28 October 2026

Jenderal TNI Soemitro Sastrodiharjdo , tokoh Perampasan pusaka kesultanan KUTAI, arsip kesultanan serta buku Silsilah dan Sejarah Kutai, dia tokoh yang sangat anti Kesultanan. Biografi Singkat: Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo (13 Januari 1927 – 10 Mei 1998) adalah salah satu tokoh militer paling berpengaruh pada masa transisi Orde Lama menuju awal Orde Baru. Ia dikenal sebagai jenderal yang cerdas, strategis, sekaligus memiliki pengaruh politik yang sangat kuat di jajaran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). 1. Latar Belakang & Perjalanan Masuk Militer * Kelahiran: Lahir di Sebaung, Gending, Probolinggo, Jawa Timur. * Kisah Unik: Masa mudanya diwarnai kisah menarik; sebelum bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) pada masa pendudukan Jepang, ia sempat iseng bermain jailangkung bersama rekannya, di mana jawaban dari permainan tersebut meramalkan bahwa masa depannya kelak berada di jalur militer. * Karier Awal: Selepas PETA, ia aktif bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 1. Peristiwa Lapangan Kinibalu & Kebijakan Terhadap Kesultanan Kutai (1965) Saat menjabat sebagai Panglima Kodam IX/Mulawarman yang membawahi wilayah Kalimantan Timur, Soemitro turut menjalankan kebijakan pembersihan struktur feodalisme daerah yang intensif pada masa itu. * Perampasan Atribut Keraton: Pada 20 Mei 1965, Soemitro mendatangi Keraton Kutai di Tenggarong dan memerintahkan pengangkutan berbagai atribut kebesaran serta benda pusaka Kesultanan Kutai—seperti baju kebesaran sultan, mantel, setorong, hingga payung ubur-ubur—untuk dibawa ke Samarinda. * Pemusnahan di Lapangan Kinibalu: Sehari setelahnya, pada 21 Mei 1965, bertempat di Lapangan Kinibalu, Samarinda, masyarakat serta para kerabat istana (termasuk Adji Deck dan para bangsawan) dipaksa hadir menyaksikan aksi pemusnahan/pembakaran atribut dan benda pusaka kebesaran Kesultanan Kutai tersebut. * Dalam konferensi pers terkait kebijakan-kebijakan penertiban tersebut, Soemitro sempat menyatakan pandangannya bahwa tindakan tersebut ditujukan untuk "mengganyang sistem feodalisme, bukan manusianya". Kendati demikian, peristiwa ini meninggalkan luka historis dan trauma tersendiri bagi para keluarga serta masyarakat adat Kesultanan Kutai. 1. Puncak Karier Militer & Peristiwa Malari 1974 Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, Soemitro sempat memegang posisi puncak yang sangat berkuasa di bidang keamanan, di antaranya: * Panglima Komando Pemeliharaan Keamanan Ketertiban (Pangkopkamtib) (1971–1974) * Wakil Panglima ABRI Karier militernya mengalami titik balik pasca-Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, di mana gelombang demonstrasi mahasiswa memprotes dominasi ekonomi asing berujung kerusuhan besar. Sebagai Pangkopkamtib, ia dianggap bertanggung jawab atas situasi tersebut, yang membuatnya mengundurkan diri dari jabatan militer aktif dan beralih menjadi tokoh senior serta akademisi yang disegani. Jika ada kesalahan mohon disampaikan πŸ™ #sejarahkutai #menolaklupa #pusakakutai #kutaikartanegara #peristiwa

 Jenderal TNI Soemitro Sastrodiharjdo , tokoh Perampasan pusaka kesultanan KUTAI, arsip kesultanan serta buku Silsilah dan Sejarah Kutai, dia tokoh yang sangat anti Kesultanan. 



Biografi Singkat: Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo

Jenderal TNI (Purn.) Soemitro Sastrodihardjo (13 Januari 1927 – 10 Mei 1998) adalah salah satu tokoh militer paling berpengaruh pada masa transisi Orde Lama menuju awal Orde Baru. Ia dikenal sebagai jenderal yang cerdas, strategis, sekaligus memiliki pengaruh politik yang sangat kuat di jajaran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).


1. Latar Belakang & Perjalanan Masuk Militer

 * Kelahiran: Lahir di Sebaung, Gending, Probolinggo, Jawa Timur.

 * Kisah Unik: Masa mudanya diwarnai kisah menarik; sebelum bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) pada masa pendudukan Jepang, ia sempat iseng bermain jailangkung bersama rekannya, di mana jawaban dari permainan tersebut meramalkan bahwa masa depannya kelak berada di jalur militer.

 * Karier Awal: Selepas PETA, ia aktif bergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.


1. Peristiwa Lapangan Kinibalu & Kebijakan Terhadap Kesultanan Kutai (1965)

Saat menjabat sebagai Panglima Kodam IX/Mulawarman yang membawahi wilayah Kalimantan Timur, Soemitro turut menjalankan kebijakan pembersihan struktur feodalisme daerah yang intensif pada masa itu.


 * Perampasan Atribut Keraton: Pada 20 Mei 1965, Soemitro mendatangi Keraton Kutai di Tenggarong dan memerintahkan pengangkutan berbagai atribut kebesaran serta benda pusaka Kesultanan Kutai—seperti baju kebesaran sultan, mantel, setorong, hingga payung ubur-ubur—untuk dibawa ke Samarinda.


* Pemusnahan di Lapangan Kinibalu: Sehari setelahnya, pada 21 Mei 1965, bertempat di Lapangan Kinibalu, Samarinda, masyarakat serta para kerabat istana (termasuk Adji Deck dan para bangsawan) dipaksa hadir menyaksikan aksi pemusnahan/pembakaran atribut dan benda pusaka kebesaran Kesultanan Kutai tersebut.


 * Dalam konferensi pers terkait kebijakan-kebijakan penertiban tersebut, Soemitro sempat menyatakan pandangannya bahwa tindakan tersebut ditujukan untuk "mengganyang sistem feodalisme, bukan manusianya". Kendati demikian, peristiwa ini meninggalkan luka historis dan trauma tersendiri bagi para keluarga serta masyarakat adat Kesultanan Kutai.


1. Puncak Karier Militer & Peristiwa Malari 1974

Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, Soemitro sempat memegang posisi puncak yang sangat berkuasa di bidang keamanan, di antaranya:

 * Panglima Komando Pemeliharaan Keamanan Ketertiban (Pangkopkamtib) (1971–1974)

 * Wakil Panglima ABRI

Karier militernya mengalami titik balik pasca-Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari) 1974, di mana gelombang demonstrasi mahasiswa memprotes dominasi ekonomi asing berujung kerusuhan besar. 


Sebagai Pangkopkamtib, ia dianggap bertanggung jawab atas situasi tersebut, yang membuatnya mengundurkan diri dari jabatan militer aktif dan beralih menjadi tokoh senior serta akademisi yang disegani. 


Jika ada kesalahan mohon disampaikan πŸ™


#sejarahkutai #menolaklupa #pusakakutai #kutaikartanegara #peristiwa


Sumber : Aji Syarifah Rahmawati

Anita Rahman, Suara Berita TVRI yang Tak Terlupakan Bagi generasi yang tumbuh bersama siaran TVRI, nama Anita Rahman tentu menyimpan kenangan tersendiri. Suaranya yang khas dan pembawaannya yang tenang pernah menemani masyarakat Indonesia saat menyimak berbagai berita penting. Anita bukan hanya dikenal sebagai penyiar berita. Ia juga menekuni dunia penulisan, menjadi narator, serta menerjemahkan naskah film dokumenter. Berbagai pekerjaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia penyiaran dan komunikasi. Pada masa ketika televisi menjadi salah satu sumber utama informasi, sosok penyiar berita memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat. Anita Rahman termasuk figur yang ikut mewarnai perjalanan sejarah penyiaran Indonesia, khususnya di era TVRI. Namun, kabar mengenai kehidupannya di usia lanjut sempat menarik perhatian publik. Sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa ia membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kabar tersebut mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup seseorang tidak selalu mudah, bahkan bagi mereka yang dahulu dikenal luas oleh masyarakat. Kisah Anita juga menjadi pengingat tentang pentingnya menghargai para pekerja seni dan insan penyiaran yang telah mengabdikan waktu, tenaga, serta kemampuan mereka untuk menyampaikan informasi kepada publik. Popularitas mungkin memudar seiring berjalannya waktu. Wajah yang dahulu akrab di layar televisi pun perlahan menghilang dari ingatan generasi baru. Namun, kontribusi dan jejak pengabdian seseorang tetap layak dikenang. Anita Rahman bukan sekadar nama dari masa lalu. Ia adalah bagian dari kenangan sebuah generasi yang pernah menjadikan TVRI sebagai jendela informasi bagi Indonesia. #AnitaRahman #TVRINostalgia #PenyiarLegendaris #SejarahTelevisi

 Anita Rahman, Suara Berita TVRI yang Tak Terlupakan



Bagi generasi yang tumbuh bersama siaran TVRI, nama Anita Rahman tentu menyimpan kenangan tersendiri. Suaranya yang khas dan pembawaannya yang tenang pernah menemani masyarakat Indonesia saat menyimak berbagai berita penting.


Anita bukan hanya dikenal sebagai penyiar berita. Ia juga menekuni dunia penulisan, menjadi narator, serta menerjemahkan naskah film dokumenter. Berbagai pekerjaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya di dunia penyiaran dan komunikasi.


Pada masa ketika televisi menjadi salah satu sumber utama informasi, sosok penyiar berita memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat. Anita Rahman termasuk figur yang ikut mewarnai perjalanan sejarah penyiaran Indonesia, khususnya di era TVRI.


Namun, kabar mengenai kehidupannya di usia lanjut sempat menarik perhatian publik. Sejumlah pemberitaan menyebutkan bahwa ia membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kabar tersebut mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup seseorang tidak selalu mudah, bahkan bagi mereka yang dahulu dikenal luas oleh masyarakat.


Kisah Anita juga menjadi pengingat tentang pentingnya menghargai para pekerja seni dan insan penyiaran yang telah mengabdikan waktu, tenaga, serta kemampuan mereka untuk menyampaikan informasi kepada publik.


