25 September 2026

Andaikan ada kejuaraan pasukan terbejat di negri ini, niscaya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) akan menduduki peringkat pertama. Kau pasti tak akan percaya bahwa Gerwani pernah menyerang tentara dengan kondisi telanjang bulat. Pasukan perempuan PKI itu sengaja berada di barisan depan tanpa sehelai benang pun. Mereka sengaja ingin memecah konsentrasi para tentara. Peristiwa mesum dan bejat ini terjadi di Kediri tahun 1965. Saat itu PKI mengambil alih paksa tanah milik pabrik gula Ngadirejo. PKI mengkoordinir BTI (Barisan Tani Indonesia), Pemuda Rakyat, serta Gerwani untuk menyerang militer Kediri. PKI memang licik. Formasi penyerangan itu diatur sedemikian rupa. Gerwani dijadikan bemper, berada di garda terdepan sambil telanjang dan membawa senjata. Lapisan kedua diisi BTI. Para petani itu dipersenjatai. Kemudian lapis ketiga baru Pemuda Rakyat. Sementara petinggi PKI hanya tersenyum dan duduk ongkang-ongkang dari balik mejanya. Gerwani begitu beringas. Dengan dipimpin seorang gadis bernama Sugiyarti, Gerwani menari sambil membawa senjata. Sugiyarti ini anak seorang lurah Desa Jagul Kec Wates Kab Kediri. Dengan berdiri di atas Jeep wilis, Sugiyarti memimpin pasukan telanjang Gerwani. Mereka meliuk seolah binatang. Mempertontonkan auratnya tanpa rasa malu. Laksana pelacur yang membawa senjata. Tentara militer kebingungan menghadapi serangan Gerwani. Menembak perempuan adalah sebuah aib. Tapi perempuan Gerwani itu begitu mesum, bejat, dan sadis. Pasukan telanjang Gerwani tak segan menembakan peluru. Akhirnya tentara militer Kediri menembakan ke arah lain, berharap bisa membuat takut Gerwani. Pasukan telanjang Gerwani terus merangsek maju. Akhirnya tentara militer Kediri melepaskan beberapa tembakan yang merobohkan barisan PKI. Dan pasukan mesum itu kocar-kacir, mundur teratur. Sejak itu PKI playing victim, merasa sebagai fihak yang terdholimi karena terkena tembakan. Mereka tiada jemu mengajak para petani untuk merebut tanah milik negara ataupun tanah milik orang kaya. Mereka selalu menginjar tanah milik Pesantren ataupun milik para haji. Merampas tanah dengan paksa untuk kemudian ditanami oleh petani yang tergabung dalam BTI. Barisan BTI ini berisi para petani yang dipersenjatai. Kisah pasukan Gerwani telanjang ini membuatku bergidik ngeri. Tak pernah menyangka bahwa di negri ini pernah ada sekumpulan wanita yang begitu bobroknya. Sudahlah bobrok agama, akhlaq, tata krama, kejam pula. Lengkap sudah kenistaan mereka. Sebuah pelajaran berharga bahwa jika seorang wanita sudah terpapar faham komunis, maka hilanglah rasa malunya. Hilanglah rasa kemanusiaannya. Hilanglah agamanya. Karena bagi mereka agama adalah candu. Semoga pasukan Gerwani ini hanya ada di masa lalu saja. Jangan sampai ada pasukan Gerwani di masa kini ataupun masa yang akan datang. Sebab Gerwani ini telah menempatkan wanita layaknya binatang yang tak punya malu.... naudzubillah mindzalik...

 Andaikan ada kejuaraan pasukan terbejat di negri ini, niscaya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) akan menduduki peringkat pertama. Kau pasti tak akan percaya bahwa Gerwani pernah menyerang tentara dengan kondisi telanjang bulat. Pasukan perempuan PKI itu sengaja berada di barisan depan tanpa sehelai benang pun. Mereka sengaja ingin memecah konsentrasi para tentara.



Peristiwa mesum dan bejat ini terjadi di Kediri tahun 1965. Saat itu PKI mengambil alih paksa tanah milik pabrik gula Ngadirejo. PKI mengkoordinir BTI (Barisan Tani Indonesia), Pemuda Rakyat, serta Gerwani untuk menyerang militer Kediri.


PKI memang licik. Formasi penyerangan itu diatur sedemikian rupa. Gerwani dijadikan bemper, berada di garda terdepan sambil telanjang dan membawa senjata. Lapisan kedua diisi BTI. Para petani itu dipersenjatai. Kemudian lapis ketiga baru Pemuda Rakyat. Sementara petinggi PKI hanya tersenyum dan duduk ongkang-ongkang dari balik mejanya.


Gerwani begitu beringas. Dengan dipimpin seorang gadis bernama Sugiyarti, Gerwani menari sambil membawa senjata. Sugiyarti ini anak seorang lurah Desa Jagul Kec Wates Kab Kediri. Dengan berdiri di atas Jeep wilis, Sugiyarti memimpin pasukan telanjang Gerwani. Mereka meliuk seolah binatang. Mempertontonkan auratnya tanpa rasa malu. Laksana pelacur yang membawa senjata. 


Tentara militer kebingungan menghadapi serangan Gerwani. Menembak perempuan adalah sebuah aib. Tapi perempuan Gerwani itu begitu mesum, bejat, dan sadis. Pasukan telanjang Gerwani tak segan menembakan peluru. Akhirnya tentara militer Kediri menembakan ke arah lain, berharap bisa membuat takut Gerwani.


Pasukan telanjang Gerwani terus merangsek maju. Akhirnya tentara militer Kediri melepaskan beberapa tembakan yang merobohkan barisan PKI. Dan pasukan mesum itu kocar-kacir, mundur teratur.


Sejak itu PKI playing victim, merasa sebagai fihak yang terdholimi karena terkena tembakan. Mereka tiada jemu mengajak para petani untuk merebut tanah milik negara ataupun tanah milik orang kaya. Mereka selalu menginjar tanah milik Pesantren ataupun milik para haji. Merampas tanah dengan paksa untuk kemudian ditanami oleh petani yang tergabung dalam BTI. Barisan BTI ini berisi para petani yang dipersenjatai.


Kisah pasukan Gerwani telanjang ini membuatku bergidik ngeri. Tak pernah menyangka bahwa di negri ini pernah ada sekumpulan wanita yang begitu bobroknya. Sudahlah bobrok agama, akhlaq, tata krama, kejam pula. Lengkap sudah kenistaan mereka. 


Sebuah pelajaran berharga bahwa jika seorang wanita sudah terpapar faham komunis, maka hilanglah rasa malunya. Hilanglah rasa kemanusiaannya. Hilanglah agamanya. Karena bagi mereka agama adalah candu. 


Semoga pasukan Gerwani ini hanya ada di masa lalu saja. Jangan sampai ada pasukan Gerwani di masa kini ataupun masa yang akan datang. Sebab Gerwani ini telah menempatkan wanita layaknya binatang yang tak punya malu.... naudzubillah mindzalik...


Sumber : Widi Astuti

Jejak Langkah Para Misionaris Semuanya berawal dari Dekrit Raja William I di tahun 1816. Sebuah dekrit yang menjadi dasar pengiriman para misionaris Kerajaan Belanda ke tanah jajahan. Sejak itu para misionaris berdatangan ke Indonesia. Dan mereka adalah para pegawai kerajaan yang mendapat gaji. Saat itu Pulau Jawa sering menjadi transit para misionaris asing. Mereka menetap beberapa lama di Jawa sebelum dikirim ke Maluku, Sumatera, Sulawesi dll. Ada juga misionaris Kerajaan Belanda yang memang tujuan utamanya adalah Pulau Jawa. Adalah Joseph Kam Enklaar, seorang misionaris yang ditugaskan ke Maluku. Dia transit terlebih dulu di Surabaya selama 6 bulan. Dan selama masa transitnya ini dia mendirikan perkumpulan para misionaris yang pertama kali didirikan di Indonesia. Perkumpulan mereka sangat unik. Anggota perkumpulan mereka dijuluki " orang saleh dari Surabaya". Dan kesemuanya adalah warga kulit putih. Tugas utama mereka adalah melakukan penginjilan. Penyebaran injil mereka lakukan dari rumah ke rumah. Saat itu mereka hanya melayani warga kulit putih. Karena hampir seluruh warga pribumi memeluk Islam, belum ada pemeluk Kristen. Disamping Joseph Kam Enklaar, terdapat juga nama misionaris terkenal di zamannya yang tergabung dalam perkumpulan orang saleh dari Surabaya tersebut. Diantaranya yaitu Johannes Emde, Conrad Laurens Coolen, dan juga Pendeta Meyer. Bisa dikatakan mereka pioner misionaris yang mewarnai Pulau Jawa. Diantara para pioneer misionaris tersebut, ada satu sosok yang bisa dikatakan unik dan sukses membawa kaum pribumi untuk memeluk agama baru. Sosok tersebut adalah Conrad Laurens Coolen. Coolen memilih jalan yang berbeda dengan para misionaris lainnya. Dia memutuskan menetap di sebuah hutan yang baru dibuka oleh tangannya sendiri di tahun 1827. Dan menetap disana sambil mengajarkan injil. Coolen mendapatkan ijin membuka dan mengolah hutan selama 25 tahun dari pemerintah kolonial. Biasanya tanah persil digunakan untuk perkebunan. Dan ditanami dengan komoditas yang sedang laku dijual di pasaran Eropa. Tapi Coolen tidak demikian. Dia babat alas bersama para pengikutnya di Ngoro (selatan Jombang). Kemudian menanaminya dengan padi. Dia sangat anti mainstream. Coolen mendirikan perkampungan sendiri, bukan perkebunan layaknya orang Belanda lainnya yang mendapat ijin mengolah Persil. Dia menjadi semacam kepala desa di Ngoro. Segala urusan desa dipegang olehnya. Dan warga sangat mencintainya. Karena saat itu sangat jarang ada warga kulit putih yang menetap dan membaur dengan warga pribumi. Terlebih mau babat alas bersama. Coolen membangun sebuah gereja yang menjadi pusat aktifitas penginjilan di Ngoro dan sekitarnya. Dan Coolen berhasil merebut hati warga. Dia sangat dihormati dan dicintai warga desa Ngoro dan sekitarnya. Kabar seorang warga kulit putih yang babat alas dan sekaligus menjadi kepala desa disana menyebar. Beberapa warga dari kampung lain tertarik untuk datang dan menetap di Ngoro. Mereka sangat berterimakasih kepada Coolen karena telah diberikan tempat tinggal sekaligus tempat bercocok tanam sebagai sumber penghidupan. Coolen berusaha membaur dengan cara mempelajari adat Jawa. Dia sering berkhotbah di gerejanya menggunakan pitutur Jawa dan legenda setempat. Bahkan terkadang menggunakan wayang kulit . Tentu saja warga kampung tambah mencintainya. Dan memandang Coolen sebagai pemimpin kharismatik. Tak hanya pemimpin desa tetapi sekaligus pemimpin agama baru mereka. Begitu besarnya keinginan Coolen membaur dengan warga Pribumi. Sampai dia berpendapat bahwa untuk menjadi seorang Kristen tak perlu dibaptis. Sehingga warga Kristen pengikut Coolen tak satupun dibaptis. Dia berpendapat lebih utama menjadi Kristen Jowo daripada Kristen Londo. Dalam penginjilan, cara pengajaran Coolen lebih mirip "ngelmu Jawa". Tak heran di tahun 1844, sudah ada 1000-an orang yang bermukim di Ngoro. Sebuah bukti keberhasilan Coolen dalam memimpin kampungnya. Dia mendapat julukan "Raja Jawa Tanpa Mahkota" oleh para pengikutnya. Dia juga mendapat julukan "Guru Agama Jawa" Coolen pernah menjadi pusat kristenisasi. Sosoknya yang baik, ramah, dan simpatik seolah menjadi magnet kaum pribumi untuk mengikutinya. Mereka dengan sukarela mengikuti agama Coolen karena merasa diuwongke atau diorangkan. Dalam perjalanannya, Coolen berselisih dengan para misionaris Belanda lainnya. Ajaran Coolen diprotes karena tidak mencerminkan ajaran Kristen standard Belanda. Terutama masalah baptis. Coolen yang tak pernah mengadakan pembaptisan untuk para pengikutnya diprotes keras. Karena baptis adalah jalan masuk agama Kristen. Coolen berprinsip tak mengapa dibaptis yang penting sudah mengakui Yesus. Silang pendapat antara Coolen dengan para misionaris lainnya terdengar oleh sebagian warga desa Ngoro. Kemudian sebagian pengikutnya berusaha mencari tau ke Pendeta Emde dan Bruckner di Surabaya. Dan akhirnya mereka faham bahwa ajaran Coolen memang berbeda. Mereka akhirnya memutuskan agar dibaptis oleh Emde. Sejak itu ada beberapa gelombang warga Ngoro berangkat ke Surabaya untuk pembaptisan. Mereka sebagian meninggalkan Coolen yang tetap berprinsip tak ada pembaptisan. Sampai akhir hayatnya, Coolen tetap setia di jalannya. Menjadi penginjil yang membaur bersama warga pribumi. Dia sosok misionaris yang berusaha melepas sekat dengan warga pribumi. Perjalanan hidup Coolen membuat saya merenung. Betapa dia sangat gigih puluhan tahun menjadi penginjil. Dan menutup mata di penghujung hidupnya diantara para jemaatnya. Dia rela meninggalkan perkotaan dan babat alas. Jika bukan karena kegigihannya, tak mungkin dia bisa bertahan selama itu. Totalitas para misionaris dalam menyebarkan agama sangat terlihat. Lalu mengapa kita masih mengeluh ketika hanya kelelahan atau kehujanan sebentar? (nunjuk diri sendiri 😑). Kita masih bisa tinggal di perkotaan, bisa tidur dengan nyaman di atas kasur empuk, masih bisa internetan, masih bisa menikmati secangkir coklat panas sambil membaca buku, lantas kurang apa lagi? Mengapa masih mengeluh jika diajak menyapa ummat dengan alasan lelah ataupun tak sempat? Atau paling tidak support tenaga, fikiran, ataupun harta untuk ummat. Bukankah rasa lelah di jalan-Nya justru terasa nikmat?

