𝗞𝗜𝗦𝗔𝗛 𝗡𝗬 𝗦𝗨𝗛𝗔𝗥𝗧𝗜 (𝟭𝟵𝟰𝟬-𝟮𝟬𝟮𝟲)
Seperti kebanyakan gadis desa pada zamannya, Suharti tidak memiliki banyak pilihan ketika ayahnya, Tamidimedjo, menerima lamaran seorang pria untuk dirinya. Saat itu usianya baru 14 tahun. Ia bahkan belum mengenal calon suaminya dan sebenarnya belum ingin menikah. Namun, keputusan sang ayah tak bisa ditolak. Pernikahan pun berlangsung bukan atas dasar cinta, melainkan karena kehendak orang tua.
Suharti lahir di Desa Jatisari, Kal
asan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tanggal kelahirannya tidak pernah tercatat secara resmi. Ia kemudian menggunakan tanggal 1 Mei 1940, mengikuti tanggal kelahiran seorang tetangga yang lahir pada hari yang sama dengannya.
Ketika berusia empat tahun, kedua orang tuanya bercerai. Ibunya, Warsinah, kemudian ikut bekerja sebagai kuli kontrak ke Deli, Sumatera Utara. Sejak saat itu, nasib sang ibu tidak lagi diketahui. Suharti pernah berusaha mencarinya, tetapi tidak berhasil.
Setelah perceraian itu, Suharti dibawa ayahnya ke Banyuwangi, Jawa Timur, dan dibesarkan di sana. Ketika seorang pria setempat hendak melamarnya, sang ayah justru keberatan. Ia khawatir pernikahan tersebut akan memutus hubungan kekeluargaan dengan kerabat di Yogyakarta. Karena itu, Suharti dikembalikan ke Yogyakarta dan tinggal bersama kakak tertuanya, Mangundimedjo.
𝗠𝗯𝗼𝗸 𝗕𝗲𝗿𝗲𝗸
Di rumah kakaknya, Suharti ikut membantu usaha restoran ayam goreng. Bisnis ini memang sudah lekat dengan keluarganya. Neneknya, Mbok Berek, dikenal sebagai perintis usaha ayam goreng yang namanya cukup tersohor. Namun, kehidupan Suharti sendiri tidak selalu berjalan mulus. Pernikahan pertamanya yang berlangsung ketika ia berusia 14 tahun tidak bertahan lama. Ia akhirnya berpisah dan harus membesarkan tiga anak seorang diri.
Untuk menghidupi anak-anaknya, Suharti berjualan ayam goreng dari rumah ke rumah, menggelar dagangan di pasar, bahkan harus berangkat pagi-pagi ke Solo untuk menjajakan dagangannya. Di tengah kerasnya kehidupan, tumbuh keinginan kuat untuk memiliki restoran sendiri. Ia ingin berdiri di atas kaki sendiri, seperti neneknya, Mbok Berek, yang telah lebih dahulu dikenal melalui usaha ayam goreng.
Sang ayah pernah mendorongnya agar mulai berdagang sendiri dan tidak takut menghadapi kerugian. Namun, keterbatasan modal membuat keinginan itu sulit diwujudkan. Suharti masih harus menjalani rutinitas berjualan keliling, sembari mengumpulkan keberanian dan mencari jalan untuk mewujudkan cita-citanya.
𝗦𝗮𝗵𝗹𝗮𝗻
Pada 1963, Suharti berkenalan dengan Sahlan Praptohardjono, seorang pegawai Percetakan Negara di Kepatuhan. Awalnya, ia tidak terlalu tertarik kepada pria berusia 22 tahun tersebut. Namun, karena sering bertemu, keduanya akhirnya saling jatuh cinta dan menikah. Kehadiran Sahlan menjadi teman seperjalanan Suharti dalam membangun kehidupan sekaligus merintis usaha.
Cita-cita memiliki restoran tidak pernah padam. Sedikit demi sedikit, Suharti mengumpulkan modal hingga akhirnya mendapat kesempatan membeli tanah seluas 900 meter persegi di Desa Pecinan, Kelurahan Catur Tunggal, Sleman. Lokasinya cukup strategis karena menghadap jalan raya yang kini dikenal sebagai Jalan Adi Sutjipto.
Untuk membayar tanah tersebut, Suharti mengorbankan seluruh perhiasan yang dimilikinya. Kalung, gelang, dan cincin dijual, tetapi uangnya masih belum mencukupi. Ia pun terpaksa mencari pinjaman tambahan. Dalam perjalanan bersama Sahlan menuju rumah seorang kenalan bernama Pak Jiwo, sekretaris Desa Gamping, Suharti yang sedang hamil muda mengalami keguguran.
Meski mengalami peristiwa menyedihkan itu, ia tetap melanjutkan perjalanan demi mendapatkan pinjaman. Beruntung, Pak Jiwo bersedia meminjamkan uang dari simpanan kas kelurahan yang saat itu dimilikinya.