Popularitas mungkin memudar seiring berjalannya waktu. Wajah yang dahulu akrab di layar televisi pun perlahan menghilang dari ingatan generasi baru. Namun, kontribusi dan jejak pengabdian seseorang tetap layak dikenang.


Anita Rahman bukan sekadar nama dari masa lalu. Ia adalah bagian dari kenangan sebuah generasi yang pernah menjadikan TVRI sebagai jendela informasi bagi Indonesia.


#AnitaRahman #TVRINostalgia #PenyiarLegendaris #SejarahTelevisi


Sumber : Koko Heri

26 October 2026

Ketika Ratu Sekar Kedaton memimpin pemberontakan kepada Keraton Yogyakarta setelah wafatnya HB V Ketika Sultan Hamengkubuwono V wafat pada 4 Juni 1855, dia meninggalkan permaisurinya, Ratu Kedaton, dalam keadaan hamil tua. Ketika kemudian dia melahirkan seorang putra pada 17 Juni 1855 dan diberi nama R.M. Muhammad, para pangeran yang sudah lebih senior mulai melakukan intrik, sehingga menimbulkan dua isu pokok, yaitu bahwa putra raja yang lahir “secara anumerta” menurut adat Jawa tidak berhak atas tahta, dan bahwa siapa sebenarnya ayah dari si anak yang baru lahir itu, masih diragukan. Pemerintah Hindia Belanda sendiri kemudian hanya mengangkat putra yang baru lahir itu sebagai Pangeran Suryengalaga dan menunjuk adik sultan yang baru wafat menjadi Sultan Hamengkubuwono VI (1855-1877). Kejanggalan dalam cara pengangkatan dan penggantian sultan ini menyebabkan timbulnya berbagai reaksi menentang. Salah satu di antaranya adalah persekutuan yang timbul di daerah Klaten pada 1864. Gerakan mereka bertujuan menghancurkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta sekaligus, dan memindahkan pusat pemerintahan ke daerah Prambanan, serta mencalonkan Pangeran Suryengalaga sebagai raja. Tergerak oleh adanya gerakan yang mencalonkan putranya menjadi raja ini, meskipun akhirnya gerakan tersebut dapat ditumpas, mulailah Ratu Kedaton melakukan usaha-usaha yang bertujuan menghimpun kekuatan untuk menjadikan putranya sebagai pengganti sultan. Namun figur Suryengalaga sendiri tidak membantu ke arah tercapainya tujuan tersebut. Baik sumber tradisional maupun laporan pihak Belanda menyatakan bahwa pangeran ini berperawakan gemuk pendek, lamban, tidak lincah, kurang cerdas dan kurang bersemangat, sehingga dia dikategorikan sebagai tokoh yang lemah dalam segala hal. Tidaklah mengherankan bila pada 1872 pemerintah Hindia Belanda menunjuk putra Sultan Hamengkubuwono VI sebagai putra mahkota dan yang kemudian naik tahta sebagai Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 1877. Meskipun demikian Ratu Kedaton tidak berputus asa dan mulailah dia mengadakan persekutuan dengan beberapa pihak di kalangan istana. Orang pertama yang diajaknya bersekutu adalah Ratu Kencana, istri pertama Sultan Hamengkubuwono VII. Tokoh ini memang agak tersingkirkan gara-gara dia belum juga mampu memberi putra yang diharapkan akan menjadi pengganti raja kelak, kecuali dua orang putri. Kecuali itu juga karena sultan lalu mengambil istri kedua, yang namanya semakin menanjak, karena berhasil memberi seorang putra. Ratu Kencana juga di hadapan pada problem keuangan yang serius, yang diharapkannya akan dapat teratasi dengan persekutuannya dengan Ratu Kedaton. Sumber-sumber Belanda menyebutkan bahwa Ratu Kencana ini memiliki banyak utang yang terakumulasi semenjak dia masih remaja. Sebab, tidak sebagaimana layaknya putri bangsawan pada masa itu, semenjak remaja dia sudah banyak bergaul dengan kalangan orang Eropa dan turut pula dalam perkumpulan-perkumpulan mereka, sehingga memiliki sifat boros. Sebaliknya, Ratu Kedaton adalah seorang tokoh yang kaya-raya, baik dalam bentuk uang, tanah maupun perhiasan. Pada 1880 kedua tokoh tadi mengikat perjanjian yang intinya adalah bahwa kelak Pangeran Suryengalaga yang akan menjadi raja dengan permaisurinya salah seorang putri Ratu Kencana. Sebagai ibu dan ibu mertua raja, kelak mereka akan dapat mempergunakan kelemahan Suryengalaga dalam pemerintahan, sehingga segala kebijaksanaan akan dapat mereka atur. Namun cara resmi ini pun gagal, sebab tanggal 5 Maret 1883 putra Sultan Hamengkubuwono VII dari istri kedua yang baru berusia sepuluh tahun, R.M. Kadiat, diangkat sebagai putra mahkota. Keadaan inilah yang lalu memaksa Ratu Kedaton memilih jalan kekerasan, agar segala rencananya dapat berjalan sebagaimana yang diharapkannya. Untuk menempuh cara kekerasan sudah tentu diperlukan beberapa pihak lagi. Siapa saja yang dilibatkan oleh Ratu Sekar Kedaton? Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034424238/ratu-sekar-kedaton-memimpin-pemberontakan-demi-putranya-bisa-jadi-raja-keraton-yogyakarta #sekarkedaton #pemberontakan #keratonyogyakarta #hbv

 Ketika Ratu Sekar Kedaton memimpin pemberontakan kepada Keraton Yogyakarta setelah wafatnya HB V



Ketika Sultan Hamengkubuwono V wafat pada 4 Juni 1855, dia meninggalkan permaisurinya, Ratu Kedaton, dalam keadaan hamil tua.


Ketika kemudian dia melahirkan seorang putra pada 17 Juni 1855 dan diberi nama R.M. Muhammad, para pangeran yang sudah lebih senior mulai melakukan intrik, sehingga menimbulkan dua isu pokok, yaitu bahwa putra raja yang lahir “secara anumerta” menurut adat Jawa tidak berhak atas tahta, dan bahwa siapa sebenarnya ayah dari si anak yang baru lahir itu, masih diragukan.


Pemerintah Hindia Belanda sendiri kemudian hanya mengangkat putra yang baru lahir itu sebagai Pangeran Suryengalaga dan menunjuk adik sultan yang baru wafat menjadi Sultan Hamengkubuwono VI (1855-1877).


Kejanggalan dalam cara pengangkatan dan penggantian sultan ini menyebabkan timbulnya berbagai reaksi menentang. Salah satu di antaranya adalah persekutuan yang timbul di daerah Klaten pada 1864.


Gerakan mereka bertujuan menghancurkan Keraton Yogyakarta dan Surakarta sekaligus, dan memindahkan pusat pemerintahan ke daerah Prambanan, serta mencalonkan Pangeran Suryengalaga sebagai raja. Tergerak oleh adanya gerakan yang mencalonkan putranya menjadi raja ini, meskipun akhirnya gerakan tersebut dapat ditumpas, mulailah Ratu Kedaton melakukan usaha-usaha yang bertujuan menghimpun kekuatan untuk menjadikan putranya sebagai pengganti sultan.


Namun figur Suryengalaga sendiri tidak membantu ke arah tercapainya tujuan tersebut. Baik sumber tradisional maupun laporan pihak Belanda menyatakan bahwa pangeran ini berperawakan gemuk pendek, lamban, tidak lincah, kurang cerdas dan kurang bersemangat, sehingga dia dikategorikan sebagai tokoh yang lemah dalam segala hal.


Tidaklah mengherankan bila pada 1872 pemerintah Hindia Belanda menunjuk putra Sultan Hamengkubuwono VI sebagai putra mahkota dan yang kemudian naik tahta sebagai Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 1877. 


Meskipun demikian Ratu Kedaton tidak berputus asa dan mulailah dia mengadakan persekutuan dengan beberapa pihak di kalangan istana. Orang pertama yang diajaknya bersekutu adalah Ratu Kencana, istri pertama Sultan Hamengkubuwono VII. 


Tokoh ini memang agak tersingkirkan gara-gara dia belum juga mampu memberi putra yang diharapkan akan menjadi pengganti raja kelak, kecuali dua orang putri.


Kecuali itu juga karena sultan lalu mengambil istri kedua, yang namanya semakin menanjak, karena berhasil memberi seorang putra. Ratu Kencana juga di hadapan pada problem keuangan yang serius, yang diharapkannya akan dapat teratasi dengan persekutuannya dengan Ratu Kedaton.


Sumber-sumber Belanda menyebutkan bahwa Ratu Kencana ini memiliki banyak utang yang terakumulasi semenjak dia masih remaja. Sebab, tidak sebagaimana layaknya putri bangsawan pada masa itu, semenjak remaja dia sudah banyak bergaul dengan kalangan orang Eropa dan turut pula dalam perkumpulan-perkumpulan mereka, sehingga memiliki sifat boros.


Sebaliknya, Ratu Kedaton adalah seorang tokoh yang kaya-raya, baik dalam bentuk uang, tanah maupun perhiasan.


Pada 1880 kedua tokoh tadi mengikat perjanjian yang intinya adalah bahwa kelak Pangeran Suryengalaga yang akan menjadi raja dengan permaisurinya salah seorang putri Ratu Kencana. Sebagai ibu dan ibu mertua raja, kelak mereka akan dapat mempergunakan kelemahan Suryengalaga dalam pemerintahan, sehingga segala kebijaksanaan akan dapat mereka atur.


Namun cara resmi ini pun gagal, sebab tanggal 5 Maret 1883 putra Sultan Hamengkubuwono VII dari istri kedua yang baru berusia sepuluh tahun, R.M. Kadiat, diangkat sebagai putra mahkota. Keadaan inilah yang lalu memaksa Ratu Kedaton memilih jalan kekerasan, agar segala rencananya dapat berjalan sebagaimana yang diharapkannya.


Untuk menempuh cara kekerasan sudah tentu diperlukan beberapa pihak lagi.


Siapa saja yang dilibatkan oleh Ratu Sekar Kedaton?


