24 May 2026

Foto pertama adalah foto yang diposting oleh Mas Danang Priyatno tanggal 25 September 2020 dari foto milik Mas Suko Wicaksono. Foto pertama merupakan foto bersama setelah acara resepsi pernikahan (alm) dr. Haryono di kampung Tulung kota Magelang pada tahun 1965. Sedangkan foto kedua adalah foto Saya saat jalan jalan di kampung Tulung dari rumah keluarga (alm) dr. Haryono yang ada di latar belakang foto pertama, kondisinya saat ini. Nah setelah saya menanyakan tentang siapakah (alm) dr. Haryono kepada mertua saya yang merupakan warga kampung Tulung yang sudah tinggal di kampung Tulung sejak era Hindia Belanda akhirnya dapat kisah tentang (alm) dr. Haryono. Dr. Haryono merupakan putra pertama dari pasangan Bapak Adenan dan Ibu Adenan. Napak Adenan bekerja sebagai Kadaster atau kantor pertanahan. Sedangkan Ibu Adenan aslinya dari desa Karanglo (daerah Kalegen ke barat sampai ketemu pertigaan lalu belok kiri). Pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini memiliki 5 anak yaitu: 1. Dr. Haryono. 2. Affandi. 3. Asnah. 4. Sartono. 5. Gunawan. Dari kelima putra dan putrinya pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini yang menjadi dokter ada 2 yaitu: Dr. Haryono kuliahnya dahulu di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dan adiknya Asnah yang juga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dr. Haryono setelah selesai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kemudian buka praktek dengan sewa tempat di selatannya SMP Negeri 4 Magelang tapi yang bagian belakang. Tetapi beberapa bulan kemudian pindah di bagian depan di tepi jalan Pahlawan. Beliau berangkat praktek dari jam 16.00 sore dan pulang jam 20.00 malam. Berangkat pulang dengan jalan kaki sambil menenteng tas. Setelah beberapa tahun praktek di selatannya SMP Negeri 4 Magelang, kemudian dr. Haryono melanjutkan study kedokterannya ke Jepang dengan ambil jurusan internis atau penyakit dalam. Setelah selesai belajar di Jepang, dr. Haryono buka praktek di daerah SECABA ke timur yaitu ke jalan Raden Saleh di tepi Kali Kuto. Karena pasiennya banyak kemudian beliau beli rumah di tepi Jalan A Yani di seberang jalan Armada Estate dan praktek di rumah baru beliau tersebut hingga beliau wafat sekitar tahun 1990an. Selain buka praktek di rumah dr. Haryono juga bekerja di RST dr. Soedjono. Dahulu Ibu dari mertua saya yaitu Ibu Saman sakit oleh mertua saya Bapak Soedarto diperiksakan ke tempat praktek dr Haryono. Sampai Ibu Saman tidak bisa dibawa ke tempat praktek dr Haryono, maka mertua saya Bapak Soedarto datang ke dr Haryono untuk konsultasi. Akhirnya Ibu Saman dibawa ke RST dr. Soedjono untuk rawat inap. Selama rawat inap dirawat oleh dr. Haryono. Hampir setiap 2 jam sekali diperiksa. Setelah 3 hari rawat inap dan tidak ada kemajuan setelah berkonsultasi dengan perawat dan atas izin dr. Haryono akhirnya Ibu Saman dibawa pulang ke rumah untuk dirawat di rumah. Setelah 2 hari dirawat di rumah akhirnya Ibu Saman meninggal di rumah Bapak Soedarto. Untuk Asnah beliaunya dahulu adalah teman satu kelas dari mertua saya Bapak Soedarto di SMP Taman Dewasa (lokasinya sekarang adalah SMP Negeri 4 Magelang. Saat Asnah sekolah di SMP Taman Dewasa ini ada juga keponakan Bu Adenan yang bernama Yulika yang juga sekolah di SMP Taman Dewasa. Setelah lulus dari SMP Taman Dewasa, Asnah melanjutkan ke SMA Negeri 1 Kota Magelang dan setelah selesai lanjut ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, lalu Asnah menjadi dokter ke Subang. Untuk yang Sartono lalu ke Jakarta kerja di Toko besi dan Yang Gunawan kerja di kesehatan di kota Magelang dan tinggal di Botton di sekitar Langgar Mangoenredjo. Keluarga dr. Haryono ini dahulu juga mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan masjid Al Muttaqin Kampung Tulung. Selain itu juga dr. Haryono juga membangun Langgar Mangoenredjo di Botton Koppen.

 Foto pertama adalah foto yang diposting oleh Mas Danang Priyatno tanggal 25 September 2020 dari foto milik Mas Suko Wicaksono. Foto pertama merupakan foto bersama setelah acara resepsi pernikahan (alm) dr. Haryono di kampung Tulung kota Magelang pada tahun 1965. 




Sedangkan foto kedua adalah foto Saya saat jalan jalan di kampung Tulung dari rumah keluarga (alm) dr. Haryono yang ada di latar belakang foto pertama, kondisinya saat ini.

Nah setelah saya menanyakan tentang siapakah (alm) dr. Haryono kepada mertua saya yang merupakan warga kampung Tulung yang sudah tinggal di kampung Tulung sejak era Hindia Belanda akhirnya dapat kisah tentang (alm) dr. Haryono.

Dr. Haryono merupakan putra pertama dari pasangan Bapak Adenan dan Ibu Adenan. Napak Adenan bekerja sebagai Kadaster atau kantor pertanahan. Sedangkan Ibu Adenan aslinya dari desa Karanglo (daerah Kalegen ke barat sampai ketemu pertigaan lalu belok kiri). Pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini memiliki 5 anak yaitu:

1. Dr. Haryono.

2. Affandi.

3. Asnah.

4. Sartono.

5. Gunawan.

Dari kelima putra dan putrinya pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini yang menjadi dokter ada 2 yaitu:

Dr. Haryono kuliahnya dahulu di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Dan adiknya Asnah yang juga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Dr. Haryono setelah selesai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kemudian buka praktek dengan sewa tempat di selatannya SMP Negeri 4 Magelang tapi yang bagian belakang. Tetapi beberapa bulan kemudian pindah di bagian depan di tepi jalan Pahlawan. Beliau berangkat praktek dari jam 16.00 sore dan pulang jam 20.00 malam. Berangkat pulang dengan jalan kaki sambil menenteng tas. Setelah beberapa tahun praktek di selatannya SMP Negeri 4 Magelang, kemudian dr. Haryono melanjutkan study kedokterannya ke Jepang dengan ambil jurusan internis atau penyakit dalam. Setelah selesai belajar di Jepang, dr. Haryono buka praktek di daerah SECABA ke timur yaitu ke jalan Raden Saleh di tepi Kali Kuto. Karena pasiennya banyak kemudian beliau beli rumah di tepi Jalan A Yani di seberang jalan Armada Estate dan praktek di rumah baru beliau tersebut hingga beliau wafat sekitar tahun 1990an. Selain buka praktek di rumah dr. Haryono juga bekerja di RST dr. Soedjono.

Dahulu Ibu dari mertua saya yaitu Ibu Saman sakit oleh mertua saya Bapak Soedarto diperiksakan ke tempat praktek dr Haryono. Sampai Ibu Saman tidak bisa dibawa ke tempat praktek dr Haryono, maka mertua saya Bapak Soedarto datang ke dr Haryono untuk konsultasi. Akhirnya Ibu Saman dibawa ke RST dr. Soedjono untuk rawat inap. Selama rawat inap dirawat oleh dr. Haryono. Hampir setiap 2 jam sekali diperiksa. Setelah 3 hari rawat inap dan tidak ada kemajuan setelah berkonsultasi dengan perawat dan atas izin dr. Haryono akhirnya Ibu Saman dibawa pulang ke rumah untuk dirawat di rumah. Setelah 2 hari dirawat di rumah akhirnya Ibu Saman meninggal di rumah Bapak Soedarto.

Untuk Asnah beliaunya dahulu adalah teman satu kelas dari mertua saya Bapak Soedarto di SMP Taman Dewasa (lokasinya sekarang adalah SMP Negeri 4 Magelang. Saat Asnah sekolah di SMP Taman Dewasa ini ada juga keponakan Bu Adenan yang bernama Yulika yang juga sekolah di SMP Taman Dewasa. Setelah lulus dari SMP Taman Dewasa, Asnah melanjutkan ke SMA Negeri 1 Kota Magelang dan setelah selesai lanjut ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, lalu Asnah menjadi dokter ke Subang. 

Untuk yang Sartono lalu ke Jakarta kerja di Toko besi dan Yang Gunawan kerja di kesehatan di kota Magelang dan tinggal di Botton di sekitar Langgar Mangoenredjo.

Keluarga dr. Haryono ini dahulu juga mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan masjid Al Muttaqin Kampung Tulung. Selain itu juga dr. Haryono juga membangun Langgar Mangoenredjo di Botton Koppen.

SIAPAKAH DIA ? Menteri ini terkenal dengan kata-katanya, "Sesuai petunjuk Bapak (Presiden)". Seorang politikus dan jurnalis Indonesia yang aktif pada masa Orde Baru hingga pernah menjabat sebagai Ketua PWI, Ketua Golkar lalu Ketua MPR-DPR dan Menteri Penerangan RI. Orang dengan kelahiran Nganjuk, Jawa Timur pada 7 Februari 1939 ini ramah, murah senyum, dan pantang menyerah. Orang ini pernah membuat kejutan besar pada konferensi pers dengan meminta presiden untuk mundur dalam waktu lima hari.

 SIAPAKAH DIA ?


Menteri ini terkenal dengan kata-katanya, "Sesuai petunjuk Bapak (Presiden)". Seorang politikus dan jurnalis Indonesia yang aktif pada masa Orde Baru hingga pernah menjabat sebagai Ketua PWI, Ketua Golkar lalu Ketua MPR-DPR dan Menteri Penerangan RI.



Orang dengan kelahiran Nganjuk, Jawa Timur pada 7 Februari 1939 ini ramah, murah senyum, dan pantang menyerah. Orang ini pernah membuat kejutan besar pada konferensi pers dengan meminta presiden untuk mundur dalam waktu lima hari.

