11 October 2026

"Sejarah bukan hanya soal angka dan peristiwa, tapi soal manusia di dalamnya. Dari 6 keluarga pahlawan revolusi ini, kisah keluarga siapa yang paling membuat hati Anda tersentuh? Tulis pendapatmu di kolom komentar, sob!" 1. Tampak Jenderal Ahmad Yani sedang berkumpul bersama istri dan anak-anaknya yang masih beranjak remaja. 2. Letjen Suwondo Parman (S.Parman) yang tampil gagah berdampingan dengan sang istri tercinta, meski dalam keterangan tertulis bahwa mereka tidak dikaruniai buah hati. Kehangatan keluarga juga memancar dari gambar tersebut. 3. Letjen Mas Tirto Haryono (M.T Haryono) bersama istri dan anak-anaknya 4. Senyum damai Mayjen D.I. Pandjaitan yang diabadikan bersama istri dan putra-putrinya. 5. Letjen R. Suprapto, lengkap berfoto bersama istri dan anak-anaknya. 6. Mayjen Sutoyo Sismomihardjo yang juga tampak berwibawa namun hangat bersama istri dan anak-anaknya. Mari sejenak menundukkan kepala, mengenang pengorbanan mereka, dan mengirimkan doa terbaik untuk para pahlawan serta keluarga yang telah mewakafkan orang-orang terkasihnya untuk Ibu Pertiwi. "Di balik seragam gagah dan pengabdiannya, mereka adalah ayah dan suami yang penuh cinta. Melihat gambar-gambar hangat ini, siapa menurut Anda pahlawan yang wajahnya paling mirip dengan putra-putrinya? Mari kita kirimkan doa dan Al-Fatihah untuk beliau semua." Alfatihah. Aamiin Yaa Robbal'alamin #pahlawanrevolusi #sejarahindonesia #sejarah #g30s Sumber : Ivan Adriansah

 

"Sejarah bukan hanya soal angka dan peristiwa, tapi soal manusia di dalamnya. Dari 6 keluarga pahlawan revolusi ini, kisah keluarga siapa yang paling membuat hati Anda tersentuh?
Tulis pendapatmu di kolom komentar, sob!"



1.  Tampak Jenderal Ahmad Yani sedang berkumpul bersama istri dan anak-anaknya yang masih beranjak remaja.

2. Letjen Suwondo Parman (S.Parman) yang tampil gagah berdampingan dengan sang istri tercinta, meski dalam keterangan tertulis bahwa mereka tidak dikaruniai buah hati. Kehangatan keluarga juga memancar dari gambar tersebut.

3. Letjen Mas Tirto Haryono (M.T Haryono)
bersama istri dan anak-anaknya

4. Senyum damai Mayjen D.I. Pandjaitan yang diabadikan bersama istri dan putra-putrinya. 

5. Letjen R. Suprapto, lengkap berfoto bersama istri dan anak-anaknya. 

6. Mayjen Sutoyo Sismomihardjo yang juga tampak berwibawa namun hangat bersama istri dan anak-anaknya. 

Mari sejenak menundukkan kepala, mengenang pengorbanan mereka, dan mengirimkan doa terbaik untuk para pahlawan serta keluarga yang telah mewakafkan orang-orang terkasihnya untuk Ibu Pertiwi.

"Di balik seragam gagah dan pengabdiannya, mereka adalah ayah dan suami yang penuh cinta. Melihat gambar-gambar hangat ini, siapa menurut Anda pahlawan yang wajahnya paling mirip dengan putra-putrinya? Mari kita kirimkan doa dan Al-Fatihah untuk beliau semua."

Alfatihah. Aamiin Yaa Robbal'alamin

#pahlawanrevolusi #sejarahindonesia #sejarah #g30s

Sumber : Ivan Adriansah

Emmy Saelan - Srikandi Medis yang Gugur Bersama Granat !! Salmah Soehartini Saelan (Emmy Saelan) adalah pahlawan nasional asal Sulawesi Selatan yang lahir pada 15 Oktober 1924. Di usianya yang baru 22 tahun, mantan perawat ini memilih memanggul senjata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Aksi Heroik & Perjuangan: • Spionase Medis: Saat menjadi perawat di RS Stella Maris Makassar, ia menjalankan misi rahasia menyelundupkan obat-obatan, dokumen, dan menyelamatkan pejuang yang terluka. • Memimpin Laskar: Keluar dari rumah sakit untuk bergerilya di hutan. Ia bergabung dengan LAPRIS dan memimpin Laskar Perempuan di bawah komando perjuangan bersama Robert Wolter Mongisidi. • Martir Kassi-Kassi: Pada 23 Januari 1947, pasukannya dikepung ratusan tentara KNIL Belanda di Kassi-Kassi, Makassar. Akhir Hayat yang Pemberani: Dalam kondisi terluka dan menolak menyerah, Emmy menunggu tentara Belanda mendekat. Ia lalu meledakkan diri dengan granat, menewaskan dirinya sekaligus delapan tentara musuh. Demi menghormati jasanya, jasadnya dimakamkan di TMP Panaikang dan namanya kini diabadikan sebagai nama jalan protokol di Makassar. Sumber gambar : Wikimedia Commons (Domain Publik) #EmmySaelan #SejarahIndonesia #PahlawanIndonesia #SejarahSulawesiSelatan #JejakDunia

 Emmy Saelan - Srikandi Medis yang Gugur Bersama Granat !!



Salmah Soehartini Saelan (Emmy Saelan) adalah pahlawan nasional asal Sulawesi Selatan yang lahir pada 15 Oktober 1924. Di usianya yang baru 22 tahun, mantan perawat ini memilih memanggul senjata demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


Aksi Heroik & Perjuangan:

• Spionase Medis: Saat menjadi perawat di RS Stella Maris Makassar, ia menjalankan misi rahasia menyelundupkan obat-obatan, dokumen, dan menyelamatkan pejuang yang terluka.

• Memimpin Laskar: Keluar dari rumah sakit untuk bergerilya di hutan. Ia bergabung dengan LAPRIS dan memimpin Laskar Perempuan di bawah komando perjuangan bersama Robert Wolter Mongisidi.

• Martir Kassi-Kassi: Pada 23 Januari 1947, pasukannya dikepung ratusan tentara KNIL Belanda di Kassi-Kassi, Makassar.


Akhir Hayat yang Pemberani:

Dalam kondisi terluka dan menolak menyerah, Emmy menunggu tentara Belanda mendekat. Ia lalu meledakkan diri dengan granat, menewaskan dirinya sekaligus delapan tentara musuh. Demi menghormati jasanya, jasadnya dimakamkan di TMP Panaikang dan namanya kini diabadikan sebagai nama jalan protokol di Makassar.


Sumber gambar : Wikimedia Commons (Domain Publik)


#EmmySaelan #SejarahIndonesia #PahlawanIndonesia #SejarahSulawesiSelatan #JejakDunia


Sumber : Jejak Dunia

🔥 **KENAPA SOEKARNO MENOLAK UNDANGAN PERUNDINGAN DENGAN BELANDA?** Tahukah kamu? Pada Februari 1949, ketika masih berada dalam pengasingan di Bangka, Soekarno menerima undangan dari Belanda untuk menghadiri perundingan di Den Haag. Namun, Soekarno tidak langsung menerima undangan tersebut. Mengapa? Jawabannya bukan karena Soekarno menolak diplomasi. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: **bagaimana mungkin Republik Indonesia diajak berunding, sementara pemerintahannya sendiri belum dipulihkan?** Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, Belanda menduduki Yogyakarta dan menangkap Soekarno, Mohammad Hatta, serta sejumlah pemimpin Republik lainnya. Dalam keadaan itu, Soekarno berpandangan bahwa pemulihan pemerintahan Republik di Yogyakarta harus menjadi syarat utama sebelum perundingan dilanjutkan. Ia juga menginginkan agar pemerintah Republik dapat menjalankan kewenangannya secara bebas, bukan berada di bawah tekanan Belanda. Bagi Soekarno, persoalannya bukan sekadar duduk bersama di meja perundingan. Persoalannya adalah memastikan bahwa Republik Indonesia diakui sebagai pemerintahan yang sah dan memiliki hak menentukan masa depannya sendiri. Sikap ini bukan berarti Indonesia menutup pintu diplomasi. Sebaliknya, pemulihan pemerintahan Republik menjadi bagian penting dari tuntutan Indonesia dalam proses menuju penyelesaian konflik. Perundingan kemudian berkembang melalui berbagai tahapan, hingga Konferensi Meja Bundar berlangsung di Den Haag pada 23 Agustus sampai 2 November 1949. Delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta. Akhirnya, pada 27 Desember 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. **Jadi, alasan utama penolakan Soekarno saat itu bukan karena ia menentang perundingan, melainkan karena ia menuntut agar pemerintahan Republik dipulihkan terlebih dahulu.** Ada tiga alasan utama yang bisa dijelaskan : * Pemulihan pemerintahan Republik. Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, para pemimpin Republik ditangkap dan diasingkan. Soekarno menghendaki agar pemerintahan Republik dipulihkan terlebih dahulu. * Pengakuan terhadap kedudukan Republik. Soekarno tidak ingin perundingan berlangsung seolah-olah pemerintah Republik hanyalah pihak yang harus menerima keputusan Belanda, padahal Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan. * Jaminan bahwa perundingan berlangsung secara layak. Pihak Republik menuntut pemulihan pemerintahan dan kebebasan menjalankan kewenangannya sebagai syarat penting sebelum proses perundingan dilanjutkan. Sebab, bagi Indonesia, kemerdekaan bukan hanya tentang pengakuan di atas kertas, tetapi juga tentang hak untuk memerintah negeri sendiri. 📚 **Sumber sejarah:** Dokumen diplomatik Amerika Serikat tahun 1949, *Foreign Relations of the United States* (FRUS). #SejarahIndonesia #Soekarno #KonferensiMejaBundar #MohammadHatta #SejarahKemerdekaan Catatan akurasi: Penolakan yang dijelaskan di atas berkaitan dengan undangan perundingan pada Februari 1949. Jangan menyamakan peristiwa itu dengan keputusan untuk tidak menjadi delegasi dalam KMB yang berlangsung pada Agustus–November 1949.

 🔥 **KENAPA SOEKARNO MENOLAK UNDANGAN PERUNDINGAN DENGAN BELANDA?**


Tahukah kamu? Pada Februari 1949, ketika masih berada dalam pengasingan di Bangka, Soekarno menerima undangan dari Belanda untuk menghadiri perundingan di Den Haag.



Namun, Soekarno tidak langsung menerima undangan tersebut. Mengapa?


Jawabannya bukan karena Soekarno menolak diplomasi. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar: **bagaimana mungkin Republik Indonesia diajak berunding, sementara pemerintahannya sendiri belum dipulihkan?**


Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, Belanda menduduki Yogyakarta dan menangkap Soekarno, Mohammad Hatta, serta sejumlah pemimpin Republik lainnya.


Dalam keadaan itu, Soekarno berpandangan bahwa pemulihan pemerintahan Republik di Yogyakarta harus menjadi syarat utama sebelum perundingan dilanjutkan.


Ia juga menginginkan agar pemerintah Republik dapat menjalankan kewenangannya secara bebas, bukan berada di bawah tekanan Belanda.


Bagi Soekarno, persoalannya bukan sekadar duduk bersama di meja perundingan. Persoalannya adalah memastikan bahwa Republik Indonesia diakui sebagai pemerintahan yang sah dan memiliki hak menentukan masa depannya sendiri.


Sikap ini bukan berarti Indonesia menutup pintu diplomasi. Sebaliknya, pemulihan pemerintahan Republik menjadi bagian penting dari tuntutan Indonesia dalam proses menuju penyelesaian konflik.


Perundingan kemudian berkembang melalui berbagai tahapan, hingga Konferensi Meja Bundar berlangsung di Den Haag pada 23 Agustus sampai 2 November 1949. Delegasi Republik Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta.


Akhirnya, pada 27 Desember 1949, Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat.


**Jadi, alasan utama penolakan Soekarno saat itu bukan karena ia menentang perundingan, melainkan karena ia menuntut agar pemerintahan Republik dipulihkan terlebih dahulu.**


Ada tiga alasan utama yang bisa dijelaskan :


* Pemulihan pemerintahan Republik. Setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, para pemimpin Republik ditangkap dan diasingkan. Soekarno menghendaki agar pemerintahan Republik dipulihkan terlebih dahulu.


* Pengakuan terhadap kedudukan Republik. Soekarno tidak ingin perundingan berlangsung seolah-olah pemerintah Republik hanyalah pihak yang harus menerima keputusan Belanda, padahal Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan.


* Jaminan bahwa perundingan berlangsung secara layak. Pihak Republik menuntut pemulihan pemerintahan dan kebebasan menjalankan kewenangannya sebagai syarat penting sebelum proses perundingan dilanjutkan.

Sebab, bagi Indonesia, kemerdekaan bukan hanya tentang pengakuan di atas kertas, tetapi juga tentang hak untuk memerintah negeri sendiri.


📚 **Sumber sejarah:** Dokumen diplomatik Amerika Serikat tahun 1949, *Foreign Relations of the United States* (FRUS).


#SejarahIndonesia #Soekarno #KonferensiMejaBundar #MohammadHatta #SejarahKemerdekaan


Catatan akurasi: Penolakan yang dijelaskan di atas berkaitan dengan undangan perundingan pada Februari 1949. Jangan menyamakan peristiwa itu dengan keputusan untuk tidak menjadi delegasi dalam KMB yang berlangsung pada Agustus–November 1949.

KISAH TRAGIS ISTRI JENDERAL S. PARMAN: DUA KALI KEHILANGAN SUAMI DALAM PERISTIWA YANG BERKAITAN DENGAN PKI Di balik tragedi Gerakan 30 September 1965, tersimpan kisah pilu seorang perempuan bernama Sumirahayu. Ia adalah istri Jenderal S. Parman, salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa tersebut. Namun, menurut penuturan sejarawan Salim Said, tragedi tahun 1965 bukanlah kali pertama Sumirahayu kehilangan suami dalam konflik yang melibatkan kelompok komunis. Tujuh belas tahun sebelumnya, suami pertamanya juga disebut tewas dalam Peristiwa Madiun 1948. Kisah ini menjadikan kehidupan Sumirahayu sebagai salah satu cerita keluarga yang menyedihkan dalam sejarah pergolakan politik Indonesia. Kehidupan Awal Sumirahayu Sumirahayu lahir pada 16 Juni 1928 di Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah. Ayahnya, Harjosuwito, merupakan seorang pegawai Pegadaian. Ia tumbuh dalam keluarga dengan empat bersaudara. Ketika masih kecil, Sumirahayu kehilangan ayahnya yang meninggal dunia saat bertugas di Brebes. Setelah itu, ia bersama ibunya pindah ke Cilacap dan menetap di sana hingga sekitar tahun 1950, sebelum akhirnya berpindah ke Jakarta. Dalam buku Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto yang terbit pada 2015, sejarawan Salim Said menyebut bahwa S. Parman merupakan suami kedua Sumirahayu. Menurut penuturan tersebut, suami pertamanya meninggal dalam peristiwa yang berkaitan dengan Pemberontakan Madiun pada 1948. Tragedi Pertama: Peristiwa Madiun 1948 Pada September 1948, Indonesia menghadapi pergolakan politik dan militer di Madiun, Jawa Timur. Konflik tersebut melibatkan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat, termasuk Partai Komunis Indonesia, dengan pemerintah Republik Indonesia. Peristiwa itu menimbulkan banyak korban jiwa, baik dari kalangan militer maupun masyarakat sipil. Menurut kisah yang dikutip dari Salim Said, salah seorang korban adalah suami pertama Sumirahayu. Namun, identitas suami pertamanya, pekerjaannya, serta keadaan pasti yang menyebabkan kematiannya belum dapat dipastikan dari sumber-sumber yang tersedia. Apabila penuturan tersebut benar, Sumirahayu kehilangan pasangan hidupnya ketika usianya baru sekitar 20 tahun. Pada usia yang masih sangat muda, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan orang yang pernah menjadi pendamping hidupnya. Akan tetapi, kehidupan terus berjalan. Beberapa tahun kemudian, Sumirahayu membangun rumah tangga bersama seorang perwira Angkatan Darat bernama Siswondo Parman. Menikah dengan S. Parman pada 1951 Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Ia merupakan seorang perwira yang mengawali karier militernya pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, Parman mengabdi dalam kesatuan Polisi Tentara yang kemudian berkembang menjadi Corps Polisi Militer. Pada 4 Februari 1951, S. Parman dan Sumirahayu melangsungkan pernikahan di Jakarta. Saat itu, Parman berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan Corps Polisi Militer. Usia keduanya terpaut hampir sepuluh tahun. Dalam biografi resmi S. Parman, kehidupan rumah tangga mereka digambarkan berlangsung harmonis. Keduanya saling memahami kesibukan dan tanggung jawab masing-masing. Pernikahan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Sumirahayu mendampingi suaminya dalam berbagai penugasan militer. Pada 1951, S. Parman mendapat kesempatan mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Sumirahayu tidak dapat mendampinginya karena ketentuan pendidikan saat itu tidak memperbolehkan peserta membawa keluarga. Setelah kembali ke Indonesia, karier S. Parman terus berkembang. Ia kemudian menjalankan berbagai tugas penting, termasuk menjadi atase militer Indonesia di London, Inggris. Kehidupan Rumah Tangga yang Harmonis Selama menikah, S. Parman dan Sumirahayu tidak dikaruniai anak kandung. Dalam biografi S. Parman dijelaskan bahwa pada awal pernikahan, keduanya sepakat menunda memiliki anak selama lima tahun. Setelah masa tersebut berlalu, mereka mulai mengharapkan kehadiran seorang anak. Pada 1957, Sumirahayu sempat mengandung. Namun, kehamilannya berakhir dengan keguguran. Biografi tersebut menghubungkan peristiwa itu dengan keterkejutan Sumirahayu setelah mendengar kejadian pelemparan granat di Perguruan Cikini pada 30 November 1957, ketika S. Parman sedang bertugas di lokasi tersebut. Hingga S. Parman meninggal dunia, pasangan ini tidak memiliki anak kandung. Mereka kemudian memiliki anak angkat dari lingkungan keluarga, salah satunya Sugiono, yang merupakan keponakan Sumirahayu. Meskipun tidak dikaruniai keturunan biologis, kehidupan rumah tangga keduanya tetap digambarkan penuh perhatian. Salah satu kebiasaan S. Parman yang dikenang istrinya adalah meluangkan waktu bersama pada malam Minggu. Sesibuk apa pun pekerjaannya, sang jenderal berusaha menyediakan waktu untuk mendampingi Sumirahayu. Kebiasaan sederhana itulah yang kelak menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan setelah kematian S. Parman. Menjelang Tragedi 30 September 1965 Memasuki tahun 1965, situasi politik Indonesia semakin tegang. Pertentangan antara Angkatan Darat dan PKI menjadi salah satu persoalan besar dalam kehidupan politik nasional. Pada masa itu, S. Parman menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat yang menangani bidang intelijen. Jabatan tersebut menempatkannya dalam posisi penting di lingkungan pimpinan Angkatan Darat. Menjelang akhir September 1965, S. Parman masih menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa. Tidak ada kepastian bahwa Sumirahayu mengetahui tragedi besar yang akan menimpa keluarganya. Namun, pada dini hari 1 Oktober 1965, kehidupan rumah tangga yang telah mereka bangun selama lebih dari 14 tahun berubah untuk selamanya. Dini Hari 1 Oktober 1965: S. Parman Dijemput dari Rumahnya Sekitar pukul 04.10 dini hari, S. Parman dan Sumirahayu terbangun setelah mendengar suara orang-orang di sekitar rumah mereka. Rumah tersebut berada di Jalan Syamsurizal Nomor 32, Jakarta. Sejumlah tentara bersenjata datang dengan mengenakan seragam yang dikaitkan dengan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Mereka menyampaikan bahwa S. Parman harus segera menghadap Presiden karena ada urusan penting. Sumirahayu merasa curiga terhadap kedatangan para tentara tersebut. Ia mempertanyakan apakah mereka membawa surat perintah resmi. Salah seorang anggota rombongan menyatakan bahwa surat tersebut ada, tetapi situasi berlangsung begitu cepat. S. Parman kemudian bersiap mengenakan pakaian dinasnya. Sebelum berangkat, ia meminta agar istrinya menghubungi atasannya, Letnan Jenderal Ahmad Yani. Namun, sambungan telepon rumah ternyata telah diputus. Tidak lama kemudian, S. Parman dibawa pergi menggunakan kendaraan militer. Sumirahayu tidak mengetahui bahwa kepergian suaminya pada pagi itu akan menjadi perpisahan terakhir mereka. S. Parman Dibunuh di Lubang Buaya S. Parman dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, bersama sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi sasaran Gerakan 30 September. Di tempat itulah ia kemudian dibunuh. Jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama enam korban lainnya. Sementara itu, Sumirahayu harus menghadapi ketidakpastian mengenai keberadaan suaminya. Pada 4 Oktober 1965, jenazah para korban ditemukan dan diangkat dari sumur Lubang Buaya. Keesokan harinya, 5 Oktober 1965, S. Parman dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pangkatnya kemudian dinaikkan secara anumerta menjadi Letnan Jenderal. Ia juga dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi. Tangisan Sumirahayu yang Dikenang Salim Said Salah satu bagian paling menyentuh dari kisah ini berasal dari penuturan sejarawan Salim Said. Dalam bukunya Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto, Salim Said mengenang suasana pemakaman para perwira Angkatan Darat yang gugur pada 1965. Di antara keluarga korban yang hadir, tangisan Sumirahayu disebut sangat memilukan. Menurut Salim Said, kesedihan itu memiliki latar belakang yang tidak banyak diketahui orang. S. Parman disebut sebagai suami kedua Sumirahayu. Sebab, menurut penuturan tersebut, suami pertamanya juga telah meninggal dalam peristiwa yang melibatkan kaum komunis di Madiun pada 1948. Dengan demikian, Sumirahayu disebut mengalami dua kali kehilangan pasangan hidup dalam dua pergolakan politik yang terpisah selama 17 tahun. Tragedi pertama terjadi pada 1948. Tragedi kedua terjadi pada 1965. Kedua peristiwa itu berlangsung pada masa dan dalam keadaan politik yang berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Kenangan Setiap Malam Minggu Setelah kematian S. Parman, kehidupan Sumirahayu tidak pernah sama lagi. Rumah yang dahulu menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama kini menyimpan kenangan tentang suaminya. Dalam sejumlah kisah mengenai keluarga S. Parman, disebutkan bahwa malam Minggu menjadi waktu yang paling berat bagi Sumirahayu. Sebab, semasa hidup, S. Parman memiliki kebiasaan meluangkan malam tersebut untuk menemani istrinya. Setelah suaminya meninggal, kebiasaan itu berubah menjadi kenangan yang menyedihkan. Sumirahayu terkadang menangis ketika mengingat kebersamaan mereka. Ia juga dikisahkan beberapa kali memimpikan S. Parman, meskipun menyadari bahwa suaminya tidak mungkin kembali. Setelah kematian S. Parman, Sumirahayu tidak menikah lagi. Ia melanjutkan kehidupannya bersama keluarga dan anak angkatnya. Seorang Perempuan di Balik Dua Tragedi Sejarah Sejarah Indonesia mengenang S. Parman sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur pada 1 Oktober 1965. Namanya diabadikan sebagai penghormatan atas pengabdiannya kepada negara. Namun, di balik kisah seorang jenderal yang gugur, terdapat kehidupan seorang istri yang harus menghadapi kehilangan. Pertama, pada Peristiwa Madiun 1948. Kedua, ketika S. Parman menjadi korban Gerakan 30 September 1965. Kisah Sumirahayu mengingatkan bahwa tragedi sejarah tidak hanya merenggut nyawa para tokoh yang namanya tercatat dalam buku pelajaran. Di belakang mereka, ada keluarga yang harus melanjutkan kehidupan dengan kehilangan yang tidak mudah dilupakan. S. Parman dikenang bangsa Indonesia sebagai seorang pahlawan. Namun, bagi Sumirahayu, ia bukan sekadar seorang jenderal. Ia adalah suami, pendamping hidup, dan seseorang yang kehadirannya tak pernah tergantikan. #Kisah #Sejarah #Viral

