Gorang-Gareng
Tahun 1948 adalah tahun suram, tahun penuh luka. Bagi orang-orang yang tinggal di daerah Madiun, Magetan, Ponorogo, Ngawi, Pacitan dll, tahun 1948 adalah tahun genangan darah. Nama Muso dan PKI menjadi nama yang paling menakutkan dan menyakitkan. Sebuah nama yang membuat terluka banyak orang.
Tahun 1948 Muso baru pulang dari pelariannya di Soviet. Muso adalah tokoh pemberontakan PKI di tahun 1926. Pasca kegagalan pemberontakan di tahun 1926, dia melarikan diri ke beberapa negara dan berakhir di Soviet. Dia telah ditempa langsung oleh Stalin. Terbiasa melihat pembantaian kaum komunis demi mewujudkan tujuannya.
Muso berniat mewujudkan Soviet Raya di negri ini. Kamerad Muso mengawali pemberontakanya di Madiun. Dan berimbas terhadap kota-kota di sekitarnya.
Peristiwa pembantaian di tahun 1948 terjadi di 24 tempat yang berbeda. Salah satunya di loji Pabrik Gula Rejosari, Gorang-Gareng Magetan Jawa Timur. Ratusan nyawa umat Islam dibantai disana.
Saat itu ada ratusan ummat Islam yang disekap di loji pabrik gula. Mereka terdiri dari ulama, santri, aktifis NU, aktifis Muhammadiyah, juga aparat pemerintahan yang berseberangan dengan PKI.
PKI mengurung ratusan orang itu dalam kondisi tangan terikat. Dan tanpa ampun memberondong tawanan itu dengan rentetan senjata. Jeritan kematian terdengar dari loji itu. Tubuh-tubuh lemah itu bertumbangan. Ada yang langsung mati. Ada pula yang masih menjerit kesakitan. Seketika ruangan itu banjir darah.
Ada 5 orang yang selamat dari pembantaian itu. Meskipun sudah sekarat, tapi mereka tetap bisa bertahan hingga diselamatkan tentara. Dari kelima orang inilah kisah pembantaian ratusan nyawa di pabrik gula Rejosari Gorang-Gareng Magetan diketahui.
Mayor Sambas Atmadiwirja dari Divisi Siliwangi menceritakan bahwa ketika pasukannya memasuki loji pabrik gula Rejosari ini, darah telah menggenang setinggi mata kaki. Bau anyir darah menyengat tajam dari dalam loji. Tumpukan mayat bergelimpangan. Sebuah pemandangan yang tak akan ia lupakan seumur hidupnya.
Woro Suradi yang rumahnya di dekat loji, mendengar suara rentetan tembakan dan jeritan dari dalam loji. Ia bergidik ngeri mendengar jeritan kematian tiada henti. Beberapa saat setelah itu, ia melihat aktifis PKI keluar dari loji sambil menenteng senjata berat.
Saat tentara Divisi Siliwangi berusaha membebaskan tawanan di loji itu, mereka hanya menemukan ratusan mayat yang darahnya masih mengalir. Pertanda baru saja dibantai.Mereka terlambat beberapa saat.
Akhirnya tentara bersama warga sekitar menguburkan mayat-mayat itu. Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk prosesi pemakamannya. Mereka menguburkan mayat-mayat itu sejak pukul 14.00 dan berakhir hingga pukul 20.00.
Mayat-mayat itu dimakamkan dalam beberapa lubang besar. Satu lubang diisi oleh puluhan jasad. Prosesi pemakaman itu diiringi isak tangis warga sekitar. Tak menyangka bahwa PKI begitu tega membantai sesama anak bangsa.
Bagi warga Magetan, peristiwa pembantaian di loji Pabrik Gula Rejosari Gorang-Gareng ini sangat familiar. Kisah ini dialami langsung oleh keluarga mereka. Dituturkan oleh keluarga korban pembantaian dari generasi ke generasi.
Sebuah kisah yang membuat bergidik ngeri bagi siapapun yang mendengarnya. Bukti nyata bahwa PKI tak berperi kemanusiaan. Tak pernah ragu untuk menumpahkan darah sesama anak bangsa demi mencapai tujuannya.
Saat ini ada sebuah monument di pabrik gula ini. Berisi daftar nama orang-orang yang dibantai PKI. Sebuah monument untuk memperingati mereka yang telah pergi akibat kekejian PKI.
Sumber : Widi Astuti

No comments:
Post a Comment