Bagian belakang Kompleks Tentara, Magelang, sekitar tahun 1910
Achterkampement. Magelang, ca 1910
Sumber : Bintoro Hoepoedio
.... berani menjalani kehidupan, adalah sebuah konsekuensi untuk ikut membangun sebuah peradaban yang lebih bertanggung jawab ...
Bagian belakang Kompleks Tentara, Magelang, sekitar tahun 1910
Achterkampement. Magelang, ca 1910
Sumber : Bintoro Hoepoedio
ARCA KALA KIRTIMUKA
Menguak Wajah Penolak Bala: Temuan Arca Kala Kirtimuka di Area Ekskavasi Makam Wonosunyo
Ekskavasi di tengah area pemakaman umum Desa Wonosunyo, lereng Gunung Penanggungan, kembali menyingkap lapisan sejarah yang luar biasa. Setelah dikejutkan dengan kemunculan Arca Garudeya dan Kinara-Kinari, proses penggalian di tanah pusara ini berhasil mengangkat sebuah mahakarya arsitektur kuno yang sangat ikonik: Arca Kala Kirtimuka.
Kehadiran arca ini tidak hanya menambah daftar panjang temuan benda purbakala di Wonosunyo, tetapi juga menjadi kepingan puzzle paling krusial untuk membaca jejak masa lalu di situs tersebut.
Wajah Kemuliaan Sang Penjaga Gerbang Suci
Dalam arsitektur candi langgam Jawa Timur peninggalan era Singhasari hingga Majapahit, Kirtimuka (yang secara harfiah berarti "Wajah Kemuliaan") atau sering disebut sebagai Kepala Kala/Banaspati, memiliki peran yang sangat vital. Wujudnya dipahat dengan rupa raksasa yang menyeramkan: mata melotot tajam, gigi bertaring, dan umumnya digambarkan tanpa rahang bawah.
Meski wajahnya menakutkan, Kala Kirtimuka bukanlah simbol kejahatan. Sebaliknya, arca ini difungsikan sebagai penolak bala. Mahakarya ini biasanya dipasang tepat di ambang atas pintu masuk candi atau relung arca. Tugas spiritualnya adalah menyaring energi negatif, menelan segala bentuk keburukan, dan memastikan bahwa siapa pun yang melangkah masuk ke dalam bangunan suci telah bersih dari niat jahat duniawi.
Bukti Kuat Berdirinya Sebuah Candi Utama
Ditemukannya arca Kala Kirtimuka di lokasi ekskavasi makam ini memberikan kesimpulan arkeologis yang sangat kuat. Kala Kirtimuka tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari pintu gerbang agung atau bangunan induk sebuah candi.
Temuan ini memastikan bahwa tumpukan batu dan arca yang terpendam di Wonosunyo bukanlah sekadar kumpulan artefak yang dipindahkan, melainkan sisa-sisa reruntuhan dari sebuah bangunan candi utama yang dulunya berdiri megah tepat di lokasi makam tersebut berada saat ini. Sang Kala dulunya menatap gagah dari atas pintu gerbang, sebelum akhirnya runtuh dan tertelan oleh tanah berabad-abad lamanya.
Lelap di Bawah Nisan
Sama seperti penemuan sebelumnya, ekskavasi ini kembali menegaskan betapa uniknya cara alam dan tradisi menjaga warisan Nusantara. Wajah Kala yang dulunya menyeringai menakutkan untuk mengusir roh jahat, pada akhirnya beristirahat dengan damai di bawah nisan-nisan pemakaman desa. Aura wingit makam telah menggantikan fungsi sang Kala untuk menjaga artefak-artefak suci ini dari keserakahan zaman, hingga akhirnya berhasil diangkat kembali untuk menceritakan kebesaran peradaban lereng Pawitra.
#KalaKirtimuka #ArcaKala #EkskavasiWonosunyo #SitusPasuruan #SejarahNusantara #mirahnusantara
Menolak Opini "Thomas Matulessy adalah Pattimura"
Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia dicekoki oleh narasi sejarah tunggal yang menyatakan bahwa Kapitan Pattimura adalah seorang pria bernama Thomas Matulessy. Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973, negara melegitimasi identitas ini ke dalam buku-buku pelajaran sekolah hingga mata uang nasional. Namun, jika kita membedah sejarah dengan pendekatan kritis dan objektif, klaim yang menyamakan Thomas Matulessy secara mutlak sebagai sosok tunggal Pattimura adalah sebuah bentuk penggiringan opini, rekayasa narasi, dan kecacatan historiografi yang luar biasa.
1. Ketiadaan Nama "Pattimura" dalam Arsip Primer Sezaman
Penolakan pertama didasarkan pada fakta dokumen hukum dan militer kolonial Hindia Belanda tahun 1817. Dalam tumpukan arsip komando lapangan, berkas interogasi, hingga surat vonis hukuman gantung (Verbaal) tertanggal 16 Desember 1817 di Ambon, nama "Pattimura" tidak pernah eksis. Pihak Belanda hanya mencatat, mengadili, dan mengeksekusi seorang mantan Sersan militer Inggris bernama Thomas Matulessia (Thomas Matulessy). Penggabungan nama "Thomas Matulessy" dan "Pattimura" menjadi satu nama individu baru adalah produk tulisan modern, bukan fakta lapangan tahun 1817.
2. Buku M. Sapija (1954) sumber Tunggal yang Cacat MetodologiAsal-usul penyebutan Thomas Matulessy sebagai Pattimura baru muncul pertama kali ke publik pada tahun 1954 lewat buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura karya M. Sapija. Penulisan ini terbukti tidak berbasis pada penelusuran dokumen sejarah abad ke-19 yang valid atau verifikasi silsilah adat yang ketat. Buku tersebut ditulis bukan sebagai karya sains sejarah murni, melainkan sebagai alat propaganda politik pasca-pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) guna menciptakan mitos pahlawan pemersatu yang pro-Jakarta. Sangat fatal ketika negara menjadikan karangan sepihak tahun 1954 ini sebagai satu-satunya rujukan utama Keppres tahun 1973 tanpa sensor akademik.
3. "Pattimura" adalah Gelar Kolektif, Bukan Nama Orang berdasarkan kajian bahasa dan struktur adat Maluku, kata "Pattimura" berasal dari konsep Patti (Pemimpin/Kepala) dan Muda/Murah (Jiwa muda/Ksatria). Ini adalah gelar jabatan perang pada sebuah kelompok yang kolektif yang bisa disandang oleh pemimpin perlawanan di wilayah berbeda. Memaksakan gelar kolektif ini menjadi nama belakang eksklusif bagi Thomas Matulessy merupakan bentuk pengerdilan sejarah. Manipulasi ini secara sengaja mengubur kontribusi tokoh-tokoh penting lainnya, termasuk mengaburkan klaim sejarah dari garis perlawanan Muslim yang meyakini sosok pemimpin perang tersebut adalah Ahmad Lussy.
4. Visualisasi Fiktif sebagai Alat Penggiringan Opini. Kebohongan narasi ini disempurnakan dengan pembuatan lukisan wajah Pattimura yang memegang parang dan salawaku. Wajah yang kita lihat di buku sekolah dan uang kertas pecahan Rp1.000 lama sama sekali tidak memiliki foto asli atau sketsa sezaman. Wajah tersebut murni rekaan imajinasi pelukis Christoffel Latuputty atas pesanan M. Sapija. Ini adalah taktik visual branding untuk memaksa memori kolektif rakyat Indonesia memercayai karakter rekaan tersebut sebagai kebenaran mutlak.