 KISAH TRAGIS ISTRI JENDERAL S. PARMAN: DUA KALI KEHILANGAN SUAMI DALAM PERISTIWA YANG BERKAITAN DENGAN PKI



Di balik tragedi Gerakan 30 September 1965, tersimpan kisah pilu seorang perempuan bernama Sumirahayu. Ia adalah istri Jenderal S. Parman, salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa tersebut.


Namun, menurut penuturan sejarawan Salim Said, tragedi tahun 1965 bukanlah kali pertama Sumirahayu kehilangan suami dalam konflik yang melibatkan kelompok komunis.


Tujuh belas tahun sebelumnya, suami pertamanya juga disebut tewas dalam Peristiwa Madiun 1948.


Kisah ini menjadikan kehidupan Sumirahayu sebagai salah satu cerita keluarga yang menyedihkan dalam sejarah pergolakan politik Indonesia.


Kehidupan Awal Sumirahayu


Sumirahayu lahir pada 16 Juni 1928 di Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah.


Ayahnya, Harjosuwito, merupakan seorang pegawai Pegadaian. Ia tumbuh dalam keluarga dengan empat bersaudara.


Ketika masih kecil, Sumirahayu kehilangan ayahnya yang meninggal dunia saat bertugas di Brebes. Setelah itu, ia bersama ibunya pindah ke Cilacap dan menetap di sana hingga sekitar tahun 1950, sebelum akhirnya berpindah ke Jakarta.


Dalam buku Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto yang terbit pada 2015, sejarawan Salim Said menyebut bahwa S. Parman merupakan suami kedua Sumirahayu.


Menurut penuturan tersebut, suami pertamanya meninggal dalam peristiwa yang berkaitan dengan Pemberontakan Madiun pada 1948.


Tragedi Pertama: Peristiwa Madiun 1948


Pada September 1948, Indonesia menghadapi pergolakan politik dan militer di Madiun, Jawa Timur.


Konflik tersebut melibatkan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat, termasuk Partai Komunis Indonesia, dengan pemerintah Republik Indonesia.


Peristiwa itu menimbulkan banyak korban jiwa, baik dari kalangan militer maupun masyarakat sipil.


Menurut kisah yang dikutip dari Salim Said, salah seorang korban adalah suami pertama Sumirahayu.


Namun, identitas suami pertamanya, pekerjaannya, serta keadaan pasti yang menyebabkan kematiannya belum dapat dipastikan dari sumber-sumber yang tersedia.


Apabila penuturan tersebut benar, Sumirahayu kehilangan pasangan hidupnya ketika usianya baru sekitar 20 tahun.


Pada usia yang masih sangat muda, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan orang yang pernah menjadi pendamping hidupnya.


Akan tetapi, kehidupan terus berjalan.


Beberapa tahun kemudian, Sumirahayu membangun rumah tangga bersama seorang perwira Angkatan Darat bernama Siswondo Parman.


Menikah dengan S. Parman pada 1951


Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918.


Ia merupakan seorang perwira yang mengawali karier militernya pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.


Setelah Indonesia merdeka, Parman mengabdi dalam kesatuan Polisi Tentara yang kemudian berkembang menjadi Corps Polisi Militer.


Pada 4 Februari 1951, S. Parman dan Sumirahayu melangsungkan pernikahan di Jakarta.


Saat itu, Parman berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan Corps Polisi Militer.


Usia keduanya terpaut hampir sepuluh tahun.


Dalam biografi resmi S. Parman, kehidupan rumah tangga mereka digambarkan berlangsung harmonis. Keduanya saling memahami kesibukan dan tanggung jawab masing-masing.


Pernikahan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Sumirahayu mendampingi suaminya dalam berbagai penugasan militer.


Pada 1951, S. Parman mendapat kesempatan mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Sumirahayu tidak dapat mendampinginya karena ketentuan pendidikan saat itu tidak memperbolehkan peserta membawa keluarga.


Setelah kembali ke Indonesia, karier S. Parman terus berkembang.


Ia kemudian menjalankan berbagai tugas penting, termasuk menjadi atase militer Indonesia di London, Inggris.


Kehidupan Rumah Tangga yang Harmonis


Selama menikah, S. Parman dan Sumirahayu tidak dikaruniai anak kandung.


Dalam biografi S. Parman dijelaskan bahwa pada awal pernikahan, keduanya sepakat menunda memiliki anak selama lima tahun.


Setelah masa tersebut berlalu, mereka mulai mengharapkan kehadiran seorang anak.


Pada 1957, Sumirahayu sempat mengandung. Namun, kehamilannya berakhir dengan keguguran.


Biografi tersebut menghubungkan peristiwa itu dengan keterkejutan Sumirahayu setelah mendengar kejadian pelemparan granat di Perguruan Cikini pada 30 November 1957, ketika S. Parman sedang bertugas di lokasi tersebut.


Hingga S. Parman meninggal dunia, pasangan ini tidak memiliki anak kandung.


Mereka kemudian memiliki anak angkat dari lingkungan keluarga, salah satunya Sugiono, yang merupakan keponakan Sumirahayu.


Meskipun tidak dikaruniai keturunan biologis, kehidupan rumah tangga keduanya tetap digambarkan penuh perhatian.


Salah satu kebiasaan S. Parman yang dikenang istrinya adalah meluangkan waktu bersama pada malam Minggu.


Sesibuk apa pun pekerjaannya, sang jenderal berusaha menyediakan waktu untuk mendampingi Sumirahayu.


Kebiasaan sederhana itulah yang kelak menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan setelah kematian S. Parman.


Menjelang Tragedi 30 September 1965


Memasuki tahun 1965, situasi politik Indonesia semakin tegang.


Pertentangan antara Angkatan Darat dan PKI menjadi salah satu persoalan besar dalam kehidupan politik nasional.


Pada masa itu, S. Parman menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat yang menangani bidang intelijen.


Jabatan tersebut menempatkannya dalam posisi penting di lingkungan pimpinan Angkatan Darat.


Menjelang akhir September 1965, S. Parman masih menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa.


Tidak ada kepastian bahwa Sumirahayu mengetahui tragedi besar yang akan menimpa keluarganya.


Namun, pada dini hari 1 Oktober 1965, kehidupan rumah tangga yang telah mereka bangun selama lebih dari 14 tahun berubah untuk selamanya.


Dini Hari 1 Oktober 1965: S. Parman Dijemput dari Rumahnya


Sekitar pukul 04.10 dini hari, S. Parman dan Sumirahayu terbangun setelah mendengar suara orang-orang di sekitar rumah mereka.


Rumah tersebut berada di Jalan Syamsurizal Nomor 32, Jakarta.


Sejumlah tentara bersenjata datang dengan mengenakan seragam yang dikaitkan dengan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno.


Mereka menyampaikan bahwa S. Parman harus segera menghadap Presiden karena ada urusan penting.


Sumirahayu merasa curiga terhadap kedatangan para tentara tersebut.


Ia mempertanyakan apakah mereka membawa surat perintah resmi.


Salah seorang anggota rombongan menyatakan bahwa surat tersebut ada, tetapi situasi berlangsung begitu cepat.


S. Parman kemudian bersiap mengenakan pakaian dinasnya.


Sebelum berangkat, ia meminta agar istrinya menghubungi atasannya, Letnan Jenderal Ahmad Yani.


Namun, sambungan telepon rumah ternyata telah diputus.


Tidak lama kemudian, S. Parman dibawa pergi menggunakan kendaraan militer.


Sumirahayu tidak mengetahui bahwa kepergian suaminya pada pagi itu akan menjadi perpisahan terakhir mereka.


S. Parman Dibunuh di Lubang Buaya


S. Parman dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, bersama sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi sasaran Gerakan 30 September.


Di tempat itulah ia kemudian dibunuh.


Jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama enam korban lainnya.


Sementara itu, Sumirahayu harus menghadapi ketidakpastian mengenai keberadaan suaminya.


Pada 4 Oktober 1965, jenazah para korban ditemukan dan diangkat dari sumur Lubang Buaya.


Keesokan harinya, 5 Oktober 1965, S. Parman dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


Pangkatnya kemudian dinaikkan secara anumerta menjadi Letnan Jenderal.


Ia juga dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.


Tangisan Sumirahayu yang Dikenang Salim Said


Salah satu bagian paling menyentuh dari kisah ini berasal dari penuturan sejarawan Salim Said.


Dalam bukunya Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto, Salim Said mengenang suasana pemakaman para perwira Angkatan Darat yang gugur pada 1965.


Di antara keluarga korban yang hadir, tangisan Sumirahayu disebut sangat memilukan.


Menurut Salim Said, kesedihan itu memiliki latar belakang yang tidak banyak diketahui orang.


S. Parman disebut sebagai suami kedua Sumirahayu.


Sebab, menurut penuturan tersebut, suami pertamanya juga telah meninggal dalam peristiwa yang melibatkan kaum komunis di Madiun pada 1948.


Dengan demikian, Sumirahayu disebut mengalami dua kali kehilangan pasangan hidup dalam dua pergolakan politik yang terpisah selama 17 tahun.


Tragedi pertama terjadi pada 1948.


Tragedi kedua terjadi pada 1965.


Kedua peristiwa itu berlangsung pada masa dan dalam keadaan politik yang berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.


Kenangan Setiap Malam Minggu


Setelah kematian S. Parman, kehidupan Sumirahayu tidak pernah sama lagi.


Rumah yang dahulu menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama kini menyimpan kenangan tentang suaminya.


Dalam sejumlah kisah mengenai keluarga S. Parman, disebutkan bahwa malam Minggu menjadi waktu yang paling berat bagi Sumirahayu.


Sebab, semasa hidup, S. Parman memiliki kebiasaan meluangkan malam tersebut untuk menemani istrinya.


Setelah suaminya meninggal, kebiasaan itu berubah menjadi kenangan yang menyedihkan.


Sumirahayu terkadang menangis ketika mengingat kebersamaan mereka.


Ia juga dikisahkan beberapa kali memimpikan S. Parman, meskipun menyadari bahwa suaminya tidak mungkin kembali.


Setelah kematian S. Parman, Sumirahayu tidak menikah lagi.


Ia melanjutkan kehidupannya bersama keluarga dan anak angkatnya.


Seorang Perempuan di Balik Dua Tragedi Sejarah


Sejarah Indonesia mengenang S. Parman sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur pada 1 Oktober 1965.


Namanya diabadikan sebagai penghormatan atas pengabdiannya kepada negara.


Namun, di balik kisah seorang jenderal yang gugur, terdapat kehidupan seorang istri yang harus menghadapi kehilangan.


Pertama, pada Peristiwa Madiun 1948.


Kedua, ketika S. Parman menjadi korban Gerakan 30 September 1965.


Kisah Sumirahayu mengingatkan bahwa tragedi sejarah tidak hanya merenggut nyawa para tokoh yang namanya tercatat dalam buku pelajaran.


Di belakang mereka, ada keluarga yang harus melanjutkan kehidupan dengan kehilangan yang tidak mudah dilupakan.


S. Parman dikenang bangsa Indonesia sebagai seorang pahlawan. Namun, bagi Sumirahayu, ia bukan sekadar seorang jenderal. Ia adalah suami, pendamping hidup, dan seseorang yang kehadirannya tak pernah tergantikan.


#Kisah #Sejarah #Viral

Secarik kertas perintah perang TNI yang jatuh ke tangan Belanda, 25 Agustus 1947 (semasa Agresi Militer 1) Tempat: ? (Jawa) Secarik dokumen yang ditandatangani komandan sektor "M.G./A." bernama Boediono yang antara lain berisi perintah pembuatan kekacauan, perusakan tank Belanda, penempatan kesatuan beserta jumlah personelnya. Menarik bahwa dokumen menyebutkan adanya 6 serdadu asal India yang berada di pihak pejuang kemerdekaan Catatan: Sayang tidak diketahui detail lebih lanjut, misalnya di mana dokumen ini dibuat. Kata "Sector M.G./A." dan "Tandjoengredjo" mungkin bisa membantu? Sumber : Het Nationaal Archief

 Secarik kertas perintah perang TNI yang jatuh ke tangan Belanda, 25 Agustus 1947 (semasa Agresi Militer 1)

Tempat: ? (Jawa)



Secarik dokumen yang ditandatangani komandan sektor "M.G./A." bernama Boediono yang antara lain berisi perintah pembuatan kekacauan, perusakan tank Belanda, penempatan kesatuan beserta jumlah personelnya. Menarik bahwa dokumen menyebutkan adanya 6 serdadu asal India yang berada di pihak pejuang kemerdekaan


Catatan: Sayang tidak diketahui detail lebih lanjut, misalnya di mana dokumen ini dibuat. Kata "Sector M.G./A." dan "Tandjoengredjo" mungkin bisa membantu?