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034424238/ratu-sekar-kedaton-memimpin-pemberontakan-demi-putranya-bisa-jadi-raja-keraton-yogyakarta


#sekarkedaton #pemberontakan #keratonyogyakarta #hbv

Tanda Tanda Kesenjataan TNI AD

 Tanda Tanda Kesenjataan TNI AD




Sumber : Jani Sari

Upacara Pemakaman Westerling di Belanda 1987. Yang sedang menghormat berwajah asia mungkin ia bekas anak buahnya. Si jagal The Turk Raymond Westerling Komandan Korps Speciale Troepen (KST) Kopasusnya Belanda. Ia bertanggung jawab terhadap pemb4ntaian 40 ribu rakyat Sulawesi selatan dan sekitarnya seperti Makasar, Gowa, Jeneponto, hingga Toraja pada bulan Desember 1946 hingga Februari 1947. Ia memimpin oprasi anti grilya dengan metode eks3kusi di tempat tanpa proses pengadilan. Setelah di Sulsel ia juga memimpin Kudeta Anhkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung bulan Januari 1950, 800 personil anggotanya bergerak dari Cimahi ke Bandung dan melakukan pembersihan terhadap 94 anggota devisi Siliwangi. salah satu korbanya Letkol Lembong. Pasukannya kemudian bergerak ke Jakarta untuk menangkap para petinggi RI tapi beruntung keburu disergap dan dihancurakn di Pacet, tapi Westerling lolos dan lari ke Singapura dengan peswat Catalina milik Belanda. Ia tak pernah ditangkap dan diadili Sampai ia meninggoy tahun 1987. Pada 12 September 2013 Belanda secara resmi meminta maaf dan memberi konpensasi kepada para ahli waris korban di Sulawesi selatan. Kisahnya diangkat ke layar lebar oleh sineas Belanda dengan judul "De Oost" dengan pemeran Martijn Lakemeier dan Marwan Kenzari pada tahun 2020.

 Upacara Pemakaman Westerling di Belanda 1987. Yang sedang menghormat berwajah asia mungkin ia bekas anak buahnya.



Si jagal The Turk Raymond Westerling Komandan Korps Speciale Troepen (KST) Kopasusnya Belanda. Ia bertanggung jawab terhadap pemb4ntaian 40 ribu rakyat Sulawesi selatan dan sekitarnya seperti Makasar, Gowa, Jeneponto, hingga Toraja pada bulan Desember 1946 hingga Februari 1947. Ia memimpin oprasi anti grilya dengan metode eks3kusi di tempat tanpa proses pengadilan. 

Setelah di Sulsel ia juga memimpin Kudeta Anhkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung bulan Januari 1950, 800 personil anggotanya bergerak dari Cimahi ke Bandung dan melakukan pembersihan terhadap 94 anggota devisi Siliwangi.  salah satu korbanya Letkol Lembong. Pasukannya kemudian bergerak ke Jakarta untuk menangkap para petinggi RI tapi beruntung keburu disergap dan dihancurakn di Pacet, tapi Westerling lolos dan lari ke Singapura dengan peswat Catalina milik Belanda. Ia tak pernah ditangkap dan diadili Sampai ia meninggoy tahun 1987. Pada 12 September 2013 Belanda secara resmi meminta maaf dan memberi konpensasi kepada para ahli waris korban di Sulawesi selatan.

Kisahnya diangkat ke layar lebar oleh sineas Belanda dengan judul "De Oost" dengan pemeran Martijn Lakemeier dan  Marwan Kenzari pada tahun 2020.

22 October 2026

Pada 5 Agustus 1965, dua bulan sebelum G30S, DN Aidit menemui Mao Zedong. Mereka mendiskusikan perebutan kekuasaan dengan militer saat Soekarno wafat, juga rencana terkait angkatan kelima. Berikut percakapannya dari buku Taomo Zhou. Mao: Menurut saya sayap kanan Indonesia sangat bertekad untuk merebut kekuasaan. Apakah anda juga bertekad demikian? Aidit: (Mengangguk) Jika Soekarno meninggal, masalahnya adalah siapa yang akan unggul dan memegang kendali. Mao: Saya sarankan agar anda tidak terlalu sering pergi ke luar negeri. Anda bisa membiarkan orang nomor dua [di partai Anda] yang pergi ke luar negeri sebagai gantinya. Aidit: Sayap kanan bisa mengambil dua kemungkinan tindakan. Pertama, mereka bisa menyerang kita. Jika mereka melakukannya, kita punya alasan untuk melakukan serangan balik. Kedua, mereka bisa menggunakan cara yang lebih moderat dengan membentuk pemerintahan Nasakom. Tanpa Soekarno, akan sangat mudah bagi sayap kanan untuk meraih dukungan dari kelompok tengah demi mengisolasi kita. Skenario kedua ini akan menyulitkan kita. Namun, apa pun yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. AS telah menasihati Nasution agar tidak memulai kudeta. Hal ini karena jika dia memulai kudeta, kelompok kiri juga akan mengambil tindakan yang sama. Orang-orang Amerika memberi tahu Nasution bahwa dia harus menunggu dengan sabar; bahkan jika Soekarno meninggal, dia [Nasution] harus bersikap fleksibel ketimbang [melakukan] kudeta. Dia menerima saran dari orang-orang Amerika tersebut. Mao: Itu tidak bisa diandalkan. Situasi saat ini telah berubah. Aidit: Dalam skenario pertama, kami berencana untuk membentuk sebuah komite militer. Mayoritas anggota komite tersebut adalah kelompok kiri, tetapi harus mencakup juga beberapa elemen moderat. Dengan cara ini, kita dapat membingungkan musuh-musuh kita. Musuh kita akan ragu mengenai sifat dari komite ini, dan oleh karena itu para komandan militer yang bersimpati pada sayap kanan tidak akan langsung menentang kita. Jika kita langsung menunjukkan bendera merah kita, mereka akan segera menentang kita. Ketua dari komite militer ini adalah anggota rahasia (underground) dari partai kami, tetapi dia akan mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang netral. Komite militer ini tidak boleh bertahan terlalu lama. Jika tidak, orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Setelah komite ini terbentuk, kita perlu mempersenjatai para buruh dan petani pada waktu yang tepat.

 Pada 5 Agustus 1965, dua bulan sebelum G30S, DN Aidit menemui Mao Zedong. Mereka mendiskusikan perebutan kekuasaan dengan militer saat Soekarno wafat, juga rencana terkait angkatan kelima.



Berikut percakapannya dari buku Taomo Zhou.


Mao: Menurut saya sayap kanan Indonesia sangat bertekad untuk merebut kekuasaan. Apakah anda juga bertekad demikian?


Aidit: (Mengangguk) Jika Soekarno meninggal, masalahnya adalah siapa yang akan unggul dan memegang kendali.


Mao: Saya sarankan agar anda tidak terlalu sering pergi ke luar negeri. Anda bisa membiarkan orang nomor dua [di partai Anda] yang pergi ke luar negeri sebagai gantinya.


Aidit: Sayap kanan bisa mengambil dua kemungkinan tindakan. Pertama, mereka bisa menyerang kita. Jika mereka melakukannya, kita punya alasan untuk melakukan serangan balik. Kedua, mereka bisa menggunakan cara yang lebih moderat dengan membentuk pemerintahan Nasakom. Tanpa Soekarno, akan sangat mudah bagi sayap kanan untuk meraih dukungan dari kelompok tengah demi mengisolasi kita. Skenario kedua ini akan menyulitkan kita. Namun, apa pun yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. AS telah menasihati Nasution agar tidak memulai kudeta. Hal ini karena jika dia memulai kudeta, kelompok kiri juga akan mengambil tindakan yang sama. Orang-orang Amerika memberi tahu Nasution bahwa dia harus menunggu dengan sabar; bahkan jika Soekarno meninggal, dia [Nasution] harus bersikap fleksibel ketimbang [melakukan] kudeta. Dia menerima saran dari orang-orang Amerika tersebut.


Mao: Itu tidak bisa diandalkan. Situasi saat ini telah berubah.


Aidit: Dalam skenario pertama, kami berencana untuk membentuk sebuah komite militer. Mayoritas anggota komite tersebut adalah kelompok kiri, tetapi harus mencakup juga beberapa elemen moderat. Dengan cara ini, kita dapat membingungkan musuh-musuh kita. Musuh kita akan ragu mengenai sifat dari komite ini, dan oleh karena itu para komandan militer yang bersimpati pada sayap kanan tidak akan langsung menentang kita. Jika kita langsung menunjukkan bendera merah kita, mereka akan segera menentang kita. Ketua dari komite militer ini adalah anggota rahasia (underground) dari partai kami, tetapi dia akan mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang netral. Komite militer ini tidak boleh bertahan terlalu lama. Jika tidak, orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Setelah komite ini terbentuk, kita perlu mempersenjatai para buruh dan petani pada waktu yang tepat.