Menyamakan Thomas Matulessy sebagai Pattimura adalah konstruksi politik modern yang mengorbankan kebenaran faktual demi stabilitas nasional di masa lalu. Sudah saatnya kita memisahkan antara dokumen hukum kolonial (yang hanya mencatat Thomas Matulessy) dengan memori lisan kolektif masyarakat adat Maluku (yang memiliki versi kepemimpinan Pattimura yang berbeda). Dan menolak narasi tunggal M. Sapija tahun 1954 serta perlu adanya pelurusan sejarah nasional yang jujur, ilmiah, dan menghormati hak silsilah adat yang sebenarnya di tanah Maluku.
Sumber : Arafah Tihurua
Ketika Katedral Byzantium di Ethiopia hendak menyaingi Kakbah,
(Abrahah sebelum dan sesudah Era Kerasulan Muhammad saw).
Abrahah Kuno, Part 1.
Sebelum Nabi Muhammad mendakwahkan Islam dan mengembalikan fungsi Kakbah sebagaimana Nabi Ibrahim, Kakbah sudah berusaha digugat oleh banyak negara adikuasa.
Salah satu negara superpower pada waktu itu adalah Ethiopia. Jangan bayangkan Ethiopia kini, Tahun 500 mereka negara superpower.
Nusantara baru ada Tarumanegara, Kutai dan Sriwijaya.
Majapahit belum ada. Kerajaan besar di Jawa Tengah yang kita kenal, Mataram Kuno, baru muncul sekitar abad ke-8 Masehi. Tiga abad setelah Abrahah menyerang Ka'bah.
Borobudur dibangun abad ke-8-9. Prambanan abad ke-9. Jadi itu semua datang belakangan.
Masa kejayaan Ethiopia, Borobudur dan Prambanan belum dibangun, mereka dibangun 5 abad kemudian setelah Abrahah mau meratakan Kakbah. Tahun sama dengan masa lahirnya Nabi Muhammad saw, disebut tahun gajah.
Untuk memahami kenapa Abrahah "kuno" menyerang Ka'bah, kita harus mundur dulu dan lihat peta kekuasaan dunia waktu itu.
Abad ke-6 Masehi adalah era perang dingin antara dua adidaya: Kekaisaran Byzantium di barat dan Kekaisaran Sassanid Persia di timur. Keduanya saling berebut pengaruh di kawasan Timur Tengah dan Jazirah Arab. Dua negara adidaya itu kayak USA dan Rusia kini.
Semenanjung Arabia waktu itu bukan tanah kosong, dia adalah koridor perdagangan vital yang menghubungkan Mediterania dengan India dan Afrika Timur. Siapa yang menguasai jalur dagang Arabia, dia yang menguasai urat nadi ekonomi dunia kuno.
Kerajaan Aksumite di Ethiopia adalah sekutu kuat Byzantium. Mereka sama-sama Kristen, sama-sama punya kepentingan mengimbangi Persia yang mendukung kerajaan-kerajaan Arab di utara. Ketika konflik internal di Yaman memberi celah, Aksumite masuk dan menguasai Yaman.
Abrahah kemudian muncul sebagai gubernur, lalu secara de facto menjadi penguasa mandiri Yaman meski tetap mengakui otoritas Aksumite secara nominal.
Yaman di bawah Abrahah adalah kekuatan ekonomi dan militer yang serius. Tapi ada satu masalah besar.
Makkah....( Bersambung )
#SejarahIslam #Abrahah #TahunGajah #SurahAlFil #Kakbah #Makkah #IslamIndonesia #DakwahDigital #KontenIslam #SejarahNabi
✍️ Bambang Prasodjo
Title: Poera Prasadha te Kapal bij Denpasar
Shelfmark: KITLV 164719
Published/created: [Between 1941 and 1953]
Een volksteller te Rembang,op het huis het volkstellingnummer 37
Vervaardigingsjaar : 1930
Potret petugas sensus didepan sebuah rumah dengan nomor sensus 37,didaerah Rembang,Jawa Tengah...foto tahun 1930
(KITLV33756)
Ben Anderson: Dari kesaksian Sudisman saya dapat kesan bahwa dia merasa diri dalam keadaan di mana partai yang ikut dia pimpin itu dihancurkan secara mengerikan. Ratusan ribu yang mati. Dan dia sebagai seorang pemimpin dan sebagai seorang Jawa merasa bertanggung-jawab. Bagaimanapun, kalau pimpinannya baik dan beres seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Karena itu dia menamakan pembelaannya itu “Uraian Tanggung Jawab.” Dia tidak mau debat tentang soal ini-itu. Dia cuma bilang, “Bagaimanapun juga, sebagai pimpinan tertinggi yang masih hidup, saya memakai kesempatanini untuk meminta maaf atas apa yang terjadi.” Sudisman tidak pernah bilang bahwa dia ikut merencanakan G-30-S.
Hidup Dalam Djuang, Djuang Dalam Hidup* : ‘Pena’ Sudisman Anggota Politbiro PKI di Tahap Akhir Perjuangan dan Kehidupannya
https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2020/12/31/hidup-dalam-djuang-djuang-dalam-hidup-pena-sudisman-anggota-politbiro-pki-di-tahap-akhir-perjuangan-dan-kehidupannya/
Sumber : Yohanes Indrias Iswina
TRAGEDI AMBOINA 1623: KETIKA VOC MEMBANTAI SESAMA EROPA DEMI MONOPOLI REMPAH!
Kekejaman mesin kapitalis VOC ternyata tidak mengenal batas ras atau warna kulit. Jika sejarah di sekolahlebih sering menyoroti penindasan terhadap penduduk pribumi, ada satu babak berdarah yang sengaja dikubur dalam sejarah persahabatan Eropa modern. Pada tahun 1623 di Ambon, VOC melakukan pembantaian yudisial yang sangat brutal terhadap sesama bangsa Eropa. Dalam tragedi yang dikenal sebagai Amboyna Massacre, belasan pedagang Inggris (EIC), seorang Portugis, dan para tentara bayaran Jepang disiksa, dimutilasi, dan dipenggal kepalanya. Kepala-kepala mereka kemudian dipajang sebagai tontonan mengerikan di depan Benteng Victoria.
Paranoia di Balik Tembok Benteng
Tragedi berdarah ini tidak dipicu oleh ancaman militer terbuka, melainkan oleh paranoia korporat tingkat tinggi. Di dalam Benteng Victoria yang terisolasi, Gubernur Herman van Speult dan para pejabat VOC merasa sangat terancam oleh eksistensi saingan dagang mereka, English East India Company (EIC). Melalui manipulasi informasi dan ketakutan yang tidak rasional, otoritas Belanda merekayasa sebuah tuduhan pengkhianatan. Mereka menuduh komunitas kecil pedagang Inggris dan tentara bayaran Jepang tersebut sedang merencanakan kudeta bersenjata untuk merebut benteng dan mengambil alih kendali perdagangan cengkeh.
Validasi Literatur dan Ekstraksi Pengakuan Paksa
Anatomi ketakutan dan konspirasi ini dibedah secara brilian oleh sejarawan Adam Clulow dalam bukunya Amboina, 1623: Fear and Conspiracy on the Edge of Empire. Clulow menelanjangi fakta bahwa pengadilan VOC saat itu sama sekali tidak memiliki bukti fisik atas tuduhan kudeta tersebut. Seluruh pengakuan yang berujung pada vonis mati murni diekstraksi melalui metode penyiksaan brutal, termasuk simulasi tenggelam (waterboarding) dan pembakaran. Analisis ini menggarisbawahi bahwa eksekusi tersebut pada dasarnya adalah murni pembunuhan yudisial—sebuah pembantaian berkedok penegakan hukum untuk menyingkirkan pesaing bisnis secara permanen.