Sumber : Het Nationaal Archief


Sumber : Andre Owen

10 October 2026

CIUMAN TERAKHIR SANG JENDERAL: ADE IRMA SURYANI, PUTRI KECIL YANG GUGUR MELINDUNGI AYAHNYA Di balik ketegaran seorang jenderal besar, tersimpan luka seorang ayah yang tak pernah mudah dilupakan. Jenderal Abdul Haris Nasution, sosok militer yang berhasil lolos dari maut dalam tragedi 1 Oktober 1965, harus menghadapi kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya: kehilangan putri kecil yang begitu dicintainya, Ade Irma Suryani Nasution. Pagi itu, 6 Oktober 1965, menjadi salah satu hari paling memilukan bagi keluarga Nasution. Di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Ade Irma masih terbaring dalam perawatan setelah terkena tembakan di rumah keluarganya lima hari sebelumnya. Usianya baru lima tahun. Di usia ketika seorang anak seharusnya menikmati pelukan orang tua, bermain tanpa beban, dan tertawa bersama keluarga, Ade justru harus berjuang menghadapi luka akibat tragedi politik yang mengguncang Indonesia. Semua bermula pada dini hari 1 Oktober 1965. Ketika sebagian besar orang masih terlelap, sekelompok pasukan mendatangi kediaman Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Mereka datang dengan tujuan menangkap sang jenderal, yang menjadi salah satu sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September. Suasana rumah yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Tembakan terdengar, kepanikan melanda keluarga, dan dalam kekacauan itu, Nasution berusaha menyelamatkan diri. Namun, di tengah upaya untuk lolos dari kepungan, tragedi menimpa putri kecilnya. Ade Irma terkena tembakan ketika keluarganya berusaha menyelamatkan diri. Anak yang sama sekali tidak memahami pertarungan politik dan kekuasaan itu harus menanggung akibat dari sebuah peristiwa yang jauh melampaui dunianya sebagai seorang anak perempuan. Setelah kejadian tersebut, Ade segera dibawa ke RSPAD Gatot Subroto untuk mendapatkan pertolongan medis. Harapan masih menyala. Selama lima hari, keluarganya harus menghadapi kecemasan, menunggu kabar, dan berharap keajaiban akan membawa Ade kembali pulih. Bagi seorang ayah, menunggu keselamatan anak tentu menjadi ujian yang tidak mudah. Nasution mungkin dikenal sebagai prajurit yang tegas, berpengalaman menghadapi berbagai ancaman, dan terbiasa mengambil keputusan dalam situasi genting. Namun, di hadapan penderitaan putrinya sendiri, pangkat dan pengalaman militer tidak dapat menghapus rasa takut seorang ayah akan kehilangan buah hatinya. Pada akhirnya, tanggal 6 Oktober 1965 menjadi hari ketika harapan itu terhenti. Ade Irma Suryani meninggal dunia pada usia lima tahun. Perjuangan kecilnya berakhir, meninggalkan duka mendalam bagi kedua orang tuanya dan seluruh keluarga. Tidak ada kemenangan militer yang dapat menggantikan kehadiran seorang anak. Tidak ada pangkat yang mampu mengurangi kepedihan ketika seorang ayah harus menerima kenyataan bahwa putrinya telah pergi untuk selamanya. Bayangkan beratnya perasaan yang harus ditanggung Nasution. Ia selamat dari peristiwa yang mengancam nyawanya, tetapi keselamatan itu datang bersama kehilangan yang tidak pernah diinginkannya. Ia masih dapat melanjutkan hidup, menjalankan tugas, dan berdiri di hadapan bangsa, tetapi kenangan tentang putri kecilnya akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Ade Irma bukan seorang prajurit. Ia bukan pula tokoh yang terlibat dalam pertarungan politik saat itu. Ia hanyalah seorang anak kecil yang seharusnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dewasa, mengenal dunia, dan menjalani kehidupan bersama keluarganya. Namun, sejarah berkata lain. Kepergian Ade menjadi pengingat bahwa di balik peristiwa besar yang melibatkan tokoh-tokoh penting, selalu ada manusia biasa yang menanggung penderitaan. Di balik catatan sejarah tentang penculikan, kekerasan, dan perebutan kekuasaan, terdapat keluarga yang kehilangan orang tercinta dan seorang ayah yang harus merelakan putrinya pergi terlalu cepat. Ade kemudian dimakamkan pada 7 Oktober 1965. Namanya terus dikenang sebagai salah satu korban termuda dalam tragedi G30S. Dalam ingatan keluarga Nasution, ia bukan sekadar bagian dari sejarah nasional, melainkan seorang anak yang pernah mengisi rumah dengan kehadiran, kasih sayang, dan keceriaan. Kisah tentang ciuman terakhir Nasution kepada Ade Irma kerap digambarkan sebagai lambang kasih sayang seorang ayah. Namun, untuk menjaga ketepatan sejarah, detail mengenai momen ciuman tersebut perlu dibedakan dari fakta yang terdokumentasi tentang luka, perawatan, dan wafatnya Ade Irma. Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang seorang jenderal dan putrinya. Ini adalah kisah tentang cinta seorang ayah, kehilangan yang tak tergantikan, dan seorang anak yang kehidupannya terenggut di tengah tragedi bangsa. Ade Irma Suryani mungkin hanya hidup selama lima tahun, tetapi namanya tetap tinggal dalam ingatan sejarah Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap tragedi, ada kehidupan yang berharga, keluarga yang berduka, dan masa depan yang tidak sempat terwujud. Sebab, bagi seorang ayah, dunia boleh mengenangnya sebagai seorang jenderal besar. Namun, di dalam hatinya, Ade Irma akan selalu menjadi putri kecil yang pernah ia peluk, ia sayangi, dan yang kepergiannya meninggalkan ruang kosong sepanjang hidupnya. #AdeIrmaSuryani #AHNasution #SejarahIndonesia #G30S1965 #SejarahNasional #KisahSejarah Sumber : Bang Fit Ideas

 

CIUMAN TERAKHIR SANG JENDERAL: ADE IRMA SURYANI, PUTRI KECIL YANG GUGUR MELINDUNGI AYAHNYA



Di balik ketegaran seorang jenderal besar, tersimpan luka seorang ayah yang tak pernah mudah dilupakan. Jenderal Abdul Haris Nasution, sosok militer yang berhasil lolos dari maut dalam tragedi 1 Oktober 1965, harus menghadapi kenyataan paling menyakitkan dalam hidupnya: kehilangan putri kecil yang begitu dicintainya, Ade Irma Suryani Nasution.

Pagi itu, 6 Oktober 1965, menjadi salah satu hari paling memilukan bagi keluarga Nasution. Di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Ade Irma masih terbaring dalam perawatan setelah terkena tembakan di rumah keluarganya lima hari sebelumnya. Usianya baru lima tahun. Di usia ketika seorang anak seharusnya menikmati pelukan orang tua, bermain tanpa beban, dan tertawa bersama keluarga, Ade justru harus berjuang menghadapi luka akibat tragedi politik yang mengguncang Indonesia.

Semua bermula pada dini hari 1 Oktober 1965. Ketika sebagian besar orang masih terlelap, sekelompok pasukan mendatangi kediaman Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Mereka datang dengan tujuan menangkap sang jenderal, yang menjadi salah satu sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September.

Suasana rumah yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Tembakan terdengar, kepanikan melanda keluarga, dan dalam kekacauan itu, Nasution berusaha menyelamatkan diri. Namun, di tengah upaya untuk lolos dari kepungan, tragedi menimpa putri kecilnya.

Ade Irma terkena tembakan ketika keluarganya berusaha menyelamatkan diri. Anak yang sama sekali tidak memahami pertarungan politik dan kekuasaan itu harus menanggung akibat dari sebuah peristiwa yang jauh melampaui dunianya sebagai seorang anak perempuan.

Setelah kejadian tersebut, Ade segera dibawa ke RSPAD Gatot Subroto untuk mendapatkan pertolongan medis. Harapan masih menyala. Selama lima hari, keluarganya harus menghadapi kecemasan, menunggu kabar, dan berharap keajaiban akan membawa Ade kembali pulih.

Bagi seorang ayah, menunggu keselamatan anak tentu menjadi ujian yang tidak mudah. Nasution mungkin dikenal sebagai prajurit yang tegas, berpengalaman menghadapi berbagai ancaman, dan terbiasa mengambil keputusan dalam situasi genting. Namun, di hadapan penderitaan putrinya sendiri, pangkat dan pengalaman militer tidak dapat menghapus rasa takut seorang ayah akan kehilangan buah hatinya.

Pada akhirnya, tanggal 6 Oktober 1965 menjadi hari ketika harapan itu terhenti.

Ade Irma Suryani meninggal dunia pada usia lima tahun. Perjuangan kecilnya berakhir, meninggalkan duka mendalam bagi kedua orang tuanya dan seluruh keluarga. Tidak ada kemenangan militer yang dapat menggantikan kehadiran seorang anak. Tidak ada pangkat yang mampu mengurangi kepedihan ketika seorang ayah harus menerima kenyataan bahwa putrinya telah pergi untuk selamanya.

Bayangkan beratnya perasaan yang harus ditanggung Nasution. Ia selamat dari peristiwa yang mengancam nyawanya, tetapi keselamatan itu datang bersama kehilangan yang tidak pernah diinginkannya. Ia masih dapat melanjutkan hidup, menjalankan tugas, dan berdiri di hadapan bangsa, tetapi kenangan tentang putri kecilnya akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Ade Irma bukan seorang prajurit. Ia bukan pula tokoh yang terlibat dalam pertarungan politik saat itu. Ia hanyalah seorang anak kecil yang seharusnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dewasa, mengenal dunia, dan menjalani kehidupan bersama keluarganya.

Namun, sejarah berkata lain.

Kepergian Ade menjadi pengingat bahwa di balik peristiwa besar yang melibatkan tokoh-tokoh penting, selalu ada manusia biasa yang menanggung penderitaan. Di balik catatan sejarah tentang penculikan, kekerasan, dan perebutan kekuasaan, terdapat keluarga yang kehilangan orang tercinta dan seorang ayah yang harus merelakan putrinya pergi terlalu cepat.

Ade kemudian dimakamkan pada 7 Oktober 1965. Namanya terus dikenang sebagai salah satu korban termuda dalam tragedi G30S. Dalam ingatan keluarga Nasution, ia bukan sekadar bagian dari sejarah nasional, melainkan seorang anak yang pernah mengisi rumah dengan kehadiran, kasih sayang, dan keceriaan.

Kisah tentang ciuman terakhir Nasution kepada Ade Irma kerap digambarkan sebagai lambang kasih sayang seorang ayah. Namun, untuk menjaga ketepatan sejarah, detail mengenai momen ciuman tersebut perlu dibedakan dari fakta yang terdokumentasi tentang luka, perawatan, dan wafatnya Ade Irma.

Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang seorang jenderal dan putrinya. Ini adalah kisah tentang cinta seorang ayah, kehilangan yang tak tergantikan, dan seorang anak yang kehidupannya terenggut di tengah tragedi bangsa.

Ade Irma Suryani mungkin hanya hidup selama lima tahun, tetapi namanya tetap tinggal dalam ingatan sejarah Indonesia. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap tragedi, ada kehidupan yang berharga, keluarga yang berduka, dan masa depan yang tidak sempat terwujud.

Sebab, bagi seorang ayah, dunia boleh mengenangnya sebagai seorang jenderal besar. Namun, di dalam hatinya, Ade Irma akan selalu menjadi putri kecil yang pernah ia peluk, ia sayangi, dan yang kepergiannya meninggalkan ruang kosong sepanjang hidupnya.

#AdeIrmaSuryani
#AHNasution
#SejarahIndonesia
#G30S1965
#SejarahNasional
#KisahSejarah

Sumber : Bang Fit Ideas

Pada 3 September 1958, Presiden Soekarno terlihat menari dan bercanda bersama para tamu asing dalam sebuah pesta kebun di kediaman musim panas presiden di Bogor, Jawa Barat. Dalam foto ini, Soekarno mengenakan setelan berwarna terang dan peci hitam, sementara Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones tampak ikut menari bersama istri Duta Besar Yugoslavia. Suasana santai ini memperlihatkan sisi informal kegiatan diplomatik Indonesia pada masa itu. Momen tersebut berlangsung di tengah dinamika hubungan luar negeri Indonesia pada awal Perang Dingin. Hubungan Jakarta dengan Washington diwarnai kerja sama sekaligus perbedaan pandangan, termasuk mengenai persoalan Irian Barat dan perkembangan politik regional. Pertemuan sosial seperti ini menjadi salah satu kesempatan bagi para diplomat dan pemimpin negara untuk berinteraksi di luar forum resmi. 📷 Koleksi: Fotocollectie Elsevier Buitenland 📸 Fotografer: Unce / ANP 🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. #Soekarno #Bogor #SejarahIndonesia #DiplomasiIndonesia #PerangDingin #IstanaBogor #IndonesiaTempoDulu #FotoSejarah #DuniaSejarah #duniasjr

 Pada 3 September 1958, Presiden Soekarno terlihat menari dan bercanda bersama para tamu asing dalam sebuah pesta kebun di kediaman musim panas presiden di Bogor, Jawa Barat. 



Dalam foto ini, Soekarno mengenakan setelan berwarna terang dan peci hitam, sementara Duta Besar Amerika Serikat Howard P. Jones tampak ikut menari bersama istri Duta Besar Yugoslavia. Suasana santai ini memperlihatkan sisi informal kegiatan diplomatik Indonesia pada masa itu.


Momen tersebut berlangsung di tengah dinamika hubungan luar negeri Indonesia pada awal Perang Dingin. Hubungan Jakarta dengan Washington diwarnai kerja sama sekaligus perbedaan pandangan, termasuk mengenai persoalan Irian Barat dan perkembangan politik regional. 


Pertemuan sosial seperti ini menjadi salah satu kesempatan bagi para diplomat dan pemimpin negara untuk berinteraksi di luar forum resmi.


📷 Koleksi: Fotocollectie Elsevier Buitenland 

📸 Fotografer: Unce / ANP 

🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. 


#Soekarno #Bogor #SejarahIndonesia #DiplomasiIndonesia #PerangDingin #IstanaBogor #IndonesiaTempoDulu #FotoSejarah #DuniaSejarah #duniasjr

Fakta Utama tentang Teuku Markam: • Sumbangan Emas Monas Teuku Markam dikenal dalam narasi sejarah populer sebagai penyumbang sekitar 28 kilogram emas (dari total puluhan kilogram yang melapisi bagian lidah api puncak Monumen Nasional/Monas). • Kedekatan dengan Soekarno Ia adalah pengusaha sukses melalui perusahaannya (PT Karkam) yang memiliki kedekatan dengan Bung Karno dan pernah membantu berbagai proyek negara serta dana untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika. • Akhir Nasib yang Tragis Setelah pergantian kekuasaan ke era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto pada 1966, ia ditahan selama kurang lebih 9 tahun tanpa proses pengadilan yang jelas, dituduh terlibat dalam gerakan kiri/PKI serta korupsi, sementara seluruh aset dan perusahaannya diambil alih oleh negara. Ia kemudian dibebaskan pada 1974 dan wafat pada 1985.

 Fakta Utama tentang Teuku Markam:

• Sumbangan Emas Monas



Teuku Markam dikenal dalam narasi sejarah populer sebagai penyumbang sekitar 28 kilogram emas (dari total puluhan kilogram yang melapisi bagian lidah api puncak Monumen Nasional/Monas).


• Kedekatan dengan Soekarno


Ia adalah pengusaha sukses melalui perusahaannya (PT Karkam) yang memiliki kedekatan dengan Bung Karno dan pernah membantu berbagai proyek negara serta dana untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika.


• Akhir Nasib yang Tragis


Setelah pergantian kekuasaan ke era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto pada 1966, ia ditahan selama kurang lebih 9 tahun tanpa proses pengadilan yang jelas, dituduh terlibat dalam gerakan kiri/PKI serta korupsi, sementara seluruh aset dan perusahaannya diambil alih oleh negara. Ia kemudian dibebaskan pada 1974 dan wafat pada 1985.



Sumber : Dewi Astuti

Penggalian tanah di dekat desa Ngagrong, Semarang, menuju arah Ambarawa. Nampak Ir. Kuntze sedang memberikan instruksi kepada mandor/pengawas lapangan (Pikeur) bernama Hertel. Foto ini diambil dari album Proyek Pembangunan jalur kereta api Semarang - Kedungjati hingga ke Solo pada tahun 1865-1867. Rijkmuseum

 Penggalian tanah di dekat desa Ngagrong, Semarang, menuju arah Ambarawa. Nampak Ir. Kuntze sedang memberikan instruksi kepada mandor/pengawas lapangan (Pikeur) bernama Hertel.



Foto ini diambil dari album Proyek Pembangunan jalur kereta api Semarang - Kedungjati hingga ke Solo pada tahun 1865-1867. Rijkmuseum

59 Tahun Kematian Che Guevara: Dieksekusi Tentara, Diabadikan Seniman 59 tahun telah berlalu sejak peristiwa berdarah di pegunungan Bolivia yang mengakhiri hidup Ernesto "Che" Guevara pada 9 Oktober 1967. Meski jasadnya telah lama tiada, bayangan wajah ber Baret hitam dengan bintang perak di atasnya tetap hadir di berbagai penjuru dunia, mulai dari dinding-dinding demonstrasi hingga kaus anak muda. Lantas, bagaimana seorang dokter muda asal Argentina berubah menjadi pemimpin gerilya yang ditakuti, dieksekusi secara rahasia, dan akhirnya bertransformasi menjadi ikon budaya pop global? Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134419705/59-tahun-kematian-che-guevara-dieksekusi-tentara-diabadikan-seniman

 59 Tahun Kematian Che Guevara: Dieksekusi Tentara, Diabadikan Seniman



59 tahun telah berlalu sejak peristiwa berdarah di pegunungan Bolivia yang mengakhiri hidup Ernesto "Che" Guevara pada 9 Oktober 1967.


Meski jasadnya telah lama tiada, bayangan wajah ber Baret hitam dengan bintang perak di atasnya tetap hadir di berbagai penjuru dunia, mulai dari dinding-dinding demonstrasi hingga kaus anak muda.


Lantas, bagaimana seorang dokter muda asal Argentina berubah menjadi pemimpin gerilya yang ditakuti, dieksekusi secara rahasia, dan akhirnya bertransformasi menjadi ikon budaya pop global?


Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134419705/59-tahun-kematian-che-guevara-dieksekusi-tentara-diabadikan-seniman

Joanna Sunarti menggendong tubuh mungil Ade Irma Suryani Nasution yang sudah dingin Ade Irma Suryani lahir di Jakarta 19 Februari 1960, merupakan puteri bungsu dari pasangan Kepala staf angkatan bersenjata RI Jendral AH Nasution dan Ibu Johanna Nasution. Gadis 5 tahun itu merupakan salah satu korban G30S. Ade tert3mbak saat para pencul1k hendak mengh4bisi sang ayah jendral AH Nasution. Pada tanggal 6 Oktober1965, Ade Irma Suryani menghembuskan napas terakhirnya di usia 5 tahun setelah berjuang selama lima hari. Jenaz4hnya dimakamkan pada tanggal 7 Oktober 1965 di TPU Blok P, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Meskipun kemudian dialih fungsikan menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan tapi makam Ade Irma tidak dipindahkan. Alfatihah Ade Irma Suryani binti A.H Nasution Salam rahayu #adeirmanasution #jendralnasution #g30s #pahlawanrevolusi #sejarahindonesia Sumber : Ivan Adriansyah

 


Joanna Sunarti menggendong tubuh mungil Ade Irma Suryani Nasution yang sudah dingin

Ade Irma Suryani lahir di Jakarta 19 Februari 1960, merupakan puteri bungsu dari pasangan Kepala staf angkatan bersenjata RI Jendral AH Nasution dan Ibu Johanna Nasution. Gadis 5 tahun itu merupakan salah satu korban G30S. Ade tert3mbak saat para pencul1k hendak mengh4bisi sang ayah jendral AH Nasution.

Pada tanggal 6 Oktober1965, Ade Irma Suryani menghembuskan napas terakhirnya di usia 5 tahun setelah berjuang selama lima hari. Jenaz4hnya dimakamkan pada tanggal 7 Oktober 1965 di TPU Blok P, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Meskipun kemudian dialih fungsikan menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan tapi makam Ade Irma tidak dipindahkan.

