04 May 2026

PART 2 —FATHU MAKKAH ,Kota Jatuh, Ikrimah Lari, Kabur ke Yaman . Hari di mana seluruh kota yang selama ini menentang Islam, akhirnya takluk tanpa pertumpahan darah besar. Rasulullah masuk Makkah dengan kepala tertunduk, penuh syukur. Sebagian besar penduduk Quraisy menerima amnesti. Damai. Tapi Ikrimah bukan tipe orang yang bisa terima kenyataan dengan mudah. Waktu pasukan Muslim masuk, dia malah ngumpulin orang-orang yang sepaham dan melakukan perlawanan terakhir. Hasilnya? Pasukan Khalid bin Walid membubarkan mereka dalam hitungan singkat. Ikrimah kalah. Dan dia tahu — namanya ada di daftar orang yang akan dihukum mati. Maka dia lari. Dia tinggalkan Makkah, tinggalkan istrinya, tinggalkan segalanya. Dia naik kapal menuju Yaman — sejauh mungkin dari Muhammad dan Islam. Di sinilah titik paling dramatis dan paling menggetarkan dari seluruh kisah ini. Ikrimah melarikan diri menuju Yaman dengan perjalanan laut untuk menghindari hukuman mati. Dalam perjalanannya tersebut, badai tiba-tiba menghantam kapal. Para awak kapal berkata, "Selamatkanlah diri kalian! Selamatkanlah dirimu, karena tuhan-tuhanmu tidak berguna bagimu di sini." Kalimat para awak kapal itu seperti petir di tengah badai. Seluruh berhala yang selama ini ia bela, seluruh keyakinan yang ia pertahankan dengan darah dan perang — tidak satu pun mampu menolongnya di tengah lautan yang mengamuk. Ikrimah berkata lirih, "Demi Allah, jika ketulusan tidak dapat menyelamatkanku di laut, itu tidak akan menyelamatkanku di darat. Ya Allah, Engkau memiliki perjanjian denganku bahwa jika Engkau mengampuniku dari apa yang aku alami, aku akan mendatangi Muhammad dan meletakkan tanganku di tangannya, dan aku tidak akan mendapati apapun kecuali pengampunan yang murah hati." Angin tersebut kemudian mereda dan Ikrimah kembali ke Makkah menjadi seorang Muslim sesuai janjinya. Para ulama menyebut kisah inilah yang menjadi sebab turunnya Surah Luqman ayat 32. Tapi ada yang nggak dia perhitungkan. Istrinya, Ummu Hakim, perempuan yang dia tinggal kabur begitu saja — ternyata justru pergi menemui Rasulullah dan meminta jaminan keselamatan untuk suaminya. Isteri Ikrimah berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya." Rasulullah menjawab, "Dia akan berada dalam keadaan aman!" Mendengar jawaban itu, isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. Ummu Hakim menyusul suaminya hingga ke tepi pantai Tihamah. Ketika mereka bertemu, Ummu Hakim menyampaikan jaminan keamanan dari Rasulullah. Ikrimah bertanya kepada isterinya, "Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?" Isterinya menjawab, "Benar, aku telah berbicara dengan beliau dan beliau pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu." Lalu terjadi momen yang sangat manusiawi — Ikrimah bermaksud untuk melakukan hubungan suami-isteri dengan isterinya, tetapi isterinya menolak. Istrinya berkata, "Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim." Ikrimah berkata, "Penolakan kamu itu adalah masalah besar bagi diriku." Penolakan itu justru menjadi dorongan terkuat yang mendorong Ikrimah segera bersyahadat. Kadang orang yang paling keras justru diselamatkan oleh orang yang paling lembut di sisinya. Bersambung ke Part 3... #Ikrimah #FathuMakkah #SejarahIslam #KisahCinta #Storytelling

 PART 2 —FATHU MAKKAH ,Kota Jatuh, Ikrimah Lari, Kabur ke Yaman .

Hari di mana seluruh kota yang selama ini menentang Islam, akhirnya takluk tanpa pertumpahan darah besar. Rasulullah masuk Makkah dengan kepala tertunduk, penuh syukur. Sebagian besar penduduk Quraisy menerima amnesti. Damai.



Tapi Ikrimah bukan tipe orang yang bisa terima kenyataan dengan mudah. Waktu pasukan Muslim masuk, dia malah ngumpulin orang-orang yang sepaham dan melakukan perlawanan terakhir. Hasilnya? Pasukan Khalid bin Walid membubarkan mereka dalam hitungan singkat.


Ikrimah kalah. Dan dia tahu — namanya ada di daftar orang yang akan dihukum mati.

Maka dia lari. Dia tinggalkan Makkah, tinggalkan istrinya, tinggalkan segalanya. Dia naik kapal menuju Yaman — sejauh mungkin dari Muhammad dan Islam.


Di sinilah titik paling dramatis dan paling menggetarkan dari seluruh kisah ini.

Ikrimah melarikan diri menuju Yaman dengan perjalanan laut untuk menghindari hukuman mati. 


Dalam perjalanannya tersebut, badai tiba-tiba menghantam kapal. Para awak kapal berkata, "Selamatkanlah diri kalian! Selamatkanlah dirimu, karena tuhan-tuhanmu tidak berguna bagimu di sini." 


Kalimat para awak kapal itu seperti petir di tengah badai. Seluruh berhala yang selama ini ia bela, seluruh keyakinan yang ia pertahankan dengan darah dan perang — tidak satu pun mampu menolongnya di tengah lautan yang mengamuk.


Ikrimah berkata lirih, "Demi Allah, jika ketulusan tidak dapat menyelamatkanku di laut, itu tidak akan menyelamatkanku di darat. Ya Allah, Engkau memiliki perjanjian denganku bahwa jika Engkau mengampuniku dari apa yang aku alami, aku akan mendatangi Muhammad dan meletakkan tanganku di tangannya, dan aku tidak akan mendapati apapun kecuali pengampunan yang murah hati." 


Angin tersebut kemudian mereda dan Ikrimah kembali ke Makkah menjadi seorang Muslim sesuai janjinya.  

Para ulama menyebut kisah inilah yang menjadi sebab turunnya Surah Luqman ayat 32.


Tapi ada yang nggak dia perhitungkan. Istrinya, Ummu Hakim, perempuan yang dia tinggal kabur begitu saja — ternyata justru pergi menemui Rasulullah dan meminta jaminan keselamatan untuk suaminya. 


Isteri Ikrimah berkata kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, sesungguhnya Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau kamu akan membunuhnya. Aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan menjamin keselamatannya." 


Rasulullah menjawab, "Dia akan berada dalam keadaan aman!" 


Mendengar jawaban itu, isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya. 

Ummu Hakim menyusul suaminya hingga ke tepi pantai Tihamah. Ketika mereka bertemu, Ummu Hakim menyampaikan jaminan keamanan dari Rasulullah. 


Ikrimah bertanya kepada isterinya, "Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?" 


Isterinya menjawab, "Benar, aku telah berbicara dengan beliau dan beliau pun akan memberikan jaminan keselamatan atas dirimu." 


Lalu terjadi momen yang sangat manusiawi — Ikrimah bermaksud untuk melakukan hubungan suami-isteri dengan isterinya, tetapi isterinya menolak. 


Istrinya berkata, "Engkau orang kafir, sedangkan aku orang Muslim." 


Ikrimah berkata, "Penolakan kamu itu adalah masalah besar bagi diriku."  


Penolakan itu justru menjadi dorongan terkuat yang mendorong Ikrimah segera bersyahadat.


Kadang orang yang paling keras justru diselamatkan oleh orang yang paling lembut di sisinya.


Sumber : Bambang Prasodjo

#Ikrimah #FathuMakkah #SejarahIslam #KisahCinta #Storytelling

Banyak yang bertanya-tanya tentang keberadaan Kabupaten Roma di Jawa Tengah. Memang benar ada? Dilihat dari namanya, orang awam mungkin akan langsung teringat pada sebuah nama kota di negara Italia, yaitu Kota Roma. Tapi, pada kenyataannya, Kabupaten Roma di wilayah Jawa Tengah itu benar-benar ada, dan tidak ada hubungannya dengan nama Roma di sana. Kabupaten Roma berada di wilayah yang kini masuk ke dalam Kabupaten Kebumen. Pusatnya berada di utara pusat Kota Gombong, tepatnya di Desa Sidayu, Gombong dan Jatinegara, Sempor. Menurut Babad Banyumas, Roma adalah gabungan dari 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Kaleng dan Kabupaten Pucang. Masa terbentuknya, diperkirakan pada masa kekuasaan Kesultanan Pajang. Pada awalnya, ibukota kabupaten berada di Sidayu. Seiring waktu berjalan, ibukota pun berpindah ke Jatinegara. Dan namanya pun menjadi dikenal sebagai Kabupaten Roma Jatinegara. Setelah Perang Diponegoro berakhir tahun 1830, ibukota kabupaten dipindah ke Karanganyar, dan nama kabupatennya pun berubah menjadi Kabupaten Karanganyar. Sejak itu, nama Roma seperti hilang gaungnya, dan lambat laun seperti hilang dari peredaran. Dalam berbagai peta kuno jaman Belanda, kita mungkin tidak akan mendapati nama Roma, karena di sana kerap kali ditulis sebagai "Remo" atau "Remo Jatinegara". 📸: Peta tahun 1828 / @stuffmap.garage. ©️Jendelajatengdiy. #sejarah #roma #gombong #Kebumen #JendelaJatengDIY

 Banyak yang bertanya-tanya tentang keberadaan Kabupaten Roma di Jawa Tengah. Memang benar ada?



Dilihat dari namanya, orang awam mungkin akan langsung teringat pada sebuah nama kota di negara Italia, yaitu Kota Roma.


Tapi, pada kenyataannya, Kabupaten Roma di wilayah Jawa Tengah itu benar-benar ada, dan tidak ada hubungannya dengan nama Roma di sana.


Kabupaten Roma berada di wilayah yang kini masuk ke dalam Kabupaten Kebumen. Pusatnya berada di utara pusat Kota Gombong, tepatnya di Desa Sidayu, Gombong dan Jatinegara, Sempor.


Menurut Babad Banyumas, Roma adalah gabungan dari 2 kabupaten, yaitu Kabupaten Kaleng dan Kabupaten Pucang. Masa terbentuknya, diperkirakan pada masa kekuasaan Kesultanan Pajang.


Pada awalnya, ibukota kabupaten berada di Sidayu. Seiring waktu berjalan, ibukota pun berpindah ke Jatinegara. Dan namanya pun menjadi dikenal sebagai Kabupaten Roma Jatinegara.


Setelah Perang Diponegoro berakhir tahun 1830, ibukota kabupaten dipindah ke Karanganyar, dan nama kabupatennya pun berubah menjadi Kabupaten Karanganyar. Sejak itu, nama Roma seperti hilang gaungnya, dan lambat laun seperti hilang dari peredaran.


Dalam berbagai peta kuno jaman Belanda, kita mungkin tidak akan mendapati nama Roma, karena di sana kerap kali ditulis sebagai "Remo" atau "Remo Jatinegara".


📸: Peta tahun 1828 / @stuffmap.garage.


©️Jendelajatengdiy.


#sejarah #roma #gombong #Kebumen #JendelaJatengDIY

Part 1: Pola "orang kepercayaan yang kemudian naik takhta" sebenarnya berulang terus sepanjang sejarah manusia. Namanya juga pola hingga kini akan terus berulang. Baik langsung ataupun di belakang layar. Berikut beberapa kisah paling dramatis dan menarik. Dinasti yang Lahir dari "Tangan Kanan". Mulai karier bukan sebagai manajer, tapi cuma sebagai pengawal pribadi gubernur. Itulah Imad ad-Din Zengi. Dia awalnya cuma budak pengawal di Mosul. Tapi karena dia punya "radar" yang tajam buat baca situasi, dia pelan-pelan naik pangkat sampai akhirnya punya dinasti sendiri. Lalu pola terulang pada anak buahnya yaitu Shalahuddin Al-Ayyubi sendiri. Dia awalnya cuma "orang suruhan" yang dikirim buat bantu Dinasti Fatimiyah di Mesir. Tugasnya cuma stabilkan situasi dan lapor balik ke bosnya, Nuruddin Zengi. Tapi pas Khalifah meninggal tanpa pewaris kuat, Shalahuddin nggak nunggu instruksi lama-lama. Dia ambil kendali, dirikan Dinasti Ayyubiyah, dan bikin bos lamanya ketar-ketir. Nuruddin mau bertindak, eh keburu meninggal. Mesir dan Syam pun jatuh ke tangan "sang asisten". Lebih ekstrem lagi adalah kaum Mamluk. Mereka ini budak militer yang dibeli, dilatih, dan dijadikan elit. Tapi tahun 1250, mereka memutuskan buat "pecat" majikan mereka secara permanen lewat jalur pembunuhan Sultan Turanshah. Hasilnya? Mereka berkuasa 300 tahun dan jadi satu-satunya kekuatan yang bisa bikin pasukan Mongol "log out" di Ain Jalut. Di Nusantara, kita punya Gajah Mada. Dia mulai dari posisi bekel—kepala pengawal istana Majapahit. Bukan posisi "Top Management". Tapi momen "golden ticket"-nya datang pas dia berhasil nyelametin Raja Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti. Kesetiaan di saat kritis itu jadi "investasi" yang bikin dia naik jadi Mahapatih. Perang bubat yang bikin rakyat Pajajaran dendam kesumat adalah inisiatifnya pribadi. Sumpah Palapa yang legendaris itu diucapkan bukan oleh Raja, tapi oleh dia—sang asisten yang punya visi melampaui majikannya. #SejarahDunia #Geopolitik #GajahMada #Shalahuddin #Kekuasaan

 Part 1: Pola "orang kepercayaan yang kemudian naik takhta" sebenarnya berulang terus sepanjang sejarah manusia. Namanya juga pola hingga kini akan terus berulang. Baik langsung ataupun di belakang layar.



Berikut beberapa kisah paling dramatis dan menarik. Dinasti yang Lahir dari "Tangan Kanan".


Mulai karier bukan sebagai manajer, tapi cuma sebagai pengawal pribadi gubernur. Itulah Imad ad-Din Zengi. Dia awalnya cuma budak pengawal di Mosul. Tapi karena dia punya "radar" yang tajam buat baca situasi, dia pelan-pelan naik pangkat sampai akhirnya punya dinasti sendiri. 


Lalu pola terulang pada anak buahnya yaitu Shalahuddin Al-Ayyubi sendiri. Dia awalnya cuma "orang suruhan" yang dikirim buat bantu Dinasti Fatimiyah di Mesir. Tugasnya cuma stabilkan situasi dan lapor balik ke bosnya, Nuruddin Zengi. 


Tapi pas Khalifah meninggal tanpa pewaris kuat, Shalahuddin nggak nunggu instruksi lama-lama. Dia ambil kendali, dirikan Dinasti Ayyubiyah, dan bikin bos lamanya ketar-ketir. Nuruddin mau bertindak, eh keburu meninggal. Mesir dan Syam pun jatuh ke tangan "sang asisten".


Lebih ekstrem lagi adalah kaum Mamluk. Mereka ini budak militer yang dibeli, dilatih, dan dijadikan elit. Tapi tahun 1250, mereka memutuskan buat "pecat" majikan mereka secara permanen lewat jalur pembunuhan Sultan Turanshah. 


Hasilnya? Mereka berkuasa 300 tahun dan jadi satu-satunya kekuatan yang bisa bikin pasukan Mongol "log out" di Ain Jalut. 


Di Nusantara, kita punya Gajah Mada. Dia mulai dari posisi bekel—kepala pengawal istana Majapahit. Bukan posisi "Top Management". Tapi momen "golden ticket"-nya datang pas dia berhasil nyelametin Raja Jayanegara dari pemberontakan Ra Kuti.


Kesetiaan di saat kritis itu jadi "investasi" yang bikin dia naik jadi Mahapatih. Perang bubat yang bikin rakyat Pajajaran dendam kesumat adalah inisiatifnya pribadi. Sumpah Palapa yang legendaris itu diucapkan bukan oleh Raja, tapi oleh dia—sang asisten yang punya visi melampaui majikannya.


Sumber : Bambang Prasojo

#SejarahDunia #Geopolitik #GajahMada #Shalahuddin #Kekuasaan

10 Band Legendaris Asal Surabaya. Berbicara soal musik di Indonesia, Kota Surabaya menyumbang kontribusi dalam merubah sejarah musik yang terbentuk hingga saat ini. Apalagi berbicara soal band Rock pada jaman dulu. Barometer untuk musik rock tentu saja Surabaya lah menjadi juaranya. Kami coba bernostalgia dengan musik-musik Surabaya pada saat itu hingga dikenal sebagai band Legendaris. Berikut daftar 10 Band Legendaris Asal Surabaya : 1. The Tielman Brothers The Tielman Brothers ialah salah satu tim musik rock tertua di Indonesia. Band ini berkarya semenjak 1945an. Walaupun para personelnya bukan asli Surabaya, tetapi band ini tercipta di Kota Pahlawan. Para personelnya merupakan anak-anak keluarga Tielman yang ialah generasi Belanda-Indonesia. The Tielman Brothers jadi band Belanda-Indonesia awal yang tembus ke kancah internasional. Jauh saat sebelum The Beatles serta The Rolling Stones berkibar. Karier The Tielman Brothers meroket kala hijrah ke Belanda. Mereka dikenang selaku perintis Rock And Roll di Belanda. 2. AKA Wujud bernama asli Andalas Datoe Oloan Harahap ataupun lebih diketahui dengan Ucok Harahap merupakan wujud sentral dalam tim ini. Ucok merupakan putra dari Ismail Harahap, seseorang apoteker berhasil yang mempunyai bisnis apotek yang sangat bagus di Surabaya, bernama‘ Apotek Kaliasin’, yang terletak di Jalan Kaliasin dikala itu. Abreviasi AKA yang berasal dari nama Apotek Kaliasin tersebut yang setelah itu diusung oleh tim yang beranggotakan Syech, Abidin, Ucok Harahap, Harris Sormin, Soenatha Tanjung, serta Arthur Kaunang sampai jadi band rock ikonik yang senantiasa mempunyai aksi teatrikal di tiap panggungnya di masa 1970- an. Saat sebelum bubar di tahun 1977, AKA diketahui sangatlah produktif dengan sukses menghasilkan 12 album penuh tercantum di antara lain yang sangat ikonik merupakan‚‘ Do What You Like’( 1970) serta‘ Shake Me’( 1975). Ucok serta keempat personel lain setelah itu berpisah serta mempunyai jalan suksesnya masing-masing, Ucok besar bersama Achmad Albar dengan“ Duo Kribo”, sedangkan 3 personel tidak hanya Harris membentuk SAS. 3. Dara Puspita Dara Puspita merupakan salah satu grup rock asal Surabaya yang ialah anak bimbingan dari tim Koes Bersaudara. Tim yang seluruh personelnya wanita ini dibangun pada 1964. Dara Puspita terdiri dari Titiek Adji Rachman (lead guitar), Susy Nander (drums), Lies Adji Rachman (rhythm guitar) serta Titiek Hamzah (bass). Pada awal mulanya, tim ini ialah grup besar yang terdiri dari 13 wanita. Tetapi satu per satu personelnya hengkang sampai setelah itu keempat personel tersebut membentuk suatu grup baru. Karier Dara Puspita tidak cuma di panggung nasional, bahkan hingga touring ke luar negara. Pada Juli 1968, Dara Puspita berangkat ke Eropa buat touring bandnya. Walaupun hadapi ekspedisi yang berat, mereka menemukan sambutan meriah kala kembali ke Indonesia bertepatan pada 3 Desember 1971. Sehabis manggung di bermacam kota di Indonesia, Dara Puspita dinyatakan bubar disebabkan Titiek Hamzah bersikeras mau menarik diri dari tim tersebut. Personel yang tersisa pernah membentuk tim dengan nama baru. Mulai dari Delima Puspita sampai Dara Puspita Min Plus. 4. Grass Rock Grass Rock awal kali diperkuat oleh Hari (vokal), Mando (keyboard), Harto (gitar), Yudhi Rumput (bass), serta Rere (drum). Band ini lahir pada 4 Mei 1984 di Surabaya. Grass Rock sudah merilis 4 album; Anak Rembulan (Peterson) (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (Self Titled) (1994), Menembus Jaman (1999), Album Kolaborasi 3 To Rock (2016) serta album kompilasi Grass Rock The Greatest Hits (2019). 5. SAS Sepeninggal Ucok dari AKA, sahabat bandnya yang tersisa membentuk tim baru bernama SAS. SAS singkatan dari nama anggotanya ialah Soenata Tanjung, Arthur Kaunang serta Syech Abidin. Band ini tumbuh sampai jadi salah satu band rock yang mempengaruhi di Indonesia. Tetapi sebab aspek umur serta banyak aktivitas yang lain, SAS mati suri semenjak 1994. SAS secara formal belum bubar. Cuma saja, susah buat mencari pengganti personel. Karena band tersebut berkembang besar bersama ketiga personel itu. 6. Power Metal Band ini mulai berkiprah pada tahun 1986. Power Metal awal kali dibangun dengan nama Power Band dengan formasi dini Totty Moekardiono (vokal), Ipunk (gitar), Prass Hadi (bass), Raymond Ariasz (keyboard), serta Muggix Adam (drum). Tetapi formasi tersebut berganti dengan digantikannya posisi vokal oleh Pungky Deaz serta bass oleh Hendrix Sanada serta nama band juga berganti jadi Power Metal. 7. Andromeda Andromeda adalah salah satu band yang dibangun di Surabaya pada 1986. Band ini beranggotakan Pungky Deaz (vocal), Lucky (lead guitar), Hendrik Sanada (bass guitar), Denny Ireng (keyboard) serta Yoyok (drum). Band tersebut yang setelah itu membesarkan nama Yoyo, yang saat ini jadi drummer band Padi Reborn. 8. Dewa 19 Dewa 19 dibangun pada 26 Agustus 1986 di Surabaya oleh 4 orang siswa SMP Negara 6 Surabaya. Grup ini pula pernah hadapi sebagian kali pergantian personel. Pada awal mulanya, nama Dewa ialah akronim nama mereka berempat ialah Dhani Ahmad (keyboard, vokal), Erwin Prasetya (bass), Wawan Juniarso (drum), serta Andra Junaidi (gitar). Tidak hanya itu, mereka pula pernah berubah- ubah aliran mulai dari pop, jazz, sampai rock. Kala itu, Wawan yang hengkang ditarik kembali dengan formasi terkini mereka yang memperkenalkan Ari Lasso. Dewa pernah berubah nama jadi Dwon Beat saat sebelum kembali lagi mengenakan nama Dewa, dengan mencampuradukkan bermacam-macam aliran musik mulai dari pop, rock, apalagi jazz, yang pada masa itu ialah alternatif baru untuk industri musik. Seseorang sahabat sekelas mereka yang tertarik pada konsep tersebut setelah itu menawarkan investasi sebesar Rp 10 juta buat rekaman. Mereka juga bertolak ke Jakarta sehabis melihat tidak terdapat studio rekaman yang penuhi ketentuan di Surabaya pada masa itu. Sehabis rekaman, Ahmad Dhani wajib mondar- mandir di Jakarta buat menawarkan lagu kepada label. Sampai setelah itu Team Records melirik album tersebut, serta secara formal album awal Dewa dirilis pada 1992 dengan judul ’19’. Itu disebabkan rata- rata umur mereka pada dikala itu merupakan 19 tahun. Album tersebut laris di pasaran. Industri label itu meminta Aquarius Musikindo mengambil alih penciptaan album. Tahun demi tahun, Dewa terus menjadi populer. Pada 2011, Ahmad Dhani melaporkan Dewa 19 bubar. Dia memutuskan menjadikan Dewa selaku band nostalgia. Sampai dikala ini, band tersebut masih kerap manggung. 9. Boomerang Band ini lahir pada 8 Mei 1994. Lebih dahulu bernama Lost Angels yang dibangun pada 1991. Band rock asal Surabaya ini mempunyai banyak hits semacam Pelangi, Neraka Jahanam, Kisah Seorang Pramuria serta lain sebagainya. Lost Angels sering bergonta- ganti personel. Ari Lasso serta Piyu pula sempat mengisi di posisi vokal serta gitar. Sehabis itu mereka hengkang. Ari Lasso bergabung dengan Dewa 19 serta Piyu membentuk band Padi. Lost Angels pula menjajaki Festival Music Rock. Mereka masuk 10 besar serta lagunya direkam ke album kompilasi 10 Finalis Festival Rock Indonesia VII (1993). Di tahun 1994, mereka berubah nama jadi Boomerang serta merilis lagu baru dan merekrut personel baru ialah Farid Martin selaku drummer. Sehingga formasinya Roy Jeconiah (vokal), John Paul Ivan (gitar), Hubert Henry Limahelu (bass) serta Farid Martin (drum). Momen yang tidak terlupakan oleh mereka yakni kala jadi tim pembuka dari konser tim rock asal Amerika Serikat, Mr Big. Konser diselenggarakan di Stadion Tambaksari Surabaya. Sehabis menggapai puncak popularitas, satu per satu personelnya meninggalkan Boomerang. Hubert Henry ialah orang terakhir di band tersebut. Dia wafat pada 24 April 2021. Saat ini, John Paul Ivan membangkitkan Boomerang dengan nama Boomerang Reload. Beberapa hari kemudian, band tersebut manggung kembali di kota kelahiran Surabaya. 10. Padi Padi dibangun pada 8 April 1997, Padi ialah band rock asal Surabaya yang terdiri dari Ari Tri Sosianto (gitar, backing vocal), Andi Fadly Arifuddin (vokal), Surendro Prasetyo ataupun Yoyo (drum), Rindra Risyanto Noor (bass), serta Satriyo Yudi Wahono ataupun Piyu (gitar, backing vocal). Mereka ialah sekumpulan mahasiswa Universitas Airlangga. Padi mengawali kiprahnya di dunia musik dengan merilis single awal bertajuk ‘Sobat’. Musik Padi diterima pencinta musik Tanah Air. Sebagian album mereka laris di pasaran. Semacam album ‘Lain Dunia’ yang luncurkan pada 1999 terjual sampai 800 ribu kopi. Setelah itu disusul pada 2001 oleh album ‘Sesuatu Yang Tertunda’, yang berhasil terjual sampai 1, 6 juta kopi. Tidak cuma itu, album selanjutnya yang bertajuk ‘Save My Soul’ menyusul di tahun 2003 serta album Padi dirilis pada 2005. Setelah itu mereka kembali merilis album kelimanya yang berjudul ‘Tak Hanya Diam’ di tahun 2007. Padi pernah vakum dekat 9 tahun serta comeback dengan nama Padi Reborn. #band #legendaris #surabaya #patinesia #foto #music #fblifestyle Sumber : Lihat tautan di komentar akun ini.

