara Merdeka, yang kemudian berkembang menjadi salah satu surat kabar penting di Jawa Tengah. Pendirian Suara Merdeka menandai kelanjutan dari perjalanan panjang Hetami sejak Sinar Baroe dan Warta Indonesia. Dari wartawan muda yang bekerja dalam pers pendudukan, menjadi pengelola pers Republik, hingga berhasil membangun institusi pers yang bertahan dan berkembang besar di Semarang. Dari testimoni para pegawai Suara Merdeka yang bersinggungan langsung pada waktu kepemimpinan Hetami, beliau dikenal sebagai sosok perfeksionis bahkan sampai urusan kebersihan kamar kecil. Foto di bawah adalah foto H. Hetami yang terlibat langsung membersihkan kamar kecil di Kantor Suara Merdeka Jl. Merak 11A. Sumber narasi dan foto : Buku "Hetami - Kewartawanan, Pers dan Suara Merdeka", Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1995

 H. Hetami lahir di Surakarta pada 1920, putra K.H. M. Idris, seorang saudagar batik. Ia menempuh pendidikan tinggi di Batavia, tetapi studinya terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia dan membubarkan seluruh instistusi pendidikan yang ada.



Dari sinilah ia kemudian memasuki dunia jurnalistik dan bergabung dengan Sinar Baroe di Semarang. Surat kabar ini dibentuk pemerintah pendudukan Jepang melalui peleburan beberapa surat kabar sebelumnya dan berada di bawah pengawasan ketat rezim militer Jepang. Hetami mula-mula bekerja sebagai korektor, kemudian menjadi redaktur pelaksana. Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung mengenai kerja pers sekaligus mempertemukannya dengan perubahan politik yang berlangsung cepat menjelang akhir Perang Dunia II.


Momentum penting datang pada 17 Agustus 1945. Ketika berita Proklamasi diterima di kantor Sinar Baroe, terpaut cuma satu jam setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta. Hetami berusaha agar kabar kemerdekaan itu dapat segera diketahui masyarakat Semarang, meskipun masih berada di bawah ancaman sensor Jepang. Karena pemberitaan Proklamasi dilarang, redaksi menghadapi dilema antara menjalankan sensor atau menyampaikan berita kemerdekaan. Sinar Baroe akhirnya nekat menyiarkan secara resmi berita Proklamasi Kemerdekaan pada edisi 19 Agustus 1945. 


Setelah Jepang menyerah, perubahan politik membuka kesempatan bagi para pekerja pers untuk mengambil alih infrastruktur media yang sebelumnya dikendalikan pemerintah pendudukan. Hetami bersama sejumlah awak Sinar Baroe kemudian mengubah fungsi pers tersebut menjadi sarana pemberitaan Republik.


Dan pada akhir September 1945 Hetami menginisiasi koran Warta Indonesia, surat kabar ini mulai terbit pada 29 September 1945 berkantor di Jalan Purwodinatan Tengah No. 22–24–26, Semarang, dan sejak awal secara tegas menempatkan dirinya di pihak Republik. Tujuannya adalah membantu usaha KNI (Komite Nasional Indonesia) dan seluruh usaha bangsa Indonesia yang bersifat membangun serta bermanfaat bagi kepentingan revolusi Republik.


Warta Indonesia kemudian menjadi salah satu media penting yang menyuarakan kepentingan pemerintah Republik di tengah situasi revolusioner Semarang. Ketika Pertempuran Lima Hari berlangsung pada Oktober 1945, penerbitannya sempat terganggu, tetapi koran ini kembali memberitakan perkembangan perjuangan dan menunjukkan bagaimana pers menjadi bagian dari perebutan ruang informasi pada masa awal kemerdekaan. 


Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Hetami sebagai wartawan dan pengelola pers. Setelah Warta Indonesia berhenti terbit dalam situasi politik dan militer yang semakin tidak memungkinkan di Semarang, Hetami melanjutkan aktivitas jurnalistiknya melalui sejumlah surat kabar pada masa revolusi. Pengalaman mengelola pers di tengah pergolakan politik, keterbatasan percetakan, tekanan militer, dan kebutuhan masyarakat akan informasi kemudian membentuk gagasannya untuk memiliki surat kabar sendiri. 


Pada 11 Februari 1950, Hetami akhirnya mendirikan Suara Merdeka, yang kemudian berkembang menjadi salah satu surat kabar penting di Jawa Tengah. Pendirian Suara Merdeka menandai kelanjutan dari perjalanan panjang Hetami sejak Sinar Baroe dan Warta Indonesia. Dari wartawan muda yang bekerja dalam pers pendudukan, menjadi pengelola pers Republik, hingga berhasil membangun institusi pers yang bertahan dan berkembang besar di Semarang.


