01 November 2026

𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛 𝗡𝗬 𝗦𝗨𝗛𝗔𝗥𝗧𝗜 (𝟭𝟵𝟰𝟬-𝟮𝟬𝟮𝟲) Seperti kebanyakan gadis desa pada zamannya, Suharti tidak memiliki banyak pilihan ketika ayahnya, Tamidimedjo, menerima lamaran seorang pria untuk dirinya. Saat itu usianya baru 14 tahun. Ia bahkan belum mengenal calon suaminya dan sebenarnya belum ingin menikah. Namun, keputusan sang ayah tak bisa ditolak. Pernikahan pun berlangsung bukan atas dasar cinta, melainkan karena kehendak orang tua. Suharti lahir di Desa Jatisari, Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tanggal kelahirannya tidak pernah tercatat secara resmi. Ia kemudian menggunakan tanggal 1 Mei 1940, mengikuti tanggal kelahiran seorang tetangga yang lahir pada hari yang sama dengannya. Ketika berusia empat tahun, kedua orang tuanya bercerai. Ibunya, Warsinah, kemudian ikut bekerja sebagai kuli kontrak ke Deli, Sumatera Utara. Sejak saat itu, nasib sang ibu tidak lagi diketahui. Suharti pernah berusaha mencarinya, tetapi tidak berhasil. Setelah perceraian itu, Suharti dibawa ayahnya ke Banyuwangi, Jawa Timur, dan dibesarkan di sana. Ketika seorang pria setempat hendak melamarnya, sang ayah justru keberatan. Ia khawatir pernikahan tersebut akan memutus hubungan kekeluargaan dengan kerabat di Yogyakarta. Karena itu, Suharti dikembalikan ke Yogyakarta dan tinggal bersama kakak tertuanya, Mangundimedjo. 𝗠𝗯𝗼𝗸 𝗕𝗲𝗿𝗲𝗸 Di rumah kakaknya, Suharti ikut membantu usaha restoran ayam goreng. Bisnis ini memang sudah lekat dengan keluarganya. Neneknya, Mbok Berek, dikenal sebagai perintis usaha ayam goreng yang namanya cukup tersohor. Namun, kehidupan Suharti sendiri tidak selalu berjalan mulus. Pernikahan pertamanya yang berlangsung ketika ia berusia 14 tahun tidak bertahan lama. Ia akhirnya berpisah dan harus membesarkan tiga anak seorang diri. Untuk menghidupi anak-anaknya, Suharti berjualan ayam goreng dari rumah ke rumah, menggelar dagangan di pasar, bahkan harus berangkat pagi-pagi ke Solo untuk menjajakan dagangannya. Di tengah kerasnya kehidupan, tumbuh keinginan kuat untuk memiliki restoran sendiri. Ia ingin berdiri di atas kaki sendiri, seperti neneknya, Mbok Berek, yang telah lebih dahulu dikenal melalui usaha ayam goreng. Sang ayah pernah mendorongnya agar mulai berdagang sendiri dan tidak takut menghadapi kerugian. Namun, keterbatasan modal membuat keinginan itu sulit diwujudkan. Suharti masih harus menjalani rutinitas berjualan keliling, sembari mengumpulkan keberanian dan mencari jalan untuk mewujudkan cita-citanya. 𝗦𝗮𝗵𝗹𝗮𝗻 Pada 1963, Suharti berkenalan dengan Sahlan Praptohardjono, seorang pegawai Percetakan Negara di Kepatuhan. Awalnya, ia tidak terlalu tertarik kepada pria berusia 22 tahun tersebut. Namun, karena sering bertemu, keduanya akhirnya saling jatuh cinta dan menikah. Kehadiran Sahlan menjadi teman seperjalanan Suharti dalam membangun kehidupan sekaligus merintis usaha. Cita-cita memiliki restoran tidak pernah padam. Sedikit demi sedikit, Suharti mengumpulkan modal hingga akhirnya mendapat kesempatan membeli tanah seluas 900 meter persegi di Desa Pecinan, Kelurahan Catur Tunggal, Sleman. Lokasinya cukup strategis karena menghadap jalan raya yang kini dikenal sebagai Jalan Adi Sutjipto. Untuk membayar tanah tersebut, Suharti mengorbankan seluruh perhiasan yang dimilikinya. Kalung, gelang, dan cincin dijual, tetapi uangnya masih belum mencukupi. Ia pun terpaksa mencari pinjaman tambahan. Dalam perjalanan bersama Sahlan menuju rumah seorang kenalan bernama Pak Jiwo, sekretaris Desa Gamping, Suharti yang sedang hamil muda mengalami keguguran. Meski mengalami peristiwa menyedihkan itu, ia tetap melanjutkan perjalanan demi mendapatkan pinjaman. Beruntung, Pak Jiwo bersedia meminjamkan uang dari simpanan kas kelurahan yang saat itu dimilikinya. 𝗠𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗶𝘀 𝗥𝗲𝘀𝘁𝗼𝗿𝗮𝗻 Tahun 1972 menjadi awal terwujudnya cita-cita Suharti. Sebuah bangunan sederhana yang sekaligus menjadi rumah tinggal mulai didirikan sebagai restoran. Kondisinya masih jauh dari layak. Bahkan, ketika hendak dibuka, bangunan itu belum memiliki pintu, sementara meja dan kursi untuk pelanggan pun belum tersedia. Karena keterbatasan modal, Suharti dan Sahlan terpaksa membeli meja serta kursi buatan Wonosari dengan kualitas seadanya. Mereka bahkan mengangkutnya pada malam hari karena malu jika terlihat orang. Namun, kesulitan itu tidak menghalangi mereka untuk mulai berjualan. Pada masa awal operasional, Suharti juga sering mengalami kejadian lucu akibat keterbatasan pengetahuannya tentang istilah-istilah restoran. Ketika seorang tamu bertanya tentang toilet, ia justru menunjuk ke arah cermin di kamarnya. Begitu pula saat ada pelanggan yang menanyakan Coca-Cola, Suharti mengira tamu tersebut sedang mencari kolah atau bak mandi. Meski serba terbatas, restoran itu perlahan mulai dikenal. Pelanggan berdatangan, bahkan jumlahnya sering kali melebihi kapasitas tempat duduk yang tersedia. Suharti pun kembali mencari meja dan kursi. Ia berutang 25 set meja kursi kepada Jin Han, pemilik Toko Lima di Jalan Malioboro, karean masih kurang juga ia kembali berhutang meja kursi ke toko lain milik Liem Kam Hong. Jasa kedua orang tersebut selalu dikenangnya sebagai bagian penting dari perjalanan awal usahanya. Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Restoran ayam goreng dengan nama Ny. Suharti semakin dikenal luas. Usaha yang semula dirintis dari bangunan sederhana di Yogyakarta berkembang hingga memiliki cabang di berbagai kota, seperti Semarang, Purworejo, Surabaya, Bali, dan Jakarta. 𝗕𝗲𝗿𝗰𝗲𝗿𝗮𝗶 Di balik kesuksesan tersebut, Sahlan juga memiliki peran dalam perkembangan usaha. Namun, perjalanan rumah tangga keduanya ternyata tidak sejalan dengan keberhasilan bisnis yang mereka bangun. Hubungan mereka mulai retak sejak 1985, terutama setelah Sahlan membuka cabang di Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Sejak tahun itu pula, Suharti mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan suaminya. Perselisihan semakin meruncing ketika muncul persoalan mengenai kepemilikan dan pengelolaan restoran Ny. Suharti. Suharti merasa bahwa selama bertahun-tahun dirinyalah yang berjuang dari bawah, berjualan keliling hingga membangun restoran. Berbagai upaya untuk memperbaiki hubungan rumah tangga tidak membuahkan hasil. Anak-anak mereka sebenarnya berharap kedua orang tuanya tetap bersama, tetapi konflik yang berlangsung bertahun-tahun akhirnya tidak dapat dihindari. Pada 1991, Suharti dan Sahlan resmi bercerai. Namun malang tidak dapat ditolak, Suharti sangat terpukul ketika usaha yang ikut dibesarkannya justru berada dalam penguasaan suaminya. 𝗔𝘆𝗮𝗺 𝗚𝗼𝗿𝗲𝗻𝗴 𝗦𝘂𝗵𝗮𝗿𝘁𝗶 Perceraian tersebut membawa konsekuensi besar bagi perjalanan bisnis Suharti. Merek Ny. Suharti ternyata terdaftar atas nama Sahlan sehingga hak atas nama restoran itu jatuh ke tangan mantan suaminya. Setelah perceraian, foto dan lukisan Suharti diturunkan dari seluruh restoran, meskipun nama Ny. Suharti tetap digunakan untuk usaha ayam goreng yang dikelola Sahlan. Kehilangan hak atas merek yang selama ini identik dengan dirinya tentu menjadi pukulan berat. Namun, Suharti tidak memilih menyerah. Pengalaman panjang membangun usaha dari nol membuatnya yakin bahwa ia masih mampu memulai kembali. Pada 1991, ia kembali mendirikan restoran dengan identitas baru. Kali ini, ia mengubah nama usahanya menjadi Ayam Goreng Suharti, tanpa embel-embel "Ny." yang sebelumnya melekat pada merek lama. Untuk membedakannya sekaligus menghindari peniruan, ia menggunakan foto dirinya sendiri sebagai logo. Langkah tersebut bukan sekadar pergantian nama dan logo, melainkan penegasan bahwa Suharti masih memiliki kemampuan dan keberanian untuk membangun bisnisnya sendiri. Setahun kemudian, pada 1992, ia memperoleh hak atas merek Rumah Makan Ayam Goreng Suharti. Dan sisanya adalah sejarah, Suharti mampu mengibarkan kembali bisnis Ayam Goreng Suharti menjadi jaringan restoran yang dikenal luas dan digemari. Dari kedua pernikahannya, perempuan tangguh ini memiliki 7 orang anak, tiga dari suami pertama dan empat anak dari Sahlan. Suharti meninggal dunia tanggal 31 Oktober 2026 dalam usia 86 tahun.

 𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛 𝗡𝗬 𝗦𝗨𝗛𝗔𝗥𝗧𝗜 (𝟭𝟵𝟰𝟬-𝟮𝟬𝟮𝟲)


Seperti kebanyakan gadis desa pada zamannya, Suharti tidak memiliki banyak pilihan ketika ayahnya, Tamidimedjo, menerima lamaran seorang pria untuk dirinya. Saat itu usianya baru 14 tahun. Ia bahkan belum mengenal calon suaminya dan sebenarnya belum ingin menikah. Namun, keputusan sang ayah tak bisa ditolak. Pernikahan pun berlangsung bukan atas dasar cinta, melainkan karena kehendak orang tua.


Suharti lahir di Desa Jatisari, Kal


asan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tanggal kelahirannya tidak pernah tercatat secara resmi. Ia kemudian menggunakan tanggal 1 Mei 1940, mengikuti tanggal kelahiran seorang tetangga yang lahir pada hari yang sama dengannya. 


Ketika berusia empat tahun, kedua orang tuanya bercerai. Ibunya, Warsinah, kemudian ikut bekerja sebagai kuli kontrak ke Deli, Sumatera Utara. Sejak saat itu, nasib sang ibu tidak lagi diketahui. Suharti pernah berusaha mencarinya, tetapi tidak berhasil.


Setelah perceraian itu, Suharti dibawa ayahnya ke Banyuwangi, Jawa Timur, dan dibesarkan di sana. Ketika seorang pria setempat hendak melamarnya, sang ayah justru keberatan. Ia khawatir pernikahan tersebut akan memutus hubungan kekeluargaan dengan kerabat di Yogyakarta. Karena itu, Suharti dikembalikan ke Yogyakarta dan tinggal bersama kakak tertuanya, Mangundimedjo.


𝗠𝗯𝗼𝗸 𝗕𝗲𝗿𝗲𝗸


Di rumah kakaknya, Suharti ikut membantu usaha restoran ayam goreng. Bisnis ini memang sudah lekat dengan keluarganya. Neneknya, Mbok Berek, dikenal sebagai perintis usaha ayam goreng yang namanya cukup tersohor. Namun, kehidupan Suharti sendiri tidak selalu berjalan mulus. Pernikahan pertamanya yang berlangsung ketika ia berusia 14 tahun tidak bertahan lama. Ia akhirnya berpisah dan harus membesarkan tiga anak seorang diri.


Untuk menghidupi anak-anaknya, Suharti berjualan ayam goreng dari rumah ke rumah, menggelar dagangan di pasar, bahkan harus berangkat pagi-pagi ke Solo untuk menjajakan dagangannya. Di tengah kerasnya kehidupan, tumbuh keinginan kuat untuk memiliki restoran sendiri. Ia ingin berdiri di atas kaki sendiri, seperti neneknya, Mbok Berek, yang telah lebih dahulu dikenal melalui usaha ayam goreng.


Sang ayah pernah mendorongnya agar mulai berdagang sendiri dan tidak takut menghadapi kerugian. Namun, keterbatasan modal membuat keinginan itu sulit diwujudkan. Suharti masih harus menjalani rutinitas berjualan keliling, sembari mengumpulkan keberanian dan mencari jalan untuk mewujudkan cita-citanya.


𝗦𝗮𝗵𝗹𝗮𝗻


Pada 1963, Suharti berkenalan dengan Sahlan Praptohardjono, seorang pegawai Percetakan Negara di Kepatuhan. Awalnya, ia tidak terlalu tertarik kepada pria berusia 22 tahun tersebut. Namun, karena sering bertemu, keduanya akhirnya saling jatuh cinta dan menikah. Kehadiran Sahlan menjadi teman seperjalanan Suharti dalam membangun kehidupan sekaligus merintis usaha.


Cita-cita memiliki restoran tidak pernah padam. Sedikit demi sedikit, Suharti mengumpulkan modal hingga akhirnya mendapat kesempatan membeli tanah seluas 900 meter persegi di Desa Pecinan, Kelurahan Catur Tunggal, Sleman. Lokasinya cukup strategis karena menghadap jalan raya yang kini dikenal sebagai Jalan Adi Sutjipto.


Untuk membayar tanah tersebut, Suharti mengorbankan seluruh perhiasan yang dimilikinya. Kalung, gelang, dan cincin dijual, tetapi uangnya masih belum mencukupi. Ia pun terpaksa mencari pinjaman tambahan. Dalam perjalanan bersama Sahlan menuju rumah seorang kenalan bernama Pak Jiwo, sekretaris Desa Gamping, Suharti yang sedang hamil muda mengalami keguguran. 


Meski mengalami peristiwa menyedihkan itu, ia tetap melanjutkan perjalanan demi mendapatkan pinjaman. Beruntung, Pak Jiwo bersedia meminjamkan uang dari simpanan kas kelurahan yang saat itu dimilikinya.


𝗠𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗶𝘀 𝗥𝗲𝘀𝘁𝗼𝗿𝗮𝗻


Tahun 1972 menjadi awal terwujudnya cita-cita Suharti. Sebuah bangunan sederhana yang sekaligus menjadi rumah tinggal mulai didirikan sebagai restoran. Kondisinya masih jauh dari layak. Bahkan, ketika hendak dibuka, bangunan itu belum memiliki pintu, sementara meja dan kursi untuk pelanggan pun belum tersedia.


Karena keterbatasan modal, Suharti dan Sahlan terpaksa membeli meja serta kursi buatan Wonosari dengan kualitas seadanya. Mereka bahkan mengangkutnya pada malam hari karena malu jika terlihat orang. Namun, kesulitan itu tidak menghalangi mereka untuk mulai berjualan.


Pada masa awal operasional, Suharti juga sering mengalami kejadian lucu akibat keterbatasan pengetahuannya tentang istilah-istilah restoran. Ketika seorang tamu bertanya tentang toilet, ia justru menunjuk ke arah cermin di kamarnya. Begitu pula saat ada pelanggan yang menanyakan Coca-Cola, Suharti mengira tamu tersebut sedang mencari kolah atau bak mandi.


