15 September 2026

KARIJOPAWIRO — PEMUDA JAWA 17 TAHUN DARI YOGYAKARTA YANG MENINGGALKAN TANAH KELAHIRANNYA MENUJU SURINAME Bayangkan seorang pemuda berusia 17 tahun berdiri di hadapan kamera dengan wajah serius. Ia masih sangat muda. Namun, tak lama setelah foto itu dibuat, ia harus meninggalkan tanah kelahirannya dan menempuh perjalanan jauh melintasi lautan menuju sebuah negeri yang mungkin belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Namanya Karijopawiro. Foto dan kartu arsip kolonial mencatat bahwa pada 24 September 1928, pemuda asal Yogyakarta ini berangkat dari Batavia menuju Paramaribo, Suriname, dengan kapal uap SS Buitenzorg IV. Di balik selembar foto tua itu, ternyata tersimpan kisah panjang tentang seorang pemuda Jawa yang menjadi bagian dari sejarah diaspora orang Jawa di Suriname. MASIH 17 TAHUN KETIKA MENINGGALKAN JAWA Menurut kartu arsip, Karijopawiro berjenis kelamin laki-laki, berusia 17 tahun, memiliki tinggi badan sekitar 156 cm, dan beragama Islam. Ia tercatat lahir di Nederlands-Indië (Hindia Belanda) dan berasal dari wilayah Djokjakarta (Yogyakarta), tepatnya: Distrik Sleman — Desa Namboengan. Arsip juga mencatat sebuah tanda pengenal pada dirinya, yaitu bercak pigmentasi di pipi kiri. Catatan kecil seperti ini dibuat untuk membantu mengidentifikasi seseorang dalam administrasi kolonial. Nama ayahnya tercatat: Sarindi. Hari ini, mungkin hanya sedikit orang yang mengenal nama Karijopawiro. Namun, kartu arsip tersebut membuat jejak kehidupannya kembali muncul setelah puluhan tahun berlalu. 24 SEPTEMBER 1928 — BERANGKAT DARI BATAVIA Tanggal 24 September 1928 menjadi salah satu tanggal penting dalam perjalanan hidupnya. Karijopawiro meninggalkan Batavia dengan kapal uap SS Buitenzorg IV, menuju Paramaribo, Suriname. Perjalanan itu bukan perjalanan biasa. Ia berarti meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan kehidupan yang selama ini dikenalnya di Jawa untuk menuju negeri yang jaraknya ribuan kilometer. Bagi seorang pemuda yang baru berusia 17 tahun, perjalanan tersebut tentu menjadi sebuah babak baru yang sangat besar dalam hidupnya. Dan mungkin, saat kapal mulai menjauh dari tanah Jawa, ia tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang akan menantinya di Suriname. MENJADI PEKERJA KONTRAK DI SURINAME Setelah tiba di Suriname, Karijopawiro tercatat ditempatkan untuk bekerja di Marienburg & Zoelen. Dalam kartu arsip tercantum keterangan: Pl. Marienburg en Zoelen Untuk: Koloniaal Gouvernement Kode kontrak: AF2240 Arsip juga mencatat bahwa kontraknya dimulai pada 11 November 1928 dan berakhir pada 11 November 1933. Artinya, Karijopawiro menjalani masa kontrak selama sekitar lima tahun. Di usia yang masih sangat muda, kehidupannya kemudian terikat dengan dunia kerja perkebunan di Suriname. DARI SLEMAN KE TANAH YANG JAUH Yang membuat kisah Karijopawiro terasa begitu menyentuh adalah asal-usulnya. Ia bukan berasal dari kota besar. Arsip mencatatnya berasal dari wilayah Sleman, Yogyakarta. Dari sebuah desa di Jawa, ia kemudian menyeberangi lautan menuju Suriname. Perjalanan seperti inilah yang kemudian membentuk sejarah panjang diaspora Jawa di Suriname. Ribuan orang Jawa dari Hindia Belanda pernah melakukan perjalanan serupa. Mereka membawa nama, bahasa, adat, agama, dan kenangan