19 September 2026

Setiap bulan September, kita akan menemukan kembali kisah kelam dalam sejarah Indonesia, yakni pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI AD, serta penemuan jenazah mereka di sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta. Pembunuhan mereka disertai dengan narasi bagaimana mereka dibunuh. Salah satunya adalah cerita tersohor di film propaganda yg berisi Narasi tentang penyiletan wajah, pencungkilan mata, dan penyiksaan seksual terhadap para jenderal. Klaim bahwa para jenderal yang dibunuh dalam peristiwa 1 Oktober 1965 disilet wajahnya oleh anggota Gerwani tidak didukung oleh bukti forensik yang kuat. Pada 4 Oktober 1965, jenazah para perwira ditemukan dan kemudian diperiksa oleh tim dokter. Pemeriksaan tersebut menjadi sumber penting untuk menguji pemberitaan mengenai penyiksaan yang dilakukan sebelum kematian. Temuan pentingnya adalah: Tidak ditemukan bukti bahwa para jenderal mengalami pencungkilan mata sebagaimana diberitakan. Tidak ditemukan bukti bahwa tubuh mereka disayat-sayat secara sadis seperti dalam propaganda yang beredar. Para korban meninggal akibat luka tembak, bukan karena penyiksaan seksual seperti yang dituduhkan kepada Gerwani. Temuan tersebut juga dibahas dalam laporan CNN Indonesia mengenai legenda kekejaman Gerwani. Hal ini juga pernah dibahas dalam Tempo edisi khusus Oktober 2021 yang mengangkat kisah anggota Gerwani. Mengapa cerita penyiletan wajah bisa begitu terkenal? Narasi tersebut berkembang dalam situasi politik yang sangat tegang setelah G30S. Militer di bawah Soeharto menggunakan pemberitaan tentang kekejaman para pelaku untuk membangun kebencian terhadap PKI dan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya, termasuk Gerwani. Pemberitaan tentang perempuan yang menyiksa dan menari telanjang di sekitar para korban memiliki fungsi politik yang besar: menggambarkan Gerwani sebagai organisasi yang kejam, tidak bermoral, dan berbahaya bagi bangsa.

 Setiap bulan September, kita akan menemukan kembali kisah kelam dalam sejarah Indonesia, yakni pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira pertama TNI AD, serta penemuan jenazah mereka di sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta.


Pembunuhan mereka disertai dengan narasi bagaimana mereka dibunuh. Salah satunya adalah cerita tersohor di film propaganda yg berisi Narasi tentang penyiletan wajah, pencungkilan mata, dan penyiksaan seksual terhadap para jenderal. 


Klaim bahwa para jenderal yang dibunuh dalam peristiwa 1 Oktober 1965 disilet wajahnya oleh anggota Gerwani tidak didukung oleh bukti forensik yang kuat. 


Pada 4 Oktober 1965, jenazah para perwira ditemukan dan kemudian diperiksa oleh tim dokter. Pemeriksaan tersebut menjadi sumber penting untuk menguji pemberitaan mengenai penyiksaan yang dilakukan sebelum kematian.


Temuan pentingnya adalah:

Tidak ditemukan bukti bahwa para jenderal mengalami pencungkilan mata sebagaimana diberitakan.

Tidak ditemukan bukti bahwa tubuh mereka disayat-sayat secara sadis seperti dalam propaganda yang beredar.


Para korban meninggal akibat luka tembak, bukan karena penyiksaan seksual seperti yang dituduhkan kepada Gerwani.

Temuan tersebut juga dibahas dalam laporan CNN Indonesia mengenai legenda kekejaman Gerwani. Hal ini juga pernah dibahas dalam Tempo edisi khusus Oktober 2021 yang mengangkat kisah anggota Gerwani. 


Mengapa cerita penyiletan wajah bisa begitu terkenal?


Narasi tersebut berkembang dalam situasi politik yang sangat tegang setelah G30S.

Militer di bawah Soeharto menggunakan pemberitaan tentang kekejaman para pelaku untuk membangun kebencian terhadap PKI dan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya, termasuk Gerwani.


Pemberitaan tentang perempuan yang menyiksa dan menari telanjang di sekitar para korban memiliki fungsi politik yang besar: menggambarkan Gerwani sebagai organisasi yang kejam, tidak bermoral, dan berbahaya bagi bangsa.

No comments:

Post a Comment