18 July 2026

MENGAPA DIA BERNAMA 23761? Karena dia pengagum band legendaris dari Inggris, The Beatles. Namanya diambil dari nada intro lagu The Beatles "And I Love Her", re-mi-si-la-do, 2-3-7-6-1. Remy Sylado (Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1943-Jakarta, 12 Desember 2022) adalah salah satu nama samaran Jubal Anak Perang Imannuel Panda Abdiel Tambayong. Untuk buku-buku non-fiksi, ia menggunakan nama pena Alif Danya Munsyi yang berarti munsyi pertama dan terakhir. Kadang ja memakai nama Juliana C Panda dan Dova Silva. Sebagai novelis ia telah menerbitkan Gali Lobang Gila Lobang (1977), Kita Hidup Hanya Sekali (1977), Orexas (1978), Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa (1999), Kembang Jepun (2002), Kerudung Merah Kirmizi (2002), Parijs van Java (2003), Menunggu Matahari Melbourne (2004), Sam Po Kong (2004), Mimi Lan Mintuna (2007), Pangeran Diponegoro (2007), Namaku Mata Hari (2010), Hotel Prodeo (2010), Perempuan Bernama Arjuna (2014), dan Malaikat Lereng Tidar (2014). Adapun kumpulan puisinya adalah Kerygma (1999), Puisi Mbeling (2004), dan Kerygma & Martyria (2004) yang mendapat penghargaan dari MURI sebagai buku kumpulan sajak tertebal. Ada pula drama musik Siau Ling (2001), Jalan Tamblong: Kumpulan Drama Musik (2010), dan Drama Sejarah 1832 (2012). la juga menulis karya-karya non-fiksi, antara lain, Dasar-Dasar Dramaturgi (1981), Menuju Apresiasi Musik (1983), Mengenal Teater Anak (1984), 9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing (2003), Bahasa Menunjukkan Bangsa (2005), Kamus Bahasa dan Budaya Manado (2007), dan Jadi Penulis? Siapa Takut! (2012). Atas sumbangsihnya di bidang kesusasteraan, ia pernah meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2002), Penghargaan Sastra oleh Badan Bahasa (2006), Sastra Bermutu dari Komunitas Nobel Indonesia (2011), Bakrie Award untuk bidang kebudayaan dan sastra (2013), The S.E.A. Write Award (2015), dan Akademi Jakarta (2021). la juga pernah mendapatkan Man of Achievement dalam Who's Who in Asia and Pacific (1991), Satya Lencana Kebudayaan dari Negara/Presiden (2005), Piagam PAPPRI untuk Bidang Kritik Musik (2008), One Man One Tree dari Kementerian Kehutanan (2008), Braga Award untuk Kepeloporan Musik Sastra dari Gubernur Jawa Barat (2009), pemegang Kartu Pers Nomer Satu (2010), Piagam Kebudayaan untuk Kepeloporan Teater dari Gubernur Jawa Barat (2012), Piagam Brawijaya dari Panglima Kodam Brawijaya (2013), dan Piagam Penghargaan Kerukunan Keluarga Kawuna (2013).

 MENGAPA DIA BERNAMA 23761?


Karena dia pengagum band legendaris dari Inggris, The Beatles. Namanya diambil dari nada intro lagu The Beatles "And I Love Her", re-mi-si-la-do, 2-3-7-6-1.



Remy Sylado (Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juli 1943-Jakarta, 12 Desember 2022) adalah salah satu nama samaran Jubal Anak Perang Imannuel Panda Abdiel Tambayong. Untuk buku-buku non-fiksi, ia menggunakan nama pena Alif Danya Munsyi yang berarti munsyi pertama dan terakhir. Kadang ja memakai nama Juliana C Panda dan Dova Silva.


Sebagai novelis ia telah menerbitkan Gali Lobang Gila Lobang (1977), Kita Hidup Hanya Sekali (1977), Orexas (1978), Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa (1999), Kembang Jepun (2002), Kerudung Merah Kirmizi (2002), Parijs van Java (2003), Menunggu Matahari Melbourne (2004), Sam Po Kong (2004), Mimi Lan Mintuna (2007), Pangeran Diponegoro (2007), Namaku Mata Hari (2010), Hotel Prodeo (2010), Perempuan Bernama Arjuna (2014), dan Malaikat Lereng Tidar (2014).


Adapun kumpulan puisinya adalah Kerygma (1999), Puisi Mbeling (2004), dan Kerygma & Martyria (2004) yang mendapat penghargaan dari MURI sebagai buku kumpulan sajak tertebal. Ada pula drama musik Siau Ling (2001), Jalan Tamblong: Kumpulan Drama Musik (2010), dan Drama Sejarah 1832 (2012).


la juga menulis karya-karya non-fiksi, antara lain, Dasar-Dasar Dramaturgi (1981), Menuju Apresiasi Musik (1983), Mengenal Teater Anak (1984), 9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing (2003), Bahasa Menunjukkan Bangsa (2005), Kamus Bahasa dan Budaya Manado (2007), dan Jadi Penulis? Siapa Takut! (2012).


Atas sumbangsihnya di bidang kesusasteraan, ia pernah meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2002), Penghargaan Sastra oleh Badan Bahasa (2006), Sastra Bermutu dari Komunitas Nobel Indonesia (2011), Bakrie Award untuk bidang kebudayaan dan sastra (2013), The S.E.A. Write Award (2015), dan Akademi Jakarta (2021).


la juga pernah mendapatkan Man of Achievement dalam Who's Who in Asia and Pacific (1991), Satya Lencana Kebudayaan dari Negara/Presiden (2005), Piagam PAPPRI untuk Bidang Kritik Musik (2008), One Man One Tree dari Kementerian Kehutanan (2008), Braga Award untuk Kepeloporan Musik Sastra dari Gubernur Jawa Barat (2009), pemegang Kartu Pers Nomer Satu (2010), Piagam Kebudayaan untuk Kepeloporan Teater dari Gubernur Jawa Barat (2012), Piagam Brawijaya dari Panglima Kodam Brawijaya (2013), dan Piagam Penghargaan Kerukunan Keluarga Kawuna (2013).

17 July 2026

Mengenang Rudi Gagola, Sang Arsitek Musik Indonesia yang Bekerja di Balik Layar. Ada nama-nama yang terus dikenang karena selalu berada di bawah sorotan lampu panggung. Namun, ada pula sosok yang justru memilih berkarya dalam diam, membiarkan musiknya berbicara melampaui zaman. Salah satunya adalah Rudi Gagola. Tak semua orang mengenalnya. Padahal, sentuhan tangannya pernah menghidupkan banyak karya penting dalam sejarah musik Indonesia. Ia adalah adik kandung Donny Fattah Gagola, pernah memperkuat God Bless, menjadi motor kreatif Drakhma, membentuk proyek D&R, menata musik untuk banyak penyanyi besar, hingga melahirkan lagu-lagu yang masih akrab di telinga pecinta musik, termasuk "Mawar Merah" yang dipopulerkan Vina Panduwinata. Rudi bukan sekadar pemain bass. Ia adalah pencipta lagu, arranger, music supervisor, sekaligus musisi yang percaya bahwa karya jauh lebih penting daripada popularitas. Ironisnya, setelah pertengahan 1980-an, namanya perlahan menghilang dari perbincangan publik. Generasi baru lebih mengenal lagu-lagunya daripada sosok yang menciptakannya. Rudi Gagola berpulang pada 7 Oktober 2014 setelah berjuang melawan kanker. Namun, seperti semua musisi sejati, kepergiannya tidak membawa pergi karya-karyanya. Nada, melodi, dan kenangan yang ia tinggalkan masih terus hidup, mengalun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mungkin banyak yang lupa pada namanya. Tetapi sejarah musik Indonesia tidak pernah melupakannya. Karena sesungguhnya, musisi besar bukan hanya mereka yang berdiri paling depan di atas panggung, melainkan mereka yang diam-diam membangun fondasi agar musik Indonesia bisa berdiri setinggi hari ini. #JacksonRecord #RudiGagola #VinaPanduwinata #MawarMerah #MusikIndonesia

 Mengenang Rudi Gagola, Sang Arsitek Musik Indonesia yang Bekerja di Balik Layar. 



