13 April 2026

Malam ini berdiskusi dengan mertua saya Bapak Soedarto yang merupakan warga Kampung Tulung. Beliau bercerita tentang kondisi daerah sekitar Pecinan sekitar Kenteng dan Bioskop Kresna disekitar tahun 1950 - 1960an. Dari gambar di bawah ini keterangan nya:. 1. Kantor Pos Kota Magelang 2. Tugu Aniem 3. Klenteng 4. Pen Mas. Ini merupakan percetakan yang dimiliki oleh Lien Tyai An. Percetakan ini dahulu langganan dari Apotek Bayeman kalau mencetak stiker untuk label botol/ tempat obat. Selain percetakan Pen Mas juga merupakan toko buku tetapi tidak sebesar toko Santoso. 5. Toko Roti dan Kue Sawo. Disebut toko roti dan kue Sawo karena di depannya ada pohon sawo milik drg. Liem Piek Gan Nio. Bangunan toko roti dan kue Sawo ini ukurannya kecil dan berdempetan dengan rumahnya drg. Liem Piek Gan Nio. 6. Tempatnya drg. Liem Piek Gan Nio. 7. Bioskop Kresna. Bioskop Kresna dibangun sekitar tahun 1950an. 8. Rumah Ting Lok pemiliknya bioskop Kresna. Beliau Tuan Ting Lok ini adalah anggota partai PDI dan sering menjadi sponsor partai PDI ini. 9. Toko Santoso. Ini merupakan toko buku yang lumayan. besar yang menjual buku dari SD sampai dengan SMA. 10. Toko LUNA kemudian ditambah huruf S sehingga jadi toko LUNAS. Dan orang banyak mengenalnya toko LUNAS. Toko ini merupakan toko yang jual peralatan olahraga dan juga melayani perbaikan alat olahraga seperti mengencangkan senar raket. 11. Rumah makan Koe A Bwan. Sekarang dikenal sebagai Hotel Mutiara. Putri nomor satunya namanya Koe Sae Fang. Koe Sae Fang bekerja di Apotek Bayeman seangkatan dengan dr. Anwar Sanni sebagai apoteker di apotek Bayeman (pendiri PO Santoso) dan Peng Lok bagian tata usaha apotek Bayeman (pemilik kebun anggrek Peng Lok). 12. Gedung CHTH (Choeng Hoa Tsung Hui), gedung ini merupakan tempat nongkrong nya kaum Tionghoa. Dan juga sekretariat BAPERKI. Setelah peristiwa G30S PKI gedung CHTH ini pernah di demo massa karena sebagai sekretariat BAPERKI yang dianggap underbonnya PKI. 13. Toko Victoria, ini merupakan toko roti. Mungkin jika ada yang menambahkan dan koreksi tulisan ini saya persilahkan.

 Malam ini berdiskusi dengan mertua saya Bapak Soedarto yang merupakan warga Kampung Tulung. Beliau bercerita tentang kondisi daerah sekitar Pecinan sekitar Kenteng dan Bioskop Kresna disekitar tahun 1950 - 1960an.

Dari gambar di bawah ini keterangan nya:.

1.   Kantor Pos Kota Magelang 

2.   Tugu Aniem 

3.   Klenteng 

4.   Pen Mas. Ini merupakan percetakan yang dimiliki oleh 

       Lien Tyai An. Percetakan ini dahulu langganan dari 

       Apotek Bayeman kalau mencetak stiker untuk label 

        botol/ tempat obat. Selain percetakan Pen Mas juga 

        merupakan toko buku tetapi tidak sebesar toko 

        Santoso.

5.     Toko Roti dan Kue Sawo. Disebut toko roti dan kue 

         Sawo karena di depannya ada pohon sawo milik drg. 

         Liem Piek Gan Nio. Bangunan toko roti dan kue Sawo 

         ini ukurannya kecil dan berdempetan dengan rumahnya 

        drg. Liem Piek Gan Nio.

6.     Tempatnya drg. Liem Piek Gan Nio.

7.     Bioskop Kresna. Bioskop Kresna dibangun sekitar 

         tahun 1950an.

8.     Rumah Ting Lok pemiliknya bioskop Kresna. Beliau 

         Tuan Ting Lok ini adalah anggota partai PDI dan sering 

          menjadi sponsor partai PDI ini.

9.     Toko Santoso. Ini merupakan toko buku yang lumayan. 

         besar yang menjual buku dari SD sampai dengan SMA.

10.   Toko LUNA kemudian ditambah huruf S sehingga jadi 

         toko LUNAS. Dan orang banyak mengenalnya toko 

         LUNAS. Toko ini merupakan toko yang jual peralatan 

         olahraga dan juga melayani perbaikan alat olahraga 

         seperti mengencangkan senar raket.

11.    Rumah makan Koe A Bwan. Sekarang dikenal sebagai 

          Hotel Mutiara. Putri nomor satunya namanya Koe Sae 

          Fang. Koe Sae Fang bekerja di Apotek Bayeman 

          seangkatan dengan dr. Anwar Sanni sebagai apoteker 

          di apotek Bayeman (pendiri PO Santoso) dan Peng Lok 

          bagian tata usaha apotek Bayeman (pemilik kebun    

          anggrek Peng Lok).

12.    Gedung CHTH (Choeng Hoa Tsung Hui), gedung ini 

          merupakan tempat nongkrong nya kaum Tionghoa.

          Dan juga sekretariat BAPERKI. Setelah peristiwa G30S 

          PKI gedung CHTH ini pernah di demo massa karena 

          sebagai sekretariat BAPERKI yang dianggap 

          underbonnya PKI.

13.    Toko Victoria, ini merupakan toko roti.

Mungkin jika ada yang menambahkan dan koreksi tulisan ini saya persilahkan.