Meski serba terbatas, restoran itu perlahan mulai dikenal. Pelanggan berdatangan, bahkan jumlahnya sering kali melebihi kapasitas tempat duduk yang tersedia. Suharti pun kembali mencari meja dan kursi. Ia berutang 25 set meja kursi kepada Jin Han, pemilik Toko Lima di Jalan Malioboro, karean masih kurang juga ia kembali berhutang meja kursi ke toko lain milik Liem Kam Hong. Jasa kedua orang tersebut selalu dikenangnya sebagai bagian penting dari perjalanan awal usahanya.


Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Restoran ayam goreng dengan nama Ny. Suharti semakin dikenal luas. Usaha yang semula dirintis dari bangunan sederhana di Yogyakarta berkembang hingga memiliki cabang di berbagai kota, seperti Semarang, Purworejo, Surabaya, Bali, dan Jakarta.


𝗕𝗲𝗿𝗰𝗲𝗿𝗮𝗶


Di balik kesuksesan tersebut, Sahlan juga memiliki peran dalam perkembangan usaha. Namun, perjalanan rumah tangga keduanya ternyata tidak sejalan dengan keberhasilan bisnis yang mereka bangun. Hubungan mereka mulai retak sejak 1985, terutama setelah Sahlan membuka cabang di Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Sejak tahun itu pula, Suharti mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan suaminya.


Perselisihan semakin meruncing ketika muncul persoalan mengenai kepemilikan dan pengelolaan restoran Ny. Suharti. Suharti merasa bahwa selama bertahun-tahun dirinyalah yang berjuang dari bawah, berjualan keliling hingga membangun restoran. 


Berbagai upaya untuk memperbaiki hubungan rumah tangga tidak membuahkan hasil. Anak-anak mereka sebenarnya berharap kedua orang tuanya tetap bersama, tetapi konflik yang berlangsung bertahun-tahun akhirnya tidak dapat dihindari. Pada 1991, Suharti dan Sahlan resmi bercerai. Namun malang tidak dapat ditolak, Suharti sangat terpukul ketika usaha yang ikut dibesarkannya justru berada dalam penguasaan suaminya.


𝗔𝘆𝗮𝗺 𝗚𝗼𝗿𝗲𝗻𝗴 𝗦𝘂𝗵𝗮𝗿𝘁𝗶


Perceraian tersebut membawa konsekuensi besar bagi perjalanan bisnis Suharti. Merek Ny. Suharti ternyata terdaftar atas nama Sahlan sehingga hak atas nama restoran itu jatuh ke tangan mantan suaminya. Setelah perceraian, foto dan lukisan Suharti diturunkan dari seluruh restoran, meskipun nama Ny. Suharti tetap digunakan untuk usaha ayam goreng yang dikelola Sahlan.


Kehilangan hak atas merek yang selama ini identik dengan dirinya tentu menjadi pukulan berat. Namun, Suharti tidak memilih menyerah. Pengalaman panjang membangun usaha dari nol membuatnya yakin bahwa ia masih mampu memulai kembali.


Pada 1991, ia kembali mendirikan restoran dengan identitas baru. Kali ini, ia mengubah nama usahanya menjadi Ayam Goreng Suharti, tanpa embel-embel "Ny." yang sebelumnya melekat pada merek lama. Untuk membedakannya sekaligus menghindari peniruan, ia menggunakan foto dirinya sendiri sebagai logo.


Langkah tersebut bukan sekadar pergantian nama dan logo, melainkan penegasan bahwa Suharti masih memiliki kemampuan dan keberanian untuk membangun bisnisnya sendiri. Setahun kemudian, pada 1992, ia memperoleh hak atas merek Rumah Makan Ayam Goreng Suharti. 


Dan sisanya adalah sejarah, Suharti mampu mengibarkan kembali bisnis Ayam Goreng Suharti menjadi jaringan restoran yang dikenal luas dan digemari.


Dari kedua pernikahannya, perempuan tangguh ini memiliki 7 orang anak, tiga dari suami pertama dan empat anak dari Sahlan. Suharti meninggal dunia tanggal 31 Oktober 2026 dalam usia 86 tahun.


Sumber : Randu

31 October 2026

Takehiko Tazaki Letnan Takehiko Tazaki seorang Tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang diadili dan pada awalnya divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Australia di Wewak, Papua Nugini pada tanggal 30 November 1945 karena kejahatan perang yang melibatkan mutilasi mayat dan praktek kanibal Pada 19 Juli 1945, di Soarin, Papua Nugini, Tazaki melakukan mutilasi tubuh seorang tentara Australia yang tewas dalam aksi pertempuran dan memakan sebagian dagingnya. Sebelum diserahkan kepada militer Australia, Tazaki diadili oleh kesatuannya sendiri dalam sebuah kompleks militer Jepang di Pulau Muschu. Pengadilan Jepang hanya menghukumnya dengan 30 hari penahanan di barak, sebagai hukuman yang kemudian dilihat oleh para pengamat sebagai sangat tidak memadai mengingat sifat kejahatan tersebut. Pengadilan Tazaki berlangsung di Kepala Markas Divisi Australia ke-6 di Wewak. Dia secara resmi dikenai hukuman penjara selama 30 hari karena melakukan mutilasi dan kejahatan praktek kanibal terhadap seorang tentara Australia yang tewas. Petugas pembelaannya, Kapten Jack Watson, mengatakan bahwa Tazaki secara sementara dinyatakan gila karena kelainan nutrisi dan malaria pada tahap akhir perang. Tazaki sendiri mengakui kejahatan tersebut dalam keadaan kondisi sangat berat pada saat itu. Mahkamah menganggapnya bersalah dan menjatuhkan hukuman mati dengan eksekusi gantung. Ini menandai hukuman mati pertama yang diberikan selama perang dengan Jepang. Tazaki dilaporkan menerima hukuman mati tanpa emosi, memberi hormat kepada mahkamah, dan berjalan keluar. Walaupun dia dijatuhi hukuman mati, Tazaki tidak dieksekusi. Petugas penilai, Brigader Alan S. Lloyd, menyarankan untuk melakukan komutasi berdasarkan kondisi mengerikan, penyakit, dan kelaparan yang dihadapi oleh tentara Jepang pada tahap akhir perang. Rekomendasi Tazaki disetujui, dan hukuman mati yang diberikan kepada Tazaki diubah menjadi lima tahun penjara dengan tambahan bekerja paksa #perezmanuelodlanor

 Takehiko Tazaki

Letnan Takehiko Tazaki seorang Tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang diadili dan pada awalnya divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Australia di Wewak, Papua Nugini pada tanggal 30 November 1945 karena kejahatan perang yang melibatkan mutilasi mayat dan praktek kanibal



Pada 19 Juli 1945, di Soarin, Papua Nugini, Tazaki melakukan mutilasi tubuh seorang tentara Australia yang tewas dalam aksi pertempuran dan memakan sebagian dagingnya. Sebelum diserahkan kepada militer Australia, Tazaki diadili oleh kesatuannya sendiri dalam sebuah kompleks militer Jepang di Pulau Muschu. Pengadilan Jepang hanya menghukumnya dengan 30 hari penahanan di barak, sebagai hukuman yang kemudian dilihat oleh para pengamat sebagai sangat tidak memadai mengingat sifat kejahatan tersebut. 


Pengadilan Tazaki berlangsung di Kepala Markas Divisi Australia ke-6 di Wewak. Dia secara resmi dikenai hukuman penjara selama 30 hari karena melakukan mutilasi dan kejahatan praktek kanibal terhadap seorang tentara Australia yang tewas. Petugas pembelaannya, Kapten Jack Watson, mengatakan bahwa Tazaki secara sementara dinyatakan gila karena kelainan nutrisi dan malaria pada tahap akhir perang. 


Tazaki sendiri mengakui kejahatan tersebut dalam keadaan kondisi sangat berat pada saat itu. Mahkamah menganggapnya bersalah dan menjatuhkan hukuman mati dengan eksekusi gantung. Ini menandai hukuman mati pertama yang diberikan selama perang dengan Jepang. Tazaki dilaporkan menerima hukuman mati tanpa emosi, memberi hormat kepada mahkamah, dan berjalan keluar.


