01 October 2026

Takbir 1965 Yang Tidak Pernah Diajarkan Di Sekolah. Malam itu, Jakarta tidak tidur. Di sebuah ruangan sunyi di Istana, seorang lelaki tua dengan suara bergetar memandang para pengawalnya. Namanya Soekarno. Proklamator. Presiden seumur hidup. Tapi malam itu, ia bukan singa podium. Ia adalah seorang ayah yang ketakutan kehilangan anak-anaknya sendiri: Angkatan Darat. "Jemput mereka," bisiknya lirih. "Bawa mereka kemari. Hidup-hidup." Perintah itu bukan perintah perang. Menurut Guru Besar Universitas Pertahanan, Profesor Salim Said, itulah awal dari tragedi paling kelam Indonesia: rencana penculikan itu ternyata berasal dari Bung Karno sendiri. Tujuannya? Bukan untuk membunuh. Soekarno hanya ingin para jenderal itu tampil di istana, berdiri di sampingnya, menunjukkan kepada dunia bahwa mereka masih setia kepada presiden. Tapi... siapa yang mengubah rencana "jemput" menjadi "bunuh"? Di sinilah ceritanya menjadi gelap. Pasukan Cakrabirawa bergerak di tengah malam buta 30 September. Yang terjadi kemudian bukanlah penjemuran di istana, melainkan lubang buaya yang berlumuran darah. Tujuh jenderal tewas. Soekarno, kata Salim Said, tidak pernah memerintahkan pembunuhan itu. Lalu siapa yang berkhianat? Siapa yang membelokkan perintah presiden menjadi pembantaian? Salim Said, yang saat itu adalah mahasiswa UI tahun 1966, menyaksikan semuanya dari jalanan. Ia justru melihat sosok lain muncul dari kekacauan: Pak Harto, Sarwo Edhie Wibowo, dan para jenderal yang selamat. Mereka disebut juru selamat. Tapi tunggu. Mengapa Soekarno sampai nekat menculik jenderalnya sendiri? Jawabannya adalah sebuah permainan catur yang mematikan: balance of power. Menjelang kejatuhannya, Soekarno sadar ia tidak punya apa-apa. Ia tidak punya partai politik yang terorganisir. Angkatan Darat semakin kuat, semakin menentukan, semakin jauh darinya. TNI yang dulu sejarahnya begitu dekat dengan Soekarno, kini terpecah-belah. Dikacaukan. Ada "Macan Gadungan" yang memecah barisan. Dalam keputusasaan, Soekarno melakukan langkah paling berbahaya dalam hidupnya: ia memakai PKI untuk mengimbangi Angkatan Darat. Ia menciptakan dua macan untuk saling menerkam, berharap ia bisa tetap menjadi pawangnya. Tapi ia lupa satu hal: ketika dua macan dilepas di ruangan yang sama... ...yang pertama diterkam adalah sang pawang. Dan kini, puluhan tahun kemudian, satu pertanyaan masih menggantung dan belum terjawab: Jika Soekarno hanya memerintahkan penculikan, dan bukan pembunuhan... lalu siapa sebenarnya yang memberi perintah untuk menembak di malam itu?

 Takbir 1965 Yang Tidak Pernah Diajarkan Di Sekolah.


Malam itu, Jakarta tidak tidur.


Di sebuah ruangan sunyi di Istana, seorang lelaki tua dengan suara bergetar memandang para pengawalnya. Namanya Soekarno. Proklamator. Presiden seumur hidup. Tapi malam itu, ia bukan singa podium. Ia adalah seorang ayah yang ketakutan kehilangan anak-anaknya sendiri: Angkatan Darat.


"Jemput mereka," bisiknya lirih. "Bawa mereka kemari. Hidup-hidup."



Perintah itu bukan perintah perang. Menurut Guru Besar Universitas Pertahanan, Profesor Salim Said, itulah awal dari tragedi paling kelam Indonesia: rencana penculikan itu ternyata berasal dari Bung Karno sendiri.


Tujuannya? Bukan untuk membunuh. Soekarno hanya ingin para jenderal itu tampil di istana, berdiri di sampingnya, menunjukkan kepada dunia bahwa mereka masih setia kepada presiden.


Tapi... siapa yang mengubah rencana "jemput" menjadi "bunuh"?


Di sinilah ceritanya menjadi gelap.


Pasukan Cakrabirawa bergerak di tengah malam buta 30 September. Yang terjadi kemudian bukanlah penjemuran di istana, melainkan lubang buaya yang berlumuran darah. Tujuh jenderal tewas.


Soekarno, kata Salim Said, tidak pernah memerintahkan pembunuhan itu.


Lalu siapa yang berkhianat? Siapa yang membelokkan perintah presiden menjadi pembantaian?


Salim Said, yang saat itu adalah mahasiswa UI tahun 1966, menyaksikan semuanya dari jalanan. Ia justru melihat sosok lain muncul dari kekacauan: Pak Harto, Sarwo Edhie Wibowo, dan para jenderal yang selamat.


Mereka disebut juru selamat.


Tapi tunggu. Mengapa Soekarno sampai nekat menculik jenderalnya sendiri?


Jawabannya adalah sebuah permainan catur yang mematikan: balance of power.


Menjelang kejatuhannya, Soekarno sadar ia tidak punya apa-apa. Ia tidak punya partai politik yang terorganisir. Angkatan Darat semakin kuat, semakin menentukan, semakin jauh darinya. TNI yang dulu sejarahnya begitu dekat dengan Soekarno, kini terpecah-belah. Dikacaukan. Ada "Macan Gadungan" yang memecah barisan.


Dalam keputusasaan, Soekarno melakukan langkah paling berbahaya dalam hidupnya: ia memakai PKI untuk mengimbangi Angkatan Darat.


Ia menciptakan dua macan untuk saling menerkam, berharap ia bisa tetap menjadi pawangnya.


Tapi ia lupa satu hal: ketika dua macan dilepas di ruangan yang sama...


...yang pertama diterkam adalah sang pawang.


Dan kini, puluhan tahun kemudian, satu pertanyaan masih menggantung dan belum terjawab:


Jika Soekarno hanya memerintahkan penculikan, dan bukan pembunuhan... lalu siapa sebenarnya yang memberi perintah untuk menembak di malam itu?


Sumber : Yudi Bragas Adi Luhur

Pagi itu, 2 Oktober 1965, atmosfer di Istana Bogor begitu mencekam. Kabar gugurnya Letnan Jenderal Ahmad Yani dalam peristiwa berda_^&rah G30S telah meninggalkan lubang besar di tubuh Angkatan Darat. Di tengah situasi yang genting dan simpang siur, Presiden Soekarno harus segera mengambil keputusan. Pilihan Bung Karno akhirnya jatuh pada seorang jenderal bertubuh tegap dengan pembawaan tenang dan bersahaja: Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra. Bung Karno memandangnya sebagai sosok jenderal yang lurus, tidak ambisius, dan yang terpenting, memiliki loyalitas tanpa syarat kepada Kepala Negara. Hari itu juga, Pranoto resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Menteri/Panglima Angkatan Darat. Tugas berat berada di pundaknya meredam gejolak dan menyatukan kembali tentara yang sedang terkoyak. Namun, di belahan Jakarta yang lain, tepatnya di Markas Kostrad, sebuah kekuatan baru sedang mengonsolidasikan diri. Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad, menolak tunduk begitu saja pada keputusan tersebut. Bagi Soeharto, Pranoto bukanlah orang asing. Ingatannya kembali berputar ke akhir tahun 1950-an di Jawa Tengah, saat Pranoto memimpin pemeriksaan kasus barter ilegal yang melibatkan dirinya, hingga berujung pada pencopotan Soeharto dari jabatan Panglima Divisi Diponegoro. Kini, roda nasib membawa mereka kembali berhadapan di panggung tertinggi kekuasaan. Ketika perintah Bung Karno turun agar Pranoto segera menghadap ke Istana untuk menerima mandat, roda manuver Soeharto bergerak cepat. "Demi keselamatan Anda, Jenderal, situasi di luar sangat berbahaya. Tetaplah di sini," cegah Soeharto dengan nada dingin namun tegas. Pranoto, yang dasarnya adalah seorang prajurit administratif yang patuh pada hierarki dan menghindari pertumpahan da_^&rah sesama korps, memilih untuk tidak melawan fisik. Pilihan itu menjadi celah pertama yang fatal. Perlahan tapi pasti, Soeharto mengambil alih kendali taktis dan operasional Angkatan Darat atas inisiatifnya sendiri, mengisolasi Pranoto dalam ruang sempit yang hanya mengurusi administrasi di atas kertas. Suara Pranoto perlahan meredup di tengah deru panser dan propaganda yang mulai menguasai ibu kota. Hanya berselang dua minggu, tepatnya pada 16 Oktober 1965, lanskap politik telah berubah total. Di bawah tekanan situasi yang makin tak terkendali, Bung Karno akhirnya terpaksa melantik Soeharto sebagai Menpangad definitif. Posisi Pranoto sebagai pemegang komando pun resmi tamat sebelum ia sempat benar-benar memulainya. Tragedi bagi Pranoto tidak berhenti pada hilangnya jabatan. Mesin kekuasaan Orde Baru yang mulai bangkit membutuhkan pembersihan total terhadap elemen-elemen loyalis Soekarno. Narasi demi narasi dibangun, hingga puncaknya pada 16 Februari 1966, sang jenderal pilihan Bung Karno itu ditangkap. Ia dituduh terlibat dalam lingkaran konspirasi G30S, sebuah tuduhan yang tak pernah sekali pun dibuktikan dalam sidang pengadilan yang sah.Selama 15 tahun berikutnya, hidup Mayjen Pranoto berubah menjadi lembaran-lembaran kelam di balik jeruji besi. Berpindah dari satu rumah tahanan militer ke instalasi lainnya, ia terkunci dari dunia luar, sementara mantan rivalnya bertransformasi menjadi penguasa tunggal Republik selama puluhan tahun. Ketika akhirnya dibebaskan pada tahun 1981, Pranoto keluar sebagai pria sepuh yang didera sakit dan himpitan ekonomi, namun tetap menjaga martabatnya dalam diam hingga akhir hayatnya di tahun 1992. Kisah Pranoto Reksosamodra adalah narasi tentang seorang prajurit yang setia pada konstitusi dan presidennya, namun tergilas tanpa ampun oleh roda sejarah dan intrik politik yang tak bermata.

 Pagi itu, 2 Oktober 1965, atmosfer di Istana Bogor begitu mencekam. Kabar gugurnya Letnan Jenderal Ahmad Yani dalam peristiwa berda_^&rah G30S telah meninggalkan lubang besar di tubuh Angkatan Darat. Di tengah situasi yang genting dan simpang siur, Presiden Soekarno harus segera mengambil keputusan. Pilihan Bung Karno akhirnya jatuh pada seorang jenderal bertubuh tegap dengan pembawaan tenang dan bersahaja: Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra.



Bung Karno memandangnya sebagai sosok jenderal yang lurus, tidak ambisius, dan yang terpenting, memiliki loyalitas tanpa syarat kepada Kepala Negara. Hari itu juga, Pranoto resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Menteri/Panglima Angkatan Darat. Tugas berat berada di pundaknya meredam gejolak dan menyatukan kembali tentara yang sedang terkoyak.


Namun, di belahan Jakarta yang lain, tepatnya di Markas Kostrad, sebuah kekuatan baru sedang mengonsolidasikan diri. Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad, menolak tunduk begitu saja pada keputusan tersebut. Bagi Soeharto, Pranoto bukanlah orang asing. Ingatannya kembali berputar ke akhir tahun 1950-an di Jawa Tengah, saat Pranoto memimpin pemeriksaan kasus barter ilegal yang melibatkan dirinya, hingga berujung pada pencopotan Soeharto dari jabatan Panglima Divisi Diponegoro. Kini, roda nasib membawa mereka kembali berhadapan di panggung tertinggi kekuasaan.


Ketika perintah Bung Karno turun agar Pranoto segera menghadap ke Istana untuk menerima mandat, roda manuver Soeharto bergerak cepat. "Demi keselamatan Anda, Jenderal, situasi di luar sangat berbahaya. Tetaplah di sini," cegah Soeharto dengan nada dingin namun tegas. Pranoto, yang dasarnya adalah seorang prajurit administratif yang patuh pada hierarki dan menghindari pertumpahan da_^&rah sesama korps, memilih untuk tidak melawan fisik. Pilihan itu menjadi celah pertama yang fatal.

Perlahan tapi pasti, Soeharto mengambil alih kendali taktis dan operasional Angkatan Darat atas inisiatifnya sendiri, mengisolasi Pranoto dalam ruang sempit yang hanya mengurusi administrasi di atas kertas. Suara Pranoto perlahan meredup di tengah deru panser dan propaganda yang mulai menguasai ibu kota.


Hanya berselang dua minggu, tepatnya pada 16 Oktober 1965, lanskap politik telah berubah total. Di bawah tekanan situasi yang makin tak terkendali, Bung Karno akhirnya terpaksa melantik Soeharto sebagai Menpangad definitif. Posisi Pranoto sebagai pemegang komando pun resmi tamat sebelum ia sempat benar-benar memulainya.

Tragedi bagi Pranoto tidak berhenti pada hilangnya jabatan. Mesin kekuasaan Orde Baru yang mulai bangkit membutuhkan pembersihan total terhadap elemen-elemen loyalis Soekarno. Narasi demi narasi dibangun, hingga puncaknya pada 16 Februari 1966, sang jenderal pilihan Bung Karno itu ditangkap. Ia dituduh terlibat dalam lingkaran konspirasi G30S, sebuah tuduhan yang tak pernah sekali pun dibuktikan dalam sidang pengadilan yang sah.Selama 15 tahun berikutnya, hidup Mayjen Pranoto berubah menjadi lembaran-lembaran kelam di balik jeruji besi. Berpindah dari satu rumah tahanan militer ke instalasi lainnya, ia terkunci dari dunia luar, sementara mantan rivalnya bertransformasi menjadi penguasa tunggal Republik selama puluhan tahun. Ketika akhirnya dibebaskan pada tahun 1981, Pranoto keluar sebagai pria sepuh yang didera sakit dan himpitan ekonomi, namun tetap menjaga martabatnya dalam diam hingga akhir hayatnya di tahun 1992.

Kisah Pranoto Reksosamodra adalah narasi tentang seorang prajurit yang setia pada konstitusi dan presidennya, namun tergilas tanpa ampun oleh roda sejarah dan intrik politik yang tak bermata.

30 September 2026

JEJAK VISUAL PERISTIWA MADIUN 1948 Dokumen ini merupakan surat rahasia (geheim) dari Dinas Reserse Umum, Kejaksaan Agung Hindia Belanda, yang ditujukan kepada Direktur Kabinet Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia. Surat tersebut melaporkan temuan 21 lembar foto dalam arsip Ipphos di Yogyakarta, yang menurut narasi dokumen merekam proses interogasi serta eksekusi orang-orang komunis (muso) di tepi liang kubur Suatu tempat di Magetan. Latar Historis Peristiwa Madiun bermula pada 18 September 1948, ketika terjadi konflik bersenjata di Madiun, Jawa Timur, antara kelompok yang berafiliasi dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan PKI serta pemerintah Republik Indonesia. Konflik ini berlangsung di tengah ketegangan politik, perpecahan internal, dan tekanan Belanda selama masa revolusi. Pemerintah Republik melancarkan operasi militer, dan dalam beberapa pekan kekuatan utama FDR/PKI berhasil dipukul mundur. Musso tewas pada akhir Oktober 1948, sedangkan Amir Sjarifuddin dieksekusi pada Desember 1948. Kekerasan terhadap tahanan dan warga sipil dari berbagai pihak, termasuk di Magetan, tercatat dalam berbagai sumber. Jumlah korban dan penafsiran atas peristiwa ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan. Surat ini ditulis setelah Belanda menguasai Yogyakarta pada Agresi Militer II (19 Desember 1948). Sebagai sumber primer, dokumen ini lahir dari perspektif aparat kolonial, sehingga perlu dibaca secara kritis dengan memperhatikan klasifikasi rahasianya, posisi penulisnya, serta konteks politik saat itu, terutama terhadap klaim, terminologi, dan tujuan penyusunannya. Sumber: National Archief (Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesiƫ)

 JEJAK VISUAL PERISTIWA MADIUN 1948



Dokumen ini merupakan surat rahasia (geheim) dari Dinas Reserse Umum, Kejaksaan Agung Hindia Belanda, yang ditujukan kepada Direktur Kabinet Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia. Surat tersebut melaporkan temuan 21 lembar foto dalam arsip Ipphos di Yogyakarta, yang menurut narasi dokumen merekam proses interogasi serta eksekusi orang-orang komunis (muso) di tepi liang kubur Suatu tempat di Magetan.


Latar Historis

Peristiwa Madiun bermula pada 18 September 1948, ketika terjadi konflik bersenjata di Madiun, Jawa Timur, antara kelompok yang berafiliasi dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan PKI serta pemerintah Republik Indonesia. Konflik ini berlangsung di tengah ketegangan politik, perpecahan internal, dan tekanan Belanda selama masa revolusi. Pemerintah Republik melancarkan operasi militer, dan dalam beberapa pekan kekuatan utama FDR/PKI berhasil dipukul mundur. Musso tewas pada akhir Oktober 1948, sedangkan Amir Sjarifuddin dieksekusi pada Desember 1948. Kekerasan terhadap tahanan dan warga sipil dari berbagai pihak, termasuk di Magetan, tercatat dalam berbagai sumber. Jumlah korban dan penafsiran atas peristiwa ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan.


Surat ini ditulis setelah Belanda menguasai Yogyakarta pada Agresi Militer II (19 Desember 1948). Sebagai sumber primer, dokumen ini lahir dari perspektif aparat kolonial, sehingga perlu dibaca secara kritis dengan memperhatikan klasifikasi rahasianya, posisi penulisnya, serta konteks politik saat itu, terutama terhadap klaim, terminologi, dan tujuan penyusunannya.


