KISAH TRAGIS ISTRI JENDERAL S. PARMAN: DUA KALI KEHILANGAN SUAMI DALAM PERISTIWA YANG BERKAITAN DENGAN PKI
Di balik tragedi Gerakan 30 September 1965, tersimpan kisah pilu seorang perempuan bernama Sumirahayu. Ia adalah istri Jenderal S. Parman, salah satu perwira tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan dalam peristiwa tersebut.
Namun, menurut penuturan sejarawan Salim Said, tragedi tahun 1965 bukanlah kali pertama Sumirahayu kehilangan suami dalam konflik yang melibatkan kelompok komunis.
Tujuh belas tahun sebelumnya, suami pertamanya juga disebut tewas dalam Peristiwa Madiun 1948.
Kisah ini menjadikan kehidupan Sumirahayu sebagai salah satu cerita keluarga yang menyedihkan dalam sejarah pergolakan politik Indonesia.
Kehidupan Awal Sumirahayu
Sumirahayu lahir pada 16 Juni 1928 di Petanahan, Kebumen, Jawa Tengah.
Ayahnya, Harjosuwito, merupakan seorang pegawai Pegadaian. Ia tumbuh dalam keluarga dengan empat bersaudara.
Ketika masih kecil, Sumirahayu kehilangan ayahnya yang meninggal dunia saat bertugas di Brebes. Setelah itu, ia bersama ibunya pindah ke Cilacap dan menetap di sana hingga sekitar tahun 1950, sebelum akhirnya berpindah ke Jakarta.
Dalam buku Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto yang terbit pada 2015, sejarawan Salim Said menyebut bahwa S. Parman merupakan suami kedua Sumirahayu.
Menurut penuturan tersebut, suami pertamanya meninggal dalam peristiwa yang berkaitan dengan Pemberontakan Madiun pada 1948.
Tragedi Pertama: Peristiwa Madiun 1948
Pada September 1948, Indonesia menghadapi pergolakan politik dan militer di Madiun, Jawa Timur.
Konflik tersebut melibatkan kelompok-kelompok yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat, termasuk Partai Komunis Indonesia, dengan pemerintah Republik Indonesia.
Peristiwa itu menimbulkan banyak korban jiwa, baik dari kalangan militer maupun masyarakat sipil.
Menurut kisah yang dikutip dari Salim Said, salah seorang korban adalah suami pertama Sumirahayu.
Namun, identitas suami pertamanya, pekerjaannya, serta keadaan pasti yang menyebabkan kematiannya belum dapat dipastikan dari sumber-sumber yang tersedia.
Apabila penuturan tersebut benar, Sumirahayu kehilangan pasangan hidupnya ketika usianya baru sekitar 20 tahun.
Pada usia yang masih sangat muda, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan orang yang pernah menjadi pendamping hidupnya.
Akan tetapi, kehidupan terus berjalan.
Beberapa tahun kemudian, Sumirahayu membangun rumah tangga bersama seorang perwira Angkatan Darat bernama Siswondo Parman.
Menikah dengan S. Parman pada 1951
Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918.
Ia merupakan seorang perwira yang mengawali karier militernya pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Setelah Indonesia merdeka, Parman mengabdi dalam kesatuan Polisi Tentara yang kemudian berkembang menjadi Corps Polisi Militer.
Pada 4 Februari 1951, S. Parman dan Sumirahayu melangsungkan pernikahan di Jakarta.
Saat itu, Parman berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan Corps Polisi Militer.
Usia keduanya terpaut hampir sepuluh tahun.
Dalam biografi resmi S. Parman, kehidupan rumah tangga mereka digambarkan berlangsung harmonis. Keduanya saling memahami kesibukan dan tanggung jawab masing-masing.
Pernikahan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Sumirahayu mendampingi suaminya dalam berbagai penugasan militer.
Pada 1951, S. Parman mendapat kesempatan mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat. Sumirahayu tidak dapat mendampinginya karena ketentuan pendidikan saat itu tidak memperbolehkan peserta membawa keluarga.
