02 September 2026

BARA MERAH DI KAKI GUNUNG: AMUK RESIMEN SAMUDERA MENUMPAS PEMBELOT REPUBLIK Catatan sejarah Jani Sari II Palagan Kedu Utara: Saat Resimen Samudera dan Taruna Magelang Menyelamatkan Republik dari Pemberontakan PKI/FDR 1948 Tahun 1948. Usia Republik Indonesia ibarat bayi yang baru belajar merangkak, namun ancaman sudah mengepung dari segala penjuru. Di luar, Belanda masih mengintai dengan moncong senjata, memaksa wilayah RI semakin menyusut lewat Perjanjian Linggarjati dan Renville. Di dalam, suhu politik mendidih. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diketuk palu oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan M. Hatta pada awal tahun, membawa angin puyuh bagi laskar-laskar dan kesatuan bersenjata, tak terkecuali Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Bagi para prajurit Corps Mariniers (CM), itu adalah masa-masa penuh ketidakpastian. Komisi Reorganisasi ALRI (KRAL) sempat memutuskan untuk meniadakan Tentara Laut. Namun, darah patriot tak mudah luntur. Di Tegal, Komandan CM Pangkalan IV, R. Soehadi, mengambil langkah taktis. Ia menolak pasukannya kehilangan identitas. Bersama perwira intinya, CM meleburkan diri ke dalam Divisi III Diponegoro dan beralih rupa menjadi resimen tersendiri: Resimen Samudera. Di bawah komando Divisi III yang dipimpin Brigjen Inf. Soesalit, Resimen Samudera berdiri tegak bak benteng. Mereka membagi kekuatan tempur ke dalam empat batalyon utama: Batalyon 173 di Parakan (Letnan Hartono), Batalyon 174 di Wonosobo (Letnan M. Joenoes), Batalyon 175 di Parakan (Letnan Moekijat), Batalyon 176 di Temanggung (Letnan Soewadji), dan Batalyon 177 (Letnan Wiranto), yang kemudian disusul bergabungnya Batalyon 178 asal Juwana. Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pada September 1948, langit di timur memerah. Pemberontakan PKI/FDR pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muso meletus di Madiun. Pengaruh ideologi kiri ini merayap cepat, menyusup hingga ke barisan tentara di Jawa Tengah. Intelijen Resimen Samudera dengan cepat mengendus pergerakan gelap di wilayah pengawasan mereka: Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan. Kabar buruk itu datang bertubi-tubi. Pasukan eks-Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) di bawah Achmad Jadau yang bergabung dengan Divisi II Jateng, bermanuver. Batalyon Darsono di Temanggung dan Batalyon Machmud di Parakan membelot menjadi bagian dari pasukan pemberontak. Daerah Parakan, yang awalnya dijaga oleh Batalyon Machmud untuk mengantisipasi serbuan Belanda, kini jatuh ke tangan kiri. Ironisnya, mereka bahkan berani melucuti satu peleton dari Batalyon 175 yang tengah beristirahat selepas dinas. Pantang bagi Resimen Samudera membiarkan kawan ditikam dari belakang. Mesin perang segera dipanaskan. Letnan Wiranto memimpin Batalyon 177 bergerak cepat untuk menetralisir kekuatan Batalyon Darsono di Temanggung. Operasi ini berjalan rapi. Hanya segelintir sisa-sisa pemberontak yang lolos lari terbirit-birit ke Parakan, bergabung dengan Batalyon Machmud. Di sinilah palagan Kedu Utara menjadi saksi heroisme operasi gabungan. Resimen Samudera tidak bertempur sendirian. Bantuan datang dari arah selatan. Dari kesatriaan di lembah Tidar, pasukan TNI AD dari Magelang bergerak merangsek maju. Di antara barisan tersebut, turut angkat senjata para taruna muda dari Militer Akademi Jogja dan Sekolah Kader TNI Magelang. Para pemuda yang sehari-hari digodok di kompleks militer Magelang itu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tentara pelajar yang hanya tahu teori kelas. Bersama prajurit Resimen Samudera, mereka bahu-membahu menyapu bersih sisa-sisa pemberontak di wilayah sekitar Temanggung bagian selatan. Satu kompi di bawah pimpinan Letnan Djoeremi melakukan gebrakan maut ke Parakan. Tepat pukul 16:00, kota itu berhasil direbut kembali oleh pasukan gabungan. Sisa pemberontak kocar-kacir, meski di bawah gelap malam mereka masih mencoba melakukan represi dan sabotase ke dalam kota. Esok harinya, serangan penghabisan dilancarkan tanpa ampun. Tepat pukul 15:00, markas Batalyon Machmud jatuh sepenuhnya. Senjata dan perlengkapan dirampas, sementara para perwira stafnya tak punya pilihan lain selain mengangkat tangan menyerah. Dalam waktu tak kurang dari 10 hari, operasi sapu bersih di Parakan, Candiroto, dan Ngadirejo tuntas tanpa sisa. Operasi gilang-gemilang gabungan di Kedu Utara ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan sebuah pembuktian kesetiaan yang mendalam. Keberhasilan Resimen Samudera dan para prajurit serta taruna dari Magelang dalam meredam bara pemberontakan membuat Pemerintah Pusat di Yogyakarta terkesima. Sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa heroik tersebut, tepat pada 19 Oktober 1948, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/'48 yang menetapkan secara resmi eksistensi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL). Sebuah epik heroisme yang mematrikan nama Marinir ke dalam catatan emas sejarah Republik. referensi : "75 Tahun Korps Marinir" Koleksi Jani Sari Library

 BARA MERAH DI KAKI GUNUNG: AMUK RESIMEN SAMUDERA MENUMPAS PEMBELOT REPUBLIK


Catatan sejarah Jani Sari II


Palagan Kedu Utara: Saat Resimen Samudera dan Taruna Magelang Menyelamatkan Republik dari Pemberontakan PKI/FDR 1948



Tahun 1948. Usia Republik Indonesia ibarat bayi yang baru belajar merangkak, namun ancaman sudah mengepung dari segala penjuru. Di luar, Belanda masih mengintai dengan moncong senjata, memaksa wilayah RI semakin menyusut lewat Perjanjian Linggarjati dan Renville. Di dalam, suhu politik mendidih. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diketuk palu oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan M. Hatta pada awal tahun, membawa angin puyuh bagi laskar-laskar dan kesatuan bersenjata, tak terkecuali Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).


Bagi para prajurit Corps Mariniers (CM), itu adalah masa-masa penuh ketidakpastian. Komisi Reorganisasi ALRI (KRAL) sempat memutuskan untuk meniadakan Tentara Laut.


Namun, darah patriot tak mudah luntur. Di Tegal, Komandan CM Pangkalan IV, R. Soehadi, mengambil langkah taktis. Ia menolak pasukannya kehilangan identitas. Bersama perwira intinya, CM meleburkan diri ke dalam Divisi III Diponegoro dan beralih rupa menjadi resimen tersendiri: Resimen Samudera.


Di bawah komando Divisi III yang dipimpin Brigjen Inf. Soesalit, Resimen Samudera berdiri tegak bak benteng. Mereka membagi kekuatan tempur ke dalam empat batalyon utama: Batalyon 173 di Parakan (Letnan Hartono), Batalyon 174 di Wonosobo (Letnan M. Joenoes), Batalyon 175 di Parakan (Letnan Moekijat), Batalyon 176 di Temanggung (Letnan Soewadji), dan Batalyon 177 (Letnan Wiranto), yang kemudian disusul bergabungnya Batalyon 178 asal Juwana.


Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pada September 1948, langit di timur memerah. Pemberontakan PKI/FDR pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muso meletus di Madiun. Pengaruh ideologi kiri ini merayap cepat, menyusup hingga ke barisan tentara di Jawa Tengah. Intelijen Resimen Samudera dengan cepat mengendus pergerakan gelap di wilayah pengawasan mereka: Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan.


Kabar buruk itu datang bertubi-tubi. Pasukan eks-Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) di bawah Achmad Jadau yang bergabung dengan Divisi II Jateng, bermanuver. Batalyon Darsono di Temanggung dan Batalyon Machmud di Parakan membelot menjadi bagian dari pasukan pemberontak. Daerah Parakan, yang awalnya dijaga oleh Batalyon Machmud untuk mengantisipasi serbuan Belanda, kini jatuh ke tangan kiri. Ironisnya, mereka bahkan berani melucuti satu peleton dari Batalyon 175 yang tengah beristirahat selepas dinas.


Pantang bagi Resimen Samudera membiarkan kawan ditikam dari belakang. Mesin perang segera dipanaskan. Letnan Wiranto memimpin Batalyon 177 bergerak cepat untuk menetralisir kekuatan Batalyon Darsono di Temanggung. Operasi ini berjalan rapi. Hanya segelintir sisa-sisa pemberontak yang lolos lari terbirit-birit ke Parakan, bergabung dengan Batalyon Machmud.


Di sinilah palagan Kedu Utara menjadi saksi heroisme operasi gabungan. Resimen Samudera tidak bertempur sendirian. Bantuan datang dari arah selatan. Dari kesatriaan di lembah Tidar, pasukan TNI AD dari Magelang bergerak merangsek maju. Di antara barisan tersebut, turut angkat senjata para taruna muda dari Militer Akademi Jogja dan Sekolah Kader TNI Magelang. Para pemuda yang sehari-hari digodok di kompleks militer Magelang itu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tentara pelajar yang hanya tahu teori kelas. Bersama prajurit Resimen Samudera, mereka bahu-membahu menyapu bersih sisa-sisa pemberontak di wilayah sekitar Temanggung bagian selatan.


Satu kompi di bawah pimpinan Letnan Djoeremi melakukan gebrakan maut ke Parakan. Tepat pukul 16:00, kota itu berhasil direbut kembali oleh pasukan gabungan. Sisa pemberontak kocar-kacir, meski di bawah gelap malam mereka masih mencoba melakukan represi dan sabotase ke dalam kota.


Esok harinya, serangan penghabisan dilancarkan tanpa ampun. Tepat pukul 15:00, markas Batalyon Machmud jatuh sepenuhnya. Senjata dan perlengkapan dirampas, sementara para perwira stafnya tak punya pilihan lain selain mengangkat tangan menyerah.


Dalam waktu tak kurang dari 10 hari, operasi sapu bersih di Parakan, Candiroto, dan Ngadirejo tuntas tanpa sisa. Operasi gilang-gemilang gabungan di Kedu Utara ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan sebuah pembuktian kesetiaan yang mendalam. Keberhasilan Resimen Samudera dan para prajurit serta taruna dari Magelang dalam meredam bara pemberontakan membuat Pemerintah Pusat di Yogyakarta terkesima.


Sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa heroik tersebut, tepat pada 19 Oktober 1948, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/'48 yang menetapkan secara resmi eksistensi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL). Sebuah epik heroisme yang mematrikan nama Marinir ke dalam catatan emas sejarah Republik.


referensi : "75 Tahun Korps Marinir"

Koleksi Jani Sari Library


Sumber : Jani Sari

27 August 2026

Sekelumit Kondisi Magelang Di Era Jepang 1942 - 1945 Malam ini saat di Magelang saya berusaha diskusi dengan mertua Bapak Soedarto, saya tentang kondisi Magelang di zaman Jepang sekitar tahun 1942 - 1945. Pada saat awal Jepang masuk menurut cerita mertua saya yang kini berusia sekitar 87 tahun warga di tempat tinggal mertua saya di kampung Tulung sempat mengungsi ke daerah Kalegen Bandongan, tepatnya di dusun Dileman. Hanya saja pengungsiannya tidak begitu lama dan kemudian balik lagi ke daerahnya masing-masing. Pada zaman Jepang ini kondisi kampung Tulung masih sepi dan sedikit jumlah rumahnya. Jalan kebanyakan masih berupa jalan tanah. Jalan aspal dan listrik hanya sampai di depannya rumahnya Bapak L Suhadi (Bapak Hadi Londo). Dan menurut kisah mertua saya tentara Jepang jarang sekali masuk sampai bagian dalam kampung Tulung. Pada era kolonial Jepang hal yang umum dijumpai adalah banyak masyarakat yang pakaiannya menggunakan bahan dari karung goni. Bahan karung goni ini digunakan untuk pembuatan celana untuk pria dan tapian/jarik untuk wanita. Karung goni itu ada 2 macam yaitu : 1. karung goni untuk karung beras, yang seratnya lemas dan biasanya berwarna coklat. 2. karung goni untuk karung garam yang seratnya kasar dan biasanya berwarna putih mangkak. Nah yang biasanya digunakan untuk membuat celana ataupun tapian adalah yang karung goni beras karena seratnya lemas. Karena pakaian yang digunakan dari bahan karung goni maka menurut mertua saya, banyak kemudian orang yang terserang "Tumo Katok". Berbeda dengan tumo yang ada di rambut, tumo katok ini warnanya putih. Selain tumo katok orang di zaman Jepang juga rambutnya banyak terserang oleh tumo di rambutnya. Dan hampir semua orang saat itu terkena tumo di rambutnya. Sehingga banyak orang yang kepalanya mengalami " Boroken". Dan saat itu keberadaan beras sangat jarang demikian juga keberadaan garam sangat jarang bisa didapatkan. Di zaman ini karena beras sangat sulit didapatkan karena beras beras banyak diangkut oleh Jepang dikirim ke garis depan pertempuran. Untuk itu masyarakat waktu itu oleh Jepang disuruh menanam jagung dan iles iles untuk kebutuhan pangan masyarakat. Orang banyak mengkonsumsi jagung baik yang jagungnya dibuat nasi jagung ataupun langsung direbus untuk dimakan. Sedangkan iles iles umbinya direbus lalu dimakan sebagai pengganti nasi. Selain jagung dan iles iles masyarakat juga menanam umbi jalar, umbi batang. Baik umbi jalar ataupun umbi batang selain diambil umbinya untuk dimakan sebagai pengganti nasi juga diambil daunnya untuk bahan sayuran. Untuk bahan sayuran selain daun umbi jalar dan umbi batang juga masyarakat banyak yang menggunakan daun genjer, daun talas, daun bayung, daun krokot, daun jipang untuk bahan sayur. Dan diantara itu yang paling enak katanya daun umbi jalar yang direbus lalu dimakan dengan sambal lotis. Untuk pohon nangka kata mertua saya jarang ada buahnya yang tumbuh jadi buah nangka masak karena saat masih babal saja sudah pada diambil untuk diolah jadi sayur. Bonggol pisang juga diolah untuk bahan sayur demikian dengan jantung pisang yang direbus kemudian diiris iris kemudian dicampur dengan bumbu kluban untuk dimakan. Bahkan saat itu daun jambu kluthuk pun juga dimakan. Selain disuruh menanam jagung dan iles iles masyarakat juga diminta untuk menanam pohon jarak pagar untuk diambil bijinya. Setiap rumah minimal menanam 1 batang pohon jarak pagar. Seperti kita ketahui biji jarak pagar itu mengandung minyak yang mana jika diolah akan menjadi minyak pelumnas yang bisa digunakan untuk minyak pelumnas pesawat terbang. Kemudian masih di era Jepang ini, selain setiap rumah menanam pohon jarak pohon juga di bagian depan halaman rumah depannya dibuat lubang di tanah yang biasa disebut "Lograk" untuk perlindungan, jadi Lograk ini fungsinya seperti halnya bunker. Masih di zaman Jepang jika ada pesawat lewat lalu ada suara sirine dan orang orang disuruh untuk berlindung masuk ke dalam Lograk tersebut. Kadang untuk yang mampu bagian atas Lograk diberi anyaman kepang untuk penutup. Selama bersembunyi di dalam Lograk kuping biasanya ditutup dengan kapas / kapuk dan mulutnya menggigit karet. Kebetulan orang tua mertua saya adalah pegawai Balai Kota Magelang sejak zaman Hindia-Belanda yang bernama Bapak Saman, dan ketika era Jepang beliau tetap bekerja di Balai Kota Magelang hingga Jepang keluar dari Indonesia lanjut era Kemerdekaan. Untuk Bu Saman tetap berjualan bubur di depan halaman rumah. Demikian juga dengan sekolah juga berjalan normal seperti biasanya. Kedua kakak dari mertua saya yaitu yang bernama Larso dan Kamto di zaman Jepang ini bersekolah di Sekolah Rakyat yang ada di Balai Pelajar dan di daerah Plengkung. Sekolah Rakyat yang di Plengkung itu untuk yang kelas 1, 2 dan 3 sementara Sekolah Rakyat yang di Balai Pelajar itu untuk yang kelas 4, 5 dan 6. Tiap pagi diadakan upacara bendera pengibaran bendera Jepang yang diiringi dengan lagu kebangsaan Jepang yaitu "Kimigayo" dan juga disuruh hormat dengan cara membungkuk. Selain itu juga sebelum masuk kelas siswa sekolah disuruh senam "Taiso". Kemudian setelah jam pelajaran, sekitar jam 15 atau 16 an sore di lapangan Dukuh diadakan latihan bela diri Kendo dan Gulat/ Yudo. Untuk warga kampung Tulung yang ikut jadi PETA (Pembela Tanah Air) yang mertua saya masih ingat adalah yang bernama Pak Ratmin. Kemudian di tahun 1945 sekitar 28 Oktober 1945 dengan adanya peristiwa penyerbuan tentara Kido Butai ke kampung Tulung. Pasukan Jepang masuk kampung Tulung lewat utara melewati daerah makam Nglarangan dan setelah masuk kampung Tulung melakukan sweeping rumah rumah sekitar Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum oleh BKR/TKR. Rumah Bapak Saman berada di timur utaranya Kantor Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum, keluarga Pak Saman posisinya terjebak dalam peristiwa tersebut dan bersembunyi di dalam kamar rumah. Ibu Saman dan anak anaknya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur sementara Pak Saman berjaga di depan pintu di dalam kamar, untungnya ada gedek pyan yang jatuh menutupi bagian pintu kamar rumah. Saat tentara Jepang mendobrak pintu depan dan masuk tentara Jepang tidak melihat pintu kamar yang tertutup oleh gedeg dari pyan yang jatuh meskipun tentara Jepang sempat menusukkan bayonet yang ada di ujung laras senapan ke gedek tetapi akhirnya mereka mengira rumah kosong sehingga keluar rumah lagi. Menurut mertua saya beliau sempat mendengar suara orang menjerit dan minta ampun. Kebanyakan yang menjerit adalah para wanita, akan tetapi kemudian semuanya berhenti dan jadi sunyi kembali. Adapun suara tembakan terdengar riuh sekali. Setelah kondisi aman keluarga Pak Saman keluar rumah dan mulai mengungsi berjalan melewati belakang Dapur umum yang barusan diserang oleh tentara Kido Butai Jepang, kata mertua saya banyak korban bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan. Keluarga Pak Saman berjalan ke arah daerah Tulung Wot lalu menuju daerah Sangu Banyu Bandongan untuk mengungsi. Selama zaman pendudukan Jepang ini, jenis-jenis hewan yang menyerang orang adalah: 1. Tumo katok 2. Tumo rambut yang menyebabkan borok di kepala 3. Kutu busuk di amben, kasur, kursi 4. Bekicot Sedangkan penyakit-pemyakit yang menyerang manusia adalah: 1. Beri-beri karena kekurangan vitamin B 2. Gudik dan koreng 3. Disentri Betapa sangat susah dan sengsaranya rakyat Indonesia waktu zaman pendudukan Jepang tahun 1942 - 1945. Untuk warga kampung Tulung yang usianya kurang lebih 90 tahun dan tentunya mengalami masa Jepang dan kini masih ada selain mertua saya, yaitu: 1. Ibu Sukamtini (Jl Kusumabangsa I ujung timur sendiri). 2. Mbok Brintik (Jl Kusumabangsa I, belakangnya rumah Pak Kartono). Mungkin beliau beliau ini bisa jadi narasumber primer.

 Sekelumit Kondisi Magelang Di Era Jepang 1942 - 1945

Oleh : Orchid Breeder


Malam ini saat di Magelang saya berusaha diskusi dengan mertua Bapak Soedarto, saya tentang kondisi Magelang di zaman Jepang sekitar tahun 1942 - 1945.

     Pada saat awal Jepang masuk menurut cerita mertua saya yang kini berusia sekitar 87 tahun warga di tempat tinggal mertua saya di kampung Tulung sempat mengungsi ke daerah Kalegen Bandongan, tepatnya di dusun Dileman. Hanya saja pengungsiannya tidak begitu lama dan kemudian balik lagi ke daerahnya masing-masing. 

     Pada zaman Jepang ini kondisi kampung Tulung masih sepi dan sedikit jumlah rumahnya. Jalan kebanyakan masih berupa jalan tanah. Jalan aspal dan listrik hanya sampai di depannya rumahnya Bapak L Suhadi (Bapak Hadi Londo). Dan menurut kisah mertua saya tentara Jepang jarang sekali masuk sampai bagian dalam kampung Tulung. 

     Pada era kolonial Jepang hal yang umum dijumpai adalah banyak masyarakat yang pakaiannya menggunakan bahan dari karung goni. Bahan karung goni ini digunakan untuk pembuatan celana untuk pria dan tapian/jarik untuk wanita. Karung goni itu ada 2 macam yaitu :

1. karung goni untuk karung beras, yang seratnya lemas dan biasanya berwarna coklat. 

2. karung goni untuk karung garam yang seratnya kasar dan biasanya berwarna putih mangkak. 

Nah yang biasanya digunakan untuk membuat celana ataupun tapian adalah yang karung goni beras karena seratnya lemas. 

     Karena pakaian yang digunakan dari bahan karung goni maka menurut mertua saya, banyak kemudian orang yang terserang "Tumo Katok". Berbeda dengan tumo yang ada di rambut, tumo katok ini warnanya putih. Selain tumo katok orang di zaman Jepang juga rambutnya banyak terserang oleh tumo di rambutnya. Dan hampir semua orang saat itu terkena tumo di rambutnya. Sehingga banyak orang yang kepalanya mengalami " Boroken".

     Dan saat itu keberadaan beras sangat jarang demikian juga keberadaan garam sangat jarang bisa didapatkan. Di zaman ini karena beras sangat sulit didapatkan karena beras beras banyak diangkut oleh Jepang dikirim ke garis depan pertempuran. Untuk itu masyarakat waktu itu oleh Jepang disuruh menanam jagung dan iles iles untuk kebutuhan pangan masyarakat. Orang banyak mengkonsumsi jagung baik yang jagungnya dibuat nasi jagung ataupun langsung direbus untuk dimakan. Sedangkan iles iles umbinya direbus lalu dimakan sebagai pengganti nasi. Selain jagung dan iles iles masyarakat juga menanam umbi jalar, umbi batang. Baik umbi jalar ataupun umbi batang selain diambil umbinya untuk dimakan sebagai pengganti nasi juga diambil daunnya untuk bahan sayuran. 

Untuk bahan sayuran selain daun umbi jalar dan umbi batang juga masyarakat banyak yang menggunakan daun genjer, daun talas, daun bayung, daun krokot, daun jipang untuk bahan sayur. Dan diantara itu yang paling enak katanya daun umbi jalar yang direbus lalu dimakan dengan sambal lotis. Untuk pohon nangka kata mertua saya jarang ada buahnya yang tumbuh jadi buah nangka masak karena saat masih babal  saja sudah pada diambil untuk diolah jadi sayur. Bonggol pisang juga diolah untuk bahan sayur demikian dengan jantung pisang yang direbus kemudian diiris iris kemudian dicampur dengan bumbu kluban untuk dimakan. Bahkan saat itu daun jambu kluthuk pun juga dimakan. 