Sumber: National Archief (Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesiƫ)

Poto Kunjungan Presiden Soeharto tempo dulu sekitar th 70an diapit Oleh Pendiri Gontor KH Imam Zarkasyi dan KH Ahmad Sahal( Ayah KH Hasan Abdullah Sahal) Ada kisah menarik yg diceritakan salah seorang Alumni yg pernah merasakan Langsung didikan dr salah satu Trimurti Gontor, Simak ceritanya Sambil "ngohwah" he.he SOSOK KH. IMAM ZARKASYI: IQRO' YA BUNAYYA* Ibu-bapak pasti tahu nama Kyai Haji Imam Zarkasyi, tapi bisakah anda membayangkan sosoknya? Atau melihat langsung aksinya? Di kamar tidur beliau selalu tergelar sajadah yang di atasnya ada untaian tasbih. Saya tahu tahu karena sering menyapu ruangan itu. Allahumma saya bersyukur dapat mengabdikan hidupku untuk beliau. Di belakang sajadah itu dekat jendela ada kertas HITAM bertuliskan tinda emas berbunyi: "Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan". Di luar jam mengajar beliau keluar rumah, memakai kaos oblong warna putih cap kodok dan mengalungkan handuk kecil untuk menyeka keringat. Biasanya membawa alat-alat pertukangan seperti martil, obeng atau tang. keliling melihat-lihat papan tulis yang tergantung tidak rapi maka diluruskan, memeriksa meja bangku yang ringkih maka dipasaknya, pintu-pintu kelas yang engselnya rusak dicatat dan diperintahkan untuk diperbaiki. Jika ada kelas yang kosong, maka beliau masuk mengajar. Jika ada sebelahnya lagi yang kosong maka ditingggalkan songkoknya di kelas yang dimasuki terdahulu dan beliau memasuki kels kosong yang ribut itu. Sering terjadi beliau langsung pulang setelah mengisi kelas dengan amat sangat serius, maka songkok hitamnya ketinggalan di kelas sehinga tak satupun santri yang berani meninggalkan kelas sebelum beliau datang kembali mengambil songkoknya (sekalipun sudah jam pulang). Ketua kelas harus mendatangi beliau dan bertanya apakah beliau akan masuk kembali agar kami menunggunya? Kalau berpapasan dengan santri yang tidak membawa buku maka beliau akan mencegat dan menanyakan: mengapa tidak membawa buku? Kalau bertemu dengan anak yang membawa buku tapi tidak membacanya beliau juga bertanya: Mengapa buku dibawa kok tidak dibaca? (maaf saya selalu menangis kalau mengingat-ingat hal ini). Satu hari saya berpapasan dengan beliau dan didepan saya ada sobekan koran. Beliau perintahkan " PUNGUT !". sayapun memungutnya dan hendak membuangnya ke tong sampah, namun beliau memerintahkan saya untuk membacanya dahulu. Karena korannya sudah lama dan usang sayapun menjawab: Maaf Pak Yai ini koran lama. Dengan pandangan mata yang teramat tajam beliau menatap saya, rasa merindingnya masih sampai sekarang. Beliau bilang dengan lirih: Ya bunayya korannya memang lama, tapi apa kamu sudah membacanya atau belum? Kejadian itu di depan Perdos (Perumahan Dosen, berada dibelakang rumah lama Keluarga Kyai Imam Zarkasyi). Peristiwanya tidak berhenti sampai di situ. Saya diminta duduk dan membaca potongan koran lusuh itu. Ketika selesai sayapun bangkit minta diri, tapi beliau meminta potongan koran itu dan mulai menanyai saya hampir lima puluhan pertanyaan yang bersumber dari satu alinea saja bahan bacaan itu, tentu saja saya KO berat. Di akhir peristiwa itu beliau berkata: Anak Lombok ya? Makanya kalau membaca jangan setengah setengah. belum lima menit saja sudah lupa. Baca yang bagus...."mocone sing telaten" Keesokan harinya dalam wejangan untuk kelas Lima (saya kelas lima waktu itu, tahun 1981) beliau menceritakan kasus itu dan menegaskan: "Di dalam rumah saya ada aturan, bahwa anak-anak saya yang tidak sedang membaca akan disuruh bekerja terur...terus...terus....sampai dia meminta waktu istirahat dan istirahatnya adalah untuk membaca. Hanya anak yang sakit saja yang boleh tidak membaca dan tidak bekerja" KETIKA MENONTON FILM NEGERI 5 MENARA, SAYA MENYESAL TIDAK DIIKUTKAN MEMBERI MASUKAN SEHINGGA SEHARUSNYA KEJADIAN SEPERTI ITU DIMASUKKAN UNTUK MENGGETARKAN DUNIA. "Iqro' ya Bunayya " *Dari: KH. Hasanain Juaini (Pengasuh PM Nurul Haromain - NTB)

 Poto Kunjungan Presiden Soeharto tempo dulu sekitar th 70an diapit Oleh Pendiri Gontor KH Imam Zarkasyi dan KH Ahmad Sahal( Ayah KH Hasan Abdullah Sahal) 



Ada kisah menarik yg diceritakan salah seorang Alumni yg pernah merasakan Langsung didikan dr salah satu Trimurti Gontor, Simak ceritanya Sambil "ngohwah" he.he


SOSOK KH. IMAM ZARKASYI: IQRO' YA BUNAYYA*


Ibu-bapak pasti tahu nama Kyai Haji Imam Zarkasyi, tapi bisakah anda membayangkan sosoknya? Atau melihat langsung aksinya?


Di kamar tidur beliau selalu tergelar sajadah yang di atasnya ada untaian tasbih. Saya tahu tahu karena sering menyapu ruangan itu. Allahumma saya bersyukur dapat mengabdikan hidupku untuk beliau. Di belakang sajadah itu dekat jendela ada kertas HITAM bertuliskan tinda emas berbunyi: "Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan".


Di luar jam mengajar beliau keluar rumah, memakai kaos oblong warna putih cap kodok dan mengalungkan handuk kecil untuk menyeka keringat. Biasanya membawa alat-alat pertukangan seperti martil, obeng atau tang. keliling melihat-lihat papan tulis yang tergantung tidak rapi maka diluruskan, memeriksa meja bangku yang ringkih maka dipasaknya, pintu-pintu kelas yang engselnya rusak dicatat dan diperintahkan untuk diperbaiki.


Jika ada kelas yang kosong, maka beliau masuk mengajar. Jika ada sebelahnya lagi yang kosong maka ditingggalkan songkoknya di kelas yang dimasuki terdahulu dan beliau memasuki kels kosong yang ribut itu. Sering terjadi beliau langsung pulang setelah mengisi kelas dengan amat sangat serius, maka songkok hitamnya ketinggalan di kelas sehinga tak satupun santri yang berani meninggalkan kelas sebelum beliau datang kembali mengambil songkoknya (sekalipun sudah jam pulang). Ketua kelas harus mendatangi beliau dan bertanya apakah beliau akan masuk kembali agar kami menunggunya?


Kalau berpapasan dengan santri yang tidak membawa buku maka beliau akan mencegat dan menanyakan: mengapa tidak membawa buku? Kalau bertemu dengan anak yang membawa buku tapi tidak membacanya beliau juga bertanya: Mengapa buku dibawa kok tidak dibaca? (maaf saya selalu menangis kalau mengingat-ingat hal ini).


Satu hari saya berpapasan dengan beliau dan didepan saya ada sobekan koran. Beliau perintahkan " PUNGUT !". sayapun memungutnya dan hendak membuangnya ke tong sampah, namun beliau memerintahkan saya untuk membacanya dahulu. Karena korannya sudah lama dan usang sayapun menjawab: Maaf Pak Yai ini koran lama. Dengan pandangan mata yang teramat tajam beliau menatap saya, rasa merindingnya masih sampai sekarang. Beliau bilang dengan lirih: Ya bunayya korannya memang lama, tapi apa kamu sudah membacanya atau belum?


Kejadian itu di depan Perdos (Perumahan Dosen, berada dibelakang rumah lama Keluarga Kyai Imam Zarkasyi). Peristiwanya tidak berhenti sampai di situ. Saya diminta duduk dan membaca potongan koran lusuh itu. Ketika selesai sayapun bangkit minta diri, tapi beliau meminta potongan koran itu dan mulai menanyai saya hampir lima puluhan pertanyaan yang bersumber dari satu alinea saja bahan bacaan itu, tentu saja saya KO berat. Di akhir peristiwa itu beliau berkata: Anak Lombok ya? Makanya kalau membaca jangan setengah setengah. belum lima menit saja sudah lupa. Baca yang bagus...."mocone sing telaten"


Keesokan harinya dalam wejangan untuk kelas Lima (saya kelas lima waktu itu, tahun 1981) beliau menceritakan kasus itu dan menegaskan:


"Di dalam rumah saya ada aturan, bahwa anak-anak saya yang tidak sedang membaca akan disuruh bekerja terur...terus...terus....sampai dia meminta waktu istirahat dan istirahatnya adalah untuk membaca. Hanya anak yang sakit saja yang boleh tidak membaca dan tidak bekerja"


KETIKA MENONTON FILM NEGERI 5 MENARA, SAYA MENYESAL TIDAK DIIKUTKAN MEMBERI MASUKAN SEHINGGA SEHARUSNYA KEJADIAN SEPERTI ITU DIMASUKKAN UNTUK MENGGETARKAN DUNIA. "Iqro' ya Bunayya "


*Dari: KH. Hasanain Juaini (Pengasuh PM Nurul Haromain - NTB)

Ikutan Berebut Salaman Tiga pejabat negara ini pernah melakukan kunjungan ke Purwokerto yang membuat saya sebagai remaja terdorong ikut berebut salaman dengan beliau-beliau: Jenderal M Yusuf, Prof. Daoed Joesoef, Jenderal Suparjo Rustam. Kejadiannya sudah lama sekali, di awal-awal tahun 80-an. Jenderal M Yusuf saat itu adalah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Beliau datang ke Purwokerto untuk meresmikan patung Gatot Subroto di bunderam RS Margono Sukaryo. Profesor Daoed Joesoef waktu itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau ke Purwokerto untuk mengunjungi kampus SPGN Purwokerto yang baru saja dianugerahi gelar sebagai sekolahan paling bersih dan paling rapi se-Indonesia. Sekolahan saya waktu itu adalah SMPN 2 Purwokerto yang lokasinya persis bersebelahan dengan SPGN. Di luar acara protokoler, tiba-tiba Pak Menteri menyeberang ke SMP kami. Jadilah, sekolahan kami yang kala itu sedang tidak punya hajatan apa-apa ikut dikunjungi Pak Menteri. Jenderal Suparjo Rustam kala itu menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah. Beliau datang ke Purwokerto untuk menemani Pak Menteri Daoed Joesoef ke SPGN sekalian SMPN 2. Bagi remaja di kota kecil, bertemu langsung dengan pejabat tinggi negara yang sebelumnya hanya dilihat di halaman koran dan televisi sontak menjadi momen istimewa. Tanpa diberi aba-aba, kami berlarian mendekat dan berebut untuk bersalaman. Seingat saya, saat itu pengawalan para pejabat ini cukup longgar. Makanya kami anak-anak remaja bisa berada sangat dekat. Beberapa di antara teman saya bawa spidol dan meminta beliau-beliau membubuhkan tanda tangan di baju mereka.

 Ikutan Berebut Salaman



Tiga pejabat negara ini pernah melakukan kunjungan ke Purwokerto yang membuat saya sebagai remaja terdorong ikut berebut salaman dengan beliau-beliau: Jenderal M Yusuf, Prof. Daoed Joesoef, Jenderal Suparjo Rustam. Kejadiannya sudah lama sekali, di awal-awal tahun 80-an.


Jenderal M Yusuf saat itu adalah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Beliau datang ke Purwokerto untuk meresmikan patung Gatot Subroto di bunderam RS Margono Sukaryo.


Profesor Daoed Joesoef waktu itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau ke Purwokerto untuk mengunjungi kampus SPGN Purwokerto yang baru saja dianugerahi gelar sebagai sekolahan paling bersih dan paling rapi se-Indonesia. Sekolahan saya waktu itu adalah SMPN 2 Purwokerto yang lokasinya persis bersebelahan dengan SPGN. Di luar acara protokoler, tiba-tiba Pak Menteri menyeberang ke SMP kami. Jadilah, sekolahan kami yang kala itu sedang tidak punya hajatan apa-apa ikut dikunjungi Pak Menteri.


Jenderal Suparjo Rustam kala itu menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah. Beliau datang ke Purwokerto untuk menemani Pak Menteri Daoed Joesoef ke SPGN sekalian SMPN 2.


Bagi remaja di kota kecil, bertemu langsung dengan pejabat tinggi negara yang sebelumnya hanya dilihat di halaman koran dan televisi sontak menjadi momen istimewa. Tanpa diberi aba-aba, kami berlarian mendekat dan berebut untuk bersalaman. Seingat saya, saat itu pengawalan para pejabat ini cukup longgar. Makanya kami anak-anak remaja bisa berada sangat dekat. Beberapa di antara teman saya bawa spidol dan meminta beliau-beliau membubuhkan tanda tangan di baju mereka.

Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo menjabat sebagai Panglima Komando Tempur II (Pangkopur II) di bawah Komando Mandala Siaga (Kolaga) pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia (Operasi Dwikora) tahun 1965. Markas tempurnya saat itu berada di Bengkayang, Kalimantan Barat Salah satu dokumentasi bersejarah yang paling terkenal dari periode ini adalah foto kunjungan kerja Mayjen Soeharto (yang kala itu menjabat sebagai Panglima Kostrad sekaligus Wakil Panglima I Kolaga) saat meninjau kesiapan pasukan di perbatasan Kalimantan Barat. Dalam foto tersebut, Brigjen Supardjo tampak mendampingi Soeharto di pos tempur. Secara kronologis, pada tanggal 28 September 1965, Brigjen Supardjo meninggalkan pos tempurnya di Kalimantan Barat tanpa izin resmi dari Panglima Kostrad untuk terbang ke Jakarta, yang kemudian membawanya terlibat langsung dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

 Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo menjabat sebagai Panglima Komando Tempur II (Pangkopur II) di bawah Komando Mandala Siaga (Kolaga) pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia (Operasi Dwikora) tahun 1965. Markas tempurnya saat itu berada di Bengkayang, Kalimantan Barat

Salah satu dokumentasi bersejarah yang paling terkenal dari periode ini adalah foto kunjungan kerja Mayjen Soeharto (yang kala itu menjabat sebagai Panglima Kostrad sekaligus Wakil Panglima I Kolaga) saat meninjau kesiapan pasukan di perbatasan Kalimantan Barat. Dalam foto tersebut, Brigjen Supardjo tampak mendampingi Soeharto di pos tempur. 

Secara kronologis, pada tanggal 28 September 1965, Brigjen Supardjo meninggalkan pos tempurnya di Kalimantan Barat tanpa izin resmi dari Panglima Kostrad untuk terbang ke Jakarta, yang kemudian membawanya terlibat langsung dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).



Kisah Tentara Pelajar Madiun Nan Heroik "Eksistensi Tuhan tidak masuk akal. Tuhan adalah konsep yang menjijikkan. Pendek kata, aku menaruh dendam pada Tuhan. Agama adalah candu bagi masyarakat. Menghujat agama adalah yang terpenting." (Karl Marx) Pemikiran Karl Marx ini menjelaskan kepada kita mengapa orang-orang komunis sangat benci kepada kaum agama. Menjelaskan mengapa Muso ataupun Aidit menjadikan para ulama dan santri sebagai sasaran utama pembantaian. Mereka berusaha mengamalkan doktrin yang diajarkan Karl Marx. Jika ada manusia yang tega membunuh saudara kandungnya sendiri, maka komunis jawabnya. Jika ada anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri, maka komunis jawabnya. Entah hati mereka telah tertutupi kebencian sebesar apa, hingga tega membunuh saudara yang masih memiliki ikatan darah. Tak hanya kaum agama yang menjadi sasaran utama, tetapi juga kaum pelajar. Bisa kau bayangkan para pelajar yang bertubuh kecil itu juga tak lepas dari kebengisan tentara PKI? Pelajar yang setiap hari hanya memegang buku dan pulpen itu dengan gagah berani melawan tentara Muso di Madiun. Kisah para pelajar di SMP 2 Madiun di bulan September 1948 membuatku takjub. Keberanian mereka melawan tentara Muso yang baru saja mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun membuatku tak bisa berkata-kata, saking mengagumi keberanian mereka. Sekaligus membuatku geram. Karena pada kejadian ini ada seorang siswa yang dicincang oleh kakaknya sendiri karena berbeda barisan. Kakaknya yang tergabung dalam tentara FDR (Front Demokrasi Rakyat) underbouw PKI begitu tega mencincang adiknya sendiri yang masih berstatus pelajar SMP. Sudah kukatakan padamu, bahwa seseorang yang sudah memeluk ideologi komunis begitu tega membantai manusia lain, termasuk keluarganya sendiri. Adalah Mulyadi, seorang siswa SMP 2 Madiun. Mulyadi memiliki jiwa heroik. Meski secara fisik masih kecil, hanya seorang pelajar SMP, tapi dia memiliki keberanian layaknya tentara. Mulyadi tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang berdiri sejak Agresi Militer Belanda pertama di Madiun. Markas utama TRIP adalah SMP 2 Madiun. Sejak Muso memproklamirkan Republik Indonesia Soviet tanggal 18 September 1948, para anggota TRIP bersiap siaga di markas mereka. Para pelajar SMP yang sebagian besar belum berkumis itu dengan gagah berani mempertahankan marka. mereka tak sudi bergabung dengan Muso. Mereka akan memperjuangkan NKRI hingga titik darah penghabisan. Jujur, hatiku gerimis membayangkan para siswa SMP ini. Salut, bangga, sekaligus terharu dengan keberanian mereka. Saat itu tanggal 21 September 1948, tentara FDR PKI menyerang SMP 2 Madiun. Berusaha mengajak para siswa yang tergabung dalam TRIP ini untuk patuh pada komando Muso. Bergabung dalam barisan PKI. Meskipun hanya terdiri dari para pelajar yang sebagian belum berkumis, tapi TRIP dengan gagah berani menolak ajakan tersebut. Mereka tau resiko dari penolakan tersebut. Yaitu nyawa mereka di ujung tanduk. Saat itu Mulyadi sedang mendapat tugas untuk berjaga sebagai pengawal markas TRIP brigade 17. Tanpa ampun, Mulyadi langsung diberondong tembakan. Darah Mulyadi mengalir membasahi SMP 2 Madiun. Darah pertama yang tertumpah di barisan TRIP. Yang menyedihkan Mulyadi diberondong tembakan oleh Mulyono, kakak kandungnya sendiri. Mulyono yang sudah bergabung dengan tentara FDR PKI begitu tega menghabisi adik kandungnya sendiri. Sesudah ditembaki, jenazah Mulyadi ditusuki ramai-ramai dengan belati yang berada di ujung senapan hingga tak berbentuk lagi. Andaikan ibu kandung Mulyadi melihat pemandangan itu, pastilah dia akan menangis tiada henti. Tak mengerti mengapa Mulyono begitu tega membunuh adik kandungnya sendiri. Ikatan darah mereka seakan tak mampu menghentikan kebengisan jiwa Mulyono yang sudah dirasuki faham komunisme. Setelah pembantaian Mulyadi yang bertugas sebagai pengawal, pasukan FDR PKI merangsek maju. Apalah arti perlawanan anak-anak SMP? Perlawanan mereka segera bisa dipadamkan. Seluruh siswa yang tergabung dalam TRIP itu ditawan PKI. Senjata mereka dilucuti. Tangan mereka diikat dan disuruh berjalan jongkok. Mereka dikumpulkan di lapangan sekolah. Kemudian kesemua siswa TRIP itu dimasukan ke Lapas Madiun. Mereka tidak sudi bergabung dengan tentara komunis. Tanggal 28 September 1948 tentara Divisi Siliwangi menyerang tentara komunis. Saat itu pasukan merah kocar-kacir. Saking kalut, mereka menembaki para tawanan TRIP. Saat itu gugur 7 orang siswa yang tergabung dalam TRIP... Sungguh keberanian para pelajar ini membuat kita semua takjub. Meskipun fisik mereka ringkih, tapi keberanian mereka untuk mempertahankan NKRI tak diragukan lagi. Mereka berani melawan tentara komunis meskipun tau nyawa sebagai taruhannya. Sebuah keberanian yang sulit ditemukan pada pelajar di zaman ini... Mengenang TRIP adalah mengenang keberanian para pelajar....hormat setingi-tingginya untuk mereka...

 Kisah Tentara Pelajar Madiun Nan Heroik



"Eksistensi Tuhan tidak masuk akal. Tuhan adalah konsep yang menjijikkan. Pendek kata, aku menaruh dendam pada Tuhan. Agama adalah candu bagi masyarakat. Menghujat agama adalah yang terpenting." (Karl Marx)


Pemikiran Karl Marx ini menjelaskan kepada kita mengapa orang-orang komunis sangat benci kepada kaum agama. Menjelaskan mengapa Muso ataupun Aidit menjadikan para ulama dan santri sebagai sasaran utama pembantaian. Mereka berusaha mengamalkan doktrin yang diajarkan Karl Marx.


