25 April 2022

Sejarah Magelang - Jejak Tinggalsn Ratu Beatrx di Kota Magelang

 DE GEBOORTE PRINSES BEATRIX : Jejak Tinggalan Putri Beatrix di Kota Magelang (Bagian II)


Oleh : Chandra Wisnu zwardhana


Pesta kelahiran Putri Beatrix yang sudah mulai digelar sejak malam tanggal 31 Januari 1938 oleh Panitia Oranye, ternyata bukan perayaan satu-satunya yang diselenggarakan oleh pemerintah kota. Perayaan kelahiran calon pewaris tahkta Kerajaan Belanda tersebut justru adalah acara pembuka rangkaian acara lainnya. Disebutkan bahwa, sehari setelah kelahiran Sang Putri yaitu 1 Februari 1938, sebuah perayaan besar digelar oleh pihak Militer Magelang dengan mengadakan pesta musik di kompleks garnisun dan gelar pasukan KNIL pada pukul 7 pagi di lapangan garnisun (militaire kampementen). Dalam acara ini, seluruh serdadu yang ada di dalam garnisun berbaris dalam formasi sempurna yang siap menjadi penjaga marwah Kerajaan Belanda di Tanah Hindia.


Upacara dan gelar pasukan yang diselenggarakan oleh pihak militer ini dihadiri oleh seluruh pejabat regional dan lokal serta seluruh Komite Oranye selaku panitia perayaan. Diantara tamu kehormatan yang hadir pada acara tersebut adalah Komandan Divisi II (Commandant van Tweede Divisie) Kolonel Pesman, Komandan pasukan (Troepencommandant) Kolonel van Resteren selaku inspektur upacara. Dalam kesempatan ini, komandan divisi II, Kol. Pesman memberikan pidato singkat dan ditutup dengan sorakan "Hoera" sebanyak tiga kali kepada Putri yang baru lahir dan Pasangan Pangeran dan Keluarga Kerajaan Belanda. Setelah upacara selesai, pasukan KNIL dari garnisun kemudian berbaris dan berparade keliling kota. 


Setelah upacara dan parade militer usai, acara perayaan kemudian dilanjutkan dengan kebaktian diberbagai gereja seperti de Protestanche Kerk di Aloon-Aloon dan Gereformeerde Kerk pada pukul 10 pagi. Disaat yang sama, masyarakat muslim Magelang juga menggelar doa bersama di Masjid Agung Magelang untuk keselamatan sang putri.


Setelah acara doa selesai, Walikota Nessel van Lissa, selaku ketua Panitia Oranye, melakukan upacara seremonial penanaman pohon beringin (gedenkboom/waringin) di Badaanplein pada pukul 11.15 sebagai wujud simbolisme kebahagiaan atas kelahiran Putri Beatrix. Walikota Nessel dalam pidatonya juga memberi nama pohon beringin itu nama depan putri yang baru lahir, "BEATRIX". Dalam pidatonya, Nessel berkata, 


"Semoga dia (pohon beringin) berhasil menjadi pohon yang besar dan kuat, yang akan terbukti layak mendapatkan (gelar) Prinses van Oranje Nassau. Semoga putri kecil ini atau orang tuanya suatu saat nanti datang di kota ini dan melihat pohon itu, dan kemudian mengenali di dalamnya sedikit tanda cinta dan kasih penduduk Magelang terhadap keluarga kerajaan kita." 


Setelah sorakan "hoera" tiga kali yang ditujukan kepada anak Pangeran, upacara ditutup dengan pemutaran lagu kebangsaan Wilhelmus oleh Korps Resimen Musik (regimentsmuziekkorps). Pesta perayaan kelahiran Putri Beatrix tidak hanya berhenti di situ. Rangkaian agenda pesta rakyat di Magelang justru baru saja akan dimulai. Bersambung...


-Chandra Gusta Wisnuwardana - 






*kemankah pohon beringin Beatrix ini sekarang? Sungguh disayangkan, tidak nampak adanya jejak pohon beringin yang pernah ditanam dan tumbuh di Taman Badaan sekarang ini. Harapan dan doa walikota Nessel yang pernah diucapkan pada 1 Februari 1938, memang benar terwujud di kemudian hari. Putri Beatrix pada tahun 1995 benar-benar menjejakkan kakinya di Magelang. Namun sayang, ia tidak mampir ke Badaanplein dimana sebuah pohon beringin pernah didedikasikan untuk dirinya, melainkan ia bersama keluarga banya bertamasya di Candi Borobudur saja.

No comments:

Post a Comment