22 April 2026

"Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya." Inggit Ganarsih, perempuan yang berjasa besar dalam hidup Bung Karno merasa dirinya bukan pahlawan. Di sisi lain, pemerintah yang merasa paling berkuasa malahan berniat melanggar wasiat almarhumah. PERPISAHAN DENGAN WANITA PENDAMPING Wanita tua yang tangguh itu telah tiada, setelah satu setengah tahun terbaring sakit. Pribadinya mengilhami perjuangan Bung Karno – yang diantarkannya sebagai pemimpin besar. (TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984, “Obituari”) Letusan salvo dari sepuluh moncong bedil menggelegar serempak. Dan tatkala jasad wanita tua itu diangkat dari keranda, diturunkan ke liang lahad dengan hati-hati, cuaca pun perlahan-lahan redup. Awan di langit tampak berserak keabu-abuan, hening, ketika korps musik memainkan lagu Gugur Bunga. Alam di sekitar Permakaman Muslimin Babakan Ciparay, Bandung Selatan, Sabtu siang itu seakan-akan ikut menangisi kepergian Inggit Garnasih, 96, janda presiden pertama RI, Soekarno. Almarhumah meninggal Jumat pekan lalu tepat pukul 19.10 disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, 70, dan Bi Ikah, 50, serta seorang kemenakannya, Jumhana, 55, di rumahnya Jalan Ciateul, Bandung. Pada detik- detik terakhir sebelum menghembuskan napasnya, Inggit memegang erat-erat tangan Mak Irah. "Mungkin itu satu-satunya tanda perpisahan dari Ibu," tutur pembantu yang merawat Inggit sejak 40 tahun lalu itu dengan mata sembab. Hari Jumat itu sesungguhnya tak tampak tanda-tanda Inggit akan berpulang. Sekitar pukul 12.00 ia memang sedikit demam. Satu jam kemudian Eko Antono, dokter pribadinya, datang. "Tidak apa-apa, hanya badannya agak gemetar," katanya. Keadaan seperti itu memang biasa terjadi sejak satu setengah tahun lalu, ketika Inggit mulai sakit keras dan dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung. Penyakitnya ketika itu ialah organic brain syndrome (gangguan mental akibat tidak berfungsinya organ-organ tubuh). Ketika itu tidak ada kelainan yang berarti pada hasil pemeriksaan gelombang otak. Pukul 16.00, Inggit masih bisa disuapi bubur beras. Tapi sore itu, entah mengapa, obat yang tertulis pada resep Dokter Antono tidak tersedia di semua apotek. Dan sore itu, kebetulan pula, Ratna Djoeami Asmarahadi – salah seorang anak angkat yang disayanginya – merasa perlu pulang ke rumahnya di Jalan Cilentah untuk mandi dan berganti pakaian. Tak diduga, "Ibu sudah berpulang sebelum saya sempat kembali mendampinginya," ujar Ratna, 60, menyesali dirinya. Meninggalkan dua orang anak angkat (seorang lagi Kartika) dengan 14 anak dan 28 buyut, perintis kemerdekaan itu tidak bersedia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sejak mula, wanita itu berpesan agar dimakamkan di Cibintinu, desa kecil di Bandung Selatan. Di sanalah dulu Bung Karno, suaminya, bertemu dengan si Marhaen seorang buruh tani. Tapi menurut Tito Asmarahadi, 36, salah seorang cucu Inggit, Cibintinu termasuk kawasan perluasan Kota Bandung. "Untunglah, pada bulan Januari lalu pihak keluarga, dengan bantuan pemerintah daerah, berhasil mengusahakan tanah untuk makam seluas 120 m2 di Babakan Ciparay," katanya. Dan Inggit setuju dengan rencana itu. Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya. Hanya itu satu-satunya wasiat Inggit. "Sebab, sejak sakit satu setengah tahun lalu itu Ibu sudah tidak bisa kontak lagi dengan orang lain," ujar Tito. "Selama sakit, hanya suara mengaduh saja yang terdengar. Bahkan sejak dua minggu sebelum berpulang, Ibu sudah tak mampu berkata sepatah pun," tambah Ratna Djoeami Hanya tiga di antara putra-putri Bung Karno yang sempat melayat. Rachmawati – bersama suaminya, Dicky Suprapto – sudah hadir di rumah duka sejak pagi hari. Ia tak banyak bicara. "Mas Tok tidak bisa datang karena sakit," katanya. Mas Tok adalah Guntur, kakaknya. Sukmawati juga tidak tampak, sedangkan Guruh dan Megawati baru muncul di makam pukul 14.20 ketika jasad Almarhumah hendak diturunkan ke liang lahad. Di antara para janda Bung Karno yang masih hidup, hanya Hartini saja yang datang takziah. Mengenakan kebaya dan kain warna gelap, Hartini datang sekitar pukul 10.30 dengan sedan Mercy B 623 AB warna abu-abu. Hartini segera bersimpuh di sisi jenazah bekas madunya, dan berdoa. "Hari ini Ibu Inggit telah dipanggil menghadap oleh Tuhan. Saya kira beliau sangat bahagia. Selama ini beliau sudah terlalu lama menderita," katanya tersendat-sendat. "Ibu Inggit adalah salah seorang istri Bapak yang paling setia dalam suka dan duka. Beliaulah yang menunjang Bapak dalam perjuangan," katanya lagi. Pada masa tuanya, Inggit, yang pada saat-saat kembangnya geulis, seperti tak takluk dimangsa usia. Lahir pada abad silam di Desa Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika ia mencapai usia 90 tahun kesehatannya tak menggembirakan. Namun, badannya tetap terawat bersih dan giginya putih berseri. Hal itu lantaran Inggit, gadis desa yang hanya berpendidikan madrasah itu gemar minum jamu dan rajin merawat kulit. Sejak Bung Karno dikurung oleh Belanda di penjara Banceuy, kemudian Sukamiskin, Bandung, Inggit mencari nafkah dengan membuat bedak. Salah satu bedaknya dinamainya Ningrum: belakangan ada pula yang disebut bedak Pancasila, karena bersegi lima. Ketika Bung Karno dipenjarakan selama lima tahun di Ende, Flores, sejak 1933, Inggit menyertainya dengan setia. Begitu pula ketika pemimpin pergerakan nasional yang juga populer sebagai "singa podium" itu dibuang ke Bengkulu, Inggit mendampinginya. Soekarno adalah suaminya yang ketiga setelah Sukarta dan Haji Sanusi. Bung Karno sendiri jatuh cinta pada wanita itu ketika ia mondok di rumah Haji Sanusi. Ketika itu Bung Karno yang berusia 20 tahun (sementara Inggit 32 tahun) sudah mengawini Utari, putri H.O.S. Tjokroaminoto. Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

 "Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya."



Inggit Ganarsih, perempuan yang berjasa besar dalam hidup Bung Karno merasa dirinya bukan pahlawan. Di sisi lain, pemerintah yang merasa paling berkuasa malahan berniat melanggar wasiat almarhumah.  


PERPISAHAN DENGAN WANITA PENDAMPING


Wanita tua yang tangguh itu telah tiada, setelah satu setengah tahun terbaring sakit. Pribadinya mengilhami perjuangan Bung Karno – yang diantarkannya sebagai pemimpin besar.


(TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984, “Obituari”)


Letusan salvo dari sepuluh moncong bedil menggelegar serempak. Dan tatkala jasad wanita tua itu diangkat dari keranda, diturunkan ke liang lahad dengan hati-hati, cuaca pun perlahan-lahan redup. Awan di langit tampak berserak keabu-abuan, hening, ketika korps musik memainkan lagu Gugur Bunga. Alam di sekitar Permakaman Muslimin Babakan Ciparay, Bandung Selatan, Sabtu siang itu seakan-akan ikut menangisi kepergian Inggit Garnasih, 96, janda presiden pertama RI, Soekarno. 


Almarhumah meninggal Jumat pekan lalu tepat pukul 19.10 disaksikan dua pembantu setianya Mak Irah, 70, dan Bi Ikah, 50, serta seorang kemenakannya, Jumhana, 55, di rumahnya Jalan Ciateul, Bandung. Pada detik- detik terakhir sebelum menghembuskan napasnya, Inggit memegang erat-erat tangan Mak Irah. "Mungkin itu satu-satunya tanda perpisahan dari Ibu," tutur pembantu yang merawat Inggit sejak 40 tahun lalu itu dengan mata sembab.


Hari Jumat itu sesungguhnya tak tampak tanda-tanda Inggit akan berpulang. Sekitar pukul 12.00 ia memang sedikit demam. Satu jam kemudian Eko Antono, dokter pribadinya, datang. "Tidak apa-apa, hanya badannya agak gemetar," katanya. Keadaan seperti itu memang biasa terjadi sejak satu setengah tahun lalu, ketika Inggit mulai sakit keras dan dirawat di RS Hasan Sadikin, Bandung.


Penyakitnya ketika itu ialah organic brain syndrome (gangguan mental akibat tidak berfungsinya organ-organ tubuh). Ketika itu tidak ada kelainan yang berarti pada hasil pemeriksaan gelombang otak.


Pukul 16.00, Inggit masih bisa disuapi bubur beras. Tapi sore itu, entah mengapa, obat yang tertulis pada resep Dokter Antono tidak tersedia di semua apotek. Dan sore itu, kebetulan pula, Ratna Djoeami Asmarahadi – salah seorang anak angkat yang disayanginya – merasa perlu pulang ke rumahnya di Jalan Cilentah untuk mandi dan berganti pakaian. Tak diduga, "Ibu sudah berpulang sebelum saya sempat kembali mendampinginya," ujar Ratna, 60, menyesali dirinya.


Meninggalkan dua orang anak angkat (seorang lagi Kartika) dengan 14 anak dan 28 buyut, perintis kemerdekaan itu tidak bersedia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sejak mula, wanita itu berpesan agar dimakamkan di Cibintinu, desa kecil di Bandung Selatan. Di sanalah dulu Bung Karno, suaminya, bertemu dengan si Marhaen seorang buruh tani.


Tapi menurut Tito Asmarahadi, 36, salah seorang cucu Inggit, Cibintinu termasuk kawasan perluasan Kota Bandung. "Untunglah, pada bulan Januari lalu pihak keluarga, dengan bantuan pemerintah daerah, berhasil mengusahakan tanah untuk makam seluas 120 m2 di Babakan Ciparay," katanya. Dan Inggit setuju dengan rencana itu.