Jika ada manusia yang tega membunuh saudara kandungnya sendiri, maka komunis jawabnya. Jika ada anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri, maka komunis jawabnya. Entah hati mereka telah tertutupi kebencian sebesar apa, hingga tega membunuh saudara yang masih memiliki ikatan darah.


Tak hanya kaum agama yang menjadi sasaran utama, tetapi juga kaum pelajar. Bisa kau bayangkan para pelajar yang bertubuh kecil itu juga tak lepas dari kebengisan tentara PKI? Pelajar yang setiap hari hanya memegang buku dan pulpen itu dengan gagah berani melawan tentara Muso di Madiun.


Kisah para pelajar di SMP 2 Madiun di bulan September 1948 membuatku takjub. Keberanian mereka melawan tentara Muso yang baru saja mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun membuatku tak bisa berkata-kata, saking mengagumi keberanian mereka.


Sekaligus membuatku geram. Karena pada kejadian ini ada seorang siswa yang dicincang oleh kakaknya sendiri karena berbeda barisan. Kakaknya yang tergabung dalam tentara FDR (Front Demokrasi Rakyat) underbouw PKI begitu tega mencincang adiknya sendiri yang masih berstatus pelajar SMP. Sudah kukatakan padamu, bahwa seseorang yang sudah memeluk ideologi komunis begitu tega membantai manusia lain, termasuk keluarganya sendiri.


Adalah Mulyadi, seorang siswa SMP 2 Madiun. Mulyadi memiliki jiwa heroik. Meski secara fisik masih kecil, hanya seorang pelajar SMP, tapi dia memiliki keberanian layaknya tentara. Mulyadi tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang berdiri sejak Agresi Militer Belanda pertama di Madiun. Markas utama TRIP adalah SMP 2 Madiun.


Sejak Muso memproklamirkan Republik Indonesia Soviet tanggal 18 September 1948, para anggota TRIP bersiap siaga di markas mereka. Para pelajar SMP yang sebagian besar belum berkumis itu dengan gagah berani mempertahankan marka.  mereka tak sudi bergabung dengan Muso. Mereka akan memperjuangkan NKRI hingga titik darah penghabisan. Jujur, hatiku gerimis membayangkan para siswa SMP ini. Salut, bangga, sekaligus terharu dengan keberanian mereka.


Saat itu tanggal 21 September 1948, tentara FDR PKI menyerang SMP 2 Madiun. Berusaha mengajak para siswa yang tergabung dalam TRIP ini untuk patuh pada komando Muso. Bergabung dalam barisan PKI.


Meskipun hanya terdiri dari para pelajar yang sebagian belum berkumis, tapi TRIP dengan gagah berani menolak ajakan tersebut. Mereka tau resiko dari penolakan tersebut. Yaitu nyawa mereka di ujung tanduk.


Saat itu Mulyadi sedang mendapat tugas untuk berjaga sebagai pengawal markas TRIP brigade 17. Tanpa ampun, Mulyadi langsung diberondong tembakan. Darah Mulyadi mengalir membasahi SMP 2 Madiun. Darah pertama yang tertumpah di barisan TRIP.


Yang menyedihkan Mulyadi diberondong tembakan oleh Mulyono, kakak kandungnya sendiri. Mulyono yang sudah bergabung dengan tentara FDR PKI begitu tega menghabisi adik kandungnya sendiri. Sesudah ditembaki, jenazah Mulyadi ditusuki ramai-ramai dengan belati yang berada di ujung senapan hingga tak berbentuk lagi.


Andaikan ibu kandung Mulyadi melihat pemandangan itu, pastilah dia akan menangis tiada henti. Tak mengerti mengapa Mulyono begitu tega membunuh adik kandungnya sendiri. Ikatan darah mereka seakan tak mampu menghentikan kebengisan jiwa Mulyono yang sudah dirasuki faham komunisme. 


Setelah pembantaian Mulyadi yang bertugas sebagai pengawal, pasukan FDR PKI merangsek maju. Apalah arti perlawanan anak-anak SMP? Perlawanan mereka segera bisa dipadamkan. Seluruh siswa yang tergabung dalam TRIP itu ditawan PKI. Senjata mereka dilucuti. Tangan mereka diikat dan disuruh berjalan jongkok. Mereka dikumpulkan di lapangan sekolah. Kemudian kesemua siswa TRIP itu dimasukan ke Lapas Madiun. Mereka tidak sudi bergabung dengan tentara komunis. 


Tanggal 28 September 1948 tentara Divisi Siliwangi menyerang tentara komunis. Saat itu pasukan merah kocar-kacir. Saking kalut, mereka menembaki para tawanan TRIP. Saat itu gugur 7 orang siswa yang tergabung dalam TRIP...


Sungguh keberanian para pelajar ini membuat kita semua takjub. Meskipun fisik mereka ringkih, tapi keberanian mereka untuk mempertahankan NKRI tak diragukan lagi. Mereka berani melawan tentara komunis meskipun tau nyawa sebagai taruhannya. Sebuah keberanian yang sulit ditemukan pada pelajar di zaman ini...


Mengenang TRIP adalah mengenang keberanian para pelajar....hormat setingi-tingginya untuk mereka...



Sumber : Widi Astuti

29 September 2026

Perkawinan Mangkunegara VII Surakarta dg putri Sultan Hamengkubuwana VII dan Gusti Kanjeng Ratu Kencana II th 1920 Kelak putri keraton ngayogyakarta ini dikenal dg nama Gusti Ratu Timur. Dari perkawinan ini menghasilkan keturunan Gusti Nurul kembang Mangkunegaran.

 Perkawinan Mangkunegara VII Surakarta dg putri Sultan Hamengkubuwana VII dan Gusti Kanjeng Ratu Kencana II th 1920

Kelak putri keraton ngayogyakarta ini dikenal dg nama Gusti Ratu Timur. Dari perkawinan ini menghasilkan keturunan Gusti Nurul kembang Mangkunegaran.



Sumbrt : Jejak Sejarah Mataram

Persekusi Terhadap Masyumi Di masa Demokrasi Terpimpin, PKI semakin menancapkan pengaruhnya pada pemerintahan. Bisa dikatakan saat itu PKI paling menentukan kebijakan negri ini. Meskipun sudah melakukan pemberontakan berdarah di tahun 1948, tapi seakan-akan kasus itu terlupakan begitu saja. Semakin bergesernya bandul Soekarno pada PKI membuat tekanan-tekanan pada para tokoh oposisi yang anti komunis semakin keras. Intimidasi dan teror dilakukan oleh "orang-orang tidak dikenal". Suara oposisi satu persatu dibungkam. Rezim Soekarno pada tahun 1960 lewat PEPERTI No 10 tahun 1960, mengeluarkan peraturan untuk menaati 19 pernyataan setia bagi pers. Yaitu mendukung, membela, taat, patuh, membantu, menjadi alat, tidak memuat berita sensasional yang menghina pejabat negara. Pada 31 Oktober 1960, koran harian Abadi milik Masyumi memilih tidak mengeluarkan pernyataaan setia tersebut. Dalam tajuk rencana edisi terakhir, koran tersebut berpamitan kepada para pembacanya karena suasana utk menyatakan pendapat sudah tidak ada lagi. Rabu, 16 Januari 1962 pukul 03.30 pagi, rumah Yunan Nasution mantan sekjen Masyumi didatangi tiga orang polisi militer. Meskipun Masyumi sudah dibubarkan tapi tokoh-tokohnya masih diintimidasi. Atas perintah Penguasa Perang Tertinggi (Peperti), Yunan Nasution ditangkap tanpa ada alasab yg jelas. Yunan tak tahu, bahwa hari itu adalah hari pertama kebebasannya direnggut hingga 4.5 tahun berikutnya tanpa proses peradilan. Pengurus Masyumi yang lainnya juga ditangkap paksa. Muhammad Roem, Prawoto, KH Isa Anshary, EZ Muttaqien, Mochtar Ghozali ditangkap tanpa pernah tau kesalahannya. Moh Roem adalah salah satu tokoh Masyumi yang ditangkap. Penangkapan dirinya sangat janggal karena ia tidak terlibat dalam peristiwa PRRI. Ia diperiksa di kantor penguasa perang tertinggi. Meskipun ia adalah seorang pejuang bangsa, tapi tak ada penghargaan sama sekali terhadap dirinya. Ia diinterogasi laksana kriminal. Ia dipotret menggunakan papan digantung di lehernya dg tulisan "Mr. Mohammad Roem". Ia dipotret dari depan dan dari samping, sama seperti penjahat-penjahat yg dipotret dengan cara demikian. Para tokoh Masyumi ditangkap tanpa proses peradilan. Tempat penahanan mereka pun berpindah-pindah tanpa ada pemberitahuan pada keluarga. Para tahanan politik itu mengalami diskriminasi. Hal ini bisa dilihat dari perlakuan yg berbeda soal jam besuk, hingga tidak beradabnya perlakuan dan pemeriksaan terhadap barang-barang yg dibawa para pembesuk. Dan perlakuan yg amat menekan dirasakan ketika para tahanan membutuhkan pengobatan. Seringkali para tahanan baru dapat diobati setelah menunggu selama dua minggu. Pengobatan sengaja diulur-ulur waktunya. Padahal tahanan yg sakit membutuhkan pengobatan dg segera. Hal ini dialami oleh KH Isa Anshary dan Sholeh Iskandar. Imron Rosjadi, tokoh GP Anshor juga ditahan. Saat itu dia sakit tapi digeletakkan begitu saja di depan salah satu ruangan selama berjam-jam. Padahal saat itu ia perlu segera dioperasi. Kejadian mengenaskan juga dialami Sutan Sjahrir, tokoh sosialis yg ditahan. Saat itu Sutan Sjahrir jatuh di kamar mandi krn tekanan darah tinggi yg diidapnya. Segera saja para tahanan mengurus Sutan Sjahrir agar segera dibawa ke dokter. Namun usaha tersebut tidak berhasil karena persoalan prosedur. Baru keesokan siangnya Sutan Sjahrir dapat dibawa ke Rumah Sakit. Perlakuan-perlakuan mengenaskan bagi para tahanan itu terjadi hingga bertahun-tahun.

 Persekusi Terhadap Masyumi



Di masa Demokrasi Terpimpin, PKI semakin menancapkan pengaruhnya pada pemerintahan. Bisa dikatakan saat itu PKI paling menentukan kebijakan negri ini. Meskipun sudah melakukan pemberontakan berdarah di tahun 1948, tapi seakan-akan kasus itu terlupakan begitu saja.


Semakin bergesernya bandul Soekarno pada PKI membuat tekanan-tekanan pada para tokoh oposisi yang anti komunis semakin keras. Intimidasi dan teror dilakukan oleh "orang-orang tidak dikenal". 


Suara oposisi satu persatu dibungkam. Rezim Soekarno pada tahun 1960 lewat PEPERTI No 10 tahun 1960, mengeluarkan peraturan untuk menaati 19 pernyataan setia bagi pers. Yaitu mendukung, membela, taat, patuh, membantu, menjadi alat, tidak memuat berita sensasional yang menghina pejabat negara. 


Pada 31 Oktober 1960, koran harian Abadi milik Masyumi memilih tidak mengeluarkan pernyataaan setia tersebut. Dalam tajuk rencana edisi terakhir, koran tersebut berpamitan kepada para pembacanya karena suasana utk menyatakan pendapat sudah tidak ada lagi.


Rabu, 16 Januari 1962 pukul 03.30 pagi, rumah Yunan Nasution mantan sekjen Masyumi didatangi tiga orang polisi militer. Meskipun Masyumi sudah dibubarkan tapi tokoh-tokohnya masih diintimidasi. Atas perintah Penguasa Perang Tertinggi (Peperti), Yunan Nasution ditangkap tanpa ada alasab yg jelas.


Yunan tak tahu, bahwa hari itu adalah hari pertama kebebasannya direnggut hingga 4.5 tahun berikutnya tanpa proses peradilan. Pengurus Masyumi yang lainnya juga ditangkap paksa. Muhammad Roem, Prawoto, KH Isa Anshary, EZ Muttaqien, Mochtar Ghozali ditangkap tanpa pernah tau kesalahannya. 


Moh Roem adalah salah satu tokoh Masyumi yang ditangkap. Penangkapan dirinya sangat janggal karena ia tidak terlibat dalam peristiwa PRRI. Ia diperiksa di kantor penguasa perang tertinggi. Meskipun ia adalah seorang pejuang bangsa, tapi tak ada penghargaan sama sekali terhadap dirinya. Ia diinterogasi laksana kriminal. Ia dipotret menggunakan papan digantung di lehernya dg tulisan "Mr. Mohammad Roem". Ia dipotret dari depan dan dari samping, sama seperti penjahat-penjahat yg dipotret dengan cara demikian.


Para tokoh Masyumi ditangkap tanpa proses peradilan. Tempat penahanan mereka pun berpindah-pindah tanpa ada pemberitahuan pada keluarga. 


Para tahanan politik itu mengalami diskriminasi. Hal ini bisa dilihat dari perlakuan yg berbeda soal jam besuk, hingga tidak beradabnya perlakuan dan pemeriksaan terhadap barang-barang yg dibawa para pembesuk. Dan perlakuan yg amat menekan dirasakan ketika para tahanan membutuhkan pengobatan. Seringkali para tahanan baru dapat diobati setelah menunggu selama dua minggu. Pengobatan sengaja diulur-ulur waktunya. Padahal tahanan yg sakit membutuhkan pengobatan dg segera. Hal ini dialami oleh KH Isa Anshary dan Sholeh Iskandar.


Imron Rosjadi, tokoh GP Anshor juga ditahan. Saat itu dia sakit tapi digeletakkan begitu saja di depan salah satu ruangan selama berjam-jam. Padahal saat itu ia perlu segera dioperasi. Kejadian mengenaskan juga dialami Sutan Sjahrir, tokoh sosialis yg ditahan. Saat itu Sutan Sjahrir jatuh di kamar mandi krn tekanan darah tinggi yg diidapnya. Segera saja para tahanan mengurus Sutan Sjahrir agar segera dibawa ke dokter. Namun usaha tersebut tidak berhasil karena persoalan prosedur. Baru keesokan siangnya Sutan Sjahrir dapat dibawa ke Rumah Sakit. Perlakuan-perlakuan mengenaskan bagi para tahanan itu terjadi hingga bertahun-tahun.


Sumber  : Widi Astuti

28 September 2026

GELAR HAJI ADALAH GELAR PAHLAWAN YANG INGIN DIHAPUS PKI Gelar Haji di Indonesia bukan gelar wisata religi. Ia adalah gelar pahlawan yang dipaksakan Belanda kepada pribumi karena belanda takut terhadap pergerakan Islam Nusantara pada saat itu. Perang Jawa 1825-1830 Perang Diponegoro mengajarkan Belanda bahwa yang paling berbahaya bukan keraton, tapi jaringan kyai pulang haji. Perang Aceh 1873-1904 mengulanginya dengan Cut Nyak Dhien, singa betina yang memimpin gerilya belasan tahun. Diponegoro dan Cut Nyak Dhien sendiri tidak pernah dipanggil Haji, karena gelar itu belum ada. Selain itu belanda menghadapi perang Banjar 1859-1906 Pangeran Antasari. Kemudian perang Batak 1878-1907 Sisingamangaraja XII. Perang Bali Puputan 1846-1908 I Gusti Jelantik. Perang Lombok 1894, Jambi, Bone. Setelah sekitar 1908-1910, model perlawanan pribumi berubah. Karena perang fisik selalu kalah persenjataan, para tokoh beralih ke pergerakan organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PNI dan lain sebagainya. Setelah 1859 saat diterbitkan sertifikat haji dan Staatsblad 1903, atas saran Snouck Hurgronje diwajibkan lewat Ordonansi Haji 1916 bahwa setiap pribumi pulang dari Mekkah WAJIB pakai gelar Haji. Tujuannya pendataan. Siapa bergelar Haji dianggap berbahaya, ruang geraknya dibatasi, karena ia berilmu, berharta, punya jaringan dan wibawa massa. Dengan kata lain, yang mampu haji adalah garis perjuangan Diponegoro dan Cut Nyak Dhien. Pada tahun yang sama 1916 dijawab santri dengan Yalal Wathon karya KH Wahab Hasbullah, Hubbul Wathon Minal Iman. Kemudian dipopulerkan kembali 1923-1924. Stigma diubah jadi kebanggaan. 8 Desember 1944 lahir Laskar Hizbullah di Cibarusah, Tentara Allah dengan komando spiritual KH Hasyim Asy'ari. Isinya kyai-kyai haji dan santri. Mereka yang turun di Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan Surabaya 10 November 1945, lalu dilebur jadi TKR 5 Oktober 1945, TRI 1946, dan TNI 3 Juni 1947. Setelah itu sebagian lanjut jadi TNI, sebagian kembali jadi kyai, petani, pedagang. Tapi garisnya lurus: dari keris Diponegoro, rencong Cut Nyak Dhien, label Haji 1916, lagu Yalal Wathon 1916, Hizbullah 1944, hingga TNI 1947. Diantara para tokoh yang diberi gelar Haji oleh belanda karna membahayakan adalah : 1. H. O. S. Cokroaminoto — pahlawan nasional Indonesia. Setelah bergelar haji, nama Tjokroaminoto sering dipanggil dengan nama H.O.S (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto 2. Haji Agus Salim — pahlawan nasional Indonesia, ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961, diplomat ulung, Menteri Luar Negeri 3. Kiai Haji Ahmad Dahlan — pendiri Muhammadiyah, Pahlawan Nasional 27 Desember 1961 4. Haji Samanhudi — pendiri Sarekat Dagang Islam 1905 5. Haji Misbach — tokoh Sarekat Islam 6. KH Hasyim Asy'ari — pendiri NU 1926, Rais Akbar Hizbullah 1944 7. KH Wahab Hasbullah — pencipta Yalal Wathon 1916, jawaban atas ordonansi Haji 8. KH Wahid Hasyim — putra KH Hasyim Asy'ari, Menteri Agama pertama 9. KH Mas Mansur — Anggota BPUPKI 10. Hajjah Rangkayo Rasuna Said (1910-1965) 11. Hajjah Siti Walidah / Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946) 12. Hajjah Rohana Kudus / Roehana Koeddoes (1884-1972) Wartawati pertama Indonesia, pendiri sekolah Kerajinan Amai Setia, Pahlawan Nasional 2019. 13. Hajjah Opu Daeng Risaju (1880-1964) Tokoh Sarekat Islam di Luwu, Sulawesi, melawan Belanda sampai dipenjara. 14. Hajjah Siti Hartinah / Siti Munjiyah dan generasi Aisyiyah Anak-didik Nyai Ahmad Dahlan yang juga bergelar Hajah setelah haji, penggerak pendidikan perempuan Islam 1920-1930an. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Pasca kemerdekaan, gelar Haji yang dulu ditakuti penjajah belanda menjadi sangat diagungkan rakyat. Karena yang bergelar Haji/ Hajjah adalah panglima nyata di lapangan. Di sinilah perlawanan baru muncul. Pasca kemerdekaan, PKI melihat gelar Haji sebagai penghalang terbesar. Selama rakyat masih hormat pada Pak Haji, Bu Hajjah, rakyat akan ikut ulama, ikut pesantren, ikut garis perjuangan. Maka gelar Haji harus digikis. Caranya sistematis. Orang-orang santri yang bergelar Haji diejek sebagai kaum borjuis, tuan tanah, anti rakyat. Simbol-simbol haji direndahkan, kisah perjuangan kyai haji dianggap dongeng feodal. Tujuannya satu: agar pribumi, terutama yang simpatisan PKI, menganggap remeh garis perjuangan orang-orang yang sudah haji sebagai pahlawan. Jika derajat Haji bisa diturunkan, maka derajat ulama runtuh. Jika derajat ulama runtuh, maka benteng terakhir yang menjaga umat dari paham komunis juga runtuh. Itulah mengapa serangan PKI selalu pertama kali menyasar kyai haji dan pesantren, dari peristiwa 1948 sampai 1965. Maka hari ini ketika ada yang meremehkan gelar Kyai Haji/ Nyai Hajjah, ingatlah, itu bukan budaya kita. Budaya kita memuliakan Haji karena Haji adalah pahlawan. Gelar yang diciptakan Belanda untuk mengawasi, dipertahankan santri untuk berjuang, dan ingin dihapus PKI untuk menguasai, dan sekarang dikuti oleh orang-orang yang tidak mengenal sejarah. . Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #tokohkedirijadul #sejarahgelarhaji #gelarhaji #G30S #G30SPKI #GESTAPU #sejarahPKI #kotakedirijadul #kotalamakediri #kedirijawa #sejarahkedirijadul #wilayahkotakediri #kedirijamanpenjajahan #wisatakediri #alonalonkedirijadul #wisatakotakediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamanbelanda #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamandulu #sejarahkediri #kediritempodulu #kediritempoedoeloe #sejarahislam #sejarahislamnusantara #islamnusantara

 GELAR HAJI ADALAH GELAR PAHLAWAN YANG INGIN DIHAPUS PKI


Gelar Haji di Indonesia bukan gelar wisata religi. Ia adalah gelar pahlawan yang dipaksakan Belanda kepada pribumi karena belanda takut terhadap pergerakan Islam Nusantara pada saat itu.



