02 August 2026

Anna Mathovani: Suara yang Melangit, Jejak yang Sengaja Diredupkan Ada masa ketika nama Anna Mathovani berkumandang di antara deretan penyanyi terbaik negeri ini—sejajar dengan Tetty Kadi, Erni Djohan, Vivi Sumanti, dan sederet nama besar seangkatannya. Lahir di Bandung pada 7 November 1955, Anna bukan sekadar penyanyi biasa. Ia adalah putri dari R. Mathovani, komposer sekaligus sahabat karib legenda Sam Saimun. Darah seni telah mengalir dalam dirinya sejak ia belum genap mengenal panggung. Suaranya menjadi napas bagi lagu-lagu yang kini dikenang sebagai karya abadi, seperti Pertemuan, Angsa Putih, Gita Malam, hingga Di Keheningan Malam—balada ciptaan Wiyarsih yang populer pada 1967 dan merekam suasana batin bangsa di tengah gejolak Konfrontasi Indonesia–Malaysia. Kiprahnya tidak berhenti di dunia musik. Anna juga menjajal layar lebar dengan beradu akting bersama Bing Slamet dalam film Ambisi (1973), kemudian tampil dalam Pengorbanan (1974), sekaligus mengisi lagu tema untuk film Cinta Pertama yang dibintangi Christine Hakim dan Slamet Rahardjo. Namun, seperti banyak bintang di masanya, sorot panggung itu perlahan meredup—bukan karena karier yang layu, melainkan karena pilihan hidup yang berbelok arah. Anna menikah dengan Bambang Suryo Sunendar, keturunan bangsawan Jawa Tengah sekaligus cucu Paku Buwono X. Perkawinan tersebut membawanya memasuki dunia yang jauh lebih tenang daripada hiruk pikuk industri hiburan: dunia keluarga bangsawan, bisnis, dan filantropi. Pada 2013, majalah The Jakarta Globe bahkan mencatat namanya sebagai salah satu dari 150 orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan yang berasal dari warisan mendiang suaminya. Meski jarang lagi tampil di layar kaca, Anna tak pernah benar-benar menghilang dari dunia seni yang telah membesarkan namanya. Ia mengaku tumbuh dan dibesarkan dalam tradisi seni yang diwariskan sang ayah, dan hasrat itu tak pernah benar-benar padam. Kini, setelah bisnis dan berbagai urusan keluarga dipercayakan kepada ketiga anaknya, Anna memilih menghabiskan waktunya untuk terus menyumbangkan tenaga dan bakat di ranah seni serta budaya—caranya sendiri merawat warisan yang telah mengantarkan namanya dikenal luas. Kisah hidupnya belakangan juga diwarnai duka. Pada September 2024, ia harus merelakan kepergian sang putri, Petra Amanda. Dalam acara mengenang 40 hari wafatnya sang putri yang digelar sederhana bersama keluarga dan sahabat dekat, Anna tampak masih mencari kata untuk menggambarkan kehilangan itu—sebuah pengingat bahwa di balik kemewahan dan ketenaran masa lalu, ia tetaplah seorang ibu yang merasakan pahit getir kehidupan seperti perempuan lainnya. Anna Mathovani mungkin tak lagi menjadi buah bibir di industri musik seperti dahulu. Namun, jejaknya tak pernah benar-benar pudar. Ia hanya memilih jalan yang lebih tenang—menjaga suara emasnya tetap hidup sebagai kenangan, sembari menjalani babak baru kehidupannya dengan caranya sendiri. #AnnaMathovani #LegendaMusikIndonesia #PenyanyiTempoDulu #SejarahMusikNusantara

 Anna Mathovani: Suara yang Melangit, Jejak yang Sengaja Diredupkan


Ada masa ketika nama Anna Mathovani berkumandang di antara deretan penyanyi terbaik negeri ini—sejajar dengan Tetty Kadi, Erni Djohan, Vivi Sumanti, dan sederet nama besar seangkatannya. Lahir di Bandung pada 7 November 1955, Anna bukan sekadar penyanyi biasa. Ia adalah putri dari R. Mathovani, komposer sekaligus sahabat karib legenda Sam Saimun. Darah seni telah mengalir dalam dirinya sejak ia belum genap mengenal panggung.



Suaranya menjadi napas bagi lagu-lagu yang kini dikenang sebagai karya abadi, seperti Pertemuan, Angsa Putih, Gita Malam, hingga Di Keheningan Malam—balada ciptaan Wiyarsih yang populer pada 1967 dan merekam suasana batin bangsa di tengah gejolak Konfrontasi Indonesia–Malaysia. Kiprahnya tidak berhenti di dunia musik. Anna juga menjajal layar lebar dengan beradu akting bersama Bing Slamet dalam film Ambisi (1973), kemudian tampil dalam Pengorbanan (1974), sekaligus mengisi lagu tema untuk film Cinta Pertama yang dibintangi Christine Hakim dan Slamet Rahardjo.


Namun, seperti banyak bintang di masanya, sorot panggung itu perlahan meredup—bukan karena karier yang layu, melainkan karena pilihan hidup yang berbelok arah. Anna menikah dengan Bambang Suryo Sunendar, keturunan bangsawan Jawa Tengah sekaligus cucu Paku Buwono X. Perkawinan tersebut membawanya memasuki dunia yang jauh lebih tenang daripada hiruk pikuk industri hiburan: dunia keluarga bangsawan, bisnis, dan filantropi. Pada 2013, majalah The Jakarta Globe bahkan mencatat namanya sebagai salah satu dari 150 orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan yang berasal dari warisan mendiang suaminya.


Meski jarang lagi tampil di layar kaca, Anna tak pernah benar-benar menghilang dari dunia seni yang telah membesarkan namanya. Ia mengaku tumbuh dan dibesarkan dalam tradisi seni yang diwariskan sang ayah, dan hasrat itu tak pernah benar-benar padam. Kini, setelah bisnis dan berbagai urusan keluarga dipercayakan kepada ketiga anaknya, Anna memilih menghabiskan waktunya untuk terus menyumbangkan tenaga dan bakat di ranah seni serta budaya—caranya sendiri merawat warisan yang telah mengantarkan namanya dikenal luas.


Kisah hidupnya belakangan juga diwarnai duka. Pada September 2024, ia harus merelakan kepergian sang putri, Petra Amanda. Dalam acara mengenang 40 hari wafatnya sang putri yang digelar sederhana bersama keluarga dan sahabat dekat, Anna tampak masih mencari kata untuk menggambarkan kehilangan itu—sebuah pengingat bahwa di balik kemewahan dan ketenaran masa lalu, ia tetaplah seorang ibu yang merasakan pahit getir kehidupan seperti perempuan lainnya.


Anna Mathovani mungkin tak lagi menjadi buah bibir di industri musik seperti dahulu. Namun, jejaknya tak pernah benar-benar pudar. Ia hanya memilih jalan yang lebih tenang—menjaga suara emasnya tetap hidup sebagai kenangan, sembari menjalani babak baru kehidupannya dengan caranya sendiri.


#AnnaMathovani #LegendaMusikIndonesia #PenyanyiTempoDulu #SejarahMusikNusantara

01 August 2026

JM PATTIASINA SANG PENDIRI PERTAMINA YANG HAMPIR TERLUPAKAN DARI SEJARAH PERMINYAKAN INDONESIA. (Cukilan dari buku “Kita Dan Perminyakan Indonesia”) By Gerard Wakanno JOHANNES MARCUS PATTIASINA adalah seorang Ahli Perminyakan ulung yang kemudian menjadi perwira militer. Awalnya hanya ada 3 orang bumiputra Indonesia yang di sekolahkn oleh Belanda untuk mempelajari Teknik perminyakan, namun 2 orang tidak pernah muncul di perminyakan, hanya JM Pattiasina yang berkiprah di industri perminyakan. Sehingga dapat diakatan bahwa beliaulah satu2nya orang pribumi yang pertama mengusai ilmu permiyakan di Nusantara. Ia memulai kariernya di perusahaan minyak Belanda, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan merupakan salah satu dari sedikit pribumi yang menduduki posisi teknisi tinggi pada zamannya. Keahlian teknisnya inilah yang kemudian menjadi modal besar dalam perjuangan kemerdekaan. Pada masa Agresi Militer Belanda II, ketika pasukan Republik Indonesia terpaksa melakukan perjuangan gerilya, Pattiasina memimpin pasukan minyak yang selalu membawa serta sebuah mesin bubut. Mesin ini bukan sekadar alat, melainkan pusat produksi dan pabrik perjuangan. Berbekal keahlian teknisnya, dengan mesin bubut ini, Pattiasina dan pasukannya mampu melakukan berbagai hal krusial. Memproduksi Senjata Rakitan. Ini adalah fungsi yang paling heroik. Di tengah keterbatasan persenjataan, mesin bubut ini digunakan untuk membuat senjata rakitan dengan kapasitas satu buah per hari. Ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan rekayasa tinggi di masa darurat. Membuat Koin Emas. Di daerah Lebong Tandai, mesin yang sama digunakan untuk mencetak koin emas dari hasil tambang. Koin ini menjadi alat pembiayaan perjuangan dan simbol kedaulatan ekonomi di tengah situasi perang. Memperbaiki dan Membangun Kilang Kecil. Fungsi utamanya sebagai alat teknik perminyakan tetap dijalankan. Mesin bubut digunakan untuk memperbaiki komponen-komponen kilang minyak yang rusak, serta membuat kilang-kilang kecil untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar para pejuang. Mesin Bubut Pattiasina memberikan beberapa pelajaran yang sangat dalam dan relevan hingga hari ini. Kemandirian Teknologi adalah kunci. Kisah ini menunjukkan bahwa kemandirian sebuah bangsa di bidang energi tidak hanya soal memiliki cadangan minyak, tetapi juga soal penguasaan teknologi dan kemampuan rekayasa. Pattiasina tidak menunggu teknologi canggih datang. Ia memanfaatkan apa yang ada sebuah mesin bubut untuk menciptakan solusi bagi berbagai kebutuhan perjuangan, dari persenjataan hingga logistik energi. Sumber Daya Manusia adalah Aset Utama. Pattiasina adalah contoh SDM unggul yang menggabungkan keahlian teknis dengan jiwa kepemimpinan dan nasionalisme. Keahliannya sebagai teknisi BPM-lah yang membuatnya mampu mentransformasi sebuah mesin bubut menjadi alat produksi multifungsi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa investasi terbaik adalah pada pendidikan dan pengembangan SDM yang kompeten. Semangat Bisa dan Merdeka. Mesin Bubut Pattiasina adalah manifestasi dari semangat kemandirian. Dengan sumber daya yang minim, Pattiasina dan anak buahnya membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Semangat inilah yang kemudian terbukti ketika Indonesia berhasil melakukan ekspor minyak perdana pada tahun 1958 di bawah kepemimpinan Pattiasina dan Ibnu Sutowo. Mesin Bubut Pattiasina dalam buku Kita dan Perminyakan Indonesia lebih dari sekadar cerita sejarah. Ini adalah metafora sempurna tentang bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah pengingat bahwa kemajuan industri perminyakan Indonesia tidak lepas dari peran para insinyur dan pejuang yang memiliki pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk memanfaatkan teknologi demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Warisan Pattiasina mengajarkan kita bahwa kedaulatan energi sejati dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan dan jiwa yang merdeka.

 JM PATTIASINA SANG PENDIRI PERTAMINA YANG HAMPIR TERLUPAKAN DARI SEJARAH PERMINYAKAN INDONESIA.