Sumber : Orchid Breeder



11 April 2026

Kolam Renang, Hotel Loze, Magelang, sekitar tahun 1910 Badplaats (Hotel Loze). Magelang, ca 1910

 Kolam Renang, Hotel Loze, Magelang, sekitar tahun 1910


Badplaats (Hotel Loze). Magelang, ca 1910



Sumber : Bintoro Hoepoedio



10 April 2026

“Malam yang Membelah Hidup Kopral Hargijono si penembak Ade Irma" Pada malam yang lengang di Teuku Umar, 30 September 1965, seorang prajurit muda bernama Kopral Dua Hargijono berdiri di antara hiruk-pikuk pasukan Tjakrabirawa yang bergerak cepat. Tak ada yang istimewa sejatinya pada prajurit ini, ia bukan perwira tinggi, bukan pula tokoh yang akrab dengan para jenderal. Ia hanyalah satu dari ratusan anggota pasukan pengawal presiden yang bertugas menurut perintah. Namun malam itu, sebuah keputusan sepersekian detik akan mengubah hidupnya untuk selamanya, bahkan ikut mengubah sejarah Indonesia. Beberapa tahun kemudian, dalam wawancara media, seorang bekas anggota Cakrabirawa menggambarkan suasana malam itu sebagai “malam penuh teka-teki”. Ia mengatakan bahwa banyak prajurit hanya diberitahu bahwa mereka akan “menjemput orang-orang yang mengkhianati Presiden”. Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada briefing politik. Hargijono berada dalam kelompok yang mendapat perintah menuju rumah Jenderal A.H. Nasution. Menurut rekonstruksi Historia dan laporan Liputan6, Hargijono saat itu memegang Sten gun, senjata otomatis yang ringan namun sensitif terhadap tremor tangan dan tekanan picu. Ia ditempatkan sebagai anggota depan dalam regu kecil yang memasuki halaman rumah. Ketika pasukan menabrak pintu rumah Nasution, pintu kamar terlihat sempat terbuka lalu tertutup kembali. Di titik inilah ketegangan dimulai, kata salah satu saksi yang diwawancarai Historia “Cepat! Buka pintunya!” Perintah itu terdengar ditekan, keras, dan tanpa ruang untuk ragu. Hargijono maju. Ia mendekatkan laras senjata ke gagang pintu. Dalam rekonstruksi, seorang saksi menggambarkan momentum itu seperti “segala hal terjadi dalam hitungan detik terdengar orang berteriak, lampu temaram, dan tekanan perintah yang membuat siapa pun bisa salah gerak.” Hargijono menarik pelatuk, ledakan kecil memecah ruangan, dan peluru yang awalnya diarahkan ke gagang pintu ternyata meleset. Peluru yang tidak pernah dimaksukkan ke dalam rencana siapa pun Menurut kesaksian seorang mantan prajurit yang berada di tempat yang sama—wawancara yang dikumpulkan jurnalis Petrik Matanasi—rombongan pasukan mendengar suara jeritan perempuan dari dalam kamar. Di tengah kekacauan itu, prajurit-prajurit baru menyadari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan: peluru yang meleset itu mengenai seorang anak kecil. Anak itu adalah Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal Nasution. Seorang saksi mata yang diwawancarai Liputan6 berkata “Tidak ada yang berniat menembak anak. Kami kaget. Semua diam beberapa detik, seperti dunia berhenti.” Hargijono sendiri, menurut rekaman persidangan yang dikutip Historia, tidak menyangkal bahwa tembakan itu berasal dari senjatanya. Tapi ia menjelaskan bahwa ia menembak gagang pintu karena itu perintah, bukan mengarahkan ke siapa pun dalam kamar. Beberapa hari setelah peristiwa G30S, operasi penangkapan besar-besaran dimulai. Para anggota Cakrabirawa yang ikut dalam operasi “penjemputan” digiring ke tahanan militer. Nama Hargijono masuk daftar sejak hari pertama. Dalam salah satu wawancara KBR (Kantor Berita Radio) terhadap bekas anggota pasukan pengawal presiden, muncul gambaran tentang bagaimana para prajurit tingkat rendah merasa bahwa mereka “tidak pernah diberi ruang menjelaskan”. Seorang saksi bahkan berkata “Kalau saya harus minta ampun ke Soeharto, saya lebih baik mati.” Ungkapan ini menggambarkan betapa kuat tekanan politik saat itu. Menjalankan perintah dianggap tidak cukup sebagai pembelaan. Di pengadilan militer, kesaksian tentang tembakan ke pintu dan peluru yang meleset kembali dihadirkan. Menurut dokumentasi yang pernah dirangkum Historia, Hargijono menerima vonis yang sangat berat sebagai konsekuensi perannya dalam operasi itu. Dalam liputan panjang Historia, saksi lain yang pernah menjadi prajurit Cakrabirawa menyatakan “Kami itu tentara kecil. Kalau komandan bilang kiri, kami kiri. Kalau bilang tembak gagang pintu, ya kami tembak. Tapi sejarah tidak peduli siapa apa waktu itu.” Kalimat itu menjadi ringkasan betapa banyak prajurit lapangan yang tersapu oleh badai politik yang jauh lebih besar daripada mereka. Seorang saksi lain yang dikutip Liputan6 mengingat Hargijono sebagai “pendiam, tidak banyak bicara, dan bukan tipe prajurit yang suka kekerasan.” Dalam narasi tersebut, ia digambarkan lebih sebagai pelaksana teknis ketimbang seorang aktor politik. Nama Hargijono tenggelam dalam deretan nama besar G30S. Namun ironi sejarah adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak ditargetkan, dan terjadi dalam kepanika justru menjadi salah satu peristiwa yang paling dikenang publik. Hingga kini, arsip publik tentang riwayat hidupnya sebelum 1965 nyaris kosong. Tak ada catatan lengkap tentang masa kecil, keluarganya, atau motivasinya bergabung dalam militer. Ia muncul dalam sejarah secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba pula. Yang tersisa hanyalah jejak malam itu, rekonstruksi para saksi, dan perdebatan panjang tentang siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dalam operasi 30 September. Sumber Kutipan dan Referensi : Historia: laporan rekonstruksi penembakan Ade Irma oleh Kopral Hargijono. Liputan6: wawancara mantan anggota Cakrabirawa tentang kronologi malam kejadian. KBR: wawancara eks-Cakrabirawa mengenai tekanan politik dan pengadilan militer. Tirto (Petrik Matanasi): konteks operasi penjemputan dan kesaksian prajurit.