 Jejak Langkah Para  Misionaris 



Semuanya berawal dari Dekrit Raja William I di tahun 1816. Sebuah dekrit yang menjadi dasar pengiriman para misionaris Kerajaan Belanda ke tanah jajahan. Sejak itu para misionaris berdatangan ke Indonesia. Dan mereka adalah para pegawai kerajaan yang mendapat gaji.


Saat itu Pulau Jawa sering menjadi transit para misionaris asing. Mereka menetap beberapa lama di Jawa sebelum dikirim ke Maluku, Sumatera, Sulawesi dll. Ada juga misionaris Kerajaan Belanda yang memang tujuan utamanya adalah Pulau Jawa.


Adalah Joseph Kam Enklaar, seorang misionaris yang ditugaskan ke Maluku. Dia transit terlebih dulu di Surabaya selama 6 bulan. Dan selama masa transitnya ini dia mendirikan perkumpulan para misionaris yang pertama kali didirikan di Indonesia. 


Perkumpulan mereka sangat unik. Anggota perkumpulan mereka dijuluki " orang saleh dari Surabaya".  Dan kesemuanya adalah warga kulit putih.


Tugas utama mereka adalah melakukan penginjilan. Penyebaran injil mereka lakukan dari rumah ke rumah. Saat itu mereka hanya melayani warga kulit putih. Karena hampir seluruh warga pribumi memeluk Islam, belum ada pemeluk Kristen. 


Disamping Joseph Kam Enklaar, terdapat juga nama misionaris terkenal di zamannya yang tergabung dalam perkumpulan orang saleh dari Surabaya tersebut. Diantaranya yaitu Johannes Emde, Conrad Laurens Coolen, dan juga Pendeta Meyer. Bisa dikatakan mereka pioner misionaris yang mewarnai Pulau Jawa.


Diantara para pioneer misionaris tersebut, ada satu sosok yang bisa dikatakan unik dan sukses membawa kaum pribumi untuk memeluk agama baru. Sosok tersebut adalah Conrad Laurens Coolen.


Coolen memilih jalan yang berbeda dengan para misionaris lainnya. Dia memutuskan menetap di sebuah hutan yang baru dibuka oleh tangannya sendiri di tahun 1827. Dan menetap disana sambil mengajarkan injil.


Coolen mendapatkan ijin membuka dan mengolah hutan selama 25 tahun dari pemerintah kolonial. Biasanya tanah persil digunakan untuk perkebunan. Dan ditanami dengan komoditas yang sedang laku dijual di pasaran Eropa.


Tapi Coolen tidak demikian. Dia babat alas bersama para pengikutnya di Ngoro (selatan Jombang). Kemudian menanaminya dengan padi. Dia sangat anti mainstream.


Coolen mendirikan perkampungan sendiri, bukan perkebunan layaknya orang Belanda lainnya yang mendapat ijin mengolah Persil. Dia menjadi semacam kepala desa di Ngoro. Segala urusan desa dipegang olehnya. Dan warga sangat mencintainya. Karena saat itu sangat jarang ada warga kulit putih yang menetap dan membaur dengan warga pribumi. Terlebih mau babat alas bersama.


Coolen membangun sebuah gereja yang menjadi pusat aktifitas penginjilan di Ngoro dan sekitarnya. Dan Coolen berhasil merebut hati warga. Dia sangat dihormati dan dicintai warga desa Ngoro dan sekitarnya. 


Kabar seorang warga kulit putih yang babat alas dan sekaligus menjadi kepala desa disana menyebar. Beberapa warga dari kampung lain tertarik untuk datang dan menetap di Ngoro. Mereka sangat berterimakasih kepada Coolen karena telah diberikan tempat tinggal sekaligus tempat bercocok tanam sebagai sumber penghidupan.


Coolen berusaha membaur dengan cara mempelajari adat Jawa. Dia sering berkhotbah di gerejanya menggunakan pitutur Jawa dan legenda setempat. Bahkan terkadang menggunakan wayang kulit . Tentu saja warga kampung tambah mencintainya. Dan memandang Coolen sebagai pemimpin kharismatik. Tak hanya pemimpin desa tetapi sekaligus pemimpin agama baru mereka.


Begitu besarnya keinginan Coolen membaur dengan warga Pribumi. Sampai dia berpendapat bahwa untuk menjadi seorang Kristen tak perlu dibaptis. Sehingga warga Kristen pengikut Coolen tak satupun dibaptis. Dia berpendapat lebih utama menjadi Kristen Jowo daripada Kristen Londo.


Dalam penginjilan, cara pengajaran Coolen lebih mirip "ngelmu Jawa". Tak heran di tahun 1844, sudah ada 1000-an orang yang bermukim di Ngoro. Sebuah bukti keberhasilan Coolen dalam memimpin kampungnya. Dia mendapat julukan "Raja Jawa Tanpa Mahkota" oleh para pengikutnya. Dia juga mendapat julukan "Guru Agama Jawa"


Coolen pernah menjadi pusat kristenisasi. Sosoknya yang baik, ramah, dan simpatik seolah menjadi magnet kaum pribumi untuk mengikutinya. Mereka dengan sukarela mengikuti agama Coolen karena merasa diuwongke atau diorangkan.


Dalam perjalanannya, Coolen berselisih dengan para misionaris Belanda lainnya. Ajaran Coolen diprotes karena tidak mencerminkan ajaran Kristen standard Belanda. Terutama masalah baptis. Coolen yang tak pernah mengadakan pembaptisan untuk para pengikutnya diprotes keras. Karena baptis adalah jalan masuk agama Kristen. Coolen berprinsip tak mengapa dibaptis yang penting sudah mengakui Yesus.


Silang pendapat antara Coolen dengan para misionaris lainnya terdengar oleh sebagian warga desa Ngoro. Kemudian sebagian pengikutnya berusaha mencari tau ke Pendeta Emde dan Bruckner di Surabaya. Dan akhirnya mereka faham bahwa ajaran Coolen memang berbeda. Mereka akhirnya memutuskan agar dibaptis oleh Emde. 


Sejak itu ada beberapa gelombang warga Ngoro berangkat ke Surabaya untuk pembaptisan. Mereka sebagian meninggalkan Coolen yang tetap berprinsip tak ada pembaptisan.


Sampai akhir hayatnya, Coolen tetap setia di jalannya. Menjadi penginjil yang membaur bersama warga pribumi. Dia sosok misionaris yang berusaha melepas sekat dengan warga pribumi.


Perjalanan hidup Coolen membuat saya merenung. Betapa dia sangat gigih puluhan tahun menjadi penginjil. Dan menutup mata di penghujung hidupnya diantara para jemaatnya. Dia rela meninggalkan perkotaan dan babat alas. Jika bukan karena kegigihannya, tak mungkin dia bisa bertahan selama itu.


Totalitas para misionaris dalam menyebarkan agama sangat terlihat. Lalu mengapa kita masih mengeluh ketika hanya kelelahan atau kehujanan sebentar? (nunjuk diri sendiri 😑).


Kita masih bisa tinggal di perkotaan, bisa tidur dengan nyaman di atas kasur empuk, masih bisa internetan, masih bisa menikmati secangkir coklat panas sambil membaca buku, lantas kurang apa lagi? Mengapa masih mengeluh jika diajak menyapa ummat dengan alasan lelah ataupun tak sempat? Atau paling tidak support tenaga, fikiran, ataupun harta untuk ummat.


Bukankah rasa lelah di jalan-Nya justru terasa nikmat?


Sumber : Widi Astuti

Repro Peta Stasiun seJawa Tengah

 Repro Peta Stasiun seJawa Tengah




Sumber : Eko Faruza


 Sejarah yang ga boleh dilupakan



Pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, Jakarta diselimuti kabut ketidakpastian yang sangat mencekam. Enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI Angkatan Darat diculik oleh kelompok yang menamakan diri  mereka Gerakan 30 September (G30S).


Di tengah kekacauan itu, seorang putra terbaik asal Sumedang, Jawa Barat, memegang tanggung jawab paling berat di ibu kota. Beliau adalah Mayor Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah, Panglima Kodam V/Jaya (Pangdam Jaya)


Ketegangan mencapai puncaknya siang itu. Sebuah perintah langsung datang dari Presiden Soekarno. Bung Karno memanggil Jenderal Umar untuk segera menghadap ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.


Bagi seorang prajurit, perintah Panglima Tertinggi adalah hukum yang absolut. Namun, situasi saat itu sangat tidak biasa. Kawasan Halim justru terindikasi kuat menjadi pusat  berkumpulnya para gembong dan pasukan penculik G30S.


Melihat potensi bahaya dan jebakan maut tersebut, Mayjen Soeharto melarang keras Umar untuk pergi. Soeharto khawatir pemanggilan itu merupakan taktik untuk melenyapkan sisa pimpinan Angkatan Darat yang masih hidup.


Di sinilah nyali baja sang Jenderal Sunda diuji. Berada di persimpangan jalan sejarah, Umar Wirahadikusumah mengambil keputusan krusial. Beliau memilih setia pada soliditas Angkatan Darat dan keselamatan ibu kota. Umari mematuhi arahan Soeharto dan secara tegas menolak untuk memenuhi panggilan Bung Karno ke Halim.


Soeharto kemudian menyampaikan pesan kepada utusan istana: "Sampaikan pada Bapak Presiden, mohon maaf, Pangdam V Jaya tidak dapat menghadap. Harap semua instruksi untuk AD disampaikan melalui saya."


Penolakan berani ini sempat membuat Bung Karno berang. Namun, langkah taktis Umar terbukti menyelamatkan Jakarta dari kekosongan komando. Bersama Soeharto, Umar mengonsolidasikan pasukan, memberlakukan jam malam, membredel media propaganda musuh dan melumpuhkan gerakan G30S hingga situasi ibu kota kembali kondusif.


Ketegasan, kejujuran, dan kesetiaannya di malam jahanam itu membawanya pada puncak karier militer hingga nantinya dipercaya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-4.


Sumber : Yudi Bragas Adi Luhur

24 September 2026

@sorotan #Bjk95. #Jasmerah 4 Oktober 1965. -------------------------- PENGAMBILAN JENAZAH PARA KORBAN G-30-S/ PKI DI LUBANG BUAYA ******************************************* Karena mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan tempat penanaman jenazah dilubang buaya, usaha pengambilan kembali jenazah para perwira tinggi dan perwira pertama korban peristiwa G-30-S/PKI Baru berhasil diselesaikan pada tanggal 4 Oktober 1965. Tempat tersebut adalah sebuah sumur tua yang bergaris tengah kurang dari satu meter dengan kedalaman 12 meter, pengambilan dilakukan oleh Anggota-anggota RPKAD dan KKO-AL ( sekarang Korp Marinir TNI-AL) dengan menggunakan peralatan khusus. Keadaan jenazah sangat lah rusak dan menurut keterangan dokter pemeriksa, luka-luka yang terdapat pada jenazah menunjukkan;_penganiayaan yang sangat kejam. Jenazah dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat ( Sekarang Rumah Sakit Gatot Subroto) dan Kemudian disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat,Jalan Merdeka Utara. #JasMerah 📷Sumber,Photo & Keterangan: _ Buku sejarah: 30 Tahun Indonesia Merdeka 1965~1973 cetakan keenam tahun 1985. IPPHOS, Pusjarah TNI.

 @sorotan 

#Bjk95.

#Jasmerah


4 Oktober 1965.

--------------------------


      PENGAMBILAN JENAZAH PARA KORBAN 

               G-30-S/ PKI DI LUBANG BUAYA 

      *******************************************


Karena mengalami kesulitan dalam berhubungan 

dengan tempat penanaman jenazah dilubang buaya, usaha pengambilan kembali jenazah para perwira tinggi dan perwira pertama korban peristiwa G-30-S/PKI Baru berhasil diselesaikan pada tanggal 4 Oktober 1965.


