Jejak Sejarah KNIL, Pembela Tanah Air, Siliwangi, Baret Hijau Hingga Baret Merah Di Tuguran
Dari zaman Hindia Belanda Magelang telah menjadi kota Garnizun. Salah satu bangunan yang memiliki sejarah panjang perjalanan militer di Kota Magelang adalah bangunan yang kini menjadi Sekolah Calon Bintara Kodam IV Diponegoro yang berlokasi di Jalan Pahlawan kota Magelang.
Bangunan di Tuguran ini berdiri sekitar tahun 1940an tepatnya bulan Februari 1940, Tuguran ditetapkan sebagai bagian dari barak satuan militer khusus oleh pemerintah kolonial Belanda. Kepemimpinan angkatan darat Belanda (departement van oorlog) mengerahkan pembangunan barak-barak untuk bintara angkatan darat di area Tuguran.
Tetapi tahun 1942 tentara Jepang masuk ke Indonesia.
Di masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan oleh Jepang sebagai markas PETA, ini berdasarkan data bahwa Bapak Sarwo Edhie Wibowo Setelah menjalani latihan militer sebagai calon perwira PETA di Bogor, Sarwo Edhie menjadi salah satu lulusan Shodanco (Letnan Dua) terbaik, karena itu ia memperoleh pedang samurai yang agak berbeda. Saat pelantikan, dia Sarwo Edhie sebagai Shodancho mendapatkan tugas di daerah Tuguran, Magelang.
Pada November 1948, ketika Divisi Siliwangi bermarkas di Tuguran Magelang, Batalyon I Brigade IV dimasukkan ke dalam Brigade Divisi Siliwangi dengan nama "Batalyon IV Brigade XIV Divisi Siliwangi". Divisi Siliwangi ini bermarkas di bangunan yang menjadi bangunan SECABA ini hingga sekitar Desember 1948 mereka melakukan Long March kembali ke Jawa Barat akibat adanya Agresi Militer Belanda ke 2.
Pada saat Agresi Militer Belanda ke 2 bangunan ini sempat mengalami aksi bumi hangus yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemudian sekitar tahun 1955 bangunan ini menjadi markas dari Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I. Dari sinilah jejak baret hijau Banteng Raider "Komandone Wong Jowo" terukir dengan tinta emas di Kota Magelang.
Selanjutnya setelah Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I direkrut menjadi bagian RPKAD di pertengahan tahun 1965 menjadi Batalyon 2 RPKAD maka bangunan yang sekarang kita kenal sebagai bangunan SECABA ini menjadi markas dari Batalyon 2 RPKAD dari tahun 1965 sampai 1978an. Dan di antara 1965 sampai 1978an jejak baret merah terukir di Kota Magelang...... Batalyon 2 RPKAD di Tuguran ini banyak berperan penting dalam menumpas sisa sisa anggota G 30 S PKI.
Masuknya Batalyon Lintas Udara 436 Banteng Raider I ke dalam RPKAD menjadi tonggak leburnya antara "Komandone Wong Jowo" dan "Komandone Wong Londo" jadi satu.
Banteng Raider masa itu dikenal sebagai Komandone Wong Jowo karena pimpinan pertama nya adalah Letkol Achmad Yani (pangkat terakhir Jenderal Anumerta).
Kalau RPKAD dikenal sebagai Komandone Wong Londo karena pimpinan pertama Mayor Muhammad Idjon Djambi (RB Visser) yang dahulunya adalah anggota Speciale Troepen Kerajaan Belanda.
Pada Januari 1978 markas Group 2 Kopassandha mulai dipindahkan dari Tuguran ke Kandang Menjangan Kartasura.
Setelah Batalyon 2 RPKAD pindah ke Kandang Menjangan Kartasura kemudian bangunan bekas markas Batalyon 2 RPKAD ini digunakan sebagai tempat Sekolah Calon Bintara hingga sekarang ini.
Jadi bangunan yang kita kenal sebagai Sekolah Calon Bintara ini ternyata memiliki sejarah panjang yang perlu kita kenang dan kita pelajari untuk bisa kita ceritakan ke anak cucu kita bahwasanya di Tuguran punya sejarah militer yang panjang dari dahulu hingga kini.
Sumber : Orchid Breeder






















