03 May 2026

— Nikita Khrushchev digulingkan dari kekuasaan pada Oktober 1964 karena "kudeta lingkar istana" yang dipimpin oleh Leonid Brezhnev dan anggota partai lainnya. Orang-orang dekatnya sejak lama gerah oleh pengambilan keputusan Khruschev yang tidak konsisten. Semisal kebijakan pembukaan lahan pertanian dengan membabat kawasan konservasi dan hutan di Siberia yang berujung gagal total. Kebijakan luar negeri yang memalukan dan dianggap menggadaikan harga diri Uni Soviet, terutama terkait penyelesaian krisis rudal Kuba. Penyebab lainnya adalah kepemimpinan Khruschev yang bergaya kasar, arogan dan egois, sehingga membuat para elit merasa terasing. Ditambah juga Khruschev mengisolasi dirinya dan memiliki kedekatan dengan hanya segelintir orang dalam pemerintahannya, seperti Oleg Troyanovsky dan Anastas Mikoyan. Kekuasaan Khruschev jatuh karena penyebab yang bertumpuk. Programnya mengalami kegagalan berlapis-lapis akibat sikapnya yang eksklusif, membuat egoisme menubuh dalam kekuasaanya. Dia tidak mendengar karena tidak mau mendengar. Dia hanya ingin mendengar apa yang ingin didengar. Dia berbicara kepada siapapun tanpa memberi kebebasan kepada orang lain untuk berbicara. Gaya Kepemimpinan Sewenang-wenang Khruschev ini dikenal sebagai "voluntarisme". Dia terbiasa mengambil keputusan yang tidak terduga dan seringkali menghina dan meremehkan sesama aliansi politiknya, hingga membentuk resistensi beku di kalangan Nomenklatura Soviet. Khrushchev berkuasa 11 tahun. Dia secara resmi digantikan karena alasan "usia lanjut dan kesehatan yang buruk" dalam rangkaian peristiwa yang disebut sebagai "kudeta paling demokratis" dalam sejarah Soviet. Penggantinya adalah Leonid Brezhnev, mantan orang dekatnya yang kecewa berat akibat inkonsistensi Khruschev dalam kekuasaannya.

 — Nikita Khrushchev digulingkan dari kekuasaan pada Oktober 1964 karena "kudeta lingkar istana" yang dipimpin oleh Leonid Brezhnev dan anggota partai lainnya. Orang-orang dekatnya sejak lama gerah oleh pengambilan keputusan Khruschev yang tidak konsisten. Semisal kebijakan pembukaan lahan pertanian dengan membabat kawasan konservasi dan hutan di Siberia yang berujung gagal total. Kebijakan luar negeri yang memalukan dan dianggap menggadaikan harga diri Uni Soviet, terutama terkait penyelesaian krisis rudal Kuba.



Penyebab lainnya adalah kepemimpinan Khruschev yang bergaya kasar, arogan dan egois, sehingga membuat para elit merasa terasing. Ditambah juga Khruschev mengisolasi dirinya dan memiliki kedekatan dengan hanya segelintir orang dalam pemerintahannya, seperti Oleg Troyanovsky dan Anastas Mikoyan.


Kekuasaan Khruschev jatuh karena penyebab yang bertumpuk. Programnya mengalami kegagalan berlapis-lapis akibat sikapnya yang eksklusif, membuat egoisme menubuh dalam kekuasaanya. Dia tidak mendengar karena tidak mau mendengar. Dia hanya ingin mendengar apa yang ingin didengar. Dia berbicara kepada siapapun tanpa memberi kebebasan kepada orang lain untuk berbicara. 


Gaya Kepemimpinan Sewenang-wenang Khruschev ini dikenal sebagai "voluntarisme". Dia terbiasa mengambil keputusan yang tidak terduga dan seringkali menghina dan meremehkan sesama aliansi politiknya, hingga membentuk resistensi beku di kalangan Nomenklatura Soviet.


Khrushchev berkuasa 11 tahun. Dia secara resmi digantikan karena alasan "usia lanjut dan kesehatan yang buruk" dalam rangkaian peristiwa yang disebut sebagai "kudeta paling demokratis" dalam sejarah Soviet. Penggantinya adalah Leonid Brezhnev, mantan orang dekatnya yang kecewa berat akibat inkonsistensi Khruschev dalam kekuasaannya.

Sumber : Islah Bahrawi

Pada tahun 1959, di bawah bayang-bayang kemenangan Revolusi Kuba yang masih hangat, Che Guevara melintasi cakrawala Timur Tengah. Ia bukan sekadar seorang pelancong; ia adalah simbol pemberontakan yang tengah mencari jejak-jejak keberanian di tanah para nabi. Langkah kakinya kemudian terhenti di jantung kota Damaskus, Suriah, tepat di hadapan peristirahatan terakhir sang legenda: Sultan Salahuddin Al-Ayyubi. Salahuddin, sang pembebas Yerusalem yang namanya menggetarkan pasukan Sa.lib, merupakan mercusuar kedaulatan bagi dunia Timur. Di sana, di dekat kemegahan Masjid Agung Umayyad, Che memberikan penghormatan khidmatnya. Momen ini bukan sekadar ziarah biasa, melainkan sebuah pertemuan spiritual melintasi zaman—sebuah jabat tangan tak terlihat antara pemimpin revolusi modern dan panglima perang masa lalu yang dipersatukan oleh api perlawanan yang sama. Dalam potret-potret yang tersisa, Guevara tampak berdiri tegak dalam balutan seragam militernya yang ikonik. Di hadapan makam sang Sultan, sejarah seolah berbisik bahwa meski zaman berganti, semangat pembebasan akan selalu menemukan jalannya untuk saling mengenali.

 Pada tahun 1959, di bawah bayang-bayang kemenangan Revolusi Kuba yang masih hangat, Che Guevara melintasi cakrawala Timur Tengah. Ia bukan sekadar seorang pelancong; ia adalah simbol pemberontakan yang tengah mencari jejak-jejak keberanian di tanah para nabi.



Langkah kakinya kemudian terhenti di jantung kota Damaskus, Suriah, tepat di hadapan peristirahatan terakhir sang legenda: Sultan Salahuddin Al-Ayyubi.


Salahuddin, sang pembebas Yerusalem yang namanya menggetarkan pasukan Sa.lib, merupakan mercusuar kedaulatan bagi dunia Timur. Di sana, di dekat kemegahan Masjid Agung Umayyad, Che memberikan penghormatan khidmatnya. 


Momen ini bukan sekadar ziarah biasa, melainkan sebuah pertemuan spiritual melintasi zaman—sebuah jabat tangan tak terlihat antara pemimpin revolusi modern dan panglima perang masa lalu yang dipersatukan oleh api perlawanan yang sama.


Dalam potret-potret yang tersisa, Guevara tampak berdiri tegak dalam balutan seragam militernya yang ikonik. Di hadapan makam sang Sultan, sejarah seolah berbisik bahwa meski zaman berganti, semangat pembebasan akan selalu menemukan jalannya untuk saling mengenali.

Rumahnya ia sulap jadi museum untuk dirinya sendiri. Jurnalis BBC menyebutnya "Kesombongan Napoleon". Inilah kronologi kebangkitan dan kehancuran tragis Rajesh Khanna, superstar pertama India yang meninggal dalam sunyi. Kisah ini nyata. Inilah tragedi Rajesh Khanna. 🎬 LEGENDA YANG DISEMBAH BAK DEWA Rajesh Khanna, yang akrab disapa "Kaka", bukan sekadar bintang film—ia adalah superstar pertama dalam sejarah perfilman India (Bollywood). Lahir di Amritsar pada 29 Desember 1942, ia memulai debutnya di film "Aakhri Khat" pada 1966. Namun puncak fenomenanya terjadi pada 1969 lewat film "Aradhana". Sejak saat itu, ia membukukan 15 film solo hit berturut-turut antara 1969 hingga 1971—sebuah rekor yang hingga hari ini belum terpecahkan oleh siapa pun di Bollywood, termasuk Amitabh Bachchan sekalipun. Kehebohan yang ia timbulkan benar-benar di luar nalar. Para penggemar wanita berbaris di jalan hanya untuk melihat sosoknya sekilas. Mereka meneriakkan namanya, menutupi mobilnya dengan bekas lipstik, bahkan menulis surat untuknya menggunakan darah mereka sendiri. Beberapa gadis "menikahi" foto Rajesh Khanna, mengoleskan darah di dahi mereka sebagai sindoor—simbol pernikahan dalam budaya India. Ke mana pun ia pergi, polisi harus mengawalnya. Ia bukan lagi manusia biasa. Ia adalah dewa di mata jutaan orang. 🏛 "KUIL UNTUK DIRINYA SENDIRI" Puncak kesuksesan membuat Rajesh Khanna membeli sebuah bungalo mewah di Carter Road, Bandra, Mumbai. Rumah itu ia beri nama "Aashirwad"—yang dalam bahasa Hindi berarti "berkah". Namun yang terjadi di dalam rumah itu justru mencerminkan sesuatu yang lain. Pada 1973, seorang jurnalis BBC bernama Jack Pizzey datang ke Mumbai untuk membuat film dokumenter berjudul "Bombay Superstar". Pizzey ingin mewawancarai Rajesh Khanna. Tapi apa yang ia alami sungguh mengejutkan: Pizzey harus menunggu selama lima hari penuh hanya untuk bisa bertemu sang superstar, bak menghadap seorang raja. Saat kru BBC akhirnya diizinkan masuk ke rumah tersebut, Pizzey tertegun. Ia menulis dalam deskripsinya: "Di dalam rumahnya, sang bintang telah menatanya sebagai sebuah kuil untuk dirinya sendiri. Kami membaca majalah tentang dirinya, menunggu janji lain yang tidak pernah ia tepati, dan mempelajari piala-piala filmnya." Ya, Rajesh Khanna benar-benar menjadikan rumahnya museum pribadi yang seluruh isinya tentang dirinya sendiri: foto-fotonya, artikel tentang dirinya, dan deretan penghargaan yang memuja kehebatannya. ⚡ "KESOMBONGAN NAPOLEON" YANG MELEGENDA Dalam dokumenter BBC tersebut, Pizzey merekam momen keterlambatan kronis Rajesh Khanna di lokasi syuting. Dengan suara narasi yang dingin, Pizzey berkata: "Ini pukul 10 pagi yang lengket di musim panas, dan bintang terbesar seharusnya sudah tiba di studio ini. Superstar itu adalah Rajesh Khanna. Ia memiliki karisma Rudolph Valentino, kesombongan Napoleon, dan ia terlambat. Tidak ada yang bisa dilakukan sutradara. Ia menulis ulang dialog lagi, dialog yang seharusnya sudah diucapkan bintangnya sekarang. Ia berkeringat dan menunggu. Semua orang berkeringat, bersiap-siap, dan menunggu." Sutradara legendaris Hrishikesh Mukherjee yang saat itu menyutradarainya hanya bisa pasrah. Kru film tidur, bermain kartu, dan mengisi waktu entah sampai kapan. Keterlambatan ini bukan insiden satu kali. Aktris Sharmila Tagore—lawan mainnya di film-film legendaris seperti Aradhana dan Amar Prem—pernah menulis dengan jujur tentang Rajesh Khanna: "Kaka tidak pernah datang sebelum jam 12 siang untuk jadwal syuting jam 9 pagi. Kami tidak pernah selesai tepat waktu. Akibatnya, seluruh kru menekan saya untuk lembur. Ini menjadi kebiasaan, dan karena saya punya banyak film bersamanya, saya merasa terjebak. Akhirnya saya memilih bekerja dengan aktor lain lebih sering, dan jujur saja... itu sungguh melegakan." Bahkan aktris Moushumi Chatterjee secara blak-blakan menyebut Rajesh Khanna seorang yang egois, meskipun ia membela bahwa ego itu "memang pantas dimiliki" karena rekor 15 film hit berturut-turutnya yang sulit tertandingi. 📉 KEJATUHAN YANG SAMA CEPATNYA Masalahnya, industri film tidak menunggu. Kesuksesan Rajesh Khanna memang seperti meteor—gemilang di langit sesaat, lalu padam dengan cepat. Sejak 1973, perlahan tapi pasti, angin perubahan mulai berhembus di Bollywood. Seorang aktor jangkung bernama Amitabh Bachchan mulai menanjak popularitasnya. Berbeda dengan Rajesh Khanna yang dikenal lewat peran-peran romantis, Amitabh tampil garang dalam film aksi laga. Publik India sedang bergeser seleranya, dan Rajesh Khanna gagal beradaptasi. Sharmila Tagore mengamati dengan tajam: "Seperti persahabatannya, Kaka tidak merawat ketenarannya dan membiarkannya lepas dari genggaman. Ia gagal menyadari bahwa penonton sedang berubah, bahwa peran-peran yang ia mainkan semakin tidak relevan. Kaka entah tidak bisa atau tidak mau menemukan kembali dirinya agar tetap kekinian; sampai-sampai ia hampir menjadi karikatur dari dirinya sendiri, dan orang-orang mulai mengejeknya." Catatan sejarah menunjukkan betapa menusuknya ironi hidupnya. Dulu, surat-surat penggemar membanjiri rumahnya setiap hari. Kini, di hari-hari ulang tahunnya di masa senja, hanya dua buket bunga yang datang. Dua. 💔 KESEPIAN YANG MENGHANCURKAN Jurnalis dan sahabat dekatnya, Ali Peter John, menulis bagaimana Rajesh Khanna menghabiskan masa-masa terakhir hidupnya seorang diri di rumah Aashirwad yang dulu megah, ditemani botol-botol alkohol dan bayang-bayang kejayaan masa lalu. Ali Peter John menuliskan: "Sore, malam, dan waktu malamnya adalah saat di mana satu-satunya teman yang ia punya adalah kenangan akan masa lalu yang gemilang, penderitaan masa kini, dan ketakutan akan masa depan yang tak pasti." Ada satu momen paling memilukan yang direkam oleh Ali Peter John. Ia menemani Rajesh Khanna ke sebuah acara di Kolkata. Untuk sesaat, sambutan hangat penggemar di sana membuat Rajesh Khanna berbisik penuh harap: "Ali, apa tidak terasa seperti aku masih seorang superstar?" Namun kenyataan pahit langsung menghantam begitu mereka kembali ke Mumbai. Di bandara, tidak ada satu orang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada pria yang dulu duduk di singgasana itu. Rajesh Khanna, sang megabintang yang pernah menjadi raja di hati jutaan orang, terpaksa duduk di atas kopernya sendiri di lantai bandara. Seperti meteor yang jatuh ke bumi tanpa seorang pun peduli. ⚰ AKHIR YANG SUNYI Rajesh Khanna meninggal dunia pada 18 Juli 2012 di rumahnya sendiri—Aashirwad—pada usia 69 tahun setelah berjuang melawan kanker. Ratusan penggemar memang membanjiri jalan Carter Road saat prosesi pemakamannya, seolah mengingatkan dunia akan histeria masa lalu. Namun ironisnya, bungalo Aashirwad yang dulu ia harapkan menjadi museum sinema justru dijual oleh keluarganya seharga ₹90 crore (sekitar Rp1,7 triliun) kepada seorang pengusaha—dan pada 2016, rumah itu diratakan dengan tanah. Mimpi terakhirnya untuk membuat museum Hindi Cinema yang memamerkan kejayaannya sendiri tak pernah terwujud. Bungalo yang dulu ia banggakan sebagai "kuil untuk dirinya sendiri" itu kini hanya tinggal kenangan. 🌟 PELAJARAN DARI KISAH INI Kisah Rajesh Khanna adalah cermin yang memantulkan kebenaran universal: bakat dan ketenaran adalah hadiah yang luar biasa, tetapi kesombongan adalah racun yang mematikan. Karisma Rudolph Valentino dan kesuksesan seperti Napoleon tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati. Seperti kata pepatah: "Jadilah seperti padi—semakin berisi, semakin merunduk." Karena pada akhirnya, yang tersisa dari manusia bukanlah limousin yang ia tumpangi atau poster yang menyambutnya, melainkan jejak ketulusan yang ia tinggalkan di hati sesama. --- 📌 GLOSARIUM (Istilah Penting dalam Cerita Ini): 🔹 Bollywood: Sebutan untuk industri film India yang berbahasa Hindi, berpusat di Mumbai (dulu Bombay). Nama ini gabungan dari Bombay + Hollywood. 🔹 Sindoor: Bubuk merah yang dioleskan di dahi wanita Hindu sebagai simbol pernikahan. 🔹 Bungalo (Bungalow): Rumah mewah satu lantai khas era kolonial, umum di India. 🔹 Carter Road: Jalan utama di daerah elite Bandra, Mumbai, yang terkenal sebagai lokasi rumah para selebriti Bollywood. 🔹 Lakh/Crore: Satuan angka di India. 1 lakh = 100.000; 1 crore = 10.000.000. #JutaanFakta #RajeshKhanna #TragediSuperstar #SejarahBollywood #PelajaranHidup Rajesh Khanna, superstar pertama India, Bombay Superstar BBC, Aashirwad Gambar AI hanya Ilustrasi

 Rumahnya ia sulap jadi museum untuk dirinya sendiri. Jurnalis BBC menyebutnya "Kesombongan Napoleon". Inilah kronologi kebangkitan dan kehancuran tragis Rajesh Khanna, superstar pertama India yang meninggal dalam sunyi.



Kisah ini nyata. Inilah tragedi Rajesh Khanna.


🎬 LEGENDA YANG DISEMBAH BAK DEWA


Rajesh Khanna, yang akrab disapa "Kaka", bukan sekadar bintang film—ia adalah superstar pertama dalam sejarah perfilman India (Bollywood). Lahir di Amritsar pada 29 Desember 1942, ia memulai debutnya di film "Aakhri Khat" pada 1966.


Namun puncak fenomenanya terjadi pada 1969 lewat film "Aradhana". Sejak saat itu, ia membukukan 15 film solo hit berturut-turut antara 1969 hingga 1971—sebuah rekor yang hingga hari ini belum terpecahkan oleh siapa pun di Bollywood, termasuk Amitabh Bachchan sekalipun.


Kehebohan yang ia timbulkan benar-benar di luar nalar.


Para penggemar wanita berbaris di jalan hanya untuk melihat sosoknya sekilas. Mereka meneriakkan namanya, menutupi mobilnya dengan bekas lipstik, bahkan menulis surat untuknya menggunakan darah mereka sendiri. Beberapa gadis "menikahi" foto Rajesh Khanna, mengoleskan darah di dahi mereka sebagai sindoor—simbol pernikahan dalam budaya India. Ke mana pun ia pergi, polisi harus mengawalnya. Ia bukan lagi manusia biasa. Ia adalah dewa di mata jutaan orang.


🏛 "KUIL UNTUK DIRINYA SENDIRI"


Puncak kesuksesan membuat Rajesh Khanna membeli sebuah bungalo mewah di Carter Road, Bandra, Mumbai. Rumah itu ia beri nama "Aashirwad"—yang dalam bahasa Hindi berarti "berkah".


Namun yang terjadi di dalam rumah itu justru mencerminkan sesuatu yang lain. Pada 1973, seorang jurnalis BBC bernama Jack Pizzey datang ke Mumbai untuk membuat film dokumenter berjudul "Bombay Superstar". Pizzey ingin mewawancarai Rajesh Khanna. Tapi apa yang ia alami sungguh mengejutkan: Pizzey harus menunggu selama lima hari penuh hanya untuk bisa bertemu sang superstar, bak menghadap seorang raja.


Saat kru BBC akhirnya diizinkan masuk ke rumah tersebut, Pizzey tertegun. Ia menulis dalam deskripsinya:


"Di dalam rumahnya, sang bintang telah menatanya sebagai sebuah kuil untuk dirinya sendiri. Kami membaca majalah tentang dirinya, menunggu janji lain yang tidak pernah ia tepati, dan mempelajari piala-piala filmnya."


Ya, Rajesh Khanna benar-benar menjadikan rumahnya museum pribadi yang seluruh isinya tentang dirinya sendiri: foto-fotonya, artikel tentang dirinya, dan deretan penghargaan yang memuja kehebatannya.


⚡ "KESOMBONGAN NAPOLEON" YANG MELEGENDA


Dalam dokumenter BBC tersebut, Pizzey merekam momen keterlambatan kronis Rajesh Khanna di lokasi syuting. Dengan suara narasi yang dingin, Pizzey berkata:


"Ini pukul 10 pagi yang lengket di musim panas, dan bintang terbesar seharusnya sudah tiba di studio ini. Superstar itu adalah Rajesh Khanna. Ia memiliki karisma Rudolph Valentino, kesombongan Napoleon, dan ia terlambat. Tidak ada yang bisa dilakukan sutradara. Ia menulis ulang dialog lagi, dialog yang seharusnya sudah diucapkan bintangnya sekarang. Ia berkeringat dan menunggu. Semua orang berkeringat, bersiap-siap, dan menunggu."


Sutradara legendaris Hrishikesh Mukherjee yang saat itu menyutradarainya hanya bisa pasrah. Kru film tidur, bermain kartu, dan mengisi waktu entah sampai kapan.


Keterlambatan ini bukan insiden satu kali. Aktris Sharmila Tagore—lawan mainnya di film-film legendaris seperti Aradhana dan Amar Prem—pernah menulis dengan jujur tentang Rajesh Khanna:


"Kaka tidak pernah datang sebelum jam 12 siang untuk jadwal syuting jam 9 pagi. Kami tidak pernah selesai tepat waktu. Akibatnya, seluruh kru menekan saya untuk lembur. Ini menjadi kebiasaan, dan karena saya punya banyak film bersamanya, saya merasa terjebak. Akhirnya saya memilih bekerja dengan aktor lain lebih sering, dan jujur saja... itu sungguh melegakan."


Bahkan aktris Moushumi Chatterjee secara blak-blakan menyebut Rajesh Khanna seorang yang egois, meskipun ia membela bahwa ego itu "memang pantas dimiliki" karena rekor 15 film hit berturut-turutnya yang sulit tertandingi.


📉 KEJATUHAN YANG SAMA CEPATNYA


Masalahnya, industri film tidak menunggu. Kesuksesan Rajesh Khanna memang seperti meteor—gemilang di langit sesaat, lalu padam dengan cepat.


Sejak 1973, perlahan tapi pasti, angin perubahan mulai berhembus di Bollywood. Seorang aktor jangkung bernama Amitabh Bachchan mulai menanjak popularitasnya. Berbeda dengan Rajesh Khanna yang dikenal lewat peran-peran romantis, Amitabh tampil garang dalam film aksi laga. Publik India sedang bergeser seleranya, dan Rajesh Khanna gagal beradaptasi.


Sharmila Tagore mengamati dengan tajam:


"Seperti persahabatannya, Kaka tidak merawat ketenarannya dan membiarkannya lepas dari genggaman. Ia gagal menyadari bahwa penonton sedang berubah, bahwa peran-peran yang ia mainkan semakin tidak relevan. Kaka entah tidak bisa atau tidak mau menemukan kembali dirinya agar tetap kekinian; sampai-sampai ia hampir menjadi karikatur dari dirinya sendiri, dan orang-orang mulai mengejeknya."


