H. Hetami lahir di Surakarta pada 1920, putra K.H. M. Idris, seorang saudagar batik. Ia menempuh pendidikan tinggi di Batavia, tetapi studinya terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia dan membubarkan seluruh instistusi pendidikan yang ada.
Dari sinilah ia kemudian memasuki dunia jurnalistik dan bergabung dengan Sinar Baroe di Semarang. Surat kabar ini dibentuk pemerintah pendudukan Jepang melalui peleburan beberapa surat kabar sebelumnya dan berada di bawah pengawasan ketat rezim militer Jepang. Hetami mula-mula bekerja sebagai korektor, kemudian menjadi redaktur pelaksana. Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung mengenai kerja pers sekaligus mempertemukannya dengan perubahan politik yang berlangsung cepat menjelang akhir Perang Dunia II.
Momentum penting datang pada 17 Agustus 1945. Ketika berita Proklamasi diterima di kantor Sinar Baroe, terpaut cuma satu jam setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta. Hetami berusaha agar kabar kemerdekaan itu dapat segera diketahui masyarakat Semarang, meskipun masih berada di bawah ancaman sensor Jepang. Karena pemberitaan Proklamasi dilarang, redaksi menghadapi dilema antara menjalankan sensor atau menyampaikan berita kemerdekaan. Sinar Baroe akhirnya nekat menyiarkan secara resmi berita Proklamasi Kemerdekaan pada edisi 19 Agustus 1945.
Setelah Jepang menyerah, perubahan politik membuka kesempatan bagi para pekerja pers untuk mengambil alih infrastruktur media yang sebelumnya dikendalikan pemerintah pendudukan. Hetami bersama sejumlah awak Sinar Baroe kemudian mengubah fungsi pers tersebut menjadi sarana pemberitaan Republik.
Dan pada akhir September 1945 Hetami menginisiasi koran Warta Indonesia, surat kabar ini mulai terbit pada 29 September 1945 berkantor di Jalan Purwodinatan Tengah No. 22–24–26, Semarang, dan sejak awal secara tegas menempatkan dirinya di pihak Republik. Tujuannya adalah membantu usaha KNI (Komite Nasional Indonesia) dan seluruh usaha bangsa Indonesia yang bersifat membangun serta bermanfaat bagi kepentingan revolusi Republik.
Warta Indonesia kemudian menjadi salah satu media penting yang menyuarakan kepentingan pemerintah Republik di tengah situasi revolusioner Semarang. Ketika Pertempuran Lima Hari berlangsung pada Oktober 1945, penerbitannya sempat terganggu, tetapi koran ini kembali memberitakan perkembangan perjuangan dan menunjukkan bagaimana pers menjadi bagian dari perebutan ruang informasi pada masa awal kemerdekaan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Hetami sebagai wartawan dan pengelola pers. Setelah Warta Indonesia berhenti terbit dalam situasi politik dan militer yang semakin tidak memungkinkan di Semarang, Hetami melanjutkan aktivitas jurnalistiknya melalui sejumlah surat kabar pada masa revolusi. Pengalaman mengelola pers di tengah pergolakan politik, keterbatasan percetakan, tekanan militer, dan kebutuhan masyarakat akan informasi kemudian membentuk gagasannya untuk memiliki surat kabar sendiri.
Pada 11 Februari 1950, Hetami akhirnya mendirikan Suara Merdeka, yang kemudian berkembang menjadi salah satu surat kabar penting di Jawa Tengah. Pendirian Suara Merdeka menandai kelanjutan dari perjalanan panjang Hetami sejak Sinar Baroe dan Warta Indonesia. Dari wartawan muda yang bekerja dalam pers pendudukan, menjadi pengelola pers Republik, hingga berhasil membangun institusi pers yang bertahan dan berkembang besar di Semarang.
Dari testimoni para pegawai Suara Merdeka yang bersinggungan langsung pada waktu kepemimpinan Hetami, beliau dikenal sebagai sosok perfeksionis bahkan sampai urusan kebersihan kamar kecil. Foto di bawah adalah foto H. Hetami yang terlibat langsung membersihkan kamar kecil di Kantor Suara Merdeka Jl. Merak 11A.
Sumber narasi dan foto : Buku "Hetami - Kewartawanan, Pers dan Suara Merdeka", Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1995
Sumbet : Kesit Widjanarko




