 10 Band Legendaris Asal Surabaya.


Berbicara soal musik di Indonesia, Kota Surabaya menyumbang kontribusi dalam merubah sejarah musik yang terbentuk hingga saat ini. Apalagi berbicara soal band Rock pada jaman dulu. Barometer untuk musik rock tentu saja Surabaya lah menjadi juaranya. Kami coba bernostalgia dengan musik-musik Surabaya pada saat itu hingga dikenal sebagai band Legendaris.



Berikut daftar 10 Band Legendaris Asal Surabaya : 


1. The Tielman Brothers


The Tielman Brothers ialah salah satu tim musik rock tertua di Indonesia. Band ini berkarya semenjak 1945an. Walaupun para personelnya bukan asli Surabaya, tetapi band ini tercipta di Kota Pahlawan. Para personelnya merupakan anak-anak keluarga Tielman yang ialah generasi Belanda-Indonesia. 


The Tielman Brothers jadi band Belanda-Indonesia awal yang tembus ke kancah internasional. Jauh saat sebelum The Beatles serta The Rolling Stones berkibar. Karier The Tielman Brothers meroket kala hijrah ke Belanda. Mereka dikenang selaku perintis Rock And Roll di Belanda.


2. AKA


Wujud bernama asli Andalas Datoe Oloan Harahap ataupun lebih diketahui dengan Ucok Harahap merupakan wujud sentral dalam tim ini. Ucok merupakan putra dari Ismail Harahap, seseorang apoteker berhasil yang mempunyai bisnis apotek yang sangat bagus di Surabaya, bernama‘ Apotek Kaliasin’, yang terletak di Jalan Kaliasin dikala itu. 


Abreviasi AKA yang berasal dari nama Apotek Kaliasin tersebut yang setelah itu diusung oleh tim yang beranggotakan Syech, Abidin, Ucok Harahap, Harris Sormin, Soenatha Tanjung, serta Arthur Kaunang sampai jadi band rock ikonik yang senantiasa mempunyai aksi teatrikal di tiap panggungnya di masa 1970- an.


Saat sebelum bubar di tahun 1977, AKA diketahui sangatlah produktif dengan sukses menghasilkan 12 album penuh tercantum di antara lain yang sangat ikonik merupakan‚‘ Do What You Like’( 1970) serta‘ Shake Me’( 1975). Ucok serta keempat personel lain setelah itu berpisah serta mempunyai jalan suksesnya masing-masing, Ucok besar bersama Achmad Albar dengan“ Duo Kribo”, sedangkan 3 personel tidak hanya Harris membentuk SAS.


3. Dara Puspita


Dara Puspita merupakan salah satu grup rock asal Surabaya yang ialah anak bimbingan dari tim Koes Bersaudara. Tim yang seluruh personelnya wanita ini dibangun pada 1964. Dara Puspita terdiri dari Titiek Adji Rachman (lead guitar), Susy Nander (drums), Lies Adji Rachman (rhythm guitar) serta Titiek Hamzah (bass). Pada awal mulanya, tim ini ialah grup besar yang terdiri dari 13 wanita. Tetapi satu per satu personelnya hengkang sampai setelah itu keempat personel tersebut membentuk suatu grup baru.


Karier Dara Puspita tidak cuma di panggung nasional, bahkan hingga touring ke luar negara. Pada Juli 1968, Dara Puspita berangkat ke Eropa buat touring bandnya. Walaupun hadapi ekspedisi yang berat, mereka menemukan sambutan meriah kala kembali ke Indonesia bertepatan pada 3 Desember 1971. 


Sehabis manggung di bermacam kota di Indonesia, Dara Puspita dinyatakan bubar disebabkan Titiek Hamzah bersikeras mau menarik diri dari tim tersebut. Personel yang tersisa pernah membentuk tim dengan nama baru. Mulai dari Delima Puspita sampai Dara Puspita Min Plus.


4. Grass Rock


Grass Rock awal kali diperkuat oleh Hari (vokal), Mando (keyboard), Harto (gitar), Yudhi Rumput (bass), serta Rere (drum). Band ini lahir pada 4 Mei 1984 di Surabaya. Grass Rock sudah merilis 4 album; Anak Rembulan (Peterson) (1990), Bulan Sabit (1992), Grass Rock (Self Titled) (1994), Menembus Jaman (1999), Album Kolaborasi 3 To Rock (2016) serta album kompilasi Grass Rock The Greatest Hits (2019).


5. SAS


Sepeninggal Ucok dari AKA, sahabat bandnya yang tersisa membentuk tim baru bernama SAS. SAS singkatan dari nama anggotanya ialah Soenata Tanjung, Arthur Kaunang serta Syech Abidin. Band ini tumbuh sampai jadi salah satu band rock yang mempengaruhi di Indonesia. Tetapi sebab aspek umur serta banyak aktivitas yang lain, SAS mati suri semenjak 1994. SAS secara formal belum bubar. Cuma saja, susah buat mencari pengganti personel. Karena band tersebut berkembang besar bersama ketiga personel itu.


6. Power Metal


Band ini mulai berkiprah pada tahun 1986. Power Metal awal kali dibangun dengan nama Power Band dengan formasi dini Totty Moekardiono (vokal), Ipunk (gitar), Prass Hadi (bass), Raymond Ariasz (keyboard), serta Muggix Adam (drum). Tetapi formasi tersebut berganti dengan digantikannya posisi vokal oleh Pungky Deaz serta bass oleh Hendrix Sanada serta nama band juga berganti jadi Power Metal.


7. Andromeda


Andromeda adalah salah satu band yang dibangun di Surabaya pada 1986. Band ini beranggotakan Pungky Deaz (vocal), Lucky (lead guitar), Hendrik Sanada (bass guitar), Denny Ireng (keyboard) serta Yoyok (drum). Band tersebut yang setelah itu membesarkan nama Yoyo, yang saat ini jadi drummer band Padi Reborn.


8. Dewa 19


Dewa 19 dibangun pada 26 Agustus 1986 di Surabaya oleh 4 orang siswa SMP Negara 6 Surabaya. Grup ini pula pernah hadapi sebagian kali pergantian personel. Pada awal mulanya, nama Dewa ialah akronim nama mereka berempat ialah Dhani Ahmad (keyboard, vokal), Erwin Prasetya (bass), Wawan Juniarso (drum), serta Andra Junaidi (gitar). Tidak hanya itu, mereka pula pernah berubah- ubah aliran mulai dari pop, jazz, sampai rock. Kala itu, Wawan yang hengkang ditarik kembali dengan formasi terkini mereka yang memperkenalkan Ari Lasso.


Dewa pernah berubah nama jadi Dwon Beat saat sebelum kembali lagi mengenakan nama Dewa, dengan mencampuradukkan bermacam-macam aliran musik mulai dari pop, rock, apalagi jazz, yang pada masa itu ialah alternatif baru untuk industri musik. Seseorang sahabat sekelas mereka yang tertarik pada konsep tersebut setelah itu menawarkan investasi sebesar Rp 10 juta buat rekaman. 


Mereka juga bertolak ke Jakarta sehabis melihat tidak terdapat studio rekaman yang penuhi ketentuan di Surabaya pada masa itu. Sehabis rekaman, Ahmad Dhani wajib mondar- mandir di Jakarta buat menawarkan lagu kepada label. Sampai setelah itu Team Records melirik album tersebut, serta secara formal album awal Dewa dirilis pada 1992 dengan judul ’19’. Itu disebabkan rata- rata umur mereka pada dikala itu merupakan 19 tahun. Album tersebut laris di pasaran. 


Industri label itu meminta Aquarius Musikindo mengambil alih penciptaan album. Tahun demi tahun, Dewa terus menjadi populer. Pada 2011, Ahmad Dhani melaporkan Dewa 19 bubar. Dia memutuskan menjadikan Dewa selaku band nostalgia. Sampai dikala ini, band tersebut masih kerap manggung.


9. Boomerang


Band ini lahir pada 8 Mei 1994. Lebih dahulu bernama Lost Angels yang dibangun pada 1991. Band rock asal Surabaya ini mempunyai banyak hits semacam Pelangi, Neraka Jahanam, Kisah Seorang Pramuria serta lain sebagainya. Lost Angels sering bergonta- ganti personel. Ari Lasso serta Piyu pula sempat mengisi di posisi vokal serta gitar. Sehabis itu mereka hengkang. Ari Lasso bergabung dengan Dewa 19 serta Piyu membentuk band Padi. Lost Angels pula menjajaki Festival Music Rock. Mereka masuk 10 besar serta lagunya direkam ke album kompilasi 10 Finalis Festival Rock Indonesia VII (1993).


Di tahun 1994, mereka berubah nama jadi Boomerang serta merilis lagu baru dan merekrut personel baru ialah Farid Martin selaku drummer. Sehingga formasinya Roy Jeconiah (vokal), John Paul Ivan (gitar), Hubert Henry Limahelu (bass) serta Farid Martin (drum). Momen yang tidak terlupakan oleh mereka yakni kala jadi tim pembuka dari konser tim rock asal Amerika Serikat, Mr Big. Konser diselenggarakan di Stadion Tambaksari Surabaya. 


Sehabis menggapai puncak popularitas, satu per satu personelnya meninggalkan Boomerang. Hubert Henry ialah orang terakhir di band tersebut. Dia wafat pada 24 April 2021. Saat ini, John Paul Ivan membangkitkan Boomerang dengan nama Boomerang Reload. Beberapa hari kemudian, band tersebut manggung kembali di kota kelahiran Surabaya.


10. Padi


Padi dibangun pada 8 April 1997, Padi ialah band rock asal Surabaya yang terdiri dari Ari Tri Sosianto (gitar, backing vocal), Andi Fadly Arifuddin (vokal), Surendro Prasetyo ataupun Yoyo (drum), Rindra Risyanto Noor (bass), serta Satriyo Yudi Wahono ataupun Piyu (gitar, backing vocal). Mereka ialah sekumpulan mahasiswa Universitas Airlangga. Padi mengawali kiprahnya di dunia musik dengan merilis single awal bertajuk ‘Sobat’.


Musik Padi diterima pencinta musik Tanah Air. Sebagian album mereka laris di pasaran. Semacam album ‘Lain Dunia’ yang luncurkan pada 1999 terjual sampai 800 ribu kopi. Setelah itu disusul pada 2001 oleh album ‘Sesuatu Yang Tertunda’, yang berhasil terjual sampai 1, 6 juta kopi. 


Tidak cuma itu, album selanjutnya yang bertajuk ‘Save My Soul’ menyusul di tahun 2003 serta album Padi dirilis pada 2005. Setelah itu mereka kembali merilis album kelimanya yang berjudul ‘Tak Hanya Diam’ di tahun 2007. Padi pernah vakum dekat 9 tahun serta comeback dengan nama Padi Reborn.

#band #legendaris #surabaya #patinesia #foto #music #fblifestyle


Sumber : Lihat tautan di komentar akun ini.

Sebutan "pangeran" untuk anak laki-laki raja memiliki makna mendalam, tidak sekadar merujuk pada keturunan darah biru, melainkan mengemban beban tanggung jawab besar. Secara filosofis, pangeran adalah perpanjangan tangan kepemimpinan raja yang dipersiapkan untuk menjadi penerus, baik dalam hal kekuasaan maupun kebijakan luhur. Berikut adalah makna dan filosofis dari sebutan pangeran: 1. Makna Etimologis dan Struktural Keturunan Raja/Sultan: Pangeran adalah gelar bagi putra, cucu, atau keturunan laki-laki langsung dari penguasa monarki (raja, sultan, atau kaisar). Pewaris Tahta (Putra Mahkota): Pangeran sering kali merujuk pada pewaris sah tahta kerajaan, yang dididik khusus untuk memimpin. Bahasa Jawa (Pangeran/Pengeran): Secara filosofis, kata pangeran dalam budaya Jawa dikaitkan dengan istilah "ngenger" atau mengabdi. Pangeran berarti tempat/sosok yang tempat 2. Filosofi Pangeran dalam Budaya (Jawa & Sunda) Calon Pemimpin yang Bijaksana: Pangeran diwajibkan menjalani pendidikan ketat untuk memiliki karakter adil, berani, peduli, dan setia. Lambang Kebajikan: Pangeran diharapkan menjadi representasi kebaikan raja dan menjadi teladan bagi rakyatnya. Pengayom Rakyat: Filosofinya, pangeran tidak hanya duduk di tahta, tetapi harus turun langsung memahami kehidupan rakyat. 3. Makna Simbolis dan Historis Pewaris Kedaulatan: Dalam konteks Eropa maupun Asia, pangeran (prince/princeps) bermakna "orang pertama" atau pemimpin masa depan. Simbol Peradaban: Pangeran sering dikaitkan dengan pelestarian budaya, seni, dan kebijakan kerajaan. Pangeran dalam Spiritual (Jawa): Dalam konteks khusus, Pangeran/Pengeran juga bisa merujuk pada Tuhan (Yang Maha Esa), sebagai tempat mengabdi/numang hidup tertinggi. Kesimpulan Secara filosofis, sebutan pangeran adalah amanah kekuasaan. Ini adalah simbol bahwa seorang anak raja harus mengabdi kepada rakyat (ngenger) dan menjadi pemimpin yang bijaksana, bukan sekadar menikmati kemewahan istana. Sebutan "pangeran" untuk anak laki-laki raja memiliki makna mendalam, tidak sekadar merujuk pada keturunan darah biru, melainkan mengemban beban tanggung jawab besar. Secara filosofis, pangeran adalah perpanjangan tangan kepemimpinan raja yang dipersiapkan untuk menjadi penerus, baik dalam hal kekuasaan maupun kebijakan luhur.

 Sebutan "pangeran" untuk anak laki-laki raja memiliki makna mendalam, tidak sekadar merujuk pada keturunan darah biru, melainkan mengemban beban tanggung jawab besar. Secara filosofis, pangeran adalah perpanjangan tangan kepemimpinan raja yang dipersiapkan untuk menjadi penerus, baik dalam hal kekuasaan maupun kebijakan luhur.



Berikut adalah makna dan filosofis dari sebutan pangeran:


1. Makna Etimologis dan Struktural


Keturunan Raja/Sultan: Pangeran adalah gelar bagi putra, cucu, atau keturunan laki-laki langsung dari penguasa monarki (raja, sultan, atau kaisar).


Pewaris Tahta (Putra Mahkota): Pangeran sering kali merujuk pada pewaris sah tahta kerajaan, yang dididik khusus untuk memimpin.


Bahasa Jawa (Pangeran/Pengeran): Secara filosofis, kata pangeran dalam budaya Jawa dikaitkan dengan istilah "ngenger" atau mengabdi. Pangeran berarti tempat/sosok yang tempat 


2. Filosofi Pangeran dalam Budaya (Jawa & Sunda)


Calon Pemimpin yang Bijaksana: Pangeran diwajibkan menjalani pendidikan ketat untuk memiliki karakter adil, berani, peduli, dan setia.


Lambang Kebajikan: Pangeran diharapkan menjadi representasi kebaikan raja dan menjadi teladan bagi rakyatnya.


Pengayom Rakyat: Filosofinya, pangeran tidak hanya duduk di tahta, tetapi harus turun langsung memahami kehidupan rakyat. 


3. Makna Simbolis dan Historis


Pewaris Kedaulatan: Dalam konteks Eropa maupun Asia, pangeran (prince/princeps) bermakna "orang pertama" atau pemimpin masa depan.


Simbol Peradaban: Pangeran sering dikaitkan dengan pelestarian budaya, seni, dan kebijakan kerajaan.


Pangeran dalam Spiritual (Jawa): Dalam konteks khusus, Pangeran/Pengeran juga bisa merujuk pada Tuhan (Yang Maha Esa), sebagai tempat mengabdi/numang hidup tertinggi. 


Kesimpulan


Secara filosofis, sebutan pangeran adalah amanah kekuasaan. Ini adalah simbol bahwa seorang anak raja harus mengabdi kepada rakyat (ngenger) dan menjadi pemimpin yang bijaksana, bukan sekadar menikmati kemewahan istana. 


Sebutan "pangeran" untuk anak laki-laki raja memiliki makna mendalam, tidak sekadar merujuk pada keturunan darah biru, melainkan mengemban beban tanggung jawab besar. Secara filosofis, pangeran adalah perpanjangan tangan kepemimpinan raja yang dipersiapkan untuk menjadi penerus, baik dalam hal kekuasaan maupun kebijakan luhur.


Potret 1914, dua orang ketua Adat di Jambi, Sumatra. Ket : Suku Jambi adalah suku yang mendiami wilayah kota Jambi, Muaro Jambi, Tanjung Jabung, Batanghari, Bungo-Tebo, dan sebagian Sarko.

 Potret 1914, dua orang ketua Adat di Jambi, Sumatra. 




Ket : 

Suku Jambi adalah suku yang mendiami wilayah kota Jambi, Muaro Jambi, Tanjung Jabung, Batanghari, Bungo-Tebo, dan sebagian Sarko.

Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Cianjur, Jawa Barat, memang memancarkan daya tarik yang luar biasa. Tempat ini bukan sekadar tumpukan batu andesit purba, melainkan episentrum dari teka-teki sejarah dan legenda mistis Nusantara yang belum sepenuhnya terpecahkan. Berikut adalah lapisan misteri dan mitos yang menyelimuti Gunung Padang, memadukan temuan arkeologis dengan kearifan lokal masa lampau: 1. Jejak Spiritual Prabu Siliwangi Banyak cerita yang diwariskan turun-temurun meyakini bahwa Gunung Padang dulunya adalah tempat pertapaan (semedi) bagi Prabu Siliwangi, raja legendaris dari Kerajaan Sunda Pajajaran. Struktur punden berundaknya dipercaya memiliki energi atau gelombang spiritual yang sangat kuat, sehingga hingga kini masih sering dikunjungi oleh para peziarah atau mereka yang mendalami laku batin dan olah spiritual kuno. 2. Singgasana Dewi Sri Dalam kacamata mitologi lokal, Gunung Padang juga dikaitkan dengan sosok Dewi Sri atau Nyai Pohaci, sang dewi kesuburan dan pertanian. Beberapa tuturan spiritual dan kesaksian masyarakat setempat meyakini bahwa situs ini adalah tempat bersemayamnya sang dewi yang memberkati tanah di sekitarnya, menjadikannya pusat peradaban agraris yang sangat makmur di masa pra-Hindu. 3. Misteri "Serba Lima" dan Teras Eyang Perbuka Gunung Padang memiliki struktur punden berundak yang terdiri dari lima teras yang terus menanjak, di mana setiap tingkatannya menyimpan sakralitas tersendiri. Puncak tertingginya, yaitu Teras Kelima, dikenal oleh penduduk setempat sebagai lokasi "Eyang Perbuka". Area puncak ini diyakini sebagai titik paling suci, dengan tatanan kosmologis leluhur yang dirancang khusus untuk menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta alam semesta. 4. Fenomena Batu Bernada (Sonic Rocks) Salah satu anomali fisik yang paling sinematik dan misterius dari Gunung Padang adalah keberadaan batu-batu yang bisa bernyanyi. Terdapat balok-balok batu andesit tertentu yang jika diketuk akan mengeluarkan bunyi berdenging atau nada melodis menyerupai alat musik kenong atau gamelan. Di masa lalu, batu-batu ini diduga kuat digunakan untuk ritual pemujaan yang melibatkan suara atau lantunan ritmis yang menggema di seluruh bukit. 5. Kontroversi Piramida Tertua di Dunia Di luar mitos lokal, Gunung Padang juga memicu perdebatan sains berskala global. Pemindaian georadar dan tomografi seismik menunjukkan bahwa bukit ini kemungkinan besar bukanlah bentukan alam murni, melainkan struktur piramida buatan manusia yang berlapis-lapis dan tertimbun tanah. Beberapa peneliti kontroversial bahkan mengklaim bahwa lapisan terdalamnya bisa berusia hingga lebih dari 20.000 tahun Sebelum Masehi. Jika benar, situs ini jauh lebih tua dari Piramida Giza di Mesir dan Stonehenge di Inggris, yang sering kali memancing teori bahwa ini adalah sisa-sisa peradaban tinggi Atlantis yang hilang di wilayah Sundaland. Gunung Padang seolah menjadi gerbang waktu, menyatukan penelitian rasional dengan kepingan-kepingan supranatural yang terus hidup di tengah masyarakat.

 Situs Megalitikum Gunung Padang di Desa Karyamukti, Cianjur, Jawa Barat, memang memancarkan daya tarik yang luar biasa. Tempat ini bukan sekadar tumpukan batu andesit purba, melainkan episentrum dari teka-teki sejarah dan legenda mistis Nusantara yang belum sepenuhnya terpecahkan.



Berikut adalah lapisan misteri dan mitos yang menyelimuti Gunung Padang, memadukan temuan arkeologis dengan kearifan lokal masa lampau:


1. Jejak Spiritual Prabu Siliwangi

Banyak cerita yang diwariskan turun-temurun meyakini bahwa Gunung Padang dulunya adalah tempat pertapaan (semedi) bagi Prabu Siliwangi, raja legendaris dari Kerajaan Sunda Pajajaran. Struktur punden berundaknya dipercaya memiliki energi atau gelombang spiritual yang sangat kuat, sehingga hingga kini masih sering dikunjungi oleh para peziarah atau mereka yang mendalami laku batin dan olah spiritual kuno.


2. Singgasana Dewi Sri

Dalam kacamata mitologi lokal, Gunung Padang juga dikaitkan dengan sosok Dewi Sri atau Nyai Pohaci, sang dewi kesuburan dan pertanian. Beberapa tuturan spiritual dan kesaksian masyarakat setempat meyakini bahwa situs ini adalah tempat bersemayamnya sang dewi yang memberkati tanah di sekitarnya, menjadikannya pusat peradaban agraris yang sangat makmur di masa pra-Hindu.


3. Misteri "Serba Lima" dan Teras Eyang Perbuka

Gunung Padang memiliki struktur punden berundak yang terdiri dari lima teras yang terus menanjak, di mana setiap tingkatannya menyimpan sakralitas tersendiri. Puncak tertingginya, yaitu Teras Kelima, dikenal oleh penduduk setempat sebagai lokasi "Eyang Perbuka". Area puncak ini diyakini sebagai titik paling suci, dengan tatanan kosmologis leluhur yang dirancang khusus untuk menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta alam semesta.


4. Fenomena Batu Bernada (Sonic Rocks)

Salah satu anomali fisik yang paling sinematik dan misterius dari Gunung Padang adalah keberadaan batu-batu yang bisa bernyanyi. Terdapat balok-balok batu andesit tertentu yang jika diketuk akan mengeluarkan bunyi berdenging atau nada melodis menyerupai alat musik kenong atau gamelan. Di masa lalu, batu-batu ini diduga kuat digunakan untuk ritual pemujaan yang melibatkan suara atau lantunan ritmis yang menggema di seluruh bukit.


5. Kontroversi Piramida Tertua di Dunia

Di luar mitos lokal, Gunung Padang juga memicu perdebatan sains berskala global. Pemindaian georadar dan tomografi seismik menunjukkan bahwa bukit ini kemungkinan besar bukanlah bentukan alam murni, melainkan struktur piramida buatan manusia yang berlapis-lapis dan tertimbun tanah. Beberapa peneliti kontroversial bahkan mengklaim bahwa lapisan terdalamnya bisa berusia hingga lebih dari 20.000 tahun Sebelum Masehi. Jika benar, situs ini jauh lebih tua dari Piramida Giza di Mesir dan Stonehenge di Inggris, yang sering kali memancing teori bahwa ini adalah sisa-sisa peradaban tinggi Atlantis yang hilang di wilayah Sundaland.