 “Malam yang Membelah Hidup Kopral Hargijono si penembak Ade Irma"


Pada malam yang lengang di Teuku Umar, 30 September 1965, seorang prajurit muda bernama Kopral Dua Hargijono berdiri di antara hiruk-pikuk pasukan Tjakrabirawa yang bergerak cepat. Tak ada yang istimewa sejatinya pada prajurit ini, ia bukan perwira tinggi, bukan pula tokoh yang akrab dengan para jenderal. Ia hanyalah satu dari ratusan anggota pasukan pengawal presiden yang bertugas menurut perintah.



Namun malam itu, sebuah keputusan sepersekian detik akan mengubah hidupnya untuk selamanya, bahkan ikut mengubah sejarah Indonesia.


Beberapa tahun kemudian, dalam wawancara media, seorang bekas anggota Cakrabirawa menggambarkan suasana malam itu sebagai “malam penuh teka-teki”. Ia mengatakan bahwa banyak prajurit hanya diberitahu bahwa mereka akan “menjemput orang-orang yang mengkhianati Presiden”. Tidak ada penjelasan detail. Tidak ada briefing politik. Hargijono berada dalam kelompok yang mendapat perintah menuju rumah Jenderal A.H. Nasution.


Menurut rekonstruksi Historia dan laporan Liputan6, Hargijono saat itu memegang Sten gun, senjata otomatis yang ringan namun sensitif terhadap tremor tangan dan tekanan picu. Ia ditempatkan sebagai anggota depan dalam regu kecil yang memasuki halaman rumah.


Ketika pasukan menabrak pintu rumah Nasution, pintu kamar terlihat sempat terbuka lalu tertutup kembali. Di titik inilah ketegangan dimulai, kata salah satu saksi yang diwawancarai Historia “Cepat! Buka pintunya!”

Perintah itu terdengar ditekan, keras, dan tanpa ruang untuk ragu.


Hargijono maju. Ia mendekatkan laras senjata ke gagang pintu. Dalam rekonstruksi, seorang saksi menggambarkan momentum itu seperti “segala hal terjadi dalam hitungan detik terdengar orang berteriak, lampu temaram, dan tekanan perintah yang membuat siapa pun bisa salah gerak.”


Hargijono menarik pelatuk, ledakan kecil memecah ruangan, dan peluru yang awalnya diarahkan ke gagang pintu ternyata meleset. Peluru yang tidak pernah dimaksukkan ke dalam rencana siapa pun


Menurut kesaksian seorang mantan prajurit yang berada di tempat yang sama—wawancara yang dikumpulkan jurnalis Petrik Matanasi—rombongan pasukan mendengar suara jeritan perempuan dari dalam kamar. Di tengah kekacauan itu, prajurit-prajurit baru menyadari sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan:


peluru yang meleset itu mengenai seorang anak kecil. Anak itu adalah Ade Irma Suryani, putri bungsu Jenderal Nasution.


Seorang saksi mata yang diwawancarai Liputan6 berkata “Tidak ada yang berniat menembak anak. Kami kaget. Semua diam beberapa detik, seperti dunia berhenti.”


Hargijono sendiri, menurut rekaman persidangan yang dikutip Historia, tidak menyangkal bahwa tembakan itu berasal dari senjatanya. Tapi ia menjelaskan bahwa ia menembak gagang pintu karena itu perintah, bukan mengarahkan ke siapa pun dalam kamar.


Beberapa hari setelah peristiwa G30S, operasi penangkapan besar-besaran dimulai. Para anggota Cakrabirawa yang ikut dalam operasi “penjemputan” digiring ke tahanan militer. Nama Hargijono masuk daftar sejak hari pertama.


Dalam salah satu wawancara KBR (Kantor Berita Radio) terhadap bekas anggota pasukan pengawal presiden, muncul gambaran tentang bagaimana para prajurit tingkat rendah merasa bahwa mereka “tidak pernah diberi ruang menjelaskan”. Seorang saksi bahkan berkata “Kalau saya harus minta ampun ke Soeharto, saya lebih baik mati.”


Ungkapan ini menggambarkan betapa kuat tekanan politik saat itu. Menjalankan perintah dianggap tidak cukup sebagai pembelaan.


Di pengadilan militer, kesaksian tentang tembakan ke pintu dan peluru yang meleset kembali dihadirkan. Menurut dokumentasi yang pernah dirangkum Historia, Hargijono menerima vonis yang sangat berat sebagai konsekuensi perannya dalam operasi itu.


Dalam liputan panjang Historia, saksi lain yang pernah menjadi prajurit Cakrabirawa menyatakan “Kami itu tentara kecil. Kalau komandan bilang kiri, kami kiri. Kalau bilang tembak gagang pintu, ya kami tembak. Tapi sejarah tidak peduli siapa apa waktu itu.”


Kalimat itu menjadi ringkasan betapa banyak prajurit lapangan yang tersapu oleh badai politik yang jauh lebih besar daripada mereka.


