07 October 2026

Begini Nasib Pilu Pencipta “Genjer-genjer”: Rumahnya Dihancurkan Massa, Anaknya Dicoret dari Seleksi Tentara Di balik lagu “Genjer-genjer” yang begitu populer sekaligus kontroversial dalam sejarah Indonesia, tersimpan kisah pilu penciptanya, Muhammad Arief, seorang seniman angklung asal Banyuwangi, Jawa Timur. Lagu yang ditulis dalam bahasa Osing itu pada awalnya bukanlah lagu tentang PKI ataupun G30S. “Genjer-genjer” menggambarkan penderitaan masyarakat Banyuwangi pada masa pendudukan Jepang. Ketika bahan pangan sulit diperoleh dan banyak rakyat hidup dalam kekurangan, tanaman genjer yang sebelumnya lebih dikenal sebagai gulma atau pakan ternak kemudian dimanfaatkan sebagai makanan. Muhammad Arief mengangkat keadaan tersebut menjadi kritik sosial melalui lagu. Sejumlah sumber menyebut lagu ini digubah pada era pendudukan Jepang pada 1940-an, dengan melodi yang berkaitan dengan lagu dolanan Banyuwangi “Tong Alak Gentak”. Setelah Indonesia merdeka, kehidupan Muhammad Arief tidak hanya berkutat pada musik. Ia pernah bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan kemudian pada era 1950-an bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Di Lekra, ia dikenal menduduki bidang kesenian dan mendirikan kelompok angklung Seni Rakyat Indonesia Muda (Srimuda). Pada 1955, ia juga tercatat menjadi anggota DPRD Banyuwangi sebagai wakil golongan seniman. Pada masa itu, “Genjer-genjer” justru semakin populer. Lagu tersebut kemudian dinyanyikan oleh penyanyi terkenal seperti Bing Slamet dan Lilis Suryani melalui rekaman Irama Record. Popularitasnya semakin besar ketika lagu tersebut juga kerap dibawakan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kelompok politik kiri. Akibat keterkaitan politik itulah, citra “Genjer-genjer” perlahan berubah. Lagu rakyat yang awalnya menggambarkan penderitaan masyarakat pada masa penjajahan Jepang kemudian semakin identik dengan Lekra dan PKI. Setelah pecahnya krisis politik 1965, keadaan berubah menjadi tragedi bagi Muhammad Arief dan keluarganya. Menurut kesaksian putranya, Sinar Syamsi, massa datang menyerbu rumah mereka di kawasan Temenggungan, Banyuwangi. Syamsi yang saat itu masih duduk di sekolah dasar bersama ibunya melarikan diri. Rumah mereka kemudian dihancurkan. Dalam kekacauan tersebut, Syamsi hanya sempat menyelamatkan tiga buku berisi tulisan dan notasi lagu karya ayahnya. Benda-benda sederhana itulah yang kemudian menjadi salah satu peninggalan penting dari sang pencipta “Genjer-genjer”. Kehidupan Muhammad Arief sendiri berakhir dalam ketidakpastian. Pada Oktober 1965, ia ditangkap dan ditahan. Ia kemudian dipindahkan dari Banyuwangi ke Kalibaru dan selanjutnya ke Lowokwaru. Setelah akhir 1965, keberadaannya tidak lagi diketahui secara pasti. Sejumlah sumber menyebut ia diyakini menjadi korban kekerasan politik pasca-1965, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan. Yang semakin menyakitkan, dampak stigma terhadap keluarga Muhammad Arief ternyata tidak berhenti setelah dirinya menghilang. Putranya, Sinar Syamsi, mengaku pernah diterima menjadi tentara pada 1975. Namun, sebelum proses tersebut selesai, namanya dicoret dari daftar tanpa penjelasan yang jelas. Syamsi menduga kuat bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan status dan masa lalu ayahnya sebagai pencipta “Genjer-genjer” yang telah telanjur dicap dekat dengan kelompok kiri. Namun, bagian ini merupakan kesaksian dan dugaan Syamsi, bukan sesuatu yang dapat dipastikan sebagai alasan resmi pencoretannya. Syamsi juga pernah menceritakan bahwa keluarganya harus hidup di tengah stigma sebagai keluarga yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI. Ia mengaku mengalami berbagai tekanan dalam kehidupan dan pekerjaan. Bahkan, ia pernah berpikir untuk meninggalkan Indonesia karena merasa terus dibayangi oleh masa lalu keluarganya. Ironisnya, Muhammad Arief dikenal bukan hanya sebagai pencipta “Genjer-genjer”, tetapi juga sebagai seniman yang banyak menciptakan lagu mengenai kehidupan masyarakat sehari-hari dalam bahasa Indonesia dan bahasa Using. Ia berasal dari keluarga santri dan dikenal fasih berbahasa Arab. Putranya sendiri bersaksi bahwa ayahnya merupakan seorang Muslim yang taat. Kisah Muhammad Arief menunjukkan bagaimana sebuah karya seni dapat berubah makna ketika masuk ke dalam pusaran politik. “Genjer-genjer” pada mulanya merupakan gambaran penderitaan rakyat Banyuwangi di masa pendudukan Jepang. Namun setelah lagu tersebut digunakan dan diasosiasikan dengan kelompok politik kiri, nasib lagu dan penciptanya ikut terseret dalam tragedi politik 1965. Bagi keluarganya, persoalannya bukan sekadar tentang sebuah lagu. Ada rumah yang dihancurkan, seorang ayah yang ditangkap lalu tidak pernah kembali, karya-karya yang hampir semuanya hilang, dan seorang anak yang merasa masa lalu keluarganya terus membayangi kehidupannya bertahun-tahun kemudian. “Genjer-genjer” akhirnya tetap hidup sebagai lagu, tetapi kisah penciptanya menyimpan luka sejarah yang jauh lebih panjang daripada durasi lagunya.

 Begini Nasib Pilu Pencipta “Genjer-genjer”: Rumahnya Dihancurkan Massa, Anaknya Dicoret dari Seleksi Tentara



Di balik lagu “Genjer-genjer” yang begitu populer sekaligus kontroversial dalam sejarah Indonesia, tersimpan kisah pilu penciptanya, Muhammad Arief, seorang seniman angklung asal Banyuwangi, Jawa Timur.


Lagu yang ditulis dalam bahasa Osing itu pada awalnya bukanlah lagu tentang PKI ataupun G30S. “Genjer-genjer” menggambarkan penderitaan masyarakat Banyuwangi pada masa pendudukan Jepang. Ketika bahan pangan sulit diperoleh dan banyak rakyat hidup dalam kekurangan, tanaman genjer yang sebelumnya lebih dikenal sebagai gulma atau pakan ternak kemudian dimanfaatkan sebagai makanan. Muhammad Arief mengangkat keadaan tersebut menjadi kritik sosial melalui lagu. Sejumlah sumber menyebut lagu ini digubah pada era pendudukan Jepang pada 1940-an, dengan melodi yang berkaitan dengan lagu dolanan Banyuwangi “Tong Alak Gentak”.


Setelah Indonesia merdeka, kehidupan Muhammad Arief tidak hanya berkutat pada musik. Ia pernah bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) dan kemudian pada era 1950-an bergabung dengan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Di Lekra, ia dikenal menduduki bidang kesenian dan mendirikan kelompok angklung Seni Rakyat Indonesia Muda (Srimuda). Pada 1955, ia juga tercatat menjadi anggota DPRD Banyuwangi sebagai wakil golongan seniman.


Pada masa itu, “Genjer-genjer” justru semakin populer. Lagu tersebut kemudian dinyanyikan oleh penyanyi terkenal seperti Bing Slamet dan Lilis Suryani melalui rekaman Irama Record. Popularitasnya semakin besar ketika lagu tersebut juga kerap dibawakan dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kelompok politik kiri. Akibat keterkaitan politik itulah, citra “Genjer-genjer” perlahan berubah. Lagu rakyat yang awalnya menggambarkan penderitaan masyarakat pada masa penjajahan Jepang kemudian semakin identik dengan Lekra dan PKI.


Setelah pecahnya krisis politik 1965, keadaan berubah menjadi tragedi bagi Muhammad Arief dan keluarganya.


Menurut kesaksian putranya, Sinar Syamsi, massa datang menyerbu rumah mereka di kawasan Temenggungan, Banyuwangi. Syamsi yang saat itu masih duduk di sekolah dasar bersama ibunya melarikan diri. Rumah mereka kemudian dihancurkan.


Dalam kekacauan tersebut, Syamsi hanya sempat menyelamatkan tiga buku berisi tulisan dan notasi lagu karya ayahnya. Benda-benda sederhana itulah yang kemudian menjadi salah satu peninggalan penting dari sang pencipta “Genjer-genjer”.


Kehidupan Muhammad Arief sendiri berakhir dalam ketidakpastian. Pada Oktober 1965, ia ditangkap dan ditahan. Ia kemudian dipindahkan dari Banyuwangi ke Kalibaru dan selanjutnya ke Lowokwaru. Setelah akhir 1965, keberadaannya tidak lagi diketahui secara pasti. Sejumlah sumber menyebut ia diyakini menjadi korban kekerasan politik pasca-1965, tetapi jasadnya tidak pernah ditemukan.


Yang semakin menyakitkan, dampak stigma terhadap keluarga Muhammad Arief ternyata tidak berhenti setelah dirinya menghilang.


Putranya, Sinar Syamsi, mengaku pernah diterima menjadi tentara pada 1975. Namun, sebelum proses tersebut selesai, namanya dicoret dari daftar tanpa penjelasan yang jelas. Syamsi menduga kuat bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan status dan masa lalu ayahnya sebagai pencipta “Genjer-genjer” yang telah telanjur dicap dekat dengan kelompok kiri. Namun, bagian ini merupakan kesaksian dan dugaan Syamsi, bukan sesuatu yang dapat dipastikan sebagai alasan resmi pencoretannya.


Syamsi juga pernah menceritakan bahwa keluarganya harus hidup di tengah stigma sebagai keluarga yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI. Ia mengaku mengalami berbagai tekanan dalam kehidupan dan pekerjaan. Bahkan, ia pernah berpikir untuk meninggalkan Indonesia karena merasa terus dibayangi oleh masa lalu keluarganya.


Ironisnya, Muhammad Arief dikenal bukan hanya sebagai pencipta “Genjer-genjer”, tetapi juga sebagai seniman yang banyak menciptakan lagu mengenai kehidupan masyarakat sehari-hari dalam bahasa Indonesia dan bahasa Using. Ia berasal dari keluarga santri dan dikenal fasih berbahasa Arab. Putranya sendiri bersaksi bahwa ayahnya merupakan seorang Muslim yang taat.


Kisah Muhammad Arief menunjukkan bagaimana sebuah karya seni dapat berubah makna ketika masuk ke dalam pusaran politik. “Genjer-genjer” pada mulanya merupakan gambaran penderitaan rakyat Banyuwangi di masa pendudukan Jepang. Namun setelah lagu tersebut digunakan dan diasosiasikan dengan kelompok politik kiri, nasib lagu dan penciptanya ikut terseret dalam tragedi politik 1965.


Bagi keluarganya, persoalannya bukan sekadar tentang sebuah lagu.


Ada rumah yang dihancurkan, seorang ayah yang ditangkap lalu tidak pernah kembali, karya-karya yang hampir semuanya hilang, dan seorang anak yang merasa masa lalu keluarganya terus membayangi kehidupannya bertahun-tahun kemudian.


“Genjer-genjer” akhirnya tetap hidup sebagai lagu, tetapi kisah penciptanya menyimpan luka sejarah yang jauh lebih panjang daripada durasi lagunya.

Suriname: Pekerja Kontrak dari Wonotengah Purwoasri kediri Jawa hindia belanda Periode: 1890 - 1930 DATA DIRI Nama: Bakri Nama Ayah: Bakri Data Keluarga Sebelum Kedatangan: Suami dari 646 AG Tanda Pengenal: Bercak pigmen di dada dan pipi kanan Tempat Lahir: Hindia Belanda Jenis Kelamin: Laki-laki Usia: 18 Tahun Tinggi Badan: 155 cm Agama: Islam DATA KEBERANGKATAN Tempat Keberangkatan: Batavia (Jakarta) Tanggal Keberangkatan: 22 Mei 1929 Kapal: Simaloer III Jenis Kapal: Kapal Uap (SS) Nomor Urut: 9 Tempat Kedatangan: Paramaribo (Suriname) DATA KONTRAK Bekerja Untuk: Brokmeier G.H. Untuk Pihak: Pemerintah Kolonial Kode Kontrak: AG627 Tanggal Mulai Kontrak: 7 Juli 1929 Tanggal Selesai Kontrak: 7 Juli 1934 Tanggal CVO (Sertifikat Bebas Kewajiban): 7 September 1936 Tanggal Penerimaan Premi: 12 Mei 1938 Perkebunan: Peperpot dan Dordrecht Kapal Kepulangan: Tidak diketahui Perpanjangan Kontrak: 14 Juli 1934 sampai 14 Juli 1935 DATA ASAL DI JAWA Karesidenan: Kediri Kabupaten: Kediri Distrik: Papar (Purwoasri) Desa: Wonotengah KETERANGAN NAMA Pada tanggal 12 Desember 1950 telah memilih nama keluarga Bakri dan nama depan Toerismia. DATA KELUARGA Telah di Distrik Saramacca, Suriname pada tanggal 23 Mei 1940 mengakui anak-anak Samiran dan Geger, lahir tanggal 2 Oktober 1936 dan 11 Juni 1936 dari 646 AG sebagai anak-anaknya. CATATAN Diperhitungkan sejak 28 April 1930 dipekerjakan sementara di perkebunan Dordrecht, agenda tanggal 2 Mei 1930 No. 844. Premi diterima dari dana imigrasi berdasarkan akta dari D.C. Comm. lihat G.R. tanggal 11 April 1938 No. 1085. Tercatat untuk 1 tahun C.V.O. No. 646. Pr. Lfs. D.C. Comm. 4 April 1938. (nasionalarsip) Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #pekerjasuriname #tokohkedirijadul #imigransuriname #jawasuriname #suriname #wongkediri #blitarjadul #kotakedirijadul #kedirijadul #kotalamakediri #kedirijawa #sejarahkedirijadul #kedirijamanpenjajahan #wisatakediri #wisatakotakediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamanbelanda #bangunandikediri #situskediri #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri #koleksikediri #kedirijamandulu #sejarahkediri #kediritempodulu #kediritempoedoeloe

 Suriname: Pekerja Kontrak dari  Wonotengah Purwoasri kediri Jawa hindia belanda

Periode: 1890 - 1930



DATA DIRI

Nama: Bakri

Nama Ayah: Bakri

Data Keluarga Sebelum Kedatangan: Suami dari 646 AG

Tanda Pengenal: Bercak pigmen di dada dan pipi kanan

Tempat Lahir: Hindia Belanda

Jenis Kelamin: Laki-laki

Usia: 18 Tahun

Tinggi Badan: 155 cm

Agama: Islam


DATA KEBERANGKATAN

Tempat Keberangkatan: Batavia (Jakarta)

Tanggal Keberangkatan: 22 Mei 1929

Kapal: Simaloer III

Jenis Kapal: Kapal Uap (SS)

Nomor Urut: 9

Tempat Kedatangan: Paramaribo (Suriname)


DATA KONTRAK

Bekerja Untuk: Brokmeier G.H.

Untuk Pihak: Pemerintah Kolonial

Kode Kontrak: AG627

Tanggal Mulai Kontrak: 7 Juli 1929

Tanggal Selesai Kontrak: 7 Juli 1934

Tanggal CVO (Sertifikat Bebas Kewajiban): 7 September 1936

Tanggal Penerimaan Premi: 12 Mei 1938

Perkebunan: Peperpot dan Dordrecht

Kapal Kepulangan: Tidak diketahui

Perpanjangan Kontrak: 14 Juli 1934 sampai 14 Juli 1935


DATA ASAL DI JAWA

Karesidenan: Kediri

Kabupaten: Kediri

Distrik: Papar (Purwoasri)

Desa: Wonotengah


KETERANGAN NAMA

Pada tanggal 12 Desember 1950 telah memilih nama keluarga Bakri dan nama depan Toerismia.


DATA KELUARGA

Telah di Distrik Saramacca, Suriname pada tanggal 23 Mei 1940 mengakui anak-anak Samiran dan Geger, lahir tanggal 2 Oktober 1936 dan 11 Juni 1936 dari 646 AG sebagai anak-anaknya.


CATATAN

Diperhitungkan sejak 28 April 1930 dipekerjakan sementara di perkebunan Dordrecht, agenda tanggal 2 Mei 1930 No. 844. Premi diterima dari dana imigrasi berdasarkan akta dari D.C. Comm. lihat G.R. tanggal 11 April 1938 No. 1085. Tercatat untuk 1 tahun C.V.O. No. 646. Pr. Lfs. D.C. Comm. 4 April 1938.