Alfatihah Ade Irma Suryani binti A.H Nasution

Salam rahayu

#adeirmanasution #jendralnasution #g30s #pahlawanrevolusi #sejarahindonesia

Sumber : Ivan Adriansyah

LETKOL SUGIYONO: PAMIT SEBENTAR, PERGI UNTUK SELAMANYA Bayangkan seorang istri yang sedang mengandung, melepas kepergian suaminya dengan harapan ia akan segera kembali. Namun, takdir berkata lain. Kepergian itu justru menjadi perpisahan yang menyisakan duka mendalam. Letkol Sugiyono Mangunwiyoto, Kepala Staf Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta, menjadi salah satu korban tragedi 1965. Ketika mendengar kabar mengenai hilangnya atasannya, Kolonel Katamso, Sugiyono berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ia justru ikut menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Jenazahnya kemudian ditemukan di kawasan Kentungan, Yogyakarta. Sugiyono gugur, meninggalkan seorang istri dan anak-anaknya. Sang istri bahkan harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran suaminya, sementara keluarga mereka masih menanti masa depan yang tak lagi sama. Ia mungkin pergi dengan harapan akan kembali. Namun, sejarah mencatat kepergiannya sebagai sebuah pengorbanan yang tak terlupakan. Kisah Letkol Sugiyono menjadi pengingat bahwa di balik tragedi sejarah, ada keluarga yang kehilangan orang tercinta dan harus melanjutkan hidup dengan luka yang mendalam. 📚 Sumber: - Ensiklopedia Pahlawan Nasional, Kementerian Pendidikan. - Tirto.id — Biografi Singkat Kolonel Sugiyono. - Detik Jogja — Profil Kolonel Sugiyono, Pahlawan Revolusi. #LetkolSugiyono #SejarahIndonesia #PahlawanRevolusi #Tragedi1965 #SejarahYangTerlupakan Sumber : Herdi Mangkubumi

 LETKOL SUGIYONO: PAMIT SEBENTAR, PERGI UNTUK SELAMANYA



Bayangkan seorang istri yang sedang mengandung, melepas kepergian suaminya dengan harapan ia akan segera kembali. Namun, takdir berkata lain. Kepergian itu justru menjadi perpisahan yang menyisakan duka mendalam.


Letkol Sugiyono Mangunwiyoto, Kepala Staf Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta, menjadi salah satu korban tragedi 1965. Ketika mendengar kabar mengenai hilangnya atasannya, Kolonel Katamso, Sugiyono berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Namun, ia justru ikut menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Jenazahnya kemudian ditemukan di kawasan Kentungan, Yogyakarta.


Sugiyono gugur, meninggalkan seorang istri dan anak-anaknya. Sang istri bahkan harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran suaminya, sementara keluarga mereka masih menanti masa depan yang tak lagi sama.


Ia mungkin pergi dengan harapan akan kembali. Namun, sejarah mencatat kepergiannya sebagai sebuah pengorbanan yang tak terlupakan.


Kisah Letkol Sugiyono menjadi pengingat bahwa di balik tragedi sejarah, ada keluarga yang kehilangan orang tercinta dan harus melanjutkan hidup dengan luka yang mendalam.


📚 Sumber:


- Ensiklopedia Pahlawan Nasional, Kementerian Pendidikan.

- Tirto.id — Biografi Singkat Kolonel Sugiyono.

- Detik Jogja — Profil Kolonel Sugiyono, Pahlawan Revolusi.


#LetkolSugiyono #SejarahIndonesia #PahlawanRevolusi #Tragedi1965 #SejarahYangTerlupakan


Sumber : Herdi Mangkubumi

RENCANA G30S GAGAL, LETKOL UNTUNG KABUR KE JAWA TENGAH HINGGA DIAMUK MASSA KARENA DIKIRA PENCOPET Nama Letnan Kolonel Untung Syamsuri menjadi salah satu nama yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Perwira yang saat itu menjabat sebagai Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno, tersebut menjadi salah satu tokoh utama dalam gerakan yang berujung pada penculikan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Namun, setelah gerakan itu gagal mencapai tujuannya dan situasi Jakarta berbalik, Untung justru harus melarikan diri. Pelariannya berakhir dengan penangkapan di wilayah Jawa Tengah, dalam sebuah kisah yang disebut-sebut bermula ketika ia melompat dari bus dan menjadi sasaran amukan warga yang mengiranya sebagai pencopet. Jauh sebelum peristiwa tersebut, Untung telah meniti perjalanan panjang di dunia militer. Ia pernah mengikuti pendidikan militer pada masa pendudukan Jepang dan kemudian bergabung dengan perjuangan bersenjata setelah Indonesia merdeka. Kariernya berkembang melalui berbagai penugasan militer, termasuk operasi pembebasan Irian Barat atau Trikora pada awal 1960-an. Dalam operasi tersebut, Untung bertugas di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto yang memimpin Komando Mandala. Pengalaman militernya kemudian mengantarkannya ke pangkat letnan kolonel dan jabatan di lingkungan Cakrabirawa. Sebagai perwira yang bertugas dalam pasukan pengawal presiden, Untung berada di lingkungan yang dekat dengan pusat kekuasaan. Ia memiliki pengalaman operasi militer dan pernah menerima penghargaan atas pengabdiannya. Akan tetapi, perjalanan karier yang sebelumnya tampak menjanjikan itu berubah drastis ketika ia terlibat dalam peristiwa G30S pada akhir September 1965. Pada malam 30 September 1965, Untung disebut masih menjalankan tugas pengamanan Presiden Soekarno dalam sebuah kegiatan di Jakarta. Setelah itu, ia bergerak menuju kawasan Lubang Buaya, tempat sejumlah personel yang terlibat dalam gerakan tersebut berkumpul. Menjelang dini hari, 1 Oktober 1965, kelompok G30S melaksanakan operasi untuk menangkap sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat yang mereka tuduh sebagai bagian dari kelompok yang disebut Dewan Jenderal. Operasi itu tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sejumlah perwira menjadi sasaran penculikan, tetapi tidak semua target berhasil ditemukan dan ditangkap. Para perwira yang diculik kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya. Enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat, Pierre Tendean, akhirnya tewas dalam rangkaian peristiwa tersebut. Sementara itu, Jenderal A.H. Nasution berhasil meloloskan diri dari upaya penculikan, meskipun putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, mengalami luka tembak dan kemudian meninggal dunia. Pada pagi 1 Oktober, Untung tampil melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) untuk mengumumkan gerakan yang mereka lakukan. Dalam pengumuman itu, ia menyatakan bahwa Gerakan 30 September ditujukan untuk menghadapi Dewan Jenderal yang dituduh merencanakan tindakan terhadap Presiden Soekarno. Ia juga mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Namun, gerakan tersebut tidak berhasil menguasai keadaan politik dan militer secara menyeluruh. Pasukan yang berada di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto kemudian mengambil alih sejumlah titik penting di Jakarta, termasuk RRI. Ketika kekuatan militer pendukung gerakan mulai kehilangan kendali, posisi Untung semakin terdesak. Situasi yang semula direncanakan sebagai sebuah gerakan untuk mengubah keadaan politik justru berbalik menjadi awal kehancuran bagi para tokoh yang terlibat. Untung tidak lagi memiliki kendali atas situasi di ibu kota dan harus menghadapi kemungkinan ditangkap oleh aparat militer. Setelah peristiwa 1 Oktober, Untung meninggalkan Jakarta dan berusaha menghindari pengejaran. Ia kemudian bergerak ke wilayah Jawa Tengah. Selama pelariannya, identitas dan keberadaannya tidak segera diketahui secara luas. Ia berusaha melewati wilayah-wilayah yang dianggap dapat membantunya menjauh dari pusat operasi pengejaran. Salah satu kisah yang banyak diceritakan mengenai penangkapannya menyebutkan bahwa pada 11 Oktober 1965, Untung sedang menumpang sebuah bus menuju wilayah Tegal. Ketika sejumlah anggota militer naik ke bus tersebut, ia diduga merasa terancam dan khawatir akan dikenali. Dalam keadaan panik, ia disebut melompat keluar dari kendaraan. Ia kemudian menghantam tiang listrik dan terjatuh. Kejadian itu menarik perhatian warga di sekitar lokasi. Karena tidak mengetahui identitas sebenarnya, sejumlah orang diduga mengira Untung sebagai seorang pencopet yang berusaha melarikan diri. Ia pun menjadi sasaran amukan massa sebelum akhirnya diamankan oleh anggota militer. Kisah tentang dirinya yang dikira pencopet menjadi bagian paling dramatis dari pelarian tersebut. Pada awal penangkapan, Untung tidak langsung mengungkapkan identitasnya secara terbuka. Aparat yang mengamankannya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan siapa sebenarnya orang yang mereka tangkap. Identitasnya kemudian diketahui setelah pemeriksaan di lingkungan aparat militer di Tegal. Penangkapan itu mengakhiri pelariannya yang berlangsung sekitar sepuluh hari sejak gerakan G30S dilancarkan. Setelah ditangkap, Untung dibawa ke proses pemeriksaan militer. Perannya dalam G30S menjadi salah satu pokok perkara yang diperiksa oleh pengadilan militer khusus. Pada 1966, ia dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), lembaga yang dibentuk untuk mengadili perkara-perkara yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Persidangannya berlangsung dalam situasi politik yang sangat tegang, ketika kekuasaan Presiden Soekarno semakin melemah dan pengaruh Soeharto semakin kuat. Dalam persidangan, Untung harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam gerakan yang menyebabkan penculikan dan kematian sejumlah perwira Angkatan Darat. Peristiwa itu tidak hanya menghancurkan karier militernya, tetapi juga mengubah arah sejarah Indonesia. G30S kemudian diikuti oleh penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang dituduh terlibat atau berhubungan dengan gerakan tersebut, disertai perubahan politik yang membawa Soeharto ke pusat kekuasaan. Pada 6 Maret 1966, Mahmilub menjatuhkan hukuman mati kepada Untung. Vonis itu menutup perjalanan seorang perwira yang pernah meniti karier militer hingga dipercaya memegang jabatan di pasukan pengawal presiden. Dalam waktu singkat, ia berubah dari seorang perwira yang memiliki kedudukan penting menjadi terdakwa dalam salah satu perkara paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern. Kisah pelarian Untung dari Jakarta hingga penangkapannya di Tegal memperlihatkan betapa cepat keadaan dapat berubah setelah gagalnya G30S. Ia yang sebelumnya berada di lingkaran pengamanan Presiden Soekarno akhirnya menjadi buronan, bersembunyi, dan ditangkap ketika berusaha menyelamatkan diri. Sementara itu, proses hukum terhadapnya berlangsung di tengah pergolakan politik yang mengubah nasib militer, pemerintahan, dan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun sesudahnya. #Kisah #Sejarah #Viral

 RENCANA G30S GAGAL, LETKOL UNTUNG KABUR KE JAWA TENGAH HINGGA DIAMUK MASSA KARENA DIKIRA PENCOPET


Nama Letnan Kolonel Untung Syamsuri menjadi salah satu nama yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Perwira yang saat itu menjabat sebagai Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno, tersebut menjadi salah satu tokoh utama dalam gerakan yang berujung pada penculikan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. 



Namun, setelah gerakan itu gagal mencapai tujuannya dan situasi Jakarta berbalik, Untung justru harus melarikan diri. 


Pelariannya berakhir dengan penangkapan di wilayah Jawa Tengah, dalam sebuah kisah yang disebut-sebut bermula ketika ia melompat dari bus dan menjadi sasaran amukan warga yang mengiranya sebagai pencopet.


Jauh sebelum peristiwa tersebut, Untung telah meniti perjalanan panjang di dunia militer. Ia pernah mengikuti pendidikan militer pada masa pendudukan Jepang dan kemudian bergabung dengan perjuangan bersenjata setelah Indonesia merdeka. 


Kariernya berkembang melalui berbagai penugasan militer, termasuk operasi pembebasan Irian Barat atau Trikora pada awal 1960-an. 


Dalam operasi tersebut, Untung bertugas di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto yang memimpin Komando Mandala. Pengalaman militernya kemudian mengantarkannya ke pangkat letnan kolonel dan jabatan di lingkungan Cakrabirawa.


Sebagai perwira yang bertugas dalam pasukan pengawal presiden, Untung berada di lingkungan yang dekat dengan pusat kekuasaan. 


Ia memiliki pengalaman operasi militer dan pernah menerima penghargaan atas pengabdiannya. 


Akan tetapi, perjalanan karier yang sebelumnya tampak menjanjikan itu berubah drastis ketika ia terlibat dalam peristiwa G30S pada akhir September 1965.


Pada malam 30 September 1965, Untung disebut masih menjalankan tugas pengamanan Presiden Soekarno dalam sebuah kegiatan di Jakarta. 


Setelah itu, ia bergerak menuju kawasan Lubang Buaya, tempat sejumlah personel yang terlibat dalam gerakan tersebut berkumpul. Menjelang dini hari, 1 Oktober 1965, kelompok G30S melaksanakan operasi untuk menangkap sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat yang mereka tuduh sebagai bagian dari kelompok yang disebut Dewan Jenderal.


Operasi itu tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sejumlah perwira menjadi sasaran penculikan, tetapi tidak semua target berhasil ditemukan dan ditangkap. 


Para perwira yang diculik kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya. Enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat, Pierre Tendean, akhirnya tewas dalam rangkaian peristiwa tersebut. 


Sementara itu, Jenderal A.H. Nasution berhasil meloloskan diri dari upaya penculikan, meskipun putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, mengalami luka tembak dan kemudian meninggal dunia.


Pada pagi 1 Oktober, Untung tampil melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) untuk mengumumkan gerakan yang mereka lakukan. Dalam pengumuman itu, ia menyatakan bahwa Gerakan 30 September ditujukan untuk menghadapi Dewan Jenderal yang dituduh merencanakan tindakan terhadap Presiden Soekarno. 


Ia juga mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi. Namun, gerakan tersebut tidak berhasil menguasai keadaan politik dan militer secara menyeluruh. Pasukan yang berada di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto kemudian mengambil alih sejumlah titik penting di Jakarta, termasuk RRI.


Ketika kekuatan militer pendukung gerakan mulai kehilangan kendali, posisi Untung semakin terdesak. 


Situasi yang semula direncanakan sebagai sebuah gerakan untuk mengubah keadaan politik justru berbalik menjadi awal kehancuran bagi para tokoh yang terlibat. Untung tidak lagi memiliki kendali atas situasi di ibu kota dan harus menghadapi kemungkinan ditangkap oleh aparat militer.


Setelah peristiwa 1 Oktober, Untung meninggalkan Jakarta dan berusaha menghindari pengejaran. 


Ia kemudian bergerak ke wilayah Jawa Tengah. Selama pelariannya, identitas dan keberadaannya tidak segera diketahui secara luas. Ia berusaha melewati wilayah-wilayah yang dianggap dapat membantunya menjauh dari pusat operasi pengejaran.


Salah satu kisah yang banyak diceritakan mengenai penangkapannya menyebutkan bahwa pada 11 Oktober 1965, Untung sedang menumpang sebuah bus menuju wilayah Tegal. 


Ketika sejumlah anggota militer naik ke bus tersebut, ia diduga merasa terancam dan khawatir akan dikenali. Dalam keadaan panik, ia disebut melompat keluar dari kendaraan. Ia kemudian menghantam tiang listrik dan terjatuh.


Kejadian itu menarik perhatian warga di sekitar lokasi. Karena tidak mengetahui identitas sebenarnya, sejumlah orang diduga mengira Untung sebagai seorang pencopet yang berusaha melarikan diri. 


Ia pun menjadi sasaran amukan massa sebelum akhirnya diamankan oleh anggota militer. Kisah tentang dirinya yang dikira pencopet menjadi bagian paling dramatis dari pelarian tersebut. 


Pada awal penangkapan, Untung tidak langsung mengungkapkan identitasnya secara terbuka. 


Aparat yang mengamankannya harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan siapa sebenarnya orang yang mereka tangkap. 


Identitasnya kemudian diketahui setelah pemeriksaan di lingkungan aparat militer di Tegal. Penangkapan itu mengakhiri pelariannya yang berlangsung sekitar sepuluh hari sejak gerakan G30S dilancarkan.


Setelah ditangkap, Untung dibawa ke proses pemeriksaan militer. Perannya dalam G30S menjadi salah satu pokok perkara yang diperiksa oleh pengadilan militer khusus. 


Pada 1966, ia dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), lembaga yang dibentuk untuk mengadili perkara-perkara yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. 


Persidangannya berlangsung dalam situasi politik yang sangat tegang, ketika kekuasaan Presiden Soekarno semakin melemah dan pengaruh Soeharto semakin kuat.


Dalam persidangan, Untung harus mempertanggungjawabkan keterlibatannya dalam gerakan yang menyebabkan penculikan dan kematian sejumlah perwira Angkatan Darat. 


Peristiwa itu tidak hanya menghancurkan karier militernya, tetapi juga mengubah arah sejarah Indonesia. 


G30S kemudian diikuti oleh penangkapan besar-besaran terhadap orang-orang yang dituduh terlibat atau berhubungan dengan gerakan tersebut, disertai perubahan politik yang membawa Soeharto ke pusat kekuasaan.


Pada 6 Maret 1966, Mahmilub menjatuhkan hukuman mati kepada Untung. Vonis itu menutup perjalanan seorang perwira yang pernah meniti karier militer hingga dipercaya memegang jabatan di pasukan pengawal presiden. 


Dalam waktu singkat, ia berubah dari seorang perwira yang memiliki kedudukan penting menjadi terdakwa dalam salah satu perkara paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern.


Kisah pelarian Untung dari Jakarta hingga penangkapannya di Tegal memperlihatkan betapa cepat keadaan dapat berubah setelah gagalnya G30S. 


Ia yang sebelumnya berada di lingkaran pengamanan Presiden Soekarno akhirnya menjadi buronan, bersembunyi, dan ditangkap ketika berusaha menyelamatkan diri. 


Sementara itu, proses hukum terhadapnya berlangsung di tengah pergolakan politik yang mengubah nasib militer, pemerintahan, dan masyarakat Indonesia selama bertahun-tahun sesudahnya.


#Kisah #Sejarah #Viral


Sumber : Bang Fit

09 October 2026

Tahun 1945, belum lagi putranya lengkap berumur 1 tahun, Bung Karno dan Ibu Fatmawati sedang santai duduk di tangga rumah Proklamasi . Mereka belum berniat untuk pindah ke Yogya, semua itu baru terjadi di awal tahun 1946 ? Tapi ruang depan rumah tampak bersih terawat penuh asri dengan korsi rotan yang tertata rapi dengan taplak meja dari kain putih berenda, tanaman hias sekitar beranda muka yang di pakai untuk acara Proklamasi. Sesungguhnya ini keluarga yang penuh kebahagiaan di rumah Presiden ?

 Tahun 1945, belum lagi putranya lengkap berumur 1 tahun, Bung Karno dan Ibu Fatmawati sedang santai duduk di tangga rumah Proklamasi . Mereka belum berniat untuk pindah ke Yogya, semua itu baru terjadi di awal tahun 1946 ? Tapi ruang depan rumah tampak bersih terawat penuh asri dengan korsi rotan yang tertata rapi dengan taplak meja dari kain putih berenda, tanaman hias sekitar beranda muka yang di pakai untuk acara Proklamasi. Sesungguhnya ini keluarga yang penuh kebahagiaan di rumah Presiden ?




