08 October 2023

Istana Kesultanan Djogjakarta, Jawa sekitar tahun 1910-1912 📸 Tropenmuseum

 Istana  Kesultanan Djogjakarta, Jawa sekitar tahun 1910-1912



📸 Tropenmuseum

07 October 2023

Ukiran dan Patung dari Kayu. Kalimantan", 1898-1900.

 Ukiran dan Patung dari  Kayu. Kalimantan", 1898-1900.



Pasar Muntilan, sekitar tahun 1915. sumber: delpher.nl

 Pasar Muntilan, sekitar tahun 1915.


sumber: delpher.nl



Borobudur op Java, anonymous, 1880 - 1900

 Borobudur op Java, anonymous, 1880 - 1900




05 October 2023

bogor Demang van Buitenzorg bersama istri dan anak, Woodbury & Page, 1860 - 1878

 bogor Demang van Buitenzorg bersama istri dan anak, Woodbury & Page, 1860 - 1878




Jembatan di Meteseh, dekat Karesidenan Magelang 📷 : Arsip Kota (1980an), Streetview (2023)

 Jembatan di Meteseh, dekat Karesidenan Magelang 


📷 : Arsip Kota (1980an), Streetview (2023)




03 October 2023

Bing Slamet

 Melawak adalah suatu bakat dan pembawaan yang mungkin dari lahir. Kita pernah mempunyai seorang pelawak besar yaitu Bing Slamet. Nama lengkapnya adalah Bing Selamet bin Rantek Achmad. Bing Slamet adalah seorang seniman besar dan pahlawan Kebudayaaan yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia. Beliau selama puluhan tahun telah membuat masyarakat tertawa terpingkal-pingkal :  di masa perang dan damai. Menghibur orang-orang yang hidup susah, meskipun yang menghiburnya sendiri juga sama-sama susah. Bing Slamet bertahun-tahun telah membuat rakyat Indonesia dalam waktu-waktu tertentu sejenak melupakan kegetiran hidup dan kenestapaan.


Bing Slamet sudah berkarir sebagai seorang pelawak sejak tahun 1944. Ia tinggal di Lokasari Jakarta, yang di zaman Jepang bernama Rakutentji. Kala itu beliau sudah duduk di bangku menengah atas dan ia tinggal di asrama pelajar. Ia sering membolos, dan mendapatkan hukuman dari guru sekolahnya yaitu disuruh menyanyi dan melawak di depan kelas, hingga bakat melawaknya semakin terasah. Selain sering bolos, uang kiriman dari orang tuanya sering dipakai jajan dan traktir teman-temannya. Ketika tinggal di daerah Petojo Binantu, bertangga dengan Iskandar (ayah dari BM Diah). Ia sering diajak ikut acara siaran di Hoso Kjoku (RRI) dan menyanyi di restoran Kalimanah (milik keluarga BM Diah).


Beliau meninggal dunia pada 17 Desember 1974. Ketika meninggal,  rumahnya di jalan Arimbi diserbu oleh massa rakyat, dan ditahan oleh Polisi dan Hansip, persis seperti menghadang para demonstran. Anak-anak memanjat genteng. Ibu-ibu sambil menyusui bayinya  yang berpakaian dekil , pelajar, mahasiswa, pejabat, seniman, wartawan, semua ingin ikut masuk ke dalam Mesjid Al Ihtidaiyah di mana Jenazah beliau disemayamkan. 


Almarhum Bing Slamet sebelum meninggalnya hanya minta dimakamkan di Karet, di Karet dan ke Karet. Ada sekitar 300.000 warga ibukota yang turut mengantarkan ke pemakaman terakhirnya. Tak ada seorang pun yang mampu melukiskan secara persis bagaimana masyarakat tak dapat dilerai untuk mendekati jenazah orang yang sehari-harinya tidak lebih seperti mereka dalam hidupnya.  Selamat jalan, Pahlawan Kebudayaan…


Sumber: Merdeka, 9-11-1969 & Pelita, 21-12-1974. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba-Perpustakaan Nasional RI (SKALA-Team).


#Tokoh #pelawak #pahlawan #kebudayaan



Penggemar burung perkutut di Jawa pada Tahun 1925.

 Penggemar burung perkutut di Jawa pada Tahun 1925.



Harga pasaran sepeda motor Honda tahun 1975. Harga motor ini berbeda-beda setiap jenis tahun pengeluaran dan kapasitas mesinnya. Harga termurah dari tabel berikut yaitu Honda 50 cc keluaran tahun 1970, dengan harga Rp. 135.000.-

 Harga pasaran sepeda motor Honda tahun 1975. Harga motor ini berbeda-beda setiap jenis tahun pengeluaran dan kapasitas mesinnya. Harga termurah dari tabel berikut yaitu Honda 50 cc keluaran tahun 1970, dengan harga Rp. 135.000.-



Sumber: Berita Buana, 23 Januari 1975 Halaman 6 Kolom 7. Koleksi Layanan Surat Kabar Langka Terjilid Perpustakaan Nasional RI (SKALA Team)

02 October 2023

Hari Jadi ke 20 Tahun Puri Tuk Songo Cacaban Kota Magelang 30 September 2003 - 30 September 2023 "Menapak Sejarah Memahat Kehidupan"

 Hari Jadi ke 20 Tahun Puri Tuk Songo 30 September 2003 - 30 September 2023 "Menapak Sejarah Memahat Kehidupan"







Kwitansi sewa pasar Rejowinangun zaman Jepang

 Kwitansi sewa pasar Rejowinangun zaman Jepang, 

Foto:Agung Arya



01 October 2023

Kartini, Kardinah dan Roekmini. Semarang c 1900.

 Kartini, Kardinah dan Roekmini. Semarang 

c 1900.



27 September 2023

Batu Gantung di Ķrasnoyarsk Rusia

Batu Gantung di Ķrasnoyarsk Rusia






Raden Toemenggoeng Ario Tjokrosoetomo van Temanggoeng met Raden Ajoe, circa 1930 universiteitleiden.nl Raden Tumenggung Ario Cokrosutomo dari Temanggung bersama istri, sekitar tahun 1930

 Raden Toemenggoeng Ario Tjokrosoetomo van Temanggoeng met Raden Ajoe, circa 1930

universiteitleiden.nl


Raden Tumenggung Ario Cokrosutomo dari Temanggung bersama istri, sekitar tahun 1930


Oleh : Andre Owen




Sejarah Magelang - Mendut dan Kali Elo

 Dara-dara Mendut main ke Kali Elo.  Kayaknya ini yang di belakang kompleks asrama, samar-samar kelihatan kayak jembatan Elo.

Oleh : Eva Mentari Christop





Sejarah Magelang - Hotel Montagne Magelang

 HOTEL MONTAGNE MAGELANG 

Oleh : Adriaan Haryo Anders Wibowo

Hotel Montagne didirikan pada 1921terletak di hoek atau samping perempatan jalan Residentielaan dan Groote Weg Noord Pontjol  Berdiri diatas kontur tanah yang lebih tinggi, bangunan hotel ini diarahkan menghadap ke timur atau mengahadap Groote weg dengan view utama Gunung Merbabu dan gunung kecil disampingnya seperti Andong dan Telomoyo yang kala itu tampak indah dari pekarangan hotel karena belum tertutup banyak bangnan seperti sekarang.

.

Hotel Montagne juga merupakan salah satu hotel berkelas yang ada di Magelang kala itu, dengan pelayanan istimewa bagi para tamu pada jamannya, menyajikan hidangan a'la Perancis dan kamar-kamar dengan pemandian air hangat.

.

Memasuki tahun 1942 ketika pecah perang Asia Timur Raya, Jepang mengambil alih pengelolaan Hotel Montagne dan kemudian mengubah nama hotel menjadi Nitaka. Sebagai mana yang diketahui, semua aset milik warga kulit putih akan disita dan para pemiliknya akan ditahan atau diinternir di kamp – kamp konsentrasi.

.

Semenjak 20 Oktober 1945, Hotel Montagne diduduki pasukan Sekutu di bawah Jenderal Bethel yang dibonceng NICA.

.

Pada peristiwa Pertempuran Magelang 28 Oktober-2 November 1945, Hotel Montagne menjadi salah satu markas Sekutu-NICA yang dihajar gabungan TKR bersama rakyat, selain markas di wilayah Tuguran dan Susteran Menowo. 

Presiden Soekarno memerintahkan TKR dari sekitaran Magelang untuk ikut menyerbu.

.

Gempuran rakyat bersama TKR begitu hebat dan pantang menyerah menyebabkan pasukan sekutu  tidak berdaya di Magelang. Untuk menyelamatkan tentara dan petinggi penting, sekutu  akhirnya meminta berunding kepada Pemerintah Republik Indonesia.