Tempat tersebut adalah sebuah sumur tua yang bergaris tengah kurang dari satu meter dengan kedalaman 12 meter, pengambilan dilakukan oleh 

Anggota-anggota RPKAD dan KKO-AL ( sekarang 

Korp Marinir TNI-AL) dengan menggunakan peralatan khusus.


Keadaan jenazah sangat lah rusak dan menurut keterangan dokter pemeriksa, luka-luka yang terdapat pada jenazah menunjukkan;_penganiayaan yang sangat kejam.


Jenazah dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat ( Sekarang Rumah Sakit Gatot Subroto) dan

Kemudian disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat,Jalan Merdeka Utara.


                                #JasMerah




📷Sumber,Photo & Keterangan: _

Buku sejarah: 30 Tahun Indonesia Merdeka 

1965~1973 cetakan keenam tahun 1985.

IPPHOS, Pusjarah TNI.

Sultan Hamengkoe Boewono VIII bersama asisten-resident Christiaan Abbenhuis (kanan) untuk Kareta Kiai Garoedajaksa di Jogjakarta. ca 1938

 Sultan Hamengkoe Boewono VIII bersama asisten-resident Christiaan Abbenhuis (kanan) untuk Kareta Kiai Garoedajaksa di Jogjakarta. ca 1938 




Sumber : Andre Owen

6 Oktober 1965. ============== PEMAKAMAN ADE IRMA SURYANI NASUTION PUTRI JENDERAL AH NASUTION. Ade Irma Suryani adalah putri bungsu Jenderal AH Nasution yang gugur dalam tragedi Gerakan 30 September (G30S PKI) pada usia 5 Tahun. Photo 1)_Jenazah Ade Irma Suryani Nasution ditempat pemakamannya di Blok P Kebayoran Baru Jakarta pada tanggal 6 Oktober 1965. Photo 2)_Dengan penuh haru Jenderal AH Nasution menyaksikan upacara pemakaman putrinya di pemakaman Blok P Kebayoran Baru Jakarta. #JASMERAH. 📷 Sumber Photo & Keterangan: Buku Sejarah:30 Tahun Indonesia Merdeka 1965~1973 Cetakan keenam tahun 1985 IPPHOS,Pusjarah TNI.

 6 Oktober 1965.

==============


PEMAKAMAN ADE IRMA SURYANI NASUTION 

           PUTRI JENDERAL AH NASUTION.



Ade Irma Suryani adalah putri bungsu Jenderal AH Nasution yang gugur dalam tragedi Gerakan 30 September (G30S PKI) pada usia 5 Tahun.


Photo 1)_Jenazah Ade Irma Suryani Nasution ditempat pemakamannya di Blok P Kebayoran Baru Jakarta pada tanggal 6 Oktober 1965.


Photo 2)_Dengan penuh haru Jenderal AH Nasution menyaksikan upacara pemakaman putrinya di pemakaman Blok P Kebayoran Baru Jakarta.


                              #JASMERAH.


📷 Sumber Photo & Keterangan:

Buku Sejarah:30 Tahun Indonesia Merdeka 

1965~1973 Cetakan keenam tahun 1985

IPPHOS,Pusjarah TNI.

23 September 2026

📸 Menolak Lupa : Kelompok Hadji Daipin di Karawang, 20 April 1948 Foto ini memperlihatkan sekelompok laki-laki yang berdiri dan duduk di depan sebuah tembok. Beberapa di antaranya mengenakan peci dan pakaian sederhana, sementara sejumlah orang terlihat membawa senjata api. Foto tersebut diambil di Karawang pada 20 April 1948, ketika Indonesia masih berada dalam masa Revolusi Nasional. Saat itu, berbagai wilayah di Jawa Barat mengalami ketegangan akibat konflik antara Republik Indonesia, pasukan Belanda, dan kelompok-kelompok bersenjata lokal. Menurut keterangan Nationaal Archief Belanda, foto ini merupakan bagian dari dokumentasi kelompok yang disebut : “Groep bendeleden van bende Hadji Daipin, welke zich vrijwillig gemeld hebben, uit het gebied ten noorden van Krawang.” Artinya, kurang lebih, kelompok pengikut Hadji Daipin dari wilayah sebelah utara Karawang yang disebut telah melapor atau menyerahkan diri secara sukarela. Dalam arsip tersebut, kelompok ini disebut sebagai bende, istilah Belanda yang berarti gerombolan atau kelompok bersenjata. Namun, istilah tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena berasal dari sudut pandang dokumentasi militer Belanda. Keterangan tersebut belum tentu menggambarkan seluruh latar belakang, tujuan, maupun pandangan dari kelompok yang difoto. Salah satu orang dalam foto, yaitu orang keempat dari kiri, tercatat memegang pistol Jerman jenis Mauser. Arsip juga menyebut bahwa sebagian kelompok membawa senjata dan benda yang disebut sebagai ranjau darat. Keberadaan persenjataan tersebut menunjukkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata di sekitar Karawang pada masa revolusi memiliki akses terhadap berbagai jenis senjata. Sebagian senjata pada masa itu berasal dari peninggalan tentara Jepang, hasil perebutan, perdagangan, maupun jalur lain yang terbentuk selama kekacauan setelah Perang Dunia II. Frasa “melapor secara sukarela” juga menarik untuk diperhatikan. Dalam konteks konflik bersenjata, hal tersebut bisa berarti menyerahkan diri, menghentikan perlawanan, melaporkan keberadaan kelompok, atau mencari jalan keluar dari situasi keamanan yang semakin sulit. Namun, alasan sebenarnya di balik keputusan kelompok Hadji Daipin belum dapat dipastikan hanya dari keterangan foto ini. Karawang pada masa itu bukan hanya dikenal sebagai wilayah persawahan dan jalur penghubung penting antara Jakarta dan Jawa Barat. Daerah ini juga menjadi kawasan yang mengalami langsung pergulatan bersenjata, perubahan kekuasaan, serta persaingan antara berbagai kelompok dengan kepentingan yang berbeda. Foto ini mengingatkan kita bahwa sejarah Karawang memiliki banyak lapisan. Di balik pembangunan kota, kawasan industri, dan hamparan sawah yang kita kenal sekarang, pernah ada masa ketika masyarakat hidup dalam ketidakpastian dan harus menghadapi pilihan-pilihan sulit. Wajah-wajah dalam foto ini mungkin terlihat tenang. Namun, di baliknya tersimpan cerita tentang senjata, konflik, penyerahan diri, dan perjalanan sejarah yang belum seluruhnya terungkap. **Satu foto tidak selalu mampu menceritakan seluruh kebenaran. Namun, ia dapat menjadi pintu untuk memahami masa lalu.** 📍 Karawang, Jawa Barat 📅 20 April 1948 👥 Kelompok pengikut Hadji Daipin 📸 Fotografer: R. G. Jonkman / DLC 🗂️ Sumber: Nationaal Archief, Belanda 🔢 Bestanddeelnr 1622-1-3 📜 Lisensi: Public Domain / CC0 #TitikNostalgia #SejarahKarawang #Karawang1948 #RevolusiIndonesia #MenolakLupa

 📸 Menolak Lupa : Kelompok Hadji Daipin di Karawang, 20 April 1948


Foto ini memperlihatkan sekelompok laki-laki yang berdiri dan duduk di depan sebuah tembok. Beberapa di antaranya mengenakan peci dan pakaian sederhana, sementara sejumlah orang terlihat membawa senjata api.



Foto tersebut diambil di Karawang pada 20 April 1948, ketika Indonesia masih berada dalam masa Revolusi Nasional. Saat itu, berbagai wilayah di Jawa Barat mengalami ketegangan akibat konflik antara Republik Indonesia, pasukan Belanda, dan kelompok-kelompok bersenjata lokal.


Menurut keterangan Nationaal Archief Belanda, foto ini merupakan bagian dari dokumentasi kelompok yang disebut :


“Groep bendeleden van bende Hadji Daipin, welke zich vrijwillig gemeld hebben, uit het gebied ten noorden van Krawang.”


Artinya, kurang lebih, kelompok pengikut Hadji Daipin dari wilayah sebelah utara Karawang yang disebut telah melapor atau menyerahkan diri secara sukarela.


Dalam arsip tersebut, kelompok ini disebut sebagai bende, istilah Belanda yang berarti gerombolan atau kelompok bersenjata. Namun, istilah tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena berasal dari sudut pandang dokumentasi militer Belanda. Keterangan tersebut belum tentu menggambarkan seluruh latar belakang, tujuan, maupun pandangan dari kelompok yang difoto.


Salah satu orang dalam foto, yaitu orang keempat dari kiri, tercatat memegang pistol Jerman jenis Mauser. Arsip juga menyebut bahwa sebagian kelompok membawa senjata dan benda yang disebut sebagai ranjau darat.


Keberadaan persenjataan tersebut menunjukkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata di sekitar Karawang pada masa revolusi memiliki akses terhadap berbagai jenis senjata. Sebagian senjata pada masa itu berasal dari peninggalan tentara Jepang, hasil perebutan, perdagangan, maupun jalur lain yang terbentuk selama kekacauan setelah Perang Dunia II.


Frasa “melapor secara sukarela” juga menarik untuk diperhatikan. Dalam konteks konflik bersenjata, hal tersebut bisa berarti menyerahkan diri, menghentikan perlawanan, melaporkan keberadaan kelompok, atau mencari jalan keluar dari situasi keamanan yang semakin sulit. Namun, alasan sebenarnya di balik keputusan kelompok Hadji Daipin belum dapat dipastikan hanya dari keterangan foto ini.


Karawang pada masa itu bukan hanya dikenal sebagai wilayah persawahan dan jalur penghubung penting antara Jakarta dan Jawa Barat. Daerah ini juga menjadi kawasan yang mengalami langsung pergulatan bersenjata, perubahan kekuasaan, serta persaingan antara berbagai kelompok dengan kepentingan yang berbeda.


Foto ini mengingatkan kita bahwa sejarah Karawang memiliki banyak lapisan. Di balik pembangunan kota, kawasan industri, dan hamparan sawah yang kita kenal sekarang, pernah ada masa ketika masyarakat hidup dalam ketidakpastian dan harus menghadapi pilihan-pilihan sulit.


Wajah-wajah dalam foto ini mungkin terlihat tenang. Namun, di baliknya tersimpan cerita tentang senjata, konflik, penyerahan diri, dan perjalanan sejarah yang belum seluruhnya terungkap.


**Satu foto tidak selalu mampu menceritakan seluruh kebenaran. Namun, ia dapat menjadi pintu untuk memahami masa lalu.**


📍 Karawang, Jawa Barat

📅 20 April 1948

👥 Kelompok pengikut Hadji Daipin

📸 Fotografer: R. G. Jonkman / DLC

🗂️ Sumber: Nationaal Archief, Belanda

🔢 Bestanddeelnr 1622-1-3

📜 Lisensi: Public Domain / CC0


#TitikNostalgia #SejarahKarawang #Karawang1948 #RevolusiIndonesia #MenolakLupa

Masyarakat di Wellery (Kendal) bersembunyi di bawah tanah pada perang Kemerdekaan sekitar Tahun 1947

 Masyarakat di Wellery (Kendal) bersembunyi di bawah tanah pada perang Kemerdekaan sekitar Tahun 1947