LELUHUR KI PENDJAWI Ki Pendjawi adalah salah satu tokoh dari Seselo Purwodadi. Ki Pendjawi adalah cucu Ki Ageng Ngerang I. Semasa hidupnya R Pendjawi ikut dengan kakak dari ayahnya yang menikah dengan Ki Ageng Selo yang juga Eyang Gedenya. R Penjawi bersama Ki Ageng Pemanahan di kirim ke Padepokan Sunan Kalijaga untuk menuntut ilmu agama dan kanuragan.R Penjawi sudah dianggap sebagai cucunya sendiri oleh Ki Ageng Selo. R Penjawi termasuk tiga serangkai Priyayi dari Selo bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani Namanya mulai dikenal ketika ikut membantu Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan R Danang Sutawijaya dalam menundukkan Harya Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Sultan Hadiwijaya sendiri atas perintah dari saudara iparnya , Ratu Kalinyamat yang menuntut balas atas meninggalnya sang suami Pangeran Hadiri ( Pangeran Hadlirin ) Atas kemenangannya Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah " Hutan Mentaok " dan Ki Pendjawi memperoleh " Tanah Perdikan Pati " dan Ki Pendjawi sendiri bergelar Ki Ageng Pati. Berikut Silsilah Ki Pendjawi : Raja Majapahit VII yaitu Prabhu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandansari menurunkan Raden Bondhan Kadjawan. Raden Bondhan Kadjawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub menurunkan : 1. Raden Dukuh ( Ki Ageng Wonosobo ) 2. Raden Depok ( Ki Ageng Getas Pandowo ) 3. Roro Kasihan ( Nyai Ageng Ngerang I ) Roro Kasihan menikah dengan Ki Ageng Ngerang I menurunkan: 1. Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II 2. Nyai Ageng Kemiri 3. Nyai Ageng Selo Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II menurunkan : 1. Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III 2. Ki Ageng Ngerang IV 3. Ki Buyut ing Ngerang 4. Pangeran Lependjenar Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah, putri Sunan Kalijaga menurunkan : 1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati 2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan: 1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 2. Adipati Pragola Pati I Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Agung Hanyokrowati ( Raja Mataram II ) Adipati Pragola Pati menurunkan : 1. Adipati Pragola Pati II 2. Raden Londoh ( Pangeran Ronggopati ) Adipati Pragola Pati II menikah dengan garwa sepuh menurunkan putra bernama Bagus Kriyo. Kemudian Adipati Pragola Pati II dinikahkan oleh Sultan Agung dengan adik kandungnya yaitu Ratu Mas Sekar, tetapi tidak berputra. Raden Londoh setelah kakaknya wafat menggantikan kedudukan memerintah Pati, berikut oleh Sultan Agung dinikahkan dengan adiknya yaitu Ratu Mas Sekar janda dari Adipati Pragola Pati II. Raden Londoh mendapat anugrah nama gelar baru " Pangeran Ronggo Pati. Bagus Kriyo putra Ki Ageng Pragola Pati II dari garwa sepuh, ketika ayahnya wafat, Bagus Kriyo kecil diselamatkan oleh Ki Mangunjaya Pati dibawa ke Blambangan. Ketika Bagus Kriyo beranjak dewasa, di ajak oleh Ki Mangunjaya Pati ke Kerajaan Mataram tepatnya di Tanah Djejeran. Dan disana menjadi murid Ki Djejer. Tidak lama kemudian Bagus Kriyo dinikahkan oleh Ki Djejer dengan keponakan beliau putri dari Adipati Singoranu ( Patih Sultan Agung ) . Dan mendapat anugrah nama baru Ki Wonokriyo atau Kyai Krian. Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.

 LELUHUR KI PENDJAWI

Ki Pendjawi adalah salah satu tokoh dari Seselo Purwodadi.

Ki Pendjawi adalah cucu Ki Ageng Ngerang I. Semasa hidupnya R Pendjawi ikut dengan kakak dari ayahnya yang menikah dengan  Ki Ageng Selo yang juga Eyang Gedenya. R Penjawi bersama Ki Ageng Pemanahan di kirim ke Padepokan Sunan Kalijaga untuk menuntut ilmu agama dan kanuragan.R Penjawi sudah dianggap sebagai cucunya sendiri oleh Ki Ageng Selo.

R Penjawi termasuk tiga serangkai Priyayi dari Selo bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani



Namanya mulai dikenal ketika ikut membantu Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan R Danang Sutawijaya dalam menundukkan Harya Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Sultan Hadiwijaya sendiri atas perintah dari saudara iparnya , Ratu Kalinyamat yang menuntut balas atas meninggalnya sang suami Pangeran Hadiri ( Pangeran Hadlirin )

Atas kemenangannya Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah " Hutan Mentaok " dan Ki Pendjawi memperoleh " Tanah Perdikan Pati " dan Ki Pendjawi sendiri bergelar Ki Ageng Pati.


Berikut Silsilah Ki Pendjawi :


Raja Majapahit VII yaitu Prabhu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandansari menurunkan  Raden Bondhan Kadjawan. Raden Bondhan Kadjawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub menurunkan :

1. Raden Dukuh ( Ki Ageng Wonosobo )

2. Raden Depok ( Ki Ageng Getas Pandowo )

3. Roro Kasihan ( Nyai Ageng Ngerang I )


Roro Kasihan menikah dengan Ki Ageng Ngerang I menurunkan:

1. Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II

2. Nyai Ageng Kemiri

3. Nyai Ageng Selo


Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II menurunkan :

1. Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III 

2. Ki Ageng Ngerang IV

3. Ki Buyut ing Ngerang

4. Pangeran Lependjenar


Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah, putri Sunan Kalijaga menurunkan :

1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati

2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati


Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan:

1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 

2. Adipati Pragola Pati I


Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Agung Hanyokrowati ( Raja Mataram II )


Adipati Pragola Pati menurunkan :

1. Adipati Pragola Pati II

2. Raden Londoh ( Pangeran Ronggopati )


Adipati Pragola Pati II menikah dengan garwa sepuh menurunkan putra bernama Bagus Kriyo. Kemudian Adipati Pragola Pati II dinikahkan oleh Sultan Agung dengan adik kandungnya yaitu Ratu Mas Sekar, tetapi tidak berputra.


Raden Londoh setelah kakaknya wafat menggantikan kedudukan memerintah Pati, berikut oleh Sultan Agung dinikahkan dengan adiknya yaitu Ratu Mas Sekar  janda dari Adipati Pragola Pati II.  Raden Londoh mendapat anugrah nama gelar baru "  Pangeran Ronggo Pati.


Bagus Kriyo putra Ki Ageng Pragola Pati II dari garwa sepuh, ketika ayahnya wafat, Bagus Kriyo kecil diselamatkan oleh Ki Mangunjaya Pati dibawa ke Blambangan. Ketika Bagus Kriyo beranjak dewasa, di ajak oleh Ki Mangunjaya Pati ke Kerajaan Mataram tepatnya di Tanah Djejeran. Dan disana menjadi murid Ki Djejer. Tidak lama kemudian Bagus Kriyo dinikahkan oleh Ki Djejer dengan keponakan beliau putri dari Adipati Singoranu ( Patih Sultan Agung ) . Dan mendapat anugrah nama baru Ki Wonokriyo atau Kyai Krian.


Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.



Sumber : Sejarah Mataram

20 May 2026

Bagian belakang Kompleks Tentara, Magelang, sekitar tahun 1910 Achterkampement. Magelang, ca 1910

 Bagian belakang Kompleks Tentara, Magelang, sekitar tahun 1910


Achterkampement. Magelang, ca 1910




Sumber : Bintoro Hoepoedio

18 May 2026

ARCA KALA KIRTIMUKA Menguak Wajah Penolak Bala: Temuan Arca Kala Kirtimuka di Area Ekskavasi Makam Wonosunyo ​Ekskavasi di tengah area pemakaman umum Desa Wonosunyo, lereng Gunung Penanggungan, kembali menyingkap lapisan sejarah yang luar biasa. Setelah dikejutkan dengan kemunculan Arca Garudeya dan Kinara-Kinari, proses penggalian di tanah pusara ini berhasil mengangkat sebuah mahakarya arsitektur kuno yang sangat ikonik: Arca Kala Kirtimuka. ​Kehadiran arca ini tidak hanya menambah daftar panjang temuan benda purbakala di Wonosunyo, tetapi juga menjadi kepingan puzzle paling krusial untuk membaca jejak masa lalu di situs tersebut. ​Wajah Kemuliaan Sang Penjaga Gerbang Suci Dalam arsitektur candi langgam Jawa Timur peninggalan era Singhasari hingga Majapahit, Kirtimuka (yang secara harfiah berarti "Wajah Kemuliaan") atau sering disebut sebagai Kepala Kala/Banaspati, memiliki peran yang sangat vital. Wujudnya dipahat dengan rupa raksasa yang menyeramkan: mata melotot tajam, gigi bertaring, dan umumnya digambarkan tanpa rahang bawah. ​Meski wajahnya menakutkan, Kala Kirtimuka bukanlah simbol kejahatan. Sebaliknya, arca ini difungsikan sebagai penolak bala. Mahakarya ini biasanya dipasang tepat di ambang atas pintu masuk candi atau relung arca. Tugas spiritualnya adalah menyaring energi negatif, menelan segala bentuk keburukan, dan memastikan bahwa siapa pun yang melangkah masuk ke dalam bangunan suci telah bersih dari niat jahat duniawi. ​Bukti Kuat Berdirinya Sebuah Candi Utama Ditemukannya arca Kala Kirtimuka di lokasi ekskavasi makam ini memberikan kesimpulan arkeologis yang sangat kuat. Kala Kirtimuka tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari pintu gerbang agung atau bangunan induk sebuah candi. ​Temuan ini memastikan bahwa tumpukan batu dan arca yang terpendam di Wonosunyo bukanlah sekadar kumpulan artefak yang dipindahkan, melainkan sisa-sisa reruntuhan dari sebuah bangunan candi utama yang dulunya berdiri megah tepat di lokasi makam tersebut berada saat ini. Sang Kala dulunya menatap gagah dari atas pintu gerbang, sebelum akhirnya runtuh dan tertelan oleh tanah berabad-abad lamanya. ​Lelap di Bawah Nisan Sama seperti penemuan sebelumnya, ekskavasi ini kembali menegaskan betapa uniknya cara alam dan tradisi menjaga warisan Nusantara. Wajah Kala yang dulunya menyeringai menakutkan untuk mengusir roh jahat, pada akhirnya beristirahat dengan damai di bawah nisan-nisan pemakaman desa. Aura wingit makam telah menggantikan fungsi sang Kala untuk menjaga artefak-artefak suci ini dari keserakahan zaman, hingga akhirnya berhasil diangkat kembali untuk menceritakan kebesaran peradaban lereng Pawitra. ​#KalaKirtimuka #ArcaKala #EkskavasiWonosunyo #SitusPasuruan #SejarahNusantara #mirahnusantara

 ARCA KALA KIRTIMUKA

Menguak Wajah Penolak Bala: Temuan Arca Kala Kirtimuka di Area Ekskavasi Makam Wonosunyo



​Ekskavasi di tengah area pemakaman umum Desa Wonosunyo, lereng Gunung Penanggungan, kembali menyingkap lapisan sejarah yang luar biasa. Setelah dikejutkan dengan kemunculan Arca Garudeya dan Kinara-Kinari, proses penggalian di tanah pusara ini berhasil mengangkat sebuah mahakarya arsitektur kuno yang sangat ikonik: Arca Kala Kirtimuka.

​Kehadiran arca ini tidak hanya menambah daftar panjang temuan benda purbakala di Wonosunyo, tetapi juga menjadi kepingan puzzle paling krusial untuk membaca jejak masa lalu di situs tersebut.

​Wajah Kemuliaan Sang Penjaga Gerbang Suci

Dalam arsitektur candi langgam Jawa Timur peninggalan era Singhasari hingga Majapahit, Kirtimuka (yang secara harfiah berarti "Wajah Kemuliaan") atau sering disebut sebagai Kepala Kala/Banaspati, memiliki peran yang sangat vital. Wujudnya dipahat dengan rupa raksasa yang menyeramkan: mata melotot tajam, gigi bertaring, dan umumnya digambarkan tanpa rahang bawah.

​Meski wajahnya menakutkan, Kala Kirtimuka bukanlah simbol kejahatan. Sebaliknya, arca ini difungsikan sebagai penolak bala. Mahakarya ini biasanya dipasang tepat di ambang atas pintu masuk candi atau relung arca. Tugas spiritualnya adalah menyaring energi negatif, menelan segala bentuk keburukan, dan memastikan bahwa siapa pun yang melangkah masuk ke dalam bangunan suci telah bersih dari niat jahat duniawi.

​Bukti Kuat Berdirinya Sebuah Candi Utama

Ditemukannya arca Kala Kirtimuka di lokasi ekskavasi makam ini memberikan kesimpulan arkeologis yang sangat kuat. Kala Kirtimuka tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari pintu gerbang agung atau bangunan induk sebuah candi.