Sabtu pagi, ketika jenazah Inggit dimandikan, masih ada usaha pemerintah daerah Jawa Barat untuk menguburkan jenazah itu di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Tetapi pihak keluarga menolak. Dan itu juga sesuai dengan amanat Almarhumah. "Saya ini rakyat biasa, bukan pahlawan. Karena itu, bila kelak saya meninggal, kuburkanlah di tengah-tengah rakyat," tutur Ratna Djoeami menirukan pesan ibundanya.


Hanya itu satu-satunya wasiat Inggit. "Sebab, sejak sakit satu setengah tahun lalu itu Ibu sudah tidak bisa kontak lagi dengan orang lain," ujar Tito. "Selama sakit, hanya suara mengaduh saja yang terdengar. Bahkan sejak dua minggu sebelum berpulang, Ibu sudah tak mampu berkata sepatah pun," tambah Ratna Djoeami


Hanya tiga di antara putra-putri Bung Karno yang sempat melayat. Rachmawati – bersama suaminya, Dicky Suprapto – sudah hadir di rumah duka sejak pagi hari. Ia tak banyak bicara. "Mas Tok tidak bisa datang karena sakit," katanya. Mas Tok adalah Guntur, kakaknya. Sukmawati juga tidak tampak, sedangkan Guruh dan Megawati baru muncul di makam pukul 14.20 ketika jasad Almarhumah hendak diturunkan ke liang lahad.


Di antara para janda Bung Karno yang masih hidup, hanya Hartini saja yang datang takziah. Mengenakan kebaya dan kain warna gelap, Hartini datang sekitar pukul 10.30 dengan sedan Mercy B 623 AB warna abu-abu.


Hartini segera bersimpuh di sisi jenazah bekas madunya, dan berdoa. "Hari ini Ibu Inggit telah dipanggil menghadap oleh Tuhan. Saya kira beliau sangat bahagia. Selama ini beliau sudah terlalu lama menderita," katanya tersendat-sendat. "Ibu Inggit adalah salah seorang istri Bapak yang paling setia dalam suka dan duka. Beliaulah yang menunjang Bapak dalam perjuangan," katanya lagi.


Pada masa tuanya, Inggit, yang pada saat-saat kembangnya geulis, seperti tak takluk dimangsa usia. Lahir pada abad silam di Desa Banjaran, Kabupaten Bandung, ketika ia mencapai usia 90 tahun kesehatannya tak menggembirakan. Namun, badannya tetap terawat bersih dan giginya putih berseri.


Hal itu lantaran Inggit, gadis desa yang hanya berpendidikan madrasah itu gemar minum jamu dan rajin merawat kulit. Sejak Bung Karno dikurung oleh Belanda di penjara Banceuy, kemudian Sukamiskin, Bandung, Inggit mencari nafkah dengan membuat bedak. Salah satu bedaknya dinamainya Ningrum: belakangan ada pula yang disebut bedak Pancasila, karena bersegi lima.


Ketika Bung Karno dipenjarakan selama lima tahun di Ende, Flores, sejak 1933, Inggit menyertainya dengan setia. Begitu pula ketika pemimpin pergerakan nasional yang juga populer sebagai "singa podium" itu dibuang ke Bengkulu, Inggit mendampinginya. Soekarno adalah suaminya yang ketiga setelah Sukarta dan Haji Sanusi.  


Bung Karno sendiri jatuh cinta pada wanita itu ketika ia mondok di rumah Haji Sanusi. Ketika itu Bung Karno yang berusia 20 tahun (sementara Inggit 32 tahun) sudah mengawini Utari, putri H.O.S. Tjokroaminoto.


Sumber: TEMPO, No. 8, Thn. XIV, 21 APRIL 1984

18 April 1929 Oey Hay Djoen lahir di Malang, Jawa Timur. Sejak muda, ia adalah pembaca yang rakus dan dari sana ia berkenalan dengan dunia politik—sebuah dunia yang kemudian digelutinya sampai akhir hayat. Pada usia 17 tahun ia mulai terlibat dalam politik dan memulai kerja-kerjanya dalam bidang terjemahan. Karya pertama yang diterjemahkan adalah "Negara dan Revolusi" karya V. Lenin. Ia kemudian pindah dari Yogyakarta ke Malang. Disana ia berkenalan dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan, dsb,. dan langsung terlibat dalam perlawanan melawan Belanda. Ia kemudian ditahan oleh Belanda tapi kemudian berhasil melarikan diri dari penjara. Oey kemudian menetap di Surabaya. Disini ia berkenalan Njoto dan pada tahun 1959 pindah lagi ke Jakarta dan bergabung bersama Lekra. Dalam Kongres Pertama Lekra, Oey dipilih menjadi anggota sekertariat pimpinan pusat, kepala rumah tangga yang mengurusi sekertariat dan badan penerbit Lekra. Ketika peristiwa 1965 meletus, Oey kemudian ditangkap pada bulan Oktober dan dipenjara selama 14 tahun di Pulau Buru. Ia ditahan dengan nomor tapol 001. Oey termasuk rombongan terakhir yang dilepas dari Pulau Buru bersama Pramoedya, Rivai Apin, dsb. Pasca keluar dari penjara, Oey aktif dalam penulisan dan penerbitan. Ia aktif membantu Hasta Mitra, sebuah penerbit yang didirikan oleh Pramoedya, Josoef Isak, dan Hasjim Rachman. Oey menerjamahkan banyak karya marxis klasik tulisan Marx, Engels, Plekanov, dsb., dengan nama Ira Iramanto. Ia menutup usianya di usia 79 tahun. https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2018/09/16/jejak-langkah-oey-hay-djoen-tapol-001-dari-gerilyawan-kota-parlemen-buru-hingga-buku-1929-2008/ Melipat Ganda, Membakar Tirani! #momentumsejarah #arahjuang https://linktr.ee/arahjuang

 18 April 1929 Oey Hay Djoen lahir di Malang, Jawa Timur. Sejak muda, ia adalah pembaca yang rakus dan dari sana ia berkenalan dengan dunia politik—sebuah dunia yang kemudian digelutinya sampai akhir hayat.


Pada usia 17 tahun ia mulai terlibat dalam politik dan memulai kerja-kerjanya dalam bidang terjemahan. Karya pertama yang diterjemahkan adalah "Negara dan Revolusi" karya V. Lenin. 



Ia kemudian pindah dari Yogyakarta ke Malang. Disana ia berkenalan dengan tokoh-tokoh nasionalis seperti Siauw Giok Tjhan, Go Gien Tjwan, dsb,. dan langsung terlibat dalam perlawanan melawan Belanda. Ia kemudian ditahan oleh Belanda tapi kemudian berhasil melarikan diri dari penjara. 


Oey kemudian menetap di Surabaya. Disini ia berkenalan Njoto dan pada tahun 1959 pindah lagi ke Jakarta dan bergabung bersama Lekra. Dalam Kongres Pertama Lekra, Oey dipilih menjadi anggota sekertariat pimpinan pusat, kepala rumah tangga yang mengurusi sekertariat dan badan penerbit Lekra. 


Ketika peristiwa 1965 meletus, Oey kemudian ditangkap pada bulan Oktober dan dipenjara selama 14 tahun di Pulau Buru. Ia ditahan dengan nomor tapol 001. Oey termasuk rombongan terakhir yang dilepas dari Pulau Buru bersama Pramoedya, Rivai Apin, dsb.


Pasca keluar dari penjara, Oey aktif dalam penulisan dan penerbitan. Ia aktif membantu Hasta Mitra, sebuah penerbit yang didirikan oleh Pramoedya, Josoef Isak, dan Hasjim Rachman. Oey menerjamahkan banyak karya marxis klasik tulisan Marx, Engels, Plekanov, dsb., dengan nama Ira Iramanto. Ia menutup usianya di usia 79 tahun.


https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2018/09/16/jejak-langkah-oey-hay-djoen-tapol-001-dari-gerilyawan-kota-parlemen-buru-hingga-buku-1929-2008/


Melipat Ganda, Membakar Tirani!

#momentumsejarah

#arahjuang


https://linktr.ee/arahjuang

Kisah Bapakku dan Emakku Bapakku Tjari bin Saljan (31 tahun) dan emakku Hindun binti Rumban (20 tahun) menikah pada hari Djumah 9 Besar 87 H (1387 H) atau bertepatan dengan Jumat 8 maret 1968 jam 09.00 wib. Mereka menikah di KUA Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Yang menikahkan bapaknya emakku Rumban bin Tjato (48 tahun). Mas kawinnya berupa uang sebesar Rp100 rupiah dibayar tunai. Bapakku berstatus duda, istri pertama sudah bercerai. Istri pertamanya bernama Sarini binti Rakiban dan dikaruniai anak 2 yakni Muslichah (lahir 24/12/1959) dan Tarsinah (lahir 13/08/1965). Saat itu bapakku tinggal di Bedji (Beji, Pemalang). Sarini tinggal Dusun Pedurungan RT 8 RW 2, Desa Taman, Pemalang. Bapakku punya adik yg tinggal di Baros Pekalongan. Emakku berstatus janda, belum memiliki anak dan tinggal di Desa Jatirejo Kec. Ampelgading Kabupaten Pemalang. Saya kurang tahu siapa suami pertamanya. Jika merunut pada buku nikah, pekerjaan mereka adalah petani. Mungkin saja mereka bertemu saat menjadi petani. ☺ Yang menarik dari arsip-arsip yang saya buka, pada 1 Juli 1966 bapakku diangkat menjadi PNS Sementara di Rindam VII/Diponegoro di Magelang. Sebelumnya hanya Pekerja Harian Tetap (PHT) di tempat itu. Belum diketahui mulai kapan bekerja sebagai PHT. Ini berarti bahwa saat bapakku menikah dengan emakku, bapakku sebenarnya sudah bekerja di Rindam VII Diponegoro di Magelang, bukan sebagai petani (jika merujuk pada buku nikah). Ah betapa rendah hatinya bapakku. ☺ Mengapa bapakku bisa bekerja di Magelang? Bapakku dan emakku pernah bercerita, pasca peristiwa 1965 bapakku meninggalkan Pemalang ikut dompleng truk tentara dari Magelang yang saat itu melakukan pengamanan di Pemalang. Bapakku takut 'kena' jika tetap tinggal di Pemalang. Kita tahu di kawasan itu (termasuk Tegal, Brebes dsk) menjadi 'area merah'. Berkat dompleng tentara itulah bapakku bisa bekerja di Rindam VII/Diponegoro Magelang meskipun cuma sebagai Pekerja Harian Tetap (entah mulai kapan, mungkin antara Oktober 1965 - 1 Juli 1966). Sebagai PNS Sementara, tugasnya menjadi Pelayan Makan (bagian dapur) pada 1 Januari 1968 dengan golongan 1a bergaji Rp440 pada 1 Oktober 1973 naik golongan menjadi 1b bergaji Rp712. Bapakku pensiun pada 1 Juni 1993 dengan golongan 2a dengan gaji akhir sekitar Rp114.000,- dan meninggal pada 11 Januari 1999 dalam usia 62 tahun. Sedangkan emakku meninggal pada 14 April 2026 dalam usia 80 tahun. Bapakku dan emakku memiliki 5 anak laki-laki (Pendowo) yang semuanya lahir di Magelang. Aku sendiri nomer 3. Kami bangga pada mereka.

