25 September 2026

 Sejarah yang ga boleh dilupakan



Pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, Jakarta diselimuti kabut ketidakpastian yang sangat mencekam. Enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI Angkatan Darat diculik oleh kelompok yang menamakan diri  mereka Gerakan 30 September (G30S).


Di tengah kekacauan itu, seorang putra terbaik asal Sumedang, Jawa Barat, memegang tanggung jawab paling berat di ibu kota. Beliau adalah Mayor Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah, Panglima Kodam V/Jaya (Pangdam Jaya)


Ketegangan mencapai puncaknya siang itu. Sebuah perintah langsung datang dari Presiden Soekarno. Bung Karno memanggil Jenderal Umar untuk segera menghadap ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.


Bagi seorang prajurit, perintah Panglima Tertinggi adalah hukum yang absolut. Namun, situasi saat itu sangat tidak biasa. Kawasan Halim justru terindikasi kuat menjadi pusat  berkumpulnya para gembong dan pasukan penculik G30S.


Melihat potensi bahaya dan jebakan maut tersebut, Mayjen Soeharto melarang keras Umar untuk pergi. Soeharto khawatir pemanggilan itu merupakan taktik untuk melenyapkan sisa pimpinan Angkatan Darat yang masih hidup.


Di sinilah nyali baja sang Jenderal Sunda diuji. Berada di persimpangan jalan sejarah, Umar Wirahadikusumah mengambil keputusan krusial. Beliau memilih setia pada soliditas Angkatan Darat dan keselamatan ibu kota. Umari mematuhi arahan Soeharto dan secara tegas menolak untuk memenuhi panggilan Bung Karno ke Halim.


Soeharto kemudian menyampaikan pesan kepada utusan istana: "Sampaikan pada Bapak Presiden, mohon maaf, Pangdam V Jaya tidak dapat menghadap. Harap semua instruksi untuk AD disampaikan melalui saya."


Penolakan berani ini sempat membuat Bung Karno berang. Namun, langkah taktis Umar terbukti menyelamatkan Jakarta dari kekosongan komando. Bersama Soeharto, Umar mengonsolidasikan pasukan, memberlakukan jam malam, membredel media propaganda musuh dan melumpuhkan gerakan G30S hingga situasi ibu kota kembali kondusif.


Ketegasan, kejujuran, dan kesetiaannya di malam jahanam itu membawanya pada puncak karier militer hingga nantinya dipercaya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-4.


Sumber : Yudi Bragas Adi Luhur

No comments:

Post a Comment