Gunung Padang seolah menjadi gerbang waktu, menyatukan penelitian rasional dengan kepingan-kepingan supranatural yang terus hidup di tengah masyarakat.

Dimana Kraton Pajang? Beberapa hari lalu saya mengurus pemakaman saudara yang meninggal, rencana akan dimakamkan dikompleks Makam Aji Pajang Surakarta. Saya saat itu menemani Bapak Bapak yang menggali tanah kubur. Betapa terkejutnya saya ketika dalam kedalaman sekitar dua meter, nampak batu bata dgn ukuran cukup besar yang tertata rapi, saya kira bekas makam lama, tetapi menurut para penggali, ditanah luas sekitar 15 ribu m2 didalamnya memang ditemukan batu bata yang tertata rapi seperti bekas lantai sebuah pendopo. Kemudian di sebelah selatan komplek makam Aji, menurut para penggali, ada batu batu yang dgn berukuran lebih besar dari batu bata. yang tersusun agak tinggi rapi, mungkinkah itu dulunya adalah pagar atau gapura Kraton Pajang? Dan berdasar buku yang dulu pernah saya baca, Sultan Hadiwijaya Raja Kraton Pajang dimakamkan di belakang Kedatonnya berdampingan dengan permaisurinya. di sebelah barat rel kereta api Pajang. Sementara ini di kompleks Makam Aji ada dua makam lama yg dipercaya sebagai makam guru Sultan Hadiwijaya dan makam putri Sultan Hadiwijaya. Dan diperkuat lagi, Sunan Pakubuwana III memilihkan makam mertuanya yaitu RT Wiraredja di lokasi tsb dan dinamakan Makam Aji Pajang. Mungkinkah tempat tersebut dahulunya adalah Kraton Pajang? Sekarang komplek Makam Aji menjadi komplek makam Kagunan Kraton Surakarta. Foto hanya untuk pemanis.

 Dimana Kraton Pajang? 


Beberapa hari lalu saya mengurus pemakaman saudara yang meninggal, rencana akan dimakamkan dikompleks Makam Aji Pajang Surakarta. 

Saya saat itu menemani Bapak Bapak yang menggali tanah kubur. Betapa terkejutnya saya ketika dalam kedalaman sekitar dua meter, nampak batu bata dgn ukuran cukup besar yang tertata rapi, saya kira bekas makam lama, tetapi menurut para penggali, ditanah luas sekitar 15 ribu m2 didalamnya memang ditemukan batu bata yang tertata rapi seperti bekas lantai sebuah pendopo. 

Kemudian di sebelah selatan komplek makam Aji, menurut para penggali, ada batu batu yang dgn berukuran lebih besar dari batu bata. yang tersusun agak tinggi rapi, mungkinkah itu dulunya adalah pagar atau gapura Kraton Pajang? 

Dan berdasar buku yang dulu pernah saya baca, Sultan Hadiwijaya Raja Kraton Pajang dimakamkan di belakang Kedatonnya berdampingan dengan permaisurinya. di sebelah barat rel kereta api Pajang. Sementara ini di kompleks Makam Aji ada dua makam lama yg dipercaya sebagai makam guru Sultan Hadiwijaya dan makam putri Sultan Hadiwijaya. 

Dan diperkuat lagi, Sunan Pakubuwana III memilihkan makam mertuanya yaitu RT Wiraredja di lokasi tsb dan dinamakan Makam Aji Pajang. 

Mungkinkah tempat tersebut dahulunya adalah Kraton Pajang? 

Sekarang komplek Makam Aji menjadi komplek makam Kagunan Kraton Surakarta. 



Foto hanya untuk pemanis.

03 May 2026

Di tepian Sungai Tigris yang melegenda, sebuah babak sejarah tertulis dengan da*rah dan keberanian. Inilah kisah tentang salah satu kemenangan militer Muslim paling agung dan peristiwa paling memalukan bagi Barat dalam kurun waktu satu abad terakhir. Gema Perang di Tanah Irak Panggung drama ini berada di Kut Al-Amara, sebuah kota yang menjadi saksi bisu ambisi Inggris untuk mencengkeram Irak. Setelah menduduki Basra dengan bantuan penguasa lokal yang berkhianat, pasukan Britania Raya—berkekuatan 45.000 serdadu—merangsek maju menuju Baghdad. Namun, mereka tak menyadari bahwa singa-singa Khilafah Utsmaniyah telah menanti di utara. Pada 23 November 1915, Divisi ke-51 Angkatan Darat Utsmaniyah melancarkan serangan balik yang menggelegar. Pasukan Inggris kocar-kadir, terpaksa mundur dalam kehinaan hingga terpojok di benteng Kut Al-Amara. Pengepungan Mencekam: 143 Hari Tanpa Ampun Di bawah komando Khalil Pasha, pengepungan dimulai pada Desember 1915. Selama 4 bulan dan 23 hari, besi-besi kematian mengepung tentara Inggris. Upaya penyelamatan mereka hancur berkeping-keping dalam pertempuran Sheikh Saad dan Al-Wadi. Keputusasaan mulai merayapi sanubari Jenderal Charles Townshend. Inggris mencoba mengirimkan pasokan makanan lewat udara, namun "pesawat-pesawat kelontong" mereka rontok satu per satu diterjang peluru Utsmaniyah. Mereka mencoba menyelundupkan logistik melalui kapal di kegelapan malam, namun kewaspadaan pejuang Muslim berhasil menyitanya. Harapan Inggris padam; mereka terkunci dalam kelaparan dan maut. Harga Diri yang Tak Terbeli dengan Emas Dalam keruntuhannya, Inggris mencoba menyuap kehormatan Islam. Mereka menawarkan 1 juta poundsterling sebagai fidyah agar diizinkan pulang ke India. Namun, jawaban dari Markas Besar Utsmaniyah meledak layaknya petir: "Kami tidak memiliki kewajiban politik untuk menyenangkan Inggris, dan kami sama sekali tidak butuh uang mereka!" Bagi Utsmaniyah, hanya ada satu pilihan bagi musuh: Menyerah total. Pada 29 April 1916, Jenderal Townshend menyerah tanpa syarat. Sebanyak 13.300 prajurit Inggris dan India, termasuk 6 jenderal besar dan 476 perwira, digiring sebagai tawanan. Ini adalah salah satu sejarah penyerahan diri paling memalukan bagi Britania Raya. Persatuan yang Menggetarkan Dunia Kemenangan ini bukan sekadar taktik militer, melainkan buah dari Ukhuwah Islamiyah. Suku-suku Arab di selatan Irak—Bani Lam, Bani Turf, Rabia—bertempur bahu-membahu dengan tentara Turki. Fatwa ji*had pun berkumandang dari lisan para ulama besar di Najaf, menyatukan elemen Sunni dan Syiah di bawah panji Khilafah untuk mengusir penjajah. Saat itu, dunia sadar: jika bangsa Arab dan Turki bersatu, imperium manapun akan tersungkur di bawah kaki mereka. Tikaman dari Belakang: Sebuah Pengkhianatan Namun, di saat kemenangan manis Kut Al-Amara masih dirayakan, sebuah duri menusuk dari belakang. Inggris, yang martabatnya hancur di lumpur Irak dan selat Dardanelles, beralih pada cara-cara licik. Hanya dua bulan setelah kemenangan agung ini, pengkhianatan muncul dari tanah Hijaz. Syarif Husein (kakek dari raja-raja Yordania) termakan hasutan Inggris. Dengan imbalan emas dan kekuasaan, ia melancarkan "Revolusi Arab" pada Juni 1916. Pengkhianatan ini memecah fokus militer Utsmaniyah dan membuka jalan bagi jatuhnya Pales*tina ke tangan penjajah. Catatan pada Gambar: Dalam potret sejarah ini, Anda dapat melihat Khalil Pasha duduk dengan gagah di sebelah kanan, dikelilingi oleh para panglima Muslim yang perkasa. Sementara di ujung kiri, duduklah Townshend, sang Jenderal Inggris yang agung, kini tertunduk sebagai pecundang yang terhina. Hingga hari ini, setiap tanggal 29 April, kemenangan di Kut Al-Amara tetap dikenang sebagai simbol keteguhan melawan kolonialisme dan "Perang Sa*lib" modern. Sebuah bukti bahwa persatuan umat adalah senjata yang paling mematikan.

 Di tepian Sungai Tigris yang melegenda, sebuah babak sejarah tertulis dengan da*rah dan keberanian. Inilah kisah tentang salah satu kemenangan militer Muslim paling agung dan peristiwa paling memalukan bagi Barat dalam kurun waktu satu abad terakhir.



Gema Perang di Tanah Irak


Panggung drama ini berada di Kut Al-Amara, sebuah kota yang menjadi saksi bisu ambisi Inggris untuk mencengkeram Irak. Setelah menduduki Basra dengan bantuan penguasa lokal yang berkhianat, pasukan Britania Raya—berkekuatan 45.000 serdadu—merangsek maju menuju Baghdad. Namun, mereka tak menyadari bahwa singa-singa Khilafah Utsmaniyah telah menanti di utara.


Pada 23 November 1915, Divisi ke-51 Angkatan Darat Utsmaniyah melancarkan serangan balik yang menggelegar. Pasukan Inggris kocar-kadir, terpaksa mundur dalam kehinaan hingga terpojok di benteng Kut Al-Amara.


Pengepungan Mencekam: 143 Hari Tanpa Ampun


Di bawah komando Khalil Pasha, pengepungan dimulai pada Desember 1915. Selama 4 bulan dan 23 hari, besi-besi kematian mengepung tentara Inggris. Upaya penyelamatan mereka hancur berkeping-keping dalam pertempuran Sheikh Saad dan Al-Wadi.


Keputusasaan mulai merayapi sanubari Jenderal Charles Townshend. Inggris mencoba mengirimkan pasokan makanan lewat udara, namun "pesawat-pesawat kelontong" mereka rontok satu per satu diterjang peluru Utsmaniyah. Mereka mencoba menyelundupkan logistik melalui kapal di kegelapan malam, namun kewaspadaan pejuang Muslim berhasil menyitanya. Harapan Inggris padam; mereka terkunci dalam kelaparan dan maut.


Harga Diri yang Tak Terbeli dengan Emas


Dalam keruntuhannya, Inggris mencoba menyuap kehormatan Islam. Mereka menawarkan 1 juta poundsterling sebagai fidyah agar diizinkan pulang ke India. Namun, jawaban dari Markas Besar Utsmaniyah meledak layaknya petir:

"Kami tidak memiliki kewajiban politik untuk menyenangkan Inggris, dan kami sama sekali tidak butuh uang mereka!"


Bagi Utsmaniyah, hanya ada satu pilihan bagi musuh: Menyerah total.


Pada 29 April 1916, Jenderal Townshend menyerah tanpa syarat. Sebanyak 13.300 prajurit Inggris dan India, termasuk 6 jenderal besar dan 476 perwira, digiring sebagai tawanan. Ini adalah salah satu sejarah penyerahan diri paling memalukan bagi Britania Raya.


Persatuan yang Menggetarkan Dunia


Kemenangan ini bukan sekadar taktik militer, melainkan buah dari Ukhuwah Islamiyah. Suku-suku Arab di selatan Irak—Bani Lam, Bani Turf, Rabia—bertempur bahu-membahu dengan tentara Turki. Fatwa ji*had pun berkumandang dari lisan para ulama besar di Najaf, menyatukan elemen Sunni dan Syiah di bawah panji Khilafah untuk mengusir penjajah.


Saat itu, dunia sadar: jika bangsa Arab dan Turki bersatu, imperium manapun akan tersungkur di bawah kaki mereka.


Tikaman dari Belakang: Sebuah Pengkhianatan


Namun, di saat kemenangan manis Kut Al-Amara masih dirayakan, sebuah duri menusuk dari belakang. Inggris, yang martabatnya hancur di lumpur Irak dan selat Dardanelles, beralih pada cara-cara licik.


Hanya dua bulan setelah kemenangan agung ini, pengkhianatan muncul dari tanah Hijaz. Syarif Husein (kakek dari raja-raja Yordania) termakan hasutan Inggris. Dengan imbalan emas dan kekuasaan, ia melancarkan "Revolusi Arab" pada Juni 1916. Pengkhianatan ini memecah fokus militer Utsmaniyah dan membuka jalan bagi jatuhnya Pales*tina ke tangan penjajah.


Catatan pada Gambar:


Dalam potret sejarah ini, Anda dapat melihat Khalil Pasha duduk dengan gagah di sebelah kanan, dikelilingi oleh para panglima Muslim yang perkasa. Sementara di ujung kiri, duduklah Townshend, sang Jenderal Inggris yang agung, kini tertunduk sebagai pecundang yang terhina.


Hingga hari ini, setiap tanggal 29 April, kemenangan di Kut Al-Amara tetap dikenang sebagai simbol keteguhan melawan kolonialisme dan "Perang Sa*lib" modern. Sebuah bukti bahwa persatuan umat adalah senjata yang paling mematikan.

Kerajaan Alawiyah Zaidiyah Yaman berdiri di zaman Salaf, yakni tahun 284 Hijriah dengan Raja pertamanya adalah Al Imam Yahya Al Hadi ilal Haq bin Husein Al Hafizh bin Qasim Ar Rasai bin Ibrahim Thabathaba bin Isma'il ad Dibaj bin Ibrahim Al Ghamr bin Hasan Al Mutsanna bin Sayyidina Hasan. . Kerajaan Alawiyah Zaidiyah Yaman berakhir pada tahun 1962 Masehi dengan raja terakhir Al Imam Ahmad An Nashir bin Al Imam Yahya Al Mutawakkil bin Al Imam Muhammad al Manshur bin As Sayyid Yahya bin As Sayyid Muhammad bin As Sayyid Yahya Hamidaddin. . -------------------------------------- . Dalam foto ini adalah Al Amir Hasan bin Al Imam Yahya Al Mutawakkil alu Hamidaddin (Pangeran Hasan Saiful Islam alu Hamidaddin). . Beliau adalah anak langsung dari Raja Yaman Imam Yahya Al Mutawakkil alu Hamidaddin. Pangeran Hasan Hamidaddin dikaruniai usia panjang. Beliau hidup di 4 zaman. Zaman ayahnya (kerajaan Yaman - Kekhalifahan Utsmani) , zaman kakaknya (kerajaan Yaman) , zaman revolusi, dan zaman damai. . Pangeran Hasan Hamidaddin lahir pada tahun 1908 M pada zaman Kekhalifahan Utsmaniyah di zaman Imamah ayahnya, Imam Yahya Al Mutawakkil. Kemudian hidup di zaman kepemimpinan kakaknya, Raja Yaman Imam Ahmad An Nashir, sebagai Perdana Menteri Kerajaan Yaman. Lalu masuk masa revolusi ketika rakyat Yaman menginginkan Yaman menjadi Republik. Di masa itu Pangeran Hasan ikut bergerilya mengangkat senjata. Kemudian di akhir usianya, beliau mendapatkan suaka politik dan tinggal di Jeddah bersama para Amir (pangeran) trah Alu Hamidaddin lainnya, sampai wafatnya. . Pangeran Hasan Hamidaddin wafat dan dimakamkan di Jeddah pada tahun 2003. Kini keturunannya tinggal di Saudi Arabia. Putranya yang bernama Muhammad bin Hasan Hamidaddin menjadi pemimpin Trah Alu Hamidaddin di Saudi Arabia. . •••┈┈┈┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈┈┈┈••• اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آل نبينا محمد •••┈┈┈┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈┈┈┈••• . [ Pict ] Pangeran Al Amir Hasan Saiful Islam bin Al Imam Yahya Al Mutawakkil : 1. Ketika manjadi Perdana Menteri 2. Ketika menjadi Gerilyawan 3. Ketika menikmati masa sepuh yang damai di Jeddah, bersama keponakan tercintanya, Al Amir Mu'adz bin Sayyid Ali Saiful Islam bin Imam Yahya Al Mutawakkil alu Hamidaddin

 Kerajaan Alawiyah Zaidiyah Yaman berdiri di zaman Salaf, yakni tahun 284 Hijriah dengan Raja pertamanya adalah Al Imam Yahya Al Hadi ilal Haq bin Husein Al Hafizh bin Qasim Ar Rasai bin Ibrahim Thabathaba bin Isma'il ad Dibaj bin Ibrahim Al Ghamr bin Hasan Al Mutsanna bin Sayyidina Hasan. 


Kerajaan Alawiyah Zaidiyah Yaman berakhir pada tahun 1962 Masehi dengan raja terakhir Al Imam Ahmad An Nashir bin Al Imam Yahya Al Mutawakkil bin Al Imam Muhammad al Manshur bin As Sayyid Yahya bin As Sayyid Muhammad bin As Sayyid Yahya Hamidaddin. 

--------------------------------------

Dalam foto ini adalah Al Amir Hasan bin Al Imam Yahya Al Mutawakkil alu Hamidaddin (Pangeran Hasan Saiful Islam alu Hamidaddin). 

Beliau adalah anak langsung dari Raja Yaman Imam Yahya Al Mutawakkil alu Hamidaddin. Pangeran Hasan Hamidaddin dikaruniai usia panjang. 

Beliau hidup di 4 zaman. 

Zaman ayahnya (kerajaan Yaman - Kekhalifahan Utsmani) , zaman kakaknya (kerajaan Yaman) , zaman revolusi, dan zaman damai. 

Pangeran Hasan Hamidaddin lahir pada tahun 1908 M pada zaman Kekhalifahan Utsmaniyah di zaman Imamah ayahnya, Imam Yahya Al Mutawakkil. 

Kemudian hidup di zaman kepemimpinan kakaknya, Raja Yaman Imam Ahmad An Nashir, sebagai Perdana Menteri Kerajaan Yaman. 

Lalu masuk masa revolusi ketika rakyat Yaman menginginkan Yaman menjadi Republik. Di masa itu Pangeran Hasan ikut bergerilya mengangkat senjata. 

Kemudian di akhir usianya, beliau mendapatkan suaka politik dan tinggal di Jeddah bersama para Amir (pangeran) trah Alu Hamidaddin lainnya, sampai wafatnya.

Pangeran Hasan Hamidaddin wafat dan dimakamkan di Jeddah pada tahun 2003. Kini keturunannya tinggal di Saudi Arabia. Putranya yang bernama Muhammad bin Hasan Hamidaddin menjadi pemimpin Trah Alu Hamidaddin di Saudi Arabia. 

.

•••┈┈┈┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈┈┈┈•••

اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آل نبينا محمد 

•••┈┈┈┈┈┈┈•✿❁✿•┈┈┈┈┈┈┈•••

.

[ Pict ]

Pangeran Al Amir Hasan Saiful Islam bin Al Imam Yahya Al Mutawakkil : 

1. Ketika manjadi Perdana Menteri

2. Ketika menjadi Gerilyawan

3. Ketika menikmati masa sepuh yang damai di Jeddah, bersama keponakan tercintanya, Al Amir Mu'adz bin Sayyid Ali Saiful Islam bin Imam Yahya Al Mutawakkil alu Hamidaddin

Di bawah cakrawala Yaman, para awak kapal Sefer Reis bersiap dengan galai-galai baru yang perkasa. Mereka bukan sekadar pelaut; mereka adalah instrumen kekuasaan yang dialihkan dari rute Mozambik menuju ujung Sumatra: Aceh. Misi mereka sangat krusial—menjadi perisai baja bagi armada rempah-rempah yang setiap tahun mempertaruhkan nyawa menyeberangi samudera menuju Laut Merah. Inilah catatan sejarah yang monumental, sebuah momen di mana galai-galai tempur Khilafah Utsmaniyah berdiri gagah mengawal kafilah dagang Aceh menantang maut. Fajar tahun 1566 menyingsing dengan kabar yang menggetarkan telinga Portugis. Di dermaga-dermaga Aceh, lima galiung raksasa sarat lada dan barang-barang mewah tengah bersiap, dibentengi oleh sembilan galai tempur Utsmaniyah yang haus akan pertempuran. Tak tinggal diam, Portugis segera mengirimkan predator-predator laut mereka—lima galiung dan enam galai—menuju Kepulauan Maladewa, berambisi memutus urat nadi perdagangan itu di tengah rute menuju Laut Merah. Setibanya di Maladewa, Diogo Pereyra, komandan armada Portugis, menyadari bahwa mangsanya telah berada dalam jangkauan. Namun, laut tak semudah itu ditaklukkan. Dalam kegelisahannya, Pereyra memecah armadanya menjadi dua, berpatroli layaknya serigala yang mencari jejak di kegelapan. Sebuah keputusan yang kelak akan disesali. Seorang penulis kronik Portugis, Diogo do Couto, meratapi kepiawaian musuh mereka dengan getir: "Bangsa Turki adalah pejuang yang berani dan sarat pengalaman perang; mereka tidak pernah membiarkan nasib mereka ditentukan oleh keberuntungan, berbeda dengan kita yang sering kali ceroboh." Begitu mencium kehadiran Pereyra, para komandan Utsmaniyah tidak lari ketakutan. Mereka justru merajut tipu muslihat yang mematikan. Melalui dentuman meriam yang ditembakkan secara beruntun dari lokasi yang berbeda-beda, mereka menciptakan fatamorgana suara. Dua patroli Portugis itu terjebak dalam kebingungan; masing-masing mengira rekannya telah menemukan musuh. Sepanjang siang yang membara dan malam yang mencekam, kedua skuadron Portugis itu saling mengejar bayangan satu sama lain. Saat fajar menyingsing dan mereka menyadari ketololan tersebut, samudera telah sunyi. Seluruh galai Utsmaniyah dan kapal rempah Aceh telah melesat jauh di balik cakrawala, meloloskan diri dari cengkeraman maut. Kafilah dari Aceh itu akhirnya berlabuh dengan megah di Mocha. Mereka membawa pulang kekayaan rempah yang melimpah, Lutfi, dan sang diplomat ulung, Hussein—duta besar Aceh yang pernah menginjakkan kaki di Istanbul pada 1562—membawa kembali kemenangan yang harum di tengah deburan ombak Samudera Hindia. ________________________________________ Sumber: The Ottoman Age of Exploration, oleh Profesor Giancarlo Casale, Oxford University Press, 2012, hal. 127.

 Di bawah cakrawala Yaman, para awak kapal Sefer Reis bersiap dengan galai-galai baru yang perkasa. Mereka bukan sekadar pelaut; mereka adalah instrumen kekuasaan yang dialihkan dari rute Mozambik menuju ujung Sumatra: Aceh. 



Misi mereka sangat krusial—menjadi perisai baja bagi armada rempah-rempah yang setiap tahun mempertaruhkan nyawa menyeberangi samudera menuju Laut Merah. Inilah catatan sejarah yang monumental, sebuah momen di mana galai-galai tempur Khilafah Utsmaniyah berdiri gagah mengawal kafilah dagang Aceh menantang maut.


Fajar tahun 1566 menyingsing dengan kabar yang menggetarkan telinga Portugis. Di dermaga-dermaga Aceh, lima galiung raksasa sarat lada dan barang-barang mewah tengah bersiap, dibentengi oleh sembilan galai tempur Utsmaniyah yang haus akan pertempuran. Tak tinggal diam, Portugis segera mengirimkan predator-predator laut mereka—lima galiung dan enam galai—menuju Kepulauan Maladewa, berambisi memutus urat nadi perdagangan itu di tengah rute menuju Laut Merah.


Setibanya di Maladewa, Diogo Pereyra, komandan armada Portugis, menyadari bahwa mangsanya telah berada dalam jangkauan. Namun, laut tak semudah itu ditaklukkan. Dalam kegelisahannya, Pereyra memecah armadanya menjadi dua, berpatroli layaknya serigala yang mencari jejak di kegelapan. Sebuah keputusan yang kelak akan disesali.


Seorang penulis kronik Portugis, Diogo do Couto, meratapi kepiawaian musuh mereka dengan getir:


"Bangsa Turki adalah pejuang yang berani dan sarat pengalaman perang; mereka tidak pernah membiarkan nasib mereka ditentukan oleh keberuntungan, berbeda dengan kita yang sering kali ceroboh."


Begitu mencium kehadiran Pereyra, para komandan Utsmaniyah tidak lari ketakutan. Mereka justru merajut tipu muslihat yang mematikan. Melalui dentuman meriam yang ditembakkan secara beruntun dari lokasi yang berbeda-beda, mereka menciptakan fatamorgana suara. Dua patroli Portugis itu terjebak dalam kebingungan; masing-masing mengira rekannya telah menemukan musuh.


Sepanjang siang yang membara dan malam yang mencekam, kedua skuadron Portugis itu saling mengejar bayangan satu sama lain. Saat fajar menyingsing dan mereka menyadari ketololan tersebut, samudera telah sunyi. Seluruh galai Utsmaniyah dan kapal rempah Aceh telah melesat jauh di balik cakrawala, meloloskan diri dari cengkeraman maut.


Kafilah dari Aceh itu akhirnya berlabuh dengan megah di Mocha. Mereka membawa pulang kekayaan rempah yang melimpah, Lutfi, dan sang diplomat ulung, Hussein—duta besar Aceh yang pernah menginjakkan kaki di Istanbul pada 1562—membawa kembali kemenangan yang harum di tengah deburan ombak Samudera Hindia.

