22 March 2026

Presiden Soeharto dari mulai menjabat hingga masa setelahnya Sungkeman pada Mertua ketika Lebaran. Tampak gambar di atas kedua mertuanya masih hidup, sementara gambar dibawah mertuanya tinggal satu (Ibu Mertua). Catatan : Ayah Presiden Soeharto, Kertosudiro, meninggal dunia saat Soeharto masih muda (tidak ada data spesifik tanggal/tahun populer, merupakan petani). Sementara ibu Soeharto, Sukirah, wafat pada tahun 1930-an. Dengan demikian ketika menjadi Presiden Soeharto praktis sudah tidak punya orang tua.

 Presiden Soeharto dari mulai menjabat hingga masa setelahnya Sungkeman pada Mertua ketika Lebaran. Tampak gambar di atas kedua mertuanya masih hidup, sementara gambar dibawah mertuanya tinggal satu (Ibu Mertua). 



Catatan : 

Ayah Presiden Soeharto, Kertosudiro, meninggal dunia saat Soeharto masih muda (tidak ada data spesifik tanggal/tahun populer, merupakan petani). Sementara ibu Soeharto, Sukirah, wafat pada tahun 1930-an. Dengan demikian ketika menjadi Presiden Soeharto praktis sudah tidak punya orang tua.

Raden Mas Toemenggoeng Tjokrosiwojo dari Tjilatjap bersama Raden Ajoe, ca 1930 *foto saya sertakan di kolom komentar

 Raden Mas Toemenggoeng Tjokrosiwojo dari Tjilatjap bersama Raden Ajoe, ca 1930




Canthang Balung - sampai tahun 1920an masih berjabat sebagai germo pelacur kraton sekaligus penghibur yang meniru anjing. Filem oleh Tassilo Adam (1878-1955) pada tahun 1920an. https://youtu.be/5zT-pGZCm8E?si=QCY6N9w1VfH_FK3M&t=6 Referensi: Stutterheim, "A Thousand Years Old Profession in the Princely Courts on Java," Studies in Indonesian Archaeology (The Hague: Nijhoff, 1956)

 Canthang Balung - sampai tahun 1920an masih berjabat sebagai germo pelacur kraton sekaligus penghibur yang meniru anjing. Filem oleh Tassilo Adam (1878-1955) pada tahun 1920an. https://youtu.be/5zT-pGZCm8E?si=QCY6N9w1VfH_FK3M&t=6  Referensi: Stutterheim, "A Thousand Years Old Profession in the Princely Courts on Java," Studies in Indonesian Archaeology (The Hague: Nijhoff, 1956)



21 March 2026

DARI SINILAH DIMULAINYA PERSAINGAN MICKEY MARKELBACH DAN ACHMAD ALBAR Pada tanggal 23 SEPTEMBER 1973 di Kota BANDUNG diadakan acara pagelaran musik rock yang bertajuk ANTI NARKOTIK yang di selenggarakan oleh Majalah musik AKTUIL bekerjasama dengan POLDA JABAR, dan di hadiri oleh 3 Group dari tiga kota, group BENTOEL dari kota MALANG, HARRY ROESLI & HIS GANG dari kota Bandung, sedangkan group dari jakarta diwakili oleh GOD BLESS Sebelum acara dimulai ketiga group ini berdialog untuk menentukan siapa yang akan tampil duluan dan siapa yang akan tampil pada puncak acara, terjadilah perdebatan yang memanas, dikarenakan group GOD BLESS ingin tampil pada puncak acara Sedangkan MICKEY berisi kukuh supaya group GOD BLESS sebagai group pendatang baru supaya tampil duluan, dan dalam situasi memanas pada akhirnya HARRY ROESLI yang tampil duluan. Dan yang tampil ke 2 akhirnya Band BENTOEL yang maju, dan group BENTOEL yang dikomandani oleh Mickey ini tampil cukup bagus dengan membawakan beberapa lagu dari group THE ROLLING STONES diantaranya lagu She Is A Rainbow dengan baik dan dapat sambutan yang cukup meriah. Gaya Mickey yang atraktif dengan membuat kejutan dimana la sambil bernyanyi Mickey mengangkat angkat tiang mickcrophone dengan lincahnya hingga la mendapat sambutan penonton dan hal ini menjadikan Achmad Albar groggy pula. Sejak saat Albar pun sering mengikuti gaya Mickey bernyanyi sambil mengangkat angkat tiang Mike. Dan pada puncak acara GROUP GOD BLESS tampil dengan membawakan 10 lagu dengan bagus dan tentu mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari para penonton karena para personil GOD BLESS bermain cukup kompak dan mereka bermain begitu mempesona, sehingga para penonton mengelu elukannya setiap lagu selesai. Pada waktu itu bagi Group GOD BLESS merupakan Show pertama kalinya di Kota BANDUNG dan sudah tentu ini merupakan hal yang istimewa karena pemain Keyboardnya adalah DEDDY DORES (pengganti Yongkie) keyboardist Freedom of Rhapsodia yang baru masuk GOD BLESS pada bulan Juni 1973 itu yang berasal dari kota Bandung, sehingga Deddy sudah tahu trik trik atau cara menghibur warga Kota Bandung, yaitu dengan cara langsung jreng tidak perlu berbasa basi, kilah sang jagoan Keyboard ini kepada group barunya itu. Sedangkan diluar gedung GOR Saparua Yongkie hadir pula dan bercanda serta berbincang bincang dengan teman temannya. Sebenarnya pada puncak acara, group GOD BLESS menginginkan ketiga group yang tampil supaya tampil bersama sama, akan tetapi baik BENTOEL maupun HARRY ROESLI udah ngacir duluan setelah mereka tampil. Reported by Engkus Irawan Moderator & Kontributor INDOROCK LEGEND.

 DARI SINILAH DIMULAINYA PERSAINGAN MICKEY MARKELBACH DAN ACHMAD ALBAR



Pada tanggal  23 SEPTEMBER 1973 di Kota BANDUNG diadakan acara pagelaran musik rock yang bertajuk ANTI NARKOTIK yang di selenggarakan oleh Majalah musik AKTUIL bekerjasama dengan POLDA JABAR, dan di hadiri oleh 3 Group dari tiga kota, group BENTOEL dari kota MALANG, HARRY ROESLI & HIS GANG dari kota Bandung, sedangkan group dari jakarta diwakili oleh GOD BLESS


Sebelum acara dimulai ketiga group ini berdialog untuk menentukan siapa yang akan tampil duluan dan siapa yang akan tampil pada puncak acara, terjadilah perdebatan yang memanas, dikarenakan group GOD BLESS ingin tampil pada puncak acara


Sedangkan MICKEY berisi kukuh supaya group GOD BLESS sebagai group pendatang baru supaya tampil duluan, dan dalam situasi memanas pada akhirnya HARRY ROESLI yang tampil duluan.


Dan yang tampil ke 2 akhirnya Band BENTOEL yang maju, dan group BENTOEL yang dikomandani oleh Mickey ini tampil cukup bagus dengan membawakan beberapa lagu dari group THE ROLLING STONES diantaranya lagu She Is A Rainbow dengan baik dan dapat sambutan yang cukup meriah. Gaya Mickey yang atraktif dengan membuat kejutan dimana la sambil bernyanyi Mickey mengangkat angkat tiang mickcrophone dengan lincahnya hingga la mendapat sambutan penonton dan hal ini menjadikan Achmad Albar groggy pula. Sejak saat Albar pun sering mengikuti gaya Mickey bernyanyi sambil mengangkat angkat tiang Mike.


Dan pada puncak acara GROUP GOD BLESS tampil dengan membawakan 10 lagu dengan bagus dan tentu mendapat sambutan yang sangat luar biasa dari para penonton karena para personil GOD BLESS bermain cukup kompak dan mereka bermain begitu mempesona, sehingga para penonton mengelu elukannya setiap lagu selesai.


Pada waktu itu bagi Group GOD BLESS merupakan Show pertama kalinya di Kota BANDUNG dan sudah tentu ini merupakan hal yang istimewa karena pemain Keyboardnya  adalah DEDDY DORES (pengganti Yongkie)  keyboardist Freedom of Rhapsodia yang baru masuk GOD BLESS pada bulan Juni 1973 itu yang berasal dari kota Bandung, sehingga Deddy sudah tahu trik trik atau cara menghibur warga Kota Bandung, yaitu dengan cara langsung jreng tidak perlu berbasa basi, kilah sang jagoan Keyboard ini kepada group barunya itu. Sedangkan diluar gedung  GOR Saparua Yongkie hadir pula dan bercanda serta berbincang bincang dengan teman temannya.