Sumber : Bacaan Santai

21 October 2026

Siapa yang membisiki Habibie agar segera memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998? Hanya berselang sehari setelah pelantikannya, pada 22 Mei 1998, BJ Habibie nekat untuk memutus karier Prabowo Subianto di korps militer Indonesia. Penyebabnya, sebuah bisikan dari seorang pejabat militer saat itu. Siapakah sosok yang dimaksud? Apa pula bisikan yang disampaikannya kepada Habibie? Setelah dilantik, Habibie mencopot Prabowo dari posisinya sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), pada 23 Mei 1998. Padahal, saat itu Habibie mengaku bahwa dirinya merasa was-was terhadap dampak dari keputusan besar yang ia ambil itu. “Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah Beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu saya,” tulis Habibie dalam buku Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006), seperti dikutip dari kompascom. Meski mengaku khawatir, untuk tidak menyebutnya ketakutan, Habibie pada kenyataannya mendesak pemecatan Prabowo dilakukan sesegera mungkin. Bahkan, disebutkan bahwa saat itu Habibie ingin pemecatan Prabowo harus sudah dilakukan sebelum matahari terbenam. Hal itu terungkap usai sebuah arsip Kedutaan Besar Amerika Serikat kembali dibuka pada 2018. “Sebelum matahari terbenam,” tegas Habibie kepada Wiranto yang kala itu mengemban jabatan sebagai Panglima Abri (Pangab). “Siapa yang akan mengganti?” tanya Wiranto. “Terserah Pangab,” pungkas Habibie. Sebelum resmi diumumkan, nyatanya keputusan tersebut sudah terlanjut terdengar oleh Prabowo. Tanpa pikir panjang, Prabowo langsung mendatangi Habibie di Istana Merdeka untuk menanyakan alasan pemberhentiannya dari Pangkostrad. Sebuah kabar yang membuat Habibie merasa cemas karena khawatir Prabowo membawa senjata saat bertemu dengannya. Keduanya pun akhirnya bertemu dan berbincang dengan nada tinggi menggunakan bahasa Inggris Prabowo mengatakan bahwa pemberhentiannya adalah suatu penghinaan bagi keluarga dan mertua Soeharto. “Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” kata Prabowo, seperti yang ditulis Habibie. Dalam kesempatan inilah Habibie kemudian mengungkapkan alasannya memecat Prabowo karena sebuah "bisikan". Bisikan yang dimaksud adalah informasi yang menyebutkan bahwa ada gerakan pasukan Kostrad ke arah Istana Merdeka. Beberapa dari pasukan Kostrad tersebut bahkan disebut-sebut sudah terlihat berada di sekitar kediaman Habibie. Gerakan tersebut disebut-sebut mengarah pada rencana untuk mengudeta Habibie yang baru saja dilantik. Lalu dari siapa Habibie mendengar bisikan tentang gerakan pasukan Kostrad tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah dari Wiranto. Sebuah laporan yang membuat Habibie menyimpulkan bahwa “Pangkostrad (Prabowo) bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab.” Prabowo sendiri mengaku bahwa informasi tentang keberadaan pasukan tersebut memang benar. Namun, menurut Prabowo, tujuannya adalah untuk melindungi Presiden, bukan untuk melakukan kudeta. Sebuah pernyataan yang justru dipertanyakan kembali oleh Habibie karena menilai tugas pengamanan bukan ada pada pasukan Kostrad. Mendengar jawaban tersebut, Prabowo pun murka dan menyebut Habibie "naif". "Presiden, Anda naif!" jawab Prabowo saat itu. "Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang memprihatinkan," balas Habibie. Siapa yang membisiki Habibie agar segera memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998?

 Siapa yang membisiki Habibie agar segera memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998?

Hanya berselang sehari setelah pelantikannya, pada 22 Mei 1998, BJ Habibie nekat untuk memutus karier Prabowo Subianto di korps militer Indonesia. Penyebabnya, sebuah bisikan dari seorang pejabat militer saat itu.



Siapakah sosok yang dimaksud? Apa pula bisikan yang disampaikannya kepada Habibie?


Setelah dilantik, Habibie mencopot Prabowo dari posisinya sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), pada 23 Mei 1998. Padahal, saat itu Habibie mengaku bahwa dirinya merasa was-was terhadap dampak dari keputusan besar yang ia ambil itu.


“Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah Beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu saya,” tulis Habibie dalam buku Detik-detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006), seperti dikutip dari kompascom.


Meski mengaku khawatir, untuk tidak menyebutnya ketakutan, Habibie pada kenyataannya mendesak pemecatan Prabowo dilakukan sesegera mungkin. Bahkan, disebutkan bahwa saat itu Habibie ingin pemecatan Prabowo harus sudah dilakukan sebelum matahari terbenam.


Hal itu terungkap usai sebuah arsip Kedutaan Besar Amerika Serikat kembali dibuka pada 2018.


“Sebelum matahari terbenam,” tegas Habibie kepada Wiranto yang kala itu mengemban jabatan sebagai Panglima Abri (Pangab).


“Siapa yang akan mengganti?” tanya Wiranto. “Terserah Pangab,” pungkas Habibie.


Sebelum resmi diumumkan, nyatanya keputusan tersebut sudah terlanjut terdengar oleh Prabowo. Tanpa pikir panjang, Prabowo langsung mendatangi Habibie di Istana Merdeka untuk menanyakan alasan pemberhentiannya dari Pangkostrad.


Sebuah kabar yang membuat Habibie merasa cemas karena khawatir Prabowo membawa senjata saat bertemu dengannya. Keduanya pun akhirnya bertemu dan berbincang dengan nada tinggi menggunakan bahasa Inggris


Prabowo mengatakan bahwa pemberhentiannya adalah suatu penghinaan bagi keluarga dan mertua Soeharto. “Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” kata Prabowo, seperti yang ditulis Habibie.


Dalam kesempatan inilah Habibie kemudian mengungkapkan alasannya memecat Prabowo karena sebuah "bisikan". Bisikan yang dimaksud adalah informasi yang menyebutkan bahwa ada gerakan pasukan Kostrad ke arah Istana Merdeka. Beberapa dari pasukan Kostrad tersebut bahkan disebut-sebut sudah terlihat berada di sekitar kediaman Habibie.


Gerakan tersebut disebut-sebut mengarah pada rencana untuk mengudeta Habibie yang baru saja dilantik. Lalu dari siapa Habibie mendengar bisikan tentang gerakan pasukan Kostrad tersebut?


Tidak lain dan tidak bukan adalah dari Wiranto. Sebuah laporan yang membuat Habibie menyimpulkan bahwa “Pangkostrad (Prabowo) bertindak sendiri tanpa sepengetahuan Pangab.”


Prabowo sendiri mengaku bahwa informasi tentang keberadaan pasukan tersebut memang benar. Namun, menurut Prabowo, tujuannya adalah untuk melindungi Presiden, bukan untuk melakukan kudeta.


Sebuah pernyataan yang justru dipertanyakan kembali oleh Habibie karena menilai tugas pengamanan bukan ada pada pasukan Kostrad. Mendengar jawaban tersebut, Prabowo pun murka dan menyebut Habibie "naif".


"Presiden, Anda naif!" jawab Prabowo saat itu.


"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang memprihatinkan," balas Habibie.

Siapa yang membisiki Habibie agar segera memecat Prabowo dari jabatan Pangkostrad pada Mei 1998?


Sumber : Dery Ali


19 October 2026

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, merupakan tokoh besar Indonesia yang dikenal sebagai ulama, sastrawan, wartawan, sekaligus politikus. Dalam dunia jurnalistik, ia pernah mendirikan sejumlah media. Sementara itu, kiprahnya di bidang sastra melahirkan karya-karya terkenal, seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Namun, perjalanan Buya Hamka dalam dunia politik tidak selalu berjalan mulus. Keterlibatannya dalam Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) turut membuat hubungannya dengan Presiden Soekarno merenggang. Saat itu, Masyumi menjadi salah satu pihak yang mengkritik penerapan Demokrasi Terpimpin yang digagas oleh Soekarno. Soekarno Meminta Buya Hamka Menjadi Imam Salat Jenazahnya Ketegangan tersebut semakin memuncak ketika Buya Hamka dituduh terlibat dalam rencana menggulingkan pemerintahan dan merencanakan pembunuhan terhadap Soekarno. Pada 27 Januari 1964, ketika sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan, Buya Hamka ditangkap dari rumahnya dan dibawa ke tahanan di Sukabumi. Penangkapan itu terjadi setelah ia pulang dari memberikan pengajian rutin di Masjid Al-Azhar. Buya Hamka kemudian menjalani masa penahanan selama dua tahun empat bulan tanpa melalui proses pengadilan yang semestinya. Tidak hanya kehilangan kebebasannya, sejumlah buku karyanya juga dilarang diterbitkan dan diedarkan. Barulah pada Mei 1966, menjelang berakhirnya kekuasaan Soekarno, Buya Hamka dibebaskan dari tahanan. Meski Soekarno merupakan sosok yang memerintahkan penahanannya, Buya Hamka justru menjadi imam salat jenazah sang mantan presiden ketika Soekarno wafat. Kisah mengharukan ini diceritakan oleh putra Buya Hamka, Irfan Hamka, dalam buku memoarnya yang berjudul Ayah… Kisah Buya Hamka (2013). Sekitar empat tahun setelah kebebasannya, tepatnya pada 16 Juni 1970, Buya Hamka menerima kunjungan Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto. Kedatangannya ke rumah Buya Hamka membawa pesan dari keluarga Soekarno, yang ternyata merupakan permintaan terakhir sang mantan presiden sebelum meninggal dunia. Soekarno rupanya berpesan agar Buya Hamka bersedia memimpin salat jenazahnya apabila kelak ia meninggal dunia. Permintaan tersebut menjadi sesuatu yang mengharukan, mengingat hubungan keduanya pernah diwarnai konflik hingga Buya Hamka harus mendekam di penjara. Dalam bukunya, Irfan Hamka menuliskan pesan tersebut: “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku. Demikian kurang lebih pesan Soekarno kepada keluarganya,” tulis Irfan. Mendengar pesan itu, Buya Hamka ternyata belum mengetahui bahwa Soekarno telah wafat. Ia pun segera bertanya kepada Soeryo, “Jadi beliau sudah wafat?” Soeryo kemudian menjawab, “Iya, Buya. Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah dibawa ke Wisma Yaso.” Tanpa menunda waktu, Buya Hamka segera berangkat menuju Wisma Yaso, tempat jenazah Soekarno disemayamkan. Ketika tiba di sana, sejumlah pelayat telah berdatangan, termasuk Presiden Soeharto dan beberapa pejabat tinggi negara. Di hadapan jenazah Soekarno, Buya Hamka menunaikan permintaan terakhir mantan presiden tersebut dengan menjadi imam salat jenazahnya. Ia melakukannya dengan tulus, tanpa membiarkan masa lalu yang menyakitkan menghalangi dirinya untuk memenuhi permintaan itu. Bagi Buya Hamka, menyimpan dendam bukanlah jalan yang seharusnya ditempuh. Ia memilih memaafkan dan memandang pengalaman pahit dalam hidupnya sebagai bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah. Bahkan, Buya Hamka pernah mengungkapkan bahwa masa penahanannya justru memberinya kesempatan untuk menyelesaikan karya tafsir Al-Qur'an yang sangat berharga. “Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu,” kata Buya. Meski mampu mengambil hikmah dari masa penahanannya, kehidupan Buya Hamka dan keluarganya ketika itu tidaklah mudah. Selama berada di balik jeruji besi, ia tidak dapat memenuhi undangan berdakwah yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk menafkahi keluarga. Kesulitan tersebut semakin berat karena buku-buku karangannya juga dilarang beredar. Akibatnya, pemasukan dari kegiatan dakwah maupun penjualan buku terhenti, sehingga keluarganya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Irfan Hamka menceritakan bahwa ibunya terpaksa menjual sejumlah barang dan perhiasan demi mempertahankan kehidupan keluarga selama ayahnya menjalani penahanan. “Dengan ditahannya Ayah, otomatis ia tidak bisa lagi memenuhi undangan untuk berdakwah. Padahal selama ini, dari sanalah rezeki Allah mengalir untuk kehidupan keluarga,” tulis Irfan. Setelah dibebaskan dari tahanan pada 1966, Buya Hamka kembali menjalani aktivitas dakwah dan berbagai kegiatan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupannya. Pengalaman pahit yang pernah ia alami tidak membuatnya berhenti berkarya maupun mengabdikan diri kepada masyarakat. Kisah Buya Hamka dan Soekarno menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang dapat memilih memaafkan meskipun pernah mengalami perlakuan yang menyakitkan. Di tengah perbedaan pandangan politik dan pengalaman masa lalu, Buya Hamka tetap memenuhi permintaan terakhir Soekarno dengan ketulusan, menunjukkan bahwa baginya, kemanusiaan dan prinsip keagamaan jauh lebih penting daripada memelihara dendam. #Kisah #Sejarah #Viral

 Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, merupakan tokoh besar Indonesia yang dikenal sebagai ulama, sastrawan, wartawan, sekaligus politikus. 



