BALAS BUDI BERUJUNG BEKU: NESTAPA LETNAN IGK MANILA DI PARIS DAN KEMURKAAN JENDERAL SOEMITRO
Catatan sejarah Jani Sari II
Kisah Letnan IGK Manila dan Utang Nyawa Jenderal Soemitro
Tahun 2025 lalu, dunia militer Indonesia baru saja kehilangan salah satu perwiranya yang sarat pengalaman. Mayor Jenderal TNI (Purn) I Gusti Kompyang (IGK) Manila, tutup usia pada 18 Agustus 2025 dalam usia 83 tahun. Abituren Akademi Militer Nasional 1964 dari korps Polisi Militer (CPM) ini bukanlah perwira dengan rekam jejak biasa. Ia pernah merasakan tegangnya mengawal senjakala Bung Karno di Wisma Yaso, hingga menimba ilmu intelijen langsung di markas Mossad, Israel, bersama Sutopo Juwono.
Namun, dari sekian banyak palagan hidupnya, ada satu fragmen unik yang bermula dari sebuah kebetulan di Pulau Dewata. Kisah ini terekam dalam biografinya, 80 Tahun IGK. Manila, sebuah episode yang bermula dari balas budi manis, namun nyaris berakhir sebagai tragedi di musim dingin Eropa.
Syahdan, di awal tahun 1969. Letnan Satu IGK Manila tengah mendapat tugas mengamankan kunjungan Kepala Staf Pertahanan dan Keamanan, Letjen TNI Soemitro, ke Bali. Sang jenderal—yang kelak menjadi salah satu orang terkuat di ABRI—kala itu menginap di Hotel Bali Beach, Sanur. Di sela-sela ketegangan tugas pengamanan, Manila meluangkan waktu sejenak mengitari area hotel untuk menikmati suasana.
Langkahnya mendadak terhenti di tepian kolam renang. Matanya yang awas menangkap pemandangan ganjil: seorang anak kecil tampak gelagapan, timbul-tenggelam melawan air. Naluri prajuritnya seketika menyala. Tanpa pikir panjang memedulikan seragam, pistol, dan perlengkapan yang masih melekat di badan, Manila melompat terjun. Byur!
Anak itu berhasil diraihnya. Di tepian kolam, dengan basah kuyup, ia membolak-balik tubuh si bocah dan menekan dadanya hingga air memuncrat keluar dari paru-paru. Dalam hitungan detik yang krusial itu, sang bocah tersadar. Manila bernapas lega, meski ia sama sekali tak tahu siapa nyawa kecil yang baru saja ia renggut dari maut tersebut.
Lantaran pakaiannya basah total, Manila terpaksa meminjam kaus dan celana pantai milik pihak hotel. Baru saja ia hendak pamit pulang, seorang ajudan Letjen Soemitro mencegatnya. Hati Manila berdegup kencang. Ia digiring menghadap sang jenderal. Dalam benaknya, bayangan hukuman sudah menanti. Apalagi ia harus berdiri di depan jenderal bintang tiga dengan pakaian pantai yang jauh dari kata pantas.
Di ruangannya, Soemitro menatap sang letnan dengan tajam. Namun, alih-alih hardikan, yang keluar dari mulut sang jenderal justru ucapan terima kasih yang begitu dalam. Bocah yang diselamatkan Manila di kolam renang tadi tak lain adalah Agus, putra sang jenderal.
Sebagai bentuk rasa syukur, Soemitro mengajak Manila berbincang. Ia sempat bertanya mengapa perwira asal Bali bisa berdinas di Bali, menyiratkan kecurigaan soal praktik 'sogok-menyogok'. Dengan lugas, Manila membantah, "Gaji bulanan saya saja habis dalam waktu tiga minggu, mana mungkin saya menyogok, Jenderal."
Dalam kesempatan itu, Soemitro menawarkan sebuah 'hadiah' mutasi. Ia menawari Manila pindah ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah—sebuah daerah yang kala itu masih sunyi dan kerap dihindari prajurit. Namun, dengan sikap ksatrianya, Manila menjawab mantap: "Siap!"
Anehnya, ketika surat perintah dari Direktur Pusat Polisi Militer Brigjen Suitdertus Soedarman turun beberapa waktu kemudian, tujuannya bukan lebatnya hutan Kalimantan, melainkan Paris, Prancis. Brigjen Soedarman sendiri sempat meradang, merasa heran bagaimana seorang letnan satu berani "meminta" mutasi kepada jenderal. Merasa tak enak hati, Manila berniat membatalkan mutasi tersebut. Namun Soemitro pasang badan. Ia menegaskan kepada Soedarman bahwa penugasan bergengsi ke Paris itu murni keputusannya pribadi; sebuah balasan atas utang nyawa sang putra.
Maka, berangkatlah Manila pada September 1969. Ia membawa serta istrinya dan putri kecil mereka, Dewi, yang masih menyusu. Berbekal bahasa Inggris yang pas-pasan dan tanpa pemahaman bahasa Prancis sama sekali, Manila menjejakkan kaki di Eropa sebagai Asisten Atase Pertahanan (Athan).
Namun, di Kota Cahaya inilah "balas budi" itu berubah getir.
Kehadiran Manila rupanya tak disambut hangat oleh sang atasan, seorang Kolonel Athan di Kedubes RI di Paris yang kebetulan juga berasal dari korps CPM. Sang Kolonel merasa janggal dan tak suka dengan kehadiran perwira muda yang tak fasih berbahasa asing itu. Sentimen ini berbuntut panjang pada perlakuan yang jauh dari kata manusiawi.
Di tengah kepungan musim dingin Eropa yang ekstrem, Manila sekeluarga hanya diberikan tempat tinggal di sebuah ruang kerja Athan tanpa alat penghangat. Setiap malam, letnan muda itu, beserta istri dan bayinya, harus menggigil hebat. Mereka terpaksa tidur dengan bertumpuk-tumpuk menjepitkan diri, menggunakan kasur sebagai selimut darurat agar tak mati kedinginan.
Memasuki Januari yang membekukan, pertahanan Manila runtuh melihat penderitaan keluarganya. Ia mengambil langkah nekat dengan menulis surat kepada Sekretaris Pribadi Jenderal Soemitro, Pak Kirman, untuk diteruskan ke meja sang jenderal. Pesannya singkat namun mengiris hati: "Apakah yang saya terima di Paris ini sebuah penghargaan, atau penyiksaan buat saya, isteri, dan Dewi?"
Surat pilu itu sampai ke tangan Soemitro.
Membaca perlakuan yang diterima penyelamat putranya, sang jenderal murka besar. Tak butuh waktu lama, pada awal Januari 1970 itu juga, Manila sekeluarga segera diterbangkan kembali ke Jakarta.
Sang Athan di Paris pun harus menelan pil pahit akibat keangkuhannya. Jenderal Soemitro mencopot jabatannya dan memakinya habis-habisan. Karir sang atasan tamat; hingga masa pensiunnya tiba, pangkatnya terkunci di level Kolonel.
Dari kerasnya musim dingin Paris dan dinginnya sikap seorang atasan, Letnan Manila memetik satu doktrin kehidupan: kelak ketika ia menjadi komandan, ia pantang meremehkan anak buahnya. Baginya, kepemimpinan adalah soal keteladanan. Jika ada kesalahan, perwira sejati akan memberi arahan, bukan siksaan.
Selamat jalan, Jenderal Manila.
~ Jani Sari Library

No comments:
Post a Comment