 Kisah Bapakku dan Emakku


Bapakku Tjari bin Saljan (31 tahun) dan emakku Hindun binti Rumban (20 tahun) menikah pada hari Djumah 9 Besar 87 H (1387 H) atau bertepatan dengan Jumat 8 maret 1968 jam 09.00 wib. 




Mereka menikah di KUA Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang. Yang menikahkan bapaknya emakku Rumban bin Tjato (48 tahun). Mas kawinnya berupa uang sebesar Rp100 rupiah dibayar tunai. 


Bapakku berstatus duda, istri pertama sudah bercerai. Istri pertamanya bernama Sarini binti Rakiban dan dikaruniai anak 2 yakni Muslichah (lahir 24/12/1959) dan Tarsinah (lahir 13/08/1965). Saat itu bapakku tinggal di Bedji (Beji, Pemalang). Sarini tinggal Dusun Pedurungan RT 8 RW 2, Desa Taman, Pemalang. Bapakku punya adik yg tinggal di Baros Pekalongan. 


Emakku berstatus janda, belum memiliki anak dan tinggal di Desa Jatirejo Kec. Ampelgading Kabupaten Pemalang. Saya kurang tahu siapa suami pertamanya. 


Jika merunut pada buku nikah, pekerjaan mereka adalah petani. Mungkin saja mereka bertemu saat menjadi petani. ☺


Yang menarik dari arsip-arsip yang saya buka, pada 1 Juli 1966 bapakku diangkat menjadi PNS Sementara di Rindam VII/Diponegoro di Magelang. Sebelumnya hanya Pekerja Harian Tetap (PHT) di tempat itu. Belum diketahui mulai kapan bekerja sebagai PHT. 


Ini berarti bahwa saat bapakku menikah dengan emakku, bapakku sebenarnya sudah bekerja di Rindam VII Diponegoro di Magelang, bukan sebagai petani (jika merujuk pada buku nikah). Ah betapa rendah hatinya bapakku. ☺


Mengapa bapakku bisa bekerja di Magelang? 


Bapakku dan emakku pernah bercerita, pasca peristiwa 1965 bapakku meninggalkan Pemalang ikut dompleng truk tentara dari Magelang yang saat itu melakukan pengamanan di Pemalang. Bapakku takut 'kena' jika tetap tinggal di Pemalang. Kita tahu di kawasan itu (termasuk Tegal, Brebes dsk) menjadi 'area merah'. 


Berkat dompleng tentara itulah bapakku bisa bekerja di Rindam VII/Diponegoro Magelang meskipun cuma sebagai Pekerja Harian Tetap (entah mulai kapan, mungkin antara Oktober 1965 - 1 Juli 1966). Sebagai PNS Sementara, tugasnya menjadi Pelayan Makan (bagian dapur) pada 1 Januari 1968 dengan golongan 1a bergaji Rp440  pada 1 Oktober 1973 naik golongan menjadi 1b bergaji Rp712. 


Bapakku pensiun pada 1 Juni 1993 dengan golongan 2a dengan gaji akhir sekitar Rp114.000,- dan meninggal pada 11 Januari 1999 dalam usia 62 tahun. Sedangkan emakku meninggal pada 14 April 2026 dalam usia 80 tahun. 


Bapakku dan emakku memiliki 5 anak laki-laki (Pendowo) yang semuanya lahir di Magelang. Aku sendiri nomer 3. Kami bangga pada mereka.


Sumber : Bagus Priyana ( Agung Dragon ) 

21 April 2026

Kartini, Sang Santri: Jejak Revolusi Pemikiran di Balik Kitab Pegon NUOKe – Nama Raden Adjeng Kartini selama ini identik dengan kebaya, sanggul, dan perjuangan emansipasi perempuan melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, di balik narasi besar sebagai bangsawan progresif, terselip satu identitas yang kerap luput dari catatan sejarah populer: Kartini adalah seorang santri. Jauh sebelum ia dikenal dunia karena buku Habis Gelap Terbitlah Terang, pola pikir Kartini ditempa oleh kegelisahan spiritual yang mendalam. Ia lahir di tengah tradisi paternalistik Jawa yang kental, di mana perempuan dianggap sekadar pelengkap. Namun, anomali terbesar yang ia rasakan justru muncul saat ia berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, Al-Qur'an. Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 1899, Kartini sempat menuangkan rasa frustrasinya. Ia merasa aneh ketika masyarakat diwajibkan membaca Al-Qur'an tanpa diperbolehkan memahami maknanya. "Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca," tulis Kartini. Bagi Kartini kala itu, Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa. Ketidakpahaman ini sempat membuatnya merasa jauh dari agamanya sendiri, hingga sebuah pertemuan tak sengaja di rumah pamannya, Bupati Demak, mengubah segalanya. Di sana, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang—ulama besar yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Saat sang kiai membedah tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa, Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat-ayat yang selama ini ia hafal tanpa makna, tiba-tiba "berbicara" langsung ke sanubarinya. Nyai Hj. Fadhilah Sholeh, cucu dari Mbah Sholeh Darat, menceritakan bagaimana Kartini kecil mendesak pamannya untuk bertemu sang kiai. Kartini melontarkan pertanyaan tajam: "Kiai, bagaimana hukumnya bila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?" Kartini menggugat para ulama saat itu yang enggan menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lokal. Padahal, ia haus akan bimbingan hidup yang nyata, bukan sekadar pelafalan hampa. Kritik Kartini menjadi pemantik bagi Mbah Sholeh Darat. Namun, tantangannya tidak mudah. Pemerintah kolonial Belanda melarang keras penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa daerah karena takut pemahaman agama akan memicu semangat perlawanan dan jiwa merdeka. Untuk menyiasatinya, Mbah Sholeh Darat menggunakan aksara Arab Pegon (bahasa Jawa bertuliskan huruf Arab). Dengan cara ini, penjajah tidak curiga karena menganggapnya sebagai teks doa biasa. Lahirlah kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa. Kitab inilah yang kemudian menjadi kado pernikahan Kartini saat dipinang oleh Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Kartini menyebut hadiah itu sebagai cahaya yang menerangi kegelapannya selama ini. Inspirasi utama kalimat ikonik "Habis Gelap Terbitlah Terang" disinyalir kuat berasal dari ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hati Kartini: Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur—"Dari kegelapan menuju cahaya" (QS. Al-Baqarah: 257). Dalam surat-suratnya ke Nyai Abendanon, Kartini sering mengulang frasa Door Duisternis Toot Licht. Judul yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai judul buku kumpulan suratnya tersebut bukan sekadar metafora sosial, melainkan kristalisasi pengalaman spiritualnya setelah belajar agama. Meski Mbah Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikan seluruh terjemahan Al-Qur'an (hanya sampai Surah Ibrahim), pengaruhnya telah tertanam kuat. Kartini bukan lagi sekadar putri bangsawan yang mengeluh tentang tradisi pingitan, melainkan seorang intelektual Muslimah yang sadar bahwa kemerdekaan berpikir dimulai dari pemahaman terhadap ilmu. Selamat Hari Kartini. Seorang santri, seorang pemikir, dan ibu bagi kemajuan bangsa. Sumber: NU Online Content Curator NUOKe #Kartini #HariKartini #RAKartini #IbuKartini #SholehDarat #MbahSholehDarat #TokohBangsa #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #SejarahIslamNusantara #BiografiTokoh #JejakLangkahKartini #HabisGelapTerbitlahTerang

 Kartini, Sang Santri: Jejak Revolusi Pemikiran di Balik Kitab Pegon


NUOKe  – Nama Raden Adjeng Kartini selama ini identik dengan kebaya, sanggul, dan perjuangan emansipasi perempuan melalui surat-suratnya kepada sahabat di Eropa. Namun, di balik narasi besar sebagai bangsawan progresif, terselip satu identitas yang kerap luput dari catatan sejarah populer: Kartini adalah seorang santri.



Jauh sebelum ia dikenal dunia karena buku Habis Gelap Terbitlah Terang, pola pikir Kartini ditempa oleh kegelisahan spiritual yang mendalam. Ia lahir di tengah tradisi paternalistik Jawa yang kental, di mana perempuan dianggap sekadar pelengkap. Namun, anomali terbesar yang ia rasakan justru muncul saat ia berhadapan dengan kitab sucinya sendiri, Al-Qur'an.


Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar pada 1899, Kartini sempat menuangkan rasa frustrasinya. Ia merasa aneh ketika masyarakat diwajibkan membaca Al-Qur'an tanpa diperbolehkan memahami maknanya.


"Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca," tulis Kartini.


Bagi Kartini kala itu, Islam seolah menjadi rahasia yang terkunci karena kendala bahasa. Ketidakpahaman ini sempat membuatnya merasa jauh dari agamanya sendiri, hingga sebuah pertemuan tak sengaja di rumah pamannya, Bupati Demak, mengubah segalanya.