Dalam dunia jurnalistik, ia pernah mendirikan sejumlah media. Sementara itu, kiprahnya di bidang sastra melahirkan karya-karya terkenal, seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck.


Namun, perjalanan Buya Hamka dalam dunia politik tidak selalu berjalan mulus. 


Keterlibatannya dalam Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) turut membuat hubungannya dengan Presiden Soekarno merenggang. 


Saat itu, Masyumi menjadi salah satu pihak yang mengkritik penerapan Demokrasi Terpimpin yang digagas oleh Soekarno.


Soekarno Meminta Buya Hamka Menjadi Imam Salat Jenazahnya


Ketegangan tersebut semakin memuncak ketika Buya Hamka dituduh terlibat dalam rencana menggulingkan pemerintahan dan merencanakan pembunuhan terhadap Soekarno. 


Pada 27 Januari 1964, ketika sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan, Buya Hamka ditangkap dari rumahnya dan dibawa ke tahanan di Sukabumi. 


Penangkapan itu terjadi setelah ia pulang dari memberikan pengajian rutin di Masjid Al-Azhar.


Buya Hamka kemudian menjalani masa penahanan selama dua tahun empat bulan tanpa melalui proses pengadilan yang semestinya. 


Tidak hanya kehilangan kebebasannya, sejumlah buku karyanya juga dilarang diterbitkan dan diedarkan. Barulah pada Mei 1966, menjelang berakhirnya kekuasaan Soekarno, Buya Hamka dibebaskan dari tahanan.


Meski Soekarno merupakan sosok yang memerintahkan penahanannya, Buya Hamka justru menjadi imam salat jenazah sang mantan presiden ketika Soekarno wafat. 


Kisah mengharukan ini diceritakan oleh putra Buya Hamka, Irfan Hamka, dalam buku memoarnya yang berjudul Ayah… Kisah Buya Hamka (2013).


Sekitar empat tahun setelah kebebasannya, tepatnya pada 16 Juni 1970, Buya Hamka menerima kunjungan Mayjen Soeryo, ajudan Presiden Soeharto. 


Kedatangannya ke rumah Buya Hamka membawa pesan dari keluarga Soekarno, yang ternyata merupakan permintaan terakhir sang mantan presiden sebelum meninggal dunia.


Soekarno rupanya berpesan agar Buya Hamka bersedia memimpin salat jenazahnya apabila kelak ia meninggal dunia. 


Permintaan tersebut menjadi sesuatu yang mengharukan, mengingat hubungan keduanya pernah diwarnai konflik hingga Buya Hamka harus mendekam di penjara.


Dalam bukunya, Irfan Hamka menuliskan pesan tersebut:


“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam salat jenazahku. Demikian kurang lebih pesan Soekarno kepada keluarganya,” tulis Irfan.


Mendengar pesan itu, Buya Hamka ternyata belum mengetahui bahwa Soekarno telah wafat. 


Ia pun segera bertanya kepada Soeryo, “Jadi beliau sudah wafat?”

Soeryo kemudian menjawab, “Iya, Buya. Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, sekarang jenazahnya telah dibawa ke Wisma Yaso.”


Tanpa menunda waktu, Buya Hamka segera berangkat menuju Wisma Yaso, tempat jenazah Soekarno disemayamkan. 


Ketika tiba di sana, sejumlah pelayat telah berdatangan, termasuk Presiden Soeharto dan beberapa pejabat tinggi negara.


Di hadapan jenazah Soekarno, Buya Hamka menunaikan permintaan terakhir mantan presiden tersebut dengan menjadi imam salat jenazahnya. 


Ia melakukannya dengan tulus, tanpa membiarkan masa lalu yang menyakitkan menghalangi dirinya untuk memenuhi permintaan itu.


Bagi Buya Hamka, menyimpan dendam bukanlah jalan yang seharusnya ditempuh. Ia memilih memaafkan dan memandang pengalaman pahit dalam hidupnya sebagai bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah.


Bahkan, Buya Hamka pernah mengungkapkan bahwa masa penahanannya justru memberinya kesempatan untuk menyelesaikan karya tafsir Al-Qur'an yang sangat berharga.


“Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu,” kata Buya.


Meski mampu mengambil hikmah dari masa penahanannya, kehidupan Buya Hamka dan keluarganya ketika itu tidaklah mudah. 


Selama berada di balik jeruji besi, ia tidak dapat memenuhi undangan berdakwah yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk menafkahi keluarga.


Kesulitan tersebut semakin berat karena buku-buku karangannya juga dilarang beredar. 


Akibatnya, pemasukan dari kegiatan dakwah maupun penjualan buku terhenti, sehingga keluarganya harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Irfan Hamka menceritakan bahwa ibunya terpaksa menjual sejumlah barang dan perhiasan demi mempertahankan kehidupan keluarga selama ayahnya menjalani penahanan.


“Dengan ditahannya Ayah, otomatis ia tidak bisa lagi memenuhi undangan untuk berdakwah. Padahal selama ini, dari sanalah rezeki Allah mengalir untuk kehidupan keluarga,” tulis Irfan.


Setelah dibebaskan dari tahanan pada 1966, Buya Hamka kembali menjalani aktivitas dakwah dan berbagai kegiatan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupannya. 


Pengalaman pahit yang pernah ia alami tidak membuatnya berhenti berkarya maupun mengabdikan diri kepada masyarakat.


Kisah Buya Hamka dan Soekarno menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang dapat memilih memaafkan meskipun pernah mengalami perlakuan yang menyakitkan. 


Di tengah perbedaan pandangan politik dan pengalaman masa lalu, Buya Hamka tetap memenuhi permintaan terakhir Soekarno dengan ketulusan, menunjukkan bahwa baginya, kemanusiaan dan prinsip keagamaan jauh lebih penting daripada memelihara dendam.


#Kisah #Sejarah #Viral

😱 **TIGA PEMUDA MENYUSUP KE ROMBONGAN SUKARNO! YANG LEBIH GILA, MEREKA HAMPIR IKUT NAIK PESAWAT PRESIDEN!** Bayangkan, kamu bisa ikut rombongan Presiden Sukarno hanya dengan mengaku sebagai wartawan. Kedengarannya mustahil, tetapi kejadian ini benar-benar pernah terjadi pada 1956! ❓ **Bagaimana tiga pemuda bisa mengelabui rombongan presiden, bahkan sampai naik ke pesawat tanpa dicurigai?** πŸ“œ **CERITA YANG SULIT DIPERCAYA** Pada April 1956, Presiden Sukarno melakukan kunjungan ke Sumatra Selatan. Ia menyapa masyarakat di sejumlah daerah, termasuk Palembang, Lahat, Tebing Tinggi, dan Talang Betutu. Namun, di tengah perjalanan itu, terjadi peristiwa tak biasa. Tiga pemuda—dua guru Sekolah Rakyat dan seorang anggota kepanduan dari Lahat—berhasil menyusup ke rombongan presiden ketika kereta api istimewa berhenti di Lahat. Mereka mengaku sebagai wartawan yang ikut dalam perjalanan Sukarno. Hebatnya, penyamaran itu membuat mereka mendapat pelayanan layaknya anggota rombongan resmi, mulai dari penginapan hingga makanan. ⚠️ **KECURIGAAN MULAI MUNCUL!** Ketika rombongan melanjutkan perjalanan kembali menuju Palembang, petugas keamanan mulai mengawasi ketiga pemuda tersebut. Namun, mereka belum langsung ditangkap. Sesampainya di Talang Betutu, ketiganya masih menjalankan peran sebagai wartawan dan bahkan mendapatkan kendaraan menuju lokasi keberangkatan pesawat. Mereka kemudian membawa koper masing-masing, naik ke pesawat, dan mengambil tempat duduk seperti penumpang lainnya. Bayangkan betapa beraninya mereka! πŸ”₯ **KESALAHAN KECIL YANG MEMBONGKAR PENYAMARAN** Masalah baru terungkap ketika seluruh rombongan, termasuk Presiden Sukarno, sudah naik ke pesawat. Ternyata, ada anggota rombongan resmi yang tidak mendapatkan tempat duduk. Orang itu bukan orang sembarangan, melainkan ajudan presiden sendiri, Letnan Kolonel Sugandi! Kejadian tersebut langsung menimbulkan kecurigaan. Petugas segera memeriksa penumpang dan menemukan tiga orang yang sebenarnya tidak berhak berada di dalam rombongan. Penyamaran mereka akhirnya terbongkar! 😳 **TWIST: MOTIF MEREKA TIDAK LANGSUNG TERUNGKAP!** Ketiga pemuda itu kemudian dibawa ke Palembang untuk diperiksa oleh Corps Polisi Militer atau CPM. Namun, menurut laporan surat kabar *Kedaulatan Rakjat* pada 16 April 1956, pemeriksaan awal belum menghasilkan kesimpulan pasti mengenai alasan mereka menyusup ke rombongan presiden. Jadi, meskipun penyamaran mereka terbongkar, motif sebenarnya masih menjadi tanda tanya dalam laporan tersebut. ✈️ **TERNYATA, BUKAN HANYA SEKALI!** Tujuh tahun kemudian, kejadian penyusupan kembali terjadi. Pada 1963, setelah menghadiri Konferensi Maphilindo di Filipina, Sukarno bersiap kembali ke Jakarta. Namun, pihak bandara Manila memberi tahu pengawal presiden bahwa seorang pria tak dikenal telah memasuki pesawat kepresidenan. Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, segera memeriksa pesawat. Sayangnya, pria tersebut sudah pergi. Petugas bandara akhirnya berhasil menangkapnya. Menurut laporan yang dikutip dalam kisah tersebut, pria itu mengalami gangguan jiwa. 🎯 **PELAJARAN DARI KISAH INI** Dua kejadian tersebut menunjukkan betapa rumitnya menjaga keamanan seorang kepala negara pada masa itu. Bahkan di sekitar presiden sekalipun, penyusup masih bisa muncul dengan cara yang tidak terduga. Dan pada kasus tiga pemuda tahun 1956, penyamaran mereka justru terbongkar gara-gara satu hal sederhana: **kursi pesawat yang tidak cukup untuk semua orang!** πŸ’¬ **MENURUTMU, APA MOTIF TIGA PEMUDA ITU MENYUSUP KE ROMBONGAN SUKARNO?** Apakah hanya ingin ikut perjalanan, mencari pengalaman, atau memiliki tujuan lain? Tulis pendapatmu di kolom komentar! πŸ‘‡ ❤️ Jangan lupa **FOLLOW** untuk kisah sejarah Indonesia yang unik dan jarang dibahas, serta kirim 🎁 **GIFT** untuk mendukung konten ini agar semakin banyak orang mengenal sejarah bangsa kita! #SejarahIndonesia #Sukarno #BungKarno #SejarahPresiden #FaktaSejarah #SejarahUnik #Tjakrabirawa #SejarahNusantara #FBPro #FacebookReels