Ada nama-nama yang terus dikenang karena selalu berada di bawah sorotan lampu panggung. Namun, ada pula sosok yang justru memilih berkarya dalam diam, membiarkan musiknya berbicara melampaui zaman. Salah satunya adalah Rudi Gagola.


Tak semua orang mengenalnya. Padahal, sentuhan tangannya pernah menghidupkan banyak karya penting dalam sejarah musik Indonesia. Ia adalah adik kandung Donny Fattah Gagola, pernah memperkuat God Bless, menjadi motor kreatif Drakhma, membentuk proyek D&R, menata musik untuk banyak penyanyi besar, hingga melahirkan lagu-lagu yang masih akrab di telinga pecinta musik, termasuk "Mawar Merah" yang dipopulerkan Vina Panduwinata.


Rudi bukan sekadar pemain bass. Ia adalah pencipta lagu, arranger, music supervisor, sekaligus musisi yang percaya bahwa karya jauh lebih penting daripada popularitas.


Ironisnya, setelah pertengahan 1980-an, namanya perlahan menghilang dari perbincangan publik. Generasi baru lebih mengenal lagu-lagunya daripada sosok yang menciptakannya.


Rudi Gagola berpulang pada 7 Oktober 2014 setelah berjuang melawan kanker. Namun, seperti semua musisi sejati, kepergiannya tidak membawa pergi karya-karyanya. Nada, melodi, dan kenangan yang ia tinggalkan masih terus hidup, mengalun dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Mungkin banyak yang lupa pada namanya. Tetapi sejarah musik Indonesia tidak pernah melupakannya.


Karena sesungguhnya, musisi besar bukan hanya mereka yang berdiri paling depan di atas panggung, melainkan mereka yang diam-diam membangun fondasi agar musik Indonesia bisa berdiri setinggi hari ini.

#JacksonRecord #RudiGagola #VinaPanduwinata #MawarMerah #MusikIndonesia

Semar kuning (karma Abimanyu tidak memiliki usia panjang) Prabu Kresna menikahkan Raden Abimanyu dengan Siti sendari tanpa menunggu Raden Arjuna (selaku orang tua Abimanyu) yang sedang murca dari kasatriyan. Datanglah Ki lurah Semar mengingatkan raja Dwarawati yang adigang adigung Adiguna di hadapan para tamu dalam jamuan pernikahan tersebut, dengan menggunakan tembang dandang gulo yang isinya menyindir (nyemoni) kelakuan Prabu Kresna. Merasa tersinggung oleh sindiran Ki lurah Semar, prabu Kresna duka Yayah sinipi (murka). Kemudian Prabu Kresna menyuruh Raden Abimanyu membalas Ki lurah Semar dengan meludahi kuncung nya. Perbuatan yang menyayat hati kita semua, meskipun Ki lurah Semar adalah golongan sudra sempali tapi bagaimanapun juga ia adalah orang sepuh sekaligus sang hyang Ismaya ngeja wantah. Perbuatan Abimanyu ini justru malah di benarkan oleh prabu Kresna dengan alasan menjaga wibawanya, Sangat di sayangkan. Karena perbuatannya tersebut sang hyang Wenang menyabda usia Abimanyu tidak akan panjang dan perkawinannya dengan Siti sendari tidak akan memiliki keturunan. Pertanyaan nya berapa kira kira usia Abimanyu saat meninggal ranjap di Tegal Kuru setra?

 Semar kuning (karma Abimanyu tidak memiliki usia panjang)

Prabu Kresna menikahkan Raden Abimanyu dengan Siti sendari tanpa menunggu Raden Arjuna (selaku orang tua Abimanyu) yang sedang murca dari kasatriyan. Datanglah Ki lurah Semar mengingatkan raja Dwarawati yang adigang adigung Adiguna di hadapan para tamu dalam jamuan pernikahan tersebut, dengan menggunakan tembang dandang gulo yang isinya menyindir (nyemoni) kelakuan Prabu Kresna. 

Merasa tersinggung oleh sindiran Ki lurah Semar, prabu Kresna duka Yayah sinipi (murka). Kemudian Prabu Kresna menyuruh Raden Abimanyu membalas Ki lurah Semar dengan meludahi kuncung nya. Perbuatan yang menyayat hati kita semua, meskipun Ki lurah Semar adalah golongan sudra sempali tapi bagaimanapun juga ia adalah orang sepuh sekaligus sang hyang Ismaya ngeja wantah. Perbuatan Abimanyu ini justru malah di benarkan oleh prabu Kresna dengan alasan menjaga wibawanya, Sangat di sayangkan.

Karena perbuatannya tersebut sang hyang Wenang menyabda usia Abimanyu tidak akan panjang dan perkawinannya dengan Siti sendari tidak akan memiliki keturunan. 

Pertanyaan nya berapa kira kira  usia Abimanyu saat meninggal ranjap di Tegal Kuru setra?



15 July 2026

Olga dari Kyiv diakui sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti dalam sejarah awal Kievan Rus. Kisah kelamnya bermula ketika sang suami, Pangeran Igor—putra dari Rurik sang pendiri dinasti—tewas mengenaskan. Igor ditangkap dan dibvnuh secara kejam oleh suku Drevlians pada tahun 945 M akibat perselisihan upeti. Tubuh Igor diik4t pada dua pohon yang dibengkokkan, dan saat tali dilepas, tvbuh sang pangeran terbel4h menjadi dua bagian. Situasi semakin memanas ketika suku Drevlians justru mengirim 20 utusan untuk melamarnya agar pemimpin mereka, Pangeran Mal, bisa merebut takhta Kievan Rus. Sambil memegang kendali takhta sebagai wali bagi putranya yang masih kecil, Sviatoslav I, Olga merancang serangkaian aksi balas dend4m ekstrem yang tercatat dalam kronik abad pertengahan (Kisah tahun-tahun lampau). Bukannya tunduk pada pemaksaan nikah tersebut, Olga melancarkan empat tahap pemb4ntaian psikologis yang sangat kej4m: 1. Dikvbur Hidup-hidup: Olga berpura-pura menyambut 20 utusan pertama dengan meminta mereka tetap berada di dalam perahu sebagai tanda kehormatan. Perahu tersebut kemudian diangkat dan langsung dilemp4rkan ke dalam lubang dalam yang sudah disiapkan, lalu mereka dikvbur hidup-hidup. 2. Dijebak di Rumah Pemandian: Olga meminta suku Drevlians mengirimkan orang-orang paling mulia dan bangsawan mereka ke Kiev. Setibanya di sana, mereka diminta membersihkan diri di rumah pemandian (banya : Rusia). Saat mereka di dalam, pintu dikunci rapat dan rumah pemandian itu dib4kar habis. 3. Pemb4ntaian Massal Saat Pesta:Olga pergi ke tanah Drevlians dengan alasan ingin menggelar pesta pemakaman tradisi Slavia (trizna) di atas makam suaminya. Ketika ribuan orang Drevlians mabuk berat akibat jamuan, pasukan Olga langsung memb4ntai mereka tanpa ampun. 4. Teror Burung Berapi:Puncaknya terjadi pada tahun 946 M saat mengepung kota Iskorosten. Olga meminta upeti damai yang tampak ringan: tiga ekor merpati dan tiga ekor burung pipit dari setiap rumah. Setelah burung diserahkan, pasukan Olga mengikatkan kain berbahan belerang yang menyala pada kaki burung-burung tersebut. Saat burung-burung itu terbang kembali ke sarangnya di atap jerami, seluruh kota langsung membvmihangus dalam sekejap. Meski beberapa taktik mengerikan ini diduga mendapat bumbu legenda seiring berjalannya waktu, dokumen sejarah dari Kekaisaran Bizantium membenarkan fakta kelam ini: Pangeran Igor memang dibunvh secara sadis, dan Ratu Olga benar-benar memimpin penump4san pemberontakan tersebut dengan tangan besi yang tak kenal ampun Kisah nyata Ratu Olga yang sangat ekstrem ini diakui menjadi salah satu inspirasi utama bagi George R.R. Martin dalam menulis saga Game of Thrones. Taktik Olga menjebak musuh di pesta pemakaman sangat mirip dengan tragedi berd4rah The Red Wedding. Selain itu, aksi ekstremnya memb4kar musuh di rumah pemandian dan membumihanguskan kota dengan burung berapi mencerminkan bagaimana Cersei Lannister dan Daenerys Targaryen menghancvrkan musuh-musuh mereka dengan api. Di balik sejarahnya yang penuh d4rah, tindakan keras ini merupakan langkah politik demi mengamankan takhta anaknya dari perebutan kekuasaan. Setelah menstabilkan kerajaan, Olga menjadi bangsawan pertama di Rus yang memeluk agama Kristen. Atas perannya menyebarkan iman Kristen, Ratu Olga dikanonisasi oleh Gereja Ortodoks sebagai orang suci (Santa Olga) dengan gelar tertinggi. #sejarah #ratuolga #santaolga #kievanrus #balasdend4m #gameofthrones #historyfacts