(nasionalarsip)

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #pekerjasuriname #tokohkedirijadul #imigransuriname #jawasuriname #suriname #wongkediri #blitarjadul

#kotakedirijadul #kedirijadul #kotalamakediri #kedirijawa #sejarahkedirijadul  #kedirijamanpenjajahan #wisatakediri #wisatakotakediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamanbelanda #bangunandikediri #situskediri #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri #koleksikediri #kedirijamandulu #sejarahkediri #kediritempodulu #kediritempoedoeloe



Sumber : Kadiri Jadoel

Semasa hidup ia aktif di Lekra, organisasi mantel PKI. Namun ia berwasiat agar jenazah diurus secara Islam. NAMANYA Utuy Tatang Sontani. Ia pernah aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi mantel PKI yang bergerak dalam bidang kebudayaan. Saat berada dalam pelarian di China, Utuy menulis sebuah karya berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang.” Utuy dan karyanya ini menjadi perbincangan. Apakah ia seorang Komunis tulen, atau hanya seorang seniman yang terjebak propaganda tokoh-tokoh PKI yang menjadi sahabat dekatnya? Atau ada faktor lain? Sebagai seorang yang cenderung memiliki sifat individualis, kata Ajip Rosidi dalam pengantar buku ini, sangat mengherankan jika Utuy Tatang Sontani aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). “Bagaimana mungkin pengarang yang dalam karya-karyanya begitu individualistis, menjadi aktifis organisasi kebudayaan yang berdasarkan paham Marxisme-Leninisme yang menentang individualisme?” tulis Ajip. Ajip menceritakan, pada tahun 1957 saat Lekra mengadakan Kongres di Solo, Utuy mendapat telegram dari lembaga tersebut yang berisi permohonan kesediaannya menjadi pengurus Lekra. Utuy yang melihat banyak sahabatnya aktif di Lekra, seperti Hendra Gunawan dan Boejoeng Saleh Sastradipoera (belakang taubat dari Komunis), kemudian agak tertarik untuk bergabung. Apalagi, ia juga mempunyai kedekatan secara pribadi dengan tokoh PKI, D.N Aidit, sehingga menurutnya akan mudah bekerjasama dalam organisasi. Tetapi, karena agak ragu, maka ia mendatangi Ajip Rosidi untuk meminta saran terkait telegram tersebut. Ajip lalu mengatakan, “soalnya bukan bisa kerjasama atau tidak dengan orang-orang yang ada di sana, melainkan sikap kita terhadap falsafah dasar organisasi itu. Bagaimana sikap kita terhadap Komunisme? Bagaimana sikap kita terhadap realisme sosialis yang menjadi pegangang Lekra?” Utuy pun, saat itu, kata Ajip, menolak tawaran Lekra. Tetapi dua tahun kemudian, Ajip melihat dalam surat kabar, nama Utuy tercantum sebagai pengurus Lekra. Ia cukup kaget. Ajip yang lama tak bersua dengan Utuy karena terpisah jarak, kemudian bertandang ke rumah sahabatnya itu di Jatinegara. Utuy bercerita, bangunan rumahnya ada yang roboh, kemudian diperbaiki oleh Hendra Gunawan dan dijadikan tempat persembunyiannya karena bertengkar dengan Njoto, tokoh PKI juga. Perjalanan selanjutnya, Utuy makin aktif di Lekra, mengajar, memberikan ceramah umum, dan membuat karya-karya sastera dan pentas drama. Menjelang G30 S/PKI, Utuy berangkat ke China untuk berobat karena penyakit lever. Keberangkatan Utuy ke China karena rekomendasi dari tokoh PKI D.N Aidit Setelah terjadinya Gestapu, maka Utuy tak bisa kembali ke Tanah Air. Perjalanan hidup selanjutnya, ia menjadi eksil, berpindah-pindah negara. Ia pernah hidup di Belanda, kemudian akhirnya tinggal di Moskwa, Uni Soviet, sampai akhirnya terbaring sakit dan meninggal dunia. Karya Utuy yang berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang” ini merupakan buah tangannya yang menceritakan tentang orang-orang Indonesia yang berada di China atas undangan pemerintah setempat, namun tak bisa pulang ke Tanah Air karena meletusnya Gestapu PKI. Buku ini menceritakan pengalamannya bersama orang-orang Indonesia tersebut, dan menceritakan tentang bagaimana sikapnya selama di China terkait dengan Partai Komunis yang ada di sana. Dalam tulisan di buku itu, sikap Utuy justru banyak bertentangan dengan pimpinan Partai Komunis di China. Misalnya, ia tak mau diperintah untuk menghafal ucapan-ucapan tokoh Komunis China, Mao Zhe Dhong. Utuy juga bercerita, saat berangkat ke China, ia baru enam bulan menjadi anggota PKI, bahkan dalam keterangan lain ia mengatakan baru jadi calon anggota. Sikap inilah, yang menurut Ajip Rosidi sebagai sikap indivualis; “Utuy memang seorang individualis yang pernah terlibat dalam kegiatan Lekra hanya karena dia terjerat oleh kepandaian orang-orang PKI menarik para seniman dan pengarang yang tidak tahu politik, masuk ke dalam strateginya…” Saat Utuy terbaring sakit di Moskwa, menurut keterangan pelukis Kuslan Budiman yang membantunya sehari-hari, sebagaimana diceritakan oleh Ajip Rosidi dalam buku ini, Utuy berkali-kali berpesan agar jika ia meninggal, jenazahnya diurus dengan cara Islam. “Biar bagaimana, saya ini orang Islam dan kakek saya haji…” ujarnya. Atas permohonan Kuslan Budiman yang menyampaikan wasiat Utuy kepada pejabat terkait setempat agar jenazah Utuy diurus secara Islam, maka jenazah sastrawan tersebut akhirnya diizinkan untuk diurus secara Islam. Disadur dari Suara Hidayatullah *** Menyimak kisah Utuy, kita harusnya menyadari kemungkinan bahwa ada orang-orang yang menjadi anggota PKI tetap beragama dan tetap dipandang sebagaimana layaknya manusia. Bukan dengan stigma hitam putih yang menyesatkan: semua PKI bersalah dan semua PKI menista agama.

 Semasa hidup ia aktif di Lekra, organisasi mantel PKI. Namun ia berwasiat agar jenazah diurus secara Islam.



NAMANYA Utuy Tatang Sontani. Ia pernah aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi mantel PKI yang bergerak dalam bidang kebudayaan. 


Saat berada dalam pelarian di China, Utuy menulis sebuah karya berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang.”  Utuy dan karyanya ini menjadi perbincangan.


Apakah ia seorang Komunis tulen, atau hanya seorang seniman yang terjebak propaganda tokoh-tokoh PKI yang menjadi sahabat dekatnya? Atau ada faktor lain?


Sebagai seorang yang cenderung memiliki sifat individualis, kata Ajip Rosidi dalam pengantar buku ini, sangat mengherankan jika Utuy Tatang Sontani aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). “Bagaimana mungkin pengarang yang dalam karya-karyanya begitu individualistis, menjadi aktifis organisasi kebudayaan yang berdasarkan paham Marxisme-Leninisme yang menentang individualisme?” tulis Ajip.


Ajip menceritakan, pada tahun 1957 saat Lekra mengadakan Kongres di Solo, Utuy mendapat telegram dari lembaga tersebut yang berisi permohonan kesediaannya menjadi pengurus Lekra. 


Utuy yang melihat banyak sahabatnya aktif di Lekra, seperti Hendra Gunawan dan Boejoeng Saleh Sastradipoera (belakang taubat dari Komunis), kemudian agak tertarik untuk bergabung. Apalagi, ia juga mempunyai kedekatan secara pribadi dengan tokoh PKI, D.N Aidit, sehingga menurutnya akan mudah bekerjasama dalam organisasi.


Tetapi, karena agak ragu, maka ia mendatangi Ajip Rosidi untuk meminta saran terkait telegram tersebut. Ajip lalu mengatakan, “soalnya bukan bisa kerjasama atau tidak dengan orang-orang yang ada di sana, melainkan sikap kita terhadap falsafah dasar organisasi itu. Bagaimana sikap kita terhadap Komunisme? Bagaimana sikap kita terhadap realisme sosialis yang menjadi pegangang Lekra?” Utuy pun, saat itu, kata Ajip, menolak tawaran Lekra.


Tetapi dua tahun kemudian, Ajip melihat dalam surat kabar, nama Utuy tercantum sebagai pengurus Lekra. Ia cukup kaget.


Ajip yang lama tak bersua dengan Utuy karena terpisah jarak, kemudian bertandang ke rumah sahabatnya itu di Jatinegara. Utuy bercerita, bangunan rumahnya ada yang roboh, kemudian diperbaiki oleh Hendra Gunawan dan dijadikan tempat persembunyiannya karena bertengkar dengan Njoto, tokoh PKI juga.


Perjalanan selanjutnya, Utuy makin aktif di Lekra, mengajar, memberikan ceramah umum, dan membuat karya-karya sastera dan pentas drama. Menjelang  G30 S/PKI, Utuy berangkat ke China untuk berobat karena penyakit lever. Keberangkatan Utuy ke China karena rekomendasi dari tokoh PKI D.N Aidit 


Setelah terjadinya Gestapu, maka Utuy tak bisa kembali ke Tanah Air. Perjalanan hidup selanjutnya, ia menjadi eksil, berpindah-pindah negara.


Ia pernah hidup di Belanda, kemudian akhirnya tinggal di Moskwa, Uni Soviet, sampai akhirnya terbaring sakit dan meninggal dunia.


Karya Utuy yang berjudul “Di Bawah Langit Tak Berbintang” ini merupakan buah tangannya yang menceritakan tentang orang-orang Indonesia yang berada di China atas undangan pemerintah setempat, namun tak bisa pulang ke Tanah Air karena meletusnya Gestapu PKI.


Buku ini menceritakan pengalamannya bersama orang-orang Indonesia tersebut, dan menceritakan tentang bagaimana sikapnya selama di China terkait dengan Partai Komunis yang ada di sana.


Dalam tulisan di buku itu, sikap Utuy  justru banyak bertentangan dengan pimpinan Partai Komunis di China. Misalnya, ia tak mau diperintah untuk menghafal ucapan-ucapan tokoh Komunis China, Mao Zhe Dhong. 


Utuy juga bercerita, saat berangkat ke China, ia baru enam bulan menjadi anggota PKI, bahkan dalam keterangan lain ia mengatakan baru jadi calon anggota. Sikap inilah, yang menurut Ajip Rosidi sebagai sikap indivualis;


“Utuy memang seorang individualis yang pernah terlibat dalam kegiatan Lekra hanya karena dia terjerat oleh kepandaian orang-orang PKI menarik para seniman dan pengarang yang tidak tahu politik, masuk ke dalam strateginya…”

Saat Utuy terbaring sakit di Moskwa, menurut keterangan pelukis Kuslan Budiman yang membantunya sehari-hari, sebagaimana diceritakan oleh Ajip Rosidi dalam buku ini, Utuy berkali-kali berpesan agar jika ia meninggal, jenazahnya diurus dengan cara Islam. “Biar bagaimana, saya ini orang Islam dan kakek saya haji…” ujarnya. 


Atas permohonan Kuslan Budiman yang menyampaikan wasiat Utuy kepada pejabat terkait setempat agar jenazah Utuy diurus secara Islam, maka jenazah sastrawan tersebut akhirnya diizinkan untuk diurus secara Islam.


Disadur dari Suara Hidayatullah


***


Menyimak kisah Utuy, kita harusnya menyadari kemungkinan bahwa ada orang-orang yang menjadi anggota PKI tetap beragama dan tetap dipandang sebagaimana layaknya manusia. Bukan dengan stigma hitam putih yang menyesatkan: semua PKI bersalah dan semua PKI menista agama.

Tentara belanda serbu markas TNI saat agresi militer ll di Blitar, Jawa Timur, pada 20 Desember 1948. . Satu hari sebelumnya, pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Yogyakarta jatuh, namun perlawanan tidak berhenti. TNI telah mengubah sistem pertahanannya dengan sistem pertahanan Wehrkreise yaitu setiap lingkungan/daerah harus dapat berswadaya untuk mempertahankan daerahnya masing-masing dengan taktik gerilya totalitas. Untuk Jawa Timur, Belanda mengerahkan Divisi "A" di bawah pimpinan Mayor Jenderal Baay. Dari basisnya di Malang, pasukan Brigade KNIL bergerak menuju ke selatan lewat Kepanjen, Blitar, masuk Kediri Selatan terus ke Madiun. Foto ini diambil tepat pada jalur tersebut. Keterangannya menyebut: "Setelah Kepanjen dan Wlingi, pasukan Belanda maju ke Blitar. Di sini, markas TNI sedang diselidiki." Pada foto lain dalam seri yang sama dicatat, sebelum bergerak menuju Wlingi dan Blitar, di Toempakredjo (Tumpangrejo) konvoi Belanda mengalami keterlambatan akibat pohon-pohon yang sengaja dirubuhkan sebagai penghalang, yang kemudian dibersihkan dengan buldoser zeni. Itu bukti adanya upaya penghadangan dari pejuang kita. Menurut Pusat Sejarah TNI, Blitar adalah titik tolak gerakan Wingate Action, yaitu pengembalian pasukan-pasukan ke daerah asalnya masing-masing setelah hijrah sebelum Perjanjian Renville. Karena posisinya yang strategis, Blitar diperhitungkan baik oleh Belanda maupun Indonesia. Perang ini Mengingatkan kita bahwa kemerdekaan tidak diberikan, tetapi direbut dengan gerilya, pengorbanan darah dan nyawa rakyat. . (MBBK-Nederlands Fotomuseum) Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #agresimiliterkediri #agresimiliterll #agresimiliter #knilkedirijadul #knilkediri #blitarjadul #tnikedirijadul #tentarabelandadikediri #kedirijamanbelanda #knilkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri

 Tentara belanda serbu markas TNI saat agresi militer ll di Blitar, Jawa Timur, pada 20 Desember 1948.

.


Satu hari sebelumnya, pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya.  


Yogyakarta jatuh, namun perlawanan tidak berhenti. TNI telah mengubah sistem pertahanannya dengan sistem pertahanan Wehrkreise yaitu setiap lingkungan/daerah harus dapat berswadaya untuk mempertahankan daerahnya masing-masing dengan taktik gerilya totalitas.  


Untuk Jawa Timur, Belanda mengerahkan Divisi "A" di bawah pimpinan Mayor Jenderal Baay. Dari basisnya di Malang, pasukan Brigade KNIL bergerak menuju ke selatan lewat Kepanjen, Blitar, masuk Kediri Selatan terus ke Madiun.  


Foto ini diambil tepat pada jalur tersebut. Keterangannya menyebut: "Setelah Kepanjen dan Wlingi, pasukan Belanda maju ke Blitar. Di sini, markas TNI sedang diselidiki." Pada foto lain dalam seri yang sama dicatat, sebelum bergerak menuju Wlingi dan Blitar, di Toempakredjo (Tumpangrejo) konvoi Belanda mengalami keterlambatan akibat pohon-pohon yang sengaja dirubuhkan sebagai penghalang, yang kemudian dibersihkan dengan buldoser zeni. Itu bukti adanya upaya penghadangan dari pejuang kita.  


Menurut Pusat Sejarah TNI, Blitar adalah titik tolak gerakan Wingate Action, yaitu pengembalian pasukan-pasukan ke daerah asalnya masing-masing setelah hijrah sebelum Perjanjian Renville. Karena posisinya yang strategis, Blitar diperhitungkan baik oleh Belanda maupun Indonesia.  


Perang ini Mengingatkan kita bahwa kemerdekaan tidak diberikan, tetapi direbut dengan gerilya, pengorbanan darah dan nyawa rakyat.


.

(MBBK-Nederlands Fotomuseum)

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #agresimiliterkediri #agresimiliterll #agresimiliter

#knilkedirijadul #knilkediri #blitarjadul #tnikedirijadul #tentarabelandadikediri #kedirijamanbelanda #knilkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri

Tentara belanda sedang istirahat makan siang saat Agresi militer ll di Blitar, Jawa Timur, pada 20 Desember 1948. . Tepat sehari setelah Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak dimulai. Agresi tersebut diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Setelah Yogyakarta lumpuh, Belanda melanjutkan operasi ke Jawa Timur. Dari basisnya di Malang, Belanda dengan pasukan Brigade KNIL bergerak menuju ke selatan lewat Kepanjen, Blitar masuk Kediri Selatan terus ke Madiun. Perjalanan itu tidak mudah. Di Tumpangrejo, konvoi mereka sempat terhambat karena pohon-pohon yang sengaja dirubuhkan sebagai penghalang jalan. Para tentara dalam foto ini memanfaatkan jeda tersebut untuk makan dengan tenang, sebelum melanjutkan pendudukan ke Kota Blitar. Pada saat yang sama, TNI sudah mengubah pertahanan menjadi sistem Wehrkreise, yaitu setiap daerah harus berswadaya mempertahankan daerahnya masing-masing dengan taktik gerilya totalitas. . (MBBK-Nederlands Fotomuseum) Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #agresimiliterkediri #agresimiliterll #agresimiliter #knilkedirijadul #knilkediri #blitarjadul #tnikedirijadul #tentarabelandadikediri #kedirijamanbelanda #knilkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri

 Tentara belanda sedang istirahat makan siang saat Agresi militer ll di Blitar, Jawa Timur, pada 20 Desember 1948.

.


Tepat sehari setelah Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak dimulai. Agresi tersebut diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya.  


Setelah Yogyakarta lumpuh, Belanda melanjutkan operasi ke Jawa Timur. Dari basisnya di Malang, Belanda dengan pasukan Brigade KNIL bergerak menuju ke selatan lewat Kepanjen, Blitar masuk Kediri Selatan terus ke Madiun.


Perjalanan itu tidak mudah. Di Tumpangrejo, konvoi mereka sempat terhambat karena pohon-pohon yang sengaja dirubuhkan sebagai penghalang jalan. Para tentara dalam foto ini memanfaatkan jeda tersebut untuk makan dengan tenang, sebelum melanjutkan pendudukan ke Kota Blitar.


Pada saat yang sama, TNI sudah mengubah pertahanan menjadi sistem Wehrkreise, yaitu setiap daerah harus berswadaya mempertahankan daerahnya masing-masing dengan taktik gerilya totalitas.

.

(MBBK-Nederlands Fotomuseum)

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #agresimiliterkediri #agresimiliterll #agresimiliter

#knilkedirijadul #knilkediri #blitarjadul #tnikedirijadul #tentarabelandadikediri #kedirijamanbelanda #knilkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri

Ini mungkin adalah bukti dokumentasi visual terakhir yg melihatkan adanya Kapal "Jung" Jawa yg terkenal tersebut. Dokumentasi dibuat oleh VoC/Belanda ketika Kasultanan Mataram menyerbu VoC di Batavia/Sunda kelapa pada tahun 1628. Armada kapal "Jung" Mataram masuk melalui teluk Batavia. Dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dengan 14.000 prajurit serta membawa logistik masing-masing kapal 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras. Terlihat ukuran Kapal Mataram yg akan memasuki pelabuhan jauh lebih besar daripada kapal VoC Belanda yg telah bersandar. Source : Belegering van Batavia door de koning van Java, 1628, Balthasar Florisz. van Berckenrode

 Ini mungkin adalah bukti dokumentasi visual terakhir yg melihatkan adanya Kapal "Jung" Jawa yg terkenal tersebut.



Dokumentasi dibuat oleh VoC/Belanda ketika Kasultanan Mataram menyerbu VoC di Batavia/Sunda kelapa pada tahun 1628. 


Armada kapal "Jung" Mataram masuk melalui teluk Batavia. Dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa dengan 14.000 prajurit serta membawa logistik masing-masing kapal 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.600 buah kelapa dan 12.000 karung beras.


Terlihat ukuran Kapal Mataram yg akan memasuki pelabuhan jauh lebih besar daripada kapal VoC Belanda yg telah bersandar.


Source :


Belegering van Batavia door de koning van Java, 1628, Balthasar Florisz. van Berckenrode



Sumber  ; Andre Owen

LELUHUR KI PENDJAWI Ki Pendjawi adalah salah satu tokoh dari Seselo Purwodadi. Ki Pendjawi adalah cucu Ki Ageng Ngerang I. Semasa hidupnya R Pendjawi ikut dengan kakak dari ayahnya yang menikah dengan Ki Ageng Selo yang juga Eyang Gedenya. R Penjawi bersama Ki Ageng Pemanahan di kirim ke Padepokan Sunan Kalijaga untuk menuntut ilmu agama dan kanuragan.R Penjawi sudah dianggap sebagai cucunya sendiri oleh Ki Ageng Selo. R Penjawi termasuk tiga serangkai Priyayi dari Selo bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani Namanya mulai dikenal ketika ikut membantu Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan R Danang Sutawijaya dalam menundukkan Harya Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Sultan Hadiwijaya sendiri atas perintah dari saudara iparnya , Ratu Kalinyamat yang menuntut balas atas meninggalnya sang suami Pangeran Hadiri ( Pangeran Hadlirin ) Atas kemenangannya Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah " Hutan Mentaok " dan Ki Pendjawi memperoleh " Tanah Perdikan Pati " dan Ki Pendjawi sendiri bergelar Ki Ageng Pati. Berikut Silsilah Ki Pendjawi : Raja Majapahit VII yaitu Prabhu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandansari menurunkan Raden Bondhan Kadjawan. Raden Bondhan Kadjawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub menurunkan : 1. Raden Dukuh ( Ki Ageng Wonosobo ) 2. Raden Depok ( Ki Ageng Getas Pandowo ) 3. Roro Kasihan ( Nyai Ageng Ngerang I ) Roro Kasihan menikah dengan Ki Ageng Ngerang I menurunkan: 1. Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II 2. Nyai Ageng Kemiri 3. Nyai Ageng Selo Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II menurunkan : 1. Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III 2. Ki Ageng Ngerang IV 3. Ki Buyut ing Ngerang 4. Pangeran Lependjenar Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah, putri Sunan Kalijaga menurunkan : 1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati 2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan: 1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 2. Adipati Pragola Pati I Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Agung Hanyokrowati ( Raja Mataram II ) Adipati Pragola Pati menurunkan : 1. Adipati Pragola Pati II 2. Raden Londoh ( Pangeran Ronggopati ) Adipati Pragola Pati II menikah dengan garwa sepuh menurunkan putra bernama Bagus Kriyo. Kemudian Adipati Pragola Pati II dinikahkan oleh Sultan Agung dengan adik kandungnya yaitu Ratu Mas Sekar, tetapi tidak berputra. Raden Londoh setelah kakaknya wafat menggantikan kedudukan memerintah Pati, berikut oleh Sultan Agung dinikahkan dengan adiknya yaitu Ratu Mas Sekar janda dari Adipati Pragola Pati II. Raden Londoh mendapat anugrah nama gelar baru " Pangeran Ronggo Pati. Bagus Kriyo putra Ki Ageng Pragola Pati II dari garwa sepuh, ketika ayahnya wafat, Bagus Kriyo kecil diselamatkan oleh Ki Mangunjaya Pati dibawa ke Blambangan. Ketika Bagus Kriyo beranjak dewasa, di ajak oleh Ki Mangunjaya Pati ke Kerajaan Mataram tepatnya di Tanah Djejeran. Dan disana menjadi murid Ki Djejer. Tidak lama kemudian Bagus Kriyo dinikahkan oleh Ki Djejer dengan keponakan beliau putri dari Adipati Singoranu ( Patih Sultan Agung ) . Dan mendapat anugrah nama baru Ki Wonokriyo atau Kyai Krian. Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.

