06 May 2024

Sejarah Kerajaan Sunda dan Nama - Nama Raja yang Pernah Berkuasa (Bag.2) Sejarah Nama “Sunda” pada Kerajaan Sunda Berdasarkan fakta sejarah bahwa Kerajaan Sunda adalah pemecahan dari Kerajaan Tarumanegara. Pada tahun 670 Masehi peristiwa pemecahan itu terjadi. Hal ini diperkuat dengan sebuah sumber yang berasal dari berita Cina yang memberitahukan bahwa di tahun 979 Masehi menjadi tahun terakhir utusan Kerajaan Tarumanegara mengunjungi negeri Cina. Di tahun 679 Masehi, Tarusbawa (raja pertama Kerajaan Sunda) memberikan mandat kepada bawahannya untuk memberitahukan informasi tentang pengangkatan dirinya sebagai raja di Kerajaan Sunda. Tarusbawa sendiri diangkat menjadi seorang raja pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka. Jika dalam tahun Masehi kurang lebih pada tanggal 18 Mei 669 Masehi. Nama Sunda yang terdapat pada sebuah Kerajaan tercatat dalam dua batu prasasti. Kedua batu itu ditemukan di lokasi yang berbeda, yaitu di daerah Bogor dan di daerah Sukabumi. Batu Prasasti pertama ditemukan di kampung Pasir Muara, lebih tepatnya di pinggiran sebuah persawahan yang tidak jauh dari lokasi prasasti Telapak Gajah. Prasasti Telapak Gajah adalah prasasti yang menjadi peninggalan Purnawarman. Cek di Balik Pena : Beby Chaesara Batu prasasti yang ditemukan di kampung Pasir Muara memiliki sebuah tulisan atau kalimat yang berisi empat baris. Bosch menerjemahkan kalimat yang ada pada batu prasasti itu, “ini tanda ucapan Rakryan Juru Pangambat; alam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan negara dikembalikan kepada Raja Sunda.” Untuk membaca angka tahunnya dibaca dari kanan ke kiri, karena angka tahunnya memiliki corak sangkala. Dengan demikian, pembuatan prasasti tersebut pada tahun 458 Saka atau 536 Masehi. Dalam batu prasasti yang kedua terdapat gambar sepasang telapak kaki gajah dan pada prasasti itu terdapat tulisasn yang berisi “jayavi shãlasya tãrumnendrasya hastinah airãvatãbhasya vibhãtidam padadvayam”. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti “kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanegara yang jaya dan berkuasa). Sebagai informasi tambahan, Airawata dalam mitologi Hindu adalah nama gajah yang ditunggangi Batara Indra. Ia adalah seorang dewa perang dan penguasa guntur. Sejarah Terbentuknya Kerajaan Sunda Seperti yang sudah dibahas sebelumnya jika Kerajaan Sunda adalah pemecahan dari Kerajaan Tarumanegara. Namun, sebagian orang belum mengetahui sejarah singkat pemecahan tersebut. Berikut sejarah singkat terbentuknya Kerajaan Sunda. Sebelum terjadi pemecahan, Kerajaan Tarumanegara dipimpin oleh Linggawarman. Ia menikah dengan seorang putri Indraprahasta yang bernama Déwi Ganggasari. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua orang putri, pertama Déwi Manasih, putri kedua bernama Sobakancana. Putri pertama Linggawarman yang bernama Déwi Ganggasari menikah dengan Tarusbawa dari Sunda. Sementar itu putri kedua Linggawarman yang bernama Sobakancana menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa (pendiri Kerajaan Sriwijaya). Dalam masa pemerintahan Kerajaan Tarumanegara hanya ada 12 orang yang memimpin kerajaan tersebut. Di tahun 669 Masehi, raja terakhir Kerajaan Tarumanegara, yaitu Linggawarman kedudukannya digantikan oleh menantunya yang bernama Tarusbawa. Tarusbawa sendiri berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa. Ia melihat pamor Kerajaan Tarumanegara sudah mulai menurun. Karena hal itulah, Tarusbawa ingin sekali mengembalikan kejayaan dan keharuman seperti zaman Purnawarman yang bekedudukan di Purasaba (ibu kota) Sundapura. Di tahun 670 