Sumber : Hoesein Roeshdy

Tahun 1934, Belanda menyadari satu hal yang fatal: Memenjarakan fisik Soekarno tak akan mematikan idenya. Maka mereka menggunakan taktik yang jauh lebih kejam. Membunuh karakternya dengan kesepian yang absolut. Sang Singa Podium itu dibuang jauh ke Ende, Flores. Sebuah kota nelayan terpencil yang sangat sunyi, guna memutus total urat nadi pergerakannya. Di Ende, Soekarno tidak dikurung di balik bui. la bebas berjalan ke mana saja ia mau. Namun, itulah bentuk siksaan psikologis yang paling sadis. Sebagai pemimpin yang hidup dari energi ribuan massa, Soekarno tiba-tiba diisolasi dan tak punya panggung. Penduduk lokal dilarang keras berbicara dengannya. la sengaja dikucilkan di negerinya sendiri. Taktik psikologis Belanda nyaris berhasil sempurna. Fase ini adalah masa tergelap dalam hidup Soekarno. Sang Proklamator hancur lebur secara mental dan fisik. la terserang malaria parah yang menggerogoti tubuhnya. Dalam surat-suratnya, ia menuliskan rasa putus asa. la merasa pergerakannya telah mati dan sia-sia. Seolah sejarah telah membuang namanya untuk selamanya. Di tengah kesepian yang nyaris membunuh kewarasannya, hanya kehadiran istrinya, Inggit Garnasih, yang menjadi jangkar. Untuk mengalihkan depresi dan pikirannya yang kusut, Soekarno melarikan diri dari realita. la mulai melukis, menulis naskah tonil (sandiwara), dan menghabiskan waktu berjam-jam menatap lautan, berusaha menjaga agar kepalanya tidak benar-benar gila. Hingga pada suatu hari, sejarah membalikkan keadaan. Di tengah rasa frustrasi dan pengasingan batinnya, Soekarno sering duduk termenung di bawah pohon sukun. Menghadap ke arah Teluk Ende yang luas, pikirannya perlahan menembus batas-batas keputusasaan. la mulai menggali kembali nilai-nilai leluhur Nusantara, meracik sebuah formula mematikan untuk melawan penjajah. Dari titik nadir paling rendah seorang manusia, justru lahir sebuah gagasan yang paling megah. Di bawah pohon sukun itulah, Soekarno merumuskan 5 butir mutiara yang kelak menyatukan ribuan pulau. Ideologi raksasa yang kita kenal hari ini sebagai Pancasila. Sebuah pondasi kuat yang dirancang matang-matang bukan di istana mewah, melainkan di tanah buangan. Sejarah mencatat blunder terbesar pemerintah kolonial. Belanda membuang Soekarno ke Ende untuk mematahkan jiwanya, berharap sang tokoh pergerakan itu mati membusuk dan dilupakan. Namun ironisnya, pengasingan itu justru memberinya waktu untuk merenung dan menciptakan pondasi bagi negara Indonesia. Sang Singa memang sempat dibungkam di ujung dunia, tapi ia kembali membawa senjata yang menghancurkan penjajahnya. #history #FaktaSejarah

 Tahun 1934, Belanda menyadari satu hal yang fatal:

Memenjarakan fisik Soekarno tak akan mematikan idenya. Maka mereka menggunakan taktik yang jauh lebih kejam.

Membunuh karakternya dengan kesepian yang absolut.

Sang Singa Podium itu dibuang jauh ke Ende, Flores. Sebuah kota nelayan terpencil

yang sangat sunyi, guna memutus total

urat nadi pergerakannya.



Di Ende, Soekarno tidak dikurung di balik bui.

la bebas berjalan ke mana saja ia mau.

Namun, itulah bentuk siksaan psikologis yang paling sadis. Sebagai pemimpin yang hidup

dari energi ribuan massa, Soekarno tiba-tiba diisolasi dan tak punya panggung.

Penduduk lokal dilarang keras berbicara dengannya. la sengaja dikucilkan di negerinya sendiri.


Taktik psikologis Belanda nyaris berhasil sempurna. Fase ini adalah masa tergelap

dalam hidup Soekarno. Sang Proklamator hancur lebur secara mental dan fisik.

la terserang malaria parah yang menggerogoti tubuhnya. Dalam surat-suratnya, ia menuliskan rasa putus asa. la merasa pergerakannya telah mati dan sia-sia.

Seolah sejarah telah membuang namanya

untuk selamanya.


Di tengah kesepian yang nyaris membunuh kewarasannya, hanya kehadiran istrinya,

Inggit Garnasih, yang menjadi jangkar.

Untuk mengalihkan depresi dan pikirannya yang kusut, Soekarno melarikan diri dari realita. la mulai melukis, menulis naskah tonil (sandiwara), dan menghabiskan waktu

berjam-jam menatap lautan, berusaha menjaga agar kepalanya tidak benar-benar gila.


Hingga pada suatu hari, sejarah membalikkan keadaan. Di tengah rasa frustrasi dan pengasingan batinnya, Soekarno sering duduk termenung di bawah pohon sukun.

Menghadap ke arah Teluk Ende yang luas,

pikirannya perlahan menembus batas-batas

keputusasaan. la mulai menggali kembali

nilai-nilai leluhur Nusantara, meracik sebuah formula mematikan untuk melawan penjajah.


Dari titik nadir paling rendah seorang manusia, justru lahir sebuah gagasan

yang paling megah. Di bawah pohon sukun itulah, Soekarno merumuskan 5 butir mutiara

yang kelak menyatukan ribuan pulau.

Ideologi raksasa yang kita kenal hari ini

sebagai Pancasila. Sebuah pondasi kuat

yang dirancang matang-matang bukan di istana mewah, melainkan di tanah buangan.


Sejarah mencatat blunder terbesar pemerintah kolonial. Belanda membuang Soekarno ke Ende untuk mematahkan jiwanya, berharap sang tokoh pergerakan itu

mati membusuk dan dilupakan.

Namun ironisnya, pengasingan itu justru

memberinya waktu untuk merenung

dan menciptakan pondasi bagi negara Indonesia. Sang Singa memang sempat

dibungkam di ujung dunia,

tapi ia kembali membawa senjata

yang menghancurkan penjajahnya.


#history #FaktaSejarah


Sumber : Dwi Aji Wijaya

Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti Nama Letnan Komaruddin sangat dikenal dalam sejarah ketentaraan Indonesia. Bahkan dimasukkan sebagai salah satu karakter di film Janur Kuning. Saat Serangan Umum 1 Maret 1949, ia pernah membuat kesalahan fatal, tetapi justru berhasil mengecoh Belanda. Ia juga dikenal memiliki kesaktian, yang sulit diterima logika. Beberapa prajurit menyaksikan sendiri bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Komaruddin. Kebal terhadap senjatab apapun termasuk peluru. Saat ia dan prajurit lainnya dikepung Belanda lengkap dengan senjatanya, secara tiba-tiba mereka bisa menghilang seolah tak terlihat. Padahal bila dinalar, mereka tidak mungkin bisa kabur begitu saja. Letnan Komaruddin : Opsir Kebal Peluru Bagi generasi 90-an, tentu akrab dengan sejumlah film bertema perjuangan. Salah satunya yang cukup terkenal adalah film Janur Kuning yang konon film wajib ditonton di sejumlah sekolah pada era 1980-an. Penulis buku seri sejarah, Hendi Jo seperti dikutip darinya buku Orang-Orang di Garis Depan', terbitan Matapadi Presindo, Cetakan ke dua 2019 halaman 66 menulis, dalam film Janur Kuning ada tokoh "pejuang selon" yang diperankan oleh aktor Amak Baldjun. Digambarkan dalam film tersebut, saat adegan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta tanpa mengenal memburu serdadu-serdadu Belanda yang melakukan gerakan mundur seraya menembakkan senjata-senjata mereka ke arah gelirlyawan TNI berbaret hitam. Masih dari kutipan buku yang sama, dalam sejarah Perang Kemerdekaan di Yogyakarta, sejatinya tokoh ini memang benar-benar ada. Namanya Letnan Komaruddin. Jabatannya waktu itu komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto). Di kalangan anak buahnya, mantan prajurit PETA di Kalasan ini terkenal sebagai anti kogel/tahan peluru. Bahkan saking saktinya, kekebalan Komaruddis akan peluru konon bisa melindungi orang sekitarnya dalam radius 10 meter dari dirinya. Rupanya "kesaktian" Letnan TNI Komaruddin tidak muncull begitu saja. Sebagai pejuang pemberani, ia disebut- sebut masih memiliki hubungan darah dengan Kyai Abdur Rahman (sebagai cicit) yang dikenal sebagai Mbah Tanjung. Mba Tanjung, salah seorang ulama terkemuka yang hidup di Ploso Kuning Minomartani, Sleman pada era kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792). Ia pun diyakini merupakan keturunan langsung Bantengwareng, salah seorang panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro. Karena keturunan orang-orang sakti itulah, banyak dipercaya anggota pasukanya, ia kebal terhadap senjata apapun. Begitu populernya nama Komaruddin hingga di wilayah Sleman, ada sebuah masjid yang disemati namanya: Masjid Al Komaruddin. Sebelum bergabung dengan Soeharto, usai dari PETA, Komaruddin memang pernah bergabung dengan Lasykar Hizboellah setempat. Banyak kawan-kawannya mengenal Komaruddin sebagai sosok yang jenaka, selon, pemberani namun sedikit agak sentimentil jika disentuh sisi-sisi kemanusiannya. Salah satu contoh, saat Panglima Besar Soedirman (dalam suatu pemeriksaan pasukan usai turun gunung) menasehati, mengkritik sekaligus memuji serangan 'salah lihat kalender"nya pada 28 Februari 1949, ia langsung terisak-isak menangis sambil terbata-bata berujar: "Siap Panglima! Saya tak akan mengulanginya!" Peleton yang dipimpin Letnan Komaruddin memang dikenal sangat berani dan sering mengacak-acak pertahanan militer Belanda di dalam kota Yogyakarta. Begitu disegani namanya hingga pihak intelijen militer Belanda (NEFIS) pernah menjadikannya buronan. Menurut sejarawan militer Moehkardi, konon penyerangan militer Belanda ke dukuh Plataran pada 24 Februari 1949 ( yang menimbulkan korban tewas beberapa kadet Akademi Militer Yogyakarta) adalah salah satunya dalam rangka mencari dirinya, yang memang saat itu ia sedang berada di dekat dukuh tersebut. Lantas bagaimana nasib Komaruddin seusai Memang jarang sumber-sumber sejarah yang memberitakan keberadaannya pasca penyerahan kedaulatan. Kecuali satu sumber dalam buku 'Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi' Yogya oleh Daud Sinjal. Di situ dituliskan tentang, tuduhan sebagian kalangan militer kala itu yang menyebut dia terlibat dalam gerakan DI/TII. Menurut Priyanto (59), sangkaan itu muncul kala komp Komaruddin (saat itu berpangkat kapten) pada tahun 1950-an, dikirim ke Malangbong, Garut untuk menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI TII) pimpinan Sekar Maridjan Kartosoewirjo. Alih-alih berperang, di Garut Kompi Komaruddin malah kerap ngopi bareng" dengan pasukan DI/TII. Rupanya Komaruddin merasa jengah berperang dengan para gerilyawan yang sebagian merupakan rekannya saat aktif di Hizboellah. Malah di antaranya ada juga yang pernah satu perguruan dengannya saat belajar agama dan kanuragaan. "Akibatnya Mbah Komar dan pasukannya ditarik kembali ke Yogya dan sesampainya di markasnya langsung dipere TII secara massal" ujar lelaki yang masih termasuk cucu dani Komaruddin tersebut. Dalam bukunya, Daud Sinjal menuliskan ternyata setelah diselidiki tuduhan itu sama sekali tidak benar. Nama Komaruddin kemudian direhabilitasi dan ia aktif kembai di ketentaraan. Namun sepertinya upaya rehabilitas tak otomatis membuat karir ketentaraannya menanjak. Dikisahkan beberapa saat setelah ia mendapat rehabilitasi dan ia aktif kembali di ketentaraan secara resmi. Usai tidak aktif di ketentaraan, pada 1960-an, Komaruddin memilih dunia jalanan sebagai jalur hidupnya. Di Yogyakarta, namanya terkenal sekaligus disegani sebagai "preman berhati "Tempat tongkrongan favoritnya di samping pabrik susu SGM," ujar Amiruudin, putra kedua dari Komaruddin. Sekitar tahun 1969, Komaruddin secara misterius tiba-tiba menghilang dari Yogyakarta. Soetojo alias Boyo (buaya), seperjuangannya waktu melawan Belanda, lantas mencarinya hingga ke Jakarta setahun kemudian. Di ibukota Boyo menemukan Komaruddin di wilayah Cempaka Putih. Ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah-tengah rawa (tanah milik Kodam V Jaya?) Ia menghidupi kesehariannya dengan bekerja sebagai seorang preman yang ditakuti di wilayah Pasar Senen. Baik teman Amiruddin menduga keberadaan Komaruddin di Jakarta atas sepengetahuan Presiden Soeharto, yang merupakan mantan komandannya di Yogyakarta. "Buktinya, saat tinggal di rawa terletak di Cempaka Putih itu, tiap bulan secara rutin yang ia kerap mendapatkan jatah beras bagian untuk tentara..." ujar lelaki kelahiran Yogyakarta pada 1962 tersebut. Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti

 Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti

Nama Letnan Komaruddin sangat dikenal dalam sejarah ketentaraan Indonesia.



Bahkan dimasukkan sebagai salah satu karakter di film Janur Kuning.


Saat Serangan Umum 1 Maret 1949, ia pernah membuat kesalahan fatal, tetapi justru berhasil mengecoh Belanda.


Ia juga dikenal memiliki kesaktian, yang sulit diterima logika. Beberapa prajurit menyaksikan sendiri bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Komaruddin. Kebal terhadap senjatab apapun termasuk peluru.


Saat ia dan prajurit lainnya dikepung Belanda lengkap dengan senjatanya, secara tiba-tiba mereka bisa menghilang seolah tak terlihat.


Padahal bila dinalar, mereka tidak mungkin bisa kabur begitu saja.


Letnan Komaruddin : Opsir Kebal Peluru


Bagi generasi 90-an, tentu akrab dengan sejumlah film bertema perjuangan.


Salah satunya yang cukup terkenal adalah film Janur Kuning yang konon film wajib ditonton di sejumlah sekolah pada era 1980-an.


Penulis buku seri sejarah, Hendi Jo seperti dikutip darinya buku Orang-Orang di Garis Depan', terbitan Matapadi Presindo, Cetakan ke dua 2019 halaman 66 menulis, dalam film Janur Kuning ada tokoh "pejuang selon" yang diperankan oleh aktor Amak Baldjun.


Digambarkan dalam film tersebut, saat adegan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta tanpa mengenal memburu serdadu-serdadu Belanda yang melakukan gerakan mundur seraya menembakkan senjata-senjata mereka ke arah gelirlyawan TNI berbaret hitam.


Masih dari kutipan buku yang sama, dalam sejarah Perang Kemerdekaan di Yogyakarta, sejatinya tokoh ini memang benar-benar ada.


Namanya Letnan Komaruddin. Jabatannya waktu itu komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto).


Di kalangan anak buahnya, mantan prajurit PETA di Kalasan ini terkenal sebagai anti kogel/tahan peluru.


Bahkan saking saktinya, kekebalan Komaruddis akan peluru konon bisa melindungi orang sekitarnya dalam radius 10 meter dari dirinya.


Rupanya "kesaktian" Letnan TNI Komaruddin tidak muncull begitu saja.


Sebagai pejuang pemberani, ia disebut- sebut masih memiliki hubungan darah dengan Kyai Abdur Rahman (sebagai cicit) yang dikenal sebagai Mbah Tanjung.


Mba Tanjung, salah seorang ulama terkemuka yang hidup di Ploso Kuning Minomartani, Sleman pada era kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792).


Ia pun diyakini merupakan keturunan langsung Bantengwareng, salah seorang panglima perang pasukan Pangeran Diponegoro.


Karena keturunan orang-orang sakti itulah, banyak dipercaya anggota pasukanya, ia kebal terhadap senjata apapun.


Begitu populernya nama Komaruddin hingga di wilayah Sleman, ada sebuah masjid yang disemati namanya: Masjid Al Komaruddin.


Sebelum bergabung dengan Soeharto, usai dari PETA, Komaruddin memang pernah bergabung dengan Lasykar Hizboellah setempat.


Banyak kawan-kawannya mengenal Komaruddin sebagai sosok yang jenaka, selon, pemberani namun sedikit agak sentimentil jika disentuh sisi-sisi kemanusiannya.


Salah satu contoh, saat Panglima Besar Soedirman (dalam suatu pemeriksaan pasukan usai turun gunung) menasehati, mengkritik sekaligus memuji serangan 'salah lihat kalender"nya pada 28 Februari 1949, ia langsung terisak-isak menangis sambil terbata-bata berujar: "Siap Panglima! Saya tak akan mengulanginya!"


Peleton yang dipimpin Letnan Komaruddin memang dikenal sangat berani dan sering mengacak-acak pertahanan militer Belanda di dalam kota Yogyakarta.


Begitu disegani namanya hingga pihak intelijen militer Belanda (NEFIS) pernah menjadikannya buronan.


Menurut sejarawan militer Moehkardi, konon penyerangan militer Belanda ke dukuh Plataran pada 24 Februari 1949 ( yang menimbulkan korban tewas beberapa kadet Akademi Militer Yogyakarta) adalah salah satunya dalam rangka mencari dirinya, yang memang saat itu ia sedang berada di dekat dukuh tersebut.


Lantas bagaimana nasib Komaruddin seusai Memang jarang sumber-sumber sejarah yang memberitakan keberadaannya pasca penyerahan kedaulatan.


Kecuali  satu sumber dalam buku 'Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi' Yogya oleh Daud Sinjal.


Di situ dituliskan tentang, tuduhan sebagian kalangan militer kala itu yang menyebut dia terlibat dalam gerakan DI/TII.


Menurut Priyanto (59), sangkaan itu muncul kala komp Komaruddin (saat itu berpangkat kapten) pada tahun 1950-an, dikirim ke Malangbong, Garut untuk menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI TII) pimpinan Sekar Maridjan Kartosoewirjo.


Alih-alih berperang, di Garut Kompi Komaruddin malah kerap ngopi bareng" dengan pasukan DI/TII.


Rupanya Komaruddin merasa jengah berperang dengan para gerilyawan yang sebagian merupakan rekannya saat aktif di Hizboellah.


Malah di antaranya ada juga yang pernah satu perguruan dengannya saat belajar agama dan kanuragaan.


"Akibatnya Mbah Komar dan pasukannya ditarik kembali ke Yogya dan sesampainya di markasnya langsung dipere TII secara massal" ujar lelaki yang masih termasuk cucu dani Komaruddin tersebut.


Dalam bukunya, Daud Sinjal menuliskan ternyata setelah diselidiki tuduhan itu sama sekali tidak benar.


Nama Komaruddin kemudian direhabilitasi dan ia aktif kembai di ketentaraan. Namun sepertinya upaya rehabilitas  tak otomatis membuat karir ketentaraannya menanjak.


Dikisahkan beberapa saat setelah ia mendapat rehabilitasi dan ia aktif kembali di ketentaraan secara resmi.


Usai tidak aktif di ketentaraan, pada 1960-an, Komaruddin memilih dunia jalanan sebagai jalur hidupnya.


Di Yogyakarta, namanya terkenal sekaligus disegani sebagai "preman berhati "Tempat tongkrongan favoritnya di samping pabrik susu SGM," ujar Amiruudin, putra kedua dari Komaruddin.


Sekitar tahun 1969, Komaruddin secara misterius tiba-tiba menghilang dari Yogyakarta. Soetojo alias Boyo (buaya), seperjuangannya waktu melawan Belanda, lantas mencarinya hingga ke Jakarta setahun kemudian.


Di ibukota Boyo menemukan Komaruddin di wilayah Cempaka Putih.


Ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang terletak di tengah-tengah rawa (tanah milik Kodam V Jaya?)


Ia menghidupi kesehariannya dengan bekerja sebagai seorang preman yang ditakuti di wilayah Pasar Senen.


Baik teman Amiruddin menduga keberadaan Komaruddin di Jakarta atas sepengetahuan Presiden Soeharto, yang merupakan mantan komandannya di Yogyakarta.