​Temuan ini memastikan bahwa tumpukan batu dan arca yang terpendam di Wonosunyo bukanlah sekadar kumpulan artefak yang dipindahkan, melainkan sisa-sisa reruntuhan dari sebuah bangunan candi utama yang dulunya berdiri megah tepat di lokasi makam tersebut berada saat ini. Sang Kala dulunya menatap gagah dari atas pintu gerbang, sebelum akhirnya runtuh dan tertelan oleh tanah berabad-abad lamanya.

​Lelap di Bawah Nisan

Sama seperti penemuan sebelumnya, ekskavasi ini kembali menegaskan betapa uniknya cara alam dan tradisi menjaga warisan Nusantara. Wajah Kala yang dulunya menyeringai menakutkan untuk mengusir roh jahat, pada akhirnya beristirahat dengan damai di bawah nisan-nisan pemakaman desa. Aura wingit makam telah menggantikan fungsi sang Kala untuk menjaga artefak-artefak suci ini dari keserakahan zaman, hingga akhirnya berhasil diangkat kembali untuk menceritakan kebesaran peradaban lereng Pawitra.


​#KalaKirtimuka #ArcaKala #EkskavasiWonosunyo #SitusPasuruan #SejarahNusantara #mirahnusantara

Menolak Opini "Thomas Matulessy adalah Pattimura" Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia dicekoki oleh narasi sejarah tunggal yang menyatakan bahwa Kapitan Pattimura adalah seorang pria bernama Thomas Matulessy. Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973, negara melegitimasi identitas ini ke dalam buku-buku pelajaran sekolah hingga mata uang nasional. Namun, jika kita membedah sejarah dengan pendekatan kritis dan objektif, klaim yang menyamakan Thomas Matulessy secara mutlak sebagai sosok tunggal Pattimura adalah sebuah bentuk penggiringan opini, rekayasa narasi, dan kecacatan historiografi yang luar biasa. 1. Ketiadaan Nama "Pattimura" dalam Arsip Primer Sezaman Penolakan pertama didasarkan pada fakta dokumen hukum dan militer kolonial Hindia Belanda tahun 1817. Dalam tumpukan arsip komando lapangan, berkas interogasi, hingga surat vonis hukuman gantung (Verbaal) tertanggal 16 Desember 1817 di Ambon, nama "Pattimura" tidak pernah eksis. Pihak Belanda hanya mencatat, mengadili, dan mengeksekusi seorang mantan Sersan militer Inggris bernama Thomas Matulessia (Thomas Matulessy). Penggabungan nama "Thomas Matulessy" dan "Pattimura" menjadi satu nama individu baru adalah produk tulisan modern, bukan fakta lapangan tahun 1817. 2. Buku M. Sapija (1954) sumber Tunggal yang Cacat MetodologiAsal-usul penyebutan Thomas Matulessy sebagai Pattimura baru muncul pertama kali ke publik pada tahun 1954 lewat buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura karya M. Sapija. Penulisan ini terbukti tidak berbasis pada penelusuran dokumen sejarah abad ke-19 yang valid atau verifikasi silsilah adat yang ketat. Buku tersebut ditulis bukan sebagai karya sains sejarah murni, melainkan sebagai alat propaganda politik pasca-pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) guna menciptakan mitos pahlawan pemersatu yang pro-Jakarta. Sangat fatal ketika negara menjadikan karangan sepihak tahun 1954 ini sebagai satu-satunya rujukan utama Keppres tahun 1973 tanpa sensor akademik. 3. "Pattimura" adalah Gelar Kolektif, Bukan Nama Orang berdasarkan kajian bahasa dan struktur adat Maluku, kata "Pattimura" berasal dari konsep Patti (Pemimpin/Kepala) dan Muda/Murah (Jiwa muda/Ksatria). Ini adalah gelar jabatan perang pada sebuah kelompok yang kolektif yang bisa disandang oleh pemimpin perlawanan di wilayah berbeda. Memaksakan gelar kolektif ini menjadi nama belakang eksklusif bagi Thomas Matulessy merupakan bentuk pengerdilan sejarah. Manipulasi ini secara sengaja mengubur kontribusi tokoh-tokoh penting lainnya, termasuk mengaburkan klaim sejarah dari garis perlawanan Muslim yang meyakini sosok pemimpin perang tersebut adalah Ahmad Lussy. 4. Visualisasi Fiktif sebagai Alat Penggiringan Opini. Kebohongan narasi ini disempurnakan dengan pembuatan lukisan wajah Pattimura yang memegang parang dan salawaku. Wajah yang kita lihat di buku sekolah dan uang kertas pecahan Rp1.000 lama sama sekali tidak memiliki foto asli atau sketsa sezaman. Wajah tersebut murni rekaan imajinasi pelukis Christoffel Latuputty atas pesanan M. Sapija. Ini adalah taktik visual branding untuk memaksa memori kolektif rakyat Indonesia memercayai karakter rekaan tersebut sebagai kebenaran mutlak. Menyamakan Thomas Matulessy sebagai Pattimura adalah konstruksi politik modern yang mengorbankan kebenaran faktual demi stabilitas nasional di masa lalu. Sudah saatnya kita memisahkan antara dokumen hukum kolonial (yang hanya mencatat Thomas Matulessy) dengan memori lisan kolektif masyarakat adat Maluku (yang memiliki versi kepemimpinan Pattimura yang berbeda). Dan menolak narasi tunggal M. Sapija tahun 1954 serta perlu adanya pelurusan sejarah nasional yang jujur, ilmiah, dan menghormati hak silsilah adat yang sebenarnya di tanah Maluku.

 Menolak Opini "Thomas Matulessy adalah Pattimura"

Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia dicekoki oleh narasi sejarah tunggal yang menyatakan bahwa Kapitan Pattimura adalah seorang pria bernama Thomas Matulessy. Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973, negara melegitimasi identitas ini ke dalam buku-buku pelajaran sekolah hingga mata uang nasional. Namun, jika kita membedah sejarah dengan pendekatan kritis dan objektif, klaim yang menyamakan Thomas Matulessy secara mutlak sebagai sosok tunggal Pattimura adalah sebuah bentuk penggiringan opini, rekayasa narasi, dan kecacatan historiografi yang luar biasa.



1. Ketiadaan Nama "Pattimura" dalam Arsip Primer Sezaman 

Penolakan pertama didasarkan pada fakta dokumen hukum dan militer kolonial Hindia Belanda tahun 1817. Dalam tumpukan arsip komando lapangan, berkas interogasi, hingga surat vonis hukuman gantung (Verbaal) tertanggal 16 Desember 1817 di Ambon, nama "Pattimura" tidak pernah eksis. Pihak Belanda hanya mencatat, mengadili, dan mengeksekusi seorang mantan Sersan militer Inggris bernama Thomas Matulessia (Thomas Matulessy). Penggabungan nama "Thomas Matulessy" dan "Pattimura" menjadi satu nama individu baru adalah produk tulisan modern, bukan fakta lapangan tahun 1817.


2. Buku M. Sapija (1954) sumber Tunggal yang Cacat MetodologiAsal-usul penyebutan Thomas Matulessy sebagai Pattimura baru muncul pertama kali ke publik pada tahun 1954 lewat buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura karya M. Sapija. Penulisan ini terbukti tidak berbasis pada penelusuran dokumen sejarah abad ke-19 yang valid atau verifikasi silsilah adat yang ketat. Buku tersebut ditulis bukan sebagai karya sains sejarah murni, melainkan sebagai alat propaganda politik pasca-pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) guna menciptakan mitos pahlawan pemersatu yang pro-Jakarta. Sangat fatal ketika negara menjadikan karangan sepihak tahun 1954 ini sebagai satu-satunya rujukan utama Keppres tahun 1973 tanpa sensor akademik.


3. "Pattimura" adalah Gelar Kolektif, Bukan Nama Orang berdasarkan kajian bahasa dan struktur adat Maluku, kata "Pattimura" berasal dari konsep Patti (Pemimpin/Kepala) dan Muda/Murah (Jiwa muda/Ksatria). Ini adalah gelar jabatan perang pada sebuah kelompok yang kolektif yang bisa disandang oleh pemimpin perlawanan di wilayah berbeda. Memaksakan gelar kolektif ini menjadi nama belakang eksklusif bagi Thomas Matulessy merupakan bentuk pengerdilan sejarah. Manipulasi ini secara sengaja mengubur kontribusi tokoh-tokoh penting lainnya, termasuk mengaburkan klaim sejarah dari garis perlawanan Muslim yang meyakini sosok pemimpin perang tersebut adalah Ahmad Lussy. 


4. Visualisasi Fiktif sebagai Alat Penggiringan Opini. Kebohongan narasi ini disempurnakan dengan pembuatan lukisan wajah Pattimura yang memegang parang dan salawaku. Wajah yang kita lihat di buku sekolah dan uang kertas pecahan Rp1.000 lama sama sekali tidak memiliki foto asli atau sketsa sezaman. Wajah tersebut murni rekaan imajinasi pelukis Christoffel Latuputty atas pesanan M. Sapija. Ini adalah taktik visual branding untuk memaksa memori kolektif rakyat Indonesia memercayai karakter rekaan tersebut sebagai kebenaran mutlak.


Menyamakan Thomas Matulessy sebagai Pattimura adalah konstruksi politik modern yang mengorbankan kebenaran faktual demi stabilitas nasional di masa lalu. Sudah saatnya kita memisahkan antara dokumen hukum kolonial (yang hanya mencatat Thomas Matulessy) dengan memori lisan kolektif masyarakat adat Maluku (yang memiliki versi kepemimpinan Pattimura yang berbeda). Dan menolak narasi tunggal M. Sapija tahun 1954 serta perlu adanya pelurusan sejarah nasional yang jujur, ilmiah, dan menghormati hak silsilah adat yang sebenarnya di tanah Maluku.

Sumber : Arafah Tihurua

Ketika Katedral Byzantium di Ethiopia hendak menyaingi Kakbah, (Abrahah sebelum dan sesudah Era Kerasulan Muhammad saw). Abrahah Kuno, Part 1. Sebelum Nabi Muhammad mendakwahkan Islam dan mengembalikan fungsi Kakbah sebagaimana Nabi Ibrahim, Kakbah sudah berusaha digugat oleh banyak negara adikuasa. Salah satu negara superpower pada waktu itu adalah Ethiopia. Jangan bayangkan Ethiopia kini, Tahun 500 mereka negara superpower. Nusantara baru ada Tarumanegara, Kutai dan Sriwijaya. Majapahit belum ada. Kerajaan besar di Jawa Tengah yang kita kenal, Mataram Kuno, baru muncul sekitar abad ke-8 Masehi. Tiga abad setelah Abrahah menyerang Ka'bah. Borobudur dibangun abad ke-8-9. Prambanan abad ke-9. Jadi itu semua datang belakangan. Masa kejayaan Ethiopia, Borobudur dan Prambanan belum dibangun, mereka dibangun 5 abad kemudian setelah Abrahah mau meratakan Kakbah. Tahun sama dengan masa lahirnya Nabi Muhammad saw, disebut tahun gajah. Untuk memahami kenapa Abrahah "kuno" menyerang Ka'bah, kita harus mundur dulu dan lihat peta kekuasaan dunia waktu itu. Abad ke-6 Masehi adalah era perang dingin antara dua adidaya: Kekaisaran Byzantium di barat dan Kekaisaran Sassanid Persia di timur. Keduanya saling berebut pengaruh di kawasan Timur Tengah dan Jazirah Arab. Dua negara adidaya itu kayak USA dan Rusia kini. Semenanjung Arabia waktu itu bukan tanah kosong, dia adalah koridor perdagangan vital yang menghubungkan Mediterania dengan India dan Afrika Timur. Siapa yang menguasai jalur dagang Arabia, dia yang menguasai urat nadi ekonomi dunia kuno. Kerajaan Aksumite di Ethiopia adalah sekutu kuat Byzantium. Mereka sama-sama Kristen, sama-sama punya kepentingan mengimbangi Persia yang mendukung kerajaan-kerajaan Arab di utara. Ketika konflik internal di Yaman memberi celah, Aksumite masuk dan menguasai Yaman. Abrahah kemudian muncul sebagai gubernur, lalu secara de facto menjadi penguasa mandiri Yaman meski tetap mengakui otoritas Aksumite secara nominal. Yaman di bawah Abrahah adalah kekuatan ekonomi dan militer yang serius. Tapi ada satu masalah besar. Makkah....( Bersambung ) #SejarahIslam #Abrahah #TahunGajah #SurahAlFil #Kakbah #Makkah #IslamIndonesia #DakwahDigital #KontenIslam #SejarahNabi ✍️ Bambang Prasodjo

 Ketika Katedral Byzantium di Ethiopia hendak menyaingi Kakbah, 

(Abrahah sebelum dan sesudah Era Kerasulan Muhammad saw). 