(Cukilan dari buku “Kita Dan Perminyakan Indonesia”)

By Gerard Wakanno 


JOHANNES MARCUS PATTIASINA adalah seorang Ahli Perminyakan ulung yang kemudian menjadi perwira militer. Awalnya hanya ada 3 orang bumiputra Indonesia yang di sekolahkn oleh Belanda untuk mempelajari Teknik perminyakan, namun 2 orang tidak pernah muncul di perminyakan, hanya JM Pattiasina yang berkiprah di industri perminyakan. Sehingga dapat diakatan bahwa beliaulah satu2nya orang pribumi yang pertama mengusai ilmu permiyakan di Nusantara. 



Ia memulai kariernya di perusahaan minyak Belanda, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan merupakan salah satu dari sedikit pribumi yang menduduki posisi teknisi tinggi pada zamannya. Keahlian teknisnya inilah yang kemudian menjadi modal besar dalam perjuangan kemerdekaan.

Pada masa Agresi Militer Belanda II, ketika pasukan Republik Indonesia terpaksa melakukan perjuangan gerilya, Pattiasina memimpin pasukan minyak yang selalu membawa serta sebuah mesin bubut. Mesin ini bukan sekadar alat, melainkan pusat produksi dan pabrik perjuangan. Berbekal keahlian teknisnya, dengan mesin bubut ini, Pattiasina dan pasukannya mampu melakukan berbagai hal krusial.

Memproduksi Senjata Rakitan. Ini adalah fungsi yang paling heroik. Di tengah keterbatasan persenjataan, mesin bubut ini digunakan untuk membuat senjata rakitan dengan kapasitas satu buah per hari. Ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan rekayasa tinggi di masa darurat.

Membuat Koin Emas. Di daerah Lebong Tandai, mesin yang sama digunakan untuk mencetak koin emas dari hasil tambang. Koin ini menjadi alat pembiayaan perjuangan dan simbol kedaulatan ekonomi di tengah situasi perang.

Memperbaiki dan Membangun Kilang Kecil. Fungsi utamanya sebagai alat teknik perminyakan tetap dijalankan. Mesin bubut digunakan untuk memperbaiki komponen-komponen kilang minyak yang rusak, serta membuat kilang-kilang kecil untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar para pejuang.


Mesin Bubut Pattiasina memberikan beberapa pelajaran yang sangat dalam dan relevan hingga hari ini.


Kemandirian Teknologi adalah kunci. Kisah ini menunjukkan bahwa kemandirian sebuah bangsa di bidang energi tidak hanya soal memiliki cadangan minyak, tetapi juga soal penguasaan teknologi dan kemampuan rekayasa. Pattiasina tidak menunggu teknologi canggih datang. Ia memanfaatkan apa yang ada sebuah mesin bubut untuk menciptakan solusi bagi berbagai kebutuhan perjuangan, dari persenjataan hingga logistik energi.

Sumber Daya Manusia adalah Aset Utama. Pattiasina adalah contoh SDM unggul yang menggabungkan keahlian teknis dengan jiwa kepemimpinan dan nasionalisme. Keahliannya sebagai teknisi BPM-lah yang membuatnya mampu mentransformasi sebuah mesin bubut menjadi alat produksi multifungsi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa investasi terbaik adalah pada pendidikan dan pengembangan SDM yang kompeten.

Semangat Bisa dan Merdeka. Mesin Bubut Pattiasina adalah manifestasi dari semangat kemandirian. Dengan sumber daya yang minim, Pattiasina dan anak buahnya membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Semangat inilah yang kemudian terbukti ketika Indonesia berhasil melakukan ekspor minyak perdana pada tahun 1958 di bawah kepemimpinan Pattiasina dan Ibnu Sutowo.

Mesin Bubut Pattiasina dalam buku Kita dan Perminyakan Indonesia lebih dari sekadar cerita sejarah. Ini adalah metafora sempurna tentang bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah pengingat bahwa kemajuan industri perminyakan Indonesia tidak lepas dari peran para insinyur dan pejuang yang memiliki pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk memanfaatkan teknologi demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Warisan Pattiasina mengajarkan kita bahwa kedaulatan energi sejati dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan dan jiwa yang merdeka.

31 July 2026

Amir Fatah Widjajakusuma (lahir dengan nama Suhario sekitar tahun 1923) Dia adalah komandan DI/TII Jawa Tengah dari tahun 1949 hingga 1950. Kehidupan Awal Suhario lahir sekitar tahun 1923 di Kroya, Cilacap. Ia belajar di empat sekolah berasrama Islam yang berbeda, yaitu Tebuireng , Termas, Benda, dan Jampes. Pada era Belanda, ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond dan Gerakan Pemuda Ansor. Di bawah pendudukan Jepang, ia bergabung dengan gerakan perlawanan bawah tanah di Jakarta. Revolusi Nasional Indonesia Suhario menjadi Komandan Hisbullah di wilayah Sidoarjo Mojokerto dan pemimpin lapangan pasukan Hisbullah selama Pertempuran Surabaya. Pada tahun 1946, Sudirman mengirim Suhario ke Jawa Barat untuk memastikan kesetiaan wilayah Jawa Barat kepada Indonesia. Suhario memiliki hubungan dekat dengan Kartosoewirjo. Pada Februari 1947, pasukannya mengawal Kartosoewirjo ke Malang untuk menghadiri sidang pleno Komite Nasional Indonesia Pusat. Di Malang, ia menjadi Kepala Staf Divisi 17 Agustus. Ia juga berpartisipasi dalam politik dengan bergabung dengan Masyumi dan menjadi anggota komite partai. Pada pertengahan Agustus 1948, Suhario, dengan tiga kompi Hisbullah-nya, pindah ke daerah Brebes-Tegal untuk melancarkan perang gerilya melawan Belanda. Ia mengubah namanya menjadi Amir Fatah Widajakusuma. Pada September 1948, Fatah mencoba bertemu Kartosoewirjo di Jawa Barat untuk meyakinkannya agar tidak memproklamirkan negara Islam dan tetap setia kepada Indonesia. Di tengah perjalanan, Fatah bertemu dengan utusan Kartosoewirjo, Kamran Cakrabuana. Dari pertemuan dengan Kamran, Fatah mengubah pikirannya dari menentang konsep negara Islam Kartosoewirjo menjadi mendukungnya. Ia kemudian memutuskan untuk tidak bertemu Kartosoewirjo karena medan yang sulit dan kembali ke Tegal-Brebes. Saat tiba di daerah Brebes-Tegal, Fatah mendirikan Majels Islam dan membentuk batalion yang setia kepada Darul Islam, Bernama Batalion Syarif Hidayat Wijayakusuma, di mana ia diangkat sebagai komandannya. Meskipun demikian, Fatah tetap setia kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer II, (Operasi Kraai) dan unit-unit TNI, yang dipaksa pindah ke wilayah kendali Republik karena Perjanjian Renville, yang mundur ke tempat asal mereka masing-masing untuk melakukan perlawanan gerilya terhadap Belanda dan membentuk pemerintahan militer. Di Brebes-Tegal, unit-unit TNI yang kembali membentuk pemerintahan militer bernama Sub Wehkreise Slamet III (SWKS III). Fatah diangkat sebagai koordinator keamanan utama SWKS III. Pemberontakan Darul Islam Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Fatah dengan SWKS III memburuk. Ia merasa terancam oleh kehadiran pemerintah militer TNI di wilayah Brebes-Tegal karena memiliki hubungan dekat dengan kelompok sayap kiri. Terlebih lagi, pemerintah tidak menghargai upaya Fatah untuk melawan Belanda dan mencoba melucuti senjata pasukan Fatah. Oleh karena itu, pada tanggal 28 April 1949, Amir Fatah memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Pengarasan, Brebes. Fatah melancarkan serangan pertama terhadap TNI pada tanggal 5 Mei 1949 di Bentarsari, Brebes, dan menduduki desa tersebut selama dua hari. Di bawah kepemimpinannya, DI/TII melancarkan banyak serangan terhadap pos polisi dan TNI di Kabupaten Brebes dan Tegal dan berhasil menduduki Brebes pada awal Januari 1950 untuk waktu yang singkat. Demikian pula, ia dituduh sebagai dalang teror di beberapa desa di wilayah Brebes-Tegal. Pada bulan November 1950, DI/TII mengalami reorganisasi dengan membubarkan Batalyon Syarif Hidayat Wijayakusuma dan membentuk divisi baru Bernama Divisi III/Syarif Hidayat. Pada bulan November 1950, Mohammad Natsir menawarkan Fatah untuk menyerah. Ia menerimanya karena kecewa dengan keputusan reorganisasi DI/TII yang hanya memberinya posisi Komandan Brigade di Divisi III/Syarif Hidayat, bukan kepala staf divisi seperti yang diinginkannya. Namun, ia harus pergi ke Jawa Barat untuk bertemu Kartosoewirjo mengenai tawaran penyerahan tersebut. Pada tanggal 30 November 1950, Fatah melakukan perjalanan ke Jawa Barat dengan 150 tentaranya. Dalam perjalanannya ke Jawa Barat, ia menghadapi banyak pertempuran dengan TNI. Akhirnya, Amir Fatah dan pasukannya menyerah kepada TNI di Calingcing, Tasikmalaya, pada tanggal 20 Desember 1950. Dua hari kemudian, ia ditangkap oleh TNI di Cisayong, Tasikmalaya. Setelah pemberontakan Darul Islam Fatah dipenjara di Nusa Kambangan dan kemudian dipindahkan ke penjara yang tidak diketahui di Jawa Barat. Setelah Fatah dibebaskan dari penjara, ia pergi ke luar negeri ke beberapa negara di Amerika dan Eropa. Pada tahun 1968, ia memutuskan untuk menetap di Korea Selatan. Pada tahun 1976, ia menjadi anggota komite masjid di Seoul dan bekerja sebagai staf lokal di Kedutaan Besar Indonesia di Seoul. Ia juga berdakwah Islam di Seoul. Kehidupan pribadi Fatah menikah dengan seorang wanita Korea Selatan. Pasangan itu memiliki dua orang putra. Sumber wikipedia. Foto Amir Fatah (kanan) dan para pendukungnya,

 Amir Fatah Widjajakusuma (lahir dengan nama Suhario sekitar tahun 1923) Dia adalah komandan DI/TII Jawa Tengah dari tahun 1949 hingga 1950.



Kehidupan Awal

Suhario lahir sekitar tahun 1923 di Kroya, Cilacap. Ia belajar di empat sekolah berasrama Islam yang berbeda, yaitu Tebuireng , Termas, Benda, dan Jampes. Pada era Belanda, ia bergabung dengan Jong Islamieten Bond dan Gerakan Pemuda Ansor. Di bawah pendudukan Jepang, ia bergabung dengan gerakan perlawanan bawah tanah di Jakarta.

