Di awal tahun 1900-an, di Gang Peneleh, Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana milik H.O.S. Tjokroaminoto. Rumah itu bukan sekadar tempat kos. Di dalamnya tinggal anak-anak muda dari berbagai daerah, datang dengan satu keinginan yang sama, ingin belajar, ingin mengerti, dan diam-diam ingin ikut membebaskan tanah kelahiran mereka.
Tiga di antara penghuni rumah itu kelak dikenang sepanjang sejarah bangsa ini. Namanya Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo. Mereka makan di meja yang sama, tidur di kamar yang berdekatan, dan mendengarkan pidato guru yang sama setiap malam. Tidak ada yang menyangka, dari kedekatan itu akan lahir tiga jalan yang saling berlawanan.
Tjokroaminoto bukan orang sembarangan. Ia dipanggil Raja Jawa Tanpa Mahkota, sebuah julukan yang lahir dari rasa hormat, bukan dari gelar resmi. Ia disegani pribumi maupun orang-orang Belanda di Hindia. Ketika ia berpidato, ruangan yang penuh sesak bisa mendadak sunyi, seolah setiap kata yang keluar dari mulutnya punya bobot tersendiri.
Tapi di rumah kosnya, ia bukan tokoh yang berjarak. Ia duduk bersama murid-muridnya, berbagi meja makan, menjawab pertanyaan sampai larut malam. Dari cara itulah anak-anak muda seperti Soekarno belajar bukan hanya ilmu, tapi juga bagaimana rasanya dipercaya oleh seseorang yang mereka kagumi sepenuh hati.
Soekarno selalu menjadi bayang-bayang Tjokroaminoto. Ke mana pun sang guru pergi berpidato, ia ikut, duduk di sudut ruangan, memperhatikan setiap jeda suara, setiap gerak tangan, bahkan setiap kelemahan yang luput disadari orang lain. Ia mencatat bahwa gaya bicara gurunya cenderung datar dan minim humor, lalu diam-diam menyimpan catatan itu untuk dirinya sendiri.
Ia tidak pernah berlatih di depan cermin seperti orator pada umumnya. Ia belajar langsung dari panggung sungguhan, dari suara Tjokroaminoto yang menggetarkan ruangan. Kelak kedekatan itu bertambah erat karena Soekarno menikahi putri gurunya sendiri. Dari rumah kos di Peneleh itulah, benih orator besar bangsa ini mulai tumbuh diam-diam.
Musso tumbuh dengan cara berpikir yang berbeda. Ia melihat penjajahan bukan hanya sebagai soal bangsa yang terjajah, tapi sebagai soal rakyat kecil yang diperas oleh sistem. Baginya, kemerdekaan tidak cukup berhenti pada bendera dan lagu kebangsaan. Ia mencari jalan yang menurutnya lebih adil bagi mereka yang selama ini berada di lapisan paling bawah.
Pilihan itu membawanya semakin jauh dari jalan yang ditempuh Soekarno. Ia memilih ideologi komunis, menempuh jalur perjuangan yang berbeda arah dari sahabat-sahabatnya sendiri. Dari satu rumah yang sama, ia berjalan ke arah yang membuatnya, bertahun-tahun kemudian, berdiri berseberangan dengan negara yang justru dibangun oleh teman sekamarnya dulu.
Kartosoewirjo memilih jalan yang lain lagi. Ia meyakini bahwa perjuangan sejati harus berakar pada agama, bahwa negara yang dicita-citakan harus berdiri di atas hukum Islam. Keyakinan itu tumbuh perlahan, dipupuk oleh kekecewaan pada arah pergerakan yang menurutnya mulai menjauh dari nilai yang ia pegang sejak di rumah gurunya dulu.
Dari keyakinan itu lahir perlawanan bersenjata, laskar yang ia bentuk sendiri, dan cita-cita mendirikan negara dengan wajah yang sama sekali berbeda dari yang dibayangkan Soekarno maupun Musso. Tiga murid, tiga peta jalan, dan satu guru yang mungkin tidak pernah menduga muridnya akan berjalan sejauh itu ke arah yang berlainan.
Di rumah Peneleh dulu, mereka bertiga saling mendukung. Berbagi makanan, berbagi keresahan, berbagi mimpi tentang tanah air yang bebas dari penjajahan. Tidak ada yang menduga bahwa perbedaan cara pandang, yang dulu terasa seperti diskusi malam biasa, akan tumbuh menjadi jurang yang tidak bisa lagi dijembatani oleh persahabatan.
Waktu membawa mereka semakin jauh dari meja makan yang sama. Soekarno menempuh jalan nasionalisme menuju kursi presiden. Musso menempuh jalan komunisme menuju pemberontakan. Kartosoewirjo menempuh jalan islam radikal menuju negara tandingan. Tiga jalan itu, pada akhirnya, dipastikan akan bertemu kembali, hanya saja bukan di meja makan seperti dulu.
Bertahun-tahun kemudian, di Gedung Agung, Soekarno yang sudah menjadi presiden bertemu kembali dengan Musso. Ia menyapa dengan hangat, memeluk sahabat lamanya itu erat-erat, seolah waktu tiga dekade lenyap begitu saja. Sejenak, keduanya kembali menjadi dua anak kos di Surabaya yang berbagi suka dan duka di bawah satu atap.
Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama. Tak lama setelah pertemuan itu, jalan mereka justru berbenturan lebih keras dari sebelumnya. Presiden yang dulu adalah anak kesayangan Tjokroaminoto, kini berhadapan dengan sahabatnya sendiri yang memberontak. Sejarah, pada akhirnya, memaksa dua orang yang pernah saling mendukung untuk saling menumpas.
Musso tewas dalam pemberontakan yang ia pimpin sendiri. Bertahun-tahun setelahnya, Kartosoewirjo pun ditumpas, negara yang ia cita-citakan tidak pernah benar-benar berdiri. Dua murid yang dulu tumbuh di bawah asuhan guru yang sama, pada akhirnya jatuh oleh tangan negara yang dipimpin oleh murid ketiga dari rumah yang sama pula.
Ada satu perenungan dalam novel ini, tentang betapa berat rasanya seandainya ketiga murid itu mau menyatukan kecerdasan dan keberanian mereka, alih-alih membiarkan perbedaan memisahkan mereka sejauh itu. Barangkali begitulah jalan sejarah menuliskan takdirnya. Satu perenungan itu menyimpan seluruh kepedihan dari kisah tiga murid dan satu guru ini.
Tjokroaminoto mengajarkan cinta pada tanah air kepada tiga anak muda yang sama-sama tulus. Ia tidak pernah menduga bahwa ketulusan itu akan tumbuh menjadi tiga arah yang begitu jauh berbeda, bahkan saling berhadapan. Novel ini menghidupkan kembali bagian sejarah bangsa yang jarang diceritakan dari sisi paling manusiawi, dari sisi persahabatan yang retak.
Membaca kisah mereka bertiga membuat kita bertanya pada diri sendiri, seandainya berada di rumah Peneleh itu, jalan mana yang mungkin akan kita pilih. Ceritakan di kolom komentar, menurutmu, dari ketiga murid Tjokroaminoto ini, siapa yang paling berat perjuangannya, Soekarno, Musso, atau Kartosoewirjo.
Sumber : Logika Filsuf

No comments:
Post a Comment