Catatan sejarah menunjukkan betapa menusuknya ironi hidupnya. Dulu, surat-surat penggemar membanjiri rumahnya setiap hari. Kini, di hari-hari ulang tahunnya di masa senja, hanya dua buket bunga yang datang. Dua.


💔 KESEPIAN YANG MENGHANCURKAN


Jurnalis dan sahabat dekatnya, Ali Peter John, menulis bagaimana Rajesh Khanna menghabiskan masa-masa terakhir hidupnya seorang diri di rumah Aashirwad yang dulu megah, ditemani botol-botol alkohol dan bayang-bayang kejayaan masa lalu.


Ali Peter John menuliskan:


"Sore, malam, dan waktu malamnya adalah saat di mana satu-satunya teman yang ia punya adalah kenangan akan masa lalu yang gemilang, penderitaan masa kini, dan ketakutan akan masa depan yang tak pasti."


Ada satu momen paling memilukan yang direkam oleh Ali Peter John. Ia menemani Rajesh Khanna ke sebuah acara di Kolkata. Untuk sesaat, sambutan hangat penggemar di sana membuat Rajesh Khanna berbisik penuh harap:


"Ali, apa tidak terasa seperti aku masih seorang superstar?"


Namun kenyataan pahit langsung menghantam begitu mereka kembali ke Mumbai. Di bandara, tidak ada satu orang pun yang mau memberikan tempat duduk kepada pria yang dulu duduk di singgasana itu. Rajesh Khanna, sang megabintang yang pernah menjadi raja di hati jutaan orang, terpaksa duduk di atas kopernya sendiri di lantai bandara.


Seperti meteor yang jatuh ke bumi tanpa seorang pun peduli.


⚰ AKHIR YANG SUNYI


Rajesh Khanna meninggal dunia pada 18 Juli 2012 di rumahnya sendiri—Aashirwad—pada usia 69 tahun setelah berjuang melawan kanker. Ratusan penggemar memang membanjiri jalan Carter Road saat prosesi pemakamannya, seolah mengingatkan dunia akan histeria masa lalu. Namun ironisnya, bungalo Aashirwad yang dulu ia harapkan menjadi museum sinema justru dijual oleh keluarganya seharga ₹90 crore (sekitar Rp1,7 triliun) kepada seorang pengusaha—dan pada 2016, rumah itu diratakan dengan tanah.


Mimpi terakhirnya untuk membuat museum Hindi Cinema yang memamerkan kejayaannya sendiri tak pernah terwujud. Bungalo yang dulu ia banggakan sebagai "kuil untuk dirinya sendiri" itu kini hanya tinggal kenangan.


🌟 PELAJARAN DARI KISAH INI


Kisah Rajesh Khanna adalah cermin yang memantulkan kebenaran universal: bakat dan ketenaran adalah hadiah yang luar biasa, tetapi kesombongan adalah racun yang mematikan. Karisma Rudolph Valentino dan kesuksesan seperti Napoleon tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan kerendahan hati.


Seperti kata pepatah: "Jadilah seperti padi—semakin berisi, semakin merunduk." Karena pada akhirnya, yang tersisa dari manusia bukanlah limousin yang ia tumpangi atau poster yang menyambutnya, melainkan jejak ketulusan yang ia tinggalkan di hati sesama.


---


📌 GLOSARIUM (Istilah Penting dalam Cerita Ini):


🔹 Bollywood: Sebutan untuk industri film India yang berbahasa Hindi, berpusat di Mumbai (dulu Bombay). Nama ini gabungan dari Bombay + Hollywood.

🔹 Sindoor: Bubuk merah yang dioleskan di dahi wanita Hindu sebagai simbol pernikahan.

🔹 Bungalo (Bungalow): Rumah mewah satu lantai khas era kolonial, umum di India.

🔹 Carter Road: Jalan utama di daerah elite Bandra, Mumbai, yang terkenal sebagai lokasi rumah para selebriti Bollywood.

🔹 Lakh/Crore: Satuan angka di India. 1 lakh = 100.000; 1 crore = 10.000.000.


#JutaanFakta #RajeshKhanna #TragediSuperstar #SejarahBollywood #PelajaranHidup


Rajesh Khanna, superstar pertama India, Bombay Superstar BBC, Aashirwad


Gambar AI hanya Ilustrasi

Luhut Ceritakan Kegarangan Jenderal Benny Moerdani di Era Soeharto. Di masa ketika hierarki militer begitu kaku dan disiplin menjadi napas utama, seorang perwira muda bernama Luhut Binsar Panjaitan justru memiliki akses yang tidak biasa. Saat masih berpangkat mayor, ia kerap dipanggil langsung oleh Panglima ABRI, Benny Moerdani seorang jenderal bintang empat yang dikenal dingin, tegas, dan penuh wibawa. Pertemuan-pertemuan itu bukan sekadar formalitas. Keduanya bisa berbincang selama berjam-jam, membahas berbagai hal strategis. Namun, kedekatan ini diam-diam memicu kegelisahan di kalangan senior Luhut. Dalam kultur militer, jalur komando adalah harga mati dan Luhut dianggap “melompati” itu. Menyadari situasi yang tidak nyaman, Luhut akhirnya memberanikan diri mengajukan permintaan yang terdengar sederhana, namun sarat risiko: agar pemanggilan dirinya dilakukan melalui atasan langsung. Ia memilih momen ketika suasana hati Benny sedang baik. Dengan hati-hati, ia menyampaikan maksudnya. Reaksi Benny tak seperti yang diharapkan. Wajah sang jenderal mendadak mengeras. Tangannya menyapu meja dengan gestur tegas. Suasana berubah dingin. Luhut langsung sadar ia telah menyentuh batas yang tak seharusnya dilewati. Dengan nada keras, Benny menegaskan hierarki yang tak bisa ditawar: “Luhut, saya jenderal bintang empat, kamu letkol.” Jawaban Luhut singkat, padat, dan penuh kepatuhan: “Siap!” Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mempertanyakan cara pemanggilan tersebut. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan kepercayaan besar. Salah satu momen paling menentukan adalah ketika Luhut ditugaskan mengamankan Presiden Soeharto dalam KTT ASEAN di Manila. Dalam gaya khasnya yang dingin, Benny menyampaikan pesan yang mengguncang mental: Keselamatan kepala negara adalah segalanya. Jika terjadi sesuatu pada Soeharto, maka bukan hanya jabatan yang dipertaruhkan melainkan masa depan republik. “Taruhan keselamatan Pak Harto adalah lehermu,” kira-kira begitu pesan yang disampaikan. Sekali lagi, Luhut menjawab tanpa ragu: “Siap. Laksanakan.” Kepercayaan Benny terhadap Luhut bukan tanpa alasan. Ia termasuk perwira terbaik lulusan Akabri 1970, dan bahkan dikirim untuk belajar kontra-terorisme di unit elite GSG 9 di Jerman Barat, bersama Prabowo Subianto. Sepulangnya, Luhut dipercaya memimpin Detasemen 81 cikal bakal pasukan anti-teror elit Indonesia. Namun dalam dunia kekuasaan, kedekatan sering kali membawa konsekuensi. Ketika Benny Moerdani akhirnya dicopot oleh Soeharto salah satunya karena berani menyinggung bisnis keluarga presiden dampaknya ikut dirasakan oleh orang-orang dekatnya. Luhut, yang dikenal sebagai “golden boy” Benny, perlahan kehilangan momentum dalam karier militernya. Ia tak pernah menduduki posisi strategis puncak seperti Danjen Kopassus, Pangdam, Pangkostrad, apalagi KSAD. Meski demikian, Luhut tidak menyimpan penyesalan. Ia menerima semuanya sebagai bagian dari konsekuensi pilihan dan loyalitas. Dalam dunia militer yang keras, kisah ini bukan sekadar tentang kedekatan antara atasan dan bawahan. Ini adalah cerita tentang kepercayaan, keberanian, batas hierarki, dan harga yang harus dibayar ketika berada terlalu dekat dengan pusat kekuasaan. Sumber : merdeka.com #SejarahIndonesia #OrdeBaru #LuhutPanjaitan #BennyMoerdani #MiliterIndonesia #KisahInspiratif #JejakJenderal

 Luhut Ceritakan Kegarangan Jenderal Benny Moerdani di Era Soeharto.


Di masa ketika hierarki militer begitu kaku dan disiplin menjadi napas utama, seorang perwira muda bernama Luhut Binsar Panjaitan justru memiliki akses yang tidak biasa. Saat masih berpangkat mayor, ia kerap dipanggil langsung oleh Panglima ABRI, Benny Moerdani seorang jenderal bintang empat yang dikenal dingin, tegas, dan penuh wibawa.



Pertemuan-pertemuan itu bukan sekadar formalitas. Keduanya bisa berbincang selama berjam-jam, membahas berbagai hal strategis. Namun, kedekatan ini diam-diam memicu kegelisahan di kalangan senior Luhut. Dalam kultur militer, jalur komando adalah harga mati dan Luhut dianggap “melompati” itu.


Menyadari situasi yang tidak nyaman, Luhut akhirnya memberanikan diri mengajukan permintaan yang terdengar sederhana, namun sarat risiko: agar pemanggilan dirinya dilakukan melalui atasan langsung. Ia memilih momen ketika suasana hati Benny sedang baik. Dengan hati-hati, ia menyampaikan maksudnya.


Reaksi Benny tak seperti yang diharapkan.


Wajah sang jenderal mendadak mengeras. Tangannya menyapu meja dengan gestur tegas. Suasana berubah dingin. Luhut langsung sadar ia telah menyentuh batas yang tak seharusnya dilewati.


Dengan nada keras, Benny menegaskan hierarki yang tak bisa ditawar:

“Luhut, saya jenderal bintang empat, kamu letkol.”


Jawaban Luhut singkat, padat, dan penuh kepatuhan: “Siap!”

Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mempertanyakan cara pemanggilan tersebut.


Namun di balik ketegasan itu, tersimpan kepercayaan besar.


Salah satu momen paling menentukan adalah ketika Luhut ditugaskan mengamankan Presiden Soeharto dalam KTT ASEAN di Manila. Dalam gaya khasnya yang dingin, Benny menyampaikan pesan yang mengguncang mental:


Keselamatan kepala negara adalah segalanya. Jika terjadi sesuatu pada Soeharto, maka bukan hanya jabatan yang dipertaruhkan melainkan masa depan republik.


“Taruhan keselamatan Pak Harto adalah lehermu,” kira-kira begitu pesan yang disampaikan.


Sekali lagi, Luhut menjawab tanpa ragu: “Siap. Laksanakan.”


Kepercayaan Benny terhadap Luhut bukan tanpa alasan. Ia termasuk perwira terbaik lulusan Akabri 1970, dan bahkan dikirim untuk belajar kontra-terorisme di unit elite GSG 9 di Jerman Barat, bersama Prabowo Subianto. Sepulangnya, Luhut dipercaya memimpin Detasemen 81 cikal bakal pasukan anti-teror elit Indonesia.


Namun dalam dunia kekuasaan, kedekatan sering kali membawa konsekuensi.


Ketika Benny Moerdani akhirnya dicopot oleh Soeharto salah satunya karena berani menyinggung bisnis keluarga presiden dampaknya ikut dirasakan oleh orang-orang dekatnya. Luhut, yang dikenal sebagai “golden boy” Benny, perlahan kehilangan momentum dalam karier militernya.


Ia tak pernah menduduki posisi strategis puncak seperti Danjen Kopassus, Pangdam, Pangkostrad, apalagi KSAD.


Meski demikian, Luhut tidak menyimpan penyesalan. Ia menerima semuanya sebagai bagian dari konsekuensi pilihan dan loyalitas.


Dalam dunia militer yang keras, kisah ini bukan sekadar tentang kedekatan antara atasan dan bawahan. Ini adalah cerita tentang kepercayaan, keberanian, batas hierarki, dan harga yang harus dibayar ketika berada terlalu dekat dengan pusat kekuasaan.

Sumber : merdeka.com

#SejarahIndonesia

#OrdeBaru

#LuhutPanjaitan

#BennyMoerdani

#MiliterIndonesia

#KisahInspiratif

#JejakJenderal

Belgrade, 1912. Di bawah bayang-bayang benteng yang membisu, sejarah sedang menangis. Di wajah Jenderal Fuad Pasha, sang panglima Ottoman yang kini tertunduk dalam tawanan, terpancar duka yang tak terlukiskan. Itu bukan sekadar air mata kekalahan seorang prajurit, melainkan duka atas runtuhnya sebuah peradaban yang telah tertanam selama berabad-abad. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Perang Balkan menghancurkan segala yang telah dibangun oleh para Sultan dan Khalifah agung selama seratus lima puluh tahun. Ambisi buta kaum Turan dari kelompok Union and Progress (Ittihat ve Terakki) menjadi lonceng kematian bagi wilayah yang pernah menjadi permata mahkota Daulah Utsmaniyah. Fajar yang Pernah Menyingsing Jejak Islam di Eropa Timur sebenarnya telah tertoreh jauh sebelum meriam Utsmaniyah berdentum. Pada abad ke-3 Hijriah, para pedagang Abbasiyah telah menginjakkan kaki di sana, membawa perniagaan sekaligus embusan cahaya iman. Namun, kejayaan Islam yang kokoh secara politik dan militer baru benar-benar tegak saat panji-pagi Utsmaniyah menyeberangi Selat Dardanella. Langkah kaki tentara Sultan Bayezid I meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di Thrace, menembus jantung Serbia dan Bulgaria. Puncaknya, dunia terhenyak saat Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Romawi Timur, tetapi juga mengubah wajah sejarah dunia selamanya. Islam kemudian menyebar bak air yang tenang namun pasti; merangkul Bosnia pada 1463, hingga menjangkau Rumania pada 1475. Di Bosnia, cahaya Islam disambut hangat oleh kaum bangsawan dan rakyatnya, menciptakan identitas baru yang takkan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya oleh waktu. Musim Dingin yang Panjang dan Pengkhianatan Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Setelah lima abad berkuasa dengan gagah, Kesultanan Utsmaniyah mulai goyah. Keropos dari dalam, ditekan dari luar. Perang Rusia-Ottoman (1877–1878) menjadi luka menganga yang menandai awal berakhirnya sebuah era. Rusia, sang pemangsa yang jeli, memanfaatkan kelemahan sang "Orang Sakit dari Eropa" untuk membakar semangat pemberontakan. Aliansi Ortodoks dibentuk—Bulgaria, Yunani, Serbia, dan Montenegro bersatu di bawah restu Rusia untuk mengusir sang penguasa lama. Saat Perang Balkan pecah, tentara Utsmani maju dengan tubuh yang letih dan kepemimpinan yang rapuh di bawah kendali kelompok Union and Progress. Sebaliknya, musuh-musuh mereka telah dipersenjatai dengan teknologi modern dan dendam yang membara. Hasilnya adalah sebuah katastrofe. Tanah-tanah di Eropa lepas satu demi satu, tentara hancur berkeping-keping, dan lembaran sejarah Islam di tanah tersebut seolah dipaksa untuk ditutup dengan tinta darah. Luka yang Tak Kunjung Mengering Pasca mundurnya kekuasaan politik Utsmaniyah, umat Islam di Balkan terlempar ke dalam jurang penderitaan. Mereka menjadi minoritas yang terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Dianggap sebagai "pengkhianat" karena memeluk agama sang penakluk, mereka menjadi sasaran amuk massa dan pembant*aian yang keji. Eksodus besar-besaran terjadi; ribuan jiwa melarikan diri menuju Turki dan tanah Arab demi menyelamatkan nyawa dan iman. Abad ke-20 tidak membawa kedamaian. Rezim Komunis datang dengan tangan besi yang lebih dingin. Di Albania, agama coba dicabut hingga ke akar-akarnya, menciptakan masyarakat yang hampa secara spiritual. Tragedi belum berhenti di sana; pada tahun 1992, dunia menyaksikan dengan ngeri pembe*rsihan etnis paling bia*dab di Bosnia, disusul bara api di Kosovo dan Makedonia. Peta kependudukan Muslim di Balkan kini dilukis kembali dengan darah dan api. Sebuah pengingat pahit bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak hanya berakhir di atas meja perundingan politik, tetapi juga meninggalkan luka yang berdenyut dalam memori kolektif bangsa-bangsa, melintasi generasi yang menolak untuk lupa. Sumber Utama: 1. The Ottoman Balkans, 1750–1830 – Studi mendalam mengenai transformasi sosial-politik Utsmaniyah di Balkan. 2. Islam and the Balkans: Religion and Society between Europe and the Arab World – Menelusuri nasib umat Islam pasca mundurnya kekuasaan Utsmaniyah.

 Belgrade, 1912. Di bawah bayang-bayang benteng yang membisu, sejarah sedang menangis. Di wajah Jenderal Fuad Pasha, sang panglima Ottoman yang kini tertunduk dalam tawanan, terpancar duka yang tak terlukiskan. Itu bukan sekadar air mata kekalahan seorang prajurit, melainkan duka atas runtuhnya sebuah peradaban yang telah tertanam selama berabad-abad.



Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Perang Balkan menghancurkan segala yang telah dibangun oleh para Sultan dan Khalifah agung selama seratus lima puluh tahun. Ambisi buta kaum Turan dari kelompok Union and Progress (Ittihat ve Terakki) menjadi lonceng kematian bagi wilayah yang pernah menjadi permata mahkota Daulah Utsmaniyah.


Fajar yang Pernah Menyingsing


Jejak Islam di Eropa Timur sebenarnya telah tertoreh jauh sebelum meriam Utsmaniyah berdentum. Pada abad ke-3 Hijriah, para pedagang Abbasiyah telah menginjakkan kaki di sana, membawa perniagaan sekaligus embusan cahaya iman. Namun, kejayaan Islam yang kokoh secara politik dan militer baru benar-benar tegak saat panji-pagi Utsmaniyah menyeberangi Selat Dardanella.


Langkah kaki tentara Sultan Bayezid I meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di Thrace, menembus jantung Serbia dan Bulgaria. Puncaknya, dunia terhenyak saat Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Romawi Timur, tetapi juga mengubah wajah sejarah dunia selamanya. Islam kemudian menyebar bak air yang tenang namun pasti; merangkul Bosnia pada 1463, hingga menjangkau Rumania pada 1475. Di Bosnia, cahaya Islam disambut hangat oleh kaum bangsawan dan rakyatnya, menciptakan identitas baru yang takkan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya oleh waktu.


Musim Dingin yang Panjang dan Pengkhianatan


Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Setelah lima abad berkuasa dengan gagah, Kesultanan Utsmaniyah mulai goyah. Keropos dari dalam, ditekan dari luar. Perang Rusia-Ottoman (1877–1878) menjadi luka menganga yang menandai awal berakhirnya sebuah era. Rusia, sang pemangsa yang jeli, memanfaatkan kelemahan sang "Orang Sakit dari Eropa" untuk membakar semangat pemberontakan. Aliansi Ortodoks dibentuk—Bulgaria, Yunani, Serbia, dan Montenegro bersatu di bawah restu Rusia untuk mengusir sang penguasa lama.


Saat Perang Balkan pecah, tentara Utsmani maju dengan tubuh yang letih dan kepemimpinan yang rapuh di bawah kendali kelompok Union and Progress. Sebaliknya, musuh-musuh mereka telah dipersenjatai dengan teknologi modern dan dendam yang membara. Hasilnya adalah sebuah katastrofe. Tanah-tanah di Eropa lepas satu demi satu, tentara hancur berkeping-keping, dan lembaran sejarah Islam di tanah tersebut seolah dipaksa untuk ditutup dengan tinta darah.


Luka yang Tak Kunjung Mengering


Pasca mundurnya kekuasaan politik Utsmaniyah, umat Islam di Balkan terlempar ke dalam jurang penderitaan. Mereka menjadi minoritas yang terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Dianggap sebagai "pengkhianat" karena memeluk agama sang penakluk, mereka menjadi sasaran amuk massa dan pembant*aian yang keji. Eksodus besar-besaran terjadi; ribuan jiwa melarikan diri menuju Turki dan tanah Arab demi menyelamatkan nyawa dan iman.


Abad ke-20 tidak membawa kedamaian. Rezim Komunis datang dengan tangan besi yang lebih dingin. Di Albania, agama coba dicabut hingga ke akar-akarnya, menciptakan masyarakat yang hampa secara spiritual. Tragedi belum berhenti di sana; pada tahun 1992, dunia menyaksikan dengan ngeri pembe*rsihan etnis paling bia*dab di Bosnia, disusul bara api di Kosovo dan Makedonia.


Peta kependudukan Muslim di Balkan kini dilukis kembali dengan darah dan api. Sebuah pengingat pahit bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak hanya berakhir di atas meja perundingan politik, tetapi juga meninggalkan luka yang berdenyut dalam memori kolektif bangsa-bangsa, melintasi generasi yang menolak untuk lupa.


Sumber Utama:

1. The Ottoman Balkans, 1750–1830 – Studi mendalam mengenai transformasi sosial-politik Utsmaniyah di Balkan.


2. Islam and the Balkans: Religion and Society between Europe and the Arab World – Menelusuri nasib umat Islam pasca mundurnya kekuasaan Utsmaniyah.