Perang Jawa 1825-1830 Perang Diponegoro mengajarkan Belanda bahwa yang paling berbahaya bukan keraton, tapi jaringan kyai pulang haji. Perang Aceh 1873-1904 mengulanginya dengan Cut Nyak Dhien, singa betina yang memimpin gerilya belasan tahun. Diponegoro dan Cut Nyak Dhien sendiri tidak pernah dipanggil Haji, karena gelar itu belum ada.

Selain itu belanda menghadapi perang Banjar 1859-1906 Pangeran Antasari. Kemudian perang Batak 1878-1907 Sisingamangaraja XII. Perang Bali Puputan 1846-1908 I Gusti Jelantik. Perang Lombok 1894, Jambi, Bone.


Setelah sekitar 1908-1910, model perlawanan pribumi berubah. Karena perang fisik selalu kalah persenjataan, para tokoh beralih ke pergerakan organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PNI dan lain sebagainya.


Setelah 1859 saat diterbitkan sertifikat haji dan Staatsblad 1903, atas saran Snouck Hurgronje diwajibkan lewat Ordonansi Haji 1916 bahwa setiap pribumi pulang dari Mekkah WAJIB pakai gelar Haji. Tujuannya pendataan. Siapa bergelar Haji dianggap berbahaya, ruang geraknya dibatasi, karena ia berilmu, berharta, punya jaringan dan wibawa massa. Dengan kata lain, yang mampu haji adalah garis perjuangan Diponegoro dan Cut Nyak Dhien.


Pada tahun yang sama 1916 dijawab santri dengan Yalal Wathon karya KH Wahab Hasbullah, Hubbul Wathon Minal Iman. Kemudian dipopulerkan kembali 1923-1924.  Stigma diubah jadi kebanggaan. 8 Desember 1944 lahir Laskar Hizbullah di Cibarusah, Tentara Allah dengan komando spiritual KH Hasyim Asy'ari. Isinya kyai-kyai haji dan santri. Mereka yang turun di Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan Surabaya 10 November 1945, lalu dilebur jadi TKR 5 Oktober 1945, TRI 1946, dan TNI 3 Juni 1947.


Setelah itu sebagian lanjut jadi TNI, sebagian kembali jadi kyai, petani, pedagang. Tapi garisnya lurus: dari keris Diponegoro, rencong Cut Nyak Dhien, label Haji 1916, lagu Yalal Wathon 1916, Hizbullah 1944, hingga TNI 1947.


Diantara para tokoh yang diberi gelar Haji oleh belanda karna membahayakan adalah :

1. H. O. S. Cokroaminoto — pahlawan nasional Indonesia. Setelah bergelar haji, nama Tjokroaminoto sering dipanggil dengan nama H.O.S (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto

2. Haji Agus Salim — pahlawan nasional Indonesia, ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961, diplomat ulung, Menteri Luar Negeri

3. Kiai Haji Ahmad Dahlan — pendiri Muhammadiyah, Pahlawan Nasional 27 Desember 1961

4. Haji Samanhudi — pendiri Sarekat Dagang Islam 1905

5. Haji Misbach — tokoh Sarekat Islam

6. KH Hasyim Asy'ari — pendiri NU 1926, Rais Akbar Hizbullah 1944

7. KH Wahab Hasbullah — pencipta Yalal Wathon 1916, jawaban atas ordonansi Haji

8. KH Wahid Hasyim — putra KH Hasyim Asy'ari, Menteri Agama pertama

9. KH Mas Mansur — Anggota BPUPKI

10. Hajjah Rangkayo Rasuna Said (1910-1965)

11. Hajjah Siti Walidah / Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946)

12. Hajjah Rohana Kudus / Roehana Koeddoes (1884-1972) Wartawati pertama Indonesia, pendiri sekolah Kerajinan Amai Setia, Pahlawan Nasional 2019.

13. Hajjah Opu Daeng Risaju (1880-1964) Tokoh Sarekat Islam di Luwu, Sulawesi, melawan Belanda sampai dipenjara.

14. Hajjah Siti Hartinah / Siti Munjiyah dan generasi Aisyiyah Anak-didik Nyai Ahmad Dahlan yang juga bergelar Hajah setelah haji, penggerak pendidikan perempuan Islam 1920-1930an.

Dan masih banyak lagi yang lainnya.


Pasca kemerdekaan, gelar Haji yang dulu ditakuti penjajah belanda menjadi sangat diagungkan rakyat. Karena yang bergelar Haji/ Hajjah adalah panglima nyata di lapangan.


Di sinilah perlawanan baru muncul. Pasca kemerdekaan, PKI melihat gelar Haji sebagai penghalang terbesar. Selama rakyat masih hormat pada Pak Haji, Bu Hajjah, rakyat akan ikut ulama, ikut pesantren, ikut garis perjuangan. Maka gelar Haji harus digikis.


Caranya sistematis. Orang-orang santri yang bergelar Haji diejek sebagai kaum borjuis, tuan tanah, anti rakyat. Simbol-simbol haji direndahkan, kisah perjuangan kyai haji dianggap dongeng feodal. Tujuannya satu: agar pribumi, terutama yang simpatisan PKI, menganggap remeh garis perjuangan orang-orang yang sudah haji sebagai pahlawan.


Jika derajat Haji bisa diturunkan, maka derajat ulama runtuh. Jika derajat ulama runtuh, maka benteng terakhir yang menjaga umat dari paham komunis juga runtuh. Itulah mengapa serangan PKI selalu pertama kali menyasar kyai haji dan pesantren, dari peristiwa 1948 sampai 1965.


Maka hari ini ketika ada yang meremehkan gelar Kyai Haji/ Nyai Hajjah, ingatlah, itu bukan budaya kita. Budaya kita memuliakan Haji karena Haji adalah pahlawan. Gelar yang diciptakan Belanda untuk mengawasi, dipertahankan santri untuk berjuang, dan ingin dihapus PKI untuk menguasai, dan sekarang dikuti oleh orang-orang yang tidak mengenal sejarah.

.

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #tokohkedirijadul #sejarahgelarhaji #gelarhaji 

#G30S #G30SPKI #GESTAPU #sejarahPKI 

#kotakedirijadul #kotalamakediri #kedirijawa #sejarahkedirijadul #wilayahkotakediri #kedirijamanpenjajahan #wisatakediri #alonalonkedirijadul

#wisatakotakediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamanbelanda #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamandulu #sejarahkediri #kediritempodulu #kediritempoedoeloe

#sejarahislam #sejarahislamnusantara #islamnusantara

Potret sekelompok orang Eropa di bawah pohon besar. Kapulaun Banda 1860-1920

 Potret sekelompok orang Eropa di bawah pohon besar. Kapulaun Banda 1860-1920




Sumber : Andre Owen

Mengenang Kekejian PKI Mengenang PKI artinya mengenang sejarah kelam. Mengenang banjir darah para santri, ulama, dan kaum muslimin. Mengenang kekejian sesama anak bangsa yang durjana. Sungguh luka itu sangat dalam dan tak mungkin terlupakan. Ada rongga retak yang tak mungkin pulih seperti semula. Mengenang PKI artinya mengenang kisah-kisah pilu para syuhada di masa lalu. Mengajakku masuk ke lorong waktu untuk mengikuti kisah KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi pendiri Ponpes Gontor Ponorogo ketika melarikan diri ke Trenggalek. Tapi akhirnya rombongan sebanyak 70 santri itu tertawan PKI. Mereka disekap dan disiksa dalam satu ruangan berukuran 4x4 m. Saking sempitnya ruangan itu, mereka hanya bisa berdiri. Atau kisah Gorang-Gareng yang membuat bulu kuduk merinding. Sebanyak 200 santri diberondong tembakan di sebuah pabrik gula. Darah membanjiri ruangan itu hingga setumit. Kisah pembantaian KH Hamid Dimyathi beserta 14 santrinya di Wonogiri membuatku bergidik. Aktifis Partai Masyumi itu harus meregang nyawa oleh celurit PKI. Ada satu kisah yang baru kuketahui yaitu kisah Kutil dari Tegal. Dia kader komunis yang sangat militan dan bengis. Dia sudah memimpin pemberontakan PKI di tahun 1926. Kemudian berontak lagi pasca kemerdekaan. Dia membantai ulama, santri, Lurah, camat, wedana, Bupati area Tegal, Brebes, Pekalongan. Si Kutil buruk rupa terkenal sangat sadis. Siapapun yang berani menentangnya maka akan disembelih. Sungguh sangat mengerikan membaca perjalanan berdarah-darah Si Kutil Lenggaong Tegal. Dia mencincang opsir kereta api. Menyembelih Suparto selaku camat Adiwerna. Memecah kepala siapapun yang menentangnya. Serta mempermalukan RA Kardinah selaku ibu angkat Raden Sunaryo Bupati Tegal. RA Kardinah ini kakaknya RA Kartini. Ada juga kisah pembantaian dan pemerkosaan Kesultanan Langkat di Sumatra Utara. Seluruh anggota keluarga kesultanan dibantai, termasuk Amir Hamzah sang putra mahkota. Amir Hamzah terkenal sebagai penyair di masanya. Dan yang membuatku takjub adalah keberanian para tentara pelajar di Madiun. Mereka gigih melawan tentara FDR PKI ataupaun para warok Ponorogo. Meskipun secara persenjataan mereka kalah, tapi mereka tak mau takluk kepada Republik Soviet bentukan Muso. Para tentara pelajar yang masih belia itu rela bertarung hingga titik darah pemghabisan. Mereka gugur dengan gagah berani. Jangan kau tanyakan keberanian Hizbullah. Pasukan Hizbullah yang berisi para santri maju gagah berani. Bersama dengan pasukan Divisi Siliwangi, mereka bertempur melawan pasukan PKI. Teriakan takbir pasukan Hizbullah membuat bergetar siapapun yang mendengarnya. Terasa sekali mereka pasukan berani mati. Mereka membela kemuliaan para ulama, santri, serta seluruh penduduk negri. Mereka berusaha menjaga kedaulatan negri ini dengan tetesan darah dan air mata. Sebuah perjuangan riil, tak sekedar slogan yang mengaku paling NKRI.

 Mengenang Kekejian PKI 



Mengenang PKI artinya mengenang sejarah kelam. Mengenang banjir darah para santri, ulama, dan kaum muslimin. Mengenang kekejian sesama anak bangsa yang durjana. Sungguh luka itu sangat dalam dan tak mungkin terlupakan. Ada rongga  retak yang tak mungkin pulih seperti semula.


Mengenang PKI artinya mengenang kisah-kisah pilu para syuhada di masa lalu.  Mengajakku masuk ke lorong waktu untuk mengikuti kisah KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi pendiri Ponpes Gontor Ponorogo ketika melarikan diri ke Trenggalek. Tapi akhirnya rombongan sebanyak 70 santri itu tertawan PKI. Mereka disekap dan disiksa dalam satu ruangan berukuran 4x4 m. Saking sempitnya ruangan itu, mereka hanya bisa berdiri. 


Atau kisah Gorang-Gareng yang membuat bulu kuduk merinding. Sebanyak 200 santri diberondong tembakan di sebuah pabrik gula. Darah membanjiri ruangan itu hingga setumit.


Kisah pembantaian KH Hamid Dimyathi beserta 14 santrinya di Wonogiri membuatku bergidik. Aktifis Partai Masyumi itu harus meregang nyawa oleh celurit PKI.


Ada satu kisah yang baru kuketahui yaitu kisah Kutil dari Tegal. Dia kader komunis yang sangat militan dan bengis. Dia sudah memimpin pemberontakan PKI di tahun 1926. Kemudian berontak lagi pasca kemerdekaan. Dia membantai ulama, santri, Lurah, camat, wedana, Bupati area Tegal, Brebes, Pekalongan.


Si Kutil buruk rupa terkenal sangat sadis. Siapapun yang berani menentangnya maka akan disembelih. Sungguh sangat mengerikan membaca perjalanan berdarah-darah Si Kutil Lenggaong Tegal. Dia mencincang opsir kereta api. Menyembelih Suparto selaku camat  Adiwerna. Memecah kepala siapapun yang menentangnya. Serta mempermalukan RA Kardinah selaku ibu angkat Raden Sunaryo Bupati Tegal. RA Kardinah ini kakaknya RA Kartini.


Ada juga kisah pembantaian dan pemerkosaan Kesultanan Langkat di Sumatra Utara. Seluruh anggota keluarga kesultanan dibantai, termasuk Amir Hamzah sang putra mahkota. Amir Hamzah terkenal sebagai penyair di masanya.


Dan yang membuatku takjub adalah keberanian para tentara pelajar di Madiun. Mereka gigih melawan tentara FDR PKI ataupaun para warok Ponorogo. Meskipun secara persenjataan mereka kalah, tapi mereka tak mau takluk kepada Republik Soviet bentukan Muso. Para tentara pelajar yang masih belia itu rela bertarung hingga titik darah pemghabisan. Mereka gugur dengan gagah berani.


Jangan kau tanyakan keberanian Hizbullah. Pasukan Hizbullah yang berisi para santri maju gagah berani. Bersama dengan pasukan Divisi Siliwangi, mereka bertempur melawan pasukan PKI.


Teriakan takbir pasukan Hizbullah membuat bergetar siapapun yang mendengarnya. Terasa sekali mereka pasukan berani mati. Mereka membela kemuliaan para ulama, santri, serta seluruh penduduk negri.  Mereka berusaha menjaga kedaulatan negri ini dengan tetesan darah dan air mata. Sebuah perjuangan riil, tak sekedar slogan yang mengaku paling NKRI.



Sumber : Widi Astuti

Imigran Jawa di distrik CombĆ© dekat Paramaribo, Suriname, tahun 1894. Mereka tinggal di tempat penampungan sementara selama beberapa minggu sebelum ditempatkan di perkebunan sebagai buruh kontrak. Datang dengan kapal Voorwaarts pada tanggal 16 Juni 1894, sebanyak 582 orang tiba di Suriname setelah menempuh perjalanan selama 50 hari. Dalam perjalanan tersebut 32 orang meninggal dunia dan disusul 31 orang lagi setelah 10 hari kedatangan. šŸ“· Julius Eduard Muller/Special Collections of the University of Amsterdam

 Imigran Jawa di distrik CombĆ© dekat Paramaribo, Suriname, tahun 1894.



Mereka tinggal di tempat penampungan sementara selama beberapa minggu sebelum ditempatkan di perkebunan sebagai buruh kontrak. Datang dengan kapal Voorwaarts pada tanggal 16 Juni 1894, sebanyak 582 orang tiba di Suriname setelah menempuh perjalanan selama 50 hari. Dalam perjalanan tersebut 32 orang meninggal dunia dan disusul 31 orang lagi setelah 10 hari kedatangan. šŸ“· Julius Eduard Muller/Special Collections of the University of Amsterdam


Sumber : Andre Owen

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas Pertemuan Mayor Dihar, Komandan Batalyon Infanteri-508 dengan tokoh OPM bernama Rumbiak pada 1968. Semdam VIII. Setelah menyerah dan kembali ke NKRI Marthen Rumbiak,masuk pendidikan Catam tahun 1968 di kodam 13 medeka Manado. Terakhir pangkat Serka di Korem 171/PVT Manokwari.

 Noesantara Tempo Doeloe 

Potret lawas Pertemuan Mayor Dihar, Komandan Batalyon Infanteri-508 dengan tokoh OPM bernama Rumbiak pada 1968.

Semdam VIII.



Setelah menyerah dan kembali ke NKRI  Marthen Rumbiak,masuk pendidikan Catam tahun 1968 di kodam 13 medeka Manado.


Terakhir pangkat  Serka di Korem 171/PVT Manokwari.

šŸ”„šŸ”„šŸ”„ MAKAM LEMBU PETENG ( Bondan Kejawan) “Sang penyambung darah Majapahit dan Kesultanan Mataram Islam.” šŸ“œšŸ§­ ______________ Bayangkan sebuah malam di akhir masa kejayaan Majapahit. Di sudut istana, seorang bayi laki-laki lahir. Garis wajahnya menitiskan darah kebangsawanan tertinggi, namun takdir memaksanya untuk disembunyikan.Dialah Raden Bondan Kejawan, putra ke-14 dari sang raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabumi), dari rahim seorang dayang bernama Putri Wandan Sari (Wandan Kuning). Karena sebuah ramalan bahwa sang anak kelak akan membawa perubahan besar bagi takhta, ia harus dilarikan keluar dari gemerlap istana demi keselamatannya. Langkah takdir membawanya ke sebuah desa sunyi di Grobogan. Di sana, ia diasuh dan diangkat anak oleh tokoh legendaris, Ki Ageng Tarub (Jaka Tarub), yang kemudian memberinya nama Lembu Peteng. Di sinilah identitas aslinya melebur bersama tanah, bertani, dan menimba ilmu spiritual yang mendalam.Waktu berlalu, Lembu Peteng dinikahkan dengan putri Ki Ageng Tarub dan Dewi Nawangwulan, yaitu Dewi Nawangsih. Dari sinilah, sebuah simfoni sejarah baru dimulai. Pernikahan mereka melahirkan tiga orang putra-putri: Ki Ageng Wanasaba Ki Ageng Getas Pandawa Nyai Ageng Ngerang Jika kita menarik garis lurus dari putra kedua, yaitu Ki Ageng Getas Pandawa, garis keturunan ini melahirkan Ki Ageng Selo (sang penakluk petir), lalu turun ke Ki Ageng Pemanahan, hingga akhirnya melahirkan Panembahan Senopati, sang pendiri Kesultanan Mataram Islam. Lewat darah Raden Bondan Kejawan-lah, trah Majapahit kuno tidak pernah benar-benar punah, melainkan bermutasi melahirkan raja-raja Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, hingga Mangkunegaran yang kita kenal hari ini. Kini, raga sang pangeran bersemayam dalam keheningan. Jika kalian berkunjung ke Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, kalian akan menemukan kompleks makamnya yang bersahaja, berdiri berdampingan dengan makam mertuanya, Ki Ageng Tarub. Tempat ini bukan sekadar situs ziarah, melainkan sebuah prasasti bisu tempat bertemunya dua era besar yang membentuk peradaban Tanah Jawa. Tertarik untuk menapaki langsung jejak sunyi sejarah ini? šŸ‡²šŸ‡ØšŸ‘‡ Lokasi: Desa: Tarub, Kecamatan: Tawangharjo, Kabupaten: Grobogan, Provinsi: Jawa Tengah #makamkeramat #makamwaliyullah #bondankejawan

 šŸ”„šŸ”„šŸ”„

MAKAM LEMBU PETENG ( Bondan Kejawan)

“Sang penyambung darah Majapahit dan Kesultanan Mataram Islam.” šŸ“œšŸ§­



______________

Bayangkan sebuah malam di akhir masa kejayaan Majapahit. Di sudut istana, seorang bayi laki-laki lahir. Garis wajahnya menitiskan darah kebangsawanan tertinggi, namun takdir memaksanya untuk disembunyikan.Dialah Raden Bondan Kejawan, putra ke-14 dari sang raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V (Bhre Kertabumi), dari rahim seorang dayang bernama Putri Wandan Sari (Wandan Kuning). Karena sebuah ramalan bahwa sang anak kelak akan membawa perubahan besar bagi takhta, ia harus dilarikan keluar dari gemerlap istana demi keselamatannya.