Di sana, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang—ulama besar yang dikenal sebagai Mbah Sholeh Darat. Saat sang kiai membedah tafsir Surah Al-Fatihah dalam bahasa Jawa, Kartini tertegun. Untuk pertama kalinya, ayat-ayat yang selama ini ia hafal tanpa makna, tiba-tiba "berbicara" langsung ke sanubarinya.


Nyai Hj. Fadhilah Sholeh, cucu dari Mbah Sholeh Darat, menceritakan bagaimana Kartini kecil mendesak pamannya untuk bertemu sang kiai. Kartini melontarkan pertanyaan tajam: "Kiai, bagaimana hukumnya bila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?"


Kartini menggugat para ulama saat itu yang enggan menerjemahkan Al-Qur'an ke bahasa lokal. Padahal, ia haus akan bimbingan hidup yang nyata, bukan sekadar pelafalan hampa.


Kritik Kartini menjadi pemantik bagi Mbah Sholeh Darat. Namun, tantangannya tidak mudah. Pemerintah kolonial Belanda melarang keras penerjemahan Al-Qur'an ke bahasa daerah karena takut pemahaman agama akan memicu semangat perlawanan dan jiwa merdeka.


Untuk menyiasatinya, Mbah Sholeh Darat menggunakan aksara Arab Pegon (bahasa Jawa bertuliskan huruf Arab). Dengan cara ini, penjajah tidak curiga karena menganggapnya sebagai teks doa biasa. Lahirlah kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur'an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa.


Kitab inilah yang kemudian menjadi kado pernikahan Kartini saat dipinang oleh Bupati Rembang, RM Joyodiningrat. Kartini menyebut hadiah itu sebagai cahaya yang menerangi kegelapannya selama ini.


Inspirasi utama kalimat ikonik "Habis Gelap Terbitlah Terang" disinyalir kuat berasal dari ayat Al-Qur'an yang sangat menyentuh hati Kartini: Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur—"Dari kegelapan menuju cahaya" (QS. Al-Baqarah: 257).


Dalam surat-suratnya ke Nyai Abendanon, Kartini sering mengulang frasa Door Duisternis Toot Licht. Judul yang kemudian diterjemahkan oleh Armijn Pane sebagai judul buku kumpulan suratnya tersebut bukan sekadar metafora sosial, melainkan kristalisasi pengalaman spiritualnya setelah belajar agama.


Meski Mbah Sholeh Darat wafat sebelum menyelesaikan seluruh terjemahan Al-Qur'an (hanya sampai Surah Ibrahim), pengaruhnya telah tertanam kuat. Kartini bukan lagi sekadar putri bangsawan yang mengeluh tentang tradisi pingitan, melainkan seorang intelektual Muslimah yang sadar bahwa kemerdekaan berpikir dimulai dari pemahaman terhadap ilmu.


Selamat Hari Kartini. Seorang santri, seorang pemikir, dan ibu bagi kemajuan bangsa.


Sumber: NU Online Content Curator NUOKe


#Kartini #HariKartini #RAKartini #IbuKartini #SholehDarat #MbahSholehDarat #TokohBangsa #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #SejarahIslamNusantara #BiografiTokoh #JejakLangkahKartini #HabisGelapTerbitlahTerang

Dari Penjual Rokok Jadi Menteri Keuangan: Kisah Hidup Radius Prawiro yang Menginspirasi! Di balik deretan kebijakan ekonomi yang menopang stabilitas Indonesia selama puluhan tahun, terdapat sosok teknokrat yang memiliki perjalanan hidup luar biasa. Radius Prawiro (1928–2005), seorang tokoh yang namanya mungkin terdengar formal di buku sejarah, ternyata memiliki masa muda yang sangat jauh dari gemerlap kursi kekuasaan. Memulai dari Bawah: Masa Kecil yang Penuh Perjuangan Banyak yang mengenal Radius Prawiro sebagai ekonom handal yang pernah memimpin Bank Indonesia dan menjabat sebagai menteri. Namun, siapa sangka, untuk mencapai titik tersebut, ia harus menapaki jalan yang terjal. Lahir dari pasangan Suradi Prawiro dan Suketri, Radius tumbuh di Yogyakarta. Kehidupan masa kecilnya bukanlah kehidupan yang serba berkecukupan. Buktinya, saat masih duduk di bangku SMP pada tahun 1942—di tengah gejolak masa pendudukan—Radius muda sempat bekerja sebagai penjual rokok untuk membantu ekonomi keluarga. Pengalaman ini menanamkan etos kerja yang kuat, sebuah karakter yang kelak menjadi modal utamanya saat menghadapi krisis ekonomi nasional di kemudian hari. Menembus Batas: Pendidikan dan Pengabdian Semangat untuk maju membawa Radius jauh melampaui keterbatasannya. Setelah menempuh pendidikan di Yogyakarta, ia melanjutkan studi ke Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam, Belanda, sebelum akhirnya memperdalam ilmu di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Karier pengabdiannya dimulai dari akar rumput. Sebelum menjadi orang nomor satu di Bank Indonesia (1966–1973), Radius adalah seorang pejuang yang terlibat dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Yogyakarta. Pengalamannya sebagai perwira di masa perjuangan memberinya perspektif bahwa stabilitas ekonomi adalah kunci bagi kemerdekaan sebuah bangsa. Sang Arsitek Ekonomi Nasional Radius Prawiro dikenal sebagai menteri yang tak kenal lelah dalam membenahi sistem keuangan negara. Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan (1983–1988) dan kemudian Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1988–1993), ia menjadi tokoh kunci di balik: Reformasi Perpajakan: Menyederhanakan sistem pajak agar lebih efektif. Stabilisasi Moneter: Memulihkan kepercayaan pasar setelah krisis ekonomi. Pemberdayaan Desa: Melalui Kredit Usaha Pedesaan, ia memastikan bahwa kebijakan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh kalangan elit di kota, tetapi juga oleh masyarakat di pelosok pedesaan. Sisi Humanis: Hobi Motor dan Berkebun Meskipun dikenal sebagai sosok teknokrat yang serius, Radius adalah manusia biasa dengan sisi humanis yang kental. Ia adalah penggemar berat fotografi dan sepeda motor—sebuah hobi yang ia tekuni sejak masih belajar di Belanda. Ia bahkan harus merelakan kegemarannya mengendarai sepeda motor saat menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia demi alasan keamanan. Di masa tuanya, ia sering menghabiskan waktu dengan merawat tanaman bersama sang istri, Leonie Supit. Baginya, ketenangan di kebun adalah penyeimbang dari hiruk-pikuk dunia keuangan yang selalu menuntut fokus tinggi. Warisan yang Terus Hidup Radius Prawiro wafat pada 26 Mei 2005. Warisannya bukan hanya sekadar angka dalam laporan keuangan atau kebijakan moneter, melainkan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa latar belakang ekonomi keluarga bukanlah penghalang untuk mencapai posisi puncak. Dari seorang penjual rokok di Yogyakarta, ia membuktikan bahwa dengan pendidikan, kerja keras, dan integritas, seseorang bisa menjadi arsitek masa depan bangsanya sendiri. Sumber: Wikipedia #RadiusPrawiro #TokohBangsa #InspirasiEkonomi #SejarahIndonesia #KisahInspiratif #TeknokratIndonesia

 Dari Penjual Rokok Jadi Menteri Keuangan: Kisah Hidup Radius Prawiro yang Menginspirasi!



Di balik deretan kebijakan ekonomi yang menopang stabilitas Indonesia selama puluhan tahun, terdapat sosok teknokrat yang memiliki perjalanan hidup luar biasa. Radius Prawiro (1928–2005), seorang tokoh yang namanya mungkin terdengar formal di buku sejarah, ternyata memiliki masa muda yang sangat jauh dari gemerlap kursi kekuasaan.


Memulai dari Bawah: Masa Kecil yang Penuh Perjuangan

Banyak yang mengenal Radius Prawiro sebagai ekonom handal yang pernah memimpin Bank Indonesia dan menjabat sebagai menteri. Namun, siapa sangka, untuk mencapai titik tersebut, ia harus menapaki jalan yang terjal.


Lahir dari pasangan Suradi Prawiro dan Suketri, Radius tumbuh di Yogyakarta. Kehidupan masa kecilnya bukanlah kehidupan yang serba berkecukupan. Buktinya, saat masih duduk di bangku SMP pada tahun 1942—di tengah gejolak masa pendudukan—Radius muda sempat bekerja sebagai penjual rokok untuk membantu ekonomi keluarga.


Pengalaman ini menanamkan etos kerja yang kuat, sebuah karakter yang kelak menjadi modal utamanya saat menghadapi krisis ekonomi nasional di kemudian hari.


Menembus Batas: Pendidikan dan Pengabdian

Semangat untuk maju membawa Radius jauh melampaui keterbatasannya. Setelah menempuh pendidikan di Yogyakarta, ia melanjutkan studi ke Nederlandsche Economische Hogeschool di Rotterdam, Belanda, sebelum akhirnya memperdalam ilmu di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.


Karier pengabdiannya dimulai dari akar rumput. Sebelum menjadi orang nomor satu di Bank Indonesia (1966–1973), Radius adalah seorang pejuang yang terlibat dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Yogyakarta. Pengalamannya sebagai perwira di masa perjuangan memberinya perspektif bahwa stabilitas ekonomi adalah kunci bagi kemerdekaan sebuah bangsa.


Sang Arsitek Ekonomi Nasional

Radius Prawiro dikenal sebagai menteri yang tak kenal lelah dalam membenahi sistem keuangan negara. Selama menjabat sebagai Menteri Keuangan (1983–1988) dan kemudian Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1988–1993), ia menjadi tokoh kunci di balik:


Reformasi Perpajakan: Menyederhanakan sistem pajak agar lebih efektif.


Stabilisasi Moneter: Memulihkan kepercayaan pasar setelah krisis ekonomi.


Pemberdayaan Desa: Melalui Kredit Usaha Pedesaan, ia memastikan bahwa kebijakan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh kalangan elit di kota, tetapi juga oleh masyarakat di pelosok pedesaan.


Sisi Humanis: Hobi Motor dan Berkebun

Meskipun dikenal sebagai sosok teknokrat yang serius, Radius adalah manusia biasa dengan sisi humanis yang kental. Ia adalah penggemar berat fotografi dan sepeda motor—sebuah hobi yang ia tekuni sejak masih belajar di Belanda. Ia bahkan harus merelakan kegemarannya mengendarai sepeda motor saat menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia demi alasan keamanan.