 LELUHUR KI PENDJAWI

Ki Pendjawi adalah salah satu tokoh dari Seselo Purwodadi.

Ki Pendjawi adalah cucu Ki Ageng Ngerang I. Semasa hidupnya R Pendjawi ikut dengan kakak dari ayahnya yang menikah dengan  Ki Ageng Selo yang juga Eyang Gedenya. R Penjawi bersama Ki Ageng Pemanahan di kirim ke Padepokan Sunan Kalijaga untuk menuntut ilmu agama dan kanuragan.R Penjawi sudah dianggap sebagai cucunya sendiri oleh Ki Ageng Selo.

R Penjawi termasuk tiga serangkai Priyayi dari Selo bersama Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Martani



Namanya mulai dikenal ketika ikut membantu Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani dan R Danang Sutawijaya dalam menundukkan Harya Penangsang atas perintah Sultan Hadiwijaya Raja Pajang. Sultan Hadiwijaya sendiri atas perintah dari saudara iparnya , Ratu Kalinyamat yang menuntut balas atas meninggalnya sang suami Pangeran Hadiri ( Pangeran Hadlirin )

Atas kemenangannya Ki Ageng Pemanahan mendapatkan hadiah " Hutan Mentaok " dan Ki Pendjawi memperoleh " Tanah Perdikan Pati " dan Ki Pendjawi sendiri bergelar Ki Ageng Pati.


Berikut Silsilah Ki Pendjawi :


Raja Majapahit VII yaitu Prabhu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandansari menurunkan  Raden Bondhan Kadjawan. Raden Bondhan Kadjawan menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub menurunkan :

1. Raden Dukuh ( Ki Ageng Wonosobo )

2. Raden Depok ( Ki Ageng Getas Pandowo )

3. Roro Kasihan ( Nyai Ageng Ngerang I )


Roro Kasihan menikah dengan Ki Ageng Ngerang I menurunkan:

1. Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II

2. Nyai Ageng Kemiri

3. Nyai Ageng Selo


Ki Bodo Pajang atau Ki Ageng Ngerang II menurunkan :

1. Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III 

2. Ki Ageng Ngerang IV

3. Ki Buyut ing Ngerang

4. Pangeran Lependjenar


Ki Buyut Pati atau Ki Ageng Ngerang III menikah dengan Raden Ayu Panengah, putri Sunan Kalijaga menurunkan :

1. Ki Pendjawi atau Ki Ageng Pati

2. Nyai Ageng Kemiri ing Pati


Ki Ageng Pati atau Ki Pendjawi menikah dengan putri Nyai Ageng Kemiri ing Pati menurunkan:

1. Kangjeng Ratu Waskita Jawi 

2. Adipati Pragola Pati I


Kangjeng Ratu Waskita Jawi menikah dan menjadi Permaisuri Panembahan Senopati, Raja Mataram I. Berputra Panembahan Agung Hanyokrowati ( Raja Mataram II )


Adipati Pragola Pati menurunkan :

1. Adipati Pragola Pati II

2. Raden Londoh ( Pangeran Ronggopati )


Adipati Pragola Pati II menikah dengan garwa sepuh menurunkan putra bernama Bagus Kriyo. Kemudian Adipati Pragola Pati II dinikahkan oleh Sultan Agung dengan adik kandungnya yaitu Ratu Mas Sekar, tetapi tidak berputra.


Raden Londoh setelah kakaknya wafat menggantikan kedudukan memerintah Pati, berikut oleh Sultan Agung dinikahkan dengan adiknya yaitu Ratu Mas Sekar  janda dari Adipati Pragola Pati II.  Raden Londoh mendapat anugrah nama gelar baru "  Pangeran Ronggo Pati.


Bagus Kriyo putra Ki Ageng Pragola Pati II dari garwa sepuh, ketika ayahnya wafat, Bagus Kriyo kecil diselamatkan oleh Ki Mangunjaya Pati dibawa ke Blambangan. Ketika Bagus Kriyo beranjak dewasa, di ajak oleh Ki Mangunjaya Pati ke Kerajaan Mataram tepatnya di Tanah Djejeran. Dan disana menjadi murid Ki Djejer. Tidak lama kemudian Bagus Kriyo dinikahkan oleh Ki Djejer dengan keponakan beliau putri dari Adipati Singoranu ( Patih Sultan Agung ) . Dan mendapat anugrah nama baru Ki Wonokriyo atau Kyai Krian.


Diambil dari Petikan Serat Soejarah karya Pujangga Harttati th 1935.

Foto Soepardjo Roestam sebagai Gubernur Jawa Tengah sedang memberikan arahan dan penyuluhan kepada para siswa SLTP di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang. Beliau adalah Gubernur Jawa Tengah dari tahun 1974 hingga 1982. Pada masa revolusi fisik, Soepardjo Roestam adalah ajudan pribadi kepercayaan Panglima Besar Soedirman bersama Tjokropranolo. Dalam penulisan biografi Jenderal Besar Soedirman, Tjokropranolo menyoroti gagasan jenius Soepardjo Roestam untuk mengecoh tentara Belanda yang terus menerus mengejar dan melacak posisi gerilya Soedirman, dengan cara membuat samaran dari Jenderal Soedirman (Body Double) dan mengawalnya dengan serius dengan mengambil rute yang berbeda. Taktik ini terbukti membuat pihak Belanda sering tertipu dan merasa frustasi. Lahir pada 12 Agustus 1926 di Soekaraja, Banyumas, Jawa Tengah, Soepardjo Roestam adalah alumni PETA dengan pangkat Daidhanco (setara dengan Letnan Kolonel) dan meninggal pada 11 April 1993 serta kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Sumber foto : Buku "Soepardjo dan Pembangunan Jawa Tengah", Pengurus Korpri Propinsi Jawa Tengah, 1984.

 Foto Soepardjo Roestam sebagai Gubernur Jawa Tengah sedang memberikan arahan dan penyuluhan kepada para siswa SLTP di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang. Beliau adalah Gubernur Jawa Tengah dari tahun 1974 hingga 1982. 


Pada masa revolusi fisik, Soepardjo Roestam adalah ajudan pribadi kepercayaan Panglima Besar Soedirman bersama Tjokropranolo. Dalam penulisan biografi Jenderal Besar Soedirman, Tjokropranolo menyoroti gagasan jenius Soepardjo Roestam untuk mengecoh tentara Belanda yang terus menerus mengejar dan melacak posisi gerilya Soedirman, dengan cara membuat samaran dari Jenderal Soedirman (Body Double) dan mengawalnya dengan serius dengan mengambil rute yang berbeda. Taktik ini terbukti membuat pihak Belanda sering tertipu dan merasa frustasi. 


Lahir pada 12 Agustus 1926 di Soekaraja, Banyumas, Jawa Tengah, Soepardjo Roestam adalah alumni PETA dengan pangkat Daidhanco (setara dengan Letnan Kolonel) dan meninggal pada 11 April 1993 serta kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 



Sumber foto : Buku "Soepardjo dan Pembangunan Jawa Tengah", Pengurus Korpri Propinsi Jawa Tengah, 1984.

06 October 2026

H. Hetami lahir di Surakarta pada 1920, putra K.H. M. Idris, seorang saudagar batik. Ia menempuh pendidikan tinggi di Batavia, tetapi studinya terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia dan membubarkan seluruh instistusi pendidikan yang ada. Dari sinilah ia kemudian memasuki dunia jurnalistik dan bergabung dengan Sinar Baroe di Semarang. Surat kabar ini dibentuk pemerintah pendudukan Jepang melalui peleburan beberapa surat kabar sebelumnya dan berada di bawah pengawasan ketat rezim militer Jepang. Hetami mula-mula bekerja sebagai korektor, kemudian menjadi redaktur pelaksana. Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung mengenai kerja pers sekaligus mempertemukannya dengan perubahan politik yang berlangsung cepat menjelang akhir Perang Dunia II. Momentum penting datang pada 17 Agustus 1945. Ketika berita Proklamasi diterima di kantor Sinar Baroe, terpaut cuma satu jam setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta. Hetami berusaha agar kabar kemerdekaan itu dapat segera diketahui masyarakat Semarang, meskipun masih berada di bawah ancaman sensor Jepang. Karena pemberitaan Proklamasi dilarang, redaksi menghadapi dilema antara menjalankan sensor atau menyampaikan berita kemerdekaan. Sinar Baroe akhirnya nekat menyiarkan secara resmi berita Proklamasi Kemerdekaan pada edisi 19 Agustus 1945. Setelah Jepang menyerah, perubahan politik membuka kesempatan bagi para pekerja pers untuk mengambil alih infrastruktur media yang sebelumnya dikendalikan pemerintah pendudukan. Hetami bersama sejumlah awak Sinar Baroe kemudian mengubah fungsi pers tersebut menjadi sarana pemberitaan Republik. Dan pada akhir September 1945 Hetami menginisiasi koran Warta Indonesia, surat kabar ini mulai terbit pada 29 September 1945 berkantor di Jalan Purwodinatan Tengah No. 22–24–26, Semarang, dan sejak awal secara tegas menempatkan dirinya di pihak Republik. Tujuannya adalah membantu usaha KNI (Komite Nasional Indonesia) dan seluruh usaha bangsa Indonesia yang bersifat membangun serta bermanfaat bagi kepentingan revolusi Republik. Warta Indonesia kemudian menjadi salah satu media penting yang menyuarakan kepentingan pemerintah Republik di tengah situasi revolusioner Semarang. Ketika Pertempuran Lima Hari berlangsung pada Oktober 1945, penerbitannya sempat terganggu, tetapi koran ini kembali memberitakan perkembangan perjuangan dan menunjukkan bagaimana pers menjadi bagian dari perebutan ruang informasi pada masa awal kemerdekaan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Hetami sebagai wartawan dan pengelola pers. Setelah Warta Indonesia berhenti terbit dalam situasi politik dan militer yang semakin tidak memungkinkan di Semarang, Hetami melanjutkan aktivitas jurnalistiknya melalui sejumlah surat kabar pada masa revolusi. Pengalaman mengelola pers di tengah pergolakan politik, keterbatasan percetakan, tekanan militer, dan kebutuhan masyarakat akan informasi kemudian membentuk gagasannya untuk memiliki surat kabar sendiri. Pada 11 Februari 1950, Hetami akhirnya mendirikan Suara Merdeka, yang kemudian berkembang menjadi salah satu surat kabar penting di Jawa Tengah. Pendirian Suara Merdeka menandai kelanjutan dari perjalanan panjang Hetami sejak Sinar Baroe dan Warta Indonesia. Dari wartawan muda yang bekerja dalam pers pendudukan, menjadi pengelola pers Republik, hingga berhasil membangun institusi pers yang bertahan dan berkembang besar di Semarang. Dari testimoni para pegawai Suara Merdeka yang bersinggungan langsung pada waktu kepemimpinan Hetami, beliau dikenal sebagai sosok perfeksionis bahkan sampai urusan kebersihan kamar kecil. Foto di bawah adalah foto H. Hetami yang terlibat langsung membersihkan kamar kecil di Kantor Suara Merdeka Jl. Merak 11A. Sumber narasi dan foto : Buku "Hetami - Kewartawanan, Pers dan Suara Merdeka", Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1995

 H. Hetami lahir di Surakarta pada 1920, putra K.H. M. Idris, seorang saudagar batik. Ia menempuh pendidikan tinggi di Batavia, tetapi studinya terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia dan membubarkan seluruh instistusi pendidikan yang ada.



Dari sinilah ia kemudian memasuki dunia jurnalistik dan bergabung dengan Sinar Baroe di Semarang. Surat kabar ini dibentuk pemerintah pendudukan Jepang melalui peleburan beberapa surat kabar sebelumnya dan berada di bawah pengawasan ketat rezim militer Jepang. Hetami mula-mula bekerja sebagai korektor, kemudian menjadi redaktur pelaksana. Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung mengenai kerja pers sekaligus mempertemukannya dengan perubahan politik yang berlangsung cepat menjelang akhir Perang Dunia II.


Momentum penting datang pada 17 Agustus 1945. Ketika berita Proklamasi diterima di kantor Sinar Baroe, terpaut cuma satu jam setelah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta. Hetami berusaha agar kabar kemerdekaan itu dapat segera diketahui masyarakat Semarang, meskipun masih berada di bawah ancaman sensor Jepang. Karena pemberitaan Proklamasi dilarang, redaksi menghadapi dilema antara menjalankan sensor atau menyampaikan berita kemerdekaan. Sinar Baroe akhirnya nekat menyiarkan secara resmi berita Proklamasi Kemerdekaan pada edisi 19 Agustus 1945. 


Setelah Jepang menyerah, perubahan politik membuka kesempatan bagi para pekerja pers untuk mengambil alih infrastruktur media yang sebelumnya dikendalikan pemerintah pendudukan. Hetami bersama sejumlah awak Sinar Baroe kemudian mengubah fungsi pers tersebut menjadi sarana pemberitaan Republik.


Dan pada akhir September 1945 Hetami menginisiasi koran Warta Indonesia, surat kabar ini mulai terbit pada 29 September 1945 berkantor di Jalan Purwodinatan Tengah No. 22–24–26, Semarang, dan sejak awal secara tegas menempatkan dirinya di pihak Republik. Tujuannya adalah membantu usaha KNI (Komite Nasional Indonesia) dan seluruh usaha bangsa Indonesia yang bersifat membangun serta bermanfaat bagi kepentingan revolusi Republik.


Warta Indonesia kemudian menjadi salah satu media penting yang menyuarakan kepentingan pemerintah Republik di tengah situasi revolusioner Semarang. Ketika Pertempuran Lima Hari berlangsung pada Oktober 1945, penerbitannya sempat terganggu, tetapi koran ini kembali memberitakan perkembangan perjuangan dan menunjukkan bagaimana pers menjadi bagian dari perebutan ruang informasi pada masa awal kemerdekaan. 


Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Hetami sebagai wartawan dan pengelola pers. Setelah Warta Indonesia berhenti terbit dalam situasi politik dan militer yang semakin tidak memungkinkan di Semarang, Hetami melanjutkan aktivitas jurnalistiknya melalui sejumlah surat kabar pada masa revolusi. Pengalaman mengelola pers di tengah pergolakan politik, keterbatasan percetakan, tekanan militer, dan kebutuhan masyarakat akan informasi kemudian membentuk gagasannya untuk memiliki surat kabar sendiri. 


Pada 11 Februari 1950, Hetami akhirnya mendirikan Suara Merdeka, yang kemudian berkembang menjadi salah satu surat kabar penting di Jawa Tengah. Pendirian Suara Merdeka menandai kelanjutan dari perjalanan panjang Hetami sejak Sinar Baroe dan Warta Indonesia. Dari wartawan muda yang bekerja dalam pers pendudukan, menjadi pengelola pers Republik, hingga berhasil membangun institusi pers yang bertahan dan berkembang besar di Semarang.


Dari testimoni para pegawai Suara Merdeka yang bersinggungan langsung pada waktu kepemimpinan Hetami, beliau dikenal sebagai sosok perfeksionis bahkan sampai urusan kebersihan kamar kecil. Foto di bawah adalah foto H. Hetami yang terlibat langsung membersihkan kamar kecil di Kantor Suara Merdeka Jl. Merak 11A.


Sumber narasi dan foto : Buku "Hetami - Kewartawanan, Pers dan Suara Merdeka", Yayasan Karyawan Suara Merdeka, 1995


Sumbet : Kesit Widjanarko

BURHAN “KAMPAK”: SEBUAH WAJAH DARI LEMBARAN GELAP SEJARAH INDONESIA Ada foto-foto yang tidak sekadar menunjukkan wajah seseorang. Ada foto yang seolah membawa kita kembali ke sebuah zaman—ketika Indonesia sedang berada dalam salah satu periode paling penuh ketegangan dalam sejarahnya. Foto ini adalah salah satunya. Namanya Burhanuddin Zainuddin Rusjiman, yang kemudian dikenal dengan julukan Burhan “Kampak”. Ia berasal dari Yogyakarta. Pada masa itu ia masih muda, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM dan dikenal sebagai aktivis HMI. Namun sejarah kemudian membawanya ke dalam pusaran konflik politik setelah peristiwa G30S 1965. Dalam kesaksiannya, Burhan menceritakan keterlibatannya dalam kelompok anti-komunis di Yogyakarta. Ia mengaku menggunakan sebuah kapak dalam aksi kekerasan terhadap orang-orang yang ketika itu dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI. Julukan “Kampak” kemudian melekat pada dirinya. Kisah Burhan menjadi salah satu kesaksian yang kemudian muncul dalam laporan “Pengakuan Algojo 1965” yang diterbitkan Majalah Tempo pada 2012. Kesaksiannya menggambarkan bagaimana kekerasan politik pada masa itu tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga melibatkan orang-orang biasa yang terseret dalam suasana ketakutan, kebencian, dan pertarungan ideologi. Namun, sebuah foto lama tidak pernah mampu menceritakan seluruh kebenaran dengan sendirinya. Di balik satu wajah terdapat sebuah zaman, dan di balik sebuah zaman terdapat banyak sudut pandang serta kesaksian yang perlu dibaca secara kritis. Karena itu, kisah seperti ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cerita tentang satu orang, tetapi sebagai bagian dari sejarah bangsa yang kompleks dan penuh luka. Lebih dari enam dekade telah berlalu. Generasi berganti, tetapi cerita tentang 1965 masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia. Mengingatnya bukan berarti membenarkan kekerasan, juga bukan berarti membuka kembali permusuhan. Justru dengan mempelajarinya, kita dapat memahami betapa mahal harga yang harus dibayar ketika konflik politik berubah menjadi kekerasan terhadap manusia. Satu foto. Satu wajah. Satu nama. Dan satu potongan sejarah yang pernah benar-benar terjadi. Sejarah mungkin tidak selalu nyaman untuk dibaca, tetapi sejarah tetap perlu dicatat—agar generasi berikutnya belajar bahwa perbedaan politik tidak seharusnya berakhir dengan hilangnya kemanusiaan.

 BURHAN “KAMPAK”: SEBUAH WAJAH DARI LEMBARAN GELAP SEJARAH INDONESIA



Ada foto-foto yang tidak sekadar menunjukkan wajah seseorang. Ada foto yang seolah membawa kita kembali ke sebuah zaman—ketika Indonesia sedang berada dalam salah satu periode paling penuh ketegangan dalam sejarahnya. Foto ini adalah salah satunya.