Revolusi Nasional Indonesia

Suhario menjadi Komandan Hisbullah di wilayah Sidoarjo Mojokerto dan pemimpin lapangan pasukan Hisbullah selama Pertempuran Surabaya. Pada tahun 1946, Sudirman mengirim Suhario ke Jawa Barat untuk memastikan kesetiaan wilayah  Jawa Barat kepada Indonesia. Suhario memiliki hubungan dekat dengan Kartosoewirjo. Pada Februari 1947, pasukannya mengawal Kartosoewirjo ke Malang untuk menghadiri sidang pleno Komite Nasional Indonesia Pusat. Di Malang, ia menjadi Kepala Staf Divisi 17 Agustus. Ia juga berpartisipasi dalam politik dengan bergabung dengan Masyumi dan menjadi anggota komite partai. Pada pertengahan Agustus 1948, Suhario, dengan tiga kompi Hisbullah-nya, pindah ke daerah Brebes-Tegal untuk melancarkan perang gerilya melawan Belanda. Ia mengubah namanya menjadi Amir Fatah Widajakusuma. Pada September 1948, Fatah mencoba bertemu Kartosoewirjo di Jawa Barat untuk meyakinkannya agar tidak memproklamirkan negara Islam dan tetap setia kepada Indonesia. Di tengah perjalanan, Fatah bertemu dengan utusan Kartosoewirjo, Kamran Cakrabuana. Dari pertemuan dengan Kamran, Fatah mengubah pikirannya dari menentang konsep negara Islam Kartosoewirjo menjadi mendukungnya. Ia kemudian memutuskan untuk tidak bertemu Kartosoewirjo karena medan yang sulit dan kembali ke Tegal-Brebes. Saat tiba di daerah Brebes-Tegal, Fatah mendirikan Majels Islam dan membentuk batalion yang setia kepada Darul Islam, Bernama Batalion Syarif Hidayat Wijayakusuma, di mana ia diangkat sebagai komandannya. Meskipun demikian, Fatah tetap setia kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresi militer II, (Operasi Kraai) dan unit-unit TNI, yang dipaksa pindah ke wilayah kendali Republik karena Perjanjian Renville, yang mundur ke tempat asal mereka masing-masing untuk melakukan perlawanan gerilya terhadap Belanda dan membentuk pemerintahan militer. Di Brebes-Tegal, unit-unit TNI yang kembali membentuk pemerintahan militer bernama Sub Wehkreise Slamet III (SWKS III). Fatah diangkat sebagai koordinator keamanan utama SWKS III.

Pemberontakan Darul Islam

Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Fatah dengan SWKS III memburuk. Ia merasa terancam oleh kehadiran pemerintah militer TNI di wilayah Brebes-Tegal karena memiliki hubungan dekat dengan kelompok sayap kiri. Terlebih lagi, pemerintah tidak menghargai upaya Fatah untuk melawan Belanda dan mencoba melucuti senjata pasukan Fatah. Oleh karena itu, pada tanggal 28 April 1949, Amir Fatah memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Pengarasan, Brebes. Fatah melancarkan serangan pertama terhadap TNI pada tanggal 5 Mei 1949 di Bentarsari, Brebes, dan menduduki desa tersebut selama dua hari. Di bawah kepemimpinannya, DI/TII melancarkan banyak serangan terhadap pos polisi dan TNI di Kabupaten Brebes dan Tegal dan berhasil menduduki Brebes pada awal Januari 1950 untuk waktu yang singkat. Demikian pula, ia dituduh sebagai dalang teror di beberapa desa di wilayah Brebes-Tegal. Pada bulan November 1950, DI/TII mengalami reorganisasi dengan membubarkan Batalyon Syarif Hidayat Wijayakusuma dan membentuk divisi baru Bernama  Divisi III/Syarif Hidayat. Pada bulan November 1950, Mohammad Natsir menawarkan Fatah untuk menyerah. Ia menerimanya karena kecewa dengan keputusan reorganisasi DI/TII yang hanya memberinya posisi Komandan Brigade di Divisi III/Syarif Hidayat, bukan kepala staf divisi seperti yang diinginkannya. Namun, ia harus pergi ke Jawa Barat untuk bertemu Kartosoewirjo mengenai tawaran penyerahan tersebut. Pada tanggal 30 November 1950, Fatah melakukan perjalanan ke Jawa Barat dengan 150 tentaranya. Dalam perjalanannya ke Jawa Barat, ia menghadapi banyak pertempuran dengan TNI. Akhirnya, Amir Fatah dan pasukannya menyerah kepada TNI di Calingcing, Tasikmalaya, pada tanggal 20 Desember 1950. Dua hari kemudian, ia ditangkap oleh TNI di Cisayong, Tasikmalaya.

Setelah pemberontakan Darul Islam

Fatah dipenjara di Nusa Kambangan dan kemudian dipindahkan ke penjara yang tidak diketahui di Jawa Barat. Setelah Fatah dibebaskan dari penjara, ia pergi ke luar negeri ke beberapa negara di Amerika dan Eropa. Pada tahun 1968, ia memutuskan untuk menetap di Korea Selatan. Pada tahun 1976, ia menjadi anggota komite masjid di Seoul dan bekerja sebagai staf lokal di Kedutaan Besar Indonesia di Seoul. Ia juga berdakwah Islam di Seoul.

Kehidupan pribadi

Fatah menikah dengan seorang wanita Korea Selatan. Pasangan itu memiliki dua orang putra. Sumber wikipedia. Foto Amir Fatah (kanan) dan para pendukungnya,


Sumber : Hoesein Roesdy

Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro Akar Historis dan Pembentukan Etnis Jaton (1829–1830) ​Keputusan Pengasingan Kolonial (Besluit): Berdasarkan dokumen Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional Belanda di Den Haag), pasca-Perang Jawa (1825–1830), Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan pengasingan (Besluit). Kyai Modjo (panglima perang sekaligus penasihat spiritual Pangeran Diponegoro) ditangkap dan diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara. Oleh : Alffian Walukow Menurut penelusuran sejarawan Minahasa Adrianus Kojongian, rombongan Kyai Modjo tiba di Minahasa pada akhir tahun 1829 hingga awal tahun 1830. Rombongan awal ini berjumlah 63 orang—seluruhnya laki-laki—yang ditempatkan oleh pejabat kolonial di wilayah tepi Danau Tondano. ​Akulturasi Budaya dan Demografi: Karena rombongan pengasingan tidak membawa wanita, para pahlawan asal Jawa ini menikahi wanita-wanita lokal Minahasa (khususnya dari Tondano, Tonsea, dan Kakas) yang bersedia memeluk agama Islam. Pernikahan silang ini melahirkan etnis baru bernama Jawa Tondano (Jaton) yang memadukan kultur Islam-Jawa dengan bahasa dan tradisi Minahasa Tondano. Gelombang Migrasi ke Gorontalo (1904, 1910, dan 1925) ​Seiring melonjaknya populasi warga Jaton di Kampung Jawa Tondano pada awal abad ke-20, ketersediaan lahan pertanian semakin terbatas. Hal ini memicu gelombang migrasi swakarsa menuju wilayah Residensi Gorontalo (Assistent-Residentie Gorontalo). ​Gelombang Pertama (1904) & Kedua (1910): Diawali oleh survei lahan oleh tokoh perintis seperti Tawakal Kiai Wonopatih dan Abdul Nawas Kiai Modjo. Rombongan awal ini berhasil membuka wilayah baru dan mendirikan Desa Yosonegoro pada tahun 1904. ​Gelombang Ketiga / Terbesar (1925): Merupakan puncak transmigrasi swakarsa yang dipimpin oleh Guru Amal Modjo (Amal Limojo)—seorang pendidik lulusan sekolah kolonial MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)—bersama para pemuka agama, ahli keagrariaan, dan petani terampil. Rombongan ini menempuh jalur darat yang ekstrem menyusuri pesisir utara Sulawesi menggunakan kuda (beruda) serta berjalan kaki. ​Pembentukan Desa Reksonegoro dan Daftar Nama Perintis (1925) ​Setelah menembus hutan di wilayah Kabupaten Gorontalo (sekarang Kecamatan Tibawa), rombongan membuka pemukiman baru yang diberi nama Desa Reksonegoro (reksa = menjaga/memelihara, negara = negeri). ​Berdasarkan dokumen arsip migrasi Kampung Jawa Tondano ke Reksonegoro tahun 1925 (catatan Arifin KD), terdata 60 Kepala Keluarga (KK) pendiri awal beserta rombongan susulan: ​Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro (1925): ​Abdul Nawas Kiai Modjo ​Atkio Kiai Wonopati (Montong) ​Tawakal Kiai Wonopati (kembali ke Tondano) ​Doko As Ad (kembali ke Tondano) ​RM. Saekan Danupoyo ​Taslim Kiai Pulukadang (kembali ke Tondano) ​Moman (Meman) Kiai Wonopati ​Iman Kiai Modjo ​Abdul Hadji Ali ​Slamet Hadji Ali ​Slamet Kal ​Bukhari Kal ​Ajik Pulukadang ​Ahmad Wasir ​Djasmadi Maspeke ​Saman Asmu ​Eri H. Eksan ​Ahmad Djahuno ​Nasran Pulukadang ​Zainal Hadji Ali ​Salim Tumenggung Mayang ​Saleh Kaunang ​Kandar Melangi ​Djafar Djahuno ​Abdurahman Suronoto (Aja) ​Slamet (Tole) Suratinoyo ​Wang Hasyim (kembali ke Tondano) ​Djayadi Nurkamiden ​Usman Hadji Ali + Rasmia Modjo ​Da'em Kal ​Takem Banteng ​Salim Suratinoyo ​Slamet (Najiden) Suratinoyo ​Kadon Djahuno ​Jaola Suronoto ​Taher Kal ​H. Rejo Banteng ​Djunae' Rifai ​Hasan Suratinoyo ​Ahmad Pulukadang ​Asro Djahuno ​Abas Pulukadang ​Saleh Djahuno (Ayah dari Mbok Adeng) ​Salim Asmu (Ayah dari Abd. Rahman Asmu) ​Yahya Rifai ​Taslim Rifai ​Pondjak Pulukadang ​Esam Nurkamiden ​Suleman Tombokan ​Salim Banteng ​Sake Mertosono ​Manik Karinda ​Sami'un Asmu ​Djamel Suronoto ​Adjis Pulukadang ​Sabdan Wasir ​Ongken Karinda ​Sambe' Mertosono ​Madi Zees ​Usman Tombuku ​Rombongan Menyusul (Beberapa Tahun Kemudian): ​Aspan Suratinoyo ​Ahmad Baderan ​Usman Sataruno ​Karmiyo Kiai Demak ​Asir Abusalam (dari Saronsong) ​Menhat Modjo (dari Yosonegoro) Implikasi Sosio-Kultural dan Warisan Tekno-Agraris ​Inovasi Pertanian: Para perintis Jaton ini membawa keahlian pertukangan besi (pandai besi) dan sistem irigasi teknis sawah lahan basah yang mengubah lanskap agraris Gorontalo. ​Bahasa Jaton: Terbentuknya bahasa kreol Jaton yang menyintesiskan kosakata Jawa Ngoko/Kuno dengan struktur tata bahasa Tondano, yang kemudian berakulturasi secara harmonis dengan masyarakat asli Gorontalo. ​Tradisi Lebaran Ketupat: Tradisi Bakdo Ketupat (digelar seminggu setelah Idulfitri) yang dibawa warga Jaton kini berkembang menjadi salah satu pesta rakyat dan festival wisata budaya-religi terbesar di Provinsi Gorontalo. ​Daftar Pustaka ​Arifin KD. (2026). Lampiran 1. Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro Gorontalo Tahun 1925. Dokumen Arsip/Dokumentasi Sejarah Jaton. ​Babcock, T. G. (1989). Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity in Minahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ​Kojongian, Adrianus. (2014). Kyai Modjo dan Pengasingan Jawa Tondano di Minahasa (1829–1830). Manado: Catatan Historis & Monograf Lokal Minahasa. ​Mointi, Sri Lestiya. (2018). Migrasi Etnik Jawa Tondano ke Gorontalo Tahun 1925. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Gorontalo. ​Nani, S. (2011). Sejarah Pembentukan Desa-Desa Jaton di Gorontalo: Yosonegoro dan Reksonegoro. Gorontalo: Ideas Publishing. ​Nationaal Archief Den Haag (Koloniën). Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië mengenai Pengasingan Pengikut Diponegoro ke Minahasa (1829–1830). ​Pulubuhu, F. (2009). Dinamika Masyarakat Jawa Tondano di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Makassar: Rayhan Intermedia. Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro Oleh : Alffian Walukow Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro

 Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro

Akar Historis dan Pembentukan Etnis Jaton (1829–1830)

​Keputusan Pengasingan Kolonial (Besluit): Berdasarkan dokumen Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional Belanda di Den Haag), pasca-Perang Jawa (1825–1830), Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan pengasingan (Besluit). Kyai Modjo (panglima perang sekaligus penasihat spiritual Pangeran Diponegoro) ditangkap dan diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara.