 Olga dari Kyiv diakui sebagai salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh sekaligus paling ditakuti dalam sejarah awal Kievan Rus. Kisah kelamnya bermula ketika sang suami, Pangeran Igor—putra dari Rurik sang pendiri dinasti—tewas mengenaskan. Igor ditangkap dan dibvnuh secara kejam oleh suku Drevlians pada tahun 945 M akibat perselisihan upeti.

 Tubuh Igor diik4t pada dua pohon yang dibengkokkan, dan saat tali dilepas, tvbuh sang pangeran terbel4h menjadi dua bagian.



Situasi semakin memanas ketika suku Drevlians justru mengirim 20 utusan untuk melamarnya agar pemimpin mereka, Pangeran Mal, bisa merebut takhta Kievan Rus. 

Sambil memegang kendali takhta sebagai wali bagi putranya yang masih kecil, Sviatoslav I, Olga merancang serangkaian aksi balas dend4m ekstrem yang tercatat dalam kronik abad pertengahan (Kisah tahun-tahun lampau).


Bukannya tunduk pada pemaksaan nikah tersebut, Olga melancarkan empat tahap pemb4ntaian psikologis yang sangat kej4m:


 1. Dikvbur Hidup-hidup: Olga berpura-pura menyambut 20 utusan pertama dengan meminta mereka tetap berada di dalam perahu sebagai tanda kehormatan. Perahu tersebut kemudian diangkat dan langsung dilemp4rkan ke dalam lubang dalam yang sudah disiapkan, lalu mereka dikvbur hidup-hidup.


 2. Dijebak di Rumah Pemandian: Olga meminta suku Drevlians mengirimkan orang-orang paling mulia dan bangsawan mereka ke Kiev. Setibanya di sana, mereka diminta membersihkan diri di rumah pemandian (banya : Rusia). Saat mereka di dalam, pintu dikunci rapat dan rumah pemandian itu dib4kar habis.


 3. Pemb4ntaian Massal Saat Pesta:Olga pergi ke tanah Drevlians dengan alasan ingin menggelar pesta pemakaman tradisi Slavia (trizna) di atas makam suaminya. Ketika ribuan orang Drevlians mabuk berat akibat jamuan, pasukan Olga langsung memb4ntai mereka tanpa ampun.


 4. Teror Burung Berapi:Puncaknya terjadi pada tahun 946 M saat mengepung kota Iskorosten. Olga meminta upeti damai yang tampak ringan: tiga ekor merpati dan tiga ekor burung pipit dari setiap rumah. Setelah burung diserahkan, pasukan Olga mengikatkan kain berbahan belerang yang menyala pada kaki burung-burung tersebut. Saat burung-burung itu terbang kembali ke sarangnya di atap jerami, seluruh kota langsung membvmihangus dalam sekejap.


Meski beberapa taktik mengerikan ini diduga mendapat bumbu legenda seiring berjalannya waktu, dokumen sejarah dari Kekaisaran Bizantium membenarkan fakta kelam ini: Pangeran Igor memang dibunvh secara sadis, dan Ratu Olga benar-benar memimpin penump4san pemberontakan tersebut dengan tangan besi yang tak kenal ampun


Kisah nyata Ratu Olga yang sangat ekstrem ini diakui menjadi salah satu inspirasi utama bagi George R.R. Martin dalam menulis saga Game of Thrones. Taktik Olga menjebak musuh di pesta pemakaman sangat mirip dengan tragedi berd4rah The Red Wedding. 

Selain itu, aksi ekstremnya memb4kar musuh di rumah pemandian dan membumihanguskan kota dengan burung berapi mencerminkan bagaimana Cersei Lannister dan Daenerys Targaryen menghancvrkan musuh-musuh mereka dengan api.


Di balik sejarahnya yang penuh d4rah, tindakan keras ini merupakan langkah politik demi mengamankan takhta anaknya dari perebutan kekuasaan. Setelah menstabilkan kerajaan, Olga menjadi bangsawan pertama di Rus yang memeluk agama Kristen. Atas perannya menyebarkan iman Kristen, Ratu Olga dikanonisasi oleh Gereja Ortodoks sebagai orang suci (Santa Olga) dengan gelar tertinggi. 


#sejarah #ratuolga #santaolga #kievanrus #balasdend4m #gameofthrones  #historyfacts

14 July 2026

PETA NEGARA TJIANDJOER: GAMBARAN AWAL TATA KOTA CIANJUR PADA MASA HINDIA BELANDA Gambar ini merupakan peta kuno "Plan der Negorij Tjiandjoer", yang berarti "Rencana atau Denah Negeri Cianjur". Peta ini dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari dokumentasi administrasi wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di dalamnya terlihat tata letak pusat pemerintahan, jalan-jalan utama, sungai, permukiman, serta bangunan-bangunan penting yang menjadi pusat aktivitas masyarakat dan pemerintahan pada masa itu. Peta seperti ini digunakan oleh pemerintah kolonial untuk keperluan administrasi, perpajakan, pembangunan infrastruktur, hingga pengawasan wilayah. Beberapa keterangan pada legenda peta masih menggunakan bahasa Belanda, antara lain: Plan der Negorij Tjiandjoer = Denah atau Rencana Negeri Cianjur. Residentiehuis = Rumah Residen (kediaman pejabat Residen Belanda). Regentswoning = Rumah Bupati. Woning van den Regent = Kediaman Bupati. Tjimanoek/Tji… = Nama sungai atau aliran air di sekitar wilayah tersebut. Moskee = Masjid. Pendopo = Balai atau pendopo pemerintahan Bupati. Alun-alun = Lapangan utama pusat kota. Keterangan tulisan tangan di bagian bawah menjelaskan bahwa peta tersebut disusun berdasarkan pengukuran lapangan dan menunjukkan posisi bangunan pemerintahan serta batas-batas wilayah Cianjur pada saat itu. Karena menggunakan ejaan lama Belanda dan tulisan tangan abad ke-19, sebagian kalimat sulit dibaca secara utuh. Namun secara keseluruhan, dokumen ini merupakan arsip penting yang memperlihatkan bagaimana pusat Kota Cianjur dirancang dan dikelola pada masa kolonial. Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Koleksi Peta Hindia Belanda, Plan der Negorij Tjiandjoer. ( FB Sejarah Cirebon)

 PETA NEGARA TJIANDJOER: GAMBARAN AWAL TATA KOTA CIANJUR PADA MASA HINDIA BELANDA



Gambar ini merupakan peta kuno "Plan der Negorij Tjiandjoer", yang berarti "Rencana atau Denah Negeri Cianjur". Peta ini dibuat pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari dokumentasi administrasi wilayah di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di dalamnya terlihat tata letak pusat pemerintahan, jalan-jalan utama, sungai, permukiman, serta bangunan-bangunan penting yang menjadi pusat aktivitas masyarakat dan pemerintahan pada masa itu. Peta seperti ini digunakan oleh pemerintah kolonial untuk keperluan administrasi, perpajakan, pembangunan infrastruktur, hingga pengawasan wilayah.


Beberapa keterangan pada legenda peta masih menggunakan bahasa Belanda, antara lain:


Plan der Negorij Tjiandjoer = Denah atau Rencana Negeri Cianjur.


Residentiehuis = Rumah Residen (kediaman pejabat Residen Belanda).


Regentswoning = Rumah Bupati.


Woning van den Regent = Kediaman Bupati.


