18 May 2026

Menolak Opini "Thomas Matulessy adalah Pattimura" Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia dicekoki oleh narasi sejarah tunggal yang menyatakan bahwa Kapitan Pattimura adalah seorang pria bernama Thomas Matulessy. Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973, negara melegitimasi identitas ini ke dalam buku-buku pelajaran sekolah hingga mata uang nasional. Namun, jika kita membedah sejarah dengan pendekatan kritis dan objektif, klaim yang menyamakan Thomas Matulessy secara mutlak sebagai sosok tunggal Pattimura adalah sebuah bentuk penggiringan opini, rekayasa narasi, dan kecacatan historiografi yang luar biasa. 1. Ketiadaan Nama "Pattimura" dalam Arsip Primer Sezaman Penolakan pertama didasarkan pada fakta dokumen hukum dan militer kolonial Hindia Belanda tahun 1817. Dalam tumpukan arsip komando lapangan, berkas interogasi, hingga surat vonis hukuman gantung (Verbaal) tertanggal 16 Desember 1817 di Ambon, nama "Pattimura" tidak pernah eksis. Pihak Belanda hanya mencatat, mengadili, dan mengeksekusi seorang mantan Sersan militer Inggris bernama Thomas Matulessia (Thomas Matulessy). Penggabungan nama "Thomas Matulessy" dan "Pattimura" menjadi satu nama individu baru adalah produk tulisan modern, bukan fakta lapangan tahun 1817. 2. Buku M. Sapija (1954) sumber Tunggal yang Cacat MetodologiAsal-usul penyebutan Thomas Matulessy sebagai Pattimura baru muncul pertama kali ke publik pada tahun 1954 lewat buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura karya M. Sapija. Penulisan ini terbukti tidak berbasis pada penelusuran dokumen sejarah abad ke-19 yang valid atau verifikasi silsilah adat yang ketat. Buku tersebut ditulis bukan sebagai karya sains sejarah murni, melainkan sebagai alat propaganda politik pasca-pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) guna menciptakan mitos pahlawan pemersatu yang pro-Jakarta. Sangat fatal ketika negara menjadikan karangan sepihak tahun 1954 ini sebagai satu-satunya rujukan utama Keppres tahun 1973 tanpa sensor akademik. 3. "Pattimura" adalah Gelar Kolektif, Bukan Nama Orang berdasarkan kajian bahasa dan struktur adat Maluku, kata "Pattimura" berasal dari konsep Patti (Pemimpin/Kepala) dan Muda/Murah (Jiwa muda/Ksatria). Ini adalah gelar jabatan perang pada sebuah kelompok yang kolektif yang bisa disandang oleh pemimpin perlawanan di wilayah berbeda. Memaksakan gelar kolektif ini menjadi nama belakang eksklusif bagi Thomas Matulessy merupakan bentuk pengerdilan sejarah. Manipulasi ini secara sengaja mengubur kontribusi tokoh-tokoh penting lainnya, termasuk mengaburkan klaim sejarah dari garis perlawanan Muslim yang meyakini sosok pemimpin perang tersebut adalah Ahmad Lussy. 4. Visualisasi Fiktif sebagai Alat Penggiringan Opini. Kebohongan narasi ini disempurnakan dengan pembuatan lukisan wajah Pattimura yang memegang parang dan salawaku. Wajah yang kita lihat di buku sekolah dan uang kertas pecahan Rp1.000 lama sama sekali tidak memiliki foto asli atau sketsa sezaman. Wajah tersebut murni rekaan imajinasi pelukis Christoffel Latuputty atas pesanan M. Sapija. Ini adalah taktik visual branding untuk memaksa memori kolektif rakyat Indonesia memercayai karakter rekaan tersebut sebagai kebenaran mutlak. Menyamakan Thomas Matulessy sebagai Pattimura adalah konstruksi politik modern yang mengorbankan kebenaran faktual demi stabilitas nasional di masa lalu. Sudah saatnya kita memisahkan antara dokumen hukum kolonial (yang hanya mencatat Thomas Matulessy) dengan memori lisan kolektif masyarakat adat Maluku (yang memiliki versi kepemimpinan Pattimura yang berbeda). Dan menolak narasi tunggal M. Sapija tahun 1954 serta perlu adanya pelurusan sejarah nasional yang jujur, ilmiah, dan menghormati hak silsilah adat yang sebenarnya di tanah Maluku.