    Walaupun dia dijatuhi hukuman mati, Tazaki tidak dieksekusi. Petugas penilai, Brigader Alan S. Lloyd, menyarankan untuk melakukan komutasi berdasarkan kondisi mengerikan, penyakit, dan kelaparan yang dihadapi oleh tentara Jepang pada tahap akhir perang. Rekomendasi Tazaki disetujui, dan hukuman mati yang diberikan kepada Tazaki diubah menjadi lima tahun penjara dengan tambahan bekerja paksa


#perezmanuelodlanor



Sumber : Lilik Hartanto

30 October 2026

“Jadi ini tempat di mana dia lahir,” ujar Peter Brian Ramsay Carey sambil menunjuk denah bangunan yang berada dalam tembok Keraton Yogyakarta kepada kami. “Dia lahir di Keputren, seorang [berzodiak] Scorpio pada [tanggal] sebelas [bulan] sebelas tahun 1785 jam setengah lima pagi—saat sahur.” Peter B.R. Carey, seorang Profesor Emeritus di Trinity College, Oxford, Inggris, mengisahkan ketertarikannya kepada sosok Dipanagara. Pertemuannya dengan sebuah litografi yang menggambarkan Dipanagara dan laskarnya memasuki perkemahan di Desa Matesih, telah “menjerumuskan” Carey dalam pencarian tentang sosok sejati Sang Pangeran itu selama 40 tahun. Bayi lelaki itu bernama Bendara Raden Mas Mustahar, lahir tepat jelang fajar pada hari Jumat Wage. Dia anak dari pasangan putra sulung Sultan Hamengkubuwana II—yang kelak pada 1812 bertakta sebagai Sultan Hamengkubuwana III—dan Raden Ayu Mangkarawati. Bagi orang Jawa, konon menurut primbon, orang yang lahir pada hari pasaran Jumat Wage mempunyai sifat banyak bicara, namun hal yang dibicarakan tepat. Selain itu, dia selalu berhati-hati, namun acapkali mendapat sandungan. Kelahiran bayi ketika fajar juga kerap dikaitkan sifat pembawaannya kelak: sebagai agen pembaharu, pelopor, atau peneroka zaman. Sahabat, simak kisah selengkapnya pada unggahan ini! Kisah oleh Mahandis Yoanata Thamrin Desain oleh dendimanaaa

 “Jadi ini tempat di mana dia lahir,” ujar Peter Brian Ramsay Carey sambil menunjuk denah bangunan yang berada dalam tembok Keraton Yogyakarta kepada kami. “Dia lahir di Keputren, seorang [berzodiak] Scorpio pada [tanggal] sebelas [bulan] sebelas tahun 1785 jam setengah lima pagi—saat sahur.”



Peter B.R. Carey, seorang Profesor Emeritus di Trinity College, Oxford, Inggris, mengisahkan ketertarikannya kepada sosok Dipanagara. Pertemuannya dengan sebuah litografi yang menggambarkan Dipanagara dan laskarnya memasuki perkemahan di Desa Matesih, telah “menjerumuskan” Carey dalam pencarian tentang sosok sejati Sang Pangeran itu selama 40 tahun.


Bayi lelaki itu bernama Bendara Raden Mas Mustahar, lahir tepat jelang fajar pada hari Jumat Wage. Dia anak dari pasangan putra sulung Sultan Hamengkubuwana II—yang kelak pada 1812 bertakta sebagai Sultan Hamengkubuwana III—dan Raden Ayu Mangkarawati.


Bagi orang Jawa, konon menurut primbon, orang yang lahir pada hari pasaran Jumat Wage mempunyai sifat banyak bicara, namun hal yang dibicarakan tepat. Selain itu, dia selalu berhati-hati, namun acapkali mendapat sandungan. Kelahiran bayi ketika fajar juga kerap dikaitkan sifat pembawaannya kelak: sebagai agen pembaharu, pelopor, atau peneroka zaman.


Sahabat, simak kisah selengkapnya pada unggahan ini!


Kisah oleh Mahandis Yoanata Thamrin 

Desain oleh dendimanaaa


Sumber : Mahandis Yoanata Thamrin

28 October 2026

Jenderal TNI Soemitro Sastrodiharjdo , tokoh Perampasan pusaka kesultanan KUTAI, arsip kesultanan serta buku Silsilah dan Sejarah Kutai, dia tokoh yang sangat anti Kesultanan. Biografi Singkat: Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo (13 Januari 1927 – 10 Mei 1998) adalah salah satu tokoh militer paling berpengaruh pada masa transisi Orde Lama menuju awal Orde Baru. Ia dikenal sebagai jenderal yang cerdas, strategis, sekaligus memiliki pengaruh politik yang sangat kuat di jajaran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). 1. Latar Belakang & Perjalanan Masuk Militer * Kelahiran: Lahir di Sebaung, Gending, Probolinggo, Jawa Timur. * Kisah Unik: Masa mudanya diwarnai kisah menarik; sebelum bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) pada masa pendudukan Jepang, ia sempat iseng bermain jailangkung bersama rekannya, di mana jawaban dari permainan tersebut meramalkan bahwa masa depannya kelak berada di jalur militer. * Karier Awal: Selepas PETA, ia aktif bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 1. Peristiwa Lapangan Kinibalu & Kebijakan Terhadap Kesultanan Kutai (1965) Saat menjabat sebagai Panglima Kodam IX/Mulawarman yang membawahi wilayah Kalimantan Timur, Soemitro turut menjalankan kebijakan pembersihan struktur feodalisme daerah yang intensif pada masa itu. * Perampasan Atribut Keraton: Pada 20 Mei 1965, Soemitro mendatangi Keraton Kutai di Tenggarong dan memerintahkan pengangkutan berbagai atribut kebesaran serta benda pusaka Kesultanan Kutai—seperti baju kebesaran sultan, mantel, setorong, hingga payung ubur-ubur—untuk dibawa ke Samarinda. * Pemusnahan di Lapangan Kinibalu: Sehari setelahnya, pada 21 Mei 1965, bertempat di Lapangan Kinibalu, Samarinda, masyarakat serta para kerabat istana (termasuk Adji Deck dan para bangsawan) dipaksa hadir menyaksikan aksi pemusnahan/pembakaran atribut dan benda pusaka kebesaran Kesultanan Kutai tersebut. * Dalam konferensi pers terkait kebijakan-kebijakan penertiban tersebut, Soemitro sempat menyatakan pandangannya bahwa tindakan tersebut ditujukan untuk "mengganyang sistem feodalisme, bukan manusianya". Kendati demikian, peristiwa ini meninggalkan luka historis dan trauma tersendiri bagi para keluarga serta masyarakat adat Kesultanan Kutai. 1. Puncak Karier Militer & Peristiwa Malari 1974 Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, Soemitro sempat memegang posisi puncak yang sangat berkuasa di bidang keamanan, di antaranya: * Panglima Komando Pemeliharaan Keamanan Ketertiban (Pangkopkamtib) (1971–1974) * Wakil Panglima ABRI Karier militernya mengalami titik balik pasca-Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, di mana gelombang demonstrasi mahasiswa memprotes dominasi ekonomi asing berujung kerusuhan besar. Sebagai Pangkopkamtib, ia dianggap bertanggung jawab atas situasi tersebut, yang membuatnya mengundurkan diri dari jabatan militer aktif dan beralih menjadi tokoh senior serta akademisi yang disegani. Jika ada kesalahan mohon disampaikan 🙏 #sejarahkutai #menolaklupa #pusakakutai #kutaikartanegara #peristiwa

 Jenderal TNI Soemitro Sastrodiharjdo , tokoh Perampasan pusaka kesultanan KUTAI, arsip kesultanan serta buku Silsilah dan Sejarah Kutai, dia tokoh yang sangat anti Kesultanan. 



Biografi Singkat: Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo

Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo (13 Januari 1927 – 10 Mei 1998) adalah salah satu tokoh militer paling berpengaruh pada masa transisi Orde Lama menuju awal Orde Baru. Ia dikenal sebagai jenderal yang cerdas, strategis, sekaligus memiliki pengaruh politik yang sangat kuat di jajaran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).


