27 April 2026

Orang di dalam foto ini adalah Imam Khomeini, di perbatasan Irak-Kuwait pada tahun 1979. Ketika beliau meninggalkan Irak menuju Kuwait, yang juga menolak menerimanya dan tidak ada negara Arab yang mau menerimanya pada waktu itu. Jadi Imam terdampar di perbatasan Irak-Kuwait, tidak menemukan siapa pun yang mau menerimanya dan tidak dapat kembali ke Irak. Beliau tinggal di sana selama tiga hari dengan beberapa muridnya yang tidak lebih dari lima orang serta keluarganya di gurun yang terik... Pada bulan ketujuh di wilayah perbatasan Safwan. Di sana, salah satu muridnya bertanya kepadanya, "Apa yang akan Anda lakukan?" Beliau menjawab, "Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Marilah kita menunggu kehendak Allah..." Sehari kemudian, Prancis mengirimkan memorandum yang menyerukan penerimaan Imam Khomeini sebagai pengungsi politik. *sumber tulisan dari akun X @mshhdy15890

 Orang di dalam foto ini adalah Imam Khomeini, di perbatasan Irak-Kuwait pada tahun 1979.



Ketika beliau meninggalkan Irak menuju Kuwait, yang juga menolak menerimanya dan tidak ada negara Arab yang mau menerimanya pada waktu itu. Jadi Imam terdampar di perbatasan Irak-Kuwait, tidak menemukan siapa pun yang mau menerimanya dan tidak dapat kembali ke Irak. 


Beliau tinggal di sana selama tiga hari dengan beberapa muridnya yang tidak lebih dari lima orang serta keluarganya di gurun yang terik...


Pada bulan ketujuh di wilayah perbatasan Safwan. Di sana, salah satu muridnya bertanya kepadanya, "Apa yang akan Anda lakukan?" Beliau menjawab, "Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Marilah kita menunggu kehendak Allah..." 


Sehari kemudian, Prancis mengirimkan memorandum yang menyerukan penerimaan Imam Khomeini sebagai pengungsi politik.


*sumber tulisan dari akun X @mshhdy15890

🔥 7 Keris Sakti dari Pulau Jawa, Nomor 5 Dikaitkan dengan Bung Karno Tanah Jawa sejak dulu dikenal penuh dengan kisah pusaka yang sarat makna dan misteri. Salah satu yang paling legendaris adalah keris—bukan sekadar benda, tapi simbol budaya, filosofi, dan perjalanan sejarah panjang Nusantara. Di balik bentuknya yang khas, banyak keris dipercaya memiliki aura kuat yang diwariskan turun-temurun. Cerita tentang kesaktian ini terus hidup hingga sekarang, menjadi bagian dari budaya yang tak lekang oleh waktu. ⚔️ 1. Keris Nogososro Dikenal sebagai pusaka dengan simbol naga dan 13 luk. Keris ini sering dikaitkan dengan kekuatan perlindungan dan kewibawaan besar. ⚔️ 2. Keris Ageng Kopek Dipercaya membawa kharisma dan wibawa tinggi. Dalam kisah Jawa, keris ini sering dikaitkan dengan kalangan bangsawan dan pemimpin. ⚔️ 3. Keris Kyai Sengkelat Pusaka yang memiliki nilai spiritual mendalam. Bahkan disebut sebagai salah satu jenis keris yang juga pernah dimiliki tokoh besar Indonesia. ⚔️ 4. Keris Setan Kober Memiliki cerita yang kuat dan dikenal sebagai keris dengan energi besar. Nama dan kisahnya membuat pusaka ini sangat terkenal dalam legenda Jawa. ⚔️ 5. Keris yang Dikaitkan dengan Bung Karno Dalam beberapa kisah, Presiden Soekarno diketahui memiliki beberapa pusaka keris sebagai bagian dari warisan budaya, meski lebih dianggap sebagai simbol sejarah dan spiritual, bukan untuk hal mistis semata. ⚔️ 6. Keris Sabuk Inten Sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kelancaran rezeki. Pamornya yang indah membuat keris ini juga bernilai seni tinggi. ⚔️ 7. Keris Mpu Gandring Legenda keris ini sangat terkenal dalam sejarah Jawa, terutama kisah kutukan yang menyertainya. Ceritanya menjadi salah satu yang paling melegenda hingga sekarang. ✨ Penutup Keris adalah bagian dari identitas budaya Nusantara yang kaya akan filosofi dan nilai sejarah. Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang, pusaka ini tetap menjadi simbol warisan leluhur yang patut dijaga dan dilestarikan. #keris #kerissakti #pusakanusantara #budayajawa #sejarahjawa #mistisnusantara #warisanleluhur #jagadpusakacom #kerisjawa #pusakatradisional #auraenergi #kisahmistis #viralindonesia

 ðŸ”¥ 7 Keris Sakti dari Pulau Jawa, Nomor 5 Dikaitkan dengan Bung Karno


Tanah Jawa sejak dulu dikenal penuh dengan kisah pusaka yang sarat makna dan misteri. Salah satu yang paling legendaris adalah keris—bukan sekadar benda, tapi simbol budaya, filosofi, dan perjalanan sejarah panjang Nusantara.



Di balik bentuknya yang khas, banyak keris dipercaya memiliki aura kuat yang diwariskan turun-temurun. Cerita tentang kesaktian ini terus hidup hingga sekarang, menjadi bagian dari budaya yang tak lekang oleh waktu.


⚔️ 1. Keris Nogososro


 Dikenal sebagai pusaka dengan simbol naga dan 13 luk. Keris ini sering dikaitkan dengan kekuatan perlindungan dan kewibawaan besar.


⚔️ 2. Keris Ageng Kopek


 Dipercaya membawa kharisma dan wibawa tinggi. Dalam kisah Jawa, keris ini sering dikaitkan dengan kalangan bangsawan dan pemimpin.


⚔️ 3. Keris Kyai Sengkelat


 Pusaka yang memiliki nilai spiritual mendalam. Bahkan disebut sebagai salah satu jenis keris yang juga pernah dimiliki tokoh besar Indonesia. 


⚔️ 4. Keris Setan Kober


 Memiliki cerita yang kuat dan dikenal sebagai keris dengan energi besar. Nama dan kisahnya membuat pusaka ini sangat terkenal dalam legenda Jawa.


⚔️ 5. Keris yang Dikaitkan dengan Bung Karno


 Dalam beberapa kisah, Presiden Soekarno diketahui memiliki beberapa pusaka keris sebagai bagian dari warisan budaya, meski lebih dianggap sebagai simbol sejarah dan spiritual, bukan untuk hal mistis semata. 


⚔️ 6. Keris Sabuk Inten


 Sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kelancaran rezeki. Pamornya yang indah membuat keris ini juga bernilai seni tinggi.


⚔️ 7. Keris Mpu Gandring


 Legenda keris ini sangat terkenal dalam sejarah Jawa, terutama kisah kutukan yang menyertainya. Ceritanya menjadi salah satu yang paling melegenda hingga sekarang. 


✨ Penutup


Keris adalah bagian dari identitas budaya Nusantara yang kaya akan filosofi dan nilai sejarah. Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang, pusaka ini tetap menjadi simbol warisan leluhur yang patut dijaga dan dilestarikan.


#keris #kerissakti #pusakanusantara #budayajawa #sejarahjawa #mistisnusantara #warisanleluhur #jagadpusakacom #kerisjawa #pusakatradisional #auraenergi #kisahmistis #viralindonesia

Kita bisa setuju atau menolak argumentasi Salim Said dalam bukunya, bahwa tentara Indonesia adalah istimewa; tentara yang menciptakan dirinya sendiri; maka ia pun "berhak" memiliki hak dan kedudukan yang istimewa pula. Yang jelas buku ini sesuai dan selaras dengan narasi sejarah Orde Baru: Dwifungsi ABRI. MULA TENTARA MAIN POLITIK Benih pertentangan antara militer dan politisi tampak sejak awal revolusi. Lewat Sudirman, ABRI tampil sebagai kekuatan militer dan politik yang berpengaruh. (TEMPO, NO. 8, Tahun XXII, 25 April 1992, “Buku”) Judul buku: THE GENESIS OF POWER GENERAL SUDIRMAN AND THE INDONESIAN MILITARY IN POLITICS 1945-1949 Penulis: Salim Said Penerbit: Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 1991, 186 halaman Angkatan Bersenjata Indonesia sering disebut lahir sendiri, self created army. Seperti ditulis Salim Said dalam buku ini, ABRI tak dibentuk oleh pemerintah atau partai politik. Dalam sejarahnya, kelahiran ABRI lebih diwarnai pandangan luas kala itu bahwa kemerdekaan tak mungkin diraih tanpa kekuatan militer. Sebelum kemerdekaan memang ada mobilisasi oleh Jepang, yang melahirkan Pembela Tanah Air (Peta) dan Lasykar. Namun, tak berarti bahwa tentara Indonesia dibentuk Jepang. Sebab pada 19 Agustus 1945 mereka menuntut agar Peta dibubarkan. Pada 22 Agustus 1945, BKR (Badan Keamanan Rakyat) dikukuhkan. Pada 5 Oktober, selang lima minggu kemudian, Presiden Soekarno meresmikan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) sebagai bukti kepada Sekutu bahwa Indonesia bukan kolaborator Jepang. Kemudian Bung Karno juga mengangkat pimpinan Peta, Supriyadi, menjadi Menteri Pertahanan. Sayang, Supriyadi tak pernah menduduki kursi menterinya setelah menghilang sebelum Jepang menyerah. Para pemuda yang menjadi tentara, sekitar 150 ribu orang, semula berharap agar Syahrir lebih revolusioner dalam menghadapi Belanda dengan kekuatan militer. Namun, mereka kecewa karena Syahrir memilih jalan diplomasi. Bahkan Bung Karno, sebelum mengungsikan ibu kota ke Yogya awal 1946, menunjuk Syahrir untuk berunding dengan Belanda di Jakarta. Pemerintah sejak itu berkonflik dengan militer. Pertentangan antara militer dan sipil mulai meningkat setelah Bung Karno minta Amir Syarifuddin melobi eks para perwira KNIL (tentara didikan Belanda) menyiapkan konsep pembentukan Angkatan Bersenjata. Tanggal 15 Oktober 1945, Urip Sumoharjo, salah seorang eks perwira KNIL, diangkat menjadi kepala staf Angkatan Perang, dan Muhamad Sulyadikusumo sebagai Menteri Keamanan Rakyat (ad interim) menggantikan Supriyadi yang tak muncul. Para perwira, terutama eks Peta, tambah kecewa. Pada pertemuan para perwira di Yogya, 11 Maret 1945, yang semula dirancang untuk konsolidasi berubah menjadi ajang pertentangan. Perwira-perwira eks Peta ramai-ramai memilih Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar dan Sultan Ha- mengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan. Dua hari setelah pemilihan Sudirman dan Sultan di Yogya, Syahrir di Jakarta mengumumkan penunjukan Amir Syarifuddin menjadi Menteri Hankam dan Urip Sumoharjo sebagai kepala staf Angkatan Perang. Artinya, selama sebulan ada dua Menteri Pertahanan dan dua panglima untuk militer. Instruksi dan keputusannya pun berbeda. Amir ikut jalan Syahrir, menghadapi Belanda lewat diplomasi. Sedangkan tentara tunduk pada Sudirman, yang memilih untuk bergerilya. Pertentangan militer—pemerintah ini sedikit reda setelah pemerintah mengakui dan melantik Sudirman menjadi Panglima Besar dengan pangkat jenderal penuh (21 Mei 1946). TRI diubah menjadi TNI untuk menyatukan berbagai kekuatan bersenjata yang ada. Konflik pemerintah dan militer sebenarnya tak terlepas dari sikap politik Sudirman. Pemimpin karismatik tentara itu, menurut Salim Said, dikenal sebagai go between. Ia pernah sekubu dengan oposisi di bawah Tan Malaka untuk menentang Syahrir. Dalam hal "Affair 3 Juli", misalnya, Sudirman setuju dengan isi petisi yang menuntut pembubaran kabinet Syahrir-Amir. Konflik politisi dan militer memuncak lagi ketika Presiden mengeluarkan dekrit 2 Januari 1948 tentang rasionalisasi. Posisi Sudirman diturunkan dari orang Nomor 1 dalam Angkatan Perang RI menjadi di bawah Menteri Pertahanan. Sudirman, Urip, dan sejumlah perwira menentang dekrit itu. Ketika kemudian Persetujuan Renville (awal 1948) menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Republik Indonesia Serikat, pihak militer menilainya sebagai kegagalan diplomasi. Sudirman pun minta Soekarno- Hatta agar mengungsi ke luar ibu kota karena Yogya akan diduduki Belanda. Anjuran ini ternyata tak ditanggapi "dwitunggal" itu, dan Sudirman lalu memutuskan untuk memimpin gerilya dari luar kota. Ketegangan berikutnya antara pemerintah dan militer adalah ketika Bung Karno mengumumkan gencatan senjata, yang diikuti Konperensi Meja Bundar (KMB) 23 Agustus-2 November 1949 dan menghasilkan Republik Indonesia Serikat (RIS). Militer tak setuju dengan gencatan senjata sebelum berunding. Sudirman sendiri tak terlalu lama menyaksikan hasil KMB itu. Ia meninggal 29 Januari 1950. Di bawah kepemimpinan Sudirman, militer mempunyai strategi untuk ikut serta dalam masalah sosial politik walau belum terumus seperti konsep middle way KSAD Jenderal A.H. Nasution sepuluh tahun kemudian bahwa tempat tentara dalam masyarakat adalah "bukan alat sipil bukan rezim militer. Tapi seperti kekuatan masyarakat lainnya, yang berjuang bersama mereka". Konsep ini kemudian ditafsirkan sebagai dasar dwifungsi ABRI. Buku yang didasarkan pada disertasi Salim Said untuk Ph.D. di Ohio State University, Amerika Serikat, itu menarik karena dilengkapi dengan wawancara dengan sejumlah tokoh pelakunya. Ada detail dan deskripsi yang memikat. Namun informasi yang benar-benar aktual kurang muncul. A. Margana Sumber: TEMPO, No 8, Tahun XXII, 25 April 1992

 Kita bisa setuju atau menolak argumentasi Salim Said dalam bukunya, bahwa tentara Indonesia adalah istimewa; tentara yang menciptakan dirinya sendiri; maka ia pun "berhak" memiliki hak dan kedudukan yang istimewa pula. Yang jelas buku ini sesuai dan selaras dengan narasi sejarah Orde Baru: Dwifungsi ABRI. 



MULA TENTARA MAIN POLITIK


Benih pertentangan antara militer dan politisi tampak sejak awal revolusi. Lewat Sudirman, ABRI tampil sebagai kekuatan militer dan politik yang berpengaruh.


(TEMPO, NO. 8, Tahun XXII, 25 April 1992, “Buku”)


Judul buku: THE GENESIS OF POWER GENERAL SUDIRMAN AND THE INDONESIAN MILITARY IN POLITICS 1945-1949

Penulis: Salim Said

Penerbit: Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 1991, 186 halaman


Angkatan Bersenjata Indonesia sering disebut lahir sendiri, self created army. Seperti ditulis Salim Said dalam buku ini, ABRI tak dibentuk oleh pemerintah atau partai politik. Dalam sejarahnya, kelahiran ABRI lebih diwarnai pandangan luas kala itu bahwa kemerdekaan tak mungkin diraih tanpa kekuatan militer.


Sebelum kemerdekaan memang ada mobilisasi oleh Jepang, yang melahirkan Pembela Tanah Air (Peta) dan Lasykar. Namun, tak berarti bahwa tentara Indonesia dibentuk Jepang. Sebab pada 19 Agustus 1945 mereka menuntut agar Peta dibubarkan.


Pada 22 Agustus 1945, BKR (Badan Keamanan Rakyat) dikukuhkan. Pada 5 Oktober, selang lima minggu kemudian, Presiden Soekarno meresmikan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) sebagai bukti kepada Sekutu bahwa Indonesia bukan kolaborator Jepang. Kemudian Bung Karno juga mengangkat pimpinan Peta, Supriyadi, menjadi Menteri Pertahanan. Sayang, Supriyadi tak pernah menduduki kursi menterinya setelah menghilang sebelum Jepang menyerah.


Para pemuda yang menjadi tentara, sekitar 150 ribu orang, semula berharap agar Syahrir lebih revolusioner dalam menghadapi Belanda dengan kekuatan militer. Namun, mereka kecewa karena Syahrir memilih jalan diplomasi. Bahkan Bung Karno, sebelum mengungsikan ibu kota ke Yogya awal 1946, menunjuk Syahrir untuk berunding dengan Belanda di Jakarta. Pemerintah sejak itu berkonflik dengan militer. 


Pertentangan antara militer dan sipil mulai meningkat setelah Bung Karno minta Amir Syarifuddin melobi eks para perwira KNIL (tentara didikan Belanda) menyiapkan konsep pembentukan Angkatan Bersenjata. Tanggal 15 Oktober 1945, Urip Sumoharjo, salah seorang eks perwira KNIL, diangkat menjadi kepala staf Angkatan Perang, dan Muhamad Sulyadikusumo sebagai Menteri Keamanan Rakyat (ad interim) menggantikan Supriyadi yang tak muncul. Para perwira, terutama eks Peta, tambah kecewa.


Pada pertemuan para perwira di Yogya, 11 Maret 1945, yang semula dirancang untuk konsolidasi berubah menjadi ajang pertentangan. Perwira-perwira eks Peta ramai-ramai memilih Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar dan Sultan Ha- mengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan.


Dua hari setelah pemilihan Sudirman dan Sultan di Yogya, Syahrir di Jakarta mengumumkan penunjukan Amir Syarifuddin menjadi Menteri Hankam dan Urip Sumoharjo sebagai kepala staf Angkatan Perang. Artinya, selama sebulan ada dua Menteri Pertahanan dan dua panglima untuk militer. Instruksi dan keputusannya pun berbeda. Amir ikut jalan Syahrir, menghadapi Belanda lewat diplomasi. Sedangkan tentara tunduk pada Sudirman, yang memilih untuk bergerilya.


Pertentangan militer—pemerintah ini sedikit reda setelah pemerintah mengakui dan melantik Sudirman menjadi Panglima Besar dengan pangkat jenderal penuh (21 Mei 1946). TRI diubah menjadi TNI untuk menyatukan berbagai kekuatan bersenjata yang ada.


Konflik pemerintah dan militer sebenarnya tak terlepas dari sikap politik Sudirman. Pemimpin karismatik tentara itu, menurut Salim Said, dikenal sebagai go between. Ia pernah sekubu dengan oposisi di bawah Tan Malaka untuk menentang Syahrir. Dalam hal "Affair 3 Juli", misalnya, Sudirman setuju dengan isi petisi yang menuntut pembubaran kabinet Syahrir-Amir.


Konflik politisi dan militer memuncak lagi ketika Presiden mengeluarkan dekrit 2 Januari 1948 tentang rasionalisasi. Posisi Sudirman diturunkan dari orang Nomor 1 dalam Angkatan Perang RI menjadi di bawah Menteri Pertahanan. Sudirman, Urip, dan sejumlah perwira menentang dekrit itu.


Ketika kemudian Persetujuan Renville (awal 1948) menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Republik Indonesia Serikat, pihak militer menilainya sebagai kegagalan diplomasi. Sudirman pun minta Soekarno- Hatta agar mengungsi ke luar ibu kota karena Yogya akan diduduki Belanda. Anjuran ini ternyata tak ditanggapi "dwitunggal" itu, dan Sudirman lalu memutuskan untuk memimpin gerilya dari luar kota. 


Ketegangan berikutnya antara pemerintah dan militer adalah ketika Bung Karno mengumumkan gencatan senjata, yang diikuti Konperensi Meja Bundar (KMB) 23 Agustus-2 November 1949 dan menghasilkan Republik Indonesia Serikat (RIS). Militer tak setuju dengan gencatan senjata sebelum berunding. Sudirman sendiri tak terlalu lama menyaksikan hasil KMB itu. Ia meninggal 29 Januari 1950.


Di bawah kepemimpinan Sudirman, militer mempunyai strategi untuk ikut serta dalam masalah sosial politik walau belum terumus seperti konsep middle way KSAD Jenderal A.H. Nasution sepuluh tahun kemudian bahwa tempat tentara dalam masyarakat adalah "bukan alat sipil bukan rezim militer. Tapi seperti kekuatan masyarakat lainnya, yang berjuang bersama mereka". Konsep ini kemudian ditafsirkan sebagai dasar dwifungsi ABRI.


Buku yang didasarkan pada disertasi Salim Said untuk Ph.D. di Ohio State University, Amerika Serikat, itu menarik karena dilengkapi dengan wawancara dengan sejumlah tokoh pelakunya. Ada detail dan deskripsi yang memikat. Namun informasi yang benar-benar aktual kurang muncul.