Dari testimoni para pegawai Suara Merdeka yang bersinggungan langsung pada waktu kepemimpinan Hetami, beliau dikenal sebagai sosok perfeksionis bahkan sampai urusan kebersihan kamar kecil. Foto di bawah adalah foto H. Hetami yang terlibat langsung membersihkan kamar kecil di Kantor Suara Merdeka Jl. Merak 11A.


Sumber narasi dan foto : Buku "Hetami - Kewartawanan, Pers dan Suara Merdeka", Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1995


Sumbet : Kesit Widjanarko

BURHAN “KAMPAK”: SEBUAH WAJAH DARI LEMBARAN GELAP SEJARAH INDONESIA Ada foto-foto yang tidak sekadar menunjukkan wajah seseorang. Ada foto yang seolah membawa kita kembali ke sebuah zaman—ketika Indonesia sedang berada dalam salah satu periode paling penuh ketegangan dalam sejarahnya. Foto ini adalah salah satunya. Namanya Burhanuddin Zainuddin Rusjiman, yang kemudian dikenal dengan julukan Burhan “Kampak”. Ia berasal dari Yogyakarta. Pada masa itu ia masih muda, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM dan dikenal sebagai aktivis HMI. Namun sejarah kemudian membawanya ke dalam pusaran konflik politik setelah peristiwa G30S 1965. Dalam kesaksiannya, Burhan menceritakan keterlibatannya dalam kelompok anti-komunis di Yogyakarta. Ia mengaku menggunakan sebuah kapak dalam aksi kekerasan terhadap orang-orang yang ketika itu dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI. Julukan “Kampak” kemudian melekat pada dirinya. Kisah Burhan menjadi salah satu kesaksian yang kemudian muncul dalam laporan “Pengakuan Algojo 1965” yang diterbitkan Majalah Tempo pada 2012. Kesaksiannya menggambarkan bagaimana kekerasan politik pada masa itu tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga melibatkan orang-orang biasa yang terseret dalam suasana ketakutan, kebencian, dan pertarungan ideologi. Namun, sebuah foto lama tidak pernah mampu menceritakan seluruh kebenaran dengan sendirinya. Di balik satu wajah terdapat sebuah zaman, dan di balik sebuah zaman terdapat banyak sudut pandang serta kesaksian yang perlu dibaca secara kritis. Karena itu, kisah seperti ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cerita tentang satu orang, tetapi sebagai bagian dari sejarah bangsa yang kompleks dan penuh luka. Lebih dari enam dekade telah berlalu. Generasi berganti, tetapi cerita tentang 1965 masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia. Mengingatnya bukan berarti membenarkan kekerasan, juga bukan berarti membuka kembali permusuhan. Justru dengan mempelajarinya, kita dapat memahami betapa mahal harga yang harus dibayar ketika konflik politik berubah menjadi kekerasan terhadap manusia. Satu foto. Satu wajah. Satu nama. Dan satu potongan sejarah yang pernah benar-benar terjadi. Sejarah mungkin tidak selalu nyaman untuk dibaca, tetapi sejarah tetap perlu dicatat—agar generasi berikutnya belajar bahwa perbedaan politik tidak seharusnya berakhir dengan hilangnya kemanusiaan.

 BURHAN “KAMPAK”: SEBUAH WAJAH DARI LEMBARAN GELAP SEJARAH INDONESIA



Ada foto-foto yang tidak sekadar menunjukkan wajah seseorang. Ada foto yang seolah membawa kita kembali ke sebuah zaman—ketika Indonesia sedang berada dalam salah satu periode paling penuh ketegangan dalam sejarahnya. Foto ini adalah salah satunya.


Namanya Burhanuddin Zainuddin Rusjiman, yang kemudian dikenal dengan julukan Burhan “Kampak”. Ia berasal dari Yogyakarta. Pada masa itu ia masih muda, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM dan dikenal sebagai aktivis HMI. Namun sejarah kemudian membawanya ke dalam pusaran konflik politik setelah peristiwa G30S 1965.


Dalam kesaksiannya, Burhan menceritakan keterlibatannya dalam kelompok anti-komunis di Yogyakarta. Ia mengaku menggunakan sebuah kapak dalam aksi kekerasan terhadap orang-orang yang ketika itu dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI. Julukan “Kampak” kemudian melekat pada dirinya.