Seorang saksi lain yang dikutip Liputan6 mengingat Hargijono sebagai “pendiam, tidak banyak bicara, dan bukan tipe prajurit yang suka kekerasan.” Dalam narasi tersebut, ia digambarkan lebih sebagai pelaksana teknis ketimbang seorang aktor politik.


Nama Hargijono tenggelam dalam deretan nama besar G30S. Namun ironi sejarah adalah tindakan yang tidak direncanakan, tidak ditargetkan, dan terjadi dalam kepanika justru menjadi salah satu peristiwa yang paling dikenang publik.


Hingga kini, arsip publik tentang riwayat hidupnya sebelum 1965 nyaris kosong. Tak ada catatan lengkap tentang masa kecil, keluarganya, atau motivasinya bergabung dalam militer. Ia muncul dalam sejarah secara tiba-tiba dan hilang secara tiba-tiba pula.


Yang tersisa hanyalah jejak malam itu, rekonstruksi para saksi, dan perdebatan panjang tentang siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab dalam operasi 30 September.


Sumber Kutipan dan Referensi :


Historia: laporan rekonstruksi penembakan Ade Irma oleh Kopral Hargijono.


Liputan6: wawancara mantan anggota Cakrabirawa tentang kronologi malam kejadian.


KBR: wawancara eks-Cakrabirawa mengenai tekanan politik dan pengadilan militer.


Tirto (Petrik Matanasi): konteks operasi penjemputan dan kesaksian prajurit.

07 April 2026

Tahun 1872: Diutus Sultan Aceh untuk berunding dengan Belanda di Riau (sebagai taktik mengulur waktu). Menghubungi konsul Amerika dan Italia di Singapura untuk meminta bantuan militer melawan Belanda. Rencana bantuan dari Amerika diketahui Belanda (diduga melalui informasi yang bocor/pengkhianatan). Hal ini memicu Belanda melakukan agresi militer pertama ke Aceh pada Maret 1873. Pada tahun 1879, Pang Tibang secara resmi berbalik arah, meninggalkan perjuangan rakyat Aceh, dan bergabung dengan pihak Belanda untuk menyerang Aceh. Namanya menjadi simbol pengkhianatan ("Gunting dalam lipatan") dalam sejarah Aceh hingga saat ini.

 Tahun 1872: Diutus Sultan Aceh untuk berunding dengan Belanda di Riau (sebagai taktik mengulur waktu). Menghubungi konsul Amerika dan Italia di Singapura untuk meminta bantuan militer melawan Belanda.



Rencana bantuan dari Amerika diketahui Belanda (diduga melalui informasi yang bocor/pengkhianatan). Hal ini memicu Belanda melakukan agresi militer pertama ke Aceh pada Maret 1873.


Pada tahun 1879, Pang Tibang secara resmi berbalik arah, meninggalkan perjuangan rakyat Aceh, dan bergabung dengan pihak Belanda untuk menyerang Aceh. 


Namanya menjadi simbol pengkhianatan ("Gunting dalam lipatan") dalam sejarah Aceh hingga saat ini.


SUMBER : sejarah cirebon

Eks Mayor Mulyono disebut sebagai pemimpin gerakan Gerakan 30 September 1965 di Yogyakarta, yang bertanggung jawab atas pembunuhan kejam terhadap Katamso Darmokusumo dan Sugiyono Mangunwiyoto. #G30SPKI #SejarahIndonesia #Katamso #Sugiyono #Yogyakarta #Peristiwa1965 #PahlawanRevolusi

 Eks Mayor Mulyono disebut sebagai pemimpin gerakan Gerakan 30 September 1965 di Yogyakarta, yang bertanggung jawab atas pembunuhan kejam terhadap Katamso Darmokusumo dan Sugiyono Mangunwiyoto.



#G30SPKI

#SejarahIndonesia

#Katamso

#Sugiyono

#Yogyakarta

#Peristiwa1965

#PahlawanRevolusi

Para anggota komunis yang ditangkap oleh pasukan Republik Indonesia dalam perjalanan ke lokasi eksekusi di daerah Magetan, Jawa Timur pada bulan Desember tahun 1948. Fotografer Ipphos Djakarta. Source : KITLV

 Para anggota komunis yang ditangkap oleh pasukan Republik Indonesia dalam perjalanan ke lokasi eksekusi di daerah Magetan, Jawa Timur pada bulan Desember tahun 1948. 






Fotografer Ipphos Djakarta.


Source : KITLV

Tampak depan kediaman seorang Letnan 1 Tentara KNIL di Magelang, sekitar tahun 1926 Vooraanzicht van de woning van een 1e luitenant van het KNIL te Magelang, ca 1926

 Tampak depan kediaman seorang Letnan 1 Tentara KNIL di Magelang, sekitar tahun 1926


Vooraanzicht van de woning van een 1e luitenant van het KNIL te Magelang, ca 1926



Sumber : Bintoro Hoepoedio

06 April 2026

Waperdam I Chaerul Saleh, Presiden Soekarno dan Istri ke-7-nya Ratna Sari Dewi dalam satu Press Conference di Istana Merdeka bulan September 1965. Chaerul Saleh salah satu tokoh pemuda yang ikut mendesak bung Karno untuk membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada masa kemerdekaan Ia juga yang mengajukan ide negara kepulauan dengan batas teritorial 12 mil laut yang di­sahkan pada 13 Desember 1957. Atas jasa-jasanya, Chaerul dianugerahi gelar kehormatan Jenderal TNI. Chaerul Saleh merupakan salah satu tokoh yang menjadi target yang akan diamankan oleh gerakan 30 September 1965 tapi beruntung ia lolos karena pada waktu kejadian ia sedang berada di Cina. Hal itu dikarenakan ia pernah membocorkan rencana coup yang di rancang PK1. Tapi anehnya tanggal 18 Mart 1966 ia ditangkap dan ditahan oleh Militer, Ia ditahan oleh Soeharto tanpa melalui proses peradilan. Ia dianggap sebagai menteri yang mendukung kebijakan Soekarno yang pro-k0munis. Ia meninggal pada tanggal 8 Februari 1967 dengan status tahanan politik. Hingga sekarang tidak pernah ada penjelasan resmi dari pemerintah mengenai alasan penahanannya.