A. Margana


Sumber: TEMPO, No 8, Tahun XXII, 25 April 1992

KASUS "SUM KUNING" Dia bernama SUMARIJEM alias SUM KUNING, yang mana kasusnya merupakan salah satu potret paling kelam di dalam sejarah hukum di Indonesia pada masa Orde Baru. Kasus ini bukan sekadar tragedi pemerkosaan biasa, melainkan simbol dari ketidakadilan, dimana hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Berikut adalah kronologi lengkapnya ; (1) PERISTIWA PENCULIKAN DAN PEMERKOSAAN (SEPTEMBER 1970) Tragedi ini menimpa Sumarijem, seorang gadis penjual telur yang berusia 18 tahun asal Godean, Yogyakarta. Pada tanggal 21 September 1970 petang, saat ia sedang menunggu bus untuk pulang, tiba² sebuah mobil sedan mewah berhenti di dekatnya. Lalu beberapa pemuda berambut gondrong langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil yang melaju cepat, di sanalah Sumarijem kehilangan kehormatannya setelah dibius lalu diperkosa secara bergiliran oleh para pemuda tersebut. Dan Setelah melampiaskan aksi bejatnya, lalu para pelaku membuang Sumarijem di pinggir jalan dalam kondisi yang sangat lemah. Karena dia berkulit putih (kuning langsat), maka media kemudian menjulukinya sebagai "Sum Kuning". (2) KORBAN MENJADI TERSANGKA Bukannya mendapat perlindungan hukum, Sum Kuning justru mengalami intimidasi luar biasa dari oknum² kepolisian. Alih-alih mengejar pelaku, para polisi justru menuduh Sumarijem telah membuat laporan palsu dan dituduh sebagai anggota GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), yaitu organisasi yang saat itu dilarang karena berafiliasi dengan PKI, tujuannya untuk menyudutkannya secara politik. Ketika itu Sum Kuning dipaksa mengakui bahwa ceritanya hanyalah rekayasa. Bahkan, ia sempat ditahan dan diancam agar tidak menyebutkan keterlibatan "anak-anak pejabat". (3) KETERLIBATAN "ANAK² PEJABAT" DAN PERHATIAN NASIONAL Ketika itu masyarakat Yogyakarta dan media massa (terutama harian KAMI dan INDONESIA RAYA) mulai mencium adanya aroma konspirasi. Sehingga muncul dugaan kuat bahwa para pelakunya adalah anak-anak dari para pejabat tinggi militer di Yogyakarta, dan salah satunya merupakan anak dari seorang Pahlawan Nasional. Ibaratnya tidak ada asap kalau tidak ada apinya, sehingga tekanan publik begitu besar yang memaksa Kapolri saat itu, Jenderal HOEGENG IMAM SANTOSO untuk turun tangan secara langsung. Jenderal Hoegeng yang dikenal sangat jujur lalu membentuk tim khusus bernama "TIM PEMERIKSA SUM KUNING" untuk mengusut tuntas kasus ini tanpa pandang bulu. (4) INTERVENSI KEKUASAAN DAN PENCOPOTAN JENDERAL HOEGENG Langkah berani pak Hoegeng itu ternyata membentur tembok kekuasaan yang lebih tinggi. Ketika itu Presiden Soeharto memerintahkan agar kasus ini diambil alih agar ditangani langsung oleh Team Pemeriksa Pusat (KOPKAMTIB) yang merupakan Lembaga Keamanan Nasional pada saat itu. Tak lama setelah Jenderal Hoegeng mulai serius mengusut keterlibatan anak-anak pejabat dalam kasus Sum Kuning, lalu beliau dipensiunkan dini dari jabatannya sebagai Kapolri pada bulan Oktober 1971. Dalam kasus ini, banyak pihak yang meyakini bahwa pencopotan Hoegeng adalah cara rezim untuk menghentikan penyelidikan terhadap para pelaku yang sesungguhnya. (5) "KAMBING HITAM" DI PENGADILAN SETELAH HOEGENG DISINGKIRKAN Ketika itu skenario hukum mulai berubah, karena aparat kepolisian kemudian menangkap beberapa orang pemuda dari kalangan rakyat biasa (orang-orang kecil) lalu memaksanya untuk mengaku bahwa merekalah yang melakukan pemerkosaan terhadap Sum Kuning. Di pengadilan, para "pelaku abal²" ini membuat pernyataan yang sangat mengejutkan para hadirin di persidangan, karena mengatakan bahwa ketika di sel tahanan mereka telah disiksa agar mau mengakui perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Jaksa menuntut hukuman berat bagi mereka, namun hakim yang menangani kasus ini, yaitu Hakim Ketua BUDHI RAKHMADI melihat banyaknya kejanggalan. Maka dalam putusannya yang sangat berani, Hakim tersebut membebaskan para terdakwa karena tidak terbukti bersalah, dan menyatakan bahwa Sumarijem adalah korban yang jujur. (6) AKHIR CERITA Meskipun Hakim membebaskan para "kambing hitam" tersebut, namun para pelaku aslinya yang merupakan anak-anak pejabat itu tidak pernah tersentuh hukum hingga saat ini. Sum Kuning sendiri kemudian berusaha menata hidupnya kembali, dan dia sempat bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta berkat bantuan Nyonya Roeslan Abdulgani. Lalu dia menikah dengan seorang pria bernama MANTHOUS dan memilih menjauh dari sorot media demi ketenangan hidupnya. (7) KESIMPULAN Kasus Sum Kuning tetap diingat sebagai monumen kegagalan hukum di Indonesia pada masa lalu, dimana keadilan dikalahkan oleh kekuasaan dan nepotisme. Kasus ini jugalah yang semakin mengukuhkan nama Jenderal Hoegeng sebagai polisi paling jujur di Indonesia karena keberaniannya membela rakyat kecil meski harus kehilangan jabatannya. Foto inzet ; Foto aslinya mbak Sum ini sedang berada di rumah sakit setelah kejadian tersebut, terlihat wajahnya yang innocent, dengan tatapan matanya yang polos, bahkan dia masih bisa tersenyum walaupun badai yang menerpanya sangat dahsyat.

 KASUS  "SUM KUNING"

Dia bernama SUMARIJEM alias SUM KUNING, yang mana kasusnya merupakan salah satu potret paling kelam di dalam sejarah hukum di Indonesia pada masa Orde Baru.



Kasus ini bukan sekadar tragedi pemerkosaan biasa, melainkan simbol dari ketidakadilan, dimana hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas.


Berikut adalah kronologi lengkapnya ;


(1) PERISTIWA PENCULIKAN DAN PEMERKOSAAN (SEPTEMBER 1970)


Tragedi ini menimpa Sumarijem, seorang gadis penjual telur yang berusia 18 tahun asal Godean, Yogyakarta.


Pada tanggal 21 September 1970 petang, saat ia sedang menunggu bus untuk pulang, tiba² sebuah mobil sedan mewah berhenti di dekatnya.


Lalu beberapa pemuda berambut gondrong langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil yang melaju cepat, di sanalah Sumarijem kehilangan kehormatannya setelah dibius lalu diperkosa secara bergiliran oleh para pemuda tersebut.


Dan Setelah melampiaskan aksi bejatnya, lalu para pelaku membuang Sumarijem di pinggir jalan dalam kondisi yang sangat lemah.


Karena dia berkulit putih (kuning langsat), maka media kemudian menjulukinya sebagai "Sum Kuning".


(2) KORBAN MENJADI TERSANGKA


Bukannya mendapat perlindungan hukum, Sum Kuning justru mengalami intimidasi luar biasa dari oknum² kepolisian.


Alih-alih mengejar pelaku, para polisi justru menuduh Sumarijem telah membuat laporan palsu dan dituduh sebagai anggota GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia), yaitu organisasi yang saat itu dilarang karena berafiliasi dengan PKI, tujuannya untuk menyudutkannya secara politik.


Ketika itu Sum Kuning dipaksa mengakui bahwa ceritanya hanyalah rekayasa. Bahkan, ia sempat ditahan dan diancam agar tidak menyebutkan keterlibatan "anak-anak pejabat".


(3) KETERLIBATAN "ANAK² PEJABAT" DAN PERHATIAN NASIONAL


Ketika itu masyarakat Yogyakarta dan media massa (terutama harian KAMI dan INDONESIA RAYA) mulai mencium adanya aroma konspirasi.


Sehingga muncul dugaan kuat bahwa para pelakunya adalah anak-anak dari para pejabat tinggi militer di Yogyakarta, dan salah satunya merupakan anak dari seorang Pahlawan Nasional.


Ibaratnya tidak ada asap kalau tidak ada apinya, sehingga tekanan publik begitu besar yang memaksa Kapolri saat itu, Jenderal HOEGENG IMAM SANTOSO untuk turun tangan secara langsung.


Jenderal Hoegeng yang dikenal sangat jujur lalu membentuk tim khusus bernama "TIM PEMERIKSA SUM KUNING" untuk mengusut tuntas kasus ini tanpa pandang bulu.


(4) INTERVENSI KEKUASAAN DAN PENCOPOTAN JENDERAL HOEGENG


Langkah berani pak Hoegeng itu ternyata membentur tembok kekuasaan yang lebih tinggi.


Ketika itu Presiden Soeharto memerintahkan agar kasus ini diambil alih agar ditangani langsung oleh Team Pemeriksa Pusat (KOPKAMTIB) yang merupakan Lembaga Keamanan Nasional pada saat itu.


Tak lama setelah Jenderal Hoegeng mulai serius mengusut keterlibatan anak-anak pejabat dalam kasus Sum Kuning, lalu beliau dipensiunkan dini dari jabatannya sebagai Kapolri pada bulan Oktober 1971.


Dalam kasus ini, banyak pihak yang meyakini bahwa pencopotan Hoegeng adalah cara rezim untuk menghentikan penyelidikan terhadap para pelaku yang sesungguhnya.


(5) "KAMBING HITAM" DI PENGADILAN SETELAH HOEGENG DISINGKIRKAN


Ketika itu skenario hukum mulai berubah, karena aparat kepolisian kemudian menangkap beberapa orang pemuda dari kalangan rakyat biasa (orang-orang kecil) lalu memaksanya untuk mengaku bahwa merekalah yang melakukan pemerkosaan terhadap Sum Kuning.


Di pengadilan, para "pelaku abal²" ini membuat pernyataan yang sangat mengejutkan para hadirin di persidangan, karena mengatakan bahwa ketika di sel tahanan mereka telah disiksa agar mau mengakui perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan.


Jaksa menuntut hukuman berat bagi mereka, namun hakim yang menangani kasus ini, yaitu Hakim Ketua BUDHI RAKHMADI melihat banyaknya kejanggalan.


Maka dalam putusannya yang sangat berani, Hakim tersebut membebaskan para terdakwa karena tidak terbukti bersalah, dan menyatakan bahwa Sumarijem adalah korban yang jujur.


(6) AKHIR CERITA


Meskipun Hakim membebaskan para "kambing hitam" tersebut, namun para pelaku aslinya yang merupakan anak-anak pejabat itu tidak pernah tersentuh hukum hingga saat ini.


Sum Kuning sendiri kemudian berusaha menata hidupnya kembali, dan dia sempat bekerja di sebuah rumah sakit di Jakarta berkat bantuan Nyonya Roeslan Abdulgani.


Lalu dia menikah dengan seorang pria bernama MANTHOUS dan memilih menjauh dari sorot media demi ketenangan hidupnya.


(7) KESIMPULAN


Kasus Sum Kuning tetap diingat sebagai monumen kegagalan hukum di Indonesia pada masa lalu, dimana keadilan dikalahkan oleh kekuasaan dan nepotisme.


Kasus ini jugalah yang semakin mengukuhkan nama Jenderal Hoegeng sebagai polisi paling jujur di Indonesia karena keberaniannya membela rakyat kecil meski harus kehilangan jabatannya.


Foto inzet ;


Foto aslinya mbak Sum ini sedang berada di rumah sakit setelah kejadian tersebut, terlihat wajahnya yang innocent, dengan tatapan matanya yang polos, bahkan dia masih bisa tersenyum walaupun badai yang menerpanya sangat dahsyat.


Pada tahun 2018, sebuah pemandangan bersejarah terekam abadi: Presiden Turki, Recep Tayyip ErdoÄŸan, membubuhkan tanda tangannya pada lambung sebuah pesawat megah bernama "HürkuÅŸ". Nama itu bukanlah sekadar label teknis yang lewat begitu saja. Ia adalah sebuah monumen hidup, sebuah penebusan dosa sejarah bagi salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki Turki. Di balik raungan mesin jet generasi kelima yang kini sedang digarap oleh TUSAÅž, ada satu nama yang menjadi fondasi keberanian mereka: Vecihi HürkuÅŸ. Luka Sejarah yang Belum Mengering Selçuk Bayraktar, sang arsitek di balik revolusi drone Turki, pernah berujar dengan nada getir yang mendalam: "Andai saja langkah Vecihi HürkuÅŸ dan Nuri DemiraÄŸ tidak dijegal pada tahun 1930-an, hari ini Turki akan berdiri di garda terdepan industri penerbangan dunia. Kita tidak akan hanya sekadar menjadi pembeli; kita akan membicarakan merek pesawat kita sendiri sejajar dengan raksasa dunia." Di hadapan ribuan pemuda di festival Teknofest, Bayraktar mengingatkan bahwa HürkuÅŸ pernah dijebloskan ke penjara dan dilarang terbang hanya karena ia bermimpi melihat negaranya mandiri. Namun, ia menegaskan bahwa generasi hari inilah yang akan membalas dendam sejarah itu dengan menyelesaikan apa yang telah dimulai sang pionir. Suara yang sama juga pernah menggema dari orator ulung, Necmettin Erbakan. Baginya, kehancuran proyek HürkuÅŸ bukanlah kecelakaan teknis, melainkan sebuah konspirasi global yang dieksekusi oleh tangan-tangan pengkhianat di dalam negeri. "Vecihi HürkuÅŸ membangun pesawatnya dengan keringat dan keterbatasan. Bukannya membukakan pintu, negara justru mencabut izinnya dan merantai sayapnya. Mengapa? Agar Turki tetap menjadi pasar rongsokan bagi pesawat Barat, dan agar tidak ada lagi insinyur Turki yang berani bermimpi!" Kelahiran Sang Elang: Dari Abu Peperangan Siapakah sebenarnya Vecihi HürkuÅŸ? Ia lahir di senja kala Kekaisaran Utsmaniyah. Yatim sejak usia tiga tahun, ia dibesarkan dalam asuhan pamannya di lingkungan sekolah Utsmaniyah. Sejak kecil, jemarinya lebih akrab dengan sketsa dan desain—sebuah bakat yang kelak akan mengubah baja menjadi sayap. Titik balik hidupnya terjadi sebelum Perang Dunia I pecah. Saat itu, Kementerian Perang Utsmaniyah mencoba melakukan penerbangan jarak jauh dari Istanbul ke Kairo. Namun, mimpi itu berakhir dengan tragedi: pesawat jatuh di Yaffa dan Danau Tiberias. HürkuÅŸ, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berdiri di pinggir jalan Istanbul dengan hati yang hancur saat menyaksikan peti mati para pilot tersebut diarak. Di tengah isak tangis itu, ia membuat sumpah suci: "Aku akan terbang untuk membayar duka ini." Sang "Bahaya Hitam" yang Tak Terhentikan Saat Perang Dunia I berkecamuk di Front Kaukasus tahun 1917, HürkuÅŸ menjelma menjadi hantu bagi musuh. Dengan keberanian yang gila, ia menjatuhkan pesawat Rusia, menjadikannya pilot pertama dalam sejarah Utsmaniyah yang merobek langit dari pesawat lawan. Rusia menjulukinya dengan ngeri: "The Black Danger" (Bahaya Hitam). Namun, maut hampir menjemputnya. Pesawatnya tertembak, kepalanya bersimbah darah. Sebelum ditawan, ia membakar pesawatnya sendiri agar teknologi negaranya tak jatuh ke tangan musuh. Ia dibuang ke Pulau Nargin yang terisolasi di Azerbaijan. Dengan kecerdasan tekniknya yang luar biasa, ia melarikan diri dengan cara yang mustahil: berenang menyeberangi laut, lalu berjalan kaki ribuan kilometer menembus tanah Iran hingga kembali ke Istanbul—sebuah pelarian yang bahkan lebih dramatis dari film bioskop manapun. Tak ada kata istirahat baginya. Saat Perang Kemerdekaan pecah, ia bergabung dengan Mustafa Kemal Atatürk. Ia adalah manusia langka: seorang pilot sekaligus insinyur. Ia yang menerbangkan pesawat, ia yang memperbaikinya, dan ia pula yang menempa suku cadangnya dengan tangannya sendiri. Atas dedikasi ini, Parlemen Turki menganugerahinya "Medali Kemerdekaan"—penghormatan tertinggi bagi para pendiri republik. Hadiah Bagi Sang Jenius: Penjara dan Pengkhianatan Pada tahun 1924, HürkuÅŸ menciptakan keajaiban: pesawat pertama buatan asli Turki. Namun, saat ia meminta izin terbang, sebuah komite teknis menjawab dengan alasan yang menghina akal sehat: "Kami tidak memiliki cukup ilmu untuk memeriksa pesawatmu." Karena tak sabar ingin membuktikan karyanya, HürkuÅŸ terbang tanpa izin. Hasilnya? Pesawat itu terbang dengan sempurna, tapi HürkuÅŸ justru dijatuhi hukuman penjara dan pesawatnya disita. Itulah awal dari pengasingan jiwanya dari institusi negara yang ia cintai. Tak menyerah, pada 1930 ia membangun "Vecihi XIV" di sebuah bengkel kecil. Lagi-lagi, tembok birokrasi menghalanginya. Dengan sisa-sisa semangat, ia mempreteli pesawatnya, mengirimnya dengan kereta api ke Cekoslowakia. Di sana, para ahli Eropa terperangah melihat kejeniusannya. Mereka merayakan kehadirannya dan memberinya sertifikat internasional. Sebagai tamparan bagi birokrat di negaranya, ia terbang kembali dari Praha menuju Istanbul, membelah awan melintasi perbatasan untuk menunjukkan bahwa mimpi Turki tak bisa dirantai. Akhir yang Memilukan dari Sebuah Legenda HürkuÅŸ sempat dikirim ke Jerman dan menyelesaikan studi teknik penerbangan hanya dalam waktu 1,5 tahun—sebuah rekor yang mustahil bagi orang biasa. Namun, sekembalinya ke tanah air dengan ijazah dan segudang ilmu, ia justru diberikan posisi administratif rendah, sebuah penghinaan yang disengaja untuk memadamkan apinya. Saat Turki mulai dibanjiri bantuan "Proyek Marshall" dari Amerika, HürkuÅŸ berteriak lantang: "Jangan beli barang rongsokan! Kita bisa membangunnya sendiri!" Suaranya menjadi gema yang terasing. Tahun-tahun terakhirnya dihabiskan dalam perjuangan yang sepi. Ia mendirikan maskapai swasta pertama, namun disabotase oleh birokrasi hingga bangkrut dan terjerat utang. Tragedi mencapai puncaknya pada 16 Juli 1969. Saat mata seluruh dunia terpaku pada layar televisi menyaksikan manusia pertama mendarat di Bulan, di sebuah sudut sunyi di Turki, sang "Bahaya Hitam" mengembuskan napas terakhirnya dalam kemiskinan dan kesunyian. Ia pergi tanpa upacara kebesaran, tanpa penghormatan militer, terkubur di bawah tumpukan utang dan pengabaian. Epilog: Elang Itu Telah Pulang Kisah HürkuÅŸ sempat terkubur di arsip yang berdebu selama puluhan tahun, hingga akhirnya Turki terbangun dari tidur panjangnya. Para insinyur muda masa kini kini memajang fotonya di setiap meja kerja sebagai sumber api inspirasi. Nama "HürkuÅŸ" kini bukan lagi tentang seorang pria yang malang, melainkan tentang sebuah bangsa yang menolak untuk jatuh lagi. Hari ini, saat pesawat-pesawat Turki membelah cakrawala, dunia akhirnya tahu: elang itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menguasai langit yang pernah ia impikan.

 Pada tahun 2018, sebuah pemandangan bersejarah terekam abadi: Presiden Turki, Recep Tayyip ErdoÄŸan, membubuhkan tanda tangannya pada lambung sebuah pesawat megah bernama "HürkuÅŸ". Nama itu bukanlah sekadar label teknis yang lewat begitu saja. Ia adalah sebuah monumen hidup, sebuah penebusan dosa sejarah bagi salah satu putra terbaik yang pernah dimiliki Turki.



Di balik raungan mesin jet generasi kelima yang kini sedang digarap oleh TUSAŞ, ada satu nama yang menjadi fondasi keberanian mereka: Vecihi Hürkuş.


Luka Sejarah yang Belum Mengering


Selçuk Bayraktar, sang arsitek di balik revolusi drone Turki, pernah berujar dengan nada getir yang mendalam:


"Andai saja langkah Vecihi Hürkuş dan Nuri Demirağ tidak dijegal pada tahun 1930-an, hari ini Turki akan berdiri di garda terdepan industri penerbangan dunia. Kita tidak akan hanya sekadar menjadi pembeli; kita akan membicarakan merek pesawat kita sendiri sejajar dengan raksasa dunia."


Di hadapan ribuan pemuda di festival Teknofest, Bayraktar mengingatkan bahwa Hürkuş pernah dijebloskan ke penjara dan dilarang terbang hanya karena ia bermimpi melihat negaranya mandiri. Namun, ia menegaskan bahwa generasi hari inilah yang akan membalas dendam sejarah itu dengan menyelesaikan apa yang telah dimulai sang pionir.


Suara yang sama juga pernah menggema dari orator ulung, Necmettin Erbakan. Baginya, kehancuran proyek Hürkuş bukanlah kecelakaan teknis, melainkan sebuah konspirasi global yang dieksekusi oleh tangan-tangan pengkhianat di dalam negeri.

"Vecihi Hürkuş membangun pesawatnya dengan keringat dan keterbatasan. Bukannya membukakan pintu, negara justru mencabut izinnya dan merantai sayapnya. Mengapa? Agar Turki tetap menjadi pasar rongsokan bagi pesawat Barat, dan agar tidak ada lagi insinyur Turki yang berani bermimpi!"