Masehi, Tarusbawa mengganti Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda. Penggantian nama itu membuat Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh memisahkan negaranya dari kekuasaan atau kepemimpinan Tarusbawa. Wretikandayun adalah seorang putra Galuh menikah dengan seorang Putri yang bernama Parwati. Parwati adalah seorang putri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga (sebuah kerajaan di Jawa Tengah). Dengan dukungan Kerajaan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Kerajaan Tarumanegara dibagi menjadi dua bagian. Tarusbawa sedang dalam keadaan lemah dan tidak ingin terjadi perang saudara maka ia menerima tuntutan yang diajukan Wretikandayun. Di tahun 670 Masehi, bekas kawasan Kerajaan Tarumanegara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Sungai Citarum menjadi pembatas antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Setelah terjadi pemecahan, Tarusbawa kemudian mendirikan atau membangun Ibukota Kerajaan yang baru yang terletak di daerah pedalaman dekat hulu sungai Cipakancilan. Dalam Carita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa hanya disebut dengan gelarnya saja, yatitu Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Tarusbawa bisa dikatakan sebagai seseorang yang mencetuskan cikal bakal raja-raja Sunda. Masa pemerintahan Kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Tarusbawa hanya sampai pada tahun 723 Masehi. Putra dari Tarusbawa sudah wafat terlebih dahulu sehingga putra putri mahkota yang bernama Tejakencana diangkat menjadi seorang anak dan ahli waris kerajaan. Suami dari putri inilah yang menjadi raja kedua di Kerajaan Sunda. Suami putri itu bernama Rakeyan Jamri yang juga cicit dari Wretikandayun. Ketika menjadi seorang raja di Kerajaan Sunda, Rakeyan Jamri dikenal dengan nama Prabu Harisdarma. Namun, setelah ia berhasil menguasai Kerajaan Galuh, nama Sanjaya lebih dikenal oleh banyak orang. Sebagai ahli waris Kerajaan Kalingga, Rakeyan Jamri menjadi pemimpin Kerajaan Kalingga Utara atau lebih dikenal dengan nama Bumi Mataram di tahun 732 Masehi. Sedangkan kekuasaannya di Jawa Barat diberikan kepada putranya yang berasal dari Tejakencana yang bernama Tamperan atau Rakeyan Panaraban. Rakeyan Panaraban adalah kakak dari Rakai Panangkaran (Putra Sanjaya dari Sudiwara putri Dewasingga raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara). Raja-Raja Kerajaan Sunda Hanya sampai pada kekuasaan Sri Jayabupati, raja-raja Sunda berjumlah 20 orang. Berikut nama-nama raja Sunda. 1. Tarusbawa (Menantu Linggawarman, (669-723 M) 2. Harisdarma atau Sanjaya (Menantu Tarusbawa, (723- 732 M) 3. Tamperan Barmawijaya (732- 739 M) 4. Rakeyan Banga (739-766 M) 5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766-783 M) 6. Prabu Giliwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, (785-795 M) 7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Giliwesi (795-819 M) 8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819-891 M) 9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon, 891-895 M) 10. Windusakti Prabu Dewageng (895-913 M) 11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913-916 M) 12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916-942 M) 13. Atmayadarma Hariwangsa (942-954 M) 14. Limbur Kancana (putra Rakeyan Kamuning Gading, 954-964 M) 15. Prabu Munding Ganawirya (964-973 M) 16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973-989 M) 17. Prabu Brajawisesa (989-1012 M) 18. Prabu Dewa Sanghyang (1012-2029 M) 19. Prabu Sanghyang Ageng (1019-1030 M) 20. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabuopati (1030-1042 M)