________________________________________

Sumber: The Ottoman Age of Exploration, oleh Profesor Giancarlo Casale, Oxford University Press, 2012, hal. 127.

Masih inget nggak 2 Mei Hari Pendidikan Nasional? . "Als ik eens Nederlander was" atau "Seandainya saya orang Belanda" Merupakan tulisan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, putra keturunan Adipati Pakualaman, Yogyakarta dan dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913. Sindiran tajamnya berbunyi : “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun” Soewardi mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regerings Reglement – UU Pemerintahan Negeri Jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda. Akibatnya ia dibuang ke Belanda pada Oktober 1914. Dan akhirnya ia membawa R.A. Sutartinah, istrinya yang baru saja dinikahi menjalani bulan madu di pengasingan. Ia juga dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, pendiri Tamansiswa, Bapak Pendidikan Nasional. Copyright tulisan Sejarah Jogyakarta

 Masih inget nggak 2 Mei Hari Pendidikan Nasional?

.


"Als ik eens Nederlander was"  atau "Seandainya saya orang Belanda" 


Merupakan tulisan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, putra keturunan Adipati Pakualaman, Yogyakarta dan dimuat dalam surat kabar de Expres milik Dr. Douwes Dekker, tahun 1913.


Sindiran tajamnya berbunyi :


“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. 


Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. 


Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita garuk pula kantongnya. 


Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!


Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun”


Soewardi mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regerings Reglement – UU Pemerintahan Negeri Jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda. 


Akibatnya ia dibuang ke Belanda pada Oktober 1914. Dan akhirnya ia membawa R.A. Sutartinah, istrinya yang baru saja dinikahi menjalani bulan madu di pengasingan.


Ia juga dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara, pendiri Tamansiswa, Bapak Pendidikan Nasional.


Copyright tulisan Sejarah Jogyakarta

— Nikita Khrushchev digulingkan dari kekuasaan pada Oktober 1964 karena "kudeta lingkar istana" yang dipimpin oleh Leonid Brezhnev dan anggota partai lainnya. Orang-orang dekatnya sejak lama gerah oleh pengambilan keputusan Khruschev yang tidak konsisten. Semisal kebijakan pembukaan lahan pertanian dengan membabat kawasan konservasi dan hutan di Siberia yang berujung gagal total. Kebijakan luar negeri yang memalukan dan dianggap menggadaikan harga diri Uni Soviet, terutama terkait penyelesaian krisis rudal Kuba. Penyebab lainnya adalah kepemimpinan Khruschev yang bergaya kasar, arogan dan egois, sehingga membuat para elit merasa terasing. Ditambah juga Khruschev mengisolasi dirinya dan memiliki kedekatan dengan hanya segelintir orang dalam pemerintahannya, seperti Oleg Troyanovsky dan Anastas Mikoyan. Kekuasaan Khruschev jatuh karena penyebab yang bertumpuk. Programnya mengalami kegagalan berlapis-lapis akibat sikapnya yang eksklusif, membuat egoisme menubuh dalam kekuasaanya. Dia tidak mendengar karena tidak mau mendengar. Dia hanya ingin mendengar apa yang ingin didengar. Dia berbicara kepada siapapun tanpa memberi kebebasan kepada orang lain untuk berbicara. Gaya Kepemimpinan Sewenang-wenang Khruschev ini dikenal sebagai "voluntarisme". Dia terbiasa mengambil keputusan yang tidak terduga dan seringkali menghina dan meremehkan sesama aliansi politiknya, hingga membentuk resistensi beku di kalangan Nomenklatura Soviet. Khrushchev berkuasa 11 tahun. Dia secara resmi digantikan karena alasan "usia lanjut dan kesehatan yang buruk" dalam rangkaian peristiwa yang disebut sebagai "kudeta paling demokratis" dalam sejarah Soviet. Penggantinya adalah Leonid Brezhnev, mantan orang dekatnya yang kecewa berat akibat inkonsistensi Khruschev dalam kekuasaannya.

 — Nikita Khrushchev digulingkan dari kekuasaan pada Oktober 1964 karena "kudeta lingkar istana" yang dipimpin oleh Leonid Brezhnev dan anggota partai lainnya. Orang-orang dekatnya sejak lama gerah oleh pengambilan keputusan Khruschev yang tidak konsisten. Semisal kebijakan pembukaan lahan pertanian dengan membabat kawasan konservasi dan hutan di Siberia yang berujung gagal total. Kebijakan luar negeri yang memalukan dan dianggap menggadaikan harga diri Uni Soviet, terutama terkait penyelesaian krisis rudal Kuba.



Penyebab lainnya adalah kepemimpinan Khruschev yang bergaya kasar, arogan dan egois, sehingga membuat para elit merasa terasing. Ditambah juga Khruschev mengisolasi dirinya dan memiliki kedekatan dengan hanya segelintir orang dalam pemerintahannya, seperti Oleg Troyanovsky dan Anastas Mikoyan.


Kekuasaan Khruschev jatuh karena penyebab yang bertumpuk. Programnya mengalami kegagalan berlapis-lapis akibat sikapnya yang eksklusif, membuat egoisme menubuh dalam kekuasaanya. Dia tidak mendengar karena tidak mau mendengar. Dia hanya ingin mendengar apa yang ingin didengar. Dia berbicara kepada siapapun tanpa memberi kebebasan kepada orang lain untuk berbicara. 


Gaya Kepemimpinan Sewenang-wenang Khruschev ini dikenal sebagai "voluntarisme". Dia terbiasa mengambil keputusan yang tidak terduga dan seringkali menghina dan meremehkan sesama aliansi politiknya, hingga membentuk resistensi beku di kalangan Nomenklatura Soviet.


Khrushchev berkuasa 11 tahun. Dia secara resmi digantikan karena alasan "usia lanjut dan kesehatan yang buruk" dalam rangkaian peristiwa yang disebut sebagai "kudeta paling demokratis" dalam sejarah Soviet. Penggantinya adalah Leonid Brezhnev, mantan orang dekatnya yang kecewa berat akibat inkonsistensi Khruschev dalam kekuasaannya.

Sumber : Islah Bahrawi

Pada tahun 1959, di bawah bayang-bayang kemenangan Revolusi Kuba yang masih hangat, Che Guevara melintasi cakrawala Timur Tengah. Ia bukan sekadar seorang pelancong; ia adalah simbol pemberontakan yang tengah mencari jejak-jejak keberanian di tanah para nabi. Langkah kakinya kemudian terhenti di jantung kota Damaskus, Suriah, tepat di hadapan peristirahatan terakhir sang legenda: Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Salahuddin, sang pembebas Yerusalem yang namanya menggetarkan pasukan Sa.lib, merupakan mercusuar kedaulatan bagi dunia Timur. Di sana, di dekat kemegahan Masjid Agung Umayyad, Che memberikan penghormatan khidmatnya. Momen ini bukan sekadar ziarah biasa, melainkan sebuah pertemuan spiritual melintasi zaman—sebuah jabat tangan tak terlihat antara pemimpin revolusi modern dan panglima perang masa lalu yang dipersatukan oleh api perlawanan yang sama. Dalam potret-potret yang tersisa, Guevara tampak berdiri tegak dalam balutan seragam militernya yang ikonik. Di hadapan makam sang Sultan, sejarah seolah berbisik bahwa meski zaman berganti, semangat pembebasan akan selalu menemukan jalannya untuk saling mengenali.

 Pada tahun 1959, di bawah bayang-bayang kemenangan Revolusi Kuba yang masih hangat, Che Guevara melintasi cakrawala Timur Tengah. Ia bukan sekadar seorang pelancong; ia adalah simbol pemberontakan yang tengah mencari jejak-jejak keberanian di tanah para nabi.



Langkah kakinya kemudian terhenti di jantung kota Damaskus, Suriah, tepat di hadapan peristirahatan terakhir sang legenda: Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.


Salahuddin, sang pembebas Yerusalem yang namanya menggetarkan pasukan Sa.lib, merupakan mercusuar kedaulatan bagi dunia Timur. Di sana, di dekat kemegahan Masjid Agung Umayyad, Che memberikan penghormatan khidmatnya. 


Momen ini bukan sekadar ziarah biasa, melainkan sebuah pertemuan spiritual melintasi zaman—sebuah jabat tangan tak terlihat antara pemimpin revolusi modern dan panglima perang masa lalu yang dipersatukan oleh api perlawanan yang sama.


Dalam potret-potret yang tersisa, Guevara tampak berdiri tegak dalam balutan seragam militernya yang ikonik. Di hadapan makam sang Sultan, sejarah seolah berbisik bahwa meski zaman berganti, semangat pembebasan akan selalu menemukan jalannya untuk saling mengenali.

Rumahnya ia sulap jadi museum untuk dirinya sendiri. Jurnalis BBC menyebutnya "Kesombongan Napoleon". Inilah kronologi kebangkitan dan kehancuran tragis Rajesh Khanna, superstar pertama India yang meninggal dalam sunyi. Kisah ini nyata. Inilah tragedi Rajesh Khanna. 🎬 LEGENDA YANG DISEMBAH BAK DEWA Rajesh Khanna, yang akrab disapa "Kaka", bukan sekadar bintang film—ia adalah superstar pertama dalam sejarah perfilman India (Bollywood). Lahir di Amritsar pada 29 Desember 1942, ia memulai debutnya di film "Aakhri Khat" pada 1966. Namun puncak fenomenanya terjadi pada 1969 lewat film "Aradhana". Sejak saat itu, ia membukukan 15 film solo hit berturut-turut antara 1969 hingga 1971—sebuah rekor yang hingga hari ini belum terpecahkan oleh siapa pun di Bollywood, termasuk Amitabh Bachchan sekalipun. Kehebohan yang ia timbulkan benar-benar di luar nalar. Para penggemar wanita berbaris di jalan hanya untuk melihat sosoknya sekilas. Mereka meneriakkan namanya, menutupi mobilnya dengan bekas lipstik, bahkan menulis surat untuknya menggunakan darah mereka sendiri. Beberapa gadis "menikahi" foto Rajesh Khanna, mengoleskan darah di dahi mereka sebagai sindoor—simbol pernikahan dalam budaya India. Ke mana pun ia pergi, polisi harus mengawalnya. Ia bukan lagi manusia biasa. Ia adalah dewa di mata jutaan orang. 🏛 "KUIL UNTUK DIRINYA SENDIRI" Puncak kesuksesan membuat Rajesh Khanna membeli sebuah bungalo mewah di Carter Road, Bandra, Mumbai. Rumah itu ia beri nama "Aashirwad"—yang dalam bahasa Hindi berarti "berkah". Namun yang terjadi di dalam rumah itu justru mencerminkan sesuatu yang lain. Pada 1973, seorang jurnalis BBC bernama Jack Pizzey datang ke Mumbai untuk membuat film dokumenter berjudul "Bombay Superstar". Pizzey ingin mewawancarai Rajesh Khanna. Tapi apa yang ia alami sungguh mengejutkan: Pizzey harus menunggu selama lima hari penuh hanya untuk bisa bertemu sang superstar, bak menghadap seorang raja. Saat kru BBC akhirnya diizinkan masuk ke rumah tersebut, Pizzey tertegun. Ia menulis dalam deskripsinya: "Di dalam rumahnya, sang bintang telah menatanya sebagai sebuah kuil untuk dirinya sendiri. Kami membaca majalah tentang dirinya, menunggu janji lain yang tidak pernah ia tepati, dan mempelajari piala-piala filmnya." Ya, Rajesh Khanna benar-benar menjadikan rumahnya museum pribadi yang seluruh isinya tentang dirinya sendiri: foto-fotonya, artikel tentang dirinya, dan deretan penghargaan yang memuja kehebatannya. ⚡ "KESOMBONGAN NAPOLEON" YANG MELEGENDA Dalam dokumenter BBC tersebut, Pizzey merekam momen keterlambatan kronis Rajesh Khanna di lokasi syuting. Dengan suara narasi yang dingin, Pizzey berkata: "Ini pukul 10 pagi yang lengket di musim panas, dan bintang terbesar seharusnya sudah tiba di studio ini. Superstar itu adalah Rajesh Khanna. Ia memiliki karisma Rudolph Valentino, kesombongan Napoleon, dan ia terlambat. Tidak ada yang bisa dilakukan sutradara. Ia menulis ulang dialog lagi, dialog yang seharusnya sudah diucapkan bintangnya sekarang. Ia berkeringat dan menunggu. Semua orang berkeringat, bersiap-siap, dan menunggu." Sutradara legendaris Hrishikesh Mukherjee yang saat itu menyutradarainya hanya bisa pasrah. Kru film tidur, bermain kartu, dan mengisi waktu entah sampai kapan. Keterlambatan ini bukan insiden satu kali. Aktris Sharmila Tagore—lawan mainnya di film-film legendaris seperti Aradhana dan Amar Prem—pernah menulis dengan jujur tentang Rajesh Khanna: "Kaka tidak pernah datang sebelum jam 12 siang untuk jadwal syuting jam 9 pagi. Kami tidak pernah selesai tepat waktu. Akibatnya, seluruh kru menekan saya untuk lembur. Ini menjadi kebiasaan, dan karena saya punya banyak film bersamanya, saya merasa terjebak. Akhirnya saya memilih bekerja dengan aktor lain lebih sering, dan jujur saja... itu sungguh melegakan." Bahkan aktris Moushumi Chatterjee secara blak-blakan menyebut Rajesh Khanna seorang yang egois, meskipun ia membela bahwa ego itu "memang pantas dimiliki" karena rekor 15 film hit berturut-turutnya yang sulit tertandingi. 📉 KEJATUHAN YANG SAMA CEPATNYA Masalahnya, industri film tidak menunggu. Kesuksesan Rajesh Khanna memang seperti meteor—gemilang di langit sesaat, lalu padam dengan cepat. Sejak 1973, perlahan tapi pasti, angin perubahan mulai berhembus di Bollywood. Seorang aktor jangkung bernama Amitabh Bachchan mulai menanjak popularitasnya. Berbeda dengan Rajesh Khanna yang dikenal lewat peran-peran romantis, Amitabh tampil garang dalam film aksi laga. Publik India sedang bergeser seleranya, dan Rajesh Khanna gagal beradaptasi. Sharmila Tagore mengamati dengan tajam: "Seperti persahabatannya, Kaka tidak merawat ketenarannya dan membiarkannya lepas dari genggaman. Ia gagal menyadari bahwa penonton sedang berubah, bahwa peran-peran yang ia mainkan semakin tidak relevan. Kaka entah tidak bisa atau tidak mau menemukan kembali dirinya agar tetap kekinian; sampai-sampai ia hampir menjadi karikatur dari dirinya sendiri, dan orang-orang mulai mengejeknya." Catatan sejarah menunjukkan betapa menusuknya ironi hidupnya. Dulu, surat-surat penggemar membanjiri rumahnya setiap hari. Kini, di hari-hari ulang tahunnya di masa senja, hanya dua buket bunga yang datang. Dua. 💔 KESEPIAN YANG MENGHANCURKAN Jurnalis dan sahabat dekatnya, Ali Peter John, menulis bagaimana Rajesh Khanna menghabiskan masa-masa terakhir hidupnya seorang diri di rumah Aashirwad yang dulu megah, ditemani botol-botol alkohol dan bayang-bayang kejayaan masa lalu. Ali Peter John menuliskan: "Sore, malam, dan waktu malamnya adalah saat di mana satu-satunya teman yang ia punya adalah kenangan akan masa lalu yang gemilang, penderitaan masa kini, dan ketakutan akan masa depan yang tak pasti." Ada satu momen paling memilukan yang direkam oleh Ali Peter John. Ia menemani Rajesh Khanna ke sebuah acara di Kolkata. Untuk sesaat, sambutan hangat penggemar di sana membuat Rajesh Khanna berbisik penuh harap: "Ali, apa tidak terasa seperti aku masih seorang superstar?" Namun kenyataan pahit langsung menghantam begitu mereka kembali ke Mumbai. Di bandara, tidak ada satu orang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada pria yang dulu duduk di singgasana itu. Rajesh Khanna, sang megabintang yang pernah menjadi raja di hati jutaan orang, terpaksa duduk di atas kopernya sendiri di lantai bandara. Seperti meteor yang jatuh ke bumi tanpa seorang pun peduli. ⚰ AKHIR YANG SUNYI Rajesh Khanna meninggal dunia pada 18 Juli 2012 di rumahnya sendiri—Aashirwad—pada usia 69 tahun setelah berjuang melawan kanker. Ratusan penggemar memang membanjiri jalan Carter Road saat prosesi pemakamannya, seolah mengingatkan dunia akan histeria masa lalu. Namun ironisnya, bungalo Aashirwad yang dulu ia harapkan menjadi museum sinema justru dijual oleh keluarganya seharga ₹90 crore (sekitar Rp1,7 triliun) kepada seorang pengusaha—dan pada 2016, rumah itu diratakan dengan tanah. Mimpi terakhirnya untuk membuat museum Hindi Cinema yang memamerkan kejayaannya sendiri tak pernah terwujud. Bungalo yang dulu ia banggakan sebagai "kuil untuk dirinya sendiri" itu kini hanya tinggal kenangan. 🌟 PELAJARAN DARI KISAH INI Kisah Rajesh Khanna adalah cermin yang memantulkan kebenaran universal: bakat dan ketenaran adalah hadiah yang luar biasa, tetapi kesombongan adalah racun yang mematikan. Karisma Rudolph Valentino dan kesuksesan seperti Napoleon tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati. Seperti kata pepatah: "Jadilah seperti padi—semakin berisi, semakin merunduk." Karena pada akhirnya, yang tersisa dari manusia bukanlah limousin yang ia tumpangi atau poster yang menyambutnya, melainkan jejak ketulusan yang ia tinggalkan di hati sesama. --- 📌 GLOSARIUM (Istilah Penting dalam Cerita Ini): 🔹 Bollywood: Sebutan untuk industri film India yang berbahasa Hindi, berpusat di Mumbai (dulu Bombay). Nama ini gabungan dari Bombay + Hollywood. 🔹 Sindoor: Bubuk merah yang dioleskan di dahi wanita Hindu sebagai simbol pernikahan. 🔹 Bungalo (Bungalow): Rumah mewah satu lantai khas era kolonial, umum di India. 🔹 Carter Road: Jalan utama di daerah elite Bandra, Mumbai, yang terkenal sebagai lokasi rumah para selebriti Bollywood. 🔹 Lakh/Crore: Satuan angka di India. 1 lakh = 100.000; 1 crore = 10.000.000. #JutaanFakta #RajeshKhanna #TragediSuperstar #SejarahBollywood #PelajaranHidup Rajesh Khanna, superstar pertama India, Bombay Superstar BBC, Aashirwad Gambar AI hanya Ilustrasi

 Rumahnya ia sulap jadi museum untuk dirinya sendiri. Jurnalis BBC menyebutnya "Kesombongan Napoleon". Inilah kronologi kebangkitan dan kehancuran tragis Rajesh Khanna, superstar pertama India yang meninggal dalam sunyi.



Kisah ini nyata. Inilah tragedi Rajesh Khanna.


🎬 LEGENDA YANG DISEMBAH BAK DEWA


Rajesh Khanna, yang akrab disapa "Kaka", bukan sekadar bintang film—ia adalah superstar pertama dalam sejarah perfilman India (Bollywood). Lahir di Amritsar pada 29 Desember 1942, ia memulai debutnya di film "Aakhri Khat" pada 1966.


Namun puncak fenomenanya terjadi pada 1969 lewat film "Aradhana". Sejak saat itu, ia membukukan 15 film solo hit berturut-turut antara 1969 hingga 1971—sebuah rekor yang hingga hari ini belum terpecahkan oleh siapa pun di Bollywood, termasuk Amitabh Bachchan sekalipun.


Kehebohan yang ia timbulkan benar-benar di luar nalar.


Para penggemar wanita berbaris di jalan hanya untuk melihat sosoknya sekilas. Mereka meneriakkan namanya, menutupi mobilnya dengan bekas lipstik, bahkan menulis surat untuknya menggunakan darah mereka sendiri. Beberapa gadis "menikahi" foto Rajesh Khanna, mengoleskan darah di dahi mereka sebagai sindoor—simbol pernikahan dalam budaya India. Ke mana pun ia pergi, polisi harus mengawalnya. Ia bukan lagi manusia biasa. Ia adalah dewa di mata jutaan orang.


🏛 "KUIL UNTUK DIRINYA SENDIRI"


Puncak kesuksesan membuat Rajesh Khanna membeli sebuah bungalo mewah di Carter Road, Bandra, Mumbai. Rumah itu ia beri nama "Aashirwad"—yang dalam bahasa Hindi berarti "berkah".


Namun yang terjadi di dalam rumah itu justru mencerminkan sesuatu yang lain. Pada 1973, seorang jurnalis BBC bernama Jack Pizzey datang ke Mumbai untuk membuat film dokumenter berjudul "Bombay Superstar". Pizzey ingin mewawancarai Rajesh Khanna. Tapi apa yang ia alami sungguh mengejutkan: Pizzey harus menunggu selama lima hari penuh hanya untuk bisa bertemu sang superstar, bak menghadap seorang raja.


Saat kru BBC akhirnya diizinkan masuk ke rumah tersebut, Pizzey tertegun. Ia menulis dalam deskripsinya:


"Di dalam rumahnya, sang bintang telah menatanya sebagai sebuah kuil untuk dirinya sendiri. Kami membaca majalah tentang dirinya, menunggu janji lain yang tidak pernah ia tepati, dan mempelajari piala-piala filmnya."


Ya, Rajesh Khanna benar-benar menjadikan rumahnya museum pribadi yang seluruh isinya tentang dirinya sendiri: foto-fotonya, artikel tentang dirinya, dan deretan penghargaan yang memuja kehebatannya.


⚡ "KESOMBONGAN NAPOLEON" YANG MELEGENDA


Dalam dokumenter BBC tersebut, Pizzey merekam momen keterlambatan kronis Rajesh Khanna di lokasi syuting. Dengan suara narasi yang dingin, Pizzey berkata:


"Ini pukul 10 pagi yang lengket di musim panas, dan bintang terbesar seharusnya sudah tiba di studio ini. Superstar itu adalah Rajesh Khanna. Ia memiliki karisma Rudolph Valentino, kesombongan Napoleon, dan ia terlambat. Tidak ada yang bisa dilakukan sutradara. Ia menulis ulang dialog lagi, dialog yang seharusnya sudah diucapkan bintangnya sekarang. Ia berkeringat dan menunggu. Semua orang berkeringat, bersiap-siap, dan menunggu."


Sutradara legendaris Hrishikesh Mukherjee yang saat itu menyutradarainya hanya bisa pasrah. Kru film tidur, bermain kartu, dan mengisi waktu entah sampai kapan.


Keterlambatan ini bukan insiden satu kali. Aktris Sharmila Tagore—lawan mainnya di film-film legendaris seperti Aradhana dan Amar Prem—pernah menulis dengan jujur tentang Rajesh Khanna:


"Kaka tidak pernah datang sebelum jam 12 siang untuk jadwal syuting jam 9 pagi. Kami tidak pernah selesai tepat waktu. Akibatnya, seluruh kru menekan saya untuk lembur. Ini menjadi kebiasaan, dan karena saya punya banyak film bersamanya, saya merasa terjebak. Akhirnya saya memilih bekerja dengan aktor lain lebih sering, dan jujur saja... itu sungguh melegakan."


Bahkan aktris Moushumi Chatterjee secara blak-blakan menyebut Rajesh Khanna seorang yang egois, meskipun ia membela bahwa ego itu "memang pantas dimiliki" karena rekor 15 film hit berturut-turutnya yang sulit tertandingi.


📉 KEJATUHAN YANG SAMA CEPATNYA


Masalahnya, industri film tidak menunggu. Kesuksesan Rajesh Khanna memang seperti meteor—gemilang di langit sesaat, lalu padam dengan cepat.


Sejak 1973, perlahan tapi pasti, angin perubahan mulai berhembus di Bollywood. Seorang aktor jangkung bernama Amitabh Bachchan mulai menanjak popularitasnya. Berbeda dengan Rajesh Khanna yang dikenal lewat peran-peran romantis, Amitabh tampil garang dalam film aksi laga. Publik India sedang bergeser seleranya, dan Rajesh Khanna gagal beradaptasi.


Sharmila Tagore mengamati dengan tajam:


"Seperti persahabatannya, Kaka tidak merawat ketenarannya dan membiarkannya lepas dari genggaman. Ia gagal menyadari bahwa penonton sedang berubah, bahwa peran-peran yang ia mainkan semakin tidak relevan. Kaka entah tidak bisa atau tidak mau menemukan kembali dirinya agar tetap kekinian; sampai-sampai ia hampir menjadi karikatur dari dirinya sendiri, dan orang-orang mulai mengejeknya."


Catatan sejarah menunjukkan betapa menusuknya ironi hidupnya. Dulu, surat-surat penggemar membanjiri rumahnya setiap hari. Kini, di hari-hari ulang tahunnya di masa senja, hanya dua buket bunga yang datang. Dua.


💔 KESEPIAN YANG MENGHANCURKAN


Jurnalis dan sahabat dekatnya, Ali Peter John, menulis bagaimana Rajesh Khanna menghabiskan masa-masa terakhir hidupnya seorang diri di rumah Aashirwad yang dulu megah, ditemani botol-botol alkohol dan bayang-bayang kejayaan masa lalu.