Di masa tuanya, ia sering menghabiskan waktu dengan merawat tanaman bersama sang istri, Leonie Supit. Baginya, ketenangan di kebun adalah penyeimbang dari hiruk-pikuk dunia keuangan yang selalu menuntut fokus tinggi.


Warisan yang Terus Hidup

Radius Prawiro wafat pada 26 Mei 2005. Warisannya bukan hanya sekadar angka dalam laporan keuangan atau kebijakan moneter, melainkan inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kisah hidupnya mengajarkan bahwa latar belakang ekonomi keluarga bukanlah penghalang untuk mencapai posisi puncak.


Dari seorang penjual rokok di Yogyakarta, ia membuktikan bahwa dengan pendidikan, kerja keras, dan integritas, seseorang bisa menjadi arsitek masa depan bangsanya sendiri.


Sumber: Wikipedia


#RadiusPrawiro #TokohBangsa #InspirasiEkonomi #SejarahIndonesia #KisahInspiratif #TeknokratIndonesia

Bung Karno dan istri ke duanya Inggit Garnasih. Meskipun perbeda usia cukup jauh bung Karno masih 22 tahun dan Inggit 36 tapi tidak menghalangi Mereka untuk menikah. Pernikahan dilangsungkan pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem. Ibu Inggit berjasa membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliahnya hingga aktivitas politiknya. Bahkan saat Bung Karno dipenjara karena aktivitas politik menentang Belanda, Beliaulah yg membawakan makanan dan buku sebagai penghibur Bung Karno.. Tapi kemudian mereka bercerai pada tahun 1942.

 Bung Karno dan istri ke duanya Inggit Garnasih. Meskipun perbeda usia cukup jauh bung Karno masih 22 tahun dan Inggit 36 tapi tidak menghalangi Mereka untuk menikah. Pernikahan dilangsungkan  pada 24 Maret 1923 di rumah orang tua Inggit di Jalan Javaveem. Ibu Inggit berjasa  membiayai perjuangan Soekarno mulai dari biaya kuliahnya hingga aktivitas politiknya. Bahkan saat Bung Karno dipenjara karena aktivitas politik menentang Belanda, Beliaulah yg membawakan makanan dan buku sebagai penghibur Bung Karno..

Tapi kemudian mereka bercerai pada tahun 1942.



19 April 2026

Dari beberapa cerita mertua saya tentang daerah Kader School (Kawasan Rindam IV Diponegoro saat ini) dan sekitarnya mulai dari Jalan Piere Tendean sekarang hingga masuk kawasan gerbang masuk Kader School hingga mengelilingi lapangan Kader School lalu jalan Ksatrian baik Ksatrian utara ataupun Ksatrian selatan dahulu banyak tumbuh tanaman kenari atau dalam bahasa ilmiahnya Canarium ambonensis dan Canarium indicum sebagai pohon perindang. Hal ini bisa kita lihat dari dokumentasi foto foto sekitar Jalan Pierre Tendean hingga komplek Kader School (Kawasan Rindam IV Diponegoro sekarang ini). Kata mertua saya dahulu sering mencari buah kenari di daerah tersebut karena buah kenari enak dimakan. Bisa dibayangkan dahulu betapa rindang dan asri kawasan Kader School dengan pohon perindang berupa pohon kenari yang tumbuh tinggi menjulang dengan tajuk yang lebar. Pohon pohon kenari ini dahulu dipakai untuk sarang burung kuntul yang tiap pagi sekitar jam 6.30 terbang ke arah barat dan kemudian sore hari dari arah barat pulang lagi ke kawasan Kader School. Selain burung kuntul juga ada burung gelatik dan burung emprit. Dan dikemudian hari pohon pohon kenari ini ditebang dan mulai digantikan dengan pohon Asam sekitar tahun 1957 atau 1958 (sekitar dekade 1950an). Sehingga kalau sekarang sudah jarang adanya pohon kenari apalagi burung kuntul, burung gelatik dan burung emprit dijumpai di sekitar kompleks Rindam IV Diponegoro. Bahkan burung gelatik sekarang jadi burung yang dilindungi karena sudah terancam kepunahan.

 Dari beberapa cerita mertua saya tentang daerah Kader School (Kawasan Rindam IV Diponegoro saat ini) dan sekitarnya mulai dari Jalan Piere Tendean sekarang hingga masuk kawasan gerbang masuk Kader School hingga mengelilingi lapangan Kader School lalu jalan Ksatrian baik Ksatrian utara ataupun Ksatrian selatan dahulu banyak tumbuh tanaman kenari atau dalam bahasa ilmiahnya Canarium ambonensis dan Canarium indicum sebagai pohon perindang.




 




Hal ini bisa kita lihat dari dokumentasi foto foto sekitar Jalan Pierre Tendean hingga komplek Kader School (Kawasan Rindam IV Diponegoro sekarang ini).

Kata mertua saya dahulu sering mencari buah kenari di daerah tersebut karena buah kenari enak dimakan.

Bisa dibayangkan dahulu betapa rindang dan asri kawasan Kader School dengan pohon perindang berupa pohon kenari yang tumbuh tinggi menjulang dengan tajuk yang lebar. Pohon pohon kenari ini dahulu dipakai untuk sarang burung kuntul yang tiap pagi sekitar jam 6.30 terbang ke arah barat dan kemudian sore hari dari arah barat pulang lagi ke kawasan Kader School. Selain burung kuntul juga ada burung gelatik dan burung emprit.

Dan dikemudian hari pohon pohon kenari ini ditebang dan mulai digantikan dengan pohon Asam sekitar tahun 1957 atau 1958 (sekitar dekade 1950an).

Sehingga kalau sekarang sudah jarang adanya pohon kenari apalagi burung kuntul, burung gelatik dan burung emprit dijumpai di sekitar kompleks Rindam IV Diponegoro. Bahkan burung gelatik sekarang jadi burung yang dilindungi karena sudah terancam kepunahan.

Sumber : Orchid Breeder

Mbah buyut Jetbus 5 Chevrolet Apache biasa dijamannya disebut seri Lele Rute Muntilan - Borobudur - Magelang P.P Foto diambil antara tahun 60-70 an

