KIAI MAS SEMARANG
Singa Banten yang Gugur di Laut Jawa
Oleh : Temmy Wirawan Suryo Diwongso
Dalam narasi besar Perang Jawa (1825–1830), nama Pangeran Diponegoro mendominasi ingatan kolektif kita. Namun, di balik layar perjuangan sang Pangeran, terdapat tokoh-tokoh lokal yang menjadi "api" di daerah penyangga. Salah satunya adalah Kiai Mas Semarang. Namanya hampir tak terdengar di buku sejarah sekolah, namun bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda tahun 1828, ia adalah momok yang harus dibuang sejauh mungkin dari tanah Jawa.
Sang Penghubung: Dari Semarang ke Jantung Banten
Meskipun menyandang nama "Semarang", panggung perjuangan utamanya justru berada di ujung barat pulau Jawa, yakni Banten. Kiai Mas Semarang bukanlah ulama biasa; ia adalah seorang intelektual sekaligus aktivis lapangan. Ia memahami bahwa untuk mengalahkan Belanda, perlawanan tidak boleh terpusat di satu titik.
Pada tahun 1827, saat Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengepung Diponegoro di Jawa Tengah, Kiai Mas Semarang mengorganisir kerusuhan di Banten. Tujuannya strategis: memaksa Belanda memecah konsentrasi pasukan. Ia membakar semangat para petani dan santri dengan narasi perang suci, menjadikannya musuh nomor satu Residen Banten saat itu.
Aliansi Ulama dan Bangsawan
Sejalan dengan meletusnya Perang Diponegoro, Banten menjadi wilayah yang sangat tidak stabil. Belanda mengirim pasukan di bawah komando perwira-perwira berpengalaman seperti Mayor Michiels untuk memadamkan kerusuhan di pedalaman.
Pasukan Belanda melakukan pembersihan di wilayah-wilayah yang menjadi basis pendukung Mas Jakaria dan Kiai Mas Semarang, sehingga para pejuang terpaksa mundur ke hutan-hutan di Banten Selatan dan wilayah pegunungan yang sulit dijangkau, namun jalur logistik mereka mulai terputus.
Kiai Mas Semarang tidak berjuang sendirian. Ia adalah bagian dari jejaring rahasia yang melibatkan tokoh-tokoh besar lainnya:
- Mas Jakaria (Raden Bagus Jakaria): Jika Kiai Mas Semarang adalah motor ideologis dan penggerak massa di pesantren, Mas Jakaria adalah komandan gerilya di lapangan. Keduanya berbagi visi: mengalihkan perhatian pasukan Belanda agar terpecah dari Jawa Tengah.
- Kiai Haji Wakhia: Bersama Kiai Mas Semarang, ia menggalang dukungan dari Banten Selatan. Mereka membangun barisan rakyat yang menolak membayar pajak, sebuah bentuk pembangkangan sipil yang melumpuhkan administrasi kolonial.
- Pangeran Muhammad (Putra Sultan Banten terakhir)
Meskipun secara formal kekuasaan Kesultanan Banten sudah dihapus, para pangeran dari garis keturunan Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin masih memiliki pengaruh besar, beliau bertindak sebagai simbol perlawanan pasif atau pemberi restu kepada para kiai (seperti Kiai Mas Semarang) untuk melakukan gerakan bawah tanah. Keberadaan mereka membuat Belanda selalu curiga bahwa istana tua masih menggalang kekuatan.
- Raden Tumenggung Aria Wiradidadja
Seorang pejabat lokal yang pada awalnya bekerja dalam sistem kolonial, namun diam-diam bersimpati pada perjuangan rakyat, beliau sering memberikan informasi tentang pergerakan pasukan Belanda kepada para pejuang di hutan. Tokoh-tokoh seperti ini sangat ditakuti Belanda karena bertindak sebagai "duri dalam daging" di dalam birokrasi pemerintahan.
Penangkapan Tokoh Sentral (Akhir 1827)
Melalui jaringan mata-mata dan tekanan terhadap pejabat lokal, Belanda berhasil mengidentifikasi lokasi persembunyian para pemimpin utama.