Tjimanoek/Tji… = Nama sungai atau aliran air di sekitar wilayah tersebut.


Moskee = Masjid.


Pendopo = Balai atau pendopo pemerintahan Bupati.


Alun-alun = Lapangan utama pusat kota.


Keterangan tulisan tangan di bagian bawah menjelaskan bahwa peta tersebut disusun berdasarkan pengukuran lapangan dan menunjukkan posisi bangunan pemerintahan serta batas-batas wilayah Cianjur pada saat itu. Karena menggunakan ejaan lama Belanda dan tulisan tangan abad ke-19, sebagian kalimat sulit dibaca secara utuh. Namun secara keseluruhan, dokumen ini merupakan arsip penting yang memperlihatkan bagaimana pusat Kota Cianjur dirancang dan dikelola pada masa kolonial.


Sumber: 

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Koleksi Peta Hindia Belanda, Plan der Negorij Tjiandjoer.

( FB Sejarah Cirebon)

INDONESIA - 11 Maret 1966: Presiden Sukarno (kanan) berjalan bersama Mayor Jenderal Soeharto (kiri) pada 11 Maret 1966 di Indonesia. Sukarno didesak (diperintahkan) oleh Angkatan Darat Indonesia untuk memberikan wewenang tertinggi kepada Mayor Jenderal Soeharto guna memulihkan ketertiban setelah peristiwa pembunuhan enam jenderal, ajudan, dan putri seorang petinggi Angkatan Darat pada 30 September 1965—peristiwa yang menurut tuduhan Angkatan Darat didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Jenderal Soeharto, yang pangkatnya tidak cukup tinggi untuk masuk dalam daftar target pembunuhan tersebut, kemudian mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat. Antara bulan Oktober 1965 dan Maret 1966, di bawah komando Soeharto, ribuan orang yang diduga maupun yang terbukti sebagai komunis dibunuh dan dipenjarakan di seluruh Indonesia. Pada bulan Maret 1966, parlemen Indonesia (Majelis Permusyawaratan Rakyat) mencabut seluruh kekuasaan Presiden Sukarno dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Sukarno kemudian dikenai tahanan rumah hingga wafat pada bulan Juni 1970. #sejarah #tempodulu #suharto #soekarno #sukarno #orla #orba #restorasipoto #mazdarwan

 INDONESIA - 11 Maret 1966: Presiden Sukarno (kanan) berjalan bersama Mayor Jenderal Soeharto (kiri) pada 11 Maret 1966 di Indonesia. Sukarno didesak (diperintahkan) oleh Angkatan Darat Indonesia untuk memberikan wewenang tertinggi kepada Mayor Jenderal Soeharto guna memulihkan ketertiban setelah peristiwa pembunuhan enam jenderal, ajudan, dan putri seorang petinggi Angkatan Darat pada 30 September 1965—peristiwa yang menurut tuduhan Angkatan Darat didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). 



Jenderal Soeharto, yang pangkatnya tidak cukup tinggi untuk masuk dalam daftar target pembunuhan tersebut, kemudian mengambil alih kepemimpinan Angkatan Darat. Antara bulan Oktober 1965 dan Maret 1966, di bawah komando Soeharto, ribuan orang yang diduga maupun yang terbukti sebagai komunis dibunuh dan dipenjarakan di seluruh Indonesia. Pada bulan Maret 1966, parlemen Indonesia (Majelis Permusyawaratan Rakyat) mencabut seluruh kekuasaan Presiden Sukarno dan mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Sukarno kemudian dikenai tahanan rumah hingga wafat pada bulan Juni 1970.


#sejarah #tempodulu #suharto #soekarno #sukarno #orla #orba #restorasipoto #mazdarwan

Sumber : Sudarwanto

TELADAN KEPEMIMPINAN Kisah Syafruddin Prawiranegara: Menteri yang Hidup Sederhana, Istrinya Berjualan Sukun Goreng Demi Keluarga Di balik perjuangan mempertahankan Republik Indonesia, ada sosok yang jasanya begitu besar, tetapi kisah hidupnya jarang diceritakan. Dialah Mr. Syafruddin Prawiranegara. Beliau pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menteri, hingga memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 207 hari. Amanah itu diberikan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ketika Belanda menyerbu Yogyakarta pada tahun 1948. Berkat PDRI, eksistensi Republik Indonesia tetap terjaga di mata dunia. Namun, di balik jabatan-jabatan besar tersebut, kehidupan pribadi Syafruddin jauh dari kemewahan. Ada sebuah kisah yang begitu menyentuh. Suatu hari, istrinya, Tengku Halimah atau yang akrab disapa Lily, berkata kepada putri sulung mereka, "Ayahmu mengurus uang negara, tetapi tidak memiliki uang untuk membeli sepotong kain gurita bagi adikmu yang baru lahir." Kalimat itu bukan sekadar ungkapan. Itulah kenyataan yang mereka jalani. Meski mengelola keuangan negara, Syafruddin tidak pernah tergoda menggunakan uang negara, bahkan untuk memenuhi kebutuhan bayinya sendiri. Baginya, amanah adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimanfaatkan demi kepentingan pribadi. Pengorbanan keluarga itu tidak berhenti sampai di sana. Ketika Syafruddin bertugas di Sumatra memimpin PDRI demi menyelamatkan republik, sang istri harus berjuang seorang diri membesarkan empat anak mereka. Demi mencukupi kebutuhan keluarga dan membeli susu untuk anak-anaknya, Lily memilih berjualan sukun goreng. Suatu hari, anak sulungnya bertanya, "Mengapa kita tidak meminta bantuan kepada Bung Karno atau Bung Hatta?" Lily menjawab dengan tenang, "Ayahmu selalu berpesan agar kita tidak bergantung kepada orang lain. Jangan berutang jika tidak benar-benar terpaksa." Anaknya kembali bertanya, "Apa Ibu tidak malu berjualan? Bukankah Ayah seorang pejabat besar?" Lily pun memberikan jawaban yang menjadi pelajaran hidup bagi anak-anaknya. "Yang membuat kita malu bukanlah bekerja keras. Yang harus membuat kita malu adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita, apalagi uang negara. Mungkin manusia tidak tahu, tetapi Allah Maha Mengetahui." Bertahun-tahun kemudian, Farid Prawiranegara, putra bungsunya, mengenang perjuangan sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia membenarkan bahwa ibunya benar-benar berjualan sukun goreng tanpa pernah mengeluh, sementara ayahnya mengabdikan diri untuk mempertahankan negara. Kisah keluarga Syafruddin Prawiranegara mengajarkan bahwa menjadi pejabat bukanlah jalan menuju kemewahan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Beliau membuktikan bahwa kehormatan seorang pemimpin bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kejujuran, integritas, dan kesediaannya berkorban demi bangsa. Mereka mungkin tidak mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya. Namun, mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: nama baik, kejujuran, keteladanan, dan cinta yang tulus kepada Indonesia. Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang cerdas, tetapi juga oleh pemimpin yang jujur dan berintegritas. Bagaimana menurutmu? Masih adakah pemimpin dengan keteladanan seperti Syafruddin Prawiranegara di Indonesia saat ini...?

 TELADAN KEPEMIMPINAN


Kisah Syafruddin Prawiranegara: Menteri yang Hidup Sederhana, Istrinya Berjualan Sukun Goreng Demi Keluarga



Di balik perjuangan mempertahankan Republik Indonesia, ada sosok yang jasanya begitu besar, tetapi kisah hidupnya jarang diceritakan. Dialah Mr. Syafruddin Prawiranegara.


Beliau pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menteri, hingga memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama 207 hari. Amanah itu diberikan oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ketika Belanda menyerbu Yogyakarta pada tahun 1948. Berkat PDRI, eksistensi Republik Indonesia tetap terjaga di mata dunia.


Namun, di balik jabatan-jabatan besar tersebut, kehidupan pribadi Syafruddin jauh dari kemewahan.


Ada sebuah kisah yang begitu menyentuh. Suatu hari, istrinya, Tengku Halimah atau yang akrab disapa Lily, berkata kepada putri sulung mereka,


"Ayahmu mengurus uang negara, tetapi tidak memiliki uang untuk membeli sepotong kain gurita bagi adikmu yang baru lahir."


