13 September 2026

Mulyanto, Jagal PKI dari Blora Saat itu tanggal 18 September 1948. Muso memproklamirkan berdirinya Republik Soviet Indonesia di Madiun. Seluruh pengikut komunis bersukacita. Mereka merasa bahwa waktunya telah tiba bagi komunis untuk memimpin negri ini. Seluruh sel-sel komunis bergerak, tak terkecuali di Blora Jawa Tengah. Mereka mulai melancarkan aksinya. Yaitu membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi gerak langkah PKI. Ketua FDR (Front Demokrasi Rakyat) Blora menunjukan aksi bengisnya di kota lumbung padi itu. Namanya Mulyanto, seorang petani dari Dusun Pohrendeng, Tamanrejo, Tunjungan, Blora. Meskipun berasal dari sebuah dusun kecil tapi Mulyanto sebagai ketua FDR memiliki jiwa keji. Ia menganggap dirinya sebagai kamerad yang siap berjuang hingga titik darah penghabisan demi membela Kamerad Muso Yang Agung. Mulyanto telah menyuruh anak buahnya untuk menggali beberapa lubang besar. Lubang yang akan dipergunakan sebagai kuburan massal lawan politiknya. Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menebar teror ketakutan. Disamping demonstarasi lubang yang letaknya di samping rel kereta api, mereka menebarkan isu bahwa sumur-sumur penduduk sudah diracuni. Suasana Blora mencekam. Penduduk takut keluar rumah. Tentara FDR-PKI seakan jagal yang siap mencabut nyawa siapapun yang berani melawan. Mulyanto menculik 5 orang tokoh masyarakat dari unsur Masyumi dan PNI. Mereka adalah Oetoro, camat di Margorojo. Kemudian Mr Iskandar, dr Susanto, Gunandar, dan Abu Umar. Kelima orang ini disembelih di lokasi sumur yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Jagal PKI dari dusun Pohrendeng menggelindingkan kepala lima orang ini tanpa ampun. Jasad yang sudah tak berkepala itu dimasukan ke dalam sumur. Abu Umar susah sekali disembelih. Akhirnya Abu Umar dikubur hidup-hidup. Ia dimasukan ke dalam sumur satunya dan dilempari batu. Suara jeritan Abu Umar membuat para algojo PKI tertawa gembira. Kekejaman Mulyanto masih terus berlanjut. Setelah menyembelih lima orang tokoh berpengaruh di Blora, ia melenyapkan pejabat-pejabat lain yang dianggap menentang PKI. Tak hanya pejabat, para ulama dan santri Blora juga tak lepas dari sembelihan para algojo PKI. Tidak ada yang tau pasti berapa jumlah ulama dan santri yang dibantai oleh Mulyanto. Mulyanto dan para algojonya sangat sadis. Mereka tak hanya menggelindingkan kepala, tetapi juga membakar, ataupun mencincang tubuh para korbannya. Entah setan mana yang merasuki mereka. Begitu tega membantai saudara sebangsanya sendiri. Pembantaian di luar batas kemanusiaan yang membuat bergidik ngeri siapapun yang melihatnya. Entah berapa masjid, pesantren, musholla yang telah Mulyanto bakar. Entah berapa rumah penduduk yang sudah ia rampok. Hanya Mulyanto dan algojonya yang tau rahasia itu. Puncak kepongahan Mulyanto terjadi pada 18 September 1948. Bersamaan dengan Kamerad Musso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia di Madiun, FDR Blora menyerang markas Kepolisian Blora. Ada 24 Polisi yang disekap dan siap dibantai. Tanggal 20 September 1948, FDR Blora mendapatkan instruksi dari Muso untuk menghabisi tawanan Polisi itu. Akhirnya 17 Polisi yang sudah tua disembelih. Kemudian 7 orang polisi yang masih muda disiksa terlebih dahulu sebelum disembelih. Para Polisi muda itu dicincang pelan-pelan. Erangan kesakitan para Polisi muda itu disambut tawa terbahak-bahak para tentara FDR PKI. Bagian tubuh Polisi muda itu dibuang begitu saja ke dalam jamban. Mereka menganggap Polisi muda itu hanyalah kotoran yang perlu dibuang ke jamban. Beberapa hari setelah pembantaian para Polisi, Pasukan Divisi Siliwangi datang. Mereka menumpas semua pasukan FDR PKI. Tapi Mulyanto berhasil meloloskan diri bersama keluarganya. Ia bersembunyi di hutan dan tak pernah tertangkap. Kejadian di Blora ini membuat bulu kudukku berdiri. Tak menyangka PKI melakukan aksi kejinya di Jawa Tengah. Semoga kejadian ini tak akan pernah terulang selamanya. Cukup sudah petualangan kaum merah di negri ini.