Oleh : Alffian Walukow 


Menurut penelusuran sejarawan Minahasa Adrianus Kojongian, rombongan Kyai Modjo tiba di Minahasa pada akhir tahun 1829 hingga awal tahun 1830. Rombongan awal ini berjumlah 63 orang—seluruhnya laki-laki—yang ditempatkan oleh pejabat kolonial di wilayah tepi Danau Tondano.



​Akulturasi Budaya dan Demografi: 

Karena rombongan pengasingan tidak membawa wanita, para pahlawan asal Jawa ini menikahi wanita-wanita lokal Minahasa (khususnya dari Tondano, Tonsea, dan Kakas) yang bersedia memeluk agama Islam. Pernikahan silang ini melahirkan etnis baru bernama Jawa Tondano (Jaton) yang memadukan kultur Islam-Jawa dengan bahasa dan tradisi Minahasa Tondano.


Gelombang Migrasi ke Gorontalo (1904, 1910, dan 1925)

​Seiring melonjaknya populasi warga Jaton di Kampung Jawa Tondano pada awal abad ke-20, ketersediaan lahan pertanian semakin terbatas. Hal ini memicu gelombang migrasi swakarsa menuju wilayah Residensi Gorontalo (Assistent-Residentie Gorontalo).


​Gelombang Pertama (1904) & Kedua (1910): Diawali oleh survei lahan oleh tokoh perintis seperti Tawakal Kiai Wonopatih dan Abdul Nawas Kiai Modjo. Rombongan awal ini berhasil membuka wilayah baru dan mendirikan Desa Yosonegoro pada tahun 1904.


​Gelombang Ketiga / Terbesar (1925): Merupakan puncak transmigrasi swakarsa yang dipimpin oleh Guru Amal Modjo (Amal Limojo)—seorang pendidik lulusan sekolah kolonial MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)—bersama para pemuka agama, ahli keagrariaan, dan petani terampil. Rombongan ini menempuh jalur darat yang ekstrem menyusuri pesisir utara Sulawesi menggunakan kuda (beruda) serta berjalan kaki.


​Pembentukan Desa Reksonegoro dan Daftar Nama Perintis (1925)

​Setelah menembus hutan di wilayah Kabupaten Gorontalo (sekarang Kecamatan Tibawa), rombongan membuka pemukiman baru yang diberi nama Desa Reksonegoro (reksa = menjaga/memelihara, negara = negeri).


​Berdasarkan dokumen arsip migrasi Kampung Jawa Tondano ke Reksonegoro tahun 1925 (catatan Arifin KD), terdata 60 Kepala Keluarga (KK) pendiri awal beserta rombongan susulan:


​Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro (1925):

​Abdul Nawas Kiai Modjo

​Atkio Kiai Wonopati (Montong)

​Tawakal Kiai Wonopati (kembali ke Tondano)

​Doko As Ad (kembali ke Tondano)

​RM. Saekan Danupoyo

​Taslim Kiai Pulukadang (kembali ke Tondano)

​Moman (Meman) Kiai Wonopati

​Iman Kiai Modjo

​Abdul Hadji Ali

​Slamet Hadji Ali

​Slamet Kal

​Bukhari Kal

​Ajik Pulukadang

​Ahmad Wasir

​Djasmadi Maspeke

​Saman Asmu

​Eri H. Eksan

​Ahmad Djahuno

​Nasran Pulukadang

​Zainal Hadji Ali

​Salim Tumenggung Mayang

​Saleh Kaunang

​Kandar Melangi

​Djafar Djahuno

​Abdurahman Suronoto (Aja)

​Slamet (Tole) Suratinoyo

​Wang Hasyim (kembali ke Tondano)

​Djayadi Nurkamiden

​Usman Hadji Ali + Rasmia Modjo

​Da'em Kal

​Takem Banteng

​Salim Suratinoyo

​Slamet (Najiden) Suratinoyo

​Kadon Djahuno

​Jaola Suronoto

​Taher Kal

​H. Rejo Banteng

​Djunae' Rifai

​Hasan Suratinoyo

​Ahmad Pulukadang

​Asro Djahuno

​Abas Pulukadang

​Saleh Djahuno (Ayah dari Mbok Adeng)

​Salim Asmu (Ayah dari Abd. Rahman Asmu)

​Yahya Rifai

​Taslim Rifai

​Pondjak Pulukadang

​Esam Nurkamiden

​Suleman Tombokan

​Salim Banteng

​Sake Mertosono

​Manik Karinda

​Sami'un Asmu

​Djamel Suronoto

​Adjis Pulukadang

​Sabdan Wasir

​Ongken Karinda

​Sambe' Mertosono

​Madi Zees

​Usman Tombuku


​Rombongan Menyusul (Beberapa Tahun Kemudian):

​Aspan Suratinoyo

​Ahmad Baderan

​Usman Sataruno

​Karmiyo Kiai Demak

​Asir Abusalam (dari Saronsong)

​Menhat Modjo (dari Yosonegoro)


Implikasi Sosio-Kultural dan Warisan Tekno-Agraris

​Inovasi Pertanian: Para perintis Jaton ini membawa keahlian pertukangan besi (pandai besi) dan sistem irigasi teknis sawah lahan basah yang mengubah lanskap agraris Gorontalo.

​Bahasa Jaton: Terbentuknya bahasa kreol Jaton yang menyintesiskan kosakata Jawa Ngoko/Kuno dengan struktur tata bahasa Tondano, yang kemudian berakulturasi secara harmonis dengan masyarakat asli Gorontalo.

​Tradisi Lebaran Ketupat: Tradisi Bakdo Ketupat (digelar seminggu setelah Idulfitri) yang dibawa warga Jaton kini berkembang menjadi salah satu pesta rakyat dan festival wisata budaya-religi terbesar di Provinsi Gorontalo.


​Daftar Pustaka

​Arifin KD. (2026). Lampiran 1. Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro Gorontalo Tahun 1925. Dokumen Arsip/Dokumentasi Sejarah Jaton.


​Babcock, T. G. (1989). Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity in Minahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


​Kojongian, Adrianus. (2014). Kyai Modjo dan Pengasingan Jawa Tondano di Minahasa (1829–1830). Manado: Catatan Historis & Monograf Lokal Minahasa.


​Mointi, Sri Lestiya. (2018). Migrasi Etnik Jawa Tondano ke Gorontalo Tahun 1925. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Gorontalo.


​Nani, S. (2011). Sejarah Pembentukan Desa-Desa Jaton di Gorontalo: Yosonegoro dan Reksonegoro. Gorontalo: Ideas Publishing.


​Nationaal Archief Den Haag (Koloniën). Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië mengenai Pengasingan Pengikut Diponegoro ke Minahasa (1829–1830).


​Pulubuhu, F. (2009). Dinamika Masyarakat Jawa Tondano di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Makassar: Rayhan Intermedia.

Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro


Oleh : Alffian Walukow


Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro


 "Pertempuran Lima Hari di Semarang adalah bentrokan akbar pertama yang terjadi dalam sejarah revolusi nasional Indonesia." ~ Jenderal A.H. Nasution dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. 



BKR yang baru saja terbentuk sedang bertransformasi dan melakukan konsolidasi menjadi TKR. Namun, di Semarang para pemuda juga membentuk satuan-satuan sendiri dengan berbagai nama; AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia) yang terkenal dengan "Barisan Srobot"nya, SPTS (Satuan Pelajar Taman Siswa) dan ada juga AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) serta masih banyak lagi yang lainnya. 


Ketika penyerangan oleh Jepang pada 15 Oktober 1945 pukul 02.30 dini hari terjadi dari markas Kidobutai di Jangli (kini markas Yon Arhanud 15/DBY) satuan-satuan tersebut bekerjasama dengan BKR berusaha keras menghadang gerak maju tentara Jepang dengan senjata hasil rampasan sebelumnya.


Pukul 07.00 pagi, pihak Jepang berhasil menguasai markas Kempeitai (Kini Museum Mandala Bhakti) dan kemudian menyerang gedung Lawang Sewu yang dipertahankan oleh para satuan AMKA (Angkatan Muda Kereta Api).


Setelah pertempuran habis-habisan, akhirnya gedung tersebut berhasil dikuasai Jepang. Beberapa pemuda satuan AMKA yang tertangkap dieksekusi dan dimakamkan di halaman depan gedung tersebut. Beberapa yang selamat dengan berbagai luka-luka; baik luka tusukan bayonet atau luka tembak, ada yang berhasil merangkak dan menyelamatkan diri ke Gereja Katedral Semarang dan dirawat oleh para pegawai Gereja.


Foto di bawah adalah prosesi militer pemindahan kerangka para pemuda AMKA yang sebelumnya dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu untuk kemudian dipindahkan ke TMP Giri Tunggal pada 12 Juli 1975. Tampak tugu peringatan tentang lokasi makam yang masih berdiri hingga sekarang.


Sumber tulisan : Kesit Widjanarko.

Sumber Foto : Koleksi pribadi Rumah Pohan

 Pelacuran di Batavia sebelum Indonesia Merdeka. 


Mungkin dari sini muncul istilah Londo Ireng 😄. 


Suasana pelacuran di Batavia (Jakarta) dan sejumlah daerah lain di wilayah Hindia Belanda (Indonesia) sebelum Indonesia Merdeka. 


 


Dari literatur yang beredar pada zaman itu, pemerintah Kolonial Belanda memang melegalkan pelacuran di masa peperangan. Seiring perjalanan waktu, sejumlah daerah lain juga bermunculan lokasi pelacuran. 


Selain Batavia, daerah lain seperti Surabaya, Semarang, Palembang juga muncul. 


Prostitusi di Hindia Belanda khususnya di wilayah Jawa dan Sumatra banyak diberitakan di surat kabar di Hindia Belanda. Prostitusi tersebut berkembang seiring dengan berkembangnya industrialisasi yang dilakukan kolonial terutama di beberapa wilayah Jawa dan Sumatra”.


Problematika prostitusi di Indonesia sudah ada lama sejak zaman Hindia Belanda. Perempuan dianggap sebagai barang dagangan, dan sistem pemerintahan pada saat itu telah membentuk landasan bagi perkembangan industri seks yang ada sekarang.


Sistem perbudakan tradisional dan perseliran yang dilakukan kaum kolonial sangat nampak untuk memenuhi kebutuhan pemuas seks masyarakat Eropa, dalam hal ini Belanda yang datang ke Indonesia.

Sumber : Daniel Supriyono

Daniel Supriyono 

dari berbagai sumber 


Foto-foto National Archive direstorasi pakai AI.


Muhammad Yamin adalah seorang intelektual, sastrawan, dan tokoh pergerakan nasional berdarah Minang yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah pembentukan identitas Indonesia. Kekagumannnya yang mendalam terhadap kebudayaan Jawa dan kejayaan Majapahit membimbingnya memimpikan sebuah negara kesatuan yang luas, meliputi wilayah Nusantara hingga Semenanjung Malaya. Muhammad Yamin memang dikenal sangat terpesona dengan kebudayaan Jawa, sastra klasik, dan sejarah Majapahit khususnya figur Gajah Mada. Konsep "Indonesia Raya" atau batas wilayah teritorial yang dicita-citakannya (meliputi Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, hingga Papua) merujuk langsung pada peta wilayah kekuasaan Majapahit dalam kitab Nagarakretagama. Gagasan teritorial luas ini ia suarakan dengan vokal dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Konsep "Daerah yang Delapan": Dalam pidatonya di sidang BPUPKI pada 31 Mei 1945, Yamin memaparkan batas-batas teritorial negara Indonesia merdeka yang mencakup wilayah bekas jajahan Belanda (Hindia Belanda), ditambah Malaya (Semenanjung Malaya), Kalimantan Utara (Sarawak dan Sabah), serta Timor Portugis. Menurutnya, wilayah kepulauan Nusantara bagian timur pun termasuk pulau Timor secara keseluruhan dipandang sebagai satu kesatuan geopolitik. Konsep wilayah luas yang digagas oleh Yamin ini mendapat dukungan kuat dari Soekarno, meskipun dalam sidang BPUPKI sendiri sempat terjadi perdebatan sengit karena sebagian tokoh lain (terutama Mohammad Hatta) lebih condong pada batas wilayah bekas Hindia Belanda saja untuk menghindari kesan imperialisme baru atau ekspansionisme.

