02 September 2026

BARA MERAH DI KAKI GUNUNG: AMUK RESIMEN SAMUDERA MENUMPAS PEMBELOT REPUBLIK Catatan sejarah Jani Sari II Palagan Kedu Utara: Saat Resimen Samudera dan Taruna Magelang Menyelamatkan Republik dari Pemberontakan PKI/FDR 1948 Tahun 1948. Usia Republik Indonesia ibarat bayi yang baru belajar merangkak, namun ancaman sudah mengepung dari segala penjuru. Di luar, Belanda masih mengintai dengan moncong senjata, memaksa wilayah RI semakin menyusut lewat Perjanjian Linggarjati dan Renville. Di dalam, suhu politik mendidih. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diketuk palu oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan M. Hatta pada awal tahun, membawa angin puyuh bagi laskar-laskar dan kesatuan bersenjata, tak terkecuali Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Bagi para prajurit Corps Mariniers (CM), itu adalah masa-masa penuh ketidakpastian. Komisi Reorganisasi ALRI (KRAL) sempat memutuskan untuk meniadakan Tentara Laut. Namun, darah patriot tak mudah luntur. Di Tegal, Komandan CM Pangkalan IV, R. Soehadi, mengambil langkah taktis. Ia menolak pasukannya kehilangan identitas. Bersama perwira intinya, CM meleburkan diri ke dalam Divisi III Diponegoro dan beralih rupa menjadi resimen tersendiri: Resimen Samudera. Di bawah komando Divisi III yang dipimpin Brigjen Inf. Soesalit, Resimen Samudera berdiri tegak bak benteng. Mereka membagi kekuatan tempur ke dalam empat batalyon utama: Batalyon 173 di Parakan (Letnan Hartono), Batalyon 174 di Wonosobo (Letnan M. Joenoes), Batalyon 175 di Parakan (Letnan Moekijat), Batalyon 176 di Temanggung (Letnan Soewadji), dan Batalyon 177 (Letnan Wiranto), yang kemudian disusul bergabungnya Batalyon 178 asal Juwana. Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pada September 1948, langit di timur memerah. Pemberontakan PKI/FDR pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muso meletus di Madiun. Pengaruh ideologi kiri ini merayap cepat, menyusup hingga ke barisan tentara di Jawa Tengah. Intelijen Resimen Samudera dengan cepat mengendus pergerakan gelap di wilayah pengawasan mereka: Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan. Kabar buruk itu datang bertubi-tubi. Pasukan eks-Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) di bawah Achmad Jadau yang bergabung dengan Divisi II Jateng, bermanuver. Batalyon Darsono di Temanggung dan Batalyon Machmud di Parakan membelot menjadi bagian dari pasukan pemberontak. Daerah Parakan, yang awalnya dijaga oleh Batalyon Machmud untuk mengantisipasi serbuan Belanda, kini jatuh ke tangan kiri. Ironisnya, mereka bahkan berani melucuti satu peleton dari Batalyon 175 yang tengah beristirahat selepas dinas. Pantang bagi Resimen Samudera membiarkan kawan ditikam dari belakang. Mesin perang segera dipanaskan. Letnan Wiranto memimpin Batalyon 177 bergerak cepat untuk menetralisir kekuatan Batalyon Darsono di Temanggung. Operasi ini berjalan rapi. Hanya segelintir sisa-sisa pemberontak yang lolos lari terbirit-birit ke Parakan, bergabung dengan Batalyon Machmud. Di sinilah palagan Kedu Utara menjadi saksi heroisme operasi gabungan. Resimen Samudera tidak bertempur sendirian. Bantuan datang dari arah selatan. Dari kesatriaan di lembah Tidar, pasukan TNI AD dari Magelang bergerak merangsek maju. Di antara barisan tersebut, turut angkat senjata para taruna muda dari Militer Akademi Jogja dan Sekolah Kader TNI Magelang. Para pemuda yang sehari-hari digodok di kompleks militer Magelang itu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tentara pelajar yang hanya tahu teori kelas. Bersama prajurit Resimen Samudera, mereka bahu-membahu menyapu bersih sisa-sisa pemberontak di wilayah sekitar Temanggung bagian selatan. Satu kompi di bawah pimpinan Letnan Djoeremi melakukan gebrakan maut ke Parakan. Tepat pukul 16:00, kota itu berhasil direbut kembali oleh pasukan gabungan. Sisa pemberontak kocar-kacir, meski di bawah gelap malam mereka masih mencoba melakukan represi dan sabotase ke dalam kota. Esok harinya, serangan penghabisan dilancarkan tanpa ampun. Tepat pukul 15:00, markas Batalyon Machmud jatuh sepenuhnya. Senjata dan perlengkapan dirampas, sementara para perwira stafnya tak punya pilihan lain selain mengangkat tangan menyerah. Dalam waktu tak kurang dari 10 hari, operasi sapu bersih di Parakan, Candiroto, dan Ngadirejo tuntas tanpa sisa. Operasi gilang-gemilang gabungan di Kedu Utara ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan sebuah pembuktian kesetiaan yang mendalam. Keberhasilan Resimen Samudera dan para prajurit serta taruna dari Magelang dalam meredam bara pemberontakan membuat Pemerintah Pusat di Yogyakarta terkesima. Sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa heroik tersebut, tepat pada 19 Oktober 1948, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/'48 yang menetapkan secara resmi eksistensi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL). Sebuah epik heroisme yang mematrikan nama Marinir ke dalam catatan emas sejarah Republik. referensi : "75 Tahun Korps Marinir" Koleksi Jani Sari Library

 BARA MERAH DI KAKI GUNUNG: AMUK RESIMEN SAMUDERA MENUMPAS PEMBELOT REPUBLIK


Catatan sejarah Jani Sari II


Palagan Kedu Utara: Saat Resimen Samudera dan Taruna Magelang Menyelamatkan Republik dari Pemberontakan PKI/FDR 1948



Tahun 1948. Usia Republik Indonesia ibarat bayi yang baru belajar merangkak, namun ancaman sudah mengepung dari segala penjuru. Di luar, Belanda masih mengintai dengan moncong senjata, memaksa wilayah RI semakin menyusut lewat Perjanjian Linggarjati dan Renville. Di dalam, suhu politik mendidih. Kebijakan Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) yang diketuk palu oleh Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan M. Hatta pada awal tahun, membawa angin puyuh bagi laskar-laskar dan kesatuan bersenjata, tak terkecuali Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).