Kelahiran Sang Elang: Dari Abu Peperangan


Siapakah sebenarnya Vecihi HürkuÅŸ? Ia lahir di senja kala Kekaisaran Utsmaniyah. Yatim sejak usia tiga tahun, ia dibesarkan dalam asuhan pamannya di lingkungan sekolah Utsmaniyah. Sejak kecil, jemarinya lebih akrab dengan sketsa dan desain—sebuah bakat yang kelak akan mengubah baja menjadi sayap.


Titik balik hidupnya terjadi sebelum Perang Dunia I pecah. Saat itu, Kementerian Perang Utsmaniyah mencoba melakukan penerbangan jarak jauh dari Istanbul ke Kairo. Namun, mimpi itu berakhir dengan tragedi: pesawat jatuh di Yaffa dan Danau Tiberias.


Hürkuş, yang saat itu baru berusia 18 tahun, berdiri di pinggir jalan Istanbul dengan hati yang hancur saat menyaksikan peti mati para pilot tersebut diarak. Di tengah isak tangis itu, ia membuat sumpah suci: "Aku akan terbang untuk membayar duka ini."


Sang "Bahaya Hitam" yang Tak Terhentikan


Saat Perang Dunia I berkecamuk di Front Kaukasus tahun 1917, Hürkuş menjelma menjadi hantu bagi musuh. Dengan keberanian yang gila, ia menjatuhkan pesawat Rusia, menjadikannya pilot pertama dalam sejarah Utsmaniyah yang merobek langit dari pesawat lawan. Rusia menjulukinya dengan ngeri: "The Black Danger" (Bahaya Hitam).


Namun, maut hampir menjemputnya. Pesawatnya tertembak, kepalanya bersimbah darah. Sebelum ditawan, ia membakar pesawatnya sendiri agar teknologi negaranya tak jatuh ke tangan musuh. Ia dibuang ke Pulau Nargin yang terisolasi di Azerbaijan. Dengan kecerdasan tekniknya yang luar biasa, ia melarikan diri dengan cara yang mustahil: berenang menyeberangi laut, lalu berjalan kaki ribuan kilometer menembus tanah Iran hingga kembali ke Istanbul—sebuah pelarian yang bahkan lebih dramatis dari film bioskop manapun.


Tak ada kata istirahat baginya. Saat Perang Kemerdekaan pecah, ia bergabung dengan Mustafa Kemal Atatürk. Ia adalah manusia langka: seorang pilot sekaligus insinyur. Ia yang menerbangkan pesawat, ia yang memperbaikinya, dan ia pula yang menempa suku cadangnya dengan tangannya sendiri. Atas dedikasi ini, Parlemen Turki menganugerahinya "Medali Kemerdekaan"—penghormatan tertinggi bagi para pendiri republik.


Hadiah Bagi Sang Jenius: Penjara dan Pengkhianatan

Pada tahun 1924, Hürkuş menciptakan keajaiban: pesawat pertama buatan asli Turki. Namun, saat ia meminta izin terbang, sebuah komite teknis menjawab dengan alasan yang menghina akal sehat: "Kami tidak memiliki cukup ilmu untuk memeriksa pesawatmu."

Karena tak sabar ingin membuktikan karyanya, Hürkuş terbang tanpa izin. Hasilnya? Pesawat itu terbang dengan sempurna, tapi Hürkuş justru dijatuhi hukuman penjara dan pesawatnya disita. Itulah awal dari pengasingan jiwanya dari institusi negara yang ia cintai.

Tak menyerah, pada 1930 ia membangun "Vecihi XIV" di sebuah bengkel kecil. Lagi-lagi, tembok birokrasi menghalanginya. Dengan sisa-sisa semangat, ia mempreteli pesawatnya, mengirimnya dengan kereta api ke Cekoslowakia. Di sana, para ahli Eropa terperangah melihat kejeniusannya. Mereka merayakan kehadirannya dan memberinya sertifikat internasional. Sebagai tamparan bagi birokrat di negaranya, ia terbang kembali dari Praha menuju Istanbul, membelah awan melintasi perbatasan untuk menunjukkan bahwa mimpi Turki tak bisa dirantai.


Akhir yang Memilukan dari Sebuah Legenda

HürkuÅŸ sempat dikirim ke Jerman dan menyelesaikan studi teknik penerbangan hanya dalam waktu 1,5 tahun—sebuah rekor yang mustahil bagi orang biasa. Namun, sekembalinya ke tanah air dengan ijazah dan segudang ilmu, ia justru diberikan posisi administratif rendah, sebuah penghinaan yang disengaja untuk memadamkan apinya.

Saat Turki mulai dibanjiri bantuan "Proyek Marshall" dari Amerika, Hürkuş berteriak lantang: "Jangan beli barang rongsokan! Kita bisa membangunnya sendiri!" Suaranya menjadi gema yang terasing.

Tahun-tahun terakhirnya dihabiskan dalam perjuangan yang sepi. Ia mendirikan maskapai swasta pertama, namun disabotase oleh birokrasi hingga bangkrut dan terjerat utang.

Tragedi mencapai puncaknya pada 16 Juli 1969. Saat mata seluruh dunia terpaku pada layar televisi menyaksikan manusia pertama mendarat di Bulan, di sebuah sudut sunyi di Turki, sang "Bahaya Hitam" mengembuskan napas terakhirnya dalam kemiskinan dan kesunyian. Ia pergi tanpa upacara kebesaran, tanpa penghormatan militer, terkubur di bawah tumpukan utang dan pengabaian.


Epilog: Elang Itu Telah Pulang


Kisah Hürkuş sempat terkubur di arsip yang berdebu selama puluhan tahun, hingga akhirnya Turki terbangun dari tidur panjangnya. Para insinyur muda masa kini kini memajang fotonya di setiap meja kerja sebagai sumber api inspirasi.


Nama "Hürkuş" kini bukan lagi tentang seorang pria yang malang, melainkan tentang sebuah bangsa yang menolak untuk jatuh lagi. Hari ini, saat pesawat-pesawat Turki membelah cakrawala, dunia akhirnya tahu: elang itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menguasai langit yang pernah ia impikan.

Rumah Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta tahun 1946

 Rumah Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta tahun 1946



SUDARMONO, “SEMUANYA BERKAT DOA DAN IMAN” (Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000) Ketika membangun empat cottages di samping Taman Kyai Langgeng, taman rekreasi di jantung Kota Magelang tahun 1988 silam, Sudarmono saat itu tak pernah terpikir usahanya akan menjadi besar seperti sekarang. Sudarmono yang saat itu bekerja sebagai kontraktor menerima tantangan Wali Kota Magelang (waktu itu) Bagus Panuntun membangun hotel melati. Kini Sudarmono sudah bisa tersenyum. Hotel melati dengan empat cottages (15 kamar) dengan luas 5.000 meter persegi itu sudah berkembang menjadi hotel bintang empat dengan 172 kamar dan menempati lahan seluas 10 hektar. Hotel Puri Asri milik Sudarmono pa- da setiap akhir pekan dan hari-hari libur selalu penuh. Hotel atau lebih pas disebut resort ini menjual pemandangan Gunung Sumbing dengan sawah dan gemericik air Sungai Progo. Bagi orang yang biasa hidup di kota, beristirahat di resort yang bernuansa alam ini memang membuat segar kembali. Inilah yang jeli dilihat Sudarmono. Dia membiarkan suasana alam mendominasi resort-nya sehingga mereka yang datang ke sana tinggal menyatu dengan alam. Awalnya, tanah itu memiliki kecuraman 40 derajat dengan ketinggian 55 meter dari permukaan air Sungai Progo. Oleh Sudarmono, lahan itu disulap menjadi resort yang indah dan nyaman. Pengalamannya sebagai kontraktor membuatnya lebih mudah membangun dengan memanfaatkan lahan yang ada. "Bangunannya hanya 10 persen, sedang 90 persen sisanya untuk penghijauan dan taman. Bangunan yang ada harus mengikuti kontur tanah," kata Sudarmono dalam percakapan dengan Kompas, akhir pekan lalu. Jumlah karyawannya saat ini 400-an orang, 85 persen di anta- ranya merupakan warga yang tinggal di sekitar hotel itu. Konsep Sudarmono mempekerjakan warga setempat sebagai karyawan hotel membuat usahanya langgeng dan berkembang. Ia selalu berpesan pada para karyawannya, "bekerjalah tanpa harus ditunggu pimpinan. Sebab, yang membayar gaji kalian adalah tamu. Jadi layanilah tamu sebaik-baiknya." Satu dari dua anaknya, Fransiska Sudarmono (22) yang baru saja lulus sekolah perhotelan di Swiss, kini membawahi bagian sumber daya manusia dan mendidik karyawan hotel itu. *** Masa kecil Sudarmono penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, lelaki kelahiran Semarang, 21 Juli 1954 ini mengenyam pendidikan sampai lulus SMA Negeri I Magelang tahun 1972. Orangtuanya lahir di Magelang. "Setelah itu, keluarga kami membuka toko mas di Jalan Mataram, Magelang. Papa tak mampu menyekolahkan anak-anaknya masuk perguruan tinggi. Angan-angan kuliah lagi sudah tertutup," cerita Sudarmono yang membantu orangtua mencari uang agar adik-adiknya bisa menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke pendidikan tinggi. Untuk membuka Toko Mas "Merak", keluarganya tidak meminjam uang ke bank, tapi memperoleh modal melalui arisan atau istilah yang dikenal di Magelang, hwe a. Toko mas itu dikelolanya sampai tahun 1978. Setelah itu, ia beralih menjadi kontraktor dan banyak mengerjakan proyek-proyek pemerintah daerah setempat. "Itu pun tidak dengan modal uang. Cukup modal kepercayaan," katanya. Salah sa-tu "karyanya" adalah Taman Kyai Langgeng yang lokasinya persis bersebelahan dengan hotel miliknya. "Saya belajar banyak dari Pak Bagus Panuntun (mantan Wali Kota Magelang). Cita-cita Pak Bagus, membuat Magelang menjadi kota pendidikan, kota bisnis, kota transit. Semua itu sudah dirintis Pak Bagus dari tahun 1981 sampai 1986. Lalu dia juga ingin Magelang punya taman di dalam kota. Tapi, kok tak ada kontraktor yang serius menangani pembangunan taman. Akhirnya Pak Bagus bilang pada saya, sudahlah Anda kan orang Magelang. Kalau tak ada yang menggerakkan perekonomian di sini, Magelang akan mati," kenang Sudarmono. Tantangan pertama yang diterimanya adalah membangun taman kota. "Tapi waktu itu Pak Bagus bilang, pemda tak punya uang. Lalu ada tawaran membangun ruko di Jalan Mataram. Saya membangun 12 ruko dan waktu itu laku semuanya senilai Rp 500 juta. Hasil penjualan ruko untuk pembangunan Taman Kyai Langgeng. Saya kerjakan selama sembilan bulan, Januari sampai September 1987. Taman kota ini diresmikan Gubernur (waktu itu) Ismail. Saya sempat mengelola manajemen Taman Kyai Langgeng selama tiga bulan, setelah itu saya serahkan ke pemda. Jadi, pemda membangun Taman Kyai Langgeng tanpa mengeluarkan uang satu rupiah pun," ujarnya. Taman kota seluas 18 hektar ini kini menjadi kebanggaan Kota Magelang. Kecintaan Sudarmono pada taman membuat lelaki itu juga memberi kontribusi yang besar pada keindahan kota Magelang. Karyawan hotelnya yang bertugas mengurusi taman, dimintanya juga membersihkan taman-taman di kota itu. Ia ingin Magelang juga menjadi daerah tujuan wisata. Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia, menjadi daya tarik wisatawan datang ke Magelang. "Tapi mengapa mereka harus menginap di Yogyakarta? Toh Magelang juga punya tempat menginap yang bagus dan nyaman? Tamu harus beli oleh-oleh, makan, dan tidur di Magelang," kata Sudarmono yang kini membangun perumahan mewah Gladiool di kota itu. "Buat saya, ini semua bisa saya jalankan berkat doa dan iman. Kalau iman saya lemah, tak mungkin saya bisa berkarya seperti ini. Saya yakin, ini semua titipan Tuhan. Selama masih diberi kesehatan oleh Tuhan, kita harus selalu berkarya, memikirkan orang lain," ungkap Sudarmono yang aktif dalam Forum Profesional Pengusaha Katolik Magelang, Yayasan Kesetiakawanan Warga Magelang, Paguyuban Umat Beriman Magelang. (ROBERT ADHI KSP) Sumber: Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000 Sumber: Herry Anggoro Djatmiko

 SUDARMONO, “SEMUANYA BERKAT DOA DAN IMAN”


(Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000)



Ketika membangun empat cottages di samping Taman Kyai Langgeng, taman rekreasi di jantung Kota Magelang tahun 1988 silam, Sudarmono saat itu tak pernah terpikir usahanya akan menjadi besar seperti sekarang. Sudarmono yang saat itu bekerja sebagai kontraktor menerima tantangan Wali Kota Magelang (waktu itu) Bagus Panuntun membangun hotel melati.


Kini Sudarmono sudah bisa tersenyum. Hotel melati dengan empat cottages (15 kamar) dengan luas 5.000 meter persegi itu sudah berkembang menjadi hotel bintang empat dengan 172 kamar dan menempati lahan seluas 10 hektar.


Hotel Puri Asri milik Sudarmono pa- da setiap akhir pekan dan hari-hari libur selalu penuh. Hotel atau lebih pas disebut resort ini menjual pemandangan Gunung Sumbing dengan sawah dan gemericik air Sungai Progo. Bagi orang yang biasa hidup di kota, beristirahat di resort yang bernuansa alam ini memang membuat segar kembali. Inilah yang jeli dilihat Sudarmono. Dia membiarkan suasana alam mendominasi resort-nya sehingga mereka yang datang ke sana tinggal menyatu dengan alam.


Awalnya, tanah itu memiliki kecuraman 40 derajat dengan ketinggian 55 meter dari permukaan air Sungai Progo. Oleh Sudarmono, lahan itu disulap menjadi resort yang indah dan nyaman. Pengalamannya sebagai kontraktor membuatnya lebih mudah membangun dengan memanfaatkan lahan yang ada. "Bangunannya hanya 10 persen, sedang 90 persen sisanya untuk penghijauan dan taman. Bangunan yang ada harus mengikuti kontur tanah," kata Sudarmono dalam percakapan dengan Kompas, akhir pekan lalu.


Jumlah karyawannya saat ini 400-an orang, 85 persen di anta- ranya merupakan warga yang tinggal di sekitar hotel itu. Konsep Sudarmono mempekerjakan warga setempat sebagai karyawan hotel membuat usahanya langgeng dan berkembang. Ia selalu berpesan pada para karyawannya, "bekerjalah tanpa harus ditunggu pimpinan. Sebab, yang membayar gaji kalian adalah tamu. Jadi layanilah tamu sebaik-baiknya." Satu dari dua anaknya, Fransiska Sudarmono (22) yang baru saja lulus sekolah perhotelan di Swiss, kini membawahi bagian sumber daya manusia dan mendidik karyawan hotel itu.


                                              ***


Masa kecil Sudarmono penuh dengan perjuangan dan kerja keras. Sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, lelaki kelahiran Semarang, 21 Juli 1954 ini mengenyam pendidikan sampai lulus SMA Negeri I Magelang tahun 1972. Orangtuanya lahir di Magelang. "Setelah itu, keluarga kami membuka toko mas di Jalan Mataram, Magelang. Papa tak mampu menyekolahkan anak-anaknya masuk perguruan tinggi. Angan-angan kuliah lagi sudah tertutup," cerita Sudarmono yang membantu orangtua mencari uang agar adik-adiknya bisa menyelesaikan sekolah dan melanjutkan ke pendidikan tinggi.


Untuk membuka Toko Mas "Merak", keluarganya tidak meminjam uang ke bank, tapi memperoleh modal melalui arisan atau istilah yang dikenal di Magelang, hwe a. Toko mas itu dikelolanya sampai tahun 1978. Setelah itu, ia beralih menjadi kontraktor dan banyak mengerjakan proyek-proyek pemerintah daerah setempat. "Itu pun tidak dengan modal uang. Cukup modal kepercayaan," katanya.


Salah sa-tu "karyanya" adalah Taman Kyai Langgeng yang lokasinya persis bersebelahan dengan hotel miliknya. "Saya belajar banyak dari Pak Bagus Panuntun (mantan Wali Kota Magelang). Cita-cita Pak Bagus, membuat Magelang menjadi kota pendidikan, kota bisnis, kota transit. Semua itu sudah dirintis Pak Bagus dari tahun 1981 sampai 1986. Lalu dia juga ingin Magelang punya taman di dalam kota. Tapi, kok tak ada kontraktor yang serius menangani pembangunan taman. Akhirnya Pak Bagus bilang pada saya, sudahlah Anda kan orang Magelang. Kalau tak ada yang menggerakkan perekonomian di sini, Magelang akan mati," kenang Sudarmono.


Tantangan pertama yang diterimanya adalah membangun taman kota.


"Tapi waktu itu Pak Bagus bilang, pemda tak punya uang. Lalu ada tawaran membangun ruko di Jalan Mataram. Saya membangun 12 ruko dan waktu itu laku semuanya senilai Rp 500 juta. Hasil penjualan ruko untuk pembangunan Taman Kyai Langgeng. Saya kerjakan selama sembilan bulan, Januari sampai September 1987. Taman kota ini diresmikan Gubernur (waktu itu) Ismail. Saya sempat mengelola manajemen Taman Kyai Langgeng selama tiga bulan, setelah itu saya serahkan ke pemda. Jadi, pemda membangun Taman Kyai Langgeng tanpa mengeluarkan uang satu rupiah pun," ujarnya. Taman kota seluas 18 hektar ini kini menjadi kebanggaan Kota Magelang.


Kecintaan Sudarmono pada taman membuat lelaki itu juga memberi kontribusi yang besar pada keindahan kota Magelang. Karyawan hotelnya yang bertugas mengurusi taman, dimintanya juga membersihkan taman-taman di kota itu. Ia ingin Magelang juga menjadi daerah tujuan wisata. Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia, menjadi daya tarik wisatawan datang ke Magelang.


"Tapi mengapa mereka harus menginap di Yogyakarta? Toh Magelang juga punya tempat menginap yang bagus dan nyaman? Tamu harus beli oleh-oleh, makan, dan tidur di Magelang," kata Sudarmono yang kini membangun perumahan mewah Gladiool di kota itu.


"Buat saya, ini semua bisa saya jalankan berkat doa dan iman. Kalau iman saya lemah, tak mungkin saya bisa berkarya seperti ini. Saya yakin, ini semua titipan Tuhan. Selama masih diberi kesehatan oleh Tuhan, kita harus selalu berkarya, memikirkan orang lain," ungkap Sudarmono yang aktif dalam Forum Profesional Pengusaha Katolik Magelang, Yayasan Kesetiakawanan Warga Magelang, Paguyuban Umat Beriman Magelang. (ROBERT ADHI KSP)


Sumber: Kompas Edisi Jateng, 26 April 2000

Sumber: Herry Anggoro Djatmiko

26 April 2026

Jenderal A.H. Nasution Menyebut Bahwa Jenderal Soedirman Pernah Menulis Surat Pengunduran Diri Jenderal A.H. Nasution menulis dalam bukunya "Tentara Nasional Indonesia I" tentang kisah Panglima Besar Jenderal Soedirman membuat surat pengunduran diri. Pada buku yang ditulis pak Nas pada pertengahan 1950-an itu diuraikan pula oleh beliau latar belakang dibuatnya surat itu oleh pak Dirman. Tulis pak Nas dalam bukunya, salah satu surat terakhir yang disusun sendiri oleh Jenderal Soedirman almarhum adalah suratnya tertanggal 1 Agustus 1949 yang berisi keberatannya tentang terjadinya persetujuan penghentian tembak-menembak yang terakhir sehingga beliau merasa tak dapat lagi meneruskan jabatannya dan bersama Panglima Tentara Territorium Djawa (PTTD) Kolonel A.H. Nasution pada hari itu mengajukan permohonan berhenti. Surat permohonan berhenti yang disusun sendiri tersebut telah pula beliau tandatangani. Surat itu ditujukan kepada Presiden Soekarno. Isinya antara lain secara singkat beliau tulis sejarah TNI dan tentang kesulitan lahirnya tentara kebangsaan. Pak Nas menguraikan lebih lanjut bahwa yang bertanggungjawab dalam bidang kebijakan politik nasional dan pertahanan adalah pemegang kekuasaan politik. Kebijakan politik menentukan cara dan wujud perjuangan termasuk persoalan pelik mengenai ketentaraan. Dalam sejarah ketentaraan, hal ini menimbulkan pertentangan antara politik dengan strategi pertahanan yang tidak habis-habisnya. Kebijakan pllitik harus mementingkan diplomasi karena itu diadakan penghentian tembak-menembak. Akibatnya dikorbankan kedudukan dan pertahanan yang strategis dan kuat. Namun tiap kali pula diplomasi itu gagal, dan pihak militer diminta bertempur kembali. Tentu saja dalam keadaan yang sulit karena strategi pertahanan yang sudah baik telah dikorbankan. Contohnya, kata pak Nasution, waktu Brigade Mallaby di Surabaya sudah terkepung dan diancam untuk menyerah, lalu datang Presiden Soekarno dengan pesawat RAF untuk memerintahkan penghentian pertempuran. Pertempuran terhenti, perundingan dimulai.Tapi satu divisi lengkap pasukan sekutu tiba di Surabaya lalu pihak Inggeris memberi ultimatum yang menghinakan untuk mengusir pasukan TNI keluar dari Surabaya. Di Semarang Presiden juga memerintahkan penghentian tembak-menembak, padahal waktu itu Inggeris dan Belanda sangat kekurangan pasukan. Sejumlah contoh lain disebutkan pak Nasution mengenai perintah penghentian pertempuran yang merugikan strategi pertahanan. Maka datanglah perintah cease-fire yang kesekian kalinya untuk membuka jalan bagi politik. Saat itu perjuangan justru berada pada taraf yang mulai meningkat. Jadi sulit dimengerti oleh pimpinan operasional yang tertinggi dalam TNI. Lalu pada tanggal 1 Agustus 1949 Jenderal Sudirman menulis sendiri surat permohonan berhenti itu. Pak Nas juga mencatat peringatan yang sangat ikhlas dari Wakil Presiden, Bung Hatta, kepada pak Nas selaku PTTD. "Saya khawatir Kolonel terjerumus ke dalam kesalahan yang selalu ditempuh kaum militer seperti Jerman pada PD I dan II yang melihat perjuangan negara semata-mata dari sisi militer sehingga membawa kehancuran yang disusul diktat perdamaian yang berat." Bung Hatta juga menyampaikan bahwa politik yang dijalankan oleh pemerintah RI sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 didasarkan pada rangkaian yang seimbang antara diplomasi dan kekuatan militer. Setelah pertemuan di istana dan memperhitungkan konsekuensi perpecahan yang mungkin timbul di kalangan pimpinan nasional pak Nasution selaku PTTD mengusulkan kepada Jenderal Soedirman agar tidak meneruskan surat tersebut. Pak Dirman akhirnya memutuskan membatalkan permohonan pengunduran dirinya. Sumber : Tentara Nasional Indonesia I Penulis: Kolonel A.H. Nasution. Jenderal A.H. Nasution Menyebut Bahwa Jenderal Soedirman Pernah Menulis Surat Pengunduran Diri

 Jenderal A.H. Nasution Menyebut Bahwa Jenderal Soedirman Pernah Menulis Surat Pengunduran Diri

Jenderal A.H. Nasution menulis dalam bukunya "Tentara Nasional Indonesia I" tentang kisah Panglima Besar Jenderal Soedirman membuat surat pengunduran diri. Pada buku yang ditulis pak Nas pada pertengahan 1950-an itu diuraikan pula oleh beliau latar belakang dibuatnya surat itu oleh pak Dirman.



