HABIB BA'ABUD PENGKHIANAT DIPONEGORO? (3)
Saya penasaran, siapakah Habib Ibrahim Ba'abud yang dituduh sebagai pengkhianat Pangeran Diponegoro?
Karena dalam Babad Diponegoro, nama itu tidak ada.
Nama yang tertulis hanya 8 orang.
Pangeran Suryaatmadja, Kerto Pengalasan, Sentot Prawirodirjo, Mas Penghulu Pekih Ibrahim, Haji Ngisa, Haji Badarudin, Kyai Mlangi, dan Syekh Samparwadi.
Saya telusuri satu per satu nama-nama itu lewat buku "Kuasa Ramalan" karya Peter Carey.
Pertama, Pangeran Suryaatmadja, anak Pangeran Diponegoro. Bukan Ba'abud.
Kedua, Kerto Pengalasan, panglima Pangeran Diponegoro. Bukan Ba'abud.
Ketiga, Sentot Prawirodirjo, anak Ronggo Prawirodirjo III. Bukan Ba'abud.
Keempat, Mas Penghulu Pekih Ibrahim, ulama muda Bagelen. Bukan Ba'abud.
Kelima, Haji Ngisa, pengikut Kyai Mojo. Bukan Ba'abud.
Keenam, Haji Badarudin, ulama Ngawen. Bukan Ba'abud.
Ketujuh, Kyai Mlangi, ulama Mlangi. Bukan Ba'abud.
Kedelapan, Syekh Samparwadi.
Karena pakai gelar Syekh, saya curiga, jangan-jangan bliolah yang dituduh Ba'abud.
Saya kemudian inget buku "Serat Raja Putra Ngayogyakarta", silsilah anak-anak Sultan Jogjakarta.
Dalam silsilah Sultan HB II, anak nomor 55, tertulis nama Bendoro Raden Ayu Samparwadi.
Dengan keterangan, dinikahkan dengan Kanjeng Raden Tumenggung Samparwadi (Kasan Munadi).
Berarti, Syekh Samparwadi adalah menantu Sultan HB II.
Hubungan dengan Pangeran Diponegoro gimana?
Ayah Pangeran Diponegoro, Sultan HB III, adalah kakak dari istri Syekh Samparwadi.
Berarti Syekh Samparwadi adalah paman Pangeran Diponegoro. Layak kalau menjadi penasehatnya.
Selanjutnya, menurut naskah "Menelusuri Jejak Kehidupan Keturunan Arab Jawa di Luar Tembok Keraton Yogyakarta" tulisan Siti Hidayati Amal, saya mendapatkan silsilah Syekh Samparwadi.
Syeh Samparwadi adalah keturunan Ba'abud. Anak Syekh Alwi Ba'abud. Yang ditarik ke atas, leluhurnya adalah Ali Ba'alwi.
Sepertinya, orang menuduh Habib Ibrahim Ba'abud sebagai pengkhianat Pangeran Diponegoro adalah menunjuk Syekh Samparwadi.
Karena Syekh Samparwadi memang keturunan Ba'abud. Dan menjadi salah satu orang yang membujuk Pangeran Diponegoro.
Namun, kalau niatnya mau menuduh, yang membujuk ada 8 orang, mengapa yang dituduh sebagai pengkhianat hanya 1 orang.
Apa karena yang 1 orang itu Ba'abud?
Kenapa yang 7 orang Jawa, yang lebih banyak jumlahnya, ga disebut pengkhianat?
Kenapa anak Pangeran Diponegoro, yang pertama membujuk ayahnya, tidak dituduh pengkhianat?
Sungguh tuduhan yang layak diberi senyuman.
Saya masih penasaran, kenapa mereka sampai ketemu nama Habib Ibrahim Ba'abud?
Ternyata, dalam naskah yang ditulis oleh keturunan Syekh Samparwadi itu, Syekh Samparwadi punya anak yang bernama Ibrahim Ba'abud.
Jadi, mereka yang anti Ba'alawi menuduh ayahnya (Syekh Samparwadi) tapi dengan memakai nama anaknya (Ibrahim Ba'abud).
Sungguh kengawuran dan layak dikasih senyuman.
Dan, kebanyakan orang langsung percaya begitu saja. Tidak ada yang mencoba menelusuri kebenarannya.
Atau ini pertanda malas membaca adalah budaya? Dan gampang percaya adalah ciri kepribadian mulia?
(Foto: Saya berziarah ke makam Syekh Samparwadi di Tanggung, Purworejo.)
Sumber : Nassirun Purwokarton
#babaddiponegoro #sejarahdiponegoro

No comments:
Post a Comment