Kisah Tentara Pelajar Madiun Nan Heroik
"Eksistensi Tuhan tidak masuk akal. Tuhan adalah konsep yang menjijikkan. Pendek kata, aku menaruh dendam pada Tuhan. Agama adalah candu bagi masyarakat. Menghujat agama adalah yang terpenting." (Karl Marx)
Pemikiran Karl Marx ini menjelaskan kepada kita mengapa orang-orang komunis sangat benci kepada kaum agama. Menjelaskan mengapa Muso ataupun Aidit menjadikan para ulama dan santri sebagai sasaran utama pembantaian. Mereka berusaha mengamalkan doktrin yang diajarkan Karl Marx.
Jika ada manusia yang tega membunuh saudara kandungnya sendiri, maka komunis jawabnya. Jika ada anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri, maka komunis jawabnya. Entah hati mereka telah tertutupi kebencian sebesar apa, hingga tega membunuh saudara yang masih memiliki ikatan darah.
Tak hanya kaum agama yang menjadi sasaran utama, tetapi juga kaum pelajar. Bisa kau bayangkan para pelajar yang bertubuh kecil itu juga tak lepas dari kebengisan tentara PKI? Pelajar yang setiap hari hanya memegang buku dan pulpen itu dengan gagah berani melawan tentara Muso di Madiun.
Kisah para pelajar di SMP 2 Madiun di bulan September 1948 membuatku takjub. Keberanian mereka melawan tentara Muso yang baru saja mendeklarasikan Republik Soviet Indonesia di Madiun membuatku tak bisa berkata-kata, saking mengagumi keberanian mereka.
Sekaligus membuatku geram. Karena pada kejadian ini ada seorang siswa yang dicincang oleh kakaknya sendiri karena berbeda barisan. Kakaknya yang tergabung dalam tentara FDR (Front Demokrasi Rakyat) underbouw PKI begitu tega mencincang adiknya sendiri yang masih berstatus pelajar SMP. Sudah kukatakan padamu, bahwa seseorang yang sudah memeluk ideologi komunis begitu tega membantai manusia lain, termasuk keluarganya sendiri.
Adalah Mulyadi, seorang siswa SMP 2 Madiun. Mulyadi memiliki jiwa heroik. Meski secara fisik masih kecil, hanya seorang pelajar SMP, tapi dia memiliki keberanian layaknya tentara. Mulyadi tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang berdiri sejak Agresi Militer Belanda pertama di Madiun. Markas utama TRIP adalah SMP 2 Madiun.
Sejak Muso memproklamirkan Republik Indonesia Soviet tanggal 18 September 1948, para anggota TRIP bersiap siaga di markas mereka. Para pelajar SMP yang sebagian besar belum berkumis itu dengan gagah berani mempertahankan marka. mereka tak sudi bergabung dengan Muso. Mereka akan memperjuangkan NKRI hingga titik darah penghabisan. Jujur, hatiku gerimis membayangkan para siswa SMP ini. Salut, bangga, sekaligus terharu dengan keberanian mereka.
Saat itu tanggal 21 September 1948, tentara FDR PKI menyerang SMP 2 Madiun. Berusaha mengajak para siswa yang tergabung dalam TRIP ini untuk patuh pada komando Muso. Bergabung dalam barisan PKI.
Meskipun hanya terdiri dari para pelajar yang sebagian belum berkumis, tapi TRIP dengan gagah berani menolak ajakan tersebut. Mereka tau resiko dari penolakan tersebut. Yaitu nyawa mereka di ujung tanduk.
Saat itu Mulyadi sedang mendapat tugas untuk berjaga sebagai pengawal markas TRIP brigade 17. Tanpa ampun, Mulyadi langsung diberondong tembakan. Darah Mulyadi mengalir membasahi SMP 2 Madiun. Darah pertama yang tertumpah di barisan TRIP.
Yang menyedihkan Mulyadi diberondong tembakan oleh Mulyono, kakak kandungnya sendiri. Mulyono yang sudah bergabung dengan tentara FDR PKI begitu tega menghabisi adik kandungnya sendiri. Sesudah ditembaki, jenazah Mulyadi ditusuki ramai-ramai dengan belati yang berada di ujung senapan hingga tak berbentuk lagi.
Andaikan ibu kandung Mulyadi melihat pemandangan itu, pastilah dia akan menangis tiada henti. Tak mengerti mengapa Mulyono begitu tega membunuh adik kandungnya sendiri. Ikatan darah mereka seakan tak mampu menghentikan kebengisan jiwa Mulyono yang sudah dirasuki faham komunisme.
Setelah pembantaian Mulyadi yang bertugas sebagai pengawal, pasukan FDR PKI merangsek maju. Apalah arti perlawanan anak-anak SMP? Perlawanan mereka segera bisa dipadamkan. Seluruh siswa yang tergabung dalam TRIP itu ditawan PKI. Senjata mereka dilucuti. Tangan mereka diikat dan disuruh berjalan jongkok. Mereka dikumpulkan di lapangan sekolah. Kemudian kesemua siswa TRIP itu dimasukan ke Lapas Madiun. Mereka tidak sudi bergabung dengan tentara komunis.
Tanggal 28 September 1948 tentara Divisi Siliwangi menyerang tentara komunis. Saat itu pasukan merah kocar-kacir. Saking kalut, mereka menembaki para tawanan TRIP. Saat itu gugur 7 orang siswa yang tergabung dalam TRIP...
Sungguh keberanian para pelajar ini membuat kita semua takjub. Meskipun fisik mereka ringkih, tapi keberanian mereka untuk mempertahankan NKRI tak diragukan lagi. Mereka berani melawan tentara komunis meskipun tau nyawa sebagai taruhannya. Sebuah keberanian yang sulit ditemukan pada pelajar di zaman ini...
Mengenang TRIP adalah mengenang keberanian para pelajar....hormat setingi-tingginya untuk mereka...
Sumber : Widi Astuti

No comments:
Post a Comment