Kalimat itu bukan sekadar ungkapan.


Itulah kenyataan yang mereka jalani.


Meski mengelola keuangan negara, Syafruddin tidak pernah tergoda menggunakan uang negara, bahkan untuk memenuhi kebutuhan bayinya sendiri. Baginya, amanah adalah sesuatu yang harus dijaga, bukan dimanfaatkan demi kepentingan pribadi.


Pengorbanan keluarga itu tidak berhenti sampai di sana.


Ketika Syafruddin bertugas di Sumatra memimpin PDRI demi menyelamatkan republik, sang istri harus berjuang seorang diri membesarkan empat anak mereka. Demi mencukupi kebutuhan keluarga dan membeli susu untuk anak-anaknya, Lily memilih berjualan sukun goreng.


Suatu hari, anak sulungnya bertanya,


"Mengapa kita tidak meminta bantuan kepada Bung Karno atau Bung Hatta?"


Lily menjawab dengan tenang,


"Ayahmu selalu berpesan agar kita tidak bergantung kepada orang lain. Jangan berutang jika tidak benar-benar terpaksa."


Anaknya kembali bertanya,


"Apa Ibu tidak malu berjualan? Bukankah Ayah seorang pejabat besar?"


Lily pun memberikan jawaban yang menjadi pelajaran hidup bagi anak-anaknya.


"Yang membuat kita malu bukanlah bekerja keras. Yang harus membuat kita malu adalah mengambil sesuatu yang bukan hak kita, apalagi uang negara. Mungkin manusia tidak tahu, tetapi Allah Maha Mengetahui."


Bertahun-tahun kemudian, Farid Prawiranegara, putra bungsunya, mengenang perjuangan sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia membenarkan bahwa ibunya benar-benar berjualan sukun goreng tanpa pernah mengeluh, sementara ayahnya mengabdikan diri untuk mempertahankan negara.


Kisah keluarga Syafruddin Prawiranegara mengajarkan bahwa menjadi pejabat bukanlah jalan menuju kemewahan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Beliau membuktikan bahwa kehormatan seorang pemimpin bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari kejujuran, integritas, dan kesediaannya berkorban demi bangsa.


Mereka mungkin tidak mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya.


Namun, mereka mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: nama baik, kejujuran, keteladanan, dan cinta yang tulus kepada Indonesia.


Semoga kisah ini menjadi pengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan untuk memperkaya diri. Sebab, bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang cerdas, tetapi juga oleh pemimpin yang jujur dan berintegritas.


Bagaimana menurutmu? Masih adakah pemimpin dengan keteladanan seperti Syafruddin Prawiranegara di Indonesia saat ini...?


Sumber : Dony Mgl

10 July 2026

Magelang tak habis habisnya untuk di ceritakan, Begraafplaats, Magelang, 1910 Gerbang Kerkhof, Jl Jend Sudirman x jalan ikhlas kota magelang. Gerbang Kerkhof Magelang dibangun pada tahun 1906 sebagai pintu masuk pemakaman Eropa Belanda (De Europese Begraafplaats te Magelang) di era kolonial. Gerbang ini memiliki arsitektur gaya Roman dengan pilar Tuscan dan tulisan Latin "Memento Mori" di bagian atapnya (sekarang sudah hilang). Seiring waktu, area pemakaman yang luas itu dialihfungsikan menjadi pertokoan dan jalan raya , sehingga hanya gerbang ini dan beberapa makam seperti kompleks makam Pa van der Steur yang tersisa. #kotamagelang #magelang #literasi #infomenarik #sejarah

 Magelang tak habis habisnya untuk di ceritakan, Begraafplaats, Magelang, 1910 Gerbang Kerkhof, Jl Jend Sudirman x jalan ikhlas kota magelang. 



Gerbang Kerkhof Magelang dibangun pada tahun 1906 sebagai pintu masuk pemakaman Eropa Belanda (De Europese Begraafplaats te Magelang) di era kolonial. Gerbang ini memiliki arsitektur gaya Roman dengan pilar Tuscan dan tulisan Latin "Memento Mori" di bagian atapnya (sekarang sudah hilang). Seiring waktu, area pemakaman yang luas itu dialihfungsikan menjadi pertokoan dan jalan raya , sehingga hanya gerbang ini dan beberapa makam seperti kompleks makam Pa van der Steur yang tersisa. 

