RADEN TUMENGGUNG ARIO SOEMODILOGO.
Beliau merupakan putera dari kiai Ngabei Soemowerdojo (Patih Semarang) dan puteri kiai Mertonegoro II Ngabei Gemulak.
Istri beliau adalah GRAy Soemodilogo.
Putera beliau adalah:
1. R Demang Martolojo.
2. RT Soerodilogo.
3. RTAA Holland Soemodilogo.
4. R Praptodilogo.
5. R Soemowardojo (Kolektur Prapak).
6. Dan 2 orang lagi tidak disebutkan namanya.
Gelar Raden Tumenggung (RT) Ario Soemodilogo dan kamulyan (kemuliaan) sebagai bupati Menoreh, secara sadar beliau bayar dengan kerelaannya berperang melawan Pangeran Diponegoro.
Soemodilogo bahkan belum pula sempat menjalankan tugas sebagai bupati, karena Perang Jawa itu keburu meletus.
Tumenggung Soemodilogo pun jadi salah satu komandan batalyon sekutu, yang terdiri dari serdadu Belanda, legiun Mangkunegaran, prajurit Kasunanan Solo, dan sejumlah pasukan bupati - bupati pro kumpeni lainnya.
Pasukan gabungan berupa batalyon persekutuan Soemodilogo ini sangat besar kekuatannya.
Batalyon sekutu pro kumpeni yang dikomandoi Soemodilogo berkedudukan di Parakan.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Dalam suatu pertempuran yang sangat besar berkobar, batalyon gabungan yang dikomandoinya hancur lebur diterjang laskar Diponegoro.
RT Soemodilogo tewas sangat mengenaskan (Sutherhand, 1974, Cornell University).
Sejarah yang beredar di kalangan masyarakat Temanggung menuturkan, bahwa sebagai bukti keberhasilan operasinya, laskar Diponegoro mengambil mustaka (kepala) sang bupati dan memperlihatkannya ke hadapan sang Pangeran Herucokro di markas komandonya, Selarong, Yogyakarta.
Maka, hingga kini anak cucu keturunan mendiang, yang tergabung dalam paguyuban trah Soemodilagan, biasa nyekar pepundennya itu di dua tempat yaitu di Parakan Jawa Tengah dan di Selarong Yogyakarta.
Pembesar yang menjadi korban panasnya Perang Jawa bukan hanya Ario Soemodilogo.
Tumenggung Danuningrat I, bupati Magelang, menurut Sutherhand, mengalami nasib serupa, tewas.
Bahkan, serdadu - serdadu Belanda yang dipimpin veteran perang Napoleon yaitu Jenderal Van Green, pun tewas, hancur lebur, lumat diterjang laskar Diponegoro.
Sebagaimana bupati lain yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Phillip Van der Capellen (1816 - 1826), Soemodilogo juga berasal dari keluarga penguasa yang dulunya menjadi bawahan Mataram.
Beliau adalah putera Raden Soemowerdojo, Patih Semarang.
Sedangkan kakeknya adalah Bupati Semarang Raden Tumenggung Soemohadimenggolo.
Tradisi Van der Capellen itu berlanjut hingga 1850 - an, untuk bupati - bupati pesisir utara misalnya, umumnya diambil dari keluarga bupati Semarang, Demak, Jepara, atau Pati.
Untuk wilayah Jawa Tengah bagian barat, yang dipromosikan kerabat bupati Banyumas yaitu keluarga Yudonegoro.
Keluarga Kolopaking dan keluarga Arumbinang untuk memimpin wilayah Bagelen.
Begitu pula yang terjadi di Jawa Timur.
Namun, dalam daftar resmi bupati Temanggung, nama RT Ario Soemodilogo justru tidak tercantum.
Yang tercatat sebagai bupati Temanggung pertama adalah RT Djojonegoro (1834 - 1848).
Hal ini terjadi karena sebelumnya Kabupaten Temanggung itu disebut Kabupaten Menoreh yang pusat pemerintahannya di Parakan.
Tapi, kabupaten Manoreh itu tak berumur panjang, karena hanya sementara, dan hancur diterjang laskar Diponegoro.
Namanya kemudian diganti Kabupaten Temanggung, dan ibukotanya pun dipindah di Temanggung yang jauh lebih aman.
Masjid Jami’ dan alun - alun adalah bukti kelahiran kabupaten Temanggung.
Sayang, nDalem Kabupatennya sendiri yang asli telah terbakar habis sebagai akibat dari strategi taktik bumi hangus dalam perang revolusi kemerdekaan yang berkobar.
Meski Tumenggung Ario Soemodilogo tidak sempat menjalankan misi pemerintahannya di Menoreh (pindah Temanggung), pemerintah kolonial tak melupakan pengorbanannya.
Terbukti setelah RT Djojonegoro lengser 1848, diangkatlah putera Soemodilogo menjadi bupati Temanggung.
Putera beliau bergelar menjadi Raden Tumenggung Soemodilogo II.
Karena kesetiaannya, atas persetujuan Batavia, Soemodilogo II dianugerahi memakai gelar Holland sebagai nama depannya.
Jadilah bergelar RT Holland Soemodilogo yang menjabat bupati selama 30 tahun.
Sebelum pensiun, RT Holland Soemodilogo naik pangkat dengan gelar Kanjeng Raden Adipati.
Keluarga Soemodilogo masih mendapat kepercayaan sekali lagi memimpin Temanggung melalui RT Holland Soemodirdjo, putera Soemodilogo II.
Tidak jelas mengapa Soemodirdjo hanya menjabat selama 4 tahun (1878 - 1882).
Soemodirdjo digantikan RT Tjokro Atmodjo (1882 - 1906) dan kemudian RM Adipati Tjokro Adikoesoemo (1906 - 1023), salah seorang bupati yang progresif untuk ukuran zamannya.
Bapak dari mantan Gubernur DKI Jakarta (alm) Tjokro Pranolo itu termasuk segelintir bupati yang mendukung gerakan Boedi Oetomo.
Dengan tiga nama yang pernah menjadi penguasa di Temanggung, tak heran bila nama - nama Soemodilogo melegenda di lembah Sindoro - Sumbing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Catatan:
Pangeran Herucokro itu adalah nama lain dari Pangeran Diponegoro.
Herucokro adalah putera dari Surojo (Sri Sultan Hamengku Buwono III, Raja Yogyakarta).













