19 October 2022

Sejarah Magelang - Masjid Jami' Baitul Muttawin Masjid Tiban Masjid Wali Trasan Bandongan Magelang

 MASJID JAMI' BAITUL MUTTAQIN (Masjid Tiban / Masjid Wali), TRASAN, BANDONGAN, MAGELANG

Oleh : Chandra Gusta Wisnuwardhana

Masjid Jami' Baitul Muttaqin atau yang lazim disebut Masjid Tiban atau Masjid Wali ini berlokasi di Kauman, Trasan, Bandongan, Kabupaten Magelang. Masjid ini merupakan salah satu masjid yang dijadikan sampel penelitian dari buku karya Guillaume Frederic Pijper yang berjudul "Studien Over de Geschiedenis van de Islam in Indonesia: 1900-1950" dalam bab "De Moskeeen van Java". 


Secara tradisi tutur, Masjid Jami' Baitul Muttaqin berdiri secara gaib pada masa islamisasi Jawa oleh para wali terdahulu. Konon, dulunya, masjid ini sendiri tidak berada di lokasinya yang sekarang melainkan berada di bagian lain dari desa Trasan (makam cangkiran?). Karena kemunculannya secara tiba-tiba inilah yang kemudian menjadikan masjid ini disebut dengan nama "Masjid Tiban" (tiba - tiba muncul / jatuh). Sebenarnya terdapat berbagai macam versi mengenai keberadaan dan sejarah munculnya masjid ini, tapi kali ini saya tidak akan membahasnya.


Layaknya masjid tradisional Jawa lainnya, gaya bangunan masjid Baitul Muttaqin ini memiliki kesamaan dengan langgam arsitektur Masjid Agung Demak. Secara bentuk, bagian utama (inti) masjid masih mempertahankan struktur bangunan lama khas masjid tua di Jawa. Luas bangunan utama masjid ini sendiri sekitar 15 x 15 meter. Pada bagian dalam masjid, terdapat 16 tiang penyangga (soko) kayu jati dengan 4 tiang utama (soko guru) setinggi 7-8 meter dan sisanya berukuran lebih pendek sekitar 2,5 meter. Pada beberapa bagian tiang ditemukan hiasan berupa ornamen berbentuk sulur layaknya anteviks candi yang menghadap ke atas. 


Secara utuh, bagian atap masjid ini berbentuk tajuk (meru) bersusun dua. Pada bagian kemuncak (mustaka) meru masjid terdapat ornamen hiasan dari tanah liat (terakota) berbentuk gada (senjata sakti milik tokoh pewayangan Raden Werkudara), daun kluwih dan bunga gambir, layaknya mustaka masjid tradisional seperti Masjid Gedhe Yogyakarta. Pun demikian, masyarakat sekitar mempresepsikan ornamen hiasan pada mustaka ini adalah binatang melata seperti kadal dan cicak. Sebagai penutup utama atap, genting tanah liat model "kripik" masih dipertahankan. 


Sebagai pelengkap peribadahan, sebuah mimbar dari kayu dan semen berada di sebalah kiri pengimaman (mihrab). Komponen kayu mimbar konon masih asli sejak dulu. Bentuk mimbarnya sendiri nampaknya mendapat pengaruh dari mimbar gaya Timur Tengah / Asia Minor. Terdapat juga sebuah bedug kayu dengan membran kulit berpasak kayu dan kentongan kayu berbentuk lesung di shaf belakang kiri pintu masuk. 


Layaknya masjid tua, pada bagian belakang masjid ditemukan makam yang diperuntukkan bagi para imam, pengurus dan warga yang tinggal disekitar masjid. 


Bertambanya jumlah jamaah membuat perluasan area masjid menjadi tidak terhindarkan. Penggantian dinding masjid dari kayu / bambu ke dinding semen, perluasan area serambi dan pembangunan bangunan pendukung masjid lainnya bertambah seiring waktu sesuai kebutuhan.


Tradisi "Selikuran" atau menyambut malam ke dua puluh satu di 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah momen istimewa bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Masjid Tiban. Hal tersebut dikarenakan banyak umat muslim yang berbondong-bondong ke masjid Tiban ini untuk melakukan iktikhaf atau "ngalap berkah". Kedatangan jama'ah yang banyak dari berbagai daerah ini sudah barang tentu membawa dampak ekonomi yang positif bagi masyarakat sekitar. Para penjual makanan, mainan dan pernak-pernik ibadah ramai menjajakan barang dagangannya. Dengan demikian, konsep "ngalap berkah" berupa berkah spiritual dengan beribadah di masjid dan berkah material sebagai dampak transaksi jual beli baik oleh jama'ah masjid dan masyarakat bisa dinikmati berkat keberadaan Masjid Jami' Baitul Muttaqin ini.