1. Latar Belakang & Perjalanan Masuk Militer

 * Kelahiran: Lahir di Sebaung, Gending, Probolinggo, Jawa Timur.

 * Kisah Unik: Masa mudanya diwarnai kisah menarik; sebelum bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) pada masa pendudukan Jepang, ia sempat iseng bermain jailangkung bersama rekannya, di mana jawaban dari permainan tersebut meramalkan bahwa masa depannya kelak berada di jalur militer.

 * Karier Awal: Selepas PETA, ia aktif bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


1. Peristiwa Lapangan Kinibalu & Kebijakan Terhadap Kesultanan Kutai (1965)

Saat menjabat sebagai Panglima Kodam IX/Mulawarman yang membawahi wilayah Kalimantan Timur, Soemitro turut menjalankan kebijakan pembersihan struktur feodalisme daerah yang intensif pada masa itu.


 * Perampasan Atribut Keraton: Pada 20 Mei 1965, Soemitro mendatangi Keraton Kutai di Tenggarong dan memerintahkan pengangkutan berbagai atribut kebesaran serta benda pusaka Kesultanan Kutai—seperti baju kebesaran sultan, mantel, setorong, hingga payung ubur-ubur—untuk dibawa ke Samarinda.


* Pemusnahan di Lapangan Kinibalu: Sehari setelahnya, pada 21 Mei 1965, bertempat di Lapangan Kinibalu, Samarinda, masyarakat serta para kerabat istana (termasuk Adji Deck dan para bangsawan) dipaksa hadir menyaksikan aksi pemusnahan/pembakaran atribut dan benda pusaka kebesaran Kesultanan Kutai tersebut.


 * Dalam konferensi pers terkait kebijakan-kebijakan penertiban tersebut, Soemitro sempat menyatakan pandangannya bahwa tindakan tersebut ditujukan untuk "mengganyang sistem feodalisme, bukan manusianya". Kendati demikian, peristiwa ini meninggalkan luka historis dan trauma tersendiri bagi para keluarga serta masyarakat adat Kesultanan Kutai.


1. Puncak Karier Militer & Peristiwa Malari 1974

Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, Soemitro sempat memegang posisi puncak yang sangat berkuasa di bidang keamanan, di antaranya:

 * Panglima Komando Pemeliharaan Keamanan Ketertiban (Pangkopkamtib) (1971–1974)

 * Wakil Panglima ABRI

Karier militernya mengalami titik balik pasca-Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, di mana gelombang demonstrasi mahasiswa memprotes dominasi ekonomi asing berujung kerusuhan besar. 


Sebagai Pangkopkamtib, ia dianggap bertanggung jawab atas situasi tersebut, yang membuatnya mengundurkan diri dari jabatan militer aktif dan beralih menjadi tokoh senior serta akademisi yang disegani. 


Jika ada kesalahan mohon disampaikan 🙏


#sejarahkutai #menolaklupa #pusakakutai #kutaikartanegara #peristiwa


Sumber : Aji Syarifah Rahmawati

Anita Rahman, Suara Berita TVRI yang Tak Terlupakan Bagi generasi yang tumbuh bersama siaran TVRI, nama Anita Rahman tentu menyimpan kenangan tersendiri. Suaranya yang khas dan pembawaannya yang tenang pernah menemani masyarakat Indonesia saat menyimak berbagai berita penting. Anita bukan hanya dikenal sebagai penyiar berita. Ia juga menekuni dunia penulisan, menjadi narator, serta menerjemahkan naskah film dokumenter. Berbagai pekerjaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia penyiaran dan komunikasi. Pada masa ketika televisi menjadi salah satu sumber utama informasi, sosok penyiar berita memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat. Anita Rahman termasuk figur yang ikut mewarnai perjalanan sejarah penyiaran Indonesia, khususnya di era TVRI. Namun, kabar mengenai kehidupannya di usia lanjut sempat menarik perhatian publik. Sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa ia membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kabar tersebut mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup seseorang tidak selalu mudah, bahkan bagi mereka yang dahulu dikenal luas oleh masyarakat. Kisah Anita juga menjadi pengingat tentang pentingnya menghargai para pekerja seni dan insan penyiaran yang telah mengabdikan waktu, tenaga, serta kemampuan mereka untuk menyampaikan informasi kepada publik. Popularitas mungkin memudar seiring berjalannya waktu. Wajah yang dahulu akrab di layar televisi pun perlahan menghilang dari ingatan generasi baru. Namun, kontribusi dan jejak pengabdian seseorang tetap layak dikenang. Anita Rahman bukan sekadar nama dari masa lalu. Ia adalah bagian dari kenangan sebuah generasi yang pernah menjadikan TVRI sebagai jendela informasi bagi Indonesia. #AnitaRahman #TVRINostalgia #PenyiarLegendaris #SejarahTelevisi

 Anita Rahman, Suara Berita TVRI yang Tak Terlupakan



Bagi generasi yang tumbuh bersama siaran TVRI, nama Anita Rahman tentu menyimpan kenangan tersendiri. Suaranya yang khas dan pembawaannya yang tenang pernah menemani masyarakat Indonesia saat menyimak berbagai berita penting.


Anita bukan hanya dikenal sebagai penyiar berita. Ia juga menekuni dunia penulisan, menjadi narator, serta menerjemahkan naskah film dokumenter. Berbagai pekerjaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia penyiaran dan komunikasi.


Pada masa ketika televisi menjadi salah satu sumber utama informasi, sosok penyiar berita memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat. Anita Rahman termasuk figur yang ikut mewarnai perjalanan sejarah penyiaran Indonesia, khususnya di era TVRI.


Namun, kabar mengenai kehidupannya di usia lanjut sempat menarik perhatian publik. Sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa ia membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kabar tersebut mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup seseorang tidak selalu mudah, bahkan bagi mereka yang dahulu dikenal luas oleh masyarakat.


Kisah Anita juga menjadi pengingat tentang pentingnya menghargai para pekerja seni dan insan penyiaran yang telah mengabdikan waktu, tenaga, serta kemampuan mereka untuk menyampaikan informasi kepada publik.


Popularitas mungkin memudar seiring berjalannya waktu. Wajah yang dahulu akrab di layar televisi pun perlahan menghilang dari ingatan generasi baru. Namun, kontribusi dan jejak pengabdian seseorang tetap layak dikenang.


Anita Rahman bukan sekadar nama dari masa lalu. Ia adalah bagian dari kenangan sebuah generasi yang pernah menjadikan TVRI sebagai jendela informasi bagi Indonesia.