Bagi para prajurit Corps Mariniers (CM), itu adalah masa-masa penuh ketidakpastian. Komisi Reorganisasi ALRI (KRAL) sempat memutuskan untuk meniadakan Tentara Laut.


Namun, darah patriot tak mudah luntur. Di Tegal, Komandan CM Pangkalan IV, R. Soehadi, mengambil langkah taktis. Ia menolak pasukannya kehilangan identitas. Bersama perwira intinya, CM meleburkan diri ke dalam Divisi III Diponegoro dan beralih rupa menjadi resimen tersendiri: Resimen Samudera.


Di bawah komando Divisi III yang dipimpin Brigjen Inf. Soesalit, Resimen Samudera berdiri tegak bak benteng. Mereka membagi kekuatan tempur ke dalam empat batalyon utama: Batalyon 173 di Parakan (Letnan Hartono), Batalyon 174 di Wonosobo (Letnan M. Joenoes), Batalyon 175 di Parakan (Letnan Moekijat), Batalyon 176 di Temanggung (Letnan Soewadji), dan Batalyon 177 (Letnan Wiranto), yang kemudian disusul bergabungnya Batalyon 178 asal Juwana.


Namun, ujian sesungguhnya baru saja dimulai. Pada September 1948, langit di timur memerah. Pemberontakan PKI/FDR pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muso meletus di Madiun. Pengaruh ideologi kiri ini merayap cepat, menyusup hingga ke barisan tentara di Jawa Tengah. Intelijen Resimen Samudera dengan cepat mengendus pergerakan gelap di wilayah pengawasan mereka: Candiroto, Ngadirejo, dan Parakan.


Kabar buruk itu datang bertubi-tubi. Pasukan eks-Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) di bawah Achmad Jadau yang bergabung dengan Divisi II Jateng, bermanuver. Batalyon Darsono di Temanggung dan Batalyon Machmud di Parakan membelot menjadi bagian dari pasukan pemberontak. Daerah Parakan, yang awalnya dijaga oleh Batalyon Machmud untuk mengantisipasi serbuan Belanda, kini jatuh ke tangan kiri. Ironisnya, mereka bahkan berani melucuti satu peleton dari Batalyon 175 yang tengah beristirahat selepas dinas.


Pantang bagi Resimen Samudera membiarkan kawan ditikam dari belakang. Mesin perang segera dipanaskan. Letnan Wiranto memimpin Batalyon 177 bergerak cepat untuk menetralisir kekuatan Batalyon Darsono di Temanggung. Operasi ini berjalan rapi. Hanya segelintir sisa-sisa pemberontak yang lolos lari terbirit-birit ke Parakan, bergabung dengan Batalyon Machmud.


Di sinilah palagan Kedu Utara menjadi saksi heroisme operasi gabungan. Resimen Samudera tidak bertempur sendirian. Bantuan datang dari arah selatan. Dari kesatriaan di lembah Tidar, pasukan TNI AD dari Magelang bergerak merangsek maju. Di antara barisan tersebut, turut angkat senjata para taruna muda dari Militer Akademi Jogja dan Sekolah Kader TNI Magelang. Para pemuda yang sehari-hari digodok di kompleks militer Magelang itu membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tentara pelajar yang hanya tahu teori kelas. Bersama prajurit Resimen Samudera, mereka bahu-membahu menyapu bersih sisa-sisa pemberontak di wilayah sekitar Temanggung bagian selatan.


Satu kompi di bawah pimpinan Letnan Djoeremi melakukan gebrakan maut ke Parakan. Tepat pukul 16:00, kota itu berhasil direbut kembali oleh pasukan gabungan. Sisa pemberontak kocar-kacir, meski di bawah gelap malam mereka masih mencoba melakukan represi dan sabotase ke dalam kota.


Esok harinya, serangan penghabisan dilancarkan tanpa ampun. Tepat pukul 15:00, markas Batalyon Machmud jatuh sepenuhnya. Senjata dan perlengkapan dirampas, sementara para perwira stafnya tak punya pilihan lain selain mengangkat tangan menyerah.


Dalam waktu tak kurang dari 10 hari, operasi sapu bersih di Parakan, Candiroto, dan Ngadirejo tuntas tanpa sisa. Operasi gilang-gemilang gabungan di Kedu Utara ini bukan sekadar kemenangan taktis, melainkan sebuah pembuktian kesetiaan yang mendalam. Keberhasilan Resimen Samudera dan para prajurit serta taruna dari Magelang dalam meredam bara pemberontakan membuat Pemerintah Pusat di Yogyakarta terkesima.


Sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa heroik tersebut, tepat pada 19 Oktober 1948, terbitlah Surat Keputusan Menteri Pertahanan No. A/565/'48 yang menetapkan secara resmi eksistensi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL). Sebuah epik heroisme yang mematrikan nama Marinir ke dalam catatan emas sejarah Republik.


referensi : "75 Tahun Korps Marinir"

Koleksi Jani Sari Library


Sumber : Jani Sari