.

Usaha Sekutu terwujud, pada 2 November 1945 diadakan perundingan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan pihak sekutu di Magelang. Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan gencatan senjata atau berdamai dalam waktu yang tidak di tentukan dan perdamaian ini dilakukan karena sama sama menguntungkan kedua pihak dan hal hal penting lain selanjutnya akan di urus oleh pemeritah Republik.

.

Hotel Montagne tidak luput dari aksi bumi hangus oleh para Tentara Pelajar Magelang pada masa Agresi Militer Belanda II, banyak bangunan – bangunan di sepanjang Groote weg Noord Pontjol yang dibumi hanguskan. Tujuannya tidak lain adalah mencegah bangunan – bangunan ini digunakan oleh pihak musuh. Kerusakan yang ditimbulkan oleh aksi bumi hangus para tentara pelajar ini sempat diliput oleh Koran de locomotief tertanggal 5 Januari 1949

.

Eks Hotel Montagne kemudian dibangun dan dijadikan Markas Polwil Kedu/Kotamadya Magelang, yang kini berubah menjadi Mako2 Polrestabes Magelang.














Bekas tempat pemakaman Tionghwa di jalan Magelang, Magelang

 Bekas tempat pemakaman Tionghwa di jalan Magelang, Magelang


*KTI, Amsterdam




Foto-foto Kunjungan Ratu Elizabeth II ke Candi Borobudur, 20 Maret 1974

 Foto-foto Kunjungan Ratu Elizabeth II ke Candi Borobudur, 20 Maret 1974

Oleh : Cahyono Edo Santosa 

📷 : ANRI














Atjeh in de krant I9e eeuws krantenartikel over Atjeh Search Tropenmuseum.

 Atjeh in de krant

I9e eeuws krantenartikel over Atjeh

Search Tropenmuseum.



Sejarah Magelang - Kali Elo

 Ini 100 tahun yang lalu.

Anak-anak yang lebih kecil juga mainnya ke kali Elo.

Oleh : Eva Mentari Christop




Sejarah Magelang - Jalan menuju Balaikota di Magelang, Pulau Jawa, padatahun 1920an atau 1930an De weg naar het stadhuis te Magelang op Java in de jaren 20 of 30

 Jalan menuju Balaikota di Magelang, Pulau Jawa, padatahun 1920an atau 1930an


De weg naar het stadhuis te Magelang op Java in de jaren 20 of 30


Oleh : Bintoro Hoepoedio




26 September 2023

Sambutan Gubernur Jawa Tengah Pak Moenadi

 Sambutan Gubernur Jawa Tengah  Pak Moenadi

Oleh : Cahyono Edo Santosa





Kotak post jaman VOC.. Lokasi kantor pos kota Magelang.

 Kotak post jaman VOC..


Lokasi kantor pos kota Magelang.






25 September 2023

Sejarah Magelang - Ateletiek Syu 2603 Tidar Undozyo

 ATELETIEK SYU 2603 TIDAR UNDOZYO

Oleh : Chandra Gusta Wisnuwardana



Berikut ini adalah tropi penghargaan yang diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada pemenang perlombaan cabang olahraga atletik tingkat karesidenan (Syu) Kedu yang diselenggarakan di lapangan olahraga Tidar Undozyo, Magelang pada tahun 2603 penanggalan Jepang atau tahun 1943 tahun Masehi. 


Sangat jarang sekali dijumpai artefak memorabilia era Jepang yang secara spesifik menyangkut Magelang. Tropi ini memiliki tinggi 25cm dan diameter 11,5cm. Tropi ini kemungkinan berlapis perak dan sudah berusia 80 tahun!

Raden Ayu Srimulat

 Raden Ayu Srimulat,

sang primadona Jawa yg berjiwa modern.

(7 Mei 1905 – 1 Desember 1968) 

Oleh : Bambang Sudjarwanto




Adalah pemain sandiwara panggung, pemain film & penyanyi pada era akhir 50-an hingga akhir 60-an. R.Ayu Srimulat adalah anak dari R.M Aryo Rumpoko Tjitrosoma, seorang wedono di Bekonang, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah & R. Ayu Sedah. Lahir di Desa Botokan, Klaten pada 7 Mei 1905. Setelah ibu kandungnya wafat, pada usia 6 tahun Srimulat dibawa ke rumah kakak ayahnya, Raden Mas Sunarjo. Sunarjo waktu itu bekerja sebagai komisaris asisten residen di Klaten. Gadis kecil itu disekolahkan kakaknya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di kawasan Klaseman, Gatak, Sukoharjo. Baru setelah menginjak usia remaja, Srimulat kembali ke rumah ayahnya yg ditunjuk menjadi wedono di Bekonang, Sukoharjo. Ia melanjutkan sekolahnya di Koningin Emma School di Solo. Hanya beberapa bulan mengenyam pelajaran, Srimulat disuruh berhenti sekolah oleh ibu tirinya. Putri ningrat tak perlu sekolah tinggi-tinggi, begitu kata ibu tirinya. Srimulat sangat terpukul. Apalagi ia tak mendapat pembelaan dari ayahnya. Srimulat lantas dipingit. Seperti kisah putri2 bangsawan yg menjalani pingitan, masa remaja Srimulat hanya dihabiskan dlm kungkungan dinding kewedanaan saja. Ia belajar berbagai macam keterampilan dari para abdinya. Usianya baru 12 tahun tapi sudah pintar menembang, menari, & juga membatik. Kadang2 kalau lagi senggang, ayahnya  kadang2 mendampingi Srimulat & saudara2nya di saat belajar menari & menembang. Hidup Srimulat penuh dgn suara tembang, bunyi gamelan & gerak tari. Dibandingkan saudara2nya, Srimulat anak yg paling cepat menangkap ajaran kesenian yg diberikan ayah & abdinya. Orang tuanya lalu menikahkan Srimulat dgn seorang kerabat dekat ayahnya bernama Raden Hardjowinoto. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Rumah tangganya tak berlangsung lama. Srimulat diterpa kemalangan secara beruntun. Anaknya yg baru berusia 2,5 tahun meninggal dunia lalu disusul suaminya 3 bulan kemudian. Kesedihannya semakin bertambah saat ayahnya mencari selir2 baru. Muak akan kehidupan feodal priyayi & praktik perseliran di dalam kompleks rumahnya sendiri Srimulat bertekad minggat. Suatu malam ia memutuskan kabur dari rumah. Berbekal uang 3,5 sen ia pergi ke Surakarta lalu ke Yogyakarta. Ia melamar kerja ke dalang Ki Tjermosugondo yg sedang kondang. Setahun kemudian, Srimulat bergabung dgn Ketoprak Candra Ndedari pimpinan Ki Retsotruno yg kebetulan sedang pentas di Alun-alun Utara. R.A.Srimulat mengawali kiprahnya sebagai pemain rombongan ketoprak Mardi Utomo di Magelang & Rido Carito. Ketenarannya menembus baik lapisan atas maupun bawah masyarakat. Srimulat tak segan menari bersama penari2 lokal di sejumlah daerah membawakan tari2an daerah yg tak begitu dikenal. Ia juga bersedia diundang dlm acara tradisional penebangan pohon2 jati tua di sebuah desa di Blora, Jawa Tengah. Srimulat pindah ke panggung Wayang Orang Ngesthi Rahayu yg dipimpin Nyi Murtiasih dari Jawa Timur. Kebetulan suami Murtiasih punya grup orkes yg sering tampil di pesta perkawinan. Srimulat pun diminta bernyanyi dgn iringan musik irama keroncong & Hawaiian. Sewaktu digelar pasar malam di Magelang, ia berjuampa dengan Mannoek, bos penyelenggara pasar malam. Ia pun berkelana dari kota ke kota mengisi panggung hiburan pasar malam. Dalam waktu singkat Srimulat, anak priyayi & gadis pingitan itu, menjelma menjadi perempuan yg mandiri. Ia menentang arus saat itu, menolak menjadi Raden Ayu & memilih menjadi sri mahapanggung atau ratu panggung,. 