Sumber : Wukir Mahendra

#kotamagelang #magelang #literasi #infomenarik #sejarah

08 July 2026

Pada 30 Juni 2026, aktivitas PT Dok dan Perkapalan Surabaya resmi berakhir. Galangan kapal yang telah berdiri sejak masa kolonial itu menjalani hari terakhir operasionalnya setelah Pengadilan Niaga Surabaya menyatakan perusahaan dalam keadaan pailit pada 3 Juni 2026. Perpisahan tersebut disampaikan melalui akun media sosial resmi perusahaan. Ucapan terima kasih diberikan kepada karyawan, pelanggan, mitra kerja, pemasok, dan seluruh pihak yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang perusahaan. Tidak ada perayaan besar untuk menutup sejarah yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Yang tersisa adalah salam perpisahan dari perusahaan yang selama puluhan tahun ikut merawat, memperbaiki, dan membangun kapal di Indonesia. Berakhirnya PT Dok dan Perkapalan Surabaya menjadi kabar besar bukan hanya karena perusahaan itu berstatus badan usaha milik negara. Usianya jauh lebih tua daripada Republik Indonesia. Perjalanannya dimulai pada 22 September 1910 dengan nama NV Droogdok Maatschappij Soerabaja. Galangan tersebut didirikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda untuk melayani kebutuhan perawatan kapal yang beroperasi di wilayah Indonesia. Ketika pendudukan Jepang berlangsung pada 1942 hingga 1945, pengelolaannya berpindah dan namanya berubah menjadi Harima Zosen. Setelah Indonesia merdeka dan proses nasionalisasi dilakukan, perusahaan tersebut menjadi milik negara. Pada 1 Januari 1961, namanya berubah menjadi PN Dok dan Perkapalan Surabaya. Kemudian pada 8 Januari 1976, bentuk usahanya kembali berubah menjadi perseroan dengan nama PT Dok dan Perkapalan Surabaya. Sejak saat itu, perusahaan menjalankan berbagai pekerjaan dalam industri maritim, mulai dari pembangunan kapal baru, perbaikan kapal, perubahan fungsi kapal, konstruksi lepas pantai, hingga pengerjaan struktur baja. Selama puluhan tahun, keberadaan DPS menjadi bagian penting dari kegiatan pelayaran nasional. Kapal-kapal yang digunakan untuk mengangkut barang, penumpang, hasil tambang, bahan pangan, dan berbagai kebutuhan antarpulau membutuhkan pemeriksaan serta perawatan secara berkala. Galangan kapal menjadi tempat berbagai pekerjaan itu dilakukan. Di dalamnya terdapat kemampuan teknik, peralatan besar, tenaga ahli, serta pengalaman yang tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Karena itu, penutupan DPS bukan sekadar hilangnya satu nama perusahaan. Indonesia juga kehilangan salah satu galangan kapal tertua yang pernah tumbuh bersama perkembangan industri maritim nasional. Namun, sejarah panjang tersebut tidak berakhir secara tiba-tiba. Masalah yang membawa DPS menuju kepailitan telah terlihat beberapa tahun sebelumnya. Pada 2021, PT Twinco Karunia Mandiri mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU terhadap PT Dok dan Perkapalan Surabaya di Pengadilan Niaga Surabaya. PKPU merupakan proses hukum yang memberi kesempatan kepada perusahaan untuk menyusun kesepakatan pembayaran bersama pihak-pihak yang memiliki tagihan. Proses tersebut biasanya ditempuh ketika perusahaan mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya, tetapi masih dianggap memiliki kesempatan untuk melanjutkan usaha. Pada 7 Februari 2022, pengadilan mengesahkan perjanjian perdamaian antara DPS dan para kreditornya. Kesepakatan tersebut mengakhiri proses PKPU sekaligus mewajibkan perusahaan menjalankan rencana pembayaran yang telah disetujui. Dengan adanya perdamaian itu, DPS belum dinyatakan pailit. Perusahaan masih memperoleh kesempatan untuk membenahi kegiatan usaha, mendapatkan pekerjaan baru, memperbaiki kondisi keuangan, dan menyelesaikan kewajibannya sesuai kesepakatan. Namun, perdamaian dalam PKPU tidak menghapus seluruh masalah. Kesepakatan tersebut hanya memberi waktu dan cara baru untuk menyelesaikan kewajiban. Perusahaan tetap harus memiliki pemasukan yang cukup agar jadwal pembayaran dapat dijalankan. Apabila kewajiban dalam perjanjian perdamaian tidak dipenuhi, pihak yang memiliki tagihan dapat mengajukan pembatalan perdamaian. Ketika permohonan itu dikabulkan, perusahaan dapat langsung dinyatakan pailit. Di luar proses hukum tersebut, pemerintah juga sempat berusaha menyelamatkan DPS melalui program restrukturisasi. DPS termasuk dalam kelompok BUMN bermasalah yang pengelolaannya dititipkan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset atau PPA. Penanganannya tidak hanya menyangkut keuangan, tetapi juga organisasi, sumber daya manusia, persoalan hukum, kegiatan usaha, serta kelayakan model bisnis. Pada Januari 2024, DPS masih tercatat sebagai salah satu dari 14 BUMN titip kelola yang menjalani restrukturisasi. PPA bahkan merencanakan integrasi DPS dengan PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari serta PT Industri Kapal Indonesia dalam sebuah platform galangan nasional. Rencana tersebut diharapkan dapat menggabungkan kemampuan beberapa galangan milik negara yang berada di lokasi strategis. Dengan integrasi, fasilitas, pasar, tenaga ahli, dan jaringan usaha antar golongan diharapkan dapat digunakan secara lebih efektif. Namun, rencana besar itu tidak sempat menjadi jalan keluar bagi DPS. Perjanjian perdamaian yang telah disahkan pada 2022 kemudian dimohonkan untuk dibatalkan. Pada 3 Juni 2026, Pengadilan Niaga Surabaya mengabulkan pembatalan perdamaian dan menyatakan PT Dok dan Perkapalan Surabaya dalam keadaan pailit. Putusan itu mengakhiri kesempatan perusahaan untuk melanjutkan penyelesaian kewajiban melalui kesepakatan sebelumnya. DPS masih menjalankan aktivitas sampai akhir bulan. Setelah itu, 30 Juni 2026 ditetapkan sebagai hari terakhir operasional perusahaan. Jarak antara proses PKPU pada 2021 dan putusan pailit pada 2026 menunjukkan bahwa penutupan ini bukan akibat satu masalah yang muncul dalam semalam. Perusahaan telah memperoleh waktu beberapa tahun untuk menjalankan perdamaian dan melewati proses restrukturisasi. Namun, waktu tersebut belum berhasil mengembalikan perusahaan ke kondisi yang cukup sehat untuk memenuhi kewajiban dan mempertahankan operasionalnya. Dalam kepailitan, pengurusan kekayaan perusahaan tidak lagi sepenuhnya berada di tangan manajemen. Aset, tagihan, dan kewajiban perusahaan akan didata serta diselesaikan melalui kurator di bawah pengawasan pengadilan. Proses tersebut menentukan bagaimana kekayaan perusahaan digunakan untuk memenuhi hak para pihak yang memiliki tagihan. Karena itu, status pailit tidak hanya berarti perusahaan sedang merugi. Kepailitan menunjukkan bahwa persoalan pembayaran telah memasuki proses hukum untuk membereskan harta dan kewajiban perusahaan. Dampak penutupan tentu tidak berhenti pada gedung, lahan, dan fasilitas galangan. Di dalam perusahaan terdapat tenaga teknik, pekerja produksi, bagian perencanaan, pengadaan, keselamatan, dan berbagai keahlian khusus lainnya. Di sekelilingnya juga terdapat pemasok baja, penyedia suku cadang, perusahaan angkutan, tenaga borongan, serta berbagai usaha yang selama ini bergantung pada aktivitas galangan. Ketika kegiatan utama berhenti, pekerjaan dalam rantai pendukung tersebut ikut terdampak. Keahlian dalam pembangunan dan perbaikan kapal juga berbeda dengan pekerjaan produksi biasa. Banyak kemampuan di dalamnya dibentuk melalui pengalaman bertahun-tahun. Apabila tenaga ahli tersebut terpencar tanpa ada kelanjutan pekerjaan, pengetahuan yang sudah lama dibangun dapat ikut hilang. Di sinilah kepailitan DPS terasa ironis. Indonesia merupakan negara kepulauan yang membutuhkan kapal untuk menghubungkan berbagai wilayah. Kegiatan perdagangan, distribusi barang, perikanan, pertahanan, energi, dan transportasi laut akan selalu memerlukan armada yang layak. Artinya, kebutuhan terhadap pembangunan dan perawatan kapal sebenarnya tetap ada. Namun, besarnya kebutuhan nasional tidak otomatis membuat semua perusahaan galangan mampu bertahan. Pasar yang luas tetap harus diikuti kemampuan mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan, mengendalikan biaya, menyelesaikan proyek tepat waktu, menjaga kualitas, serta memperoleh pembayaran dengan lancar. Industri galangan juga membutuhkan modal besar. Sebuah proyek dapat berjalan dalam waktu panjang dan melibatkan banyak tenaga, material, serta peralatan. Kesalahan menghitung biaya atau keterlambatan pembayaran dapat menekan keuangan perusahaan meskipun galangan terlihat memiliki banyak pekerjaan. Karena itu, kesibukan belum tentu sama dengan kesehatan usaha. Sebuah perusahaan dapat memiliki proyek besar dan fasilitas luas, tetapi tetap kesulitan apabila pemasukan yang tersedia tidak cukup untuk menutup biaya serta kewajibannya. Kisah DPS memperlihatkan bahwa restrukturisasi juga tidak cukup hanya berhenti pada rencana. Perubahan harus benar-benar menghasilkan kegiatan usaha yang lebih sehat. Menggabungkan beberapa perusahaan, menata organisasi, atau menyusun model bisnis baru memang dapat menjadi bagian dari penyelamatan. Namun, hasil akhirnya tetap harus terlihat pada pekerjaan yang masuk, biaya yang lebih terkendali, pendapatan yang membaik, dan kewajiban yang dapat dibayar. Tanpa perubahan sampai ke bagian tersebut, restrukturisasi hanya memberi tambahan waktu. Masalah lama tetap ada, sedangkan beban perusahaan terus berjalan. DPS telah mendapat waktu melalui perdamaian sejak 2022 dan masuk dalam penanganan PPA. Akan tetapi, pada akhirnya kesempatan tersebut belum cukup untuk mencegah pembatalan perdamaian dan putusan pailit. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa status BUMN tidak membuat sebuah perusahaan kebal dari persoalan keuangan. Kepemilikan negara memang dapat membuka jalan bagi restrukturisasi, integrasi, atau penataan ulang. Namun, perusahaan tetap harus memiliki kegiatan usaha yang mampu menopang kehidupannya sendiri. Bantuan dapat memberi napas tambahan, tetapi tidak dapat menggantikan usaha yang sehat untuk selamanya. Pada satu titik, perusahaan tetap harus mampu menghasilkan pendapatan, membayar pekerja, merawat fasilitas, memenuhi kewajiban, dan menjaga kepercayaan mitra. Begitu pula dengan usia perusahaan. Bertahan lebih dari satu abad merupakan pencapaian besar, tetapi masa lalu yang panjang tidak otomatis menyelesaikan masalah hari ini. Pengalaman, aset, nama besar, dan posisi strategis baru memiliki arti apabila masih dapat digunakan untuk menjawab perubahan zaman. Ketika persoalan keuangan dibiarkan menumpuk dan pembenahan belum menghasilkan perbaikan nyata, keunggulan tersebut perlahan kehilangan kekuatannya. Meski berakhir dalam kepailitan, seluruh perjalanan DPS tidak dapat dianggap sia-sia. Selama puluhan tahun, perusahaan ini ikut membangun kemampuan industri galangan nasional, mengerjakan kapal, menciptakan lapangan kerja, dan melahirkan tenaga-tenaga yang memahami pekerjaan maritim. Warisan terpentingnya bukan hanya nama perusahaan atau fasilitas yang berdiri di kawasan Surabaya. Warisan itu juga berada pada keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan yang pernah tumbuh di dalamnya. Kini, PT Dok dan Perkapalan Surabaya telah menutup perjalanan yang dimulai sejak 1910. Perusahaan tersebut mampu melewati masa kolonial, pendudukan Jepang, kemerdekaan, pergantian pemerintahan, dan berbagai krisis ekonomi. Namun, akhirnya DPS berhenti bukan karena Indonesia tidak lagi membutuhkan kapal. Perusahaan itu berhenti ketika kebutuhan pasar, aset, sejarah, dan status strategis yang dimilikinya tidak lagi cukup untuk mengatasi masalah keuangan yang sudah berlangsung lama. Dari sana terlihat bahwa perusahaan tidak bertahan hanya karena pernah berjaya. Usaha bertahan ketika mampu menjaga keuangan, menyesuaikan diri, dan melakukan pembenahan sebelum ruang penyelamatan menjadi semakin sempit. Hampir 116 tahun perjalanan DPS akhirnya meninggalkan satu pelajaran sederhana. Sejarah dapat membuat sebuah perusahaan dikenang, tetapi hanya pengelolaan yang sehat yang dapat membuatnya terus berjalan. --- #ceritabisnis Disclaimer: Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

