BOK AMATMOENADI — PEREMPUAN JAWA ASAL PURWOREJO YANG BERANGKAT KE SURINAME PADA 1928
📸 Nomor foto arsip: 79
Di balik sebuah foto lama, tersimpan kisah perjalanan seorang perempuan Jawa bernama Bok Amatmoenadi.
Pada tahun 1928, ketika usianya baru 18 tahun, ia meninggalkan tanah Jawa dan berangkat menuju Suriname. Perjalanan itu dimulai dari Batavia pada 24 September 1928, dengan menumpang kapal uap SS Buitenzorg IV.
Bok Amatmoenadi tercatat berasal dari Soetjen, Distrik Poerworedjo, Afdeling Poerworedjo, Karesidenan Bagelen. Dalam arsip kolonial, ia tercatat sebagai perempuan dengan tinggi badan 145 cm, beragama Islam, serta memiliki tanda pengenal berupa tanda atau tulisan kecil di belakang telinga kiri.
Tujuannya adalah Paramaribo, Suriname, dan setelah tiba ia ditempatkan di Plantage Marienburg en Zoelen. Kontrak kerjanya tercatat mulai 11 November 1928 hingga 11 November 1933, dengan kode kontrak AF2085. Pengelolanya tercatat sebagai Agenten der NHM, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
Namun, perjalanan Bok Amatmoenadi ternyata bukan sekadar catatan tentang keberangkatan seorang pekerja kontrak.
KISAH KELUARGANYA DI SURINAME
Dalam catatan keluarga sebelum kedatangan, Bok Amatmoenadi disebut sebagai “Vrouw van 2084/AF”, atau istri dari pemegang kontrak tersebut.
Pada catatan keluarga lainnya, muncul keterangan berbeda, yaitu “Vrouw van 919/AB”. Perbedaan nomor pasangan ini dicatat sebagaimana tertulis dalam arsip asli.
Dari kehidupan keluarganya di Suriname, tercatat seorang anak bernama Riboet, yang lahir pada 19 Desember 1931 di Plantage Marienburg.
Tetapi kisah kecil itu berakhir begitu cepat.
Riboet tercatat meninggal pada 19 Maret 1932, ketika usianya baru sekitar tiga bulan.
Sebuah nama yang mungkin hanya muncul dalam beberapa baris arsip, tetapi pernah menjadi seorang anak yang lahir, hidup, dan kemudian meninggalkan jejak dalam sejarah keluarga Jawa di Suriname.
PERUBAHAN NAMA
Arsip juga mencatat perubahan identitas Bok Amatmoenadi.
Pada 20 Juli 1951, ia memilih menggunakan:
• Nama keluarga: Amatmoenadi
• Nama depan: Ponikem
Perubahan tersebut juga dirujuk dalam dokumen N.V. tanggal 26 Juli 1950 No. 379.
JEJAK ADMINISTRASI
Beberapa catatan administratif yang masih tersimpan antara lain:
• Terdaftar: 30 Januari 1935
• Dikeluarkan dari daftar: 10 Mei 1935
• Terdaftar kembali: 18 Mei 1937
• Dikeluarkan kembali: 27 September 1937
• Bukti identitas diterbitkan: 7 Juni 1945
• Berdasarkan akta DC Paramaribo: 29 Maret 1946
• Rujukan keputusan pemerintah: GR 25 April 1946 No. 1268
• Premi tercatat diterima pada 10 Mei 1946
Arsip juga mencatat keterangan “Premie ontvangen uit Kr. Imm. Verord.”, yang menunjukkan penerimaan premi berdasarkan ketentuan administrasi imigrasi yang berlaku di Suriname pada masa itu.
Tidak diketahui kapal yang digunakan Bok Amatmoenadi untuk kembali ke Jawa, sehingga perjalanan pulangnya masih menjadi bagian yang belum terungkap dari kisah hidupnya.
Yang tersisa hari ini adalah sebuah foto, beberapa lembar catatan administrasi, nama seorang perempuan muda, dan jejak kehidupan keluarganya di negeri yang berjarak ribuan kilometer dari tanah kelahirannya.
Bok Amatmoenadi—perempuan Jawa dari Soetjen, Purworejo, yang pada usia 18 tahun menyeberangi lautan menuju Suriname.
Foto ini menjadi pengingat bahwa sejarah diaspora Jawa tidak hanya berbicara tentang kapal dan angka-angka kontrak, tetapi juga tentang manusia, keluarga, kelahiran, kehilangan, dan kehidupan yang mereka bangun jauh dari tanah leluhur.
📚 Sumber referensi:
•Posting FB : Dunia Sejarah
•Nationaal Archief
📸 Foto telah diwarnai dan direstorasi untuk tujuan edukasi sejarah.
🗂️ Catatan asli arsip dan foto asli hitam-putih akan saya tampilkan di kolom komentar.
Jika ada pembaca yang memiliki informasi tambahan mengenai Bok Amatmoenadi/Ponikem, silakan berbagi di kolom komentar agar kisah ini dapat dilengkapi bersama.
#SejarahIndonesia #SejarahJawa #Suriname #PekerjaKontrak #KuliKontrak #DiasporaJawa #HindiaBelanda #Batavia #Paramaribo #Purworejo #SejarahNusantara

No comments:
Post a Comment