 Sejarah Kerajaan Sunda dan Nama - Nama Raja yang Pernah Berkuasa (Bag.2)



Sejarah Nama “Sunda” pada Kerajaan Sunda


Berdasarkan fakta sejarah bahwa Kerajaan Sunda adalah pemecahan dari Kerajaan Tarumanegara. Pada tahun 670 Masehi peristiwa pemecahan itu terjadi. Hal ini diperkuat dengan sebuah sumber yang berasal dari berita Cina yang memberitahukan bahwa di tahun 979 Masehi menjadi tahun terakhir utusan Kerajaan Tarumanegara mengunjungi negeri Cina.


Di tahun 679 Masehi, Tarusbawa (raja pertama Kerajaan Sunda) memberikan mandat kepada bawahannya untuk memberitahukan informasi tentang pengangkatan dirinya sebagai raja di Kerajaan Sunda.


Tarusbawa sendiri diangkat menjadi seorang raja pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka. Jika dalam tahun Masehi kurang lebih pada tanggal 18 Mei 669 Masehi.

Nama Sunda yang terdapat pada sebuah Kerajaan tercatat dalam dua batu prasasti. Kedua batu itu ditemukan di lokasi yang berbeda, yaitu di daerah Bogor dan di daerah Sukabumi.


Batu Prasasti pertama ditemukan di kampung Pasir Muara, lebih tepatnya di pinggiran sebuah persawahan yang tidak jauh dari lokasi prasasti Telapak Gajah. Prasasti Telapak Gajah adalah prasasti yang menjadi peninggalan Purnawarman.


Cek di Balik Pena : Beby Chaesara


Batu prasasti yang ditemukan di kampung Pasir Muara memiliki sebuah tulisan atau kalimat yang berisi empat baris. Bosch menerjemahkan kalimat yang ada pada batu prasasti itu, “ini tanda ucapan Rakryan Juru Pangambat; alam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan negara dikembalikan kepada Raja Sunda.”

Untuk membaca angka tahunnya dibaca dari kanan ke kiri, karena angka tahunnya memiliki corak sangkala. Dengan demikian, pembuatan prasasti tersebut pada tahun 458 Saka atau 536 Masehi.

Dalam batu prasasti yang kedua terdapat gambar sepasang telapak kaki gajah dan pada prasasti itu terdapat tulisasn yang berisi “jayavi shãlasya tãrumnendrasya hastinah airãvatãbhasya vibhãtidam padadvayam”. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti “kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanegara yang jaya dan berkuasa).


Sebagai informasi tambahan, Airawata dalam mitologi Hindu adalah nama gajah yang ditunggangi Batara Indra. Ia adalah seorang dewa perang dan penguasa guntur.


Sejarah Terbentuknya Kerajaan Sunda


Seperti yang sudah dibahas sebelumnya jika Kerajaan Sunda adalah pemecahan dari Kerajaan Tarumanegara. Namun, sebagian orang belum mengetahui sejarah singkat pemecahan tersebut. Berikut sejarah singkat terbentuknya Kerajaan Sunda.


Sebelum terjadi pemecahan, Kerajaan Tarumanegara dipimpin oleh Linggawarman. Ia menikah dengan seorang putri Indraprahasta yang bernama Déwi Ganggasari. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua orang putri, pertama Déwi Manasih, putri kedua bernama Sobakancana.


Putri pertama Linggawarman yang bernama Déwi Ganggasari menikah dengan Tarusbawa dari Sunda. Sementar itu putri kedua Linggawarman yang bernama Sobakancana menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa (pendiri Kerajaan Sriwijaya).


Dalam masa pemerintahan Kerajaan Tarumanegara hanya ada 12 orang yang memimpin kerajaan tersebut. Di tahun 669 Masehi, raja terakhir Kerajaan Tarumanegara, yaitu Linggawarman kedudukannya digantikan oleh menantunya yang bernama Tarusbawa.