Pendiriannya yg keras membuatnya membela mati2an seorang pesinden bernama Nyai Mas Sulandjari yg berhasil memenangkan lomba kontes batik di Pasar Malam Amal Yogyakarta pada 1938. Kemenangan Sulandjari itu diprotes keras para bangsawan Yogyakarta  & Surakarta. Apalagi Sulandjari berhasil mengalahkan putri-putri ningrat. Mendengar Sulandjari dihina, Srimulat melawan para bangsawan itu. Melalui wawancara dengan mingguan Darmo Kondho & Penjebar Semangat, Srimulat menyatakan dukungannya kepada Sulandjari sembari mengkritik keras para kaum ningrat. "Siapa yg lebih berhak memberikan penilaian dlm kontes semacam itu?," tanyanya sinis. Di sisi lain, Srimulat pernah dikontrak untuk masuk dapur rekaman oleh perusahaan piringan hitam Burung Kenari, Columbia & His Master's. Suara merdunya yg melantunkan lagu Kopi Susu, Padi Bunting, Janger Bali, dsb. Saat itu hanya kaum berpunya saja yg bisa memiliki gramofon untuk memutar piringan hitam. Budayawan Arswendo Atmowiloto menggambarkan Srimulat sebagai seorang penampil yg meletakkan dasar2 seorang artis modern. "Sikapnya terbuka pada segala jenis tarian. Ia turun ke pelosok, ke pusat keramaian membawakan secara live lagu yg sedang ngetop." Di pentas wayang orang ia tampil di kelompok Srikuncoro. Selain itu, ia juga pernah membintangi film Sapu Tangan (1949), Bintang Surabaja (1951), Putri Sala (1953), Sebatang Kara (1954) dan Radja Karet dari Singapura (1956). Teguh Srimulat. yg merupakan suami terakhir sekaligus suami yg bepengaruh dalam hidup Srimulat. Sukses di panggung, Srimulat kurang berhasil dalam berumahtangga. Tiga kali pernikahannya selalu kandas. Pada tahun 1947 di Purwodadi, Grobogan,Srimulat satu panggung dgn Orkes Keroncong Bunga Mawar dari Solo. Gitaris orkes tersebut bernama Kho Tjien Tiong (dikenal dengan Teguh Slamet Rahardjo). Kedua saling terpikat. Sehabis pentas di Purwodadi mereka resmi berpacaran. Usia mereka terpaut jauh. Teguh jejaka berusia 21 tahun sementara Srimulat berusia 39 tahun. Pada 8 Agustus 1950, R.A.Srimulat menikah dgn Teguh Slamet Rahardjo (Kho Djien Tiong) yg berusia 24 tahun. Pada saat yg sama dibentuk rombongan kesenian keliling bernama Gema Malam Srimulat. Gema Malam Srimulat adalah sebuah kelompok kesenian yg menyuguhkan gabungan antara lawak & nyanyi terutama lagu2 langgam Jawa & keroncong. Penyanyinya waktu itu antara lain Kusdiarti, Suhartati, Ribut Rawit, Maleha, Rumiyati & Srimulat sendiri sedangkan Teguh menjadi pemain gitar &  biola. Sebelum memasuki tahun 1957, Gema Malam Srimulat berganti nama menjadi Srimulat Review. Memasuki 1957 namanya berubah lagi menjadi Aneka Ria Srimulat. Salah satu momen bersejarah bagi Srimulat & Teguh adalah keputusan mereka pindah ke Surabaya dari Surakarta sekitar Peristiwa G 30 S. Suatu malam pada 1965, tak lama sebelum geger 30 September, Srimulat berbisik di telinga Teguh Slamet Rahardjo, suaminya. “Sebentar lagi bakal ada ontran2. Pak Jenderal meminta kita untuk berhati-hati. Sebaiknya kita tidak pulang dulu ke Solo untuk waktu cukup lama,” kata Srimulat, dikutip Sony Set & Agung Pewe dalam bukunya, berjudul Srimulat, Aneh yg Lucu.

Saat itu Srimulat sudah dua tahun hijrah dari Solo ke Surabaya. Tak hanya para pelawak & awak Srimulat yg boyongan ke Surabaya, tapi juga berikut semua anggota keluarganya. Boyongan Srimulat besar-besaran ini juga merupakan ide dari Srimulat. Melihat situasi politik di Solo makin panas, Srimulat merasa kelompok mereka harus pindah. “Situasi negara sedang gonjang-ganjing. Sebaiknya seluruh anak panggung & artis kita pindah ke Surabaya,” Srimulat menyampaikan usulnya ke Teguh. Teguh tentu saja kaget bukan kepalang mendengar ide istrinya. Memindahkan belasan orang saja sudah sulit, apalagi memindahkan puluhan anggota Srimulat. Tapi Srimulat terus meyakinkan Teguh. “Jika mereka tak pindah ke Surabaya, aku takut mereka akan jadi korban.” Ketika itu, gesekan antara kelompok2  ‘kiri’ dgn lawan2 politiknya makin sering terjadi. Masing2 kelompok berusaha menarik sebanyak mungkin pendukungnya ke kubunya. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yg punya hubungan dekat dgn Partai Komunis Indonesia (PKI) terus mendesak mereka agar bergabung dengan Lekra. Srimulat & Teguh yg memang tak tertarik dengan politik tidak mau terseret dlm perkubuan itu. Untuk melindungi grup Srimulat, mereka mencari perlindungan ke militer. Kebetulan Srimulat memang dekat dgn sejumlah perwira militer. Kedekatan yg kadang bikin Teguh sendiri tak habis pikir. Kedekatan Srimulat dgn para perwira itu pula yg membuat pertunjukan grup Srimulat pada masa2 tegang itu sering dijaga tentara. Hijrah Srimulat ke Surabaya itu lah yg menyelamatkan kelompok itu. Srimulat meninggal dunia pada tahun 1968. Sepeninggal dirinya, Aneka Ria Srimulat dilanjutkan oleh Teguh dgn berfokus sebagai grup lawak.


25 August 2023

Di pare Blondo tragedi kecelakaan tabrakan dengan bis sumber waras tgl18-08-1981 meninggal 35 orang luka berat 32 orang luka ringan 20 orang

 Di pare Blondo tragedi kecelakaan tabrakan dengan bis sumber waras tgl18-08-1981 meninggal 35 orang luka berat 32 orang luka ringan 20 orang


18 August 2023

TIRAKATAN

 *Malam Tirakatan* 

Oleh : Novo Indarto



Rakyat Indonesia banyak yang melakukan tirakatan malam 17 Agustus 1945 namun tak banyak yang melakukannya di tanggal – tanggal perjuangan lokal mereka.  Sebutlah di Magelang, ada beberapa tanggal dimana terjadi peristiwa heroik yang kini tidak banyak yang masih mengetahuinya.  Dahulu, rakyat Magelang rutin melakukan tirakatan di tanggal – tanggal tersebut. 


*TRAGEDI TIDAR* 

Hari itu adalah tanggal 25 September 1945, genap tujuh hari sejak Wing Commander Tull, komandan RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees) mendaratkan parasutnya di lapangan Tidar beserta 8 anak buah dan peti – peti kayunya.  


Kemarin, pergolakan besar telah dimulai.  Pemuda melakukan aksi penempelan plakat merah putih di berbagai tempat jalur utama.  Kempeitai yang berjaga di Hotel Nitaka melepas plakat dan merobeknya.  Pemuda yang mengetahui kejadian tersebut sontak berduyun – duyun mengepung hotel.  Kempeitai ciut nyalinya.  RAPWI tak berani merespon.  Akhirnya R.P. Soeroso sang Residen Kedu memimpin rakyat Magelang melakukan konvoi keliling Magelang, mengepung markas Kempeitai, lalu menggeruduk rumah dinas Brigjen Nakamura (komandan tentara Jepang di Jawa Tengah).  Karena tidak didapat penyelesaian, residen menyeru para pemuda untuk bubar dan menyiapkan diri guna melakukan pengibaran bendera esok paginya.  Akan menjadi pengibaran merah putih pertama kali secara terbuka di Magelang.  Pengibaran akan dilakukan di puncak Tidar pukul 05.00 WIB, dengan tujuan mendahului tentara Jepang yang biasa mengibarkan bendera Dai Nipon pukul 06.00 WIB.  


Malamnya, suasana hening.  Namun tidak ada yang tahu kalau di sebuah rumah di Meteseh seorang wanita menjahit bendera merah putih yang diambil dari bendera Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).  Wanita itu adalah Sitti Saemah, istri Raden Kolbioen Djojopramudjo (anggota Volksraad Magelang).  Sebuah tiang telepon milik Kantor Telepon Magelang juga disiapkan jika diperlukan menjadi tiang bendera.  