Belgrade, 1912. Di bawah bayang-bayang benteng yang membisu, sejarah sedang menangis. Di wajah Jenderal Fuad Pasha, sang panglima Ottoman yang kini tertunduk dalam tawanan, terpancar duka yang tak terlukiskan. Itu bukan sekadar air mata kekalahan seorang prajurit, melainkan duka atas runtuhnya sebuah peradaban yang telah tertanam selama berabad-abad. Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Perang Balkan menghancurkan segala yang telah dibangun oleh para Sultan dan Khalifah agung selama seratus lima puluh tahun. Ambisi buta kaum Turan dari kelompok Union and Progress (Ittihat ve Terakki) menjadi lonceng kematian bagi wilayah yang pernah menjadi permata mahkota Daulah Utsmaniyah. Fajar yang Pernah Menyingsing Jejak Islam di Eropa Timur sebenarnya telah tertoreh jauh sebelum meriam Utsmaniyah berdentum. Pada abad ke-3 Hijriah, para pedagang Abbasiyah telah menginjakkan kaki di sana, membawa perniagaan sekaligus embusan cahaya iman. Namun, kejayaan Islam yang kokoh secara politik dan militer baru benar-benar tegak saat panji-pagi Utsmaniyah menyeberangi Selat Dardanella. Langkah kaki tentara Sultan Bayezid I meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di Thrace, menembus jantung Serbia dan Bulgaria. Puncaknya, dunia terhenyak saat Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Romawi Timur, tetapi juga mengubah wajah sejarah dunia selamanya. Islam kemudian menyebar bak air yang tenang namun pasti; merangkul Bosnia pada 1463, hingga menjangkau Rumania pada 1475. Di Bosnia, cahaya Islam disambut hangat oleh kaum bangsawan dan rakyatnya, menciptakan identitas baru yang takkan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya oleh waktu. Musim Dingin yang Panjang dan Pengkhianatan Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Setelah lima abad berkuasa dengan gagah, Kesultanan Utsmaniyah mulai goyah. Keropos dari dalam, ditekan dari luar. Perang Rusia-Ottoman (1877–1878) menjadi luka menganga yang menandai awal berakhirnya sebuah era. Rusia, sang pemangsa yang jeli, memanfaatkan kelemahan sang "Orang Sakit dari Eropa" untuk membakar semangat pemberontakan. Aliansi Ortodoks dibentuk—Bulgaria, Yunani, Serbia, dan Montenegro bersatu di bawah restu Rusia untuk mengusir sang penguasa lama. Saat Perang Balkan pecah, tentara Utsmani maju dengan tubuh yang letih dan kepemimpinan yang rapuh di bawah kendali kelompok Union and Progress. Sebaliknya, musuh-musuh mereka telah dipersenjatai dengan teknologi modern dan dendam yang membara. Hasilnya adalah sebuah katastrofe. Tanah-tanah di Eropa lepas satu demi satu, tentara hancur berkeping-keping, dan lembaran sejarah Islam di tanah tersebut seolah dipaksa untuk ditutup dengan tinta darah. Luka yang Tak Kunjung Mengering Pasca mundurnya kekuasaan politik Utsmaniyah, umat Islam di Balkan terlempar ke dalam jurang penderitaan. Mereka menjadi minoritas yang terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Dianggap sebagai "pengkhianat" karena memeluk agama sang penakluk, mereka menjadi sasaran amuk massa dan pembant*aian yang keji. Eksodus besar-besaran terjadi; ribuan jiwa melarikan diri menuju Turki dan tanah Arab demi menyelamatkan nyawa dan iman. Abad ke-20 tidak membawa kedamaian. Rezim Komunis datang dengan tangan besi yang lebih dingin. Di Albania, agama coba dicabut hingga ke akar-akarnya, menciptakan masyarakat yang hampa secara spiritual. Tragedi belum berhenti di sana; pada tahun 1992, dunia menyaksikan dengan ngeri pembe*rsihan etnis paling bia*dab di Bosnia, disusul bara api di Kosovo dan Makedonia. Peta kependudukan Muslim di Balkan kini dilukis kembali dengan darah dan api. Sebuah pengingat pahit bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak hanya berakhir di atas meja perundingan politik, tetapi juga meninggalkan luka yang berdenyut dalam memori kolektif bangsa-bangsa, melintasi generasi yang menolak untuk lupa. Sumber Utama: 1. The Ottoman Balkans, 1750–1830 – Studi mendalam mengenai transformasi sosial-politik Utsmaniyah di Balkan. 2. Islam and the Balkans: Religion and Society between Europe and the Arab World – Menelusuri nasib umat Islam pasca mundurnya kekuasaan Utsmaniyah.

 Belgrade, 1912. Di bawah bayang-bayang benteng yang membisu, sejarah sedang menangis. Di wajah Jenderal Fuad Pasha, sang panglima Ottoman yang kini tertunduk dalam tawanan, terpancar duka yang tak terlukiskan. Itu bukan sekadar air mata kekalahan seorang prajurit, melainkan duka atas runtuhnya sebuah peradaban yang telah tertanam selama berabad-abad.



Hanya dalam kurun waktu satu tahun, Perang Balkan menghancurkan segala yang telah dibangun oleh para Sultan dan Khalifah agung selama seratus lima puluh tahun. Ambisi buta kaum Turan dari kelompok Union and Progress (Ittihat ve Terakki) menjadi lonceng kematian bagi wilayah yang pernah menjadi permata mahkota Daulah Utsmaniyah.


Fajar yang Pernah Menyingsing


Jejak Islam di Eropa Timur sebenarnya telah tertoreh jauh sebelum meriam Utsmaniyah berdentum. Pada abad ke-3 Hijriah, para pedagang Abbasiyah telah menginjakkan kaki di sana, membawa perniagaan sekaligus embusan cahaya iman. Namun, kejayaan Islam yang kokoh secara politik dan militer baru benar-benar tegak saat panji-pagi Utsmaniyah menyeberangi Selat Dardanella.


Langkah kaki tentara Sultan Bayezid I meruntuhkan tembok-tembok pertahanan di Thrace, menembus jantung Serbia dan Bulgaria. Puncaknya, dunia terhenyak saat Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada 1453—sebuah peristiwa yang tidak hanya mengakhiri kekuasaan Romawi Timur, tetapi juga mengubah wajah sejarah dunia selamanya. Islam kemudian menyebar bak air yang tenang namun pasti; merangkul Bosnia pada 1463, hingga menjangkau Rumania pada 1475. Di Bosnia, cahaya Islam disambut hangat oleh kaum bangsawan dan rakyatnya, menciptakan identitas baru yang takkan pernah bisa dihapuskan sepenuhnya oleh waktu.


Musim Dingin yang Panjang dan Pengkhianatan


Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Setelah lima abad berkuasa dengan gagah, Kesultanan Utsmaniyah mulai goyah. Keropos dari dalam, ditekan dari luar. Perang Rusia-Ottoman (1877–1878) menjadi luka menganga yang menandai awal berakhirnya sebuah era. Rusia, sang pemangsa yang jeli, memanfaatkan kelemahan sang "Orang Sakit dari Eropa" untuk membakar semangat pemberontakan. Aliansi Ortodoks dibentuk—Bulgaria, Yunani, Serbia, dan Montenegro bersatu di bawah restu Rusia untuk mengusir sang penguasa lama.


Saat Perang Balkan pecah, tentara Utsmani maju dengan tubuh yang letih dan kepemimpinan yang rapuh di bawah kendali kelompok Union and Progress. Sebaliknya, musuh-musuh mereka telah dipersenjatai dengan teknologi modern dan dendam yang membara. Hasilnya adalah sebuah katastrofe. Tanah-tanah di Eropa lepas satu demi satu, tentara hancur berkeping-keping, dan lembaran sejarah Islam di tanah tersebut seolah dipaksa untuk ditutup dengan tinta darah.


Luka yang Tak Kunjung Mengering


Pasca mundurnya kekuasaan politik Utsmaniyah, umat Islam di Balkan terlempar ke dalam jurang penderitaan. Mereka menjadi minoritas yang terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Dianggap sebagai "pengkhianat" karena memeluk agama sang penakluk, mereka menjadi sasaran amuk massa dan pembant*aian yang keji. Eksodus besar-besaran terjadi; ribuan jiwa melarikan diri menuju Turki dan tanah Arab demi menyelamatkan nyawa dan iman.


Abad ke-20 tidak membawa kedamaian. Rezim Komunis datang dengan tangan besi yang lebih dingin. Di Albania, agama coba dicabut hingga ke akar-akarnya, menciptakan masyarakat yang hampa secara spiritual. Tragedi belum berhenti di sana; pada tahun 1992, dunia menyaksikan dengan ngeri pembe*rsihan etnis paling bia*dab di Bosnia, disusul bara api di Kosovo dan Makedonia.


Peta kependudukan Muslim di Balkan kini dilukis kembali dengan darah dan api. Sebuah pengingat pahit bahwa runtuhnya sebuah kekuasaan tidak hanya berakhir di atas meja perundingan politik, tetapi juga meninggalkan luka yang berdenyut dalam memori kolektif bangsa-bangsa, melintasi generasi yang menolak untuk lupa.


Sumber Utama:

1. The Ottoman Balkans, 1750–1830 – Studi mendalam mengenai transformasi sosial-politik Utsmaniyah di Balkan.


2. Islam and the Balkans: Religion and Society between Europe and the Arab World – Menelusuri nasib umat Islam pasca mundurnya kekuasaan Utsmaniyah.

22 Juli 1993. Hari itu, Sarajevo bukan lagi sebuah kota; ia adalah tungku api raksasa yang melahap segala yang hidup. Di bawah hujan 3.777 proyektil artileri yang diluncurkan oleh pasukan Serbia, kota Muslim yang terkepung itu tenggelam dalam lautan api. Langit yang biasanya biru berubah menjadi jelaga pekat, menandai sebuah hari hitam yang takkan pernah terhapus dari ingatan sejarah. Luka yang Menganga Selama 1.425 Hari Pengepungan Sarajevo (5 April 1992 – 29 Februari 1996) adalah sebuah tragedi yang melampaui nalar manusia. Selama 1.425 hari, rakyat Sarajevo dipaksa hidup dalam penjara terbuka. Durasi ini tiga kali lebih lama dari horor di Stalingrad dan satu tahun lebih panjang dari penderitaan di Leningrad. Lebih dari 500.000 bom menghujani kota itu. Di balik angka-angka statistik, terdapat luka yang nyata: • 12.000 nyawa melayang, di mana 1.000 di antaranya adalah anak-anak yang belum sempat mengenal dunia. • 5.000 jiwa terluka parah, dengan 85% di antaranya adalah warga sipil yang tak berdosa. • Pada tahun 1995, populasi kota menyusut drastis hingga hanya tersisa 64% dari jumlah sebelum perang. Kesaksian dari Neraka Dunia Janine di Giovanni, seorang jurnalis Prancis yang terjun langsung ke medan laga Bosnia, melukiskan potret kelaparan dan penderitaan yang melampaui batas kemanusiaan: "Aku tidak ingat ada kanibalisme di Sarajevo, namun aku ingat sebuah hari yang sangat kelam di musim dingin tahun 1993. Saat itu, aku melihat seekor anjing melintas dengan tangan manusia di mulutnya. Itu adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah kulihat." Kala itu, rakyat Sarajevo telah mencapai titik nadir kelelahan psikis. Janine mengenang temannya, Gordana, yang tengah mengunyah sepotong roti keras yang teksturnya lebih mirip serbuk gergaji daripada makanan. Sambil menunjuk anjing itu, Gordana berkata lirih tanpa ekspresi, "Lihat anjing itu... ada tangan di mulutnya." Senjata Pencabut Roh Di Sarajevo, maut tidak hanya datang dari peluru penembak runduk (sniper) yang menembus raga atau dentuman meriam yang merobohkan gedung. Ada sesuatu yang jauh lebih biadab dari sekadar pembu*nuhan fisik. Janine menyaksikan para ahli bedah bekerja tanpa lelah di tengah keterbatasan rumah sakit, namun ia juga menyaksikan pemandangan yang jauh lebih menyakitkan: upaya sistematis untuk menghancurkan martabat dan mental manusia. Sebab, pada akhirnya, pengepungan bukan hanya dirancang untuk membunuh tubuh. Ia adalah instrumen purba yang paling mematikan untuk memusnahkan jiwa dan memadamkan semangat hidup manusia.

 22 Juli 1993. Hari itu, Sarajevo bukan lagi sebuah kota; ia adalah tungku api raksasa yang melahap segala yang hidup.



Di bawah hujan 3.777 proyektil artileri yang diluncurkan oleh pasukan Serbia, kota Muslim yang terkepung itu tenggelam dalam lautan api. Langit yang biasanya biru berubah menjadi jelaga pekat, menandai sebuah hari hitam yang takkan pernah terhapus dari ingatan sejarah.


Luka yang Menganga Selama 1.425 Hari


Pengepungan Sarajevo (5 April 1992 – 29 Februari 1996) adalah sebuah tragedi yang melampaui nalar manusia. Selama 1.425 hari, rakyat Sarajevo dipaksa hidup dalam penjara terbuka. Durasi ini tiga kali lebih lama dari horor di Stalingrad dan satu tahun lebih panjang dari penderitaan di Leningrad.


Lebih dari 500.000 bom menghujani kota itu. Di balik angka-angka statistik, terdapat luka yang nyata:


• 12.000 nyawa melayang, di mana 1.000 di antaranya adalah anak-anak yang belum sempat mengenal dunia.

• 5.000 jiwa terluka parah, dengan 85% di antaranya adalah warga sipil yang tak berdosa.

• Pada tahun 1995, populasi kota menyusut drastis hingga hanya tersisa 64% dari jumlah sebelum perang.


Kesaksian dari Neraka Dunia 


Janine di Giovanni, seorang jurnalis Prancis yang terjun langsung ke medan laga Bosnia, melukiskan potret kelaparan dan penderitaan yang melampaui batas kemanusiaan:


"Aku tidak ingat ada kanibalisme di Sarajevo, namun aku ingat sebuah hari yang sangat kelam di musim dingin tahun 1993. Saat itu, aku melihat seekor anjing melintas dengan tangan manusia di mulutnya. Itu adalah pemandangan paling mengerikan yang pernah kulihat."


Kala itu, rakyat Sarajevo telah mencapai titik nadir kelelahan psikis. Janine mengenang temannya, Gordana, yang tengah mengunyah sepotong roti keras yang teksturnya lebih mirip serbuk gergaji daripada makanan. Sambil menunjuk anjing itu, Gordana berkata lirih tanpa ekspresi, "Lihat anjing itu... ada tangan di mulutnya."


Senjata Pencabut Roh


Di Sarajevo, maut tidak hanya datang dari peluru penembak runduk (sniper) yang menembus raga atau dentuman meriam yang merobohkan gedung. Ada sesuatu yang jauh lebih biadab dari sekadar pembu*nuhan fisik.


Janine menyaksikan para ahli bedah bekerja tanpa lelah di tengah keterbatasan rumah sakit, namun ia juga menyaksikan pemandangan yang jauh lebih menyakitkan: upaya sistematis untuk menghancurkan martabat dan mental manusia.


Sebab, pada akhirnya, pengepungan bukan hanya dirancang untuk membunuh tubuh. Ia adalah instrumen purba yang paling mematikan untuk memusnahkan jiwa dan memadamkan semangat hidup manusia.

01 May 2026

Nah, ini dia penutup yang paling ironis dari seluruh drama perseteruan antar besan di Makkah, Bro. Abu Lahab yang awalnya berbesanan dengan ponakan tercintanya Muhammad ﷺ, berakhir dengan tragedi. Kisahnya kita sudah bahas di postingan sebelumnya. Gimana arogansi anak-anaknya yang juga menantu Muhammad ﷺ sendiri, sekarang kita bedah nasib akhir sang "CEO" Oligarki itu sendiri, Abu Lahab, dan istrinya, Ummu Jamil. Sampean bakal lihat gimana sebuah "imperium personal" yang dibangun di atas kesombongan bisa "crash" seburuk-buruknya. Semuanya berawal dari deklarasi Muhammad ﷺ di Bukit Shafa. Bayangkan Nabi Muhammad ﷺ naik ke bukit itu buat ngasih peringatan dini, semacam "early warning system" buat warga Makkah. Respon orang-orang sebenarnya positif karena "track record" beliau yang jujur. Tapi Abu Lahab? Dia malah ngacau di tengah pidato. Dia berdiri, mengibaskan tangan dengan gaya sok kuasa, lalu teriak: "Tabban laka sa'iral yaum! Alihadza jama'tana?" ( "Celaka kamu Muhammad! Cuma buat begini kamu kumpulin kami?") Detik itu juga, "Super Owner" alam semesta langsung ngeluarin "press release" tandingan yang luar biasa pedas: Surah Al-Lahab. "Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa..." Di situ dipastikan kalau "aset" dan "network" Abu Lahab nggak bakal ada gunanya lagi. Sejak itu, Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, beralih profesi jadi "haters" garis keras yang militan banget. Ummu Jamil ini kalau di zaman sekarang mungkin tipikal orang yang hobinya "doxing" atau nyebar "spam" jahat. Dia setiap malam nyebar duri di jalanan yang biasa dilewati Nabi Muhammad ﷺ. Sementara Abu Lahab? Dia hobi banget ngebuntuti Nabi Muhammad ﷺ pas lagi "marketing" dakwah di pasar, terus nimpukin batu sampai kaki beliau berdarah sambil teriak-teriak: "Jangan percaya, dia pendusta!" Bener-bener "negative campaign" yang sangat fisik dan kasar. Tapi poin terbesarnya datang pas Perang Badar. Abu Lahab ini sebenarnya tipe pemimpin yang penakut, Bro. Dia nggak berani turun ke "lapangan" buat perang, dia cuma nyewa "outsourcing" buat gantiin posisinya. Pas denger kabar kabilah Quraisy kalah telak dan para petinggi elitnya tewas, termasuk Abu Jahal dia stres berat. Dalam keadaan stres dan marah, ia mendatangi kemah milik Al-Abbas (pamannya yang saat itu masih menyembunyikan keislamannya). Di sana, ia berdebat dengan seorang budak muslim bernama Abu Rafi'. Kalah debat Abu Lahab makin ngamuk lalu menghajar budak itu. Melihat budaknya disiksa, istri Al-Abbas, yaitu Ummu Al-Fadl (Lubabah binti Al-Harits), marah besar. Ia mengambil tiang tenda kayu dan memukulkannya ke kepala Abu Lahab hingga kepalanya bocor dan terluka parah. Luka itu bukannya sembuh, malah kena "infeksi sistem" yang parah banget, namanya penyakit "Al-Adasah". Ini sejenis bisul menular yang baunya minta ampun, semacam "virus" mematikan yang bikin orang Makkah lari ketakutan kalau denger namanya. Di sinilah kehinaan puncaknya terjadi. Abu Lahab yang dulunya "Crazy Rich" Makkah, yang punya akses VVIP ke mana-mana, mati dalam keadaan "isolated". Dia dikunci di kamar sendirian karena anak-anaknya sendiri pun takut ketularan. Nggak ada layanan "home care", nggak ada fasilitas mewah. Dia mati dalam kesendirian yang busuk. Pas sudah jadi mayat pun, nggak ada yang mau "handle" jenazahnya sampai tiga hari. Baunya sampai bikin warga satu kompleks protes. Akhirnya, anak-anaknya nyewa budak Badui buat "beresin" jenazah bapaknya dengan cara yang sangat "disrespect": 1. Jenazahnya nggak dimandikan, cuma disiram air dari jarak jauh pakai selang (kalau zaman sekarang). 2. Nggak dipikul terhormat, tapi didorong-dorong pakai tongkat kayu panjang ke lubang galian. Kayak dorong sampah, Bro. 3. Terakhir, mereka nggak ngubur pakai tangan, tapi dilempari batu dan kerikil dari jauh sampai mayatnya tertimbun. Kekayaannya yang melimpah, status nasabnya sebagai bangsawan Quraisy, dan anak-anaknya yang ia banggakan sama sekali tidak bisa menolongnya di saat-saat terakhirnya di dunia. Kematiannya menjadi pelajaran abadi (ibrah) bagi umat manusia tentang akhir tragis dari kesombongan dan kebencian terhadap kebenaran. Kematian Abu Lahab adalah bukti nyata kebenaran ayat Al-Qur'an: "Tidaklah berfaedah kepadanya harta kekayaannya dan apa yang ia usahakan." (QS. Al-Lahab: 2). Harta melimpah dan status "Oligarki" Makkah yang dia banggakan ternyata "useless" pas dia "logout" dari dunia ini. Bener-bener sebuah "exit yang tragis" 🥀🔥. Kisah ini adalah "insight" paling mahal buat kita semua. Mau seberapa besar "capital" kalian, mau seberapa luas "network" politik sampean, kalau sudah berhadapan dengan kebenaran dan bersikap sombong, "Return on Investment"-nya cuma satu: kehancuran yang total dan menghinakan. #SirahNabawiyah #SejarahIslam #NabiMuhammadSAW #AbuLahab #GeopolitikMakkah #OligarkiMakkah #KisahTragis #AlLahab #Hidayah #SelfReminder #StorytellingSejarah #InsightBisnis #FaktaSejarah #IslamHistory #FYP

 Nah, ini dia penutup yang paling ironis dari seluruh drama perseteruan antar besan di Makkah, Bro. Abu Lahab yang awalnya berbesanan dengan ponakan tercintanya Muhammad ﷺ, berakhir dengan tragedi.



Kisahnya kita sudah bahas di postingan sebelumnya. Gimana arogansi anak-anaknya yang juga menantu Muhammad ﷺ sendiri, sekarang kita bedah nasib akhir sang "CEO" Oligarki itu sendiri, Abu Lahab, dan istrinya, Ummu Jamil. Sampean bakal lihat gimana sebuah "imperium personal" yang dibangun di atas kesombongan bisa "crash" seburuk-buruknya.


Semuanya berawal dari deklarasi Muhammad ﷺ di Bukit Shafa. Bayangkan Nabi Muhammad ﷺ naik ke bukit itu buat ngasih peringatan dini, semacam "early warning system" buat warga Makkah. Respon orang-orang sebenarnya positif karena "track record" beliau yang jujur.


Tapi Abu Lahab? Dia malah ngacau di tengah pidato. Dia berdiri, mengibaskan tangan dengan gaya sok kuasa, lalu teriak:

"Tabban laka sa'iral yaum! Alihadza jama'tana?" 

( "Celaka kamu Muhammad! Cuma buat begini kamu kumpulin kami?")


Detik itu juga, "Super Owner" alam  semesta langsung ngeluarin "press release" tandingan yang luar biasa pedas: Surah Al-Lahab. 

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa..."


Di situ dipastikan kalau "aset" dan "network" Abu Lahab nggak bakal ada gunanya lagi.


Sejak itu, Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, beralih profesi jadi "haters" garis keras yang militan banget. Ummu Jamil ini kalau di zaman sekarang mungkin tipikal orang yang hobinya "doxing" atau nyebar "spam" jahat. Dia setiap malam nyebar duri di jalanan yang biasa dilewati Nabi Muhammad ﷺ.


Sementara Abu Lahab? Dia hobi banget ngebuntuti Nabi Muhammad ﷺ pas lagi "marketing" dakwah di pasar, terus nimpukin batu sampai kaki beliau berdarah sambil teriak-teriak: "Jangan percaya, dia pendusta!" Bener-bener "negative campaign" yang sangat fisik dan kasar.


Tapi poin terbesarnya datang pas Perang Badar. Abu Lahab ini sebenarnya tipe pemimpin yang penakut, Bro. Dia nggak berani turun ke "lapangan" buat perang, dia cuma nyewa "outsourcing" buat gantiin posisinya.


Pas denger kabar kabilah Quraisy kalah telak dan para petinggi elitnya tewas, termasuk Abu Jahal dia stres berat. 

Dalam keadaan stres dan marah, ia mendatangi kemah milik Al-Abbas (pamannya yang saat itu masih menyembunyikan keislamannya). Di sana, ia berdebat dengan seorang budak muslim bernama Abu Rafi'. Kalah debat Abu Lahab makin ngamuk lalu menghajar budak itu. 


Melihat budaknya disiksa, istri Al-Abbas, yaitu Ummu Al-Fadl (Lubabah binti Al-Harits), marah besar. Ia mengambil tiang tenda kayu dan memukulkannya ke kepala Abu Lahab hingga kepalanya bocor dan terluka parah.


Luka itu bukannya sembuh, malah kena "infeksi sistem" yang parah banget, namanya penyakit "Al-Adasah". Ini sejenis bisul menular yang baunya minta ampun, semacam "virus" mematikan yang bikin orang Makkah lari ketakutan kalau denger namanya.


Di sinilah kehinaan puncaknya terjadi. Abu Lahab yang dulunya "Crazy Rich" Makkah, yang punya akses VVIP ke mana-mana, mati dalam keadaan "isolated". Dia dikunci di kamar sendirian karena anak-anaknya sendiri pun takut ketularan. 


Nggak ada layanan "home care", nggak ada fasilitas mewah. Dia mati dalam kesendirian yang busuk.