 Mbah buyut Jetbus 5


Chevrolet Apache biasa dijamannya disebut seri Lele 


Rute Muntilan - Borobudur - Magelang P.P


Foto diambil antara tahun 60-70 an



18 April 2026

ARIEF BUDIMAN: KEMATIAN BRIGJEN TAMPUBOLON HARUS JADI AJANG PERENUNGAN (DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18) Bagaimana Anda melihat terbunuhnya Tampubolon berkaitan dengan gejala kehidupan kota besar? Ketika membaca berita itu, dan kebetulan di Kompas saya juga membaca berita perusakkan yang dilakukan pelajar terhadap halte bus, bagi saya Jakarta saat ini mengerikan. Mengerikan, karena gejala-gejala kekerasan tidak terkontrol lagi. Gejala ini bukan hanya di Indonesia, tetapi juga kota-kota besar lain di mana terdapat kantong-kantong kemiskinan. Di New York misalnya. Kalau Anda berjalan di atas Universitas Columbia, maka Anda akan melihat daerah orang-orang kulit hitam, di mana orang-orang kulit putih tidak berani melewati daerah itu ketika hari sudah mulai gelap. Mengapa? Seringkali terjadi perampokan, pemukulan. Jadi adanya kantong-kantong kemiskinan inilah yang menyebabkan orang jadi meledak-ledak.Namun di AS hukumnya relatif berjalan, meskipun sulit dikontrol. Sedangkan di di Indonesia hukumnya boleh dikatakan kurang berjalan. Di Indonesia, latar belakang apa yang menyebabkan orang gampang menggunakan kekerasan? Ada dua hal. Pertama hukumnya kurang jalan. Misalnya kalau ada suatu perkelahian, seringkali anak-anak pejabat bebas dari hukuman. Meskipun pimpinan ABRI menyatakan, anak pejabat akan ditindak. Prakteknya kan sulit dilaksanakan. Kedua, itu bisa terjadi karena adanya budaya kekerasan pada skala nasional. Sekarang ini kalau kita kita tanya pada anak-anak muda siapa yang mereka anggap hero (pahlawan). Jawabnya, hero di mata mereka adalah orang-orang yang berseragam. Artinya, citra militer menjadi citra hero. Lalu bergeser menjadi simbol kekuatan fisik. Dengan kata lain, pada akhirnya mereka punya pikiran, yang bisa menyelesaikan masalah adalah kekuatan fisik. Bukan kemampuan otak. Ini yang menyebabkan kekuatan fisik begitu dipuja-puja. Lalu yang ketiga, seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar. Kekerasan pun tak pandang bulu. Seorang perwira tinggi seperti Tampubolon menjadi korban? Saya kira tewasnya Brigjen Tampubolon ini merupakan tragedi. Tragedi, karena ini mengenaskan sekali. Bahwa seorang yang berkarier begitu baik di intelijen harus mati dengan cara begitu. Bagaimanapun, tewasnya Tampubolon pasti memukul keluarga besar ABRI. Maka saya harap kematian Tampubolon menjadi semacam ajang perenungan. Maksud saya, dengan kematian Tampubolon diharapkan akan ada suatu keseriusan yang lebih baik dalam melihat dan menangani gejala yang tumbuh di masyarakat. Jangan dianggap sepele. Tidak cukup hanya dengan menangkap berandal-berandal itu. Ini sebuah masalah yang sangat besar. Dan merupakan perjuangan dari banyak orang. Tragedi yang menimpa Tampubolon dan kasus-kasus sejenis, benarkah ini isyarat menguatnya pengadilan jalanan atau dark justice? Itu benar. Memang sedang menguat dan membahayakan kota-kota besar seperti Jakarta. Dan Brigjen Tampubolon merupakan korban dari proses kota semacam ini. Ini memang mengerikan. Suatu hari, di Jakarta saya pernah naik bus kota yang menuju Cempaka Putih, dan tak lama kemudian beberapa pelajar SMA masuk ke bis kota. Di situ seorang pelajar dengan bangga bercerita bagaimana dia distop polisi di depan Hotel Indonesia. Lalu dia menelepon oomnya yang kebetulan militer. Lalu oomnya datang ke tempat kejadian tanpa berseragam milter, dan kemudian sang polisi dipukuli. Dengan bangganya si pelajar itu bilang, “si polisi itu nggak tahu gue ini siapa dan oom gue itu siapa." Ini kan fenomena yang sangat berbahaya. Cara yang ditempuh Pangdam Jaya Hendropriyono dengan mengirim anak- anak nakal itu ke sekolah khusus, menurut saya kurang tepat. Karena prosesnya bukan terletak aada si anak. Bagaimana faktor ekonomi dan politik mempengaruhi tumbuhnya budaya kekerasan? Seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar itu erat kaitannya dengan masalah perekonomian. Alhasil, adanya kantong kantong kemiskinan ini menimbulkan gap. Apalagi menjadi orang kaya di In donesia itu prosesnya seringkali tidak wajar. Artinya, semakin kaya semakin tidak wajar. Jika tidak ditangani, kira-kira pola gerakan massa macam apa yang muncul di masa mendatang? Gerakan massa akan menjadi dua. Pertama, gerakan massa yang menuju pada kriminalitas. Yaitu seperti gerakan pelajar, gerakan keroyokan terhadap sopir metromini, dan sebagainya. Sedangkan yang kedua, adalah gerakan politik yang dilakukan mahasiswa dengan tujuan memperkuat demokratisasi. Jadi gerakan massa yang muncul saat ini harus dilihat dari dua hal itu. Gerakan massa dengan model yang pertama mungkin negatif, sedangkan model yang kedua positif. Tetapi kedua-duanya merupakan produk dari ketidakpuasan atau keadaan masyarakat yang sedang sakit. Apakah kejahatan kekerasan yang terjadi di kota-kota besar itu punya kecenderungan untuk memilih-milih korban? Kalau di basis kriminal saya kira kesadaran kelas itu tidak ada. Jadi mereka ini tidak pandang bulu. Mereka adalah korban dari suatu proses politik di mana kekerasan merupakan suatu cara penyelesaian. Jadi kalau mereka ini kekurangan uang, ya mereka langsung saja menggasak uang pada siapa saja yang paling lemah. Seperti halnya juga pada para pelajar yang merusak halte bus, gerobak tukang martabak digulingkan. Lalu tukang rokok dirampas. Gejala kekerasan semacam itu tidak memponyai sensitivitas bahwa para penjual itu merupakan orang-orang kecil. Jadi gerakan massa yang berbasis kriminal ini jauh lebih mengerikan karena sasarannya bukan untuk perbaikan masyarakat tapi hanya manifestasi dari penyakit di dalam masyarakat. Lain halnya dengan gerakan politik yang boleh dikatakan sangat terarah dan menuju pada suatu konsep yang lebih baik Seberapa serius kelompok urban mempengaruhi gejolak sosial di perkotaan? Saya kira sangat serius. Artinya, gejala ini sudah melewati ambang batas. Di desa telah terjadi proses pemiskinan. Seperti adanya pengambilan tanah, lahan sawah yang dibongkar dan seterusnya. Akibatnya orang-orang desa pergi ke kota. Di kota mereka terbentur pada keterbatasan lapangan kerja. Mereka lalu bergerombol, dan biasanya mereka tersalur pada sektor informal. Tapi di sektor informal pun mereka dikejar-kejar dengan mengatasnamakan keindahan kota demi usaha merebut Adipura. Alhasil, kelompok ini kemudian masuk ke dalam subkultur kekerasan kriminal. Dan kecenderungan ini bukannya berkurang tapi malah bertambah, karena masuknya orang-orang baru yang langsung dikooptasi oleh subkultur kekerasan semacam itu. Lantas gejala apa pula yang membuat orang dengan gampang membunuh dengan gara-gara yang sepele? Ini berarti memang ada semacam tingkat penggunaan kekerasan yang lebih tinggi di kalangan orang-orang kecil. Dan ini kalau nantinya ada yang bisa mengorganisir mereka untuk sasaran-sasaran politis, maka itu bisa menimbulkan sebuah revolusi. Tentunya ini tidak kita inginkan, dan harus kita cegah. Artinya, kita ingin suatu perubahan tanpa harus menimbulkan pertumpahan darah. Tetapi kalau perubahan itu tidak terjadi dan terus-menerus begini, sehingga ada potensi ke arah revolusi yang keras, maka dengan mudah itu bisa meledak karena kondisi kekerasan orang-orang dari lapisan bawah ini nampaknya sudah ada dan sudah dipraktikkan secara kecil-kecilan Saat in kekerasan itu bergerak sporadis dan tanpa sasaran politis. Sejauh mana relevansi gagasan anti kekerasan? Saya pada dasarnya tidak percaya dengan gerakan anti-kekerasan. Bagi saya tergantung pada kasus-kasusnya. Ini bukan karena saya senang dengan adanya kekerasan, tetapi kalau dianalisa secara sosiologis, gerakan anti-kekerasan itu berkembang karena adanya gerakan-gerakan yang menggunakan kekerasan. Sehingga pemerintah kemudian memberikan jalan tengah. Jadi efektivitas dari gerakan anti kekerasan itu biasanya karena adanya ancaman kekerasan. Apakah kekerasan kriminal ini hanya terbatas dilakukan oleh para penganggur perkotaan atau bahkan meluas ke kalangan buruh dan pedagang kecil? Saya kira semua orang yang termasuk ke dalam lapisan orang-orang miskin. Di samping itu, para pelaku kejahatan kekerasan itu adalah para pemuda kota, termasuk anak orang kaya. Yang terakhir ini bukan masuk ke dalam kelompok mahasiswa melainkan masuk ke dalam kelompok ugal-ugalan yang terlibat narkotika dan seks.■ Sumber: DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18

 ARIEF BUDIMAN: KEMATIAN BRIGJEN TAMPUBOLON HARUS JADI AJANG PERENUNGAN


(DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18)


Bagaimana Anda melihat terbunuhnya Tampubolon berkaitan dengan gejala kehidupan kota besar? 


Ketika membaca berita itu, dan kebetulan di Kompas saya juga


membaca berita perusakkan yang dilakukan pelajar terhadap halte bus, bagi saya Jakarta saat ini mengerikan. Mengerikan, karena gejala-gejala kekerasan tidak terkontrol lagi. Gejala ini bukan hanya di Indonesia, tetapi juga kota-kota besar lain di mana terdapat kantong-kantong kemiskinan. 


Di New York misalnya. Kalau Anda berjalan di atas Universitas Columbia, maka Anda akan melihat daerah orang-orang kulit hitam, di mana orang-orang kulit putih tidak berani melewati daerah itu ketika hari sudah mulai gelap. Mengapa? Seringkali terjadi perampokan, pemukulan. Jadi adanya kantong-kantong kemiskinan inilah yang menyebabkan orang jadi meledak-ledak.Namun di AS hukumnya relatif berjalan, meskipun sulit dikontrol. Sedangkan di di Indonesia hukumnya boleh dikatakan kurang berjalan. 


Di Indonesia, latar belakang apa yang menyebabkan orang gampang menggunakan kekerasan?


Ada dua hal. Pertama hukumnya kurang jalan. Misalnya kalau ada suatu perkelahian, seringkali anak-anak pejabat bebas dari hukuman. Meskipun pimpinan ABRI menyatakan, anak pejabat akan ditindak. Prakteknya kan sulit dilaksanakan. Kedua, itu bisa terjadi karena adanya budaya kekerasan pada skala nasional. 


Sekarang ini kalau kita kita tanya pada anak-anak muda siapa yang mereka anggap hero (pahlawan). Jawabnya, hero di mata mereka adalah orang-orang yang berseragam. Artinya, citra militer menjadi citra hero. Lalu bergeser menjadi simbol kekuatan fisik. Dengan kata lain, pada akhirnya mereka punya pikiran, yang bisa menyelesaikan masalah adalah kekuatan fisik. Bukan kemampuan otak. Ini yang menyebabkan kekuatan fisik begitu dipuja-puja. Lalu yang ketiga, seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar.


Kekerasan pun tak pandang bulu. Seorang perwira tinggi seperti Tampubolon menjadi korban?


Saya kira tewasnya Brigjen Tampubolon ini merupakan tragedi. Tragedi, karena ini mengenaskan sekali. Bahwa seorang yang berkarier begitu baik di intelijen harus mati dengan cara begitu. Bagaimanapun, tewasnya Tampubolon pasti memukul keluarga besar ABRI. Maka saya harap kematian Tampubolon menjadi semacam ajang perenungan.


Maksud saya, dengan kematian Tampubolon diharapkan akan ada suatu keseriusan yang lebih baik dalam melihat dan menangani gejala yang tumbuh di masyarakat. Jangan dianggap sepele. Tidak cukup hanya dengan menangkap berandal-berandal itu. Ini sebuah masalah yang sangat besar. Dan merupakan perjuangan dari banyak orang.


Tragedi yang menimpa Tampubolon dan kasus-kasus sejenis, benarkah ini isyarat menguatnya pengadilan jalanan atau dark justice?


Itu benar. Memang sedang menguat dan membahayakan kota-kota besar seperti Jakarta. Dan Brigjen Tampubolon merupakan korban dari proses kota semacam ini. Ini memang mengerikan. Suatu hari, di Jakarta saya pernah naik bus kota yang menuju Cempaka Putih, dan tak lama kemudian beberapa pelajar SMA masuk ke bis kota. Di situ seorang pelajar dengan bangga bercerita bagaimana dia distop polisi di depan Hotel Indonesia.


Lalu dia menelepon oomnya yang kebetulan militer. Lalu oomnya datang ke tempat kejadian tanpa berseragam milter, dan kemudian sang polisi dipukuli. Dengan bangganya si pelajar itu bilang, “si polisi itu nggak tahu gue ini siapa dan oom gue itu siapa." Ini kan fenomena yang sangat berbahaya. Cara yang ditempuh Pangdam Jaya Hendropriyono dengan mengirim anak- anak nakal itu ke sekolah khusus, menurut saya kurang tepat. Karena prosesnya bukan terletak aada si anak.


Bagaimana faktor ekonomi dan politik mempengaruhi tumbuhnya budaya kekerasan?