 Waperdam I Chaerul Saleh, Presiden Soekarno dan Istri ke-7-nya  Ratna Sari Dewi dalam satu Press Conference di Istana Merdeka bulan September 1965.  Chaerul Saleh salah satu tokoh pemuda yang ikut mendesak bung Karno untuk membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada masa kemerdekaan Ia juga yang mengajukan ide negara kepulauan dengan batas teritorial 12 mil laut yang di­sahkan pada 13 Desember 1957. Atas jasa-jasanya, Chaerul dianugerahi gelar kehormatan Jenderal TNI.



Chaerul Saleh merupakan salah satu tokoh yang menjadi target yang akan diamankan oleh gerakan 30 September 1965 tapi beruntung ia lolos karena pada waktu kejadian ia sedang berada di Cina. Hal itu dikarenakan ia pernah membocorkan rencana coup yang di rancang PK1. Tapi anehnya tanggal 18 Mart 1966 ia ditangkap dan ditahan oleh Militer, Ia ditahan oleh Soeharto tanpa melalui proses peradilan. Ia dianggap sebagai menteri yang mendukung kebijakan Soekarno yang pro-k0munis. Ia meninggal pada tanggal 8 Februari 1967 dengan status tahanan politik. Hingga sekarang tidak pernah ada penjelasan resmi dari pemerintah mengenai alasan penahanannya.

03 April 2026

Saat Belanda menginvasi Kerajaan Aceh, banyak sekali Jendral dan Perwira Belanda lainnya yang ditugaskan di Aceh, mulanya mereka ditugaskan untuk menyerbu Kesultanan Aceh, namun selepas Kesultanan Aceh dapat ditaklukan pada 1874 seiring direbutnya Keraton dan Ibu Kota Kerajaan, mereka para Perwira dan pegawai-pegawai Belanda itu menetap di Aceh untuk memerintah di daerah taklukan barunya. Berjalannya waktu, kian hari orang-orang Belanda banyak mendiami Kota-Kota di Aceh yang ditaklukannya, mereka Para Perwira Belanda itu nantinya melakukan Praktek Pergundikan ketika menetap di Aceh, mereka mengambil wanita-wanita Aceh untuk dijadikan sebagai Gundiknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa Gundik mempunyai arti "Perempuan Peliharaan" juga mempunyai arti Istri Tidak Resmi dan juga dapat dimaknai sebagai selir. Menurut beberapa Sejarawan, banyaknya Perwira Belanda yang menggundik berkaitan dengan latar belakang Agamanya. Umumnya mayoritas orang Belanda beragama Kristen, dalam Dogma Greja, laki-laki Kristen hanya dibolehkan menikahi satu orang wanita saja, sebab itu praktis administrasi pemerintah Kolonial hanya mengakui 1 istri saja. Berlatar Belakang dari Dogma Greja itulah, maka apabila seorang Kristen Belanda mengawini wanita lain dianggap sebagai perkawinan yang tidak sah menurut Greja dan sudah barang tentu tidak sah juga perkawinanya dalam adminsistrasi pemerintah Kolonial, sehingga Istri kedua dan seterusnya disebut "Gundik" atau wanita Peliharaan. Catatan mengenai wanita Aceh yang dijadikan Gundik oleh para Perwira Belanda tercatat dalam buku Karya Zentgraf yang berjudul " De Atjeh", dalam bukunya ia mencatat, bahwa ketika hubungan Sosial Belanda dan Pribumi Aceh kian meningkat seiring ekspedisi Belanda yang menjangkau pedalaman untuk menumpas para Grilyawan, para Perwira Belanda banyak menjadikan wanita Aceh sebagai Gundiknya. Menariknya, dalam buku tersebut juga dikisahkan mengenai tujuan mereka menjadikan wanita Aceh sebagai Gundiknya, adapun tujuannya salah satunya adalah "Mempelajari Bahasa dan Budaya Aceh" sementara tujuan puncak dari Praktek Pergundikan itu adalah menaklukan daerah-daerah yang dianggap sebagai sarang Grilyawan. Gundik Asal Aceh yang paling terkenal dalam sejarah Aceh adalah wanita yang disebut sebagai Istri "Panglima Ulee Lheu Mugoe", ketika suaminya berjuang menjadi Grilyawan, wanita tersebut dijadikan sebagai Gundik Perwira Belanda, mirisnya Gundik Aceh itu kemudian membocorkan persembunyian suaminya kepada Kekasih Belandanya, sehingga dari peristiwa tersebut Suami sahnya dapat ditangkap oleh Belanda. Zuftazani dalam De Atjeh Oorlog (hlm, 438) menyebutkan "Seorang Perwira Belanda yang mempunyai Gundik dari Wanita Aceh, yang mana Gundik itu tidak berkurang hormatnya pada tuannya walaupun tuannya adalah seorang Kafir, ini adalah sebuah kenyataan bahwa Aceh mempunyai lembaran hitam dalam sejarah menentang penjajahan Belanda, Wanita Aceh yang menjadi Gundik Belanda itu tidak hanya menjual kehormatannya melainkan juga menjual Agamanya". Tidak dapat dipungkiri, bahwa hasil Pergundikan antara Perwira Belanda dan Wanita Aceh sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang dari sebaran penduduk Aceh yang mempunyai darah keturunan Belanda, mereka umumnya bermata biru dan berkulit putih, hanya saja guna menutupi malu mereka terkadang menyebut sebagai keturunan Portugis yang dahulu pernah singgah di Aceh (Kapal Portugis Karam di Aceh) dan ada juga yang beralasan ketika Portugis menakluk Pasai pada Tahun 1521. Alasan tersebut tentu tidak dapat dibenarkan sepenuhnya, mengingat rentang Kedatangan Portugis ke Aceh sangat jauh sekali (Aabad 16-17), sehingga jika keturunan Portugis itu kawain mengawin dengan penduduk lokal secara terus menerus selama beberapa genarsi akan hilang kekhasan darah dan ciri ke Eropannya, berbeda dengan Belanda yang baru datang ke Aceh pada abad 19, jelas keturunan hasil Perkawinan antara Perwira Belanda dan Gundik Acehnya itu secara genetik masih dapat dilihat di Abad 21 ini. Orang-orang keturunan Eropa di Aceh biasanya disebut dengan Istilah "Bulek Lamno", umumnya mereka dianggap sebagai keturunan Portugis, tanpa sama sekali menyebut jika nenek moyang mereka merupakan hasil Kawin Campur antara Perwira Belanda dengan wanita Aceh yang dijadikan sebagai Gundik tuan Belandanya. Oleh : Sejarah Cirebon