     Selain disuruh menanam jagung dan iles iles masyarakat juga diminta untuk menanam pohon jarak pagar untuk diambil bijinya. Setiap rumah minimal menanam 1 batang pohon jarak pagar. Seperti kita ketahui biji jarak pagar itu mengandung minyak yang mana jika diolah akan menjadi minyak pelumnas yang bisa digunakan untuk minyak pelumnas pesawat terbang. 

     Kemudian masih di era Jepang ini, selain setiap rumah menanam pohon jarak pohon juga di bagian depan halaman rumah depannya dibuat lubang di tanah yang biasa disebut "Lograk" untuk perlindungan, jadi Lograk ini fungsinya seperti halnya bunker. Masih di zaman Jepang jika ada pesawat lewat lalu ada suara sirine dan orang orang disuruh untuk berlindung masuk ke dalam Lograk tersebut. Kadang untuk yang mampu bagian atas Lograk diberi anyaman kepang untuk penutup. Selama bersembunyi di dalam Lograk kuping biasanya ditutup dengan kapas / kapuk dan mulutnya menggigit karet. 

     Kebetulan orang tua mertua saya adalah pegawai Balai Kota Magelang sejak zaman Hindia-Belanda yang bernama Bapak Saman, dan ketika era Jepang beliau tetap bekerja di Balai Kota Magelang hingga Jepang keluar dari Indonesia lanjut era Kemerdekaan. Untuk Bu Saman tetap berjualan bubur di depan halaman rumah. 

     Demikian juga dengan sekolah juga berjalan normal seperti biasanya. Kedua kakak dari mertua saya yaitu yang bernama Larso dan Kamto di zaman Jepang ini bersekolah di Sekolah Rakyat yang ada di Balai Pelajar dan di daerah Plengkung. Sekolah Rakyat yang di Plengkung itu untuk yang kelas 1, 2 dan 3 sementara Sekolah Rakyat yang di Balai Pelajar itu untuk yang kelas 4, 5 dan 6.

     Tiap pagi diadakan upacara bendera pengibaran bendera Jepang yang diiringi dengan lagu kebangsaan Jepang yaitu "Kimigayo" dan juga disuruh hormat dengan cara membungkuk. Selain itu juga sebelum masuk kelas siswa sekolah disuruh senam "Taiso". Kemudian setelah jam pelajaran, sekitar jam 15 atau 16 an sore di lapangan Dukuh diadakan latihan bela diri Kendo dan Gulat/ Yudo. 

     Untuk warga kampung Tulung yang ikut jadi PETA (Pembela Tanah Air) yang mertua saya masih ingat adalah yang bernama Pak Ratmin. 

     Kemudian di tahun 1945 sekitar 28 Oktober 1945 dengan adanya peristiwa penyerbuan tentara Kido Butai ke kampung Tulung. Pasukan Jepang masuk kampung Tulung lewat utara melewati daerah makam Nglarangan dan setelah masuk kampung Tulung melakukan sweeping rumah rumah sekitar Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum oleh BKR/TKR. Rumah Bapak Saman berada di timur utaranya Kantor Kelurahan Magelang yang dijadikan dapur umum, keluarga Pak Saman posisinya terjebak dalam peristiwa tersebut dan bersembunyi di dalam kamar rumah. Ibu Saman dan anak anaknya bersembunyi di bawah kolong tempat tidur sementara Pak Saman berjaga di depan pintu di dalam kamar, untungnya ada gedek pyan yang jatuh menutupi bagian pintu kamar rumah. Saat tentara Jepang mendobrak pintu depan dan masuk tentara Jepang tidak melihat pintu kamar yang tertutup oleh gedeg dari pyan yang jatuh meskipun tentara Jepang sempat menusukkan bayonet yang ada di ujung laras senapan ke gedek tetapi akhirnya mereka mengira rumah kosong sehingga keluar rumah lagi. Menurut mertua saya beliau sempat mendengar suara orang menjerit dan minta ampun. Kebanyakan yang menjerit adalah para wanita, akan tetapi kemudian semuanya berhenti dan jadi sunyi kembali. Adapun suara tembakan terdengar riuh sekali. Setelah kondisi aman keluarga Pak Saman keluar rumah dan mulai mengungsi berjalan melewati belakang Dapur umum yang barusan diserang oleh tentara Kido Butai Jepang, kata mertua saya banyak korban bergelimpangan dalam kondisi mengenaskan. Keluarga Pak Saman berjalan ke arah daerah Tulung Wot lalu menuju daerah Sangu Banyu Bandongan untuk mengungsi. 

     Selama zaman pendudukan Jepang ini, jenis-jenis hewan yang menyerang orang adalah:

1. Tumo katok 

2. Tumo rambut yang menyebabkan borok di kepala

3. Kutu busuk di amben, kasur, kursi

4. Bekicot

Sedangkan penyakit-pemyakit yang menyerang manusia adalah:

1. Beri-beri karena kekurangan vitamin B

2. Gudik dan koreng

3. Disentri 

     Betapa sangat susah dan sengsaranya rakyat Indonesia waktu zaman pendudukan Jepang tahun 1942 - 1945.

     Untuk warga kampung Tulung yang usianya kurang lebih 90 tahun dan tentunya mengalami masa Jepang dan kini masih ada selain mertua saya, yaitu:

1. Ibu Sukamtini (Jl Kusumabangsa I ujung timur sendiri). 

2. Mbok Brintik (Jl Kusumabangsa I, belakangnya rumah Pak Kartono). 

Mungkin beliau beliau ini bisa jadi narasumber primer.


24 August 2026

Dimanakah raja keempat kraton Kartasura lahir? Raja keempat di Kartasura yaitu Sunan Amangku Rat IV kelak akan melahirkan raja2 di Surakarta dan Yogyakarta.* Berdasarkan chronicle Mataram, inilah serangkaian peristiwa yg telah ia alami. Jadi, ketika terjadi serangan Trunajaya pada 1671, ayahnya yaitu Pangeran Puger, putera kedua raja (Amangku Rat I) tetap bertahan di Plered. Raja telah eksodus ke brang kulon (Banyumas), disusul putera sulung yaitu Raden Mas Rahmat yang kelak akan mewarisi tahta dan memindahkan kraton baru di Kartasura. Jadi putra mahkota ini tidak kembali ke Plered. Di reruntuhan Plered, Pangeran Puger mengangkat diri sebagai Susuhunan ing Ngalaga Tentu saja ini dianggap menyaingi kekuasaan raja baru di Kartasura. Amangku Rat II kemudian membujuk adik tirinya tadi Sunan Ngalaga supaya bergabung dengannya tetapi panggilan tersebut ditolak. Penolakan tersebut menimbulkan perang saudara. Dalam kondisi memanas itulah, lahir Raden Mas Suryaputra, putra Pangeran Puger. Kelak bergelar Amangku Rat IV. Setahun setelah kelahirannya, pada tanggal 28 November 1681 Jacob Couper, perwira VOC membantu Amangkurat II menyerang Plered. Sunan Ngalaga kalah dan ikut pindah ke Kartasura beserta keluarganya. Sunan Ngalaga pun kembali bergelar sebagai Pangeran Puger dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II. Artinya P. Puger baru pindah ke Kartasura setelah 1681, sedangkan Amangkurat IV (anaknya) lahir 1680. Jadi antara 1680 - 1681 ia masih di Plered. Jadi meski lahir di Plered, Raden Mas Suryaputra bertumbuh besar di Kartasura, bersama ayahandanya Pangeran Puger. Tempat tinggalnya Pugeran, kini tersisa Punthuk Pugeran di Kartasura. Beberapa fragmen perang kelak akan ia alami, yaitu perang antara ayahnya dengan raja bertahta - ponakan Pangeran Puger yaitu Amangku Rat III dan disusul.naik tahtanya ayahandanya sebagai raja Mataram (Pakubuwana I) sehingga kelak ia mewarisi tahta sebagai Susuhunan Amangku Rat IV. Banyak yang bertanya, mengapa dia tidak meneruskan gelar ayahnya yaitu Susuhunan Pakubuwana, tetapi justru memyempal kembali ke Amangku Rat (IV)? Jawabnya ? Catatan kaki * raja keempat di Kartasura setelah Amangku Rat I, II dan Pakubuwana I Rujukan : De Graaf

 Dimanakah raja keempat kraton Kartasura lahir?



Raja keempat di Kartasura  yaitu Sunan Amangku Rat IV kelak akan melahirkan raja2 di Surakarta dan Yogyakarta.*


Berdasarkan chronicle Mataram, inilah serangkaian peristiwa yg telah ia alami.


Jadi, ketika terjadi serangan Trunajaya pada 1671, ayahnya yaitu Pangeran Puger, putera kedua raja (Amangku Rat I) tetap bertahan di Plered.


Raja telah eksodus ke brang kulon (Banyumas), disusul putera sulung yaitu Raden Mas Rahmat yang kelak akan mewarisi tahta dan memindahkan kraton baru di Kartasura. Jadi putra mahkota ini tidak kembali ke Plered.


Di reruntuhan Plered, Pangeran Puger mengangkat diri sebagai Susuhunan ing Ngalaga 


Tentu saja ini dianggap menyaingi kekuasaan raja baru di Kartasura. 

Amangku Rat II kemudian membujuk adik tirinya tadi Sunan Ngalaga supaya bergabung dengannya tetapi panggilan tersebut ditolak. Penolakan tersebut menimbulkan perang saudara. 


Dalam kondisi memanas itulah, lahir Raden Mas Suryaputra, putra Pangeran Puger. Kelak bergelar Amangku Rat IV.


Setahun setelah kelahirannya,  pada tanggal 28 November 1681 Jacob Couper, perwira VOC  membantu Amangkurat II menyerang Plered. Sunan Ngalaga kalah dan ikut pindah ke Kartasura beserta keluarganya.


Sunan Ngalaga pun kembali bergelar sebagai Pangeran Puger dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.


Artinya P. Puger baru pindah ke Kartasura setelah 1681, sedangkan Amangkurat IV (anaknya) lahir 1680.  Jadi antara 1680 - 1681 ia masih di Plered.


Jadi meski lahir di Plered, Raden Mas Suryaputra bertumbuh besar di Kartasura, bersama ayahandanya Pangeran Puger. Tempat tinggalnya Pugeran, kini tersisa Punthuk Pugeran di Kartasura.


Beberapa fragmen perang kelak akan ia alami, yaitu perang antara ayahnya dengan raja bertahta - ponakan Pangeran Puger yaitu Amangku Rat III dan disusul.naik tahtanya ayahandanya sebagai raja Mataram (Pakubuwana I) sehingga kelak ia mewarisi tahta sebagai Susuhunan Amangku Rat IV.


Banyak yang bertanya, mengapa dia tidak meneruskan gelar ayahnya yaitu Susuhunan Pakubuwana, tetapi justru memyempal kembali ke Amangku Rat (IV)?


Jawabnya ?


Catatan kaki

* raja keempat di Kartasura setelah Amangku Rat I, II dan Pakubuwana I


Rujukan :

De Graaf

23 August 2026

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas 1912 Puncak borobudur sehancur ini Pembangunan Borobudur menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 masehi. Bangunan suci ini disebutkan tahun 1365 masehi, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit,Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur". 2.672 panel relief yang ada di Borobudur dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni panel naratif fan dekoratif. Sebanyak 1.460 panel naratif tersusun dalam sebelas baris yang mengelilingi monumen dengan total panjang lebih dari 3.000 meter. Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini tersimpan di Museum Nasional Bangkok Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 seiring dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh Pu Sindok.Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.

 Noesantara Tempo Doeloe 

Potret lawas 1912 Puncak borobudur sehancur ini



Pembangunan Borobudur  menghabiskan waktu 75 - 100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan pada masa pemerintahan raja Samaratungga pada tahun 825 masehi.


Bangunan suci ini disebutkan  tahun 1365 masehi, oleh Mpu Prapanca dalam naskahnya Nagarakretagama yang ditulis pada masa kerajaan Majapahit,Ia menyebutkan adanya "Wihara di Budur".


2.672 panel relief yang ada di Borobudur dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni panel naratif fan dekoratif. Sebanyak 1.460 panel naratif tersusun dalam sebelas baris yang mengelilingi monumen dengan total panjang lebih dari 3.000 meter.


Pada tahun 1896, Raja Thailand, Chulalongkorn ketika mengunjungi Jawa di Hindia Belanda (kini Indonesia) menyatakan minatnya untuk memiliki beberapa bagian dari Borobudur. Pemerintah Hindia Belanda mengizinkan dan menghadiahkan delapan gerobak penuh arca dan bagian bangunan Borobudur. Artefak yang diboyong ke Thailand antara lain; lima arca Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang, dan arca penjaga dwarapala yang pernah berdiri di Bukit Dagi — beberapa ratus meter di barat laut Borobudur. Beberapa artefak ini, yaitu arca singa dan dwarapala, kini tersimpan di Museum Nasional Bangkok


Borobudur ditinggalkan pada abad ke-10 seiring dipindahnya pusat Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur oleh Pu Sindok.Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa.

20 August 2026

PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 DARI SUDUT NEDERLAND Oleh: Ong Hok Ham (MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978) Pendahuluan. Proklamasi 17 Aug 1945 merupakan saat yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Peristiwa ini, bukan tanggal, juga penting bagi Nederland. Sebab peristiwa ini meng- hadapkan Belanda dengan pem brontakan koloninya. Dalam tulisan ini kami akan memberikan beberapa cukilan dari reaksi2 Belanda mengenai proklamasi republik Indonesia. Cukilan2 tsb. akan diambil dari kumpulan dokumen2 mengenai hubungan2 Indonesia-Belanda (Officiele Bescheiden Betreffende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950, Jilid 1, 59 hal. 10 Aug. 10 Nov. 1945 s'-Gravenhage, Martinus Nijhoff 1871) (sampai sekarang telah terbit 6 jilid sampai 1946). dibawah pengawasan Professor S.L. van de Wal, guru besar dari Universitas Urecht. Dalam bulan Augustus 1945 Nederland baru sejak empat bulan dibebaskan dari pendudukan Jerman dan melihat berachirnya perang Eropa. Nederland keluar dari perang dunia II dalam keadaan yang amat sukar. Angkatan daratnya harus dibangun kembali, angkatan laut dan yang lebih penting lagi angkatan transport dan dagang hampir musnah, dan angkatan udara tak ada. Bila paksa mengeluarkan lebih eli makanan saja. Dalam bulan Aug. 45 belum diadakan pemilihan umum di Nederland sejak perang dunia ke-II. Dua menteri2 Belanda sukar a, atau Belanda dan kedutaan2 dapat memberikan mereka tempat dalam pesawat. Kalau ini bagi perorangan apalagi bagi tentara2. Kapitulasi Jepang. Buku SL. van de Wal,dibuka dengan saling memberikan ucapan selamat dengan desas-desus yang agak pasti mengenai penyerahan Jepang. Komunikasi ini diadakan antara Menlu Belanda dan Lord Louis Mountbatten, panglima sekutu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada tanggal itu juga diadakan pembicaraan yang lebih serius di Den Haag, pusat pemerintahan Belanda, diantara perdana-menteri, menteri jajajahan dan panglima2. Dalam rapat itu dikatakan bahwa penyerahan Jepang ini agak tiba2 dan tidak tersangka. Alangkah baiknya sekarang kalau tentara Jepang yang menduduki Hindia tetap mengadakan perlawanan terhadap sekutu sehingga Hindia harus diperangi dan diduduki sekutu. Sebab dengan demikian Belanda akan mempunyai kesempatan untuk membonceng dibelakang sekutu dalam hal ini Inggris. ("Tijd winnen... memperoleh waktu", kata dokumen tsb.). Ini memang kunci bagi poliik Belanda selama bulan2 pertama menghadapi Republik Indonesia. Tgl. 12 Aug. Lt. G.G. van Mook menyodorkan dua persoalan yang sementara ini dominan bagi Nederland, y.i. penciptaan kerja-sama yang sebaik-baiknya dengan tokoh2 Indonesia kecuali dengan para kolaborator dengan musuh, Jepang; dan persoalan yang lebih konkrit: pengungsian para tahanan Belanda dari kamp2 Jepang. Belanda ketika kalah terhadap Jepang tidak mencoba mengungsikan pegawai2 pemerintah dan penduduk sipil Belanda, kecuali beberapa tokoh seperti Van Mook, Van Der Plas, Abdulkadir Wijoyo Atmojo dll,. Ini berlainan dengan Inggris yang paling sedikit berusaha mengungsikan isteri2 dan anak2 Inggris ke-daerah2 lebih aman ketika Jepang mendekati koloni2 Inggris di Asia. Karena politik Belanda ini maka Nederland menghadapi suatu persoalan gawat yang lain y.i. bahwa mesin pemerintahannya yang demikian terkenal baik sebelum perang, didemoralisir atau sedikit banyak lumpuh karena mengalami empat tahun kam tahanan Jepang. Keadaan ini mungkin juga mempengaruhi pandangan Logeman, menteri jajahan yang terkenal sebagai seorang "progresif" ("liberal") istilah ini lebih tepat untuk menggambarkan keadaan Belanda, yang mengatakan pada Tjarda, G.G. terachir Hindia Belanda, bahwa setelah perang lebih banyak orang Indonesia akan dipakai dalam administrasi pemerintah. Sebenarnya pandangan Logeman ini tidak lain daripada akan meneruskan proses2 Indonesianisasi aparatus pemerintah yang telah terjadi dalam zaman Jepang. Namun sebab2 untuk politik "Indiani- sering" ("Indonesianisasi) yang diajukan menteri jajahan ini sangat menarik y.i. bahwa alasan akan dipakainya pegawai 2 Indonesia dalam administrasi pemerintahan adalah karena lebih murah daripada pegawai2 Belanda. Salah suatu keberatan terhadap aparatus Belanda Kolonial adalah bahwa dalam keadaan ekonomi menguntungkan atau merugikan selalu harus dikeluarkan beaya besar untuk pegawai2 Belanda di Indonesia, yang harus hidup dengan taraf tinggi, harus didatangkan dari Eropa dan mendapat vakansi ke-Belanda dll. Bila sekarang aparatus pemerintah kolonial di isi oleh orang2 Indonesia maka mereka tak perlu hidup setaraf dan memerlukan beaya2 lain. Namun Indonesianisasi aparatus pemerintah kolonial ini hanya dapat berjalan sekian jauh asal saja.... perusahaan-perusahaan besar tidak kehilangan kepercayaan mereka terhadap efisiensi, demikianlah menurut Logeman. Apa Belanda tidak menduga sedikitpun bahwa kembalinya mereka kekoloni mereka akan ditentang penduduk? Rupanya sama sekali tidak, sebab tidak ada suatu perhitungan apapun mengenai perubahan2 yang mungkin terjadi selama empat tahun pendudukan Jepang. Semua rencana2 seakan-akan dibuat atas dasar keadaan2 empat atau lima tahun yang lalu. Van Mook menduga bahwa Sumatra akan dapat menimbulkan kesukaran2 tidak karena perlawanan rakyat akan tetapi karena disana ada demikian banyak suku bangsa yang dapat menimbulkan pertentangan2 intern. Jawa tidak dikuatirkan karena penduduknya homogin; hanya peristiwa2 perampokan dapat terjadi karena lowongan kekuasaan. Tjarda lalu memperingatkan bahwa penduduk Jawa Barat fanatik dalam agama Islamnya dan dapat membahayakan karena itu mengapa tak jelas pokoknya hanya Islam phobi saja. Proklamasi. Baru pada 20 Aug. 1945 Van Mook. memberitahukan pada kabinet di Nederland secara sepintas lalu mengenai proklamasi republik Indonesia tiga hari yang lalu: "Menurut siaran2 radio yang diterima dari Bandung, komando tentara Jepang akan memproklamirkan republik Indonesia hari ini dengan Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil-presiden. Sampai hari ini Jepang belum mengumumkan penyerahan mereka terhadap sekutu....." Baru 10 hari kemudian proklamasi ini mendapat tanggapan serius kabinet Nederland yang menginstruksikan pada Menlu-nya untuk mengirimkan nota pada sekutu mengenai manipulasi2 politik Jepang yang mendirikan republik di Indonesia dengan organisasi 2 para-militer. Dalam hubungan ini Logeman meng umumkan rencana2 Belanda bagi koloninya setelah perang selesai. Ditekankan olehnya bahwa Ratu Wilhelmina pada 6 Dec. 1942 mengucapkan pidato radio dengan menjanjikan akan diadakannya rijksconferentie (Konferensi kerajaan) yang akan terdiri dari Nederland, Hindia Belanda dan Suriname. Konferensi tsb. akan membicarakan bersama-sama pembaharuan politik dan susunan baru kerajaan Belanda. Dalam janji ratu, yang tentunya tidak didengar rakyat Indonesia karena Hindia sedang diduduki Jepang, dikatakan bahwa penelitian komisi pemerintah Hindia Belanda, yang disebut komisi Visman, mengenai keinginan2 politik masyarakat Hindia akan dijadikan landasan bagi konferensi tsb. Pekerjaan Komisi tsb. juga dijadikan bukti niat2 Belanda yang baik. Komisi Visman (salah seorang anggota adalah Prof. Wertheim) setahun sebelum perang Pasifik mengadakan berbagai interview dengan tokoh2 nasionalis Indonesia yang kebanyakan terdiri dari golongan ko-operators (kerja- sama dalam dewan2 Hindia Belanda), yang merupakan nasionalis yang sangat lunak. Dengan sendirinya tawaran Rijksconferentie ini jika pun diketahui oleh orang2 Indonesia tidak dapat merupakan alternatip yang menarik dibandingkan dengan proklamasi dan fakta bahwa kekuasaan memang telah jatuh ketangan Indonesia. Untuk sementara reaksi Nederland terhadap proklamasi dan pimpinan republik Indonesia sangat keras sekali. Bukan saja karena Soekarno, Hatta dll. bukan merupakan tokoh2 nasionalis yang lunak akan tetapi bagi Nederland mereka itu adalah kolaborator2 dengan Jepang, jadi pengchianat2 yang sering disamakan dengan kolaborator2 Eropa dengan tentara penduduk Jerman. Tentu hal ini berlainan sekali sebab negara2 Eropa merupakan negara2 merdeka sedangkan Indonesia adalah koloni yang diduduki Jepang. Maka dari itu pandangan2 Belanda tsb. tidak dapat diterima oleh pihak sekutu. Dilain pihak Belanda berkepenting an untuk mengecap republik proklamasi sebagai suatu buatan Jepang dan bahwa Sukarno-Hatta adalah kolaborator2 dengan musuh sebab dengan demikian ada harapan bahwa sekutu akan memerangi republik. Chususnya kabinet di Nederland akan keras kepala menolak segala perundingan dengan pihak Sukarno-Hatta, Pada pertengahan September Belanda baru mendapat laporan2 nyata mengenai Indonesia (Jakarta). Dibawah perlindungan tentara Jepang Van Mok, van der Plas dan Abdulkadir Wijojoatmodjo mendarat di Jakarta dan mengadakan hubungan2 pribadi dengan berbagai orang di Jakarta. Van Mook dan Van der Plas mencoba untuk menghubungi beberapa tokoh Indonesia yang mereka kenal sebelum perang tetapi tak ada sesuatu yang muncul kecuali seorang ahli hukum, Mr. Slamet yang mengkagetkan Jakarta dengan tulisannya yang pro-Belanda. Abdulkadir bertemu dengan Sukarno dan mendapat kesan bahwa dia tidak dapat mengatasi kekuatan2 revolusioner dan pergolakan disekitarnya. Tokoh2 Hindia Belanda dahulu yang masih dalam kamp tahanan Jepang, demi keselametan mereka sendiri, seperti Mr. Spit, wakil presiden Dewan Hindia (Raad van Ne. Belanda) penuh dengan nasehat2 dan laporan2 atas dasar pengamatan sendiri. Demikian umpamanya rapat Ikada dilaporkan oleh Spit. Seperti semua dikuatirkan bahwa republik dapat mengkonsolidasi diri karena sekutu belum dapat mendarat. Penundaan2 pendaratan Inggris di Batavia dan pelabuhan2 lain di Jawa sangat mengesalkan dan mengecewakan Belanda. Van Mook, Van der Plas dan Abdulkadir semua sependapat bahwa keadaan di Indonesia jauh lebih gawat dari mereka duga pada permulaan. Van Mook dan Van der Plas mulai memikirkan perundingan2 dengan Sukarno-Hatta juga karena tekanan Inggris. Akan tetapi kabinet Nederland masih keras kepala. Dari pengamatan2 pribadi tokoh2 pemerintahan NICA (Neth. Indies Civil Ad- ministration) dilihat berkibarnya merah-putih dimana-mana. Penurunan bendera nasional ini tidak mungkin lagi tanpa pertumpahan darah. Jadi diusulkan bahwa disamping bendera Merah-Putih akan berkibar bendera Belanda atau bendera Merah-Putih sebaiknya ditambah disampingnya dengan warna "Oranje" (warna keluarga raja Belanda). Dengan demikian Belanda mengharapkan bahwa paling sedikit diakui juga oleh pihak Indonesia tuntutan2 Belanda yang bersejarah atas Indonesia. Memang pada saat kekuatan tidak ada maka simbolisme sejarah memainkan peranan juga. Pengakuan de facto. Pada achir September 45 Inggris mendarat di Jakarta dan panglima Inggris, Jendral Christison seakan2 mengakui republik secara de facto, namun Inggris merasa enggan (malas tidak berkepentingan) untuk berperang dengan republik. Justru charisma dan dominasi tokoh Sukarno-Hatta serta dukungan terhadap republik mau dipakai Inggris untuk mendarat secara damai di Jakarta dan menunaikan tugas2 mereka dalam perang dunia ke-II sebaik mungkin dengan beaya dan korban sesedikit mungkin Tugas mereka yang utama adalah pembebasan tawanan2 kamp2 Jepang dan perucutan senjata Jepang serta pengembalian tentara Jepang dari Indonesia. Tugas2 ini ditekankan oleh Inggris dan tidak pengembalian status quo di Indonesia seperti diingini oleh Belanda. Biarpun Belanda pada permukaan sangat kaget dan protes terhadap jendral Christison namun sebenarnya setelah minggu pertama pendaratan tentara Inggris di Jakarta y.i. pada tgl 9 Okt. Logeman sudah mulai mengakui bahwa "kewibawaan Belanda di Hindia telah mengalami tamparan selama perang dunia....". Tjarda, Gubernur Jendral terachir dari Hindia Belanda yang baru dibebaskan dari tawanan Jepang tidak dikirim kembali ke Jakarta. Wakilnya Van Mook diserahi kepercayaan selama beberapa tahun memegang pucuk pimpinan soal2 Indonsia, Van Mook terkenal sebagai lebih "progressif" daripada Tjarda. Campur tangan Inggris dalam persoalan2 Indonesia bukan saja disebabkan karena persetujuan2 diantara ke-empat negara besar sekutu (Belanda tidak termasuk ini) akan tetapi juga karena Inggris mempunyai kepentingan2 di Eropa. Arti dari yang terachir ini adalah bahwa Inggris berkepentingan akan hubungan2 baik dengan Nederland, maka dari itu Inggris biarpun perang Pasifik secara resmi telah selesal bersedia untuk menunaikan tugas2nya. Hal yang terachir ini dijadikan modal Belanda untuk mengadakan pembicaraan dengan Inggris atau untuk menuntut dari Inggris untuk mengembalikan status-quo di Indonesia. Pada 15 Okt. Inggris, y.i. perdana menteri Atlee yang terkenal sebagai orang yang tidak mau berpanjang-lebar, menjawab Belanda dengan tegas dan singkat bahwa Inggris tidak bersedia untuk memerangi republik dan sebaiknya Belanda berunding dengan pimpinannya yang sekarang. Atlee bersedia menjadi perantara. Sejak itu tidak ada jalan lain bagi Belanda kecuali perundingan. Sebenarnya jawaban Inggris ini sudah harus diduga mengingat politik Inggris sendiri di Burma terhadap Aung San, dil, tokoh2 nasionalis "ciptaan Jepang". Aneh bahwa dalam dokumen2 Belanda politik Inggris di Burma sama sekali tidak disebut,. Apa ini karena ke-tidak-tahuan, ketidak insyafan akan itu atau karena hal2 lain? Dokumen terachir dari jilid I kumpulan dokumen2 tsb. adalah persetujuan kabinet Nederland bahwa Jendral Christison menjamu makan malam bersama dengan tamu-tamunya: Van Mook dan Sukarno. Jalan pertama pengakuan kedaulatan republik Indonesia. Bagi sejarawan atau bukan, bagi orang Indonesia atau Belanda sekarang ini berdiri satu fakta bahwa sebelum pengakuan resmi pada achir 1949, telah berlangsung 5 tahun penderitaan dan pengorbanan didua belah pihak. Apakah pengorbanan2 dan penderitaan ini hanya karena kekurangan pengetahuan (ingorance), sentimen, takut kehilangan muka atau hal2 yang memang betul prinsipill ataupun menyangkut kepentingan2 hidup-mati bangsa. Sebagai catatan terachir mungkin dapat dikemukakan bahwa kemakmuran ekonomi dan penikmatannya secara merata di Nederland sebenarnya baru datang setelah 1950. Apakah salah suatu sebab bukan dengan kehilangan koloni2 maka modal Belanda terpaksa ditanamkan didalam negeri, dalam Nederland sendiri, yang tentunya mengakibatkan industrialisasi dalam negeri, pemberian lapangan pekerjaan dalam negeri dan meningkatkan kemakmuran dalam negeri. Sumber: MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978

 PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945 DARI SUDUT NEDERLAND


Oleh: Ong Hok Ham

(MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978)



Pendahuluan.


Proklamasi 17 Aug 1945 merupakan saat yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Peristiwa ini, bukan tanggal, juga penting bagi Nederland. Sebab peristiwa ini meng- hadapkan Belanda dengan pem brontakan koloninya. Dalam tulisan ini kami akan memberikan beberapa cukilan dari reaksi2 Belanda mengenai proklamasi republik Indonesia. Cukilan2 tsb. akan diambil dari kumpulan dokumen2 mengenai hubungan2 Indonesia-Belanda (Officiele Bescheiden Betreffende de Nederlands-Indonesische Betrekkingen 1945-1950, Jilid 1, 59 hal. 10 Aug. 10 Nov. 1945 s'-Gravenhage, Martinus Nijhoff 1871) (sampai sekarang telah terbit 6 jilid sampai 1946). dibawah pengawasan Professor S.L. van de Wal, guru besar dari Universitas Urecht.


Dalam bulan Augustus 1945 Nederland baru sejak empat bulan dibebaskan dari pendudukan Jerman dan melihat berachirnya perang Eropa. Nederland keluar dari perang dunia II dalam keadaan yang amat sukar. Angkatan daratnya harus dibangun kembali, angkatan laut dan yang lebih penting lagi angkatan transport dan dagang hampir musnah, dan angkatan udara tak ada. Bila Nederland sebelum perang dunia ke-II selalu mempunyai balans perdagangan yang menguntungkan maka sekarang Belanda terpaksa mengeluarkan lebih dari 500 juta gulden untuk membeli makanan saja. Dalam bulan Aug. 45 belum diadakan pemilihan umum di Nederland sejak perang dunia ke-II. Dua golongan yang dominan dalam politik y.i. golongan resistance, mereka yang melawan Jerman dibawah tanah dan golongan ex-tahanan Jerman, kedua golongan ini dilihat sebagal orang2 yang lebih progresif dan akan memperbaharui kehidupan politik Nederland. Namun kedua golongan ini berasal dari berbagai partai. Selain itu faktor yang lebih penting lagi untuk menilai hubungan2 Nederland dan koloni2nya adalah mitos: "Indie Verloren, Rampsoed Geboren" (Hindia hilang, dan malapetaka lahir). Dengan singkat mitos dinegeri Belanda adalah bahwa koloni Hindia ini yang harus mengembalikan kemakmuran dan kejayaan Nederland. Sebab tanpa koloni apa arti internasional Nederland?


Dalam keadaan diatas ini Nederland dan sekutu menghadapi penyerahan Jepang yang tiba2. Tiba2 karena menurut dugaan Jepang baru akan kalah enam bulan tanpa dijatuhkannya bom Atom. Saat tiba2 dari penyerahan jepang ini penting bagi Asia Tenggara dan Indonesia, seakan2 itu menentukan semuanya Sebab penyerahan tiba2 menimbulkan persoalan2 transport, bukan saja transport2 tentara tetapi juga transport pribadi2. Misalnya pegawai2 tinggi Hindia Belanda ataupun menteri2 Belanda sukar sekali mendapat tempat dalam pesawat2 ke-Asia, atau Australia. Hanya intervensi dari Menteri L.N. Belanda dan kedutaan2 dapat memberikan mereka tempat dalam pesawat. Kalau ini bagi perorangan apalagi bagi tentara2.


Kapitulasi Jepang.


Buku SL. van de Wal,dibuka dengan saling memberikan ucapan selamat dengan desas-desus yang agak pasti mengenai penyerahan Jepang. Komunikasi ini diadakan antara Menlu Belanda dan Lord Louis Mountbatten, panglima sekutu di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada tanggal itu juga diadakan pembicaraan yang lebih serius di Den Haag, pusat pemerintahan Belanda, diantara perdana-menteri, menteri jajajahan dan panglima2. Dalam rapat itu dikatakan bahwa penyerahan Jepang ini agak tiba2 dan tidak tersangka. Alangkah baiknya sekarang kalau tentara Jepang yang menduduki Hindia tetap mengadakan perlawanan terhadap sekutu sehingga Hindia harus diperangi dan diduduki sekutu.


Sebab dengan demikian Belanda akan mempunyai kesempatan untuk membonceng dibelakang sekutu dalam hal ini Inggris. ("Tijd winnen... memperoleh waktu", kata dokumen tsb.). Ini memang kunci bagi poliik Belanda selama bulan2 pertama menghadapi Republik Indonesia.


Tgl. 12 Aug. Lt. G.G. van Mook menyodorkan dua persoalan yang sementara ini dominan bagi Nederland, y.i. penciptaan kerja-sama yang sebaik-baiknya dengan tokoh2 Indonesia kecuali dengan para kolaborator dengan musuh, Jepang; dan persoalan yang lebih konkrit: pengungsian para tahanan Belanda dari kamp2 Jepang. Belanda ketika kalah terhadap Jepang tidak mencoba mengungsikan pegawai2 pemerintah dan penduduk sipil Belanda, kecuali beberapa tokoh seperti Van Mook, Van Der Plas, Abdulkadir Wijoyo Atmojo dll,. Ini berlainan dengan Inggris yang paling sedikit berusaha mengungsikan isteri2 dan anak2 Inggris ke-daerah2 lebih aman ketika Jepang mendekati koloni2 Inggris di Asia. Karena politik Belanda ini maka Nederland menghadapi suatu persoalan gawat yang lain y.i. bahwa mesin pemerintahannya yang demikian terkenal baik sebelum perang, didemoralisir atau sedikit banyak lumpuh karena mengalami empat tahun kam tahanan Jepang.


Keadaan ini mungkin juga mempengaruhi pandangan Logeman, menteri jajahan yang terkenal sebagai seorang "progresif" ("liberal") istilah ini lebih tepat untuk menggambarkan keadaan Belanda, yang mengatakan pada Tjarda, G.G. terachir Hindia Belanda, bahwa setelah perang lebih banyak orang Indonesia akan dipakai dalam administrasi pemerintah.


Sebenarnya pandangan Logeman ini tidak lain daripada akan meneruskan proses2 Indonesianisasi aparatus pemerintah yang telah terjadi dalam zaman Jepang. Namun sebab2 untuk politik "Indiani- sering" ("Indonesianisasi) yang diajukan menteri jajahan ini sangat menarik y.i. bahwa alasan akan dipakainya pegawai 2 Indonesia dalam administrasi pemerintahan adalah karena lebih murah daripada pegawai2 Belanda. Salah suatu keberatan terhadap aparatus Belanda Kolonial adalah bahwa dalam keadaan ekonomi menguntungkan atau merugikan selalu harus dikeluarkan beaya besar untuk pegawai2 Belanda di Indonesia, yang harus hidup dengan taraf tinggi, harus didatangkan dari Eropa dan mendapat vakansi ke-Belanda dll. Bila sekarang aparatus pemerintah kolonial di isi oleh orang2 Indonesia maka mereka tak perlu hidup setaraf dan memerlukan beaya2 lain. Namun Indonesianisasi aparatus pemerintah kolonial ini hanya dapat berjalan sekian jauh asal saja.... perusahaan-perusahaan besar tidak kehilangan kepercayaan mereka terhadap efisiensi, demikianlah menurut Logeman.


Apa Belanda tidak menduga sedikitpun bahwa kembalinya mereka kekoloni mereka akan ditentang penduduk? Rupanya sama sekali tidak, sebab tidak ada suatu perhitungan apapun mengenai perubahan2 yang mungkin terjadi selama empat tahun pendudukan Jepang. Semua rencana2 seakan-akan dibuat atas dasar keadaan2 empat atau lima tahun yang lalu. Van Mook menduga bahwa Sumatra akan dapat menimbulkan kesukaran2 tidak karena perlawanan rakyat akan tetapi karena disana ada demikian banyak suku bangsa yang dapat menimbulkan pertentangan2 intern. Jawa tidak dikuatirkan karena penduduknya homogin; hanya peristiwa2 perampokan dapat terjadi karena lowongan kekuasaan. Tjarda lalu memperingatkan bahwa penduduk Jawa Barat fanatik dalam agama Islamnya dan dapat membahayakan karena itu mengapa tak jelas pokoknya hanya Islam phobi saja.


Proklamasi.


Baru pada 20 Aug. 1945 Van Mook. memberitahukan pada kabinet di Nederland secara sepintas lalu mengenai proklamasi republik Indonesia tiga hari yang lalu: "Menurut siaran2 radio yang diterima dari Bandung, komando tentara Jepang akan memproklamirkan republik Indonesia hari ini dengan Soekarno sebagai presiden dan Hatta sebagai wakil-presiden. Sampai hari ini Jepang belum mengumumkan penyerahan mereka terhadap sekutu....."


Baru 10 hari kemudian proklamasi ini mendapat tanggapan serius kabinet Nederland yang menginstruksikan pada Menlu-nya untuk mengirimkan nota pada sekutu mengenai manipulasi2 politik Jepang yang mendirikan republik di Indonesia dengan organisasi 2 para-militer.


Dalam hubungan ini Logeman meng umumkan rencana2 Belanda bagi koloninya setelah perang selesai. Ditekankan olehnya bahwa Ratu Wilhelmina pada 6 Dec. 1942 mengucapkan pidato radio dengan menjanjikan akan diadakannya rijksconferentie (Konferensi kerajaan) yang akan terdiri dari Nederland, Hindia Belanda dan Suriname. Konferensi tsb. akan membicarakan bersama-sama pembaharuan politik dan susunan baru kerajaan Belanda.


Dalam janji ratu, yang tentunya tidak didengar rakyat Indonesia karena Hindia sedang diduduki Jepang, dikatakan bahwa penelitian komisi pemerintah Hindia Belanda, yang disebut komisi Visman, mengenai keinginan2 politik masyarakat Hindia akan dijadikan landasan bagi konferensi tsb. Pekerjaan Komisi tsb. juga dijadikan bukti niat2 Belanda yang baik. Komisi Visman (salah seorang anggota adalah Prof. Wertheim) setahun sebelum perang Pasifik mengadakan berbagai interview dengan tokoh2 nasionalis Indonesia yang kebanyakan terdiri dari golongan ko-operators (kerja- sama dalam dewan2 Hindia Belanda), yang merupakan nasionalis yang sangat lunak. Dengan sendirinya tawaran Rijksconferentie ini jika pun diketahui oleh orang2 Indonesia tidak dapat merupakan alternatip yang menarik dibandingkan dengan proklamasi dan fakta bahwa kekuasaan memang telah jatuh ketangan Indonesia.


Untuk sementara reaksi Nederland terhadap proklamasi dan pimpinan republik Indonesia sangat keras sekali. Bukan saja karena Soekarno, Hatta dll. bukan merupakan tokoh2 nasionalis yang lunak akan tetapi bagi Nederland mereka itu adalah kolaborator2 dengan Jepang, jadi pengchianat2 yang sering disamakan dengan kolaborator2 Eropa dengan tentara penduduk Jerman. Tentu hal ini berlainan sekali sebab negara2 Eropa merupakan negara2 merdeka sedangkan Indonesia adalah koloni yang diduduki Jepang. Maka dari itu pandangan2 Belanda tsb. tidak dapat diterima oleh pihak sekutu. Dilain pihak Belanda berkepenting an untuk mengecap republik proklamasi sebagai suatu buatan Jepang dan bahwa Sukarno-Hatta adalah kolaborator2 dengan musuh sebab dengan demikian ada harapan bahwa sekutu akan memerangi republik. Chususnya kabinet di Nederland akan keras kepala menolak segala perundingan dengan pihak Sukarno-Hatta,


Pada pertengahan September Belanda baru mendapat laporan2 nyata mengenai Indonesia (Jakarta). Dibawah perlindungan tentara Jepang Van Mok, van der Plas dan Abdulkadir Wijojoatmodjo mendarat di Jakarta dan mengadakan hubungan2 pribadi dengan berbagai orang di Jakarta. Van Mook dan Van der Plas mencoba untuk menghubungi beberapa tokoh Indonesia yang mereka kenal sebelum perang tetapi tak ada sesuatu yang muncul kecuali seorang ahli hukum, Mr. Slamet yang mengkagetkan Jakarta dengan tulisannya yang pro-Belanda. Abdulkadir bertemu dengan Sukarno dan mendapat kesan bahwa dia tidak dapat mengatasi kekuatan2 revolusioner dan pergolakan disekitarnya. Tokoh2 Hindia Belanda dahulu yang masih dalam kamp tahanan Jepang, demi keselametan mereka sendiri, seperti Mr. Spit, wakil presiden Dewan Hindia (Raad van Ne. Belanda) penuh dengan nasehat2 dan laporan2 atas dasar pengamatan sendiri. Demikian umpamanya rapat Ikada dilaporkan oleh Spit. Seperti semua dikuatirkan bahwa republik dapat mengkonsolidasi diri karena sekutu belum dapat mendarat. Penundaan2 pendaratan Inggris di Batavia dan pelabuhan2 lain di Jawa sangat mengesalkan dan mengecewakan Belanda. Van Mook, Van der Plas dan Abdulkadir semua sependapat bahwa keadaan di Indonesia jauh lebih gawat dari mereka duga pada permulaan. Van Mook dan Van der Plas mulai memikirkan perundingan2 dengan Sukarno-Hatta juga karena tekanan Inggris. Akan tetapi kabinet Nederland masih keras kepala.


Dari pengamatan2 pribadi tokoh2 pemerintahan NICA (Neth. Indies Civil Ad- ministration) dilihat berkibarnya merah-putih dimana-mana. Penurunan bendera nasional ini tidak mungkin lagi tanpa pertumpahan darah. Jadi diusulkan bahwa disamping bendera Merah-Putih akan berkibar bendera Belanda atau bendera Merah-Putih sebaiknya ditambah disampingnya dengan warna "Oranje" (warna keluarga raja Belanda). Dengan demikian Belanda mengharapkan bahwa paling sedikit diakui juga oleh pihak Indonesia tuntutan2 Belanda yang bersejarah atas Indonesia. Memang pada saat kekuatan tidak ada maka simbolisme sejarah memainkan peranan juga.


Pengakuan de facto.


Pada achir September 45 Inggris mendarat di Jakarta dan panglima Inggris, Jendral Christison seakan2 mengakui republik secara de facto, namun Inggris merasa enggan (malas tidak berkepentingan) untuk berperang dengan republik. Justru charisma dan dominasi tokoh Sukarno-Hatta serta dukungan terhadap republik mau dipakai Inggris untuk mendarat secara damai di Jakarta dan menunaikan tugas2 mereka dalam perang dunia ke-II sebaik mungkin dengan beaya dan korban sesedikit mungkin Tugas mereka yang utama adalah pembebasan tawanan2 kamp2 Jepang dan perucutan senjata Jepang serta pengembalian tentara Jepang dari Indonesia. Tugas2 ini ditekankan oleh Inggris dan tidak pengembalian status quo di Indonesia seperti diingini oleh Belanda.


Biarpun Belanda pada permukaan sangat kaget dan protes terhadap jendral Christison namun sebenarnya setelah minggu pertama pendaratan tentara Inggris di Jakarta y.i. pada tgl 9 Okt. Logeman sudah mulai mengakui bahwa "kewibawaan Belanda di Hindia telah mengalami tamparan selama perang dunia....". Tjarda, Gubernur Jendral terachir dari Hindia Belanda yang baru dibebaskan dari tawanan Jepang tidak dikirim kembali ke Jakarta. Wakilnya Van Mook diserahi kepercayaan selama beberapa tahun memegang pucuk pimpinan soal2 Indonsia, Van Mook terkenal sebagai lebih "progressif" daripada Tjarda.


Campur tangan Inggris dalam persoalan2 Indonesia bukan saja disebabkan karena persetujuan2 diantara ke-empat negara besar sekutu (Belanda tidak termasuk ini) akan tetapi juga karena Inggris mempunyai kepentingan2 di Eropa. Arti dari yang terachir ini adalah bahwa Inggris berkepentingan akan hubungan2 baik dengan Nederland, maka dari itu Inggris biarpun perang Pasifik secara resmi telah selesal bersedia untuk menunaikan tugas2nya. Hal yang terachir ini dijadikan modal Belanda untuk mengadakan pembicaraan dengan Inggris atau untuk menuntut dari Inggris untuk mengembalikan status-quo di Indonesia. Pada 15 Okt. Inggris, y.i. perdana menteri Atlee yang terkenal sebagai orang yang tidak mau berpanjang-lebar, menjawab Belanda dengan tegas dan singkat bahwa Inggris tidak bersedia untuk memerangi republik dan sebaiknya Belanda berunding dengan pimpinannya yang sekarang. Atlee bersedia menjadi perantara. Sejak itu tidak ada jalan lain bagi Belanda kecuali perundingan. Sebenarnya jawaban Inggris ini sudah harus diduga mengingat politik Inggris sendiri di Burma terhadap Aung San, dil, tokoh2 nasionalis "ciptaan Jepang". Aneh bahwa dalam dokumen2 Belanda politik Inggris di Burma sama sekali tidak disebut,. Apa ini karena ke-tidak-tahuan, ketidak insyafan akan itu atau karena hal2 lain? Dokumen terachir dari jilid I kumpulan dokumen2 tsb. adalah persetujuan kabinet Nederland bahwa Jendral Christison menjamu makan malam bersama dengan tamu-tamunya: Van Mook dan Sukarno. Jalan pertama pengakuan kedaulatan republik Indonesia.