Pukul 04.00 pagi, awan tebal masih menyelimuti langit Magelang.  Bendera telah siap.  Masyarakat Magelang juga sudah siap.  Sebagian membawa yari.  Siswa sekolah dari tingkat dasar, menengah, dan atas hadir didampingi guru mereka.  Tiang bendera yang dipakai akhirnya adalah tiang bendera dari bambu yang biasa dipakai Jepang.  Tokoh yang disebut hadir pagi itu adalah Tartib Prawirodihardjo, Judodibroto, dan Soetedjo Atmodipoerwo (Kepala SMP Negeri Magelang).  Yang ditunggu – tunggu pun tiba.  Pengibaran bendera merah putih dilakukan dengan lagu Indonesia Raya.  Suasana sangat syahdu.  Banyak warga yang meneteskan air mata, karena pengibaran bendera merah putih di puncak Tidar pagi itu merupakan simbolisasi kemerdekaan rakyat Magelang yang sangat berarti setelah sekian lama dikungkung penjajah.


Usai pengibaran bendera, sebagian membubarkan diri dan sebagian tak beranjak dari lokasi.  Selain memperhatikan kibaran bendera merah putih yang baru pertama kali mereka lihat, mereka juga menikmati matahari terbit yang sangat indah menyeruak dari balik Merapi – Merbabu sisi timur Kota Magelang.  Di sisi barat, Gunung Sumbing mulai terlihat anggun menjulang seakan menyambut terpaan sinar matahari pagi.  Gunung Tidar waktu itu hanya ditumbuhi ilalang sehingga masih memungkinkan pemandangan indah tersebut dinikmati secara leluasa. Kokok ayam hutan sesekali mengiringi pemandangan alam nan syahdu tersebut.


Tiba – tiba, terdengar suara tembakan.  Kesyahduan pun musnah sudah.  Semua tegang.  Sebagian bergegas mendekati sumber suara.  Sebagian lagi tetap menjaga sang merah putih.  Pengibaran bendera ternyata terlihat dari Markas Kempeitai di kaki Tidar sisi utara.  Dua orang Kempeitai menyusul naik untuk menurunkan sang merah putih. Pemuda yang berpapasan turun menghalangi Kempeitai sehingga terjadi perkelahian. Namun, massa pemuda berduyun – duyun turun bertambah banyak.  Dua orang Kempeitai datang lagi untuk membantu temannya.  Karena kalah jumlah, keempat Kempeitai itu lari kembali ke markas.  Para pemuda mengejar dengan senjata seadanya.  Kempeitai panik karena merasa markasnya diserang sehingga mereka menembakkan senjatanya meskipun pemuda masih berjarak 50 meter dari pagar markas.  Akibatnya, 3 orang pemuda tewas seketika bersimbah darah, sementara 11 orang lainnya mengalami luka parah.  Dua orang diantaranya meninggal 2 hari kemudian. Beberapa pemuda roboh bersimbah darah. Massa ternyata tidak takut namun justru bertambah beringas. Untung saja Residen Kedu R.P. Soeroso dan Kepala Kepolisian Kota Magelang Legowo datang melerai.


Korban meninggal dalam insiden ini adalah :

Koesni  25 September 1945

Djajus  25 September 1945

Soejoed  25 September 1945

Samad  27 September 1945

Slamet  27 September 1945


Untuk mengenang peristiwa Pengibaran Bendera dan tewasnya lima orang pahlawan tersebut, di kemudian hari di utara SMIP didirikan sebuah monumen.  Adapun setahun setelah Tragedi Tidar, tepatnya tanggal 25 September 1946, Bung Tomo didampingi Gubernur Jawa Tengah, Residen Kedu, dan Walikota Magelang, datang ke puncak Tidar untuk meresmikan Tiang Bendera setinggi 15 meter : 


 _“Pada tanggal 25 Sept. sore djam 5 di poentjak goenoeng Tidar, Magelang, dilakoekan oepatjara pemakaian resmi tiang bendera jang tingginja 15 meter sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap 4 orang pahlawan jang telah goegoer satoe tahoen jang laloe karena tembakan mitraljoer Kenpetai Djepang waktu menaikkan bendera Merah Poetih jang pertama kalinja. Oepatjara dipimpin oleh Ketoea Poesat B.P.R.I dan dihadiri oleh Pak Wongso Goebernoer Djawa Tengah, Residen Kedoe, Wali Kota Magelang dan pendoedoek. Pembikinan tiang peringatan ini memerloekan ongkos f 27.000,-"_ 


*PALAGAN MAGELANG* 

Rabu tanggal 31 Oktober 1945, pecah perang di Kota Magelang antara 3/10 Gurkha Rifles yang dipimpin oleh komandan Sekutu Jawa Tengah yaitu Brigadier R.B.W. Bethel (untuk Jawa Timur dipimpin Brigadier Mallaby) melawan pejuang republik dari BKR / TNI dan banyak unsur kelaskaran.  Salah satunya yang fenomenal adalah Bung Tardjo, pemimpin Tentara Rakyat Mataram yang dikenal kebal peluru dan sering berorasi di radio dengan suara persis Bung Tomo.  


Pertempuran berlangsung sengit dengan pusatnya di alun – alun Kota Magelang.  Para pejuang yang gugur di tengah jalan, menurut Sarwo Edhie bahkan tidak bisa diambil selama 2 hari karena siapapun yang terlihat di jalan akan dihujani mitraliur Gurkha.  Pejuang juga dibantu Tanaka, serdadu Jepang yang membela Indonesia.  Ia menghujani Gurkha dengan tembakan mitraliur dari atas Water Toren.  Pertempuran sengit itu dinamakan Palagan Magelang.


Baru juga berjalan setengah hari, Gurkha sudah minta pertolongan melalui radio.  Dua pesawat tempur dari Batavia dikirim ke langit Magelang dan menerjunkan kargo – kargo berisi amunisi dan perbekalan.  Belum cukup, Bethel meminta Bung Karno untuk datang ke Magelang guna menenangkan para pejuang.  Dalihnya adalah Sekutu datang bukan untuk berperang namun hanya untuk menarik para interniran Eropa yang ditahan di berbagai tempat.  


Bung Karno bermusyawarah di Semarang dan Yogyakarta sebelum datang ke Magelang.  Bethel tidak sabar.  Kamis 1 November 1945, ia mengirim sisa tentara Jepang di Semarang.  Komandan Jepang di Semarang adalah Mayor Kido sehingga pasukan tersebut dinamakan Kido Butai.  Adapun komandan yang memimpin kompi adalah Kapten Yamada.  Kido Butai menyerbu dapur umum di Kampung Tulung dan membantai pribumi yang ada di sana.  Ada yang diberondong peluru, ada yang disabet samurai hingga kaki putus, dan ada yang dibayonet.  Tak pandang bulu, di Botton mereka menusuk ibu – ibu dan balita, serta menembak manula.  Di SMP Negeri Magelang (SMP 1), mereka sedang membariskan para murid dan guru untuk dibantai, saat Prapto Ketjik siswa yang menjadi Tentara Pelajar berniat menyergap.  Nahas, Prapto ditembak Jepang dari belakang.  


Esoknya, usai sholat Jumat tanggal 2 November 1945, diadakanlah Cease Fire.  Badaan Plein Conferentie dihadiri 40 orang dari pihak republik yaitu Presiden RI Ir. Soekarno,   Menteri Sekretaris Negara Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Menteri Penerangan RI Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap, Raden Pandji Soeroso, Mr. Wongsonegoro, Mr. Winarno, Danuatmodjo, Liutenant General Oerip Soemohardjo, Bung Tardjo, Boedi Handoko, Liutenant Colonel Sarbini, Majoor A. Yani, dll.  Pihak Sekutu dihadiri Brigadier Bethel, Liutenant Colonel H.G. Edwards, Majoor Broock, Captain Hoasted, Koreman, Majoor Holmes, Captaint Ball, dan Flight Lieutenant Trigg.  Disepakati gencatan senjata.


Jumat siang hingga malam pukul 21.00 WIB, di bawah rintik hujan, penduduk Magelang berduka.  Mereka hilir mudik mengangkut jenazah para pejuang untuk dimakamkan di Girilojo.  Wing Commander Tull mengklaim bahwa korban tewas dari pihak Indonesia di Magelang adalah 600 orang sementara dari Sekutu hanya satu orang Gurkha saja yang tewas.  Itu adalah sebuah lelucon.  Kenyataannya, pasukan terpilih dan terlatih di medan perang Burma dan Imphal itu harus minta bantuan dari Batavia dan Semarang.  Begitu pun setelah gencatan senjata mereka ingkari, mereka harus lari tunggang langgang dikejar pejuang ke arah utara hingga Ambarawa.  


Palagan Ambarawa tidak akan ada jika tidak ada Palagan Magelang.    


*MALAM TIRAKATAN* 


Dalam dasawarsa pertama kemerdekaan, warga Magelang belum lupa akan Tragedi Tidar tanggal 25 September 1945 dan korban perang Palagan Magelang maupun korban pembantaian Kido Butai tanggal 1 November 1945.  Mereka melakukan malam tirakatan, mengenang dan mendoakan para korban yang di kemudian hari disebut pahlawan agar tenang dan diterima di sisi-Nya.