Teror Psikologis dan Hukum Rimba Kapitalisme
Pemenggalan dan pemajangan kepala para korban di depan Benteng Victoria bukanlah sekadar hukuman, melainkan sebuah teater teror psikologis. Dengan mengeksekusi sesama ras Eropa, VOC sedang mengirimkan pesan geopolitik yang sangat arogan kepada dunia: tidak ada satu pun kekuatan, bahkan dari kerajaan sekutu sekalipun, yang diizinkan mengganggu takhta monopoli rempah Nusantara. Nyawa manusia di Timur diubah menjadi sekadar komoditas murah yang bisa disembelih demi menjaga stabilitas harga pasar saham dan dividen di Amsterdam.
Pembantaian Amboyna secara telanjang meruntuhkan narasi bahwa kolonialisme Eropa di Asia digerakkan oleh misi peradaban yang mulia. Tragedi di depan Benteng Victoria ini membuktikan sebuah hukum rimba yang sangat purba dan berdarah: kapitalisme korporat tidak mengenal ras, agama, atau saudara sedaratan. Di hadapan keserakahan mutlak dan ancaman kerugian finansial, bahkan kawan satu benua pun akan berakhir di tiang pancung tanpa ampun.
Pria yang Merancang S3rangan ke Pearl Harbor… Tapi Justru Takut Perang dengan Amerika
Oleh : Indratno Widiarto
Ada ironi besar dalam sejarah perang dunia.
Salah satu arsitek serangan paling mengejutkan sepanjang abad ke-20 ternyata adalah orang yang paling paham betapa mengerikannya lawan yang sedang mereka bangunkan.
Namanya Isoroku Yamamoto.
Banyak orang mengenalnya sebagai otak di balik serangan "Attack on Pearl Harbor. "
Tanggal 7 Desember 1941, dunia berubah. Pesawat-pesawat Jepang datang seperti badai ke pangkalan Amerika di Hawaii. Kapal perang hancur, ribuan tentara tewas, dan Amerika yang sebelumnya cenderung enggan masuk perang akhirnya murka.
Namun yang jarang dibahas adalah ini:
Yamamoto sebenarnya bukan orang yang ingin Jepang berperang melawan Amerika.
Dia justru termasuk sedikit petinggi Jepang yang benar-benar memahami kapasitas industri dan ekonomi Amerika Serikat.
Dan itu membuatnya takut.
Orang Jepang yang Sangat Mengenal Amerika
Yamamoto bukan laksamana biasa.
Dia pernah tinggal di Amerika, belajar di Harvard University, dan berkeliling melihat sendiri bagaimana industri Amerika bekerja.
Dia melihat pabrik mobil.
Dia melihat kapasitas baja.
Dia melihat minyak, logistik, mesin, dan kemampuan produksi massal Amerika.
Dia sadar satu hal:
Kalau perang berlangsung lama, Jepang kemungkinan besar kalah.
Karena Amerika bukan cuma negara kaya.
Amerika adalah mesin produksi raksasa.
Konon Yamamoto pernah berkata:
“Saya bisa mengamuk selama enam bulan sampai satu tahun. Setelah itu, saya tidak punya keyakinan.”
Dan sejarah membuktikan ucapannya nyaris tepat.
Pearl Harbor: Pukulan Cepat Sebelum Raksasa Bangun
Masalahnya, pada saat itu Jepang sudah terjepit.
Embargo minyak dari Amerika membuat mesin perang Jepang mulai kehabisan napas. Para petinggi militer Jepang merasa perang tak bisa dihindari.
Yamamoto lalu memilih strategi yang sangat berani:
Kalau perang memang harus terjadi, maka Amerika harus dipukul sekeras mungkin di awal.
Tujuannya bukan sekadar menghancurkan kapal perang.
Tujuan sebenarnya adalah mengguncang mental Amerika agar mau bernegosiasi sebelum perang panjang terjadi.
Maka lahirlah rencana Pearl Harbor.
Dan secara taktis?
Itu luar biasa sukses.
Serangan itu menghancurkan banyak kapal perang Amerika hanya dalam hitungan jam. Dunia tercengang. Jepang terlihat seperti kekuatan yang tak terkalahkan.
Tapi ada satu masalah besar.
Amerika tidak menyerah.
Amerika justru marah besar.
Kesalahan Besar yang Mengubah Dunia
Ada kutipan terkenal yang sering dikaitkan dengan Yamamoto:
“Saya takut yang telah kami lakukan hanyalah membangunkan raksasa yang sedang tidur.”
Walaupun sejarawan masih memperdebatkan apakah kalimat itu benar-benar diucapkan persis seperti itu, isi pesannya sangat sesuai dengan pemikiran Yamamoto.
Karena setelah Pearl Harbor, Amerika berubah total.
Pabrik mobil berubah jadi pabrik tank.
Industri sipil berubah jadi mesin perang.
Kapal induk, pesawat, amunisi, diproduksi dalam jumlah yang sulit dipercaya.
Jepang menang cepat di awal.
Tetapi Amerika menang dalam maraton panjang.
Dan Yamamoto tahu itu akan terjadi.
Ironi Seorang Arsitek Perang
Yang membuat kisah Yamamoto menarik bukan sekadar soal perang.
Tetapi soal paradoks manusia.
Kadang orang yang paling memahami bahaya justru terpaksa menjalankan sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan.
Yamamoto adalah tentara.
Ketika negaranya memilih perang, tugasnya bukan lagi berdebat. Tugasnya menang.
Maka ia merancang salah satu operasi militer paling berani dalam sejarah modern.
Namun jauh di dalam pikirannya, dia tahu:
Jepang sedang bermain judi melawan negara yang kapasitas industrinya nyaris mustahil disaingi.
Dan taruhan itu akhirnya kalah.
Pada tahun 1943, pesawat Yamamoto ditembak jatuh oleh Amerika setelah intelijen mereka berhasil memecahkan kode komunikasi Jepang. Ironisnya, pria yang merancang serangan mendadak itu akhirnya diburu dengan presisi luar biasa oleh musuh yang dulu ingin ia lumpuhkan sejak awal.
Sejarah kadang memang kejam.
Ia suka menyimpan ironi di tempat yang paling tak terduga.
𝗜𝗪𝗗
#sejarah #jepang #amerikaserikat #perangdunia #indratnowidiarto
ORANG PERTAMA YANG BERPIDATO DALAM BAHASA INDONESIA DI DEPAN KOLONIAL BELANDA DAN INI YANG TERJADI SETELAHNYA
Di sebuah sidang resmi Volksraad, dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda, pada 16 Juni 1927, seorang pria berkumis melintang dari Koto Gadang, Sumatera Barat, berdiri dan mulai berbicara. Bukan dalam bahasa Belanda yang lazim dipakai di forum itu. Bukan pula bahasa Melayu yang biasanya diucapkan dengan nada hati-hati dan penuh pertimbangan. Ia berbicara dengan lantang, tegas, dan penuh keyakinan — dalam bahasa Indonesia.
Namanya Jahja Datoek Kajo. Dan momen itu mencatat sejarah.
Lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 1 Agustus 1874 dari pasangan Pinggir Bandaharo Koening dan Bani, Jahja tumbuh bukan dari keluarga bangsawan besar. Masa kecilnya diwarnai rantau: sejak 1882, di usianya yang baru delapan tahun, ia sudah meninggalkan kampung bersama pamannya. Sekolah berpindah-pindah, dari Suliki hingga sekolah privat di Bukittinggi. Karirnya di birokrasi kolonial pun dimulai dari titik paling bawah — magang di kantor residen Padang Darat pada 1888.
Namun ketekunannya tidak berhenti di sana. Ia naik menjadi juru tulis di kantor kontrolir Agam Tua, dan pada 1895, di usia 21 tahun, ia resmi menyandang gelar Datoek Kajo dan terpilih menjadi Tuanku Laras Empat Koto.