Penangkapan Kiai Mas Semarang: Beliau ditangkap karena dianggap sebagai otak ideologis yang menggerakkan sentimen agama di Banten. Belanda memutuskan untuk tidak memenjarakannya di Jawa guna menghindari kerusuhan massa.
Perburuan Mas Jakaria: Pemimpin gerilya ini terus dikejar hingga ke batas wilayah Bogor. Dengan tertangkapnya para pemimpin ini, koordinasi antarwilayah perlawanan menjadi lumpuh.
Akhir Perlawanan: Tragedi di Atas Kapal Minerva
Setelah ditangkap dalam sebuah operasi pembersihan, Belanda memutuskan hukuman yang paling ditakuti pejuang saat itu: Internering (pengasingan) ke Pulau Banda. Pada Februari 1828, ia dinaikkan ke kapal swasta bernama Minerva.
Namun, bagi Kiai Mas Semarang, menyerah pada nasib di tanah buangan bukanlah pilihan. Pada 10 Februari 1828, di tengah pelayaran antara Batavia menuju Semarang, ia memimpin pemberontakan nekat di atas dek kapal. Tanpa senjata api, hanya bermodalkan keberanian, ia menyerang awak kapal. Dalam kekacauan yang pecah di bawah sinar bulan Laut Jawa itu, sang Kiai gugur. Beberapa pengikutnya memilih terjun ke laut, memilih pelukan samudera daripada rantaian kolonial.
Dokumen Sejarah: Arsip Berita Belanda tentang Insiden Kapal Minerva
Berita ini dimuat dalam surat kabar Nederlandsche Staatscourant dan beberapa harian lokal di Belanda pada Juli 1828, yang menyadur laporan dari Bataviaasche Courant.
Teks aslinya :
Op het particuliere schip Minerva, kapitein Hannes, is op 10 Februarij tijdens de overtocht van Batavia naar Samarang een oproer uitgebroken onder de Javaanse ballingen die naar Banda vervoerd moesten worden. Een hunner, een priester genaamd Maas Samarang, die een aanstoker was van de onlusten in Bantam, is omgekomen; anderen sprongen in zee en zijn verdronken. De bemanning en passagiers hebben het oproer met moeite onderdrukt.
Terjemahannya :
Di atas kapal swasta Minerva yang dikomandoi Kapten Hannes, terjadi kerusuhan pada 10 Februari saat pelayaran dari Batavia menuju Semarang. Kerusuhan dipicu oleh beberapa tahanan/pengungsi Jawa yang akan dibuang ke Banda. Salah satu dari mereka, seorang pemuka agama bernama Maas Samarang—yang merupakan tokoh penghasut kerusuhan di Bantam (Banten) sebelumnya—tewas dalam kejadian tersebut. Beberapa lainnya melompat ke laut dan tenggelam. Awak kapal dan penumpang berhasil meredam pemberontakan tersebut dengan susah payah.
Penutup: Warisan yang Tertinggal
Kiai Mas Semarang mengajarkan kita bahwa kemerdekaan seringkali dibayar dengan kesunyian. Ia tidak gugur di medan laga yang megah dengan panji-panji yang berkibar, melainkan di atas dek kapal kayu yang asing, terkepung oleh ombak dan senapan. Meski namanya jarang disebut, keberaniannya di atas kapal Minerva adalah bukti bahwa semangat perlawanan rakyat Indonesia tidak pernah bisa benar-benar dirantai, bahkan saat tubuh mereka berada di tengah samudera.
Semoga dengan mengangkat kembali kisah ini, kita dapat memberi penghormatan yang layak bagi sang "Singa Banten" asal Semarang ini.
Salam Jaga Budaya
Daftar Pustaka :
-Arsip Surat Kabar: Nederlandsche Staatscourant, edisi 12 Juli & 16 Juli 1828.
-Laporan Kolonial: Bataviaasche Courant, Maret 1828.
-Buku Referensi: Louw, P.J.F., De Java-Oorlog van 1825-30, Bagian 3, Batavia & 's-Hage, 1894 (Membahas konteks kerusuhan di Banten dan wilayah pendukung Diponegoro).