Sumber : Andre Owen


22 September 2026

SAJAK KEBENCIAN AIDIT UNTUK AHMAD YANI, KETIKA KETUA PKI MENYAMBUT JENDERAL BARU DENGAN PUISI SINDIRAN Ahmad Yani baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-40 ketika kabar besar itu datang. Pada Juni 1962, Presiden Sukarno mempromosikannya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat menggantikan Jenderal Abdul Haris Nasution. Ini bukan sekadar promosi biasa — jabatan itu kemudian ditingkatkan statusnya setingkat menteri, menjadikan Yani sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat atau Menpangad, pemegang komando tertinggi seluruh kekuatan darat Indonesia. Tidak semua orang menyambut pengangkatan itu dengan suka cita. Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, merespons promosi Yani dengan cara yang paling ia kuasai selain berpidato: menulis puisi. Pada 23 Juni 1962 — tepat di hari-hari seputar pengangkatan Yani — Aidit menulis sebuah sajak berjudul Raja Naik Mahkota Kecil. Berdasarkan Seri Buku Tempo tentang Aidit yang terbit 2010 (halaman 114), isi sajak itu adalah: "Udara hari ini cerah benar Pemuda nyanyi Nasakom bersatu Gelak ketawa gadis remaja Mendengar si lalim naik takhta Tapi konon mahkotanya kecil. Ayo, maju terus kawan-kawan Halau dia ke jaring dan jerat Tangkap dia dan ikat erat Hadapkan dia ke mahkamah rakyat!" Sajak itu tidak perlu tafsir panjang. "Si lalim naik takhta" adalah sindiran langsung kepada Yani. "Mahkotanya kecil" adalah penghinaan terhadap jabatan baru sang jenderal. Dan baris terakhir — "hadapkan dia ke mahkamah rakyat" — adalah seruan yang dalam bahasa PKI era 1960-an berarti pengadilan revolusioner, dengan segala konsekuensi yang menyertainya. Ketegangan antara PKI dan pimpinan Angkatan Darat memang bukan hal baru. Sejak awal 1960-an, keduanya bergesekan dalam ruang pengaruh di sekeliling Sukarno. PKI menginginkan persatuan Nasakom — Nasionalisme, Agama, Komunisme — yang menempatkan mereka setara dengan kekuatan lain termasuk militer. AD melihat PKI sebagai ancaman yang harus diawasi ketat. Yani, dengan karakter tegasnya, dikenal sebagai salah satu jenderal yang paling vokal menolak pengaruh PKI di dalam tubuh militer. Bahwa Aidit menulis sajak untuk menyindir Yani bukan sesuatu yang aneh. Tidak banyak yang mengenal Aidit sebagai penyair, tapi ia menulis puisi secara konsisten sepanjang hidupnya. Pada 1965, sesaat sebelum petaka, ia bahkan menerbitkan kumpulan sajak bertajuk Kepada Partai melalui Yayasan Pembaruan. Tiga tahun setelah sajak itu ditulis, keduanya menemui takdir yang sama: sama-sama tewas dalam peristiwa yang mengubah sejarah Indonesia pada akhir September 1965. Ahmad Yani adalah salah satu dari tujuh perwira tinggi yang diculik dan dibunuh dalam peristiwa G30S pada malam 30 September. Aidit sendiri ditangkap di Boyolali dan dieksekusi pada 22 November 1965. Sajak kebencian yang ditulis pada 1962 itu menjadi salah satu dokumen paling ganjil dari era Demokrasi Terpimpin — sebuah puisi yang menghendaki mahkamah rakyat untuk sang jenderal, ditulis oleh seseorang yang tiga tahun kemudian ikut lenyap ditelan pusaran sejarah yang sama. #SejarahIndonesia #AhmadYani #Aidit #PKI #G30S

 SAJAK KEBENCIAN AIDIT UNTUK AHMAD YANI, KETIKA KETUA PKI MENYAMBUT JENDERAL BARU DENGAN PUISI SINDIRAN



Ahmad Yani baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-40 ketika kabar besar itu datang. Pada Juni 1962, Presiden Sukarno mempromosikannya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat menggantikan Jenderal Abdul Haris Nasution. Ini bukan sekadar promosi biasa — jabatan itu kemudian ditingkatkan statusnya setingkat menteri, menjadikan Yani sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat atau Menpangad, pemegang komando tertinggi seluruh kekuatan darat Indonesia.


Tidak semua orang menyambut pengangkatan itu dengan suka cita.


Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, merespons promosi Yani dengan cara yang paling ia kuasai selain berpidato: menulis puisi. Pada 23 Juni 1962 — tepat di hari-hari seputar pengangkatan Yani — Aidit menulis sebuah sajak berjudul Raja Naik Mahkota Kecil. Berdasarkan Seri Buku Tempo tentang Aidit yang terbit 2010 (halaman 114), isi sajak itu adalah:


"Udara hari ini cerah benar

Pemuda nyanyi Nasakom bersatu

Gelak ketawa gadis remaja

Mendengar si lalim naik takhta

Tapi konon mahkotanya kecil.


Ayo, maju terus kawan-kawan

Halau dia ke jaring dan jerat

Tangkap dia dan ikat erat

Hadapkan dia ke mahkamah rakyat!"


Sajak itu tidak perlu tafsir panjang. "Si lalim naik takhta" adalah sindiran langsung kepada Yani. "Mahkotanya kecil" adalah penghinaan terhadap jabatan baru sang jenderal. Dan baris terakhir — "hadapkan dia ke mahkamah rakyat" — adalah seruan yang dalam bahasa PKI era 1960-an berarti pengadilan revolusioner, dengan segala konsekuensi yang menyertainya.


Ketegangan antara PKI dan pimpinan Angkatan Darat memang bukan hal baru. Sejak awal 1960-an, keduanya bergesekan dalam ruang pengaruh di sekeliling Sukarno. PKI menginginkan persatuan Nasakom — Nasionalisme, Agama, Komunisme — yang menempatkan mereka setara dengan kekuatan lain termasuk militer. AD melihat PKI sebagai ancaman yang harus diawasi ketat. Yani, dengan karakter tegasnya, dikenal sebagai salah satu jenderal yang paling vokal menolak pengaruh PKI di dalam tubuh militer.


Bahwa Aidit menulis sajak untuk menyindir Yani bukan sesuatu yang aneh. Tidak banyak yang mengenal Aidit sebagai penyair, tapi ia menulis puisi secara konsisten sepanjang hidupnya. Pada 1965, sesaat sebelum petaka, ia bahkan menerbitkan kumpulan sajak bertajuk Kepada Partai melalui Yayasan Pembaruan.


Tiga tahun setelah sajak itu ditulis, keduanya menemui takdir yang sama: sama-sama tewas dalam peristiwa yang mengubah sejarah Indonesia pada akhir September 1965. Ahmad Yani adalah salah satu dari tujuh perwira tinggi yang diculik dan dibunuh dalam peristiwa G30S pada malam 30 September. Aidit sendiri ditangkap di Boyolali dan dieksekusi pada 22 November 1965.


Sajak kebencian yang ditulis pada 1962 itu menjadi salah satu dokumen paling ganjil dari era Demokrasi Terpimpin — sebuah puisi yang menghendaki mahkamah rakyat untuk sang jenderal, ditulis oleh seseorang yang tiga tahun kemudian ikut lenyap ditelan pusaran sejarah yang sama.


#SejarahIndonesia #AhmadYani #Aidit #PKI #G30S

20 September 2026

ASWIDEM KARJAWITANA Perempuan Purbalingga yang Menyeberangi Laut dan Menemukan Rumah di Negeri Jauh Namanya mungkin tidak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah besar. Tidak ada kisah tentang dirinya di halaman-halaman sejarah nasional. Tidak pula banyak orang di tanah kelahirannya yang mengenal namanya. Namun, selembar catatan arsip dari masa Hindia Belanda membuat jejak hidup seorang perempuan Jawa bernama Bok Karjawitana alias Aswidem kembali muncul ke permukaan. Ia adalah salah seorang perempuan asal wilayah Purbalingga yang pada tahun 1927 dibawa menyeberangi lautan menuju Paramaribo, Suriname. Usianya baru 21 tahun. Pada usia ketika banyak perempuan mungkin masih hidup dekat dengan keluarga dan kampung halaman, Aswidem justru harus menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju sebuah negeri di Amerika Selatan yang bahkan mungkin belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari Lamboer menuju Paramaribo Dalam catatan arsip, Aswidem tercatat berasal dari Desa Lamboer, District Bobotsari. Wilayah administratif pada masa kolonial berbeda dengan pembagian wilayah sekarang. Lamboer yang disebut dalam arsip tersebut kemudian diidentifikasi berada di wilayah yang kini termasuk Kecamatan Mrebet, Purbalingga. Pada 15 Agustus 1927, Aswidem diberangkatkan dari Hindia Belanda menuju Paramaribo dengan Kapal Madioen IV. Ia dibawa oleh Folmer, F.R., beheerder van Jagtlust, dan kemudian mulai menjalani kontrak kerja pada 24 September 1927 untuk perusahaan atau perkebunan Jagtlust. Bayangkan seorang perempuan berusia 21 tahun meninggalkan tanah Jawa dan menempuh perjalanan laut menuju negeri yang sangat jauh. Di belakangnya ada kampung halaman. Ada keluarga. Ada bahasa yang dikenalnya sejak kecil. Ada tanah yang mungkin setiap sudutnya sudah akrab dalam ingatan. Namun, setelah kapal meninggalkan pelabuhan, semua itu perlahan berubah menjadi kenangan yang dibawa bersama dirinya. Bukan sekadar angka dalam arsip Di dalam dokumen kolonial, Aswidem mungkin hanya tercatat sebagai seorang pekerja kontrak. Tinggi badannya dicatat 152 sentimeter. Ciri fisiknya dicatat secara administratif, yaitu adanya pigmen pada bagian dada. Nama, umur, asal desa, tanggal keberangkatan, kapal yang digunakan, serta tempat bekerja semuanya ditulis dalam bahasa administrasi kolonial. Tetapi di balik angka-angka tersebut terdapat seorang manusia. Seorang perempuan muda. Seseorang yang pasti memiliki cerita, harapan, ketakutan, dan kerinduan sendiri. Sayangnya, arsip tidak selalu mampu menceritakan bagaimana perasaannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Suriname. Kita tidak tahu apakah ia menangis ketika meninggalkan Jawa. Kita tidak tahu apakah ia sempat memeluk keluarganya untuk terakhir kali. Kita juga tidak tahu apakah pada malam-malam pertama di negeri asing ia pernah menatap langit dan bertanya dalam hati: “Kapan aku bisa pulang?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin tidak pernah tertulis dalam arsip. Namun, justru di situlah sisi kemanusiaan dari sejarah seperti kisah Aswidem menjadi begitu menyentuh. Jawa yang dibawa dalam ingatan Para pekerja asal Jawa yang dibawa ke Suriname bukan hanya membawa tenaga untuk bekerja. Mereka juga membawa sesuatu yang jauh lebih besar: bahasa, nama, tradisi, makanan, kesenian, keyakinan, dan ingatan tentang kampung halaman. Begitu pula dengan Aswidem. Ketika meninggalkan Lamboer, ia mungkin tidak menyadari bahwa perjalanan tersebut kelak akan menjadi bagian dari sejarah besar diaspora Jawa di Suriname. Suriname memang kemudian menjadi salah satu tempat penting bagi berkembangnya komunitas keturunan Jawa. Di negeri yang jauh dari Pulau Jawa itu, berbagai unsur budaya Jawa tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Dan di antara para pendatang itu terdapat nama-nama orang biasa seperti Aswidem. Mereka bukan tokoh istana. Bukan pejabat. Bukan panglima perang. Mereka adalah rakyat biasa yang kehidupannya justru ikut membentuk sejarah dari bawah. Nama yang berubah, tetapi masa lalu tetap melekat Hal yang menarik dari catatan Aswidem adalah perubahan namanya. Pada 3 Oktober 1950, ia tercatat memilih nama Aswidem Karjawitana. Nama tersebut seolah menjadi tanda sebuah perjalanan panjang. Dari seorang perempuan muda bernama Bok Karjawitana yang berangkat dari wilayah Purbalingga pada 1927, ia kemudian menjadi Aswidem Karjawitana, seseorang yang telah menempuh kehidupan jauh dari tanah kelahirannya. Pergantian nama itu bukan berarti masa lalunya hilang. Justru nama tersebut menjadi jembatan antara kehidupan lamanya di Jawa dan kehidupan barunya di Suriname. Di dalam satu nama, ada dua dunia. Ada Jawa yang pernah menjadi rumah. Dan ada Suriname yang kemudian menjadi tempat menjalani kehidupan. Sejarah yang hampir terlupakan Kisah Aswidem mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh orang-orang besar. Sejarah juga dibentuk oleh manusia-manusia biasa yang namanya mungkin hanya muncul sekali dalam sebuah dokumen. Mereka pergi. Mereka bekerja. Mereka menikah. Mereka mempunyai anak. Mereka membangun keluarga. Dan sebagian dari mereka akhirnya tidak pernah kembali ke tanah leluhur. Aswidem adalah salah satu dari sekian banyak perempuan Jawa yang kisah hidupnya tersimpan dalam arsip kolonial. Jejaknya memang sederhana. Namun, justru dari jejak sederhana itu kita dapat melihat betapa panjang dan berat perjalanan yang pernah ditempuh generasi terdahulu. Untuk Aswidem, dan mereka yang pernah pergi Hari ini, ketika kita menyebut Purbalingga, mungkin kita membayangkan sawah, pegunungan, desa-desa, dan kehidupan masyarakat Jawa di tanah Banyumasan. Namun hampir satu abad yang lalu, dari wilayah itu pernah ada seorang perempuan muda yang menyeberangi lautan menuju negeri yang jaraknya ribuan kilometer. Namanya Aswidem Karjawitana. Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa puluhan tahun kemudian seseorang akan membuka kembali arsip lama dan menemukan namanya. Ia mungkin juga tidak pernah menyangka bahwa kisah perjalanannya akan menjadi bagian dari cerita besar tentang orang-orang Jawa di Suriname. Tetapi begitulah sejarah. Kadang-kadang, ia tidak datang melalui monumen besar. Kadang-kadang, sejarah hanya tinggal dalam satu nama, satu tanggal, satu catatan kapal, dan sebuah kampung kecil yang pernah ditinggalkan. Aswidem pernah ada. Ia pernah berdiri di tanah Jawa. Ia pernah meninggalkan kampung halamannya. Ia pernah menyeberangi lautan. Dan di negeri yang begitu jauh, ia melanjutkan hidupnya. Mungkin kita tidak dapat mengetahui seluruh cerita hidupnya. Namun satu hal yang dapat kita lakukan adalah tidak membiarkan namanya benar-benar hilang. Sebab di balik setiap nama dalam arsip sejarah, selalu ada manusia yang pernah mempunyai mimpi, keluarga, kerinduan, dan perjalanan hidupnya sendiri. Dari Lamboer, Purbalingga, menuju Paramaribo. Sebuah perjalanan seorang perempuan muda yang akhirnya menjadi bagian kecil dari sejarah besar diaspora Jawa di Suriname. Semoga nama Aswidem Karjawitana tetap dikenang sebagai salah satu jejak perempuan Jawa yang pernah menempuh perjalanan jauh, meninggalkan tanah leluhur, dan menorehkan kehidupannya di negeri seberang. Sumber Data mengenai Aswidem Karjawitana bersumber dari catatan Nationaal Archief Belanda, khususnya dokumentasi pekerja kontrak asal Jawa periode 1890–1930. Data mengenai keberangkatan, kapal, asal wilayah, pekerjaan, serta perubahan nama perlu dibaca dalam konteks administrasi kolonial pada masa tersebut. Catatan tentang wilayah District Bobotsari juga perlu diperhatikan karena cakupannya pada masa kolonial lebih luas daripada Kecamatan Bobotsari sekarang. Sejumlah wilayah yang kini masuk Mrebet, Bojongsari, Karanganyar, Kertanegara, Kutasari hingga Kemangkon dahulu tercatat dalam wilayah administratif District Bobotsari. Sejarah bukan hanya tentang siapa yang terkenal. Sejarah juga tentang mereka yang hampir dilupakan. Sumber: Nationaal Archief 📷 Foto asli hitam putih berasal dari arsip. 🎨 Foto telah diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. 📌 Catatan: Ejaan nama, singkatan, nomor register, dan keterangan lainnya mengikuti isi kartu arsip. Bagian yang tampak tidak konsisten, khususnya mengenai tanggal kematian dan kontrak lanjutan, belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan dokumen asli yang lebih lengkap. Foto asli hitam putih dan catatan arsip dapat dilihat di kolom komentar. Jika ada keluarga atau pembaca yang memiliki informasi tambahan tentang Bok Karjawitana alias Aswidem , silakan berbagi. Bisa jadi satu informasi kecil dari masyarakat membantu melengkapi kembali kisah seorang perempuan Jawa yang telah lama terpisah dari tanah kelahirannya. 🙏 Semoga jejak mereka tidak pernah benar-benar hilang. #SejarahIndonesia #SejarahJawa #SejarahSuriname #JawaSuriname #DiasporaJawa #PekerjaKontrak #KuliKontrak #HindiaBelanda #Suriname #SejarahNusantara #DuniaSejarah #KisahSejarah #NationaalArchief