Titik balik hidupnya datang bukan dari ambisi, melainkan dari luka. Pada 1908, pemerintah kolonial memberlakukan sistem pajak atau belasting di Sumatera Barat. Jahja menyaksikan sendiri bagaimana rakyatnya dibantai oleh militer Belanda karena menolak membayar. Peristiwa berdarah itu dikenal sebagai Tragedi Paladangan — dan ia simpan dalam-dalam, lalu berani melaporkannya kepada atasan pada 1919.
Keberaniannya bersuara membuat posisinya tidak nyaman di mata atasan. Ia pun terus dipindahtugaskan: menjadi demang di Payakumbuh (1915–1918), Padang Panjang (1919–1928), hingga Air Bangis (1928–1929). Tapi justru dalam pengembaraan jabatan itu, pandangan politiknya semakin matang.
Puncaknya tiba pada 16 Mei 1927 ketika Jahja terpilih menjadi anggota Volksraad, menggantikan Loetan Datoek Rangkajo Maharadjo yang wafat. Ia menjadi salah satu dari 25 anggota golongan bumiputera dari total 55 anggota dewan, mewakili masyarakat Minangkabau untuk periode 1927–1931.
Volksraad kala itu punya aturan diskriminatif yang sudah lama tak tergoyahkan: bahasa Melayu dilarang dipakai dalam persidangan. Beberapa anggota bumiputera sebelumnya pernah mencoba, namun langsung ditegur. Jahja tidak. Sejak pidato pertamanya pada 16 Juni 1927, ia tidak pernah sekalipun beralih ke bahasa lain. Ia bahkan secara terbuka meminta siapa pun yang ingin menanggapi atau menyela pidatonya agar melakukannya dalam bahasa Indonesia — karena, tegasnya, "saya adalah seorang Indonesier."
Wakil-wakil Belanda geram. Tapi Jahja tidak bergeming. Koran-koran pribumi merespons dengan penuh semangat, memberinya julukan yang kemudian melekat: Jagoan Bahasa Indonesia di Volksraad.
Setelah pensiun pada 1931, ia kembali terpilih menjadi anggota Volksraad untuk periode kedua, 1935–1939, terus menyuarakan kepentingan rakyat Minangkabau dan kaum bumiputera hingga akhir hayatnya pada 9 November 1942.
Semangat perlawanan itu rupanya mengalir deras ke generasi berikutnya. Putranya, Daan Jahja, kelak menjadi Gubernur Militer Jakarta — satu-satunya dalam sejarah kota itu — yang menjabat pada periode 1948 hingga 1950 dengan pangkat Letnan Kolonel TNI. Dua putra lainnya, Jamalus Yahya dan Akhirul Yahya, menjadi kepala daerah di Sumatera Barat, meneruskan garis pengabdian yang ditancapkan sang ayah.
Jahja Datoek Kajo mungkin bukan nama yang sering muncul di buku pelajaran. Tapi jauh sebelum Sumpah Pemuda dikumandangkan pada Oktober 1928, ia sudah berdiri sendirian di hadapan kolonial — dan memilih berbicara dengan bahasanya sendiri.
#JahjaDatoekKajo #SejarahIndonesia #TokohMinangkabau #Volksraad #BahasaIndonesia
ORANG PERTAMA YANG BERPIDATO DALAM BAHASA INDONESIA DI DEPAN KOLONIAL BELANDA DAN INI YANG TERJADI SETELAHNYA
Hôtel Centrum. Magelang., sekitar tahun 1900
Hôtel Centrum. Magelang., ca 1900
Sumber : Bintoro Hoepoedio
Yogyakarta bukan sekadar kota budaya dan sejarah, tetapi juga menyimpan lapisan kisah mistis dan legenda urban yang terus hidup berdampingan dengan masyarakat modern.
Berikut adalah lima misteri di Jogja yang hingga
kini belum terpecahkan dan terus memicu teka-teki:
1. Kutukan Bola Api Pulung Gantung (Gunungkidul)
Ini adalah salah satu misteri paling gelap dan mengakar kuat dalam kepercayaan gaib setempat. Masyarakat Gunungkidul kerap melaporkan penampakan bola api berekor kemerahan yang melayang di langit malam—dikenal sebagai Pulung Gantung. Jatuhnya bola api ini di suatu kawasan dipercaya membawa aura kelam dan "kutukan" yang mendorong warga di sekitarnya untuk mengakhiri hidup secara tragis. Tarik ulur antara penjelasan medis, psikologis, dan klenik Primbon seputar fenomena ini terus berlanjut tanpa kesimpulan yang mutlak.
2. Presisi Gaib Garis Imajiner Jogja
Ada sebuah garis lurus tak kasat mata yang membentang dari Selatan ke Utara: menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton, Tugu Pal Putih, hingga puncak Gunung Merapi. Misteri terbesarnya adalah bagaimana arsitek masa lalu (Sultan Hamengku Buwono I) mampu menarik poros geografis ini dengan tingkat presisi yang sangat akurat tanpa teknologi satelit atau pemetaan modern. Secara mistis, poros ini juga diyakini sebagai jalur lalu lintas komunikasi spiritual antara penguasa laut selatan, keraton, dan penjaga Gunung Merapi.
3. Keramaian Tak Kasat Mata di Pasar Bubrah Merapi
Pasar Bubrah adalah sebuah area datar berupa hamparan pasir dan bebatuan di bawah puncak Gunung Merapi. Tempat ini tidak memiliki pepohonan atau bangunan, namun ratusan kesaksian pendaki secara konsisten melaporkan hal yang sama: terdengar suara hiruk-pikuk tawar-menawar, obrolan, hingga alunan gamelan Jawa yang sangat jelas di malam hari. Penjelasan ilmiah menyebutkan ini mungkin efek akustik angin gunung, namun bagi warga lokal, ini adalah aktivitas nyata dari pasar makhluk halus.
4. Prasasti Misterius di Watu Gilang Kotagede
Di kompleks peninggalan Mataram Islam Kotagede, terdapat Watu Gilang, sebuah lempengan batu andesit hitam yang konon menjadi singgasana Panembahan Senopati. Misteri terbesarnya bukan pada batunya, melainkan pada ukiran teks asing yang melingkar di permukaannya. Teks tersebut berbunyi "Ita Moventur Mundus Sicut Pila" (Begitulah dunia berputar layaknya bola)—sebuah kalimat yang mencampurkan bahasa Latin kuno, Italia, dan Prancis. Siapa pemahatnya, kapan diukir, dan bagaimana kutipan filosofis Eropa kuno bisa berada tepat di pusat spiritual kerajaan Jawa abad ke-16, belum pernah terungkap secara pasti.
5. Gerbang Dimensi Parangtritis dan Mitos Baju Hijau
Kisah hilangnya orang-orang yang terseret ombak Pantai Parangtritis memang bisa dijelaskan lewat fenomena rip current (arus balik bawah laut) yang mematikan. Namun, rentetan kebetulan sering kali tidak bisa dijawab oleh sains—terutama mitos bahwa mereka yang hilang kerap kali melanggar pantangan memakai pakaian berwarna hijau. Jasad yang hilang tanpa jejak sering diyakini telah ditarik melewati gerbang dimensi menuju keraton penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.
Begitulah cara Inggris menancapkan kuku kekuasaannya di tanah Arab—setelah mereka melukis bendera-bendera palsu dan menggariskan perbatasan di atas peta yang mereka buat sendiri.
Fajar Kelabu di Bagdad
Foto ini mengabadikan momen memuakkan dari upacara penobatan Faisal I bin Syarif Husain, sang raja yang dijuluki pengkhianat, saat ia didudukkan di takhta Irak pada 23 Agustus 1921. Sebelum "dibuang" ke Irak, Faisal sempat mencicipi singgasana Suriah sejak Maret hingga Juli, sebelum akhirnya lari terbirit-birit menghindari kejaran bala tentara penjajah Prancis.