- Chandra Gusta Wisnuwardana -











 










18 October 2022

Petugas pengantar pos, 1917

 Petugas pengantar pos, 1917

Foto: W. F. Commerell



Dokter. Achmad Nawir (kapten kesebelasan Hindia Belanda) & Puck Van Heel (kapten kesebelasan Kerajaan Belanda) saat pertandingan persahabatan 26 Juni 1938

 Dokter. Achmad Nawir (kapten kesebelasan Hindia Belanda) & Puck Van Heel (kapten kesebelasan Kerajaan Belanda) saat pertandingan persahabatan 26 Juni 1938 (sumber: Gahetna)



17 October 2022

Sejarah Magelang - Apotik Sumbing 1973 & 2022

 Apotik Sumbing 1973 & 2022


📷 : Arsip Kota (1973), Google Streetview (2022)



Potret seorang wanita membawa sepedanya di Madiun, Jawa Timur [Nederlands-Indië] sekitar tahun 1918-1919

 Potret seorang wanita membawa sepedanya di Madiun, Jawa Timur [Nederlands-Indië] sekitar tahun 1918-1919

-----

Sumber Foto 📸 : KITLV

Oleh : Potret Sejarah Indonesia



Sejarah Magelang - Groote Wrg Noord Nabij Societeit De Eendracht ( Rechts ) te Magelang

 Groote Weg Noord nabij Sociëteit De Eendracht (rechts) te Magelang.

.

Suasana pagi hari Grote Weg Noord dekat gedung Sociëteit De Eendracht (kanan) di Magelang pada tahun 1927.

.

Terlihat rel kereta api yang menghubungkan stasiun Magelang-Jogja. 

.

Sumber foto: KITL, google Map.

Colourized by Wisnu Pratama 

.Matur suwun  @wisnudewa69








Grebeg Gule Tradisi Nyadran di Kompleks Makam Kyai Tuk Songo Cacaban Kota Magelang