Abrahah Kuno, Part 1.

Sebelum Nabi Muhammad mendakwahkan Islam dan mengembalikan fungsi Kakbah sebagaimana Nabi Ibrahim, Kakbah sudah berusaha digugat oleh banyak negara adikuasa.



Salah satu negara superpower pada waktu itu adalah Ethiopia. Jangan bayangkan Ethiopia kini, Tahun 500 mereka negara superpower.


Nusantara baru ada Tarumanegara, Kutai dan Sriwijaya. 

Majapahit belum ada. Kerajaan besar di Jawa Tengah yang kita kenal, Mataram Kuno, baru muncul sekitar abad ke-8 Masehi. Tiga abad setelah Abrahah menyerang Ka'bah. 

Borobudur dibangun abad ke-8-9. Prambanan abad ke-9. Jadi itu semua datang belakangan.


Masa kejayaan Ethiopia, Borobudur dan Prambanan belum dibangun, mereka dibangun 5 abad kemudian setelah Abrahah mau meratakan Kakbah. Tahun sama dengan masa lahirnya Nabi Muhammad saw, disebut tahun gajah.


Untuk memahami kenapa Abrahah "kuno" menyerang Ka'bah, kita harus mundur dulu dan lihat peta kekuasaan dunia waktu itu.


Abad ke-6 Masehi adalah era perang dingin antara dua adidaya: Kekaisaran Byzantium di barat dan Kekaisaran Sassanid Persia di timur. Keduanya saling berebut pengaruh di kawasan Timur Tengah dan Jazirah Arab. Dua negara adidaya itu kayak USA dan Rusia kini.


Semenanjung Arabia waktu itu bukan tanah kosong, dia adalah koridor perdagangan vital yang menghubungkan Mediterania dengan India dan Afrika Timur. Siapa yang menguasai jalur dagang Arabia, dia yang menguasai urat nadi ekonomi dunia kuno.


Kerajaan Aksumite di Ethiopia adalah sekutu kuat Byzantium. Mereka sama-sama Kristen, sama-sama punya kepentingan mengimbangi Persia yang mendukung kerajaan-kerajaan Arab di utara. Ketika konflik internal di Yaman memberi celah, Aksumite masuk dan menguasai Yaman. 


Abrahah kemudian muncul sebagai gubernur, lalu secara de facto menjadi penguasa mandiri Yaman meski tetap mengakui otoritas Aksumite secara nominal.

Yaman di bawah Abrahah adalah kekuatan ekonomi dan militer yang serius. Tapi ada satu masalah besar.

Makkah....( Bersambung )


#SejarahIslam #Abrahah #TahunGajah #SurahAlFil #Kakbah #Makkah #IslamIndonesia #DakwahDigital #KontenIslam #SejarahNabi


✍️ Bambang Prasodjo

Title: Poera Prasadha te Kapal bij Denpasar Shelfmark: KITLV 164719 Published/created: [Between 1941 and 1953]

 Title: Poera Prasadha te Kapal bij Denpasar



Shelfmark: KITLV 164719

Published/created: [Between 1941 and 1953]

Een volksteller te Rembang,op het huis het volkstellingnummer 37 Vervaardigingsjaar : 1930 Potret petugas sensus didepan sebuah rumah dengan nomor sensus 37,didaerah Rembang,Jawa Tengah...foto tahun 1930 (KITLV33756)

 Een volksteller te Rembang,op het huis het volkstellingnummer 37

Vervaardigingsjaar : 1930

   Potret petugas sensus didepan sebuah rumah dengan nomor sensus 37,didaerah Rembang,Jawa Tengah...foto tahun 1930



(KITLV33756)

17 May 2026

Ben Anderson: Dari kesaksian Sudisman saya dapat kesan bahwa dia merasa diri dalam keadaan di mana partai yang ikut dia pimpin itu dihancurkan secara mengerikan. Ratusan ribu yang mati. Dan dia sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang Jawa merasa bertanggung-jawab. Bagaimanapun, kalau pimpinannya baik dan beres seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Karena itu dia menamakan pembelaannya itu “Uraian Tanggung Jawab.” Dia tidak mau debat tentang soal ini-itu. Dia cuma bilang, “Bagaimanapun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatanini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.” Sudisman tidak pernah bilang bahwa dia ikut merencanakan G-30-S. Hidup Dalam Djuang, Djuang Dalam Hidup* : ‘Pena’ Sudisman Anggota Politbiro PKI di Tahap Akhir Perjuangan dan Kehidupannya https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2020/12/31/hidup-dalam-djuang-djuang-dalam-hidup-pena-sudisman-anggota-politbiro-pki-di-tahap-akhir-perjuangan-dan-kehidupannya/

 Ben Anderson: Dari kesaksian Sudisman saya dapat kesan bahwa dia merasa diri dalam keadaan di mana partai yang ikut dia pimpin itu dihancurkan secara mengerikan. Ratusan ribu yang mati. Dan dia sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang Jawa merasa bertanggung-jawab. Bagaimanapun, kalau pimpinannya baik dan beres seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Karena itu dia menamakan pembelaannya itu “Uraian Tanggung Jawab.” Dia tidak mau debat tentang soal ini-itu. Dia cuma bilang, “Bagaimanapun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatanini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.” Sudisman tidak pernah bilang bahwa dia ikut merencanakan G-30-S. 



Hidup Dalam Djuang, Djuang Dalam Hidup* : ‘Pena’ Sudisman Anggota Politbiro PKI di Tahap Akhir Perjuangan dan Kehidupannya

https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2020/12/31/hidup-dalam-djuang-djuang-dalam-hidup-pena-sudisman-anggota-politbiro-pki-di-tahap-akhir-perjuangan-dan-kehidupannya/


Sumber : Yohanes Indrias Iswina

16 May 2026

TRAGEDI AMBOINA 1623: KETIKA VOC MEMBANTAI SESAMA EROPA DEMI MONOPOLI REMPAH! ​ Kekejaman mesin kapitalis VOC ternyata tidak mengenal batas ras atau warna kulit. Jika sejarah di sekolahlebih sering menyoroti penindasan terhadap penduduk pribumi, ada satu babak berdarah yang sengaja dikubur dalam sejarah persahabatan Eropa modern. Pada tahun 1623 di Ambon, VOC melakukan pembantaian yudisial yang sangat brutal terhadap sesama bangsa Eropa. Dalam tragedi yang dikenal sebagai Amboyna Massacre, belasan pedagang Inggris (EIC), seorang Portugis, dan para tentara bayaran Jepang disiksa, dimutilasi, dan dipenggal kepalanya. Kepala-kepala mereka kemudian dipajang sebagai tontonan mengerikan di depan Benteng Victoria. ​ Paranoia di Balik Tembok Benteng Tragedi berdarah ini tidak dipicu oleh ancaman militer terbuka, melainkan oleh paranoia korporat tingkat tinggi. Di dalam Benteng Victoria yang terisolasi, Gubernur Herman van Speult dan para pejabat VOC merasa sangat terancam oleh eksistensi saingan dagang mereka, English East India Company (EIC). Melalui manipulasi informasi dan ketakutan yang tidak rasional, otoritas Belanda merekayasa sebuah tuduhan pengkhianatan. Mereka menuduh komunitas kecil pedagang Inggris dan tentara bayaran Jepang tersebut sedang merencanakan kudeta bersenjata untuk merebut benteng dan mengambil alih kendali perdagangan cengkeh. ​ Validasi Literatur dan Ekstraksi Pengakuan Paksa Anatomi ketakutan dan konspirasi ini dibedah secara brilian oleh sejarawan Adam Clulow dalam bukunya Amboina, 1623: Fear and Conspiracy on the Edge of Empire. Clulow menelanjangi fakta bahwa pengadilan VOC saat itu sama sekali tidak memiliki bukti fisik atas tuduhan kudeta tersebut. Seluruh pengakuan yang berujung pada vonis mati murni diekstraksi melalui metode penyiksaan brutal, termasuk simulasi tenggelam (waterboarding) dan pembakaran. Analisis ini menggarisbawahi bahwa eksekusi tersebut pada dasarnya adalah murni pembunuhan yudisial—sebuah pembantaian berkedok penegakan hukum untuk menyingkirkan pesaing bisnis secara permanen. ​ Teror Psikologis dan Hukum Rimba Kapitalisme Pemenggalan dan pemajangan kepala para korban di depan Benteng Victoria bukanlah sekadar hukuman, melainkan sebuah teater teror psikologis. Dengan mengeksekusi sesama ras Eropa, VOC sedang mengirimkan pesan geopolitik yang sangat arogan kepada dunia: tidak ada satu pun kekuatan, bahkan dari kerajaan sekutu sekalipun, yang diizinkan mengganggu takhta monopoli rempah Nusantara. Nyawa manusia di Timur diubah menjadi sekadar komoditas murah yang bisa disembelih demi menjaga stabilitas harga pasar saham dan dividen di Amsterdam. ​ Pembantaian Amboyna secara telanjang meruntuhkan narasi bahwa kolonialisme Eropa di Asia digerakkan oleh misi peradaban yang mulia. Tragedi di depan Benteng Victoria ini membuktikan sebuah hukum rimba yang sangat purba dan berdarah: kapitalisme korporat tidak mengenal ras, agama, atau saudara sedaratan. Di hadapan keserakahan mutlak dan ancaman kerugian finansial, bahkan kawan satu benua pun akan berakhir di tiang pancung tanpa ampun.

 TRAGEDI AMBOINA 1623: KETIKA VOC MEMBANTAI SESAMA EROPA DEMI MONOPOLI REMPAH!


Kekejaman mesin kapitalis VOC ternyata tidak mengenal batas ras atau warna kulit. Jika sejarah di sekolahlebih sering menyoroti penindasan terhadap penduduk pribumi, ada satu babak berdarah yang sengaja dikubur dalam sejarah persahabatan Eropa modern. Pada tahun 1623 di Ambon, VOC melakukan pembantaian yudisial yang sangat brutal terhadap sesama bangsa Eropa. Dalam tragedi yang dikenal sebagai Amboyna Massacre, belasan pedagang Inggris (EIC), seorang Portugis, dan para tentara bayaran Jepang disiksa, dimutilasi, dan dipenggal kepalanya. Kepala-kepala mereka kemudian dipajang sebagai tontonan mengerikan di depan Benteng Victoria.