 πŸ˜± **TIGA PEMUDA MENYUSUP KE ROMBONGAN SUKARNO! YANG LEBIH GILA, MEREKA HAMPIR IKUT NAIK PESAWAT PRESIDEN!**



Bayangkan, kamu bisa ikut rombongan Presiden Sukarno hanya dengan mengaku sebagai wartawan. Kedengarannya mustahil, tetapi kejadian ini benar-benar pernah terjadi pada 1956!


❓ **Bagaimana tiga pemuda bisa mengelabui rombongan presiden, bahkan sampai naik ke pesawat tanpa dicurigai?**


πŸ“œ **CERITA YANG SULIT DIPERCAYA**


Pada April 1956, Presiden Sukarno melakukan kunjungan ke Sumatra Selatan. Ia menyapa masyarakat di sejumlah daerah, termasuk Palembang, Lahat, Tebing Tinggi, dan Talang Betutu.


Namun, di tengah perjalanan itu, terjadi peristiwa tak biasa.


Tiga pemuda—dua guru Sekolah Rakyat dan seorang anggota kepanduan dari Lahat—berhasil menyusup ke rombongan presiden ketika kereta api istimewa berhenti di Lahat.


Mereka mengaku sebagai wartawan yang ikut dalam perjalanan Sukarno.


Hebatnya, penyamaran itu membuat mereka mendapat pelayanan layaknya anggota rombongan resmi, mulai dari penginapan hingga makanan.


⚠️ **KECURIGAAN MULAI MUNCUL!**


Ketika rombongan melanjutkan perjalanan kembali menuju Palembang, petugas keamanan mulai mengawasi ketiga pemuda tersebut.


Namun, mereka belum langsung ditangkap.


Sesampainya di Talang Betutu, ketiganya masih menjalankan peran sebagai wartawan dan bahkan mendapatkan kendaraan menuju lokasi keberangkatan pesawat.


Mereka kemudian membawa koper masing-masing, naik ke pesawat, dan mengambil tempat duduk seperti penumpang lainnya.


Bayangkan betapa beraninya mereka!


πŸ”₯ **KESALAHAN KECIL YANG MEMBONGKAR PENYAMARAN**


Masalah baru terungkap ketika seluruh rombongan, termasuk Presiden Sukarno, sudah naik ke pesawat.


Ternyata, ada anggota rombongan resmi yang tidak mendapatkan tempat duduk. Orang itu bukan orang sembarangan, melainkan ajudan presiden sendiri, Letnan Kolonel Sugandi!


Kejadian tersebut langsung menimbulkan kecurigaan.


Petugas segera memeriksa penumpang dan menemukan tiga orang yang sebenarnya tidak berhak berada di dalam rombongan.


Penyamaran mereka akhirnya terbongkar!


😳 **TWIST: MOTIF MEREKA TIDAK LANGSUNG TERUNGKAP!**


Ketiga pemuda itu kemudian dibawa ke Palembang untuk diperiksa oleh Corps Polisi Militer atau CPM.


Namun, menurut laporan surat kabar *Kedaulatan Rakjat* pada 16 April 1956, pemeriksaan awal belum menghasilkan kesimpulan pasti mengenai alasan mereka menyusup ke rombongan presiden.


Jadi, meskipun penyamaran mereka terbongkar, motif sebenarnya masih menjadi tanda tanya dalam laporan tersebut.


✈️ **TERNYATA, BUKAN HANYA SEKALI!**


Tujuh tahun kemudian, kejadian penyusupan kembali terjadi.


Pada 1963, setelah menghadiri Konferensi Maphilindo di Filipina, Sukarno bersiap kembali ke Jakarta. Namun, pihak bandara Manila memberi tahu pengawal presiden bahwa seorang pria tak dikenal telah memasuki pesawat kepresidenan.


Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, segera memeriksa pesawat. Sayangnya, pria tersebut sudah pergi.


Petugas bandara akhirnya berhasil menangkapnya. Menurut laporan yang dikutip dalam kisah tersebut, pria itu mengalami gangguan jiwa.


🎯 **PELAJARAN DARI KISAH INI**


Dua kejadian tersebut menunjukkan betapa rumitnya menjaga keamanan seorang kepala negara pada masa itu. Bahkan di sekitar presiden sekalipun, penyusup masih bisa muncul dengan cara yang tidak terduga.


Dan pada kasus tiga pemuda tahun 1956, penyamaran mereka justru terbongkar gara-gara satu hal sederhana: **kursi pesawat yang tidak cukup untuk semua orang!**


πŸ’¬ **M


#SejarahIndonesia #Sukarno #BungKarno #SejarahPresiden #FaktaSejarah #SejarahUnik #Tjakrabirawa #SejarahNusantara #FBPro #FacebookReels