Sebenarnya pada puncak acara, group GOD BLESS menginginkan ketiga group yang tampil supaya tampil bersama sama, akan tetapi baik BENTOEL maupun HARRY ROESLI udah ngacir duluan setelah mereka tampil.


Reported by  Engkus Irawan 


Moderator & Kontributor INDOROCK LEGEND.

19 March 2026

Pencetus Konsep Transportasi Jabodetabek, Inilah Sosok Dr. Ir. Giri Suseno Hadihardjono, M.Eng.: Teknokrat Ulung di Balik Perencanaan Transportasi Nasional. Nama Giri Suseno Hadihardjono adalah sosok kunci yang meletakkan fondasi sistem transportasi modern di wilayah ibu kota dan sekitarnya. Beliau mencatatkan sejarah pengabdian yang sangat strategis: ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam dua masa transisi penting, yakni Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan (1998–1999). Lahir di Solo pada 5 Januari 1941, sosok intelektual ini dikenal sebagai ahli teknik yang mampu merumuskan solusi makro bagi kerumitan mobilitas masyarakat perkotaan. Namun, di balik jabatannya di pemerintahan, tersimpan dedikasi akademik yang sangat dalam. Perjalanan hidup Giri Suseno adalah bukti bahwa kebijakan publik yang baik harus berakar pada kajian ilmiah yang matang. Lulusan Teknik Mesin ITB (1964) ini tidak berhenti belajar; ia meraih gelar Master of Science in Engineering dari University of Michigan, dan di masa purnatugasnya, ia tetap tekun mengejar gelar Doktor di ITB (2005) dengan disertasi yang sangat relevan, yaitu mengenai proses pengambilan keputusan dalam perencanaan transportasi nasional. Arsitek Transportasi Umum Jabodetabek Karier Giri Suseno di Departemen Perhubungan dimulai sejak dekade 1970-an sebagai Kepala Dinas Teknik DLLAJR. Prestasi yang paling dirasakan manfaatnya hingga saat ini adalah perannya sebagai pencetus konsep transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Beliau adalah otak di balik penyusunan masterplan angkatan umum wilayah tersebut pada dekade 1980-an, sebuah cetak biru yang menjadi dasar pengembangan konektivitas antarwilayah penyangga ibu kota. Selain ahli di darat, beliau juga memiliki peran besar dalam sektor industri. Sebagai Wakil Ketua Badan Pengembangan Industri Strategis (BPIS), ia bekerja sama dengan tokoh-tokoh teknokrat lain untuk membangun kemandirian industri nasional. Pengalamannya yang luas membawanya dipercaya mengemban tugas ganda, tidak hanya sebagai Menteri Perhubungan, tetapi juga pernah menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi. Kontribusi di Sektor Profesional dan Purnatugas Setelah menyelesaikan tugas di kabinet, Giri Suseno tetap aktif berkontribusi di sektor swasta dan profesional. Beliau pernah menjabat sebagai Komisaris Utama di PT Jababeka Tbk dan PT Bahana Pakarya Industri Strategis. Meski telah berpulang pada 27 Juni 2012, warisan pemikirannya mengenai integrasi transportasi tetap menjadi rujukan utama bagi pengembangan transportasi publik di Indonesia. Beliau mengajarkan bahwa kemacetan dan kerumitan kota hanya bisa diurai dengan perencanaan yang presisi dan visi jangka panjang yang jelas. Sumber: [Wikipedia Bahasa Indonesia] - "Giri Suseno Hadihardjono" #GiriSuseno #MenteriPerhubungan #TokohTransportasi #Jabodetabek #ITBAlumni #SoloPride #InfoTransportasi #SejarahIndonesia #ReformasiPembangunan #PakarTeknik #InspirasiBangsa #MasterplanTransportasi

 Pencetus Konsep Transportasi Jabodetabek, Inilah Sosok Dr. Ir. Giri Suseno Hadihardjono, M.Eng.: Teknokrat Ulung di Balik Perencanaan Transportasi Nasional.



Nama Giri Suseno Hadihardjono adalah sosok kunci yang meletakkan fondasi sistem transportasi modern di wilayah ibu kota dan sekitarnya. Beliau mencatatkan sejarah pengabdian yang sangat strategis: ia menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam dua masa transisi penting, yakni Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan (1998–1999). Lahir di Solo pada 5 Januari 1941, sosok intelektual ini dikenal sebagai ahli teknik yang mampu merumuskan solusi makro bagi kerumitan mobilitas masyarakat perkotaan.


Namun, di balik jabatannya di pemerintahan, tersimpan dedikasi akademik yang sangat dalam. Perjalanan hidup Giri Suseno adalah bukti bahwa kebijakan publik yang baik harus berakar pada kajian ilmiah yang matang. Lulusan Teknik Mesin ITB (1964) ini tidak berhenti belajar; ia meraih gelar Master of Science in Engineering dari University of Michigan, dan di masa purnatugasnya, ia tetap tekun mengejar gelar Doktor di ITB (2005) dengan disertasi yang sangat relevan, yaitu mengenai proses pengambilan keputusan dalam perencanaan transportasi nasional.


Arsitek Transportasi Umum Jabodetabek

Karier Giri Suseno di Departemen Perhubungan dimulai sejak dekade 1970-an sebagai Kepala Dinas Teknik DLLAJR. Prestasi yang paling dirasakan manfaatnya hingga saat ini adalah perannya sebagai pencetus konsep transportasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Beliau adalah otak di balik penyusunan masterplan angkatan umum wilayah tersebut pada dekade 1980-an, sebuah cetak biru yang menjadi dasar pengembangan konektivitas antarwilayah penyangga ibu kota.


Selain ahli di darat, beliau juga memiliki peran besar dalam sektor industri. Sebagai Wakil Ketua Badan Pengembangan Industri Strategis (BPIS), ia bekerja sama dengan tokoh-tokoh teknokrat lain untuk membangun kemandirian industri nasional. Pengalamannya yang luas membawanya dipercaya mengemban tugas ganda, tidak hanya sebagai Menteri Perhubungan, tetapi juga pernah menjabat sebagai Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi.


Kontribusi di Sektor Profesional dan Purnatugas

Setelah menyelesaikan tugas di kabinet, Giri Suseno tetap aktif berkontribusi di sektor swasta dan profesional. Beliau pernah menjabat sebagai Komisaris Utama di PT Jababeka Tbk dan PT Bahana Pakarya Industri Strategis. Meski telah berpulang pada 27 Juni 2012, warisan pemikirannya mengenai integrasi transportasi tetap menjadi rujukan utama bagi pengembangan transportasi publik di Indonesia. Beliau mengajarkan bahwa kemacetan dan kerumitan kota hanya bisa diurai dengan perencanaan yang presisi dan visi jangka panjang yang jelas.


Sumber: [Wikipedia Bahasa Indonesia] - "Giri Suseno Hadihardjono"


#GiriSuseno #MenteriPerhubungan #TokohTransportasi #Jabodetabek #ITBAlumni #SoloPride #InfoTransportasi #SejarahIndonesia #ReformasiPembangunan #PakarTeknik #InspirasiBangsa #MasterplanTransportasi