Pas sudah jadi mayat pun, nggak ada yang mau "handle" jenazahnya sampai tiga hari. Baunya sampai bikin warga satu kompleks protes. 


Akhirnya, anak-anaknya nyewa budak Badui buat "beresin" jenazah bapaknya dengan cara yang sangat "disrespect":

 1. Jenazahnya nggak dimandikan, cuma disiram air dari jarak jauh pakai selang (kalau zaman sekarang).

 2. Nggak dipikul terhormat, tapi didorong-dorong pakai tongkat kayu panjang ke lubang galian. Kayak dorong sampah, Bro.

 3. Terakhir, mereka nggak ngubur pakai tangan, tapi dilempari batu dan kerikil dari jauh sampai mayatnya tertimbun.


Kekayaannya yang melimpah, status nasabnya sebagai bangsawan Quraisy, dan anak-anaknya yang ia banggakan sama sekali tidak bisa menolongnya di saat-saat terakhirnya di dunia. Kematiannya menjadi pelajaran abadi (ibrah) bagi umat manusia tentang akhir tragis dari kesombongan dan kebencian terhadap kebenaran.


Kematian Abu Lahab adalah bukti nyata kebenaran ayat Al-Qur'an:

"Tidaklah berfaedah kepadanya harta kekayaannya dan apa yang ia usahakan." (QS. Al-Lahab: 2).


Harta melimpah dan status "Oligarki" Makkah yang dia banggakan ternyata "useless" pas dia "logout" dari dunia ini. Bener-bener sebuah "exit yang tragis" 🥀🔥.


Kisah ini adalah "insight" paling mahal buat kita semua. Mau seberapa besar "capital" kalian, mau seberapa luas "network" politik sampean, kalau sudah berhadapan dengan kebenaran dan bersikap sombong, "Return on Investment"-nya cuma satu: kehancuran yang total dan menghinakan. 


#SirahNabawiyah #SejarahIslam #NabiMuhammadSAW #AbuLahab #GeopolitikMakkah #OligarkiMakkah #KisahTragis #AlLahab #Hidayah #SelfReminder #StorytellingSejarah #InsightBisnis #FaktaSejarah #IslamHistory #FYP

29 April 2026

NYONYA SOEBANDRIO, YANG DIJULUKI SEBAGAI "IBU NEGARA BAYANGAN" Beliau bernama Dr.HURUSTIATI SOEBANDRIO yang merupakan istri dari Dr.Soebandrio, yaitu Wakil Perdana Menteri I dijaman Orde Lama, yang merupakan tokoh "Terkuat Kedua" setelah Presiden Soekarno. Dr.Hurustiati lahir di Salatiga pada 26 Juli 1917, yang mana beliau tumbuh dalam lingkungan priyayi yang sangat mementingkan pendidikan. Latar belakang inilah yang mengantarkannya menjadi sosok intelektual dengan bidang jurusan yang masih langka pada jamannya. Karena beliau adalah seorang dokter lulusan IKA DAIGAKU (sekarang FK-UI), sekaligus ahli Antropologi dari London School of Economics (LSE), Inggris. Namun sejarah tidak hanya mengingatkan kita pada kecerdasannya saja, melainkan juga pada perannya yang sangat kontroversial di jantung kekuasaan Orde Lama. SOSOK DI BALIK LAYAR BUNG KARNO Sebagai istri dari Dr.Soebandrio (Wakil Perdana Menteri I), Dr.Hurustiati memiliki akses yang sangat istimewa di lingkaran terdalam Bung Karno. Kedekatan intelektual antara Bung Karno dengan Dr.Hurustiati sangat erat, sehingga banyak dari kalangan elit di istana menyebutnya sebagai "IBU NEGARA BAYANGAN". Istilah itu muncul bukannya tanpa sebab, melainkan karena pengaruhnya yang dianggap melampaui hak dan wewenang dari para istri resmi Bung Karno yang lainnya. Seperti diketahui bahwa sang Proklamator sangat mengagumi wanita cerdas dan berpendidikan tinggi, hal itu menjadikan Dr.Hurustiati sebagai teman diskusi seputar ideologi, isu² sosial politik, hingga diplomasi internasional, dll. AMBISI DAN TAKTIK POLITIK Di lorong-lorong Istana, ketika isu dan desas-desus yang berhembus kencang, terkait adanya sinyalemen bahwa Dr.Soebandrio secara sadar "menempatkan" istrinya di sisi Bung Karno, hal tersebut bertujuan demi mengamankan posisi politiknya sendiri. Sehingga hasilnya memang terlihat dan tidak main-main, karena akhirnya Dr.Soebandrio berhasil memegang jabatan-jabatan mentereng (dengan status rangkap jabatan), yaitu ; - Wakil Perdana Menteri I, - Menteri Luar Negeri, - Ketua BPI (Badan Pusat Intelijen), - Pati AURI (pangkat Marsekal Tituler). Dan keistimewaan Dr.Hurustiati semakin terlihat ketika beliau dipercaya untuk mengelola dana-dana sosial negara, dan menjabat sebagai Ketua LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia). Selain itu, kedekatan beliau dengan tokoh-tokoh kiri dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) juga semakin memperkuat pengaruh politiknya di Republik ini. Namun di sisi lain juga memicu kecemburuan besar di lingkaran istana, sehingga memancing isu bahwa Dr.Hurustiati "ada main" dengan Bung Karno, bahkan isu tersebut sampai beredar luas keluar negeri. JATUHNYA PRIMADONA ORDE LAMA Ketika pada akhirnya nasib berkata lain, seolah mengisyaratkan bahwa Tuhan tidak tidur, karena badai sejarah pasca peristiwa G30S/PKI telah menghancurkan segala "privilege" nya dalam waktu semalam. Dr.Hurustiati terseret dalam pusaran skandal politik besar, bahkan beliau dituduh terlibat aktivitas subversif yang ingin merebut kepemimpinan negara yang sah. Suaminya, Dr.Soebandrio yang dijuluki "DURNA" juga divonis mati (lalu menjadi seumur hidup), sementara Dr.Hurustiati harus meninggalkan segala kemewahan istana, karena dirinya harus mendekam dibalik jeruji besi selama bertahun-tahun lamanya. TRAGEDI BERAKHIR MEMILUKAN Tokoh wanita yang pernah "sangat" berkuasa ini wafat pada tanggal 15 Januari 1974 dalam usia 56 tahun. Dia mengembuskan napas terakhir saat suaminya (Dr.Soebandrio) masih mendekam di penjara, tanpa sempat melihat kebebasan sang suami yang baru dibebaskannya pada tahun 1995. HIMBAUAN Restorasi ini adalah bentuk apresiasi terhadap kepingan sejarah yang jarang terungkap ke permukaan. Dimohon untuk berkomentar yang bijak guna menghindari perdebatan yang tidak perlu. Sehingga kita dapat menghargai martabat para tokoh dan keluarganya yang bersangkutan, terima kasih 🙏

 NYONYA SOEBANDRIO, YANG DIJULUKI SEBAGAI "IBU NEGARA BAYANGAN"

Beliau bernama Dr.HURUSTIATI SOEBANDRIO yang merupakan istri dari Dr.Soebandrio, yaitu Wakil Perdana Menteri I dijaman Orde Lama, yang merupakan tokoh "Terkuat Kedua" setelah Presiden Soekarno.



Dr.Hurustiati lahir di Salatiga pada 26 Juli 1917, yang mana beliau tumbuh dalam lingkungan priyayi yang sangat mementingkan pendidikan.


Latar belakang inilah yang mengantarkannya menjadi sosok intelektual dengan bidang jurusan yang masih langka pada jamannya.


Karena beliau adalah seorang dokter lulusan IKA DAIGAKU (sekarang FK-UI), sekaligus ahli Antropologi dari London School of Economics (LSE), Inggris.


Namun sejarah tidak hanya mengingatkan kita pada kecerdasannya saja, melainkan juga pada perannya yang sangat kontroversial di jantung kekuasaan Orde Lama.


SOSOK DI BALIK LAYAR BUNG KARNO


Sebagai istri dari Dr.Soebandrio (Wakil Perdana Menteri I), Dr.Hurustiati memiliki akses yang sangat istimewa di lingkaran terdalam Bung Karno.


Kedekatan intelektual antara Bung Karno dengan Dr.Hurustiati sangat erat, sehingga banyak dari kalangan elit di istana menyebutnya sebagai "IBU NEGARA BAYANGAN".


Istilah itu muncul bukannya tanpa sebab, melainkan karena pengaruhnya yang dianggap melampaui hak dan wewenang dari para istri resmi Bung Karno yang lainnya.


Seperti diketahui bahwa sang Proklamator sangat mengagumi wanita cerdas dan berpendidikan tinggi, hal itu menjadikan Dr.Hurustiati sebagai teman diskusi seputar ideologi, isu² sosial politik, hingga diplomasi internasional, dll.


AMBISI DAN TAKTIK POLITIK


Di lorong-lorong Istana, ketika isu dan desas-desus yang berhembus kencang, terkait adanya sinyalemen bahwa Dr.Soebandrio secara sadar "menempatkan" istrinya di sisi Bung Karno, hal tersebut bertujuan demi mengamankan posisi politiknya sendiri.


Sehingga hasilnya memang terlihat dan tidak main-main, karena akhirnya Dr.Soebandrio berhasil memegang jabatan-jabatan mentereng (dengan status rangkap jabatan), yaitu ;


- Wakil Perdana Menteri I,


- Menteri Luar Negeri,


- Ketua BPI (Badan Pusat Intelijen),


- Pati AURI (pangkat Marsekal Tituler).


Dan keistimewaan Dr.Hurustiati semakin terlihat ketika beliau dipercaya untuk mengelola dana-dana sosial negara, dan menjabat sebagai Ketua LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia).


Selain itu, kedekatan beliau dengan tokoh-tokoh kiri dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia) juga semakin memperkuat pengaruh politiknya di Republik ini.


Namun di sisi lain juga memicu kecemburuan besar di lingkaran istana, sehingga memancing isu bahwa Dr.Hurustiati "ada main" dengan Bung Karno, bahkan isu tersebut sampai beredar luas keluar negeri.


JATUHNYA PRIMADONA ORDE LAMA


Ketika pada akhirnya nasib berkata lain, seolah mengisyaratkan bahwa Tuhan tidak tidur, karena badai sejarah pasca peristiwa G30S/PKI telah menghancurkan segala "privilege" nya dalam waktu semalam.


Dr.Hurustiati terseret dalam pusaran skandal politik besar, bahkan beliau dituduh terlibat aktivitas subversif yang ingin merebut kepemimpinan negara yang sah.


Suaminya, Dr.Soebandrio yang dijuluki "DURNA" juga divonis mati (lalu menjadi seumur hidup), sementara Dr.Hurustiati harus meninggalkan segala kemewahan istana, karena dirinya harus mendekam dibalik jeruji besi selama bertahun-tahun lamanya.


TRAGEDI BERAKHIR MEMILUKAN


Tokoh wanita yang pernah "sangat" berkuasa ini wafat pada tanggal 15 Januari 1974 dalam usia 56 tahun.


Dia mengembuskan napas terakhir saat suaminya (Dr.Soebandrio) masih mendekam di penjara, tanpa sempat melihat kebebasan sang suami yang baru dibebaskannya pada tahun 1995.


HIMBAUAN


Restorasi ini adalah bentuk apresiasi terhadap kepingan sejarah yang jarang terungkap ke permukaan.


Dimohon untuk berkomentar yang bijak guna menghindari perdebatan yang tidak perlu.


Sehingga kita dapat menghargai martabat para tokoh dan keluarganya yang bersangkutan, terima kasih 🙏


Mungkin pada edisi TEMPO ini, Bapak saya mau ikut membaca ketika majalah ini, dengan sampul foto Zainuddin M.Z., saya letakkan di meja kerjanya. Memang, radio di rumah kami cukup sering menyiarkan kaset rekaman dai yang lucu dan cerdas ini. Ia bisa bergelora bagaikan Bung Karno, lembut seperti Buya Hamka, dan cekatan bermain kata bak Idham Chalid. Maka, Haji Zainuddin Mz. melejit sebagai seorang mahabintang. Dialah dai berjuta umat. SAYA USTAD, BUKAN ARTIS (TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990) Massa terus berdesak. Kerumunan bahkan melebar ke tepian jalan tol, memaksa jalan tol Dupak, dalam Kota Surabaya, ditutup sementara. Hujan pun turun. Hadirin kuyup. Namun, orang- orang itu tak beranjak dari tempat. Termasuk seorang ibu yang menggendong anak- nya. Mereka seolah larut oleh suara sang Ustad dari podium, yang mengajak massa bersama-sama membaca salawat, "memohon agar Allah menunda hujan." Segera bacaan salawat puluhan – bahkan mungkin mencapai ratusan – ribu orang membahana. Alhamdulillah, Allah mengabulkan permohonan itu. Hujan pun reda. Kemudian sang Ustad memberi aba-aba, agar salawat sampai di situ saja. Tanah lapang Dupak, tempat berkumpul itu, pun berubah se- nyap. Suasana betul-betul sunyi. Massa sedemikian terpaku, menunggu kata-kata "bertuah" yang bakal meluncur dari mulut Ustad. Di Surabaya, Februari lalu H. Zainuddin Mz., ustad itu, berhasil sepenuhnya "menyihir" massa. Selama dua jam, massa dibikinnya diam dan mengunyah setiap kata yang ia ucapkan. *** Di Jakarta, bulan puasa ini, Zainuddin juga membuai ribuan jamaah pada sejumlah masjid. Harian Pos Kota yang punya acara. Mereka tahu, banyak umat gandrung pada suara Zainuddin. Maka, untuk acara ulang tahun April ini, Pos Kota "mengontrak" Zainuddin. Ustad ini mereka kelilingkan ke berbagai wilayah Ibu Kota, buat berceramah. Lihatlah, misalnya, di Masjid Muyasyirin Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sejak magrib, masjid itu telah dipenuhi jamaah. Lebih daripada biasanya – bukan cuma dalam jumlah tapi juga dalam suasana. Biasanya anak-anak ramai bergurau sebelum dan sehabis tarawih. Tapi kali ini suasana sangat tenang. Ucapan "jangan ribut, nanti habis tarawih kita akan mendengarkan khotbah ustad kita yang terkenal Zainuddin Mz." cukup untuk mengunci celotehan anak-anak itu. Mereka sabar menunggu. Sedangkan ustadnya baru hadir setelah pukul sembilan malam. Satu-satunya hal yang membuat mereka kesal adalah rangkaian anggrek di seputar podium. Bagi mereka, anggrek itu tak menciptakan keindahan. Malah cuma menghalangi mereka memandang wajah sang Ustad. Maka, mereka berteriak "singkirkan!" Begitu Zainuddin beranjak ke mimbar, keplok pun bergemuruh. Dan segera saja tepuk tangan habis, berganti tawa, begitu Zainuddin mengatakan, "Saya ustad, bukan artis." *** Di Ujungpandang, Zainuddin juga disambut akbar. Stadion Mattoangin, awal April lalu, penuh sesak. Massa telah berkerumun di sana sejak jam tiga sore. Kata Andi Abdulatif, pengundangnya, ada di antara mereka sengaja datang dari Bone, ratusan kilometer di timur laut Ujungpandang. Mereka membawa bekal masing-masing dan berbuka puasa di sana. Padahal, ceramah baru dimulai setelah tarawih. Esok paginya, setelah subuh, Zainuddin berceramah lagi di stadion itu. Massa sudah menyemut lagi, entah jam berapa mereka berangkat dari rumah. *** Gelombang pasang naik dakwah memang nampak mencengangkan. Presiden Soeharto pun bahkan menengok ke sana. Antara lain dengan meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyiapkan 1.000 pendakwah yang akan digaji rutin dan dikirim berbagai pelosok. (Lihat Box bagian 2.) Namun, di tengah suasana dakwah yang sedemikian marak, ada satu nama yang melejit begitu pesat. Dialah, yang namanya bisa membuat anak-anak jadi anteng, yang membuat orang-orang tak merasa keberatan menunggunya berjam-jam: "Haji Zainuddin em-zet". Pemunculan nama Zai- nuddin memang bak seorang mahabintang, superstar. Setelah Rhoma Irama, Zainuddinlah sosok yang mampu menggoyang manusia. Bukan dengan musik. Bukan lautan dengan lagu. Melainkan dengan kata. Rangkaian ucapannya mampu mengobarkan atau mendinginkan massa, mengetuk hati atau menghibur, juga menjadikan mereka histeris atau diam. Di tengah umat yang lagi getol menyeru dakwah bil-hal – dakwah dengan tindakan, Zainuddin seperti hendak membuktikan bahwa dakwah bil-lisan tak mati. Ada yang bilang kini dakwah dengan kata-kata berada di titik puncak, dan Haji Zainuddin adalah bintangnya. Kenyataannya memang demikian. Seorang penjual es yang keliling di gang-gang daerah Rawabelong, Jakarta Barat, biasa memutar kaset ceramah Zainuddin keras-keras dengan pengeras suara yang digantungkan pada sepedanya. Toko buku Bulan Bintang di bilangan Kwitang, di arah selatan Pusat Perdagangan Senen, melakukan hal serupa. "Untuk menarik pengunjung." kata penjaganya. Sedang dalam sebuah pertemuan keluarga Minang di Taman Impian Ancol, seorang penjahit mengaku baru benar-benar memahami Islam setelah mengikuti cera mah Zainuddin. Di Malang dan Surabaya, ceramah Zainuddin malah dikarciskan. Sebagian hadirin rela membayar undangan masuk dua-tiga kali lipat harga yang dipasang panitia. Begitupun, masih ribuan orang tak kebagian. Ceramahnya, yang disiarkan puluhan radio, mulai menggeser ketenaran drama serial terkenal Saur Sepuh. Lebih dari itu, nama Zainuddin juga ampuh untuk menangkis tudingan "anti-Islam". Sewaktu terbetik desas-desus yang menyebut ia tak suka pada sikap santri, Kepala SMAN VI Surabaya yang melarang siswinya berjilbab berkata, "Saya ini penggemar ceramah Zainuddin Mz." Siapa sebenarnya ustad yang dirindukan itu? "Saya asli Betawi. Nama saya H. Zainuddin Hamidy Mz. Mz adalah singkatan dari Turmudzy, nama ayah saya," tuturnya. Zainuddin lahir pada 2 Maret 1952. Dalam usia dua tahun, ia menjadi seorang yatim. Kesulitan hidup menghadangnya. Sewaktu SD, ia menjadi penjual koran dan membantu pamannya menjual rokok. Saat remaja ia pernah menjadi buruh bangunan. Selepas SD tahun 1964, ia masuk Perguruan Darul Ma'arif Cipete, Jakarta Selatan. Di sanalah ia bertemu dengan sejumlah ulama terkemuka Indonesia dan Mesir. Hal yang, menurut dia, bukan saja "mengisi otak saya, melainkan juga mewarnai kepribadian." Di perguruan ini, setiap Sabtu ada pelajaran berpidato. Pada acara inilah, ia mulai belajar berbicara di depan umum. Kemudian Zainuddin kuliah di IAIN, Jurusan Perbandingan Agama. Namun, kuliahnya putus saat mempersiapkan skripsi. Yang berkembang justru bakat mubalignya. Tahun 1973-1974, ia mulai mengisi pengajian di berbagai musala dan masjid. Tapi masih terbatas. Menjelang Pemilu 1977, ia mendapat pelajaran penting. la turun gelanggang menjadi juru kampanye PPP. la muncul sepanggung bersama Rhoma Irama. Itulah saat ia mengenal lautan massa – orang-orang yang berkumpul ditarik magnet Rhoma. Peristi wa itu ternyata mendorong karier Zainuddin sebagai juru dakwah ketimbang politikus. "Dari situ saya mengetahui sifat massa. Massa mudah terkena teror mental, mudah terkena sugesti, mudah dialihkan perhatiannya." Dan Zainuddin mulai dapat menguasai semuanya. Tak heran kalau Ridwan Saidi, bekas koordinator kampanye PPP, memuji Zainuddin sebagai seorang muda yang "berani dan membakar". Tentu modal Zainuddin bukan cuma keberanian. Ia juga dapat memadukan kehebatan tiga tokoh podium yang ia kagumi. Ia mampu menjadi singa macam Bung Karno, menguasai kehalusan bahasa Buya Hamka, atau bermain logika seperti Idham Chalid. Kalimat-kalimatnya mengalir runtut bak pendongeng, berayun, dan disesuaikan dengan sifat massa setempat. Contoh yang dikemukakannya sangat sederhana – mudah dimengerti berbagai kalangan. Lihat bagaimana ia menguraikan soal kanaah, kesahajaan. Ia katakan, seorang muslim harus "merasa cukup" dengan setiap rezeki yang ia terima. Bila tidak, orang itu serupa monyet. Diberi pisang akan ditangkap dengan tangan kanan, diberi lagi ditangkapnya dengan tangan kiri, lalu dengan mulut, lalu kaki kanan, dan kaki kiri. Sudah begitu, "milik temannya pun hendak direbutnya." Hadirin tertawa. Di tengah riuh isu konglomerat, sebagian mereka paham sindiran tadi. Yang tak tahu-menahu masalah konglomerat pun terhibur karena "cerita monyet" itu. Konflik intern PPP menjadikan dunia Zainuddin lebih luas. Ia lalu menjaga jarak dengan partai, dan dengan politik. Akibatnya, massanya semakin melebar. Ia tidak cuma diterima oleh orang-orang PPP. Melainkan hampir oleh semua kalangan umat. Kaset ceramahnya mulai laku keras. Tablignya banyak dihadiri oleh pejabat. Dan mereka terus membutuhkan siraman rohani Zainuddin sekalipun mubalig itu berkali-kali menyindirnya. Undangan pun berdatangan. Kini setiap hari, tamu antre di rumahnya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Mereka menunggu giliran untuk dapat mengundang Zainuddin. Belum lagi yang melalui surat. Rata-rata, kata Zainuddin, sehari ia mendapat 50 surat. "Banyak tunggakan acara yang belum dapat saya penuhi," ucapnya. Padahal, setiap hari umumnya ia berceramah empat kali. Salah seorang familinya mengatakan bahwa saat ini Zainuddin lebih sering tidur di mobil dalam perjalanan ketimbang di tempat tidur. Zainuddin sendiri mengatakan, masalah utamanya adalah bagaimana membagi waktu buat dakwah, keluarga, Yayasan Nurul Falah yang dipimpinnya, serta – sebentar lagi – untuk sebuah pesantren yang kini sedang dibangun di Nagrek, Jawa Barat. Meledaknya minat umat untuk mendatangkan Zainuddin menimbulkan birokrasi. Muncul koordinator-koordinator daerah yang mengatur acara ustad ini. Semua itu muncul atas inisiatif mereka sendiri, bukan dari Zainuddin. Menurut Ali Badri, koordinator wilayah Surabaya dan sekitarnya, saat ini telah terbentuk 26 koordinator daerah di seluruh Indonesia. "Hanya Timor Timur yang belum ada," kata Ali Badri. Merekalah yang menentukan kegiatan, mengatur pengamanan, serta mengurus semua keperluan Zainuddin di setiap daerah. Ali Badri, misalnya. Mulanya, pengurus Hipmi Jawa Timur ini selalu mendatangi setiap ceramah Zainuddin di Jawa Timur. la lalu mengorganisasikan teman-temannya untuk mengamankan Zainuddin dari serbuan massa. "Lengan ini kerap robek kena kuku-kuku mereka yang mau salaman dengan Ustad," tuturnya, sambil menunjukkan bekas goresan. Lalu muncullah ide membentuk koordinator. Rumahnya ia jadikan sebagai sekretariat. Foto dirinya bersama Zainuddin berukuran 20-R (40 X 50 cm) terpampang di ruang tamu. Sekarang – ada atau tidak ada kegiatan Zainuddin di Jawa Timur – selama 24 jam, rumah itu tak pernah sepi. Untuk mengajukan permohonan ceramah Zainuddin, menurut Ali Badri, paling sedikit pengundang harus menghubungi koordinator daerah empat bulan sebelumnya. Begitupun belum tentu terlaksana. Syahlan Isnadi, guru SMA Sunan Giri Gresik, mengaku sudah 22 kali menghubungi koordinator agar Zainuddin dapat berceramah di daerahnya. Ia belum juga mendapat kepastian. Tapi ia tak juga mundur. "Habis, karisma beliau di podium tidak ada duanya, sih," ujarnya. "Beliau itu guru tunggal sekaligus pelawak tunggal." Kesulitan mendatangkan "guru tunggal" ini selalu dibayar mahal Zainuddin. Bukan saja dengan kata-katanya yang menyejukkan dan menjadikan pendengarnya lebih memahami ajaran Islam. Kehadirannya pun selalu berarti datangnya bertumpuk uang bagi panitia yang dimanfaatkan buat kepentingan umat. Misalnya untuk biaya membangun masjid atau madrasah. "Entahlah, mengapa setiap ada Bapak, orang-orang jadi gampang mengeluarkan derma," kata seorang kerabat. Untuk mengumpulkan dana bagi pemugaran Masjid Agung Malang di antaranya. Panitia pemugaran masjid peninggalan tahun 1700-an itu sengaja mendatangkan Zainuddin untuk ceramah. Untuk itu, panitia memungut "biaya undangan". Rp 5,000 untuk VIP, dan Rp 2.000 untuk kelas umum. Hadirin ternyata melimpah. Menurut panitia pemugaran, ada yang membayar Rp 15.000 untuk satu undangan. Dengan cara begitu saja, panitia bisa mengumpulkan dana Rp 10 juta. Mereka juga boleh memperbanyak kaset ceramah Zainuddin dan menjualnya. Dari sini terkumpul uang Rp 4 juta yang sepenuhnya buat masjid. Dengan cara serupa, Gerakan Pemuda Kodya Surabaya mengisi kas organisasinya. Mereka "mementaskan" Zainuddin di gedung Go Skate – semula tempat ice skating yang kini lebih sering menjadi arena pertunjukan musik dan tinju profesional. Dari "mengomersialkan Zainuddin" ini, kas mereka terisi Rp 2 juta bersih. Zainuddin punya cara lain buat mengumpulkan dana. Sehabis ceramah, ia acap membentangkan serbannya. Lalu ia meletakkan uangnya ke serban itu sebagai pemancing. Serban pun dikelilingkan pada hadirin. Massa berlomba adu banyak melemparkan uang. Sekejap jutaan rupiah pasti terkumpul. Dengan dana – yang oleh Zainuddin disebut sebagai SDBS ("Sumbangan Dana Buat Surga") – ini, ratusan masjid dan madrasah telah dibangun. Pengerahan dana untuk kepentingan umat ibadah atau sosial adalah salah satu perhatian utamanya. Berkali-kali ia mengatakan "juallah saya," asal untuk kepentingan umat. Pokok bahasan lain yang disukai dai berjuta umat ini adalah penanaman keimanan, seruan untuk tawadu (sikap rendah hati), juga hal-hal lain yang banyak termuat dalam kitab Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Menurut istilah Zainuddin, dakwahnya adalah untuk "membentuk kader berotak Amerika, berhati Mekkah." Sekalipun menabur humor di sana-sini, Zainuddin tetap tak kehilangan kendali buat mengerahkan massa. Ia mampu menjaga wibawa di mata khalayak. Rhoma Irama menyebut Zainuddin sebagai seo- rang yang memiliki "maunnah" – keistimewaan atas karunia Allah. Ali Badri mengatakan ustad itu punya kemampuan gaib. Sebagai bukti, ia menyebut bahwa hujan pun mereda setelah Zainuddin mengajak hadirin membaca salawat. Bisa jadi pernyataan ini lebih merupakan "reklame" Ali Badri untuk meninggikan Zainuddin. Tapi mungkin pula ia sungguh-sungguh meyakini demikian. Sebenarnya, sehari-hari Zai- nuddin bukan orang yang terlalu menjaga wibawa. Ia hampir tak beda dengan ciri orang Betawi lain: nampak santai. Sering ia membiarkan kemeja lengan panjangnya tanpa tergu- lung, tapi juga tak dikancingkan. Model kebanyakan celananya masih cutbrai, membesar di bagian bawah. Potongan rambutnya kelimis, sedikit panjang. Bila habis bepergian dan cukup punya waktu luang, ustad ini suka hanya berkaus oblong dan merebahkan punggungnya di kursinya di teras. Soal hobi, ia mengaku kerepotan menghitung. "Hobi saya banyak," ujarnya. Ustad ini adalah penggemar berat cerita silat karya Kho Ping Ho. la pun pencandu bola dan bioskop. Dalam sepak bola, ia mengagumi pemain Belanda yang bergabung di klub AC Milan-Italia, Marco van Basten. Sedang film yang paling berkesan baginya adalah Lion on the Desert yang mengisahkan perjuangan Omar Mokhtar di Sahara Libya melawan kolonial. Soal makanan, ia sama sekali tak berpantang. Ia malah menggemari jenis makanan yang oleh sejumlah orang dihindari. Misalnya petai, jengkol, dan durian. Asap rokok pun selalu mengepul dari mulutnya bagai cerobong asap. Paling sedikit dua pak rokok dihabiskannya sehari. Sewaktu sedang merokok dan diingatkan bahwa ada ulama menganggap "merokok haram", ia terhenyak sebentar. Lalu, "Aakhhhhh...," serunya sambil terus mengepulkan asap rokok. Sebuah sikap yang tentu saja sangat tidak disukai oleh kalangan puritan. Sewaktu kecil Zainuddin tak pernah berkeinginan menjadi mubalig. "Cita-cita saya kalau nggak jadi dokter, ya pilot." Tapi kakeknya – yang mengasuhnya setelah ayahnya meninggal – mengarahkan ke bidang agama. Menurut Zainuddin, agaknya sang kakek hendak menunaikan amanah. Sebab, dalam buku peninggalan ayahnya ada sedikit uang dan tulisan, "untuk anak saya melanjutkan ngaji." Ternyata, dengan menjadi mubalig ia dapat hidup cukup. Di kawasan tempat tinggalnya di Gandaria, ia terbilang berada. Sebuah Accord nongkrong di garasi rumahnya yang dibangun di tanah sekitar 1.000 m2. Ia juga membeli tanah di depan rumahnya yang bakal dipakai untuk membangun masjid. Namun, Zainuddin sangat bersahaja untuk ukuran dirinya. Kalau ia mau, tak seorang artis Indonesia pun dapat menyaingi penghasilannya. Kalaupun ia minta honor, agaknya Rp 10 juta setiap kali ceramah akan dipenuhi pengundangnya. Tapi ia tak pernah meminta. Begitupun orang masih memberinya honor ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Belum lagi penghasilannya dari kaset. Ia terikat kontrak dengan Naviri Record hingga pertengahan tahun 1991. Kabarnya, sudah 52 serial ceramahnya yang dikasetkan. Dan ia tak peduli, berapa banyak nilai bisnis yang berputar dari kasetnya. Tentang berapa buat dirinya, ia bilang "saya tak ambil pusing." Kenyataannya. "Alhamdulillah memadai. Rumah saya inilah hasilnya." Dalam posisi seperti itu, kehadiran Zainuddin bukan tak mengundang kritik. Terutama setelah ceramahnya dikarciskan. Ada sejumlah kalangan yang secara tak langsung menuding Zainuddin "menjual ayat" – suatu hal yang dilarang Quran. Tapi sebagian besar tokoh Islam menyatakan bahwa yang diperbuat ustad ini sah. Tak termasuk kategori "menjual ayat". Apalagi hasil karcis pun bukan buat dirinya. Melainkan untuk kepentingan amal di daerah mereka yang mengundangnya. Dikatakannya pula, kadang ada koordinator daerah yang "nakal menjual saya pada panitia." Namun, ia mengaku selalu meluruskan kembali mereka lewat pertemuan koordinator daerah se-Indonesia secara berkala. Zainuddin sadar betul tempatnya. Maka, ia tak memungkiri diri, bahwa dirinya perlu dana. Menurut dia, sekitar 30 persen surat yang dilayangkan kepadanya berisi permohonan bantuan materi. "Adalah sangat menyakitkan bila kita tahu ada orang minta tolong pada kita, sedangkan kita dalam keadaan tak mampu menolong." Maka, Zainuddin pun terus bergulat dengan dunianya: dakwah. Ia berniat untuk terus menggelitik, mengetuk, menggugah hati umat, untuk bergerak menuju kebenaran. Soal keterkenalannya yang bak superstar, ia berkomentar sederhana. "Menjadi terkenal bukan tujuan saya, melainkan hanya alat untuk menumbuhkan otoritas." Tapi untuk apa otoritas itu, Ustad? "Semakin tinggi otoritas kita di mata umat," jawab Zainuddin, "semakin mudah menanamkan keyakinan pada mereka. Umat tidak akan puas kalau kita sama dengan mereka. Biarlah kita nampak istimewa di mata mereka." Tak hanya itu. Alat bernama otoritas barulah ampuh bila dilandasi, menurut Zainuddin, "keyakinan bahwa diri kita sama dengan mereka. Kita hanya menjalankan sebuah bentuk ibadah yang bernama 'memberikan dakwah'." Tak mudah resep itu dijalani. Dan memang tak semua dai menjadi Zainuddin Mz. Zaim Uchrowi, Priyono B. Sumbogo (Jakarta), Wahyu Muryadi, Zed Abidien, M. Baharun (Surabaya) Sumber: TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990

