GELAR HAJI ADALAH GELAR PAHLAWAN YANG INGIN DIHAPUS PKI
Gelar Haji di Indonesia bukan gelar wisata religi. Ia adalah gelar pahlawan yang dipaksakan Belanda kepada pribumi karena belanda takut terhadap pergerakan Islam Nusantara pada saat itu.
Perang Jawa 1825-1830 Perang Diponegoro mengajarkan Belanda bahwa yang paling berbahaya bukan keraton, tapi jaringan kyai pulang haji. Perang Aceh 1873-1904 mengulanginya dengan Cut Nyak Dhien, singa betina yang memimpin gerilya belasan tahun. Diponegoro dan Cut Nyak Dhien sendiri tidak pernah dipanggil Haji, karena gelar itu belum ada.
Selain itu belanda menghadapi perang Banjar 1859-1906 Pangeran Antasari. Kemudian perang Batak 1878-1907 Sisingamangaraja XII. Perang Bali Puputan 1846-1908 I Gusti Jelantik. Perang Lombok 1894, Jambi, Bone.
Setelah sekitar 1908-1910, model perlawanan pribumi berubah. Karena perang fisik selalu kalah persenjataan, para tokoh beralih ke pergerakan organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PNI dan lain sebagainya.
Setelah 1859 saat diterbitkan sertifikat haji dan Staatsblad 1903, atas saran Snouck Hurgronje diwajibkan lewat Ordonansi Haji 1916 bahwa setiap pribumi pulang dari Mekkah WAJIB pakai gelar Haji. Tujuannya pendataan. Siapa bergelar Haji dianggap berbahaya, ruang geraknya dibatasi, karena ia berilmu, berharta, punya jaringan dan wibawa massa. Dengan kata lain, yang mampu haji adalah garis perjuangan Diponegoro dan Cut Nyak Dhien.
Pada tahun yang sama 1916 dijawab santri dengan Yalal Wathon karya KH Wahab Hasbullah, Hubbul Wathon Minal Iman. Kemudian dipopulerkan kembali 1923-1924. Stigma diubah jadi kebanggaan. 8 Desember 1944 lahir Laskar Hizbullah di Cibarusah, Tentara Allah dengan komando spiritual KH Hasyim Asy'ari. Isinya kyai-kyai haji dan santri. Mereka yang turun di Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 dan Surabaya 10 November 1945, lalu dilebur jadi TKR 5 Oktober 1945, TRI 1946, dan TNI 3 Juni 1947.
Setelah itu sebagian lanjut jadi TNI, sebagian kembali jadi kyai, petani, pedagang. Tapi garisnya lurus: dari keris Diponegoro, rencong Cut Nyak Dhien, label Haji 1916, lagu Yalal Wathon 1916, Hizbullah 1944, hingga TNI 1947.
Diantara para tokoh yang diberi gelar Haji oleh belanda karna membahayakan adalah :
1. H. O. S. Cokroaminoto — pahlawan nasional Indonesia. Setelah bergelar haji, nama Tjokroaminoto sering dipanggil dengan nama H.O.S (Haji Oemar Said) Tjokroaminoto
2. Haji Agus Salim — pahlawan nasional Indonesia, ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961, diplomat ulung, Menteri Luar Negeri
3. Kiai Haji Ahmad Dahlan — pendiri Muhammadiyah, Pahlawan Nasional 27 Desember 1961
4. Haji Samanhudi — pendiri Sarekat Dagang Islam 1905
5. Haji Misbach — tokoh Sarekat Islam
6. KH Hasyim Asy'ari — pendiri NU 1926, Rais Akbar Hizbullah 1944
7. KH Wahab Hasbullah — pencipta Yalal Wathon 1916, jawaban atas ordonansi Haji
8. KH Wahid Hasyim — putra KH Hasyim Asy'ari, Menteri Agama pertama
9. KH Mas Mansur — Anggota BPUPKI
10. Hajjah Rangkayo Rasuna Said (1910-1965)
11. Hajjah Siti Walidah / Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946)
12. Hajjah Rohana Kudus / Roehana Koeddoes (1884-1972) Wartawati pertama Indonesia, pendiri sekolah Kerajinan Amai Setia, Pahlawan Nasional 2019.
13. Hajjah Opu Daeng Risaju (1880-1964) Tokoh Sarekat Islam di Luwu, Sulawesi, melawan Belanda sampai dipenjara.
14. Hajjah Siti Hartinah / Siti Munjiyah dan generasi Aisyiyah Anak-didik Nyai Ahmad Dahlan yang juga bergelar Hajah setelah haji, penggerak pendidikan perempuan Islam 1920-1930an.
Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pasca kemerdekaan, gelar Haji yang dulu ditakuti penjajah belanda menjadi sangat diagungkan rakyat. Karena yang bergelar Haji/ Hajjah adalah panglima nyata di lapangan.
Di sinilah perlawanan baru muncul. Pasca kemerdekaan, PKI melihat gelar Haji sebagai penghalang terbesar. Selama rakyat masih hormat pada Pak Haji, Bu Hajjah, rakyat akan ikut ulama, ikut pesantren, ikut garis perjuangan. Maka gelar Haji harus digikis.
Caranya sistematis. Orang-orang santri yang bergelar Haji diejek sebagai kaum borjuis, tuan tanah, anti rakyat. Simbol-simbol haji direndahkan, kisah perjuangan kyai haji dianggap dongeng feodal. Tujuannya satu: agar pribumi, terutama yang simpatisan PKI, menganggap remeh garis perjuangan orang-orang yang sudah haji sebagai pahlawan.
Jika derajat Haji bisa diturunkan, maka derajat ulama runtuh. Jika derajat ulama runtuh, maka benteng terakhir yang menjaga umat dari paham komunis juga runtuh. Itulah mengapa serangan PKI selalu pertama kali menyasar kyai haji dan pesantren, dari peristiwa 1948 sampai 1965.
Maka hari ini ketika ada yang meremehkan gelar Kyai Haji/ Nyai Hajjah, ingatlah, itu bukan budaya kita. Budaya kita memuliakan Haji karena Haji adalah pahlawan. Gelar yang diciptakan Belanda untuk mengawasi, dipertahankan santri untuk berjuang, dan ingin dihapus PKI untuk menguasai, dan sekarang dikuti oleh orang-orang yang tidak mengenal sejarah.
.
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #tokohkedirijadul #sejarahgelarhaji #gelarhaji
#G30S #G30SPKI #GESTAPU #sejarahPKI
#kotakedirijadul #kotalamakediri #kedirijawa #sejarahkedirijadul #wilayahkotakediri #kedirijamanpenjajahan #wisatakediri #alonalonkedirijadul
#wisatakotakediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamanbelanda #kedirijadul #lavanatrans #fotojadulkediri #pecintasejarahkediri #peninggalansejarahkediri #kedirijamandulu #sejarahkediri #kediritempodulu #kediritempoedoeloe
#sejarahislam #sejarahislamnusantara #islamnusantara

No comments:
Post a Comment