Tulis pak Nas dalam bukunya, salah satu surat terakhir yang disusun sendiri oleh Jenderal Soedirman almarhum adalah suratnya tertanggal 1 Agustus 1949 yang berisi keberatannya tentang terjadinya persetujuan  penghentian tembak-menembak yang terakhir sehingga beliau merasa tak dapat lagi meneruskan jabatannya dan bersama Panglima Tentara Territorium Djawa (PTTD) Kolonel A.H. Nasution pada hari itu mengajukan permohonan berhenti. Surat permohonan berhenti yang  disusun sendiri  tersebut telah pula beliau tandatangani. 


Surat itu ditujukan kepada Presiden Soekarno. Isinya antara lain secara singkat beliau tulis sejarah TNI dan tentang kesulitan lahirnya tentara kebangsaan. Pak Nas menguraikan lebih lanjut bahwa yang bertanggungjawab dalam bidang kebijakan politik nasional dan pertahanan adalah pemegang kekuasaan politik. Kebijakan politik menentukan cara dan wujud perjuangan termasuk persoalan pelik mengenai ketentaraan. Dalam sejarah ketentaraan, hal ini menimbulkan  pertentangan antara politik dengan strategi pertahanan yang tidak habis-habisnya. Kebijakan pllitik   harus mementingkan diplomasi karena itu diadakan penghentian tembak-menembak. Akibatnya dikorbankan kedudukan dan pertahanan yang strategis dan kuat. 


Namun tiap kali pula diplomasi itu gagal, dan pihak militer diminta bertempur kembali. Tentu saja dalam keadaan yang sulit karena strategi pertahanan yang sudah baik telah dikorbankan. Contohnya, kata pak Nasution, waktu Brigade Mallaby di Surabaya sudah terkepung dan diancam untuk menyerah, lalu datang Presiden Soekarno dengan pesawat RAF untuk memerintahkan penghentian pertempuran. Pertempuran terhenti, perundingan dimulai.Tapi satu divisi lengkap pasukan sekutu tiba di Surabaya lalu pihak Inggeris memberi ultimatum yang menghinakan untuk mengusir pasukan TNI keluar dari Surabaya. 


Di Semarang Presiden juga memerintahkan penghentian tembak-menembak, padahal waktu itu Inggeris dan Belanda sangat kekurangan pasukan. Sejumlah contoh lain disebutkan pak Nasution mengenai perintah penghentian pertempuran yang merugikan strategi pertahanan. Maka datanglah perintah cease-fire yang kesekian kalinya untuk membuka jalan bagi politik. Saat itu perjuangan justru berada  pada taraf yang mulai meningkat. Jadi sulit dimengerti oleh pimpinan operasional yang tertinggi  dalam TNI. Lalu pada tanggal 1 Agustus 1949 Jenderal Sudirman menulis sendiri surat permohonan berhenti itu.


Pak Nas juga mencatat peringatan yang sangat ikhlas dari Wakil Presiden, Bung Hatta, kepada pak Nas selaku PTTD.

"Saya khawatir Kolonel terjerumus ke dalam kesalahan yang selalu ditempuh kaum militer seperti Jerman pada PD I dan II yang melihat perjuangan negara semata-mata dari sisi militer sehingga membawa kehancuran yang disusul diktat perdamaian yang berat." 

Bung Hatta juga menyampaikan bahwa politik yang dijalankan oleh pemerintah RI  sejak Proklamasi 17 Agustus 1945 didasarkan pada rangkaian yang seimbang antara diplomasi dan kekuatan militer.


Setelah pertemuan di istana dan memperhitungkan konsekuensi perpecahan yang mungkin timbul di kalangan pimpinan nasional  pak Nasution selaku PTTD mengusulkan kepada Jenderal Soedirman agar tidak meneruskan surat tersebut. Pak Dirman akhirnya memutuskan membatalkan permohonan pengunduran dirinya.


Sumber : 

Tentara Nasional Indonesia I

                  Penulis: Kolonel A.H. Nasution.

Jenderal A.H. Nasution Menyebut Bahwa Jenderal Soedirman Pernah Menulis Surat Pengunduran Diri


25 April 2026

Di tanah asing yang jauh dari kemilau takhta emasnya, Bahadur Shah Zafar—sang penguasa terakhir dari Dinasti Mughal yang agung—menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian pengasingan di Rangoon, Burma. Namun, sebelum maut menjemput dalam sunyi, ia adalah sumbu dari sebuah ledakan besar yang mengguncang dunia. Bara Perlawanan Sang Raja Tua Tahun 1857, saat fajar pembero.ntakan menyulut daratan India, sang Sultan yang telah berusia 81 tahun itu tidak memilih untuk tunduk. Di bawah panjinya, sebuah persatuan suci terbentuk: pejuang Hindu dan Muslim berdiri tegak, bahu-membahu menghunus pe..dang melawan tirani Inggris dalam Pe..rang Kemerdekaan Pertama yang banjir da..rah. Namun, takdir berkata lain. Perlawanan itu dipatahkan, dan Delhi pun jatuh ke tangan penjajah. Kota Para Penyair yang Menjadi Padang Mayat Penulis William Dalrymple melukiskan tragedi itu dengan tinta kepedihan: "Di antara tumpukan ma.yat, terbaring para penyair dan seniman paling berbakat yang pernah dimiliki Delhi. Mereka adalah marwah dan kebanggaan kota ini," tulis Zahir Dehlavi. "Tiada tandingan bagi mereka di zamannya, dan dunia takkan pernah lagi melihat sosok-sosok seperti mereka." Sang Sultan, dalam keputusasaan terakhirnya, mencari perlindungan di balik dinding megah Makam Humayun. Namun, di sanalah ia ditangkap. Delhi—metropolis Mughal yang pernah menjadi pusat peradaban Hindustan—seketika berubah menjadi kota hantu yang gersang, sebuah monumen bisu bagi mereka yang telah tiada. Tragedi di Gerbang Berdarah Setelah pengadilan yang memilukan, Bahadur Shah Zafar dibuang layaknya pesakitan ke Rangoon, tempat ia akhirnya wafat dan dikuburkan dalam kehampaan pada tahun 1862. Namun, kekejaman Inggris belum usai. Hanya selang sehari setelah penangkapan sang Sultan, tepat pada 21 September, William Hodson melakukan tindakan biadab di luar batas kemanusiaan. Tanpa perintah resmi, dengan tangan dingin yang haus darah, ia menembak mati putra-putra Sultan—Mirza Mughal dan Mirza Khizr—serta cucunya, Mirza Abu Bakr. Pembantaian itu terjadi di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai "Khooni Darwaza" atau Gerbang Berdarah. Di sanalah, hanya tiga kilometer dari Benteng Merah yang perkasa, garis keturunan agung Dinasti Mughal diputus paksa oleh timah panas, meninggalkan luka yang takkan pernah mengering dalam sejarah India. Sumber Utama: • The Last Mughal: The Fall of a Dynasty: Delhi, 1857 oleh William Dalrymple

 Di tanah asing yang jauh dari kemilau takhta emasnya, Bahadur Shah Zafar—sang penguasa terakhir dari Dinasti Mughal yang agung—menghembuskan napas terakhirnya dalam kesunyian pengasingan di Rangoon, Burma. Namun, sebelum maut menjemput dalam sunyi, ia adalah sumbu dari sebuah ledakan besar yang mengguncang dunia.



Bara Perlawanan Sang Raja Tua


Tahun 1857, saat fajar pembero.ntakan menyulut daratan India, sang Sultan yang telah berusia 81 tahun itu tidak memilih untuk tunduk. Di bawah panjinya, sebuah persatuan suci terbentuk: pejuang Hindu dan Muslim berdiri tegak, bahu-membahu menghunus pe..dang melawan tirani Inggris dalam Pe..rang Kemerdekaan Pertama yang banjir da..rah.


Namun, takdir berkata lain. Perlawanan itu dipatahkan, dan Delhi pun jatuh ke tangan penjajah.


Kota Para Penyair yang Menjadi Padang Mayat


Penulis William Dalrymple melukiskan tragedi itu dengan tinta kepedihan:

"Di antara tumpukan ma.yat, terbaring para penyair dan seniman paling berbakat yang pernah dimiliki Delhi. Mereka adalah marwah dan kebanggaan kota ini," tulis Zahir Dehlavi. "Tiada tandingan bagi mereka di zamannya, dan dunia takkan pernah lagi melihat sosok-sosok seperti mereka."


Sang Sultan, dalam keputusasaan terakhirnya, mencari perlindungan di balik dinding megah Makam Humayun. Namun, di sanalah ia ditangkap. Delhi—metropolis Mughal yang pernah menjadi pusat peradaban Hindustan—seketika berubah menjadi kota hantu yang gersang, sebuah monumen bisu bagi mereka yang telah tiada.


Tragedi di Gerbang Berdarah


Setelah pengadilan yang memilukan, Bahadur Shah Zafar dibuang layaknya pesakitan ke Rangoon, tempat ia akhirnya wafat dan dikuburkan dalam kehampaan pada tahun 1862.


Namun, kekejaman Inggris belum usai. Hanya selang sehari setelah penangkapan sang Sultan, tepat pada 21 September, William Hodson melakukan tindakan biadab di luar batas kemanusiaan. 

Tanpa perintah resmi, dengan tangan dingin yang haus darah, ia menembak mati putra-putra Sultan—Mirza Mughal dan Mirza Khizr—serta cucunya, Mirza Abu Bakr.


Pembantaian itu terjadi di sebuah tempat yang kini dikenal sebagai "Khooni Darwaza" atau Gerbang Berdarah. Di sanalah, hanya tiga kilometer dari Benteng Merah yang perkasa, garis keturunan agung Dinasti Mughal diputus paksa oleh timah panas, meninggalkan luka yang takkan pernah mengering dalam sejarah India.


Sumber Utama:

• The Last Mughal: The Fall of a Dynasty: Delhi, 1857 oleh William Dalrymple

Pondok Pesantren Al-Fatah dulu berlokasi di Cidahu Tasikmalaya Jawa Barat. Didirikan oleh KH Abdul Fatah pada tahun 1932. KH. Abdul Fatah menyebarkan ajaran Tareqat Idrisiyyah yang dibawanya dari Jabal Gubesh Saudy Arabia. di Tahun 80-an, KH Mohmmad Dahlan salah satu putra dari KH Abdul Fatah mewarisi pondok pesantren ini dan kemudian memindahkan lokasi pesantren in ke Pagendingan di atas tanah wakaf seluaskurang lebih, 2.5 hektar. Tareqat Idrisiyyah berkembang hingga sekarang, ada panti asuhan dan koperasinya yang berjalan dengan baik. Dulu, kekhasan pesantren ini benar-benar mewakili warna kota Tasikmalaya yang kuat. Sebagaimana diketahui bersama, Tasikmalaya selain dikenal sebagai daerah penghasil aneka industri kerajinan rakyat, diantaranya bordiran. Pesantren ini pun cara berpakaiannya pun berbeda dengan pesantren pada umumnya. Para santri pria berpakaian serba putih (gamis Arab), lengkap pakai sorban, tidak ubahnya seperti jemaah haji. Berpakaian seperti ini di era itu belum sepopuler sekarang di Indonesia. Sedangkan para santri wanitanya mengenakan pakaian tertutup sekujur tubuh dari kepala hingga kaki, begitu juga dengan mukanya yang ditutupi cadar penuh dengan bordiran indah khas Tasikmalaya. Penutup ini dinamakan “barego". Mereka memakai pakaian seperti ini memang ada tujuannya, selain menjalankan ajaran agama dan Sunnah Rasulullah, juga melindungi para santri wanita pada waktu itu dari para oknum yang bertopeng pejabat pemerintahan atau pemuka agama. Cukup hanya melihat keindahan bordiran Tasikmalaya saja. Pesantren in juga memiliki ciri khas lain yakni para santri tidak diperbolehkan merokok dan makan yang berbau-bauan seperti jengkol dan petai. Dulu saha ketika masuk ke dalam kampus pesantren ini sudah ada tulisan “dilarang merokok”. Hal yang tidak biasa di lingkungan pesantren waktu itu. Sumber: Pikiran Rakyat, 18-4-1986. Koleksi Surat Kabar Langka-Perpustakaan Nasional Salemba (SKALA-Team)

 Pondok Pesantren Al-Fatah dulu berlokasi di Cidahu Tasikmalaya Jawa Barat. Didirikan oleh KH Abdul Fatah pada tahun 1932. KH. Abdul Fatah menyebarkan ajaran Tareqat Idrisiyyah yang dibawanya dari Jabal Gubesh Saudy Arabia.



di Tahun 80-an, KH Mohmmad Dahlan salah satu putra dari KH Abdul Fatah mewarisi pondok pesantren ini dan kemudian memindahkan lokasi pesantren in ke Pagendingan di atas tanah wakaf seluaskurang lebih, 2.5 hektar. 


Tareqat Idrisiyyah berkembang hingga sekarang,  ada panti asuhan dan koperasinya yang berjalan dengan baik.


Dulu, kekhasan pesantren ini benar-benar mewakili warna kota Tasikmalaya yang kuat. Sebagaimana diketahui bersama, Tasikmalaya selain dikenal sebagai daerah penghasil aneka industri kerajinan rakyat, diantaranya bordiran. 


Pesantren ini pun  cara berpakaiannya pun berbeda dengan pesantren pada umumnya. Para santri pria berpakaian serba putih (gamis Arab), lengkap pakai sorban, tidak ubahnya seperti jemaah haji. Berpakaian seperti ini di era itu belum sepopuler sekarang di Indonesia.  


Sedangkan para santri wanitanya mengenakan pakaian tertutup sekujur tubuh dari kepala hingga kaki, begitu juga dengan mukanya yang ditutupi cadar penuh dengan bordiran indah  khas Tasikmalaya.  Penutup ini dinamakan “barego". Mereka memakai pakaian seperti ini memang ada tujuannya, selain menjalankan ajaran agama dan Sunnah Rasulullah, juga melindungi para santri wanita pada waktu itu dari para oknum yang bertopeng pejabat pemerintahan atau pemuka agama.  Cukup hanya melihat keindahan bordiran Tasikmalaya saja.

 

Pesantren in juga memiliki ciri khas lain yakni para santri tidak diperbolehkan merokok dan makan yang berbau-bauan seperti jengkol dan petai. Dulu saha ketika masuk ke dalam kampus pesantren ini sudah ada tulisan “dilarang  merokok”.  Hal yang tidak biasa di lingkungan pesantren waktu itu.


Sumber: Pikiran Rakyat, 18-4-1986. Koleksi Surat Kabar Langka-Perpustakaan Nasional Salemba (SKALA-Team)

- Atas dulu, Groote Weg Zuid, ingang Chinees kamp te Magelang, ca 1927. .,. Bawah kini, Jl A Yani - Jl Pemuda, Magelang, 2023

 -


Atas dulu, Groote Weg Zuid, ingang Chinees kamp te Magelang, ca 1927. .,. 

Bawah kini, Jl A Yani - Jl Pemuda, Magelang, 2023


Sumber : Bintoro Hoepoedio

TIGA PENDOSA YANG TIDAK TERAMPUNI Ini catatan dalam "Babad Diponegoro". Pangeran Diponegoro sendiri yang menulis, mengapa Ratu Ageng keluar dari istana. Alasan pertama, karena sering berselisih dengan anaknya sendiri, Raja Jogja kedua, Sultan HB II. "... Ratu Ageng bagaimana dia berselisih dengan anaknya sendiri. Oleh karena itu ia keluar istana dengan rasa marah dan membuka pemukiman baru .... Tempat itu disebut Tegalrejo." Ratu Ageng kecewa dengan anaknya, Sultan HB II, karena tidak patuh dengan kewajiban Islam. Jarang berkunjung ke Masjid Agung, tempat ibadah resmi para raja. Alasan kedua, karena anaknya, Sultan HB II, dikelilingi pejabat tinggi yang juga mengabaikan ajaran Islam. Pejabat tinggi itu adalah Patih Danureja II, Tumenggung Sumodiningrat, dan Ronggo Prawirodirjo III. Mereka adalah para menantu Sultan HB II. Ratu Ageng menyebut mereka bertiga sebagai "para pendosa yang tidak terampuni." "Ketiga pejabat itu semuanya muda-muda nafsu Sang Sultan lebih besar daripada nafsu bapaknya begitu juga dengan ketiga pejabat ini yang semuanya berdosa melawan agama ...." Bagi yang tidak percaya, bisa baca sendiri babadnya. Sejarah kemudian mencatat kematian yang mengenaskan dari 3 pejabat itu. Patih Danureja II meninggal dibunuh rajanya. Ronggo Prawirodirjo III terbunuh atas perintah Daendeles. Dan, Tumenggung Sumodiningrat terbunuh dalam Geger Sepehi. #books #babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

 TIGA PENDOSA YANG TIDAK TERAMPUNI


Ini catatan dalam "Babad Diponegoro".


Pangeran Diponegoro sendiri yang menulis, mengapa Ratu Ageng keluar dari istana.



Alasan pertama, karena sering berselisih dengan anaknya sendiri, Raja Jogja kedua, Sultan HB II.


"... Ratu Ageng

bagaimana dia berselisih 

dengan anaknya sendiri.

Oleh karena itu ia keluar istana dengan rasa marah

dan membuka pemukiman baru

....

Tempat itu disebut Tegalrejo."


Ratu Ageng kecewa dengan anaknya, Sultan HB II, karena tidak patuh dengan kewajiban Islam. Jarang berkunjung ke Masjid Agung, tempat ibadah resmi para raja.


Alasan kedua, karena anaknya, Sultan HB II, dikelilingi pejabat tinggi yang juga mengabaikan ajaran Islam.


Pejabat tinggi itu adalah Patih Danureja II, Tumenggung Sumodiningrat, dan Ronggo Prawirodirjo III. Mereka adalah para menantu Sultan HB II.


Ratu Ageng menyebut mereka bertiga sebagai "para pendosa yang tidak terampuni."


"Ketiga pejabat itu semuanya muda-muda

nafsu Sang Sultan 

lebih besar daripada nafsu bapaknya

begitu juga dengan ketiga pejabat ini

yang semuanya berdosa

melawan agama

...."


Bagi yang tidak percaya, bisa baca sendiri babadnya.


Sejarah kemudian mencatat kematian yang mengenaskan dari 3 pejabat itu.


Patih Danureja II meninggal dibunuh rajanya. Ronggo Prawirodirjo III terbunuh atas perintah Daendeles. Dan, Tumenggung Sumodiningrat terbunuh dalam Geger Sepehi.


