20 November 2025

Orang Jepang membenci Islam dengan kebencian yang sangat mendalam. Selama pendudukan mereka atas Indonesia pada Perang Dunia II, mereka meminta umat Islam Indonesia untuk meninggalkan agama mereka dan memberlakukan undang-undang yang melarang praktik Islam di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Pada tahun-tahun ketika dunia tenggelam dalam api Perang Dunia II, ketika api pertempuran meluas dari Asia Timur hingga Kepulauan Hindia Belanda, Jepang memasuki Indonesia dengan semboyan yang tampak cemerlang pada pandangan pertama: membebaskan bangsa-bangsa Asia dari kolonialisme Barat. Namun, semboyan ini segera terungkap wajah aslinya. Pendudukan Jepang merupakan salah satu bab paling berdarah dalam sejarah Indonesia, meninggalkan luka dalam ingatan umat Islam yang jejaknya masih ada hingga hari ini. Ketika pemerintahan Belanda runtuh menghadapi serangan Jepang pada tahun 1942, banyak orang Indonesia—sebagian besar adalah Muslim—mengira bahwa pengusiran Belanda adalah tanda datangnya era baru, mungkin membawa keadilan atau sedikit kelegaan setelah tiga abad dominasi Eropa. Namun, Jepang bukanlah pembebas, melainkan kekuatan militer yang tidak kalah kejam daripada pendahulunya, bahkan tiga tahun pendudukan mereka melebihi penderitaan yang dialami rakyat selama puluhan tahun kolonialisme Belanda. Islam waktu itu udah jadi tulang punggung masyarakat—ngatur kehidupan, ngumpulin desa, menggerakkan ulama, khotib, dan pesantren. Nah, ini yang bikin Jepang waswas. Mereka langsung mulai kendalikan lembaga agama: sekolah agama ditutup, khutbah diawasi ketat, imam gak boleh naik mimbar kalau nggak dapet izin dari Jepang, naskah khutbah dicek dulu. Organisasi Islam tua seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama diawasi ketat, karena Jepang melihat Islam sebagai gerakan politik lebih daripada spiritual, yang mampu memicu perlawanan luas jika dibiarkan tanpa pengawasan. Kemudian datang pukulan paling berat: sistem kerja paksa yang dikenal sebagai "Romusha". Orang Indonesia belum pernah mengalami bencana semacam ini dalam sejarah modern mereka. Desa-desa digeledah, pemuda-pemuda diculik secara paksa, dan dipaksa bekerja keras di pegunungan, hutan, jalan raya, dan tambang. Ratusan ribu, mungkin lebih dari satu juta Muslim, meninggal dalam kondisi kejam akibat kelaparan, penyakit, dan kekerasan. Tidak ada catatan yang akurat, karena siapa pun yang masuk ke dalam sistem Romusha dianggap hilang. Salah satu lokasi paling terkenal penderitaan adalah pembangunan "Jalan Kereta Api Kematian" antara Burma dan Thailand, yang terkenal secara global karena korban sekutu, tetapi jarang disebut bahwa Muslim Indonesia merupakan kelompok terbanyak, dan lebih sedikit yang mengetahui nama-nama mereka. Selain itu, tentara Jepang memanfaatkan ribuan perempuan Muslim dalam sistem "wanita penghibur", sistem eksploitasi seksual terbesar yang pernah dilakukan oleh tentara abad ke-20. Tentara menyerbu desa-desa, menangkap ribuan gadis Muslim, dan memaksa mereka bekerja di kamp-kamp khusus yang mengeksploitasi perempuan secara seksual atas nama tentara. Keheningan menyelimuti bencana ini selama beberapa dekade karena rasa malu dan takut, tetapi ia tetap menjadi noda hitam dalam sejarah pendudukan. Ekonomi Indonesia pun tidak luput dari penderitaan. Dalam masa perang total, Jepang membutuhkan setiap butir beras, sehingga mereka menyita seluruh hasil panen dan mendistribusikannya kembali melalui tentara. Kelaparan merebak, terutama pada tahun 1944 dan 1945, hingga orang-orang di beberapa desa terpaksa memakan rumput, dan angka kematian meningkat tajam di kalangan anak-anak dan perempuan. Kelaparan menjadi senjata sekaligus akibat perang. Pendudukan juga tidak toleran terhadap siapa pun ulama atau khotib yang mencoba protes. Banyak ulama Muslim dieksekusi di alun-alun, sebagian lain dikubur hidup-hidup, dan sejumlah besar pemimpin organisasi Islam dipenjara setelah dituduh menghasut dan pengkhianatan. Bahkan pendidikan pun tidak luput: Jepang mengubah kurikulum, memaksa anak-anak untuk mengulang slogan-slogan yang memuja Kaisar dan menyembahnya sebagai tuhan, sambil melarang pengajaran bahasa Arab dan Al-Qur'an. Ketika Jepang kalah pada Agustus 1945, mereka meninggalkan negara yang hancur dan kelaparan, kehilangan puluhan ribu putra, ulama, dan perempuannya. Namun, masa-masa berat ini membangkitkan dalam diri orang Indonesia perasaan mendalam akan kebutuhan akan kemerdekaan, menjadi titik balik besar yang membuat deklarasi kemerdekaan menjadi mungkin hanya beberapa hari setelah penyerahan Jepang. Jadi, pendudukan Jepang ini bukti nyata: slogan-slogan mulia bisa jadi topeng dari kekejaman paling mengerikan. Muslim di Nusantara—yang nggak ikut perang—harus bayar harga mahal: darah, nyawa, dan harga diri mereka. Mereka nggak cari perang, tapi malah jadi korban di tengahnya. Referensi: 1. Shigeru Sato, Japan’s Occupation of Indonesia. 2. Anthony Reid, The Indonesian War of Independence. 3. Yoshimi Yoshiaki, Comfort Women. 4. Laporan Komisi Kebenaran Indonesia 1942–1945. 5. Arsip Pemerintah Belanda – Den Haag ✍ Sejarah Islam