Namanya Burhanuddin Zainuddin Rusjiman, yang kemudian dikenal dengan julukan Burhan “Kampak”. Ia berasal dari Yogyakarta. Pada masa itu ia masih muda, seorang mahasiswa Fakultas Hukum UGM dan dikenal sebagai aktivis HMI. Namun sejarah kemudian membawanya ke dalam pusaran konflik politik setelah peristiwa G30S 1965.


Dalam kesaksiannya, Burhan menceritakan keterlibatannya dalam kelompok anti-komunis di Yogyakarta. Ia mengaku menggunakan sebuah kapak dalam aksi kekerasan terhadap orang-orang yang ketika itu dituduh memiliki keterkaitan dengan PKI. Julukan “Kampak” kemudian melekat pada dirinya.


Kisah Burhan menjadi salah satu kesaksian yang kemudian muncul dalam laporan “Pengakuan Algojo 1965” yang diterbitkan Majalah Tempo pada 2012. Kesaksiannya menggambarkan bagaimana kekerasan politik pada masa itu tidak hanya terjadi di tingkat elite, tetapi juga melibatkan orang-orang biasa yang terseret dalam suasana ketakutan, kebencian, dan pertarungan ideologi.


Namun, sebuah foto lama tidak pernah mampu menceritakan seluruh kebenaran dengan sendirinya. Di balik satu wajah terdapat sebuah zaman, dan di balik sebuah zaman terdapat banyak sudut pandang serta kesaksian yang perlu dibaca secara kritis. Karena itu, kisah seperti ini sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai cerita tentang satu orang, tetapi sebagai bagian dari sejarah bangsa yang kompleks dan penuh luka.


Lebih dari enam dekade telah berlalu. Generasi berganti, tetapi cerita tentang 1965 masih menjadi bagian penting dalam perjalanan Indonesia. Mengingatnya bukan berarti membenarkan kekerasan, juga bukan berarti membuka kembali permusuhan. Justru dengan mempelajarinya, kita dapat memahami betapa mahal harga yang harus dibayar ketika konflik politik berubah menjadi kekerasan terhadap manusia.


Satu foto. Satu wajah. Satu nama. Dan satu potongan sejarah yang pernah benar-benar terjadi.

Sejarah mungkin tidak selalu nyaman untuk dibaca, tetapi sejarah tetap perlu dicatat—agar generasi berikutnya belajar bahwa perbedaan politik tidak seharusnya berakhir dengan hilangnya kemanusiaan.


Sumber : Abraham El Sharawee

Jakarta, 7 April 1967 — Ruangan itu terasa hening, hanya deru kipas angin tua dan gesekan lembar-lembar kertas yang memecah kesunyian. Di atas meja kayu yang kokoh, terhampar dokumen-dokumen tebal bersampul resmi. Lembaran itu bukan sekadar tumpukan kertas biasa, melainkan sebuah cetak biru yang akan mengubah arah sejarah ekonomi sebuah bangsa, serta merombak bentang alam di belahan timur nusantara untuk selamanya. Di balik meja, atmosfer ketegangan dan harapan bercampur menjadi satu. Ir. Slamet Bratanata, Menteri Pertambangan Indonesia yang baru saja memikul beban berat di pundaknya, duduk dengan tatapan tajam namun waspada. Di sampingnya, berdiri sosok Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia Incorporated, pria paruh baya berkacamata dengan gurat wajah penuh determinasi. Wilson tahu persis apa yang terkubur di bawah tanah sedingin es di puncak Ertsberg, Papua—sebuah gunung tembaga raksasa yang telah ia impikan sejak ekspedisinya tahun 1960. Bersama mereka, Robert C. Hills dari Freeport Sulphur bersiap menggoreskan pena. Bagi pihak asing, ini adalah pertaruhan bernilai jutaan dolar di sebuah negeri yang baru saja didera pergolakan politik hebat. Bagi Indonesia yang kala itu kondisi ekonominya sedang carut-marut dengan inflasi yang melambung tinggi, momen ini adalah pertaruhan kedaulatan demi keluar dari jurang kebangkrutan. "Silakan, Tuan-tuan," sebuah isyarat pelan diberikan. Forbes Wilson memajukan tubuhnya, meraih pena, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen Kontrak Karya Pertama (KK I). Goresan tinta hitam itu mengunci kesepakatan. Kamera-kamera analog milik jurnalis meletupkan kilatan cahaya, mengabadikan setiap detik dari momen yang begitu tenang namun bermakna masif ini. Slamet Bratanata menyaksikan dengan perasaan berkecamuk. Di satu sisi, ketukan palu kesepakatan ini berarti modal asing akan segera mengalir masuk dalam Sistem ekonomi Orde Baru . Di sisi lain, sebuah babak baru eksploitasi kekayaan alam skala raksasa di tanah Papua resmi dimulai. Gunung suci di pedalaman Mimika itu, kini tak lagi hanya milik angin dan awan, melainkan telah berpindah ke dalam radar industri global. Foto hitam-putih itu menangkap segalanya: formalitas setelan jas, senyuman tipis penuh arti, dan selembar kertas yang menjadi saksi bisu lahirnya salah satu operasi tambang terbesar di muka bumi. #tambang #sejarah #freeport #papua #indonesia

 Jakarta, 7 April 1967 — Ruangan itu terasa hening, hanya deru kipas angin tua dan gesekan lembar-lembar kertas yang memecah kesunyian. Di atas meja kayu yang kokoh, terhampar dokumen-dokumen tebal bersampul resmi.



  Lembaran itu bukan sekadar tumpukan kertas biasa, melainkan sebuah cetak biru yang akan mengubah arah sejarah ekonomi sebuah bangsa, serta merombak bentang alam di belahan timur nusantara untuk selamanya. 


  Di balik meja, atmosfer ketegangan dan harapan bercampur menjadi satu. Ir. Slamet Bratanata, Menteri Pertambangan Indonesia yang baru saja memikul beban berat di pundaknya, duduk dengan tatapan tajam namun waspada. Di sampingnya, berdiri sosok Forbes K. Wilson, Presiden Freeport Indonesia Incorporated, pria paruh baya berkacamata dengan gurat wajah penuh determinasi. Wilson tahu persis apa yang terkubur di bawah tanah sedingin es di puncak Ertsberg, 


  Papua—sebuah gunung tembaga raksasa yang telah ia impikan sejak ekspedisinya tahun 1960. Bersama mereka, Robert C. Hills dari Freeport Sulphur bersiap menggoreskan pena. Bagi pihak asing, ini adalah pertaruhan bernilai jutaan dolar di sebuah negeri yang baru saja didera pergolakan politik hebat. 


  Bagi Indonesia yang kala itu kondisi ekonominya sedang carut-marut dengan inflasi yang melambung tinggi, momen ini adalah pertaruhan kedaulatan demi keluar dari jurang kebangkrutan. "Silakan, Tuan-tuan," sebuah isyarat pelan diberikan. Forbes Wilson memajukan tubuhnya, meraih pena, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen Kontrak Karya Pertama (KK I). 


  Goresan tinta hitam itu mengunci kesepakatan. Kamera-kamera analog milik jurnalis meletupkan kilatan cahaya, mengabadikan setiap detik dari momen yang begitu tenang namun bermakna masif ini. Slamet Bratanata menyaksikan dengan perasaan berkecamuk. Di satu sisi, ketukan palu kesepakatan ini berarti modal asing akan segera mengalir masuk dalam Sistem ekonomi Orde Baru . 


  Di sisi lain, sebuah babak baru eksploitasi kekayaan alam skala raksasa di tanah Papua resmi dimulai. Gunung suci di pedalaman Mimika itu, kini tak lagi hanya milik angin dan awan, melainkan telah berpindah ke dalam radar industri global. Foto hitam-putih itu menangkap segalanya: formalitas setelan jas, senyuman tipis penuh arti, dan selembar kertas yang menjadi saksi bisu lahirnya salah satu operasi tambang terbesar di muka bumi.  


#tambang #sejarah #freeport #papua #indonesia


Sumber : Herdi Mangkubumi

Apakah Kamu Tau ? GARUDA INDONESIA 1960 - KALAU NAIK PESAWAT HARUS PAKAI JAS DAN KEBAYA Tahun 1960, naik Garuda bukan seperti naik bus sekarang. Semua orang berdandan. Laki-laki pakai jas, topi fedora, perempuan pakai kebaya, rok polkadot. Anak kecil pun pakai topi. Di Kemayoran, bandara pertama Indonesia, pesawatnya Convair 340 dan Douglas DC-3. Suara baling-balingnya menggelegar sampai ke kota. Pramugarinya semua ber-kebaya dan bersanggul. Tidak ada celana. Senyumnya khas Indonesia. Tiketnya tidak bisa pesan online. Harus datang ke loket kayu, antre panjang, tulisan jadwal masih pakai kapur: JKT-AMSTERDAM 14.30 Dan yang paling mewah: di dalam pesawat boleh merokok, makanannya pakai piring kaca, dan dapat tas kertas bertuliskan GARUDA SNACKS. Biaya Jakarta - Amsterdam tahun 1965 bisa untuk beli rumah di Kebayoran. Yang pernah terbang Garuda era Kemayoran tahun 60-an, atau yang orang tuanya pilot/pramugari Garuda zaman dulu, absen di komen. Tahun berapa pertama kali naik Garuda? Foto rekreasi arsip: aviasistory #GarudaIndonesia #GarudaJadul #BandaraKemayoran #1960an #NostalgiaPenerbangan #aviasi #pesawat #antik #jadul #vintage

 Apakah Kamu Tau ? 

GARUDA INDONESIA 1960 - KALAU NAIK PESAWAT HARUS PAKAI JAS DAN KEBAYA



Tahun 1960, naik Garuda bukan seperti naik bus sekarang.


Semua orang berdandan. Laki-laki pakai jas, topi fedora, perempuan pakai kebaya, rok polkadot. Anak kecil pun pakai topi.


Di Kemayoran, bandara pertama Indonesia, pesawatnya Convair 340 dan Douglas DC-3. Suara baling-balingnya menggelegar sampai ke kota.


Pramugarinya semua ber-kebaya dan bersanggul. Tidak ada celana. Senyumnya khas Indonesia.


Tiketnya tidak bisa pesan online. Harus datang ke loket kayu, antre panjang, tulisan jadwal masih pakai kapur: JKT-AMSTERDAM 14.30


Dan yang paling mewah: di dalam pesawat boleh merokok, makanannya pakai piring kaca, dan dapat tas kertas bertuliskan GARUDA SNACKS.


Biaya Jakarta - Amsterdam tahun 1965 bisa untuk beli rumah di Kebayoran.


Yang pernah terbang Garuda era Kemayoran tahun 60-an, atau yang orang tuanya pilot/pramugari Garuda zaman dulu, absen di komen. Tahun berapa pertama kali naik Garuda?


Foto rekreasi arsip: aviasistory


#GarudaIndonesia #GarudaJadul #BandaraKemayoran #1960an #NostalgiaPenerbangan #aviasi #pesawat #antik #jadul #vintage

Kolonel (Anumerta) Isdiman Suryokusumo (12 Juli 1913 – 26 November 1945) adalah perwira Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan juga Komandan Resimen TKR Banyumas sekaligus perwira menengah dalam sistem kemiliteran indonesia. Pahlawan nasional yang gugur dalam Palagan Ambarawa, Semarang - Jawa Tengah. Latar Belakang Letkol Isdiman lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Ia pernah bersekolah di SMK Bojonegoro. Masa kecil Isdiman dihabiskan di Cianjur. Ambarawa adalah pusaka yang diperjuangkan Isdiman dan laskar pejuangnya. Ia sangat berperan dalam perang di Ambarawa. Ia adalah seorang kepercayaan Kolonel Soedirman untuk mengatur siasat pertempuran di Ambarawa. Ia memimpin para pejuang dalam perang di Ambarawa melawan Sekutu. Pasukan Indonesia dibawah pimpinan Letkol Isdiman berusaha membebaskan kedua desa yang ingin dikuasai Sekutu. Namun, Letkol Isdiman malah terluka parah akibat serangan udara dan dibawa ke Magelang, tetapi Letkol Isdiman gugur saat perjalanan ke Magelang.[3] maka setelah gugur Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka. Letkol Isdiman dikenang sebagai spirit yang hidup dan menggetarkan jantung, memompa darah juang gerilyawan-gerilyawan muda. Saat ini nama Isdiman diabadikan di sebuah jalan di Purwokerto, yakni Jalan Overste Isdiman, atau yang kerap disebut dengan jalan Ovis.

 Kolonel (Anumerta) Isdiman Suryokusumo (12 Juli 1913 – 26 November 1945) adalah perwira Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan juga Komandan Resimen TKR Banyumas sekaligus perwira menengah dalam sistem kemiliteran indonesia. Pahlawan nasional yang gugur dalam Palagan Ambarawa, Semarang - Jawa Tengah.



Latar Belakang

Letkol Isdiman lahir di Pontianak tanggal 12 Juli 1913. Ia pernah bersekolah di SMK Bojonegoro. Masa kecil Isdiman dihabiskan di Cianjur. Ambarawa adalah pusaka yang diperjuangkan Isdiman dan laskar pejuangnya. Ia sangat berperan dalam perang di Ambarawa. Ia adalah seorang kepercayaan Kolonel Soedirman untuk mengatur siasat pertempuran di Ambarawa. Ia memimpin para pejuang dalam perang di Ambarawa melawan Sekutu. Pasukan Indonesia dibawah pimpinan Letkol Isdiman berusaha membebaskan kedua desa yang ingin dikuasai Sekutu. Namun, Letkol Isdiman malah terluka parah akibat serangan udara dan dibawa ke Magelang, tetapi Letkol Isdiman gugur saat perjalanan ke Magelang.[3] maka setelah gugur Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini segera mengadakan pengejaran terhadap mereka. Letkol Isdiman dikenang sebagai spirit yang hidup dan menggetarkan jantung, memompa darah juang gerilyawan-gerilyawan muda. Saat ini nama Isdiman diabadikan di sebuah jalan di Purwokerto, yakni Jalan Overste Isdiman, atau yang kerap disebut dengan jalan Ovis.


Sumber : Hoesin Roesdhi

Dirgahayu ke-81 Tentara Nasional Indonesia . Kisah Kangjeng Pangeran Hario Soejarso Soerjosoejarso. K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso yg kelak dikenal sebagai Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso adalah salah satu kerabat Puro Mangkunegaran. Beliau adalah putra dari K.P.H.Soerarso Soerjosoerarso (adiknya kakek canggah saya : K.P.H.Samekto Soerjokoesoemo) lahir pada Jumat Pahing 25 Agustus 1916 & memperoleh pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di kota Breda, Belanda. Beliau lulus pada 1939, kemudian kembali ke Hindia Belanda sebagai perwira KNIL. Beliau pernah ditempatkan pada satuan kendaraan lapis baja di Bandung (Proef Bataljon Vechtwagens) & kemudian pada satuan infanteri di Bogor. Pengalaman inilah yg kelak sangat penting ketika Republik Indonesia harus membangun angkatan bersenjata modernnya. Setelah Proklamasi 1945 & berakhirnya kekuasaan Belanda, K.P.H.Soerjosoejarso memilih bergabung dgn TNI. Pada periode revolusi, riwayatnya tidak seterkenal tokoh seperti Nasution, Sudirman ataupun Simatupang. Namun beliau kemudian memainkan peranan yg sangat penting dlm bidang yg menjadi spesialisasinya, yaitu pasukan kendaraan lapis baja. Beliau juga pernah berada dlm perjuangan di Sumatra sebelum kemudian ditarik ke Yogyakarta. Pada 1959, dokumen Departemen Angkatan Darat bahkan masih mencatat secara resmi riwayat penugasannya sebagai perwira tinggi. Pada 9 Februari 1950, Kepala Staf Angkatan Darat : Kolonel A.H. Nasution mengeluarkan keputusan No. 5/KSAD/Pntp/50 mengenai pembentukan satuan berlapis baja. Tgl tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kavaleri TNI AD. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 26 Juli 1950, Letnan Kolonel K.P.H. Soerjosoejarso mengambil alih secara simbolis kompleks Opleidings Centrum der Pantsertroepen di Bandung, bekas pusat pendidikan pasukan lapis baja KNIL. TNI AD sendiri menyebut peristiwa ini sebagai salah satu tonggak yg menjadi cikal bakal markas korps lapis baja TNI. Dgn demikian, K.P.H.Soerjosoejarso bukan hanya pernah menjadi komandan Kavaleri. Beliau berada pada tahap kelahiran organisasi Kavaleri TNI AD itu sendiri. Pada masa awal tersebut, Komando Pasukan Berlapis Baja berada di bawah pimpinan Letkol Kav. K.P.H.Soerjosoejarso & membawahi empat eskadron di Bandung, Magelang, Palembang & Medan. Kendaraan yg digunakan antara lain kendaraan bekas KNIL seperti Ford Lynx, Humber Scout, Otter, Universal Carrier & Stuart. Kemudian organisasi itu berkembang. Pada 21 April 1952 dibentuklah Inspektorat Kavaleri & pada 1954 telah berkembang menjadi tujuh eskadron. Pada 7 Juni 1956, Inspektorat Kavaleri berubah menjadi Pusat Kavaleri. Karier beliau kemudian beralih ke bidang pendidikan perwira. K.P.H.Soerjosoejarso tercatat sebagai Gubernur Akademi Militer pada periode 1950–1959. Daftar sejarah Gubernur Akademi Militer mencatatnya sebagai Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso. Arsip Nasional Republik Indonesia juga memiliki dokumentasi mengenai beliau dlm kapasitas tersebut. Dlm Guide Arsip Pertahanan & Keamanan Negara Era Presiden Sukarno 1945–1967, terdapat foto rapat para perwira Angkatan Darat di Istana Merdeka yg a.l. menampilkan Gubernur Akademi Militer Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso bersama Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Djuanda, A.H. Nasution & GatoSoebroto. Ini menunjukkan bahwa neliau berada dlm lingkaran penting pimpinan militer Republik pada era awal. K.P.H.Soerjosoejarso menikah dgn kakak sepupunya sendiri : Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani, yg lebih dikenal sebagai Gusti Noeroel, putri dari K.G.P.A.A.Mangkunagoro VII & Gusti Kangjeng Ratu Timoer pada 24 Maret 1951 di Puro Mangkunegaran Surakarta. Menariknya, pada saat menikah beliau adalah seorang perwira TNI yg selalu berpindah lokasi mengikuti penugasan. Dan Gusti Noeroel pun memilih mengikuti dgn setia kehidupan tersebut. Karena itu, setelah menikah Gusti Noeroel meninggalkan kehidupan di Puro Mangkunegaran & mengikuti suaminya dlm berbagai penempatan. Terdapat satu episode yg memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi mereka bersinggungan langsung dgn situasi politik-militer Indonesia. Menjelang pernikahan, ketika keluarga telah mempersiapkan pertunangan, K.P.H.Soerjosoejarso tidak dapat hadir karena terjadi pemberontakan APRA di Jawa Barat pada Januari 1950. Beliau dikirim untuk menjalankan tugas militer di Jawa Barat. Pertunangan tetap dilaksanakan & ayah beliau : K.P.H.Soerjosoerarso mewakilinya. Ini memperlihatkan bahwa hubungan mereka berlangsung dlm situasi ketika seorang perwira TNI belum tentu dapat mengutamakan acara keluarga dibandingkan tugas negara. Karier beliau berlanjut meningkat. Pada 1 Agustus 1959, K.P.H.Soerjosoejarso diberhentikan secara hormat dari jabatan Gubernur Akademi Militer berdasarkan surat perintah MBAD No. Kpts-674/8/1959. Setelah mengikuti Chursus C Seskoad, beliau naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Kemudian beliau ditugaskan sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Washington, D.C. Gusti Nurul beserta putra putri mereka ikut ke Amerika Serikat. Setelah meninggalkan dinas aktif, Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso dipercaya memimpin Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung. Pada 22 Juni 1966, beliau diangkat sebagai rektor & memimpin lembaga tersebut hingga sekitar 1986 yg menjadikannya salah satu, bahkan menurut sejarah institusi, yg terlama sebagai pemimpin ITT/STTT. Peralihan ini sebenarnya cukup masuk akal bila melihat konteks zaman. Indonesia sedang membangun industri nasional & membutuhkan tenaga ahli tekstil. Pengalaman seorang perwira tinggi yg pernah berkecimpung dlm pengadaan & kebutuhan perlengkapan militer juga memiliki hubungan dgn kebutuhan industri tekstil nasional. K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso wafat pada 1999 di usia 83 thn & dimakamkan di Astana Girilayu.