 ASWIDEM KARJAWITANA



Perempuan Purbalingga yang Menyeberangi Laut dan Menemukan Rumah di Negeri Jauh


Namanya mungkin tidak pernah tercatat dalam buku-buku sejarah besar.


Tidak ada kisah tentang dirinya di halaman-halaman sejarah nasional. Tidak pula banyak orang di tanah kelahirannya yang mengenal namanya.


Namun, selembar catatan arsip dari masa Hindia Belanda membuat jejak hidup seorang perempuan Jawa bernama Bok Karjawitana alias Aswidem kembali muncul ke permukaan.


Ia adalah salah seorang perempuan asal wilayah Purbalingga yang pada tahun 1927 dibawa menyeberangi lautan menuju Paramaribo, Suriname.


Usianya baru 21 tahun.


Pada usia ketika banyak perempuan mungkin masih hidup dekat dengan keluarga dan kampung halaman, Aswidem justru harus menempuh perjalanan yang sangat jauh menuju sebuah negeri di Amerika Selatan yang bahkan mungkin belum pernah ia bayangkan sebelumnya.


Dari Lamboer menuju Paramaribo


Dalam catatan arsip, Aswidem tercatat berasal dari Desa Lamboer, District Bobotsari.


Wilayah administratif pada masa kolonial berbeda dengan pembagian wilayah sekarang. Lamboer yang disebut dalam arsip tersebut kemudian diidentifikasi berada di wilayah yang kini termasuk Kecamatan Mrebet, Purbalingga.


Pada 15 Agustus 1927, Aswidem diberangkatkan dari Hindia Belanda menuju Paramaribo dengan Kapal Madioen IV.


Ia dibawa oleh Folmer, F.R., beheerder van Jagtlust, dan kemudian mulai menjalani kontrak kerja pada 24 September 1927 untuk perusahaan atau perkebunan Jagtlust.


Bayangkan seorang perempuan berusia 21 tahun meninggalkan tanah Jawa dan menempuh perjalanan laut menuju negeri yang sangat jauh.


Di belakangnya ada kampung halaman.


Ada keluarga.


Ada bahasa yang dikenalnya sejak kecil.


Ada tanah yang mungkin setiap sudutnya sudah akrab dalam ingatan.


Namun, setelah kapal meninggalkan pelabuhan, semua itu perlahan berubah menjadi kenangan yang dibawa bersama dirinya.


Bukan sekadar angka dalam arsip


Di dalam dokumen kolonial, Aswidem mungkin hanya tercatat sebagai seorang pekerja kontrak.


Tinggi badannya dicatat 152 sentimeter.


Ciri fisiknya dicatat secara administratif, yaitu adanya pigmen pada bagian dada.


Nama, umur, asal desa, tanggal keberangkatan, kapal yang digunakan, serta tempat bekerja semuanya ditulis dalam bahasa administrasi kolonial.


Tetapi di balik angka-angka tersebut terdapat seorang manusia.


Seorang perempuan muda.


Seseorang yang pasti memiliki cerita, harapan, ketakutan, dan kerinduan sendiri.


Sayangnya, arsip tidak selalu mampu menceritakan bagaimana perasaannya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Suriname.


Kita tidak tahu apakah ia menangis ketika meninggalkan Jawa.


Kita tidak tahu apakah ia sempat memeluk keluarganya untuk terakhir kali.


Kita juga tidak tahu apakah pada malam-malam pertama di negeri asing ia pernah menatap langit dan bertanya dalam hati:


“Kapan aku bisa pulang?”


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin tidak pernah tertulis dalam arsip.


Namun, justru di situlah sisi kemanusiaan dari sejarah seperti kisah Aswidem menjadi begitu menyentuh.


Jawa yang dibawa dalam ingatan


Para pekerja asal Jawa yang dibawa ke Suriname bukan hanya membawa tenaga untuk bekerja.


Mereka juga membawa sesuatu yang jauh lebih besar: bahasa, nama, tradisi, makanan, kesenian, keyakinan, dan ingatan tentang kampung halaman.


Begitu pula dengan Aswidem.


Ketika meninggalkan Lamboer, ia mungkin tidak menyadari bahwa perjalanan tersebut kelak akan menjadi bagian dari sejarah besar diaspora Jawa di Suriname.


Suriname memang kemudian menjadi salah satu tempat penting bagi berkembangnya komunitas keturunan Jawa.


Di negeri yang jauh dari Pulau Jawa itu, berbagai unsur budaya Jawa tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Dan di antara para pendatang itu terdapat nama-nama orang biasa seperti Aswidem.


Mereka bukan tokoh istana.


Bukan pejabat.


Bukan panglima perang.


Mereka adalah rakyat biasa yang kehidupannya justru ikut membentuk sejarah dari bawah.


Nama yang berubah, tetapi masa lalu tetap melekat


Hal yang menarik dari catatan Aswidem adalah perubahan namanya.


Pada 3 Oktober 1950, ia tercatat memilih nama Aswidem Karjawitana.


Nama tersebut seolah menjadi tanda sebuah perjalanan panjang.


Dari seorang perempuan muda bernama Bok Karjawitana yang berangkat dari wilayah Purbalingga pada 1927, ia kemudian menjadi Aswidem Karjawitana, seseorang yang telah menempuh kehidupan jauh dari tanah kelahirannya.


Pergantian nama itu bukan berarti masa lalunya hilang.


Justru nama tersebut menjadi jembatan antara kehidupan lamanya di Jawa dan kehidupan barunya di Suriname.


Di dalam satu nama, ada dua dunia.


Ada Jawa yang pernah menjadi rumah.


Dan ada Suriname yang kemudian menjadi tempat menjalani kehidupan.


Sejarah yang hampir terlupakan


Kisah Aswidem mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya dibangun oleh orang-orang besar.


Sejarah juga dibentuk oleh manusia-manusia biasa yang namanya mungkin hanya muncul sekali dalam sebuah dokumen.


Mereka pergi.


Mereka bekerja.


Mereka menikah.


Mereka mempunyai anak.


Mereka membangun keluarga.


Dan sebagian dari mereka akhirnya tidak pernah kembali ke tanah leluhur.


Aswidem adalah salah satu dari sekian banyak perempuan Jawa yang kisah hidupnya tersimpan dalam arsip kolonial.


Jejaknya memang sederhana.


Namun, justru dari jejak sederhana itu kita dapat melihat betapa panjang dan berat perjalanan yang pernah ditempuh generasi terdahulu.


Untuk Aswidem, dan mereka yang pernah pergi


Hari ini, ketika kita menyebut Purbalingga, mungkin kita membayangkan sawah, pegunungan, desa-desa, dan kehidupan masyarakat Jawa di tanah Banyumasan.


Namun hampir satu abad yang lalu, dari wilayah itu pernah ada seorang perempuan muda yang menyeberangi lautan menuju negeri yang jaraknya ribuan kilometer.


Namanya Aswidem Karjawitana.


Ia mungkin tidak pernah tahu bahwa puluhan tahun kemudian seseorang akan membuka kembali arsip lama dan menemukan namanya.


Ia mungkin juga tidak pernah menyangka bahwa kisah perjalanannya akan menjadi bagian dari cerita besar tentang orang-orang Jawa di Suriname.


Tetapi begitulah sejarah.


Kadang-kadang, ia tidak datang melalui monumen besar.


Kadang-kadang, sejarah hanya tinggal dalam satu nama, satu tanggal, satu catatan kapal, dan sebuah kampung kecil yang pernah ditinggalkan.


Aswidem pernah ada.


Ia pernah berdiri di tanah Jawa.


Ia pernah meninggalkan kampung halamannya.


Ia pernah menyeberangi lautan.


Dan di negeri yang begitu jauh, ia melanjutkan hidupnya.


Mungkin kita tidak dapat mengetahui seluruh cerita hidupnya.


Namun satu hal yang dapat kita lakukan adalah tidak membiarkan namanya benar-benar hilang.


Sebab di balik setiap nama dalam arsip sejarah, selalu ada manusia yang pernah mempunyai mimpi, keluarga, kerinduan, dan perjalanan hidupnya sendiri.


Dari Lamboer, Purbalingga, menuju Paramaribo.


Sebuah perjalanan seorang perempuan muda yang akhirnya menjadi bagian kecil dari sejarah besar diaspora Jawa di Suriname.


Semoga nama Aswidem Karjawitana tetap dikenang sebagai salah satu jejak perempuan Jawa yang pernah menempuh perjalanan jauh, meninggalkan tanah leluhur, dan menorehkan kehidupannya di negeri seberang.


Sumber


Data mengenai Aswidem Karjawitana bersumber dari catatan Nationaal Archief Belanda, khususnya dokumentasi pekerja kontrak asal Jawa periode 1890–1930. Data mengenai keberangkatan, kapal, asal wilayah, pekerjaan, serta perubahan nama perlu dibaca dalam konteks administrasi kolonial pada masa tersebut.


Catatan tentang wilayah District Bobotsari juga perlu diperhatikan karena cakupannya pada masa kolonial lebih luas daripada Kecamatan Bobotsari sekarang. Sejumlah wilayah yang kini masuk Mrebet, Bojongsari, Karanganyar, Kertanegara, Kutasari hingga Kemangkon dahulu tercatat dalam wilayah administratif District Bobotsari.


Sejarah bukan hanya tentang siapa yang terkenal.

Sejarah juga tentang mereka yang hampir dilupakan.


 Sumber: Nationaal Archief


📷 Foto asli hitam putih berasal dari arsip.

🎨 Foto telah diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah.


📌 Catatan: 

Ejaan nama, singkatan, nomor register, dan keterangan lainnya mengikuti isi kartu arsip. Bagian yang tampak tidak konsisten, khususnya mengenai tanggal kematian dan kontrak lanjutan, belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan dokumen asli yang lebih lengkap.


Foto asli hitam putih dan catatan arsip dapat dilihat di kolom komentar.