 Muhammad Yamin adalah seorang intelektual, sastrawan, dan tokoh pergerakan nasional berdarah Minang yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah pembentukan identitas Indonesia. Kekagumannnya yang mendalam terhadap kebudayaan Jawa dan kejayaan Majapahit membimbingnya memimpikan sebuah negara kesatuan yang luas, meliputi wilayah Nusantara hingga Semenanjung Malaya.

 


Muhammad Yamin memang dikenal sangat terpesona dengan kebudayaan Jawa, sastra klasik, dan sejarah Majapahit khususnya figur Gajah Mada. Konsep "Indonesia Raya" atau batas wilayah teritorial yang dicita-citakannya (meliputi Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, hingga Papua) merujuk langsung pada peta wilayah kekuasaan Majapahit dalam kitab Nagarakretagama.

 

Gagasan teritorial luas ini ia suarakan dengan vokal dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Konsep "Daerah yang Delapan": Dalam pidatonya di sidang BPUPKI pada 31 Mei 1945, Yamin memaparkan batas-batas teritorial negara Indonesia merdeka yang mencakup wilayah bekas jajahan Belanda (Hindia Belanda), ditambah Malaya (Semenanjung Malaya), Kalimantan Utara (Sarawak dan Sabah), serta Timor Portugis. Menurutnya, wilayah kepulauan Nusantara bagian timur pun termasuk pulau Timor secara keseluruhan dipandang sebagai satu kesatuan geopolitik.

 

Konsep wilayah luas yang digagas oleh Yamin ini mendapat dukungan kuat dari Soekarno, meskipun dalam sidang BPUPKI sendiri sempat terjadi perdebatan sengit karena sebagian tokoh lain (terutama Mohammad Hatta) lebih condong pada batas wilayah bekas Hindia Belanda saja untuk menghindari kesan imperialisme baru atau ekspansionisme.

 


Kiai Haji Muhammad Siradj bin Abdurrasyid (dikenal sebagai Kiai Siroj Payaman atau Romo Agung) adalah seorang ulama kharismatik, pejuang kemerdekaan, dan tokoh penyebar agama Islam yang sangat dihormati dari Payaman, Secang, Magelang. Profil dan Garis Keturunan. Kelahiran: Lahir pada tahun 1878 di Desa Payaman, Magelang. Silsilah: Beliau adalah putra dari KH. Abdurrasyid, seorang ulama terkemuka. Dari garis ibu, silsilah beliau dapat dirunut hingga Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya dari Pajang). Wafat: Beliau wafat pada tahun 1958 dalam usia sekitar 70 tahun. Makamnya terletak di belakang Masjid Agung Payaman, Magelang, yang hingga kini selalu ramai diziarahi oleh umat Islam. Perjalanan Menuntut Ilmu. Kiai Siroj menempuh pendidikan agama yang sangat panjang dengan berguru kepada ulama-ulama besar: KH. Abdurrasyid: Belajar dasar-dasar ilmu agama pertama kali dari sang ayah. Pondok Pesantren di Temanggung: Melanjutkan pengembaraan ilmu ke daerah tetangga.KH. Maksum (Punduh, Tempuran, Magelang): Berguru kepada pamannya sendiri. Syaikhona Kholil Bangkalan (Madura): Menimba ilmu kepada salah satu maha guru ulama Nusantara.Makkah Al-Mukarramah: Beliau juga memperdalam ilmu agama di tanah suci dan menetap di sana selama 8 tahun. Perjuangan Melawan Penjajah. Kiai Siroj aktif memimpin perlawanan bersenjata maupun spiritual terhadap kolonialisme Belanda karena tidak tega melihat kekejaman penjajah terhadap rakyat. Akibat pergerakannya yang masif, beliau menjadi target utama intelijen Belanda dan sempat ditahan di Purworejo sebagai tahanan politik karena dianggap sebagai otak penggerak perlawanan. Tirakat dan Karomah (Kewalian). Di kalangan masyarakat dan dunia pesantren, Romo Agung Payaman dikenal luas memiliki derajat kewalian yang tinggi karena ketat dalam menjalankan riyadhah (tirakat). Tidak Tidur 10 Tahun: Semasa hidupnya, beliau menjalankan riyadhah ekstrem dengan tidak tidur malam selama 10 tahun yang diisi penuh dengan dzikir, istighfar, dan mendekatkan diri kepada Allah. Selamat dari Bom Pesawat Belanda: Saat agresi militer, pesawat Belanda membombardir Masjid Agung Payaman. Di tengah kepanikan jamaah, Kiai Siroj memerintahkan semua orang tetap tenang dan berdzikir. Keajaiban terjadi; bom-bom yang dijatuhkan tidak ada yang meledak di dalam area masjid, dan seluruh jamaah selamat tanpa ada korban jiwa. Pengakuan Ulama Lain: Kedalaman spiritualnya diakui oleh ulama besar lain. KH. Subchi Parakan (ulama peniup bambu runcing yang terkenal) bahkan pernah menyebut bahwa derajat kewalian Kiai Siroj Payaman dan KH. Dalhar Watucongol jauh lebih tinggi daripada dirinya. #sejarah

 Kiai Haji Muhammad Siradj bin Abdurrasyid (dikenal sebagai Kiai Siroj Payaman atau Romo Agung) adalah seorang ulama kharismatik, pejuang kemerdekaan, dan tokoh penyebar agama Islam yang sangat dihormati dari Payaman, Secang, Magelang.



Profil dan Garis Keturunan.


Kelahiran: Lahir pada tahun 1878 di Desa Payaman, Magelang.


Silsilah: Beliau adalah putra dari KH. Abdurrasyid, seorang ulama terkemuka. Dari garis ibu, silsilah beliau dapat dirunut hingga Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya dari Pajang).


Wafat: Beliau wafat pada tahun 1958 dalam usia sekitar 70 tahun. Makamnya terletak di belakang Masjid Agung Payaman, Magelang, yang hingga kini selalu ramai diziarahi oleh umat Islam.


Perjalanan Menuntut Ilmu.


Kiai Siroj menempuh pendidikan agama yang sangat panjang dengan berguru kepada ulama-ulama besar:


KH. Abdurrasyid: Belajar dasar-dasar ilmu agama pertama kali dari sang ayah.


Pondok Pesantren di Temanggung: Melanjutkan pengembaraan ilmu ke daerah tetangga.KH. Maksum (Punduh, Tempuran, Magelang): Berguru kepada pamannya sendiri.


Syaikhona Kholil Bangkalan (Madura): Menimba ilmu kepada salah satu maha guru ulama Nusantara.Makkah Al-Mukarramah: Beliau juga memperdalam ilmu agama di tanah suci dan menetap di sana selama 8 tahun.


Perjuangan Melawan Penjajah.


Kiai Siroj aktif memimpin perlawanan bersenjata maupun spiritual terhadap kolonialisme Belanda karena tidak tega melihat kekejaman penjajah terhadap rakyat. Akibat pergerakannya yang masif, beliau menjadi target utama intelijen Belanda dan sempat ditahan di Purworejo sebagai tahanan politik karena dianggap sebagai otak penggerak perlawanan.


Tirakat dan Karomah (Kewalian).


Di kalangan masyarakat dan dunia pesantren, Romo Agung Payaman dikenal luas memiliki derajat kewalian yang tinggi karena ketat dalam menjalankan riyadhah (tirakat).


Tidak Tidur 10 Tahun: Semasa hidupnya, beliau menjalankan riyadhah ekstrem dengan tidak tidur malam selama 10 tahun yang diisi penuh dengan dzikir, istighfar, dan mendekatkan diri kepada Allah.


Selamat dari Bom Pesawat Belanda: Saat agresi militer, pesawat Belanda membombardir Masjid Agung Payaman. Di tengah kepanikan jamaah, Kiai Siroj memerintahkan semua orang tetap tenang dan berdzikir. Keajaiban terjadi; bom-bom yang dijatuhkan tidak ada yang meledak di dalam area masjid, dan seluruh jamaah selamat tanpa ada korban jiwa.


Pengakuan Ulama Lain: Kedalaman spiritualnya diakui oleh ulama besar lain. KH. Subchi Parakan (ulama peniup bambu runcing yang terkenal) bahkan pernah menyebut bahwa derajat kewalian Kiai Siroj Payaman dan KH. Dalhar Watucongol jauh lebih tinggi daripada dirinya.

#sejarah

Kyai Nur Muhammad (sering disebut Mbah Nur Muhammad) adalah seorang ulama kharismatik, guru hikmah, dan waliyullah yang menjadi tokoh sentral penyebaran agama Islam di wilayah Salaman, Kabupaten Magelang, dan sekitarnya. Beliau dikenal memiliki kedalaman ilmu agama, ketawadhu_an, serta sejarah panjang yang erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan dan jaringan ulama Nusantara. rekam jejak perjuangan Kyai Nur Muhammad: Peran Sejarah dan Perjuangan. Guru Pangeran Diponegoro: Beliau merupakan salah satu tokoh penting di balik layar perjuangan Perang Jawa, bertindak sebagai guru spiritual sekaligus penasihat (patih) bagi Pangeran Diponegoro. Penyebar Islam di Lereng Menoreh: Fokus dakwah utamanya berada di wilayah Ngadiwongso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Beliau berhasil mengislamkan masyarakat di kawasan perbatasan Magelang-Borobudur tersebut. Kisah Pertemuan Ikonik dengan Mbah Dalhar. Salah satu cerita tutur yang sangat populer di kalangan warga Magelang adalah pertemuan spiritual antara Kyai Nur Muhammad dengan ulama besar Watucongol, KH. Ahmad Dalhar. Keduanya bertemu pertama kali secara tidak sengaja saat menunaikan ibadah haji di Mekah. Setelah saling menyapa dan berkenalan, mereka terkejut karena baru menyadari bahwa mereka sama-sama berasal dari wilayah Magelang. Sekembalinya ke tanah air, hubungan silaturahmi spiritual antara kedua ulama besar ini terus terjalin erat secara turun-temurun. Kompleks Makam dan Tradisi Ziarah. Makam Kyai Nur Muhammad terletak di Desa Ngadiwongso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata religi utama di Magelang. Peziarah yang Tak Pernah Putus: Setiap harinya, ratusan kendaraan roda empat membawa rombongan peziarah dari berbagai daerah di Jawa maupun luar pulau untuk bertawasul di makam beliau. Akses Publik: Kompleks pemakaman dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat tanpa pungutan tiket masuk. Tradisi Haul: Setiap tahunnya, masyarakat dan para santri menggelar peringatan haul dan selawatan besar-besaran untuk mengenang jasa dan karomah perjuangan sang ulama. #sejarah #ulama

 Kyai Nur Muhammad (sering disebut Mbah Nur Muhammad) adalah seorang ulama kharismatik, guru hikmah, dan waliyullah yang menjadi tokoh sentral penyebaran agama Islam di wilayah Salaman, Kabupaten Magelang, dan sekitarnya. Beliau dikenal memiliki kedalaman ilmu agama, ketawadhu_an, serta sejarah panjang yang erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan dan jaringan ulama Nusantara.



rekam jejak perjuangan Kyai Nur Muhammad:


Peran Sejarah dan Perjuangan.