Kisah Burhan menjadi salah satu kesaksian yang kemudian muncul dalam laporan “Pengakuan Algojo 1965” yang diterbitkan Majalah Tempo pada 2012. Kesaksiannya menggambarkan bagaimana kekerasan politik pada masa itu tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga melibatkan orang-orang biasa yang terseret dalam suasana ketakutan, kebencian, dan pertarungan ideologi.


Namun, sebuah foto lama tidak pernah mampu menceritakan seluruh kebenaran dengan sendirinya. Di balik satu wajah terdapat sebuah zaman, dan di balik sebuah zaman terdapat banyak sudut pandang serta kesaksian yang perlu dibaca secara kritis. Karena itu, kisah seperti ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cerita tentang satu orang, tetapi sebagai bagian dari sejarah bangsa yang kompleks dan penuh luka.


Lebih dari enam dekade telah berlalu. Generasi berganti, tetapi cerita tentang 1965 masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia. Mengingatnya bukan berarti membenarkan kekerasan, juga bukan berarti membuka kembali permusuhan. Justru dengan mempelajarinya, kita dapat memahami betapa mahal harga yang harus dibayar ketika konflik politik berubah menjadi kekerasan terhadap manusia.


Satu foto. Satu wajah. Satu nama. Dan satu potongan sejarah yang pernah benar-benar terjadi.

Sejarah mungkin tidak selalu nyaman untuk dibaca, tetapi sejarah tetap perlu dicatat—agar generasi berikutnya belajar bahwa perbedaan politik tidak seharusnya berakhir dengan hilangnya kemanusiaan.


Sumber : Abraham El Sharawee

Jakarta, 7 April 1967 — Ruangan itu terasa hening, hanya deru kipas angin tua dan gesekan lembar-lembar kertas yang memecah kesunyian. Di atas meja kayu yang kokoh, terhampar dokumen-dokumen tebal bersampul resmi. Lembaran itu bukan sekadar tumpukan kertas biasa, melainkan sebuah cetak biru yang akan mengubah arah sejarah ekonomi sebuah bangsa, serta merombak bentang alam di belahan timur nusantara untuk selamanya. Di balik meja, atmosfer ketegangan dan harapan bercampur menjadi satu. Ir. Slamet Bratanata, Menteri Pertambangan Indonesia yang baru saja memikul beban berat di pundaknya, duduk dengan tatapan tajam namun waspada. Di sampingnya, berdiri sosok Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia Incorporated, pria paruh baya berkacamata dengan gurat wajah penuh determinasi. Wilson tahu persis apa yang terkubur di bawah tanah sedingin es di puncak Ertsberg, Papua—sebuah gunung tembaga raksasa yang telah ia impikan sejak ekspedisinya tahun 1960. Bersama mereka, Robert C. Hills dari Freeport Sulphur bersiap menggoreskan pena. Bagi pihak asing, ini adalah pertaruhan bernilai jutaan dolar di sebuah negeri yang baru saja didera pergolakan politik hebat. Bagi Indonesia yang kala itu kondisi ekonominya sedang carut-marut dengan inflasi yang melambung tinggi, momen ini adalah pertaruhan kedaulatan demi keluar dari jurang kebangkrutan. "Silakan, Tuan-tuan," sebuah isyarat pelan diberikan. Forbes Wilson memajukan tubuhnya, meraih pena, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen Kontrak Karya Pertama (KK I). Goresan tinta hitam itu mengunci kesepakatan. Kamera-kamera analog milik jurnalis meletupkan kilatan cahaya, mengabadikan setiap detik dari momen yang begitu tenang namun bermakna masif ini. Slamet Bratanata menyaksikan dengan perasaan berkecamuk. Di satu sisi, ketukan palu kesepakatan ini berarti modal asing akan segera mengalir masuk dalam Sistem ekonomi Orde Baru . Di sisi lain, sebuah babak baru eksploitasi kekayaan alam skala raksasa di tanah Papua resmi dimulai. Gunung suci di pedalaman Mimika itu, kini tak lagi hanya milik angin dan awan, melainkan telah berpindah ke dalam radar industri global. Foto hitam-putih itu menangkap segalanya: formalitas setelan jas, senyuman tipis penuh arti, dan selembar kertas yang menjadi saksi bisu lahirnya salah satu operasi tambang terbesar di muka bumi. #tambang #sejarah #freeport #papua #indonesia

 Jakarta, 7 April 1967 — Ruangan itu terasa hening, hanya deru kipas angin tua dan gesekan lembar-lembar kertas yang memecah kesunyian. Di atas meja kayu yang kokoh, terhampar dokumen-dokumen tebal bersampul resmi.