Langkah takdir membawanya ke sebuah desa sunyi di Grobogan. Di sana, ia diasuh dan diangkat anak oleh tokoh legendaris, Ki Ageng Tarub (Jaka Tarub), yang kemudian memberinya nama Lembu Peteng. Di sinilah identitas aslinya melebur bersama tanah, bertani, dan menimba ilmu spiritual yang mendalam.Waktu berlalu, Lembu Peteng dinikahkan dengan putri Ki Ageng Tarub dan Dewi Nawangwulan, yaitu Dewi Nawangsih.

 Dari sinilah, sebuah simfoni sejarah baru dimulai. Pernikahan mereka melahirkan tiga orang putra-putri:


Ki Ageng Wanasaba

Ki Ageng Getas Pandawa

Nyai Ageng Ngerang


Jika kita menarik garis lurus dari putra kedua, yaitu Ki Ageng Getas Pandawa, garis keturunan ini melahirkan Ki Ageng Selo (sang penakluk petir), lalu turun ke Ki Ageng Pemanahan, hingga akhirnya melahirkan Panembahan Senopati, sang pendiri Kesultanan Mataram Islam.


Lewat darah Raden Bondan Kejawan-lah, trah Majapahit kuno tidak pernah benar-benar punah, melainkan bermutasi melahirkan raja-raja Kesultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta, hingga Mangkunegaran yang kita kenal hari ini.


Kini, raga sang pangeran bersemayam dalam keheningan. 

Jika kalian berkunjung ke Desa Tarub, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, kalian akan menemukan kompleks makamnya yang bersahaja, berdiri berdampingan dengan makam mertuanya, Ki Ageng Tarub.

Tempat ini bukan sekadar situs ziarah, melainkan sebuah prasasti bisu tempat bertemunya dua era besar yang membentuk peradaban Tanah Jawa.

Tertarik untuk menapaki langsung jejak sunyi sejarah ini? šŸ‡²šŸ‡ØšŸ‘‡


Lokasi: 

Desa: Tarub, Kecamatan: Tawangharjo, Kabupaten: Grobogan, Provinsi: Jawa Tengah 


#makamkeramat

#makamwaliyullah

#bondankejawan


Sumber : Hadi N Ikrom

MBAH MANAB DISURUH PULANG KE MAGELANG, NYAI DLOMROH MEMILIH TETAP DI LIRBOYO Ada satu keputusan dalam sejarah awal Lirboyo yang mungkin terlihat sederhana pada tahun 1910 Tetapi kalau direnungkan, keputusan itu menyangkut masa depan sebuah pesantren. Saat itu KH Abdul Karim (yang sebelum berhaji dikenal dengan panggilan Mbah Manab) bersama Nyai Dlomroh telah menetap di Lirboyo. Tempat itu belum seperti Lirboyo yang kita kenal sekarang. Masih sederhana, santrinya belum banyak, dan kehidupan di sana jauh dari kata mudah. Kemudian datang beberapa orang dari Magelang, tanah kelahiran Mbah Manab. Mereka menghendaki agar Mbah Manab kembali ke Magelang. Tawaran pulang itu bukan sesuatu yang aneh. Di kampung halaman tentu ada keluarga, kerabat, dan kemungkinan kehidupan yang lebih mudah. Tetapi sebelum mengambil keputusan, Mbah Manab meminta agar Nyai Dlomroh ditanya. Dan jawaban Nyai Dlomroh justru menjadi salah satu kisah penting dalam perjalanan Lirboyo. Dalam riwayat yang disampaikan oleh pihak Lirboyo, Nyai Dlomroh berkata: “Menawi panjenengan badhe kundur ngilen monggo. Ning kulo mboten badhe nderek.” “Kalau Kiai hendak pulang, silakan. Tetapi saya tidak ikut.” Bukan karena beliau tidak menghormati suaminya. Justru setelah itu keluar kalimat yang menunjukkan bagaimana kuatnya tekad beliau. “Menawi kerso teng mriki, monggo panjenengan kantun ngimami sholat, ngaos, manggihi tamu. Sedoyo kulo ingkang nyekapi.” “Kalau tetap di sini, Kiai cukup mengimami salat, mengajar ngaji, dan menerima tamu. Semua kebutuhan akan saya tanggung.” Kalimat itu sederhana. Tetapi di baliknya ada sebuah pengorbanan yang tidak sederhana. Nyai Dlomroh seakan mengatakan kepada suaminya: Panjenengan tidak perlu sibuk memikirkan urusan dunia. Fokuslah pada ilmu, ibadah, dan santri. Urusan kehidupan sehari-hari, biar saya yang berjuang. Dan akhirnya Mbah Manab memilih tetap di Lirboyo. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa berdirinya sebuah pesantren tidak hanya ditopang oleh orang yang duduk mengajar di hadapan santri. Ada orang yang mencari nafkah. Ada yang mengurus dapur. Ada yang menjaga rumah. Ada yang memastikan santri tetap makan. Ada yang menghadapi kesulitan ketika sang kiai sedang sibuk mengajar dan beribadah. Dan salah satu sosok itu adalah Nyai Dlomroh. Dalam sejumlah riwayat tentang kehidupan beliau, Nyai Dlomroh memang dikenal ikut menopang kebutuhan keluarga dan pesantren. Beliau pernah mengembangkan usaha medel atau mewarnai kain, membuka warung, serta menjual kayu bakar. Sumber NU Online juga mencatat peran beliau dalam menopang perjuangan KH Abdul Karim agar dapat lebih fokus mengajar dan membimbing santri. Sementara itu, Lirboyo sendiri pada masa awal bukanlah tempat yang mudah. Dalam catatan resmi Lirboyo, ketika KH Abdul Karim pertama kali datang, Nyai Dlomroh bahkan baru menyusul dua hari kemudian dengan bekal yang sangat sederhana: sedikit beras, kayu bakar, dan seekor ayam blorok. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Tetapi justru dari kesederhanaan itulah perjuangan dimulai. Santri datang. Rumah semakin ramai. Kebutuhan semakin banyak. Dan Nyai Dlomroh ikut memikirkan bagaimana pesantren bisa terus bertahan dan berkembang. Lirboyo kemudian tumbuh menjadi salah satu pesantren besar di Indonesia. Pihak Lirboyo sendiri mengenang Nyai Dlomroh bukan sekadar sebagai istri pendiri pesantren, tetapi sebagai salah satu pilar penting dalam membangun Lirboyo sejak masa awal. Bahkan disebutkan bahwa beliau ikut memikirkan dan membantu pembangunan tempat tinggal para santri. Ada pula sisi lain yang membuat kisah beliau semakin menyentuh. Malam hari pun menjadi bagian dari perjuangannya. KH M. Anwar Manshur menuturkan bahwa dahulu Nyai Dlomroh sering bangun sekitar pukul 10 atau 11 malam dan berjaga hingga Subuh. Rumah mereka ketika itu sering menjadi sasaran pencurian. Waktu malam yang bagi kebanyakan orang adalah waktu beristirahat, bagi beliau justru menjadi waktu untuk menjaga rumah sekaligus membaca wirid dan shalawat. Lahuma Al Fatihah...... . Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #lirboyojadul #tokohkedirijadul #indonesiajadul #kediri #sejarahkedirijadul #kedirikotajadul #kedirijamandulu #lirboyo #sejarahlirboyo #pondoklirboyo #sekolahkedirijadul #sekolahkediri #gurukedirijadul #tokohkedirijadul #muridkedirijadul #siswakedirijadul #sekolahindonesiadikediri #sekolahdikotakediri #kedirijamanbelanda #sekolahkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #kediritempodulu #kediritempoedoeloe

 MBAH MANAB DISURUH PULANG KE MAGELANG, NYAI DLOMROH MEMILIH TETAP DI LIRBOYO





Ada satu keputusan dalam sejarah awal Lirboyo yang mungkin terlihat sederhana pada tahun 1910


Tetapi kalau direnungkan, keputusan itu menyangkut masa depan sebuah pesantren.


Saat itu KH Abdul Karim (yang sebelum berhaji dikenal dengan panggilan Mbah Manab) bersama Nyai Dlomroh telah menetap di Lirboyo. Tempat itu belum seperti Lirboyo yang kita kenal sekarang. Masih sederhana, santrinya belum banyak, dan kehidupan di sana jauh dari kata mudah.


Kemudian datang beberapa orang dari Magelang, tanah kelahiran Mbah Manab.

Mereka menghendaki agar Mbah Manab kembali ke Magelang.


Tawaran pulang itu bukan sesuatu yang aneh. Di kampung halaman tentu ada keluarga, kerabat, dan kemungkinan kehidupan yang lebih mudah.

Tetapi sebelum mengambil keputusan, Mbah Manab meminta agar Nyai Dlomroh ditanya.

Dan jawaban Nyai Dlomroh justru menjadi salah satu kisah penting dalam perjalanan Lirboyo.


Dalam riwayat yang disampaikan oleh pihak Lirboyo, Nyai Dlomroh berkata:

“Menawi panjenengan badhe kundur ngilen monggo. Ning kulo mboten badhe nderek.”

“Kalau Kiai hendak pulang, silakan. Tetapi saya tidak ikut.”


Bukan karena beliau tidak menghormati suaminya.

Justru setelah itu keluar kalimat yang menunjukkan bagaimana kuatnya tekad beliau.

“Menawi kerso teng mriki, monggo panjenengan kantun ngimami sholat, ngaos, manggihi tamu. Sedoyo kulo ingkang nyekapi.”


“Kalau tetap di sini, Kiai cukup mengimami salat, mengajar ngaji, dan menerima tamu. Semua kebutuhan akan saya tanggung.”


Kalimat itu sederhana.

Tetapi di baliknya ada sebuah pengorbanan yang tidak sederhana.


Nyai Dlomroh seakan mengatakan kepada suaminya:

Panjenengan tidak perlu sibuk memikirkan urusan dunia. Fokuslah pada ilmu, ibadah, dan santri. Urusan kehidupan sehari-hari, biar saya yang berjuang.


Dan akhirnya Mbah Manab memilih tetap di Lirboyo.


Dari sinilah kita bisa melihat bahwa berdirinya sebuah pesantren tidak hanya ditopang oleh orang yang duduk mengajar di hadapan santri.

Ada orang yang mencari nafkah.

Ada yang mengurus dapur.

Ada yang menjaga rumah.

Ada yang memastikan santri tetap makan.

Ada yang menghadapi kesulitan ketika sang kiai sedang sibuk mengajar dan beribadah.


Dan salah satu sosok itu adalah Nyai Dlomroh.


Dalam sejumlah riwayat tentang kehidupan beliau, Nyai Dlomroh memang dikenal ikut menopang kebutuhan keluarga dan pesantren. Beliau pernah mengembangkan usaha medel atau mewarnai kain, membuka warung, serta menjual kayu bakar. Sumber NU Online juga mencatat peran beliau dalam menopang perjuangan KH Abdul Karim agar dapat lebih fokus mengajar dan membimbing santri.


Sementara itu, Lirboyo sendiri pada masa awal bukanlah tempat yang mudah.


Dalam catatan resmi Lirboyo, ketika KH Abdul Karim pertama kali datang, Nyai Dlomroh bahkan baru menyusul dua hari kemudian dengan bekal yang sangat sederhana: sedikit beras, kayu bakar, dan seekor ayam blorok. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. 


Tetapi justru dari kesederhanaan itulah perjuangan dimulai.

Santri datang.

Rumah semakin ramai.

Kebutuhan semakin banyak.

Dan Nyai Dlomroh ikut memikirkan bagaimana pesantren bisa terus bertahan dan berkembang.


Lirboyo kemudian tumbuh menjadi salah satu pesantren besar di Indonesia.


Pihak Lirboyo sendiri mengenang Nyai Dlomroh bukan sekadar sebagai istri pendiri pesantren, tetapi sebagai salah satu pilar penting dalam membangun Lirboyo sejak masa awal. Bahkan disebutkan bahwa beliau ikut memikirkan dan membantu pembangunan tempat tinggal para santri.


Ada pula sisi lain yang membuat kisah beliau semakin menyentuh.


Malam hari pun menjadi bagian dari perjuangannya.

KH M. Anwar Manshur menuturkan bahwa dahulu Nyai Dlomroh sering bangun sekitar pukul 10 atau 11 malam dan berjaga hingga Subuh. Rumah mereka ketika itu sering menjadi sasaran pencurian. Waktu malam yang bagi kebanyakan orang adalah waktu beristirahat, bagi beliau justru menjadi waktu untuk menjaga rumah sekaligus membaca wirid dan shalawat.


Lahuma Al Fatihah...... 

.

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #lirboyojadul

#tokohkedirijadul #indonesiajadul #kediri #sejarahkedirijadul #kedirikotajadul #kedirijamandulu #lirboyo #sejarahlirboyo #pondoklirboyo 

#sekolahkedirijadul #sekolahkediri #gurukedirijadul #tokohkedirijadul #muridkedirijadul #siswakedirijadul #sekolahindonesiadikediri #sekolahdikotakediri #kedirijamanbelanda #sekolahkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #kediritempodulu #kediritempoedoeloe

27 September 2026

@sorotan #Bjk95 #JasMerah. 29 JANUARI 1950. JENDERAL SOEDIRMAN WAFAT Pada tanggal 29 Januari 1950 Jenderal Soedirman Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat, Panglima Besar TNI, meninggal dunia di Magelang dalam usia 34 tahun, Jenazah beliau kemudian di makamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta, pada tanggal 30 Januari 1950. Selama hidupnya pengabdian pak Dirman kepada Bangsa dan Negara tiada terbilang nilainya, Amat Besar jasa dan peranannya di dalam perjuangan Kemerdekaan, perjuangan membela,mempertahan Kan dan menegakkan kemerdekaan, pengabdian dan pengorbanan total yg telah diberikan Pak dirman kepada rakyat, bangsa dan negara menjadi suri tauladan bagi bangsa Indonesia dari generasi ke generasi. Kesetiaan beliau terhadap bangsa dan negara tercermin pada kata-kata mutiara yang beliau ucapkan, yaitu:_ "TNI lahir kerena Proklamasi 17 Agustus 1945, Hidup dengan Proklamasi itu dan bersumpah mati-matian hendak mempertahankan kesuciannya proklamasi tersebut". ==šŸ‡®šŸ‡©======šŸ‡®šŸ‡©====šŸ‡®šŸ‡©=====šŸ‡®šŸ‡©====šŸ‡®šŸ‡©=====šŸ‡®šŸ‡©== šŸ“· Sumber-Photo dan Keterangan:_ Buku Sejarah 30 Tahun Indonesia Merdeka 1950~1964 cetakan kelima tahun 1981 IPPHOS,Pusjarah TNI. #JASMERAH. #BudayakanMembaca #KomunitasPengiatSejarahdanBudaya šŸ‡®šŸ‡© #Bjk95

 @sorotan 

#Bjk95

#JasMerah.


29 JANUARI 1950.


              JENDERAL SOEDIRMAN WAFAT 

   

Pada tanggal 29 Januari 1950 Jenderal Soedirman 

Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat, Panglima Besar TNI, meninggal dunia di

Magelang dalam usia 34 tahun, Jenazah beliau kemudian di makamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta, pada tanggal 30 Januari 1950.



Selama hidupnya pengabdian pak Dirman kepada Bangsa dan Negara tiada terbilang nilainya, Amat 

Besar jasa dan peranannya di dalam perjuangan

Kemerdekaan, perjuangan membela,mempertahan

Kan dan menegakkan kemerdekaan, pengabdian 

dan pengorbanan total yg telah diberikan Pak dirman kepada rakyat, bangsa dan negara menjadi suri tauladan bagi bangsa Indonesia dari generasi ke generasi.


Kesetiaan beliau terhadap bangsa dan negara tercermin pada kata-kata mutiara yang beliau ucapkan, yaitu:_

"TNI lahir kerena Proklamasi 17 Agustus 1945, Hidup dengan Proklamasi itu dan bersumpah mati-matian hendak mempertahankan kesuciannya proklamasi tersebut".


==šŸ‡®šŸ‡©======šŸ‡®šŸ‡©====šŸ‡®šŸ‡©=====šŸ‡®šŸ‡©====šŸ‡®šŸ‡©=====šŸ‡®šŸ‡©==


šŸ“· Sumber-Photo dan Keterangan:_

Buku Sejarah 30 Tahun Indonesia Merdeka 

1950~1964 cetakan kelima tahun 1981

IPPHOS,Pusjarah TNI.


                             #JASMERAH.