 Mungkin pada edisi TEMPO ini, Bapak saya mau ikut membaca ketika majalah ini, dengan sampul foto Zainuddin M.Z., saya letakkan di meja kerjanya. Memang, radio di rumah kami cukup sering menyiarkan kaset rekaman dai yang lucu dan cerdas ini. 



Ia bisa bergelora bagaikan Bung Karno, lembut seperti Buya Hamka, dan cekatan bermain kata bak Idham Chalid. Maka, Haji Zainuddin Mz. melejit sebagai seorang mahabintang. Dialah dai berjuta umat.


SAYA USTAD, BUKAN ARTIS


(TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990)


Massa terus berdesak. Kerumunan bahkan melebar ke tepian jalan tol, memaksa jalan tol Dupak, dalam Kota Surabaya, ditutup sementara. Hujan pun turun. Hadirin kuyup. Namun, orang- orang itu tak beranjak dari tempat. Termasuk seorang ibu yang menggendong anak- nya. Mereka seolah larut oleh suara sang Ustad dari podium, yang mengajak massa bersama-sama membaca salawat, "memohon agar Allah menunda hujan." Segera bacaan salawat puluhan – bahkan mungkin mencapai ratusan – ribu orang membahana.


Alhamdulillah, Allah mengabulkan permohonan itu. Hujan pun reda. Kemudian sang Ustad memberi aba-aba, agar salawat sampai di situ saja. Tanah lapang Dupak, tempat berkumpul itu, pun berubah se- nyap. Suasana betul-betul sunyi. Massa sedemikian terpaku, menunggu kata-kata "bertuah" yang bakal meluncur dari mulut Ustad. Di Surabaya, Februari lalu H. Zainuddin Mz., ustad itu, berhasil sepenuhnya "menyihir" massa. Selama dua jam, massa dibikinnya diam dan mengunyah setiap kata yang ia ucapkan.


                                             ***


Di Jakarta, bulan puasa ini, Zainuddin juga membuai ribuan jamaah pada sejumlah masjid. Harian Pos Kota yang punya acara. Mereka tahu, banyak umat gandrung pada suara Zainuddin. Maka, untuk acara ulang tahun April ini, Pos Kota "mengontrak" Zainuddin. Ustad ini mereka kelilingkan ke berbagai wilayah Ibu Kota, buat berceramah.


Lihatlah, misalnya, di Masjid Muyasyirin Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Sejak magrib, masjid itu telah dipenuhi jamaah. Lebih daripada biasanya – bukan cuma dalam jumlah tapi juga dalam suasana. Biasanya anak-anak ramai bergurau sebelum dan sehabis tarawih. Tapi kali ini suasana sangat tenang. Ucapan "jangan ribut, nanti habis tarawih kita akan mendengarkan khotbah ustad kita yang terkenal Zainuddin Mz." cukup untuk mengunci celotehan anak-anak itu.


Mereka sabar menunggu. Sedangkan ustadnya baru hadir setelah pukul sembilan malam. Satu-satunya hal yang membuat mereka kesal adalah rangkaian anggrek di seputar podium. Bagi mereka, anggrek itu tak menciptakan keindahan. Malah cuma menghalangi mereka memandang wajah sang Ustad. Maka, mereka berteriak "singkirkan!"


Begitu Zainuddin beranjak ke mimbar, keplok pun bergemuruh. Dan segera saja tepuk tangan habis, berganti tawa, begitu Zainuddin mengatakan, "Saya ustad, bukan artis."


                                                 ***


Di Ujungpandang, Zainuddin juga disambut akbar. Stadion Mattoangin, awal April lalu, penuh sesak. Massa telah berkerumun di sana sejak jam tiga sore. Kata Andi Abdulatif, pengundangnya, ada di antara mereka sengaja datang dari Bone, ratusan kilometer di timur laut Ujungpandang. Mereka membawa bekal masing-masing dan berbuka puasa di sana. Padahal, ceramah baru dimulai setelah tarawih. Esok paginya, setelah subuh, Zainuddin berceramah lagi di stadion itu. Massa sudah menyemut lagi, entah jam berapa mereka berangkat dari rumah.


                                             ***


Gelombang pasang naik dakwah memang nampak mencengangkan. Presiden Soeharto pun bahkan menengok ke sana. Antara lain dengan meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyiapkan 1.000 pendakwah yang akan digaji rutin dan dikirim berbagai pelosok. (Lihat Box bagian 2.) Namun, di tengah suasana dakwah yang sedemikian marak, ada satu nama yang melejit begitu pesat. Dialah, yang namanya bisa membuat anak-anak jadi anteng, yang membuat orang-orang tak merasa keberatan menunggunya berjam-jam: "Haji Zainuddin em-zet".


Pemunculan nama Zai- nuddin memang bak seorang mahabintang, superstar. Setelah Rhoma Irama, Zainuddinlah sosok yang mampu menggoyang manusia. Bukan dengan musik. Bukan lautan dengan lagu. Melainkan dengan kata. Rangkaian ucapannya mampu mengobarkan atau mendinginkan massa, mengetuk hati atau menghibur, juga menjadikan mereka histeris atau diam. Di tengah umat yang lagi getol menyeru dakwah bil-hal – dakwah  dengan tindakan, Zainuddin seperti hendak membuktikan bahwa dakwah bil-lisan tak mati. Ada yang bilang kini dakwah dengan kata-kata berada di titik puncak, dan Haji Zainuddin adalah bintangnya.


Kenyataannya memang demikian. Seorang penjual es yang keliling di gang-gang daerah Rawabelong, Jakarta Barat, biasa memutar kaset ceramah Zainuddin keras-keras dengan pengeras suara yang digantungkan pada sepedanya. Toko buku Bulan Bintang di bilangan Kwitang, di arah selatan Pusat Perdagangan Senen, melakukan hal serupa. "Untuk menarik pengunjung." kata penjaganya. Sedang dalam sebuah pertemuan keluarga Minang di Taman Impian Ancol, seorang penjahit mengaku baru benar-benar memahami Islam setelah mengikuti cera mah Zainuddin.


Di Malang dan Surabaya, ceramah Zainuddin malah dikarciskan. Sebagian hadirin rela membayar undangan masuk dua-tiga kali lipat harga yang dipasang panitia. Begitupun, masih ribuan orang tak kebagian. Ceramahnya, yang disiarkan puluhan radio, mulai menggeser ketenaran drama serial terkenal Saur Sepuh.


Lebih dari itu, nama Zainuddin juga ampuh untuk menangkis tudingan "anti-Islam". Sewaktu terbetik desas-desus yang menyebut ia tak suka pada sikap santri, Kepala SMAN VI Surabaya yang melarang siswinya berjilbab berkata, "Saya ini penggemar ceramah Zainuddin Mz."


Siapa sebenarnya ustad yang dirindukan itu? "Saya asli Betawi. Nama saya H. Zainuddin Hamidy Mz. Mz adalah singkatan dari Turmudzy, nama ayah saya," tuturnya.


Zainuddin lahir pada 2 Maret 1952. Dalam usia dua tahun, ia menjadi seorang yatim. Kesulitan hidup menghadangnya. Sewaktu SD, ia menjadi penjual koran dan membantu pamannya menjual rokok. Saat remaja ia pernah menjadi buruh bangunan.


Selepas SD tahun 1964, ia masuk Perguruan Darul Ma'arif Cipete, Jakarta Selatan. Di sanalah ia bertemu dengan sejumlah ulama terkemuka Indonesia dan Mesir. Hal yang, menurut dia, bukan saja "mengisi otak saya, melainkan juga mewarnai kepribadian." Di perguruan ini, setiap Sabtu ada pelajaran berpidato. Pada acara inilah, ia mulai belajar berbicara di depan umum.


Kemudian Zainuddin kuliah di IAIN, Jurusan Perbandingan Agama. Namun, kuliahnya putus saat mempersiapkan skripsi. Yang berkembang justru bakat mubalignya. Tahun 1973-1974, ia mulai mengisi pengajian di berbagai musala dan masjid. Tapi masih terbatas. Menjelang Pemilu 1977, ia mendapat pelajaran penting. la turun gelanggang menjadi juru kampanye PPP. la muncul sepanggung bersama Rhoma Irama. Itulah saat ia mengenal lautan massa – orang-orang yang berkumpul ditarik magnet Rhoma. Peristi wa itu ternyata mendorong karier Zainuddin sebagai juru dakwah ketimbang politikus.


"Dari situ saya mengetahui sifat massa. Massa mudah terkena teror mental, mudah terkena sugesti, mudah dialihkan perhatiannya." Dan Zainuddin mulai dapat menguasai semuanya. Tak heran kalau Ridwan Saidi, bekas koordinator kampanye PPP, memuji Zainuddin sebagai seorang muda yang "berani dan membakar".


Tentu modal Zainuddin bukan cuma keberanian. Ia juga dapat memadukan kehebatan tiga tokoh podium yang ia kagumi. Ia mampu menjadi singa macam Bung Karno, menguasai kehalusan bahasa Buya Hamka, atau bermain logika seperti Idham Chalid. Kalimat-kalimatnya mengalir runtut bak pendongeng, berayun, dan disesuaikan dengan sifat massa setempat. Contoh yang dikemukakannya sangat sederhana – mudah dimengerti berbagai kalangan.


Lihat bagaimana ia menguraikan soal kanaah, kesahajaan. Ia katakan, seorang muslim harus "merasa cukup" dengan setiap rezeki yang ia terima. Bila tidak, orang itu serupa monyet. Diberi pisang akan ditangkap dengan tangan kanan, diberi lagi ditangkapnya dengan tangan kiri, lalu dengan mulut, lalu kaki kanan, dan kaki kiri. Sudah begitu, "milik temannya pun hendak direbutnya." Hadirin tertawa. Di tengah riuh isu konglomerat, sebagian mereka paham sindiran tadi. Yang tak tahu-menahu masalah konglomerat pun terhibur karena "cerita monyet" itu.


Konflik intern PPP menjadikan dunia Zainuddin lebih luas. Ia lalu menjaga jarak dengan partai, dan dengan politik. Akibatnya, massanya semakin melebar. Ia tidak cuma diterima oleh orang-orang PPP. Melainkan hampir oleh semua kalangan umat. Kaset ceramahnya mulai laku keras. Tablignya banyak dihadiri oleh pejabat. Dan mereka terus membutuhkan siraman rohani Zainuddin sekalipun mubalig itu berkali-kali menyindirnya.


Undangan pun berdatangan. Kini setiap hari, tamu antre di rumahnya di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan. Mereka menunggu giliran untuk dapat mengundang Zainuddin. Belum lagi yang melalui surat. Rata-rata, kata Zainuddin, sehari ia mendapat 50 surat. "Banyak tunggakan acara yang belum dapat saya penuhi," ucapnya. Padahal, setiap hari umumnya ia berceramah empat kali.


Salah seorang familinya mengatakan bahwa saat ini Zainuddin lebih sering tidur di mobil dalam perjalanan ketimbang di tempat tidur. Zainuddin sendiri mengatakan, masalah utamanya adalah bagaimana membagi waktu buat dakwah, keluarga, Yayasan Nurul Falah yang dipimpinnya, serta – sebentar lagi – untuk sebuah pesantren yang kini sedang dibangun di Nagrek, Jawa Barat.


Meledaknya minat umat untuk mendatangkan Zainuddin menimbulkan birokrasi. Muncul koordinator-koordinator daerah yang mengatur acara ustad ini. Semua itu muncul atas inisiatif mereka sendiri, bukan dari Zainuddin. Menurut Ali Badri, koordinator wilayah Surabaya dan sekitarnya, saat ini telah terbentuk 26 koordinator daerah di seluruh Indonesia. "Hanya Timor Timur yang belum ada," kata Ali Badri. Merekalah yang menentukan kegiatan, mengatur pengamanan, serta mengurus semua keperluan Zainuddin di setiap daerah.


Ali Badri, misalnya. Mulanya, pengurus Hipmi Jawa Timur ini selalu mendatangi setiap ceramah Zainuddin di Jawa Timur. la lalu mengorganisasikan teman-temannya untuk mengamankan Zainuddin dari serbuan massa. "Lengan ini kerap robek kena kuku-kuku mereka yang mau salaman dengan Ustad," tuturnya, sambil menunjukkan bekas goresan. Lalu muncullah ide membentuk koordinator. Rumahnya ia jadikan sebagai sekretariat. Foto dirinya bersama Zainuddin berukuran 20-R (40 X 50 cm) terpampang di ruang tamu. Sekarang – ada atau tidak ada kegiatan Zainuddin di Jawa Timur – selama 24 jam, rumah itu tak pernah sepi.


Untuk mengajukan permohonan ceramah Zainuddin, menurut Ali Badri, paling sedikit pengundang harus menghubungi koordinator daerah empat bulan sebelumnya. Begitupun belum tentu terlaksana. Syahlan Isnadi, guru SMA Sunan Giri Gresik, mengaku sudah 22 kali menghubungi koordinator agar Zainuddin dapat berceramah di daerahnya. Ia belum juga mendapat kepastian. Tapi ia tak juga mundur. "Habis, karisma beliau di podium tidak ada duanya, sih," ujarnya. "Beliau itu guru tunggal sekaligus pelawak tunggal."