Mitsuyuki Tanaka (yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia Sutoro) adalah salah satu sosok penting dari kelompok Zanryu Nihon-jin, yaitu tentara Jepang yang memilih tetap tinggal di Indonesia setelah Perang Dunia II berakhir untuk membantu perjuangan kemerdekaan. Berikut adalah profil dan kisah hidup Mitsuyuki Tanaka: 1. Membelot demi Kemerdekaan Indonesia Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, Tanaka yang saat itu bertugas di Jawa Tengah menolak perintah untuk menyerahkan diri kepada Sekutu atau dipulangkan ke Jepang. Ia merasa memiliki ikatan emosional dengan rakyat Indonesia dan tidak ingin melihat Belanda kembali menjajah tanah ini. 2. Bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Tanaka bergabung dengan pasukan pemuda Indonesia di Magelang dan Ambarawa. Karena keahlian militernya, ia menjadi instruktur bagi para pejuang Indonesia yang saat itu masih minim pengalaman tempur. Ia mengajarkan taktik gerilya, cara menggunakan senjata rampasan Jepang, dan disiplin militer. 3. Peran dalam Palagan Ambarawa Salah satu kontribusi terbesarnya adalah dalam peristiwa Palagan Ambarawa (Desember 1945). Tanaka berada di garis depan membantu pasukan Kolonel Sudirman melawan tentara Sekutu dan NICA. Keahliannya dalam mengoperasikan artileri dan senjata berat sangat membantu pihak Indonesia memenangkan pertempuran tersebut. 4. Mengganti Nama Menjadi Sutoro Untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang menganggapnya sebagai pengkhianat dan penjahat perang, ia mengubah identitasnya menjadi nama lokal, Sutoro. Ia membaur sepenuhnya dengan masyarakat, mempelajari bahasa Jawa, dan masuk Islam. 5. Kehidupan Setelah Perang Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, Sutoro memilih untuk tetap menjadi warga negara Indonesia (WNI). Ia menetap di Magelang, Jawa Tengah, dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana sebagai petani dan pekerja biasa. Ia menikah dengan wanita setempat dan membesarkan keluarganya di sana. 6. Penghargaan dan Akhir Hayat Meski awalnya dianggap pembelot oleh pemerintah Jepang, di kemudian hari jasa-jasanya diakui oleh pemerintah Indonesia. Atas perjuangannya, ia dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah Republik Indonesia. Mitsuyuki Tanaka atau Sutoro meninggal dunia pada tahun 1998 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharmoloyo, Magelang, sebuah penghormatan tertinggi bagi seorang pejuang kemerdekaan. Kisah Tanaka adalah simbol solidaritas lintas bangsa dalam melawan kolonialisme, di mana seorang mantan prajurit kekaisaran memilih mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa lain yang telah ia anggap sebagai rumahnya sendiri. Sumber : Kadek Merta Yasa #sorotan

 

Mitsuyuki Tanaka (yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia Sutoro) adalah salah satu sosok penting dari kelompok Zanryu Nihon-jin, yaitu tentara Jepang yang memilih tetap tinggal di Indonesia setelah Perang Dunia II berakhir untuk membantu perjuangan kemerdekaan.



Berikut adalah profil dan kisah hidup Mitsuyuki Tanaka:
1. Membelot demi Kemerdekaan Indonesia
Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, Tanaka yang saat itu bertugas di Jawa Tengah menolak perintah untuk menyerahkan diri kepada Sekutu atau dipulangkan ke Jepang. Ia merasa memiliki ikatan emosional dengan rakyat Indonesia dan tidak ingin melihat Belanda kembali menjajah tanah ini.
2. Bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR)
Tanaka bergabung dengan pasukan pemuda Indonesia di Magelang dan Ambarawa. Karena keahlian militernya, ia menjadi instruktur bagi para pejuang Indonesia yang saat itu masih minim pengalaman tempur. Ia mengajarkan taktik gerilya, cara menggunakan senjata rampasan Jepang, dan disiplin militer.
3. Peran dalam Palagan Ambarawa
Salah satu kontribusi terbesarnya adalah dalam peristiwa Palagan Ambarawa (Desember 1945). Tanaka berada di garis depan membantu pasukan Kolonel Sudirman melawan tentara Sekutu dan NICA. Keahliannya dalam mengoperasikan artileri dan senjata berat sangat membantu pihak Indonesia memenangkan pertempuran tersebut.
4. Mengganti Nama Menjadi Sutoro
Untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang menganggapnya sebagai pengkhianat dan penjahat perang, ia mengubah identitasnya menjadi nama lokal, Sutoro. Ia membaur sepenuhnya dengan masyarakat, mempelajari bahasa Jawa, dan masuk Islam.
5. Kehidupan Setelah Perang
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, Sutoro memilih untuk tetap menjadi warga negara Indonesia (WNI). Ia menetap di Magelang, Jawa Tengah, dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana sebagai petani dan pekerja biasa. Ia menikah dengan wanita setempat dan membesarkan keluarganya di sana.
6. Penghargaan dan Akhir Hayat
Meski awalnya dianggap pembelot oleh pemerintah Jepang, di kemudian hari jasa-jasanya diakui oleh pemerintah Indonesia. Atas perjuangannya, ia dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Mitsuyuki Tanaka atau Sutoro meninggal dunia pada tahun 1998 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharmoloyo, Magelang, sebuah penghormatan tertinggi bagi seorang pejuang kemerdekaan.
Kisah Tanaka adalah simbol solidaritas lintas bangsa dalam melawan kolonialisme, di mana seorang mantan prajurit kekaisaran memilih mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa lain yang telah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.

Sumber : Kadek Merta Yasa
#sorotan

17 March 2026

Para pejabat ketentaraan 1950. Kempen 1950

 Para pejabat ketentaraan 1950.

Kempen 1950



Rapat pimpinan Angkatan Darat seluruh indonesia bulan mei 1965 di Jakarta. Rapat pimpinan Angkatan Darat seluruh indonesia bulan mei 1965 diselenggarakan di markas Ganefo di kompleks GBK, Jakarta yang dihadiri Presiden/Panglima Tertinggi ABRI Sukarno, Men/Pangad LetJend.A.Yani, Menko Hankam/KSAB Jend.A.H.Nasution, Pangdam Siliwangi MayJend.Ibrahim Adjie, ajudan Presiden Kol. (KKo) Bambang Widjanarko, Pangkostrad MayJend. Suharto, Deputy 1 Men/Pangad MayJend. Moersid, Koanda wil. Kalimantan MayJend.M.Panggabean, Pangdam Cendrawasih MayJend. Rukman, dll.

 Rapat pimpinan Angkatan Darat seluruh indonesia bulan mei 1965 di Jakarta.



Rapat pimpinan Angkatan Darat seluruh indonesia bulan mei 1965 diselenggarakan di markas Ganefo di kompleks GBK, Jakarta yang dihadiri Presiden/Panglima Tertinggi ABRI Sukarno, Men/Pangad LetJend.A.Yani, Menko Hankam/KSAB Jend.A.H.Nasution, Pangdam Siliwangi MayJend.Ibrahim Adjie, ajudan Presiden Kol. (KKo) Bambang Widjanarko, Pangkostrad MayJend. Suharto, Deputy 1 Men/Pangad MayJend. Moersid, Koanda wil. Kalimantan MayJend.M.Panggabean, Pangdam Cendrawasih MayJend. Rukman, dll.

