Foto pertama adalah foto yang diposting oleh Mas Danang Priyatno tanggal 25 September 2020 dari foto milik Mas Suko Wicaksono. Foto pertama merupakan foto bersama setelah acara resepsi pernikahan (alm) dr. Haryono di kampung Tulung kota Magelang pada tahun 1965.
Sedangkan foto kedua adalah foto Saya saat jalan jalan di kampung Tulung dari rumah keluarga (alm) dr. Haryono yang ada di latar belakang foto pertama, kondisinya saat ini.
Nah setelah saya menanyakan tentang siapakah (alm) dr. Haryono kepada mertua saya yang merupakan warga kampung Tulung yang sudah tinggal di kampung Tulung sejak era Hindia Belanda akhirnya dapat kisah tentang (alm) dr. Haryono.
Dr. Haryono merupakan putra pertama dari pasangan Bapak Adenan dan Ibu Adenan. Napak Adenan bekerja sebagai Kadaster atau kantor pertanahan. Sedangkan Ibu Adenan aslinya dari desa Karanglo (daerah Kalegen ke barat sampai ketemu pertigaan lalu belok kiri). Pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini memiliki 5 anak yaitu:
1. Dr. Haryono.
2. Affandi.
3. Asnah.
4. Sartono.
5. Gunawan.
Dari kelima putra dan putrinya pasangan Bapak Adenan dan istrinya ini yang menjadi dokter ada 2 yaitu:
Dr. Haryono kuliahnya dahulu di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Dan adiknya Asnah yang juga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Dr. Haryono setelah selesai kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta kemudian buka praktek dengan sewa tempat di selatannya SMP Negeri 4 Magelang tapi yang bagian belakang. Tetapi beberapa bulan kemudian pindah di bagian depan di tepi jalan Pahlawan. Beliau berangkat praktek dari jam 16.00 sore dan pulang jam 20.00 malam. Berangkat pulang dengan jalan kaki sambil menenteng tas. Setelah beberapa tahun praktek di selatannya SMP Negeri 4 Magelang, kemudian dr. Haryono melanjutkan study kedokterannya ke Jepang dengan ambil jurusan internis atau penyakit dalam. Setelah selesai belajar di Jepang, dr. Haryono buka praktek di daerah SECABA ke timur yaitu ke jalan Raden Saleh di tepi Kali Kuto. Karena pasiennya banyak kemudian beliau beli rumah di tepi Jalan A Yani di seberang jalan Armada Estate dan praktek di rumah baru beliau tersebut hingga beliau wafat sekitar tahun 1990an. Selain buka praktek di rumah dr. Haryono juga bekerja di RST dr. Soedjono.
Dahulu Ibu dari mertua saya yaitu Ibu Saman sakit oleh mertua saya Bapak Soedarto diperiksakan ke tempat praktek dr Haryono. Sampai Ibu Saman tidak bisa dibawa ke tempat praktek dr Haryono, maka mertua saya Bapak Soedarto datang ke dr Haryono untuk konsultasi. Akhirnya Ibu Saman dibawa ke RST dr. Soedjono untuk rawat inap. Selama rawat inap dirawat oleh dr. Haryono. Hampir setiap 2 jam sekali diperiksa. Setelah 3 hari rawat inap dan tidak ada kemajuan setelah berkonsultasi dengan perawat dan atas izin dr. Haryono akhirnya Ibu Saman dibawa pulang ke rumah untuk dirawat di rumah. Setelah 2 hari dirawat di rumah akhirnya Ibu Saman meninggal di rumah Bapak Soedarto.
Untuk Asnah beliaunya dahulu adalah teman satu kelas dari mertua saya Bapak Soedarto di SMP Taman Dewasa (lokasinya sekarang adalah SMP Negeri 4 Magelang. Saat Asnah sekolah di SMP Taman Dewasa ini ada juga keponakan Bu Adenan yang bernama Yulika yang juga sekolah di SMP Taman Dewasa. Setelah lulus dari SMP Taman Dewasa, Asnah melanjutkan ke SMA Negeri 1 Kota Magelang dan setelah selesai lanjut ke Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, lalu Asnah menjadi dokter ke Subang.
Untuk yang Sartono lalu ke Jakarta kerja di Toko besi dan Yang Gunawan kerja di kesehatan di kota Magelang dan tinggal di Botton di sekitar Langgar Mangoenredjo.
Keluarga dr. Haryono ini dahulu juga mewakafkan sebagian tanahnya untuk pembangunan masjid Al Muttaqin Kampung Tulung. Selain itu juga dr. Haryono juga membangun Langgar Mangoenredjo di Botton Koppen.

