Bagi sejarawan atau bukan, bagi orang Indonesia atau Belanda sekarang ini berdiri satu fakta bahwa sebelum pengakuan resmi pada achir 1949, telah berlangsung 5 tahun penderitaan dan pengorbanan didua belah pihak. Apakah pengorbanan2 dan penderitaan ini hanya karena kekurangan pengetahuan (ingorance), sentimen, takut kehilangan muka atau hal2 yang memang betul prinsipill ataupun menyangkut kepentingan2 hidup-mati bangsa. Sebagai catatan terachir mungkin dapat dikemukakan bahwa kemakmuran ekonomi dan penikmatannya secara merata di Nederland sebenarnya baru datang setelah 1950. Apakah salah suatu sebab bukan dengan kehilangan koloni2 maka modal Belanda terpaksa ditanamkan didalam negeri, dalam Nederland sendiri, yang tentunya mengakibatkan industrialisasi dalam negeri, pemberian lapangan pekerjaan dalam negeri dan meningkatkan kemakmuran dalam negeri.


Sumber: MATAHARI, NOMOR 6, 16-31 AGUSTUS 1978

19 August 2026

"Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa." Bung Hatta sering menonton drama-drama Rendra. Meskipun dari 10.000 buku koleksinya hanya terdapat satu novel Gone With The Wind, menurut Meutia, sang putri, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." BUNG HATTA 77 TAHUN (TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979, “Pokok & Tokoh”) Suatu pagi di sebuah apartemen di Hawaii tahun 1968. Dua orang mahasiswa Indonesia datang bertamu menemui tuan rumah yang terdiri dari ayah dan seorang anak perempuan. Si Ayah lalu membuat kopi untuk dirinya dan untuk para tamu yang menjadi kikuk dan salah tingkah, "Meutia, kenapa ayah sendiri yang disuruh membuat kopi?" bisik salah seorang pada si anak perempuan. Dr. Mohammad Hatta si pembuat kopi, 12 Agustus kemarin selamat menggenapkan usianya 77 tahun. Dikenal sebagai orang yang selalu mengerjakan segala sesuatunya sendirian saja. Bahkan ketika hendak berangkat ke RS Cipto Mangunkusumo ‒ untuk opname seminggu lebih ‒ pertengahan Juli lalu, ia mengatur koponya sendiri. "Saya hanya menunggui sambil membiarkannya menikmati pekerjaannya," ujar Meutia Farida Hatta, 32 tahun, puteri pertama yang sejak 1973 menjadi Ny. Dr Sri-Edi Swasono (39). Asbak Keluar dari rumah sakit, Bung Hatta masih dijaga orang suster di bawah pengawasan satu tim dokter. Menurut puteri ke-3 alias si bungsu, Halida Nuriah Hatta (23), ayahnya diharuskan banyak istirahat di samping diet yang keras dengan makanan yang musti diukur. "Sayalah yang mengatur menu," katanya Halida menyebut sayur-mayur merupakan lauk kegemaran tokoh kelahiran Bukittinggi ini, sehingga giginya sampai sekarang masih utuh. "Tak satupun berlubang," tambahnya. Lalu Gemala Rabi'ah Hatta (27), puteri ke-2 yang cantik dan sejak 1976 menjadi isteri drs. Mohd. Chlil Jaridjambek (39), menyebut sayur pare yang pahit sebagai kegemaran ayahnya, "sejak ayah terserang malaria, dulu." Ketiga puterinya punya penilaian yang sama terhadap sang ayah yang menikah pada usia 43 tahun itu (dengan gadis Jawa Aceh yang dibesar kan di Bandung, Rahmi Rachim, ketika itu berusia 19 tahun, dan pernikahan itu dicomblangi Bung Karno). Meutia mengatakan "Ayah memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain." Contoh kecil: meski tak merokok, Bung Hatta menaruh asbak di meja kerjanya, untuk para tamu perokok. "Bung Hatta selalu melihat sesuatu dalam proporsi yang besar," kata Sri-Edi Swasono, menantunya, ex Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan Ul, asal Delanggu, Ja/Teng. "Bung Hatta merupakan pribadi yang unik," kata menantu kedua, Chalil Baridjambek, Direktur Pacto Ltd. dan Daha Motor, "Kukuh dalam mempertahankan pendapat, tapi mentolerir pendapat yang berbeda tanpa mengomentari aspek negatifnya. Mertuanya itu juga "seorang yang relijius dan strict: selalu berusaha shalat pada waktunya, puasa, memberi zakat, dan qurban." Dalam kondisi sehat, Bung Hatta bangun jam 4.20 pagi. Lalu sembahyang subuh. Sesudah mandi dan mencukur janggut, melakukan orhiba (olah raga hidup baru). Makan pagi jam 6, mendengarkan warta berita RRI ‒ tanpa pernah ketinggalan ‒ dan membaca koran. Jam 8.00 kedua sekretarisnya, Wangsa Widjaja, orang Sumedang Ja-Bar dan Hutabarat, Batak Protestan, datang. Kesibukan dimulai di kamar kerja dengan membaca surat-surat dan langsung membalasnya dalam bahasa dari mana surat itu datang. Bahasa yang dikuasai Bung Hatta: Belanda, Perancis, Inggeris dan Jerman. Ketika tinggal di Yogya dulu, ia ingin belajar bahasa Jawa. "Tetapi karena Bung Karno melarang orang bicara dalam bahasa Jawa, sampai sekarang Ayah belum bisa berbahasa Jawa," demikian tuturnya kepada Meutia. Selesai membalas surat-surat, ia menulis. Buku yang sedang diselesaikannya, Memorium jilid II. Dulu ia mengetik sendiri seluruh naskahnya, tapi sekarang tidak. la menulis dengan tulisan tangan untuk kemudian ditik oleh Pak Wangsa (68, sekretaris sejak 1946). Jika sudah mulai menulis, tak ada lagi batas waktu. "Kalau lagi senang, berhari-hari pun ia betah di ruang kerja," tutur Halida. Jam 13.00 tetap ditepati sebagai waktu makan siang bersama. Ketika Meutia dan Gemala bersuami, yang tinggal menemani hanya Halida, yang sebentar lagi pun akan bersuami dengan orang Sunda. "Karena saya tahu ayah menunggu, saya jarang sekali makan di luar," tutur Halida. Gemala melukiskan, meja makan merupakan "forum demokrasi" tempat semua anggota keluarga menceritakan segala sesuatu yang dialami, juga uneg-uneg. Bung Hatta tak punya pilihan khusus terhadap rasa manis, asam atau pedas. Ia makan semata untuk kesehatan. Larangan-larangan dokter dipatuhi dengan disiplin yang tinggi ‒ padahal sebenarnya ia sangat suka rendang hati atau daging. Juga termasuk orang yang tak begitu memperhatikan pakaian. Tidak ada pula warna kesayangan. Biasanya pilihan disesuaikan dengan waktu pemakaian: warna terang untuk siang, warna gelap untuk malam. Dan pakaian bekasnya? "Diberikan kepada pelayan atau tukang kebun," ujar Meutia. Ia memelihara barang-barangnya dengan baik. "Ada sepasang sepatu yang meskipun usianya lebih tua dari adik saya, Halida, tetap dipakainya dan terawat baik," tutur Meutia. Ketika akan pergi ke RSCM di pertengahan Juli itu, Meutia dan Halida yang membantu memakaikan sepatu tadi, berucap, "Ayah, bila ada yang meminta barang barang Ayah untuk disimpan di museum, pasti kita akan memilih sepatu ini lebih dahulu! Sang Ayah tertawa geli, lalu berkata, "O, itu pasti . . . !” Dikenal juga sebagai orang yang tak pernah marah, tidak pernah memukul anak-anak dan tidak pernah menegur dengan suara keras. Bung Hatta disebut Gemala sebagai "orang tanpa ekspresi". Selalu diam. Selalu sangat tenang. Sehingga ketika suatu kali ia kelihatan sangat panik dan gugup, Gemala mencatat hal itu sebagai hal yang tak bisa dilupakan. Keluarga Hatta memiliki rumah ‒selain yang di Jalan Diponegoro ‒ di Megamendung, Puncak. "Dibeli dengan uang tabungan ayah ketika 11 tahun belajar di Belanda dulu," kata Gemala. Suatu hari, bocah Gemala dipanggul ayahnya di pundak, berjalan jalan di sekitar rumah di Megamendung itu. Tiba-tiba Bung Hatta tersandung batu dan jatuh, sehingga si kecil Gemala terlempar beberapa meter. Bung Hatta pun sibuk memeriksa keadaan anaknya yang, untunglah, terlempar ke tumpukan alang-alang. Pinjaman Gemala menilai lagi: "Ayah adalah orang yang tak pernah menggugat. Ayah selalu menerima apa yang ada dan apa yang diberikan kepadanya." Digambarkannya masa masa sulit waktu lalu, di mana keluarga itu harus berdiri di atas uang pensiun se orang bekas wakil presiden yang ternyata tak seberapa. Tapi tak sepatah pun tergetar keluhan dari bibirnya." Untunglah belakangan ada keringanan dalam hal pembayaran listrik dan ledeng. Jatah beras yang terus diterima juga ikut meringankan beban. Selebihnya adalah kehidupan yang amat bersahaja. Dan sedikit hiburan jika ada undangan dari pemerintah asing atau sebuah organisasi kepada Bung Hatta sebagai penceramah, tamu atau sebagai sahabat ‒ yang berarti adanya sekedar uang imbalan dan kesempatan ke luar negeri. "Tanpa undangan, pergi ke Singapura saja pun tak mungkin bisa," kata Gemala. "Sebab ayah dahulu berhenti dari jabatannya sebagai wakil presiden tanpa membawa uang sepeser pun dan tanpa memiliki saham di berbagai perusahaan." Dan mobil Mercy serta Fiat itu? "Yang bernomor 17845, dari pemerintah. Yang lain itu dipinjami." Sambil mengenang masa lalunya, puteri kedua yang sejak 1970 kuliah di Fakultas Kedokteran Ul dan 1½ tahun lalu memperoleh bea siswa belajar di Australia sampai memperoleh gelar MRA itu, mengatakan bahwa ayahnya tak pernah menunjuk tokoh tertentu untuk dijadikan model bagi anak-anaknya. "Kita dibiarkan tumbuh dan diberi kebebasan memilih sendiri." Kalaupun ada yang ditekankan juga bukan dipaksa ialah agar anak-anaknya belajar mengaji dan rajin sembahyang. "Ayah sendiri yang mengajari kami membaca alif bata. Sesudah khatam barulah dipanggil guru mengaji." Dan ketika masih sehat, Bung Hatta bersembahyang Jum'at di Mesjid Matraman yang tak jauh dari rumah. Pernahkah Hatta yang "serius" itu nonton film? "Bila ada film yang baik ‒ menurut rekomendasi Ibu atau Halida," ujar Meutia, yang sehari-harinya dosen di Fakultas Sastra Ul. "Ayah senang film sejarah." Ia pun menggemari musik Bach, Mozart dan Strauss. "Kalau mBak Soerti Soewandi menyanyi diiringi piano oleh Pak BJ. Supardi pada ulang tahun ayah, ayah minta mBak Soerti menyanyikan Nyiur Melambai," ujar Meutia lagi. Lagu-lagu perjuangan yang disukainya ialah Halo-halo Bandung dan Dari Barat Sampai ke Timur. "Ayah juga suka menonton dan menyukai drama-drama Rendra. Dan Rendra selalu memberi undangan pada ayah," kata Gemala. Tapi, benarkah Bung Hatta tak pernah membaca novel sehingga Sutan Sjahrir konon pernah menyebutnya sebagai orang yang "kering"? Di perpustakaan pribadinya yang menyimpan sekitar 10.000 buku, memang tak terselip novel, apalagi buku saku. "Saya hanya pernah melihat satu saja ‒ yaitu Gone With The Wind," kata Gemala. Tapi menurut Meutia, sewaktu masih di Belanda dulu, "ayah rajin membaca novel." Waktu kembali ke Indonesia, sebagian besar novelnya dibagi-bagikan kepada teman-temannya yang masih tinggal di sana. "Sebab buku-buku ilmiah yang musti dibawanya pulang sudah enambelas peti." Tapi ketika dibuang ke Digul dan Bandaneira, ia juga membaca novel. Sesudah itu tidak lagi, "karena kesibukan dalam tugas ilmunya." Menurut Meutia lagi, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa. Bung Hatta tak pernah membaca majalah hiburan. Yang dibacanya Prisma, Time dan Foreign Affairs yang lengkap dikoleksinya sejak terbitan 1932. Juga punya hampir semua nomor The Economist sejak terbitan 1852. Kedua majalah yang disebut terakhir itu masih dilangganinya sampai sekarang. Olah raga yang disukainya, selagi muda, sepak bola dan berenang. Sekitar awal 1957 mulai bermain golf. Kemudian, sejak 1972 ber-orhiba. "Kata ayah, agar punya cadangan tenaga jika sakit." Disiplin dan ketepatannya mengenai waktu sudah bukan rahasia. Tak heran jika banyak orang menghadiahkan arloji kepadanya. Cindy Adams, penulis biografi Sukarno, pernah ditolaknya karena terlambat datang. Dan "sebuah jam Omega pernah diberikan kepada suami saya karena jam itu terlambat satu menit," kata Meutia. Ketika ditanya mengenai rencana pemerintah untuk membuat patung Bung Hatta, Meutia bilang tak tahu-menahu. Namun menurut Gemala, "ayah tidak menolak, meski tidak menginginkannya." Lalu apakah peranan Pak Wangsa yang hadir di tengah keluarga itu berpuluh-puluh tahun? Kata Gemala: "Pak Wangsa bagi kami sudah merupakan ayah kedua." Meutia sendiri merasa sulit melukiskan betapa dekat hubungan ayah dari 4 anak dan kakek dari 14 cucu itu, dengan keluarganya. Bahkan, "Pak Wangsa juga ikut memberi penilaian terhadap calon-calon menantu. Dan dalam hal-hal tertentu saya mengeluh kepadanya, sebelum kepada ayah.” Ucapan Nyonya Wangsa barangkali lebih menggambarkan hubungan itu: "Kami terpaksa membatalkan niat untuk menikmati pensiun di kampung. Tak tega meninggalkan Bung Hatta, sebab Bung Hattalah yang membesarkan suami saya," ujarnya. Emil Salim dan Prof. Widjojo mungkin punya kenangan lain semasa dulu "kuliah" di rumah Bung Hatta di Jalan Merdeka Selatan nomor 13 dengan bersepeda. "Kami semua sayang kepada ayah, karena ayah satu-satunya lelaki di rumah," ujar Halida. Apakah peranan ibu? "Jika ayah adalah pembuat aturan, maka ibu dan Pak Wangsa adalah polisinya," kata Gemala. Tapi mengapa Bung Hatta sampai bisa kenal dan bahkan pernah berpotret bersama dengan Sawito? "Itu lantaran Orhiba," Meutia menjelaskan."Sawito selalu datang pada saat-saat tak terduga. Misalnya, dia tiba-tiba saja muncul di pintu. Atau sewaktu kami sedang makan, dia datang. Kami tak mungkin menolaknya." Sumber: TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979

 "Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa."


Bung Hatta sering menonton drama-drama Rendra. Meskipun dari 10.000 buku koleksinya hanya terdapat satu novel Gone With The Wind, menurut Meutia, sang putri, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." 



BUNG HATTA 77 TAHUN


(TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979, “Pokok & Tokoh”)


Suatu pagi di sebuah apartemen di Hawaii tahun 1968. Dua orang mahasiswa Indonesia datang bertamu menemui tuan rumah yang terdiri dari ayah dan seorang anak perempuan. Si Ayah lalu membuat kopi untuk dirinya dan untuk para tamu yang menjadi kikuk dan salah tingkah, "Meutia, kenapa ayah sendiri yang disuruh membuat kopi?" bisik salah seorang pada si anak perempuan.


Dr. Mohammad Hatta si pembuat kopi, 12 Agustus kemarin selamat menggenapkan usianya 77 tahun. Dikenal sebagai orang yang selalu mengerjakan segala sesuatunya sendirian saja. Bahkan ketika hendak berangkat ke RS Cipto Mangunkusumo ‒ untuk opname seminggu lebih ‒ pertengahan Juli lalu, ia mengatur koponya sendiri. "Saya hanya menunggui sambil membiarkannya menikmati pekerjaannya," ujar Meutia Farida Hatta, 32 tahun, puteri pertama yang sejak 1973 menjadi Ny. Dr Sri-Edi Swasono (39).


Asbak


Keluar dari rumah sakit, Bung Hatta masih dijaga orang suster di bawah pengawasan satu tim dokter. Menurut puteri ke-3 alias si bungsu, Halida Nuriah Hatta (23), ayahnya diharuskan banyak istirahat di samping diet yang keras dengan makanan yang musti diukur. "Sayalah yang mengatur menu," katanya Halida menyebut sayur-mayur merupakan lauk kegemaran tokoh kelahiran Bukittinggi ini, sehingga giginya sampai sekarang masih utuh. "Tak satupun berlubang," tambahnya. Lalu Gemala Rabi'ah Hatta (27), puteri ke-2 yang cantik dan sejak 1976 menjadi isteri drs. Mohd. Chlil Jaridjambek (39), menyebut sayur pare yang pahit sebagai kegemaran ayahnya, "sejak ayah terserang malaria, dulu."


Ketiga puterinya punya penilaian yang sama terhadap sang ayah yang menikah pada usia 43 tahun itu (dengan gadis Jawa Aceh yang dibesar kan di Bandung, Rahmi Rachim, ketika itu berusia 19 tahun, dan pernikahan itu dicomblangi Bung Karno). Meutia mengatakan "Ayah memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain." Contoh kecil: meski tak merokok, Bung Hatta menaruh asbak di meja kerjanya, untuk para tamu perokok.


"Bung Hatta selalu melihat sesuatu dalam proporsi yang besar," kata Sri-Edi Swasono, menantunya, ex Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan Ul, asal Delanggu, Ja/Teng. "Bung Hatta merupakan pribadi yang unik," kata menantu kedua, Chalil Baridjambek, Direktur Pacto Ltd. dan Daha Motor, "Kukuh dalam mempertahankan pendapat, tapi mentolerir pendapat yang berbeda tanpa mengomentari aspek negatifnya. Mertuanya itu juga "seorang yang relijius dan strict: selalu berusaha shalat pada waktunya, puasa, memberi zakat, dan qurban."


Dalam kondisi sehat, Bung Hatta bangun jam 4.20 pagi. Lalu sembahyang subuh. Sesudah mandi dan mencukur janggut, melakukan orhiba (olah raga hidup baru). Makan pagi jam 6, mendengarkan warta berita RRI ‒ tanpa pernah ketinggalan ‒ dan membaca koran. Jam 8.00 kedua sekretarisnya, Wangsa Widjaja, orang Sumedang Ja-Bar dan Hutabarat, Batak Protestan, datang.


Kesibukan dimulai di kamar kerja dengan membaca surat-surat dan langsung membalasnya dalam bahasa dari mana surat itu datang. Bahasa yang dikuasai Bung Hatta: Belanda, Perancis, Inggeris dan Jerman. Ketika tinggal di Yogya dulu, ia ingin belajar bahasa Jawa. "Tetapi karena Bung Karno melarang orang bicara dalam bahasa Jawa, sampai sekarang Ayah belum bisa berbahasa Jawa," demikian tuturnya kepada Meutia.


Selesai membalas surat-surat, ia menulis. Buku yang sedang diselesaikannya, Memorium jilid II. Dulu ia mengetik sendiri seluruh naskahnya, tapi sekarang tidak. la menulis dengan tulisan tangan untuk kemudian ditik oleh Pak Wangsa (68, sekretaris sejak 1946). Jika sudah mulai menulis, tak ada lagi batas waktu. "Kalau lagi senang, berhari-hari pun ia betah di ruang kerja," tutur Halida.


Jam 13.00 tetap ditepati sebagai waktu makan siang bersama. Ketika Meutia dan Gemala bersuami, yang tinggal menemani hanya Halida, yang sebentar lagi pun akan bersuami dengan orang Sunda. "Karena saya tahu ayah menunggu, saya jarang sekali makan di luar," tutur Halida. Gemala melukiskan, meja makan merupakan "forum demokrasi" tempat semua anggota keluarga menceritakan segala sesuatu yang dialami, juga uneg-uneg. 


Bung Hatta tak punya pilihan khusus terhadap rasa manis, asam atau pedas. Ia makan semata untuk kesehatan. Larangan-larangan dokter dipatuhi dengan disiplin yang tinggi ‒ padahal sebenarnya ia sangat suka rendang hati atau daging. 


Juga termasuk orang yang tak begitu memperhatikan pakaian. Tidak ada pula warna kesayangan. Biasanya pilihan disesuaikan dengan waktu pemakaian: warna terang untuk siang, warna gelap untuk malam. Dan pakaian bekasnya? "Diberikan kepada pelayan atau tukang kebun," ujar Meutia.


Ia memelihara barang-barangnya dengan baik. "Ada sepasang sepatu yang meskipun usianya lebih tua dari adik saya, Halida, tetap dipakainya dan terawat baik," tutur Meutia. Ketika akan pergi ke RSCM di pertengahan Juli itu, Meutia dan Halida yang membantu memakaikan sepatu tadi, berucap, "Ayah, bila ada yang meminta barang barang Ayah untuk disimpan di museum, pasti kita akan memilih sepatu ini lebih dahulu! Sang Ayah tertawa geli, lalu berkata, "O, itu pasti . . . !”


Dikenal juga sebagai orang yang tak pernah marah, tidak pernah memukul anak-anak dan tidak pernah menegur dengan suara keras. Bung Hatta disebut Gemala sebagai "orang tanpa ekspresi". Selalu diam. Selalu sangat tenang. Sehingga ketika suatu kali ia kelihatan sangat panik dan gugup, Gemala mencatat hal itu sebagai hal yang tak bisa dilupakan. 


Keluarga Hatta memiliki rumah ‒selain yang di Jalan Diponegoro ‒ di Megamendung, Puncak. "Dibeli dengan uang tabungan ayah ketika 11 tahun belajar di Belanda dulu," kata Gemala. Suatu hari, bocah Gemala dipanggul ayahnya di pundak, berjalan jalan di sekitar rumah di Megamendung itu. Tiba-tiba Bung Hatta tersandung batu dan jatuh, sehingga si kecil Gemala terlempar beberapa meter. Bung Hatta pun sibuk memeriksa keadaan anaknya yang, untunglah, terlempar ke tumpukan alang-alang.