Paranoia di Balik Tembok Benteng


Tragedi berdarah ini tidak dipicu oleh ancaman militer terbuka, melainkan oleh paranoia korporat tingkat tinggi. Di dalam Benteng Victoria yang terisolasi, Gubernur Herman van Speult dan para pejabat VOC merasa sangat terancam oleh eksistensi saingan dagang mereka, English East India Company (EIC). Melalui manipulasi informasi dan ketakutan yang tidak rasional, otoritas Belanda merekayasa sebuah tuduhan pengkhianatan. Mereka menuduh komunitas kecil pedagang Inggris dan tentara bayaran Jepang tersebut sedang merencanakan kudeta bersenjata untuk merebut benteng dan mengambil alih kendali perdagangan cengkeh.

Validasi Literatur dan Ekstraksi Pengakuan Paksa


Anatomi ketakutan dan konspirasi ini dibedah secara brilian oleh sejarawan Adam Clulow dalam bukunya Amboina, 1623: Fear and Conspiracy on the Edge of Empire. Clulow menelanjangi fakta bahwa pengadilan VOC saat itu sama sekali tidak memiliki bukti fisik atas tuduhan kudeta tersebut. Seluruh pengakuan yang berujung pada vonis mati murni diekstraksi melalui metode penyiksaan brutal, termasuk simulasi tenggelam (waterboarding) dan pembakaran. Analisis ini menggarisbawahi bahwa eksekusi tersebut pada dasarnya adalah murni pembunuhan yudisial—sebuah pembantaian berkedok penegakan hukum untuk menyingkirkan pesaing bisnis secara permanen.

Teror Psikologis dan Hukum Rimba Kapitalisme


Pemenggalan dan pemajangan kepala para korban di depan Benteng Victoria bukanlah sekadar hukuman, melainkan sebuah teater teror psikologis. Dengan mengeksekusi sesama ras Eropa, VOC sedang mengirimkan pesan geopolitik yang sangat arogan kepada dunia: tidak ada satu pun kekuatan, bahkan dari kerajaan sekutu sekalipun, yang diizinkan mengganggu takhta monopoli rempah Nusantara. Nyawa manusia di Timur diubah menjadi sekadar komoditas murah yang bisa disembelih demi menjaga stabilitas harga pasar saham dan dividen di Amsterdam.

Pembantaian Amboyna secara telanjang meruntuhkan narasi bahwa kolonialisme Eropa di Asia digerakkan oleh misi peradaban yang mulia. Tragedi di depan Benteng Victoria ini membuktikan sebuah hukum rimba yang sangat purba dan berdarah: kapitalisme korporat tidak mengenal ras, agama, atau saudara sedaratan. Di hadapan keserakahan mutlak dan ancaman kerugian finansial, bahkan kawan satu benua pun akan berakhir di tiang pancung tanpa ampun.

Pria yang Merancang S3rangan ke Pearl Harbor… Tapi Justru Takut Perang dengan Amerika Indratno Widiarto Ada ironi besar dalam sejarah perang dunia. Salah satu arsitek serangan paling mengejutkan sepanjang abad ke-20 ternyata adalah orang yang paling paham betapa mengerikannya lawan yang sedang mereka bangunkan. Namanya Isoroku Yamamoto. Banyak orang mengenalnya sebagai otak di balik serangan "Attack on Pearl Harbor. " Tanggal 7 Desember 1941, dunia berubah. Pesawat-pesawat Jepang datang seperti badai ke pangkalan Amerika di Hawaii. Kapal perang hancur, ribuan tentara tewas, dan Amerika yang sebelumnya cenderung enggan masuk perang akhirnya murka. Namun yang jarang dibahas adalah ini: Yamamoto sebenarnya bukan orang yang ingin Jepang berperang melawan Amerika. Dia justru termasuk sedikit petinggi Jepang yang benar-benar memahami kapasitas industri dan ekonomi Amerika Serikat. Dan itu membuatnya takut. Orang Jepang yang Sangat Mengenal Amerika Yamamoto bukan laksamana biasa. Dia pernah tinggal di Amerika, belajar di Harvard University, dan berkeliling melihat sendiri bagaimana industri Amerika bekerja. Dia melihat pabrik mobil. Dia melihat kapasitas baja. Dia melihat minyak, logistik, mesin, dan kemampuan produksi massal Amerika. Dia sadar satu hal: Kalau perang berlangsung lama, Jepang kemungkinan besar kalah. Karena Amerika bukan cuma negara kaya. Amerika adalah mesin produksi raksasa. Konon Yamamoto pernah berkata: “Saya bisa mengamuk selama enam bulan sampai satu tahun. Setelah itu, saya tidak punya keyakinan.” Dan sejarah membuktikan ucapannya nyaris tepat. Pearl Harbor: Pukulan Cepat Sebelum Raksasa Bangun Masalahnya, pada saat itu Jepang sudah terjepit. Embargo minyak dari Amerika membuat mesin perang Jepang mulai kehabisan napas. Para petinggi militer Jepang merasa perang tak bisa dihindari. Yamamoto lalu memilih strategi yang sangat berani: Kalau perang memang harus terjadi, maka Amerika harus dipukul sekeras mungkin di awal. Tujuannya bukan sekadar menghancurkan kapal perang. Tujuan sebenarnya adalah mengguncang mental Amerika agar mau bernegosiasi sebelum perang panjang terjadi. Maka lahirlah rencana Pearl Harbor. Dan secara taktis? Itu luar biasa sukses. Serangan itu menghancurkan banyak kapal perang Amerika hanya dalam hitungan jam. Dunia tercengang. Jepang terlihat seperti kekuatan yang tak terkalahkan. Tapi ada satu masalah besar. Amerika tidak menyerah. Amerika justru marah besar. Kesalahan Besar yang Mengubah Dunia Ada kutipan terkenal yang sering dikaitkan dengan Yamamoto: “Saya takut yang telah kami lakukan hanyalah membangunkan raksasa yang sedang tidur.” Walaupun sejarawan masih memperdebatkan apakah kalimat itu benar-benar diucapkan persis seperti itu, isi pesannya sangat sesuai dengan pemikiran Yamamoto. Karena setelah Pearl Harbor, Amerika berubah total. Pabrik mobil berubah jadi pabrik tank. Industri sipil berubah jadi mesin perang. Kapal induk, pesawat, amunisi, diproduksi dalam jumlah yang sulit dipercaya. Jepang menang cepat di awal. Tetapi Amerika menang dalam maraton panjang. Dan Yamamoto tahu itu akan terjadi. Ironi Seorang Arsitek Perang Yang membuat kisah Yamamoto menarik bukan sekadar soal perang. Tetapi soal paradoks manusia. Kadang orang yang paling memahami bahaya justru terpaksa menjalankan sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan. Yamamoto adalah tentara. Ketika negaranya memilih perang, tugasnya bukan lagi berdebat. Tugasnya menang. Maka ia merancang salah satu operasi militer paling berani dalam sejarah modern. Namun jauh di dalam pikirannya, dia tahu: Jepang sedang bermain judi melawan negara yang kapasitas industrinya nyaris mustahil disaingi. Dan taruhan itu akhirnya kalah. Pada tahun 1943, pesawat Yamamoto ditembak jatuh oleh Amerika setelah intelijen mereka berhasil memecahkan kode komunikasi Jepang. Ironisnya, pria yang merancang serangan mendadak itu akhirnya diburu dengan presisi luar biasa oleh musuh yang dulu ingin ia lumpuhkan sejak awal. Sejarah kadang memang kejam. Ia suka menyimpan ironi di tempat yang paling tak terduga. 𝗜𝗪𝗗 #sejarah #jepang #amerikaserikat #perangdunia #indratnowidiarto

 Pria yang Merancang S3rangan ke Pearl Harbor… Tapi Justru Takut Perang dengan Amerika


Oleh : Indratno Widiarto 


Ada ironi besar dalam sejarah perang dunia.

Salah satu arsitek serangan paling mengejutkan sepanjang abad ke-20 ternyata adalah orang yang paling paham betapa mengerikannya lawan yang sedang mereka bangunkan.



Namanya Isoroku Yamamoto.


Banyak orang mengenalnya sebagai otak di balik serangan "Attack on Pearl Harbor. "

Tanggal 7 Desember 1941, dunia berubah. Pesawat-pesawat Jepang datang seperti badai ke pangkalan Amerika di Hawaii. Kapal perang hancur, ribuan tentara tewas, dan Amerika yang sebelumnya cenderung enggan masuk perang akhirnya murka.


Namun yang jarang dibahas adalah ini:


Yamamoto sebenarnya bukan orang yang ingin Jepang berperang melawan Amerika.


Dia justru termasuk sedikit petinggi Jepang yang benar-benar memahami kapasitas industri dan ekonomi Amerika Serikat.


Dan itu membuatnya takut.


Orang Jepang yang Sangat Mengenal Amerika 


Yamamoto bukan laksamana biasa.

Dia pernah tinggal di Amerika, belajar di Harvard University, dan berkeliling melihat sendiri bagaimana industri Amerika bekerja.


Dia melihat pabrik mobil.

Dia melihat kapasitas baja.

Dia melihat minyak, logistik, mesin, dan kemampuan produksi massal Amerika.


Dia sadar satu hal:


Kalau perang berlangsung lama, Jepang kemungkinan besar kalah.


Karena Amerika bukan cuma negara kaya.

Amerika adalah mesin produksi raksasa.


Konon Yamamoto pernah berkata:


 “Saya bisa mengamuk selama enam bulan sampai satu tahun. Setelah itu, saya tidak punya keyakinan.”


Dan sejarah membuktikan ucapannya nyaris tepat.


Pearl Harbor: Pukulan Cepat Sebelum Raksasa Bangun


Masalahnya, pada saat itu Jepang sudah terjepit.

Embargo minyak dari Amerika membuat mesin perang Jepang mulai kehabisan napas. Para petinggi militer Jepang merasa perang tak bisa dihindari.


Yamamoto lalu memilih strategi yang sangat berani:


Kalau perang memang harus terjadi, maka Amerika harus dipukul sekeras mungkin di awal.


Tujuannya bukan sekadar menghancurkan kapal perang.

Tujuan sebenarnya adalah mengguncang mental Amerika agar mau bernegosiasi sebelum perang panjang terjadi.


Maka lahirlah rencana Pearl Harbor.


Dan secara taktis?


Itu luar biasa sukses.


Serangan itu menghancurkan banyak kapal perang Amerika hanya dalam hitungan jam. Dunia tercengang. Jepang terlihat seperti kekuatan yang tak terkalahkan.


Tapi ada satu masalah besar.


Amerika tidak menyerah.


Amerika justru marah besar.


Kesalahan Besar yang Mengubah Dunia


Ada kutipan terkenal yang sering dikaitkan dengan Yamamoto:


 “Saya takut yang telah kami lakukan hanyalah membangunkan raksasa yang sedang tidur.”


Walaupun sejarawan masih memperdebatkan apakah kalimat itu benar-benar diucapkan persis seperti itu, isi pesannya sangat sesuai dengan pemikiran Yamamoto.


Karena setelah Pearl Harbor, Amerika berubah total.


Pabrik mobil berubah jadi pabrik tank.

Industri sipil berubah jadi mesin perang.

Kapal induk, pesawat, amunisi, diproduksi dalam jumlah yang sulit dipercaya.


Jepang menang cepat di awal.

Tetapi Amerika menang dalam maraton panjang.


Dan Yamamoto tahu itu akan terjadi.


Ironi Seorang Arsitek Perang


Yang membuat kisah Yamamoto menarik bukan sekadar soal perang.

Tetapi soal paradoks manusia.


Kadang orang yang paling memahami bahaya justru terpaksa menjalankan sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan.


Yamamoto adalah tentara.

Ketika negaranya memilih perang, tugasnya bukan lagi berdebat. Tugasnya menang.