Seperti yang saya katakan tadi, adanya kantong-kantong kemiskinan di kota-kota besar itu erat kaitannya dengan masalah perekonomian. Alhasil, adanya kantong kantong kemiskinan ini menimbulkan gap. Apalagi menjadi orang kaya di In donesia itu prosesnya seringkali tidak wajar. Artinya, semakin kaya semakin tidak wajar.


Jika tidak ditangani, kira-kira pola gerakan massa macam apa yang muncul di masa mendatang?


Gerakan massa akan menjadi dua. Pertama, gerakan massa yang menuju pada kriminalitas. Yaitu seperti gerakan pelajar, gerakan keroyokan terhadap sopir metromini, dan sebagainya. Sedangkan yang kedua, adalah gerakan politik yang dilakukan mahasiswa dengan tujuan memperkuat demokratisasi. Jadi gerakan massa yang muncul saat ini harus dilihat dari dua hal itu. Gerakan massa dengan model yang pertama mungkin negatif, sedangkan model yang kedua positif. Tetapi kedua-duanya merupakan produk dari ketidakpuasan atau keadaan masyarakat yang sedang sakit. 


Apakah kejahatan kekerasan yang terjadi di kota-kota besar itu punya kecenderungan untuk memilih-milih korban?


Kalau di basis kriminal saya kira kesadaran kelas itu tidak ada. Jadi mereka ini tidak pandang bulu. Mereka adalah korban dari suatu proses politik di mana kekerasan merupakan suatu cara penyelesaian. Jadi kalau mereka ini kekurangan uang, ya mereka langsung saja menggasak uang pada siapa saja yang paling lemah. Seperti halnya juga pada para pelajar yang merusak halte bus, gerobak tukang martabak digulingkan. Lalu tukang rokok dirampas.


Gejala kekerasan semacam itu tidak memponyai sensitivitas bahwa para penjual itu merupakan orang-orang kecil. Jadi gerakan massa yang berbasis kriminal ini jauh lebih mengerikan karena sasarannya bukan untuk perbaikan masyarakat tapi hanya manifestasi dari penyakit di dalam masyarakat. Lain halnya dengan gerakan politik yang boleh dikatakan sangat terarah dan menuju pada suatu konsep yang lebih baik 


Seberapa serius kelompok urban mempengaruhi gejolak sosial di perkotaan?


Saya kira sangat serius. Artinya, gejala ini sudah melewati ambang batas. Di desa telah terjadi proses pemiskinan. Seperti adanya pengambilan tanah, lahan sawah yang dibongkar dan seterusnya. Akibatnya orang-orang desa pergi ke kota. Di kota mereka terbentur pada keterbatasan lapangan kerja. Mereka lalu bergerombol, dan biasanya mereka tersalur pada sektor informal. Tapi di sektor informal pun mereka dikejar-kejar dengan mengatasnamakan keindahan kota demi usaha merebut Adipura. Alhasil, kelompok ini kemudian masuk ke dalam subkultur kekerasan kriminal. Dan kecenderungan ini bukannya berkurang tapi malah bertambah, karena masuknya orang-orang baru yang langsung dikooptasi oleh subkultur kekerasan semacam itu.


Lantas gejala apa pula yang membuat orang dengan gampang membunuh dengan gara-gara yang sepele?


Ini berarti memang ada semacam tingkat penggunaan kekerasan yang lebih tinggi di kalangan orang-orang kecil. Dan ini kalau nantinya ada yang bisa mengorganisir mereka untuk sasaran-sasaran politis, maka itu bisa menimbulkan sebuah revolusi. Tentunya ini tidak kita inginkan, dan harus kita cegah.


Artinya, kita ingin suatu perubahan tanpa harus menimbulkan pertumpahan darah. Tetapi kalau perubahan itu tidak terjadi dan terus-menerus begini, sehingga ada potensi ke arah revolusi yang keras, maka dengan mudah itu bisa meledak karena kondisi kekerasan orang-orang dari lapisan bawah ini nampaknya sudah ada dan sudah dipraktikkan secara kecil-kecilan Saat in kekerasan itu bergerak sporadis dan tanpa sasaran politis.


Sejauh mana relevansi gagasan anti kekerasan?


Saya pada dasarnya tidak percaya dengan gerakan anti-kekerasan. Bagi saya tergantung pada kasus-kasusnya. Ini bukan karena saya senang dengan adanya kekerasan, tetapi kalau dianalisa secara sosiologis, gerakan anti-kekerasan itu berkembang karena adanya gerakan-gerakan yang menggunakan kekerasan. Sehingga pemerintah kemudian memberikan jalan tengah. Jadi efektivitas dari gerakan anti kekerasan itu biasanya karena adanya ancaman kekerasan.


Apakah kekerasan kriminal ini hanya terbatas dilakukan oleh para penganggur perkotaan atau bahkan meluas ke kalangan buruh dan pedagang kecil? 


Saya kira semua orang yang termasuk ke dalam lapisan orang-orang miskin. Di samping itu, para pelaku kejahatan kekerasan itu adalah para pemuda kota, termasuk anak orang kaya. Yang terakhir ini bukan masuk ke dalam kelompok mahasiswa melainkan masuk ke dalam kelompok ugal-ugalan yang terlibat narkotika dan seks.■ 


Sumber: DëTIK, 13 – 19 April 1994, NOMOR 057/TAHUN Ke-18

Sumber : Herry Anggoro Atmodjo

16 April 2026

Parade Pasukan KNIL di saat Agresi Militer Belanda ke 2 dan pihak KNIL berhasil memasuki Magelang sekitar tanggal 22 Desember 1948. Parade ini dilakukan di daerah Poncol (daerah Jalan Ahmad Yani Ponco sekarang ini) dokumentasi ini bisa dilihat di link www indiegangers nl Jika diperhatikan di bagian latar belakang nampak gedung yang bekas terbakar akibat kegiatan bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang pihak Republik Indonesia. Menurut mertua saya yang mengalami keadaan zaman sebelum dan sesudah peristiwa Agresi Militer Belanda ke 2 mengatakan bahwa saat sebelum Agresi Militer Belanda ke 2 pihak Republik Indonesia meminta para pegawai menyiapkan kayu kayu yang disusun di dalam bangunan pemerintah dengan tujuan jika Belanda menyerang kayu kayu tersebut langsung dibakar untuk melakukan aksi bumi hangus bangunan bangunan pemerintah agar bangunan tersebut tidak bisa dimanfaatkan oleh pihak Belanda. Dan hampir separo bangunan pemerintahan yang ada di Magelang hangus terbakar karena aksi bumi hangus ini. Dalam foto pimpinan parade militer melakukan penghormatan dengan senjata Dutch KNIL M-1898/1911 Klewang atau bisa juga klewang M 42 Milsco khas senjata KNIL. Untuk kendaraan roda 2 yang digunakan adalah kemungkinan Harley Davidson WLA. Sedangkan kendaraan lapis baja yang nampak digunakan untuk parade adalah jenis panser Humber Scout dan juga panser Humber Mk IV. Foto terakhir memperlihatkan kendaraan Humber Scout eks KNIL yang kini tersimpan di Museum Satria Mandala Jakarta.

 Parade Pasukan KNIL di saat Agresi Militer Belanda ke 2 dan pihak KNIL berhasil memasuki Magelang sekitar tanggal 22 Desember 1948. Parade ini dilakukan di daerah Poncol (daerah Jalan Ahmad Yani Ponco sekarang ini) dokumentasi ini bisa dilihat di link www indiegangers nl

Jika diperhatikan di bagian latar belakang nampak gedung yang bekas terbakar akibat kegiatan bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang pihak Republik Indonesia.

Menurut mertua saya yang mengalami keadaan zaman sebelum dan sesudah peristiwa Agresi Militer Belanda ke 2 mengatakan bahwa saat sebelum Agresi Militer Belanda ke 2 pihak Republik Indonesia meminta para pegawai menyiapkan kayu kayu yang disusun di dalam bangunan pemerintah dengan tujuan jika Belanda menyerang kayu kayu tersebut langsung dibakar untuk melakukan aksi bumi hangus bangunan bangunan pemerintah agar bangunan tersebut tidak bisa dimanfaatkan oleh pihak Belanda. Dan hampir separo bangunan pemerintahan yang ada di Magelang hangus terbakar karena aksi bumi hangus ini.

Dalam foto pimpinan parade militer melakukan penghormatan dengan senjata Dutch KNIL M-1898/1911 Klewang atau bisa juga klewang M 42 Milsco khas senjata KNIL. Untuk kendaraan roda 2 yang digunakan adalah kemungkinan Harley Davidson WLA. Sedangkan kendaraan lapis baja yang nampak digunakan untuk parade adalah jenis panser Humber Scout dan juga panser Humber Mk IV.

Foto terakhir memperlihatkan kendaraan Humber Scout eks KNIL yang kini tersimpan di Museum Satria Mandala Jakarta.