Sandiwara penobatan ini digelar oleh tangan-tangan Inggris tepat pukul enam pagi di pelataran Istana Saray Ottoman, Bagdad. Dalam potret ini, di sisi kiri, tampak sosok Percy Cox, Komisaris Tinggi Inggris—sang penguasa bayangan di Teluk. Di sampingnya berdiri Kinahan Cornwallis, penasihat Kementerian Dalam Negeri yang sejatinya adalah penguasa de facto Irak.
Para Arsitek Pendudukan
Faisal I duduk bersanding dengan Sir Aylmer Haldane, Panglima Tertinggi pasukan pendudukan Inggris di Irak, sosok kunci di balik penaklukan berdarah selama Perang Dunia I. Di belakang Faisal, berdiri ajudan militernya, Tahsin Qadri, bersama Hussain Afnan, sang Sekretaris Kabinet yang setia menghamba.
Demokrasi Palsu dan Angka Tipu-Tipu
Lelucon kolonial ini mencapai puncaknya ketika Sir Percy Cox dengan angkuh mengumumkan bahwa 99% rakyat Irak telah memberikan suara mereka untuk sang raja baru! Sebuah referendum kosong, sebuah teater absurd yang sama sekali tidak mewakili kehendak rakyat Irak yang sebenarnya.
Faisal tiba di pelabuhan Basra dari Jeddah pada 23 Juni dengan kapal perang Inggris, "Northbrook." Kedatangannya disambut dengan dingin; tak ada cinta, tak ada restu dari rakyat. Ia hanyalah bidak yang dipasang Inggris untuk meredam api Revolusi 1920 yang membara melawan penjajahan. Namanya dipilih dalam diskusi gelap antara Percy Cox dan Winston Churchill di Konferensi Kairo 1921, atas rekomendasi dari agen rahasia dan mata-mata Inggris, Gertrude Bell.
Upah Berdarah atas Pengkhianatan
Takhta Irak adalah "bonus" bagi Faisal atas pengkhianatannya terhadap umat Islam. Bersama ayahnya, Syarif Husain, dan saudara-saudaranya—terutama Abdullah I (kelak menjadi Raja Yordania)—ia bersekutu dengan Inggris untuk meruntuhkan kekuasaan Islam di tanah Arab.
• Faisal memimpin pasukan Baduinya untuk memutus jalur logistik tentara Khilafah Ottoman di Hijaz demi memuluskan jalan bagi Inggris menginvasi Palestina.
• Abdullah, sang saudara, mengepung Kota Suci Madinah, membiarkan penduduk dan pasukan pelindungnya mati kelaparan.
Jejak Hitam Faisal-Weizmann
Sejarah tidak akan lupa bahwa Faisal adalah sosok pertama yang secara resmi mengakui "Janji Terkutuk" (Deklarasi Balfour). Ia adalah pelopor normalisasi dengan para pemimpin Zionis melalui Perjanjian Faisal-Weizmann 1919.
Bahkan di Suriah, ia tega mengkhianati bangsanya sendiri. Ia melarang pejuang Arab melawan invasi Prancis dan membunuh para pahlawan revolusi yang mendesaknya untuk membela tanah air. Faisal menyerahkan Suriah kepada Prancis di bawah nampan emas, berharap ia akan diakui sebagai raja, namun Prancis justru membuangnya seperti sampah setelah kepentingannya tercapai.
Tangan yang Berlumur Darah Rakyat Sendiri
Di Irak, Faisal I menjadi pendukung setia setiap kekejaman Inggris terhadap pejuang Arab dan Kurdi. Bahkan, ia dengan rendah budi mengirimkan ucapan terima kasih kepada Percy Cox ketika pesawat-pesawat tempur Inggris membombardir suku-suku Irak yang berani mengangkat senjata demi kemerdekaan nasional mereka.
Jejak Sejarah Markas Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang) Di Kawasan Kader School Magelang
Setelah kemarin saya memposting Monumen yang merupakan tanda bekas Markas Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang), di lingkungan komplek Rindam IV Diponegoro yaitu di Jl Ksatrian Selatan, kini saya akan memposting dokumentasi salah satu kegiatan yang dilakukan di sekitar Markas Divisi III Diponegoro yang berada di kompleks Kader School (komplek Rindam IV Diponegoro sekarang ini) tepatnya kegiatannya berada di Lapangan Kader School (lapangan Tentara I Rindam IV Diponegoro sekarang).
Peristiwa nya terjadi di tanggal 5 Mei 1948, yaitu peresmian Batalyon Soedjono dan Batalyon Darjatmo oleh Jenderal Sudirman selalu Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia saat itu dan melibatkan juga Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat (putra tunggal R.A. Kartini) selaku Panglima Divisi III Diponegoro (Yogyakarta - Magelang). Saat Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat diangkat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro, sebenarnya tidak disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Namun, Soesalit dipilih oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin.
Batalyon Darjatmo ini nantinya saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 terlibat membantu kekuatan Wehrkreise III (wilayah pertahanan militer III), yaitu Kompi Soewarno yang dari Muntilan Magelang.
Sedangkan Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat menjabat sebagai Panglima Divisi III Diponegoro (Yogyakarta — Magelang) dari Oktober 1946 sd 1948).
nantinya diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro karena dianggap bersimpati kepada kelompok kiri (nama beliau tercantum dalam dokumen yang disita pemerintah sebagai salah satu orang yang "diharapkan" oleh pihak pemberontak). Nampak dalam foto Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat berpakaian seperti yang biasanya digunakan oleh Tentara RRT.
Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat setelah diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Bambang Sugeng. Tetapi telah diberhentikan sebagai Panglima Divisi III Diponegoro selama Agresi Militer Belanda ke 2, Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat tetap ikut bergerilya melawan Belanda di sekitaran Benteng Sumbing selaku Panglima Komando Pertempuran Daerah Kedu dan sekitarnya (1948). Dan di tahun 1948 ini Soesalit Djojoadhiningrat pangkatnya diturunkan menjadi Kolonel.
Nampak dalam foto pertama Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat berdiri di atas podium (mimbar) dan di latar belakang nampak berdiri juga Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia saat itu yaitu Jenderal Sudirman dengan lokasi di lapangan Kader School dan di pinggir lapangan nampak jelas rimbunnya pepohonan.
Foto kedua nampak paling kiri adalah Mayor Jenderal Soesalit Djojoadhiningrat sedang Jenderal Sudirman menggunakan peci dan sedang hormat kepada prajurit yang juga sedang sikap hormat senjata untuk membalas sikap hormat dari Jenderal Sudirman.
Sumber : Orchid Breeder
GADIS SINGA
Gadis 10 Tahun yang Melacak Singa Gunung yang Membunuh Ibunya Selama 6 Bulan dan Tidur di Sarangnya untuk Membunuhnya,
Colorado, 1907 Agustus 1907. Pegunungan San Juan, Colorado. Hattie Mae Cole, 10 tahun, sedang memetik buah beri bersama ibunya, Luanne, 32 tahun, ketika seekor singa gunung seberat 180 pon menyerangnya. Menyeretnya dalam sepuluh detik. Ayahnya berada di Denver.
Hattie Mae menemukan darah dan jejak. Dia mengambil senapan .32-20 milik ayahnya, selendang ibunya, dan mengikuti. Selama 6 bulan dia melacak kucing itu. Dia mempelajari mangsanya, sumber airnya, sarangnya.
Musim dingin tiba. November. Dia merangkak ke dalam sarang saat singa itu keluar. Tidur di sana. Baunya seperti singa itu. Ketika singa itu kembali, ia tidak menyerang. Ia berbaring. Dia menempatkan laras senapan di belakang telinganya dan menembak.
Menyeretnya sejauh 8 mil pulang. Membungkus tulang ibunya dengan kulit singa itu. Menguburnya di dalamnya. Penduduk kota memanggilnya "Gadis Singa." Dia tidak pernah menikah. Meninggal tahun 1973.