16 March 2026

MENGINGAT : 1. Adanya, Sabda, Dawuh, Petunjuk dari MAHA SUCI yang diberi kan kepada ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO Pada : -Tanggal : 14 November 1955 - Jam : 6.05 - Hari : Senin Pahing - Di : Surabya -Jawa Timur - INDONESIA. Yang bunyinya : - Angger PUTRANINGSUN, Jenengsira INGSUN paringi PURBAWASESAN INGSUN - PANJENENGANINGSUN Iki MAHA SUCI - Jeneng sira INGSUN AGEMI ; INGSUN PIJI; dadia PUTRANINGSUNG Kang SEJATI - Kanggo Anandukake KARDI ya KARSANINGSUN, ANGGELAR " JAGAD ANYAR" ana ing ALAM NDONYAKENE. Maksudnya adalah : MAHA SUCI memberikan amanat kepada ROMO SASTROHADIJOYO. Pada HAKEKATNYA yang menerima AMANAT tersebut adalah PUTRO. Dalam hal ini ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO sudah mewujudkan sebagai perwujudan PUTRO. Dengan adanya Sabda dari MAHA SUCI yang bunyinya ; " Kamu SAYA gunakan ; SAYA pakai ; Kamu satu satunya yang SAYA tunjuk dan SAYA pilih. Jadilah PUTRO KU yang SEJATI, untuk menggelar kan JAGAD ANYAR, di Dunia ini", Yang dimaksud PUTRO adalah : - PUT mempunyai arti sebagai LINIMPUTAN atau DILIPUTI atau DIPENUHI. - RO mempunyai arti sebagai ROSO. Jadi PUTRO berarti sebagai : LINIMPUTAN ROSO atau DILIPUTI ROSO atau DIPENUHI ROSO. Dengan demikan perwujudan dari tubuh MANUSIA tersebut sudah merupakan ROSO. ROSO ini merupakan perwujudan suatu pegelaran yang disebut ROSO SEJATI SEJATINE ROSO ; yang tergelar di seluruh tubuh. ROSO ini merupakan UNSUR URIP yang ke TIGA. Sabda ROMO SEMONO, perwujudan dari ROSO SEJATI SEJATINE ROSO tersebut sudah TUNGGAL dengan ROSO SEJATI SEJATINE ROSO yang tergelar di ALAM SEMSTA ini. Dan perwujudannya sebagi TIRTO SUCI KAMANDANU. oleh sebab itu ROMO SEMONO mempunyai ASMO sebagai HERUCOKRO. Dengan demikian ROMO HERUCOKRO SEMONO, juga merupakan perwujudan dari URIP SEJATI SEJATINE URIP, hal ini berarti bahwa ROMO HERUCOKRO SEMONO sudah TUNGGAL dengan perwujudan URIP SEJATI SEJATINE URIP yang ada di ALAM SEMESTA yang berarti juga bahwa ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO sudah TUNGGAL dengan ALAM SEMESTA, yang berarti juga sudah TUNGGAL dengan MAHA SUCI. Jadi arti dari " diagemi" atau digunakan adalah merupakan peristiwa : Manunggalnya MAHA SUCI dengan ROMO SEMONO.. Jadi pengertian dari PUTRO, adalah bukan berarti sebagai ANAK. Demikian juga yang melaksanakan " menggelar JAGAD ANYAR " adalah bukan ROMO SEMONO sendiri, melainkan dilaksanakan oleh MAHA SUCI sendiri, Adapun pengertian dari " JAGAD ANYAR " adalah : Sistim kerja dari Angen-Angen; Budi Pekerti; dan Panca Indera TIDAK LAGI DIAKTIFKAN OLEH NAFSU melainkan oleh URIP SEJATI. PENTINGNYA PELESTARIAN ; - KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL. - Dawuh ; Pangandika ; Wulang Wuruk atau Ajaran, yang telah diberikan oleh ROMO HERUCOKRO SEMONO. DIdalam hal ini, sebetulnya ROMO HERUCOKRO SEMONO, tidak pernah mengadakan secara khusus, bentuk suatu ajaran yang diberikan kepada para Putro. Yang saya maksud dengan ajaran, seperti apa yang telah saya sebutkan di atas, adalah merupakan suatu hasil wawancara atau Pangandikan atau pembicaraan atau nasehat atau penjabaran dari KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL dan PANGOLAH PANGERENGGO, yang diberikan secara langsung oleh ROMO HERUCOKRO SEMONO kepada kadhang dan saya sendiri. Sedangkan paringan atau yang diberikan dari ROMO HERUCOKRO SEMONO, yang berupa ; KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL, adalah bukan bentuk suatu Ajaran, bukan pula suatu amalah atau Doa atau rapal. Melainkan suatu "SARANA" untuk melaksanakan " LAKU MANUNGGAL Kinantenan sarwo MIJIL ". Yang dimaksud dengan PANGOLAH PANGRENGGO adalah : Suatu sistim atau cara, untuk memudahkan tercapainya di dalam usaha " LAKU MANUNGGAL Kinantenan sarwo MIJIL. " Dari : Parsaktian

 MENGINGAT :

1. Adanya, Sabda, Dawuh, Petunjuk dari MAHA SUCI yang diberi kan kepada ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO Pada : 

-Tanggal  : 14 November 1955

- Jam        : 6.05

- Hari         : Senin Pahing

- Di             : Surabya -Jawa Timur - INDONESIA.



Yang bunyinya : 

- Angger PUTRANINGSUN, Jenengsira INGSUN paringi PURBAWASESAN INGSUN

- PANJENENGANINGSUN Iki MAHA SUCI

- Jeneng sira INGSUN AGEMI ; INGSUN PIJI; dadia PUTRANINGSUNG Kang SEJATI 

- Kanggo Anandukake KARDI ya KARSANINGSUN, ANGGELAR " JAGAD ANYAR" ana ing ALAM NDONYAKENE.

Maksudnya adalah : 

MAHA SUCI memberikan amanat kepada ROMO SASTROHADIJOYO.

Pada HAKEKATNYA yang menerima AMANAT tersebut adalah PUTRO.

Dalam hal ini ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO sudah mewujudkan sebagai perwujudan PUTRO.

Dengan adanya Sabda dari MAHA SUCI yang bunyinya ; 

" Kamu SAYA gunakan ; SAYA pakai ; Kamu satu satunya yang SAYA tunjuk dan SAYA pilih. Jadilah PUTRO KU yang SEJATI, untuk menggelar kan JAGAD ANYAR, di Dunia ini",


Yang dimaksud PUTRO adalah :

-  PUT mempunyai arti sebagai LINIMPUTAN  atau DILIPUTI atau DIPENUHI.

-  RO   mempunyai arti sebagai ROSO.

Jadi PUTRO berarti sebagai  : LINIMPUTAN ROSO atau DILIPUTI ROSO atau DIPENUHI ROSO.

Dengan demikan perwujudan dari tubuh MANUSIA tersebut sudah merupakan ROSO.

ROSO ini merupakan perwujudan suatu pegelaran yang disebut ROSO SEJATI SEJATINE ROSO ; yang tergelar di seluruh tubuh.

ROSO ini merupakan UNSUR URIP yang ke TIGA.

Sabda ROMO SEMONO, perwujudan dari ROSO SEJATI SEJATINE ROSO tersebut sudah TUNGGAL dengan ROSO SEJATI SEJATINE ROSO yang tergelar di ALAM SEMSTA ini. Dan perwujudannya sebagi TIRTO SUCI KAMANDANU.

oleh sebab itu ROMO SEMONO mempunyai ASMO sebagai HERUCOKRO.

Dengan demikian ROMO HERUCOKRO SEMONO, juga merupakan perwujudan dari URIP SEJATI SEJATINE URIP, hal ini berarti bahwa ROMO HERUCOKRO SEMONO sudah TUNGGAL dengan perwujudan URIP SEJATI SEJATINE URIP yang ada di ALAM SEMESTA yang berarti juga bahwa ROMO SEMONO SASTROHADIJOYO sudah TUNGGAL dengan ALAM SEMESTA, yang berarti juga sudah TUNGGAL dengan MAHA SUCI.

Jadi arti dari " diagemi" atau digunakan adalah merupakan peristiwa : Manunggalnya MAHA SUCI dengan ROMO SEMONO..

Jadi pengertian dari PUTRO, adalah bukan berarti sebagai ANAK.

Demikian juga yang melaksanakan " menggelar JAGAD ANYAR " adalah bukan ROMO SEMONO sendiri, melainkan dilaksanakan oleh MAHA SUCI sendiri,

Adapun pengertian dari " JAGAD ANYAR " adalah : 

 Sistim kerja dari Angen-Angen; Budi Pekerti; dan Panca Indera TIDAK LAGI DIAKTIFKAN OLEH NAFSU melainkan  oleh URIP SEJATI.


PENTINGNYA PELESTARIAN ; 

- KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL.

- Dawuh  ; Pangandika  ; Wulang Wuruk atau Ajaran, yang telah diberikan oleh ROMO HERUCOKRO SEMONO.

DIdalam hal ini, sebetulnya ROMO HERUCOKRO SEMONO, tidak pernah mengadakan secara khusus, bentuk suatu ajaran yang diberikan kepada para Putro.

Yang saya maksud dengan ajaran, seperti apa yang telah saya sebutkan di atas, adalah merupakan suatu hasil wawancara atau Pangandikan atau pembicaraan atau nasehat atau penjabaran dari KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL dan PANGOLAH PANGERENGGO, yang diberikan secara langsung oleh ROMO HERUCOKRO SEMONO kepada kadhang dan saya sendiri.


Sedangkan paringan atau yang diberikan dari ROMO HERUCOKRO SEMONO, yang berupa ; KUNCI ; PAWELING ; SINGKIR ; ASMO ; MIJIL, adalah bukan bentuk suatu Ajaran, bukan pula suatu amalah atau Doa atau rapal.

Melainkan suatu "SARANA" untuk melaksanakan  " LAKU MANUNGGAL Kinantenan sarwo MIJIL ".