  Lembaran itu bukan sekadar tumpukan kertas biasa, melainkan sebuah cetak biru yang akan mengubah arah sejarah ekonomi sebuah bangsa, serta merombak bentang alam di belahan timur nusantara untuk selamanya. 


  Di balik meja, atmosfer ketegangan dan harapan bercampur menjadi satu. Ir. Slamet Bratanata, Menteri Pertambangan Indonesia yang baru saja memikul beban berat di pundaknya, duduk dengan tatapan tajam namun waspada. Di sampingnya, berdiri sosok Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia Incorporated, pria paruh baya berkacamata dengan gurat wajah penuh determinasi. Wilson tahu persis apa yang terkubur di bawah tanah sedingin es di puncak Ertsberg, 


  Papua—sebuah gunung tembaga raksasa yang telah ia impikan sejak ekspedisinya tahun 1960. Bersama mereka, Robert C. Hills dari Freeport Sulphur bersiap menggoreskan pena. Bagi pihak asing, ini adalah pertaruhan bernilai jutaan dolar di sebuah negeri yang baru saja didera pergolakan politik hebat. 


  Bagi Indonesia yang kala itu kondisi ekonominya sedang carut-marut dengan inflasi yang melambung tinggi, momen ini adalah pertaruhan kedaulatan demi keluar dari jurang kebangkrutan. "Silakan, Tuan-tuan," sebuah isyarat pelan diberikan. Forbes Wilson memajukan tubuhnya, meraih pena, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen Kontrak Karya Pertama (KK I). 


  Goresan tinta hitam itu mengunci kesepakatan. Kamera-kamera analog milik jurnalis meletupkan kilatan cahaya, mengabadikan setiap detik dari momen yang begitu tenang namun bermakna masif ini. Slamet Bratanata menyaksikan dengan perasaan berkecamuk. Di satu sisi, ketukan palu kesepakatan ini berarti modal asing akan segera mengalir masuk dalam Sistem ekonomi Orde Baru . 


  Di sisi lain, sebuah babak baru eksploitasi kekayaan alam skala raksasa di tanah Papua resmi dimulai. Gunung suci di pedalaman Mimika itu, kini tak lagi hanya milik angin dan awan, melainkan telah berpindah ke dalam radar industri global. Foto hitam-putih itu menangkap segalanya: formalitas setelan jas, senyuman tipis penuh arti, dan selembar kertas yang menjadi saksi bisu lahirnya salah satu operasi tambang terbesar di muka bumi.  


#tambang #sejarah #freeport #papua #indonesia


Sumber : Herdi Mangkubumi

Apakah Kamu Tau ? GARUDA INDONESIA 1960 - KALAU NAIK PESAWAT HARUS PAKAI JAS DAN KEBAYA Tahun 1960, naik Garuda bukan seperti naik bus sekarang. Semua orang berdandan. Laki-laki pakai jas, topi fedora, perempuan pakai kebaya, rok polkadot. Anak kecil pun pakai topi. Di Kemayoran, bandara pertama Indonesia, pesawatnya Convair 340 dan Douglas DC-3. Suara baling-balingnya menggelegar sampai ke kota. Pramugarinya semua ber-kebaya dan bersanggul. Tidak ada celana. Senyumnya khas Indonesia. Tiketnya tidak bisa pesan online. Harus datang ke loket kayu, antre panjang, tulisan jadwal masih pakai kapur: JKT-AMSTERDAM 14.30 Dan yang paling mewah: di dalam pesawat boleh merokok, makanannya pakai piring kaca, dan dapat tas kertas bertuliskan GARUDA SNACKS. Biaya Jakarta - Amsterdam tahun 1965 bisa untuk beli rumah di Kebayoran. Yang pernah terbang Garuda era Kemayoran tahun 60-an, atau yang orang tuanya pilot/pramugari Garuda zaman dulu, absen di komen. Tahun berapa pertama kali naik Garuda? Foto rekreasi arsip: aviasistory #GarudaIndonesia #GarudaJadul #BandaraKemayoran #1960an #NostalgiaPenerbangan #aviasi #pesawat #antik #jadul #vintage

 Apakah Kamu Tau ? 

GARUDA INDONESIA 1960 - KALAU NAIK PESAWAT HARUS PAKAI JAS DAN KEBAYA



Tahun 1960, naik Garuda bukan seperti naik bus sekarang.