𝗠𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗶𝘀 𝗥𝗲𝘀𝘁𝗼𝗿𝗮𝗻
Tahun 1972 menjadi awal terwujudnya cita-cita Suharti. Sebuah bangunan sederhana yang sekaligus menjadi rumah tinggal mulai didirikan sebagai restoran. Kondisinya masih jauh dari layak. Bahkan, ketika hendak dibuka, bangunan itu belum memiliki pintu, sementara meja dan kursi untuk pelanggan pun belum tersedia.
Karena keterbatasan modal, Suharti dan Sahlan terpaksa membeli meja serta kursi buatan Wonosari dengan kualitas seadanya. Mereka bahkan mengangkutnya pada malam hari karena malu jika terlihat orang. Namun, kesulitan itu tidak menghalangi mereka untuk mulai berjualan.
Pada masa awal operasional, Suharti juga sering mengalami kejadian lucu akibat keterbatasan pengetahuannya tentang istilah-istilah restoran. Ketika seorang tamu bertanya tentang toilet, ia justru menunjuk ke arah cermin di kamarnya. Begitu pula saat ada pelanggan yang menanyakan Coca-Cola, Suharti mengira tamu tersebut sedang mencari kolah atau bak mandi.
Meski serba terbatas, restoran itu perlahan mulai dikenal. Pelanggan berdatangan, bahkan jumlahnya sering kali melebihi kapasitas tempat duduk yang tersedia. Suharti pun kembali mencari meja dan kursi. Ia berutang 25 set meja kursi kepada Jin Han, pemilik Toko Lima di Jalan Malioboro, karean masih kurang juga ia kembali berhutang meja kursi ke toko lain milik Liem Kam Hong. Jasa kedua orang tersebut selalu dikenangnya sebagai bagian penting dari perjalanan awal usahanya.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Restoran ayam goreng dengan nama Ny. Suharti semakin dikenal luas. Usaha yang semula dirintis dari bangunan sederhana di Yogyakarta berkembang hingga memiliki cabang di berbagai kota, seperti Semarang, Purworejo, Surabaya, Bali, dan Jakarta.
𝗕𝗲𝗿𝗰𝗲𝗿𝗮𝗶
Di balik kesuksesan tersebut, Sahlan juga memiliki peran dalam perkembangan usaha. Namun, perjalanan rumah tangga keduanya ternyata tidak sejalan dengan keberhasilan bisnis yang mereka bangun. Hubungan mereka mulai retak sejak 1985, terutama setelah Sahlan membuka cabang di Jalan Pramuka, Jakarta Timur. Sejak tahun itu pula, Suharti mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan suaminya.
Perselisihan semakin meruncing ketika muncul persoalan mengenai kepemilikan dan pengelolaan restoran Ny. Suharti. Suharti merasa bahwa selama bertahun-tahun dirinyalah yang berjuang dari bawah, berjualan keliling hingga membangun restoran.
Berbagai upaya untuk memperbaiki hubungan rumah tangga tidak membuahkan hasil. Anak-anak mereka sebenarnya berharap kedua orang tuanya tetap bersama, tetapi konflik yang berlangsung bertahun-tahun akhirnya tidak dapat dihindari. Pada 1991, Suharti dan Sahlan resmi bercerai. Namun malang tidak dapat ditolak, Suharti sangat terpukul ketika usaha yang ikut dibesarkannya justru berada dalam penguasaan suaminya.
𝗔𝘆𝗮𝗺 𝗚𝗼𝗿𝗲𝗻𝗴 𝗦𝘂𝗵𝗮𝗿𝘁𝗶
Perceraian tersebut membawa konsekuensi besar bagi perjalanan bisnis Suharti. Merek Ny. Suharti ternyata terdaftar atas nama Sahlan sehingga hak atas nama restoran itu jatuh ke tangan mantan suaminya. Setelah perceraian, foto dan lukisan Suharti diturunkan dari seluruh restoran, meskipun nama Ny. Suharti tetap digunakan untuk usaha ayam goreng yang dikelola Sahlan.
Kehilangan hak atas merek yang selama ini identik dengan dirinya tentu menjadi pukulan berat. Namun, Suharti tidak memilih menyerah. Pengalaman panjang membangun usaha dari nol membuatnya yakin bahwa ia masih mampu memulai kembali.
Pada 1991, ia kembali mendirikan restoran dengan identitas baru. Kali ini, ia mengubah nama usahanya menjadi Ayam Goreng Suharti, tanpa embel-embel "Ny." yang sebelumnya melekat pada merek lama. Untuk membedakannya sekaligus menghindari peniruan, ia menggunakan foto dirinya sendiri sebagai logo.
Langkah tersebut bukan sekadar pergantian nama dan logo, melainkan penegasan bahwa Suharti masih memiliki kemampuan dan keberanian untuk membangun bisnisnya sendiri. Setahun kemudian, pada 1992, ia memperoleh hak atas merek Rumah Makan Ayam Goreng Suharti.
Dan sisanya adalah sejarah, Suharti mampu mengibarkan kembali bisnis Ayam Goreng Suharti menjadi jaringan restoran yang dikenal luas dan digemari.
Dari kedua pernikahannya, perempuan tangguh ini memiliki 7 orang anak, tiga dari suami pertama dan empat anak dari Sahlan. Suharti meninggal dunia tanggal 31 Oktober 2026 dalam usia 86 tahun.
Sumber : Randu