Kesulitan mendatangkan "guru tunggal" ini selalu dibayar mahal Zainuddin. Bukan saja dengan kata-katanya yang menyejukkan dan menjadikan pendengarnya lebih memahami ajaran Islam. Kehadirannya pun selalu berarti datangnya bertumpuk uang bagi panitia yang dimanfaatkan buat kepentingan umat. Misalnya untuk biaya membangun masjid atau madrasah. "Entahlah, mengapa setiap ada Bapak, orang-orang jadi gampang mengeluarkan derma," kata seorang kerabat.


Untuk mengumpulkan dana bagi pemugaran Masjid Agung Malang di antaranya. Panitia pemugaran masjid peninggalan tahun 1700-an itu sengaja mendatangkan Zainuddin untuk ceramah. Untuk itu, panitia memungut "biaya undangan". Rp 5,000 untuk VIP, dan Rp 2.000 untuk kelas umum. Hadirin ternyata melimpah. Menurut panitia pemugaran, ada yang membayar Rp 15.000 untuk satu undangan. Dengan cara begitu saja, panitia bisa mengumpulkan dana Rp 10 juta. Mereka juga boleh memperbanyak kaset ceramah Zainuddin dan menjualnya. Dari sini terkumpul uang Rp 4 juta yang sepenuhnya buat masjid.


Dengan cara serupa, Gerakan Pemuda Kodya Surabaya mengisi kas organisasinya. Mereka "mementaskan" Zainuddin di gedung Go Skate – semula tempat ice skating yang kini lebih sering menjadi arena pertunjukan musik dan tinju profesional. Dari "mengomersialkan Zainuddin" ini, kas mereka terisi Rp 2 juta bersih. 


Zainuddin punya cara lain buat mengumpulkan dana. Sehabis ceramah, ia acap membentangkan serbannya. Lalu ia meletakkan uangnya ke serban itu sebagai pemancing. Serban pun dikelilingkan pada hadirin. Massa berlomba adu banyak melemparkan uang. Sekejap jutaan rupiah pasti terkumpul. Dengan dana – yang oleh Zainuddin disebut sebagai SDBS ("Sumbangan Dana Buat Surga") – ini, ratusan masjid dan madrasah telah dibangun. 


Pengerahan dana untuk kepentingan umat ibadah atau sosial adalah salah satu perhatian utamanya. Berkali-kali ia mengatakan "juallah saya," asal untuk kepentingan umat.


Pokok bahasan lain yang disukai dai berjuta umat ini adalah penanaman keimanan, seruan untuk tawadu (sikap rendah hati), juga hal-hal lain yang banyak termuat dalam kitab Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin. Menurut istilah Zainuddin, dakwahnya adalah untuk "membentuk kader berotak Amerika, berhati Mekkah."


Sekalipun menabur humor di sana-sini, Zainuddin tetap tak kehilangan kendali buat mengerahkan massa. Ia mampu menjaga wibawa di mata khalayak. Rhoma Irama menyebut Zainuddin sebagai seo- rang yang memiliki "maunnah" – keistimewaan atas karunia Allah. Ali Badri mengatakan ustad itu punya kemampuan gaib. Sebagai bukti, ia menyebut bahwa hujan pun mereda setelah Zainuddin mengajak hadirin membaca salawat. Bisa jadi pernyataan ini lebih merupakan "reklame" Ali Badri untuk meninggikan Zainuddin. Tapi mungkin pula ia sungguh-sungguh meyakini demikian.


Sebenarnya, sehari-hari Zai- nuddin bukan orang yang terlalu menjaga wibawa. Ia hampir tak beda dengan ciri orang Betawi lain: nampak santai. Sering ia membiarkan kemeja lengan panjangnya tanpa tergu- lung, tapi juga tak dikancingkan. Model kebanyakan celananya masih cutbrai, membesar di bagian bawah. Potongan rambutnya kelimis, sedikit panjang. Bila habis bepergian dan cukup punya waktu luang, ustad ini suka hanya berkaus oblong dan merebahkan punggungnya di kursinya di teras.


Soal hobi, ia mengaku kerepotan menghitung. "Hobi saya banyak," ujarnya. Ustad ini adalah penggemar berat cerita silat karya Kho Ping Ho. la pun pencandu bola dan bioskop. Dalam sepak bola, ia mengagumi pemain Belanda yang bergabung di klub AC Milan-Italia, Marco van Basten. Sedang film yang paling berkesan baginya adalah Lion on the Desert yang mengisahkan perjuangan Omar Mokhtar di Sahara Libya melawan kolonial.


Soal makanan, ia sama sekali tak berpantang. Ia malah menggemari jenis makanan yang oleh sejumlah orang dihindari. Misalnya petai, jengkol, dan durian. Asap rokok pun selalu mengepul dari mulutnya bagai cerobong asap. Paling sedikit dua pak rokok dihabiskannya sehari. Sewaktu sedang merokok dan diingatkan bahwa ada ulama menganggap "merokok haram", ia terhenyak sebentar. Lalu, "Aakhhhhh...," serunya sambil terus mengepulkan asap rokok. Sebuah sikap yang tentu saja sangat tidak disukai oleh kalangan puritan.


Sewaktu kecil Zainuddin tak pernah berkeinginan menjadi mubalig. "Cita-cita saya kalau nggak jadi dokter, ya pilot." Tapi kakeknya – yang mengasuhnya setelah ayahnya meninggal – mengarahkan ke bidang agama. Menurut Zainuddin, agaknya sang kakek hendak menunaikan amanah. Sebab, dalam buku peninggalan ayahnya ada sedikit uang dan tulisan, "untuk anak saya melanjutkan ngaji."


Ternyata, dengan menjadi mubalig ia dapat hidup cukup. Di kawasan tempat tinggalnya di Gandaria, ia terbilang berada. Sebuah Accord nongkrong di garasi rumahnya yang dibangun di tanah sekitar 1.000 m2. Ia juga membeli tanah di depan rumahnya yang bakal dipakai untuk membangun masjid. Namun, Zainuddin sangat bersahaja untuk ukuran dirinya. Kalau ia mau, tak seorang artis Indonesia pun dapat menyaingi penghasilannya. Kalaupun ia minta honor, agaknya Rp 10 juta setiap kali ceramah akan dipenuhi pengundangnya. Tapi ia tak pernah meminta. Begitupun orang masih memberinya honor ratusan ribu hingga jutaan rupiah.


Belum lagi penghasilannya dari kaset. Ia terikat kontrak dengan Naviri Record hingga pertengahan tahun 1991. Kabarnya, sudah 52 serial ceramahnya yang dikasetkan. Dan ia tak peduli, berapa banyak nilai bisnis yang berputar dari kasetnya. Tentang berapa buat dirinya, ia bilang "saya tak ambil pusing." Kenyataannya. "Alhamdulillah memadai. Rumah saya inilah hasilnya."


Dalam posisi seperti itu, kehadiran Zainuddin bukan tak mengundang kritik. Terutama setelah ceramahnya dikarciskan. Ada sejumlah kalangan yang secara tak langsung menuding Zainuddin "menjual ayat" – suatu hal yang dilarang Quran.


Tapi sebagian besar tokoh Islam menyatakan bahwa yang diperbuat ustad ini sah. Tak termasuk kategori "menjual ayat". Apalagi hasil karcis pun bukan buat dirinya. Melainkan untuk kepentingan amal di daerah mereka yang mengundangnya. Dikatakannya pula, kadang ada koordinator daerah yang "nakal menjual saya pada panitia." Namun, ia mengaku selalu meluruskan kembali mereka lewat pertemuan koordinator daerah se-Indonesia secara berkala.


Zainuddin sadar betul tempatnya. Maka, ia tak memungkiri diri, bahwa dirinya perlu dana. Menurut dia, sekitar 30 persen surat yang dilayangkan kepadanya berisi permohonan bantuan materi. "Adalah sangat menyakitkan bila kita tahu ada orang minta tolong pada kita, sedangkan kita dalam keadaan tak mampu menolong."


Maka, Zainuddin pun terus bergulat dengan dunianya: dakwah. Ia berniat untuk terus menggelitik, mengetuk, menggugah hati umat, untuk bergerak menuju kebenaran. Soal keterkenalannya yang bak superstar, ia berkomentar sederhana. "Menjadi terkenal bukan tujuan saya, melainkan hanya alat untuk menumbuhkan otoritas."


Tapi untuk apa otoritas itu, Ustad? "Semakin tinggi otoritas kita di mata umat," jawab Zainuddin, "semakin mudah menanamkan keyakinan pada mereka. Umat tidak akan puas kalau kita sama dengan mereka. Biarlah kita nampak istimewa di mata mereka."


Tak hanya itu. Alat bernama otoritas barulah ampuh bila dilandasi, menurut Zainuddin, "keyakinan bahwa diri kita sama dengan mereka. Kita hanya menjalankan sebuah bentuk ibadah yang bernama 'memberikan dakwah'."


Tak mudah resep itu dijalani. Dan memang tak semua dai menjadi Zainuddin Mz.


Zaim Uchrowi, Priyono B. Sumbogo (Jakarta), Wahyu Muryadi, Zed Abidien, M. Baharun (Surabaya)


Sumber: TEMPO, No. 9, Tahun XX – 28 April 1990

Pak Yani dan Pak Harto Kemungkinan atas pertimbangan keefektifan jalan nya operasi pembebasan Irian Barat /Trikora yang bermarkas komando di Makassar (pusat Indonesia Timur),pimpinan AD mempertimbangkan untuk mengadakan mutasi bagi pejabat terkait,yaitu jabatan Deputi Wilayah Indonesia Timur yang diserahterimakan dari May.Jend Ahmad Yani kepada May.Jend Soeharto yang juga berposisi sebagai Panglima Komando Mandala/Pembebasan Irian Barat. Upacara dilaksanakan dilapangan Karebosi,Makassar 11 Januari 1962 dan di pimpin oleh Wakasad Let.Jend Gatot Subroto.Setelah sertijab May.Jend Ahmad Yani fokus pada tugas sebagai juru bicara tunggal Presiden/Panglima Tertinggi terkait persoalan Pembebasan Irian Barat. Sumber : 📸 Album Trikora & Nayarcives

 Pak Yani dan Pak Harto


Kemungkinan atas pertimbangan keefektifan jalan nya operasi pembebasan Irian Barat /Trikora yang bermarkas komando di Makassar (pusat Indonesia Timur),pimpinan AD mempertimbangkan untuk mengadakan mutasi bagi pejabat terkait,yaitu jabatan Deputi Wilayah Indonesia Timur yang diserahterimakan dari  May.Jend Ahmad Yani kepada May.Jend Soeharto yang juga berposisi sebagai Panglima Komando Mandala/Pembebasan Irian Barat.



Upacara dilaksanakan dilapangan Karebosi,Makassar 11 Januari 1962 dan di pimpin oleh Wakasad Let.Jend Gatot Subroto.Setelah sertijab May.Jend Ahmad Yani fokus pada tugas sebagai juru bicara tunggal Presiden/Panglima Tertinggi terkait persoalan Pembebasan Irian Barat.


Sumber : 📸 Album Trikora & Nayarcives

Salam kenal saya dari sulawesi utara tepatnya di kpg jawa tondano kab.minahasa, tempat pengasingan para pahlawan jawa dalam perang diponegoro(laskar diponegoro dan kyai modjo), banyak garis keturunan dari RM.Sandeyo, HB I, HB II dan HB III🙏 #terasing #ygterlupakan #jawatondano #jaton

 Salam kenal saya dari sulawesi utara tepatnya di kpg jawa tondano kab.minahasa, tempat pengasingan para pahlawan jawa dalam perang diponegoro(laskar diponegoro dan kyai modjo), banyak garis keturunan dari RM.Sandeyo, HB I, HB II dan HB III🙏


#terasing

#ygterlupakan

#jawatondano

#jaton


foto ini di buat sekitar tahun 1962 satu regu Agen Polisi (Polisi Pamong Praja) mungkin cikal bakal Satuan Polisi Pamong Praja,komandannya yang duduk..,pangkatnya Mantri Polisi. dulu kantornya di jalan Bayan,kantor Asisten Wedana(Apotik Bayeman sekarang.sekatanh semua sudah Almarhum,bapak yang paling kurus. mungkin masih ada keluarganya atau masih ada yang kenal ??

 foto ini di buat sekitar tahun 1962  satu regu Agen Polisi (Polisi Pamong Praja) mungkin cikal bakal Satuan Polisi  Pamong Praja,komandannya yang duduk..,pangkatnya Mantri Polisi.

dulu kantornya di jalan Bayan,kantor Asisten Wedana(Apotik Bayeman sekarang.sekatanh semua sudah Almarhum,bapak yang paling kurus.

mungkin masih ada keluarganya atau masih ada yang kenal ??


Sumber : Bagus Satya

28 April 2026

Pahlawan yang mematahkan pedang Mongol dan menyelamatkan leher umat Islam, ternyata tak mampu melindungi lehernya sendiri dari pedang kawan seperjuangannya. Momentum itu bukan sekadar pembunuhan biasa; itu adalah sebuah gempa politik yang selamanya mengubah garis takdir dunia Islam. Hanya berselang beberapa minggu setelah kemenangan legendaris di Ain Jalut (1260 M), di tengah sorak-sorai Damaskus dan Kairo, sang Sultan Penyelamat, Saifuddin Qutuz, tersungkur bersimbah darah. Pelakunya? Sekutu terdekatnya, sang "Singa" yang berbagi panggung kemenangan bersamanya: Zahir Baibars. Inilah rincian benturan epik antara dua raksasa Mamluk dalam sejarah, di mana pragmatisme politik berbicara lebih keras daripada air mata kesetiaan. 1. Tragedi di Al-Qusayr: Khianat dalam Genggaman Setelah badai Mongol dipadamkan—untuk pertama kalinya dalam sejarah—ketakutan yang mencekam hati Muslimin sirna. Rakyat menanti kepulangan sang Sultan yang telah mengusir kiamat kecil dari tanah mereka. Namun, di dalam iring-iringan kemenangan itu, ada hati yang tidak tenang. Di sebuah tempat bernama Al-Qusayr, Qutuz keluar dari perkemahannya untuk berburu, mencari sejenak ketenangan di tengah hiruk-pukuk perang. Di sana, Baibars mendekat, berpura-pura ingin membicarakan suatu urusan. Dengan kepercayaan penuh, Qutuz mengulurkan tangannya. Saat itulah maut menjemput. Baibars mencengkeram tangan sang Sultan—sebuah isyarat bagi para konspirator lain untuk menghunus pedang. Qutuz jatuh, menatap tajam ke arah sahabatnya dengan tatapan tak percaya yang menyayat hati: "Beginikah caramu, wahai Rukn al-Din?" 2. Ambisi Aleppo: Percikan Api Pertama Baibars bukanlah tipe pria yang puas berdiri di bayang-bayang selamanya. Ia merasa keberaniannya di medan Ain Jalut setara dengan sang Sultan. Ia menginginkan Aleppo sebagai imbalan atas darah yang ia tumpahkan. Namun, Qutuz berpikir dengan otak seorang penguasa, bukan dengan hati seorang kawan. Ia khawatir jika Baibars menguasai kota sebesar Aleppo, maka akan lahir "negara di dalam negara". Penolakan itu, meski secara politik masuk akal, menjadi sumbu pendek yang meledakkan dendam dalam diri Baibars. 3. Bayang-Bayang Masa Lalu: Dendam Aktai yang Belum Usai Perselisihan soal Aleppo hanyalah permukaan. Jauh di lubuk hati mereka, ada luka lama yang tak pernah benar-benar mengering. Dulu, Baibars adalah pengikut setia Farisuddin Aktai, pemimpin Mamluk Bahri yang sangat disegani. Qutuz adalah salah satu orang yang membantu Sultan Muiz Aibek mengeksekusi Aktai. Sejak saat itu, mereka berpencar sebagai musuh. Mongol-lah yang memaksa mereka bersatu. Kebutuhan mendesak memaksa tubuh mereka berdekatan, namun hati mereka tetap saling menghunus pedang. Darah Aktai menuntut tebusan, dan ingatan itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk menagih janji. 4. Hukum Rimba Mamluk: Takhta Milik Sang Pemenang Era Mamluk adalah era tanpa garis keturunan suci. Singgasana tidak diwariskan lewat rahim, melainkan diraih lewat tajamnya pedang. Sejak kecil, seorang Mamluk dididik bahwa kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami dunia. Baibars tidak memandang tindakannya sebagai pengkhianatan dalam kacamata moral kita. Baginya, itu adalah kelanjutan alami dari hukum yang mereka semua imani: "Al-Mulku Liman Ghalaba" — Kekuasaan adalah milik dia yang menang. Ia sadar, jika Qutuz menginjakkan kaki di Kairo sebagai pahlawan besar, tak akan ada lagi celah untuk menggulingkannya. Pilihannya hanya dua: tetap menjadi pelayan selamanya, atau menjadi penguasa hari ini. Ia memilih jalan darah. 5. Ironi Sejarah: Sang Syahid dan Sang Pendiri Setibanya di Kairo dengan tangan yang masih merah, rakyat dan petinggi militer tak banyak bertanya. Di zaman itu, darah adalah tinta yang biasa dalam menulis politik. Panglima militer (Atabeg) bertanya padanya dengan dingin: "Apakah kau yang membunuhnya dengan tanganmu sendiri?" Baibars menjawab dengan ketegasan yang mencekam: "Ya." Maka jawabannya singkat: "Kalau begitu, duduklah di kursinya. Kekuasaan adalah milik pemenang." Dalam satu helaan napas, berakhirlah era sang penyelamat, dan dimulailah era sang pembangun. Kesimpulan: Sisi Terang dan Gelap Rembulan Qutuz dibunuh karena politik saat itu tidak mengenal kata "terima kasih", melainkan "keberlangsungan". Ia gugur setelah menuntaskan misi sejarahnya melindungi Islam dari Tartar. Namun, kematiannya memberi jalan bagi Baibars untuk membangun imperium yang lebih perkasa—penguasa yang menjalani 9 pertempuran melawan Mongol dan puluhan kampanye melawan Tentara Salib tanpa sekalipun kalah. Qutuz pergi sebagai "Syahid", Baibars bertahan sebagai "Sang Pendiri". Keduanya menulis sejarah kita dengan tinta cahaya... dan genangan darah. Sejarah memang tak pernah murni putih atau hitam; ia seperti rembulan, memiliki sisi yang terang benderang sekaligus sisi gelap yang misterius.

 Pahlawan yang mematahkan pedang Mongol dan menyelamatkan leher umat Islam, ternyata tak mampu melindungi lehernya sendiri dari pedang kawan seperjuangannya.



Momentum itu bukan sekadar pembunuhan biasa; itu adalah sebuah gempa politik yang selamanya mengubah garis takdir dunia Islam. Hanya berselang beberapa minggu setelah kemenangan legendaris di Ain Jalut (1260 M), di tengah sorak-sorai Damaskus dan Kairo, sang Sultan Penyelamat, Saifuddin Qutuz, tersungkur bersimbah darah. Pelakunya? Sekutu terdekatnya, sang "Singa" yang berbagi panggung kemenangan bersamanya: Zahir Baibars.


Inilah rincian benturan epik antara dua raksasa Mamluk dalam sejarah, di mana pragmatisme politik berbicara lebih keras daripada air mata kesetiaan.


1. Tragedi di Al-Qusayr: Khianat dalam Genggaman


Setelah badai Mongol dipadamkan—untuk pertama kalinya dalam sejarah—ketakutan yang mencekam hati Muslimin sirna. Rakyat menanti kepulangan sang Sultan yang telah mengusir kiamat kecil dari tanah mereka.


Namun, di dalam iring-iringan kemenangan itu, ada hati yang tidak tenang. Di sebuah tempat bernama Al-Qusayr, Qutuz keluar dari perkemahannya untuk berburu, mencari sejenak ketenangan di tengah hiruk-pukuk perang. Di sana, Baibars mendekat, berpura-pura ingin membicarakan suatu urusan.


Dengan kepercayaan penuh, Qutuz mengulurkan tangannya. Saat itulah maut menjemput. Baibars mencengkeram tangan sang Sultan—sebuah isyarat bagi para konspirator lain untuk menghunus pedang. Qutuz jatuh, menatap tajam ke arah sahabatnya dengan tatapan tak percaya yang menyayat hati:


"Beginikah caramu, wahai Rukn al-Din?"


2. Ambisi Aleppo: Percikan Api Pertama


Baibars bukanlah tipe pria yang puas berdiri di bayang-bayang selamanya. Ia merasa keberaniannya di medan Ain Jalut setara dengan sang Sultan. Ia menginginkan Aleppo sebagai imbalan atas darah yang ia tumpahkan.


Namun, Qutuz berpikir dengan otak seorang penguasa, bukan dengan hati seorang kawan. Ia khawatir jika Baibars menguasai kota sebesar Aleppo, maka akan lahir "negara di dalam negara". Penolakan itu, meski secara politik masuk akal, menjadi sumbu pendek yang meledakkan dendam dalam diri Baibars.


3. Bayang-Bayang Masa Lalu: Dendam Aktai yang Belum Usai


Perselisihan soal Aleppo hanyalah permukaan. Jauh di lubuk hati mereka, ada luka lama yang tak pernah benar-benar mengering.


Dulu, Baibars adalah pengikut setia Farisuddin Aktai, pemimpin Mamluk Bahri yang sangat disegani. Qutuz adalah salah satu orang yang membantu Sultan Muiz Aibek mengeksekusi Aktai. Sejak saat itu, mereka berpencar sebagai musuh. Mongol-lah yang memaksa mereka bersatu. Kebutuhan mendesak memaksa tubuh mereka berdekatan, namun hati mereka tetap saling menghunus pedang. Darah Aktai menuntut tebusan, dan ingatan itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk menagih janji.


4. Hukum Rimba Mamluk: Takhta Milik Sang Pemenang


Era Mamluk adalah era tanpa garis keturunan suci. Singgasana tidak diwariskan lewat rahim, melainkan diraih lewat tajamnya pedang. Sejak kecil, seorang Mamluk dididik bahwa kekuatan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami dunia.


Baibars tidak memandang tindakannya sebagai pengkhianatan dalam kacamata moral kita. Baginya, itu adalah kelanjutan alami dari hukum yang mereka semua imani:


"Al-Mulku Liman Ghalaba" — Kekuasaan adalah milik dia yang menang.

Ia sadar, jika Qutuz menginjakkan kaki di Kairo sebagai pahlawan besar, tak akan ada lagi celah untuk menggulingkannya. Pilihannya hanya dua: tetap menjadi pelayan selamanya, atau menjadi penguasa hari ini. Ia memilih jalan darah.


5. Ironi Sejarah: Sang Syahid dan Sang Pendiri


Setibanya di Kairo dengan tangan yang masih merah, rakyat dan petinggi militer tak banyak bertanya. Di zaman itu, darah adalah tinta yang biasa dalam menulis politik. Panglima militer (Atabeg) bertanya padanya dengan dingin:


"Apakah kau yang membunuhnya dengan tanganmu sendiri?"