Pinjaman


Gemala menilai lagi: "Ayah adalah orang yang tak pernah menggugat. Ayah selalu menerima apa yang ada dan apa yang diberikan kepadanya." Digambarkannya masa masa sulit waktu lalu, di mana keluarga itu harus berdiri di atas uang pensiun se orang bekas wakil presiden yang ternyata tak seberapa. Tapi tak sepatah pun tergetar keluhan dari bibirnya." 


Untunglah belakangan ada keringanan dalam hal pembayaran listrik dan ledeng. Jatah beras yang terus diterima juga ikut meringankan beban. Selebihnya adalah kehidupan yang amat bersahaja. Dan sedikit hiburan jika ada undangan dari pemerintah asing atau sebuah organisasi kepada Bung Hatta sebagai penceramah, tamu atau sebagai sahabat ‒ yang berarti adanya sekedar uang imbalan dan kesempatan ke luar negeri.


"Tanpa undangan, pergi ke Singapura saja pun tak mungkin bisa," kata Gemala. "Sebab ayah dahulu berhenti dari jabatannya sebagai wakil presiden tanpa membawa uang sepeser pun dan tanpa memiliki saham di berbagai perusahaan." Dan mobil Mercy serta Fiat itu? "Yang bernomor 17845, dari pemerintah. Yang lain itu dipinjami." 


Sambil mengenang masa lalunya, puteri kedua yang sejak 1970 kuliah di Fakultas Kedokteran Ul dan 1½ tahun lalu memperoleh bea siswa belajar di Australia sampai memperoleh gelar MRA itu, mengatakan bahwa ayahnya tak pernah menunjuk tokoh tertentu untuk dijadikan model bagi anak-anaknya. "Kita dibiarkan tumbuh dan diberi kebebasan memilih sendiri."


Kalaupun ada yang ditekankan juga bukan dipaksa ialah agar anak-anaknya belajar mengaji dan rajin sembahyang. "Ayah sendiri yang mengajari kami membaca alif bata. Sesudah khatam barulah dipanggil guru mengaji." Dan ketika masih sehat, Bung Hatta bersembahyang Jum'at di Mesjid Matraman yang tak jauh dari rumah.


Pernahkah Hatta yang "serius" itu nonton film? "Bila ada film yang baik ‒ menurut rekomendasi Ibu atau Halida," ujar Meutia, yang sehari-harinya dosen di Fakultas Sastra Ul. "Ayah senang film sejarah." Ia pun menggemari musik Bach, Mozart dan Strauss. "Kalau mBak Soerti Soewandi menyanyi diiringi piano oleh Pak BJ. Supardi pada ulang tahun ayah, ayah minta mBak Soerti menyanyikan Nyiur Melambai," ujar Meutia lagi. Lagu-lagu perjuangan yang disukainya ialah Halo-halo Bandung dan Dari Barat Sampai ke Timur.


"Ayah juga suka menonton dan menyukai drama-drama Rendra. Dan Rendra selalu memberi undangan pada ayah," kata Gemala. Tapi, benarkah Bung Hatta tak pernah membaca novel sehingga Sutan Sjahrir konon pernah menyebutnya sebagai orang yang "kering"? Di perpustakaan pribadinya yang menyimpan sekitar 10.000 buku, memang tak terselip novel, apalagi buku saku. "Saya hanya pernah melihat satu saja ‒ yaitu Gone With The Wind," kata Gemala.


Tapi menurut Meutia, sewaktu masih di Belanda dulu, "ayah rajin membaca novel." Waktu kembali ke Indonesia, sebagian besar novelnya dibagi-bagikan kepada teman-temannya yang masih tinggal di sana. "Sebab buku-buku ilmiah yang musti dibawanya pulang sudah enambelas peti." Tapi ketika dibuang ke Digul dan Bandaneira, ia juga membaca novel. Sesudah itu tidak lagi, "karena kesibukan dalam tugas ilmunya." Menurut Meutia lagi, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi."


Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa.


Bung Hatta tak pernah membaca majalah hiburan. Yang dibacanya Prisma, Time dan Foreign Affairs yang lengkap dikoleksinya sejak terbitan 1932. Juga punya hampir semua nomor The Economist sejak terbitan 1852. Kedua majalah yang disebut terakhir itu masih dilangganinya sampai sekarang.


Olah raga yang disukainya, selagi muda, sepak bola dan berenang. Sekitar awal 1957 mulai bermain golf. Kemudian, sejak 1972 ber-orhiba. "Kata ayah, agar punya cadangan tenaga jika sakit."


Disiplin dan ketepatannya mengenai waktu sudah bukan rahasia. Tak heran jika banyak orang menghadiahkan arloji kepadanya. Cindy Adams, penulis biografi Sukarno, pernah ditolaknya karena terlambat datang. Dan "sebuah jam Omega pernah diberikan kepada suami saya karena jam itu terlambat satu menit," kata Meutia.


Ketika ditanya mengenai rencana pemerintah untuk membuat patung Bung Hatta, Meutia bilang tak tahu-menahu. Namun menurut Gemala, "ayah tidak menolak, meski tidak menginginkannya."


Lalu apakah peranan Pak Wangsa yang hadir di tengah keluarga itu berpuluh-puluh tahun? Kata Gemala: "Pak Wangsa bagi kami sudah merupakan ayah kedua." Meutia sendiri merasa sulit melukiskan betapa dekat hubungan ayah dari 4 anak dan kakek dari 14 cucu itu, dengan keluarganya. Bahkan, "Pak Wangsa juga ikut memberi penilaian terhadap calon-calon menantu. Dan dalam hal-hal tertentu saya mengeluh kepadanya, sebelum kepada ayah.”


Ucapan Nyonya Wangsa barangkali lebih menggambarkan hubungan itu: "Kami terpaksa membatalkan niat untuk menikmati pensiun di kampung. Tak tega meninggalkan Bung Hatta, sebab Bung Hattalah yang membesarkan suami saya," ujarnya. Emil Salim dan Prof. Widjojo mungkin punya kenangan lain semasa dulu "kuliah" di rumah Bung Hatta di Jalan Merdeka Selatan nomor 13 dengan bersepeda. "Kami semua sayang kepada ayah, karena ayah satu-satunya lelaki di rumah," ujar Halida. Apakah peranan ibu? "Jika ayah adalah pembuat aturan, maka ibu dan Pak Wangsa adalah polisinya," kata Gemala.


Tapi mengapa Bung Hatta sampai bisa kenal dan bahkan pernah berpotret bersama dengan Sawito? "Itu lantaran  Orhiba," Meutia menjelaskan."Sawito selalu datang pada saat-saat tak terduga. Misalnya, dia tiba-tiba saja muncul di pintu. Atau sewaktu kami sedang makan, dia datang. Kami tak mungkin menolaknya."


Sumber: TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979

14 August 2026

Pesan Ratu Victoria Terkait Perang Aceh Surat resmi dari penguasa Britania Raya ini datang di tengah kecamuk Perang Aceh. Berniat melerai meski pesan itu tak pernah sampai. Oleh : M. Fazil Pamungkas. PERANG besar Aceh-Belanda memasuki babak baru. Setelah menuai malu pada perang pertama (awal 1873), Belanda datang dengan kekuatan lebih besar di tahun berikutnya. Sebanyak 60 buah kapal –terdiri dari kapal perang, kapal pengawal, dan kapal logistik– bersenjata lengkap diberangkatkan dari Batavia. Jenderal Van Swieten ditunjuk memimpin agresi kedua ini. Besarnya kekuatan Belanda nyatanya tidak menyurutkan perlawanan rakyat Aceh. Semangat juang mereka justru semakin merepotkan. Pertahanan rapat yang disiapkan di berbagai tempat juga menambah beban mereka untuk masuk ke Serambi Mekkah. Saling bertahan dan menyerang menghiasi rangkaian perang yang baru mereda pada 1910 itu. Di tengah persiapan perang yang semakin masif, sepucuk surat datang dari penguasa Britania Raya, Ratu Victoria (1819-1901). Dikisahkan Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, surat itu dibuat secara pribadi oleh ratu untuk Sultan Aceh. Seorang perwira dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris yakni Kolonel Woolcombe diutus untuk menyampaikan pesan sang ratu tersebut. “Dalam pada itu semakin menarik perhatian persoalan di sekitar kedatangan sesuatu perutusan kepada pihak Aceh di saat-saat Belanda hendak memulai penyerangannya itu,” tulis Said. Berdasar penelitian Said, surat tersebut berisi anjuran dari Ratu Victoria agar Sultan Aceh menghentikan segala perlawanan yang menyebabkan perang besar di sekitar Malaka. Ia diminta tidak melawan dengan kekerasan dan memenuhi segala kemauan Belanda di negerinya. Dengan kata lain Aceh disarankan untuk menyerah. Namun Woolcombe tidak bisa segera menyampaikan surat dari ratunya itu. Ia dan kapal perang Inggris “Thalia” tertahan di Kuala Aceh karena belum mendapat izin berlabuh dari Belanda yang telah mengepung perairan Aceh. Belanda tidak ingin perwakilan Inggris itu menghentikan sementara penyerbuan mereka ke Aceh. Mengingat Belanda harus menjamin keselamatan orang Inggris setelah kedua negara itu terikat perjanjian politik. Karena tidak kunjung diberi kabar, Woolcombe berencana memberikan suratnya kepada pemerintah Belanda agar disampaikan ke Sultan Aceh. Namun melihat situasi panas keduanya, ia tidak yakin surat itu akan tiba di tangan sultan. Di lain pihak, militer Belanda tidak bisa membiarkan seorang perwira Inggris berkeliaran di Aceh. Namun keselamatan Woolcombe juga tidak bisa dijamin jika ia menemui penguasa Aceh bersama-sama perwakilan pemerintah Belanda. Berhari-hari dilanda kebuntuan di atas kapal, para wakil ratu Inggris akhirnya pulang dengan tangan kosong. “Demikianlah, hasilnya surat Ratu Victoria tidak dapat disampaikan, dan Kolonel Woolcombe pulang percuma ke negerinya,” tulis Said. Saling bertukar surat antara penguasa Aceh dengan Inggris itu bukan kali pertama terjadi. Dua abad yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni 1602, seorang perwira AL kerajaan Inggris James Lancaster. Dikirim oleh Ratu Elizabeth I untuk memberikan sepucuk surat kepada penguasa Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah (berkuasa hingga 1604). Diketahui, surat tersebut menjadi penanda hubungan pertama Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris. Dalam buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Kebudayaan, diceritakan bahwa melalui surat tersebut Kerajaan Inggris yang diwakili Lancaster dan rombongannya bermaksud melakukan hubungan dagang di wilayah perairan Malaka, melalui penguasa Aceh. “Mereka diterima di kraton Aceh dalam sebuah resepsi yang diadakan oleh Sultan Aceh untuk menyambut dan menghormati mereka secara kebesaran.” Setelah menerima surat dan penjelasan dari Lancaster tentang maksud kedatangannya, perwakilan Sultan Aceh mempersilahkan rombongan Ratu Inggris menemui sang sultan. Mereka disambut baik. Sebelum pulang, Sultan Aceh menitipkan surat balasan untuk Ratu Inggris sebagai bukti telah diterima hubungan diplomatik kedua negeri. Terbukanya jalan ke Aceh membuat kegiatan niaga Inggris di Malaka menjadi lancar. Inggris diharapkan menjadi sekutu terbaik Aceh. “Para penguasa Aceh tidak pernah ragu-ragu bahwa mereka membutuhkan seorang sekutu yang memiliki angkatan laut yang kuat jika mereka ingin berhasil mengusir Belanda,” tulis Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19.(*) bg-gray.jpg camera_edited_30.png Van Heutsz sedang memantau pasukannya dalam pertempuran memperebutkan benteng Kuta Batee ileik, Samalanga di Aceh. (Wikimedia Commons

 Pesan Ratu Victoria Terkait Perang Aceh

Surat resmi dari penguasa Britania Raya ini datang di tengah kecamuk Perang Aceh. Berniat melerai meski pesan itu tak pernah sampai.


Oleh :

M. Fazil Pamungkas.


PERANG besar Aceh-Belanda memasuki babak baru. Setelah menuai malu pada perang pertama (awal 1873), Belanda datang dengan kekuatan lebih besar di tahun berikutnya. Sebanyak 60 buah kapal –terdiri dari kapal perang, kapal pengawal, dan kapal logistik– bersenjata lengkap diberangkatkan dari Batavia. Jenderal Van Swieten ditunjuk memimpin agresi kedua ini.



Besarnya kekuatan Belanda nyatanya tidak menyurutkan perlawanan rakyat Aceh. Semangat juang mereka justru semakin merepotkan. Pertahanan rapat yang disiapkan di berbagai tempat juga menambah beban mereka untuk masuk ke Serambi Mekkah. Saling bertahan dan menyerang menghiasi rangkaian perang yang baru mereda pada 1910 itu.


Di tengah persiapan perang yang semakin masif, sepucuk surat datang dari penguasa Britania Raya, Ratu Victoria (1819-1901). Dikisahkan Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, surat itu dibuat secara pribadi oleh ratu untuk Sultan Aceh. 


Seorang perwira dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris yakni Kolonel Woolcombe diutus untuk menyampaikan pesan sang ratu tersebut.


“Dalam pada itu semakin menarik perhatian persoalan di sekitar kedatangan sesuatu perutusan kepada pihak Aceh di saat-saat Belanda hendak memulai penyerangannya itu,” tulis Said.


Berdasar penelitian Said, surat tersebut berisi anjuran dari Ratu Victoria agar Sultan Aceh menghentikan segala perlawanan yang menyebabkan perang besar di sekitar Malaka. Ia diminta tidak melawan dengan kekerasan dan memenuhi segala kemauan Belanda di negerinya. Dengan kata lain Aceh disarankan untuk menyerah.


Namun Woolcombe tidak bisa segera menyampaikan surat dari ratunya itu. Ia dan kapal perang Inggris “Thalia” tertahan di Kuala Aceh karena belum mendapat izin berlabuh dari Belanda yang telah mengepung perairan Aceh. 


Belanda tidak ingin perwakilan Inggris itu menghentikan sementara penyerbuan mereka ke Aceh. Mengingat Belanda harus menjamin keselamatan orang Inggris setelah kedua negara itu terikat perjanjian politik.


Karena tidak kunjung diberi kabar, Woolcombe berencana memberikan suratnya kepada pemerintah Belanda agar disampaikan ke Sultan Aceh. Namun melihat situasi panas keduanya, ia tidak yakin surat itu akan tiba di tangan sultan. 


Di lain pihak, militer Belanda tidak bisa membiarkan seorang perwira Inggris berkeliaran di Aceh. Namun keselamatan Woolcombe juga tidak bisa dijamin jika ia menemui penguasa Aceh bersama-sama perwakilan pemerintah Belanda. Berhari-hari dilanda kebuntuan di atas kapal, para wakil ratu Inggris akhirnya pulang dengan tangan kosong.


“Demikianlah, hasilnya surat Ratu Victoria tidak dapat disampaikan, dan Kolonel Woolcombe pulang percuma ke negerinya,” tulis Said.


Saling bertukar surat antara penguasa Aceh dengan Inggris itu bukan kali pertama terjadi. Dua abad yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni 1602, seorang perwira AL kerajaan Inggris James Lancaster.


Dikirim oleh Ratu Elizabeth I untuk memberikan sepucuk surat kepada penguasa Aceh, Sultan Alauddin Riayat Syah (berkuasa hingga 1604). Diketahui, surat tersebut menjadi penanda hubungan pertama Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Inggris.


Dalam buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Kebudayaan, diceritakan bahwa melalui surat tersebut Kerajaan Inggris yang diwakili Lancaster dan rombongannya bermaksud melakukan hubungan dagang di wilayah perairan Malaka, melalui penguasa Aceh.


“Mereka diterima di kraton Aceh dalam sebuah resepsi yang diadakan oleh Sultan Aceh untuk menyambut dan menghormati mereka secara kebesaran.”


Setelah menerima surat dan penjelasan dari Lancaster tentang maksud kedatangannya, perwakilan Sultan Aceh mempersilahkan rombongan Ratu Inggris menemui sang sultan. Mereka disambut baik. 


Sebelum pulang, Sultan Aceh menitipkan surat balasan untuk Ratu Inggris sebagai bukti telah diterima hubungan diplomatik kedua negeri. Terbukanya jalan ke Aceh membuat kegiatan niaga Inggris di Malaka menjadi lancar. Inggris diharapkan menjadi sekutu terbaik Aceh.


“Para penguasa Aceh tidak pernah ragu-ragu bahwa mereka membutuhkan seorang sekutu yang memiliki angkatan laut yang kuat jika mereka ingin berhasil mengusir Belanda,” tulis Anthony Reid dalam Asal Mula Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19.(*)


bg-gray.jpg

camera_edited_30.png

Van Heutsz sedang memantau pasukannya dalam pertempuran memperebutkan benteng Kuta Batee ileik, Samalanga di Aceh. (Wikimedia Commons

Pada tanggal 5 November 1946 : Piet Hein Ditembak, Van Mook Mengaku Kalah di Aceh. Oleh Iskandar Norman. Pada 5 November 1946 Sebuah kapal perang Belanda bernama Piet Hein yang sedang berpatroli di perairan Lhoknga, Aceh Besar ditembaki meriam oleh pejuang, hingga rusak dan melarikan diri ke Sabang. Sehingga Sekutu/NICA tak berani masuk ke Aceh. Panglima Besar Angkatan Laut Belanda, Helfrich, mengaku gagal dalam beberapa kali serangan ke daratan Aceh. Dalam suratnya ia menulis: “Verder heb ik mij een beetje in de vingers gesneden met de batterijen in Atjeh. Ik had aan Gani beloof dak it dijn batterijen zou vernietigen wanneer ze schoten op passeerende schepen. Nu werd de Peit Hein beschoten toen het schip passerde en dus ben ik verplichtz ze te vernietigen. Ik herb er da nook een paar vuurvliegen met rockets jeen gezonden, maar noch de Piet Hein, noch de vuurvliegen kunnen de batterijen vinden. Terjemahan bebasnya ke bahasa Indonesia kurang lebih. “Saya sudah terpotong jari dengan meriam Aceh. Sudah kuberitahu kepada Gani (Dr AK Gani) bahwa meriamnya akan kuhancurkan bila kapal-kapal kita yang lewat ditembaki. Lalu ditembakilah Piet Hien ketika ia lewat. Maka wajib bagiku menghancurkan mereka, dengan pesawat udara maupun dengan roket. Tetapi baik Piet Hien maupuh hujan roket kita, tidak berhasil menemukan meriam Aceh itu.” Hal itu pula yang membuat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr Hubertus Johannes Van Mook dalam laporannya kepada Menteri Luar Negeri Belanda, Mr Jonkman juga mengakui tentang kekalahan Belanda di Aceh tersebut. Ia menjelaskan setelah Inggris (Sekutu) melucuti Jepang dan menyerahkan kekuasaan atas Indonesia kepada Belanda, maka perlawanan rakyat terjadi. Tapi Van Mook menegaskan, aksi militer Belanda untuk menguasai kembali Indonesia pada agresi kedua itu jika dimulai pada Februari 1947, maka pada akhir tahun 1947 seluruh wilayah Indonesia sudah bisa dikuasai kembali, kecuali Aceh. Van Mook menulis “Gerakan militer meminta waktu tak lebih beberapa minggu untuk Jawa, untuk Sumatera lebih cepat lagi, seluruh Indonesia bisa kita kuasai kembali kecuali Aceh.” Saat itu, dalam seminggu perang, dua pesawat tempur Belanda jatuh ditembak di Aceh. Beberapa kapal perang Sekutu/NICA yang hilir mudik di perairan Aceh melakukan provokasi juga ditembaki. Ini juga yang menjadi alasan Jendral Van Mook pun mengaku kalah. Sejarawan Aceh yang juga pelaku perjuangan kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasyah Talsya dalam buku Sekali Republiken Tetap Republiken mengungkapkan, pada 7 November 1946, angkatan perang Sekutu dan Belanda yang bermarkas di Pulau Weh, Sabang. Melakukan serangan laut dan udara ke pangkalan udara Lhok Nang dan sekitarnya. Pangkalan Lhok Nga merupakan pangkalan udara Jepang terkuat di wilayah barat Indonesia yang sudah dikuasai oleh Residen Aceh. Serangan dimulai sekitar pukul 07.00 pagi. Dari laut kapal perang Jan Van Gallen menembakkan meriam-meriamnya ke daratan Aceh. Sementara dari udara tiga pesawat tempur jenis Jager menjatuhkan bom dan menembak dengan senapan mesin ke daerah-daerah pertahanan pejuang Aceh. Dalam perang yang berlangsung selama dua jam lebih itu, pejuang Aceh membalas serangan Belanda dengan meriam penangkal serangan udara dan laut. Meriam-meriam yang diperoleh saat melucuti tentara Jepang itu ditempatkan di bukit-bukit sekitar pangkalan udara Lhok Nga. Satu pesawat tempur Belanda berhasil ditembak jatuh. Pada 9, 10, 12 dan 13 November 1946, kapal perang dan pesawat tempur Belanda kembali menggempur kawasan Lhok Nga. Tapi perang tak berlangsung lama, hanya sekitar 40 menit. Sehari kemudian, pada 14 November 1946, empat pesawat Belanda kembali membombandir kawasan Lhok Nga. Serangan dimulai pukul 09.27 pagi dengan dua pesawat pemburu, satu pesawat bomber, dan satu pesawat terbang air berukuran besar. Dalam perang itu satu lagi pesawat Belanda berhasil ditembak jatuh oleh pejuang Aceh. Pesawat tersebut jatuh di kebun kelapa di sebelah utara Kota Banda Aceh. Belanda dan Sekutu juga menyiagakan kapal perangnya di kawasan Krueng Raya, Ujong Batee, Pante Ceureumen dan Ulee Lheu. Kapal-kapal perang itu hanya mondar-mandir di perairan Aceh tidak berani merapat ke pantai. Setiap kali mereka mendekati garis panti, selalu ditembaki dengan meriam oleh pejuang Aceh. Dan sejarah kemudian membuktikan bahwa, Aceh satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak berhasil dimasuki Sekutu dan Belanda pada agresi kedua. Hal itu pula yang kemudian menjadi salah satu alasan Presiden Soekarno menggelar Aceh sebagai daerah modal Republik Indonesia.[] Governor-General Hubertus J. Van Mook Arsip KLTLV

 Pada tanggal 5 November 1946 : Piet Hein Ditembak, Van Mook Mengaku Kalah di Aceh.


Oleh Iskandar Norman.


Pada 5 November 1946 Sebuah kapal perang Belanda bernama Piet Hein yang sedang berpatroli di perairan Lhoknga, Aceh Besar ditembaki meriam oleh pejuang, hingga rusak dan melarikan diri ke Sabang. Sehingga Sekutu/NICA tak berani masuk ke Aceh.


Panglima Besar Angkatan Laut Belanda, Helfrich, mengaku gagal dalam beberapa kali serangan ke daratan Aceh. Dalam suratnya ia menulis:



“Verder heb ik mij een beetje in de vingers gesneden met de batterijen in Atjeh. Ik had aan Gani beloof dak it dijn batterijen zou vernietigen wanneer ze schoten op passeerende schepen. Nu werd de Peit Hein beschoten toen het schip passerde en dus ben ik verplichtz ze te vernietigen. Ik herb er da nook een paar vuurvliegen met rockets jeen gezonden, maar noch de Piet Hein, noch de vuurvliegen kunnen de batterijen vinden.


