JM PATTIASINA SANG PENDIRI PERTAMINA YANG HAMPIR TERLUPAKAN DARI SEJARAH PERMINYAKAN INDONESIA.
(Cukilan dari buku “Kita Dan Perminyakan Indonesia”)
By Gerard Wakanno
JOHANNES MARCUS PATTIASINA adalah seorang Ahli Perminyakan ulung yang kemudian menjadi perwira militer. Awalnya hanya ada 3 orang bumiputra Indonesia yang di sekolahkn oleh Belanda untuk mempelajari Teknik perminyakan, namun 2 orang tidak pernah muncul di perminyakan, hanya JM Pattiasina yang berkiprah di industri perminyakan. Sehingga dapat diakatan bahwa beliaulah satu2nya orang pribumi yang pertama mengusai ilmu permiyakan di Nusantara.
Ia memulai kariernya di perusahaan minyak Belanda, De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), dan merupakan salah satu dari sedikit pribumi yang menduduki posisi teknisi tinggi pada zamannya. Keahlian teknisnya inilah yang kemudian menjadi modal besar dalam perjuangan kemerdekaan.
Pada masa Agresi Militer Belanda II, ketika pasukan Republik Indonesia terpaksa melakukan perjuangan gerilya, Pattiasina memimpin pasukan minyak yang selalu membawa serta sebuah mesin bubut. Mesin ini bukan sekadar alat, melainkan pusat produksi dan pabrik perjuangan. Berbekal keahlian teknisnya, dengan mesin bubut ini, Pattiasina dan pasukannya mampu melakukan berbagai hal krusial.
Memproduksi Senjata Rakitan. Ini adalah fungsi yang paling heroik. Di tengah keterbatasan persenjataan, mesin bubut ini digunakan untuk membuat senjata rakitan dengan kapasitas satu buah per hari. Ini menunjukkan kemampuan adaptasi dan rekayasa tinggi di masa darurat.
Membuat Koin Emas. Di daerah Lebong Tandai, mesin yang sama digunakan untuk mencetak koin emas dari hasil tambang. Koin ini menjadi alat pembiayaan perjuangan dan simbol kedaulatan ekonomi di tengah situasi perang.
Memperbaiki dan Membangun Kilang Kecil. Fungsi utamanya sebagai alat teknik perminyakan tetap dijalankan. Mesin bubut digunakan untuk memperbaiki komponen-komponen kilang minyak yang rusak, serta membuat kilang-kilang kecil untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar para pejuang.
Mesin Bubut Pattiasina memberikan beberapa pelajaran yang sangat dalam dan relevan hingga hari ini.
Kemandirian Teknologi adalah kunci. Kisah ini menunjukkan bahwa kemandirian sebuah bangsa di bidang energi tidak hanya soal memiliki cadangan minyak, tetapi juga soal penguasaan teknologi dan kemampuan rekayasa. Pattiasina tidak menunggu teknologi canggih datang. Ia memanfaatkan apa yang ada sebuah mesin bubut untuk menciptakan solusi bagi berbagai kebutuhan perjuangan, dari persenjataan hingga logistik energi.
Sumber Daya Manusia adalah Aset Utama. Pattiasina adalah contoh SDM unggul yang menggabungkan keahlian teknis dengan jiwa kepemimpinan dan nasionalisme. Keahliannya sebagai teknisi BPM-lah yang membuatnya mampu mentransformasi sebuah mesin bubut menjadi alat produksi multifungsi. Ini adalah pelajaran berharga bahwa investasi terbaik adalah pada pendidikan dan pengembangan SDM yang kompeten.
Semangat Bisa dan Merdeka. Mesin Bubut Pattiasina adalah manifestasi dari semangat kemandirian. Dengan sumber daya yang minim, Pattiasina dan anak buahnya membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu menciptakan dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Semangat inilah yang kemudian terbukti ketika Indonesia berhasil melakukan ekspor minyak perdana pada tahun 1958 di bawah kepemimpinan Pattiasina dan Ibnu Sutowo.
Mesin Bubut Pattiasina dalam buku Kita dan Perminyakan Indonesia lebih dari sekadar cerita sejarah. Ini adalah metafora sempurna tentang bagaimana sebuah bangsa dapat berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah pengingat bahwa kemajuan industri perminyakan Indonesia tidak lepas dari peran para insinyur dan pejuang yang memiliki pengetahuan, kreativitas, dan keberanian untuk memanfaatkan teknologi demi kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat. Warisan Pattiasina mengajarkan kita bahwa kedaulatan energi sejati dimulai dari penguasaan ilmu pengetahuan dan jiwa yang merdeka.