Sumber : Nassirun Purwokartun

#books #babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

23 April 2026

*Siapa Sosok Polwan Ni Luh Putu Sugiantri? Pernah Tolak Jadi Ajudan Tien Soeharto.* Di balik lembaran sejarah bangsa, terselip kisah sunyi tentang kesetiaan yang nyaris terlupakan. Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tidak sepopuler tokoh besar negeri ini, namun jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam detik-detik terakhir kehidupan Soekarno sang Proklamator. Ia bukan sekadar Polisi Wanita (Polwan). Ia adalah saksi hidup runtuhnya kekuasaan, kesunyian seorang pemimpin, dan pahitnya perubahan zaman. Dari Gadis Bali Menuju Lingkaran Istana Perjalanan hidup Sugiantri dimulai dari Bali pada tahun 1964. Saat itu, usianya baru 16 tahun terlalu muda untuk menjadi anggota Polwan. Namun, dengan tekad kuat, ia “menambah” usianya menjadi 18 tahun demi bisa lolos seleksi. Keputusan berani itu mengantarkannya ke pendidikan kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Di sanalah ia ditempa, bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai pribadi yang kelak dipercaya berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara. Tak hanya menjalankan tugas formal, Sugiantri juga kerap tampil menari dalam acara-acara kenegaraan menunjukkan sisi humanis seorang abdi negara di lingkungan Istana. Menjadi Pengawal Setia di Masa Paling Kelam Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. Pasukan pengawal presiden Cakrabirawa dibubarkan, dan peran pengamanan beralih ke kepolisian. Di tengah gejolak itulah, Sugiantri terpilih menjadi ajudan, bahkan menjadi Polwan terakhir yang mengawal langsung Soekarno hingga akhir hayatnya pada 1970. Namun, yang ia saksikan bukan lagi kemegahan seorang presiden. Ia melihat sisi lain: seorang pemimpin besar yang hidup dalam keterbatasan, terisolasi, dan perlahan dilupakan. Di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala), Bung Karno menjalani masa tahanan rumah. Ia dibatasi tidak boleh berbicara politik, tidak bebas menerima tamu, bahkan tak leluasa ke mana-mana. Yang paling menyayat, menurut kesaksian Sugiantri, sang Proklamator bahkan tidak memiliki uang untuk sekadar membeli makanan. Karena tak tega, Sugiantri kerap menyisihkan gajinya yang kecil untuk membelikan buah dan makanan bagi Bung Karno. Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna kemanusiaan. Saksi Bisu Peralihan Kekuasaan Sugiantri juga menjadi saksi masa-masa transisi kekuasaan menuju Soeharto, yang mengambil alih kendali negara melalui mandat Supersemar. Dalam salah satu kenangannya, ia sempat menanyakan kepada Bung Karno tentang penyerahan kekuasaan tersebut. Jawaban yang ia terima sederhana namun sarat makna: “Semua itu dilakukan demi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.” Kalimat ini menggambarkan dilema seorang pemimpin yang harus memilih antara kekuasaan atau stabilitas bangsa. Menolak Kekuasaan, Memilih Jalan Sendiri Setelah era berganti, Sugiantri sempat diminta menjadi ajudan Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto. Namun, ia menolak. Bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengetahui banyak hal yang membuatnya enggan berada di lingkaran kekuasaan baru. Dalam kisah lain, ia juga pernah merasa tersakiti karena dituduh memiliki hubungan pribadi dengan Bung Karno. Sebagai bentuk penolakan, ia memilih langkah drastis: menikah dan menjauh dari tawaran tersebut. Keputusan itu membuat kariernya stagnan ia tidak pernah naik pangkat. Namun, ia juga tidak diberhentikan. Sebuah posisi “diam” yang justru mempertegas integritas dan prinsip hidupnya. Kesetiaan yang Tak Pernah Mencari Sorotan Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tenggelam dalam arus besar sejarah. Namun kisahnya adalah potret langka tentang: Loyalitas tanpa pamrih Keberanian mengambil sikap Kemanusiaan di tengah pusaran politik _*Ia bukan tokoh besar dalam buku sejarah. Justru dari sudut sunyi itulah, kita melihat sisi paling manusiawi dari perjalanan bangsa ini.*_ Sumber: Tribunnews.com #NiLuhPutuSugiantri #Soekarno #SejarahIndonesia #PolwanIndonesia #OrdeLama #OrdeBaru #KisahInspiratif

 *Siapa Sosok Polwan Ni Luh Putu Sugiantri? Pernah Tolak Jadi Ajudan Tien Soeharto.*


Di balik lembaran sejarah bangsa, terselip kisah sunyi tentang kesetiaan yang nyaris terlupakan. Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tidak sepopuler tokoh besar negeri ini, namun jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam detik-detik terakhir kehidupan Soekarno sang Proklamator.



Ia bukan sekadar Polisi Wanita (Polwan). Ia adalah saksi hidup runtuhnya kekuasaan, kesunyian seorang pemimpin, dan pahitnya perubahan zaman.


Dari Gadis Bali Menuju Lingkaran Istana


Perjalanan hidup Sugiantri dimulai dari Bali pada tahun 1964. Saat itu, usianya baru 16 tahun terlalu muda untuk menjadi anggota Polwan. Namun, dengan tekad kuat, ia “menambah” usianya menjadi 18 tahun demi bisa lolos seleksi.


Keputusan berani itu mengantarkannya ke pendidikan kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Di sanalah ia ditempa, bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai pribadi yang kelak dipercaya berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara.


Tak hanya menjalankan tugas formal, Sugiantri juga kerap tampil menari dalam acara-acara kenegaraan menunjukkan sisi humanis seorang abdi negara di lingkungan Istana.


Menjadi Pengawal Setia di Masa Paling Kelam


Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. Pasukan pengawal presiden Cakrabirawa dibubarkan, dan peran pengamanan beralih ke kepolisian.


Di tengah gejolak itulah, Sugiantri terpilih menjadi ajudan, bahkan menjadi Polwan terakhir yang mengawal langsung Soekarno hingga akhir hayatnya pada 1970.


Namun, yang ia saksikan bukan lagi kemegahan seorang presiden. Ia melihat sisi lain: seorang pemimpin besar yang hidup dalam keterbatasan, terisolasi, dan perlahan dilupakan.


Di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala), Bung Karno menjalani masa tahanan rumah. Ia dibatasi tidak boleh berbicara politik, tidak bebas menerima tamu, bahkan tak leluasa ke mana-mana.


Yang paling menyayat, menurut kesaksian Sugiantri, sang Proklamator bahkan tidak memiliki uang untuk sekadar membeli makanan.


Karena tak tega, Sugiantri kerap menyisihkan gajinya yang kecil untuk membelikan buah dan makanan bagi Bung Karno. Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna kemanusiaan.


Saksi Bisu Peralihan Kekuasaan


Sugiantri juga menjadi saksi masa-masa transisi kekuasaan menuju Soeharto, yang mengambil alih kendali negara melalui mandat Supersemar.


Dalam salah satu kenangannya, ia sempat menanyakan kepada Bung Karno tentang penyerahan kekuasaan tersebut. Jawaban yang ia terima sederhana namun sarat makna:


“Semua itu dilakukan demi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.”


Kalimat ini menggambarkan dilema seorang pemimpin yang harus memilih antara kekuasaan atau stabilitas bangsa.


Menolak Kekuasaan, Memilih Jalan Sendiri


Setelah era berganti, Sugiantri sempat diminta menjadi ajudan Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto.


Namun, ia menolak.


Bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengetahui banyak hal yang membuatnya enggan berada di lingkaran kekuasaan baru. Dalam kisah lain, ia juga pernah merasa tersakiti karena dituduh memiliki hubungan pribadi dengan Bung Karno.


Sebagai bentuk penolakan, ia memilih langkah drastis: menikah dan menjauh dari tawaran tersebut.


Keputusan itu membuat kariernya stagnan ia tidak pernah naik pangkat. Namun, ia juga tidak diberhentikan. Sebuah posisi “diam” yang justru mempertegas integritas dan prinsip hidupnya.


Kesetiaan yang Tak Pernah Mencari Sorotan


Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tenggelam dalam arus besar sejarah. Namun kisahnya adalah potret langka tentang:


Loyalitas tanpa pamrih


Keberanian mengambil sikap


Kemanusiaan di tengah pusaran politik


_*Ia bukan tokoh besar dalam buku sejarah. Justru dari sudut sunyi itulah, kita melihat sisi paling manusiawi dari perjalanan bangsa ini.*_

Sumber: Tribunnews.com

#NiLuhPutuSugiantri #Soekarno #SejarahIndonesia #PolwanIndonesia #OrdeLama #OrdeBaru #KisahInspiratif

Berlagak bak raja dan ratu, tukang becak dan pelacur ini berhasil menipu Presiden😱 Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno juga pernah di prank atau ditipu oleh Raja Idrus dan Ratu Markonah. Kejadiannya sekitar tahun 1950-an, sepasang suami-istri ini membuat kehebohan nasional, mereka diterima Presiden Sukarno di Istana Negara. Ppasangan bernama Idrus dan Markonah, keduanya mengaklaim sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di Wilayah Lampung. Keduanya sukses masuk ke istana atas saran seorang pejabat agar Bung Karno berkenan menemuinya. Saran ini sangat muluk, yakni karena raja dan ratu ini punya kekuatan tertentu yang bisa membantu pembebasan Irian Barat. Kondisi saat itu juga Soekarno tengah berupaya mengusir Belanda di Irian Barat, maka kabar raja dan ratu ini bisa membantu membuat Soekarni menyambutnya dengan gembira. Kehadiran Raja Idrus dan Ratu Markonah juga menjadi topik utama media kala itu. Sebut saja Koran Masa Marhaen dan Koran Duta Masyarakat, memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan. Saran dari seorang pejabat terbukti. Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan: Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat. Apalagi, foto itu menarik karena keduanya mengenakan kacamata hitam. Kisahnya, malansir dari kompasiana.com bermodal dari surat rekomendasi pemerintah Sumatra Selatan, beberapa bulan kemudian, pada 10 Maret 1958, Idrus, Markonah dan pengikutnya berangkat ke Jakarta. Di Sumatra belahan utara kala itu sedang bergolak gerakan separatis yang menamakan diri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri. Idrus dan Markonah diterima oleh Presiden Sukarno di Istana Negara. Mereka berencana berkeliling ke beberapa kota di pulau Jawa. Sukarno pun bersedia memfasilitasinya. Harapannya agar Idrus bisa melihat dan belajar perkembangan kota-kota. Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu. Raja Idrus digambarkan sebagai sosok pria berusia sekitar 42 tahun dengan kostum ala militer. Sedangkan penampilan Ratu Markonah juga tak kalah menarik perhatian. Markonah yang menjabat sebagai permaisuri Raja Idrus selalu memakai kaca mata hitam saat tampil di hadapan publik. Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, "Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat". Harian Belanda Leeuwarder Courant pada 7 April 1959 menulis, "Dalam perjalanan itu Idrus mengaku memiliki 18 orang istri. Selain itu, dia mengklaim mempunyai istana besar di salah satu gua raksasa. Di dalamnya terdapat mumi dari 40 orang Jepang dan Belanda". Dalam perjalanan ke beberapa kota, mereka berdua dikawal voorijder layaknya pejabat. Namun pada akhirnya, identitas asli Raja Idrus dan Ratu Markonah pun terungkap. Kedok mereka terbongkar saat pasangan suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta. Saat itu ada seorang tukang becak yang mengenali Idrus. Karena ternyata, Idrus itu adalah rekan se-profesinya yang sudah lama dikenalnya. Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok kedua penipu itu. Idrus diketahui berprofesi sebagai tukang becak, sedangkan Markonah adalah pekerja seks komersial (PSK) asal Tegal, Jawa Tengah. Di Madiun pasangan kerajaan gadungan ini kena ciduk aparat. Idrus dan Markonah pun digelandang ke markas CPM, bukan ke balai kota tempat mereka disambut sebelumnya. Mereka kemudian diperiksa. Menurut berita Nieuwsblad van het Noorden pada 10 Februari 1959: " Idrus dihukum sembilan bulan penjara dan pasangannya mendapat hukuman enam bulan". Mereka bebas pada pertengahan tahun 1959. Seakan tak jera, Idrus kembali menyebarkan informasi hoaks kepada masyarakat. Idrus mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya dan anak buah petinggi TNI yakni Mayor Simbolon. Idrus pun sempat memeras sejumlah pengusaha di Lampung sebelum akhirnya ditangkap polisi di Kotabumi, Lampung. Markonah mengaku telah bercerai dengan sang suami, 'Raja' Idrus sejak dirinya keluar dari penjara di Madiun atas kasus serupa. Bahkan, Markonah mengaku kembali menceburkan diri sebagai PSK sejak bercerai dengan sang "Raja". Kisah pasangan pembual amatir Idrus dan Markonah, yang menipu banyak orang Indonesia, jadi cerita lucu di Belanda.

 Berlagak bak raja dan ratu, tukang becak dan pelacur ini berhasil menipu Presiden😱


Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno juga pernah di prank atau ditipu oleh Raja Idrus dan Ratu Markonah.



Kejadiannya sekitar tahun 1950-an, sepasang suami-istri ini membuat kehebohan nasional, mereka diterima Presiden Sukarno di Istana Negara.


Ppasangan bernama Idrus dan Markonah, keduanya mengaklaim sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di Wilayah Lampung.


Keduanya sukses masuk ke istana atas saran seorang pejabat agar Bung Karno berkenan menemuinya. 


Saran ini sangat muluk, yakni karena raja dan ratu ini punya kekuatan tertentu yang bisa membantu pembebasan Irian Barat.


Kondisi saat itu juga Soekarno tengah berupaya mengusir Belanda di Irian Barat, maka kabar raja dan ratu ini bisa membantu membuat Soekarni menyambutnya dengan gembira. 


Kehadiran Raja Idrus dan Ratu Markonah juga menjadi topik utama media kala itu. 


Sebut saja Koran Masa Marhaen dan Koran Duta Masyarakat, memajang foto sang raja dan ratu bersama Bung Karno di halaman depan. 


Saran dari seorang pejabat terbukti. Di foto yang ada di koran itu dipasang keterangan: Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu Indonesia membebaskan Irian Barat. Apalagi, foto itu menarik karena keduanya mengenakan kacamata hitam.


Kisahnya, malansir dari kompasiana.com bermodal dari surat rekomendasi pemerintah Sumatra Selatan, beberapa bulan kemudian, pada 10 Maret 1958, Idrus, Markonah dan pengikutnya berangkat ke Jakarta.


Di Sumatra belahan utara kala itu sedang bergolak gerakan separatis yang menamakan diri Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). 


Mereka lantas menemui sejumlah pejabat dengan mengaku sedang melakukan muhibah ke sejumlah daerah di tanah air. Dengan dandanan yang meyakinkan, para pejabat pun menyambut dengan tangan terbuka atas kunjungan Raja Idrus dan sang permaisuri.


Idrus dan Markonah diterima oleh Presiden Sukarno di Istana Negara. Mereka berencana berkeliling ke beberapa kota di pulau Jawa. Sukarno pun bersedia memfasilitasinya.


Harapannya agar Idrus bisa melihat dan belajar perkembangan kota-kota. Kala itu Bung Karno memang sedang membutuhkan dukungan rakyat untuk membebaskan Irian Barat yang masih dikuasai Belanda. 


Di istana, tentu saja keduanya mendapat sambutan dan dijamu layaknya tamu terhormat. Tidak ketinggalan mereka juga diberi uang untuk misi membantu pembebasan Irian Barat. 


Bahkan diberitakan mereka menginap dan makan gratis di hotel selama berminggu-minggu.


Raja Idrus digambarkan sebagai sosok pria berusia sekitar 42 tahun dengan kostum ala militer. Sedangkan penampilan Ratu Markonah juga tak kalah menarik perhatian. Markonah yang menjabat sebagai permaisuri Raja Idrus selalu memakai kaca mata hitam saat tampil di hadapan publik.


Pertemuan Idrus dan Markonah dengan Bung Karno pun diberitakan media massa waktu itu. Koran Marhaen dan Duta Masyarakat waktu itu memasang foto pertemuan Markonah dengan Bung Karno. 


Di foto itu, Markonah dengan kaca mata hitamnya bersama sang suami berpose bersama Bung Karno. Di keterangan foto disebutkan, "Raja Idrus dan Ratu Markonah akan membantu pembebasan Irian Barat".


Harian Belanda Leeuwarder Courant pada 7 April 1959 menulis, "Dalam perjalanan itu Idrus mengaku memiliki 18 orang istri. Selain itu, dia mengklaim mempunyai istana besar di salah satu gua raksasa. 


Di dalamnya terdapat mumi dari 40 orang Jepang dan Belanda".  Dalam perjalanan ke beberapa kota, mereka berdua dikawal voorijder layaknya pejabat.


Namun pada akhirnya, identitas asli Raja Idrus dan Ratu Markonah pun terungkap. Kedok mereka terbongkar saat pasangan suami istri itu jalan-jalan di sebuah pasar di Jakarta. 


Saat itu ada seorang tukang becak yang mengenali Idrus. Karena ternyata, Idrus itu adalah rekan se-profesinya yang sudah lama dikenalnya. 


Dari sinilah wartawan melakukan investigasi dan membongkar kedok kedua penipu itu. Idrus diketahui berprofesi sebagai tukang becak, sedangkan Markonah adalah pekerja seks komersial (PSK) asal Tegal, Jawa Tengah.


Di Madiun pasangan kerajaan gadungan ini kena ciduk aparat. Idrus dan Markonah pun digelandang ke markas CPM, bukan ke balai kota tempat mereka disambut sebelumnya. Mereka kemudian diperiksa. 


Menurut berita Nieuwsblad van het Noorden pada 10 Februari 1959: " Idrus dihukum sembilan bulan penjara dan pasangannya mendapat hukuman enam bulan". Mereka bebas pada pertengahan tahun 1959.


Seakan tak jera, Idrus kembali menyebarkan informasi hoaks kepada masyarakat. Idrus mengaku sebagai anggota Intel Kodam V Jaya dan anak buah petinggi TNI yakni Mayor Simbolon. 


Idrus pun sempat memeras sejumlah pengusaha di Lampung sebelum akhirnya ditangkap polisi di Kotabumi, Lampung.


Markonah mengaku telah bercerai dengan sang suami, 'Raja' Idrus sejak dirinya keluar dari penjara di Madiun atas kasus serupa. Bahkan, Markonah mengaku kembali menceburkan diri sebagai PSK sejak bercerai dengan sang "Raja".


Kisah pasangan pembual amatir Idrus dan Markonah, yang menipu banyak orang Indonesia, jadi cerita lucu di Belanda.

Sumber : Faruq Muhammad

22 April 2026

KH Ahmad Abdul Haq Dalhar Watucongol Magelang Ulama Lintas Golongan KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau yang sering dipanggil dengan julukan Mbah Mad adalah salah seorang kiai yang cukup disegani banyak kalangan lintas golongan, para ulama, dan pejabat. Sejak kecil, ia dikenal memiliki ilmu yang tidak dimiliki para kiai pada umumnya. Salah seorang putra (alm) Mbah Mad KH Agus Aly Qayshar menceritakan, salah satu kelebihan Mbah Mad yang dimiliki sejak kecil adalah mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Yang pada awalnya, makam seseorang itu dianggap biasa oleh masyarakat, justru Mbah Mad memberi tahu kalau itu makam seorang wali. Kelebihan ini merupakan warisan dari abahnya, Mbah Dalhar. Selamat menjalankan ibadah Haji Mbah Mad adalah seorang ulama yang cukup berpengaruh, terutama di wilayah Magelang. Di mata para kiai dan umatnya, kharisma Mbah Mad sangat tinggi, di samping karena salah seorang kiai sepuh di kalangan warga NU saat itu. Sebelum wafat, ia menjadi pengasuh keempat Pesantren Darussalam Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan oleh kakek buyutnya yakni Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa pada tahun 1820. Pesantren ini juga pernah ditempati Muktamar ke-14 NU pada tahun 1939. Bulan kelahiran Mbah Mad belum diketahui secara pasti. Hanya yang jelas ia lahir pada hari Ahad Kliwon, sekitar tahun 1928. Ayahnya adalah Kiai Dalhar (Mbah Dalhar) yang merupakan kiai kharismatik sekaligus waliyullah. Kiai Abdurrauf adalah salah seorang senapati perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqa sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Karena itu, sebagai keturunan raja Kiai Hasan Tuqa juga memiliki nama sebutan lain, yaitu Raden Bagus Kemuning. Mbah Mad dikenal sebagai tokoh spiritual yang cukup disegani hampir semua kalangan, dari masyarakat bawah hingga ulama dan tokoh nasional lainnya karena kharisma dan kewalian yang dipercayai masyarakat. Bahkan, ia sering disowani seseorang yang akan maju menjadi pejabat. Mereka biasanya sowan dulu ke Mbah Mad untuk minta doa restu. Bukan hanya itu, tokoh-tokoh nasional dan pejabat negara juga sering berkunjung untuk meminta nasihat kepadanya. Tercatat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Jusuf Kalla, Wiranto, Akbar Tanjung, dan tokoh-tokoh lainnya tercatat pernah bersilaturahim ke Mbah Mad. Susilo Bambang Yudhoyono semasa masih aktif dinas di kemiliteran dengan pangkat kapten juga pernah datang kepada Mbah Mad. Mbah Mad merupakan sosok kiai yang memiliki sikap yang luwes. Pergaulannya cukup luas, tanpa memandang perbedaan agama, aliran, dan perbedaan lainnya. Wajar jika ia pernah dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Magelang yang anggotanya adalah dari kalangan pemuka lintas agama. Abah Dalhar abahnya Mbah Mad, dikenal sebagai mursyid Thariqah Syadziliyyah. Sebelum wafat, Mbah Dalhar menurunkan ijazah kemursyidannya kepada Mbah Mad, di samping kepada Kiai Iskandar Salatiga, dan KH Dimyati Banten. Mbah Mad memiliki sedikitnya tiga ribu jamaah yang tersebar di berbagai daerah khususnya di wilayah eks-Karesidenan Kedu (Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen). Berjuang Tak Mengenal Waktu Mbah Mad tidak sekadar menyampaikan ajaran agama dan ibadah, tetapi juga olah jiwa terutama kepada putra-putri serta para santrinya. Meninggalkan tidur malam adalah juga bagian dari riyadah Mbah Mad. Dituturkan Gus Ali – Panggilan KH Agus Aly Qayshar, salah satu riyadah yang dijalankan Mbah Mad adalah melek malam. Di samping itu, ia sangat tekun melakukan ziarah ke beberapa makan auliya dan ulama. Riyadah melekan ini ia jalani sejak kecil hingga menjelang wafat. Ia juga dikenal memiliki kelebihan dari sisi ilmu dibanding kiai pada umumnya. Misalnya, ia bisa mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui orang sekitar. Bahkan kelebihan ini terlihat sejak dia kecil. Mbah Mad juga diyakini memiliki ilmu laduni. Pasalnya, ia tidak pernah mondok. Meski pernah mondok di Pesantren Al-Wahdah Lasem yang saat itu diasuh KH Baidlawi, namun ia hanya bertahan tidak lebih dari seminggu. "Abah lebih banyak berguru langsung ke pada abahnya sendiri," terang Gus Ali. Sepanjang perjalanan hidupnya dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada umat. Dalam mengemban tugas mulia mengajarkan ajaran-ajaran syar'i. Mbah Mad seolah tidak mengenal tempat, waktu, situasi, dan kondisi. Bahkan di tempat yang sukar dilalui kendaraan, ia tetap bersedia dengan berjalan kaki. Menurut Gus Ali. Mbah Mad sering berpesan kepada putra-putrinya agar selalu menghormati tamu, tidak meremehkan pejabat, serta menyapa kepada semua siapa pun tanpa melihat status sosial maupun agamanya. Mbah Mad memiliki tiga istri yakni Hajah Jamilah (almarhum), Hajah Istianah (almarhum), dan Hajah Khafshah. Dari pernikahannya, dia dikaruniai 9 anak. yang dua di antaranya sudah meninggal dunia. Cucunya ada 32 orang dan 10 cicit. Mbah Mad menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang, pagi sekitar pukul 05.50 WIB Kamis, 8 Juli 2010. Jenazah almarhum dikebumikan di makam Aulia, Gunung Pring, Muntilan, Jawa Tengah. --------------- Aji Setiawan, mantan wartawan Majalah alKisah Jakarta Editor: M Ngisom Al-Barony Senin, 2 Agustus 2021 | 11:00 WIB (Dimuat di NU Online) ___________ Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 070 KH. Ahmad Abdul Haqq Watucongol Magelang Satu demi satu, potret ini sedang diproses menjadi Digital Art Portrait. Bukan sekadar gambar, tapi upaya mengabadikan wajah dan jejak ulama dalam karya visual. Perjalanan menuju 1000 ulama Nusantara. Masih panjang, dan akan terus bertambah. 📌 Sudah sampai episode berapa? Lihat di profil, dan nantikan seri berikutnya. #UlamaNusantara #PotretUlama #JejakUlama #DakwahVisual #PecintaUlamaNusantara