"Buktinya, saat tinggal di rawa terletak di Cempaka Putih itu, tiap bulan secara rutin yang ia kerap mendapatkan jatah beras bagian untuk tentara..." ujar lelaki kelahiran Yogyakarta pada 1962 tersebut.

Berhenti jadi Tentara, Kolonel Sakti Kebal Senjata Ini Pilih Jadi Preman Pasar Paling Ditakuti


Sumber : Derry Ali


Malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, enam jenderal TNI AD dan seorang perwira diculik dan dibunuh oleh sekelompok pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September, lalu jasad mereka dibuang ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan cepat dituding sebagai dalang di balik peristiwa ini, meski keterlibatan penuh partai secara resmi hingga kini masih diperdebatkan sejarawan. Yang terjadi setelahnya bergerak sangat cepat dan sistematis. Dalam hitungan hari, media massa yang dikuasai militer mulai menyebarkan narasi tentang kekejaman PKI, termasuk klaim penyiksaan terhadap para jenderal yang kemudian terbukti dibesar-besarkan. Propaganda ini menyulut kemarahan publik dan membuka jalan bagi operasi pembersihan berskala nasional. Operasi ini tidak dilakukan sendirian oleh militer. Angkatan Darat, di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto, menggandeng dan mempersenjatai kelompok-kelompok sipil dan organisasi pemuda keagamaan di berbagai daerah untuk membantu mengidentifikasi dan mengeksekusi siapa pun yang dicurigai berafiliasi dengan PKI. Di banyak daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan Bali, penangkapan dilakukan berdasarkan daftar nama yang disusun aparat desa atau laporan tetangga, sering kali tanpa verifikasi apa pun bahwa orang tersebut benar-benar anggota partai. Metode pembantaian bervariasi antar daerah, namun polanya serupa, korban ditangkap malam hari, dibawa ke lokasi terpencil, lalu dieksekusi secara massal. Banyak jasad dibuang ke sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo hingga membuat aliran sungai dipenuhi mayat selama berminggu-minggu, sementara lainnya dikuburkan di kuburan massal yang lokasinya baru mulai terungkap dan diteliti puluhan tahun kemudian oleh peneliti dan lembaga HAM. Operasi ini berlangsung dari Oktober 1965 hingga sekitar Maret 1966, bertepatan dengan periode ketika Soeharto secara bertahap mengambil alih kendali kekuasaan dari Presiden Sukarno lewat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang menjadi titik awal berdirinya rezim Orde Baru selama lebih dari tiga dekade berikutnya.

 Malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965, enam jenderal TNI AD dan seorang perwira diculik dan dibunuh oleh sekelompok pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September, lalu jasad mereka dibuang ke sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan cepat dituding sebagai dalang di balik peristiwa ini, meski keterlibatan penuh partai secara resmi hingga kini masih diperdebatkan sejarawan.

Yang terjadi setelahnya bergerak sangat cepat dan sistematis.




Dalam hitungan hari, media massa yang dikuasai militer mulai menyebarkan narasi tentang kekejaman PKI, termasuk klaim penyiksaan terhadap para jenderal yang kemudian terbukti dibesar-besarkan. Propaganda ini menyulut kemarahan publik dan membuka jalan bagi operasi pembersihan berskala nasional.

Operasi ini tidak dilakukan sendirian oleh militer. Angkatan Darat, di bawah komando Mayor Jenderal Soeharto, menggandeng dan mempersenjatai kelompok-kelompok sipil dan organisasi pemuda keagamaan di berbagai daerah untuk membantu mengidentifikasi dan mengeksekusi siapa pun yang dicurigai berafiliasi dengan PKI. Di banyak daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera dan Bali, penangkapan dilakukan berdasarkan daftar nama yang disusun aparat desa atau laporan tetangga, sering kali tanpa verifikasi apa pun bahwa orang tersebut benar-benar anggota partai.


Metode pembantaian bervariasi antar daerah, namun polanya serupa, korban ditangkap malam hari, dibawa ke lokasi terpencil, lalu dieksekusi secara massal. Banyak jasad dibuang ke sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo hingga membuat aliran sungai dipenuhi mayat selama berminggu-minggu, sementara lainnya dikuburkan di kuburan massal yang lokasinya baru mulai terungkap dan diteliti puluhan tahun kemudian oleh peneliti dan lembaga HAM.

Operasi ini berlangsung dari Oktober 1965 hingga sekitar Maret 1966, bertepatan dengan periode ketika Soeharto secara bertahap mengambil alih kendali kekuasaan dari Presiden Sukarno lewat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), yang menjadi titik awal berdirinya rezim Orde Baru selama lebih dari tiga dekade berikutnya.


Sumber : Widi Astuti

Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan! India ternyata tidak selalu menjadi negara Hindu! Banyak anak muda kita hari ini mengira bahwa India telah menjadi negara Hindu sejak zaman dahulu, tanpa menyadari bahwa negeri ini pernah berada di bawah naungan kekuasaan Islam selama hampir 800 tahun. Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan! Inggris mulai mencengkeramkan kukunya di India di bawah kedok korporasi bernama Perusahaan Hindia Timur Inggris (British East India Company). Seiring menguatnya pengaruh mereka, Inggris mulai memerangi Islam dan secara perlahan melucuti kekuasaan umat Islam. Pada tahun 1857, para ulama Muslim menggelar pertemuan penting di Masjid Jami, Delhi, lalu mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan penjajahan Inggris—sebuah fatwa yang ditandatangani oleh para ulama terkemuka di India. Pemberontakan besar-besaran pun pecah, melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Para pemberontak sepakat memilih Muhammad Bahadur sebagai pemimpin mereka, meskipun usianya sudah senja. Namun, Inggris—dengan memanfaatkan perpecahan dan dukungan dari kelompok Sikh serta pihak lainnya—menumpas pergerakan tersebut dengan sangat kejam: • Membu*nuh para ulama dan mengek*sekusi para pemberontak. • Menangkap Sultan Muhammad Bahadur. • Meme*nggal ke*pala putra-putranya tepat di hadapannya sebelum membuangnya ke pengasingan di Burma. Sultan wafat dalam pengasingan di usia 89 tahun pada tahun 1862. Peristiwa kelam ini sekaligus mengakhiri babak kekuasaan Islam di India, yang fondasinya telah diletakkan sejak penaklukan Mahmud al-Ghaznawi pada tahun 1001 M. Meski kekuasaan telah usai, umat Islam meninggalkan warisan peradaban agung yang jejak megahnya masih berdiri kokoh hingga hari ini. Sejarah kolonialisme Inggris sarat dengan tipu daya dan penderitaan bagi umat Islam—dari India hingga Plstina, dari Afrika hingga Timur Tengah. Dan sejarah itu perlahan akan tenggelam jika kita memilih untuk diam. Ya. Pernah ada kekuasaan politik Muslim yang sangat luas di anak benua India, tetapi itu tidak berarti seluruh penduduk India otomatis menjadi Muslim. Ada beberapa alasan historis yang penting: 1. “Islam pernah berkuasa” ≠ “mayoritas penduduk masuk Islam” Dinasti dan kerajaan Muslim seperti Kesultanan Delhi dan kemudian Kekaisaran Mughal menguasai wilayah yang luas pada periode berbeda. Namun, mereka memerintah masyarakat yang sejak awal sangat besar dan beragam, termasuk komunitas Hindu, Buddha, Jain, Sikh, dan lainnya. Kekuasaan politik dan perubahan agama adalah dua proses yang berbeda. 2. Penduduk Hindu sudah sangat besar Tradisi keagamaan yang kemudian dikategorikan sebagai Hindu telah berkembang di India selama berabad-abad sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Muslim. Jadi, ketika penguasa Muslim datang, mereka tidak memasuki wilayah yang kosong secara demografis, melainkan wilayah dengan populasi non-Muslim yang sangat besar. 3. Penyebaran Islam tidak hanya bergantung pada penguasa Islam di India juga berkembang melalui perdagangan, ulama, jaringan sufi, komunitas Muslim lokal, dan proses sosial selama berabad-abad. Konversi terjadi di berbagai daerah, tetapi tidak dalam skala yang mengubah seluruh anak benua menjadi Muslim. Karena itu, anggapan bahwa “kalau penguasanya Muslim, rakyat pasti dipaksa masuk Islam” terlalu menyederhanakan sejarah. Bukti demografis menunjukkan bahwa perpindahan agama secara keseluruhan merupakan proses yang kompleks. 4. Kekuasaan Muslim juga tidak berlangsung sebagai satu pemerintahan tunggal Istilah “Islam berkuasa di India” perlu hati-hati. Ada banyak kerajaan dan dinasti yang berbeda, dengan wilayah, kebijakan, dan masa pemerintahan yang berbeda. Bahkan pada masa Mughal, kekuasaan mereka tidak selalu mencakup seluruh wilayah yang sekarang disebut India. 5. Setelah berakhirnya pemerintahan Muslim, komposisi penduduk tetap berubah secara bertahap Pada sensus India 2011, sekitar 79,8% penduduk India beragama Hindu dan 14,2% Muslim. Pew Research Center juga menemukan bahwa perpindahan agama di India modern relatif kecil; sekitar 98% orang dewasa masih menganut agama tempat mereka dibesarkan. Menariknya, pada 1951–2011 proporsi Muslim memang meningkat dari 9,8% menjadi 14,2%, sementara proporsi Hindu turun dari 84,1% menjadi 79,8%. Jadi Islam tetap berkembang secara demografis meskipun India secara keseluruhan tetap mayoritas Hindu. Kesimpulannya India tetap mayoritas Hindu bukan karena Islam tidak pernah berkuasa, tetapi karena kekuasaan politik tidak otomatis menghasilkan perubahan agama secara massal. India memiliki populasi Hindu yang sangat besar sejak sebelum periode kerajaan Muslim, sementara Islam menyebar melalui berbagai jalur sosial dan menghasilkan komunitas Muslim yang sangat besar tanpa menjadi mayoritas di seluruh India. Bahkan pada 2011, sekitar 94% umat Hindu dunia tinggal di India, sementara India juga memiliki salah satu populasi Muslim terbesar di dunia.

 Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan!



India ternyata tidak selalu menjadi negara Hindu! Banyak anak muda kita hari ini mengira bahwa India telah menjadi negara Hindu sejak zaman dahulu, tanpa menyadari bahwa negeri ini pernah berada di bawah naungan kekuasaan Islam selama hampir 800 tahun.


Dalam foto terlampir tampak Muhammad Bahadur Shah II, sultan Muslim terakhir di India... Ya, itu adalah foto asli, bukan lukisan!


Inggris mulai mencengkeramkan kukunya di India di bawah kedok korporasi bernama Perusahaan Hindia Timur Inggris (British East India Company). Seiring menguatnya pengaruh mereka, Inggris mulai memerangi Islam dan secara perlahan melucuti kekuasaan umat Islam.


Pada tahun 1857, para ulama Muslim menggelar pertemuan penting di Masjid Jami, Delhi, lalu mengeluarkan fatwa jihad untuk melawan penjajahan Inggris—sebuah fatwa yang ditandatangani oleh para ulama terkemuka di India.


Pemberontakan besar-besaran pun pecah, melibatkan berbagai elemen masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim. Para pemberontak sepakat memilih Muhammad Bahadur sebagai pemimpin mereka, meskipun usianya sudah senja.


Namun, Inggris—dengan memanfaatkan perpecahan dan dukungan dari kelompok Sikh serta pihak lainnya—menumpas pergerakan tersebut dengan sangat kejam:


• Membu*nuh para ulama dan mengek*sekusi para pemberontak.


• Menangkap Sultan Muhammad Bahadur.


• Meme*nggal ke*pala putra-putranya tepat di hadapannya sebelum membuangnya ke pengasingan di Burma.


Sultan wafat dalam pengasingan di usia 89 tahun pada tahun 1862.


Peristiwa kelam ini sekaligus mengakhiri babak kekuasaan Islam di India, yang fondasinya telah diletakkan sejak penaklukan Mahmud al-Ghaznawi pada tahun 1001 M. Meski kekuasaan telah usai, umat Islam meninggalkan warisan peradaban agung yang jejak megahnya masih berdiri kokoh hingga hari ini.


Sejarah kolonialisme Inggris sarat dengan tipu daya dan penderitaan bagi umat Islam—dari India hingga Plstina, dari Afrika hingga Timur Tengah. Dan sejarah itu perlahan akan tenggelam jika kita memilih untuk diam.


Ya. Pernah ada kekuasaan politik Muslim yang sangat luas di anak benua India, tetapi itu tidak berarti seluruh penduduk India otomatis menjadi Muslim. Ada beberapa alasan historis yang penting:

1. “Islam pernah berkuasa” ≠ “mayoritas penduduk masuk Islam”

Dinasti dan kerajaan Muslim seperti Kesultanan Delhi dan kemudian Kekaisaran Mughal menguasai wilayah yang luas pada periode berbeda. Namun, mereka memerintah masyarakat yang sejak awal sangat besar dan beragam, termasuk komunitas Hindu, Buddha, Jain, Sikh, dan lainnya.

Kekuasaan politik dan perubahan agama adalah dua proses yang berbeda.

2. Penduduk Hindu sudah sangat besar

Tradisi keagamaan yang kemudian dikategorikan sebagai Hindu telah berkembang di India selama berabad-abad sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Muslim. Jadi, ketika penguasa Muslim datang, mereka tidak memasuki wilayah yang kosong secara demografis, melainkan wilayah dengan populasi non-Muslim yang sangat besar.

3. Penyebaran Islam tidak hanya bergantung pada penguasa

Islam di India juga berkembang melalui perdagangan, ulama, jaringan sufi, komunitas Muslim lokal, dan proses sosial selama berabad-abad. Konversi terjadi di berbagai daerah, tetapi tidak dalam skala yang mengubah seluruh anak benua menjadi Muslim.

Karena itu, anggapan bahwa “kalau penguasanya Muslim, rakyat pasti dipaksa masuk Islam” terlalu menyederhanakan sejarah. Bukti demografis menunjukkan bahwa perpindahan agama secara keseluruhan merupakan proses yang kompleks.

4. Kekuasaan Muslim juga tidak berlangsung sebagai satu pemerintahan tunggal

Istilah “Islam berkuasa di India” perlu hati-hati. Ada banyak kerajaan dan dinasti yang berbeda, dengan wilayah, kebijakan, dan masa pemerintahan yang berbeda. Bahkan pada masa Mughal, kekuasaan mereka tidak selalu mencakup seluruh wilayah yang sekarang disebut India.

5. Setelah berakhirnya pemerintahan Muslim, komposisi penduduk tetap berubah secara bertahap

Pada sensus India 2011, sekitar 79,8% penduduk India beragama Hindu dan 14,2% Muslim. Pew Research Center juga menemukan bahwa perpindahan agama di India modern relatif kecil; sekitar 98% orang dewasa masih menganut agama tempat mereka dibesarkan. 


Menariknya, pada 1951–2011 proporsi Muslim memang meningkat dari 9,8% menjadi 14,2%, sementara proporsi Hindu turun dari 84,1% menjadi 79,8%. Jadi Islam tetap berkembang secara demografis meskipun India secara keseluruhan tetap mayoritas Hindu. 


Kesimpulannya

India tetap mayoritas Hindu bukan karena Islam tidak pernah berkuasa, tetapi karena kekuasaan politik tidak otomatis menghasilkan perubahan agama secara massal. India memiliki populasi Hindu yang sangat besar sejak sebelum periode kerajaan Muslim, sementara Islam menyebar melalui berbagai jalur sosial dan menghasilkan komunitas Muslim yang sangat besar tanpa menjadi mayoritas di seluruh India.

Bahkan pada 2011, sekitar 94% umat Hindu dunia tinggal di India, sementara India juga memiliki salah satu populasi Muslim terbesar di dunia.

Pada 5 Oktober 1965, peringatan ke-20 Hari Angkatan Bersenj4t4 Republik Indonesia berlangsung dalam suasana duka. Pada hari itu, tujuh korban yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, setelah jenazah mereka ditemukan dan dievakuasi dari Lubang Buaya pada 4 Oktober. Ketujuhnya adalah Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Tendean. A.H. Nasution hadir dalam upacara tersebut dalam keadaan masih terluka setelah berhasil lolos dari upaya pencvlikan pada 1 Oktober. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa hari yang biasanya menjadi peringatan penting bagi Angkatan Bersenj4t4 itu kali ini berlangsung dalam suasana yang berbeda. Nasution kemudian menyebut nama satu per satu rekan yang telah meningg4l dan mengatakan bahwa mereka yang masih hidup memiliki kewajiban untuk meneruskan tugas yang ditinggalkan. Pidato itu disampaikan sebagai penghormatan terakhir sebelum jen4z4h dimakamkan. Salah satu bagian pidatonya yang paling sering dikenang adalah ketika Nasution mengatakan, “Fitnah lebih jah4t dari pembvnvh4n.” Pernyataan tersebut muncul ketika ia membahas tuduh4n dan pencemaran nama terhadap para korban. Namun, di bagian lain, Nasution justru meminta agar para prajurit tidak menyimpan dendam. Ia menyerukan agar mereka tetap berpegang pada keadilan dan kebenaran. Dengan demikian, pidatonya bukan hanya berisi kesedihan atas kehilangan rekan-rekannya, tetapi juga pesan kepada mereka yang masih hidup untuk melanjutkan tugas tanpa meninggalkan prinsip yang diyakininya. Sehari setelah pemakaman tersebut, 6 Oktober 1965, putri Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, meningg4l dunia akibat luk4 t3mb4k yang diderit4nya ketika terjadi penyer4ngan di rumah keluarga Nasution pada 1 Oktober. Rangkaian peristiwa dalam beberapa hari itu membuat awal Oktober 1965 menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia, yang kemudian terus menjadi bahan kajian dan perdebatan sejarah mengenai peristiwa 30 September 1965. Referensi: • Kemendikdasmen ; Arsip dan kajian yang dikutip Kompas ; serta laporan sejarah mengenai pem4kaman 5 Oktober 1965. Sumber : Halimah Adam

 Pada 5 Oktober 1965, peringatan ke-20 Hari Angkatan Bersenj4t4 Republik Indonesia berlangsung dalam suasana duka. Pada hari itu, tujuh korban yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, setelah jenazah mereka ditemukan dan dievakuasi dari Lubang Buaya pada 4 Oktober. Ketujuhnya adalah Ahmad Yani, R. Suprapto, M.T. Haryono, S. Parman, D.I. Panjaitan, Sutoyo Siswomiharjo, dan Pierre Tendean. 



A.H. Nasution hadir dalam upacara tersebut dalam keadaan masih terluka setelah berhasil lolos dari upaya pencvlikan pada 1 Oktober. Dalam pidatonya, ia menyebut bahwa hari yang biasanya menjadi peringatan penting bagi Angkatan Bersenj4t4 itu kali ini berlangsung dalam suasana yang berbeda. Nasution kemudian menyebut nama satu per satu rekan yang telah meningg4l dan mengatakan bahwa mereka yang masih hidup memiliki kewajiban untuk meneruskan tugas yang ditinggalkan. Pidato itu disampaikan sebagai penghormatan terakhir sebelum jen4z4h dimakamkan. 


