Mengenang Kekejian PKI
Mengenang PKI artinya mengenang sejarah kelam. Mengenang banjir darah para santri, ulama, dan kaum muslimin. Mengenang kekejian sesama anak bangsa yang durjana. Sungguh luka itu sangat dalam dan tak mungkin terlupakan. Ada rongga retak yang tak mungkin pulih seperti semula.
Mengenang PKI artinya mengenang kisah-kisah pilu para syuhada di masa lalu. Mengajakku masuk ke lorong waktu untuk mengikuti kisah KH Ahmad Sahal dan KH Imam Zarkasyi pendiri Ponpes Gontor Ponorogo ketika melarikan diri ke Trenggalek. Tapi akhirnya rombongan sebanyak 70 santri itu tertawan PKI. Mereka disekap dan disiksa dalam satu ruangan berukuran 4x4 m. Saking sempitnya ruangan itu, mereka hanya bisa berdiri.
Atau kisah Gorang-Gareng yang membuat bulu kuduk merinding. Sebanyak 200 santri diberondong tembakan di sebuah pabrik gula. Darah membanjiri ruangan itu hingga setumit.
Kisah pembantaian KH Hamid Dimyathi beserta 14 santrinya di Wonogiri membuatku bergidik. Aktifis Partai Masyumi itu harus meregang nyawa oleh celurit PKI.
Ada satu kisah yang baru kuketahui yaitu kisah Kutil dari Tegal. Dia kader komunis yang sangat militan dan bengis. Dia sudah memimpin pemberontakan PKI di tahun 1926. Kemudian berontak lagi pasca kemerdekaan. Dia membantai ulama, santri, Lurah, camat, wedana, Bupati area Tegal, Brebes, Pekalongan.
Si Kutil buruk rupa terkenal sangat sadis. Siapapun yang berani menentangnya maka akan disembelih. Sungguh sangat mengerikan membaca perjalanan berdarah-darah Si Kutil Lenggaong Tegal. Dia mencincang opsir kereta api. Menyembelih Suparto selaku camat Adiwerna. Memecah kepala siapapun yang menentangnya. Serta mempermalukan RA Kardinah selaku ibu angkat Raden Sunaryo Bupati Tegal. RA Kardinah ini kakaknya RA Kartini.
Ada juga kisah pembantaian dan pemerkosaan Kesultanan Langkat di Sumatra Utara. Seluruh anggota keluarga kesultanan dibantai, termasuk Amir Hamzah sang putra mahkota. Amir Hamzah terkenal sebagai penyair di masanya.
Dan yang membuatku takjub adalah keberanian para tentara pelajar di Madiun. Mereka gigih melawan tentara FDR PKI ataupaun para warok Ponorogo. Meskipun secara persenjataan mereka kalah, tapi mereka tak mau takluk kepada Republik Soviet bentukan Muso. Para tentara pelajar yang masih belia itu rela bertarung hingga titik darah pemghabisan. Mereka gugur dengan gagah berani.
Jangan kau tanyakan keberanian Hizbullah. Pasukan Hizbullah yang berisi para santri maju gagah berani. Bersama dengan pasukan Divisi Siliwangi, mereka bertempur melawan pasukan PKI.
Teriakan takbir pasukan Hizbullah membuat bergetar siapapun yang mendengarnya. Terasa sekali mereka pasukan berani mati. Mereka membela kemuliaan para ulama, santri, serta seluruh penduduk negri. Mereka berusaha menjaga kedaulatan negri ini dengan tetesan darah dan air mata. Sebuah perjuangan riil, tak sekedar slogan yang mengaku paling NKRI.
Sumber : Widi Astuti

No comments:
Post a Comment