#BudayakanMembaca 

#KomunitasPengiatSejarahdanBudaya šŸ‡®šŸ‡©

 #Bjk95


Sumber : Bang John Komando

Mahakarya di Balik Jeruji Besi (Kisah Keluhuran Hati Buya Hamka) Bayangkan sebuah ruang interogasi yang pengap pada awal tahun 1964. Di sana, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang kita kenal sebagai Buya Hamka sedang berdiri di hadapan para penyidik. Beliau dipaksa tidak tidur selama berhari-hari, dihujani bentakan, dan ditekan untuk mengakui sebuah kebohongan besar: dituduh terlibat dalam konspirasi subversif untuk menggulingkan pemerintah dan membunuh Presiden Soekarno. Ironisnya, perintah penangkapan itu datang dari rezim Soekarno, sosok yang di masa lalu berjuang bahu-membahu bersamanya demi kemerdekaan Indonesia. Arogansi kekuasaan pada masa Demokrasi Terpimpin, yang saat itu sangat dipengaruhi oleh poros kiri, tidak lagi mentoleransi kritik. Karena kelantangan Buya Hamka dalam menyuarakan kebenaran dan menolak komunisme, ulama karismatik ini didepak dari panggung bangsa dan dijebloskan ke dalam sel tahanan tanpa pernah melalui proses peradilan yang adil. Bagi penguasa, penjara adalah cara untuk membungkam dan mematikan karakter seorang tokoh. Namun, mereka keliru. Jeruji besi mungkin bisa mengurung fisik Hamka, tetapi mereka gagal memenjarakan pikiran dan ruhaninya. Di dalam sel yang sempit, dingin, dan terisolasi, Buya Hamka justru menemukan ruang spiritual yang teramat luas. Alih-alih meratapi nasib atau memelihara dendam, beliau membalikkan keadaan dengan luar biasa. Beliau membuka mushaf Al-Qur'an, merenungi setiap ayatnya, dan mulai menulis. Di tempat yang paling hina itulah, lahir sebuah mahakarya Islam paling monumental di Asia Tenggara: Tafsir Al-Azhar, sebuah kitab tafsir 30 juz yang hingga hari ini menjadi rujukan umat Muslim di seluruh dunia. Penjara yang semula dimaksudkan sebagai hukuman, justru diubah oleh Hamka menjadi pesantren pribadi tempat ia melahirkan warisan abadi. Waktu pun berlalu, roda kekuasaan berputar, dan Buya Hamka akhirnya dibebaskan. Tidak ada satu pun kalimat makian atau dendam yang keluar dari lisannya kepada orang-orang yang telah memenjarakannya. Ujian sejati atas keluhuran hati Buya Hamka tiba pada tanggal 16 Juni 1970. Hari itu, Ir. Soekarno, sang proklamator yang dulu menjebloskannya ke penjara, wafat dalam kesunyian setelah kekuasaannya runtuh. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Soekarno meninggalkan sebuah pesan wasiat yang mengejutkan melalui urusan keluarganya: “Bila aku mati kelak, minta Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku.” Mendengar kabar tersebut, Buya Hamka tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Tanpa mengingat rasa sakitnya mendekam di balik jeruji besi selama dua tahun, tanpa memedulikan sinisme politik dari orang-orang di sekitarnya, beliau bergegas datang ke Wisma Yaso. Di depan jenazah pria yang pernah menindasnya, Buya Hamka berdiri tegak, mengangkat kedua tangannya, dan memimpin salat jenazah dengan khusyuk serta air mata yang berlinang. Beliau melepaskan sahabat sekaligus rival politiknya itu dengan doa-doa terbaik. Kisah Buya Hamka adalah pengingat abadi bagi kita semua. Arogansi penguasa bisa saja menggunakan kekuatan hukum dan fisik untuk menumbangkan seorang tokoh bangsa. Namun, sejarah selalu punya cara sendiri untuk mencatat: kekuasaan yang arogan akan runtuh dan dilupakan, sementara keluhuran hati, integritas, dan karya nyata akan hidup abadi melintasi zaman. @sorotanpublik #BuyaHamka #TokohKita #SangTokoh #IdolaKita

 Mahakarya di Balik Jeruji Besi (Kisah Keluhuran Hati Buya Hamka)



Bayangkan sebuah ruang interogasi yang pengap pada awal tahun 1964. Di sana, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang kita kenal sebagai Buya Hamka sedang berdiri di hadapan para penyidik. Beliau dipaksa tidak tidur selama berhari-hari, dihujani bentakan, dan ditekan untuk mengakui sebuah kebohongan besar: dituduh terlibat dalam konspirasi subversif untuk menggulingkan pemerintah dan membunuh Presiden Soekarno.


Ironisnya, perintah penangkapan itu datang dari rezim Soekarno, sosok yang di masa lalu berjuang bahu-membahu bersamanya demi kemerdekaan Indonesia. Arogansi kekuasaan pada masa Demokrasi Terpimpin, yang saat itu sangat dipengaruhi oleh poros kiri, tidak lagi mentoleransi kritik. Karena kelantangan Buya Hamka dalam menyuarakan kebenaran dan menolak komunisme, ulama karismatik ini didepak dari panggung bangsa dan dijebloskan ke dalam sel tahanan tanpa pernah melalui proses peradilan yang adil.


Bagi penguasa, penjara adalah cara untuk membungkam dan mematikan karakter seorang tokoh. Namun, mereka keliru. Jeruji besi mungkin bisa mengurung fisik Hamka, tetapi mereka gagal memenjarakan pikiran dan ruhaninya.

Di dalam sel yang sempit, dingin, dan terisolasi, Buya Hamka justru menemukan ruang spiritual yang teramat luas. Alih-alih meratapi nasib atau memelihara dendam, beliau membalikkan keadaan dengan luar biasa. Beliau membuka mushaf Al-Qur'an, merenungi setiap ayatnya, dan mulai menulis. Di tempat yang paling hina itulah, lahir sebuah mahakarya Islam paling monumental di Asia Tenggara: Tafsir Al-Azhar, sebuah kitab tafsir 30 juz yang hingga hari ini menjadi rujukan umat Muslim di seluruh dunia. Penjara yang semula dimaksudkan sebagai hukuman, justru diubah oleh Hamka menjadi pesantren pribadi tempat ia melahirkan warisan abadi.


Waktu pun berlalu, roda kekuasaan berputar, dan Buya Hamka akhirnya dibebaskan. Tidak ada satu pun kalimat makian atau dendam yang keluar dari lisannya kepada orang-orang yang telah memenjarakannya.

Ujian sejati atas keluhuran hati Buya Hamka tiba pada tanggal 16 Juni 1970. Hari itu, Ir. Soekarno, sang proklamator yang dulu menjebloskannya ke penjara, wafat dalam kesunyian setelah kekuasaannya runtuh. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Soekarno meninggalkan sebuah pesan wasiat yang mengejutkan melalui urusan keluarganya: “Bila aku mati kelak, minta Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku.”

Mendengar kabar tersebut, Buya Hamka tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Tanpa mengingat rasa sakitnya mendekam di balik jeruji besi selama dua tahun, tanpa memedulikan sinisme politik dari orang-orang di sekitarnya, beliau bergegas datang ke Wisma Yaso. Di depan jenazah pria yang pernah menindasnya, Buya Hamka berdiri tegak, mengangkat kedua tangannya, dan memimpin salat jenazah dengan khusyuk serta air mata yang berlinang. 


Beliau melepaskan sahabat sekaligus rival politiknya itu dengan doa-doa terbaik.

Kisah Buya Hamka adalah pengingat abadi bagi kita semua. Arogansi penguasa bisa saja menggunakan kekuatan hukum dan fisik untuk menumbangkan seorang tokoh bangsa. Namun, sejarah selalu punya cara sendiri untuk mencatat: kekuasaan yang arogan akan runtuh dan dilupakan, sementara keluhuran hati, integritas, dan karya nyata akan hidup abadi melintasi zaman.


@sorotanpublik

#BuyaHamka

#TokohKita

#SangTokoh

#IdolaKita


Sumber : Saif Zuhri

26 September 2026

"Mengenang S.H. MINTARDJA dengan Nagasasra & Sabukinten nya". Kraton Demak diliputi mendung. Perebutan pengaruh di kalangan para elit kerajaan semakin tajam, yakni antara keturunan Sultan Trenggana yg berkuasa pd waktu itu, dgn keturunan Pangeran Sekar Sedo Lepen, yaitu Arya Penangsang, yg juga merasa berhak atas tahta Demak. Bersamaan dgn itu, 2 pusaka kraton berupa 2 keris sakti, yakni "Kyai Nagasasra" & "Kyai Sabukinten" lenyap dari istana. Dlm suasana itu, karena perbedaan pandangan, seorang mantan perwira "Nara Manggala" (pengawal raja) mengundurkan diri, serta mendarmabaktikan diri dgn cara lain, yaitu mencoba menemukan kembali kedua pusaka tsb. Ia bernama "Mahesa Jenar". Dlm petualangan nya itulah ia hrs bertempur melawan "golongan hitam" yg didukung oleh tokoh² sakti. Selain itu ia juga sempat menemukan intisari ilmu yg dahsyat, bernama "Sasra Birawa" shg kesaktiannya meningkat. Dan tentu saja sbg bumbu penyedap cerita, ia bertemu dgn gadis manis, cucu salah seorang teman mendiang gurunya, Rara Wilis. Kisah 'wira carita'/epos berlatar belakang sejarah ini pertama kali terbit sbg cerita bersambung di surat kabar "Kedaulatan Rakyat", Yogyakarta, tahun 1964 dan dibukukan 1966. Kemudian 1982 diterbitkan kembali dlm format lain, tetapi dgn judul dan isi yg sama, yaitu "Nagasasra dan Sabukinten" (N&S). Jadi ia sdh lbh dari 6 dasa warsa sejak diciptakan, namun tetap layak dikenang sbg sebuah karya 'masterpiece' Bpk. Singgih Suhadi Mintardja atau lbh dikenal dgn SH Mintardja yg tak pernah lekang ditelan zaman. Di sekitar Jawa Tengah, kisah petualangan Mahesa Jenar (MJ) diatas sdh hampir menyerupai legenda. Bhkn klub sepak bola PSIS Semarang kerap menyebut diri sbg "Laskar Mahesa Jenar". Seorang gubernur yg mungkin kagum thdp karakter tsb, juga menamai satu gelanggang remaja dgn nama MJ, meski sempat ditanggapi oleh seorang pembaca di salah satu surat kabar di Jateng. Tapi apa boleh buat, nama MJ memang sdh 'kadung' populer. Ada suatu masa, masyarakat Jateng dgn tekun mendengarkan kisah itu lewat sandiwara radio, menikmati keseruan pertempuran antar tokoh²nya yg sakti mandraguna, kisah romannya yg lembut, seraya merenungkan nasehat² yg terkandung di dalamnya. Ada pula satu ketika dimana anak² muda mengidolakan MJ, 'nongkrong' sambil mendiskusikan perkembangan cerita atau menyablon kaos mereka dgn gbr MJ dgn sikapnya yg terkenal, yakni mengangkat tangan kanannya tinggi² sambil menyilangkan tangan kiri di depan dada, saat ia 'melafalkan' ajian Sasra Birawa. Bukan itu saja. Seorang mahasiswa IKIP pernah datang kpd SH Mintardja dlm rangka membuat skripsi dgn N&S sbg obyek penelitian. Dan setelah sekian lama ditampilkan dlm panggung ketoprak di gedung² pertunjukan seni & budaya di Jawa Tengah, akhirnya konon TVRI Yogyakarta sempat turut mementaskannya sbg ketoprak televisi sebanyak beberapa episode. MJ dgn kepopulerannya juga pernah menjadi bahan bacaan mengasyikkan tidak saja di Jateng, tetapi sampai pula ke luar Jawa. Alkisah seorang pemuda asal Makassar ketika bertandang ke Yogyakarta, menyempatkan diri mampir ke kantor "Kedaulatan Rakyat" utk memborong 16 jilid N&S versi kedua, yg sdh tidak lengkap lagi 'stock' di gudangnya, shg terpaksa rela menerima satu seri buku yg sebagian diantaranya merupakan fotocopyan. N&S spt pengakuan sang pengarang semasa hidupnya, hanya meminjam latar belakang sejarah (Jawa) yg ada dlm "Babad Tanah Jawi" sbg 'setting' peristiwa, yg sebagian besar fiktif, termasuk karakter MJ sendiri. Sbg sebuah wira carita, ia mengandung kelemahan², namun diatas itu semua, buku ini memberi warna lain pada kisah² silat lokal/'pribumi' yg biasa kita temui, karena ia diangkat dari salah satu babakan sejarah yg banyak dikenal di kalangan masyarakat Jawa. Setidaknya, sbg sebuah judul buku yg telah menjadi karya klasik, dan telah berhasil melewati dasa warsa ke-6 setelah kelahirannya serta masih banyak disimpan para "kolektor langitan" di dalam rak koleksi mereka, ia telah membuktikan diri sbg suatu karya 'kolosal' yg memiliki daya tarik yg besar pada dirinya. Selain N&S, SH Mintardja juga menulis lebih dari 20 judul cerita silat, diantaranya "Api di Bukit Menoreh" yg pemuatannya di koran KR mencapai ribuan nomor (bahkan tak pernah rampung hingga beliau wafat), "Pelangi di Langit Singasari", ditambah sejumlah cerita pendek dan naskah sandiwara. Itulah sekilas kita mengenang kembali tentang Bpk. SH Mintardja dgn karya monumentalnya "Nagasasra & Sabukinten". Beliau lahir di Yogyakarta, 26 Januari 1933 dan telah wafat lebih dari seperempat abad yang lalu (18 Januari 1999), namun karya²nya tetap abadi hingga kini. Untuk tetap mengabadikan karya² tsb hingga ke anak cucu, pihak keluarga besar beliau telah membangun sebuah perpustakaan di bekas tempat tinggal beliau yg terletak di Gedongkiwo MJ I/801, Mantrijeron, Yogyakarta. (Diintisarikan dari tulisan Ninok Leksono & Djoko Pournomo di Kompas Minggu, 26 April 1987 dan sumber² lain)

 "Mengenang S.H. MINTARDJA dengan Nagasasra & Sabukinten nya".



Kraton Demak diliputi mendung. Perebutan pengaruh di kalangan para elit kerajaan semakin tajam, yakni antara keturunan Sultan Trenggana yg berkuasa pd waktu itu, dgn keturunan Pangeran Sekar Sedo Lepen, yaitu Arya Penangsang, yg juga merasa berhak atas tahta Demak. Bersamaan dgn itu, 2 pusaka kraton berupa 2 keris sakti, yakni "Kyai Nagasasra" & "Kyai Sabukinten" lenyap dari istana. Dlm suasana itu, karena perbedaan pandangan, seorang mantan perwira "Nara Manggala" (pengawal raja) mengundurkan diri, serta mendarmabaktikan diri dgn cara lain, yaitu mencoba menemukan kembali kedua pusaka tsb. Ia bernama "Mahesa Jenar". Dlm petualangan nya itulah ia hrs bertempur melawan "golongan hitam" yg didukung oleh tokoh² sakti. Selain itu ia juga sempat menemukan intisari ilmu yg dahsyat, bernama "Sasra Birawa" shg kesaktiannya meningkat. Dan tentu saja sbg bumbu penyedap cerita, ia bertemu dgn gadis manis, cucu salah seorang teman mendiang gurunya, Rara Wilis.


Kisah 'wira carita'/epos berlatar belakang sejarah ini pertama kali terbit sbg cerita bersambung di surat kabar "Kedaulatan Rakyat", Yogyakarta, tahun 1964 dan dibukukan 1966. Kemudian 1982 diterbitkan kembali dlm format lain, tetapi dgn judul dan isi yg sama, yaitu "Nagasasra dan Sabukinten" (N&S). Jadi ia sdh lbh dari 6 dasa warsa sejak diciptakan, namun tetap layak dikenang sbg sebuah karya 'masterpiece' Bpk. Singgih Suhadi Mintardja atau lbh dikenal dgn SH Mintardja yg tak pernah lekang ditelan zaman.


Di sekitar Jawa Tengah, kisah petualangan Mahesa Jenar (MJ) diatas sdh hampir menyerupai legenda. Bhkn klub sepak bola PSIS Semarang kerap menyebut diri sbg "Laskar Mahesa Jenar". Seorang gubernur yg mungkin kagum thdp karakter tsb, juga menamai satu gelanggang remaja dgn nama MJ, meski sempat ditanggapi oleh seorang pembaca di salah satu surat kabar di Jateng. Tapi apa boleh buat, nama MJ memang sdh 'kadung' populer. Ada suatu masa, masyarakat Jateng dgn tekun mendengarkan kisah itu lewat sandiwara radio, menikmati keseruan pertempuran antar tokoh²nya yg sakti mandraguna, kisah romannya yg lembut, seraya merenungkan nasehat² yg terkandung di dalamnya. Ada pula satu ketika dimana anak² muda mengidolakan MJ, 'nongkrong' sambil mendiskusikan perkembangan cerita atau menyablon kaos mereka dgn gbr MJ dgn sikapnya yg terkenal, yakni mengangkat tangan kanannya tinggi² sambil menyilangkan tangan kiri di depan dada, saat ia 'melafalkan' ajian Sasra Birawa.


Bukan itu saja. Seorang mahasiswa IKIP pernah datang kpd SH Mintardja dlm rangka membuat skripsi dgn N&S sbg obyek penelitian. Dan setelah sekian lama ditampilkan dlm panggung ketoprak di gedung² pertunjukan seni & budaya di Jawa Tengah, akhirnya konon TVRI Yogyakarta sempat turut mementaskannya sbg ketoprak televisi sebanyak beberapa episode. MJ dgn kepopulerannya juga pernah menjadi bahan bacaan mengasyikkan tidak saja di Jateng, tetapi sampai pula ke luar Jawa. Alkisah seorang pemuda asal Makassar ketika bertandang ke Yogyakarta, menyempatkan diri mampir ke kantor "Kedaulatan Rakyat" utk memborong 16 jilid N&S versi kedua, yg sdh tidak lengkap lagi 'stock' di gudangnya, shg terpaksa rela menerima satu seri buku yg sebagian diantaranya merupakan fotocopyan.


N&S spt pengakuan sang pengarang semasa hidupnya, hanya meminjam latar belakang sejarah (Jawa) yg ada dlm "Babad Tanah Jawi" sbg 'setting' peristiwa, yg sebagian besar fiktif, termasuk karakter MJ sendiri. Sbg sebuah wira carita, ia mengandung kelemahan², namun diatas itu semua, buku ini memberi warna lain pada kisah² silat lokal/'pribumi' yg biasa kita temui, karena ia diangkat dari salah satu babakan sejarah yg banyak dikenal di kalangan masyarakat Jawa. Setidaknya, sbg sebuah judul buku yg telah menjadi karya klasik, dan telah berhasil melewati dasa warsa ke-6 setelah kelahirannya serta masih banyak disimpan para "kolektor langitan" di dalam rak koleksi mereka, ia telah membuktikan diri sbg suatu karya 'kolosal' yg memiliki daya tarik yg besar pada dirinya.


Selain N&S, SH Mintardja juga menulis lebih dari 20 judul cerita silat, diantaranya "Api di Bukit Menoreh" yg pemuatannya di koran KR mencapai ribuan nomor (bahkan tak pernah rampung hingga beliau wafat), "Pelangi di Langit Singasari", ditambah sejumlah cerita pendek dan naskah sandiwara.


Itulah sekilas kita mengenang kembali tentang Bpk. SH Mintardja dgn karya monumentalnya "Nagasasra & Sabukinten". Beliau lahir di Yogyakarta, 26 Januari 1933 dan telah wafat lebih dari seperempat abad yang lalu (18 Januari 1999), namun karya²nya tetap abadi hingga kini. Untuk tetap mengabadikan karya² tsb hingga ke anak cucu, pihak keluarga besar beliau telah membangun sebuah perpustakaan di bekas tempat tinggal beliau yg terletak di Gedongkiwo MJ I/801, Mantrijeron, Yogyakarta.