 Saat Belanda menginvasi Kerajaan Aceh, banyak sekali Jendral dan Perwira Belanda lainnya yang ditugaskan di Aceh, mulanya mereka ditugaskan untuk menyerbu Kesultanan Aceh, namun selepas Kesultanan Aceh dapat ditaklukan pada 1874 seiring direbutnya Keraton dan Ibu Kota Kerajaan, mereka para Perwira dan pegawai-pegawai Belanda itu menetap di Aceh untuk memerintah di daerah taklukan barunya.



Berjalannya waktu, kian hari orang-orang Belanda banyak mendiami Kota-Kota di Aceh yang ditaklukannya, mereka Para Perwira Belanda itu nantinya melakukan Praktek Pergundikan ketika menetap di Aceh, mereka mengambil wanita-wanita Aceh untuk dijadikan sebagai Gundiknya.


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa Gundik mempunyai arti "Perempuan Peliharaan" juga mempunyai arti Istri Tidak Resmi dan juga dapat dimaknai sebagai selir. 


Menurut beberapa Sejarawan, banyaknya Perwira Belanda yang menggundik berkaitan dengan latar belakang Agamanya. Umumnya mayoritas orang Belanda beragama Kristen, dalam Dogma Greja, laki-laki Kristen hanya dibolehkan menikahi satu orang wanita saja, sebab itu praktis administrasi pemerintah Kolonial hanya mengakui 1 istri saja.


Berlatar Belakang dari Dogma Greja itulah, maka apabila seorang Kristen Belanda mengawini wanita lain dianggap sebagai perkawinan yang tidak sah menurut Greja dan sudah barang tentu tidak sah juga perkawinanya dalam adminsistrasi pemerintah Kolonial, sehingga Istri kedua dan seterusnya disebut "Gundik" atau wanita Peliharaan.


Catatan mengenai wanita Aceh yang dijadikan Gundik oleh para Perwira Belanda tercatat dalam buku Karya Zentgraf yang berjudul " De Atjeh", dalam bukunya ia mencatat, bahwa ketika hubungan Sosial Belanda dan Pribumi Aceh kian meningkat seiring ekspedisi Belanda yang menjangkau pedalaman untuk menumpas para Grilyawan, para Perwira Belanda banyak menjadikan wanita Aceh sebagai Gundiknya. 


Menariknya, dalam buku tersebut juga dikisahkan mengenai tujuan mereka menjadikan wanita Aceh sebagai Gundiknya, adapun tujuannya salah satunya adalah "Mempelajari Bahasa dan Budaya Aceh" sementara tujuan puncak dari Praktek Pergundikan itu adalah menaklukan daerah-daerah yang dianggap sebagai sarang Grilyawan. 


Gundik Asal Aceh yang paling terkenal dalam sejarah Aceh adalah wanita yang disebut sebagai Istri "Panglima Ulee Lheu Mugoe", ketika suaminya berjuang menjadi Grilyawan, wanita tersebut dijadikan sebagai Gundik Perwira Belanda, mirisnya Gundik Aceh itu kemudian membocorkan persembunyian suaminya kepada Kekasih Belandanya, sehingga dari peristiwa tersebut Suami sahnya dapat ditangkap oleh Belanda. 


Zuftazani dalam De Atjeh Oorlog (hlm, 438) menyebutkan "Seorang Perwira Belanda yang mempunyai Gundik dari Wanita Aceh, yang mana Gundik itu tidak berkurang hormatnya pada tuannya walaupun tuannya adalah seorang Kafir, ini adalah sebuah kenyataan bahwa Aceh mempunyai lembaran hitam dalam sejarah menentang penjajahan Belanda, Wanita Aceh yang menjadi Gundik Belanda itu tidak hanya menjual kehormatannya melainkan juga menjual Agamanya".


Tidak dapat dipungkiri, bahwa hasil Pergundikan antara Perwira Belanda dan Wanita Aceh sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang dari sebaran penduduk Aceh yang mempunyai darah keturunan Belanda, mereka umumnya bermata biru dan berkulit putih, hanya saja guna menutupi malu mereka terkadang menyebut sebagai keturunan Portugis yang dahulu pernah singgah di Aceh (Kapal Portugis Karam di Aceh) dan ada juga yang beralasan ketika Portugis menakluk Pasai pada Tahun 1521.


