𝗣𝗘𝗥𝗧𝗘𝗠𝗨𝗔𝗡 𝟮 𝗪𝗔𝗟𝗜 𝗔𝗟𝗟𝗔𝗛: 𝗜𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗖𝗵𝘂𝗱𝗹𝗼𝗿𝗶 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗻𝗴𝗹𝗶 𝗦𝗼𝘄𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗱𝗮𝗯
Di antara para kekasih Allah, pertemuan mereka bukan kebetulan. Ada adab yang dijaga, ada doa yang dimintakan, dan ada isyarat yang Allah tampakkan.
Suatu ketika KH. Hasan Asyk'ari "Mbah Mangli" sowan ke kediaman gurunya KH. Chudlori Tegalrejo dengan berjalan jongkok dan melepas sandal sebagai bentuk ta'dzim kepada guru. Di sanalah beliau mendapat satu isyarat dari Mbah Chudlori tentang ujian yang akan beliau alami dalam perjalanan dakwahnya. Isyarat itu kemudian terbukti benar ketika Mbah Mangli mengalami peristiwa penting di daerah Cirebon, yang menjadi bukti kemuliaan adab beliau kepada guru dan kewalian yang dimiliki sang guru.
𝐁𝐞𝐫𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐤𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐧𝐲𝐚..
Dikisahkan ketika beliau sowan ke kediaman Mbah Chudlori di Tegalrejo, Magelang. Sebagaimana kebiasaannya, sejak memasuki gang menuju ndalem, beliau sudah melepas sandalnya. Dari situ beliau berjalan _ndodok_, berjalan jongkok, hingga tiba di depan pintu rumah.
Sesampainya di depan pintu, beliau tidak langsung masuk. Beliau duduk bersila, terkadang _tawaruk_, sambil menunggu tuan rumah mempersilakan. Konon, jika belum dipersilakan, beliau rela menunggu berjam-jam dalam posisi itu tanpa sedikit pun rasa tidak sabar.
Sudah menjadi rahasia umum di kalangan pecinta ulama, bahwa Mbah Mangli — KH. Hasan Asyk'ari — dikenal sebagai sosok yang sangat tawadhu kepada para ulama sepuh. Rasa hormat beliau tidak hanya di lisan, tetapi benar-benar dipraktikkan.
Tak lama kemudian seorang khodim Mbah Chudlori datang tergopoh-gopoh dan mempersilakan beliau masuk. Setelah masuk, Mbah Mangli kembali duduk dengan kepala tertunduk, menunggu kedatangan Mbah Chudlori.
Saat keduanya bertemu, mereka bersalaman dan berpelukan. Setelah itu Mbah Mangli kembali duduk dengan penuh kekhusyukan. Dan selama tuan rumah belum bertanya, beliau memilih diam.
𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐚𝐤𝐬𝐮𝐝 𝐤𝐞𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.
𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐡𝐨𝐫𝐦𝐚𝐭 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐥𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛,
“𝐊𝐢𝐚𝐢, 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐞𝐧𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐤𝐞 𝐉𝐚𝐤𝐚𝐫𝐭𝐚. 𝐊𝐢𝐫𝐚-𝐤𝐢𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤?”
𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐢𝐚𝐦 𝐬𝐞𝐣𝐞𝐧𝐚𝐤, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐧,
“𝐌𝐛𝐨𝐭𝐞𝐧 𝐝𝐮𝐠𝐢... 𝐦𝐛𝐨𝐭𝐞𝐧 𝐝𝐮𝐠𝐢.”
“𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢... 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢.”
Di kalangan para wali, percakapan seperti ini bukan hal asing. Bisa jadi untuk memantapkan kasyaf, menguji kasyaf, atau bersama-sama bermunajat agar ketentuan Allah menjadi lebih baik. _Wallahu a'lam._
Mendengar itu, Mbah Mangli tetap berangkat dengan penuh tawakal.
“𝐖𝐚𝐥𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢, 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭. 𝐌𝐨𝐡𝐨𝐧 𝐝𝐨𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐫𝐞𝐬𝐭𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐚𝐧.”
Beberapa hari kemudian, benarlah apa yang dikatakan Mbah Chudlori. Di daerah Cirebon, mesin mobil beliau — konon jenis Jeep atau Hartop — pecah dan rusak berat. Setelah dicek di bengkel, biaya perbaikannya Rp15.000.
Angka yang sangat besar pada masa itu. Yang mengherankan, uang bekal yang dibawa Mbah Mangli juga hanya Rp15.000, pas.
Akhirnya beliau memutuskan tidak melanjutkan perjalanan. Mobil ditinggal, beliau pulang dengan bus. Sesampainya di kampung, beliau tidak langsung pulang ke rumah. Beliau justru kembali sowan ke Tegalrejo untuk menceritakan semuanya kepada Mbah Chudlori, sekaligus bersyukur karena diberi keselamatan.
𝐊𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐚 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐚𝐥𝐧𝐲𝐚.
“𝐊𝐢𝐚𝐢, 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐢𝐬𝐚 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐚𝐥 𝐬𝐚𝐲𝐚. 𝐒𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐭𝐮𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧.”
𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐥𝐚𝐤 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬, “𝐒𝐮𝐝𝐚𝐡, 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐮𝐬𝐚𝐡. 𝐁𝐚𝐰𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐦𝐨𝐛𝐢𝐥𝐦𝐮.”
𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐥𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐤𝐞𝐫𝐚𝐬, “𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐊𝐢𝐚𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐧𝐚𝐧, 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢.”
𝐌𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐤𝐞𝐭𝐮𝐥𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚.
𝐖𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡𝐮 𝐚'𝐥𝐚𝐦 𝐛𝐢𝐬𝐡𝐚𝐰𝐚𝐛.
Semoga Allah mengumpulkan kita bersama beliau-beliau di surganya. Aamiin 🤲
Al-Fatihah...
#sepenggalkisah #catatankecil #mbahmangli #khchudlori #adab #ilmu #ulama #ulamanusantara #kyai #tanahjawa #ulamakarismatik #karomah #kasyaf #kisahparawali #santri #pondokpesantren #guru #dawuhguru #magelang #APItegalrejo #jawatengah