Yang dimaksud dengan PANGOLAH PANGRENGGO adalah : 

Suatu sistim atau cara, untuk memudahkan tercapainya di dalam usaha 

" LAKU MANUNGGAL Kinantenan sarwo MIJIL. "

 Dari : Parsaktian

15 March 2026

Jejak masa lampau, (Pendiri Paguyuban Penghayat Kapribaden)Romo M. Semono Sastrohadidjojo (Romo Herucokro Semono) 1900 - 1981. Sebelum tahun 1900, seorang isteri “padhemi” (isteri resmi), dibuang dalam arti diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa. Itu karena desakan seorang “selir” yang sangat dicintainya. Hal demikian, tidak jarang terjadi pada jaman itu. Isteri “priyagung” itu bernama Dewi Nawangwulan. Kepergiannya, disertai seorang dayang (emban), bernama Rantamsari. Dewi Nawangwulan, dibuang (“dikhendangake”) dan diberikan kepada Ki Kasandikromo, yang sering juga disebut Ki Kasan Kesambi, seorang tokoh spiritual pada jamannya, yang berdiam di desa Kalinongko. Gunung Damar, Kecamatan Loano. Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Saat dibuang, Dewi Nawangwulan dalam keadaan mengandung. Lahir bayi yang diberi nama Semono. Ibunya, Dewi Nawangwulan wafat. Tidak lama kemudian disusul Rantamsari, dayangnya, juga meninggal dunia. Keduanya dimakamkan di Puncak Gunung Damar, Purworejo. Ki Kasandikromo, tidak pernah mau menggangap, apalagi memperlakukan Dewi Nawangwulan sebagai isterinya. Tetap dianggap dan diperlakukan sebagai “ratu”-nya. Demikian pula isterinya, Nyi Kasandhikromo. Semono dipelihara dan dibesarkan Ki Kasandikromo. Di sekolahkan di Sekolah Ongko Loro (SD yang 5 tahun tamat untuk pribumi). Semono yang lahir tahun 1900 harinya Jumat Pahing. Tidak ada catatan resmi tanggal dan bulannya. Hal biasa pada jaman itu. Semono, semasa sekolah, setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat kliwon, membolos bukan karena malas atau nakal tetapi karena malu. Pada saat matahari tepat di atas, saat semua orang tidak ada bayangannya. Semono bayanganya 12. Karena selalu jadi tontonan teman-temannya, jadi malu. Maka lebih baik membolos. Tamat SD itu, langsung diangkat menjadi guru bantu. Suatu hari, pemuda Semono yang saat itu berusia 14 tahun (sudah dianggap dan diperlakukan sebagai seorang dewasa pada jaman itu), disuruh Nyi Kasan mengambilkan minyak, didalam satu bilik rumah mereka. Ternyata di dalam bilik itu, tertidur lelap seorang gadis kemenakan Nyi Kasan. Dalam kelelapan tidurnya, kain yang dipakai tersingkap, jadi tubuhnya kelihatan terbuka. Pemuda Semono, melihat itu “Mengkorok” (Berdiri bulu di tubuhnya). Semono lalu merenung. Mempertanyakan, apa sebenarnya yang menggerakan bulu-bulu tubuhnya itu? Renungan demi renungan, tidak menemukan jawaban. Akhirnya Semono memutuskan, minta ijin Ki Kasan untuk pergi bertapa. Semono yang berusia 14 tahun itu, bertapa di tepi Laut Selatan, di Cilacap. Bekasnya (petilasan) masih ada sampai tulisan ini ditulis. Berupa dua rumpun bambu, di dalam kompleks Pertamina. Pertamina, sekalipun sudah berusaha dengan berbagai cara, tidak bisa membongkar kedua rumpun bambu itu. Semono bertapa selama 3 tahun (1914-1917). Hasilnya mendapat “cangkok Wijoyo Kusumo”, berbentuk seperti bunga kering, berwarna coklat kehitaman. Kalau dimasukan ke air, akan mengembang sebesar tempatnya. Semono kecewa, karena bukan itu yang dicari. Beliau mendapatkan “wangsit” (ilham), untuk melanjutkan laku sampai tahun kembar 5, dan di Timur nantinya akan dia temukan apa yang dia cari. Baju yang dikenakan semono selama 3 tahun bertapa, hancur. Dengan hanya bercawat dedaunan, Semono pulang. Jalan malam, siang sembunyi, malam jalan. Takut dan malu kalau bertemu orang. Sampai di rumah, bukannya dirayakan, tetapi malah sudah disediakan lubang (“luweng”) lalu pemuda Semono oleh Ki Kasan, ditanam (“dipendem”) selama 40 hari 40 malam, hanya diberi batang gelagah untuk bernafas, dan setiap usai menanak nasi, Nyi Kasan mengepulkan asap nasi itu ke dalam lubang gelagah. Selanjutnya, Semono sambil menjadi Marsose (sekarang Marinir), berkelana, tetap menjalani laku. Kalau siang dinas, malamnya berendam di laut, menjala. Tidak pernah dapat ikan, itu dilakukan sampai tahun 1955. Tanggal 13 malem 14 November 1955, kebetulan jatuh malem Senen Pahing, pukul 16.05, banyak orang di Perak, Surabaya, terkejut, menyaksikan rumah Letnan KKO (sekarang Letnan Satu Marinir), terbakar. Tetapi setelah didekati ternyata bukan api, melainkan cahaya. Bahkan ada kereta keemasan (kreto kencono) di langit, yang turun masuk ke Rumah Letnan Semono). Di jalan Perak Barat No.93, Surabaya. Peristiwa itulah yang dikenal sebagai mijilnya Romo Herucokro Semono. Pernyataan beliau saat Mijil, menyatakan bahwa “ Ingsun Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar ", Ingsun (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia, micro cosmos), dan hendak menggelarkan dunia baru (micro cosmos baru). Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak hidup, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi abdinya sang hidup. Mulai saat itu. Romo Herucokro Semono memberikan siapapun yang menghendaki (tidak ada paksaan, tidak menakut-nakuti dengan cara dan jalan apapun) yang ingin hidup bahagia (tentrem), agar bisa mencapai “ kasampurnan jati ” (moksha) pada saatnya. Romo Herucokro Semono, selanjutnya memberikan Laku Kasampurnan ini, sesudah dinas. Berlangsung sampai tahun 1960, beliau menjalani masa pensiun sebagai Kapten Marinir. Beliau lalu pulang ke Purworejo dan berdiam di Kalinongko dan Sewijan, Loano, Purworejo (2 rumah kediaman). Setiap hari, beliau menerima kedatangan rata-rata 500 orang lebih. Semua orang, pada waktu makan, diberi makan dan menginap dengan bebas mencari tempat untuk tidur di rumah beliau. Tentunya berbagai keperluan orang yang datang, mulai dari meminta pengobatan penyakit yang dokter sudah tidak sanggup mengobati, dengan seketika sembuh, memohon restu untuk sesuatu, dan lain-lain. Tetapi tidak sedikit yang datang untuk mencoba memohon untuk bisa mengikuti laku kasampurnan (disebut mohon diperkenankan menjadi putro). Berdatangan orang dari berbagai penjuru dunia, melalui berbagai sebab (jalaran) yang akhirnya menjadi putro. Selama 25 tahun lebih (13 malem 14 November 1955 s/d 3 Maret 1981), Romo Semono melayani pagi, siang, sore, malam, dini hari, siapapun yang datang. Semua yang datang diperlakukan 100% sama. Beliau tidak pernah memandang orang dari perbedaan apapun. Derajat, pangkat, kekayaan, kedudukan sosial, suku, bangsa, semua diperlakukan 100% sama. Kalau beliau sedang memberikan petuah (“wulang-wuruk”), setiap orang mendengar menurut bahasanya sendiri sendiri. Yang orang Jerman mendengar belia berbicara bahasa Jerman, yang orang Inggris mendengat beliau berbahasa Inggris, sedangkan yg lain mendengar beliau berbahasa Jawa. Romo Semono, setiap harinya, makan dua kali, tetapi tiap kali makan, hanya satu sendok. Tidurnya, hampir tidak pernah. Hampir tidak pernah mandi, tetapi selain tidak berbau badan beliau, juga tidak ada daki (kotoran) di kulit beliau. Tubuh tetap sehat, gagah, tinggi besar. Hal-hal luar biasa, atau mujijat yang beliau tunjukkan, kalau ditulis semua akan menjadi satu buku sendiri. Beberapa contoh saja, misalnya sekitar tahun 1960, beliau naik sepeda motor militer, diatas laut Jawa, menyeberang ke Madura. Kalau dengan mengemudikan mobil, tangan dan kaki beliau dilepas, dan mobil di komando dengan ucapan. Beberapa kali orang menyaksikan beliau menghidupkan orang, yang telah dinyatakan mati oleh dokter, dan siap dikubur. Beliau sering berada di beberapa tempat pada saat yang sama, dan di tiap tempat beliau makan minum seperti biasa. Setiap kali, sekalipun dihadapkan beliau menghadap ratusan orang, beliau bercerita dan setelah selesai bercerita, ternyata semua pertanyaan dan persoalan yang ada di benak yang hadir sudah terjawab semua. Romo Herucokro Semono wafat tanggal 3 Maret 1981, dan dimakamkan di Kalinongko, Loano, Purworejo. Romo Semono tidak dikaruniai anak. Tetapi meninggalkan ratusan ribu, mungkin jutaan putro, yang tersebar dimana-mana. Dan peninggalan beliau yang paling berharga adalah sarana sarana Gaib bagi mereka yang ingin hidup bahagia (tentrem) agar bisa menjalani dan mencapai “kasampurnan jati” pada saatnya masing-masing. Tinggalan beliau yang terakhir yang sampai sekarang, dipelihara (“dhipepetri”) dan dilestarikan oleh putro-putronya. Dilestarikan, dalam arti tetap dihayati dan diamalkan dan diberikan kepada siapa saja yang menghendaki, tanpa memandang perbedaan apapun yang ada pada manusianya. Jadi sifatnya universal.