 Dirgahayu ke-81 Tentara Nasional Indonesia .

Kisah Kangjeng Pangeran Hario Soejarso Soerjosoejarso. 



K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso yg kelak dikenal sebagai Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso adalah salah satu kerabat Puro Mangkunegaran.

Beliau adalah putra dari K.P.H.Soerarso Soerjosoerarso (adiknya kakek canggah saya : K.P.H.Samekto Soerjokoesoemo) lahir pada Jumat Pahing 25 Agustus 1916 & memperoleh pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di kota Breda, Belanda. Beliau lulus pada 1939, kemudian kembali ke Hindia Belanda sebagai perwira KNIL. Beliau pernah ditempatkan pada satuan kendaraan lapis baja di Bandung (Proef Bataljon Vechtwagens) & kemudian pada satuan infanteri di Bogor. 

Pengalaman inilah yg kelak sangat penting ketika Republik Indonesia harus membangun angkatan bersenjata modernnya.


Setelah Proklamasi 1945 & berakhirnya kekuasaan Belanda, K.P.H.Soerjosoejarso memilih bergabung dgn TNI. Pada periode revolusi, riwayatnya tidak seterkenal tokoh seperti Nasution, Sudirman ataupun Simatupang. Namun beliau kemudian memainkan peranan yg sangat penting dlm bidang yg menjadi spesialisasinya, yaitu pasukan kendaraan lapis baja.

Beliau juga pernah berada dlm perjuangan di Sumatra sebelum kemudian ditarik ke Yogyakarta. Pada 1959, dokumen Departemen Angkatan Darat bahkan masih mencatat secara resmi riwayat penugasannya sebagai perwira tinggi. 


Pada 9 Februari 1950, Kepala Staf Angkatan Darat : Kolonel A.H. Nasution mengeluarkan keputusan No. 5/KSAD/Pntp/50 mengenai pembentukan satuan berlapis baja. Tgl tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kavaleri TNI AD. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 26 Juli 1950, Letnan Kolonel K.P.H. Soerjosoejarso mengambil alih secara simbolis kompleks Opleidings Centrum der Pantsertroepen di Bandung, bekas pusat pendidikan pasukan lapis baja KNIL. TNI AD sendiri menyebut peristiwa ini sebagai salah satu tonggak yg menjadi cikal bakal markas korps lapis baja TNI. 

Dgn demikian, K.P.H.Soerjosoejarso bukan hanya pernah menjadi komandan Kavaleri. Beliau berada pada tahap kelahiran organisasi Kavaleri TNI AD itu sendiri.

Pada masa awal tersebut, Komando Pasukan Berlapis Baja berada di bawah pimpinan Letkol Kav. K.P.H.Soerjosoejarso & membawahi empat eskadron di Bandung, Magelang, Palembang & Medan. Kendaraan yg digunakan antara lain kendaraan bekas KNIL seperti Ford Lynx, Humber Scout, Otter, Universal Carrier & Stuart. 

Kemudian organisasi itu berkembang. Pada 21 April 1952 dibentuklah Inspektorat Kavaleri & pada 1954 telah berkembang menjadi tujuh eskadron. Pada 7 Juni 1956, Inspektorat Kavaleri berubah menjadi Pusat Kavaleri. 

Karier beliau kemudian beralih ke bidang pendidikan perwira.

K.P.H.Soerjosoejarso tercatat sebagai Gubernur Akademi Militer pada periode 1950–1959. Daftar sejarah Gubernur Akademi Militer mencatatnya sebagai Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso. 


Arsip Nasional Republik Indonesia juga memiliki dokumentasi mengenai beliau dlm kapasitas tersebut. Dlm Guide Arsip Pertahanan & Keamanan Negara Era Presiden Sukarno 1945–1967, terdapat foto rapat para perwira Angkatan Darat di Istana Merdeka yg a.l. menampilkan Gubernur Akademi Militer Kolonel Kav.R.M.Soerjosoejarso bersama Presiden Soekarno, Mohammad Hatta, Djuanda, A.H. Nasution & GatoSoebroto. 

Ini menunjukkan bahwa neliau berada dlm lingkaran penting pimpinan militer Republik pada era awal.


K.P.H.Soerjosoejarso menikah dgn kakak sepupunya sendiri : Gusti Raden Ajeng Siti Noeroel Kamaril Ngasarati Koesoemowardhani, yg lebih dikenal sebagai Gusti Noeroel, putri dari K.G.P.A.A.Mangkunagoro VII & Gusti Kangjeng Ratu Timoer pada 24 Maret 1951 di Puro Mangkunegaran Surakarta. 

Menariknya, pada saat menikah beliau adalah seorang perwira TNI yg selalu berpindah lokasi mengikuti penugasan.

Dan Gusti Noeroel pun memilih mengikuti dgn setia kehidupan tersebut.

Karena itu, setelah menikah Gusti Noeroel meninggalkan kehidupan di Puro Mangkunegaran & mengikuti suaminya dlm berbagai penempatan.


Terdapat satu episode yg memperlihatkan bagaimana kehidupan pribadi mereka bersinggungan langsung dgn situasi politik-militer Indonesia.

Menjelang pernikahan, ketika keluarga telah mempersiapkan pertunangan, K.P.H.Soerjosoejarso tidak dapat hadir karena terjadi pemberontakan APRA di Jawa Barat pada Januari 1950. Beliau dikirim untuk menjalankan tugas militer di Jawa Barat. Pertunangan tetap dilaksanakan & ayah beliau : K.P.H.Soerjosoerarso mewakilinya.  

Ini memperlihatkan bahwa hubungan mereka berlangsung dlm situasi ketika seorang perwira TNI belum tentu dapat mengutamakan acara keluarga dibandingkan tugas negara.


Karier beliau berlanjut meningkat.

Pada 1 Agustus 1959, K.P.H.Soerjosoejarso diberhentikan secara hormat dari jabatan Gubernur Akademi Militer berdasarkan surat perintah MBAD No. Kpts-674/8/1959. Setelah mengikuti Chursus C Seskoad, beliau naik pangkat menjadi Brigadir Jenderal. Kemudian beliau ditugaskan sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Washington, D.C.

Gusti Nurul beserta putra putri mereka ikut ke Amerika Serikat. 


Setelah meninggalkan dinas aktif, Mayjen TNI (Purn.) K.P.H.Soerjosoejarso dipercaya memimpin Institut Teknologi Tekstil (ITT) Bandung. Pada 22 Juni 1966, beliau diangkat sebagai rektor & memimpin lembaga tersebut hingga sekitar 1986 yg menjadikannya salah satu, bahkan menurut sejarah institusi, yg terlama sebagai pemimpin ITT/STTT.

Peralihan ini sebenarnya cukup masuk akal bila melihat konteks zaman. Indonesia sedang membangun industri nasional & membutuhkan tenaga ahli tekstil. Pengalaman seorang perwira tinggi yg pernah berkecimpung dlm pengadaan & kebutuhan perlengkapan militer juga memiliki hubungan dgn kebutuhan industri tekstil nasional.


K.P.H.Soejarso Soerjosoejarso wafat pada 1999 di usia 83 thn & dimakamkan di Astana Girilayu.


Sumber : Bambang Sujarwanto

Serda Giyadi, sosok yang menembak Jenderal Ahmad Yani pada peristiwa September 1965, vonis mati ganjarannya Pada 30 September - 1 Oktober 1965, sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat diculik dan dibantai oleh sekelompok pasukan Cakrabirawa yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung Bin Syamsuri. Salah satu jenderal yang menjadi korban adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Menteri Panglima Angkatan Darat dan pahlawan revolusi. Ahmad Yani gugur di rumahnya di Jalan Latuharhari, Jakarta, setelah ditembak oleh Sersan Dua Giyadi, salah satu anggota pasukan Cakrabirawa. Giyadi adalah seorang prajurit berpangkat rendah yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Dia lahir pada tahun 1928 dan bergabung dengan Cakrabirawa pada tahun 1963. Giyadi dan grupnya berangkat dari Halim Perdanakusuma sekitar pukul 03.00 WIB dengan menggunakan dua mobil jeep. Mereka tiba di rumah Ahmad Yani sekitar pukul 04.00 WIB dan langsung menyerbu masuk. Giyadi menembak Ahmad Yani sebanyak tiga kali di bagian dada dan perut. Ahmad Yani pun tergeletak tak berdaya. Selain Ahmad Yani, pasukan Cakrabirawa juga menculik lima jenderal lainnya, yaitu Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo, Mayor Jenderal Suwondo Parman, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, dan Mayor Jenderal Suprapto -- serta ajudan Nasution, Pierre Tendean. Mereka membawa para korban ke Lubang Buaya, sebuah tempat latihan militer di pinggiran Jakarta. Di sana, mereka menyiksa dan membunuh para korban dengan cara yang sadis dan membuang mayat-mayat mereka ke dalam sumur tua. Aksi penculikan dan pembunuhan ini segera diketahui oleh pihak Angkatan Darat yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto. Soeharto mengambil alih kendali situasi dan mengumumkan bahwa G30S adalah sebuah pemberontakan komunis yang bertujuan untuk menggulingkan Presiden Sukarno. Soeharto kemudian melancarkan operasi militer untuk menumpas G30S dan para pendukungnya. Pasukan Cakrabirawa yang terlibat dalam G30S pun menjadi sasaran utama pengejaran dan penangkapan. Giyadi ditangkap pada 4 Oktober 1965 dan sempat menjadi saksi dalam perkara Untung. Dia mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah dari atasannya tanpa mengetahui tujuan sebenarnya dari aksi tersebut. Ia juga mengaku menyesal telah membunuh Ahmad Yani. Giyadi dijatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer distrik Jakarta pada 16 April 1968. Tapi sebelumnya dia menghabiskan 22 tahun dalam penjara sebelum akhirnya dieksekusi oleh regu tembak pada 16 April 1988 bersama tiga rekannya, yaitu Johannes Surono, Paulus Satar Suryanto, dan Simon Petrus Solaiman. Direstorasi Oleh : Embah Suero Saridjan DjeNate MenDheman #RestorasiFotoOfficial #RestorasiFotoLawas #RestorasiFotoLawas_V20 #giyadi #ahmadyani #G30S #cakrabirawa

 Serda Giyadi, sosok yang menembak Jenderal Ahmad Yani pada peristiwa September 1965, vonis mati ganjarannya



Pada 30 September - 1 Oktober 1965, sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat diculik dan dibantai oleh sekelompok pasukan Cakrabirawa yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung Bin Syamsuri. Salah satu jenderal yang menjadi korban adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Menteri Panglima Angkatan Darat dan pahlawan revolusi.


Ahmad Yani gugur di rumahnya di Jalan Latuharhari, Jakarta, setelah ditembak oleh Sersan Dua Giyadi, salah satu anggota pasukan Cakrabirawa. Giyadi adalah seorang prajurit berpangkat rendah yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Dia lahir pada tahun 1928 dan bergabung dengan Cakrabirawa pada tahun 1963.


Giyadi dan grupnya berangkat dari Halim Perdanakusuma sekitar pukul 03.00 WIB dengan menggunakan dua mobil jeep. Mereka tiba di rumah Ahmad Yani sekitar pukul 04.00 WIB dan langsung menyerbu masuk.


Giyadi menembak Ahmad Yani sebanyak tiga kali di bagian dada dan perut. Ahmad Yani pun tergeletak tak berdaya.


Selain Ahmad Yani, pasukan Cakrabirawa juga menculik lima jenderal lainnya, yaitu Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo, Mayor Jenderal Suwondo Parman, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, dan Mayor Jenderal Suprapto -- serta ajudan Nasution, Pierre Tendean.


Mereka membawa para korban ke Lubang Buaya, sebuah tempat latihan militer di pinggiran Jakarta. Di sana, mereka menyiksa dan membunuh para korban dengan cara yang sadis dan membuang mayat-mayat mereka ke dalam sumur tua.


Aksi penculikan dan pembunuhan ini segera diketahui oleh pihak Angkatan Darat yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto. Soeharto mengambil alih kendali situasi dan mengumumkan bahwa G30S adalah sebuah pemberontakan komunis yang bertujuan untuk menggulingkan Presiden Sukarno.


Soeharto kemudian melancarkan operasi militer untuk menumpas G30S dan para pendukungnya. Pasukan Cakrabirawa yang terlibat dalam G30S pun menjadi sasaran utama pengejaran dan penangkapan.


Giyadi ditangkap pada 4 Oktober 1965 dan sempat menjadi saksi dalam perkara Untung. Dia mengaku bahwa dia hanya menjalankan perintah dari atasannya tanpa mengetahui tujuan sebenarnya dari aksi tersebut. Ia juga mengaku menyesal telah membunuh Ahmad Yani.


Giyadi dijatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer distrik Jakarta pada 16 April 1968. Tapi sebelumnya dia menghabiskan 22 tahun dalam penjara sebelum akhirnya dieksekusi oleh regu tembak pada 16 April 1988 bersama tiga rekannya, yaitu Johannes Surono, Paulus Satar Suryanto, dan Simon Petrus Solaiman.


Direstorasi Oleh : Embah Suero Saridjan DjeNate MenDheman 

#RestorasiFotoOfficial #RestorasiFotoLawas #RestorasiFotoLawas_V20


#giyadi #ahmadyani #G30S #cakrabirawa


Sumber : Abdul Roziq

05 October 2026

Mobil itu seharusnya membawa seorang gubernur menuju ke Madiun. _November 1948. Gubernur Jawa Timur, Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, sedang dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ibu kota RI saat itu. Di dalam mobil ada dua perwira polisi yang mendampinginya. Kombes Polisi M. Duryat. Kompol Suroko. Di kawasan hutan jati Bogo, Kedunggalar, Ngawi, sekelompok pasukan menghentikan mobil mereka. Gubernur Suryo dipaksa turun. Dua pengawalnya ikut diturunkan. Mereka kemudian dibawa menuju Kantor Kehutanan Sonde. Tidak ada lagi kendaraan yang bisa membawa mereka pulang. Mereka kemudian dibawa semakin jauh ke dalam hutan. Pakaian mereka dilucuti. Tubuh mereka dibiarkan tanpa perlindungan di tengah hutan. Lalu mereka diseret menuju tepi sungai. _10 November 1948. Di tepi Kali Kakah, Ngawi, ketiganya dieksekusi. Kepala mereka dipenggal. Jasad mereka ditinggalkan begitu saja di sekitar sungai. Empat hari berlalu sebelum penduduk setempat menemukannya. Tiga orang. Satu gubernur. Dua perwira polisi. Semuanya berakhir di tempat yang sama. Namun ada satu ihwal yang membuat kisah ini jauh lebih ganjil. Menurut kesaksian yang kemudian dicatat, Gubernur Suryo diduga bukan target utama. Saat itu, ia menggunakan mobil milik Sultan Hamengkubuwono IX. Mobil yang sedang diburu kelompok tersebut diduga justru mobil itu. Artinya, orang yang mereka hentikan bisa jadi bukan orang yang sebenarnya mereka cari. Gubernur pertama Jawa Timur gugur tepat 3 tahun setelah Pertempuran Surabaya 10 November 1945 yang dipimpinnya. Ia tewas di tengah perjalanan pulang. Sasaran target kendaraannya benar. Orangnya tidak _ by AJRaharjo

 Mobil itu seharusnya

membawa seorang gubernur

menuju ke Madiun.


_November 1948.



Gubernur Jawa Timur,

Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo,

sedang dalam perjalanan

pulang dari Yogyakarta

ibu kota RI saat itu.


Di dalam mobil

ada dua perwira polisi

yang mendampinginya.


Kombes Polisi M. Duryat.


Kompol Suroko.


Di kawasan hutan jati Bogo,

Kedunggalar, Ngawi,

sekelompok pasukan

menghentikan mobil mereka.


Gubernur Suryo

dipaksa turun.


Dua pengawalnya

ikut diturunkan.


Mereka kemudian

dibawa menuju

Kantor Kehutanan Sonde.


Tidak ada lagi

kendaraan yang bisa 

membawa mereka pulang.


Mereka kemudian

dibawa semakin jauh

ke dalam hutan.


Pakaian mereka

dilucuti.


Tubuh mereka

dibiarkan tanpa perlindungan

di tengah hutan.


Lalu mereka diseret

menuju tepi sungai.


_10 November 1948.


Di tepi Kali Kakah, Ngawi,

ketiganya dieksekusi.


Kepala mereka

dipenggal.


Jasad mereka

ditinggalkan begitu saja

di sekitar sungai.


Empat hari berlalu

sebelum penduduk setempat

menemukannya.


Tiga orang.


Satu gubernur.


Dua perwira polisi.


Semuanya berakhir

di tempat yang sama.


Namun ada satu ihwal

yang membuat kisah ini

jauh lebih ganjil.


Menurut kesaksian

yang kemudian dicatat,

Gubernur Suryo

diduga bukan target utama.


Saat itu,

ia menggunakan mobil

milik Sultan Hamengkubuwono IX.


Mobil yang sedang diburu

kelompok tersebut

diduga justru mobil itu.


Artinya,


orang yang mereka hentikan

bisa jadi bukan orang

yang sebenarnya mereka cari.


Gubernur pertama Jawa Timur

gugur tepat 3 tahun setelah

Pertempuran Surabaya 10 November 1945

yang dipimpinnya.


Ia tewas

di tengah perjalanan pulang.


Sasaran target kendaraannya benar.