Sumber : Orchid Breeder

KEDIRI, Di balik keriuhan Jalan Dhaha, Kediri, terdapat sebuah jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu. Jauh sebelum Balai Pustaka mendominasi literasi nasional, seorang pria Tionghoa bernama Tan Khoen Swie (1883/1894–1953) telah membangun imperium ilmu pengetahuan yang menjadi jembatan antara budaya Jawa dan kemoderenan. SANG PIONIR DARI KOTA TAHU Tan Khoen Swie mendirikan rumah penerbitannya, Boekhandel Tan Khoen Swie, pada tahun 1915. Berawal dari kecintaannya pada sastra dan kebatinan Jawa yang dipelajari dari gurunya di Wonogiri, Mas Ngabei Mangoenwidjojo, Tan mengubah rumah sekaligus tokonya (Toko Soerabaia) menjadi pusat kebudayaan. Hingga tahun 1963, penerbitannya menjadi "Agen Kebudayaan Jawa" yang sangat produktif. Tan menerbitkan ratusan judul buku, mulai dari sastra klasik, filsafat, primbon, hingga buku teknis seperti tata cara bersenggama dan resep masakan. Keberaniannya menerbitkan karya dalam bahasa Jawa (baik aksara Jawa maupun Latin) dan bahasa Melayu membuatnya menjadi pelopor literasi masyarakat bawah yang saat itu sulit mengakses pendidikan formal. SIASAT JITU DAN JARINGAN INTELEKTUAL Tan bukan sekadar pengusaha; ia adalah seorang visioner. Ia memiliki strategi pemasaran yang modern pada zamannya, termasuk mencantumkan daftar buku-buku lain di setiap halaman akhir terbitannya untuk menarik minat pembaca. Ia juga menjalin hubungan erat dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Boedi Oetomo, dan menerjemahkan teks-teks penting agar lebih mudah dipahami oleh khalayak luas. WARISAN YANG MENDUNIA Meskipun tokonya secara resmi berhenti beroperasi sebagai penerbit besar puluhan tahun silam, warisannya masih hidup. Hingga kini, buku-buku terbitannya menjadi koleksi langka yang diburu kolektor. Bahkan, jejak karyanya tersimpan rapi di perpustakaan mancanegara, termasuk di Universitas Groningen, Belanda. Di era digital 2025 ini, nama Tan Khoen Swie tetap menjadi inspirasi bagi para penggerak literasi di Kediri dan Indonesia, mengingatkan kita bahwa keberagaman dan pengetahuan adalah kunci kemajuan bangsa. Sumber Referensi: Wikipedia: Tan Khoen Swie Kompasiana: Mengenal Tan Khoen Swie, Penerbit Legendaris Tempo.co: Jejak Boekhandel Tan Khoen Swie Kompas.id: Penggerak (Buku) Jawa Elex Media Komputindo: Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri: Agen Kebudayaan Jawa

 KEDIRI, Di balik keriuhan Jalan Dhaha, Kediri, terdapat sebuah jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu. Jauh sebelum Balai Pustaka mendominasi literasi nasional, seorang pria Tionghoa bernama Tan Khoen Swie (1883/1894–1953) telah membangun imperium ilmu pengetahuan yang menjadi jembatan antara budaya Jawa dan kemoderenan.


SANG PIONIR DARI KOTA TAHU


Tan Khoen Swie mendirikan rumah penerbitannya, Boekhandel Tan Khoen Swie, pada tahun 1915. Berawal dari kecintaannya pada sastra dan kebatinan Jawa yang dipelajari dari gurunya di Wonogiri, Mas Ngabei Mangoenwidjojo, Tan mengubah rumah sekaligus tokonya (Toko Soerabaia) menjadi pusat kebudayaan.


Hingga tahun 1963, penerbitannya menjadi "Agen Kebudayaan Jawa" yang sangat produktif. Tan menerbitkan ratusan judul buku, mulai dari sastra klasik, filsafat, primbon, hingga buku teknis seperti tata cara bersenggama dan resep masakan. Keberaniannya menerbitkan karya dalam bahasa Jawa (baik aksara Jawa maupun Latin) dan bahasa Melayu membuatnya menjadi pelopor literasi masyarakat bawah yang saat itu sulit mengakses pendidikan formal.


SIASAT JITU DAN JARINGAN INTELEKTUAL

Tan bukan sekadar pengusaha; ia adalah seorang visioner. Ia memiliki strategi pemasaran yang modern pada zamannya, termasuk mencantumkan daftar buku-buku lain di setiap halaman akhir terbitannya untuk menarik minat pembaca. Ia juga menjalin hubungan erat dengan tokoh-tokoh pergerakan, seperti Boedi Oetomo, dan menerjemahkan teks-teks penting agar lebih mudah dipahami oleh khalayak luas.


WARISAN YANG MENDUNIA

Meskipun tokonya secara resmi berhenti beroperasi sebagai penerbit besar puluhan tahun silam, warisannya masih hidup. Hingga kini, buku-buku terbitannya menjadi koleksi langka yang diburu kolektor. Bahkan, jejak karyanya tersimpan rapi di perpustakaan mancanegara, termasuk di Universitas Groningen, Belanda.


Di era digital 2025 ini, nama Tan Khoen Swie tetap menjadi inspirasi bagi para penggerak literasi di Kediri dan Indonesia, mengingatkan kita bahwa keberagaman dan pengetahuan adalah kunci kemajuan bangsa.


Sumber Referensi:

Wikipedia: Tan Khoen Swie


Kompasiana: Mengenal Tan Khoen Swie, Penerbit Legendaris


Tempo.co: Jejak Boekhandel Tan Khoen Swie


Kompas.id: Penggerak (Buku) Jawa


Elex Media Komputindo: Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri: Agen Kebudayaan Jawa

13 April 2026

Malam ini berdiskusi dengan mertua saya Bapak Soedarto yang merupakan warga Kampung Tulung. Beliau bercerita tentang kondisi daerah sekitar Pecinan sekitar Kenteng dan Bioskop Kresna disekitar tahun 1950 - 1960an. Dari gambar di bawah ini keterangan nya:. 1. Kantor Pos Kota Magelang 2. Tugu Aniem 3. Klenteng 4. Pen Mas. Ini merupakan percetakan yang dimiliki oleh Lien Tyai An. Percetakan ini dahulu langganan dari Apotek Bayeman kalau mencetak stiker untuk label botol/ tempat obat. Selain percetakan Pen Mas juga merupakan toko buku tetapi tidak sebesar toko Santoso. 5. Toko Roti dan Kue Sawo. Disebut toko roti dan kue Sawo karena di depannya ada pohon sawo milik drg. Liem Piek Gan Nio. Bangunan toko roti dan kue Sawo ini ukurannya kecil dan berdempetan dengan rumahnya drg. Liem Piek Gan Nio. 6. Tempatnya drg. Liem Piek Gan Nio. 7. Bioskop Kresna. Bioskop Kresna dibangun sekitar tahun 1950an. 8. Rumah Ting Lok pemiliknya bioskop Kresna. Beliau Tuan Ting Lok ini adalah anggota partai PDI dan sering menjadi sponsor partai PDI ini. 9. Toko Santoso. Ini merupakan toko buku yang lumayan. besar yang menjual buku dari SD sampai dengan SMA. 10. Toko LUNA kemudian ditambah huruf S sehingga jadi toko LUNAS. Dan orang banyak mengenalnya toko LUNAS. Toko ini merupakan toko yang jual peralatan olahraga dan juga melayani perbaikan alat olahraga seperti mengencangkan senar raket. 11. Rumah makan Koe A Bwan. Sekarang dikenal sebagai Hotel Mutiara. Putri nomor satunya namanya Koe Sae Fang. Koe Sae Fang bekerja di Apotek Bayeman seangkatan dengan dr. Anwar Sanni sebagai apoteker di apotek Bayeman (pendiri PO Santoso) dan Peng Lok bagian tata usaha apotek Bayeman (pemilik kebun anggrek Peng Lok). 12. Gedung CHTH (Choeng Hoa Tsung Hui), gedung ini merupakan tempat nongkrong nya kaum Tionghoa. Dan juga sekretariat BAPERKI. Setelah peristiwa G30S PKI gedung CHTH ini pernah di demo massa karena sebagai sekretariat BAPERKI yang dianggap underbonnya PKI. 13. Toko Victoria, ini merupakan toko roti. Mungkin jika ada yang menambahkan dan koreksi tulisan ini saya persilahkan.

 Malam ini berdiskusi dengan mertua saya Bapak Soedarto yang merupakan warga Kampung Tulung. Beliau bercerita tentang kondisi daerah sekitar Pecinan sekitar Kenteng dan Bioskop Kresna disekitar tahun 1950 - 1960an.

Dari gambar di bawah ini keterangan nya:.

1.   Kantor Pos Kota Magelang 

2.   Tugu Aniem 

3.   Klenteng 

4.   Pen Mas. Ini merupakan percetakan yang dimiliki oleh 

       Lien Tyai An. Percetakan ini dahulu langganan dari 

       Apotek Bayeman kalau mencetak stiker untuk label 

        botol/ tempat obat. Selain percetakan Pen Mas juga 

        merupakan toko buku tetapi tidak sebesar toko 

        Santoso.

5.     Toko Roti dan Kue Sawo. Disebut toko roti dan kue 

         Sawo karena di depannya ada pohon sawo milik drg. 

         Liem Piek Gan Nio. Bangunan toko roti dan kue Sawo 

         ini ukurannya kecil dan berdempetan dengan rumahnya 

        drg. Liem Piek Gan Nio.

6.     Tempatnya drg. Liem Piek Gan Nio.

7.     Bioskop Kresna. Bioskop Kresna dibangun sekitar 

         tahun 1950an.

8.     Rumah Ting Lok pemiliknya bioskop Kresna. Beliau 

         Tuan Ting Lok ini adalah anggota partai PDI dan sering 

          menjadi sponsor partai PDI ini.

9.     Toko Santoso. Ini merupakan toko buku yang lumayan. 

         besar yang menjual buku dari SD sampai dengan SMA.

10.   Toko LUNA kemudian ditambah huruf S sehingga jadi 

         toko LUNAS. Dan orang banyak mengenalnya toko 

         LUNAS. Toko ini merupakan toko yang jual peralatan 

         olahraga dan juga melayani perbaikan alat olahraga 

         seperti mengencangkan senar raket.

11.    Rumah makan Koe A Bwan. Sekarang dikenal sebagai 

          Hotel Mutiara. Putri nomor satunya namanya Koe Sae 

          Fang. Koe Sae Fang bekerja di Apotek Bayeman 

          seangkatan dengan dr. Anwar Sanni sebagai apoteker 

          di apotek Bayeman (pendiri PO Santoso) dan Peng Lok 

          bagian tata usaha apotek Bayeman (pemilik kebun    

          anggrek Peng Lok).

12.    Gedung CHTH (Choeng Hoa Tsung Hui), gedung ini 

          merupakan tempat nongkrong nya kaum Tionghoa.

          Dan juga sekretariat BAPERKI. Setelah peristiwa G30S 

          PKI gedung CHTH ini pernah di demo massa karena 

          sebagai sekretariat BAPERKI yang dianggap 

          underbonnya PKI.

13.    Toko Victoria, ini merupakan toko roti.

Mungkin jika ada yang menambahkan dan koreksi tulisan ini saya persilahkan.






Sumber : Orchid Breeder



11 April 2026

Kolam Renang, Hotel Loze, Magelang, sekitar tahun 1910 Badplaats (Hotel Loze). Magelang, ca 1910

 Kolam Renang, Hotel Loze, Magelang, sekitar tahun 1910


Badplaats (Hotel Loze). Magelang, ca 1910



Sumber : Bintoro Hoepoedio