 Grebeg Gule  dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tradisi Nyadran di Kompleks Makam Kyai Tuk Songo yang lokasinya berada tidak jauh dari aliran Kali Progo, Cacaban, Kota Magelang. Grebeg Gule dan Nyadran dilaksanakan secara rutin pada hari Jum’at Pon pada Bulan Besar. Apabila dalam Bulan Besar tidak ada hari Jum’at Pon , maka Nyadran dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon Kirab Grebeg Gule Tuk Songo dimulai dari Lapangan Kwarasan, Cacaban, Kota Magelang menuju ke komplek makam Kyai Tuk Songo. Dalam kirab ini, beberapa orang tampil di depan dengan berpakaian bregada yang memikul sebuah tempayan berisi masakan gule kambing dan gunungan dari sayur-sayuran dan palawija. Di belakang ada beberapa orang yang salah satu tangannya memegang sebuah layah yang berisi daging masakan gule, kemudian disusul dengan kelompok yang memikul gunungan hasil bumi, dan bagian belakang tampil kesenian tradisional. Sebelum kirab atau arak-arakan ini berangkat menuju ke komplek makam Kyai Tuk Songo, juga digelar sebuah fragmen yang menceriterakan asal-muasal hadirnya gerebeg gule ini, dan secara simbolis prosesi gerebeg gule diawali dengan penuangan daging kambing ke dalam tungku atau tempayan oleh Pejabat Pemerintah Kota Magelang. Dengan penuh kebersamaan dan suka ria, masyarakat pun memasaknya, untuk kemudian masakan tersebut dikirab menuju ke komplek makam Kyai Tuk Songo. Untuk sampai di komplek makam, yang tidak jauh dari aliran Kali Progo ini, terlebih dahulu harus jalan kaki menyusuri pematang sawah yang berkelok-kelok. Bersamaan dengan itu masyarakat Kelurahan Cacaban, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang sudah banyak yang menunggu sambil duduk lesehan di atas alas atau tikar yang dibawa dari rumah masing-masing. Selain membawa tikar atau alas untuk duduk lainnya, warga pun datang juga membawa tas yang berisi makanan, ada yang berbentuk nasi kuning lengkap dengan lauk-pauknya, nasi putih dengan beberapa lauk sayur-sayuran maupun jajanan buatan sendiri. Beberapa acara juga digelar di komplek makam ini, diantaranya ceramah agama yang dilanjutkan dengan pembacaan Surat Al-Ikhlas, tahlil maupun lainnya. Begitu pembacaan Surat Al-Ikhlas dan tahlil, yang dipimpin seorang kyai atau Ustad selesai dilakukan, beberapa warga langsung saling tukar makanan yang dibawanya. Beberapa saat kemudian, warga pun mulai berebut gunungan hasil bumi, yang di bagian atasnya terdapat sebuah jantung pisang sebagai 'mahkota'-nya. Beberapa orang kemudian juga berebut gulai kambing, yang diletakkan di lokasi lain. Dalam acara Grebeg Gulai Tuk Songo ini juga dibacakan sejarah riwayat Nyadran ini yang dibacakan seorang warga. Dalam sejarah riwayat Nyadran Tuk Songo disebutkan kalau beberapa tahun silam di wilayah Cacaban terjadi pageblug dan banyak warga yang sakit kemudian meninggal dunia. Hal ini memperoleh perhatian santri dan tokoh agama saat itu, Kiai Kodri, meminta untuk dilaksanakan mujahadahan di tepi aliran Kali Progo ini untuk mohon keselamatan. Kyai Tuk Songo sendiri merupakan nama samaran dari Kiai Ahmad Abdussalam, yang merupakan salah satu murid Pangeran Diponegoro yang berasal dari Keraton Surakarta. Konon Kyai Tuk Songo ini merupakan teman Kyai Langgeng, dan sama-sama berjuang melawan penjajah Belanda. Tradisi Nyadran di Kompleks Makam Kyai Tuk Songo yang berada tidak jauh dari aliran Kali Progo, Cacaban, Kota Magelang, secara rutin dilaksanakan pada hari Jum'at Pon pada Bulan Besar. Apabila dalam Bulan Besar tidak ada hari Jum'at Pon , maka Nyadran dilaksanakan pada hari Jum'at Kliwon Tradisi Nyadran (Merti Desa) diselenggarakan di kompleks makam Kyai Tuk Songo di wilayah Kelurahan Cacaban, tepatnya dipinggir sungai progo pada setiap hari Jumat Pon Bulan Dzulhijah dengan membersihkan makam, membaca tahlil, dan terakhir makan bersama dengan masakan khas "Gulai Kambing" yang dimasak masyarakat dan pantang untuk dicicipin. Upacara ini dipercayakan masyarakat sebagai "tameng " dari segala bencana.


Untuk tahun 2013, Grebeg Gule dilaksanakan pada hari kamis, 17 Oktober 2013, jam : 15.00 WIB.



16 October 2022

Bapak Ibu Guru di Jogja tahun 1973

 Bapak Ibu  Guru di Jogja tahun 1973



Para pekerja pabrik timah, Manggar 1890

 Para pekerja pabrik timah, Manggar 1890

National Museum of World Cultures



Para pekerja di terowongan kereta api Mrawan, 1902

 Para pekerja di terowongan kereta api Mrawan, 1902

National Museum of World Cultures



15 October 2022

Tangga exotis menuju kawah gunung galunggung ada 620 anak tangga

 Tangga exotis menuju kawah gunung galunggung ada 620 anak tangga


lok: desa linggar jati, kecamatan sukaratu, kota Tasik malaya



Jamasan Topeng Lengger dalam rangkaian acara Saparan Merti Dusun Kledung Kulon desa Sutopati Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang

 Jamasan Topeng Lengger dalam rangkaian acara Saparan Merti Dusun Kledung Kulon desa Sutopati Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang. 

Oleh : Amat Sukandar

(Kliping Koran Merapi edisi cetak tanggal 12, 13, 14 dan 15 Oktober 2021)



Gedung kantor pos Solo ca 1920

 Gedung kantor pos Solo ca 1920


Foto: C.A. Wessel



Sekelompok istri para pejabat, Blora 1921

 Sekelompok istri para pejabat, Blora 1921

Nationaal Museum van Wereldculturen



Sejarah Magelang - Protes Masal Tanam Tarum di Magelang 1842

 PROTES MASAL TANAM TARUM DI MAGELANG 1842

Oleh : Chandra Gusta Wisnuwardhana

Tanaman Tarum / Indigo / nila merupakan tanaman yang lazim dimanfaatkan sebagai bahan baku pewarna alami pada kain oleh masyarakat Jawa. Warna biru yang dihasilkan oleh tanaman ini setelah diproses acap digunakan oleh masyarakat Jawa untuk mewarnai kain batik dan lurik mereka sejak lama. Tanama tarum umum ditemui di wilayah Kedu Selatan (Bagelen) dan juga wilayah Vorstenlanden Djocjakarta. Pun demikian, untuk wilayah Kedu Utara, tanaman ini kurang begitu terkenal dan dibudidayakan karena  tanaman Kopi, Tembakau, Teh dan tanaman pangan lainnya lebih mendominasi di wilayah ini. 