 Jejak masa lampau, (Pendiri Paguyuban Penghayat Kapribaden)Romo M. Semono Sastrohadidjojo  (Romo Herucokro Semono) 1900 - 1981.



 Sebelum tahun 1900, seorang isteri “padhemi” (isteri resmi), dibuang dalam arti diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa.

Itu karena desakan seorang “selir” yang sangat dicintainya.

Hal demikian, tidak jarang terjadi pada jaman itu.

Isteri “priyagung” itu bernama Dewi Nawangwulan. Kepergiannya, disertai seorang dayang (emban), bernama Rantamsari.

Dewi Nawangwulan, dibuang (“dikhendangake”) dan diberikan kepada Ki Kasandikromo, yang sering juga disebut Ki Kasan Kesambi, seorang tokoh spiritual pada jamannya, yang berdiam di desa Kalinongko. Gunung Damar, Kecamatan Loano. Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Saat dibuang, Dewi Nawangwulan dalam keadaan mengandung.

Lahir bayi yang diberi nama Semono. Ibunya, Dewi Nawangwulan wafat. Tidak lama kemudian disusul Rantamsari, dayangnya, juga meninggal dunia.

Keduanya dimakamkan di Puncak Gunung Damar, Purworejo.

Ki Kasandikromo, tidak pernah mau menggangap, apalagi memperlakukan Dewi Nawangwulan sebagai isterinya. Tetap dianggap dan diperlakukan sebagai “ratu”-nya. Demikian pula isterinya, Nyi Kasandhikromo.

Semono dipelihara dan dibesarkan Ki Kasandikromo. Di sekolahkan di Sekolah Ongko Loro (SD yang 5 tahun tamat untuk pribumi). Semono yang lahir tahun 1900 harinya Jumat Pahing. Tidak ada catatan resmi tanggal dan bulannya. Hal biasa pada jaman itu.

Semono, semasa sekolah, setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat kliwon, membolos bukan karena malas atau nakal tetapi karena malu.

Pada saat matahari tepat di atas, saat semua orang tidak ada bayangannya. Semono bayanganya 12. Karena selalu jadi tontonan teman-temannya, jadi malu. Maka lebih baik membolos.

Tamat SD itu, langsung diangkat menjadi guru bantu.

Suatu hari, pemuda Semono yang saat itu berusia 14 tahun (sudah dianggap dan diperlakukan sebagai seorang dewasa pada jaman itu), disuruh Nyi Kasan mengambilkan minyak, didalam satu bilik rumah mereka. Ternyata di dalam bilik itu, tertidur lelap seorang gadis kemenakan Nyi Kasan. Dalam kelelapan tidurnya, kain yang dipakai tersingkap, jadi tubuhnya kelihatan terbuka.

Pemuda Semono, melihat itu “Mengkorok” (Berdiri bulu di tubuhnya).

Semono lalu merenung. Mempertanyakan, apa sebenarnya yang menggerakan bulu-bulu tubuhnya itu?

Renungan demi renungan, tidak menemukan jawaban.

Akhirnya Semono memutuskan, minta ijin Ki Kasan untuk pergi bertapa.

Semono yang berusia 14 tahun itu, bertapa di tepi Laut Selatan, di Cilacap. Bekasnya (petilasan) masih ada sampai tulisan ini ditulis.

Berupa dua rumpun bambu, di dalam kompleks Pertamina. Pertamina, sekalipun sudah berusaha dengan berbagai cara, tidak bisa membongkar kedua rumpun bambu itu.

Semono bertapa selama 3 tahun (1914-1917). Hasilnya mendapat “cangkok Wijoyo Kusumo”, berbentuk seperti bunga kering, berwarna coklat kehitaman. Kalau dimasukan ke air, akan mengembang sebesar tempatnya.

Semono kecewa, karena bukan itu yang dicari. Beliau mendapatkan “wangsit” (ilham), untuk melanjutkan laku sampai tahun kembar 5, dan di Timur nantinya akan dia temukan apa yang dia cari.

Baju yang dikenakan semono selama 3 tahun bertapa, hancur. Dengan hanya bercawat dedaunan, Semono pulang. Jalan malam, siang sembunyi, malam jalan. Takut dan malu kalau bertemu orang.

Sampai di rumah, bukannya dirayakan, tetapi malah sudah disediakan lubang (“luweng”) lalu pemuda Semono oleh Ki Kasan, ditanam (“dipendem”) selama 40 hari 40 malam, hanya diberi batang gelagah untuk bernafas, dan setiap usai menanak nasi, Nyi Kasan mengepulkan asap nasi itu ke dalam lubang gelagah.

Selanjutnya, Semono sambil menjadi Marsose (sekarang Marinir), berkelana, tetap menjalani laku. Kalau siang dinas, malamnya berendam di laut, menjala. Tidak pernah dapat ikan, itu dilakukan sampai tahun 1955.

Tanggal 13 malem 14 November 1955, kebetulan jatuh malem Senen Pahing, pukul 16.05, banyak orang di Perak, Surabaya, terkejut, menyaksikan rumah Letnan KKO (sekarang Letnan Satu Marinir), terbakar. Tetapi setelah didekati ternyata bukan api, melainkan cahaya. Bahkan ada kereta keemasan (kreto kencono) di langit, yang turun masuk ke Rumah Letnan Semono). Di jalan Perak Barat No.93, Surabaya.

Peristiwa itulah yang dikenal sebagai mijilnya Romo Herucokro Semono.

Pernyataan beliau saat Mijil, menyatakan bahwa “ Ingsun Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar ", Ingsun (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia, micro cosmos), dan hendak menggelarkan dunia baru (micro cosmos baru).

Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak hidup, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi abdinya sang hidup.

Mulai saat itu. Romo Herucokro Semono memberikan siapapun yang menghendaki (tidak ada paksaan, tidak menakut-nakuti dengan cara dan jalan apapun) yang ingin hidup bahagia (tentrem), agar bisa mencapai “ kasampurnan jati ” (moksha) pada saatnya.

Romo Herucokro Semono, selanjutnya memberikan Laku Kasampurnan ini, sesudah dinas. Berlangsung sampai tahun 1960, beliau menjalani masa pensiun sebagai Kapten Marinir.

Beliau lalu pulang ke Purworejo dan berdiam di Kalinongko dan Sewijan, Loano, Purworejo (2 rumah kediaman).

Setiap hari, beliau menerima kedatangan rata-rata 500 orang lebih.

Semua orang, pada waktu makan, diberi makan dan menginap dengan bebas mencari tempat untuk tidur di rumah beliau.

Tentunya berbagai keperluan orang yang datang, mulai dari meminta pengobatan penyakit yang dokter sudah tidak sanggup mengobati, dengan seketika sembuh, memohon restu untuk sesuatu, dan lain-lain. Tetapi tidak sedikit yang datang untuk mencoba memohon untuk bisa mengikuti laku kasampurnan (disebut mohon diperkenankan menjadi putro).

Berdatangan orang dari berbagai penjuru dunia, melalui berbagai sebab (jalaran) yang akhirnya menjadi putro.


Selama 25 tahun lebih (13 malem 14 November 1955 s/d 3 Maret 1981), Romo Semono melayani pagi, siang, sore, malam, dini hari, siapapun yang datang.