Kisah Soeharto Memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949: Enam Jam yang Mengguncang Yogyakarta Pada awal 1949, Indonesia berada dalam situasi yang sangat genting. Belanda kembali melancarkan agresi militer pada Desember 1948 dan berhasil menduduki Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap, sementara Belanda berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah hancur dan Tentara Nasional Indonesia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Namun, jauh dari pernyataan Belanda tersebut, perlawanan rakyat dan para pejuang Indonesia masih terus berlangsung. Di tengah situasi inilah, sebuah operasi militer besar mulai direncanakan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup. Salah satu tokoh militer yang kemudian berada di garis depan operasi tersebut adalah Letnan Kolonel Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai komandan Brigade X di wilayah Yogyakarta. Rencana serangan yang menentukan Setelah Yogyakarta diduduki Belanda, pasukan TNI menerapkan taktik perang gerilya. Mereka bergerak di luar kota, menghindari pertempuran terbuka yang tidak menguntungkan, sekaligus mengganggu kedudukan pasukan Belanda. Gagasan untuk melancarkan serangan besar ke Yogyakarta muncul dari kebutuhan militer sekaligus politik. Indonesia harus membuktikan bahwa TNI masih mampu menyerang dan menguasai wilayah penting, meskipun pusat pemerintahan republik telah diduduki. Dalam perencanaan operasi ini, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memiliki peran penting dengan mendorong dilakukannya serangan terhadap kedudukan Belanda di Yogyakarta. Gagasan tersebut disampaikan melalui jalur komunikasi dengan pimpinan militer Republik. Sementara itu, Jenderal Sudirman tetap menjadi Panglima Besar TNI dan memimpin perjuangan gerilya dari luar kota. Pelaksanaan serangan di Yogyakarta melibatkan koordinasi antara pimpinan militer setempat dan pasukan yang berada di bawah komando Soeharto. Tujuannya jelas: menyerang secara serentak, merebut sejumlah titik strategis, dan mempertahankan penguasaan kota selama mungkin agar keberadaan Republik Indonesia kembali terlihat di mata dunia. 1 Maret 1949: Ketika Soeharto Memimpin Serangan ke Yogyakarta Malam sebelum serangan, para pejuang Indonesia mulai bergerak mendekati Yogyakarta. Mereka mempersiapkan operasi secara rahasia agar pasukan Belanda tidak mengetahui rencana yang akan dilancarkan keesokan harinya. Operasi tersebut dirancang untuk menyerang berbagai titik di kota secara serentak. Pasukan Indonesia dibagi ke dalam beberapa sektor, dengan tugas masing-masing untuk mengguncang pertahanan Belanda dan menunjukkan bahwa TNI masih memiliki kekuatan tempur. Di tengah persiapan itu, Letnan Kolonel Soeharto bertugas memimpin pasukan di sektor barat Yogyakarta hingga kawasan Malioboro. Ia bukan satu-satunya pemimpin operasi tersebut, tetapi menjadi salah satu komandan lapangan utama dalam serangan yang kelak dikenang sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949. Pukul 06.00: Serangan dimulai Selasa pagi, 1 Maret 1949, sekitar pukul 06.00 WIB, ketika sirene menandai berakhirnya jam malam, pasukan TNI melancarkan serangan dari berbagai arah. Serangan mendadak itu membuat pasukan Belanda menghadapi tekanan di sejumlah titik sekaligus. Para pejuang Indonesia bergerak menyerang kedudukan lawan, sementara pasukan gerilya di sekitar Yogyakarta turut mendukung jalannya operasi. Soeharto memimpin pasukannya di sektor barat. Di sektor lain, para komandan TNI menjalankan tugas masing-masing sesuai pembagian wilayah operasi. Serangan serentak tersebut membuat Belanda kesulitan mempertahankan kendali atas seluruh kota. Dalam perkembangan pertempuran, pasukan Indonesia berhasil memasuki dan menguasai sejumlah bagian penting Yogyakarta. Untuk sementara, keadaan berbalik: kota yang sebelumnya diduduki Belanda kini kembali berada di bawah kendali pasukan Republik di beberapa wilayah. Bagi rakyat Indonesia, peristiwa itu menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan belum berakhir. Enam jam yang mengubah pesan kepada dunia Keberhasilan serangan tersebut bukan berarti TNI berniat mempertahankan Yogyakarta untuk waktu yang lama. Operasi itu memiliki tujuan militer sekaligus politik: menunjukkan bahwa Republik Indonesia dan tentaranya masih ada. Pasukan Belanda kemudian mendatangkan bantuan, termasuk dari arah Magelang. Situasi pertempuran berubah dan pasukan Indonesia mulai menarik diri sesuai rencana operasi. Sekitar tengah hari, TNI meninggalkan kota, meskipun waktu penarikan di sejumlah catatan sejarah dapat berbeda. Karena pasukan Indonesia berhasil menguasai bagian-bagian kota selama sekitar enam jam, peristiwa ini dikenal sebagai Serangan Umum Enam Jam di Yogyakarta. Namun, arti pentingnya jauh melampaui lamanya pertempuran. Belanda sebelumnya berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah berakhir. Serangan ini justru memperlihatkan bahwa TNI masih mampu menyelenggarakan operasi militer terkoordinasi, bahkan di ibu kota yang diduduki musuh. Siapa sebenarnya penggagas serangan ini? Dalam membicarakan peran Soeharto, ada satu hal penting yang perlu diluruskan agar kisah ini tetap runtut. - Sri Sultan Hamengkubuwono IX berperan penting dalam menggagas serangan untuk menunjukkan keberadaan Republik Indonesia kepada dunia internasional. - Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI menyetujui gagasan tersebut dan meminta Sultan berkoordinasi dengan Soeharto. - Letnan Kolonel Soeharto berperan sebagai komandan militer yang memimpin pelaksanaan operasi di lapangan, khususnya di sektor barat Yogyakarta. - Para komandan dan pejuang TNI lainnya, bersama unsur masyarakat, turut berperan dalam serangan di berbagai sektor. Peran-peran tersebut penting dibedakan karena sejarah Serangan Umum 1 Maret pernah menjadi bahan perdebatan, terutama mengenai siapa penggagas utamanya. Mengakui peran Soeharto sebagai komandan lapangan tidak berarti mengabaikan peran Sultan Hamengkubuwono IX, Jenderal Sudirman, maupun para pejuang lainnya. Dampak Serangan Umum 1 Maret 1949 Keberhasilan operasi ini memberikan dorongan moral bagi rakyat dan pasukan Republik. Lebih penting lagi, kabar mengenai serangan tersebut disebarluaskan melalui jaringan radio sehingga informasi tentang perlawanan Indonesia dapat menjangkau dunia internasional. Peristiwa itu memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan diplomatik melawan Belanda. Republik yang diklaim telah hancur ternyata masih memiliki tentara yang mampu melancarkan serangan terkoordinasi terhadap pasukan pendudukan. Bagi Soeharto, operasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan karier militernya. Namun, keberhasilan Serangan Umum 1 Maret bukanlah hasil kerja satu orang semata. Operasi itu merupakan bagian dari perjuangan kolektif TNI, pimpinan Republik, Sultan Hamengkubuwono IX, dan rakyat yang tetap mendukung kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya, Serangan Umum 1 Maret 1949 mengirimkan pesan yang tegas kepada dunia: meskipun Yogyakarta diduduki dan para pemimpin Republik ditangkap, perjuangan Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan belum berakhir. Nama Soeharto tercatat sebagai salah satu komandan penting dalam peristiwa tersebut, tetapi kemenangan politik yang dihasilkan merupakan buah perjuangan banyak pihak.

 Kisah Soeharto Memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949: Enam Jam yang Mengguncang Yogyakarta



Pada awal 1949, Indonesia berada dalam situasi yang sangat genting. Belanda kembali melancarkan agresi militer pada Desember 1948 dan berhasil menduduki Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. 


Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap, sementara Belanda berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah hancur dan Tentara Nasional Indonesia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melawan.


Namun, jauh dari pernyataan Belanda tersebut, perlawanan rakyat dan para pejuang Indonesia masih terus berlangsung. 


Di tengah situasi inilah, sebuah operasi militer besar mulai direncanakan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia masih hidup.


Salah satu tokoh militer yang kemudian berada di garis depan operasi tersebut adalah Letnan Kolonel Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai komandan Brigade X di wilayah Yogyakarta.


Rencana serangan yang menentukan


Setelah Yogyakarta diduduki Belanda, pasukan TNI menerapkan taktik perang gerilya. Mereka bergerak di luar kota, menghindari pertempuran terbuka yang tidak menguntungkan, sekaligus mengganggu kedudukan pasukan Belanda.


Gagasan untuk melancarkan serangan besar ke Yogyakarta muncul dari kebutuhan militer sekaligus politik. 


Indonesia harus membuktikan bahwa TNI masih mampu menyerang dan menguasai wilayah penting, meskipun pusat pemerintahan republik telah diduduki.


Dalam perencanaan operasi ini, Sri Sultan Hamengkubuwono IX memiliki peran penting dengan mendorong dilakukannya serangan terhadap kedudukan Belanda di Yogyakarta. 


Gagasan tersebut disampaikan melalui jalur komunikasi dengan pimpinan militer Republik.

Sementara itu, Jenderal Sudirman tetap menjadi Panglima Besar TNI dan memimpin perjuangan gerilya dari luar kota. 


Pelaksanaan serangan di Yogyakarta melibatkan koordinasi antara pimpinan militer setempat dan pasukan yang berada di bawah komando Soeharto.


Tujuannya jelas: menyerang secara serentak, merebut sejumlah titik strategis, dan mempertahankan penguasaan kota selama mungkin agar keberadaan Republik Indonesia kembali terlihat di mata dunia.


1 Maret 1949: Ketika Soeharto Memimpin Serangan ke Yogyakarta


Malam sebelum serangan, para pejuang Indonesia mulai bergerak mendekati Yogyakarta. Mereka mempersiapkan operasi secara rahasia agar pasukan Belanda tidak mengetahui rencana yang akan dilancarkan keesokan harinya.


Operasi tersebut dirancang untuk menyerang berbagai titik di kota secara serentak. Pasukan Indonesia dibagi ke dalam beberapa sektor, dengan tugas masing-masing untuk mengguncang pertahanan Belanda dan menunjukkan bahwa TNI masih memiliki kekuatan tempur.


Di tengah persiapan itu, Letnan Kolonel Soeharto bertugas memimpin pasukan di sektor barat Yogyakarta hingga kawasan Malioboro. 


Ia bukan satu-satunya pemimpin operasi tersebut, tetapi menjadi salah satu komandan lapangan utama dalam serangan yang kelak dikenang sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949. 


Pukul 06.00: Serangan dimulai


Selasa pagi, 1 Maret 1949, sekitar pukul 06.00 WIB, ketika sirene menandai berakhirnya jam malam, pasukan TNI melancarkan serangan dari berbagai arah.


Serangan mendadak itu membuat pasukan Belanda menghadapi tekanan di sejumlah titik sekaligus. 


Para pejuang Indonesia bergerak menyerang kedudukan lawan, sementara pasukan gerilya di sekitar Yogyakarta turut mendukung jalannya operasi.


Soeharto memimpin pasukannya di sektor barat. Di sektor lain, para komandan TNI menjalankan tugas masing-masing sesuai pembagian wilayah operasi. 


Serangan serentak tersebut membuat Belanda kesulitan mempertahankan kendali atas seluruh kota.


Dalam perkembangan pertempuran, pasukan Indonesia berhasil memasuki dan menguasai sejumlah bagian penting Yogyakarta. 


Untuk sementara, keadaan berbalik: kota yang sebelumnya diduduki Belanda kini kembali berada di bawah kendali pasukan Republik di beberapa wilayah.


Bagi rakyat Indonesia, peristiwa itu menjadi bukti bahwa perjuangan kemerdekaan belum berakhir. 


Enam jam yang mengubah pesan kepada dunia


Keberhasilan serangan tersebut bukan berarti TNI berniat mempertahankan Yogyakarta untuk waktu yang lama. 


Operasi itu memiliki tujuan militer sekaligus politik: menunjukkan bahwa Republik Indonesia dan tentaranya masih ada.


Pasukan Belanda kemudian mendatangkan bantuan, termasuk dari arah Magelang. Situasi pertempuran berubah dan pasukan Indonesia mulai menarik diri sesuai rencana operasi. 


Sekitar tengah hari, TNI meninggalkan kota, meskipun waktu penarikan di sejumlah catatan sejarah dapat berbeda.


Karena pasukan Indonesia berhasil menguasai bagian-bagian kota selama sekitar enam jam, peristiwa ini dikenal sebagai Serangan Umum Enam Jam di Yogyakarta.


Namun, arti pentingnya jauh melampaui lamanya pertempuran. Belanda sebelumnya berusaha meyakinkan dunia bahwa Republik Indonesia telah berakhir. 


Serangan ini justru memperlihatkan bahwa TNI masih mampu menyelenggarakan operasi militer terkoordinasi, bahkan di ibu kota yang diduduki musuh. 


Siapa sebenarnya penggagas serangan ini?


Dalam membicarakan peran Soeharto, ada satu hal penting yang perlu diluruskan agar kisah ini tetap runtut.


- Sri Sultan Hamengkubuwono IX berperan penting dalam menggagas serangan untuk menunjukkan keberadaan Republik Indonesia kepada dunia internasional.


- Jenderal Sudirman sebagai Panglima Besar TNI menyetujui gagasan tersebut dan meminta Sultan berkoordinasi dengan Soeharto.


- Letnan Kolonel Soeharto berperan sebagai komandan militer yang memimpin pelaksanaan operasi di lapangan, khususnya di sektor barat Yogyakarta.


- Para komandan dan pejuang TNI lainnya, bersama unsur masyarakat, turut berperan dalam serangan di berbagai sektor.


Peran-peran tersebut penting dibedakan karena sejarah Serangan Umum 1 Maret pernah menjadi bahan perdebatan, terutama mengenai siapa penggagas utamanya. 