 Mulyanto, Jagal PKI dari Blora



Saat itu tanggal 18 September 1948. Muso memproklamirkan berdirinya Republik Soviet Indonesia di Madiun. Seluruh pengikut komunis bersukacita. Mereka merasa bahwa waktunya telah tiba bagi komunis untuk memimpin negri ini.


Seluruh sel-sel komunis bergerak, tak terkecuali di Blora Jawa Tengah. Mereka mulai melancarkan aksinya. Yaitu membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi gerak langkah PKI.  


Ketua FDR (Front Demokrasi Rakyat) Blora menunjukan aksi bengisnya di kota lumbung padi itu. Namanya Mulyanto, seorang petani dari Dusun Pohrendeng, Tamanrejo, Tunjungan, Blora. Meskipun berasal dari sebuah dusun kecil tapi Mulyanto sebagai ketua FDR memiliki jiwa keji. Ia menganggap dirinya sebagai kamerad yang siap berjuang hingga titik darah penghabisan demi membela Kamerad Muso Yang Agung.


Mulyanto telah menyuruh anak buahnya untuk menggali beberapa lubang besar. Lubang yang akan dipergunakan sebagai kuburan massal lawan politiknya. 


Ia juga menyuruh anak buahnya untuk menebar teror ketakutan. Disamping demonstarasi lubang yang letaknya di samping rel kereta api, mereka menebarkan isu bahwa sumur-sumur penduduk sudah diracuni. Suasana Blora mencekam. Penduduk takut keluar rumah. Tentara FDR-PKI seakan jagal yang siap mencabut nyawa siapapun yang berani melawan.


Mulyanto menculik 5 orang tokoh  masyarakat dari unsur Masyumi dan PNI.  Mereka adalah Oetoro, camat di Margorojo. Kemudian Mr Iskandar, dr Susanto, Gunandar, dan Abu Umar. Kelima orang ini disembelih di lokasi sumur yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Jagal PKI dari dusun Pohrendeng menggelindingkan kepala lima orang ini tanpa ampun. Jasad yang sudah tak berkepala itu dimasukan ke dalam sumur. 


Abu Umar susah sekali disembelih. Akhirnya Abu Umar dikubur hidup-hidup. Ia dimasukan ke dalam sumur satunya dan dilempari batu. Suara jeritan Abu Umar membuat para algojo PKI tertawa gembira.


Kekejaman Mulyanto masih terus berlanjut. Setelah menyembelih lima orang tokoh berpengaruh di Blora, ia melenyapkan pejabat-pejabat lain yang dianggap menentang PKI. 


Tak hanya pejabat, para ulama dan santri Blora juga tak lepas dari sembelihan para algojo PKI. Tidak ada yang tau pasti berapa jumlah ulama dan santri yang dibantai oleh Mulyanto. 


Mulyanto dan para algojonya sangat sadis. Mereka tak hanya menggelindingkan kepala, tetapi juga membakar, ataupun mencincang tubuh para korbannya. Entah setan mana yang merasuki mereka. Begitu tega membantai saudara sebangsanya sendiri. Pembantaian di luar batas kemanusiaan yang membuat bergidik ngeri siapapun yang melihatnya.


Entah berapa masjid, pesantren, musholla yang telah Mulyanto bakar. Entah berapa rumah penduduk yang sudah ia rampok. Hanya Mulyanto dan algojonya yang tau rahasia itu.


Puncak kepongahan Mulyanto terjadi pada 18 September 1948. Bersamaan dengan Kamerad Musso memproklamirkan Republik Soviet Indonesia di Madiun, FDR Blora menyerang markas Kepolisian Blora. Ada 24 Polisi yang disekap dan siap dibantai.


Tanggal 20 September 1948, FDR Blora mendapatkan instruksi dari Muso untuk menghabisi tawanan Polisi itu. Akhirnya 17 Polisi yang sudah tua disembelih. Kemudian 7 orang polisi yang masih muda disiksa terlebih dahulu sebelum disembelih. Para Polisi muda itu dicincang pelan-pelan. Erangan kesakitan para Polisi muda itu disambut tawa terbahak-bahak para tentara FDR PKI.  Bagian tubuh Polisi muda itu dibuang begitu saja ke dalam jamban. Mereka menganggap Polisi muda itu hanyalah kotoran yang perlu dibuang ke jamban.


Beberapa hari setelah pembantaian para Polisi, Pasukan Divisi Siliwangi datang. Mereka menumpas semua pasukan FDR PKI. Tapi Mulyanto berhasil meloloskan diri bersama keluarganya. Ia bersembunyi di hutan dan tak pernah tertangkap.


Kejadian di Blora ini membuat bulu kudukku berdiri. Tak menyangka PKI melakukan aksi kejinya di Jawa Tengah. Semoga kejadian ini tak akan pernah terulang selamanya. Cukup sudah petualangan kaum merah di negri ini.

No comments:

Post a Comment