Semua yang datang diperlakukan 100% sama. Beliau tidak pernah memandang orang dari perbedaan apapun. Derajat, pangkat, kekayaan, kedudukan sosial, suku, bangsa, semua diperlakukan 100% sama.

Kalau beliau sedang memberikan petuah (“wulang-wuruk”), setiap orang mendengar menurut bahasanya sendiri sendiri. Yang orang Jerman mendengar belia berbicara bahasa Jerman, yang orang Inggris mendengat beliau berbahasa Inggris, sedangkan yg lain mendengar beliau berbahasa Jawa.


Romo Semono, setiap harinya, makan dua kali, tetapi tiap kali makan, hanya satu sendok. Tidurnya, hampir tidak pernah. Hampir tidak pernah mandi, tetapi selain tidak berbau badan beliau, juga tidak ada daki (kotoran) di kulit beliau. Tubuh tetap sehat, gagah, tinggi besar.

Hal-hal luar biasa, atau mujijat yang beliau tunjukkan, kalau ditulis semua akan menjadi satu buku sendiri.

Beberapa contoh saja, misalnya sekitar tahun 1960, beliau naik sepeda motor militer, diatas laut Jawa, menyeberang ke Madura. Kalau dengan mengemudikan mobil, tangan dan kaki beliau dilepas, dan mobil di komando dengan ucapan. Beberapa kali orang menyaksikan beliau menghidupkan orang, yang telah dinyatakan mati oleh dokter, dan siap dikubur. Beliau sering berada di beberapa tempat pada saat yang sama, dan di tiap tempat beliau makan minum seperti biasa.

Setiap kali, sekalipun dihadapkan beliau menghadap ratusan orang, beliau bercerita dan setelah selesai bercerita, ternyata semua pertanyaan dan persoalan yang ada di benak yang hadir sudah terjawab semua.

Romo Herucokro Semono wafat tanggal 3 Maret 1981, dan dimakamkan di Kalinongko, Loano, Purworejo. Romo Semono tidak dikaruniai anak. Tetapi meninggalkan ratusan ribu, mungkin jutaan putro, yang tersebar dimana-mana. Dan peninggalan beliau yang paling berharga adalah sarana sarana Gaib bagi mereka yang ingin hidup bahagia (tentrem) agar bisa menjalani dan mencapai “kasampurnan jati” pada saatnya masing-masing.

Tinggalan beliau yang terakhir yang sampai sekarang, dipelihara (“dhipepetri”) dan dilestarikan oleh putro-putronya. Dilestarikan, dalam arti tetap dihayati dan diamalkan dan diberikan kepada siapa saja yang menghendaki, tanpa memandang perbedaan apapun yang ada pada manusianya. Jadi sifatnya universal.

Catatan Pribadi Truman Tahun 1947 Ungkap Pandangan Keras terhadap Yahudi: "Sangat, Sangat Egois" Sebuah catatan tulisan tangan milik Presiden Amerika Serikat ke-33, Harry S. Truman, yang baru terungkap ke publik menunjukkan pandangan keras sang presiden terhadap orang Yahudi. Dalam catatan bertanggal 21 Juli 1947 tersebut, Truman menulis bahwa orang Yahudi "sangat, sangat egois" dan ketika memiliki kekuasaan, kekejaman mereka "tidak kalah dengan Hitler atau Stalin". Catatan yang ditemukan di Perpustakaan Truman di Independence, Missouri, ini ditulis di bagian belakang sebuah buku berjudul The Real Estate Board of New York, Inc., Diary and Manual 1947. Dokumen tersebut luput dari perhatian selama hampir empat dekade sejak disumbangkan pada tahun 1965, hingga seorang pustakawan menemukannya secara tidak sengaja saat sedang merapikan rak buku. Menurut arsip yang dirilis oleh National Archives, catatan tersebut ditulis setelah Truman menerima telepon dari Henry Morgenthau Jr., mantan Menteri Keuangan yang menjabat di bawah pemerintahan Franklin D. Roosevelt. Morgenthau, yang merupakan seorang Yahudi, menelepon Truman dalam kapasitasnya sebagai ketua United Jewish Appeal untuk membahas nasib kapal pengungsi Yahudi di Palestina . Saat itu, dunia baru saja menyaksikan insiden kapal Exodus 1947 yang membawa 4.500 pengungsi Yahudi korban Holocaust. Kapal tersebut dicegat oleh tentara Inggris di perairan Palestina, dan para pengungsi termasuk seribu anak-anak dipaksa kembali ke Eropa, tempat di mana mereka baru saja mengalami pembantaian sistematis . Truman jelas merasa terganggu dengan intervensi tersebut. "Dia sama sekali tidak berhak menelepon saya. Orang Yahudi tidak memiliki rasa proporsional, juga tidak memiliki penilaian apa pun tentang urusan dunia" tulis Truman dalam diarinya. Dalam entri sepanjang tiga halaman tersebut, Truman menuliskan kalimat yang hingga kini masih mengejutkan para sejarawan: "Orang-orang Yahudi, menurut saya, sangat, sangat egois. Mereka tidak peduli berapa banyak orang Estonia, Latvia, Finlandia, Polandia, Yugoslavia, atau Yunani yang dibunuh atau dianiaya sebagai pengungsi, selama orang Yahudi mendapat perlakuan khusus. Namun ketika mereka memiliki kekuasaan, baik fisik, finansial, maupun politik, baik Hitler maupun Stalin tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka dalam hal kekejaman atau penganiayaan terhadap kaum yang tertindas" . Truman kemudian menambahkan refleksi yang lebih filosofis: "Tempatkan seorang yang tertindas di atas, dan tidak ada bedanya apakah namanya Rusia, Yahudi, Negro, Manajemen, Buruh, Mormon, Baptis ia akan menjadi kacau. Saya menemukan sangat, sangat sedikit yang mengingat kondisi masa lalu mereka ketika kemakmuran datang". Kontradiksi dengan Kebijakan Resmi Penemuan ini mengejutkan banyak pihak karena Truman selama ini dikenal sebagai presiden yang pada Mei 1948 kurang dari setahun setelah catatan itu ditulis menjadi pemimpin dunia pertama yang mengakui kedaulatan Negara Israel. Ia juga dikenal membantu pengungsi Yahudi pasca-Perang Dunia II . Sara Bloomfield, direktur Museum Peringatan Holocaust Amerika Serikat, mengaku terkejut dengan temuan ini. "Itu benar-benar mengejutkan saya karena apa yang saya ketahui tentang catatan Truman. Simpati Truman terhadap penderitaan orang Yahudi sangat jelas terlihat," ujarnya kepada Washington Post . Sejarawan mencatat bahwa meskipun Truman menggunakan bahasa yang keras, tindakannya justru menunjukkan dukungan nyata terhadap pembentukan rumah bagi orang Yahudi. Robert Morgenthau, putra Henry Morgenthau yang merupakan Jaksa Agung Manhattan, ketika ditanya tentang catatan kemarahan Truman tersebut, hanya mengatakan, "Saya senang ayah saya melakukan panggilan itu". Konteks Lebih Luas Dalam diari yang sama, Truman juga mencatat berbagai peristiwa penting tahun 1947, termasuk kematian ibunya, diagnosis penyakit jantung, serta upayanya membujuk Jenderal Dwight Eisenhower untuk maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat dengan Truman sebagai calon wakil presiden sebuah upaya untuk menghalangi Jenderal Douglas MacArthur yang saat itu dianggap akan mencalonkan diri dari Partai Republik . Para ahli menekankan bahwa catatan pribadi presiden tidak selalu mencerminkan kebijakan publik. Seperti halnya Thomas Jefferson dan Richard Nixon yang juga tercatat memiliki pandangan pribadi negatif terhadap Yahudi namun tetap menjalankan kebijakan yang melindungi hak-hak mereka, Truman dinilai mampu memisahkan opini pribadi dari tanggung jawab kenegaraan . Perpustakaan Truman kini menempatkan dokumen tersebut sebagai salah satu temuan terpenting dalam dua dekade terakhir, memberikan wawasan langka tentang pemikiran pribadi seorang presiden di tengah tekanan internasional pasca-Perang Dunia II . #yahudi #israel #amerika #truman #zionis ✍🏻 IndepthNTB

 Catatan Pribadi Truman Tahun 1947 Ungkap Pandangan Keras terhadap Yahudi: "Sangat, Sangat Egois"



Sebuah catatan tulisan tangan milik Presiden Amerika Serikat ke-33, Harry S. Truman, yang baru terungkap ke publik menunjukkan pandangan keras sang presiden terhadap orang Yahudi. Dalam catatan bertanggal 21 Juli 1947 tersebut, Truman menulis bahwa orang Yahudi "sangat, sangat egois" dan ketika memiliki kekuasaan, kekejaman mereka "tidak kalah dengan Hitler atau Stalin".