Tarusbawa sendiri berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa. Ia melihat pamor Kerajaan Tarumanegara sudah mulai menurun. Karena hal itulah, Tarusbawa ingin sekali mengembalikan kejayaan dan keharuman seperti zaman Purnawarman yang bekedudukan di Purasaba (ibu kota) Sundapura.


Di tahun 670 Masehi, Tarusbawa mengganti Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda. Penggantian nama itu membuat Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh memisahkan negaranya dari kekuasaan atau kepemimpinan Tarusbawa.

Wretikandayun adalah seorang putra Galuh menikah dengan seorang Putri yang bernama Parwati. Parwati adalah seorang putri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga (sebuah kerajaan di Jawa Tengah). Dengan dukungan Kerajaan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Kerajaan Tarumanegara dibagi menjadi dua bagian.


Tarusbawa sedang dalam keadaan lemah dan tidak ingin terjadi perang saudara maka ia menerima tuntutan yang diajukan Wretikandayun. Di tahun 670 Masehi, bekas kawasan Kerajaan Tarumanegara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Sungai Citarum menjadi pembatas antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Setelah terjadi pemecahan, Tarusbawa kemudian mendirikan atau membangun Ibukota Kerajaan yang baru yang terletak di daerah pedalaman dekat hulu sungai Cipakancilan.


Dalam Carita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa hanya disebut dengan gelarnya saja, yatitu Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Tarusbawa bisa dikatakan sebagai seseorang yang mencetuskan cikal bakal raja-raja Sunda. Masa pemerintahan Kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Tarusbawa hanya sampai pada tahun 723 Masehi.

Putra dari Tarusbawa sudah wafat terlebih dahulu sehingga putra putri mahkota yang bernama Tejakencana diangkat menjadi seorang anak dan ahli waris kerajaan. Suami dari putri inilah yang menjadi raja kedua di Kerajaan Sunda. Suami putri itu bernama Rakeyan Jamri yang juga cicit dari Wretikandayun.


Ketika menjadi seorang raja di Kerajaan Sunda, Rakeyan Jamri dikenal dengan nama Prabu Harisdarma. Namun, setelah ia berhasil menguasai Kerajaan Galuh, nama Sanjaya lebih dikenal oleh banyak orang.


Sebagai ahli waris Kerajaan Kalingga, Rakeyan Jamri menjadi pemimpin Kerajaan Kalingga Utara atau lebih dikenal dengan nama Bumi Mataram di tahun 732 Masehi. Sedangkan kekuasaannya di Jawa Barat diberikan kepada putranya yang berasal dari Tejakencana yang bernama Tamperan atau Rakeyan Panaraban.


Rakeyan Panaraban adalah kakak dari Rakai Panangkaran (Putra Sanjaya dari Sudiwara putri Dewasingga raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara).


Raja-Raja Kerajaan Sunda


Hanya sampai pada kekuasaan Sri Jayabupati, raja-raja Sunda berjumlah 20 orang. Berikut nama-nama raja Sunda.

1. Tarusbawa (Menantu Linggawarman, (669-723 M)


2. Harisdarma atau Sanjaya (Menantu Tarusbawa, (723- 732 M)

3. Tamperan Barmawijaya (732- 739 M)

4. Rakeyan Banga (739-766 M)

5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766-783 M)

6. Prabu Giliwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, (785-795 M)

7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Giliwesi (795-819 M)

8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819-891 M)

9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon, 891-895 M)

10. Windusakti Prabu Dewageng (895-913 M)

11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913-916 M)

12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916-942 M)

13. Atmayadarma Hariwangsa (942-954 M)

14. Limbur Kancana (putra Rakeyan Kamuning Gading, 954-964 M)

15. Prabu Munding Ganawirya (964-973 M)

16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973-989 M)

17. Prabu Brajawisesa (989-1012 M)

18. Prabu Dewa Sanghyang (1012-2029 M)

19. Prabu Sanghyang Ageng (1019-1030 M)

20. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabuopati (1030-1042 M)

No comments:

Post a Comment