Guru Pangeran Diponegoro: Beliau merupakan salah satu tokoh penting di balik layar perjuangan Perang Jawa, bertindak sebagai guru spiritual sekaligus penasihat (patih) bagi Pangeran Diponegoro.


Penyebar Islam di Lereng Menoreh: Fokus dakwah utamanya berada di wilayah Ngadiwongso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Beliau berhasil mengislamkan masyarakat di kawasan perbatasan Magelang-Borobudur tersebut.


Kisah Pertemuan Ikonik dengan Mbah Dalhar.


Salah satu cerita tutur yang sangat populer di kalangan warga Magelang adalah pertemuan spiritual antara Kyai Nur Muhammad dengan ulama besar Watucongol, KH. Ahmad Dalhar. Keduanya bertemu pertama kali secara tidak sengaja saat menunaikan ibadah haji di Mekah. Setelah saling menyapa dan berkenalan, mereka terkejut karena baru menyadari bahwa mereka sama-sama berasal dari wilayah Magelang. Sekembalinya ke tanah air, hubungan silaturahmi spiritual antara kedua ulama besar ini terus terjalin erat secara turun-temurun.


Kompleks Makam dan Tradisi Ziarah.


Makam Kyai Nur Muhammad terletak di Desa Ngadiwongso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata religi utama di Magelang.


Peziarah yang Tak Pernah Putus: Setiap harinya, ratusan kendaraan roda empat membawa rombongan peziarah dari berbagai daerah di Jawa maupun luar pulau untuk bertawasul di makam beliau.


Akses Publik: Kompleks pemakaman dikelola secara swadaya oleh masyarakat setempat tanpa pungutan tiket masuk.


Tradisi Haul: Setiap tahunnya, masyarakat dan para santri menggelar peringatan haul dan selawatan besar-besaran untuk mengenang jasa dan karomah perjuangan sang ulama.

#sejarah #ulama

30 July 2026

1996 Tadi pagi saya mendapat kiriman foto lama ini dari Bung Sudrajat, kawan dan reporter saya, saat saya menjadi redaktur bidang politik dan hukum di Koran Tempo, 2000-2003 lalu. Menurut dia foto ini salah satu yang ditampilkan dalam Pameran Kudatuli, Kerusuhan 27 Juli 1996, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Wah, senang juga, karena ada wajah saya di foto itu. Seingat saya foto itu mengabadikan konferensi Pers Panglima ABRI Jenderal Feisal Tandjung dan Menkopolkam Soesilo Soedarman di Kantor Menkopolkam pasca Kerusuhan 27 Juli 1996. Dalam paparannya Jenderal Feisal Tandjung mengatakan bahwa tidak ada korban jiwa. Ini berbeda dengan klaim LSM yang mengatakan ada 4i korban jiwa dalam penyerbuan kantor DPP PDI itu. 27 Juli 1996 saya masih menjadi reporter di Majalah Forum Keadilan. Saya datang ke konferensi pers itu setelah mendapat informasi dari lapangan bahwa ada seorang warga bernama Sariwan yang tewas setelah tertembak mati akibat peluru aparat di dekat pasar Pramuka. Karena itu, setelah konferensi pers ini, saya menempel Pak Feisal untuk menanyakan soal terbunuhnya Sariwan. Namanya wartawan majalah, pesan Bang Karni Ilyas, pemred Forum ketika itu, bagaimana pun caranya harus dapat kutipan eksklusif. Saya pun sudah beberapa kali berjumpa dan mewawancarai Jenderal dari Tapanuli itu, jadi saya merasa percaya diri untuk bertanya kepadanya. Maka ketika Jenderal dengan kumis sangar itu melangkah keluar dari Kantor Menko Polkam, saya langsung bertanya, "Pak, kami dapat info, kalau ada warga meninggal tertembak peluru aparat di dekat Pasar Pramuka. Gimana Pak?" Saat itu ada Mujianto, reporter dari Republika, adik kelas saya di IPB juga ikut mencegat dia. "Nggak ada itu!" sergah Feisal setengah membentak. "Ada, Pak. Namanya Sariwan," jawab saya nekat. Lalu sambil melotot ke arah saya, suara Jenderal kopassus itu makin meninggi.,"Tidak ada! Tidak ada Sariwan-Sariwan itu!" bentaknya dengan suara keras namun cadel. Karena Pak Feisal tidak bisa melafalkan huruf r dengan sempurna. Saya hampir tertawa, tapi ajudan Feisal, Mayor berbaret POM di belakang saya, sudah mendesak badan saya dengan lengan kekarnya. Maka saya pun mundur dan nyaris terjengkang..

 1996 


Tadi pagi saya mendapat kiriman foto lama ini dari Bung Sudrajat, kawan dan reporter saya, saat saya menjadi redaktur bidang politik dan hukum di Koran Tempo, 2000-2003 lalu. Menurut dia foto ini salah satu yang ditampilkan dalam Pameran Kudatuli, Kerusuhan 27 Juli 1996, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Wah, senang juga, karena ada wajah saya di foto itu. 



Seingat saya foto itu mengabadikan konferensi Pers Panglima ABRI Jenderal Feisal Tandjung dan Menkopolkam Soesilo Soedarman di Kantor Menkopolkam pasca Kerusuhan 27 Juli 1996. Dalam paparannya Jenderal Feisal Tandjung mengatakan bahwa tidak ada korban jiwa. Ini berbeda dengan klaim LSM yang mengatakan ada 4i korban jiwa dalam penyerbuan kantor DPP PDI itu. 


27 Juli 1996 saya masih menjadi reporter di Majalah Forum Keadilan. Saya datang ke konferensi pers itu setelah mendapat informasi dari lapangan bahwa ada seorang warga bernama Sariwan yang tewas setelah tertembak mati akibat peluru aparat di dekat pasar Pramuka. 


Karena itu, setelah konferensi pers ini, saya menempel Pak Feisal untuk menanyakan soal terbunuhnya Sariwan. Namanya wartawan majalah, pesan Bang Karni Ilyas, pemred Forum ketika itu, bagaimana pun caranya harus dapat kutipan eksklusif. Saya pun sudah beberapa kali berjumpa dan mewawancarai Jenderal dari Tapanuli itu, jadi saya merasa percaya diri untuk bertanya kepadanya. 


Maka ketika Jenderal dengan kumis sangar itu  melangkah keluar dari Kantor Menko Polkam, saya langsung bertanya, "Pak, kami dapat info, kalau ada warga meninggal tertembak peluru aparat di dekat Pasar Pramuka. Gimana Pak?"

Saat itu ada Mujianto, reporter dari Republika, adik kelas saya di IPB juga ikut mencegat dia. 

"Nggak ada itu!" sergah Feisal setengah membentak. 

"Ada, Pak. Namanya Sariwan," jawab saya nekat. 

Lalu sambil melotot ke arah saya, suara Jenderal kopassus itu makin meninggi.,"Tidak ada! Tidak ada Sariwan-Sariwan itu!" bentaknya dengan suara keras namun cadel. Karena Pak Feisal tidak bisa melafalkan huruf r dengan sempurna.


Saya hampir tertawa, tapi ajudan Feisal, Mayor berbaret POM di belakang saya, sudah mendesak badan saya dengan lengan kekarnya. Maka saya pun mundur dan nyaris terjengkang..

Sumber : Hanifa Wijayanta

27 July 2026

FOTO PANGERAN DIPONEGORO Sebelum semakin beredar luas, perlu kita kritisi kevalidan caption dalam foto ini. Dan hasilnya "hampir mustahil" kebenarannya. Begini argumennya: Secara ilmiah dan berdasarkan metodologi sejarah, klaim dalam keterangan foto tersebut sangat bermasalah. Ada beberapa alasan utama: 1. Mustahil secara kronologi teknologi fotografi. Keterangan menyebut bahwa foto diambil setelah Pangeran Diponegoro menyerahkan diri pada 28 Maret 1830. Namun, fotografi praktis baru diperkenalkan kepada publik melalui proses daguerreotype pada tahun 1839, hampir 9 tahun setelah peristiwa tersebut. Karena itu, tidak mungkin ada foto kamera yang diambil pada tahun 1830. 2. Tidak ada bukti adanya foto autentik Pangeran Diponegoro. Hingga kini, para sejarawan seni dan peneliti sejarah Indonesia menyatakan bahwa belum ditemukan foto asli Pangeran Diponegoro. Representasi yang dianggap paling dekat adalah gambar/sketsa yang dibuat langsung dari kehidupan (naar het leven) oleh Adrianus Johannes Bik pada tahun 1830, bukan fotografi. 3. Anakronisme pada orang-orang Belanda dalam gambar. Seragam para perwira Belanda pada foto tersebut lebih menyerupai gaya akhir abad ke-19, bukan seragam tahun 1830. Ini merupakan indikasi kuat bahwa gambar tersebut berasal dari masa yang lebih kemudian, bukan dokumentasi langsung saat penangkapan Diponegoro. 4. Tidak memiliki provenance (riwayat sumber) yang jelas. Dalam kajian sejarah, sebuah foto harus dapat ditelusuri asal-usulnya: siapa fotografernya, kapan diambil, di mana negatif atau cetakan aslinya disimpan, apakah tercatat dalam arsip kolonial. Gambar yang beredar di media sosial ini umumnya tidak memiliki dokumentasi tersebut, sehingga nilai historisnya sangat lemah. 5. Peristiwa penangkapan Diponegoro memang benar terjadi, tetapi sumber visualnya berupa lukisan Penangkapan Diponegoro pada 28 Maret 1830 di Magelang merupakan fakta sejarah yang terdokumentasi. Akan tetapi, representasi visual yang terkenal adalah lukisan Nicolaas Pieneman (versi kolonial) dan lukisan Raden Saleh (versi antikolonial), bukan foto.

 FOTO PANGERAN DIPONEGORO 


Sebelum semakin beredar luas, perlu kita kritisi kevalidan caption dalam foto ini. Dan hasilnya "hampir mustahil" kebenarannya. Begini argumennya:



Secara ilmiah dan berdasarkan metodologi sejarah, klaim dalam keterangan foto tersebut sangat bermasalah. Ada beberapa alasan utama:


1. Mustahil secara kronologi teknologi fotografi. Keterangan menyebut bahwa foto diambil setelah Pangeran Diponegoro menyerahkan diri pada 28 Maret 1830. Namun, fotografi praktis baru diperkenalkan kepada publik melalui proses daguerreotype pada tahun 1839, hampir 9 tahun setelah peristiwa tersebut. Karena itu, tidak mungkin ada foto kamera yang diambil pada tahun 1830. 


2. Tidak ada bukti adanya foto autentik Pangeran Diponegoro. Hingga kini, para sejarawan seni dan peneliti sejarah Indonesia menyatakan bahwa belum ditemukan foto asli Pangeran Diponegoro. Representasi yang dianggap paling dekat adalah gambar/sketsa yang dibuat langsung dari kehidupan (naar het leven) oleh Adrianus Johannes Bik pada tahun 1830, bukan fotografi. 


3. Anakronisme pada orang-orang Belanda dalam gambar. Seragam para perwira Belanda pada foto tersebut lebih menyerupai gaya akhir abad ke-19, bukan seragam tahun 1830. Ini merupakan indikasi kuat bahwa gambar tersebut berasal dari masa yang lebih kemudian, bukan dokumentasi langsung saat penangkapan Diponegoro.