Salah satu bagian pidatonya yang paling sering dikenang adalah ketika Nasution mengatakan, “Fitnah lebih jah4t dari pembvnvh4n.” Pernyataan tersebut muncul ketika ia membahas tuduh4n dan pencemaran nama terhadap para korban. Namun, di bagian lain, Nasution justru meminta agar para prajurit tidak menyimpan dendam. Ia menyerukan agar mereka tetap berpegang pada keadilan dan kebenaran. Dengan demikian, pidatonya bukan hanya berisi kesedihan atas kehilangan rekan-rekannya, tetapi juga pesan kepada mereka yang masih hidup untuk melanjutkan tugas tanpa meninggalkan prinsip yang diyakininya. 


Sehari setelah pemakaman tersebut, 6 Oktober 1965, putri Nasution, Ade Irma Suryani Nasution, meningg4l dunia akibat luk4 t3mb4k yang diderit4nya ketika terjadi penyer4ngan di rumah keluarga Nasution pada 1 Oktober. Rangkaian peristiwa dalam beberapa hari itu membuat awal Oktober 1965 menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia, yang kemudian terus menjadi bahan kajian dan perdebatan sejarah mengenai peristiwa 30 September 1965.


Referensi:


• Kemendikdasmen ; Arsip dan kajian yang dikutip Kompas ;  serta laporan sejarah mengenai pem4kaman 5 Oktober 1965.


Sumber : Halimah Adam

SERSAN GIYADI, PRAJURIT YANG MENEMBAK JENDERAL AHMAD YANI Dini hari 1 Oktober 1965 menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah situasi politik yang sedang memanas, sekelompok pasukan bergerak menuju kediaman sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Salah satu sasaran mereka adalah Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani, yang tinggal di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta. Di antara pasukan yang dikirim ke rumah Ahmad Yani terdapat anggota Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Salah satu prajurit yang kemudian namanya tercatat dalam sejarah adalah Sersan Giyadi. Menurut catatan Pusat Sejarah TNI, pasukan tersebut datang dengan membawa alasan bahwa Ahmad Yani diminta segera menghadap Presiden. Sersan Raswad menyampaikan pesan tersebut kepada sang jenderal. Yani kemudian meminta waktu untuk mandi dan bersiap, tetapi permintaannya ditolak. Ia kembali meminta kesempatan untuk berganti pakaian, namun kembali tidak diperbolehkan. Situasi kemudian memanas. Ahmad Yani marah dan menempeleng salah seorang prajurit yang berada di dekatnya. Setelah itu, ia masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu kaca. Pada saat itulah peristiwa berubah menjadi tragedi. Sersan Raswad memerintahkan Sersan Giyadi untuk menembak. Dari posisi di dekat pintu, Giyadi melepaskan tembakan ke arah Ahmad Yani. Peluru menembus pintu kaca dan mengenai sang jenderal hingga ia jatuh dan meninggal dunia. Peristiwa tersebut berlangsung sangat singkat. Setelah Ahmad Yani tewas, jenazahnya dibawa oleh pasukan tersebut dan kemudian dibawa menuju kawasan Lubang Buaya. Di tempat itu, jenazah Ahmad Yani bersama sejumlah korban lainnya akhirnya ditemukan dalam sebuah sumur tua pada 3 Oktober 1965. SIAPA SERSAN GIYADI? Giyadi merupakan prajurit yang tergabung dalam pasukan Tjakrabirawa. Dalam rangkaian operasi malam itu, ia bukan tokoh yang berada di tingkat pengambil keputusan tertinggi. Namun, tindakannya di rumah Ahmad Yani membuat namanya kemudian tercatat secara khusus karena dialah prajurit yang disebut melepaskan tembakan yang menewaskan sang jenderal. Dalam proses hukum setelah peristiwa tersebut, Giyadi kemudian ditangkap pada 4 Oktober 1965. Ia selanjutnya menjalani proses peradilan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Sumber yang memuat riwayat peradilannya menyebut bahwa pada 16 April 1968 ia dijatuhi hukuman mati. Nasib Giyadi menjadi salah satu bagian panjang dari proses hukum terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam Gerakan 30 September. Pelaksanaan hukuman terhadap dirinya, menurut sumber tersebut, baru dilakukan pada Oktober 1988, sekitar dua puluh tahun setelah vonis dijatuhkan. TRAGEDI YANG LEBIH BESAR Kematian Ahmad Yani bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menjadi sasaran operasi penculikan. Selain Ahmad Yani, korban lainnya adalah Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo. Kapten Pierre Tendean juga menjadi korban. Sementara itu, Jenderal A.H. Nasution yang juga menjadi sasaran berhasil menyelamatkan diri. Dalam serangan terhadap kediamannya, putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, terluka dan kemudian meninggal dunia. Jenazah para korban kemudian ditemukan di Lubang Buaya pada 3 Oktober. Dua hari kemudian, pada 5 Oktober 1965, Ahmad Yani bersama korban lainnya dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. AKHIR KISAH GIYADI Nama Sersan Giyadi kemudian hampir selalu muncul ketika membahas detik-detik terakhir Ahmad Yani. Ia bukan orang yang merancang keseluruhan peristiwa, tetapi menjadi prajurit yang melakukan tindakan fatal di rumah sang jenderal setelah menerima perintah dari atasannya. Karena itu, kisah Giyadi memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah operasi yang awalnya disebut sebagai upaya membawa sejumlah jenderal dapat berubah menjadi tragedi berdarah yang mengguncang Indonesia. Ahmad Yani kemudian dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi. Sementara Giyadi, sebagai prajurit yang menembaknya, menjalani proses hukum yang panjang hingga akhirnya menerima hukuman mati. Peristiwa itu menjadi salah satu fragmen paling penting dalam sejarah Indonesia 1965, sebuah malam ketika keputusan dalam hitungan detik di sebuah rumah di Jakarta kemudian menjadi bagian dari tragedi nasional yang dampaknya terasa selama puluhan tahun. #Kisah #Sejarah #AhmadYani #Viral

 SERSAN GIYADI, PRAJURIT YANG MENEMBAK JENDERAL AHMAD YANI



Dini hari 1 Oktober 1965 menjadi salah satu momen paling kelam dalam sejarah Indonesia. Di tengah situasi politik yang sedang memanas, sekelompok pasukan bergerak menuju kediaman sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Salah satu sasaran mereka adalah Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Ahmad Yani, yang tinggal di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta.


Di antara pasukan yang dikirim ke rumah Ahmad Yani terdapat anggota Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno. Salah satu prajurit yang kemudian namanya tercatat dalam sejarah adalah Sersan Giyadi.


Menurut catatan Pusat Sejarah TNI, pasukan tersebut datang dengan membawa alasan bahwa Ahmad Yani diminta segera menghadap Presiden. Sersan Raswad menyampaikan pesan tersebut kepada sang jenderal. Yani kemudian meminta waktu untuk mandi dan bersiap, tetapi permintaannya ditolak. Ia kembali meminta kesempatan untuk berganti pakaian, namun kembali tidak diperbolehkan.


Situasi kemudian memanas. Ahmad Yani marah dan menempeleng salah seorang prajurit yang berada di dekatnya. Setelah itu, ia masuk kembali ke dalam rumah dan menutup pintu kaca.


Pada saat itulah peristiwa berubah menjadi tragedi.


Sersan Raswad memerintahkan Sersan Giyadi untuk menembak. Dari posisi di dekat pintu, Giyadi melepaskan tembakan ke arah Ahmad Yani. Peluru menembus pintu kaca dan mengenai sang jenderal hingga ia jatuh dan meninggal dunia. Peristiwa tersebut berlangsung sangat singkat.


Setelah Ahmad Yani tewas, jenazahnya dibawa oleh pasukan tersebut dan kemudian dibawa menuju kawasan Lubang Buaya. Di tempat itu, jenazah Ahmad Yani bersama sejumlah korban lainnya akhirnya ditemukan dalam sebuah sumur tua pada 3 Oktober 1965.


SIAPA SERSAN GIYADI?


Giyadi merupakan prajurit yang tergabung dalam pasukan Tjakrabirawa. Dalam rangkaian operasi malam itu, ia bukan tokoh yang berada di tingkat pengambil keputusan tertinggi. Namun, tindakannya di rumah Ahmad Yani membuat namanya kemudian tercatat secara khusus karena dialah prajurit yang disebut melepaskan tembakan yang menewaskan sang jenderal.


Dalam proses hukum setelah peristiwa tersebut, Giyadi kemudian ditangkap pada 4 Oktober 1965. Ia selanjutnya menjalani proses peradilan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Sumber yang memuat riwayat peradilannya menyebut bahwa pada 16 April 1968 ia dijatuhi hukuman mati.


Nasib Giyadi menjadi salah satu bagian panjang dari proses hukum terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam Gerakan 30 September. Pelaksanaan hukuman terhadap dirinya, menurut sumber tersebut, baru dilakukan pada Oktober 1988, sekitar dua puluh tahun setelah vonis dijatuhkan.


TRAGEDI YANG LEBIH BESAR


Kematian Ahmad Yani bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Pada malam 30 September hingga 1 Oktober 1965, sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menjadi sasaran operasi penculikan. Selain Ahmad Yani, korban lainnya adalah Mayjen R. Soeprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo. Kapten Pierre Tendean juga menjadi korban.


Sementara itu, Jenderal A.H. Nasution yang juga menjadi sasaran berhasil menyelamatkan diri. Dalam serangan terhadap kediamannya, putrinya, Ade Irma Suryani Nasution, terluka dan kemudian meninggal dunia.


Jenazah para korban kemudian ditemukan di Lubang Buaya pada 3 Oktober. Dua hari kemudian, pada 5 Oktober 1965, Ahmad Yani bersama korban lainnya dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


AKHIR KISAH GIYADI


Nama Sersan Giyadi kemudian hampir selalu muncul ketika membahas detik-detik terakhir Ahmad Yani. Ia bukan orang yang merancang keseluruhan peristiwa, tetapi menjadi prajurit yang melakukan tindakan fatal di rumah sang jenderal setelah menerima perintah dari atasannya.


Karena itu, kisah Giyadi memberikan gambaran tentang bagaimana sebuah operasi yang awalnya disebut sebagai upaya membawa sejumlah jenderal dapat berubah menjadi tragedi berdarah yang mengguncang Indonesia.


Ahmad Yani kemudian dikenang sebagai salah satu Pahlawan Revolusi. Sementara Giyadi, sebagai prajurit yang menembaknya, menjalani proses hukum yang panjang hingga akhirnya menerima hukuman mati.


Peristiwa itu menjadi salah satu fragmen paling penting dalam sejarah Indonesia 1965, sebuah malam ketika keputusan dalam hitungan detik di sebuah rumah di Jakarta kemudian menjadi bagian dari tragedi nasional yang dampaknya terasa selama puluhan tahun.


#Kisah #Sejarah #AhmadYani #Viral


Sumber : Bang Fit

08 October 2026

Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi Untuk Selamanya. 1 Oktober 1965 menjadi salah satu bagian paling kelam dalam sejarah Indonesia.Sekitar pukul 04.00 WIB, pasukan tentara yang terdiri dari satu peleton pasukan gabungan (dipimpin Serda Soekardjo dari Batalyon 454 Banteng Raiders dan unsur Pemuda Rakyat/Tjakrabirawa) tiba di rumah D.I. Panjaitan. Mereka datang menggunakan truk militer dan mengepung kediaman sang jenderal dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno. Mendengar keributan dan kaca jendela yang dipecahkan, D.I. Panjaitan yang saat itu menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Logistik sempat berniat menelepon untuk melapor, namun saluran telepon telah diputus atau tidak berfungsi. Panjaitan awalnya tidak mau langsung turun dari lantai dua rumahnya.Pasukan penculik yang mulai kehilangan kesabaran akibat keterlambatan jadwal, mengancam akan menembak dan membunuh seluruh anggota keluarga jika beliau menolak keluar. Demi keselamatan istri dan anak-anaknya, Brigjen Panjaitan mengenakan seragam kebesaran militer lengkap lalu menuruni tangga dari lantai dua menuju halaman rumah. Namun kekacauan terjadi di halaman depan.Beliau berusaha melakukan perlawanan sehingga dipukul dan ditembak mati di tempat di halaman rumahnya sendiri di hadapan keluarganya yang kemudian histeris. Jenazah beliau kemudian diangkut ke daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur,dan dimasukkan ke dalam sumur maut bersama para perwira tinggi lainnya.

 Turun Demi Menyelamatkan Keluarga, Sang Jenderal Justru Pergi Untuk Selamanya.

1 Oktober 1965 menjadi salah satu bagian paling kelam



dalam sejarah Indonesia.Sekitar pukul 04.00 WIB, pasukan tentara yang terdiri dari satu peleton pasukan gabungan (dipimpin Serda Soekardjo dari Batalyon 454 Banteng Raiders dan unsur Pemuda Rakyat/Tjakrabirawa) tiba di rumah D.I. Panjaitan. Mereka datang menggunakan truk militer dan mengepung kediaman sang jenderal dengan dalih dipanggil oleh Presiden Soekarno. Mendengar keributan dan kaca jendela yang dipecahkan, D.I. Panjaitan yang saat itu menjabat sebagai Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat bidang Logistik sempat berniat menelepon untuk melapor, namun saluran telepon telah diputus atau tidak berfungsi.


Panjaitan awalnya tidak mau langsung turun dari lantai dua rumahnya.Pasukan penculik yang mulai kehilangan kesabaran akibat keterlambatan jadwal, mengancam akan menembak dan membunuh seluruh anggota keluarga jika beliau menolak keluar.

Demi keselamatan istri dan anak-anaknya, Brigjen Panjaitan mengenakan seragam kebesaran militer lengkap lalu menuruni tangga dari lantai dua menuju halaman rumah.

Namun kekacauan terjadi di halaman depan.Beliau berusaha melakukan perlawanan sehingga dipukul dan ditembak mati di tempat di halaman rumahnya sendiri di hadapan keluarganya yang kemudian histeris.


Jenazah beliau kemudian diangkut ke daerah Lubang

Buaya, Jakarta Timur,dan dimasukkan ke dalam sumur maut bersama para perwira tinggi lainnya.


Momen pernikahan seorang sersan KNIL Belanda dengan seorang perempuan pribumi di Hindia Belanda, sekitar 1915–1925. Pasangan pengantin berdiri bersama beberapa anggota keluarga dan anak-anak di depan sebuah bangunan, dengan sang perempuan mengenakan busana pengantin putih dan kain batik, sementara sang sersan mengenakan seragam militer KNIL lengkap dengan tanda jasa. Pernikahan antara personel KNIL Eropa dan perempuan dari masyarakat Indis/pribumi merupakan bagian dari kehidupan sosial yang berkembang di lingkungan militer kolonial. Foto ini juga memperlihatkan perpaduan unsur Eropa dan lokal melalui seragam militer, pakaian pengantin, kain batik, serta suasana keluarga dalam satu potret. 📚 Koleksi: Tropenmuseum 🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. #KNIL #HindiaBelanda #SejarahIndonesia #IndonesiaTempoDulu #FotoSejarah #TempoDulu #DuniaSejarah #Duniasjr

 Momen pernikahan seorang sersan KNIL Belanda dengan seorang perempuan pribumi di Hindia Belanda, sekitar 1915–1925. 



Pasangan pengantin berdiri bersama beberapa anggota keluarga dan anak-anak di depan sebuah bangunan, dengan sang perempuan mengenakan busana pengantin putih dan kain batik, sementara sang sersan mengenakan seragam militer KNIL lengkap dengan tanda jasa.


Pernikahan antara personel KNIL Eropa dan perempuan dari masyarakat Indis/pribumi merupakan bagian dari kehidupan sosial yang berkembang di lingkungan militer kolonial. 


Foto ini juga memperlihatkan perpaduan unsur Eropa dan lokal melalui seragam militer, pakaian pengantin, kain batik, serta suasana keluarga dalam satu potret.


📚 Koleksi: Tropenmuseum

 

🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. 


#KNIL #HindiaBelanda #SejarahIndonesia #IndonesiaTempoDulu #FotoSejarah #TempoDulu #DuniaSejarah #Duniasjr

🇸🇬 YUSOF ISHAK — PUTRA KETURUNAN MINANG YANG MENJADI PRESIDEN PERTAMA SINGAPURA Tahukah Anda, sosok yang wajahnya pernah menghiasi mata uang Singapura ternyata memiliki akar keturunan dari Minangkabau, Sumatera Barat? Namanya Yusof bin Ishak, tokoh yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Presiden pertama Republik Singapura. Yusof Ishak lahir pada 12 Agustus 1910 di Padang Gajah, Trong, Perak. Ia merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Ishak bin Ahmad, memiliki darah keturunan Minangkabau dari Sumatera Barat, sedangkan ibunya, Aishah binti Tuan Haji Aminuddin, berasal dari Sumatera Utara. Masa kecil Yusof dilalui di Perak. Ketika ayahnya mendapatkan tugas sebagai pegawai pemerintahan pada masa pemerintahan kolonial Inggris, keluarganya kemudian berpindah dan menetap di Singapura. 🎓 PENDIDIKAN DAN MASA MUDA Sejak muda, Yusof dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat belajar sekaligus aktif dalam olahraga. Ia menempuh pendidikan di sejumlah sekolah, kemudian melanjutkan ke Raffles Institution di Singapura. Pada Cambridge School Certificate tahun 1927, ia memperoleh hasil yang sangat baik dan kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Queen's Scholarship. Di luar dunia akademik, Yusof juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan olahraga. Semangat, kedisiplinan, dan kepemimpinannya sejak usia muda menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. 🇸🇬 MENUJU SEJARAH SINGAPURA Perjalanan Yusof Ishak tidak berhenti di dunia pendidikan. Ia kemudian aktif dalam dunia jurnalistik dan kehidupan masyarakat Melayu. Namanya semakin dikenal ketika ia terlibat dalam perkembangan pers Melayu dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik Singapura. Pada 1959, Yusof Ishak dilantik sebagai Yang di-Pertuan Negara Singapura. Ketika Singapura resmi merdeka pada 9 Agustus 1965, posisi tersebut berubah menjadi Presiden Republik Singapura. Dengan demikian, Yusof Ishak tercatat sebagai Presiden pertama Singapura. 💵 WAJAH YANG MENJADI SIMBOL SEJARAH Pengaruhnya terhadap sejarah Singapura kemudian dikenang dengan cara yang sangat istimewa. Potret Yusof Ishak digunakan pada uang kertas Singapura, menjadikan wajahnya dikenal oleh jutaan orang sekaligus menjadi simbol penting dalam sejarah negara tersebut. Dari seorang anak yang memiliki akar keluarga Minangkabau di Sumatera, perjalanan hidupnya membawa Yusof Ishak menjadi tokoh nasional di Singapura. Satu garis keturunan, satu perjalanan panjang, dan sebuah nama yang akhirnya tercatat dalam sejarah sebuah negara. 🇮🇩 Ranah Minang — Perak — Singapura 🇸🇬 Menurut Anda, apakah kisah Yusof Ishak sebagai tokoh keturunan Minangkabau sudah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia? 👇 Tulis pendapat Anda di komentar. #YusofIshak #YusufIshak #SejarahSingapura #PresidenPertamaSingapura #Minangkabau #RanahMinang #SejarahIndonesia #SejarahDunia #TokohSejarah #TokohMinang #SejarahMinangkabau #SumateraBarat #Padang #Singapura #BiografiTokoh #SejarahNusantara #TokohNasional #KisahSejarah #FaktaSejarah #SejarahMelayu #RafflesInstitution #SingaporeHistory #IndonesianHistory #Minang #RanahMinangBercerita #Jasmerah #BelajarSejarah #Biografi #IZANJB #SejarahUntukGenerasi

 🇸🇬 YUSOF ISHAK — PUTRA KETURUNAN MINANG YANG MENJADI PRESIDEN PERTAMA SINGAPURA



Tahukah Anda, sosok yang wajahnya pernah menghiasi mata uang Singapura ternyata memiliki akar keturunan dari Minangkabau, Sumatera Barat?