Pasca berakhirnya perang Jawa dan pemilihan wilayah Kedu sebagai kawasan pionir program cultuurstelsel, pada 1840, tanaman tarum mulai ditanam di Distrik Menoreh. Alasannya jelas, Distrik Menoreh memiliki tingkat kesuburan tanah yang baik selain jumlah petak sawah yang luas dan penduduk yang cukup banyak. Jenis tarum yang diperkenalkan di Karesidenan Kedu berbeda dengan tarum yang di tanam di Yogyakarta. Jenis Indigofera Suffruticosa dipilih untuk dibudidayakan di sini dibanding Indigofera Oligosperma yang banyak ditanam di wilayah kasultanan.


Dalam proyek wajib tanam tarum ini, sekira 400-450 bahu tanah digunakan sebagai proyek percontohan di Kabupaten Magelang. Kerja wajib tanam tarum ini ternyata menyita banyak waktu para petani karena setelah 5 bulan daun tarum baru dapat dipanen, pengolahannya sendiri membutuhkan waktu 3 bulan dan persiapan lahan tanam baru dilakukan sepanjang tahun. Beratnya beban kerja yang dipikul membuat cemas para petani yang tidak lagi memiliki waktu dan lahan untuk ditanami padi. Selain itu, tanah yang digunakan untuk tanaman tarum merupakan sawah dengan status yasa dimana penggunaan sawah ini harus dengan persetujuan para petani serta pemberian ganti rugi yang layak.


Setalah kerja wajib tanam tarum berjalan selama kurang lebih dua tahun, sekitar 800 orang petani kemudian mengadakan protes ke kediaman residen Kedu di Magelang. Dengan berbodong-bondong, para petani dari Distrik Menoreh ini membawa alat-alat pertanian mereka seperti parang dan sabit. Tuntuan mereka adalah bertemu langsung dengan Tuan Residen Hartman dan meminta penghapusan wajib tanam tarum di wilayah mereka. Sayang, Tuan Residen saat itu sedang tidak ada di kediamannya karena ada tugas di Semarang. Kanjeng Tuan Bupati Raden Adipati Danuningrat II yang ada di Magelang saat itu sudah mencoba untuk menampung keluh kesah mereka dan akan menyampaikannya kepada residen Hartman. Sang Bupati juga meminta para petani ini untuk kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Akan tetapi, para petani tetap bersikukuh untuk berbicara langsung dengan Tuan Residen. Alhasil, mereka menunggu kedatangan Residen Hartman di aloon-aloon Magelang dari Semarang.


Sekembalinya Residen Hartman dari Semarang, ia pun berbincang langsung dengan para petani. Dalam pertemuan ini, Residen Hartaman berjanji akan mengurangi tanaman tarum di Distrik Menoreh. Setelah mendengar keputusan tersebut, para petanipun akhirnya mau membubarkan diri dan pulang. 


Setalah protes besar 1842 ini, pemerintah pun mulai mengurangi areal tanaman tarum di Distrik Menoreh dan mulai mengalihkan penanaman tarum ke distrik lain secara bijaksana. Perluasan tanaman tarum ke distrik Probolinggo, Bligo dan Remame baru mulai dilaksanakan pasa 1848. Selain cara tersebut, guna meminimalisir konflik dengan para petani, pemerintah juga mulai memperbanyak pabarik pengolahan tarum. Selain itu, rotasi tanam tarum juga mulai  digalakkan agar petani tetap bisa menanam padi setalah tanaman tarum.


Pun demikian, kerja wajib tanam tarum resmi dihapuskan pada 1864 karena semakin menurunnya jumlah produksi diwilayah-wilayah sentra tanaman tarum serta mulai ditemukannya bahan pewarna sintetis kimia di Eropa. Penghapusan kerja wajib tanam tarum di seluruh Karesidenan Kedu ini kemudian disambut dengan gempita oleh seluruh masyarakat disana.


