*Siapa Sosok Polwan Ni Luh Putu Sugiantri? Pernah Tolak Jadi Ajudan Tien Soeharto.*
Di balik lembaran sejarah bangsa, terselip kisah sunyi tentang kesetiaan yang nyaris terlupakan. Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tidak sepopuler tokoh besar negeri ini, namun jejak pengabdiannya terpatri kuat dalam detik-detik terakhir kehidupan Soekarno sang Proklamator.
Ia bukan sekadar Polisi Wanita (Polwan). Ia adalah saksi hidup runtuhnya kekuasaan, kesunyian seorang pemimpin, dan pahitnya perubahan zaman.
Dari Gadis Bali Menuju Lingkaran Istana
Perjalanan hidup Sugiantri dimulai dari Bali pada tahun 1964. Saat itu, usianya baru 16 tahun terlalu muda untuk menjadi anggota Polwan. Namun, dengan tekad kuat, ia “menambah” usianya menjadi 18 tahun demi bisa lolos seleksi.
Keputusan berani itu mengantarkannya ke pendidikan kepolisian di Sukabumi, Jawa Barat. Di sanalah ia ditempa, bukan hanya sebagai aparat, tetapi juga sebagai pribadi yang kelak dipercaya berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara.
Tak hanya menjalankan tugas formal, Sugiantri juga kerap tampil menari dalam acara-acara kenegaraan menunjukkan sisi humanis seorang abdi negara di lingkungan Istana.
Menjadi Pengawal Setia di Masa Paling Kelam
Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, situasi politik Indonesia berubah drastis. Pasukan pengawal presiden Cakrabirawa dibubarkan, dan peran pengamanan beralih ke kepolisian.
Di tengah gejolak itulah, Sugiantri terpilih menjadi ajudan, bahkan menjadi Polwan terakhir yang mengawal langsung Soekarno hingga akhir hayatnya pada 1970.
Namun, yang ia saksikan bukan lagi kemegahan seorang presiden. Ia melihat sisi lain: seorang pemimpin besar yang hidup dalam keterbatasan, terisolasi, dan perlahan dilupakan.
Di Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala), Bung Karno menjalani masa tahanan rumah. Ia dibatasi tidak boleh berbicara politik, tidak bebas menerima tamu, bahkan tak leluasa ke mana-mana.
Yang paling menyayat, menurut kesaksian Sugiantri, sang Proklamator bahkan tidak memiliki uang untuk sekadar membeli makanan.
Karena tak tega, Sugiantri kerap menyisihkan gajinya yang kecil untuk membelikan buah dan makanan bagi Bung Karno. Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna kemanusiaan.
Saksi Bisu Peralihan Kekuasaan
Sugiantri juga menjadi saksi masa-masa transisi kekuasaan menuju Soeharto, yang mengambil alih kendali negara melalui mandat Supersemar.
Dalam salah satu kenangannya, ia sempat menanyakan kepada Bung Karno tentang penyerahan kekuasaan tersebut. Jawaban yang ia terima sederhana namun sarat makna:
“Semua itu dilakukan demi menyelamatkan Indonesia dari kehancuran.”
Kalimat ini menggambarkan dilema seorang pemimpin yang harus memilih antara kekuasaan atau stabilitas bangsa.
Menolak Kekuasaan, Memilih Jalan Sendiri
Setelah era berganti, Sugiantri sempat diminta menjadi ajudan Tien Soeharto, istri Presiden Soeharto.
Namun, ia menolak.
Bukan tanpa alasan. Ia mengaku mengetahui banyak hal yang membuatnya enggan berada di lingkaran kekuasaan baru. Dalam kisah lain, ia juga pernah merasa tersakiti karena dituduh memiliki hubungan pribadi dengan Bung Karno.
Sebagai bentuk penolakan, ia memilih langkah drastis: menikah dan menjauh dari tawaran tersebut.
Keputusan itu membuat kariernya stagnan ia tidak pernah naik pangkat. Namun, ia juga tidak diberhentikan. Sebuah posisi “diam” yang justru mempertegas integritas dan prinsip hidupnya.
Kesetiaan yang Tak Pernah Mencari Sorotan
Nama Ni Luh Putu Sugiantri mungkin tenggelam dalam arus besar sejarah. Namun kisahnya adalah potret langka tentang:
Loyalitas tanpa pamrih
Keberanian mengambil sikap
Kemanusiaan di tengah pusaran politik
_*Ia bukan tokoh besar dalam buku sejarah. Justru dari sudut sunyi itulah, kita melihat sisi paling manusiawi dari perjalanan bangsa ini.*_
Sumber: Tribunnews.com
#NiLuhPutuSugiantri #Soekarno #SejarahIndonesia #PolwanIndonesia #OrdeLama #OrdeBaru #KisahInspiratif



