 _Dicuplik dan disarikan dari beberapa bagian buku Palagan Magelang (Novo Indarto, 2022 : 86 – 91 ; 124 – 203)._

PALAGAN MAGELANG

 *Malam Tirakatan* 

Oleh : Novo Indarto


Rakyat Indonesia banyak yang melakukan tirakatan malam 17 Agustus 1945 namun tak banyak yang melakukannya di tanggal – tanggal perjuangan lokal mereka.  Sebutlah di Magelang, ada beberapa tanggal dimana terjadi peristiwa heroik yang kini tidak banyak yang masih mengetahuinya.  Dahulu, rakyat Magelang rutin melakukan tirakatan di tanggal – tanggal tersebut. 


*TRAGEDI TIDAR* 

Hari itu adalah tanggal 25 September 1945, genap tujuh hari sejak Wing Commander Tull, komandan RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees) mendaratkan parasutnya di lapangan Tidar beserta 8 anak buah dan peti – peti kayunya.  


Kemarin, pergolakan besar telah dimulai.  Pemuda melakukan aksi penempelan plakat merah putih di berbagai tempat jalur utama.  Kempeitai yang berjaga di Hotel Nitaka melepas plakat dan merobeknya.  Pemuda yang mengetahui kejadian tersebut sontak berduyun – duyun mengepung hotel.  Kempeitai ciut nyalinya.  RAPWI tak berani merespon.  Akhirnya R.P. Soeroso sang Residen Kedu memimpin rakyat Magelang melakukan konvoi keliling Magelang, mengepung markas Kempeitai, lalu menggeruduk rumah dinas Brigjen Nakamura (komandan tentara Jepang di Jawa Tengah).  Karena tidak didapat penyelesaian, residen menyeru para pemuda untuk bubar dan menyiapkan diri guna melakukan pengibaran bendera esok paginya.  Akan menjadi pengibaran merah putih pertama kali secara terbuka di Magelang.  Pengibaran akan dilakukan di puncak Tidar pukul 05.00 WIB, dengan tujuan mendahului tentara Jepang yang biasa mengibarkan bendera Dai Nipon pukul 06.00 WIB.  


Malamnya, suasana hening.  Namun tidak ada yang tahu kalau di sebuah rumah di Meteseh seorang wanita menjahit bendera merah putih yang diambil dari bendera Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).  Wanita itu adalah Sitti Saemah, istri Raden Kolbioen Djojopramudjo (anggota Volksraad Magelang).  Sebuah tiang telepon milik Kantor Telepon Magelang juga disiapkan jika diperlukan menjadi tiang bendera.  


Pukul 04.00 pagi, awan tebal masih menyelimuti langit Magelang.  Bendera telah siap.  Masyarakat Magelang juga sudah siap.  Sebagian membawa yari.  Siswa sekolah dari tingkat dasar, menengah, dan atas hadir didampingi guru mereka.  Tiang bendera yang dipakai akhirnya adalah tiang bendera dari bambu yang biasa dipakai Jepang.  Tokoh yang disebut hadir pagi itu adalah Tartib Prawirodihardjo, Judodibroto, dan Soetedjo Atmodipoerwo (Kepala SMP Negeri Magelang).  Yang ditunggu – tunggu pun tiba.  Pengibaran bendera merah putih dilakukan dengan lagu Indonesia Raya.  Suasana sangat syahdu.  Banyak warga yang meneteskan air mata, karena pengibaran bendera merah putih di puncak Tidar pagi itu merupakan simbolisasi kemerdekaan rakyat Magelang yang sangat berarti setelah sekian lama dikungkung penjajah.


Usai pengibaran bendera, sebagian membubarkan diri dan sebagian tak beranjak dari lokasi.  Selain memperhatikan kibaran bendera merah putih yang baru pertama kali mereka lihat, mereka juga menikmati matahari terbit yang sangat indah menyeruak dari balik Merapi – Merbabu sisi timur Kota Magelang.  Di sisi barat, Gunung Sumbing mulai terlihat anggun menjulang seakan menyambut terpaan sinar matahari pagi.  Gunung Tidar waktu itu hanya ditumbuhi ilalang sehingga masih memungkinkan pemandangan indah tersebut dinikmati secara leluasa. Kokok ayam hutan sesekali mengiringi pemandangan alam nan syahdu tersebut.


Tiba – tiba, terdengar suara tembakan.  Kesyahduan pun musnah sudah.  Semua tegang.  Sebagian bergegas mendekati sumber suara.  Sebagian lagi tetap menjaga sang merah putih.  Pengibaran bendera ternyata terlihat dari Markas Kempeitai di kaki Tidar sisi utara.  Dua orang Kempeitai menyusul naik untuk menurunkan sang merah putih. Pemuda yang berpapasan turun menghalangi Kempeitai sehingga terjadi perkelahian. Namun, massa pemuda berduyun – duyun turun bertambah banyak.  Dua orang Kempeitai datang lagi untuk membantu temannya.  Karena kalah jumlah, keempat Kempeitai itu lari kembali ke markas.  Para pemuda mengejar dengan senjata seadanya.  Kempeitai panik karena merasa markasnya diserang sehingga mereka menembakkan senjatanya meskipun pemuda masih berjarak 50 meter dari pagar markas.  Akibatnya, 3 orang pemuda tewas seketika bersimbah darah, sementara 11 orang lainnya mengalami luka parah.  Dua orang diantaranya meninggal 2 hari kemudian. Beberapa pemuda roboh bersimbah darah. Massa ternyata tidak takut namun justru bertambah beringas. Untung saja Residen Kedu R.P. Soeroso dan Kepala Kepolisian Kota Magelang Legowo datang melerai.


Korban meninggal dalam insiden ini adalah :

Koesni  25 September 1945

Djajus  25 September 1945

Soejoed  25 September 1945

Samad  27 September 1945

Slamet  27 September 1945


Untuk mengenang peristiwa Pengibaran Bendera dan tewasnya lima orang pahlawan tersebut, di kemudian hari di utara SMIP didirikan sebuah monumen.  Adapun setahun setelah Tragedi Tidar, tepatnya tanggal 25 September 1946, Bung Tomo didampingi Gubernur Jawa Tengah, Residen Kedu, dan Walikota Magelang, datang ke puncak Tidar untuk meresmikan Tiang Bendera setinggi 15 meter : 


 _“Pada tanggal 25 Sept. sore djam 5 di poentjak goenoeng Tidar, Magelang, dilakoekan oepatjara pemakaian resmi tiang bendera jang tingginja 15 meter sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap 4 orang pahlawan jang telah goegoer satoe tahoen jang laloe karena tembakan mitraljoer Kenpetai Djepang waktu menaikkan bendera Merah Poetih jang pertama kalinja. Oepatjara dipimpin oleh Ketoea Poesat B.P.R.I dan dihadiri oleh Pak Wongso Goebernoer Djawa Tengah, Residen Kedoe, Wali Kota Magelang dan pendoedoek. Pembikinan tiang peringatan ini memerloekan ongkos f 27.000,-"_ 


*PALAGAN MAGELANG* 

Rabu tanggal 31 Oktober 1945, pecah perang di Kota Magelang antara 3/10 Gurkha Rifles yang dipimpin oleh komandan Sekutu Jawa Tengah yaitu Brigadier R.B.W. Bethel (untuk Jawa Timur dipimpin Brigadier Mallaby) melawan pejuang republik dari BKR / TNI dan banyak unsur kelaskaran.  Salah satunya yang fenomenal adalah Bung Tardjo, pemimpin Tentara Rakyat Mataram yang dikenal kebal peluru dan sering berorasi di radio dengan suara persis Bung Tomo.  


Pertempuran berlangsung sengit dengan pusatnya di alun – alun Kota Magelang.  Para pejuang yang gugur di tengah jalan, menurut Sarwo Edhie bahkan tidak bisa diambil selama 2 hari karena siapapun yang terlihat di jalan akan dihujani mitraliur Gurkha.  Pejuang juga dibantu Tanaka, serdadu Jepang yang membela Indonesia.  Ia menghujani Gurkha dengan tembakan mitraliur dari atas Water Toren.  Pertempuran sengit itu dinamakan Palagan Magelang.


Baru juga berjalan setengah hari, Gurkha sudah minta pertolongan melalui radio.  Dua pesawat tempur dari Batavia dikirim ke langit Magelang dan menerjunkan kargo – kargo berisi amunisi dan perbekalan.  Belum cukup, Bethel meminta Bung Karno untuk datang ke Magelang guna menenangkan para pejuang.  Dalihnya adalah Sekutu datang bukan untuk berperang namun hanya untuk menarik para interniran Eropa yang ditahan di berbagai tempat.  