Baibars menjawab dengan ketegasan yang mencekam: "Ya."


Maka jawabannya singkat: "Kalau begitu, duduklah di kursinya. Kekuasaan adalah milik pemenang."


Dalam satu helaan napas, berakhirlah era sang penyelamat, dan dimulailah era sang pembangun.


Kesimpulan: Sisi Terang dan Gelap Rembulan


Qutuz dibunuh karena politik saat itu tidak mengenal kata "terima kasih", melainkan "keberlangsungan". Ia gugur setelah menuntaskan misi sejarahnya melindungi Islam dari Tartar. Namun, kematiannya memberi jalan bagi Baibars untuk membangun imperium yang lebih perkasa—penguasa yang menjalani 9 pertempuran melawan Mongol dan puluhan kampanye melawan Tentara Salib tanpa sekalipun kalah.


Qutuz pergi sebagai "Syahid", Baibars bertahan sebagai "Sang Pendiri". Keduanya menulis sejarah kita dengan tinta cahaya... dan genangan darah. Sejarah memang tak pernah murni putih atau hitam; ia seperti rembulan, memiliki sisi yang terang benderang sekaligus sisi gelap yang misterius.

Jejak Sejarah KNIL, Pembela Tanah Air, Siliwangi, Baret Hijau Hingga Baret Merah Di Tuguran Dari zaman Hindia Belanda Magelang telah menjadi kota Garnizun. Salah satu bangunan yang memiliki sejarah panjang perjalanan militer di Kota Magelang adalah bangunan yang kini menjadi Sekolah Calon Bintara Kodam IV Diponegoro yang berlokasi di Jalan Pahlawan kota Magelang. Bangunan di Tuguran ini berdiri sekitar tahun 1940an tepatnya bulan Februari 1940, Tuguran ditetapkan sebagai bagian dari barak satuan militer khusus oleh pemerintah kolonial Belanda. Kepemimpinan angkatan darat Belanda (departement van oorlog) mengerahkan pembangunan barak-barak untuk bintara angkatan darat di area Tuguran. Tetapi tahun 1942 tentara Jepang masuk ke Indonesia. Di masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan oleh Jepang sebagai markas PETA, ini berdasarkan data bahwa Bapak Sarwo Edhie Wibowo Setelah menjalani latihan militer sebagai calon perwira PETA di Bogor, Sarwo Edhie menjadi salah satu lulusan Shodanco (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Saat pelantikan, dia Sarwo Edhie sebagai Shodancho mendapatkan tugas di daerah Tuguran, Magelang. Pada November 1948, ketika Divisi Siliwangi bermarkas di Tuguran Magelang, Batalyon I Brigade IV dimasukkan ke dalam Brigade Divisi Siliwangi dengan nama "Batalyon IV Brigade XIV Divisi Siliwangi". Divisi Siliwangi ini bermarkas di bangunan yang menjadi bangunan SECABA ini hingga sekitar Desember 1948 mereka melakukan Long March kembali ke Jawa Barat akibat adanya Agresi Militer Belanda ke 2. Pada saat Agresi Militer Belanda ke 2 bangunan ini sempat mengalami aksi bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Kemudian sekitar tahun 1955 bangunan ini menjadi markas dari Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I. Dari sinilah jejak baret hijau Banteng Raider "Komandone Wong Jowo" terukir dengan tinta emas di Kota Magelang. Selanjutnya setelah Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I direkrut menjadi bagian RPKAD di pertengahan tahun 1965 menjadi Batalyon 2 RPKAD maka bangunan yang sekarang kita kenal sebagai bangunan SECABA ini menjadi markas dari Batalyon 2 RPKAD dari tahun 1965 sampai 1978an. Dan di antara 1965 sampai 1978an jejak baret merah terukir di Kota Magelang...... Batalyon 2 RPKAD di Tuguran ini banyak berperan penting dalam menumpas sisa sisa anggota G 30 S PKI. Masuknya Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I ke dalam RPKAD menjadi tonggak leburnya antara "Komandone Wong Jowo" dan "Komandone Wong Londo" jadi satu. Banteng Raider masa itu dikenal sebagai Komandone Wong Jowo karena pimpinan pertama nya adalah Letkol Achmad Yani (pangkat terakhir Jenderal Anumerta). Kalau RPKAD dikenal sebagai Komandone Wong Londo karena pimpinan pertama Mayor Muhammad Idjon Djambi (RB Visser) yang dahulunya adalah anggota Speciale Troepen Kerajaan Belanda. Pada Januari 1978 markas Group 2 Kopassandha mulai dipindahkan dari Tuguran ke Kandang Menjangan Kartasura. Setelah Batalyon 2 RPKAD pindah ke Kandang Menjangan Kartasura kemudian bangunan bekas markas Batalyon 2 RPKAD ini digunakan sebagai tempat Sekolah Calon Bintara hingga sekarang ini. Jadi bangunan yang kita kenal sebagai Sekolah Calon Bintara ini ternyata memiliki sejarah panjang yang perlu kita kenang dan kita pelajari untuk bisa kita ceritakan ke anak cucu kita bahwasanya di Tuguran punya sejarah militer yang panjang dari dahulu hingga kini.

 Jejak Sejarah KNIL, Pembela Tanah Air, Siliwangi, Baret Hijau Hingga Baret Merah Di Tuguran 



Dari zaman Hindia Belanda Magelang telah menjadi kota Garnizun. Salah satu bangunan yang memiliki sejarah panjang perjalanan militer di Kota Magelang adalah bangunan yang kini menjadi Sekolah Calon Bintara Kodam IV Diponegoro yang berlokasi di Jalan Pahlawan kota Magelang.

Bangunan di Tuguran ini berdiri sekitar tahun 1940an tepatnya bulan Februari 1940, Tuguran ditetapkan sebagai bagian dari barak satuan militer khusus oleh pemerintah kolonial Belanda. Kepemimpinan angkatan darat Belanda (departement van oorlog) mengerahkan pembangunan barak-barak untuk bintara angkatan darat di area Tuguran.

Tetapi tahun 1942 tentara Jepang masuk ke Indonesia. 

Di masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan oleh Jepang sebagai markas PETA, ini berdasarkan data bahwa Bapak Sarwo Edhie Wibowo Setelah menjalani latihan militer sebagai calon perwira PETA di Bogor, Sarwo Edhie menjadi salah satu lulusan Shodanco (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Saat pelantikan, dia Sarwo Edhie sebagai Shodancho mendapatkan tugas di daerah Tuguran, Magelang.

Pada November 1948, ketika Divisi Siliwangi bermarkas di Tuguran Magelang, Batalyon I Brigade IV dimasukkan ke dalam Brigade Divisi Siliwangi dengan nama "Batalyon IV Brigade XIV Divisi Siliwangi". Divisi Siliwangi ini bermarkas di bangunan yang menjadi bangunan SECABA ini hingga sekitar Desember 1948 mereka melakukan Long March kembali ke Jawa Barat akibat adanya Agresi Militer Belanda ke 2.

Pada saat Agresi Militer Belanda ke 2 bangunan ini sempat mengalami aksi bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Kemudian sekitar tahun 1955 bangunan ini menjadi markas dari Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I. Dari sinilah jejak baret hijau Banteng Raider "Komandone Wong Jowo" terukir dengan tinta emas di Kota Magelang.

Selanjutnya setelah Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I direkrut menjadi bagian RPKAD di pertengahan tahun 1965 menjadi Batalyon 2 RPKAD maka bangunan yang sekarang kita kenal sebagai bangunan SECABA ini menjadi markas dari Batalyon 2 RPKAD dari tahun 1965 sampai 1978an. Dan di antara 1965 sampai 1978an jejak baret merah terukir di Kota Magelang...... Batalyon 2 RPKAD di Tuguran ini banyak berperan penting dalam menumpas sisa sisa anggota G 30 S PKI.

Masuknya Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I ke dalam RPKAD menjadi tonggak leburnya antara "Komandone Wong Jowo" dan "Komandone Wong Londo" jadi satu.

Banteng Raider masa itu dikenal sebagai Komandone Wong Jowo karena pimpinan pertama nya adalah Letkol Achmad Yani (pangkat terakhir Jenderal Anumerta).

Kalau RPKAD dikenal sebagai Komandone Wong Londo karena pimpinan pertama Mayor Muhammad Idjon Djambi (RB Visser) yang dahulunya adalah anggota Speciale Troepen Kerajaan Belanda.

Pada Januari 1978 markas Group 2 Kopassandha mulai dipindahkan dari Tuguran ke Kandang Menjangan Kartasura.

Setelah Batalyon 2 RPKAD pindah ke Kandang Menjangan Kartasura kemudian bangunan bekas markas Batalyon 2 RPKAD ini digunakan sebagai tempat Sekolah Calon Bintara hingga sekarang ini.

Jadi bangunan yang kita kenal sebagai Sekolah Calon Bintara ini ternyata memiliki sejarah panjang yang perlu kita kenang dan kita pelajari untuk bisa kita ceritakan ke anak cucu kita bahwasanya di Tuguran punya sejarah militer yang panjang dari dahulu hingga kini.


Sumber : Orchid Breeder

27 April 2026

TJILIK RIWUT: PAHLAWAN YANG DIABAIKAN Mari jujur. Sejarah Indonesia sering kali tidak ditulis berdasarkan siapa yang paling berjuang, tapi siapa yang paling sering disebut. Dan di situlah masalahnya dimulai. Nama Tjilik Riwut? Tidak asing, tapi juga tidak benar-benar hadir. Ia seperti tokoh penting yang sengaja diletakkan di catatan kaki—dibaca sekilas, lalu dilupakan. Padahal, kalau mau sedikit saja jujur dan membuka mata, apa yang ia lakukan di Kalimantan bukan sekadar kontribusi. Itu adalah fondasi. Ketika sebagian besar narasi besar revolusi sibuk berputar di Jawa—rapat, diplomasi, pidato, dan pertempuran besar—ada satu wilayah yang bekerja dalam diam: pedalaman Kalimantan. Dan di sana, Tjilik Riwut bukan sekadar pejuang. Ia adalah sistem. Ia adalah jaringan. Ia adalah strategi hidup. Ia tidak datang dengan peta militer. Ia adalah peta itu sendiri. Sejak muda, ia sudah menembus sungai-sungai liar, berjalan kaki berbulan-bulan melintasi hutan yang bahkan tidak berani disentuh oleh orang luar. Ia tahu jalur yang tidak terlihat. Ia tahu kampung yang tidak tercatat. Ia tahu cara bergerak tanpa terlihat. Dan di perang gerilya, pengetahuan seperti itu bukan keunggulan—itu adalah segalanya. Belanda boleh punya senjata modern, kapal, dan kontrol atas kota-kota pesisir. Tapi mereka tidak pernah benar-benar menguasai Kalimantan. Kenapa? Karena mereka hanya menguasai permukaan. Sementara Tjilik Riwut menguasai isi. Dan di situlah ironi besar sejarah Indonesia: kita lebih sering mengagungkan pertempuran besar yang terlihat, dibandingkan perlawanan cerdas yang tidak bisa difoto. Tahun 1946, saat ia membawa para pemimpin adat Dayak ke Yogyakarta, itu bukan sekadar perjalanan simbolis. Itu adalah pukulan politik yang sangat dalam. Saat Belanda sedang menyusun strategi licik untuk memecah Indonesia lewat sistem federal di Kalimantan, Tjilik Riwut datang membawa satu hal yang tidak bisa mereka beli: kesetiaan rakyat pedalaman. Bukan kesetiaan karena tekanan. Bukan karena propaganda. Tapi karena kepercayaan. Dan di titik itu, rencana Belanda mulai retak. Dari dalam. Lalu datang operasi militer MN 1001 tahun 1947. Secara militer? Tidak sempurna. Banyak yang gugur. Banyak yang tertangkap. Kalau dilihat dengan kacamata dangkal, ini bisa disebut kegagalan. Tapi justru di situlah kecerdasan Tjilik Riwut terlihat. Karena perang tidak selalu dimenangkan oleh operasi besar. Kadang justru dimenangkan oleh apa yang terjadi setelahnya. Ketika situasi memburuk, jaringan yang ia bangun mulai bekerja. Diam-diam. Tanpa sorotan. Tanpa tepuk tangan. Informasi bergerak cepat lewat masyarakat adat. Jalur logistik muncul dari sungai-sungai yang tidak terdeteksi. Serangan kecil terjadi terus-menerus, membuat Belanda kelelahan, bingung, dan kehilangan arah. Ini bukan perang heroik ala film. Ini perang yang membuat musuh frustrasi. Dan hasilnya jelas: Belanda tidak pernah benar-benar bisa menguasai pedalaman Kalimantan. Bayangkan ini. Sebuah kekuatan kolonial dengan sumber daya besar, teknologi lebih maju, dan pengalaman perang global… dibuat tidak berdaya oleh jaringan rakyat yang dipimpin seseorang yang memahami tanahnya sendiri. Kalau itu bukan kecerdasan strategis, lalu apa? Tapi lagi-lagi, karena tidak dramatis, karena tidak “Instagramable”, karena tidak masuk narasi besar yang sering diulang—kisah ini perlahan menghilang. Setelah 1949, banyak pejuang berhenti. Banyak yang puas. Banyak yang beralih ke kehidupan biasa. Tjilik Riwut? Tidak. Ia pindah medan. Dari hutan ke politik. Dari senjata ke kebijakan. Ketika Indonesia sempat menjadi Republik Indonesia Serikat—sebuah bentuk negara yang jelas-jelas hasil rekayasa kolonial—ia kembali bergerak. Kali ini bukan dengan senapan, tapi dengan pengaruh. Ia memastikan Kalimantan tidak menjadi “pecahan” yang mudah dikendalikan. Ia mendorong integrasi penuh ke dalam NKRI. Dan ya, ini juga sering diremehkan. Padahal kalau Kalimantan saat itu benar-benar terlepas atau terfragmentasi, wajah Indonesia hari ini bisa sangat berbeda. Sangat mungkin lebih rapuh. Lebih mudah diintervensi. Tapi sejarah tidak suka membahas “yang hampir terjadi”. Sejarah lebih suka membahas “yang terlihat”. Masuk ke fase berikutnya: pemerintahan. Ia bukan sekadar pejabat. Ia adalah pembangun dari nol. Bukan nol metaforis. Nol yang benar-benar nol. Palangka Raya bukan kota yang diperluas. Itu kota yang diciptakan. Bayangkan memimpin wilayah yang belum punya infrastruktur dasar. Tidak ada jalan memadai. Tidak ada sistem kota. Tidak ada fondasi modern. Tapi harus dibangun menjadi pusat pemerintahan. Dan ia melakukannya. Bukan dengan slogan. Bukan dengan janji. Tapi dengan kerja nyata. Lebih menarik lagi, visinya bahkan melampaui zamannya. Bersama Soekarno, Palangka Raya sempat dipertimbangkan sebagai ibu kota Indonesia. Kenapa? Karena letaknya strategis. Karena lebih aman. Karena lebih representatif secara geografis. Dan lucunya, puluhan tahun kemudian, Indonesia baru kembali membicarakan ide itu dengan serius. Artinya? Ia tidak hanya berpikir untuk hari itu. Ia berpikir untuk masa depan yang bahkan belum siap memahami pikirannya. Sekarang pertanyaannya sederhana: kenapa nama sebesar ini tidak sebesar narasinya? Jawabannya tidak nyaman. Karena Indonesia sering kali lebih suka cerita yang mudah dicerna daripada fakta yang kompleks. Karena kita lebih cepat menghafal nama daripada memahami peran. Karena kita lebih tertarik pada pusat daripada pinggiran. Dan yang paling menyakitkan: karena kita sering tidak adil dalam menghargai kontribusi. Tjilik Riwut membuktikan satu hal penting—bahwa Indonesia tidak dibangun hanya dari satu pulau, satu kota, atau satu jenis perjuangan. Indonesia dibangun dari keberanian orang-orang yang tidak menunggu spotlight. Dari mereka yang bekerja dalam diam. Dari mereka yang tidak viral, tapi vital. Dan kalau hari ini kita masih memandang sejarah dengan kacamata sempit—mengulang nama yang sama, mengabaikan yang lain—maka kita tidak sedang belajar sejarah. Kita sedang mengulang bias. Narasi ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Tapi untuk meluruskan. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang punya banyak pahlawan. Tapi bangsa yang tahu cara mengingat mereka dengan adil. Sekarang tinggal pilihan kita. Mau terus membaca sejarah sebagai cerita yang nyaman? Atau mulai melihatnya sebagai kenyataan yang kadang menyakitkan, tapi jauh lebih jujur? #TjilikRiwut #SejarahIndonesia #PahlawanTerlupakan #Kalimantan #Dayak #RevolusiIndonesia #NKRI #SejarahYangTerlupakan #IndonesiaTimur #NarasiSejarah #KritikSejarah #BelajarSejarah #Indonesia TJILIK RIWUT: PAHLAWAN YANG DIABAIKAN, NEGARA YANG TERLALU SIBUK MENGINGAT YANG “POPULER”

 TJILIK RIWUT: PAHLAWAN YANG DIABAIKAN

Mari jujur. Sejarah Indonesia sering kali tidak ditulis berdasarkan siapa yang paling berjuang, tapi siapa yang paling sering disebut. Dan di situlah masalahnya dimulai.



Nama Tjilik Riwut? Tidak asing, tapi juga tidak benar-benar hadir. Ia seperti tokoh penting yang sengaja diletakkan di catatan kaki—dibaca sekilas, lalu dilupakan. Padahal, kalau mau sedikit saja jujur dan membuka mata, apa yang ia lakukan di Kalimantan bukan sekadar kontribusi. Itu adalah fondasi.


Ketika sebagian besar narasi besar revolusi sibuk berputar di Jawa—rapat, diplomasi, pidato, dan pertempuran besar—ada satu wilayah yang bekerja dalam diam: pedalaman Kalimantan. Dan di sana, Tjilik Riwut bukan sekadar pejuang. Ia adalah sistem. Ia adalah jaringan. Ia adalah strategi hidup.


Ia tidak datang dengan peta militer. Ia adalah peta itu sendiri.


Sejak muda, ia sudah menembus sungai-sungai liar, berjalan kaki berbulan-bulan melintasi hutan yang bahkan tidak berani disentuh oleh orang luar. Ia tahu jalur yang tidak terlihat. Ia tahu kampung yang tidak tercatat. Ia tahu cara bergerak tanpa terlihat. Dan di perang gerilya, pengetahuan seperti itu bukan keunggulan—itu adalah segalanya.


Belanda boleh punya senjata modern, kapal, dan kontrol atas kota-kota pesisir. Tapi mereka tidak pernah benar-benar menguasai Kalimantan. Kenapa? Karena mereka hanya menguasai permukaan. Sementara Tjilik Riwut menguasai isi.


Dan di situlah ironi besar sejarah Indonesia: kita lebih sering mengagungkan pertempuran besar yang terlihat, dibandingkan perlawanan cerdas yang tidak bisa difoto.


Tahun 1946, saat ia membawa para pemimpin adat Dayak ke Yogyakarta, itu bukan sekadar perjalanan simbolis. Itu adalah pukulan politik yang sangat dalam. Saat Belanda sedang menyusun strategi licik untuk memecah Indonesia lewat sistem federal di Kalimantan, Tjilik Riwut datang membawa satu hal yang tidak bisa mereka beli: kesetiaan rakyat pedalaman.


Bukan kesetiaan karena tekanan. Bukan karena propaganda. Tapi karena kepercayaan.


Dan di titik itu, rencana Belanda mulai retak. Dari dalam.


Lalu datang operasi militer MN 1001 tahun 1947. Secara militer? Tidak sempurna. Banyak yang gugur. Banyak yang tertangkap. Kalau dilihat dengan kacamata dangkal, ini bisa disebut kegagalan.


Tapi justru di situlah kecerdasan Tjilik Riwut terlihat.


Karena perang tidak selalu dimenangkan oleh operasi besar. Kadang justru dimenangkan oleh apa yang terjadi setelahnya.


Ketika situasi memburuk, jaringan yang ia bangun mulai bekerja. Diam-diam. Tanpa sorotan. Tanpa tepuk tangan.


Informasi bergerak cepat lewat masyarakat adat. Jalur logistik muncul dari sungai-sungai yang tidak terdeteksi. Serangan kecil terjadi terus-menerus, membuat Belanda kelelahan, bingung, dan kehilangan arah.


Ini bukan perang heroik ala film. Ini perang yang membuat musuh frustrasi.


Dan hasilnya jelas: Belanda tidak pernah benar-benar bisa menguasai pedalaman Kalimantan.


Bayangkan ini. Sebuah kekuatan kolonial dengan sumber daya besar, teknologi lebih maju, dan pengalaman perang global… dibuat tidak berdaya oleh jaringan rakyat yang dipimpin seseorang yang memahami tanahnya sendiri.


Kalau itu bukan kecerdasan strategis, lalu apa?


Tapi lagi-lagi, karena tidak dramatis, karena tidak “Instagramable”, karena tidak masuk narasi besar yang sering diulang—kisah ini perlahan menghilang.


Setelah 1949, banyak pejuang berhenti. Banyak yang puas. Banyak yang beralih ke kehidupan biasa.


Tjilik Riwut? Tidak.


Ia pindah medan. Dari hutan ke politik. Dari senjata ke kebijakan.


Ketika Indonesia sempat menjadi Republik Indonesia Serikat—sebuah bentuk negara yang jelas-jelas hasil rekayasa kolonial—ia kembali bergerak. Kali ini bukan dengan senapan, tapi dengan pengaruh.


Ia memastikan Kalimantan tidak menjadi “pecahan” yang mudah dikendalikan. Ia mendorong integrasi penuh ke dalam NKRI.


Dan ya, ini juga sering diremehkan.


Padahal kalau Kalimantan saat itu benar-benar terlepas atau terfragmentasi, wajah Indonesia hari ini bisa sangat berbeda. Sangat mungkin lebih rapuh. Lebih mudah diintervensi.


Tapi sejarah tidak suka membahas “yang hampir terjadi”. Sejarah lebih suka membahas “yang terlihat”.


Masuk ke fase berikutnya: pemerintahan.


Ia bukan sekadar pejabat. Ia adalah pembangun dari nol. Bukan nol metaforis. Nol yang benar-benar nol.


Palangka Raya bukan kota yang diperluas. Itu kota yang diciptakan.


Bayangkan memimpin wilayah yang belum punya infrastruktur dasar. Tidak ada jalan memadai. Tidak ada sistem kota. Tidak ada fondasi modern. Tapi harus dibangun menjadi pusat pemerintahan.


Dan ia melakukannya.


Bukan dengan slogan. Bukan dengan janji. Tapi dengan kerja nyata.


Lebih menarik lagi, visinya bahkan melampaui zamannya. Bersama Soekarno, Palangka Raya sempat dipertimbangkan sebagai ibu kota Indonesia.


Kenapa? Karena letaknya strategis. Karena lebih aman. Karena lebih representatif secara geografis.