Maka ia merancang salah satu operasi militer paling berani dalam sejarah modern.


Namun jauh di dalam pikirannya, dia tahu:


Jepang sedang bermain judi melawan negara yang kapasitas industrinya nyaris mustahil disaingi.


Dan taruhan itu akhirnya kalah.


Pada tahun 1943, pesawat Yamamoto ditembak jatuh oleh Amerika setelah intelijen mereka berhasil memecahkan kode komunikasi Jepang. Ironisnya, pria yang merancang serangan mendadak itu akhirnya diburu dengan presisi luar biasa oleh musuh yang dulu ingin ia lumpuhkan sejak awal.


Sejarah kadang memang kejam.

Ia suka menyimpan ironi di tempat yang paling tak terduga.


𝗜𝗪𝗗


#sejarah #jepang #amerikaserikat #perangdunia #indratnowidiarto

15 May 2026

ORANG PERTAMA YANG BERPIDATO DALAM BAHASA INDONESIA DI DEPAN KOLONIAL BELANDA DAN INI YANG TERJADI SETELAHNYA Di sebuah sidang resmi Volksraad, dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda, pada 16 Juni 1927, seorang pria berkumis melintang dari Koto Gadang, Sumatera Barat, berdiri dan mulai berbicara. Bukan dalam bahasa Belanda yang lazim dipakai di forum itu. Bukan pula bahasa Melayu yang biasanya diucapkan dengan nada hati-hati dan penuh pertimbangan. Ia berbicara dengan lantang, tegas, dan penuh keyakinan — dalam bahasa Indonesia. Namanya Jahja Datoek Kajo. Dan momen itu mencatat sejarah. Lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 1 Agustus 1874 dari pasangan Pinggir Bandaharo Koening dan Bani, Jahja tumbuh bukan dari keluarga bangsawan besar. Masa kecilnya diwarnai rantau: sejak 1882, di usianya yang baru delapan tahun, ia sudah meninggalkan kampung bersama pamannya. Sekolah berpindah-pindah, dari Suliki hingga sekolah privat di Bukittinggi. Karirnya di birokrasi kolonial pun dimulai dari titik paling bawah — magang di kantor residen Padang Darat pada 1888. Namun ketekunannya tidak berhenti di sana. Ia naik menjadi juru tulis di kantor kontrolir Agam Tua, dan pada 1895, di usia 21 tahun, ia resmi menyandang gelar Datoek Kajo dan terpilih menjadi Tuanku Laras Empat Koto. Titik balik hidupnya datang bukan dari ambisi, melainkan dari luka. Pada 1908, pemerintah kolonial memberlakukan sistem pajak atau belasting di Sumatera Barat. Jahja menyaksikan sendiri bagaimana rakyatnya dibantai oleh militer Belanda karena menolak membayar. Peristiwa berdarah itu dikenal sebagai Tragedi Paladangan — dan ia simpan dalam-dalam, lalu berani melaporkannya kepada atasan pada 1919. Keberaniannya bersuara membuat posisinya tidak nyaman di mata atasan. Ia pun terus dipindahtugaskan: menjadi demang di Payakumbuh (1915–1918), Padang Panjang (1919–1928), hingga Air Bangis (1928–1929). Tapi justru dalam pengembaraan jabatan itu, pandangan politiknya semakin matang. Puncaknya tiba pada 16 Mei 1927 ketika Jahja terpilih menjadi anggota Volksraad, menggantikan Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo yang wafat. Ia menjadi salah satu dari 25 anggota golongan bumiputera dari total 55 anggota dewan, mewakili masyarakat Minangkabau untuk periode 1927–1931. Volksraad kala itu punya aturan diskriminatif yang sudah lama tak tergoyahkan: bahasa Melayu dilarang dipakai dalam persidangan. Beberapa anggota bumiputera sebelumnya pernah mencoba, namun langsung ditegur. Jahja tidak. Sejak pidato pertamanya pada 16 Juni 1927, ia tidak pernah sekalipun beralih ke bahasa lain. Ia bahkan secara terbuka meminta siapa pun yang ingin menanggapi atau menyela pidatonya agar melakukannya dalam bahasa Indonesia — karena, tegasnya, "saya adalah seorang Indonesier." Wakil-wakil Belanda geram. Tapi Jahja tidak bergeming. Koran-koran pribumi merespons dengan penuh semangat, memberinya julukan yang kemudian melekat: Jagoan Bahasa Indonesia di Volksraad. Setelah pensiun pada 1931, ia kembali terpilih menjadi anggota Volksraad untuk periode kedua, 1935–1939, terus menyuarakan kepentingan rakyat Minangkabau dan kaum bumiputera hingga akhir hayatnya pada 9 November 1942. Semangat perlawanan itu rupanya mengalir deras ke generasi berikutnya. Putranya, Daan Jahja, kelak menjadi Gubernur Militer Jakarta — satu-satunya dalam sejarah kota itu — yang menjabat pada periode 1948 hingga 1950 dengan pangkat Letnan Kolonel TNI. Dua putra lainnya, Jamalus Yahya dan Akhirul Yahya, menjadi kepala daerah di Sumatera Barat, meneruskan garis pengabdian yang ditancapkan sang ayah. Jahja Datoek Kajo mungkin bukan nama yang sering muncul di buku pelajaran. Tapi jauh sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan pada Oktober 1928, ia sudah berdiri sendirian di hadapan kolonial — dan memilih berbicara dengan bahasanya sendiri. #JahjaDatoekKajo #SejarahIndonesia #TokohMinangkabau #Volksraad #BahasaIndonesia ORANG PERTAMA YANG BERPIDATO DALAM BAHASA INDONESIA DI DEPAN KOLONIAL BELANDA DAN INI YANG TERJADI SETELAHNYA

 ORANG PERTAMA YANG BERPIDATO DALAM BAHASA INDONESIA DI DEPAN KOLONIAL BELANDA DAN INI YANG TERJADI SETELAHNYA

Di sebuah sidang resmi Volksraad, dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda, pada 16 Juni 1927, seorang pria berkumis melintang dari Koto Gadang, Sumatera Barat, berdiri dan mulai berbicara. Bukan dalam bahasa Belanda yang lazim dipakai di forum itu. Bukan pula bahasa Melayu yang biasanya diucapkan dengan nada hati-hati dan penuh pertimbangan. Ia berbicara dengan lantang, tegas, dan penuh keyakinan — dalam bahasa Indonesia.



Namanya Jahja Datoek Kajo. Dan momen itu mencatat sejarah.


Lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 1 Agustus 1874 dari pasangan Pinggir Bandaharo Koening dan Bani, Jahja tumbuh bukan dari keluarga bangsawan besar. Masa kecilnya diwarnai rantau: sejak 1882, di usianya yang baru delapan tahun, ia sudah meninggalkan kampung bersama pamannya. Sekolah berpindah-pindah, dari Suliki hingga sekolah privat di Bukittinggi. Karirnya di birokrasi kolonial pun dimulai dari titik paling bawah — magang di kantor residen Padang Darat pada 1888.


Namun ketekunannya tidak berhenti di sana. Ia naik menjadi juru tulis di kantor kontrolir Agam Tua, dan pada 1895, di usia 21 tahun, ia resmi menyandang gelar Datoek Kajo dan terpilih menjadi Tuanku Laras Empat Koto.


Titik balik hidupnya datang bukan dari ambisi, melainkan dari luka. Pada 1908, pemerintah kolonial memberlakukan sistem pajak atau belasting di Sumatera Barat. Jahja menyaksikan sendiri bagaimana rakyatnya dibantai oleh militer Belanda karena menolak membayar. Peristiwa berdarah itu dikenal sebagai Tragedi Paladangan — dan ia simpan dalam-dalam, lalu berani melaporkannya kepada atasan pada 1919.


Keberaniannya bersuara membuat posisinya tidak nyaman di mata atasan. Ia pun terus dipindahtugaskan: menjadi demang di Payakumbuh (1915–1918), Padang Panjang (1919–1928), hingga Air Bangis (1928–1929). Tapi justru dalam pengembaraan jabatan itu, pandangan politiknya semakin matang.


Puncaknya tiba pada 16 Mei 1927 ketika Jahja terpilih menjadi anggota Volksraad, menggantikan Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo yang wafat. Ia menjadi salah satu dari 25 anggota golongan bumiputera dari total 55 anggota dewan, mewakili masyarakat Minangkabau untuk periode 1927–1931.


Volksraad kala itu punya aturan diskriminatif yang sudah lama tak tergoyahkan: bahasa Melayu dilarang dipakai dalam persidangan. Beberapa anggota bumiputera sebelumnya pernah mencoba, namun langsung ditegur. Jahja tidak. Sejak pidato pertamanya pada 16 Juni 1927, ia tidak pernah sekalipun beralih ke bahasa lain. Ia bahkan secara terbuka meminta siapa pun yang ingin menanggapi atau menyela pidatonya agar melakukannya dalam bahasa Indonesia — karena, tegasnya, "saya adalah seorang Indonesier."


Wakil-wakil Belanda geram. Tapi Jahja tidak bergeming. Koran-koran pribumi merespons dengan penuh semangat, memberinya julukan yang kemudian melekat: Jagoan Bahasa Indonesia di Volksraad.


Setelah pensiun pada 1931, ia kembali terpilih menjadi anggota Volksraad untuk periode kedua, 1935–1939, terus menyuarakan kepentingan rakyat Minangkabau dan kaum bumiputera hingga akhir hayatnya pada 9 November 1942.


Semangat perlawanan itu rupanya mengalir deras ke generasi berikutnya. Putranya, Daan Jahja, kelak menjadi Gubernur Militer Jakarta — satu-satunya dalam sejarah kota itu — yang menjabat pada periode 1948 hingga 1950 dengan pangkat Letnan Kolonel TNI. Dua putra lainnya, Jamalus Yahya dan Akhirul Yahya, menjadi kepala daerah di Sumatera Barat, meneruskan garis pengabdian yang ditancapkan sang ayah.


Jahja Datoek Kajo mungkin bukan nama yang sering muncul di buku pelajaran. Tapi jauh sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan pada Oktober 1928, ia sudah berdiri sendirian di hadapan kolonial — dan memilih berbicara dengan bahasanya sendiri.