Alasan tersebut tentu tidak dapat dibenarkan sepenuhnya, mengingat rentang Kedatangan Portugis ke Aceh sangat jauh sekali (Aabad 16-17), sehingga jika keturunan Portugis itu kawain mengawin dengan penduduk lokal secara terus menerus selama beberapa genarsi akan hilang kekhasan darah dan ciri ke Eropannya, berbeda dengan Belanda yang baru datang ke Aceh pada abad 19, jelas keturunan hasil Perkawinan antara Perwira Belanda dan Gundik Acehnya itu secara genetik masih dapat dilihat di Abad 21 ini. 


Orang-orang keturunan Eropa di Aceh biasanya disebut dengan Istilah "Bulek Lamno", umumnya mereka dianggap sebagai keturunan Portugis, tanpa sama sekali menyebut jika nenek moyang mereka merupakan hasil Kawin Campur antara Perwira Belanda dengan wanita Aceh yang dijadikan sebagai Gundik tuan Belandanya.


Oleh : Sejarah Cirebon

Sejarah kadang pahit namun faktanya demikian Pernyataan bahwa bupati atau pejabat pribumi pada zaman kolonial sering mabuk-mabukan dan menggunakan 0piun memiliki dasar sejarah yang kuat, yang sering kali dikaitkan dengan strategi "devide et impera" serta eksploitasi ekonomi oleh pemerintah Hindia Belanda. Berikut adalah beberapa poin konteks sejarah terkait masalah tersebut: Strategi Eksploitasi Belanda: Pemerintah kolonial Belanda menjadikan op1um (candu) sebagai aset monopoli yang menguntungkan. Belanda menggunakan op1um sebagai salah satu strategi eksploitasi kolonial yang berdampak merusak bagi masyarakat pribumi, termasuk kalangan elit/pejabat. Ketergantungan dan Perilaku: Penggunaan op1um dan alkohol pada masa itu sering kali menjadi "teman jahat" bagi orang Jawa, termasuk dalam kalangan pejabat pribumi. Hal ini menyebabkan kemerosotan moral di kalangan elit lokal yang membuat mereka lebih mudah dikendalikan oleh Belanda. Korupsi dan Keterpurukan: Praktik hidup mewah, korupsi, dan perilaku menyimpang lainnya di kalangan pejabat lokal sering kali didorong oleh ketergantungan pada op1um dan alkohol, yang juga merupakan dampak dari kesengsaraan dan kemiskinan yang meluas pada masa kolonial.

 Sejarah kadang pahit namun faktanya demikian



Pernyataan bahwa bupati atau pejabat pribumi pada zaman kolonial sering mabuk-mabukan dan menggunakan 0piun memiliki dasar sejarah yang kuat, yang sering kali dikaitkan dengan strategi "devide et impera" serta eksploitasi ekonomi oleh pemerintah Hindia Belanda.


Berikut adalah beberapa poin konteks sejarah terkait masalah tersebut:

Strategi Eksploitasi Belanda: Pemerintah kolonial Belanda menjadikan op1um (candu) sebagai aset monopoli yang menguntungkan. 


Belanda menggunakan op1um sebagai salah satu strategi eksploitasi kolonial yang berdampak merusak bagi masyarakat pribumi, termasuk kalangan elit/pejabat.


Ketergantungan dan Perilaku: Penggunaan op1um dan alkohol pada masa itu sering kali menjadi "teman jahat" bagi orang Jawa, termasuk dalam kalangan pejabat pribumi. 


Hal ini menyebabkan kemerosotan moral di kalangan elit lokal yang membuat mereka lebih mudah dikendalikan oleh Belanda.


Korupsi dan Keterpurukan: Praktik hidup mewah, korupsi, dan perilaku menyimpang lainnya di kalangan pejabat lokal sering kali didorong oleh ketergantungan pada op1um dan alkohol, yang juga merupakan dampak dari kesengsaraan dan kemiskinan yang meluas pada masa kolonial.