Ali Peter John menuliskan:


"Sore, malam, dan waktu malamnya adalah saat di mana satu-satunya teman yang ia punya adalah kenangan akan masa lalu yang gemilang, penderitaan masa kini, dan ketakutan akan masa depan yang tak pasti."


Ada satu momen paling memilukan yang direkam oleh Ali Peter John. Ia menemani Rajesh Khanna ke sebuah acara di Kolkata. Untuk sesaat, sambutan hangat penggemar di sana membuat Rajesh Khanna berbisik penuh harap:


"Ali, apa tidak terasa seperti aku masih seorang superstar?"


Namun kenyataan pahit langsung menghantam begitu mereka kembali ke Mumbai. Di bandara, tidak ada satu orang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada pria yang dulu duduk di singgasana itu. Rajesh Khanna, sang megabintang yang pernah menjadi raja di hati jutaan orang, terpaksa duduk di atas kopernya sendiri di lantai bandara.


Seperti meteor yang jatuh ke bumi tanpa seorang pun peduli.


⚰ AKHIR YANG SUNYI


Rajesh Khanna meninggal dunia pada 18 Juli 2012 di rumahnya sendiri—Aashirwad—pada usia 69 tahun setelah berjuang melawan kanker. Ratusan penggemar memang membanjiri jalan Carter Road saat prosesi pemakamannya, seolah mengingatkan dunia akan histeria masa lalu. Namun ironisnya, bungalo Aashirwad yang dulu ia harapkan menjadi museum sinema justru dijual oleh keluarganya seharga ₹90 crore (sekitar Rp1,7 triliun) kepada seorang pengusaha—dan pada 2016, rumah itu diratakan dengan tanah.


Mimpi terakhirnya untuk membuat museum Hindi Cinema yang memamerkan kejayaannya sendiri tak pernah terwujud. Bungalo yang dulu ia banggakan sebagai "kuil untuk dirinya sendiri" itu kini hanya tinggal kenangan.


🌟 PELAJARAN DARI KISAH INI


Kisah Rajesh Khanna adalah cermin yang memantulkan kebenaran universal: bakat dan ketenaran adalah hadiah yang luar biasa, tetapi kesombongan adalah racun yang mematikan. Karisma Rudolph Valentino dan kesuksesan seperti Napoleon tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati.


Seperti kata pepatah: "Jadilah seperti padi—semakin berisi, semakin merunduk." Karena pada akhirnya, yang tersisa dari manusia bukanlah limousin yang ia tumpangi atau poster yang menyambutnya, melainkan jejak ketulusan yang ia tinggalkan di hati sesama.


---


📌 GLOSARIUM (Istilah Penting dalam Cerita Ini):


🔹 Bollywood: Sebutan untuk industri film India yang berbahasa Hindi, berpusat di Mumbai (dulu Bombay). Nama ini gabungan dari Bombay + Hollywood.

🔹 Sindoor: Bubuk merah yang dioleskan di dahi wanita Hindu sebagai simbol pernikahan.

🔹 Bungalo (Bungalow): Rumah mewah satu lantai khas era kolonial, umum di India.

🔹 Carter Road: Jalan utama di daerah elite Bandra, Mumbai, yang terkenal sebagai lokasi rumah para selebriti Bollywood.

🔹 Lakh/Crore: Satuan angka di India. 1 lakh = 100.000; 1 crore = 10.000.000.


#JutaanFakta #RajeshKhanna #TragediSuperstar #SejarahBollywood #PelajaranHidup


Rajesh Khanna, superstar pertama India, Bombay Superstar BBC, Aashirwad


Gambar AI hanya Ilustrasi

Luhut Ceritakan Kegarangan Jenderal Benny Moerdani di Era Soeharto. Di masa ketika hierarki militer begitu kaku dan disiplin menjadi napas utama, seorang perwira muda bernama Luhut Binsar Panjaitan justru memiliki akses yang tidak biasa. Saat masih berpangkat mayor, ia kerap dipanggil langsung oleh Panglima ABRI, Benny Moerdani seorang jenderal bintang empat yang dikenal dingin, tegas, dan penuh wibawa. Pertemuan-pertemuan itu bukan sekadar formalitas. Keduanya bisa berbincang selama berjam-jam, membahas berbagai hal strategis. Namun, kedekatan ini diam-diam memicu kegelisahan di kalangan senior Luhut. Dalam kultur militer, jalur komando adalah harga mati dan Luhut dianggap “melompati” itu. Menyadari situasi yang tidak nyaman, Luhut akhirnya memberanikan diri mengajukan permintaan yang terdengar sederhana, namun sarat risiko: agar pemanggilan dirinya dilakukan melalui atasan langsung. Ia memilih momen ketika suasana hati Benny sedang baik. Dengan hati-hati, ia menyampaikan maksudnya. Reaksi Benny tak seperti yang diharapkan. Wajah sang jenderal mendadak mengeras. Tangannya menyapu meja dengan gestur tegas. Suasana berubah dingin. Luhut langsung sadar ia telah menyentuh batas yang tak seharusnya dilewati. Dengan nada keras, Benny menegaskan hierarki yang tak bisa ditawar: “Luhut, saya jenderal bintang empat, kamu letkol.” Jawaban Luhut singkat, padat, dan penuh kepatuhan: “Siap!” Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mempertanyakan cara pemanggilan tersebut. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan kepercayaan besar. Salah satu momen paling menentukan adalah ketika Luhut ditugaskan mengamankan Presiden Soeharto dalam KTT ASEAN di Manila. Dalam gaya khasnya yang dingin, Benny menyampaikan pesan yang mengguncang mental: Keselamatan kepala negara adalah segalanya. Jika terjadi sesuatu pada Soeharto, maka bukan hanya jabatan yang dipertaruhkan melainkan masa depan republik. “Taruhan keselamatan Pak Harto adalah lehermu,” kira-kira begitu pesan yang disampaikan. Sekali lagi, Luhut menjawab tanpa ragu: “Siap. Laksanakan.” Kepercayaan Benny terhadap Luhut bukan tanpa alasan. Ia termasuk perwira terbaik lulusan Akabri 1970, dan bahkan dikirim untuk belajar kontra-terorisme di unit elite GSG 9 di Jerman Barat, bersama Prabowo Subianto. Sepulangnya, Luhut dipercaya memimpin Detasemen 81 cikal bakal pasukan anti-teror elit Indonesia. Namun dalam dunia kekuasaan, kedekatan sering kali membawa konsekuensi. Ketika Benny Moerdani akhirnya dicopot oleh Soeharto salah satunya karena berani menyinggung bisnis keluarga presiden dampaknya ikut dirasakan oleh orang-orang dekatnya. Luhut, yang dikenal sebagai “golden boy” Benny, perlahan kehilangan momentum dalam karier militernya. Ia tak pernah menduduki posisi strategis puncak seperti Danjen Kopassus, Pangdam, Pangkostrad, apalagi KSAD. Meski demikian, Luhut tidak menyimpan penyesalan. Ia menerima semuanya sebagai bagian dari konsekuensi pilihan dan loyalitas. Dalam dunia militer yang keras, kisah ini bukan sekadar tentang kedekatan antara atasan dan bawahan. Ini adalah cerita tentang kepercayaan, keberanian, batas hierarki, dan harga yang harus dibayar ketika berada terlalu dekat dengan pusat kekuasaan. Sumber : merdeka.com #SejarahIndonesia #OrdeBaru #LuhutPanjaitan #BennyMoerdani #MiliterIndonesia #KisahInspiratif #JejakJenderal

 Luhut Ceritakan Kegarangan Jenderal Benny Moerdani di Era Soeharto.


Di masa ketika hierarki militer begitu kaku dan disiplin menjadi napas utama, seorang perwira muda bernama Luhut Binsar Panjaitan justru memiliki akses yang tidak biasa. Saat masih berpangkat mayor, ia kerap dipanggil langsung oleh Panglima ABRI, Benny Moerdani seorang jenderal bintang empat yang dikenal dingin, tegas, dan penuh wibawa.



Pertemuan-pertemuan itu bukan sekadar formalitas. Keduanya bisa berbincang selama berjam-jam, membahas berbagai hal strategis. Namun, kedekatan ini diam-diam memicu kegelisahan di kalangan senior Luhut. Dalam kultur militer, jalur komando adalah harga mati dan Luhut dianggap “melompati” itu.


Menyadari situasi yang tidak nyaman, Luhut akhirnya memberanikan diri mengajukan permintaan yang terdengar sederhana, namun sarat risiko: agar pemanggilan dirinya dilakukan melalui atasan langsung. Ia memilih momen ketika suasana hati Benny sedang baik. Dengan hati-hati, ia menyampaikan maksudnya.


Reaksi Benny tak seperti yang diharapkan.


Wajah sang jenderal mendadak mengeras. Tangannya menyapu meja dengan gestur tegas. Suasana berubah dingin. Luhut langsung sadar ia telah menyentuh batas yang tak seharusnya dilewati.


Dengan nada keras, Benny menegaskan hierarki yang tak bisa ditawar:

“Luhut, saya jenderal bintang empat, kamu letkol.”


Jawaban Luhut singkat, padat, dan penuh kepatuhan: “Siap!”

Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mempertanyakan cara pemanggilan tersebut.


Namun di balik ketegasan itu, tersimpan kepercayaan besar.


Salah satu momen paling menentukan adalah ketika Luhut ditugaskan mengamankan Presiden Soeharto dalam KTT ASEAN di Manila. Dalam gaya khasnya yang dingin, Benny menyampaikan pesan yang mengguncang mental:


Keselamatan kepala negara adalah segalanya. Jika terjadi sesuatu pada Soeharto, maka bukan hanya jabatan yang dipertaruhkan melainkan masa depan republik.


“Taruhan keselamatan Pak Harto adalah lehermu,” kira-kira begitu pesan yang disampaikan.


Sekali lagi, Luhut menjawab tanpa ragu: “Siap. Laksanakan.”


Kepercayaan Benny terhadap Luhut bukan tanpa alasan. Ia termasuk perwira terbaik lulusan Akabri 1970, dan bahkan dikirim untuk belajar kontra-terorisme di unit elite GSG 9 di Jerman Barat, bersama Prabowo Subianto. Sepulangnya, Luhut dipercaya memimpin Detasemen 81 cikal bakal pasukan anti-teror elit Indonesia.


Namun dalam dunia kekuasaan, kedekatan sering kali membawa konsekuensi.


Ketika Benny Moerdani akhirnya dicopot oleh Soeharto salah satunya karena berani menyinggung bisnis keluarga presiden dampaknya ikut dirasakan oleh orang-orang dekatnya. Luhut, yang dikenal sebagai “golden boy” Benny, perlahan kehilangan momentum dalam karier militernya.


Ia tak pernah menduduki posisi strategis puncak seperti Danjen Kopassus, Pangdam, Pangkostrad, apalagi KSAD.


Meski demikian, Luhut tidak menyimpan penyesalan. Ia menerima semuanya sebagai bagian dari konsekuensi pilihan dan loyalitas.


Dalam dunia militer yang keras, kisah ini bukan sekadar tentang kedekatan antara atasan dan bawahan. Ini adalah cerita tentang kepercayaan, keberanian, batas hierarki, dan harga yang harus dibayar ketika berada terlalu dekat dengan pusat kekuasaan.

Sumber : merdeka.com

#SejarahIndonesia

#OrdeBaru

#LuhutPanjaitan

#BennyMoerdani

#MiliterIndonesia

#KisahInspiratif

#JejakJenderal

Belgrade, 1912. Di bawah bayang-bayang benteng yang membisu, sejarah sedang menangis. Di wajah Jenderal Fuad Pasha, sang panglima Ottoman yang kini tertunduk dalam tawanan, terpancar duka yang tak terlukiskan. Itu bukan sekadar air mata kekalahan seorang prajurit, melainkan duka atas runtuhnya sebuah peradaban yang telah tertanam selama berabad-abad. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Perang Balkan menghancurkan segala yang telah dibangun oleh para Sultan dan Khalifah agung selama seratus lima puluh tahun. Ambisi buta kaum Turan dari kelompok Union and Progress (Ittihat ve Terakki) menjadi lonceng kematian bagi wilayah yang pernah menjadi permata mahkota Daulah Utsmaniyah. Fajar yang Pernah Menyingsing Jejak Islam di Eropa Timur sebenarnya telah tertoreh jauh sebelum meriam Utsmaniyah berdentum. Pada abad ke-3 Hijriah, para pedagang Abbasiyah telah menginjakkan kaki di sana, membawa perniagaan sekaligus embusan cahaya iman. Namun, kejayaan Islam yang kokoh secara politik dan militer baru benar-benar tegak saat panji-pagi Utsmaniyah menyeberangi Selat Dardanella. Langkah kaki tentara Sultan Bayezid I meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di Thrace, menembus jantung Serbia dan Bulgaria. Puncaknya, dunia terhenyak saat Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Romawi Timur, tetapi juga mengubah wajah sejarah dunia selamanya. Islam kemudian menyebar bak air yang tenang namun pasti; merangkul Bosnia pada 1463, hingga menjangkau Rumania pada 1475. Di Bosnia, cahaya Islam disambut hangat oleh kaum bangsawan dan rakyatnya, menciptakan identitas baru yang takkan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya oleh waktu. Musim Dingin yang Panjang dan Pengkhianatan Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Setelah lima abad berkuasa dengan gagah, Kesultanan Utsmaniyah mulai goyah. Keropos dari dalam, ditekan dari luar. Perang Rusia-Ottoman (1877–1878) menjadi luka menganga yang menandai awal berakhirnya sebuah era. Rusia, sang pemangsa yang jeli, memanfaatkan kelemahan sang "Orang Sakit dari Eropa" untuk membakar semangat pemberontakan. Aliansi Ortodoks dibentuk—Bulgaria, Yunani, Serbia, dan Montenegro bersatu di bawah restu Rusia untuk mengusir sang penguasa lama. Saat Perang Balkan pecah, tentara Utsmani maju dengan tubuh yang letih dan kepemimpinan yang rapuh di bawah kendali kelompok Union and Progress. Sebaliknya, musuh-musuh mereka telah dipersenjatai dengan teknologi modern dan dendam yang membara. Hasilnya adalah sebuah katastrofe. Tanah-tanah di Eropa lepas satu demi satu, tentara hancur berkeping-keping, dan lembaran sejarah Islam di tanah tersebut seolah dipaksa untuk ditutup dengan tinta darah. Luka yang Tak Kunjung Mengering Pasca mundurnya kekuasaan politik Utsmaniyah, umat Islam di Balkan terlempar ke dalam jurang penderitaan. Mereka menjadi minoritas yang terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Dianggap sebagai "pengkhianat" karena memeluk agama sang penakluk, mereka menjadi sasaran amuk massa dan pembant*aian yang keji. Eksodus besar-besaran terjadi; ribuan jiwa melarikan diri menuju Turki dan tanah Arab demi menyelamatkan nyawa dan iman. Abad ke-20 tidak membawa kedamaian. Rezim Komunis datang dengan tangan besi yang lebih dingin. Di Albania, agama coba dicabut hingga ke akar-akarnya, menciptakan masyarakat yang hampa secara spiritual. Tragedi belum berhenti di sana; pada tahun 1992, dunia menyaksikan dengan ngeri pembe*rsihan etnis paling bia*dab di Bosnia, disusul bara api di Kosovo dan Makedonia. Peta kependudukan Muslim di Balkan kini dilukis kembali dengan darah dan api. Sebuah pengingat pahit bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak hanya berakhir di atas meja perundingan politik, tetapi juga meninggalkan luka yang berdenyut dalam memori kolektif bangsa-bangsa, melintasi generasi yang menolak untuk lupa. Sumber Utama: 1. The Ottoman Balkans, 1750–1830 – Studi mendalam mengenai transformasi sosial-politik Utsmaniyah di Balkan. 2. Islam and the Balkans: Religion and Society between Europe and the Arab World – Menelusuri nasib umat Islam pasca mundurnya kekuasaan Utsmaniyah.

 Belgrade, 1912. Di bawah bayang-bayang benteng yang membisu, sejarah sedang menangis. Di wajah Jenderal Fuad Pasha, sang panglima Ottoman yang kini tertunduk dalam tawanan, terpancar duka yang tak terlukiskan. Itu bukan sekadar air mata kekalahan seorang prajurit, melainkan duka atas runtuhnya sebuah peradaban yang telah tertanam selama berabad-abad.



Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Perang Balkan menghancurkan segala yang telah dibangun oleh para Sultan dan Khalifah agung selama seratus lima puluh tahun. Ambisi buta kaum Turan dari kelompok Union and Progress (Ittihat ve Terakki) menjadi lonceng kematian bagi wilayah yang pernah menjadi permata mahkota Daulah Utsmaniyah.


Fajar yang Pernah Menyingsing


Jejak Islam di Eropa Timur sebenarnya telah tertoreh jauh sebelum meriam Utsmaniyah berdentum. Pada abad ke-3 Hijriah, para pedagang Abbasiyah telah menginjakkan kaki di sana, membawa perniagaan sekaligus embusan cahaya iman. Namun, kejayaan Islam yang kokoh secara politik dan militer baru benar-benar tegak saat panji-pagi Utsmaniyah menyeberangi Selat Dardanella.


Langkah kaki tentara Sultan Bayezid I meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di Thrace, menembus jantung Serbia dan Bulgaria. Puncaknya, dunia terhenyak saat Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Romawi Timur, tetapi juga mengubah wajah sejarah dunia selamanya. Islam kemudian menyebar bak air yang tenang namun pasti; merangkul Bosnia pada 1463, hingga menjangkau Rumania pada 1475. Di Bosnia, cahaya Islam disambut hangat oleh kaum bangsawan dan rakyatnya, menciptakan identitas baru yang takkan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya oleh waktu.


Musim Dingin yang Panjang dan Pengkhianatan


Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Setelah lima abad berkuasa dengan gagah, Kesultanan Utsmaniyah mulai goyah. Keropos dari dalam, ditekan dari luar. Perang Rusia-Ottoman (1877–1878) menjadi luka menganga yang menandai awal berakhirnya sebuah era. Rusia, sang pemangsa yang jeli, memanfaatkan kelemahan sang "Orang Sakit dari Eropa" untuk membakar semangat pemberontakan. Aliansi Ortodoks dibentuk—Bulgaria, Yunani, Serbia, dan Montenegro bersatu di bawah restu Rusia untuk mengusir sang penguasa lama.


Saat Perang Balkan pecah, tentara Utsmani maju dengan tubuh yang letih dan kepemimpinan yang rapuh di bawah kendali kelompok Union and Progress. Sebaliknya, musuh-musuh mereka telah dipersenjatai dengan teknologi modern dan dendam yang membara. Hasilnya adalah sebuah katastrofe. Tanah-tanah di Eropa lepas satu demi satu, tentara hancur berkeping-keping, dan lembaran sejarah Islam di tanah tersebut seolah dipaksa untuk ditutup dengan tinta darah.


Luka yang Tak Kunjung Mengering


Pasca mundurnya kekuasaan politik Utsmaniyah, umat Islam di Balkan terlempar ke dalam jurang penderitaan. Mereka menjadi minoritas yang terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Dianggap sebagai "pengkhianat" karena memeluk agama sang penakluk, mereka menjadi sasaran amuk massa dan pembant*aian yang keji. Eksodus besar-besaran terjadi; ribuan jiwa melarikan diri menuju Turki dan tanah Arab demi menyelamatkan nyawa dan iman.


Abad ke-20 tidak membawa kedamaian. Rezim Komunis datang dengan tangan besi yang lebih dingin. Di Albania, agama coba dicabut hingga ke akar-akarnya, menciptakan masyarakat yang hampa secara spiritual. Tragedi belum berhenti di sana; pada tahun 1992, dunia menyaksikan dengan ngeri pembe*rsihan etnis paling bia*dab di Bosnia, disusul bara api di Kosovo dan Makedonia.


Peta kependudukan Muslim di Balkan kini dilukis kembali dengan darah dan api. Sebuah pengingat pahit bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak hanya berakhir di atas meja perundingan politik, tetapi juga meninggalkan luka yang berdenyut dalam memori kolektif bangsa-bangsa, melintasi generasi yang menolak untuk lupa.


Sumber Utama:

1. The Ottoman Balkans, 1750–1830 – Studi mendalam mengenai transformasi sosial-politik Utsmaniyah di Balkan.


2. Islam and the Balkans: Religion and Society between Europe and the Arab World – Menelusuri nasib umat Islam pasca mundurnya kekuasaan Utsmaniyah.

Belgrade, 1912. Di bawah bayang-bayang benteng yang membisu, sejarah sedang menangis. Di wajah Jenderal Fuad Pasha, sang panglima Ottoman yang kini tertunduk dalam tawanan, terpancar duka yang tak terlukiskan. Itu bukan sekadar air mata kekalahan seorang prajurit, melainkan duka atas runtuhnya sebuah peradaban yang telah tertanam selama berabad-abad. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Perang Balkan menghancurkan segala yang telah dibangun oleh para Sultan dan Khalifah agung selama seratus lima puluh tahun. Ambisi buta kaum Turan dari kelompok Union and Progress (Ittihat ve Terakki) menjadi lonceng kematian bagi wilayah yang pernah menjadi permata mahkota Daulah Utsmaniyah. Fajar yang Pernah Menyingsing Jejak Islam di Eropa Timur sebenarnya telah tertoreh jauh sebelum meriam Utsmaniyah berdentum. Pada abad ke-3 Hijriah, para pedagang Abbasiyah telah menginjakkan kaki di sana, membawa perniagaan sekaligus embusan cahaya iman. Namun, kejayaan Islam yang kokoh secara politik dan militer baru benar-benar tegak saat panji-pagi Utsmaniyah menyeberangi Selat Dardanella. Langkah kaki tentara Sultan Bayezid I meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di Thrace, menembus jantung Serbia dan Bulgaria. Puncaknya, dunia terhenyak saat Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Romawi Timur, tetapi juga mengubah wajah sejarah dunia selamanya. Islam kemudian menyebar bak air yang tenang namun pasti; merangkul Bosnia pada 1463, hingga menjangkau Rumania pada 1475. Di Bosnia, cahaya Islam disambut hangat oleh kaum bangsawan dan rakyatnya, menciptakan identitas baru yang takkan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya oleh waktu. Musim Dingin yang Panjang dan Pengkhianatan Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Setelah lima abad berkuasa dengan gagah, Kesultanan Utsmaniyah mulai goyah. Keropos dari dalam, ditekan dari luar. Perang Rusia-Ottoman (1877–1878) menjadi luka menganga yang menandai awal berakhirnya sebuah era. Rusia, sang pemangsa yang jeli, memanfaatkan kelemahan sang "Orang Sakit dari Eropa" untuk membakar semangat pemberontakan. Aliansi Ortodoks dibentuk—Bulgaria, Yunani, Serbia, dan Montenegro bersatu di bawah restu Rusia untuk mengusir sang penguasa lama. Saat Perang Balkan pecah, tentara Utsmani maju dengan tubuh yang letih dan kepemimpinan yang rapuh di bawah kendali kelompok Union and Progress. Sebaliknya, musuh-musuh mereka telah dipersenjatai dengan teknologi modern dan dendam yang membara. Hasilnya adalah sebuah katastrofe. Tanah-tanah di Eropa lepas satu demi satu, tentara hancur berkeping-keping, dan lembaran sejarah Islam di tanah tersebut seolah dipaksa untuk ditutup dengan tinta darah. Luka yang Tak Kunjung Mengering Pasca mundurnya kekuasaan politik Utsmaniyah, umat Islam di Balkan terlempar ke dalam jurang penderitaan. Mereka menjadi minoritas yang terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Dianggap sebagai "pengkhianat" karena memeluk agama sang penakluk, mereka menjadi sasaran amuk massa dan pembant*aian yang keji. Eksodus besar-besaran terjadi; ribuan jiwa melarikan diri menuju Turki dan tanah Arab demi menyelamatkan nyawa dan iman. Abad ke-20 tidak membawa kedamaian. Rezim Komunis datang dengan tangan besi yang lebih dingin. Di Albania, agama coba dicabut hingga ke akar-akarnya, menciptakan masyarakat yang hampa secara spiritual. Tragedi belum berhenti di sana; pada tahun 1992, dunia menyaksikan dengan ngeri pembe*rsihan etnis paling bia*dab di Bosnia, disusul bara api di Kosovo dan Makedonia. Peta kependudukan Muslim di Balkan kini dilukis kembali dengan darah dan api. Sebuah pengingat pahit bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak hanya berakhir di atas meja perundingan politik, tetapi juga meninggalkan luka yang berdenyut dalam memori kolektif bangsa-bangsa, melintasi generasi yang menolak untuk lupa. Sumber Utama: 1. The Ottoman Balkans, 1750–1830 – Studi mendalam mengenai transformasi sosial-politik Utsmaniyah di Balkan. 2. Islam and the Balkans: Religion and Society between Europe and the Arab World – Menelusuri nasib umat Islam pasca mundurnya kekuasaan Utsmaniyah.

