BUSET DAH! PRAJURIT JAGA KECEPLOSAN MANGGIL 'MITRO' KE JENDERAL PALING GALAK, BUKANNYA DIBUI MALAH DISAWER DUIT!
Catatan humor Jani Sari II
Baru saja Surjadi Soedirdja menghirup udara segar Sukabumi sebagai Komandan Batalyon Infanteri 310/Kidang Kancana, takdir rupanya keburu memanggil ke ibukota. Urusan Jakarta memang selalu bikin repot. Belum juga lama duduk di kursi komandan, ia sudah ditarik ke Korps Markas Hankam buat jaga-jaga objek vital dan para VVIP yang nyawanya sangat dijaga.
Jadilah Surjadi bermukim di rumah dinas Komplek Hankam Slipi, di bawah komando Brigjen TNI Herman Sarens Sudiro. Anak istrinya? Terpaksa ditinggal di Komplek PPI Bandung, urusan sekolah anak tak bisa diajak kompromi. Sesekali saja sang istri menyusul ke Jakarta.
Nah, di tengah rutinitas menjaga jantung negara ini, meletuslah satu lakon yang lucunya bukan main.
Syahdan, pada suatu malam yang sepi, telepon di Markas Hankam berdering. Di ujung kabel, sebuah suara berat menyapa, "Halo, Sumitro di sini..." Buat orang yang waras dan tahu peta kekuatan, nama ini cukup bikin lutut gemetar. Jenderal Soemitro, sang Pangkopkamtib! Galak dan tegasnya tersohor dari Sabang sampai Merauke. Tapi apa lacur, prajurit jaga malam itu rupanya lagi khilaf atau memang kelewat polos.
Dengan gaya luwes macam kawan lama yang lagi nongkrong di warung kopi, dia menyahut,
"Oh... Mitro, ngapain lu malem-malem gini nelepon?"
Bisa ditebak, kiamat kecil langsung turun malam itu juga. Jenderal Soemitro meledak amarahnya. Brigjen Herman Sarens pun kena damprat tanpa ampun. Setelah diusut pontang-panting, rupanya si prajurit yang cari penyakit itu tak lain tak bukan adalah anak buah Surjadi; seorang pemuda asal Banten yang urat takutnya mungkin sudah putus dari lahir.
Esok harinya, udara pagi Jakarta mendadak terasa lebih dingin. Herman Sarens menitahkan sang prajurit, dengan dikawal langsung oleh Dan Yon-nya, Surjadi, untuk menghadap sang jenderal. Menghadap Soemitro gara-gara urusan begini ibarat setor nyawa.
Surjadi putar otak, diwanti-wantinya si prajurit itu, "Pakai bajumu yang paling necis, dari ujung rambut sampai ujung sepatu kinclong semua! Nanti kalau menghadap, lapor dengan sikap sempurna, suara harus lantang membelah langit!"
Tibalah detik-detik yang mendebarkan itu. Begitu masuk ruangan, bukannya makian atau asbak terbang yang menyambut, Soemitro malah melempar tanya, "Kamu orang mana?"
Dengan sikap tegak lurus macam tiang bendera dan suara menggelegar, si prajurit menjawab, "Siap Jenderal, dari Banten Jenderal!"
Siapa nyana, raut muka sang jenderal yang tadinya tegang mendadak kendur. "Sama dong dengan Dan Yon dan pimpinanmu!" cetusnya santai. Alih-alih mendaratkan hukuman fisik yang sudah jadi langganan buat bikin jera bawahan yang berbuat salah, Soemitro malah dengan sabar mencontohkan bagaimana cara mengangkat telepon yang sopan dan beradab.
Dan sebagai penutup lakon yang absurd ini, sebelum Surjadi dan anak buahnya undur diri, sang jenderal malah merogoh kantong, memberikan sejumlah uang buat si prajurit. Bukannya babak belur, malah dapat rezeki nomplok. Memang, di negeri ini, nasib orang siapa yang tahu?
illustrasi foto : Mayor Suryadi Sudirja paling kiri
Jani Sari Library

No comments:
Post a Comment