 Orang Jepang membenci Islam dengan kebencian yang sangat mendalam. Selama pendudukan mereka atas Indonesia pada Perang Dunia II, mereka meminta umat Islam Indonesia untuk meninggalkan agama mereka dan memberlakukan undang-undang yang melarang praktik Islam di Indonesia, terutama di kota-kota besar.



Pada tahun-tahun ketika dunia tenggelam dalam api Perang Dunia II, ketika api pertempuran meluas dari Asia Timur hingga Kepulauan Hindia Belanda, Jepang memasuki Indonesia dengan semboyan yang tampak cemerlang pada pandangan pertama: membebaskan bangsa-bangsa Asia dari kolonialisme Barat. 


Namun, semboyan ini segera terungkap wajah aslinya. Pendudukan Jepang merupakan salah satu bab paling berdarah dalam sejarah Indonesia, meninggalkan luka dalam ingatan umat Islam yang jejaknya masih ada hingga hari ini.


Ketika pemerintahan Belanda runtuh menghadapi serangan Jepang pada tahun 1942, banyak orang Indonesia—sebagian besar adalah Muslim—mengira bahwa pengusiran Belanda adalah tanda datangnya era baru, mungkin membawa keadilan atau sedikit kelegaan setelah tiga abad dominasi Eropa. 


Namun, Jepang bukanlah pembebas, melainkan kekuatan militer yang tidak kalah kejam daripada pendahulunya, bahkan tiga tahun pendudukan mereka melebihi penderitaan yang dialami rakyat selama puluhan tahun kolonialisme Belanda.


Islam waktu itu udah jadi tulang punggung masyarakat—ngatur kehidupan, ngumpulin desa, menggerakkan ulama, khotib, dan pesantren. Nah, ini yang bikin Jepang waswas. Mereka langsung mulai kendalikan lembaga agama: sekolah agama ditutup, khutbah diawasi ketat, imam gak boleh naik mimbar kalau nggak dapet izin dari Jepang, naskah khutbah dicek dulu. 