Terjemahan bebasnya ke bahasa Indonesia kurang lebih.


“Saya sudah terpotong jari dengan meriam Aceh. Sudah kuberitahu kepada Gani (Dr AK Gani) bahwa meriamnya akan kuhancurkan bila kapal-kapal kita yang lewat ditembaki. Lalu ditembakilah Piet Hien ketika ia lewat. Maka wajib bagiku menghancurkan mereka, dengan pesawat udara maupun dengan roket. Tetapi baik Piet Hien maupuh hujan roket kita, tidak berhasil menemukan meriam Aceh itu.”


Hal itu pula yang membuat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dr Hubertus Johannes Van Mook dalam laporannya kepada Menteri Luar Negeri Belanda, Mr Jonkman juga mengakui tentang kekalahan Belanda di Aceh tersebut.


Ia menjelaskan setelah Inggris (Sekutu) melucuti Jepang dan menyerahkan kekuasaan atas Indonesia kepada Belanda, maka perlawanan rakyat terjadi.


Tapi Van Mook menegaskan, aksi militer Belanda untuk menguasai kembali Indonesia pada agresi kedua itu jika dimulai pada Februari 1947, maka pada akhir tahun 1947 seluruh wilayah Indonesia sudah bisa dikuasai kembali, kecuali Aceh. 


Van Mook  menulis “Gerakan militer meminta waktu tak lebih beberapa minggu untuk Jawa, untuk Sumatera lebih cepat lagi, seluruh Indonesia bisa kita kuasai kembali kecuali Aceh.”


Saat itu, dalam seminggu perang, dua pesawat tempur Belanda jatuh ditembak di Aceh. Beberapa kapal perang Sekutu/NICA yang hilir mudik di perairan Aceh melakukan provokasi juga ditembaki. Ini juga yang menjadi alasan Jendral Van Mook pun mengaku kalah.


Sejarawan Aceh yang juga pelaku perjuangan kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasyah Talsya dalam buku Sekali Republiken Tetap Republiken mengungkapkan, pada 7 November 1946, angkatan perang Sekutu dan Belanda yang bermarkas di Pulau Weh, Sabang.


Melakukan serangan laut dan udara ke pangkalan udara Lhok Nang dan sekitarnya. Pangkalan Lhok Nga merupakan pangkalan udara Jepang terkuat di wilayah barat Indonesia yang sudah dikuasai oleh Residen Aceh.


Serangan dimulai sekitar pukul 07.00 pagi. Dari laut kapal perang  Jan Van Gallen menembakkan meriam-meriamnya ke daratan Aceh. Sementara dari udara tiga pesawat tempur jenis Jager menjatuhkan bom dan menembak dengan senapan mesin ke daerah-daerah pertahanan pejuang Aceh.


Dalam perang yang berlangsung selama dua jam lebih itu, pejuang Aceh membalas serangan Belanda dengan meriam penangkal serangan udara dan laut. 


Meriam-meriam yang diperoleh saat melucuti tentara Jepang itu ditempatkan di bukit-bukit sekitar pangkalan udara Lhok Nga. Satu pesawat tempur Belanda berhasil ditembak jatuh.


Pada 9, 10, 12 dan 13 November 1946, kapal perang dan pesawat tempur Belanda kembali menggempur kawasan Lhok Nga. Tapi perang tak berlangsung lama, hanya sekitar 40 menit.


Sehari kemudian, pada 14 November 1946, empat pesawat Belanda kembali membombandir kawasan Lhok Nga. 


Serangan dimulai pukul 09.27 pagi dengan dua pesawat pemburu, satu pesawat bomber, dan satu pesawat terbang air berukuran besar. 


Dalam perang itu satu lagi pesawat Belanda berhasil ditembak jatuh oleh pejuang Aceh. Pesawat tersebut jatuh di kebun kelapa di sebelah utara Kota Banda Aceh.


Belanda dan Sekutu juga menyiagakan kapal perangnya di kawasan Krueng Raya, Ujong Batee, Pante Ceureumen dan Ulee Lheu. Kapal-kapal perang itu hanya mondar-mandir di perairan Aceh tidak berani merapat ke pantai. Setiap kali mereka mendekati garis panti, selalu ditembaki dengan meriam oleh pejuang Aceh.


Dan sejarah kemudian membuktikan bahwa, Aceh satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak berhasil dimasuki Sekutu dan Belanda pada agresi kedua. 


Hal itu pula yang kemudian menjadi salah satu alasan Presiden Soekarno menggelar Aceh sebagai daerah modal Republik Indonesia.[]


Governor-General Hubertus J. Van Mook

Arsip KLTLV

Sebelum Sersan Pongoh ke Petamburan Serdadu kolonial penuh bintang, Pongoh berperan penting melumpuhkan Sisingamangaraja XII. Oleh : Petrik Matanasi. Sebagaimana wilayah-wilayah lain di ibukota, wilayah Petamburan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta juga dilanda panas terik hampir saban hari sejak beberapa bulan ke belakang. Banyak orang terlihat berteduh sembari minum atau makan di taman yang terletak di pojok yang mempertemukan Jalan KS Tubun dan Jalan S. Parman. Ibarat oasis, taman itu menjadi segelintir tempat berteduh yang ada di Petamburan. Satu ruang terbuka teduh lain di Petamburan adalah TPU Petamburan. Namun, dengan pos penjagaan yang mirip benteng, tak setiap orang bisa masuk dan berteduh di sana. Di TPU itulah Sersan Pongoh beristirahat abadi alias dimakamkan. Sersan Pongoh merupakan serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang mendapat banyak bintang jasa. Dia terlibat dalam banyak operasi militer. Sersan Jesajas Pongoh lahir di Air Madidi, selatan Manado, Sulawesi Utara pada 7 Mei 1878. Menurut catatan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 6 Oktober 1934, dia telah menjadi serdadu KNIL sejak 10 Februari 1897. Pongoh memulai kariernya dari pangkat bawah. Antara 1898-1904, ia ikut serta dalam operasi militer di Aceh sebagai anggota Korps Marsose Jalan Kaki, sebuah pasukan khusus anti-gerilya KNIL. Pada 1902, Marsose Pongoh terlibat pertempuran melawan Krueng Talo di Sumegang Meulaboh, Aceh. Karenanya dia memperoleh Ridder Militaire Willemsorde kelas 4 berdasar Koninklijk Besluit 30 September 1903 nomor 56. Dia terlibat pula dalam ekspedisi Gayo Alas yang penuh darah. Dalam operasi di tahun 1904 itu, dia berada di bawah komando Letnan Kolonel van Daalen. Saat merebut benteng Bukit Gemujaang tanggal 18 Maret 1904, ia terluka karena tembakan pada lengan kanan bagian atas. Setelah itu, Pongoh bertugas di Sulawesi Selatan (12 Juli 1905-1 Agustus 1906) di kala raja-raja Sulawesi Selatan bersatu melawan Belanda. Pangkatnya sudah Prajurit Infanteri kelas satu. Kiprahnya dalam operasi ini dianggap menonjol. Karenanya berdasar Koninklijk Besluit 28 Maret 1907 nomor 96, ia dianugerahi Ridder Militaire Willemsorde kelas 3. Meski sudah dapat bintang, Pongoh masih ikut bertempur dan bahkan juga mendapat luka. Saat merebut benteng batu Timongai (Tomorie, Sulawesi) pada 16 Agustus 1907, perutnya terluka. Di tengah operasi itu, pangkatnya naik menjadi kopral dan tak lama kemudian naik lagi. Menurut De Avondpost tanggal 26 Oktober 1934, pangkat Ponngoh naik dari kopral naik menjadi sersan kelas dua pada 1906. Waktu Sisingamaradja XII masih berperang dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, KNIL mengerahkan satu pasukan multietnis yang dipimpin Kapten Hans Christoffel untuk melumpuhkannya. Pongoh tergabung di dalamnya. “Dalam pasukan infanteri yang dikirim ke Aceh dan kemudian Tanah Batak untuk menghadapi Sisingamaradja banyak terdapat orang-orang pribumi, yang kebanyakan berasal dari Jawa, Manado, Ambon, dari Pulau Kei, Sangir dan lainnya,” catat Augustin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII. Sersan Pongoh menjadi yang paling terkenal di antara orang-orang di dalam pasukan itu. Sebab, dia telah dapat banyak bintang. Pongoh kembali berkontribusi penting dalam operasi tersebut lantaran dia termasuk yang berjasa dalam melumpuhkan Sisingamangaraja XII pada pertengahan 1907 di sekitar Dairi. Usai mengikuti operasi militer di tanah Batak, Sersan Pongoh bertugas di Betawi. Pada 1921 pangkatnya baru naik lagi, menjadi sersan kelas satu KNIL. Dia bertugas di KNIL hingga pensiun di tahun 1932. Ketika pensiun di Betawi, seperti disebut Deli Courant tanggal 15 Oktober 1934, dia pernah tinggal di Tanah Rendah, yang masih berada di daerah pinggiran kota. Di depan rumahnya terdapat foto para jenderal yang pernah menjadi atasannya selama di KNIL. Pada Rabu, 11 Oktober 1934, sekitar pukul 04.00 pagi, Sersan Pongoh tutup usia di rumahsakit militer Betawi—kini menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Keesokan harinya dia dimakamkan dengan kebesaran upacara militer KNIL. Makamnya berada di Petamburan, Jakarta.(*)

 Sebelum Sersan Pongoh ke Petamburan

Serdadu kolonial penuh bintang, Pongoh berperan penting melumpuhkan Sisingamangaraja XII.


Oleh : Petrik Matanasi.


Sebagaimana wilayah-wilayah lain di ibukota, wilayah Petamburan di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta juga dilanda panas terik hampir saban hari sejak beberapa bulan ke belakang. Banyak orang terlihat berteduh sembari minum atau makan di taman yang terletak di pojok yang mempertemukan Jalan KS Tubun dan Jalan S. Parman. Ibarat oasis, taman itu menjadi segelintir tempat berteduh yang ada di Petamburan. 



Satu ruang terbuka teduh lain di Petamburan adalah TPU Petamburan. Namun, dengan pos penjagaan yang mirip benteng, tak setiap orang bisa masuk dan berteduh di sana. 


Di TPU itulah Sersan Pongoh beristirahat abadi alias dimakamkan. Sersan Pongoh merupakan serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang mendapat banyak bintang jasa. Dia terlibat dalam banyak operasi militer. 


Sersan Jesajas Pongoh lahir di Air Madidi, selatan Manado, Sulawesi Utara pada 7 Mei 1878.  Menurut catatan Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië pada tanggal 6 Oktober 1934, dia telah menjadi serdadu KNIL sejak 10 Februari 1897.


Pongoh memulai kariernya dari pangkat bawah. Antara 1898-1904, ia ikut serta dalam operasi militer di Aceh sebagai anggota Korps Marsose Jalan Kaki, sebuah pasukan khusus anti-gerilya KNIL.


Pada 1902, Marsose Pongoh terlibat pertempuran melawan Krueng Talo di Sumegang Meulaboh, Aceh. Karenanya dia memperoleh Ridder Militaire Willemsorde kelas 4 berdasar Koninklijk Besluit 30 September 1903 nomor 56.


Dia terlibat pula dalam ekspedisi Gayo Alas yang penuh darah. Dalam operasi di tahun 1904 itu, dia berada di bawah komando Letnan Kolonel van Daalen. Saat merebut benteng Bukit Gemujaang  tanggal 18 Maret 1904, ia terluka karena tembakan pada lengan kanan bagian atas.


Setelah itu, Pongoh bertugas di Sulawesi Selatan (12 Juli 1905-1 Agustus 1906) di kala raja-raja Sulawesi Selatan bersatu melawan Belanda. Pangkatnya sudah Prajurit Infanteri kelas satu. 


Kiprahnya dalam operasi ini dianggap menonjol. Karenanya berdasar Koninklijk Besluit 28 Maret 1907 nomor 96, ia dianugerahi Ridder Militaire Willemsorde kelas 3. Meski sudah dapat bintang, Pongoh masih ikut bertempur dan bahkan juga mendapat luka. 


Saat merebut benteng batu Timongai (Tomorie, Sulawesi) pada 16 Agustus 1907, perutnya terluka.


Di tengah operasi itu, pangkatnya naik menjadi kopral dan tak lama kemudian naik lagi. Menurut De Avondpost tanggal 26 Oktober 1934, pangkat Ponngoh naik dari kopral naik menjadi sersan kelas dua pada 1906.


Waktu Sisingamaradja XII masih berperang dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, KNIL mengerahkan satu pasukan multietnis yang dipimpin Kapten Hans Christoffel untuk melumpuhkannya. Pongoh tergabung di dalamnya. 


“Dalam pasukan infanteri yang dikirim ke Aceh dan kemudian Tanah Batak untuk menghadapi Sisingamaradja banyak terdapat orang-orang pribumi, yang kebanyakan berasal dari Jawa, Manado, Ambon, dari Pulau Kei, Sangir dan lainnya,” catat Augustin Sibarani dalam Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII. 


Sersan Pongoh menjadi yang paling terkenal di antara orang-orang di dalam pasukan itu. Sebab, dia telah dapat banyak bintang. 


Pongoh kembali berkontribusi penting dalam operasi tersebut lantaran dia termasuk yang berjasa dalam melumpuhkan Sisingamangaraja XII pada pertengahan 1907 di sekitar Dairi.


Usai mengikuti operasi militer di tanah Batak, Sersan Pongoh bertugas di Betawi. Pada 1921 pangkatnya baru naik lagi, menjadi sersan kelas satu KNIL. Dia bertugas di KNIL hingga pensiun di tahun 1932. 


Ketika pensiun di Betawi, seperti disebut Deli Courant tanggal 15 Oktober 1934, dia pernah tinggal di Tanah Rendah, yang masih berada di daerah pinggiran kota. 


Di depan rumahnya terdapat foto para jenderal yang pernah menjadi atasannya selama di KNIL.


Pada Rabu, 11 Oktober 1934, sekitar pukul 04.00 pagi, Sersan Pongoh tutup usia di rumahsakit militer Betawi—kini menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto.


Keesokan harinya dia dimakamkan dengan kebesaran upacara militer KNIL. Makamnya berada di Petamburan, Jakarta.(*)

13 August 2026

Gembong PKI BERKAT SURAT IBU KANDUNG Dua gembong PKI bebas. Ada makna politisnya? (EDITOR, NO. 47 / THN. IV / 10 AGUSTUS 1991) Sejumlah barang dan seperangkat alat lukisan tampak terkemas rapi dalam tas kotak besar. Di Penjara Cipinang, persisnya di ruang Eki (ekstrem kiri), Rabu siang dua pekan silam, memang ada sedikit suasana haru. Hari itu, dua gembong Gestapu/PKI, Rewang, 63, alias Subandi; dan Marto Suwandhi, 69, bebas. "Benar, keduanya memang sudah bebas. Sebab, masa hukumannya memang sudah habis," ujar Nurdin Nursin, kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang pada EDITOR. Mengejutkan, memang. Sebab, keduanya disebut sudah setengah putus asa. Maklum, kata sebuah sumber, Rewang mestinya bebas 23 Januari 1988 silam. Sedang Marto Suwandhi mestinya bebas 8 September 1987, setahun sebelumnya. Rewang, asal Solo, tertangkap di Blitar Selatan pada 21 Juli 1968. Pria pendiam ini divonis seumur hidup. Namun, dengan berbagai remisi, hukumannya berubah menjadi 20 tahun. Bapak seorang anak ini, mengaku aktif di PKI Jateng sejak 1960, sampai kemudian menjabat sekretaris PKI Jawa Tengah. "Saat peristiwa 1965, saya menjadi anggota sekretariat CC PKI di bawah Sudisman," katanya. Sementara Marto Suwandhi juga divonis seumur hidup dan mengalami remisi yang sama seperti Rewang. Pria berperawakan kurus tinggi yang suka menyendiri dan melukis ini tertangkap di Jakarta pada 6 Maret 1968. Jabatannya saat itu: kepala Bagian Perlengkapan Biro Khusus PKI. Selama dalam penjara, kata sumber tadi, Rewang banyak menyibukkan diri dengan berternak ayam kampung. Bahkan, pagi hari sebelum dibebaskan, ia masih sempat memberi makan ayamnya. Sementara, Marto menekuni hobinya: melukis dengan alat ala kadarnya. Sekitar dua pekan sebelum pembebasan, Rewang didampingi Marto Suwandhi dipanggil petugas LP Cipinang. Petugas itu memberitahu, istri Rewang di Solo, Jateng, berkirim surat yang ditujukan ke kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Surat itu juga ada tembusannya ke pelbagai instansi terkait seperti Dirjen Pemasyarakatan, Menteri Kehakiman, Bakorstanas serta Kotas Pos 5000. Isinya? Ibu kandung Rewang memohon agar anaknya dibebaskan, karena masa hukuman Rewang telah lama berakhir. Kedua, Rewang sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan. Sehubungan dengan surat itulah, mereka berdua diminta agar menuturkan identitas keluarga masing-masing. Sebelumnya, Rewang dan Marto juga pernah dipanggil sehubungan dengan pengajuan surat serupa yang mereka bikin sendiri. Hasilnya nihil. Tapi, sehari sebelum pembebasan, mereka diberitahu, keluarganya akan datang berkunjung ke LP Cipinang. "Jadi, di benak Rewang dan Marto Suwandhi, tak terbersit pikiran sedikit pun kalau mereka akan bebas keesokan harinya," ujar sebuah sumber di LP Cipinang. Rewang, kini berada di rumah ibunya di Kampung Dawung Wetan, Solo, Jateng "Saya mendapatkan perlakuan yang baik selama perjalanan ke rumah. Dan, saya mengucapkan terima kasih pada pemerintah," kata Rewang pada EDITOR. Kini, setidaknya masih ada beberapa dedengkot PKI di penjara yang, mungkin, juga akan dibebaskan. Misalnya, Omar Dhani, Soebandrio, dan Kolonel A. Latief. Di samping itu, kata sumber tadi, masih ada beberapa orang eks PKI yang masih akan menjalani hukuman mati. Mereka itu Soekatno, 59, ketua Pemuda Rakyat, juga anggota DPRGR-MPR. Roeslan Widjayasastra, 72, anggota Dewan Perancang Nasional RI, juga ketua Sobsi (organisasi buruh menjadi onderbow PKI). Yang lain adalah Iskandar Soebekti, 67, anggota CC PKI bagian Departemen Luar Negeri; Asep Soeryaman, 62, (bagian Pendidikan Biro PKI); Nataneal Marsoedi, 53, anggota Brigif AURI (Cakrabhirawa); dan Sertu Boengkus, 61, anggota Brigif AURI (juga Cakrabhirawa). "Terus terang, kami sudah pasrah. Lebih-lebih papa sendiri tampaknya tak merepotkan keluarganya," ujar keluarga Iskandar Soebekti di Yogyakarta. Sedang keempat anggota Cakrabhirawa lainnya telah dieksekusi medio Februari 1990. Mereka, Yohannes Surono, 60, Simon Petrus Solaiman, 60, Norbertus Rohayan, 49, dan Satar Suryanto, 57. Keempat pasukan pengawal Presiden Soekarno itu, tak lain, adalah pelaku langsung pembunuhan para Jenderal Angkatan Da- rat di tahun 1965 itu. Sebelumnya, di bulan Oktober 1988, juga ada eksekusi terhadap dua anggota Cakrabhirawa: Sersan Giyadi, 60, (dituduh yang menembak Jenderal A. Yani) dan Sukardjo (membunuh Mayjen. Pandjaitan). Di tahun 1986, eksekusi mati juga dilakukan terhadap Munir, mantan Sekjen Sobsi. Lalu, mengapa Rewang dan Marto Suwandhi terlambat dibebaskan? Itulah pertanyaan yang diajukan H. Princen, ketua Lembaga Pembela Hak-Hak Asasi Manusia yang berkedudukan di Jakarta. "Wah, kalau soal itu tanyakan saja pada Bakorstanasda. Saya kan cuma pelaksana," ujar Nurdin Nursin, kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. MASDUKI BAIDLAWI LAPORAN BUDI RW (SOLO), SYAFRITA ARYANA HARFAH DAN DADIR SUMAATMADJA, ERMINA MIRANTI JAKARTA) Sumber: EDITOR, NO. 47 / THN. IV / 10 AGUSTUS 1991

 Gembong PKI

BERKAT SURAT IBU KANDUNG


Dua gembong PKI bebas. Ada makna politisnya?


(EDITOR, NO. 47 / THN. IV / 10 AGUSTUS 1991)


Sejumlah barang dan seperangkat alat lukisan tampak terkemas rapi dalam tas kotak besar. Di Penjara Cipinang, persisnya di ruang Eki (ekstrem kiri), Rabu siang dua pekan silam, memang ada sedikit suasana haru. Hari itu, dua gembong Gestapu/PKI, Rewang, 63, alias Subandi; dan Marto Suwandhi, 69, bebas. "Benar, keduanya memang sudah bebas. Sebab, masa hukumannya memang sudah habis," ujar Nurdin Nursin, kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang pada EDITOR.



Mengejutkan, memang. Sebab, keduanya disebut sudah setengah putus asa. Maklum, kata sebuah sumber, Rewang mestinya bebas 23 Januari 1988 silam. Sedang Marto Suwandhi mestinya bebas 8 September 1987, setahun sebelumnya.


Rewang, asal Solo, tertangkap di Blitar Selatan pada 21 Juli 1968. Pria pendiam ini divonis seumur hidup. Namun, dengan berbagai remisi, hukumannya berubah menjadi 20 tahun. Bapak seorang anak ini, mengaku aktif di PKI Jateng sejak 1960, sampai kemudian menjabat sekretaris PKI Jawa Tengah. "Saat peristiwa 1965, saya menjadi anggota sekretariat CC PKI di bawah Sudisman," katanya.


Sementara Marto Suwandhi juga divonis seumur hidup dan mengalami remisi yang sama seperti Rewang. Pria berperawakan kurus tinggi yang suka menyendiri dan melukis ini tertangkap di Jakarta pada 6 Maret 1968. Jabatannya saat itu: kepala Bagian Perlengkapan Biro Khusus PKI. Selama dalam penjara, kata sumber tadi, Rewang banyak menyibukkan diri dengan berternak ayam kampung. Bahkan, pagi hari sebelum dibebaskan, ia masih sempat memberi makan ayamnya. Sementara, Marto menekuni hobinya: melukis dengan alat ala kadarnya.


Sekitar dua pekan sebelum pembebasan, Rewang didampingi Marto Suwandhi dipanggil petugas LP Cipinang. Petugas itu memberitahu, istri Rewang di Solo, Jateng, berkirim surat yang ditujukan ke kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Surat itu juga ada tembusannya ke pelbagai instansi terkait seperti Dirjen Pemasyarakatan, Menteri Kehakiman, Bakorstanas serta Kotas Pos 5000.


Isinya? Ibu kandung Rewang memohon agar anaknya dibebaskan, karena masa hukuman Rewang telah lama berakhir. Kedua, Rewang sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan. Sehubungan dengan surat itulah, mereka berdua diminta agar menuturkan identitas keluarga masing-masing. Sebelumnya, Rewang dan Marto juga pernah dipanggil sehubungan dengan pengajuan surat serupa yang mereka bikin sendiri. Hasilnya nihil.