#AnitaRahman #TVRINostalgia #PenyiarLegendaris #SejarahTelevisi


Sumber : Koko Heri

26 October 2026

Ketika Ratu Sekar Kedaton memimpin pemberontakan kepada Keraton Yogyakarta setelah wafatnya HB V Ketika Sultan Hamengkubuwono V wafat pada 4 Juni 1855, dia meninggalkan permaisurinya, Ratu Kedaton, dalam keadaan hamil tua. Ketika kemudian dia melahirkan seorang putra pada 17 Juni 1855 dan diberi nama R.M. Muhammad, para pangeran yang sudah lebih senior mulai melakukan intrik, sehingga menimbulkan dua isu pokok, yaitu bahwa putra raja yang lahir “secara anumerta” menurut adat Jawa tidak berhak atas tahta, dan bahwa siapa sebenarnya ayah dari si anak yang baru lahir itu, masih diragukan. Pemerintah Hindia Belanda sendiri kemudian hanya mengangkat putra yang baru lahir itu sebagai Pangeran Suryengalaga dan menunjuk adik sultan yang baru wafat menjadi Sultan Hamengkubuwono VI (1855-1877). Kejanggalan dalam cara pengangkatan dan penggantian sultan ini menyebabkan timbulnya berbagai reaksi menentang. Salah satu di antaranya adalah persekutuan yang timbul di daerah Klaten pada 1864. Gerakan mereka bertujuan menghancurkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta sekaligus, dan memindahkan pusat pemerintahan ke daerah Prambanan, serta mencalonkan Pangeran Suryengalaga sebagai raja. Tergerak oleh adanya gerakan yang mencalonkan putranya menjadi raja ini, meskipun akhirnya gerakan tersebut dapat ditumpas, mulailah Ratu Kedaton melakukan usaha-usaha yang bertujuan menghimpun kekuatan untuk menjadikan putranya sebagai pengganti sultan. Namun figur Suryengalaga sendiri tidak membantu ke arah tercapainya tujuan tersebut. Baik sumber tradisional maupun laporan pihak Belanda menyatakan bahwa pangeran ini berperawakan gemuk pendek, lamban, tidak lincah, kurang cerdas dan kurang bersemangat, sehingga dia dikategorikan sebagai tokoh yang lemah dalam segala hal. Tidaklah mengherankan bila pada 1872 pemerintah Hindia Belanda menunjuk putra Sultan Hamengkubuwono VI sebagai putra mahkota dan yang kemudian naik tahta sebagai Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 1877. Meskipun demikian Ratu Kedaton tidak berputus asa dan mulailah dia mengadakan persekutuan dengan beberapa pihak di kalangan istana. Orang pertama yang diajaknya bersekutu adalah Ratu Kencana, istri pertama Sultan Hamengkubuwono VII. Tokoh ini memang agak tersingkirkan gara-gara dia belum juga mampu memberi putra yang diharapkan akan menjadi pengganti raja kelak, kecuali dua orang putri. Kecuali itu juga karena sultan lalu mengambil istri kedua, yang namanya semakin menanjak, karena berhasil memberi seorang putra. Ratu Kencana juga di hadapan pada problem keuangan yang serius, yang diharapkannya akan dapat teratasi dengan persekutuannya dengan Ratu Kedaton. Sumber-sumber Belanda menyebutkan bahwa Ratu Kencana ini memiliki banyak utang yang terakumulasi semenjak dia masih remaja. Sebab, tidak sebagaimana layaknya putri bangsawan pada masa itu, semenjak remaja dia sudah banyak bergaul dengan kalangan orang Eropa dan turut pula dalam perkumpulan-perkumpulan mereka, sehingga memiliki sifat boros. Sebaliknya, Ratu Kedaton adalah seorang tokoh yang kaya-raya, baik dalam bentuk uang, tanah maupun perhiasan. Pada 1880 kedua tokoh tadi mengikat perjanjian yang intinya adalah bahwa kelak Pangeran Suryengalaga yang akan menjadi raja dengan permaisurinya salah seorang putri Ratu Kencana. Sebagai ibu dan ibu mertua raja, kelak mereka akan dapat mempergunakan kelemahan Suryengalaga dalam pemerintahan, sehingga segala kebijaksanaan akan dapat mereka atur. Namun cara resmi ini pun gagal, sebab tanggal 5 Maret 1883 putra Sultan Hamengkubuwono VII dari istri kedua yang baru berusia sepuluh tahun, R.M. Kadiat, diangkat sebagai putra mahkota. Keadaan inilah yang lalu memaksa Ratu Kedaton memilih jalan kekerasan, agar segala rencananya dapat berjalan sebagaimana yang diharapkannya. Untuk menempuh cara kekerasan sudah tentu diperlukan beberapa pihak lagi. Siapa saja yang dilibatkan oleh Ratu Sekar Kedaton? Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034424238/ratu-sekar-kedaton-memimpin-pemberontakan-demi-putranya-bisa-jadi-raja-keraton-yogyakarta #sekarkedaton #pemberontakan #keratonyogyakarta #hbv

 Ketika Ratu Sekar Kedaton memimpin pemberontakan kepada Keraton Yogyakarta setelah wafatnya HB V



Ketika Sultan Hamengkubuwono V wafat pada 4 Juni 1855, dia meninggalkan permaisurinya, Ratu Kedaton, dalam keadaan hamil tua.


Ketika kemudian dia melahirkan seorang putra pada 17 Juni 1855 dan diberi nama R.M. Muhammad, para pangeran yang sudah lebih senior mulai melakukan intrik, sehingga menimbulkan dua isu pokok, yaitu bahwa putra raja yang lahir “secara anumerta” menurut adat Jawa tidak berhak atas tahta, dan bahwa siapa sebenarnya ayah dari si anak yang baru lahir itu, masih diragukan.


Pemerintah Hindia Belanda sendiri kemudian hanya mengangkat putra yang baru lahir itu sebagai Pangeran Suryengalaga dan menunjuk adik sultan yang baru wafat menjadi Sultan Hamengkubuwono VI (1855-1877).


Kejanggalan dalam cara pengangkatan dan penggantian sultan ini menyebabkan timbulnya berbagai reaksi menentang. Salah satu di antaranya adalah persekutuan yang timbul di daerah Klaten pada 1864.


Gerakan mereka bertujuan menghancurkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta sekaligus, dan memindahkan pusat pemerintahan ke daerah Prambanan, serta mencalonkan Pangeran Suryengalaga sebagai raja. Tergerak oleh adanya gerakan yang mencalonkan putranya menjadi raja ini, meskipun akhirnya gerakan tersebut dapat ditumpas, mulailah Ratu Kedaton melakukan usaha-usaha yang bertujuan menghimpun kekuatan untuk menjadikan putranya sebagai pengganti sultan.


Namun figur Suryengalaga sendiri tidak membantu ke arah tercapainya tujuan tersebut. Baik sumber tradisional maupun laporan pihak Belanda menyatakan bahwa pangeran ini berperawakan gemuk pendek, lamban, tidak lincah, kurang cerdas dan kurang bersemangat, sehingga dia dikategorikan sebagai tokoh yang lemah dalam segala hal.


Tidaklah mengherankan bila pada 1872 pemerintah Hindia Belanda menunjuk putra Sultan Hamengkubuwono VI sebagai putra mahkota dan yang kemudian naik tahta sebagai Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 1877. 


Meskipun demikian Ratu Kedaton tidak berputus asa dan mulailah dia mengadakan persekutuan dengan beberapa pihak di kalangan istana. Orang pertama yang diajaknya bersekutu adalah Ratu Kencana, istri pertama Sultan Hamengkubuwono VII. 


Tokoh ini memang agak tersingkirkan gara-gara dia belum juga mampu memberi putra yang diharapkan akan menjadi pengganti raja kelak, kecuali dua orang putri.


Kecuali itu juga karena sultan lalu mengambil istri kedua, yang namanya semakin menanjak, karena berhasil memberi seorang putra. Ratu Kencana juga di hadapan pada problem keuangan yang serius, yang diharapkannya akan dapat teratasi dengan persekutuannya dengan Ratu Kedaton.


Sumber-sumber Belanda menyebutkan bahwa Ratu Kencana ini memiliki banyak utang yang terakumulasi semenjak dia masih remaja. Sebab, tidak sebagaimana layaknya putri bangsawan pada masa itu, semenjak remaja dia sudah banyak bergaul dengan kalangan orang Eropa dan turut pula dalam perkumpulan-perkumpulan mereka, sehingga memiliki sifat boros.


Sebaliknya, Ratu Kedaton adalah seorang tokoh yang kaya-raya, baik dalam bentuk uang, tanah maupun perhiasan.


Pada 1880 kedua tokoh tadi mengikat perjanjian yang intinya adalah bahwa kelak Pangeran Suryengalaga yang akan menjadi raja dengan permaisurinya salah seorang putri Ratu Kencana. Sebagai ibu dan ibu mertua raja, kelak mereka akan dapat mempergunakan kelemahan Suryengalaga dalam pemerintahan, sehingga segala kebijaksanaan akan dapat mereka atur.


Namun cara resmi ini pun gagal, sebab tanggal 5 Maret 1883 putra Sultan Hamengkubuwono VII dari istri kedua yang baru berusia sepuluh tahun, R.M. Kadiat, diangkat sebagai putra mahkota. Keadaan inilah yang lalu memaksa Ratu Kedaton memilih jalan kekerasan, agar segala rencananya dapat berjalan sebagaimana yang diharapkannya.


Untuk menempuh cara kekerasan sudah tentu diperlukan beberapa pihak lagi.


Siapa saja yang dilibatkan oleh Ratu Sekar Kedaton?