tentang tanah Jawa ke negeri yang sangat jauh. Karijopawiro adalah salah satu nama yang jejaknya masih dapat ditemukan melalui arsip. SEBUAH CATATAN NAMA PADA 1953 Ada pula catatan menarik dalam kartu arsipnya. Pada bagian Naamsgegevens (Data Nama) tercatat bahwa pada 20 November 1953 terdapat pencatatan mengenai pemilihan atau penetapan nama keluarga dan nama depan. Nama keluarga yang tercatat adalah Karijopawiro, sedangkan nama depan yang disebut adalah Sarindi. Nama Sarindi juga merupakan nama ayah Karijopawiro yang tercatat dalam kartu. Catatan ini menunjukkan bahwa perjalanan hidupnya tidak berhenti ketika masa kontraknya berakhir pada 1933. Jejak administrasinya masih tercatat hingga puluhan tahun kemudian. Namun, untuk memahami secara pasti konteks perubahan atau penetapan nama tersebut, diperlukan pembacaan lebih lengkap terhadap register dan dokumen arsip terkait. FOTO NOMOR 173 Dalam foto, Karijopawiro terlihat menghadap kamera dengan pakaian sederhana dan ekspresi wajah yang serius. Di bagian depan tubuhnya tampak sebuah papan dengan angka: 173 Angka tersebut merupakan nomor yang terlihat pada foto, sementara kartu arsip mencantumkan nomor monster 215. Detail-detail kecil seperti nomor foto, nama ayah, tanda pengenal di wajah, asal desa, hingga tanggal keberangkatan menjadi bagian penting dalam membantu kita mengenali siapa sosok di balik foto tersebut. Sebab, tanpa catatan-catatan itu, mungkin wajah Karijopawiro hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak foto lama tanpa nama. SELEMBAR FOTO, SEBUAH PERJALANAN HIDUP Kini, hampir satu abad telah berlalu sejak Karijopawiro meninggalkan Jawa. Ia berangkat ketika usianya baru 17 tahun. Kita tidak tahu persis apa yang ia rasakan ketika meninggalkan tanah kelahirannya. Apakah ia menangis ketika berpisah dengan keluarga? Apakah ia sempat memandang kembali tanah Jawa dari atas kapal? Apakah ia pernah membayangkan akan kembali pulang? Arsip tidak selalu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Tetapi satu hal yang bisa kita lihat hari ini adalah jejak perjalanannya. Dari Sleman, Yogyakarta, menuju Batavia, lalu menyeberangi lautan hingga Paramaribo, Suriname. Seorang pemuda Jawa berusia 17 tahun yang mungkin dahulu hanya dianggap sebagai angka dalam administrasi kolonial, kini kembali kita kenang sebagai bagian dari sejarah panjang perjalanan orang Jawa ke Suriname. Dan mungkin, foto tua ini bukan sekadar foto. Ia adalah potongan kecil dari sebuah kehidupan yang pernah benar-benar ada. Semoga kisah Karijopawiro dan orang-orang Jawa lainnya yang menjalani perjalanan serupa tidak hilang ditelan zaman. Al-Fatihah untuk mereka yang telah mendahului kita. Sumber: Nationaal Archief, berdasarkan kartu arsip kolonial dan foto yang ditampilkan. Catatan: Ejaan nama, tempat, dan istilah administratif mengikuti dokumen arsip. Beberapa istilah administrasi, termasuk CVO, memerlukan konteks dokumen tambahan untuk memastikan kepanjangannya. Foto diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah. 📌 Catatan: arsip asli dan foto hitam putih dapat dilihat di kolom komentar. #SejarahIndonesia #SejarahJawa #Suriname #JawaSuriname #DiasporaJawa #PekerjaKontrak #HindiaBelanda #Paramaribo #Batavia #Djokjakarta #Yogyakarta #Sleman #DuniaSejarah #SejarahKolonial #KangAjatajat