Tapi, sehari sebelum pembebasan, mereka diberitahu, keluarganya akan datang berkunjung ke LP Cipinang. "Jadi, di benak Rewang dan Marto Suwandhi, tak terbersit pikiran sedikit pun kalau mereka akan bebas keesokan harinya," ujar sebuah sumber di LP Cipinang.


Rewang, kini berada di rumah ibunya di Kampung Dawung Wetan, Solo, Jateng "Saya mendapatkan perlakuan yang baik selama perjalanan ke rumah. Dan, saya mengucapkan terima kasih pada pemerintah," kata Rewang pada EDITOR.


Kini, setidaknya masih ada beberapa dedengkot PKI di penjara yang, mungkin, juga akan dibebaskan. Misalnya, Omar Dhani, Soebandrio, dan Kolonel A. Latief. Di samping itu, kata sumber tadi, masih ada beberapa orang eks PKI yang masih akan menjalani hukuman mati. Mereka itu Soekatno, 59, ketua Pemuda Rakyat, juga anggota DPRGR-MPR. Roeslan Widjayasastra, 72, anggota Dewan Perancang Nasional RI, juga ketua Sobsi (organisasi buruh menjadi onderbow PKI).


Yang lain adalah Iskandar Soebekti, 67, anggota CC PKI bagian Departemen Luar Negeri; Asep Soeryaman, 62, (bagian Pendidikan Biro PKI); Nataneal Marsoedi, 53, anggota Brigif AURI (Cakrabhirawa); dan Sertu Boengkus, 61, anggota Brigif AURI (juga Cakrabhirawa). "Terus terang, kami sudah pasrah. Lebih-lebih papa sendiri tampaknya tak merepotkan keluarganya," ujar keluarga Iskandar Soebekti di Yogyakarta.


Sedang keempat anggota Cakrabhirawa lainnya telah dieksekusi medio Februari 1990. Mereka, Yohannes Surono, 60, Simon Petrus Solaiman, 60, Norbertus Rohayan, 49, dan Satar Suryanto, 57. Keempat pasukan pengawal Presiden Soekarno itu, tak lain, adalah pelaku langsung pembunuhan para Jenderal Angkatan Da- rat di tahun 1965 itu.


Sebelumnya, di bulan Oktober 1988, juga ada eksekusi terhadap dua anggota Cakrabhirawa: Sersan Giyadi, 60, (dituduh yang menembak Jenderal A. Yani) dan Sukardjo (membunuh Mayjen. Pandjaitan). Di tahun 1986, eksekusi mati juga dilakukan terhadap Munir, mantan Sekjen Sobsi.


Lalu, mengapa Rewang dan Marto Suwandhi terlambat dibebaskan? Itulah pertanyaan yang diajukan H. Princen, ketua Lembaga Pembela Hak-Hak Asasi Manusia yang berkedudukan di Jakarta. "Wah, kalau soal itu tanyakan saja pada Bakorstanasda. Saya kan cuma pelaksana," ujar Nurdin Nursin, kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.


MASDUKI BAIDLAWI 

LAPORAN BUDI RW (SOLO), SYAFRITA ARYANA HARFAH DAN DADIR SUMAATMADJA, ERMINA MIRANTI JAKARTA)


Sumber: EDITOR, NO. 47 / THN. IV / 10 AGUSTUS 1991

11 August 2026

 𝗣𝗘𝗥𝗧𝗘𝗠𝗨𝗔𝗡 𝟮 𝗪𝗔𝗟𝗜 𝗔𝗟𝗟𝗔𝗛: 𝗜𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗖𝗵𝘂𝗱𝗹𝗼𝗿𝗶 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗠𝗯𝗮𝗵 𝗠𝗮𝗻𝗴𝗹𝗶 𝗦𝗼𝘄𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗱𝗮𝗯



Di antara para kekasih Allah, pertemuan mereka bukan kebetulan. Ada adab yang dijaga, ada doa yang dimintakan, dan ada isyarat yang Allah tampakkan. 


Suatu ketika KH. Hasan Asyk'ari "Mbah Mangli" sowan ke kediaman gurunya KH. Chudlori Tegalrejo dengan berjalan jongkok dan melepas sandal sebagai bentuk ta'dzim kepada guru. Di sanalah beliau mendapat satu isyarat dari Mbah Chudlori tentang ujian yang akan beliau alami dalam perjalanan dakwahnya. Isyarat itu kemudian terbukti benar ketika Mbah Mangli mengalami peristiwa penting di daerah Cirebon, yang menjadi bukti kemuliaan adab beliau kepada guru dan kewalian yang dimiliki sang guru.


𝐁𝐞𝐫𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐤𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐧𝐲𝐚..


Dikisahkan ketika beliau sowan ke kediaman Mbah Chudlori di Tegalrejo, Magelang. Sebagaimana kebiasaannya, sejak memasuki gang menuju ndalem, beliau sudah melepas sandalnya. Dari situ beliau berjalan _ndodok_, berjalan jongkok, hingga tiba di depan pintu rumah.


Sesampainya di depan pintu, beliau tidak langsung masuk. Beliau duduk bersila, terkadang _tawaruk_, sambil menunggu tuan rumah mempersilakan. Konon, jika belum dipersilakan, beliau rela menunggu berjam-jam dalam posisi itu tanpa sedikit pun rasa tidak sabar.

Sudah menjadi rahasia umum di kalangan pecinta ulama, bahwa Mbah Mangli — KH. Hasan Asyk'ari — dikenal sebagai sosok yang sangat tawadhu kepada para ulama sepuh. Rasa hormat beliau tidak hanya di lisan, tetapi benar-benar dipraktikkan.


Tak lama kemudian seorang khodim Mbah Chudlori datang tergopoh-gopoh dan mempersilakan beliau masuk. Setelah masuk, Mbah Mangli kembali duduk dengan kepala tertunduk, menunggu kedatangan Mbah Chudlori.


Saat keduanya bertemu, mereka bersalaman dan berpelukan. Setelah itu Mbah Mangli kembali duduk dengan penuh kekhusyukan. Dan selama tuan rumah belum bertanya, beliau memilih diam.


𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐚𝐤𝐬𝐮𝐝 𝐤𝐞𝐝𝐚𝐭𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.


𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐡 𝐡𝐨𝐫𝐦𝐚𝐭 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐥𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛,  

“𝐊𝐢𝐚𝐢, 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐞𝐧𝐝𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐤𝐞 𝐉𝐚𝐤𝐚𝐫𝐭𝐚. 𝐊𝐢𝐫𝐚-𝐤𝐢𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤?”


𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐭𝐞𝐫𝐝𝐢𝐚𝐦 𝐬𝐞𝐣𝐞𝐧𝐚𝐤, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐧,  

“𝐌𝐛𝐨𝐭𝐞𝐧 𝐝𝐮𝐠𝐢... 𝐦𝐛𝐨𝐭𝐞𝐧 𝐝𝐮𝐠𝐢.”  

“𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢... 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢.”


Di kalangan para wali, percakapan seperti ini bukan hal asing. Bisa jadi untuk memantapkan kasyaf, menguji kasyaf, atau bersama-sama bermunajat agar ketentuan Allah menjadi lebih baik. _Wallahu a'lam._


Mendengar itu, Mbah Mangli tetap berangkat dengan penuh tawakal.  

“𝐖𝐚𝐥𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢, 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐭. 𝐌𝐨𝐡𝐨𝐧 𝐝𝐨𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐫𝐞𝐬𝐭𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐫𝐢 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐚𝐧.”


Beberapa hari kemudian, benarlah apa yang dikatakan Mbah Chudlori. Di daerah Cirebon, mesin mobil beliau — konon jenis Jeep atau Hartop — pecah dan rusak berat. Setelah dicek di bengkel, biaya perbaikannya Rp15.000. 


Angka yang sangat besar pada masa itu. Yang mengherankan, uang bekal yang dibawa Mbah Mangli juga hanya Rp15.000, pas.


Akhirnya beliau memutuskan tidak melanjutkan perjalanan. Mobil ditinggal, beliau pulang dengan bus. Sesampainya di kampung, beliau tidak langsung pulang ke rumah. Beliau justru kembali sowan ke Tegalrejo untuk menceritakan semuanya kepada Mbah Chudlori, sekaligus bersyukur karena diberi keselamatan.


𝐊𝐞𝐦𝐮𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐥𝐢𝐚𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐚 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐚𝐥𝐧𝐲𝐚.  

“𝐊𝐢𝐚𝐢, 𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐢𝐬𝐚 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐤𝐚𝐥 𝐬𝐚𝐲𝐚. 𝐒𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐭𝐮𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧.”


𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐨𝐥𝐚𝐤 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐥𝐮𝐬, “𝐒𝐮𝐝𝐚𝐡, 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐮𝐬𝐚𝐡. 𝐁𝐚𝐰𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐛𝐚𝐢𝐤𝐢 𝐦𝐨𝐛𝐢𝐥𝐦𝐮.”  

𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐌𝐚𝐧𝐠𝐥𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐢𝐤𝐞𝐫𝐚𝐬, “𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐊𝐢𝐚𝐢 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐤𝐞𝐧𝐚𝐧, 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢.”


𝐌𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐤𝐞𝐭𝐮𝐥𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮, 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐂𝐡𝐮𝐝𝐥𝐨𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚.


𝐖𝐚𝐥𝐥𝐚𝐡𝐮 𝐚'𝐥𝐚𝐦 𝐛𝐢𝐬𝐡𝐚𝐰𝐚𝐛.


Semoga Allah mengumpulkan kita bersama beliau-beliau di surganya. Aamiin 🤲 

 Al-Fatihah...


#sepenggalkisah #catatankecil #mbahmangli #khchudlori #adab #ilmu #ulama #ulamanusantara #kyai #tanahjawa #ulamakarismatik #karomah #kasyaf #kisahparawali #santri #pondokpesantren #guru #dawuhguru #magelang #APItegalrejo #jawatengah

08 August 2026

𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙈𝙗𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙤𝙬𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙜𝙪𝙧𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙠𝙣𝙞, 𝙆𝙮𝙖𝙞 𝘼𝙧𝙬𝙖𝙣𝙞. 𝐷𝑖𝑘𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝐻. 𝑁𝑜𝑜𝑟 𝐻𝑎𝑑𝑖, 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑏𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑡𝑢𝑎 𝑃𝑊𝑁𝑈 𝐵𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 1980 Kyai asli Demak ini berkisah bahwa suatu ketika Mbah Mangli berangkat ke Kudus untuk sowan kepada gurunya yakni, Kyai Arwani. Sesampainya di Kudus, Mbah Mangli segera menuju Kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus yang berada tak jauh Masjid Al-Aqsha yang terkenal dengan Masjid Menara Kudus. Ketika sampai di depan Ndalem Kyai Arwani, Mbah Mangli tiba-tiba bersimpuh sambil berjalan perlahan-lahan atau “ngesot” dalam bahasa jawa. Singkat cerita Kyai Arwani pun menghampirinya. Selanjutnya, Mbah Mangli mulai mengutarakan maksud kedatangannya, yang selanjutnya 𝑑𝑖𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐫𝐨𝐦𝐨 𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑐𝑖𝑟𝑖 𝑘ℎ𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎𝑝𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎. (𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑜𝑔 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑒𝑟) “𝐒𝐢𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Siapa anda?)Tanya Kyai Arwani “𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐠𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠?” Jawab Mbah Mangli “𝐖𝐨𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐡𝐚𝐣𝐚𝐭 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐰𝐮𝐡 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢”? (Ada perlu apa kesini)” Tanya Kyai Arwani “𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐤𝐚𝐣𝐞𝐧𝐠𝐞 𝐧𝐲𝐮𝐰𝐮𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐝𝐚𝐝𝐨𝐬 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Saya ingin minta tolong diakui sebagai santri anda)” Jawab Arwani “𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐠𝐞𝐡, 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐝𝐚𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢?” (Maaf, anda pernah ngaji disini ya?) “Tanya Kyai Arwani “𝐍𝐠𝐠𝐞𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐦𝐢𝐲𝐞𝐧 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢. 𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧, 𝐍𝐢𝐤𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐧𝐢𝐩𝐮𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐰𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐭𝐞𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧" (Iya Kyai, saya pernah belajar disini. Mohon maaf, ini bukti jika saya pernah mengaji kepada anda). [sambil menunjukkan bekas sabetan Kyai Arwani yang masih membekas di punggungnya] ” Pungkas Mbah Mangli.. Maka ketika Mbah Arwani melihat bukti tersebut, maka teringatlah beliau pada sosok di depannya tersebut adalah benar-benar muridnya. Maka bersyukurlah beliau pada sosok santrinya yang kini telah menjadi ulama besar yang telah sukses mendirikan pesantren, mengasuh pengajian di berbagai tempat dan menjadi Mursyid Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyah ini. Maka Kyai Arwani pun mengakui bahwa Mbah Mangli adalah santrinya. Jawaban tersebut disambut oleh Mbah Mangli dengan penuh suka cita. Mendengar jawaban yang dinanti-nanti selama ini langsung dari guru mulianya tersebut, terbayang betapa bersyukurnya beliau telah resmi diakui sebagai santrinya Kyai Arwani yang juga dikenal penulis Kitab Faidh Barokat fi Sab’i al-Qiro’at yang telah dikenal sampai di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini.. #sepenggalkisah #catatankecil #waliAllah #mbahmangli #mbaharwanikudus #santri #pondokpesantren #ulamanusantara #ulama #kyai #tanahjawa #magelang #kudus #majelis #sejarah #kairo #mesir

 𝙆𝙚𝙩𝙞𝙠𝙖 𝙈𝙗𝙖𝙝 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙡𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙩 𝙠𝙚 𝙆𝙪𝙙𝙪𝙨 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙨𝙤𝙬𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙜𝙪𝙧𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙠𝙣𝙞, 𝙆𝙮𝙖𝙞 𝘼𝙧𝙬𝙖𝙣𝙞.



𝐷𝑖𝑘𝑖𝑠𝑎ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝐻. 𝑁𝑜𝑜𝑟 𝐻𝑎𝑑𝑖, 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑏𝑎𝑡 𝐾𝑒𝑡𝑢𝑎 𝑃𝑊𝑁𝑈 𝐵𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑘 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 1980

Kyai asli Demak ini berkisah bahwa suatu ketika Mbah Mangli berangkat ke Kudus untuk sowan kepada gurunya yakni, Kyai Arwani.


Sesampainya di Kudus, Mbah Mangli segera menuju Kompleks Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus yang berada tak jauh Masjid Al-Aqsha yang terkenal dengan Masjid Menara Kudus. Ketika sampai di depan Ndalem Kyai Arwani, Mbah Mangli tiba-tiba bersimpuh sambil berjalan perlahan-lahan atau “ngesot” dalam bahasa jawa.


Singkat cerita Kyai Arwani pun menghampirinya. Selanjutnya, Mbah Mangli mulai mengutarakan maksud kedatangannya, yang selanjutnya 𝑑𝑖𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝐴𝑟𝑤𝑎𝑛𝑖 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐰𝐚 𝐤𝐫𝐨𝐦𝐨 𝐢𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝑐𝑖𝑟𝑖 𝑘ℎ𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑢 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎 𝑡𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎𝑝𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎. (𝑘𝑎𝑚𝑖 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑑𝑖𝑎𝑙𝑜𝑔 𝑖𝑚𝑎𝑗𝑖𝑛𝑒𝑟)


“𝐒𝐢𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?”  (Siapa anda?)Tanya Kyai Arwani 


“𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐇𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐧𝐠 𝐌𝐚𝐠𝐞𝐥𝐚𝐧𝐠?” Jawab Mbah Mangli


“𝐖𝐨𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐡𝐚𝐣𝐚𝐭 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐫𝐚𝐰𝐮𝐡 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢”? (Ada perlu apa kesini)” Tanya Kyai Arwani


“𝐃𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐤𝐚𝐣𝐞𝐧𝐠𝐞 𝐧𝐲𝐮𝐰𝐮𝐧 𝐭𝐮𝐥𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮𝐢 𝐝𝐚𝐝𝐨𝐬 𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧?” (Saya ingin minta tolong diakui sebagai santri anda)” Jawab Arwani


“𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧 𝐠𝐞𝐡, 𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐧𝐨𝐩𝐨 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐝𝐚𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢?” (Maaf, anda pernah ngaji disini ya?) “Tanya Kyai Arwani


“𝐍𝐠𝐠𝐞𝐡 𝐘𝐚𝐢, 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐫𝐮𝐦𝐢𝐲𝐞𝐧 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐦𝐫𝐢𝐤𝐢. 𝐍𝐠𝐚𝐩𝐮𝐧𝐭𝐞𝐧, 𝐍𝐢𝐤𝐢 𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐧𝐢𝐩𝐮𝐧, 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐰𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦 𝐧𝐚𝐭𝐞 𝐧𝐠𝐚𝐨𝐬 𝐭𝐞𝐧 𝐩𝐚𝐧𝐣𝐞𝐧𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧" (Iya Kyai, saya pernah belajar disini. Mohon maaf, ini bukti jika saya pernah mengaji kepada anda).


 [sambil menunjukkan bekas sabetan Kyai Arwani yang masih membekas di punggungnya] ” Pungkas Mbah Mangli..


Maka ketika Mbah Arwani melihat bukti tersebut, maka teringatlah beliau pada sosok di depannya tersebut adalah benar-benar muridnya. Maka bersyukurlah beliau pada sosok santrinya yang kini telah menjadi ulama besar yang telah sukses mendirikan pesantren, mengasuh pengajian di berbagai tempat dan menjadi Mursyid Thariqah Qodiriyyah wan Naqsabandiyah ini. Maka Kyai Arwani pun mengakui bahwa Mbah Mangli adalah santrinya.


Jawaban tersebut disambut oleh Mbah Mangli dengan penuh suka cita. Mendengar jawaban yang dinanti-nanti selama ini langsung dari guru mulianya tersebut, terbayang betapa bersyukurnya beliau telah resmi diakui sebagai santrinya Kyai Arwani yang juga dikenal penulis Kitab Faidh Barokat fi Sab’i al-Qiro’at yang telah dikenal sampai di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini..


#sepenggalkisah #catatankecil #waliAllah #mbahmangli #mbaharwanikudus #santri #pondokpesantren #ulamanusantara #ulama #kyai #tanahjawa #magelang #kudus #majelis #sejarah #kairo #mesir

07 August 2026

RADEN TUMENGGUNG ARIO SOEMODILOGO. Beliau merupakan putera dari kiai Ngabei Soemowerdojo (Patih Semarang) dan puteri kiai Mertonegoro II Ngabei Gemulak. Istri beliau adalah GRAy Soemodilogo. Putera beliau adalah: 1. R Demang Martolojo. 2. RT Soerodilogo. 3. RTAA Holland Soemodilogo. 4. R Praptodilogo. 5. R Soemowardojo (Kolektur Prapak). 6. Dan 2 orang lagi tidak disebutkan namanya. Gelar Raden Tumenggung (RT) Ario Soemodilogo dan kamulyan (kemuliaan) sebagai bupati Menoreh, secara sadar beliau bayar dengan kerelaannya berperang melawan Pangeran Diponegoro. Soemodilogo bahkan belum pula sempat menjalankan tugas sebagai bupati, karena Perang Jawa itu keburu meletus. Tumenggung Soemodilogo pun jadi salah satu komandan batalyon sekutu, yang terdiri dari serdadu Belanda, legiun Mangkunegaran, prajurit Kasunanan Solo, dan sejumlah pasukan bupati - bupati pro kumpeni lainnya. Pasukan gabungan berupa batalyon persekutuan Soemodilogo ini sangat besar kekuatannya. Batalyon sekutu pro kumpeni yang dikomandoi Soemodilogo berkedudukan di Parakan. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Dalam suatu pertempuran yang sangat besar berkobar, batalyon gabungan yang dikomandoinya hancur lebur diterjang laskar Diponegoro. RT Soemodilogo tewas sangat mengenaskan (Sutherhand, 1974, Cornell University). Sejarah yang beredar di kalangan masyarakat Temanggung menuturkan, bahwa sebagai bukti keberhasilan operasinya, laskar Diponegoro mengambil mustaka (kepala) sang bupati dan memperlihatkannya ke hadapan sang Pangeran Herucokro di markas komandonya, Selarong, Yogyakarta. Maka, hingga kini anak cucu keturunan mendiang, yang tergabung dalam paguyuban trah Soemodilagan, biasa nyekar pepundennya itu di dua tempat yaitu di Parakan Jawa Tengah dan di Selarong Yogyakarta. Pembesar yang menjadi korban panasnya Perang Jawa bukan hanya Ario Soemodilogo. Tumenggung Danuningrat I, bupati Magelang, menurut Sutherhand, mengalami nasib serupa, tewas. Bahkan, serdadu - serdadu Belanda yang dipimpin veteran perang Napoleon yaitu Jenderal Van Green, pun tewas, hancur lebur, lumat diterjang laskar Diponegoro. Sebagaimana bupati lain yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Phillip Van der Capellen (1816 - 1826), Soemodilogo juga berasal dari keluarga penguasa yang dulunya menjadi bawahan Mataram. Beliau adalah putera Raden Soemowerdojo, Patih Semarang. Sedangkan kakeknya adalah Bupati Semarang Raden Tumenggung Soemohadimenggolo. Tradisi Van der Capellen itu berlanjut hingga 1850 - an, untuk bupati - bupati pesisir utara misalnya, umumnya diambil dari keluarga bupati Semarang, Demak, Jepara, atau Pati. Untuk wilayah Jawa Tengah bagian barat, yang dipromosikan kerabat bupati Banyumas yaitu keluarga Yudonegoro. Keluarga Kolopaking dan keluarga Arumbinang untuk memimpin wilayah Bagelen. Begitu pula yang terjadi di Jawa Timur. Namun, dalam daftar resmi bupati Temanggung, nama RT Ario Soemodilogo justru tidak tercantum. Yang tercatat sebagai bupati Temanggung pertama adalah RT Djojonegoro (1834 - 1848). Hal ini terjadi karena sebelumnya Kabupaten Temanggung itu disebut Kabupaten Menoreh yang pusat pemerintahannya di Parakan. Tapi, kabupaten Manoreh itu tak berumur panjang, karena hanya sementara, dan hancur diterjang laskar Diponegoro. Namanya kemudian diganti Kabupaten Temanggung, dan ibukotanya pun dipindah di Temanggung yang jauh lebih aman. Masjid Jami’ dan alun - alun adalah bukti kelahiran kabupaten Temanggung. Sayang, nDalem Kabupatennya sendiri yang asli telah terbakar habis sebagai akibat dari strategi taktik bumi hangus dalam perang revolusi kemerdekaan yang berkobar. Meski Tumenggung Ario Soemodilogo tidak sempat menjalankan misi pemerintahannya di Menoreh (pindah Temanggung), pemerintah kolonial tak melupakan pengorbanannya. Terbukti setelah RT Djojonegoro lengser 1848, diangkatlah putera Soemodilogo menjadi bupati Temanggung. Putera beliau bergelar menjadi Raden Tumenggung Soemodilogo II. Karena kesetiaannya, atas persetujuan Batavia, Soemodilogo II dianugerahi memakai gelar Holland sebagai nama depannya. Jadilah bergelar RT Holland Soemodilogo yang menjabat bupati selama 30 tahun. Sebelum pensiun, RT Holland Soemodilogo naik pangkat dengan gelar Kanjeng Raden Adipati. Keluarga Soemodilogo masih mendapat kepercayaan sekali lagi memimpin Temanggung melalui RT Holland Soemodirdjo, putera Soemodilogo II. Tidak jelas mengapa Soemodirdjo hanya menjabat selama 4 tahun (1878 - 1882). Soemodirdjo digantikan RT Tjokro Atmodjo (1882 - 1906) dan kemudian RM Adipati Tjokro Adikoesoemo (1906 - 1023), salah seorang bupati yang progresif untuk ukuran zamannya. Bapak dari mantan Gubernur DKI Jakarta (alm) Tjokro Pranolo itu termasuk segelintir bupati yang mendukung gerakan Boedi Oetomo. Dengan tiga nama yang pernah menjadi penguasa di Temanggung, tak heran bila nama - nama Soemodilogo melegenda di lembah Sindoro - Sumbing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Catatan: Pangeran Herucokro itu adalah nama lain dari Pangeran Diponegoro. Herucokro adalah putera dari Surojo (Sri Sultan Hamengku Buwono III, Raja Yogyakarta).