 Menolak Opini "Thomas Matulessy adalah Pattimura"

Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia dicekoki oleh narasi sejarah tunggal yang menyatakan bahwa Kapitan Pattimura adalah seorang pria bernama Thomas Matulessy. Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973, negara melegitimasi identitas ini ke dalam buku-buku pelajaran sekolah hingga mata uang nasional. Namun, jika kita membedah sejarah dengan pendekatan kritis dan objektif, klaim yang menyamakan Thomas Matulessy secara mutlak sebagai sosok tunggal Pattimura adalah sebuah bentuk penggiringan opini, rekayasa narasi, dan kecacatan historiografi yang luar biasa.



1. Ketiadaan Nama "Pattimura" dalam Arsip Primer Sezaman 

Penolakan pertama didasarkan pada fakta dokumen hukum dan militer kolonial Hindia Belanda tahun 1817. Dalam tumpukan arsip komando lapangan, berkas interogasi, hingga surat vonis hukuman gantung (Verbaal) tertanggal 16 Desember 1817 di Ambon, nama "Pattimura" tidak pernah eksis. Pihak Belanda hanya mencatat, mengadili, dan mengeksekusi seorang mantan Sersan militer Inggris bernama Thomas Matulessia (Thomas Matulessy). Penggabungan nama "Thomas Matulessy" dan "Pattimura" menjadi satu nama individu baru adalah produk tulisan modern, bukan fakta lapangan tahun 1817.


2. Buku M. Sapija (1954) sumber Tunggal yang Cacat MetodologiAsal-usul penyebutan Thomas Matulessy sebagai Pattimura baru muncul pertama kali ke publik pada tahun 1954 lewat buku Sedjarah Perdjuangan Pattimura karya M. Sapija. Penulisan ini terbukti tidak berbasis pada penelusuran dokumen sejarah abad ke-19 yang valid atau verifikasi silsilah adat yang ketat. Buku tersebut ditulis bukan sebagai karya sains sejarah murni, melainkan sebagai alat propaganda politik pasca-pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan) guna menciptakan mitos pahlawan pemersatu yang pro-Jakarta. Sangat fatal ketika negara menjadikan karangan sepihak tahun 1954 ini sebagai satu-satunya rujukan utama Keppres tahun 1973 tanpa sensor akademik.


3. "Pattimura" adalah Gelar Kolektif, Bukan Nama Orang berdasarkan kajian bahasa dan struktur adat Maluku, kata "Pattimura" berasal dari konsep Patti (Pemimpin/Kepala) dan Muda/Murah (Jiwa muda/Ksatria). Ini adalah gelar jabatan perang pada sebuah kelompok yang kolektif yang bisa disandang oleh pemimpin perlawanan di wilayah berbeda. Memaksakan gelar kolektif ini menjadi nama belakang eksklusif bagi Thomas Matulessy merupakan bentuk pengerdilan sejarah. Manipulasi ini secara sengaja mengubur kontribusi tokoh-tokoh penting lainnya, termasuk mengaburkan klaim sejarah dari garis perlawanan Muslim yang meyakini sosok pemimpin perang tersebut adalah Ahmad Lussy. 


4. Visualisasi Fiktif sebagai Alat Penggiringan Opini. Kebohongan narasi ini disempurnakan dengan pembuatan lukisan wajah Pattimura yang memegang parang dan salawaku. Wajah yang kita lihat di buku sekolah dan uang kertas pecahan Rp1.000 lama sama sekali tidak memiliki foto asli atau sketsa sezaman. Wajah tersebut murni rekaan imajinasi pelukis Christoffel Latuputty atas pesanan M. Sapija. Ini adalah taktik visual branding untuk memaksa memori kolektif rakyat Indonesia memercayai karakter rekaan tersebut sebagai kebenaran mutlak.


Menyamakan Thomas Matulessy sebagai Pattimura adalah konstruksi politik modern yang mengorbankan kebenaran faktual demi stabilitas nasional di masa lalu. Sudah saatnya kita memisahkan antara dokumen hukum kolonial (yang hanya mencatat Thomas Matulessy) dengan memori lisan kolektif masyarakat adat Maluku (yang memiliki versi kepemimpinan Pattimura yang berbeda). Dan menolak narasi tunggal M. Sapija tahun 1954 serta perlu adanya pelurusan sejarah nasional yang jujur, ilmiah, dan menghormati hak silsilah adat yang sebenarnya di tanah Maluku.

Sumber : Arafah Tihurua

No comments:

Post a Comment