Jika ada keluarga atau pembaca yang memiliki informasi tambahan tentang Bok Karjawitana alias Aswidem , silakan berbagi. Bisa jadi satu informasi kecil dari masyarakat membantu melengkapi kembali kisah seorang perempuan Jawa yang telah lama terpisah dari tanah kelahirannya.


🙏 Semoga jejak mereka tidak pernah benar-benar hilang.


#SejarahIndonesia #SejarahJawa #SejarahSuriname #JawaSuriname #DiasporaJawa #PekerjaKontrak #KuliKontrak #HindiaBelanda #Suriname #SejarahNusantara #DuniaSejarah #KisahSejarah #NationaalArchief

Para pejabat Semarang di Pendopo Kanjengan Semarang Para pejabat Kabupaten Semarang berfoto bersama di depan Pendopo Kanjengan Semarang pada tahun 1900-1905. Pada foto ini ada Bupati Semarang Kangjeng Kyai Raden Mas Tumenggung Adipati Ario Purboadiningrat (duduk di kursi kedua dari kanan). Juga ada Residen Semarang Emile Eindhoven (duduk kedua dari kiri) dan juga Pieter Sijthoff duduk kedua dari kiri). Lainnya adalah pejabat Kabupaten, misal sebagai collecteur. Tampilan Pendopo Kanjengan yang sangat langka. Foto koleksi KITLV #sejarahituperlu

 Para pejabat Semarang di Pendopo Kanjengan Semarang



Para pejabat Kabupaten Semarang berfoto bersama di depan Pendopo Kanjengan Semarang pada tahun 1900-1905.

Pada foto ini ada Bupati Semarang Kangjeng Kyai Raden Mas Tumenggung Adipati Ario Purboadiningrat (duduk di kursi kedua dari kanan). Juga ada Residen Semarang Emile Eindhoven (duduk kedua dari kiri) dan juga Pieter Sijthoff duduk kedua dari kiri). 

Lainnya adalah pejabat Kabupaten, misal sebagai collecteur.

Tampilan Pendopo Kanjengan yang sangat langka. 

Foto koleksi KITLV

#sejarahituperlu

19 September 2026

Setiap bulan September, kita akan menemukan kembali kisah kelam dalam sejarah Indonesia, yakni pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI AD, serta penemuan jenazah mereka di sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta. Pembunuhan mereka disertai dengan narasi bagaimana mereka dibunuh. Salah satunya adalah cerita tersohor di film propaganda yg berisi Narasi tentang penyiletan wajah, pencungkilan mata, dan penyiksaan seksual terhadap para jenderal. Klaim bahwa para jenderal yang dibunuh dalam peristiwa 1 Oktober 1965 disilet wajahnya oleh anggota Gerwani tidak didukung oleh bukti forensik yang kuat. Pada 4 Oktober 1965, jenazah para perwira ditemukan dan kemudian diperiksa oleh tim dokter. Pemeriksaan tersebut menjadi sumber penting untuk menguji pemberitaan mengenai penyiksaan yang dilakukan sebelum kematian. Temuan pentingnya adalah: Tidak ditemukan bukti bahwa para jenderal mengalami pencungkilan mata sebagaimana diberitakan. Tidak ditemukan bukti bahwa tubuh mereka disayat-sayat secara sadis seperti dalam propaganda yang beredar. Para korban meninggal akibat luka tembak, bukan karena penyiksaan seksual seperti yang dituduhkan kepada Gerwani. Temuan tersebut juga dibahas dalam laporan CNN Indonesia mengenai legenda kekejaman Gerwani. Hal ini juga pernah dibahas dalam Tempo edisi khusus Oktober 2021 yang mengangkat kisah anggota Gerwani. Mengapa cerita penyiletan wajah bisa begitu terkenal? Narasi tersebut berkembang dalam situasi politik yang sangat tegang setelah G30S. Militer di bawah Soeharto menggunakan pemberitaan tentang kekejaman para pelaku untuk membangun kebencian terhadap PKI dan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya, termasuk Gerwani. Pemberitaan tentang perempuan yang menyiksa dan menari telanjang di sekitar para korban memiliki fungsi politik yang besar: menggambarkan Gerwani sebagai organisasi yang kejam, tidak bermoral, dan berbahaya bagi bangsa.

 Setiap bulan September, kita akan menemukan kembali kisah kelam dalam sejarah Indonesia, yakni pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI AD, serta penemuan jenazah mereka di sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta.


Pembunuhan mereka disertai dengan narasi bagaimana mereka dibunuh. Salah satunya adalah cerita tersohor di film propaganda yg berisi Narasi tentang penyiletan wajah, pencungkilan mata, dan penyiksaan seksual terhadap para jenderal. 


Klaim bahwa para jenderal yang dibunuh dalam peristiwa 1 Oktober 1965 disilet wajahnya oleh anggota Gerwani tidak didukung oleh bukti forensik yang kuat. 


Pada 4 Oktober 1965, jenazah para perwira ditemukan dan kemudian diperiksa oleh tim dokter. Pemeriksaan tersebut menjadi sumber penting untuk menguji pemberitaan mengenai penyiksaan yang dilakukan sebelum kematian.


Temuan pentingnya adalah:

Tidak ditemukan bukti bahwa para jenderal mengalami pencungkilan mata sebagaimana diberitakan.

Tidak ditemukan bukti bahwa tubuh mereka disayat-sayat secara sadis seperti dalam propaganda yang beredar.


Para korban meninggal akibat luka tembak, bukan karena penyiksaan seksual seperti yang dituduhkan kepada Gerwani.

Temuan tersebut juga dibahas dalam laporan CNN Indonesia mengenai legenda kekejaman Gerwani. Hal ini juga pernah dibahas dalam Tempo edisi khusus Oktober 2021 yang mengangkat kisah anggota Gerwani. 


Mengapa cerita penyiletan wajah bisa begitu terkenal?


Narasi tersebut berkembang dalam situasi politik yang sangat tegang setelah G30S.

Militer di bawah Soeharto menggunakan pemberitaan tentang kekejaman para pelaku untuk membangun kebencian terhadap PKI dan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya, termasuk Gerwani.


Pemberitaan tentang perempuan yang menyiksa dan menari telanjang di sekitar para korban memiliki fungsi politik yang besar: menggambarkan Gerwani sebagai organisasi yang kejam, tidak bermoral, dan berbahaya bagi bangsa.

18 September 2026

DALAM sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terdapat sejumlah tokoh dan pejuang yang dalam kisah rakyat maupun catatan sejarah lokal dipercaya memiliki ilmu kesaktian atau ketahanan tubuh luar biasa terhadap terjangan peluru musuh. Berikut adalah 5 pejuang Indonesia yang terkenal dalam cerita rakyat dan catatan sejarah karena kisah kekebalan mereka terhadap peluru : 1. Letnan Komarudin - Asal & Peran : Prajurit TNI legendaris asal Maluku Tenggara yang ikut serta dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. - Kisah : Letnan Komarudin (nama asli Eli Yakim Teniwut) dikenal sangat berani memimpin pasukannya menyerang tangsi atau pos pertahanan Belanda. Dalam catatan kesaksian anak buahnya, ia konon tidak mempan ditembak peluru maupun disuntik oleh musuh. Kisah keberanian dan ketabahannya ini bahkan sempat diabadikan dalam film klasik Janur Kuning. 2. Untung Surapati - Asal & Peran : Tokoh legendaris dan pejuang dari Nusantara yang memimpin perlawanan terhadap VOC pada abad ke-17. - Kisah : Dalam berbagai pertempuran sengit melawan tentara VOC dan sekutunya di Jawa Timur, Untung Surapati sering lolos dari hujan peluru. Konon, meski pihak musuh menembakkan peluru khusus (termasuk peluru emas) ke arahnya, tubuhnya tidak mengalami luka serius dan ia tetap memimpin pasukannya dengan gagah berani. 3. Abu Bakar Aman Dimot - Asal & Peran : Pejuang berani mati asal Tanah Gayo, Aceh, yang aktif pada masa Agresi Militer Belanda. - Kisah : Aman Dimot terkenal sangat ditakuti oleh tentara Belanda karena aksi heroiknya menghadang tank dan truk musuh secara terbuka. Dalam cerita rakyat Gayo, ia diyakini memiliki ilmu kebal sehingga tidak mudah dilumpuhkan oleh senjata api biasa dalam pertempuran sengit di garis depan. 4. Muhammad Ahmad Sentot (M.A. Sentot) - Asal & Peran : Tokoh pejuang yang dikenal dalam kancah revolusi fisik di daerah Indramayu, Jawa Barat. - Kisah : M.A. Sentot menjadi buah bibir di kalangan perwira TNI Siliwangi karena kisah ketabahannya di medan perang. Konon, dalam beberapa pertempuran menghadapi tentara NICA/Belanda, puluhan peluru yang sempat mengenai tubuhnya dikabarkan tidak satupun mampu menembus atau melukai dirinya secara fatal. 5. Kyai Abdul Hamid & Pasukan Kebal Ciamis - Asal & Peran : Tokoh ulama dan pemimpin laskar rakyat dari Ciamis, Jawa Barat, pada masa awal revolusi. - Kisah : Kyai Abdul Hamid memimpin ratusan hingga ribuan pemuda dan santri yang sebelumnya telah melalui ritual pembersihan diri di sumur keramat agar menjadi kebal terhadap peluru dan senjata tajam. Walaupun akhir dari kisah laskar ini berujung tragis di Cijarua akibat terjangan tembakan gencar dan pesawat musuh, nama Kyai Abdul Hamid tetap tercatat dalam sejarah lokal sebagai salah satu simbol fenomena "demam ilmu kebal" di front pertempuran Jawa Barat. ( sumber : okozonenews, wikipedia ) #pejuangkemerdekaanindonesia

 DALAM sejarah perjuangan bangsa Indonesia, terdapat sejumlah tokoh dan pejuang yang dalam kisah rakyat maupun catatan sejarah lokal dipercaya memiliki ilmu kesaktian atau ketahanan tubuh luar biasa terhadap terjangan peluru musuh.



Berikut adalah 5 pejuang Indonesia yang terkenal dalam cerita rakyat dan catatan sejarah karena kisah kekebalan mereka terhadap peluru :


1. Letnan Komarudin

- Asal & Peran : Prajurit TNI legendaris asal Maluku Tenggara yang ikut serta dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. 

- Kisah : Letnan Komarudin (nama asli Eli Yakim Teniwut) dikenal sangat berani memimpin pasukannya menyerang tangsi atau pos pertahanan Belanda. Dalam catatan kesaksian anak buahnya, ia konon tidak mempan ditembak peluru maupun disuntik oleh musuh. Kisah keberanian dan ketabahannya ini bahkan sempat diabadikan dalam film klasik Janur Kuning. 


2. Untung Surapati

- Asal & Peran : Tokoh legendaris dan pejuang dari Nusantara yang memimpin perlawanan terhadap VOC pada abad ke-17.

- Kisah : Dalam berbagai pertempuran sengit melawan tentara VOC dan sekutunya di Jawa Timur, Untung Surapati sering lolos dari hujan peluru. Konon, meski pihak musuh menembakkan peluru khusus (termasuk peluru emas) ke arahnya, tubuhnya tidak mengalami luka serius dan ia tetap memimpin pasukannya dengan gagah berani.


3. Abu Bakar Aman Dimot

- Asal & Peran : Pejuang berani mati asal Tanah Gayo, Aceh, yang aktif pada masa Agresi Militer Belanda.

- Kisah : Aman Dimot terkenal sangat ditakuti oleh tentara Belanda karena aksi heroiknya menghadang tank dan truk musuh secara terbuka. Dalam cerita rakyat Gayo, ia diyakini memiliki ilmu kebal sehingga tidak mudah dilumpuhkan oleh senjata api biasa dalam pertempuran sengit di garis depan.


4. Muhammad Ahmad Sentot (M.A. Sentot)

- Asal & Peran : Tokoh pejuang yang dikenal dalam kancah revolusi fisik di daerah Indramayu, Jawa Barat.

- Kisah : M.A. Sentot menjadi buah bibir di kalangan perwira TNI Siliwangi karena kisah ketabahannya di medan perang. Konon, dalam beberapa pertempuran menghadapi tentara NICA/Belanda, puluhan peluru yang sempat mengenai tubuhnya dikabarkan tidak satupun mampu menembus atau melukai dirinya secara fatal.


5. Kyai Abdul Hamid & Pasukan Kebal Ciamis

- Asal & Peran : Tokoh ulama dan pemimpin laskar rakyat dari Ciamis, Jawa Barat, pada masa awal revolusi.

- Kisah : Kyai Abdul Hamid memimpin ratusan hingga ribuan pemuda dan santri yang sebelumnya telah melalui ritual pembersihan diri di sumur keramat agar menjadi kebal terhadap peluru dan senjata tajam. Walaupun akhir dari kisah laskar ini berujung tragis di Cijarua akibat terjangan tembakan gencar dan pesawat musuh, nama Kyai Abdul Hamid tetap tercatat dalam sejarah lokal sebagai salah satu simbol fenomena "demam ilmu kebal" di front pertempuran Jawa Barat.