Kulit binatang itu menjadi selimutnya hingga akhir hayatnya. Dia berkata kepada surat kabar, "Kulit itu telah merenggut nyawanya. Aku pun mengambilnya."
DAFTAR CANDI-CANDI DI JAWA
Dalam khazanah arsitektur Nusantara, istilah "candi" merujuk pada bangunan suci peninggalan masa Hindu-Buddha yang berkembang antara abad ke-8 hingga ke-15 Masehi. Perlu dicatat bahwa kata "candi" bukanlah istilah yang dipakai oleh pembangunnya; masyarakat kuno lebih sering menyebutnya sebagai "prasada" (istana dewa), "dharmasala" (balai dharma), atau "bhumi" (tanah suci). Dalam konteks Indonesia, candi tidak sekadar kuil pemujaan, melainkan berfungsi sebagai pusat ritual, tempat meditasi, makam raja yang didewakan ("devaraja" atau "pendharmaan"), serta representasi fisik kosmologi yang menghubungkan alam manusia, dewata, dan alam baka melalui konsep "mandala".
Secara arsitektural, candi Jawa memiliki karakter yang khas bila dibandingkan dengan bangunan serupa di negara lain. Kuil-kuil di India, misalnya, cenderung menekankan vertikalitas menara "shikhara" atau "vimana", ruangan dalam yang gelap ("garbhagriha"), serta pahatan figuratif yang sangat padat. Kompleks Angkor di Kamboja lebih luas, menggunakan batu laterit dan pasir, serta terintegrasi dengan sistem hidrologi skala besar yang mencerminkan kekuasaan kosmik raja. Sebaliknya, candi Jawa menonjolkan bentuk dasar persegi yang berundak, atap piramida bertingkat (ratna atau stupa), penggunaan batu andesit vulkanik yang dipotong presisi tanpa perekat, serta penataan ruang yang sengaja diselaraskan dengan kontur alam, mata air, dan garis astronomis. Selain itu, candi Jawa mencerminkan akulturasi yang sangat cair antara kosmologi India dengan kepercayaan lokal, menghasilkan struktur yang lebih ringkas, simbolis, dan sarat makna spiritual ketimbang monumentalitas belaka.
Berikut adalah sejumlah candi penting di Pulau Jawa yang mencerminkan kejayaan peradaban masa lampau, disajikan secara kronologis dan naratif agar mudah diikuti.
Candi Kalasan (Daerah Istimewa Yogyakarta)
Dibangun pada tahun 778 Masehi atas perintah Rakai Panangkaran dari Kerajaan Mataram Kuno, Candi Kalasan merupakan salah satu struktur Buddha tertua yang masih berdiri di Jawa. Candi ini dipersembahkan untuk Dewi Tara, bodhisattva welas asih dalam tradisi Mahayana. Fungsinya sebagai vihara dan pusat pembelajaran agama Buddha, sekaligus menjadi bukti awal patronase kerajaan terhadap ajaran yang kemudian berkembang pesat di tanah Jawa.
Candi Borobudur (Magelang, Jawa Tengah)
Dirintis oleh Wangsa Sailendra pada akhir abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-9, Borobudur merupakan mahakarya arsitektur Buddha Mahayana terbesar di dunia. Candi ini tidak didedikasikan untuk satu dewa tertentu, melainkan bagi seluruh jalan pencerahan Buddha. Berfungsi sebagai stupa monumental, Borobudur dirancang sebagai panduan visual Dharma, tempat ziarah spiral yang membentuk mandala tiga dimensi, serta pusat kosmologi yang menggambarkan perjalanan jiwa dari alam nafsu (kamadhatu) menuju nirwana (arupadhatu).
Candi Mendut dan Candi Pawon (Magelang, Jawa Tengah)
Kedua candi ini dibangun pada periode yang sama dengan Borobudur, diperkirakan atas dukungan penguasa Mataram Kuno. Candi Mendut dipersembahkan untuk Buddha Vairocana yang diapit oleh Avalokiteshvara dan Vajrapani, berfungsi sebagai pusat pengajaran dan ruang meditasi. Sementara Candi Pawon, yang lebih kecil dan sederhana, diduga dipersembahkan untuk Kubera (dewa kekayaan) atau sebagai tempat penyucian diri sebelum melanjutkan ziarah ke Borobudur. Ketiganya sengaja disusun dalam satu poros spiritual yang selaras secara astronomis dan geometris.
Candi Sewu (Klaten, Jawa Tengah)
Dibangun sekitar abad ke-8 oleh penguasa Mataram Kuno (kemungkinan Rakai Panangkaran atau di bawah pengaruh Sailendra), kompleks ini terdiri dari 249 candi dengan candi utama yang dipersembahkan untuk Manjushri, bodhisattva kebijaksanaan. Sewu berfungsi sebagai biara Buddha terbesar di Jawa, tempat praktik meditasi, studi sutra, dan aktivitas monastik yang mencerminkan iklim toleransi beragama di era Mataram Kuno.
Candi Prambanan (Sleman–Klaten, Jawa Tengah/DIY)
Dibangun pada pertengahan abad ke-9 oleh Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti Hindu—Siwa, Wisnu, dan Brahma—dengan candi Siwa sebagai pusat. Fungsinya melampaui tempat pemujaan; Prambanan merupakan simbol legitimasi politik kerajaan, pusat ritual kerajaan, dan penanda kehadiran Wangsa Sanjaya dalam peta kekuasaan Jawa Kuno, sekaligus respons arsitektural terhadap dominasi Buddhist Sailendra.
Candi Singhasari (Malang, Jawa Timur)
Berasal dari abad ke-13, candi ini dibangun pada masa pemerintahan Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singhasari. Candi ini tidak ditujukan untuk dewa tertentu, melainkan untuk mendewakan Kertanegara sendiri dalam wujud Siwa-Buddha (tradisi Tantrayana). Fungsinya sebagai *candi pewaris* atau makam kerajaan, sekaligus pusat ritual keagamaan yang mencerminkan sinkretisme Hindu-Buddha khas Jawa Timur.
Candi Jago atau Jajaghu (Malang, Jawa Timur)
Dibangun sekitar tahun 1268 M atas perintah Kertanegara untuk menghormati ayahandanya, Raja Wisnuwardhana, candi ini mempersembahkan Wisnuwardhana sebagai Amoghapasha-Lokeshvara dalam tradisi Buddha Tantra. Berfungsi sebagai candi makam dan tempat pemujaan leluhur kerajaan, Candi Jago juga menampilkan narasi epos *Kunjarakarna* dan *Parthayajna* pada reliefnya, menjadikannya pusat pembelajaran spiritual dan legitimasi dinasti Singhasari.
Candi Penataran (Blitar, Jawa Timur)
Kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur ini dibangun secara bertahap dari abad ke-12 hingga ke-15, melintasi masa Kerajaan Kediri hingga Majapahit. Candi utama dipersembahkan untuk Siwa sebagai *Bhatara Guru Penataran*. Fungsinya sebagai candi negara (*state temple*), tempat upacara keagamaan kerajaan, pelatihan spiritual prajurit, dan pusat legitimasi politik Majapahit menjelang transisi kekuasaan di Nusantara.
Candi Sukuh dan Candi Ceto (Karanganyar, Jawa Tengah)
Dibangun pada abad ke-15 pada masa akhir Majapahit, kedua candi ini terletak di lereng Gunung Lawu dan mencerminkan corak Hindu-Tantra yang sangat kental. Candi-candi ini dipersembahkan untuk Siwa dan praktik pemujaan gunung (*meru*), berfungsi sebagai tempat ritual esoterik, penyucian diri, dan peralihan spiritual menuju bentuk kepercayaan yang lebih membumi, yang kelak mempengaruhi corak spiritualitas Islam di Jawa.