 Belgrade, 1912. Di bawah bayang-bayang benteng yang membisu, sejarah sedang menangis. Di wajah Jenderal Fuad Pasha, sang panglima Ottoman yang kini tertunduk dalam tawanan, terpancar duka yang tak terlukiskan. Itu bukan sekadar air mata kekalahan seorang prajurit, melainkan duka atas runtuhnya sebuah peradaban yang telah tertanam selama berabad-abad.



Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Perang Balkan menghancurkan segala yang telah dibangun oleh para Sultan dan Khalifah agung selama seratus lima puluh tahun. Ambisi buta kaum Turan dari kelompok Union and Progress (Ittihat ve Terakki) menjadi lonceng kematian bagi wilayah yang pernah menjadi permata mahkota Daulah Utsmaniyah.


Fajar yang Pernah Menyingsing


Jejak Islam di Eropa Timur sebenarnya telah tertoreh jauh sebelum meriam Utsmaniyah berdentum. Pada abad ke-3 Hijriah, para pedagang Abbasiyah telah menginjakkan kaki di sana, membawa perniagaan sekaligus embusan cahaya iman. Namun, kejayaan Islam yang kokoh secara politik dan militer baru benar-benar tegak saat panji-pagi Utsmaniyah menyeberangi Selat Dardanella.


Langkah kaki tentara Sultan Bayezid I meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di Thrace, menembus jantung Serbia dan Bulgaria. Puncaknya, dunia terhenyak saat Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Romawi Timur, tetapi juga mengubah wajah sejarah dunia selamanya. Islam kemudian menyebar bak air yang tenang namun pasti; merangkul Bosnia pada 1463, hingga menjangkau Rumania pada 1475. Di Bosnia, cahaya Islam disambut hangat oleh kaum bangsawan dan rakyatnya, menciptakan identitas baru yang takkan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya oleh waktu.


Musim Dingin yang Panjang dan Pengkhianatan


Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Setelah lima abad berkuasa dengan gagah, Kesultanan Utsmaniyah mulai goyah. Keropos dari dalam, ditekan dari luar. Perang Rusia-Ottoman (1877–1878) menjadi luka menganga yang menandai awal berakhirnya sebuah era. Rusia, sang pemangsa yang jeli, memanfaatkan kelemahan sang "Orang Sakit dari Eropa" untuk membakar semangat pemberontakan. Aliansi Ortodoks dibentuk—Bulgaria, Yunani, Serbia, dan Montenegro bersatu di bawah restu Rusia untuk mengusir sang penguasa lama.


Saat Perang Balkan pecah, tentara Utsmani maju dengan tubuh yang letih dan kepemimpinan yang rapuh di bawah kendali kelompok Union and Progress. Sebaliknya, musuh-musuh mereka telah dipersenjatai dengan teknologi modern dan dendam yang membara. Hasilnya adalah sebuah katastrofe. Tanah-tanah di Eropa lepas satu demi satu, tentara hancur berkeping-keping, dan lembaran sejarah Islam di tanah tersebut seolah dipaksa untuk ditutup dengan tinta darah.


Luka yang Tak Kunjung Mengering


Pasca mundurnya kekuasaan politik Utsmaniyah, umat Islam di Balkan terlempar ke dalam jurang penderitaan. Mereka menjadi minoritas yang terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Dianggap sebagai "pengkhianat" karena memeluk agama sang penakluk, mereka menjadi sasaran amuk massa dan pembant*aian yang keji. Eksodus besar-besaran terjadi; ribuan jiwa melarikan diri menuju Turki dan tanah Arab demi menyelamatkan nyawa dan iman.


Abad ke-20 tidak membawa kedamaian. Rezim Komunis datang dengan tangan besi yang lebih dingin. Di Albania, agama coba dicabut hingga ke akar-akarnya, menciptakan masyarakat yang hampa secara spiritual. Tragedi belum berhenti di sana; pada tahun 1992, dunia menyaksikan dengan ngeri pembe*rsihan etnis paling bia*dab di Bosnia, disusul bara api di Kosovo dan Makedonia.


Peta kependudukan Muslim di Balkan kini dilukis kembali dengan darah dan api. Sebuah pengingat pahit bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak hanya berakhir di atas meja perundingan politik, tetapi juga meninggalkan luka yang berdenyut dalam memori kolektif bangsa-bangsa, melintasi generasi yang menolak untuk lupa.


Sumber Utama:

1. The Ottoman Balkans, 1750–1830 – Studi mendalam mengenai transformasi sosial-politik Utsmaniyah di Balkan.


2. Islam and the Balkans: Religion and Society between Europe and the Arab World – Menelusuri nasib umat Islam pasca mundurnya kekuasaan Utsmaniyah.

22 Juli 1993. Hari itu, Sarajevo bukan lagi sebuah kota; ia adalah tungku api raksasa yang melahap segala yang hidup. Di bawah hujan 3.777 proyektil artileri yang diluncurkan oleh pasukan Serbia, kota Muslim yang terkepung itu tenggelam dalam lautan api. Langit yang biasanya biru berubah menjadi jelaga pekat, menandai sebuah hari hitam yang takkan pernah terhapus dari ingatan sejarah. Luka yang Menganga Selama 1.425 Hari Pengepungan Sarajevo (5 April 1992 – 29 Februari 1996) adalah sebuah tragedi yang melampaui nalar manusia. Selama 1.425 hari, rakyat Sarajevo dipaksa hidup dalam penjara terbuka. Durasi ini tiga kali lebih lama dari horor di Stalingrad dan satu tahun lebih panjang dari penderitaan di Leningrad. Lebih dari 500.000 bom menghujani kota itu. Di balik angka-angka statistik, terdapat luka yang nyata: • 12.000 nyawa melayang, di mana 1.000 di antaranya adalah anak-anak yang belum sempat mengenal dunia. • 5.000 jiwa terluka parah, dengan 85% di antaranya adalah warga sipil yang tak berdosa. • Pada tahun 1995, populasi kota menyusut drastis hingga hanya tersisa 64% dari jumlah sebelum perang. Kesaksian dari Neraka Dunia Janine di Giovanni, seorang jurnalis Prancis yang terjun langsung ke medan laga Bosnia, melukiskan potret kelaparan dan penderitaan yang melampaui batas kemanusiaan: "Aku tidak ingat ada kanibalisme di Sarajevo, namun aku ingat sebuah hari yang sangat kelam di musim dingin tahun 1993. Saat itu, aku melihat seekor anjing melintas dengan tangan manusia di mulutnya. Itu adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah kulihat." Kala itu, rakyat Sarajevo telah mencapai titik nadir kelelahan psikis. Janine mengenang temannya, Gordana, yang tengah mengunyah sepotong roti keras yang teksturnya lebih mirip serbuk gergaji daripada makanan. Sambil menunjuk anjing itu, Gordana berkata lirih tanpa ekspresi, "Lihat anjing itu... ada tangan di mulutnya." Senjata Pencabut Roh Di Sarajevo, maut tidak hanya datang dari peluru penembak runduk (sniper) yang menembus raga atau dentuman meriam yang merobohkan gedung. Ada sesuatu yang jauh lebih biadab dari sekadar pembu*nuhan fisik. Janine menyaksikan para ahli bedah bekerja tanpa lelah di tengah keterbatasan rumah sakit, namun ia juga menyaksikan pemandangan yang jauh lebih menyakitkan: upaya sistematis untuk menghancurkan martabat dan mental manusia. Sebab, pada akhirnya, pengepungan bukan hanya dirancang untuk membunuh tubuh. Ia adalah instrumen purba yang paling mematikan untuk memusnahkan jiwa dan memadamkan semangat hidup manusia.

 22 Juli 1993. Hari itu, Sarajevo bukan lagi sebuah kota; ia adalah tungku api raksasa yang melahap segala yang hidup.



Di bawah hujan 3.777 proyektil artileri yang diluncurkan oleh pasukan Serbia, kota Muslim yang terkepung itu tenggelam dalam lautan api. Langit yang biasanya biru berubah menjadi jelaga pekat, menandai sebuah hari hitam yang takkan pernah terhapus dari ingatan sejarah.


Luka yang Menganga Selama 1.425 Hari


Pengepungan Sarajevo (5 April 1992 – 29 Februari 1996) adalah sebuah tragedi yang melampaui nalar manusia. Selama 1.425 hari, rakyat Sarajevo dipaksa hidup dalam penjara terbuka. Durasi ini tiga kali lebih lama dari horor di Stalingrad dan satu tahun lebih panjang dari penderitaan di Leningrad.


Lebih dari 500.000 bom menghujani kota itu. Di balik angka-angka statistik, terdapat luka yang nyata:


• 12.000 nyawa melayang, di mana 1.000 di antaranya adalah anak-anak yang belum sempat mengenal dunia.

• 5.000 jiwa terluka parah, dengan 85% di antaranya adalah warga sipil yang tak berdosa.

• Pada tahun 1995, populasi kota menyusut drastis hingga hanya tersisa 64% dari jumlah sebelum perang.


Kesaksian dari Neraka Dunia 


Janine di Giovanni, seorang jurnalis Prancis yang terjun langsung ke medan laga Bosnia, melukiskan potret kelaparan dan penderitaan yang melampaui batas kemanusiaan:


"Aku tidak ingat ada kanibalisme di Sarajevo, namun aku ingat sebuah hari yang sangat kelam di musim dingin tahun 1993. Saat itu, aku melihat seekor anjing melintas dengan tangan manusia di mulutnya. Itu adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah kulihat."


Kala itu, rakyat Sarajevo telah mencapai titik nadir kelelahan psikis. Janine mengenang temannya, Gordana, yang tengah mengunyah sepotong roti keras yang teksturnya lebih mirip serbuk gergaji daripada makanan. Sambil menunjuk anjing itu, Gordana berkata lirih tanpa ekspresi, "Lihat anjing itu... ada tangan di mulutnya."


Senjata Pencabut Roh


Di Sarajevo, maut tidak hanya datang dari peluru penembak runduk (sniper) yang menembus raga atau dentuman meriam yang merobohkan gedung. Ada sesuatu yang jauh lebih biadab dari sekadar pembu*nuhan fisik.


Janine menyaksikan para ahli bedah bekerja tanpa lelah di tengah keterbatasan rumah sakit, namun ia juga menyaksikan pemandangan yang jauh lebih menyakitkan: upaya sistematis untuk menghancurkan martabat dan mental manusia.


Sebab, pada akhirnya, pengepungan bukan hanya dirancang untuk membunuh tubuh. Ia adalah instrumen purba yang paling mematikan untuk memusnahkan jiwa dan memadamkan semangat hidup manusia.

01 May 2026

Nah, ini dia penutup yang paling ironis dari seluruh drama perseteruan antar besan di Makkah, Bro. Abu Lahab yang awalnya berbesanan dengan ponakan tercintanya Muhammad ﷺ, berakhir dengan tragedi. Kisahnya kita sudah bahas di postingan sebelumnya. Gimana arogansi anak-anaknya yang juga menantu Muhammad ﷺ sendiri, sekarang kita bedah nasib akhir sang "CEO" Oligarki itu sendiri, Abu Lahab, dan istrinya, Ummu Jamil. Sampean bakal lihat gimana sebuah "imperium personal" yang dibangun di atas kesombongan bisa "crash" seburuk-buruknya. Semuanya berawal dari deklarasi Muhammad ﷺ di Bukit Shafa. Bayangkan Nabi Muhammad ﷺ naik ke bukit itu buat ngasih peringatan dini, semacam "early warning system" buat warga Makkah. Respon orang-orang sebenarnya positif karena "track record" beliau yang jujur. Tapi Abu Lahab? Dia malah ngacau di tengah pidato. Dia berdiri, mengibaskan tangan dengan gaya sok kuasa, lalu teriak: "Tabban laka sa'iral yaum! Alihadza jama'tana?" ( "Celaka kamu Muhammad! Cuma buat begini kamu kumpulin kami?") Detik itu juga, "Super Owner" alam semesta langsung ngeluarin "press release" tandingan yang luar biasa pedas: Surah Al-Lahab. "Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa..." Di situ dipastikan kalau "aset" dan "network" Abu Lahab nggak bakal ada gunanya lagi. Sejak itu, Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, beralih profesi jadi "haters" garis keras yang militan banget. Ummu Jamil ini kalau di zaman sekarang mungkin tipikal orang yang hobinya "doxing" atau nyebar "spam" jahat. Dia setiap malam nyebar duri di jalanan yang biasa dilewati Nabi Muhammad ﷺ. Sementara Abu Lahab? Dia hobi banget ngebuntuti Nabi Muhammad ﷺ pas lagi "marketing" dakwah di pasar, terus nimpukin batu sampai kaki beliau berdarah sambil teriak-teriak: "Jangan percaya, dia pendusta!" Bener-bener "negative campaign" yang sangat fisik dan kasar. Tapi poin terbesarnya datang pas Perang Badar. Abu Lahab ini sebenarnya tipe pemimpin yang penakut, Bro. Dia nggak berani turun ke "lapangan" buat perang, dia cuma nyewa "outsourcing" buat gantiin posisinya. Pas denger kabar kabilah Quraisy kalah telak dan para petinggi elitnya tewas, termasuk Abu Jahal dia stres berat. Dalam keadaan stres dan marah, ia mendatangi kemah milik Al-Abbas (pamannya yang saat itu masih menyembunyikan keislamannya). Di sana, ia berdebat dengan seorang budak muslim bernama Abu Rafi'. Kalah debat Abu Lahab makin ngamuk lalu menghajar budak itu. Melihat budaknya disiksa, istri Al-Abbas, yaitu Ummu Al-Fadl (Lubabah binti Al-Harits), marah besar. Ia mengambil tiang tenda kayu dan memukulkannya ke kepala Abu Lahab hingga kepalanya bocor dan terluka parah. Luka itu bukannya sembuh, malah kena "infeksi sistem" yang parah banget, namanya penyakit "Al-Adasah". Ini sejenis bisul menular yang baunya minta ampun, semacam "virus" mematikan yang bikin orang Makkah lari ketakutan kalau denger namanya. Di sinilah kehinaan puncaknya terjadi. Abu Lahab yang dulunya "Crazy Rich" Makkah, yang punya akses VVIP ke mana-mana, mati dalam keadaan "isolated". Dia dikunci di kamar sendirian karena anak-anaknya sendiri pun takut ketularan. Nggak ada layanan "home care", nggak ada fasilitas mewah. Dia mati dalam kesendirian yang busuk. Pas sudah jadi mayat pun, nggak ada yang mau "handle" jenazahnya sampai tiga hari. Baunya sampai bikin warga satu kompleks protes. Akhirnya, anak-anaknya nyewa budak Badui buat "beresin" jenazah bapaknya dengan cara yang sangat "disrespect": 1. Jenazahnya nggak dimandikan, cuma disiram air dari jarak jauh pakai selang (kalau zaman sekarang). 2. Nggak dipikul terhormat, tapi didorong-dorong pakai tongkat kayu panjang ke lubang galian. Kayak dorong sampah, Bro. 3. Terakhir, mereka nggak ngubur pakai tangan, tapi dilempari batu dan kerikil dari jauh sampai mayatnya tertimbun. Kekayaannya yang melimpah, status nasabnya sebagai bangsawan Quraisy, dan anak-anaknya yang ia banggakan sama sekali tidak bisa menolongnya di saat-saat terakhirnya di dunia. Kematiannya menjadi pelajaran abadi (ibrah) bagi umat manusia tentang akhir tragis dari kesombongan dan kebencian terhadap kebenaran. Kematian Abu Lahab adalah bukti nyata kebenaran ayat Al-Qur'an: "Tidaklah berfaedah kepadanya harta kekayaannya dan apa yang ia usahakan." (QS. Al-Lahab: 2). Harta melimpah dan status "Oligarki" Makkah yang dia banggakan ternyata "useless" pas dia "logout" dari dunia ini. Bener-bener sebuah "exit yang tragis" 🥀🔥. Kisah ini adalah "insight" paling mahal buat kita semua. Mau seberapa besar "capital" kalian, mau seberapa luas "network" politik sampean, kalau sudah berhadapan dengan kebenaran dan bersikap sombong, "Return on Investment"-nya cuma satu: kehancuran yang total dan menghinakan. #SirahNabawiyah #SejarahIslam #NabiMuhammadSAW #AbuLahab #GeopolitikMakkah #OligarkiMakkah #KisahTragis #AlLahab #Hidayah #SelfReminder #StorytellingSejarah #InsightBisnis #FaktaSejarah #IslamHistory #FYP

 Nah, ini dia penutup yang paling ironis dari seluruh drama perseteruan antar besan di Makkah, Bro. Abu Lahab yang awalnya berbesanan dengan ponakan tercintanya Muhammad ﷺ, berakhir dengan tragedi.



Kisahnya kita sudah bahas di postingan sebelumnya. Gimana arogansi anak-anaknya yang juga menantu Muhammad ﷺ sendiri, sekarang kita bedah nasib akhir sang "CEO" Oligarki itu sendiri, Abu Lahab, dan istrinya, Ummu Jamil. Sampean bakal lihat gimana sebuah "imperium personal" yang dibangun di atas kesombongan bisa "crash" seburuk-buruknya.


Semuanya berawal dari deklarasi Muhammad ﷺ di Bukit Shafa. Bayangkan Nabi Muhammad ﷺ naik ke bukit itu buat ngasih peringatan dini, semacam "early warning system" buat warga Makkah. Respon orang-orang sebenarnya positif karena "track record" beliau yang jujur.


Tapi Abu Lahab? Dia malah ngacau di tengah pidato. Dia berdiri, mengibaskan tangan dengan gaya sok kuasa, lalu teriak:

"Tabban laka sa'iral yaum! Alihadza jama'tana?" 

( "Celaka kamu Muhammad! Cuma buat begini kamu kumpulin kami?")


Detik itu juga, "Super Owner" alam  semesta langsung ngeluarin "press release" tandingan yang luar biasa pedas: Surah Al-Lahab. 

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa..."


Di situ dipastikan kalau "aset" dan "network" Abu Lahab nggak bakal ada gunanya lagi.


Sejak itu, Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, beralih profesi jadi "haters" garis keras yang militan banget. Ummu Jamil ini kalau di zaman sekarang mungkin tipikal orang yang hobinya "doxing" atau nyebar "spam" jahat. Dia setiap malam nyebar duri di jalanan yang biasa dilewati Nabi Muhammad ﷺ.


Sementara Abu Lahab? Dia hobi banget ngebuntuti Nabi Muhammad ﷺ pas lagi "marketing" dakwah di pasar, terus nimpukin batu sampai kaki beliau berdarah sambil teriak-teriak: "Jangan percaya, dia pendusta!" Bener-bener "negative campaign" yang sangat fisik dan kasar.


Tapi poin terbesarnya datang pas Perang Badar. Abu Lahab ini sebenarnya tipe pemimpin yang penakut, Bro. Dia nggak berani turun ke "lapangan" buat perang, dia cuma nyewa "outsourcing" buat gantiin posisinya.


Pas denger kabar kabilah Quraisy kalah telak dan para petinggi elitnya tewas, termasuk Abu Jahal dia stres berat. 

Dalam keadaan stres dan marah, ia mendatangi kemah milik Al-Abbas (pamannya yang saat itu masih menyembunyikan keislamannya). Di sana, ia berdebat dengan seorang budak muslim bernama Abu Rafi'. Kalah debat Abu Lahab makin ngamuk lalu menghajar budak itu. 


Melihat budaknya disiksa, istri Al-Abbas, yaitu Ummu Al-Fadl (Lubabah binti Al-Harits), marah besar. Ia mengambil tiang tenda kayu dan memukulkannya ke kepala Abu Lahab hingga kepalanya bocor dan terluka parah.


Luka itu bukannya sembuh, malah kena "infeksi sistem" yang parah banget, namanya penyakit "Al-Adasah". Ini sejenis bisul menular yang baunya minta ampun, semacam "virus" mematikan yang bikin orang Makkah lari ketakutan kalau denger namanya.


Di sinilah kehinaan puncaknya terjadi. Abu Lahab yang dulunya "Crazy Rich" Makkah, yang punya akses VVIP ke mana-mana, mati dalam keadaan "isolated". Dia dikunci di kamar sendirian karena anak-anaknya sendiri pun takut ketularan. 


Nggak ada layanan "home care", nggak ada fasilitas mewah. Dia mati dalam kesendirian yang busuk.

Pas sudah jadi mayat pun, nggak ada yang mau "handle" jenazahnya sampai tiga hari. Baunya sampai bikin warga satu kompleks protes. 


Akhirnya, anak-anaknya nyewa budak Badui buat "beresin" jenazah bapaknya dengan cara yang sangat "disrespect":

 1. Jenazahnya nggak dimandikan, cuma disiram air dari jarak jauh pakai selang (kalau zaman sekarang).

 2. Nggak dipikul terhormat, tapi didorong-dorong pakai tongkat kayu panjang ke lubang galian. Kayak dorong sampah, Bro.

 3. Terakhir, mereka nggak ngubur pakai tangan, tapi dilempari batu dan kerikil dari jauh sampai mayatnya tertimbun.


Kekayaannya yang melimpah, status nasabnya sebagai bangsawan Quraisy, dan anak-anaknya yang ia banggakan sama sekali tidak bisa menolongnya di saat-saat terakhirnya di dunia. Kematiannya menjadi pelajaran abadi (ibrah) bagi umat manusia tentang akhir tragis dari kesombongan dan kebencian terhadap kebenaran.


Kematian Abu Lahab adalah bukti nyata kebenaran ayat Al-Qur'an:

"Tidaklah berfaedah kepadanya harta kekayaannya dan apa yang ia usahakan." (QS. Al-Lahab: 2).


Harta melimpah dan status "Oligarki" Makkah yang dia banggakan ternyata "useless" pas dia "logout" dari dunia ini. Bener-bener sebuah "exit yang tragis" 🥀🔥.


Kisah ini adalah "insight" paling mahal buat kita semua. Mau seberapa besar "capital" kalian, mau seberapa luas "network" politik sampean, kalau sudah berhadapan dengan kebenaran dan bersikap sombong, "Return on Investment"-nya cuma satu: kehancuran yang total dan menghinakan. 


#SirahNabawiyah #SejarahIslam #NabiMuhammadSAW #AbuLahab #GeopolitikMakkah #OligarkiMakkah #KisahTragis #AlLahab #Hidayah #SelfReminder #StorytellingSejarah #InsightBisnis #FaktaSejarah #IslamHistory #FYP

29 April 2026

NYONYA SOEBANDRIO, YANG DIJULUKI SEBAGAI "IBU NEGARA BAYANGAN" Beliau bernama Dr.HURUSTIATI SOEBANDRIO yang merupakan istri dari Dr.Soebandrio, yaitu Wakil Perdana Menteri I dijaman Orde Lama, yang merupakan tokoh "Terkuat Kedua" setelah Presiden Soekarno. Dr.Hurustiati lahir di Salatiga pada 26 Juli 1917, yang mana beliau tumbuh dalam lingkungan priyayi yang sangat mementingkan pendidikan. Latar belakang inilah yang mengantarkannya menjadi sosok intelektual dengan bidang jurusan yang masih langka pada jamannya. Karena beliau adalah seorang dokter lulusan IKA DAIGAKU (sekarang FK-UI), sekaligus ahli Antropologi dari London School of Economics (LSE), Inggris. Namun sejarah tidak hanya mengingatkan kita pada kecerdasannya saja, melainkan juga pada perannya yang sangat kontroversial di jantung kekuasaan Orde Lama. SOSOK DI BALIK LAYAR BUNG KARNO Sebagai istri dari Dr.Soebandrio (Wakil Perdana Menteri I), Dr.Hurustiati memiliki akses yang sangat istimewa di lingkaran terdalam Bung Karno. Kedekatan intelektual antara Bung Karno dengan Dr.Hurustiati sangat erat, sehingga banyak dari kalangan elit di istana menyebutnya sebagai "IBU NEGARA BAYANGAN". Istilah itu muncul bukannya tanpa sebab, melainkan karena pengaruhnya yang dianggap melampaui hak dan wewenang dari para istri resmi Bung Karno yang lainnya. Seperti diketahui bahwa sang Proklamator sangat mengagumi wanita cerdas dan berpendidikan tinggi, hal itu menjadikan Dr.Hurustiati sebagai teman diskusi seputar ideologi, isu² sosial politik, hingga diplomasi internasional, dll. AMBISI DAN TAKTIK POLITIK Di lorong-lorong Istana, ketika isu dan desas-desus yang berhembus kencang, terkait adanya sinyalemen bahwa Dr.Soebandrio secara sadar "menempatkan" istrinya di sisi Bung Karno, hal tersebut bertujuan demi mengamankan posisi politiknya sendiri. Sehingga hasilnya memang terlihat dan tidak main-main, karena akhirnya Dr.Soebandrio berhasil memegang jabatan-jabatan mentereng (dengan status rangkap jabatan), yaitu ; - Wakil Perdana Menteri I, - Menteri Luar Negeri, - Ketua BPI (Badan Pusat Intelijen), - Pati AURI (pangkat Marsekal Tituler). Dan keistimewaan Dr.Hurustiati semakin terlihat ketika beliau dipercaya untuk mengelola dana-dana sosial negara, dan menjabat sebagai Ketua LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia). Selain itu, kedekatan beliau dengan tokoh-tokoh kiri dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) juga semakin memperkuat pengaruh politiknya di Republik ini. Namun di sisi lain juga memicu kecemburuan besar di lingkaran istana, sehingga memancing isu bahwa Dr.Hurustiati "ada main" dengan Bung Karno, bahkan isu tersebut sampai beredar luas keluar negeri. JATUHNYA PRIMADONA ORDE LAMA Ketika pada akhirnya nasib berkata lain, seolah mengisyaratkan bahwa Tuhan tidak tidur, karena badai sejarah pasca peristiwa G30S/PKI telah menghancurkan segala "privilege" nya dalam waktu semalam. Dr.Hurustiati terseret dalam pusaran skandal politik besar, bahkan beliau dituduh terlibat aktivitas subversif yang ingin merebut kepemimpinan negara yang sah. Suaminya, Dr.Soebandrio yang dijuluki "DURNA" juga divonis mati (lalu menjadi seumur hidup), sementara Dr.Hurustiati harus meninggalkan segala kemewahan istana, karena dirinya harus mendekam dibalik jeruji besi selama bertahun-tahun lamanya. TRAGEDI BERAKHIR MEMILUKAN Tokoh wanita yang pernah "sangat" berkuasa ini wafat pada tanggal 15 Januari 1974 dalam usia 56 tahun. Dia mengembuskan napas terakhir saat suaminya (Dr.Soebandrio) masih mendekam di penjara, tanpa sempat melihat kebebasan sang suami yang baru dibebaskannya pada tahun 1995. HIMBAUAN Restorasi ini adalah bentuk apresiasi terhadap kepingan sejarah yang jarang terungkap ke permukaan. Dimohon untuk berkomentar yang bijak guna menghindari perdebatan yang tidak perlu. Sehingga kita dapat menghargai martabat para tokoh dan keluarganya yang bersangkutan, terima kasih 🙏

 NYONYA SOEBANDRIO, YANG DIJULUKI SEBAGAI "IBU NEGARA BAYANGAN"

Beliau bernama Dr.HURUSTIATI SOEBANDRIO yang merupakan istri dari Dr.Soebandrio, yaitu Wakil Perdana Menteri I dijaman Orde Lama, yang merupakan tokoh "Terkuat Kedua" setelah Presiden Soekarno.