Semua orang berdandan. Laki-laki pakai jas, topi fedora, perempuan pakai kebaya, rok polkadot. Anak kecil pun pakai topi.


Di Kemayoran, bandara pertama Indonesia, pesawatnya Convair 340 dan Douglas DC-3. Suara baling-balingnya menggelegar sampai ke kota.


Pramugarinya semua ber-kebaya dan bersanggul. Tidak ada celana. Senyumnya khas Indonesia.


Tiketnya tidak bisa pesan online. Harus datang ke loket kayu, antre panjang, tulisan jadwal masih pakai kapur: JKT-AMSTERDAM 14.30


Dan yang paling mewah: di dalam pesawat boleh merokok, makanannya pakai piring kaca, dan dapat tas kertas bertuliskan GARUDA SNACKS.


Biaya Jakarta - Amsterdam tahun 1965 bisa untuk beli rumah di Kebayoran.


Yang pernah terbang Garuda era Kemayoran tahun 60-an, atau yang orang tuanya pilot/pramugari Garuda zaman dulu, absen di komen. Tahun berapa pertama kali naik Garuda?


Foto rekreasi arsip: aviasistory


#GarudaIndonesia #GarudaJadul #BandaraKemayoran #1960an #NostalgiaPenerbangan #aviasi #pesawat #antik #jadul #vintage

Kolonel (Anumerta) Isdiman Suryokusumo (12 Juli 1913 – 26 November 1945) adalah perwira Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan juga Komandan Resimen TKR Banyumas sekaligus perwira menengah dalam sistem kemiliteran indonesia. Pahlawan nasional yang gugur dalam Palagan Ambarawa, Semarang - Jawa Tengah. Latar Belakang Letkol Isdiman lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Ia pernah bersekolah di SMK Bojonegoro. Masa kecil Isdiman dihabiskan di Cianjur. Ambarawa adalah pusaka yang diperjuangkan Isdiman dan laskar pejuangnya. Ia sangat berperan dalam perang di Ambarawa. Ia adalah seorang kepercayaan Kolonel Soedirman untuk mengatur siasat pertempuran di Ambarawa. Ia memimpin para pejuang dalam perang di Ambarawa melawan Sekutu. Pasukan Indonesia dibawah pimpinan Letkol Isdiman berusaha membebaskan kedua desa yang ingin dikuasai Sekutu. Namun, Letkol Isdiman malah terluka parah akibat serangan udara dan dibawa ke Magelang, tetapi Letkol Isdiman gugur saat perjalanan ke Magelang.[3] maka setelah gugur Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka. Letkol Isdiman dikenang sebagai spirit yang hidup dan menggetarkan jantung, memompa darah juang gerilyawan-gerilyawan muda. Saat ini nama Isdiman diabadikan di sebuah jalan di Purwokerto, yakni Jalan Overste Isdiman, atau yang kerap disebut dengan jalan Ovis.

 Kolonel (Anumerta) Isdiman Suryokusumo (12 Juli 1913 – 26 November 1945) adalah perwira Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan juga Komandan Resimen TKR Banyumas sekaligus perwira menengah dalam sistem kemiliteran indonesia. Pahlawan nasional yang gugur dalam Palagan Ambarawa, Semarang - Jawa Tengah.



Latar Belakang

Letkol Isdiman lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Ia pernah bersekolah di SMK Bojonegoro. Masa kecil Isdiman dihabiskan di Cianjur. Ambarawa adalah pusaka yang diperjuangkan Isdiman dan laskar pejuangnya. Ia sangat berperan dalam perang di Ambarawa. Ia adalah seorang kepercayaan Kolonel Soedirman untuk mengatur siasat pertempuran di Ambarawa. Ia memimpin para pejuang dalam perang di Ambarawa melawan Sekutu. Pasukan Indonesia dibawah pimpinan Letkol Isdiman berusaha membebaskan kedua desa yang ingin dikuasai Sekutu. Namun, Letkol Isdiman malah terluka parah akibat serangan udara dan dibawa ke Magelang, tetapi Letkol Isdiman gugur saat perjalanan ke Magelang.[3] maka setelah gugur Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka. Letkol Isdiman dikenang sebagai spirit yang hidup dan menggetarkan jantung, memompa darah juang gerilyawan-gerilyawan muda. Saat ini nama Isdiman diabadikan di sebuah jalan di Purwokerto, yakni Jalan Overste Isdiman, atau yang kerap disebut dengan jalan Ovis.