Bung Karno bermusyawarah di Semarang dan Yogyakarta sebelum datang ke Magelang.  Bethel tidak sabar.  Kamis 1 November 1945, ia mengirim sisa tentara Jepang di Semarang.  Komandan Jepang di Semarang adalah Mayor Kido sehingga pasukan tersebut dinamakan Kido Butai.  Adapun komandan yang memimpin kompi adalah Kapten Yamada.  Kido Butai menyerbu dapur umum di Kampung Tulung dan membantai pribumi yang ada di sana.  Ada yang diberondong peluru, ada yang disabet samurai hingga kaki putus, dan ada yang dibayonet.  Tak pandang bulu, di Botton mereka menusuk ibu – ibu dan balita, serta menembak manula.  Di SMP Negeri Magelang (SMP 1), mereka sedang membariskan para murid dan guru untuk dibantai, saat Prapto Ketjik siswa yang menjadi Tentara Pelajar berniat menyergap.  Nahas, Prapto ditembak Jepang dari belakang.  


Esoknya, usai sholat Jumat tanggal 2 November 1945, diadakanlah Cease Fire.  Badaan Plein Conferentie dihadiri 40 orang dari pihak republik yaitu Presiden RI Ir. Soekarno,   Menteri Sekretaris Negara Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Menteri Penerangan RI Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap, Raden Pandji Soeroso, Mr. Wongsonegoro, Mr. Winarno, Danuatmodjo, Liutenant General Oerip Soemohardjo, Bung Tardjo, Boedi Handoko, Liutenant Colonel Sarbini, Majoor A. Yani, dll.  Pihak Sekutu dihadiri Brigadier Bethel, Liutenant Colonel H.G. Edwards, Majoor Broock, Captain Hoasted, Koreman, Majoor Holmes, Captaint Ball, dan Flight Lieutenant Trigg.  Disepakati gencatan senjata.


Jumat siang hingga malam pukul 21.00 WIB, di bawah rintik hujan, penduduk Magelang berduka.  Mereka hilir mudik mengangkut jenazah para pejuang untuk dimakamkan di Girilojo.  Wing Commander Tull mengklaim bahwa korban tewas dari pihak Indonesia di Magelang adalah 600 orang sementara dari Sekutu hanya satu orang Gurkha saja yang tewas.  Itu adalah sebuah lelucon.  Kenyataannya, pasukan terpilih dan terlatih di medan perang Burma dan Imphal itu harus minta bantuan dari Batavia dan Semarang.  Begitu pun setelah gencatan senjata mereka ingkari, mereka harus lari tunggang langgang dikejar pejuang ke arah utara hingga Ambarawa.  


Palagan Ambarawa tidak akan ada jika tidak ada Palagan Magelang.    


*MALAM TIRAKATAN* 


Dalam dasawarsa pertama kemerdekaan, warga Magelang belum lupa akan Tragedi Tidar tanggal 25 September 1945 dan korban perang Palagan Magelang maupun korban pembantaian Kido Butai tanggal 1 November 1945.  Mereka melakukan malam tirakatan, mengenang dan mendoakan para korban yang di kemudian hari disebut pahlawan agar tenang dan diterima di sisi-Nya.


 _Dicuplik dan disarikan dari beberapa bagian buku Palagan Magelang (Novo Indarto, 2022 : 86 – 91 ; 124 – 203)._

TRAGEDI TIDAR MAGELANG

 *Malam Tirakatan* 

Oleh : Novo Indarto


Rakyat Indonesia banyak yang melakukan tirakatan malam 17 Agustus 1945 namun tak banyak yang melakukannya di tanggal – tanggal perjuangan lokal mereka.  Sebutlah di Magelang, ada beberapa tanggal dimana terjadi peristiwa heroik yang kini tidak banyak yang masih mengetahuinya.  Dahulu, rakyat Magelang rutin melakukan tirakatan di tanggal – tanggal tersebut. 


*TRAGEDI TIDAR* 

Hari itu adalah tanggal 25 September 1945, genap tujuh hari sejak Wing Commander Tull, komandan RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees) mendaratkan parasutnya di lapangan Tidar beserta 8 anak buah dan peti – peti kayunya.  


Kemarin, pergolakan besar telah dimulai.  Pemuda melakukan aksi penempelan plakat merah putih di berbagai tempat jalur utama.  Kempeitai yang berjaga di Hotel Nitaka melepas plakat dan merobeknya.  Pemuda yang mengetahui kejadian tersebut sontak berduyun – duyun mengepung hotel.  Kempeitai ciut nyalinya.  RAPWI tak berani merespon.  Akhirnya R.P. Soeroso sang Residen Kedu memimpin rakyat Magelang melakukan konvoi keliling Magelang, mengepung markas Kempeitai, lalu menggeruduk rumah dinas Brigjen Nakamura (komandan tentara Jepang di Jawa Tengah).  Karena tidak didapat penyelesaian, residen menyeru para pemuda untuk bubar dan menyiapkan diri guna melakukan pengibaran bendera esok paginya.  Akan menjadi pengibaran merah putih pertama kali secara terbuka di Magelang.  Pengibaran akan dilakukan di puncak Tidar pukul 05.00 WIB, dengan tujuan mendahului tentara Jepang yang biasa mengibarkan bendera Dai Nipon pukul 06.00 WIB.  


Malamnya, suasana hening.  Namun tidak ada yang tahu kalau di sebuah rumah di Meteseh seorang wanita menjahit bendera merah putih yang diambil dari bendera Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).  Wanita itu adalah Sitti Saemah, istri Raden Kolbioen Djojopramudjo (anggota Volksraad Magelang).  Sebuah tiang telepon milik Kantor Telepon Magelang juga disiapkan jika diperlukan menjadi tiang bendera.  


Pukul 04.00 pagi, awan tebal masih menyelimuti langit Magelang.  Bendera telah siap.  Masyarakat Magelang juga sudah siap.  Sebagian membawa yari.  Siswa sekolah dari tingkat dasar, menengah, dan atas hadir didampingi guru mereka.  Tiang bendera yang dipakai akhirnya adalah tiang bendera dari bambu yang biasa dipakai Jepang.  Tokoh yang disebut hadir pagi itu adalah Tartib Prawirodihardjo, Judodibroto, dan Soetedjo Atmodipoerwo (Kepala SMP Negeri Magelang).  Yang ditunggu – tunggu pun tiba.  Pengibaran bendera merah putih dilakukan dengan lagu Indonesia Raya.  Suasana sangat syahdu.  Banyak warga yang meneteskan air mata, karena pengibaran bendera merah putih di puncak Tidar pagi itu merupakan simbolisasi kemerdekaan rakyat Magelang yang sangat berarti setelah sekian lama dikungkung penjajah.


Usai pengibaran bendera, sebagian membubarkan diri dan sebagian tak beranjak dari lokasi.  Selain memperhatikan kibaran bendera merah putih yang baru pertama kali mereka lihat, mereka juga menikmati matahari terbit yang sangat indah menyeruak dari balik Merapi – Merbabu sisi timur Kota Magelang.  Di sisi barat, Gunung Sumbing mulai terlihat anggun menjulang seakan menyambut terpaan sinar matahari pagi.  Gunung Tidar waktu itu hanya ditumbuhi ilalang sehingga masih memungkinkan pemandangan indah tersebut dinikmati secara leluasa. Kokok ayam hutan sesekali mengiringi pemandangan alam nan syahdu tersebut.


Tiba – tiba, terdengar suara tembakan.  Kesyahduan pun musnah sudah.  Semua tegang.  Sebagian bergegas mendekati sumber suara.  Sebagian lagi tetap menjaga sang merah putih.  Pengibaran bendera ternyata terlihat dari Markas Kempeitai di kaki Tidar sisi utara.  Dua orang Kempeitai menyusul naik untuk menurunkan sang merah putih. Pemuda yang berpapasan turun menghalangi Kempeitai sehingga terjadi perkelahian. Namun, massa pemuda berduyun – duyun turun bertambah banyak.  Dua orang Kempeitai datang lagi untuk membantu temannya.  Karena kalah jumlah, keempat Kempeitai itu lari kembali ke markas.  Para pemuda mengejar dengan senjata seadanya.  Kempeitai panik karena merasa markasnya diserang sehingga mereka menembakkan senjatanya meskipun pemuda masih berjarak 50 meter dari pagar markas.  Akibatnya, 3 orang pemuda tewas seketika bersimbah darah, sementara 11 orang lainnya mengalami luka parah.  Dua orang diantaranya meninggal 2 hari kemudian. Beberapa pemuda roboh bersimbah darah. Massa ternyata tidak takut namun justru bertambah beringas. Untung saja Residen Kedu R.P. Soeroso dan Kepala Kepolisian Kota Magelang Legowo datang melerai.