Dr.Hurustiati lahir di Salatiga pada 26 Juli 1917, yang mana beliau tumbuh dalam lingkungan priyayi yang sangat mementingkan pendidikan.


Latar belakang inilah yang mengantarkannya menjadi sosok intelektual dengan bidang jurusan yang masih langka pada jamannya.


Karena beliau adalah seorang dokter lulusan IKA DAIGAKU (sekarang FK-UI), sekaligus ahli Antropologi dari London School of Economics (LSE), Inggris.


Namun sejarah tidak hanya mengingatkan kita pada kecerdasannya saja, melainkan juga pada perannya yang sangat kontroversial di jantung kekuasaan Orde Lama.


SOSOK DI BALIK LAYAR BUNG KARNO


Sebagai istri dari Dr.Soebandrio (Wakil Perdana Menteri I), Dr.Hurustiati memiliki akses yang sangat istimewa di lingkaran terdalam Bung Karno.


Kedekatan intelektual antara Bung Karno dengan Dr.Hurustiati sangat erat, sehingga banyak dari kalangan elit di istana menyebutnya sebagai "IBU NEGARA BAYANGAN".


Istilah itu muncul bukannya tanpa sebab, melainkan karena pengaruhnya yang dianggap melampaui hak dan wewenang dari para istri resmi Bung Karno yang lainnya.


Seperti diketahui bahwa sang Proklamator sangat mengagumi wanita cerdas dan berpendidikan tinggi, hal itu menjadikan Dr.Hurustiati sebagai teman diskusi seputar ideologi, isu² sosial politik, hingga diplomasi internasional, dll.


AMBISI DAN TAKTIK POLITIK


Di lorong-lorong Istana, ketika isu dan desas-desus yang berhembus kencang, terkait adanya sinyalemen bahwa Dr.Soebandrio secara sadar "menempatkan" istrinya di sisi Bung Karno, hal tersebut bertujuan demi mengamankan posisi politiknya sendiri.


Sehingga hasilnya memang terlihat dan tidak main-main, karena akhirnya Dr.Soebandrio berhasil memegang jabatan-jabatan mentereng (dengan status rangkap jabatan), yaitu ;


- Wakil Perdana Menteri I,


- Menteri Luar Negeri,


- Ketua BPI (Badan Pusat Intelijen),


- Pati AURI (pangkat Marsekal Tituler).


Dan keistimewaan Dr.Hurustiati semakin terlihat ketika beliau dipercaya untuk mengelola dana-dana sosial negara, dan menjabat sebagai Ketua LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia).


Selain itu, kedekatan beliau dengan tokoh-tokoh kiri dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) juga semakin memperkuat pengaruh politiknya di Republik ini.


Namun di sisi lain juga memicu kecemburuan besar di lingkaran istana, sehingga memancing isu bahwa Dr.Hurustiati "ada main" dengan Bung Karno, bahkan isu tersebut sampai beredar luas keluar negeri.


JATUHNYA PRIMADONA ORDE LAMA


Ketika pada akhirnya nasib berkata lain, seolah mengisyaratkan bahwa Tuhan tidak tidur, karena badai sejarah pasca peristiwa G30S/PKI telah menghancurkan segala "privilege" nya dalam waktu semalam.


Dr.Hurustiati terseret dalam pusaran skandal politik besar, bahkan beliau dituduh terlibat aktivitas subversif yang ingin merebut kepemimpinan negara yang sah.


Suaminya, Dr.Soebandrio yang dijuluki "DURNA" juga divonis mati (lalu menjadi seumur hidup), sementara Dr.Hurustiati harus meninggalkan segala kemewahan istana, karena dirinya harus mendekam dibalik jeruji besi selama bertahun-tahun lamanya.


TRAGEDI BERAKHIR MEMILUKAN


Tokoh wanita yang pernah "sangat" berkuasa ini wafat pada tanggal 15 Januari 1974 dalam usia 56 tahun.


Dia mengembuskan napas terakhir saat suaminya (Dr.Soebandrio) masih mendekam di penjara, tanpa sempat melihat kebebasan sang suami yang baru dibebaskannya pada tahun 1995.


HIMBAUAN


Restorasi ini adalah bentuk apresiasi terhadap kepingan sejarah yang jarang terungkap ke permukaan.


Dimohon untuk berkomentar yang bijak guna menghindari perdebatan yang tidak perlu.


Sehingga kita dapat menghargai martabat para tokoh dan keluarganya yang bersangkutan, terima kasih 🙏


Mungkin pada edisi TEMPO ini, Bapak saya mau ikut membaca ketika majalah ini, dengan sampul foto Zainuddin M.Z., saya letakkan di meja kerjanya. Memang, radio di rumah kami cukup sering menyiarkan kaset rekaman dai yang lucu dan cerdas ini. Ia bisa bergelora bagaikan Bung Karno, lembut seperti Buya Hamka, dan cekatan bermain kata bak Idham Chalid. Maka, Haji Zainuddin Mz. melejit sebagai seorang mahabintang. Dialah dai berjuta umat. SAYA USTAD, BUKAN ARTIS (TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990) Massa terus berdesak. Kerumunan bahkan melebar ke tepian jalan tol, memaksa jalan tol Dupak, dalam Kota Surabaya, ditutup sementara. Hujan pun turun. Hadirin kuyup. Namun, orang- orang itu tak beranjak dari tempat. Termasuk seorang ibu yang menggendong anak- nya. Mereka seolah larut oleh suara sang Ustad dari podium, yang mengajak massa bersama-sama membaca salawat, "memohon agar Allah menunda hujan." Segera bacaan salawat puluhan – bahkan mungkin mencapai ratusan – ribu orang membahana. Alhamdulillah, Allah mengabulkan permohonan itu. Hujan pun reda. Kemudian sang Ustad memberi aba-aba, agar salawat sampai di situ saja. Tanah lapang Dupak, tempat berkumpul itu, pun berubah se- nyap. Suasana betul-betul sunyi. Massa sedemikian terpaku, menunggu kata-kata "bertuah" yang bakal meluncur dari mulut Ustad. Di Surabaya, Februari lalu H. Zainuddin Mz., ustad itu, berhasil sepenuhnya "menyihir" massa. Selama dua jam, massa dibikinnya diam dan mengunyah setiap kata yang ia ucapkan. *** Di Jakarta, bulan puasa ini, Zainuddin juga membuai ribuan jamaah pada sejumlah masjid. Harian Pos Kota yang punya acara. Mereka tahu, banyak umat gandrung pada suara Zainuddin. Maka, untuk acara ulang tahun April ini, Pos Kota "mengontrak" Zainuddin. Ustad ini mereka kelilingkan ke berbagai wilayah Ibu Kota, buat berceramah. Lihatlah, misalnya, di Masjid Muyasyirin Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sejak magrib, masjid itu telah dipenuhi jamaah. Lebih daripada biasanya – bukan cuma dalam jumlah tapi juga dalam suasana. Biasanya anak-anak ramai bergurau sebelum dan sehabis tarawih. Tapi kali ini suasana sangat tenang. Ucapan "jangan ribut, nanti habis tarawih kita akan mendengarkan khotbah ustad kita yang terkenal Zainuddin Mz." cukup untuk mengunci celotehan anak-anak itu. Mereka sabar menunggu. Sedangkan ustadnya baru hadir setelah pukul sembilan malam. Satu-satunya hal yang membuat mereka kesal adalah rangkaian anggrek di seputar podium. Bagi mereka, anggrek itu tak menciptakan keindahan. Malah cuma menghalangi mereka memandang wajah sang Ustad. Maka, mereka berteriak "singkirkan!" Begitu Zainuddin beranjak ke mimbar, keplok pun bergemuruh. Dan segera saja tepuk tangan habis, berganti tawa, begitu Zainuddin mengatakan, "Saya ustad, bukan artis." *** Di Ujungpandang, Zainuddin juga disambut akbar. Stadion Mattoangin, awal April lalu, penuh sesak. Massa telah berkerumun di sana sejak jam tiga sore. Kata Andi Abdulatif, pengundangnya, ada di antara mereka sengaja datang dari Bone, ratusan kilometer di timur laut Ujungpandang. Mereka membawa bekal masing-masing dan berbuka puasa di sana. Padahal, ceramah baru dimulai setelah tarawih. Esok paginya, setelah subuh, Zainuddin berceramah lagi di stadion itu. Massa sudah menyemut lagi, entah jam berapa mereka berangkat dari rumah. *** Gelombang pasang naik dakwah memang nampak mencengangkan. Presiden Soeharto pun bahkan menengok ke sana. Antara lain dengan meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyiapkan 1.000 pendakwah yang akan digaji rutin dan dikirim berbagai pelosok. (Lihat Box bagian 2.) Namun, di tengah suasana dakwah yang sedemikian marak, ada satu nama yang melejit begitu pesat. Dialah, yang namanya bisa membuat anak-anak jadi anteng, yang membuat orang-orang tak merasa keberatan menunggunya berjam-jam: "Haji Zainuddin em-zet". Pemunculan nama Zai- nuddin memang bak seorang mahabintang, superstar. Setelah Rhoma Irama, Zainuddinlah sosok yang mampu menggoyang manusia. Bukan dengan musik. Bukan lautan dengan lagu. Melainkan dengan kata. Rangkaian ucapannya mampu mengobarkan atau mendinginkan massa, mengetuk hati atau menghibur, juga menjadikan mereka histeris atau diam. Di tengah umat yang lagi getol menyeru dakwah bil-hal – dakwah dengan tindakan, Zainuddin seperti hendak membuktikan bahwa dakwah bil-lisan tak mati. Ada yang bilang kini dakwah dengan kata-kata berada di titik puncak, dan Haji Zainuddin adalah bintangnya. Kenyataannya memang demikian. Seorang penjual es yang keliling di gang-gang daerah Rawabelong, Jakarta Barat, biasa memutar kaset ceramah Zainuddin keras-keras dengan pengeras suara yang digantungkan pada sepedanya. Toko buku Bulan Bintang di bilangan Kwitang, di arah selatan Pusat Perdagangan Senen, melakukan hal serupa. "Untuk menarik pengunjung." kata penjaganya. Sedang dalam sebuah pertemuan keluarga Minang di Taman Impian Ancol, seorang penjahit mengaku baru benar-benar memahami Islam setelah mengikuti cera mah Zainuddin. Di Malang dan Surabaya, ceramah Zainuddin malah dikarciskan. Sebagian hadirin rela membayar undangan masuk dua-tiga kali lipat harga yang dipasang panitia. Begitupun, masih ribuan orang tak kebagian. Ceramahnya, yang disiarkan puluhan radio, mulai menggeser ketenaran drama serial terkenal Saur Sepuh. Lebih dari itu, nama Zainuddin juga ampuh untuk menangkis tudingan "anti-Islam". Sewaktu terbetik desas-desus yang menyebut ia tak suka pada sikap santri, Kepala SMAN VI Surabaya yang melarang siswinya berjilbab berkata, "Saya ini penggemar ceramah Zainuddin Mz." Siapa sebenarnya ustad yang dirindukan itu? "Saya asli Betawi. Nama saya H. Zainuddin Hamidy Mz. Mz adalah singkatan dari Turmudzy, nama ayah saya," tuturnya. Zainuddin lahir pada 2 Maret 1952. Dalam usia dua tahun, ia menjadi seorang yatim. Kesulitan hidup menghadangnya. Sewaktu SD, ia menjadi penjual koran dan membantu pamannya menjual rokok. Saat remaja ia pernah menjadi buruh bangunan. Selepas SD tahun 1964, ia masuk Perguruan Darul Ma'arif Cipete, Jakarta Selatan. Di sanalah ia bertemu dengan sejumlah ulama terkemuka Indonesia dan Mesir. Hal yang, menurut dia, bukan saja "mengisi otak saya, melainkan juga mewarnai kepribadian." Di perguruan ini, setiap Sabtu ada pelajaran berpidato. Pada acara inilah, ia mulai belajar berbicara di depan umum. Kemudian Zainuddin kuliah di IAIN, Jurusan Perbandingan Agama. Namun, kuliahnya putus saat mempersiapkan skripsi. Yang berkembang justru bakat mubalignya. Tahun 1973-1974, ia mulai mengisi pengajian di berbagai musala dan masjid. Tapi masih terbatas. Menjelang Pemilu 1977, ia mendapat pelajaran penting. la turun gelanggang menjadi juru kampanye PPP. la muncul sepanggung bersama Rhoma Irama. Itulah saat ia mengenal lautan massa – orang-orang yang berkumpul ditarik magnet Rhoma. Peristi wa itu ternyata mendorong karier Zainuddin sebagai juru dakwah ketimbang politikus. "Dari situ saya mengetahui sifat massa. Massa mudah terkena teror mental, mudah terkena sugesti, mudah dialihkan perhatiannya." Dan Zainuddin mulai dapat menguasai semuanya. Tak heran kalau Ridwan Saidi, bekas koordinator kampanye PPP, memuji Zainuddin sebagai seorang muda yang "berani dan membakar". Tentu modal Zainuddin bukan cuma keberanian. Ia juga dapat memadukan kehebatan tiga tokoh podium yang ia kagumi. Ia mampu menjadi singa macam Bung Karno, menguasai kehalusan bahasa Buya Hamka, atau bermain logika seperti Idham Chalid. Kalimat-kalimatnya mengalir runtut bak pendongeng, berayun, dan disesuaikan dengan sifat massa setempat. Contoh yang dikemukakannya sangat sederhana – mudah dimengerti berbagai kalangan. Lihat bagaimana ia menguraikan soal kanaah, kesahajaan. Ia katakan, seorang muslim harus "merasa cukup" dengan setiap rezeki yang ia terima. Bila tidak, orang itu serupa monyet. Diberi pisang akan ditangkap dengan tangan kanan, diberi lagi ditangkapnya dengan tangan kiri, lalu dengan mulut, lalu kaki kanan, dan kaki kiri. Sudah begitu, "milik temannya pun hendak direbutnya." Hadirin tertawa. Di tengah riuh isu konglomerat, sebagian mereka paham sindiran tadi. Yang tak tahu-menahu masalah konglomerat pun terhibur karena "cerita monyet" itu. Konflik intern PPP menjadikan dunia Zainuddin lebih luas. Ia lalu menjaga jarak dengan partai, dan dengan politik. Akibatnya, massanya semakin melebar. Ia tidak cuma diterima oleh orang-orang PPP. Melainkan hampir oleh semua kalangan umat. Kaset ceramahnya mulai laku keras. Tablignya banyak dihadiri oleh pejabat. Dan mereka terus membutuhkan siraman rohani Zainuddin sekalipun mubalig itu berkali-kali menyindirnya. Undangan pun berdatangan. Kini setiap hari, tamu antre di rumahnya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Mereka menunggu giliran untuk dapat mengundang Zainuddin. Belum lagi yang melalui surat. Rata-rata, kata Zainuddin, sehari ia mendapat 50 surat. "Banyak tunggakan acara yang belum dapat saya penuhi," ucapnya. Padahal, setiap hari umumnya ia berceramah empat kali. Salah seorang familinya mengatakan bahwa saat ini Zainuddin lebih sering tidur di mobil dalam perjalanan ketimbang di tempat tidur. Zainuddin sendiri mengatakan, masalah utamanya adalah bagaimana membagi waktu buat dakwah, keluarga, Yayasan Nurul Falah yang dipimpinnya, serta – sebentar lagi – untuk sebuah pesantren yang kini sedang dibangun di Nagrek, Jawa Barat. Meledaknya minat umat untuk mendatangkan Zainuddin menimbulkan birokrasi. Muncul koordinator-koordinator daerah yang mengatur acara ustad ini. Semua itu muncul atas inisiatif mereka sendiri, bukan dari Zainuddin. Menurut Ali Badri, koordinator wilayah Surabaya dan sekitarnya, saat ini telah terbentuk 26 koordinator daerah di seluruh Indonesia. "Hanya Timor Timur yang belum ada," kata Ali Badri. Merekalah yang menentukan kegiatan, mengatur pengamanan, serta mengurus semua keperluan Zainuddin di setiap daerah. Ali Badri, misalnya. Mulanya, pengurus Hipmi Jawa Timur ini selalu mendatangi setiap ceramah Zainuddin di Jawa Timur. la lalu mengorganisasikan teman-temannya untuk mengamankan Zainuddin dari serbuan massa. "Lengan ini kerap robek kena kuku-kuku mereka yang mau salaman dengan Ustad," tuturnya, sambil menunjukkan bekas goresan. Lalu muncullah ide membentuk koordinator. Rumahnya ia jadikan sebagai sekretariat. Foto dirinya bersama Zainuddin berukuran 20-R (40 X 50 cm) terpampang di ruang tamu. Sekarang – ada atau tidak ada kegiatan Zainuddin di Jawa Timur – selama 24 jam, rumah itu tak pernah sepi. Untuk mengajukan permohonan ceramah Zainuddin, menurut Ali Badri, paling sedikit pengundang harus menghubungi koordinator daerah empat bulan sebelumnya. Begitupun belum tentu terlaksana. Syahlan Isnadi, guru SMA Sunan Giri Gresik, mengaku sudah 22 kali menghubungi koordinator agar Zainuddin dapat berceramah di daerahnya. Ia belum juga mendapat kepastian. Tapi ia tak juga mundur. "Habis, karisma beliau di podium tidak ada duanya, sih," ujarnya. "Beliau itu guru tunggal sekaligus pelawak tunggal." Kesulitan mendatangkan "guru tunggal" ini selalu dibayar mahal Zainuddin. Bukan saja dengan kata-katanya yang menyejukkan dan menjadikan pendengarnya lebih memahami ajaran Islam. Kehadirannya pun selalu berarti datangnya bertumpuk uang bagi panitia yang dimanfaatkan buat kepentingan umat. Misalnya untuk biaya membangun masjid atau madrasah. "Entahlah, mengapa setiap ada Bapak, orang-orang jadi gampang mengeluarkan derma," kata seorang kerabat. Untuk mengumpulkan dana bagi pemugaran Masjid Agung Malang di antaranya. Panitia pemugaran masjid peninggalan tahun 1700-an itu sengaja mendatangkan Zainuddin untuk ceramah. Untuk itu, panitia memungut "biaya undangan". Rp 5,000 untuk VIP, dan Rp 2.000 untuk kelas umum. Hadirin ternyata melimpah. Menurut panitia pemugaran, ada yang membayar Rp 15.000 untuk satu undangan. Dengan cara begitu saja, panitia bisa mengumpulkan dana Rp 10 juta. Mereka juga boleh memperbanyak kaset ceramah Zainuddin dan menjualnya. Dari sini terkumpul uang Rp 4 juta yang sepenuhnya buat masjid. Dengan cara serupa, Gerakan Pemuda Kodya Surabaya mengisi kas organisasinya. Mereka "mementaskan" Zainuddin di gedung Go Skate – semula tempat ice skating yang kini lebih sering menjadi arena pertunjukan musik dan tinju profesional. Dari "mengomersialkan Zainuddin" ini, kas mereka terisi Rp 2 juta bersih. Zainuddin punya cara lain buat mengumpulkan dana. Sehabis ceramah, ia acap membentangkan serbannya. Lalu ia meletakkan uangnya ke serban itu sebagai pemancing. Serban pun dikelilingkan pada hadirin. Massa berlomba adu banyak melemparkan uang. Sekejap jutaan rupiah pasti terkumpul. Dengan dana – yang oleh Zainuddin disebut sebagai SDBS ("Sumbangan Dana Buat Surga") – ini, ratusan masjid dan madrasah telah dibangun. Pengerahan dana untuk kepentingan umat ibadah atau sosial adalah salah satu perhatian utamanya. Berkali-kali ia mengatakan "juallah saya," asal untuk kepentingan umat. Pokok bahasan lain yang disukai dai berjuta umat ini adalah penanaman keimanan, seruan untuk tawadu (sikap rendah hati), juga hal-hal lain yang banyak termuat dalam kitab Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Menurut istilah Zainuddin, dakwahnya adalah untuk "membentuk kader berotak Amerika, berhati Mekkah." Sekalipun menabur humor di sana-sini, Zainuddin tetap tak kehilangan kendali buat mengerahkan massa. Ia mampu menjaga wibawa di mata khalayak. Rhoma Irama menyebut Zainuddin sebagai seo- rang yang memiliki "maunnah" – keistimewaan atas karunia Allah. Ali Badri mengatakan ustad itu punya kemampuan gaib. Sebagai bukti, ia menyebut bahwa hujan pun mereda setelah Zainuddin mengajak hadirin membaca salawat. Bisa jadi pernyataan ini lebih merupakan "reklame" Ali Badri untuk meninggikan Zainuddin. Tapi mungkin pula ia sungguh-sungguh meyakini demikian. Sebenarnya, sehari-hari Zai- nuddin bukan orang yang terlalu menjaga wibawa. Ia hampir tak beda dengan ciri orang Betawi lain: nampak santai. Sering ia membiarkan kemeja lengan panjangnya tanpa tergu- lung, tapi juga tak dikancingkan. Model kebanyakan celananya masih cutbrai, membesar di bagian bawah. Potongan rambutnya kelimis, sedikit panjang. Bila habis bepergian dan cukup punya waktu luang, ustad ini suka hanya berkaus oblong dan merebahkan punggungnya di kursinya di teras. Soal hobi, ia mengaku kerepotan menghitung. "Hobi saya banyak," ujarnya. Ustad ini adalah penggemar berat cerita silat karya Kho Ping Ho. la pun pencandu bola dan bioskop. Dalam sepak bola, ia mengagumi pemain Belanda yang bergabung di klub AC Milan-Italia, Marco van Basten. Sedang film yang paling berkesan baginya adalah Lion on the Desert yang mengisahkan perjuangan Omar Mokhtar di Sahara Libya melawan kolonial. Soal makanan, ia sama sekali tak berpantang. Ia malah menggemari jenis makanan yang oleh sejumlah orang dihindari. Misalnya petai, jengkol, dan durian. Asap rokok pun selalu mengepul dari mulutnya bagai cerobong asap. Paling sedikit dua pak rokok dihabiskannya sehari. Sewaktu sedang merokok dan diingatkan bahwa ada ulama menganggap "merokok haram", ia terhenyak sebentar. Lalu, "Aakhhhhh...," serunya sambil terus mengepulkan asap rokok. Sebuah sikap yang tentu saja sangat tidak disukai oleh kalangan puritan. Sewaktu kecil Zainuddin tak pernah berkeinginan menjadi mubalig. "Cita-cita saya kalau nggak jadi dokter, ya pilot." Tapi kakeknya – yang mengasuhnya setelah ayahnya meninggal – mengarahkan ke bidang agama. Menurut Zainuddin, agaknya sang kakek hendak menunaikan amanah. Sebab, dalam buku peninggalan ayahnya ada sedikit uang dan tulisan, "untuk anak saya melanjutkan ngaji." Ternyata, dengan menjadi mubalig ia dapat hidup cukup. Di kawasan tempat tinggalnya di Gandaria, ia terbilang berada. Sebuah Accord nongkrong di garasi rumahnya yang dibangun di tanah sekitar 1.000 m2. Ia juga membeli tanah di depan rumahnya yang bakal dipakai untuk membangun masjid. Namun, Zainuddin sangat bersahaja untuk ukuran dirinya. Kalau ia mau, tak seorang artis Indonesia pun dapat menyaingi penghasilannya. Kalaupun ia minta honor, agaknya Rp 10 juta setiap kali ceramah akan dipenuhi pengundangnya. Tapi ia tak pernah meminta. Begitupun orang masih memberinya honor ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Belum lagi penghasilannya dari kaset. Ia terikat kontrak dengan Naviri Record hingga pertengahan tahun 1991. Kabarnya, sudah 52 serial ceramahnya yang dikasetkan. Dan ia tak peduli, berapa banyak nilai bisnis yang berputar dari kasetnya. Tentang berapa buat dirinya, ia bilang "saya tak ambil pusing." Kenyataannya. "Alhamdulillah memadai. Rumah saya inilah hasilnya." Dalam posisi seperti itu, kehadiran Zainuddin bukan tak mengundang kritik. Terutama setelah ceramahnya dikarciskan. Ada sejumlah kalangan yang secara tak langsung menuding Zainuddin "menjual ayat" – suatu hal yang dilarang Quran. Tapi sebagian besar tokoh Islam menyatakan bahwa yang diperbuat ustad ini sah. Tak termasuk kategori "menjual ayat". Apalagi hasil karcis pun bukan buat dirinya. Melainkan untuk kepentingan amal di daerah mereka yang mengundangnya. Dikatakannya pula, kadang ada koordinator daerah yang "nakal menjual saya pada panitia." Namun, ia mengaku selalu meluruskan kembali mereka lewat pertemuan koordinator daerah se-Indonesia secara berkala. Zainuddin sadar betul tempatnya. Maka, ia tak memungkiri diri, bahwa dirinya perlu dana. Menurut dia, sekitar 30 persen surat yang dilayangkan kepadanya berisi permohonan bantuan materi. "Adalah sangat menyakitkan bila kita tahu ada orang minta tolong pada kita, sedangkan kita dalam keadaan tak mampu menolong." Maka, Zainuddin pun terus bergulat dengan dunianya: dakwah. Ia berniat untuk terus menggelitik, mengetuk, menggugah hati umat, untuk bergerak menuju kebenaran. Soal keterkenalannya yang bak superstar, ia berkomentar sederhana. "Menjadi terkenal bukan tujuan saya, melainkan hanya alat untuk menumbuhkan otoritas." Tapi untuk apa otoritas itu, Ustad? "Semakin tinggi otoritas kita di mata umat," jawab Zainuddin, "semakin mudah menanamkan keyakinan pada mereka. Umat tidak akan puas kalau kita sama dengan mereka. Biarlah kita nampak istimewa di mata mereka." Tak hanya itu. Alat bernama otoritas barulah ampuh bila dilandasi, menurut Zainuddin, "keyakinan bahwa diri kita sama dengan mereka. Kita hanya menjalankan sebuah bentuk ibadah yang bernama 'memberikan dakwah'." Tak mudah resep itu dijalani. Dan memang tak semua dai menjadi Zainuddin Mz. Zaim Uchrowi, Priyono B. Sumbogo (Jakarta), Wahyu Muryadi, Zed Abidien, M. Baharun (Surabaya) Sumber: TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990

 Mungkin pada edisi TEMPO ini, Bapak saya mau ikut membaca ketika majalah ini, dengan sampul foto Zainuddin M.Z., saya letakkan di meja kerjanya. Memang, radio di rumah kami cukup sering menyiarkan kaset rekaman dai yang lucu dan cerdas ini. 