Orangnya tidak


_


by AJRaharjo


Sumber : Ajoko Rahardjo

Pemberontakan PKI 1926 Musso aktif di PKI sedari masa mudanya. Jauh sebelum pemberontakan di tahun 1948, Musso sudah terbiasa menyusun rencana pemberontakan di tahun 1926. Sebuah rencana pemberontakan yg disusun di berbagai wilayah Jawa dan Sumatra. Tahun 1924, PKI memindahkan markasnya dari Semarang ke Jakarta. Saat itu Musso menjabat sebagai komisaris. Ide-ide pemberontakan selalu digaungkan oleh para pengurus PKI. Ide pemberontakan ini ditentang oleh satu pengurus PKI yg lunak yaitu Tan Malaka. Ia menyarankan agar PKI bekerjasama bahu membahu dg organisasi lainnya seperti Syarikat Islam (SI). Para pengurus PKI pusat yg mayoritas berfaham atheis ingin mengadakan pemberontokan murni karena ingin melenyapkan kaum kapitalis dan borjuis yg dalam hal ini adlh pemerintah kolonial Belanda. Sementara para pengurus cabang di berbagai wilayah memiliki pandangan lain. Pemberontakan semata2 dimaknai sebagai jihad fie sabilillah. Perlu difahami bahwa saat itu komunis menyebarkan ajarannya di daerah dg mendompleng ajaran agama Islam. Komunis menyusup di Syarikat Islam. Menjadikan para Kyai sebagai corong penyebarannya. Karena konsep yg diajarkan adalah melawan pemerintah kafir nan zalim Hindia Belanda, maka PKI berhasil menyusup dan menjadikan ummat Islam sebagai pion. Inilah perbedaan PKI di Indonesia dg negara lain. Di masa penjajahan Belanda, PKI menyamar dalam baju Islam. Menyusupi pemimpin agama. Dan ummat di daerah yg minim informasi melihat PKI sebagai wadah yg bisa menyalurkan hasrat mereka utk melawan Belanda. Apalagi saat itu Syarikat Islam sedang lemah dan HOS Tjokroaminoto ditahan. PKI menjadi harapan baru utk mengumandangkan semangat jihad fie sabilillah. Sebuah kondisi unik komunisme yg tidak ditemui di negara lain. Pemberontakan thd pemerintah kolonial Belanda akhirnya meletus di Batavia pada 12-14 November 1926. Mereka menyerbu penjara Glodok, menguasai kantor telepon, dan beberapa kantor pemerintahan. Namun pemberontakan tsb bisa ditangani dg cepat oleh pemerintah Belanda. Pemberontakan PKI di Banten terjadi pada bulan Oktober 1926. Dengan dipimpin Kyai Tubagus Achmad Chatib, mantan presiden Syarikat Islam di Labuan. Hampir 1000 orang rakyat bersatu melumpuhkan pemerintahan Belanda. Kemudian di Ranah Minang juga meletus Pemberontakan PKI. Ilmu komunis yg biasa diucapkan kuminih di ranah minang bukanlah marxisme-leninisme, melainkan sesederhana membenci penguasa kafir. Dengan dalil-dalil agama terutama surah At-Taubah dan surah Al-Anfal, kebencian terhadap penguasa kafir menjadi landasan ilmu kuminih. Tak jadi soal bagi orang minangkabau apa itu PKI atau kuminih, yg terpenting adalah perlawanan thd kolonialisme. Pemberontakan di Minangkabau terjadi pada tahun 1927. Pemberontakan PKI thd pemerintahan kolonial di Batavia, Banten, dan Minangkabau, meski berbendera PKI namun lebih kental nuansa jihad. Lebih kental seruan anti pemerintah kafir, ketimbang perlawanan kelas. Tentu hal ini sangat berbeda dg pemberontakan PKI di tahun 1948 ataupun 1965. Pemberontakan pasca kemerdekaan Indonesia ibarat menusuk dari belakang. Mencelakai saudara sebangsa sendiri yg sedang tertatih melawan Agresi Militer Belanda II. Dan Musso ataupun DN Aidit tidak pernah ambil pusing, tak ada belas kasihan terhadap ratusan ribu nyawa saudara sebangsa yg melayang. Musso telah belajar dari Stalin yg membantai 5000 rakyat soviet, rakyatnya sendiri. Musso, Semaun, Alimin, selaku petinggi PKI sering terbang ke Moscow untuk meminta arahan dari Stalin.

 Pemberontakan PKI 1926



Musso aktif di PKI sedari masa mudanya. Jauh sebelum pemberontakan di tahun 1948, Musso sudah terbiasa menyusun rencana pemberontakan di tahun 1926. Sebuah rencana pemberontakan yg disusun di berbagai wilayah Jawa dan Sumatra.


Tahun 1924, PKI memindahkan markasnya dari Semarang ke Jakarta. Saat itu Musso menjabat sebagai komisaris. Ide-ide pemberontakan selalu digaungkan oleh para pengurus PKI.


Ide pemberontakan ini ditentang oleh satu pengurus PKI yg lunak yaitu Tan Malaka. Ia menyarankan agar PKI bekerjasama bahu membahu dg organisasi lainnya seperti Syarikat Islam (SI).


Para pengurus PKI pusat yg mayoritas berfaham atheis ingin mengadakan pemberontokan murni karena ingin melenyapkan kaum kapitalis dan borjuis yg dalam hal ini adlh pemerintah kolonial Belanda.


Sementara para pengurus cabang di berbagai wilayah memiliki pandangan lain. Pemberontakan semata2 dimaknai sebagai jihad fie sabilillah. Perlu difahami bahwa saat itu komunis menyebarkan ajarannya di daerah dg mendompleng ajaran agama Islam. Komunis menyusup di Syarikat Islam. Menjadikan para Kyai sebagai corong penyebarannya. Karena konsep yg diajarkan adalah melawan pemerintah kafir nan zalim Hindia Belanda, maka PKI berhasil menyusup dan menjadikan ummat Islam sebagai pion.


Inilah perbedaan PKI di Indonesia dg negara lain. Di masa penjajahan Belanda, PKI menyamar dalam baju Islam. Menyusupi pemimpin agama. Dan ummat di daerah yg minim informasi melihat PKI sebagai wadah yg bisa menyalurkan hasrat mereka utk melawan Belanda. Apalagi saat itu Syarikat Islam sedang lemah dan HOS Tjokroaminoto ditahan. PKI menjadi harapan baru utk mengumandangkan semangat jihad fie sabilillah. Sebuah kondisi unik komunisme yg tidak ditemui di negara lain.


Pemberontakan thd pemerintah kolonial Belanda akhirnya meletus di Batavia pada  12-14 November 1926. Mereka menyerbu penjara Glodok, menguasai kantor telepon, dan beberapa kantor pemerintahan. Namun pemberontakan tsb bisa ditangani dg cepat oleh pemerintah Belanda.


Pemberontakan PKI di Banten terjadi pada bulan Oktober 1926. Dengan dipimpin Kyai Tubagus Achmad Chatib, mantan presiden Syarikat Islam di Labuan. Hampir 1000 orang rakyat bersatu melumpuhkan pemerintahan Belanda. 


Kemudian di Ranah Minang juga meletus Pemberontakan PKI. Ilmu komunis yg biasa diucapkan kuminih di ranah minang bukanlah marxisme-leninisme, melainkan sesederhana membenci penguasa kafir. Dengan dalil-dalil agama terutama surah At-Taubah dan surah Al-Anfal, kebencian terhadap penguasa kafir menjadi landasan ilmu kuminih. Tak jadi soal bagi orang minangkabau apa itu PKI atau kuminih, yg terpenting adalah perlawanan thd kolonialisme. Pemberontakan di Minangkabau terjadi pada tahun 1927.


Pemberontakan PKI thd pemerintahan kolonial di Batavia, Banten, dan Minangkabau, meski berbendera PKI namun lebih kental nuansa jihad. Lebih kental seruan anti pemerintah kafir, ketimbang perlawanan kelas. 


Tentu hal ini sangat berbeda dg pemberontakan PKI di tahun 1948 ataupun 1965. Pemberontakan pasca kemerdekaan Indonesia ibarat menusuk dari belakang. Mencelakai saudara sebangsa sendiri yg sedang tertatih melawan Agresi Militer Belanda II.


Dan Musso ataupun DN Aidit tidak pernah ambil pusing, tak ada belas kasihan terhadap ratusan ribu nyawa saudara sebangsa yg melayang. 


Musso telah belajar dari Stalin yg membantai 5000 rakyat soviet, rakyatnya sendiri.  Musso, Semaun, Alimin, selaku petinggi PKI sering terbang ke Moscow untuk meminta arahan dari Stalin.


Sumber : Widi Astuti

03 October 2026

KAMSING NUSAKAMBANGAN SETELAH PERISTIWA 1965 Dalam buku Kronik 1965, ada laporan tertanggal 23 Mei 1966 tentang nama-nama tapol (tahanan politik) di Nusakambangan. Dalam laporan tersebut tercatat sebanyak 449 orang menghuni kamp pengasingan (kamsing) di Nusakambangan. Mereka berasal dari pelbagai wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Rinciannya adalah 12 orang berasal dari Temanggung, 5 orang dari Magelang, 56 orang berasal dari Sleman, sebanyak 100 orang dari kota Yogyakarta, 1 orang dari Kalasan, 1 orang dari Prambanan, 26 orang dari Klaten, 19 orang dari Sukoharjo, 3 orang dari Karanganyar, 2 orang dari Wonogiri, 15 orang dari Solo, 3 orang dari Ambarawa, 8 orang dari Salatiga, 17 orang berasal dari Rembang, 1 orang dari Ungaran, 6 orang dari Pati, 23 orang dari Cilacap, 1 orang dari Kroya, 4 orang dari Sragen, 10 orang dari Purworejo, 2 orang Purbalingga, 3 orang dari Banjarnegara, 3 orang berasal dari Bantul, 9 orang dari Wonosari, 30 orang dari Wates, 6 orang dari Banyumas, 19 Orang dari Brebes, 8 orang dari Tegal, 2 orang dari Pemalang, 15 orang berasal dari Pekalongan, 1 Orang dari Kendal, 2 orang dari Semarang, 10 orang dari Kudus dan 6 Orang dari Blora. Sedangkan pada tanggal 4 September 1966, dalam sebuah laporan tentang daftar tahanan politik di pulau Nusakambangan tahap pertama, tercatat sebanyak 520 tahanan yang berasal dari Ambarawa (446 orang), Pekalongan (49 orang) dan Yogyakarta (25 orang) ditempatkan di beberapa kamp pengasingan (kamsing) Nusakambangan, seperti di Nirbaya sebanyak 439 orang, Batu sebanyak 57 orang, Gliger sebanyak 12 orang, Permisan sebanyak 7 orang, dan Kembang Kuning sebanyak 7 orang. (*)

 KAMSING NUSAKAMBANGAN SETELAH PERISTIWA 1965



Dalam buku Kronik 1965, ada laporan tertanggal 23 Mei 1966 tentang nama-nama tapol (tahanan politik) di Nusakambangan. Dalam laporan  tersebut tercatat sebanyak 449 orang menghuni kamp pengasingan (kamsing) di Nusakambangan. Mereka berasal dari pelbagai wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Rinciannya adalah 12 orang berasal dari Temanggung,  5 orang dari Magelang, 56 orang berasal dari Sleman, sebanyak 100 orang dari kota Yogyakarta, 1 orang dari Kalasan, 1 orang dari Prambanan, 26 orang dari Klaten, 19 orang dari Sukoharjo, 3 orang dari Karanganyar, 2 orang dari Wonogiri, 15 orang dari Solo, 3 orang dari Ambarawa, 8 orang dari Salatiga, 17 orang berasal dari Rembang, 1 orang dari Ungaran, 6 orang dari Pati, 23 orang dari Cilacap, 1 orang dari Kroya, 4 orang dari Sragen, 10 orang dari Purworejo, 2 orang Purbalingga, 3 orang dari Banjarnegara, 3 orang berasal dari Bantul, 9 orang dari Wonosari, 30 orang dari Wates, 6 orang dari Banyumas, 19 Orang dari Brebes, 8 orang dari Tegal, 2 orang dari Pemalang, 15 orang berasal dari Pekalongan, 1 Orang dari Kendal, 2 orang dari Semarang, 10 orang dari Kudus dan 6 Orang dari Blora.


Sedangkan pada tanggal 4 September 1966,  dalam sebuah laporan tentang daftar tahanan politik di pulau Nusakambangan tahap pertama, tercatat sebanyak 520 tahanan yang berasal dari Ambarawa (446 orang), Pekalongan (49 orang) dan Yogyakarta (25 orang) ditempatkan di beberapa kamp pengasingan (kamsing) Nusakambangan, seperti di Nirbaya sebanyak 439 orang, Batu sebanyak 57 orang, Gliger sebanyak 12 orang, Permisan sebanyak 7 orang,  dan Kembang Kuning sebanyak 7 orang. (*)


Sumber : Tjilatjap History

Pemandangan Jalan Dari Magelang ke Semarang Sekitar 1925 (KITLV) dan foto bawah adalah masa sekarang (Fidhien Noer)

 Pemandangan Jalan Dari Magelang ke Semarang Sekitar 1925 (KITLV) dan foto bawah adalah masa sekarang (Fidhien Noer)




Sumber : Andre Owen

02 October 2026

Alm. bapak adalah penyintas tragedi pembantaian PKI ini, rasa trauma dan takutnya masih bisa kulihat dri wajahnya wktu beliau dnger kata PKI. Apalgi saat bliau nyritain kejadian2 nya, wjahnya bner2 terlihat berubah pucat. Katanya yg mengerikan bukan tanggal 30 septmbr sampai 1 october, melainkan masa2 setelahnya. Sking banyaknya orng2 PKI, korbanya tmbus lebih dri setengah juta jiwa. Banyak tempat2 yg akhirnya digunakan sebagai lokasi pembuangan jenazahnya. Bhkn katanya dlu dpnggir pnggir jalan juga banyak mayat bergeletakkan. Rata2 lehernya digorok, dan di bantai habis2 an. Wktu itu desa katanya bner2 sepi sprti desa mati, stiap hari banyak orang tak dikenal datang dengan mmbawa snjata tajam mencari sisa2 PKI. Fitnah dimana mana dan pembantaian brutal seolah menjadi hal yang biasa. Semua keterangan itulah yang akhirnya membuat cerita ini lahir. tidak hanya alm bapak, hampir seluruh warga yang kmi temui yang hidup dijaman itu juga menuturkan keterangan dengan benang merah yang sama. Baca deh, ini slah satu cerita terbaik kami judulnya gestapu

 Alm. bapak adalah penyintas tragedi pembantaian PKI ini, rasa trauma dan takutnya masih bisa kulihat dri wajahnya wktu beliau dnger kata PKI.


Apalgi saat bliau nyritain kejadian2 nya, wj


ahnya bner2 terlihat berubah pucat.


Katanya yg mengerikan bukan tanggal 30 septmbr sampai 1 october, melainkan masa2 setelahnya.


Sking banyaknya orng2 PKI, korbanya tmbus lebih dri setengah juta jiwa.


Banyak tempat2 yg akhirnya digunakan sebagai lokasi pembuangan jenazahnya.


Bhkn katanya dlu dpnggir pnggir jalan juga banyak mayat bergeletakkan.


Rata2 lehernya digorok, dan di bantai habis2 an.


Wktu itu desa katanya bner2 sepi sprti desa mati, stiap hari banyak orang tak dikenal datang dengan mmbawa snjata tajam mencari sisa2 PKI. Fitnah dimana mana dan pembantaian brutal seolah menjadi hal yang biasa.


Semua keterangan itulah yang akhirnya membuat cerita ini lahir.


tidak hanya alm bapak, hampir seluruh warga yang kmi temui yang hidup dijaman itu juga menuturkan keterangan dengan benang merah yang sama.


Baca deh, ini slah satu cerita terbaik kami judulnya gestapu


Sumber : Lakon

01 October 2026

Takbir 1965 Yang Tidak Pernah Diajarkan Di Sekolah. Malam itu, Jakarta tidak tidur. Di sebuah ruangan sunyi di Istana, seorang lelaki tua dengan suara bergetar memandang para pengawalnya. Namanya Soekarno. Proklamator. Presiden seumur hidup. Tapi malam itu, ia bukan singa podium. Ia adalah seorang ayah yang ketakutan kehilangan anak-anaknya sendiri: Angkatan Darat. "Jemput mereka," bisiknya lirih. "Bawa mereka kemari. Hidup-hidup." Perintah itu bukan perintah perang. Menurut Guru Besar Universitas Pertahanan, Profesor Salim Said, itulah awal dari tragedi paling kelam Indonesia: rencana penculikan itu ternyata berasal dari Bung Karno sendiri. Tujuannya? Bukan untuk membunuh. Soekarno hanya ingin para jenderal itu tampil di istana, berdiri di sampingnya, menunjukkan kepada dunia bahwa mereka masih setia kepada presiden. Tapi... siapa yang mengubah rencana "jemput" menjadi "bunuh"? Di sinilah ceritanya menjadi gelap. Pasukan Cakrabirawa bergerak di tengah malam buta 30 September. Yang terjadi kemudian bukanlah penjemuran di istana, melainkan lubang buaya yang berlumuran darah. Tujuh jenderal tewas. Soekarno, kata Salim Said, tidak pernah memerintahkan pembunuhan itu. Lalu siapa yang berkhianat? Siapa yang membelokkan perintah presiden menjadi pembantaian? Salim Said, yang saat itu adalah mahasiswa UI tahun 1966, menyaksikan semuanya dari jalanan. Ia justru melihat sosok lain muncul dari kekacauan: Pak Harto, Sarwo Edhie Wibowo, dan para jenderal yang selamat. Mereka disebut juru selamat. Tapi tunggu. Mengapa Soekarno sampai nekat menculik jenderalnya sendiri? Jawabannya adalah sebuah permainan catur yang mematikan: balance of power. Menjelang kejatuhannya, Soekarno sadar ia tidak punya apa-apa. Ia tidak punya partai politik yang terorganisir. Angkatan Darat semakin kuat, semakin menentukan, semakin jauh darinya. TNI yang dulu sejarahnya begitu dekat dengan Soekarno, kini terpecah-belah. Dikacaukan. Ada "Macan Gadungan" yang memecah barisan. Dalam keputusasaan, Soekarno melakukan langkah paling berbahaya dalam hidupnya: ia memakai PKI untuk mengimbangi Angkatan Darat. Ia menciptakan dua macan untuk saling menerkam, berharap ia bisa tetap menjadi pawangnya. Tapi ia lupa satu hal: ketika dua macan dilepas di ruangan yang sama... ...yang pertama diterkam adalah sang pawang. Dan kini, puluhan tahun kemudian, satu pertanyaan masih menggantung dan belum terjawab: Jika Soekarno hanya memerintahkan penculikan, dan bukan pembunuhan... lalu siapa sebenarnya yang memberi perintah untuk menembak di malam itu?

 Takbir 1965 Yang Tidak Pernah Diajarkan Di Sekolah.


Malam itu, Jakarta tidak tidur.


Di sebuah ruangan sunyi di Istana, seorang lelaki tua dengan suara bergetar memandang para pengawalnya. Namanya Soekarno. Proklamator. Presiden seumur hidup. Tapi malam itu, ia bukan singa podium. Ia adalah seorang ayah yang ketakutan kehilangan anak-anaknya sendiri: Angkatan Darat.


"Jemput mereka," bisiknya lirih. "Bawa mereka kemari. Hidup-hidup."



Perintah itu bukan perintah perang. Menurut Guru Besar Universitas Pertahanan, Profesor Salim Said, itulah awal dari tragedi paling kelam Indonesia: rencana penculikan itu ternyata berasal dari Bung Karno sendiri.


Tujuannya? Bukan untuk membunuh. Soekarno hanya ingin para jenderal itu tampil di istana, berdiri di sampingnya, menunjukkan kepada dunia bahwa mereka masih setia kepada presiden.


Tapi... siapa yang mengubah rencana "jemput" menjadi "bunuh"?


Di sinilah ceritanya menjadi gelap.


Pasukan Cakrabirawa bergerak di tengah malam buta 30 September. Yang terjadi kemudian bukanlah penjemuran di istana, melainkan lubang buaya yang berlumuran darah. Tujuh jenderal tewas.


Soekarno, kata Salim Said, tidak pernah memerintahkan pembunuhan itu.


Lalu siapa yang berkhianat? Siapa yang membelokkan perintah presiden menjadi pembantaian?


Salim Said, yang saat itu adalah mahasiswa UI tahun 1966, menyaksikan semuanya dari jalanan. Ia justru melihat sosok lain muncul dari kekacauan: Pak Harto, Sarwo Edhie Wibowo, dan para jenderal yang selamat.


Mereka disebut juru selamat.


Tapi tunggu. Mengapa Soekarno sampai nekat menculik jenderalnya sendiri?


Jawabannya adalah sebuah permainan catur yang mematikan: balance of power.