Sumber : Hoesin Roesdhi

Dirgahayu ke-81 Tentara Nasional Indonesia . Kisah Kangjeng Pangeran Hario Soejarso Soerjosoejarso. K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso yg kelak dikenal sebagai Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso adalah salah satu kerabat Puro Mangkunegaran. Beliau adalah putra dari K.P.H.Soerarso Soerjosoerarso (adiknya kakek canggah saya : K.P.H.Samekto Soerjokoesoemo) lahir pada Jumat Pahing 25 Agustus 1916 & memperoleh pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di kota Breda, Belanda. Beliau lulus pada 1939, kemudian kembali ke Hindia Belanda sebagai perwira KNIL. Beliau pernah ditempatkan pada satuan kendaraan lapis baja di Bandung (Proef Bataljon Vechtwagens) & kemudian pada satuan infanteri di Bogor. Pengalaman inilah yg kelak sangat penting ketika Republik Indonesia harus membangun angkatan bersenjata modernnya. Setelah Proklamasi 1945 & berakhirnya kekuasaan Belanda, K.P.H.Soerjosoejarso memilih bergabung dgn TNI. Pada periode revolusi, riwayatnya tidak seterkenal tokoh seperti Nasution, Sudirman ataupun Simatupang. Namun beliau kemudian memainkan peranan yg sangat penting dlm bidang yg menjadi spesialisasinya, yaitu pasukan kendaraan lapis baja. Beliau juga pernah berada dlm perjuangan di Sumatra sebelum kemudian ditarik ke Yogyakarta. Pada 1959, dokumen Departemen Angkatan Darat bahkan masih mencatat secara resmi riwayat penugasannya sebagai perwira tinggi. Pada 9 Februari 1950, Kepala Staf Angkatan Darat : Kolonel A.H. Nasution mengeluarkan keputusan No. 5/KSAD/Pntp/50 mengenai pembentukan satuan berlapis baja. Tgl tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kavaleri TNI AD. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 26 Juli 1950, Letnan Kolonel K.P.H. Soerjosoejarso mengambil alih secara simbolis kompleks Opleidings Centrum der Pantsertroepen di Bandung, bekas pusat pendidikan pasukan lapis baja KNIL. TNI AD sendiri menyebut peristiwa ini sebagai salah satu tonggak yg menjadi cikal bakal markas korps lapis baja TNI. Dgn demikian, K.P.H.Soerjosoejarso bukan hanya pernah menjadi komandan Kavaleri. Beliau berada pada tahap kelahiran organisasi Kavaleri TNI AD itu sendiri. Pada masa awal tersebut, Komando Pasukan Berlapis Baja berada di bawah pimpinan Letkol Kav. K.P.H.Soerjosoejarso & membawahi empat eskadron di Bandung, Magelang, Palembang & Medan. Kendaraan yg digunakan antara lain kendaraan bekas KNIL seperti Ford Lynx, Humber Scout, Otter, Universal Carrier & Stuart. Kemudian organisasi itu berkembang. Pada 21 April 1952 dibentuklah Inspektorat Kavaleri & pada 1954 telah berkembang menjadi tujuh eskadron. Pada 7 Juni 1956, Inspektorat Kavaleri berubah menjadi Pusat Kavaleri. Karier beliau kemudian beralih ke bidang pendidikan perwira. K.P.H.Soerjosoejarso tercatat sebagai Gubernur Akademi Militer pada periode 1950–1959. Daftar sejarah Gubernur Akademi Militer mencatatnya sebagai Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso. Arsip Nasional Republik Indonesia juga memiliki dokumentasi mengenai beliau dlm kapasitas tersebut. Dlm Guide Arsip Pertahanan & Keamanan Negara Era Presiden Sukarno 1945–1967, terdapat foto rapat para perwira Angkatan Darat di Istana Merdeka yg a.l. menampilkan Gubernur Akademi Militer Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso bersama Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Djuanda, A.H. Nasution & GatoSoebroto. Ini menunjukkan bahwa neliau berada dlm lingkaran penting pimpinan militer Republik pada era awal. K.P.H.Soerjosoejarso menikah dgn kakak sepupunya sendiri : Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani, yg lebih dikenal sebagai Gusti Noeroel, putri dari K.G.P.A.A.Mangkunagoro VII & Gusti Kangjeng Ratu Timoer pada 24 Maret 1951 di Puro Mangkunegaran Surakarta. Menariknya, pada saat menikah beliau adalah seorang perwira TNI yg selalu berpindah lokasi mengikuti penugasan. Dan Gusti Noeroel pun memilih mengikuti dgn setia kehidupan tersebut. Karena itu, setelah menikah Gusti Noeroel meninggalkan kehidupan di Puro Mangkunegaran & mengikuti suaminya dlm berbagai penempatan. Terdapat satu episode yg memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi mereka bersinggungan langsung dgn situasi politik-militer Indonesia. Menjelang pernikahan, ketika keluarga telah mempersiapkan pertunangan, K.P.H.Soerjosoejarso tidak dapat hadir karena terjadi pemberontakan APRA di Jawa Barat pada Januari 1950. Beliau dikirim untuk menjalankan tugas militer di Jawa Barat. Pertunangan tetap dilaksanakan & ayah beliau : K.P.H.Soerjosoerarso mewakilinya. Ini memperlihatkan bahwa hubungan mereka berlangsung dlm situasi ketika seorang perwira TNI belum tentu dapat mengutamakan acara keluarga dibandingkan tugas negara. Karier beliau berlanjut meningkat. Pada 1 Agustus 1959, K.P.H.Soerjosoejarso diberhentikan secara hormat dari jabatan Gubernur Akademi Militer berdasarkan surat perintah MBAD No. Kpts-674/8/1959. Setelah mengikuti Chursus C Seskoad, beliau naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Kemudian beliau ditugaskan sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Washington, D.C. Gusti Nurul beserta putra putri mereka ikut ke Amerika Serikat. Setelah meninggalkan dinas aktif, Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso dipercaya memimpin Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung. Pada 22 Juni 1966, beliau diangkat sebagai rektor & memimpin lembaga tersebut hingga sekitar 1986 yg menjadikannya salah satu, bahkan menurut sejarah institusi, yg terlama sebagai pemimpin ITT/STTT. Peralihan ini sebenarnya cukup masuk akal bila melihat konteks zaman. Indonesia sedang membangun industri nasional & membutuhkan tenaga ahli tekstil. Pengalaman seorang perwira tinggi yg pernah berkecimpung dlm pengadaan & kebutuhan perlengkapan militer juga memiliki hubungan dgn kebutuhan industri tekstil nasional. K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso wafat pada 1999 di usia 83 thn & dimakamkan di Astana Girilayu.