 KARIJOPAWIRO — PEMUDA JAWA 17 TAHUN DARI YOGYAKARTA YANG MENINGGALKAN TANAH KELAHIRANNYA MENUJU SURINAME



Bayangkan seorang pemuda berusia 17 tahun berdiri di hadapan kamera dengan wajah serius.


Ia masih sangat muda. Namun, tak lama setelah foto itu dibuat, ia harus meninggalkan tanah kelahirannya dan menempuh perjalanan jauh melintasi lautan menuju sebuah negeri yang mungkin belum pernah ia bayangkan sebelumnya.


Namanya Karijopawiro.


Foto dan kartu arsip kolonial mencatat bahwa pada 24 September 1928, pemuda asal Yogyakarta ini berangkat dari Batavia menuju Paramaribo, Suriname, dengan kapal uap SS Buitenzorg IV.


Di balik selembar foto tua itu, ternyata tersimpan kisah panjang tentang seorang pemuda Jawa yang menjadi bagian dari sejarah diaspora orang Jawa di Suriname.


MASIH 17 TAHUN KETIKA MENINGGALKAN JAWA


Menurut kartu arsip, Karijopawiro berjenis kelamin laki-laki, berusia 17 tahun, memiliki tinggi badan sekitar 156 cm, dan beragama Islam.


Ia tercatat lahir di Nederlands-Indië (Hindia Belanda) dan berasal dari wilayah Djokjakarta (Yogyakarta), tepatnya:


Distrik Sleman — Desa Namboengan.


Arsip juga mencatat sebuah tanda pengenal pada dirinya, yaitu bercak pigmentasi di pipi kiri. Catatan kecil seperti ini dibuat untuk membantu mengidentifikasi seseorang dalam administrasi kolonial.


Nama ayahnya tercatat:


Sarindi.


Hari ini, mungkin hanya sedikit orang yang mengenal nama Karijopawiro. Namun, kartu arsip tersebut membuat jejak kehidupannya kembali muncul setelah puluhan tahun berlalu.


24 SEPTEMBER 1928 — BERANGKAT DARI BATAVIA


Tanggal 24 September 1928 menjadi salah satu tanggal penting dalam perjalanan hidupnya.


Karijopawiro meninggalkan Batavia dengan kapal uap SS Buitenzorg IV, menuju Paramaribo, Suriname.


Perjalanan itu bukan perjalanan biasa.


Ia berarti meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan kehidupan yang selama ini dikenalnya di Jawa untuk menuju negeri yang jaraknya ribuan kilometer.


Bagi seorang pemuda yang baru berusia 17 tahun, perjalanan tersebut tentu menjadi sebuah babak baru yang sangat besar dalam hidupnya.


Dan mungkin, saat kapal mulai menjauh dari tanah Jawa, ia tidak pernah tahu seperti apa kehidupan yang akan menantinya di Suriname.


MENJADI PEKERJA KONTRAK DI SURINAME


Setelah tiba di Suriname, Karijopawiro tercatat ditempatkan untuk bekerja di Marienburg & Zoelen.


Dalam kartu arsip tercantum keterangan:


Pl. Marienburg en Zoelen

Untuk: Koloniaal Gouvernement

Kode kontrak: AF2240


Arsip juga mencatat bahwa kontraknya dimulai pada 11 November 1928 dan berakhir pada 11 November 1933.


Artinya, Karijopawiro menjalani masa kontrak selama sekitar lima tahun.


Di usia yang masih sangat muda, kehidupannya kemudian terikat dengan dunia kerja perkebunan di Suriname.


DARI SLEMAN KE TANAH YANG JAUH


Yang membuat kisah Karijopawiro terasa begitu menyentuh adalah asal-usulnya.


Ia bukan berasal dari kota besar. Arsip mencatatnya berasal dari wilayah Sleman, Yogyakarta.


Dari sebuah desa di Jawa, ia kemudian menyeberangi lautan menuju Suriname.


Perjalanan seperti inilah yang kemudian membentuk sejarah panjang diaspora Jawa di Suriname.


Ribuan orang Jawa dari Hindia Belanda pernah melakukan perjalanan serupa. Mereka membawa nama, bahasa, adat, agama, dan kenangan tentang tanah Jawa ke negeri yang sangat jauh.