#JahjaDatoekKajo #SejarahIndonesia #TokohMinangkabau #Volksraad #BahasaIndonesia

ORANG PERTAMA YANG BERPIDATO DALAM BAHASA INDONESIA DI DEPAN KOLONIAL BELANDA DAN INI YANG TERJADI SETELAHNYA


Hôtel Centrum. Magelang., sekitar tahun 1900 Hôtel Centrum. Magelang., ca 1900

 Hôtel Centrum. Magelang., sekitar tahun 1900


Hôtel Centrum. Magelang., ca 1900




Sumber : Bintoro Hoepoedio

Yogyakarta bukan sekadar kota budaya dan sejarah, tetapi juga menyimpan lapisan kisah mistis dan legenda urban yang terus hidup berdampingan dengan masyarakat modern. Berikut adalah lima misteri di Jogja yang hingga kini belum terpecahkan dan terus memicu teka-teki: 1. Kutukan Bola Api Pulung Gantung (Gunungkidul) Ini adalah salah satu misteri paling gelap dan mengakar kuat dalam kepercayaan gaib setempat. Masyarakat Gunungkidul kerap melaporkan penampakan bola api berekor kemerahan yang melayang di langit malam—dikenal sebagai Pulung Gantung. Jatuhnya bola api ini di suatu kawasan dipercaya membawa aura kelam dan "kutukan" yang mendorong warga di sekitarnya untuk mengakhiri hidup secara tragis. Tarik ulur antara penjelasan medis, psikologis, dan klenik Primbon seputar fenomena ini terus berlanjut tanpa kesimpulan yang mutlak. 2. Presisi Gaib Garis Imajiner Jogja Ada sebuah garis lurus tak kasat mata yang membentang dari Selatan ke Utara: menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Pal Putih, hingga puncak Gunung Merapi. Misteri terbesarnya adalah bagaimana arsitek masa lalu (Sultan Hamengku Buwono I) mampu menarik poros geografis ini dengan tingkat presisi yang sangat akurat tanpa teknologi satelit atau pemetaan modern. Secara mistis, poros ini juga diyakini sebagai jalur lalu lintas komunikasi spiritual antara penguasa laut selatan, keraton, dan penjaga Gunung Merapi. 3. Keramaian Tak Kasat Mata di Pasar Bubrah Merapi Pasar Bubrah adalah sebuah area datar berupa hamparan pasir dan bebatuan di bawah puncak Gunung Merapi. Tempat ini tidak memiliki pepohonan atau bangunan, namun ratusan kesaksian pendaki secara konsisten melaporkan hal yang sama: terdengar suara hiruk-pikuk tawar-menawar, obrolan, hingga alunan gamelan Jawa yang sangat jelas di malam hari. Penjelasan ilmiah menyebutkan ini mungkin efek akustik angin gunung, namun bagi warga lokal, ini adalah aktivitas nyata dari pasar makhluk halus. 4. Prasasti Misterius di Watu Gilang Kotagede Di kompleks peninggalan Mataram Islam Kotagede, terdapat Watu Gilang, sebuah lempengan batu andesit hitam yang konon menjadi singgasana Panembahan Senopati. Misteri terbesarnya bukan pada batunya, melainkan pada ukiran teks asing yang melingkar di permukaannya. Teks tersebut berbunyi "Ita Moventur Mundus Sicut Pila" (Begitulah dunia berputar layaknya bola)—sebuah kalimat yang mencampurkan bahasa Latin kuno, Italia, dan Prancis. Siapa pemahatnya, kapan diukir, dan bagaimana kutipan filosofis Eropa kuno bisa berada tepat di pusat spiritual kerajaan Jawa abad ke-16, belum pernah terungkap secara pasti. 5. Gerbang Dimensi Parangtritis dan Mitos Baju Hijau Kisah hilangnya orang-orang yang terseret ombak Pantai Parangtritis memang bisa dijelaskan lewat fenomena rip current (arus balik bawah laut) yang mematikan. Namun, rentetan kebetulan sering kali tidak bisa dijawab oleh sains—terutama mitos bahwa mereka yang hilang kerap kali melanggar pantangan memakai pakaian berwarna hijau. Jasad yang hilang tanpa jejak sering diyakini telah ditarik melewati gerbang dimensi menuju keraton penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

 Yogyakarta bukan sekadar kota budaya dan sejarah, tetapi juga menyimpan lapisan kisah mistis dan legenda urban yang terus hidup berdampingan dengan masyarakat modern. 



Berikut adalah lima misteri di Jogja yang hingga 

kini belum terpecahkan dan terus memicu teka-teki:


1. Kutukan Bola Api Pulung Gantung (Gunungkidul)


Ini adalah salah satu misteri paling gelap dan mengakar kuat dalam kepercayaan gaib setempat. Masyarakat Gunungkidul kerap melaporkan penampakan bola api berekor kemerahan yang melayang di langit malam—dikenal sebagai Pulung Gantung. Jatuhnya bola api ini di suatu kawasan dipercaya membawa aura kelam dan "kutukan" yang mendorong warga di sekitarnya untuk mengakhiri hidup secara tragis. Tarik ulur antara penjelasan medis, psikologis, dan klenik Primbon seputar fenomena ini terus berlanjut tanpa kesimpulan yang mutlak.


2. Presisi Gaib Garis Imajiner Jogja


Ada sebuah garis lurus tak kasat mata yang membentang dari Selatan ke Utara: menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Pal Putih, hingga puncak Gunung Merapi. Misteri terbesarnya adalah bagaimana arsitek masa lalu (Sultan Hamengku Buwono I) mampu menarik poros geografis ini dengan tingkat presisi yang sangat akurat tanpa teknologi satelit atau pemetaan modern. Secara mistis, poros ini juga diyakini sebagai jalur lalu lintas komunikasi spiritual antara penguasa laut selatan, keraton, dan penjaga Gunung Merapi.


3. Keramaian Tak Kasat Mata di Pasar Bubrah Merapi


Pasar Bubrah adalah sebuah area datar berupa hamparan pasir dan bebatuan di bawah puncak Gunung Merapi. Tempat ini tidak memiliki pepohonan atau bangunan, namun ratusan kesaksian pendaki secara konsisten melaporkan hal yang sama: terdengar suara hiruk-pikuk tawar-menawar, obrolan, hingga alunan gamelan Jawa yang sangat jelas di malam hari. Penjelasan ilmiah menyebutkan ini mungkin efek akustik angin gunung, namun bagi warga lokal, ini adalah aktivitas nyata dari pasar makhluk halus.


4. Prasasti Misterius di Watu Gilang Kotagede


Di kompleks peninggalan Mataram Islam Kotagede, terdapat Watu Gilang, sebuah lempengan batu andesit hitam yang konon menjadi singgasana Panembahan Senopati. Misteri terbesarnya bukan pada batunya, melainkan pada ukiran teks asing yang melingkar di permukaannya. Teks tersebut berbunyi "Ita Moventur Mundus Sicut Pila" (Begitulah dunia berputar layaknya bola)—sebuah kalimat yang mencampurkan bahasa Latin kuno, Italia, dan Prancis. Siapa pemahatnya, kapan diukir, dan bagaimana kutipan filosofis Eropa kuno bisa berada tepat di pusat spiritual kerajaan Jawa abad ke-16, belum pernah terungkap secara pasti.


5. Gerbang Dimensi Parangtritis dan Mitos Baju Hijau


Kisah hilangnya orang-orang yang terseret ombak Pantai Parangtritis memang bisa dijelaskan lewat fenomena rip current (arus balik bawah laut) yang mematikan. Namun, rentetan kebetulan sering kali tidak bisa dijawab oleh sains—terutama mitos bahwa mereka yang hilang kerap kali melanggar pantangan memakai pakaian berwarna hijau. Jasad yang hilang tanpa jejak sering diyakini telah ditarik melewati gerbang dimensi menuju keraton penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

14 May 2026

Begitulah cara Inggris menancapkan kuku kekuasaannya di tanah Arab—setelah mereka melukis bendera-bendera palsu dan menggariskan perbatasan di atas peta yang mereka buat sendiri. Fajar Kelabu di Bagdad Foto ini mengabadikan momen memuakkan dari upacara penobatan Faisal I bin Syarif Husain, sang raja yang dijuluki pengkhianat, saat ia didudukkan di takhta Irak pada 23 Agustus 1921. Sebelum "dibuang" ke Irak, Faisal sempat mencicipi singgasana Suriah sejak Maret hingga Juli, sebelum akhirnya lari terbirit-birit menghindari kejaran bala tentara penjajah Prancis. Sandiwara penobatan ini digelar oleh tangan-tangan Inggris tepat pukul enam pagi di pelataran Istana Saray Ottoman, Bagdad. Dalam potret ini, di sisi kiri, tampak sosok Percy Cox, Komisaris Tinggi Inggris—sang penguasa bayangan di Teluk. Di sampingnya berdiri Kinahan Cornwallis, penasihat Kementerian Dalam Negeri yang sejatinya adalah penguasa de facto Irak. Para Arsitek Pendudukan Faisal I duduk bersanding dengan Sir Aylmer Haldane, Panglima Tertinggi pasukan pendudukan Inggris di Irak, sosok kunci di balik penaklukan berdarah selama Perang Dunia I. Di belakang Faisal, berdiri ajudan militernya, Tahsin Qadri, bersama Hussain Afnan, sang Sekretaris Kabinet yang setia menghamba. Demokrasi Palsu dan Angka Tipu-Tipu Lelucon kolonial ini mencapai puncaknya ketika Sir Percy Cox dengan angkuh mengumumkan bahwa 99% rakyat Irak telah memberikan suara mereka untuk sang raja baru! Sebuah referendum kosong, sebuah teater absurd yang sama sekali tidak mewakili kehendak rakyat Irak yang sebenarnya. Faisal tiba di pelabuhan Basra dari Jeddah pada 23 Juni dengan kapal perang Inggris, "Northbrook." Kedatangannya disambut dengan dingin; tak ada cinta, tak ada restu dari rakyat. Ia hanyalah bidak yang dipasang Inggris untuk meredam api Revolusi 1920 yang membara melawan penjajahan. Namanya dipilih dalam diskusi gelap antara Percy Cox dan Winston Churchill di Konferensi Kairo 1921, atas rekomendasi dari agen rahasia dan mata-mata Inggris, Gertrude Bell. Upah Berdarah atas Pengkhianatan Takhta Irak adalah "bonus" bagi Faisal atas pengkhianatannya terhadap umat Islam. Bersama ayahnya, Syarif Husain, dan saudara-saudaranya—terutama Abdullah I (kelak menjadi Raja Yordania)—ia bersekutu dengan Inggris untuk meruntuhkan kekuasaan Islam di tanah Arab. • Faisal memimpin pasukan Baduinya untuk memutus jalur logistik tentara Khilafah Ottoman di Hijaz demi memuluskan jalan bagi Inggris menginvasi Palestina. • Abdullah, sang saudara, mengepung Kota Suci Madinah, membiarkan penduduk dan pasukan pelindungnya mati kelaparan. Jejak Hitam Faisal-Weizmann Sejarah tidak akan lupa bahwa Faisal adalah sosok pertama yang secara resmi mengakui "Janji Terkutuk" (Deklarasi Balfour). Ia adalah pelopor normalisasi dengan para pemimpin Zionis melalui Perjanjian Faisal-Weizmann 1919. Bahkan di Suriah, ia tega mengkhianati bangsanya sendiri. Ia melarang pejuang Arab melawan invasi Prancis dan membunuh para pahlawan revolusi yang mendesaknya untuk membela tanah air. Faisal menyerahkan Suriah kepada Prancis di bawah nampan emas, berharap ia akan diakui sebagai raja, namun Prancis justru membuangnya seperti sampah setelah kepentingannya tercapai. Tangan yang Berlumur Darah Rakyat Sendiri Di Irak, Faisal I menjadi pendukung setia setiap kekejaman Inggris terhadap pejuang Arab dan Kurdi. Bahkan, ia dengan rendah budi mengirimkan ucapan terima kasih kepada Percy Cox ketika pesawat-pesawat tempur Inggris membombardir suku-suku Irak yang berani mengangkat senjata demi kemerdekaan nasional mereka.

 Begitulah cara Inggris menancapkan kuku kekuasaannya di tanah Arab—setelah mereka melukis bendera-bendera palsu dan menggariskan perbatasan di atas peta yang mereka buat sendiri.



Fajar Kelabu di Bagdad


Foto ini mengabadikan momen memuakkan dari upacara penobatan Faisal I bin Syarif Husain, sang raja yang dijuluki pengkhianat, saat ia didudukkan di takhta Irak pada 23 Agustus 1921. Sebelum "dibuang" ke Irak, Faisal sempat mencicipi singgasana Suriah sejak Maret hingga Juli, sebelum akhirnya lari terbirit-birit menghindari kejaran bala tentara penjajah Prancis.


Sandiwara penobatan ini digelar oleh tangan-tangan Inggris tepat pukul enam pagi di pelataran Istana Saray Ottoman, Bagdad. Dalam potret ini, di sisi kiri, tampak sosok Percy Cox, Komisaris Tinggi Inggris—sang penguasa bayangan di Teluk. Di sampingnya berdiri Kinahan Cornwallis, penasihat Kementerian Dalam Negeri yang sejatinya adalah penguasa de facto Irak.