Catatan yang ditemukan di Perpustakaan Truman di Independence, Missouri, ini ditulis di bagian belakang sebuah buku berjudul The Real Estate Board of New York, Inc., Diary and Manual 1947. Dokumen tersebut luput dari perhatian selama hampir empat dekade sejak disumbangkan pada tahun 1965, hingga seorang pustakawan menemukannya secara tidak sengaja saat sedang merapikan rak buku.


Menurut arsip yang dirilis oleh National Archives, catatan tersebut ditulis setelah Truman menerima telepon dari Henry Morgenthau Jr., mantan Menteri Keuangan yang menjabat di bawah pemerintahan Franklin D. Roosevelt. Morgenthau, yang merupakan seorang Yahudi, menelepon Truman dalam kapasitasnya sebagai ketua United Jewish Appeal untuk membahas nasib kapal pengungsi Yahudi di Palestina .


Saat itu, dunia baru saja menyaksikan insiden kapal Exodus 1947 yang membawa 4.500 pengungsi Yahudi korban Holocaust. Kapal tersebut dicegat oleh tentara Inggris di perairan Palestina, dan para pengungsi termasuk seribu anak-anak dipaksa kembali ke Eropa, tempat di mana mereka baru saja mengalami pembantaian sistematis .


Truman jelas merasa terganggu dengan intervensi tersebut. "Dia sama sekali tidak berhak menelepon saya. Orang Yahudi tidak memiliki rasa proporsional, juga tidak memiliki penilaian apa pun tentang urusan dunia" tulis Truman dalam diarinya.


Dalam entri sepanjang tiga halaman tersebut, Truman menuliskan kalimat yang hingga kini masih mengejutkan para sejarawan:


"Orang-orang Yahudi, menurut saya, sangat, sangat egois. Mereka tidak peduli berapa banyak orang Estonia, Latvia, Finlandia, Polandia, Yugoslavia, atau Yunani yang dibunuh atau dianiaya sebagai pengungsi, selama orang Yahudi mendapat perlakuan khusus. Namun ketika mereka memiliki kekuasaan, baik fisik, finansial, maupun politik, baik Hitler maupun Stalin tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka dalam hal kekejaman atau penganiayaan terhadap kaum yang tertindas" .


Truman kemudian menambahkan refleksi yang lebih filosofis: "Tempatkan seorang yang tertindas di atas, dan tidak ada bedanya apakah namanya Rusia, Yahudi, Negro, Manajemen, Buruh, Mormon, Baptis ia akan menjadi kacau. Saya menemukan sangat, sangat sedikit yang mengingat kondisi masa lalu mereka ketika kemakmuran datang".


Kontradiksi dengan Kebijakan Resmi


Penemuan ini mengejutkan banyak pihak karena Truman selama ini dikenal sebagai presiden yang pada Mei 1948 kurang dari setahun setelah catatan itu ditulis menjadi pemimpin dunia pertama yang mengakui kedaulatan Negara Israel. Ia juga dikenal membantu pengungsi Yahudi pasca-Perang Dunia II .


Sara Bloomfield, direktur Museum Peringatan Holocaust Amerika Serikat, mengaku terkejut dengan temuan ini. "Itu benar-benar mengejutkan saya karena apa yang saya ketahui tentang catatan Truman. Simpati Truman terhadap penderitaan orang Yahudi sangat jelas terlihat," ujarnya kepada Washington Post .


Sejarawan mencatat bahwa meskipun Truman menggunakan bahasa yang keras, tindakannya justru menunjukkan dukungan nyata terhadap pembentukan rumah bagi orang Yahudi. Robert Morgenthau, putra Henry Morgenthau yang merupakan Jaksa Agung Manhattan, ketika ditanya tentang catatan kemarahan Truman tersebut, hanya mengatakan, "Saya senang ayah saya melakukan panggilan itu".


Konteks Lebih Luas


Dalam diari yang sama, Truman juga mencatat berbagai peristiwa penting tahun 1947, termasuk kematian ibunya, diagnosis penyakit jantung, serta upayanya membujuk Jenderal Dwight Eisenhower untuk maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat dengan Truman sebagai calon wakil presiden sebuah upaya untuk menghalangi Jenderal Douglas MacArthur yang saat itu dianggap akan mencalonkan diri dari Partai Republik .


Para ahli menekankan bahwa catatan pribadi presiden tidak selalu mencerminkan kebijakan publik. Seperti halnya Thomas Jefferson dan Richard Nixon yang juga tercatat memiliki pandangan pribadi negatif terhadap Yahudi namun tetap menjalankan kebijakan yang melindungi hak-hak mereka, Truman dinilai mampu memisahkan opini pribadi dari tanggung jawab kenegaraan .


Perpustakaan Truman kini menempatkan dokumen tersebut sebagai salah satu temuan terpenting dalam dua dekade terakhir, memberikan wawasan langka tentang pemikiran pribadi seorang presiden di tengah tekanan internasional pasca-Perang Dunia II .


#yahudi #israel #amerika #truman #zionis

Sumber : Ulum Samudra

✍🏻 IndepthNTB

Pada 14 Maret 1957, kabinet Ali Sastroamidjojo II jatuh. Kabinet ini mendapatkan mandat pada 20 Maret 1956 yang merupakan koalisi antara PNI, Masyumi dan NU. Kejatuhannya tidak terlepas dari berbagai pergolakan di daerah yang dipimpin oleh beberapa Jenderal Angkatan Darat. Pergolakan tersebut kemudian berkembang menjadi pemberontakan yang selain didukung oleh Imperialis AS juga didukung oleh Masyumi dan PSI. Kabinet Ali Sastroamidjojo II mengambil sikap tegas terhadap pemberontakan tersebut. Masyumi kemudian mengajukan mosi tidak percaya terhadap Kabinet. Pada 21 Januari 1957, Masyumi menarik seluruh menterinya dari Kabinet dan Kabinet juga kehilangan 57 suara di DPR. Sukarno sendiri sudah menyampaikan dalam pidato mengenai “Konsepsi Presiden” bahwa Demokrasi Parlementer tidak cocok untuk Indonesia. Melipat Ganda, Membakar Tirani! #momentumsejarah #arahjuang http://linktr.ee/arahjuang

 Pada 14 Maret 1957, kabinet Ali Sastroamidjojo II jatuh. Kabinet ini mendapatkan mandat pada 20 Maret 1956 yang merupakan koalisi antara PNI, Masyumi dan NU. Kejatuhannya tidak terlepas dari berbagai pergolakan di daerah yang dipimpin oleh beberapa Jenderal Angkatan Darat. Pergolakan tersebut kemudian berkembang menjadi pemberontakan yang selain didukung oleh Imperialis AS juga didukung oleh Masyumi dan PSI.


Kabinet Ali Sastroamidjojo II mengambil sikap tegas terhadap pemberontakan tersebut. Masyumi kemudian mengajukan mosi tidak percaya terhadap Kabinet. Pada 21 Januari 1957, Masyumi menarik seluruh menterinya dari Kabinet dan Kabinet juga kehilangan 57 suara di DPR. Sukarno sendiri sudah menyampaikan dalam pidato mengenai “Konsepsi Presiden” bahwa Demokrasi Parlementer tidak cocok untuk Indonesia. 


Melipat Ganda, Membakar Tirani! 

#momentumsejarah

#arahjuang



http://linktr.ee/arahjuang

09 March 2026

Bung Karno bersama Cindy Adam Siapa Cindy Adam ? Cindy Adams adalah seorang jurnalis dan penulis Amerika Serikat (lahir 1930) yang dikenal luas sebagai penulis biografi resmi Presiden Soekarno. Ia adalah penulis buku monumental "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (aslinya: Soekarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams) yang diterbitkan pada 1965.

 Bung Karno bersama Cindy Adam



Siapa Cindy Adam ?


Cindy Adams adalah seorang jurnalis dan penulis Amerika Serikat (lahir 1930) yang dikenal luas sebagai penulis biografi resmi Presiden Soekarno. Ia adalah penulis buku monumental "Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" (aslinya: Soekarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams) yang diterbitkan pada 1965.