4. Tidak memiliki provenance (riwayat sumber) yang jelas. Dalam kajian sejarah, sebuah foto harus dapat ditelusuri asal-usulnya: siapa fotografernya, kapan diambil, di mana negatif atau cetakan aslinya disimpan, apakah tercatat dalam arsip kolonial. Gambar yang beredar di media sosial ini umumnya tidak memiliki dokumentasi tersebut, sehingga nilai historisnya sangat lemah.


5. Peristiwa penangkapan Diponegoro memang benar terjadi, tetapi sumber visualnya berupa lukisan Penangkapan Diponegoro pada 28 Maret 1830 di Magelang merupakan fakta sejarah yang terdokumentasi. Akan tetapi, representasi visual yang terkenal adalah lukisan Nicolaas Pieneman (versi kolonial) dan lukisan Raden Saleh (versi antikolonial), bukan foto.

25 July 2026

Saat terjadi perang perebutan tahta di lingkungan Keraton Kasultanan Mataram yang beribukota di Kartasura di awal tahun 1700-an antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger, saat itu yang menjabat sebagai Bupati Semarang adalah Kyai Mertonoyo (keturunan Pandanaran) dan bergelar Kyai Tumenggung Yudonegoro (1674-1713). Dia saat itu berada di kubu Pangeran Puger dan akhirnya perang saudara tersebut dimenangkan oleh Pangeran Puger. Karena ikut berjasa dalam memperjuangkan Pangeran Puger dalam meraih tahta, lalu Pangeran Puger (Sri Susuhunan Pakubuwono I) mengangkat Bupati Semarang Kyai Tumenggung Yudonegoro menjadi seorang ADIPATI dan nama atau gelar yang disandangnya berubah menjadi Kyai Adipati Surohadimenggolo I. Dari keraton dia juga menerima benda-benda pusaka sebagai tanda kebesaran berupa empat bilah keris, dua laras meriam, enam puluh pucuk senjata api, seratus dua puluh bilah pedang, dan gamelan sebanyak lima rakit atau lima set/perangkat. Selain itu dia juga menerima pemberian berupa tanah sebagai daerah kekuasaannya yakni daerah sepanjang jalan Semarang-Salatiga yang meliputi sebanyak dua ribu desa. Benda-benda pusaka milik Kadipaten Semarang zaman dulu pemberian Pangeran Puger (Sri Susuhunan Pakubuwono I) dari Keraton Kasultanan Mataram tersebut sekarang berada atau tersimpan di mana ya?

 Saat terjadi perang perebutan tahta di lingkungan Keraton Kasultanan Mataram yang beribukota di Kartasura di awal tahun 1700-an antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger, saat itu yang menjabat sebagai Bupati Semarang adalah Kyai Mertonoyo (keturunan Pandanaran) dan bergelar Kyai Tumenggung Yudonegoro (1674-1713).



Dia saat itu berada di kubu Pangeran Puger dan akhirnya perang saudara tersebut dimenangkan oleh Pangeran Puger.

Karena ikut berjasa dalam memperjuangkan Pangeran Puger dalam meraih tahta, lalu Pangeran Puger (Sri Susuhunan Pakubuwono I)

mengangkat Bupati Semarang Kyai Tumenggung Yudonegoro menjadi seorang ADIPATI dan nama atau gelar yang disandangnya berubah menjadi Kyai Adipati Surohadimenggolo I.


Dari keraton dia juga menerima benda-benda pusaka sebagai tanda kebesaran berupa empat bilah keris, dua laras meriam, enam puluh pucuk senjata api, seratus dua puluh bilah pedang, dan gamelan sebanyak lima rakit atau lima set/perangkat.


Selain itu dia juga menerima pemberian berupa tanah sebagai daerah kekuasaannya yakni daerah sepanjang jalan Semarang-Salatiga yang meliputi sebanyak dua ribu desa.


Benda-benda pusaka milik Kadipaten Semarang zaman dulu pemberian Pangeran Puger (Sri Susuhunan Pakubuwono I) dari Keraton Kasultanan Mataram tersebut sekarang berada atau tersimpan di mana ya?


SULTAN HADIWIJAYA HING PAJANG Sultan Hadiwijaya terlahir dengan nama Mas Karebet pada tanggal 18 Jumadilakhir tahun Dal mongso Kawolu. Beliau adalah putra dari Penguasa Kraton Pengging, Ki Ageng Kebo Kenanga dari garwanya Rara Alit putri Pangeran Gugur ( putra Prabu Brawijaya V ) Mas Karebet sejak kecil hidup sebatang kara. Pada usia dua tahun, Bapaknya meninggal sewaktu ada penyerangan Demak ke Pengging. Ki Ageng Kebo Kenanga wafat tertusuk keris Sunan Kudus. Sedangkan Ibunya , Rara Alit meninggal setelah 40 hari wafatnya Ki Ageng Kebo Kenanga. Beberapa waktu kemudian Mas Karebet diangkat putra oleh Nyai Ageng Tingkir.Kemudian Mas Karebet dikenal dengan nama Joko Tingkir. Perjalanan hidup Joko Tingkir sangatlah panjang ( lihat di episode " Perjalanan Joko Tingkir " ) Joko Tingkir sangat suka bertapa dan menyepi untuk menambah kekuatan batinnya . Beliau akhirnya belajar kepada berbagai Guru antara lain Ki Ageng Selo, Sunan Kalijaga, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Adirasa, dan Ki Buyut Banyubiru. cinarita Jumungah marêngi | lingsir wêngi saking lèr kang cahya | nalika wahyu dhawuhe | muncar kadya andaru | manjing marang Dyan Jaka Tingkir | waridah ing karajan | wus angalih pulung | pulungira Sultan Dêmak | nganti sangat mring putrangkat Jaka Tingkir | eca panendranira ( Sekar Asmaradana pupuh 40 , Babad Tanah Jawa ~ tentang rawuhnya Wahyu Ratu kepada Raden Joko Tingkir ) Banyak Tokoh Tokoh yang telah mengetahui bahwa kelak Joko Tingkir akan menjadi Raja yang menurunkan Raja Raja Jawa. Ayahnya pun tahu bahwa beliau harus menikah untuk melahirkan calon raja. Dan akhirnya takdir membawanya ke Keraton Demak. Joko Tingkir menjadi Prajurit Tamtama, Lurah Wira Tamtama. Kemudian beliau menjadi Pengawal Pribadi Sultan Trenggana dengan nama Rahadyan Joko Tingkir. Meski sempat diusir dari Demak karena salah paham akhirnya berkat usahanya Joko Tingkir bisa kembali menduduki jabatannya dengan gelar Adipati. Enam bulan kemudian Adipati Joko Tingkir dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana dari garwa putri ketiga Sunan Kalijaga. Setelah pernikahan, Raden Joko Tingkir diangkat menjadi Adipati di Kadipaten Paos dengan gelar Adipati Pajang. Setelah Sultan Trenggana wafat, Dan kondisi Demak yang tidak stabil, kemudian tahun 1458 Raden Joko Tingkir diangkat menjadi Sultan Pajang oleh Panembahan Giri Prapen juga disaksikan Sunan Kalijaga dengan gelar " Sultan Hadiwijaya Hing Pajang. Tahun Candrasengkala 1503 Dahana Muluk Barat Nempuh Wani. Sultan Hadiwijaya memerintah Kraton Pajang selama 32 tahun . Berikut silsilah Sultan Hadiwijaya: Retno Pembayun putri Prabhu Brawijaya V menika dengan Sri Makurung Prabu Handayaningrat yang terakhir, berkedudukan di Pengging . Menurunkan 3(tiga) putera adalah : 1. Ki Ageng Kebo kanigara, tidak mempunyai keturunan; 2. Ki Ageng Kebo kenanga, menurunkan Mas Karebet, dan 3. Raden Kebo Amiluhur, dewasa wafat. Ki Ageng Kebo Kenanga menikah dengan Rara Alit putri Pangeran Gugur menurunkan : Mas Karebet. Mas Karebet atau Raden Joko Tingkir menikah dengan Ratu Mas Cempaka putri Sultan Trenggana. Menurunkan 7 (tujuh) putera puteri, adalah: 1. Ratu Mas Pambayun, di Ngarisbaya; 2. Ratu Mas Kumelut, di Tuban; 3. Ratu Mas Adipati, di Surabaya; 4. Ratu Mas Banten menikah dengan Ki Juru Mertani. 5. Ratu Mas Jepara menikah dengan Arya Pangiri ( putra Panembahan Prawata ) 6. Pangeran Benawa 7. Pangeran Sindusena Tahun 1458 Sultan Hadiwajaya, dinobatkan raja di Pajang, dan berkuasa selama 32 (tiga puluh dua) tahun. Sultan Ngawantipura, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 3 (tiga) tahun. Adipati Benawa Sultan Hawijaya, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 1 (satu) tahun. Setelah wafat Sultan Hadiwijaya dan puteranya Adipati Benawa, dimakamkan di Pasareyan Butuh, terletak di wilayah Kabupaten Sragen. Kanjeng Adipati Benawa menurunkan 3 (tiga) putera puteri yaitu : 1. Pangeran Mas, menjabat sebagai Adipati di Pajang. 2. Pangeran Sidowingi 3. Pangeran Kaputrah, di Pajang. 4. Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Hingkang Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, di Mataram, menurunkan putra Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Mataram. Dan kelak menurunkan Raja Raja Jawa. Al Fatihah kagem Eyang Sultan Hadiwijaya.

 SULTAN HADIWIJAYA HING PAJANG



Sultan Hadiwijaya terlahir dengan nama Mas Karebet pada tanggal 18 Jumadilakhir tahun Dal mongso Kawolu.

Beliau adalah putra dari Penguasa Kraton Pengging, Ki Ageng Kebo Kenanga dari garwanya Rara Alit putri Pangeran Gugur ( putra Prabu Brawijaya V )

Mas Karebet sejak kecil hidup sebatang kara. Pada usia dua tahun, Bapaknya meninggal sewaktu ada penyerangan Demak ke Pengging. Ki Ageng Kebo Kenanga wafat tertusuk keris Sunan Kudus. Sedangkan Ibunya , Rara Alit meninggal setelah 40 hari wafatnya Ki Ageng Kebo Kenanga. Beberapa waktu kemudian Mas Karebet diangkat putra oleh Nyai Ageng Tingkir.Kemudian Mas Karebet dikenal dengan nama Joko Tingkir.

Perjalanan hidup Joko Tingkir sangatlah panjang ( lihat di episode "  Perjalanan Joko Tingkir " )

Joko Tingkir sangat suka bertapa dan menyepi untuk menambah kekuatan batinnya . Beliau akhirnya belajar kepada berbagai Guru antara lain Ki Ageng Selo, Sunan Kalijaga, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Ki Adirasa, dan Ki Buyut Banyubiru. 


cinarita Jumungah marêngi | lingsir wêngi saking lèr kang cahya | nalika wahyu dhawuhe | muncar kadya andaru | manjing marang Dyan Jaka Tingkir | waridah ing karajan | wus angalih pulung | pulungira Sultan Dêmak | nganti sangat mring putrangkat Jaka Tingkir | eca panendranira

( Sekar Asmaradana pupuh 40 , Babad Tanah Jawa ~ tentang rawuhnya Wahyu Ratu kepada Raden Joko Tingkir )


Banyak Tokoh Tokoh yang telah mengetahui bahwa kelak Joko Tingkir akan menjadi Raja yang menurunkan Raja Raja Jawa. Ayahnya pun tahu bahwa beliau harus menikah untuk melahirkan calon raja.


Dan akhirnya takdir membawanya ke Keraton Demak. Joko Tingkir menjadi Prajurit Tamtama,  Lurah Wira Tamtama. Kemudian beliau menjadi Pengawal Pribadi Sultan Trenggana dengan nama Rahadyan Joko Tingkir. Meski sempat diusir dari Demak karena salah paham akhirnya  berkat usahanya Joko Tingkir bisa kembali menduduki jabatannya dengan gelar Adipati. 