Dan lucunya, puluhan tahun kemudian, Indonesia baru kembali membicarakan ide itu dengan serius.


Artinya? Ia tidak hanya berpikir untuk hari itu. Ia berpikir untuk masa depan yang bahkan belum siap memahami pikirannya.


Sekarang pertanyaannya sederhana: kenapa nama sebesar ini tidak sebesar narasinya?


Jawabannya tidak nyaman.


Karena Indonesia sering kali lebih suka cerita yang mudah dicerna daripada fakta yang kompleks.


Karena kita lebih cepat menghafal nama daripada memahami peran.


Karena kita lebih tertarik pada pusat daripada pinggiran.


Dan yang paling menyakitkan: karena kita sering tidak adil dalam menghargai kontribusi.


Tjilik Riwut membuktikan satu hal penting—bahwa Indonesia tidak dibangun hanya dari satu pulau, satu kota, atau satu jenis perjuangan.


Indonesia dibangun dari keberanian orang-orang yang tidak menunggu spotlight.


Dari mereka yang bekerja dalam diam.


Dari mereka yang tidak viral, tapi vital.


Dan kalau hari ini kita masih memandang sejarah dengan kacamata sempit—mengulang nama yang sama, mengabaikan yang lain—maka kita tidak sedang belajar sejarah.


Kita sedang mengulang bias.


Narasi ini bukan untuk menjatuhkan siapa pun. Tapi untuk meluruskan.


Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang punya banyak pahlawan.


Tapi bangsa yang tahu cara mengingat mereka dengan adil.


Sekarang tinggal pilihan kita.


Mau terus membaca sejarah sebagai cerita yang nyaman?


Atau mulai melihatnya sebagai kenyataan yang kadang menyakitkan, tapi jauh lebih jujur?


#TjilikRiwut #SejarahIndonesia #PahlawanTerlupakan #Kalimantan #Dayak #RevolusiIndonesia #NKRI #SejarahYangTerlupakan #IndonesiaTimur #NarasiSejarah #KritikSejarah #BelajarSejarah #Indonesia


TJILIK RIWUT: PAHLAWAN YANG DIABAIKAN, NEGARA YANG TERLALU SIBUK MENGINGAT YANG “POPULER”

Orang di dalam foto ini adalah Imam Khomeini, di perbatasan Irak-Kuwait pada tahun 1979. Ketika beliau meninggalkan Irak menuju Kuwait, yang juga menolak menerimanya dan tidak ada negara Arab yang mau menerimanya pada waktu itu. Jadi Imam terdampar di perbatasan Irak-Kuwait, tidak menemukan siapa pun yang mau menerimanya dan tidak dapat kembali ke Irak. Beliau tinggal di sana selama tiga hari dengan beberapa muridnya yang tidak lebih dari lima orang serta keluarganya di gurun yang terik... Pada bulan ketujuh di wilayah perbatasan Safwan. Di sana, salah satu muridnya bertanya kepadanya, "Apa yang akan Anda lakukan?" Beliau menjawab, "Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Marilah kita menunggu kehendak Allah..." Sehari kemudian, Prancis mengirimkan memorandum yang menyerukan penerimaan Imam Khomeini sebagai pengungsi politik. *sumber tulisan dari akun X @mshhdy15890

 Orang di dalam foto ini adalah Imam Khomeini, di perbatasan Irak-Kuwait pada tahun 1979.



Ketika beliau meninggalkan Irak menuju Kuwait, yang juga menolak menerimanya dan tidak ada negara Arab yang mau menerimanya pada waktu itu. Jadi Imam terdampar di perbatasan Irak-Kuwait, tidak menemukan siapa pun yang mau menerimanya dan tidak dapat kembali ke Irak. 


Beliau tinggal di sana selama tiga hari dengan beberapa muridnya yang tidak lebih dari lima orang serta keluarganya di gurun yang terik...


Pada bulan ketujuh di wilayah perbatasan Safwan. Di sana, salah satu muridnya bertanya kepadanya, "Apa yang akan Anda lakukan?" Beliau menjawab, "Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Marilah kita menunggu kehendak Allah..." 


Sehari kemudian, Prancis mengirimkan memorandum yang menyerukan penerimaan Imam Khomeini sebagai pengungsi politik.


*sumber tulisan dari akun X @mshhdy15890

🔥 7 Keris Sakti dari Pulau Jawa, Nomor 5 Dikaitkan dengan Bung Karno Tanah Jawa sejak dulu dikenal penuh dengan kisah pusaka yang sarat makna dan misteri. Salah satu yang paling legendaris adalah keris—bukan sekadar benda, tapi simbol budaya, filosofi, dan perjalanan sejarah panjang Nusantara. Di balik bentuknya yang khas, banyak keris dipercaya memiliki aura kuat yang diwariskan turun-temurun. Cerita tentang kesaktian ini terus hidup hingga sekarang, menjadi bagian dari budaya yang tak lekang oleh waktu. ⚔️ 1. Keris Nogososro Dikenal sebagai pusaka dengan simbol naga dan 13 luk. Keris ini sering dikaitkan dengan kekuatan perlindungan dan kewibawaan besar. ⚔️ 2. Keris Ageng Kopek Dipercaya membawa kharisma dan wibawa tinggi. Dalam kisah Jawa, keris ini sering dikaitkan dengan kalangan bangsawan dan pemimpin. ⚔️ 3. Keris Kyai Sengkelat Pusaka yang memiliki nilai spiritual mendalam. Bahkan disebut sebagai salah satu jenis keris yang juga pernah dimiliki tokoh besar Indonesia. ⚔️ 4. Keris Setan Kober Memiliki cerita yang kuat dan dikenal sebagai keris dengan energi besar. Nama dan kisahnya membuat pusaka ini sangat terkenal dalam legenda Jawa. ⚔️ 5. Keris yang Dikaitkan dengan Bung Karno Dalam beberapa kisah, Presiden Soekarno diketahui memiliki beberapa pusaka keris sebagai bagian dari warisan budaya, meski lebih dianggap sebagai simbol sejarah dan spiritual, bukan untuk hal mistis semata. ⚔️ 6. Keris Sabuk Inten Sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kelancaran rezeki. Pamornya yang indah membuat keris ini juga bernilai seni tinggi. ⚔️ 7. Keris Mpu Gandring Legenda keris ini sangat terkenal dalam sejarah Jawa, terutama kisah kutukan yang menyertainya. Ceritanya menjadi salah satu yang paling melegenda hingga sekarang. ✨ Penutup Keris adalah bagian dari identitas budaya Nusantara yang kaya akan filosofi dan nilai sejarah. Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang, pusaka ini tetap menjadi simbol warisan leluhur yang patut dijaga dan dilestarikan. #keris #kerissakti #pusakanusantara #budayajawa #sejarahjawa #mistisnusantara #warisanleluhur #jagadpusakacom #kerisjawa #pusakatradisional #auraenergi #kisahmistis #viralindonesia

 🔥 7 Keris Sakti dari Pulau Jawa, Nomor 5 Dikaitkan dengan Bung Karno


Tanah Jawa sejak dulu dikenal penuh dengan kisah pusaka yang sarat makna dan misteri. Salah satu yang paling legendaris adalah keris—bukan sekadar benda, tapi simbol budaya, filosofi, dan perjalanan sejarah panjang Nusantara.



Di balik bentuknya yang khas, banyak keris dipercaya memiliki aura kuat yang diwariskan turun-temurun. Cerita tentang kesaktian ini terus hidup hingga sekarang, menjadi bagian dari budaya yang tak lekang oleh waktu.


⚔️ 1. Keris Nogososro


 Dikenal sebagai pusaka dengan simbol naga dan 13 luk. Keris ini sering dikaitkan dengan kekuatan perlindungan dan kewibawaan besar.


⚔️ 2. Keris Ageng Kopek


 Dipercaya membawa kharisma dan wibawa tinggi. Dalam kisah Jawa, keris ini sering dikaitkan dengan kalangan bangsawan dan pemimpin.


⚔️ 3. Keris Kyai Sengkelat


 Pusaka yang memiliki nilai spiritual mendalam. Bahkan disebut sebagai salah satu jenis keris yang juga pernah dimiliki tokoh besar Indonesia. 


⚔️ 4. Keris Setan Kober


 Memiliki cerita yang kuat dan dikenal sebagai keris dengan energi besar. Nama dan kisahnya membuat pusaka ini sangat terkenal dalam legenda Jawa.


⚔️ 5. Keris yang Dikaitkan dengan Bung Karno


 Dalam beberapa kisah, Presiden Soekarno diketahui memiliki beberapa pusaka keris sebagai bagian dari warisan budaya, meski lebih dianggap sebagai simbol sejarah dan spiritual, bukan untuk hal mistis semata. 


⚔️ 6. Keris Sabuk Inten


 Sering dikaitkan dengan keberuntungan dan kelancaran rezeki. Pamornya yang indah membuat keris ini juga bernilai seni tinggi.


⚔️ 7. Keris Mpu Gandring


 Legenda keris ini sangat terkenal dalam sejarah Jawa, terutama kisah kutukan yang menyertainya. Ceritanya menjadi salah satu yang paling melegenda hingga sekarang. 


✨ Penutup


Keris adalah bagian dari identitas budaya Nusantara yang kaya akan filosofi dan nilai sejarah. Terlepas dari berbagai cerita yang berkembang, pusaka ini tetap menjadi simbol warisan leluhur yang patut dijaga dan dilestarikan.


#keris #kerissakti #pusakanusantara #budayajawa #sejarahjawa #mistisnusantara #warisanleluhur #jagadpusakacom #kerisjawa #pusakatradisional #auraenergi #kisahmistis #viralindonesia

Kita bisa setuju atau menolak argumentasi Salim Said dalam bukunya, bahwa tentara Indonesia adalah istimewa; tentara yang menciptakan dirinya sendiri; maka ia pun "berhak" memiliki hak dan kedudukan yang istimewa pula. Yang jelas buku ini sesuai dan selaras dengan narasi sejarah Orde Baru: Dwifungsi ABRI. MULA TENTARA MAIN POLITIK Benih pertentangan antara militer dan politisi tampak sejak awal revolusi. Lewat Sudirman, ABRI tampil sebagai kekuatan militer dan politik yang berpengaruh. (TEMPO, NO. 8, Tahun XXII, 25 April 1992, “Buku”) Judul buku: THE GENESIS OF POWER GENERAL SUDIRMAN AND THE INDONESIAN MILITARY IN POLITICS 1945-1949 Penulis: Salim Said Penerbit: Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 1991, 186 halaman Angkatan Bersenjata Indonesia sering disebut lahir sendiri, self created army. Seperti ditulis Salim Said dalam buku ini, ABRI tak dibentuk oleh pemerintah atau partai politik. Dalam sejarahnya, kelahiran ABRI lebih diwarnai pandangan luas kala itu bahwa kemerdekaan tak mungkin diraih tanpa kekuatan militer. Sebelum kemerdekaan memang ada mobilisasi oleh Jepang, yang melahirkan Pembela Tanah Air (Peta) dan Lasykar. Namun, tak berarti bahwa tentara Indonesia dibentuk Jepang. Sebab pada 19 Agustus 1945 mereka menuntut agar Peta dibubarkan. Pada 22 Agustus 1945, BKR (Badan Keamanan Rakyat) dikukuhkan. Pada 5 Oktober, selang lima minggu kemudian, Presiden Soekarno meresmikan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) sebagai bukti kepada Sekutu bahwa Indonesia bukan kolaborator Jepang. Kemudian Bung Karno juga mengangkat pimpinan Peta, Supriyadi, menjadi Menteri Pertahanan. Sayang, Supriyadi tak pernah menduduki kursi menterinya setelah menghilang sebelum Jepang menyerah. Para pemuda yang menjadi tentara, sekitar 150 ribu orang, semula berharap agar Syahrir lebih revolusioner dalam menghadapi Belanda dengan kekuatan militer. Namun, mereka kecewa karena Syahrir memilih jalan diplomasi. Bahkan Bung Karno, sebelum mengungsikan ibu kota ke Yogya awal 1946, menunjuk Syahrir untuk berunding dengan Belanda di Jakarta. Pemerintah sejak itu berkonflik dengan militer. Pertentangan antara militer dan sipil mulai meningkat setelah Bung Karno minta Amir Syarifuddin melobi eks para perwira KNIL (tentara didikan Belanda) menyiapkan konsep pembentukan Angkatan Bersenjata. Tanggal 15 Oktober 1945, Urip Sumoharjo, salah seorang eks perwira KNIL, diangkat menjadi kepala staf Angkatan Perang, dan Muhamad Sulyadikusumo sebagai Menteri Keamanan Rakyat (ad interim) menggantikan Supriyadi yang tak muncul. Para perwira, terutama eks Peta, tambah kecewa. Pada pertemuan para perwira di Yogya, 11 Maret 1945, yang semula dirancang untuk konsolidasi berubah menjadi ajang pertentangan. Perwira-perwira eks Peta ramai-ramai memilih Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar dan Sultan Ha- mengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan. Dua hari setelah pemilihan Sudirman dan Sultan di Yogya, Syahrir di Jakarta mengumumkan penunjukan Amir Syarifuddin menjadi Menteri Hankam dan Urip Sumoharjo sebagai kepala staf Angkatan Perang. Artinya, selama sebulan ada dua Menteri Pertahanan dan dua panglima untuk militer. Instruksi dan keputusannya pun berbeda. Amir ikut jalan Syahrir, menghadapi Belanda lewat diplomasi. Sedangkan tentara tunduk pada Sudirman, yang memilih untuk bergerilya. Pertentangan militer—pemerintah ini sedikit reda setelah pemerintah mengakui dan melantik Sudirman menjadi Panglima Besar dengan pangkat jenderal penuh (21 Mei 1946). TRI diubah menjadi TNI untuk menyatukan berbagai kekuatan bersenjata yang ada. Konflik pemerintah dan militer sebenarnya tak terlepas dari sikap politik Sudirman. Pemimpin karismatik tentara itu, menurut Salim Said, dikenal sebagai go between. Ia pernah sekubu dengan oposisi di bawah Tan Malaka untuk menentang Syahrir. Dalam hal "Affair 3 Juli", misalnya, Sudirman setuju dengan isi petisi yang menuntut pembubaran kabinet Syahrir-Amir. Konflik politisi dan militer memuncak lagi ketika Presiden mengeluarkan dekrit 2 Januari 1948 tentang rasionalisasi. Posisi Sudirman diturunkan dari orang Nomor 1 dalam Angkatan Perang RI menjadi di bawah Menteri Pertahanan. Sudirman, Urip, dan sejumlah perwira menentang dekrit itu. Ketika kemudian Persetujuan Renville (awal 1948) menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Republik Indonesia Serikat, pihak militer menilainya sebagai kegagalan diplomasi. Sudirman pun minta Soekarno- Hatta agar mengungsi ke luar ibu kota karena Yogya akan diduduki Belanda. Anjuran ini ternyata tak ditanggapi "dwitunggal" itu, dan Sudirman lalu memutuskan untuk memimpin gerilya dari luar kota. Ketegangan berikutnya antara pemerintah dan militer adalah ketika Bung Karno mengumumkan gencatan senjata, yang diikuti Konperensi Meja Bundar (KMB) 23 Agustus-2 November 1949 dan menghasilkan Republik Indonesia Serikat (RIS). Militer tak setuju dengan gencatan senjata sebelum berunding. Sudirman sendiri tak terlalu lama menyaksikan hasil KMB itu. Ia meninggal 29 Januari 1950. Di bawah kepemimpinan Sudirman, militer mempunyai strategi untuk ikut serta dalam masalah sosial politik walau belum terumus seperti konsep middle way KSAD Jenderal A.H. Nasution sepuluh tahun kemudian bahwa tempat tentara dalam masyarakat adalah "bukan alat sipil bukan rezim militer. Tapi seperti kekuatan masyarakat lainnya, yang berjuang bersama mereka". Konsep ini kemudian ditafsirkan sebagai dasar dwifungsi ABRI. Buku yang didasarkan pada disertasi Salim Said untuk Ph.D. di Ohio State University, Amerika Serikat, itu menarik karena dilengkapi dengan wawancara dengan sejumlah tokoh pelakunya. Ada detail dan deskripsi yang memikat. Namun informasi yang benar-benar aktual kurang muncul. A. Margana Sumber: TEMPO, No 8, Tahun XXII, 25 April 1992

 Kita bisa setuju atau menolak argumentasi Salim Said dalam bukunya, bahwa tentara Indonesia adalah istimewa; tentara yang menciptakan dirinya sendiri; maka ia pun "berhak" memiliki hak dan kedudukan yang istimewa pula. Yang jelas buku ini sesuai dan selaras dengan narasi sejarah Orde Baru: Dwifungsi ABRI. 



MULA TENTARA MAIN POLITIK


Benih pertentangan antara militer dan politisi tampak sejak awal revolusi. Lewat Sudirman, ABRI tampil sebagai kekuatan militer dan politik yang berpengaruh.


(TEMPO, NO. 8, Tahun XXII, 25 April 1992, “Buku”)


Judul buku: THE GENESIS OF POWER GENERAL SUDIRMAN AND THE INDONESIAN MILITARY IN POLITICS 1945-1949

Penulis: Salim Said

Penerbit: Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 1991, 186 halaman


Angkatan Bersenjata Indonesia sering disebut lahir sendiri, self created army. Seperti ditulis Salim Said dalam buku ini, ABRI tak dibentuk oleh pemerintah atau partai politik. Dalam sejarahnya, kelahiran ABRI lebih diwarnai pandangan luas kala itu bahwa kemerdekaan tak mungkin diraih tanpa kekuatan militer.


Sebelum kemerdekaan memang ada mobilisasi oleh Jepang, yang melahirkan Pembela Tanah Air (Peta) dan Lasykar. Namun, tak berarti bahwa tentara Indonesia dibentuk Jepang. Sebab pada 19 Agustus 1945 mereka menuntut agar Peta dibubarkan.


Pada 22 Agustus 1945, BKR (Badan Keamanan Rakyat) dikukuhkan. Pada 5 Oktober, selang lima minggu kemudian, Presiden Soekarno meresmikan Tentara Keselamatan Rakyat (TKR) sebagai bukti kepada Sekutu bahwa Indonesia bukan kolaborator Jepang. Kemudian Bung Karno juga mengangkat pimpinan Peta, Supriyadi, menjadi Menteri Pertahanan. Sayang, Supriyadi tak pernah menduduki kursi menterinya setelah menghilang sebelum Jepang menyerah.


Para pemuda yang menjadi tentara, sekitar 150 ribu orang, semula berharap agar Syahrir lebih revolusioner dalam menghadapi Belanda dengan kekuatan militer. Namun, mereka kecewa karena Syahrir memilih jalan diplomasi. Bahkan Bung Karno, sebelum mengungsikan ibu kota ke Yogya awal 1946, menunjuk Syahrir untuk berunding dengan Belanda di Jakarta. Pemerintah sejak itu berkonflik dengan militer. 


Pertentangan antara militer dan sipil mulai meningkat setelah Bung Karno minta Amir Syarifuddin melobi eks para perwira KNIL (tentara didikan Belanda) menyiapkan konsep pembentukan Angkatan Bersenjata. Tanggal 15 Oktober 1945, Urip Sumoharjo, salah seorang eks perwira KNIL, diangkat menjadi kepala staf Angkatan Perang, dan Muhamad Sulyadikusumo sebagai Menteri Keamanan Rakyat (ad interim) menggantikan Supriyadi yang tak muncul. Para perwira, terutama eks Peta, tambah kecewa.


Pada pertemuan para perwira di Yogya, 11 Maret 1945, yang semula dirancang untuk konsolidasi berubah menjadi ajang pertentangan. Perwira-perwira eks Peta ramai-ramai memilih Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar dan Sultan Ha- mengkubuwono IX sebagai Menteri Pertahanan.


Dua hari setelah pemilihan Sudirman dan Sultan di Yogya, Syahrir di Jakarta mengumumkan penunjukan Amir Syarifuddin menjadi Menteri Hankam dan Urip Sumoharjo sebagai kepala staf Angkatan Perang. Artinya, selama sebulan ada dua Menteri Pertahanan dan dua panglima untuk militer. Instruksi dan keputusannya pun berbeda. Amir ikut jalan Syahrir, menghadapi Belanda lewat diplomasi. Sedangkan tentara tunduk pada Sudirman, yang memilih untuk bergerilya.


Pertentangan militer—pemerintah ini sedikit reda setelah pemerintah mengakui dan melantik Sudirman menjadi Panglima Besar dengan pangkat jenderal penuh (21 Mei 1946). TRI diubah menjadi TNI untuk menyatukan berbagai kekuatan bersenjata yang ada.


Konflik pemerintah dan militer sebenarnya tak terlepas dari sikap politik Sudirman. Pemimpin karismatik tentara itu, menurut Salim Said, dikenal sebagai go between. Ia pernah sekubu dengan oposisi di bawah Tan Malaka untuk menentang Syahrir. Dalam hal "Affair 3 Juli", misalnya, Sudirman setuju dengan isi petisi yang menuntut pembubaran kabinet Syahrir-Amir.


Konflik politisi dan militer memuncak lagi ketika Presiden mengeluarkan dekrit 2 Januari 1948 tentang rasionalisasi. Posisi Sudirman diturunkan dari orang Nomor 1 dalam Angkatan Perang RI menjadi di bawah Menteri Pertahanan. Sudirman, Urip, dan sejumlah perwira menentang dekrit itu.


Ketika kemudian Persetujuan Renville (awal 1948) menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Republik Indonesia Serikat, pihak militer menilainya sebagai kegagalan diplomasi. Sudirman pun minta Soekarno- Hatta agar mengungsi ke luar ibu kota karena Yogya akan diduduki Belanda. Anjuran ini ternyata tak ditanggapi "dwitunggal" itu, dan Sudirman lalu memutuskan untuk memimpin gerilya dari luar kota. 


Ketegangan berikutnya antara pemerintah dan militer adalah ketika Bung Karno mengumumkan gencatan senjata, yang diikuti Konperensi Meja Bundar (KMB) 23 Agustus-2 November 1949 dan menghasilkan Republik Indonesia Serikat (RIS). Militer tak setuju dengan gencatan senjata sebelum berunding. Sudirman sendiri tak terlalu lama menyaksikan hasil KMB itu. Ia meninggal 29 Januari 1950.


Di bawah kepemimpinan Sudirman, militer mempunyai strategi untuk ikut serta dalam masalah sosial politik walau belum terumus seperti konsep middle way KSAD Jenderal A.H. Nasution sepuluh tahun kemudian bahwa tempat tentara dalam masyarakat adalah "bukan alat sipil bukan rezim militer. Tapi seperti kekuatan masyarakat lainnya, yang berjuang bersama mereka". Konsep ini kemudian ditafsirkan sebagai dasar dwifungsi ABRI.


Buku yang didasarkan pada disertasi Salim Said untuk Ph.D. di Ohio State University, Amerika Serikat, itu menarik karena dilengkapi dengan wawancara dengan sejumlah tokoh pelakunya. Ada detail dan deskripsi yang memikat. Namun informasi yang benar-benar aktual kurang muncul.


A. Margana


Sumber: TEMPO, No 8, Tahun XXII, 25 April 1992