 Pada 30 Juni 2026, aktivitas PT Dok dan Perkapalan Surabaya resmi berakhir. Galangan kapal yang telah berdiri sejak masa kolonial itu menjalani hari terakhir operasionalnya setelah Pengadilan Niaga Surabaya menyatakan perusahaan dalam keadaan pailit pada 3 Juni 2026. Perpisahan tersebut disampaikan melalui akun media sosial resmi perusahaan. Ucapan terima kasih diberikan kepada karyawan, pelanggan, mitra kerja, pemasok, dan seluruh pihak yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang perusahaan.



Tidak ada perayaan besar untuk menutup sejarah yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Yang tersisa adalah salam perpisahan dari perusahaan yang selama puluhan tahun ikut merawat, memperbaiki, dan membangun kapal di Indonesia. Berakhirnya PT Dok dan Perkapalan Surabaya menjadi kabar besar bukan hanya karena perusahaan itu berstatus badan usaha milik negara. Usianya jauh lebih tua daripada Republik Indonesia.


Perjalanannya dimulai pada 22 September 1910 dengan nama NV Droogdok Maatschappij Soerabaja. Galangan tersebut didirikan pada masa pemerintahan kolonial Belanda untuk melayani kebutuhan perawatan kapal yang beroperasi di wilayah Indonesia. Ketika pendudukan Jepang berlangsung pada 1942 hingga 1945, pengelolaannya berpindah dan namanya berubah menjadi Harima Zosen. Setelah Indonesia merdeka dan proses nasionalisasi dilakukan, perusahaan tersebut menjadi milik negara.


Pada 1 Januari 1961, namanya berubah menjadi PN Dok dan Perkapalan Surabaya. Kemudian pada 8 Januari 1976, bentuk usahanya kembali berubah menjadi perseroan dengan nama PT Dok dan Perkapalan Surabaya. Sejak saat itu, perusahaan menjalankan berbagai pekerjaan dalam industri maritim, mulai dari pembangunan kapal baru, perbaikan kapal, perubahan fungsi kapal, konstruksi lepas pantai, hingga pengerjaan struktur baja.


Selama puluhan tahun, keberadaan DPS menjadi bagian penting dari kegiatan pelayaran nasional. Kapal-kapal yang digunakan untuk mengangkut barang, penumpang, hasil tambang, bahan pangan, dan berbagai kebutuhan antarpulau membutuhkan pemeriksaan serta perawatan secara berkala.


Galangan kapal menjadi tempat berbagai pekerjaan itu dilakukan. Di dalamnya terdapat kemampuan teknik, peralatan besar, tenaga ahli, serta pengalaman yang tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Karena itu, penutupan DPS bukan sekadar hilangnya satu nama perusahaan. Indonesia juga kehilangan salah satu galangan kapal tertua yang pernah tumbuh bersama perkembangan industri maritim nasional.


Namun, sejarah panjang tersebut tidak berakhir secara tiba-tiba. Masalah yang membawa DPS menuju kepailitan telah terlihat beberapa tahun sebelumnya. Pada 2021, PT Twinco Karunia Mandiri mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU terhadap PT Dok dan Perkapalan Surabaya di Pengadilan Niaga Surabaya.


PKPU merupakan proses hukum yang memberi kesempatan kepada perusahaan untuk menyusun kesepakatan pembayaran bersama pihak-pihak yang memiliki tagihan. Proses tersebut biasanya ditempuh ketika perusahaan mengalami kesulitan memenuhi kewajibannya, tetapi masih dianggap memiliki kesempatan untuk melanjutkan usaha.


Pada 7 Februari 2022, pengadilan mengesahkan perjanjian perdamaian antara DPS dan para kreditornya. Kesepakatan tersebut mengakhiri proses PKPU sekaligus mewajibkan perusahaan menjalankan rencana pembayaran yang telah disetujui. Dengan adanya perdamaian itu, DPS belum dinyatakan pailit. Perusahaan masih memperoleh kesempatan untuk membenahi kegiatan usaha, mendapatkan pekerjaan baru, memperbaiki kondisi keuangan, dan menyelesaikan kewajibannya sesuai kesepakatan.


Namun, perdamaian dalam PKPU tidak menghapus seluruh masalah. Kesepakatan tersebut hanya memberi waktu dan cara baru untuk menyelesaikan kewajiban. Perusahaan tetap harus memiliki pemasukan yang cukup agar jadwal pembayaran dapat dijalankan. Apabila kewajiban dalam perjanjian perdamaian tidak dipenuhi, pihak yang memiliki tagihan dapat mengajukan pembatalan perdamaian. Ketika permohonan itu dikabulkan, perusahaan dapat langsung dinyatakan pailit.


Di luar proses hukum tersebut, pemerintah juga sempat berusaha menyelamatkan DPS melalui program restrukturisasi. DPS termasuk dalam kelompok BUMN bermasalah yang pengelolaannya dititipkan kepada PT Perusahaan Pengelola Aset atau PPA. Penanganannya tidak hanya menyangkut keuangan, tetapi juga organisasi, sumber daya manusia, persoalan hukum, kegiatan usaha, serta kelayakan model bisnis.


Pada Januari 2024, DPS masih tercatat sebagai salah satu dari 14 BUMN titip kelola yang menjalani restrukturisasi. PPA bahkan merencanakan integrasi DPS dengan PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari serta PT Industri Kapal Indonesia dalam sebuah platform galangan nasional. Rencana tersebut diharapkan dapat menggabungkan kemampuan beberapa galangan milik negara yang berada di lokasi strategis.


Dengan integrasi, fasilitas, pasar, tenaga ahli, dan jaringan usaha antar golongan diharapkan dapat digunakan secara lebih efektif. Namun, rencana besar itu tidak sempat menjadi jalan keluar bagi DPS. Perjanjian perdamaian yang telah disahkan pada 2022 kemudian dimohonkan untuk dibatalkan.


Pada 3 Juni 2026, Pengadilan Niaga Surabaya mengabulkan pembatalan perdamaian dan menyatakan PT Dok dan Perkapalan Surabaya dalam keadaan pailit. Putusan itu mengakhiri kesempatan perusahaan untuk melanjutkan penyelesaian kewajiban melalui kesepakatan sebelumnya. DPS masih menjalankan aktivitas sampai akhir bulan. Setelah itu, 30 Juni 2026 ditetapkan sebagai hari terakhir operasional perusahaan.


Jarak antara proses PKPU pada 2021 dan putusan pailit pada 2026 menunjukkan bahwa penutupan ini bukan akibat satu masalah yang muncul dalam semalam. Perusahaan telah memperoleh waktu beberapa tahun untuk menjalankan perdamaian dan melewati proses restrukturisasi. Namun, waktu tersebut belum berhasil mengembalikan perusahaan ke kondisi yang cukup sehat untuk memenuhi kewajiban dan mempertahankan operasionalnya.