Namanya Yusof bin Ishak, tokoh yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Presiden pertama Republik Singapura.


Yusof Ishak lahir pada 12 Agustus 1910 di Padang Gajah, Trong, Perak. Ia merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Ishak bin Ahmad, memiliki darah keturunan Minangkabau dari Sumatera Barat, sedangkan ibunya, Aishah binti Tuan Haji Aminuddin, berasal dari Sumatera Utara.


Masa kecil Yusof dilalui di Perak. Ketika ayahnya mendapatkan tugas sebagai pegawai pemerintahan pada masa pemerintahan kolonial Inggris, keluarganya kemudian berpindah dan menetap di Singapura.


🎓 PENDIDIKAN DAN MASA MUDA

Sejak muda, Yusof dikenal sebagai sosok yang memiliki semangat belajar sekaligus aktif dalam olahraga.


Ia menempuh pendidikan di sejumlah sekolah, kemudian melanjutkan ke Raffles Institution di Singapura. Pada Cambridge School Certificate tahun 1927, ia memperoleh hasil yang sangat baik dan kemudian mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Queen's Scholarship.


Di luar dunia akademik, Yusof juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan olahraga. Semangat, kedisiplinan, dan kepemimpinannya sejak usia muda menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.


🇸🇬 MENUJU SEJARAH SINGAPURA

Perjalanan Yusof Ishak tidak berhenti di dunia pendidikan. Ia kemudian aktif dalam dunia jurnalistik dan kehidupan masyarakat Melayu.


Namanya semakin dikenal ketika ia terlibat dalam perkembangan pers Melayu dan kemudian menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik Singapura.

Pada 1959, Yusof Ishak dilantik sebagai Yang di-Pertuan Negara Singapura.


Ketika Singapura resmi merdeka pada 9 Agustus 1965, posisi tersebut berubah menjadi Presiden Republik Singapura.

Dengan demikian, Yusof Ishak tercatat sebagai Presiden pertama Singapura.


💵 WAJAH YANG MENJADI SIMBOL SEJARAH

Pengaruhnya terhadap sejarah Singapura kemudian dikenang dengan cara yang sangat istimewa.


Potret Yusof Ishak digunakan pada uang kertas Singapura, menjadikan wajahnya dikenal oleh jutaan orang sekaligus menjadi simbol penting dalam sejarah negara tersebut.


Dari seorang anak yang memiliki akar keluarga Minangkabau di Sumatera, perjalanan hidupnya membawa Yusof Ishak menjadi tokoh nasional di Singapura.


Satu garis keturunan, satu perjalanan panjang, dan sebuah nama yang akhirnya tercatat dalam sejarah sebuah negara.

🇮🇩 Ranah Minang — Perak — Singapura 🇸🇬


Menurut Anda, apakah kisah Yusof Ishak sebagai tokoh keturunan Minangkabau sudah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia?




#YusofIshak #YusufIshak #SejarahSingapura #PresidenPertamaSingapura #Minangkabau #RanahMinang #SejarahIndonesia #SejarahDunia #TokohSejarah #TokohMinang #SejarahMinangkabau #SumateraBarat #Padang #Singapura #BiografiTokoh #SejarahNusantara #TokohNasional #KisahSejarah #FaktaSejarah #SejarahMelayu #RafflesInstitution #SingaporeHistory #IndonesianHistory #Minang #RanahMinangBercerita #Jasmerah #BelajarSejarah #Biografi #IZANJB #SejarahUntukGenerasi

Potret sebuah keluarga Indo-Belanda penanam/petani tembakau di Blitar, Jawa Timur, sekitar 1901–1902. Foto ini memperlihatkan seorang pria Eropa bersama seorang perempuan pribumi dan dua anak yang mengenakan pakaian bergaya Eropa. Potret tersebut menggambarkan kehidupan keluarga dengan latar belakang Eropa dan pribumi dalam masyarakat Hindia Belanda pada awal abad ke-20. 📚 Koleksi: KITLV Leiden 📸 Fotografer: A.E.F. Muntz 🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. #Blitar #IndoBelanda #Tembakau #HindiaBelanda #TempoDulu #SejarahIndonesia #IndonesiaTempoDulu #duniasjr #DuniaSejarah

 Potret sebuah keluarga Indo-Belanda penanam/petani tembakau di Blitar, Jawa Timur, sekitar 1901–1902. Foto ini memperlihatkan seorang pria Eropa bersama seorang perempuan pribumi dan dua anak yang mengenakan pakaian bergaya Eropa.



Potret tersebut menggambarkan kehidupan keluarga dengan latar belakang Eropa dan pribumi dalam masyarakat Hindia Belanda pada awal abad ke-20.


📚 Koleksi: KITLV Leiden

📸 Fotografer: A.E.F. Muntz

🎨 Diwarnai & direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah.


#Blitar #IndoBelanda #Tembakau #HindiaBelanda #TempoDulu #SejarahIndonesia #IndonesiaTempoDulu #duniasjr #DuniaSejarah

D.N. AIDIT BERSEMBUNYI DI BALIK LEMARI, KISAH “MENKO” DAN “MENGKO” SAAT PENANGKAPANNYA Setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965, Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit menjadi salah satu tokoh yang paling dicari aparat. Sebagai Ketua CC PKI, keberadaannya diburu setelah situasi politik dan keamanan berubah drastis pasca-peristiwa 30 September–1 Oktober 1965. Pengejaran terhadap Aidit kemudian meluas hingga Jawa Tengah. Salah satu operasi tersebut dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigade Infanteri IV Kostrad. Pasukannya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan mengikuti jejak Aidit yang terus berpindah tempat. Menurut catatan yang dihimpun wartawan Julius Pour, setelah sekitar tiga minggu pengejaran, intelijen memperoleh laporan A-1 mengenai keberadaan Aidit. Pada 21 November 1965, persembunyiannya disebut berpindah dari kawasan Kleco ke Kampung Sambeng, Solo, sekitar 300 meter dari Stasiun Solo Balapan. Aidit kemudian disembunyikan di sebuah rumah yang disebut berkaitan dengan anggota Serikat Buruh Kereta Api. Informasi mengenai keberadaannya membuat pasukan mulai menyusun pengepungan. Malam harinya, sekitar pukul 21.00, pasukan yang dipimpin Letnan II Infanteri Ning Prajitno mengepung rumah tersebut. Mereka kemudian mendobrak masuk dan melakukan penyisiran. Namun, rumah itu tampak kosong. Aidit tidak terlihat di mana pun. Dalam penggeledahan, pasukan menemukan sebuah kacamata baca yang tergeletak di atas meja. Benda tersebut menimbulkan dugaan bahwa orang yang mereka cari sebenarnya masih berada di sekitar rumah. Penyisiran pun dilanjutkan. Seorang prajurit bernama Kosim kemudian menggeser sebuah lemari makan. Di balik lemari tersebut ternyata terdapat pintu menuju sebuah ruang tersembunyi. Di dalam ruang itu terdapat sebuah lemari pakaian. Ketika lemari tersebut diperiksa, prajurit yang membukanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Pakaian-pakaian yang tergantung di dalamnya tampak bergerak mengikuti gerakan seseorang. Ternyata ada seseorang yang bersembunyi di balik pakaian tersebut. Orang itu adalah D.N. Aidit. Menurut kisah yang dimuat dalam majalah Senakatha terbitan Pusat Sejarah ABRI pada Januari 1992, prajurit tersebut kemudian memerintahkan Aidit untuk keluar dan menyerah. Terjadilah percakapan singkat. Aidit mengakui identitasnya. Namun, ia kemudian mencoba menggunakan kedudukannya untuk mencegah penangkapan. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang “Menko”, istilah untuk Menteri Koordinator. Di sinilah muncul bagian unik dari kisah penangkapan tersebut. Prajurit yang berasal dari wilayah Kartasura itu disebut salah memahami kata “Menko”. Ia menangkapnya sebagai kata Jawa “mengko”, yang berarti “nanti”. Ketika Aidit mengatakan dirinya seorang “Menko”, prajurit itu justru menjawab dengan kata: “Mengko? Saiki!” Dalam bahasa Indonesia berarti: “Nanti? Sekarang!” Kisah percakapan tersebut memang tercatat dalam sumber sejarah, tetapi detail dialognya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kesaksian atau penuturan yang kemudian dibukukan, bukan sebagai percakapan yang memiliki rekaman langsung. Setelah ditemukan, Aidit akhirnya dibawa keluar dari tempat persembunyiannya. Menurut catatan Julius Pour, Letnan Ning Prajitno kemudian memerintahkan Sersan Idit Sukardi untuk mengikat tangan Aidit. Pelarian selama berminggu-minggu itu pun berakhir. Aidit kemudian dibawa ke markas Brigade Infanteri IV di Loji Gandrung. Di sana, menurut kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto yang dikutip sejumlah sumber, Aidit sempat meminta agar dirinya dibawa menghadap Presiden Soekarno. Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi. Pada 22 November 1965, Aidit kemudian dibawa menuju wilayah Boyolali. Menurut kesaksian Jasir Hadibroto, perjalanan tersebut tidak berakhir di Semarang sebagaimana rencana awal. Aidit dibawa ke sebuah lokasi yang kemudian disebut sebagai markas Batalyon Infanteri 444. Di tempat itulah Aidit kemudian dibunuh. Jasir Hadibroto dalam kesaksiannya menyebut bahwa Aidit sempat menyampaikan pidato sebelum kematiannya. Setelah itu, Aidit ditembak dan jasadnya kemudian dimasukkan ke sebuah sumur. Rincian mengenai kematian Aidit memiliki beberapa versi dalam sumber-sumber sejarah. Namun, versi yang mengacu pada kesaksian Jasir Hadibroto menyebut bahwa Aidit ditangkap di Sambeng pada 22 November 1965 dan kemudian dibawa ke Boyolali, tempat ia akhirnya tewas. Dengan demikian, kisah penangkapan D.N. Aidit bukan sekadar cerita tentang seorang buronan yang ditemukan di sebuah rumah. Di baliknya terdapat operasi pengejaran selama berminggu-minggu, jaringan intelijen, persembunyian berpindah-pindah, hingga sebuah ruang rahasia di balik lemari. Dan di tengah situasi politik Indonesia yang sangat tegang pada akhir 1965, muncul pula sebuah kisah kecil yang kemudian terus dikenang: ketika kata “Menko” dipahami sebagai “mengko”—dan jawaban “nanti” dibalas dengan “saiki”, atau “sekarang”. Pada akhirnya, persembunyian D.N. Aidit di Sambeng berakhir pada malam itu. Sehari kemudian, 22 November 1965, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh utama PKI yang tewas setelah pengejaran pasca-G30S. Sejarah sering kali dikenang melalui peristiwa-peristiwa besar. Tetapi dalam kisah penangkapan Aidit, detail kecil seperti sebuah kacamata di atas meja, pintu tersembunyi di balik lemari, dan perbedaan makna satu kata justru menjadi bagian yang membuat kisah tersebut begitu melekat dalam ingatan sejarah Indonesia. #kisah #sejarah #viral

 D.N. AIDIT BERSEMBUNYI DI BALIK LEMARI, KISAH “MENKO” DAN “MENGKO” SAAT PENANGKAPANNYA



Setelah pecahnya Gerakan 30 September 1965, Dipa Nusantara Aidit atau D.N. Aidit menjadi salah satu tokoh yang paling dicari aparat. Sebagai Ketua CC PKI, keberadaannya diburu setelah situasi politik dan keamanan berubah drastis pasca-peristiwa 30 September–1 Oktober 1965.


Pengejaran terhadap Aidit kemudian meluas hingga Jawa Tengah. Salah satu operasi tersebut dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigade Infanteri IV Kostrad. Pasukannya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber dan mengikuti jejak Aidit yang terus berpindah tempat.


Menurut catatan yang dihimpun wartawan Julius Pour, setelah sekitar tiga minggu pengejaran, intelijen memperoleh laporan A-1 mengenai keberadaan Aidit. Pada 21 November 1965, persembunyiannya disebut berpindah dari kawasan Kleco ke Kampung Sambeng, Solo, sekitar 300 meter dari Stasiun Solo Balapan.


Aidit kemudian disembunyikan di sebuah rumah yang disebut berkaitan dengan anggota Serikat Buruh Kereta Api. Informasi mengenai keberadaannya membuat pasukan mulai menyusun pengepungan.


Malam harinya, sekitar pukul 21.00, pasukan yang dipimpin Letnan II Infanteri Ning Prajitno mengepung rumah tersebut. Mereka kemudian mendobrak masuk dan melakukan penyisiran.


Namun, rumah itu tampak kosong.


Aidit tidak terlihat di mana pun.


Dalam penggeledahan, pasukan menemukan sebuah kacamata baca yang tergeletak di atas meja. Benda tersebut menimbulkan dugaan bahwa orang yang mereka cari sebenarnya masih berada di sekitar rumah.


Penyisiran pun dilanjutkan.


Seorang prajurit bernama Kosim kemudian menggeser sebuah lemari makan. Di balik lemari tersebut ternyata terdapat pintu menuju sebuah ruang tersembunyi.


Di dalam ruang itu terdapat sebuah lemari pakaian.


Ketika lemari tersebut diperiksa, prajurit yang membukanya melihat sesuatu yang mencurigakan. Pakaian-pakaian yang tergantung di dalamnya tampak bergerak mengikuti gerakan seseorang.


Ternyata ada seseorang yang bersembunyi di balik pakaian tersebut.


Orang itu adalah D.N. Aidit.


Menurut kisah yang dimuat dalam majalah Senakatha terbitan Pusat Sejarah ABRI pada Januari 1992, prajurit tersebut kemudian memerintahkan Aidit untuk keluar dan menyerah.


Terjadilah percakapan singkat.


Aidit mengakui identitasnya. Namun, ia kemudian mencoba menggunakan kedudukannya untuk mencegah penangkapan. Ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang “Menko”, istilah untuk Menteri Koordinator.


Di sinilah muncul bagian unik dari kisah penangkapan tersebut.


Prajurit yang berasal dari wilayah Kartasura itu disebut salah memahami kata “Menko”. Ia menangkapnya sebagai kata Jawa “mengko”, yang berarti “nanti”.


Ketika Aidit mengatakan dirinya seorang “Menko”, prajurit itu justru menjawab dengan kata:


“Mengko? Saiki!”


Dalam bahasa Indonesia berarti:


“Nanti? Sekarang!”


Kisah percakapan tersebut memang tercatat dalam sumber sejarah, tetapi detail dialognya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari kesaksian atau penuturan yang kemudian dibukukan, bukan sebagai percakapan yang memiliki rekaman langsung.


Setelah ditemukan, Aidit akhirnya dibawa keluar dari tempat persembunyiannya. Menurut catatan Julius Pour, Letnan Ning Prajitno kemudian memerintahkan Sersan Idit Sukardi untuk mengikat tangan Aidit.


Pelarian selama berminggu-minggu itu pun berakhir.


Aidit kemudian dibawa ke markas Brigade Infanteri IV di Loji Gandrung. Di sana, menurut kesaksian Kolonel Jasir Hadibroto yang dikutip sejumlah sumber, Aidit sempat meminta agar dirinya dibawa menghadap Presiden Soekarno.


Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi.


Pada 22 November 1965, Aidit kemudian dibawa menuju wilayah Boyolali. Menurut kesaksian Jasir Hadibroto, perjalanan tersebut tidak berakhir di Semarang sebagaimana rencana awal. Aidit dibawa ke sebuah lokasi yang kemudian disebut sebagai markas Batalyon Infanteri 444.


Di tempat itulah Aidit kemudian dibunuh.


Jasir Hadibroto dalam kesaksiannya menyebut bahwa Aidit sempat menyampaikan pidato sebelum kematiannya. Setelah itu, Aidit ditembak dan jasadnya kemudian dimasukkan ke sebuah sumur.


Rincian mengenai kematian Aidit memiliki beberapa versi dalam sumber-sumber sejarah. Namun, versi yang mengacu pada kesaksian Jasir Hadibroto menyebut bahwa Aidit ditangkap di Sambeng pada 22 November 1965 dan kemudian dibawa ke Boyolali, tempat ia akhirnya tewas.


Dengan demikian, kisah penangkapan D.N. Aidit bukan sekadar cerita tentang seorang buronan yang ditemukan di sebuah rumah. Di baliknya terdapat operasi pengejaran selama berminggu-minggu, jaringan intelijen, persembunyian berpindah-pindah, hingga sebuah ruang rahasia di balik lemari.


Dan di tengah situasi politik Indonesia yang sangat tegang pada akhir 1965, muncul pula sebuah kisah kecil yang kemudian terus dikenang: ketika kata “Menko” dipahami sebagai “mengko”—dan jawaban “nanti” dibalas dengan “saiki”, atau “sekarang”.


Pada akhirnya, persembunyian D.N. Aidit di Sambeng berakhir pada malam itu. Sehari kemudian, 22 November 1965, namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh utama PKI yang tewas setelah pengejaran pasca-G30S.


Sumber : Bang Fit


Sejarah sering kali dikenang melalui peristiwa-peristiwa besar. Tetapi dalam kisah penangkapan Aidit, detail kecil seperti sebuah kacamata di atas meja, pintu tersembunyi di balik lemari, dan perbedaan makna satu kata justru menjadi bagian yang membuat kisah tersebut begitu melekat dalam ingatan sejarah Indonesia.


#kisah #sejarah #viral

Ketika pertempuran kedua di Semarang (The Second Battle of Semarang) meletus pada 18 November s/d 21 November 1945, Pasukan Inggris yang kekurangan resources dan logistik serta tentu saja belum memahami medan Semarang dengan baik, akhirnya mempergunakan sisa Tentara Jepang yang sudah menyerah kalah tapi masih berada di Semarang untuk turut membantu mereka pada peristiwa tersebut. Foto di bawah adalah gambar seorang pemuda Semarang yang tertangkap oleh para Tentara Jepang yang dipergunakan pihak Sekutu untuk mendukung kepentingan mereka pada peristiwa Pertempuran ke-Dua di Semarang tersebut. Pemuda yang tertangkap, ketahuan membawa sebuah peta yang berisi posisi-posisi strategis Tentara Sekutu. Sumber foto : Institut Kesejarahan Militer Belanda Fotografer : David Soltau

 Ketika pertempuran kedua di Semarang (The Second Battle of Semarang) meletus pada 18 November s/d 21 November 1945, Pasukan Inggris yang kekurangan resources dan logistik serta tentu saja belum memahami medan Semarang dengan baik, akhirnya mempergunakan sisa Tentara Jepang yang sudah menyerah kalah tapi masih berada di Semarang untuk turut membantu mereka pada peristiwa tersebut. 



Foto di bawah adalah gambar seorang pemuda Semarang yang tertangkap oleh para Tentara Jepang yang dipergunakan pihak Sekutu untuk mendukung kepentingan mereka pada peristiwa Pertempuran ke-Dua di Semarang tersebut. Pemuda yang tertangkap, ketahuan membawa sebuah peta yang berisi posisi-posisi strategis Tentara Sekutu. 


Sumber foto : Institut Kesejarahan Militer Belanda 

Fotografer : David Soltau