Organisasi Islam tua seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama diawasi ketat, karena Jepang melihat Islam sebagai gerakan politik lebih daripada spiritual, yang mampu memicu perlawanan luas jika dibiarkan tanpa pengawasan.


Kemudian datang pukulan paling berat: sistem kerja paksa yang dikenal sebagai "Romusha". Orang Indonesia belum pernah mengalami bencana semacam ini dalam sejarah modern mereka. Desa-desa digeledah, pemuda-pemuda diculik secara paksa, dan dipaksa bekerja keras di pegunungan, hutan, jalan raya, dan tambang. Ratusan ribu, mungkin lebih dari satu juta Muslim, meninggal dalam kondisi kejam akibat kelaparan, penyakit, dan kekerasan. 


Tidak ada catatan yang akurat, karena siapa pun yang masuk ke dalam sistem Romusha dianggap hilang. Salah satu lokasi paling terkenal penderitaan adalah pembangunan "Jalan Kereta Api Kematian" antara Burma dan Thailand, yang terkenal secara global karena korban sekutu, tetapi jarang disebut bahwa Muslim Indonesia merupakan kelompok terbanyak, dan lebih sedikit yang mengetahui nama-nama mereka.


Selain itu, tentara Jepang memanfaatkan ribuan perempuan Muslim dalam sistem "wanita penghibur", sistem eksploitasi seksual terbesar yang pernah dilakukan oleh tentara abad ke-20. Tentara menyerbu desa-desa, menangkap ribuan gadis Muslim, dan memaksa mereka bekerja di kamp-kamp khusus yang mengeksploitasi perempuan secara seksual atas nama tentara. Keheningan menyelimuti bencana ini selama beberapa dekade karena rasa malu dan takut, tetapi ia tetap menjadi noda hitam dalam sejarah pendudukan.


Ekonomi Indonesia pun tidak luput dari penderitaan. Dalam masa perang total, Jepang membutuhkan setiap butir beras, sehingga mereka menyita seluruh hasil panen dan mendistribusikannya kembali melalui tentara. 


Kelaparan merebak, terutama pada tahun 1944 dan 1945, hingga orang-orang di beberapa desa terpaksa memakan rumput, dan angka kematian meningkat tajam di kalangan anak-anak dan perempuan. Kelaparan menjadi senjata sekaligus akibat perang.


Pendudukan juga tidak toleran terhadap siapa pun ulama atau khotib yang mencoba protes. Banyak ulama Muslim dieksekusi di alun-alun, sebagian lain dikubur hidup-hidup, dan sejumlah besar pemimpin organisasi Islam dipenjara setelah dituduh menghasut dan pengkhianatan. 


Bahkan pendidikan pun tidak luput: Jepang mengubah kurikulum, memaksa anak-anak untuk mengulang slogan-slogan yang memuja Kaisar dan menyembahnya sebagai tuhan, sambil melarang pengajaran bahasa Arab dan Al-Qur'an.


Ketika Jepang kalah pada Agustus 1945, mereka meninggalkan negara yang hancur dan kelaparan, kehilangan puluhan ribu putra, ulama, dan perempuannya. Namun, masa-masa berat ini membangkitkan dalam diri orang Indonesia perasaan mendalam akan kebutuhan akan kemerdekaan, menjadi titik balik besar yang membuat deklarasi kemerdekaan menjadi mungkin hanya beberapa hari setelah penyerahan Jepang.


Jadi, pendudukan Jepang ini bukti nyata: slogan-slogan mulia bisa jadi topeng dari kekejaman paling mengerikan. Muslim di Nusantara—yang nggak ikut perang—harus bayar harga mahal: darah, nyawa, dan harga diri mereka. Mereka nggak cari perang, tapi malah jadi korban di tengahnya.


Referensi:

1. Shigeru Sato, Japan’s Occupation of Indonesia.

2. Anthony Reid, The Indonesian War of Independence.

3. Yoshimi Yoshiaki, Comfort Women.

4. Laporan Komisi Kebenaran Indonesia 1942–1945.

5. Arsip Pemerintah Belanda – Den Haag

✍ Sejarah Islam

No comments:

Post a Comment