Sumber : Eksploitasi Kolonial Abad XIX: Kerja Wajib di Karesidenan Kadu 1800-1890, A.M Djuliati Suroyo


- Chandra Gusta Wisnuwardana -



Seorang anak sedang membuang hajat, Semarang 1910 Tropenmuseum

 Seorang anak sedang membuang hajat, Semarang 1910

Tropenmuseum



14 October 2022

Bus SMS Lin 82 Pejompongan-Tanah Abang-Harmoni-Lapangan Banteng Tahun 1980

 Bus SMS Lin 82 Pejompongan-Tanah Abang-Harmoni-Lapangan Banteng Tahun 1980-an (Foto: NMVW)



12 October 2022

Potret studio wanita Gayo keturunan Jawa, Nederlands-Indië, Ca.1904

 Potret studio wanita Gayo keturunan Jawa, Nederlands-Indië, Ca.1904

-----

Sumber Foto 📸 : Nederlands Fotomuseum

Oleh : Potret Sejarah Indonesia



SEJARAH MAGELANG - Masih di pertahankan keasliannya Rumah Dr Pranantyo

 Masih di pertahankan keasliannya

Rumah Dr Pranantyo



11 October 2022

Sejarah Magelang - Makam petilasan Alibasah Sentot Prawiro dirdjo ing desa Banyuwangi Kec Bandongan Kabupaten Magelang kahanane mrihatinake. Pereng sisih wetan lan kidul, longsor

 Makam petilasan Alibasah Sentot Prawiro dirdjo ing desa Banyuwangi Kec Bandongan Kabupaten Magelang kahanane mrihatinake. Pereng sisih wetan lan kidul, longsor 

Oleh : Amat Sukandar 



10 October 2022

Sejarah Magelang - MOSVIA

 MOSVIA (sekarang Gedung Mapolresta Magelang)

Oleh : Denmaz Didotte

Gedung ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1875. Semula gedung yang terletak di jalan Aloon-Aloon Kidoel ini diperuntukkan untuk HoofdenSchool (sekolah Calon Pemimpin). Dalam waktu yang hampir bersamaan, pemerintah Hinda Belanda juga membangun gedung Kweekschool Voor Inlandsche Ambtenaren, Sekolah  calon guru untuk HIS (Holland Indische School) sekolah setingkat SD khusus untuk pribumi. Gedung Kweekschool ini sekarang menjadi kantor Disdukcapil.


Menjelang tahun 1900an, baik Hoofdenschool maupun Kweekschool ditutup oleh pemerintah Hindia Belanda karena masalah mutu yang tidak memenuhi harapan. Penyebab utamanya karena kekurangan tenaga guru.


Sebagai ganti Hoofdenschool, pemerintah Hindia Belanda mendirikan OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren), sekolah calon pamong praja pribumi. Sekolah ini menempati gedung bekas Kweekschool yang berada di jalan Pastoeran. Tidak ada informasi setelah Hoofdenschhol ditutup lalu bangunannya digunakan untuk apa.


Sekitar tahun 1918 Kweekschool dihidupkan kembali dan menempati gedungnya yang lama. OSVIA kemudian dipindahkan ke bekas gedung Hoofdenschool. Pada tahun 1927, seluruh OSVIA di Indonesia ditutup dan muridnya disatukan di Magelang. OSVIA kemudian diganti dengan MOSVIA (Middlebare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Tujuan sekolah ini tetap sama dengan OSVIA, yaitu mendidik calon Pamong Praja Pribumi, tetapi hanya lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) sekolah setingkat SMP yang dapat mendaftar menjadi siswa MOSVIA. Sedang OSVIA menerima siswa lulusan HIS (SD) dengan masa belajar 7 tahun. (Sumber KITLV, dan Nederlands National Archieves)













Sejarah Magelang - Jl. Jend. Sudirman / Trunan, Magelang 1970 an

 Jl. Jend. Sudirman / Trunan, Magelang 1970-an

Oleh : Cahyono Edo Santosa

:: Arsip Kota Magelang

 



Sejarah Magelang - Kunjungan studi mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Maranatha Bandung ke RSJ Magelang (1982)

 Kunjungan studi mahasiswa fakultas Psikologi Universitas Maranatha Bandung ke RSJ Magelang (1982)

Oleh : Cahyono Edo Santosa

📷 : Saputra Halim



09 October 2022

Potret studio istri seorang tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) dan kedua orang anaknya di Malang, Jawa Timur, sekitar tahun 1948-1951

 Potret studio istri seorang tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) dan kedua orang anaknya di Malang, Jawa Timur, sekitar tahun 1948-1951.