Mengakui peran Soeharto sebagai komandan lapangan tidak berarti mengabaikan peran Sultan Hamengkubuwono IX, Jenderal Sudirman, maupun para pejuang lainnya.


Dampak Serangan Umum 1 Maret 1949


Keberhasilan operasi ini memberikan dorongan moral bagi rakyat dan pasukan Republik. 


Lebih penting lagi, kabar mengenai serangan tersebut disebarluaskan melalui jaringan radio sehingga informasi tentang perlawanan Indonesia dapat menjangkau dunia internasional.


Peristiwa itu memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan diplomatik melawan Belanda. Republik yang diklaim telah hancur ternyata masih memiliki tentara yang mampu melancarkan serangan terkoordinasi terhadap pasukan pendudukan.


Bagi Soeharto, operasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan karier militernya. 


Namun, keberhasilan Serangan Umum 1 Maret bukanlah hasil kerja satu orang semata. Operasi itu merupakan bagian dari perjuangan kolektif TNI, pimpinan Republik, Sultan Hamengkubuwono IX, dan rakyat yang tetap mendukung kemerdekaan Indonesia. 


Pada akhirnya, Serangan Umum 1 Maret 1949 mengirimkan pesan yang tegas kepada dunia: meskipun Yogyakarta diduduki dan para pemimpin Republik ditangkap, perjuangan Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan belum berakhir. Nama Soeharto tercatat sebagai salah satu komandan penting dalam peristiwa tersebut, tetapi kemenangan politik yang dihasilkan merupakan buah perjuangan banyak pihak.



Sumber : Bang Fit Ideas

17 October 2026

Nasib seseorang tidak ada yang tahu, begitu pula dengan sosok artis tenar satu ini. Sempat menjadi sosok yang dikagumi oleh presiden pertama Indonesia yakni Soekarno, nyatanya tidak menjamin nasib artis wanita ini menjalani kehidupan yang beruntung. Dialah Titin Sumarni, artis lawas era 50-an yang disebut-sebut membuat seorang presiden Soekarno mengagumi dirinya. Titin Sumarni bahkan digadang-gadang sebagai salah satu artis tercantik pada masanya. Namun sayang, nasib Titin berbah drastis ketika ia mulai menikah. Seolah hilang ditelan bumi, di akhir hayatnya ia harus meregang nyawa dalam keadaan tragis. Bagaimana kisah Titin Sumarni? benarkan ia meninggal karena penyakit 'kotor'? Industri perfilman Indonesia memang sudah mulai tumbuh sejak lama. Sejak era Soekarno, perfilman Indonesia mulai hadir untuk menyaingi filn India dan film malaysia. Tentu film erat kaitannya dengan artis yang berperan dalam sebuah film, salah satu yang kini dikenal karena kisahnya adalah artis wanita Titin Sumarni. Perempuan kelahiran Surabaya 28 Desember 1930 ini, tahun 50-an pernah menjadi menjadi publik, bahkan seorang presden Soekarno.Titin Sumarni membintangi film berjudul Putri Solo untuk yang pertama kalinya di tahun 1953. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai artis tercantik di tanah air pada masanya.Ia juga membintangi beberapa film layar lebar.

 Nasib seseorang tidak ada yang tahu, begitu pula dengan sosok artis tenar satu ini.

Sempat menjadi sosok yang dikagumi oleh presiden pertama Indonesia yakni Soekarno, nyatanya tidak menjamin nasib artis wanita ini menjalani kehidupan yang beruntung.

Dialah Titin Sumarni, artis lawas era 50-an yang disebut-sebut membuat seorang presiden Soekarno mengagumi dirinya.



Titin Sumarni bahkan digadang-gadang sebagai salah satu artis tercantik pada masanya.

Namun sayang, nasib Titin berbah drastis ketika ia mulai menikah.

Seolah hilang ditelan bumi, di akhir hayatnya ia harus meregang nyawa dalam keadaan tragis.

Bagaimana kisah Titin Sumarni? benarkan ia meninggal karena penyakit 'kotor'?


Industri perfilman Indonesia memang sudah mulai tumbuh sejak lama.

Sejak era Soekarno, perfilman Indonesia mulai hadir untuk menyaingi filn India dan film malaysia.

Tentu film erat kaitannya dengan artis yang berperan dalam sebuah film, salah satu yang kini dikenal karena kisahnya adalah artis wanita Titin Sumarni.


Perempuan kelahiran Surabaya 28 Desember 1930 ini, tahun 50-an pernah menjadi menjadi publik, bahkan seorang presden Soekarno.Titin Sumarni membintangi film berjudul Putri Solo untuk yang pertama kalinya di tahun 1953.


Bahkan, ia disebut-sebut sebagai artis tercantik di tanah air pada masanya.Ia juga membintangi beberapa film layar lebar.

16 October 2026

Jika membahas bagian Klenik Jawa maka akan ada pembahasan mengenai Adanya Jenis Santet yang bisa memberesken tanpa menyentuh. Sebutanya bermacam macam dengan Nama nama yang terdengar Menyeramkan. Namun sebagian ada yang percaya dan sebagian lagi tidak percaya bahwa hal itu ada. Bahkan jika dilogika apabila hal itu ada kenapa Belanda bisa mencengkram Pulau Jawa. Bukankah jika ilmu ini ada minimal pembesar pembesarnya, gubernur Jendralnya bisa diamanken tanpa menyentuh. Sudut pandang seperti ini bahawa ilmu ini ada dan tidak masih kurang mendalam, karna jika tidak ada kenapa menjadi rahasia umum bahwa itu ada, sementara jika ada kenapa Kesultanan/Kasunanan orang Jawa kalah oleh Belanda. Bahkan di Jaman Majapahit orang orangnya banyak membuat teknologi teknologi menempa Senjata untuk mengalahkan lawanya seperti diciptakanya jenis2 Pedang Keris yang mengandung bahan2 efektif melumpuhkan lawan dan membuat meriam Cetbang berarti mengamanken dan memberesken lawan tanpa menyentuh bukan sebuah solusi. Belanda kurang bagaimana menindas Para Inlander dan menbuat sakit hati, karna dari sakit hati tadilah orang akan nekat membalas. Nyatanya para Gubernur Jendral Belanda tidak tersentuh apa apa. Bagi para penganut asas tidak yakin keberadaan adanya Santet bukti bukti ini sangat kuat dan meyakinkan bahwa memang tidak ada. Namun kata kunci Sakit Hati dan Nekat terabaikan bahwa inilah kuncinya, sebab ketika akan memberesken tanpa meyentuh maka Ikrarnya pada Pihak yang dimintai Bantuan tidak main main, perlu Tumbal dan sejenisnya hal yang tentunya hanya orang yang sudah gelap mata yang sanggup melakukanya meskipun tetap saja bagi sebagian besar orang alasan ini masih kurang masuk logika. Kembali kepembahasan mengapa Belanda tidak terkena ilmu ini dan bisa mencengkram Pulau Jawa ada salah satu Argumen bahwa mereka juga punya Pendekar Pendekar Lokal inlander yang bekerja untuk menjaga Tuan Belandanya. Belanda menguasai Uang, bisnis perdagangan dari Hindia Belanda ke Eropa. Hal yang tidak dikuasai para Pendekar Pendekar Lokal. Maka Transaksi dimana Tuan Tuan Belanda perlu Penjagaan Lahir Batin ini ditukar denga uang, wanita dan jabatan yang diterima para Pendekar Lokal. Inilah alasan Orang Belanda Tidak Tersentuh.

 Jika membahas bagian Klenik Jawa maka akan ada pembahasan mengenai Adanya Jenis Santet yang bisa memberesken tanpa menyentuh. Sebutanya bermacam macam dengan Nama nama yang terdengar Menyeramkan.



Namun sebagian ada yang percaya dan sebagian lagi tidak percaya bahwa hal itu ada. Bahkan jika dilogika apabila hal itu ada kenapa Belanda bisa mencengkram Pulau Jawa. Bukankah jika ilmu ini ada minimal pembesar pembesarnya, gubernur Jendralnya  bisa diamanken tanpa menyentuh.

Sudut pandang seperti ini bahawa ilmu ini ada dan tidak masih kurang mendalam, karna jika tidak ada kenapa menjadi rahasia umum bahwa itu ada, sementara jika ada kenapa Kesultanan/Kasunanan orang Jawa kalah oleh Belanda.


Bahkan di Jaman Majapahit orang orangnya banyak membuat teknologi teknologi menempa Senjata untuk mengalahkan lawanya seperti diciptakanya jenis2  Pedang Keris yang mengandung bahan2 efektif melumpuhkan lawan dan membuat meriam Cetbang berarti mengamanken dan memberesken lawan tanpa menyentuh bukan sebuah solusi.


Belanda kurang bagaimana menindas Para Inlander dan menbuat sakit hati, karna dari sakit hati tadilah orang akan nekat membalas. Nyatanya para Gubernur Jendral Belanda tidak tersentuh apa apa. Bagi para penganut asas tidak yakin keberadaan adanya Santet bukti bukti ini sangat kuat dan meyakinkan bahwa memang tidak ada.


Namun kata kunci Sakit Hati dan Nekat terabaikan bahwa inilah kuncinya, sebab ketika akan memberesken tanpa meyentuh maka Ikrarnya pada Pihak yang dimintai Bantuan tidak main main, perlu Tumbal dan sejenisnya hal yang tentunya hanya orang yang sudah gelap mata yang sanggup melakukanya meskipun tetap saja bagi sebagian besar orang alasan ini masih kurang masuk logika.


Kembali kepembahasan mengapa Belanda tidak terkena ilmu ini dan bisa mencengkram Pulau Jawa  ada salah satu Argumen bahwa mereka juga punya  Pendekar Pendekar Lokal inlander yang bekerja untuk menjaga Tuan Belandanya. Belanda menguasai Uang, bisnis perdagangan dari Hindia Belanda ke Eropa. Hal yang tidak dikuasai para Pendekar Pendekar Lokal. Maka Transaksi dimana Tuan Tuan Belanda perlu Penjagaan Lahir Batin ini ditukar denga uang, wanita dan jabatan  yang diterima para Pendekar Lokal. Inilah alasan Orang Belanda Tidak Tersentuh.