( sumber : okozonenews, wikipedia )


#pejuangkemerdekaanindonesia

Hukuman Mati Bagi Pemimpin PKI Amir Sjarifuddin gamang. Perjalanan panjang tanpa keberadaan Musso di sisinya membuatnya banyak melamun. Terlebih lagi pertemuan terakhirnya dg Musso diisi dg pertengkaran, saling menyalahkan atas kegagalan pemberontakan PKI 1948 di Madiun. Amir yg merupakan Mantan Perdana Menteri itu berada dalam rombongan besar long march pelarian PKI. Saat itu mereka sedang berhenti sejenak di suatu tanah datar yg kosong di suatu hutan. Perbekalan sudah habis sama sekali. Tanpa kenal jeri, mereka melahap dedaunan yg tumbuh di sekitar dan menyembelih kuda angkut. Mereka melakukannya secepat mungkin karena Pasukan Siliwangi sudah tak begitu jauh di belakang rombongan. Selesai dg urusan perut, semua diperintahkan berjalan dg cepat. Sedapat mungkin menempuh tujuh kilometer sejam. Rombongan long march PKI itu terlihat payah, hampir semuanya berwajah kusut nan letih. Mereka sudah menempuh jarak 500 km, longmarch dari Madiun selama dua bulan. Mereka memasuki daerah Grobogan, utara Purwodadi Jateng. Jumlah mereka semakin sedikit. Tibalah mereka di daerah Rawa Klambu. Jaraknya sudah sangat dekat dengan garis Van Mook. Sebentar lagi mereka akan memasuki wilayah Belanda. Tinggal menyeberangi Sungai Lusi saja, maka sampailah mereka ke wilayah Belanda dan merdekalah mereka dari kejaran tentara Republik. Tapi sungguh malang, saat itu sungai Lusi sedang meluap dan banjir. Arusnya sangat deras. Tentara PKI yg berusaha menyeberangi sungai tsb akhirnya tenggelam. Terdapat sekitar 20 tentara PKI yg tenggelam di sungai ini. Akhirnya rombongan longmarch memutuskan utk menunda penyeberangan, menunggu aliran sungai Lusi bersahabat kembali. Terpaksa rombongan bertahan di Rawa Klambu yg terkenal angker. Berhari-hari di Rawa dg bekal minim membuat Amir Lemah dan terserang disentri. Di Rawa Kelambu yg sunyi senyap ini, ingatan Amir melayang di masa kejayaannya menjadi perdana menteri. Dia teringat ketika menandatangani Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948. Sebuah perjanjian yg dikecam oleh pihak dan membuat kabinet Amir dalam krisis. Perjanjian Renville ini sangat merugikan Indonesia krn wilayahnnya semakin sempit. Jika dalam perjanjian Linggarjati mengakui kedaulatan de facto Indonesia di Jawa, Sumatra, dan Madura. Maka perjanjian Renville hanya mengakui wilayah Indonesia tinggal beberapa di Jateng, Jatim serta Aceh. Bisa dikatakan perjanjian Renville ini adalah sebuah gol bunuh diri. Menyerahkan hampir seluruh wilayah Indonesia kepada Belanda. Akhirnya kabinet Amir bubar. Soekarno menunjuk Hatta sebagai Perdana Menteri. Kabinet Hatta menerapkan kebijakan Re-Ra (Rekonstruksi-Rasionalisasi). Re-Ra menyebabkan banyak sekali pemangkasan di tubuh tentara. Pemberhentian dg paksa para tentara inilah yg menyebabkan banyak ketidakpuasan di kalangan militer. Mereka yg diberhentikan, mayoritas bergabung dg FDR (Front Demokrasi Rakyat) milik PKI. Dari cikal bakal inilah tentara PKI terbentuk. Dan saat itu tentara PKI terjebak di Rawa Klambu. Mereka sudah dikepung oleh batalion "Kala Hitam" dari Brigade Siliwangi I di daerah Purwodadi. Pertempuran tak bisa dielakkan. Tentara PKI, meskipun terdesak, mereka tidak mau menyerah. Pertempuran berlangsung selama dua hari sebelum akhirnya PKI kalah. Tanggal 28 Nov 1948, para petinggi PKI yaitu Djoko Soedjono, Maroeto Darusman, Sajogo dll tertangkap oleh satuan TNI di Desa Peringan dekat Klambu. Kemudian tgl 29 Nov 1948, Amir Sjarifudin tertangkap. Mantan perdana menteri itu ditawan oleh Kompi Pasopati pimpinan Kapten Ranoe. Semua tentara PKI menyerah. Berakhirlah pemberontakan PKI di tahun 1948 itu. Operasi penumpasannya memakan waktu 72 hari. Terhitung sejak direbutnya Madiun pada tgl 19 Sep 1948 sampai pasukannya menyerah di hutan Klambu tgl 29 Nov 1948. Pemerintah menjatuhkan hukuman mati kepada para pemimpin PKI. Hukuman mati itu dilaksanakan tgl 19 Des 1948. Tercatat ada 11 orang yg dihukum mati, termasuk Amir Sjarifuddin. Hukuman mati para pemimpin PKI ini dilaksanakan di Desa Ngalihan, Karanganyar Solo atas perintah Kolonel Gatot Subroto.

 Hukuman Mati Bagi Pemimpin PKI



Amir Sjarifuddin gamang. Perjalanan panjang tanpa keberadaan Musso di sisinya membuatnya banyak melamun. Terlebih lagi pertemuan terakhirnya dg Musso diisi dg pertengkaran, saling menyalahkan atas kegagalan pemberontakan PKI 1948 di Madiun.


Amir yg merupakan Mantan Perdana Menteri itu berada dalam rombongan besar long march pelarian PKI. Saat itu mereka sedang berhenti sejenak di suatu tanah datar yg kosong di suatu hutan. 


Perbekalan sudah habis sama sekali. Tanpa kenal jeri, mereka melahap dedaunan yg tumbuh di sekitar dan menyembelih kuda angkut. Mereka melakukannya secepat mungkin karena Pasukan Siliwangi sudah tak begitu jauh di belakang rombongan. Selesai dg urusan perut, semua diperintahkan berjalan dg cepat. Sedapat mungkin menempuh tujuh kilometer sejam.  


Rombongan long march PKI itu terlihat payah, hampir semuanya berwajah kusut nan letih. Mereka sudah menempuh jarak 500 km, longmarch dari Madiun selama dua bulan. 


Mereka memasuki daerah Grobogan, utara Purwodadi Jateng. Jumlah mereka semakin sedikit. Tibalah mereka di daerah Rawa Klambu. Jaraknya sudah sangat dekat dengan garis Van Mook. Sebentar lagi mereka akan memasuki wilayah Belanda. Tinggal menyeberangi Sungai Lusi saja, maka sampailah mereka ke wilayah Belanda dan merdekalah mereka dari kejaran tentara Republik.


Tapi sungguh malang, saat itu sungai Lusi sedang meluap dan banjir. Arusnya sangat deras. Tentara PKI yg berusaha menyeberangi sungai tsb akhirnya tenggelam. Terdapat sekitar 20 tentara PKI yg tenggelam di sungai ini.


Akhirnya rombongan longmarch memutuskan utk menunda penyeberangan, menunggu aliran sungai Lusi bersahabat kembali. Terpaksa rombongan bertahan di Rawa Klambu yg terkenal angker. Berhari-hari di Rawa dg bekal minim membuat Amir Lemah dan terserang disentri.


Di Rawa Kelambu yg sunyi senyap ini, ingatan Amir melayang di masa kejayaannya menjadi perdana menteri. Dia teringat ketika menandatangani Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948. Sebuah perjanjian yg dikecam oleh pihak dan membuat kabinet Amir dalam krisis.


Perjanjian Renville ini sangat merugikan Indonesia krn wilayahnnya semakin sempit. Jika dalam perjanjian Linggarjati mengakui kedaulatan de facto Indonesia di Jawa, Sumatra, dan Madura. Maka perjanjian Renville hanya mengakui wilayah Indonesia tinggal beberapa di Jateng, Jatim serta Aceh. Bisa dikatakan perjanjian Renville ini adalah sebuah gol bunuh diri. Menyerahkan hampir seluruh wilayah Indonesia kepada Belanda. Akhirnya kabinet Amir bubar. Soekarno menunjuk Hatta sebagai Perdana Menteri.


Kabinet Hatta menerapkan kebijakan Re-Ra (Rekonstruksi-Rasionalisasi). Re-Ra menyebabkan banyak sekali pemangkasan di tubuh tentara. Pemberhentian dg paksa para tentara inilah yg menyebabkan banyak ketidakpuasan di kalangan militer. Mereka yg diberhentikan, mayoritas bergabung dg FDR (Front Demokrasi Rakyat) milik PKI. Dari cikal bakal inilah tentara PKI terbentuk.


Dan saat itu tentara PKI terjebak di Rawa Klambu. Mereka sudah dikepung oleh batalion "Kala Hitam" dari Brigade Siliwangi I di daerah Purwodadi. Pertempuran tak bisa dielakkan. Tentara PKI, meskipun terdesak, mereka tidak mau menyerah. Pertempuran berlangsung selama dua hari sebelum akhirnya PKI kalah.


Tanggal 28 Nov 1948, para petinggi PKI yaitu Djoko Soedjono, Maroeto Darusman, Sajogo dll tertangkap oleh satuan TNI di Desa Peringan dekat Klambu.


Kemudian tgl 29 Nov 1948, Amir Sjarifudin tertangkap. Mantan perdana menteri itu ditawan oleh Kompi Pasopati pimpinan Kapten Ranoe. Semua tentara PKI menyerah.


Berakhirlah pemberontakan PKI di tahun 1948 itu.  Operasi penumpasannya memakan waktu 72 hari. Terhitung sejak direbutnya Madiun pada tgl 19 Sep 1948 sampai pasukannya menyerah di hutan Klambu tgl 29 Nov 1948.


Pemerintah menjatuhkan hukuman mati kepada para pemimpin PKI. Hukuman mati itu dilaksanakan tgl 19 Des 1948. Tercatat ada 11 orang yg dihukum mati, termasuk Amir Sjarifuddin.


Hukuman mati para  pemimpin PKI ini dilaksanakan di Desa Ngalihan, Karanganyar Solo atas perintah Kolonel Gatot Subroto.


