22 September 2026

SAJAK KEBENCIAN AIDIT UNTUK AHMAD YANI, KETIKA KETUA PKI MENYAMBUT JENDERAL BARU DENGAN PUISI SINDIRAN Ahmad Yani baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-40 ketika kabar besar itu datang. Pada Juni 1962, Presiden Sukarno mempromosikannya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat menggantikan Jenderal Abdul Haris Nasution. Ini bukan sekadar promosi biasa — jabatan itu kemudian ditingkatkan statusnya setingkat menteri, menjadikan Yani sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat atau Menpangad, pemegang komando tertinggi seluruh kekuatan darat Indonesia. Tidak semua orang menyambut pengangkatan itu dengan suka cita. Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, merespons promosi Yani dengan cara yang paling ia kuasai selain berpidato: menulis puisi. Pada 23 Juni 1962 — tepat di hari-hari seputar pengangkatan Yani — Aidit menulis sebuah sajak berjudul Raja Naik Mahkota Kecil. Berdasarkan Seri Buku Tempo tentang Aidit yang terbit 2010 (halaman 114), isi sajak itu adalah: "Udara hari ini cerah benar Pemuda nyanyi Nasakom bersatu Gelak ketawa gadis remaja Mendengar si lalim naik takhta Tapi konon mahkotanya kecil. Ayo, maju terus kawan-kawan Halau dia ke jaring dan jerat Tangkap dia dan ikat erat Hadapkan dia ke mahkamah rakyat!" Sajak itu tidak perlu tafsir panjang. "Si lalim naik takhta" adalah sindiran langsung kepada Yani. "Mahkotanya kecil" adalah penghinaan terhadap jabatan baru sang jenderal. Dan baris terakhir — "hadapkan dia ke mahkamah rakyat" — adalah seruan yang dalam bahasa PKI era 1960-an berarti pengadilan revolusioner, dengan segala konsekuensi yang menyertainya. Ketegangan antara PKI dan pimpinan Angkatan Darat memang bukan hal baru. Sejak awal 1960-an, keduanya bergesekan dalam ruang pengaruh di sekeliling Sukarno. PKI menginginkan persatuan Nasakom — Nasionalisme, Agama, Komunisme — yang menempatkan mereka setara dengan kekuatan lain termasuk militer. AD melihat PKI sebagai ancaman yang harus diawasi ketat. Yani, dengan karakter tegasnya, dikenal sebagai salah satu jenderal yang paling vokal menolak pengaruh PKI di dalam tubuh militer. Bahwa Aidit menulis sajak untuk menyindir Yani bukan sesuatu yang aneh. Tidak banyak yang mengenal Aidit sebagai penyair, tapi ia menulis puisi secara konsisten sepanjang hidupnya. Pada 1965, sesaat sebelum petaka, ia bahkan menerbitkan kumpulan sajak bertajuk Kepada Partai melalui Yayasan Pembaruan. Tiga tahun setelah sajak itu ditulis, keduanya menemui takdir yang sama: sama-sama tewas dalam peristiwa yang mengubah sejarah Indonesia pada akhir September 1965. Ahmad Yani adalah salah satu dari tujuh perwira tinggi yang diculik dan dibunuh dalam peristiwa G30S pada malam 30 September. Aidit sendiri ditangkap di Boyolali dan dieksekusi pada 22 November 1965. Sajak kebencian yang ditulis pada 1962 itu menjadi salah satu dokumen paling ganjil dari era Demokrasi Terpimpin — sebuah puisi yang menghendaki mahkamah rakyat untuk sang jenderal, ditulis oleh seseorang yang tiga tahun kemudian ikut lenyap ditelan pusaran sejarah yang sama. #SejarahIndonesia #AhmadYani #Aidit #PKI #G30S

 SAJAK KEBENCIAN AIDIT UNTUK AHMAD YANI, KETIKA KETUA PKI MENYAMBUT JENDERAL BARU DENGAN PUISI SINDIRAN



Ahmad Yani baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-40 ketika kabar besar itu datang. Pada Juni 1962, Presiden Sukarno mempromosikannya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat menggantikan Jenderal Abdul Haris Nasution. Ini bukan sekadar promosi biasa — jabatan itu kemudian ditingkatkan statusnya setingkat menteri, menjadikan Yani sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat atau Menpangad, pemegang komando tertinggi seluruh kekuatan darat Indonesia.


Tidak semua orang menyambut pengangkatan itu dengan suka cita.


Dipa Nusantara Aidit, Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia, merespons promosi Yani dengan cara yang paling ia kuasai selain berpidato: menulis puisi. Pada 23 Juni 1962 — tepat di hari-hari seputar pengangkatan Yani — Aidit menulis sebuah sajak berjudul Raja Naik Mahkota Kecil. Berdasarkan Seri Buku Tempo tentang Aidit yang terbit 2010 (halaman 114), isi sajak itu adalah:


"Udara hari ini cerah benar

Pemuda nyanyi Nasakom bersatu

Gelak ketawa gadis remaja

Mendengar si lalim naik takhta

Tapi konon mahkotanya kecil.


Ayo, maju terus kawan-kawan

Halau dia ke jaring dan jerat

Tangkap dia dan ikat erat

Hadapkan dia ke mahkamah rakyat!"


Sajak itu tidak perlu tafsir panjang. "Si lalim naik takhta" adalah sindiran langsung kepada Yani. "Mahkotanya kecil" adalah penghinaan terhadap jabatan baru sang jenderal. Dan baris terakhir — "hadapkan dia ke mahkamah rakyat" — adalah seruan yang dalam bahasa PKI era 1960-an berarti pengadilan revolusioner, dengan segala konsekuensi yang menyertainya.


Ketegangan antara PKI dan pimpinan Angkatan Darat memang bukan hal baru. Sejak awal 1960-an, keduanya bergesekan dalam ruang pengaruh di sekeliling Sukarno. PKI menginginkan persatuan Nasakom — Nasionalisme, Agama, Komunisme — yang menempatkan mereka setara dengan kekuatan lain termasuk militer. AD melihat PKI sebagai ancaman yang harus diawasi ketat. Yani, dengan karakter tegasnya, dikenal sebagai salah satu jenderal yang paling vokal menolak pengaruh PKI di dalam tubuh militer.


Bahwa Aidit menulis sajak untuk menyindir Yani bukan sesuatu yang aneh. Tidak banyak yang mengenal Aidit sebagai penyair, tapi ia menulis puisi secara konsisten sepanjang hidupnya. Pada 1965, sesaat sebelum petaka, ia bahkan menerbitkan kumpulan sajak bertajuk Kepada Partai melalui Yayasan Pembaruan.


Tiga tahun setelah sajak itu ditulis, keduanya menemui takdir yang sama: sama-sama tewas dalam peristiwa yang mengubah sejarah Indonesia pada akhir September 1965. Ahmad Yani adalah salah satu dari tujuh perwira tinggi yang diculik dan dibunuh dalam peristiwa G30S pada malam 30 September. Aidit sendiri ditangkap di Boyolali dan dieksekusi pada 22 November 1965.


Sajak kebencian yang ditulis pada 1962 itu menjadi salah satu dokumen paling ganjil dari era Demokrasi Terpimpin — sebuah puisi yang menghendaki mahkamah rakyat untuk sang jenderal, ditulis oleh seseorang yang tiga tahun kemudian ikut lenyap ditelan pusaran sejarah yang sama.


#SejarahIndonesia #AhmadYani #Aidit #PKI #G30S

No comments:

Post a Comment