01 April 2026

KHALID bin WALID dan MITOS Selat HORMUZ: Mana FAKTA, Mana CERITA? Narasi yang mengaitkan nama Strait of Hormuz dengan kekalahan seorang komandan Persia bernama Hormuz di tangan Khalid ibn al-Walid sering beredar luas dan terdengar meyakinkan. Namun, jika ditelaah secara kritis, cerita ini lebih dekat pada mitos daripada fakta sejarah. JEJAK NAMA HORMUZ Fakta pertama yang tak bisa diabaikan adalah soal kronologi. Nama “Hormuz” sudah dikenal jauh sebelum abad ke-7 M, yakni masa ekspansi Islam ke wilayah Persia. Nama ini berasal dari tradisi dan wilayah kuno Persia, terutama yang berkaitan dengan Kingdom of Hormuz dan Hormuz Island. Kawasan ini telah menjadi pusat perdagangan penting sejak berabad-abad sebelumnya. Artinya, secara logika sejarah, mustahil nama selat tersebut diambil dari seorang tokoh yang hidup jauh setelah nama itu ada. BATTLE OF CHAINS Di sisi lain, memang benar ada tokoh Persia bernama Hormuz dalam catatan sejarah awal Islam. Ia disebut terlibat dalam konflik melawan pasukan Muslim, termasuk dalam peristiwa yang dikenal sebagai Battle of Chains. Namun, menghubungkan tokoh ini sebagai asal-usul nama Selat Hormuz adalah lompatan logika yang tidak didukung bukti. “Hormuz” sendiri merupakan nama yang umum dalam budaya Persia, bukan identitas tunggal yang otomatis menjadi penanda geografis. Masalah lain terletak pada kisah duel antara Khalid dan Hormuz yang sering diceritakan secara dramatis. Sumber-sumber klasik seperti karya Al-Tabari dan Ibn Kathir memang mencatat peperangan tersebut, tetapi detail-detail heroik seperti duel satu lawan satu tidak selalu dapat diverifikasi dengan standar historiografi modern. Dalam banyak kasus, narasi seperti ini berfungsi sebagai penguat semangat dan simbol kemenangan, bukan laporan faktual yang sepenuhnya objektif. PENAMAAN GEOGRAFIS Lebih jauh lagi, dalam praktik penamaan geografis di seluruh dunia, hampir tidak pernah ada selat atau laut besar yang dinamai dari duel individu. Nama-nama geografis biasanya berasal dari bahasa lokal, peradaban setempat, atau kekuatan politik yang telah lama menguasai wilayah tersebut. Karena itu, anggapan bahwa Selat Hormuz seharusnya dinamai dari Khalid bin Walid atau terkait langsung dengan peristiwa duel adalah asumsi yang tidak memiliki dasar historis. Dengan demikian, penting untuk membedakan antara fakta dan cerita. Fakta menunjukkan bahwa nama Selat Hormuz berakar pada sejarah panjang peradaban Persia. Sementara itu, cerita tentang duel Khalid dan Hormuz—terlepas dari nilai heroiknya—tidak memiliki kaitan dengan penamaan selat tersebut. Memahami perbedaan ini bukan untuk merendahkan sejarah, melainkan untuk menempatkannya secara proporsional dan berdasarkan data yang dapat dipertanggung jawabkan. WaLlahu a’lamu bishshawab #iran #IranvsIsrael #politik #timurtengah #krisisekonomi #SelatHormuz #BBM #IranvsUSA #arabsaudi #sejarahislam #khalidbinwalid

 KHALID bin WALID dan MITOS Selat HORMUZ: Mana FAKTA, Mana CERITA?



Narasi yang mengaitkan nama Strait of Hormuz dengan kekalahan seorang komandan Persia bernama Hormuz di tangan Khalid ibn al-Walid sering beredar luas dan terdengar meyakinkan. Namun, jika ditelaah secara kritis, cerita ini lebih dekat pada mitos daripada fakta sejarah.


JEJAK NAMA HORMUZ


Fakta pertama yang tak bisa diabaikan adalah soal kronologi. Nama “Hormuz” sudah dikenal jauh sebelum abad ke-7 M, yakni masa ekspansi Islam ke wilayah Persia. 


Nama ini berasal dari tradisi dan wilayah kuno Persia, terutama yang berkaitan dengan Kingdom of Hormuz dan Hormuz Island. Kawasan ini telah menjadi pusat perdagangan penting sejak berabad-abad sebelumnya. 


Artinya, secara logika sejarah, mustahil nama selat tersebut diambil dari seorang tokoh yang hidup jauh setelah nama itu ada.


BATTLE OF CHAINS


Di sisi lain, memang benar ada tokoh Persia bernama Hormuz dalam catatan sejarah awal Islam. Ia disebut terlibat dalam konflik melawan pasukan Muslim, termasuk dalam peristiwa yang dikenal sebagai Battle of Chains. 


Namun, menghubungkan tokoh ini sebagai asal-usul nama Selat Hormuz adalah lompatan logika yang tidak didukung bukti. “Hormuz” sendiri merupakan nama yang umum dalam budaya Persia, bukan identitas tunggal yang otomatis menjadi penanda geografis.


Masalah lain terletak pada kisah duel antara Khalid dan Hormuz yang sering diceritakan secara dramatis. Sumber-sumber klasik seperti karya Al-Tabari dan Ibn Kathir memang mencatat peperangan tersebut, tetapi detail-detail heroik seperti duel satu lawan satu tidak selalu dapat diverifikasi dengan standar historiografi modern. 


Dalam banyak kasus, narasi seperti ini berfungsi sebagai penguat semangat dan simbol kemenangan, bukan laporan faktual yang sepenuhnya objektif.


PENAMAAN GEOGRAFIS


Lebih jauh lagi, dalam praktik penamaan geografis di seluruh dunia, hampir tidak pernah ada selat atau laut besar yang dinamai dari duel individu. Nama-nama geografis biasanya berasal dari bahasa lokal, peradaban setempat, atau kekuatan politik yang telah lama menguasai wilayah tersebut. 


Karena itu, anggapan bahwa Selat Hormuz seharusnya dinamai dari Khalid bin Walid atau terkait langsung dengan peristiwa duel adalah asumsi yang tidak memiliki dasar historis.


Dengan demikian, penting untuk membedakan antara fakta dan cerita. Fakta menunjukkan bahwa nama Selat Hormuz berakar pada sejarah panjang peradaban Persia. Sementara itu, cerita tentang duel Khalid dan Hormuz—terlepas dari nilai heroiknya—tidak memiliki kaitan dengan penamaan selat tersebut. 


Memahami perbedaan ini bukan untuk merendahkan sejarah, melainkan untuk menempatkannya secara proporsional dan berdasarkan data yang dapat dipertanggung jawabkan. 


WaLlahu a’lamu bishshawab


#iran #IranvsIsrael  #politik  #timurtengah #krisisekonomi #SelatHormuz #BBM #IranvsUSA #arabsaudi #sejarahislam #khalidbinwalid

Indonesia memiliki sangat banyak kerajaan di masa silam, namun kerajaan yang paling kuat ditinjau dari besarnya wilayah dan pengaruh serta peninggalannya adalah sebagai berikut:

 Indonesia memiliki sangat banyak kerajaan di masa silam, namun kerajaan yang paling kuat ditinjau dari besarnya wilayah dan pengaruh serta peninggalannya adalah sebagai berikut: