28 September 2026

MBAH MANAB DISURUH PULANG KE MAGELANG, NYAI DLOMROH MEMILIH TETAP DI LIRBOYO Ada satu keputusan dalam sejarah awal Lirboyo yang mungkin terlihat sederhana pada tahun 1910 Tetapi kalau direnungkan, keputusan itu menyangkut masa depan sebuah pesantren. Saat itu KH Abdul Karim (yang sebelum berhaji dikenal dengan panggilan Mbah Manab) bersama Nyai Dlomroh telah menetap di Lirboyo. Tempat itu belum seperti Lirboyo yang kita kenal sekarang. Masih sederhana, santrinya belum banyak, dan kehidupan di sana jauh dari kata mudah. Kemudian datang beberapa orang dari Magelang, tanah kelahiran Mbah Manab. Mereka menghendaki agar Mbah Manab kembali ke Magelang. Tawaran pulang itu bukan sesuatu yang aneh. Di kampung halaman tentu ada keluarga, kerabat, dan kemungkinan kehidupan yang lebih mudah. Tetapi sebelum mengambil keputusan, Mbah Manab meminta agar Nyai Dlomroh ditanya. Dan jawaban Nyai Dlomroh justru menjadi salah satu kisah penting dalam perjalanan Lirboyo. Dalam riwayat yang disampaikan oleh pihak Lirboyo, Nyai Dlomroh berkata: “Menawi panjenengan badhe kundur ngilen monggo. Ning kulo mboten badhe nderek.” “Kalau Kiai hendak pulang, silakan. Tetapi saya tidak ikut.” Bukan karena beliau tidak menghormati suaminya. Justru setelah itu keluar kalimat yang menunjukkan bagaimana kuatnya tekad beliau. “Menawi kerso teng mriki, monggo panjenengan kantun ngimami sholat, ngaos, manggihi tamu. Sedoyo kulo ingkang nyekapi.” “Kalau tetap di sini, Kiai cukup mengimami salat, mengajar ngaji, dan menerima tamu. Semua kebutuhan akan saya tanggung.” Kalimat itu sederhana. Tetapi di baliknya ada sebuah pengorbanan yang tidak sederhana. Nyai Dlomroh seakan mengatakan kepada suaminya: Panjenengan tidak perlu sibuk memikirkan urusan dunia. Fokuslah pada ilmu, ibadah, dan santri. Urusan kehidupan sehari-hari, biar saya yang berjuang. Dan akhirnya Mbah Manab memilih tetap di Lirboyo. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa berdirinya sebuah pesantren tidak hanya ditopang oleh orang yang duduk mengajar di hadapan santri. Ada orang yang mencari nafkah. Ada yang mengurus dapur. Ada yang menjaga rumah. Ada yang memastikan santri tetap makan. Ada yang menghadapi kesulitan ketika sang kiai sedang sibuk mengajar dan beribadah. Dan salah satu sosok itu adalah Nyai Dlomroh. Dalam sejumlah riwayat tentang kehidupan beliau, Nyai Dlomroh memang dikenal ikut menopang kebutuhan keluarga dan pesantren. Beliau pernah mengembangkan usaha medel atau mewarnai kain, membuka warung, serta menjual kayu bakar. Sumber NU Online juga mencatat peran beliau dalam menopang perjuangan KH Abdul Karim agar dapat lebih fokus mengajar dan membimbing santri. Sementara itu, Lirboyo sendiri pada masa awal bukanlah tempat yang mudah. Dalam catatan resmi Lirboyo, ketika KH Abdul Karim pertama kali datang, Nyai Dlomroh bahkan baru menyusul dua hari kemudian dengan bekal yang sangat sederhana: sedikit beras, kayu bakar, dan seekor ayam blorok. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Tetapi justru dari kesederhanaan itulah perjuangan dimulai. Santri datang. Rumah semakin ramai. Kebutuhan semakin banyak. Dan Nyai Dlomroh ikut memikirkan bagaimana pesantren bisa terus bertahan dan berkembang. Lirboyo kemudian tumbuh menjadi salah satu pesantren besar di Indonesia. Pihak Lirboyo sendiri mengenang Nyai Dlomroh bukan sekadar sebagai istri pendiri pesantren, tetapi sebagai salah satu pilar penting dalam membangun Lirboyo sejak masa awal. Bahkan disebutkan bahwa beliau ikut memikirkan dan membantu pembangunan tempat tinggal para santri. Ada pula sisi lain yang membuat kisah beliau semakin menyentuh. Malam hari pun menjadi bagian dari perjuangannya. KH M. Anwar Manshur menuturkan bahwa dahulu Nyai Dlomroh sering bangun sekitar pukul 10 atau 11 malam dan berjaga hingga Subuh. Rumah mereka ketika itu sering menjadi sasaran pencurian. Waktu malam yang bagi kebanyakan orang adalah waktu beristirahat, bagi beliau justru menjadi waktu untuk menjaga rumah sekaligus membaca wirid dan shalawat. Lahuma Al Fatihah...... . Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #lirboyojadul #tokohkedirijadul #indonesiajadul #kediri #sejarahkedirijadul #kedirikotajadul #kedirijamandulu #lirboyo #sejarahlirboyo #pondoklirboyo #sekolahkedirijadul #sekolahkediri #gurukedirijadul #tokohkedirijadul #muridkedirijadul #siswakedirijadul #sekolahindonesiadikediri #sekolahdikotakediri #kedirijamanbelanda #sekolahkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #kediritempodulu #kediritempoedoeloe

 MBAH MANAB DISURUH PULANG KE MAGELANG, NYAI DLOMROH MEMILIH TETAP DI LIRBOYO





Ada satu keputusan dalam sejarah awal Lirboyo yang mungkin terlihat sederhana pada tahun 1910


Tetapi kalau direnungkan, keputusan itu menyangkut masa depan sebuah pesantren.