(Diintisarikan dari tulisan Ninok Leksono & Djoko Pournomo di Kompas Minggu, 26 April 1987 dan sumber² lain)

Gorang-Gareng Tahun 1948 adalah tahun suram, tahun penuh luka. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah Madiun, Magetan, Ponorogo, Ngawi, Pacitan dll, tahun 1948 adalah tahun genangan darah. Nama Muso dan PKI menjadi nama yang paling menakutkan dan menyakitkan. Sebuah nama yang membuat terluka banyak orang. Tahun 1948 Muso baru pulang dari pelariannya di Soviet. Muso adalah tokoh pemberontakan PKI di tahun 1926. Pasca kegagalan pemberontakan di tahun 1926, dia melarikan diri ke beberapa negara dan berakhir di Soviet. Dia telah ditempa langsung oleh Stalin. Terbiasa melihat pembantaian kaum komunis demi mewujudkan tujuannya. Muso berniat mewujudkan Soviet Raya di negri ini. Kamerad Muso mengawali pemberontakanya di Madiun. Dan berimbas terhadap kota-kota di sekitarnya. Peristiwa pembantaian di tahun 1948 terjadi di 24 tempat yang berbeda. Salah satunya di loji Pabrik Gula Rejosari, Gorang-Gareng Magetan Jawa Timur. Ratusan nyawa umat Islam dibantai disana. Saat itu ada ratusan ummat Islam yang disekap di loji pabrik gula. Mereka terdiri dari ulama, santri, aktifis NU, aktifis Muhammadiyah, juga aparat pemerintahan yang berseberangan dengan PKI. PKI mengurung ratusan orang itu dalam kondisi tangan terikat. Dan tanpa ampun memberondong tawanan itu dengan rentetan senjata. Jeritan kematian terdengar dari loji itu. Tubuh-tubuh lemah itu bertumbangan. Ada yang langsung mati. Ada pula yang masih menjerit kesakitan. Seketika ruangan itu banjir darah. Ada 5 orang yang selamat dari pembantaian itu. Meskipun sudah sekarat, tapi mereka tetap bisa bertahan hingga diselamatkan tentara. Dari kelima orang inilah kisah pembantaian ratusan nyawa di pabrik gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan diketahui. Mayor Sambas Atmadiwirja dari Divisi Siliwangi menceritakan bahwa ketika pasukannya memasuki loji pabrik gula Rejosari ini, darah telah menggenang setinggi mata kaki. Bau anyir darah menyengat tajam dari dalam loji. Tumpukan mayat bergelimpangan. Sebuah pemandangan yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya. Woro Suradi yang rumahnya di dekat loji, mendengar suara rentetan tembakan dan jeritan dari dalam loji. Ia bergidik ngeri mendengar jeritan kematian tiada henti. Beberapa saat setelah itu, ia melihat aktifis PKI keluar dari loji sambil menenteng senjata berat. Saat tentara Divisi Siliwangi berusaha membebaskan tawanan di loji itu, mereka hanya menemukan ratusan mayat yang darahnya masih mengalir. Pertanda baru saja dibantai.Mereka terlambat beberapa saat. Akhirnya tentara bersama warga sekitar menguburkan mayat-mayat itu. Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk prosesi pemakamannya. Mereka menguburkan mayat-mayat itu sejak pukul 14.00 dan berakhir hingga pukul 20.00. Mayat-mayat itu dimakamkan dalam beberapa lubang besar. Satu lubang diisi oleh puluhan jasad. Prosesi pemakaman itu diiringi isak tangis warga sekitar. Tak menyangka bahwa PKI begitu tega membantai sesama anak bangsa. Bagi warga Magetan, peristiwa pembantaian di loji Pabrik Gula Rejosari Gorang-Gareng ini sangat familiar. Kisah ini dialami langsung oleh keluarga mereka. Dituturkan oleh keluarga korban pembantaian dari generasi ke generasi. Sebuah kisah yang membuat bergidik ngeri bagi siapapun yang mendengarnya. Bukti nyata bahwa PKI tak berperi kemanusiaan. Tak pernah ragu untuk menumpahkan darah sesama anak bangsa demi mencapai tujuannya. Saat ini ada sebuah monument di pabrik gula ini. Berisi daftar nama orang-orang yang dibantai PKI. Sebuah monument untuk memperingati mereka yang telah pergi akibat kekejian PKI.

 Gorang-Gareng



Tahun 1948 adalah tahun suram, tahun penuh luka. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah Madiun, Magetan, Ponorogo, Ngawi, Pacitan dll, tahun 1948 adalah tahun genangan darah. Nama Muso dan PKI menjadi nama yang paling menakutkan dan menyakitkan. Sebuah nama yang membuat terluka banyak orang.


Tahun 1948 Muso baru pulang dari pelariannya di Soviet. Muso adalah tokoh pemberontakan PKI di tahun 1926. Pasca kegagalan pemberontakan di tahun 1926, dia melarikan diri ke beberapa negara dan berakhir di Soviet. Dia telah ditempa langsung oleh Stalin. Terbiasa melihat pembantaian kaum komunis demi mewujudkan tujuannya. 


Muso berniat mewujudkan Soviet Raya di negri ini. Kamerad Muso mengawali pemberontakanya di Madiun. Dan berimbas terhadap kota-kota di sekitarnya.


Peristiwa pembantaian di tahun 1948 terjadi di 24 tempat yang berbeda. Salah satunya di loji Pabrik Gula Rejosari, Gorang-Gareng Magetan Jawa Timur.  Ratusan nyawa umat Islam dibantai disana. 


Saat itu ada ratusan ummat Islam yang disekap di loji pabrik gula. Mereka terdiri dari ulama, santri, aktifis NU, aktifis Muhammadiyah, juga aparat pemerintahan yang berseberangan dengan PKI. 


PKI mengurung ratusan orang itu dalam kondisi tangan terikat. Dan tanpa ampun memberondong tawanan itu dengan rentetan senjata. Jeritan kematian terdengar dari loji itu. Tubuh-tubuh lemah itu bertumbangan. Ada yang langsung mati. Ada pula yang masih menjerit kesakitan. Seketika ruangan itu banjir darah.


Ada 5 orang yang selamat dari pembantaian itu. Meskipun sudah sekarat, tapi mereka tetap bisa bertahan hingga diselamatkan tentara. Dari kelima orang inilah kisah pembantaian ratusan nyawa di pabrik gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan diketahui. 


Mayor Sambas Atmadiwirja dari Divisi Siliwangi menceritakan bahwa ketika pasukannya memasuki loji pabrik gula Rejosari ini, darah telah menggenang setinggi mata kaki. Bau anyir darah menyengat tajam dari dalam loji. Tumpukan mayat bergelimpangan. Sebuah pemandangan yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya.


Woro Suradi yang rumahnya di dekat loji, mendengar suara rentetan tembakan dan jeritan dari dalam loji. Ia bergidik ngeri mendengar jeritan kematian tiada henti. Beberapa saat setelah itu, ia melihat aktifis PKI keluar dari loji sambil menenteng senjata berat.


Saat tentara Divisi Siliwangi berusaha membebaskan tawanan di loji itu, mereka hanya menemukan ratusan mayat yang darahnya masih mengalir. Pertanda baru saja dibantai.Mereka terlambat beberapa saat. 


Akhirnya tentara bersama warga sekitar menguburkan mayat-mayat itu. Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk prosesi pemakamannya. Mereka menguburkan mayat-mayat itu sejak pukul 14.00 dan berakhir hingga pukul 20.00.


Mayat-mayat itu dimakamkan dalam beberapa lubang besar. Satu lubang diisi oleh puluhan jasad. Prosesi pemakaman itu diiringi isak tangis warga sekitar. Tak menyangka bahwa PKI begitu tega membantai sesama anak bangsa.


Bagi warga Magetan, peristiwa pembantaian di loji Pabrik Gula Rejosari Gorang-Gareng ini sangat familiar. Kisah ini dialami langsung oleh keluarga mereka. Dituturkan oleh keluarga korban pembantaian dari generasi ke generasi.


Sebuah kisah yang membuat bergidik ngeri bagi siapapun yang mendengarnya. Bukti nyata bahwa PKI tak berperi kemanusiaan. Tak pernah ragu untuk menumpahkan darah sesama anak bangsa demi mencapai tujuannya.


Saat ini ada sebuah monument di pabrik gula ini. Berisi daftar nama orang-orang yang dibantai PKI. Sebuah monument untuk memperingati mereka yang telah pergi akibat kekejian PKI.

Sumber : Widi Astuti

Kemunculan Triumvirat PKI (Aidit, Lukman, Njoto) Pasca kegagalan Pemberontakan PKI 1948, bukan berarti organisasi ini mati. Karena memang pemerintah tidak langsung membekukan PKI. Sebenarnya Hatta pernah mengusulkan agar PKI dibubarkan dan dilarang, tapi usul tersebut tidak disetujui. Pemberontakan berdarah PKI hingga dua kali, yaitu tahun 1926 dan 1948 tidak diambil pelajaran, bahwa PKI tidak bisa diberi ruang di bumi Indonesia. Bahwa ideologi komunis yg haus darah tidak bisa diberi ampun. Terbukti di tahun 1965 PKI melakukan pemberontakan yg ketiga kalinya. Pasca kematian Musso dan Amir Sjarifuddin, muncullah tokoh-tokoh muda PKI yg sangat militan. Mereka adalah Aidit, Lukman, Njoto. Trio PKI inilah yg memegang kendali penuh arah gerak partai. Aidit berasal dari Belitung. Usianya masih sangat muda, tapi dia sangat cerdas dan militan. Dia menuliskan banyak buku sebagai pedoman komunisme di Indonesia. Aidit berjuang mengarahkan PKI sesuai "arah baru Musso". Aidit meneruskan kebijakan Musso dalam memimpin partai. Aidit juga rutin berkirim surat dengan Stalin. Meminta masukan Stalin dalam menentukan langkah-langkah PKI. Disamping meminta arahan Soviet, Aidit juga berkiblat ke China yg lebih revolusioner. Kemudian Aidit berusaha menggabungkan komunis soviet dan china di Indonesia. Pada Januari 1951 dipilih 5 anggota politbiro baru. Mereka adalah Aidit, Lukman, Sudisman, dan Alimin. Hanya kurang dari setahun Aidit sudah sangat berpengaruh di PKI. Perlahan tapi pasti kelompok tua PKI disingkirkan. Kelompok tua PKI yaitu Alimin, Wikana, Tan Ling Djie tersisih dg rapi. Di tahun 1951 itu, Aidit baru berusia 27 tahun, Lukman 30 tahun, dan Njoto 25 tahun. Trio pemuda PKI ini menjadi darah segar dalam pertai. tadinya mereka berada di bagian agitasi dan propaganda. Mereka menerbitkan majalah Bintang Merah. Majalah ini menjadi corong penting berdenyutnya PKI. Meskipun masih muda, tapi Aidit berhasil mengambil kepemimpinan. Ada beberapa sebab Aidit tak mendapatkan perlawanan dari sesama anggota partai. Pertama, mayoritas anggota PKI di bawah Aidit baru bergabung setelah tahun 1951. Kedua, anggota yg hendak bergabung dg PKI disaring dan diamati dg cermat. Ketiga, setiap anggota yg mendapatkan promosi harus mendapatkan dukungan dari seniornya. Semua ini terjadi dalan struktur partai khas komunis, baik di Soviet maupun China, yang menggunakan sentralisme demokrasi. Dengan sistem yg tersaring seperti itu amat kecil kemungkinan munculnya elemen yg mengganggu dari dalam partai. PKI menentukan haluannya untuk meneruskan "Djalan Baru Musso". PKI rutin berkomunikasi dg Soviet dan China. Hal ini bisa diketahui dari dokumen internal yg telah dirilis pemerintah Soviet puluhan tahun kemudian. Hubungan intens dg Soviet bisa diketahui dari kader PKi bernama Muriono yg mengajukan draft proposal program PKI kepada Stalin. Rencana yg termaktub dlm proposal tsb diantaranya menghapus dominasi Belanda, Amerika, Inggris serta kaki tangan mereka. Dan yg terpenting PKI harus menciptakan front persatuan nasional yg terdiri dari buruh dan tani yg dipimpin oleh kelas pekerja. Termasuk dlm front tersebut borjuis kecil, borjuis nasional. Penguasaan front nasional akan mengisolasi lawan sebanyak mungkin. Stalin menekannkan pentingnya menguasai metode legal dan terutama sekali mengambil keuntungan dan kesempatan ikut parlemen. Stalin tidak menyetujui perjuangan bersenjata krn situasi dan kondisi belum memungkinkan. Juga karena faktor geografis Indonesia berupa kepulauan. Stalin merekomendasikan perjuangan kelas pekerja di perkotaan dan pusat industri.

 Kemunculan Triumvirat PKI (Aidit, Lukman, Njoto)



Pasca kegagalan Pemberontakan PKI 1948, bukan berarti organisasi ini mati. Karena memang pemerintah tidak langsung membekukan PKI. Sebenarnya Hatta pernah mengusulkan agar PKI dibubarkan dan dilarang, tapi usul tersebut tidak disetujui.


Pemberontakan berdarah PKI hingga dua kali, yaitu tahun 1926 dan 1948 tidak diambil pelajaran, bahwa PKI tidak bisa diberi ruang di bumi Indonesia. Bahwa ideologi komunis yg haus darah tidak bisa diberi ampun. Terbukti di tahun 1965 PKI melakukan pemberontakan yg ketiga kalinya.


Pasca kematian Musso dan Amir Sjarifuddin, muncullah tokoh-tokoh muda PKI yg sangat militan. Mereka adalah Aidit, Lukman, Njoto. Trio PKI inilah yg memegang kendali penuh arah gerak partai. 


Aidit berasal dari Belitung. Usianya masih sangat muda, tapi dia sangat cerdas dan militan. Dia menuliskan banyak buku sebagai pedoman komunisme di Indonesia. Aidit berjuang mengarahkan PKI sesuai "arah baru Musso". Aidit meneruskan kebijakan Musso dalam memimpin partai. Aidit juga rutin berkirim surat dengan Stalin. Meminta masukan Stalin dalam menentukan langkah-langkah PKI.


Disamping meminta arahan Soviet, Aidit juga berkiblat ke China yg lebih revolusioner. Kemudian Aidit berusaha menggabungkan komunis soviet dan china di Indonesia.


Pada Januari 1951 dipilih 5 anggota politbiro baru. Mereka adalah Aidit, Lukman, Sudisman, dan Alimin. Hanya kurang dari setahun Aidit sudah sangat berpengaruh di PKI. Perlahan tapi pasti kelompok tua PKI disingkirkan. Kelompok tua PKI yaitu Alimin, Wikana, Tan Ling Djie tersisih dg rapi. 


Di tahun 1951 itu, Aidit baru berusia 27 tahun, Lukman 30 tahun, dan Njoto 25 tahun. Trio pemuda PKI ini menjadi darah segar dalam pertai.  tadinya mereka berada di bagian agitasi dan propaganda. Mereka menerbitkan majalah Bintang Merah. Majalah ini menjadi corong penting berdenyutnya PKI. 


Meskipun masih muda, tapi Aidit berhasil mengambil kepemimpinan. Ada beberapa sebab Aidit tak mendapatkan perlawanan dari sesama anggota partai. Pertama, mayoritas anggota PKI di bawah Aidit baru bergabung setelah tahun 1951. Kedua, anggota yg hendak bergabung dg PKI disaring dan diamati dg cermat. Ketiga, setiap anggota yg mendapatkan promosi harus mendapatkan dukungan dari seniornya. Semua ini terjadi dalan struktur partai khas komunis, baik di Soviet maupun China, yang menggunakan sentralisme demokrasi. Dengan sistem yg tersaring seperti itu amat kecil kemungkinan munculnya elemen yg mengganggu dari dalam partai. PKI menentukan haluannya untuk meneruskan "Djalan Baru Musso". 


PKI rutin berkomunikasi dg Soviet dan China. Hal ini bisa diketahui dari dokumen internal yg telah dirilis pemerintah Soviet puluhan tahun kemudian. 


Hubungan intens dg Soviet bisa diketahui  dari kader PKi bernama Muriono  yg mengajukan draft proposal program PKI kepada Stalin. Rencana yg termaktub dlm proposal tsb diantaranya menghapus dominasi Belanda, Amerika, Inggris serta kaki tangan mereka. Dan yg terpenting PKI harus menciptakan front persatuan nasional yg terdiri dari buruh dan tani yg dipimpin oleh kelas pekerja. Termasuk dlm front tersebut borjuis kecil, borjuis nasional.


Penguasaan front nasional akan mengisolasi lawan sebanyak mungkin. Stalin menekannkan pentingnya menguasai metode legal dan terutama sekali mengambil keuntungan dan kesempatan ikut parlemen. Stalin tidak menyetujui perjuangan bersenjata krn situasi dan kondisi belum memungkinkan. Juga karena faktor geografis Indonesia berupa kepulauan. Stalin merekomendasikan perjuangan kelas pekerja di perkotaan dan pusat industri.

Sumber ; Widi Astuti

25 September 2026

Andaikan ada kejuaraan pasukan terbejat di negri ini, niscaya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) akan menduduki peringkat pertama. Kau pasti tak akan percaya bahwa Gerwani pernah menyerang tentara dengan kondisi telanjang bulat. Pasukan perempuan PKI itu sengaja berada di barisan depan tanpa sehelai benang pun. Mereka sengaja ingin memecah konsentrasi para tentara. Peristiwa mesum dan bejat ini terjadi di Kediri tahun 1965. Saat itu PKI mengambil alih paksa tanah milik pabrik gula Ngadirejo. PKI mengkoordinir BTI (Barisan Tani Indonesia), Pemuda Rakyat, serta Gerwani untuk menyerang militer Kediri. PKI memang licik. Formasi penyerangan itu diatur sedemikian rupa. Gerwani dijadikan bemper, berada di garda terdepan sambil telanjang dan membawa senjata. Lapisan kedua diisi BTI. Para petani itu dipersenjatai. Kemudian lapis ketiga baru Pemuda Rakyat. Sementara petinggi PKI hanya tersenyum dan duduk ongkang-ongkang dari balik mejanya. Gerwani begitu beringas. Dengan dipimpin seorang gadis bernama Sugiyarti, Gerwani menari sambil membawa senjata. Sugiyarti ini anak seorang lurah Desa Jagul Kec Wates Kab Kediri. Dengan berdiri di atas Jeep wilis, Sugiyarti memimpin pasukan telanjang Gerwani. Mereka meliuk seolah binatang. Mempertontonkan auratnya tanpa rasa malu. Laksana pelacur yang membawa senjata. Tentara militer kebingungan menghadapi serangan Gerwani. Menembak perempuan adalah sebuah aib. Tapi perempuan Gerwani itu begitu mesum, bejat, dan sadis. Pasukan telanjang Gerwani tak segan menembakan peluru. Akhirnya tentara militer Kediri menembakan ke arah lain, berharap bisa membuat takut Gerwani. Pasukan telanjang Gerwani terus merangsek maju. Akhirnya tentara militer Kediri melepaskan beberapa tembakan yang merobohkan barisan PKI. Dan pasukan mesum itu kocar-kacir, mundur teratur. Sejak itu PKI playing victim, merasa sebagai fihak yang terdholimi karena terkena tembakan. Mereka tiada jemu mengajak para petani untuk merebut tanah milik negara ataupun tanah milik orang kaya. Mereka selalu menginjar tanah milik Pesantren ataupun milik para haji. Merampas tanah dengan paksa untuk kemudian ditanami oleh petani yang tergabung dalam BTI. Barisan BTI ini berisi para petani yang dipersenjatai. Kisah pasukan Gerwani telanjang ini membuatku bergidik ngeri. Tak pernah menyangka bahwa di negri ini pernah ada sekumpulan wanita yang begitu bobroknya. Sudahlah bobrok agama, akhlaq, tata krama, kejam pula. Lengkap sudah kenistaan mereka. Sebuah pelajaran berharga bahwa jika seorang wanita sudah terpapar faham komunis, maka hilanglah rasa malunya. Hilanglah rasa kemanusiaannya. Hilanglah agamanya. Karena bagi mereka agama adalah candu. Semoga pasukan Gerwani ini hanya ada di masa lalu saja. Jangan sampai ada pasukan Gerwani di masa kini ataupun masa yang akan datang. Sebab Gerwani ini telah menempatkan wanita layaknya binatang yang tak punya malu.... naudzubillah mindzalik...

 Andaikan ada kejuaraan pasukan terbejat di negri ini, niscaya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) akan menduduki peringkat pertama. Kau pasti tak akan percaya bahwa Gerwani pernah menyerang tentara dengan kondisi telanjang bulat. Pasukan perempuan PKI itu sengaja berada di barisan depan tanpa sehelai benang pun. Mereka sengaja ingin memecah konsentrasi para tentara.



Peristiwa mesum dan bejat ini terjadi di Kediri tahun 1965. Saat itu PKI mengambil alih paksa tanah milik pabrik gula Ngadirejo. PKI mengkoordinir BTI (Barisan Tani Indonesia), Pemuda Rakyat, serta Gerwani untuk menyerang militer Kediri.


PKI memang licik. Formasi penyerangan itu diatur sedemikian rupa. Gerwani dijadikan bemper, berada di garda terdepan sambil telanjang dan membawa senjata. Lapisan kedua diisi BTI. Para petani itu dipersenjatai. Kemudian lapis ketiga baru Pemuda Rakyat. Sementara petinggi PKI hanya tersenyum dan duduk ongkang-ongkang dari balik mejanya.