 KH Ahmad Abdul Haq Dalhar Watucongol Magelang Ulama Lintas Golongan



KH Ahmad Abdul Haq Dalhar atau yang sering dipanggil dengan julukan Mbah Mad adalah salah seorang kiai yang cukup disegani banyak kalangan lintas golongan, para ulama, dan pejabat. Sejak kecil, ia dikenal memiliki ilmu yang tidak dimiliki para kiai pada umumnya.


Salah seorang putra (alm) Mbah Mad KH Agus Aly Qayshar menceritakan, salah satu kelebihan Mbah Mad yang dimiliki sejak kecil adalah mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui oleh masyarakat sekitar. Yang pada awalnya, makam seseorang itu dianggap biasa oleh masyarakat, justru Mbah Mad memberi tahu kalau itu makam seorang wali. Kelebihan ini merupakan warisan dari abahnya, Mbah Dalhar.


Selamat menjalankan ibadah Haji

 

Mbah Mad adalah seorang ulama yang cukup berpengaruh, terutama di wilayah Magelang. Di mata para kiai dan umatnya, kharisma Mbah Mad sangat tinggi, di samping karena salah seorang kiai sepuh di kalangan warga NU saat itu.


Sebelum wafat, ia menjadi pengasuh keempat Pesantren Darussalam Watucongol, Gunungpring, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan oleh kakek buyutnya yakni Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqa pada tahun 1820. Pesantren ini juga pernah ditempati Muktamar ke-14 NU pada tahun 1939.


Bulan kelahiran Mbah Mad belum diketahui secara pasti. Hanya yang jelas ia lahir pada hari Ahad Kliwon, sekitar tahun 1928. Ayahnya adalah Kiai Dalhar (Mbah Dalhar) yang merupakan kiai kharismatik sekaligus waliyullah.


Kiai Abdurrauf adalah salah seorang senapati perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqa sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Karena itu, sebagai keturunan raja Kiai Hasan Tuqa juga memiliki nama sebutan lain, yaitu Raden Bagus Kemuning.


Mbah Mad dikenal sebagai tokoh spiritual yang cukup disegani hampir semua kalangan, dari masyarakat bawah hingga ulama dan tokoh nasional lainnya karena kharisma dan kewalian yang dipercayai masyarakat.


Bahkan, ia sering disowani seseorang yang akan maju menjadi pejabat. Mereka biasanya sowan dulu ke Mbah Mad untuk minta doa restu. Bukan hanya itu, tokoh-tokoh nasional dan pejabat negara juga sering berkunjung untuk meminta nasihat kepadanya. Tercatat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, Jusuf Kalla, Wiranto, Akbar Tanjung, dan tokoh-tokoh lainnya tercatat pernah bersilaturahim ke Mbah Mad. Susilo Bambang Yudhoyono semasa masih aktif dinas di kemiliteran dengan pangkat kapten juga pernah datang kepada Mbah Mad.


Mbah Mad merupakan sosok kiai yang memiliki sikap yang luwes. Pergaulannya cukup luas, tanpa memandang perbedaan agama, aliran, dan perbedaan lainnya. Wajar jika ia pernah dipercaya menjadi Ketua Paguyuban Umat Beragama Kabupaten Magelang yang anggotanya adalah dari kalangan pemuka lintas agama.


Abah Dalhar abahnya Mbah Mad, dikenal sebagai mursyid Thariqah Syadziliyyah. Sebelum wafat, Mbah Dalhar menurunkan ijazah kemursyidannya kepada Mbah Mad, di samping kepada Kiai Iskandar Salatiga, dan KH Dimyati Banten.


Mbah Mad memiliki sedikitnya tiga ribu jamaah yang tersebar di berbagai daerah khususnya di wilayah eks-Karesidenan Kedu (Kota Magelang, Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan Kebumen).


Berjuang Tak Mengenal Waktu


Mbah Mad tidak sekadar menyampaikan ajaran agama dan ibadah, tetapi juga olah jiwa terutama kepada putra-putri serta para santrinya. Meninggalkan tidur malam adalah juga bagian dari riyadah Mbah Mad. Dituturkan Gus Ali – Panggilan KH Agus Aly Qayshar, salah satu riyadah yang dijalankan Mbah Mad adalah melek malam. Di samping itu, ia sangat tekun melakukan ziarah ke beberapa makan auliya dan ulama. Riyadah melekan ini ia jalani sejak kecil hingga menjelang wafat.


Ia juga dikenal memiliki kelebihan dari sisi ilmu dibanding kiai pada umumnya. Misalnya, ia bisa mengetahui makam para wali yang sebelumnya tidak diketahui orang sekitar. Bahkan kelebihan ini terlihat sejak dia kecil.


Mbah Mad juga diyakini memiliki ilmu laduni. Pasalnya, ia tidak pernah mondok. Meski pernah mondok di Pesantren Al-Wahdah Lasem yang saat itu diasuh KH Baidlawi, namun ia hanya bertahan tidak lebih dari seminggu. "Abah lebih banyak berguru langsung ke pada abahnya sendiri," terang Gus Ali.


Sepanjang perjalanan hidupnya dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan agama kepada umat. Dalam mengemban tugas mulia mengajarkan ajaran-ajaran syar'i. Mbah Mad seolah tidak mengenal tempat, waktu, situasi, dan kondisi. Bahkan di tempat yang sukar dilalui kendaraan, ia tetap bersedia dengan berjalan kaki.


Menurut Gus Ali. Mbah Mad sering berpesan kepada putra-putrinya agar selalu menghormati tamu, tidak meremehkan pejabat, serta menyapa kepada semua siapa pun tanpa melihat status sosial maupun agamanya.


Mbah Mad memiliki tiga istri yakni Hajah Jamilah (almarhum), Hajah Istianah (almarhum), dan Hajah Khafshah. Dari pernikahannya, dia dikaruniai 9 anak. yang dua di antaranya sudah meninggal dunia. Cucunya ada 32 orang dan 10 cicit.


Mbah Mad menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang, pagi sekitar pukul 05.50 WIB Kamis, 8 Juli 2010. Jenazah almarhum dikebumikan di makam Aulia, Gunung Pring, Muntilan, Jawa Tengah.

---------------


Aji Setiawan, mantan wartawan Majalah alKisah Jakarta 


Editor: M Ngisom Al-Barony


Senin, 2 Agustus 2021 | 11:00 WIB


(Dimuat di NU Online)


___________


Potret 1000 Ulama Nusantara – Episode 070

KH. Ahmad Abdul Haqq Watucongol Magelang 


Satu demi satu, potret ini sedang diproses menjadi Digital Art Portrait.


Bukan sekadar gambar, tapi upaya mengabadikan wajah dan jejak ulama dalam karya visual.


Perjalanan menuju 1000 ulama Nusantara.

Masih panjang, dan akan terus bertambah.


📌 Sudah sampai episode berapa?

Lihat di profil, dan nantikan seri berikutnya.


#UlamaNusantara

#PotretUlama

#JejakUlama

#DakwahVisual

#PecintaUlamaNusantara

"Mungkin, inilah sidang pengadilan di Slawi, kota sebelah selatan Tegal, Jawa Tengah, yang teramai. Sekitar 4.000 pengunjung memenuhi halaman gedung pengadilan. Beberapa rumah penduduk di jalan itu sempat membuka titipan sepeda atau sepeda motor dengan tarif Rp 50 dan Rp 100." Bagaimanakah guru-guru dan siswa-siswa SPG saat itu--setelah reformasi--akan mengenang peristiwa ini? Apakah kesaksian mereka yang memberatkan terhadap tindakan seorang guru yang memaparkan fakta, tetap dikenang dengan bangga sebagai kewajiban warga negara "yang baik dan benar"? Jika para sahabat ingin tahu kronologi peristiwa tersebut, silakan melihat unggahan kliping saya tanggal 10 Maret: https://www.facebook.com/herry.anggoro.9/posts/pfbid02MPqsxuAX8p8RXY6RUhGUJqWZdfFMhJDsqWipegYTac9UNNArPahKM9PeJMzRD7U7l?__cft__[0]=AZag1vs-c_Z45SjvudRLAoQgN5i1HUrfqglWD98ZyNSxCMmpNmz5ei1GW-iUDm8LVX4nGwBUCu742bwEjobyxRJ7bR6c-S14Oo4tmMMJXqahZpqzeFcvOpKditNGkT2m8wQahg5OyJUgn3AHB3B0G39FLeA_tSZLagY9WEjIu3WBj-AgTAJCeurIETw1DzIyGGI&__tn__=%2CO%2CP-R Vonis Guru Slawi GAMBAR KHOMEINI DAN 12 SAKSI Pak Guru SPG itu akhirnya divonis 9 bulan, dituduh menghina presiden. Dan dituduh menganjurkan siswa tak menaati tata tertib sekolah. (TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984) Setelah mendengarkan 12 saksi. Setelah melihat barang bukti berupa gambar Ayatullah Khomeini dan sejumlah brosur berbahasa Arab. Dan setelah membaca surat pernyataan yang ditandatangani 18 siswa SPG Negeri Slawi, maka Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tegal di Slawi menjatuhkan hukuman 9 bulan penjara. Terdakwa, Agus Salim, guru Ilmu Pendidikan di SPG Negeri, Slawi, kepada TEMPO mengatakan, "Saya sedang pikir-pikir," –sebelum menyatakan menerima atau naik banding. Mungkin, inilah sidang pengadilan di Slawi, kota sebelah selatan Tegal, Jawa Tengah, yang teramai. Sekitar 4.000 pengunjung memenuhi halaman gedung pengadilan. Beberapa rumah penduduk di jalan itu sempat membuka titipan sepeda atau sepeda motor dengan tarif Rp 50 dan Rp 100. Agus, lulusan Jurusan Administrasi Pendidikan IKIP Negeri Jakarta, 1980, dituduh melanggar pasal 134 KUHP, yakni dengan sengaja menghina presiden RI, Soeharto. "Fakta-fakta terungkapkan di pengadilan," kata Martin Dumansapak, anggota Majelis Hakim. Menurut Martin, Agus sempat menyampaikan bantahannya terhadap beberapa kesaksian. Misalnya, ketika ia mengucapkan kata-kata yang dianggap "menghina presiden" itu, ia merasa tak menunjuk gambar Presiden yang terpampang di depan kelas. Jaksa Sutardjo menuntut terdakwa dengan 10 bulan penjara. Karena Agus, 29, belum pernah dihukum, masih muda, dan berlaku sopan selama persidangan, Majelis Hakim memvonis 9 bulan potong masa tahanan. Adapun yang memberatkan terdakwa, sebagai guru dan sarjana pendidikan, "la memberikan contoh yang kurang baik, yang bertentangan dengan etika, kepada murid- muridnya," tutur Murdiono, ketua Majelis Hakim. Agus ditahan Laksusda Jawa Tengah sejak 13 Mei 1983. Tapi penahanan di Laksusda di Semarang sampai dengan 9 November itu tidak diperhitungkan. Sehingga, potongan hukuman untuk vonisnya itu hanya dihitung selama penahanan tatkala perkaranya diproses di Polres, Kejaksaan, dan Pengadilan Tegal, sejak 9 November. Hingga, kalau Agus menerima putusan Majelis Hakim, ia masih harus menjalani hukuman sekitar lima bulan lagi. Kepada TEMPO, Agus, yang dulu jadi anggota Senat Mahasiswa IKIP Jakarta, mengatakan sebenarnya ia hanya menceritakan peristiwa demonstrasi mahasiswa (bukan hanya mahasiswa IKIP) pada 1978. Waktu itu, slogan-slogan mahasiswa memang keras, mengkritik pemerintah, MPR, dan DPR RI. "Saya hanya menceritakan fakta, tapi tak saya komentari apa-apa," katanya. Tapi, menurut beberapa guru, justru di situlah salahnya. Seharusnya, kepada siswa dia tunjukkan mana yang baik, dan mana yang tak pantas ditiru (TEMPO, 10 Maret, Pendidikan). Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

 "Mungkin, inilah sidang pengadilan di Slawi, kota sebelah selatan Tegal, Jawa Tengah, yang teramai. Sekitar 4.000 pengunjung memenuhi halaman gedung pengadilan. Beberapa rumah penduduk di jalan itu sempat membuka titipan sepeda atau sepeda motor dengan tarif Rp 50 dan Rp 100."



Bagaimanakah guru-guru dan siswa-siswa SPG saat itu--setelah reformasi--akan mengenang peristiwa ini? Apakah kesaksian mereka yang memberatkan terhadap tindakan seorang guru yang memaparkan fakta, tetap dikenang dengan bangga sebagai kewajiban warga negara "yang baik dan benar"? 


Jika para sahabat ingin tahu kronologi peristiwa tersebut, silakan melihat unggahan kliping saya tanggal 10 Maret: 

https://www.facebook.com/herry.anggoro.9/posts/pfbid02MPqsxuAX8p8RXY6RUhGUJqWZdfFMhJDsqWipegYTac9UNNArPahKM9PeJMzRD7U7l?__cft__[0]=AZag1vs-c_Z45SjvudRLAoQgN5i1HUrfqglWD98ZyNSxCMmpNmz5ei1GW-iUDm8LVX4nGwBUCu742bwEjobyxRJ7bR6c-S14Oo4tmMMJXqahZpqzeFcvOpKditNGkT2m8wQahg5OyJUgn3AHB3B0G39FLeA_tSZLagY9WEjIu3WBj-AgTAJCeurIETw1DzIyGGI&__tn__=%2CO%2CP-R


Vonis Guru Slawi

GAMBAR KHOMEINI DAN 12 SAKSI


Pak Guru SPG itu akhirnya divonis 9 bulan, dituduh menghina presiden. Dan dituduh menganjurkan siswa tak menaati tata tertib sekolah. 


(TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984)


Setelah mendengarkan 12 saksi. Setelah melihat barang bukti berupa gambar Ayatullah Khomeini dan sejumlah brosur berbahasa Arab. Dan setelah membaca surat pernyataan yang ditandatangani 18 siswa SPG Negeri Slawi, maka Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tegal di Slawi menjatuhkan hukuman 9 bulan penjara. Terdakwa, Agus Salim, guru Ilmu Pendidikan di SPG Negeri, Slawi, kepada TEMPO mengatakan, "Saya sedang pikir-pikir," –sebelum menyatakan menerima atau naik banding.


Mungkin, inilah sidang pengadilan di Slawi, kota sebelah selatan Tegal, Jawa Tengah, yang teramai. Sekitar 4.000 pengunjung memenuhi halaman gedung pengadilan. Beberapa rumah penduduk di jalan itu sempat membuka titipan sepeda atau sepeda motor dengan tarif Rp 50 dan Rp 100.


Agus, lulusan Jurusan Administrasi Pendidikan IKIP Negeri Jakarta, 1980, dituduh melanggar pasal 134 KUHP, yakni dengan sengaja menghina presiden RI, Soeharto. "Fakta-fakta terungkapkan di pengadilan," kata Martin Dumansapak, anggota Majelis Hakim. Menurut Martin, Agus sempat menyampaikan bantahannya terhadap beberapa kesaksian. Misalnya, ketika ia mengucapkan kata-kata yang dianggap "menghina presiden" itu, ia merasa tak menunjuk gambar Presiden yang terpampang di depan kelas.


Jaksa Sutardjo menuntut terdakwa dengan 10 bulan penjara. Karena Agus, 29, belum pernah dihukum, masih muda, dan berlaku sopan selama persidangan, Majelis Hakim memvonis 9 bulan potong masa tahanan. Adapun yang memberatkan terdakwa, sebagai guru dan sarjana pendidikan, "la memberikan contoh yang kurang baik, yang bertentangan dengan etika, kepada murid- muridnya," tutur Murdiono, ketua Majelis Hakim.


Agus ditahan Laksusda Jawa Tengah sejak 13 Mei 1983. Tapi penahanan di Laksusda di Semarang sampai dengan 9 November itu tidak diperhitungkan. Sehingga, potongan hukuman untuk vonisnya itu hanya dihitung selama penahanan tatkala perkaranya diproses di Polres, Kejaksaan, dan Pengadilan Tegal, sejak 9 November. Hingga, kalau Agus menerima putusan Majelis Hakim, ia masih harus menjalani hukuman sekitar lima bulan lagi.


Kepada TEMPO, Agus, yang dulu jadi anggota Senat Mahasiswa IKIP Jakarta, mengatakan sebenarnya ia hanya menceritakan peristiwa demonstrasi mahasiswa (bukan hanya mahasiswa IKIP) pada 1978. Waktu itu, slogan-slogan mahasiswa memang keras, mengkritik pemerintah, MPR, dan DPR RI. "Saya hanya menceritakan fakta, tapi tak saya komentari apa-apa," katanya. Tapi, menurut beberapa guru, justru di situlah salahnya. Seharusnya, kepada siswa dia tunjukkan mana yang baik, dan mana yang tak pantas ditiru (TEMPO, 10 Maret, Pendidikan).


Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

Sumber : Herry Anggoro Jatmiko

Pada 17 April 1969 Menteri Keuangan, Drs. Frans Seda menjadi penceramah di Universitas Katholik Nijmegen, Belanda. Begitu Frans Seda naik ke panggung untuk mulai berceramah, Y.van Herte seorang mahasiswa menyela dan bertanya perihal peristiwa pembunuhan massal anggota PKI selama bulan Oktober 1965. Frans menyanggupi menjawab pertanyaan itu setelah ia diberi kesempatan untuk memberikan ceramah terlebih dahulu. Namun ditolak dan Frans dimintai pertanggungjawaban atas pembunuhan massal itu. Suasana menjadi kacau dan Frans Seda diteriaki sebagai Moordenaar (Pembunuh) dan Lafaard (Pengecut). Ceramah akhirnya dibatalkan dan Frans Seda keluar meninggalkan Aula Universitas lewat pintu belakang. Peristiwa tersebut berhubungan dengan terbongkarnya Peristiwa Pembantaian Massal di Purwodadi. Ini terjadi ketika muncul pernyataan pers pada 26 Februari 1969 dari Haji Johannes Cornelis Princen atau lebih dikenal dengan Poncke Princen yang menyatakan ada pembunuhan terhadap 860 orang yang ditahan di Grobogan. Orang-orang yang ditangkap di kamp tahanan Grobogan adalah orang-orang yang terdampak dari pembersihan komunis oleh Rezim Militer Orde Baru. Paska ditahan para tahanan dibunuh dengan sangat keji dengan cara dipukuli saat malam hari. Berita itu menyulut reaksi dan gelombang protes dari masyarakat internasional, khususnya di Belanda terhadap Rezim Orde Baru. Surat kabar Belanda Trouw edisi 19 April 1969 menyiarkan “surat terbuka” dari Komite Indonesia yang keberatan dengan niat jalinan Kerjasama Belanda – Indonesia karena dengan demikian melegalkan pembunuhan massal. Oleh karenannya, Soeharto yang merasa terganggu oleh peristiwa itu, akhirnya membatalkan kunjungannya ke sejumlah negara Eropa yang seharusnya dia lakukan pada April 1969 dan memutuskan baru akan dilakukan pada tahun 1970. Melipat Ganda, Membakar Tirani! #momentumsejarah #arahjuang http://linktr.ee/arahjuang

 Pada 17 April 1969 Menteri Keuangan, Drs. Frans Seda menjadi penceramah di Universitas Katholik Nijmegen, Belanda. Begitu Frans Seda naik ke panggung untuk mulai berceramah, Y.van Herte seorang mahasiswa menyela dan bertanya perihal peristiwa pembunuhan massal anggota PKI selama bulan Oktober 1965. Frans menyanggupi menjawab pertanyaan itu setelah ia diberi kesempatan untuk memberikan ceramah terlebih dahulu. Namun ditolak dan Frans dimintai pertanggungjawaban atas pembunuhan massal itu. Suasana menjadi kacau dan Frans Seda diteriaki sebagai Moordenaar (Pembunuh) dan Lafaard (Pengecut). Ceramah akhirnya dibatalkan dan Frans Seda keluar meninggalkan Aula Universitas lewat pintu belakang.



Peristiwa tersebut berhubungan dengan terbongkarnya Peristiwa Pembantaian Massal di Purwodadi. Ini terjadi ketika muncul pernyataan pers pada 26 Februari 1969 dari Haji Johannes Cornelis Princen atau lebih dikenal dengan Poncke Princen yang menyatakan ada pembunuhan terhadap 860 orang yang ditahan di Grobogan. Orang-orang yang ditangkap di kamp tahanan Grobogan adalah orang-orang yang terdampak dari pembersihan komunis oleh Rezim Militer Orde Baru. Paska ditahan para tahanan dibunuh dengan sangat keji dengan cara dipukuli saat malam hari. 


Berita itu menyulut reaksi dan gelombang protes dari masyarakat internasional, khususnya di Belanda terhadap Rezim Orde Baru. Surat kabar Belanda Trouw edisi 19 April 1969 menyiarkan “surat terbuka” dari Komite Indonesia yang keberatan dengan niat jalinan Kerjasama Belanda – Indonesia karena dengan demikian melegalkan pembunuhan massal. Oleh karenannya, Soeharto yang merasa terganggu oleh peristiwa itu, akhirnya membatalkan kunjungannya ke sejumlah negara Eropa yang seharusnya dia lakukan pada April 1969 dan memutuskan baru akan dilakukan pada tahun 1970.


Melipat Ganda, Membakar Tirani! 

#momentumsejarah

#arahjuang


http://linktr.ee/arahjuang

"Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya." Inggit Ganarsih, perempuan yang berjasa besar dalam hidup Bung Karno merasa dirinya bukan pahlawan. Di sisi lain, pemerintah yang merasa paling berkuasa malahan berniat melanggar wasiat almarhumah. PERPISAHAN DENGAN WANITA PENDAMPING Wanita tua yang tangguh itu telah tiada, setelah satu setengah tahun terbaring sakit. Pribadinya mengilhami perjuangan Bung Karno – yang diantarkannya sebagai pemimpin besar. (TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984, “Obituari”) Letusan salvo dari sepuluh moncong bedil menggelegar serempak. Dan tatkala jasad wanita tua itu diangkat dari keranda, diturunkan ke liang lahad dengan hati-hati, cuaca pun perlahan-lahan redup. Awan di langit tampak berserak keabu-abuan, hening, ketika korps musik memainkan lagu Gugur Bunga. Alam di sekitar Permakaman Muslimin Babakan Ciparay, Bandung Selatan, Sabtu siang itu seakan-akan ikut menangisi kepergian Inggit Garnasih, 96, janda presiden pertama RI, Soekarno. Almarhumah meninggal Jumat pekan lalu tepat pukul 19.10 disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, 70, dan Bi Ikah, 50, serta seorang kemenakannya, Jumhana, 55, di rumahnya Jalan Ciateul, Bandung. Pada detik- detik terakhir sebelum menghembuskan napasnya, Inggit memegang erat-erat tangan Mak Irah. "Mungkin itu satu-satunya tanda perpisahan dari Ibu," tutur pembantu yang merawat Inggit sejak 40 tahun lalu itu dengan mata sembab. Hari Jumat itu sesungguhnya tak tampak tanda-tanda Inggit akan berpulang. Sekitar pukul 12.00 ia memang sedikit demam. Satu jam kemudian Eko Antono, dokter pribadinya, datang. "Tidak apa-apa, hanya badannya agak gemetar," katanya. Keadaan seperti itu memang biasa terjadi sejak satu setengah tahun lalu, ketika Inggit mulai sakit keras dan dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Penyakitnya ketika itu ialah organic brain syndrome (gangguan mental akibat tidak berfungsinya organ-organ tubuh). Ketika itu tidak ada kelainan yang berarti pada hasil pemeriksaan gelombang otak. Pukul 16.00, Inggit masih bisa disuapi bubur beras. Tapi sore itu, entah mengapa, obat yang tertulis pada resep Dokter Antono tidak tersedia di semua apotek. Dan sore itu, kebetulan pula, Ratna Djoeami Asmarahadi – salah seorang anak angkat yang disayanginya – merasa perlu pulang ke rumahnya di Jalan Cilentah untuk mandi dan berganti pakaian. Tak diduga, "Ibu sudah berpulang sebelum saya sempat kembali mendampinginya," ujar Ratna, 60, menyesali dirinya. Meninggalkan dua orang anak angkat (seorang lagi Kartika) dengan 14 anak dan 28 buyut, perintis kemerdekaan itu tidak bersedia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sejak mula, wanita itu berpesan agar dimakamkan di Cibintinu, desa kecil di Bandung Selatan. Di sanalah dulu Bung Karno, suaminya, bertemu dengan si Marhaen seorang buruh tani. Tapi menurut Tito Asmarahadi, 36, salah seorang cucu Inggit, Cibintinu termasuk kawasan perluasan Kota Bandung. "Untunglah, pada bulan Januari lalu pihak keluarga, dengan bantuan pemerintah daerah, berhasil mengusahakan tanah untuk makam seluas 120 m2 di Babakan Ciparay," katanya. Dan Inggit setuju dengan rencana itu. Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya. Hanya itu satu-satunya wasiat Inggit. "Sebab, sejak sakit satu setengah tahun lalu itu Ibu sudah tidak bisa kontak lagi dengan orang lain," ujar Tito. "Selama sakit, hanya suara mengaduh saja yang terdengar. Bahkan sejak dua minggu sebelum berpulang, Ibu sudah tak mampu berkata sepatah pun," tambah Ratna Djoeami Hanya tiga di antara putra-putri Bung Karno yang sempat melayat. Rachmawati – bersama suaminya, Dicky Suprapto – sudah hadir di rumah duka sejak pagi hari. Ia tak banyak bicara. "Mas Tok tidak bisa datang karena sakit," katanya. Mas Tok adalah Guntur, kakaknya. Sukmawati juga tidak tampak, sedangkan Guruh dan Megawati baru muncul di makam pukul 14.20 ketika jasad Almarhumah hendak diturunkan ke liang lahad. Di antara para janda Bung Karno yang masih hidup, hanya Hartini saja yang datang takziah. Mengenakan kebaya dan kain warna gelap, Hartini datang sekitar pukul 10.30 dengan sedan Mercy B 623 AB warna abu-abu. Hartini segera bersimpuh di sisi jenazah bekas madunya, dan berdoa. "Hari ini Ibu Inggit telah dipanggil menghadap oleh Tuhan. Saya kira beliau sangat bahagia. Selama ini beliau sudah terlalu lama menderita," katanya tersendat-sendat. "Ibu Inggit adalah salah seorang istri Bapak yang paling setia dalam suka dan duka. Beliaulah yang menunjang Bapak dalam perjuangan," katanya lagi. Pada masa tuanya, Inggit, yang pada saat-saat kembangnya geulis, seperti tak takluk dimangsa usia. Lahir pada abad silam di Desa Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika ia mencapai usia 90 tahun kesehatannya tak menggembirakan. Namun, badannya tetap terawat bersih dan giginya putih berseri. Hal itu lantaran Inggit, gadis desa yang hanya berpendidikan madrasah itu gemar minum jamu dan rajin merawat kulit. Sejak Bung Karno dikurung oleh Belanda di penjara Banceuy, kemudian Sukamiskin, Bandung, Inggit mencari nafkah dengan membuat bedak. Salah satu bedaknya dinamainya Ningrum: belakangan ada pula yang disebut bedak Pancasila, karena bersegi lima. Ketika Bung Karno dipenjarakan selama lima tahun di Ende, Flores, sejak 1933, Inggit menyertainya dengan setia. Begitu pula ketika pemimpin pergerakan nasional yang juga populer sebagai "singa podium" itu dibuang ke Bengkulu, Inggit mendampinginya. Soekarno adalah suaminya yang ketiga setelah Sukarta dan Haji Sanusi. Bung Karno sendiri jatuh cinta pada wanita itu ketika ia mondok di rumah Haji Sanusi. Ketika itu Bung Karno yang berusia 20 tahun (sementara Inggit 32 tahun) sudah mengawini Utari, putri H.O.S. Tjokroaminoto. Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

 "Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya."



Inggit Ganarsih, perempuan yang berjasa besar dalam hidup Bung Karno merasa dirinya bukan pahlawan. Di sisi lain, pemerintah yang merasa paling berkuasa malahan berniat melanggar wasiat almarhumah.  


PERPISAHAN DENGAN WANITA PENDAMPING


Wanita tua yang tangguh itu telah tiada, setelah satu setengah tahun terbaring sakit. Pribadinya mengilhami perjuangan Bung Karno – yang diantarkannya sebagai pemimpin besar.


(TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984, “Obituari”)


Letusan salvo dari sepuluh moncong bedil menggelegar serempak. Dan tatkala jasad wanita tua itu diangkat dari keranda, diturunkan ke liang lahad dengan hati-hati, cuaca pun perlahan-lahan redup. Awan di langit tampak berserak keabu-abuan, hening, ketika korps musik memainkan lagu Gugur Bunga. Alam di sekitar Permakaman Muslimin Babakan Ciparay, Bandung Selatan, Sabtu siang itu seakan-akan ikut menangisi kepergian Inggit Garnasih, 96, janda presiden pertama RI, Soekarno. 


Almarhumah meninggal Jumat pekan lalu tepat pukul 19.10 disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, 70, dan Bi Ikah, 50, serta seorang kemenakannya, Jumhana, 55, di rumahnya Jalan Ciateul, Bandung. Pada detik- detik terakhir sebelum menghembuskan napasnya, Inggit memegang erat-erat tangan Mak Irah. "Mungkin itu satu-satunya tanda perpisahan dari Ibu," tutur pembantu yang merawat Inggit sejak 40 tahun lalu itu dengan mata sembab.


Hari Jumat itu sesungguhnya tak tampak tanda-tanda Inggit akan berpulang. Sekitar pukul 12.00 ia memang sedikit demam. Satu jam kemudian Eko Antono, dokter pribadinya, datang. "Tidak apa-apa, hanya badannya agak gemetar," katanya. Keadaan seperti itu memang biasa terjadi sejak satu setengah tahun lalu, ketika Inggit mulai sakit keras dan dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung.


Penyakitnya ketika itu ialah organic brain syndrome (gangguan mental akibat tidak berfungsinya organ-organ tubuh). Ketika itu tidak ada kelainan yang berarti pada hasil pemeriksaan gelombang otak.


Pukul 16.00, Inggit masih bisa disuapi bubur beras. Tapi sore itu, entah mengapa, obat yang tertulis pada resep Dokter Antono tidak tersedia di semua apotek. Dan sore itu, kebetulan pula, Ratna Djoeami Asmarahadi – salah seorang anak angkat yang disayanginya – merasa perlu pulang ke rumahnya di Jalan Cilentah untuk mandi dan berganti pakaian. Tak diduga, "Ibu sudah berpulang sebelum saya sempat kembali mendampinginya," ujar Ratna, 60, menyesali dirinya.


Meninggalkan dua orang anak angkat (seorang lagi Kartika) dengan 14 anak dan 28 buyut, perintis kemerdekaan itu tidak bersedia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sejak mula, wanita itu berpesan agar dimakamkan di Cibintinu, desa kecil di Bandung Selatan. Di sanalah dulu Bung Karno, suaminya, bertemu dengan si Marhaen seorang buruh tani.


Tapi menurut Tito Asmarahadi, 36, salah seorang cucu Inggit, Cibintinu termasuk kawasan perluasan Kota Bandung. "Untunglah, pada bulan Januari lalu pihak keluarga, dengan bantuan pemerintah daerah, berhasil mengusahakan tanah untuk makam seluas 120 m2 di Babakan Ciparay," katanya. Dan Inggit setuju dengan rencana itu.


Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya.


Hanya itu satu-satunya wasiat Inggit. "Sebab, sejak sakit satu setengah tahun lalu itu Ibu sudah tidak bisa kontak lagi dengan orang lain," ujar Tito. "Selama sakit, hanya suara mengaduh saja yang terdengar. Bahkan sejak dua minggu sebelum berpulang, Ibu sudah tak mampu berkata sepatah pun," tambah Ratna Djoeami


Hanya tiga di antara putra-putri Bung Karno yang sempat melayat. Rachmawati – bersama suaminya, Dicky Suprapto – sudah hadir di rumah duka sejak pagi hari. Ia tak banyak bicara. "Mas Tok tidak bisa datang karena sakit," katanya. Mas Tok adalah Guntur, kakaknya. Sukmawati juga tidak tampak, sedangkan Guruh dan Megawati baru muncul di makam pukul 14.20 ketika jasad Almarhumah hendak diturunkan ke liang lahad.


Di antara para janda Bung Karno yang masih hidup, hanya Hartini saja yang datang takziah. Mengenakan kebaya dan kain warna gelap, Hartini datang sekitar pukul 10.30 dengan sedan Mercy B 623 AB warna abu-abu.


Hartini segera bersimpuh di sisi jenazah bekas madunya, dan berdoa. "Hari ini Ibu Inggit telah dipanggil menghadap oleh Tuhan. Saya kira beliau sangat bahagia. Selama ini beliau sudah terlalu lama menderita," katanya tersendat-sendat. "Ibu Inggit adalah salah seorang istri Bapak yang paling setia dalam suka dan duka. Beliaulah yang menunjang Bapak dalam perjuangan," katanya lagi.


Pada masa tuanya, Inggit, yang pada saat-saat kembangnya geulis, seperti tak takluk dimangsa usia. Lahir pada abad silam di Desa Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika ia mencapai usia 90 tahun kesehatannya tak menggembirakan. Namun, badannya tetap terawat bersih dan giginya putih berseri.


Hal itu lantaran Inggit, gadis desa yang hanya berpendidikan madrasah itu gemar minum jamu dan rajin merawat kulit. Sejak Bung Karno dikurung oleh Belanda di penjara Banceuy, kemudian Sukamiskin, Bandung, Inggit mencari nafkah dengan membuat bedak. Salah satu bedaknya dinamainya Ningrum: belakangan ada pula yang disebut bedak Pancasila, karena bersegi lima.


Ketika Bung Karno dipenjarakan selama lima tahun di Ende, Flores, sejak 1933, Inggit menyertainya dengan setia. Begitu pula ketika pemimpin pergerakan nasional yang juga populer sebagai "singa podium" itu dibuang ke Bengkulu, Inggit mendampinginya. Soekarno adalah suaminya yang ketiga setelah Sukarta dan Haji Sanusi.  


Bung Karno sendiri jatuh cinta pada wanita itu ketika ia mondok di rumah Haji Sanusi. Ketika itu Bung Karno yang berusia 20 tahun (sementara Inggit 32 tahun) sudah mengawini Utari, putri H.O.S. Tjokroaminoto.


Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

18 April 1929 Oey Hay Djoen lahir di Malang, Jawa Timur. Sejak muda, ia adalah pembaca yang rakus dan dari sana ia berkenalan dengan dunia politik—sebuah dunia yang kemudian digelutinya sampai akhir hayat. Pada usia 17 tahun ia mulai terlibat dalam politik dan memulai kerja-kerjanya dalam bidang terjemahan. Karya pertama yang diterjemahkan adalah "Negara dan Revolusi" karya V. Lenin. Ia kemudian pindah dari Yogyakarta ke Malang. Disana ia berkenalan dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan, dsb,. dan langsung terlibat dalam perlawanan melawan Belanda. Ia kemudian ditahan oleh Belanda tapi kemudian berhasil melarikan diri dari penjara. Oey kemudian menetap di Surabaya. Disini ia berkenalan Njoto dan pada tahun 1959 pindah lagi ke Jakarta dan bergabung bersama Lekra. Dalam Kongres Pertama Lekra, Oey dipilih menjadi anggota sekertariat pimpinan pusat, kepala rumah tangga yang mengurusi sekertariat dan badan penerbit Lekra. Ketika peristiwa 1965 meletus, Oey kemudian ditangkap pada bulan Oktober dan dipenjara selama 14 tahun di Pulau Buru. Ia ditahan dengan nomor tapol 001. Oey termasuk rombongan terakhir yang dilepas dari Pulau Buru bersama Pramoedya, Rivai Apin, dsb. Pasca keluar dari penjara, Oey aktif dalam penulisan dan penerbitan. Ia aktif membantu Hasta Mitra, sebuah penerbit yang didirikan oleh Pramoedya, Josoef Isak, dan Hasjim Rachman. Oey menerjamahkan banyak karya marxis klasik tulisan Marx, Engels, Plekanov, dsb., dengan nama Ira Iramanto. Ia menutup usianya di usia 79 tahun. https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2018/09/16/jejak-langkah-oey-hay-djoen-tapol-001-dari-gerilyawan-kota-parlemen-buru-hingga-buku-1929-2008/ Melipat Ganda, Membakar Tirani! #momentumsejarah #arahjuang https://linktr.ee/arahjuang

 18 April 1929 Oey Hay Djoen lahir di Malang, Jawa Timur. Sejak muda, ia adalah pembaca yang rakus dan dari sana ia berkenalan dengan dunia politik—sebuah dunia yang kemudian digelutinya sampai akhir hayat.


Pada usia 17 tahun ia mulai terlibat dalam politik dan memulai kerja-kerjanya dalam bidang terjemahan. Karya pertama yang diterjemahkan adalah "Negara dan Revolusi" karya V. Lenin. 



Ia kemudian pindah dari Yogyakarta ke Malang. Disana ia berkenalan dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan, dsb,. dan langsung terlibat dalam perlawanan melawan Belanda. Ia kemudian ditahan oleh Belanda tapi kemudian berhasil melarikan diri dari penjara. 


Oey kemudian menetap di Surabaya. Disini ia berkenalan Njoto dan pada tahun 1959 pindah lagi ke Jakarta dan bergabung bersama Lekra. Dalam Kongres Pertama Lekra, Oey dipilih menjadi anggota sekertariat pimpinan pusat, kepala rumah tangga yang mengurusi sekertariat dan badan penerbit Lekra. 


Ketika peristiwa 1965 meletus, Oey kemudian ditangkap pada bulan Oktober dan dipenjara selama 14 tahun di Pulau Buru. Ia ditahan dengan nomor tapol 001. Oey termasuk rombongan terakhir yang dilepas dari Pulau Buru bersama Pramoedya, Rivai Apin, dsb.


Pasca keluar dari penjara, Oey aktif dalam penulisan dan penerbitan. Ia aktif membantu Hasta Mitra, sebuah penerbit yang didirikan oleh Pramoedya, Josoef Isak, dan Hasjim Rachman. Oey menerjamahkan banyak karya marxis klasik tulisan Marx, Engels, Plekanov, dsb., dengan nama Ira Iramanto. Ia menutup usianya di usia 79 tahun.


https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2018/09/16/jejak-langkah-oey-hay-djoen-tapol-001-dari-gerilyawan-kota-parlemen-buru-hingga-buku-1929-2008/


Melipat Ganda, Membakar Tirani!