Setelah kembali ke Indonesia, karier S. Parman terus berkembang.
Ia kemudian menjalankan berbagai tugas penting, termasuk menjadi atase militer Indonesia di London, Inggris.
Kehidupan Rumah Tangga yang Harmonis
Selama menikah, S. Parman dan Sumirahayu tidak dikaruniai anak kandung.
Dalam biografi S. Parman dijelaskan bahwa pada awal pernikahan, keduanya sepakat menunda memiliki anak selama lima tahun.
Setelah masa tersebut berlalu, mereka mulai mengharapkan kehadiran seorang anak.
Pada 1957, Sumirahayu sempat mengandung. Namun, kehamilannya berakhir dengan keguguran.
Biografi tersebut menghubungkan peristiwa itu dengan keterkejutan Sumirahayu setelah mendengar kejadian pelemparan granat di Perguruan Cikini pada 30 November 1957, ketika S. Parman sedang bertugas di lokasi tersebut.
Hingga S. Parman meninggal dunia, pasangan ini tidak memiliki anak kandung.
Mereka kemudian memiliki anak angkat dari lingkungan keluarga, salah satunya Sugiono, yang merupakan keponakan Sumirahayu.
Meskipun tidak dikaruniai keturunan biologis, kehidupan rumah tangga keduanya tetap digambarkan penuh perhatian.
Salah satu kebiasaan S. Parman yang dikenang istrinya adalah meluangkan waktu bersama pada malam Minggu.
Sesibuk apa pun pekerjaannya, sang jenderal berusaha menyediakan waktu untuk mendampingi Sumirahayu.
Kebiasaan sederhana itulah yang kelak menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan setelah kematian S. Parman.
Menjelang Tragedi 30 September 1965
Memasuki tahun 1965, situasi politik Indonesia semakin tegang.
Pertentangan antara Angkatan Darat dan PKI menjadi salah satu persoalan besar dalam kehidupan politik nasional.
Pada masa itu, S. Parman menjabat sebagai Asisten I Menteri/Panglima Angkatan Darat yang menangani bidang intelijen.
Jabatan tersebut menempatkannya dalam posisi penting di lingkungan pimpinan Angkatan Darat.
Menjelang akhir September 1965, S. Parman masih menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa.
Tidak ada kepastian bahwa Sumirahayu mengetahui tragedi besar yang akan menimpa keluarganya.
Namun, pada dini hari 1 Oktober 1965, kehidupan rumah tangga yang telah mereka bangun selama lebih dari 14 tahun berubah untuk selamanya.
Dini Hari 1 Oktober 1965: S. Parman Dijemput dari Rumahnya
Sekitar pukul 04.10 dini hari, S. Parman dan Sumirahayu terbangun setelah mendengar suara orang-orang di sekitar rumah mereka.
Rumah tersebut berada di Jalan Syamsurizal Nomor 32, Jakarta.
Sejumlah tentara bersenjata datang dengan mengenakan seragam yang dikaitkan dengan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno.
Mereka menyampaikan bahwa S. Parman harus segera menghadap Presiden karena ada urusan penting.
Sumirahayu merasa curiga terhadap kedatangan para tentara tersebut.
Ia mempertanyakan apakah mereka membawa surat perintah resmi.
Salah seorang anggota rombongan menyatakan bahwa surat tersebut ada, tetapi situasi berlangsung begitu cepat.
S. Parman kemudian bersiap mengenakan pakaian dinasnya.
Sebelum berangkat, ia meminta agar istrinya menghubungi atasannya, Letnan Jenderal Ahmad Yani.
Namun, sambungan telepon rumah ternyata telah diputus.
Tidak lama kemudian, S. Parman dibawa pergi menggunakan kendaraan militer.
Sumirahayu tidak mengetahui bahwa kepergian suaminya pada pagi itu akan menjadi perpisahan terakhir mereka.