Saat itu KH Abdul Karim (yang sebelum berhaji dikenal dengan panggilan Mbah Manab) bersama Nyai Dlomroh telah menetap di Lirboyo. Tempat itu belum seperti Lirboyo yang kita kenal sekarang. Masih sederhana, santrinya belum banyak, dan kehidupan di sana jauh dari kata mudah.


Kemudian datang beberapa orang dari Magelang, tanah kelahiran Mbah Manab.

Mereka menghendaki agar Mbah Manab kembali ke Magelang.


Tawaran pulang itu bukan sesuatu yang aneh. Di kampung halaman tentu ada keluarga, kerabat, dan kemungkinan kehidupan yang lebih mudah.

Tetapi sebelum mengambil keputusan, Mbah Manab meminta agar Nyai Dlomroh ditanya.

Dan jawaban Nyai Dlomroh justru menjadi salah satu kisah penting dalam perjalanan Lirboyo.


Dalam riwayat yang disampaikan oleh pihak Lirboyo, Nyai Dlomroh berkata:

“Menawi panjenengan badhe kundur ngilen monggo. Ning kulo mboten badhe nderek.”

“Kalau Kiai hendak pulang, silakan. Tetapi saya tidak ikut.”


Bukan karena beliau tidak menghormati suaminya.

Justru setelah itu keluar kalimat yang menunjukkan bagaimana kuatnya tekad beliau.

“Menawi kerso teng mriki, monggo panjenengan kantun ngimami sholat, ngaos, manggihi tamu. Sedoyo kulo ingkang nyekapi.”


“Kalau tetap di sini, Kiai cukup mengimami salat, mengajar ngaji, dan menerima tamu. Semua kebutuhan akan saya tanggung.”


Kalimat itu sederhana.

Tetapi di baliknya ada sebuah pengorbanan yang tidak sederhana.


Nyai Dlomroh seakan mengatakan kepada suaminya:

Panjenengan tidak perlu sibuk memikirkan urusan dunia. Fokuslah pada ilmu, ibadah, dan santri. Urusan kehidupan sehari-hari, biar saya yang berjuang.


Dan akhirnya Mbah Manab memilih tetap di Lirboyo.


Dari sinilah kita bisa melihat bahwa berdirinya sebuah pesantren tidak hanya ditopang oleh orang yang duduk mengajar di hadapan santri.

Ada orang yang mencari nafkah.

Ada yang mengurus dapur.

Ada yang menjaga rumah.

Ada yang memastikan santri tetap makan.

Ada yang menghadapi kesulitan ketika sang kiai sedang sibuk mengajar dan beribadah.


Dan salah satu sosok itu adalah Nyai Dlomroh.


Dalam sejumlah riwayat tentang kehidupan beliau, Nyai Dlomroh memang dikenal ikut menopang kebutuhan keluarga dan pesantren. Beliau pernah mengembangkan usaha medel atau mewarnai kain, membuka warung, serta menjual kayu bakar. Sumber NU Online juga mencatat peran beliau dalam menopang perjuangan KH Abdul Karim agar dapat lebih fokus mengajar dan membimbing santri.


Sementara itu, Lirboyo sendiri pada masa awal bukanlah tempat yang mudah.


Dalam catatan resmi Lirboyo, ketika KH Abdul Karim pertama kali datang, Nyai Dlomroh bahkan baru menyusul dua hari kemudian dengan bekal yang sangat sederhana: sedikit beras, kayu bakar, dan seekor ayam blorok. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. 


Tetapi justru dari kesederhanaan itulah perjuangan dimulai.

Santri datang.

Rumah semakin ramai.

Kebutuhan semakin banyak.

Dan Nyai Dlomroh ikut memikirkan bagaimana pesantren bisa terus bertahan dan berkembang.


Lirboyo kemudian tumbuh menjadi salah satu pesantren besar di Indonesia.


Pihak Lirboyo sendiri mengenang Nyai Dlomroh bukan sekadar sebagai istri pendiri pesantren, tetapi sebagai salah satu pilar penting dalam membangun Lirboyo sejak masa awal. Bahkan disebutkan bahwa beliau ikut memikirkan dan membantu pembangunan tempat tinggal para santri.


Ada pula sisi lain yang membuat kisah beliau semakin menyentuh.


Malam hari pun menjadi bagian dari perjuangannya.

KH M. Anwar Manshur menuturkan bahwa dahulu Nyai Dlomroh sering bangun sekitar pukul 10 atau 11 malam dan berjaga hingga Subuh. Rumah mereka ketika itu sering menjadi sasaran pencurian. Waktu malam yang bagi kebanyakan orang adalah waktu beristirahat, bagi beliau justru menjadi waktu untuk menjaga rumah sekaligus membaca wirid dan shalawat.


Lahuma Al Fatihah...... 

.

Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: #lirboyojadul

#tokohkedirijadul #indonesiajadul #kediri #sejarahkedirijadul #kedirikotajadul #kedirijamandulu #lirboyo #sejarahlirboyo #pondoklirboyo 

#sekolahkedirijadul #sekolahkediri #gurukedirijadul #tokohkedirijadul #muridkedirijadul #siswakedirijadul #sekolahindonesiadikediri #sekolahdikotakediri #kedirijamanbelanda #sekolahkedirijamandulu #wisatakotakediri #wisatakediri #sejarahkediri #bangunanjamandulu #musiumkediri #kedirilagi #kedirimasalalu #kedirijadul #kediritempodulu #kediritempoedoeloe

No comments:

Post a Comment