DIA MENINGGAL TEPAT 17 AGUSTUS, TUJUH TAHUN SEBELUM TANGGAL ITU MENJADI HARI PALING BERSEJARAH DALAM PERADABAN INDONESIA
Ada ironi yang terlalu sempurna untuk direkayasa.
17 Agustus 1938. Di sebuah rumah di Surabaya, seorang pria berusia 35 tahun menghembuskan napas terakhirnya. Kondisi kesehatannya sudah memburuk berbulan-bulan, diperparah oleh penangkapan oleh Belanda sepuluh hari sebelumnya yang menguras sisa tenaganya yang sudah sangat tipis.
Sebelum kepergiannya, ia sempat berbisik kepada kakak iparnya, Oerip Kasansengari: "Aku yakin Indonesia pasti akan merdeka."
Ia tidak salah. Tapi ia tidak sempat melihatnya.
Tujuh tahun kemudian, pada 17 Agustus 1945, tanggal yang sama dengan tanggal kepergiannya, lagu yang ia tulis dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan Republik Indonesia yang baru saja diproklamasikan.
Namanya: Wage Rudolf Supratman.
Wage Rudolf Supratman lahir di Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada 19 Maret 1903. Nama "Wage" diambil dari hari kelahirannya dalam penanggalan Jawa — Jumat Wage. Nama "Rudolf" bukan nama aslinya sejak lahir. Ia menambahkan nama Belanda itu agar bisa masuk ke sekolah yang dikelola pemerintah kolonial — cara paling pragmatis yang bisa dilakukan seorang pribumi untuk mendapat akses pendidikan di zamannya.
Ayahnya, Jumeno Senen Sastrosoehardjo, adalah seorang sersan di KNIL — Tentara Kerajaan Belanda. Seorang pribumi yang berseragam penjajah. Dari situasi keluarga yang penuh paradoks itulah Supratman tumbuh — dan dari paradoks itulah ia akhirnya menemukan misi hidupnya: menulis lagu yang paling keras menantang penjajahan.
Setelah ibunya meninggal, Supratman ikut kakak perempuannya Rukiyem ke Makassar, lalu mengikuti suami Rukiyem ke Makassar dan menempuh pendidikan di sana. Ia belajar biola dari Willem van Eldik — kakak iparnya — dan dari situlah kecintaannya pada musik tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya. Di Makassar pula ia mulai bekerja sebagai guru, lalu jurnalis, lalu pemain band, lalu kembali ke Jawa dengan satu obsesi yang terus menghantuinya: menulis lagu untuk bangsanya.
Lagu Indonesia Raya diciptakan Supratman pada tahun 1924. Versi awalnya ia mainkan dengan biola — bukan dinyanyikan, karena menyanyikannya secara terbuka berarti memancing penangkapan Belanda. Untuk pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan pada 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda II — di ruang makan rumah Sie Kong Liong di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Supratman memainkan melodi itu dengan biolanya. Seluruh ruangan hening. Tidak ada yang berani menyanyikannya keras-keras karena polisi kolonial hadir. Tapi semua yang hadir mendengar dan mengerti.
Setelah lagu itu pertama kali diperdengarkan, hidup Supratman tidak pernah tenang lagi. Kata "Merdeka! Merdeka!" dalam liriknya dianggap Belanda sebagai ancaman. Ia masuk daftar pengawasan. Pada 1930, Belanda melarang lagu Indonesia Raya dinyanyikan di depan umum.
Supratman berpindah-pindah. Jakarta ke Cimahi. Cimahi ke Pemalang. Pemalang ke Surabaya, dibawa kakaknya Rukiyem dalam kondisi sakit pada April 1937.
Kondisinya membaik sebentar, lalu memburuk lagi. Pada 7 Agustus 1938, sepuluh hari sebelum kematiannya, Belanda kembali menangkapnya di studio Radio NIROM di Surabaya. Kali ini alasannya adalah lagu terbarunya, "Matahari Terbit," yang dianggap Belanda sebagai simpatisan Jepang. Tidak ada bukti yang menguatkan tuduhan itu. Supratman dilepaskan.
Tapi kondisi fisiknya tidak bisa dipulihkan lagi.
Pada Rabu Wage, 17 Agustus 1938, Wage Rudolf Supratman meninggal dunia. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Tidak pernah menikah, tidak punya anak. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Umum Kapas, Jalan Kenjeran, Surabaya.
Di luar rumah itu, Indonesia masih dalam penjajahan. Belanda masih memerintah. Lagu yang ia tulis masih dilarang dinyanyikan di depan umum.
Tujuh tahun kemudian, pada tanggal yang sama dengan tanggal kematiannya, lagu itu mengalun bebas di depan sekitar 500 orang di halaman Jalan Pegangsaan Timur 56. Indonesia merdeka. Dan siapa pun yang menyanyikan Indonesia Raya pada pagi 17 Agustus 1945 itu — baik yang sadar maupun tidak — sedang menyanyikan lagu seorang pria yang tujuh tahun sebelumnya sudah pergi dengan keyakinan bahwa momen itu akan datang.
Pemerintah Indonesia menetapkan Supratman sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1971. Hari lahirnya, 9 Maret, ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional.
Nama yang ia tambahkan untuk masuk sekolah Belanda. Biola yang ia pelajari dari kakak ipar Belanda. Lagu yang ia mainkan dalam keheningan agar tidak ditangkap Belanda. Dan tanggal kematiannya yang tujuh tahun kemudian menjadi tanggal paling bersejarah dalam peradaban Indonesia.
Tidak ada yang direncanakan. Tapi tidak ada yang bisa merancang ironi seindah kenyataan itu.
WR Supratman menulis lagu kebangsaan tapi tidak sempat melihat bangsanya merdeka — dan di hari kematiannya tujuh tahun kemudian, lagu itu dikumandangkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan. Semangat berkarya untuk sesuatu yang belum tentu kita lihat hasilnya adalah keberanian yang paling murni. Menurut data UNESCO 2022, minat baca Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei — sebuah angka yang menjadi pertanyaan serius tentang seberapa dalam kita mengenal sejarah dan nilai-nilai yang diwariskan para pahlawan seperti Supratman. Ia menulis untuk bangsa yang belum merdeka. Pertanyaan untuk kita hari ini: apakah kita cukup membaca dan cukup mengenal warisan yang ia tinggalkan?
#WRSupratman #IndonesiaRaya #HariMusikNasional #SejarahIndonesia #AgustusKemerdekaan



















