Perang Saudara Dua Putra Raja Airlangga Setelah Kerajaan Dibagi Dua
Perang saudara membuat dua kerajaan yang awalnya didirikan Raja Airlangga, Jenggala dan Panjalu terpecah. Padahal awalnya di kerajaan itu dibentuk untuk diwariskan ke sang anak.
Akhir November 1042, Raja Airlangga membagi wilayah kerajaan Kahuripan menjadi dua, yakni Panjalu dan Jenggala. Wilayah Panjalu berpusat di ibu kota baru, yaitu Daha. Wilayah Jenggala berpusat di ibu kota lama, Kahuripan.
Airlangga membagi kerajaan untuk kedua putranya. Kerajaan Panjalu dipimpin oleh Sri Samarawijaya, sementara Kerajaan Jenggala dipimpin Mapanji Garasakan.
Perang saudara pecah setelah pembelahan kerajaan Kahuripan oleh Airlangga. Persaingan kedua putranya tidak berakhir setelah masing-masing menjadi raja. Mereka justru saling serang.
Pada 1044, Raja Jenggala (Mapanji Garasakan) mengesahkan Desa Turun Hyang sebagai daerah perdikan (bebas pajak). Pengasahan desa perdikan itu sebagai penghargaan kepada penduduk desa yang setia membantu Jenggala melawan Kerajaan Panjalu.
Selanjutnya, pada 1052, Garasakan memberikan anugerah kepada Desa Malenga karena masyarakatnya membantu Jenggala dalam pertempuran melawan Raja Tanjung, yang merupakan anak buah Kerajaan Panjalu.
Perang saudara antara Raja Jenggala dengan Raja Panjalu mengakibatkan konflik berkepanjangan antara dua kerajaan. Perang ini menunjukkan kerumitan politik dalam upaya mempertahankan dan merebut kekuasaan setelah pembelahan kerajaan.
Pembelahan yang dilakukan oleh Raja Airlangga tidak mengakhiri persaingan antara kedua putranya yang sudah ada sejak masa kejayaan Kerajaan Kahuripan.
Perang saudara antara Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu jadi babak penting dalam sejarah Jawa kuno. Peristiwa ini mencerminkan perpecahan politik dan perubahan kepemimpinan setelah pembelahan wilayah oleh Raja Airlangga pada 1042.
Prasasti Banjaran (1052) mengisahkan tentang putra mahkota Jenggala bernama Alanjung Ahyes yang melarikan diri ke hutan Marsma, karena ibu kota Jenggala, yaitu Kahuripan diserang musuh. Alanjung Ahyes berhasil merebut kembali takhta Jenggala berkat bantuan para pemuka Desa Banjaran.
Raja Garasakan diperkirakan tewas tahun 1052 karena serangan musuh. Adapun musuh Jenggala yang paling kuat saat itu adalah Kerajaan Panjalu/Kadiri. Namun tidak diketahui pasti apakah raja Kadiri saat itu masih Sri Samarawijaya atau bukan.
Kerajaan Panjalu yang juga dikenal sebagai Kerajaan Kadiri di bawah pemerintahan Samarawijaya di Kadiri dikenal sebagai masa kegelapan. Pasalnya sang raja tidak meninggalkan bukti prasasti.
Samarawijaya naik takhta tahun 1042, atau setelah Airlangga turun takhta menjadi pendeta (berdasarkan berita dari prasasti Pamwatan dan prasasti Gandhakuti).
Sejak tahun 1044, antara penguasa kerajaan Janggala dan Panjalu terjadi ketegangan yang mengakibatkan peperangan.
Ketegangan antara Janggala dan Panjalu berlarut-larut, dan berakhir pada tahun 1135 dengan hancurnya kerajaan Janggala oleh Raja Panjalu Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya.
Kemenangan Panjalu terhadap Janggala terdokumentasi pada Prasasti Hantang, yang memuat ucapan Panjalu Jayati, yang artinya Panjalu yang menang.
* Abror Subhi
Dari berbagai sumber

No comments:
Post a Comment