Korban meninggal dalam insiden ini adalah :

Koesni  25 September 1945

Djajus  25 September 1945

Soejoed  25 September 1945

Samad  27 September 1945

Slamet  27 September 1945


Untuk mengenang peristiwa Pengibaran Bendera dan tewasnya lima orang pahlawan tersebut, di kemudian hari di utara SMIP didirikan sebuah monumen.  Adapun setahun setelah Tragedi Tidar, tepatnya tanggal 25 September 1946, Bung Tomo didampingi Gubernur Jawa Tengah, Residen Kedu, dan Walikota Magelang, datang ke puncak Tidar untuk meresmikan Tiang Bendera setinggi 15 meter : 


 _“Pada tanggal 25 Sept. sore djam 5 di poentjak goenoeng Tidar, Magelang, dilakoekan oepatjara pemakaian resmi tiang bendera jang tingginja 15 meter sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap 4 orang pahlawan jang telah goegoer satoe tahoen jang laloe karena tembakan mitraljoer Kenpetai Djepang waktu menaikkan bendera Merah Poetih jang pertama kalinja. Oepatjara dipimpin oleh Ketoea Poesat B.P.R.I dan dihadiri oleh Pak Wongso Goebernoer Djawa Tengah, Residen Kedoe, Wali Kota Magelang dan pendoedoek. Pembikinan tiang peringatan ini memerloekan ongkos f 27.000,-"_ 


*PALAGAN MAGELANG* 

Rabu tanggal 31 Oktober 1945, pecah perang di Kota Magelang antara 3/10 Gurkha Rifles yang dipimpin oleh komandan Sekutu Jawa Tengah yaitu Brigadier R.B.W. Bethel (untuk Jawa Timur dipimpin Brigadier Mallaby) melawan pejuang republik dari BKR / TNI dan banyak unsur kelaskaran.  Salah satunya yang fenomenal adalah Bung Tardjo, pemimpin Tentara Rakyat Mataram yang dikenal kebal peluru dan sering berorasi di radio dengan suara persis Bung Tomo.  


Pertempuran berlangsung sengit dengan pusatnya di alun – alun Kota Magelang.  Para pejuang yang gugur di tengah jalan, menurut Sarwo Edhie bahkan tidak bisa diambil selama 2 hari karena siapapun yang terlihat di jalan akan dihujani mitraliur Gurkha.  Pejuang juga dibantu Tanaka, serdadu Jepang yang membela Indonesia.  Ia menghujani Gurkha dengan tembakan mitraliur dari atas Water Toren.  Pertempuran sengit itu dinamakan Palagan Magelang.


Baru juga berjalan setengah hari, Gurkha sudah minta pertolongan melalui radio.  Dua pesawat tempur dari Batavia dikirim ke langit Magelang dan menerjunkan kargo – kargo berisi amunisi dan perbekalan.  Belum cukup, Bethel meminta Bung Karno untuk datang ke Magelang guna menenangkan para pejuang.  Dalihnya adalah Sekutu datang bukan untuk berperang namun hanya untuk menarik para interniran Eropa yang ditahan di berbagai tempat.  


Bung Karno bermusyawarah di Semarang dan Yogyakarta sebelum datang ke Magelang.  Bethel tidak sabar.  Kamis 1 November 1945, ia mengirim sisa tentara Jepang di Semarang.  Komandan Jepang di Semarang adalah Mayor Kido sehingga pasukan tersebut dinamakan Kido Butai.  Adapun komandan yang memimpin kompi adalah Kapten Yamada.  Kido Butai menyerbu dapur umum di Kampung Tulung dan membantai pribumi yang ada di sana.  Ada yang diberondong peluru, ada yang disabet samurai hingga kaki putus, dan ada yang dibayonet.  Tak pandang bulu, di Botton mereka menusuk ibu – ibu dan balita, serta menembak manula.  Di SMP Negeri Magelang (SMP 1), mereka sedang membariskan para murid dan guru untuk dibantai, saat Prapto Ketjik siswa yang menjadi Tentara Pelajar berniat menyergap.  Nahas, Prapto ditembak Jepang dari belakang.  


Esoknya, usai sholat Jumat tanggal 2 November 1945, diadakanlah Cease Fire.  Badaan Plein Conferentie dihadiri 40 orang dari pihak republik yaitu Presiden RI Ir. Soekarno,   Menteri Sekretaris Negara Mr. Abdoel Gaffar Pringgodigdo, Menteri Penerangan RI Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap, Raden Pandji Soeroso, Mr. Wongsonegoro, Mr. Winarno, Danuatmodjo, Liutenant General Oerip Soemohardjo, Bung Tardjo, Boedi Handoko, Liutenant Colonel Sarbini, Majoor A. Yani, dll.  Pihak Sekutu dihadiri Brigadier Bethel, Liutenant Colonel H.G. Edwards, Majoor Broock, Captain Hoasted, Koreman, Majoor Holmes, Captaint Ball, dan Flight Lieutenant Trigg.  Disepakati gencatan senjata.


Jumat siang hingga malam pukul 21.00 WIB, di bawah rintik hujan, penduduk Magelang berduka.  Mereka hilir mudik mengangkut jenazah para pejuang untuk dimakamkan di Girilojo.  Wing Commander Tull mengklaim bahwa korban tewas dari pihak Indonesia di Magelang adalah 600 orang sementara dari Sekutu hanya satu orang Gurkha saja yang tewas.  Itu adalah sebuah lelucon.  Kenyataannya, pasukan terpilih dan terlatih di medan perang Burma dan Imphal itu harus minta bantuan dari Batavia dan Semarang.  Begitu pun setelah gencatan senjata mereka ingkari, mereka harus lari tunggang langgang dikejar pejuang ke arah utara hingga Ambarawa.  


Palagan Ambarawa tidak akan ada jika tidak ada Palagan Magelang.    


*MALAM TIRAKATAN* 


Dalam dasawarsa pertama kemerdekaan, warga Magelang belum lupa akan Tragedi Tidar tanggal 25 September 1945 dan korban perang Palagan Magelang maupun korban pembantaian Kido Butai tanggal 1 November 1945.  Mereka melakukan malam tirakatan, mengenang dan mendoakan para korban yang di kemudian hari disebut pahlawan agar tenang dan diterima di sisi-Nya.


 _Dicuplik dan disarikan dari beberapa bagian buku Palagan Magelang (Novo Indarto, 2022 : 86 – 91 ; 124 – 203)._

14 April 2023

Raden Mas Ngabehi Danoekromo - Bupati Pertama Magelang

 

