Gugur seorang putra bangsa terbaik yang tidak hanya dikenal sebagai dokter perintis ilmu kedokteran penerbangan di Indonesia, tetapi juga sebagai "Bapak Radio" republik ini. Dialah Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, sosok visioner yang mendedikasikan seluruh napas hidupnya untuk kemerdekaan, ilmu pengetahuan, dan suara kedaulatan bangsa.
Lahirnya RRI: Menyalakan Suara Republik di Tengah Kegelapan
Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, tantangan terbesar bangsa yang baru lahir ini adalah bagaimana menyebarkan berita kemerdekaan tersebut ke seluruh penjuru Nusantara dan dunia internasional, di tengah upaya Sekutu dan Belanda yang ingin membungkam informasi.
Di sinilah peran heroik Abdulrachman Saleh bersinar terang. Bersama rekan-rekan pemuda penyiaran, ia mengambil alih stasiun-stasiun radio milik Jepang (Hoso Kyoku). Dengan peralatan yang sangat terbatas, pengetahuan teknik radio yang dimilikinya secara otodidak, serta keberanian yang luar biasa, ia berhasil menyatukan berbagai stasiun radio daerah menjadi satu jaringan penyiaran nasional.
Tepat pada 11 September 1945, dalam sebuah rapat bersejarah para tokoh penyiaran, lahirlah Radio Republik Indonesia (RRI) dengan moto yang hingga kini abadi: "Sekali di Udara, Tetap di Udara." Abdulrachman Saleh diangkat sebagai pemimpin umum yang pertama. Melalui gelombang radio inilah, pidato Bung Karno, berita perjuangan, dan semangat persatuan terus berkobar, menembus blokade musuh dan menguatkan mental rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.
hanya dilakukan di balik mikrofon atau ruang operasi rumah sakit. Ketika agresi militer terjadi, ia terjun langsung mendirikan Sekolah Penerbangan di Maguwo, Yogyakarta, guna mencetak penerbang-penerbang muda Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang handal untuk mempertahankan wilayah udara ibu pertiwi.
Tidak hanya itu, ia juga merupakan tokoh penting di balik berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI). Kemanusiaan adalah panglima tertinggi dalam hidupnya. Ia percaya bahwa menolong sesama tanpa memandang kawan atau lawan adalah esensi dari kemerdekaan itu sendiri.
Takdir memanggil sang pejuang pada tanggal 29 Juli 1947. Pesawat transportasi Dakota VT-CLA yang ditumpanginya bersama sejumlah tokoh perintis AURI (termasuk Adisutjipto dan Hendarwanto) ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Kittyhawk milik Belanda di dekat Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Pesawat tersebut membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya.
Abdulrachman Saleh gugur dalam usia 38 tahun, di tengah menjalankan misi kemanusiaan yang mulia. Ia pergi meninggalkan warisan pemikiran, ilmu pengetahuan, dan semangat juang yang tidak ternilai harganya.
Sebagai bentuk penghormatan yang tertinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa di bidang penerbangan, dunia militer, dan perjuangan kemerdekaan, nama Prof. Dr. Abdulrachman Saleh diabadikan sebagai nama Pangkalan Udara TNI AU dan Bandar Udara Abdulrachman Saleh di Malang, Jawa Timur. Setiap pesawat yang lepas landas dan mendarat di sana seolah membawa kembali gema semangat sang perintis: terbang tinggi menembus batas, demi kehormatan bangsa dan negara.
#inspiratif #pahlawanindonesia #history #sejarah #faktasejarah

No comments:
Post a Comment