-----

Sumber Foto 📸 : Moluccan Historical Museum.

Oleh : Potret Sejarah Indonesia



08 October 2022

Sejarah Magelang - Jembatan di Muntilan yang rusak saat terjadi Agresi Militer 1949

 Jembatan di Muntilan yang rusak saat terjadi Agresi Militer 1949

Oleh : Cahyono Edo Santosa

📷 : De Mortier van 5 1947-1950





07 October 2022

Sejarah Magelang - Candi Umbul

 Sekilas info pemandian air hangat peninggalan purbakala, Candi Umbul, (kliping Kompas, tahun 1974 )

Oleh : Amat Sukandar



Gerobak sapi melintas di titik 0 km kota jogja.. Terlihat gedung seni sono.

 Gerobak sapi melintas di titik 0 km kota jogja.. Terlihat gedung seni sono.



Auto onderweg van Soerakarta naar Madioen, 1927 Sebuah mobil diperjalan dari Surakarta ke Madiun, sekitar tahun 1927

 Auto onderweg van Soerakarta naar Madioen, 1927


Sebuah mobil diperjalan dari Surakarta ke Madiun, sekitar tahun 1927



Leiden university Leiden

https://lensabudaya.com





06 October 2022

Suasana sebuah persidangan di Pati, 1867

 Suasana sebuah persidangan di Pati, 1867


Fotograaf: Woodbury & Page



Suasana kampung di Kali Gondang, Demak 1920

 Suasana kampung di Kali Gondang, Demak 1920


Tropenmuseum



Potret Studio seorang wanita Jawa(?), Nederlands-Indië, Ca.1870

 Potret Studio seorang wanita Jawa(?), Nederlands-Indië, Ca.1870

-----

Sumber Foto 📸 : KITLV Leiden 

Oleh : Potret Sejarah Indonesia



Sejarah Magelang - Pembangunan Jembatan Kali Blongkeng Muntilan Magelang

 Oleh : Cahyono Edo Santosa 




03 October 2022

Sejarah Magelang - Pegawai Eropa di depan sebuah rumah di Magelang, 1926, Universitas Leiden, diwarnai Europees gezelschap voor een woning te Magelang, 1926, Universiteit Leiden, ingekleurd

 Pegawai Eropa di depan sebuah rumah di Magelang, 1926, Universitas Leiden, diwarnai


Europees gezelschap voor een woning te Magelang, 1926, Universiteit Leiden, ingekleurd

Oleh : Bintoro Hoepoedio



02 October 2022

Festival Lima Gunung ( FLG ) XXI Tahun 2022 di Mantran Wetan Girirejo Ngablak Magelang

 Festival Lima Gunung ( FLG ) XXI Tahun 2022 di Mantran Wetan Girirejo Ngablak Magelang 30 September - 2 Oktober 2022









Sejarah Magelang - Legenda Kota Kita : Cafetaria "CEMARA DUA" Juritan Lor, Magelang (Desember 1983)

 Legenda Kota Kita :

Oleh : Cahyono Edo Santosa

Cafetaria "CEMARA DUA" Juritan Lor, Magelang (Desember 1983)


Siapa yang masih sering nongkrong jajan di sini? 


📷 : Ninik Lie



01 October 2022

Sejarah Magelang - Menceritakan perjalanan panjang KRT SURONOLO, leluhur desa Soronalan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, dari Wengker Ponorogo sampai ke Soronalan Magelang

 Menceritakan perjalanan panjang KRT SURONOLO, leluhur desa Soronalan Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang, dari Wengker Ponorogo sampai ke Soronalan Magelang.

Oleh : Amat Sukandar



Sejarah Magelang - Di kota Magelang pernah ada Universitas ternama negeri meskipun hanya cabang. UNIVERSITAS GADJAH MADA cabang Magelang dari tahun 1964 - 1978, Kampusnya ada di ex Karesidenan Kedu.

 Di kota Magelang pernah ada Universitas ternama negeri meskipun hanya cabang.

UNIVERSITAS GADJAH MADA cabang Magelang dari tahun 1964 - 1978, Kampusnya ada di ex Karesidenan Kedu.

Oleh : Adi Budi Djatmiko