Menjelang kejatuhannya, Soekarno sadar ia tidak punya apa-apa. Ia tidak punya partai politik yang terorganisir. Angkatan Darat semakin kuat, semakin menentukan, semakin jauh darinya. TNI yang dulu sejarahnya begitu dekat dengan Soekarno, kini terpecah-belah. Dikacaukan. Ada "Macan Gadungan" yang memecah barisan.


Dalam keputusasaan, Soekarno melakukan langkah paling berbahaya dalam hidupnya: ia memakai PKI untuk mengimbangi Angkatan Darat.


Ia menciptakan dua macan untuk saling menerkam, berharap ia bisa tetap menjadi pawangnya.


Tapi ia lupa satu hal: ketika dua macan dilepas di ruangan yang sama...


...yang pertama diterkam adalah sang pawang.


Dan kini, puluhan tahun kemudian, satu pertanyaan masih menggantung dan belum terjawab:


Jika Soekarno hanya memerintahkan penculikan, dan bukan pembunuhan... lalu siapa sebenarnya yang memberi perintah untuk menembak di malam itu?


Sumber : Yudi Bragas Adi Luhur

Pagi itu, 2 Oktober 1965, atmosfer di Istana Bogor begitu mencekam. Kabar gugurnya Letnan Jenderal Ahmad Yani dalam peristiwa berda_^&rah G30S telah meninggalkan lubang besar di tubuh Angkatan Darat. Di tengah situasi yang genting dan simpang siur, Presiden Soekarno harus segera mengambil keputusan. Pilihan Bung Karno akhirnya jatuh pada seorang jenderal bertubuh tegap dengan pembawaan tenang dan bersahaja: Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra. Bung Karno memandangnya sebagai sosok jenderal yang lurus, tidak ambisius, dan yang terpenting, memiliki loyalitas tanpa syarat kepada Kepala Negara. Hari itu juga, Pranoto resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Menteri/Panglima Angkatan Darat. Tugas berat berada di pundaknya meredam gejolak dan menyatukan kembali tentara yang sedang terkoyak. Namun, di belahan Jakarta yang lain, tepatnya di Markas Kostrad, sebuah kekuatan baru sedang mengonsolidasikan diri. Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad, menolak tunduk begitu saja pada keputusan tersebut. Bagi Soeharto, Pranoto bukanlah orang asing. Ingatannya kembali berputar ke akhir tahun 1950-an di Jawa Tengah, saat Pranoto memimpin pemeriksaan kasus barter ilegal yang melibatkan dirinya, hingga berujung pada pencopotan Soeharto dari jabatan Panglima Divisi Diponegoro. Kini, roda nasib membawa mereka kembali berhadapan di panggung tertinggi kekuasaan. Ketika perintah Bung Karno turun agar Pranoto segera menghadap ke Istana untuk menerima mandat, roda manuver Soeharto bergerak cepat. "Demi keselamatan Anda, Jenderal, situasi di luar sangat berbahaya. Tetaplah di sini," cegah Soeharto dengan nada dingin namun tegas. Pranoto, yang dasarnya adalah seorang prajurit administratif yang patuh pada hierarki dan menghindari pertumpahan da_^&rah sesama korps, memilih untuk tidak melawan fisik. Pilihan itu menjadi celah pertama yang fatal. Perlahan tapi pasti, Soeharto mengambil alih kendali taktis dan operasional Angkatan Darat atas inisiatifnya sendiri, mengisolasi Pranoto dalam ruang sempit yang hanya mengurusi administrasi di atas kertas. Suara Pranoto perlahan meredup di tengah deru panser dan propaganda yang mulai menguasai ibu kota. Hanya berselang dua minggu, tepatnya pada 16 Oktober 1965, lanskap politik telah berubah total. Di bawah tekanan situasi yang makin tak terkendali, Bung Karno akhirnya terpaksa melantik Soeharto sebagai Menpangad definitif. Posisi Pranoto sebagai pemegang komando pun resmi tamat sebelum ia sempat benar-benar memulainya. Tragedi bagi Pranoto tidak berhenti pada hilangnya jabatan. Mesin kekuasaan Orde Baru yang mulai bangkit membutuhkan pembersihan total terhadap elemen-elemen loyalis Soekarno. Narasi demi narasi dibangun, hingga puncaknya pada 16 Februari 1966, sang jenderal pilihan Bung Karno itu ditangkap. Ia dituduh terlibat dalam lingkaran konspirasi G30S, sebuah tuduhan yang tak pernah sekali pun dibuktikan dalam sidang pengadilan yang sah.Selama 15 tahun berikutnya, hidup Mayjen Pranoto berubah menjadi lembaran-lembaran kelam di balik jeruji besi. Berpindah dari satu rumah tahanan militer ke instalasi lainnya, ia terkunci dari dunia luar, sementara mantan rivalnya bertransformasi menjadi penguasa tunggal Republik selama puluhan tahun. Ketika akhirnya dibebaskan pada tahun 1981, Pranoto keluar sebagai pria sepuh yang didera sakit dan himpitan ekonomi, namun tetap menjaga martabatnya dalam diam hingga akhir hayatnya di tahun 1992. Kisah Pranoto Reksosamodra adalah narasi tentang seorang prajurit yang setia pada konstitusi dan presidennya, namun tergilas tanpa ampun oleh roda sejarah dan intrik politik yang tak bermata.

 Pagi itu, 2 Oktober 1965, atmosfer di Istana Bogor begitu mencekam. Kabar gugurnya Letnan Jenderal Ahmad Yani dalam peristiwa berda_^&rah G30S telah meninggalkan lubang besar di tubuh Angkatan Darat. Di tengah situasi yang genting dan simpang siur, Presiden Soekarno harus segera mengambil keputusan. Pilihan Bung Karno akhirnya jatuh pada seorang jenderal bertubuh tegap dengan pembawaan tenang dan bersahaja: Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra.



Bung Karno memandangnya sebagai sosok jenderal yang lurus, tidak ambisius, dan yang terpenting, memiliki loyalitas tanpa syarat kepada Kepala Negara. Hari itu juga, Pranoto resmi ditunjuk sebagai Pelaksana Harian Menteri/Panglima Angkatan Darat. Tugas berat berada di pundaknya meredam gejolak dan menyatukan kembali tentara yang sedang terkoyak.


Namun, di belahan Jakarta yang lain, tepatnya di Markas Kostrad, sebuah kekuatan baru sedang mengonsolidasikan diri. Mayor Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad, menolak tunduk begitu saja pada keputusan tersebut. Bagi Soeharto, Pranoto bukanlah orang asing. Ingatannya kembali berputar ke akhir tahun 1950-an di Jawa Tengah, saat Pranoto memimpin pemeriksaan kasus barter ilegal yang melibatkan dirinya, hingga berujung pada pencopotan Soeharto dari jabatan Panglima Divisi Diponegoro. Kini, roda nasib membawa mereka kembali berhadapan di panggung tertinggi kekuasaan.


Ketika perintah Bung Karno turun agar Pranoto segera menghadap ke Istana untuk menerima mandat, roda manuver Soeharto bergerak cepat. "Demi keselamatan Anda, Jenderal, situasi di luar sangat berbahaya. Tetaplah di sini," cegah Soeharto dengan nada dingin namun tegas. Pranoto, yang dasarnya adalah seorang prajurit administratif yang patuh pada hierarki dan menghindari pertumpahan da_^&rah sesama korps, memilih untuk tidak melawan fisik. Pilihan itu menjadi celah pertama yang fatal.

Perlahan tapi pasti, Soeharto mengambil alih kendali taktis dan operasional Angkatan Darat atas inisiatifnya sendiri, mengisolasi Pranoto dalam ruang sempit yang hanya mengurusi administrasi di atas kertas. Suara Pranoto perlahan meredup di tengah deru panser dan propaganda yang mulai menguasai ibu kota.


Hanya berselang dua minggu, tepatnya pada 16 Oktober 1965, lanskap politik telah berubah total. Di bawah tekanan situasi yang makin tak terkendali, Bung Karno akhirnya terpaksa melantik Soeharto sebagai Menpangad definitif. Posisi Pranoto sebagai pemegang komando pun resmi tamat sebelum ia sempat benar-benar memulainya.

Tragedi bagi Pranoto tidak berhenti pada hilangnya jabatan. Mesin kekuasaan Orde Baru yang mulai bangkit membutuhkan pembersihan total terhadap elemen-elemen loyalis Soekarno. Narasi demi narasi dibangun, hingga puncaknya pada 16 Februari 1966, sang jenderal pilihan Bung Karno itu ditangkap. Ia dituduh terlibat dalam lingkaran konspirasi G30S, sebuah tuduhan yang tak pernah sekali pun dibuktikan dalam sidang pengadilan yang sah.Selama 15 tahun berikutnya, hidup Mayjen Pranoto berubah menjadi lembaran-lembaran kelam di balik jeruji besi. Berpindah dari satu rumah tahanan militer ke instalasi lainnya, ia terkunci dari dunia luar, sementara mantan rivalnya bertransformasi menjadi penguasa tunggal Republik selama puluhan tahun. Ketika akhirnya dibebaskan pada tahun 1981, Pranoto keluar sebagai pria sepuh yang didera sakit dan himpitan ekonomi, namun tetap menjaga martabatnya dalam diam hingga akhir hayatnya di tahun 1992.

Kisah Pranoto Reksosamodra adalah narasi tentang seorang prajurit yang setia pada konstitusi dan presidennya, namun tergilas tanpa ampun oleh roda sejarah dan intrik politik yang tak bermata.

30 September 2026

JEJAK VISUAL PERISTIWA MADIUN 1948 Dokumen ini merupakan surat rahasia (geheim) dari Dinas Reserse Umum, Kejaksaan Agung Hindia Belanda, yang ditujukan kepada Direktur Kabinet Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia. Surat tersebut melaporkan temuan 21 lembar foto dalam arsip Ipphos di Yogyakarta, yang menurut narasi dokumen merekam proses interogasi serta eksekusi orang-orang komunis (muso) di tepi liang kubur Suatu tempat di Magetan. Latar Historis Peristiwa Madiun bermula pada 18 September 1948, ketika terjadi konflik bersenjata di Madiun, Jawa Timur, antara kelompok yang berafiliasi dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan PKI serta pemerintah Republik Indonesia. Konflik ini berlangsung di tengah ketegangan politik, perpecahan internal, dan tekanan Belanda selama masa revolusi. Pemerintah Republik melancarkan operasi militer, dan dalam beberapa pekan kekuatan utama FDR/PKI berhasil dipukul mundur. Musso tewas pada akhir Oktober 1948, sedangkan Amir Sjarifuddin dieksekusi pada Desember 1948. Kekerasan terhadap tahanan dan warga sipil dari berbagai pihak, termasuk di Magetan, tercatat dalam berbagai sumber. Jumlah korban dan penafsiran atas peristiwa ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan. Surat ini ditulis setelah Belanda menguasai Yogyakarta pada Agresi Militer II (19 Desember 1948). Sebagai sumber primer, dokumen ini lahir dari perspektif aparat kolonial, sehingga perlu dibaca secara kritis dengan memperhatikan klasifikasi rahasianya, posisi penulisnya, serta konteks politik saat itu, terutama terhadap klaim, terminologi, dan tujuan penyusunannya. Sumber: National Archief (Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesië)

 JEJAK VISUAL PERISTIWA MADIUN 1948



Dokumen ini merupakan surat rahasia (geheim) dari Dinas Reserse Umum, Kejaksaan Agung Hindia Belanda, yang ditujukan kepada Direktur Kabinet Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia. Surat tersebut melaporkan temuan 21 lembar foto dalam arsip Ipphos di Yogyakarta, yang menurut narasi dokumen merekam proses interogasi serta eksekusi orang-orang komunis (muso) di tepi liang kubur Suatu tempat di Magetan.


Latar Historis

Peristiwa Madiun bermula pada 18 September 1948, ketika terjadi konflik bersenjata di Madiun, Jawa Timur, antara kelompok yang berafiliasi dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan PKI serta pemerintah Republik Indonesia. Konflik ini berlangsung di tengah ketegangan politik, perpecahan internal, dan tekanan Belanda selama masa revolusi. Pemerintah Republik melancarkan operasi militer, dan dalam beberapa pekan kekuatan utama FDR/PKI berhasil dipukul mundur. Musso tewas pada akhir Oktober 1948, sedangkan Amir Sjarifuddin dieksekusi pada Desember 1948. Kekerasan terhadap tahanan dan warga sipil dari berbagai pihak, termasuk di Magetan, tercatat dalam berbagai sumber. Jumlah korban dan penafsiran atas peristiwa ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan.


Surat ini ditulis setelah Belanda menguasai Yogyakarta pada Agresi Militer II (19 Desember 1948). Sebagai sumber primer, dokumen ini lahir dari perspektif aparat kolonial, sehingga perlu dibaca secara kritis dengan memperhatikan klasifikasi rahasianya, posisi penulisnya, serta konteks politik saat itu, terutama terhadap klaim, terminologi, dan tujuan penyusunannya.


Sumber: National Archief (Fotocollectie Dienst voor Legercontacten Indonesië)

Poto Kunjungan Presiden Soeharto tempo dulu sekitar th 70an diapit Oleh Pendiri Gontor KH Imam Zarkasyi dan KH Ahmad Sahal( Ayah KH Hasan Abdullah Sahal) Ada kisah menarik yg diceritakan salah seorang Alumni yg pernah merasakan Langsung didikan dr salah satu Trimurti Gontor, Simak ceritanya Sambil "ngohwah" he.he SOSOK KH. IMAM ZARKASYI: IQRO' YA BUNAYYA* Ibu-bapak pasti tahu nama Kyai Haji Imam Zarkasyi, tapi bisakah anda membayangkan sosoknya? Atau melihat langsung aksinya? Di kamar tidur beliau selalu tergelar sajadah yang di atasnya ada untaian tasbih. Saya tahu tahu karena sering menyapu ruangan itu. Allahumma saya bersyukur dapat mengabdikan hidupku untuk beliau. Di belakang sajadah itu dekat jendela ada kertas HITAM bertuliskan tinda emas berbunyi: "Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan". Di luar jam mengajar beliau keluar rumah, memakai kaos oblong warna putih cap kodok dan mengalungkan handuk kecil untuk menyeka keringat. Biasanya membawa alat-alat pertukangan seperti martil, obeng atau tang. keliling melihat-lihat papan tulis yang tergantung tidak rapi maka diluruskan, memeriksa meja bangku yang ringkih maka dipasaknya, pintu-pintu kelas yang engselnya rusak dicatat dan diperintahkan untuk diperbaiki. Jika ada kelas yang kosong, maka beliau masuk mengajar. Jika ada sebelahnya lagi yang kosong maka ditingggalkan songkoknya di kelas yang dimasuki terdahulu dan beliau memasuki kels kosong yang ribut itu. Sering terjadi beliau langsung pulang setelah mengisi kelas dengan amat sangat serius, maka songkok hitamnya ketinggalan di kelas sehinga tak satupun santri yang berani meninggalkan kelas sebelum beliau datang kembali mengambil songkoknya (sekalipun sudah jam pulang). Ketua kelas harus mendatangi beliau dan bertanya apakah beliau akan masuk kembali agar kami menunggunya? Kalau berpapasan dengan santri yang tidak membawa buku maka beliau akan mencegat dan menanyakan: mengapa tidak membawa buku? Kalau bertemu dengan anak yang membawa buku tapi tidak membacanya beliau juga bertanya: Mengapa buku dibawa kok tidak dibaca? (maaf saya selalu menangis kalau mengingat-ingat hal ini). Satu hari saya berpapasan dengan beliau dan didepan saya ada sobekan koran. Beliau perintahkan " PUNGUT !". sayapun memungutnya dan hendak membuangnya ke tong sampah, namun beliau memerintahkan saya untuk membacanya dahulu. Karena korannya sudah lama dan usang sayapun menjawab: Maaf Pak Yai ini koran lama. Dengan pandangan mata yang teramat tajam beliau menatap saya, rasa merindingnya masih sampai sekarang. Beliau bilang dengan lirih: Ya bunayya korannya memang lama, tapi apa kamu sudah membacanya atau belum? Kejadian itu di depan Perdos (Perumahan Dosen, berada dibelakang rumah lama Keluarga Kyai Imam Zarkasyi). Peristiwanya tidak berhenti sampai di situ. Saya diminta duduk dan membaca potongan koran lusuh itu. Ketika selesai sayapun bangkit minta diri, tapi beliau meminta potongan koran itu dan mulai menanyai saya hampir lima puluhan pertanyaan yang bersumber dari satu alinea saja bahan bacaan itu, tentu saja saya KO berat. Di akhir peristiwa itu beliau berkata: Anak Lombok ya? Makanya kalau membaca jangan setengah setengah. belum lima menit saja sudah lupa. Baca yang bagus...."mocone sing telaten" Keesokan harinya dalam wejangan untuk kelas Lima (saya kelas lima waktu itu, tahun 1981) beliau menceritakan kasus itu dan menegaskan: "Di dalam rumah saya ada aturan, bahwa anak-anak saya yang tidak sedang membaca akan disuruh bekerja terur...terus...terus....sampai dia meminta waktu istirahat dan istirahatnya adalah untuk membaca. Hanya anak yang sakit saja yang boleh tidak membaca dan tidak bekerja" KETIKA MENONTON FILM NEGERI 5 MENARA, SAYA MENYESAL TIDAK DIIKUTKAN MEMBERI MASUKAN SEHINGGA SEHARUSNYA KEJADIAN SEPERTI ITU DIMASUKKAN UNTUK MENGGETARKAN DUNIA. "Iqro' ya Bunayya " *Dari: KH. Hasanain Juaini (Pengasuh PM Nurul Haromain - NTB)

 Poto Kunjungan Presiden Soeharto tempo dulu sekitar th 70an diapit Oleh Pendiri Gontor KH Imam Zarkasyi dan KH Ahmad Sahal( Ayah KH Hasan Abdullah Sahal) 



Ada kisah menarik yg diceritakan salah seorang Alumni yg pernah merasakan Langsung didikan dr salah satu Trimurti Gontor, Simak ceritanya Sambil "ngohwah" he.he


SOSOK KH. IMAM ZARKASYI: IQRO' YA BUNAYYA*


Ibu-bapak pasti tahu nama Kyai Haji Imam Zarkasyi, tapi bisakah anda membayangkan sosoknya? Atau melihat langsung aksinya?


Di kamar tidur beliau selalu tergelar sajadah yang di atasnya ada untaian tasbih. Saya tahu tahu karena sering menyapu ruangan itu. Allahumma saya bersyukur dapat mengabdikan hidupku untuk beliau. Di belakang sajadah itu dekat jendela ada kertas HITAM bertuliskan tinda emas berbunyi: "Sehari harus bekerja 18 jam. Istirahat adalah mengganti jenis pekerjaan".


Di luar jam mengajar beliau keluar rumah, memakai kaos oblong warna putih cap kodok dan mengalungkan handuk kecil untuk menyeka keringat. Biasanya membawa alat-alat pertukangan seperti martil, obeng atau tang. keliling melihat-lihat papan tulis yang tergantung tidak rapi maka diluruskan, memeriksa meja bangku yang ringkih maka dipasaknya, pintu-pintu kelas yang engselnya rusak dicatat dan diperintahkan untuk diperbaiki.


Jika ada kelas yang kosong, maka beliau masuk mengajar. Jika ada sebelahnya lagi yang kosong maka ditingggalkan songkoknya di kelas yang dimasuki terdahulu dan beliau memasuki kels kosong yang ribut itu. Sering terjadi beliau langsung pulang setelah mengisi kelas dengan amat sangat serius, maka songkok hitamnya ketinggalan di kelas sehinga tak satupun santri yang berani meninggalkan kelas sebelum beliau datang kembali mengambil songkoknya (sekalipun sudah jam pulang). Ketua kelas harus mendatangi beliau dan bertanya apakah beliau akan masuk kembali agar kami menunggunya?