S. Parman Dibunuh di Lubang Buaya
S. Parman dibawa menuju kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, bersama sejumlah perwira Angkatan Darat lainnya yang menjadi sasaran Gerakan 30 September.
Di tempat itulah ia kemudian dibunuh.
Jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua bersama enam korban lainnya.
Sementara itu, Sumirahayu harus menghadapi ketidakpastian mengenai keberadaan suaminya.
Pada 4 Oktober 1965, jenazah para korban ditemukan dan diangkat dari sumur Lubang Buaya.
Keesokan harinya, 5 Oktober 1965, S. Parman dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Pangkatnya kemudian dinaikkan secara anumerta menjadi Letnan Jenderal.
Ia juga dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.
Tangisan Sumirahayu yang Dikenang Salim Said
Salah satu bagian paling menyentuh dari kisah ini berasal dari penuturan sejarawan Salim Said.
Dalam bukunya Gestapu 65: PKI, Aidit, Sukarno dan Soeharto, Salim Said mengenang suasana pemakaman para perwira Angkatan Darat yang gugur pada 1965.
Di antara keluarga korban yang hadir, tangisan Sumirahayu disebut sangat memilukan.
Menurut Salim Said, kesedihan itu memiliki latar belakang yang tidak banyak diketahui orang.
S. Parman disebut sebagai suami kedua Sumirahayu.
Sebab, menurut penuturan tersebut, suami pertamanya juga telah meninggal dalam peristiwa yang melibatkan kaum komunis di Madiun pada 1948.
Dengan demikian, Sumirahayu disebut mengalami dua kali kehilangan pasangan hidup dalam dua pergolakan politik yang terpisah selama 17 tahun.
Tragedi pertama terjadi pada 1948.
Tragedi kedua terjadi pada 1965.
Kedua peristiwa itu berlangsung pada masa dan dalam keadaan politik yang berbeda, tetapi sama-sama meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kenangan Setiap Malam Minggu
Setelah kematian S. Parman, kehidupan Sumirahayu tidak pernah sama lagi.
Rumah yang dahulu menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama kini menyimpan kenangan tentang suaminya.
Dalam sejumlah kisah mengenai keluarga S. Parman, disebutkan bahwa malam Minggu menjadi waktu yang paling berat bagi Sumirahayu.
Sebab, semasa hidup, S. Parman memiliki kebiasaan meluangkan malam tersebut untuk menemani istrinya.
Setelah suaminya meninggal, kebiasaan itu berubah menjadi kenangan yang menyedihkan.
Sumirahayu terkadang menangis ketika mengingat kebersamaan mereka.
Ia juga dikisahkan beberapa kali memimpikan S. Parman, meskipun menyadari bahwa suaminya tidak mungkin kembali.
Setelah kematian S. Parman, Sumirahayu tidak menikah lagi.
Ia melanjutkan kehidupannya bersama keluarga dan anak angkatnya.
Seorang Perempuan di Balik Dua Tragedi Sejarah
Sejarah Indonesia mengenang S. Parman sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur pada 1 Oktober 1965.
Namanya diabadikan sebagai penghormatan atas pengabdiannya kepada negara.
Namun, di balik kisah seorang jenderal yang gugur, terdapat kehidupan seorang istri yang harus menghadapi kehilangan.
Pertama, pada Peristiwa Madiun 1948.
Kedua, ketika S. Parman menjadi korban Gerakan 30 September 1965.
Kisah Sumirahayu mengingatkan bahwa tragedi sejarah tidak hanya merenggut nyawa para tokoh yang namanya tercatat dalam buku pelajaran.
Di belakang mereka, ada keluarga yang harus melanjutkan kehidupan dengan kehilangan yang tidak mudah dilupakan.
S. Parman dikenang bangsa Indonesia sebagai seorang pahlawan. Namun, bagi Sumirahayu, ia bukan sekadar seorang jenderal. Ia adalah suami, pendamping hidup, dan seseorang yang kehadirannya tak pernah tergantikan.
#Kisah #Sejarah #Viral