---
Keberagaman candi di Jawa bukan sekadar warisan fisik, melainkan cerminan dinamika spiritual, politik, dan budaya yang terus hidup. Dari poros Buddha di Magelang hingga candi kerajaan di Jawa Timur, setiap struktur menyimpan jejak pemikiran kosmologis, toleransi beragama, dan keahlian rekayasa teknologi kontruksi dan bangunan yang masih menginspirasi hingga kini.
#sejarahjawa #sejarahnusantara #daftarcandi
ORANG SAMIN DAN PANDANGAN HIDUPNYA
Oleh: Sutamat Arybowo
(Kompas, 10 Mei 2007)
Keterangan foto:
Gotong royong merupakan salah satu ciri tradisi Sedulur Sikep (biasa dikenal dengan sebutan masyarakat Samin) yang masih terus dipelihara hingga kini. Ketika salah seorang warga Sedulur Sikep di Dusun Kaliyoso, Kudus, Jawa Tengah, Wargono mendirikan rumah baru, pertengahan September 2006 (kanan), para Sedulur Sikep di sekitarnya turun tangan membantu. Para lelaki bekerja mengerjakan bangunan, sedangkan perempuan menyiapkan panganan (kiri).
Pada suatu hari di rumah elite desa sedang berduka karena putra tertuanya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga meninggal dunia. Warga desa kumpul melayat dan mempersiapkan upacara pemakaman jenazah. Beberapa warga desa hilir-mudik dan sebagian duduk berjejer di tempat yang sudah disediakan di halaman rumah.
Dalam keadaan mulai sunyi, di tengah kerumunan jenazah, datanglah seorang laki-laki tua, usianya lebih kurang 75 tahun, mengenakan baju kurung lengan panjang warna hitam, dengan celana selutut berwarna hitam pula. Sarungnya diselempangkan di bahu sebelah kiri dan capingnya yang terbuat dari daun lontar dibuka lalu ditempelkan di dada kiri, dan di atas kepala mengenakan udeng (ikat kepala) motif batik warna hitam kecoklatan.
Dengan percaya diri ia masuk ke rumah menuju ke tempat jenazah disemayamkan. Tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri, ia seolah tak kenal siapa pun para tamu yang duduk di situ.
Setelah tiba di depan jenazah, ia membuka tutup bagian atas sembari menatap wajahnya. Lalu ia mengatakan, "Sedulur, asalmu ora ono/Terus dadi ono/Saiki ora ono maneh/Yo wis, tak dongak-ke slamet." (Saudara, asalmu tidak ada/Lalu menjadi ada/Sekarang tidak ada lagi/Ya sudah, saya doa kan selamat.)
Kemudian tutup jenazah dikembalikan seperti semula, lalu ia mundur pelan-pelan sampai ke pintu rumah dengan membalikkan arah dan menuju ke halaman rumah. Setelah itu ia ikut duduk bersama-sama tamu yang lain. Ia memilih duduk di pinggir dekat pintu masuk menuju rumah sehingga beberapa warga banyak yang kenal. Pada saat ketemu orang lain yang menyapanya, ia selalu mengatakan sedulur, yang maknanya sama-sama saudara.
Perilaku kultural seperti itu dikategorikan sebagai orang apa? Bagaimana ia menghayati hubungan individu dirinya dengan sesama, dengan alam semesta, dan dengan Sang Pencipta?
Sudah banyak tulisan tentang masyarakat Samin, bahkan ada yang menganggapnya sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan dari zaman kolonial Belanda hingga saat ini. Beberapa informasi mengatakan bahwa Saminisme sebagai sebuah sejarah perlawanan terhadap kekuasaan telah diubah menjadi deskripsi kebudayaan.
Jujur dan pemurah
Sejak dikenal umum dari zaman kolonial Belanda, orang Samin tinggal menyebar di daerah Bojonegoro, Tuban, Blora, Rembang, Grobogan, Pati, dan Kudus. Mereka berdomisili tidak menggerombol, melainkan terpencar-pencar, misalnya, tiap desa terdapat 5-6 keluarga, tetapi solidaritas sosialnya menyatu.
Orang Samin memiliki rasa religi yang kuat sehingga sering kali membuat para pendatang (tamu) merasa risi dan malu karena mereka sangat jujur, serta pemurah terhadap para tamu. Seluruh makanan yang mereka simpan disajikan kepada tamunya dan tidak pernah memikirkan berapa harganya.
Masyarakat Samin memiliki jiwa yang polos dan terbuka. Mereka berbicara menggunakan bahasa Kawi dan bercampur bahasa Jawa ngoko dan sering kedengaran kasar.
Dalam pergaulan sehari-hari, baik dengan keluarganya, sesama pengikut ajaran, maupun dengan orang lain yang bukan pengikut Samin, orang Samin selalu beranjak pada eksistensi mereka yang sudah turun-temurun dari pendahulunya, yaitu Ono niro mergo ningsun, ono ningsun mergo niro (Adanya saya karena kamu, adanya kamu karena saya.)
Ucapan itu menunjukkan bahwa orang Samin sesungguhnya memiliki solidaritas yang tinggi dan sangat menghargai eksistensi manusia sebagai makhluk individu, sekaligus sebagai makhluk sosial. Karena itu, orang Samin tidak mau menyakiti orang lain, tidak mau petil jumput (tidak mau mengambil barang orang lain yang bukan haknya), tetapi juga tidak mau dimalingi (haknya dicuri).
Semua perbuatan mereka berawal dari baik, maka berakhirnya juga harus baik, begitulah ringkasnya. Bagi orang lain yang tidak memahami eksistensi orang Samin, mereka bisa jadi menyebutnya sebagai Wong Sikep, yang artinya orang yang selalu waspada. Atau disebut juga Wong Kalang karena orang lain akan menganggap ketidakrasionalan pikiran, keeksentrikan perilaku, dan ketidaknormalan bahasa. Tetapi, bagi sesama orang Samin selalu menyebut kepada orang lain Sedulur Tuwo.
Ini pun tampak di dalam ia merenung dan berdoa kepada "Adam", selalu minta keselamatan untuk dirinya, sesama makhluk alam semesta, dan juga Sang Pencipta sendiri. Ungkapan Sedulur Tuwo tak pernah ditinggalkan.
Doa orang Samin juga selalu berhubungan dengan keadaan ekologi dan ekosistem di mana mereka berdomisili. Orang Samin yang tinggal di daerah Desa Klopo Duwur, Kecamatan Randu Blatung, Kabupaten Blora, misalnya, menunjukkan secara siklus hubungan antarmanusia sebagai pribadi, antarsesama manusia, antara manusia dan alam lingkungan.
Pandangannya terhadap ekologi dan ekosistem tersebut dapat dijumpai dalam ucapannya, seperti: Banyu podo ngombe/Lemah podo duwe/Godong podo gawe. (Air sama-sama diminum/Tanah sama-sama punya/Daun sama-sama memanfaatkan.)
Ucapan itu oleh pengikut Samin ditafsirkan secara bijak, maksudnya bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya perlu dijaga. Tidak berarti sama rasa, sama rata, seperti tuduhan orang lain di luar komunitas Samin.
Dalam praktiknya, mereka justru ikut menjaga pelestarian kayu jati di daerah Blora. Mereka hanya memanfaatkan daunnya untuk keperluan sehari-hari dan rantingnya untuk keperluan masak-memasak. Hal itu sudah berjalan sejak leluhur mereka masa lalu dan mereka tidak mau merusak hutan. Berdasarkan pandangan seperti itu, tampaknya orang lain sering kali menerjemahkan kata "Samin" sama dengan Sami-sami Amin.