Oleh : Hoesein Rushdy



Raden Mas Ngabehi Danoekromo : Bupati Pertama Magelang. Melihat posisi Magelang yang sangat strategis ditengah – tengah pulau Jawa, maka Raffles menjadikan Magelang sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Kedu. Ia menunjuk seorang resident bernama John Crawfurd untuk membenahi administrasi pemerintahan local di Karesidenan ini. Dalam tugas interennya, Crawfurd membutuhkan seorang pribumi untuk membantunya berurusan dengan pemerintahan lokal lain dan kepada rakyat setempat. Maka diambilah seorang mantan asisten Patih Danurejo III dari Yogyakarta bernama Danoekromo sebagai Bupati Pertama Magelang. Pada tanggal  30 November 1813 resmi sudah Danoekromo yang bernama asli Alwi Bin Said Abdar Rahim Bach Caiban (Bahasa aslinya Basyaiban) menyandang gelar Raden Mas Ngabehi Danoekromo.  Danoekromo adalah cucu dari Patih Danurejo I dan konon merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dari Fatimah Az-Zahra. Bupati yang bernama kecil Alwi ini memulai karirnya dibidang politik sebagai seorang pegawai Kepatihan Yogyakarta. Ia menjadi asisten Patih Danurejo II selama kurang lebih 4 tahun antara 1799 sampai 1811. Ia juga sempat menjadi Demang di Bojong, Kedu sampai dengan terbunuhnya Danurejo II. Akbiat hal tersebut, ia dipanggil lagi ke Kepatihan Kraton Yogyakarta untuk mengabdi kepada Danurejo III sampai pada akhirnya ia diminta Crawfurd untuk menjadi Bupati pertama Magelang. Bagi Magelang, Mas Ngabehi Danoekromo sangat berjasa bagi cikal bakal perkembangan Magelang. Pada awal awal pemerintahannya, ia membangun infrastruktur utama pendirian sebuah pusat pemerintahan baru. Layaknya kabupaten – kabupaten lain di Jawa, keberadaan aloon – aloon, masjid dan rumah Bupati adalah satu paket komponen penting yang mutlak harus ada dalam sebuah pusat pemerintahan. Dalam penentuan lokasi pusat pemerintahan barunya ini, Danoeningrat tentunya tidak main – main. Konon untuk menentukan lokasi aloon – aloon, Mas Ngabehi Danoekromno harus berkonsultasi terlebih dahulu kepada gurunya. Menurut petunjuk sang guru, sebuah tanah lapang diantara Desa Gelangan dan Desa Meteseh adalah lokasi yang paling tepat sebagai pusat pemerintahan Bupati Magelang. Selain bertanah lapang, lokasi itu juga sudah ditumbuhi pohon beringin yang membuat tanah ini sangat representatif sebagai aloon – aloon Kabupaten.  Setelah penentuan lokasi aloon – aloon, maka Mas Ngabehi Danoekromo mulai mendirikan rumah bupati (regentswoning) disebelah utara aloon – aloon dan sebuah Masjid Agung (Groote Moskee) dibarat aloon - aloon. Setelah kurang lebih tiga tahun menjabat sebagai Bupati Magelang, Raden Mas Ngabehi Danoekromo harus mengalami gejolak politik antara Inggris dan Belanda. Perjanjian London yang berisi penyerahan kembali semua bekas jajahan Belanda yang pernah direbut Inggris membuat Magelang kembali ke tangan Kerajaan Belanda. Penyerahan kekuasaan Inggris ini terjadi di Benteng Willem I Ambarawa pada 19 Agustus 1816. Dibawah pemerintahan Belanda ini, Raden Mas Ngabehi Danoekromo kembali diangkat menjadi Bupati Magelang dengan gelar Raden Tumenggung Aryo Danoeningrat (Danoeningrat I). Semasa pemerintahannya pula sebuah perang akbar melawan penjajah pecah. Perang Jawa (Java Oorlog) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro menjalar keseluruh pelosok Jawa tidak terkecuali Magelang pada bulan Juli 1925. Rakyat di sebelah timur Pisangan dan Barat Magelang serempak mendukung perjuangan sang Pangeran melawan Belanda. Di Distrik Probolinggo, sekitar 55.000 orang berkumpul dan menyerbu pusat kabupaten Magelang kedudukan Danoeningrat I. Serangan terhadap pusat kabupaten ini dipimpin oleh dua orang putra Kepala Distrik Kradenan, Kedu Selatan, yaitu Mertawijaya dan Raden Tumenggung Sumadirja. Pusat Kabupaten yang pada waktu hanya dijaga oleh 50 orang serdadu Belanda tentu tidak mampu menghadapi serbuan ribuan orang. Akibatnya, rumah – rumah milik pejabat Belanda banyak yang habis terbakar. Sikap Danoeningrat I yang condong kepada pemerintah colonial Belanda membuat ia mengambil keputusan untuk mendeklarasikan perang terhadap Pangeran Diponegoro. Serangan balasan terhadap para pendukung Pangeran Diponegoro ini terjadi di pos Kalijengking, Dimoyo (sekarang menjadi Jumoyo). Pertempuran di Dimoyo ini langsung dipimpin oleh Danoeningrat I beserta 2000 pasukan aliansi Jawa – Belanda. Ia berhadapan dengan Secanegara dan Kertanegara dengan tambahan 363 pasukan Bulkiya dari Selarong.  Pertempuran dahsyatpun terjadi selama beberapa hari di Dimoyo, bedung dan gamelan bertalu – talu membuat mental pasukan Danoeningrat I jatuh mental. Serempak pasukan Bulkiya maju menghununskan keris dan tombak kearah moncong – moncong senapan Belanda. Hanya tiga kali tembakan meriam saja yang berhasil mereka lesatkan kearah pasukan Bulkiya yang tak kenal takut ini. Sang pemimpin pasukan Belanda, Letnan Hilmer terluka parah pada 28 September 1826. Bersamanya beberapa pasukan Belanda mereggang nyawa ditangan pasukan Bulkiya. Nasib berbeda dialami sang Bupati Magelang, dua hari setelah pertempuran dahsyat itu pecah yaitu pada 30 September 1826, Sang Bupati Magelang, Raden Aryo Tumenggung Danoeningrat I tewas dipenggal. Kepalanya kemudian dibawa ke Selarong dan diterima oleh Sentot Alibasyah Prawirodirjo yang konon masih berkerabat dengan Danoeningrat I. Dibunuh dengan cara dipenggal tidak lain adalah perintah sang Pangeran sendiri yang dalam suratnya menyatakan bahwa siapa saja yang mendukung penjajah Belanda akan dipenggal kelapanya. Selain itu, konon Danoeningrat I juga dipercaya mempunyai kesaktian ilmu rawa rontek dimana jika tidak dipenggal atau dipisahkan antara tubuh dan kepalanya ia bisa bangkit kembali. Para keturunan Danoeningrat I kemudian memberi julukan kepada sang Bupati pertama Magelang ini dengan nama Eyang Sedo Perang. Danoeningrat I meninggalkan seorang anak bernama Hamdani Bin Alwi Bach Chaiban (Basyaiban) yang bekerja sebagai pegawai pemerintah Belanda di Pekalongan sebagai Wakil Kolektor Penghasilan Negeri. Kelak, Ia akan diangkat sebagai Bupati Kedua Magelang pengganti sang ayah. Pada tahun 1971, setelah diadakan acara wayangan dan ruwatan di Selarong, potongan kepala Bupati pertama Magelang ini berhasil ditemukan dan akhirnya disatukan kembali bersama badannya dan dipemakaman Keluarga di Payaman, Magelang. Demikianlah kisah perjalanan hidup sang Bupati Pertama Magelang, Danoeningrat I. Ia adalah orang yang berjasa dalam pendirian Nagari Magelang yang harus tewas dengan cara dipenggal pada masa Perang Jawa. Walaupun menurut keturunan Danoeningrat peran sang Bupati pertama Magelang itu mendukung Belanda pada perang Jawa masih bisa diperdebatkan, namun yang jelas diluar semua kontroversi yang menyelimuti kisah sang Bupati, Danoeningrat adalah sosok manusia yang pertama membangun Magelang. Semoga tulisan ini member manfaat bagi pembaca. Sumber http://mblusukmen.blogspot.com/2016/02/danoekromo-bupati-pertama-magelang-yang.html Lukisan Lukisan Potret Bupati Magelang Pertama, Danoekromo (Danoeningrat I) dan Istri Karya Raden Saleh. Sumber : Upload Novo Indarto 19 December 2013, FB Group KTM

31 January 2023

Sejarah Magelang - Taruna Ekpress

 Taruna Express

Oleh : Cahyono Edo Santosa

Bentuk kerjasama antara Akabri dengan PNKA (sekarang menjadi PT KAI) adalah sarana transportasi berupa KA Taruna Express yaitu kereta api yang melayani rute Magelang-Yogyakarta. KA Taruna Express ini diresmikan pada 30 November 1972 oleh Gubernur Akabri saat itu Mayjen Sarwo Edhie Wibowo. 


Sumber : Berita Buana, 3-12-1972. Koleksi Surat Kabar Langka, Perpustakaan Nasional RI (SKALA-Team)



13 January 2023

Sejarah Magelang - SMP Negeri 6 Magelang, dulu & kini..... 📷 : smpn6mgl.sch.id (dulu/1980an),

 SMP Negeri 6 Magelang, dulu & kini.....


📷 : smpn6mgl.sch.id (dulu/1980an), Streetview (kini/2022)




02 January 2023

Sejarah Magelang - Jl. Medang (Nanggulan) posisi fotografer di depan toko KSD (Karso Dahlan). Dulu & Kini. 📷 : Arsip Kota (1982), Streetview (2022)

 Jl. Medang (Nanggulan) posisi fotografer di depan toko KSD (Karso Dahlan). Dulu & Kini. 


📷 : Arsip Kota (1982), Streetview (2022)



Penampakan rumah transmigrasi thn 1990

Penampakan rumah transmigrasi thn 1990



27 December 2022

Bunga Bangkai setinggi 335 cm, tahun 1915

 Bunga Bangkai setinggi 335 cm, tahun 1915.


📸 KIT LV



20 December 2022

Suasana sebuah rumah di Salatiga, 1918 National Museum of World Cultures

 Suasana sebuah rumah di Salatiga, 1918


National Museum of World Cultures



07 December 2022