 Dirgahayu ke-81 Tentara Nasional Indonesia .

Kisah Kangjeng Pangeran Hario Soejarso Soerjosoejarso. 



K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso yg kelak dikenal sebagai Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso adalah salah satu kerabat Puro Mangkunegaran.

Beliau adalah putra dari K.P.H.Soerarso Soerjosoerarso (adiknya kakek canggah saya : K.P.H.Samekto Soerjokoesoemo) lahir pada Jumat Pahing 25 Agustus 1916 & memperoleh pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di kota Breda, Belanda. Beliau lulus pada 1939, kemudian kembali ke Hindia Belanda sebagai perwira KNIL. Beliau pernah ditempatkan pada satuan kendaraan lapis baja di Bandung (Proef Bataljon Vechtwagens) & kemudian pada satuan infanteri di Bogor. 

Pengalaman inilah yg kelak sangat penting ketika Republik Indonesia harus membangun angkatan bersenjata modernnya.


Setelah Proklamasi 1945 & berakhirnya kekuasaan Belanda, K.P.H.Soerjosoejarso memilih bergabung dgn TNI. Pada periode revolusi, riwayatnya tidak seterkenal tokoh seperti Nasution, Sudirman ataupun Simatupang. Namun beliau kemudian memainkan peranan yg sangat penting dlm bidang yg menjadi spesialisasinya, yaitu pasukan kendaraan lapis baja.

Beliau juga pernah berada dlm perjuangan di Sumatra sebelum kemudian ditarik ke Yogyakarta. Pada 1959, dokumen Departemen Angkatan Darat bahkan masih mencatat secara resmi riwayat penugasannya sebagai perwira tinggi. 


Pada 9 Februari 1950, Kepala Staf Angkatan Darat : Kolonel A.H. Nasution mengeluarkan keputusan No. 5/KSAD/Pntp/50 mengenai pembentukan satuan berlapis baja. Tgl tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kavaleri TNI AD. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 26 Juli 1950, Letnan Kolonel K.P.H. Soerjosoejarso mengambil alih secara simbolis kompleks Opleidings Centrum der Pantsertroepen di Bandung, bekas pusat pendidikan pasukan lapis baja KNIL. TNI AD sendiri menyebut peristiwa ini sebagai salah satu tonggak yg menjadi cikal bakal markas korps lapis baja TNI. 