Sumber : Widi Astuti

WARNI / MBOK WARNI Perempuan Jatibarang, Brebes yang Menyeberangi Lautan Menuju Suriname “Usianya baru 25 tahun ketika meninggalkan tanah Jawa. Lima tahun tertulis dalam kontraknya. Tetapi di balik angka-angka itu, ada sebuah perjalanan hidup yang membawa seorang perempuan Jawa begitu jauh dari kampung halamannya.” Namanya Warni, yang dalam catatan kemudian dikenal sebagai Mbok Warni. Ia berasal dari Jatibarang, Brebes, Jawa. Pada 5 Mei 1925, sekitar usia 25 tahun, namanya tercatat dalam arsip sebagai salah satu perempuan dari Jawa yang berangkat menuju Suriname. Ia bukan pergi untuk berwisata. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, banyak orang dari Jawa diberangkatkan ke Suriname melalui sistem pekerja kontrak untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perkebunan. Bagi seorang perempuan muda dari Jatibarang, perjalanan tersebut tentu merupakan perubahan besar. Tanah Jawa yang selama ini menjadi tempat hidupnya harus ditinggalkan, sementara di hadapannya terbentang perjalanan panjang menuju negeri yang berjarak ribuan kilometer. LIMA TAHUN DI ATAS KERTAS Dalam catatan kontraknya, masa kerja tercatat sekitar lima tahun, 17 Juni 1925 hingga 17 Juni 1929. Ia ditempatkan di Waterloo & Hazard Plantation. Bagi arsip kolonial, informasi tersebut mungkin hanyalah data administratif: nama, usia, tanggal keberangkatan, masa kontrak, dan tempat penempatan. Namun bagi kita hari ini, setiap angka itu terasa seperti potongan kecil dari kehidupan seseorang. Di balik dokumen tersebut pernah ada seorang perempuan yang memiliki keluarga, kampung halaman, harapan, dan kehidupan yang harus ditinggalkan. Kita tidak mengetahui siapa yang mengantarnya ketika ia berangkat. Tidak diketahui pula apa yang dirasakannya saat harus berpisah dengan orang-orang terdekat atau ketika kapal semakin jauh meninggalkan tanah Jawa. Arsip yang tersedia tidak menceritakan bagian tersebut. Karena itu, kita tidak boleh menganggap dugaan sebagai fakta. Tetapi satu hal tercatat dengan jelas: pada tahun 1925, Warni meninggalkan Jawa dan memulai kehidupan baru di Suriname. JEJAK ORANG JAWA DI NEGERI YANG JAUH Perjalanan seperti yang dialami Warni bukanlah kisah seorang diri. Selama berlangsungnya pengiriman pekerja kontrak dari Jawa, ribuan orang dibawa ke Suriname dan ditempatkan di berbagai perkebunan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa dan membawa latar belakang kehidupan masing-masing. Setelah masa kontrak selesai, kehidupan mereka tidak selalu berakhir dengan kepulangan. Sebagian melanjutkan kontrak, sebagian memilih menetap dan membangun kehidupan sebagai petani atau pekerja, sementara yang lain memilih kembali ke tanah kelahiran. Mereka yang menetap perlahan membangun kehidupan baru. Rumah didirikan. Keluarga dibentuk. Anak-anak lahir dan tumbuh jauh dari tanah leluhur. Namun jarak tidak serta-merta menghapus identitas. Bahasa Jawa, nama-nama Jawa, makanan, kesenian, tradisi, serta berbagai kebiasaan dari tanah leluhur terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Dari sanalah terbentuk salah satu bagian penting dari masyarakat Jawa di Suriname. PERJALANAN YANG TERUS BERLANJUT Sejarah masyarakat Jawa di Suriname kemudian berkembang jauh melampaui masa perkebunan. Setelah Suriname merdeka pada 1975, sebagian masyarakat Suriname bermigrasi ke Belanda, termasuk sebagian warga keturunan Jawa. Akibatnya, jejak masyarakat Jawa Suriname kemudian dapat ditemukan tidak hanya di Suriname, tetapi juga di berbagai wilayah Belanda. Mereka membawa warisan yang telah melewati perjalanan panjang: dari desa-desa di Jawa, menuju Suriname, kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, sebuah nama sederhana seperti Warni dari Jatibarang sebenarnya memiliki hubungan dengan sejarah yang jauh lebih besar. Sebuah sejarah tentang perpindahan manusia, keluarga, identitas, dan bagaimana budaya Jawa mampu bertahan meskipun dipisahkan oleh lautan dan jarak ribuan kilometer. HAMPIR SATU ABAD KEMUDIAN Kini, hampir satu abad setelah keberangkatannya, nama itu kembali muncul dari balik dokumen lama. Warni. Perempuan dari Jatibarang, Brebes. Berusia sekitar 25 tahun. Berangkat pada 5 Mei 1925. Memiliki kontrak kerja sekitar lima tahun. Ditempatkan di Waterloo & Hazard Plantation. Sesederhana itulah informasi yang berhasil kita baca dari catatan yang tersedia. Kita mungkin tidak tahu bagaimana perjalanan hidupnya setelah kontrak berakhir. Apakah ia kembali ke Jawa? Apakah ia memilih menetap di Suriname? Apakah ia membangun keluarga di sana? Semua itu membutuhkan catatan sejarah lain untuk dapat dipastikan. Namun justru di situlah nilai sebuah arsip. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu ditulis tentang raja, pejabat, atau tokoh terkenal. Kadang-kadang sejarah tersimpan dalam nama seorang perempuan biasa yang hidupnya nyaris terlupakan. Warni mungkin bukan tokoh besar dalam buku sejarah. Tetapi ia adalah bagian dari generasi manusia yang pernah meninggalkan tanah Jawa dan menempuh perjalanan yang tidak sederhana. Dari Jatibarang, Brebes, namanya menyeberangi lautan menuju Suriname. Dan hampir seratus tahun kemudian, sebuah arsip membuat kita kembali bertanya: Bagaimana kehidupan perempuan muda itu setelah kapal membawanya pergi dari tanah Jawa? Mungkin jawabannya masih tersimpan di antara tumpukan arsip yang belum kita temukan. Yang jelas, namanya telah kembali disebut. Warni. Seorang perempuan Jawa yang pernah pergi begitu jauh. Dan melalui namanya, kita diingatkan bahwa di balik setiap dokumen tua, selalu ada manusia dengan cerita kehidupan yang pernah benar-benar terjadi. Dari Jatibarang, Brebes… menyeberangi lautan… hingga Suriname. Sebuah perjalanan yang di atas kertas hanya berlangsung sekitar lima tahun, tetapi jejak sejarahnya dapat bertahan jauh lebih lama. --- 📚 Sumber: Nationaal Archief, Belanda. Catatan: Kisah ini disusun berdasarkan data arsip yang tersedia. Informasi mengenai perasaan, keluarga, serta kehidupan pribadi Warni yang tidak tercantum dalam dokumen tidak dinyatakan sebagai fakta. Jika ada informasi tambahan dari keluarga, keturunan, atau arsip lain yang dapat melengkapi kisah ini, tentu akan sangat berharga untuk membantu mengungkap perjalanan hidupnya. Jika kisah seperti ini menurut Anda penting untuk diketahui, bagikan agar semakin banyak orang mengenal jejak orang-orang Jawa yang pernah menyeberangi lautan menuju Suriname. Ikuti akun Facebook Kang Ajat Ajat untuk kisah kisah, sejarah masa lalu tempo dulu, dan restorasi foto lama lainnya. #SejarahJawa #Suriname #Jatibarang #Brebes #Warni #MbokWarni #JawaSuriname #SejarahIndonesia #NationaalArchief #SejarahKolonial

 WARNI / MBOK WARNI


Perempuan Jatibarang, Brebes yang Menyeberangi Lautan Menuju Suriname



“Usianya baru 25 tahun ketika meninggalkan tanah Jawa. Lima tahun tertulis dalam kontraknya. Tetapi di balik angka-angka itu, ada sebuah perjalanan hidup yang membawa seorang perempuan Jawa begitu jauh dari kampung halamannya.”


Namanya Warni, yang dalam catatan kemudian dikenal sebagai Mbok Warni. Ia berasal dari Jatibarang, Brebes, Jawa.


Pada 5 Mei 1925, sekitar usia 25 tahun, namanya tercatat dalam arsip sebagai salah satu perempuan dari Jawa yang berangkat menuju Suriname.


Ia bukan pergi untuk berwisata. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, banyak orang dari Jawa diberangkatkan ke Suriname melalui sistem pekerja kontrak untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di perkebunan.


Bagi seorang perempuan muda dari Jatibarang, perjalanan tersebut tentu merupakan perubahan besar. Tanah Jawa yang selama ini menjadi tempat hidupnya harus ditinggalkan, sementara di hadapannya terbentang perjalanan panjang menuju negeri yang berjarak ribuan kilometer.


LIMA TAHUN DI ATAS KERTAS


Dalam catatan kontraknya, masa kerja tercatat sekitar lima tahun, 17 Juni 1925 hingga 17 Juni 1929.


Ia ditempatkan di Waterloo & Hazard Plantation.


Bagi arsip kolonial, informasi tersebut mungkin hanyalah data administratif: nama, usia, tanggal keberangkatan, masa kontrak, dan tempat penempatan.


Namun bagi kita hari ini, setiap angka itu terasa seperti potongan kecil dari kehidupan seseorang.


Di balik dokumen tersebut pernah ada seorang perempuan yang memiliki keluarga, kampung halaman, harapan, dan kehidupan yang harus ditinggalkan.


Kita tidak mengetahui siapa yang mengantarnya ketika ia berangkat.


Tidak diketahui pula apa yang dirasakannya saat harus berpisah dengan orang-orang terdekat atau ketika kapal semakin jauh meninggalkan tanah Jawa.


Arsip yang tersedia tidak menceritakan bagian tersebut.


Karena itu, kita tidak boleh menganggap dugaan sebagai fakta.


Tetapi satu hal tercatat dengan jelas: pada tahun 1925, Warni meninggalkan Jawa dan memulai kehidupan baru di Suriname.


JEJAK ORANG JAWA DI NEGERI YANG JAUH


Perjalanan seperti yang dialami Warni bukanlah kisah seorang diri.


Selama berlangsungnya pengiriman pekerja kontrak dari Jawa, ribuan orang dibawa ke Suriname dan ditempatkan di berbagai perkebunan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa dan membawa latar belakang kehidupan masing-masing.


Setelah masa kontrak selesai, kehidupan mereka tidak selalu berakhir dengan kepulangan.


Sebagian melanjutkan kontrak, sebagian memilih menetap dan membangun kehidupan sebagai petani atau pekerja, sementara yang lain memilih kembali ke tanah kelahiran.


Mereka yang menetap perlahan membangun kehidupan baru.


Rumah didirikan. Keluarga dibentuk. Anak-anak lahir dan tumbuh jauh dari tanah leluhur.


Namun jarak tidak serta-merta menghapus identitas.


Bahasa Jawa, nama-nama Jawa, makanan, kesenian, tradisi, serta berbagai kebiasaan dari tanah leluhur terus diwariskan kepada generasi berikutnya.


Dari sanalah terbentuk salah satu bagian penting dari masyarakat Jawa di Suriname.


PERJALANAN YANG TERUS BERLANJUT


Sejarah masyarakat Jawa di Suriname kemudian berkembang jauh melampaui masa perkebunan.


Setelah Suriname merdeka pada 1975, sebagian masyarakat Suriname bermigrasi ke Belanda, termasuk sebagian warga keturunan Jawa.


Akibatnya, jejak masyarakat Jawa Suriname kemudian dapat ditemukan tidak hanya di Suriname, tetapi juga di berbagai wilayah Belanda.


Mereka membawa warisan yang telah melewati perjalanan panjang: dari desa-desa di Jawa, menuju Suriname, kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.


Karena itu, sebuah nama sederhana seperti Warni dari Jatibarang sebenarnya memiliki hubungan dengan sejarah yang jauh lebih besar.


Sebuah sejarah tentang perpindahan manusia, keluarga, identitas, dan bagaimana budaya Jawa mampu bertahan meskipun dipisahkan oleh lautan dan jarak ribuan kilometer.


HAMPIR SATU ABAD KEMUDIAN


Kini, hampir satu abad setelah keberangkatannya, nama itu kembali muncul dari balik dokumen lama.


Warni.

Perempuan dari Jatibarang, Brebes.

Berusia sekitar 25 tahun.

Berangkat pada 5 Mei 1925.

Memiliki kontrak kerja sekitar lima tahun.

Ditempatkan di Waterloo & Hazard Plantation.


Sesederhana itulah informasi yang berhasil kita baca dari catatan yang tersedia.


Kita mungkin tidak tahu bagaimana perjalanan hidupnya setelah kontrak berakhir.


Apakah ia kembali ke Jawa?


Apakah ia memilih menetap di Suriname?


Apakah ia membangun keluarga di sana?


Semua itu membutuhkan catatan sejarah lain untuk dapat dipastikan.


Namun justru di situlah nilai sebuah arsip.


Ia mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu ditulis tentang raja, pejabat, atau tokoh terkenal.


Kadang-kadang sejarah tersimpan dalam nama seorang perempuan biasa yang hidupnya nyaris terlupakan.


Warni mungkin bukan tokoh besar dalam buku sejarah.


Tetapi ia adalah bagian dari generasi manusia yang pernah meninggalkan tanah Jawa dan menempuh perjalanan yang tidak sederhana.


Dari Jatibarang, Brebes, namanya menyeberangi lautan menuju Suriname.


Dan hampir seratus tahun kemudian, sebuah arsip membuat kita kembali bertanya:


Bagaimana kehidupan perempuan muda itu setelah kapal membawanya pergi dari tanah Jawa?


Mungkin jawabannya masih tersimpan di antara tumpukan arsip yang belum kita temukan.


Yang jelas, namanya telah kembali disebut.


Warni.


Seorang perempuan Jawa yang pernah pergi begitu jauh.


Dan melalui namanya, kita diingatkan bahwa di balik setiap dokumen tua, selalu ada manusia dengan cerita kehidupan yang pernah benar-benar terjadi.


Dari Jatibarang, Brebes… menyeberangi lautan… hingga Suriname.


Sebuah perjalanan yang di atas kertas hanya berlangsung sekitar lima tahun, tetapi jejak sejarahnya dapat bertahan jauh lebih lama.


---


📚 Sumber: Nationaal Archief, Belanda.


Catatan: Kisah ini disusun berdasarkan data arsip yang tersedia. Informasi mengenai perasaan, keluarga, serta kehidupan pribadi Warni yang tidak tercantum dalam dokumen tidak dinyatakan sebagai fakta.


Jika ada informasi tambahan dari keluarga, keturunan, atau arsip lain yang dapat melengkapi kisah ini, tentu akan sangat berharga untuk membantu mengungkap perjalanan hidupnya.


Jika kisah seperti ini menurut Anda penting untuk diketahui, bagikan agar semakin banyak orang mengenal jejak orang-orang Jawa yang pernah menyeberangi lautan menuju Suriname.


Ikuti akun Facebook Kang Ajat Ajat untuk kisah kisah, sejarah masa lalu tempo dulu, dan restorasi foto lama lainnya.


#SejarahJawa #Suriname #Jatibarang #Brebes #Warni #MbokWarni #JawaSuriname #SejarahIndonesia #NationaalArchief #SejarahKolonial