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034424238/ratu-sekar-kedaton-memimpin-pemberontakan-demi-putranya-bisa-jadi-raja-keraton-yogyakarta


#sekarkedaton #pemberontakan #keratonyogyakarta #hbv

Tanda Tanda Kesenjataan TNI AD

 Tanda Tanda Kesenjataan TNI AD




Sumber : Jani Sari

Upacara Pemakaman Westerling di Belanda 1987. Yang sedang menghormat berwajah asia mungkin ia bekas anak buahnya. Si jagal The Turk Raymond Westerling Komandan Korps Speciale Troepen (KST) Kopasusnya Belanda. Ia bertanggung jawab terhadap pemb4ntaian 40 ribu rakyat Sulawesi selatan dan sekitarnya seperti Makasar, Gowa, Jeneponto, hingga Toraja pada bulan Desember 1946 hingga Februari 1947. Ia memimpin oprasi anti grilya dengan metode eks3kusi di tempat tanpa proses pengadilan. Setelah di Sulsel ia juga memimpin Kudeta Anhkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung bulan Januari 1950, 800 personil anggotanya bergerak dari Cimahi ke Bandung dan melakukan pembersihan terhadap 94 anggota devisi Siliwangi. salah satu korbanya Letkol Lembong. Pasukannya kemudian bergerak ke Jakarta untuk menangkap para petinggi RI tapi beruntung keburu disergap dan dihancurakn di Pacet, tapi Westerling lolos dan lari ke Singapura dengan peswat Catalina milik Belanda. Ia tak pernah ditangkap dan diadili Sampai ia meninggoy tahun 1987. Pada 12 September 2013 Belanda secara resmi meminta maaf dan memberi konpensasi kepada para ahli waris korban di Sulawesi selatan. Kisahnya diangkat ke layar lebar oleh sineas Belanda dengan judul "De Oost" dengan pemeran Martijn Lakemeier dan Marwan Kenzari pada tahun 2020.

 Upacara Pemakaman Westerling di Belanda 1987. Yang sedang menghormat berwajah asia mungkin ia bekas anak buahnya.



Si jagal The Turk Raymond Westerling Komandan Korps Speciale Troepen (KST) Kopasusnya Belanda. Ia bertanggung jawab terhadap pemb4ntaian 40 ribu rakyat Sulawesi selatan dan sekitarnya seperti Makasar, Gowa, Jeneponto, hingga Toraja pada bulan Desember 1946 hingga Februari 1947. Ia memimpin oprasi anti grilya dengan metode eks3kusi di tempat tanpa proses pengadilan. 

Setelah di Sulsel ia juga memimpin Kudeta Anhkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung bulan Januari 1950, 800 personil anggotanya bergerak dari Cimahi ke Bandung dan melakukan pembersihan terhadap 94 anggota devisi Siliwangi.  salah satu korbanya Letkol Lembong. Pasukannya kemudian bergerak ke Jakarta untuk menangkap para petinggi RI tapi beruntung keburu disergap dan dihancurakn di Pacet, tapi Westerling lolos dan lari ke Singapura dengan peswat Catalina milik Belanda. Ia tak pernah ditangkap dan diadili Sampai ia meninggoy tahun 1987. Pada 12 September 2013 Belanda secara resmi meminta maaf dan memberi konpensasi kepada para ahli waris korban di Sulawesi selatan.

Kisahnya diangkat ke layar lebar oleh sineas Belanda dengan judul "De Oost" dengan pemeran Martijn Lakemeier dan  Marwan Kenzari pada tahun 2020.

22 October 2026

Pada 5 Agustus 1965, dua bulan sebelum G30S, DN Aidit menemui Mao Zedong. Mereka mendiskusikan perebutan kekuasaan dengan militer saat Soekarno wafat, juga rencana terkait angkatan kelima. Berikut percakapannya dari buku Taomo Zhou. Mao: Menurut saya sayap kanan Indonesia sangat bertekad untuk merebut kekuasaan. Apakah anda juga bertekad demikian? Aidit: (Mengangguk) Jika Soekarno meninggal, masalahnya adalah siapa yang akan unggul dan memegang kendali. Mao: Saya sarankan agar anda tidak terlalu sering pergi ke luar negeri. Anda bisa membiarkan orang nomor dua [di partai Anda] yang pergi ke luar negeri sebagai gantinya. Aidit: Sayap kanan bisa mengambil dua kemungkinan tindakan. Pertama, mereka bisa menyerang kita. Jika mereka melakukannya, kita punya alasan untuk melakukan serangan balik. Kedua, mereka bisa menggunakan cara yang lebih moderat dengan membentuk pemerintahan Nasakom. Tanpa Soekarno, akan sangat mudah bagi sayap kanan untuk meraih dukungan dari kelompok tengah demi mengisolasi kita. Skenario kedua ini akan menyulitkan kita. Namun, apa pun yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. AS telah menasihati Nasution agar tidak memulai kudeta. Hal ini karena jika dia memulai kudeta, kelompok kiri juga akan mengambil tindakan yang sama. Orang-orang Amerika memberi tahu Nasution bahwa dia harus menunggu dengan sabar; bahkan jika Soekarno meninggal, dia [Nasution] harus bersikap fleksibel ketimbang [melakukan] kudeta. Dia menerima saran dari orang-orang Amerika tersebut. Mao: Itu tidak bisa diandalkan. Situasi saat ini telah berubah. Aidit: Dalam skenario pertama, kami berencana untuk membentuk sebuah komite militer. Mayoritas anggota komite tersebut adalah kelompok kiri, tetapi harus mencakup juga beberapa elemen moderat. Dengan cara ini, kita dapat membingungkan musuh-musuh kita. Musuh kita akan ragu mengenai sifat dari komite ini, dan oleh karena itu para komandan militer yang bersimpati pada sayap kanan tidak akan langsung menentang kita. Jika kita langsung menunjukkan bendera merah kita, mereka akan segera menentang kita. Ketua dari komite militer ini adalah anggota rahasia (underground) dari partai kami, tetapi dia akan mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang netral. Komite militer ini tidak boleh bertahan terlalu lama. Jika tidak, orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Setelah komite ini terbentuk, kita perlu mempersenjatai para buruh dan petani pada waktu yang tepat.

 Pada 5 Agustus 1965, dua bulan sebelum G30S, DN Aidit menemui Mao Zedong. Mereka mendiskusikan perebutan kekuasaan dengan militer saat Soekarno wafat, juga rencana terkait angkatan kelima.



Berikut percakapannya dari buku Taomo Zhou.


Mao: Menurut saya sayap kanan Indonesia sangat bertekad untuk merebut kekuasaan. Apakah anda juga bertekad demikian?


Aidit: (Mengangguk) Jika Soekarno meninggal, masalahnya adalah siapa yang akan unggul dan memegang kendali.


Mao: Saya sarankan agar anda tidak terlalu sering pergi ke luar negeri. Anda bisa membiarkan orang nomor dua [di partai Anda] yang pergi ke luar negeri sebagai gantinya.


Aidit: Sayap kanan bisa mengambil dua kemungkinan tindakan. Pertama, mereka bisa menyerang kita. Jika mereka melakukannya, kita punya alasan untuk melakukan serangan balik. Kedua, mereka bisa menggunakan cara yang lebih moderat dengan membentuk pemerintahan Nasakom. Tanpa Soekarno, akan sangat mudah bagi sayap kanan untuk meraih dukungan dari kelompok tengah demi mengisolasi kita. Skenario kedua ini akan menyulitkan kita. Namun, apa pun yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. AS telah menasihati Nasution agar tidak memulai kudeta. Hal ini karena jika dia memulai kudeta, kelompok kiri juga akan mengambil tindakan yang sama. Orang-orang Amerika memberi tahu Nasution bahwa dia harus menunggu dengan sabar; bahkan jika Soekarno meninggal, dia [Nasution] harus bersikap fleksibel ketimbang [melakukan] kudeta. Dia menerima saran dari orang-orang Amerika tersebut.


Mao: Itu tidak bisa diandalkan. Situasi saat ini telah berubah.