 RADEN TUMENGGUNG ARIO SOEMODILOGO.


Beliau merupakan putera dari kiai Ngabei Soemowerdojo (Patih Semarang) dan puteri kiai Mertonegoro II Ngabei Gemulak.



Istri beliau adalah GRAy Soemodilogo.


Putera beliau adalah:


1. R Demang Martolojo.


2. RT Soerodilogo.


3. RTAA Holland Soemodilogo.


4. R Praptodilogo.


5. R Soemowardojo (Kolektur Prapak).


6. Dan 2 orang lagi tidak disebutkan namanya.


Gelar Raden Tumenggung (RT) Ario Soemodilogo dan kamulyan (kemuliaan) sebagai bupati Menoreh, secara sadar beliau bayar dengan kerelaannya berperang melawan Pangeran Diponegoro.


Soemodilogo bahkan belum pula sempat menjalankan tugas sebagai bupati, karena Perang Jawa itu keburu meletus.


Tumenggung Soemodilogo pun jadi salah satu komandan batalyon sekutu, yang terdiri dari serdadu Belanda, legiun Mangkunegaran, prajurit Kasunanan Solo, dan sejumlah pasukan bupati - bupati pro kumpeni lainnya.


Pasukan gabungan berupa batalyon persekutuan Soemodilogo ini sangat besar kekuatannya.


Batalyon sekutu pro kumpeni yang dikomandoi Soemodilogo berkedudukan di Parakan.


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.


Dalam suatu pertempuran yang sangat besar berkobar, batalyon gabungan yang dikomandoinya hancur lebur diterjang laskar Diponegoro.


RT Soemodilogo tewas sangat mengenaskan (Sutherhand, 1974, Cornell University).


Sejarah yang beredar di kalangan masyarakat Temanggung menuturkan, bahwa sebagai bukti keberhasilan operasinya, laskar Diponegoro mengambil mustaka (kepala) sang bupati dan memperlihatkannya ke hadapan sang Pangeran Herucokro di markas komandonya, Selarong, Yogyakarta.


Maka, hingga kini anak cucu keturunan mendiang, yang tergabung dalam paguyuban trah Soemodilagan, biasa nyekar pepundennya itu di dua tempat yaitu di Parakan Jawa Tengah dan di Selarong Yogyakarta.


Pembesar yang menjadi korban panasnya Perang Jawa bukan hanya Ario Soemodilogo.


Tumenggung Danuningrat I, bupati Magelang, menurut Sutherhand, mengalami nasib serupa, tewas.


Bahkan, serdadu - serdadu Belanda yang dipimpin veteran perang Napoleon yaitu Jenderal Van Green, pun tewas, hancur lebur, lumat diterjang laskar Diponegoro.


Sebagaimana bupati lain yang diangkat oleh Gubernur Jenderal Phillip Van der Capellen (1816 - 1826), Soemodilogo juga berasal dari keluarga penguasa yang dulunya menjadi bawahan Mataram.


Beliau adalah putera Raden Soemowerdojo, Patih Semarang.


Sedangkan kakeknya adalah Bupati Semarang Raden Tumenggung Soemohadimenggolo.


Tradisi Van der Capellen itu berlanjut hingga 1850 - an, untuk bupati - bupati pesisir utara misalnya, umumnya diambil dari keluarga bupati Semarang, Demak, Jepara, atau Pati.


Untuk wilayah Jawa Tengah bagian barat, yang dipromosikan kerabat bupati Banyumas yaitu keluarga Yudonegoro.


Keluarga Kolopaking dan keluarga Arumbinang untuk memimpin wilayah Bagelen.


Begitu pula yang terjadi di Jawa Timur.


Namun, dalam daftar resmi bupati Temanggung, nama RT Ario Soemodilogo justru tidak tercantum.


Yang tercatat sebagai bupati Temanggung pertama adalah RT Djojonegoro (1834 - 1848).


Hal ini terjadi karena sebelumnya Kabupaten Temanggung itu disebut Kabupaten Menoreh yang pusat pemerintahannya di Parakan.


Tapi, kabupaten Manoreh itu tak berumur panjang, karena hanya sementara, dan hancur diterjang laskar Diponegoro.


Namanya kemudian diganti Kabupaten Temanggung, dan ibukotanya pun dipindah di Temanggung yang jauh lebih aman.


Masjid Jami’ dan alun - alun adalah bukti kelahiran kabupaten Temanggung.


Sayang, nDalem Kabupatennya sendiri yang asli telah terbakar habis sebagai akibat dari strategi taktik bumi hangus dalam perang revolusi kemerdekaan yang berkobar.


Meski Tumenggung Ario Soemodilogo tidak sempat menjalankan misi pemerintahannya di Menoreh (pindah Temanggung), pemerintah kolonial tak melupakan pengorbanannya.


Terbukti setelah RT Djojonegoro lengser 1848, diangkatlah putera Soemodilogo menjadi bupati Temanggung.


Putera beliau bergelar menjadi Raden Tumenggung Soemodilogo II.


Karena kesetiaannya, atas persetujuan Batavia, Soemodilogo II dianugerahi memakai gelar Holland sebagai nama depannya.


Jadilah bergelar RT Holland Soemodilogo yang menjabat bupati selama 30 tahun.


Sebelum pensiun, RT Holland Soemodilogo naik pangkat dengan gelar Kanjeng Raden Adipati.


Keluarga Soemodilogo masih mendapat kepercayaan sekali lagi memimpin Temanggung melalui RT Holland Soemodirdjo, putera Soemodilogo II.


Tidak jelas mengapa Soemodirdjo hanya menjabat selama 4 tahun (1878 - 1882).


Soemodirdjo digantikan RT Tjokro Atmodjo (1882 - 1906) dan kemudian RM Adipati Tjokro Adikoesoemo (1906 - 1023), salah seorang bupati yang progresif untuk ukuran zamannya.


Bapak dari mantan Gubernur DKI Jakarta (alm) Tjokro Pranolo itu termasuk segelintir bupati yang mendukung gerakan Boedi Oetomo.


Dengan tiga nama yang pernah menjadi penguasa di Temanggung, tak heran bila nama - nama Soemodilogo melegenda di lembah Sindoro - Sumbing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


Catatan:


Pangeran Herucokro itu adalah nama lain dari Pangeran Diponegoro.


Herucokro adalah putera dari Surojo (Sri Sultan Hamengku Buwono III, Raja Yogyakarta).

06 August 2026

Ini foto Faisal bin Musaid, pangeran Saudi bersama pacarnnya Christine Surma, artis AS. Pangeran Faisal lahir pada tahun 1944, dia adalah cucu Raja Saud. Masalah pertama yang didapatnya adalah perceraian kedua orangtuanya. Dari situ dia lebih akrab dengan keluarga ibunya dibanding keluarga ayahnya. Masalah keduanya, adalah pada tahun 1966, saudaranya Khaled, terbunuh saat ikut dalam aksi protes menentang pembolehan televisi. Saat itu, Raja Faisal yang mendorong modernisasi Saudi memperkenalkan televisi kepada rakyat Saudi. Ulama Wahabi Syekh Bin Baz yang saat itu menjadi rektor Universitas Madinah merespon dengan memfatwakan haramnya menonton televisi. Raja Faisal tidak bergeming, ia malah memecat Bin Baz dan menyebutnya ulama kolot yang menghambat kemajuan. Apalagi saat itu Bin Baz juga mengatakan bumi itu datar, sehingga Raja Faisal menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan kerajaan. Pemecatan Bin Baz memicu respon keras dari kelompok wahabi, termasuk di dalamnya Pangeran Khaled bin Musaid yang terpapar paham wahabi. Ia ikut dalam aksi protes dan turut menjadi korban kekerasan aparat. Sejak saat itu, Faisal dendam pada Raja Faisal sebab menyebut kebijakan Raja Faisallah yang menyebabkan kematian saudaranya. Ia pun memilih meninggalkan Saudi dan tinggal di AS. Ia sempat kuliah di San Francisco State College lalu pindah ke University of Colorado. Meski berhasil menyelesaikan sarjananya namun program pascasarjana dalam ilmu politik gagal dia selesaikan. Pada tahun 1970, ia ditangkap di Boulder, Colorado, karena terlibat dalam kasus penjualan obat terlarang dan ganja. Selama di AS dia berpacaran dengan Christine Surma, seorang artis yang tidak terlalu terkenal. Karena bermasalah di AS dia kembali ke Saudi. Begitu tiba di Saudi, kerajaan menyita paspornya dan menerapkan larangan untuk dia bepergian ke luar negeri. Meski dilakukan padanya pembatasan namun dia tetap masih menjalin komunikasi dengan pacarnya. Pada tanggal 25 Maret 1975, ia pergi ke istana raja di Riyadh yang saat itu menggelar perayaan maulid. Ia bergabung dengan delegasi Kuwait dan berbaris untuk bertemu raja. Raja Faisal yang sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya menyambut dengan senyum, ia merangkul dan menundukkan kepala untuk dicium oleh keponakannya. Sebagaimana tradisi kerajaan Faisal muda pun mencium kepala raja sebagai tanda hormat. Namun saat bersamaan ia mengeluarkan revolver gun dari jubahnya dan mengarahkan tembakan ke tubuh Raja Faisal. Terkena tembakan dari jarak dekat, sang raja jatuh ke lantai dan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit tetapi dokter gagal menyelamatkannya. Pangeran Faisal pun segera ditangkap pengawal kerajaan. Sebelum wafat, Raja Faisal sempat memesankan agar keponakannya jangan dieksekusi. Proses pengadilan pun segera dilakukan. Awalnya Faisal bin Musaid disebut mengalami gangguan jiwa saat melakukan penembakan. Namun terbukti dia dianggap waras saat melakukannya. Pengadilan menemukan ia bersalah atas tindakan pembunuhan. Iapun divonis bersalah dan pengadilan memutuskan dia dihukum penggal. Meski disebut dendam atas kematian saudaranya pada masa lalu dan keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang yang membuat kerajaan memberikan banyak pembatasan padanya sebagai pemicu dia tidak menyukai sang paman, namun pengadilan meyebutkan bahwa tindakan pembunuhan itu sebagai kejahatan yang disengaja dan direncanakan. Terutama dikaitkan dengan Christine Surma pacarnya yang disebut berulang kali mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Hal itu diceritakan Faisal kepada ibunya. Media Arab yang saat itu melakukan investigasi malah menyatakan bahwa pembunuhan itu atas perintah dan arahan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat. Christine Surma sang pacar merespon terbunuhnya Raja Faisal oleh kekasihnya dengan mengatakan, itu baik bagi perdamaian kerajaan Saudi dengan AS. Dan ketika ditanya apa tanggapannya terhadap vonis mati untuk pangeran Faisal, dia merespon singkat, "Dia pria yang sempurna dan sangat membanggakan."

 Ini foto Faisal bin Musaid, pangeran Saudi bersama pacarnnya Christine Surma, artis AS. Pangeran Faisal lahir pada tahun 1944, dia adalah cucu Raja Saud. Masalah pertama yang didapatnya adalah perceraian kedua orangtuanya. Dari situ dia lebih akrab dengan keluarga ibunya dibanding keluarga ayahnya. Masalah keduanya, adalah pada tahun 1966, saudaranya Khaled, terbunuh saat ikut dalam aksi protes menentang pembolehan televisi. Saat itu, Raja Faisal yang mendorong modernisasi Saudi memperkenalkan televisi kepada rakyat Saudi. Ulama Wahabi Syekh Bin Baz yang saat itu menjadi rektor Universitas Madinah merespon dengan memfatwakan haramnya menonton televisi. Raja Faisal tidak bergeming, ia malah memecat Bin Baz dan menyebutnya ulama kolot yang menghambat kemajuan. Apalagi saat itu Bin Baz juga mengatakan bumi itu datar, sehingga Raja Faisal menyebutnya sebagai tindakan yang memalukan kerajaan. Pemecatan Bin Baz memicu respon keras dari kelompok wahabi, termasuk di dalamnya Pangeran Khaled bin Musaid yang terpapar paham wahabi. Ia ikut dalam aksi protes dan turut menjadi korban kekerasan aparat. Sejak saat itu, Faisal dendam pada Raja Faisal sebab menyebut kebijakan Raja Faisallah yang menyebabkan kematian saudaranya. Ia pun memilih meninggalkan Saudi dan tinggal di AS. Ia sempat kuliah di San Francisco State College lalu pindah ke University of Colorado. Meski berhasil menyelesaikan sarjananya namun program pascasarjana dalam ilmu politik gagal dia selesaikan.  Pada tahun 1970, ia ditangkap di Boulder, Colorado, karena terlibat dalam kasus penjualan obat terlarang dan ganja. Selama di AS dia berpacaran dengan Christine Surma, seorang artis yang tidak terlalu terkenal. 



Karena bermasalah di AS dia kembali ke Saudi. Begitu tiba di Saudi, kerajaan menyita paspornya dan menerapkan larangan untuk dia bepergian ke luar negeri. Meski dilakukan padanya pembatasan namun dia tetap masih menjalin komunikasi dengan pacarnya. 


Pada tanggal 25 Maret 1975, ia pergi ke istana raja di Riyadh yang saat itu menggelar perayaan maulid. Ia bergabung dengan delegasi Kuwait dan berbaris untuk bertemu raja. Raja Faisal yang sudah lama tidak bertemu dengan keponakannya menyambut dengan senyum, ia merangkul dan menundukkan kepala untuk dicium oleh keponakannya. Sebagaimana tradisi kerajaan Faisal muda pun mencium kepala raja sebagai tanda hormat. Namun saat bersamaan ia mengeluarkan revolver gun dari jubahnya dan mengarahkan tembakan ke tubuh Raja Faisal. Terkena tembakan dari jarak dekat, sang raja jatuh ke lantai dan dalam kondisi kritis segera dilarikan ke rumah sakit tetapi dokter gagal menyelamatkannya. Pangeran Faisal pun segera ditangkap pengawal kerajaan. Sebelum wafat, Raja Faisal sempat memesankan agar keponakannya jangan dieksekusi. 


Proses pengadilan pun segera dilakukan. Awalnya Faisal bin Musaid disebut mengalami gangguan jiwa saat melakukan penembakan. Namun terbukti dia dianggap waras saat melakukannya. Pengadilan menemukan ia bersalah atas tindakan pembunuhan. Iapun divonis bersalah dan pengadilan memutuskan dia dihukum penggal. 


Meski disebut dendam atas kematian saudaranya pada masa lalu dan keterlibatannya dengan obat-obatan terlarang yang membuat kerajaan memberikan banyak pembatasan padanya sebagai pemicu dia tidak menyukai sang paman, namun pengadilan meyebutkan bahwa tindakan pembunuhan itu sebagai kejahatan yang disengaja dan direncanakan. Terutama dikaitkan dengan Christine Surma pacarnya yang disebut berulang kali mendorongnya untuk melakukan pembunuhan. Hal itu diceritakan  Faisal kepada ibunya. Media Arab yang saat itu melakukan investigasi malah menyatakan bahwa pembunuhan itu atas perintah dan arahan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat.


Christine Surma sang pacar merespon terbunuhnya Raja Faisal oleh kekasihnya dengan mengatakan, itu baik bagi perdamaian kerajaan Saudi dengan AS. Dan ketika ditanya apa tanggapannya terhadap vonis mati untuk pangeran Faisal, dia merespon singkat, "Dia pria yang sempurna dan sangat membanggakan."

04 August 2026

Soeria Kartalegawa bupati Ke 6 Garut yang pro Belanda. Pria kelahiran 26 Oktober 1907 ini merupakan keluarga menak alias ningrat. Beberapa anggota keluarganya menjadi bupati di beberapa daerah. Semasa kecil ia dipanggil Uca. Ia menempuh pendidikan di ELS, HBS, dan Bestuur School. Setelah lulus dari sekolah, ia menempuh berbagai pekerjaan seperti menjadi ajudan, asisten residen, asisten wedana, wedana, hingga akhirnya menjadi bupati Garut. Kertalegawa menyambut proklamasi kemerdekaan dengan berat hati. Uca takut akan kehilangan hak istimewanya selama menjabat menjadi Bupati Garut. Ia juga tidak senang akan diangkatnya Sutardjo Kertohadikusumo dan Datuk Djamin sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia bahkan memberontak terhadap kebijakan Soekarno yang dianggap menomorduakan orang Sunda. Menurutnya, perkembangan politik di Jawa Barat tidak melibatkan orang Sunda. Dilihat dari gubernur pertama hingga ketiga di Jawa Barat, mereka bukan orang Sunda seperti, Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa), Datuk Jamin (Minang), dan Dr. Murdjani. Baru saat gubernur keempat, Sewaka, yang merupakan orant Sunda diangkat menjadi gubernur Jawa Barat. Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia Timur daripada Negara Pasundan di Jawa Barat. Kedekatannya dengan pasukan Belanda menjadikannya dijuluki SoeriNICAlegawa. Penyematan nama itu dianggap pas oleh masyarakat karena kiprah politik Uca yang condong nurut kepada kebijakan Belanda. Uca malah lebih sering berlawanan dengan pemerintah Indonesia. Uca mendirikan PRP untuk membuka jalan politik dan memisahkan diri dari pemerintahan Soekarno. Uca tak malu mengaku sebagai opsir KNIL dan melakukan perlawanan secara terbuka kepada pihak yang mendukung Indoensia. PRP pernah mengadakan teror dengan menculik sejumlah pejabat Republik Indonesia di Bogor. Setelah membentuk PRP, UCa mendirikan Negara Pasundan. Ia didukung oleh eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso, penasehat politik van Mook yang juga Gubernur Jenderal Hindia Belanda, hingga kelompok Intel Belanda NEFIS. Ia juga didukung oleh Residen Belanda di Bandung, M. Klasseen yang memandang PRP sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen menyambut gembira karena di Tatar Pasundan timbul gerakan anti republik. Pembentukan Negara Pasundan oleh Uca dianggap terlalu terburu-buru. Akibatnya, Negara Pasundan tidak berjalan dengan maksimal. Usai berdirinya negara tersebut, Uca langsung menjadi sasaran dari kalangan yang menolak termasuk dari kalangan keluarganya sendiri. Ayah Uca yang mengetahui hal tersebut menyuruh anaknya bersumpah di corong radio agar tidak menikah sebelum ia meninggal. Ibunya juga turut melampiaskan kekesalannya. Ia mengatakan bahwa ia dan anggota keluarga lainnya tidak menyetujui pendirian negara tersebut. Ibunya mempertanyakan mengapa Uca memisahkan diri dari keluarganya dan malah mendirikan Negara Pasundan. Mang Abas, keluarganya yang juga Bupati Cianjur saat itu juga menolak pendirian Negara Pasundan. sumber artikel : https://infogarut.id

 Soeria Kartalegawa bupati Ke 6 Garut yang pro Belanda.


Pria kelahiran 26 Oktober 1907 ini merupakan keluarga menak alias ningrat. Beberapa anggota keluarganya menjadi bupati di beberapa daerah. Semasa kecil ia dipanggil Uca. Ia menempuh pendidikan di ELS, HBS, dan Bestuur School. Setelah lulus dari sekolah, ia menempuh berbagai pekerjaan seperti menjadi ajudan, asisten residen, asisten wedana, wedana, hingga akhirnya menjadi bupati Garut.



Kertalegawa menyambut proklamasi kemerdekaan dengan berat hati. Uca takut akan kehilangan hak istimewanya selama menjabat menjadi Bupati Garut. Ia juga tidak senang akan diangkatnya Sutardjo Kertohadikusumo dan Datuk Djamin sebagai Gubernur Jawa Barat. Ia bahkan memberontak terhadap kebijakan Soekarno yang dianggap menomorduakan orang Sunda. 


Menurutnya, perkembangan politik di Jawa Barat tidak melibatkan orang Sunda. Dilihat dari gubernur pertama hingga ketiga di Jawa Barat, mereka bukan orang Sunda seperti, Soetardjo Kartohadikoesoemo (Jawa), Datuk Jamin (Minang), dan Dr. Murdjani. Baru saat gubernur keempat, Sewaka, yang merupakan orant Sunda diangkat menjadi gubernur Jawa Barat. Ia juga mempertanyakan alasan Soekarno lebih mengakui Negara Indonesia Timur daripada Negara Pasundan di Jawa Barat.


Kedekatannya dengan pasukan Belanda menjadikannya dijuluki SoeriNICAlegawa. Penyematan nama itu dianggap pas oleh masyarakat karena kiprah politik Uca yang condong nurut kepada kebijakan Belanda. Uca malah lebih sering berlawanan dengan pemerintah Indonesia. 


Uca mendirikan PRP untuk membuka jalan politik dan memisahkan diri dari pemerintahan Soekarno. Uca tak malu mengaku sebagai opsir KNIL dan melakukan perlawanan secara terbuka kepada pihak yang mendukung Indoensia. PRP pernah mengadakan teror dengan menculik sejumlah pejabat Republik Indonesia di Bogor.


Setelah membentuk PRP, UCa mendirikan Negara Pasundan. Ia didukung oleh eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso, penasehat politik van Mook yang juga Gubernur Jenderal Hindia Belanda, hingga kelompok Intel Belanda NEFIS. Ia juga didukung oleh Residen Belanda di Bandung, M. Klasseen yang memandang PRP sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan dan Residen menyambut gembira karena di Tatar Pasundan timbul gerakan anti republik.


Pembentukan Negara Pasundan oleh Uca dianggap terlalu terburu-buru. Akibatnya, Negara Pasundan tidak berjalan dengan maksimal. Usai berdirinya negara tersebut, Uca langsung menjadi sasaran dari kalangan yang menolak termasuk dari kalangan keluarganya sendiri. 


Ayah Uca yang mengetahui hal tersebut menyuruh anaknya bersumpah di corong radio agar tidak menikah sebelum ia meninggal. Ibunya juga turut melampiaskan kekesalannya. Ia mengatakan bahwa ia dan anggota keluarga lainnya tidak menyetujui pendirian negara tersebut. Ibunya mempertanyakan mengapa Uca memisahkan diri dari keluarganya dan malah mendirikan Negara Pasundan. Mang Abas, keluarganya yang juga Bupati Cianjur saat itu juga menolak pendirian Negara Pasundan.


sumber artikel : https://infogarut.id