Dgn demikian, K.P.H.Soerjosoejarso bukan hanya pernah menjadi komandan Kavaleri. Beliau berada pada tahap kelahiran organisasi Kavaleri TNI AD itu sendiri.

Pada masa awal tersebut, Komando Pasukan Berlapis Baja berada di bawah pimpinan Letkol Kav. K.P.H.Soerjosoejarso & membawahi empat eskadron di Bandung, Magelang, Palembang & Medan. Kendaraan yg digunakan antara lain kendaraan bekas KNIL seperti Ford Lynx, Humber Scout, Otter, Universal Carrier & Stuart. 

Kemudian organisasi itu berkembang. Pada 21 April 1952 dibentuklah Inspektorat Kavaleri & pada 1954 telah berkembang menjadi tujuh eskadron. Pada 7 Juni 1956, Inspektorat Kavaleri berubah menjadi Pusat Kavaleri. 

Karier beliau kemudian beralih ke bidang pendidikan perwira.

K.P.H.Soerjosoejarso tercatat sebagai Gubernur Akademi Militer pada periode 1950–1959. Daftar sejarah Gubernur Akademi Militer mencatatnya sebagai Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso. 


Arsip Nasional Republik Indonesia juga memiliki dokumentasi mengenai beliau dlm kapasitas tersebut. Dlm Guide Arsip Pertahanan & Keamanan Negara Era Presiden Sukarno 1945–1967, terdapat foto rapat para perwira Angkatan Darat di Istana Merdeka yg a.l. menampilkan Gubernur Akademi Militer Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso bersama Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Djuanda, A.H. Nasution & GatoSoebroto. 

Ini menunjukkan bahwa neliau berada dlm lingkaran penting pimpinan militer Republik pada era awal.


K.P.H.Soerjosoejarso menikah dgn kakak sepupunya sendiri : Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani, yg lebih dikenal sebagai Gusti Noeroel, putri dari K.G.P.A.A.Mangkunagoro VII & Gusti Kangjeng Ratu Timoer pada 24 Maret 1951 di Puro Mangkunegaran Surakarta. 

Menariknya, pada saat menikah beliau adalah seorang perwira TNI yg selalu berpindah lokasi mengikuti penugasan.

Dan Gusti Noeroel pun memilih mengikuti dgn setia kehidupan tersebut.

Karena itu, setelah menikah Gusti Noeroel meninggalkan kehidupan di Puro Mangkunegaran & mengikuti suaminya dlm berbagai penempatan.


Terdapat satu episode yg memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi mereka bersinggungan langsung dgn situasi politik-militer Indonesia.

Menjelang pernikahan, ketika keluarga telah mempersiapkan pertunangan, K.P.H.Soerjosoejarso tidak dapat hadir karena terjadi pemberontakan APRA di Jawa Barat pada Januari 1950. Beliau dikirim untuk menjalankan tugas militer di Jawa Barat. Pertunangan tetap dilaksanakan & ayah beliau : K.P.H.Soerjosoerarso mewakilinya.  

Ini memperlihatkan bahwa hubungan mereka berlangsung dlm situasi ketika seorang perwira TNI belum tentu dapat mengutamakan acara keluarga dibandingkan tugas negara.


Karier beliau berlanjut meningkat.

Pada 1 Agustus 1959, K.P.H.Soerjosoejarso diberhentikan secara hormat dari jabatan Gubernur Akademi Militer berdasarkan surat perintah MBAD No. Kpts-674/8/1959. Setelah mengikuti Chursus C Seskoad, beliau naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Kemudian beliau ditugaskan sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Washington, D.C.

Gusti Nurul beserta putra putri mereka ikut ke Amerika Serikat. 


Setelah meninggalkan dinas aktif, Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso dipercaya memimpin Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung. Pada 22 Juni 1966, beliau diangkat sebagai rektor & memimpin lembaga tersebut hingga sekitar 1986 yg menjadikannya salah satu, bahkan menurut sejarah institusi, yg terlama sebagai pemimpin ITT/STTT.

Peralihan ini sebenarnya cukup masuk akal bila melihat konteks zaman. Indonesia sedang membangun industri nasional & membutuhkan tenaga ahli tekstil. Pengalaman seorang perwira tinggi yg pernah berkecimpung dlm pengadaan & kebutuhan perlengkapan militer juga memiliki hubungan dgn kebutuhan industri tekstil nasional.


K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso wafat pada 1999 di usia 83 thn & dimakamkan di Astana Girilayu.


Sumber : Bambang Sujarwanto