Aidit: Dalam skenario pertama, kami berencana untuk membentuk sebuah komite militer. Mayoritas anggota komite tersebut adalah kelompok kiri, tetapi harus mencakup juga beberapa elemen moderat. Dengan cara ini, kita dapat membingungkan musuh-musuh kita. Musuh kita akan ragu mengenai sifat dari komite ini, dan oleh karena itu para komandan militer yang bersimpati pada sayap kanan tidak akan langsung menentang kita. Jika kita langsung menunjukkan bendera merah kita, mereka akan segera menentang kita. Ketua dari komite militer ini adalah anggota rahasia (underground) dari partai kami, tetapi dia akan mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang netral. Komite militer ini tidak boleh bertahan terlalu lama. Jika tidak, orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Setelah komite ini terbentuk, kita perlu mempersenjatai para buruh dan petani pada waktu yang tepat.


Sumber : Bacaan Santai

21 October 2026

Siapa yang membisiki Habibie agar segera memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998? Hanya berselang sehari setelah pelantikannya, pada 22 Mei 1998, BJ Habibie nekat untuk memutus karier Prabowo Subianto di korps militer Indonesia. Penyebabnya, sebuah bisikan dari seorang pejabat militer saat itu. Siapakah sosok yang dimaksud? Apa pula bisikan yang disampaikannya kepada Habibie? Setelah dilantik, Habibie mencopot Prabowo dari posisinya sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), pada 23 Mei 1998. Padahal, saat itu Habibie mengaku bahwa dirinya merasa was-was terhadap dampak dari keputusan besar yang ia ambil itu. “Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah Beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu saya,” tulis Habibie dalam buku Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006), seperti dikutip dari kompascom. Meski mengaku khawatir, untuk tidak menyebutnya ketakutan, Habibie pada kenyataannya mendesak pemecatan Prabowo dilakukan sesegera mungkin. Bahkan, disebutkan bahwa saat itu Habibie ingin pemecatan Prabowo harus sudah dilakukan sebelum matahari terbenam. Hal itu terungkap usai sebuah arsip Kedutaan Besar Amerika Serikat kembali dibuka pada 2018. “Sebelum matahari terbenam,” tegas Habibie kepada Wiranto yang kala itu mengemban jabatan sebagai Panglima Abri (Pangab). “Siapa yang akan mengganti?” tanya Wiranto. “Terserah Pangab,” pungkas Habibie. Sebelum resmi diumumkan, nyatanya keputusan tersebut sudah terlanjut terdengar oleh Prabowo. Tanpa pikir panjang, Prabowo langsung mendatangi Habibie di Istana Merdeka untuk menanyakan alasan pemberhentiannya dari Pangkostrad. Sebuah kabar yang membuat Habibie merasa cemas karena khawatir Prabowo membawa senjata saat bertemu dengannya. Keduanya pun akhirnya bertemu dan berbincang dengan nada tinggi menggunakan bahasa Inggris Prabowo mengatakan bahwa pemberhentiannya adalah suatu penghinaan bagi keluarga dan mertua Soeharto. “Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” kata Prabowo, seperti yang ditulis Habibie. Dalam kesempatan inilah Habibie kemudian mengungkapkan alasannya memecat Prabowo karena sebuah "bisikan". Bisikan yang dimaksud adalah informasi yang menyebutkan bahwa ada gerakan pasukan Kostrad ke arah Istana Merdeka. Beberapa dari pasukan Kostrad tersebut bahkan disebut-sebut sudah terlihat berada di sekitar kediaman Habibie. Gerakan tersebut disebut-sebut mengarah pada rencana untuk mengudeta Habibie yang baru saja dilantik. Lalu dari siapa Habibie mendengar bisikan tentang gerakan pasukan Kostrad tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah dari Wiranto. Sebuah laporan yang membuat Habibie menyimpulkan bahwa “Pangkostrad (Prabowo) bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab.” Prabowo sendiri mengaku bahwa informasi tentang keberadaan pasukan tersebut memang benar. Namun, menurut Prabowo, tujuannya adalah untuk melindungi Presiden, bukan untuk melakukan kudeta. Sebuah pernyataan yang justru dipertanyakan kembali oleh Habibie karena menilai tugas pengamanan bukan ada pada pasukan Kostrad. Mendengar jawaban tersebut, Prabowo pun murka dan menyebut Habibie "naif". "Presiden, Anda naif!" jawab Prabowo saat itu. "Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang memprihatinkan," balas Habibie. Siapa yang membisiki Habibie agar segera memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998?

 Siapa yang membisiki Habibie agar segera memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998?

Hanya berselang sehari setelah pelantikannya, pada 22 Mei 1998, BJ Habibie nekat untuk memutus karier Prabowo Subianto di korps militer Indonesia. Penyebabnya, sebuah bisikan dari seorang pejabat militer saat itu.



Siapakah sosok yang dimaksud? Apa pula bisikan yang disampaikannya kepada Habibie?


Setelah dilantik, Habibie mencopot Prabowo dari posisinya sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), pada 23 Mei 1998. Padahal, saat itu Habibie mengaku bahwa dirinya merasa was-was terhadap dampak dari keputusan besar yang ia ambil itu.


“Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah Beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu saya,” tulis Habibie dalam buku Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006), seperti dikutip dari kompascom.


Meski mengaku khawatir, untuk tidak menyebutnya ketakutan, Habibie pada kenyataannya mendesak pemecatan Prabowo dilakukan sesegera mungkin. Bahkan, disebutkan bahwa saat itu Habibie ingin pemecatan Prabowo harus sudah dilakukan sebelum matahari terbenam.


Hal itu terungkap usai sebuah arsip Kedutaan Besar Amerika Serikat kembali dibuka pada 2018.


“Sebelum matahari terbenam,” tegas Habibie kepada Wiranto yang kala itu mengemban jabatan sebagai Panglima Abri (Pangab).


“Siapa yang akan mengganti?” tanya Wiranto. “Terserah Pangab,” pungkas Habibie.


Sebelum resmi diumumkan, nyatanya keputusan tersebut sudah terlanjut terdengar oleh Prabowo. Tanpa pikir panjang, Prabowo langsung mendatangi Habibie di Istana Merdeka untuk menanyakan alasan pemberhentiannya dari Pangkostrad.


Sebuah kabar yang membuat Habibie merasa cemas karena khawatir Prabowo membawa senjata saat bertemu dengannya. Keduanya pun akhirnya bertemu dan berbincang dengan nada tinggi menggunakan bahasa Inggris


Prabowo mengatakan bahwa pemberhentiannya adalah suatu penghinaan bagi keluarga dan mertua Soeharto. “Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” kata Prabowo, seperti yang ditulis Habibie.


Dalam kesempatan inilah Habibie kemudian mengungkapkan alasannya memecat Prabowo karena sebuah "bisikan". Bisikan yang dimaksud adalah informasi yang menyebutkan bahwa ada gerakan pasukan Kostrad ke arah Istana Merdeka. Beberapa dari pasukan Kostrad tersebut bahkan disebut-sebut sudah terlihat berada di sekitar kediaman Habibie.


Gerakan tersebut disebut-sebut mengarah pada rencana untuk mengudeta Habibie yang baru saja dilantik. Lalu dari siapa Habibie mendengar bisikan tentang gerakan pasukan Kostrad tersebut?


Tidak lain dan tidak bukan adalah dari Wiranto. Sebuah laporan yang membuat Habibie menyimpulkan bahwa “Pangkostrad (Prabowo) bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab.”


Prabowo sendiri mengaku bahwa informasi tentang keberadaan pasukan tersebut memang benar. Namun, menurut Prabowo, tujuannya adalah untuk melindungi Presiden, bukan untuk melakukan kudeta.


Sebuah pernyataan yang justru dipertanyakan kembali oleh Habibie karena menilai tugas pengamanan bukan ada pada pasukan Kostrad. Mendengar jawaban tersebut, Prabowo pun murka dan menyebut Habibie "naif".


"Presiden, Anda naif!" jawab Prabowo saat itu.


"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang memprihatinkan," balas Habibie.

Siapa yang membisiki Habibie agar segera memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998?


Sumber : Dery Ali