Para Arsitek Pendudukan


Faisal I duduk bersanding dengan Sir Aylmer Haldane, Panglima Tertinggi pasukan pendudukan Inggris di Irak, sosok kunci di balik penaklukan berdarah selama Perang Dunia I. Di belakang Faisal, berdiri ajudan militernya, Tahsin Qadri, bersama Hussain Afnan, sang Sekretaris Kabinet yang setia menghamba.


Demokrasi Palsu dan Angka Tipu-Tipu


Lelucon kolonial ini mencapai puncaknya ketika Sir Percy Cox dengan angkuh mengumumkan bahwa 99% rakyat Irak telah memberikan suara mereka untuk sang raja baru! Sebuah referendum kosong, sebuah teater absurd yang sama sekali tidak mewakili kehendak rakyat Irak yang sebenarnya.


Faisal tiba di pelabuhan Basra dari Jeddah pada 23 Juni dengan kapal perang Inggris, "Northbrook." Kedatangannya disambut dengan dingin; tak ada cinta, tak ada restu dari rakyat. Ia hanyalah bidak yang dipasang Inggris untuk meredam api Revolusi 1920 yang membara melawan penjajahan. Namanya dipilih dalam diskusi gelap antara Percy Cox dan Winston Churchill di Konferensi Kairo 1921, atas rekomendasi dari agen rahasia dan mata-mata Inggris, Gertrude Bell.


Upah Berdarah atas Pengkhianatan


Takhta Irak adalah "bonus" bagi Faisal atas pengkhianatannya terhadap umat Islam. Bersama ayahnya, Syarif Husain, dan saudara-saudaranya—terutama Abdullah I (kelak menjadi Raja Yordania)—ia bersekutu dengan Inggris untuk meruntuhkan kekuasaan Islam di tanah Arab.


• Faisal memimpin pasukan Baduinya untuk memutus jalur logistik tentara Khilafah Ottoman di Hijaz demi memuluskan jalan bagi Inggris menginvasi Palestina.

• Abdullah, sang saudara, mengepung Kota Suci Madinah, membiarkan penduduk dan pasukan pelindungnya mati kelaparan.


Jejak Hitam Faisal-Weizmann


Sejarah tidak akan lupa bahwa Faisal adalah sosok pertama yang secara resmi mengakui "Janji Terkutuk" (Deklarasi Balfour). Ia adalah pelopor normalisasi dengan para pemimpin Zionis melalui Perjanjian Faisal-Weizmann 1919.


Bahkan di Suriah, ia tega mengkhianati bangsanya sendiri. Ia melarang pejuang Arab melawan invasi Prancis dan membunuh para pahlawan revolusi yang mendesaknya untuk membela tanah air. Faisal menyerahkan Suriah kepada Prancis di bawah nampan emas, berharap ia akan diakui sebagai raja, namun Prancis justru membuangnya seperti sampah setelah kepentingannya tercapai.


Tangan yang Berlumur Darah Rakyat Sendiri


Di Irak, Faisal I menjadi pendukung setia setiap kekejaman Inggris terhadap pejuang Arab dan Kurdi. Bahkan, ia dengan rendah budi mengirimkan ucapan terima kasih kepada Percy Cox ketika pesawat-pesawat tempur Inggris membombardir suku-suku Irak yang berani mengangkat senjata demi kemerdekaan nasional mereka.

Jejak Sejarah Markas Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang) Di Kawasan Kader School Magelang Setelah kemarin saya memposting Monumen yang merupakan tanda bekas Markas Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang), di lingkungan komplek Rindam IV Diponegoro yaitu di Jl Ksatrian Selatan, kini saya akan memposting dokumentasi salah satu kegiatan yang dilakukan di sekitar Markas Divisi III Diponegoro yang berada di kompleks Kader School (komplek Rindam IV Diponegoro sekarang ini) tepatnya kegiatannya berada di Lapangan Kader School (lapangan Tentara I Rindam IV Diponegoro sekarang). Peristiwa nya terjadi di tanggal 5 Mei 1948, yaitu peresmian Batalyon Soedjono dan Batalyon Darjatmo oleh Jenderal Sudirman selalu Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia saat itu dan melibatkan juga Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat (putra tunggal R.A. Kartini) selaku Panglima Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang). Saat Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat diangkat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro, sebenarnya tidak disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Namun, Soesalit dipilih oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin. Batalyon Darjatmo ini nantinya saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 terlibat membantu kekuatan Wehrkreise III (wilayah pertahanan militer III), yaitu Kompi Soewarno yang dari Muntilan Magelang. Sedangkan Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat menjabat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro (Yogyakarta — Magelang) dari Oktober 1946 sd 1948). nantinya diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro karena dianggap bersimpati kepada kelompok kiri (nama beliau tercantum dalam dokumen yang disita pemerintah sebagai salah satu orang yang "diharapkan" oleh pihak pemberontak). Nampak dalam foto Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat berpakaian seperti yang biasanya digunakan oleh Tentara RRT. Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat setelah diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Bambang Sugeng. Tetapi telah diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro selama Agresi Militer Belanda ke 2, Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat tetap ikut bergerilya melawan Belanda di sekitaran Benteng Sumbing selaku Panglima Komando Pertempuran Daerah Kedu dan sekitarnya (1948). Dan di tahun 1948 ini Soesalit Djojoadhiningrat pangkatnya diturunkan menjadi Kolonel. Nampak dalam foto pertama Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat berdiri di atas podium (mimbar) dan di latar belakang nampak berdiri juga Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia saat itu yaitu Jenderal Sudirman dengan lokasi di lapangan Kader School dan di pinggir lapangan nampak jelas rimbunnya pepohonan. Foto kedua nampak paling kiri adalah Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat sedang Jenderal Sudirman menggunakan peci dan sedang hormat kepada prajurit yang juga sedang sikap hormat senjata untuk membalas sikap hormat dari Jenderal Sudirman.

 Jejak Sejarah Markas Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang) Di Kawasan Kader School Magelang 



Setelah kemarin saya memposting Monumen yang merupakan tanda bekas Markas Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang), di lingkungan komplek Rindam IV Diponegoro yaitu di Jl Ksatrian Selatan, kini saya akan memposting dokumentasi salah satu kegiatan yang dilakukan di sekitar Markas Divisi III Diponegoro yang berada di kompleks Kader School (komplek Rindam IV Diponegoro sekarang ini) tepatnya kegiatannya berada di Lapangan Kader School (lapangan Tentara I Rindam IV Diponegoro sekarang).

Peristiwa nya terjadi di tanggal 5 Mei 1948, yaitu peresmian Batalyon Soedjono dan Batalyon Darjatmo oleh Jenderal Sudirman selalu Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia saat itu dan melibatkan juga Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat (putra tunggal R.A. Kartini) selaku Panglima Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang). Saat Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat diangkat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro, sebenarnya tidak disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Namun, Soesalit dipilih oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin.

Batalyon Darjatmo ini nantinya saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 terlibat membantu kekuatan Wehrkreise III (wilayah pertahanan militer III), yaitu Kompi Soewarno yang dari Muntilan Magelang.

Sedangkan Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat menjabat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro (Yogyakarta — Magelang) dari Oktober 1946 sd 1948).

nantinya diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro karena dianggap bersimpati kepada kelompok kiri (nama beliau tercantum dalam dokumen yang disita pemerintah sebagai salah satu orang yang "diharapkan" oleh pihak pemberontak). Nampak dalam foto Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat berpakaian seperti yang biasanya digunakan oleh Tentara RRT.

Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat setelah diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Bambang Sugeng. Tetapi telah diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro selama Agresi Militer Belanda ke 2, Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat tetap ikut bergerilya melawan Belanda di sekitaran Benteng Sumbing selaku Panglima Komando Pertempuran Daerah Kedu dan sekitarnya (1948). Dan di tahun 1948 ini Soesalit Djojoadhiningrat pangkatnya diturunkan menjadi Kolonel.

Nampak dalam foto pertama Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat berdiri di atas podium (mimbar) dan di latar belakang nampak berdiri juga Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia saat itu yaitu Jenderal Sudirman dengan lokasi di lapangan Kader School dan di pinggir lapangan nampak jelas rimbunnya pepohonan.

Foto kedua nampak paling kiri adalah Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat sedang Jenderal Sudirman menggunakan peci dan sedang hormat kepada prajurit yang juga sedang sikap hormat senjata untuk membalas sikap hormat dari Jenderal Sudirman.


Sumber : Orchid Breeder

GADIS SINGA Gadis 10 Tahun yang Melacak Singa Gunung yang Membunuh Ibunya Selama 6 Bulan dan Tidur di Sarangnya untuk Membunuhnya, Colorado, 1907 Agustus 1907. Pegunungan San Juan, Colorado. Hattie Mae Cole, 10 tahun, sedang memetik buah beri bersama ibunya, Luanne, 32 tahun, ketika seekor singa gunung seberat 180 pon menyerangnya. Menyeretnya dalam sepuluh detik. Ayahnya berada di Denver. Hattie Mae menemukan darah dan jejak. Dia mengambil senapan .32-20 milik ayahnya, selendang ibunya, dan mengikuti. Selama 6 bulan dia melacak kucing itu. Dia mempelajari mangsanya, sumber airnya, sarangnya. Musim dingin tiba. November. Dia merangkak ke dalam sarang saat singa itu keluar. Tidur di sana. Baunya seperti singa itu. Ketika singa itu kembali, ia tidak menyerang. Ia berbaring. Dia menempatkan laras senapan di belakang telinganya dan menembak. Menyeretnya sejauh 8 mil pulang. Membungkus tulang ibunya dengan kulit singa itu. Menguburnya di dalamnya. Penduduk kota memanggilnya "Gadis Singa." Dia tidak pernah menikah. Meninggal tahun 1973. Kulit binatang itu menjadi selimutnya hingga akhir hayatnya. Dia berkata kepada surat kabar, "Kulit itu telah merenggut nyawanya. Aku pun mengambilnya."

 GADIS SINGA

Gadis 10 Tahun yang Melacak Singa Gunung yang Membunuh Ibunya Selama 6 Bulan dan Tidur di Sarangnya untuk Membunuhnya, 



Colorado, 1907 Agustus 1907. Pegunungan San Juan, Colorado. Hattie Mae Cole, 10 tahun, sedang memetik buah beri bersama ibunya, Luanne, 32 tahun, ketika seekor singa gunung seberat 180 pon menyerangnya. Menyeretnya dalam sepuluh detik. Ayahnya berada di Denver. 


Hattie Mae menemukan darah dan jejak. Dia mengambil senapan .32-20 milik ayahnya, selendang ibunya, dan mengikuti. Selama 6 bulan dia melacak kucing itu. Dia mempelajari mangsanya, sumber airnya, sarangnya. 


Musim dingin tiba. November. Dia merangkak ke dalam sarang saat singa itu keluar. Tidur di sana. Baunya seperti singa itu. Ketika singa itu kembali, ia tidak menyerang. Ia berbaring. Dia menempatkan laras senapan di belakang telinganya dan menembak. 


Menyeretnya sejauh 8 mil pulang. Membungkus tulang ibunya dengan kulit singa itu. Menguburnya di dalamnya. Penduduk kota memanggilnya "Gadis Singa." Dia tidak pernah menikah. Meninggal tahun 1973. 


Kulit binatang itu menjadi selimutnya hingga akhir hayatnya. Dia berkata kepada surat kabar, "Kulit itu telah merenggut nyawanya. Aku pun mengambilnya."