Ia bisa bergelora bagaikan Bung Karno, lembut seperti Buya Hamka, dan cekatan bermain kata bak Idham Chalid. Maka, Haji Zainuddin Mz. melejit sebagai seorang mahabintang. Dialah dai berjuta umat.


SAYA USTAD, BUKAN ARTIS


(TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990)


Massa terus berdesak. Kerumunan bahkan melebar ke tepian jalan tol, memaksa jalan tol Dupak, dalam Kota Surabaya, ditutup sementara. Hujan pun turun. Hadirin kuyup. Namun, orang- orang itu tak beranjak dari tempat. Termasuk seorang ibu yang menggendong anak- nya. Mereka seolah larut oleh suara sang Ustad dari podium, yang mengajak massa bersama-sama membaca salawat, "memohon agar Allah menunda hujan." Segera bacaan salawat puluhan – bahkan mungkin mencapai ratusan – ribu orang membahana.


Alhamdulillah, Allah mengabulkan permohonan itu. Hujan pun reda. Kemudian sang Ustad memberi aba-aba, agar salawat sampai di situ saja. Tanah lapang Dupak, tempat berkumpul itu, pun berubah se- nyap. Suasana betul-betul sunyi. Massa sedemikian terpaku, menunggu kata-kata "bertuah" yang bakal meluncur dari mulut Ustad. Di Surabaya, Februari lalu H. Zainuddin Mz., ustad itu, berhasil sepenuhnya "menyihir" massa. Selama dua jam, massa dibikinnya diam dan mengunyah setiap kata yang ia ucapkan.


                                             ***


Di Jakarta, bulan puasa ini, Zainuddin juga membuai ribuan jamaah pada sejumlah masjid. Harian Pos Kota yang punya acara. Mereka tahu, banyak umat gandrung pada suara Zainuddin. Maka, untuk acara ulang tahun April ini, Pos Kota "mengontrak" Zainuddin. Ustad ini mereka kelilingkan ke berbagai wilayah Ibu Kota, buat berceramah.


Lihatlah, misalnya, di Masjid Muyasyirin Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sejak magrib, masjid itu telah dipenuhi jamaah. Lebih daripada biasanya – bukan cuma dalam jumlah tapi juga dalam suasana. Biasanya anak-anak ramai bergurau sebelum dan sehabis tarawih. Tapi kali ini suasana sangat tenang. Ucapan "jangan ribut, nanti habis tarawih kita akan mendengarkan khotbah ustad kita yang terkenal Zainuddin Mz." cukup untuk mengunci celotehan anak-anak itu.


Mereka sabar menunggu. Sedangkan ustadnya baru hadir setelah pukul sembilan malam. Satu-satunya hal yang membuat mereka kesal adalah rangkaian anggrek di seputar podium. Bagi mereka, anggrek itu tak menciptakan keindahan. Malah cuma menghalangi mereka memandang wajah sang Ustad. Maka, mereka berteriak "singkirkan!"


Begitu Zainuddin beranjak ke mimbar, keplok pun bergemuruh. Dan segera saja tepuk tangan habis, berganti tawa, begitu Zainuddin mengatakan, "Saya ustad, bukan artis."


                                                 ***


Di Ujungpandang, Zainuddin juga disambut akbar. Stadion Mattoangin, awal April lalu, penuh sesak. Massa telah berkerumun di sana sejak jam tiga sore. Kata Andi Abdulatif, pengundangnya, ada di antara mereka sengaja datang dari Bone, ratusan kilometer di timur laut Ujungpandang. Mereka membawa bekal masing-masing dan berbuka puasa di sana. Padahal, ceramah baru dimulai setelah tarawih. Esok paginya, setelah subuh, Zainuddin berceramah lagi di stadion itu. Massa sudah menyemut lagi, entah jam berapa mereka berangkat dari rumah.


                                             ***


Gelombang pasang naik dakwah memang nampak mencengangkan. Presiden Soeharto pun bahkan menengok ke sana. Antara lain dengan meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyiapkan 1.000 pendakwah yang akan digaji rutin dan dikirim berbagai pelosok. (Lihat Box bagian 2.) Namun, di tengah suasana dakwah yang sedemikian marak, ada satu nama yang melejit begitu pesat. Dialah, yang namanya bisa membuat anak-anak jadi anteng, yang membuat orang-orang tak merasa keberatan menunggunya berjam-jam: "Haji Zainuddin em-zet".


Pemunculan nama Zai- nuddin memang bak seorang mahabintang, superstar. Setelah Rhoma Irama, Zainuddinlah sosok yang mampu menggoyang manusia. Bukan dengan musik. Bukan lautan dengan lagu. Melainkan dengan kata. Rangkaian ucapannya mampu mengobarkan atau mendinginkan massa, mengetuk hati atau menghibur, juga menjadikan mereka histeris atau diam. Di tengah umat yang lagi getol menyeru dakwah bil-hal – dakwah  dengan tindakan, Zainuddin seperti hendak membuktikan bahwa dakwah bil-lisan tak mati. Ada yang bilang kini dakwah dengan kata-kata berada di titik puncak, dan Haji Zainuddin adalah bintangnya.


Kenyataannya memang demikian. Seorang penjual es yang keliling di gang-gang daerah Rawabelong, Jakarta Barat, biasa memutar kaset ceramah Zainuddin keras-keras dengan pengeras suara yang digantungkan pada sepedanya. Toko buku Bulan Bintang di bilangan Kwitang, di arah selatan Pusat Perdagangan Senen, melakukan hal serupa. "Untuk menarik pengunjung." kata penjaganya. Sedang dalam sebuah pertemuan keluarga Minang di Taman Impian Ancol, seorang penjahit mengaku baru benar-benar memahami Islam setelah mengikuti cera mah Zainuddin.


Di Malang dan Surabaya, ceramah Zainuddin malah dikarciskan. Sebagian hadirin rela membayar undangan masuk dua-tiga kali lipat harga yang dipasang panitia. Begitupun, masih ribuan orang tak kebagian. Ceramahnya, yang disiarkan puluhan radio, mulai menggeser ketenaran drama serial terkenal Saur Sepuh.


Lebih dari itu, nama Zainuddin juga ampuh untuk menangkis tudingan "anti-Islam". Sewaktu terbetik desas-desus yang menyebut ia tak suka pada sikap santri, Kepala SMAN VI Surabaya yang melarang siswinya berjilbab berkata, "Saya ini penggemar ceramah Zainuddin Mz."


Siapa sebenarnya ustad yang dirindukan itu? "Saya asli Betawi. Nama saya H. Zainuddin Hamidy Mz. Mz adalah singkatan dari Turmudzy, nama ayah saya," tuturnya.


Zainuddin lahir pada 2 Maret 1952. Dalam usia dua tahun, ia menjadi seorang yatim. Kesulitan hidup menghadangnya. Sewaktu SD, ia menjadi penjual koran dan membantu pamannya menjual rokok. Saat remaja ia pernah menjadi buruh bangunan.


Selepas SD tahun 1964, ia masuk Perguruan Darul Ma'arif Cipete, Jakarta Selatan. Di sanalah ia bertemu dengan sejumlah ulama terkemuka Indonesia dan Mesir. Hal yang, menurut dia, bukan saja "mengisi otak saya, melainkan juga mewarnai kepribadian." Di perguruan ini, setiap Sabtu ada pelajaran berpidato. Pada acara inilah, ia mulai belajar berbicara di depan umum.


Kemudian Zainuddin kuliah di IAIN, Jurusan Perbandingan Agama. Namun, kuliahnya putus saat mempersiapkan skripsi. Yang berkembang justru bakat mubalignya. Tahun 1973-1974, ia mulai mengisi pengajian di berbagai musala dan masjid. Tapi masih terbatas. Menjelang Pemilu 1977, ia mendapat pelajaran penting. la turun gelanggang menjadi juru kampanye PPP. la muncul sepanggung bersama Rhoma Irama. Itulah saat ia mengenal lautan massa – orang-orang yang berkumpul ditarik magnet Rhoma. Peristi wa itu ternyata mendorong karier Zainuddin sebagai juru dakwah ketimbang politikus.


"Dari situ saya mengetahui sifat massa. Massa mudah terkena teror mental, mudah terkena sugesti, mudah dialihkan perhatiannya." Dan Zainuddin mulai dapat menguasai semuanya. Tak heran kalau Ridwan Saidi, bekas koordinator kampanye PPP, memuji Zainuddin sebagai seorang muda yang "berani dan membakar".


Tentu modal Zainuddin bukan cuma keberanian. Ia juga dapat memadukan kehebatan tiga tokoh podium yang ia kagumi. Ia mampu menjadi singa macam Bung Karno, menguasai kehalusan bahasa Buya Hamka, atau bermain logika seperti Idham Chalid. Kalimat-kalimatnya mengalir runtut bak pendongeng, berayun, dan disesuaikan dengan sifat massa setempat. Contoh yang dikemukakannya sangat sederhana – mudah dimengerti berbagai kalangan.


Lihat bagaimana ia menguraikan soal kanaah, kesahajaan. Ia katakan, seorang muslim harus "merasa cukup" dengan setiap rezeki yang ia terima. Bila tidak, orang itu serupa monyet. Diberi pisang akan ditangkap dengan tangan kanan, diberi lagi ditangkapnya dengan tangan kiri, lalu dengan mulut, lalu kaki kanan, dan kaki kiri. Sudah begitu, "milik temannya pun hendak direbutnya." Hadirin tertawa. Di tengah riuh isu konglomerat, sebagian mereka paham sindiran tadi. Yang tak tahu-menahu masalah konglomerat pun terhibur karena "cerita monyet" itu.


Konflik intern PPP menjadikan dunia Zainuddin lebih luas. Ia lalu menjaga jarak dengan partai, dan dengan politik. Akibatnya, massanya semakin melebar. Ia tidak cuma diterima oleh orang-orang PPP. Melainkan hampir oleh semua kalangan umat. Kaset ceramahnya mulai laku keras. Tablignya banyak dihadiri oleh pejabat. Dan mereka terus membutuhkan siraman rohani Zainuddin sekalipun mubalig itu berkali-kali menyindirnya.


Undangan pun berdatangan. Kini setiap hari, tamu antre di rumahnya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Mereka menunggu giliran untuk dapat mengundang Zainuddin. Belum lagi yang melalui surat. Rata-rata, kata Zainuddin, sehari ia mendapat 50 surat. "Banyak tunggakan acara yang belum dapat saya penuhi," ucapnya. Padahal, setiap hari umumnya ia berceramah empat kali.


Salah seorang familinya mengatakan bahwa saat ini Zainuddin lebih sering tidur di mobil dalam perjalanan ketimbang di tempat tidur. Zainuddin sendiri mengatakan, masalah utamanya adalah bagaimana membagi waktu buat dakwah, keluarga, Yayasan Nurul Falah yang dipimpinnya, serta – sebentar lagi – untuk sebuah pesantren yang kini sedang dibangun di Nagrek, Jawa Barat.


Meledaknya minat umat untuk mendatangkan Zainuddin menimbulkan birokrasi. Muncul koordinator-koordinator daerah yang mengatur acara ustad ini. Semua itu muncul atas inisiatif mereka sendiri, bukan dari Zainuddin. Menurut Ali Badri, koordinator wilayah Surabaya dan sekitarnya, saat ini telah terbentuk 26 koordinator daerah di seluruh Indonesia. "Hanya Timor Timur yang belum ada," kata Ali Badri. Merekalah yang menentukan kegiatan, mengatur pengamanan, serta mengurus semua keperluan Zainuddin di setiap daerah.


Ali Badri, misalnya. Mulanya, pengurus Hipmi Jawa Timur ini selalu mendatangi setiap ceramah Zainuddin di Jawa Timur. la lalu mengorganisasikan teman-temannya untuk mengamankan Zainuddin dari serbuan massa. "Lengan ini kerap robek kena kuku-kuku mereka yang mau salaman dengan Ustad," tuturnya, sambil menunjukkan bekas goresan. Lalu muncullah ide membentuk koordinator. Rumahnya ia jadikan sebagai sekretariat. Foto dirinya bersama Zainuddin berukuran 20-R (40 X 50 cm) terpampang di ruang tamu. Sekarang – ada atau tidak ada kegiatan Zainuddin di Jawa Timur – selama 24 jam, rumah itu tak pernah sepi.


Untuk mengajukan permohonan ceramah Zainuddin, menurut Ali Badri, paling sedikit pengundang harus menghubungi koordinator daerah empat bulan sebelumnya. Begitupun belum tentu terlaksana. Syahlan Isnadi, guru SMA Sunan Giri Gresik, mengaku sudah 22 kali menghubungi koordinator agar Zainuddin dapat berceramah di daerahnya. Ia belum juga mendapat kepastian. Tapi ia tak juga mundur. "Habis, karisma beliau di podium tidak ada duanya, sih," ujarnya. "Beliau itu guru tunggal sekaligus pelawak tunggal."


Kesulitan mendatangkan "guru tunggal" ini selalu dibayar mahal Zainuddin. Bukan saja dengan kata-katanya yang menyejukkan dan menjadikan pendengarnya lebih memahami ajaran Islam. Kehadirannya pun selalu berarti datangnya bertumpuk uang bagi panitia yang dimanfaatkan buat kepentingan umat. Misalnya untuk biaya membangun masjid atau madrasah. "Entahlah, mengapa setiap ada Bapak, orang-orang jadi gampang mengeluarkan derma," kata seorang kerabat.


Untuk mengumpulkan dana bagi pemugaran Masjid Agung Malang di antaranya. Panitia pemugaran masjid peninggalan tahun 1700-an itu sengaja mendatangkan Zainuddin untuk ceramah. Untuk itu, panitia memungut "biaya undangan". Rp 5,000 untuk VIP, dan Rp 2.000 untuk kelas umum. Hadirin ternyata melimpah. Menurut panitia pemugaran, ada yang membayar Rp 15.000 untuk satu undangan. Dengan cara begitu saja, panitia bisa mengumpulkan dana Rp 10 juta. Mereka juga boleh memperbanyak kaset ceramah Zainuddin dan menjualnya. Dari sini terkumpul uang Rp 4 juta yang sepenuhnya buat masjid.


Dengan cara serupa, Gerakan Pemuda Kodya Surabaya mengisi kas organisasinya. Mereka "mementaskan" Zainuddin di gedung Go Skate – semula tempat ice skating yang kini lebih sering menjadi arena pertunjukan musik dan tinju profesional. Dari "mengomersialkan Zainuddin" ini, kas mereka terisi Rp 2 juta bersih. 


Zainuddin punya cara lain buat mengumpulkan dana. Sehabis ceramah, ia acap membentangkan serbannya. Lalu ia meletakkan uangnya ke serban itu sebagai pemancing. Serban pun dikelilingkan pada hadirin. Massa berlomba adu banyak melemparkan uang. Sekejap jutaan rupiah pasti terkumpul. Dengan dana – yang oleh Zainuddin disebut sebagai SDBS ("Sumbangan Dana Buat Surga") – ini, ratusan masjid dan madrasah telah dibangun. 


Pengerahan dana untuk kepentingan umat ibadah atau sosial adalah salah satu perhatian utamanya. Berkali-kali ia mengatakan "juallah saya," asal untuk kepentingan umat.


Pokok bahasan lain yang disukai dai berjuta umat ini adalah penanaman keimanan, seruan untuk tawadu (sikap rendah hati), juga hal-hal lain yang banyak termuat dalam kitab Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Menurut istilah Zainuddin, dakwahnya adalah untuk "membentuk kader berotak Amerika, berhati Mekkah."


Sekalipun menabur humor di sana-sini, Zainuddin tetap tak kehilangan kendali buat mengerahkan massa. Ia mampu menjaga wibawa di mata khalayak. Rhoma Irama menyebut Zainuddin sebagai seo- rang yang memiliki "maunnah" – keistimewaan atas karunia Allah. Ali Badri mengatakan ustad itu punya kemampuan gaib. Sebagai bukti, ia menyebut bahwa hujan pun mereda setelah Zainuddin mengajak hadirin membaca salawat. Bisa jadi pernyataan ini lebih merupakan "reklame" Ali Badri untuk meninggikan Zainuddin. Tapi mungkin pula ia sungguh-sungguh meyakini demikian.


Sebenarnya, sehari-hari Zai- nuddin bukan orang yang terlalu menjaga wibawa. Ia hampir tak beda dengan ciri orang Betawi lain: nampak santai. Sering ia membiarkan kemeja lengan panjangnya tanpa tergu- lung, tapi juga tak dikancingkan. Model kebanyakan celananya masih cutbrai, membesar di bagian bawah. Potongan rambutnya kelimis, sedikit panjang. Bila habis bepergian dan cukup punya waktu luang, ustad ini suka hanya berkaus oblong dan merebahkan punggungnya di kursinya di teras.


Soal hobi, ia mengaku kerepotan menghitung. "Hobi saya banyak," ujarnya. Ustad ini adalah penggemar berat cerita silat karya Kho Ping Ho. la pun pencandu bola dan bioskop. Dalam sepak bola, ia mengagumi pemain Belanda yang bergabung di klub AC Milan-Italia, Marco van Basten. Sedang film yang paling berkesan baginya adalah Lion on the Desert yang mengisahkan perjuangan Omar Mokhtar di Sahara Libya melawan kolonial.


Soal makanan, ia sama sekali tak berpantang. Ia malah menggemari jenis makanan yang oleh sejumlah orang dihindari. Misalnya petai, jengkol, dan durian. Asap rokok pun selalu mengepul dari mulutnya bagai cerobong asap. Paling sedikit dua pak rokok dihabiskannya sehari. Sewaktu sedang merokok dan diingatkan bahwa ada ulama menganggap "merokok haram", ia terhenyak sebentar. Lalu, "Aakhhhhh...," serunya sambil terus mengepulkan asap rokok. Sebuah sikap yang tentu saja sangat tidak disukai oleh kalangan puritan.


Sewaktu kecil Zainuddin tak pernah berkeinginan menjadi mubalig. "Cita-cita saya kalau nggak jadi dokter, ya pilot." Tapi kakeknya – yang mengasuhnya setelah ayahnya meninggal – mengarahkan ke bidang agama. Menurut Zainuddin, agaknya sang kakek hendak menunaikan amanah. Sebab, dalam buku peninggalan ayahnya ada sedikit uang dan tulisan, "untuk anak saya melanjutkan ngaji."


Ternyata, dengan menjadi mubalig ia dapat hidup cukup. Di kawasan tempat tinggalnya di Gandaria, ia terbilang berada. Sebuah Accord nongkrong di garasi rumahnya yang dibangun di tanah sekitar 1.000 m2. Ia juga membeli tanah di depan rumahnya yang bakal dipakai untuk membangun masjid. Namun, Zainuddin sangat bersahaja untuk ukuran dirinya. Kalau ia mau, tak seorang artis Indonesia pun dapat menyaingi penghasilannya. Kalaupun ia minta honor, agaknya Rp 10 juta setiap kali ceramah akan dipenuhi pengundangnya. Tapi ia tak pernah meminta. Begitupun orang masih memberinya honor ratusan ribu hingga jutaan rupiah.


Belum lagi penghasilannya dari kaset. Ia terikat kontrak dengan Naviri Record hingga pertengahan tahun 1991. Kabarnya, sudah 52 serial ceramahnya yang dikasetkan. Dan ia tak peduli, berapa banyak nilai bisnis yang berputar dari kasetnya. Tentang berapa buat dirinya, ia bilang "saya tak ambil pusing." Kenyataannya. "Alhamdulillah memadai. Rumah saya inilah hasilnya."


Dalam posisi seperti itu, kehadiran Zainuddin bukan tak mengundang kritik. Terutama setelah ceramahnya dikarciskan. Ada sejumlah kalangan yang secara tak langsung menuding Zainuddin "menjual ayat" – suatu hal yang dilarang Quran.


Tapi sebagian besar tokoh Islam menyatakan bahwa yang diperbuat ustad ini sah. Tak termasuk kategori "menjual ayat". Apalagi hasil karcis pun bukan buat dirinya. Melainkan untuk kepentingan amal di daerah mereka yang mengundangnya. Dikatakannya pula, kadang ada koordinator daerah yang "nakal menjual saya pada panitia." Namun, ia mengaku selalu meluruskan kembali mereka lewat pertemuan koordinator daerah se-Indonesia secara berkala.


Zainuddin sadar betul tempatnya. Maka, ia tak memungkiri diri, bahwa dirinya perlu dana. Menurut dia, sekitar 30 persen surat yang dilayangkan kepadanya berisi permohonan bantuan materi. "Adalah sangat menyakitkan bila kita tahu ada orang minta tolong pada kita, sedangkan kita dalam keadaan tak mampu menolong."


Maka, Zainuddin pun terus bergulat dengan dunianya: dakwah. Ia berniat untuk terus menggelitik, mengetuk, menggugah hati umat, untuk bergerak menuju kebenaran. Soal keterkenalannya yang bak superstar, ia berkomentar sederhana. "Menjadi terkenal bukan tujuan saya, melainkan hanya alat untuk menumbuhkan otoritas."


Tapi untuk apa otoritas itu, Ustad? "Semakin tinggi otoritas kita di mata umat," jawab Zainuddin, "semakin mudah menanamkan keyakinan pada mereka. Umat tidak akan puas kalau kita sama dengan mereka. Biarlah kita nampak istimewa di mata mereka."


Tak hanya itu. Alat bernama otoritas barulah ampuh bila dilandasi, menurut Zainuddin, "keyakinan bahwa diri kita sama dengan mereka. Kita hanya menjalankan sebuah bentuk ibadah yang bernama 'memberikan dakwah'."


Tak mudah resep itu dijalani. Dan memang tak semua dai menjadi Zainuddin Mz.


Zaim Uchrowi, Priyono B. Sumbogo (Jakarta), Wahyu Muryadi, Zed Abidien, M. Baharun (Surabaya)


Sumber: TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990