Sejak masa kolonial
Pada mulanya ajaran orang Samin ini berasal dari seorang tokoh yang bernama Kiai Samin Surosentiko, yang lahir di Ploso, wilayah Blora, Jawa Tengah, tahun 1859. Ia ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda karena tidak mau membayar pajak dan tidak mau ikut kerja paksa.
Seperti tokoh perintis kemerdekaan Indonesia yang lain, ia dibuang ke Sawahlunto, Sumatera Barat, hingga wafat tahun 1914. Namun, ajarannya masih dianut oleh pengikutnya hingga sekarang di beberapa daerah yang disebutkan di atas.
Beberapa catatan kolonial Belanda menyebut bahwa Kiai Samin Surosentiko dianggap sebagai pembangkang, pemberontak, selalu melawan pemerintah. Oleh karena itu, ajarannya tidak boleh disebarluaskan dan oleh mainstream agama pada saat itu dianggap sesat, lalu mau tidak mau ia harus diasingkan dari pengikutnya.
Dalam kaitannya dengan deskripsi singkat ini, maka nilai tradisi yang dapat dipetik adalah bagaimana strategi ajaran orang Samin dalam mengimplementasikan kehidupan sehari-hari. Misalnya, mereka antikekerasan, menyakiti orang lain. jujur, terbuka, dan tidak mau menyakiti orang lain.
Orang Samin mengejawantahkan kehidupan dengan solidaritas sosial. Juga pada zaman Orde Baru, ketika mereka menggunakan kiat atau strategi ngumumi; tidak melawan pemerintah, tetapi mengkritisi secara pasif.
Mereka memang tidak mau ikut program KB karena sudah punya cara sendiri. Mereka juga tidak ikut program Bimas-Inmas dan tidak mau terima kredit dari BRI supaya tidak ngemplang. Orang Samin bikin pupuk sendiri, bikin irigasi sendiri.
Pendeknya, dalam hidup, mereka tidak bergantung kepada teknologi maju. Orang Samin benar-benar sebuah contoh kasus komunitas yang benar-benar memiliki kemandirian. Oleh karena itu, masyarakat Samin tidak mengenal krisis ekonomi dan moneter.
SUTAMAT ARYBOWO
Peneliti LIPI dan Anggota Asosiasi Tradisi Lisan
Sumber: Kompas, 10 Mei 2007
Herry anggoro jatmiko
MENGAPA WS RENDRA DISEBUT BUDAYAWAN - Menyebut WS Rendra dengan julukan “Si Burung Merak”, "Penyair yang berumah di atas angin" - Aktor menawan yang memukau di panggung, penulis puisi pamflet - sajak protes - rasanya belum cukup. Sebab dia juga pemikir seni, pengamat sosial yang gelisah, dan di atas semua itu, dia adalah seorang budayawan.
Berikut uraian yang membumikan terkait posisi itu - mengapa WS Rendra juga dijuluki sebagai Budayawan - selain gelar penyair, dramawan dan teaterawan. :
Pertama, Rendra tidak pernah puas dengan jawaban resmi. WS Rendra (1935 – 2009) selalu mencurigai narasi tunggal — terutama yang datang dari kekuasaan. Dalam banyak sajak pamfletnya, ia mengorek apa yang disembunyikan di balik bahasa resmi negara: pembangunan, stabilitas, kemajuan. Baginya, kata-kata itu bukan netral; ia sarat kepentingan. Rendra tidak menolak bahasa — ia membongkarnya. Di situlah kerja kebudayaan dimulai.
Kedua, Rendra berdiri di antara tradisi dan perubahan. Pemilik nama lengkap Willibrordus Surendra Broto Narendra ini berakar pada tradisi - baik Jawa maupun spiritualitas - tetapi tidak pernah menjadi penjaga museum. Mas Willy - panggilan akrabnya - menyerap, lalu mengolahnya menjadi bentuk baru yang relevan dengan situasi kontemporer. Teaternya modern, tetapi napasnya tetap berakar. Ia menunjukkan bahwa tradisi bukan untuk disembah, melainkan untuk dihidupkan kembali.
Ketiga, Rendra mengolah kegelisahan menjadi bahasa publik. Banyak orang marah pada ketidakadilan, tetapi berhenti pada keluhan. Pendiri Bengkel Teater 1985 ini melangkah lebih jauh: ia menjadikan kemarahan itu sebagai puisi yang bisa didengar, dirasakan, dan dipikirkan bersama. Puisi baginya bukan pelarian estetis, melainkan alat komunikasi sosial. Ia membuat bahasa menjadi jembatan antara pengalaman personal dan kesadaran kolektif.
Rendra tidak mencari posisi aman. Seniman kelahiran Surakarta, 7 November 1935 ini berkali-kali berhadapan dengan kekuasaan : dilarang tampil, diawasi, bahkan dibungkam. Acara pembacaan sajaknya di TIM dilempari amoniak. Dia pernah mendekam di RTM (Rumah Tahanan Militer) Guntur, 1978. Tetapi ia tidak menggeser nadanya agar lebih “diterima”. Di sinilah sosok seorang budayawan diuji: bukan pada kepiawaian berkarya, tetapi pada keberanian mempertahankan sikap ketika tekanan datang.
Ke empat, Rendra melihat keterkaitan yang tak kasat mata. Dalam karya-karyanya - setelah mendalami drama, teater, dan ilmu sosial di New York (1964-1967) - Rendra tidak berbicara tentang satu isu secara terpisah. Ia melihat hubungan antara kemiskinan, kekuasaan, bahasa, dan moralitas. Ia mengajak publik memahami bahwa krisis sosial bukan sekadar peristiwa, tetapi hasil dari sistem nilai yang timpang.
Ke lima, Rendra hadir di ruang publik, bukan menara gading. Dia tidak menulis untuk kalangan terbatas. Ia membaca puisinya di panggung, di hadapan publik luas, menjadikan sastra sebagai peristiwa sosial. Penyair dengan julukan Si Burung Merak ini memindahkan puisi dari halaman buku ke ruang hidup—dari teks menjadi pengalaman bersama.
Ke enam, Rendra memiliki keberanian moral. Ini inti dari semuanya. Mas Willy tidak hanya cerdas dalam merangkai kata; ia memilih untuk berpihak. Ia berbicara ketika banyak orang memilih diam. Dan dalam konteks itu, puisinya bukan sekadar karya—ia adalah sikap.
Ke tujuh, Rendra adalah contoh bahwa budayawan tidak selalu nyaman untuk dihadirkan. Aktor film “Yang Muda Yang Berinta” (1977) ini, mengusik, mempertanyakan, bahkan mempermalukan kesadaran kita yang terlalu cepat puas. Ia tidak menawarkan hiburan. Ia menawarkan cermin — dan seringkali, pantulan itu tidak enak dilihat.
Namun justru di situlah letak pentingnya. Dalam masyarakat yang mudah terlena oleh slogan dan euforia, sosok seperti Rendra bekerja sebagai pengingat yang keras kepala: bahwa di balik kata-kata indah, selalu ada realitas yang harus diuji.
Dan karena itu, WS Rendra - yang menikahi Sunarti Suwandi, RA Sitoresmi Prabuningrat dan Ken Zuraeda ini - bukan sekadar dikenang sebagai penyair besar, melainkan sebagai budayawan yang menjaga kita agar tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran - sebagaimana tertulis dalam sajak dan kredo seni nya:
Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi Cakrawala
dan Perjuangan adalah
Pelaksanaan kata kata.
***
Keterangan foto utama:
Dari kiri: Bre Redana (Kompas) WS Rendra, Dimas Supriyanto, Jose Rizal Manua (belakang) dan Ken Zuraida di jalanan Brooklyn menuju panggung "The First New York International Festival of the Arts" 1988. (Foto : Dahlan Rebo Pahing - Tempo)
Sumber tulisan dari facebook: Mas Dimas Supriyanto