“JENDERAL INI TIDAK GUGUR DI MEDAN PERANG… TAPI DISEBUT MENINGGAL KARENA ‘HARAKIRI JIWA’. SIAPA DIA?”
Bagaimana jika seorang jenderal tidak mati di medan perang… tetapi justru patah oleh kekecewaan terhadap arah perjuangan bangsanya sendiri?
17 November 1948.
Senja mulai turun di Yogyakarta.
Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo sudah beberapa hari terbaring sakit. Penyakit jantung yang pernah dideritanya sejak masa interniran Jepang kembali kambuh.
Sang istri, Rohmah, saat itu sedang mengambil segelas susu di dapur.
Tiba-tiba…
BRAK!
Pintu di bagian kiri rumah terbanting keras.
Rohmah bergegas menuju kamar.
Di sana, Oerip masih terbaring di ranjang. Kedua tangannya terlipat di dada, matanya terpejam, dan ada senyum tipis di wajahnya.
Rokok di asbak di samping tempat tidurnya masih terasa hangat.
Sang jenderal telah pergi.
Namun kisah kematiannya menyimpan cerita yang jauh lebih dalam.
Beberapa bulan sebelumnya, Oerip telah diberhentikan dari posisi Kepala Staf Markas Besar Tentara.
Ia kemudian ditempatkan di Dewan Pertimbangan Agung.
Bagi Oerip, masalah utamanya bukan sekadar kehilangan jabatan.
Ia kecewa terhadap Perjanjian Renville dan arah politik pemerintah Republik.
Oerip meyakini bahwa perjuangan melawan Belanda tidak seharusnya terlalu bergantung pada meja perundingan. Ia lebih percaya pada kekuatan tentara dan perang gerilya.
Pandangan itu sejalan dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Ketika kemudian terjadi Peristiwa Madiun 1948, kekecewaan Oerip semakin dalam.
Ia bahkan pernah berkata kepada istrinya:
“Saya tahu siapa yang melakukan ini semua. Saya akan membalaskan kematian teman-teman kita…”
Seiring waktu, semangatnya semakin meredup.
Dunia militer yang dahulu menjadi hidupnya terasa semakin jauh.
Menjelang akhir hayatnya, Oerip bahkan sempat mengajukan pengunduran diri dari dunia militer.
Jenderal Soedirman sendiri melihat bahwa tekanan batin akibat perubahan arah politik telah sangat memengaruhi Oerip.
Dalam istilah yang dikutip dari kesaksian mengenai Soedirman, kondisi itu disebut:
“Geestelijke harakiri” — harakiri jiwa.
Bukan berarti Oerip melakukan harakiri secara fisik.
Melainkan sebuah gambaran tentang jiwa seorang pejuang yang seakan hancur perlahan karena kekecewaan.
Oerip akhirnya meninggal pada usia 55 tahun.
Ia memang tidak gugur dengan senjata di tangan.
Namun namanya tetap menjadi salah satu peletak dasar Tentara Republik Indonesia.
Kadang, seorang pejuang tidak kalah karena musuh.
Ia bisa saja kalah karena kecewa melihat perjuangan yang ia cintai berjalan ke arah yang berbeda dari keyakinannya.
🇮🇩 Jenderal Oerip Soemohardjo: salah satu pendiri tentara Republik yang kisah akhirnya jauh lebih tragis daripada yang banyak orang tahu.
👉 Follow untuk kisah sejarah Indonesia yang jarang dibahas.
⭐ Kalau kamu menghargai perjuangan para pendiri TNI, kasih BINTANG/GIVE untuk mendukung konten ini.
#SejarahIndonesia #OeripSoemohardjo #JenderalOerip #SejarahTNI #JenderalSoedirman #PerjanjianRenville #SejarahKemerdekaan #SejarahNusantara #Indonesia #PahlawanNasional #FBPro #ReelsIndonesia
Sumber : Abdul Roziq

No comments:
Post a Comment