Enam bulan kemudian Adipati Joko Tingkir dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, putri  Sultan Trenggana dari garwa putri ketiga Sunan Kalijaga. 

Setelah pernikahan, Raden Joko Tingkir diangkat menjadi Adipati di Kadipaten Paos dengan gelar Adipati Pajang.

Setelah Sultan Trenggana wafat, Dan kondisi Demak yang tidak stabil, kemudian tahun 1458 Raden Joko Tingkir diangkat menjadi Sultan Pajang oleh Panembahan Giri Prapen juga disaksikan Sunan Kalijaga dengan gelar "  Sultan Hadiwijaya Hing Pajang.

Tahun Candrasengkala 1503 Dahana Muluk Barat Nempuh Wani.


Sultan Hadiwijaya memerintah Kraton Pajang selama 32 tahun .


Berikut silsilah Sultan Hadiwijaya:

Retno Pembayun putri Prabhu Brawijaya V menika dengan Sri Makurung Prabu Handayaningrat yang terakhir, berkedudukan di Pengging . Menurunkan 3(tiga) putera adalah :

 1. Ki Ageng Kebo kanigara, tidak mempunyai keturunan;

 2. Ki Ageng Kebo kenanga, menurunkan Mas Karebet, dan

 3. Raden Kebo Amiluhur, dewasa wafat.


Ki Ageng Kebo Kenanga menikah dengan Rara Alit putri Pangeran Gugur menurunkan : 

Mas Karebet.


Mas Karebet atau Raden Joko Tingkir menikah dengan Ratu Mas Cempaka putri Sultan Trenggana.

Menurunkan 7 (tujuh) putera puteri, adalah:

 1. Ratu Mas Pambayun, di Ngarisbaya;

 2. Ratu Mas Kumelut, di Tuban;

 3. Ratu Mas Adipati, di Surabaya;

 4. Ratu Mas Banten menikah dengan Ki Juru Mertani.

 5. Ratu Mas Jepara menikah dengan Arya Pangiri ( putra Panembahan Prawata )

 6. Pangeran Benawa 

 7. Pangeran Sindusena


Tahun 1458 Sultan Hadiwajaya, dinobatkan raja di Pajang, dan berkuasa selama 32 (tiga puluh dua) tahun.

Sultan Ngawantipura, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 3 (tiga) tahun.

Adipati Benawa Sultan Hawijaya, dinobatkan sebagai raja dan berkuasa selama 1 (satu) tahun.


Setelah wafat Sultan Hadiwijaya dan puteranya Adipati Benawa, dimakamkan di Pasareyan Butuh, terletak di wilayah Kabupaten Sragen.


Kanjeng Adipati Benawa menurunkan 3 (tiga) putera puteri

yaitu  :

1. Pangeran Mas, menjabat sebagai Adipati di Pajang.

2. Pangeran Sidowingi

3. Pangeran Kaputrah, di Pajang.

4. Kanjeng Ratu Mas Hadi, sebagai prameswari Hingkang Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati, di Mataram, menurunkan putra Hingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Mataram.

Dan kelak menurunkan Raja Raja Jawa.

Al Fatihah kagem Eyang Sultan Hadiwijaya.

Menurut Anda, mengapa Pangeran Diponegoro bersedia memenuhi undangan Jenderal Belanda hingga akhirnya beliau ditangkap? Apakah karena percaya pada janji perundingan? Demi menghindari jatuhnya lebih banyak korban? Atau justru karena ada strategi lain yang jarang dibahas dalam buku sejarah? Tulis pendapat Anda di kolom komentar. Mari kita berdiskusi dengan santun dan saling menghargai setiap sudut pandang. Siapa tahu, ada fakta sejarah yang belum banyak diketahui. #pangerandiponegoro #perangjawa #kolonialbelanda

 Menurut Anda, mengapa Pangeran Diponegoro bersedia memenuhi undangan Jenderal Belanda hingga akhirnya beliau ditangkap?



Apakah karena percaya pada janji perundingan? Demi menghindari jatuhnya lebih banyak korban? Atau justru karena ada strategi lain yang jarang dibahas dalam buku sejarah?


Tulis pendapat Anda di kolom komentar. Mari kita berdiskusi dengan santun dan saling menghargai setiap sudut pandang. Siapa tahu, ada fakta sejarah yang belum banyak diketahui.

#pangerandiponegoro

#perangjawa

#kolonialbelanda

Sumber : Ki Tatuk Sarmidi

24 July 2026

💐Kisah asmara Istri ke-5 Bung Karno dan Kartini Manoppo, merupakan salah satu sejarah romansa paling unik karena berawal dari sebuah karya seni. Berikut adalah linimasa sejarah pertemuan hingga pernikahan mereka : 1. Terpikat Melalui Lukisan "Lady with Kebaya" ✍🏻 Sejarah ini bermula ketika maestro pelukis Indonesia, Basoeki Abdullah, menggelar sebuah pameran lukisan. Sebagai seorang pencinta seni tingkat tinggi, Presiden Soekarno hadir untuk menikmati karya-karya tersebut. Langkah Bung Karno terhenti di depan sebuah lukisan cat minyak berukuran 113 cm x 76 cm yang berjudul Lady with Kebaya. Bung Karno langsung terpana dan jatuh hati melihat kecantikan luar biasa dari sosok wanita yang ada di dalam lukisan tersebut. Beliau langsung bertanya kepada Basoeki Abdullah mengenai identitas sang model dan meminta alamatnya. Wanita di lukisan itu tidak lain adalah Kartini Manoppo. 2. Pertemuan di Angkasa Sebelum Bung Karno mencari tahu lebih dalam, takdir ternyata mempertemukan mereka di udara pada tahun 1958. Saat Bung Karno menumpang pesawat Garuda Indonesia untuk kunjungan dinas, Kartini Manoppo sedang bertugas sebagai pramugari di penerbangan tersebut. Mengetahui bahwa Kartini adalah wanita yang ada di dalam lukisan Basoeki Abdullah, Bung Karno langsung memberikan perhatian khusus. Tidak lama setelah itu, Kartini ditarik untuk bergabung menjadi pramugari tetap di pesawat kepresidenan bernama Dolok Martimbang. Sejak saat itu, Kartini hampir tidak pernah absen mendampingi penerbangan dinas Bung Karno, baik di dalam maupun ke luar negeri. 3. Tugas ke Amerika & Lamaran Bung Karno Pada September 1959, Kartini yang saat itu berusia 26 tahun diutus oleh pemerintah sebagai wakil Indonesia dalam ajang Pacific Festival di San Francisco, Amerika Serikat, untuk mempromosikan pakaian tradisional Nusantara. Sekembalinya dari Amerika Serikat, Bung Karno yang sudah sangat terpikat langsung melamar gadis bangsawan asal Sulawesi Utara tersebut. Mereka kemudian menikah secara tertutup pada tahun 1959. 4. Akhir Kisah yang Sunyi Setelah resmi menikah, Bung Karno memfasilitasi Kartini sebuah rumah di Jalan Panarukan No. 21, Jakarta. Namun, karena situasi politik Indonesia yang bergejolak pada pertengahan era 1960-an, Kartini yang sedang mengandung diungsikan ke Jerman demi keselamatannya. Di sanalah ia melahirkan putra mereka, Totok Suryawan Soekarnoputra, pada tahun 1967. Ketika terjadi pergantian kekuasaan, rumah kediaman mereka disita oleh pemerintah baru. Kartini tidak menuntut harta warisan apa pun dari Bung Karno, kecuali secarik surat wasiat dari sang proklamator yang meminta agar anak mereka diberi nama "Suriawan". Kartini memilih menutup diri dari publik hingga wafatnya di Jakarta pada tahun 1990. 🪦 Kartini Manoppo dimakamkan di pemakaman keluarga di Kelurahan Kotabangon, Kecamatan Kotamobagu Timur, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara. #KartiniManoppo #Soekarno #SejarahIndonesia #LadyWithKebaya #PramugariGaruda #BasoekiAbdullah #RomansaSejarah

 💐Kisah asmara Istri ke-5 Bung Karno dan Kartini Manoppo, merupakan salah satu sejarah romansa paling unik karena berawal dari sebuah karya seni.



Berikut adalah linimasa sejarah pertemuan hingga pernikahan mereka :


1. Terpikat Melalui Lukisan "Lady with Kebaya"


✍🏻 Sejarah ini bermula ketika maestro pelukis Indonesia, Basoeki Abdullah, menggelar sebuah pameran lukisan. Sebagai seorang pencinta seni tingkat tinggi, Presiden Soekarno hadir untuk menikmati karya-karya tersebut.


Langkah Bung Karno terhenti di depan sebuah lukisan cat minyak berukuran 113 cm x 76 cm yang berjudul Lady with Kebaya. Bung Karno langsung terpana dan jatuh hati melihat kecantikan luar biasa dari sosok wanita yang ada di dalam lukisan tersebut. Beliau langsung bertanya kepada Basoeki Abdullah mengenai identitas sang model dan meminta alamatnya. Wanita di lukisan itu tidak lain adalah Kartini Manoppo.


2. Pertemuan di Angkasa


Sebelum Bung Karno mencari tahu lebih dalam, takdir ternyata mempertemukan mereka di udara pada tahun 1958. Saat Bung Karno menumpang pesawat Garuda Indonesia untuk kunjungan dinas, Kartini Manoppo sedang bertugas sebagai pramugari di penerbangan tersebut.


Mengetahui bahwa Kartini adalah wanita yang ada di dalam lukisan Basoeki Abdullah, Bung Karno langsung memberikan perhatian khusus. Tidak lama setelah itu, Kartini ditarik untuk bergabung menjadi pramugari tetap di pesawat kepresidenan bernama Dolok Martimbang. Sejak saat itu, Kartini hampir tidak pernah absen mendampingi penerbangan dinas Bung Karno, baik di dalam maupun ke luar negeri.


3. Tugas ke Amerika & Lamaran Bung Karno


Pada September 1959, Kartini yang saat itu berusia 26 tahun diutus oleh pemerintah sebagai wakil Indonesia dalam ajang Pacific Festival di San Francisco, Amerika Serikat, untuk mempromosikan pakaian tradisional Nusantara.


Sekembalinya dari Amerika Serikat, Bung Karno yang sudah sangat terpikat langsung melamar gadis bangsawan asal Sulawesi Utara tersebut. Mereka kemudian menikah secara tertutup pada tahun 1959.


4. Akhir Kisah yang Sunyi


Setelah resmi menikah, Bung Karno memfasilitasi Kartini sebuah rumah di Jalan Panarukan No. 21, Jakarta. Namun, karena situasi politik Indonesia yang bergejolak pada pertengahan era 1960-an, Kartini yang sedang mengandung diungsikan ke Jerman demi keselamatannya. Di sanalah ia melahirkan putra mereka, Totok Suryawan Soekarnoputra, pada tahun 1967.


Ketika terjadi pergantian kekuasaan, rumah kediaman mereka disita oleh pemerintah baru. Kartini tidak menuntut harta warisan apa pun dari Bung Karno, kecuali secarik surat wasiat dari sang proklamator yang meminta agar anak mereka diberi nama "Suriawan". Kartini memilih menutup diri dari publik hingga wafatnya di Jakarta pada tahun 1990.


🪦 Kartini Manoppo dimakamkan di pemakaman keluarga di Kelurahan Kotabangon, Kecamatan Kotamobagu Timur, Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara.


#KartiniManoppo #Soekarno #SejarahIndonesia #LadyWithKebaya #PramugariGaruda #BasoekiAbdullah #RomansaSejarah


Sumber : Whulandarie Ikha