#momentumsejarah

#arahjuang


https://linktr.ee/arahjuang

Kisah Bapakku dan Emakku Bapakku Tjari bin Saljan (31 tahun) dan emakku Hindun binti Rumban (20 tahun) menikah pada hari Djumah 9 Besar 87 H (1387 H) atau bertepatan dengan Jumat 8 maret 1968 jam 09.00 wib. Mereka menikah di KUA Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Yang menikahkan bapaknya emakku Rumban bin Tjato (48 tahun). Mas kawinnya berupa uang sebesar Rp100 rupiah dibayar tunai. Bapakku berstatus duda, istri pertama sudah bercerai. Istri pertamanya bernama Sarini binti Rakiban dan dikaruniai anak 2 yakni Muslichah (lahir 24/12/1959) dan Tarsinah (lahir 13/08/1965). Saat itu bapakku tinggal di Bedji (Beji, Pemalang). Sarini tinggal Dusun Pedurungan RT 8 RW 2, Desa Taman, Pemalang. Bapakku punya adik yg tinggal di Baros Pekalongan. Emakku berstatus janda, belum memiliki anak dan tinggal di Desa Jatirejo Kec. Ampelgading Kabupaten Pemalang. Saya kurang tahu siapa suami pertamanya. Jika merunut pada buku nikah, pekerjaan mereka adalah petani. Mungkin saja mereka bertemu saat menjadi petani. ☺ Yang menarik dari arsip-arsip yang saya buka, pada 1 Juli 1966 bapakku diangkat menjadi PNS Sementara di Rindam VII/Diponegoro di Magelang. Sebelumnya hanya Pekerja Harian Tetap (PHT) di tempat itu. Belum diketahui mulai kapan bekerja sebagai PHT. Ini berarti bahwa saat bapakku menikah dengan emakku, bapakku sebenarnya sudah bekerja di Rindam VII Diponegoro di Magelang, bukan sebagai petani (jika merujuk pada buku nikah). Ah betapa rendah hatinya bapakku. ☺ Mengapa bapakku bisa bekerja di Magelang? Bapakku dan emakku pernah bercerita, pasca peristiwa 1965 bapakku meninggalkan Pemalang ikut dompleng truk tentara dari Magelang yang saat itu melakukan pengamanan di Pemalang. Bapakku takut 'kena' jika tetap tinggal di Pemalang. Kita tahu di kawasan itu (termasuk Tegal, Brebes dsk) menjadi 'area merah'. Berkat dompleng tentara itulah bapakku bisa bekerja di Rindam VII/Diponegoro Magelang meskipun cuma sebagai Pekerja Harian Tetap (entah mulai kapan, mungkin antara Oktober 1965 - 1 Juli 1966). Sebagai PNS Sementara, tugasnya menjadi Pelayan Makan (bagian dapur) pada 1 Januari 1968 dengan golongan 1a bergaji Rp440 pada 1 Oktober 1973 naik golongan menjadi 1b bergaji Rp712. Bapakku pensiun pada 1 Juni 1993 dengan golongan 2a dengan gaji akhir sekitar Rp114.000,- dan meninggal pada 11 Januari 1999 dalam usia 62 tahun. Sedangkan emakku meninggal pada 14 April 2026 dalam usia 80 tahun. Bapakku dan emakku memiliki 5 anak laki-laki (Pendowo) yang semuanya lahir di Magelang. Aku sendiri nomer 3. Kami bangga pada mereka.

 Kisah Bapakku dan Emakku


Bapakku Tjari bin Saljan (31 tahun) dan emakku Hindun binti Rumban (20 tahun) menikah pada hari Djumah 9 Besar 87 H (1387 H) atau bertepatan dengan Jumat 8 maret 1968 jam 09.00 wib. 




Mereka menikah di KUA Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Yang menikahkan bapaknya emakku Rumban bin Tjato (48 tahun). Mas kawinnya berupa uang sebesar Rp100 rupiah dibayar tunai. 


Bapakku berstatus duda, istri pertama sudah bercerai. Istri pertamanya bernama Sarini binti Rakiban dan dikaruniai anak 2 yakni Muslichah (lahir 24/12/1959) dan Tarsinah (lahir 13/08/1965). Saat itu bapakku tinggal di Bedji (Beji, Pemalang). Sarini tinggal Dusun Pedurungan RT 8 RW 2, Desa Taman, Pemalang. Bapakku punya adik yg tinggal di Baros Pekalongan. 


Emakku berstatus janda, belum memiliki anak dan tinggal di Desa Jatirejo Kec. Ampelgading Kabupaten Pemalang. Saya kurang tahu siapa suami pertamanya. 


Jika merunut pada buku nikah, pekerjaan mereka adalah petani. Mungkin saja mereka bertemu saat menjadi petani. ☺


Yang menarik dari arsip-arsip yang saya buka, pada 1 Juli 1966 bapakku diangkat menjadi PNS Sementara di Rindam VII/Diponegoro di Magelang. Sebelumnya hanya Pekerja Harian Tetap (PHT) di tempat itu. Belum diketahui mulai kapan bekerja sebagai PHT. 


Ini berarti bahwa saat bapakku menikah dengan emakku, bapakku sebenarnya sudah bekerja di Rindam VII Diponegoro di Magelang, bukan sebagai petani (jika merujuk pada buku nikah). Ah betapa rendah hatinya bapakku. ☺


Mengapa bapakku bisa bekerja di Magelang? 


Bapakku dan emakku pernah bercerita, pasca peristiwa 1965 bapakku meninggalkan Pemalang ikut dompleng truk tentara dari Magelang yang saat itu melakukan pengamanan di Pemalang. Bapakku takut 'kena' jika tetap tinggal di Pemalang. Kita tahu di kawasan itu (termasuk Tegal, Brebes dsk) menjadi 'area merah'. 


Berkat dompleng tentara itulah bapakku bisa bekerja di Rindam VII/Diponegoro Magelang meskipun cuma sebagai Pekerja Harian Tetap (entah mulai kapan, mungkin antara Oktober 1965 - 1 Juli 1966). Sebagai PNS Sementara, tugasnya menjadi Pelayan Makan (bagian dapur) pada 1 Januari 1968 dengan golongan 1a bergaji Rp440  pada 1 Oktober 1973 naik golongan menjadi 1b bergaji Rp712. 


Bapakku pensiun pada 1 Juni 1993 dengan golongan 2a dengan gaji akhir sekitar Rp114.000,- dan meninggal pada 11 Januari 1999 dalam usia 62 tahun. Sedangkan emakku meninggal pada 14 April 2026 dalam usia 80 tahun. 


Bapakku dan emakku memiliki 5 anak laki-laki (Pendowo) yang semuanya lahir di Magelang. Aku sendiri nomer 3. Kami bangga pada mereka.


Sumber : Bagus Priyana ( Agung Dragon ) 

21 April 2026

Kartini, Sang Santri: Jejak Revolusi Pemikiran di Balik Kitab Pegon NUOKe – Nama Raden Adjeng Kartini selama ini identik dengan kebaya, sanggul, dan perjuangan emansipasi perempuan melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, di balik narasi besar sebagai bangsawan progresif, terselip satu identitas yang kerap luput dari catatan sejarah populer: Kartini adalah seorang santri. Jauh sebelum ia dikenal dunia karena buku Habis Gelap Terbitlah Terang, pola pikir Kartini ditempa oleh kegelisahan spiritual yang mendalam. Ia lahir di tengah tradisi paternalistik Jawa yang kental, di mana perempuan dianggap sekadar pelengkap. Namun, anomali terbesar yang ia rasakan justru muncul saat ia berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, Al-Qur'an. Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 1899, Kartini sempat menuangkan rasa frustrasinya. Ia merasa aneh ketika masyarakat diwajibkan membaca Al-Qur'an tanpa diperbolehkan memahami maknanya. "Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca," tulis Kartini. Bagi Kartini kala itu, Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa. Ketidakpahaman ini sempat membuatnya merasa jauh dari agamanya sendiri, hingga sebuah pertemuan tak sengaja di rumah pamannya, Bupati Demak, mengubah segalanya. Di sana, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang—ulama besar yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Saat sang kiai membedah tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa, Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat-ayat yang selama ini ia hafal tanpa makna, tiba-tiba "berbicara" langsung ke sanubarinya. Nyai Hj. Fadhilah Sholeh, cucu dari Mbah Sholeh Darat, menceritakan bagaimana Kartini kecil mendesak pamannya untuk bertemu sang kiai. Kartini melontarkan pertanyaan tajam: "Kiai, bagaimana hukumnya bila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?" Kartini menggugat para ulama saat itu yang enggan menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lokal. Padahal, ia haus akan bimbingan hidup yang nyata, bukan sekadar pelafalan hampa. Kritik Kartini menjadi pemantik bagi Mbah Sholeh Darat. Namun, tantangannya tidak mudah. Pemerintah kolonial Belanda melarang keras penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa daerah karena takut pemahaman agama akan memicu semangat perlawanan dan jiwa merdeka. Untuk menyiasatinya, Mbah Sholeh Darat menggunakan aksara Arab Pegon (bahasa Jawa bertuliskan huruf Arab). Dengan cara ini, penjajah tidak curiga karena menganggapnya sebagai teks doa biasa. Lahirlah kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa. Kitab inilah yang kemudian menjadi kado pernikahan Kartini saat dipinang oleh Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Kartini menyebut hadiah itu sebagai cahaya yang menerangi kegelapannya selama ini. Inspirasi utama kalimat ikonik "Habis Gelap Terbitlah Terang" disinyalir kuat berasal dari ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hati Kartini: Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur—"Dari kegelapan menuju cahaya" (QS. Al-Baqarah: 257). Dalam surat-suratnya ke Nyai Abendanon, Kartini sering mengulang frasa Door Duisternis Toot Licht. Judul yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai judul buku kumpulan suratnya tersebut bukan sekadar metafora sosial, melainkan kristalisasi pengalaman spiritualnya setelah belajar agama. Meski Mbah Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikan seluruh terjemahan Al-Qur'an (hanya sampai Surah Ibrahim), pengaruhnya telah tertanam kuat. Kartini bukan lagi sekadar putri bangsawan yang mengeluh tentang tradisi pingitan, melainkan seorang intelektual Muslimah yang sadar bahwa kemerdekaan berpikir dimulai dari pemahaman terhadap ilmu. Selamat Hari Kartini. Seorang santri, seorang pemikir, dan ibu bagi kemajuan bangsa. Sumber: NU Online Content Curator NUOKe #Kartini #HariKartini #RAKartini #IbuKartini #SholehDarat #MbahSholehDarat #TokohBangsa #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #SejarahIslamNusantara #BiografiTokoh #JejakLangkahKartini #HabisGelapTerbitlahTerang

 Kartini, Sang Santri: Jejak Revolusi Pemikiran di Balik Kitab Pegon


NUOKe  – Nama Raden Adjeng Kartini selama ini identik dengan kebaya, sanggul, dan perjuangan emansipasi perempuan melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, di balik narasi besar sebagai bangsawan progresif, terselip satu identitas yang kerap luput dari catatan sejarah populer: Kartini adalah seorang santri.



Jauh sebelum ia dikenal dunia karena buku Habis Gelap Terbitlah Terang, pola pikir Kartini ditempa oleh kegelisahan spiritual yang mendalam. Ia lahir di tengah tradisi paternalistik Jawa yang kental, di mana perempuan dianggap sekadar pelengkap. Namun, anomali terbesar yang ia rasakan justru muncul saat ia berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, Al-Qur'an.


Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 1899, Kartini sempat menuangkan rasa frustrasinya. Ia merasa aneh ketika masyarakat diwajibkan membaca Al-Qur'an tanpa diperbolehkan memahami maknanya.


"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca," tulis Kartini.


Bagi Kartini kala itu, Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa. Ketidakpahaman ini sempat membuatnya merasa jauh dari agamanya sendiri, hingga sebuah pertemuan tak sengaja di rumah pamannya, Bupati Demak, mengubah segalanya.


Di sana, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang—ulama besar yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Saat sang kiai membedah tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa, Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat-ayat yang selama ini ia hafal tanpa makna, tiba-tiba "berbicara" langsung ke sanubarinya.


Nyai Hj. Fadhilah Sholeh, cucu dari Mbah Sholeh Darat, menceritakan bagaimana Kartini kecil mendesak pamannya untuk bertemu sang kiai. Kartini melontarkan pertanyaan tajam: "Kiai, bagaimana hukumnya bila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?"


Kartini menggugat para ulama saat itu yang enggan menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lokal. Padahal, ia haus akan bimbingan hidup yang nyata, bukan sekadar pelafalan hampa.


Kritik Kartini menjadi pemantik bagi Mbah Sholeh Darat. Namun, tantangannya tidak mudah. Pemerintah kolonial Belanda melarang keras penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa daerah karena takut pemahaman agama akan memicu semangat perlawanan dan jiwa merdeka.


Untuk menyiasatinya, Mbah Sholeh Darat menggunakan aksara Arab Pegon (bahasa Jawa bertuliskan huruf Arab). Dengan cara ini, penjajah tidak curiga karena menganggapnya sebagai teks doa biasa. Lahirlah kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa.


Kitab inilah yang kemudian menjadi kado pernikahan Kartini saat dipinang oleh Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Kartini menyebut hadiah itu sebagai cahaya yang menerangi kegelapannya selama ini.


Inspirasi utama kalimat ikonik "Habis Gelap Terbitlah Terang" disinyalir kuat berasal dari ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hati Kartini: Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur—"Dari kegelapan menuju cahaya" (QS. Al-Baqarah: 257).


Dalam surat-suratnya ke Nyai Abendanon, Kartini sering mengulang frasa Door Duisternis Toot Licht. Judul yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai judul buku kumpulan suratnya tersebut bukan sekadar metafora sosial, melainkan kristalisasi pengalaman spiritualnya setelah belajar agama.


Meski Mbah Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikan seluruh terjemahan Al-Qur'an (hanya sampai Surah Ibrahim), pengaruhnya telah tertanam kuat. Kartini bukan lagi sekadar putri bangsawan yang mengeluh tentang tradisi pingitan, melainkan seorang intelektual Muslimah yang sadar bahwa kemerdekaan berpikir dimulai dari pemahaman terhadap ilmu.


Selamat Hari Kartini. Seorang santri, seorang pemikir, dan ibu bagi kemajuan bangsa.


Sumber: NU Online Content Curator NUOKe


#Kartini #HariKartini #RAKartini #IbuKartini #SholehDarat #MbahSholehDarat #TokohBangsa #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #SejarahIslamNusantara #BiografiTokoh #JejakLangkahKartini #HabisGelapTerbitlahTerang

Dari Penjual Rokok Jadi Menteri Keuangan: Kisah Hidup Radius Prawiro yang Menginspirasi! Di balik deretan kebijakan ekonomi yang menopang stabilitas Indonesia selama puluhan tahun, terdapat sosok teknokrat yang memiliki perjalanan hidup luar biasa. Radius Prawiro (1928–2005), seorang tokoh yang namanya mungkin terdengar formal di buku sejarah, ternyata memiliki masa muda yang sangat jauh dari gemerlap kursi kekuasaan. Memulai dari Bawah: Masa Kecil yang Penuh Perjuangan Banyak yang mengenal Radius Prawiro sebagai ekonom handal yang pernah memimpin Bank Indonesia dan menjabat sebagai menteri. Namun, siapa sangka, untuk mencapai titik tersebut, ia harus menapaki jalan yang terjal. Lahir dari pasangan Suradi Prawiro dan Suketri, Radius tumbuh di Yogyakarta. Kehidupan masa kecilnya bukanlah kehidupan yang serba berkecukupan. Buktinya, saat masih duduk di bangku SMP pada tahun 1942—di tengah gejolak masa pendudukan—Radius muda sempat bekerja sebagai penjual rokok untuk membantu ekonomi keluarga. Pengalaman ini menanamkan etos kerja yang kuat, sebuah karakter yang kelak menjadi modal utamanya saat menghadapi krisis ekonomi nasional di kemudian hari. Menembus Batas: Pendidikan dan Pengabdian Semangat untuk maju membawa Radius jauh melampaui keterbatasannya. Setelah menempuh pendidikan di Yogyakarta, ia melanjutkan studi ke Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam, Belanda, sebelum akhirnya memperdalam ilmu di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Karier pengabdiannya dimulai dari akar rumput. Sebelum menjadi orang nomor satu di Bank Indonesia (1966–1973), Radius adalah seorang pejuang yang terlibat dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Yogyakarta. Pengalamannya sebagai perwira di masa perjuangan memberinya perspektif bahwa stabilitas ekonomi adalah kunci bagi kemerdekaan sebuah bangsa. Sang Arsitek Ekonomi Nasional Radius Prawiro dikenal sebagai menteri yang tak kenal lelah dalam membenahi sistem keuangan negara. Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan (1983–1988) dan kemudian Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1988–1993), ia menjadi tokoh kunci di balik: Reformasi Perpajakan: Menyederhanakan sistem pajak agar lebih efektif. Stabilisasi Moneter: Memulihkan kepercayaan pasar setelah krisis ekonomi. Pemberdayaan Desa: Melalui Kredit Usaha Pedesaan, ia memastikan bahwa kebijakan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh kalangan elit di kota, tetapi juga oleh masyarakat di pelosok pedesaan. Sisi Humanis: Hobi Motor dan Berkebun Meskipun dikenal sebagai sosok teknokrat yang serius, Radius adalah manusia biasa dengan sisi humanis yang kental. Ia adalah penggemar berat fotografi dan sepeda motor—sebuah hobi yang ia tekuni sejak masih belajar di Belanda. Ia bahkan harus merelakan kegemarannya mengendarai sepeda motor saat menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia demi alasan keamanan. Di masa tuanya, ia sering menghabiskan waktu dengan merawat tanaman bersama sang istri, Leonie Supit. Baginya, ketenangan di kebun adalah penyeimbang dari hiruk-pikuk dunia keuangan yang selalu menuntut fokus tinggi. Warisan yang Terus Hidup Radius Prawiro wafat pada 26 Mei 2005. Warisannya bukan hanya sekadar angka dalam laporan keuangan atau kebijakan moneter, melainkan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa latar belakang ekonomi keluarga bukanlah penghalang untuk mencapai posisi puncak. Dari seorang penjual rokok di Yogyakarta, ia membuktikan bahwa dengan pendidikan, kerja keras, dan integritas, seseorang bisa menjadi arsitek masa depan bangsanya sendiri. Sumber: Wikipedia #RadiusPrawiro #TokohBangsa #InspirasiEkonomi #SejarahIndonesia #KisahInspiratif #TeknokratIndonesia

 Dari Penjual Rokok Jadi Menteri Keuangan: Kisah Hidup Radius Prawiro yang Menginspirasi!



Di balik deretan kebijakan ekonomi yang menopang stabilitas Indonesia selama puluhan tahun, terdapat sosok teknokrat yang memiliki perjalanan hidup luar biasa. Radius Prawiro (1928–2005), seorang tokoh yang namanya mungkin terdengar formal di buku sejarah, ternyata memiliki masa muda yang sangat jauh dari gemerlap kursi kekuasaan.


Memulai dari Bawah: Masa Kecil yang Penuh Perjuangan

Banyak yang mengenal Radius Prawiro sebagai ekonom handal yang pernah memimpin Bank Indonesia dan menjabat sebagai menteri. Namun, siapa sangka, untuk mencapai titik tersebut, ia harus menapaki jalan yang terjal.


Lahir dari pasangan Suradi Prawiro dan Suketri, Radius tumbuh di Yogyakarta. Kehidupan masa kecilnya bukanlah kehidupan yang serba berkecukupan. Buktinya, saat masih duduk di bangku SMP pada tahun 1942—di tengah gejolak masa pendudukan—Radius muda sempat bekerja sebagai penjual rokok untuk membantu ekonomi keluarga.


Pengalaman ini menanamkan etos kerja yang kuat, sebuah karakter yang kelak menjadi modal utamanya saat menghadapi krisis ekonomi nasional di kemudian hari.


Menembus Batas: Pendidikan dan Pengabdian

Semangat untuk maju membawa Radius jauh melampaui keterbatasannya. Setelah menempuh pendidikan di Yogyakarta, ia melanjutkan studi ke Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam, Belanda, sebelum akhirnya memperdalam ilmu di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.


Karier pengabdiannya dimulai dari akar rumput. Sebelum menjadi orang nomor satu di Bank Indonesia (1966–1973), Radius adalah seorang pejuang yang terlibat dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Yogyakarta. Pengalamannya sebagai perwira di masa perjuangan memberinya perspektif bahwa stabilitas ekonomi adalah kunci bagi kemerdekaan sebuah bangsa.


Sang Arsitek Ekonomi Nasional

Radius Prawiro dikenal sebagai menteri yang tak kenal lelah dalam membenahi sistem keuangan negara. Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan (1983–1988) dan kemudian Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1988–1993), ia menjadi tokoh kunci di balik:


Reformasi Perpajakan: Menyederhanakan sistem pajak agar lebih efektif.


Stabilisasi Moneter: Memulihkan kepercayaan pasar setelah krisis ekonomi.


Pemberdayaan Desa: Melalui Kredit Usaha Pedesaan, ia memastikan bahwa kebijakan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh kalangan elit di kota, tetapi juga oleh masyarakat di pelosok pedesaan.


Sisi Humanis: Hobi Motor dan Berkebun

Meskipun dikenal sebagai sosok teknokrat yang serius, Radius adalah manusia biasa dengan sisi humanis yang kental. Ia adalah penggemar berat fotografi dan sepeda motor—sebuah hobi yang ia tekuni sejak masih belajar di Belanda. Ia bahkan harus merelakan kegemarannya mengendarai sepeda motor saat menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia demi alasan keamanan.


Di masa tuanya, ia sering menghabiskan waktu dengan merawat tanaman bersama sang istri, Leonie Supit. Baginya, ketenangan di kebun adalah penyeimbang dari hiruk-pikuk dunia keuangan yang selalu menuntut fokus tinggi.


Warisan yang Terus Hidup

Radius Prawiro wafat pada 26 Mei 2005. Warisannya bukan hanya sekadar angka dalam laporan keuangan atau kebijakan moneter, melainkan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa latar belakang ekonomi keluarga bukanlah penghalang untuk mencapai posisi puncak.


Dari seorang penjual rokok di Yogyakarta, ia membuktikan bahwa dengan pendidikan, kerja keras, dan integritas, seseorang bisa menjadi arsitek masa depan bangsanya sendiri.


Sumber: Wikipedia


#RadiusPrawiro #TokohBangsa #InspirasiEkonomi #SejarahIndonesia #KisahInspiratif #TeknokratIndonesia