Anna Mathovani: Suara yang Melangit, Jejak yang Sengaja Diredupkan
Ada masa ketika nama Anna Mathovani berkumandang di antara deretan penyanyi terbaik negeri ini—sejajar dengan Tetty Kadi, Erni Djohan, Vivi Sumanti, dan sederet nama besar seangkatannya. Lahir di Bandung pada 7 November 1955, Anna bukan sekadar penyanyi biasa. Ia adalah putri dari R. Mathovani, komposer sekaligus sahabat karib legenda Sam Saimun. Darah seni telah mengalir dalam dirinya sejak ia belum genap mengenal panggung.
Suaranya menjadi napas bagi lagu-lagu yang kini dikenang sebagai karya abadi, seperti Pertemuan, Angsa Putih, Gita Malam, hingga Di Keheningan Malam—balada ciptaan Wiyarsih yang populer pada 1967 dan merekam suasana batin bangsa di tengah gejolak Konfrontasi Indonesia–Malaysia. Kiprahnya tidak berhenti di dunia musik. Anna juga menjajal layar lebar dengan beradu akting bersama Bing Slamet dalam film Ambisi (1973), kemudian tampil dalam Pengorbanan (1974), sekaligus mengisi lagu tema untuk film Cinta Pertama yang dibintangi Christine Hakim dan Slamet Rahardjo.
Namun, seperti banyak bintang di masanya, sorot panggung itu perlahan meredup—bukan karena karier yang layu, melainkan karena pilihan hidup yang berbelok arah. Anna menikah dengan Bambang Suryo Sunendar, keturunan bangsawan Jawa Tengah sekaligus cucu Paku Buwono X. Perkawinan tersebut membawanya memasuki dunia yang jauh lebih tenang daripada hiruk pikuk industri hiburan: dunia keluarga bangsawan, bisnis, dan filantropi. Pada 2013, majalah The Jakarta Globe bahkan mencatat namanya sebagai salah satu dari 150 orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan yang berasal dari warisan mendiang suaminya.
Meski jarang lagi tampil di layar kaca, Anna tak pernah benar-benar menghilang dari dunia seni yang telah membesarkan namanya. Ia mengaku tumbuh dan dibesarkan dalam tradisi seni yang diwariskan sang ayah, dan hasrat itu tak pernah benar-benar padam. Kini, setelah bisnis dan berbagai urusan keluarga dipercayakan kepada ketiga anaknya, Anna memilih menghabiskan waktunya untuk terus menyumbangkan tenaga dan bakat di ranah seni serta budaya—caranya sendiri merawat warisan yang telah mengantarkan namanya dikenal luas.
Kisah hidupnya belakangan juga diwarnai duka. Pada September 2024, ia harus merelakan kepergian sang putri, Petra Amanda. Dalam acara mengenang 40 hari wafatnya sang putri yang digelar sederhana bersama keluarga dan sahabat dekat, Anna tampak masih mencari kata untuk menggambarkan kehilangan itu—sebuah pengingat bahwa di balik kemewahan dan ketenaran masa lalu, ia tetaplah seorang ibu yang merasakan pahit getir kehidupan seperti perempuan lainnya.
Anna Mathovani mungkin tak lagi menjadi buah bibir di industri musik seperti dahulu. Namun, jejaknya tak pernah benar-benar pudar. Ia hanya memilih jalan yang lebih tenang—menjaga suara emasnya tetap hidup sebagai kenangan, sembari menjalani babak baru kehidupannya dengan caranya sendiri.
#AnnaMathovani #LegendaMusikIndonesia #PenyanyiTempoDulu #SejarahMusikNusantara