Dalam kepailitan, pengurusan kekayaan perusahaan tidak lagi sepenuhnya berada di tangan manajemen. Aset, tagihan, dan kewajiban perusahaan akan didata serta diselesaikan melalui kurator di bawah pengawasan pengadilan. Proses tersebut menentukan bagaimana kekayaan perusahaan digunakan untuk memenuhi hak para pihak yang memiliki tagihan. Karena itu, status pailit tidak hanya berarti perusahaan sedang merugi. Kepailitan menunjukkan bahwa persoalan pembayaran telah memasuki proses hukum untuk membereskan harta dan kewajiban perusahaan.


Dampak penutupan tentu tidak berhenti pada gedung, lahan, dan fasilitas galangan. Di dalam perusahaan terdapat tenaga teknik, pekerja produksi, bagian perencanaan, pengadaan, keselamatan, dan berbagai keahlian khusus lainnya. Di sekelilingnya juga terdapat pemasok baja, penyedia suku cadang, perusahaan angkutan, tenaga borongan, serta berbagai usaha yang selama ini bergantung pada aktivitas galangan. Ketika kegiatan utama berhenti, pekerjaan dalam rantai pendukung tersebut ikut terdampak.


Keahlian dalam pembangunan dan perbaikan kapal juga berbeda dengan pekerjaan produksi biasa. Banyak kemampuan di dalamnya dibentuk melalui pengalaman bertahun-tahun. Apabila tenaga ahli tersebut terpencar tanpa ada kelanjutan pekerjaan, pengetahuan yang sudah lama dibangun dapat ikut hilang.


Di sinilah kepailitan DPS terasa ironis. Indonesia merupakan negara kepulauan yang membutuhkan kapal untuk menghubungkan berbagai wilayah. Kegiatan perdagangan, distribusi barang, perikanan, pertahanan, energi, dan transportasi laut akan selalu memerlukan armada yang layak.


Artinya, kebutuhan terhadap pembangunan dan perawatan kapal sebenarnya tetap ada. Namun, besarnya kebutuhan nasional tidak otomatis membuat semua perusahaan galangan mampu bertahan. Pasar yang luas tetap harus diikuti kemampuan mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan, mengendalikan biaya, menyelesaikan proyek tepat waktu, menjaga kualitas, serta memperoleh pembayaran dengan lancar.


Industri galangan juga membutuhkan modal besar. Sebuah proyek dapat berjalan dalam waktu panjang dan melibatkan banyak tenaga, material, serta peralatan. Kesalahan menghitung biaya atau keterlambatan pembayaran dapat menekan keuangan perusahaan meskipun galangan terlihat memiliki banyak pekerjaan.


Karena itu, kesibukan belum tentu sama dengan kesehatan usaha. Sebuah perusahaan dapat memiliki proyek besar dan fasilitas luas, tetapi tetap kesulitan apabila pemasukan yang tersedia tidak cukup untuk menutup biaya serta kewajibannya. Kisah DPS memperlihatkan bahwa restrukturisasi juga tidak cukup hanya berhenti pada rencana. Perubahan harus benar-benar menghasilkan kegiatan usaha yang lebih sehat.


Menggabungkan beberapa perusahaan, menata organisasi, atau menyusun model bisnis baru memang dapat menjadi bagian dari penyelamatan. Namun, hasil akhirnya tetap harus terlihat pada pekerjaan yang masuk, biaya yang lebih terkendali, pendapatan yang membaik, dan kewajiban yang dapat dibayar.


Tanpa perubahan sampai ke bagian tersebut, restrukturisasi hanya memberi tambahan waktu. Masalah lama tetap ada, sedangkan beban perusahaan terus berjalan. DPS telah mendapat waktu melalui perdamaian sejak 2022 dan masuk dalam penanganan PPA. Akan tetapi, pada akhirnya kesempatan tersebut belum cukup untuk mencegah pembatalan perdamaian dan putusan pailit.


Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa status BUMN tidak membuat sebuah perusahaan kebal dari persoalan keuangan. Kepemilikan negara memang dapat membuka jalan bagi restrukturisasi, integrasi, atau penataan ulang. Namun, perusahaan tetap harus memiliki kegiatan usaha yang mampu menopang kehidupannya sendiri.


Bantuan dapat memberi napas tambahan, tetapi tidak dapat menggantikan usaha yang sehat untuk selamanya. Pada satu titik, perusahaan tetap harus mampu menghasilkan pendapatan, membayar pekerja, merawat fasilitas, memenuhi kewajiban, dan menjaga kepercayaan mitra.


Begitu pula dengan usia perusahaan. Bertahan lebih dari satu abad merupakan pencapaian besar, tetapi masa lalu yang panjang tidak otomatis menyelesaikan masalah hari ini. Pengalaman, aset, nama besar, dan posisi strategis baru memiliki arti apabila masih dapat digunakan untuk menjawab perubahan zaman. Ketika persoalan keuangan dibiarkan menumpuk dan pembenahan belum menghasilkan perbaikan nyata, keunggulan tersebut perlahan kehilangan kekuatannya.


Meski berakhir dalam kepailitan, seluruh perjalanan DPS tidak dapat dianggap sia-sia. Selama puluhan tahun, perusahaan ini ikut membangun kemampuan industri galangan nasional, mengerjakan kapal, menciptakan lapangan kerja, dan melahirkan tenaga-tenaga yang memahami pekerjaan maritim.


Warisan terpentingnya bukan hanya nama perusahaan atau fasilitas yang berdiri di kawasan Surabaya. Warisan itu juga berada pada keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan yang pernah tumbuh di dalamnya.


Kini, PT Dok dan Perkapalan Surabaya telah menutup perjalanan yang dimulai sejak 1910. Perusahaan tersebut mampu melewati masa kolonial, pendudukan Jepang, kemerdekaan, pergantian pemerintahan, dan berbagai krisis ekonomi. Namun, akhirnya DPS berhenti bukan karena Indonesia tidak lagi membutuhkan kapal. Perusahaan itu berhenti ketika kebutuhan pasar, aset, sejarah, dan status strategis yang dimilikinya tidak lagi cukup untuk mengatasi masalah keuangan yang sudah berlangsung lama.


Dari sana terlihat bahwa perusahaan tidak bertahan hanya karena pernah berjaya. Usaha bertahan ketika mampu menjaga keuangan, menyesuaikan diri, dan melakukan pembenahan sebelum ruang penyelamatan menjadi semakin sempit. Hampir 116 tahun perjalanan DPS akhirnya meninggalkan satu pelajaran sederhana. Sejarah dapat membuat sebuah perusahaan dikenang, tetapi hanya pengelolaan yang sehat yang dapat membuatnya terus berjalan.

---


#ceritabisnis

Disclaimer:

Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

06 July 2026

Halte Jambu Halte Jambu secara geografis berlokasi di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Halte ini berada di lintasan rel yang menghubungkan Stasiun Ambarawa dan Stasiun Bedono, di ketinggian 479 MDPL. Bentuk fisik bangunan Haĺte Jambu sangat mirip dengan Halte Payaman di Magelang. Terdiri dari 3 ruangan, yaitu ruang tunggu calon penumpang, ruang administrasi/penjualan tiket, dan ruang PPKA. Namun saat ini, Halte Jambu hanya terdiri dari 2 ruang, sedangkan 1 ruang lagi di bagian selatan dibiarkan terbuka hanya separuh dinding tanpa atap. Sumber foto lama: indiegangers.nl

 Halte Jambu


Halte Jambu secara geografis berlokasi di Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Halte ini berada di lintasan rel yang menghubungkan Stasiun Ambarawa dan Stasiun Bedono, di ketinggian 479 MDPL.


Bentuk fisik bangunan Haĺte Jambu sangat mirip dengan Halte Payaman di Magelang. Terdiri dari 3 ruangan, yaitu ruang tunggu calon penumpang, ruang administrasi/penjualan tiket, dan ruang PPKA.


Namun saat ini, Halte Jambu hanya terdiri dari 2 ruang, sedangkan 1 ruang lagi di bagian selatan dibiarkan terbuka hanya separuh dinding tanpa atap.



Sumber foto lama: indiegangers.nl