Kalau berpapasan dengan santri yang tidak membawa buku maka beliau akan mencegat dan menanyakan: mengapa tidak membawa buku? Kalau bertemu dengan anak yang membawa buku tapi tidak membacanya beliau juga bertanya: Mengapa buku dibawa kok tidak dibaca? (maaf saya selalu menangis kalau mengingat-ingat hal ini).


Satu hari saya berpapasan dengan beliau dan didepan saya ada sobekan koran. Beliau perintahkan " PUNGUT !". sayapun memungutnya dan hendak membuangnya ke tong sampah, namun beliau memerintahkan saya untuk membacanya dahulu. Karena korannya sudah lama dan usang sayapun menjawab: Maaf Pak Yai ini koran lama. Dengan pandangan mata yang teramat tajam beliau menatap saya, rasa merindingnya masih sampai sekarang. Beliau bilang dengan lirih: Ya bunayya korannya memang lama, tapi apa kamu sudah membacanya atau belum?


Kejadian itu di depan Perdos (Perumahan Dosen, berada dibelakang rumah lama Keluarga Kyai Imam Zarkasyi). Peristiwanya tidak berhenti sampai di situ. Saya diminta duduk dan membaca potongan koran lusuh itu. Ketika selesai sayapun bangkit minta diri, tapi beliau meminta potongan koran itu dan mulai menanyai saya hampir lima puluhan pertanyaan yang bersumber dari satu alinea saja bahan bacaan itu, tentu saja saya KO berat. Di akhir peristiwa itu beliau berkata: Anak Lombok ya? Makanya kalau membaca jangan setengah setengah. belum lima menit saja sudah lupa. Baca yang bagus...."mocone sing telaten"


Keesokan harinya dalam wejangan untuk kelas Lima (saya kelas lima waktu itu, tahun 1981) beliau menceritakan kasus itu dan menegaskan:


"Di dalam rumah saya ada aturan, bahwa anak-anak saya yang tidak sedang membaca akan disuruh bekerja terur...terus...terus....sampai dia meminta waktu istirahat dan istirahatnya adalah untuk membaca. Hanya anak yang sakit saja yang boleh tidak membaca dan tidak bekerja"


KETIKA MENONTON FILM NEGERI 5 MENARA, SAYA MENYESAL TIDAK DIIKUTKAN MEMBERI MASUKAN SEHINGGA SEHARUSNYA KEJADIAN SEPERTI ITU DIMASUKKAN UNTUK MENGGETARKAN DUNIA. "Iqro' ya Bunayya "


*Dari: KH. Hasanain Juaini (Pengasuh PM Nurul Haromain - NTB)

Ikutan Berebut Salaman Tiga pejabat negara ini pernah melakukan kunjungan ke Purwokerto yang membuat saya sebagai remaja terdorong ikut berebut salaman dengan beliau-beliau: Jenderal M Yusuf, Prof. Daoed Joesoef, Jenderal Suparjo Rustam. Kejadiannya sudah lama sekali, di awal-awal tahun 80-an. Jenderal M Yusuf saat itu adalah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Beliau datang ke Purwokerto untuk meresmikan patung Gatot Subroto di bunderam RS Margono Sukaryo. Profesor Daoed Joesoef waktu itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau ke Purwokerto untuk mengunjungi kampus SPGN Purwokerto yang baru saja dianugerahi gelar sebagai sekolahan paling bersih dan paling rapi se-Indonesia. Sekolahan saya waktu itu adalah SMPN 2 Purwokerto yang lokasinya persis bersebelahan dengan SPGN. Di luar acara protokoler, tiba-tiba Pak Menteri menyeberang ke SMP kami. Jadilah, sekolahan kami yang kala itu sedang tidak punya hajatan apa-apa ikut dikunjungi Pak Menteri. Jenderal Suparjo Rustam kala itu menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah. Beliau datang ke Purwokerto untuk menemani Pak Menteri Daoed Joesoef ke SPGN sekalian SMPN 2. Bagi remaja di kota kecil, bertemu langsung dengan pejabat tinggi negara yang sebelumnya hanya dilihat di halaman koran dan televisi sontak menjadi momen istimewa. Tanpa diberi aba-aba, kami berlarian mendekat dan berebut untuk bersalaman. Seingat saya, saat itu pengawalan para pejabat ini cukup longgar. Makanya kami anak-anak remaja bisa berada sangat dekat. Beberapa di antara teman saya bawa spidol dan meminta beliau-beliau membubuhkan tanda tangan di baju mereka.

 Ikutan Berebut Salaman



Tiga pejabat negara ini pernah melakukan kunjungan ke Purwokerto yang membuat saya sebagai remaja terdorong ikut berebut salaman dengan beliau-beliau: Jenderal M Yusuf, Prof. Daoed Joesoef, Jenderal Suparjo Rustam. Kejadiannya sudah lama sekali, di awal-awal tahun 80-an.


Jenderal M Yusuf saat itu adalah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Beliau datang ke Purwokerto untuk meresmikan patung Gatot Subroto di bunderam RS Margono Sukaryo.


Profesor Daoed Joesoef waktu itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau ke Purwokerto untuk mengunjungi kampus SPGN Purwokerto yang baru saja dianugerahi gelar sebagai sekolahan paling bersih dan paling rapi se-Indonesia. Sekolahan saya waktu itu adalah SMPN 2 Purwokerto yang lokasinya persis bersebelahan dengan SPGN. Di luar acara protokoler, tiba-tiba Pak Menteri menyeberang ke SMP kami. Jadilah, sekolahan kami yang kala itu sedang tidak punya hajatan apa-apa ikut dikunjungi Pak Menteri.


Jenderal Suparjo Rustam kala itu menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah. Beliau datang ke Purwokerto untuk menemani Pak Menteri Daoed Joesoef ke SPGN sekalian SMPN 2.


Bagi remaja di kota kecil, bertemu langsung dengan pejabat tinggi negara yang sebelumnya hanya dilihat di halaman koran dan televisi sontak menjadi momen istimewa. Tanpa diberi aba-aba, kami berlarian mendekat dan berebut untuk bersalaman. Seingat saya, saat itu pengawalan para pejabat ini cukup longgar. Makanya kami anak-anak remaja bisa berada sangat dekat. Beberapa di antara teman saya bawa spidol dan meminta beliau-beliau membubuhkan tanda tangan di baju mereka.

Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo menjabat sebagai Panglima Komando Tempur II (Pangkopur II) di bawah Komando Mandala Siaga (Kolaga) pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia (Operasi Dwikora) tahun 1965. Markas tempurnya saat itu berada di Bengkayang, Kalimantan Barat Salah satu dokumentasi bersejarah yang paling terkenal dari periode ini adalah foto kunjungan kerja Mayjen Soeharto (yang kala itu menjabat sebagai Panglima Kostrad sekaligus Wakil Panglima I Kolaga) saat meninjau kesiapan pasukan di perbatasan Kalimantan Barat. Dalam foto tersebut, Brigjen Supardjo tampak mendampingi Soeharto di pos tempur. Secara kronologis, pada tanggal 28 September 1965, Brigjen Supardjo meninggalkan pos tempurnya di Kalimantan Barat tanpa izin resmi dari Panglima Kostrad untuk terbang ke Jakarta, yang kemudian membawanya terlibat langsung dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

 Brigjen Mustafa Sjarief Soepardjo menjabat sebagai Panglima Komando Tempur II (Pangkopur II) di bawah Komando Mandala Siaga (Kolaga) pada masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia (Operasi Dwikora) tahun 1965. Markas tempurnya saat itu berada di Bengkayang, Kalimantan Barat

Salah satu dokumentasi bersejarah yang paling terkenal dari periode ini adalah foto kunjungan kerja Mayjen Soeharto (yang kala itu menjabat sebagai Panglima Kostrad sekaligus Wakil Panglima I Kolaga) saat meninjau kesiapan pasukan di perbatasan Kalimantan Barat. Dalam foto tersebut, Brigjen Supardjo tampak mendampingi Soeharto di pos tempur. 

Secara kronologis, pada tanggal 28 September 1965, Brigjen Supardjo meninggalkan pos tempurnya di Kalimantan Barat tanpa izin resmi dari Panglima Kostrad untuk terbang ke Jakarta, yang kemudian membawanya terlibat langsung dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).



Kisah Tentara Pelajar Madiun Nan Heroik "Eksistensi Tuhan tidak masuk akal. Tuhan adalah konsep yang menjijikkan. Pendek kata, aku menaruh dendam pada Tuhan. Agama adalah candu bagi masyarakat. Menghujat agama adalah yang terpenting." (Karl Marx) Pemikiran Karl Marx ini menjelaskan kepada kita mengapa orang-orang komunis sangat benci kepada kaum agama. Menjelaskan mengapa Muso ataupun Aidit menjadikan para ulama dan santri sebagai sasaran utama pembantaian. Mereka berusaha mengamalkan doktrin yang diajarkan Karl Marx. Jika ada manusia yang tega membunuh saudara kandungnya sendiri, maka komunis jawabnya. Jika ada anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri, maka komunis jawabnya. Entah hati mereka telah tertutupi kebencian sebesar apa, hingga tega membunuh saudara yang masih memiliki ikatan darah. Tak hanya kaum agama yang menjadi sasaran utama, tetapi juga kaum pelajar. Bisa kau bayangkan para pelajar yang bertubuh kecil itu juga tak lepas dari kebengisan tentara PKI? Pelajar yang setiap hari hanya memegang buku dan pulpen itu dengan gagah berani melawan tentara Muso di Madiun. Kisah para pelajar di SMP 2 Madiun di bulan September 1948 membuatku takjub. Keberanian mereka melawan tentara Muso yang baru saja mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun membuatku tak bisa berkata-kata, saking mengagumi keberanian mereka. Sekaligus membuatku geram. Karena pada kejadian ini ada seorang siswa yang dicincang oleh kakaknya sendiri karena berbeda barisan. Kakaknya yang tergabung dalam tentara FDR (Front Demokrasi Rakyat) underbouw PKI begitu tega mencincang adiknya sendiri yang masih berstatus pelajar SMP. Sudah kukatakan padamu, bahwa seseorang yang sudah memeluk ideologi komunis begitu tega membantai manusia lain, termasuk keluarganya sendiri. Adalah Mulyadi, seorang siswa SMP 2 Madiun. Mulyadi memiliki jiwa heroik. Meski secara fisik masih kecil, hanya seorang pelajar SMP, tapi dia memiliki keberanian layaknya tentara. Mulyadi tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang berdiri sejak Agresi Militer Belanda pertama di Madiun. Markas utama TRIP adalah SMP 2 Madiun. Sejak Muso memproklamirkan Republik Indonesia Soviet tanggal 18 September 1948, para anggota TRIP bersiap siaga di markas mereka. Para pelajar SMP yang sebagian besar belum berkumis itu dengan gagah berani mempertahankan marka. mereka tak sudi bergabung dengan Muso. Mereka akan memperjuangkan NKRI hingga titik darah penghabisan. Jujur, hatiku gerimis membayangkan para siswa SMP ini. Salut, bangga, sekaligus terharu dengan keberanian mereka. Saat itu tanggal 21 September 1948, tentara FDR PKI menyerang SMP 2 Madiun. Berusaha mengajak para siswa yang tergabung dalam TRIP ini untuk patuh pada komando Muso. Bergabung dalam barisan PKI. Meskipun hanya terdiri dari para pelajar yang sebagian belum berkumis, tapi TRIP dengan gagah berani menolak ajakan tersebut. Mereka tau resiko dari penolakan tersebut. Yaitu nyawa mereka di ujung tanduk. Saat itu Mulyadi sedang mendapat tugas untuk berjaga sebagai pengawal markas TRIP brigade 17. Tanpa ampun, Mulyadi langsung diberondong tembakan. Darah Mulyadi mengalir membasahi SMP 2 Madiun. Darah pertama yang tertumpah di barisan TRIP. Yang menyedihkan Mulyadi diberondong tembakan oleh Mulyono, kakak kandungnya sendiri. Mulyono yang sudah bergabung dengan tentara FDR PKI begitu tega menghabisi adik kandungnya sendiri. Sesudah ditembaki, jenazah Mulyadi ditusuki ramai-ramai dengan belati yang berada di ujung senapan hingga tak berbentuk lagi. Andaikan ibu kandung Mulyadi melihat pemandangan itu, pastilah dia akan menangis tiada henti. Tak mengerti mengapa Mulyono begitu tega membunuh adik kandungnya sendiri. Ikatan darah mereka seakan tak mampu menghentikan kebengisan jiwa Mulyono yang sudah dirasuki faham komunisme. Setelah pembantaian Mulyadi yang bertugas sebagai pengawal, pasukan FDR PKI merangsek maju. Apalah arti perlawanan anak-anak SMP? Perlawanan mereka segera bisa dipadamkan. Seluruh siswa yang tergabung dalam TRIP itu ditawan PKI. Senjata mereka dilucuti. Tangan mereka diikat dan disuruh berjalan jongkok. Mereka dikumpulkan di lapangan sekolah. Kemudian kesemua siswa TRIP itu dimasukan ke Lapas Madiun. Mereka tidak sudi bergabung dengan tentara komunis. Tanggal 28 September 1948 tentara Divisi Siliwangi menyerang tentara komunis. Saat itu pasukan merah kocar-kacir. Saking kalut, mereka menembaki para tawanan TRIP. Saat itu gugur 7 orang siswa yang tergabung dalam TRIP... Sungguh keberanian para pelajar ini membuat kita semua takjub. Meskipun fisik mereka ringkih, tapi keberanian mereka untuk mempertahankan NKRI tak diragukan lagi. Mereka berani melawan tentara komunis meskipun tau nyawa sebagai taruhannya. Sebuah keberanian yang sulit ditemukan pada pelajar di zaman ini... Mengenang TRIP adalah mengenang keberanian para pelajar....hormat setingi-tingginya untuk mereka...

 Kisah Tentara Pelajar Madiun Nan Heroik



"Eksistensi Tuhan tidak masuk akal. Tuhan adalah konsep yang menjijikkan. Pendek kata, aku menaruh dendam pada Tuhan. Agama adalah candu bagi masyarakat. Menghujat agama adalah yang terpenting." (Karl Marx)


Pemikiran Karl Marx ini menjelaskan kepada kita mengapa orang-orang komunis sangat benci kepada kaum agama. Menjelaskan mengapa Muso ataupun Aidit menjadikan para ulama dan santri sebagai sasaran utama pembantaian. Mereka berusaha mengamalkan doktrin yang diajarkan Karl Marx.


Jika ada manusia yang tega membunuh saudara kandungnya sendiri, maka komunis jawabnya. Jika ada anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri, maka komunis jawabnya. Entah hati mereka telah tertutupi kebencian sebesar apa, hingga tega membunuh saudara yang masih memiliki ikatan darah.


Tak hanya kaum agama yang menjadi sasaran utama, tetapi juga kaum pelajar. Bisa kau bayangkan para pelajar yang bertubuh kecil itu juga tak lepas dari kebengisan tentara PKI? Pelajar yang setiap hari hanya memegang buku dan pulpen itu dengan gagah berani melawan tentara Muso di Madiun.


Kisah para pelajar di SMP 2 Madiun di bulan September 1948 membuatku takjub. Keberanian mereka melawan tentara Muso yang baru saja mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun membuatku tak bisa berkata-kata, saking mengagumi keberanian mereka.


Sekaligus membuatku geram. Karena pada kejadian ini ada seorang siswa yang dicincang oleh kakaknya sendiri karena berbeda barisan. Kakaknya yang tergabung dalam tentara FDR (Front Demokrasi Rakyat) underbouw PKI begitu tega mencincang adiknya sendiri yang masih berstatus pelajar SMP. Sudah kukatakan padamu, bahwa seseorang yang sudah memeluk ideologi komunis begitu tega membantai manusia lain, termasuk keluarganya sendiri.


Adalah Mulyadi, seorang siswa SMP 2 Madiun. Mulyadi memiliki jiwa heroik. Meski secara fisik masih kecil, hanya seorang pelajar SMP, tapi dia memiliki keberanian layaknya tentara. Mulyadi tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang berdiri sejak Agresi Militer Belanda pertama di Madiun. Markas utama TRIP adalah SMP 2 Madiun.


Sejak Muso memproklamirkan Republik Indonesia Soviet tanggal 18 September 1948, para anggota TRIP bersiap siaga di markas mereka. Para pelajar SMP yang sebagian besar belum berkumis itu dengan gagah berani mempertahankan marka.  mereka tak sudi bergabung dengan Muso. Mereka akan memperjuangkan NKRI hingga titik darah penghabisan. Jujur, hatiku gerimis membayangkan para siswa SMP ini. Salut, bangga, sekaligus terharu dengan keberanian mereka.


Saat itu tanggal 21 September 1948, tentara FDR PKI menyerang SMP 2 Madiun. Berusaha mengajak para siswa yang tergabung dalam TRIP ini untuk patuh pada komando Muso. Bergabung dalam barisan PKI.


Meskipun hanya terdiri dari para pelajar yang sebagian belum berkumis, tapi TRIP dengan gagah berani menolak ajakan tersebut. Mereka tau resiko dari penolakan tersebut. Yaitu nyawa mereka di ujung tanduk.


Saat itu Mulyadi sedang mendapat tugas untuk berjaga sebagai pengawal markas TRIP brigade 17. Tanpa ampun, Mulyadi langsung diberondong tembakan. Darah Mulyadi mengalir membasahi SMP 2 Madiun. Darah pertama yang tertumpah di barisan TRIP.


Yang menyedihkan Mulyadi diberondong tembakan oleh Mulyono, kakak kandungnya sendiri. Mulyono yang sudah bergabung dengan tentara FDR PKI begitu tega menghabisi adik kandungnya sendiri. Sesudah ditembaki, jenazah Mulyadi ditusuki ramai-ramai dengan belati yang berada di ujung senapan hingga tak berbentuk lagi.


Andaikan ibu kandung Mulyadi melihat pemandangan itu, pastilah dia akan menangis tiada henti. Tak mengerti mengapa Mulyono begitu tega membunuh adik kandungnya sendiri. Ikatan darah mereka seakan tak mampu menghentikan kebengisan jiwa Mulyono yang sudah dirasuki faham komunisme. 


Setelah pembantaian Mulyadi yang bertugas sebagai pengawal, pasukan FDR PKI merangsek maju. Apalah arti perlawanan anak-anak SMP? Perlawanan mereka segera bisa dipadamkan. Seluruh siswa yang tergabung dalam TRIP itu ditawan PKI. Senjata mereka dilucuti. Tangan mereka diikat dan disuruh berjalan jongkok. Mereka dikumpulkan di lapangan sekolah. Kemudian kesemua siswa TRIP itu dimasukan ke Lapas Madiun. Mereka tidak sudi bergabung dengan tentara komunis. 


Tanggal 28 September 1948 tentara Divisi Siliwangi menyerang tentara komunis. Saat itu pasukan merah kocar-kacir. Saking kalut, mereka menembaki para tawanan TRIP. Saat itu gugur 7 orang siswa yang tergabung dalam TRIP...


Sungguh keberanian para pelajar ini membuat kita semua takjub. Meskipun fisik mereka ringkih, tapi keberanian mereka untuk mempertahankan NKRI tak diragukan lagi. Mereka berani melawan tentara komunis meskipun tau nyawa sebagai taruhannya. Sebuah keberanian yang sulit ditemukan pada pelajar di zaman ini...


Mengenang TRIP adalah mengenang keberanian para pelajar....hormat setingi-tingginya untuk mereka...



Sumber : Widi Astuti