Karijopawiro adalah salah satu nama yang jejaknya masih dapat ditemukan melalui arsip.


SEBUAH CATATAN NAMA PADA 1953


Ada pula catatan menarik dalam kartu arsipnya.


Pada bagian Naamsgegevens (Data Nama) tercatat bahwa pada 20 November 1953 terdapat pencatatan mengenai pemilihan atau penetapan nama keluarga dan nama depan.


Nama keluarga yang tercatat adalah Karijopawiro, sedangkan nama depan yang disebut adalah Sarindi.


Nama Sarindi juga merupakan nama ayah Karijopawiro yang tercatat dalam kartu.


Catatan ini menunjukkan bahwa perjalanan hidupnya tidak berhenti ketika masa kontraknya berakhir pada 1933. Jejak administrasinya masih tercatat hingga puluhan tahun kemudian.


Namun, untuk memahami secara pasti konteks perubahan atau penetapan nama tersebut, diperlukan pembacaan lebih lengkap terhadap register dan dokumen arsip terkait.


FOTO NOMOR 173


Dalam foto, Karijopawiro terlihat menghadap kamera dengan pakaian sederhana dan ekspresi wajah yang serius.


Di bagian depan tubuhnya tampak sebuah papan dengan angka:


173


Angka tersebut merupakan nomor yang terlihat pada foto, sementara kartu arsip mencantumkan nomor monster 215.


Detail-detail kecil seperti nomor foto, nama ayah, tanda pengenal di wajah, asal desa, hingga tanggal keberangkatan menjadi bagian penting dalam membantu kita mengenali siapa sosok di balik foto tersebut.


Sebab, tanpa catatan-catatan itu, mungkin wajah Karijopawiro hanya akan menjadi salah satu dari sekian banyak foto lama tanpa nama.


SELEMBAR FOTO, SEBUAH PERJALANAN HIDUP


Kini, hampir satu abad telah berlalu sejak Karijopawiro meninggalkan Jawa.


Ia berangkat ketika usianya baru 17 tahun.


Kita tidak tahu persis apa yang ia rasakan ketika meninggalkan tanah kelahirannya. Apakah ia menangis ketika berpisah dengan keluarga? Apakah ia sempat memandang kembali tanah Jawa dari atas kapal? Apakah ia pernah membayangkan akan kembali pulang?


Arsip tidak selalu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu.


Tetapi satu hal yang bisa kita lihat hari ini adalah jejak perjalanannya.


Dari Sleman, Yogyakarta, menuju Batavia, lalu menyeberangi lautan hingga Paramaribo, Suriname.


Seorang pemuda Jawa berusia 17 tahun yang mungkin dahulu hanya dianggap sebagai angka dalam administrasi kolonial, kini kembali kita kenang sebagai bagian dari sejarah panjang perjalanan orang Jawa ke Suriname.


Dan mungkin, foto tua ini bukan sekadar foto.


Ia adalah potongan kecil dari sebuah kehidupan yang pernah benar-benar ada.


Semoga kisah Karijopawiro dan orang-orang Jawa lainnya yang menjalani perjalanan serupa tidak hilang ditelan zaman.


Al-Fatihah untuk mereka yang telah mendahului kita.


Sumber: 

Nationaal Archief, berdasarkan kartu arsip kolonial dan foto yang ditampilkan.

Catatan: Ejaan nama, tempat, dan istilah administratif mengikuti dokumen arsip. Beberapa istilah administrasi, termasuk CVO, memerlukan konteks dokumen tambahan untuk memastikan kepanjangannya.


Foto diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah.


📌 Catatan:

arsip asli dan foto hitam putih dapat dilihat di kolom komentar.


#SejarahIndonesia #SejarahJawa #Suriname #JawaSuriname #DiasporaJawa #PekerjaKontrak #HindiaBelanda #Paramaribo #Batavia #Djokjakarta #Yogyakarta #Sleman #DuniaSejarah #SejarahKolonial #KangAjatajat

No comments:

Post a Comment