Gerwani begitu beringas. Dengan dipimpin seorang gadis bernama Sugiyarti, Gerwani menari sambil membawa senjata. Sugiyarti ini anak seorang lurah Desa Jagul Kec Wates Kab Kediri. Dengan berdiri di atas Jeep wilis, Sugiyarti memimpin pasukan telanjang Gerwani. Mereka meliuk seolah binatang. Mempertontonkan auratnya tanpa rasa malu. Laksana pelacur yang membawa senjata. 


Tentara militer kebingungan menghadapi serangan Gerwani. Menembak perempuan adalah sebuah aib. Tapi perempuan Gerwani itu begitu mesum, bejat, dan sadis. Pasukan telanjang Gerwani tak segan menembakan peluru. Akhirnya tentara militer Kediri menembakan ke arah lain, berharap bisa membuat takut Gerwani.


Pasukan telanjang Gerwani terus merangsek maju. Akhirnya tentara militer Kediri melepaskan beberapa tembakan yang merobohkan barisan PKI. Dan pasukan mesum itu kocar-kacir, mundur teratur.


Sejak itu PKI playing victim, merasa sebagai fihak yang terdholimi karena terkena tembakan. Mereka tiada jemu mengajak para petani untuk merebut tanah milik negara ataupun tanah milik orang kaya. Mereka selalu menginjar tanah milik Pesantren ataupun milik para haji. Merampas tanah dengan paksa untuk kemudian ditanami oleh petani yang tergabung dalam BTI. Barisan BTI ini berisi para petani yang dipersenjatai.


Kisah pasukan Gerwani telanjang ini membuatku bergidik ngeri. Tak pernah menyangka bahwa di negri ini pernah ada sekumpulan wanita yang begitu bobroknya. Sudahlah bobrok agama, akhlaq, tata krama, kejam pula. Lengkap sudah kenistaan mereka. 


Sebuah pelajaran berharga bahwa jika seorang wanita sudah terpapar faham komunis, maka hilanglah rasa malunya. Hilanglah rasa kemanusiaannya. Hilanglah agamanya. Karena bagi mereka agama adalah candu. 


Semoga pasukan Gerwani ini hanya ada di masa lalu saja. Jangan sampai ada pasukan Gerwani di masa kini ataupun masa yang akan datang. Sebab Gerwani ini telah menempatkan wanita layaknya binatang yang tak punya malu.... naudzubillah mindzalik...


Sumber : Widi Astuti

Jejak Langkah Para Misionaris Semuanya berawal dari Dekrit Raja William I di tahun 1816. Sebuah dekrit yang menjadi dasar pengiriman para misionaris Kerajaan Belanda ke tanah jajahan. Sejak itu para misionaris berdatangan ke Indonesia. Dan mereka adalah para pegawai kerajaan yang mendapat gaji. Saat itu Pulau Jawa sering menjadi transit para misionaris asing. Mereka menetap beberapa lama di Jawa sebelum dikirim ke Maluku, Sumatera, Sulawesi dll. Ada juga misionaris Kerajaan Belanda yang memang tujuan utamanya adalah Pulau Jawa. Adalah Joseph Kam Enklaar, seorang misionaris yang ditugaskan ke Maluku. Dia transit terlebih dulu di Surabaya selama 6 bulan. Dan selama masa transitnya ini dia mendirikan perkumpulan para misionaris yang pertama kali didirikan di Indonesia. Perkumpulan mereka sangat unik. Anggota perkumpulan mereka dijuluki " orang saleh dari Surabaya". Dan kesemuanya adalah warga kulit putih. Tugas utama mereka adalah melakukan penginjilan. Penyebaran injil mereka lakukan dari rumah ke rumah. Saat itu mereka hanya melayani warga kulit putih. Karena hampir seluruh warga pribumi memeluk Islam, belum ada pemeluk Kristen. Disamping Joseph Kam Enklaar, terdapat juga nama misionaris terkenal di zamannya yang tergabung dalam perkumpulan orang saleh dari Surabaya tersebut. Diantaranya yaitu Johannes Emde, Conrad Laurens Coolen, dan juga Pendeta Meyer. Bisa dikatakan mereka pioner misionaris yang mewarnai Pulau Jawa. Diantara para pioneer misionaris tersebut, ada satu sosok yang bisa dikatakan unik dan sukses membawa kaum pribumi untuk memeluk agama baru. Sosok tersebut adalah Conrad Laurens Coolen. Coolen memilih jalan yang berbeda dengan para misionaris lainnya. Dia memutuskan menetap di sebuah hutan yang baru dibuka oleh tangannya sendiri di tahun 1827. Dan menetap disana sambil mengajarkan injil. Coolen mendapatkan ijin membuka dan mengolah hutan selama 25 tahun dari pemerintah kolonial. Biasanya tanah persil digunakan untuk perkebunan. Dan ditanami dengan komoditas yang sedang laku dijual di pasaran Eropa. Tapi Coolen tidak demikian. Dia babat alas bersama para pengikutnya di Ngoro (selatan Jombang). Kemudian menanaminya dengan padi. Dia sangat anti mainstream. Coolen mendirikan perkampungan sendiri, bukan perkebunan layaknya orang Belanda lainnya yang mendapat ijin mengolah Persil. Dia menjadi semacam kepala desa di Ngoro. Segala urusan desa dipegang olehnya. Dan warga sangat mencintainya. Karena saat itu sangat jarang ada warga kulit putih yang menetap dan membaur dengan warga pribumi. Terlebih mau babat alas bersama. Coolen membangun sebuah gereja yang menjadi pusat aktifitas penginjilan di Ngoro dan sekitarnya. Dan Coolen berhasil merebut hati warga. Dia sangat dihormati dan dicintai warga desa Ngoro dan sekitarnya. Kabar seorang warga kulit putih yang babat alas dan sekaligus menjadi kepala desa disana menyebar. Beberapa warga dari kampung lain tertarik untuk datang dan menetap di Ngoro. Mereka sangat berterimakasih kepada Coolen karena telah diberikan tempat tinggal sekaligus tempat bercocok tanam sebagai sumber penghidupan. Coolen berusaha membaur dengan cara mempelajari adat Jawa. Dia sering berkhotbah di gerejanya menggunakan pitutur Jawa dan legenda setempat. Bahkan terkadang menggunakan wayang kulit . Tentu saja warga kampung tambah mencintainya. Dan memandang Coolen sebagai pemimpin kharismatik. Tak hanya pemimpin desa tetapi sekaligus pemimpin agama baru mereka. Begitu besarnya keinginan Coolen membaur dengan warga Pribumi. Sampai dia berpendapat bahwa untuk menjadi seorang Kristen tak perlu dibaptis. Sehingga warga Kristen pengikut Coolen tak satupun dibaptis. Dia berpendapat lebih utama menjadi Kristen Jowo daripada Kristen Londo. Dalam penginjilan, cara pengajaran Coolen lebih mirip "ngelmu Jawa". Tak heran di tahun 1844, sudah ada 1000-an orang yang bermukim di Ngoro. Sebuah bukti keberhasilan Coolen dalam memimpin kampungnya. Dia mendapat julukan "Raja Jawa Tanpa Mahkota" oleh para pengikutnya. Dia juga mendapat julukan "Guru Agama Jawa" Coolen pernah menjadi pusat kristenisasi. Sosoknya yang baik, ramah, dan simpatik seolah menjadi magnet kaum pribumi untuk mengikutinya. Mereka dengan sukarela mengikuti agama Coolen karena merasa diuwongke atau diorangkan. Dalam perjalanannya, Coolen berselisih dengan para misionaris Belanda lainnya. Ajaran Coolen diprotes karena tidak mencerminkan ajaran Kristen standard Belanda. Terutama masalah baptis. Coolen yang tak pernah mengadakan pembaptisan untuk para pengikutnya diprotes keras. Karena baptis adalah jalan masuk agama Kristen. Coolen berprinsip tak mengapa dibaptis yang penting sudah mengakui Yesus. Silang pendapat antara Coolen dengan para misionaris lainnya terdengar oleh sebagian warga desa Ngoro. Kemudian sebagian pengikutnya berusaha mencari tau ke Pendeta Emde dan Bruckner di Surabaya. Dan akhirnya mereka faham bahwa ajaran Coolen memang berbeda. Mereka akhirnya memutuskan agar dibaptis oleh Emde. Sejak itu ada beberapa gelombang warga Ngoro berangkat ke Surabaya untuk pembaptisan. Mereka sebagian meninggalkan Coolen yang tetap berprinsip tak ada pembaptisan. Sampai akhir hayatnya, Coolen tetap setia di jalannya. Menjadi penginjil yang membaur bersama warga pribumi. Dia sosok misionaris yang berusaha melepas sekat dengan warga pribumi. Perjalanan hidup Coolen membuat saya merenung. Betapa dia sangat gigih puluhan tahun menjadi penginjil. Dan menutup mata di penghujung hidupnya diantara para jemaatnya. Dia rela meninggalkan perkotaan dan babat alas. Jika bukan karena kegigihannya, tak mungkin dia bisa bertahan selama itu. Totalitas para misionaris dalam menyebarkan agama sangat terlihat. Lalu mengapa kita masih mengeluh ketika hanya kelelahan atau kehujanan sebentar? (nunjuk diri sendiri šŸ˜‘). Kita masih bisa tinggal di perkotaan, bisa tidur dengan nyaman di atas kasur empuk, masih bisa internetan, masih bisa menikmati secangkir coklat panas sambil membaca buku, lantas kurang apa lagi? Mengapa masih mengeluh jika diajak menyapa ummat dengan alasan lelah ataupun tak sempat? Atau paling tidak support tenaga, fikiran, ataupun harta untuk ummat. Bukankah rasa lelah di jalan-Nya justru terasa nikmat?

 Jejak Langkah Para  Misionaris 



Semuanya berawal dari Dekrit Raja William I di tahun 1816. Sebuah dekrit yang menjadi dasar pengiriman para misionaris Kerajaan Belanda ke tanah jajahan. Sejak itu para misionaris berdatangan ke Indonesia. Dan mereka adalah para pegawai kerajaan yang mendapat gaji.


Saat itu Pulau Jawa sering menjadi transit para misionaris asing. Mereka menetap beberapa lama di Jawa sebelum dikirim ke Maluku, Sumatera, Sulawesi dll. Ada juga misionaris Kerajaan Belanda yang memang tujuan utamanya adalah Pulau Jawa.


Adalah Joseph Kam Enklaar, seorang misionaris yang ditugaskan ke Maluku. Dia transit terlebih dulu di Surabaya selama 6 bulan. Dan selama masa transitnya ini dia mendirikan perkumpulan para misionaris yang pertama kali didirikan di Indonesia. 


Perkumpulan mereka sangat unik. Anggota perkumpulan mereka dijuluki " orang saleh dari Surabaya".  Dan kesemuanya adalah warga kulit putih.


Tugas utama mereka adalah melakukan penginjilan. Penyebaran injil mereka lakukan dari rumah ke rumah. Saat itu mereka hanya melayani warga kulit putih. Karena hampir seluruh warga pribumi memeluk Islam, belum ada pemeluk Kristen. 


Disamping Joseph Kam Enklaar, terdapat juga nama misionaris terkenal di zamannya yang tergabung dalam perkumpulan orang saleh dari Surabaya tersebut. Diantaranya yaitu Johannes Emde, Conrad Laurens Coolen, dan juga Pendeta Meyer. Bisa dikatakan mereka pioner misionaris yang mewarnai Pulau Jawa.


Diantara para pioneer misionaris tersebut, ada satu sosok yang bisa dikatakan unik dan sukses membawa kaum pribumi untuk memeluk agama baru. Sosok tersebut adalah Conrad Laurens Coolen.


Coolen memilih jalan yang berbeda dengan para misionaris lainnya. Dia memutuskan menetap di sebuah hutan yang baru dibuka oleh tangannya sendiri di tahun 1827. Dan menetap disana sambil mengajarkan injil.


Coolen mendapatkan ijin membuka dan mengolah hutan selama 25 tahun dari pemerintah kolonial. Biasanya tanah persil digunakan untuk perkebunan. Dan ditanami dengan komoditas yang sedang laku dijual di pasaran Eropa.


Tapi Coolen tidak demikian. Dia babat alas bersama para pengikutnya di Ngoro (selatan Jombang). Kemudian menanaminya dengan padi. Dia sangat anti mainstream.


Coolen mendirikan perkampungan sendiri, bukan perkebunan layaknya orang Belanda lainnya yang mendapat ijin mengolah Persil. Dia menjadi semacam kepala desa di Ngoro. Segala urusan desa dipegang olehnya. Dan warga sangat mencintainya. Karena saat itu sangat jarang ada warga kulit putih yang menetap dan membaur dengan warga pribumi. Terlebih mau babat alas bersama.


Coolen membangun sebuah gereja yang menjadi pusat aktifitas penginjilan di Ngoro dan sekitarnya. Dan Coolen berhasil merebut hati warga. Dia sangat dihormati dan dicintai warga desa Ngoro dan sekitarnya. 


Kabar seorang warga kulit putih yang babat alas dan sekaligus menjadi kepala desa disana menyebar. Beberapa warga dari kampung lain tertarik untuk datang dan menetap di Ngoro. Mereka sangat berterimakasih kepada Coolen karena telah diberikan tempat tinggal sekaligus tempat bercocok tanam sebagai sumber penghidupan.


Coolen berusaha membaur dengan cara mempelajari adat Jawa. Dia sering berkhotbah di gerejanya menggunakan pitutur Jawa dan legenda setempat. Bahkan terkadang menggunakan wayang kulit . Tentu saja warga kampung tambah mencintainya. Dan memandang Coolen sebagai pemimpin kharismatik. Tak hanya pemimpin desa tetapi sekaligus pemimpin agama baru mereka.


Begitu besarnya keinginan Coolen membaur dengan warga Pribumi. Sampai dia berpendapat bahwa untuk menjadi seorang Kristen tak perlu dibaptis. Sehingga warga Kristen pengikut Coolen tak satupun dibaptis. Dia berpendapat lebih utama menjadi Kristen Jowo daripada Kristen Londo.


Dalam penginjilan, cara pengajaran Coolen lebih mirip "ngelmu Jawa". Tak heran di tahun 1844, sudah ada 1000-an orang yang bermukim di Ngoro. Sebuah bukti keberhasilan Coolen dalam memimpin kampungnya. Dia mendapat julukan "Raja Jawa Tanpa Mahkota" oleh para pengikutnya. Dia juga mendapat julukan "Guru Agama Jawa"


Coolen pernah menjadi pusat kristenisasi. Sosoknya yang baik, ramah, dan simpatik seolah menjadi magnet kaum pribumi untuk mengikutinya. Mereka dengan sukarela mengikuti agama Coolen karena merasa diuwongke atau diorangkan.


Dalam perjalanannya, Coolen berselisih dengan para misionaris Belanda lainnya. Ajaran Coolen diprotes karena tidak mencerminkan ajaran Kristen standard Belanda. Terutama masalah baptis. Coolen yang tak pernah mengadakan pembaptisan untuk para pengikutnya diprotes keras. Karena baptis adalah jalan masuk agama Kristen. Coolen berprinsip tak mengapa dibaptis yang penting sudah mengakui Yesus.


Silang pendapat antara Coolen dengan para misionaris lainnya terdengar oleh sebagian warga desa Ngoro. Kemudian sebagian pengikutnya berusaha mencari tau ke Pendeta Emde dan Bruckner di Surabaya. Dan akhirnya mereka faham bahwa ajaran Coolen memang berbeda. Mereka akhirnya memutuskan agar dibaptis oleh Emde. 


Sejak itu ada beberapa gelombang warga Ngoro berangkat ke Surabaya untuk pembaptisan. Mereka sebagian meninggalkan Coolen yang tetap berprinsip tak ada pembaptisan.


Sampai akhir hayatnya, Coolen tetap setia di jalannya. Menjadi penginjil yang membaur bersama warga pribumi. Dia sosok misionaris yang berusaha melepas sekat dengan warga pribumi.


Perjalanan hidup Coolen membuat saya merenung. Betapa dia sangat gigih puluhan tahun menjadi penginjil. Dan menutup mata di penghujung hidupnya diantara para jemaatnya. Dia rela meninggalkan perkotaan dan babat alas. Jika bukan karena kegigihannya, tak mungkin dia bisa bertahan selama itu.


Totalitas para misionaris dalam menyebarkan agama sangat terlihat. Lalu mengapa kita masih mengeluh ketika hanya kelelahan atau kehujanan sebentar? (nunjuk diri sendiri šŸ˜‘).


Kita masih bisa tinggal di perkotaan, bisa tidur dengan nyaman di atas kasur empuk, masih bisa internetan, masih bisa menikmati secangkir coklat panas sambil membaca buku, lantas kurang apa lagi? Mengapa masih mengeluh jika diajak menyapa ummat dengan alasan lelah ataupun tak sempat? Atau paling tidak support tenaga, fikiran, ataupun harta untuk ummat.


Bukankah rasa lelah di jalan-Nya justru terasa nikmat?


Sumber : Widi Astuti

Repro Peta Stasiun seJawa Tengah

 Repro Peta Stasiun seJawa Tengah




Sumber : Eko Faruza


 Sejarah yang ga boleh dilupakan



Pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, Jakarta diselimuti kabut ketidakpastian yang sangat mencekam. Enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI Angkatan Darat diculik oleh kelompok yang menamakan diri  mereka Gerakan 30 September (G30S).


Di tengah kekacauan itu, seorang putra terbaik asal Sumedang, Jawa Barat, memegang tanggung jawab paling berat di ibu kota. Beliau adalah Mayor Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah, Panglima Kodam V/Jaya (Pangdam Jaya)


Ketegangan mencapai puncaknya siang itu. Sebuah perintah langsung datang dari Presiden Soekarno. Bung Karno memanggil Jenderal Umar untuk segera menghadap ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.


Bagi seorang prajurit, perintah Panglima Tertinggi adalah hukum yang absolut. Namun, situasi saat itu sangat tidak biasa. Kawasan Halim justru terindikasi kuat menjadi pusat  berkumpulnya para gembong dan pasukan penculik G30S.


Melihat potensi bahaya dan jebakan maut tersebut, Mayjen Soeharto melarang keras Umar untuk pergi. Soeharto khawatir pemanggilan itu merupakan taktik untuk melenyapkan sisa pimpinan Angkatan Darat yang masih hidup.


Di sinilah nyali baja sang Jenderal Sunda diuji. Berada di persimpangan jalan sejarah, Umar Wirahadikusumah mengambil keputusan krusial. Beliau memilih setia pada soliditas Angkatan Darat dan keselamatan ibu kota. Umari mematuhi arahan Soeharto dan secara tegas menolak untuk memenuhi panggilan Bung Karno ke Halim.


Soeharto kemudian menyampaikan pesan kepada utusan istana: "Sampaikan pada Bapak Presiden, mohon maaf, Pangdam V Jaya tidak dapat menghadap. Harap semua instruksi untuk AD disampaikan melalui saya."


Penolakan berani ini sempat membuat Bung Karno berang. Namun, langkah taktis Umar terbukti menyelamatkan Jakarta dari kekosongan komando. Bersama Soeharto, Umar mengonsolidasikan pasukan, memberlakukan jam malam, membredel media propaganda musuh dan melumpuhkan gerakan G30S hingga situasi ibu kota kembali kondusif.


Ketegasan, kejujuran, dan kesetiaannya di malam jahanam itu membawanya pada puncak karier militer hingga nantinya dipercaya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-4.


Sumber : Yudi Bragas Adi Luhur