Takbir 1965 Yang Tidak Pernah Diajarkan Di Sekolah.
Malam itu, Jakarta tidak tidur.
Di sebuah ruangan sunyi di Istana, seorang lelaki tua dengan suara bergetar memandang para pengawalnya. Namanya Soekarno. Proklamator. Presiden seumur hidup. Tapi malam itu, ia bukan singa podium. Ia adalah seorang ayah yang ketakutan kehilangan anak-anaknya sendiri: Angkatan Darat.
"Jemput mereka," bisiknya lirih. "Bawa mereka kemari. Hidup-hidup."
Perintah itu bukan perintah perang. Menurut Guru Besar Universitas Pertahanan, Profesor Salim Said, itulah awal dari tragedi paling kelam Indonesia: rencana penculikan itu ternyata berasal dari Bung Karno sendiri.
Tujuannya? Bukan untuk membunuh. Soekarno hanya ingin para jenderal itu tampil di istana, berdiri di sampingnya, menunjukkan kepada dunia bahwa mereka masih setia kepada presiden.
Tapi... siapa yang mengubah rencana "jemput" menjadi "bunuh"?
Di sinilah ceritanya menjadi gelap.
Pasukan Cakrabirawa bergerak di tengah malam buta 30 September. Yang terjadi kemudian bukanlah penjemuran di istana, melainkan lubang buaya yang berlumuran darah. Tujuh jenderal tewas.
Soekarno, kata Salim Said, tidak pernah memerintahkan pembunuhan itu.
Lalu siapa yang berkhianat? Siapa yang membelokkan perintah presiden menjadi pembantaian?
Salim Said, yang saat itu adalah mahasiswa UI tahun 1966, menyaksikan semuanya dari jalanan. Ia justru melihat sosok lain muncul dari kekacauan: Pak Harto, Sarwo Edhie Wibowo, dan para jenderal yang selamat.
Mereka disebut juru selamat.
Tapi tunggu. Mengapa Soekarno sampai nekat menculik jenderalnya sendiri?
Jawabannya adalah sebuah permainan catur yang mematikan: balance of power.
Menjelang kejatuhannya, Soekarno sadar ia tidak punya apa-apa. Ia tidak punya partai politik yang terorganisir. Angkatan Darat semakin kuat, semakin menentukan, semakin jauh darinya. TNI yang dulu sejarahnya begitu dekat dengan Soekarno, kini terpecah-belah. Dikacaukan. Ada "Macan Gadungan" yang memecah barisan.
Dalam keputusasaan, Soekarno melakukan langkah paling berbahaya dalam hidupnya: ia memakai PKI untuk mengimbangi Angkatan Darat.
Ia menciptakan dua macan untuk saling menerkam, berharap ia bisa tetap menjadi pawangnya.
Tapi ia lupa satu hal: ketika dua macan dilepas di ruangan yang sama...
...yang pertama diterkam adalah sang pawang.
Dan kini, puluhan tahun kemudian, satu pertanyaan masih menggantung dan belum terjawab:
Jika Soekarno hanya memerintahkan penculikan, dan bukan pembunuhan... lalu siapa sebenarnya yang memberi perintah untuk menembak di malam itu?
Sumber : Yudi Bragas Adi Luhur

